19
Nov
15

Kepemudaan : Nawa Sumpah Pemuda 2015, Surabaya

 

Perbatasan : Tanah Dusun Camar Wulan Dicaplok Malaysia

Suara Pembaca :

Kaum PEMUDA Indonesia Jangkar Perubahan

Temu Nasional PEMUDA Indonesia bertajuk Kepahlawanan di Surabaya 1945 pada hari Saptu 14 Nopember 2015 di Aula Rumah Sakit Darmo, Surabaya, antara lain dibahas tentang peranan Kaum PEMUDA Jangkar Perubahan di tanah air Indonesia ini sejak pertama kali nama Indonesia dirilis pada tahun 1847, ternyata bersiklus 17 dan 20 tahunan.
Perubahan berupa kepesertaan pemuda cendekiawan bumiputera di Sekolah Dokter Jawa seputar tahun 1891. Perubahan berupa wawasan kebangkitan nasional tahun 1908 oleh pemuda cendekiawan Boedi Oetomo. Perubahan berupa kesatuan sikap kebangsaan Indonesia tahun 1928 melalui Resolusi Kerapatan Besar Pemuda Indonesia yang kini dikenal sebagai Sumpah Pemuda. Perubahan berupa Proklamasi Indonesia Merdeka tahun 1945 oleh pemuda pejoang 45. Perubahan rezim pemerintahan tahun 1965 oleh para pemuda negarawan. Perubahan berupa pengakuan dunia tentang status negara kepulauan Republik Indonesia tahun 1982 atas perjoangan pemuda2 negarawan. Perubahan berupa rezim konstitusi Republik Indonesia tahun 2002 oleh pemuda2 politisi. Perubahan rezim Pemilu menjadi serentak pada tahun 2019 yang akan datang berjangkar peran serta kepemudaan.
Keserentakan bersiklus tetap tersebut boleh dikatakan khas kepribadian Nusantara dan oleh karenanya patut dicermati dan dimaknai secara bijak demi harmonisasi hidup membangsa sebagai bagian daripada etos kejoangan berkearifan lokal.

Surabaya, 14 Nopember 2015

Penyuluh Masyarakat Untuk Damai & Aman (PEMUDA),

Pandji R Hadinoto
KBP45 KelBes Pejoang45 / Laskar DHD45 Jkt
Editor www.jakarta45.wordpress.com

SURABAYA (suarakawan.com) – Lagu Indonesia Raya membuka acara ‘Temu Nasional Pemuda Indonesia’ yang diselenggarakan di Rumah Sakit Darmo, Surabaya, Sabtu (14/11).

Dari berbagai sesi dan generasi memberikan disertasi dan paparannya. Mereka antara lain Pandji R. Hadinoto, Tjuk Sukiadi , Imam Soewono, Henky Sutanto, Zulfi Azwan, Boedi Wibowo, Sabroet Malioboro dan lain-lain.


Adapun paparan yang disampaikan mengenai fenomena negara, bangsa dan solusinya. Dialog kebersamaan dan diskusi ini dipandu Peter Manoppo.

Dalam kesempatan tersebut ditampilkan paduan suara bimbingan ibu Debrina dengan lagu-lagu pahlawan dan gegap gempita keaslian paduan yang dinyanyikan dengan apik dan semangat dari berbagai lagu heroik pahlawan serta perjuangan 10 Nopember antara lain Soerabaya kota kenangan, Pahlawan, Sepasang mata bola serta beberapa lagu lainnya.

Acara ini diakhiri doa serta foto bersama serta saling berangkulan, haru dan gembira atas terlaksananya Pertemuan Pemuda Indonesia di Surabaya.

Sebelumnya atas semangat kebersamaan Pemuda Indonesia mengeluarkan MAKLUMAT PEMUDA INDONESIA 2015. Nawa Sumpah PEMUDA 28 Oktober 2015

Kami putra dan puteri Indonesia mengaku

1) bertumpah darah yang satu, tanah air Indonesia,

2) berbangsa yang satu, bangsa Indonesia,

3) berbahasa persatuan, bahasa Indonesia,

4) berideologi yang satu, Pancasila,

5) berkonstitusi yang satu, Undang Undang Dasar 1945,

6) bernegara yang satu, Negara Kesatuan Republik Indonesia,

7) berbendera persatuan bangsa, Bendera Merah Putih.

