Archive for October, 2010

29
Oct
10

28 Oktober 2010 : Marak Aksi Demo Kecam SBY

28 Oktober Marak Aksi Demo Kecam SBY

lokasi: Home / Berita / Politik / [sumber: Jakartapress.com]

Kamis, 28/10/2010 | 19:58 WIB 28 Oktober Marak Aksi Demo Kecam SBY

Jakarta – Ada yang unik dalam aksi demo memeringati 82 tahun Hari Sumpah Pemuda pada 28 Oktober 2010, demonstrasi menyembelih kambing bernama SeBeYe. Bahkan berusaha menyantet Presiden SBY. Sejak pagi tadi, puluhan aktivis yang menamakan dirinya Pemuda Cinta Tanah Air (PECAT) sudah berkumpul di Tugu Proklamasi dengan rencana akan menyembelih kambing bernama SeBeYe.

Menurut Koordinator PECAT Yosef Rizal, tindakannya itu dipicu karena ketidakpuasannya pada pemerintahan SBY-Boediono. Yosef bahkan mengait-ngaitkan maraknya bencana yang terjadi akhir-akhir ini dengan kepemimpinan SBY.

“Berbagai bencana diyakini disebabkan karna ketidakseimbangan dunia makro dan mikrokosmos. Disharmoni tersebut karena perilaku pemimpin yang menentang. Maka bebagai bencana sosial dan alam yang menima bangsa Indonesia selama SBY berkuasa mengindikasikan bahwa SBY telah banyak menyimpang dan mengkhianati rakyat,” kata Yosef Rizal sat berorasi.

Awalnya kambing jantan yang punggungnya ditulisi dengan nama SeBeYe dibiarkan merumput di taman dekat gerbang Tugu Proklamasi. Tindakan mencolok itu kemudian direspon secara cepat oleh polisi yang berjaga di situ.

Polisi pun memeritahkan agar kambing itu dibawa masuk ke dalam taman Tugu Proklamasi. Namun massa PECAT tidak terima permintaan polisi itu. Akibatnya saat berorasi sempat terjadi dorong-dorongan antara massa dengan polisi.

Sebelum rencana penyembelihan itu terlaksana, akhirnya polisi segera mengamankan kambing itu. Polisi membawa paksa kambing dengan menggunakan mobil patroli.

Akhirnya, batal menyembelih kambing, para aktivis itu kemudian berorasi sambil membakar kemenyan. Menurut mereka ritual pembakaran kemenyan dan sesajen itu ditujukan untuk menyantet SBY. ” Para dukun sepakat menyantet dan menolak SBY,” jelas Adi Bunardi, aktivis PECAT yang lain.

Sambil berorasi, mereka juga pembakaran bendera partai Golkar dan Demokrat, serta memasang beberapa spanduk yang menyudutkan SBY. Hadir juga dalam aksi ini politisi Sri Bintang Pamungkas.

Menyembelih Kambing ‘SeBeYe’
Unjuk rasa memprotes kinerja pemerintah oleh massa yang menamakan dirinya Pemuda Cinta Tanah Air (Pecat) beralih ke sekitar Istana Merdeka, Kamis (28/10/2010). Kali ini mereka berencana momotong kambing putih yang mereka beri nama “SebeYe“.

Sebelumnya, saat berunjuk rasa di Taman Proklamator, kambing tersebut disita polisi saat hendak disembelih. “Sekarang kata polisi kambingnya ada di Istana. Kita akan ke sana dan langsung disembelih di Istana,” ujar koordinator Pecat, Yosep Rizal. Menurut Josep, ‘SeBeYe‘ rencananya akan dipotong dan diberikan ke rakyat miskin.

Sempat terjadi aksi tarik-menarik dan berujung pada adu mulut antara pihak kepolisian dengan Josep maupun anggota Pecat yang lainnya. Hingga kemudian, pihak keamanan berhasil mengamankan ‘SeBeYe‘ ke sebuah mobil yang diduga kuat milik polisi. “Ternyata bukan hanya aktivis yang ditangkap, tapi kambing pun ikut ditangkap,” ujar Adi Bunardi, Presidium Pecat.

Sekelompak massa yang menamai diri Pemuda Cinta Tahan Air tersebut menggelar upacara ruwatan dengan membakar kemenyan dan bunga tujuh rupa di depan Tugu Proklamasi, Jakarta Pusat, Kamis (28/10/10). Upacara ini dimaksudkan untuk menolak segala bencana yang terjadi di Indonesia selama ini. Yosep Rizal, koordinator aksi, mengatakan, ruwatan ini ditujukan untuk menolak bala atas kepemimpinan SBY.

“SBY adalah bala. Bencana dimana-mana di negeri ini disebabkan SBY. Oleh karenanya kita ruwat di sini. Sebagai bala, sudah sepantasnya SBY kita enyahkan,” ujar Yosep yang sebelumnya juga pernah berdemo dengan membawa kerbau bertuliskan ‘Si BuYa‘.

Awalnya, dalam aksi ruwatan ini mereka akan menyembelih kambing yang bertuliskan SBY. Namun, hal itu urung dilakukan karena kambing yang mereka bawa ditahan pihak Polsek Menteng. Sempat terjadi keributan sebelum aksi. Pasalnya, aksi ini tidak mendapat izin dari pihak kepolisian.

Protes Penembakan Mahasiswa
Ratusan mahasiswa menggelar aksi pemblokiran di Jalan Diponegoro, Jakarta Pusat, Kamis (28/10/2010), bertepatan dengan HUT ke-82 Sumpah Pemuda. Mereka membentuk barisan, membakar ban bekas, dan membawa spanduk yang berisikan protes terhadap aksi penembakan mahasiswa oleh polisi. “Mengecam tindakan represif dan arogansi polisi tehadap mahasiswa,” demikian yang tertulis di spanduk mereka.

Selain itu, kelompok mahasiswa dari sejumlah universitas Jabodetabek itu membagikan sekuntum mawar putih kepada pengguna Jalan Diponegoro. “Mawar putih sebagai bentuk duka kami terhadap teman kami yang tertembak,” kata seorang pengunjuk rasa.

Akibat aksi pembakaran ban tersebut, arus lalu lintas Jalan Diponegoro terhambat. Sejumlah petugas kepolisian tampak mengatur arus lalu lintas dan mengamankan aksi tersebut. Asap pembakaran ban tampak menghitam dan menimbulkan bau yang menyesakkan pernapasan. “Kami pemuda-pemudi, Indonesia. Lengan bajumu singsingkan, untuk negara,” seru mereka.

Ketika ditanya mengapa mereka tidak menggelar aksi simpatik atas bencana alam yang terjadi di Mentawai dan Yogyakarta , juru bicara aksi, Alan, menjawab, “Nanti, kami belum terkonsentrasi itu. Kami masih fokus sama isu setahun SBY dan penembakan.”

Sementara itu kelompok aktivis pemuda dan mahasiswa yang tergabung dalam Persatuan Oposisi Nasional menilai SBY-Boediono telah gagal, sehingga dalam aksi 82 tahun Sumpah Pemuda menyerukan empat tuntutan, yakni (1) Usir Penjajahan Asing, (2) Turunkan Harga, (3) Tangkap dan Sita Harta Koruptor, (4) Tegakkan Demokrasi.

Aksi unjuk rasa di Jakarta dilakukan LSM Bendera, Repdem, Kelompok Mahasiswa UBK, Gerakan Mahasiswa Jakarta, Komunitas /Pemuda Indonesia , dan BEM seluruh Nusantara, turun ke jalan dan melakujkan demo di beberapa tempat strategis. Lokasi unjuk rasa, antara lain Gedung Wakil Rakyat DPR/MPR, Bundaran Hotel Indonesia, Tugu Proklamtor, dan Kantor Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) yang dimulai Kamis (28/10/10) pukul 10.00 WIB hingga pukul 17.00 WIB.

“Dulu sumpah pemuda digerakan untuk melawan penjajah. Kini kami mengajak seluruh pemuda Indonesia untuk bangkit melawan ketidakadilan, melawan pemerintah yang korup, melawan diskriminasi gab kaya miskin, melawan wakil rakyat yang menghabiskan dana untuk pelesir ke luar negeri, melawan janji-janji yang hanya lip service,” ungkap Robert, juru bicara dari Gerakan Mahasiswa Jakarta.

Bendera Golkar dan Demokrat Dibakar
Beberapa elemen masyarakat yang menamakan dirinya Pemuda Cinta Tanah Air (Pecat) membakar bendera Partai Demokrat dan Golkar, saat melakukan aksinya di Taman Proklamator, Jakarta (28/10/2010).

Adi Bunardi, Presidium Pecat dalam orasinya mengatakan bahwa pembakaran bendera ini sebagai wujud dari ketidakberpihakan partai politik itu kepada rakyat. “Partai-partai ini harus dibubarkan,” teriaknya yang diikuti dengan pembakaran bendera partai Golkar dan Demokrat. Dalam waktu sekejap, bendera kedua parpol tersebut ludes.

Sri Bintang pamungkas, yang turut hadir dalam aksi tersebut mengatakan mestinya ada sembilan bendera. “Mestinya ada sembilan partai di parlemen yang merampok uang rakyat,” ujar Sri Bintang dalam orasinya.

Menurutnya, sembilan Parpol tersebut sudah tidak lagi berpihak pada rakyat, sehingga perlu dibubarkan. Parpol-parpol sekarang, menurut Sri Bintang, adalah buatan Orde baru. “Bagian dari Orba yang sama sekali memalukan Republik,” tegasnya.

