Posts Tagged ‘Climate Change

27
Jan
13

Lingkungan : Gletser Andes Mencair Terlalu Cepat

Gletser Andes Mencair Terlalu Cepat

Yahoo! News

Oleh | Yahoo! News – Jum, 25 Jan 2013

Oleh Stephanie Pappas, Penulis Senior LiveScience | LiveScience.com

Gletser di Pegunungan Andes melemah pada tingkat yang belum pernah terjadi sebelumnya dalam tiga puluh tahun terakhir.

Kesimpulan tersebut diambil berdasarkan rincian penelitian terbaru yang menggabungkan penelitian di lapangan dengan foto satelit dan udara, catatan sejarah dan masa inti es yang diambil dari gletser. Kondisi tersebut lebih buruk di Andes dibandingkan rata-rata menyusutnya gletser di seluruh dunia, demikian laporan para peneliti pada 22 Januari dalam jurnal “The Cryosphere”.

Foto: LiveScience (Giulia Curatola, Philipps-Universität Marburg, distributed by the EGU)”Gletser di Tropical Andes telah menghilang rata-rata antara 30-50 persen (tergantung pada rentang pegunungan) dari permukaannya sejak akhir 70-an,” menurut pengamatan peneliti Antoine Rabatel, ilmuwan dari Laboratory for Glaciology and Environmental Geophysics di Grenoble, Prancis, dalam sebuah email kepada LiveScience.

Gletser sensitif
Pegunungan Andes di Amerika Selatan adalah tempat 99 persen gletser tropis, yakni sungai es permanen di ketinggian yang cukup tinggi, yang tidak akan terpengaruh oleh jenis suhu sejuk yang biasanya ada di daerah tropis. Meski demikian, Rabatel mengatakan, gletser sangat sensitif terhadap perubahan iklim, karena ada sedikit musim daerah tropis.

“Gletser di Andes tropis bereaksi keras dan lebih cepat daripada gletser lain di Bumi untuk setiap perubahan kondisi iklim,” katanya.

Untuk mengumpulkan cerita dari gletser selama berabad-abad lalu, Rabatel dan rekan-rekannya menggunakan data berbeda. Catatan sejarah dari permukim awal menunjukkan batas-batas gletser, seperti halnya data inti es yang diambil dengan cara pengeboran ke dalam lapisan es tahunan yang membentuk gletser.

Bahkan lumut (organsisme simbiosis yang berasal dari jamur dan ganggang atau bakteri) yang bertahan hidup pada bebatuan, atau moraine, yang terbentuk di sekitar gletser memiliki kisah yang menarik. Peneliti dapat menggunakan lumut tersebut untuk menentukan berapa lama batu tertutup dan terbebas dari es.

Foto udara pada 1950-an dan pencitraan satelit dari era 1970-an juga melacak gerakan gletser. Akhirnya, pengamatan berbasis darat dan langsung dilakukan pada banyak gletser sejak 1990-an.

Pelemahan Gletser
Semua data mengungkapkan kisah es yang mencair. Gletser Andes mencapai luas maksimal dalam zaman Little Ice Age, sebuah periode pendinginan yang berlangsung dari sekitar abad 16 hingga 19. Di daerah tropis luar Peru dan Bolivia, gletser mencapai titik maksimal mereka pada 1600-an, menurut temuan para peneliti. Gletser tertinggi Andean mencapai maksimal pada 1730-an atau sekitar itu, sedangkan gletser elevasi yang lebih rendah mencapai puncaknya sekitar 1830-an.

Sejak itu, gletser secara bertahap melemah, dengan periode mencair yang cepat pada 1800-an dan yang kedua, jauh lebih besar, di periode pencairan yang cepat dalam tiga dekade terakhir. Sejak 1970-an, gletser mengikuti pola periode pencairan yang lebih cepat dalam jarak dua sampai tiga tahun, di antara pelemahan  yang lebih lambat dan sesekali bertambah (atau tumbuh). Rata-rata keseluruhan adalah negatif secara permanen selama 50 tahun terakhir, tulis para peneliti.

