Posts Tagged ‘Nation & Character Building

26
Feb
15

Dr Moewardi Bapak Pandu Indonesia 1907-1948

Dalam rangka SAVE INDONESIA by empowering http://m.edisinews.com/berita-piagam-karakter-pandu-indonesia.html , maka perlu IKON Persatuan Indonesia (sila 3 Pancasila) menuju Indonesia Jaya 2045.

Berdasar rekam jejak TRIBHAKTI (Pandu – Patriotik – Profesional) daripada sosok Dr Moewardi, dibudayakan keteladanannya melalui bahasan Napak Tilas kiprahnya sejak tahun kelahirannya 1907 s/d tahun gugurnya 1948 di lokasi sejarah keterlibatannya sbg utusan Jong Java saat Sumpah Pemuda 1928 (Moewardi, Ketua Cabang Jong Java Djakarta)

Sarasehan Bedah Buku Dr Moewardi di Museum Sumpah Pemuda, Jl Kramat Raya 106, JakPus, 22 Pebruari 2015 Jam 10-12 wib sekaligus pertanda diawalinya PEMIMPIN (Pekan Mimbar Pemuda Indonesia).

“Bangsa yang tidak percaya kepada kekuatan dirinya sebagai suatu bangsa, tidak dapat berdiri sebagai suatu bangsa yang merdeka.” (Bung Karno – 1963)

NAPAK TILAS Dr MOEWARDI Bapak Pandu Indonesia 1907-1948Foto Dr Moewardi Bapak Pandu Indonesia (Rev 22Peb15)
Pandu & Patriot Kebangsaan Pancasila Indonesia

30 Januari 1907 Moewardi terlahir di desa Randukuning, Pati, Jawa Tengah, di tahun yang sama bina pemuda Boy Scout diawali Baden Powell berbasis pengalaman bina 300 cadetten corps (1899-1900) saat berdinas sebagai Kolonel dikota Mafeking, Afrika Selatan.

PERIODE KEBANGKITAN NASIONAL 1908 -1928

20 Mei 1908 Boedi Oetomo terbentuk

1911 terbentuk Serikat Dagang Islam (SDI) dpp H Samanhudi

1912 Nederlandse Padvinders Organisatie (NPO) terbentuk cabangnya di Batavia oleh P Jon Smits, pada tahun yang sama SDI jadi Serikat Islam (SI), juga terbentuk Indische Partij (PI) dengan tekad Hindia untuk Indiers yg bertujuan persiapkan bangsa Hindia ke arah kehidupan sbg bangsa yg merdeka.

1913 Moewardi bersekolah di SD Bumiputera Jakenan lanjut di HIS (Hollandsch Inlandsche School, Kudus), ELS (Europesche Lagere School, Pati)

4 September 1914 Nederlands Indische Padvinders Vereeniging (NIPV) terbentuk

7 Maret 1915 Tri Koro Dharmo (Tiga Tujuan Mulia) terbentuk di Gedung STOVIA prakarsa Satiman Wirjosandjojo, berbasis kemuliaan
1) Mengabdi pada tanah air berdasar cinta
2) Membangkitkan keikutsertaan masyarakat dengan maksud mempertinggi kebudayaan Jawa seluruhnya
3) Mempererat persaudaraan diantara suku2 bangsa di Indonesia

Juli 1915 terbentuk Padvinders Truna Kembang (PTK) di Surakarta

1916 Javaansche Padvinders Organisatie (JPO) dibentuk Mangkunegoro VII di Solo

2 Desember 1917 Jong Sumatranen Bond terbentuk, berikut Pasundan, Jong Ambon, Jong Celebes, Sekar Rukun, Pemoeda Kaoem Betawi dll

12 Juni 1918 Tri Koro Dharmo jadi Jong Java dan pada tahun yang sama Moewardi jadi anggota padvinderij Spoorzoeker, Pati

1 September 1919 Pasal 111 Regerings Reglement, berserikat diakui termasuk perkumpulan politik bersyarat Koninklijk Besluit 17 Desember 1918

1921 Moewardi bersekolah di STOVIA (School Tot Opleiding Voor Inlandshe Aartsen atau Sekolah Dokter Bumi Putera di Kwitang, Jakarta), berlanjut ke NIAS (Nederlandsch Indische Arts School) dan lulus 1 Desember 1933, setelah praktek 5 tahun mengambil spesialisasi THT di GH (Geneeskundig Hoogeschool, Salemba, Jakarta) 1939 dan lulus 1941.

Moewardi aktivis Nederlandsch Indische Padvinder Vereneging (NIPV) sampai 1925 disamping Jong Java.

Nopember 1922 Jong Java bentuk kepanduan Mataram, di tahun yang sama Moewardi Pemimpin Redaksi Majalah Jong Java, juga terbentuk Nationale Padvinderij dpp Deslam Adiwarsito, berikut Wira Tamtama, Hisbul Wathan

1925 Moewardi Ketua Jong Java Cabang Jakarta, pada tahun yang sama dideklarasi Manifesto Politik Perhimpunan Indonesia di Belanda yaitu :
1) Rakyat Indonesia sewajarnnya diperintah oleh pemerintahan yang dipilih sendiri oleh mereka,
2) Dalam memperjuangkan pemerintahan sendiri itu tidak diperlukan bantuan dari pihak manapun,
3) Tanpa persatuan yang kokoh dari berbagai unsur rakyat, tujuan perjuangan itu sulit dapat dicapai.

15 Nopember 1925 pembentukan penggerak mula Kongres Pemuda Indonesia oleh Soemarto, Soewarso, Moh Tabrani (Jong Java), Bahder Djohan, Djamaludin, Sarbaini (Jong Sumatranen Bond), Jan Toule Soulehuwij (Jong Ambon), Sanusi Pane (Jong Bataks Bond), Pelajar Minahasa, Sekar Rukun dll

30 April – 2 Mei 1926 Kongres Pemuda I dan pada tahun yang sama terbentuk INPO (Indonesische Nationale Padvinders Organisatie).

28 Agustus 1926 Moewardi ikut membentuk Jong Java Padvinderij (JJP) dan pada Nopember 1926 Moewardi Komisaris Besar JJP, diduga sudah berpikiran JJP adalah Pandu Kebangsaan (PK)

1927 Moewardi pengurus pusat JJP dan pada tahun yg sama terbentuk Pandoe Pemoeda Soematra (PPS) di Jakarta & Tebing Tinggi

23 Mei 1928 Moewardi inisiator Persaudaraan Antara Pandu Indonesia (PAPI) di Jakarta antara PK (Pandu Kebangsaan), NATIPIJ (Nationale Islamietische Padvinderij)

28 Okober 1928 Moewardi utusan Jong Java di Kongres Pemuda Nasional II di Jakarta dan ikut ikrarkan Sumpah Pemuda

Desember 1928 Moewardi turut bentuk Indonesia Muda (IM) yang fusi dari Jong Java, Jong Sumatera, Jong Ambon, Jong Minahasa, Sekar Rukun (Sunda), Sangkoro Mudo (Jawa).

PERIODE PERGERAKAN KEMERDEKAAN 1929-1945 :

Desember 1929 Pandu Kebangsaan terpisah dari Jong Java.

15 Desember 1929 Moewardi (PK) di temu PAPI Jakarta usul SOKI (Satu Organisasi Kepanduan indonesia) berprinsip “pandu yang satu adalah saudara pandu yang lainnya, oleh karena itu seluruh pandu harus menjadi satu” ditindaklanjuti fusi PK, INPO dan PPS (Pandu Pemuda Sumatera) jadi KBI (Kepanduan Bangsa Indonesia) dan dilantik 8 Pebruari 1930, Moewardi Komisaris Besar

20 April 1930 Moewardi penulis tentang Kepandoean Dalam Jong-Java di GedenkBoek Jong-Java 1915-1930 terbitan Pedoman Besar Jong Java, Moewardi sebagai ATC dari Jong Java Padvinder (Pandu Kebangsaan)

Desember 1930 Kongres/jambore KBI Pertama di Ambarwinangun, Jogjakarta

Juni 1931 Pertemuan Pemimpin I KBI di Purworejo, menetapkan warna “merah putih” sebagai warna setangan leher dan bendera KBI sesuai azas kebangsaan Indonesia.

19-21 Juli 1932 Jambore II KBI di Banyak, Malang, dipimpin KomBes Moewardi, memutuskan tentang Upacara Pelantikan Pandu dan Upacara Pengibaran Bendera

20-24 Juni 1934 Jambore III KBI di Solo, menerbitkan AD/ART, Petunjuk Permainan, Peraturan Mendirikan Cabang dlsb

1936 Jambore Nasional IV KBI di Kali Urang, Jogjakarta dan perkemahan di lapangan Diponegoro dipimpin KomBes Dr Moewardi

1936-1939 Dr Moewardi Ketua Voetbalbond Indonesia Jacatra.