Puluhan peserta aksi, sekitar jam 13.30 langsung menuju Bundaran HI dan Istana Negara. Sebelumnya, sempat terjadi kisruh saat kambing yang diberi nama “SeBeYe” hendak dipotong di Taman Proklamator. Namun, beberapa pihak keamanan langsung mengamankan “SeBeYe” tersebut.

PRD Serukan Anti-Kolonialisme
Saatnya bagi para pemuda-pemudi Indonesia untuk bangkit dan bersatu menghadapi penjajahan baru, yaitu sebuah bentuk penjajahan yang menggunakan jubah baru bernama neoliberalisme. Pernyataan ini disampaikan oleh Komite Pimpinan Pusat Partai Rakyat Demokratik (KPP-PRD) melalui siaran pers di Jakarta (28/10), bertepatan dengan peringatan 82 tahun Hari Sumpah Pemuda.

Pada 82 tahun silam, para pemuda-pemudi bersepakat untuk membebaskan dirinya dari percekcokan mengenai kesukuan dan keagamaan. Mereka menyudahi semua perbedaan dan menyatakan dirinya satu: “Satu Bangsa, Satu Tanah Air, Satu Bahasa”.

Menurut Ketua Umum PRD, gagasan-gagasan para pemuda saat sumpah pemuda telah menjadi dasar pembentukan “nation” Indonesia. “Para pemuda dan pemudi itu telah merumuskan soal gagasan mengenai Indonesia merdeka secepat-cepatnya,” kata Agus Jabo kepada Berdikari Online.

Akan tetapi, Agus Jabo menjelaskan, bahwa semangat sumpah pemuda sedang berhadapan dengan situasi bangsa yang makin terpuruk. “Indonesia sekarang ini sudah keluar dari track bangsa yang dicita-citakan oleh para pemuda 82 tahun silam,” tegasnya.

Tantangan Pemuda
“Para pemuda Indonesia, seperti juga massa rakyat yang lain, telah menjadi korban dari sistim neoliberalisme. Tidak ada lapangan pekerjaan, pendidikan mahal, dan krisis mentalitas,” tambah Gede Sandra, selaku Sekjen Partai Rakyat Demokratik (PRD). Ia pun menyoroti menguatnya sentimen kesukuan, keagamaan, dan kedaerahan sebagai sebuah tantangan baru pemuda-pemudi Indonesia sekarang.

Kejadian beberapa saat terakhir, seperti kasus tekanan terhadap jemaat HKBP dan penyerbuan Jemaah ahmadiyah, telah mengkonfirmasi adanya bahaya terhadap keutuhan sebagai satu bangsa, satu tanah air, dan satu bahasa.

Dan, lanjut Gede, telah tercipta kesenjangan sosial dan ekonomi yang sangat lebar, baik di kalangan rakyat maupun antar daerah. “Pemerintah masih gagal memberantas kemiskinan dan menciptakan lapangan kerja. Pola pembangunan juga belum berjalan merata dan adil,” ujarnya.

PRD adalah salah satu partai yang lahir saat perjuangan melawan kediktatoran rejim orde baru, yang sebagian besar pendiri dan anggotanya adalah kaum muda. (*/inc/kcm)

29
Oct
10

Indonesia Banyak Bencana karena Banyak Korupsi

Rabu, 27/10/2010 12:24 WIB
Indonesia Banyak Bencana karena Banyak Korupsi
Ramadhian Fadillah – detikNews


Jakarta – Berbagai bencana terus melanda Indonesia. Tsunami di Mentawai yang menewaskan ratusan orang dan letusan Gunung Merapi yang menewaskan belasan orang, terjadi hampir bersamaan.

Hal ini dinilai sebagai peringatan dari Sang Pencipta agar penduduk Indonesia mau bertobat.

“Pemimpin korupsi dan tebang pilih dalam menegakkan hukum. Ini yang harus dikoreksi,” ujar pemimpin Pondok Pesantren Daarul Rahman, Syukron Ma’mun dalam tausyiahnya di acara silaturahim akbar Ponpes dan Madrasah Diniyah se-Jakarta Selatan di Bumi Perkemahan Ragunan, Jakarta Selatan, Rabu (27/10/2010).

Syukron sepakat bahwa semua bencana terjadi karena merupakan fenomena alam. Namun semua bencana tersebut juga merupakan teguran dari Allah.

“Saya tidak menafikan perkataan para ilmuwan. Tetapi siapa yang punya lempengan, punya laut, punya gunung? Semua milik Allah, semua tidak akan terjadi tanpa digerakkan pemiliknya,” terang dia yang diamini para jamaah.

Syukron pun meminta agar seluruh penduduk Indonesia melakukan koreksi diri. Bukan hanya presiden atau pemimpin, rakyat pun diminta mengkoreksi diri dan bertobat.

“Kiai-kiai juga harus dikoreksi,” pesannya.

Sementara itu ustadz Arifin Ilham yang juga hadir, terus  mengajak rakyat Indonesia untuk terus berzikir agar negeri ini bebas dari bencana.

“Jadikan semuanya sebagai tempat berzikir. Kantor kita pun adalah tempat berzikir,” pesan Arifin.

(rdf/lrn)

Rabu, 27/10/2010 11:34 WIB
2 Ribu Pelajar Madrasah Berdoa Agar Indonesia Bebas Bencana
Ramadhian Fadillah – detikNews


Jakarta – Sekitar 2.000 pelajar madrasah diniyah dan pondok pesantren mendoakan Indonesia agar terbebas dari bencana. Mereka menuliskan doa mereka dalam sebuah spanduk sepanjang 10 meter.

Hal ini merupakan salah satu rangkaian acara silaturahim akbar pondok pesantren dan madrasah diniyah se-Jakarta Selatan yang digelar di Bumi Perkemahan Ragunan, Jakarta Selatan, Rabu (27/10/2010). Acara ini bertema Doa Untuk Negeri.

“Ya Allah semoga negeri ini menjadi negeri yang dilindungi olehmu,” tulis Maya, seorang pelajar Madrasah Diniyah Darul Mustofa.

Sementara itu Reza, seorang pelajar Madrasah Diniyah Faturachman, menulis agar tidak ada lagi bencana yang menimpa Indonesia. Mereka mengaku prihatin atas jatuhnya korban secara terus menerus akibat berbagai bencana alam.

“Ya Allah semoga negeri ini bebas dari bencana,” tulis  Reza.

Fricilia Anggi Sari juga menuliskan doanya. Gadis berjilbab ini berharap agar negeri ini aman dan tentram.

“Semoga negeri ini aman tentram dan damai tidak ada bencana lagi. Semoga negeri ini dipenuhi muda-mudi yang berakhlak mulia,” tulis dia.

Selain acara doa bersama ini, digelar juga acara dzikir bersama Ustad Arifin Ilham serta berbagai games.

(rdf/lrn)

Rabu, 27/10/2010 16:10 WIB
Bencana Muncul karena Korupsi, Din Ajak Elite Politik Tobat
Rachmadin Ismail – detikNews


Jakarta – Munculnya bencana beruntun di negeri ini tak lepas dari perilaku pemimpin bangsa yang korup. Oleh sebab itu, perlu dilakukan gerakan evaluasi diri oleh para elite mulai dari tingkat atas sampai ke bawah.

“Dalam hadis nabi Allah melaknat penyuap dan yang disuap. Jadi keduanya dilaknat allah. Artinya kalau ada tindakan penyuapan dilaknat, apalagi korupsi yang merajalela,” kata Ketua PP Muhammadiyah Din Syamsuddin.

Hal tersebut ia sampaikan usai acara diskusi bertajuk ‘Memperkokoh pemahaman empat pilar bangsa guna merajut persatuan dan kesatuan bangsa’ di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Rabu (27/10/2010).

Menurut Din, budaya korupsi mendatangkan laknat bagi Indonesia. Sudah waktunya bagi para pemimpin negeri ini untuk berubah ke arah lebih baik.

“Yang ingin saya sampaikan dengan musibah beruntun ini, perlu saya imbau kepada seluruh keluarga besar bangsa untuk melakukan muhasabah, instrospeksi dan mawas diri tentang apa-apa yang dilakukan dalam hidup bersama ini, terutama, kepada mereka yang memegang dan memangku amanat kepemimpinan,” papar Din.

Din juga tidak hanya meminta para tokoh politik untuk bertobat. Namun, para tokoh agama juga diimbau untuk kembali menginstrospeksi diri sebab pemangkuan amanat harus diemban dengan sebaik-baiknya.

“Bencana jangan dianggap sebagai sebuah rutinitas. Ini banyak yang harus kita ubah,” tegasnya.

(mad/lrn)

Sabtu, 09/10/2010 13:00 WIB
83 Persen Indonesia Rawan Bencana
Andi Saputra – detikNews


Banjir di Wasior (AFP)

Jakarta – Indonesia yang merupakan negara kepulauan di simpang 2 samudera menjadi kawasan yang rentan terhadap bencana. Menurut catatan LSM Walhi, 83 persen wilayah Indonesia rawan bencana alam dari banjir, pemanasan global, longsor  hingga kebakaran hutan.

“Sejak 10 tahun terakhir, telah terjadi 6 ribu bencana alam,” kata Direktur Eksekutif WALHI, Berry Nahdian Furqan dalam diskusi di Warung Daun, Jalan Cikini Raya, Jakarta, Sabtu, (9/10/2010).

