Posts Tagged ‘Patriotism

25
Jan
15

Kenegarawanan : Dr Moewardi Bapak Pandu Indonesia

Alm Dr Moewardi Bapak Pandu Indonesia 

Jumat, 23 Januari 2015 – 10:13 WIB

 

Dr Moewardi

Suara Pembaca :

Alm Dr Moewardi Bapak Pandu Indonesia 

30 Januari 1907 adalah hari lahir Pahlawan Kemerdekaan Nasional Dr Moewardi sesuai Surat Keputusan Presiden RI No 190/1964 tanggal 4 Agustus 1964.

Dalam konteks ditengah situasi dan kondisi kenegaraan Republik Indonesia terkini khususnya Keadilan dan Persatuan Indonesia kiranya strategik ditampilkan sosok kepemimpinan Patriot Indonesia yang telah berkontribusi signifikan di 2 (dua) tonggak sejarah Indonesia strategik yaitu Sumpah Pemuda 1928 dan Proklamasi Indonesia Merdeka 1945, untuk diteladani bersama baik oleh pemangku pemerintahan maupun oleh komunitas masyarakat sipil.

Sebagai sosok intelektual terekam dari rangkaian pendidikan formal seperti HIS (Hollandsch Inlandsche School, Kudus), ELS (Europesche Lagere School, Pati), STOVIA (School Tot Opleiding Voor Inlandshe Aartsen, Jakarta), NiAS (Nederlandch Indische Arts School), GH (Geneeskundig Hoogeschool, Jakarta) yang berujung dokter spesialis THT di tahun 1939.

Sebagai sosok pejoang politik kebangsaan terjejak dari keorganisasian yang digeluti semisal PemRed Majalah Jong Java 1922; Ketua Jong Java Cabang Djakarta 1925; Utusan Jong Java di Kerapatan Besar Pemuda 28 Oktober 1928 ikrarkan Sumpah Pemuda; turut bentuk Indonesia Muda (IM) Desember 1928 (fusi Jong Java, Jong Sumatera, Jong Ambon, Jong Minahasa, Sekar Rukun, Sangkoro Mudo); Ketua Barisan Pelopor (BP) Djakarta 1944; pimpinan BP amankan acara Proklamasi Indonesia Merdeka 17 Agustus 1945 di Jl Pegangsaan Timur 56 Jakarta dan Rapat Raksasa IKADA 19 September 1945; Pemimpin Umum Barisan Banteng Republik Indonesia (BBRI, pengganti BP), Solo; turut bentuk Persatuan Perjuangan (PP) 5 Januari 1946 di Purwokerto; turut sebagai penggerak Bandung Lautan Api 23 Maret 1946 bersama BBRI Bandung (M Toha, AH Nasution, Suprayogi); pimpinan Kongres BBRI Pebruari 1948 di Solo, bersikap anti perundingan dengan Belanda dan anti Swapraja, pasca Perjanjian Renville 17 Januari 1948.

Sebagai sosok berjiwa kepemimpinan Pandu Nasionalistik ditapaki dari Nederlandsch Indische Padvinder Vereneging (NIPV) dan di tahun 1925 berprestasi Kelas-I (Kepala Pasukan, Ploeg Leider / Assistant Troep); sebagai pimpinan Jong Java Padvinderij (JJP) mengubah nama jadi Pandu Kebangsaan (PK 1925); inisiator Persatuan Antara Pandu Indonesia (PAPI 23 Mei 1928) bersama Nationale Islamietische Padvinderij (NATIPIJ) dan Indonesische Nationale Padvinders Organisatie (INPO); penggagas prinsip “pandu yang satu adalah saudara pandu yang lainnya, oleh karena itu seluruh pandu harus menjadi satu” atau Satu Organisasi Kepanduan Indonesia (SOKI) di temu PAPI 15 Desember 1929; pembentuk dan Komisaris Besar Kepanduan Bangsa Indonesia (KBI 13 September 1930) fusi dari PK, Pandu Pemuda Sumatera (PPS) dan INPO; pembentuk dan pimpinan Badan Pusat Persaudaraan Kepanduan Indonesia (BPPKI 30 April 1938) bersama Kepanduan Azas Katholik Indonesia (KAKI), NATIPIj dan Syarikat Islam Afdeling Padvinderij (SIAP); pimpinan Perkemahan Kepanduan Indonesia Oemoem (PERKINO-I 19-23 Juli 1941, Jogjakarta dan PERKINO-II 2-12 Pebruari 1943, Jakarta); inisiator Panitia Kesatuan Kepanduan Indonesia, September 1945, Jogjakarta; pimpinan Kongres Kesatuan Kepanduan Indonesia 27-29 Desember 1945, Solo dan pembentuk serta Ketua Pandu Rakyat Indonesia (PRI 28 Desember 1945, yang diakui satu2nya organisasi kepanduan per Keputusan Menteri Pendidikan, Pengajaran dan Kebudayaan No 93/Bag A, 1 Pebruari 1947).

Sebagai tokoh Patriot Indonesia, sayang saat sedang menjalankan profesi kedokterannya
pada 13 September 1948 di Solo, dinyatakan hilang yang diduga sebagai korban revolusi di era Perang Kemerdekaan 1945-1949.    Sebagai inisiator Pandu Kebangsaan 1925, dimana istilah Pandu untuk pertama kalinya digunakan di Indonesia dan disyairkan WR Soepratman “Pandoe Iboekoe” pada lagu kebangsaan Indonesia Raja 28 Oktober 1928 lalu bermuara serta berkiprah jiwai Gerakan Pramuka 1961-sekarang, maka layaklah Dr Moewardi berkehormatan Bapak Pandu Indonesia dan diteladani pemangku Republik Indonesia jelang peringatan hari lahirnya ke 107 pada 30 Januari 2015 yang akan datang.

Jakarta, 22 Januari 2015
Pandji R Hadinoto, MAPINDO

MAPINDO – Majelis Pandu Indonesia
Politisi Keadilan dan Persatuan Indonesia
PKP17845 – Poros Koalisi Proklamasi 17845
Editor www.jakarta45.wordpress.com

BERITA LAINNYA

Sumber Berita: http://www.edisinews.com


http://edisinews.com/berita-alm-dr-moewardi-bapak-pandu-indonesia-2-.html#ixzz3PnlJ3DFa

Logo Mapindo

 

