Archive for the 'Jiwa Semangat Nilai-nilai 45' Category

29
Jun
15

Ketuhanan : Misteri Keseimbangan Angka-angka Dalam Al Qur’an

Misteri Keseimbangan Angka-angka Dalam Al Quran

Alquran yang secara harfiah berarti “bacaan sempurna” sungguh merupakan nama pilihan dari Allah yang sangat tepat, karena tiada satu bacaan pun sejak manusia mengenal tulis-baca yang mampu menandingi Al-quran al-kariim bacaan sempurna lagi mulia itu.

Quote:

Tiada bacaan semacam Al-Quran yang dibaca ratusan juta orang yang tidak mengerti artinya dan atau tidak dapat menulis dengan aksaranya. Tiada bacaan seperti Al-Quran yang dipelajari bukan hanya susunan redaksi maupun kosakatanya, tetapi juga kandungan yang tersirat maupun tersurat bahkan sampai kesan yang ditimbulkan

Quote:
Tiada bacaan seperti Al-Quran yang diatur tatacara bacanya, mana yang dipendekkan mana yang dipanjangkan, dipertebal atau diperhalus ucapannya, dimana tempat terlarang atau boleh berhenti atau memulainya, bahkan diatur juga lagu dan iramanya sampai kepada etika membacanya.

Al-Qur’an tersusun atas 77.439 kata dengan jumlah huruf 323.015 buah dan telah dihafal huruf demi hurufnya oleh hafidz atau penghafal alquran. Al-Quran dengan harmoni atau keseimbangan antara jumlah kata dan huruf, antara kata dengan padanannya, maupun antara kata dengan lawan katanya ataupun antara kata dengan dampaknya

Al-Qur’an tidak hanya terbatas pada ayat-ayat mulianya, makna-maknanya, prinsip-prinsip dan dasar-dasar keadilannya serta pengetahuan-pengetahuan gaibnya saja, melainkan juga termasuk jumlah-jumlah yang ada dalam Al-Qur’an itu sendiri, begitu juga pengulangan kata dan hurufnya, orang-orang yang melakukan ‘ulum’ Al-Qur’an sejak dulu sudah menyadarai adanya fenomena tersebut mempunyai maksud dan tujuan tertentu.

Pada dasarnya bahasa Al-Qur`an sedemikian fasih dan indah sehingga setiap orang yang walaupun sedikit memahami bahasa Arab, dengan membaca ataupun mendengar lantunan ayat, dengan sendirinya akan memahami bahwa tidak ada satu orator pun yang dapat berbicara dengan bahasa yang sedemikian rupa fasihnya.

Bahasa dan ucapan fasih tersebut tidak mungkin berasal dari manusia. Mukjizat Al-Qur’an tidak terbatas pada pengetahuan-pengetahuan mendalam berupa ilmu logika, sosial, keindahan serta kefasihan bahasa dan ilmu tentang rahasia alam gaib yang sangat menakjubkan. Setiap hari terungkap bidang-bidang baru dari keajaiban-keajaiban Alqur’an. Sebagai contoh hingga kini terdapat beberapa hal tentang mukjizat angka dalam Alqur’an yang di jelaskan melalui penelitian secara seksama.

Allah SWT berfirman dalam surat al Baqarah, ayat 23 :

“ Dan jika kamu (tetap) dalam keraguan tentang Alqur’an yang kami wahyukan kepada hamba kami (Muhammad), buatlah paling tidak satu surat (saja) yang semisal Alqur’an itu dan ajaklah penolong-penolongmu selain Allah, jika kamu orang-orang yang benar”.

Quote:

Dan pada Al Baqarah, ayat 24 Allah SWT berfirman:

” Maka jika kamu tidak dapat membuat(nya) – dan pasti kamu tidak akan dapat membuat(nya), peliharalah dirimu dari neraka yang bahan bakarnya manusia dan batu, yang disediakan bagi orang-orang kafir”.

1. Kesimbangan antara jumlah Bilangan Kata dengan Bilangan Antonimnya. Contoh :

Quote:
Al Hayah (hidup) dan Al Mawt (mati), masing-masing sebanyak 145 kali
An Naf (manfaat) dan Al Madharrah (mudarat) masing-masing 50 kali
Al Har (panas) dan al Bard (dingin), masing-masing 4 kali
A Shalihat (kebajikan) dan Al Sayyi’at (keburukan), masing-masing 167 kali
Al Thuma’ninah (kelapangan/ ketenangan) dan Al Dhiq (kesempitan/ kekesalan), masing-masing 13 kali
Ar Rahbah (cemas/takut) dan Al Raghbah (hapap/ingin), masing-masing 8 kali
Al Kufr (kekufuran) dan Al Iman, masing-masing 17 kali
Al Shayf (musim panas) dan Al Syita’ (musim dingin), masing masing 1 kali

2. Kesimbangan Jumlah Kata dengan dengan Sinonimnya/ makna yang Dikandungnya. Contoh :

Quote:
Al Harf dan Al Zira’ah (membajak/ bertani), masing-masing 14 kali
Al ‘Ushb dan Al Dhurur ( membanggakan diri/ angkuh) masing-masing 27 kali
Al Dhallun dan Al Mawta (orang sesat/mati (jiwanya), masing-masing 17 kali
Al Islam dan Al Wahyu (Al Qur’an, wahyu, dan Islam), masing-masing 70 kali.
Al ‘Aql dan An Nur (akal dan cahaya) masing-masing 49 kali
Al Jahr dan Al’Alamiyah (nyata), masing-masing 16 kali

3. Keseimbangan antara Jumlah Bilangan Kata dengan Jumlah Kata yang Menunjuk pada Akibatnya. Contoh :

Quote:
Al Infaq (Infaq) dengan Ar Ridha (kerelaan), masing-masing 73 kali
Al Bukhl (kekikiran) dengan Al Hasarah (penyesalan), masing-masing 12 kali
Al Zakah (zakat/penyucian) dengan Al Barakat (kebajikan yan banyak), masing-masing 32 kali
Al Fahisyah (kekejian) dengan Al Ghadb (murka), masing-masing 26 kali

4. Keseimbangan antara Jumlah Bilangan kata dengan Kata Penyebabnya. Contoh :

Quote:
Al Israf (pemborosan) dengan Al Sur’ah (ketergesa-gesaan), masing-masing 23 kali
Al Maw-izhah (nasihat/petuah) Al Lisan (lidah), masing-masing 25 kali
Al Asra (tawanan) dengan Al Harb (perang), masing-masing 6 kali
Al Salam (kedamaian) dengan Al Thayyibat (kebajikan), masing-masing 60 kali

5. Disamping Keseimbangan-keseimbangan Tersebut, Ditemukan juga Keseimbangan Khusus. Contoh :

Quote:
Kata Yaum (hari) dalam bentuk tunggal, masing-masing sejumlah 365 kali. Sama dengan jumlah hari dalam satu tahun.
Sedangkan kata hari yang menunjukkan kata plural (Ayyam) dan dua (Yaw-mayni) jumlah keseluruhannya 30, sama dengan jumlah hari dalam satu bulan. Di sisi lain kata yang berarti bulan (Syahr) hanya terdapat 12 kali, sama dengan jumlah bulan dalam setahun