Ancaman alam tersebut juga mengancam Ibukota Jakarta. Dalam 9 bulan terakhir telah terjadi 23 kali banjir yang merendam ribuan pemukiman warga. “Setelah banjir melanda Wasior, banjir juga melanda Aceh beberapa hari lalu,” tambahnya.

Berdasarkan fakta diatas, seharusnya pemerintah punya plan skenario di tiap-tiap kantong rawan bencana. Jika ada bencana, sudah ada plan evakuasi, pengiriman bantuan, alat berat, kantong pengungsian dan jaringan komunikasi.

“Tapi apa yang terjadi, banjir Wasior pemerintah gelagapan. Tak punya skenario evakuasi dan penyelamatan serta pemulihan, ” tutup Berry.

Banjir dahsyat di Wasior telah menelan korban 108 orang meninggal dunia dan 76 orang masih hilang. Informasi terakhir dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) 172 orang mengalami luka berat. Dari jumlah tersebut, 115 orang dirawat di RSUD Nabire dan sisanya di RSUD Manokwari.

Tercatat 1.049 orang kehilangan tempat tinggal dan sekarang tinggal di pengungsian. Mereka ditampung di Manokwari dan Nabire.

(asp/gah)

Baca Juga :

Merapi & Mentawai

Kamis, 28 Oktober 2010 07:35 WIB | Iptek | Sains |
Letusan Merapi dan Tsunami Mentawai Berkaitan ?
Letusan Merapi dan Tsunami Mentawai Berkaitan?
Asap solfatara disertai guguran material Gunung Merapi terlihat dari Kaliadem, Kepuharjo, Cangkringan, Sleman, Yogyakarta, Selasa (26/10). (ANTARA/ Wahyu Putro A)

Jakarta (ANTARA News) – Gelombang tsunami di Mentawai dan meletusnya Gunung Merapi kemungkinan berkaitan satu sama lain, tulis Richard A. Lovett dari National Geographic News, mengutip sejumlah ilmuwan, Kamis.

Gelombang tsunami itu dipicu oleh gempa bumi berkekuatan 7,7 Skala Richter yang terjadi pada Senin pukul 9.42 WIB, di pulau paling barat Sumatera. Tsunami dan gempa tersebut menewaskan lebih dari 300 orang.

Beberapa jam kemudian gunung berapi Merapi setinggi 3.000 meter di Yogyakarta, memuntahkan abu panas ke angkasa dan menewaskan setidaknya 30 orang yang tinggal di kaki gunung itu.

Gunung api teraktif di Indonesia, demikian Richard Lovett, meningkat aktivitas energinya dalam beberapa hari terakhir.

Namun waktu letusan utamanya muntah hanya beberapa jam setelah gempa bumi Mentawai membangkitkan pertanyaan apakah guncangan di perut bumi telah memicu letusan, kendati episentrum gempa berada 1.300 km dari Merapi.

“Bisa saja terjadi letusan gunung berapi berkaitan dengan perubahan tekanan akibat gempa bumi atau dipicu oleh gelombang seismik. Namun dokumentasi mengenai hal ini belum pasti,” kata Chris Goldfinger, pakar geologi laut dari Universitas Oregon State, dalam emailnya.

Contoh-contoh yang telah diketahui, katanya, termasuk perubahan dalam aktivitas geotermal di Taman Nasional Yellowstone pada 2002 menyusul gempa bumi 7,9 SR di Alaska, dan letusan gunung Andes pada 1960 setelah dipicu gempa bumi berkekuatan 9,5 SR di Chile.

Sementara itu para pakar memperkirakan dua bencana yang terjadi bersahutan itu memang berkoinsiden di dalam negara yang memiliki kegempaan paling di dunia itu.

Indonesia, sebut National Geographic, berada di Cincin Api Pasifik, dan 17.500 pulau-pulaunya hidup dalam ancaman (guncangan) tektonik.

Misalnya, di pulau Merapi berada, yaitu Pulau Jawa, lebih dari 30 gunung berapi mengancam lebih dari 120 juta orang penduduknya.

Gempa lambat?

Sementara itu, para pakar mencatat bahwa gelombang tsunami yang terjadi pekan ini di luar dugaan karena tergolong besar untuk ukuran gempa yang menyertainya.

Gempa 7,7 SR yang memicu tsunami Mentawai itu terjadi di zona patahan yang sama dengan gempa 9,0 SR yang memicu tsunami dahsyat di Samudera India (termasuk Aceh) pada 2004.

Kendati gempa Senin itu tidak sekuat gempa 2004, namun tsunami yang diakibatkannya dapat menciptakan gelombang setinggi tiga meter dan melabrak pulau-pulau terdekat ke pusat gempa, bahkan di beberapa tempat tinggi gelombang tsunami bisa mencapai 6 meter.

Costas Synolakis, Direktur Pusat Riset Tsunami pada Universitas Southern California, menyebut peristiwa ini sebagai gempa bumi tsunami. Synolakis mengutip ini dari penaksiran ahli geofisika Emile Okal dari Universitas Northwestern.

Kendati banyak jenis gempa bisa memicu tsunami, gempa bumi tsunami adalah kasus yang unik.

Pada tipe gempa seperti ini, pergeseran lempeng tektonik biasanya berlangsung lambat, terjadi pada periode yang lebih panjang dari yang diperkirakan, didasarkan pada intensitas geseran seismik, kata Synolakis dalam emailnya.

“Alasan mengapa gempa tsunami berjalan lambat, tidak jelas,” kata Synolakis.

“Hipotesisnya adalah itu terjadi karena bebatuan yang patah atau bergerigi yang memperlambat peretakan. Kami tidak tahu, tapi kami tahu bahwa batuan itu memicu tsunami yang lebih besar,” imbuhnya.

Gempa tsunami Senin itu adalah tsunami pertama yang diakibatkan gempa bumi rendah yang tercatat oleh tsunamograf yang bisa memberikan data berharga untuk menjelaskan misteri gempa bumi tsunami. (*)

national geographic news/jafar

COPYRIGHT © 2010

Bencana Bertubi-tubi: Sudah Waktunya Kita Bertobat

lokasi: Home / Berita / OPINI / [sumber: Jakartapress.com]

Kamis, 28/10/2010 | 08:08 WIB

Bencana Alam Bertubi-tubi: Sudah Waktunya Kita Bertobat Kepada-Nya
Oleh: Bakaruddin Is *)

MENJELANG Peringatan Hari Soempah Pemoeda 28 Oktober, Allah menunjukkan lagi bukti betapa Maha Kuasanya Dia. Tanggal 26 Oktober, terjadi hujan abu dan pasir panas dari perut Gunung Merapi di daerah Magelang dan Boyolali, Jawa Tengah dan Kaliurang Yogyakarta, bahkan abunya sampai ke Ciamis Jawa Barat. Sampai Rabu malam 27 Oktober, telah 30 orang meninggal dunia, termasuk seorang wartawan Viva News, Yuniawan dan “juru kunci” Gunung Merapi, Mbah Maridjan, yang terkenal sebagai orang “kuat” iklan sebuah minuman itu. Lebih 40 ribu orang mengungsi, dan lebih 50 korban dirawat di RS.

Walaupun Gunung Merapi ini sudah mengeluarkan awan panas dan menimbulkan hujan debu sampai ke Ciamis, status gunung berapi yang teraktif di dunia itu masih sangat mungkin untuk meletus dengan memuntahkan lahar panas, dan kalau itu terjadi, maka para korban kemungkinan besar akan jauh lebih banyak dan dahsyat. Kita hanya berdoa agar hal ini tidak terjadi.

Bencana Alam Bertubi-tubi
Sehari sebelumnya, 25 Oktober, nun jauh di sana bagian Barat Indonesia, di Pagai Selatan, Kepulauan Mentawai, Sumatera Barat, terjadi gempa tektonik berkekuatan di atas 7,2 skala Richter (SR), bahkan menurut stasiun pengamat gempa Amerika Serikat, kekuatan gempa itu mencapai 7,7 SR. yang menyebabkan badai Tsunami, yang sampai Rabu malam telah merenggut lebih 311 jiwa, lebih 400 orang hilang dan lebih 4.000 orang mengungsi.

Seingat penulis, belum pernah terjadi dua bencana alam besar, gempa tektonik dan gelombang Tsunami dan letusan gunung berapi, yang terjadi dalam waktu yang bersamaan di Indonesia atau mungkin di satu negara di dunia, sehingga perhatian dan bantuan Pemerintah dan masyarakat menjadi terpecah dua. Bukan itu saja, dana bantuan untuk membantu para korban pasti jauh lebih besar.

Padahal belum satu bulan berlalu, 5 Oktober, banjir bandang Wasior, di Papua Barat telah meluluh-lantakkan kota itu, Lebih 150 orang meninggal dunia dan ratusan lainnya dinyatakan hilang. Lebih lima ribu orang mengungsi ke berbagai kota di Indonesia Timur, Manokawari, Kendari dan Makassar.

Korupsi dan Perbuatan Maksiat Masih Marak
Walaupun begitu seringnya Negara kita ditimpa bencana demi bencana yang seakan tak habis-habisnya, sebgian dari kita masih tidak sadar-sadar juga akan peringatan dari Allah tersebut.

