Archive for the 'Jiwa Semangat Nilai-nilai 45' Category

24
May
16

Ideologi : Penghayatan dan Pengamalan Pancasila

pancasila mercusuar dunia_01

Penghayatan Dan Pengamalan Butir-Butir Pancasila


Pancasila adalah ideologi dasar bagi negara Indonesia. Nama ini terdiri dari dua kata dari Sanskerta: Panca berarti lima dan Sila berarti prinsip atau asas. Pancasila merupakan rumusan dan pedoman kehidupan berbangsa dan bernegara bagi seluruh rakyat Indonesia. Pancasila seperti tercantum pada paragraf ke–4 Preambule (Pembukaan) Undang-undang Dasar 1945 merupakan kesatuan yang bulat dan utuh dari kelima Sila, yaitu Ketuhanan Yang Maha Esa, kemanusiaan yang adil dan beradab, persatuan Indonesia, kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/ perwakilan, dan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.
Penghayatan Dan Pengamalan Butir-Butir PancasilaPancasila yang bulat dan utuh itu memberi keyakinan kepada rakyat dan bangsa Indonesia bahwa kebahagiaan hidup akan tercapai apabila didasarkan atas keselarasan dan keseimbangan, baik dalam hidup manusia sebagai pribadi, dalam hubungan manusia dengan masyarakat, dalam hubungan manusia dengan alam, dalam hubungan bangsa dengan bangsa-bangsa lain, dalam hubungan manusia dengan Tuhannya, maupun dalam mengejar kemajuan lahiriah dan kebahagiaan rohaniah.

Dengan keyakinan akan kebenaran Pancasila, maka manusia ditempatkan pada keluhuran harkat dan martabatnya sebagai makhluk Tuhan Yang Maha Esa dengan kesadaran untuk mengemban kodratnya sebagai makhluk pribadi dan sekaligus makhluk sosial.

Dengan berpangkal tolak dari kodrat manusia sebagai makhluk Tuhan Yang Maha Esa, yang merupakan makhluk pribadi dan sekaligus makhluk sosial, maka penghayatan dan pengamalan Pancasila akan ditentukan oleh kemauan dan kemampuan seseorang dalam mengendalikan diri dan kepentiangannya agar dapat melaksanakan kewajibannya sebagai warga negara dan warga masyarakat.

Untuk memenuhi kewajibannya sebagai warga negara dan warga masyarakat, manusia Indonesia dalam menghayati dan mengamalkan Pancasila secara bulat dan utuh menggunakan pedoman kepada butir butir Pancasila yang terdapat dalam:
  • Ketetapan MPR No. II/MPR/1978 tentang Ekaprasetia Pancakarsa memuat 36 butir Pancasila
  • Ketetapan MPR No. I/MPR/2003 memuat 45 butir Pancasila
36 BUTIR–BUTIR PANCASILA

(TAP MPR NO. II/MPR/1978)

Sila Ketuhanan Yang Maha Esa
  1. Percaya dan Takwa kepada Tuhan Yang Maha Esa sesuai dengan agama dan kepercayaan masing-masing menurut dasar kemanusiaan yang adil dan beradab.
  2. Hormat menghormati dan bekerjasama antar pemeluk agama dan penganut-penganut kepercayaan yang berbeda-beda sehingga terbina kerukunan hidup.
  3. Saling menghormati kebebasan menjalankan ibadah sesuai dengan agama dan kepercayaannya.
  4. Tidak memaksakan suatu agama dan kepercayaan kepada orang lain.
Sila Kemanusiaan Yang Adil Dan Beradab
  1. Mengakui persamaan derajat persamaan hak dan persamaan kewajiban antara sesama manusia.
  2. Saling mencintai sesama manusia.
  3. Mengembangkan sikap tenggang rasa.
  4. Tidak semena-mena terhadap orang lain.
  5. Menjunjung tinggi nilai kemanusiaan.
  6. Gemar melakukan kegiatan kemanusiaan.
  7. Berani membela kebenaran dan keadilan.
  8. Bangsa Indonesia merasa dirinya sebagai bagian dari seluruh umat manusia, karena itu dikembangkan sikap hormat-menghormati dan bekerjasama dengan bangsa lain.
Sila Persatuan Indonesia
  1. Menempatkan kesatuan, persatuan, kepentingan, dan keselamatan bangsa dan negara di atas kepentingan pribadi atau golongan.
  2. Rela berkorban untuk kepentingan bangsa dan negara.
  3. Cinta Tanah Air dan Bangsa.
  4. Bangga sebagai Bangsa Indonesia dan ber-Tanah Air Indonesia.
  5. Memajukan pergaulan demi persatuan dan kesatuan bangsa yang ber-Bhinneka Tunggal Ika.
Sila Kerakyatan Yang Dipimpin Oleh Hikmat Kebijaksanaan Dalam Permusyawaratan/Perwakilan
  1. Mengutamakan kepentingan negara dan masyarakat.
  2. Tidak memaksakan kehendak kepada orang lain.
  3. Mengutamakan musyawarah dalam mengambil keputusan untuk kepentingan bersama.
  4. Musyawarah untuk mencapai mufakat diliputi semangat kekeluargaan.
  5. Dengan itikad baik dan rasa tanggung jawab menerima dan melaksanakan hasil musyawarah.
  6. Musyawarah dilakukan dengan akal sehat dan sesuai dengan hati nurani yang luhur.
  7. Keputusan yang diambil harus dapat dipertanggung jawabkan secara moral kepada Tuhan Yang Maha Esa, menjunjung tinggi harkat dan martabat manusia serta nilai-nilai kebenaran dan keadilan.
Sila Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia
  1. Mengembangkan perbuatan-perbuatan yang luhur yang mencerminkan sikap dan suasana kekeluargaan dan gotong-royong.
  2. Bersikap adil.
  3. Menjaga keseimbangan antara hak dan kewajiban.
  4. Menghormati hak-hak orang lain.
  5. Suka memberi pertolongan kepada orang lain.
  6. Menjauhi sikap pemerasan terhadap orang lain.
  7. Tidak bersifat boros.
  8. Tidak bergaya hidup mewah.
  9. Tidak melakukan perbuatan yang merugikan kepentingan umum.
  10. Suka bekerja keras.
  11. Menghargai hasil karya orang lain.
  12. Bersama-sama berusaha mewujudkan kemajuan yang merata dan berkeadilan sosial.
45 BUTIRBUTIR PANCASILA
(TAP MPR NO. I/MPR/2003)

Sila Ketuhanan Yang Maha Esa
  1. Bangsa Indonesia menyatakan kepercayaannya dan ketakwaannya terhadap Tuhan Yang Maha Esa.
  2. Manusia Indonesia percaya dan takwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa, sesuai dengan agama dan kepercayaannya masing-masing menurut dasar kemanusiaan yang adil dan beradab.
  3. Mengembangkan sikap hormat menghormati dan bekerjasama antara pemeluk agama dengan penganut kepercayaan yang berbeda-beda terhadap Tuhan Yang Maha Esa.
  4. Membina kerukunan hidup di antara sesama umat beragama dan kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa.
  5. Agama dan kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa adalah masalah yang menyangkut hubungan pribadi manusia dengan Tuhan Yang Maha Esa.
  6. Mengembangkan sikap saling menghormati kebebasan menjalankan ibadah sesuai dengan agama dan kepercayaannya masing-masing.
  7. Tidak memaksakan suatu agama dan kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa kepada orang lain.
Sila Kemanusiaan Yang Adil Dan Beradab
  1. Mengakui dan memperlakukan manusia sesuai dengan harkat dan martabatnya sebagai makhluk Tuhan Yang Maha Esa.
  2. Mengakui persamaan derajat, persamaan hak, dan kewajiban asasi setiap manusia, tanpa membeda-bedakan suku, keturunan, agama, kepercayaan, jenis kelamin, kedudukan sosial, warna kulit dan sebagainya.
  3. Mengembangkan sikap saling mencintai sesama manusia.
  4. Mengembangkan sikap saling tenggang rasa dan tepa selira.
  5. Mengembangkan sikap tidak semena-mena terhadap orang lain.
  6. Menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan.
  7. Gemar melakukan kegiatan kemanusiaan.
  8. Berani membela kebenaran dan keadilan.
  9. Bangsa Indonesia merasa dirinya sebagai bagian dari seluruh umat manusia.
  10. Mengembangkan sikap hormat menghormati dan bekerjasama dengan bangsa lain.
Sila Persatuan Indonesia
  1. Mampu menempatkan persatuan, kesatuan, serta kepentingan dan keselamatan bangsa dan negara sebagai kepentingan bersama di atas kepentingan pribadi dan golongan.
  2. Sanggup dan rela berkorban untuk kepentingan negara dan bangsa apabila diperlukan.
  3. Mengembangkan rasa cinta kepada tanah air dan bangsa.
  4. Mengembangkan rasa kebanggaan berkebangsaan dan bertanah air Indonesia.
  5. Memelihara ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi, dan keadilan sosial.
  6. Mengembangkan persatuan Indonesia atas dasar Bhinneka Tunggal Ika.
  7. Memajukan pergaulan demi persatuan dan kesatuan bangsa.
Sila Kerakyatan Yang Dipimpin Oleh Hikmat Kebijaksanaan Dalam Permusyawaratan/Perwakilan
  1. Sebagai warga negara dan warga masyarakat, setiap manusia Indonesia mempunyai kedudukan, hak, dan kewajiban yang sama.
  2. Tidak boleh memaksakan kehendak kepada orang lain.
  3. Mengutamakan musyawarah dalam mengambil keputusan untuk kepentingan bersama.
  4. Musyawarah untuk mencapai mufakat diliputi oleh semangat kekeluargaan.
  5. Menghormati dan menjunjung tinggi setiap keputusan yang dicapai sebagai hasil musyawarah.
  6. Dengan iktikad baik dan rasa tanggung jawab menerima dan melaksanakan hasil keputusan musyawarah.
  7. Di dalam musyawarah diutamakan kepentingan bersama di atas kepentingan pribadi dan golongan.
  8. Musyawarah dilakukan dengan akal sehat dan sesuai dengan hati nurani yang luhur.
  9. Keputusan yang diambil harus dapat dipertanggungjawabkan secara moral kepada Tuhan Yang Maha Esa, menjunjung tinggi harkat dan martabat manusia, nilai-nilai kebenaran dan keadilan mengutamakan persatuan dan kesatuan demi kepentingan bersama.
  10. Memberikan kepercayaan kepada wakil-wakil yang dipercayai untuk melaksanakan pemusyawaratan.
Sila Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia
  1. Mengembangkan perbuatan yang luhur, yang mencerminkan sikap dan suasana kekeluargaan dan kegotongroyongan.
  2. Mengembangkan sikap adil terhadap sesama.
  3. Menjaga keseimbangan antara hak dan kewajiban.
  4. Menghormati hak orang lain.
  5. Suka memberi pertolongan kepada orang lain agar dapat berdiri sendiri.
  6. Tidak menggunakan hak milik untuk usaha-usaha yang bersifat pemerasan terhadap orang lain.
  7. Tidak menggunakan hak milik untuk hal-hal yang bersifat pemborosan dan gaya hidup mewah.
  8. Tidak menggunakan hak milik untuk bertentangan dengan atau merugikan kepentingan umum.
  9. Suka bekerja keras.
  10. Suka menghargai hasil karya orang lain yang bermanfaat bagi kemajuan dan kesejahteraan bersama.
  11. Suka melakukan kegiatan dalam rangka mewujudkan kemajuan yang merata dan berkeadilan sosial.
Perlu diketahui bahwa TAP MPR No. I/MPR/2003 dengan 45 butir Pancasila ini tidak pernah dipublikasikan kajian mengenai apakah butir-butir ini benar-benar diamalkan dalam keseharian warga Indonesia.
Penetapan rumusan Pancasila diterima sebagai dasar negara secara resmi termuat dalam beberapa dokumen, yaitu:
  • Rumusan Pertama : Piagam Jakarta (Jakarta Charter) – tanggal 22 Juni 1945
  • Rumusan Kedua : Pembukaan Undang-undang Dasar – tanggal 18 Agustus 1945
  • Rumusan Ketiga : Mukaddimah Konstitusi Republik Indonesia Serikat – tanggal 27 Desember 1949
  • Rumusan Keempat : Mukaddimah Undang-undang Dasar Sementara – tanggal 15 Agustus 1950
  • Rumusan Kelima : Rumusan Kedua yang dijiwai oleh Rumusan Pertama (merujuk Dekrit Presiden 5 Juli 1959)

Sumber wikipedia

17
May
16

PRIMER45 : Politik Roh Indonesia Merdeka 45

Garuda Pancasila Islami

Terkuak! Ternyata Asal Muasal Pancasila Adalah Syahadat dan Rukun Islam!
Pada catatan sejarah, Lambang Garuda Pancasila dirancang oleh Sultan Hamid II dari Pontianak, yang kemudian disempurnakan oleh presiden Soekarno.Bung Karno dan Sultan Hamid II
Lambang Kerajaan Samudera Pasai berisi KALIMAT TAUHID dan RUKUN ISLAM. Kepala burung bermakna Basmallah, sayap dan kakinya merupakan ucapan dua kalimat Syahadat. Badan burung itu merupakan Rukun Islam.

Tahukah Anda jauh-jauh hari sebelum lambang itu dipakai sebagai lambang Negara Republik Indonesia, lambang tersebut sudah lebih dahulu digunakan sebagai lambang Kerajaan Samudera Pasai???

Seperti yang kita ketahui, bahwa Kerajaan Samudera Pasai adalah sebuah kerajaan Islam pertama di Indonesia yang didirikan oleh Sultan Malikussaleh (Meurah Silu) pada abad ke 13 atau pada tahun 1267.
Kerajaan Samudera Pasai pada saat itu dikenal sebagai pusat studi Islam di kawasan Asia Tenggara, hal ini dikemukakan oleh seorang petualang bernama Ibnu Battutah dalam bukunya Tuhfat al-Nazha. Lambang kerajaan Islam Samudera Pasai ini dirancang oleh seorang Sultan Samudera Pasai yaitu Sultan Zainal Abidin. Lambang burung tersebut memiliki makna yaitu SYIAR ISLAM YANG KUAT.

R Indra S Attahashi menjelaskan bahwa lambang negara Samudera Pasai berisi kalimat Tauhid dan Rukun Islam. Rinciannya, kepala burung itu bermakna Basmallah, sayap dan kakinya merupakan ucapan dua kalimat Syahadat. Terakhir, badan burung itu merupakan Rukun Islam.

Indra melanjutkan penjelasannya bahwa lambang itu disalin ulang oleh Teuku Raja Muluk Attahashi bin Teuku Cik Ismail Siddik Attahashi yang merupakan Sultan Muda Aceh yang diangkat pasca peristiwa Perang Cumbok pada 1945. Pada saat itu di Aceh Tamiang ada kerajaan sendiri bernama Kerajaan Sungai Iyu.

Indra menjelaskan, lambang Kerajaan Samudera Pasai itu sudah ada dalam silsilah keluarganya lebih dari 100 tahun lalu. Dari kakek atau nenek, lambang itu diwariskan dari generasi ke generasi yang selalu dikisahkan bahwa itu lambang Kerajaan Samudera Pasai.

Lambang itu dilukis oleh Teuku Raja Muluk Attahashi, keturunan dari panglima Turki Utsmani yang ke Aceh ketika Sultan Iskandar Muda menghadapi Portugis, pimpinan dari Panglima Tujuh Syarif Attahashi.

Lambang Garuda Pancasila ini ternyata terinspirasi dari lambang kerajaan Samudera Pasai, namun terlepas dari itu semua sejarawan LIPI, Aswi Warman Adam menegaskan kalau klaim itu menunjukkan kecintaan bangsa Indonesia.

Jadi, jangan beri ruang mereka yang berani menghina Pancalisa, sebab itu sebenarnya menghina Syahadat dan Rukun Islam. Mohon dibagikan ini agar semua orang tahu, semoga bermanfaat.

Suara Warga :

Politik Roh Indonesia Merdeka 45 (PRIMER45)

Mukadimah KepPres No 50/1984 menyatakan “Bahwa sesungguhnya atas berkat rahmat dan karunia Tuhan Yang Maha Esa, Angkatan ’45 telah berhasil bersama-sama rakyat Indonesia mencetuskan Proklamasi Kemerdekaan bangsa dan tanah air Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945 yang telah melahirkan Negara Kesatuan Republik Indonesia; dengan demikian hapuslah kekuasan-kekuasaan fasisme, imperialisme, kolonialisme, dan feodalisme dari bumi Indonesia. Selanjutnya bersama-sama rakyat Indonesia mempertahankan, mengisi dan memperkembangkan Negara Kesatuan Republik Indonesia berdasarkan Proklamasi 17 Agustus 1945 dan segenap Nilai-nilai Juang 45…..”.

Oleh karena itulah kepada Yang Terhormat Rakyat Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), dalam rangka peringatan Hari Kebangkitan Nasional tanggal 20 Mei 2016, kami Generasi Penerus Angkatan 45 [Bab V Pasal 9 (2) Anggaran Dasar MuNas XII/2006] menghimbau kiranya Tatanilai Mental Revolusi diperkuat dengan PRIMER45 berpijak Jiwa Semangat Nilai-nilai 45 (JSN45) sebagai berikut :

Tatanilai Dasar :

1. Semua nilai yang terdapat dalam setiap sila dari Pancasila,
2. Semua nilai yang terdapat dalam Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945,
3. Semua nilai yang terdapat dalam Undang Undang Dasar 1945, baik dalam Pembukaan, Batang Tubuh, maupun Penjelasannya.

Tatanilai Operasional :

1. Ketakwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa, 2. Jiwa dan Semangat Merdeka,
3. Nasionalisme,
4. Patriotisme,
5. Rasa harga diri sebagai bangsa yang merdeka,
6. Pantang mundur dan tidak kenal menyerah,
7. Persatuan dan Kesatuan,
8. Anti penjajah dan penjajahan,
9. Percaya kepada diri sendiri dan atau percaya kepada kekuatan dan kemampuan sendiri,
10.Percaya kepada hari depan yang gemilang dari bangsanya,
11,Idealisme kejuangan yang tinggi,
12.Berani, rela dan ikhlas berkorban untuk tanah air, bangsa dan negara,
13.Kepahlawanan,
14.Sepi ing pamrih rame ing gawe,
15.Kesetiakawnan, senasib sepenanggungan dan kebersamaan.
16.Disiplin yang tinggi,
17.Ulet dan tabah menghadapi segala macam ancaman, tantangan, hambatan, dan gangguan.

JSN45 tersebut diatas adalah satu kesatuan paham yang tidak terpisahkan dengan Sejarah Perkembangan JSN45, Rumusan JSN45, Metode Pelestarian JSN45, Pola Pelaksanaan Pedoman Umum Pelestarian JSN45 [1995].

Keyakinan kami, PRIMER45 ini akan dapat lebih mampu membekali Kebangkitan Generasi Penerus Angkatan 45 pada khususnya dan segenap anak bangsa Indonesia baik ketahanan diri dan kolektif guna penghayatan Mental Revolusi Indonesia Merdeka dan Bina Karakter Kejoangan serta Pemantapan Roh Negara Bangsa indonesia sekaligus manfaat terapi turut kurangi dampak krisis multi dimensional terkini akibat peningkatan Ancaman, Hambatan, Gangguan, Tantangan mengantisipasi pelemahan mesin-mesin kemasyarakatan, kenegarabangsaan dan kepemerintahan NKRI,

Jakarta, 17 Mei 2016

Generasi Penerus Angkatan 45,

Pandji R Hadinoto, Ketua DHD45 Jkt
KBP45 KelBes Pejoang45
Editor www.jakarta45.wordpress.com

MEMPERINGATI 70 TAHUN INDONESIA MERDEKA TANPA ROH ????

17 Agustus 2015 ini kita memperingati kemerdekaan RI yang ke 70 tahun , kita sebagai bangsa wajib merenungkan perjalanan bangsa ini apalagi sejak reformasi yang telah mengamandemen UUD 1945 , amandemen bukan hanya sekedar merubah pasala-pasala didalam batang tubuh UUD1945 tetapi amandemen telah merubah aliran pemikiran yang selama ini menjadi alat perjuangan the founding fathers , merubah aliran pemikiran pada UUD 1945 berarti meniadakan Pancasila , meniadakan Preambul UUD 1945 bahkan meniadakan negara Proklamasi mengapa ?

Sebab bung Karno mengatakan dalam pidato 17 Agustus1961 :Proklamasi dan Undang-Undang Dasar ’45 adalah satu “pengéjawantahan” daripada kita punya isi-jiwa yang sedalam-dalamnya, satu Darstellung daripada kita punja deepest inner self. 

Dengarkan sekali lagi bunyi Naskah Proklamasi itu:

“Kami Bangsa Indonesia dengan ini menyatakan Kemerdekaan Indonesia.

Hal-hal yang mengenai pemindahan kekuasaan dan lain-lain diselenggarakan dengan  cara saksama dan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya”.

Dan dengarkan sekali lagi Pembukaan Undang-Undang Dasar ’45:

“Bahwa sesungguhnya kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa, dan oleh sebab itu, maka penjajahan di atas dunia harus dihapuskan, karena tidak sesuai dengan peri-kemanusiaan dan peri-keadilan.

 

Dan perjoangan pergerakan kemerdekaan Indonesia telah sampailah kepada saat yang berbahagia dengan selamat sentausa mengantarkan rakyat Indonesia ke depan pintu gerbang kemerdekaan Negara Indonesia, yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil dan makmur.

Atas berkat rakhmat Allah yang Maha Kuasa dan dengan didorongkan oleh keinginan luhur, supaya berkehidupan kebangsaan yang bebas, maka rakyat Indonesia menyatakan dengan ini kemerdekaannya.

Kemudian daripada itu, untuk membentuk suatu Pemerintah Negara Indonesia yang melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia, dan untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial, maka disusunlah Kemerdekaan Kebangsaan Indonesia itu dalam suatu Undang-Undang Dasar Negara Indonesia, yang terbentuk dalam suatu susunan Negara Republik Indonesia yang berkedaulatan rakyat dengan berdasar kepada: Ketuhanan Yang Maha Esa, Kemanusiaan yang adil dan beradab, persatuan Indonesia, dan kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/ perwakilan, serta dengan mewujudkan suatu keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia”.

Demikianlah bunyi Proklamasi beserta anak-kandungnya yang berupa Pembukaan Undang-Undang Dasar ’45. Alangkah jelasnya! Alangkah sempurnanya ia melukiskan kita punya Pandangan-Hidup sebagai bangsa, kita punya Tujuan-Hidup, kita punya Falsafah-Hidup, kita punya Rahasia-Hidup, kita punya Pegangan-Hidup!

Karena itu maka Proklamasi dan Undang-Undang Dasar ’45 adalah satu “pengéjawantahan” daripada kita punya isi-jiwa yang sedalam-dalamnya, satu Darstellung daripada kita punja deepest inner self………………..”

Proklamasi kita adalah sumber kekuatan dan sumber tekad daripada perjoangan kita, oleh karena seperti tadi saya katakan, Proklamasi kita itu adalah ledakan pada saat memuncaknya kerahtotal daripada semua tenaga-tenaga nasional, badaniah dan batiniah – physik dan moril, materiil dan spirituil.

Declaration of Independence kita, yaitu Pembukaan Undang-Undang Dasar ’45, memberikan pedoman-pedoman tertentu untuk mengisi kemerdekaan nasional kita, untuk melaksanakan ke Negaraan kita, untuk mengetahui tujuan dalam memperkembangkan kebangsaan kita, untuk setia kepada suara-batin yang hidup dalam kalbu rakyat kita.

Maka dari itulah saya tadi tandaskan, bahwa Proklamasi kita tak dapat dipisahkan dari Declaration of Independence kita yang berupa Undang-Undang Dasar ’45 dengan Pembukaannya itu.

“Proklamasi” tanpa “Declaration” berarti bahwa kemerdekaan kita tidak mempunyai falsafah. Tidak mempunyai Dasar Penghidupan Nasional, tidak mempunyai pedoman, tidak mempunyai arah, tidak mempunyai “raison d’être,” tidak mempunyai tujuan selain daripada mengusir kekuasaan asing dari bumi Ibu Pratiwi.

Sebaliknya, “Declaration” tanpa “Proklarnasi”, tidak mempunyai arti. Sebab, tanpa kemerdekaan, maka segala falsafah, segala dasar-dan-tujuan, segala prinsip, segala “isme”, akan merupakan khayalan belaka,- angan-angan kosong-melompong yang terapung-apung di angkasa raya……..”Amandemen UUD 1945 yang telah dilakukan 4 kali ternyata tidak lagi menjadikan Preambule UUD 1945 sebagai pedoman-pedoman ,tidak lagi menjadi tujuan melaksanakan negara kita , untuk setia kepada suara batin yang hidup dalam kalbu nya rakyat kita .

Tanpa kita sadari Amandemen UUD 1945 terutama pasal 1 ayat 2 telah merubah aliran pemikiran dari sistem Kolektivisme , kebersamaan , gotongroyong dengan sistem MPR diganti dengan Individualisme , Liberalisme, Kapitalisme dengan sistem Presidensiel

Kita perlu mengingatkan kembali pada para pemimpin di negeri ini tentang makna dana arti dari Proklamasi dan Preambule UUD 1945 agar ketersesatan yang terjadi saat ini bisa menyadarkan kita semua seperti apa yang di katakan Bung Karno dalam pidato nya ………..”

Saudara-saudara sekalian!

Dengan sengaja saya pada hari keramat ini membeberkan kembali di muka saudara-saudara semangat dan arti yang dalam daripada Proklamasi 17 Agustus ’45. Buat apa? Oleh karena saya ingin, supaya saudara-saudara semuanya terutama sekali para pemimpin, – baik pemimpin-pemimpin kecil maupun pemimpin-pemimpin yang berkaliber gembong, pemimpin-pemimpin di daerah maupun pemimpin-pemimpin di ibu-kota, pemimpin-pemimpin partai, organisasi karya, Angkatan Bersenjata, pemimpin-pemimpin pemuda dan pemudi, pemimpin-pemimpin wanita, ya pemimpin-pemimpin yang bertingkat Menteri sekalipun, – supaya semuanya menyadari semangat dan arti Proklamasi……….”Perjuangan untuk mengembalikan Pancasila dan UUD 1945 naskah asli memang bukan sesuatu yang gampang , bukan sesuatu yang mudah , sebab hampir semua pemimpin negeri ini lupa bawah aliran pemikiran yang di perjuangkan oleh bapak bangsa selama puluhan tahun untuk mencapai Indonesia merdeka itu adalah aliran anti Penjajahan , Penjajahan itu lahir dari Kolonialisme , Kapitalisme , Liberalisme , yang berakar dari Individualisme , amandemen UUD 1945 telah merontokan aliran pemikiran yang puluhan tahun telah menjadi alat perjuangan ,tidak saja menganti aliran pemikiran Amandemen UUD 1945 juga melahirkan 72 UU yang sangat liberal dan sama arti nya kita melegalkan kolonialisme , bukan nya ini sebuah pengkhianatan terhadap para pendiri bangsa negara ini ?

Peringatan Bung Karno masih sangat relevan di hari peringatan 70 tahun Indonesia Merdeka . …………………” Sekali lagi, semua kita, terutama sekali semua pemimpin-pemimpin, harus menyadari sangkut-paut antara Proklamasi dan Pembukaan Undang-Undang Dasar ’45:

Kemerdekaan untuk “bersatu”;

kemerdekaan untuk “berdaulat”;

kemerdekaan untuk “adil dan makmur”;

kemerdekaan untuk “memajukan kesejahteraan umum”;

kemerdekaan untuk “mencerdaskan kehidupan bangsa”;

kemerdekaan untuk “ketertiban dunia”;

kemerdekaan untuk “perdamaian abadi”; kemerdekaan untuk “keadilan sosial”;

kemerdekaan yang “berkedaulatan rakyat”;

kemerdekaan yang “berke-Tuhanan Yang Maha-Esa”;

kemerdekaan yang “berkemanusiaan yang adil dan beradab”;

kemerdekaan yang berdasarkan “persatuan Indonesia”;

kemerdekaan yang berdasar “kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat-kebijaksanaan dalam permusyawaratan/ perwakilan”; kemerdekaan yang “mewujudkan suatu keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia”; –

semua ini tercantum dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar ’45, anak-kandung atau saudara-kembar daripada Proklamasi 17 Agustus ’45.

Setelah 70 tahun kemerdekaan dan diamandemen UUD 1945 , dicabut nya aliran pemikiran nya , apakah kita pantas memperingati Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia ? ataukah kita membiarkan Indonesia tanpa roh nya , mari kita berjuang mengembalikan Pancasila dan UUD 1945 naskah asli nya , sesungguh nya kita mengembalikan Roh Indonesia yang sesungguh nya .

 

Aliansi Kebangsaan Bersama Eks Tiga Menteri Cari Solusi GBHN

Aliansi Kebangsaan Bersama Eks Tiga Menteri Cari Solusi GBHN

Jakarta, Obsessionnews – Dua Menteri era Orde Baru (orba) Presiden Soeharto, mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia Daoed Joesoef, mantan Menteri Koperasi Indonesia Subiakto Tjakrawerdjaja, beserta eks Menteri Pemberdayaan Aparatur Negara pemerintahan Abdurrahman Wahid, Ryaas Rasyid berdiskusi mengenai Garis-garis Besar Haluan Negara (GBHN), Kamis (19/5/2016) di aula SD Kupu-Kupu, Mampang, Jakarta Selatan.

Ketiga eks Menteri tersebut, bersama Aliansi Kebangsaan pimpinan Pontjo Sutowo ini mengungkapkan keprihatinan mereka soal GBHN sebagai kebijakan dasar negara, kini ditiadakan, bersamaan dengan perubahan kedudukan Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) dari lembaga tertinggi menjadi lembaga tinggi negara.

“GBHN itu penting di gaungkan kembali agar pembangunan bangsa dan negara berjalan dengan relnya, harus disempurnakan,” ujar Daoed Joesof dalam diskusi Aliansi Kebangsaan, dengan tema mengangkat tema ‘Urgensi Haluan Negara’.

Bagaimana mungkin kita mengultuskan ide GBHN, lanjut Daoed, bila pembangunan yang mengecewakan itu bersumber pada keterbatasan pengertian GBHN itu sendiri. Pengertiannya, tidak mencakup, mengabaikan, satu faktor penting yang juga memerlukan panduan bagi perkembangnya yang ideal.

 

Pengabaian yang tidak disadari oleh perumus awalnya, siapapun dia, membuat pengertian GBHN misleading begitu rupa, hingga menjadi salah kaprah. Ini sesuatu kekeliruan mencetuskan kekeliruan yang lain dan seterusnya.

Menurut Daoed, anomaly inilah yang kiranya hendak diingatkan Aristoteles yang mengatakan, bahwa kesalahan kecil menjadi besar bila dibiarkan berlarut larut.

Sementara Subiakto Tjakrawerdjaja memaparkan, seperti kata bung Hatta pada 1932, yakni menyebutkan, didalam menyusun perencanaan ekonomi nasional haruslah diputuskan secara mufakat oleh rakyat itu sendiri

“Semua pengaturan pemerintahan, harus diputuskan oleh rakyat, bukan demokrasi politik, tapi demokrasi ekonomi,” kata Subiakto.

“Sekarang Undang undang, hanya diputuskan oleh presiden, Dewan Perwakilan Rakyat. Kita harus kembali ke GBHN sebagai lembaga tertinggi gbhn, karena ini ciri khas negara pancasila,” tambahnya.

Sementara Ryaas Rasyid juga setuju bahwa GBHN dihidupkan kembali, karena ia menilai tidak adanya lembaga tertinggi negara sebagai pemantau jalannya regulasi sebuah negara.

“Dulu setiap 5 tahun, lembaga-lembaga itu sampaikan laporannya kepada MPR, sekarang tidak, karena sederajat dengan DPR, BPK dan lain lain,” pungkasnya.

Acara diskusi ini juga dihadiri oleh Ekonom Indonesia Dawam Rahardjo dan pengamat politik Yudi Latif. (Popi Rahim)

01
May
16

Politik : Keppreskan Roh Indonesia Merdeka 45

Jokowi Diminta Keppreskan Roh Indonesia Merdeka 45

Jokowi Diminta Keppreskan Roh Indonesia Merdeka 45
Dr Ir Pandji R Hadinoto MH

Jakarta, Obsessionnews – Memperingati 1 Mei 2016 sebagai Hari Buruh Internasional dan Hari Bersatunya Irian Barat (kini Papua), Ketua DHD45 Jakarta, Dr Ir Pandji R Hadinoto MH mengirimkan surat kepada Presiden RI Ir H Jokowi Widodo (Jokowi), agar mengeluarkan Keputusan Presiden (Keppres) tentang Roh Indonesia Merdeka 45 untuk memperkuat tata nilai Revolusi Mental.

“Keputusan Presiden ini akan dapat lebih mampu membekali baik ketahanan diri dan ketahanan kolektif masyarakat luas guna penghayatan Revolusi Mental Indonesia Merdeka untuk Bina Karakter Kejoangan dan Pemantapan Roh Negara Bangsa Indonesia sekaligus manfaat turut kurangi dampak krisis multi dimensional yang bisa melemahkan mesin birokrasi pemerintahan,” demikian Pandji dalam suratnya, Kamis (28/4/2016).

Seperti legislasi perUndangUndangan yang menyimpangi roh Pembukaan UUD 1945, kebijakan-kebijakan eksekutif yang menjauhi kepentingan daulat rakyat dan hajat hidup orang banyak, praktik-praktik ketatanegaraan yang terasa kurang mengindahkan daulat dan pandangan hidup negara bangsa Indonesia yaitu Pancasila, dan lain sebagainya,” tandas mantan Aktivis ITB ini.

Berikut ini Surat dari Pandji R Hadinoto kepada Presiden RI Joko Widodo:

Yang Terhormat Bapak Joko Widodo, Presiden Republik Indonesia, dalam rangka peringati tanggal 1 Mei 2016 yang bermakna Hari Buruh Internasional dan Hari Bersatunya Irian Barat (kini Papua) bersama Negara Kesatuan Republik Indonesia, kami himbau kiranya Tatanilai Revolusi Mental diperkuat dengan Keputusan Presiden tentang Roh Indonesia Merdeka 45.

Menurut hemat kami, Tatanilai Roh Indonesia Merdeka 45 itu setepatnya adalah Jiwa Semangat Nilai-nilai 45 (JSN45) sebagai berikut :

Tatanilai Dasar :
1. Semua nilai yang terdapat dalam setiap sila dari Pancasila,
2. Semua nilai yang terdapat dalam Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945,
3. Semua nilai yang terdapat dalam Undang Undang Dasar 1945, baik dalam Pembukaan, Batang Tubuh, maupun Penjelasannya.

Tatanilai Operasional :
1. Ketakwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa, 2. Jiwa dan Semangat Merdeka,
3. Nasionalisme,
4. Patriotisme,
5. Rasa harga diri sebagai bangsa yang merdeka,
6. Pantang mundur dan tidak kenal menyerah,
7. Persatuan dan Kesatuan,
8. Anti penjajah dan penjajahan,
9. Percaya kepada diri sendiri dan atau percaya kepada kekuatan dan kemampuan sendiri,
10.Percaya kepada hari depan yang gemilang dari bangsanya,
11,Idealisme kejuangan yang tinggi,
12.Berani, rela dan ikhlas berkorban untuk tanah air, bangsa dan negara,
13.Kepahlawanan,
14.Sepi ing pamrih rame ing gawe,
15.Kesetiakawnan, senasib sepenanggungan dan kebersamaan.
16.Disiplin yang tinggi,
17.Ulet dan tabah menghadapi segala macam ancaman, tantangan, hambatan, dan gangguan.

Rumusan JSN45 tersebut diatas adalah satu kesatuan paham yang tidak terpisahkan dengan Sejarah Perkembangan jSN45, Rumusan JSN45, Metode Pelestarian JSN45, Pola Pelaksanaan Pedoman Umum Pelestarian JSN45 [1995].

Keyakinan kami, Keputusan Presiden ini akan dapat lebih mampu membekali baik ketahanan diri dan ketahanan kolektif masyarakat luas guna penghayatan Revolusi Mental Indonesia Merdeka untuk Bina Karakter Kejoangan dan Pemantapan Roh Negara Bangsa indonesia sekaligus manfaat turut kurangi dampak krisis multi dimensional yang bisa melemahkan mesin birokrasi pemerintahan, seperti legislasi perUndangUndangan yang menyimpangi roh Pembukaan UUD 1945, kebijakan-kebijakan eksekutif yang menjauhi kepentingan daulat rakyat dan hajat hidup orang banyak, praktik-praktik ketatanegaraan yang terasa kurang mengindahkan daulat dan pandangan hidup negara bangsa Indonesia yaitu Pancasila, dan lain sebagainya.

Jakarta, 28 April 2016

Pandji R Hadinoto, Ketua DHD45 Jkt
KBP45 KelBes Pejoang45
Editor www.jakarta45.wordpress.com

DHD45 Minta Jokowi Keppreskan Roh Indonesia Merdeka 45

Share on Facebook
Tweet on Twitter

Radarpolitik.com, Jakarta – Ketua DHD45 Jakarta Pandji R Hadinoto meminta Presiden Republik Indonesia Joko Widodo untuk memperkuat tatanilai Revolusi Mental dengan Keputusan Presiden tentang Roh Indonesia Merdeka 45. Hal itu terkait dalam rangka memperingati Hari Buruh Internasional pada1 Mei 2016.

Menurutnya, selain bermakna Hari Buruh Internasional juga bersamaan dengan Hari Bersatunya Irian Barat (kini Papua) bersama Negara Kesatuan Republik Indonesia. “Hemat kami, Tatanilai Roh Indonesia Merdeka 45 itu setepatnya adalah Jiwa Semangat Nilai-nilai 45 (JSN45) yang di paparkan melalui, tata nilai dasar dan tata nilai operasional,” jelasnya kepada Halloapakabar.com, di Jakarta, Kamis (28/4)

Tata nilai dasar itu kata Panji, adalah semua nilai yang terdapat dalam setiap sila dari Pancasila dan semua nilai yang terdapat dalam Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945 serta semua nilai yang terdapat dalam Undang Undang Dasar 1945, baik dalam Pembukaan, Batang Tubuh, maupun Penjelasannya.

“Sedangkan tata nilai operasional meliputi, ketakwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa, Jiwa dan Semangat Merdeka, Nasionalisme, Patriotisme serta rasa harga diri sebagai bangsa yang merdeka,” ungkapnya.

Panji mengatakan, tata nilai operasional juga pantang mundur dan tidak kenal menyerah dan harus di landasi semangat persatuan dan kesatuan, Anti penjajah dan penjajahan serta percaya kepada diri sendiri atau percaya kepada kekuatan dan kemampuan sendiri.

“Percaya kepada hari depan yang gemilang dari bangsanya, merupakan Idealisme kejuangan yang tinggi dan harus berani, rela dan ikhlas berkorban untuk tanah air, bangsa dan negara. Jiwa kepahlawanan harus tumbuh, Sepi ing pamrih rame ing gawe fan tetsp menjungjunh tinggi Kesetiakawnan, senasib sepenanggungan dan kebersamaan,” jelasnya.

Selain itu, kata Panji, Disiplin yang tinggi, Ulet dan tabah menghadapi segala macam ancaman, tantangan, hambatan, dan gangguan. Harus masuk dalam Rumusan JSN45. Karena hal itu adalah kesatuan paham yang tidak terpisahkan dengan Sejarah Perkembangan jSN45, Rumusan JSN45, Metode Pelestarian JSN45 dan Pola Pelaksanaan Pedoman Umum Pelestarian JSN45 (1995).