8) berbudaya kebangsaan yang satu, Bhinneka Tunggal Ika

9) berketahanan hidup yang satu, keseimbangan lingkungan hidup nasional dan global.

Rangkaian dan prakarsa ini dibuat di Jakarta diantaranya oleh:

1) Pandji R Hadinoto, 2) Henky Sutanto, 3) Peter J Manoppo, 4) R Urip K, 5) Greg Wisnu Rosariastoko, 6) John S Keban, 7) Harry Sorongan, 8) D Roy Wijaya, 9) Mukhlis Pane, 10) Datu ARN Hajarudin Al Nusantara, 11)
Surya P Simatupang, 12) Zafir MA Pontoh, 13) Royono R Murad, 14) Rahmat Hamka, 15) Nanang RI Iskandar, 16) Arif Susanto, 17) Hj Endang Sulistyorini, 18) Lasman Siahaan, 19) Andre Lukman, 20) Agus Surya, 21) Hartsa Mashirul, 22) Din Syafaruddin Osman, 23) Maizal Alfian, 24) Winarsih Dewi, 25) DP Yoedha, 26) M Taufik Budiman, 27) Andri Maha Putra, 28) Yana Sopyan, 29) Tri LS Boedjonagoro, 30) Djoenarsono Bardosono, 31) Swastiarso Herry Putranto, 32) Salamuddin Daeng, 33) Hamaydi Harahap, 34) Yessy Anwar, 35) Konrad Rumantir, 36) Adlis Yunus, 37) Wiwik Maskat, 38) Corry Maskat, 39) Rustammy Atmo, 40) H Buchari A Rachman, 41) Agus Jabo P, 42) Ari Mulia Subagja, 43) Cuk Conk Narasipati, 44) M Zulfi Azwan, 45) Budhy Waluyo, 46) Guntur M Soesilo, 47) Bogie Y Swara, 48) H Onny Sanwani, 49) Nandang Darana, 50) Effendi Batubara, 51) Anwar Arifin, 52) Soeyono, 53) Ruspadi, 54) Marzuki Bratawardani, 55) Soekarno, 56) Ribawanto Suyoso, 57) Iqbal D Hutapea, 58) Antonia Oendoen, 59) Hari Setiawan, 60) Bob Novandy,61) Moerjono, 62) ignatius A Wirawan Nugrohadi, 63) Alex Paath, 64) Syarifudin Taher, 65) Moch Efendi, 66) Krisdaryadi FP, 67) Hariyanto Bhakti, 68) Haryono Kartohadiprodjo, 69) Binsar E Hutabarat, 70) Yasri P Hanafiah, 71) Barnabas Kumay, 72) Teddy Syamsuri, 73) Irwan Lubis, 74) Fatony, 75) Tri Asmiyanto, 76) Hasolongan Siregar, 77) Mohd Amin Nabu, 78) Djoko Saliyono, 79) Rusnadi, 80) Toni Pangaribuan, 81) Sabda M Holil, 82) Suta Widhya, 83) Sharieff Hudson, 84) Harry Suhardjo, 85) Suljana Wirata, 86) Yance Pangalila, 87) Lilik Sulistiyo, 88) Omar SI Ratulangie, 89) Andriansyah Saputra, 90) Gus Sholeh, 91) Rafeldi R Rauf, 92) Harsya Wardhana, 93) Rahmadi, 94) Agus Widodo, 95) Max M Sasia, 96) Soedarso Djojonegoro, 97) Sabrot Malioboro, 98) Tjuk Sukiadi, 99) Daniel Rosyid, 100) Boedi Wibowo. (iza/rur)

Image result for nawa sumpah pemuda 2015

Refleksi 87 Tahun Sumpah Pemuda

Oleh: Steven Idrus Maulana* 


Pemuda. Begitulah ia (mereka) biasa disapa. Sejarah telah mencatat dengan tinta emas kegemilangan, bahwa dari dahulu sampai sekarang Pemuda (termasuk pelajar dan mahasiswa) selalu menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari unsur-unsur pelaku perubahan di negeri ini. Sebut saja sejak masa awal Pergerakan Nasional 1908, Kebangkitan Nasional 1920, Sumpah Pemuda 1928, Proklamasi Kemerdekaan RI 1945, hingga masa awal Orde Baru 1966 dan Orde Reformasi 1998. Pemuda, senantiasa memberi kontribusi positif serta memberi warna benderang terhadap dinamika perkembangan dan pembangunan bangsa dan negara Republik Indonesia. Pendek kata, tidak dapat dipungkiri bahwa pemuda adalah lokomotif perjuangan dan perubahan bangsa dan NKRI menuju kejayaan yang sejati.

