Archive for the 'Jiwa Semangat Nilai-nilai 45' Category

19
Jun
13

IpTek : Teknologi Laser Singkap Kota Tua

Teknologi Laser Ungkap Kota yang Hilang di Kamboja

TEMPO.CO, Phnom Penh – Teknologi laser Airborne berhasil mengungkap keberadaan kota tua yang terkubur ratusan tahun di Kamboja. Jaringan jalan raya dan kanal yang ditemukan menghubungkan kota itu dengan kompleks candi Angkor Wat di Kamboja yang terkenal.

Penemuan itu diumumkan Senin malam dalam sebuah makalah yang dirilis dalam jurnal Proceeding of National Academy of Sciences. Pencitraan laser mengungkapkan lansekap perkotaan yang berusia lebih dari 1.200 tahun.

Laser udara menghasilkan peta rinci dari kota itu, termasuk jalan dan kuil-kuil yang belum ditemukan sebelumnya, tersembunyi di bawah vegetasi yang lebat di puncak gunung Phnom Kulen di provinsi Siem Reap. Itu adalah kota yang hilang dari Mahendraparvata.

“Apa yang kita miliki sekarang dengan alat ini sungguh menakjubkan, tiba-tiba, gambaran langsung dari seluruh kota yang orang-orang tidak tahu sebelumnya, tersaji,” kata arkeolog University of Sydney, Damian Evans pada The Age dalam sebuah wawancara video dari Kamboja. “Jadi, bukannya semacam  proses bertahap yang sangat panjang. Tiba-tiba saja Anda harus berteriak, ‘eureka!’ saat melihat data di layar pertama kalinya dan kota kuno ini sangat jelas di depan Anda.”

Teknologi laser, yang dikenal sebagai Lidar, bekerja dengan menembakkan pulsa laser dari pesawat terbang ke tanah dan mengukur jarak untuk menciptakan peta tiga dimensi dari daerah itu secara rinci. Ini adalah alat yang berguna bagi arkeolog karena laser dapat menembus vegetasi padat dan menutupi petak tanah yang jauh lebih cepat dari yang bisa dianalisis dengan cara biasa.

Para peneliti berteori peradaban di Mahendraparvata akhirnya runtuh karena deforestasi. Akibatnya, sistem kanal dan waduk rusak.

THE AGE | TRIP B

Terhangat:

EDSUS HUT Jakarta | Kenaikan Harga BBM | Rusuh KJRI Jeddah

Baca Juga:

Mereka Tertolong dengan KJS ala Jokowi-Ahok

Eddies Adelia Kaget Ully Artha Telah Mualaf

Nazaruddin ‘Paksa’ Kurir Jadi Dirut

Inilah Hasil Akhir Voting DPR Soal RAPBN P 2013

Radja Nainggolan: Saya Bukan Tentara Bayaran!

19
Jun
13

Sosialita : Bangun Jaringan Pencari Pekerjaan

Cara Jitu Bangun Jaringan Dalam Mencari Pekerjaan

 

 

Zaman sekarang, memiliki jaringan amatlah penting. Sejumlah taktik berikut ini memungkinkan Anda menjalin hubungan sehingga orang bersedia membantu Anda.

Zaman sekarang, memiliki jaringan amatlah penting. Tempat yang tepat menjalin jaringan
Sangat sulit menjalin hubungan yang dekat dengan koneksi online. Anda punya kesempatan lebih baik jika bertemu orang secara langsung dengan arahan pekerjaan yang sesuai: kelompok diskusi LinkedIn, pertemuan dan konvensi profesional, organisasi relawan, khususnya badan direksi, ditambah Meetup.com dan orang-orang berhobi yang sama. Komunitas teater dan aktivitas lain yang intensif dan durasi pertemuan yang lama dapat sangat bermanfaat, dan bahkan tampaknya kelompok-kelompok yang sedikit berpotensi pun dapat membantu Anda.

Cara berhubungan dekat dengan cepat
Hadir lebih awal di sejumlah acara. Dengan begini, Anda dapat lebih mudah menemukan seseorang yang akan menyambut Anda dengan hangat untuk mengobrol.

Percayalah pada intuisi Anda sambil mencoba memastikan Anda tidak melakukan penilaian berdasarkan ras, gender, dll. Sebagai contoh, seseorang berusia 20-an yang memiliki banyak tindikan dan berpakaian dengan gaya dan warna yang berantakan kemungkinan kurang membantu Anda mendapatkan pekerjaan sebagai akuntan dibanding seseorang berusia 40 tahun yang mengenakan pakaian yang lebih konservatif.

Jika Anda malu, buatlah Anda terlihat di depan seseorang, mungkin sekitar 5 meter dari Anda, dan buat kontak mata dengan tatapan yang ramah. Mungkin Anda akan beruntung dan dia akan menghampiri Anda. Jika tidak, ambil napas dalam-dalam dan dekati orang tersebut. Berikut contoh percakapan sederhana:

Jane: Hai, Nama saya Jane Jones.

Sam: Sam Smith.

Jane: Ini pertama kalinya saya berada di pertemuan Manajemen Sumber Daya Manusia seperti ini. Anda?

(Memulai obrolan dengan kesamaan menciptakan ikatan dan mengakui dia pertama kali datang ke acara itu membuat Sam merasa setidaknya sama atau superior, dan hal itu sangat membantu. Ironisnya, orang-orang lebih cenderung ingin membantu seseorang yang membuatnya merasa baik tentang dirinya sendiri ketimbang membantu seseorang yang begitu pintar dan berkepribadian yang dia rasa rendah diri — meski orang yang lebih cerdas, kemungkinan akan menjadi karyaman yang baik. Juga perlu dicatat bahwa Jane mengakhiri kalimatnya dengan sebuah pertanyaan, yang memastikan bahwa obrolan akan terus berlanjut.)

Sam: Saya pernah datang ke beberapa acara seperti ini.

Jane: Ada saran tentang hal yang saya perlu ketahui tentang organisasi atau pertemuan ini?

(Orang senang untuk dimintai nasihat mengenai hal-hal yang mereka ketahui.)

Sam: Hmm, keragaman adalah masalah besar belakangan ini.

Jane: Apakah itu minat khusus Anda?

(Hal tersebut adalah upaya pertama Jane dalam berusaha berhubungan dekat dengan Sam. Usaha tersebut adalah kunci untuk membuat hubungan akrab dengan lebih cepat.)

Sam: Tidak juga.

Jane: Boleh saya tahu bagaimana pendapat Anda mengenai isu belakangan ini?

(Itu adalah pertanyaan yang sangat memicu kedekatan, yang dapat memaksimalkan kesempatan Sam mengungkapkan sesuatu.)

Sam: (terdengar terkejut) Hmm, sekarang saya fokus untuk pindah. Saya dan istri pindah ke tempat yang lebih baik.

(OK, dia mulai terbuka.)

Jane: Memang, pindah dapat sangat menyulitkan.

(Pernyataan empati dapat membuat ikatan. Dan terlalu dini untuk memberikan saran, contohnya, “Saat saya pindah, saya menggunakan jasa pemindahan barang XXX. Pelayanan mereka bagus.”)

Jane: Apakah ada tantangan khusus atau hanya kerepotan karena pindah rumah?

(Dia mencoba untuk menempatkan poin terberatnya sehingga mungkin ia dapat membantu. Minimal, dia menunjukkan minat dalam masalahnya tidak seperti kebanyakan orang, yang mementingkan diri sendiri.)

Sam: Itu hanya masalah kerepotan saat harus pindah, kita semua sibuk sekarang.

Jane: Saya paham.

(Dia berhenti, berharap dia akhirnya akan menanyainya, tapi dia tidak bertanya. Keheningan terjadi beberapa detik, sehingga dia akhirnya memutuskan untuk cerita meski tidak ditanya.)

Jane: Saya tidak berencana pindah rumah, tapi saya berharap untuk pindah ke pekerjaan baru yang baik.

Sam: Sedang mencari pekerjaan?

Jane: Ya. Saya seorang spesialis tunjangan pensiun dan selalu mendapat pujian dalam pekerjaan saya, namun mereka memindahkan departemen kami ke India. Adakah saran untuk bagaimana saya dapat memanfaatkan pertemuan ini untuk membantu mendapatkan pekerjaan baru?

(Tanpa terdengar seperti menyombongkan diri, dia menegaskan bahwa dia kompeten, dan alasan mengapa dia sedang mencari pekerjaan. Perlu dicatat juga bahwa dia tidak meminta lowongan. Dia meminta saran. Biasanya, jika Anda meminta pekerjaan, Anda mendapatkan saran. Tapi jika Anda meminta saran, Anda kemungkinan besar akan mendapatkan pekerjaan.)

Sam: Saya tidak tahu tetapi saya dapat memperkenalkan Anda ke beberapa orang yang mungkin dapat membantu.

Jane: Terima kasih banyak, Anda baik sekali.

(Setelah Sam selesai, Jane berterima kasih kepadanya dan meminta kartu nama. Dan saat Jane kembali ke rumah, dia melihat ke Amazon.com dan mengirimi Sam sebuah buku bagus tentang pindah rumah, namun harganya tidak terlalu mahal.)

Dalam beberapa menit, Jane sudah mengembangkan hubungan yang cukup dapat membuat Sam akan mencoba membantunya menemukan pekerjaan. Tentu saja, percakapan seperti itu tidak akan langsung memberikan Anda pekerjaan, tapi cukup untuk membuat mereka mencarikan lowongan untuk Anda. Selain itu, bahkan jika mereka tidak membantu Anda menemukan pekerjaan, Anda dapat menemukan persahabatan dengan mereka.

San Francisco Bay Guardian disebut Dr. Nemko “The Bay Area’s Best Career Coach” dan dia adalah editor kontributor untuk karier di U.S.News. Buku  keenam dan ketujuhnya dipublikasikan pada 2012: “How to Do Life: What They Didn’t Teach You in School” dan “What’s the Big Idea? 39 Disruptive Proposals for a Better America”. Lebih dari 1.000 tulisannya dapat diunduh gratis di www.martynemko.com.

 

17
Jun
13

MiGas : Penolakan RAPBN-P Kenaikan BBM

Gerindra Berubah Sikap: Tolak Kenaikan BBM dan RAPBN-P

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Andri Malau

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA– Gerindra berubah sikap. Melalui Wakil Ketua Umum DPP Partai Gerindra Fadli Zon, Fraksi Partai Gerindra menolak pengesahan RAPBN-P 2013 yang di dalamnya mengatur kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi.