“Keyakinan kami, Keputusan Presiden ini akan dapat lebih mampu membekali baik ketahanan diri dan ketahanan kolektif masyarakat luas guna penghayatan Revolusi Mental Indonesia Merdeka untuk Bina Karakter Kejoangan dan Pemantapan Roh Negara Bangsa indonesia sekaligus manfaat turut kurangi dampak krisis multi dimensional yang bisa melemahkan mesin birokrasi pemerintahan,” bebernya.

Legislasi perUndang-Undangan yang menyimpangi roh Pembukaan UUD 1945 dan berbagai kebijakan eksekutif yang menjauhi kepentingan daulat rakyat dan hajat hidup orang banyak, kata Panji adalah praktek- praktek ketatanegaraan yang terasa kurang mengindahkan daulat dan pandangan hidup negara bangsa Indonesia yaitu Pancasila. (roy/rdp)

Umumkan Nama yang Bersalah Terlibat Panama Papers !

Umumkan Nama yang Bersalah Terlibat Panama Papers!
Dr Ir Pandji R Hadinoto

Jakarta, Obsessionnews – Ketua DHD 45 Jakarta, Dr Ir Pandji R Hadinoto MH, Selasa (26/4/2016), menegaskan gaduh wabah Panama Papers yang kini bermuara kontroversi Politik Pengampunan Pajak (Tax Amnesty) seharusnya dapat dihindari demi penciptaan rasa nyaman dan damai bagi kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.

Menurutnya, langkah penghindaran itu dapat dilakukan dengan penerbitan Keputusan Presiden tentang Daftar Warganegara Indonesia Kontra Roh Indonesia Merdeka 45 setelah kepada yang bersangkutan terlebih dahulu diberikan kesempatan klarifikasi namun kemudian ditolak pemerintah pusat karena misalnya tidak cukup beralasan meyakinkan merujuk butir-butir operasional daripada Jiwa Semangat Nilai-nilai 45 seperti :

1. Nasionalisme, 2. Patriotisme, 3. Rasa harga diri sebagai bangsa yang merdeka, 4. Persatuan dan Kesatuan, 5. Idealisme kejuangan yang tinggi, 6. Berani, rela dan ikhlas berkorban untuk tanah air, bangsa dan negara, 7. Kesetiakawnan, senasib sepenanggungan dan kebersamaan.

“Politik Kontra Roh Indonesia Merdeka 45 ini berwujud Keputusan Presiden diatas diyakini effektif, produkif dan konstruktif sekaligus pembumian Revolusi Mental melalui Nation & Character Building menuju kearah Indonesia Jaya 2045 yang akan datang,” tandas mantan Aktivis ITB ini. (Red)

Jejak Korupsi Global dari Panama

Jutaan dokumen finansial dari sebuah firma hukum asal Panama, bocor dan mengungkapkan bagaimana jejaring korupsi dan kejahatan pajak para kepala negara, agen rahasia, pesohor sampai buronan, disembunyikan di surga bebas pajak.

SEBUAH kebocoran dokumen finansial berskala luar biasa mengungkapkan bagaimana 12 kepala negara (mantan dan yang masih menjabat) memiliki perusahaan di yuridiksi bebas pajak (offshore) yang dirahasiakan. Dokumen yang sama membongkar bagaimana orang-orang yang dekat dengan Presiden Rusia Vladimir Putin mengatur transfer dana sebesar US$ 2 miliar lewat berbagai bank dan perusahaan bayangan.

Setidaknya ada 128 politikus dan pejabat publik dari seluruh dunia yang namanya tercantum dalam jutaan dokumen yang bocor ini. Mereka terkait dengan berbagai perusahaan gelap yang sengaja didirikan di wilayah-wilayah surga bebas pajak (tax havens).

Total catatan yang terbongkar mencapai 11,5 juta dokumen. Keberadaan semua data ini memberikan petunjuk bagaimana firma hukum bekerjasama dengan bank untuk menjajakan kerahasiaan finansial pada politikus, penipu, mafia narkoba, sampai miliuner, selebritas dan bintang olahraga kelas dunia.

Temuan itu merupakan hasil investigasi sebuah organisasi wartawan global, International Consortium of Investigative Journalists, sebuah koran dari Jerman SüddeutscheZeitung dan lebih dari 100 organisasi pers dari seluruh dunia. Satu-satunya media di Indonesia yang terlibat dalam proyek investigasi ini adalah Tempo.

Dokumen yang diperoleh konsorsium jurnalis global ini mengungkapkan keberadaan perusahaan di kawasan surga pajak (offshore companies) yang dikendalikan perdana menteri dari Islandia dan Pakistan, Raja Arab Saudi, dan anak-anak Presiden Azerbaijan.

Ada juga perusahaan gelap yang dikendalikan sedikitnya 33 orang dan perusahaan yang masuk daftar hitam pemerintah Amerika Serikat karena hubungan sebagian dari mereka dengan kartel narkoba Meksiko, organisasi teroris seperti Hezbollah atau terkoneksi dengan negara yang pernah mendapat sanksi internasional seperti Korea Utara dan Iran.

Satu dari perusahaan itu bahkan menyediakan bahan bakar untuk pesawat jet yang digunakan pemerintah Suriah untuk mengebom dan menewaskan ribuan warga negaranya sendiri. Demikian ditegaskan seorang pejabat pemerintah Amerika Serikat.

“Temuan ini menunjukkan bagaimana dalamnya praktek yang merugikan dan kejahatan di perusahaan-perusahaan yang sengaja didirikan di yuridiksi asing (offshore),” kata Gabriel Zucman, ekonomis dari University of California, Berkeley, AS dan penulis buku ‘The Hidden Wealth of Nations: The Scourge of Tax Havens’.

Zucman yang mengetahui proses investigasi kebocoran dokumen ini menegaskan bahwa publikasi atas dokumen rahasia ini seharusnya mendorong pemerintah untuk bekerjasama memberikan sanksi tegas pada yurisdiksi dan institusi yang terlibat dalam jejaring kerahasiaan finansial di dunia offshore.

Presiden China Xi Jinping. AP Photo/Ted S. Warren

https://projects.icij.org/panama-papers/power-players/?lang=en#69Sejumlah nama kepala negara yang dikenal mendukung gerakan anti-korupsi juga muncul dalam dokumen ini. Beberapa dokumen menunjukkan ada hubungan antara beberapa perusahaan offshore dengan Presiden Tiongkok Xi Jinping, yang pernah bersumpah akan melawan para koruptor. Ada juga nama Presiden Ukraina Petro Poroshenko, yang selama ini selalu sesumbar dirinya adalah tokoh bersih di negaranya yang penuh skandal korupsi.

Bahkan, dokumen ini juga berisi detail mengenai sejumlah perjanjian bisnis yang melibatkan perusahaan offshore yang dilakukan ayah dari Perdana Menteri Inggris David Cameron. Belum lama ini, Cameron mendesak pemerintahnya untuk membersihkan wilayah surga bebas pajak di Inggris.

Data yang bocor berisi informasi sejak 40 tahun lalu, sejak 1977 sampai awal 2015. Keberadaan dokumen ini memungkinkan publik untuk mengintip bagaimana dunia offshore bekerja, bagaimana fulus gelap mengalir di dalam jagat finansial global secara rahasia, mendorong lahirnya banyak modus kriminalitas dan merampok pundi-pundi negara dari pajak yang tak dibayarkan.

Kebanyakkan jasa yang ditawarkan perusahaan offshore tidak melanggar hukum, jika digunakan oleh warga negara yang taat hukum. Namun dokumen ini menunjukkan bagaimana bank, kantor pengacara dan pelaku dunia usaha kerap tidak mengikuti prosedur hukum yang berlaku untuk memastikan klien mereka tidak terlibat korupsi, pelarian pajak atau kegiatan kriminal lainnya.

Bahkan, dalam beberapa kasus, ada perantara yang mencoba melindungi diri sendiri dan klien mereka dengan sengaja menyembunyikan transaksi mencurigakan atau memanipulasi catatan.

Jutaan dokumen ini menunjukkan bahwa bank-bank besar adalah motor utama di balik pendirian perusahaan-perusahaan di British Virgin Islands, Panama, dan surga bebas pajak lain, yang sulit dilacak penegak hukum. Ada daftar sekitar 15.600 perusahaan papan nama (paper companies) yang dibuatkan oleh bank untuk klien mereka yang ingin keuangan mereka tersembunyi. Di antara bank tersebut adalah UBS dan HSBC.

Pada satu bagian dari catatan yang bocor ini, terungkap bagaimana bank, perusahaan dan sejumlah orang yang terkait dengan pemimpin Rusia Vladimir Putin, bermanuver secara tertutup untuk memindahkan uang dalam jumlah besar. Pada satu transaksi, fulus yang digerakkan mencapai US$ 200 juta.

Orang-orang Putin ini mencoba menyamarkan pembayaran, memundurkan tanggal dokumen ke masa lalu (backdated) dan dengan demikian, memupuk kekuasaan dan pengaruh di dalam industri media dan otomotif di Rusia.

Sayangnya, juru bicara Kremlin menolak berkomentar atas informasi ini. Pada 28 Maret 2016 lalu, juru bicara Kremlin menyerang konsorsium jurnalis ICIJ dan menuduh kelompok ini tengah mempersiapkan sebuah ‘serangan informasi’ pada Putih dan mereka yang dekat dengan tokoh ini.

Vladimir Putin. SPUTNIK/ DMITRY ASTAJOV

https://projects.icij.org/panama-papers/power-players/?lang=en#42Dokumen bocor ini — diperiksa beramai-ramai oleh sebuah tim yang terdiri dari 370 jurnalis dari 76 negara– diketahui berasal dari sebuah firma hukum kecil namun amat berpengaruh di Panama yang bernama Mossack Fonseca. Firma ini memiliki kantor cabang di Hong Kong, Zurich, Miami dan 35 kota lain di seluruh dunia.

Firma ini adalah salahsatu pembuat perusahaan cangkang (shell companies) terbaik di dunia. Perusahaan cangkang adalah sebuah struktur korporasi yang bisa digunakan untuk menyembunyikan kepemilikan aset perusahaan. Total ada 214.488 nama perusahaan offshore di dokumen yang bocor ini. Ratusan ribu perusahaan itu terhubung dengan orang-orang dari 200 negara. ICIJ akan mempublikasikan seluruh nama perusahaan ini pada awal Mei 2016.

Data ini mencakup email, tabel keuangan, pasport dan catatan pendirian perusahaan, yang mengungkapkan identitas rahasia dari pemilik akun bank dan perusahaan di 21 wilayah/yuridiksi offshore, mulai dari Nevada, Singapura sampai British Virgin Islands.

Jejak Mossack Fonseca bisa terlacak di perdagangan berlian di Afrika, pasar lukisan dan barang seni lain berskala internasional, dan bisnis lain yang kerap bergerak di kegelapan. Firma ini juga melayani banyak keluarga kerajaan dan emir di Timur Tengah. Mereka membantu dua raja: Raja Mohammed VI dari Maroko dan Raja Salman dari Saudi Arabia. Di Islandia, dokumen yang bocor ini menunjukkan bagaimana Perdana Menteri Sigmundur David Gunnlaugsson dan istrinya secara rahasia memiliki firma offshore yang merupakan pemegang surat utang sebuah bank di negara ini yang bernilai miliaran dolar, pada saat Islandia dilanda krisis ekonomi.

Dokumen yang ada juga berisikan keterangan mengenai seorang terpidana pencucian uang yang mengaku memberikan kontribusi sebesar US$ 50 ribu yang dipakai membayar perampok dalam skandal Watergate. Ada juga nama 29 miliuner yang termasuk daftar 500 orang terkaya dunia versi majalah Forbes. Tak ketinggalan ada pula nama Jackie Chan, bintang film ternama asal Cina, yang punya sedikitnya enam perusahaan di bawah pengelolaan Mossack Fonseca.

Di Indonesia, nama-nama para miliarder ternama yang setiap tahun masuk dalam daftar orang terkaya versi Forbes Indonesia juga bertebaran dalam dokumen Mossack Fonseca. Mereka membuat belasan perusahaan offshore untuk keperluan bisnisnya. Salahsatunya adalah Sandiaga Uno, pebisnis terkemuka yang kini tengah mencalonkan diri menjadi calon Gubernur DKI Jakarta.

Ditanya soal ini, Sandiaga mempersilakan media mempublikasikan nama-nama perusahaan offshore miliknya. “Saya memang punya rencana membuka semuanya karena saya sekarang dalam proses mencalonkan diri menjadi pejabat publik,” katanya pada reporter Tempo, akhir Maret 2016 lalu.

Seperti banyak klien Mossack Fonseca lain, tidak ada bukti bahwa Jackie Chan atau Sandiaga Uno, menggunakan perusahaannya untuk tujuan tak terpuji. Memiliki perusahaan offshore bukanlah sesuatu yang otomatis ilegal. Untuk sejumlah transaksi internasional, memiliki perusahaan offshore bahkan merupakan sebuah pilihan yang logis secara bisnis.

Namun, dokumen Mossack Fonseca mengindikasikan bahwa klien dari firma itu meliputi penipu skema ponzi, mafia narkoba, penggelap pajak, dan setidaknya satu terpidana kasus pelecehan seks yang sedang dipenjara. Catatan menunjukkan bahwa ada satu pengusaha asal Amerika yang ditangkap setelah bepergian ke Rusia untuk berhubungan seks dengan anak-anak yatim piatu, sempat meneken sebuah dokumen untuk perusahaan offshore-nya, ketika dia sedang dipenjara di New Jersey.

Di Indonesia, dua nama yang kerap dicari penegak hukum untuk kepentingan penyidikan kasus korupsi, yakni Muhammad Riza Chalid dan Djoko Soegiarto Tjandra, juga tercantum dalam dokumen yang bocor ini.

Djoko S. Tjandra dalam resepsi pernikahan anaknya di Hotel Mulia, Jakarta, Jumat, 27 Juni 2008. (FOTO: TEMPO/ Tony Hartawan)

Tak hanya itu. Dokumen ini juga berisi detail baru mengenai skandal-skandal besar, mulai dari kisah perampokan emas legendaris di Inggris sampai skandal suap di organisasi sepakbola dunia, FIFA. Ada catatan yang mengungkap bahwa firma hukum milik Juan Pedro Damani, anggota Komisi Etik FIFA, memiliki relasi bisnis dengan tiga orang yang sudah didakwa terlibat dalam skandal suap FIFA: mantan Wakil Presiden FIFA Eugenio Figueredo dan ayah-anak Hugo dan Mariano Jinkis, yang dituduh menyuap FIFA untuk memenangkan hak siar semua pertandingan sepakbola di Amerika Latin.

Kantor Damiani di Uruguay tercatat mewakili satu perusahaan offshore yang terkait keluarga Jinkis dan tujuh perusahaan yang terkait dengan Figueredo. Ketika dimintai konfirmasi, Komisi Etik FIFA merespon dengan mengadakan penyelidikan awal atas hubungan Damiani dan Figueredo.

Juru bicara komisi ini menjelaskan bahwa Damiani memberitahu mereka soal hubungan bisnisnya dengan Figueredo pada 18 Maret 2016. Itu tepat satu hari setelah reporter mengirimkan pertanyaan pada Damiani mengenai hubungan antara kantor pengacaranya dan perusahaan yang terkait dengan mantan Wakil Presiden FIFA.

Nama pesepakbola terbaik dunia, Lione Messi, juga ada dalam dokumen ini. Catatan menunjukkan Messi dan ayahnya merupakan pemilik sebuah perusahaan di Panama: Mega Star Enterprises Inc. Perusahaan ini menambah daftar perusahaan cangkang milik Messi yang sedang diselidiki di Spanyol atas tuduhan penggelapan pajak.

Lionel Messi. AP/Fernando Vergara

Ada indikasi bahwa Mossack Fonseca memang bekerja keras untuk melindungi rahasia kliennya, tak peduli klien mereka orang terkenal atau tidak. Di Nevada, satu negara bagian di Amerika Serikat, firma ini mencoba melindungi diri dan kliennya dari dampak upaya hukum di pengadilan distrik Amerika Serikat, dengan memindahkan semua berkas dokumen perusahaan itu dari kantornya dan meminta bantuan ahli teknologi untuk membersihkan jejak elektronik dari komunikasi mereka di semua komputer dan telepon kantor.

Dokumen yang bocor ini juga menunjukkan bagaimana Mossak secara teratur menawarkan klien mereka untuk membuatkan dokumen dengan tanggal mundur (backdated documents) untuk membantu klien mereka mendapatkan keuntungan dari berbagai perjanjian bisnis mereka. Jasa semacam itu amat biasa ditawarkan hingga pada sebuah komunikasi email pada 2007, para karyawan Mossack membicarakan struktur harga khusus untuk para klien yang minta tanggal dokumen mereka dimundurkan. Setiap satu bulan ke belakang dalam penetapan tanggal dokumen perusahaan mereka, klien harus membayar US$ 8,75 pada Mossack.

Ketika dikonfirmasi, Mossack Fonseca menegaskan bahwa perusahaan mereka, “tidak melindungi atau mendukung aktivitas ilegal apapun. Tuduhan Anda bahwa kami menyediakan struktur yang sengaja didesain untuk menyembunyikan identitas pemilik aslinya sama sekali tidak berdasar dan keliru.”

Firma ini juga menegaskan bahwa praktek membuat tanggal mundur dari sebuah dokumen merupakan “praktek yang punya dasar kuat dan diterima dalam industri kami dan tujuannya bukan untuk menutupi atau menyembunyikan kegiatan yang melanggar hukum.” Selain itu, Mossack juga menolak berkomentar atas klien mereka secara spesifik karena mereka wajib menjaga kerahasiaan kliennya.

Salahsatu pendiri Mossack, Ramon Fonseca, dalam sebuah wawancara di televisi Panama belum lama ini menegaskan bahwa perusahaannya tidak punya tanggungjawab atas apapun yang dilakukan kliennya menggunakan perusahaan offshore yang dijual oleh Mossack. Dia membandingkan Mossack dengan sebuah pabrik mobil yang batas tanggungjawab hukumnya (liability) selesai ketika mobil keluar dari pabrik itu.

Menyalahkan Mossack Fonseca atas semua perilaku pemilik perusahaan yang dibantu Mossack, menurut Ramon, sama saja dengan menyalahkan pabrik mobil ketika mobil yang mereka produksi, dipakai untuk merampok.

MULAI DIBIDIK
Sampai belum lama ini, Mossack Fonseca memang hampir selalu beroperasi dalam bayangan. Baru belakangan ada tanda-tanda munculnya upaya pengawasan atas perusahaan ini. Perubahan positif ini terjadi setelah sejumlah pemerintahan mendapatkan bocoran dokumen tentang praktek yang terjadi di dalam Mossack. Otoritas di Jerman dan Brasil misalnya, sudah mulai bergerak menyelidiki beberapa praktek bisnis Mossack di negara mereka.

Pada Februari 2015, koran Jerman SüddeutscheZeitung memberitakan bahwa penegak hukum di sana menggeledah kantor bank terbesar Jerman, Commerzbank, dalam kasus penggelapan pajak yang menurut otoritas Jerman bisa berujung pada penetapan sejumlah karyawan Mossack Fonseca jadi tersangka kasus kriminal.

Kantor Mossack Fonseca di British Virgin Islands. (FOTO: Centro de Periodismo Investigativo)

Di Brasil, Mossack Fonseca sedang diincar dalam kasus penyuapan dan pencucian uang dalam sebuah operasi yang dikenal dengan nama operasi ‘Car Wash’ atau ‘Lava Jato’ dalam bahasa Portugis. Operasi ini sudah menjerat sejumlah politikus ternama di Brasil dan kini mengarah pada mantan Presiden Luiz Inacio Lula da Silva. Bahkan, skandal ini disebut-sebut mengancam posisi Presiden Brasil saat ini, Dilma Rousseff.

Pada Januari 2016, jaksa Brasil menyebut Mossack Fonseca sebagai perusahaan ‘pencucian uang besar’ dan mengumumkan bahwa kejaksaan telah menetapkan lima pegawai kantor Mossack di Brasil sebagai tersangka atas peran mereka dalam skandal ini. Mossack sendiri membantah mereka terlibat pelanggaran hukum di sana.

Informasi yang terkuak dari kebocoran dokumen ini memperluas secara dramatis semua proyek investigasi yang pernah dikerjakan ICIJ mengenai perusahaan offshore selama empat tahun terakhir. Dalam sebuah kolaborasi jurnalisme global terbesar yang pernah ada, jurnalis yang bekerja dalam 25 bahasa berbeda, menggali semua data Mossack dan melacak jejak transaksi rahasia firma ini dengan klien-kliennya di seluruh dunia. Para jurnalis saling berbagi informasi dan memburu petunjuk yang disediakan oleh dokumen bocor ini dengan menggunakan database korporasi, catatan properti, laporan keuangan, berkas perkara pengadilan dan wawancara dengan penegak hukum.

Adalah para reporter di SüddeutscheZeitung yang pertama kali memperoleh jutaan data ini dan membaginya dengan ICIJ dan semua media dalam kolaborasi ini. Tak ada media yang diminta membayar untuk memperoleh dokumen ini.

Sebelum SüddeutscheZeitung memperoleh dokumen ini, aparat pajak di Jerman sebenarnya sudah membeli sebagian kecil dokumen serupa dari seorang pembocor. Dokumen itu kemudian berujung pada sejumlah operasi penggeledahan di Jerman pada awal 2015. Dokumen ini kemudian ditawarkan pada otoritas pajak di Inggris, Amerika Serikat dan sejumlah negara lain. Demikian diungkapkan seorang sumber yang mengetahui ihwal perkara ini.

Dokumen yang menjadi sumber laporan ini menawarkan lebih dari sekadar potongan informasi mengenai cara kerja sebuah firma hukum, atau katalog dari klien mereka. Informasi dari dokumen ini membuat publik bisa memahami sebuah industri yang selama ini berusaha keras menutupi semua praktek bisnisnya.

Data ini juga memberi petunjuk mengapa berbagai usaha untuk mereformasi sistem keuangan semacam ini, selalu gagal. Kisah mengenai Mossack Fonseca ini adalah kisah mengenai seluruh sistem offshore itu sendiri.

KEJAHATAN ABAD INI
Sebelum fajar menyingsing pada 26 November 1983, enam perampok menyelinap masuk ke gudang milik Brink’s-Mat di Bandara Heathrow, London, Inggris. Mereka mengikat penjaga keamanan, menyiram mereka dengan bensin dan menyalakan korek api lalu mengancam akan membakar mereka semua kecuali mereka membukakan pintu almari besi di sana. Di sana, para perampok menemukan hampir 7 ribu batang emas, berlian dan uang tunai. “Terimakasih banyak atas bantuannya. Selamat Natal,” kata salahsatu perampok ketika mereka pergi.

Media di Inggris ketika itu menyebut perampokan ini sebagai kejahatan abad ini: ‘Crime of the Century’. Apalagi belakangan sebagian besar hasil rampokan ini, termasuk hasil penjualan emas yang dicairkan, tak pernah ditemukan sampai sekarang. Kemana uang hasil rampokan itu mengalir adalah misteri yang terus menarik perhatian pemerhati dunia kejahatan di Inggris.

Sekarang dokumen Mossack Fonseca menunjukkan bahwa firma ini dan pendirinya, Jürgen Mossack, amat mungkin terlibat melindungi kekayaan hasil kejahatan fenomenal ini, dengan menyembunyikan sebuah perusahaan yang terkait dengan Gordon Parry, seorang makelar di London yang bertugas mencuci uang dari komplotan perampok Brink’s-Mat.

Enambelas bulan setelah perampokan itu, catatan menunjukkan Mossack Fonseca mendirikan sebuah perusahaan cangkang di Panama bernama Feberion Inc. Jürgen Mossack adalah satu dari tiga direktur ‘nominee’ perusahaan itu. Nominee adalah istilah di dunia bisnis gelap untuk menyebut orang yang namanya dipakai di dokumen perusahaan seolah sebagai pemilik namun sebenarnya tidak punya kendali atas operasional perusahaan itu.

Sebuah memo internal yang ditulis Jurgen Mossack menunjukkan bahwa baru pada 1986, dia sadar bahwa klien itu “tampaknya terlibat dalam pengelolaan dana dari hasil perampokan Brink’s-Mat di London. Perusahaan itu sendiri tidak melakukan sesuatu yang ilegal, namun bisa saja perusahaan itu menginvestasikan uang lewat rekening bank dan properti yang diperoleh secara tak sah.”

Setahun kemudian, pada 1987, catatan Mossack Fonseca menunjukkan dengan jelas bahwa ada kaitan antara Gordon Parry dan Feberion. Namun, bukannya membantu penegak hukum untuk memeriksa aset Feberion, Mossack malah mengambil langkah-langkah untuk mengamankan aset dan mencegah polisi mengendalikan perusahaan itu.

Misalnya, ketika polisi berhasil menguasai dua sertifikat kepemilikan Feberion, Mossack malah menerbitkan 98 saham baru, sebuah langkah yang secara efektif mencegah penyidik masuk ke dalam perusahaan itu dan menggagalkan upaya penegakan hukum. Baru pada 1995, tiga tahun setelah Parry dikirim ke penjara atas keterlibatannya dalam perampokan emas, Mossack memutus hubungan dengan Feberion.

Juru bicara Mossack membantah tudingan bahwa perusahaan mereka membentengi dana hasil perampokan Brink’s-Mat. Mereka menegaskan bahwa Jurgen Mossack tidak pernah terlibat dengan urusan bisnis apapun dengan Parry, dan tidak pernah dihubungi polisi soal kasus ini. Pembelaan Mossack Fonseca ini menunjukkan bagaimana pelaku bisnis offshore siap melakukan apapun untuk melayani pelanggan mereka.

Kantor Mossack Fonseca di Panama. (FOTO: Mathieu Tourliere, Revista Proceso)

Sistem offshore mengandalkan jejaring industri global dari para bankir, pengacara, akuntan dan para perantara yang bekerjasama untuk melindungi rahasia klien mereka. Para pakar kerahasiaan ini menggunakan perusahaan anonim, majelis wali amanat (trust), dan entitas papan nama (paper entities) lain untuk menciptakan sebuah struktur kompleks yang bisa dipakai untuk menyamarkan asal usul dana haram.

“Mereka (perusahaan seperti Mossak Fonseca–) adalah bensin yang menjalankan mesin ini,” kata Robert Mazur, mantan agen anti narkotika Amerika Serikat dan penulis buku ‘The Infiltrator: My Secret Life Inside the Dirty Banks Behind Pablo Escobar’s Medellín Cartel’. Menurut Mazur, “Mereka adalah bagian yang amat penting untuk suksesnya sebuah organisasi kriminal.”

Mossack Fonseca membantah tudingan itu. Mereka menegaskan bahwa mereka mengikuti “huruf demi huruf peraturan hukum dan juga spiritnya. Karena itulah, selama 40 tahun kami beroperasi, kami tidak pernah didakwa melanggar hukum.”

Para pria yang mendirikan Mossack Fonseca berpuluh tahun lalu, dan berlanjut hingga kini sebagai mitra utama perusahaan ini, adalah figur-figur yang amat dikenal di dunia politik dan publik Panama. Jürgen Mossack adalah seorang imigran asal Jerman yang semenjak kecil pindah ke Panama bersama keluarganya.

Ayahnya mencari kehidupan baru di Panama, setelah menjadi tentara Waffen-SS di era Hitler pada perang Dunia II. Ramon Fonseca adalah novelis yang kerap mendapat penghargaan, yang belakangan menjadi penasehat untuk Presiden Panama. Dia mengambil cuti dari pekerjaannya menjadi penasehat Presiden pada Maret 2016, setelah Mossack dikaitkan dengan skandal di Brasil dan setelah media mulai mempertanyakan cara kerja firma itu.

Dari basisnya di Panama, yang sudah lama dikenal sebagai zona rahasia finansial dunia, Mossack Fonseca melahirkan perusahaan-perusahaan anonim di Panama, British Virgin Islands dan surga finansial lainnya. Firma ini telah bekerja berdampingan dengan bank besar dan kantor pengacara ternama di tempat seperti Belanda, Meksiko, Amerika Serikat dan Swiss, membantu klien memindahkan uang atau memotong tagihan pajak mereka.

Analisa ICIJ atas dokumen yang bocor ini menemukan bahwa ada lebih dari 500 bank, cabang dan rekanan, yang pernah bekerja dengan Mossack Fonseca sejak 1970an untuk membantu klien mengelola perusahaan offshore.

UBS membantu mempersiapkan 1.100 perusahaan offshore lewat Mossack Fonseca. Sementara HSBC dan afiliasinya menciptakan lebih dari 2.300 perusahaan. Secara keseluruhan, data menunjukkan bahwa ada indikasi Mossack bekerjasama dengan lebih dari 14 ribu bank, kantor pengacara, dan perantara lain untuk mendirikan perusahaan, yayasan, majelis wali amanat (trust), untuk pelanggan.

Mossack Fonseca menegaskan bahwa para perantara inilah yang sejatinya merupakan klien mereka, bukan para pelanggan yang menggunakan perusahaan offshore yang mereka ciptakan. Firma ini mengatakan bahwa para perantara ini justru menyediakan satu lapisan tambahan untuk memeriksa keabsahan klien mereka. Soal prosedur mereka, Mossack Fonseca berani menegaskan bahwa mereka “mengikuti dan bahkan melebihi ketentuan dan standar yang mengikat mereka.”

Dalam upayanya melindungi Feberion Inc., perusahaan cangkang yang terkait dengan perampokan emas di Brink’s-Mat, Mossack Fonseca menggunakan sebuah firma yang berbasis di Panama, Chartered Management Company, yang dikendalikan oleh Gilbert R.J. Straub, seorang ekspatriat asal Amerika yang pernah terlibat dalam skandal Watergate.

Pada 1987, ketika polisi Inggris memeriksa perusahaan cangkang itu, Jürgen Mossack dan satu direktur lain di Feberion mundur, dengan syarat mereka akan diganti oleh direktur baru yang ditunjuk perusahaan Straub, Chartered Management. Belakangan, Straub ditangkap oleh Badan Anti Narkotika Amerika Serikat, dalam sebuah kasus yang tidak langsung berkaitan dengan kasus Brink’s-Mat. Ini diungkapkan Mazur, bekas agen Badan Anti Narkotika Amerika Serikat.

Mazur-lah yang mengumpulkan keping demi keping bukti sampai Straub mengaku bersalah terlibat dalam kasus pencucian uang pada 1995. Kepada Mazur, Straub pernah mengaku terlibat dalam penyaluran dana ilegal untuk kampanye pemilihan kembali Presiden AS Richard Nixon pada 1972.

KORBAN KONSPIRASI RAHASIA
Ayah Nick Kgopa meninggal ketika dia baru berumur 14 tahun. Rekan sekerja ayahnya di sebuah tambang emas di utara Afrika Selatan mengatakan ayah Nick meninggal akibat paparan zat kimia di dalam tambang.

Nick dan adiknya yang tuna rungu, bisa bertahan hidup tanpa ayah mereka berkat kiriman uang bulanan dari sebuah dana sosial yang dirancang untuk membantu janda dan anak yatim dari pekerja tambang di Afrika Selatan.

Sayangnya, suatu hari kiriman uang mendadak berhenti. Laporan media memaparkan kalau keluarga Nick adalah satu dari sekian keluarga yang jadi korban tak langsung sebuah skandal penipuan masif senilai US$ 60 juta yang dilakukan sekelompok pengusaha Afrika Selatan. Menurut dakwaan jaksa, beberapa orang yang terkait perusahaan manajemen aset, Fidentia, berkomplot untuk merampok dana investasi, yang selama ini sebagian hasilnya dipakai untuk mendukung kehidupan anak yatim seperti Nick Kgopa. Total ada 46 ribu orang janda dan anak yatim yang kehilangan tunjangan bulanannya akibat penipuan ini.

Dokumen Mossack Fonseca yang bocor menunjukkan bagaimana setidaknya dua orang yang terlibat dalam penipuan ini menggunakan firma hukum asal Panama itu untuk menciptakan perusahaan offshore. Dokumen juga menunjukkan bagaimana Mossack terus menerus melindungi para penipu dan uang hasil penipuan mereka, meski otoritas Afrika Selatan sudah mengumumkan keterlibatan mereka dalam skandal ini.

Para penipu skema ponzi dan jejaringnya kerap menggunakan struktur perusahaan offshore untuk mendukung skema mereka dan menyembunyikan prosesnya. Kasus Fidentia misalnya bukanlah satu-satunya penipuan besar yang muncul dalam daftar klien Mossack Fonseca.

Di Indonesia, sejumlah investor menuding sebuah perusahaan yang didirikan Mossack Fonseca di British Virgin Islands terlibat dalam skema penipuan yang merugikan sedikitnya 3.500 orang dengan nilai lebih dari US$ 150 juta. “Kami amat membutuhkan dana untuk pendidikan anak kami pada bulan April ini,” kata seorang investor Indonesia dengan bahasa Inggris yang terpatah-patah dalam emailnya pada Mossack Fonseca yang dikirim pada April 2007. “Tolong beri saran, apa yang bisa kami lakukan,” tulisnya lagi. Nama Mossack dan alamat emainya tercantum dalam leaflet perusahaan investasi itu.

Dalam kasus Fidentia, catatan Mossack menunjukkan bagaimana satu dari kelompok penipu yang belakangan dipenjara di Afrika Selatan, Graham Maddock, membayar US$ 59 ribu pada 2005 dan 2006 untuk menciptakan dua perusahaan offshore, termasuk satu yang bernama Fidentia North America. Catatan Mossack menunjukkan bahwa mereka memberikan pelayanan VIP pada Maddock.

Mossack juga menciptakan struktur perusahaan offshore untuk Steven Goodwin, pria yang belakangan disebut jaksa di Afsel berperan penting dalam penipuan Fidentia. Setelah skandal ini terbongkar pada 2007, Goodwin terbang ke Australia, kemudian ke Amerika Serikat, dimana pengacara Mossack menemuinya di sebuah hotel mewah di Manhattan, New York, untuk mendiskusikan keadaan perusahaan offshore-nya.

Karyawan Mossack menulis dalam catatan internal perusahaannya kalau dia dan Goodwin “berbicara dengan mendalam” mengenai skandal Fidentia dan dia “meyakinkan Goodwin untuk lebih melindungi” perusahaan offshore miliknya jika Goodwin melimpahkannya pada pihak ketiga. Dalam memo itu, karyawan Mossack menulis bahwa Goodwin tidak terlibat dalam skandal itu “dalam kapasitas apapun” dan dia “hanya korban dari keadaan.”

Pada April 2008, FBI menangkap Goodwin di Los Angeles dan mendeportasi dia kembali ke Afrika Selatan. Di sana, Goodwin mengaku bersalah dalam kasus penipuan dan pencucian uang. Dia kemudian divonis 10 tahun penjara.

Sebulan setelah Goodwin divonis, seorang karyawan Mossack menulis email yang berisi rencana mereka membuat frustasi penegak hukum di Afrika Selatan yang sedang berusaha merebut kembali aset Goodwin yang disembunyikan di perusahaan offshore, Hamlyn Property LLP. Perusahaan itu memang sengaja dibuat Goodwin untuk menguasai industri real estate di Afrika Selatan.

Karyawan ini menyarankan agar ada seorang akuntan yang diminta “mempersiapkan” audit untuk tahun fiskal 2006 dan 2007, dalam upaya “mencegah jaksa mengambil tindakan apapun atas badan hukum di belakang Hamlyn.” Dia menggunakan tanda kutip di kata “mempersiapkan”.

Tak jelas apakah saran itu benar-benar dilaksanakan atau tidak. Mossack Fonseca tidak menjawab pertanyaan soal relasinya dengan Goodwin. Kuasa dari Goodwin menjelaskan pada ICIJ bahwa kliennya “tidak memiliki hubungan apapun” dengan skandal Fidentia, dan “tidak terlibat langsung maupun tak langsung dengan 46 ribu janda dan anak yatim.”

JEJARING POLITIKUS
Pada 10 Februari 2011, sebuah perusahaan tak dikenal di British Virgin Islands bernama Sandalwood Continental Ltd. meminjamkan US$ 200 juta ke sebuah perusahaan gelap lain yang berbasis di Siprus dengan nama Horwich Trading Ltd. Pada keesokan harinya, Sandalwood menyerahkan hak untuk menagih pembayaran atas pinjaman itu –termasuk bunga– pada Ove Financial Corp., sebuah perusahaan misterius di British Virgin Islands. Untuk memperoleh hak itu, Ove membayar US$ 1 saja.

Jejak uang ini tak berhenti di sana. Pada hari yang sama, Ove menyerahkan hak untuk menagih pembayaran atas pinjaman itu pada sebuah perusahaan Panama bernama International Media Overseas. Perusahaan ini juga membayar hanya US$ 1 saja.

Dalam jangka waktu 24 jam saja, pinjaman itu, setidaknya di atas kertas, sudah berpindah ke tiga negara, dua bank dan empat perusahaan, membuat uang itu menjadi nyaris mustahil dilacak.

Ada banyak alasan mengapa orang-orang di belakang transaksi ini ingin perpindahan uang ini tersamarkan. Belakangan terungkap bahwa fulus jumbo ini berasal dari lingkaran terdekat Presiden Rusia Vladimir Putin. Sebuah bank berbasis di St Petersburg, Bank Rossiya, yang pemilik dan komisaris utamanya dikenal sebagai ‘juru bayar Putin’ adalah lembaga yang membentuk Sandalwood Continental dan mengarahkan aliran uang ini.

Sementara International Media Overseas, yang mendapat hak tagih atas dana US$ 200 juta, dikendalikan di atas kertas oleh kawan lama Putin, Sergey Roldugin, seorang pemain cello klasik yang menjadi ayah baptis untuk anak perempuan tertua Putin.

Pinjaman US$ 200 juta ini adalah satu dari belasan transaksi dengan total nilai US$ 2 miliar yang bisa ditemukan dalam dokumen Mossack Fonseca, yang berisi nama orang dan perusahaan yang terkait dengan Putin. Mereka adalah pengendali utama Bank Rossiya yang menguasai mayoritas saham di perusahaan pembuat truk terbesar di Rusia dan punya sejumlah saham rahasia di aset-aset penting industri media di negara itu.

Pembayaran mencurigakan dari kroni Putin ini bisa jadi didesain sebagai setoran, kemungkinan sebagai imbalan atas kontrak atau bantuan dari pemerintah Rusia. Dokumen rahasia yang bocor ini menunjukkan bahwa sebagian besar pinjaman uang dalam transaksi ini bersumber dari sebuah bank di Siprus yang pada saat itu dimiliki oleh Bank VTB, yang dikendalikan oleh pemerintah Rusia.

Pada sebuah konferensi pers akhir Maret 2016, juru bicara Putin Dmitry Peskov mengatakan bahwa pemerintah Rusia tidak akan menjawab pertanyaan dari ICIJ atau media mitranya, karena pertanyaan yang diajukan “sudah disampaikan beratus kali dan dijawab beratus-ratus kali.” Peskov menambahkan bahwa Rusia sudah meyiapkan “semua amunisi legal yang mungkin di arena nasional dan internasional, untuk melindungi kehormatan dan martabat presiden kami.”

***

DI bawah perjanjian nasional dan internasional, firma seperti Mossack Fonseca yang membantu membuat perusahaan dan rekening bank seharusnya selalu mencari kemungkinan klien mereka terlibat dalam pencucian uang, penggelapan pajak, atau pelanggaran lain. Secara hukum, mereka diminta untuk memperhatikan orang-orang yang secara politik terkait (politically exposed persons) – yakni pejabat pemerintah, anggota keluarga mereka atau orang dekat. Jika seseorang masuk dalam kategori itu maka perantara yang membuatkan dokumen perusahaan untuk mereka diharapkan meninjau kembali seluruh kegiatan yang bersangkutan untuk memastikan mereka tak tersangkut kasus korupsi.