Peran strategis


Pemuda. Ia (mereka) adalah pelanjut estafet dan penerus cita-cita para founding father negeri beribu pulau dengan kekayaan alam yang melimpah-ruah ini. Oleh karenanya semakin dapat dipahami bahwa peran atau kontribusi strategis pemuda dalam kaitannya dengan upaya (melanjutkan) pembangunan eksistensi bangsa ke arah yang lebih baik dan bermartabat, sesungguhnya sangat sejalan dan senafas dengan tujuan berdirinya republik tercinta ini sebagaimana termaktub di dalam Pembukaan UUD 1945, yaitu:

 

a. Internal


Secara internal, pemuda beserta seluruh komponen bangsa, memiliki peran strategis sebagai ujung tombak untuk menciptakan tatanan kehidupan berbangsa dan bernegara yang melindungi segenap bangsa dan seluruh tumpah darah Indonesia (menumbuhkan rasa aman), memajukan kesejahteraan umum (peran sosial) dan mencerdaskan kehidupan bangsa (peran intelektual) dalam bingkai Bhinneka Tunggal Ika. Keberagaman yang melahirkan persamaan dan persatuan, bukan keberagaman yang justru semakin memperdalam perbedaan dan permusuhan.

b. Eksternal


Secara eksternal dalam kerangka meneguhkan eksistensi bangsa dan negara ini di dalam percaturan kehidupan internasional, maka pemuda juga diminta berperan aktif menjadi katalisator untuk menciptakan perdamaian abadi dan ketertiban dunia bersama-sama dengan elemen bangsa lainnya. Peran eksternal ini sejatinya juga diharapkan menjadi peneguh dan penjelas eksistensi bangsa dan negara Indonesia sebagai negara NonBlok yang secara lantang mampu bersikap tegas terhadap segala bentuk penindasan dan penjajahan bangsa-bangsa lain atas bangsa-bangsa yang telah “merdeka” dan berdaulat penuh.

Kedua peran strategis pemuda tersebut yang juga merupakan implementasi dari tugas pokok dan fungsi negara. Bahkan sejatinya (secara implisit) telah diisyaratkan dalam Al-Qur’an surah Quraisy ayat 4 yang artinya “Yang telah memberikan makanan kepada mereka untuk menghilangkan rasa lapar (aspek kesejahteraan umum) dan mengamankan mereka dari rasa ketakutan (aspek kamtibmas)”.

Bekal strategis

Pemuda. Ia (mereka) adalah iron stock atau cadangan keras yang akan menjadi tulang-punggung bangsa ini. Sehingga untuk mewujudkan peran strategisnya yang sangat berat namun mulia itu, kiranya diperlukan seperangkat modal dasar (bekal) yang secara inheren melekat dan tumbuh di dalam diri setiap pemuda. Bekal strategis dimaksud nantinya perlu dipersiapkan guna mengantisipasi kemungkinan adanya hambatan, tantangan, ancaman bahkan gangguan yang akan melemahkan kontribusi positif pemuda di dalam upaya keterlibatannya membangun bangsa. Di antara bekalan tersebut adalah sebagai berikut:

 

a. Penguasaan iptek dan teknologi informasi 

 

Tidak dapat dibantah dan dipungkiri lagi bahwa setiap bangsa yang mampu menguasai iptek dan teknologi informasi, pastilah bangsa tersebut memiliki peluang dan kesempatan besar untuk menguasai dunia. Logika ini semakin kuat memberi alasan mengapa kita (pemuda) perlu berupaya optimal untuk senantiasa belajar dan menekuni bidang iptek dan teknologi informasi tersebut. Karena pada hakikatnya kita berada, hidup, tumbuh dan berkembang di dunia yang global dan dinamis. Sehingga penguasaan iptek dan teknologi informasi sangat memungkinkan kita untuk memiliki imunitas dan daya kompetisi yang kokoh agar tidak dilindas zaman bahkan dijajah oleh bangsa-bangsa lain di muka bumi ini.