Korupsi jalan terus, dan semakin meningkat dua kali lipat dibanding tahun lalu.Pemberantasan korupsi hanya sekedar wacana dan basa-basi. Penyelesaian kasus besar dugaan korupsi di Bank Century semakin tidak jelas. Sidang korupsi Gayus Tambunan, yang menggelapkan ratusan miliar, belum menunjukkan titik terang. Para penegak hukum seperti KPK, Kejaksaan maupun Kepolisian seperti bermain pimpong, saling melempar tanggung jawab. Aliran dana Bank Century tetaplah misteri.

Sementara itu, kejahatn lain seperti penyelundupan, pembuatan dan peredaran narkoba semkin menjadi-jadi. Peredaran miras (minuman keras) semakin tidak terkendali yang merenggut ribuan nyawa manusia secar sia-sia. Pembuatan dan peredaran uang palsu, pembobolan uang nasabah melalui ATM, penipuan berkedok investasi yang mengakibatkan kerugian warga ratusan juta masih sering terjadi. Perampokan Bank oleh terrorist semakin ganas tanpa peduli dengan nyawa manusia.

Pertengakaran, tawuran, saling menghancurkan bahkan saling membunuah di antara warga karena masalah-maslah sepele seperti pertandingan sepak bola atau karena menonton musik atau tak puas hasil Pemilukada sangat sering terjadi. Banyak nyawa melayang, dan banyak rumah yang terbakar. Sungguh menyedihkan, peringatan-peringtan dari Allah tidak dihiraukan.

Para Pemimpin Sibuk Jalan-jalan, Berdebat dan Bertengkar
Saat Gempa dan Tsunami di Mentawai Suamtera Barat, dan hujan abu panas di Gunung Merapi, Presiden SBY dan rombongan dengan pesawat khusus, sedang dalam perjalanan di China dan Vietnam, walaupun akhirnya presiden memutuskan mempercepat kunjungannya di Vietnam, dan terbang langsung ke Padang, untuk meninjau ke Mentawai Kamis 28 Oktober. Saat artikel ini dibuat, SBY sudah berada dan menginap di Padang. Sebelumnya, Wapres Boediono sudah mengunjungi korban di Mentawai. Kita sedikit gembira, ada kemajuan terhadap musibah yang menimpa rakyat, disbanding saat bencana banjir bandeng di Wasior awal Oktober yang lalu.

Sementara itu, rombongan Badan Kehormatan DPR yang tidak terhormat sedang bertamasya ke Yunani dengan menghabiskan uang rakyat lebih dari Rp2 miliar, tanpa peduli dengan kritik dari berbagai pihak. Padahal uang Rp2 miliar itu, akan jauh lebih bermanfaat bila digunakan untuk membantu korban bencana alam. Bahkan sesungguhnya total anggaran DPR untuk berwisata ke luar negeri dengan alasan study banding ini adalah sebesar Rp170 miliar, lebih besar dari rencana Pemerintah untuk minta tambahan dana bencana alam sebesar Rp150 miliar.

Sementara itu para pemimpin negeri ini masih sibuk berdebat dan bertengkar. Di antara rakyat di berbagai daerah, sering terjadi keributan dan kerusuhan karena tidak puas dengan hasil Pemilukada (pemilihan kepala daerah) yang dianggap tidak fair, penuh kecurangan oleh calon yang kalah. Sementara demo-demo anarkis terjadi setiap hari di berbagai kota di seluruh Indonesia, sebagai tanda ketidak-puasan terhadap Pemerintahan SBY.

Setiap partai hanya sibuk membangun partai dan golongannya sendiri. Kita saksikan bagaimana para pemimpin Partai Demokrat sibuk membela diri, mempertahankan semua kebijakan Pemerintah yang banyak dikritik oleh berbagai pihak, meng-claim bahwa baynyak prestasi yang telah dicapai oleh Pemerintah, padahal rakyat merasakan sebaliknya, hidup semakin sulit dan sengsara.

Sementara partai Orde Baru, Golkar, sibuk membangun citra dengan iklan di TV dengan menyatakan bahwa “Suara Golkar adalah suara rakyat”, dan mengkampanyekan agar mantan Presiden Seharto diangkat menjadi pahlawan Nasional.

Sungguh para pemimpin dan para politikus negeri ini tidak punya hati melihat penderitaan dan kesengsaraan rakyat, yang semakin terpuruk dengan banyaknya bencana alam ini. Mereka sibuk dengan diri mereka sendiri. Sungguh sangat menyebalkan dan menyakitkan hati kita.

Bencana Tsunami dan Gunung Merapi Masih Bisa Terjadi
Tanpa bermaksud mendahului ketentuan dan takdir Allah, gempa tektonik di Kepulauan Mentawai masih bisa terjadi dengan kekuatan yang lebih besar yang dapat mengakibatakan badai Tsunami lebih besar. Berdasarkan cacatatan yang ada, sejak gempa tgl 25 Oktober lalu, sudah terjadi 15 kali gempa tektonik susulan dengan kekuatan yang lebih kecil.

Begitu juga dengan Gunung Merapi. Walaupun tidak seoarangpun di antara kita yang menghendakinya, Gunung Merapi masih besar kemungkinan untuk meletus dengan lebih dahsyat, dengan memuntahkan lava dan hawa panas yang dapat mencapai 800 derajat C, yang dapat menghanguskan dan menghancurkan apa saja di sekitar Gunung Merapi.

Korban akan jauh lebih banyak apabila letusan itu terjadi di siang hari, karena banyak para pengungsi yang kembali ke rumahnya di siang hari untuk melihat keadaan rumah dan harta benda mereka, lalu kembali ke tempat pengungsian di malam hari.

Apakah Ini Azab atau Peringatan dari Allah?
Begitu banyak bencana alam yang telah kita alami di negeri ini, yang merenggut nyawa dan harta begitu banyak, dalam waktu yang begitu singkat, bahkan saat ini dua bencana alam sekaligus di pulau yang berbeda.

Apakah ini hukuman dan azab atau hanya sekedar peringatan dari Allah, kepada kita bangsa Indonesia atas segala dosa-dosa kita? Apakah Tuhan telah marah kepada kita, karena kita adalah orang-orang yang tidak pandai bersyukur atas segala nikmat yang telah Allah karuniakan kepada kita?

Akankah kita tetap ingkar dan berbuat maksiat? Akankah kita tetap tidak mematuhi perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya? Akankah kita tetap merusak hutan dan alam kita?

Mari Kita Kembali Kepada-Nya
Hanya Allah Yang tahu, apakah semua bencana ini merupakan hukuman atau hanya peringatan dari Allah, agar kita kembali kepada-Nya. Kembali menyembah-Nya. Kembali menuruti segala perintah-Nya dan manjauhi segala larangann-Nya.

Betapa lemah dan tidak berdayanya manusia. Bagaimana dalam waktu hitungan menit begitu banyak korban meninggal tersapu badai Tsunami. Bagaimana dalam waktu yang singkat seluruh kampung di Gunung Merapi musnah terbakar, tak ada tanda-tanda kehidupan sama sekali karena hawa panas. Bagaimana Kota Wasior hancur lebur tersapu banjir bandeng hanya dalam hitungan jam.

Manusia memang lemah. Tiada daya melainkan hanya Allah SWT. La haula wala quata illa billah. Astagfirullah. Mari kita kembali kepada-Nya, rukuk, sujud dan menyembah-Nya. Mohon ampun atas segala dosa dan kesalahan kita.

Ya Allah ampunilah segala kesalahn dan dosa-dosa kami. Janganlah Engkau timpakan bencana-bencana lagi yang bertubi-tubi ke negeri ini. Jangnlah Engkau bebankan kepada kami sesuatu yang kami tidak kuat memikulnya. Kasihanilah dan sayangilah kami. Hanya kepada-Mu kami menyembah, dan hanya kepada-Mu kami mohon pertolongan. Perkenankanlah doa kami. Amin ya Rabbal A’lamin. (Diambil dari situs Kompasiana)
*) Pensiunan PNS di Departemen Pertanian, pendidikan terakhir Faculty of Agriculture and Forestry, Univesity of Melbourne, Australia. Saat ini giat dalam kegiatan Dakwah dan Tabligh serta menjalankan bisnis Air Oxy dan dan kalung/ gelang biomagnet. Situs web  http://www.my-oxy.com/?id=rudinis dan http://www.biomagwolrd.com.

29
Oct
10

Indonesia qq Nusantara d/h Sundaland qq Atlantis

Rabu, 27/10/2010 17:08 WIB
RI Banyak Gempa karena Es Kutub Mencair Ganggu Lempeng Benua
Fitraya Ramadhanny – detikNews


Bogor – Kepulauan Mentawai, Sumatera Barat, diterjang tsunami. Merapi meletus. Lempek seismik diduga makin aktif akibat mencairnya es di kutub.

Hal ini disampaikan Profesor Stephen Oppenheimer dari Universitas Oxford Inggris. Menurut dia, aktivitas seismik ini sama saja dengan kejadian di akhir zaman es.

“Es yang terus mencair mengubah tekanan pada lempeng bumi,” kata Oppenheimer dalam perbincangan dengan detikxom di Hotel Salak, Bogor.

Pada zaman es, seluruh Kanada adalah gunung es setebal 5 km. Ketika es itu pecah, tekanan pada lempeng bumi terganggu.

“Ada tekanan pada lempeng bumi, selain permukaan air naik,” ujarnya.

Oleh karena itu pencairan es karena pemanasan global pun mengkhawatirkan bagi para ahli geologi. Jika lempeng bumi terganggu, yang paling kena dampaknya adalah pulau dekat patahan seperti Kepulauan Mentawai yang terkena tsunami.