NAPAK TILAS Dr MOEWARDI

30 Januari 1907 Moewardi terlahir di desa Randukuning, Pati, Jawa Tengah
Periode Kebangkitan Nasional 1908 -1928
Tercatat bersekolah di HIS (Hollandsch Inlandsche School, Kudus), ELS (Europesche Lagere School, Pati), dan1921 Moewardi bersekolah di STOVIA (School Tot Opleiding Voor Inlandshe Aartsen atau Sekolah Dokter Bumi Putera di Kwitang, Jakarta), berlanjut ke NIAS (Nederlandsch Indische Arts School) dan lulus 1931, setelah praktek 5 tahun mengambil spesialisasi THT di GH (Geneeskundig Hoogeschool, Salemba, Jakarta) dan lulus 1939.
Aktivis Nederlandsch Indische Padvinder Vereneging (NIPV) sampai 1925 dan juga Jong Java.
1922 Pemimpin Redaksi Majalah Jong Java
1925 Ketua Jong Java Cabang Jakarta, dan berinisiatif mengubah nama Jong Java Padvinderij (JJP) jadi Pandu Kebangsaan (PK)
23 Mei 1928 turut bentuk Persatuan Antara Pandu Indonesia (PAPI) di Jakarta oleh PK (Pandu Kebangsaan), NATIPIJ (Nationale Islamietische Padvinderij), INPO (Indonesische Nationale Padvinders Organisatie).
28 Okober 1928 Utusan Jong Java di Kongres Pemuda Nasional di Jakarta dan ikut ikrar Sumpah Pemuda
Desember 1928 turut bentuk Indonesia Muda (IM) yang fusi dari Jong Java, Jong Sumatera, Jong Ambon, Jong Minahasa, Sekar Rukun (Sunda), Sangkoro Mudo (Jawa).
Periode Pergerakan Kemerdekaan 1929-1945 :
15 Desember 1929 Moewardi PK di pertemuan PAPI Jakarta usul SOKI (Satu Organisasi Kepanduan indonesia) berprinsip “pandu yang satu adalah saudara pandu yang lainnya, oleh karena itu seluruh pandu harus menjadi satu”
13 September 1930 turut bentuk Kepanduan Bangsa Indonesia (KBI) yang fusi dari Pandu Kebangsaan (PK), Pandu Pemuda Sumatera (PPS), Indonesisch Nationale Padvinders Organisatie), dan Moewardi Komisaris Besar KBI
Desember 1930 Kongres/jambore KBI Pertama di Ambarwinangun, Jogjakarta
Juni 1931 Pertemuan Pemimpin I KBI di Purworejo, menetapkan warna “merah putih” sebagai warna setangan leher dan bendera KBI sesuai azas kebangsaan Indonesia.
19-21 Juli 1932 Jambore II KBI di Banyak, Malang, dipimpin KomBes Moewardi, memutuskan tentang Upacara Pelantikan Pandu dan Upacara Pengibaran Bendera
20-24 Juni 1934 Jambore III KBI di Solo, menerbitkan AD/ART, Petunjuk Permainan, Peraturan Mendirikan Cabang dlsb
1936 Jambore Nasional IV KBI di Kali Urang, Jogjakarta dan perkemahan di lapangan Diponegoro dipimpin KomBes Moewardi
26-30 April 1938 temu PAPI di Solo bicarakan All indonesian Jambore, dibentuk Badan Pusat Persaudaraan Kepanduan Indonesia (KBI Ketua, KAKI (Kepanduan Azas Katholik indonesia) Notulen, NATIPiJ Bendahara, SIAP (Syarikat Islam Afdeling Padvinderij) Urusan Bagian Teknik,
1939 Konperensi BPPKI di Bandung putuskan All Indonesian Jambore jadi Perkemahan Kepanduan Indonesia Oemoem (PERKINO)
11 Pebruari 1941 BPPKI di Solo putuskan PERKINO di Jogjakarta.
19-23 Juli 1941 PERKINO I di Gampingan, Jogjakarta
Maret 1942 Jepang menaklukkan Hindia Belanda, dan 4 bulan kemudian melarang partai dan organisasi rakyat Indonesia, serta menghidupkan Keibodan & Seinendan.
2-12 Pebruari 1943 PERKINO II di Jakarta
4 April 1944 KBI dibekukan di Gang Tengah, Jakarta
1944 Ketua Barisan Pelopor Daerah Djakarta Raja, wakilnya Wilopo SH
16-17 Agustus 1945 memimpin Barisan Pelopor amankan Proklamasi Indonesia Merdeka di Jl Pegangsaan Timur 56
18 Agustus 1945 Dr Moewardi KetUm Barisan Pelopor (berubah nama jadi Barisan Pelopor Republik Indonesia – BPRI)
19 September 1945 memimpin Barisan Pelopor amankan Rapat Raksasa IKADA
September 1945 PKPI Panitia Kesatuan Kepanduan Indonesia dibentuk di Jogjakarta
15-16 Desember 1945 BPRI berubah nama jadi Barisan Banteng Republik Indonesia (BBRI) bermarkas di Solo, Dr Moewardi Pemimpin Umum BBRI
27-29 Desember 1945 pimpinan Kongres Kesatuan Kepanduan Indonesia di Solo membentuk Pandu Rakyat Indonesia (PRI) yang diketuai Dr Moewardi
Periode Perang Kemerdekaan 1945 – 1949 :
5 Januari 1946 ikut bentuk Persatuan Perjuangan (PP) di Purwokerto, dilanjuti bentuk jaringan teritorial BBRI Jawa Barat, Jawa Tengah dan Jawa Timur
23 Maret 1946 pelaku Bandung Lautan Api bersama Barisan Banteng di Bandung seperti Toha, AH Nasution, Suprayogi
1 Pebruari 1947 PRI diakui sebagai satu2nya organisasi kepanduan per Keputusan Menteri Pendidikan, Pengajaran dan Kebudayaan No 93/Bag.A.
25 Maret 1947 Perjanjian Linggarjati yang ditentang Moewardi bersama Soedirman, Oerip Soemoharjo dan Tan Malaka
1 Juli 1947 Agresi Militer I Belanda
17 Januari 1948 Persetujuan Renville
Pebruari 1948 Kongres BBRI di Sarwakan, Solo, sikapi anti perundingan dengan Belanda dan anti Swapraja, bersama Mulyadi Djojomartono ditangkap atas perintah Mendagri Dr Soedarsono, namun dilepaskan kembali atas dukungan BBRI, Soedirman dan Oerip Soemohardjo.
13 September 1948 hilang saat berangkat praktek kedokteran di RS Jebres, Solo, terduga korban aksi kekerasan ditengah suasana dan kondisi saat itu yaitu pasca aksi Partai Komunis Indonesia 11 September 1948 di Madiun, sementara Dr Moewardi pimpinan Gerakan Rakyat Revolusioner yang berseberangan.
Periode Indonesia Berkedaulatan 1950 – sekarang
4 Agustus 1964 ditetapkan jadi Pahlawan Kemerdekaan Nasional per Surat Keputusan Presiden RI No 190/1964

Jakarta, 30 Januari 2015
MAPINDO, Majelis Pandu Indonesia
DR Ir Pandji R Hadinoto, MH