Al Qur’an menjelasakan bahwa langit ada 7, penjelasan ini diulanginya dalam 7 kali pula
Kata-kata yan menunjukkan kepada utusan Tuhan baik Rasul atau Nabiyy (nabi) atau Basyir (pembawa berita), atau Nadzir (pemberi peringatan), keseluruhannya berjumlah 518 kali. Jumlah ini seimbang dengan nama-nama nabi, rasul dan pembawa berita tersebut, yakni 518 kali
Bismillahirahmannirrahim adalah permulaan setiap kegiatan umat muslim. Kalimat ini mempunyai 19 huruf (dalam bahasa arab). Angka 19 mempunyai rahasia yang berkaitan dengan Al Qur’an, termasuk dengan Bismillah itu sendiri. Dalam Al-Qur’an, kata ism, Allh, Ar Rahman, san Ar Rahim, mempunyai jumlah yang dapat dibagi habis dengan angka 19 itu. Ism 19 kali, Allah 2.698 kali (2.698 : 19 = 142),

Ar Rahman 57 kali (57 : 19 = 3) dan Ar Rahim 114 kali (114 : 19 = 6)

29
Jun
15

Infrastruktur : Kisah Bung Karno dan Patung Pancoran, Jakarta Selatan

METRO
Kisah Bung Karno Jual Mobil Demi Bangun Patung Pancoran
Pada 1964, proyek patung itu berbiaya Rp12 juta.
Senin, 29 Juni 2015 | 06:17 WIB
Oleh : Siti RuqoyahDody Handoko
Kisah Bung Karno Jual Mobil Demi Bangun Patung Pancoran
Patung Pancoran tak lama setelah dibangun (Dody Handoko)

VIVA.co.id – Tak banyak yang tahu tentang pembangunan monumen Patung Dirgantara atau lebih dikenal dengan nama Patung Pancoran. Patung yang letaknya di kawasan Pancoran, Jakarat Selatan, di depan kompleks perkantoran Wisma Aldiron .

Rancangan patung ini berdasarkan atas permintaan Bung Karno untuk menampilkan keperkasaan bangsa Indonesia di bidang dirgantara. Desain patung tersebut maknanya  mencapai keperkasaan, bangsa Indonesia mengandalkan sifat-sifat jujur, berani dan bersemangat.

Berat patung yang terbuat dari perunggu ini mencapai 11 Ton. Sementara tinggi patung itu sendiri adalah 11 Meter, dan kaki patung mencapai 27 Meter. Total biaya pembuatan pada tahun 1964 adalah Rp12 juta.

Dalam buku sejarah singkatpPatung-patung dan monumen di Jakarta dituliskan, patung ini dirancang oleh Edhi Sunarso sekitar tahun 1964-1965 dengan bantuan dari Keluarga Arca Yogyakarta. Proses pengecorannya dilakukan oleh Pengecoran Patung Perunggu Artistik Dekoratif Yogyakarta pimpinan I Gardono.

Proses pembangunannya dilakukan oleh PN Hutama Karya dengan IR. Sutami sebagai arsitek pelaksana.

Biaya awal ditanggung oleh Edhi Sunarso, sang pemahat. Bung Karno menjual mobil pribadinya seharga Rp1 juta pada waktu itu. Pemerintah hanya membayar Rp5 juta. Sisanya, sebesar Rp6 juta, menjadi hutang pemerintah yang sampai saat ini tidak pernah terbayar.

Proyek itu sempat berhenti gara-gara peristiwa 30 September 1965. Bung Karno didemo tiap hari. Puncaknya adalah penolakan MPRS atas pertanggungjawaban Bung Karno, terhadap peristiwa pemberontakan PKI tadi. Lalu Bung Karno dilengserkan, dan Soeharto jadi Presiden.

Meski kondisinya buruk, Bung Karno tetap bertekad meneruskan patung itu. Ia selalu menyempatkan diri memantau pengerjaannya. Tiang penyangga patung sudah selesai, tapi pekerjaan terancam berhenti.

Edhi tak sanggup meneruskan pekerjaan itu, mengingat dirinya banyak hutang untuk pekerjaan itu.

Melihat kondisi tersebut, Bung Karno lantas memanggil Edhi dan memberinya uang Rp1,7 juta. Belakangan Edhi baru tahu, uang itu hasil penjualan mobil pribadi Bung Karno. Sekalipun uang itu belum cukup menutup semua biaya, Edhi  meneruskan pengerjaan patung dirgantara itu.

Hari Minggu tanggal 21 Juni 1970, ketika ia sedang berada di puncak Tugu Dirgantara. Tiba-tiba, melintas iring-iringan mobil jenazah. Salah seorang pekerja memberi tahu Edhi, bahwa yang barusan lewat adalah iring-iringan mobil  jenazah Bung Karno. Sang Proklamator meninggal.

Ia pun langsung turun dari puncak Tugu Dirgantara, dan menyusul ke Blitar, memberi penghormatan terakhir kepada Putra Sang Fajar. (ren)

28
Jun
15

Kebudayaan : Islam Indonesia

 Jakarta45

Islam Indonesia
Oleh: Gregorius Afioma
Menjelang Ramadan, ucapan “Islam Indonesia, bukan Islam di Indonesia” dari Jokowi pada 14 Juni lalu, serta ajakan Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin melalui akun Twitter-nya pada 5 Juni 2015 agar warteg tetap dibuka selama bulan puasa demi toleransi terhadap kalangan non-muslim, tidak serta-merta mendapat dukungan publik secara luas.
Reaksi yang demikian sangatlah ironis di tengah tendensi kekerasan atas nama agama yang terjadi selama bulan puasa. Razia yang dilakukan oleh kelompok radikal, seperti Front Pembela Islam (FPI), misalnya, selalu berujung tindak kekerasan dan perusakan.

Lantas, apakah yang disampaikan Presiden Jokowi dan Menteri Saifuddin itu berlebihan?
Memang pernyataan Jokowi bisa dianggap berlebihan di saat krisis identitas keislaman masih menggerogoti kaum muslim. Masih banyak kalangan muslim yang tidak melihat sebutan Islam Nusantara sebagai hal yang membanggakan.
Pasalnya, otentisitas Islam selalu diukur dengan episentrum kelahiran Islam di Jazirah Arab. Relasi antara Islam di Arab dan di Indonesia ibarat pola relasi pusat dan pinggiran. Pusat dianggap lebih otentik, sedangkan pinggiran sebagai yang tergradasi. Karena itu, desakan pemurnian Islam di Indonesia semakin kuat agar tidak menjadi Islam kelas dua.
Tentu saja anggapan demikian sangat berbahaya. Umat Islam bisa mengabaikan modalitas keberagamaan yang ada selama ini. Benih-benih Islam yang sudah hadir sejak abad ke-7 justru berkembang pesat di Indonesia karena melewati proses persenyawaan yang sangat baik dengan budaya-budaya pra-Islam. Semua itu tidak lepas dari usaha para Wali Sanga dan para pemikir Islam kontemporer, seperti Gus Dur atau Cak Nur.
Hasilnya, karateristik Islam Indonesia terlihat lebih damai, moderat, toleran, dan terbuka. Konflik yang terjadi, meski masih ada, tidak seintensif di Timur Tengah. Wajah Islam yang demikian tidak lepas dari unsur-unsur pra-Islam yang menjadi tempat persemaian bagi benih-benih keislaman. Budaya dan agama, yang semula memang hanyalah dua entitas berbeda, kini tumbuh saling mengkonstitusikan satu sama lain.
Berkat wajah Islam yang demikian, penerimaan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945 sebagai dasar negara menjadi mudah. Asas kesetaraan sebagai warga negara dijunjung tinggi di atas segalanya. Hak-hak sebagai warga negara dikedepankan ketimbang kepentingan-kepentingan primordial, seperti agama, budaya, suku, dan etnis.
Namun, jika tidak melihat fakta keberagamaan itu sebagai kekuatan, bukan hanya umat Islam yang berkonflik, tapi nilai keindonesiaan juga bisa terganggu. Sebab, hanya Islam Indonesia yang dikenal toleran, moderat, dan terbuka, yang sangat kokoh menyanggah keindonesiaan selama ini.
Bertolak dari kenyataan itu, Jokowi berupaya menyadarkan kaum muslim bahwa Islam Indonesia bukanlah Islam kelas dua. Islam Indonesia tidak kalah otentik dari Islam Timur Tengah. Mengingat jumlah penganut Islam di Indonesia yang mencapai 12, 5 persen dari total 1,6 miliar pemeluk Islam di dunia, karateristik Islam Nusantara justru bisa menjadi referensi bagi peradaban Islam di dunia.
Searah dengan pemikiran tersebut, pernyatan Saifuddin sangatlah wajar. Diperbolehkannya warteg dibuka demi menghormati hak-hak umat non-muslim sangat bernada toleran dan sesuai dengan karateristik Islam Indonesia itu sendiri. []