Mossack Fonseca memberitahu ICIJ kalau mereka “sudah menetapkan kebijakan dan prosedur yang ketat untuk mengidentifikasi dan menangani kasus-kasus dimana individu yang terlibat merupakan kategori politically exposed persons.”

Namun, seringkali, Mossack Fonseca seolah tak paham siapa sebenarnya klien mereka. Sebuah laporan audit pada 2015 menemukan bahwa Mossack hanya tahu identitas asli dari pemilik 204 perusahaan, dari total 14.086 perusahaan yang mereka dirikan di Seychelles, sebuah kawasan surga bebas pajak di Samudera India.

Otoritas di British Virgin Islands bahkan pernah mendenda Mossack Fonseca sebesar US$ 37.500 karena firma ini melanggar aturan anti pencucian uang ketika membuatkan perusahaan untuk anak mantan Presiden Mesir Husni Mubarak dan tidak menjelaskan siapa klien mereka meski Mubarak dan anaknya telah didakwa melakukan korupsi di Mesir. Review internal di Mossack Fonseca sendiri menyimpulkan bahwa ‘formula penilaian risiko (risk assesment) kita amat lemah.”

Mantan Presiden Mesir Hosni Mubarak. (FOTO: AP)

https://projects.icij.org/panama-papers/power-players/?lang=en#20Analisa ICIJ sendiri atas dokumen Mossack yang bocor menemukan ada setidaknya 58 anggota keluarga dan orang dekat perdana menteri, presiden dan raja-raja yang jadi klien firma ini. Catatan menunjukkan, sebagai contoh, bahwa keluarga Presiden Azerbaijan Ilham Aliyev menggunakan yayasan dan perusahaan di Panama untuk menguasai saham rahasia di tambang emas dan sebuah real estate di London.

Anak-anak dari Perdana Menteri Pakistan Nawaz Sharif juga memiliki sebuah real estate di London, lewat sebuah perusahaan yang dibuatkan oleh Mossack Fonseca.

Di Cina, anggota keluarga dari setidaknya delapan mantan maupun pejabat aktif Komite Pusat Politbiro Partai Komunis Cina, organ utama pemerintahan negeri itu, memiliki perusahaan offshore yang didirikan via Mossack Fonseca. Bahkan saudara ipar Presiden Xi Jinping termasuk yang mendirikan dua perusahaan di British Virgin Islands pada 2009.

Juru bicara pemerintahan Azerbaijan, Cina dan Pakistan tidak menjawab permohonan konfirmasi untuk informasi ini.

Daftar pemimpin dunia yang menggunakan Mossack Fonseca untuk mendirikan perusahaan offshore termasuk Presiden Argentina Mauricio Macri, yang pernah menjabat Direktur dan Wakil Presiden sebuah perusahaan berbasis di Panama, yang dikelola Mossack Fonseca, ketika Macri menjadi pengusaha dan kemudian Wali Kota Buenos Aires, Ibu Kota Argentina. Juru bicara pemerintah Argentina menegaskan bahwa Macri tak pernah memiliki saham perusahaan itu secara personal, karena perusahaan itu adalah bagian dari bisnis keluarga.

https://projects.icij.org/panama-papers/power-players/?lang=en#27

Ketika Rusia menginvasi wilayah Ukraina, Donbas, pada 2014, catatan menunjukkan bagaimana wakil dari Presiden Ukraina Petro Poroshenko berusaha mencari salinan rekening air dan listrik pribadi untuk Poroshenko sebagai kelengkapan dokumen pendirian perusahaannya di British Virgin Islands. Juru bicara Poroshenko menegaskan bahwa pendirian perusahaan itu tidak ada hubungannya dengan peristiwa politik atau militer apapun di Ukraina.

Penasehat keuangan Poroshenko menjelaskan bahwa Presiden tidak memasukkan perusahaan BVI itu dalam laporan kekayaannya karena perusahaan itu dan anak perusahaannya di Belanda dan Siprus tidak memiliki aset apapun. Perusahaan itu didirikan sebagai bagian dari restrukturisasi korporasi di bisnis Poroshenko.

Ketika Sigmundur David Gunnlaugsson menjadi Perdana Menteri Islandia pada 2013, dia juga menyembunyikan satu rahasia yang bisa mengganggu karir politiknya. Pada 2009, ketika dia terpilih menjadi anggota parlemen, Gunnlaugsson dan istrinya bersama-sama memiliki sebuah perusahaan offshore di British Virgin Islands. Beberapa bulan kemudian, dia menjual saham bagiannya ke istrinya dengan nilai US$ 1.

Perusahaan itu memegang surat utang yang semula bernilai jutaan dolar di tiga bank raksasa di Islandia. Ketiga bank itu rontok pada puncak krisis ekonomi dunia pada 2008 dan membuat perusahaan Gunnlaugsson otomatis menjadi kreditor dalam proses pailit ketiga bank itu.

Tahun lalu, pemerintah Islandia bernegosiasi dengan semua kreditor bank-bank yang tutup di sana. Namun Gunnlaugsson tetap tidak melaporkan keterlibatannya sebagai pemilik salahsatu perusahaan kreditor yang kemungkinan akan mendapatkan keuntungan finansial dari negosiasi itu.

https://projects.icij.org/panama-papers/power-players/?lang=en#49

Pekan lalu Gunnlaugsson membantah kalau kepentingan bisnis keluarganya memiliki pengaruh atas posisi pemerintahannya dalam negosiasi dengan kreditor. Catatan Mossack Fonseca yang bocor tidak menjelaskan dengan detail apakah posisi politik Gunnlaugsson merugikan atau menguntungkan nilai surat utang yang dia pegang melalui perusahaan offshore itu.

Dalam sebuah wawancara dengan mitra ICIJ, Reykjavik Media, Gunnlaugsson membantah menyembunyikan asetnya. Ketika nama perusahaan offshore yang terkait dirinya, Wintris Inc. disebut, Perdana Menteri itu berujar, “Saya merasa tak nyaman dengan pertanyaan ini, karena seolah Anda menuduh saya sesuatu.” Dia kemudian menghentikan wawancara.

Empat hari kemudian, istrinya mempublikasikan isu ini melalui Facebook. Dalam catatan yang ditulis istri Gunnlaugsson di media sosial itu, dia menegaskan bahwa dialah yang memiliki perusahaan offshore itu, dan bukan suaminya. Dia juga menegaskan bahwa semua pajak perusahaan itu sudah dibayar. Penjelasan istri Gunnlaugsson membuat sejumlah anggota parlemen Islandia makin mempertanyakan mengapa Perdana Menteri tidak membuat penjelasan itu sebelumnya. Satu anggota parlemen bahkan sudah mendesak Gunnlaugsson untuk mundur dari posisinya.

Kini Perdana Menteri Islandia melawan dan merilis sebuah penjelasan sepanjang 8 halaman untuk menegaskan bahwa “tidak ada ketentuan hukum apapun yang mengharuskan saya membuka informasi ini karena perusahaan itu milik istri saya dan perusahaan itu hanya perusahaan induk (holding company) yang tak terlibat dalam bisnis komersial apapun.”

MENUTUPI OFFSHORE
Pada 2005, sebuah kapal wisata bernama Ethan Allen tenggelam di Danau George, New York, AS, menewaskan 20 turis lanjut usia di atas kapal itu. Setelah korban kapal itu mengajukan tuntutan, terungkap bahwa perusahaan wisata pemilik kapal itu tak punya asuransi sama sekali karena mereka ditipu oleh gerombolan pemalsu polis asuransi.

Malchus Irvin Boncamper, seorang akuntan di St Kitts, di kepulauan Karibia, mengaku bersalah di pengadilan Amerika Serikat, atas perbuatannya membantu para penipu memuluskan upaya pemalsuan asuransi itu.

Belakangan kasus ini menjadi masalah untuk Mossack Fonseca karena Boncamper rupanya sudah lama punya pekerjaan sambilan menjadi “frontman” atau “nominee” atau nama bayangan untuk lebih dari 30 perusahaan yang dibuat Mossack.

Setelah vonis untuk Boncamper diketahui, Mossack bertindak cepat. Perusahaan ini mengganti nama Boncamper di semua perusahaan yang pernah melibatkan namanya, dan memundurkan tanggal dokumen agar tampak bahwa penggantian ini sudah dilakukan setidaknya satu dekade sebelumnya.

Kasus Boncamper ini menunjukkan bagaimana firma hukum kerap menggunakan taktik yang tak terpuji untuk menyembunyikan metode mereka atau perilaku klien mereka dari endusan penegak hukum.

Pada Operasi Car Wash di Brasil, jaksa menuding karyawan Mossack Fonseca menghancurkan dan menyembunyikan dokumen untuk menutupi keterlibatan mereka dalam kasus pencucian uang di sana. Dokumen polisi menunjukkan bahwa satu ketika seorang karyawan Mossack di kantor cabang mereka di Brasil mengirim email pada rekan sekerjanya, meminta rekannya itu untuk menyembunyikan dokumen seorang klien yang sedang diincar dalam penyidikan polisi: “Jangan tinggalkan apapun. Aku akan simpan semuanya di mobil atau rumahku.”

Di Nevada, AS, dokumen menunjukkan bagaimana karyawan Mossack Fonseca bekerja keras pada 2014 untuk mengaburkan kaitan antara kantor firma itu di Las Vegas dan kantor pusat mereka di Panama, untuk mengantisipasi perintah pengadilan AS yang akan memaksa mereka membuka informasi soal 123 perusahaan yang mereka dirikan di sana.

Informasi mengenai kaitan perusahaan di Nevada dan Panama penting karena para jaksa di Argentina sedang mencari kaitan sebuah perusahaan yang dibuat Mossack dan berbasis di Nevada itu dengan penyidikan skandal megakorupsi yang melibatkan bekas Presiden Néstor Kirchner dan Cristina Fernández de Kirchner.

Untuk lepas dari jerat hukum Amerika, Mossack menyatakan bahwa kantor cabangnya di Las Vegas yang bernama MF Nevada, bukanlah kantor cabang sama sekali. Markas utama Mossack di Panama tidak punya kewenangan apapun di kantor itu. Nah, dokumen internal yang bocor menunjukkan sebaliknya: Mossack di Panama memang mengendalikan rekening bank MF Nevada. Seorang pendiri dan seorang karyawan Mossack merupakan pemegang 100 persen saham MF Nevada.

Untuk menutupi kaitan ini, Mossack memindahkan semua dokumen dari kantor mereka di Nevada dan menghapus semua file di komputer mereka yang bisa mengaitkan Panama dan Nevada. Demikian terungkap dari percakapan email karyawan Mossack. Kekhawatiran utama mereka, satu email menjelaskan, adalah manajer kantor Nevada mungkin terlalu takut untuk berbuat apapun, sehingga “penyidik justru bisa menemukan kalau kita berusaha menyembunyikan sesuatu.”

Mossack Fonseca menolak menjawab pertanyaan soal insiden Brasil dan Nevada, namun membantah semua tuduhan bahwa mereka terlibat dalam upaya menghambat penegakan hukum dan menyembunyikan kegiatan ilegal. “Menyembunyikan dan menghancurkan dokumen yang mungkin dibutuhkan dalam proses penegakan hukum, bukanlah kebijakan kami,” demikian jawaban dari firma ini.

MEREFORMASI DUNIA GELAP
Pada 2013, Perdana Menteri Inggris David Cameron mendesak kawasan bebas pajak di negaranya –termasuk British Virgin Islands– untuk bekerjasama “membersihkan rumah kita sendiri” dan bergabung dalam gerakan bersama melawan pelarian pajak dan kerahasiaan dunia offshore. Cameron sebenarnya tak perlu memulai jauh-jauh. Dia tinggal melihat apa yang dilakukan ayahnya untuk tahu seberapa besar potensi tantangan dari upaya semacam itu.

Perdana Menteri Inggris, David Cameron. (FOTO: REUTERS/Matthew Lloyd/Pool)

Ayah David Cameron, Ian Cameron, adalah seorang pialang saham dan miliarder dari Inggris, yang menggunakan Mossack Fonseca agar perusahaan dana investasinya, Blairmore Holdings, Inc., tidak harus membayar pajak di Inggris. Nama perusahaan itu diambil dari nama rumah keluarga Cameron di wilayah pedesaan Inggris.

Mossack kemudian mendaftarkan perusahaan investasi itu di Panama, meski banyak pemegang sahamnya berkewarganegaraan Inggris. Ian Cameron mengendalikan seluruh kegiatan perusahaan ini sejak pendiriannya pada 1982 sampai dia meninggal pada 2010.

Sebuah dokumen prospektus untuk investor Blairmore mencantumkan pengakuan bahwa perusahaan itu “sebaiknya dikelola dan diatur agar tidak menjadi bagian dari sistem di Inggris dan menjadi wajib pajak di Inggris.”

Perusahaan ini mencapai tujuan itu dengan menggunakan sertikat kepemilikan yang mustahil dilacak, yang biasa disebut ‘saham atas nama’ (bearer shares) dan mempekerjakan direksi ‘nominee’ di Bahama. Sejarah Ian Cameron menghindari pajak merupakan contoh bagaimana dunia offshore berjalin berkelindan dengan nama-nama elite politik dan bisnis di seluruh dunia. Tak hanya itu, keberadaan sistem rahasia ini kerap menjadi sumber pemasukan untuk banyak negara. Konflik kepentingan yang begitu dalam ini membuat semua upaya untuk mereformasi sistem finansial ini menjadi amat sulit.

Di Amerika Serikat saja, negara bagian seperti Delaware dan Nevada –yang memang memperbolehkan perusahaan didaftarkan secara anonym– terus melawan semua upaya reformasi untuk memaksa mereka jadi lebih terbuka. Negara asal Mossack Fonseca, Panama, juga menolak untuk terlibat dalam rencana global untuk saling bertukar informasi mengenai rekening bank nasabah, karena mereka takut industri offshore di negara mereka jadi tidak kompetitif lagi. Pejabat Panama mengaku siap bertukar informasi, namun dalam skala yang lebih kecil.

Kondisi ini mempersulit para penegak hukum yang harus membongkar dan menghentikan kejahatan yang semua transaksinya disembunyikan di balik lapisan kerahasiaan. Satu alat yang efektif untuk membongkar jejaring gelap ini adalah pembocoran berbagai dokumen offshore yang bisa menyeret semua transaksi gelap ini ke tempat yang lebih terbuka.

Kepada Tempo, Menteri Keuangan Indonesia Bambang Brodjonegoro menjelaskan bahwa pemerintah sudah mengantongi data mengenai ribuan perusahaan offshore dan perusahaan cangkang milik orang Indonesia di luar negeri. “Nilainya ribuan triliun rupiah,” kata Bambang. UU Pengampunan Pajak yang sedang dibahas di Senayan, kata dia, adalah upaya pemerintah menarik pulang semua dana itu.

Bambang Brodjonegoro. (FOTO: TEMPO/Wisnu Agung Prasetyo)

Pengalaman selama ini menunjukkan bahwa berbagai kebocoran dokumen yang diungkap oleh ICIJ dan media mitranya, cukup efektif untuk mendorong adanya legislasi baru dan dimulainya penyidikan di belasan negara. Laporan semacam ini juga membuat para klien offshore ketakutan suatu saat rahasia mereka bakal terbongkar.

Pada April 2013, setelah ICIJ pertama kali mempublikasikan laporan berjudul “Offshore Leaks” mengenai kebocoran dokumen rahasia di British Virgin Islands dan Singapura, sejumlah klien Mossack Fonseca menulis email, meminta jaminan dari perusahaan itu bahwa rahasia mereka bakal aman dari kebocoran.

Sebagai jawaban, Mossack Fonseca meminta klien mereka agar tak usah khawatir. Mereka menegaskan bahwa komitmen mereka untuk menjaga privasi klien “adalah prioritas utama kami. Semua informasi rahasia Anda tersimpan dalam pusat data kami yang amat canggih dan semua komunikasi Anda dengan jejaring global kami dilakukan lewat saluran yang terenkripsi dengan algoritma berstandar dunia.”

***

Laporan ini ditulis dan disiapkan oleh : Bastian Obermayer, Gerard Ryle, Marina Walker Guevara, Michael Hudson, Jake Bernstein, Will Fitzgibbon, Mar Cabra, Martha M. Hamilton, Frederik Obermaier, Ryan Chittum, Emilia Díaz-Struck, Rigoberto Carvajal, Cécile Schilis-Gallego,Marcos García Rey, Delphine Reuter,Matthew Caruana-Galizia, Hamish Boland-Rudder, Miguel Fiandor and Mago Torres.

Di Indonesia, tim Tempo yang terlibat adalah Wahyu Dhyatmika, Philipus Parera, Agoeng Widjaya dan Mustafa Silalahi. (*)

Menteri Keuangan Bambang Brodjonegoro:
Mereka Orang Terkaya
dan Terkenal
Menteri Keuangan Bambang Brodjonegoro
Mossack Fonseca. (FOTO: REUTERS/Carlos Jasso)

Menteri Keuangan Bambang Brodjonegoro:

Mereka Orang Terkaya dan Terkenal

Pemerintah mengklaim sudah memiliki data yang cukup lengkap mengenai orang-orang kaya dan terkemuka yang menyembunyikan kekayaannya di luar negeri. Nilai kekayaan orang Indonesia yang tersembunyi di negara-negara tax haven, menurut Menteri Keuangan Bambang Brodjonegoro, lebih dari Product Domestic Bruto Indonesia yang sekarang sekitar Rp 11.000 triliun. “Kami punya data intelijen tentang mereka,” ujarnya dalam perbincangan dengan Tempo di ruang kerjanya di Kementerian Keuangan, Jakarta, Jumat 1 April lalu.

Bambang mengatakan, tempat favorit orang Indonsia untuk mendirikan mendirikan shell company atau perusahaan cangkang adalah British Virgin Islands, Cook Island dekat Selandia Baru dan Singapura.

Belum lama ini Anda mengatakan ada perusahaan modal asing (PMA) yang diduga menghindari pajak. Bagaimana bentuknya?
Waktu itu datanya sekitar 2.000 PMA tidak membayar pajak dalam 10 tahun, bahkan lebih. Kalau orang pribadi bayar pajak karena ada income. Perusahaan bayar pajak kalau untung. Jadi kesimpulannya dia selalu mengaku rugi. Logikanya jika rugi mereka tutup dengan mengurangi operasi. Tapi ini tidak, perusahaan jalan normal. Gaji dibayar tepat waktu dan tidak ada isu pemutusan hubungan kerja. Kesimpulan, mereka menghindari pajak.

Bagaimana modus mereka menghindari pajak?
Sejak tahun lalu, kami melakukan pemeriksaan khusus terhadap PMA-PMA ini. Beberapa bisa kami lacak. Umumnya mereka menjual produk ke perusahaan terafiliasi di luar negeri. Ada juga perusahaan sengaja menjual produknya dengan margin rendah, mungkin dua persen, sehingga mengeluh rugi. Tapi perusahaan itu tidak tutup, malah 20 tahun dia ada di indonesia. Ternyata alasannya karena perusahaan itu mengolah bahan tambang rare earth, metal langka yang dibutuhkan industri elektronik. Perusahaan itu bangun smelter di Indonesia untuk mengamankan pasokan metal langka itu ke luar negeri. Sehingga mau di sini rugi tidak masalah, yang penting suplai datang ke sana. Nanti setelah jadi barang elektronik dapat untung gede. Ini jadinya semacam memindahkan keuntungan ke luar negeri. Modus lainnya, utang. Utang itu ada bunga. Bunga menjadi biaya. Biaya itu mengurangi penerimaan. Akhirnya pajak mengecil karena utangnya besar. Padahal utangnya pun tidak benar-benar utang. Modus ini tak hanya mengurangi pajak dari sisi penghasilan perusahaan, tapi juga pajak atas dividen. Karena mereka mengaku rugi, tidak ada dividen. Padahal dividennya ya pembayaran bunga utang tadi.

Lalu apa yang Anda lakukan terhadap mereka?
Yang bisa kami lakukan adalah pemeriksaan sementara. Ada pemikiran ke depan, kami bisa menerapkan semacam alternatif minimum tax payment dalam Undang-Undang Pajak Penghasilan. Jadi katakanlah kalau sudah lewat tujuh tahun masih rugi, anda harus bayar pajak minimum. Mulai tahun ini kami juga menerapkan aturan debt to equity ratio. Utang yang kami akui dalam perhitungan pajak maksimum 4 kali dari modal. Sebelum ada ini, shareholder loan bisa 10 kali lipat dari modal.

Dari negara mana saja modal asing dalam perusahaan-perusahaan tersebut?
Kalau kami lihat data PMA paling besar itu dari Singapura, meski tidak bisa dibilang yang 2.000 perusahaan tadi banyak perusahaan dari negara itu. Yang jelas ada dari Jepang, Korea, Hongkong dan negara-negara tax haven lain. Bentuknya special purpose vehicle.

Sektor usaha apa yang paling banyak mereka geluti?
Manufaktur.

Data Panama Papers menunjukkan banyak orang pribadi, konglomerat hingga politisi, memiliki perusahaan di Panama, British Virgin Islands, Jersey dan tax haven countries lainnya. Apakah Direktorat Jenderal Pajak memantau mereka?
Kami punya data intelijen tentang mereka. Mungkin tidak meng-cover seluruhnya, tapi sudah menggambarkan kira-kira potensi uang orang Indonesia di luar negeri. Tempat favorit ada di British Virgin Islands. Kedua di Cook Island dekat Selandia Baru. Dan ketiga, Singapura. Tapi ada lagi di Mauritius, Jersey di Inggris, dan Cayman Islands. SPV-SPV itu sangat mungkin berinvestasi di indonesia.

Apakah ada di antara mereka yang terbukti melanggar peraturan?
Selama ini kami terkendala di data. Meskipun, kami tetap melakukan operasi intelijen untuk mendapatkan data perpajakan, dan itu valid, persoalannya data yang bisa digunakan untuk menindak mereka (di pengadilan misalnya –red) harus data resmi. (Solusinya –) nanti (akan ada–) pertukaran data secara internasional pada 2018. Sebenarnya kami bisa tukar-menukar informasi dengan rekan treaty (negara tetangga yang menandatangani kesepakatan pajak dengan Indonesia–). Tapi untuk sekarang belum bisa. Kita bisa minta data dia, tapi dia tidak bisa minta data ke kita. Siapa yang mau tukar kalau tidak ada timbal balik? Jadi exchange of information tidak jalan. Sekarang G20 bikin automatic exchange of information, paling cepat pada 2017.

Apa yang menghambat Indonesia belum bisa melakukan pertukaran data tersebut?
Kita harus mengamandemen Undang-Undang Perbankan. Kita harus displin dengan aturan global, tahun depan paling lambat undang-undang itu harus sudah direvisi. Bukan menghilangkan kerahasiaan, tapi membuka akses terhadap pajak, terhadap rekening simpanan yang selama ini tidak bisa diakses. Selain itu yang juga agak menyulitkan kami adalah Undang-Undang tentang lalu lintas devisa bebas yang mungkin membuat uang hasil ekspor kita, tidak ada di indonesia.

Dari data intelijen itu berapa banyak warganegara Indonesia yang diduga menempatkan hartanya di luar negeri?
Kami sudah mempunyai data daftar nama SPV, nama orang, dan akunnya di bank. Tapi kami tidak bisa mengaksesnya. Jumlah rekening luar negeri yang baru kami punya 6.000-an individu. Jangan membayangkan ini terpisah-pisah. Kadang-kadang misalnya Mr. X, nanti di bawahnya Ms. X, dan di bawahnya lagi X junior. Jadi bapak, istri, anak, atau nanti ada keponakan, dan kakaknya.

Berapa perkiraan nilainya duit dan aset mereka itu di luar negeri terutama tax haven countries?
Lebih dari product domestic bruto kita. PDB Indonesia itu sekitar Rp 11 ribu triliun. Ini lebih.

Apakah di antara mereka ada menjadi wajib pajak di kantor pajak besar (large tax office/LTO)?
Ada matching antara daftar nama itu dengan yang di LTO, ada individu dan perusahaan. Yang pasti mereka paling besar. Mereka paling kaya. Tidak mungkin yang dominan itu orang tidak kaya.

Siapa yang nilainya terbesar?
Yang paling besar itu justru nama-nama yang kita kenal. Orangnya di sini, baik-baik saja. Yang buron tidak banyak.

Apakah karena fakta tersebut pemerintah mendorong terbitnya Undang-Undang Pengampunan Pajak sejak tahun lalu?
Kalau ada program tax amnesty lebih jelas. Definisinya, kami meminta wajib pajak melaporkan aset yang belum pernah dilaporkan di dalam SPT (Surat Pemberitahuan Tahunan). Selama ini wajib pajak kalau punya akun bank di luar negeri, berapa pun jumlahnya, pasti belum terlaporkan. Mereka hanya lapor soal kepemilikan rumah, mobil, dan akun bank di Indonesia. Kami berharap semua dilaporkan, dan ini dilakukan negara lain.

Contohnya Italia. Saya pernah bertanya kepada Menteri Keuangan Italia, bagaimana kamu menjaring data pajak? Mereka tahu uang warganegara Italia banyak di luar negeri. Mereka dulu pakai tax amnesty, tapi sekarang sudah tidak lagi, digantikan voluntary declaration karena sudah pada masuk uangnya. Mereka tidak mengejar deklarasi ini di banyak tempat, tapi hanya empat tempat yang mereka yakini banyak uang orang Italia di sana. Kebetulan Italia punya perjanjian pajak dengan empat tempat yang dianggap tax haven itu, yakni Swiss, San Marino, Monaco, dan Vatikan.

Sedangkan kita tidak bisa seperti mereka, karena tidak bisa menebak, apakah di Swiss, Singapura, Hongkong atau lainnya. Ini kelemahan selama ini.

Namun banyak kritikan terhadap tax amnesty, termasuk masyarakat internasional, yang menganggap fasilitas ini tidak adil karena mengampuni para pengemplang pajak…
Kami hanya mengampuni dia dari kesalahan pajak. Misalnya aset, itu kan ada asal-muasal, tidak mungkin mendadak punya aset di luar negeri, pasti ada income tapi duit tidak pernah masuk ke Indonesia. Berarti tidak pernah dilaporkan secara pajak. Sebenarnya dari segi pajak ini pelanggaran karena tidak melaporkan pendapatannya secara benar. Kesalahan itu diampuni. Pengampunan itu yang penting melaporkan atau repatriasi. Supaya basis pajak dan penerimaan Indonesia pada tahun-tahun mendatang semakin besar. Dan secara ekonomi makro kalau ada repatriasi, likuiditas masuk. Kemudian nilai tukar bisa membaik, investasi naik, ekonomi makro baik. Jadi banyak efek samping yang malah lebih penting dari pajak itu sendiri.

Mana yang lebih menguntungkan, menunggu pertukaran pajak itu berlaku atau pengampunan pajak?
Kesepakatan pertukaran data otomatis itu paling cepat 2017. Ini kesepakatan global, bukan bilateral. Memang tinggal dua tahun lagi terekspos semua pelanggar pajak ini. Kalau mau untung tunggu dua tahun lagi. Tapi pemerintahan ini sampai kapan? Cuma sampai 2019. Sedangkan itu uang, kalau 2018 pertukaran pajak berlaku, baru masuk 2019. Memang besar karena bayarnya 48 persen. Tapi itu kan nanti. Kita butuh perbaikan ekonomi dan anggarannya sekarang. Dengan tax amnesty itu, Presiden ingin mengajak orang Indonesia pemilik uang di luar negeri itu, sama-sama membangun negeri. Bagi Presiden itu definisi pengampunan pajak hanya satu, repatriasi. Kalau untuk saya, bisa repatriasi atau pajak. Karena presiden sudah gemes melihat Indonesia kok begini-begini saja.

Undang-undang tax amnesty ini terdengar hanya jalan pintas saja untuk keluar dari masalah penerimaan…
Bukan.

Bagaimana jika ada anggapan pengampunan pajak akan memfasilitasi mereka yang menempatkan harta di luar negeri dari ancaman pemeriksaan pajak hasil pertukaran data 2018?
Kami kasih kesempatan itu untuk sekarang. Negara lain juga melakukan tax amnesty dan voluntary declaration.

Bagaimana jika harta warganegara di Indonesia di luar negeri itu dahulu berasal dari kasus pidana seperti korupsi Bantuan Likuiditas Bank Indonesia?
Kami tidak mempermasalahkan dari mana uangnya. Pajak itu tidak peduli dari mana uang, yang penting laporkan dan bayar pajaknya. Mau uangnya haram, setengah haram, halal, pokoknya laporkan pendapatan kamu dan kami akan kenai pajak. Kalau mau mempersoalkan asal-usul ya penegak hukum yang berwenang. Tax amnesty hanya membebaskan dari masalah pajak. Kalau kasus pidana tetap jalan terus. Jangan disalahartikan. Dulu ada ide pengampunan nasional, bukan (itu berbeda–). Ini benar-benar pengampunan pajak. Yang diampuni hanya kesalahan di pajak. Ini tidak menghapus pidana. Tidak akan ada surat tentang bebas dari pidana yang telah dilakukan.

Apakah laporan harta wajib pajak yang diperbarui berkat peraturan tax amnesty nanti, bisa dipakai untuk mengusut dugaan pidana mereka sebelumnya?
Salah satu poin di Undang-Undang Pengampunan Pajak adalah kerahasiaan. Ini tidak boleh menjadi data untuk penyelidikan awal sampai ke pengadilan. Jadi kalau mau buktikan ada korupsi, cari bukti lain, jangan menggunakan data tax amnesty.

Apakah ada pengusaha Indonesia yang selama ini menempatkan asetnya di luar negeri, yang sudah menyatakan akan menarik pulang hartanya jika amnesti berlaku?
Sepertinya begitu. Ada yang ke Presiden langsung, ada yang ke saya dan Direktur Jenderal Pajak. Tak hanya dari luar, tapi juga dalam negeri. Karena di dalam negeri banyak orang yang belum bayar pajak dengan benar. Mereka masih menunggu. Mereka membutuhkan kepastian undang-undang ini. Ada yang mengakui, ada juga yang masih berusaha mengelak kalau punya akun bank. Tapi saya tidak mau kejar-kejar, bukan begitu caranya.

Kepastian apa yang mereka tunggu?
Mereka butuh kepastian bahwa kalau ikut tax amnesty, uang mereka jadi putih, untuk dipakai investasi. Uang yang tadinya hitam atau abu-abu, jadi putih semua. Mau investasi silahkan, toh sudah dilaporkan semua uangnya.

Jika UU pengampunan pajak jadi berlaku tahun ini berapa target tambahan penerimaan negara yang bisa kita peroleh?
Pokoknya besarlah.

Rp 100 triliun?
Lebihlah. Saya bilang, nanti akan terlihat di APBN Perubahan, berapa sebenarnya target yang kami harapkan. Pengampunan pajak itu paling tidak bisa menyelamatkan penerimaan pajak di tahun ini. Karena menutup kekurangan dari minyak dan gas susah. Paling tidak untuk pajak sendiri ini yang menolong.

Bagaimana jika Undang-Undang tax amnesty batal berlaku?
Kalau misalnya amnesti tidak berhasil, ya kami kejar. Tapi, kembali lagi, ini kan tidak gampang karena kita tidak punya basis data formal. Kita tidak bisa melakukan pertukaran data (dengan negara lain–) karena ada kerahasiaan bank. Kami jauh lebih senang kalau mereka melakukan secara voluntary daripada kami paksa. Nanti kalau dipaksa malah ribut, kenapa orang pajak galak. Sekarang kami kasih kesempatan kamu untuk minta ampun.

Jejaring Sang Mafia Minyak
Kilang Minyak. (Foto: Spencer Platt/Getty Images) Riza Chalid. (foto:twitter.com)
Johnny G. Plate. (ANTARA FOTO/Rivan Awal Lingga)

Jejaring Sang Mafia Minyak

Dokumen The Panama Papers mengungkap bagaimana Muhammad Riza Chalid, orang kuat di balik transaksi minyak Zatapi yang merugikan Pertamina sebesar Rp 65, 5 miliar pada 2008 silam, membangun jejaring perusahaan offshore di British Virgin Islands. Dari data pemilik saham perusahaan inilah, terungkap siapa yang menangguk untung ratusan triliun rupiah dari impor minyak via Petral selama bertahun-tahun.

MENTERI Energi dan Sumber Daya Mineral Sudirman Said menutup bibirnya rapat-rapat. Sambil menggelengkan kepala, dia mengaku belum mau berkomentar. “Saya pelajari dulu,” katanya. Sudirman sedang berada di Kabupaten Pulau Morotai, Maluku Utara, awal April 2016 lalu, ketika reporter Tempo bertanya soal apa tindakan pemerintah menghadapi sejumlah perusahaan energi yang membuat struktur perusahaan offshore di kawasan suaka pajak. “Saya belum mau berkomentar, saya pelajari dulu,” katanya menegaskan.

Keberadaan sejumlah perusahaan energi Indonesia di kawasan bebas pajak seperti British Virgin Islands terungkap dalam bocoran dokumen internal firma hukum Mossack Fonseca. Dokumen yang kini dikenal dengan nama The Panama Papers itu dipublikasikan serentak di seluruh dunia pada awal April 2016 oleh lebih dari 100 media. Penggagas kolaborasi global ini adalah The International Consortium of Investigative Journalists (ICIJ). Tempo adalah satu-satunya media dari Indonesia yang tergabung dalam konsorsium ini.

Dokumen The Panama Papers pertama kali diperoleh koran Jerman Suddeutsche Zeitung pada awal 2015. Data yang dikirimkan bertahap sampai mencapai 11,5 juta files ini mencakup nama lebih dari 200 ribu perusahaan offshore di 21 kawasan suaka pajak. Ada hampir 900 individu dan perusahaan yang berdomisili di Indonesia dalam daftar itu.

Sebuah nama yang sudah dikenal malang melintang di dunia perminyakan Indonesia tercantum jelas dalam dokumen The Panama Papers. Dia adalah Muhammad Riza Chalid.

Nama tokoh misterius yang lebih suka menghindari media ini memang kerap muncul dalam sejumlah isu nasional yang kontroversial. Majalah Tempo yang pertama kali mengungkap keterlibatannya dalam skandal impor minyak Zatapi di Pertamina, pada Maret 2008.

Belakangan, nama Riza Chalid muncul dalam skandal korupsi proyek Kartu Tanda Penduduk elektronik (e-KTP) di Kementerian Dalam Negeri, skandal mafia impor minyak Petral sampai kasus pencatutan nama Presiden Joko Widodo dalam kisruh perpanjangan kontrak Freeport di Papua.

***

PADA dokumen Panama Papers, nama Riza muncul sejak 1998 silam. Penelusuran Tempo menemukan sebuah sertifikat kepemilikan untuk perusahaan offshore bernama Epcots International Ltd yang ditandatangani oleh dua orang pendirinya yakni: Riza Chalid dan pengusaha Rosano Barack. Perusahaan offshore itu didirikan pada 2 Juli 1998, dua bulan setelah Presiden Soeharto mengundurkan diri.

Rosano Barack dikenal sebagai pengusaha yang dekat dengan Bambang Trihatmodjo, salahsatu anak Soeharto. Mereka bersama-sama mendirikan PT Bimantara Citra pada 1981. Sampai sekarang, Rosano adalah Komisaris Utama PT Global Mediacom dan PT Media Nusantara Citra (MNC), konglomerasi media yang dikendalikan pebisnis Harry Tanoesoedibjo. Kelompok usaha itu memang mengakuisisi Bimantara pada 2007 silam.

Yang menarik, Riza Chalid dan Rosano Barack bukanlah pemilik semua saham Epcots International. Ada 10 nama lain yang disembunyikan dan hanya disebut sebagai ‘The Bearer’. Mereka semua menggunakan alamat yang sama, yakni Chartwells Management Services di Singapura. Itulah kelebihan yang ditawarkan firma hukum seperti Mossack Fonseca. Mereka bisa membuat struktur korporasi dengan kerahasiaan berlapis, yang membuat kepemilikan asli atau beneficial owner dari sebuah perusahaan, nyaris tak bisa dilacak.

http://linkurious.icij.org/widget/618542c6Gainsford – Trio Riza-Nat-Johnny on Linkurious.

Jejak terakhir Epcots terbaca pada Februari 2010 lalu. Kala itu, dua karyawan Mossack Fonseca bertukar e-mail, memastikan bahwa perusahaan offshore itu masih aktif beroperasi. Mereka juga menegaskan bahwa Epcots masih dikelola oleh Rosano dan Riza, dan bahwa perusahaan ini memiliki 50 ribu saham yang harga selembarnya hanya US$ 1,- saja. Yang menarik, dari total jumlah saham itu, Rosano dan Riza masing-masing hanya memiliki lima lembar saham.

***

MAJALAH Tempo edisi 24 Maret 2008 menulis sebuah laporan investigasi berjudul ‘Ada Tapi di Zatapi’. Liputan khusus yang dikerjakan selama lebih dari enam bulan itu dengan gamblang mengungkap persekongkolan sejumlah pengusaha minyak dengan oknum pejabat di Pertamina dalam jual beli minyak mentah campuran berkode ‘Zatapi’. Kongkalikong ini diperkirakan merugikan negara sekitar Rp 65,5 miliar.

Impor 600 ribu barel minyak Zatapi senilai US$ 58,6 juta (Rp 545,9 miliar pada kurs waktu itu) diatur secara lihai. Agar bisa lolos mengikuti tender di Pertamina, setiap pemasok harus mengirim crude oil assay atau uji kimia minyak mentah — data yang biasa dipakai untuk memperkirakan nilai ekonomisnya. Data tersebut kemudian diuji oleh sebuah program komputer bernama Generalized Refining Transportation Marketing Planning System (GRTMPS). Hanya jenis minyak yang lolos GRTMPS yang diperbolehkan bersaing dalam lelang.

Pada Desember 2007, sebuah proses lelang impor minyak sudah dijadwalkan. Tapi menjelang tenggat, data Zatapi belum juga diterima oleh Unit Optimalisasi Pertamina untuk dimasukkan ke komputer. Unit inilah yang berwenang meng-input data minyak peserta tender.

Alih-alih didiskualifikasi, Zatapi malah melenggang ikut lelang. Adalah Chrisna Damayanto, ketika itu Vice President Perencanaan dan Pengelolaan Direktorat Pengolahan Pertamina, yang meng-input data crude oil assay yang dia klaim sebagai milik Zatapi ke GRTMPS. Berkat campur tangan Chrisna, jenis minyak mentah campuran itu bisa ikut tender dan bahkan menang.

Menurut Chrisna, dia melakukan terobosan yang menguntungkan Pertamina. “Kalau keputusan ini tidak tepat, resikonya saya tanggung,” ujarnya ketika itu. Berbeda dengan perhitungan Tempo yang menghitung harga Zatapi kemahalan US$ 11,72 per barel, Chrisna mengklaim Pertamina meraup profit karena mendapat potongan US$ 2,28 per barel dari harga Tapis.

Pasca laporan investigasi itu terbit, Maskas Besar Kepolisian RI sempat menetapkan lima orang tersangka dari Pertamina maupun perusahaan pemasok Zatapi. Belakangan kasus mereka dihentikan lantaran audit Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP) menyatakan tidak ada kerugian negara dalam kasus impor Zatapi.

Siapakah orang-orang di balik impor Zatapi? Pembelian minyak campuran itu dikendalikan oleh sebuah perusahaan bernama Gold Manor International Ltd. Perusahaan itu dikelola oleh Muhamad Riza Chalid, Johnny Gerard Plate, Irawan Prakoso dan Schiller Marganda Napitupulu. Selain menggunakan bendera Gold Manor, mereka juga beroperasi dengan nama Global Energy Resources Pte. Ltd. Di Singapura, alamat Gold Manor sama dengan Global Energy, yakni di 1 Kim Seng Road, #15-01, East Tower, Great World City.

