Archive for the 'Jiwa Semangat Nilai-nilai 45' Category

01
Sep
15

Kebudayaan : Blangkon, Ciri Khas Islam Nusantara Jepara

 Jakarta45

INSPIRASI MUKTAMAR NU

Blangkon, Ciri Khas Jamaah KBIH Arafah Jepara

Ahad, 30/08/2015 13:05

[image: Blangkon, Ciri Khas Jamaah KBIH Arafah Jepara]

Jepara, *NU Online*
Pengasuh pesantren Hasyim Asyari Bangsri Jepara KH Nuruddin Amin (Gus Nung)
membawa sedikitnya 125 jamaah haji asal Jepara. Salah satu ciri khas dari
Jamaah Haji Nusantara KBIH Arafah Bangsri Jepara untuk jamaah laki-laki
yang berjumlah 58 orang ialah blangkon.

Gus Nung menyatakan bahwa jamaah haji tidak melulu menggunakan kopiah haji.
Menurutnya, jamaah haji tetapi boleh mengenakan blangkon sebagai tutup
kepala.

“Wong kaji ora kudu nganggo kopiah putih tapi ugo oleh nganggo blangkon,”
kata Gus Nung.

Sementara 67 jamaah putri belum mengenakan ciri khusus.

Sejak dipublikasikan di jejaring sosial fesbuk, penanda khusus ini banyak
menuai apresiasi dari pelbagai kalangan netizen.

Dipilihnya blangkon sebagai identitas bukan tanpa alasan. Menurut Gus Nung,
blangkon memiliki ciri yang sangat spesifik dan tiada duanya. Saat
dihubungi via jejaring sosial suami Hj Hindun Anisah ini menjawab bahwa
blangkon dari segi bentuknya sudah mirip dengan sorban hanya saja motifnya
kain batik.

“Blangkon ini ciri khas Keraton Mataram Ngayogyokarto Hadiningrat. Kerajaan
ini merupakan salah satu kerajaan Islam Jawa yang ada di tanah Nusantara,”
tutur Ketua KBIH Arafah.

Sejak digulirkan ide menarik ini, puluhan jamaah memberi respon yang
positif. Tujuannya selain memudahkan untuk mengidentifikasi teman di tanah
haramain juga mereka nyaman memakainya setiap ada aktivitas maupun jamaah
rutin di masjid.

Identitas blangkon masih terinspirasi dari Islam Nusantara yang
dikonseptualisasikan Muktamar Ke-33 NU. Dengan memakai blangkon pihaknya
ingin menunjukkan corak keislaman yang spesifik di salah satu bagian
Indonesia yang diidentifikasi sebagai Islam Nusantara.

“Makanya kami sengaja mempraktikkan pengamalan Islam Nusantara dengan wujud
memakai blangkon,” terangnya, Kamis (27/8) lalu.

Tutup kepala ini dikenakan ketika berangkat ke masjid serta
kegiatan-kegiatan KBIH di tanah suci kecuali saat sedang ihram. Misalnya
saat Arbain, ziarah ke Jabal Uhud, Ziarah ke Masjid Quba, Jannatul Baqi’
Al-Ghorqod, Ziarah Madinah serta aktivitas ibadah yang lain.

Tahun ini KBIH Arafah berangkat dari 24 Agustus hingga 4 Oktober 2015. KBIH
ini menempati Kloter 12 SOC (sebelumnya kloter 13) dari Jepara. Maju satu
kloter akibat akumulasi jamaah yang belum keluar visa hajinya. (*Syaiful
Mustaqim/Alhafiz K*)

Sumber:

http://nu.or.id/a,public-m,dinamic-s,detail-ids,45-id,61899-lang,id-c,internasional-t,Blangkon++Ciri+Khas+Jamaah+KBIH+Arafah+Jepara-.phpx

Medan Terjal Menuju Islam Nusantara

Oleh: Khairi Fuady
Sebagai sebuah corak keberagamaan yang bercita-cita untuk menjadi role model kiblat Islam rahmatan lil’alamin di dunia, Islam Nusantara tentu masih sangat memerlukan kritik. Kritik adalah salah sebuah sarana untuk meneguhkan Islam Nusantara secara konseptual. Karena tanpa kritik, kita tidak akan bisa mendeteksi sejauh mana penerimaan masyarakat terhadap term yang mendadak nge-pop akhir-akhir ini.

Namun tampaknya, semakin Islam Nusantara mengudara, betul bahwa ada adagium yang mengatakan semakin tinggi pohon maka semakin kencang angin menerpa, rupanya Islam Nusantara pada perjalanannya bukan cuma diterpa oleh berbagai kritikan, tetapi juga berbagai tanggapan sarkastis dan propaganda negatif sebagai sebuah paham yang dituding sesat dan menyesatkan.

Ironisnya, hal ini bukan hanya berasal dari kalangan yang belum paham atau memang awam mengenal istilah ini. Akan tetapi juga datang dari berbagai tokoh populis seperti Mamah Dedeh –mamahnya ibu-ibu pengajian televisi, Habib Rizieq Shihab – Pucuk Pimpinan Front Pembela Islam (FPI), Dokter Hamid Fahmi Zarkasyi –mahaguruyang menjadi referensi baku kawan-kawan kajian INSISTS, sampai selebritas twitter Hadidz Ary yang mencitrakan diri sebagai murobbi-nya gerakan Indonesia Tanpa JIL.

Tanpa tedeng aling-aling, di depan jamaah pengajian subuh dan disaksikan oleh seluruh pemirsa ANTV suatu pagi, Mamah Dedeh mengatakan “Coret Islam Nusantara” yang secara otomatis statemen beliau tersebut langsung dikutip dan disebar-luaskan oleh media-media yang notabene sempat masuk list BNPT sebagai media “radikal”. Lebih ekstrem lagi, Habib Rizieq tampak niat banget untuk menghantam Islam Nusantara ini hingga beliau meluangkan waktu untuk membuat propaganda di media bahwa JIN (Jemaat Islam Nusantara – istilah yang sesungguhnya beliau bikin sendiri) adalah sebuah gerakan yang harus ditumpas eksistensinya di negeri ini lantaran pahamnya sesat dan menyesatkan, lengkap dengan pointer-pointer yang beliau inventarisir sebagai dalil atau dalih bahwa Islam Nusantara ini memang sesat. Ah yang beneer?

Sebagai sebuah tulisan populer, saya ingin mengajak segenap pembaca untuk terlebih dahulu merenggangkan urat saraf masing-masing sebelum lebih jauh menyimak. Saya hanya ingin menggaransi terlebih dahulu bahwa tulisan ini nantinya tidak akan se-galak artis twitter bernama Hafidz Ary yang dengan serampangan mengatakan bahwa corak Islam Nusantara yang dirintis para ulama dan segenap awliyaa di negeri ini adalah produk rintisan kaum Islam Liberalis. Hafidz semacam melakukan jurus mabuk hingga pura-pura lupa bahwa liberalisme Islam di negeri ini adalah gerakan yang nge-pop belakangan bahkan tergolong impor, atau bahasa kerennya biasa disebut transnasional. Sedangkan Islam Nusantara adalah corak keberagamaan yang telah lama menyatu dengan urat nadi bangsa Indonesia.

Saya juga akan berusaha untuk tidak menjadi se-gegabah ustadz beken bernama Felix Siauw yang mengatakan bahwa “Nasionalisme tidak ada dalam Islam”, lalu kemudian kepleset lidah berfatwa menghalalkan VCD bajakan karena “segala sesuatu di dunia ini milik Allah”, lalu mengharamkan akifitas selfie dan ternyata beliau juga suka selfie, dan yang paling menggelikan adalah mengkampanyekan Hijab Syar’ie ala beliau sendiri hingga kemudian diketahui ternyata beliau juga jualan jilbab.

Bismillah. Akhi, don’t be amazed too much, jangan latah!, Islam Nusantara bukan paham kok, bukan pula ajaran, apalagi mazhab baru yang mencoba peruntungan untuk numpang tenar di bumi Indonesia ini. Islam Nusantara adalah model keberagamaan yang sejak lama menjadi model dakwahnya para Kyai di Jawa, para Buya di Sumatera, para Tuan Guru di Kalimantan, dan para Gurutta di Sulawesi. Islam Nusantara adalah Islam yang ketika harus berhadapan dengan The Old Establishing Beliefs– seperti Hinduisme di Indonesia, maka dengan lentur tidak menjadikan sapi sebagai hewan kurban karena sapi adalah hewan yang mulia menurut kepercayaan masyarakat Hindu. Para awliyaa kala itu paham bahwa Islam cukup selow dengan memperbolehkan kerbau dan kambing sebagai substitute animal (baca; pemain cadangan) untuk dikurbankan. Dan ini Islami banget, kok. Toh dulu juga al-Qur`an ketika melarang minum khamr juga metodenya bertahap.

Awalnya dengan menyatakan bahwa di dalam khamr terdapat itsmun kabiir (dosa besar) dan juga manaafi’ linnaas(manfaat untuk manusia), hanya saja dosanya lebih besar daripada manfaatnya. Lalu kemudian memrintahkan jangan melaksanakan shalat dalam keadaan mabuk, hingga pada akhirnya baru mengharamkan khamr secara tegas. Metode semacam ini dalam istilah Arab disebut dengan tadriijiyyan, atau step by step.

Islam Nusantara adalah Islam yang mengerti lokalitas sehingga masyarakat Islam Banjar sangat akrab dengan tradisi baaruhan, di Jawa ada tradisi slametan, bahkan muslim yang sudah meninggal dunia pun diurus sampai seratus hariannya dan diperingati setiap tahunnya. Islam Nusantara juga mengerti psikologis masyarakat untuk berkesenian hingga dikenal tradisi maulidan, barzanjian, diba’an, dan lain-lain.