TEMPO, 23 Juni 2015

Gregorius Afioma | Penulis

Sumber Agama Islam itu Alquran dan Hadis, bukan Nusantara
Minggu, 21/06/2015 03:44:27 | Dibaca : 34252

Prof KH Ali Musthafa Ya’qub, MA
Imam Besar Masjid Istiqlal Jakarta, Rais Syuriah PBNU
Istilah “Islam Nusantara” belakangan ramai diperbincangkan. Istilah yang diproduksi oleh kalangan di tubuh Nahdlatul Ulama (NU) ini belakangan aktif dikenalkan oleh Menteri Agama Lukman Hakim Syaifuddin. Bahkan dalam beberapa kesempatan, Presiden Jokowi pun ikut menyebutnya.

Istilah baru sebagai lawan istilah “Islam Transnasional” yang diproduksi untuk menyebut kelompok organisasi Islam yang berjuang untuk tegaknya syariat Islam secara legal formal dan memiliki jaringan ke Timur Tengah ini mencuat karena pertama kali dimunculkan dalam praktik pembacaan Alquran dengan langgam Jawa di Istana Negara Jakarta saat peringatan Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad Saw 1436 beberapa waktu lalu.

Uniknya, walaupun gagasan ini lahir dari sebagian kalangan “Islam Tradisional”, namun tidak semua tokoh dan ulama dari kalangan tradisional menyetujuinya. Salah seorang Rais Syuriah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Prof KH Ali Musthafa Ya’kub, MA., termasuk salah satu ulama yang menolak gagasan Islam Nusantara bila yang dimaksud adalah menjadikan Nusantara sebagai “sumber”.

Pendapat-pendapat Kyai kelahiran Batang, Jawa Tengah, 2 Maret 1952 yang pernah mondok di Pesantren Tebuireng, Jombang itu, terungkap dalam wawancara singkat dengan penulis Jejak Islam, Andi Ryansyah, di ruang Imam Besar Masjid Istiqlal, Jakarta, Jumat (19/6). Berikut sebagian kutipan wawancara tersebut:

Bagaimana pandangan Pak Kyai tentang istilah “Islam Nusantara”?

Kalau “Islam Nusantara” itu Islam di Nusantara, maka tepat. Kalau “Islam Nusantara” itu Islam yang bercorak budaya Nusantara, dengan catatan selama budaya Nusantara itu tidak bertentangan dengan Islam, maka itu juga tepat. Namun kalau “Islam Nusantara” itu Islam yang bersumber dari apa yang ada di Nusantara, maka itu tidak tepat. Sebab sumber agama Islam itu Alquran dan Hadis. Apa yang datang dari Nabi Muhammad itu ada dua hal yaitu agama dan budaya.Yang wajib kita ikuti adalah agama, akidah dan ibadah. Itu wajib, tidak bisa ditawar lagi. Tapi kalau budaya, kita boleh ikuti dan boleh juga tidak diikuti. Contoh budaya: Nabi pakai sorban, naik unta, dan makan roti.

Demikian pula budaya Nusantara. Selama budaya Nusantara tidak bertentangan dengan ajaran Islam, maka boleh diikuti. Saya pakai sarung itu budaya Nusantara dan itu tidak bertentangan dengan ajaran Islam. Shalat pakai koteka itu juga budaya Nusantara, tapi itu bertentangan dengan ajaran Islam, maka itu tidak boleh. Jadi harus dibedakan antara agama dan budaya.

Tadi Pak Kiai menyatakan Islam yang bercorak budaya Nusantara itu tepat, padahal Pak Kiai tadi juga menyatakan sumber agama Islam bukan dari apa yang ada di Nusantara, jadi maksudnya apa Pak Kyai?

Maksud saya, Islam yang bercorak budaya Nusantara itu boleh saja sepanjang tidak bertentangan dengan Islam. Tapi kalau Islam yang bersumber dari apa yang ada di Nusantara, baik akidah maupun ibadah harus asli dari Nusantara, maka itu tidak tepat.

Tapi saya katakan Islam itu bukan Arab sentris. Islam itu apa kata Alquran dan Hadis, bukan Arab sentris. Tidak semua budaya Arab harus kita ambil. Sebab ada budaya Arab yang bertentangan dengan ajaran Islam. Contohnya, orang- orang minum khamr di zaman Nabi dan beristri lebih dari empat.

Tadi saya katakan, Nabi pakai sorban, apa kita wajib pakai sorban? Tidak ada hadits yang menunjukkan keutamaan memakai sorban. Tidak ada hadits yang mengatakan memakai sorban itu mendapat pahala. Para ulama mengatakan sorban itu budaya Nabi, budaya kaum Nabi pada zamannya.

Pak Kyai bagaimana sebaiknya umat Islam memandang budaya?

Sepanjang budaya tidak bertentangan dengan ajaran Islam, maka kita boleh mengambilnya. Ini masuk wilayah muamalah. Silakan ikuti budaya Arab, silakan pakai sorban. Tapi jangan mengatakan orang yang tidak pakai sorban, tidak mengikuti Nabi. Saya pukul kalau ada orang yang mengatakan seperti itu. Silakan makan roti karena mengikuti budaya Nabi. Tapi jangan mengatakan orang yang makan nasi, tidak mengikuti Nabi.

Demikian juga budaya Nusantara. Sepanjang budaya Nusantara tidak bertentangan dengan Islam, silakan ambil. Islam sangat memberikan peluang bagi budaya, selama budaya itu tidak bertentangan dengan ajaran Islam, boleh kita ambil. Silakan berkreasi dan ambil budaya apapun, selama tidak bertentangan dengan ajaran Islam.

Kemunculan “Islam Nusantara” ini membuat sebagian orang membandingkan dengan “Islam Arab”, bagaimana menurut Pak Kiai?

Saya tidak sependapat dengan bandingan-bandingan seperti itu. Islam itu Islam saja.

Jadi istilah “Islam Nusantara” itu tidak ada ya Pak Kiai?

Ya, Islam itu agama. Nusantara itu budaya. Tidak bisa disatukan antara agama dan budaya.

Apa nasihat Pak Kyai untuk umat Islam di tengah polemik isu “Islam Nusantara” serta NU dan “Wahabi” ?

