Archive for the 'Jiwa Semangat Nilai-nilai 45' Category

22
Sep
18

Kenegarawanan : InPres Pembangunan Kembali RUMAH PROKLAMASI

Logo Segilima GPA45

Suara Warga45

*InPres Pembangunan Kembali RUMAH PROKLAMASI*

Kepada Yth Bapak Presiden Republik Indonesia‎

Berkerangka *JATIDIRI INDONESIA MERDEKA 1945* sbb

https://jakarta45.wordpress.com/2018/08/06/kenegarawanan-jatidiri-indonesia-merdeka-1945/amp/

Maka pada hari-hari peringatan *Penegakan Proklamasi Kemerdekaan Indonesia* 19 September 1945 [Rapat Raksasa IKADA, Jakarta] dan 21 September 1945 [Rapat Raksasa TAMBAKSARI, Surabaya], kami selaku mantan PasKiBraKa Nasional 17 Agustus 1964 dan dari Generasi Penerus 45 (GPA45) / DHD45 Jakarta turut memastikan bahwa -*InPres Pembangunan Kembali RUMAH PROKLAMASI 17 Agustus 1945 di ;l Proklamasi d/h Jl Pegangsaan Timur 56, Jakarta Pusat* adalah kebutuhan mendasar bagi Bina Nation & Character Building khususnya Generasi Milenial Indonesia kini & esok.

‎Menimbang *Politik Karakter Patriot Indonesia*
https://jakarta45.wordpress.com/2017/04/08/kenegarawanan-politik-karakter-patriot-indonesia/amp/

Mengingat *17 Doktrin Front Nasionalis45*
https://jakarta45.wordpress.com/2018/05/17/17-doktrin-front-nasionalis45/amp/

Memperhatikan *Pembangunan SDM Indonesia 2019-2024*
https://nasional.kompas.com/read/2018/03/15/18385161/puan-maharani-pembangunan-sdm-program-besar-jokowi-pada-periode-kedua

Demikianlah disampaikan kiranya InPres termaksud diatas dapat diluncurkan menjelang peringatan Hari Sumpah Pemuda 28 Oktober 2018 yang akan datang.

Jakarta, 21 September 2018

Salam Indonesia Maju,

Pandji R Hadinoto
Ketua GPA45/DHD45 Jakarta
http://www.jakarta45.wordpress.com

Rumah Proklamasi dan “Celana Dalam” Bung Karno – koransulindo.com/rumah-proklama… pic.twitter.com/FtpIc05AmtRumah Proklamasi dan “Celana Dalam” Bung Karno – koransulindo.com/rumah-proklama… pic.twitter.com/FtpIc05Amt

https://chirpstory.com/li/386873

Rumah Proklamasi 01

Koran Sulindo – Mengapa Bung Karno memutuskan bekas kediamannya di Jalan Pegangsaan Timur No, 56, yang menjadi tempat upacara proklamasi kemerdekaan Indonesia, 17 Agustus 1945, dibongkar di tahun 1964?

Pertanyaan itu diajukan seorang peserta diskusi bertajuk “Hikayat Sebuah Jalan: Pegangsaan Timur” dalam Kancah Revolusi, dua pekan lalu. Menurut sejarawan Dr. dr. Rushdy Hoesein, yang sudah hampir 30 tahun melakukan riset tentang “Rumah Proklamasi” dan memperjuangkan pembangunan kembali situs bersejarah tersebut, hanya ada satu catatan menarik terkait pembongkaran rumah itu.

Suatu kali, dr. Suharto—dokter pribadi Bung Karno—mengajukan keberatan soal rencana pembongkaran rumah itu. Mendengar keberatan itu, Bung Karno berkata: “Apakah kamu akan memamerkan celana dalamku di situ?”

Apa yang dimaksud Bung Karno dengan “celana dalam” tersebut?

Dalam diskusi itu saya sempat memberikan jawaban spekulatif berdasarkan pengetahuan yang saya punya. Bisa jadi yang dimaksud “celana dalam” oleh Bung Karno itu, kemunkingnan besar adalah kepahitan hidup yang mendera Bung Karno selama menempati rumah tersebut.

Lantas, apa saja kepahitan hidup Bung Karno itu?

Saya akan memulai dengan cuplikan dari buku Proklamasi, karya Osa Kurniawan Ilham, juga dari buku saya: Riwu ga, 14 tahun Mengawal Bung Karno.

Setelah meninggalkan Bengkulu, Bung Karno bersama Bu Inggit dan para anak angkatnya, menetap sebentar di Palembang. Setelah dengan susah payah Bung Karno meninggalkan Palembang, sesampainya di Jakarta, ia bersama keluarga kecilnya ditempatkan di Hotel Des Indes. Oleh Achmad Soebardjo, keluarga itu diusahakan menempati rumah di Jalan Diponegoro No. 11. Barulah kemudian menempati rumah di Jalan Pegangsaan Timur No. 56, milik seorang Arab bernama Faradj bin Said Awad Martak.

Yang berperan mengusahakan rumah di Jl. Pegangsaan No. 56 ini adalah Chaerul Basri, seorang pemuda yang sejak umur 8 tahun menjadi pengagum Bung Karno. Dia kemudian dari Padang ia pindah ke Jakarta untuk melanjutkan sekolah di AMS Jakarta. Kebetulan ia bersahabat dengan keponakan Husni Thamrin bernama Abdel Hassan. Dari situ ia dekat dengan tokoh-tokoh pergerakan dan membuat ia dikenal oleh Hitoshi Shimizu, pegawai Sendenbu, divisi propaganda Jepang, Gunseikanbu yang saat itu menjadi penggerak Gerakan Tiga A.

Ketika Bung Karno sudah mendarat di Jakarta, ia didekati oleh Shimizu untuk memimpin PUTERA dan Bung Karno menyatakan persetujuannya. Lalu pihak Jepang bermaksud menyediakan sebuah rumah dan mobil untuk Bung Karno. Shimizu lalu meminta tolong Chaerul Basri: “Orang muda, bisakah engkau mencarikan rumah untuk orang besar ini sambil menunjuk Bung Karno di sampingnya”. Bung Karno lalu menjelaskan tipe rumah yang diinginkan, yaitu rumah yang pekarangannya luas agar bisa menerima rakyat banyak.

Mendengar permintaan itu, Chaerul Basri sore itu juga berkeliling di wilayah Menteng, dengan berboncengan dengan sahabatnya Adel Sofian. Hasil observasinya, semua rumah di sekitar Taman Suropati Menteng sudah ditempati para pembesar Jepang. Ia pun berkeliling lagi. Sampai di Jl. Pegangsaan Timur, Basri dan Adel melihat sebuah rumah yang cocok sekali dengan yang diinginkan Bung Karno.

Keesokan harinya ia sudah melaporkan penemuannya ke Hitoshi Shimizu. Agar jelas, Hitoshi meminta Basri untuk menjelaskan sendiri kepada Bung Karno, melalui telepon dengan bahasa Indonesia. Mendengar penjelasan itu, Bung Karno langsung setuju.

Lantas, hari itu juga Basri dan Adel Sofian mendatangi rumah yang masih ditempati seorang perempuan Belanda, yang suaminya baru saja ditahan tentara Jepang. Mendengar permintaan Basri, sang nyonya rumah marah besar dan menolak untuk pindah, walau dijanjikan akan dipindahkan ke rumah yang lebih besar.

Basri lantas menyarankan kepada Hitoshi agar pengosongan rumah dilakukan oleh pihak Jepang. Hitoshi setuju, dan seminggu kemudian sang nyonya bersedia pindah ke sebuah rumah bertingkat di Jalan Lembang sebagai gantinya.

Demikian sejarahnya rumah itu ditempati Bung Karno bersama keluarga kecilnya yang terdiri dari Bung Karno, Ibu Inggit, Kartika, dan Riwu Ga. Kartika adalah anak angkat mereka yang dibawa dari Ende, sedang Riwu Ga adalah pemuda yang selama dalam pembuangan bekerja apa saja untuk membantu Bung Karno.

Dokter Soeharto, yang kemudian menjadi dokter pribadi Bung Karno, dan keluarga sebelumnya sudah akrab dengan rumah itu. Ketika masih belajar di Sekolah Tinggi Kedokteran (GHS – Geneeskundige Hoogeschool ) tahun 1928 dia mendapatkan beasiswa bulanan dari Tjandi Stichting, sebuah yayasan di Gravenhage, Belanda, yang begerak untuk melakukan kampanyek agar pemerintah Belanda secara bertahap memerdekaan Indonesia.

Kebetulan perwakilan di Batavia adalah Prof. F. M. Baron van Asbeck yang menempati rumah di Jalan Pegangsaan Timur itu. Prof. Asbeck adalah Guru Besar di Sekolah Tinggi Hukum. Tiap bulan dr. Soeharto pergi ke rumah itu untuk mengambil beasiswanya. Dr. Soeharto pun kemudian akrab dengan penghuni baru, Bung Karno dan keluarganya. Bahkan, ia ikut juga ke Dalath bersama Bung Karno, Bung Hatta, dan dokter Radjiman, untuk menerima janji kemerdekaan dari Jepang.

Setelah Presiden Soekarno dan Wakil Presiden Mohammad Hatta hijrah ke Yogyakarta, awal Januari 1946, “Rumah Proklamasi” dijadikan kantor Perdana Menteri Sjahrir. Disinilah, Sjahrir kerap memimpin rapat kabinetnya, serta menerima tamu.

Dibongkar Karena Kenangan Pahit?

Kisah dr. Soeharto dan Chaerul Basri diatas tidaklah cukup untuk menjawab, mengapa rumah bersejarah itu akhirnya dibongkar justru oleh Bung Karno sendiri. Meski mendapat tentangan dari berbagai kalangan saat itu, termasuk Walikota Jakarta Henk Ngantung, dr. Soeharto, dan sejumlah petinggi pemerintahan. Di lahan bekas “Rumah Proklamasi” itu kemudian dibangun Gedung Pola, dan kemudian juga Tugu Proklmasi.

Kartika (kini sudah berusia 90 tahun), anak angkat Bung Karno dan Bu Inggit dalam sebuah wawancara dengan saya, menceritakan: “Saya sudah terlelap tidur malam itu. Tiba2 kami dibangunkan . Sudah ada Bung Hatta, Kiyai Mas Mansyur, dan Ki Hadjar Dewantoro. Saya kaget ketika ditanya, mau ikut siapa, bapak atau Ibu. Maksudnya Bung Karno atau Ibu Inggit. Baru saya tahu, keduanya akan bercerai”.

Cerita Riwu Ga, juga seperti itu:

“Setelah Kartika, saya lalu dipanggil masuk. KH Mas Mansyur bertanya pada saya, “Riwu, kamu mau ikut siapa, Bapak atau Ibu?

Saya tertegun menunduk. Bibir saya berat. Bung Karno dan Ibu Inggit sama-sama menyayangi saya. Saya pun begitu, menyayangi keduanya. Tidak. Saya harus memilih salah satu, inilah pilihan yang paling sulit seumur hidup saya. Tiba-tiba muncul sebuah pikiran, entah itu dari mana, andaikan saya ikut ibu, siapa yang menjaga Bung Karno? Dia orang penting bagi bangsa ini yang perlu dijaga. Tapi saya tak mampu mengucapkannya sampai KH Mas Mansyur mengulangi pertanyaannya.

Saya mengangkat muka, memandang kiai itu lurus-lurus. Lalu, dengan berat hati saya katakan: “saya iku bapak saja.” Sungguh, saya tak berani memandang mata Ibu Inggit. Takut, ia menyangka saya lebih sayang pada Bung Karno. Tapi rupanya Ibu Ingit mengerti perasaan saya.

“Riwu,” kata Bu Inggit, “Jaga bapak baik-baik. Tapi kalau sempat, datang-datang menengok saya di Bandung ya,” pesannya. Hati saya hancur. Perempuanj sejati itu lalu berpaling kepada Bung Karno lalu berkata, “ Izinkan Riwu ke Bandung kalau dia ingin menjenguk saya. Juga kalau suatu saat saya butuh dia.”

Itulah saat terakhir kami berkumpul. Saya tak dapat menahan air mata. Tak terasa kenanganku melayang jauh. Jauh ke Ende saat-saat rumah tangga ini bahagia, jauh ke belantara Sumatra ketika bersama kami melintasi hutan yang penuh binatang buas itu, jauh ke atas perahu yang membawa kami mengarungi laut yang bergelora sampai ke Jakarta sini. Sampai ke rumah Pegangsaan ini. Kini, ternyata, semua itu saya lalui untuk menyaksikan suatu perpisahan yang menyakitkan begini”.

Dari kisah Riwu Ga dan Kartika tersebut, barangkali sedikit dapat memberi jawaban suasana hati Bung Karno, hingga akhirnya memutuskan untuk membongkar “Rumah Proklamasi”– tempat yang menyimpan kenangan pahit bagi dirinya.

Bersamaan dengan itu pula, berbagai kenangan tentang sejarah bangsa nan penting ikut terkuburkan. Kini, tugas kita sebagai anak bangsa, untuk menghidupkan lagi memori bangsa itu, hingga “Rumah Proklamasi” bisa dibangun kembali di lokasi yang asli.

Peter A. Rohi, wartawan senior

Faradj bin Said, Pemilik ‘Rumah Proklamasi’ yang Berjasa Bagi Indonesia

https://www.boombastis.com/faradj-bin-said/85313

Selama ini kita hanya tahu kalau proklamasi kemerdekaan yang diucapkan oleh Bung Karno berlangsung di Jalan Pegangsaan Timur no. 56. Selebihnya kita tidak tahu siapa gerangan pemilik dari rumah yang sangat bersejarah ini. Siapa empu rumah yang menjadi tempat tinggal Bung Karno hingga tanah dan bangunannya dihibahkan pada negara.