Kesemua contoh di atas adalah ke-khasan tersendiri bagi corak keberislaman di Indonesia, yang jika digali lebih dalam adalah identitas kearifan lokal atau local wisdom itu sendiri. Karena sejatinya identitas inilah yang mahal, identitas ke-Islaman dan ke-Indonesiaan. Maka sudi lah kiranya kita belajar dari Kyai Haji Hasyim Asy’ary yang bertahun-tahun mengaji di Mekkah tapi mind set-nya tidak pernah ter-Arab-kan. Sudi pula lah kiranya kita menengok sejarah Wapres legenda kita Mohammad Hatta yang belajar di Belanda tapi tidak ter-barat-kan. Beliau bahkan masyhur dengan gagasan ekonomi koperasinya, hingga gagasan politik luar negeri Mendayung di atas Dua Karang-nya yang sampai hari ini menjadi khas kebijakan luar negeri Indonesia yang nonblock dan nonafiliate. Dan sejarah menjadi saksi bagaimana beliau tetap hidup Islami dengan sifat qana’ah-nya hingga sampai akhir hayatnya tidak mampu membeli sepatu bermerek Bally.

Terakhir, Islam Nusantara tidak pernah anti Arab seperti yang dituduhkan Habib Rizieq. Tapi Islam itu sendiri bukanlah Arabisme karena memang spiritnya universal. Turun sebagai agama langit (samawi), tapi eksistensinya membumi. Bahkan kalau mau jujur, para ulama, Kyai, dan Tuan Guru itu kurang ngerti Arab apa coba? Dari dulu juga buku-buku wajib di Pesantren adalah kitab-kitab berbahasa Arab. Bukan sekadar gombal dan retoris untuk menjadi Arabis sampai urusan ngobrol dan ngopi saja harus menyapa dengan akhi dan ukhti.

Islam Nusantara juga tidak pernah anti-barat, karena prinsip dasarnya adalah memungut hikmah darimana pun sumbernya. Hikmah adalah milik orang Islam yang tercecer. Karenanya, Islam Nusantara sangat menghargai tradisi dan sekaligus juga terbuka dengan modernitas. Kaidah fikih populernya; “al muhaafazhah alal qadiim al shaalih, wal akhdzu bil jadiid al ashlah”. Pijakan historis yang kokoh, dan kemampuan merespon masa depan dengan tangkas. Inilah yang disebut dengan prinsip, identitas, dan jati diri. Tak heran kalau kemudian mantan Presiden kita Baharuddin Jusuf habibi yang diketahui lama tinggal di Barat, toh ternyata juga tidak serta merta sepakat dengan tradisi Barat yang individualistis sampai nenek-nenek harus jauh dari cucunya karena ibunya lebih suka menitipkan anaknya di penitipan bayi. Di negara maju, kata Pak Habibi, tak pernah ada istilah ngemong cucu. Dan sebagai Profesor Jenius di bidang teknologi, ternyata ketika beliau ditanya lebih memilih makanan yang diolah oleh Food Processor atau sambal yang di-ulek, dengan tegas beliau memilih yang kedua, karena sambal yang di-ulek oleh wanita Indonesia sungguh tiada duanya. Wallaahul Muwaffiq ilaa aqwatith tariieq. []

*) Penulis adalah kader muda Nahdhatul Ulama dari Kalimantan Selatan, mahasiswa tingkat akhir Jurusan Ilmu Hubungan Internasional FISIP UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
Islam Nusantara, Islam yang Merangkul Nusantara

Jumat, 28/08/2015 11:01

[image: Islam Nusantara, Islam yang Merangkul Nusantara]

Solo, *NU Online*
Model Islam yang dibawa para walisongo ke Nusantara, atau kemudian populer
disebut sebagai istilah Islam Nusantara, menjadikan kebudayaan Nusantara
sebagai sarana untuk berdakwah.

Demikian menurut Wakil Ketua Pengurus Cabang Internasional Nahdlatul Ulama
(PCINU) Amerika Serikat, Akhmad Sahal pada kegiatan bedah buku Islam
Nusantara yang diselenggarakan Lakpesdam NU Surakarta, di Kantor NU
setempat, Kamis (27/8) malam.

“Islam Nusantara itu Islam yang merangkul Nusantara. Maksudnya, dalam
pendekatan terhadap kenyataan kebudayaan Nusantara ini tidak memakai cara
tumpas kelor, tetapi dijadikan sarana untuk pengislaman, dan selaras dengan
Islam,”

Ditambahkan Sahal, model Islam Nusantara yang membawa nilai dakwah yang
santun dan damai, merupakan perwujudan dari Islam yang kaffah (menyeluruh)
dan rahmatan lil alamin. “Islam Nusantara ini Islam yang kaffah dan memakai
ilmu, bukan sekedar pokoe (yang penting) memakai istilah kaffah,” jelas
Sahal.

Lebih lanjut diungkapkan Sahal, para ulama Islam Nusantara ini memiliki
sanad keilmuan yang bersambung hingga Rasulullah saw. “Jadi sanadnya bukan
dari Syekh Google. Tapi mereka mendapatkannya dari para guru yang memiliki
mata rantai keilmuan hingga Rasulullah,” ujar dia.

Sementara itu, menurut narasumber lainnya, KH Abdullah Sa’ad, munculnya
istilah Islam Nusantara masih perlu dikaji lebih lanjut, khususnya yang
perlu dicari pertama kali adalah siapa yang memulai memperkenalkan istilah
ini.

“Kalau dalam bahasa pesantren, perlu diketahui dulu siapa mushanifnya dari
mana asalnya, agar lebih jelas ketika kita akan memberikan hukum terhadap
sesuatu, termasuk Islam Nusantara ini,” ujar Pengasuh Pesantren Al-Inshof
Karanganyar, Jawa Tengah itu. *(Ajie Najmuddin/Fathoni)*

Sumber:

http://nu.or.id/a,public-m,dinamic-s,detail-ids,44-id,61858-lang,id-c,nasional-t,Islam+Nusantara++Islam+yang+Merangkul+Nusantara-.phpx

NU, Demokrasi, dan Kepemimpinan Karismatis

Oleh: Fajar Kurnianto

 

DEMOKRASI tidak menafikan adanya perdebatan, pertentangan, hingga ketegangan antarpihak yang berkepentingan di dalamnya. Di titik ini, tidak ada persoalan. Yang justru jadi tantangan adalah bagaimana mengelola semua itu sehingga tidak menimbulkan ekses negatif secara individual maupun organisasional.

 

Di sinilah sikap lapang dada dan bijaksana menjadi penentu. Dalam beberapa hal, keberadaan sosok yang punya karisma kepemimpinan ( charismatic leadership) yang menjadi penengah juga ikut menentukan.

 

Richard Hull (1999) mengatakan, kepemimpinan adalah kemampuan memengaruhi pendapat, sikap, dan perilaku orang lain. Ini berarti bahwa setiap orang mampu mengatur dan memengaruhi orang lain untuk mencapai tujuan bersama dan dapat berfungsi sebagai pemimpin.

 

Kepemimpinan ( leadership) merupakan proses yang harus ada danperludiadakandalamkehidupan manusia selaku makhluk sosial. Hidup bermasyarakat memerlukan pemimpin dan kepemimpinan. Kepemimpinan dapat menentukan arah atau tujuan yang dikehendaki dan dengan cara bagaimana arah atau tujuan tersebut dapat dicapai.

 

Kegaduhan yang sempat terjadi di Muktamar Ke-33 Jam’iyah Nahdlatul Ulama (NU), Jombang, Jawa Timur, beberapa waktu lalu bisa dicermati sebagai sebuah kenyataan dan dinamika serta proses demokrasi dalam berorganisasi. Dan, itu berhasil dilewati dengan baik setelah KH Mustofa Bisri kembali terpilih sebagai rais am NU, meski kemudian menolaknya, yang dianggap salah satu sosok karismatis di NU. Gus Mus, demikian dia biasa disapa, mengimbau semua peserta muktamar untuk tenang, tertib, dan menyelesaikan persoalan dengan kepala dingin. Imbauan ini berhasil, kondisi pun kembali normal.

 

Demokrasi memang perlu sosok pemimpin karismatis yang bisa membuat situasi menjadi kondusif, tenang, dan berjalan lancar, meski tidak sama sekali melenyapkan segala pertentangan di dalamnya (disensus). Pemimpin karismatis menampilkan ciriciri: memiliki visi yang amat kuat atau kesadaran tujuan yang jelas, mengomunikasikan visi itu secara efektif, mendemonstrasikan konsistensi dan fokus, serta mengetahui kekuatan-kekuatan sendiri dan memanfaatkannya.

 

Karismatis dalam bahasa Yunani berarti ’’karunia diinspirasi Ilahi’’. Orang-orang yang karismatis memiliki daya tarik tersendiri bagi orang-orang yang ada di sekitarnya sehingga membuat mereka secara tidak sadar mengikuti sosok karismatis tersebut. Kepemimpinan karismatis membuat para anggota yang dipimpinnya mengikuti inovasi-inovasi yang diajukan pemimpin ini. Ada dua tipe pemimpin karismatis: karismatis visioner dan karismatis di masa krisis (Ivancevich, 2007).

 

Pemimpin karismatis visioner mengaitkan kebutuhan dan target dari pengikutnya dengan target atau tugas dari organisasi. Pemimpin karismatis visioner juga memiliki kemampuan untuk melihat sebuah gambar besar dan peluang yang ada pada gambar besar tersebut (Barbara Mackoff dan Wenet, 2001).