Pertama, kita harus membedakan antara agama dan budaya. Agama: akidah dan syariah, kita harus mengikuti Rasulullah. Sementara, budaya itu masuk muamalah. Budaya apa pun, termasuk budaya Arab selama tidak bertentangan dengan ajaran Islam, silakan. Tapi hati-hati, sebab bisa saja orang pakai sorban itu dalam rangka mencari popularitas. Ketika semua orang tidak pakai sorban, tapi ada satu orang pakai sorban, maka itu diharamkan dalam Islam karena sorban itu menjadi pakaian popularitas. Menurut seorang Ulama Arab, Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin mengatakan, hal itu menunjukkan kesombongan. Penampilan itu menunjukkan seorang merasa lebih mirip nabi. Itu arogan dan tidak bagus.

Kedua, NU dan “Wahabi” tidak ada pertentangan, yang ada perbedaan. Persamaannya banyak dan perbedaannya sedikit. Perbedaannya itu tidak menimbulkan kekafiran dan perbedaan itu tidak terjadi setelah NU dan “Wahabi” ada. Jadi perbedaannya hanya dalam hal furu’iyyah, bukan hal yang prinsip. []
__._,_.___

Kamis, 25/06/2015 03:03

Kiai Said: Dengan Budaya, Islam Kuat

Jakarta, *NU Online*
Jauh sebelum Islam datang, masyarakat Nusantara telah memiliki kekayaan
budaya dan tradisi. Oleh karena itu, Wali Songo menggunakan strategi lain
dalam berdakwah. Pendekatan yang dilakukan adalah berperadaban dengan
tradisi yang sudah ada. Sehingga Islam yg dibawa Wali Songo bisa menyatu
dengan budaya.

Hal tersebut dikatakan Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj saat didaulat
berpidato pada acara ‘Sholawat dan Tahlil untuk Bangsa’ yang digelar
bersamaan peluncuran Majelis ‘Pecinta Sholawat Nusantara’ (Pesona) di Graha
Gus Dur DPP PKB, Jalan Raden Saleh, Jakarta, Selasa (23/6/2015) malam.

“Lalu bagaimana Wali Songo berdakwah, yakni berangsur-angsur (*al-Tadrij*).
Islam disebarkan tanpa menyakiti siapapun. Tidak pernah mengancam, apalagi
mengintimidasi. Jadi, *sweeping* itu nomor terakhir,” ujar Kiai Said.

Bahkan, lanjut Kiai Said, Wali Songo tetap menjaga hubungan baik dengan
tetua adat. Para wali dalam dakwahnya memperkecil perintah yang membebani,
meminimalisir kewajiban (*taqlilut-takaalif*).

Menurut Kiai Said, para pendakwah masa kini menggunakan Islam Nusantara
dalam rangka mempertahankan tradisi yang sudah ada. “Kenapa pakai Islam
Nusantara? Karena kita ingin mempertahankan Islam Aswaja dan budaya yang
sudah kita warisi dari nenek moyang kita,” tegasnya.

Islam Nusantara, lanjut dia, merupakan Islam yang sudah menyatu dengan
budaya, yang sudah melebur dengan tradisi. “Dengan Islam, budaya menjadi
ramah. Dengan budaya, Islam menjadi kuat,” tandas Kiai Said.

Doktor jebolan Universitas Ummul Quro Mekah ini mengingatkan, waktu itu
Hadratusy Syaikh Muhammad Hasyim Asy’ari tak henti-hentinya mengingatkan
kepada putranya, Kiai Abdul Wahid Hasyim, agar tidak mempertentangkan
antara Islam dan kebangsaan. “Kedua hal penting itu jangan
dipertentangkan,” ujarnya menirukan Mbah Hasyim.

Kiai Said menyatakan keteguhan ormas yang dipimpinnya, yakni NU, dalam
mengajarkan akidah Islam yang bertumpu pada tradisi lokal. Karena itu, Ia
menegaskan bahwa pada Muktamar ke-33 NU yang akan dihelat di Jombang 1-5
Agustus mendatang mengusung tema yang menitikberatkan pada nilai-nilai
Islam Nusantara.

“Karena itu, pada Muktamar NU yang akan datang, untuk pertama kalinya
dilaksanakan di Jombang, mempunyai tema Meneguhkan Islam Nusantara untuk
Peradaban Indonesia dan Dunia,” tuturnya disambut aplaus ribuan warga
Nahdliyin yang hadir.

Tema tersebut, tambah Kiai Said, menjadi bukti komitmen NU sebagai
organisasi keagamaan yang menjadi pilar peradaban Islam yang bertumpu pada
kearifan lokal. Hanya saja, Kiai Said menyayangkan masih banyak masyarakat
bahkan para kiai NU yang belum memahami betul yang dimaksud Islam Nusantara.

Selain Ketua Dewan Syura PKB KH Abdul Aziz Mansyur, Hadir dalam acara
tersebut para ulama NU dan pengasuh pesantren, antara lain KH Kholil Asad
Syamsul Arifin (Situbondo), KH Munif Zuhri (Girikusumo, Demak), Rais
Syuriah PWNU Jawa Timur KH Miftahul Akhyar, KH Yusuf Chudlori (Magelang),
dan Mustasyar PBNU Tuan Guru Haji Turmudzi Badruddin. *(Musthofa
Asrori/Mahbib)*

Sumber:

http://nu.or.id/a,public-m,dinamic-s,detail-ids,44-id,60389-lang,id-c,nasional-t,Kiai+Said++Dengan+Budaya++Islam+Kuat-.phpx

28
Jun
15

Perekonomian : 5 Negara Terbesar Di Dunia pada 2050, Indonesia No. 4 ?

merah-putih

Minggu, 28 Juni 2015 , 06:05:00

Ini Saran untuk JokoWi Demi Selamatkan Ekonomi RI

 Presiden Joko Widodo. Foto: Dokumen JPNN.com
Presiden Joko Widodo. Foto: Dokumen JPNN.com

JAKARTA – Ketua Umum DPP Pro Jokowi (Projo) Budi Arie Setiadi menegaskan, sektor ekonomi Indonesia sudah berat sekali. Bahkan, ia menyebut sudah sampai pada tahapan emergency call. Karenanya, Budi menegaskan, Presiden Joko Widodo harus mengambil langkah cepat agar negeri ini tidak terpuruk lebih dalam.

“Kita harus hati-hati dan kerja keras untuk selamatkan negara dan bangsa ini dari kejadian yang luar biasa,” ungkap Budi dalam sebuah diskusi di Cikini, Jakarta Pusat, Sabtu (27/6).

Dijelaskan Budi, tantangan ekonomi Indonesia benar-benar sangat berat karena melambatnya pertumbuhan hingga melemahnya kurs rupiah terhadap dolar Amerika Serikat. Karenanya, kata dia, memburuknya perekonomian akan berimbas kepada semua pihak.

“Kalau ekonomi memburuk, maka semua terkena kerugian drastis,” ujarnya.

Dia pun mengaku telah menyampaikan secara lisan kepada Presiden Jokowi agar segera mengganti menteri di bidang ekonomi.

“Ya, secara lisan sudah kita sampaikan,” tegasnya.

Juru bicara Partai Demokrat Didi Irawadi Syamsudin mengatakan kondisi bangsa saat ini sedang dalam keadaan tidak baik.