Beliau adalah Faradj bin Said bin Awad Martak. Pedagang Indonesia keturunan Arab ini mengizinkan rumahnya digunakan untuk upacara proklamasi. Bahkan, selama Bung Karno di sana, beliau memberikan pelayanan yang pria termasuk membantu menyembuhkan penyakit dari Bung Karno.

Berikut kisah dari Faradj bin Said yang jangan sampai dilupakan oleh sejarah. Berkat jasa beliau, proklamasi bisa dilakukan dengan lancar dan tanpa gangguan apa pun.
Sedikit Mengenal Faradj bin Said

Faradj bin Said adalah seorang pedagang yang cukup sukses di masa itu. Beliau lahir di Hadramaut lalu tumbuh dan akhirnya menetap di Indonesia dengan menjalankan sebuah perusahaan. Sebagai seorang pebisnis yang sukses, Faradj bin Said ternyata tidak lupa daratan. Beliau justru dikenal aktif berjuang untuk Indonesia dan membantu pejuang agar negeri ini segera merdeka.

Kekayaan yang dimiliki oleh Faradj bin Said ternyata dipergunakan dengan baik untuk negeri ini. Beliau tidak segan-segan memberikan sejumlah dana atau bahkan tanah kepada negeri ini agar cita-cita negeri ini bisa tercapai. Bagi Faradj bin Said, mengabdi untuk negeri ini adalah kewajiban di samping dia tetap bekerja sebagai seorang pebisnis yang andal.

Rumah Proklamasi yang Diberikan kepada Negara

Salah satu bentuk perjuangan dari seorang Faradj bin Said adalah pemberian rumahnya kepada para pejuang. Rumah di Pegangsaan Timur no.56 yang kita kenal baik sebagai lokasi dari proklamasi kemerdekaan adalah milik dari Fardj bin Said. Beliau mengizinkan Bung Karno tinggal di sana setelah peristiwa Rengasdengklok terjadi.

Dini hari sebelum proklamasi diadakan, Bung Karno dan golongan tua serta muda berkumpul di sini. Setelah naskah proklamasi dirumuskan, semuanya berkumpul dan menunggu saat yang tepat untuk melakukan proklamasi kemerdekaan. Semua orang datang ke sini meski sembunyi-sembunyi dari militer Jepang yang masih belum menerima kekalahannya dari sekutu.

Membantu Mengobati Penyakit Bung Karno

Sebelum proklamasi kemerdekaan akhirnya dikumandangkan, Bung Karno mengalami sakit yang cukup parah. Beliau mengidap beri-beri dan juga malaria. Dua penyakit ini menyebabkan tubuh dari proklamator ini terus lemas. Melihat Bung Karno yang cukup mengkhawatirkan, Faradj bin Said akhirnya memberikan Bung Karno sebuah madu yang sangat berkhasiat bernama sidr bahiyah.

Dengan madu yang sangat berkhasiat ini, kesehatan dari Bung Karno lambat laun membaik. Beliau mampu bertahan meski harus banyak tidur untuk memulihkan stamina. Oh ya, menurut dokter pribadi dari Bung Karno, penyembuhan yang dialami Bung Karno cukup signifikan berkat madu Faradj bin Said dan juga obat yang dia berikan.

Sahabat Baik Bung Karno yang Hobi Menghibahkan Tanah

Setelah kesehatannya membaik, Bung Karno akhirnya mampu mengumandangkan proklamasi kemerdekaan dengan baik. Di rumah yang dimiliki oleh Faradj bin Said, perubahan besar bagi negeri ini akhirnya berjalan dengan baik hingga Bung Karno memberikan ucapan terima kasih resmi kepada Faradj bin Said setelah menjadi presiden.

Setelah digunakan sebagai lokasi proklamasi kemerdekaan, rumah yang terletak di Jalan Pegangsaan Timur no. 56 diberikan kepada negara. Faradj bin Said menghibahkan rumah itu agar saksi sejarah itu bisa dikelola dengan baik oleh negara. Selain kediamannya, beliau juga pernah menghibahkan tanah dan membangun masjid besar Al-Azhar di Kebayoran Baru.

Faradj bin Said mungkin tidak seterkenal pahlawan-pahlawan yang berjuang untuk negeri ini. Namun, perjuangan yang diberikannya pada negeri ini tidaklah sedikit. Bahkan Bung Karno sampai mengagumi sosok pedagang pekerja keras ini.

Advertisements
20
Sep
18

MH Muthahar : Penegak Proklamasi Kemerdekaan Indonesia

Logo Bulat GPA45

PENEGAK PROKLAMASI KEMERDEKAAN INDONESIA

Berkerangka *JATIDIRI INDONESIA MERDEKA 1945* sbb

https://jakarta45.wordpress.com/2018/08/06/kenegarawanan-jatidiri-indonesia-merdeka-1945/amp/

Maka pada 19 September 2018 sebagai hari peringatan Penegakan Proklamasi Kemerdekaan Indonesia 19 September 1945 [Rapat Raksasa IKADA, Jakarta], kami Generasi Penerus 45 (GPA45) / DHD45 Jakarta turut memastikan bahwa almarhum *Mayor TNI AD (Purn) Muhammad Husein Muthahar* adalah berhak menyandang kehormatan sebagai PEJOANG45

Menimbang Profil Kepejoangan45 beliau sebagaimana

*MH Muthahar, Penyandang Bintang Gerilya dan Bintang Mahaputera, *

https://id.m.wikipedia.org/wiki/Husein_Mutahar

Mengingat *PRIMER45 Politik Roh Indonesia Merdeka 45*

https://jakarta45.wordpress.com/2016/05/17/30620/amp/

Memperhatikan *Keteladanan Bapak-bapak Pandu Indonesia*

https://nusantaranews.co/pembudayaan-keteladanan-pandu-indonesia%E2%80%8E-tentang-bapak-bapak-pandu-indonesia/

‎Demikianlah peluncuran Suara Warga45 ini dilakukan dengan iktikad baik guna memberikan pemahaman publik dan memotivasi Generasi Pejoang Milenial Indonesia serta sekaligus penghargaan kehormatan bagi tokoh generasi Penegak Proklamasi Kemerdekaan Indonesia.

Jakarta, 19 September 2018

Salam Joang45,

Pandji R Hadinoto
Ketua GPA45/DHD45 Jakarta
www‎.jakarta45.wordpress.com

Tembusan Yth. Rekan2 Alumni
1) Pandu Rakyat Indonesia, Jakarta1
2) Gerakan Pramuka, Gambir13

Habib Muhammad Husein Muthahar, Penyelamat Bendera Pusaka Sang Saka Merah Putih

http://www.elhooda.net/2015/08/habib-muhammad-husein-muthahar-penyelamat-bendera-pusaka-sang-saka-merah-putih/

HUT Kemerdekaan Republik Indonesia, 17 Agustus 2015, tinggal menghitung hari. Terkait HUT RI, ada satu hal yang menjadi momen “suci” bangsa Indonesia khususnya di saat detik-detik Proklamasi Kemerdekaan RI, yakni pengibaran bendera pusaka Sang Saka Merah Putih oleh Pasukan Pengibar Bendera Pusaka atau Paskibraka.

Sang Saka Merah Putih sebagai bendera pusaka ternyata mempunyai catatan sejarah yang cukup heroik sehingga harus diselamatkan dari penjajahan Belanda saat itu. Jika tidak, mungkin anak cucu keturunan bangsa Indonesia sekarang ini tidak dapat menyaksikan bendera pusaka sebagai salah satu bukti sejarah kemerdekaan Indonesia. Tahukah anda bahwa sang penyelamat bendera pusaka dari tangan penjajah saat itu adalah seorang habib, yang mempunyai darah pertalian keturunan dengan Sayyidina Rasulullah shollallohu ‘alaihi wa alihi wa shohbihi wa sallam?

Sayyidil Habib Muhammad Husein bin Salim bin Ahmad bin Salim bin Ahmad Al-Muthahar, beliau lah sang penyelamat bendera pusaka Sang Saka Merah Putih dari tangan penjajah. Tanpa jasa beliau, bangsa Indonesia sekarang mungkin sudah tidak dapat melihat lagi bendera pusaka yang dijahit oleh istri Presiden Soekarno, Ibu Fatmawati. Saat itu, Presiden Soekarno menugaskan Habib Muhammad Husein Muthahar yang berpangkat Mayor untuk menjaga dan menyelamatkan bendera pusaka dari tangan penjajahan Belanda meski harus dengan mengorbankan nyawanya. Amanah “menjaga bendera pusaka dengan nyawa” ini pun berhasil dilaksanakan sang Habib dengan penuh perjuangan.

KH Achmad Chalwani Nawawi, pengasuh Pondok Pesantren An-Nawawi Berjan, Gebang, Purworejo yang juga Mursyid Thariqah Qadiriyah wa Naqsyabandiyah menuturkan bahwa Habib Muhammad Husein Muthahar yang merupakan penyelamat bendera pusaka ini adalah paman dari Habib Umar Muthohar Semarang.

Ingin tahu kisah sang Habib dalam menyelamatkan bendera pusaka? Berikut adalah kisah selengkapnya tentang penyelamatan bendera pusaka oleh Habib Muhammad Husein Muthahar ini yang mesti diketahui oleh bangsa Indonesia khsusunya umat Islam agar tahu bagaimana perjuangan para pendahulu bangsa ini dalam mempertahankan kemerdekan Republik Indonesia.

KISAH HEROIK PENYELAMATAN BENDERA PUSAKA OLEH HABIB MUHAMMAD HUSEIN MUTHAHAR

Bendera Pusaka Sang Saka Merah Putih adalah sebutan bagi bendera Indonesia yang pertama. Bendera Pusaka dibuat dan dijahit oleh Ibu Fatmawati, istri Presiden Republik Indonesia pertama, Ir. Soekarno. Bendera pusaka untuk pertama kali berkibar pada Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia 17 Agustus 1945, di Jalan Pegangsaan Timur 56 Jakarta, setelah Soekarno membacakan Proklamasi Kemerdekaan Indonesia. Bendera dinaikkan pada tiang bambu oleh Pasukan Pengibar Bendera Pusaka (Paskibraka) yang dipimpin oleh Kapten Latief Hendraningrat. Setelah dinaikkan, lagu “Indonesia Raya” kemudian dinyanyikan secara bersama-sama.

Pada tahun pertama Revolusi Nasional Indonesia, Bendera Pusaka dikibarkan siang dan malam. Pada 4 Januari 1946, karena aksi teror yang dilakukan Belanda semakin meningkat, presiden dan wakil presiden Republik Indonesia dengan menggunakan kereta api meninggalkan Jakarta menuju Yogyakarta. Bendera pusaka dibawa ke Yogyakarta dan dimasukkan dalam koper pribadi Soekarno. Selanjutnya, ibukota dipindahkan ke Yogyakarta.

Tanggal 19 Desember 1948, Belanda melancarkan agresinya yang kedua yang membuat Presiden, wakil presiden dan beberapa pejabat tinggi Indonesia akhirnya ditawan Belanda. Di saat-saat genting dimana Istana Presiden Gedung Agung Yogyakarta dikepung oleh Belanda, Presiden Soe­karno sempat memanggil salah satu ajudannya berpangkat Mayor yang bernama Sayyidil Habib Muhammad Husein Muthahar, yang kemudian ditugaskan untuk menyelamatkan sang bendera pusaka. Penyelamatan bendera pusaka ini merupakan salah satu bagian “heroik” dari sejarah tetap berkibarnya Sang Merah putih di persada bumi Indonesia. Saat itu, Soe­karno berucap kepada Habib Husein Muthahar:

“Apa yang terjadi terhadap diriku, aku sendiri tidak tahu. Dengan ini aku memberikan tugas kepadamu pribadi. Dalam keadaan apapun juga, aku memerintahkan kepadamu untuk menjaga bendera kita dengan nyawamu. Ini tidak boleh jatuh ke tangan musuh. Di satu waktu, jika Tuhan mengizinkannya engkau mengembalikannya kepadaku sendiri dan tidak kepada siapa pun kecuali kepada orang yang menggantikanku sekiranya umurku pendek. Andaikata engkau gugur dalam menyelamatkan bendera ini, percayakanlah tugasmu kepada orang lain dan dia harus menyerahkannya ke tanganku sendiri sebagaimana engkau mengerjakannya.”

Di saat bom-bom berjatuhan dan tentara Belanda terus mengalir melalui setiap jalanan kota, Habib Husein Muthahar terdiam dan memejamkan matanya, berpikir dan berdoa. Amanah “menjaga bendera pusaka dengan nyawa” dirasakannya sebagai tanggungjawabnya yang sungguh berat. Setelah berpikir, Habib Husein Muthahar pun menemukan solusi pemecahan masalahnya. Sang Habib ini membagi bendera pusaka menjadi 2 bagian dengan mencabut benang jahitan yang menyatukan kedua bagian merah dan putih bendera itu. Dengan bantuan Ibu Perna Dinata, kedua carik kain merah dan putih itu berhasil dipisahkan. Oleh Habib Husein Muthahar, kain merah dan putih itu lalu diselipkan di dasar dua tas terpisah miliknya. Seluruh pakaian dan kelengkapan miliknya dijejalkan di atas kain merah dan putih itu. Sang Habib hanya bisa pasrah, dan menunggu apa yang akan terjadi selanjutnya. Yang ada dalam pemikiran Habib Husein Muthahar saat itu hanyalah satu, yakni bagaimana agar pihak Belanda tidak mengenali bendera merah-putih itu sebagai bendera, tapi ha­nya kain biasa, sehingga tidak melakukan penyitaan. Di mata seluruh bangsa Indonesia, bendera itu adalah sebuah “prasasti” yang mesti diselamatkan dan tidak boleh hilang dari jejak sejarah.