“Lempeng bumi makin aktif, jadi banyak gempa dan Indonesia itu paling dekat dengan patahan,” tutupnya.

(fay/lrn)

Rabu, 27/10/2010 18:33 WIB
Indonesia Benua yang Hilang
Indonesia Wariskan Pertanian untuk Dunia
Fitraya Ramadhanny – detikNews


Bogor – Warisan dari benua Sundaland yang tenggelam di Indonesia, bukanlah bangunan ala piramid. Indonesia mewariskan pertanian, dan peternakan untuk peradaban dunia.

Hal itu diungkapkan peneliti Universitas Oxford Inggris, Stephen Oppenheimer. Menurut penulis buku Eden in The East ini, masyarakat Sundaland mengubah kehidupan berburu dan meramu, menjadi kehidupan agrikultur.

“Padi liar didomestikasi menjadi padi yang ditanam di sawah. Banteng liar dijinakkan jadi sapi ternak,” kata Oppenheimer kepada detikcom di Hotel Salak Bogor, Rabu (27/10/2010).

Penduduk Sundaland juga membuat perahu. Mereka sudah bisa berdagang antar pulau.

“Inovasi itu dimulai dari Indonesia,” imbuh dia.

Namun kemudian air laut naik dan menenggelamkan Sundaland. “Naiknya cepat. Mereka bisa kehilangan 1 km daratan tiap tahun,” ujarnya.

Akibatnya penduduk Sundaland berimigrasi ke berbagai penjuru dunia. Mereka membawa hasil bumi dan hewan ternak di atas perahu mereka.

“Indonesia membawa teknologi pertanian itu ke tempat lain di dunia,” tutupnya.

(fay/lrn)

Baca Juga :

Rabu, 27/10/2010 16:59 WIB
Indonesia Benua yang Hilang
Mungkin Ada Sisa Peradaban Sundaland di Dasar Laut
Fitraya Ramadhanny – detikNews


Bogor – Sejumlah ilmuwan berpendapat Indonesia adalah benua Sundaland yang tenggelam di akhir Zaman Es. Namun, kecil kemungkinan ada bukti sejarah yang bertahan di dasar laut.

“Kalau berharap menemukan semacam candi, sepertinya tidak mungkin,” kata peneliti Universitas Oxford, Inggris, Stephen Oppenheimer dalam perbincangan dengan detikcom di Hotel Salak, Bogor.

Menurut penulis Eden in The East ini, bangunan semacam candi belum menjadi produk budaya pada 8.000 tahun lalu. Harapannya tinggal artefak berupa perkakas.

“Mereka masih periode zaman batu muda atau neolithikum. Jadi belum ada perkakas logam,” kata dia.

Meski demikian, mungkin saja ada perkakas batu yang bisa ditemukan. Namun tantangannya memang sulit.

“Jika ingin menyusuri misalnya sungai Mahakam kuno di dasar laut China Selatan, pasti sudah terkubur lumpur tebal,” jelasnya.

Hal itu bukan tidak mungkin dieksplorasi. Arkeolog di Inggris menurut Oppenheimer membor dasar laut untuk mencari artefak atau menjaring di dasar laut.

“Artefak walaupun kecil, bisa bermakna sangat besar,” tutupnya.

(fay/lrn)

27
Oct
10

Ideologi : Politik Pecah Belah Era Sekarang

» Tajuk Rencana
26 Oktober 2010 | BP
Politik Pecah-Belah Era Sekarang
TIAP 28 Oktober bangsa ini mengenang momen bersejarah Kongres Pemoeda tahun 1928 di Waltervreden yang sekarang bernama Jakarta. Kongres yang berlangsung 27-28 Oktober itu merumuskan tiga ikrar yang dikenal sebagai ‘Soempah Pemoeda’.

Sosok panitia Kongres mencerminkan pesan keragaman yang bersemayam di bumi persada ini. Selain ketua panitia Soegondo Djodjopoespito dari unsur PPPI, ada wakil ketua panitia R.M. Djoko Marsaid (Jong Java), sekretaris panitia Mohammad Jamin (Jong Sumateranen Bond), dan bendahara panitia Amir Sjarifuddin (Jong Bataks Bond). Panitia ini dilengkapi lima pembantu, yaitu Djohan Mohammad Tjai (Jong Islamieten Bond), R. Katja Soengkana (Pemuda Indonesia), Senduk (Jong Celebes), Johanes Leimena (Jong Ambon), dan Rochjani Soe’oed (Pemuda Kaum Betawi).

Peristiwa itu kini sudah 82 tahun berlalu. Tetapi, ada catatan merisaukan dari balik salah satu momen bersejarah bangsa itu. Isi teks Sumpah Pemuda bukan mustahil tidak dihafal lagi sebagian besar anak muda zaman sekarang. Nasibnya mungkin setali tiga uang dengan isi kelima butir sila dalam Pancasila.

Jika itu terjadi tentu bisa dibayangkan betapa sukarnya mewujudkan harapan agar anak muda semacam itu bisa bercerita suasana batin yang menyelimuti suasana Kongres Sumpah Pemuda tahun 1928. Teks Sumpah Pemuda khususnya memang tidak untuk sekadar dihafal. Salah satu makna dan spiritnya, kesadaran yang bergairah anak muda zaman itu menyongsong perubahan nasib bangsanya ke arah yang lebih baik.

Saat itu, kolonialisme telah merontokkan ikatan kesatuan dalam keragaman suku dan agama di Nusantara. Politik memecah belah yang diembuskan kolonial membuat nasib bangsa dan rasa kebangsaan terancam. Konflik atas nama suku dan agama hampir tidak bisa dielakkan di tengah kehidupan masyarakat Nusantara.

Kaum muda yang menjadi ‘otak’ Kongres Pemuda 1928 tidak rela kehidupan bangsanya tercabik-cabik akibat konflik primordial. Mereka bersatu dalam sebuah forum untuk merajut tali pengikat untuk meredam potensi konflik tadi. Tiga ikrar akhirnya dicetuskan, yaitu satu tumpah darah, satu bangsa, dan satu bahasa. Inilah tiga sumpah yang merekatkan kembali dasar persatuan serta kesatuan yang terancam mencabik-cabik perikehidupan bangsa saat itu. Dasar ini yang niscaya diyakini mampu membekali bangsa ini untuk menyambut perubahan nasib yang lebih beradab dan berkeadilan.

Panitia Kongres juga mencerminkan potret keragaman tadi. Walau derajat keragaman yang terwakili dalam susunan kepanitian itu terasa belum mewakili seluruh potensi real bangsanya, namun adanya perwakilan suku dan agama menggambarkan kesadaran untuk menghargai dan mengakomodir perbedaan itu amat pantas diacungi jempol.

Sayang, makna dan spirit itu ibarat barang supermahal saat ini. Persatuan dalam keragaman bangsa Nusantara yang telah bersalin nama menjadi Negara Kesatuan Republik Indonesia tersebut seperti hanya khusus untuk dibanggakan sebagai milik generasi pendahulu.

Celakanya, mahalnya penghargaan keragaman tersebut bukan hanya bersinggungan dengan perbedaan suku dan agama. Perbedaan kepentingan politik malah bisa berpotensi memicu konflik sosial. Adanya adu fisik dan saling memaki secara tidak etis antarpendukung dalam pilkada di berbagai daerah menjadi contoh nyatanya.

Sayang, anak muda tidak sedikit yang dilibatkan dalam pertikaian bermotif kepentingan sempit semacam itu. Padahal, inilah realitas yang dulu dilawan habis-habisan para pemuda tahun 1928. Pelibatan anak muda tadi bahkan menjadi salah satu wujud praktik pendidikan paling buruk dalam mencetak figur generasi berkarakter yang baik. Anak muda seolah-olah dididik untuk tidak menghargai perbedaan kepentingan dalam berpolitik.

Perubahan nasib bangsa ini selalu dikampanyekan para pemimpin maupun orang tua sebagai berada di tangan generasi muda. Tetapi, anak muda justru tidak diberi ruang yang cukup untuk menerjemahkan makna perubahan tersebut ke arah yang makin baik.

 

27
Oct
10

Bencana Alam : Lawan Arus Banjir, Pengendara Dihimbau Hati2

Selasa, 26/10/2010 17:05 WIB
Lawan Arus Saat Banjir, Pengendara Diimbau Berhati-hati
E Mei Amelia R – detikNews


Foto: Ilustrasi

Jakarta – Sejumlah pengendara sepeda motor memilih nekat melawan arus saat jalanan digenangi air ketimbang terjebak di kemacetan Ibukota. Polda Metro Jaya hanya bisa berpesan agar pengendara berhati-hati.

“Ya mau gimana lagi. Asal balik arusnya hati-hati saja. Karena apa? Mungkin kalau berdiam diri, dia bisa berdiam berjam-jam,” kata Kabid Humas Polda Metro Kombes Pol Boy Rafli Amar di Polda Metro Jaya, Jakarta, Selasa (26/10/2010).

Boy mengimbau bagi masyarakat yang tidak memiliki aktivitas di luar hindari bepergian di saat hujan deras.

“Tahan diri untuk tidak keluar rumah bagi yang tidak beraktivitas,” ujar dia.

Menurut dia, ada pengalihan arus lalu lintas saat jalanan dihiasi genangan air.

“Biasanya kondisi banjir semakin mempersempit kreativitas karena alternatif semakin dikit. Justru yang terpenting bagaimana memaksimalkan ruas jalan yang tertutup karena genangan air dan memanfaatkan sekitar ruas jalan yang tidak tergenang air untuk menampung kendaraan,” papar dia.