Alasannya, kenaikan harga BBM tak menurunkan alokasi subsidi BBM dalam RAPBN-P seperti yang seharusnya. Anggaran dana penurunan subsidi juga tak digunakan untuk kepentingan infrastruktur dan transporasi murah rakyat.

Menurut Fadli Zon, syarat inilah yang disampaikan Ketua Dewan Pembina Gerindra, Prabowo Subianto. “Prabowo bisa memahami subsidi BBM membebani APBN, namun skema RAPBN-P 2013 tak mengubah beban itu. Subsidi BBM malah bertambah. Tak ada jaminan kompensasi kembali ke rakyat dalam wujud transportasi murah dan infrastruktur,” tegas Fadli Zon kepada Tribunnews.com, Senin (17/6/2013).

Lanjut dia, Partai Gerindra memahami bahwa subsidi seharusnya jangan salah arah. Subsidi harus diterima rakyat yang membutuhkan. Dana subsidi bisa dialihkan untuk infrastruktur, pertanian, kesehatan atau pendidikan.

Namun, anehnya, harga BBM naik namun alokasi anggaran untuk subsidi BBM justru meningkat. Mengapa?

“Kebijakan kenaikan harga BBM memang hak pemerintah, tapi jelas menambah kesengsaraan rakyat. Harga-harga kebutuhan pokok meroket, apalagi menjelang Ramadhan dan Idul Fitri.”

“Inilah anomali logika yang mencolok. Pertama, rencana harga premium naik Rp 2.000 dan solar Rp. 1.000, tetapi subsidi BBM juga naik dari Rp. 194 trilyun menjadi Rp. 210 trilyun. Harusnya, ketika harga BBM naik alokasi subsidi BBM turun,” jelasnya.

Selain itu, dalam RAPBN-P pendapatan negara turun dan alokasi belanja naik. Akibatnya terjadi defisit keseimbangan primer dan defisit total yang melebar dan memaksa menambah utang. Sementara pendapatan pajak turun Rp 53,6 trilyun, sedangkan belanja naik Rp 39 trilyun, dan belanja lain-lain naik Rp 53,6 trilyun. Akibatnya defisit melebar dari Rp 153,3 trilyun menjadi Rp 233,5 trilyun.

“Karena itu, dalam sidang paripurna malam ini, Partai Gerindra tak setuju dengan pengesahan RAPBN-P 2013,” cetusnya.

Baca Juga:

Berita Lainnya

Adhie Massardi tuding SBY bohong soal alokasi subsidi BBM

MERDEKA.COM. Rencana pemerintah menaikkan harga bahan bakar Minyak (BBM) terus mendapat protes dari berbagai kalangan. Kali ini protes datang dari aktivis Adhie Massardi.

Ia menilai, alasan pemerintah untuk menaikkan harga BBM adalah bohong belaka. Sebab, hal yang sama juga terjadi pada tahun 2009, tetapi kompensasi untuk memperbaiki infrastruktur, kesehatan dan pendidikan hanya bohong.

“Ini hanya legitimasi tanpa moral, perlawanan kami perlawanan mahasiswa melawan resim SBY yang liberal, karena tahun 2009 juga sama, katanya untuk perbaikan infrastruktur tetap saja semua sama infrastruktur stagnan,” ujar Koordinator Gerakan Indonesia Bersih Adhie Massardi di Penus Cafe Jakarta, Minggu (16/6).

Menurutnya, pemerintahan telah kehilangan legitimasi moral dari bangsanya. Ia menuding, dari kenaikan harga BBM telah menguntungkan Partai Demokrat pada Pemilu 2014.

“Menyelamatkan APBN itu bohong, kalau menyelamatkan APBN kan 100 persen untuk membayar utang konglomerat. SBY itu buaya, SBY itu biawak,” katanya.

Rencananya, ia akan turun ke jalan melakukan aksi unjuk rasa. “Saya ikut turun besok, paling cuma ngontrol saja. Nanti dipusatkan di Istana dan DPR, itu dulu saja,” tegasnya.

Dalam aksi nanti, ia meminta agar SBY tidak menaikkan harga BBM. “Ya minta turunkan harga BBM dan turunkan SBY, kalau tetap ngotot menaikkan harga BBM,” ucapnya.

Sumber: Merdeka.com

Berita Lainnya

PKS Pertahankan Sikap Tolak Kenaikan Harga BBM

Senin, 17 Juni 2013 19:50 WIB
PKS Pertahankan Sikap Tolak Kenaikan Harga BBM

ist
Logo PKS

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Ferdinand Waskita

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA -- Partai Keadilan Sejahtera (PKS) tetap mempertahankan menolak kenaikan harga BBM bersubsidi.

Demikian disampaikan Wasekjen PKS Fahri Hamzah disela-sela lobi fraksi di Gedung DPR, Jakarta, Senin (17/6/2013). “PKS opsinya bagaimana agar BBM tidak naik. Kami tidak setuju kalau opsi itu hilang apa yang mau divoting,” ujar Fahri.

Fahri mengatakan dalam lobi fraksi tersebut masih terdapat pihak yang bertahan dengan opsi menaikan, menerima atau menolak APBNP 2013.

“Kalau menerima atau menolak itu nasib kenaikan BBM itu hilang. Kalau tolak APBNP balik ke 2013 ada peluang pemerintah untuk menaikkan BBM,” katanya.

Anggota Komisi III itu mengatakan pihaknya tidak ingin ada celah bagi pemerintah menaikkan harga BBM. “Kalau gagal, berkelahi di paripurna,” tuturnya.

Fahri mengatakan keputusan tersebut harus diselesaikan pada malam ini. Jika lobi-lobi pimpinan fraksi yang akan dilakukan lagi gagal, maka akan diputuskan di Sidang Paripurna. “Kalau kami tidak punya opsi,” kata Fahri.

Terkait    #BBM bersubsidi
16
Jun
13

MiGas : KAMMI Tolak BBM Naik

Tolak BBM Naik, KAMMI akan Duduki Pusat Pemerintahan di 33 Provinsi

Laporan wartawan Tribunnews.com, Ferdinand Waskita

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI) akan berdemonstrasi menyuarakan penolakan terhadap rencana pemerintah untuk menaikkan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi.

Rencananya, Senin 17 Juni 2013, KAMMI bersama rakyat akan menduduki pusat pemerintahan di 33 provinsi Indonesia.

“Kami akan menggerakkan kader-kader KAMMI di seluruh Indonesia untuk bersama rakyat menyarakan  penolakan kenaikan BBM bersubsidi. Kita akan lumpuhkan pusat pemerintahan di 33 provinsi secara serentak,” kata Ketua Umum PP KAMMI Andriyana dalam rilis yang diterima Tribunnews.com, Minggu (16/6/2013)

Andri mengatakan  kebijakan pemerintah untuk menaikkan harga BBM subsidi jelas akan menimbulkan kesengsaraan bagi rakyat kecil. “Imbasnya tetap akan dirasakan rakyat kecil. Jika BBM subsidi naik, semua harga pasti akan ikut naik,” papar Andri.

Menurut Andri, program Bantuan Langsung Sementara Masyarakat (BLSM) adalah program yang sarat kepentingan politik. Apalagi BLSM diberikan saat akan menjelang Pemilu 2014. BLSM juga tidak bisa menyentuk semua rakyat miskin.

“Data BPS mencatat ada sekitar 29 juta rakyat miskin, sedangkan BLSM hanya untuk 15,5 juta saja. Berarti yang 13,5 juta lagi akan hidup semakin miskin karena semua harga akan naik,” jelas Andri.

Menurut Andri, harusnya pemerintah sedikit cerdas mencermati harga BBM. Kenaikan harga BBM yang bergantung harga minyak dunia jelas bisa diprediksi jauh-jauh hari. Namun sayang hal ini justru dimanfaatkan oleh partai penguasa pemerintah sebagai komoditas politik menjelang Pemilu 2014.

“Kalau pemerintah serius, seharusnya jauh-jauh hari sudah mengantisipasinya. Banyak yang bisa dilakukan pemerintah, nasionalisasi aset minyak misalnya, serius menghadirkan energi alterlatif misalnya. Solusi lain, bisa juga dengan menaikkan pajak kendaraan mobil pribadi, tanpa menaikkan harga BBM subsidi,” papar Andri.

Namun, pemerintah malah memilih jalan untuk menyengsarakan rakyat dengan menaikkan harga BBM subsidi yang akan berimbas pada kenaikan harga-harga semua barang dan jasa.

“Karena itu, KAMMI bersama rakyat akan melumpuhkan pusat pemerintahan di 33 provinsi sebagai wujud protes KAMMI atas rencana kenaikan harga BBM subsidi yang dapat melumpuhkan rakyat Indonesia,” tandas Andri.

Baca Juga:

14
Jun
13

Kebudayaan : Tradisi Tahun Baru Nusantara

TRADISI TAHUN BARU NUSANTARA CERMINAN PANCASILA
Pandji R Hadinoto

IKA STIH IBLAM, Jalan Alam Segar I No. 9, Pondok Pinang, Jakarta Selatan 12310

indolawyer@yahoo.com

Erwin Djali

ABSTRAK

Mempertimbangkan Nilai2 Operasional JSN45 khususnya butir  3, 4, 5, 7, 9 maka penggalian dan pemasyarakatan unsur2 budaya nusantara unggulan adalah strategik demi NKRI, termasuk TAP MPR No. XVIII/MPR/1998 khususnya Sila Persatuan Indonesia (butir 3, 4, 6, 7) dan Sila Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia (butir 1, 4, 10, 11);
Menyikapi Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia tahun 2025 dengan proyeksi menjadi negara mandiri, maju, adil dan makmur berpendapatan perkapita USD15.000 atau kekuatan ekonomi 12 besar dunia, dan tahun 2045 diproyeksikan di 7 kekuatan ekonomi dunia berpendapatan perkapita USD47.000, termasuk Pemerintah Kurang Perhatian pada Kebudayaan Bangsa [the Politic 08/ThII) berikut aspirasi Kebudayaan Mendisain Masa Depan (Bappenas, 20Des12];
Mengingat kawasan Nusantara ini telah ber-abad2 bersiklus tahunan matahari yakni bulan2 Srawana (12Jul-12Aug), Badra (13Aug-10Sep), Asuji (11Sep-11Okt), Kartika (12Okt-10Nop), Posa (11Nop-12Des), Margasirah (13Des-10Jan), Maga (11Jan-11Peb), Palguna (12Peb-11Mar), Caitra (12Mar-11Apr), Waisaka (12Apr-11Mei), Jesta (12Mei-12Jun), Asada (13Jun-11Jul).
Maka Hari Koperasi 12Jul13 (Jum’at Sukra / tanggal Jawa 4 Poso 1946, Jemuwah Pahing / tanggal Hijriah 04 Ramadhan 1434) sebagai sokoguru Ekonomi Pancasila, sepantasnya strategik dimuati pembudayaan lebih struktural dikombinasi tradisi Tahun Baru Nusantara di awal bulan Srawana setiap 12Jul, sehingga Jatidiri Ekonomi Pancasila Indonesia per Konstitusi Pasal-33 UUD45 menuju 2025 dan 2045, secara berkala terkokohkan ditengah arus globalisasi;
Disamping hari2 libur bersama kalender nasional, tradisi ini membangun kebanggaan dan kepercayaan diri anak bangsa, dengan aksi EarthHour dan/atau CarFreeDay di perkotaan terutama kota2 besar sehingga berdampak perbaikan mutu lingkungan, disertai pemberdayaan struktural siklus pasar2 Pancawara (Kliwon, Legi, Pahing, Pon, Wage) di pedesaan guna penguatan ekonomi rakyat hadapi mewabahnya gerai2 investor ritel.  