Benar, tak lama kemudian Presiden Soekarno ditangkap oleh Belanda dan diasingkan ke Prapat (kota kecil di pinggir danau Toba) sebelum dipindahkan ke Muntok, Bangka, sedangkan wakil presi­den Mohammad Hatta langsung dibawa ke Bangka. Habib Husein Muthahar dan beberapa staf kepresidenan juga akhirnya tertangkap dan diangkut dengan pesawat Dakota. Mereka dibawa ke Semarang dan ditahan di sana. Pada saat menjadi tahanan kota, Habib Husein Muthahar berhasil melarikan diri dengan naik kapal laut menuju Jakarta.

Di Jakarta Habib Husein Mutahar menginap di rumah Perdana Menteri Sutan Syahrir, yang sebelumnya tidak ikut mengungsi ke Yogyakarta. Beberapa hari kemudian, Habib Husein Muthahar indekost di Jalan Pegangsaan Timur 43, di rumah Bapak R. Said Soekanto Tjokrodiatmodjo (Kepala Kepolisian RI yang pertama). Selama di Jakarta Habib Husein Muthahar selalu mencari informasi dan cara, bagaimana bisa segera menyerahkan bendera pusa­ka kepada presiden Soekarno. Pada suatu pagi sekitar pertengahan bulan Juni 1948, akhirnya ia menerima pemberitahuan dari Sudjono yang tinggal di Oranje Boulevard (sekarang Jalan Diponegoro) Jakarta. Pemberitahuan itu menyebutkan bahwa ada surat dari Presiden Soekarno yang ditujukan kepadanya.

Sore harinya, surat itu diambil oleh Habib Husein Muthahar dan ternyata memang benar berasal dari Soekarno pribadi. Isinya sebuah perintah agar ia segera menyerahkan kembali bendera pusaka yang dibawanya dari Yogya kepada Sudjono, agar dapat diba­wa ke Bangka. Soekarno sengaja tidak memerintahkan Habib Husein Muthahar sendiri datang ke Bang­ka dan menyerahkan bendera pusaka itu langsung kepadanya. Dengan cara yang taktis, ia menggunakan Soedjono sebagai perantara untuk menjaga kerahasiaan perjalanan bendera pusaka dari Jakarta ke Bangka. Itu tak lain karena dalam pengasingan, Soekarno hanya boleh dikunjungi oleh anggota delegasi Republik Indonesia dalam perundingan dengan Belanda di bawah pengawasan UNCI (United Na­tions Committee for Indonesia). Dan Sudjono adalah salah satu anggota delegasi itu, sedangkan Habib Husein Muthahar bukan.

Setelah mengetahui tanggal keberangkatan Soedjono ke Bangka, Habib Husein Muthahar berupaya menyatukan kembali kedua helai kain merah dan putih dengan meminjam mesin jahit tangan milik seorang istri dokter yang ia sendiri lupa namanya. Bendera pusaka yang tadinya terpisah dijahitnya persis mengikuti lubang bekas jahitan tangan Ibu Fatmawati. Tetapi sayang, meski dilakukan dengan hati-hati, tak urung terjadi juga kesalahan jahit sekitar 2 cm dari ujungnya. Dengan dibungkus kertas koran agar tidak mencurigakan, selanjutnya bendera pusaka diberikan Habib Husein Muthahar kepada Soedjono untuk diserahkan sendiri kepada Presiden Soekarno. Hal ini sesuai dengan perjanjian Soekarno dengan Habib Husein Muthahar sewaktu di Yogyakarta. Dengan diserahkannya bendera pusaka kepada orang yang diperintahkan Soekarno maka selesailah tugas penyelamatan yang dilakukan Habib Husein Muthahar. Sejak itu, Sang Habib tidak lagi menangani masalah pengibaran bendera pusaka.

Habib Muhammad Husein Muthahar Sang Penyelamat Bendera PusakaTanggal 6 Juli 1949, Presiden Soekarno dan Wakil Presiden Mohammad Hatta kembali ke Yogyakarta dari Bangka dengan membawa serta bendera pusaka. Tanggal 17 Agustus 1949, bendera pusaka dikibarkan lagi di halaman Istana Presiden Gedung Agung Yogyakarta. Pada 27 Desember 1949, naskah pengakuan kedaulatan lndo­nesia ditandatangani dan sehari setelah itu Soekarno kembali ke Jakarta untuk memangku jabatan Presiden Republik Indonesia Serikat (RIS). Setelah empat tahun ditinggalkan, Jakarta pun kembali menjadi ibukota Republik Indonesia. Hari itu juga, bendera pusaka dibawa kembali ke Jakarta. Dan untuk pertama kalinya setelah Prok­lamasi Kemerdekaan Indonesia, bendera pusaka Sang Saka Merah Putih kembali berkibar di Jakarta pada peringatan Detik-detik Proklamasi 17 Agustus 1950. Karena kerapuhan bendera pusaka, sejak tahun 1968, bendera yang dinaikkan di Istana Negara adalah replika yang terbuat dari sutra.

Pada tahun 1968, Habib Muhammad Husein Muthahar membentuk organisasi mahasiswa Pasukan Pengibar Bendera Pusaka, atau Paskibraka (Bendera Pusaka Flag Hoisting Troop). Paskibraka inilah yang nantinya akan selalu bertugas sebagai pasukan pengibar bendera pusaka pada setiap upacara HUT Kemerdekaan Republik Indonesia hingga sekarang. Selain membentuk Paskibraka, beliau pun menyusun tata cara pengibaran bendera pusaka. Atas jasanya ini, beliau mendapat julukan Bapak Paskibraka Indonesia.

SANG KOMPONIS LAGU INDONESIA YANG FENOMENAL, HARI MERDEKA, DAN HYMNE SYUKUR

Habib Muhammad Husein Muthahar tidak hanya dikenal sebagai penyelamat bendera pusaka dan pendiri Paskibraka saja tetapi beliau juga seorang komponis lagu Indonesia yang hebat. Habib yang dikenal dengan nama H. Mutahar ini telah menghasilkan ratusan lagu Indonesia, seperti lagu nasional Hari Merdeka, Hymne Syukur, Hymne Pramuka, Dirgayahu Indonesiaku, juga lagu anak-anak seperti Gembira, Tepuk Tangan Silang-silang, Mari Tepuk, dan lain-lain.

Lagu Hari Merdeka dan Hymne Syukur adalah salah satu lagu fenomenal yang diciptakan oleh Habib Muhammad Husein Muthahar. Terkait penciptaan lagu Hari Merdeka, ada satu cerita yang menarik. Ternyata inspirasi lagu Hari Merdeka ini muncul secara tiba-tiba saat beliau sedang berada di toilet salah satu hotel di Yogyakarta. Bagi seorang komponis, setiap inspirasi tidak boleh dibiarkan lewat begitu saja. Beliau pun cepat-cepat meminta bantuan Pak Hoegeng Imam Santoso (Kapolri pada 1968 –1971). Saat itu Pak Hoegeng belum menjadi Kapolri. Sang Habib menyuruh Pak Hoegeng untuk mengambilkan kertas dan bolpoin. Berkat bantuan Pak Hoegeng, akhirnya jadilah sebuah lagu yang kemudian diberi judul “Hari Merdeka”. Sebuah lagu yang sangat fenomenal dan sangat terkenal yang banyak dinyanyikan oleh bangsa Indonesia, bahkan anak-anak pun sangat hafal dan pandai menyanyikannya.

Berikut lirik lagu Hari Merdeka ciptaan Habib Muhammad Husein Muthahar:

Hari Merdeka

Your browser does not support the audio element.

Tujuh belas agustus tahun empat lima
Itulah hari kemerdekaan kita
Hari merdeka nusa dan bangsa
Hari lahirnya bangsa Indonesia
Merdeka

Sekali merdeka tetap merdeka
Selama hayat masih di kandung badan
Kita tetap setia tetap sedia
Mempertahankan Indonesia
Kita tetap setia tetap sedia
Membela negara kita

Selain “Hari Merdeka”, lagu berikut juga menjadi karya fenomenal beliau. Judulnya “Syukur”. Lagu ini tercipta setelah menyaksikan banyak warga Semarang, kota kelahirannya, bisa bertahan hidup dengan hanya memakan bekicot. Berikut lirik lagunya:

Dari yakinku teguh
Hati ikhlasku penuh
Akan karuniamu
Tanah air pusaka
Indonesia merdeka
Syukur aku sembahkan
Kehadiratmu Tuhan

Dan masih banyak lagi karya fenomenal beliau yang lainnya.

Habib Muhammad Husein Muthahar meninggal dunia di Jakarta pada usia hampir 88 tahun, pada 9 Juni 2004 akibat sakit tua. Semestinya beliau berhak dimakamkan di Taman Makam Pahlawan (TMP) Kalibata dengan upacara kenegaraan sebagaimana penghargaan yang lazim diberikan kepada para pahlawan. Tetapi, beliau tidak menginginkan itu. Sesuai dengan wasiat beliau, pada 9 Juni 2004 beliau dimakamkan sebagai rakyat biasa di Tempat Pemakaman Umum (TPU) Jeruk Purut Jakarta Selatan dengan tata cara Islam.

Allahu yarhamhu, semoga Allah senantiasa melimpahkan rahmat (kasih sayang) kepada beliau, Sayyidil Habib Muhammad Husein Muthahar. Semoga jasa dan perjuangan beliau untuk Tanah Air Indonesia dibalas dengan surga dan keridhaan Allah subhanahu wa ta’ala. Semoga pula beliau tercatat sebagai pejuang yang syahid. Amin Ya Robbal ‘Alamin, Alfatihah….

DIRGAHAYU REPUBLIK INDONESIA KE-70, JAYALAH NEGERIKU JAYALAH BANGSAKU
17 AGUSTUS 1945 – 17 AGUSTUS 2015

(Berbagai sumber)
Tulisan berjudul Habib Muhammad Husein Muthahar, Penyelamat Bendera Pusaka Sang Saka Merah Putih terakhir diperbaharui pada Wednesday 12 August 2015 oleh Pejuang Ahlussunnah di Ngaji Yuk! – Kajian Ceramah Islam Ahlussunnah wal Jamaah.

Cucu Rasulullah SAW Ini Pendiri Paskibraka dan Penyelamat Merah Putih

https://www.eramuslim.com/berita/tahukah-anda/bapak-paskibraka-bapak-pramuka-indonesia-dan-pencipta-lagu-17-agustus-adalah-seorang-habib.htm

Eramuslim.com – 17 Agustus tahun 45 ! Itulah Hari Kemerdekaan kita. Hari Merdeka, nusa dan bangsa. Hari lahirnya Bangsa Indonesia… Mer. De. Ka ! ( Hari Merdeka, Ciptaan H. Mutahar)

Perayaan Hari Kemerdekaan, di Istana Negara dan di mana-mana, tidak akan pernah terlepas dari menyanyikan lagu 17 Agustus. Penciptanya sampai saat ini kita cuma mengenal sebagai H. Muthahar. Padahal, nama panjang beliau adalah Habib Haji Muthahar. Inilah fakta-fakta tentang Habib Muthahar yang tidak banyak diketahui orang:
1. TERNYATA SEORANG HABIB

Nama pencipta lagu 17 Agustus sering disingkat sebagai H. Mutahhar, yang merupakan kepanjangan dari Habib Husin Mutahhar. Beliau lahir di Semarang pada 5 Agustus 1916. habib secara bahasa berarti keturunan Rasulullah yang dicinta. Diakui sebagai seorang habib berarti H. Mutahhar memiliki kematangan dalam hal umur, memiliki ilmu yang luas, mengamalkan ilmu yang dimiliki, ikhlas terhadap apapun, wara atau berhati-hati serta bertakwa kepada Allah.

Dan yang paling penting, lanjutnya, adalah akhlak yang baik. Sebab, bagaimanapun keteladanan akan dilihat orang lain. Seseorang akan menjadi habib atau dicintai orang kalau mempunyai keteladanan yang baik dalam tingkah lakunya.
2. SEORANG PEJUANG

Sebagai pemuda pejuang, H. Mutahar juga ikut dalam “Pertempuran Lima Hari” yang heroik di Semarang.

Pertempuran lima hari di Semarang adalah serangkaian pertempuran antara rakyat Indonesia di Semarang melawan tentara Jepang pada masa transisi kekuasaan setelah Belanda yang terjadi sejak tanggal 15 Oktober 1945 sampai dengan tanggal 20 Oktober 1945. Dua penyebab utama pertempuran ini adalah karena larinya tentara Jepang dan tewasnya dr. Kariadi . Nama dr. Kariadi, yang gugur dalam pertempuran tersebut kemudian diabadikan menjadi salah satu nama Rumah Sakit di Semarang.
3. PERNAH JADI “SOPIR” BUNG KARNO

Ketika pusat pemerintah Indonesia hijrah ke Yogyakarta, H. Muntahar pernah diajak Laksamana Muda Mohammad Nazir yang ketika itu menjadi Panglima Angkatan Laut sebagai sekretaris panglima. Beliau diberi pangkat kapten angkatan laut.

Ketika mendampingi Nazir itulah Bung Karno kemudian mengingat Mutahar sebagai “sopir” yang mengemudikan mobilnya di Semarang, beberapa hari setelah “Pertempuran Lima Hari.”

H. Mutahar kemudian “diminta” oleh Bung Karno dari Nazir untuk dijadikan ajudan, dengan pangkat mayor angkatan darat.
4. PENDIRI GERAKAN PRAMUKA DAN PASKIBRAKA

H. Mutahar aktif dalam kegiatan kepanduan. Ia adalah salah seorang tokoh utama Pandu Rakyat Indonesia, gerakan kepanduan independen yang berhaluan nasionalis.

Ketika seluruh gerakan kepanduan dilebur menjadi Gerakan Pramuka, Mutahar juga menjadi tokoh di dalamnya. Namanya juga terkait dalam mendirikan dan membina Pasukan Pengibar Bendera Pusaka (Paskibraka), tim yang beranggotakan pelajar dari berbagai penjuru Indonesia yang bertugas mengibarkan Bendera Pusaka dalam upacara peringatan Hari Kemerdekaan RI.