26-30 April 1938 Dr Moewardi pimpin temu PAPI di Solo bicarakan All indonesian Jambore, dibentuk BPPKI atau Badan Pusat Persaudaraan Kepanduan Indonesia, KBI Ketua, KAKI (Kepanduan Azas Katholik Indonesia) Notulen, NATIPIJ Bendahara, SIAP (Syarikat Islam Afdeling Padvinderij) Urusan Bagian Teknik,

1939 Dr Moewardi Ketua Ikatan Sport indonesia (ISI), di tahun yang sama Dr Moewardi pimpin Konperensi BPPKI di Bandung putuskan All Indonesian Jambore jadi Perkemahan Kepandoean Indonesia Oemoem (PERKINO)

11 Pebruari 1941 Dr Moewardi pimpin BPPKI di Solo putuskan PERKINO di Jogjakarta.

1941 Dr Moewardi Ketua Persatuan Koperasi di Jakarta &
1941-1942 Dr Moewardi Ketua Persatuan Olah Raga (POR)

19-23 Juli 1941 PERKINO I di Gampingan, Jogjakarta

Maret 1942 Jepang menaklukkan Hindia Belanda, dan 4 bulan kemudian melarang partai dan organisasi rakyat Indonesia, serta menghidupkan Keibodan & Seinendan.

2-12 Pebruari 1943 Dr Moewardi pimpin PERKINO II di Jakarta

4 April 1944 KBI dibekukan di Gang Tengah, Jakarta

1944 Dr Moewardi Ketua Barisan Pelopor Daerah Djakarta Raja, wakilnya Wilopo SH

3 Juni 1945 Dr Moewardi turut bentuk Gerakan Angkatan Baru Indonesia

16-17 Agustus 1945 Dr Moewardi memimpin Barisan Pelopor amankan Proklamasi Indonesia Merdeka dan memberi Kata Sambutan ke-4 di Jl Pegangsaan Timur 56

18 Agustus 1945 Dr Moewardi Ketua Umum Barisan Pelopor (berubah nama jadi Barisan Pelopor Republik Indonesia – BPRI)

19 September 1945 Dr Moewardi memimpin Barisan Pelopor amankan Rapat Raksasa IKADA

September 1945 PKPI Panitia Kesatuan Kepanduan Indonesia dibentuk di Jogjakarta

9 Oktober 1945 Pengurus Pusat Bank Indonesia perdana : Drs M Hatta, Dr MUWARDI, Dr R Soeharto, Djohar, MR Mardanus, Ir Surachman, dpp RM Margono Djojohadikusumo, Mr Abdulkarim, berkantor di jl Menteng 23, Jakarta Pusat

15-16 Desember 1945 BPRI berubah nama jadi Barisan Banteng Republik Indonesia (BBRI) bermarkas di Solo, Dr Moewardi Pemimpin Umum BBRI

27-29 Desember 1945 Dr Moewardi pimpinan Kongres Kesatuan Kepanduan Indonesia (dari 300 perwakilan pandu) di Solo membentuk Pandu Rakyat Indonesia (PRI) yang diketuai Dr Moewardi
PERIODE PERANG KEMERDEKAAN 1945 – 1949 :

5 Januari 1946 ikut bentuk Persatuan Perjuangan (PP) di Purwokerto, dilanjutkan bentuk jaringan teritorial BBRI Jawa Barat, Jawa Tengah dan Jawa Timur

23 Maret 1946 pelaku Bandung Lautan Api bersama Barisan Banteng di Bandung seperti M Toha, Abdul H Nasution, Suprayogi

12 Nopember 1946 BBRI bergabung di Dewan Kelaskaran Pusat dpp Jenderal Soedirman di Jogjakarta

1 Pebruari 1947 PRI diakui sebagai satu2nya organisasi kepanduan per Keputusan Menteri Pendidikan, Pengajaran dan Kebudayaan No 93/Bag.A.

25 Maret 1947 Perjanjian Linggarjati yang ditentang Dr Moewardi bersama Soedirman, Oerip Soemoharjo dan Tan Malaka

1 Juli 1947 Agresi Militer I Belanda

17 Januari 1948 Persetujuan Renville

Pebruari 1948 Kongres BBRI di Sarwakan, Solo, Dr Moewardi sikapi anti perundingan dengan Belanda dan anti Swapraja, bersama Mulyadi Djojomartono ditangkap atas perintah Mendagri Dr Soedarsono, namun dilepaskan kembali atas dukungan BBRI, Soedirman dan Oerip Soemohardjo.

6 juni 1948 Dr Moewardi membentuk Gerakan Revolusi Rakyat (GRR) bersama Maruto Nitimihardjo & Rustam Effendi, melawan Front Demokrasi Rakyat (FDR).

13 September 1948 Dr Moewardi gugur saat praktek kedokteran di RS Jebres, Solo, terduga korban aksi kekerasan dalam suasana dan kondisi saat itu yaitu pasca aksi Partai Komunis Indonesia 11 September 1948 di Madiun, Sikap utamakan profesi dokter ini terkait komitmennya pada Sumpah Hipokrates yaitu ikrar Penjaga Kemanusiaan (dalam keadaan apapun harus berpihak pada kelestarian hidup seorang manusia apapun status, kedudukan & pangkat orang itu)

19 Desember 1948 Agresi Militer II Belanda

PERIODE INDONESIA BERDAULAT 1950 – sekarang

14 Agustus 1961 eksponen2 Kepanduan termasuk Pandu Rakyat Indonesia turut peresmian Gerakan Pramuka di IKADA

4 Agustus 1964 ditetapkan jadi Pahlawan Kemerdekaan Nasional per Surat Keputusan Presiden RI No 190/1964

Nopember 1988 berdiri Patung Dr Moewardi Sastrowardojo di lokasi Bumi Perkemahan Gerakan Pramuka Cabang XI-31, Jurug, Kodya Surakarta (display foto di Museum Keluarga Besar Dr Moewardi Sastrowardojo, Jl Cempaka III/16 Bintaro)

Jakarta, 22 Pebruari 2015

MAPINDO, Majelis Pandu Indonesia
Pandji R Hadinoto, guspandji@gmail.com

 PEMIMPIN Pekan Mimbar Pemuda Indonesia
Jumat, 27 Februari 2015 – 11:02 WIB

Wujud awal PEMIMPIN lintas generasi 22 Pebruari 2015 di Museum Sumpah Pemuda.

Surat Pembaca:
PEMIMPIN Pekan Mimbar Pemuda Indonesia

Menyikapi aspirasi Gerakan Nasional Cinta Museum [Saatnya Membenahi.& Memaknai Museum, Dari Redaksi Bisnis Indonesia 27 Pebruari 2015] yang sejalan SAVE INDONESIA melalui upaya pemberdayaan http://m.edisinews.com/berita-piagam-karakter-pandu-indonesia.html maka dirasa perlu bina karakter Patriot Kebangsaan Pancasila Indonesia menuju Indonesia Jaya 2045.

Contohnya sarasehan bedah buku Dr Moewardi Bapak Pandu Indonesia, Museum Sumpah Pemuda, Jl Kramat Raya 106, Jakarta Pusat, Minggu pagi 22 Pebruari 2015 yang berformat lintas generasi yang adalah juga pertanda awal yang baik bagi pengadaan acara PEMIMPIN (Pekan Mimbar Pemuda Indonesia) yang strategik dan terjadwal berkala.

Sarasehan diatas mengupas rekam jejak TRIBHAKTI (Pandu – Patriotik – Profesional) dari sosok Dr Moewardi yang berketeladanan per catatan Napak Tilas kiprahnya sejak tahun kelahirannya 1907 s/d tahun gugurnya 1948 (baik di era Pergerakan Nasional 1908-1928, era Pergerakan Kemerdekaan 1928-1945, dan era Perang Kemerdekaan 1945-1949) di lokasi sejarah keterlibatannya sbg Ketua Jong Java Cabang Djakarta saat Sumpah Pemuda diikrarkan 28 Oktober 1928.

Jiwa, Semangat dan Nilai2 Persatuan yang terkandung dalam Sumpah Pemuda itu diyakini masih relevan dimasa kini & esok, mengingat “Bangsa yang tidak percaya kepada kekuatan dirinya sebagai suatu bangsa, tidak dapat berdiri sebagai suatu bangsa yang merdeka.” [Bung Karno – 1963]

Oleh sebab itulah penyegaran berkelanjutan
ikhwal bina kepahlawanan & kenegarawanan adalah strategik bagi “bangunlah jiwanya” sebagai tumpuan pembangunan karakter bangsa. Dan untuk itu fasilitasi PEMIMPIN oleh misalnya Museum Kebangkitan Nasional, Museum Sumpah Pemuda, Museum Naskah Proklamasi, Museum Joang45, Museum Dr Moewardi di Jl Cempaka III/16 Bintaro Jakarta Selatan dll di kota2 lain, adalah dapat turut perkuat tumbuhnya Patriot2 Kebangsaan Pancasila Indonesia sesuai jamannya pada konteks dinamika kebutuhan masyarakatnya.

Pendidikan kesejarahan baik didalam Sekolah maupun diluar Sekolah, dalam hal ini Museum, adalah jadi faktor pendukung penting bagi pemaknaan tentang isu-isu kepahlawanan dan kenegarawanan yang bila dapat terselenggara dengan harmonis akan produktif dan konstruktif bagi bangsa dan negara, terutama dalam menyongsong era bonus demografi tahun 2030-an.