Selama bertahun-tahun, Global Energy adalah pemasok utama minyak ke tanah air. Laporan Kajian Restrukturisasi Pertamina pada 16 Juli 2007 mengungkapkan bahwa Global Energy merupakan pemasok terbesar (33,3 persen) minyak mentah ke Pertamina Energy Services Ltd. (PES) di Singapura. Pertamina Energy Services (PES) adalah anak usaha Pertamina Energy Trading Limited (Petral). Semua impor minyak ke Indonesia memang waktu itu diatur oleh Petral.

Siapa pemilik Gold Manor dan Global Energy? Sulit diendus jejaknya. Pasalnya, kedua perusahaan ini merupakan perusahaan offshore yang didaftarkan di British Virgin Islands. Tempo hanya bisa melacak pemilik Global Energy sampai lapis kedua yakni sebuah perusahaan cangkang lain bernama Orion Oil Limited. Tapi siapa di balik Orion Oil tetap jadi misteri. Nama perusahaan-perusahaan ini tak ada di Panama Papers.

***

SETELAH skandal Zatapi terkuak, rupanya peruntungan Riza Chalid tak serta merta terpuruk. Dia tetap mengendalikan impor minyak Pertamina, lewat Global Energy Resources. Hal ini baru terungkap pada November 2015 lalu, ketika Menteri Energi Sudirman Said menyewa jasa sebuah kantor auditor internasional untuk memeriksa Petral.

KordaMentha adalah nama auditor yang disewa pemerintah. Mereka berkantor di Australia. Setelah menelisik ribuan dokumen dan mewawancarai sejumlah tokoh kunci, KordaMentha menyimpulkan bahwa impor minyak Indonesia lewat PES dan Petral, merugikan negara lebih dari Rp 100 triliun.

Modus para mafia minyak itu kini terungkap jelas. Dalam laporan audit KordaMentha yang tebalnya mencapai 370 halaman, auditor mengungkapkan bagaimana Global Energy dan sebuah perusahaan lain bernama Veritaoil– selalu bertindak curang dalam tender-tender Petral sejak 2012.

Sejak awal, sebelum tender dibuka, kedua perusahaan ini sudah mendapatkan semua data rahasia proses pengadaan, termasuk harga perkiraan sendiri untuk tender minyak yang akan berlangsung.

Data rahasia tersebut bocor dengan bantuan orang dalam Pertamina, melalui sebuah grup e-mail bernama trading88@ymail.com. Auditor mencurigai lima staf PES terlibat persekongkolan untuk membocorkan informasi tersebut. Berdasarkan informasi itu, Presiden Joko Widodo memerintahkan Pertamina menutup Petral.

***

PENELUSURAN Tempo atas nama Gold Manor, Global Energy Resources dan Orion Oil di Panama Papers memang berakhir buntu. Tak ada informasi soal ketiga perusahaan offshore ini di dokumen bocor Mossack Fonseca. Amat mungkin pendirian ketiga perusahaan itu tidak menggunakan jasa Mossfon.

Akan tetapi, pelacakan atas jejak pebisnis minyak yang mengelola tiga perusahaan itu membuahkan hasil. Nama Muhamad Riza Chalid, Johnny Gerard Plate, dan Irawan Prakoso, bertebaran di dokumen Panama Papers. Hanya nama Direktur Utama Gold Manor, Schiller Napitupulu, yang absen.

Irawan Prakoso adalah Direktur Global Energy Resources. Di Panama Papers, terungkap kalau dia juga punya saham di sebuah perusahaan offshore bernama Twinn International Ltd yang juga berkedudukan di BVI. Perusahaan satu dolar AS milik Irawan ini berdiri pada 1 Juni 2007.

Sedangkan pelacakan atas nama Riza Chalid dan Johnny Gerard Plate, menemukan sebuah perusahaan offshore bernama Gainsford Capital Ltd. Di dalam perusahaan yang berkantor di British Virgin Islands tersebut, ada orang ketiga yang kerap disebut dalam percakapan internal.

Namanya Nai Song Kiat, seorang warga Singapura. Mengacu pada dokumen audit KordaMentha, Nai Song Kiat merupakan Direktur Veritaoil Pte Ltd. Perusahaan Nai termasuk yang dituduh menjarah Petral selama bertahun-tahun.

Foto kartu tanda penduduk Nai Song Kiat.

Gainsford didirikan di British Virgin Island pada 2001. Modal dasar perusahaan ini US$ 50 ribu, yang dipecah dalam 50 ribu lembar saham biasa. Tujuh tahun kemudian, pada 8 April 2008, Riza Chalid dan Johnny Plate memutuskan untuk mengalihkan saham mereka, masing-masing 75 dan 25 lembar, kepada Nai Song Kiat.

Tak hanya menyerahkan saham pada Nai Song, pada April 2008 itu, para pemegang saham juga menunjuk seorang direktur baru, menggantikan pejabat lama, Fernandez Patrick Charles. Direktur baru ini hanya punya satu nama: Eddie. Yang jelas, jika direktur lama adalah warga Singapura, maka penggantinya adalah orang Indonesia kelahiran Medan, Sumatera Utara.

http://linkurious.icij.org/widget/128b6f8bRiza Chalid – Rosanno Barack on Linkurious.

Selain memiliki Gainsford Ltd, Johnny Plate juga tercatat sebagai pemilik Serenity Capital Ltd, sebuah perusahaan offshore yang beralamat di British Virgin Island. Tapi soal ini, Johnny Plate membantah. “Kenal aja enggak. Enggak ada aset. Urusan apa kita,” kata Johnny.

Yang sepak terjangnya paling lincah memang Riza Chalid sendiri. Menurut dokumen Panama Papers, dia memiliki beberapa perusahaan di kawasan suaka pajak. Selain Gainsford, dia tercatat menjadi pemegang saham pada Tanc Pasific Ltd. Perusahaan ini dia miliki bersama sepuluh pemegang saham lain yang hanya ditandai dengan istilah “bearer”. Artinya, pemilik asli perusahaan itu keberatan jika namanya disebut.

Nama Riza Chalid juga muncul sebagai pemilik atau pemegang saham perusahaan cangkang lain seperti Sunrich Capital Ltd dan Cresswell International Ltd. Di perusahaan yang disebut terakhir, Riza berbagi saham dengan anaknya: Muhammad Kerry Adrianto.

Ihwal kepemilikan saham putra Riza terungkap pada November 2007, ketika Mossack Fonseca mengirim email pada Riza Chalid. Isinya adalah penegasan bahwa pada tanggal itulah, Muhammad Kerry Adrianto, putra sulung Riza Chalid, resmi mendapat pengalihan saham Cresswell. Dia hanya perlu membayar US$ 490 untuk 490 lembar saham, karena harga selembar saham perusahaan itu memang hanya US$ 1,-. Meski begitu, Riza mempertahankan posisi strategis sebagai pemegang saham terbesar dengan 510 lembar.

http://linkurious.icij.org/widget/abbb9e04Riza Chalid family on Linkurious.

Sayangnya upaya mengkonfirmasi data Panama Papers ini kepada Riza Chalid tidak membuahkan hasil. Riza menghilang sejak Kejaksaan Agung memanggilnya dalam kasus dugaan pencatutan nama Presiden Joko Widodo. Surat ke alamatnya, juga tidak dibalas.

Kepemilikan seseorang atas perusahaan offshore memang tidak serta merta bisa disebut pelanggaran hukum. Namun, tabir kerahasiaan dan perlindungan kawasan suaka pajak memungkinkan perusahaan offshore digunakan untuk menyembunyikan kekayaan dan kejahatan. Tanpa dokumen bocor The Panama Papers, sepak terjang orang-orang yang ditengarai melanggar hukum di daftar klien Mossack Fonseca bisa jadi tak akan pernah terungkap selamanya. (*)

Pesta Rahasia
Para Buronan
Nama buronan Indonesia muncul bersama 11,5 juta dokumen lain dalam Panama Papers. (Photo by Joe Raedle/Getty Images)
Joko Soegiarto Tjandra dan Agus Anwar selama pelariannya aktif menghidupkan perusahaan cangkang mereka. (FOTO: KORAN TEMPO/AMATUL RAYYANI)

Pesta Rahasia Para Buronan

Nama dua buronan penegak hukum Indonesia muncul bersama 11,5 juta dokumen lain dalam The Panama Papers. Lenyap dari Indonesia, dua pengusaha yang sudah divonis dalam kasus korupsi, Joko Soegiarto Tjandra dan Agus Anwar, terlacak aktif berbisnis lewat perusahaan cangkang (shell companies) yang dilindungi tabir kerahasiaan di kawasan suaka pajak. Bisa jadi petunjuk baru membuka skandal BLBI.

SEORANG staf senior Kejaksaan Agung mendadak menyela penjelasan Jaksa Agung Muda Pidana Khusus Arminsyah. Menatap atasannya dengan penuh arti, dia berbisik, “Off the record.” Arminsyah terdiam sebentar. Dia sedang menjawab pertanyaan reporter Tempo soal apa saja yang sudah dilakukan aparatur penegak hukum untuk melacak harta kekayaan pengusaha buron Joko Soegiarto Tjandra, pada Kamis siang, 7 April 2016 itu, ketika bawahannya mengingatkan. “Soal itu, kami tidak bisa menjawab,” kata Arminsyah kemudian.

Jajaran Kejaksaan Agung memang pantas bersikap ekstra hati-hati. Kegagalan mereka membawa pulang dua buron kelas kakap, Joko Tjandra dan Agus Anwar, sejak kabur bertahun-tahun lalu, sedang jadi sorotan lagi. Pasalnya, dua nama pebisnis yang sudah divonis dalam kasus korupsi ini, belakangan tercantum dalam dokumen bocoran firma hukum Panama, Mossack Fonseca. Informasi tentang dua buron ini terselip dalam data sebesar 2,6 terabyte dalam The Panama Papers. Data yang pertama kali bocor pada koran Jerman Suddeutsche Zeitung ini dipublikasikan serentak oleh 100 media di seluruh dunia di bawah koordinasi The International Consortium of Investigative Journalists (ICIJ). Tempo adalah satu-satunya media di Indonesia yang memperoleh data bocoran ini.

Kepada Tempo, Arminsyah mengaku para jaksa masih memantau aktivitas Joko Tjandra selama di pelarian. Joker, begitu aparatur penegak hukum menjuluki pengusaha ini, kini berdomisili di Papua Nugini dan kerap pergi ke Singapura, Hongkong, Australia hingga Cina. Kalau sudah tahu, mengapa tidak ditangkap?

“Dia tahu kalau sedang diincar, jadi sudah mempersiapkan segalanya sebelum berkunjung,” kata Arminsyah. Pergi ke manapun, kata dia, Joko selalu dikawal ketat orang-orang dekatnya. Selain itu, kata Arminsyah, anggaran Kejaksaan amat terbatas. Dua faktor itu membuat pengejaran para buron kakap ini jadi tersendat.

Joko Tjandra, 66 tahun, adalah buronan Kejaksaan Agung untuk kasus cessie (hak tagih) Bank Bali senilai Rp 546 miliar. Kasus itu terjadi pada 1999 lalu. Joko kabur dari bandara Halim Perdanakusuma dengan menggunakan pesawat carteran pada 9 Juni 2009 menuju Papua Nugini. Itu persis sehari sebelum Direktorat Jenderal Imigrasi Kementerian Hukum dan HAM menyatakan bapak empat anak itu dilarang bepergian ke luar negeri. Kedekatan jarak antara waktu pelarian Joko dan penerbitan perintah cekal membuat banyak orang mencium bau amis kongkalikong.

Sementara Agus Anwar, 60 tahun, adalah mantan Direktur Bank Pelita dan Istimarat yang menikmati Bantuan Likuiditas Bank Indonesia (BLBI) di puncak krisis ekonomi Indonesia pada 1998 silam. Setelah menolak membayar dana talangan negara sebesar Rp 550 miliar, Agus menghilang. Konon dia kabur ke Singapura. Kejaksaan mengatakan baru 70 persen dari uang itu yang dibayarkan Agus pada negara.

Pada 18 September 2012, Menteri Keuangan (waktu itu) Agus Martowardojo mengatakan Agus Anwar masih belum membayar utangnya, dan karena itu statusnya sebagai buron tak berubah. Perintah cegah ke luar negeri (cekal) untuk dia juga masih aktif. Artinya pemerintah masih mengira Agus Anwar berstatus WNI.

Belakangan, beredar kabar kalau Agus Anwar sudah menjadi warga negara Singapura sejak 2004. Paspornya bernomor E0887983B, dan beralamat di 15 Ardmore Park, #04-03 Singapore, 259959.

Tempo menemukan nama dua buron ini di dokumen Panama Papers dan menelusuri sepak terjang mereka selama di pelarian. Berbagai aktivitas bisnis mereka yang terungkap dari bocoran data Mossak Fonseca, seolah menunjukkan kalau mereka tengah berpesta di negeri orang, dengan uang yang seharusnya mereka kembalikan pada negara.

***
SETELAH kabur dari Indonesia, Joko langsung dikenal sebagai pebisnis terkemuka di Papua Nugini. Tiga tahun setelah lolos dari jerat hukum, sang Joker resmi menjadi warga negara itu. Namanya pun berubah menjadi Joe Chan.

Dengan paspor Papua Nugini, Joe alias Joko bisa bebas keluar masuk negara lain. Saking seringnya keluar negeri, pada Mei 2014 lalu pemerintah PNG bahkan harus membuat paspor baru untuk Joe Chan. Buku paspornya sudah dipenuhi stempel keimigrasian dari manca negara. “Halaman paspornya sudah habis,” kata Kepala Imigrasi PNG kala itu, Mataio Rabura, seperti dikutip dari Post Courier.

Joko Tjandra memang disambut luar biasa hangat di Papua Nugini. Pada awal April 2016, tak kurang dari Perdana Menteri PNG Peter O’Neill yang terang-terangan berterimakasih atas kiprah Joe Chan alias Joko Tandjra membantu perekonomian negaranya dengan berbagai proyek pembangunan. Di sana, Joko Tjandra membangun bisnis properti, salah satunya di pusat pemerintahan PNG di Waigani senilai US$ 44,4 juta.

Ketika ditanya soal status hukum Joko yang jadi buron di Indonesia, O’Neill mengaku tak tahu menahu. “Kami tak pernah menerima permintaan pemulangan Joe Chan dari Pemerintah Indonesia,” kata O’Neill.

Dokumen Panama Papers dengan gamblang mengungkap luasnya skala bisnis Joko Tjandra. Ada sekitar 27 files yang berisi nama Joko Tjandra di data bocoran ini. Dokumen paling tua berasal dari 1986.

Pada tahun itu, Joko Tjandra dan dua saudaranya: Eka Tjandranegara dan Gunawan Tjandra, membentuk C+P Holdings Limited. Tanggal yang tertera pada dokumen adalah 3 November 1986. Tak ada keterangan mengenai apa bidang usaha perusahaan ini. Yang jelas, ada satu nama lagi dalam sertifikat pendirian C+P Holdings: konglomerat ternama Prayogo Pangestu.

Prayogo bukanlah nama sembarangan dalam jajaran pengusaha terkemuka di tanah air. Dengan bendera Barito Pacific, dia merupakan salahsatu taipan yang besar dari bisnis kayu dan penguasaan hutan di era Orde Baru. Belakangan dia mendirikan PT Chandra Asri, yang bergerak di bisnis petrochemical.

Dari dokumen Panama Papers, terungkap kalau Prayogo dan Joko Tjandra punya relasi bisnis yang cukup dekat. C+P Holdings yang didirikan Joko Tjandra bersaudara dan Prayogo memiliki modal awal US$ 50 ribu, dengan nilai US$ 1 persaham. Prayogo menguasai 22.500 saham, dan Joko menguasai 14 ribu saham. Mereka berkantor di Citco Building, P.O. Box 662, Tortola, BVI. [embedded code dari Linkurious untuk Prayogo Pangestu, masuk ke sini]

Prajogo Pangestu, pemilik perusahaan Barito Group setelah menjalani pemeriksaan sebagai tersangka kasus pinjaman kepada Bahana Pembinaan Usaha Indonesia/ BPUI di Kejaksaan Agung Jakarta, 28 September 2001. (FOTO: TEMPO/ Arif Ariadi)

http://linkurious.icij.org/widget/2dfddc0dPrajogo Pangestu on Linkurious.

Kongsi ini bertahan sampai dua dekade. Pada 2006, Joko menjual 4.000 lembar sahamnya kepada Prayogo. Dengan transaksi itu, alamat perusahaan juga ikut berubah. C+P kini berkantor di Akara Building, kantor yang sama dengan Mossack Fonseca di sana.

Pada awal April 2016 lalu, ketika dikonfirmasi soal kepemilikan perusahaan C+P, pengacara Hotman Paris Hutapea yang kerap menjadi kuasa hukum Prayogo, tak kunjung merespon pertanyaan Tempo. Dalam sejumlah kasus, Hotman Paris juga pernah menjadi pengacara untuk saudara Joko Tjandra, Gunawan Tjandra.

***

JEJAK lain Joko Tjandra tercium pada sebuah dokumen lain bertanggal 11 Mei 2001. Di sana tercantum permintaan Joko pada Mossack Fonseca, untuk mendirikan sebuah perusahaan offshore bernama Shinc Holdings Limited di kawasan suaka pajak.

Shinc tercatat beralamat di Akara Building, Tortola, BVI, yang juga alamat kantor Mossack Fonseca dan C+P Holdings di British Virgin Islands. Sertifikat Shinc mencantumkan modal awal perusahaan sebesar US$ 50 ribu, dengan harga US$ 1 persaham. Di sertifikat itu, Joker menggunakan alamat rumahnya di Jalan Simprug Golf 1 Kavling 89, Jakarta Selatan. Di awal pendirian Shinc, Joko adalah pemilik tunggal sekaligus menjabat direktur perusahaan.

Sepuluh tahun kemudian, pada Agustus 2012, atau tiga tahun setelah Joko Tjandra dinyatakan buron di Indonesia, ada email dari sebuah perusahaan investasi pada Mossack Fonseca. Mengklaim mewakili Joko, perusahaan itu meminta Mossack mengubah komposisi saham Shinc yang dikuasai Joko Tjandra.

Dokumen Panama Papers menunjukkan bahwa Mossack Fonseca kemudian mengurus administrasi penyerahan kepemilikkan Shinc dari Joko kepada kedua putrinya, Joanne Soegiarto Tjandranegara dan Jocelyne Soegiarto Tjandra alias Jocy. Pada sertifikat perusahaan itu, kedua putrinya juga menggunakan alamat rumah yang sama dengan Joko Tjandra, di Simprug Golf, Jakarta Selatan.

http://linkurious.icij.org/widget/c78d636f

Joko Tjandra on Linkurious.

Yang menarik, nama Joko tak dihapus dari sertifikat kepemilikan baru Shinc. Dia disebut sebagai anggota perusahaan. Sementara Jocy dan Joanne sama-sama menjabat direktur. Tidak ada yang menjabat komisaris. Yang juga tak kalah menarik, Joko minta agar perubahan kepemilikan ini dibuat bertanggal mundur (backdated). Meski perubahan terjadi pada 22 Agustus 2012, Joko minta dokumen yang ada mencantumkan tanggal 10 Januari 2012.

Jocelyne dan Joanne, dua anak kandung Joko Tjandra, tak bisa diwawancara. Penjaga rumah mereka di Jalan Simprug Golf 1, Jakarta Selatan, tak mau menerima surat permohonan wawancara yang disodorkan, Rabu, 6 April 2016. Ia beralasan majikannya berada di luar negeri.

Di hari yang sama Tempo mengantarkan surat permohonan wawancara itu ke kantor mereka di lantai 53 Wisma Mulia, Jalan Jenderal Gatot Subroto, Jakarta Selatan. Namun petugas di kantor itu juga menolak menerima surat wawancara itu.

***
KABUR ke Singapura dan menjadi warga negara di sana, rupanya tak membuat perangai Agus Anwar berubah. Dia tetap terbelit utang, dan menolak membayar cicilan pembayaran. Agus akhirnya dinyatakan bangkrut oleh Pengadilan Negeri Singapura setelah gagal membayar utangnya sebesar Sin$ 103,3 juta, atau senilai Rp 1,3 triliun. Kabar ini dilansir sebuah koran Singapura pada 4 Maret 2011.

Untuk mengembalikan utangnya, pengadilan menyita saham milik Agus Anwar di beberapa bank swasta di Singapura. Tak ada informasi soal berapa nilai saham itu dan apakah semuanya sudah menutup triliunan utang Agus Anwar.

Yang jelas, besar kemungkinan, harta Agus Anwar tak hanya itu saja. Pasalnya, dokumen Panama Papers mengungkapkan bagaimana lihainya Agus membuat struktur perusahaan offshore di kawasan suaka pajak. Skema macam itu kerap digunakan orang atau perusahaan yang ingin menghindari pembayaran pajak atau kewajiban lain di negaranya. Terlebih Mossack Fonseca adalah salahsatu firma hukum paling top, yang biasa menyamarkan kepemilikan sebuah perusahaan di suaka pajak, sampai nyaris tak terlacak.

Dari penelusuran Tempo, Agus memiliki setidaknya lima perusahaan cangkang. Perusahaan itu adalah Quants Global Limited, Gem City Capital Limited, Oakwell Pacific Limited, Oregon Holdings Group Limited, dan Viscorp International Group Limited. Umumnya dia pemilik tunggal perusahaan dan juga menjabat sebagai direktur perusahaan tersebut. Semua perusahaan itu rata-rata berdiri pada 2006 dan 2008, dengan menggunakan identitas Agus sebagai warga Singapura.

http://linkurious.icij.org/widget/062c71d4Agus Anwar on Linkurious.

***ARMINSYAH tampak tak kaget ketika diberitahu ada nama Joko Tjandra dan Agus Anwar dalam dokumen Panama Papers. Ia juga menyebutkan masih banyak pengusaha lain yang memiliki perusahaan di BVI. Namun ia menolak berkomentar soal jumlah dan siapa saja mereka. Menurut dia, persoalan aset dan kekayaan para pengusaha yang disembunyikan di luar negeri, lebih tepat diurus instansi lain. “Kami hanya mengurus perkara hukumnya,” katanya.

Saat ditanya soal apa yang sudah dilakukan Kejaksaan Agung untuk mengejar aset dan kekayaan para buron itulah, staf Arminsyah menyela dan memberi isyarat pada atasannya, “Itu off the record,” katanya kemudian.

MUSTAFA SILALAHI | INGE KLARA | ANGELINA ANJAR

 

24
Apr
16

Infrastruktur : Kontroversi Reklamasi Pantai Jakarta

Guru Besar IPB: Reklamasi Teluk Jakarta Sudah Telanjur

Sabtu, 23 April 2016 | 14:38 WIB
KOMPAS/SAIFUL RIJAL YUNUS Warga berbaris di gunungan pasir Pulau G, saat melakukan aksi penyegelan pulau, Minggu (17/4/2016). Aksi yang diikuti ratusan warga pesisir Jakarta ini merupakan bentuk penolakan reklamasi Teluk Jakarta yang tengah berlangsung.

JAKARTA, KOMPAS.com — Guru Besar Manajemen Pembangunan Pesisir dan Lautan Institut Pertanian Bogor (IPB) Rokhmin Dahuri menilai, reklamasi Teluk Jakarta boleh saja dilanjutkan. Namun, ia menyarankan agar semua aturan dan kaidah hukum mengenai reklamasi ditinjau ulang.

Rokhmin mengemukakan hal itu dalam sebuah diskusi di Cikini, Jakarta Pusat, Sabtu (23/4/2016).

Menurut dia, reklamasi Teluk Jakarta sudah telanjur.

“Jadi, sekali lagi karena sudah kadung atau telanjur, untuk reklamasi Jakarta saja, ya silakan diteruskan, tetapi harus satu kata dengan pemerintah, untuk me-review dulu secara menyeluruh dan melihat lingkungan sosial, ekonomi, terutama nelayan,” kata Rokhmin.

Rokhmin menyatakan, di negara maju, reklamasi harus dilakukan dengan kaidah hukum yang benar. Hanya, di Teluk Jakarta, reklamasi menurut dia tidak mengikuti aturan, khususnya soal analisis mengenai dampak lingkungannya (amdal).

“(Di Teluk Jakarta) amdalnya per proyek, harusnya kawasan terpadu, seluruhnya. Tapi, ini parsial, yang membuat segala sesuatunya jadi kacau-balau,” ujar Rokhmin.

Di sisi lain, Rokhmin sebenarnya setuju reklamasi di Teluk Jakarta dihentikan. Namun, ada implikasi bagi Jakarta kalau megaproyek itu dihentikan.

“Konsekuensinya kita harus mengurangi jumlah penduduk sampai 7 juta,” ujar Rokhmin.

Ia menyadari kebutuhan ruang di DKI Jakarta memang hanya punya opsi meningkatkan bangunan ke atas, atau melihat lautan sebagai kawasan untuk memperluas daratan.

“Kalau ke selatan tidak bisa lagi karena bisa merusak kawasan hutan,” ujar Rokhmin.

Ia pun berharap reklamasi Teluk Jakarta jadi yang terakhir di Pulau Jawa.

“Catatan saya, sudah, jangan ada lagi reklamasi. Ini the last reclamation project in java island. Seluruh stake holder harus duduk bersama dan jangan arogan,” ujarnya.

Hadir dalam diskusi itu Direktur Pencegahan Dampak Lingkungan Kebijakan Wilayah dan Sektor Kementerian Lingkungan Hidup dan Kelautan Laksmi Wijayanti, Staf Khusus Menteri Pekerjaan Umum Perumahan Rakyat Bidang Air dan Sumber Daya Air Firdaus Ali, Dewan Daerah Walhi Jakarta Moestaqiem Dahlan, dan Wakil Ketua Komisi IV DPR RI Viva Yoga Mauladi.

Penulis : Robertus Belarminus
Editor : Egidius Patnistik
22
Apr
16

Jokowi Diminta Selamatkan Museum Radyapustaka Solo

Jokowi Diminta Selamatkan Museum Radyapustaka Solo

Jokowi Diminta Selamatkan Museum Radyapustaka Solo
Pandji R Hadinoto

Jakarta, Obsessionnews – Ketua Dewan Harian Daerah (DHD) 45 DKI Jakarta Dr Ir Pandji R Hadinoto MH mengungkapkan, museum tertua di Indonesia, Museum Radyapustaka Solo, terancam tutup karena kekurangan dana perawatan maupun operasionalnya.

“Pada pagi 15 April 2016 kami terima berita dari Pengurus Museum, Bu Soemarni Wijayanti bahwa Museum Tutup dalam 3 (tiga) hari ini karena dana hibah 2016 belum cair sehingga operasional museum tersendat,” ungkap Pandji R Hadinoto dalam rilisnya kepada Obsessionnews, Jumat (15/4/2016).

Oleh karena itu, Pandji memohon agar Presiden Jokowi segera turun tangan untuk ikut menyelamatkan kelanggengan museum yang beradd I Kota Solo, Jawa Tengah tersebut. Mantan Aktivis ITB ini pun telah mengirimkan surat kepada Presiden Jokowi untuk sudi membenahi keberadaan museum tersebut.

“Atas perhatian dan perkenan Bapak Presiden Joko Widodo membumikan Revolusi Mental melalui Nation & Character Building, tiada lain diucapkan penghargaan se-tinggi-nya,” ujar Pandji, KBP45 KelBes Pejoang45.

Berikut surat yang dikirim Pandji kepada Presiden Jokowi:

Bapak Presiden Joko Widodo, Mantan Walikota Solo Yth,

Pertama-tama disampaikan rasa syukur ke hadlirat Tuhan Yang Maha Kuasa bahwa Bapak Presiden Joko Widodo selalu dibekaliNya kesehatan lahir dan bathin.

Lebih lanjut, pagi 15 April 2016 kami terima berita dari Pengurus Museum, Bu Soemarni Wijayanti bahwa Museum Tutup dalam 3 (tiga) hari ini karena dana hibah 2016 belum cair sehingga operasional museum tersendat

Sehari sebelumnya ikhwal Museum Tutup ini dibahas di Pusat Studi Budaya SURYANUSA yang kami pimpin antara lain oleh DR Tri S Boedjonagoro, alumnus SMP 3 / SMA Margoyudan Solo, Bpk Sucipto Harimurti, alumnus Bruderan Margoyudan Solo, Bung Budiawan, alumnus ITB, dll.

Museum ini tertua di Indonesia, diresmikan Presiden Soekarno th 1953 dengan membuka selubung patung dada Pujangga Besar R. Ng. Ronggowarsito.

Bersama 300an Museum-museum yang lain, dalam kesempatan ini, perkenankan kami rekomendasikan terbitnya Peraturan Presiden (PerPres) tentang Corporate Social Responsibility (CSR) bagi Keberdayaan Museum-museum sebagai perangkat strategik Nation & Character Building, seperti juga bagi Jiwa Semangat dan Nilai-nilai 45 sebagai Roh Indonesia Merdeka yang dikenali semacam Ethos Bushido.

Atas perhatian dan perkenan Bapak Presiden Joko Widodo membumikan Revolusi Mental melalui Nation & Character Building, tiada lain diucapkan penghargaan se-tinggi-nya.

Jakarta, 15 April 2016

Tetap MERDEKA dan Salam Joang45,

Pandji R Hadinoto, Ketua DHD45 Jkt
KBP45 KelBes Pejoang45

Editor www.jakarta45.wordpress.com

Kemendikbud Bantu Atasi Persoalan Museum Radya Pustaka

Kamis,  21 April 2016  −  06:48 WIB

Kemendikbud Bantu Atasi Persoalan Museum Radya Pustaka
Direktur Pelestarian Cagar Budaya dan Permuseuman Direktorat Jendral Kebudayaan Kemendikbud Hari Widianto dan Kepala Disbudpar Solo Solo Eny Tyasni Suzana di Museum Radya Pustaka Solo, Rabu (20/4/2016). (Ary Wahyu Wibowo/KORAN SINDO)
A+ A-
SOLO – Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) akhirnya turun tangan untuk menyelesaikan persoalan keuangan yang membelit Museum Radya Pustaka di Kota Solo. Kemendikbud rencananya mengucurkan anggaran Rp2 miliar untuk revitalisasi manajemen museum tertua di Indonesia tersebut.

Direktur Pelestarian Cagar Budaya dan Permuseuman Direktorat Jenderal Kebudayaan Kemendikbud Hari Widianto mengatakan, pemerintah memiliki kewajiban mengurus sekitar 400 museum yang ada di Indonesia.

“Radya Pustaka merupakan museum tua karena telah berdiri sejak tahun 1890 hingga sekarang,” kata Hari Widianto di Museum Radya Pustaka, Rabu (20/4/2016).

Ketika Radya Pustaka kembali dirundung persoalan hingga mengakibatkan tutup selama tiga hari pada pekan lalu, pihaknya harus turun tangan guna melakukan upaya penyelamatan. Pihaknya bersyukur dan memberi apresiasi kepada Pemkot Solo telah mencairkan anggaran operasional agar museum dapat kembali beroperasi.

Kemendikbud memiliki tanggung jawab mengurusi museum agar kembali bergerak lagi. Anggaran akan kembali dikucurkan untuk revitalisasi manajemen di tahun 2016. Dengan demikian, ke depan museum dapat kuat dalam manajerial dan bisa menghadapi perkembangan.

Museum yang berdiri di era Raja Keraton Kasunanan Surakarta Pakoe Boewono IX ini diharapkan dapat lebih fleksibel.

“Dalam Undang Undang Nomor 11 Tahun 2010 Tentang Cagar Budaya yang mengamanatkan PP (Peraturan Pemerintah) Nomor 66 Tahun 2015 tentang Permuseuman, pemerintah pusat dan daerah wajib menyelamatkan museum dalam keadaan genting, siapa pun pemiliknya,” tandas Hari.

Mengenai revitalisasi manajemen museum, keberadaannya sudah diatur di antaranya harus ada kepala, petugas teknis, administrasi, hingga kurator.

Kepala Disbudpar Solo Solo Eny Tyasni Suzana mengatakan, pihaknya akan membentuk unit pelaksana teknis daerah (UPTD) untuk penanganan perawatan museum. Selain dari kalangan PNS, UPTD juga melibatkan para pengelola museum dan tenaga ahli.

“Untuk UPTD, pengelola museum tetap akan diseleksi terlebih dulu,” terang Eny.

(zik)

Pemkot Solo Gamang Tentukan Institusi Pengelola Radya Pustaka

Pythag Kurniati    •    21 April 2016 15:33 WIB

museum

Pemkot Solo Gamang Tentukan Institusi Pengelola Radya Pustaka

Museum Radya Pustaka, Solo, Jawa Tengah. (Metrotvnews.com/Pythag Kurniati)

Metrotvnews.com, Solo: Pemerintah Kota Solo, Jawa Tengah berencana membentuk badan yang khusus menangani masalah museum. Namun, pemerintah belum memastikan apakah akan berbentuk Unit Pelaksana Teknis (UPT) atau Badan Layanan Umum Daerah (BLUD).

Wali Kota Solo FX Hadi Rudyatmo mengungkapkan masih akan melakukan kajian mendalam mengenai hal ini. “Saat ini masih dikaji antara UPTD atau BLUD. Jika BLUD kan tidak profit oriented, melainkan ada fungsi-fungsi sosialnya,” ungkap pria yang akrab disapa Rudy, Kamis (21/04/2016).

Rudy menargetkan pembentukan rampung pada Agustus 2016. “Itu satu hari, dua hari selesai. Kita juga punya pengalaman pernah membuat UPTD Sarana dan Prasarana Olahraga yang merupakan peralihan dari Yayasan Gelora Manahan,” paparnya.

Badan ini nantinya akan memayungi dua museum yakni Museum Radya Pustaka dan Museum Keris. Pemkot mengklaim hal ini merupakan solusi paling tepat agar pendanaan museum tidak lagi terkendala.

Selama ini museum dikelola oleh Komite Radya Pustaka. Namun, sejak UU No 23/2014 tentang Pemerintah Daerah terbit, Komite tak bisa lagi mendapat dana hibah. Menurut UU itu, penerima dana hibah haruslah mengantongi badan hukum. Sementara Komite Radya Pustaka tidak memiliki itu.

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Solo, Eny Tyasni Suzana mengatakan, Komite tetap akan dilibatkan dalam pengelolaan meski UPTD atau BLUD terbentuk. Alasannya, Komite telah berpengalaman mengelola Radya Pustaka. Komite dapat dilibatkan sebagai tenaga ahli.

“Museum masih memerlukan tenaga ahli pendamping, ahli cagar budaya. Sehingga tidak menutup kemungkinan komite dilibatkan kembali,” ungkap dia.

(SAN)


KRA SOSRODININGRAT IV. Museum Radya Pustaka terletak di Jalan Slamet Riyadi, bertempat didalam kompleks Taman Wisata Budaya Sriwedari.
26
Mar
16

Infrastruktur : Reformasi Regulasi Angkutan Darat

kartunama GP45

Suara Pembaca :

Reformasi Regulasi Angkutan Darat

Kontroversi antara Angkutan OnLine (AOL yang disediakan oleh jasa seperti GoJek, Uber, Grabbike dan sejenisnya) versus Angkutan Umum Reguler (AUR, yang disediakan oleh jasa seperti Bluebird, Express, Kopaja dan sejenisnya) kini mencuat ditandai oleh unjuk rasa pengemudi AUR pada hari Senin 14 dan 22 Maret 2016 yang kini dirasa kontraprodukif.
Dinamika kemajuan teknologi informatika yang diapresiasi bagi kepentingan umum seyogjanya diakomodasi oleh pemerintah selaku regulator apalagi kemanfaatannya sudah dirasakan oleh masyarakat banyak baik konsumen angkutan kota maupun operator dan penyedia AOL itu sendiri yang terbukti telah membuka peluang kesempatan kerja publik mandiri berikut solusi bagi ekonomi kesejahteraan rakyat (ekokesra) ditengah krisis ekonomi yang berkepanjangan ini.
Oleh karena itu, pandangan legal/illegal tidak relevan mengemuka, begitu juga
aspek ikutan seperti menurunnya konsumen AUR, yang seharusnya disikapi sebagai tenggang penyesuaian menuju titik keseimbangan dinamis berikutnya.
Dalam sikon seperti ini, pemerintah perlu kerja cepat untuk pembentukan regulasi terbarukan yang mengatur harmonisasi keberadaan AOL dan AUR beriringan saling melengkapi bermodus operandi Zona, Strata, Tarif Berkeadilan, Perpajakan yang lebih berkeadilan dan kelonggaran perioda uji kendaraan roda-4 dlsb.
Harmonisasi tersebut disarankan dengan tetap didasarkan pada pertimbangan2 seperti Sila-5 Pancasila “Keadilan Sosial bagi seluruh rakyat Indonesia”, Pasal 33 UUD45 ” “Perekonomian disusun sebagai usaha bersama berdasar atas azas kekeluargaan” dan “Cabang-cabang produksi yang penting bagi Negara dan yang menguasai hajat hidup orang banyak dikuasai oleh Negara”, serta dihimbau agar semua pemangku kepentingan dapat tetap memelihara Persatuan indonesia (Sila-3 Pancasila) berdasarkan Jiwa Semangat Nilai-nilai 45.

Jakarta, 22 Maret 2016

Pandji R Hadinoto, Ketua DHD45 Jkt
KBP45 KelBes Pejoang45
Editor www.jakarta45.wordpress.com

LOGO PARTINDO

Dalam berita
Gambar untuk hasil berita

DENPASAR, KOMPAS.com – Pro dan kontra adanya taksi berbasis online seperti Grab dan …

Ahok Pilih Cara Singapura Atasi Taksi Online

Metro TV News3 hari yang lalu

Ini Penyebab Ahok Kesal kepada Taksi Konvensional dan Online

News Liputan6.com2 hari yang lalu

Berita lainnya untuk taksi online


Sopir Taksi Ini Yakin Taksi “Online” Akan Hilang Pamor …

bisniskeuangan.kompas.com/…/Sopir.Taksi.Ini.Yakin.Taksi.Online.Akan…
23 jam yang lalu – Moyo, pengemudi taksi Blue Bird, mengatakan saat ini keberadaan moda transportasi online semisal GrabCar atau Uber masih digemari …

Solusi untuk Taksi Online Dianggap Sebagai Kegagalan …

bisniskeuangan.kompas.com/…/Solusi.untuk.Taksi.Online.Dianggap.Seb…
18 jam yang lalu – KOMPAS.com / RODERICK ADRIAN MOZES Polisi menjaga keamanan saat sopir taksi melakukan aksi demonstrasi di Jakarta, Selasa …

Solusi Sementara, Taksi “Online” Diusulkan Bentuk …

nasional.kompas.com/…/Solusi.Sementara.Taksi.Online.Diusulkan.Bentu…
12 jam yang lalu – Yoga Hastyadi Widiartanto/KOMPAS.com Unjuk rasa sopir taksi di depan kantor Kemenkominfo, Seasa (22/3/2016) menuntur blokir Uber dan …

Metro | Ahok Pilih Cara Singapura Atasi Taksi Online

news.metrotvnews.com/…/ahok-pilih-cara-singapura-atasi-taksionline
3 hari yang lalu – Metrotvnews.com, Jakarta: Pemerintah Provinsi DKI Jakarta tidak akan meniru cara Pemerintah Provinsi Bali mengatasi masalah taksi berbasis …


3 hari yang lalu – Merdeka.com – Demo besar-besaran para sopir taksi terjadi kemarin. Mereka menolak adanya angkutan umum berbasis aplikasi online.