KATA KUNCI

EkoKesRa Demi Strategi Ketahanan Bangsa

PENDAHULUAN

Strategi Pembudayaan Nilai-nilai Pancasila dalam Menguatkan Semangat ke-Indonesia-an sesungguhnya dapat dioperasionalisasikan dalam praktek kebiasaan kehidupan sehari-hari dengan menjabarkan ke-45 butir tata nilai budaya Pancasila sebagaimana diatur dalam TAP MPR No. XVIII/MPR/1998 [Pancasila 45, www.jakarta45.wordpress.com : 1], khususnya dalam konteks Penguatan Daya Dukung Ekonomi Pancasila adalah Sila ke-3 Persatuan Indonesia yakni butir-butir (3) Mengembangkan rasa cinta kepada tanah air dan bangsa, (4) Mengembangkan rasa kebanggaan berkebangsaan dan bertanah air Indonesia, (6) Mengembangkan persatuan Indonesia atas dasar Bhinneka Tunggal Ika, (7) Memajukan pergaulan demi persatuan dan kesatuan bangsa, dan Sila ke-5 Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia yaitu butir-butir (1) Mengembangkan perbuatan yang luhur, yang mencerminkan sikap dan suasana kekeluargaan dan kegotongroyongan, (4) Menghormati hak orang lain, (10) Suka menghargai hasil karya orang lain yang bermanfaat bagi kemajuan dan kesejahteraan bersama, (11) Suka melakukan kegiatan dalam rangka mewujudkan kemajuan yang merata dan berkeadilan sosial.

Adapun kerja penjabaran tersebut diatas akan dapat termotivasi sedemikian rupa sehingga tercapai kemanfaatan bagi kepentingan umum bilamana diiringi oleh keinginan kuat untuk mengejawantahkan nilai-nilai operasional Jiwa Semangat Nilai-nilai 45 [JSN45, www.jakarta45.wordpress.com : 1], sebagai Ruh Indonesia Merdeka (RIM) khususnya terkait konteks Penguatan Daya Dukung Ekonomi Pancasila, seperti butir-butir (3) Nasionalisme, (4) Patriotisme, (5) Rasa harga diri sebagai bangsa yang merdeka, (7) Persatuan dan Kesatuan, (9) Percaya kepada diri sendiri dan atau percaya kepada kekuatan dan kemampuan sendiri.

Penjabaran tersebut diatas akan menemukan nilai tambah kepentingan umum bilamana dikaitkan dengan politik pertumbuhan ekonomi kedepan seperti Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia tahun 2025 dengan proyeksi menjadi Negara mandiri, maju, adil dan makmur berpendapatan perkapita USD 15,000 atau kekuatan ekonomi 12 besar dunia, dan tahun 2045 diproyeksikan di 7 kekuatan ekonomi dunia berpendapatan perkapita USD 47,000 termasuk dugaan Dr Chatib Basri (kini Menteri Keuangan) ketika Reuni Alumni Canisius College 29 April 2013 bahwa 15 tahun ke depan akan bertumbuh 40% kelas ekonomi menengah sebagai konsekwensinya, dan ini berarti meningkatnya kebutuhan konsumsi sekunder yang akan menggulirkan berbagai jenis industri konsumtif.yang pada gilirannya akan menyumbangkan tingkat kesenjangan ekonomi juga.

Sementara kini disinyalir bahwa peredaran uang dikuasai dan dikendalikan oleh sangat sedikit saja jumlah penduduk sedangkan kebanyakan jumlah penduduk masih belum turut menikmati trickle down effect daripada pertumbuhan ekonomi itu sendiri. Istilahnya, pertumbuhan ekonomi tidak harmonis dengan perkembangan demi pemerataan manfaat ekonomi ke banyak pemangku kepentingan akan pertumbuhan ekonomi itu sendiri.

Oleh karena itulah tema Kongres Pancasila V ini diyakini sungguh menguatkan sekaligus mengisi pendapat bahwa Pemerintah Kurang Perhatian pada Kebudayaan Bangsa [the Politic, Edisi 08 – Th II – 15 – 29 Februari 2013 : 2) berikut aspirasi Kebudayaan Mendisain Masa Depan [Sri-Edi Swasono, Bappenas, 20 Desember 2012 : sampul].

Pembudayaan sebagai upaya terstruktur berupa perwujudan atau pembentukan kebiasaan yang berulang adalah akan dapat membumi sedemikian rupa bilamana pola sinergi atau saling menguatkan diantara unsur-unsur budaya itu dibangun bersama.

Ciri Gotong Royong Pancasila sebagai bahan galian budaya Nusantara oleh karenanya akan lebih mudah dipahami masyarakat bilamana secara berkala disinergikan penerapannya (aksi ganda) dengan bahan galian budaya Nusantara lain seperti Tradisi Tahun Baru Nusantara.

Koperasi sebagai soko guru ekonomi gotong royong Pancasila yang diperingati setiap tanggal 12 Juli yang ternyata koinsidensi dengan awal Tahun Baru Nusantara adalah sesungguhnya berkah dari Tuhan Yang Maha Pengasih kepada bangsa Indonesia, dan oleh karenanya layak dijadikan tonggak perkuatan berkala daripada ekonomi gotong royong Pancasila itu sendiri.

Kawasan Nusantara ini sesungguhnyalah telah ber-abad2 bersiklus tahunan matahari yakni bulan-bulan Srawana (12Jul-12Aug), Badra (13Aug-10Sep), Asuji (11Sep-11Okt), Kartika (12Okt-10Nop), Posa (11Nop-12Des), Margasirah (13Des-10Jan), Maga (11Jan-11Peb), Palguna (12Peb-11Mar), Caitra (12Mar-11Apr), Waisaka (12Apr-11Mei), Jesta (12Mei-12Jun), Asada (13Jun-11Jul).

Temuan penulis ikhwal diatas ini sebagai peristiwa adalah terjadi saat mengikuti Kajian Makrifatullah Dalam Kawih-kawih Sunda (Kuno) bertempat di Gedung Yayasan Wakaf Paramadina, Plaza Pondok Indah 1, Jalan Metro Pondok Indah, Jakarta Selatan 12310 dengan penceramah Ir Achmad Chodjim MM, pada tanggal 31 Januari 2013.

METODA

Berdasarkan informasi-informasi tekstual dan verbal dari berbagai sumber resmi dan kompeten, maka dirakitlah satu upaya konsolidasi untuk menemukan wujud pembudayaan nilai-nilai Pancasila kedalam praktek kehidupan sehari-hari.

Upaya konsolidasi ini dilanjutkan dengan upaya sosialisasi bertahapan pembinaan, penggalangan dan pengerahan. Dalam konteks inilah, penyampaian makalah ini adalah sebagai bagian daripada upaya sosialisasi, berdampingan dengan upaya sosialisasi berupa Ajakan Tradisi Tahun Baru Nusantara [www.jakarta45.wordpress.com] yang telah disampaikan ke publik melalui berbagai jejaring sosial.

HASIL DAN PEMBAHASAN ATAS MASALAH

HARI KOPERASI DAN TAHUN BARU NUSANTARA 12 JULI

Koperasi yang diidealisasikan sebagai soko guru ekonomi Pancasila, perkembangan dan pertumbuhannya kini dirasakan tergerus oleh sikap politik ekonomi liberalistik kapitalistik sehingga keberadaannya terpinggirkan oleh suasana dan kondisi pasar bebas.

Dalam pengertian itulah dirasakan perlu dilakukan upaya-upaya berskala nasional untuk mendorong peran Koperasi menjadi lebih mengakar dalam kehidupan ekonomi masyarakat.

Pencanangan dan peneguhan keberadaan Tahun Baru Nusantara yang kebetulan secara alamiah bertepatan dengan Hari Koperasi, seharusnya dapat dikreasikan sedemikian rupa guna meningkatkan peran serta Masyarakat Koperasi dan Masyarakat Peduli Koperasi, mengingat tercatat kegiatan ekonomi termasuk ekonomi kerakyatan justru meningkat saat peringatan-peringatan Tahun Baru Masehi, Tahun Baru Imlek, Tahun Baru Saka dan lain sebagainya, yang kebanyakan sebetulnya adalah versi non peradaban Nusantara.

Artinya, skala kegiatan ekonomi nasional seharusnya dapat ditumbuhkembangkan juga melalui peristiwa budaya Nusantara itu sendiri, seperti Tradisi Tahun Baru Nusantara.

Dan untuk memberikan nilai tambah lebih dibandingkan dengan peringatan Tahun-tahun Baru versi non Peradaban Nusantara tersebut, dilekatkan beberapa program turunan pemberdayaan yang lebih merupakan kebutuhan akan kualitas hidup yang sehat lingkungan dan sehat ekonomi rakyat. Sehat lingkungan itu seperti Earth Hour, Car Free Day, Penghijauan dan lain sebagainya, serta tidak harus diwujudkan sebagai hari libur nasional namun lebih berkarakter hari kebaktian sosial nasional.