5. BANYAK MENCIPTAKAN LAGU

17 Agustus cuma salah satu lagu dari ratusan lagu yang beliau ciptakan. Lagu – lagu lain yang juga beliau ciptakan antara lain Syukur dan Hymne Satya Darma Pramuka.
6. KISAH HEROIK MENYELAMATKAN BENDERA PUSAKA

Tanggal 19 Desember 1948, Belanda melancarkan agresi militernya yang kedua. Presiden, wakil presiden dan beberapa pejabat tinggi Indonesia akhirnya ditawan Belanda.

Namun, pada saat-saat genting dimana Istana Presiden Gedung Agung Yogyakarta dikepung oleh Belanda, Soe­karno sempat memanggil H. Mutahar, yang saat itu merupakan ajudannya. Beliau lalu ditugaskan untuk untuk menyelamatkan bendera pusaka. Penyelamatan bendera pusaka ini merupakan salah satu bagian “heroik” dari sejarah tetap berkibarnya Sang Merah putih di persada bumi Indonesia.

Sementara di sekeliling mereka bom berjatuhan dan tentara Belanda terus mengalir melalui setiap jalanan kota, Mutahar terdiam. Ia memejamkan mataya dan berdoa, Tanggungjawabnya terasa sungguh berat. Akhirnya, ia berhasil memecahkan kesulitan dengan mencabut benang jahitan yang menyatukan kedua bagian merah dan putih bendera itu.

Dengan bantuan Ibu Perna Dinata, kedua carik kain merah dan putih itu berhasil dipisahkan. Oleh Mutahar, kain merah dan putih itu lalu diselipkan di dasar dua tas terpisah miliknya. Seluruh pakaian dan kelengkapan miliknya dijejalkan di atas kain merah dan putih itu. Ia hanya bisa pasrah, dan menunggu apa yang akan terjadi selanjutnya.

Yang ada dalam pemikiran Mutahar saat itu hanyalah satu: bagaimana agar pihak Belanda tidak mengenali bendera merah-putih itu sebagai bendera, tapi ha­nya kain biasa, sehingga tidak melakukan penyitaan. Di mata seluruh bangsa Indonesia, bendera itu adalah sebuah “prasasti” yang mesti diselamatkan dan tidak boleh hilang dari jejak sejarah.

Benar, tak lama kemudian Presiden Soekarno ditangkap oleh Belanda dan diasingkan ke Parapat (kota kecil di pinggir danau Toba) sebelum dipindahkan ke Muntok, Bangka, sedangkan wakil presi­den Mohammad Hatta langsung dibawa ke Bangka. Mutahar dan beberapa staf kepresidenan juga ditangkap dan diangkut dengan pesawat Dakota. Ternyata mereka dibawa ke Semarang dan ditahan di sana. Pada saat menjadi tahanan kota, Mutahar berhasil melarikan diri dengan naik kapal laut menuju Jakarta.

Di Jakarta Mutahar menginap di rumah Perdana Menteri Sutan Syahrir, yang sebelumnya tidak ikut mengungsi ke Yogyakarta. Beberapa hari kemudian, ia kost di Jalan Pegangsaan Timur 43, di rumah Bapak R. Said Soekanto Tjokrodiatmodjo (Kepala Kepolisian RI yang pertama)

Selama di Jakarta, Mutahar selalu mencari informasi dan cara, bagaimana bisa segera menyerahkan bendera pusa­ka kepada presiden Soekarno. Pada suatu pagi sekitar pertengahan bulan Juni 1948, akhirnya ia menerima pemberitahuan dari Sudjono yang tinggal di Oranje Boulevard (sekarang Jalan Diponegoro) Jakarta. Pemberitahuan itu menyebutkan bahwa ada surat dari Presiden Soekarno yang ditujukan kepadanya.

Sore harinya, surat itu diambil Mutahar dan ternyata memang benar berasal dari Soekarno pribadi. Isinya sebuah perintah agar ia segera menyerahkan kembali bendera pusaka yang dibawanya dari Yogya kepada Sudjono, agar dapat diba­wa ke Bangka. Bung Karno sengaja tidak memerintahkan Mutahar sendiri datang ke Bang­ka dan menyerahkan bendera pusaka itu langsung kepadanya. Dengan cara yang taktis, ia menggunakan Soedjono sebagai perantara untuk menjaga kerahasiaan perjalanan bendera pusaka dari Jakarta ke Bangka.

Itu tak lain karena dalam pengasingan, Bung Karno hanya boleh dikunjungi oleh anggota delegasi Republik Indonesia dalam perundingan dengan Belanda di bawah pengawasan UNCI (United Na­tions Committee for Indonesia). Dan Sudjono adalah salah satu anggota delegasi itu, sedangkan Mutahar bukan.

Setelah mengetahui tanggal keberangkatan Soedjono ke Bangka, Mutahar berupaya menyatukan kembali kedua helai kain merah dan putih dengan meminjam mesin jahit tangan milik seorang istri dokter yang ia sendiri lupa namanya. Bendera pusaka yang tadinya terpisah dijahitnya persis mengikuti lubang bekas jahitan tangan Ibu Fatmawati. Tetapi sayang, meski dilakukan dengan hati-hati, tak urung terjadi juga kesalahan jahit sekitar 2 cm dari ujungnya.

Dengan dibungkus kertas koran agar tidak mencurigakan, selanjutnya bendera pusaka diberikan Mutahar kepada Soedjono untuk diserahkan sendiri kepada Bung Karno. Hal ini sesuai dengan perjanjian Bung Karno dengan Mutahar sewaktu di Yogyakarta. Dengan diserahkannya bendera pusaka kepada orang yang diperintahkan Bung Karno maka selesailah tugas penyelamatan yang dilakukan Husein Mutahar. Sejak itu, sang ajudan tidak lagi menangani masalah pengibaran bendera pusaka.

Tanggal 6 Juli 1949, Presiden Soekarno dan Wakil Presiden Mohammad Hatta kembali ke Yogyakarta dari Bangka dengan membawa serta bendera pusaka. Tanggal 17 Agustus 1949, bendera pusaka dikibarkan lagi di halaman Istana Presiden Gedung Agung Yogyakarta.

Sungguh sebuah kisah heroisme dari seorang H. Mutahar.

7. PERNAH JADI DUTABESAR RI UNTUK VATIKAN

H. Mutahar Diangkat menjadi Duta Besar Republik Indonesia pada Tahta Suci di Vatikan, 1969-1973.
8. MEMILIH TIDAK DIMAKAMKAN DI TAMAN MAKAM PAHLAWAN

Husein Mutahar yang penuh kisah inspirasi ini kemudian meninggal dunia pada tanggal 9 Juni 2004 pada usia 87 tahun. Walaupun beliau berhak dimakamkan di Makam Taman Pahlawan Kalibata karena memiliki Tanda Kehormatan Negara Bintang Mahaputera atas jasanya menyelamatkan Bendera Pusaka Merah Putih dan juga memiliki Bintang Gerilya atas jasanya ikut berperang gerilya pada tahun 1948 – 1949, namun beliau menolak dan memilih untuk dimakamkan di TPU Jeruk Purut Jakarta Selatan.

9. TIDAK SUKA DIFOTO

Di dekat jenazah beliau, diletakkan sebuah foto berwarna berukuran besar H. Mutahar dalam seragam Pramuka, lengkap dengan tanda jasa Bintang Gerilya dan Bintang Mahaputra, serta tanda kemahiran Pramuka sebagai pembina bertaraf internasional. Foto itu baru diambil dua minggu yang lalu oleh cucunya, dengan kamera digital pinjaman.

Foto itu sendiri merupakan firasat besar. Beliau tidak pernah suka dipotret. Ia selalu mencari alasan untuk pergi setiap kali melihat orang bersiap membuat potret. Tiba-tiba ia ingin dipotret dengan berbagai atribut.

Sungguh sebuah kisah besar dari salah satu pejuang inspiratif republik ini. Saya yakin kamu pun banyak belum tahu tentang cerita – cerita yang saya sajikan ini kan ?

Saya pun awalnya begitu, ketika melakukan riset untuk menulis artikel ini. Sungguh tidak pernah tahu bahwa pencipta lagu yang karyanya kita nyanyikan saban tahun ini, memiliki kisah hidup yang luar biasa. Kisah orang biasa yang telah membaktikan seluruh hidupnya untuk bangsa dan negara Indonesia.

Semoga kita semua, terutama saya mampu meneladani beliau.

Sumber Informasi :

Sayyid Habib Husin Al Muthahar, pencipta lagu 17 Agustus dan lagu kemerdekaan lainya, adalah juga salah satu pendiri Gerakan Pramuka

http://www.republika.co.id/berita/nasional/umum/14/10/11/nd9vk0-salah-kaprah-sebutan-habib-di-masyarakat

Sayid Husein Mutahar Sang Penyelamat Bendera Pusaka

http://www.kompasiana.com/nanda_mulyana/mari-mengenang-h-mutahar_552877a8f17e610d528b4571

(kl/blog.rumahsinau.org)

25
Aug
18

SARUSUN : Asosiasi Pemilik PPJB

Logo Jakarta45

Suara Peduli Sarusun

‎ASOSIASI PEMILIK PPJB (AP3JB) SARUSUN

Kepada Yth Pemangku Kebijakan Satuan Rumah Susun Indonesia

Dalam rangka peningkatan rasa aman bagi para Pemilik PPJB dan pembinaan komunikasi struktural terbaik dengan pihak Penjual/Pengembang, maka AP3JB dirasakan perlu diakomodasi terbentuk serta merta ‎berdasarkan alasan

‎1) Memenuhi ketentuan ‎ UU 20/2011 tentang Rumah Susun : Pasal 74 (1) Pemilik sarusun wajib membentuk PPPSRS, (2) PPPSRS beranggotakan pemilik atau penghuni yang mendapat kuasa dari pemilik sarusun, (3) PPPSRS diberi kedudukan sebagai *badan hukum berdasarkan undang undang ini*; ‎‎

‎2) Menimbang ‎perlu dipahami bahwa di rumah susun ada fasilitas umum yang harus disediakan dan yang fasos fasum yang diserahkan kepada pemda sesuai dengan SIPPT. Terkait fasilitas yang disediakan yang menjadi benda dan bagian bersama yang tercantum dalam SIPPT/IPPT. ini perlu *dikomunikasikan dengan pengembang apakah fasilitas yang disediakan tersebut apa saja mungkin saja yang warga inginkan sudah ada dalam SIPPT*.

3) Mengingat bahwa bilamana terjadi situasi dan kondisi Pembentukan panitia musyawarah tidak dapat diselenggarakan maksimal 1 (satu) tahun sejak penyerahan sarusun milik pertama [ Pasal 7 (2) Peraturan Menteri Negara Perumahan Rakyat Nomor 15/PERMEN/M/2007] akibat keterlambatan proses pengurusan perijinan oleh Penjual/Pengembang menuju AJB sebagai prasyarat perolehan Sertifikat Hak Milik Atas Satuan Rumah Susun (SHMASRS)

4) Memperhatikan bahwa baik Panitia Musyawarah (PaMus) maupun Perhimpunan Pemilik Penghuni Satuan Rumah Susun (P3SRS) baru dapat diprakarsai setelah ada 51% Pemilik SHMASRS

5) Memantapkan Perumusan AD/ART P3SRS sedini mungkin

6) Memastikan peran serta Pemilik PPJB turut serta dalam pembentukan kebijakan-kebijakan pokok operasi dan pemeliharaan yang bermutu, struktural dan akuntabel

7) Mencatat‎ pula bahwa‎ Peraturan Pemerintah turunan dari UU 20/2011 masih sedang berproses

Jakarta, 23 Agustus 2018

‎Salam Indonesia Maju,

DR Ir Pandji R Hadinoto, MH
InfraWatch Indonesia
http://www.jakarta45.wordpress.com

Catatan :
PPJB Perjanjian Pengikatan Jual Beli
AJB Akta Jual Beli

20
Aug
18

Kenegarawanan : InPreskan Politik Kesejahteraan Sosial Bab XIV UUD 1945 Asli

Logo MABINDO

Suara Warga45‎

*INPRESKAN POLITIK KESEJAHTERAAN SOSIAL BAB XIV UUD 1945 ASLI*

Kepada Yth Bapak Presiden Republik Indonesia,

Pertama-tama disampaikan penghargaan setinggi-tingginya atas suksesnya acara Pembukaan Asian Games XVIII bersama 45 kontingen negara Energy of Asia pada sore hari 18 Agustus 2018, dan lebih lanjut

Menimbang‎ strategiknya Energy of Indonesia per

*Jatidiri Indonesia Merdeka 1945*

https://jakarta45.wordpress.com/2018/08/06/kenegarawanan-jatidiri-indonesia-merdeka-1945/amp/

Maka menurut hemat kami, Instruksi Presiden (InPres) tentang Politik Kesejahteraan Sosial Bab XIV UUD 1945 Asli berdasarkan KepPres 150/1959 dan KepPres 18/2008 kini mutlak dibutuhkan guna membangun satu tumpuan/platform bersama yang struktural dan mantap bagi perlombaan adu konsep terapan Ekonomi Umat dan Ekonomi Emak-emak‎ di ajang kontestasi PilPres 2019 yang akan datang.

Mengingat pula *Bersih, Merakyat, Kerja NYATA* adalah yang tertulis di baju putih Bapak JokoWi selaku Presiden RI 2014-19 dan sebagai CaPres 2019 pada 10 Agustus 2018,‎ sehingga layak kiranya bilamana *‎Instruksi Presiden (InPres)* sebagai perangkat Presidensial mengenai pelaksanaan suatu Keputusan Presiden (KepPres) yang memuat aturan-aturan teknis adalah seharusnya tepat jadi pilihan aplikasi *KepPres 150/1959* dan *KepPres 18/2008* merujuk KepPres sebagai perangkat Presidensial adalah Norma hukum yang bersifat konkret/NYATA, individual dan sekali selesai ‎serta secara umum bersifat mengatur.