Ini Penyebab Ahok Kesal kepada Taksi Konvensional dan …

news.liputan6.com › News › Peristiwa
2 hari yang lalu – Tak berbeda dengan taksi konvensional, kata Ahok, angkutan berbasis aplikasi atau online, juga dirasa tidak adil dan cenderung ‘ngeyel’.
GrabTaxi merupakan sebuah layanan aplikasi mobile yang difokuskan sebagai wadah bertemunya para pencari jasa taksi dan jaringan penyedia taksi, baca …

Raksasa Bisnis Taksi Online

x.detik.com/detail/investigasi/20160324/Amuk-Sopir-Taksi…/index.php

2 hari yang lalu – Didi Kuaidi adalah platform transportasi online lokal Cina yang menjangkau 400 kota di negara itu. Ada 14 perusahaan multinasional yang …

Presiden Ingin Akomodir Taksi Konvensional dan Online …

news.detik.com › Berita

2 days ago – Kehadiran taksi berbasis aplikasi menuai polemik karena dianggap illegal, hingga terjadi demonstrasi besar di Jakarta.

Menhub dan Menkominfo Datangi Kantor Luhut, Bahas …

news.detik.com/…/menhub-dan-menkominfo-datangi-…

2 days ago – Menhub dan Menkominfo Datangi Kantor Luhut, Bahas Regulasi Taksi Online. Rina Atriana – detikNews. 0 SHARED Share 0 Tweet Share 0 0 …

4 days ago – Kisruh taksi online (seperti Uber dan Grab) versus taksi konvensional memunculkan banyak pertanyaan. Sebenarnya, mana.

Jun 15, 2015 – TEMPO.CO, Jakarta – Macetnya jalanan Ibu Kota menyebabkan Cantika Abigail stres. Tak mau buang waktu, personil grup vokal Gamaliel …

3 days ago – Merdeka.com – Demo besar-besaran para sopir taksi terjadi kemarin. Mereka menolak adanya angkutan umum berbasis aplikasi online.

Rating: 4.3 – ‎10,944 votes

Kegilaan Taksi, Hancurkan mereka, hantam mereka, dan datangkan malapetaka ala taksi

PERMAINAN TAXI online – Poki / Games Keren

poki.com › … › Permainan Balapan › Permainan Mobil

Permainan Taxi: Jika Anda ingin menyetir mobil kuning berkecepatan tinggi dan menjadi sopir berbintang, cobalah salah satu permainan taxi online kami, …

Fastest and most trusted free online taxi booking in Lithuania.

Express Taxi

expressgroup.co.id/
We Took The Opportunity to Offer an Innovative Premium Taxi Services. Noticing a growing demand for premium taxi services especially in the cosmopolitan …

Bentrok Sopir Taksi vs Ojek Online Akibat Ketidaktegasan…

metro.sindonews.com/…/bentrok-sopir-taksi-vs-ojek-o
13
Mar
16

Peradaban : Korsa MAPAN / Masyarakat Adat Pancasila

garudapancasila_merahputih

Suara Pembaca :

Korsa MAPAN / Masyarakat Adat Pancasila

Peristiwa Gerhana Matahari Total (GMT) yang berlintasan di 11 wilayah Indonesia 9 Maret 2016 yang bertepatan Tahun Baru Saka 1938 dan Tahun Baru Batak “Artia Sipaha Sada” adalah keberkahan bagi warga negara bangsa Indonesia yang layak tidak sekedar dimaknai sebagai fenomena alam semesta.
Demikian pula terinspirasi peristiwa GMT itu, keberadaan daripada sila-sila Pancasila yang berperan “way of life” yang sudah mengakar berabad-abad silam sebagai jatidiri negara bangsa di wilayah indonesia d/h wilayah Nusantara ini.
Keberkahan berjatidiri Pancasila ini dapat ditandai juga secara istimewa dari pendapat penggali Pancasila 1 Juni 1945 sendiri, Bung Karno, yaitu bahwa Pancasila berkedudukan ideologis “hogere optrekking” atas berbagai “isme-isme” yang dikenali keberadaannya di dunia baik sebelum dan sejak saat kelahiran Pancasila tersebut.
Keberkahan itu ditandai juga oleh negarawan Rusia Gorbachev melalui Ruslan Abdulgani “Ruslan, someday, the most correct idea in the human life is Pancasila”
Keberkahan-keberkahan ini bijaknya dapat dibudayakan dalam tradisi yang mudah dicerna publik semisal bina sikap SOPAN (Sosialisme Pancasila bertumpu pada Keadilan Sosial berKetuhanan YME), bina perilaku NAPAN (Nasionalisme Pancasila yang berpangkal dari Persatuan Indonesia berKetuhanan YME) dan bina kelembagaan komunitas-komunitas berKorsa MAPAN (Masyarakat Adat Pancasila) guna perkokoh tekad kewargaan negara bangsa Indonesia mengantisipasi variasi Ancaman Hambatan Gangguan Tantangan multidimensional.

Jakarta, 9 Maret 2016

Pandji R Hadinoto, DHD45 Jakarta
KBP45 KelBes Pejoang45
Editor www.jakarta45.wordpress.com

LOGO PARTINDO

Pancasila dan Hukum Adat Modern

Pancasila dan Hukum Adat Modern

Oleh: Achmad S. Kartohadiprodjo

Seperti telah diuraikan dalam tulisan saya sebelumnya, bahwa Pancasila bersumber dari Hukum Adat. Hukum Adat diberlakukan oleh Pemerintah Hindia Belanda untuk orang-orang Pribumi atau orang-orang Indonesia, sehingga Pancasila itu hidup subur dalam buminya Indonesia. Hukum Adat tetap berlaku bagi orang-orang Pribumi atau orang-orang Indonesia.
Dari segi ekonomi kehidupan masyarakat Adat itu masih primitif dan tradisional. Boleh dikatakan masih ‘underdeveloped’. Masyarakat Adat masih jauh dan tertinggal dari kehidupan Modern.
Yang dimaksudkan untuk menjadi Masyarakat Pancasila adalah Masyarakat Yang Modern. Modern dalam arti kata susunan organisasi kenegaraannya. Modern seperti yang dibangun oleh negara-negara Barat yang individualistik.
Ada Presiden atau Raja, Ada Lembaga Perwakilan Rakyat, Ada Lembaga Peradilan, Ada Lembaga Pemeriksa Keuangan dan sebagainya.

Masyarakat Adat pada kelompok yang terkecil di Jawa adalah di DESA/KAMPUNG/NAGARI di Sumatera Barat. Desa itu adalah masyarakat yang terkecil dari suatu bangsa/negara.
Bagian terkecil dari DESA itu adalah KELUARGA.
Pertanyaannya adalah bagaimana Organisasi Masyarakat Desa bisa tercermin dan menjelma menjadi Masyarakat Berbangsa/Bernegara.
Seperti diketahui bahwa segala permasalahan di desa dibicarakan oleh Kepala Desa bersama dengan Masyarakat Desa. Masyarakat desa itu terdiri dari Petani, Nelayan, Buruh Pabrik, Ulama Masjid, Pendeta, Pegawai Satpam, dan lain-lain.
Masyarakat Desa ini berembuk/bermusyawarah untuk menyelesaikan suatu masalah; umpamanya, pembuatan jalan desa, pembuatan saluran irigasi, pembuatan satuan keamanan desa, dan lain-lain itu semua dirembuk, dimusyawarahkan di BALAI DESA. Jadi Balai Desa ini adalah tempat terkecil untuk untuk rembukan/musyawarah masyarakat desa.

Di tingkat Bangsa/Negara Balai Desa ini di JELMAKAN dalam MAJELIS PERMUSYAWARATAN RAKYAT (“MPR”).
Jadi UUD 1945 ASLI mengusulkan suatu Badan yang menentukan arah kebijaksanaan bangsa untuk kurun waktu 5 tahun ke depan dalam bentuk Garis-Garis Besar Haluan Negara.
Majelis Permusyawaratan Rakyat ini terdiri dari Kumpulan-Kumpulan Wakil-Wakil yang ada di Balai Desa tadi, yaitu yang terdiri dari Wakil Persatuan Insinyur Indonesia, Wakil dari Ikatan Dokter Indonesia, Wakil dari Tentara Nasional Indonesia, Wakil dari Polisi, Wakil dari Ulama, Pendeta, Biksu, Wakil Pedagang Ekspor-Impor, Wakil dari Golongan Wanita, dan sebagainya.
Disitu MPR membicarakan garis-garis besar haluan negara, atau politik pembangunan negara dan untuk meningkatkan keterbelakangan dibidang pembangunan dibuat Rencana Pembangunan Lima Tahun.
Pada tingkat Dewan Perwakilan Rakyat menetapkan Undang-Undang untuk Peraturan Pelaksanaannya.

Dengan mengambil dari wakil-wakil seperti tersebut diatas kita jadi tidak perlu banyak mengeluarkan ongkos untuk Pemilihan Umum. Yang sekarang saja ongkos Pengeluaran Negara itu tidak saja untuk Pemilihan Umum tapi juga ongkos untuk uang korupsi
Cobalah direnungkan kembali usulan saya ini, barangkali bisa membantu pemikiran kenegaraan yang praktis dan demokratis.

Tentang Pancasila sendiri saya tidak merasa khawatir untuk tidak dilaksanakan, karena Pancasila telah dilaksanakan sejak zaman dahulu. Sejak zaman sebelum Indonesia dijajah Portugis, Belanda, Inggris, dan Jepang dan sesudah dijajah Belanda pun  Belanda membiarkan Hukum Adat berlaku bagi Golongan Pribumi/Bangsa Indonesia. Waktu kita memproklamasikan kemerdekaan pada tanggal 17 Agustus 1945 Pancasila yang tidak lain adalah mengandung aturan Hukum Adat dipakai sebagai dasar Negara yang berlaku sampai sekarang.
Namun yang belum terjadi adalah bahwa Hukum Adat belum diberlakukan menurut norma-norma M O D E R N.
Yang terjadi sekarang adalah Pancasila yang diikuti oleh masyarakat adat yang masih pada tingkat primitif/tradisional yang terjadi di desa-desa, sedang yang dikota-kota bercampur dengan aturan yang bersifat individualistis.
Jumlah masyarakat Adat Tradisional ini saya kira mendekati 80%  dari jumlah 250 juta penduduk Indonesia. Jadi Pancasila itu bukan tidak dijalankan oleh bangsa Indonesia, akan tetapi belum dijalankan pada tingkat yang Modern.

Tujuan masyarakat individualistis adalah masyarakat liberal dan kapitalis.
Tujuan masyarakat Indonesia adalah masyarakat yang adil dan makmur.

Masyarakat individualistis sekarang sedang mengalami krisis finansial.
Apakah bangsa Indonesia akan mengambil pemikiran menjadi masyarakat moderen dengan mengambil dasar-dasar pemikiran individualistis itu ?
Janganlah kita memakai prinsip-prinsip check and balance, balance of power dan liberalistis bebas tanpa batas. Sejak kelahirannya masyarakat Indonesia bukan individualistis.

Mari kita kembali pada jati diri kita membangun negara atas keadaan apa adanya sebagaimana apa yang diberikan oleh Tuhan Yang Maha Esa, dan yang diketemukan oleh Van Vollenhoven atas adanya masyarakat adat Indonesia yang dasar kehidupannya lain dari yang dijalani dan dipakai oleh masyarakat Barat.

Mari kita kembali ke Undang-Undang Dasar 1945 seperti yang telah diberlakukan pada tanggal 18 Agustus 1945.
Boleh saja diadakan perubahan, tetapi janganlah kita mengutip sembarangan dari Undang-Undang Dasar negara barat yang tidak cocok untuk kita.
Umpamanya kita ciptakan jabatan Perdana Menteri atau Menteri Utama untuk meringankan jabatan Presiden seperti yang dilakukan oleh Pemerintahan China/Tiongkok. Hal itu bisa kita lakukan. Atau membentuk badan-badan peradilan lain untuk meringankan beban Mahkamah Agung, seperti pembentukan Mahkamah Konsitusi. Atau membentuk KPK, untuk meringankan tugas-tugas Kepolisian dan Kejaksaan.
Membatasi jangka waktu jabatan Presiden untuk menghindari ‘vested interest’.
Tapi jangan mengkebiri Lembaga Majelis Permusyawaratan Rakyat.
MPR harus merupakan cerminan Wakil-Wakil di DESA.
Jangan membentuk Lembaga Pemilihan Umum yang tidak efisien.

Kalau dibidang ekonomi pengetahuan saya sangat cetek/dangkal. Tapi ulasan singkat saja tentang Ekonomi Pancasila adalah sebagai berikut :
Sepanjang ekonomi itu tidak sebebas-bebasnya dan masih ada kendali dari kesatuan pergaulan hidup, maka hal itu masih dalam ruang lingkup Pancasila, karena pandangan Pancasila adalah kita memikirkan diri sendiri, tapi sekaligus juga memikirkan kesatuan hidup.
Dalam ekonomi yang patut kita pikirkan adalah karena teknologi dan finansial berada di tangan pemegang kendali individualistis, maka dalam melakukan kerja sama ekonomi berlaku hukum alam yang tidak ada pembatasnya. Tergantung siapa butuh siapa. Kalau yang punya teknologi dan finansial itu kuat dan yang hanya punya sarana lemah mau tidak mau yang mempunyai teknologi sarana saja harus mengalah demi untuk dibangunnya suatu sektor industri atau tidak tercipta sama sekali bidang industri yang diinginkan. Dalam hal ini tidak ada faktor yang dikatakan pandangan Pancasila atau Individualistis. Itu terserah pada keadaan waktu terjadi negosiasi. Kalau penawaran banyak dari yang mempunyai teknologi dan finansial maka yang mempunyai sarana saja akan lebih menguntungkan. Bisa ada pilihan untuk mencari Partnernya. Ini adalah hukum ekonomi yang dinamakan Penawaran dan Permintaan. Di Hukum Ekonomi yang namanya Penawaran dan Permintaan tidak ada pengertian-pengertian Pancasila atau Individualistis.
Ini pengetahuan saya yang sederhana dan rendah. Mungkin ekonom-ekonom yang lebih ahli bisa mengulasnya atau bisa menjawab persoalan ini, karena saya hanya seorang ahli hukum.

Logo MKRRI

Pancasila Sebagai filsafah Hidup Masyarakat Hukum Adat 01 Februari 2016 09:54:56 Diperbarui: 01 Februari 2016 10:20:08 Dibaca : 19 Komentar : 0 Nilai : 0 Masyarakat hukum adat hidup sebelum Negara Indonesia terbentuk, nilai-nilai yang ada dalam kehidupan baik secara pribadi dan komunal, menjadi entitas keberadaan keragaman dari bangsa ini yang menjadi satu kesatuan yang tidak terpisahkan Pancasila sebagai filsafah dasar kehidupan dalam berbangsa dan bernegara, termasuk bersumber dari hukum adat. Hukum adat menjadi dasar kehidupan masyarakat hukum adat. Hukum Adat diberlakukan oleh Pemerintah Hindia Belanda untuk orang-orang Pribumi atau orang-orang Indonesia. Dari segi ekonomi kehidupan masyarakat hukum adat masih jauh tertinggal. Masyarakat hukum Adat mempunyai keterbatasan dalam lingkungan dan kehidupannya. Harus dipahami keberadaaan masyarakat hukum adat mempunyai karekteristik sendiri yang membedakan dengan masyarakat yang lain. Sehubungan dengan pancasila sebagai filsafah dasar dalam kehidupan, keberadaan masyarakat hukum adat, menjadi titik tolak dalam upaya meningkatkan kesejahteraan mereka, seperti diamanatkan dalam UUD NRI 1945. Masyarakat hukum Adat pada kelompok yang terkecil di Jawa adalah di Desa/Kampung/Nagari di Sumatera Barat. Desa itu adalah masyarakat yang terkecil dari suatu bangsa/negara. Bagian terkecil dari Desa itu adalah Keluarga. Kehidupan Masyarakat Desa bisa tercermin dan menjelma menjadi Masyarakat Berbangsa/Bernegara. Seperti diketahui permasalahan di desa dibicarakan oleh Kepala Desa bersama dengan Masyarakat Desa. Masyarakat desa itu terdiri dari Petani, Nelayan, Buruh Pabrik, Ulama Masjid, Pendeta, Pegawai Satpam, dan lain-lain. Pada masyarakat hukum adat, dalam hal diputusan ditentukan oleh ketua adat, sebegai pimpinan kelompok masyarakat hukum adat. Masyarakat hukum adat dalam menentukan suatu masalah, kegiatan sama dengan masyarakat desa, yakni berembuk/bermusyawarah untuk menyelesaikan masalah; seperti, pembuatan jalan desa, pembuatan saluran irigasi, pembuatan satuan keamanan desa, dan lain-lain itu semua dirembuk, dimusyawarahkan di Balai Desa. Jadi Balai Desa ini adalah tempat terkecil untuk untuk rembukan/musyawarah masyarakat desa. Pada kontek ini, pada tingkat Bangsa/Negara Balai Desa ini di jelmakan dalam Majelis Permusyawaratan Rakyat (“MPR”). a. Imlementasi Pancasila pada Masyarakat Hukum Adat. Secara relaitas Pancasila telah dilaksanakan sejak zaman dahulu. Sejak zaman sebelum Indonesia dijajah Portugis, Belanda, Inggris, dan Jepang dan sesudah dijajah Belanda. Pada perkembabngannya pada Zaman Belanda ada pengakuan bahwa Hukum Adat berlaku bagi Golongan Pribumi/Bangsa Indonesia sampai kemerdekaan pada tanggal 17 Agustus 1945. Pancasila pada dasarnya mengandung aturan Hukum Adat, selain hukum islam dan hukum nasional yang dipakai sebagai dasar Negara berlaku sampai sekarang. Pada kontek implementasi pancasila yang hidup dalam masyarakat hukum adat, belum menempatkan mereka pada kondisi yang setara. Secara peraturan perundang-undangan, keberadaan masyarakat hukum adat sudah dilindungi secara hukum baik secara konsitusi dan beberapa peraturaan perundang-undangan. Pengakuan masyarakat hukum adat melalui peraturan daerah, dapat ditelusuri pada Pasal 18 ayat (7) Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional, telah menetapkan RPJMN yang merupakan penjabaran dari tujuan dibentuknya pemerintahan negara Indonesia. Desa yang memiliki hak asal-usul dan hak tradisional dalam mengatur dan mengurus kepentingan masyarakat berperan mewujudkan cita-cita kemerdekaan berdasarkan UUD 1945 dan Pasal 18B ayat (2) UUD 1945, yaitu: a. Memberikan pengakuan dan penghormatan atas desa yang sudah ada dengan keberagamannya sebelum dan sesudah terbentuknya Negara Kesatuan Republik Indonesia; b. Memberikan kejelasan status dan kepastian hukum atas desa dalam sistem ketatanegaraan Republik Indonesia demi mewujudkan keadilan bagi seluruh rakyat Indonesia; c. Melestarikan dan memajukan adat, tradisi, dan budaya masyarakat desa; d. Mendorong prakarsa, gerakan, dan partisipasi masyarakat desa untuk pengembangan potensi dan Aset desa guna kesejahteraan bersama; Membentuk Pemerintahan desa yang profesional, efisien dan efektif, terbuka, serta bertanggung jawab; e. Meningkatkan pelayanan publik bagi warga masyarakat desa guna mempercepat perwujudan kesejahteraan umum; f. Meningkatkan ketahanan sosial budaya masyarakat desa guna mewujudkan masyarakat desa yang mampu memelihara kesatuan sosial sebagai bagian dari ketahanan nasional; g. Memajukan perekonomian masyarakat desa serta mengatasi kesenjangan pembangunan nasional; dan h. Memperkuat masyarakat desa sebagai subjek pembangunan. b. Istilah Masyarakat Hukum Adat. Istilah masyarakat hukum adat di atur dalam Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2001 tentang Otonomi Khusus. Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1960 tentang Peraturan Dasar Pokok-Pokok Agraria, Undang-Undang Nomor 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan, Undang-Undang Nomor 39 tentang HAM, Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2003 tentang MK, Undang-Undang Nomor 27 Tahun 2007 tentang Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil, Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang PPLH.[1] Selain itu ada istilah masyarakat adat oleh Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN), serta istilah “Komunitas Adat Terpencil (KAT) dalam Keputusan Presiden No.111 Tahun 1999 tentang Pembinaan Kesejahteraan Sosial Komunitas Adat Terpencil. Pasal 1 ayat (1) dari Keputusan Presiden mendefinisikan “komunitas adat terpencil atau yang selama ini lebih dikenal dengan sebutan masyarakat terasing adalah sekelompok sosial budaya yang bersifat lokal dan terpencal serta kurang atau belum dalam jaringan dan pelayanan baik sosial, ekonomi, maupun publik. PMK/KBPN No.5 Tahun 1999 yang memberi kewenangan kepada pemerintah propinsi dan kabupaten untuk menetapkan status masyarakat hukum adat setempat. PMK/KBPN No.5 Tahun 1999 diganti Peraturan Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala Badan Pertanahan Nasional No.9 Tahun 2015 tentang Tata Cara Penetapan Hak Komunal Atas Tanah Masyarakat Hukum Adat dan Masyarakat yang Berada dalam Kawasan Tertentu, memberi pengakuan pada hak komunal masyarakat hukum adat sepanjang pada kenyataan masih ada, sebagaimana dimaksud Pasal 3 UUPA. SE Menteri Kehutanan No. S.75/Menhut-II/2004 tentang Masalah Hukum Adat dan Tuntutan Kompesasi/Ganti Rugi oleh Masyarakat Hukum Adat. Secara khusus, Indonesia belum mengeluarkan UU tentang Masyarakat Hukum Adat. c. Mewujudkan Masyarakat Hukum Adat yang sejahtera Implementasi pancasila, UUD NRI Tahun 1945 dalam sistem ketatanegaraan kita, dalam ini keberadaan masyarakat hukum adat, dapat diwujudkan berdasar pada UU No. 6 Tahun 2014 tentang Desa. Desa[2] memiliki hak asal usul dan hak tradisional dalam mengatur dan mengurus kepentingan masyarakat setempat dan berperan mewujudkan cita-cita kemerdekaan berdasarkan UUD Tahun 1945, tentu terkait dengan masyarakat hukum adat. Jenis desa dibagi 2 (dua), yaitu desa dan desa adat. Desa adat adalah Perubahan UU No.5 Tahun 1979 yang signifikan pada UU No.6 Tahun 2014 tentang (selanjutnya disebut UU Desa) merupakan tonggak perubahan dan pengakuan atas masyarakat hukum adat. Filosofi dasar perubahan UU Desa, sebagai terkecil wilayah dalam ketatanegaraan Republik Indonesia, desa telah berkembang dalam berbagai bentuk sehingga perlu dilindungi dan diberdayakan agar menjadi kuat, maju, mandiri, dan demokratis sehingga dapat menciptakan landasan yang kuat dalam melaksanakan pemerintahan dan pembangunan menuju masyarakat yang adil, makmur, dan sejahtera. Desa merencanakan pembangunan sesuai dengan kewenangan yang dipunyai. Desa berhak seperti dimuat dalam Pasal 67 UU Desa antara lain:[3] a. Mengatur dan mengurus kepentingan masyarakat berdasarkan hak asal usul, adat istiadat, dan nilai sosial budaya masyarakat desa; b. Menetapkan dan mengelola kelembagaan desa; dan c. Mendapatkan sumber pendapatan. Desa Adat yang di atur dalam UU Desa merupakan warisan organisasi kepemerintahan masyarakat lokal yang dipelihara secara turun-temurun yang tetap diakui dan diperjuangkan oleh pemimpin dan masyarakat desa Adat agar dapat berfungsi mengembangkan kesejahteraan dan identitas sosial budaya lokal. Ini berarti menjawab ketidakpastian selama ini, terhadap keberadaan masyarakat hukum adat. Dengan dibentuk desa adat, secara otomatis masyarakat memiliki secara yuridis formal dilindungi dan diakui dalam undang-undang ini [1] Siti Kotijah, Disertasi, Hak Gugat Masyarakat Hukum Adat Dalam Pertambangan Batubara, Tahun 2015, Program Doktor Fakultas Hukum Universitas Airlangga Surabaya, h. 201. [2] Desa adalah desa dan desa adat atau yang disebut dengan nama lain, selanjutnya disebut desa, adalah kesatuan masyarakat hukum yang memiliki batas wilayah yang berwenang untuk mengatur dan mengurus urusan pemerintahan, kepentingan masyarakat setempat berdasarkan prakarsa masyarakat, hak asal usul, dan/atau hak tradisional yang diakui dan dihormati dalam sistem pemerintahan Negara Kesatuan Republik Indonesia. (Pasal 1 angka1 UU No.6 Tahun 2014 tentang Desa). Pelaksanaan dan pengaturan mengenai Desa tersebut belum dapat mewadahi segala kepentingan dan kebutuhan masyarakat desa yang hingga saat ini sudah berjumlah sekitar 73.000 (tujuh puluh tiga ribu) desa dan sekitar 8.000 (delapan ribu) kelurahan. Selain itu, pelaksanaan pengaturan desa yang selama ini berlaku sudah tidak sesuai lagi dengan perkembangan zaman, terutama antara lain menyangkut kedudukan masyarakat hukum adat, demokratisasi, keberagaman, partisipasi masyarakat, serta kemajuan dan pemerataan pembangunan sehingga menimbulkan kesenjangan antarwilayah, kemiskinan, dan masalah sosial budaya yang dapat menggangg keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia. [3] Pasal 67 UU Desa

Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/kotijah/pancasila-sebagai-filsafah-hidup-masyarakat-hukum-adat_56aec9002523bd4e0a71bf76

Logo PANDJI

DASAR BERLAKUNYA HUKUM ADAT

Des 2

Posted by iismardeli30aia

  1.  Dasar filosofis

Adapun yang dimaksud dasar filosofis dari Hukum Adat adalah sebenarnya nilai-nilai dan sifat Hukum Adat itu sangat identik dan bahkan sudah terkandung dalam butir-butir Pancasila. Sebagai contoh, religio magis, gotong royong, musyawarah mufakat dan keadilan. Dengan demikian Pancasila merupakan kristalisasi dari Hukum Adat.

Dasar Berlakunya Hukum Adat ditinjau dari segi Filosofi Hukum  Adat yang hidup, tumbuh dan berkembang  di  indonesia sesuai  dengan perkembangan jaman yang berfiat  luwes,  fleksibel   sesuai  dengan nilai-nilai Pancasila seperti yang tertuang  dalam pembukaan UUD 1945. UUD 1945 hanya menciptakan pokok-pokok pikiran yang  meliputi  suasana kebatinan  dari UUD RI. Pokok pokok pikiran  tersebut menjiwai cita-cita hukum  meliputi hukum negara  baik yang tertulis maupun yang tidak tertulis. Dalam pembukaan UUD 1945   pokok pokok  pikiran yang menjiwai  perwujudan cicta-cita hukum   dasar negara  adalah  Pancasila. Penegasan   Pancasila  sebagai  sumbertertib  hukum  sangat berarti bagi  hukum adat karena Hukum  Adat berakar  pada  kebudayaan  rakyat  sehingga  dapat    menjelmakan  perasaan  hukum   yang  nyata  dan hidup  dikalangan  rakyat  dan mencerminkan kepribadian masyarakat dan bangsa Indonesia (Wignjodipoero,  l983:14). Dengan demikian hukum adat  secara  filosofis merupakan  hukum yang berlaku sesuai Pancasila sebagai  pandangan hidup atau falsafah hidup bangsa Indonesia.

  1. B.   Dasar sosiologis

Hukum  yang berlaku di suatu negara merupakan  suatu  sistem artinya bahwa hukum itu merupakan tatanan, merupakan satu kesatuan  yang utuh yang  terdiri dari bagian-bagian  atau  unsur-unsur yang saling berkaitan satu sama lainnya (Mertokusumo, l986:100). Dengan  kata lain bahwa sistem hukum adalah suatu kesatuan   yang terdiri  dari  unsur-unsur  yang mempunyai  interaksi satu  sama lainnya dan bekerja bersama untuk mencapai tujuan.  Keseluruhan   tata hukum nasional yang berlaku di  Indonesia dapat disebut sebagai sistem hukum nasional. Sistem hukum berkembang  sesuai dengan perkembangan hukum. Selain itu  sistem  hukum  mempunyai sifat yang berkesinambungan, kontinyuitas dan  lengkap.

Dalam  sistem hukum nasional wujud/ bentuk hukum yang  ada  dapat dibedakan  menjadi   hukum tertulis ((hukum yang  tertuang  dalan perundang-undangan)  dan hukum yang tidak tertulis  (hukum  adat, hukum kebiasaan).

Hukum  yang berlaku di suatu negara dapat dibedakan  menjadi hukum yang benar-benar berlaku sebagai the living law (hukum yang hidup)  ada hukum yang diberlakukan tetapi tidak berlaku  sebagai the  living  law. Sebagai contoh Hukum yang berlaku  dengan  cara diberlakukan adalah hukum tertulis yaitu dengan cara  diundangkan dalam  lembaran negara.  Hukum tertulis dibuat ada  yang  berlaku sebagai the living law tetapi juga ada yang tidak berlaku sebagai the  living law karena tidak ditaati/ dilaksanakan  oleh  rakyat.

Hukum  tertulis yang diberlakukan dengan cara  diundangkan  dalamlembaran  negara  kemudian dilaksanakan dan ditaati  oleh  rakyat dapat dikatakan sebagai hukum yang hidup (the living law.)

Sedangkan hukum tertulis yang walaupun telah diberlakukan  dengan cara  diundangkan dalam lembaran negara tetapi  ditinggalkan  dan tidak dilaksanakan oleh rakyat  maka tidak dapat dikatakan  sebagai the living law. Salah satu contohnya  adalah UU nomor 2 tahun 1960 tentang Bagi hasil.

Hukum adat sebagai hukum yang tidak tertulis tidak  memerlukan prosedur/ upaya seperti hukum tertulis, tetapi dapat  berlaku dalam  arti dilaksanakan oleh masyarakat dengan sukarela   karena memang itu miliknya. Hukum adat dikatakan sebagai the living  law karena Hukum adat berlaku di masyarakat, dilaksanakan dan ditaati oleh  rakyat  tanpa  harus melalui  prosedur  pengundangan  dalam lembaran negara.  Berbagai  istilah untuk menyebut hukum yang  tidak  tertulis sebagai  the living law yaitu ( People law, Indegenous  law,  unwritten law, common law, customary law dan sebagainya).

  1. Dasar yuridis

Dasar Berlakunya Hukum Adat Ditinjau Secara Yuridis dalam  Berbagai Peraturan Perundang-undangan Mempelajari segi Yuridis dasar berlakunya Hukum Adat berarti mempelajari  dasar  hukum  berlakunya  Hukum  Adat  di  Indonesia (Saragih, l984:15). Berdasarkan fakta sejarah dapat dibagi  dalam dua  periode  yaitu pada jaman Kolonial (penjajahan  Belanda  dan Jepang) dan jaman Indonesia Merdeka.

  1. Jaman Kolonial (Penjajahan Belanda dan Jepang)

Sebelum  Konstitusi RIS berlaku yaitu pada jaman  penjajahan Jepang,  terdapat peraturan Dai Nippon yaitu Osamu Sirei pasal  3 menentukan bahwa peraturan-peraturan sebelumnya juga masih  tetap berlaku. Ketentuan yang ada pada waktu sebelum penjajahan Jepang adalah ketentuan pasal 75 baru RR yang pada tahun l925  diundangkan  dalan  Stb nomor 415 Jo 577 berlaku mulai  1  januari  1926  dimasukkan  dalam pasal 131 IS _(Indische Staatsregeleing)   lengkapnya  wet op de staatsinrichting  van Nederlands Indie.  Ketentuan tersebut juga merupakan penyempurnaan dari  pasal  75  ayat 3 lama RR l854 (Regeringsreglemen) lengkapnya  Reglement op  het  beleid   der regering van  Nederlands Indie_  (Peraturan tentang  kebijaksanaan pemerintah di Hindia Belanda ) stb  no.  2 tahun 1854 (belanda) dan Stb nomor 2 jo 1 1855 (Hindia Belanda) .Pasal  75  lama RR terdiri dari 6 ayat   (Mahadi,  1991:1-2) yaitu:.

  1. Sepanjang mengenai golongan Eropa, pemberian keadilan dalam      bidang  hukum perdata juga dalam hukum  pidana   didasarkan      pada _verordering-verordering umum, yang sejauh mungkin  sama      bunyinya dengan undang undang yang berlaku di negeri Belanda.
  2. Gubernur Jendral berhak  menyatakan  berlaku  aturan-aturan   yang  dipandang  pantas, dari _verordering-verordering tersebut bagi golongan orang orang bumi putra. Jika perlu aturan-     aturan tersebut boleh dirubah.
  3. Kecuali secara suka rela  orang Bumi putra menundukkan  diri ke  dalam  hukum  perdata Eropa, maka  dalam  memutus  suatu      perkara hakim  mempergunakan Hukum Adat.

Pada  waktu  itu istilah untuk menyebut  Hukum  Adat  dengan      berbagai  macam yaitu: (1) UU agama,  (2)l  Lembaga-lembaga golongan  bumi putra dan (3) Kebiasaan golongan bumi  putra  sepanjang  tidak bertentangan dengan  asas-asas yang diakui      umum  tentang kepatutan dan keadilan (4), (5) dan seterusnya tidak begitu penting bagi hukum adapt (6). Jika hukum adat tidak mengatur tentang suatu  perkara  yang       diajukan  ke  pengadilan  maka hakim  memberikan  keadilan     kepada  golongan bumi putra mengambil asas-asas umum  dari hukum perdata Eropa.

Pasal  131 ayat 2 sub b IS berisi  tentang  ketentuan  bahwa bagi golongan hukum bumi putra dan timur asing berlaku hukum adat mereka, _tetapi dengan pembatasan _(Sudiyat, l981:24):

  1. Jika kepentingan sosial mereka  membutuhkan  maka pembuat   ordonansi  (Gubernur  jendral dan Voksraad)  dapat  menentukan bagi mereka:
  2. Hukum Eropa
  3. Hukum Eropa yang telah diubah
  4. Hukum bagi  beberapa golongan bersama-sama
  5. Jika kepentingan umum  memerlukan maka bagi mereka  dapat    ditentukan  yaitu  hukum baru yang merupakan   sintesa  antara    Hukum Adat  dan Hukum Eropa.

Perbedaan antara pasal 131 IS dengan pasal 75 lama RR antara lain:

  1. Hukum Adat dirumuskan secara berbeda dalam kedua pasal 75 lama    RR  dan  131 IS (Mahadi, l991:17). Dalam pasal 75  lama  Hukum Adat  dirumuskan sebagai UU agama lembaga-lembaga  dan  kebia   saan-kebiasaan golongan bumi putra. Dalam pasal 131 IS, Hukum  Adat  dirumuskan   sebagai norma hukum  yang  erat  hubungannya    dengan agama dan  kebiasaan-kebiasaan.  Rumusan  Hukum  Adat    menurut  pasal  75 lama RR dipengaruhi oleh pendapat  van  den    Berg  yang dikenal dengan teori resepsi (_Recetio in complexu)
  2. Pasal 75 RR ditujukan kepada hakim sedang 131 ditujukan kepada pembuat UU.
  3. Pasal 75 lama  RR tidak ada kemungkinan bagi BP untuk   menun   dukkan  diri kepada hukum baru, sedangkan 131 IS  ada  kemung   kinan untuk itu.
  4. Pasal 75 lama RR memuat ketentuan tentang pembatasan terhadap berlakunya Hukum Adat yaitu Hukum Adat tidak diberlakukan jika    bertentangan dengan  asas-asas keadilan.

Pasal 131 dan 134 IS hanya berlaku bagi hakim Landraad (PN), sedangkan bagi hakim Peradilan Adat _(inheemse rechtspraak) dasar hukumnya  adalah pasal 3 stb nomor 80 tahu 1932 bagi daerah  yang langsung  dikuasai  oleh Belanda yang di luar  Jawa  dan  Madura. Sedangkan  bagi daerah swapraja dasar hukumnya  berlakunya  Hukum Adat adalah pasal 13 ayat 3 stb nomor 529 tahun 1938 dalam  lange contracten. Dasar hukum peradilan adat di Jawa dan Madura adalah  ketentuan  pasal   3 RO stb 23 tahun 1847 jo stb jo.  nomor  47  tahun 1848.

  1. Jaman Kemerdekaan Indonesia
  2. Ketentuan UUD  NRI 1945

Dalam pasal 18 b ayat (2) Undang Undang Dasar NRI 1945 Negara mengakui dan menghormati  kesatuan-kesatuan  masyarakat hukum adat beserta hak-hak tradisionalnya sepanjang masih hidup dan sesuai den gan  perkembangan masyarakat  dan prinsip NKRI yang diatur dalam UU. Beberapa  ketentuan  peraturan  perundang-undangan  nasional  yang memperkuat berlakunya hukum adat  di Indonesia pada saat  ini antara lain :

  1. Ketetapan MPRS nomor II/ MPRS/ l960

dalam lampiran A paragraf 402 disebutkan bahwa:

  1. Asas-pembinaan  hukum  nasional supaya  sesuai  dengan  haluan    negara  dan

berlandasakan hukum adat  yang  tidak  menghambat    perkembangan masyarakat adil dan makmur.

  1. Dalam  usaha ke arah homoginitas  hukum   supaya  diperhatikan     kenyataan-kenyataan  yang hidup di Indonesia.-  Dalam  penyempurnaan  UU hukum perkawinan  dan  waris  supaya    memperhatikan  fakor-faktor agama, adat dan lain-lain.
  2. UU Drt nomor 1 tahun 1951

tentang tindakan sementara  untuk menyelenggarakan  kesatuan susunan, kekuasaan dan acara pengadilan sipil Pasal 1 ayat 2 UU drt 1 tahun 1951:  secara berangsur-angsurakan ditentukan oleh mentri kehakiman, dihapus:

  1. Segala pengadilan swapraja kecuali peradilan Islam negara     Sumatera Timur dahulu,    Kalimantan Barat dan negara  Indonesia     Timur dahulu.
  2. Segala pengadilan adat kecuali Pengadilan Islam. Pasal 1 ayat  3 UU drt nomor 1 tahun 1951 hakim desa tetap dipertahankan.
  3. UU nomor 5 tahun 1960

Tentang UUPA . Pasal  2 ayat 4 UUPA mengatur tentang  pelimpahan   wewenang kembali kepada  masyarakat hukum adat   untuk  melaksanakan  hak menguasai   atas tanah, sehingga masyarakat hukum adat  merupakan aparat pelaksana   dari hak menguasai negara atas untuk mengelola tanah tanah tyang ada di wilayahnya. Pasal  3 UUPA bahwa pelaksanaan hak ulayat masyarakat  hukum adat,  sepanjang menurut kenyataannya  harus sedikikan  rupa sehingga sesuai dengan kepentingan ansional  dan negara, berdadasakan  persatuan  bangsa dabn tidak boleh bertentangan  dengan UU atau peraturan yang lebih tinggi.

  1. UU Nomor 41 tahun l999

UU Pokok KehutananMenegaskan  bahwa  pelaksanaan hak-hak masyarakat adat, Hukum Adat dan anggotanya serta  hak-hak persseorangan  untuk mendapatkan manfaat dari hutan secara  langsung  atau tidak langsung didasarkan pada  suatu  peraturan  yang demi tercapainya tujuan yang dimaksud oleh UU ini.

  1. PP nomor  21  tahun 1971

Tentang  HPH  dan hak pemungutan hasil Hutan. Pasal 6 ayat 1 PP  nomor  21 tahun 1971 menyebutkan  bahwa   Hak-hak  masyarakathukum  adat  dan anggota-anggotanya  untuk memungut  hasil  hutan didasarkan atas peraturan hukum adat sepanjang kenyataannya masih ada,  pelaksanaannya  masih  perlu  ditertibkan   sehingga  tidak menggangu HPH.Ayat  2  Pasal 6 PP no. 21 tahun 1971  Pelaksanaan  pasal  1 harus  seijin  pemegang HPH yang diwajibkan meluluskan   pelaksanaan  Hak tsb dan diatur dengan tata tertib sebagai hasil  musyaŠwarah  antara pemegang HPH musyawarah adat  dengan bimbingan  dan pengawasan Dinas kehutanan.Ayat  3 Demi keselamatan umum dalam areal hutan yang  sedang  dalam rangka penmgusahaan hutan  maka pelaksanaan hak-hak  rakyat  untuk memungut hasil hutan  dibekukan.