Sehat Ekonomi Rakyat seperti pengaturan struktural siklus pasar-pasar Pancawara (Kliwon, Legi, Pahing, Pon, Wage) melalui pengaturan perundang-undangan, berjangkar kehadiran Tradisi Tahun Baru Nusantara. Pasar-pasar tradisional berskala lokal seperti Pasar Nggawok pada tanggal 12 Mei 2013 [Makalah : 10] yang berjarak 12 kilometer dari Solo kearah barat daya, Pasar Tani Solo pada tanggal 12 Mei 2013 [Makalah : 10] bertepatan dengan Car Free Day di Jalan Slamet Riyadi, Solo.

Melalui pembangunan karakter masyarakat ber Tradisi Tahun Baru Nusantara yang dikaitkan dengan Hari Koperasi ini diyakini akan turut gelorakan Jiwa Semangat Nilai-nilai 45 (JSN45), yaitu ruh Indonesia Merdeka (RIM) di semua dimensi ipoleksosbudhankam.

SIMPULAN

  1. Tahun Baru Nusantara tiap awal bulan Srawana tanggal 12 Juli itu baik berdasarkan prakarsa swadaya masyarakat maupun prakarsa struktural pemerintah, dapat dikreasikan jadi motor penggerak bagi pembangunan nasional tentang peningkatan kapasitas dan kapabilitas ekonomi kerakyatan terutama yang berbasis koperasi rakyat.
  2. Hari Koperasi 12 Juli itu sendiri akan bertambah pamornya di kalangan usahawan kecil menengah untuk melipatgandakan gairah kewirausahaan berbasis koperasi kerakyatan termasuk yang melibatkan keusahaan lintas komoditas dan lintas daerah.
  3. Secara berkala baik Hari Koperasi sebagai penghormatan bagi sokoguru ekonomi kerakyatan dan Tahun Baru Nusantara sebagai penghormatan terhadap unsur budaya nusantara yang keberadaannya masih hidup di kalangan masyarakat adat Tengger berupa tradisi Kesodo, dapat ditingkatkan martabatnya sedemikian rupa sehingga dapat menjadi ikon ataupun penjuru kehidupan masyarakat gotong royong Pancasila berskala nasional, sekaligus sebagai salah satu solusi bagi pendidikan politik yang ditandai kini tak didampingi moralitas ataupun idealisme untuk selalu berjuang dengan semangat nasionalis [Kebangkitan Nasional, Pengaruh Kekuatan Asing Makin Meluas, Kompas, 19 Mei 2013 : 1].
  4. Peningkatan kapasitas dan kapabilitas ekonomi kerakyatan yang berorientasi manfaat kebersamaan segenap pemangku kepentingan, pada gilirannya dapat diproyeksikan bermartabat kesetaraan sekaligus memperkecil bahkan menghilangkan persaingan usaha a-simetrik dengan kepengusahaan versi korporasi yang memang kodratnya keuntungan finansial para pemodal. Kesetaraan ini bermakna sikap, situasi dan kondisi lahir batin kemerdekaan bagi para pelaku usaha yang pada gilirannya dapat berdampak terciptanya perdamaian abadi dalam konteks ketertiban dunia..
  5. Penggalian, pemasyarakatan dan pemberdayaan unsur budaya lokal seperti Tahun Baru Nusantara di awal bulan Srawana itu dapat meneguhkan strategi Pembudayaan Nilai-nilai Pancasila dalam Menguatkan Semangat ke-Indonesia-an seperti telah diikrarkan pada Pembukaan UUD 1945 yakni “…ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial” dan berujung pengkokohan EkoKesRa (Ekonomi Kesejahteraan Rakyat) demi Strategi Ketahanan Bangsa [STRAHANSA, www.jakarta45.wordpress.com : 1] sehingga diperbesar kearah kemungkinan aksi pelurusan Batang Tubuh Konstitusi 2002 terhadap Pembukaan Undang Undang Dasar 1945 mengingat pula bahwa ternyata 69,4% Agenda Reformasi adalah Gagal [Jajak Pendapat “Kompas”, Beratnya Menghela Gerbong Reformasi, Kompas, 20 Mei 2013 : 1].

DAFTAR PUSTAKA / DAFTAR RUJUKAN

  1. Pandji R Hadinoto, 2009. “Pancasila 45,” “JSN45,” “STRAHANSA,” www.jakarta45.wordpress.com , hlm. 1
  2. The Politic, Edisi 08 – Th II – 15 – 29 Februari 2013, “Pemerintah Kurang Perhatian pada Kebudayaan Bangsa,”  hlm. 2
  3. Sri-Edi Swasono, “Kebudayaan Mendesign Masa Depan,” 90 Tahun Taman Siswa, Bappenas, 20 Desember 2012, hlm. sampul
  4. “Kebangkitan Nasional,” Kompas, 19 Mei 2013, hlm. 1
  5. “Jajak Pendapat “Kompas”,” Kompas, 20 Mei 2013, hlm. 1

Revisi 3_Page_1

08
Jun
13

Pemilu : e-Voting Alternatif Demokrasi

FRI: E-voting Dapat Jadi Alternatif Alat Pemilu

AntaraAntara 

Makassar (ANTARA) – Ketua Forum Rektor Indonesia (FRI) Prof Dr Laode M Kamaludin, M.Sc, M.Eng mengatakan, “elecronic voting” (e-voting) dapat menjadi alternatif alat Pemilu baik pada Pilpres maupun Pilkada bupati/walikota.

“Dengan alat ini, maka dapat menghemat anggaran Pemilu, lumayan jika dapat mencapai 50 persen,” kata Laode Kamaluddin pada pertemuan regional Forum Rektor Indonesia di Universitas Hasanuddin, Makassar, Sabtu.

Menurut dia, pentingnya penggunaan alat tersebut, selain karena pertimbangan ekonomis, juga akurasi datanya jauh lebih terjamin dan dapat diakses oleh semua masyarakat.

Berkaitan dengan hal tersebut, FRI yang didukung lembaga yang kompeten BPPT dan KPU pusat.

“Upaya menghemat anggaran itu harus dipikirkan sekarang, sehingga anggaran berdemokrasi itu sebagian dapat dialihkan untuk pembangunan,” katanya.

Hal senada dikemukakan Rektor Universitas Hasanuddin, Makassar Prof Dr dr HA Idrus Paturusi.

Menurut dia, dana Pilpres dan pemilihan legislator yang mencapai puluhan triliun rupiah dapat dihemat sekitar 50 persen apabila menggunakan e-voting.

“Alokasi anggaran puluhan triliun itu dapat digunakan untuk membangun rumah sakit atau menyejahterakan masyarakat, daripada menghabiskan anggaran Pemilu yang masih menggunakan model lama,” katanya.

Pada pertemuan FRI juga dibahas tentang perlunya mendorong masyarakat untuk menggunakan hak pilihnya agar mengambil bagian dalam berdemokrasi.

Hal tersebut mencermati adanya kecenderungan angka Golongan Putih (Golput) terus meningkat dari kalangan generasi muda. Salah satu contoh pada Pilkada di Jawa Tengah yang Golputnya hampir mencapai 50 persen.(tp)

08
Jun
13

Sejarah : Memorial Jenderal Besar Soeharto, Bantul, Jogja

Memorial Jenderal Besar Soeharto di Bantul Diresmikan

AntaraAntara 

Bantul (ANTARA) – Memorial Jenderal Besar H.M Soeharto yang dibangun di tempat kelahiran mantan Presiden RI di Dusun Kemusuk, Desa Argorejo, Kecamatan Sedayu, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, diresmikan, Sabtu.

Memorial di atas lahan seluas 3.620 m2 itu terdiri atas bangunan Joglo seluas 600 m2, Rumah Notosudiro – eyang buyut Soeharto seluas 475 m2, rumah Admosudiro – eyang Soeharto seluas 250 m2 dan petilasan tempat lahir Soeharto seluas 63 m2.

“Memorial ini dimaksudkan untuk mengenang jasa dan pengabdian Jenderal Besar HM Soeharto kepada bangsa dan negara RI,” kata Adik kandung HM Soeharto, Probosutedjo dalam pers release kepada wartawan di sela peresmian.

Selain jasa dan penghargaan, kata Probosutedjo memorial ini juga sebagai penghargaan terhadap prestasi dan keberhasilan yang telah mengantarkan bangsa Indonesia menjadi bangsa yang bermartabat, maju dan sejahtera.

“Kami semua berharap semua nilai-nilai kejuangan yang terkandung di dalamnya menjadi pelajaran dan sumber inspirasi bagi generasi penerus,” kata penggagas pembangunan memorial itu.

Probo mengatakan, Soeharto lahir pada 8 Juni 1921 dari pasangan Kertosudiro dan Sukirah, keluarga petani desa yang tidak memiliki sejengkal tanah sawah, tetapi tidak disangkanya bisa menjadi Bapak Pembangunan dan Presiden RI.

“Tentunya generasi penerus sejarah atau para peneliti sejarah akan dapat melihat realitas Pak Harto sebagai aktor sejarah yang ternyata sebagai anak desa dari kalangan petani,” katanya.

Peresmian, selain dihadiri putra almarhum Soeharto, Siti Hardiyanti Rukmana dan kerabatnya, juga dihadiri mantan Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum dan Keamanan (Menkopolhukam) Jenderal TNI Purn Wiranto.

Turut hadir sejumlah pejabat negara saat ini seperti Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) M. Nuh, Menteri Koordinator Kesejahteraan Rakyat (Menko Kesra) Agung Laksono dan Menteri Pertahanan Pramono.(tp)

Pilihan Redaksi

  • The Houses of Parliament and the London Eye are seen in central Londonslideshow
    10 Negara dengan kualitas hidup terbaik
  • Vladimir Putin and his wife Lyudmila attend a service, conducted by Patriarch of Moscow and All Russia Kirill, to mark the start of his term as Russia's new president at the Kremlin in Moscowslideshow
    Vladimir Putin dan istrinya bercerai
  • Daftar Gunung yang Harus Didaki di Filipinaslideshow
    Daftar Gunung yang Harus Didaki di Filipina
  • Bukit Tilung tempat suci dayak nanga raunslideshow
    Pendakian Bukit Tilung, Bukit Suci Dayak Orung Da’an
  • Bom bunuh diri Pososlideshow
    Bom bunuh diri di Poso
  • Lokasi pembunuhan Tito Refra Keislideshow
    Lokasi pembunuhan Tito Refra Kei
06
Jun
13

Hikmah : lima tiket menuju surga

Lima Tiket Menuju Surga, Anda Berminat?