 

Tipe pemimpin karismatis di masa krisis akan menunjukkan pengaruhnya ketika sistem harus menghadapi situasi di mana pengetahuan, informasi, dan prosedur yang ada tidak mencukupi (Ian I. Mirtoff, 2004). Pemimpin jenis ini mengomunikasikan dengan jelas tindakan apa yang harus dilakukan dan apa konsekuensi yang dihadapi.

 

House (1977) menyatakan, karisma seorang pemimpin mampu memberikan sesuatu yang sangat besar dan efek yang sangat luar biasa bagi bawahannya. Mereka meyakini bahwa keyakinan seorang pemimpin itu adalah benar.

Mereka menerima pendapat pemimpin tanpa pernah mempertanyakan alasannya. Mereka menyayangi pemimpin mereka dan terlibat secara emosi dalam misi organisasi. Mereka menjadi sangat yakin bahwa mereka mampu memberikan kontribusi yang lebih terhadap tujuan organisasi.

 

Kepemimpinan karismatis, menurut Max Weber, adalah salah satu dari tiga bentuk kekuasaan. Pertama, kekuasaan tradisional atas dasar suatu kepercayaan yang telah ada ( established) pada kesucian tradisi kuno.

Kedua, kekuasaan yang rasional atau berdasar hukum (legal) yang didasarkan atas kepercayaan terhadap legalitas peraturan-peraturan dan hak bagi mereka yang memegang kedudukan, yang berkuasa berdasar peraturan-peraturan untuk mengeluarkan perintah. Ketiga, kekuasaan karismatis yang didapatkan atas pengabdian diri atas kesucian, sifat kepahlawanan atau yang patut dicontoh dari ketertiban atas kekuasaannya.

 

Jam’iyah NU kental sekali dengan sosok-sosok pemimpin karismatis. Secara tradisional, mereka adalah para kiai yang memiliki sekaligus memimpin pondok-pondok pesantren, terutama pondok-pondok pesantren tertua. Mereka biasanya disebut dengan ’’kiai khos’’ atau ’’kiai sepuh’’.

 

Mendiang Abdurrahman Wahid (Gus Dur) kerap kali menyebut mereka. Mereka ini disebut-sebut ikut andil dalam menentukan kebijakan Gus Dur, baik saat menjadi presiden, ketua Dewan Syura PKB, maupun ketua PB NU. Sebagai salah satu tradisi santri, Gus Dur sangat menghormati dan memuliakan mereka.

 

Secara organisasional NU, para kiai karismatis itu ada dalam struktur kepengurusan syuriah, ada juga yang tidak. Peran mereka begitu penting, sehingga sejauh ini NU secara organisasi dapat berjalan di atas visi para pendirinya. []

 

JAWA POS, 07 Agustus 2015

Fajar Kurnianto  ;   Peneliti Pusat Studi Islam dan Kenegaraan (PSIK) Universitas Paramadina Jakarta

HAUL

Ulama Wafat Sejatinya Hidup melalui Ilmu-ilmunya

Sabtu, 29/08/2015 13:02

[image: Ulama Wafat Sejatinya Hidup melalui Ilmu-ilmunya]

Jepara, *NU Online*
Ulama yang telah meninggal secara lahir sudah “wafat”, namun sejatinya
masih “hidup”. Hal ini lantaran ilmu yang diajarkan ulama masih ditularkan
hingga sekarang. Demikian diuraikan KH Dzikron Abdullah, pengasuh pesantren
Addainuriyah Semarang saat menyampaikan mauidloh dalam Haul I KH Ahmad
Cholil di Desa Bakalan Kecamatan Kalinyamatan Kabupaten Jepara, Jum’at
(28/8) sore.

KH Ahmad Cholil almarhum menurut Ketua Idaroh Wustho Jatman Provinsi Jawa
Tengah ini merupakan sosok ulama yang tawadlu’, mukhlis (ikhlas) dan aliman
(alim) serta khusnin niyat (baik niatnya).

“Sehingga pantas panjenengan hadir di maqbarah ini,” tuturnya kepada ribuan
jamaah yang hadir.

Hal lain ditambahkan Bupati Jepara, H Ahmad Marzuqi. Haul menurutnya
merupakan tradisi Aswaja yang harus diuri-uri (dilesatarikan). Mewakili
shohibul bait, Marzuqi mengutip sebuah sabda yang artinya barang siapa yang
dibingungkan dengan beragam urusan, solusinya agar memohon kepada Allah
lewat wasilah kepada ahli kubur.

Senada dengan Kiai Dzikron, tujuan dari hormat Haul yakni sebagai bukti
berbakti kepada guru dan kiai. Harapannya yang ditinggalkan bisa meneruskan
perjuangan dan mengambil manfaat serta nasihat yang telah diberikan oleh
ulama. *(Syaiful Mustaqim/Fathoni)*

Sumber:

http://nu.or.id/a,public-m,dinamic-s,detail-ids,2-id,61881-lang,id-c,daerah-t,Ulama+Wafat+Sejatinya+Hidup+melalui+Ilmu+ilmunya-.phpx

Pesantren Membentuk Generasi Bertakwa

Oleh: KH. MA. Sahal Mahfudh
Setiap institusi agama ataupun yang lain, memberikan kedudukan sangat penting bagi ilmu pengetahuan. Dalam Islam, ilmu pengetahuan menduduki posisi utama, karena ia adalah sarana yang paling tepat untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT dan mencapai kebahagiaan dunia akhirat. Dalam kaitan ini, Rasulullah bersabda: “Barang siapa menghendaki kehidupan dunia, maka ia harus berilmu, begitu juga apabila ia menghendaki kehidupan akhirat. Apalagi jika ia menghendaki keduanya (dunia dan akhirat)”.

Yang dimaksud science di sini adalah ilmu pengetahuan dalam pengertian yang luas, bukan dalam batasan satu nilai atau disiplin tertentu. Secara kontinyu ilmu pengetahuan berkembang dengan pesat dan sangat dipengaruhi oleh aspek kehidupan yang luas, mulai dari ekonomi, sosial, budaya dan juga apresiasi intelektual masyarakat. Akan tetapi di balik itu, proses perkembangan tersebut sangat bergantung pada lembaga pendidikan.

Pesantren sebagai lembaga pendidikan dengan totalitas kepribadiannya yang khas, selalu memberikan kebebasan untuk menentukan pola dinamis kebijaksanaan pendidikannya. Sehingga setiap tawaran pengembangan, baik benupa transfer dari luar (non-pesantren) mau pun atas prakarsa sendiri, tentunya akan melalui sektor pertimbangan dari dalam pesantren sendiri yaitu pertimbangan tata nilai yang telah ada dan berlaku di pesantren selama ini.

Istilah “pesantren” mulai dikenal sejak pertama kali lembaga itu didirikan. Untuk mengetahui sejarah pesantren, ada beberapa pendapat yang umum berlaku. Di antaranya disebutkan, pertama kali pesantren didirikan oleh Sunan Malik Ibrahim di Gresik pada awal abad ke-17 (tahun 1619 M).

Dalam perjalanannya, pesantren begitu mengakar di tengah-tengah masyarakat dengan prestasi yang sangat kentara, yaitu munculnya para alumni pesantren yang mendapat legitimasi dari masyarakat sebagai ulama atau kiai yang tangguh dan mampu mengembangkan dirinya di bidang keilmuan agama Islam, dibarengi dengan kepekaan yang tinggi terhadap masalah-masalah sosial dan lingkungan. Hal ini berangkat dari titik tekan pesantren sebagai lembaga tafaqquh fiddin yang senantiasa dipertahankan dan kemauan membuka diri dari segala perubahan dan perkembangan zaman.

Akan tetapi, satu dan lain hal yang perlu dimengerti adalah keteguhan sikap para pendiri pesantren yang tidak mau bekerja sama dengan pemerintah kolonial Belanda pada waktu dulu, sehingga segala bentuk kegiatan pendidikan pesantren tidak diproyeksikan untuk memproduksi tenaga kerja. Maka, ijasah-ijasah formal pun pada awalnya sama sekali tidak dikenal oleh kalangan pesantren. Pesantren hanya terfokus pada pandangan dasar thalab al-‘ilmi li wajhi Allah. Prinsip demikian ini masih dapat ditemui di beberapa pesantren sampai sekarang.

Sistem pendidikan pesantren yang ditempuh selama ini memang menunjukkan sifat dan bentuk yang lain dari pola pendidikan nasional. Akan tetapi hal ini tidaklah bisa diartikan sebagai sikap isolatif, apalagi eksklusif pesantren terhadap komunitas yang lebih luas. Pesantren pada dasarnya memiliki sikap integratif yang partisipatif terhadap pendidikan nasional.

Pendidikan nasional yang tertuang dalam GBHN bertujuan meningkatkan ketakwaan terhadap Tuhan YME, kecerdasan, keterampilan, budi pekerti luhur dan akhlak yang mulia. Dari sinilah, meskipun pola penyelenggaraan pendidikan pesantren berbeda dengan pendidikan nasional, akan tetapi ia tetap merupakan suatu lembaga pendidikan yang mendukung dan menyokong tercapainya tujuan pendidikan nasional. Secara institusional dan melalui pranata yang khas, pesantren merangkum upaya pengembangan ilmu pengetahuan yang sesuai dengan dasar pendidikannya.