(aan/vit)

Baca Juga :

Debit Air Katulampa

Selasa, 26 Oktober 2010 17:32 WIB | Warta Bumi | Pemanasan Global |
Waspada, Debit Air Katulampa Berangsur Naik
Waspada, Debit Air Katulampa Berangsur Naik
(ANTARA/Jafkhairi)

Bogor (ANTARA News) – Debit air Sungai Ciliwung di pintu air Bendung Katulampa Bogor berangsur-angsur naik pada Selasa, dan pada pukul 17.15 WIB ketinggiannya 70 centimeter, berpotensi naik lagi karena di kawasan Puncak mendung pekat.

“Ketinggian air naik secara berangsur-angsur, saat ini tingginya 70 cm, masih normal, kita belum memberlakukan status siaga, tapi kemungkinan potensi naik akan terjadi malam ini, karena pantauan cuaca di Puncak saat ini mendung gelap,” kata petugas di Bendung Katulampa, Andi, saat dihubungi di Bogor.

Andi menjelaskan, hujan turun di wilayah Kota Bogor pada pukul 14:00 WIB, ketinggian air bendung saat itu normal 40 centimeter, selama satu jam air bertahan, setelah pukul 16:00 WIB air berangsur naik setinggi 60 centimeter.

“Pada pukul 17:00 WIB, masih 60 centimeter, lalu sekitar pukul 17:15 WIB langsung naik menjadi 70 centimeter,” ucapnya.

Cuaca sekarang di wilayah Bendung Katulampa dan Kota Bogor masih diselingi hujan gerimis. Andi memprediksikan ketinggian air akan bertambah karena wilayah Kota Bogor dan Puncak masih berpotensi hujan.

Andi mengatakan, kondisi di Bendung Katulampa masih normal sehingga pihaknya belum membuka pintu air. Pihaknya akan memantau kondisi air selama 24 jam, jika ketinggian mengalami peningkatan pintu air akan dibuka.

Andi menghimbau masyarakat yang tinggal disepanjang kali Ciliwung untuk mewaspadai air kiriman yang akan datang tiba-tiba, mengingat memasuki bulan November hujan berpotensi turun di wilayah Bogor.

“Sesuai dengan prediksi BMKG, memasuki bulan November hujan ringan hingga lebat berpotensi turun, dan cenderung lebat di malam hari. Masyarakat harus mewaspadai kenaikan air Ciliwung secara tiba-tiba,” ucapnya.

Pihaknya juga telah menginformasikan kondisi pintu air di Bendung Katulampa kepada petugas DKI dan Pintu Air Depok. Andi mengatakan untuk informasi pihaknya terbantu oleh anggota ORARI yang siaga di stasiun Katulampa.

“Untuk informasi kita terbantu oleh anggota ORARI yang sejak musin hujan ini sudah bersiaga di stasiun Katulampa,” ucapnya.

(KR-LR/S026)

COPYRIGHT © 2010

27
Oct
10

Bencana Alam : Tsunami Mentawai Setinggi 3 Meter

Selasa, 26/10/2010 17:34 WIB
PMI: Tsunami di Mentawai Setinggi 3 Meter
Ken Yunita – detikNews


Jakarta – Gempa 7,2 skala richter (SR) yang mengguncang Kepulauan Mentawai, Sumatera Barat, semalam ternyata menimbulkan tsunami yang cukup mengerikan. “Gempa ini telah menimbulkan tsunami setinggi 3 meter yang menerjang Kepulauan Mentawai yang meliputi Sikakap, Pagai Utara, Pagai Selatan dan Sipora,” begitu data yang dimiliki PMI yang dikirimkan kepada detikcom, Selasa (26/10/2010).

Menurut PMI, tsunami telah menyebabkan sebanyak 645 KK mengungsi, selain itu 4 orang dinyatakan meninggal dan 103 orang hilang.

Para korban yang dilaporkan hilang itu tersebar di 9 nagari yakni Sikakap, Muara Taikako, Silabu, Malakopak, Sinakok, Makalo, Beleraksok, Bulasan, dan Bosuwa. Kemungkinan besar, korban akan bertambah.

Akibat bencana ini, warga Kepulauan Mentawai mengalami ketakutan yang luar biasa. Apalagi, isu akan adanya tsunami susulan berhembus kencang di kalangan warga.

Untuk memberi rasa aman untuk warga, PMI menyiagakan sekitar 50 relawan dan 5 unit ambulans. PMI mencoba terus mengumpulkan informasi untuk membantu para korban yang saat ini dalam kondisi trauma.

Selain relawan, PMI juga mengirimkan melakukan pendistribusian 50 Kantong mayat, serta 10 box sarung tangan latex dan masker. Selanjutnya juga PMI akan melakukan pendataan terhadap korban untuk pemberian bantuan lebih lanjut.

PMI menyebut korban tewas 4 orang. Sedang Badan Provinsi Penanggulangan Bencana Daerah Sumbar menyitir, korban tewas mencapai 23 orang. Sementara Yayasan Citra Mandiri Mentawai mencatat korban tewas 31 orang. Gempa 7,2 SR di Mentawai terjadi pukul 21.40 WIB hari Senin (25/10). BMKG menetapkan berpotensi tsunami dan mencabutnya sejam kemudian. Namun tsunami dahsyat makan korban baru diketahui sore tadi karena tidak ada alat pemantau di sekitar Mentawai. (ken/nrl)

27
Oct
10

Bencana Alam : Kronologi Letusan Gunung Merapi

Rabu, 27/10/2010 05:12 WIB
Kronologi Letusan Gunung Merapi Versi Dr Surono  foto
Elvan Dany Sutrisno – detikNews


foto: BPPKT

Jakarta – Korban jiwa akibat letusan Gunung Merapi yang bersifat aliran (elusif) makan korban banyak dibandingkan letusan pada 2006 silam.

Berikut kronologi Letusan Gunung Merapi 26 Oktober 2010 menurut Kepala Badan Geologi, Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi Kementerian EDSM Dr Surono, seperti dalam siaran pers yang diterima detikcom, Rabu (27/10/2010):

1. Pukul 17.02 mulai terjadi awan panas selama 9 menit.
2. Pukul 17.18 terjadi awan panas selama 4 menit.
3. Pukul 17.23 terjadi awan panas selama 5 menit.
4. Pukul 17.30 terjadi awan panas selama 2 menit.
5. Pukul 17.37 terjadi awan panas selama 2 menit.
6. Pukul 17.42 terjadi awan panas besar selama 33 menit.
7. Pukul 18.00 sampai dengan pukul 18.45 terdengar suara gemuruh dari Pos pengamatan G. Merapi Jrakah dan Selo.
8. Suara dentuman sebanyak 3 kali terjadi pada pukul 18.10, pukul 18.15, dan pukul 18.25.
9. Pukul 18.16 terjadi awan panas selama 5 menit.
10. Pukul 18.21 terjadi awan panas besar selama 33 menit.
11. Dari Pos Pengamatan G. Merapi Selo terlihat nyala api bersama kolom asap membumbung ke atas setinggi 1,5 km dari puncak G. Merapi.
12. Pukul 18.54 aktivitas awan panas mulai mereda.
13. Luncuran awan panas mengarah ke sektor Barat-Barat Daya dan sektor Selatan-Tenggara. (van/gah)

Jakarta – Akhirnya kondisi Mbah Maridjan kuncen Gunung Merapi bisa dipastikan. Dia selamat dari awan panas muntahan Gunung Merapi. Kini Mbah Maridjan masih berada di atas di lereng Merapi, dalam kondisi lemas. 

“Mbah Maridjan selamat, tapi dalam kondisi lemas,” kata anggota TNI, Kolonel (Laut) Pramono di lokasi pengungsian di Hargobinangun, Sleman, Senin (26/10/2010). Pramono merupakan salah satu personel tim evakuasi yang ikut menyisir rumah Mbah Maridjan sekitar pukul 22.00 WIB tadi.

Tim evakuasi akhirnya menemukan Mbah Maridjan dalam kondisi lemas dan memberikan pertolongan. Namun Mbah Maridjan masih belum mau dibawa turun ke bawah. “Sekarang masih di atas,” tutup Pramono.

Pramono datang bersama tim evakuasi ke lokasi rumah Mbah Maridjan di Desa Kinahrejo. Jalan menuju rumah Mbah Maridjan mencekam, karena terbakar. Di sana masih ada titik api. Hawa juga terasa panas. Banyak pohon bertumbangan dan mayat bergelimpangan di dekat rumah Mbah Maridjan.

Saat tim naik ke atas, lokasi masih panas, api masih terlihat di beberapa sudut. Kondisi rumah Mbah Maridjan sendiri hancur terbakar.

(ndr/asy)

Baca Juga :

Mbah Maridjan

Republika

Republika

Mbah Maridjan Meninggal

REPUBLIKA.CO.ID,SLEMAN – Juru Kunci Gunung Merapi  Mbah Maridjan akhirnya ditemukan tewas oleh tim penyelamat yang diterjunkan sejak Rabu (27/10) dinihari. Jasadnya sekitar pukul 06.05 berhasil dievakuasi dari lereng Gunung Merapi tepatnya di Desa Kinahrejo Kecamatan Cangkringan, Sleman atau berjarak sekitar 6 km dari puncak Merapi.