Sunday, 02 June 2013, 06:46 WIB


REPUBLIKA
Berdoa (Ilustrasi)
Berdoa (Ilustrasi)

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh M Husnaini
(Penulis Buku “Keadilan Tuhan dalam Tulisan”)

Segala kenikmatan di surga tentu tidak gratis. Ibarat tempat wisata, untuk masuk ke dalamnya diperlukan tiket. Siapa tidak mengantongi tiket harus rela mundur.

Surga merupakan tempat di akhirat yang dijanjikan Allah bagi orang-orang beriman. Kehidupan surga penuh keselamatan, kebahagiaan, dan kemuliaan. Masyarakat dalam surga mendapatkan kenikmatan yang tidak pernah mereka rasakan di dunia. “Para penghuni surga pada hari itu paling baik tempat tinggalnya dan paling indah tempat istirahatnya” (QS Al-Furqan: 24).

Masyarakat surga mengenakan pakaian berwarna hijau, terbuat dari sutra halus dan tebal (QS Al-Kahfi: 31). Perhiasan mereka berupa gelang-gelang emas dan mutiara (QS Al-Haj: 23). Mereka bertelekan pada bantal-bantal hijau dan permadani-permadani yang indah (QS Ar-Rahman: 74-76).

Bahkan, menurut keterangan Rasulullah yang dituturkan Muslim, masyarakat surga tidak buang air kecil maupun air besar. Tidak meludah dan beringus. Keringat mereka berupa minyak kesturi. Mereka selalu muda, bersih, halus, tidak berambut kecuali pada kepala dan bulu mata. Tinggi badan mereka setinggi Nabi Adam, yakni 60 hasta dan seusia Nabi Isa, yakni 33 tahun.

Mereka memperoleh segala yang diinginkan (QS Al-Furqan: 16). Tidak berduka, lelah, apalagi lesu (QS Fathir: 34-35). Setiap hari selalu riang gembira (QS Yasin: 56-57). Karena dikelilingi anak-anak muda yang siap melayani. Wajah mereka bagai mutiara tersimpan (QS At-Thur: 24). Juga disediakan pendamping yang lebih sempurna dari pendamping mereka di dunia. Para pria beristrikan bidadari-bidadari cantik dan bermata indah (QS At-Thur: 20). Rumah tangga mereka selalu rukun dan memuji Allah sepanjang pagi dan petang.

Fasilitas dalam surga juga serba lengkap dan istimewa. Piring-piring terbuat dari emas (QS Az-Zukhruf: 71), bejana dan gelas dari perak (QS Al-Insan: 15-16). Ada pohon bidara tidak berduri dan pohon pisang yang bersusun-susun buahnya (QS Al-Waqiah: 27-34), kebun-kebun dan buah anggur (QS An-Naba’: 31-34).

Semua buah-buahan itu mudah dipetik (QS Al-Insan: 4). Juga ada minuman jahe (QS Al-Insan: 17), aneka daging yang lezat (QS At-Thur: 22), minuman keras yang tidak memabukkan (QS As-Shaffat: 45-47), dan sungai susu, madu, arak, serta bermacam buah-buahan lain (QS Muhammad: 15).

Segala kenikmatan di surga tentu tidak gratis. Ibarat tempat wisata, untuk masuk ke dalamnya diperlukan tiket. Siapa tidak mengantongi tiket harus rela mundur. Berikut lima kebaikan untuk mendapatkan tiket itu. Pertama, mencegah diri dari kemaksiatan.

Sepele, tetapi dalam praktiknya sangat tidak mudah. Sering kita mampu melanggengkan ibadah, tetapi gagal menanggalkan kemaksiatan. Boleh dikata, tidak bermaksiat rasanya lebih berat ketimbang taat. Karena itu, Allah berfirman, “Dan menahan diri dari dorongan nafsu, maka sungguh surga tempat tinggalnya” (QS An-Naziat: 40-41).

Kedua, siap hidup sederhana. Kelemahan utama manusia adalah mudah tergiur oleh kesenangan sesaat dengan mengorbankan kebahagiaan abadi. Melihat kekayaan Qarun, orang-orang yang gila harta berseru, “Amboi, andai kita memiliki seperti apa yang diberikan kepada Qarun. Sungguh ia mempunyai keuntungan yang besar (QS Al-Qashash: 79). Padahal Rasulullah berkisah, “Saya berdiri di pintu surga, sebagian besar yang memasukinya adalah orang-orang miskin. Orang-orang kaya ditahan dulu” (HR Bukhari dan Muslim).

Ketiga, gemar mengerjakan ketaatan kepada Allah. Umat Islam adalah umat yang dididik untuk taat kepada aturan. “Sungguh Allah menetapkan hukum-hukum menurut yang dikehendaki-Nya” (QS Al-Maidah: 1). Islam disebut sebagai ‘din’, yang artinya sistem ketundukan atau kepatuhan. Masyarakatnya disebut ‘madinah’, artinya suatu tempat yang kehidupannya teratur, karena orang-orangnya tunduk dan patuh kepada aturan. Mereka diganjar oleh Allah dengan surga. “Dan itulah surga yang diwariskan kepadamu, karena amal yang dahulu kamu kerjakan” (QS Al-A’raf: 43).

Keempat, mencintai orang-orang saleh. Dunia ini hancur karena adanya orang-orang jahat yang merasa berbuat baik. Hatinya bukan lagi nurani tetapi sudah zulmani. Rugilah bergaul dengan orang-orang demikian. Orang-orang saleh akan memberikan syafaat kepada kita. Tepatlah pesan Rasulullah, “Jangan kamu bersahabat, kecuali dengan orang Mukmin dan jangan pula makan makananmu, kecuali orang yang bertakwa” (HR Tirmidzi). Pentingnya bergaul dengan orang-orang saleh, kata Rasulullah, karena setiap orang akan bersama dengan kekasihnya (HR Bukhari dan Muslim).

Kelima, memperbanyak doa kepada Allah agar dapat menutup hidup dengan khusnul khatimah. Tiada daya tanpa pertolongan Allah. Memperbanyak doa merupakan wujud pengakuan bahwa kita memang hamba yang serba lemah. Sepanjang berkenan melangitkan doa, niscaya Allah akan menjawabnya. “Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia berdoa kepada-Ku. Maka hendaklah mereka memenuhi segala perintah-Ku dan beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran” (QS Al-Baqarah: 186).

Redaktur : Heri Ruslan
06
Jun
13

Kepemimpinan : Garuda Pancasila

Senin, 03 Juni 2013

Menggugat “Hari Kesaktian Pancasila”

UNTUK MEMPERINGATI ULTAH LAHIRNYA PANCASILA DAN BUNG KARNO, “INDONESIA BERJUANG” MENAYANGKAN ARTIKEL-ARTIKEL BERKAITAN (10)

http://indonesiaberjuang-gerpindo.blogspot.nl/2013/06/menggugat-hari-kesaktian-pancasila.html

Menggugat “Hari Kesaktian Pancasila”

BERDIKARIonline, Jumat, 31 Mei 2013 | 6:37 WIB   
Monumen 'Pancasila Sakti' atau sering disebut juga monumen 'Pahlawan Revolusi' dibangun atas prakarsa Soeharto.

Monumen ‘Pancasila Sakti’ atau sering disebut juga monumen ‘Pahlawan Revolusi’ dibangun atas prakarsa Soeharto.
Coba lihat kejanggalan Orde Baru memperlakukan Pancasila. Di satu sisi, sejak 1 Juni 1970, rezim Orde Baru melarang peringatan Hari Lahirnya Pancasila yang jatuh setiap tanggal 1 Juni. Di sisi lain, Orde Baru kemudian membuat peringatan sendiri, yakni setiap tanggal 1 Oktober sebagai Hari Kesaktian Pancasila.
Siapapun tak bisa menyangkal, Pancasila lahir dari pidato Bung Karno tanggal 1 Juni 1945 di hadapan Dokuritsu Zyunbi Tyoosakai (Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan/BPUPKI). Dan, tidak bisa disangkal pula, bahwa penggali Pancasila adalah Bung Karno.
Sayang, sejak Orde Baru berkuasa, proses pemalsuan sejarah intensif dilakukan. Termasuk terkait sejarah Pancasila. Sejak tahun 1971, Orde baru melalui ideolognya, Nugroho Notosusanto, mulai menyusun versi manipulatif terkait sejarah Pancasila. Hasilnya gampang ditebak: peranan Bung Karno dihilangkan dan 1 Juni 1945—sebagai Hari Lahirnya Pancasila—dikaburkan.
Sebaliknya, Orde Baru kemudian menetapkan 1 Oktober sebagai Hari Kesaktian Pancasila. Ini diputuskan sendiri oleh Soeharto melalui Surat Keputusan Presiden No. 153/1967. Alhasil, selama 32 tahun kekuasaan orde baru, hari kelahiran Pancasila tidak pernah diperingati, tetapi Hari Kesaktian Pancasila selalu diperingati.
1 Oktober sendiri mengacu pada 1 Oktober 1965, yakni peristiwa dimulainya “kudeta merangkak” terhadap pemerintahan Bung Karno. Sejak itu, peringatan 1 Oktober sebagai “Hari Kesaktian Pancasila” menjadi glorifikasi terhadap rezim Orde Baru atas jasa-jasanya menumpas komunisme dan sebagai ‘penyelamat’ Pancasila.
Sekarang ini, setelah berbagai fakta sejarah mengenai peristiwa 1965 mulai terungkap, ada baiknya predikat Orde Baru sebagai penyelamat Pancasila perlu ditinjau ulang. Ini sekaligus untuk membersihkan Pancasila dari lumuran dosa rezim Orde Baru.
Saya sendiri punya beberapa alasan mengapa peringatan 1 Oktober 1965 itu harus digugat.

Pertama, aksi politik yang dilakukan oleh Soeharto dan sekelompok tentara pada 1 Oktober 1965 dan sesudahnya adalah aksi kudeta terhadap pemerintahan yang sah, yakni pemerintahan Bung Karno. Saya kira, tidak etis bila bangsa ini terus merayakan sebuah kejahatan demokrasi, yakni kudeta terhadap pemerintahan yang sah dan didukung oleh rakyat, sebagai hari kebanggaan nasional.
 