  1. UU Nomor 4 Tahun 2004

Yang menggantikan UU nomr 14 tahun 1970 tentang ketentuan-keentuan  pokok kekuasaan kehakiman

Ø  Pasal  25 ayat 1 yang isinya segala putusan  pengadilan  selain  harus     memuat  dasar-dasar putusan, juga harus  memuat   pasal-pasal     tertentu dari peraturan ybs atau _sumber hukum tidak  tertulis  ang dijadikan dasar untuk mengadili.

Ø  Pasal 28  ayat 1 yang isinya tentang hakim sebagai penegak  hukum  dan keadilan   wajib menggali mengikuti dan memahami  nilai-nilai hukum yang hidup dalam masyarakat. Dengan diundangkannya UU nomor 4 tahun 2004 maka  ketentuan pasal 131 ayat 6 Is tidak berlaku lagi.

  1. UU no 1 tahun l974

tentang Perkawinan Pasal  35  dan 37 UUnomor 1 tahun 1974 tentang  harta  benda dalam perkawinan.  Pasal  35  ayat 1: harta benda yang diperoleh  selama  perkawinan  menjadi harta bersama.ayat  2:  harta bawaan dari masing-masing suami dan  isstri   dan harta  benda  yang diperoleh oleh  masing-masing  pihak sebagai hadiah, warisaan, adalah berada dibawah penguasaan  masing-masing,  sepanjang para pihak tidak menen  tukan lain.

  1. UU nomor 16 tahun 1985

tentang rumah susun dan PP no. 4  1988 tentang rumah susun UU nomor 16 tahun 1985 mengangkat lembaga Hukum Adat  dengan cara dimasukkan ke dalam UU tsb yaitu _asas pemisahan horizontal.

  1. PP nomor 24 tahun 1997

mengenai pendaftaran tanah  PP 24 merupakan penyempurnan PP10 tahun 1961. PP 24 diundangkan  pada  8  juli 1997 dan berlaku efektif  8  oktober  1997 mengangkat  dan memperkuat berlakunya  Hukum Adat  yaitu  lembaga rechtsverwerking_ (perolehan hak karena menduduki tanah dan menjadikannya  sebagai  hak  milik dengan syarat  yaitu  iktikad  baik selama 20 tahun berturut tanpa ada gangguan/ tuntutan dari  pihak lain  dan disaksikan atau diakui oleh masyarakat.lembaga  aquisitive verjaring kehilangan hak untuk  menuntut  hak milik

  1. UU NO.31 TAHUN 2004 Tentang Perikanan

Pasal 6 ayat (2) UU no.31/ 2004 Pengelolaan  Perikanan  untuk kepantingan  penengkapan ikan  dan pembudidayaan ikan  harus mempertimbangkan  hukum adat da/ atau kearifan lokal  serta memperhatikan  peran serta masyarakat.

  1. UU No.22 tahun 2001 tentang Minyak dan Gas bumi

Pasal 33 ayat (3) Kegiatan  usaha mminyak dan gas bumi  tidak dapat dilaksanakan  pada huruf b yaitu : tempat pemakaman, tempat yang dianggap suci,  tempat umum,  sarana dan prasana umum,  cagar alam, cagar budaya, serta tanah milik masyarakat adat.  

Daftar Referensi:

Hadikusuma, Hilman, Pokok-pokok Asas Hukum Adat, Alumni, Bandung.

_____, 1992, Pengantar Ilmu Hukum Hukum Adat Indonesia, Mandar Maju, Bandung.

 

_____, 1977, Hukum Perkawinan Adat, Alumni, Bandung.

 

_____, 1987, Hukum Kekerabatan Adat,  Fajar Agung, Jakarta.

 

Harahap, Yahya, Kedudukan Janda, Duda dan Anak Angkat Dalam Hukum Adat, PT Citra Aditya Bakti, Bandung.

 

Soedijat, Imam, 1981, Asas-asas Hukum Adat Bekal Pengantar, Liberty, Yogyakarta.

Soekanto, Soerjono, 2001, Hukum Adat Indonesia, PT Raja Grafindo Persada, Jakarta.

 

Soemarman, Anto, 2003, Hukum Adat Perspektif Sekarang dan Mendatang, Adi Cita, Yogyakarta.