Pola dasar pendidikan pesantren terletak pada relevansinya dengan segala aspek kehidupan. Dalam hal ini, pola dasar tersebut merupakan cerminan untuk mencetak santrinya menjadi insan yang shalih dan akram. Shalih, berarti manusia yang secara potensial mampu berperan aktif, berguna dan terampil dalam kaitannya dengan kehidupan sesama makhluk. Filosofi “shalih” diambil dari surat Al-Anbiya’ 105:

“Sesungguhnya bumi ini diwariskan kepada orang-orang yang shalih”.

Sehingga untuk melestarikan bumi seisinya beserta seluruh tatanan kehidupannya, pesantren coba membekali santrinya dengan ilmu pengetahuan yang punya implikasi sosial menyeluruh dan mendasar. Seperti: ilmu pertanian, ilmu politik, teknologi, perindustrian, ilmu kebudayaan dan lain sebagainya. Menurut kalangan pesantren, pengkajian ilmu-ilmu semacam itu bersifat kolegial (fardlu kifayah).

Sementara “akram” merupakan pencapaian kelebihan dalam kaitan manusia sebagai makhluk terhadap khaliqnya, untuk mencapai kebahagian di akhirat, seperti firman Allah dalam Al-Qur’an:

“Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu seklian di sisi Allah adalah orang yang paling bertakwa.”

Dalam kaitan ini, pesantren secara institusional telah menekankan pendalaman terhadap ilmu pengetahuan keagamaan (tafaqquh fiddin).

Berangkat dari sikap pendirinya pada sebelum masa kemerdekaan yang sama sekali tidak mau bekerja sama dengan pemerintah kolonial Belanda, maka pesantren praktis menolak campur tangan pemerintah. Akibatnya kesan tertutup dan eksklusif begitu lekat di tubuh pesantren. Akan tetapi setelah masa kemerdekaan, pesantren mulai membuka diri seluas-luasnya kepada ‘dunia luar’ dengan digalangnya banyak kerjasama antara pesantren dan pemerintah atau dengan lembaga-lembaga lain, seperti LSM-LSM di negeri ini.

Macam dan bentuk pesantren yang amat banyak, sebanyak kiai yang mempunyai otoritas tertinggi atas pesantren, adalah hal yang selama ini menjadi sorotan para ahli dan pengamat masalah pesantren. Namun justru dari keberagaman bentuk pesantren inilah, akan dapat dicapai insan kamil. Adalah mustahil, bila kesempurnaan tersebut dicapai dengan bentuk pendidikan yang hanya satu macam.

Pesantren dengan tujuan utamanya mencetak insan yang shalih dan akram, merupakan lembaga pendidikan yang mempunyai implikasi dunia dan akhirat. Tidak hanya shalih saja, akan tetapi juga akram. Keduanya haruslah tidak terpisahkan, sehingga di samping mendalami ilmu-ilmu keagamaan, pesantren juga harus mulai mendalami ilmu pengetahuan umum. Apalagi pesantren telah melebarkan sayap dengan membentuk lembaga madrasah sebagai lembaga pendidikan klasikal dan perguruan tinggi yang kian hari semakin ditingkatkan mutu manajerialnya dan proses belajar mengajarnya.

Pesantren yang lahir dan berbasis di pedesaan, di dalamnya terbentuk suatu miniatur kehidupan masyarakat luas. Ia adalah sebuah lembaga yang memiliki kemnungkinan dan kesempatan besar membentuk kader berwawasan sosial dan peka terhadap lingkungannya, di samping memupuk ketakwaan terhadap Allah SWT.

Prospek pengembangan ilmu pengetahuan merupakan tanggung jawab semua kalangan lembaga pendidikan, tanpa memandang pada dasar pendidikan yang dianut. Hanya saja, skala prioritas penekanan terhadap ilmu pengetahuan yang dikembangkan, berlainan antara satu lembaga pendidikan dengan yang lain. Sementara pesantren lebih menekankan pada pengetahuan yang sesuai dengan dasar pendidikannya, sesuai dengan nafas dan tuntutan Islam.

Untuk lebih mendukung adanya pengembangan ilmu pengetahuan secara pesat, pesantren masih saja memperhatikan sistem pendidikannya sendiri. Dalam hal ini, transfer ilmu pengetahuan dan teknologi akan terus dilaksanakan, sejauh tetap menyelamatkan nilai-niilai dan identitas pesantren, sehingga tidak hanyut oleh perubahan-penubahan. Dalam kaitan ini, pesantren memiliki prinsip:

“Memelihara sistematika dan metodologi lama yang masih relevan dan mengambil serta mengembangkan cara baru yang lebih baik”.

Dengan demikian pesantren tidak akan pernah terkesan sebagai lembaga pendidikan konvensional yang menutup diri dan mengisolasi dari perkembangan kehidupan. []

*) Diambil dari KH MA Sahal Mahfudh, Nuansa Fiqih Sosial, 2004 (Yogyakarta: LKiS). Tulisan ini pernah disampaikan dalam Dinamika Islam RRI Stasion Regional I Semarang, Sahur ke-18 Ramadlan 1412 H. Judul asli Pesantren Membentuk Generasi Iptek dan Bertakwa.

01
Sep
15

Perekonomian : Indikator 2015 versus 1998

http://bisniskeuangan.kompas.com/read/2015/09/01/114700626/Ini.Perbandingan.Indikator.Ekonomi.Tahun.2015.dengan.Saat.Krisis.1998

konomi / Makro

Ini Perbandingan Indikator Ekonomi Tahun 2015 dengan Saat Krisis 1998

Selasa, 1 September 2015 | 11:47 WIB

SHUTTERSTOCK Ilustrasi

 alt

JAKARTA, KOMPAS.com – Sejumlah pihak mengkhawatirkan situasi ekonomi saat ini akan menjelma seperti kondisi krisis tahun 1998 silam.

Sebenaranya bagaimana perbandingan situasi ekonomi sekarang dengan krisis tahun 1998, mapun tahun 2008?

Berikut sejumlah indikator ekonomi saat ini, tahun 1998, dan 2008 seperti dikutip dari Harian Kompas.

              1998    2008      2015
1. Pertumbuhan ekonomi YoY  (persen)                 -13,1     4,12      4,67
2. Inflasi (persen)                                                      82,4    12,14    7,26
3. Cadangan Devisa (miliar dollar AS)                        17,4    50,2      107,6
4. Nilai tukar rupiah terhadap dollar AS (Rp)          16.650   12.650  14.123
5. Depresiasi rupiah posisi terendah (persen)             197    34,86     14,03
6. IHSG                                                                       256    1.111    4.237
7. Kredit bermasalah/NPL (persen)                               30       3,8        2,6
8. Suku bunga acuan BI (persen)                                  60       9,50      7,50
9. Rasio utang pemerintah terhadap PDB (persen)       100     27,40     24,70
10. Total utang luar negeri (miliar dollar AS)              150,8   155,08   304,3
11. Rasio utang luar negeri terhadap cadev (kali)           8,6       3,1        2,8

baca juga: BKPM: Indonesia Masih Menarik untuk Investor Dunia

Ikuti perkembangan berita ini dalam topik:

  • Ancaman Krisis Ekonomi

__._,_.___

01
Sep
15

Kesejarahan : Badan Musyawarah Angkatan 45

dhn-451

Sejarah

Riwayat Organisasi Angkatan 45

Berawal dari pertemuan para eksponen Angkatan 45 pada tanggal 12 Desember 1954 di kediaman Walikota Jakarta Raya Sudiro. Kemudian diikuti oleh pertemuan pada tanggal 2 Maret 1955 di Gedeung Proklamasi, Jalan Pengangsaan Timur 56 Jakarta yang dihadiri Presiden Soekarno. Akhirnya setelah berkali-kali mengadakan pertemuan, para eksponen Angkatan 45 pada tanggal 14 Mei 1959 bersepakat untuk menyatukan eksponen Angkatan 45 dalam satu wadah secara nasional. Maka pada tanggal 18 Desember 1959, bertempat di Gedung Proklamasi ditandatanganilah naskah penyatuan Angkatan 45.

Dari kesepakatan tersebut, dinyatakan akan disiapkan musyawarah besar Angkatan 45 seluruh indonesia, sekaligus menyusun pedoman dan langkah dalam pelaksanaan kembali ke UUD 1945.

1. Musyawarah Besar Ke Satu Angkatan 45 (MUBESI)

Mubes I Angkatan 45 diadakan pada tanggal 15-20 Maret 1960 bertempat di Gedung Olahraga Ikada – Jakarta,  yang sebelumnya dibuka oleh Presiden Soekarno di Istana Negara Jakarta.

Mubes I Angkatan 45 ini telah mempersatukan eksponen Angkatan 45 yang sebelumnya terpecah dan terkotak-kotak.

Hasil yang terpenting dari Mubes I adalah :

  • Tanggal 20 Maret 1960 adalah hari lahirnya Organisasi Angkatan 45 secara nasional, dengan nama “ Badan Musyawarah Angkatan 45” disingkat “ Angkatan 45”. Catatan : berdasarkan hasil mubenas ix/1993 di samarinda, lahirnya Angkatan 45 adalah tanggal 17 agustus 1945.
  • DISUSUN PEDOMAN DASAR dan PEDOMAN RUMAH TANGGA ORGANISASI ANGKATAN 45, dengan mencantumkan definisi “Angkatan 45” sebagai berikut : “Angkatan 45” adalah pelopor.
  • Dan pelaksana revolusi Agustus 1945 yang secara revolusioner, ikhlas, aktif dan konsekuen berjuang melawan imperialisme, kolonialisme dan sisa-sisa feodalisme untuk mewujudkan Kemerdekaan Tanah Air dalam bentuk Negara Kesatuan Republik Indonesia berdasarkan UUD 1945, yang berasaskan Pancasila menuju masyarakat yang demokratis, adil dan makmur, yakni Sosialisme Indonesia.
  • Terpilih sebagai ketua umum : Chaerul Saleh
  • Dikeluarkan resolusi-resolusi dan seruan tentang perjuangan Irian Barat, tentang retooling di semua lapangan, tentang pendidikan dan kebudayaan, dan lain-lain

2. Musyawarah Besar Kedua Angkatan 45 (MUBES II)

Mubes II Angkatan 45 diadakan pada tanggal 19-24 Desember 1963, dibuka oleh dibuka oleh Presiden Soekarno di Istana Negara Jakarta.