Memperhatikan lebih lanjut bahwa

1) KepPres 150/1959, Dekrit Presiden Republik Indonesia/Panglima Tertinggi Angkatan Perang tentang Kembali Kepada Undang-Undang Dasar 1945

2) KepPres 18/2008 tentang Hari Konstitusi

Mencermati Sejarah Badan Keamanan Rakyat (BKR) yang dibentuk oleh Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) dalam Sidang 22 Agustus 1945 dan diumumkan oleh Presiden Soekarno 23 Agustus 1945 sebagaimana

http://www.hariansejarah.id/2016/11/badan-keamanan-rakyat-indonesia-bkr.html?m=1‎

Jelang Hari Idul Adha 22 Agustus 2018, MABINDO (Majelis Anak Bangsa Indonesia)‎ berharap kepada Presiden JokoWi beserta jajaran Pemerintahnya terdorong kesejarahan BKR yang mengedepankan Keamanan menjadi keteladanan tersendiri dalam turut membangun Rasa Aman dan Damai melalui penerbitan InPres termaksud diatas bagi penyelenggaraan Pemilu Serentak 2019 yang akan datang.

‎Jakarta, 19 Agustus 2018‎

Salam45 &
Tetap MERDEKA!‎

Pandji R Hadinoto
MABINDO
www‎.jakarta45.wordpress.com‎

Suara Warga45

*DIRGAHAYU HARI KONSTITUSI PRO PANCASILA 18818*

MERDEKA!

Menyimak ungkapan Bapak JokoWi 10 Agustus 2018 :
*di masa lalu Gedung Joang ini adalah tempat di mana para pejuang-pejuang politik kita Bung Karno, Bung Hatta, Adam Malik, semuanya digembleng dari sisi politiknya. Gedung Joang 45 ini mewakili semangat perjuangan para pemuda yang menyala untuk merebut dan mempertahankan kemerdekaan. Ini Gedung Joang kita pilih sebagai titik awal untuk memulai perjuangan untuk memenuhi dan mengisi kemerdekaan yang diperjuangkan pahlawan kita* maka terpujilah Anak-anak Bangsa Indonesia serukan bersama *Dirgahayu Hari KonstitusiPro Pancasila 18818* demi Kokohnya Ketahanan Nasional (KoTanNas)

Menimbang‎ *JATIDIRI INDONESIA MERDEKA 1945*

https://jakarta45.wordpress.com/2018/08/06/kenegarawanan-jatidiri-indonesia-merdeka-1945/amp/

Mengingat *PRIMER45 (Politik Roh Indonesia Merdeka 45)*

https://jakarta45.wordpress.com/2016/05/17/30620/amp/

Memperhatikan KepPres 150/1959 dan KepPres 18/2008 serta BRI Th II No 7, 1946 jo LNRI 75/1959

Mencermati‎ *Pergerakan Kebangsaan Pancasila Indonesia*
https://jakarta45.wordpress.com/2018/06/25/kenegarawanan-pergerakan-kebangsaan-pancasila-indonesia/

‎MABINDO (Majelis Anak Bangsa Indonesia) mengajak Anak-anak Bangsa Indonesia di seluruh belahan dunia untuk menegakkan bersama Konstitusi Pro Pancasila UUD 1945‎ Asli beserta kelengkapan Adendumnya yang sesuai kebutuhan menuju kearah Indonesia Raya 2045.

Jakarta, 18 Agustus 2018

Salam45 &
Tetap MERDEKA!

Pandji R Hadinoto
MABINDO
http://www.jakarta45.wordpress.com

*Warga45 Menghaturkan Dirgahayu*

*JATIDIRI INDONESIA MERDEKA 1945*

https://jakarta45.wordpress.com/2018/08/06/kenegarawanan-jatidiri-indonesia-merdeka-1945/amp/

Jakarta, *17 & 18 Agustus 2018*

Salam45 &
Tetap MERDEKA!

MABINDO,

Pandji R Hadinoto
GPA45/DHD45 Jakarta
http://www.jakarta45.wordpress.com

15
Aug
18

Kenegarawanan : Budaya Kepemimpinan 345

Logo MABINDO

Suara Warga45

*BUDAYA KEPEMIMPINAN 345*

Menyimak Sejarah Pendidikan Politik Kebangsaan Gedung Joang45 sebagaimana telah disinggung CaPres Jokowi 10 Agustus 2018 yang baru lalu‎, adalah memang benar kemudian menyemangati para Pemuda Menteng 31 untuk berkumpul ketika mendengar berita Jepang Takluk kepada Sekutu 14 Agustus 1945 guna mendorong Proklamasi Indonesia Merdeka 17 Agustus 1945.

Oleh karena itulah, jelang 17 Agustus 2018 ini perlu juga bagi Generasi Penerus 45 diberi muatan *Budaya Kepemimpinan 345* yakni :

1) *PRIMER45 (Politik Roh Indonesia Merdeka 45)*

https://jakarta45.wordpress.com/2016/05/17/30620/amp/

2) *45 Sifat Karakter Kebangsaan*
https://psma.kemdikbud.go.id/index/home/lib/files/pengumuman/Buku%20pemantapan%20polhukam.pdf‎

3) *45 Butir Pengamalan Pancasila*
https://jakarta45.wordpress.com/2012/07/24/ideologi-45-butir-pengamalan-pancasila/amp/

Menimbang *Politik Kemerdekaan Proklamasi Indonesia 17845*

http://sinarharapan.net/2017/03/politik-kemerdekaan-proklamasi-indonesia-17845/

Mengingat *Rekonstruksi Makna Kemerdekaan*

https://m.detik.com/news/kolom/3602297/sukarno-muhammad-dan-rekonstruksi-makna-kemerdekaan

Memperhatikan *Jatidiri INDONESIA Merdeka 1945*

https://www.google.com/search?q=jatidiri%20indonesia%20merdeka%201945

MABINDO (Majelis Anak Bangsa Indonesia) berharap kiranya *Budaya Kepemimpinan 345* ini juga bermanfaat bagi para kontestan dan konstituennya di ajang Pemilu Serentak 2019 yang akan datang.

Jakarta, 14 Agustus 2018

Salam45 & Tetap MERDEKA!

Pandji R Hadinoto
MABINDO
Wwww.jakarta45.wordpress.com

Gus Mus Harap “Budaya Jadi Panglima” dalam Kepemimpinan Indonesia Kontributor Magelang, Ika Fitriana Kompas.com – 05/11/2015, 03:43 WIB

https://nasional.kompas.com/read/2015/11/05/03430001/Gus.Mus.Harap.Budaya.Jadi.Panglima.dalam.Kepemimpinan.Indonesia

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul “Gus Mus Harap “Budaya Jadi Panglima” dalam Kepemimpinan Indonesia”, https://nasional.kompas.com/read/2015/11/05/03430001/Gus.Mus.Harap.Budaya.Jadi.Panglima.dalam.Kepemimpinan.Indonesia.
Penulis : Kontributor Magelang, Ika Fitriana

MAGELANG, KOMPAS.com – Tokoh agama sekaligus budayawan KH Ahmad Mustofa Bisri atau Gus Mus mengingatkan para pejabat-pejabat Indonesia untuk lebih dekat dengan kesenian. Sebab kesenian dapat menjadikan seseorang lebih lembut ditengah maraknya budaya saling “bully” saat ini. Hal tersebut dituturkan Gus Mus saat menghadiri pembukaan pameran lukisan “The People In 70 Years” di OHD Museum Kota Magelang, Jawa Tengah, Selasa (4/11/2015) malam. “Kesenian itu perlu sekali, apalagi sekarang hampir di media sosial kita temui macam-macam orang seperti apa. Bagaimana mereka berinteraksi dengan manusia lain, saling bertentangan, saling mem-bully, saling fitnah,” ujar Gus Mus. “Saya kira kalau seseorang dekat dengan kesenian, maka tidak akan seperti itu,” ujarnya. Gus Mus mengungkapkan kekagumannya terhadap presiden pertama RI, Soekarno, yang begitu mengapresiasi kesenian. Soekarno dinilai sebagai sosok pemimpin yang mau belajar kesenian dan mengenal baik dengan banyak seniman lukis Indonesia. Rais Syuriah PBNU ini memandang seni budaya di Indonesia tidak pernah menjadi sesuatu hal yang penting, berbeda dengan dengan politik dan ekonomi yang selalu duduk menjadi ‘panglima’ di negara ini. “Era presiden Soekarno ‘panglimanya’ politik, era Soeharto diganti ‘panglimanya’ ekonomi kapitalis, Soeharto lengser politik kembali jadi ‘panglima’. Ini ndak kreatif, kenapa tidak budaya yang jadi ‘panglima’?,” tuturnya. Lebih lanjut, pengasuh Pondok Pesantren Raudlatuh Tholibin, Leteh, Rembang ini mengatakan bahwa dunia seni rupa adalah dunia yang tidak pernah berubah meski waktu terus berjalan dan pelaku yang berbeda-beda. Seni rupa ‘istiqomah’ dalam membela dan berpihak pada rakyat. Sementara itu, dalam pameran lukisan yang bertajuk “Then People In 70 Years” itu sebanyak 150 karya seni rupa dari ratusan maestro seni rupa Indonesia dipamerkan. Misalnya, karya Affandi, S Sudjojono, Hendra Gunawan, Raden Saleh dan sebagainya. Seluruh lukisan tersebut merupakan hasil koleksi Oei Hong Djien (OHD) yang diseleksi oleh kurator Jim Supangkat. Mayoritas lukisan bertema tentang kemasyarakatan. “Perkembangan seni rupa Indonesia sejak awal abad ke-20 sampai kontemporer, tema kemasyarkatan relatif tidak pernah hilang,” kata Jim Supangkat. “Hal ini tergambar dari pameran ini yang menunjukkan keeratan hubungan antara perkembangan seni rupa Indonesia dengan sejarah Indonesia,” ujarnya. PenulisKontributor Magelang, Ika Fitriana EditorBayu Galih

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul “Gus Mus Harap “Budaya Jadi Panglima” dalam Kepemimpinan Indonesia”, https://nasional.kompas.com/read/2015/11/05/03430001/Gus.Mus.Harap.Budaya.Jadi.Panglima.dalam.Kepemimpinan.Indonesia.

Penulis : Kontributor Magelang, Ika Fitriana

Kebudayaan dalam Menerapkan Kepemimpinan

Setiap perusahaan memiliki kepimpinan berdasarkan kebudayaan. Hal ini tak terlepas dengan kebudayaan yang mencakupi sebagai aturan dalam membangun visi dan misi perusahaan. Kebudayaan sangat membingkai erat karena berkaitan dengan kebiasaan dan karakter, sehingga menciptakan sifat individu.

Sebagian perusahaan memiliki terminologi kepemimpinan dalam menerapkan nilai estetika kebudayaan tersendiri. Kepemimpinan berperan besar dalam mengemban misi bagi lembaga yang dilayaninya dan beroperasi berdasarkan budaya yang sudah terbentuk. Sistem kepemimpinan yang ada harus bertugas mengembangkan setiap kegiatan kerja menjadi lebih produktif dan membuat motivasi untuk meningkatkan prestasi kerja.

Jika berbicara dalam kebudayaan yang mempengaruhi kepemimpinan, dan berdasarkan penerapan sistem kerja, Asia Timur dan Asia Tenggara memiliki sistem kepemimpinan yang logistik terhadap bawahannya. Lain hanya dengan budaya Indonesia. Sistem kepemimpinan yang banyak dipakai adalah sistem kepemimpinan yang berdasarkan gaya kepemimpinan tokoh bangsa yaitu Ki Hajar Dewantoro yang berbunyi, “Ing Ngarso Sung Tulodho, Ing Madyo Mangun Karso, Tut Wuri Handayani.” Yang di depan harus menjadi teladan, di tengah harus mendukung dan di belakang harus mengikuti, merupakan salah satu gaya kepemimpinan dengan landasan budaya Indonesia. Tidak heran jika saat ini Indonesia menjadi negara berkembang dengan mengunakan sistem budaya dalam kepemimpinan.

Kepemimpinan sesuai dengan aturan main perusahaan akan menjadi budaya dalam sebuah management seperti.

Berfikir

Bertindak

Berulang

Kebiasaan

Budaya

KEPEMIMPINAN DALAM RAGAM BUDAYA, Part I
Posted on Januari 23, 2008 by hidayaters

Dalam penyelenggaraan pemerintahan sebuah negara di manapun di dunia, memerlukan adanya unsur pemimpin disamping unsur lain seperti wilayah dan rakyat yang dipimpin. Sejarah kemerdekaan Indonesia yang diproklamirkan 17 Agustus 1945 lalu, telah melalui perjuangan panjang bangsa yang telah mengorbankan jiwa dan raga yang besar untuk itu, karena selama 3,5 abad lebih bangsa penjajah selalu ingin kembali menjajah negara kita yang kaya raya dan indah.

Wilayah yang sangat strategis dan terbentang diantara dua benua dan dua lautan luas, terdiri dari 17.058 buah pulau besar dan kecil (data Bakorsurtanal) dan dihuni oleh lebih ratusan suku bangsa atau etnis yang tersebar diantara Sabang dan Merauke. Sedangkan dalam kehidupan rakyat Indonesia sehari hari memiliki berbagai ; agama dan adat istiadat atau budaya, bahasa daerah yang sangat beragam dan berbeda satu sama lain.