GerakNusa

PERGESERAN KEBERADAAN MASYARAKAT ADAT OLEH HUKUM NEGARA

PERGESERAN KEBERADAAN MASYARAKAT ADAT OLEH HUKUM NEGARA
Oleh : Turiman Fachturahman Nur
Abstrak
Dalam kehidupan modern, hukum memiliki posisi yang cukup sentral. Kita dapat mencatat bahwa hampir sebagian besar sisi dari kehidupan kita telah diatur oleh hukum, termasuk didalam keberadaan masyarakat adat baik yang berbentuk hukum tertulis maupun hukum yang tidak tertulis. Tesis dari Artburthnot mengenai hal ini memang benar adanya. Ia mengatakan bahwa hukum adalah lubang tanpa dasar yang melahap segala sesuatu. Apa yang dikemukakannya menunjukkan bahwa hukum sebagai sebuah pranata maupun institusi memiliki kekuatan yang besar untuk mempengaruhi nasib seseorang, bahkan citra tentang bangsanya. Hukum sebagaimana dikemukakan di atas adalah hukum dalam arti luas, ia tidak hanya sekadar peraturan tertulis yang dibuat oleh penguasa atau badan khusus pembuat undang-undang atau dengan kata lain hukum bukan hanya sesuatu yang bersifat normatif. Hukum juga merupakan fenomena sosial yang terejawantahkan dalam perilaku manusia atau lebih tepatnya perilaku sosial. Melihat hukum dengan pandangan yang demikian berarti pembicaraan tentang hukum tidak akan terhenti ketika apa yang dinamakan nilai atau konsep dalam masyarakat atau bangsa atau negara tentang sisi kehidupan manusia telah terwujud secara konkrit dalam suatu undang-undang atau peraturan, akan tetapi pembicaraan itu akan terus berlangsung pasca undang-undang itu terbentuk dan diundangkan. Secara normatif pembicaraan tenang hukum akan selesai setelah diundangkannya suatu peraturan, padahal persoalannya tidak sampai di situ saja. Siapa yang diuntungkan dari peraturan itu, bagaimana pelaksanaannya, apa tanggapan masyarakat mengenai peraturan itu, apakah mempengaruhi individu dalam kehidupan masyarakat dan sebagainya. Ini merupakan pertanyaan yang tak bisa dijawab hanya dengan menggunakan pendekatan normatif belaka. Persoalan ini akan semakin rumit jika kita mengingat bahwa nilai-nilai yang ada dalam masyarakat itu terus berubah seiring dengan perkembangan jaman. Hukum yang ada sebagai perwujudan dari nilai-nilai yang ada pada masa lalu akan out of date yang menyebabkan tak akan mampu menghadapi perubahan sosial itu. Persoalan yang timbul tidak akan berhenti hanya dengan mengganti undang-undang yang ada untuk mengakomodasi pergeseran nilai dan perubahan sosial itu karena apabila demikian, maka hukum (baik institusi, pranata maupun penegak hukumnya) hanya akan menjadi tukang jahit, tambal sulam. Perubahan sosial yang terjadi di masyarakat adat tidak dapat diakomodasi dengan undang-undang saja atau hukum negara, akan tetapi hukum (ahli hukum) secara teoritis harus dapat menjelaskan fenomena yang terjadi. Penjelasan secara teoritis inilah yang terkadang sulit dilakukan karena kita telah lama terkungkung dalam alam pikiran dogmatis dan positivistis yang mengembalikan segala sesuatunya hanya pada peraturan atau undang-undang atau hukum negara. Tulisan ini berupaya menjelaskan pergeseran masyarakat adat oleh hukum negara, bahwa ada anggapan jika sudah diatur oleh hukum negara segala sesuatu yang berkaitan dengan masyarakat adat menjadi selesai, ternyata tidak fakta sosialnya, beberapa hasil penelitian telah membuktikan hal tersebut bahwa hukum negara menggeser keberadaan masyarakat adat.
Kata kunci: Masyarakat Adat, Istilah Masyarakat Adat Dalam Peraturan Perundangan dan berbagai konflik yang pada masyarakat adat.
A.Pergeseran secara sistimatis Hak-Hak Masyarakat Adat
Pendekatan pembangunan yang bersifat masif dan seragam tidak membawa dampak positif bagi masyarakat adat, karena umumnya disain pembangunan dibuat berdasarkan aspirasi kelompok dominan (mainstream) dalam masyarakat. Sebagai satu kesatuan sosial, masyarakat adat (MA) masuk dalam kategori masyarakat yang tidak diuntungkan dalam struktur masyarakat. Ketika mereka berbeda dalam arti budaya, identitas, sistem ekonomi, bahkan sistem politik dari kelompok dominan lainnya dalam masyarakat.
Masyarakat Adat seringkali tidak terwakili aspirasinya dalam proses pembangunan atau mendapatkan keuntungan dari proses itu. Padahal sebagai warga negara Masyarakat Adat harus pula menikmati hak dan kewajiban yang adil dan sejajar dengan segmen masyarakat lainnya. Masyarakat Adat harus harus diberi keleluasaan untuk melindungi dirinya dan budayanya serta menolak perubahan yang berdampak negatif bagi penghidupannya. Konsep penentuan nasib sendiri ini (self determination) telah luas diterima dalam prinsip-prinsip intemasional, namun memang masih jauh dalam pelaksanaannya di Indonesia.
Ketika sebagian antropolog dan ekolog mengelompokkan mereka dalam kelompok pemburu-peramu, peladang berpindah (ulang-alik) dan petani menetap, maka ada kalangan lain (para Penstudi Hukum) yang mengelompokan mereka dari perspektif sosio-Yuridis ekologis. Pengelompokan ini bukanlah dimaksudkan untuk menyederhanakan keberagaman yang mereka miliki melainkan hanya untuk memudahkan kita untuk dapat memahami dan menghormati mereka, adapun pengelompokan tersebut adalah:
a. Kelompok pertama adalah, antara lain, kelompok Masyarakat Kanekes di Banten dan Masyarakat Kajang di Sulawesi Selatan yang menempatkan diri sebagai “pertapa-bumi” yang percaya bahwa mereka adalah kelompok masyarakat ‘terpilih’ yang bertugas memelihara kelestarian bumi dengan berdoa dan hidup prihatin. Pilihan hidup prihatin mereka dapat dilihat dari adat tentang bertani, berpakaian, pola makan mereka dll.
b. Kelompok kedua adalah, antara lain, Masyarakat Kasepuhan dan Masyarakat Suku Naga yang juga cukup ketat dalam memelihara dan menjalankan adat tetapi masih membuka ruang cukup luas bagi adanya hubungan-hubungan ‘komersil’ dengan dunia luar.
c. Kelompok ketiga adalah Masyarakat-masyarakat adat yang hidup tergantung dari alam (hutan, sungai, laut dll) dan mengembangkan sistem pengelolaan yang unik tetapi tidak mengembangkan adat yang ketat untuk perumahan maupun pemilihan jenis tanaman kalau dibanding dengan Masyarakat Kanekes maupun Kasepuhan. Masuk dalam kelompok ini misalnya Masyarakat Adat Dayak dan Masyarakat Penan di Kalimantan, Masyarakat Pakava dan Lindu di Sulawesi Tengah, Masyarakat Dani dan Masyarakat Deponsoro di Papua Barat, Masyarakat Krui di Lampung dan Masyarakat Kei maupun Masyarakat Haruku di Maluku. Pada umumnya mereka memiliki sistim pengelolaan sumber daya alam yang luar biasa (menunjukkan tingginya ilmu pengetahuan mereka) dan dekat sekali dengan alam. Di Maluku dan Papua masyarakat adat yang tinggal di pulau-pulau kecil maupun di wilayah pesisir memiliki sistem ‘sasi’ atau larangan memanen atau mengambil dari alam untuk waktu tertentu. Sasi ikan lompa di Pulau Haruku sangat terkenal sebagai satu acara tahunan yang unik bagi masyarakat di Pulau Haruku dan Ambon (sebelum kerusuhan terjadi) yang menunjukkan salah satu bentuk kearifan tradisional dalam menjaga kelestarian lingkungan. Dengan ditetapkannya sasi atas spesies dan di wilayah tertentu oleh Kewang (semacam polisi adat di Maluku Tengah), maka siapapun tidak berhak untuk mengambil spesies tersebut. Ketentuan ini memungkinkan adanya pengembang-biakan dan membesarnya si ikan lompa, untuk kemudian di panen ketika sasi dibuka lagi.
d. Kelompok keempat adalah mereka yang sudah tercerabut dari tatanan pengelolaan sumber daya alam yang “asli” sebagai akibat dari penjajahan yang telah berkembang selama ratusan tahun. Mereka yang dapat dimasukkan dalam kelompok ini adalah, misalnya, masyarakat Melayu Deli yang bermukim di wilayah perkebunan tembakau di Sumatera Utara dan menyebut dirinya sebagai Rakyat Penunggu. Menyadari keragaman dari masyarakat adat, sesungguhnya masih banyak pengelompokan yang dapat dikembangkan termasuk, antara lain, untuk Masyarakat Punan dan Sama (Bajao) yang lebih cenderung hidup secara nomadik baik di hutan maupun di laut.
Dimensi lain dari hubungan masyarakat adat dan lingkungan adalah adanya kenyataan dimana sebagian masyarakat adat juga ikut bekerja bersama pihak-pihak yang mengembangkan kegiatan yang merusak lingkungan. Dalam hal ini ada individu-individu yang terlibat dalam kegiatan pembabatan hutan dan penambangan skala besar baik sebagai karyawan maupun sebagai perorangan dan atau kelompok masyarakat yang tidak memiliki alternatif sumber pendapatan lain. Dalam konteks ini, sejauh kegiatan tersebut bukan merupakan keputusan kolektif dari masyarakat adat yang bersangkutan maka haruslah ditempatkan sebagai kegiatan dan tanggung jawab individual dari pelakunya. Sedangkan apabila kegiatan tersebut memang diputuskan sesuai adat mereka, maka haruslah diterima sebagai keputusan kelompok yang bersangkutan dan bukan merupakan tanggung jawab dari seluruh masyarakat adat.
Pengakuan pemerintah dan kelompok dominan terhadap Masyarakat Adat hanya sebatas, misalnya mengumpulkan simbol-simbol Masyarakat Adat dari berbagai penjuru Indonesia, tanpa mendalami makna dan hubungan timbal-balik simbol-simbol tersebut dengan alam sekitar mereka. Atau cenderung ‘memuseum’kan Masyarakat Adat sebagai sekelompok manusia unik, atau memandang mereka sebagai orang terbelakang dan ‘memaksa’ mereka untuk hidup dengan cara-cara modern, yang sialnya sangat berbias lagi-lagi pikiran kelompok dominan. Simbol-simbol adat (seperti tari-tarian dan ukir-ukiran) tetap dilestarikan sementara organisasi masyarakat adat dibiarkan merana.
B. Istilah Masyarakat Dalam Peraturan Perundang_undangan Yang Multitafsir
Secara historis Yuridis jika kita mencermati teks kenegaraan UUD 1945 dalam Bab VI, pada Pasal 18 UUD 1945 lengkapnya berbunyi : “Pembagian daerah Indonesia atas daerah daerah besar dan kecil, dengan bentuk susunan pemerintahannya ditetapkan dengan undang-undang, dengan memandang dan mengingati dasar permusyawaratan dalam sistem pementahan negara, dan hak asal-usul dalam daerah-daerah yang bersifat istimewa” (cetak tebal oleh penulis).
Secara historis yuridis dalam penjelasan Bab VI UUD 1945 dinyatakan bahwa “Dalam territoir Indonesia terdapat lebih kurang 250 Zelfhestrunde land-schappen dan Volksgemeen-schappen, seperti Desa di Jawa dan Bali, Nagari di Minangkabau, Dusun dan Marga di Palembang dan sebagainya. Daerah-daerah ini mempunyai susunan asli dan oleh karenanya dapat dianggap sebagai daerah yang bersifat istimewa (cetak tebal oleh penulis)”. Kemudian dinyatakan pula “Negara Republik Indonesia menghormati kedudukan daerah-daerah istimewa tersebut dan segala peraturan negara yang mengenai daerah-daerah itu akan mengingati hak asal-usul daerah tersebut (cetak tebal oleh penulis). Dari pemyataan di atas, dapat diartikan bahwa UUD 1945 mengandung pengakuan atas keberadaan ‘kesatuan-kesatuan politik tradisi’ yang bersumber dari sistem budaya berbagai kelompok masyarakat yang tercakup di dalam teritorial Negara Republik Indonesia.
Pengakuan ini tentunya tidak hanya terbatas pada aspek wujud lembaganya saja, tetapi juga aspek-aspek struktur organisasi, mekanisme kerja, peraturan-peraturannya, serta berbagai hak dan kewajiban yang terkandung di dalam sistem kelembagaan di atas.
Selain itu, karena susunan asli itu dapat dianggap sebagai daerah yang bersifat istimewa, maka perlakuan terhadapnya tentulah bersifat istimewa pula. Artinya, kesatuan-kesatuan teritorial dan sistem kelembagaan yang mengaturnya itu tidaklah dapat diperlakukan sama dengan daerah-daerah kesatuan teritorial lain yang tidak mengandung susunan asli dimaksud. Dengan kata lain, secara tersirat, pengaturan itu mengandung maksud adanya otonomi atau kedaulatan-dari susunan asli tersebut.
Hal ini diperkuat pula oleh pernyataan bahwa “Negara Republik Indonesia menghormati kedudukan daerah-daerah istimewa tersebut dan segala peraturan negara yang mengenai daerah-daerah itu akan mengingati hak asal-usul daerah tersebut”. Artinya, masyarakat dengan susunan riil itu memiliki wujud kelembagaan tatanan hak dan kewajiban yang khas, yang berbeda dengan wujud kelembagaan, tatanan hak dan kewajiban yang berada di luar kesatuan daerah yang dimaksud. Karenanya, sesuatu aturan yang datang dari luar ‘susunan asli’ itu tidaklah relevan diberlakukan di dalarn tatanan ‘susunan asli’ tertentu. Kalaupun aturan-aturan baru tersebut ingin dibedakukan ke dalam tatanan ‘susunan asli’ itu, pemberlakuan itu mestilah atas izin warga ‘susunan asli’ itu sendiri. Hal ini sangat manusiawi sifatnya, karena, betapapun, aturan-aturan baru itu adalah sesuatu yang asing bagi warga masyarakat ‘susunan asli’. Proses pengambilan keputusan untuk dapat atau tidaknya pelaksanaan aturan-aturan baru yang berasal dari ‘susunan asli’ tersebut mestilah diatur oleh undang-undang khusus yang memang mengatur permasalahan ini.
Pasal 5 UUPA 1960 juga memberikan pengakuan bahwa “Hukum agraria yang berlaku atas bumi, air dan ruang angkasa ialah hukum adat,…” Walaupun kemudian dipagari dengan “sepanjang tidak bertentangan dengan kepentingan nasional .. sosialisme Indonesia … unsur-unsur yang bersandar pada hukum agama”. Pasal 6 UU No. 10 Tahun. 1992 memberikan dasar hak penduduk yang meliputi:
1. hak penduduk sebagai diri pdbadi yang meliputi hak untuk membentuk keluarga, hak mengembangkan kualitas diri dan kualitas hidupnya, …
2. hak penduduk sebagai anggota masyarakat yang meliputi hak untuk mengembangkan kekayaan budaya, hak untuk mengembangkan kemampuan bersama sebagai kelompok, hak atas pemanfaatan wilayah warisan adat, serta hak untuk melestarikan atau mengembangkan perilaku kehidupan budayanya;
3. hak penduduk sebagai warga negara yang meliputi pengakuan atas harkat dan martabat yang sama, hak memperoleh dan mempertahankan ruang hidupnya;
4. hak penduduk sebagai himpunan kuantitas yang meliputi hak untuk diperhitungkan dalam kebijaksanaan perkembangan kependudukan dan pernbangunan keluarga sejahtera.
Namun, pengakuan yang termuat dalam undang-undang di atas tidak menetes dalam praktik sehari-hari. Kondisi keseharian ini juga ditunjang dengan peraturan perundang-undangan yang tidak mendukung semangat yang tertuang dalam peraturan di atas. Ironisnya kedua macam peraturan perundang-undangan ini masih terus berlaku.
Padahal amandemen UUD 1945 kedua dan ketiga mulai mengakui hak-hak masyarakat adat (yang terkadang disebut sebagai masyarakat hukum adat, di pasal lain sebagai masyarakat tradisional). Serta Sidang Tahunan MPR bulan Nopember lalu telah menetapkan Tap. No. IX/MPR-RI/2001 tentang Pembaruan Agraria dan Pengelolaan Sumber Daya Alam yang antara lain dalam pasal 4 menetapkan prinsip: “melaksanakan fungsi sosial, kelestarian, dan fungsi ekologis sesuai dengan kondisi sosial budaya setempat” dan “mengakui, menghormati, dan melindungi hak masyarakat hukum adat dan keragaman budaya bangsa atas sumber daya agraria/sumber daya alam”. Namun disadari bahwa jarak antara TAP MPR RI ini dengan rasa keadilan yang hidup di hati penduduk rakyat masih cukup jauh. Kesenjangan hanya ini dapat diperdekat dengan usaha sungguh-sungguh untuk “mencabut, mengubah dan/atau mengganti semua undang-undang dan peraturan pelaksanaannya”, memperbaharui kelembagaan dan program yang nyata dan dapat menjawab permasalahan kemiskinan, konflik, ketimpangan dan ketidakadilan sosial-ekonomi rakyat serta kerusakan ekosistem.
Pengelolaan sumber daya alam berbasis masyarakat, termasuk masyarakat adat, seharusnya dijadikan paradigma acuan dalam menerjemahkan penghormatan hak-hak asasi masyarakat adat dan pelestarian lingkungan sebagai jawaban atas permasalahan selama ini terjadi. Ibarat ratusan perpustakaan yang sedang terbakar, demikian kondisi masyarakat adat kita dengan kekayaan pengetahuan mereka dalam mengelola serta hidup dengan lingkungan secara bersahabat. Selagi belum terlambat, mari segera kita selamatkan. Tanpa ada perubahan paradigmatis dan pembenahan atas berbagai peraturan perundangan, kelembagaan dan program yang terkait maka amandemen UUD 1945 dan pengesahan Tap IX/MPR-RI/2001 hanyalah tirai asap lain atas impunity, pelanggaran HAM dan perusakan lingkungan yang sistematik.
Pada sisi lain Pemerintah Indonesia secara hukum telah meratifikasi perjanjian Internasional; yaitu pengesahan pembentukan WTO (World Trade Organization) melalui UU No. 7 Thn. 1994, Konvensi Keanekaragaman Hayati dengan UU No. 5 Tahun 1994. Sementara kesadaran masyarakat adat dunia akan perlunya penentuan nasib sendiri (self determination) semakin lama semakin kuat. Sebut saja International Alliance of the Indigenous Tribal Peoples of the Tropical forests dan Beijing Declaration of Indigenous Women.
Meski dalam Undang-Undang Dasar 1945 (UUD 1945) mengakui keberadaan masyarakat adat nusantara, namun masih meninggalkan pertanyaan-pertanyaan yang jawabannya sangat multiinterpretasi . Hal tersebut dapat dilihat pada UUD 1945 Pasal 18B ayat (2) menyebutkan, “Negara mengakui dan menghormati kesatuan-kesatuan masyarakat hukum adat beserta hak-hak tradisionalnya sepanjang masih hidup dan sesuai dengan perkembangan masyarakat dan prinsip Negara Kesatuan Republik Indonesia, yang diatur dalam undang-undang”. UUD 1945 Pasal 28I ayat (3) menyebutkan, “Identitas budaya dan hak masyarakat tradisional dihormati selaras dengan perkembangan zaman dan peradaban”, kemudian dalam UU No 32 Tahun 2004 pasal 2 ayat 3 menyatakan negara mengakui dan menghormati kesatuan-kesatuan masyarakat hukum adat berserta hak tradisionalnya sepanjang masih hidup dan sesuai dengan perkembangan masyarakat dan prinsip negara kesatuan Republik Indonesia.
Pada kedua pasal tersebut ternyata menggunakan terminologi yang berbeda dan tidak konsisten, yaitu “masyarakat hukum adat” (Pasal 18B) dan “masyarakat tradisional” (Pasal 28I). Lebih lanjut, penggunaan kondisi “perkembangan zaman dan peradaban” sebagai syarat penghormatan yang dilakukan, tanpa penjelasan, menjadi hal yang potensial mengundang perdebatan untuk diimplementasikan.
Lebih lanjut, Undang-Undang No. 39 Tahun 1999 Tentang Hak Asasi Manusia Pasal 6, ayat (1) “Dalam rangka penegakan hak asasi manusia, perbedaan dan kebutuhan dalam masyarakat hukum adat harus diperhatikan dan dilindungi oleh hukum, masyarakat, dan Pemerintah”. ayat (2) “Identitas budaya masyarakat hukum adat, termasuk hak atas tanah ulayat dilindungi, selaras dengan perkembangan zaman”.
Secara tegas pasal tersebut mengakui dan memberikan perlindungan atas masyarakat hukum adat serta identitas budaya sebagai bentuk penerapan hak asasi manusia. Ternyata lagi-lagi pasal tersebut sangat tergantung atas “political will” dari pemerintah untuk menindaklanjuti pada tingkat operasional di lapangan.
Saafroedin Bahar mengidentifikasi terjadinya pelanggaran hak masyarakat adat yang bersifat sistemik dan struktural, dalam arti bahwa akar pelanggaran tersebut justru bersumber dari inkonsistensi peraturan perundang-undangan negara atau kebijakan pemerintah sendiri.
Akibat dari keseluruhan tindakan pemerintah tersebut dengan beralas hukum positif yang ada merupakan indikasi penyebab terjadinya “kemiskinan” yang dialami oleh masyarakat adat nusantara. Indikasi tersebut seharusnya memancing pembuktian kebenaran dugaan itu, apakah memang berlaku demikian atau sebaliknya. Berkaitan dengan hal tersebut, sekaligus menuntut tanggung jawab pemerintah untuk melakukan langkah-langkah yang efektif dan implementatif dalam pengakuan dan perlindungan atas masyarakat adat nusantara beserta hak-hak yang dimilikinya sebagai penghormatan terhadap hak asasi manusia.
Salah satu definisi masyarakat adat dirumuskan oleh Jaringan Pembela Hak-hak Masyarakat Adat :
”…kelompok masyarakat yang memiliki asal-usul leluhur (secara turun temurun) di wilayah geografis tertentu, serta memiliki sistem nilai, ideologi, ekonomi, politik, budaya, sosial, dan wilayah sendiri”. Definisi tersebut paling tidak dapat digunakan sebagai kerangka kerja mengidentifikasi masyarakat adat yang ada di Indonesia, walaupun masih membuka peluang untuk perdebatan lebih lanjut”.
Secara faktual kemiskinan menjadi salah satu potret dari keberadaan masyarakat adat nusantara, meski hal ini dapat saja menimbulkan pendapat pro dan kontra. Jumlah dan keragaman yang relatif besar dari masyarakat adat nusantara menjadi suatu kondisi yang tidak mudah untuk menetapkan makna ”kemiskinan”.
Kriteria seperti apa yang dapat diterima untuk merujuk kondisi ”miskin” bagi masyarakat adat nusantara memerlukan suatu pendekatan dan pemikiran tersendiri yang implementatif. Bisa saja masyarakat adat nusantara tersebut melakukan penolakan atas ”tuduhan” tersebut. Ukuran kepemilikan materi tidak dapat digunakan secara luas bagi berbagai karakteristik masyarakat adat nusantara di Indonesia.
Apa yang terjadi selama ini terhadap masyarakat adat nusantara merupakan bentuk diskriminasi yang merujuk pada Undang-Undang No. 39 Tahun 1999 Tentang Hak Asasi Manusia, ”Diskriminasi adalah setiap pembatasan, pelecehan, atau pengucilan, yang langsung ataupun tidak tak langsung didasarkan pada pembedaan manusia atas dasar agama, suku, ras, etnik, kelompok, golongan, status sosial, status ekonomi, jenis kelamin, bahasa, keyakinan politik, yang berakibat pengurangan, penyimpangan atau penghapusan pengakuan, pelaksanaan atau penggunaan hak asasi manusia dan kebebasan dasar dalam kehidupan baik individual maupun kolektif dalam bidang politik, ekonomi, hukum, sosial, budaya, dan aspek kehidupan lainnya”.
Memahami diskriminasi dapat dijelaskan kaitannya dengan prasangka, kalau prasangka masih meliputi sikap, keyakinan, atau predisposisi untuk bertindak, maka diskriminasi mengarah pada tindakan nyata. Tindakan diskriminasi biasanya dilakukan oleh mereka yang memiliki sikap prasangka sangat kuat akibat tekanan tertenu, misal tekanan budaya, adat istiadat, kebiasaan, atau hukum. Jika prasangka peduli pada sikap atau keyakinan tertentu, maka diskriminasi mengacu pada perilaku tertentu.
Prasangka dan diskriminasi merupakan ”lingkaran setan” (the vicious cycle). Keduanya saling menguatkan; selama ada prasangka, di sana akan ada diskriminasi. Dalam konteks pelanggaran HAM terhadap masyarakat adat maka boleh jadi telah terbentuk prasangka terhadap masyarakat adat nusantara oleh pemerintah. Wacana yang berkembang tentang kesadaran identitas etnis – yang bisa merujuk kepada masyarakat adat tertentu – dianggap berpotensi mengancam integrasi dari Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Prasangka itulah yang akhirnya melahirkan diskriminasi terhadap masyarakat adat nusantara. Fenomena itu dapat digambarkan (Safitri, 2002:3), “This ethnic diversity is understood as an asset of cultural riches supporting state unity, which is reflected in the national slogan, Bhinneka Tunggal Ika, unity in diversity. During the New Orde period, tunggal ika (unity)- which usually was understood as unified, standarized effor- was more strongly emphasized than bhinneka (diversity). Many effort were made to limit the expression of ethnic identity through policies and programs on development emphasizing uniformity. Raising ethnic identity was considered dangerous to state unity. Politics to eliminate ethnic identity could be seen in the Suharto policy on deactivation of so-called SARA (Suku, Agama, Ras dan Antara Golongan, meaning ethnic group, religion, race, and group-based interest) in institution and sociopolitical interaction. The anti-SARA politic were parallel to efforts to unify sociopolitical life. The government’t unified name for every community’s territory was desa, a Javanese term for territory, although all other ethnic communities had their own names to indicate their territory”.
Yang lebih menyedihkan adalah diskriminasi tersebut mengakibatkan perampasan hak pengelolaan dan pemanfaatan dari masyarakat adat atas sumber daya alam yang seharusnya dinikmati oleh masyarakat adat itu sendiri.
Ada hal yang menarik untuk memahami sesuatu sebagai hak, bahwa hak berhubungan dengan nilai, harga, dan martabat suatu hal. Semua yang bernilai, berharga, dan bermartabat menuntut dari manusia sikap dan perlakuan yang sepadan dengan nilai, harga dan martabat itu. Nilai menuntut apresiasi yang layak. Nilai mengungkapkan satu relasi bipolar, relasi antar kutub objektif dan kutub subjektif. Kutub objektif berkaitan dengan kualitas yang melekat pada objek, sementara kutub subjektif berhubungan dengan apresiasi subjek yang sepadan dengan kualitas objek. Hak berhubungan dengan mutu dan martabat objek tertentu, sementara penghargaan terhadap hak adalah sikap yang patut diberikan subjek ketika berhadapan dengan kualitas itu.
Dalam konteks pelanggaran HAM terhadap masyarakat adat nusantara hendaknya dapat disadari bahwa keadaan faktual dari masyarakat adat nusantara memerlukan bantuan dan perlindungan untuk memperjuangkan hak-hak yang selama ini dilanggar. Kesadaran yang tumbuh sekarang di kalangan masyarakat adat nusantara jangan dilihat sebagai suatu gerakan yang mengancam integritas bangsa Indonesia. Lebih dalam gerakan tersebut hendaknya dilihat sebagai upaya warga negara (sendiri) untuk mendapatkan hak-hak yang memang menjadi miliknya.
Sebagai kelompok yang telah lama mengalami penindasan oleh penguasa masyarakat adat sudah selayaknya mendapatkan kembali keberhakannya atas hak-hak mereka yang berbeda dengan kelompok lainnya. Perlindungan dan perlakuan yang lebih sangat perlu diadakan demi pemenuhan hak-hak mereka. Hal ini perlu menarik perhatian pihak Pemerintah dan setiap kalangan bekerja sama menentukannya.
Para pendiri negara-bangsa Indonesia sudah sejak semula menyadari bahwa Indonesia adalah sebuah negara yang majemuk. Semboyan ”Bhinneka Tunggal Ika” menunjukkan penghormatan filosofis bangsa Indonesia atas kemajemukan atau keragaman yang dimilikinya. Oleh karena itu, mendasarkan pada kenyataan tersebut perlu menjadi pemikiran utama untuk mengembangkan pandangan multikultur untuk memahami keragaman masyarakat adat nusantara di Indonesia. Multikulturisme merupakan ”ideologi” dari sebuah masyarakat multikultur , yaitu masyarakat yang tersusun oleh keragaman etnik karena dukungan keragaman etnik atau kebudayaan dalam arti luas. Sejak awal, ideologi multikulturalisme itu diartikan sebagai suatu bentuk respek yang bersifat mutual dari satu etnik kepada etnik lain, misalnya memberikan keleluasan agar etnik lain dapat mengekspresikan budaya etniknya, dan ekspresi tersebut merupakan salah satu kontribusi penting bagi pengembangan budaya suatu bangsa.
Pentingnya mencermati pandangan dari Thomas Jefferson tentang mayoritas antara lain diungkapkan gagasan mayoritas dalam kekuasaan harus diimbangi kemungkinan membiarkan kaum minoritas untuk turut serta menjalankan kekuasaan melalui partisipasi mereka dalam pengambilan keputusan. Hal ini wajar karena mereka juga bagian dari dari bangsa. Dengan kata lain, kekuasaan negara di suatu negara yang situasinya mayoritas dan minoritas akan berbeda secara ekstrim, dan karena itu untuk mengatasinya dibutuhkan proses akomodasi yang dituangkan ke dalam berbagai peraturan dan perundang-undangan yang diharapkan dapat menjamin hak-hak kaum minoritas.
Kesadaran itu dikaitkan dengan pandangan dari Jack Donnely tentang pelaksanaan HAM pada suatu pemerintahan bahwa seperangkat hak asasi manusia dapat dilihat sebagai suatu patokan mengenai legitimasi politik. Deklarasi Universal Hak-Hak Asasi Manusia misalnya, tampil sebagai ”suatu patokan pencapaian untuk semua orang dari segala bangsa”. Sejauh pemerintah-pemerintah melindungi hak-hak asasi manusia, maka mereka (pemerintah-pemerintah) itu legitim.
Kerumitan persoalan dalam bidang hukum yang berkaitan dengan masyarakat, seperti yang kita rasakan sekarang, dapat dijelaskan melalui adanya gejala pluralisme hukum dalam masyarakat. Penghormatan dan perlindungan terhadap masyarakat adat yang majemuk menuntut pembentukan hukum plural secara konkrit dan kontekstual bagi upaya mewujudkan masyarakat Indonesia yang damai sejahtera secara jujur dan sebagaimana adanya.
Dalam perkembangan sosial dan politik terakhir menunjukkan terjadi pemanfaatan kondisi masyarakat adat nusantara yang ditangkap oleh ADB bahwa “many cases show how the local elite dominate the existing system anda manipulate the community identity for their own interest”. Lagi-lagi masih terdapat pihak yang memanfaatkan kondisi yang kurang menguntungkan bagi masyarakat adat nusantara dalam perjuangan hak-haknya. Hal seperti ini pula yang menghambat terlaksananya pengakuan dan pemulihan hak-hak masyarakat adat nusantara di Indonesia.
Yash Ghai dalam artikelnya Human Rights and Governance: The Asia Debate mengidentifikasi dalam konteks pemerintahan di Asia pada umumnya melakukan penghancuran atas banyak komunitas (termasuk di antaranya masyarakat adat – penulis) atas nama pembangunan ataupun stabilitas negara. Hal ini menggambarkan lemahnya posisi masyarakat adat, bahkan itu terjadi di tingkat internasional, ketika harus berhadapan vis-à-vis dengan pemerintah yang berkuasa. Walaupun belum terdapat pemahaman yang seragam atas konsep masyarakat adat nusantara namun keberadaannya tidak dapat diabaikan. Kelemahan yang terutama adalah tidak adanya data yang akurat terhadap keberadaan masyarakat adat nusantara menjadi suatu kesulitan tersendiri.
Pada hakekatnya penghormatan hak asasi manusia merupakan cakupan nilai moral, bukan hanya menjadi produk-produk hukum legal yang mengikat. Pemahaman serupa ini perlu dikemukakan seluas mungkin kepada publik dan masyarakat luas, dan menjadi perhatian dan kepedulian semua pihak secara konsisten.
Perlakuan dan penempatan masyarakat adat secara proposional dalam tatanan kehidupan bernegara secara bermartabat merupakan langkah strategis dalam pembangunan bangsa Indonesia yang utuh. Hal ini juga berarti menghindari terjadinya pelanggaran HAM horisontal dan vertikal, terutama terkait dengan masyarakat adat. Reformasi yang kini sedang bergulir tidak akan pernah mencapai tatanan politik yang menghormati hak asasi manusia dan demokrasi apabila eksistensi dan aspirasi masyarakat adat tidak terakomodasikan di dalamnya. Upaya ”penyeragaman” yang dilakukan selama ini oleh regim pemerintah merupakan hal yang bertentangan secara alamiah dan menjadi bentuk pelanggaran hak asasi manusia, atas nama individu maupun kelompok.
Pengurasan kekayaan alam dan sumber daya ekonomi yang ”seharusnya” dimiliki oleh masyarakat adat nusantara merupakan kesalahan yang harus segera diperbaiki, dan jangan dilakukan lagi. Kemiskinan yang tampak pada kebanyakan masyarakat adat nusantara merupakan resultante dari ”kebijakan negara”, atau lebih tegas regim pemerintah, yang mengingkari keberagaman budaya dari masyarakat adat nusantara. Upaya penyeragaman struktur dan kultur yang secara nyata merupakan realitas masyarakat Indonesia sekaligus menjadi bagian dari akar masalah potensi konflik, baik yang ”berada di bawah sekam” ataupun telah ”meledak” mencari bentuknya. Celakanya, regim pemerintah saat ini pun tidak juga mau belajar dari kejadian yang telah maupun sedang berlangsung.
Memahami Indonesia dalam konteks multikultur merupakan upaya konkrit melihat Indonesia masa depan. Perlu gerakan politik luas yang mengedepankan pandangan Indonesia secara multikultur, yang mengurangi munculnya prasangka-prasangka atas masyarakat adat nusantara, tanpa mengorbankan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Perbedaan adalah suatu kewajaran dalam kehidupan kebangsaan yang dinamis, sepertinya Bangsa Indonesia masih terus bergerak mencari ”bentuk” bangsa yang lebih nyaman, dan sejahtera.
C. Masyarakat Adat dalam Wacana Nasional dan berbagai konflik yang terjadi
Telah menjadi kesepakatan bersama di era reformasi yang tertuang dalam paradigma baru Departemen Kehutanan dan Perkebunan dimana UU Pokok Kehutanan No 5 tahun 1967 dipandang sudah tidak cocok lagi dimasa sekarang, sehingga perlu direvisi dengan memberikan peluang yang lebih luas kepada masyarakat untuk terlibat dalam pengelolaan hutan. Dengan di revisinya UUPK No 5 tahun 1967 dengan UUK Nomor 41 tahun 1999 maka akan ada perubahan PP dan SK sesuai dengan komiment yang telah tertuang dalam UUK baru tersebut. Dari wacana yang ada terlihat akan ada PP tersendiri yang mengatur tentang Pengelolaan Hutan Adat, tetapi sampai makalah ini ditulis PP tersebut tak kunjung terbit.
Dalam Kongres Masyarakat Adat Nusantara di Jakarta tanggal 15-16 Maret 1999, masyarakat hukum adat se Indonesia menuntut adanya pengakuan terhadap kawasan masyarakat adat dan keinginan membangun konsep-konsep dan pemikiran yang mandiri dalam pengelolaan hutan.
Pada lokakarya Keberadaan Hutan Adat oleh Komite Reformasi Kehutanan dan Perkebunan di Jakarta tanggal 25 Maret 1999 disimpulkan perlu adanya bentuk pengakuan terhadap keberadaan hutan adat dan hak pengelolaannya oleh masyarakat hukum adat dalam peraturan perundang-undangan kehutanan.
Roundtable Discussion tentang Pemulihan Ha-hak Masyarakat Adat diselenggarakan oleh Komnas HAM dan ELSAM di Jakarta tanggal 24 Maret 1999 sepakat bahwa kepentingan masyarakat adat harus diakomodasi dalam rumusan Undang Undang, Peraturan dan pelaksanaannya.
Berikut ini beberapa contoh kasus konflik didalam kawasan hutan pada fungsi hutan dan areal yang berbeda-beda antara lain;
1. Konflik Masyarakat Adat Moronene, Sulawesi Tenggara dengan Pengelola Taman Nasional Rawa Opa Watumohai pada Kawasan Konservasi (Bediona dkk,1999)
Dalam Sejarah Sulawesi Tenggara, Masyarakat Adat Moronene merupakan suku asli tertua yang mendiami daratan Sulawesi Tenggara, disamping orang Tolaki dan Mekongga. lihat pula konflik-konflik masyarakat adat yang terjadi pada Kawasan Konservasi lain misal tulisan Giay, 1999 draft III, konflik Masyarakat Adat Depapre pada Kawasan Cagar Alam Cyclops, Irian Jaya; WWF-1998 konflik Masyarakat Adat Dayak Kenyah di Sungai Bahau pada Taman Nasional Kayan Mentarang, Kalimantan Timur, 1998; Jaelani, 1999 draft III, Konflik Masyarakat Adat Siberut pada Taman Nasional Siberut, Sumatera Barat; DTE No 36 Feb 1998 & KOMPAS 1999 Konflik Masyarakat Adat Katu pada Taman Nasional Lore Lindu, Sulawesi Tengah ditengahi dengan Surat Keputusan Kepala Taman Nasional dengan mengakui bahwa Masyarakat Adat Katu merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari Taman Nasional Lore Lindu dan membolehkan Masyarakat Adat Katu tetap tinggal dan memanfaatkan sumber daya hutan yanga ada di dalam Taman Nasional pada wilayah adatnya seluas 1178 ha.
Masyarakat adat Moronene menyebar di 6 kecamatan. Masyarakat Adat Moronene di Kecamatan Rumbia yang terbagi atas 11 tobu (wilayah adat). Kepemimpinan lembaga adat dikenal dengan sebutan Mokole. Mereka telah mengelola wilayah leluhurnya di HukaEka,Lampopala dan sekitarnya sejak tahun 1920-an. Selain perkampungan lahan digunakan untukkebun, lahan pengembalaan kerbau dan kuda, kebun jati, tambak bersama pada muara-muara sungai, kuburan dan lain-lain. Pada tahun 1952, 1953 serta tahun 1960 mereka terpaksa mengungsi meninggalkan tanah leluhurnya karena ganguan keamanan oleh gerombolan dan kini mereka tinggal berpencar pada kampung-kampung sekitarnya setelah beberapa kali dikumpulkan dan dipindahkan.
Akses masyarakat adat tersebut atas kebun dan usaha tani serta padang pengembalaan telah mulai dibatasi dengan ditetapkanya sebagai Taman Buru pada tahun 1972. Pada tahun 1980 wilayah tersebut menjadi calon Taman Nasional dan pada tahun 1990 ditunjuk sebagai Taman Nasional Rawa Opa Watumohai. Proses pengambil-alihan lahan di dalam kawasan hutan tersebut berlangsung tanpa melalui proses musyawarah.
Perjuangan masyarakat untuk mendapatkan pengakuan atas hak-hak adatnya dilakuakn sejak tahun 1987 dengan menulis surat secara berulang-ulang kepada Wakil Presiden RI serta Pimpro TN. Kesepakatan lisan dengan Tim Gabungan Pemda TK II yang diketuai oleh KakanSospol tgl 16 Desember 1997 disepakati, bahwa masyarakat tetap tinggal dikampungnya dan memanfaatkan hasil kebun dan hutan sebagaimana biasanya sambil menunggu pembicaraan dengan pimpinan.
Usaha-usaha negosiasi damai yang diprakarsai oleh masyarakat adat dalam mempertahankan hak adatnya dijawab dengan intimidasi, pengusiran, penyerbuan, penangkapan disertai tembakan beruntun dan pembakaran kampung serta kebun mereka di HukaEna dan Lampopala secara berulang-ulang (30 Maret 1998 dan 23 Oktober 1998) 12 hari setelah kesepakatan lisan tersebut dilakukan. Penahanan terhadap 12 masyarakat adat dilakukan tanpa penjelasan tentang status dan alasan penahannya dan tanpa proses hukum yang jelas. Penahan tidak dikuti dengan proses penyidikan yang jelas sampai berminggu-minggu. Ke 12 tahanan telah mendekam berbulan- bulan di dalam tahan Polres Buton sampai dengan persidangan 27 April 1999, masih berstatus tahanan, terpisah jauh dari keluarga dan kerabatnya yang tinggal terpencar dalam suasana ketakutan dan tidak menentu di Taman Nasional Rawa Opa Watumohai. Konflik ini bagi
Masyarakat Adat Moronene semakin memperparah keadaan ekonominya dan juga mengembalikan trauma yang telah mereka alami secara berulang ulang pada tahun 1952,1953,1960,1998. Kasus ini merupakan salah satu contoh kasus tentang bagaimana cara pandang birokrasi pemerintah terhadap masyarakat adat yang tinggal di dalam dan sekitar hutan berkenaan dengan pengelolaan kawasan konservasi, dan menunjukkan bahwa masyarakat adat masih dilihat sebagi ancaman terhadap kelestarian kawasan dan ditindak seakan akan mereka bukan sesama manusia.
2.Konflik Masyarakat Adat Dayak Simpang, Kalimantan Barat pada Hutan Produksi Terbatas (Kanyan 1999 )
Disadur dari Laudjeng & Ramlah 1999 draft III, pada konflik Masyarakat Adat Pakava di Sulawesi Tengah dengan HPH di Kawasan Hutan Produksi; Dalip & Priyana , 1999 konflik masyarakat adat Benung dengan HPH PT.TD ;Kalimantan Review no 34 thn VII/Juni 1998 hal 37 & no 43, Maret 1999 hal 13 tentang Konflik Masyarakat Adat Beginci, dengan HPH PT. AK, Kab. Ketapang, Kalbar dimana konflik tidak hanya diatas peta tetapi sudah berupa konflik nyata dilapangan dengan ditebangnya 2900 pohon tengkawang, 9 pohon madu dan 30 pohon damar dari kebun Masyarakat Adat yang berakibat tuntutan masyarakat adat semakin kuat untuk mengusir HPH. Patay & Nari 1993 konflik Masyarakat Adat Wooi dan Mee dengan HPH PT.PY dan konflik Masyarakat Adat Oyehe dengan HPH PTYU di Kab. Nabire, Irian Jaya; Tempo 6 Juni 1999 Tuntutan Masyarakat Adat Mentawai dengan HPH PT. MPL di tolak oleh PN Padang November 1998 sehingga konfik tidak terselesaikan sampai saat ini, berikut deskripsi kasusnya:
Masyarakat Adat Simpang yang kini bermukim diwilayah Desa Semandang Kiri, Kecamatan Simpang Hulu Kabupaten Ketapang, Kalbar diperkirakan mengelola hutan sejak abad ke 16-17. Tempat tinggal mereka tersebar dalam beberapa kampung yang dikenal wilayahnya sebagai umang desa sembilan domong sapuluh atau disebut juga Kawasan Adat Banua Simpang atau Tonah Simpang Sakayok. Batas antar Banua dikenal dengan nama Sapat Banua atau kesepakatan batas benua yang dihormati sebagai batas wilayah kewenangan adat masing-masing Banua. Kelembagaan adatnya di dalam Banua terdiri dari seorang Patinggi, beberapa orang Pateh dan Tamogong untuk tiap-tiap kampung.
Pola pengelolaan sumber daya hutan telah dilakukan secara turun temurun dengan menggolongkan pola-pola penggunaan lahan sebagai berikut: Rima makong utatn torutn sebagai hutan cadangan, Bawas belukar Lako uma, sebagai tanah pertanian, Kampong Temawang Buah Janah, sebagai kebun buah dan kayu-kayuan, Tonah Colap Torutn Pusaka, sebagai wilayah keramat, Kampokng Loboh sebagai wilayah pemukiman dan Are Sunge sebagai wilayah sungai untuk tambak dan tempat menjala. Selain wilayah adat, kelembagan adat serta pola pengelolaan sumber daya hutan tersebut, masyarakat adat ini terikat atas suatu hubungan kekerabatan dan adat istiadat yang sama. Konflik Masyarakt Adat Simpang ini berbentuk tumpang tindih peruntukan lahan dan pemberian ijin usaha bagi perusahaan atas wilayah adatnya. Berdasarkan pemetaan partisipatif yang dilakukan terlihat bahwa wilayah masyarakat adat tersebut terdiri atas 8.894 ha hutan cadangan, 2.848 ha tanah pertanian, 11.200 ha kebun campuran dan 81 ha wilyah pemukiman (total 23.023 Ha), setengah dari lahan itu menurut RTRWP-Kalbar 2008 menjadi Kawasan Budidaya non Kehutanan sedangkan sebagian lagi menjadi Kawasan Budidaya Kehutanan (HPT pada TGHK 1982). Lebih dari itu, wilayah tersebut telah dikeluarkan Surat Keputusan Menteri Kehutanan pada tahun 1997 diberikan bagi beberapa Perusahaan Kehutanan (HPH PT Inhutani II, HPHTI TTJ, PT GDB) dan Perkebunan (P PMK, BSP II, dan PT KOI). Sehingga tidak ada lagi kepastian serta jaminan bagi Masyarakat Adat atas hak- hak adatnya (wewenang atas wilayah, kelembagaan serta pola pengelolaan sumber daya alam) yang telah dilakukan secara turun temurun.
Terlihat kurang adanya visi perlindungan dan pemajuan bagi masyarakat adat dalam perencanaan hutan yang seharusnya melibatkan masyarakat dalam tahap awal perencanan wilayah secara umum dan perencanaan hutan khususnya.Konflik yang menuju pada tindak kekerasan dapat setiap saat terjadi pada wilayah tersebut dan menciptakan kerawanan.
3. Konflik Masyarakat Adat Dayak Benuaq, Kalimantan Timur dengan HPHTI di Kawasan Hutan Produksi (KalimantanReview 1998)
Masyarakat Adat Dayak Bentian di Kalimantan Timur dikenal akan keahliaannya membudidayakan rotan. Rotan yang ditanam, pada lahan pertaniannya merupakan bagian dari usaha pertanian gilir balik. Usaha ini dikenal dalam bidang agroforestry sebagai usaha mempercepat waktu bera dengan introduksi tumbuhan pionir bermanfaat menuju bentuk agroforest (improve fallow management). Pola-pola ini banyak dikenal masyarakat adat di Asia yang melakukan pertanian gilir balik. Pola ini telah dilakukan oleh Masyarakt Adat Dayak Bentian keturunan Jato Rampangan di Wilayah Adatnya sejak tahun 1813 yang . lihat juga Roem Topatimasang dalam Ton Dietz, 1998 tentang konflik Masyarakat Adat Yamdena dengan perusahaan HTI PT. In I, PT. MA dan PT. ANS di Maluku; Meyer 1997, konflik Masyarakat Adat Dayak Jangkang, dengan HPHTI PT. InFT di Kab. Sanggau, Kalbar. Lihat pula Manurung T,draft 1998 tentang konflik Masyarakat Adat Kenyah dengan HPHTI PT. LG di Kalimanan Timur dimana konflik yang berlarut-larut menyulut masyarakat menggunakan api sebagai alat; Schwiethelm 1998 menunjukan juga bahwa api digunakan oleh pihak perusahaan untuk menghilangkan bukti kepemilikan kebun-kebun masyarakat adat.; Tempo 6 Juni 1999 konflik Masyarakat Adat Sungaibaung dengan HPHTI PT. MHP usaha penyelesaian konflik dengan ganti rugi berupa kebun karet tidak ditepati PT. MHP. dipimpin oleh Kepala Adatnya, dimana saat ini dijabat oleh Bpk. Loir Botor Dingit Konflik ini bermula dengan diberikannya hak pengusahaan HTI kepada PT. MH yang merupakan perusahan HTI Patungan atara PT. Inh I dgn PT. TD. Perusahaan ini melakukan land clearing pada lahan pertanian masyarakat adat serta tidak mengakui perbuatanya sebagai suatu perbuatan melawan hukum yang menimbulkan kerugian besar dipihak masyarakat. Tanah pertanian tersebut dibuka untuk digunakan sebagai lahan tempat pembibitan, bangunan camp, lahan HTI serta HTI-Trans.
Keberatan masyarakat dituangkan dalam surat pernyataan antara lain; a. Pengembalian tanah adat, b. Pembayaran denda atas kerusakan tanam tumbuh serta kuburan c. HTI-Trans harus dipindahkan d. Tidak digangu lagi tanah adatnya. Keberatan masyarakat tidak dijawab oleh pihak perusahaan maupun pihak Dephut bahkan pada tanggal 28 September 1994, Gubernur Kaltim mengajukan tuntutan pidana kepada masyarakat adat atas nama Kepala Adatnya atas tuduhan pemalsuan tanda tangan. Tampak bahwa akar permasalahan konflik tidak diselesaikan bahkan pihak pemerintah daerah mempertajam konflik dengan gugatan pidana pemalsuan tanda-tangan oleh kepada adat untuk melumpuhkan tuntutan masyarakat adat. Pada akhir tahun 1998, pengadilan tidak dapat membuktikan kasus pemalsuan tandatangan dan membebaskan kepala adat dari tuntutan pidana.
4. Konflik Masyarakat Adat Peminggir, Lampung atas pengelolaan Hutan Lindung (Kusworo dalam BSP, 1999)
Sejak sekitar seabad yang lalu masyarakat adat Peminggir atau Pesisir Krui membangun Repong Damar. Dimulai dari pembukaan hutan, berladang (padi dan sayuran), berkebun (kopi, lada), yang kemudian membentuk agroforest (kebun-hutan) yang didominasi oleh pohon damar (Shorea javanica) selain buah, kayu dan tumbuhan bermanfat lainnya.
Keseluruhan repong Damar di Pesisir Krui mencapai 50-an ribu hektar. Wilayah masyarakat adat peminggir berbatasan dengan Samudra Hindia di sebelah Barat dan Taman Nasioanl Bukit Barisan Selatan di sebelah Timur (dulu Cagar Alam Ratu Wilhemina). Pada zaman Belanda tanah adat diakui sebagai tanah marga dari 16 Marga yang memiliki wewenang di sana. Batas Bochwessen (BW, Kawasan hutan) dan tanah Marga dihormati oleh pihak Pemerintah Belanda maupun Masyarakat sekitarnya.
Pada tahun 1991 Menteri Kehutanan menunjuk TGHK Propinsi Lampung dimana sebagian dari tanah marga tersebut menjadi kawasan hutan yang terdiri dengan fungsi Produksi Terbatas dan Lindung. Selanjutnya memberikan hak pengusahaan hutan kepada HPH PT BL dan kemudian dialihkan kepada PT Inh V. Perubahan status tanah marga tersebut baru diketahui masyarakat pada tahun 1994 pada saat penataan batas mulai dilakukan. Sejak itu masyarakat adat di Pesisir Selatan mulai dilarang melakukan pengelolaan repong damar didalam wilayah yang diklaim sebagai kawasan hutan negara. Penolakan masyarakat adat terhadap status kawasan hutan negara dilakukan melalui penolakan wilayahnya dimasuki petugas penataan batas, surat petisi dan delegasi yang dikirim ke Pemerintah Daerah serta Dephut. Jawaban pemerintah atas surat dan petisi masyarakat adat adalah dengan menerbitkan SK Menhut no 47 /Kpts-II/1998 yang menunjuk 29.000 ha repong di dalam kawasan hutan negara sebagai kawasan dengan tujuan istimewa (KDTI), SK ini memberikan hak pengusahaan kawasan hutan negara yang terdiri atas HPT dan HL kepada masyarakat adat.
Bentuk yang diharapkan masyarakat adat adalah bukan pemberian hak pengusahaan repong damar yang dapat dicabut sewaktu waktu dan masih kuatnya intervensi pengaturan oleh Dephutbun tetapi suatu bentuk hak atas dasar pengakuan keberadaan masyarakat adat, wilayah adatnya serta pola pengelolaanya kebun damarnya sebagai usaha pertanian.
Masyarakat Adat Krui tengah mempersiapkan pendekatan litigasi untuk mendapatkan kembali hak kepemilikan tanahnya atas usaha tani kebun damarnya. Walaupun pemberian hak pengusahaan belum memenuhi harapan masyarakat adat Krui akan tetapi SK ini menunjukan pengakuan atas pola pengelolan sumber daya hutan oleh masyarakat adat dalam bentuk aslinya (Repong Damar) dan jaminan bahwa pola tersebut dapat dilanjutkan.
5. Konflik Masyarakat Adat Bunaken, Sulawesi Utara atas pengelolaan Taman Laut Bunaken (Lumintang, 1999)
Sejak tahun 1827 pulau Bunaken dan sekitarnya telah didiami oleh Masyarakat Adat Sangihe Talaud dan Bantik. Masyarakat tersebut mengusahakan kebun kelapa di daratan dan berusaha sebagai nelayan di wilayah adat lautnya. Agak berbeda dengan wilayah lain di Indonesia, Sulawesi Utara memiliki riwayat lahan yang itu terdokumentasikan secara baik sejak zaman Belanda dulu, misalnya; nama keluarga pertama yang menetap di P. Bunaken lihat juga Sitaniapessy, 1999 draft III, tentang hak Petuanan di Pulau Nusa Laut yang mencakup wilayah daratan dan laut; Roem Topatimasang dalam Ton Dietz 1998 tentang hak Petuanan dan sistem kelembagan adat mengelola daratan dan laut pada Masyarakat Adat Maur Ohoiwut di Pulau Kei Besar; Palijama, 1999 draft III tentang kelembagaan adat dalam pengelolaan dan penguasaan sumber daya hutan dan laut di pada masyarakat adat di Pulau Haruku; Husbani, 1999 draft III tentang konflik penataan ruang laut dimana kewenangannya ada pada sebagaian masyarakat adat, Dephutbun untuk wilayah Taman Laut, Departemen Pertanian untuk pengaturan Penangkapan Ikan, TNI-AL untuk kemanan laut dsb.
Pada tahun 1827 (Pamela, Kawangke, Pasinaung dan Manelung), kemudian disusul keluarga Andraes Uring dan Yacobus Carolus (thn 1840), kemudian dijual kepada keluarga Paulus Rahasia, Matheus Pontoh dan Animala Paransa. Dengan keluarnya SK Menteri Kehutanan no 328/Kpts-II/1986 tentang Taman Laut Bunaken, maka ikatan antara daratan dan laut dalam aktifitas masyarakat adat di pulau tersebut terpotong-potong. Wilayah laut yang masuk dalam Kawasan Taman Laut dibagi-bagi dalam zonasi yang berbeda-beda sesuai dengan keanekaragaman hayati misal komunitas terubu karang dan padang lamun. Sedangkan wilayah daratanya dibagi atas kawasan hutan asli dan kawasan pertanian dan perkampungan. Sedangkan pada kenyataanya wilayah daratan di pulau Bunaken, tanahnya sudah menjadi objek jual beli sejak lama dan merupakan tanah milik yang telah tercatat dalam register desa. Terjadi konflik atas kewenangan pemilik dan pemerintah sebagai pengelola TL Bunaken. Konflik ini menunjukan bawa pemahaman Pemerintah akan riwayat lahan sangat terbatas dan kurangnya pengakuan dan penghargaan Pemerintah atas kepemilikan pribadi (private property) sehingga kepemilikan pribadi dapat diambil alih oleh negara (penasionalan) tanpa ada kesempatan yang cukup untuk bernegosiasi.
6. Konflik Masyarakat Adat Dayak Benuaq, dengan usaha Perkebunan Kelapa Sawit PT LSI di Kabupaten Kutai, Kalimantan Timur (SKUMA 1999) Lihat juga Sumarlan 1997, konflik Masyarakat Adat Dayak Krio dengan PIR di Kab. Ketapang Kalimantan Barat; WWF-WARSI 1999, konflik Masyarakat Adat dari kampung Alim, Sipang, Anak Talang, Cinaku Kecil, Pangkalan Kasai, Puntianai, Aur Cina, Kuala Kilan, Pejangki dan Belangki di sepanjang sungai Cinaku dengan Perusahan Perkebunan PT.SML dan PT.AS.
Masyarakat Adat Dayak Benuaq di Kecamatan Jempang dan Muara Pahu Kab. Kutai Kalimantan Timur, terkenal akan budidaya tumbuhan doyo yang menjadi bahan dasar pembuatan ulap doyo, tenunan khas Benuaq. Selain budidaya doyo Masyarakat Adat Dayak Benuaq juga melakukan budidaya tanaman pangan serta mengumpulkan hasil hutan dari hutan-hutan disekitarnya dalam wilayah adatnya. Masyarakat Adat Benuaq ini masih memegang teguh aturan aturan adatnya berkenaan dengan kegiatan pertanian maupun usaha hasil hutannya. Keberadaan Masyarakat Adat Benauq yang tegabung dalam Masyarakat Adat Dayak Tonyqoi Benuaq diakui juga oleh Masyarakat Adat disekitarnya. Kerajaan Kutai Kartanegara secara tertulis diabad ke XVII dalam Undang-Undang Panji Selaten mencantumkan pengakuan terhadap masyarakat-masyarakat adat dayak disekitarnya (Abdurahman & Wentzel 1997).
Pada tahun 1996 Perkebunan Kelapa Sawit LS Group (yang terdiri dari PT. LSInt, PT. LSInd dan PT.GM) mengklaim tanah adat masyarakat Benuaq seluas 16.500 Ha sebagai wilayah kerjanya. Selain dari pada itu perusahan itu juga melakukan land clearing pada kebun-kebun serta kuburan leluhur masyarakat adat dari 9 kampung (Perigiq, Muara Tae, Muara Nayan, Pentat, Lembunah, Tebisaq, Gunung Bayan, Belusuh dan Tanah Mae). Permintaan dialog dari masyarakat adat ditolak oleh pihak perusahaan, bahkan teror dan intimidasi dari aparat sipil dan militer. Secara perijinan perusahaan ini tidak memiliki HGU, bakan kawasan tersebut tidak memiliki izin pelepasan kawasan dari BPN maupun dari Dephutbun. Perusahan ini hanya memiliki surat rekomendasi Gubernur Kaltim tentang kelayakan wilayah untuk perkebunan. Janji Gubernur pada tanggal 4 Mei 1999 untuk membantu menyelesaikan kasus ini melalui dialog dijawab dengan penyerbuan, penculikan dan penahanan terhadap 8 tokoh masyarakat adat oleh aparat Brimob disertai 6 orang aparat berpakaian preman bersenjatakan mandau pada saat masyarakat adat sedang melakukan upacara adat Nalitn Tautn (bersih kampung atas kerusakan lingkungan yang disebabkan oleh Perusahaan Kelapa Sawit) tanggal 7 Mei 1999. Selain penangkapan tersebut tersebut seluruh perlengkapan upacara diporak porandakan.
Selain keberpihakan Pemerintah beserta aparat Kepolisian terhadap pengusaha perkebunan, Tindakan aparat memporakporandakan suatu upacara adat yang bersifat ritual tersebut merupakan salah satu bentuk pelanggaran terhadap terhadap hak-hak budaya dan pelecehan atas keberadaan masyarakat adat.
Contoh konflik-konflik diatas merupakan contoh-contoh kasus yang lazim ditemui di mana saja pada kawasan hutan. Laporan akan adanya konflik kewenangan dengan Masyarakat Adat (Masyarakat Hukum Adat) dilaporkan juga oleh setiap Kakanwil dalam Rakorreg pada bulan April 1999 dari tiap Regional di Indonesia. Dari kacamata pengelolaan sumber daya alam dapat dibagi menjadi 3 (tiga) materi konflik yang perlu lebih dalam dikaji):
a. Konflik kewenangan atas ruang (Sangaji 1999; Cahyat 1999; Dientz 1998; Pilliang 1999) Selama beberapa dekade ini telah terjadi perampasan kawasan atau perampasan territori (territory violence) terhadap masyarakat adat yang dilakukan atas nama undang- undang, peraturan dan kebijakan sehingga menciptakan kelompok yang diuntungkan (the winners) dan kelompok yang di pinggirkan (the loosers). Bentuk penguasaan kembali territory oleh kelompok masyarakat adalah bentuk pelampiasan dari proses peminggiran yang terjadi. Akan tetapi dalam menata ulang wilayah tersebut haruslah jeli melihat apakah masyarakat ini adalah;
1. masyarakat adat yang memiliki ikatan atas wilayah adat sebagai tanah leluhur (ancestral domain of the first nation) dan juga secara fisik menempati dan menggunakannya.
2. masyarakat adat yang memiliki ikatan atas wilayah adat sebagai tanah leluluhurnya tetapi tidak menempati dan secara fisik tidak mengunakannya karena suatu kesukarelaan atau paksaan dimana harus diperlakukan secara berbeda pula.
3. Masyarakat heterogen (campuran antara masyarakat adat dan pendatang) dimana wilayah kampungnya/desanya dinyatakan oleh pemerintah secara sepihak sebagi kawasan hutan. Sehingga akses masyarakat atas sebagian atau seluruh wilayah kampungnya menjadi hilang atau terhambat.
4. Merupakan klaim masyarakat pendatang yang mempunyai kekuatan hukum kepemilikan tanah atas wilayah tersebut misalnya transmigran program pemerintah yang hak milik atas tanahnya pada kemudian hari diketahui bahwa tanah tersebut merupakan kawasan hutan yang tidak dapat dimiliki atau hak kepemilikannya dicabut lihat Kusworo A. 2000 kasus Transmigran program BRN tahun 1951 di Sumber Jaya, Lampung yang kampungnya dilikuidasi karena belakang hari diketahui lahan tersebut merupakan hutan lindung Register 45B, 34, 32 dan 39 yang telah menjadi kawasan hutan pada tahun 1935. hal 23
5. Masyarakat pendatang lainnya yang telah datang ke tempat tersebut dan berminat untuk ikut mengelola hutan.
6. Masyarakat pendatang yang berencana dan berkeinginan mengelola hutan dan besar kemungkinannya konflik model butir 5 dan 6 ini salah satunya dapat diselesaikan melalui program Hutan Kemasyarakatanh (HKM)
b. Konflik atas keberadaan masyarakat adat, kelembagaan dan kewenangannya (Anyang 1998; Safitri 1999; Maelissa 1999). Masyarakat Adat sebagai suatu kesatuan masyarakat yang otohton, memiliki sistem pengaturan yang tumbuh dan berkembang dari masyarakat itu sendiri dengan kesepakatan masyarakat sekitarnya. Masyarakat adat tersebut memiliki tata hukum serta nilai sendiri yang berlaku didalam batas wilayah adatnya sehingga dikatakan otonom. Intervensi yang berlebihan dari pihak luar (pemerintah) dapat merusak bentuk pengaturan tentang kewenangan dari masyarakat adat yang telah berjalan dan berakibat runtuhnya sistem dan pola pengelolaan yang dimiliki. Ini sering terjadi dengan penetapan-penetapan pemerintah yang melakukan intervensi terlalu jauh terhadap suatu sistem yang sudah cukup mandiri. Sehingga penilaian keberadaan masyarakat adat oleh pihak luar yang tidak mengerti tentang bentuk pengaturan yang ada dikawatirkan menggangu tatanan yang telah terbentuk sekian lama. Contohnya nyata adalah bentuk pemaksaan LKMD sebagai satu-satunya organisasi didalam Desa di seluruh Indonesia yang tidak memberikan tempat yang nyata kepada bentuk kelembagaan adat.
c. Konflik atas pola pengelolaan sumber daya alam (SHK 1998 dan Miden 1995) Konflik atas pola pengelolaan yang ada pada masyarakat adat sering terjadi dengan memisahkan suatu pola pengelolaan dari sistemnya. Contoh pola pengelolaan yang jelas adalah perladangan gilir balik yang hanya melihat ladang yang sedang dikerjakan saja tanpa melihat lahan beranya, dan pola-pola lain didalam sistem pengelolaan sumber daya alam. Perladangan gilir balik harus dapat dilihat sebagai suatu sistem yang menyatu dengan pola sawah yang ada di beberapa bagian kampung, hutan tutupan, kebun wanatani, sungai hutan tempat berburu bahkan tempat-tempat keramat. Miden 1995 membagi pola pengelolaan sumber daya alam di wilayah adat Binua Dayak Kanayatn (Benua Talaga, dimana beliau menjabat sebagai salah seorang Timanggong) merupakan kombinasi atas ;
1. Pola penggunaan lahan berdasarkan ketinggiannya
2. Pola penggunaan lahan berdasarkan vegetasinya
3.Pola penggunaan lahan berdasarkan penguasaanya (perorangan, keluarga, klan, kampung atau Binua).
Kasus-kasus konflik diatas dapat pula menunjukkan intensitas konflik yang berbeda pula antara konflik yang satu dengan yang lainnya antara lain, menurut penulis dapat dipetakan sebagai berikut ;
a) Konflik tersembunyi (laten) dicirikan dengan adanya tekanan-tekanan yang tidak nampak sepenuhnya berkembang dan belum terangkat ke puncak kutub-kutub konflik. Seringkali satu atau dua pihak belum menyadari adanya konflik. Konflik tersembunyi dapat terjadi dengan penunjukan status kawasan hutan negara secara sepihak tanpa melibatkan masyarakat dalam proses penetapannya, pemberian hak pengusahaan hutan/kebun pada kawasan yang belum ditetapkan sebagai kawasan hutan negara dan sebagainya.
Model ini banyak terdapat dimana-mana di Indonesia dimana masyarakat tidak menyadari bahwa status tanahnya secara sepihak ditunjuk atau bahkan telah ditetapkan sebagai kawasan hutan negara.
b) Konflik mencuat (emerging) adalah perselisihan dimana pihak-pihak yang berselisih dapat teridentifikasi. Mereka mengakui adanya perselisihan, kebanyakan permasalahannya jelas, tapi proses dan penyelesaiannya belum dikembangkan. Konflik ini biasanya dirasakan dilapangan pada saat perusahan memulai aktifitasnya dan pada saat itu masyarakat adat dan pihak yang mendapatkan hak/ijin menyadari adanya tumpang tindih kewenangan
c) Konflik terbuka (manifest) adalah konflik dimana pihak-pihak yang berselisih secara aktif terlibat dalam perselisihan yang terjadi dan mungkin sudah mulai bernegosiasi dan mungkin juga menemui jalan buntu dan memungkinkan digunakannya cara-cara kekerasan oleh kedua belah pihak (Curle 1971, CDR Associate, 1986 dalam BSP 1999).
Berdasarkan berbagai deskripsi kasus di atas memberikan pemahaman, bahwa penerapan hukum pertanahan masih mencari bentuk yang selaras dengan kearifan-kearifan lokal dan hal itu juga selaras dengan perkembangan global, maka kehadiran masyarakat adat merupakan suatu kenyataan sejarah yang tidak dapat dihindari atau bahkan di sangkal oleh Pemerintah Masyarakat adat merupakan segmen riil di dalam masyarakat Indonesia. Secara formal pengakuan atau penerimaan atau pembenaran adanya masyarakat adat di dalam struktur sejarah ketatanegaraan tersebar dalam berbagai peraturan perundang-undangan, tetapi subtansi baru mengakui dan memberikan perlindungan secara normatif, belum menjadi kebijakan negara secara masif.
Keadaan “belum mengakui, menerima atau membenarkan” ini merupakan potensi konflik bahkan ancaman disintegrasi. Terdapat pemikiran yang keliru dikalangan pemegang kekuasaan di Indonesia saat ini bahwa apa yang disebut “masyarakat adat” adalah sesuatu yang semu atau sesuatu yang sudah tidak ada, sejak Indonesia menjadi suatu organisasi negara moderen dengan nama Republik berbentuk Kesatuan. Oleh karena itu ada kecenderungan kuat untuk menghapuskannya melalui berbagai rumusan kebijakan negara melalui rumusan dalam peraturan perundan-undangan.
Dari keadaan dan rumusan tentang masyarakat adat dan masyarakat hukum adat yang dikemukakan di atas serta karakteristik dalam mengelola sumberdaya hutan, tampaknya ada bagian-bagian telah diatur dan ada bagian yang belum diatur dalam peraturan perundang-undangan dan bahkan ada peraturan yang saling tumpang tindih. Bagian yang belum diatur dapat dibuat aturan baru untuk melengkapinya, pada bagian yang sudah diatur dapat diikuti dengan mengkritisi bagaian-bagaian tersebut sedangkan pada bagian yang tumpang tindih pengaturannya perlu ditelaah mana yang lebih tepat.
D. Prinsip_Prinsip Kebijakan Terhadap Masyarakat Adat
Dibawah ini dijabarkan beberapa prinsip-prinsip yang merupakan landasan bagi kebijakan tentang hak-hak masyarakat adat :
1. Antara Tanah Negara (Public Land), Tanah Milik (Private Land) dan Hutan Negara (Public Forest), Hutan Milik (Private Forest)
Pembicaraan tentang tanah dan hutan adalah berbicara tentang dua hal yang berbeda Pengaturan hak atas hutan tidak akan berbicara tentang hak-hak kepemilikan (land-rights), tetapi berbicara tentang hak-hak untuk menggunakan hutan termasuk dalam lingkup hak penggunaannya (use-rights)
Dalam menyelesaikan masalah-masalah sumber daya hutan, perlu adanya kejelasan penetapan hak untuk mengunakan hutan, dilakukan atas dasar status penguasaan hutan, maupun berdasarkan fungsi-fungsi lindung, konservasi, produksi maupun fungsi khusus dibidang sosial budaya maupun pendidikan dan penelitian. Dalam UUK no 41 tahun 1999 Dephut diberikan mandat untuk menetapkan mana yang merupakan kawasan hutan dan manayang bukan serta juga menetapkan fungsi hutannya. Seharusnya Dephut (Sekarang Deptanhut) hanya menetapkan fungsinya bukan statusnya, untuk mencegah conflict of interest.
Sehingga sebaiknya ditetapkan adanya kawasan hutan negara (Public forest)dilakukan melalui proses pengukuhan hutan secara partisipatif sehingga penetapatn status hutan menjadi legal dan legitimate. Dengan demikian, Surat Keputusan Menteri Kehutanan no 634/Kpts-II/1996 tentang pengukuhan hutan serta SK 635/Kpts-II/1996 ttg Panitia Tata Batas perlu direvisis segera.
Surat Keputusan ini harus dipersiapkan untuk menjadi proses yang partisipatif, transparan serta bertanggung jawab. Pendatanganan Berita Acara Tata Batas (BATB) harus dilakukan oleh masyarakat pemilik lahan (masyarakat adat) yang mengakui ada tidaknya hak-hak masyarakat di dalam kawasan hutan yang ditata batas. Demikian juga untuk wilayah-wilayah didalam kawasan hutan yang telah ditata batas dapat diakomodir dengan Penyelesaian Encalve dimana dilaksanakan tidak dengan sistem scoring tetapi dilaksanakan secara partisipatif bersama-sama dengan Panitia Tata Batas. Proses ini perlu di desentralisasikan kedaerah lebih dari sekedarnya seperti yang diatur dalam PP No 62 tahun 1998.
Pola pembuktian hak atas tanah dilakukan dengan bertanggung jawab dimana ke dua belah pihak (masyarakat adat dan Deptanhut) mengeluarkan argumentasi serta bukti-bukti penguasaan lahannya sesuai dengan PP No 24 Tahun 1997 tentang pendaftaran tanah dimana pembuktian dapat berupa pembuktin tertulis, pengakuan lisan dan pembuktian fisik.
Selain BPN (yang mengenal tanah Negara dan Tanah Milik) dan Dephutbun (mengenal hutan negara dan hutan milik), Departemen Dalam Negeri mengenal tanah juga Tanah Desa , Perairan/pantai , Pemancingan serta sumber daya alam Desa. Dengan adanya Departemen saat ini (Depdgri dan Deptanhut atau bahkan mungkin lebih) yang berwenang atas penetapan status atas tanah dengan kriteria yang berbeda menimbulkan konflik status tanah, mana yang merupakan tanah negara (public land) dan mana yang bukan (private land) menurut kriteria yang berbeda pula. Dilihat dari keberadaan UUPA dan UUPK seharusnya UUPA No 5/1960 yang lahir lebih dulu harus diacu oleh UUPK No 5/1967 maupun penggantinya UUK No 41/1999 mengatur bentuk-bentuk penguasaan atas sumber-sumber agraris termasuk hutan didalamnya. Sehingga kriteria atas tanah dan kawasan hutan negara sama dan pengaturannya tidak tumpang tindih.
Dengan terbitnya Permen BPN NB No 5 Tahun 1999 tegas dan fleksibel dijelaskan bahwa Tanah Ulayat dapat didaftarkan menjadi kepemilikan adat, dapat menjadi hak milik perorangan bila ingin dimiliki secara perorangan dan dapat juga dipinjamkan kepada pemerintah untuk diberikan HGU kepada pihak lain pada jangka waktu yang disepakati.
Bentuk pengakuan tanah ulayat tidak sama dengan tanah milik perorangan yang disertifikatkan, tanah ulayat didaftarkan pada buku register tanah, sedapat mungkin dilampiri peta dan tidak dapat dipindah tangankan, tetapi tidak semua daerah di luar Jawa mengenal tanah hak ulayat, di kalimantan misalnya lebih dikenal dengan Tembawang yang bisa dimiliki oleh berbagai lapisan masyarakat, oleh karena itu regulasi negara jangan menggunakan ”jawa sentris” atau standar pulau Jawa, harus mengakomodasi luar Jawa.
Perbedaan pendapat antara BPN dan Dephutbun mengenai sistem penguasaan tanah (land tenure) salah satunya dapat diselesaikan melalui amandemen UUD dan dibuatnya suatu UU Payung yang mengatur atas penguasaan atas sumber daya alam. Tim LandReform yang dibentuk oleh Pemerintah pada tanggal 27 Mei 1999 untuk menyelaraskan Undang-Undang serta peraturan lainnya yang menyangkut pertanahan (Kepres No 48 tahun 1999) dan revisi.
UU Kehutanan saat lalu dirasa tidak efektif untuk mengoreksi mis-konsepsi terdahulu. Bentuk penyelarasan Undang-Undang dengan melibatkan publik secara luas perlu dilanjutkan dengan lebih transparan dan legible.
Dephutbun dalam mengakomodir hak-hak masyarakat hukum adat atas penguasaan hutan perlu memisahkan antara sumber daya hutan dan tanahnya. Hak penguasaan atas tanah (land tenure) adatnya diatur oleh BPN sedangkan pengelolaan sumber daya hutan (forest resource management) adatnya diatur oleh Dephutbun atau instansi lainnya yang mengatur mengenai sumber daya alam, misal Depdagri dalam mengatur Sumber Daya Alam milik Desa.
2. Antara Pemberian Hak (Granting) dan Pengakuan Hak (Recognition)
Masyarakat Adat yang bersifat Otonom memiliki hak yang bersifat Original atau sesuatu hak asli yang diciptakan sendiri sebelum ada pengaturan hak lainnya. Atau juga dikenal dalam istilah hukum a prima facie yang mengatur terlebih dahulu. Sedangkan yang diatur mencakup atas tanah dan sumber daya hutan lainnya. Sedangkan hak-hak yang biasa= dikenal dalam bidang kehutanan bersifat Derivat atau pemberian hak atas penguasaan oleh negara contohnya adalah HPH, HPHTI, HPP, HPHKM dll (Titahelu, 1997). Sehingga hak yang diterbitkan oleh pemerintah kepada masyarakat adat adalah Hak yang bersifat pengakuan.
Hak ini dikenal di BPN pada saat penerbitan Hak Milik atas tanah, jelas dikatakan disana hak tersebut didapat dari negara atau dari hak adat. Bila hak tersebut berasal dari tanah negara maka bentuk haknya adalah pemberian (granting) yang dapat ditarik kembali oleh negara sedangkan bila hak berasal dari hak adat maka bentuknya adalah pengakuan (recognition) yang tak dapat ditarik kembali oleh negara. Pengakuan dalam arti ini menegaskan suatu sifat pembenaran atau penerimaan oleh pemerintah terhadap hak-hak masyarakat adat yang a prima facie telah melekat pada masyarakat adat. Sehingga untuk mencegah konflik pertanahan dan sumber daya hutan, penerbitan hak kepada pihak lain oleh pemerintah tidak dapat dilakukan pada wilayah-wilayah masyarakat hukum adat yang mempunyai a prima facie dan diakui oleh pemerintah. Sehingga pada kawasan yang belum dapat dibuktikan pemerintah bahwa tidak ada hak-hak masyarakat adat atas tanah dan sumber daya alamnya, tidak dapat diterbitkan hak untuk pihak lain.
3. Antara Masyarakat Adat dan bukan Masyarakat Adat.
Definisi masyarakat adat yang digunakan oleh Prof. Maria Soemardjono ( Komnas HAM, 2006 : 1) yaitu: “suatu komunitas antropologis yang bersifat homogen dan secara berkelanjutan mendiami suatu wilayah tertentu, mempunyai hubungan histories dan mistis dengan sejarah masa lampau mereka, merasa dirinya dan dipandang oleh pihak luar sebagai berasal dari nenek moyang yang sama, dan mempunyai identitas dan budaya yang khas yang ingin mereka pelihara dan lestarikan untuk kurun sejarah selanjutnya, serta tidak mempunyai posisi yang dominan dalam struktur dan sistem politik yang ada”. Definisi ini cukup komprehensif untuk membantu masyarakat mendefinisikan dirinya apakah termasuk sebagai masyarakat adat atau bukan. Akan tetapi yang lebih penting adanya pembedaan antara masyarakat adat yang telah meninggalkan wilayahnya secara sukarela atau secara paksa dan masyarakat adat yang masih menguasai wilayah tersebut secara fisik.
Walaupun peraturan perundang-udangan belum mengatur ini, tetapi hal ini sangat menentukan tentang kuatnya hak sesuatu masyarakat adat atas wilayah masyarakat hukum adatnya. Pemerintah Filipina dalam pembuktian masyarakat adat secara khusus memasukan pasal tentang penguasaan wilayah secara fisik secara terus-menerus kecuali adanya pemindahan karena paksaan, penipuan, tindakan sepihak (force majoure).
Dengan terbitnya Surat Keputusan Mendagri No 3 Tahun 1997 tentang Pemberdayaan dan Pelestarian Serta Pengembangan Adat Istiadat, Kebiasaan-kebiasaan Masyarakat, dan Lembaga Adat di Daerah, dapat disimpulkan bahwa sifat lembaga adat yang dapat mewakili masyarakatnya keluar dan juga ke dalam untuk melakukan beragam kegiatan serta wewenang kelembagaan adat mengatur kekayaannya termasuk sumber daya alamnya merupakan bukti bahwa masyarakat adat diakui sebagai suatu badan hukum yang dapat melakukan perbuatan-perbuatan hukum, termasuk menerima dan diakui haknya. Sehingga masyarakat hukum adat tidak perlu membentuk Koperasi atau badan hukum atau bahkan badan usaha lainnya untuk melakukan aktifitasnya dalam pengelolaan hutan. Akan tetapi dengan kehadiran SK Mendagri yang relatif baru ini perlu dikritisi lebih lanjut oleh karena masyarakat adat dan kelembagannya baru akan diakui/dihargai kehadirannya dan perannya, sementara mekanisme yang harus ditempuh belum jelas. Peran masyarakat adat dan pengurus adat dalam Permen Agraria Nomor 5 tahun 1999 lebih diperjelas dimana kepunyaan tetap pada masyarakat adat sedangkan pengurus adat, sebagi petugas yang mendapat wewenang dari masyarakat adat untuk mengurusnya.
4. Antara Hak-Hak Masyarakat Adat atas Tanah dan sumber daya alamnya dan Hak-Hak Masyarakat Adat Lainnya
Hak-hak masyarakat adat sampai saat ini lebih banyak terpusat pada hak-hak atas tanah (land rights) dan sumber daya alamnya (resorce rights) yang terlihat akan tetapi cenderung mengabaikan hak-hak milik masyarakat adat lainnya yang tidak terlihat misalnya hak-hak kepemilikan intelektual (intelectual property right) atas temuan obat-obatan tradisional serta hak-hak masyarakat adat atas keamanan hayati yang berasal dari proses budidaya (biosafety) yang bersumber dari pengetahuan adat serta wilayah adatnya. Perlindungan dan pemajuan masyarakat adat atas hak-hak intelektual masyarakat adat dan keamanan hayati adat dari penjarah-penjarah hak paten hayati (bio-piracy) dan penjarah- penjarah hak intelektual (intelectual-piracy), serta perlindungan atas bio prospeksi lainnya perlu ditekankan.
Ratifikasi UN Convention on Biological Diversity dalam bentuk Undang-undang telah dilakukan akan tetapi perlu dijabarkan dalam peraturan pemerintah dan surat keputusan Menteri yang berwenang. Sehingga Departemen Kehutanan dan Perkebunan dalam kebijakan yang akan mengakomodir hak-hak masyarakat hukum adat harus dapat menterjemahkan hak- hak masyarakat hukum adat tidak hanya pada hak pengelolaan sumber daya hutan berupa kayu tetapi lebih luas sampai kepada perlindungan dan pemajuan hak-hak intelektual dan keamanan hayati sebagai penjabaran dari Undang-Undang No 5 Tahun 1994.
Dengan demikian, Pemerintah Pusat, Pemerintah Daerah maupun legislatif serta kesatuan Masyarakat Adat dalam hal ini instansi yang mendapat wewenang mengakui, membenarkan dan menerima hak-hak masyarakat adat perlu memahami beberapa aspek;
1. Kewenangan atas wilayah masyarakat hukum adat.
Masyarakat hukum adat mengenal betul wilayahnya dengan batas-batas yang jelas yang didapatkan melalui proses sejarah panjang. Oleh karena itu masyarakat adat perlu mengkomunikasikan wilayah adatnya kepada masyarakat di sekitarnya, pemerintah dan pihak lain dengan menggunakan bahasa (media) yang sama. Pelaksanaan ini dapat menggunakan peta yang lazim digunakan oleh Dephutbun maupun instansi lain, dimana dalam pembuatan peta dilaksanakan melalui secara partisipatif dan teknik yang sederhana, sehingga peta menjadi alat yang efektif untuk mendiskusikan tumpang tindih suatu wilayah dalam kewenangannya,
Kejelasan kewenangan atas suatu wilayah masyarakat hukum adat dilakukan berdasarkan kesepakatan dan pengakuan oleh masyarakat sekitarnya. Selanjutnya diperlukan pengakuan yang tegas dari pemerintah agar wilayah masyarakat hukum adat tersebut tidak diberikan haknya kepada pihak lain, sekaligus menjamin sumber daya hutannya dapat dimanfaatkan oleh masyarakat hukum adat tersebut.
Bentuk kejelasan kewenangan wilayah masyarakat hukum adat dapat dilakukan dalam bentuk pengakuan wilayah masyarakat hukum adat oleh BPN. Dalam hal wilayah masyarakat hukum adat yang telah lebih dahulu diberikan sebelum Surat Keputusan ini terbit, dapat dinegosiasikan dengan pihak-pihak yang bersangkutan (masyarakat hukum adat pada wilayah tersebut, pemberi hak dan penerima hak).
Pembuktian hak atas kewenangan suatu wilayah masyarakat hukum adat dapat mengikuti apa yang telah diatur dalam Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 1997 tentang Pendaftaran Tanah. Dalam Peraturan Pemerintah tersebut pembuktian hak- hak lama (hak-hak milik atas tanah yang berasal dari hak adat) dapat dilakukan melalui :
a. Alat pembuktian secara tertulis (surat-surat tanah, waris, peta, laporan sejarah,dokumen serah terima, pengakuan tertulis dari masyarakat sekitarnya dll)
b. Alat pembuktian secara lisan (pengakuan lisan masyarakat sekitar tentang kewenangan atas wilayah adat tertentu, pemberian nama-nama tempat dalam bahasa lokal, cerita, pantun dll).
c. Alat pembuktian secara fisik (kuburan nenek moyang, terasering bekas usaha tani, bekas perumahan, kebun buah, tumbuhan exotic hasil budidaya, peninggalan sejarah, gerabah, prasasti dll).
2.Kewenangan Kelembagaan Adat
Kewenangan suatu wilayah masyarakat hukum adat diperlukan untuk mencegah adanya pengakuan ganda ataupun pengakuan atas suatu wilayah yang bukan kewenangannya. Dalam hal ini ada beberapa kemungkinan yang dapat dilakukan :
a. Pengakuan keberadaan masyarakat adat oleh masyarakat adat itu sendiri dengan bpengakuan dari masyarakat sekitarnya tentang kewenangan kelembagaannya.
b. Pengakuan keberadaaan masyarakat hukum adat oleh lembaga yudikatif berdasarkan keputusan pengadilan
c. Pengakuan keberadaan masyarakat adat oleh suatu Dewan Masyarakat Adat yang dipilih oleh Masyarakat Adat itu sendiri.
Terlepas dari kebaikan dan kelemahan ke 3 (tiga) pilihan di atas, nampaknya bentuk kombinasi kewenangan pengakuan perlu diatur, antara masyarakat sekitar wilayah masyarakat hukum adat dan pemerintah bersama-sama dengan masyarakat adat yang berkepentingan itu sendiri. Selain mekanisme pengakuan tersebut, diperlukan juga mekanisme naik banding dan penyelesaian sengketa antar masyarakat adat atas suatu kewenangan wilayah tertentu. Demikian pula bentuk penyelesaian sengketa diluar pengadilan untuk sengketa antar kelompok masyarakat adat yang mengklaim suatu wilayah yang sama perlu dipersiapkan.
3. Kewenangan atas pola pengelolaan sumberdaya hutan
Pola pengelolaan yang dilakukan oleh masyarakat hukum adat pada umumnya berdasarkan pengetahuan asli yang ada dan tumbuh di masyarakat dengan segala norma-norma yang mengatur batasan-batasan dan sanksi. Pola ini berkembang sangat dinamis sesuai dengan perkembangan zaman. Sifat dinamis ini pada umumnya tidak secara tegas mendefinisikan pengelolaan sumber daya alam berupa; hutan, kebun atau usaha pertanian, sehingga diperlukan pemahaman yang cukup oleh pemerintah daerah tentang pola-pola tersebut.
Secara tegas UU Kehutanan Nomor 41 tahun 1999 memberikan kewenangan pengelolaan hutan kepada Masyarakat Adat dan tidak melihat ini sebgai hanya merupakan kewenangan pemerintah. Konsep ini berbeda dengan apa yang ada dalam UUPK Nomor 5 tahun 1967. Sedangkan bagi yang bukan Masyarakat Hukum Adat belum diakui hak pengelolaannya dan hanya diberikan akses untuk memanfaatkan hutan. Ini sejalan dengan UUPA Nomor 5 Tahun 1960 hak pengelolaan dapat diberikan kepada masyarakat hukum adat Masyarakat adat memerlukan kepastian hak yang bersifat khusus (ekslusif; tidak tumpang tindih dengan hak lain), dimana masyarakat dapat melestarikan, memanfaatkan (termasuk membudidayakan), memasarkan hasil hutan, serta tidak dapat dipindah tangankan kepada pihak lain diluar masyarakat hukum adat tersebut. Keadaan ini harus dipertegas kedalam peraturan perundangan; juga kewenangan masyarakat adat harus luas termasuk memiliki, menguasai, mengelola, memanfaatkan, mengusahakan dll. Diharapkan penjabaran UUK 41/1999 dalam Peraturan Pemerintah turunannya dapat mengakomodir bentuk hak ekslusif bagi masyarakat adat dalam mengelola sumber daya alamnya.
Selama perundang-undangan yang mengatur tentang hak-hak masyarakat hukum adat ini belum ada ataupun jelas terhadap penjabaran dari UUD 1945, maka perlu disiapkan peraturan daerah yang dapat menyelesaikan permasalahan hak-hak Masyarakat Adat di wilayah tersebut secara sementara yang sifatnya melindungi dan menghormati hak-hak masyarakat adat atas wilayah adatnya didalam kawasan hutan dan lebih jauh lagi, memulihkan hak-haknya dengan berpedoman kepada UU. Rambu-rambu yang perlu diperhatikan dalam menyusun Peraturan Propinsi dan Kabupaten ini adalah tidak membatasi reposisi hukum dalam waktu mendatang tentang posisi masyarakat adat yang akan diakui, dibenarkan dan diterima. Konstruksi dasar dalam alam reformasi perlu mengedepankan beberapa hal antara lain;
1. Posisi Pemerintah yang lebih bersifat administratif dan fasilitatif, tidak masuk dalam wewenang menguasai dan akhirnya meletakkan hutan sebagi suatu domein khusus dari Departemen Kehutanan dan Perkebunan.
2. Pemerintah dalam menyusun kebijakan tidak mencampur-adukan kedudukanya sebagai eksekutif yang membuat PP, SK dan Permen dengan legislatif yang juga membuat kebijakan yang hanya tunduk pada Undang-Undang.
3. Posisi masyarakat adat yang a prima facie memiliki hak atas tanah dan hutan atau sumber daya alam yang ada disekitarnya serta pengetahuannya, harus diakui, diterima dan dibenarkan dan dengan demikian wewenang mereka untuk menjalankan hak-haknya harus dilindungi dan dihormati oleh Pemerintah.
4. Kenyataan membuktikan bahwa masyarakat adat memiliki kearifan dalam memelihara hutan beserta sumber daya alam lainnya.
5. Proses pemanfaatan hak (termasuk mengelola tanah dan hutan) yang dilakukan masyarakat adat yang dilakukan oleh mereka sendiri, perlu diakui, diterima atau dibenarkan.
6. Peraturan Daerah yang dipersiapkan bersifat pengakuan, pembenaran atau penerimaan sehingga peran yang selama ini dijalankan oleh Deptanhut harus dikosongkan dari wilayah dimana ada masyarakat adat dan lingkup kebudayannya tidak terjadi lagi.
7. Peraturan Propinsi dan Kabupaten tersebut harus dapat tetap memberikan hak pemajuan kepada masyarakat adat sehingga masyarakat tidak “dikoservasikan” tetapi tetap diterima sebagai masyarakat adat yang mempunyai hak untuk menetukan arah pemajuan hidupnya secara dinamis.
8. Dimasa depan bentuk pengakuan terhadap masyarakat adat perlu diatur melalui Undang- Undang Dasar maupun Undang-Undang yang memberikan kepastian atas perlindungan dan hak pemajuan masyarakat adat secara lebih pasti.
Berdasarkan paparan diatas maka secara paradigmatik ada beberapa problem konsepsional secara hukum dan HAM yaitu :
Problem Konseptual (1)
Istilah
• Dua istilah: ‘masyarakat hukum adat’ (Kontitusi, UUPA, UU Kehutanan, UU HAM, UU Sumberdaya Air, UU Perkebunan, UU MK, UU Pemda) dan ‘masyarakat adat’ (UU Sistem Pendidikan Nasional, UU Minyak dan Gas Bumi, UU Panas Bumi) serta Masyarakat tradisional (Konstitusi UUD 1945).
• Apakah istilah masyarakat hukum adat adalah kata lain dari adatrechtsgemeenschap dan istilah masyarakat adat adalah kata lain dari indigenous peoples? Sejauh ini baru UU Otsus Papua yang membedakan kedua istilah tersebut.
Problem Konseptual (2)
Siapa masyarakat adat?
• Menggunakan definisi (Permenag/Kepala BPN No.5/1999, UU Sumberdaya Air) vs menggunakan pembuktian pemenuhan unsur (UU Kehutanan, UU Perkebunan, UU MK) • Pendekatan defenisi: tidak ada sebuah peraturan perUU-an yang duduk di hirarki yang tinggi dijadikan patokan. UU Sumberdaya Air justru meniru defenisi dari Permenag/Kepala BPN No. 5/1999.
• Pendekatan pemenuhan unsur: apakah membayangkan masyarakat adat yang statis atau masyarakat adat yang mengalami perubahan?
Problem Konseptual (3)
Perlindungan Hak-Hak Dasar dalam Konstitusi
• Dinamika: 1. dari pengakuan deklaratif ke pengakuan bersyarat; 2. penghilangan predikat sebagai daerah istimewa
• Dari pemerintahan daerah (volkgemeenschap) ke masyarakat hukum adat (adatrechtsgemeenshap)
• Konstitusi hasil amandemen: konstitusionalisasi pengakuan bersyarakat.
• Staatside: siapa dan dimana kedudukan masyarakat adat? Apakah ia merupakan minority/vulnerable group yang perlu dilindungi dan karena itu berhak mendapatkan affirmative policy?
Problem Konseptual (4)
Perlindungan Hak-Hak Dasar dalam Peraturan Per-UU-an Agraria/SDA
• Fiksi hukum: hak menguasai persekutuan- persekutuan adat beralih menjadi hak menguasainegara. Karena itu persekutuan-persekutuan adat tidak lagi memiliki hak menguasai melainkan hanya hak mengelola atau hak memanfaatkan.
• Pengakuan bersyarat: intensi mengakui atau menyangkal? Intensi untuk menyangkal memproyeksikan akan berlaku satu hukum yang seragam (unifikasi) dan masyarakat adat niscaya akan berkembang untuk berubah menjadi masyarakat modern.
Problem Konseptual (5)
Perlindungan Hak-Hak Dasar dalam Peraturan Per-UU-an Agraria/SDA
• Karena persyaratannya banyak dan berlapis, menandakan bahwa negara tidak menempatkan masyarakat adat sebagai minority group yang memerlukan affirmative policy.
• Hak masyarakat adat atas agraria/SDA mengalah untuk pertambangan (UU No. 11/1967) dan HPH (PP No. 21/1970).
• Perlindungan terhalang oleh persyaratan. Pengakuan dan perlindungan tertunda karena belum ada pengukuhan keberadaan hak ulayat atau masyarakat hukum adat.
Problem Konseptual (6)
Gelombang Ketiga
• Pasca Amandemen Kedua UUD 1945, terdapat banyak peraturan perudangan yang memiliki klausul mengenai pengakuan keberadaan danhak-hak dasar masyarakat adat:mengimplementasikan pengakuan bersyarat.
• Produk hukum daerah: antara tetap bertahan dalam kerangka legal nasional atau responsive untuk meredakan ketegangan antara apa yang seharusnya dan apa yang senyatanya.
• Situasi-Situasi Praktis Pengakuan dan perlindungan hak-hak dasar masyarakat adat terkendala karena sejumlah faktor berikut ini:
1. menonjolnya simbolisasi terutama dalam kancah politik→ lembaga adat, upacara, pakaian dan gelar adat mendominasi simbol masyarakat adat.
2. penyelesaian konflik atas tuntutan pengembalian tanah-tanah adat, tidak bisa dilakukan karena kelompokyang menuntut belum ditetapkan sebagai masyarakat hukum adat.
3. Pemda tidak melakukan pengukuhan hak ulayat dan masyarakat hukum adat karena tidak mengalokasikan anggaran tersendiri. Peniadaan anggaran ini memang disengaja karena takut menghadapi resiko dikiritik , dipersoalkan bahkan digugat oleh kelompok masyarakat.
4. bagi sebagian pemerintah, pengakuan dan perlindungan masyarakatadat dikonotasikan dengan gerakan-gerakan pemisahan diri.
Rekomendasi untuk Perubahan:
• Dekonstitusionalisasi pengakuan bersyarat, sekaligus penghilangan klausul pengakuan bersyarat. Pengakuan bersyarat sebenarnya justru menyangkal asumsi yang dibangun oleh fiksi hukum bahwa persekutuan-persekutuan adat telah eksis sebelum negara bangsa berdiri.
• Memperjelas kedudukan masyarakat adat dalam konstruksi hukum negara.
• Memperjelas penggunaan istilah beserta pengertiannya.
• Menempatkan masyarakat adat sebagai minority/vulnerable group yang memerlukan affirmative policy.
DAFTAR KEPUSTAKAAN
Abdurahman & Wentzel, Konsep Untuk Menyelesaikan Masalah Status Tanah Masyarakat Di Kawasan Hutan Pada Areal HPH dan HPHTI di Propinsi Kalimantan Timur, GTZ- MoF. SFMP Document No. 11, 1977
Aulis Arnio, Paradigm in Legal Science , Dalam Theory of Legal Science Dorrecht, 1984
Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN), Laporan Sarasehan Hutan dan Masyarakat Adat tanggal 16 Maret 1999 dalam Kongres Masyarakat Adat Nusantara, Jakarta 1999.
Anyang Thambun YC, Kedudukan Adat dan Hukum Adat Dewasa Ini, disampaikan dalam rangka lokakarya “Kearifan Tradisional Masyarakat Adat Tentang Pengelolaan Sumber Daya Alam”, 19-25 Juni 1998,PPSDAK Pontianak.
Bambang Supriyanto, Sekitar Hukum Adat dan Hutan dalam Perjalanan 250 Hari Menuju Pengelolaan Sumber Daya Alam yang Berkelanjutan dan Berkeadilan, Dephutbun1999
Bediona Philipus, Iwan Tjitradjaja, Haris Palisuri, Arbab Paproeka, Gazali Hafid, Nasruddin, Mansyur Latambaga, Penduduk Asli dan Pengelolaan Taman Nasional: Kasus Orang Moronene Buton Sulawesi Selatan, Menuju Pengelolaan Kawasan Lindung yang Lebih Manusiawi. P3AE-UI & ELSAM, Jakarta, draft 1999 .
BIOPOS, Konvensi International mengenai Keanekaragaman Hayati, no 02 Oktober 1985, Bioforum, Bogor. BSP, Laporan Proses Lokakarya Penyususnan Kurikulum Penyelesaian Sengketa, BSP Kemala, Gadog 27-30 Januari 1999.
Bernard Arif Sidharta, Refleksi Tentang Struktur Ilmu Hukum (sebuah penelitian tentang fundasi kefilsafatan dan sifat keilmuan lmu hukum sebagai landasan pengembangan ilmu hukum nasional Indonesia), Mandar Maju Bandung, 2000.
Cahyat Ade. Kasus Perebutan Kembali Kawasan Masyarakat Adat Benuaq Di Tanjung Isuy Kaltim Sebagi Sebuah Geo-Politik; Ditinjau dari Sisi Politik Penguasaan Ruang, dalam Harian Suara Kaltim 23 April 1999.
Colchester M. Beyond “participation”: Indigenous Peoples, Biological Diversity Conservation and Protected Area Management. Unasylva 186, vol 47, 1996
Clayton, Philip, Membaca Tuhan dalam Keteraturan Alam, Repleksi Ilmiah dan Religius, Makalah Disampaikan pada Intrnasional Conference on Religion and Scieence in the Post-Colonial Word, Yogyakarta, 2003.
Dephut, IFAP (Indonesian Forestry Action Programme),Country Brief, 1997 Jakarta
Dephutbun, Makalah Hasil Rakerreg Wilayah A1,A-2,B,C,D,E, tanggal 20 April 1999.
Dokumen F1,F2,F3,F4,F5 dalam Rakernas Dephutbun 20-23 April, 1999 di Jakarta
Esmi Warassih, Prana Hukum Sebuah Telaah Sosiologis, PT Suryandaru Utama, Semarang, 2005
ELSAM. Anotasi Peraturan Perundang-undangan dan Kebijakan yang Berkaitan Dengan Akses Masyarakat Adat Terhadap Ekosistemnya di Indonesia, draft 1999.
FAO, Formulation, Execution and Revision of National Forestry Programmes; Basic Principles and Operational Guidelines, FAO of UN, Rome, 1996
ICEL-NRM2, Himpunan Peraturan PerUndang-Undangan; Pengembangan Desentralisasi dan Peran Serta Masyarakat Dalam Pengelolan Kawasan Konservasi, Studi Hukum dan Kebijakan Jilid I, II, III, IV, V, VI, VII. Jakarta 1999
Jimly Asshiddigie, Konstitusi & Konstitusionalisme Indonesia, MK dan Pusat Studi Hukum Tata Negara Fakultas Hukum Universitas Indonesia, 2004
Kalimantan Review, no 38 Thn VII, Oktober 1998 hal 16-17 ‘Rela Mati Demi Tanah Dayak” KOMNAS-HAM dan Elsam, Laporan Rondtable Discussion Pemulihan Hak-Hak Masyarakat Adat, Jakarta, 24 Maret 1999
KOMPAS, Banjar Membumikan “Ecopopulism” harian Kompas Rabu 9 Juni 1999 Kalimantan Review, no 38 Thn VII, Oktober 1998 hal 16-17 ‘Rela Mati Demi Tanah Dayak”
Konvensi ILO 169 tahun 1983 mengenia Bangsa-bangsa Pribumi dan Masyarakat Adat di Negara-Negara Merdeka, ELSAM-LBBT Pontianak, 1992.
KRKP, Rumusan Hasil Lokakarya Keberadaan Hutan Adat-KRKP, Jakarta, 25 Maret 1999.
Kusworo A, Pengusiran Penduduk Dari Kawasan Hutan di Lampung. Watala-ICRAF- ORSTOM Pustaka Latin, 2000.
Lili Rasjidi, Dasar-dasar Filsafat Hukum, Citra Aditya Bakti, Bandung, 1999.
—————–, Filsafat Hukum Apakah Hukum itu, Remaja Rosdakarya, Bandung, 1991.
Lie Wilarjo, Realita dan Desiderata, Duta Wacana, University Press, 1990.
Lon L Fuller. The Morality of Law, New Haven. Conn: Yale University Press, 1997 Moh. Mahfud MD, Politik Hukum Di Indonesia, LP3ES, Indonesia, 1998
Miden Maniamas, Pengalaman Mengelola Kawasan Adat Dayak Kanayatn Di Banua Talaga Sengah Temila, Makalah disampaikan dalam Rangka Convention on Biological Diversity, Jakarta 6-17 November 1995.
Noer Fauzi,2000 (KEDAI I) dalam Kumpulan Tulisan dalam Kelompok Diskusi Adat Indonesia, Masyarakat Adat dalam Mengelola Sumber Daya Alam, Cisarua 26-28 Mei, 2000. ICRAF-JAPHAMA
Nurman Tasman, Hak-Hak Masyarakat Hukum Adat Atas Hutan; Aspek Hukum dan Implementasinya (tidak dipublikasikan)
Ostrom Elinor. Governing the Commons. Cambridge: Cambridge University Pess, 1990 armuladi Bambang. Hukum Kehutanan dan Pembangunan BidangKehutanan, Rajawali Press, cetakan pertama Jakarta 1995.
Piliang Yasraf Amir, Geo-Politik. Harian KOMPAS Senin, 26 April 1999.
Peursen, C.A. Van. Orientasi di Alam Filsafat. Jakarta: PT. Gramedia. 1991
Pizzi, William T, Trials Without Truth, Why Our System of Ciminal Trials has Become an Expensive Failure and we Need to Do to Rebuild It, New York University Press, 1999.
Ritzer, George (Penyadur Aliman). 1992. Sosiologi Ilmu Pengetahuan Berparadigma Ganda. Jakarta: Rajawali Press.
Raintree B. John, Land Trees and Tenure, Proceedings of the International Workshop on Tenure Issues in Agroforestry, Nairobi May 27-31, 1985. IRAF- the Land Tenure Center.
Ruwiastuti R. Maria, Pengakuan Hak Ulayat: antara harapan dan kenyatan, Konsorsium Pembaruan Agraria. Makalah disampaikan pada Roundtable Discussion yang diselengrakan bersama-sama antara Elsam-PKPM Unika Atma Jaya dan KPA, 13 Juli 1999.
Sidharta, Arief. 1996. “Refleksi Tentang Fundamental dan Sifat Keilmuwan Ilmu Hukum Sebagai Landasan Pengembangan Ilmu Hukum Nasional Indonesia”, Disertasi. Fakultas Hukum, Universitas Padjadjaran, Bandung. 1996.
Sandra Moniaga, The Indigenousness of the Indigenous Peoples in Indonesia; from whose perspective? Dalam Makalah No 2-A, Konferensi INFID ke X tentang Tanah dan Pembangunan, Canberra 26-28 April 1996.
————, Hak Siapa, Hak Apa, Sistem Hukum yang Mana dan Pengelolaan Hutan yang Bagaimana dalam Property Right dalam Pengelolaan Hutan: Permasalahan dan Strategi Penanganannya, cacatan diskusi dalam rangka Dies Natalis IPB, Darmaga, 23 September 1998
Sangaji Anto, Negara, Masyarakat Adat dan Konflik Ruang, Kertas Posisi 01, Jaringan Kerja Pemetaan Partisipatif, April 1999.
Satjipto Rahardjo, Masalah-Masalah dalam Penerapan Hukum Adat dalam Lokakarya Formulasi Masalah-Masalah Strategis Dalam Kajian Hukum di Indonesia; Sebuah Upaya Reposisi Supremasi Hukum, 25-27 Februari 1999. Puslitbang Kemasyarakatan dan Kebudayaan LIPI, Jakarta
Safitri A. Myrna, Pengelolaan Hutan, Akses Masyarakat Lokal dan Perkembangan Gagasannya Dalam Kebijakan dan Perdebataan Internasional. P3AE-UI, Jakarta, Oktober 1997
Safitri Myrna, Kusworo,A & Bediona Philipus. Peran Masyarakat Lokal Dalam Pengelolaan Hutan: Kajian Kebijakan Daerah Lampung, Kalimantan Timur dan Nusa Tenggara Timur. P3AE-UI Jakarta 1997.
Suhardjito Didik, Khan Azis, Djatmiko Wibowo, Sirait Martua dan Evelyna Santi. Karakteristik Pengelolaan Hutan Berbasiskan Masyarakat. Studi Kolaboratif FKKM- 1999, akan dipublikasikan Sumarlan Yanuar, Towards A Community-Based Resource Management From A State- Conrolled One: Legal Overview and Possibilities, ICRAF-SEA Programme 1 Report 1998 unpublished.
Sumadjono M, Pengakuan Keberadaan Hutan Adat Dalam Rangka Reformasi Agraria dalam Lokakarya Keberadaan Hutan Adat, Komite Reformasi Kehutanan dan Perkebunan, Jakarta, 25 Maret 1999
—————–, Revisi Undang Undang Kehutanan? dalam Harian Umum Kompas 22 Juni 1999
—————–, Pengakuan terhadap Hak Ulayat, dalam Harian Umum Kompas tgl 5 Juli 1999.
Satjipto Rahardjo, Sosiologi Hukum, Perkembangan Metode o dan Pilihan Masalah, Surakarta, Muhammadiyah University Press. 1999
Thomas Khun, Peran Paradigma dalam Revolusi Sains, Remaja Karya, Bandung, 1989
Turiman, Sejarah Hukum Lambang Negara Republik Indonesia, Tesis, Program Pasca Sarjana Ilmu Hukum, UI, Jakarta, 1999
Theo Huijbers, Filsafat Hukum Dalam Lintasan Sejarah, Kanisius, Yogyakarta, 1997
TEMPO, Kartika, “Tanah Ulayat; Setelah Sewindu Dibabat Pengusaha, Rubrik Hukum, Majalah Dwi- mingguan edisi 6 Juni 1999 hal 36. Jakarta.
Ter Haar Bzn, Beginselen en Stelsel van het Adatrecht, [K.Ng.Soebakti Poesponoto (penterj.:Asas-asas dan Susunan Hukum Adat)], Jakarta: Pradya Paramita, cetakan XI, 1994
Titahelu R.Z. Masyarakat Adat dan Pembangunan: Menuju Keutuhan Makna Pembangunan Manusia dan Masyarakat Indonesia, dalam Orasi Dies Natalis UNPATTI ke 32 XXXXIII dan Wisuda Sarjana I, 18 Mei 1996. Ambon.
Ton Dietz, Pengakuan Hak Atas Sumberdaya Alam, Remdec-Insist-Pustaka Pelajar, Yogyakarta, 1998. Wignjosoebroto, Soetandyo, 2002, Hukum, Paradigma, Metode dan dinamika Masalahnya, Jakarta, Lembaga Studi dan Advokasi Masyarakat (ELSAM).
——————-, 1995. Dari Hukum Kolonial ke Hukum Nasional. Jakarta Rajawali Press.
Wison, Edward O, Concilience, The Unity of Knowlwdge, Alfred A. Knopf, New York, USA, 1998.
Wignjosoebroto Soetandyo, Hukum Dalam Masyarakat, Perkembangan dan Masalah, Bayu Media, April, 2008
Wignyosoebroto Soetandyo, Masyarakat Adat di Tengah Perubahan dalam Roundtable Discussion Pemulihan Hak-hak Masyarakat Adat, Jakarta, 24 Maret 1999
—————-, Komunitas Lokal versus Negara Bangsa; Perbedaan Persepsi dan Konsepsi Tentang Makna Lingkungan (Akibat Pada Keberpihakan Kebijakan Nasional), background paper dalam diskusi “RUU Tentang Pengelolaan Sumberdaya Hutan” FKKM, 21 Mei 1999a, Jakarta.
—————, Dari Hukum Kolonial ke Hukum Nasional, Jakarta: PT. RajaGrafindo Persada, 1994.
Widodo Sutoyo, Makalah Pembahas dalam “Seminar Peran dan Akses Masyarakat Lokal Dalam Pengelolaan Hutan; Kajian Kebijakan Daerah Lampung, Kaltim dan NTT”, P3AE-UI, Depok 20 Januari 1997.
Wiludjeng Henny, Bibliograpfi Beranotasi Tentang Tanah Adat di Indonesia Volume 1 & 2 , 1998 UNIKA Atma Jaya-Litbang BPN, Jakarta.
WARSI, Kawasan Bukit Duabelas: Kondis dan Peruntukkan Bagi Ruang Hidup Orang Rimba (Resume Usulan Perluasan Cagar Biosfer Bukit Duabelas), Mei 1999, Warung Informasi Konservasi, Jambi WWF-WARSI, Menggugat PT. SML & PT. AS dalam Alam Sumatera dan Pembangunan Edisi III/ Februari, 1999
Yando Zakaria, Masalah Agraria & Kelembagaan Adat: Mari Menata Ulang Hubungan Rakyat-Negara, dalam “Dialog Merumuskan Arah dan Strategi Reformasi Agraria” memperingati 70 tahun Prof. Tjondronegoro. AKATIGA-LPM-IPB 16-17 Maret 1999.
Makalah:
Garuda Wiko, “Penegakan Hukum, Pembaharuan Hukum dan Rancang Bangun Hukum Progresif”, Pidato Pengukuhan Guru Besar Tetap dalam Bidang Ilmu Hukum pada Fakultas Hukum Univeristas Tanjungpura, Pontianak, 29 Oktober 2009.
Satjipto Rahardjo “Paradigma Hukum Indonesia dalam Perspektif Sejarah”, Makalah. Symposium Nasional Ilmu Hukum Tentang Paradigma dalam Ilmu Hukum Indonesia, Program S3 Fakultas Hukum UNDIP, Semarang, 10 Pebruari 1998
Soetandyo Wignyosoebroto, “Pendayagunaan Sosiologi Hukum Untuk Memahami Proses-Proses Sosial dalam Konteks Pembangunan dan Globalisasi, Makalah Seminar Nasional Sosiologi Hukum dan Pembentukan Asosiasi Sosiologi Hukum Indonesia, Pusat Studi Hukum dan Masyarakat Fakultas Hukum Undip, 1998.
—————————–,“Permasalahan Paradigma dalam Ilmu Hukum”, Makalah. Symposium Nasional Ilmu Hukum Tentang Paradigma dalam Ilmu Hukum Indonesia, Program S3 Fakultas Hukum UNDIP, Semarang, 10 Pebruari 1998.