14
Aug
11

Patriotisme : Mengusir Belanda dari Ambarawa

Kisah Pelaku Perang Kemerdekaan 1945 ; Mengusir Belanda dari Ambarawa
13/08/2011 08:57:58 BELANDA ingkar janji. Tidak mematuhi gencatan senjata, 2 November 1945 di Magelang Ambarawa. Masyarakat mendambakan lepas dari penjajahan dan ingin merdeka seperti yang telah diproklamirkan Bung Karno pada tanggal 17 Agustus 1945 yang lalu. Apalagi selalu dikompori “Radio Pembrontak” Surabaya yang di-relay RRI setiap malam menyiarkan orasi “Jenderal Pembrontak – Bung Tomo”, yang menggebu-gebu dan terus membakar semangat jiwa generasi muda kita agar berjuang secara total untuk menghadapi penjajah Belanda sampai titik darah terakhir. Ambarawa jadi bergolak. Semua penduduk laki-laki, perempuan, tua muda bersatu padu bangkit menghadapi penjajah dengan semboyan, “Lebih baik mati dari pada dijajah kembali!” Kota Ambarawa yang kecil itu “dikepung wakul” dari tiga jurusan: timur, selatan dan barat oleh TKR (Tentara Keamanan Rakyat), Hisbullah, APS (Angkatan Perang Sabil), Laskar Rakyat dan beberapa kesatuan kelaskaran. Semua “saiyeg-saekapraya” bertempur menghadapi tentara Belanda yang dibantu Sekutu, kita dibawah komando seorang bekas Dai- Danchoo (Komandan Batalyon Tentara PETA) dari Kroya Cilacap Banyumas yang kemudian karena keberhasilannya oleh pemerintah diangkat menjadi Panglima Tentara, yang sekarang lebih kita kenal dengan nama Panglima Besar Jenderal Soedirman. Serangan umum yang terdahsyat ketika itu terjadi pada hari Rabu tanggal 21 November 1945 lalu diberi tetenger “Palagan Ambarawa. Sabtu 17 November 1945 kami berangkat ke Ambarawa. Kompi kami hanya Seksi III (seksiku) yang diberangkatkan dan akan digabungkan dengan pasukan dari Batalyon 17 yang menempati gedung STM Jetisharjo dan berlokasi di depan asrama kami. Setelah makan siang kami berangkat bersama pasukan Batalyon 17 diangkut dengan beberapa truk menuju Magelang, kemudian ganti naik kereta api dan berhenti di Stasiun Bedono. Setelah makan dan minum yang telah disediakan oleh petugas logistik pos Bedono, kami berangkat menuju lokasi yang ditentukan dengan berjalan kaki, cukup melelahkan karena mengangkat dua buah mitraliur berkaki tiga yang masing-masing dipikul tiga orang dan sebentar-sebentar diadakan pergantian pemikulnya. Pukul 20.00 WIB pasukan kami tiba di lokasi yang telah ditentukan. Medannya berupa tanah pegunungan yang miring ke barat, ditumbuhi beberapa rumpun bambu dan pepohonan yang daunnya meranggas seperti daerah gersang. Sekitar 300 meter ke selatan terdapat sebuah parit kering memanjang ke barat. Di bawah terdapat sebuah belik (semacam sumur). Di atas belik tadi ada punthukan yang ditumbuhi pohon besar dan dari sanalah mata airnya. Ketika itu Bulan Besar (Bulan Jawa) tanggal 12, oleh karena itu rembulan sedang berada di atas kami dengan suasana yang tidak gelap gulita. Pagi harinya Minggu 18 November bersama dua orang pengawal aku mengontrol lokasi dan area sekitarnya serta menempatkan posisi kedua mitraliur kami biar gampang sewaktu-waktu digunakan. Sepucuk senjata otomatis laras pendek selalu menempel di pinggangku, stengun hadiah kenang-kenangan di pertempuran Magelang. Mudah-mudahan nantinya menjadi ‘senjata makan tuan’, karena asalnya dari tentara Belanda yang tewas dan pelurunya akan kukirimkan kepada tentara Belanda lagi. Ambarawa sudah dikepung dari tiga penjuru. Pusat komando dirahasiakan tempatnya. Instruksi atau informasi dikirim lewat kurir secara estafet dari sektor satu ke sektor yang lain (tidak menggunakan HP seperti sekarang). Senin 19 November baru pukul 09.00 WIB dari utara datang tiga buah pesawat terbang Belanda jenis mustang atau yang dikenal “si cocor merah” menghujani tembakan zik-zak dengan peluru 12,7 mm yang bermaksud menggiring pasukan kami supaya ke arah timur dimana telah menghadang pasukan Belanda dengan kawalan panserwagen. Anak-anak kuperintahkan tidak usah berlari, berdiri saja menempel pepohonan dari atas tak akan kelihatan. Ternyata peluru tiu hanya dihambur-hamburkan percuma dan anak buahku tetap masih utuh. Tiba-tiba di timur terjadi tembak-menembak yang ramai sekali. Pasukan kami kusiapkan menunggu instruksi dari pos komando dan datanglah kurir membawa pesan agar pasukanku segera melibatkan diri. Pasukan kubagi dua yang sebagian di selatan dipimpin Serma Sujasmin dan sisanya di utara aku pimpin sendiri, terus turun mengarah ke timur yang dilindungi dua mitraliur yang dipegang oleh Darmo Onthel di utara dan Darmo Chungking di selatan. Namanya Sudarmo Komandan Regu I, oleh kawannya dijuluki Darmo Onthel, ceritanya ketika melucuti senjata tentara Jepang di Kotabaru Yogyakarta 7 Oktober 1945 mereka mengibarkan bendera putih tanda menyerah, tetapi ketika para pemuda berbondong-bondong hendak masuk ke asrama mereka, prajurit Jepang memberondong pasukan kita dan Darmo dapat menangkap salah seorang lalu disembelih dengan samurainya opsir Jepang itu sendiri. Sedang Darmo yang lain adalah Komandan Regu II tubuhnya berkulit kuning dengan wajah seperti China lalu dijuluki Darmo Chungking. Setelah menerima perintah itu pasukan kami terus bergerak maju merayap ke depan yang dilindungi tembakan mitraliur kedua Darmo tadi. Tidak beberapa lama pasukan kami sudah terlibat tembak-menembak dengan tentara Belanda yang di belakangnya dilindungi oleh sebuah panserwagen. Pertempuran menjadi seru karena bukan hanya pasukan kami sendiri, melainkan dari sisi selatan dan timur ikut juga terlibat tembak-menembak seru. Tiba-tiba panserwagen itu dikrutug peluru mortir dan tembakan meriam dari timur daya oleh pasukan Kavaleri/Infanteri Magelang (?) dan paserwagen itu terbakar kemudian tentara Belanda mundur ke utara. Karena sudah terjadi pertempuran yang frontal tentu saja pesawat terbang Belanda tadi pagi itu tidak dapat membantu pasukannya, takut menembak kawan sendiri. Ketika sedang sibuk-sibuknya bertempur, dari belakang datang seorang prajurit melaporkan bahwa Suhandi dari Regu III tertembak tembus pipi kanan kiri mulutnya menyemburkan darah. Kuambil sarungku dari ransel di punggungku dan kulepas kain segitiga yang melingkar di leherku terus kuberikan kepada prajurit itu dengan perintah,” Balut pipinya untuk mengurangi pendarahan, lilitkan sarung itu di kedua ketiaknya pada posisi terlentang, seret ke arah parit sana, di sana lebih aman, dapat digendong ke pos palang merah.” “Siap pak!” jawabnya terus merangkak menuju Suhandi berada. Setengah jam kemudian pertempuran sudah mereda, “Mo, lindungi aku. Aku akan mengontrol sekitar panserwagen itu,” perintahku kepada Darmo, terus berlari terbungkuk-bungkuk menuju bangkai panserwagen yang masih terbakar itu. Stengun di pinggang selalu siap menghadapi segala kemungkinan dan aku mengontrol sekeliling. Terlihat dua orang serdadu Belanda tergeletak di dekat bangkai panserwagen, mungkin tak sempat dibawa mundur oleh pasukannya. Dua pucuk senjata yang terletak di sampingnya begitu juga topi bajanya kuambil menjadi suvenir seksi pasukanku dan ketika aku kembali ke induk pasukan anak-anak sedang makan. Aku mendapat jatah sebuah pisang rebus dan sebuah bungkusan daun jati, setelah kubuka ternyata berisi dua potong singkong rebus. Darmo melapor, kata tobang (pengantar makanan) nasinya belum datang, yang ini baru emlik-emlik (makanan kecil) kiriman dari dapur lain. Kuambil termos air di ransel lalu dua potong singkong rebus dan sebuah pisang kapok rebus itu kusantap uenaak sekali, dasar dari pagi perutku belum terisi apa-apa. Setelah minum air termos, termosnya kuberikan kepada anak-anak dan sebentar saja airnya ludes. Pukul 17.00 WIB rasanya sudah aman, pasukan terus kutarik mundur kembali ke posisi semula. Selasa tanggal 20 November pagi-pagi aku telah mendapat informasi dari pos komando yang mempunyai radio-telegrafi, yang katanya dari Jakarta sudah dikirim bantuan tentara Belanda yang diangkut dengan kapal laut ke pelabuhan Semarang. Tentu saja hari ini pasukan tentara Belanda di Ambarawa akan menjadi kuat baik personel atau persenjataannya. Benar, pagi itu pasukan kita mulai bergerak (termasuk pasukan kami) menduduki Ambarawa bagian selatan dan pada pukul 11.00 WIB pasukan Belanda yang dibantu tentara Sekutu mulai menyerang kedudukan kami. Pertempuran sengit mulai berkobar. Dan ketika baru bertempur satu jam kaki kananku tertembak. Sepatu boot yang baru saja kuterima jebol. Sambil mengerang kesakitan, Darmo kuperintahkan melepas tali sepatuku untuk mengikat daerah mata kaki guna memperlambat jalannya darah dan aku berpesan tanggung jawab pimpinan kuserahkan Serma Sujasmin, begitu juga senjata-senjata serta dua buah topi baja kuserahkan sebagai inventaris pasukan kita. Seperti Suhandi aku diseret oleh salah seorang prajurit (lupa namanya) di bawa ke pos palang merah. Sore hari itu juga aku bersama yang lain luka-luka dan gugur dibawa ke Yogyakarta. Yang gugur dibawa ke BPKKP Sayidan dan yang luka-luka dibawa ke Rumah Sakit Petronella (sekarang RS Bethesda). Hari Rabu tanggal 21 November 1945 (pertempuran yang paling dahsyat ketika kaki kananku yang tertembak dan sedang dirawat, aku mendengar kabar bahwa anak buahku Sarno anggota Regu 4 gugur dan dimakamkan di TMP Semaki. Ketika rombongan kami berziarah pada saat menghadapi Muscab LVRI Kabupaten Kulonprogo Mei 2005, kucari pusarannya tidak ketemu, mungkin sudah dipindah ke lain tempat, karena tempat itu (seingatku) sekarang jadi bangunan Pusara Panglima Besar Jenderal Soedirman. Di sebelah utara pusara beliau masih ada batu nisan almarhum Sulari anggota Seksi II yang gugur di pertempuran Kaliwungu. Teringat kata dr Kasmolo ketika itu, “bersyukurlah kepada Tuhan. Coba andaikata peluru itu bergeser 3 cm saja ke kanan, telapak kakiku harus diamputasi.” q-g/c-(3270-2011). Soehari Ws, Pejuang Angkatan 45 Kulur, Temon, Kulonprogo (0274) 7498224.