 Hasil Mubes II antara lain :

  • Program kerja
  • Perubahan Pedoman Dasar dan Pedoman Rumah Tangga Organisasi Angkatan 45, diantaranya perubahan definisi Angkatan 45 yang berbunyi :

“Angkatan 45 adalah pelopor, pelaksana, pembela dan penerus Revolusi Angkatan 45 yang secara revolusioner, ikhlas, aktif dan konsekuen berjuang melawan imperialisme, kolonialisme dan sisa-sisa feodalisme untuk mewujudkan Kemerdekaan Tanah Air dalam bentuk Negara Kesatuan Republik Indonesia berdasarkan UUD 1945, yang berasaskan Pancasila menuju masyarakat adil dan makmur, yakni Sosialisme Indonesia.

  • Terpilih sebagai ketua umum : Chaerul Saleh

3. Musyawarah Besar Ketiga Angkatan 45 (MUBES III)

Mubes III Angkatan 45 diadakan pada tanggal 28 Agustus – 3 September 1966 bertempat di Istora Bung Karno Senayan Jakarta, dibuka Presiden Soekarno.

Hasil Mubes III antara lain :

  • Pengubahan istilah Pedoman Dasar dan Pedoman Rumah Tangga menjadi Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga, sekaligus merubah nama Badan Musyawarah Angkatan 45 Menjadi Badan Penggerak, Pembina Jiwa dan Potensi Angkatan 45 dengan Singkatan Angkatan 45.

Perubahan menyangkut Pula Definisi Angkatan 45 berbunyi :

“Angkatan 45 adalah pelopor, penegak, pelaksana, pengaman dan penerus jiwa revolusi Agustus 1945 yang secara revolusioner, ikhlas, aktif dan konsekuen berjuang melawan imperialisme, kolonialisme, neo kolonialisme dan sisa-sisa feodalisme, mewujudkan Kemerdekaan Tanah Air dalam bentuk Negara Kesatuan Republik Indonesia berdasarkan UUD 1945, yang berasaskan Pancasila menuju masyarakat adil dan makmur, yang diridhoi oleh Tuhan Yang Maha Esa”.

  • Program kerja
  • Terpilih sebagai ketua umum : Adam Malik.

4. Musyawarah Besar Nasional Keempat Angkatan 45 (MUBES IV)

Istilah MUBES berubah menjadi Mubesnas. Mubesnas IV Angkatan 45 diadakan di Brastagi (Sumut) pada tanggal 20-25 Februari 1971, Dibuka oleh Presiden Soeharto.

 Hasil Mubesnas IV antara lain :

  • Program kerja
  • Penyempurnaan Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga Organisasi Angkatan 45, Definisi “ Angkatan 45” tidak berubah.
  • Terpilih sebagai ketua umum Jendral TNI Soeharto dan Ketua I, Sebagai ketua Harian : Ali Sadikin.

5. Musyawarah Besar Nasional Kelima Angkatan 45 (MUBES V)

Mubesnas V Angkatan 45 diselenggarakan di Pandaan (Jawa Timur) pada tanggal 25-30 Mei 1976, Dibuka oleh Presiden Soeharto.

 Hasil Mubesnas V antara lain :

  • Program kerja
  • Penyempurnaan Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga Organisasi, termasuk perubahan Definisi Angkatan 45 yang berbunyi :

“ Angkatan 45 adalah pelopor penegak, pelaksana, pengaman dan penerus cita-cita perjuangan proklamasi kemerdekaan 17 Agustus 1945 yang secara ikhlas, rela, konsekuen, aktif, berkorban dan berjuang melawan fasisme, imperialisme, kolonialisme, feodalisme, untuk mewujudkan Kemerdekaan dan kedaulatan Tanah Air dalam bentuk Negara Kesatuan Republik Indonesia dengan lambang negara Bhineka Tunggal Ika berdasarkan pancasila dan UUD 1945,  Menuju masyarakat adil dan makmur”.

  • Sebutan Badan Penggerak Pembina Jiwa dan Potensi angkatan 45 diubah menjadi Badan Penggerak Pembina Potensi Angkatan 45 dengan singkatan tetap Angkatan 45”.
  • Membentuk badan-badan dalam organisasi Angkatan 45
  • Terpilih sebagai ketua umum Surono, dan ketua Harian : Ali Sadikin.

 6. Musyawarah Besar Nasional Keenam Angkatan 45 (MUBES VI)

Mubesnas VI Angkatan 45 diadakan di Palembang (Sumatera Selatan) pada tanggal 25-29 Juni 1980, Dibuka oleh Presiden Soeharto.

 Hasil Mubesnas VI antara lain :

  • Pokok – pokok Kebijaksanaan Organisasi
  • Penyempurnaan Anggaran Dasar/ Anggaran Rumah Tangga, yang menyatakan dapat mengikutsertakan generasi penerus dalam organisasi Angkatan 45
  • Merumuskan apa yang dimaksud dengan : Jiwa dan Nilai-nilai 45”.
  • Terpilih sebagai ketua umum Surono

7. Musyawarah Besar Nasional Ketujuh Angkatan 45 (MUBES VII)

Mubesnas VII Angkatan 45 diadakan di Ujung Pandang (Sulawesi Selatan) pada tanggal 24-27 September 1984, Dibuka oleh Wakil Presiden Umar Wirahadikusumah.

 Hasil Mubesnas VII antara lain :

  • Pokok – pokok Kebijaksanaan Organisasi
  • Pedoman Umum “ Pelestarian Jiwa dan Semangat dan Nilai-nilai 45”.
  • Terpilih sebagai ketua umum Surono

8. Musyawarah Besar Nasional Kedelapan Angkatan 45 (MUBES VIII)

Mubesnas VIII Angkatan 45 diadakan di Tomohon (Sulawesi Utara) pada tanggal 20-22 Juli 1988, Dibuka oleh Presiden Soeharto.

Hasil Mubesnas VII antara lain :

  • Pokok – pokok Kebijaksanaan Organisasi
  • Pedoman Umum “ Pelestarian Jiwa dan Semangat dan Nilai-nilai 45” yang disempurnakan
  • Terpilih sebagai ketua umum Surono

9. Musyawarah Besar Nasional Kesembilan Angkatan 45 (MUBES IX)

Mubesnas IX Angkatan 45 diadakan di Samarinda (Kalimantan Timur) pada tanggal 19-22 Januari 1993, Dibuka oleh Presiden Soeharto dan ditutup oleh Wakil Presiden Soedharmono.

Hasil Mubesnas IX antara lain :

  • Kepala DHN Angkatan 45, ditugaskan untuk menyempurnakan Pokok- pokok Kebijaksanaan Organisasi Angkatan 45.
  • Kepala DHN Angkatan 45, ditugaskan mengkaji dan menyempurnakan anggaran dasar dan anggaran rumah tangga organisasi untuk diajukan pada mubenas X.
  • Terpilih sebagai ketua umum Surono

10. Musyawarah Besar Nasional Kesepuluh Angkatan 45 (MUBES X)

Mubesnas X Angkatan 45 diselenggarakan di Hotel Horison –Jakarta,  pada tanggal 9-14 Desember 1996, Dibuka oleh Presiden Soeharto

Hasil Mubesnas X antara lain :

  • menyempurnakan anggaran dasar dan anggaran rumah tangga.
  • Tetap mempertahankan nama “ badan penggerak pembina potensi angkatan 45”.
  • Pokok- pokok Kebijaksanaan Organisasi
  • Terpilih sebagai ketua umum Surono

11. Musyawarah Besar Nasional Kesebelas Angkatan 45 (MUBES XI)

Mubesnas XI Angkatan 45 diadakan di Jakarta pada Tanggal 20-24 Mei 2001, untuk pertama kali mubesnas tidak dibuka oleh Presiden RI dan ditutup oleh Wakil Presiden RI.

Salah satu hasil Mubesnas yang dramatis adalah untuk pertama kali sebutan “Angkatan 45” dihilangkan melalui perubahan yang mendasar dalam anggaran dasar dan dan anggaran rumah tangga Organisasi.

Nama Organisasi yang semula bernama “ Badan Penggerak Pembina Potensi  Angkatan 45” dirubah menjadi “ Badan Penggerak Pembudayaan Jiwa, Semangat Dan Nilai-Nilai Kejuangan 45”.

 Mubesnas XI menghasilkan materi “ Pembudayaan Jiwa Semangat dan Nilai-nilai 45 sebagai Jiwa, Semangat dan Nilai-nilai Kejuangan Bangsa Indonesia”.

Terpilih sebagai ketua umum H.R. Soeprapto.

 KELANJUTAN ORGANISASI ANGKATAN 45

Berdasarkan riwayat organisasi Angkatan 45 yang berdiri pada tanggal 20 Maret 1960, selama lebih kurang 46 tahun telah berkembang dan berproses menurut jalannya waktu dan zaman.  Nama organisasi Angkatan 45 mengalami beberapa kali perubahan, meskipun tetap menggunakan Angkatan 45. Perubahan nama berakibat pula pada perubahan-perubahan lain, seperti definisi Angkatan 45, fungsi dan tujuan organisasi.