 

2 komentar:

Fajar Saputra mengatakan…

Nama : Muchammad Fajar Nur Saputra
NIM : A01112223
Reg. : A
MK : Hukum Pemerintahan Daerah
Kelas : CSeharusnya negara atau pemerintah memberikan akses yang luas kepada masyarakat adat untuk dapat berpartisipasi dalam proses pembangunan, sehingga mereka tidak termarjinalisasi (terpinggirkan).
Masyarakat adat sebagai bagian dari struktur pemerintahan negara pada umumnya, harus diposisikan sebagai bagian integral dalam proses pembangunan. Artinya partisipasi aktif masyarakat harus direspons secara positif oleh pemerintah sebagai pengambil kebijakan dan keputusan-keputusan politik maupun hukum. Masyarakat adat jangan dibangun berdasarkan kemauan pemerintah semata-mata, tetapi harus diberikan kebebasan untuk berkreasi sesuai potensi yang dimiliki, sehingga ada keseimbangan. Kebijakan pembangunan harus integrated (terpadu) dengan tetap berbasis pada masyarakat adat yang mempunyai hukum adat, sebagai bagian dari sistem hukum nasional yang patut diakui eksistensinya.

Borneo Mangunsong mengatakan…

Nama : Borneo mangunsong
NIM : A01112315
Kelas : B
Matakuliah : Pendidikan Kewarganegaraan
Dosen : Prof. Dr. H. Garuda Wiko, SH, M.Ssaya sepandapat dengan artikel yang bapak tulis bahwa dalam menyelesaikan masalah-masalah sumber daya hutan, perlu adanya kejelasan penetapan hak untuk mengunakan hutan, dilakukan atas dasar status penguasaan hutan, maupun berdasarkan fungsi-fungsi lindung, konservasi, produksi maupun fungsi khusus dibidang sosial budaya maupun pendidikan dan penelitian. Dalam UUK no 41 tahun 1999 Dephut diberikan mandat untuk menetapkan mana yang merupakan kawasan hutan dan manayang bukan serta juga menetapkan fungsi hutannya. Seharusnya Dephut (Sekarang Deptanhut) hanya menetapkan fungsinya bukan statusnya, untuk mencegah conflict of interest.




Blog Stats

  • 2,894,065 hits

Recent Comments

Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Sejarah : Bangsa Lemuria, Lelu…
Ratu Adil - 666 on Sejarah : Bangsa Lemuria, Lelu…

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 144 other followers