Kedua, 1 Oktober 1965 merupakan “titik balik” dari perjuangan bangsa Indonesia melawan kolonialisme dan imperialisme. Kita tahu, hanya beberapa minggu setelah Soeharto dilantik sebagai Presiden, PT. Freeport mulai menjarah kekayaan alam di Papua.
Lalu, setelah UU PMA tahun 1967 diteken, Soeharto mulai mengundang korporasi asing untuk mengembang-biakkan keuntungannya di Indonesia, dengan menjarah kekayaan alam Indonesia dan menjadikan bangsa Indonesia sebagai kuli murah di negeri sendiri.
Praktis, sejak itulah cita-cita Revolusi Nasional Indonesia, yang berkeinginan melikuidasi struktur ekonomi kolonial, telah berakhir di tangan Soeharto dan begawan-begawan ekonominya yang disebut “Mafia Barkeley”. Ironisnya, Soeharto menipu rakyat dengan menyebut sistem ekonomi kapitalistiknya sebagai “ekonomi Pancasila”.
Tidak masuk akal, sistem ekonomi yang begitu tuntuk kepada kapital asing, yang hanya memperkaya segelintir kapitalis, yang mengesahkan pencolengan uang negara, yang mewarisi kita hutan luar negeri ribuan Triliun, justru disebut “ekonomi Pancasila”.
Ketiga, sejak 1 Oktober 1965, dalam rangka menumpas pendukung Bung Karno dan membangun kekuasaannya, orde baru melakukan pembantaian terhadap jutaan orang. Dari dokumen sejarah yang kita dapatkan hari ini, banyak diantara mereka yang dibantai itu—petani, buruh, mahasiswa kiri, perempuan, seniman progressif, dan intelektual—adalah pendukung loyal politik Bung Karno.
Ini adalah kejahatan kemanusiaan. Konon, kejahatan kemanusiaan rezim Orde Baru merupakan tragedi kemanusiaan terbesar kedua setelah  Holocaus Nazi/Hitler. Saya kira, sebagai negara yang berdasarkan Pancasila, yang menjunjung tinggi kemanusiaan, tidak pantas memperingati hari dimulainya Genosida (1 Oktober 1965) itu sebagai hari kemenangan nasional.
 
Keempat, 1 Oktober 1965 menandai dimulainya gelombang budaya anti-demokasi dan barbarian. Sejak itu, jutaan buku, terbitan, dan bacaan-bacaan hasil karya manusia Indonesia dibakar. Kebudayaan rakyat yang progressif dan demokratis, karena dianggap budaya PKI, kemudian dimusnahkan dan dilarang.
Begitu Orde Baru berkuasa, kritik dan kebebasan berpendapat dilarang. Para seniman tidak bebas berekspresi. Lantas, tidak sedikit media massa, terutama koran, yang dibredel. Di era Orde Baru, membakar buku adalah hal yang lazim. Padahal, kata Heinrich Heine, penyair Jerman yang terkenal itu: “where books are burned, human beings are destined to be burned too…”
 
Kelima, aksi kontra-revolusi Soeharto dan kelompoknya, bagi saya, menyisakan beban sejarah dan kerugian yang sangat besar bagi bangsa Indonesia hingga sekarang.
Praktek pemberangusan ideologi di era Orde Baru, terutama ideologi kiri, menyebabkan bangsa kita mengalami kemandekan, miskin imajinasi, tidak kritis, dan kurang kreatif. Hingga sekarang, banyak generasi Indonesia, terutama yang dilahir di era Orba hingga sekarang, masih gelap ketika melihat sejarah negerinya.
Sebagian kontrak karya pertambangan yang merugikan bangsa Indonesia, seperti dengan Freeport, adalah hasil kongkalikong Soeharto dan modal asing. Utang luar negeri yang terus membebani APBN kita hingga sekarang juga sebagian besar adalah warisan rezim orde baru.
Sekarang ini, 68 tahun usia Pancasila dan menjelang 68 tahun usia Proklamasi Kemerdeaan Republik Indonesia, saatnya kita menyambungkan kembali benang sejarah bangsa yang pernah diputus oleh Orde Baru. Mari menghidupkan kembali roh Pancasila yang sangat anti-kolonialisme dan anti-imperialisme untuk kembali membebaskan negeri ini dari penjajahan baru: neo-kolonialisme.
 
Risal Kurnia, kontributor Berdikari Online


Sumber Artikel: 
http://www.berdikarionline.com/kabar-rakyat/20130531/menggugat-hari-kesaktian-pancasila.html#ixzz2VClGc1i8

Follow us: @berdikarionline on Twitter | berdikarionlinedotcom on Facebook

Diposkan oleh IB di  09.00

Senin, 03 Juni 2013

Elite Politik Justru Merusak Nilai-Nilai Pancasila

UNTUK MEMPERINGATI ULTAH LAHIRNYA PANCASILA DAN BUNG KARNO, “INDONESIA BERJUANG” MENAYANGKAN ARTIKEL-ARTIKEL BERKAITAN (9)

http://indonesiaberjuang-gerpindo.blogspot.nl/2013/06/elite-politik-justru-merusak-nilai.html

Anies Baswedan:

Elite Politik Justru Merusak Nilai-Nilai Pancasila

Suara Pembaruan, Minggu, 2 Juni 2013 | 19:42

Rektor Universitas Paramadina, Anies Baswedan (kiri) didampingi Ketua Umum GP Ansor Nusron Wahid (kedua dari kiri), Dekan Fisip Universitas Indonesia (UI) Bambang Shergi Laksmono (kedua dari kanan), dan Dekan Eksekutif  Fakultas Hukum Universitas Pelita Harapan (UPH), John Riady berbicara dalam diksui publik bertema “Pancasila Jiwa Bangsa”  di Jakarta, Minggu (2/6). [SP/Gusti Lesek]Rektor Universitas Paramadina, Anies Baswedan (kiri) didampingi Ketua Umum GP Ansor Nusron Wahid (kedua dari kiri), Dekan Fisip Universitas Indonesia (UI) Bambang Shergi Laksmono (kedua dari kanan), dan Dekan Eksekutif Fakultas Hukum Universitas Pelita Harapan (UPH), John Riady berbicara dalam diksui publik bertema “Pancasila Jiwa Bangsa” di Jakarta, Minggu (2/6). [SP/Gusti Lesek]

JAKARTA] Nilai-nilai Pancasila masih hidup di dalam msyarakat Indonesia, dari Sabang sampai Merauke, dari Miangas sampai Pulau Rote.

Nilai-nilai itu hidup bukan hanya dalam diri orang-orang tua  yang telah merasakan asam garam kehidupan, tetapi juga dalam diri anak-anak muda Indonesia, yang menghidupkan Pancasila dengan cara-cara mereka sendiri.

“Sayangnya, nilai-nilai Pancasila yang sudah berakar itu dirusakkan oleh elite-elite politik. Mereka yang memainkan, sehingga nilai-nilai Pancasila semakin memudar,” kata Rektor Universitas Paramadina, Anies Baswedan dalam diksui publik bertema “Pancasila Jiwa Bangsa”  di Jakarta, Minggu (2/6).

Diskusi yang diselenggarakan Taruna Merah Putih (TMP), sayap Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P) itu, menghadirkan pembicara Ketua Umum GP Ansor Nusron Wahid, Dekan Fisip Universitas Indonesia (UI) Bambang Shergi Laksmono, dan Dekan Eksekutif  Fakultas Hukum Universitas Pelita Harapan (UPH), John Riady.

Menurut Anies, selama ini banyak orang yang telah merawat nilai-nilai Pancasila, tetapi mereka tidak menjaganya.

Akibatnya muncul benalu-benalu yang kerjanya menghisap hidup Pancasila di dalam sistem politik Indonesia.

“Benalu-benalu itu menghambat upaya-upaya perbaikan yang dilakukan warga negara yang tidak memiliki kepentingan lain, selain Indonesia yang lebih baik dan bermartabat,” katanya.

Dijelaskan, pengeroposan negeri ini juga berjalan efektif, karena orang-orang baik hanya diam, hanya mengeluh, dan tak berbuat apa-apa.

“Kepada mereka yang menghambat kita katakan bahwa api Pancasila akan membakar kejahatan-kejahatan mereka. Tetapi mari kita berhenti berlipat tangan, saatnya turun tangan melunasi janji kemerdekaan dalam semangat gotong-royong, semangat yang menjadi saripati Pancasila kita,” katanya.

Memudar

Sementara itu, John Riady sepakat bahwa bangsa Indonesia harus kembali merajut dan jangan membiarkan nilai-nilai Pancasila dirobek oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab.

Sayangnya, jangankan menghayati nilai-nilai Pancasila, menyebut nama Pancasila saja saat ini sudah sangat jarang.

John Riady mengatakan, dirinya pernah men-searching kata Pancasila di internet, dan hasilnya kata itu hanya muncul di media-media dan dibicarakan beberapa figur nasional.

“Tetapi di masyarakat, pemuda, SMA, dan mahasiswa hampir tidak ada pembicaraan soal Pancasila. Artinya sosialisasi Pancasila belum menjiwai semangat mereka,” katanya.

Karena itu, John mengusulkan perlu digencarkan sosialisasi Pancasila ke semua level, mulai dari SD hingga perguruan tinggi dan lapisan masyarakat,” katanya.

Anies Baswedan menambahkan, sosialisasi Pancasila perlu digencarkan dengan berbagai cara. “Kalau di rumah saja orang tuanya tidak pernah bicara Pancasila, jangan harap ke luar rumah anak-anak akan berbuat dan bertingkah laku Pancasilais,” katanya.

Karena itu, perlu digallak sosialisasi Pancasila, termasuk sosialisasi  melalui media massa, dengan memasukan pesan-pesan ideologis ke televisi-televisi yang ada saat ini.

Nusron Wahid mengatakan,  Pancasila perlu terus disosialisasikan. Tetapi dirinya tidak sepakat membentuk sebuah lembaga khusus untuk sosialisasi Pancasila.

“Kita akan terjebak pada pola Orde Baru, akan ada tafsir tunggal atas Pancasila. Yang dibutuhkan saat ini bukan tukang sosialisasi, tetapi pemimpin yang tegas, yang berani menindak siapa yang melanggar Pancasila,” katanya.

Sementara itu, Bambang mengatakan, tantangan ke depan kita adalah merevitalisasi Pancasiala. Bagaimana caranya?