“Sebagai (partai, Red.) penyeimbang yang baik tentu hal-hal yang baik kita dukung.‎ Tapi situasinya sekarang jauh dari baik,” katanya di kesempatan itu.

“Kita ingatkan agak keras supaya pemerintah mendengar,” timpal Didi. (boy/jpnn)

On 06/24/2015 05:12 PM, Awind wrote:

http://bisniskeuangan.kompas.com/read/2015/06/24/085751126/Ini.5.Negara.Dengan.Perekonomian.Terbesar.di.Dunia.pada.2050.Di.Mana.Indonesia.

Ini 5 Negara Dengan Perekonomian Terbesar di Dunia pada 2050, Dimana Indonesia ?
Rabu, 24 Juni 2015 | 08:57 WIB
alt
Bloomberg, EIU Daftar negara perekonomian terbesar

KOMPAS.com – Economist Intelligence Unit memprediksi terdapat lima negara yang bakal menguasai perekonomian global pada 2050.

Dalam laporan Economist Intelligence Unit (EIU) sebagaimana dikutip dari Bloomberg, Rabu (24/6/2015), lima negara itu adalah China, Amerika Serikat, India, Meksiko dan Indonesia.

Laporan itu menyebutkan, Meksiko akan menggeser posisi Rusia, sementara Indonesia akan menggeser posisi Italia dalam kurun waktu 10-35 tahun mendatang.

China sebagai negara berpenduduk terbanyak di dunia akan menggeser posisi AS pada awal 2026 dalam hal produk domestik bruto.

“Sisanya, Indonesia, Jerman, Jepang, Brasil, dan Inggris merupakan negara-negara yang berada di urutan selanjutnya,” tulis EIU.

Dalam hal pendapatan per kapita, China diproyeksikan hampir setara Jepang pada tahun 2050, dan berada di bawah pendapatan per kapita AS per 2014.

Masih menurut laporan sama, PDB Asia diperkirakan akan mencapai 53 persen pada tahun 2050, dengan pangsa Eropa menurun. Tapi untuk peningkatan populasi usia kerja, Afrika dan Timur Tengah kemungkinan akan mengalami pertumbuhan signifikan.

“Banyak negara Eropa dan Asia Timur akan mengalami penurunan angkatan kerja, di mana Jepang diperkirakan mengalami penurunan terbesar lebih dari 25 persen. China dan Korea Selatan dapat melihat kontraksi 17 persen menjadi 18 persen pada tenaga kerja mereka, sementara Yunani, Portugal dan Jerman diperkirakan akan turun lebih dari seperlima,” tulis laporan tersebut.

Economist Intelligence Unit juga mengingatkan munculnya dua raksasa perekonomian di Asia harus diimbangi dengan kekuatan politik yang lebih besar. “Mengingat kekuatan ekonomi China dan India, mereka akan mengambil peran lebih besar dalam mengatasi isu-isu global seperti perubahan iklim, keamanan internasional dan tata kelola ekonomi global, ” tulis laporan tersebut.

“Dalam jangka menengah, ini akan membutuhkan support dari kekuasaan dunia yang ada – terutama AS – untuk membiarkan India, dan terutama China, memainkan peran yang lebih besar di panggung dunia dan beradaptasi dengan lembaga-lembaga internasional untuk memungkinkan mereka menggunakan pengaruh yang lebih besar,” tutup laporan Economist Intelligence Unit.


Penulis : Estu Suryowati
Editor : Bambang Priyo Jatmiko
Sumber : Bloomberg
__._,_.___

28
Jun
15

Kepemimpinan : Bung Karno dan Tugas Illuminaty


Jun25 pada 3:32 PM
28
Jun
15

Keteknikan : Konsolidasi Sumber Daya Proyek Infrastruktur Nasional

Logo InfraWatch

Adakah Konsolidasi Sumber Daya Proyek Infrastruktur Nasional?
Dr Ir Pandji R Hadinoto MH

Jakarta, Obsessionnews – Berbagai media memberitakan tentang proyek-proyek infrastruktur publik berukuran besar seperti 24 pelabuhan laut, 15 bandara udara, 20 waduk air, 8.700 kilometer rel kereta api, belum lagi jalan-jalan tol, kompleks-kompleks perumahan, apartemen-apartemen, pabrik-pabrik industri, bencana alam, dan lain sebagainya.

“Pertanyaannya, apakah kini ada upaya konsolidasi di tingkat nasional yang merangkum histogram sumber-sumber daya proyek (SDP) infratruktur publik tersebut?” tandas Koordinator Infrastructural Watch Indonesia (IWI), Pandji R Hadinoto, Sabtu (27/6/2015).

Ia menegaskan, perencanaan SDP nasional ini dimaksudkan terperinci berdasarkan kategori tenaga kerja (manual dan non manual) berikut bali-balai latihan kerjanya yang dibutuhkan, bahan bangunan pokok dan pelengkap beserta sumber-sumber galiannya, peralatan berat dan perlengkapan kerja, laboratorium teknis pendukung, ketersediaan ruang kerja (lahan) besaran anggaran (biaya langsung dan tidak langsung) dlsb yang terkait.

“Profil SDP nasional ini penting untuk pada akhirnya digunakan bagi pengelolaan optimal kapasitas lokal mendukung pengelolaan proyeknya sendiri agar misalnya tepat jadwal dan anggaran selain juga bisa membantu teknis tata administrasi pembiayaan proyek baik dalam negeri maupun luar negeri,” tegasnya.

IWI mengimbau kepada pemerintah pusat agar konsolidasi SDP nasional infrastruktur publik ini segera didudukkan demi tingkat kepastian kinerja keproyekan infrastruktur publik lebih mantap terukur dan terkelola optimal antara kapasitas lokal yang tersedia vs kebutuhan proyek2nya.

“Optimalisasi hal ini sedini mungkin perlu diketahui sebab kelak pada akhirnya rakyat pula yang harus bayar biaya proyek-proyek infrastruktur publik itu melalui berbagai pungutan pajak-pajak public!” seru mantan Aktivis ITB ini. (Asma)

21
Jun
15

Ideologi : Pancasila 1 Juni 1945, Fakta Sejarah Kebangsaan

REPINDO

Mau menggali kembali atau mau merubah

Pancasila 1 Juni 1945 ?

Tidak dapat dipungkiri lagi tentang adanya gerakan sekelompok orang atas nama agama Islam (elemen-elemen  NU di Berlin), yang ingin menggali kembali dasar Negara Kesatuan Republik Indonesia yaitu Pancasila 1 Juni 1945. Gerakkan ini muncul dalam suatu seminar di KBRI Berlin, yang di selenggarakan pada hari Jumat sore tanggal 05.06.2015  sekitar jam 16, yang mengambil tema Pancasila dan Maritem. Dalam konteks Pancasila seminar tersebut mengambil tema : Menggalai kembali Pancasila untuk keadilan dan kemakmuran bangsa.

Komentar

Pada 1 Juni 1945, dihadapan Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) Bung Karno, pertama kali berpidato tentang Pancasila, yang selanjutnya menjadi dasar Ideologi Negara Republik Indonesia. Dalam pidato pembukaan hahirnya Pancasila 1 Juni 1945 didepan Sidang Dokurizu Zyunbi Tyoo Sakai, untuk menyampaiakan dasar Indonesia Merdeka. Dalam pidato itu Bung Karno menyatakan bahwa Pancasila adalah Sebagai ‘Philosofische Grondslag’ dari pada Indonesia Meredeka. Philosifische grondslag itulah pundamen, filsafat, pikiran-yang-sedalam-dalamnya, jiwa, hasyrat-yang-sedalam-dalamnya untuk diatasnya didirikan gedung Indonesia Merdeka yang kekal dan abadi. Merdeka buat saya (BK) ialah  : “political independence“ politieke onafhankeijkheid. (TUJU BAHAN POKOK INDOKTRINASI- bahan pokok 1 Lahirnya Pancasila –halaman 13).