Namun satu hal yang perlu digarisbawahi, bahwa Angkatan 45 adalah Predikat Sejarah yang Monumental, sebutkan sejarah kepada generasi pejuang Angkatan 45 itu sendiri sebagai pendiri Republik dan tidak untuk Generasi lain.

Disisi lain, pejuang Angkatan 45 sebagai mahluk hidup ciptaan Tuhan, tentu mengikuti hukum Tuhan, yaitu hukum alam : manusia tidak akan hidup selamanya dan pasti akan menghadap Khaliknya.

Timbul pertanyaan, apakah Organisasi Angkatan 45 akan bubar Setelah Generasi Pejuang Angkatan 45 sudah tidak ada lagi, dan bagaimana kaitannya dengan Misi Pelestarian Jiwa, Semangat dan Nilai-nilai 45?

Oleh karena itu, dimulai pada mubesnas VI/1980 di Palembang melalui Penyempurnaan Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga, Membolehkan keikutsertaan dan pelibatan generasi penerus dalam organisasi Angkatan 45.

Selanjutnya mubenas VII/1984 di Ujung Pandang, melahirkan untuk pertama kali program pelestarian jiwa, semangat dan nilai-nilai 45, yang materianya merupakan hasil lokakarya pada tanggal 21-24 maret 1984 di Bandung. Lokakarya tersebut banyak dihadiri oleh generasi penerus, terutama dari kalangan pakar dan pemikir.

Dari mubenas VI/1980 di palembang dan mubenas VII/1984 di Ujung Pandang, berkaitan dengan program pelestarian jiwa, semangat dan nilai-nilai 45 telah melahirkan kebijaksanaan, bahwa organisasi Angkatan 45 sudah mulai melibatkan generasi penerus dalam kegiatan organisasi berdasarkan penafsiran anggaran dasar organisasi BAB V tentang keanggotaan Pasal 10 ayat 2.

Organisasi Angkatan 45 telah menyertakan generasi penerus dalam kepengurusan Angkatan 45, yang mencapai klimaksnya sesudah mubenas VIII/1988 di Tomohon.

Selanjutnya, dewan Harian Nasional Angkatan 45 dengan pertimbangan yang matang telah mengeluarkan surat Keputusan Nomo 35/SKEP/II 1994, tanggal 14 Februari 1994, tentang petunjuk Pelaksanaan Peran Serta Generasi Penerus dalam tubuhh organisasi Angkatan 45.

TANTANGAN MASA DEPAN

Dengan  pertimbangan- pertimbangan tersebut, serta hasil kajian yang menyakut faktor lingkungan dan perjalanan sejarah bangsa, khususnya menghadapi era globalisasi, Dewan Harian Nasional Angkatan 45 berpendapat , bahwa organisasi Angkatan 45 harus dilanjutkan oleh generasi penerus, dengan tugas mengemban misi pelestarian jiwa, semangat dan nilai-nilai 45.

Dalam momentum memasuki usia 56 tahun Republik indonesia pada mubesnas XI/2001 di jakarta, Dewan Harian nasional Angkatan 45  memberanikan diri mengajukan konsep anggaran dasar dan anggaran rumah tangga yang baru sebagai penyempurnaan dari anggaran dasar dan anggaran rumah tangga sebelumnya.

Satu hal yang menjadi perhatian adalah generasi penerus tidak berhak menamakan dirinya Angkatan 45 , sebaiknya predikat 45 tidak boleh dihapus seperti juga predikat yang sama pada UUD 1945.

Perubahan anggaran dasar dan anggaran rumah tangga yang dihasilkan mubesnas XI/2001 di jakarta, menggambarkan bentuk organisasi sebagai kelanjutan yang tidak dapat dipisahkan dari organisasi Angkatan 45.

Untuk mengantisipasi tantangan masa depan yang dihadapi bangsa Indonesia dalam perjuangan menuju cita-cita nasioanal, maka peranan jiwa, semangat dan nilai-nilai 45 amat penting dalam rangka pembangunan moral dan watak bangsa.

KEPUTUSAN PRESIDEN NOMOR 50 TAHUN 1984 TENTANG PENGESAHAN ANGGARAN DASAR BADAN PENGGERAK PEMBINA POTENSI ANGKATAN ’45 PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

Menimbang:

bahwa Badan Penggerak Pembina Potensi Angkatan ’45 merupakan organisasi yang berpotensi efektif untuk ikut serta menyukseskan pembangunan nasional dalam rangka mengisi kemerdekaan; bahwa sehubungan dengan hal tersebut pada huruf a, dan untuk memberikan wadah bagi pejuang eksponen Angkatan ’45 maka dipandang perlu mengesahkan Anggaran Dasar Penggerak Pembina Potensi Angkatan ’45 yang dihasilkan dalam Musyawarah Besar Nasional ke IV Angkatan ’45 Tahun 1980. Mengingat: Pasal 4 ayat (1) Undang-Undang Dasar 1945.

MEMUTUSKAN :

Dengan mencabut Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 63 Tahun 1965;

Menetapkan:

KEPUTUSAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA TENTANG PENGESAHAN ANGGARAN DASAR BADAN PENGGERAK PEMBINA POTENSI ANGKATAN ’45 Pasal 1 Mengesahkan Anggaran Dasar Badan Penggerak Pembina Potensi Angkatan ’45, sebagaimana dimaksud dalam Lampiran Keputusan Presiden ini. Pasal 2 Keputusan Presiden ini mulai berlaku pada tanggal ditetapkan.

Ditetapkan di Jakarta

pada tanggal 1 September 1984

PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

Ttd. SOEHARTO

29
Aug
15

Konstitusi : Presiden Bukan Panglima Tertinggi

logo
On 08/26/2015 11:48 PM, Awind wrote:

http://sp.beritasatu.com/home/presiden-bukan-panglima-tertinggi/94809

Presiden Bukan Panglima Tertinggi

Rabu, 26 Agustus 2015 | 15:19

[JAKARTA] Letjen TNI (Purn) Sayidiman Suryohadiprojo menilai Presiden Republik Indonesia bukanlah Panglima Tertinggi Angkatan Perang Republik Indonesia (APRI). Menurut Sayidiman, Presiden RI mempunyai wewenang penuh mengendalikan APRI tanpa harus menajdi Panglima Tertinggi.

“Jabatan Panglima Tertinggi APRI yang meliputi Angkatan Darat, Angkatan Laut dan Angkatan Udara adalah jabatan militer yang dilaksanakan oleh seorang anggota APRI. Presiden RI mempunyai wewenang mengendalikan APRI,” ujar Sayidiman dalam diskusi yang bertajuk “Presiden versus Panglima Tertinggi” di Universitas Paramadina, Mampang Prapatan, Jakarta Selatan, pada Rabu (26/8).

Hadir juga pembicara lain, yakni Marsekal Muda TNI (Purn.) Dr. Kusnadi Kardi, dan Laksamana TNI (Purn.) Achmad Sutjipto.

Acara ini diselenggarakan oleh Institute Peradaban (IP) yang bekerja sama dengan  Pusat Studi Kelirumologi dan Yayasan Wakaf Paramadina

Menurut Sayidiman, jika Presiden RI mengangkat dirinya sebagai Panglima Tertinggi APRI, maka ia telah melakukan sesuatu yang tidak perlu. Selain itu, kata Sayidiman, sebutan Panglima Tertinggi APRI telah menempatkan Presiden dalam status dan posisi lebih rendah dari jabatan yang ditetapkan oleh bangsa kepadanya.

“Sebutan Presiden sebagai Panglima Tertinggi menimbulkan kekaburan dalam hubungan sipil-militer dan dapat saja sebutan tersebut diartikan bahwa organisasi militer tidak berada di bawah kekuasaan politik atau sipil,” tandas Sayidiman.

Lebih lanjut Sayidiman menuturkan bahwa dalam UUD 1945 baik yang asli maupun yang sudah diamandemenkan tidak ada ketentuan tentang jabatan Panglima Tertinggi. Dalam UUD 1945, katanya hanya dijelaskan hubungan antara Presiden RI dengan Angkatan Perang RI sebagaimana diuraikan dalam Pasal 10 UUD 1945.

Disebutkan dalam Pasal 10 UUD 1945, baik yang asli maupun yang diamandemen menyebutkan “Presiden memegang kekuasaan yang tertinggi atas Angkatan Darat, Angkatan Laut dan Angkatan Udara”.

“Ketentuan ini bermakna bahwa Presiden RI mempunyai wewenang penuh atas APRI baik administratif maupun operasional. Karena jabatan Presiden RI adalah satu jabatan politik atau sipil, maka ketentuan konstitusi itu menunjukkan bahwa di Indonesia militer berada di bawah kekuasaan sipil,” jelas Sayidiman. [YUS/L-8]

29
Aug
15

Kepribadian : Tanda-tanda Kecerdasan

Reporter : Syahid | Jumat, 28 Agustus 2015 07:02

8 Tanda Anda Lebih Cerdas dari Kebanyakan Orang Albert Einstein
Siapa kebih cerdas, anak tertua atau bungsu? atau pria kurus atau gemuk?

Dream – Apa yang membuat seseorang lebih pintar dari orang lain? Inilah pertanyaan yang selalu menggelayuti pikiran para ilmuwan selama puluhan tahun.

Tetapi setelah melakukan sejumlah penelitian, para ilmuwan menemukan bahwa kepintaran seseorang bisa disebabkan oleh berbagai macam. Mulai dari pilihan binatang peliharaan hingga tinggi badan.