Keterangan yang dihimpun Republika, jenasah Mbah Maridjan ditemukan dalam kondisi sujud di dalam kamarnya. Ia masih mengenakan baju batik, kopiah warna putih serta sarung. Diduga saat bencana wedhus gembel datang yang bersangkutan sedang shalat.

Kabag Hukum dan Humas RSUP Dr Sardjito, Heru Trisno Nugroho membenarkan salah satu jenasah yang dikirim ke rumah sakitnya adalah Mbah Maridjan. Bintang iklan yang terkenal dengan kalimat Roso-roso itu dikirim sudah dalam kondisi tidak bernyawa. ‘’Tubuhnya sedang bersujud,’’ kata Heru kepada Republika.

Mbah Maridjan

Antara

Antara

Mbah Maridjan Tewas di Dalam Rumahnya

Sleman (ANTARA) – Juru Kunci Gunung Merapi Ki Surakso Hargo atau Mbah Maridjan menjadi korban dan ikut tewas akibat semburan awan panas letusan Gunung Merapi, di Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, Selasa (26/10) sore.

Seorang anggota Taruna Siaga Bencana (Tagana) Desa Umbulharjo, Kecamatan Cangkringan, Kabupaten Sleman Slamet, mengatakan, saat dilakukan penyisiran pada Rabu pagi ditemukan sesosok mayat dalam posisi sujud di dalam kamar mandi rumah Mbah Maridjan.

“Kemungkinan mayat yang ditemukan tersebut adalah Mbah Maridjan, namun ini belum pasti karena wajah dan seluruh tubuhnya sudah rusak dan sulit dikenali lagi,” katanya.

Menurut dia, mayat tersebut ditemukan di dalam kamar mandi rumah dalam posisi sujud dan tertimpa reruntuhan tembok dan pohon.

“Biasanya di dalam rumah Mbah Maridjan tersebut hanya ditinggali oleh Mbah Maridjan sendiri,” katanya.

Ia mengatakan, kondisi di dusun sekitar tempat tinggal Mbah Maridjan mengalami kerusakan yang sangat parah, hampir semua rumah dan pepohonan roboh.

“Kerusakan ini akibat terjangan awan panas dan bukan karena material lava,” katanya.

Kepala Humas dan Hukum RS Dr Sardjito Yogyakarta Heru Trisna Nugraha mengatakan saat ini jenazah Mbah Maridjan masih berada di Bagian Kedokteran Forensik RS Dr Sardjito, Yogyalarta.

“Jenazah tersebut dibawa oleh anggota Tim SAR dan masuk ke RS Dr Sardjito sekitar pukul 06.15 WIB, informasi yang kami peroleh dari petugas SAR yang mengantar saat ditemukan Mbah Maridjan dalam kondisi memakai baju batik dan kain sarung.

Mbah Maridjan

Liputan 6

Liputan 6
Jenazah Mirip Mbah Maridjan Ditemukan Bersujud

Liputan6.com, Sleman:Juru Kunci Gunung Merapi Ki Surakso Hargo atau Mbah Maridjan dikabarkan ikut menjadi korban meninggal dunia akibat semburan awan panas letusan Gunung Merapi, di Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, Selasa (26/10) sore. Jenazah mirip Mbah Maridjan ditemukan dalam posisi sujud.

Seorang anggota Taruna Siaga Bencana (Tagana) Desa Umbulharjo, Kecamatan Cangkringan, Kabupaten Sleman Slamet, mengatakan, saat dilakukan penyisiran pada Rabu (27/10) pagi ditemukan sesosok mayat dalam posisi sujud di dalam kamar mandi rumah Mbah Maridjan.

“Kemungkinan mayat yang ditemukan tersebut adalah Mbah Maridjan, namun ini belum pasti karena wajah dan seluruh tubuhnya sudah rusak dan sulit dikenali lagi,” ujarnya.

Menurut dia, mayat tersebut ditemukan di dalam kamar mandi rumah dalam posisi sujud dan tertimpa reruntuhan tembok dan pohon.”Biasanya di dalam rumah Mbah Maridjan tersebut hanya ditinggali oleh Mbah Maridjan sendiri,” katanya.

Ia mengatakan, kondisi di dusun sekitar tempat tinggal Mbah Maridjan mengalami kerusakan yang sangat parah, hampir semua rumah dan pepohonan roboh.

“Kerusakan ini akibat terjangan awan panas dan bukan karena material lava,” jelasnya.

Kepala Humas dan Hukum RS Dr Sardjito Yogyakarta Heru Trisna Nugraha mengatakan saat ini jenazah Mbah Maridjan masih berada di Bagian Kedokteran Forensik RS Dr Sardjito, Yogyakarta.

“Jenazah tersebut dibawa oleh anggota Tim SAR dan masuk ke RS Dr Sardjito sekitar pukul 06.15 WIB, informasi yang kami peroleh dari petugas SAR yang mengantar saat ditemukan Mbah Maridjan dalam kondisi memakai baju batik dan kain sarung. (Ant)

27
Oct
10

Bencana Krisis Pangan 2011 ?

Awas, Ancaman Krisis Pangan 2011 

lokasi: Home / Berita / Ekonomi / [sumber: Jakartapress.com]

Sabtu, 23/10/2010 | 23:22 WIB Awas, Ancaman Krisis Pangan 2011

Jakarta – Pemerintah diminta untuk bergerak cepat mengatasi ancaman krisis pangan yang diperkirakan akan melanda dunia tahun depan. Krisis pangan di tahun 2011 tersebut akan disebabkan melambungnya harga bahan pangan dan terjadinya kegagalan pangan di berbagai negara akibat cuaca ekstrem.

Demikian disampaikan Ketua Umum Perhimpunan Sarjana Pertanian Indonesia (PISPI) Arif Satria dalam acara deklarasi PISPI di Jakarta, Sabtu (23/10/2010). “Pemerintah Indonesia harus bergerak cepat untuk mengatasi ancaman krisis pangan yang akan melanda dunia tahun depan,” ungkapnya.

Arif memperkirakan, secara global kenaikan harga pangan dunia bisa mencapai 35%. Ia mencontohkan harga benih jagung diperkirakan meningkat 36%, harga benih gandum 72%, harga pupuk melonjak 59%, serta harga pakan 62%.

Dekan Fakultas Ekologi Manusia Institut Pertanian Bogor (IPB) itu juga menyampaikan bahwa cuaca ekstrem membuat krisis pangan akan terjadi. PISPI memperkirakan gelombang panas dan hujan lebat seperti yang terjadi pada tahun ini akan terjadi lagi pada tahun depan. “Bahkan sampai pertengahan tahun depan, intensitas dan frekuensi kejadian cuaca ekstrem akan lebih sering terjadi,” jelasnya.

Perubahan iklim global seperti itulah yang diperkirakan akan mempengaruhi produksi pangan pada tahun depan. Maka menurut Arif, negara-negara produsen akan cenderung mengamankan produksinya untuk kebutuhan dalam negeri.

Melalui deklarasi tersebut, PISPI mengharapkan pemerintah bisa membuat terobosan dan langkah konkret untuk mengamankan produksi pangan dan mengatasi ancaman krisis pangan. Terobosan tersebut bisa berupa pemberian insentif atau bantuan wajib kepada petani. “Petani wajib diberi insentif, dalam bentuk bantuan benih, pestisida, pupuk, dan juga jaminan harga yang layak bagi petani produsen,” tegas Arif.

Selain itu ia mengusulkan agar pemerintah memberikan petunjuk kepada petani untuk mengatasi perubahan iklim. “Pemerintah harus memberikan petunjuk yang jelas apa yang harus dilakukan petani produsen dalam menghadapi ketidakpastian musim. Jangan biarkan petani bergerak sendiri tanpa bimbingan pemerintah,” tandasnya.

Sampai saat ini, Arif melihat pemerintah masih kurang berpihak pada pertanian. Buktinya pemerintah masih mengandalkan produk impor komoditi pertanian untuk memenuhi kebutuhan pangan masyarakat. “Padahal kalau mau, kita memiliki berbagai kemampuan untuk mengatasi hal itu,” paparnya seperti dilansir MediaIndonesia. (*/MIOL)

Berita Terkait
27
Oct
10

Kerjasama Investasi : Nota Kesepahaman RI-China US$ 5 Milyar

RI-China Teken Nota Kesepahaman US$5 miliar

lokasi: Home / Berita / Ekonomi / [sumber: Jakartapress.com]

Senin, 25/10/2010 | 21:04 WIB RI-China Teken Nota Kesepahaman US$5 miliar

Shanghai – Pebisnis Indonesia dan China menandatangani nota kesepahaman 27 paket kerja sama investasi dengan nilai ditaksir lebih dari US$5 miliar, bersamaan dengan kunjungan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono selama dua hari ke Shanghai.

Kerja sama itu merupakan lanjutan dari kerja sama yang telah dirintis dan bisnis baru yang dilakukan antara korporasi swasta dan BUMN dari kedua negara, terkait dengan investasi bidang migas, agribisnis, perikanan, tambang bauksit, tambang dan pengolahan nikel, pembangkit listrik, infrastruktur hingga industri kreatif.

Penandatanganan kerja sama itu dilakukan oleh para petinggi masing-masing perusahaan di hadapan Presiden Yudhoyono yang didampingi oleh Menteri Perdagangan Mari Elka Pengestu dan Vice Chairman China Council for The Promotion of International Trade (CCIPT) Wang Jinchen di Hotel Pudong Shangrilla, Shanghai, Senin (25/10/2010) sore.