Jakarta, 27 Pebruari 2015

MAPINDO, Majelis Pandu Indonesia

Pandji R Hadinoto, Nasionalis Pancasila
MAPINDO Majelis Pandu Indonesia
MAPAN Majelis Adat Pancasila
Editor: www.jakarta45.wordpress.com

Pejuang_45

Kini Saatnya Galeri PANDU IBUKU Tampil

Minggu, 01 Maret 2015 – 09:45 WIB

Dr Ir Pandji R Hadinoto MH

Suara Pembaca:
Kini Saatnya Galeri PANDU IBUKU Tampil

Memperingati hari Serangan Oemoem 1 Maret 1949 untuk membela kedaulatan Republik Indonesia, maka kini dalam rangka turut memperkuat kedaulatan nasional Indonesia dapat pula dilakukan perluasan cakupan prakarsa Indonesia Kaya di Galeri Indonesia Raya, Grand Indonesia, Jakarta Pusat, yaitu perlu dipikirkan juga variasi lain berwujud Galeri Pandu Ibuku menimbang Kini Saatnya PEMIMPIN Tampil [ http://m.edisinews.com/berita-pemimpin-pekan-mimbar-pemuda-indonesia.html ]. Susunan kata “Pandu Ibuku” tersyairkan didalam lagu kebangsaan Indonesia Raya baik versi edisi 1928, 1944 maupun 1958.

Galeri Indonesia Raya menitikberatkan pada pentas pembudayaan tradisi-tradisi kesenian Indonesia, maka Galeri Pandu Ibuku dapat berorientasi pentas pembudayaan tradisi-tradisi kepanduan Indonesia sejak dikenalinya kiprah satuan organisasi-organisasi kepanduan khas bentukan pemuda2 Indonesia sendiri seperti Pandoe Kebangsaan (1926), Pandoe Pemoeda Soematra (1927), Persaoedaraan Antar Pandoe Indonesia (1928), Kepandoean Bangsa Indonesia (1929), Pandoe Rakyat Indonesia (1945) dan lain-lain.

Sejarah mencatat pula bahwa para penggiat kepanduan Indonesia itu turut proaktif dalam berkontribusi optimal bagi terselenggaranya peristiwa2 nasional kebangsaan Indonesia seperti ikrar Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928, Proklamasi Indonesia Merdeka 17 Agustus 1945, dlsb termasuk Asian Games IV 1962, Ganefo I 1963, Tim Bendera Pusaka 1965 dan seterusnya.

Peran Galeri Pandu Ibuku itu selain gelaran hiburan bagi publik juga perangkat gerakan bina karakter bangsa (nation & charakter building) melalui prakarsa pendidikan masyarakat dari/oleh dan untuk masyarakat khususnya jiwa kejoangan dan kepahlawanan bagi kemanusiaan, kebangsaan, kerakyatan demi keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

Dan kini mari bersama selalu pekikan Salam Pandu Ibuku senafas dengan Indonesia Raya.

Jakarta, 1 Maret 2015

MAPINDO – Majelis Pandu Indonesia

Pandji R Hadinoto, Nasionalis Pancasila
MAPINDO Majelis Pandu Indonesia
MAPAN Majelis Adat Pancasila
Editor : www.jakarta45.wordpress.com

 

05
Feb
15

IpTek : Misteri Kapal Batavia Abad 17

TEKNOLOGI

Jawaban Misteri Nasib Awak Kapal Batavia Abad 17

Ternyata para awak kapal itu dibunuh secara massal.

Kamis, 5 Februari 2015 | 07:00 WIB
Oleh : Siti Sarifah Alia
Jawaban Misteri Nasib Awak Kapal Batavia Abad 17
Ilustrasi kapal Batavia yang kandas di laut Australia Barat dalam perjalan dari Belanda ke Jawa tahun 1629 (nfsa.gov.au)

VIVA.co.id – Sebuah kuburan massal yang berada di lepas pantai sebelah barat Australia memberikan pandangan baru terkait nasib awak kapal Batavia yang karam di abad 17. Ternyata para awak kapal itu dibunuh secara massal empat abad lalu.

Dalam kuburan yang berlokasi di Pulau Beacon itu ditemukan 11 tengkorak milik penumpang kapal yang masih berusia remaja. Dua bola senapan juga ditemukan dekat jasad mereka.

“Ini adalah penguburan manusia pertama yang ditemukan dan belum terjamah penyelidikan arkeologi. Di sini merupakan kesempatan besar untuk bisa merekonstruksi peristiwa seputar kematian ratusan orang di kapal tersebut,” ujar Dr. Daniel Franklin dari UWA Centre for Forensic Science, seperti dikutip dari IB Times UK, Kamis 5 Februari 2015.

Detail dari rekonstruksi ini secara tidak langsung diharapkan dapat memberikan pencerahan terhadap waktu dan kehidupan para pelaut yang ada di kapal Batavia. Selain itu, bisa digambarkan bagaimana mereka bisa tewas.

Dipaparkan Franklin, kapal Batavia milik Dutch East India ini sedang dalam perjalanan membawa emas dan perak untuk ditukar dengan rempah-rempah ke Jawa. Saat karam di Morning Reef pada 1629, di dalamnya terdapat sekitar 300 penumpang, termasuk anak-anak dan wanita.

Diketahui, 40 orang tenggelam sedangkan sisanya bisa bertahan ke menuju pantai dengan berenang ke dekat Pulau Beacon. Sayangnya, nasib beberapa orang tidak beruntung. Mereka terlibat cekcok dan saling berkhianat untuk mendapatkan cadangan makanan yang ada.

“Lebih dari setengah awak kapal bisa bertahan karena mengkhianati satu sama lain. Awalnya diperkirakan semua orang meninggal di laut, namun ternyata mereka meninggal di pantai itu dan kebanyakan jasadnya dibuang ke laut dan sebagian lagi dikubur. Buktinya ada kuburan kuno di wilayah ini,” papar arkeolog UWA, Profesor Alistair Paterson.

Dipercaya jika sang kapten berhasil selamat dan membentuk kelompok kecil untuk mencari bantuan ke Jawa. Sayangnya, sebagian dari kelompok tersebut mulai membuat aksi pembunuhan dan perkosaan.

Sejatinya, kuburan massal ini ditemukan di Pulau Beacon pada 1999. Namun, untuk memulai penelitian, arkeolog harus menunggu sekitar 15 tahun karena ada gubuk tua milik nelayan yang ada di atas kuburan tersebut. Arkeolog harus menunggu gubuk itu dipindah untuk menyisir petunjuk yang tersembunyi.

Dalam sejarahnya di Indonesia, diyakini jika kapal Batavia kandas menerjang karang di gugusan pulau karang di lepas pantai Australia Barat pada 4 Juni 1629, menenggelamkan 341 awak yang terdiri atas pelaut, prajurit, pedagang VOC, anak dan wanita. Kapal itu berangkat dari Pelabuhan Texel, Belanda, pada 28 Oktober 1628, untuk memulai pelayaran perdananya menuju Batavia, atau sekarang Jakarta. (art)

Baca Juga:

Misteri Kehidupan Yahudi di Era Babilonia Terkuak

Perusahaan Swasta Ini Ingin Bangun SPBG di Bulan

Inggris Kaji RUU Bolehkan Anak Punya DNA 3 Orang

TERKAIT

Misteri Kehidupan Yahudi Era Babilonia Terkuak

Kisah Kasiyo, Penemu Fosil Gajah Purba Stegodon

Kota Bawah Tanah Berusia 5.000 Tahun Ditemukan di Turki

Menguak Lingkaran Batu Misterius di Timur Tengah

Situs Purbakala Ditemukan di Kebun Kopi di Sumatera Selatan

Arkeolog Temukan Harta Karun di ‘Titanic’ Usia 2.000 Tahun

REKOMENDASI
01
Feb
15

Kenegarawanan : Terbitkan KepPres Mahkamah Adat Pancasila

Terbitkan KepPres Mahkamah Adat Pancasila

Sabtu, 31 Januari 2015 – 12:34 WIB

Logo PARRINDO

Suara Pembaca:
Terbitkan Keppres Mahkamah Adat Pancasila

Bapak Presiden JokoWi Yth,

MERDEKA !
Salah satu solusi cepat Presidensiil tentang konflik antar petinggi lembaga penegakan hukum adalah diselesaikan secara keadatan khas Indonesia. Pembentukan lembaga tinggi negara (ad hoc) Mahkamah Adat Pancasila (MAPAN) melalui satu Keputusan Presiden adalah perlu dipertimbangkan dengan tingkatkan status hukum Tim Konsultatif Independen yang sudah memiliki bahan rumusan berupa 5 butir rekomendasi itu [http://www.gatra.com/hukum-1/131525-tim-independen-minta-jokowi-tak-melantik-bg.html]. Ke-5 poin rekomendasi Tim Konsultatif Independen yang telah disampaikan kepada Presiden Jokowi, yakni:

1. Presiden seyogyanya memberi kepastian terhadap siapapun penegak hukum yang berstatus sebagai tersangka untuk mengundurkan diri dari jabatannya atau tidak menduduki jabatan selama berstatus sebagai tersangka demi menjaga marwah institusi penegak hukum baik KPK maupun Polri.