Cetak Berita
Kirim ke teman

11
Nov
09

Kepahlawanan Arek Suroboyo 10 Nopember 1945

Suara Pembaruan

ZOOM2009-11-10Pahlawan Hati Nurani Rakyat
Josef Purnama Widyat madja

Enam puluh empat tahun lalu, tepatnya 10 November 1945, Bung Tomo bersama arek Suroboyo dengan gagah berani melawan tentara sekutu. Pada hari itu, tidak ada pilihan lain bagi arek Suroboyo bersama rakyat Indonesia kecuali merdeka atau mati. Tidak seorang pun berpikir untuk kepentingan dan memperkaya diri sendiri. Itulah sebabnya mengapa perjuangan arek Suroboyo mengilhami pemimpin nasional menjadikan pertempuran Surabaya sebagai hari pahlawan.

Kepahlawanan arek Surobyo dan rakyat Indonesia bukan semata-mata kepahlawanan dari mereka yang memiliki senjata canggih dan pasukan terlatih, juga kepahlawanan dari rakyat yang memiliki hati nurani. Hati nurani ini tak bisa dibeli dan diganti dengan durian yang bisa membuat mabuk dan lupa diri. Berbekal hati nurani rakyat berani melawan musuh yang memiliki senjata yang lebih canggih dan tentara yang terlatih. Hati nurani rakyatlah yang kita peringati sebagai Hari Pahlawan saat ini.

Kepahlawanan rakyat Indonesia dalam era Reformasi pada 1998 sekali lagi tidak diperankan oleh mereka yang membawa bedil dan menyandang jabatan tinggi. Tapi, justru dari buruh, tani, mahasiswa, pengacara, dan budayawan yang menjadi korban tirani. Tidak sedikit aktivis meringkuk dalam bui oleh pengadilan yang tak bersih. Bedil dan bui telah menelan korban manusia yang menyuarakan hati nurani. Pahlawan reformasi yang mati dalam tragedi Trisakti atau Semanggi sampai saat ini belum bisa menerima keadilan semestinya. Reformasi Indonesia tidak ditandai kepahlawanan mereka yang memiliki senjata dan jabatan di Istana atau Senayan. Kepahlawanan dalam reformasi sesungguhnya adalah kepahlawanan dari rakyat dan mahasiswa yang masih memiliki hati nurani untuk membebaskan Ibu Pertiwi dari penindasan tirani.

Sebelas tahun setelah reformasi di tengah peringatan Hari Pahlawan, rakyat Indonesia menyaksikan sekali lagi perang hati nurani yang disajikan oleh media televisi dan cetak. Semangat reformasi untuk memperbarui diri kian memudar di antara penegak hukum karena tergerus oleh keserakahan harta. Budayawan Romo Mangunwijaya pernah memperingatkan bahwa reformasi yang terjadi tahun 1998 baru sekadar tambal sulam dan pergantian orang. Belum menyentuh perubahan hati nurani dan nilai kemanusiaan.

Yang dibutuhkan Indonesia, menurut Romo Mangun, adalah transformasi yang mampu mengubah mental budaya dan tatanan sosial dalam segala bidang. Keadilan tidak bisa diharapkan tanpa transformasi tatanan nilai dan praktik hukum yang bisa dibeli.. Dan transformasi ini yang tidak terjadi setelah sebelas tahun reformasi. Perang hati nurani terjadi di sidang Makamah Konstitusi, Tim 8 dan DPR. Adegan tayangan televisi yang kita saksikan merupakan bukti bahwa reformasi yang berjalan baru merupakan slogan dan belum kenyataan.

Bisa Diatur

Kriminalisasi bisa diatur dan keadilan dijualbelikan. Perseteruan bukannya terjadi antara penegak hukum pemberantas korupsi melawan koruptor pelaku korupsi. Perseteruan justru terjadi di antara sesama penegak hukum yang mendapat mandat dan biaya dari rakyat untuk memberantas korupsi. Sesama penegak hukum seyogianya bekerja sama untuk mengusut korupsi yang merugikan uang rakyat, bukannya berantam sendiri dan memberikan kesan salah satu pihak telah dibeli oleh pelaku korupsi.

Pertarungan sesungguhnya bukan pertarungan antarinstitusi, tapi pertarungan hati nurani dari penjabat yang duduk dalam institusi. Bukan pertarungan antara lembaga KPK dan Polri karena keduanya mendapat mandat dari konstitusi. Sesungguhnya pertarungan itu terjadi adalah pertarungan antara KPK (Komunitas Pemberantasan Korupsi) melawan KPK (Konspirasi Pembela Korupsi). Komunitas Pemberantas Korupsi dan Konspirasi Pembela Korupsi bisa saja berada dalam diri KPK (Komisi Pemberantas Korupsi), Polri, kejaksaan, tim 8, Makamah Konstitusi, media, lembaga DPR, dan sebagainya. Baik dalam lembaga yang dicap jahat maupun lembaga yang dicap bersih, keduanya bisa terdapat orang yang memiliki hati nurani serta orang yang memiliki jiwa korupsi.

Sebelas tahun setelah reformasi, lembaga perwakilan rakyat yang dipilih rakyat malah ditinggalkan rakyat karena dianggap tidak lagi memiliki hati nurani. Curahan hati rakyat setelah sebelas tahun reformasi disalurkan dalam bentuk parlemen jalanan dan facebook bukan ke Senayan. Rakyat tidak ingin menyaksikan pengadilan kasus korupsi akan mengulang korban seperti yang terjadi dalam kasus Sum Kuning, Sengkon-Karta, Pak De dan Dice.