Jumlah penduduk saat ini mencapai 220 juta lebih dan merupakan Negara keempat terbesar penduduknya d dunia. Penduduk dengan masyarakatnya yang sangat heterogen yang mendiami sekita 6000 buah pulau. Di lain pihak penduduk yang begitu besar dan majemuk tersebut memerlukan pemimpin yang kuat dan tangguh serta berada ditengah tengah keberagaman diantara berbagai suku, ras, agama, adat istiadat dan kebiasaan sehari hari.

Dipihak lain dalam tujuan negera untuk mensejahteraan masyarakat adil dan makmur bagi seluruh rakyat Indonesia saat ini masih dalam perjalanan cukup panjang. Masalahnya memerlukan semangat dan keinginan seluruh rakyat atas kepemimpinan yang baik di dalam keberagaman budaya tersebut. Dari zaman kezaman terjadi perubahan yang terjadi dalam perjalanan kehidupan bernegara dan berbangsa tersebut.

Perubahan lingkungan yang strategik dunia yang tidak dapat dihindarkan akibat kemajuan teknologi dan informasi tidak terbendung, baik dibidang sosial, ekonomi dan politik serta kebudayaan. Perubahan tersebut sangat mempengaruhi kepemimpinan dan organisasi publik sebuah Negara termasuk Indonesia. Sejarah telah menunjukkan bahwa sejak kemerdekaan terjadi banyak perubahan sosial politik dan perekonomian dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Perubahan tersebut yang kita sayangkan adalah memperlambat pencapaian tujuan masyarakat adil dan makmur seperti tercantum dalam pembukaan UUD 1945.

Disinilah masalah kepemimpinan memegang peranan penting dalam pencapaian tujuan Negara tersebut di atas. Karena keuatan organisasi publik terletak pada beberapa kekuatan antara lain ; proses interaksi pada kekuatan hubungan pribadi/kelompok, mutu pola pikir serta kekuatan tata nilai (budaya) yang diterima oleh masyarakat dalam organisasi tersebut.

Pola pikir dan paradigma yang demikian terletak pada pemimpin dalam ragam budaya yang sangat mempunyai peran penting. Karena keragaman budaya dalam era tertentu mewarnai tata budaya, tata ekonomi, tata hukum, tata politik, setiap Negara. Didalam era globalisasi ini persaiangan akan semakin kuat dan bersifat regional dan global yang memerlukan kepemimpinan dalam keragaman budaya mercerminkan nilai nilai dan karakteristik ;

Mencerminkan diri dalam pribadi yang memiliki visi yang kuat.
Beroreantasi untuk menghasilkan kinerja organisasi yang bermutu tinggi.
Menyelaraskan pembagian konpensasi dengan tingkat kinerja.
Menciptakan mitra kerja atau kolaborasi dengan tingkat intensitas dan mutu yang tinggi atau kemampuan mengembangkan jaringan (networking).
Menekankan ketinggian etika kerja.
Kecermatan dalam perencanaan.

Dalam tujuan pembelajaran ini diharapkan tercapai pemahaman dan pengertian serta pelaksaaan masalah kepemimpinan yang tepat dalam keragaman dalam organisasi dan masyarakat Indonesia (budaya).

Pengertian Budaya
Kata Budaya dalam pengertian harfiah, sering diterjemahkan istilah bahasa Inggris yaitu Culture yang berasal dari bahasa Latin Colore yang berarti mengerjakan tanah, mengelola dan memelihara ladang (Soerjanto Puspowardoyo, 1993). Pengertian ini jelas berbau agraris pada masa tersebut dan kemudian diterapkan kedalam hal-hal yang bersifat rohani (Langeveld, 1993).

Oleh Ashley Montague dan Christopher Dawson (1993) mengartikan culture sebagai way of life atau cara hidup tertentu dengan memancarkan identitas suatu bangsa tertentu. Istilah culture ini sering diterjemahkan menjadi kebudayaan atau peradaban. Dalam bahasa Arab disebut akhlak atau budi dalam bahasa Indonesia.

The American Heritage Dictionary (Kotter dan Hescett 1992) mendefinisikan budaya sebagai keseluruhan dari pola perilaku yang dikirimkan meleluikehidupan sosial, seni, agama, kelembagaan dan segala hasil karya dan pemikiran manusia dari suatu kelompok manusia.

Istilah culture sering juga diterjemahkan menjadi kebudayaan atau peradaban atau budi dalam bahasa Arab disebut Akhlak. Budaya membuat orang-orang dalam etnis tertentu menjadikan kekhasan sendiri, seperti orang Jawa, orang Sunda, Orang Minang, Orang Melayu, dan lain-lain.

Ahli Belanda Geert Hofstede mengatakan bahwa budaya sebagai perangkat lunak (software) pikiran pemrogram sosial yang mengatur cara berfikir, bertindak dan mempersepsikan diri kita dari orang lain (Charles Mitcchel 2001)

Komponen–Komponen Budaya:

Bahasa adalah kata kata yang terucap atau tertulis sebagai alat komunikasi dalam melakukan interaksi diantara manusia. Komunikasi verbal, non verbal, gerak gerik, bahasa tubuh, expresi wajah yang semua itu menyatakan pesan tertentu.
Agama atau religi dalam budaya mempunyai pengaruh yang amat besar dalam melakukan berbagai kegiatan manusia. Dalam agama Islam sering muncul istilah Insya Allah yang mempunyai arti jika dikehendaki Tuhan. Demikian menunjukkkan kekuasaan Tuhan Yang Paling Tinggi disbanding manusia.
Sikap yang saling bertentangan. Nilai nilai budaya mempunyai dampak terhadap kegiatan pengelolaan pemerintahan dan pembangunan. Dua perbedaan nilai yang paling mendasar untuk dipertimbangkan adalah apakah suatu budaya menekankan pada individu seperti oleh bangsa Amerika contohnya. Atau kolektivisme seperti orang Cina dan lainnya. Nilai budaya tercermin dalam kehidupan sehari hari dalam kelompok (suku). Maka pemahaman budaya yang mendasar diantara kelompok ataupun suku akan sangat menimbulkan masalah, lebih lebih budaya/kebiasaan suatu kelompok bertentangan dengan kelompok lain. Dijumpai komponen lain seperti ; sopan santun, seni, pendidikan, humor, organisasi sosial

Dalam bahasa Indonesia istilah budaya berasal dari budi dan daya. Budi berarti akhlak, sedangkan daya berarti upaya atau usaha. Budaya merupakan upaya upaya manusia yang didasari atas budi yang luhur yang melahirkan konsep konsep bagaimana harusnya hidup (way of life) sehingga melahirkan adat istiadat, hukum, adab sopan santun, seni dan seterusnya sebagai pedoman hidup bermasyarakat.

Pengertian kebudayaan menurut DR.Muhammad Hatta adalah “Kebudayaan adalah ciptaan Hidup dari suatu bangsa“. Dan menurut Prof.Zoemulder Kebudayaan adalah perkembangan terpimpin oleh manusia budayawan dari kemungkinan kemungkinan tenaga tenaga dalam alam terutama alam manusia, sehingga merupakan kesatuan yang harmonis.

Kelompok Kebudayaan

Kebudayaan sebagai suatu system pengetahuan
Kebudayaan sebagai system makna thd symbol symbol.

Kebudayaan adalah sebagai keseluruhan pengetahuan yang dimiliki manusia sebagai makluk sosial, yang isinya adalah perangkat-perangkat, model-model pengetahuan yang secara selektif dapat digunakan untuk memahami dan menginterpretasikan lingkungan yang dihadapinya, serta untuk mendorong dan menciptakan tindakan tindakan yang diperlukan.

Perilaku terbentuk sebagai resultante atau totalitas dari kebutuhan individu, usaha untuk memenuhi kebutuhan tersebut dan pengetahuan kebudayaan (pengetahuan masa lalu) yang dimilikinya. Kemudian dijadikan acuan untuk bertindak mencapai tujuan.

Kebutuhan individu, Pengetahuan kebudayaan, Upaya untuk memenuhi kebutuhan akan mempengaruhi perilaku dalam ekosistem Sosial budaya (fisik dan non fisik).

Unsur Kebudayaan adalah ;

Sistem kepercayaan,
Sistem Bahasa,
Sistem Sosial,
Sistem Ilmu Pengetahuan dan Teknologi,
Sistem Perekonomian,
Sistem Kekerabatan,
Sistem Kesenian,
Sistem Kesehatan dan sebagainya

Perbedaan antar budaya

Bahasa sebagai alat komunikasi dalam pengalaman kelompok etnisnya.
Sikap terhadap waktu akan berbeda, orang yang tinggal di desa dan orang yang hidup dalam lingkungan tradisionil disbanding dengan orang yang mengalami perubahan dalam memamfaatkan waktu secara cepat.
Sikap terhadap pekerjaan, berbeda antar kelompok (etnis) yang hidup dalam kondisi tertentu dengan prinsip bahwa pekerjaan adlah sukses pribadi danharga diri. Dengan individu dari kelompok (etnis) yang mempunyai prinsip pekerjaan terikat dengan tuntutan sekeliling dan irama musim dimana mereka hidup.
Sikap terhadap nasib/ketawakalan, dimana sikap bagi orang yang hidup dalam Norma-norma tertentu yang merupakan kehendak yang diatas (Tuhan). Mereka akan menerima nasib dan menyerahkan keadaan dirinya dengan segala kegembiraan dan keihlasan. Dalam filosofinya mereka hidup merasa tenang dan tanpa kegelisahan atau rasa iri hati atas kemajuan yang dicapai orang lain.
Hubungan dengan kelompok lain, diperlukan interaksi dan hubungan dengan kelompok lain secara harmonis dan efektif sangat diperlukan. Seorang pimpinan yang bertangung jawab dalam mencapai tujuan organisasi harus mempu bergaul dan memiliki kemapuan tehnis dalam membina hubungan dengan kelompok lain atau bawahan.
Sikap terhadap organisasi resmi, diperlukan asumsi bahwa individu dapat mengembangkan karir sesuai dengan kompetensi melalui organisasi. Maka budaya dapat diartikan sebagai system; gagasan, tindakan dan hasil karya manusia dengan cara belajar (Kuntjaraningrat, 1986).

KEPEMIMPINAN DALAM RAGAM BUDAYA, Part II
Posted on Januari 25, 2008 by hidayaters

Pengertian Kepemimpinan.

Menurut Buku Kepemimpinan Pemerintahan di Indonesia (Drs.Pamudji, MPA) bahwa Istilah Kepemimpinan berasal dari kata dasar pimpin yang berarti bimbing atau tuntun , kemudian lahir kata kerja memimpin berarti membimbing atau menuntun. Kemudian berubah dalam kata benda pemimpin atau orang yang berfungsi memimpin atau menuntun.

Istilah pemimpin berasal dari kata asing “leader”. Kepemimpinan dari “leadership” Walaupun kepemimpinan tidak sama dengan manejemen, namun pengertian tidak bisa dipisahkan dengan terdapat beberapa perbedaan.

Perbedaan kepemimpinan dengan manejemen antara lain ;

Kepemimpinan mengarah kepada kemampuan individu, sedangkan manejemen mengarah kepada system dan mekanisme kerja.
Kepemimpinan adalah hubungan interaksi antara si pemimpin dengan pengikut. Sedangkan manejemen merupakan fungsi status atau wewenang (authority).
Kepemimpinan mengantungkan diri pada sumber sumber dalam dirinya, sedangkan manejemen mengarah kepada kesempatan mengarahkan dana dan daya yang ada dalam organisasi untuk mencapai tujuan organisasi.
Kepemimpinan di arahkan untuk kepentingan si pemimpin, sedangkan manejemen mengarah kepada pencapaian tujuan organisasi secara langsung.
Kepemimpinan bersifat hubungan personal yang berpusat pada diri si pemimpin, pengikut dan situasi, sedangkan manejemen bersifat impersonal dengan masukan logika, dana, analitis dan kuantitatif.

“Kepemimpinan sebagai titik pusat proses proses kelompok (Leadership as a focus of group processes”. “Kepemimpinan adalah suatu kepribadian yang mempunyai pengaruh (Leadership as personality and its effects”.Kepemimpian adalah seni untuk menciptakan kesesuaian faham atau keseiaan, kesepakatan (leadership as the art of inducing compliance).

Keragaman Budaya Indonesia

Kebudayaan berkaitan erat dengan ilmu ilmu sosial seperti ; sosioligi, psikhologi , anthropologi karena membicarakan fenomena dalam masyarakat.
Dalam membicarakan Sistem Adminiatrasi Publik dalam Negara RI (SAPRI), kebudayaan merupakan factor sangat penting, karena menyangkut kajian mengenai berbagai perilaku seseorang maupun kelompok yang beroreantasi tentang kahidupan bernegara , penyelenggaraan pemerintahan, politik, hukum, adapt istiadat dan norma, kebiasaan yang berjalan yang dilaksanakan dan dihayati oleh anggota masyarakat sehari hari dalam organisasi (formal dan informal.

Berbicara tentang Kebudayaan Indonesia,

Terasa sulit karena Indonesia memiliki keragaman budaya yang dihasilkan oleh berbagai suku bangsa Indonesia. Keberagaman itulah yang menjadi kebudayaan Indonesia yang tercermin dalam nilai-nilai Pancasila dan semangat Bhineka Tunggal Ika.
Perlu dikaji budaya kedaerahan yang mempengaruhi kehidupan masing-masing suku di Indonesia yang juga mempempunyai keterikanan satu sama lain dalam kebhinekaan yang ditandai dengan tidak ada perilaku yang mendua.

Walau ada perbedaan budaya tersebut di beberapa daerah dalam wujud hukum yang berbeda. Ahli Hukum Belanda membagi Indonesia atas 18 lingkaran hukum adat yang juga menunjukan perbedaan pada garis keturunan, seperti garis keibuan (matrilineal), kebapakan (patrilineal) dan keduanya (parental).