b. Pengalaman berorganisasi

Pengalaman dan keterlibatan dalam suatu organisasi menjadi modal dasar yang juga tidak kalah pentingnya. Mengingat, di dalam budaya berorganisasi biasanya kita akan belajar tentang tata cara berkomunikasi, berinteraksi, mengatasi masalah, mengelola SDM hingga mengelola struktur organisasi tersebut. Dengan demikian berdasarkan pengalaman berorganisasi dimaksud, diharapkan kiranya dapat terbentuk profil pemuda yang dinamis, komunikatif dan tanggap dengan berbagai permasalahan yang muncul serta mampu mencarikan jawaban dan solusi terhadap permasalahan tersebut secara benar, tepat dan akurat.

c. Kekuatan jaringan

Satu hal yang juga relevan dan signifikan perlu dimiliki oleh setiap pemuda adalah modal berupa kekuatan jaringan atau koneksi. Modal koneksi ini paling tidak akan membantu kita untuk mengenal, berinteraksi dan membangun komunikasi dengan banyak orang dari berbagai latar belakang gender, suku, bangsa, budaya, bahasa, pendidikan dan pengalaman yang tidak sama. Dengan modal koneksi ini kita mengharapkan munculnya kekuatan baru, soliditas dan solidaritas untuk menumbuhkan rasa senasib dan sepenanggungan guna mencapai visi, misi dan tujuan bersama yang dicita-citakan. Dalam bahasa agama, kekuatan jaringan ini diistilahkan dengan ukhuwah atau persaudaraan.

Sebagaimana Allah Swt telah berfirman di dalam Surah Al-Hujurat ayat 10 dan 13 yang artinya:

“Sesungguhnya, hanya orang berimanlah yang bersaudara (membangun jaringan) itu”, dan

“Sesungguhnya kami telah menciptakan kalian dari jenis laki-laki dan perempuan dan menjadikan kalian berbangsa-bangsa dan bersuku-suku, supaya kalian saling mengenal (membangun koneksi). Sesungguhnya yang paling mulia di antara kalian di sisi Allah Swt adalah orang-orang yang bertaqwa”.

d. Kekuatan cinta

Hubbul wathon minal iiman. Mencintai bangsa (negara) adalah bagian dari iman. Demikianlah kutipan syair yang teramat sering kita dengar. Mencintai dalam pengertian mempunyai rasa memiliki yang kuat terhadap tanah air tercinta. Sehingga dengan demikian akan lahir keikhlasan untuk berkontribusi dan berpartisipasi demi kemajuan bangsa dan negara. Di samping itu dengan cinta, akan muncul kekuatan dan patriotisme untuk membela kehormatan negeri ini dari setiap ancaman, tantangan, hambatan dan gangguan yang datang menghadang. Sebaliknya, jika perasaan cinta itu hilang, kita tidak akan memiliki rasa “cemburu” terhadap kemajuan dan keunggulan bangsa lain atas negeri kita tercinta. Karena kita sangat meyakini, bahwa sesungguhnya bangsa kita dapat lebih unggul dan maju (dengan izin Allah Swt), jikalau semua elemen bangsa berkontribusi/berpartisipasi secara benar, total dan optimal dalam balutan “rasa cinta” itu.

e. Kekuatan karakter

The last but not least, bekal berikutnya adalah kekuatan karakter yang muncul, tumbuh dan berkembang secara inheren dari dalam diri pemuda itu sendiri.  Kekuatan karakter sejatinya berupa kumpulan profil khas dan istimewa yang membedakannya dengan kepribadian pada umumnya, yang akan mengarahkan dan menggerakkan sikap dan perilaku positif di dalam kehidupan setiap insan (pemuda). Pada tataran aplikatif, kekuatan karakter dimaksud adalah akhlaqul karimah yang lahir karena iman dan taqwa kepada Allah Swt. Sebagaimana firman Allah Swt dalam surah Al-Baqarah ayat 197 dan sabda Rasulullah Saw yang maknanya sebagai berikut :

“Berbekallah, karena sebaik-baik bekal adalah taqwa”, dan

“Sebaik-baik di antara kalian adalah yang paling baik akhlaqnya (kepribadiannya)”. (Al-hadits).