Sejumlah proyek yang ditandatanganinya antara lain:
Antara VP PT Pertamina unit Pelumas Supriyanto dan GM Shanghai Know Marine Equiment Michael Zhang untuk proyek kerja sama menjadi distributor tunggal pelumas keperluan industri kelautan produksi Pertamina di China dengan target penjualan tahun kedua mencapai US$1,5 juta.

CEO Samudera Energy Patrick Waluyo dengan CEO CNOOC Yang Hua dan CEO Husky Oil John C.S. Lau untuk kerja sama pengembangan proyek migas blok Madura dengan cadangan gas mencapai 442 miliar kaki kubik yang bernilai US$650 juta.

Dirut PT Aneka Tambang Tbk Alwin Syah Lubis dan Presdir Hangzhou Jinjiang Group untuk pembentukan perusahaan patungan di Indonesia untuk memproduksi dan menjual komoidtas tambang bauksit, sekaligus dalam kerja sama proyek eksplorasi, dan eksploitasinya.

Berbagai pertinggi perusahaan lainnya juga menandatangani Mou serupa, seperti kerja sama investasi tambang dan pengolahan nikel antara PT Bumi Makmur Selaras dan Hanking Industrial Group senilai US$700 juta.

Investasi Jinchunan Group dengan PT Barong Baragas Energy untuk pabrik peleburan di Sulawesi Tenggara senilai US$2 miliar.
Kerja sama Samudara Energy, CNOOC, dan Husky Oil untuk pengembangan proyek migas blok Madura dengan cadangan gas mencapai 442 miliar kaki kubik bernilai US$650 juta.

Lalu, investasi tambang dan pengolahan nikel antara PT Bumi Makmur Selaras dan Hanking Industrial Group senilai US$700 juta.

Kerja sama antara PT Penta Prima Pusaka dan Guo Hao Industry Co Ltd untuk pengembangan riset dan pusat riset di Indonesia, serta pengembangan benih hibrida berbasis industri pangan, beras, jagung, kedelai.

PT Indonesia Mitra Jaya dengan Super Power International Holding Ltd untuk kerja sama pertambangan nikel terpadu dan industri pengolahannya di Pulau Seram.

PT Ciptalaksana Graha Prima dengan China National Technical Import & Export Corporation (CNTIC) untuk kerja sama studi pengembangan proyek infrastruktur di Indonesia.

PT Bangungraha Sejahtera Mulia (Artha Graha Group) dengan China Harbour Engineering Company untuk kerja sama pembuatan dan pembiayaan studi kelayakan proyek jembatan Selat Sunda.

PT Artha Telekomindo dengan ShanhaiCommunication Services Co. Ltd untuk kerja sama pengembangan jaringan serat optik dari Jakarta ke Hong Kong dari segi studi kelayakan, pendanaan, konstruksi, dan operasional.

PT Sumber Alam Sutera dengan Guangzhou Xing Tian Seed untuk kerja sama riset hortikultura hibrida, yaitu sayur dan buah-buahan.

PT Pinus Nusantara Sejati dengan Chaoda Modern Agriculture untuk pengembangan bioteknologi sayur-sayuran dan buah-buahan dengan salah satu sasaran untuk penggarapan food estate dan logistik pangan di Indonesia.

Kerja sama Castle Production dengan Indonesia Moviland (Jababeka Group) dan Najing U Youth Net Digital Science & Technology Co. Ltd untuk kerja sama produksi film animasi layar lebar berjudul Zheng He Adventure. (*/Bisnis Indonesia)

27
Oct
10

Kesejarahan : Indonesia Benua Yang Hilang

Selasa, 26/10/2010 16:02 WIB
Indonesia Benua yang Hilang
Bawang Merah Bawang Putih, Bukan Sekadar Dongeng
Fitraya Ramadhanny – detikNews


Jakarta – Cerita rakyat tidak hanya memberi pesan moral, namun ada simbol-simbol tersembunyi di baliknya. Misalnya saja dongeng ‘Bawang Merah Bawang Putih’, yang ternyata membawa simbol kebudayaan di Indonesia sejak ribuan tahun silam.

Hal ini diungkapkan pakar genetika dan folklore dari Universitas Oxford, Inggris, Profesor Stephen Oppenheimer. Dalam buku Eden in The East: Benua yang Tenggelam di Asia Tenggara, Oppenheimer berteori bahwa cerita rakyat mampu melestarikan bentuk kebudayaan selama ribuan tahun.

Kisah ini sering kita dengar semasa kecil. Bahkan kisah versi modernnya dibuat dalam bentuk sinetron televisi. Bawang Merah yang merupakan saudara tiri, kerap berbuat jahat kepada Bawang Putih. Bawang Merah pada akhirnya terkena akibat dari perbuatannya dan Bawang Putih hidup berbahagia.

Nah, tema dua saudara yang bersaing menurut Oppenheimer, memiliki akar yang panjang ribuan tahun silam. Jauh mundur melampaui dongeng Eropa semacam Cinderella dan saudara tirinya, bahkan jauh mundur dari pengaruh Hindu atau Yunani sekalipun.

Dongeng dua saudara yang bersaing memiliki akar pada masyarakat neolitikum kuno di Asia Tenggara ribuan tahun silam. Persaingan dua saudara sebenarnya adalah simbol dari dinamika sebuah siklus kehidupan dan kesuburan bumi. Ada yang menang dan ada yang kalah, ada yang baik dan ada yang jahat.

Di Indonesia, kisah persaingan dua saudara ini ada berbagai versi. Kisah ini ada juga di Bali, Maluku, Sulawesi, sampai Papua. Semua dengan nama berbeda tapi inti ceritanya sama.

Oppenheimer yakin kalau cerita ini menyebar dari Indonesia ke arah barat sejak 6.000 tahun lalu. Hal ini seiring dengan migrasi karena benua Sundaland tenggelam. Bahkan kata Oppenheimer, kisah semacam Bawang Merah Bawang Putih ini mengilhami kisah Seth dan Osiris di Mesir Kuno.

Ulasan Oppenheimer lebih lengkap bisa didapatkan dari buku Eden in The East yang diterbitkan oleh Ufuk Press.

(fay/nrl)

Jakarta – Siapa yang tidak tahu gunungan dalam pementasan wayang kulit? Semua berpikir gunungan berasal dari tradisi Hindu. Namun riset terbaru menunjukkan gunungan memiliki akar budaya ribuan tahun saat Indonesia adalah sebuah benua di akhir Zaman Es.

Fakta yang mungkin mengagetkan orang ini diungkapkan seorang profesor asal Universitas Oxford, Inggris, Stephen Oppenheimer. Dalam buku Eden in The East: Benua yang Tenggelam di Asia Tenggara, Oppenheimer menjelaskan penduduk di benua Sundaland berimigrasi ke seluruh dunia pada akhir Zaman Es.

Sundaland adalah kawasan Indonesia dan sekitarnya. Saat penduduknya berimigrasi, mereka membawa semua pengetahuan dan budaya mereka, termasuk filosofi luhur soal kehidupan manusia yang paling mendasar yaitu siklus kehidupan, dan kesuburan bumi.

Menurut Oppenheimer, filosofi ini disimbolkan oleh tiga hal yaitu pohon, burung dan ular. Ketiga simbol ini tersebar di seluruh dunia misalnya saja kisah ular naga di berbagai kebudayaan dunia, atau burung yang indah mulai dari phoenix sampai merak, dan kisah pohon kehidupan mulai dari beringin sampai Jack dan pohon kacang ajaib.

Namun di Indonesialah ketiga aktor kehidupan ini masih berkumpul. Berbagai produk budaya di Indonesia, menampilkan pohon, burung dan ular dalam satu tempat. Jika tidak percaya, buktinya adalah gunungan dalam wayang kulit.

Silakan melihat gambarnya, dan Anda akan menemukan pohon, ular dan burung. Motif serupa juga kerap muncul dalam motif kain batik dan tenun ikat Sumatera atau Sumbawa.

Jika Anda berkilah ini adalah pengaruh Hindu, bagaimana dengan motif ornamen rumah suku Dayak Kenyah? Dayak Kenyah tidak terkena pengaruh Hindu dan mereka pun menampilkan pohon, ular dan burung dalam satu tempat.

Pak Dalang hari ini mungkin akan menerjemahkan gunungan wayang sebagai tanda pergantian babak dalam lakon wayang. Gunungan adalah simbol dunia atau hutan rimba. Namun menurut Oppenheimer, ribuan tahun lalu, maknanya tidak sesederhana itu.

Pohon oleh para penduduk Sundaland di masa silam adalah sumber kehidupan. Dari pohon mereka mendapatkan buah-buahan dan tanda kesuburan tanah. Sundaland yang berada di iklim tropis diberkahi dengan hutan lebat, ketika belahan dunia lain berselimutkan es.

Sedangkan burung dan ular adalah simbol dari Sang Pencipta. Burung adalah simbol langit dan juga maskulinitas. Ular adalah simbol bumi dan feminitas. Perkawinan burung dan ular menghasilkan kesuburan bumi.

Pesan-pesan ini perlahan terlupakan, tergantikan atau tereduksi maknanya sebagai hasil peleburan berbagai budaya dunia. Namun di Indonesia, pesan-pesan asli masih bisa ditelusuri sebagai bukti di Nusantaralah peradaban itu berasal.

Ulasan Oppenheimer lebih lengkap bisa didapatkan dari buku Eden in The East yang diterbitkan oleh Ufuk Press. (fay/nrl)




Blog Stats

  • 1,999,038 hits

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 108 other followers