Paduka tuan yang mulia !  Saya mengerti apakah yang Paduka tuan kehendaki ! Paduka tuan minta d a s a r, minta philosophosche grondslag, atau  jikalau kita boleh memakai perkataan yang muluk-muluk, Paduka tuan Ketua yang mulia meminta suatu adalah “Weltanschauung“. diatas mana kita mendirikan negara Indonesia itu. (TUJU BAHAN POKOK INDOKTRINASI- bahan pokok 1 Lahirnya Pancasila –halaman 20).

Dalam pidato pembukaan Pancasila 1 Juni 1945 itu Bung Karno mengatakan : “Kita hendak mendirikan negara Indonesia Merdeka diatas “Weltanschauung “ apa?, Nasionaliskah?, Marxis-kah, San Min chu I-kah;  “Weltanschauung“ apakah?. (Buku yang sama halaman 22)

Sudara-saudara sekalian, kita telah bersidang tiga hari lamanya, banyak pikiran telah dikemukakan,-macam-macam.- tetapi alangkah benarnya perkataan dr. Soekiman, perkataan Ki Bagoes Hadikoesoemo, bahwa kita harus mencari persetujuan, mencari persetujuan faham. Kita bersama-sama mencari persatuan philosophische grondslag. Mencari satu “Weltanschauung“ yang kita semua setuju. Saya katakan lagi setuju!. Yang saudara  Yamin setujui, yang Ki Bagoes setujui, yang Ki Hajar setujui, yang saudara Sanoesi setujui, yang sadara Abikoesno setujui,yang saudara Lim Koen Kian setujui, pendeknya kita semua mencari satu modus. Tuan Yamin, ini bukan compromis, tapi kita besama-sama mencari satu hal, yang kita bersama-sama setujui,Apakah itu !. Pertama-tama saudara –saudara saya bertanya : Apakah kita hendak mendirikan Indonesia Merdeka untuk sesuatu orang, untuk sesuatu golongan? Mendirikan negara Indonesia Merdeka yang namanya saja Merdeka, tapi sebenarnya hanya untuk mengagungkan satu orang, untuk memberi kekuasaan kepada satu golongan yang kaya, untuk memberi kekuasaan pada satu golongan bangsawan?.

Apakah maksud kita begitu?, Sudah tentu tidak !  Baik saudara-saudara yang bernama kaum kebangsaan yang disisni, maupun saudara-saudara yang dinamakam kaum Islam, semuanya telah mufakat, bahwa bukan negara yang demikian itulah kita punya tujuan. Kita  hendak mendirikan suatu negara “semua buat semua“ . Bukan buat satu orang, bukan buat satu golongan, baik golongan bangsawan maupun golongan yang kaya,-tapi “semua buat semua“

Inilah salah satu dasar pikiran yang nanti akan saya jelaskan kali. (dikutip dari buku yang sama “Pidato Bung Karno pada hari kelahiran Pancasila 1 juni !945“halaman 23 dalam buku yang sama).

Sampai disini jelasaslah bahwa Pancasila itu sudah digali secara teliti, jimet dan sangat mendalam oleh banyak bapak-bapak pendiri bangsa dan NKRI, yang nama-namanya  antara lain sudah di sebutkan diatas.

Kalau sekarang ini ada elemen-elemen agama Islam , kongkritnya elemen-elemen NU, yang hendak menggali kembali Pancasila untuk keadilan dan kemakmuran bangsa; lalu apanya yang mau digali kembali?, dan apa dasarnya?. Bukankan Pancasila itu sudah final dan paling ideal , serta tidak bisa diubah dengan dasar lainnya. Pancasila 1 Juni 1945 adalah senjata  untuk menyatukan bangsa Indonesia yang bineka Tunggal Ika. Bukankah Pancasila 1 juni 1945 itu sudah kita setujui bersama? Lalu apa maunya elemen-elemen NU di Berlin yang hendak menggali kembali Pancasila? Apakah mereka sudah mempunyai strategi politik tertentu, yang ujung-ujungnya menolak Pancasila 1 Juni 1945 ciptaan Bung Karno, dan akan menganti dengan dasar yang lainnya?

Selanjutnya dalam Lahirnya Pancasila 1 Juni 1945, yang ditulis dalam buku TUJU BAHAN POKOK INDOKTRINASI halaman 33-35, Bung Karno menagtakan: Saudara-saudara saya usulkan: Kalau kita mencari demokrasi hendaknya bukan demokrasi barat, tapi permusyawaratan yang memberi hidup, yakni  p o l i t i e k – e c o n o m i s c h e  demokrasi, yang mampu mendatangkan kesejahteraan sosial ! Rakyat Indonesia sudah lama berbicara hal ini.. …… Maka oleh karena itu, jikalu kita memang betul-betul mengerti , mengingat, mencintai rakyat Indonesia, marilah kita  terima prinsip hal sosiale rechtwaardigkeid ini, yaitu bukan saja perasaan  p o l i t i k, saudara-saudara, tapi juga diatas lapangan e k o n o m i  kita harus mengadakan persamaan, artinya kesejahteraan bersama yang sebaik-baiknya.

Dan selanjutnya dalam halaman 34 Bung karno mengatakan: Juga dalam urusan kepala negara, saya terus terang, saya  tidak memilih monarchie. Apa sebab?  Oleh karena monarchie “vooronderstelt erfelijkheid“- turun-menurun.  Saya Islam, saya demokrat karena saya Islam saya menghendaki mufakat, maka saya minta supya tiap-tiap kepala negara pun dipilih. Tidakah  agama Islam mengatakan bahwa kepala-kepada negara, baik kalif, maupun amirul mu´minin, harus dipilih rakyat?

Saudara.saudara apakah, apakah prinsip kelima itu ?

1.   Kebangsaan Indonesia

2.   Internasionalisme – atau pri-kemanusiaan

3.   Mufakat – atau demokrasi

4.   Kesejahteraan sosilal

      Prinsip yang kelima hendaknya : Menyusun Indonesia Merdeka dengan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Setelah mengalami diskusi dengan musyawarah dan mufakat akhirnya Pancasila yang diterapkan dalam pembukaan UUD 45 adalah sebagai berikut :

1.  Ketuhanan yang maha Esa

2.  Kemanusiaan yang adil dan beradap

3.  Persatuan Indonesia

4.  Kerakyatan dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan

5.  Keadilan  social bagi seluruh Rakyat Indonesia.

Pada saat itu ada usulan amandemen yang diajukan, yalah supaya sesudah sila pertama, yaitu Ketuhanan Yang Maha Esa, ditambahkan 7 kata-kata. Dan 7 kata-kata itu yalah berbunyi : dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya. (halaman 368-369, buku Tuju Bahan Pokok Indoktrinasi).