“Ya ini tantangan kita  ke depan. Kuncinya adalah kualitas pengajaran dan membangun jaringan. Ini pekerjaan rumah kita bersama untuk merumuskan format dan materi untuk menghidupkan kembali Pancasila,” katanya. [L-8]

Diposkan oleh IB di  01.42

Minggu, 02 Juni 2013

Megawati: Pancasila Telah Dipisahkan dari Bung Karno

UNTUK MEMPERINGATI ULTAH LAHIRNYA PANCASILA DAN BUNG KARNO, “INDONESIA BERJUANG” MENAYANGKAN ARTIKEL-ARTIKEL BERKAITAN (8)

http://indonesiaberjuang-gerpindo.blogspot.nl/2013/06/megawati-pancasila-telah-dipisahkan.html

Megawati: Pancasila Telah Dipisahkan dari Bung Karno

  • Print
  • Email
Created on Saturday, 01 June 2013 16:28
Published Date

Jakarta, GATRAnews - Ketua Umum Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP), Megawati Soekarnoputri menilai, selama beberapa dekade, Pancasila telah dipisahkan dari Bung Karno sebagai pencetusnya. “Beberapa dekade, Pancasila telah dipisahkan dari Bung Karno sebagai penggalinya, dikaburkan pengertian-pengertiannya, diselewengkan, dan akhirnya secara halus dan pelan-pelan telah ditinggalkan dalam prakteknya,” kata Megawati saat membacakan pidato politiknya dalam acara peringatan hari lahir Pancasila serta pengukuhan dan apel siaga Satganas PDIP, Cakra Buana di Tugu Proklamasi, Jakarta Pusat, Sabtu, (1/6).

Menurutnya, kondisi ini menyebabkan Pancasila menjadi barang asing di hadapan anak-anak Indonesia. Pancasila juga menjadi sesuatu yang dilihat sebagai beban yang harus dihindari, bahkan sebagian merasa trauma dengan Pancasila. Berbagai pelanggaran dan tindakan represeif atas nama Pancasila di masa lalu, telah menjauhkannya dari gambaran idealnya sebagai ideologi bersama. Pancasila telah berubah menjadi pedang yang siap diayunkan dengan penuh kemarahan pada setiap anak negeri yang berbeda pandangan dengan pemerintah.
Akibatnnya, ini membawa bangsa ke dalam pusaran resiko maha besar. Padahal, pengalaman berbagai bangsa menunjukan, tidak ada bangsa besar yang tidak bertumpu pada ideologi yang mengakar dalam masyarakatnya. “Lihat saja Jepang, Jerman, Amerika, Inggris, Cina, dan masih banyak negara lainnya. Kesemuanya menemukan kekokohannya pada fondasi ideologi yang memiliki akar dalam nurani, dunia psikis, dan dunia imajinasi dan nalar rakyatnya,” papar Mega.
Ideologilah yang menjadi alasan dan sekaligus penuntun arah sebuah bangsa dalam meraih kebesaran masing-masing, serta menjadi motif dan sekaligus penjaga harapan bagi rakyatnya. Bagi Indonesia, lanjut dia, memudarnya Pancasila di mata dan hati rakyat telah jelas akibatnya, yakni Indonesia kehilangan orientasi yang berujung pada keterpurukan bangsa secara kolektif.
Selain itu, Indonesia juga kehilangan penuntun, motif, dan bahkan kehilangan harapan. Padahal, tanpa harapan, tidak pernah ada masyarakat yang bisa menjadi besar. “Harapan adalah salah satu kekuatan maha besar yang mampu memelihara daya hidup individu dan kolketif.  Harapan adalah energi induk bagi semua kemajuan. Dan harapan yang disediakan sebuah ideologi adalah berlipat-lipat kekuatannya,” tandas Mega.(IS)

Diposkan oleh IB di  16.22

Minggu, 02 Juni 2013

Polemik Seputar 4 Pilar Kebangsaan

UNTUK MEMPERINGATI ULTAH LAHIRNYA PANCASILA DAN BUNG KARNO, “INDONESIA BERJUANG” MENAYANGKAN ARTIKEL-ARTIKEL BERKAITAN (6)

http://indonesiaberjuang-gerpindo.blogspot.nl/2013/06/polemik-seputar-4-pilar-kebangsaan.html

Polemik Seputar 4 Pilar Kebangsaan

BERDIKARIonline, Minggu, 2 Juni 2013 | 13:56 WIB  
Ilustrasi

Ilustrasi
Berbicara tentang Pancasila mungkin dianggap sudah begitu klasik dan membosankan bagi sebagian besar kalangan masyarakat Indonesia. Sejak runtuhnya kekuasaan rezim otoritarian Orde Baru oleh gerakan reformasi yang memuncak di pertengahan Mei 1998 lalu, Pancasila memang nyaris dilupakan dan secara sadar mulai dikubur dalam-dalam dari ingatan kita sendiri. Termasuk pada peringatan kelahirannya yang ke-68 tahun ini, pun terasa begitu biasa-biasa saja, seakan tidak ada urgensinya sama sekali untuk dirayakan atau sekedar direfleksikan dan menjadi perhatian bersama.
 
Lika-Liku Sejarah
Perjalanan hidup Pancasila sebagai falsafah dasar kemerdekaan Bangsa Indonesia memang begitu panjang, berliku, tidak semulus citra yang selama ini senantiasa disematkan kepadanya. Selama pemerintahan Soeharto yang berkuasa lebih dari 32 tahun, Pancasila telah “diperkosa” dan secara esensial dipelintir sedemikian rupa untuk hanya sebagai senjata hegemonik menghantam para penentangnya demi melegitimasi kelanggengan kekuasaan. Pengebirian sejarah pun dilakukan melalui program penataran P-4 dengan menegasikan peranan Soekarno sebagai penggali Pancasila dari kubur ingatan kolektif Bangsa setelah beberapa abad lamanya terjajah Bangsa asing.
Orde Baru merekayasa versinya dengan menyatakan bahwa Muhammad Yamin adalah tokoh penemu Pancasila yang otentik. Sementara, Bung Hatta yang notabene secara politik pun tengah bertentangan dengan Bung Karno, justru tegas menyatakan bahwa “andai mendiang Muh. Yamin belum wafat (beliau wafat di tahun 1962, sebelum Orde Baru terbangun), mesti dapat pula menegaskan bahwa penggali Pancasila pertama kali memang Soekarno lewat satu jam pidato di sidang BPUPKI tanggal 1 Juni 1945, baru beberapa hari kemudian ia berpidato di Panitia Kecil yang dibentuk khusus untuk merampungkan naskah tersebut dan mengajukan teks yang sekarang dipergunakan.
Namun sayangnya, konsekuensi logis yang harus kita terima setelah lama dikekang pemaksaan azas tunggal di era Orde Baru itu, adalah fakta bahwa generasi Bangsa yang hidup pasca reformasi telah kehilangan pegangan ideologi nasional yang kukuh. Kita mulai mendekat pada kelumpuhan dihadapan gempuran ideologi asing berjuluk neoliberalisme yang sangat bertentangan dengan ruh Pancasila itu sendiri, yakni berwujud dalam segala pandangan tentang globalisasi, pasar bebas, kebebasan individual, konsumerisme, kebergantungan pada hutang luar negeri, kebergantungan pada investasi modal asing yang makin menguasai sumber daya alam, dan mulai absennya peran negara dalam menjamin kesejahteraan rakyat.
 
Dasar Kehidupan Bangsa
Bila dicermati, kini muncul pula permasalahan baru tentang pengukuhan Pancasila sebagai falsafah dasar kehidupan berbangsa dan bernegara. Maret 2013 lalu, ketua MPR RI Taufiq Kiemas mewakili lembaga negara yang dipimpin, memperoleh gelar kehormatan doctor honoris causa (H.C) dari Universitas Trisakti atas jasanya telah melahirkan gagasan sosialisasi empat pilar kebangsaan Indonesia, yakni Pancasila, Bhineka Tunggal Ika, Undang Undang Dasar (UUD) 1945, dan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Gagasan yang gencar disosialisasikan sejak 3 tahunan lalu oleh lembaga MPR RI tersebut dinilai sangat efektif guna menanamkan kembali nilai-nilai luhur yang perlu dijadikan acuan dan pedoman bagi setiap warga negara dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
Secara awam, mungkin kebijakan MPR itu perlu diapresiasi sebagai inovasi jitu mengatasi disorientasi Bangsa yang sedang berlangsung. Namun, masih ada banyak pihak yang cermat dan peduli, mereka segera merespon untuk mengoreksi langkah inovatif tersebut. Sejumlah ormas, elemen mahasiswa, LSM, partai politik, hingga tokoh nasional pun muncul dengan penolakan keras menuduhnya sebagai bentuk kesesatan berfikir, dan menuntut untuk tidak memposisikan Pancasila sebagai pilar dan disejajarkan dengan nilai-nilai lainnya.
MPR RI melalui wakil ketuanya Lukman Hakim Saifudin, mengklarifikasi agar masyarakat jangan salah mengerti, dalam KBBI pilar itu juga bisa diartikan sebagai dasar, maka juga berarti dasar penyangga kehidupan berbangsa untuk konteks Pancasila dalam konsep sosialisasi 4 pilar tersebut. Dalam artikel opininya di harian KOMPAS (1/6) kemarin, guru besar UI Prof. Sri-Edi Swasono, kembali mengulas gugatannya, ia menegaskan sebaiknya MPR RI yang bekerja berdasarkan amanat UU no 27 Tahun 2009 tersebut harus lebih bijaksana dan berani mengoreksi kesalahan sekecil apapun termasuk pada gagasan sosialisasi 4 pilar yang justru kembali mengkebiri peranan Pancasila.
Menurutnya, Pancasila tak boleh diganggu gugat sebagai dasar negara, sementara 4 pilar yang lebih tepat yaitu: 1. Proklamasi kemerdekaan (sebagai pesan eksistensial tertinggi), 2. UUD 1945, 3. NKRI, 4. Bhineka Tunggal Ika, sedangkan atap yang menaunginya adalah cita-cita nasional dalam teks pembukaan UUD 1945. Dengan demikian bangunan negara dan Bangsa Indonesia tersebut akan senantiasa kokoh di tengah iklim borderless state sekarang ini. Saya pribadi merasa polemik ini akan membawa manfaat, setidaknya publik yang kian apatis ini dapat turut memperhatikannya melalui perantara media massa, terlebih kalau lembaga MPR RI tersebut benar-benar bijak mau menyempurnakan ulang kebijakan inovatifnya tersebut.
Bangsa kita sedang terkoyak, dari luar kita dijadikan sasaran penghisapan oleh kepentingan asing, sementara di dalam, kita masih terpuruk dengan benang kusut budaya korupsi anggaran negara, kerusuhan sosial dan konflik horizontal, lemahnya taraf hidup masyarakat, minimnya akses pendidikan dan kesehatan, juga belitan persoalan lainnya. Pancasila sebagai gagasan pencerah semestinya dapatlah kembali menginsprasi jiwa kita secara utuh sebagai Bangsa merdeka yang punya kemampuan untuk mewujudkan cita-cita nasional tentang Bangsa Indonesia yang berdaulat, mandiri, berkepriadian, adil dan makmur.
 