2. Presiden seyogyanya tidak melantik calon Kapolri dengan status tersangka dan mempertimbngkan kembali untuk mengusulkan calon baru Kapolri agar institusi Polri segera dapat memiliki Kapolri yang definitif.

3. Presiden seyogyanya menghentikan segala upaya yang diduga kriminalisasi terhadap personil penegak hukum siapapun, baik KPK maupun Polri dan masyarakat pada umumnya.

4. Presiden seyogyanya memerintahkan kepada Polri maupun KPK untuk menegakkan kode etik terhadap pelanggaran etik profesi yang diduga dilakukan oleh personil Polri maupun KPK.

5. Presiden agar menegaskan kembali komitmennya terhadap pemberantsan korupsi dan penegakan hukum pada umumnya sesuai harapan masyarakat luas.

Rekomendasi KepPres MAPAN ini sebetulnya berangkat dari pemikiran tentang Kepemimpinan Negara Hukum Pancasila 30 Januari 2015 yang lalu [ http://m.edisinews.com/berita–kepemimpinan-negara-hukum-pancasila.html ]

Tetap MERDEKA!

Jakarta, 31 Januari 2015

Pandji R Hadinoto, Nasionalis Pancasila
PARRINDO – Parlemen Rakyat Indonesia
Politisi Keadilan & Persatuan Indonesia
PKP17845 – Poros Koalisi Proklamasi 17845
Editor http://www.jakarta45.wordpress.com

BERITA LAINNYA

Sumber Berita: http://www.edisinews.com


http://edisinews.com/berita-terbitkan-keppres-mahkamah-adat-pancasila.html#ixzz3QU8sEmPk

Kepemimpinan Negara Hukum Pancasila

Jumat, 30 Januari 2015 – 12:10 WIB

 Logo Mapindo
 Suara Pembaca:

Kepemimpinan Negara Hukum Pancasila

Memperingati hari lahir ke 107 Pahlawan Kemerdekaan Nasional Dr Moewardi 30 Januari 2015 ini yang juga adalah Bapak Pandu Indonesia, maka dipandang perlu dilakukan upaya-upaya pemanduan publik guna atasi semisal advokai problematik sosial politik kenegaraan seperti hadapi konflik antar kelembagaan negara seperti yang kini sedang terjadi.

Kehadiran saran solusi teknikal atasi konflik antar pemangku institusi ketatanegaraan berdasarkan wawasan Negara Hukum sesuai batang tubuh Konstitusi UUD45 semata adalah sebetulnya tidak cukup berdayaguna.

Demikian juga penggunaan ukuran tatanilai kepemimpinan berkearifan lokal tidaklah pula cukup seperti penggunaan filosofi Jawa “Suro Diro Jayaningrat Lebur Dening Pangastuti…” per status laman Facebook resmi Presiden Jokowi yang dikutip detikcom, Senin (26/1/2015) yang berarti bahwa segala sifat keras hati, picik, angkara murka, hanya bisa dikalahkan dengan sikap bijak, lembut hati, dan sabar. Demikian pula kearifan lokal seperti http://berita.suaramerdeka.com/sabda-pandita-ratu-2/ dan  Hasta Brata [http://berita.suaramerdeka.com/hasta-brata-luhurnya-konsep-kepemimpinan-jawa/], jelas dalam praktek belum tentu dapat terhayati menjadi aturan perilaku yang mengikat para pemangku kenegaraan.

Adalah akan lebih bijak bila digunakan aturan hukum yang memang sudah disepakati bersama seperti kearifan Kepemimpinan Negara Hukum Pancasila sebagaimana telah diatur oleh amanat Pembukaan Konstitusi UUD45 dan butir-butir Pengamalan Pancasila Tap MPRRI No XVIII/1998.

Adapun tatanilai Negara Hukum Pancasila adalah aset immaterial Republik Indonesia yang sudah diatur bersama (legal formal) sehingga bijaklah dikembangkan kiprahnya bagi kelola benua kepulauan berukuran setara benua Eropa seperti Indonesia ini.

Butir-butir Pengamalan sila-5 Keadilan Sosial yakni “Mengembangkan perbuatan yang luhur, yang mencerminkan sikap dan suasana kekeluargaan dan kegotongroyongan. Mengembangkan sikap adil terhadap sesama. Menjaga keseimbangan antara hak dan kewajiban. Menghormati hak orang lain. Suka menghargai hasil karya orang lain yang bermanfaat bagi kemajuan dan kesejahteraan bersama. Suka melakukan kegiatan dalam rangka mewujudkan kemajuan yang merata dan berkeadilan sosial” dan butir-butir sila-3 Persatuan Indonesia yaitu “Mampu menempatkan persatuan, kesatuan, serta kepentingan dan keselamatan bangsa dan negara sebagai kepentingan bersama di atas kepentingan pribadi dan golongan. Sanggup dan rela berkorban untuk kepentingan negara dan bangsa apabila diperlukan. Mengembangkan rasa cinta kepada tanah air dan bangsa. Mengembangkan rasa kebanggaan berkebangsaan dan bertanah air Indonesia. Memelihara ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial. Mengembangkan persatuan Indonesia atas dasar Bhinneka Tunggal Ika. Memajukan pergaulan demi persatuan dan kesatuan bangsa”.

Kedua aturan pengamalan Pancasila diatas sebenarnya cukup ampuh dipilih untuk upaya-upaya meredakan praktek konflik antar pemangku operasi kenegaraan yang terjadi.

Para arif dan bijaksana yang berkharisma pemangku prinsip-prinsip kenegaraan di negeri ini bersama para pemegang amanat kepemimpinan negara pilihan rakyat dapat kiranya menghayati pengamalan Pancasila diatas guna dapat lebih memperoleh solusi terbaik berbasis jatidiri bangsa sekaligus meneladani performa kemuliaan TRIBHAKTI Pahlawan Kemerdekaan Nasional Dr Moewardi yang telah berkiprah baik sebagai Profesional maupun sebagai Pandu Pejoang 28 dan 45.

Jakarta, 30 Januari 2015

MAPINDO Majelis Pandu Indonesia,

Pandji R Hadinoto, Nasionalis Pancasila
MAPINDO Majelis Pandu Indonesia
Editor: http://www.jakarta45.wordpress.com

BERITA LAINNYA

http://edisinews.com/berita–kepemimpinan-negara-hukum-pancasila.html#ixzz3QUBmTMlb

Alm Dr Moewardi Bapak Pandu Indonesia 

Jumat, 23 Januari 2015 – 10:13 WIB

Suara Pembaca :
Alm Dr Moewardi Bapak Pandu Indonesia 

30 Januari 1907 adalah hari lahir Pahlawan Kemerdekaan Nasional Dr Moewardi sesuai Surat Keputusan Presiden RI No 190/1964 tanggal 4 Agustus 1964.

Dalam konteks ditengah situasi dan kondisi kenegaraan Republik Indonesia terkini khususnya Keadilan dan Persatuan Indonesia kiranya strategik ditampilkan sosok kepemimpinan Patriot Indonesia yang telah berkontribusi signifikan di 2 (dua) tonggak sejarah Indonesia strategik yaitu Sumpah Pemuda 1928 dan Proklamasi Indonesia Merdeka 1945, untuk diteladani bersama baik oleh pemangku pemerintahan maupun oleh komunitas masyarakat sipil.

Sebagai sosok intelektual terekam dari rangkaian pendidikan formal seperti HIS (Hollandsch Inlandsche School, Kudus), ELS (Europesche Lagere School, Pati), STOVIA (School Tot Opleiding Voor Inlandshe Aartsen, Jakarta), NiAS (Nederlandch Indische Arts School), GH (Geneeskundig Hoogeschool, Jakarta) yang berujung dokter spesialis THT di tahun 1939.

Sebagai sosok pejoang politik kebangsaan terjejak dari keorganisasian yang digeluti semisal PemRed Majalah Jong Java 1922; Ketua Jong Java Cabang Djakarta 1925; Utusan Jong Java di Kerapatan Besar Pemuda 28 Oktober 1928 ikrarkan Sumpah Pemuda; turut bentuk Indonesia Muda (IM) Desember 1928 (fusi Jong Java, Jong Sumatera, Jong Ambon, Jong Minahasa, Sekar Rukun, Sangkoro Mudo); Ketua Barisan Pelopor (BP) Djakarta 1944; pimpinan BP amankan acara Proklamasi Indonesia Merdeka 17 Agustus 1945 di Jl Pegangsaan Timur 56 Jakarta dan Rapat Raksasa IKADA 19 September 1945; Pemimpin Umum Barisan Banteng Republik Indonesia (BBRI, pengganti BP), Solo; turut bentuk Persatuan Perjuangan (PP) 5 Januari 1946 di Purwokerto; turut sebagai penggerak Bandung Lautan Api 23 Maret 1946 bersama BBRI Bandung (M Toha, AH Nasution, Suprayogi); pimpinan Kongres BBRI Pebruari 1948 di Solo, bersikap anti perundingan dengan Belanda dan anti Swapraja, pasca Perjanjian Renville 17 Januari 1948.