Selanjutnya pada halaman 368 dikatakan (dalam buku yang sama)

Tujuh kata-kata ini diambil dari apa yang dinamakan Piagam-Jakarta atau Jakarta-Charter, suatu dokumen- historis, yang dibuat pada tanggal 22 Juni 1945, ditanda tangani oleh 9 tokoh pemimpin Bangsa kita yaitu : Soekarno, Moh Hatta, AA Maramis, Abikusno, AK Muzakir, HA Salim, Mr. A. Subardjo. K. Wahid Hasjim dan Moh. Yamin.

Kemudian pada saat-saat menjulangnya Api-Revolusi kita. yaitu pada tanggal 18 Agustus 1945, perumusan ini dihilangkan dari  UUD, yang dengan resmi dan sah disusun pada hari itu juga.  Juga dihapuskan sjarat, bahwa Presiden Republik Indonesia harus beragama Islam.

Sebab apa dihilangkan?

Menurut authentiek yaitu catatan-catatan  resmi dari Sidang Pembuat UUD. pada tanggal 18 Agustus itu, maka alasan menghilangkan 7 kata-kata perumusan Jakarta-Charter tersebut yalah untuk menjaga keutuhan-seluruh –bangsa Indonesia dari Sabang sampai ke Merauke.

Bung Hatta sendiri, yang pada waktu itu mengetuai Sidang Panitia persiapan Kemerdekaan, pada tanggal 18 Agustus 1945 itu a.l. berkata:

“ Dengan membuang 7 kata-kata ini serta syarat bahwa Presiden yalah orang Indonesia-asli, yang harus beragama Islam, maka inilah merupakan perobahan yang maha penting, yang menyatukan Bangsa, sjarat-sjarat itu menyinggung perasaan, sedangkan membuang ini maka seluruh Hukum UUD dapat diterima oleh daerah Indonesia yang tidak beragama Islam, umpamanya yang yang pada waktu itu diperintah oleh Kaigum. Persetujuan dalam hal ini juga sudah didapat antara berbagai golongan, sehingga memudahkan pekerjaan kita waktu sekarang ini.  (hal. 369)

Demikianlah apa yang dapat kita baca dari notulen-authentiek dari  Sidang Panitia Persiapan Kemerdekaan tanggal 18 Agustus 1945 itu, ducapkan oleh Ketuanya, yaitu Bung Hatta.

Dari sini dapat kita tarik suatau kesimpulan bahwa Pancsila 1 Juni 1945 itu sudah Final, dan tidak bisa dirubah-rubah lagi dengan dasar yang lain.

Memang kita semua sudah menyaksikan bahwa pelaksanaan Pancasila 1 Juni 1945, saat ini belum memadai jika ditinjau dari hakekat yang sebenarnya dari  Pancasila 1 Juni 1945. Hal ini dapat diterangkan sebagai berikut: Dalam konteks ini bailah kita cermati pidato Bung Karno dalam menyambut Ulang tahun kemerdekaan 17 Agustus 1960, yang berjudul : JALANNYA REVOLUSI KITA (JAREK) (dalam buku yang sama halaman 187). Dalam pidato itu Bung Karno menjelaskan : Ada hubungan yang erat antara Pancasila dengan Manifesto Politik dan USDEK. 

Manifesto Politik adalah pancaran dari Pancasila, USDEK adalah pancaran dari Pancasila. Manifesto Politik, USDEK dan Pancasila, adalah terjalin satu sama lain, Manifesto Politik, USDEK dan Pancasila tak dapat dipisah-pisahkan satu sama liain. Selanjutnya dalam pidato itu Bung Karno mengatakan: Jika saya harus mengambil qias agama, -sekedar qias !-maka katakan bahwa Pancasila adalah semacam Qur´annya, dan Manifesto Politik-USDEK adalah Hadis-shahinya. (Awas! saya tidak mengatakan bahwa Pancasilasila adalah Qur´an, dan bahwa Manifesto Politik dan USDEK adalah Hadis ! Qur´an dan Hadis-shahih merupakan satu kesatuan – maka Pancasila dan Manifesto Politik dan USDEK pun merupakan satu kesatuan (JAREK hal:200 dalam buku TUJU BAHAN POKOK INDOKTRINASI).

Sedikit penjelasan: Manipol/USDEK merupakan akronim1 dari  Manifesto politik/Undang-Undang Dasar1945, Sosialis Indonesia, Demokrasi Terpimpin, Ekonomi Terpimpin,dan Kepribadian Indonesia, yang oleh Bung Karno  dijadikan sebagai Pola pembangunan negara Republik Indonesia, sehingga harus dijunjung tinggi, dipupuk, dan dijalankan oleh semua bangsa Indonesia. Penjelasan dan penekanan Bung Karno bahwa Manifesto Politik, USDEK dan Pancasila, adalah terjalin satu sama lain, Manifesto Politik, USDEK dan Pancasila tak dapat dipisah-pisahkan satu sama liain. Artinya Pancasila itu sudah dipikirkan secara mendalam sekali oleh bapak-bapak para pendiri bangsa dan Negara Kesatuan Republik Indonesia, pemikiran tersebut sesuai dengan pemikiran mutahir (baru dan modern) dizaman modern sekarang ini yaitu pemikiran sistem. Munculnya  pemikiran sistem merupakan sebuah revolusi menyeluruh dalam sejarah pemikiran ilmiah Barat.  Pemikiran sistem dalam rangka adanya saling keterkaitan, hubungan-hubungan, keteraturan dan konteks.  

(akronim1: Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) online [2] kependekan yg berupa gabungan huruf atau suku kata atau bagian lain yg ditulis dan dilafalkan sbg kata yg wajar (msl mayjen mayor jenderal, rudal peluru kendali, dan sidak inspeksi mendadak)

Substansi dan Bentuk. Ketegangan antara pemikiran mekanisme dan holisme2 merupakan tema yang selalau berulang disepanjang sejarah biologi. Ini adalah merupakan konsekuensi yang tak dapat terhindarkan dari pembagian kuno antara subsatansi (materi,struktur, kwantitas) dengan bentuk (pola, keteraturan, kwalitas).

(holisme2 berasal dari perkataan holon; kata  Holons adalah merupakan suatu keseluruhan, tapi juga sekaligus memrupakan bagian dari keseluruhan yang lain. Misalnya , seluruh bagian dari Atom adalah merupakan bagian dari seluruh molekul; seluruh molekul adalah merupakan bagian dari seluruh Celle; seluruh Celle adalah merupakan bagian dari organisme dst. Jadi Holon itu mempunyai dua sifat/kemampuan, yaitu sebagai keseluruhan dan bagian.  Ini berarti Keseluruhan itu juga menghayati bagian).

Mencermati Pancasila 1 Juni 1945 dari sudut pandang pemikiran Sistem.

Dari sudut pandang sistem, memahami Pancasila harus  dimulai dari memahami polanya. Studi tentang pola sangat penting untuk memahami system Pancasila, karena sifat- sifat sistemik, sebagaimana kita lihat dari suatu konfigurasi hubungan-bubungan yang teratur dalam Pancasila 1 Juni 1945. Jadi apa yang rusak ketika ketika Pancasila  mati?; Pancasila mati, karena polanya sudah dihancurkan, sejak berkuasannya rezim totaliterisme militer pimpinan jendral TNI AD Soeharto.

 Pola pembangunan NKRI adalah Manifesto Politik/USDEK (yang merupakan pancaran dari Pancasila 1 Juni 1945),  sejak berkuasanya Orde Baru sudah dihancurkan, dan diganti dengan pola kesaktian Pancasila, yang berkaitan erat dengan pembangunan masyarakat kediktatoran militer fasis, yang menggunakan kesaktian Pancasila untuk menghalalkan pembantaian massal (genosida) 1965-1966, terhadap 3 juta rakyat yang tak bersalah, memenjarakan dan membuang ratusan ribu rakyat yang tak bersalah ke pulau Buru.