Beberapa budaya daerah dalam catatan budaya di Indonesia (Buku Administrasi Publik, Inu Kencana, dkk) dan budaya hidup sehari hari antara lain :

Budaya Jawa, dengan budaya politik kawula gusti sebagai etika Jawa yang dikenal tabah dan ulet dalam kehidupan mereka. Kepasrahan dengan semangat nrimo (menerima dengan pasrah) dalam menghadapi tantangan hidup dalam kromo inggil sebagai falsafah mereka, serta kebiasaan hidup lainnya yang dinilai positif dalam kepemimpinan dengan aspek budaya.
Budaya Minangkabau, dengan budaya politik partisipasi dapat merupakan kajian kepemimpinan dalam budaya yang positif untuk dikembangkan dalam pemerintahan dan pembangunan. Keuletan orang Minangkabau tercermin dalam pepatah petitih dan kebiasaan hidup berdemokrasi dalam sejarah perjalanan suku Minang dengan dua sistem yaitu Sistem Bodi Caniago dan Sistem Koto Piliang. Pandangan hidup orang Minangkabau yang Adat Basandi Syara’, Syara’ Basandi Kitabullah. Hal ini menunjukan ketaatan akan nilai dan ajaran agama Islam terpatri dalam kebiasaan hidup dan budaya Minangkabau. Budaya lain di Minangkabau yang positif dan dapat diangkat dalam kepemimpinan antara lain ; tagak samo tinggi dan duduak samo randah, nan buto pambasuh lasuang, nan pakak palapeh badia, nan lumpuah pauni rumah, nan bingunang di suruah-suruah, nan kuaek pambaok baban, nan cadiak lawan barundiang, dll. Budaya seperti ini perlu bagi seorang pemimpin di ranah Minangkabau dalam kepemimpinannya.
Budaya Sunda, yang tidak biasa menonjolkan diri karena tidak perlu dan sikap yang toleran, namun tidak gentar melawan pihak yang menindasnya. Sebuah cerita sejarah di masyarakat Sumedang bahwa suatu ketika rakyat banyak yang sengsara karena penjajah Belanda dalam cultuur stelsel (kerja paksa), menyebabkan Cadas Pangeran sengaja melawan Belanda dengan mengulurkan tangan kiri untuk bersalaman dan tangan kanan memegang keris untuk dihunjamkan kepada sang penjajah .
Budaya Bugis Makassar, sebagai suku bangsa pemberani dan tangguh dalam mengaharungi lautan sampai ke mancanegara. Dalam budaya lain mereka memiliki budaya siri (Vendetta), dimana apabila salah seorang keluarga mereka dipermalukan oleh seseorang, maka seluruh anggota keluarga mereka akan menganggap orang itu sebagai musuh pula. Dengan kata lain budaya menjaga nama baik keluarga paling penting dan kalau tidak menyebabkan dendam berkepanjangan dan bahkan pertumpahan darah. Orang orang suku bugis Makassar ini terkenal dalam keberanian berdiskusi dan bermusyawarah untuk menyelesaikan masalah menyebabkan pola kepemimpinan budaya di daerah ini memperhatikan sifat dan kebiasaan budaya mereka dan mengangkat kebiasaan positif dalam kepemimpinannya.
Budaya Batak, terkenal dengan eksistensialis dalam menantang hidup yang terkenal dengan Batak Tembak Langsung (BTL) atau seseorang yang tinggal dipedalaman Sumatera Utara, tidak perlu melalui Medan untuk menuju Jakarta atau keluar negeri sekalipun. Dalam mengemukakan pendapat orang Batak cenderung spontan tanpa tedeng aling-aling, sehingga demokrasi dalam pembangunan politik akan berkembang pesat bila mengikuti pola sikap dan perilaku putera puteri orang Batak. Diperlukan keakraban dengan masyarakat Batak dalam membangun kepemimpinan sesuai dengan adat dan kebiasaan mereka yang fair (jujur) serta spontan dan terbuka.
Budaya lainnya di Indonesia dalam kepemimpinan dalam ragam budaya di era kebebasan yang perlu dikaji secara baik untuk mencapai tujuan.

Menghargai Keragaman Budaya

Dalam pola kepemimpinan tersebut, diperlukan usaha usaha untuk menemukan nilai-nilai budaya yang beranekaragam tersebut dengan memahami perbedaan dan persamaan diantara mereka dalam semangat kebhinekaan. Unsur-unsur penting dalam dimensi budaya melalui komunikasi non verbal, penggunaan bahasa, orientasi ruang dan waktu, pendekatan-pendekatan psikologis yang mempengaruhi keberhasilan dan kegagalan dalam pola kepemiminan dalam komunikasinya.

Dimensi kebudayaan lain seperti pola pikir yang digunakan kelompok/individu biasanya berdasarkan nilai nilai kebudayaan masyarakat suatu kelompok etnis sejak dari kecil sudah terbiasa dalam berpola pikir dan berperilaku seperti hal tersebut. Perangkat nilai serta Norma dalam budaya merupakan perangkat cita-cita dan keinginan yang diharapkan dalam kelompok masyarakatnya. Nilai baik dan buruk dan yang dilarang dan suruhan mempengaruhi sikap dan perilaku mereka.

Unsur paling penting dalam kebudayaan kita adalah sistem nilai, gambaran diri, komunikasi non verbal, penggunaan bahasa, orientasi ruang dan waktu yang kita kaji dan amati dari perbedaan kebudayaan yang berbeda dan memilih suatu kebudayaan yang pasti benar atau salah.

Interaksi dalam hidup bermasyarakat dalam budaya tertentu didasarkan pada perangkat nilai tertentu yang berkembang sejak kecil. Nilai-nilai tersebut kemudian dikumpulkan, diberi ganjaran dan ditekankan keluarga, komunitas, organisasi dan bangsa kita. Perbedaan nilai tersebut menjadikan akan memberi tahu siapa kita ini yang hidup dalam budaya bagaimana (menjadi orang Indonesia, orang Arab, orang Amerika) dan lain-lain yang mencerminkan cirri-ciri kebudayaan tertentu sebuah bangsa.

Membangun kepekaan budaya seseorang perlu adanya sensor yaitu mendengarkan, Mengamati, merasakan (fase I). Dalam Fase II yaitu menanggapi, ambil bagian, Tumbuh, selama interaksi dalam menyaring pesan yang datang. Fase III dengan menyesuaikan, berbagi, mengalami dan kemudian dapat dinikmati sebagai sebuah budaya tertentu.

Dalam ketiga fase tersebut orang harus mampu menyesuaikan diri, mampu mengambil bagian (ikut serta) dalam pengalaman/informasi dari pihak/orang lain. Tentu dengan cara yang menyenangkan yang ditampakkan oleh lintas budaya yang dinamis.

KEPEMIMPINAN DALAM RAGAM BUDAYA, Part III (Habis)
Posted on Maret 10, 2008 by hidayaters

KERAGAMAN SEBAGAI KEKUATAN DAN KELEMAHAN.

Perilaku setiap anggota kelompok budaya tergantung pada sejarah orang-orang/individu dalam kelompok masyarakatnya. Pengalaman telah menunjukkan kegagalan belajar dari sejarah, dan kesalahan-kesalahan yang diulangi oleh beberapa generasi dalam waktu lama Akhirnya harus mengikuti seperangkat Norma dan nilai yang berdasarkan pengalaman dan perkembangan mereka.

Disamping pengaruh historis dan lingkungan, mentalitas suatu bangsa yang menentukan sifat dan karakteristik bahasa tertentu akan mempengaruhi luas terhadap perkembangan visi, misi, kharisma, emosi, perasaan politik, disiplin dan hirarki.

Kepemimpinan Individual dan Kolektif
Organisasi secara otomatis mengisyaratkan kepemimpinan yang mempunyai wewenang untuk menetapkan suatu peraturan sebagai pedoman bertindak. Bentuk baru kepemimpinan kolektif di pemerintahan baik pda tingkat regional dan lokal selama berabad abad.

Aturan kolektif penduduk mengilhami bentuk dan pola kepemimpinan pada daerah tersebut yang ditunjukan oleh faktor-faktor yang memimbulkan kepemimpinan dan organisasi masyarakat seperti :
Adat istiadat, lingkungan iklim, sejarah, agama, bahasa, filsafat yang mempengaruhi; fisiologi (penampilan fisik), sukses (perang, perdagangan, pertanian), Kegagalan (kekeringan, Invasi, Penyakit), yang merupakan reaksi terhadap kepemimpinan dan Konsep status dan Penggunaan Waktu Menimbulkan Organisasi (Visi, Misi, Norma, aturan, struktur, energi, wewenang, dan fungsi.) Tujuannya sebagai kelangsungan hidup menuju kemakmuran (cita-cita).

Organisasi biasanya diciptakan oleh pemimpin. Apakah kepemimpinan tersebut; otoriter, individual, atau kolektif yang berfungsi sebagai :

Model fungsi Pengembangan jaringan (networking) ,
Model fungsi oreantasi tugas.

Cara pemimpin dalam ragam budaya memahami organisasi antara lain dapat dikenali hal-hal :

Bahasa dan budaya, dengan membentuk timkerja yang serasi dan padu diperlukan informasi tentang sejarah dasar daerah tersebut dengan cirri cirri kebudayaannya dan mempelajari bahasa daerah dalammembangun tim yang kuat dalam organisasi.
Kekuatan non fisik, dimana akal sehat, pendidikan yang baik dan kedewasaan individu, akademik maupun organisasi yang merupakan sumber daya untukmenghindari perilaku yang negative sebagai mitra kerja. Tidakhanya mengandalkan kewenangan saja dalam memimpin organisasi /masyarakat.
Mengelola Tim, karena semakin berkembang tim/organisasi tersebut secara nasional, international atau global, menyebabkan pengelolaan tim melalui koordinasi yang berbeda secara terus menerus (sesuai perkembangan). Pembentukan Tim building menjadi bahasan dalamm kajian manejemen.
Latihan pembentukan tim, melalui banyak cara latihan yang pembentukan tim (team building excercises), organisasi bersifat multi nasional, disekolah sekolah bisnis yang mementingkan kerjasama tim dalam menelaah kasus seperti berkemah atau out bound (belajar diluar ruangan/alam terbuka).

Menjembatani Kesenjangan Komunikasi.
Yaitu melalui Komunikasi baik secara langsung maupun tidak langsung (media) terdapat dialek atau pemahaman yang berbeda menyebabkan terjadi kesalah pahaman dalam berkomunikasi tersebut. Untuk perlu dipahami hal hal yaitu :

Bahasa
Kesenjangan Komunikasi, menyangkut aspek; linguistic, praktis dan budaya. Masalah praktis biasanya paling mudah dipecahkan oleh pemimpin bagaimana harus berprilaku di suatu daerah.
Penyesuaian pola pikir, sebagai upaya pemimpin dalam menagdakan pertemuan yang yang menarik dan tidak membosankan sampai menghasilkan keputusan yang disepakati secara santai atau bermain dalam kelompok masyarakat, seperti main golf atau sambil makan malam, sarana hiburan rakyat dll.
Nilai dan Citra diri, dengan beraneka ragamnya budaya budaya dalam masyarakat kita. Maka pimpinan harus melihat dalam kacamatan budaya keragaman terebut. Termasuk disini nilai nilai dan tradisi serta keagamaan dan ritual ritual kelompok budaya. Citra merupakan bagian persepsi nilai untuk melihat diri mereka melalui kacamata budaya dan kebiasaa serta adapt istiasat mereka.
Etika, orang orang memadang keputusan sejak diputuskan merupakan perjanjian lisan yang dirumuskan menjadi dokumen tertulis yang legal. Secara etis orang terikat pada keputusan yang dibuatnya.

Keragaman Sebagai Kekuatan.
Keanekaragaman; ethnis, agama, adat istiadat, kebiasaan, bahasa daerah dan lainnya di Indonesia yang tumbuh dan berkembang sebagai nilai-nilai yang mengakar dalam kelompok kelompok masyarakatadalah sebagai kekuatan. Apabila dikelola dengan baik untuk menimbulkan kekuatan bangsa yang besar. Bagi pemimpin aspek inilah merupakan peluang dalam memainkan pola kepemimpinan yang bagaimana harus dilakukan dalam menghadapi masyarakat tertentu.

Selanjutnya keragaman tersebut akan menumbuhkan keterikatan keterikatan akan bidang; hukum, aturan atau dogma dogma agama yang dianut masyarakat. Karena itu seorang pemimpin perlu memahami kondisi tersebut dalam memimpin masyarakat tertentu. Disamping munculnya konflik konflik kepentingan antar kelompok tersebut dengan pembinaan rasa kesatuan bangsa (nation building) harus diutamakan dalam memimpin kelompok masyarakat dan masyarakat bangsa.

Keragaman Sebagai Kelemahan.
Keanekaragaman atau kemajmukan; ethnis, agama, adat istiadat, kebiasaan dll, apabila tidak dapat dibina dalam satu kesatuan yang bulat bukan tidak mungkin akan menimbulkan perpecahan. Dimulai dari perpecahan kecil menjadi semakin besar bila tidak pernah diantisipasi dengan upaya kepemimpinan dengan memperhatikan budaya untuk mempersatukan mereka dalam pembangunan menuju masyarakat yang sejahtera. Perpecahan yang cukup rawan; masalah keragaman agama, adat istiadat, perbedan suku/etnis/ras, perbedaan kebiasaan dll.

IMPLIKASI, KONSEKUENSI DAN KEMUNGKINAN MASALAH KEPEMIMPINAN DALAM KERAGAMAN.

Implikasi Kepemimpinan.
Saat ini organisasi masyarakat semakin bersifat keragaman (multi budaya), sejak kemerdekaan Indonesia 61 tahun. Lalu, Hal ini menyebabkan semakin kompleksnya masalah kehidupan dalam keragaman tersebut.

Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi serta komunikasi dan informasi semakin mewarnai kehidupan masyarakat. Menyebabkan kebudayaan didunia semakin berinteraksi secara global, mengakibatkan terjadi perubahan dibidang ekonomi, politik dan kebiasaan hidup baru yang melahirkan kenyataan terjadinya perubahan budaya dan pola kepemimpinan. Globalisasi media massa sangat mempengaruhi kehidupan masyarakat modern dalam diri mereka akan perbaikan mutu kehidupan mereka.

Dr.Woodrrow Sears dalam buku Back In Working Order, dengan masalah ekonomi dengan memperkecil usaha, merger (gabung), joint venture merupakan contoh untuk menempatkan diri dalam situasi pasar.

Membantu orang orang bekerja lebih cerdik merupakan manejemen multy budaya yang efektif, maka kepemimpinan perlu:

Menciptakan struktur yang memungkinkan orang orang ambil bagian dalam tujuan organisasi.
Manegemen dirumuskan sebagai harapan/pengawasan yang menurut Sears berarti maneger maneger yang efektif menciptakan harapan atas pelaksanaan tugas dengan para bawahannya dengan hasil pekerjaan yang dilakukan.

Praktek manejemen multy budaya menurut McGregor (Humas Side of Interprice) bahwa setelah 40 tahun. Para ilmuwan di bidang perilaku manusia (behaviore) menyampaikan pesan tsb. Baru sekaranglah mulai menterjemahkan ide-ide tersebut dalam tindakan (organisasi). Pemimpin ragam budaya sejati adalah pimpinan yang inovatif, yang menjadi komunikator dan negosiator antar budaya yang efektif dalam berbagai lingkungan masyarakat.

Ciri ciri manajer multi budaya adalah ;

Berfikir melampaui persepsi lokal
Siap untuk mengganti dengan pemikiran baru dan membuang pemikiran lama.
Menciptakan kembali norma-norma dan praktek budaya dengan hal yang baru.
Memprogram kembali peta dan bangunan mental mereka.
Menyesuaikan diri dengan lingkungan dan gaya hidup yang baru.
Menyambut baik pengalaman linta budaya bangsa.
Kemampuan akan kecakapan multy budaya.
Menciptakan sinerja budaya kapan dan dimana saja.
Bekerja efektif dalam lingkungan multy nasional/bangsa
Memimpin kesempatan kesempatan dan usaha transnasional.
Menciptakan scenario masa depan yang optimis.
Mempelajari hubungan antar manusia /bangsa dan nilaimglobal.
Terbuka dan fleksibel dalam menghadapi orang orang yang beragam budaya.
Mudah bergaul dengan orang yang berbeda latar belakang; ras dan lainnya.
Fasilitator pendatang baru, orang asing, kaum minoritas dan imirgran.
Sudi bekerjasama dalam joint venture, konsorsium atau koalisi.
Perubahan direncanakan dan futuris.

Konsekuensi Kepemimpinan Dalam Ragam Budaya.
Perkembangan berfikir dan aspirasi.
Masyarakat yang saat ini mudah mendapat informasi, dapat menyampaikan keinginan mereka kepada pemerintah di era keterbukaan melalui aspirasi-aspirasi tertentu. Konsekuensinya bagi pemerintah/pimpinan adalah untuk mendengarkan secara baik dan merespon secara baik sesuaidengan ketentuan dan kehendak orang/warga lebih banyak dalam kelompok msyarakat.

Perkembangan Kepentingan Pribadi, Kelompok, Ethnis.
Kepemimpinan yang diharapkan dalam Konsekuensi adanya perkembangan tersebut secara keserasian dan suasana demokratis dan terbuk.

Berkembangnya Regionalisme.
Kecenderungan adanya perkembangan bersifat negative dari berlakunya UU No.22 tahun 1999 dan saat ini di revisi dengan UU N0.32 tahun 2004 yaitu dimana masing-masing daerah (region) dengan semangat otonomi dengan munculnya konflik kepentingan dalam dan antar daerah. Sehingga egoisme daerah sangat menonjol, walau ada kerjasama antar daera.

Masalah-Masalah Kepemimpinan dalam Ragam Budaya

Perbedaan adapt istiadat dan kebiasaan.
Hambatan komunikasi pada masyarakat tertentu.
Kemampuan Kepemimpinan dalam ragam budaya.
Adanya sumber sumber yang ada di daerah dengan erbedaan yang mencolok.

KEPEMIMPINAN YANG TEPAT DALAM PENGELOLAAN MASALAH KERAGAMAN.

Pemimpin dan Kepemimpinan
Pemimpin adalah orang yang memiliki kemampuan / keterampilan untuk mempengaruhi atau menggerakkan perilaku orang lain untuk bekerja secara efektif dan efisien. Melalui kopentensi pemimpin yaitu :

Kompetensi Tehnis, bersifat keterampilan dan kemampuan khusus/tehnis.
Kompetensi menejerial, bersiaft mulai dari perencanaan, pengorganisasian, Penggerakan dan pengawasan.
Kompetensi sosial, kemampuan untuk berintekrasi dengan orang lain.
Kompetensi strategi, kemampuan untuk melihat jauh kedepan dan merumuskan Masalah dan strategi.
Kemampuan Etika, dalam melaksanakan tugas dan tanggung jawab.

14
Aug
18

Kenegarawanan : Politik Ekonomi Umat Indonesia Maju

Logo MABINDO

Suara Warga45

POLITIK EKONOMI UMAT INDONESIA MAJU

MERDEKA!

Kepada Yth Anak-anak Bangsa Indonesia,

Bertumpu pada *Jatidiri Energi Asia Indonesia*

https://jakarta45.wordpress.com/2018/08/10/kenegarawanan-jatidiri-energi-asia-indonesia/

Maka jelang peringatan bersejarah kebangsaan Indonesia yakni Hari Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945 dan Hari Konstitusi Proklamasi 18 Agustus 1945, perkenankan kami urun rembug bagi gagasan Ekonomi Umat yang disampaikan CaPres JokoWi pada tanggal 10 Agustus 2018, yang menurut hemat akal sehat kami berbasis pada rujukan politik kerja infrastruktur bangunan2 teknik sipil (jalan & jembatan, bangunan2 air, bandara, pelabuhan laut, Jalan kereta api, gedung2) di periode 2014-2019, sebenarnya yang perlu dikembangkan di periode 2019-2024 adalah infrastruktur pengolahan tanah2 pertanian dan pengolahan perairan perikanan, yaitu berupa penyediaan mekanisasi pertanian dan mekanisasi tangkapan ikan laut oleh pemerintah bagi kerja2 Petani Lokal dan Nelayan Lokal lebih produktif sebagai penguat ketahanan nasional sekaligus penghasil devisa negara.

Penyediaan layanan infrastruktur mekanis oleh negara itulah yang pada gilirannya dapat mendongkrak ekonomi umat menjadi berkemajuan sebagai tuntutan jaman ketimbang memelihara budaya kerja tradisional yang semakin hari semakin menghambat pergerakan kearah Indonesia Maju itu sendiri.

‎Aplikasi Teknologi Maju sektor2 pertanian dan perikanan kini sesungguhnya sudah tersedia, tinggal seberapa jauh tekad dan semangat kerja pemerintah membangun dan meyediakan dukungan layanan infrastruktur mekanis bagi petani lokal dan nelayan lokal secara lebih optimal.

MABINDO (Majelis Anak Bangsa Indonesia) berpendapat bahwa Aplikasi Teknologi Maju Layanan Infrastruktur Mekanis Petani & Nelayan Lokal Rasa Ekonomi Umat Indonesia Maju ini diyakini menterjemahkan amanat Konstitusi Proklamasi Pasal 33 UUD 1945 [BRI Th II No 7, 1946 jo LNRI 75/1959] mengemban Politik Kesejahteraan Sosial.

Jakarta, 11 Agustus 2018

Salam45 & Tetap MERDEKA!

Pandji R Hadinoto
MABINDO
http://www.jakarta45.wordpress.com

Benarkah Ma’ruf Amin Bakal Bangkitkan Ekonomi Umat?
WartaEkonomi.co.id · 2 days ago
Ekonomi Syariah Jadi Fokus Maruf Amin di Nawacita Jilid II
Detikcom · 1 day ago

Ekonomi umat Jokowi-Ma’ruf Amin ingin permudah akses rakyat kecil …
https://www.merdeka.com/…/ekonomi-umat-jokowi-maruf-amin-in…

Translate this page
3 days ago – “Misalnya untuk ekonomi umat ada cawapres Ma’ruf Amin, selain itu salah satu yang akan masuk menjadi tim Pak Jokowi adalah Pak Chairul …
Ekonomi Umat Islam Lesu, Ini Penyebabnya | Republika Online
https://www.republika.co.id/…/ekonomi/…/p0fhu4380-ekonomi-u…

Translate this page
Dec 4, 2017 – Sebabnya tak lain karena umat Islam tidak berjuang mengembangkan ekonominya. Umat Islam lebih memilih sistem ekonomi yang …
Berdayakan Ekonomi Umat Dengan Program Ritel | Republika Online
https://www.republika.co.id/…/ekonomi/…/p4lt10396-berdayakan-e…

Translate this page
Feb 23, 2018 – ID, JAKARTA — Untuk memakmurkan umat diperlukan program ekonomi yang nyata. Karenanya, Lembaga Ekonomi Umat (LEU) memilih …
Peran Masjid dalam Membangun Ekonomi umat – Islampos
https://www.islampos.com › Dari Anda › Opini

Translate this page
Masjid menjadi salah satu tempat kebajikan dan kemaslahatan ummat, baik dalam ukhrawi maupun duniawi dalam segala macam aspek manajemen masjid.
Ma’ruf Amin Bicara Ekonomi Umat hingga Setop Impor Pangan
https://finance.detik.com/…ekonomi…/maruf-amin-bicara-ekonomi…

Translate this page
5 days ago – Dalam pidatonya setelah terpilih sebagai cawapres, Ma’ruf sempat menyinggung pemberdayaan ekonomi umat sebagai arus baru Indonesia.
Dua Poin Pemikiran Ekonomi Umat Ala Ma’ruf Amin – Katadata News
https://katadata.co.id/…/dua-poin-pemikiran-ekonomi-umat-ala-mar…

Translate this page
3 days ago – Ma’ruf merupakan salah satu ahli ekonomi syariah yang bernaung dalam Masyarakat Ekonomi Syariah.
Bersama Ma’ruf Amin, Jokowi Akan Perkuat Ekonomi Umat – Pilpres …
https://www.liputan6.com › Pilpres

Translate this page
4 days ago – “Kita harus mengatasi masalah kemiskinan kesenjangan dengan memperkuat ekonomi umat,” kata [Jokowi](Joko Widodo atau Jokowi usai …
Jadi Cawapres Jokowi, Begini Pandangan Ekonomi Umat Ma’ruf Amin …
https://pilpres.tempo.co › Pilpres

Translate this page
3 days ago – Jokowi kesengsem dengan pandangan ekonomi umat versi Ma’ruf Amin. Salah satu alasan dia dipilih menjadi cawapres.

10
Aug
18

Kenegarawanan : Jatidiri Energi Asia Indonesia

Logo MABINDO

Suara Warga45

*JATIDIRI ENERGI ASIA INDONESIA*

Kepada Yth Anak-anak Bangsa Indonesia

MERDEKA!

Tersebut Asian Games XVIII berfungsi jadi pembangkit Momentum Energi Asia misalnya bagi teknologi unit2 transportasi berbahan bakar standar Euro4‎ dari standar Euro2 sebagai satu moda kemajuan peradaban yang tentunya tidak terlepas dari sikon dilematis dampak resiko bagi banyak pihak baik produsen, pengguna maupun penyedia bahan bakar yang sesuai kebutuhan.

Dalam rangka menurunkan‎ resiko itulah salah satunya adalah dengan membangun *Jatidiri Energi Asia Indonesia* melalui peningkatan ketaatazasan sistim operasi kenegaraan yaitu politik hukum Konstitusi Proklamasi 1945 disertai seperangkat Adendum yang sesuai kebutuhan jaman dan tetap mengusung amanat Pembukaan UUD 1945, berdasarkan

1) *Jatidiri Indonesia Merdeka 1945*

https://jakarta45.wordpress.com/2018/08/06/kenegarawanan-jatidiri-indonesia-merdeka-1945/

2) *Pancasilaku Kokohkan Pribadi Indonesianis*
JatiDiri : 17 DOKTRIN FRONT NASIONALIS 45

https://jakarta45.wordpress.com/2018/05/17/17-doktrin-front-nasionalis45/‎

3) ‎ *Pergerakan Kebangsaan Pancasila Indonesia*

https://jakarta45.wordpress.com/2018/06/25/kenegarawanan-pergerakan-kebangsaan-pancasila-indonesia/

4) *Butir-butir PANCASILA Tap MPRRI No 1/2003*

https://yosiafebrian.wordpress.com/2015/04/09/butir-butir-pancasila-menurut-tap-mpr-no-impr2003-2/amp/

5) *Politik Penegakan Kemerdekaan Indonesia*

https://nusantaranews.co/politik-penegakan-kemerdekaan-indonesia/

Akhirulkata, MABINDO (Majelis Anak Bangsa Indonesia) mengajak segenap Anak Bangsa Indonesia menyanyikan

*Berkibarlah Benderaku Merah Putih*

https://www.google.com/search?q=berkibarlah%20benderaku

Semoga *Jatidiri Energi Asia Indonesia* ini juga jadi bekal yang bermanfaat bagi para kontestan dan konstituen Pemilu Serentak 2019 yang akan datang

Jakarta, 9 Agustus 2018

Salam45 & Tetap MERDEKA!

Pandji R Hadinoto
MABINDO
www‎.jakarta45.wordpress.com




Blog Stats

  • 3,681,705 hits

Recent Comments

Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Sejarah : Bangsa Lemuria, Lelu…
Advertisements