Sebagai sosok berjiwa kepemimpinan Pandu Nasionalistik ditapaki dari Nederlandsch Indische Padvinder Vereneging (NIPV) dan di tahun 1925 berprestasi Kelas-I (Kepala Pasukan, Ploeg Leider / Assistant Troep); sebagai pimpinan Jong Java Padvinderij (JJP) mengubah nama jadi Pandu Kebangsaan (PK 1925); inisiator Persatuan Antara Pandu Indonesia (PAPI 23 Mei 1928) bersama Nationale Islamietische Padvinderij (NATIPIJ) dan Indonesische Nationale Padvinders Organisatie (INPO); penggagas prinsip “pandu yang satu adalah saudara pandu yang lainnya, oleh karena itu seluruh pandu harus menjadi satu” atau Satu Organisasi Kepanduan Indonesia (SOKI) di temu PAPI 15 Desember 1929; pembentuk dan Komisaris Besar Kepanduan Bangsa Indonesia (KBI 13 September 1930) fusi dari PK, Pandu Pemuda Sumatera (PPS) dan INPO; pembentuk dan pimpinan Badan Pusat Persaudaraan Kepanduan Indonesia (BPPKI 30 April 1938) bersama Kepanduan Azas Katholik Indonesia (KAKI), NATIPIj dan Syarikat Islam Afdeling Padvinderij (SIAP); pimpinan Perkemahan Kepanduan Indonesia Oemoem (PERKINO-I 19-23 Juli 1941, Jogjakarta dan PERKINO-II 2-12 Pebruari 1943, Jakarta); inisiator Panitia Kesatuan Kepanduan Indonesia, September 1945, Jogjakarta; pimpinan Kongres Kesatuan Kepanduan Indonesia 27-29 Desember 1945, Solo dan pembentuk serta Ketua Pandu Rakyat Indonesia (PRI 28 Desember 1945, yang diakui satu2nya organisasi kepanduan per Keputusan Menteri Pendidikan, Pengajaran dan Kebudayaan No 93/Bag A, 1 Pebruari 1947).

Sebagai tokoh Patriot Indonesia, sayang saat sedang menjalankan profesi kedokterannya
pada 13 September 1948 di Solo, dinyatakan hilang yang diduga sebagai korban revolusi di era Perang Kemerdekaan 1945-1949.    Sebagai inisiator Pandu Kebangsaan 1925, dimana istilah Pandu untuk pertama kalinya digunakan di Indonesia dan disyairkan WR Soepratman “Pandoe Iboekoe” pada lagu kebangsaan Indonesia Raja 28 Oktober 1928 lalu bermuara serta berkiprah jiwai Gerakan Pramuka 1961-sekarang, maka layaklah Dr Moewardi berkehormatan Bapak Pandu Indonesia dan diteladani pemangku Republik Indonesia jelang peringatan hari lahirnya ke 107 pada 30 Januari 2015 yang akan datang.

Jakarta, 22 Januari 2015
Pandji R Hadinoto, MAPINDO
Pandji R Hadinoto,
MAPINDO – Majelis Pandu Indonesia
Politisi Keadilan dan Persatuan Indonesia
PKP17845 – Poros Koalisi Proklamasi 17845
Editor www.jakarta45.wordpress.com

 

Banyak Penumpang Gelap di Tubuh Polri

Minggu, 18 Januari 2015 – 23:02 WIB

Jakarta – Pengamat politik dan pemerintahan Universitas Padjadjaran (Unpad) Muradi mengatakan, masalah internal di institusi Polri lebih banyak menjadi penyebab ditundanya pelantikan Komjen Budi Gunawan sebagai Kapolri.

“Problem Polri selalu muncul dari internalnya sendiri, itu sudah sejak zaman Bung Karno hingga hari ini. Jadi tidak ada single actor, banyak penumpang gelapnya,” beber Muradi dalam diskusi bertajuk `Lewat Budi Gunawan, KPK Ganggu Hak Prerogratif Presiden` di Jakarta, Minggu (18/1/2015).

Menurut Muradi, adanya tim sukses dalam Polri pada pergantian Kapolri dinilai merupakan hal yang lumrah. Menurutnya, ada perang antar kalangan internal yang membuat pergantian tersebut menimbulkan permasalahan.

“Di Polri itu ada perang dalam, ada yang sakit hati dan sebagainya. Kunci utamanya bukan di Presiden atau DPR, tapi di teman-teman Polri itu sendiri. Calon-calon itu punya tim suksesnya sendiri,” paparnya.

Diketahui, Jumat (16/1) lalu Presiden Joko Widodo menunda pengangkatan Komjen Budi Gunawan sebagai Kapolri. Keputusan itu diambil dengan mempertimbangkan proses hukum yang saat ini membelit Budi akibat ditetapkan tersangka kasus gratifikasi oleh Komisi Pemberantasan Korupsi.

Presiden juga telah menandantangani dua keputusan terkait pemberhentian dengan hormat Jenderal Sutarman dari jabatan Kapolri, serta menunjuk Wakapolri Komjen Badrodin Haiti sebagai pelaksana tugas Kapolri. (*/rmol)

BERITA LAINNYA
Berita Terkini

Begini Kedekatan Budi Waseso dan Budi Gunawan

Selasa, 20 Januari 2015 – 13:34 WIB
Jakarta – Nama Irjen Pol Budi Waseso tiba-tiba jadi sorotan setelah terpilih jadi Kepala Badan Reserse Kriminal Polri, Jumat pekan lalu. Pengganti Komisaris Jenderal Suhardi Alius ini adalah jenderal polisi yang mendampingi Komisaris Jenderal Budi Gunawan ketika mengikuti uji kelayakan calon Kepala Polri di Komisi III DPR RI, Rabu lalu.Adapun Budi Gunawan, setelah lolos dari uji kelayakan di DPR, pelantikannya sebagai Kapolri ditunda Presiden Joko Widodo. Budi Gunawan sebelumnya ditetapkan sebagai tersangka kasus suap dan gratifikasi oleh Komisi Pemberantasan Korupsi. Di tengah gaduh pelantikan Kapolri terpilih inilah, nama Budi Waseso justru mendapat promosi untuk menduduki jabatan bintang tiga.Budi Waseso memiliki alasan saat mendampingi Budi Gunawan ke DPR. “Saya perlu jelaskan, saya ini Kepala Staf dan Pimpinan Polri di bawah Kepala Lembaga Pendidikan Polri,” ujar Budi Waseso di Mabes Polri, Selasa (20/1) siang.Jadi, wajar bila dia mendampingi Budi Gunawan ke Senayan. Sebab, mantan ajudan Megawati Soekarnoputri–ketika jadi wakil presiden dan presiden–itu merupakan atasannya langsung.Ia pun menampik jika kehadirannya di Senayan karena memiliki kedekatan khusus dengan Budi Gunawan. “Jangan berpikir begitu,” tutur Budi Waseso, yang resmi dilantik jadi Kepala Bareskrim, Senin kemarin. (Tmp)
BERITA LAINNYA

Jokowi Sebaiknya Perpanjang Masa Tugas Sutarman

 

Kamis, 08 Januari 2015 – 14:21 WIB

Jakarta – Polri di bawah kepemimpinan Komjen Pol Sutarman cukup punya prestasi yang baik dalam menjaga keamanan dan ketertiban di masyarakat .Sebab Polri dibawah kepemimpinan Komjen Sutarman berhasil mengamankan pesta demokrasi 2014 yang cukup panas dalam persaingan antar parpol dan .lmanatr tim sukses kandidat presiden .

“Hal ini tentu bukanlah tugas yang mudah bagi seorang Kapolri apalagi Sutarman berhasil menjadikan jajaran Polri untuk bersikap Independen dalam mengawal jalannya pesta demokrasi tahun 2014,” kata Ketua DPP Partai Gerindra, FX Arief Poyuono, Kamis (8/1/2015).

Menurut Arief, dengan didasarkan pada angka harapan hidup orang Indonesia yang meningkat serta merujuk pada rata-rata usia pensiun PNS dan Aparat Keamanan di negara lain yakni 60-62 tahun.Komjen Sutarman masih layak untuk bisa memimpin Polri karena tahun ini Sutarman memasuki umur 58 Tahun .

“Presiden Jokowi bisa mengunakan PP No. 44 Tahun 2011 untuk memperpanjang masa jabatan Kapolri dimana dalam PP tersebuta menyatakan batas usia pensiun bagi Pegawai Negeri Sipil yang memangku jabatan tertentu dapat diperpanjang. Secara umum perpanjangan Batas Usia Pensiun oleh presiden,” tandasnya.

Dalam masa perpanjangan tersebut, tegas dia, diharapkan Kapolri bisa mempersiapkan calon pengantinya dan untuk menerapkan Good Governance calon Kapolri harus melalui uji publik dengan melibatkan KPK , PPATK dan Kompolnas agar menghasilkan calon kapolri yang bersih dan handal serta bisa mengaplikasikan revolusi mental sesuai tujuan Presiden Jokowi.

“Sebab jika dipaksakan dengan calon calon Kapolri yang ada saat ini yang sangat dekat rezim terdahulu sudah dipastikan Kapolri yang terpilih tidak terlalu special dan mumpuni .harus ada perubahan besar ditubuh Polri dan Jokowi harus memulainya agar kinerja Polri makin baik,” jelas Arief.