Dampak dari kesaktian Pancasila sampai sekarang ini masih terrasakan, ini tercermin dalam bentuk menentang penuntasan pelanggaran HAM berat 1965-1966, melalui pengadilan HAM AD HOC, dan pelestarian TAP MPRS XXV/1966 yang melarang semua faham Sosialisme, dan komunisme, dan TAP MPRS XXXIII/1967 (yang berkaitan dengan nama baik Bung Karno).

Sudah 17 tahun reformasi, tapi  sampai sekarang ini belum ditemukan pemimpin bangsa Indonesia yang mau memahami pola-pola tersebut, sehingga pembangunan yang mencerminkan  tuntutan hakiki Pancasila 1 Juni 1945, hingga saat ini  belum dapat dirasakan hasilnya, dalam konteks ini yang  salah bukan Pancasila 1 Juni 1945, yang salah adalah polanya karena sudah dihancurkan oleh rezim militer fasis Orde Baru, dan diteruskan oleh rezim reformasi gadungan sampai sekarang ini.

Apakah pola Pembangunan NKRI menurut Pancasila 1 Juni 1945, Pola Pembangunan itu adalah :Demokrasi Terpimpim, yang artinya adalah Demokrasi yang mengikuti keteraturan yang telah ditetapkan oleh Pancasila 1 Juni 1945, yaitu Demokrasi yang mempraktekan musyawarah dan mufakat, Demokrasi yang membela amanat penderitaan rakyat, dan membela kedaulatan rakyat, bukan demokrasi leberal/neoliberal yang dikagumi oleh pera elite bangsa Indonesia yang berkuasa dinegeri ini. Demikin juga pola Perekonomian, seharusnya melaksanakan pola Demokrasi ekonomi, menurut UUD 45, khususnya Pasal 33 UUD 45, bukan ekonomi neoliberal, yang mengikuti globalisasi pasar bebas milik kaum kapitalis neoliberal, pimpinan imperialisme AS, dimana kedaulatan pasar ditempatkan diatas kedaulatan rakyat; dan pola persatuan bangsa Indonesia, yaitu persatuan dari semua gplongan, yang menyetujui jiwa Pancasila 1 Juni 1945 , yaitu persatuan yang berjiwa Pluralisme. Semuanya ini sudah dihancurkan, sehingga Pancasila telah busuk dan mati.

Jadi jika mememang kita  iklas dan jujur hendak menghidupkan kembali  Pancasila 1 Juni 1945, maka kita harus berjuang secara bergotong royong dari semua kekuatan demokratis dan revolusioner, menghidupkan kembali pola-pola Pancasila 1 Juni 1945, seperti yang sudah disebutkan diatas; agar supaya kita dapat menghadirkan kesejahteraan hidup bagi Rakyat Indonesia secara keseluruhan.  Menghadirkan suatau masyarakat yang bebas dari adanya penghisapan manusia atas manusia, yang oleh Bung Karno disebut masyarakat sosialis Indonesia.

Cara menggali kembali Pancasila untuk keadilan dan kemakmuran bangsa, sama sekali tidak dapat dibenarkan, karena Pancasila 1 Juni 1945 itu sudah final, tak perlu digali kembali,  yang penting bagi kita adalah menghidupkan kembali pola-pola Pancasila 1 Juni 1945 , yaitu demokrasi terpimpin, demokrasi ekonomi, kebudayaan Indonesia, dan manifesto politik/USDEK, ini yang harus dihidupkan kembali, jika kita memang iklas dan jujur hendak menghadirkan kemakmuran dan kesejahteraan Rakyat Indonsesia. Cara menggali kembali Pancasila adalah jalan yang sesat, oleh karena itu perlu dipertanyakan: Mau menggali kembali atau mau merubah Pancasila 1 Juni 1945?

Oleh karena itu studi tentang pola sangat penting untuk memahami system kehidupan Pancasila 1 Juni 1945 yang sifatnya sistemik, sebagaimana yang telah di sebutkan diatas, yang muncul dari suatu konfigurasi hubungan-hubungan yang teratur. Sifat-sifat sistemik adalah sifat-sifat suatu pola, jadi apa yang rusak ketika Pancasila 1 Juni 1945  mati, yang rusak adalah polanya. Semua komponen-komponennya yaitu bangsa Indonesia masih tetap ada,  Rayat Indonesia yang  patriotik dan revolusioner masih ada, Bineka Tunggal Ika masih ada, kaum Buruh dan Tani yang mendukung UUD 45, khususnya Pasal 33 UUD 45 masih ada, para patriot revolusioner Indonesia masih ada, para pengusaha nasional yang patriotik masih ada, UUD 45, khususnya Pasal 33 UUD 45, Pancasila 1 Juni 1945, semuanya masih tetap ada, tapi konfigurasi hubungan diantara komponen-komponen itu telah dihancurkan lewat TAB MPRS XXV/1966 , bikinan rezim diktator militer fasis pimpinan jendral TNI AD Soeharto, sehingga Pancasila  mati sampai sekarang ini.

Penghancuran komponen-komponen bangsa ini tercarmin dalam TAB MPRS XXV/1966, yang melarang mempelajari teori-teori sosialisme, komunime , TAB MPRS XXV /1966 diera reformasi sekarang ini masih terus dijunjung tinggi oleh  DPR RI, dan para politikus busuk warisan rezim militer fasis Soeharto. Semua gerakan yang memperjuangkan kembalinya UUD 45, khususnya Pasal 33, dan Pancasila  1 Juni 1945, Manifesto Politik /USDEK langsung dicurigai dan diberi stempel PKI, di ancam dan di tangkap oleh polisi.

Hanya almarhum Presiden Gus Dur yang pernah mencanangkan agar supaya TAP MPRS XXV/1966 dicabut, dampaknya adalah Gus Dur dilengser oleh gerakan poros tengah pimpinan Amin rais. Pengalaman Gus Dur inlah yang mencerminkan bahwa di NKRI era reformasi ini masih banyak elemen-elemen orde baru yang anti  UUD 45, khususnya khususnya Pasal 33 UUD 45 , dan Pancasila 1 Juni 1945, dan mereka masih mendominasi kekuasaan politik di NKRI sebagai penumpang–penumpang gelap di NKRI, yang katanya sudah berreformasi sejak 17 tahun lamanya.

Nampaknya semua eleman-eleman Orde Baru dan para elite reformis gadungan (busuk) yang berkuasa di negeri ini, tak dapat memahami keadaan ini, karena mereka gagal dalam memahami pentingnya pola, yang terkandung dalam jiwa Pancasila 1 Juni 1945, dan mereka terus memutus konfigurasi hubungan-hubungan diantara komponen-komponen bangsa Indonesia yang Bineka Tunggal Ika. Itulah sebabnya mengapa sudah 17 tahun reformasi tapi Pancasila 1 Juni 1945 masih belum dapat dilaksanakan sepenuhnya . Sungguh menyedihkan kondesi seperti ini !!!

Roeslan.

 




Blog Stats

  • 2,518,781 hits

Recent Comments

Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Sejarah : Bangsa Lemuria, Lelu…
Ratu Adil - 666 on Sejarah : Bangsa Lemuria, Lelu…

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 140 other followers