Mengutip sejumlah hasil penelitian seperti dilansir laman businessinsider, Jumat, 28 Agustus 2015, berikut sebagian tanda yang menunjukkan seseorang memiliki kepintaran di atas rata-rata:.

1. Anak tertua

Saudara atau anak paling tua biasanya lebih pintar. Tetapi itu bukan karena faktor genetik. Menurut penelitian tahun 2007, saudara atau anak paling tua lebih pintar karena faktor psikologi dan dinamisme dalam keluarga.

2. Senang belajar musik

Menurut penelitian tahun 2011 kecerdasan berbicara anak usia 4 sampai 6 tahun tumbuh setelah belajar musik selama satu bulan.

3. Tidak merokok

Sebuah penelitian tahun 2010 di Israel yang melibatkan 20 ribu pemuda berusia antara 18-21 tahun menemukan bahwa perokok memiliki IQ atau kecerdasan intelektual yang rendah dengan skor hanya 94. Sementara mereka tidak merokok mampu mencapai skor 101.

4. Bertubuh kurus

Selama ini banyak yang mengaitkan tubuh yang sehat dengan pikiran yang sehat. Tetapi sebuah penelitian tahun 2006 di Prancis menemukan bahwa mereka yang berbadan kurus mampu mengingat 56 persen kata-kata dalam ujian kosakata. Sebaliknya yang bertubuh agak gendut hanya mampu mengingat 44 persen kata-kata.

5. Bertangan kidal

Sebuah penelitian baru-baru ini mengaitkan ‘kekidalan’ seseorang dengan divergent thinking atau sebuah proses berpikir untuk menghasilkan ide-ide kreatif dengan menjelajahi banyak solusi alternatif yang masing-masing bisa dikerjakan secara logis.

6. Sering memakai zat psikotropika

Sebuah penelitian pada tahun 2012 menemukan hubungan unik antara IQ tinggi di masa kecil dan penggunaan obat-obatan terlarang di usia dewasa. Namun ini hanya menunjukkan korelasi antara keduanya, bukan sebagai sebab dan akibat.

7. Memelihara kucing

Penelitian tahun 2014 menunjukkan bahwa orang yang memelihara anjing lebih mudah bergaul. Sementara mereka yang memelihara kucing adalah orang memiliki kepintaran di atas rata-rata. Kemungkinan hal ini disebabkan karena pemilik hewan peliharaan umumnya sikap lebih tertutup yang hanya mengejar hobi yang intelektual.

8. Badannya tinggi

Penelitian di Princeton University di Amerika Serikat menemukan bahwa anak-anak, mulai usia tiga tahun hingga masa kanak-kanak mereka, yang memiliki tubuh lebih tinggi dari teman-temannya mampu menyelesaikan ujian kognitif secara lebih baik.

29
Aug
15

Kemiliteran : Pasukan-pasukan Khusus Paling Berbahaya di Dunia

 5 Pasukan Khusus Paling Berbahaya di Dunia
Pasukan khusus.
Masing-masing negara, membentuk pasukan khusus untuk melakukan tugas yang berbeda-beda, termasuk sebagai kontra-terorisme dan penyelamatan sandera untuk mengintai dan melakukan penyerangan.
Lalu, siapa yang menjadi pasukan khusus paling berbahaya di dunia? Untuk menilainya, hal ini bisa dilihat dari persyaratan untuk masuk ke dalam angkatan yang bersangkutan, operasi yang telah mereka lakukan serta reputasi mereka, dan hal tersebut akan dibahas berikut ini.
Nama-nama yang ada di dalam daftar ini mungkin akan membuat Anda terkejut. Beberapa nama-nama berikut ini, mungkin belum pernah Anda dengar atau Anda kenali sebelumnya. Tetapi, bukan berarti pasukan yang tercantum di bawah ini tidak layak untuk masuk dalam daftar.
5. JTF2 – Kanada.
 
 
Pasukan ini didirikan pada tahun 1993 dan mulai memperluas anggotanya pada 11 September 2001. Terdiri dari personel militer dari Angkatan Bersenjata Kanada, Joint Task Force2 ditugaskan untuk melakukan berbagai operasi. Mereka bertugas untuk mengawal orang-orang penting dan menjaga keamanan untuk acara-acara seperti Olimpiade Musim Dingin. Secara terselubung, mereka banyak beroperasi di banyak tempat di seluruh dunia, termasuk menyelamatkan sandera di Irak dan memburu penembak jitu Serbia di Bosnia.
4. Alpha Group – Rusia.
 
 
Bagaimana dengan Spetsnaz? Spetsnaz merupakan nama umum yang diberikan untuk semua pasukan khusus Uni Soviet atau Rusia. Sedangkan pasukan khusus Rusia adalah Alpha Group. Alpha Group muncul di tahun 1970-an dan mulai dikenal saat invasi Afghanistan, di mana anggota Alpha menyerbu Istana Presiden di Kabul dan menewaskan semua orang di dalam gedung. Di dalam negeri, Alpha juga terlibat dalam sebagian besar operasi anti teroris dan menyelamatkan sandera utama di Rusia, seperti pengepungan teater Moskow di tahun 2002 dan pengepungan sekolah Beslan di tahun 2004.
3. Shayetet 13 – Israel.
 
 
Shayetet 13 sering dikait-kaitkan dengan angkatan laut Israel. Didirikan pada tahun 1948, pasukan ini ikut ambil bagian dalam setiap operasi utama Israel, berperang, penyelamatan sandera dan kontra-terorisme untuk badan pertemuan intelijen. Para calon pasukan akan menjalani pelatihan panjang selama 20 bulan dengan pengujian fisik dan psikologis yang akan membuat mereka stres, bahkan sebelum pelatihan khusus dimulai. Secara operasional, anggota Shayetet 13 terlibat dalam sejumlah operasi yang melibatkan penyitaan kapal dan senjata menuju Gaza. Operasi yang paling menonjol yang mereka lakukan adalah Olimpiade Munich di tahun 1972 saat mereka harus bertanggung jawab atas serangan terhadap para atlet Israel.
2. Navy SEAL – Amerika Serikat.
 
 
SEAL adalah pasukan khusus Amerika yang dibentuk pada tahun 1962. Salah satu misi mereka yang paling dikenal adalah membunuh Osama Bin Laden, pemimpin Al Qaeda di tahun 2011. Untuk menjadi anggota pasukan ini, mereka harus menjalani pelatihan lebih dari satu tahun, dan kebanyakan dari calonnya gagal pada saat tes kualifikasi fisik yang melibatkan banyak pelatihan, seperti renang, push-up, sit-up dan berjalan, semua itu dilakukan dalam batas waktu yang sangat ketat. Setelah pelatihan fisik, akan dilanjutkan dengan pelatihan umum. Setelah lulus, para calon akan dipindahkan ke SEAL untuk kembali menjalani pelatihan kualifikasi yang akan membuka pintu menuju pelatihan khusus. Semua ini dilakukan untuk memastikan semua anggota SEAL mempunyai fisik dan mental baja dan mampu menjalankan operasi yang paling sulit di dunia.
1. SAS – Inggris.
 
 
Apakah benar, pasukan ini lebih berbahaya dibanding SEAL? Ya, Special Air Service, Inggris dibentuk pada tahun 1941 sebagai kekuatan yang bisa beroperasi di belakang garis Jerman dan Italia. Pasukan ini terdiri dari personel militer Inggris yang berasal dari pasukan udara. Untuk bisa menjadi anggota SAS, para calon diharuskan menjalani latihan fisik yang keras. Termasuk berjalan di jalanan menanjak sejauh 40 mil dan harus selesai dalam waktu 20 jam. Calon juga harus mampu berenang sejauh 2 mil dalam waktu 1,5 jam dan berjalan 4 mil dalam 30 menit. Setelah itu, mereka akan ditempatkan di hutan untuk belajar bertahan hidup. Tes terakhir adalah menjalani sesi interogasi selama 36 jam dengan tujuan menentukan kehendak kandidat. Beberapa calon yang bisa melalui ini, akan ditugaskan dalam sebuah operasi untuk melakukan pelatihan lebih lanjut. Masih belum yakin SAS ‘lebih baik’ dibanding SEAL? Sekadar Anda tahu, SAS juga dilatih oleh badan keamanan dan intelijen MI5 dan MI6 untuk melakukan operasi kontra-spionase.
29
Aug
15

Kenegarawanan : Indonesia Dijajah Kapitalisme Global

KBP45

http://www.antaranews.com/berita/514958/basarah-indonesia-dijajah-kapitalisme-global?utm_source=topnews&utm_medium=home&utm_campaign=news

Basarah: Indonesia dijajah kapitalisme global

Jumat, 28 Agustus 2015 23:33 WIB |

Pewarta: Try Reza Essra

Ahmad Basarah (FOTO ANTARA)

Jakarta (ANTARA News) – Anggota MPR, Ahmad Basarah, di depan peserta Training of Trainers 4 Pilar di lingkungan TNI dan Polri di Bandung, mengatakan bahwa bangsa ini secara ekonomi sudah dijajah oleh kapitalisme global.

Melalui siaran pers MPR, Jumat, ia mengatakan bahwa tak hanya dalam soal kepemimpinan yang sudah terkontaminasi unsur kapitalisme namun saat ini juga ada sekitar 173 undang-undang yang berpihak pada asing dan tak sesuai dengan Pancasila.

Ahmad Basarah mengutip apa yang pernah disampaikan Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo bahwa sekarang kita sedang melakukan peperangan namun bukan peperangan konvensional tapi perang modern.