“Dan untuk Calon Kapolri yang diusulkan ke DPR oleh Jokowi juga sebaiknya lebih dari satu agar bisa mendaparkan Kapolri yang benar benar diharapkan oleh masyarakat ,” tambahnya. (ren)

 

BERITA LAINNYA
Berita Terkini

Penangkapan BW Murni Kriminalisasi oleh Polri

Jumat, 23 Januari 2015 – 15:04 WIB

Jakarta – Ketua DPP partai Gerindra, FX Arief Poyuono, menilai balas dendam Polri terhadap KPK yang menetapkan Calon Kapolri Komjen Pol Budi Gunawan (BG) sebagai tersangka dalam kasus dugaan gratifikasi rekening gendut telah berbuah tindakan kriminalisasi oleh Polri.

Dengan penangkapan langsung oleh Polisi terhadap Wakil Ketua KPK Bambang Widjojanto (BW) yang didasarkan pada laporan masyarakat tertanggal 15 januari 2014 dengan tuduhan memberikan keterangan palsu di Mahkamah Konstitusi (MK), menurutnya, sungguh sangat dipaksakan.

“Apalagi jika tidak ada surat pemanggilan terlebih dahulu tentu saja ini murni kriminalisasi padahal BG saat paparan ketika fit n proper test di DPR akan menindak anggota Polri yang sewenang-wenang melakukan tindakan kriminalisasi,” tegas Arief, Jumat (23/1/2015).

Ia mengingatkan, masyarakat sudah cerdas kalau penangkapan BW oleh Bareskrim bentuk dari ketidak seriusan Polri untuk mendukung pemberantasan korupsi .dan masyarakat meyakini ada skenario untuk mengintimidasi KPK dengan ditangkapnya BW untuk melemahkan para petinggi KPK oleh Polri

“Jokowi harus segera mencopot Kabareskrim dan memanggil Plt Kapolri untuk meminta pertanggungjawaban mereka atas intimidasi dan kriminalisasi terhadap BW,” desaknya.

Sebab, jelas dia, dalam sehari mungkin ratusan laporan masyarakat terkait tindak pidana kepada reskrim Polri tapi banyak yang tidak ditindak lanjuti dengan penangkapan oleh jajaran Reskrim.

Ia menambahkan, DPR juga harus segera memanggil Plt Kapolri untuk di minta keterangannya atas motive penangkapan BW akibat laporan masyarakat setelah BG ditetapkan jadi tersangka oleh KPK.

“Apalagi laporan masyarakat itu masuk dalam katagori delik umum dimana pelapor belum tentu megetahui kasus yang di laporkan terkait masalah sengketa Pilkada di MK,” bebernya.

Oleh karena itu, tegas Arief, Partai Gerindra mendesak Jokowi jangan diam saja dan harus segera bertindak untuk meyelesaikan konflik KPK dan Polri.

Di sisi lain, tuturnya, KPK juga sebaiknya segera menahan BG  untuk mempermudah penyidikan dan meminta bantuan TNI untuk proses penahanan BG karena BG dijaga ketat oleh  pasukan bersenjata otomatis  lengkap.

Ada informasi bahwa Abraham Samad juga akan segera ditangkap dengan “sandi operasi ANGEL Kuning” untuk menghancurkan KPK dan rencana perampokan uang rakyat melalui APBN dan BUMN  akan berjalan mulus di era Jokowi-JK tanpa rasa takut tertangkap KPK.

“Sebaiknya TNI sebagai pelindung dan penjaga NKRI dari rongrongan para karuptor segera melindungi KPK dan Rakyat!” serunya. (ren)

 

BERITA LAINNYA
Berita Terkini
Kurs Valuta Asing
KURS    JUAL    BELI
USD 12645.00 12625.00
SGD 9367.88 9347.88
EUR 14356.61 14256.61
AUD 9853.61 9773.61
Prakiraan Cuaca

25°C

  • Jakarta
  • Light Rain with Thunder
  • ESE 9.66 km/h

 

30
Jan
15

Kebudayaan : Budi Pekerti Jatidiri Kepribadian Bangsa

Sabda Pandita Ratu

Sebuah Refleksi Jatidiri Pemimpin

27 Januari 2015 17:35 WIB Category: Budaya jawa, Pringgitan, Tradisional 

Foto: artkimianto

 SABDA PANDHITA RATU TAN KENA WOLA-WALI. Ungkapan ini rasa-rasanya telah melekat dalam keseharian masyarakat Jawa. Apalagi jika dikaitkan dengan kepemimpinan, ungkapan ini begitu tepat menohok pada kepribadian seorang pemimpin, terutama dalam sikapnya ketika mengambil sebuah kebijakan.

Sabda Pandita Ratu adalah ucapan pimpinan yang seharusnya menjadi harapan rakyat kepada mereka. Ratu dan Pandita merupakan sebuah kesatuan. Seorang pemimpin harus mampu menyeimbangkan diri baik dalam aspek spiritual maupun material, dan inilah yang menjadikan beratnya tanggung jawab sebagai seorang pemimpin. Terlebih dengan ungkapan “Sabda brahmana raja sepisan dadi tan kena wola-wali” yang bermakna, ucapan pendeta atau raja atau lebih tepatnya seorang pemimpin, tidak boleh mencla-mencle. Apa yang diucapkan, menjadi pegangan bagi rakyatnya. Apa yang telah dikatakan, menjadi pegangan dari semua pihak, bahwa apa yang diucapkannya itu akan dilaksanakan. Bayangkan saja bila seorang pimpinan bersikap mencla-mencle pada apa yang diutarakan? Tak hanya membingungkan rakyatnya, namun juga akan merusak citra dirinya.

Untuk itulah, seorang pemimpin juga harus memegang prinsip berbudi bawa leksana. Berbudi bawa leksana dapat berarti, mempunyai sifat teguh memegang janji, setia pada janji, atau secara harafiah,  bawa leksana dapat juga diartikan sebagai satunya kata dan perbuatan. Untuk berucap, seorang pemimpin  harus benar-benar berhati-hati, mengingat ia harus bawa leksana, atau sama dalam ucapan dan tindakan.

Itu sebabnya, masyarakat Jawa sangat memperhatikan deduga,prayoga, watara dan reringa, sebelum mengucapkan kata demi kata. Apalagi bagi seorang pemimpin yang “sepisan dadi tan kena wola-wali”. Maka benarlah yang memberi penegasan, sabda pandita ratu memiliki resiko yang tak kecil. Tanggung jawab yang diemban teramat besar. Sepantasnyalah, seorang pemimpin harus selalu memikirkan secara jernih dan bijak apapun, dalam situasi apapun, sehingga bijaklah setiap apa yang terlontar dari mulut penguasa. Ajining diri gumantung ana ing lathi.

(Fadhil Nugroho/CN41)

Hasta Brata, Luhurnya Konsep Kepemimpinan Jawa

26 Januari 2015 18:28 WIB Category: Budaya jawa, Pringgitan, Tradisional 

Click Here

bima

Pemimpin yang menguasai sifat Angin adalah ia yang selalu terukur bicaranya (tidak asal ngomong), setiap perkataannya selalu disertai argumentasi serta dilengkapi data dan fakta. Dengan demikian, pemimpin yang menguasai sifat Angin ini akan selalu melakukan check and recheck sebelum berbicara atau mengambil keputusan…

HASTA BRATA berasal dari bahasa Sansekerta. Hasta artinya delapan dan Brata yaitu perilaku atau tindakan pengendalian diri. Hasta Brata melambangkan kepemimpinan dalam delapan unsur alam, yakni bumi, matahari, api, samudra, langit, angin, bulan, dan bintang. Tiap unsur Hasta Brata mengartikan tiap karakteristik ideal dari seorang pemimpin.

Ilmu Hasta Brata tergolong ajaran yang sangat tua, mulai diperkenalkan melalui lakon pewayangan Wahyu Makutharama. Istilah Hasta Brata berasal dari kitab Hindu berbahasa Sansekerta “Manawa Dharma Sastra”. Konsep Hasta Brata dalam kitab tersebut menyiratkan bahwa pemimpin bertindak sesuai dengan karakter para dewa. Hasta Brata pun menjadi tolok ukur sebuah kepemimpinan di masa itu.

Konon, pemimpin yang menguasai ilmu Hasta Brata ini akan mampu melakukan internalisasi diri (pengejawantahan) ke dalam delapan sifat agung tersebut. Dalam beberapa literatur juga disebutkan bahwa delapan sifat alam ini mewakili simbol kearifan dan kebesaran Sang Pencipta.