Saddam Cahyosekretaris Liga Mahasiswa Nasional untuk Demokrasi (LMND) Eksekutif Wilayah Lampung dan Mahasiswa Sosiologi FISIP Unila

Sumber Artikel: 
http://www.berdikarionline.com/kabar-rakyat/20130602/polemik-seputar-4-pilar-kebangsaan.html#ixzz2V5eSO3y7

Follow us: @berdikarionline on Twitter | berdikarionlinedotcom on Facebook

Diposkan oleh IB di  15.57

Sabtu, 01 Juni 2013

UNTUK MENYONGSONG HARI ULTAH LAHIRNYA PANCASILA DAN BUNG KARNO TAHUN 2013 “INDONESIA BERJUANG” AKAN MENAYANGKAN ARTIKEL-ARTIKEL BERKAITANNYA (4) 

Ende, Flores, dan Pemulihan Soekarno

Daniel Dhakidae  Pemimpin Redaksi Prisma, Jakarta;
Tulisan Ini Disarikan dari Edisi Khusus Prisma, ”Soekarno”
KOMPAS, 31 Mei 2013
Tanggal 1 Juni besok, situs Bung Karno di Ende akan diresmikan secara besar-besaran oleh Wakil  Presiden Boediono, dengan taman dan penataan lanskap di lokasi ditempatkannya patung Soekarno. Patung karya pematung Hanafi tersebut berbeda dari patung Soekarno mana pun di Indonesia. Patung-patung lain menggambarkan Soekarno beraksi, tangan teracung. Di Ende,Soekarno seorang pemikir reflektif, tenang, dan duduk. Koor gabungan 1.000 siswa SMA Ende akan mengumandangkan lagu polifonik ”Io Vivat Nostrorum Sanitas” 
(sehat walafiatlah sobat-sobat kita) yang diajarkan Bung Karno untuk klub teaternya di Ende.
 
Kontribusi Ende
Soekarno dengan gagah perkasa menjalani hukuman penjara pertama, 1930, tetapi mengalami kehancuran mental, ketidakpastian sosial, dan disorientasi politik pada pemenjaraan kedua, 1933, ampai-sampai meminta belas kasihan pemerintah kolonial. Dalam keadaan begitu, Soekarno menjejakkan kakinya di dermaga Pelabuhan Ende, Februari 1934.
Soekarno yang datang ke Ende adalah Soekarno yang ”secara politik mati”, kata Hatta. Namun, di Ende, perlahan Soekarno membangun kembali kekuatan dirinya tahap demi tahap.
Pertama, Soekarno menjadi seorang bapak keluarga tanpa gangguan kegiatan politik seperti di Bandung. Soekarno menanam sayur-mayur, memetiknya untuk dimasak di rumah kontrakannya demi lima anggota keluarganya. Sebagai bapak keluarga, Soekarno juga menjadi seorang
Muslim yang taat—shalat sehari lima waktu dan setiap Jumat ke masjid.
Kedua, dari menjadi bapak keluarga, Soekarno perlahan-lahan menghidupkan kembali kegiatan

intelektualnya dan menjadikan dirinya seorang ahli Islam. Di Jawa, keasyik-masyukannya dengan  marxisme menenggelamkan perhatiannya terhadap Islam. Meskipun demikian, tulisan Nasionalisme, Islamisme, dan Marxisme, 1926, adalah manifesto politik Soekarno muda yang brilian, 25 tahun—tidak kalah dari Marx (30) dan Engels (28); ketiganya berada dalam kurun umur  sama. Di Jawa, Soekarno melihat Islam dari luar, dari kacamata marxisme yang menuntut 

simpati Islam terhadap marxisme karena Islam pada dasarnya adalah sosialis, demikian Soekarno. 
Di Ende, Soekarno banyak menulis dan melihat Islam dari dalam.
Ketiga, Soekarno dijauhi golongan atas di Ende dan ditakuti golongan bawah karena propaganda kolonial: dia dianggap komunis. Soekarno mengeluh bahwa tidak ada orang yang mendengarnya di Ende: ”Orang di sini yang mengerti tidak bicara dan yang bicara tidak mengerti.”
Karena itu, ”aku akan membentuk masyarakatku sendiri” dan mempersetankan ”orang pintar yang tolol itu”. Dia mendirikan ”Kelimoetoe Toneel Club”, dengan dukungan tukang jahit, sopir,
nelayan; beranggaran dasar dan Soekarno sendiri direkturnya. Dia menulis dan mementaskan 13 drama dalam tempo empat tahun! Rata-rata setiap triwulan satu drama. Dengan anggota antara 
56 dan 90 orang dia membentuk ”massa kecil”, kemudian jadi ”kampus” tempat diskusi. Soekarno menanam kesadaran akan kemerdekaan meski semuanya dalam bahasa simbolik teater karena lima polisi kolonial selalu mengawasinya.
Keempat, perlahan Soekarno mengalihkan diri menjadi cendekiawan sejati dengan keluar melangkah ke suatu kelompok berbeda, dengan para pastor/misionaris. Diskusi dalam bahasa Belanda secara rutin dijalankan dengan mereka di Ende, yang rata-rata seumur dengannya, 35-40 tahun, saat pemuda Soekarno berumur 33 tahun.
Di sana dipelajari agama mondial dalam diskusi dengan dukungan buku di perpustakaan pribadi para pastor itu. Sosialisme Soekarno dibandingkan langsung dengan sosialisme gereja yang dipelajarinya di sana.
Kelima, berbekal hasil diskusi itulah, renungan di bawah pohon sukun yang begitu membuai Soekarno menjadi puncak dari semua yang diperoleh di Ende, yaitu menggali dan merenung tentang Pancasila yang dilukiskan Soekarno dengan begitu puitik.
 
Ende dan Sang Ideolog
Soekarno memang lebih menekankan renungan di bawah pohon sukun. Namun, menurut penulis, Soekarno mengabaikan dua hal lainnya, karena gabungan ketiganya—diskusi, aksi teater, dan refleksi—secara gemilang mengantarnya menuju kesatuan mistik di bawah pohon 
sukun untuk menemukan sesuatu yang tujuh tahun kelak, pada 1 Juni 1945, disebutnya sebagai Pancasila. Maka, lahirlah seorang ideolog negara, state ideologist, di Ende.
Dengan demikian, Ende jadi penting bagi Soekarno. Jika Ende penting bagi Soekarno, dan Soekarno penting bagi Indonesia, dengan sendirinya Ende harus penting bagi Indonesia.
Sebab, apa pun yang penting bagi Soekarno, penting bagi bangsa ini. 



Diposkan oleh IB di  11.30

30
May
13

Tatakota : Kawasan Segitiga Emas Surakarta

Surakarta Bikin Kawasan Segitiga Emas

TEMPO.CO, Surakarta – Pemerintah Surakarta tengah membangun kawasan terpadu untuk bisnis di Banjarsari, Surakarta, Jawa Tengah. Kawasan tersebut membentang antara Monumen 45, Pura Mangkunegaran, dan Stasiun Solo Balapan di Kecamatan Banjarsari. Kawasan terpadu ini disebut kawasan segitiga emas.

»Kawasan segitiga emas ini potensial untuk pengembangan ekonomi dan budaya,” kata Wakil Wali Kota Surakarta Achmad Purnomo seusai membuka seminar bisnis inklusif, Kamis, 30 Mei 2013.

Dia menjelaskan, kawasan terpadu tersebut tidak hanya untuk bisnis, tetapi juga ruang publik. »Kami memilih membuat kawasan segitiga emas di Banjarsari karena banyak ruang publik yang bisa dimanfaatkan. Selain itu, banyak terdapat usaha jasa perdagangan,” ujarnya. Menurut Achmad, ciri khas Surakarta sebagai kota budaya tidak boleh ditinggalkan meski kini kota itu tengah merancang kawasan bisnis.

Sebagai pendukung ekonomi, saat ini tengah dibangun pasar elpabes (elektronik, pakaian, dan besi) dengan anggaran Rp 8,9 miliar. Pasar tiga lantai tersebut ditargetkan selesai pada 2014 dan mampu menampung 160 pedagang. Dalam waktu dekat akan ditata Kali Pepe sebagai tempat wisata air. »Setelah semua penataan selesai, baru bisa dibilang kawasan terpadu,” katanya.

Dia mengaku hanya sebatas menyiapkan rancangan kawasan dan membangun fasilitas dasar seperti pasar dan ruang publik. Selanjutnya dia mempersilahkan investor untuk meramaikan kawasan segitiga emas di Banjarsari.

Pengamat ekonomi Universitas Sebelas Maret Surakarta Lukman Hakim menilai segitiga emas yang di dalamnya mencakup kawasan bisnis bisa diwujudkan di Surakarta. Namun, dia meminta tidak meniru segitiga bisnis di kota besar. »Jangan diisi dengan bangunan kantor bertingkat. Itu tidak sesuai dengan karakter Solo,” katanya.

Dia menyarankan segitiga emas dimanfaatkan untuk mengembangkan bisnis jasa dan perdagangan yang selama ini menggerakkan ekonomi Surakarta. Misalnya, membuat pasar tradisional yang nyaman dan membentuk pusat-pusat perdagangan yang selama ini menyebar. »Jadi, masyarakat bisa mendapatkan berbagai macam barang di kawasan segitiga emas, tapi tanpa mematikan perdagangan yang sudah ada,” ucapnya.

Purnomo mengatakan akan fokus pada pengembangan usaha mikro-kecil dan menengah di kawasan segitiga emas. Terutama dengan menggalakkan usaha kuliner. »Kami akan memfasilitasi pelaku usaha kecil dengan membangun kawasan bisnis,” katanya.

UKKY PRIMARTANTYO




Blog Stats

  • 1,701,530 hits

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 72 other followers