Penutup

Pemuda adalah aset potensial harapan bangsa dan negara. Barangkali, di sinilah letak alasan yang paling penting dan mendasar; mengapa Kongres Pemuda II tanggal 28 Oktober tahun 1928 di Jakarta telah melahirkan ikrar bersama para wakil pemuda se-Indonesia atau yang lebih populer dinamakan Sumpah Pemuda. Sumpah untuk bertumpah darah, berbangsa dan berbahasa yang satu. Mengingat, 87 tahun kemudian setelah “Sumpah” itu diikrarkan, para pemuda di seantero negeri ini juga masih (tetap) dituntut untuk dapat memainkan peran-peran nan strategis sebagai unsur perekat persatuan dan kesatuan bangsa yang ber-Bhinneka Tunggal Ika ini. Di samping itu tentunya, para pemuda juga harus mempersiapkan bekalan-bekalan mendasar yang mutlak diperlukan agar mampu memberi kontribusi optimal untuk kemajuan dan kemandirian bangsa di masa mendatang. Sehingga pada akhirnya, kita semua boleh berharap bahwa keseluruhan “amalan bijak dan bajik” para pemuda dalam mewujudkan cita-cita luhur pembangunan nasional, sekaligus akan menjadi sarana refleksi nan elegan untuk menjawab sebuah adagium yang sudah sangat masyhur “Pemuda hari ini, Pemimpin di masa depan”. Wallahu a’lam bis shawab. []

Ketua Umum PMII PTNU Tangerang

Bersumpah dan Berjihad

Oleh: Salahuddin Wahid

 

Dari daftar peserta Kongres Pemuda II Oktober 1928, tidak banyak tokoh asal pesantren. Tidak berarti saat itu para santri dan ulama tidak merasakan semangat Sumpah Pemuda. Mereka tidak banyak hadir karena belum banyak bergaul dengan pemuda-pemudi lain yang mengambil pendidikan nonpesantren, yang memprakarsai kongres.

 

Kalangan pesantren mulai banyak terlibat dalam pergerakan kemerdekaan secara nasional saat pembentukan MIAI, Lasykar Hisbullah, BPUPKI, dan PPKI. Peran pesantren betul-betul berarti saat dicetuskannya Resolusi Jihad oleh para ulama Nahdlatul Ulama di bawah pimpinan KHA Hasyim Asy’ari pada 22 Oktober 1945. Resolusi itu memicu semangat pemuda Jawa Timur untuk membantu TNI melawan tentara Sekutu. Peran ini hampir terkubur akibat pengabaian para penulis buku sejarah, bahkan seorang guru besar ilmu sejarah di Surabaya, akhir 2011, mengatakan, bahwa Resolusi Jihad adalah legenda, bukan fakta sejarah.

 

Saya meminta guru-guru sejarah di sekolah/madrasah Pesantren Tebuireng untuk mencari arsip koran yang terbit akhir Oktober 1945, karena Resolusi Jihad difatwakan 22 Oktober 1945. Kalau di koran tersebut ada berita tentang Resolusi Jihad, maka Resolusi Jihad adalah fakta sejarah. Kalau berita itu tidak ada, maka itu adalah legenda.

 

Mereka mencari di Perpustakaan Nasional dan Universitas Leiden. Dalam waktu singkat sudah ada kepastian adanya berita tentang Resolusi Jihad di koran yang terbit akhir Oktober 1945. Kami lalu menulis buku tentang proses terwujudnya Resolusi Jihad, yang terbit 2013.

 

Film Sang Kyai (2013) menginformasikan pada masyarakat luas tentang peran para ulama dan santri dalam perjuangan kemerdekaan. Hari Santri adalah bentuk penghargaan pemerintah terhadap sumbangsih pesantren kepada bangsa dan negara, baik dalam perjuangan fisik maupun pendidikan. Pesantren adalah lembaga pendidikan tertua yang mencerdaskan bangsa jauh sebelum berdirinya sekolah Belanda (1840-an). Akan lebih baik apabila penghargaan itu disertai upaya peningkatan mutu pesantren yang selama ini terabaikan.