Yasadipura I (1729-1803 M), pujangga keraton Surakarta menuliskan Hasta Brata sebagai delapan prinsip kepemimpinan sosial yang meniru filosofi atau sifat alam, yaitu:

  1. Mahambeg Mring Kismo (meniru sifat bumi). Bumi diibaratkan sebagai ibu pertiwi. Sebagai ibu pertiwi, bumi memiliki peran sebagai ibu, yang memiliki sifat keibuan, yang harus memelihara dan menjadi pengasuh, pemomong, dan pengayom bagi makhluk yang hidup di bumi. Implementasinya adalah, kalau sanggup menjadi pemimpin, maka ia harus mampu mengayomi dan melindungi anak buahnya. Ada juga yang menerjemahkan sifat Bumi sebagai sifat seorang yang suka memberikan perhatian kepada fakir miskin, dan kaum lemah. Seorang pemimpin yang menguasai sifat Bumi akan mengarahkan kekuasaannya untuk mensejahterakan rakyat dan mengentaskan kemiskinan.
  2. Mahambeg Mring Warih (meniru sifat air). Seorang pemimpin harus mempunyai kemampuan untuk menyesuaikan diri dengan siapapun termasuk pengikutnya (adaptif). Air selalu mengalir ke bawah, artinya pemimpin harus memperhatikan potensi, kebutuhan dan kepentingan pengikutnya, bukan mengikuti kebutuhan atasannya. Pemimpin juga harus menjadi sosok yang membuka mata dan pikiran secara luas. Seorang pemimpin harus bersedia menerima pendapat dari bawahan dan memikirkan baik-baik semua pendapat yang ada.
  3. Mahambeg Mring Samirono (meniru sifat angin). Pemimpin yang menguasai sifat Angin adalah ia yang selalu terukur bicaranya (tidak asal ngomong), setiap perkataannya selalu disertai argumentasi serta dilengkapi data dan fakta. Dengan demikian, pemimpin yang menguasai sifat Angin ini akan selalu melakukan check and recheck sebelum berbicara atau mengambil keputusan.
  4. Mahambeg Mring Condro (meniru sifat bulan). dalam memperlakukan anak buahnya, seorang pemimpin harus dilandasi oleh aspek-aspek sosio-emosional. Pemimpin harus memperhatikan harkat dan martabat pengikutnya sebagai sesama, atau nguwongke. Ia juga harus menjadi penuntun dan memberikan pencerahan kepada rakyatnya. Oleh karena itu pemimpin seperti ini memahami dan mengamalkan ajaran luhur yang terkandung dalam agama (religiusitas) dan menjunjung tinggi moralitas. Sifat bulan ini diterapkan oleh raja-raja Mataram, salah satu tandanya adalah dengan memberikan status/posisi kepada Sultan Hamengku Buwono sebagai Senopati Ing Ngalogo Ngabdurrohman Sayidin Panoto Gomo Kalifatullah.
  5. Mahambeg Mring Suryo (meniru sifat matahari). Seorang pemimpin yang menguasai sifat Matahari harus mampu memberikan inspirasi dan semangat kepada rakyatnya untuk menyelesaikan segala persoalan yang dihadapi. Energi positif seorang pemimpin dapat memberi petunjuk dan solusi atas masalah yang dihadapi rakyatnya.
  6. Mahambeg Mring Samodra (meniru sifat laut/samudra). Seorang pemimpin hendaknya mempunyai keluasan hati dan pandangan, dapat menampung semua aspirasi dari siapa saja, dengan penuh kesabaran, kasih sayang, dan pengertian terhadap rakyatnya.  Pemimpin harus memiliki wawasan yang luas dan dalam, seluas dan sedalam samudra.
  7. Mahambeg Mring Wukir (meniru sifat gunung). Layaknya sifat gunung yang teguh dan kokoh, seorang pemimpin harus memiliki keteguhan-kekuatan fisik dan psikis serta tidak mudah menyerah untuk membela kebenaran maupun membela rakyatnya.
  8. Mahambeg Mring Dahono (meniru sifat api). Seorang pemimpin yang menguasai sifat Api adalah ia yang cekatan dan tuntas dalam menyelesaikan persoalan. Juga selalu konsisten dan objektif dalam menegakkan aturan, tegas, tidak pandang bulu dan objektif, serta tidak memihak.

Kedelapan ajaran luhur ini sudah semestinya menjadi pepeling para pemimpin untuk selalu eling dan waspada. Apabila seluruh elemen alam mampu dikuasai seorang pemimpin, negeri yang gemah ripah loh jinawi pun, tak pelak akan seutuhnya tercapai.
(Fadhil Nugroho/CN41)

30
Jan
15

Kenegarawanan : Petisi TRIPAKTA GASAKNAS

Petisi TRIPAKTA GASAKNAS

Rabu, 28 Januari 2015 – 10:30 WIB

Suara Pembaca:
Petisi TRiPAKTA GASAKNAS

Mencermati uraian Presiden Joko Widodo di MetroTV pada tanggal 27 Januari 2015 pukul 20:00 WIB tentang kenaikan anggaran proyek-proyek infrastruktur yang naik jumlahnya dari Rp 190 Trilyun menjadi sebesar Rp 290 Trilyun di RAPBN-P 2015, maka dipandang perlu dikawal dan diamankan sedemikian rupa guna peningkatan efisiensi pengelolaan proyek.

Untuk itu, komitmen para pelaku dan pengelola proyek perlu ditingkatkan dari format Pakta Integritas di era pemerintahan yang lalu menjadi format TRIPAKTA (Tiga Politik Anti Korupsi Tanpa Akhir) yang berupa tata-nilai ikatan janji sebagai berikut: (a) Tidak mengingkari Konstitusi; (b) Tidak korupsi terhadap nilai-nilai Pancasila dan amanat Pembukaan Undang Undang Dasar 1945; dan (c) Tidak korupsi terhadap APBN dan/atau APBD, BUMN dan/ atau BUMD baik kepemilikan maupun keuangan, serta uang hasil pajak yang dipungut dari rakyat.

TRIPAKTA semula adalah tata-nilai opersionil GASAKNAS yang telah dibudayakan sejak tanggal 9 Desember 2010, namun kini dirasakan perlu untuk diajukan juga sebagai materi Revolusi Mental di dunia konstruksi dan pembangunan infrastruktur.

GASAKNAS menyarankan kepada Pemerintah agar TRIPAKTA ini bersifat mengikat secara hukum yang berlaku di seluruh wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia dan dapat dikembangkan kiprahnya pada pengelolaan satuan-satuan mata anggaran lain di APBN dan APBD.

Jakarta, 28 Januari 2015

Tim-11 GASAKNAS (Gerakan Anti Suap dan Anti Korupsi Nasional )

Pandji R Hadinoto, Arief Sofiyanto, Greg Wisnu Rosariastoko, Andre Lukman, Indra Hernawan, Agus Surya, Hartsa M, Imam Bogie Yudhaswara, Suryo Susilo, Vayireh Sitohang, Lasman Siahaan.
Pandji R Hadinoto, Nasionalis Pancasila
PARRINDO – Parlemen Rakyat Indonesia
Politisi Keadilan & Persatuan Indonesia
PKP17845 – Poros Koalisi Proklamasi 17845
Editor http://www.jakarta45.wordpress.com

BERITA LAINNYA

Sumber Berita: http://www.edisinews.com


http://edisinews.com/berita-petisi-tripakta-gasaknas.html#ixzz3QGzYbLmE

Mahasiswa Desak Pentolan KPK Penjarakan Budi Gunawan

Jumat, 16 Januari 2015 – 18:26 WIB

 

Jakarta – Dukungan kepada KPK untuk menahan calon Kapolri Komisaris Jenderal Budi Gunawan terus mengalir. Mahasiswa Universitas Bung Karno yang menamakan diri mereka pergerakan mahasiswa merah putih (PMMP) hari ini, melakukan aksi unjuk rasa untuk mendukung Abraham Cs.

“KPK harus konsisten dalam penanganan kasus Kapolri Budi Gunawan. Jangan Takut dengan Jokowi. KPK harus tangkap dan adili para koruptor tanpa pandang bulu,” teriak orator unjuk rasa di depan Gedung KPK, Jakarta, Jumat (16/1/2015).

Mahasiswa tersebut meminta KPK tidak perlu mengulur waktu mengingat kasus Budi Gunawan sudah rahasia umum. Budi sudah mendapat stabilo merah pada saat diajukan jadi calon menteri tahun lalu.

Lebih lanjut, mahasiswa tersebut menilai kasus Budi Gunawan merupakan salah satu gambaran dari lemahnya peradilan hukum di Indonesia karena (calon) Kapolri adalah seorang tersangka.

Dalam aksi itu mahasiswa juga membawa spanduk besar bertuliskan `Segera Tangkap Budi Gunawan”.(sor)

BERITA LAINNYA

Budi Gunawan Jadi Kapolri, Polisi Bisa Minder

Kamis, 15 Januari 2015 – 21:46 WIB

Calon Kapolri Budi Gunawan bersama Pimpinan DPR. (Tempo)

Jakarta – Peneliti Pusat Kajian Antikorupsi (Pukat) Universitas Gadjah Mada (UGM), Hifdzil Alim, mengatakan pengangkatan Komisaris Jenderal Budi Gunawan sebagai Kepala Kepolisian RI akan membuat seluruh jajaran Polri malu. “Malu karena Kepala Polri adalah tersangka. Secara sosiologis mereka akan merasa seperti itu,” kata Hifdzil, Kamis (15/1/2015), seperti dilansir Tempo.