Era reformasi merupakan kesempatan baik bagi setiap orang untuk menjadi pahlawan hati nurani, di mana kebenaran dan keadilan dijunjung tinggi, bukannya hukum prosedural dan kata-kata mati yang didewakan. Dalam kampanyenya Presiden SBY dikenal sebagai presiden yang santun, penuh pesona, dan memiliki susila yang tinggi untuk memberantas korupsi. Di tengah peringatan Hari Pahlawan, rakyat menagih janji agar Presiden Susilo Bambang Yudhoyono bisa memenuhi janji dan membuktikan diri menjadi pahlawan hati nurani yang akan diingat sejarah Ibu Pertiwi.

Penulis adalah pengamat sosial budaya dan pembangunan

10
Nov
09

Kenegaraan : Kehilangan Indonesia, Timbul Bencana

Kehilangan Indonesia, Timbul Bencana

Selasa, 10 November 2009 | 02:35 WIB

Indonesia adalah negeri para pejuang, bukannya negeri para begundal. Itulah sebabnya setiap tahun kita memperingati Hari Pahlawan. Dalam ungkapan Bung Hatta, ”Bagi kami, Indonesia menyatakan suatu tujuan politik karena dia melambangkan dan mencita-citakan suatu tanah air pada masa depan dan untuk mewujudkannya, setiap orang Indonesia akan berusaha dengan segala tenaga dan kemampuannya.”

Berjuang, ”berusaha dengan segala tenaga dan kemampuan” itulah urat nadi keindonesiaan, yang membuat ia ada dan melangsungkan keberadaannya. Tekad perjuangan ini bukanlah retorika kosong dari suatu politik pencitraan, melainkan didarahi oleh pengalaman keterjajahan, ketertindasan, dan penderitaan yang membuat para pendiri bangsa memiliki penghayatan yang dalam tentang arti keadilan dan komitmen yang kuat untuk mewujudkannya.

Itulah sebabnya, dalam Pancasila, kata ”keadilan” ditonjolkan dengan menempatkannya di dua sila sekaligus. Pada sila kedua, keadilan dijadikan landasan nilai perjuangan; pada sila kelima, keadilan itu dijadikan tujuan perjuangan.

Dengan itu, para pendiri bangsa mewariskan kepada kita alasan (landasan) dan tujuan perjuangan kebangsaan. Sedemikian terangnya alasan, isi, dan haluan perjuangan keindonesiaan itu sehingga seorang ahli sejarah, Rutger, menyatakan, ”Dari semua negara di Asia Tenggara, Indonesia-lah yang dalam konstitusinya pertama-tama dan paling tegas memberikan latar psikologis yang sesungguhnya dari perjuangan revolusi melawan penjajahan. Dalam filsafat negaranya, Pancasila, dilukiskannya alasan dan tujuan secara lebih mendalam dari revolusi itu.”

Jika Indonesia ada karena perjuangan dan komitmen luhur menegakkan cita-cita kemanusiaan dan keadilan, Indonesia terancam karam seiring dengan pemudaran tekad kejuangan dan komitmen keadilan.

Indonesia telah lolos dari berbagai ujian kemelaratan dan penderitaan sejauh masih ada semangat perjuangan dan solidaritas kemanusiaan. Namun, daya hidup dan karakter keindonesiaan justru goyah saat ketamakan dan kezaliman kuasa menari di atas penderitaan rakyat banyak. Kemiskinan memang membuat bangsa ini tidak memiliki banyak hal, tetapi keserakahan membuat bangsa ini kehilangan segalanya.

Kehilangan terbesar dari bangsa ini bukanlah kemerosotan pertumbuhan ekonomi, melainkan kehilangan harga diri, yang membuat para abdi negara lebih rela menjadi pelayan cukong ketimbang pelayan rakyat.

”Aib terbesar,” kata Juvenalis, ”ketika kamu lebih mementingkan kehidupan ketimbang harga diri, sementara demi kehidupan itu sendiri engkau telah kehilangan prinsip-prinsip kehidupan.”

Pintu masuk korupsi

Kehilangan harga diri menjadi pintu masuk bagi keberanian korupsi. Adapun korupsi dari pejabat tinggi merupakan sumber pembusukan moral dan komitmen keadilan. Dalam peribahasa Latin dikatakan, corruptio optima pessima, pembusukan moral (korupsi) dari orang yang tertinggi kedudukannya adalah yang paling buruk.

Pembusukan moral negara terjadi ketika lembaga kepolisian dan kejaksaan yang mestinya menegakkan hukum justru menjadi manipulator hukum; lembaga parlemen yang mestinya mengontrol pemerintah justru menjadi juru stempelnya; birokrasi yang mestinya melayani rakyat justru menjadi sarang para penyamun dan makelar proyek; kepala negara yang mestinya menegakkan ”kebajikan dan keadilan tertinggi” (summon bonum) di atas formalitas hukum justru mengalah pada kerangkeng prosedural dalam kerangka keseimbangan kekuasaan; dan akan lebih gawat lagi jika pejabat Komisi Pemberantasan Korupsi pun menggunakan institusinya untuk tujuan korupsi.

Pembusukan moral negara ini akan sempurna bilamana para pejabat dan institusi kenegaraan menyalahgunakan fungsinya dalam rangka melayani kepentingan para sindikat partikelir.

Sekitar setengah abad yang lalu, Bung Hatta mewanti-wanti agar negara ini tidak jatuh ke tangan sindikalisme yang akan membuat Republikanisme ini tersungkur di bawah kendali mafioso. Malangnya, drama demi drama yang dipertontonkan para pejabat publik dalam kaitan dengan masalah korupsi akhir-akhir ini mendekati kekhawatiran Bapak Bangsa itu bahwa Republik ini terjerembab oleh ”sindikalisme buaya yahud”.

Situasi kegentingan ini harus menjadi panggilan sejarah baru pada Hari Pahlawan. Bahwa kita semua terancam ”kehilangan Indonesia”. Hal ini mengingatkan kita pada pernyataan Perdana Menteri Belanda Hendrik Colijn sekitar tahun 1938.

Ketika menanggapi petisi Soetardjo, anggota parlemen Hindia Belanda, yang menuntut kemerdekaan Indonesia, Colijn mengatakan, ”Indie verloren rampspoed geboren (Kehilangan Indonesia, timbul bencana).”

Dengan tekad kejuangan dan komitmen keadilan, Indonesia pun merdeka, yang menimbulkan kehilangan dan bencana besar bagi Belanda. Namun, dengan redupnya daya juang dan komitmen keadilan yang menjadi roh keindonesiaan, kini giliran bangsa sendiri terancam kehilangan Indonesia.

Kehilangan Indonesia akan merupakan suatu bencana besar atas rontoknya cita-cita besar mewujudkan bangsa yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil, dan makmur.

Indonesia memanggil, ”Save our nation!” Kepahlawanan tampak ketika dalam dada yang kecil ada keberanian besar. Kepengecutan juga tampak ketika dalam dada yang besar tersembul keberanian kecil. Berani karena benar, takut karena salah. Itulah jiwa kepahlawanan yang harus digelorakan kembali.

Yudi Latif Pemikir Kenegaraan dan Keagamaan

10
Nov
09

Kepahlawanan : Pattimura Dihukum Mati Belanda

Pattimura, Pahlawan asal Maluku yang Dihukum Mati Belanda
Senin, 9 November 2009 | 21:51 WIB

AMBON, KOMPAS.com – Pattimura patut diteladani dan jasanya dalam memperjuangkan kemerdekaan Maluku dan Indonesia perlu diperingati pada hari Pahlawan, kata salah seorang cucu keturunan Pattimura, Marcellina Matulessy.

“Pattimura telah berjuang untuk kemerdekaan Maluku dan Indonesia. Ia patut dikenang saat hari Pahlawan dan jiwa kepahlawanannya harus menjadi teladan bagi generasi muda,” katanya di Ambon, Senin.