 

Memang pada 1945 masih ada sedikit perbedaan antara konsep bangsa dan negara menurut kalangan pesantren dan kelompok Islam dengan konsep menurut kelompok Pancasila, tetapi itu tidak mengurangi makna kebangsaan. Kita bersyukur bahwa partai dan ormas Islam telah menerima Pancasila sekitar 30 tahun lalu, walau kini muncul kembali kelompok yang ingin mendirikan negara berdasar Islam.

 

Reaktualisasi

 

Jihad saat ini semangatnya sama dengan jihad tahun 1945, tetapi wujudnya berbeda. Kalau dulu berperang melawan penjajah, kini berperang melawan diri sendiri, berjuang memperbaiki akhlak kita, berjuang melawan penjajahan dalam bentuk lain, yaitu kebodohan, penjajahan ekonomi, dan ketidakadilan sosial, supaya bisa meningkatkan kesejahteraan rakyat.

 

Dalam mereaktualisasi Sumpah Pemuda, perlu disadari bahwa mengaku bertumpah darah yang satu, tanah Indonesia, mengandung makna bahwa tanah yang satu itu harus dimanfaatkan untuk seluruh rakyat Indonesia bukan segelintir pengusaha yang menguasai tanah jutaan hektar. Juga mengandung makna bahwa tanah yang satu kita rawatsupaya jangan menyengsarakan rakyat, seperti kebakaran hutan.

 

Mengaku berbangsa yang satu, bangsa Indonesia, mengandung makna bahwa bangsa Indonesia harus mempunyai nasib yang sama, harus terpenuhi kebutuhan dasar mereka, sesuai amanah UUD. Bebas dari diskriminasi dan bebas dari kemiskinan.

 

Dengan memegang teguh Sumpah Pemuda, terutama oleh para pemimpin di semua tingkatan, kita akan mampu mewujudkan Pancasila. Sehingga tidak ada lagi yang mengatakan negara Pancasila ternyata gagal.

 

Saat ini, Sumpah Pemuda yang ketiga adalah sumpah yang paling mampu kita jalani, walaupun ada sejumlah catatan. Bahasa Indonesia amat menentukan dalam pembentukan dan perkembangan kehidupan bangsa Indonesia. Membaca naskah Pembukaan UUD 1945 dan batang tubuhnya, kita menyaksikan bahwa bahasa Indonesia telah berhasil menjadi bahasa resmi kenegaraan dalam merumuskan cita-cita kemerdekaan dan aturan-aturan dasar kehidupan negara Indonesia.

 

Bahasa Indonesia telah berjasa membentuk jiwa kebangsaan rakyat Indonesia dan mencerdaskan anak bangsa. Bahasa Indonesia berhasil menjadi media bagi Bung Karno dankawan-kawan untuk menyampaikan pesan politik kepada rakyat.

 

Bahasa Indonesia telah berhasil menjadi bahasa komunikasi sehari-hari, menjadi bahasa kebudayaan, dan menjadi media bagi ribuan penyair dalam mengungkap perasaan mereka. Beberapa di antaranyamencapai tingkat internasional, seperti Chairil Anwar, Amir Hamzah, Rendra, Taufik Ismail, Zawawi Imron, dan Sapardi Djoko Damono.

 

Juga berhasil menjadi sarana bagi sastrawandalam menulis karya-karya mereka termasuk mereka yang terkenal di dunia internasional,seperti Pramoedya Ananta Toer, Mochtar Lubis, Romo Mangun, Ahmad Tohari. Juga bagi generasi masa kini, seperti Laksmi Pamuntjak, Andrea Hirata, Habiburrahman, Dee Lestari, Eka Kurniawan.

 

Bahasa Indonesia juga menjadi media ekspresi WR Supratman, Ismail Marzuki, Alfred Simanjuntak, Koes Bersaudara, Ebiet G Ade, Gombloh, mengungkapkan kecintaannya pada Tanah Air.

 

Bahasa Indonesia telah dipelajari di 45 negara dan ada rekomendasi Kongres Bahasa Indonesia untuk menjadikannya bahasa ASEAN. Cita-cita mulia itu membutuhkan banyak persyaratan, termasuk merawat bahasa Indonesia dengan baik. Itu perlu dilakukan dalam bentuk pengajaran yang baik di sekolah, teladan oleh para pemimpin di segala tingkatan, danjuga dalam penggunaan sehari-hari oleh masyarakat.