Menurut dia, efek tersebut juga bakal terbawa saat Budi Gunawan menghadiri acara kepolisian tingkat internasional. “Ini tentu juga akan menurunkan martabat bangsa di depan negara lain,” ujar Hifdzil.

Selain itu, ia melanjutkan, pengangkatan Budi Gunawan juga berpotensi memunculkan masalah dalam hubungan Polri dengan lembaga penegak hukum lainnya. “Misalnya, Kejaksaan Agung akan mempertanyakan bagaimana seorang tersangka bisa menerbitkan sebuah keputusan yang berkekuatan hukum.”

Ihwal keterkaitan pengangkatan Budi Gunawan dengan upaya pelemahan Komisi Pemberantasan Korupsi, Hifdzil tak sependapat. “Itu terlalu jauh,” katanya. Menurut dia, kemungkinan Budi Gunawan menarik para penyidik kepolisian dari KPK masih merupakan asumsi.

Adapun sidang paripurna Dewan Perwakilan Rakyat akhirnya menyetujui pengangkatan Budi Gunawan sebagai Kepala Kepolisian RI. Keputusan tersebut disetujui setelah melewati lobi antarpimpinan fraksi dan pimpinan DPR. (Tmp)

BERITA LAINNYA

Kredibilitas Jokowi Hancur Jika Lantik Budi Gunawan

Kamis, 15 Januari 2015 – 17:38 WIB

Jakarta – Peneliti senior dari Center for Strategic and International Studies (CSIS),J Kristiadi menilai presiden Joko Widodo melakukan blunder besar jika melantik Komjen Pol Budi Gunawan sebagai Kapolri.

Menurutnya, melantik Budi Gunawan yang berstatus tersangka dugaan gratifikasi itu akan menghancurkan kredibilitas Jokowi.

“Kalau presiden Jokowi melantik Budi Gunawan maka akan hancur kredibilitasnya. Jokowi tidak punya gerbong,” kata Kristiadi di Gedung Dewan Pers, Jakarta, Kamis (15/1/2015).

Kristiadi menuturkan, selain Jokowi yang akan hancur jika tetap melantik Budi Gunawan sebagai Kapolri adalah Koalisi Indonesia Hebat (KIH). Karena Kristiadi memprediksi akan ada punishment dari rakyat jika Jokowi tetap melanjutkan untuk melantik Budi Gunawan.

“(Melantik Budi Gunawan sebagai Kapolri) akan jadi titik balik masyarakat melawan Jokowi. Karena gerbong Jokowi adalah rakyat,” tuturnya.

Seperti diberitakan, Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) akan mengirimkan surat persetujuan Komjen Pol Budi Gunawan sebagai Kapolri. Hal itu sesuai dengan keputusan DPR menyetujui Budi sebagai pengganti Jenderal (Pol) Sutarman.

“Lagi dibuat, hari ini juga,” kata Wakil Ketua DPR Taufik Kurniawan di Gedung DPR, Jakarta, Kamis (15/1/2015).(sor)

 

BERITA LAINNYA
26
Jan
15

MiGas : Nasib Harga Minyak Dunia

Nasib Harga Minyak Dunia

Minggu, 25 Januari 2015 – 15:49 WIB

Teheran – Sekjen OPEC dalam statemen terbarunya membela kinerja organisasi negara pengekspor minyak ini yang menolak memangkas pasokan minyaknya. Abdallah El Badri mengklaim OPEC tidak membela sebuah negara tertentu dalam menjalankan kebijakannya selama ini. CNN melaporkan, El Badri hari Sabtu (25/1), mengungkapkan bahwa keputusan OPEC tidak menyerang maupun membela pihak manapun, termasuk industri minyak Shell maupun Rusia. Menurutnya, masalah ini sepenuhnya ekonomi. Tidak hanya itu, ia juga mengkritik kinerja negara-negara Non-OPEC yang memproduksi minyak dengan biaya tinggi, dan mereka tidak menyadari keputusan OPEC menolak memangkas produksi minyaknya.

Terkait pernyataan El Badri tersebut, laporan CNN menunjukkan bahwa dinamika harga minyak di pasar dunia saat ini sebagai batu ujian negara-negara anggota OPEC terhadap negara Non-OPEC, seperti Rusia, Norwegia, bahkan AS. OPEC dengan anggota 12 negara pengekspor minyak, menguasai 85 persen cadangan minyak dunia, dan kebanyakan dikuasai oleh negara-negara kawasan Timur Tengah. Empat negara Arab pengekspor minyak anggota OPEC, terutama Arab Saudi cenderung untuk tidak mengurangi pasokan minyaknya.

Selama beberapa bulan terakhir harga minyak mentah di pasar dunia mengalami penurunan tajam. Sejak juni lalu hingga kini, harga minyak di pasar global terpuruk hingga 60 persen. Penurunan drastis harga minyak menjadi masalah besar. Meskipun Sekjen OPEC menilai anjloknya harga minyak dunia sebagai masalah murni ekonomi, tapi analis energi menilainya berbeda.Menurut mereka ada motif politik yang bermain di balik penurunan drastis harga minyak di pasar dunia. Analis ekonomi energi menilai anjloknya harga minyak global dipicu oleh kelebihan penawaran minyak mentah yang dipasok oleh sejumlah negara pengekspor minyak.

Tampaknya, motif politik sejumlah negara Barat dan Arab dengan kepentingan tertentu memainkan peran besar merusak keseimbangan harga di pasar global. Mereka melancarkan konspirasi dengan menggenjot penawaran lebih besar dari permintaan minyak global. Akibatnya, harga minyak terus merosot hingga menembus harga di bawah 50 dolar perbarel.Analis politik menilai aksi kolektif yang dipimpin AS dan Arab Saudi menambah pasokan minyak di pasar global bertujuan politik untuk menekan sejumlah negara seperti Iran dan Rusia.

Anjloknya harga minyak di pasar global menimbulkan kerugian besar bagi negara-negara produsen minyak dunia. Bahkan, Presiden Bolivia, Evo Morales menyebutnya sebagai perang ekonomi untuk menyerang negara lain, termasuk, Rusia dan Venezuela.Perusahaan minyak raksasa dunia seperti BP, Shell dan Canoco mengurangi kegiatannya selama enam bulan lalu.

Sejatinya, jika laju penurunan harga minyak terus berlanjut, diprediksi akan menimbulkan masalah besar ke depan. Meskipun konsumen minyak saat ini menikmati harga minyak yang murah, tapi jika kondisi anjloknya harga minyak terus berlanjut, maka mereka akan menghadapi kelangkaan minyak, karena produsen mengalami masalah dalam produksi emas hitam ini. (irib.ir)

 

BERITA LAINNYA
26
Jan
15

IpTek : Kelas Eksekutif Magister Hukum di Istana

http://www.edisinews.com/berita-kelas-eksekutif-magister-hukum-di-istana.html

Kelas Eksekutif Magister Hukum di Istana

Minggu, 25 Januari 2015 – 19:45 WIB

Logo PARRINDO

Suara Pembaca:
Kelas Eksekutif Magister Hukum di Istana

Ketidakpastian kiprah hukum tatanegara terasa istimewa terjadi saat munculnya peristiwa hukum seperti perkara saling terbitkan keputusan tersangka diantara para petinggi institusi penegak hukum, dalam kasus terkini yakni diantara KPK dan Kepolisian.

Terlihat gamblang bahwa Kepala Negara setiap kali perlu memanggil rapat konsultasi bersama ring-1 istana untuk mencari solusi kebijakan presidensiil terbaik. Hal ini tentunya dapat menyita waktu kontra produktif bagi tugas2 kenegaraan lainnya apalagi bila sering terjadi benturan kepentingan diantara institusi-nilai yudikatif satu sama lain akibat daripada dinamika ketatanegaraan itu sendiri yang memang dapat meningkat tinggi dan cepat berlangsungnya.

Terobosaan kearah hemat waktu kedepan adalah antara lain pembekalan hukum tatanegara misal melalui program kelas eksekutif magister hukum di istana yang diikuti oleh para petinggi istana.

Rekomendasi ini diutarakan dengan niat baik bagi kepentingan mutu penyelenggaraan negara terbaik sehingga masyarakat dapat lebih nyaman menyaksikan jalannya penyelenggaraan negara kedepan yang lebih teratur, taat azas dan tertib manfaat.

Bagaimanapun juga, memang wawasan kenegaraan perlu selalu diremajakan dan diperkaya sehingga performa daripada nilai-nilai kenegarawanan dapat selalu tampil dengan se-baik2nya secara VELOX (cepat) et EXACTUS (tepat) pasca 100 hari usia Kabinet Kerja.

Jakarta, 25 Januari 2015

Pandji R Hadinoto, Nasionalis Pancasila
PARRINDO – Parlemen Rakyat Indonesia
Politisi Keadilan & Persatuan Indonesia
PKP17845 – Poros Koalisi Proklamasi 17845
Editor http://www.jakarta45.wordpress.com

BERITA LAINNYA



Blog Stats

  • 2,412,244 hits

Recent Comments

Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Sejarah : Bangsa Lemuria, Lelu…
Ratu Adil - 666 on Sejarah : Bangsa Lemuria, Lelu…

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 135 other followers