Perang modern, menurutnya, lebih canggih dibandingkan perang konvensional karena dampaknya lebih dahsyat. Dalam perang modern tak ada pangkalan dan tentara asing di Indonesia namun yang ada adalah pangkalan mental asing.

“Pangkalan mental asing itulah yang akan menghancurkan nilai-nilai luhur bangsa,” ujarnya.

Editor: B Kunto Wibisono

COPYRIGHT © ANTARA 2015

FrontNas45

Infrastruktur dan Ketahanan Kita

Oleh: Rhenald Kasali
Ketika pemerintahan Jokowi-JK mengurangi subsidi BBM dan mengalihkan dananya untuk membangun infrastruktur, saya dan semoga kita semua senang.
Subsidi BBM yang diberikan pemerintah selama ini memang kurang mendidik. Konsumsi BBM kita cenderung boros dan subsidinya sama sekali tidak tepat sasaran. Lebih banyak orang kaya yang menikmatinya ketimbang orang miskin. Memang ini tak mudah. Pembangunan infrastruktur kita selalu dirundung masalah. Di antaranya soal pengadaan lahan dan permainan para pemegang lisensi yang tak punya kesungguhan untuk membangun.
Lalu, masih banyaknya masalah yang terkait dengan prosedur pencairan dana. Baiklah, mungkin memang tak mudah melakukan sesuatu untuk pertama kalinya. Saya berharap ke depan prosesnya bisa semakin cepat dan saya menaruh harapan yang tinggi untuk itu. Seiring dengan itu, saya ingin mengajak Anda untuk memiliki perspektif yang lebih luas tentang infrastruktur.
Sebab saya yakin sebagian Anda, ketika berbicara tentang infrastruktur, pasti yang terbayang adalah jalan raya atau jalan tol, rel kereta api, atau pelabuhan udara maupun laut. Mungkin bisa ditambahkan dengan infrastruktur telekomunikasi dan listrik.
Infrastruktur Lainnya
Infrastruktur yang perlu kita bangun bukan hanya itu. Jauh lebih luas lagi. Saya ambil ilustrasi untuk industri minyak dan gas. Infrastruktur yang mesti kita bangun mulai dari hulu sampai hilir. Di sektor hulu, misalnya, infrastrukturnya berupa jaringan pipa yang digunakan untuk mengalirkan minyak mentah atau gas dari sumursumur minyak ke kilang-kilang minyak.
Di pengilangan minyak, kita juga mesti membangun tangki-tangki timbun untuk minyak mentah dan gas. Bagaimana kalau jaringan pipanya tidak ada? Apa boleh buat, minyak-minyak itu mesti diangkut dengan mobil-mobil tangki. Ongkosnya mahal sekali. Di sektor hilir, infrastruktur yang harus kita bangun juga jaringan pipa untuk mengalirkan minyak mentah dan gas dari kilang ke lokasi-lokasi penimbunan BBM atau BBG.
Bahkan termasuk jaringan pipa sampai ke SPBU-SPBU atau SPBG, atau ke pembangkit-pembangkit listrik. Bicara soal tangki timbun BBM, selama ini di masyarakat kita banyak yang salah kaprah. Pemerintah selalu mengatakan stok BBM kita cukup sampai 18- 20 hari. Padahal, stok yang dimaksud adalah stok BBM itu adalah stok yang berada di tangki-tangki timbun di kilangkilang milik Pertamina.
Jadi bukan tangki yang dibangun secara khusus untuk menimbun BBM. Apa keterkaitan stok BBM tersebut dengan ketahanan energi kita? Erat sekali. Sebagai perbandingan, kalau kita menyebut stok BBM di negaranegara lain, seperti di Malaysia yang 20 hari atau Singapura yang 25 hari, itu artinya betulbetul stok yang ada di tangki timbun. Bukan stok yang ada di kilang-kilang.
Bahkan lebih dari itu. Beberapa negara juga memiliki stok minyak mentah di tangkitangki penimbunan. Jadi kalau sudah begini, baru ketahuan bahwa kita sebetulnya tak punya stok BBM. Apalagi stok gas. Kita juga tak punya stok minyak mentah dan gas yang belum diolah. Dan tradisi ini sudah berlangsung bertahun- tahun. Kalau sudah begini, masihkah kita berani bicara soal ketahanan energi? Saya, tidak.
Kalau sudah begini kita jadi tahu betapa tertinggalnya pembangunan infrastruktur kita. Maka tak aneh kalau pemerintahan Jokowi-JK mengalihkan dana subsidi BBM untuk pembangunan infrastruktur walau belum sampai ke infrastruktur minyak dan gas. Kalau saya ajak Anda untuk melihat infrastruktur dalam arti luas, ketertinggalan kita bahkan semakin menjadi-jadi. Misalnya infrastruktur dalam bentuk air bersih.
Instalasi pengolahan air bersih kita masih sangat terbatas. Apalagi infrastruktur untuk distribusinya. Maksud saya jaringan pipa untuk mengalirkan air bersih tersebut ke rumah-rumah penduduk hingga pabrik-pabrik. Listrik juga begitu. Produksinya masih kurang, begitu pula dengan jaringan distribusinya. Bahkan termasuk infrastruktur pendukungnya.
Misalnya, traf-otrafo yang ada di pembangkit-pembangkit listrik atau gardu-gardu induk. Mudah-mudahan Anda masih ingat dengan padamnya listrik seputar Jakarta, Tangerang, dan Bekasi pada awal Desember 2013. Jangan anggap sepele masalah ini. Di RS Pirngadi, Medan, tiga pasiennya meninggal dunia akibat trafo yang terbakar. Mengapa trafo itu sampai terbakar?
Setelah diselidiki ternyata akibat listrik di Medan yang bolak-balik byar pet. Mati-hidup, mati hidup. Itu akibat lain dari keterbatasan infrastruktur listrik. Akibat lainnya, rasio elektrifikasi kita masih 84,35%. Artinya masih ada 15,65% rumah tangga di Indonesia yang belum menikmati aliran listrik. Kita mungkin sulit memaknai angka 15,65%. Untuk sederhananya, kalaujumlahpendudukIndonesia saat ini berkisar 240 juta, itu artinya masih ada lebih dari 37 juta rakyat kita yang belum menikmati aliran listrik. Ini jumlah yang tidak sedikit.
Tak Ada Habisnya
Sekarang saya ajak Anda untuk melihat yang lebih seram lagi, yakni keterbatasan infrastruktur pangan kita. Belum lama ini kita merasakan akibatnya. Beberapa pekan lalu harga daging sapi melonjak hingga mencapaiRp150.000/kg. Konon kabarnya sebagian pedagang menuruti kehendak pengimpor: mogok jualan.
Akal sehat kita langsung mengerti maksudnya: mereka menekan pemerintah agar diberi izin impor yang lebih besar lagi, tetapi harga mereka yang mendikte. Hebat bukan? Kalau harga daging mahal, barang substitusi akan ikutan. Benar saja, harga daging ayam melonjak ke Rp45.000/kg. Dua kasus tadi, bagi saya, cermin dari belum tertatanya infrastruktur pangan kita. Baik di tingkat produksi maupun sampai distribusinya.
Di tingkat produksi, misalnya, ternyata pemerintah kita tidak memiliki infrastruktur informasi yang lengkap tentang jumlah sapi yang dikuasai masyarakat. Maaf, kalau bicara infrastruktur pangan lebih luas lagi, kita mesti menyinggung pula soal air dan energi. Berapa banyak waduk dan jaringan irigasi yang masih harus kita bangun? Setiap kali para petani kita juga masih mengalami kekurangan benih dan pupuk.
Demikian juga energi, bila tak mumpuni, pangan tak bisa dimakan. Lalu, saya paling tidak tega kalau sudah bicara tentang pendidikan. Akibat keterbatasan infrastruktur, banyak anak kita yang bersekolah di bangunan seadanya. Sama sekali tidak layak disebut sekolah.
Dari situ, mudah-mudahan segera terbayang di benak kita tentang betapa beratnya tugas pemerintahan Jokowi-JK. Maka, saya sungguh tak habis mengerti dengan mereka yang masih saja dengan telengasnya memainkan isu, mengolok-olok dengan akun-akun bodong mengatasnamakan rakyat, bahkan cengeng sekali gayanya.
Negeri ini selalu mendua. Ibarat saat membaca berita tentang pemerkosa yang membunuh korbannya: kita pun mengutuk dan menuntut agar penjahatnya ditangkap dan dijatuhi hukuman mati. Namun begitu penjahat itu ditangkap dan beberapa tahun kemudian orang itu dihukum mati, banyak orang yang menyayangkannya.
Kita justru mengutuk hakim yang tega memutus perkara dengan hukuman maksimal. Hal sama juga terjadi di Kampung Pulo. Waktu gubernurnya mendiamkan mereka membangun rumah dan membuang sampah di sana sampai kebanjiran, kita bilang ini gara-gara gubernurnya lembek. Pas gubernurnya tegas tanpa kompromi memindahkan mereka ke pemukiman yang lebih baik, kita bilang ia tidak manusiawi.
Pantaslah kita jadi sulit maju. Bukan karena kekurangan leader, melainkan karena mental yang terlalu lembek, kurang gigih, dan mudah menyerah begitu diejek. []

Koran SINDO, 27 Agustus 2015

Rhenald Kasali | Pendiri Rumah Perubahan




Blog Stats

  • 2,578,563 hits

Recent Comments

Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Sejarah : Bangsa Lemuria, Lelu…
Ratu Adil - 666 on Sejarah : Bangsa Lemuria, Lelu…

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 142 other followers