 

Banyak pemimpin yang suka menggunakan kata asing, padahal kata padanan dalam bahasa Indonesia mudah dicari. Kita juga menyaksikan fakta bahwa bahasa asing, terutama Inggris, sudah diajarkan sejak di sekolah dasar. Untuk itu, keluargaperlu membiasakan anak berbahasa Indonesia dengan baik di rumah. []

 

KOMPAS, 14 November 2015

Salahuddin Wahid | Pengasuh Pesantren Tebuireng

KBP45

Tokoh-tokoh Ini Lahir Di Hari Sumpah Pemuda

JAKARTA (suarakawan.com) – Tanggal 28 Oktober diperingati sebagai Hari Sumpah Pemuda. Selain itu, ternyata 28 Oktober juga menjadi tanggal lahir beberapa tokoh besar. Siapa saja tokoh besar tersebut, berikut liputannya:

1. Bill Gates


Bernama lengkap William Henry “Bill” Gates III (lahir di Seattle, Washington, 28 Oktober 1955; umur 59 tahun). Dia adalah seorang tokoh bisnis, investor, filantropis, juga penulis asal Amerika Serikat, serta mantan CEO yang saat ini menjabat sebagai ketua Microsoft, perusahaan perangkat lunak yang dia dirikan.

Ia menduduki peringkat tetap di antara orang-orang terkaya di dunia dan menempati peringkat pertama sejak 1995 hingga 2009.

2. Mahmud Ahmadinejad

Mahmud Ahmadinejad atau bisa dibaca Ahmadinezhad, lahir di Aradan, Iran, 28 Oktober 1956; umur 58 tahun. Ia adalah Presiden Iran yang keenam. Jabatan kepresidenannya dimulai pada 3 Agustus 2005.

Ia pernah menjabat Wali Kota Teheran dari 3 Mei 2003 hingga 28 Juni 2005 ketika ia terpilih sebagai presiden.

Ia dikenal secara luas sebagai seorang tokoh konservatif yang sangat loyal terhadap nilai-nilai Revolusi Islam Iran. Ahmadinejad juga terkenal sebagai pemimpin yang berani.

3. Julia Roberts

Julia Fiona Roberts, lahir di Atlanta, Georgia, 28 Oktober 1967; umur 47 tahun. Ia adalah seorang aktris Amerika Serikat pemenang Academy Award yang juga mantan model.

Debut keaktoran Julia Roberts dimulai pada awal 1990-an setelah membintangi komedi romantis, Pretty Woman. Ia juga menjadi aktor besar di dunia Holywood.?Julia juga pernah syuting di Indonesia saat membintangi film Pray, Eat, Love.

4. Ganjar Pranowo

Ganjar Pranowo lahir di Karanganyar, Jawa Tengah, 28 Oktober 1968; umur 46 tahun. Ia adalah Gubernur Jawa Tengah yang menjabat sejak 23 Agustus 2013.

Sebelumnya, ia adalah anggota Dewan Perwakilan Rakyat Indoesia periode 2004-2009 dan 2009-2013. Ganjar sempat dielu-elukan sebagai gubernur yang revolusioner.

5. KH Maimun Zubair

Kyai Haji Maimun Zubair, lahir di Rembang, 28 Oktober 1928; umur 87 tahun, adalah seorang ulama besar dan politikus.

Saat ini ia merupakan Pemimpin Pondok Pesantren Al-Anwar Sarang, Rembang, dan menjabat sebagai Ketua Dewan Syuro. Ia pernah menjadi anggota DPRD.

Setelah masa tugasnya berakhir, ia mulai berkonsentrasi mengurus pondoknya yang baru berdiri selama sekitar 7 atau 8 tahun. Namun rupanya tenaga dan pikiran KH Maimun Zubair masih dibutuhkan oleh negara sehingga ia diangkat menjadi anggota MPR RI utusan Jateng selama tiga periode. (lp6/rur)

Advertisements

0 Responses to “Kepemudaan : Nawa Sumpah Pemuda 2015, Surabaya”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


Blog Stats

  • 3,193,053 hits

Recent Comments

Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Sejarah : Bangsa Lemuria, Lelu…

%d bloggers like this: