Posts Tagged ‘Climate Change

27
Jan
13

Lingkungan : Gletser Andes Mencair Terlalu Cepat

Gletser Andes Mencair Terlalu Cepat

Yahoo! News

Oleh | Yahoo! News – Jum, 25 Jan 2013

Oleh Stephanie Pappas, Penulis Senior LiveScience | LiveScience.com

Gletser di Pegunungan Andes melemah pada tingkat yang belum pernah terjadi sebelumnya dalam tiga puluh tahun terakhir.

Kesimpulan tersebut diambil berdasarkan rincian penelitian terbaru yang menggabungkan penelitian di lapangan dengan foto satelit dan udara, catatan sejarah dan masa inti es yang diambil dari gletser. Kondisi tersebut lebih buruk di Andes dibandingkan rata-rata menyusutnya gletser di seluruh dunia, demikian laporan para peneliti pada 22 Januari dalam jurnal “The Cryosphere”.

Foto: LiveScience (Giulia Curatola, Philipps-Universität Marburg, distributed by the EGU)”Gletser di Tropical Andes telah menghilang rata-rata antara 30-50 persen (tergantung pada rentang pegunungan) dari permukaannya sejak akhir 70-an,” menurut pengamatan peneliti Antoine Rabatel, ilmuwan dari Laboratory for Glaciology and Environmental Geophysics di Grenoble, Prancis, dalam sebuah email kepada LiveScience.

Gletser sensitif
Pegunungan Andes di Amerika Selatan adalah tempat 99 persen gletser tropis, yakni sungai es permanen di ketinggian yang cukup tinggi, yang tidak akan terpengaruh oleh jenis suhu sejuk yang biasanya ada di daerah tropis. Meski demikian, Rabatel mengatakan, gletser sangat sensitif terhadap perubahan iklim, karena ada sedikit musim daerah tropis.

“Gletser di Andes tropis bereaksi keras dan lebih cepat daripada gletser lain di Bumi untuk setiap perubahan kondisi iklim,” katanya.

Untuk mengumpulkan cerita dari gletser selama berabad-abad lalu, Rabatel dan rekan-rekannya menggunakan data berbeda. Catatan sejarah dari permukim awal menunjukkan batas-batas gletser, seperti halnya data inti es yang diambil dengan cara pengeboran ke dalam lapisan es tahunan yang membentuk gletser.

Bahkan lumut (organsisme simbiosis yang berasal dari jamur dan ganggang atau bakteri) yang bertahan hidup pada bebatuan, atau moraine, yang terbentuk di sekitar gletser memiliki kisah yang menarik. Peneliti dapat menggunakan lumut tersebut untuk menentukan berapa lama batu tertutup dan terbebas dari es.

Foto udara pada 1950-an dan pencitraan satelit dari era 1970-an juga melacak gerakan gletser. Akhirnya, pengamatan berbasis darat dan langsung dilakukan pada banyak gletser sejak 1990-an.

Pelemahan Gletser
Semua data mengungkapkan kisah es yang mencair. Gletser Andes mencapai luas maksimal dalam zaman Little Ice Age, sebuah periode pendinginan yang berlangsung dari sekitar abad 16 hingga 19. Di daerah tropis luar Peru dan Bolivia, gletser mencapai titik maksimal mereka pada 1600-an, menurut temuan para peneliti. Gletser tertinggi Andean mencapai maksimal pada 1730-an atau sekitar itu, sedangkan gletser elevasi yang lebih rendah mencapai puncaknya sekitar 1830-an.

Sejak itu, gletser secara bertahap melemah, dengan periode mencair yang cepat pada 1800-an dan yang kedua, jauh lebih besar, di periode pencairan yang cepat dalam tiga dekade terakhir. Sejak 1970-an, gletser mengikuti pola periode pencairan yang lebih cepat dalam jarak dua sampai tiga tahun, di antara pelemahan  yang lebih lambat dan sesekali bertambah (atau tumbuh). Rata-rata keseluruhan adalah negatif secara permanen selama 50 tahun terakhir, tulis para peneliti.

Rata-rata es yang menghilang antara 30-50 persen bervariasi dari gletser ke gletser, tutur Rabatel. Beberapa gletser kecil benar-benar telah menghilang, seperti gletser Chacaltaya di Bolivia, yang dulunya resor ski tertinggi di dunia, namun menghilang pada 2009.

Gletser dengan ketinggian yang lebih rendah dari 5400 meter di atas permukaan laut mencair dua kali lebih cepat dari gletser yang lebih tinggi. Gletser-gletser rendah ini, yang membentuk mayoritas gletser Andes, diperkirakan akan punah dalam beberapa tahun atau dekade ke depan, tutur Rabatel.

Curah hujan di wilayah tersebut tidak berubah, menurut temuan para peneliti, namun suhu meningkat hampir 0,2 derajat Fahrenheit (0,1 derajat Celsius) per dekade selama 70 tahun terakhir. Hal itu berarti panas atmosfer membuat gletser melemah.

Hilangnya gletser yang terus meningkat adalah masalah utama bagi masyarakat yang tinggal di daerah barat Andes yang kering, tutur Rabatel.

“Pasokan air dari rangkaian pegunungan gletser yang tinggi penting untuk konsumsi pertanian dan domestik, serta untuk pembangkit listrik tenaga air,” tulisnya.

Untuk berita terbaru, ikuti Yahoo! Indonesia di Twitter dan Facebook

Berita Lainnya

Tujuh Resolusi untuk Bumi yang Lebih Baik

Yahoo! News

Oleh | Yahoo! News – Sel, 15 Jan 2013

Oleh Douglas Main, Staf Penulis OurAmazingPlanet | LiveScience.com

Tahun 2013 telah tiba, dan semua orang sibuk membuat (atau mungkin sudah melanggar?) resolusi tahun baru mereka. Alam beristirahat selama beberapa menit dari jadwal sibuknya untuk berbagi ide tentang cara memperbaiki situasi di planet kita dengan beberapa resolusi di tahun baru yang harus ditempuh oleh umat manusia.

Berikut adalah tujuh resolusi penting untuk Bumi di 2013:

1. Mencegah kepunahan spesies
Bumi sedang berada di tengah krisis kepunahan besar, yang terbesar sejak lenyapnya dinosaurus 65 juta tahun lalu. Laporan yang dibuat oleh sebuah kelompok konservasi World Wildlife Fund menyebutkan, tingkat keanekaragaman hayati dunia juga turun sebesar 30 persen sejak 1970-an. United Nations Environment Program memperkirakan bahwa 150-200 spesies punah setiap hari. Ini sekitar 10-100 kali lipat tingkat kepunahan alami.

Salah satu masalah yang dihadapi spesies yang terancam punah, khususnya di negara-negara berkembang, adalah perburuan. Sebagian perburuan tersebut didorong oleh permintaan akan beberapa bagian tubuh hewan untuk obat tradisional.

Sebagai contoh, Reuters melaporkan sebanyak 633 ekor badak dibunuh di Afrika Selatan pada 2012. Bandingkan dengan jumlah 448 ekor badak yang mati pada 2011 dan 13 yang mati pada 2007. Perburuan merupakan penyebab utama kepunahan banyak hewan, termasuk badak Jawa di Vietnam pada 2010.

Pada akhirnya, hilangnya keanekaragaman hayati akan mengganggu hidup Anda, karena manusia merupakan bagian dari jaringan kehidupan. Setiap spesies melayani fungsi tertentu yang tidak dapat sepenuhnya tergantikan jika ada yang punah.

2. Melestarikan hutan hujan
Hutan hujan adalah waduk penting yang terdiri dari tanaman, hewan dan mikroba. Hutan hujan adalah tempat tinggal arthropoda (kelompok yang mencakup serangga, arakhnida dan krustasea, dan semua hewan yang memiliki eksoskeleton yang keras). Arthropoda adalah kelompok hewan yang paling beragam di dunia dan melakukan segala macam peran penting dalam lingkungan mereka, mulai dari memakan kotoran hingga melakukan penyerbukan bunga.

Hutan hujan juga terdiri dari tanaman yang bisa membantu manusia, termasuk kina yang bisa dijadikan obat anti-malaria yang awalnya ditemukan di pohon kina Amazon. Sangatlah membahayakan saat kehilangan kekayaan alam semacam itu, terlebih sebelum kita sempat menemukannya.

Hutan juga menyediakan planet kita dengan pasokan oksigen yang sangat besar. Meskipun demikian, dari tahun 2000 hingga 2010, misalnya, sekitar 240.000 kilometer persegi hutan hujan Amazon rusak. Area tersebut kira-kira seluas Inggris.

3. Melindungi wilayah dengan keanekaragaman hayati yang tinggi
Tidak semua wilayah diciptakan sama. Beberapa tempat tertentu sebaiknya tidak diganggu, seperti wilayah yang menjadi habitat bagi spesies langka.

Contohnya adalah Madagaskar, yang merupakan satu-satunya tempat tinggal lemur dan banyak makhluk hidup lainnya. Namun hutan dan habitat padang rumput di lepas pantai Afrika tersebut hancur dengan cepat. Madagaskar telah kehilangan setidaknya 90 persen dari jumlah cakupan hutan aslinya.

Keindahan alam lainnya adalah Filipina, yang memiliki salah satu tingkat keanekaragaman hayati tertinggi di planet ini, namun terancam oleh penggundulan hutan dan pembangunan. Sebuah ekspedisi terbaru menemukan bahwa lebih dari 300 spesies merupakan penemuan yang baru bagi ilmu pengetahuan, termasuk hiu yang hidup di laut dalam yang bisa mengembang ketika merasa terancam. Namun spesies tersebut berada dalam ancaman terkait aktivitas manusia.

4. Mengurangi gas rumah kaca dan membatasi perubahan iklim
Manusia adalah makhluk yang banyak menggunakan gas, bahan bakar fosil dan meningkatkan konsentrasi karbon dioksida, metana, dan perangkap gas panas lainnya di atmosfer. Banyak peneliti iklim memperkirakan bahwa konsentrasi karbon dioksida di atmosfer harus dibatasi hingga 350 ppm untuk menghindari suhu panas, gelombang panas, kekeringan, naiknya permukaan laut, dan kepunahan.

Konsentrasi karbondioksida saat ini hampir 393 ppm dan meningkat sekitar 2 ppm per tahun, seperti yang diungkap Mauna Loa Observatory di Hawaii. Untuk menghindari dampak terburuk pemanasan global, manusia perlu segera menemukan sumber energi alternatif.

Dampak terburuk pemanasan global dapat dilihat di Kutub Utara dan Antartika, karena fenomena yang disebut amplifikasi kutub. Banyak wilayah di Arktik yang menghangat hingga 1,7 derajat Celcius selama 30 tahun terakhir. Arktik menjadi wilayah yang memanas lebih cepat daripada bagian belahan Bumi lainnya dan menjadi suatu pertanda bahwa pemanasan global memang benar terjadi.

Kutub juga merupakan rumah bagi hewan yang luar biasa seperti beruang kutub dan penguin, yang sensitif terhadap perubahan lingkungan. Belum lagi fakta bahwa wilayah tersebut menyimpan air beku dalam jumlah yang besar. Jika mencair, es itu akan membuat sebagian besar wilayah perkotaan dunia saat ini berada di bawah permukaan laut.

5. Mengatasi pencemaran air
Manusia benar-benar melakukan hal yang merugikan dirinya sendiri. Meskipun langkah besar telah ditempuh di Amerika Serikat, Eropa dan negara lain, namun pencemaran air tetap saja menjadi masalah besar dan terus berkembang di seluruh belahan dunia, termasuk Cina, Asia selatan dan Afrika.

Selain kerusakan yang sangat jelas yaitu  pencemaran air minum dan polusi dari limbah pertanian, hal lain yang terjadi saat pencemaran tersebut mencapai lautan adalah bahwa pencemaran akan menciptakan wilayah yang disebut zona mati.

Zona mati terbentuk karena ganggang berkembang dengan pesat dan mengonsumsi semua oksigen di wilayah tersebut hingga akhirnya spesies lain mati karena kehabisan oksigen.

6. Mengelola penangkapan ikan lebih baik dan menekan perburuan hiu
Teknik perburuan ikan yang menyebabkan kematian ikan, penyu dan mamalia laut yang terlalu banyak, sering terjadi ketika hewan-hewan tersebut tidak ditargetkan oleh nelayan. Hal terburuk dari teknik semacam itu adalah penggunaan jaring besar (termasuk jala dan pukat, yang menangkap apapun yang berada di jalur mereka) dan memancing dengan teknik longline, saat ratusan hingga ribuan kait dipasang hingga bermil-mil di belakang perahu.

Panjang rata-rata longline di Teluk Meksiko membentang hingga 48 kilometer, dan lebih dari setengah dari tuna dan ikan todak yang tertangkap dilemparkan kembali, sebagian besar sudah mati, seperti yang diungkapkan kelompok Pew Environment.

Perburuan hiu juga telah meningkat secara dramatis, terutama karena meningkatnya permintaan untuk sup sirip ikan hiu di Cina, suatu zat yang telah terbukti berulang kali mengandung racun. Sebanyak 73 juta hiu dibunuh setiap tahun untuk memenuhi kebutuhan ini. Ekosistem laut tergantung pada predator ini untuk menjaga rantai kehidupan tetap seimbang.

7. Mengurangi konsumsi

Yang satu ini cukup sederhana, yaitu mengurangi konsumsi. Penggunaan kembali bahan bekas mungkin adalah tindakan yang bagus. Hal ini bisa berarti perubahan yang sederhana seperti penggunaan kembali tas belanja, sehingga mengurangi kebutuhan akan plastik dan kertas.

Banyak barang-barang lain yang juga tidak perlu dibuang hanya karena mereka sudah kuno. Sebuah penelitian terbaru menemukan bahwa sebagian besar peralatan yang dibuang masih berfungsi dengan baik. Selain itu, tingkatkan efisiensi energi dengan membuat dan membeli mobil yang lebih baik, seperti kendaraan hibrida atau listrik yang didukung oleh sumber-sumber daya yang dapat diperbarui.

Anda juga dapat melakukan hal-hal sederhana seperti mematikan lampu dan peralatan elektronik lainnya, menggunakan termostat yang bisa diprogram dan mengganti filter udara AC.

Menggunakan lebih sedikit plastik juga merupakan langkah yang baik. Sumber daya bumi terbatas, dan jika manusia tidak lebih berhati-hati, maka kerusakan Bumi akan menjadi semakin jelas.

15
Nov
12

Bencana Alam : Do The Math, Akhir Dunia Tahun 2028 ?

2028 : Akhir Dunia ?

Ilustrasi (Foto: Thinkstock)

Akhir dunia akan datang pada 2028

Hancurnya Planet Bumi hanya hitung-hitungan matematika sederhana. Maka siap-siap 2028. Sebabnya

Link terkait

Yahoo! NewsOleh Yahoo! News | Yahoo! News 

Oleh Takepart.com

“Tidak ada yang radikal tentang hal yang kita bicarakan,” tutur jurnalis dan aktivis perubahan iklim Bill McKibben di hadapan 1.000 orang di University of California Los Angeles kemarin malam. “Orang yang radikal bekerja untuk perusahaan minyak.”

Pernyataan seperti itu mungkin terdengar berlebihan bagi kebanyakan orang Amerika. Namun, siapa pun yang mengikuti penuh kuliah McKibben akan tahu dia tidak berlebihan.

McKibben berada di Los Angeles sebagai bagian dari tur nasionalnya, “Do the Math”. Berdasarkan artikel terbarunya di Rolling Stone, (“Dengan Justin Bieber sebagai model sampulnya,” canda McKibben) acara itu pada dasarnya adalah sebuah rangkaian kuliah yang didasarkan pada premis tunggal: perubahan iklim adalah matematika sederhana — dan hasil perhitungan tidak terlihat baik. Jika para pemimpin dunia tidak segera mengambil tindakan: “Planet ini akan hancur.”

Matematika iklim, McKibben menjelaskan, bekerja seperti ini. Pemimpin dunia baru-baru ini mencapai suatu perjanjian internasional yang didasarkan pada pemahaman ilmiah bahwa kenaikan suhu global 2 derajat Celsius akan menimbulkan bencana bagi masa depan umat manusia.

Untuk mencapai temperatur global yang mengkhawatirkan itu, bumi melepaskan 565 gigaton karbon dioksida ke atmosfer. Inilah masalahnya: perusahaan bahan bakar fosil saat ini memiliki 2.795 gigaton karbon dioksida dalam cadangan bahan bakar mereka — dan bisnis mereka tergantung pada bahan bakar yang dipasarkan dan digunakan. Pada tingkat konsumsi saat ini, dunia akan melewati ambang batas 565 gigaton dalam waktu 16 tahun.

Untuk mencegah kiamat, industri yang paling menguntungkan dalam sejarah umat manusia justru perlu ditutup.

“Malam ini,” kata McKibben, “kita akan mencecar industri bahan bakar fosil.”

Bukan hal yang mudah. Industri minyak memberikan keuntungan tahunan sebesar $137 miliar (sekitar Rp1,3 kuadriliun) dan kekuasaan politik. McKibben mencatat, “perusahaan minyak patuh hukum karena mereka bisa mendikte hukum.”

Namun, ada beberapa angka yang menguntungkan McKibben. Jajak pendapat terbaru menunjukkan 74 persen orang Amerika sekarang percaya pada perubahan iklim, dan 68 persen menganggap itu sebagai sesuatu yang berbahaya. Masalah yang dihadapi aktivis lingkungan adalah bagaimana menerjemahkan angka-angka itu menjadi tindakan nyata.

Munculah  “Do the Math.”

Menggunakan popularitas McKibben sebagai seorang penulis, kegiatan kuliah diubah menjadi mesin politik. Sebelum mengadakan kuliah umum, Do the Math dengan cerdas bekerja sama dengan kelompok-kelompok lingkungan setempat. Sebelum perkuliahan McKibben dimulai, kelompok-kelompok ini diperbolehkan naik ke atas panggung dan berbicara tentang isu-isu setempat yang perlu diperjuangkan.

Informasi kontak dikumpulkan untuk menjaga penonton selalu mengetahui upaya terbaru tentang isu-isu tersebut. Para penonton ternyata tidak hanya menjadi pendengar kuliah McKibben, mereka tiba-tiba menjadi bagian dari gerakan lokal lingkungan mereka.

Ini adalah strategi cerdas, dan penting — karena masalah perubahan iklim hampir secara eksklusif bersifat politis. Antara energi yang dapat diperbaharui dan teknik yang lebih efisien, teknologi sudah ada untuk mencegah bencana pemanasan global.

Meskipun penerapannya di Amerika Serikat masih tertinggal, teknologi itu sedang digunakan dalam skala massal di negara-negara lain. Di Cina dengan populasi miliaran dan kesenjangan kekayaan yang luar biasa, 25 persen negara itu masih menggunakan panel surya untuk memanaskan air. Jerman — negara dengan perekonomian kuat di Eropa — selama hampir satu dekade, berhasil mendapatkan setengah energi dari sumber yang berkelanjutan.

Hal yang sama bisa terjadi di Amerika asalkan negara itu memiliki kemauan untuk mewujudkannya. Menurut McKibben, kunci untuk mewujudkan tujuan itu adalah dengan memerangi industri bahan bakar fosil dari akarnya.

Untuk memulainya, dia menyerukan pembebasan global dari perusahaan bahan bakar fosil. “Kami meminta orang-orang yang percaya pada masalah perubahan iklim untuk menghentikan mencari nafkah dari itu. Sama seperti dengan gerakan pembebasan apartheid di Afrika Selatan, kita harus mengeliminasi perusahaan minyak yang dianggap terhormat. ”

Melanjutkan aksi protes terhadap proyek-proyek energi yang tidak berkelanjutan juga akan sangat penting. McKibben akan berada di Washington, D.C. pada 18 November untuk memimpin unjuk rasa menentang perubahan iklim dan Keystone Pipeline. “Kita tidak bisa lagi hanya berasumsi bahwa Presiden Obama akan melakukan segala yang dijanjikannya selama kampanye. Kita perlu mendorongnya. ”

“Saya tidak tahu apakah kita akan menang. Namun, saya tahu kita akan berjuang.”

LIHAT JUGA
NASA soal ramalah kiamat pada 2012
Orang-orang yang bersiap akan kedatangan kiamat
Benarkah Bumi blackout menjelang Natal
Suku Maya protes ramalan kiamat jadi komersil
Tantangan buat geolog, berhentilah mencari minyak
Makam ratu suku Maya ditemukan

Berita Lainnya

  • NASA: Tak Ada Bukti Sains Kiamat 2012

    Liputan 6Liputan 6 – Rab, 14 Nov 2012

    Liputan6.com, California: Jelang satu bulan menuju kiamat versi Suku Maya pada 21 Desember 2012, Badan Antariksa dan Penerbangan Amerika Serikat (NASA) kembali melansir beberapa penjelasan ilmiah untuk membantahnya. NASA dalam situs resminya menyatakan dunia tidak akan berakhir pada 21 Desember mendatang. Namun, dipastikan akan terjadi titik balik Matahari.

    “Untuk klaim, bencana, atau perubahan dramatis apa pun pada tahun 2012, mana pemaparan sainsnya Mana buktinya Tidak ada,” demikian papar NASA, Selasa (13/11/2012).

    Menurut kalender kuno Suku Maya, titik balik Matahari 2012 akan menandai akhir dari siklus 144 ribu hari. Siklus ini sudah berulang sebanyak 12 kali dan yang ke-13 akan jatuh pada 2012. Pada saat inilah dunia akan mencapai akhirnya.

    Tapi ditegaskan kembali oleh NASA, berakhirnya perhitungan kalender Suku Maya di tanggal tersebut, sama jika dibandingkan dengan tandasnya perhitungan normal pada 31 Desember. “Sama seperti kalender yang Anda miliki di dinding di mana tidak ada lagi tanggal sesudah 31 Desember, kalender Suku Maya tidak ada tanggal lagi sesudah 21 Desember 2012.”

    Kisah mengenai kiamat Suku Maya dimulai ketika ada cerita yang berkembang mengenai planet bernama Nibiru yang akan menabrak Bumi. Bencana ini diprediksi terjadi pada 2003 silam.

    Tapi ketika tidak ada bencana apa pun yang terjadi di tahun 2003, prediksi itu diubah ke tahun 2012. Kemudian dihubungkan dengan siklus perhitungan kalender Suku Maya dan titik balik Matahari 2012. Hingga akhirnya muncullah tanggal klaim kiamat pada 21 Desember.

    “Nibiru itu konyol karena planet ini tidak ada dan tidak pernah ada. Sama seperti halnya bagian dari imajinasi semu ilmuwan yang bahkan tidak terganggu dengan kurangnya bukti yang ada,” kata Don Yeomans, Manajer dari program NASA, Near-Earth Object, di Jet Propulsion Laboratory, California pada Januari lalu.(NatGeo)

01
Dec
11

Lingkungan : Persimpangan Perubahan Iklim

Perubahan Iklim

Oleh Yahoo! News | Newsroom Blog – Sel, 29 Nov 2011
Pertemuan Durban : Persimpangan Perubahan Iklim

Oleh: Mohammed Ikhwan

Pertemuan Durban yang berlangsung sejak 28 November hingga 9 Desember 2011 diharapkan memberikan terobosan pada masa depan penanganan perubahan iklim di dunia.

Banyak pihak menilai, pertemuan negara-negara yang berkepentingan untuk membahas perubahan iklim (Conference on Parties, COP 17) adalah sebuah persimpangan. Ada dua hal yang jadi perdebatan besar, yakni perpanjangan komitmen terhadap Protokol Kyoto dan penurunan emisi karbon bagi negara-negara berkembang.

Pada 1992, sekitar 154 negara menandatangani Konvensi Perubahan Iklim. Tujuannya tak lain menangani emisi gas rumah kaca yang dinilai berperan besar dalam pemanasan global dan perubahan iklim. Negara maju diwajibkan memikul tanggung jawab lebih dalam pengurangan emisi gas ini.

Namun hingga detik ini, mandat Protokol Kyoto tak kunjung terlaksana. Emisi gas rumah kaca dari negara-negara maju tetap meningkat. Dalam laporan badan iklim PBB yang dirilis 17 November 2011 lalu, emisi gas rumah kaca di negara industri tercatat meningkat 2,3 persen selama kurun waktu 2002-2006.

Dan perhitungan ini belum memasukkan negara dengan laju pertumbuhan ekonomi yang sangat tinggi seperti Cina dan India.

Tahun depan, komitmen pertama Protokol Kyoto akan berakhir. Maka itu, pertanyaan kunci di Durban adalah, apakah negara-negara (terutama negara maju) akan bersedia memperpanjang komitmen mereka?

Beberapa tahun terakhir telah muncul banyak resistensi terhadap Protokol Kyoto dari Amerika Serikat, Jepang, Rusia dan Kanada.

Perlu dicatat, Amerika Serikat dan beberapa negara Uni Eropa saat ini sedang mengalami krisis ekonomi. Untuk menggenjot perekonomian, mereka harus menggenjot sektor industri (yang berarti menggenjot emisi gas rumah kaca).

Di sisi lain, negara yang perekonomiannya sedang melaju seperti Cina dan India akan sulit diminta menurunkan laju industri mereka. Konsekuensinya jelas, tingkat emisi gas rumah kaca tak akan menurun. Inilah yang membuat isu perpanjangan Protokol Kyoto semakin suram.

Di sisi lain, negara-negara berkembang akan terus menggenjot upaya “gerilya” penurunan penurunan emisi gas rumah kaca. Selama ini, Indonesia dan banyak negara berkembang lain membuka diri untuk menurunkan emisi mereka sebagai kompensasi tingginya emisi di negara maju (skema offset).

Upaya ini membuka peluang Indonesia mendapatkan dana-dana dari proyek perdagangan karbon. Tapi di sisi lain, ada kekhawatiran bahwa upaya ini tidak akan menyelesaikan akar masalah.

Indonesia ditengarai akan mendapat beban ganda. Yakni sebagai negara yang rentan terhadap perubahan iklim dan harus berkorban mengurangi emisi gas rumah kaca sebagai upaya mengurangi emisi oleh negara-negara maju.

Persimpangan dalam penanganan perubahan iklim dan masa depan bumi hanya akan bisa diselesaikan dengan kemauan politik yang hebat oleh seluruh pihak — terutama dari negara maju dan negara berkembang. Sayangnya, ini belum direfleksikan dari situasi saat ini.

Sepertinya pertemuan di Durban akan sulit menjembatani perbedaan sikap dari negara-negara pihak tersebut. Padahal konsekuensi perubahan iklim ini menyangkut hidup miliaran jiwa dan juga planet kita. Masalah yang seharusnya direspon segera, sebelum semuanya terlambat.

20
Mar
11

Perubahan Iklim : Awan Hujan Payungi Jakarta

Jumat, 18/03/2011 19:44 WIB

fotoNews

Awan Hujan Payungi Jakarta

Awan-Hujancov.jpg
3 Komentar | icon_star_full icon_star_full icon_star_full icon_star_off icon_star_off

Awan pembawa hujan (Commulus Nimbus) terlihat setia memayungi Jakarta beberapa hari terakhir seperti terlihat Jumat (18/3/2011). Menurut prakiraan BMKG, kondisi ini akan berlangsung hingga akhir April 2011.

21
Feb
11

Perubahan Iklim : Ketidakpastian Prediksi Cuaca La Nina

Senin, 21/02/2011 18:20 WIB
Ketidakpastian Prediksi Cuaca, Kasus La Nina 2010/2011
Yudha Setiawan Djamil – detikNews

Jakarta – Pada 2010 kemarin kondisi cuaca di musim kemarau (Juni, Juli dan Agustus) tetap menunjukkan tingkat curah hujan di atas normal, hal ini membuat Kepala Divisi Perubahan Iklim BMKG menyebutnya sebagai periode “Kemarau Basah”. Kondisi cuaca seperti ini memberi pengaruh buruk yang signifkan pada sektor pertanian, kegagalan panen terjadi mulai dari tebu, tembakau sampai di awal 2011 ini terjadi pada komoditi cabai. Dampak buruk ini telah dirasakan di berbagai daerah, yaitu dengan meningkatnya harga komoditi tani.

BMKG sebagai badan yang bertanggung jawab memantau, menganalisa dan menginformasikan kondisi iklim/ cuaca ke masyarakat telah mengeluarkan informasi tentang kemungkinan terjadinya kemarau basah sejak awal 2010, informasi ini terus diperbaharui (terakhir 3 Januari 2011). Kejadian La Nina diidentifikasi sebagai pendorong utama di samping faktor-faktor lainnya. Dalam dokumentasinya BMKG juga melampirkan hasil prediksi kondisi La Nina 2-3 bulan ke depan yang disandingkan dengan hasil prediksi badan-badan cuaca internasional lainnya. Hasil prediksi ini terus diperbarui oleh BMKG (di samping informasi kondisi terkini) dan publik bisa mendapatkannya dari situs BMKG di internet.

Melakukan prediksi cuaca bukanlah perkara sederhana, dibutuhkan formulasi kondisi cuaca sebagai fungsi waktu yang disebut dengan model cuaca. Model cuaca sebagaimana formulasi matematis dalam aplikasi fisis pasti memiliki rentang ketidakpastian (range of uncertainty). Rentang ketidakpastian muncul karena beberapa hal, salah satu yang mendasar ialah penjalaran ketidakpastian dari data akibat keterbatasan tingkat ketelitian alat ukur yang digunakan. Kemudian juga sifat dari formulasi yang digunakan apabila bersifat acak (chaos) maka hasil keluarannya akan memberi nilai berbeda-beda dan membentuk suatu sebaran, pola sebaran ini juga memberikan informasi tentang rentang ketidakpastian.

Sifat dari formulasi model cuaca telah diidentifikasi sebagai chaos, hal ini membuat rentang ketidakpastian dari hasil prediksinya menjadi penting. Rentang nilai ini kerap ditampilkan dalam suatu rentang statistik dengan probabilitas 90-99%, ini artinya kemungkinan besar nilai prediksi yang muncul berada pada rentang nilai tersebut tanpa ada satu nilai yang pasti. Menjadi penting untuk dicermati kemudian ialah sebesar apa rentang ketidakpastian ini, sebab apabila rentang nilai ini terlalu besar maka hasil prediksi bisa dinilai tidak signifikan dan disarankan untuk diabaikan. Dengan kata lain, model tersebut tidak dapat dipercaya.

Laporan BMKG pada Juli 2010 tidak menampilkan rentang ketidakpastian untuk hasil prediksi indeks Nino (parameter ukur kejadian El Nino-La Nina) tertanggal 14 Juni 2010. Pada pemutakhiran dokumen tertanggal 3 Januari 2011 BMKG melampirkan sebaran hasil prediksi indeks Nino yang bisa memberikan gambaran tentang rentang ketidakpastian. Sayangnya hal ini hanya muncul pada laporan hasil prediksi indeks Nino oleh lembaga cuaca luar negeri (NOAA-Amerika, JAMSTEC-Jepang dan BOM-Australia) tapi tidak dengan BMKG sendiri. Kondisi ini tentunya menjadi tanda tanya besar akan kualitas model cuaca yang digunakan oleh BMKG, sebab apabila ternyata nilai rentang ketidakpastian cukup besar maka selayaknya hasil tersebut tidak diinformasikan ke-publik.

Rentang ketidakpastian sangat penting untuk ditampilkan sebagai bagian dari kredibilitas model cuaca itu sendiri. Memperkecil rentang ketidakpastian adalah usaha yang terus dilakukan oleh para ilmuwan bidang cuaca, agar dapat memberikan nilai prediksi yang semakin signifikan. BMKG sebagai lembaga pemerintah dituntut untuk memberikan informasi prediksi cuaca sebaik mungkin kepada publik terutama sektor pertanian, maka sangatlah penting bagi BMKG untuk turut peduli akan perkembangan mutakhir kemajuan performa model cuaca didunia dan berusaha meng-adopsi-nya. Selama performa model cuaca yang digunakan oleh BMKG dipertanyakan, maka selama itu pula informasi prediksi cuaca oleh BMKG tidak akan dapat dipandang secara serius.

Referensi :
http://iklim.bmg.go.id/ekstrim/revisi_072010.ppt
http://www.bmkg.go.id/share/Dokumen/update_nino_131210.pdf

*) Yudha Setiawan Djamil adalah lulusan program studi Meteorologi ITB, kini staf peneliti di NTU-Singapura.

(vit/vit)

08
Nov
10

IpTek : Modifikasi BlackBerry dan Modifikasi Cuaca Jakarta

FourSquare 1.9.5

Minggu, 7 November 2010 10:38 WIB | Iptek | Teknologi |
FourSquare 1.9.5 Percepat Fungsi BlackBerry
Foursquare 1.9.5 Percepat Fungsi BlackBerry
Blackberry (ANTARA News/Prasetyo Utomo)

Jakarta (ANTARA News) – Foursquare, perusahaan jasa pihak ketiga untuk aplikasi perangkat komunikasi seluler di Amerika Serikat (AS), meluncurkan piranti lunak versi 1.9.5 untuk mempercepat berbagai fungsi pengingat dan mempercepat akses data di peralatan BlackBerry.

Aplikasi yang dapat diakses melalui laman http://foursquare.com/blackberry/beta tersebut memiliki kelebihan mempercepat fungsi penerimaan pesan di perangkat BlackBerry, dan proses pengunduhan data dalam berbagai format menjadi lebih cepat.

Selain itu, Forsquare BlackBerry 1.9.5 dikabarkan mampu menghemat asupan baterai karena aplikasi yang dikembangkan menggunakan hanya memerlukan tenaga minimal.

Dalamk keterangan persnya, Foursquare juga mengumumkan bahwa aplikasi yang dikembangkannya mampu meningkatkan kepekaan perangkat BlackBerrry berteknologi layar sentuh, termasuk dalam penggunaan menggeser fungsi layarnya.

Aplikasi tersebut dapat pula diunduh melalui laman Application World khas BlackBerry maupun secara langsung menggunakan fasilitas jaringan penyedia jasanya (Over the Air/OTA).
(*)

COPYRIGHT © 2010

Baca Juga

Modifikasi Cuaca

Rabu, 27 Oktober 2010 15:10 WIB | Iptek | Teknologi |
Teknologi Modifikasi Cuaca Bisa Kurangi Banjir Jakarta
Teknologi Modifikasi Cuaca Bisa Kurangi Banjir Jakarta

Jakarta (ANTARA News) – Intensitas curah hujan yang cukup tinggi dan kemungkinan banjir di ibukota Jakarta musim hujan ini bisa dikurangi sejak dari dimulainya pembentukan awan dengan teknologi modifikasi cuaca.

“Teknologi modifikasi cuaca difokuskan pada pengendalian awan sebagai sumber dari curah hujan,” kata Kepala Unit Pelaksana Teknis Hujan Buatan Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), Samsul Bahri, di sela-sela Seminar “Teknologi Modifikasi Cuaca untuk Energi dan Lingkungan yang Lebih Baik” di Jakarta, Rabu.

Dikatakan Samsul, ada tiga sumber curah hujan di Jakarta. Yakni curah hujan yang merupakan hasil konveksi (penguapan) dari wilayah Jakarta sendiri dan curah hujan yang berasal dari konveksi di laut Jawa yang terbawa angin dan kemudian berkumpul dalam bentuk awan di langit Jakarta.

Selain itu, curah hujan yang berdasarkan orografik atau pertumbuhan awan di lereng gunung tempat hulu sungai-sungai di Jakarta seperti Gunung Gede, Pangrango dan Gunung Salak yang kemudian menuju langit Jakarta.

“Jadi sebelum awan-awan itu membesar kita bisa memecah dia menjadi awan-awan kecil atau jika sudah terlanjur matang dijatuhkan dengan intensitas hujan yang kecil sebelum sampai di Jakarta,” katanya.

Sebelum dilakukan modifikasi cuaca tersebut, lanjut dia, kondisi awan harus dipantau lebih dulu melalui radar bergerak (mobile) yang sudah dimiliki oleh BPPT.

Jika kondisi awan seperti usia awan sudah beberapa jam dan berapa menit, kandungan awan dan lainnya sudah diketahui, mulailah pihaknya melakukan penyemaian awan.

Untuk menghentikan pertumbuhan awan, penyemaian dilakukan dengan bahan semai Natrium Klorida (NaCl) dengan ukuran di bawah 10 mikron, sedangkan untuk mempercepat turunnya hujan, awan disemai dengan butiran NaCl seukuran 30-100 mikron, ujarnya.

Penyemaian awan bisa dilakukan secara konvensional ditabur melalui lubang khusus di pesawat, atau bisa dengan sistem “flare” atau ditembakkan melalui mercon ke awan.

BPPT, ujar dia, memiliki lima pesawat jenis Casa 212-200 untuk melakukan penyemaian awan.

Ia mengatakan, teknologi modifikasi cuaca memang mahal dimana tarif sesuai PP untuk Jakarta mencapai Rp110-115 juta per hari sehingga untuk operasional sebulan dibutuhkan sekitar Rp3,5 miliar.

“Jika dibandingkan dengan anggaran Pemprov DKI Jakarta untuk mengatasi banjir yang sampai ratusan miliar, apalagi jika dibandingkan dengan kerugian warga Jakarta akibat banjir, nilai itu kecil,” ujarnya.

Tahun 2002, Pemprov DKI Jakarta pernah meminta BPPT melakukan modifikasi cuaca selama lima hari untuk mengurangi banjir, ujarnya. “Sebagian awan kami buang ke Sukabumi. Hasilnya curah hujan di Jakarta memang berkurang.”

Sebelumnya Kepala Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Sri Woro pada acara yang sama mengatakan, kondisi curah hujan di Jakarta akan terus tinggi seperti hari-hari terakhir ini sampai Februari 2011.
(T.D009/P003)

COPYRIGHT © 2010

10
Mar
10

PEPORA : Empat Indikator Iklim Dan Cuaca

IKLIM DAN CUACA
El Nino dan Tiga Indikator Pengaruhi Musim Kemarau

Rabu, 10 Maret 2010 | 03:53 WIB

Jakarta, Kompas – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika saat ini terus memantau fenomena El Nino yang disertai tiga indikator lainnya, yaitu Dipole Mode, Madden Julian Oscillation, dan perubahan angin muson timur. Ke- empat fenomena ini berpengaruh secara serempak terhadap musim kemarau yang akan berlangsung di wilayah Indonesia.

”Sekarang ini tidak bisa lagi melihat data yang berdiri sendiri, seperti halnya El Nino yang diperingatkan NOAA (The National Oceanic and Atmospheric Administration) Amerika Serikat,” kata Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika Sri Woro B Harijono dalam konferensi pers mengenai Prakiraan Musim Kemarau 2010 di Indonesia, Selasa (9/3) di Jakarta.

Menurut Sri Woro, untuk mengetahui dampak terhadap musim kemarau, El Nino masih mempunyai tiga ”teman” lainnya yang juga harus dipantau.

Hasil pemantauan tersebut, yaitu El Nino pada akhir Februari 2010 masih berlangsung dengan intensitas moderat. Sementara prediksi Maret hingga Juni 2010, El Nino melemah hingga berubah netral.

Nilai indeks Dipole Mode pada Februari 2010 berkisar antara minus 0,4 dan 0,4. Ini mengindikasikan pergerakan uap air Samudra Hindia dari arah selatan India atau timur Afrika menuju wilayah Indonesia dalam intensitas normal.

Intensitas Madden Julian Oscillation (MJO) pada Februari 2010 terpantau 0,8 yang terus melemah hingga minggu pertama Maret 2010. Kondisi demikian mengindikasikan tidak ada penambahan awan hujan.

”Kesimpulannya, kemarau akan normal,” kata Sri Woro.

Berdasarkan data yang disampaikan Kepala Humas BMKG Edison Gurning, musim kemarau di beberapa wilayah di Indonesia—sebagian besar di wilayah Jawa Timur—mulai lebih awal. (NAW)




Blog Stats

  • 3,213,320 hits

Recent Comments

Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Sejarah : Bangsa Lemuria, Lelu…