Menurut Marcellina, Thomas Matulessy atau yang lebih dikenal dengan nama Kapitan (panglima perang) Pattimura adalah putera Maluku yang berjuang melawan penjajah Belanda, hingga akhirnya ditangkap dan dijatuhi hukuman mati di Benteng Niuew Victoria pada tahun 1817 saat usianya baru 34 tahun.

Wanita berusia 56 tahun itu mengatakan, semangat kakek buyutnya itu patut dijadikan teladan bagi generasi muda untuk ikut membangun bangsa dan negara agar lebih maju dan makmur di masa datang.

Ia juga mengatakan, saat ini penjajahan oleh bangsa asing sudah tidak ada, tetapi belum seluruh warga bangsa Indonesia merdeka akibat penindasan modern, yang dilakukan sebagian warga bangsa sendiri yang tidak bertanggung jawab.

“Generasi sekarang harus mencontoh perjuangan para pahlawan dengan cara ikut menciptakan kesejahteraan bangsa, dan bukan sebaliknya merampas hak dari orang lain yang berarti merampas kemerdekaannya,” katanya.

Marcellina lebih jauh berpendapat, nilai-nilai kepahlawanan masyarakat Maluku yang sekarang tidak seperti pada jaman kakek nenek dan orang tuanya, yang menganggap peringatan hari Pahlawan sebagai sesuatu yang sakral dan pantas untuk diperingati sebagai salah satu bentuk ungkapan terima kasih atas jasa-jasa mereka.

“Masyarakat sekarang lebih menganggap peringatan hari Pahlawan sebagai formalitas saja, bukan dari maknanya. Kalau tak ada mereka maka kita tidak mungkin bisa menghirup udara kemerdekaan,” katanya.

Dukung SBY
Marcellina mengakui dirinya sangat mendukung kepemimpinan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono karena telah terbukti sangat memperhatikan masyarakat kecil. Meski demikian, ia berharap pemerintahan SBY Jilid II lebih memperhatikan anak cucu dan keturunan dari para pahlawan.

“Semoga SBY tetap memperhatikan rakyat kecil, juga kesejahteraan dari keturunan pahlawan Indonesia, tanpa mereka negara ini tak akan pernah ada,” ujar Marcellina.

Sementara itu, Alberth Matulessy (23), keponakan dari Marcellina Matulessy, mengatakan dirinya sebagai keturunan Pattimura tidak ingin mempermalukan pahlawan tersebut. Karena itu, sejak masih di bangku pendidikan ia meneladani “kerja keras” Pattimura dalam berjuang meraih kemerdekaan dengan cara giat belajar demi mencapai cita-cita.

“Saya meneladani perjuangannya dengan belajar keras untuk bisa lebih maju,” katanya.

Alberth adalah polisi yang bertugas di Polres Pulau Ambon dan Pulau-pulau Lease. Sebelumnya ia berprofesi sebagai vokalis band indie di kota Ambon. Alberth meninggalkan band tersebut, karena sebagai abdi negara ia ingin seperti Pattimura memberikan yang terbaik bagi Tanah Air.

Dalam kenangan Alberth,  moyangnya, Thomas Matulessy lahir di Negeri Haria, Porto, Pulau Saparua, Maluku pada 8 Juni 1783. Kapitan Pattimura dan rekan- rekannya seperti Said Perintah, Anthony Reebhok, Paulus Tiahahu dan putrinya Christina Martha Tiahahu menyerang benteng Duurstede di Saparua pada 15 Mei 1817.

Semua warga Belanda, termasuk Residen van de Berg dibunuh, kecuali anak lelakinya berumur lima tahun yang diselamatkan dan diberi nama van de Berg van Saparua.

Kapitan Pattimura ditangkap pada 12 Nopember 1817. Pahlawan nasional ini terpengaruh bujuk rayu dari penjajah Belanda sehingga pada akhirnya dihukum mati  di depan Benteng Niuew Victoria 16 Nopember 1817.


KSP

Editor: ksp

Sumber : Antara

03
Nov
09

Kepahlawanan : John Lie, Pejuang Berkaliber Nasional

Suara Pembaruan

ZOOM2009-11-03John Lie, Pejuang Berkaliber Nasional

Eddie Kusuma

Tanggal 10 November sudah di ambang pintu, hari yang bersejarah bagi bangsa Indonesia, yakni Hari Pahlawan. Lazimnya pada setiap Hari Pahlawan ditetapkan para pejuang yang berjasa luar biasa kepada bangsa dan negara menjadi pahlawan nasional. Pada 2008, empat pejuang dianugerahi tanda kehormatan pahlawan nasional. Salah satu di antaranya adalah Bung Tomo, pejuang arek Suroboyo, yang mempertahankan kemerdekaan RI

Pada Hari Pahlawan 2009 ini, diharapkan juga ada pejuang yang dianugerahi gelar pahlawan nasional. Dan siapakah pejuang itu, baru bisa diketahui beberapa hari menjelang hari H, yakni 10 November 2009. Saat itulah disematkan tanda kepahlawanan oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.

Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghormati jasa-jasa pahlawannya. John Lie alias Jahja Daniel Dharma, prajurit TNI AL dengan pangkat terakhir Laksamana Muda Laut, pernah diusulkan oleh LPK Indonesia Bersatu, yang dipimpin oleh Didi Dawis, sebagai pahlawan nasional pada 2008. Namun, keinginan itu belum berhasil, karena persyaratan administrasi yang belum lengkap. Pada 2009 ini, LPK Indonesia Bersatu kembali mengajukan usul dan menyerahkan pengusulannya langsung kepada Menteri Sosial Bachtiar Chamsyah SE, pada April 2009. Apakah hasil penelitian Tim Pembina Pahlawan Pusat yang diketuai oleh Menteri Sosial dapat meloloskan John Lie menjadi pahlawan nasional pada tahun ini? Tentu ini sangat diharapkan banyak kalangan, terutama oleh warga TNI pada umumnya, TNI AL khususnya, serta masyarakat Manado dan komunitas Tionghoa Indonesia.

Jika memang pejuang John Lie berhasil mendapat anugerah sebagai pahlawan nasional, berarti John Lie adalah pejuang ke-3 prajurit TNI AL yang mendapat anugerah pahlawan nasional setelah pendahulunya, Yos Sudarso dan RE Martadinata. Bagi masyarakat Manado, penghargaan demikian tentu akan menjadi kebanggaan. Sedangkan, komunitas Tionghoa Indonesia akan berbahagia karena John Lie adalah seorang putra terbaik bangsa Indonesia yang berdarah Tionghoa

LPK Indonesia Bersatu, ormas yang bergerak dalam kegiatan pengkajian masalah kebangsaan, juga tengah mempersiapkan data dan dokumen pejuang tersohor Letjen KKO Ali Sadikin untuk diajukan sebagai pahlawan nasional pada 2010, setelah memenuhi segala prosedur.

Ranjau Laut

John Lie adalah pejuang berkaliber nasional, bahkan transnasional, bukan pejuang daerah. Keliru orang yang berpendapat John Lie pejuang sebuah daerah, karena sikap dan tindak perjuangannya yang luar biasa menunjukkan nilai kepahlawanan. Ia bertindak melampaui tugas yang diemban seorang warga negara, yakni pada November 1945 sampai 1948, berada di Selat Malaka dan sekitarnya serta di Cilacap dengan membuat ranjau laut. Ia pernah bertugas di Manado, antara lain, menumpas PRRI/Parmesta, RMS, dan operasi militer lainnya. Perjuangan ini dilakukan setelah adanya pengakuan kedaulatan RI secara de facto dan de jure dari Hindia Belanda melalui hasil KMB

Berdasarkan nilai-nilai strategis perjuangan John Lie di Selat Malaka dan sekitarnya pada masa itu, yakni di Aceh Tamiang, Labuhan Bilik (Sumut), dan Singapura, LPK Indonesia Bersatu berkesimpulan John Lie adalah pejuang nasional, bahkan transnasional yang layak menjadi pahlawan nasional,

LPK Indonesia Bersatu mengajukan John Lie sebagai pahlawan nasional setelah mendapat dukungan dan pengusulan dari Gubernur DKI Jakarta, dengan alasan ketika memulai perjuangan, John Lie mendarat pertama kali di Tanjung Priok Jakarta. Kemudian, setelah berjuang John Lie menjalankan tugas prajurit TNI AL di Jakarta hingga meninggal dunia di Ibukota dan dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata. Sedang dukungan dan pengusulan dari Gubernur Sulawesi Utara karena John Lie adalah putra kelahiran Manado, walau pada saat perjuangannya mempertahankan kemerdekaan NKRI (1945-1948) dia tidak berada di Manado. Kemudian, Gubernur Sumatera Utara mengajukan dan mendukung John Lie sebagai pahlawan nasional, karena senjata yang diselundupkannya kepada para pejuang Indonesia dibawa melalui Pelabuhan Labuhan Bilik, Labuhan Batu, Sumut.

Pengajuan John Lie menjadi pahlawan nasional didukung oleh Kasal Laksamana Tedjo Edhie P, mantan bawahan dan terakhir menjadi atasannya Laksamana (Purn) Sudomo, Letjen R Soeprapto, pimpinan Dewan Harian Nasional 45, Letjen HBL Mantiri, Legiun Veteran RI, DPR, dan DPRD Sumatera Utara, Sulut, DKI Jakarta, 30 ormas lainnya di Jakarta, Sulut, dan Sumut, serta tokoh-tokoh lainnya. Kita berharap John Lie dapat dianugerahi gelar pahlawanan nasional pada Hari Pahlawan 2009. Merdeka

Penulis adalah Ketua Lembaga Sakti, Doktor Ilmu Politik Unpad

28
Oct
09

28 Oktober 1928 Jalan Menuju Revolusi Kemerdekaan

28 Oktober 1928 Sumpah Pemuda
dan jalan menuju Revolusi Kemerdekaan

Hendrikus Colijn mantan Menteri Urusan Daerah Jajahan, kemudian Perdana Menteri Belanda. Veteran perang Aceh dan bekas ajudan Gubernur Jenderal van Heutz. Sekitar tahun 1927 – 1928, pernah mengeluarkan pamflet yang menyebut Kesatuan Indonesia sebagai suatu konsep kosong. Katanya, masing-masing pulau dan daerah Indonesia ini adalah etnis yang terpisah-pisah sehingga masa depan jajahan ini tak mungkin tanpa dibagi dalam wilayah-wilayah.[1]

Bukan suatu kebetulan, bahwa pernyataan Colijn tersebut memunculkan Kongres Pemuda yang kedua pada tgl 28 Oktober 1928 di Batavia, dimana diikrarkan Satu Nusa, Satu Bangsa dan Satu Bahasa. Peristiwa ini kita kenang sebagai hari Sumpah Pemuda.

Sejak tahun 1915 telah berdiri sejumlah besar organisasi kepemudaan bersifat kedaerahan, seperti Tri Koro Darmo yang kemudian menjadi Jong Java (1915), Jong Sumatranen Bond (1917), Jong Islamieten bond (1924), Jong Batak, Jong Minahasa, Jong Celebes, Jong Ambon, Sekar Rukun dan Pemuda Kaum Betawi. Namun semua organisasi tersebut bersifat kedaerahan dan kelompok khusus. Yang mungkin sedikit berbeda adalah Perhimpunan Pelajar-Pelajar Indonesia (PPPI) yang berdiri setelah selesai Kongres Pemuda I pada tahun 1926. PPPI merupakan wadah pemuda nasionalis radikal non kedaerahan. Tokoh-tokohnya adalah Sigit [2], Soegondo Djojopoespito, Suwirjo, S. Reksodipoetro, Muhammad Yamin, A. K Gani, Tamzil, Soenarko, Soemanang, dan Amir Sjarifudin. Atas prakarsa PPPI kongres ke II diadakan.

Dalam penerbitan P.I (koran Pemoeda Indonesia) no 8 tahun 1928, terdapat artikel dengan judul “KERAPATAN PEMOEDA-PEMOEDA INDONESIA”. Disitu dijelaskan :
sebagaimana yang telah diwartakan dalam P.I no.6 dan 7, di Jacatra telah diadakan kerapatan besar Pemoeda-pemoeda Indonesia pada tanggal 27 dan 28 Oktober. Pimpinan kerapatan ialah terdiri dari wakil-wakil, Perhimpunan Pelajar-pelajar Indonesia, Pemoeda Indonesia, Pemoeda Soematera, Jong Java, Jong Celebes, Jong Batak Pemoeda Kaum Betawi, Jong Islamieten Bond (JIB) dan Sekar Roekoen. Selanjutnya juga diberitakan bahwa kerapatan dikunjungi beratus-ratus orang, dimana bagi siapa yang menyaksikan sendiri akan berbesar hati karena pemoeda-pemoeda kita bukan baru mencita-citakan saja, tapi telah tegak berdiri dipusat persatuan dan kebangsaan . Dalam kesempatan inipun telah diperdengarkan untuk pertama kali kepada umum oleh Pemoeda W.R.Soepratman, lagu INDONESIA RAJA [3]
Dalam POETOESAN CONGRES PEMOEDA-PEMOEDI INDONESIA, tercatat bahwa Poetra dan Poetri Indonesia mengaku bertumpah darah satu, tanah Indonesia. Poetra dan Poetri Indonesia mengaku berbangsa satu, bangsa Indonesia. Poetra dan Poetri Indonesia menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia. Sebagai realisasi penyatuan ini, pada tanggal 31 Desember 1930 jam 12 malam, Jong Java, Perhimpunan Pemoeda Indonesia, Jong Celebes, Pemoeda Soematra (awalnya bernama Jong Sumatranen Bond) telah berfusi menjadi satu dan membentuk Perkoempoelan “INDONESIA MOEDA”.

Para anggota panitia Kongres Pemuda ke II [4] terdiri dari pemuda-pemudi Indonesia yang dikemudian hari amat berperan dalam gerakan pemuda yang memperjuangkan kebangsaan dan kemerdekaan. Diantaranya terdapat nama, Soegondo Djojopoespito dari PPPI (ketua), Djoko Marsaid dari Jong Java (wakil ketua), Muhammad Yamin dari Jong Sumatranen Bond (Sekretaris), Amir Sjarifudin dari Jong Sumatranen Bond (bendahara), Djohan Mu.Tjai dari Jong Islamieten Bond. Kontjosoengkoeno dari P.I, Senduk dari Jong Celebes, J.Lemeina dari Jong Ambon dan Rohyani dari Pemoeda Kaum Betawi. Panitia didukung tokoh-tokoh senior seperti Mr.Sartono, Mr.Muh Nazif, A.I.Z Mononutu, Mr.Soenario. Dalam kongres ikut berbicara tokoh-tokoh besar kebangsaan lainnya seperti S. Mangoensarkoro, Ki Hadjar Dewantoro dan Djokosarwono .

Hadir sebagai undangan sekitar 750 orang dimana terdapat nama-nama yang kemudian terkenal seperti Kartakusumah (PNI Bandung), Abdulrachman (B.O Jakarta), Karto Soewirjo (P.B Sarekat Islam), Muh. Roem, Soewirjo, Sumanang, Masdani, Anwari, Tamzil, AK Gani, Kasman Singodimedjo, Saerun (wartawan Keng Po), WR Supratman. Dari Volksraad yang hadir adalah Soerjono dan Soekawati dan dari pihak Pemerintah Hindia Belanda yang hadir adalah Dr.Pyper dan Van der Plas [5].

Jelas bahwa kongres pemuda ke II dimana diikrarkan Sumpah Pemuda bukan pekerjaan dalam sedikit waktu saja, dan terang juga bukan hasil usaha dari beberapa gelintir orang saja[6]. Hal ini merupakan perjuangan panjang sejak Kebangkitan Nasional 20 Mei 1908. Bahkan ada sebuah peristiwa lainnya yaitu ketika tahun 1904 Dr A,Rivai lulus ujian dokter sebagai Nederland Arts di Utrecht Belanda, pupus sudahlah anggapan jelek bahwa bangsa Indonesia itu “Laksheid”. Kata ini amat sakit didengar karena berarti pemalas, tidak punya kemauan bekerja atau berbuat sesuatu.

Setelah Indonesia muda terbentuk, berarti pemuda Indonesia memiliki organisasi kepemudaan nasional yang solid, kuat dan bercita-cita menuju kemerdekaan yang lebih pasti. Anggota IM terdiri dari semua pemuda seperti anak-anak SLP, SLA, sekolah khusus, kejuruan sederajat dan mahasiswa. Sejak tahun 1931 kongres demi kongres diadakan sehingga lebih menampakkan eksistensinya. Nyatanya memang IM tidak berafiliasi dengan partai politik.

Sejarah kemudian membuktikan bahwa modal kejuangan diatas amat penting artinya pasca penjajahan Jepang (1942-1945), dimana api Revolusi Kemerdekaan mulai dinyalakan dengan kesadaran adanya kesatuan dan persatuan kebangsaan yang bermotifkan pantang untuk dijajah kembali oleh kekuatan asing apapun bentuknya. Proklamasi Kemerdekaan mengawali “Revolusi Pemoeda”, dan berahir ketika penjajah terahir di Indonesia yaitu Imperium Belanda menyatakan pengakuannya pada Kemerdekaan Republik Indonesia Serikat pada tanggal 27 Desember 1949. Tidak sampai 1 tahun kemudian, RIS bubar dan Negara Kesatuan Republik Indonesia terbentuk kembali pada tanggal 17 Agustus 1950.

Foot Note

  1. H.Colijn. Koloniale vraagstukken van heden en morgen.Amsterdam : De Standard. 1928, hal 59-60. Pernyataan ini amat sakit buat hati para pemuda. Soekarno dan Sjahrir segera bereaksi. Dikatakannya : Usaha untuk kembali memisahkan orang Indonesia satu sama lain sebagai orang Jawa, orang Sunda, atau orang Sumatera adalah suatu rekayasa jahat, divide et impera, suatu muslihat yang khas Colijnialism
  2. Sigit ketua pertema dan Soegono ketua kedua.
  3. Koran P.I.no.8 tahun 1928.
  4. Kongres kedua diadakan pada tanggal 27 dan 28 Oktober 1928. Resminya ada 3 kali rapat. Yang pertama dan kedua pada tanggal 27 Oktober 1928, mengambil tempat di gedung Katholieke Jongelingen Bond dan gedung Oost Java Bioskop. Yang terahir pada tanggal 28 Oktober 1928, minggu malam senin bertempat di gedung Indonesisch Clubgebouw (IC), Kramat 106 Jakarta.
  5. Yayasan Gedung Bersejarah, 45 tahun Sumpah Pemuda, 1974, hal 59-60
  6. Hanifah Abu, renungan tentang sumpah pemuda.dalam Bunga rampai Soempah Pemoeda. Balai Pustaka.
Sumpah Pemuda Sumpah Pemuda merupakan sumpah setia hasil rumusan Kerapatan Pemoeda-Pemoedi Indonesia atau dikenal dengan Kongres Pemuda II, dibacakan pada 28 Oktober 1928. Tanggal ini kemudian diperingati sebagai “Hari Sumpah Pemuda”.

ISI
PERTAMA
. Kami Poetera dan Poeteri Indonesia, Mengakoe Bertoempah Darah Jang Satoe, Tanah Indonesia.

KEDOEA
. Kami Poetera dan Poeteri Indonesia, Mengakoe Berbangsa Jang Satoe, Bangsa Indonesia.

KETIGA
. Kami Poetera dan Poeteri Indonesia, Mendjoendjoeng Bahasa Persatoean, Bahasa Indonesia.
Kongres Pemuda II
Gagasan penyelenggaraan Kongres Pemuda Kedua berasal dari Perhimpunan Pelajar Pelajar Indonesia (PPPI), sebuah organisasi pemuda yang beranggota pelajar dari seluruh Indonesia. Atas inisiatif PPPI, kongres dilaksanakan di tiga gedung yang berbeda dan dibagi dalam tiga kali rapat.

Rapat pertama, Sabtu, 27 Oktober 1928, di Gedung Katholieke Jongenlingen Bond (KJB), Lapangan Banteng. Dalam sambutannya, ketua PPI Soegondo Djojopuspito berharap kongres ini dapat memperkuat semangat persatuan dalam sanubari para pemuda. Acara dilanjutkan dengan uraian Moehammad Yamin tentang arti dan hubungan persatuan dengan pemuda. Menurutnya, ada lima faktor yang bisa memperkuat persatuan Indonesia yaitu sejarah, bahasa, hukum adat, pendidikan, dan kemauan

Rapat kedua, Minggu, 28 Oktober 1928, di Gedung Oost-Java Bioscoop, membahas masalah pendidikan. Kedua pembicara, Poernomowoelan dan Sarmidi Mangoensarkoro, berpendapat bahwa anak harus mendapat pendidikan kebangsaan, harus pula ada keseimbangan antara pendidikan di sekolah dan di rumah. Anak juga harus dididik secara demokratis.

Pada sesi berikutnya, Soenario menjelaskan pentingnya nasionalisme dan demokrasi selain gerakan kepanduan. Sedangkan Ramelan mengemukakan, gerakan kepanduan tidak bisa dipisahkan dari pergerakan nasional. Gerakan kepanduan sejak dini mendidik anak-anak disiplin dan mandiri, hal-hal yang dibutuhkan dalam perjuangan.

Sebelum kongres ditutup diperdengarkan lagu “Indonesia Raya” karya Wage Rudolf Supratman. Lagu tersebut disambut dengan sangat meriah oleh peserta kongres. Kongres ditutup dengan mengumumkan rumusan hasil kongres. Oleh para pemuda yang hadir, rumusan itu diucapkan sebagai Sumpah Setia.

Peserta
Para peserta Kongres Pemuda II ini berasal dari berbagai wakil organisasi pemuda yang ada pada waktu itu, seperti Jong Java, Jong Ambon, Jong Celebes, Jong Batak, Jong Sumatranen Bond, Jong Islamieten Bond, dll. Di antara mereka hadir pula beberapa orang pemuda Tionghoa sebagai pengamat, yaitu Oey Kay Siang, John Lauw Tjoan Hok dan Tjio Djien Kwie serta Kwee Thiam Hong sebagai seorang wakil dari Jong Sumatranen Bond.

Museum
Di Gedung Sekretariat PPI di Jalan Kramat Raya 106, tempat diputuskannya rencana Kongres Pemuda Kedua saat ini dijadikan Museum Sumpah Pemuda.

Link :
  1. http://id.wikipedia.org/wiki/Sumpah_Pemuda
  2. http://sejarahkita.blogspot.com/2006/03/sumpah-pemuda-dan-jalan-menuju.html
  3. http://www.museumsumpahpemuda.go.id/
  4. http://www.wisatanet.com/travel_wisataku.php?kode=1&id=53



Blog Stats

  • 2,489,038 hits

Recent Comments

Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Sejarah : Bangsa Lemuria, Lelu…
Ratu Adil - 666 on Sejarah : Bangsa Lemuria, Lelu…

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 139 other followers