Rata-rata es yang menghilang antara 30-50 persen bervariasi dari gletser ke gletser, tutur Rabatel. Beberapa gletser kecil benar-benar telah menghilang, seperti gletser Chacaltaya di Bolivia, yang dulunya resor ski tertinggi di dunia, namun menghilang pada 2009.

Gletser dengan ketinggian yang lebih rendah dari 5400 meter di atas permukaan laut mencair dua kali lebih cepat dari gletser yang lebih tinggi. Gletser-gletser rendah ini, yang membentuk mayoritas gletser Andes, diperkirakan akan punah dalam beberapa tahun atau dekade ke depan, tutur Rabatel.

Curah hujan di wilayah tersebut tidak berubah, menurut temuan para peneliti, namun suhu meningkat hampir 0,2 derajat Fahrenheit (0,1 derajat Celsius) per dekade selama 70 tahun terakhir. Hal itu berarti panas atmosfer membuat gletser melemah.

Hilangnya gletser yang terus meningkat adalah masalah utama bagi masyarakat yang tinggal di daerah barat Andes yang kering, tutur Rabatel.

“Pasokan air dari rangkaian pegunungan gletser yang tinggi penting untuk konsumsi pertanian dan domestik, serta untuk pembangkit listrik tenaga air,” tulisnya.

Untuk berita terbaru, ikuti Yahoo! Indonesia di Twitter dan Facebook

Berita Lainnya

Tujuh Resolusi untuk Bumi yang Lebih Baik

Yahoo! News

Oleh | Yahoo! News – Sel, 15 Jan 2013

Oleh Douglas Main, Staf Penulis OurAmazingPlanet | LiveScience.com

Tahun 2013 telah tiba, dan semua orang sibuk membuat (atau mungkin sudah melanggar?) resolusi tahun baru mereka. Alam beristirahat selama beberapa menit dari jadwal sibuknya untuk berbagi ide tentang cara memperbaiki situasi di planet kita dengan beberapa resolusi di tahun baru yang harus ditempuh oleh umat manusia.

Berikut adalah tujuh resolusi penting untuk Bumi di 2013:

1. Mencegah kepunahan spesies
Bumi sedang berada di tengah krisis kepunahan besar, yang terbesar sejak lenyapnya dinosaurus 65 juta tahun lalu. Laporan yang dibuat oleh sebuah kelompok konservasi World Wildlife Fund menyebutkan, tingkat keanekaragaman hayati dunia juga turun sebesar 30 persen sejak 1970-an. United Nations Environment Program memperkirakan bahwa 150-200 spesies punah setiap hari. Ini sekitar 10-100 kali lipat tingkat kepunahan alami.

Salah satu masalah yang dihadapi spesies yang terancam punah, khususnya di negara-negara berkembang, adalah perburuan. Sebagian perburuan tersebut didorong oleh permintaan akan beberapa bagian tubuh hewan untuk obat tradisional.

Sebagai contoh, Reuters melaporkan sebanyak 633 ekor badak dibunuh di Afrika Selatan pada 2012. Bandingkan dengan jumlah 448 ekor badak yang mati pada 2011 dan 13 yang mati pada 2007. Perburuan merupakan penyebab utama kepunahan banyak hewan, termasuk badak Jawa di Vietnam pada 2010.

Pada akhirnya, hilangnya keanekaragaman hayati akan mengganggu hidup Anda, karena manusia merupakan bagian dari jaringan kehidupan. Setiap spesies melayani fungsi tertentu yang tidak dapat sepenuhnya tergantikan jika ada yang punah.

2. Melestarikan hutan hujan
Hutan hujan adalah waduk penting yang terdiri dari tanaman, hewan dan mikroba. Hutan hujan adalah tempat tinggal arthropoda (kelompok yang mencakup serangga, arakhnida dan krustasea, dan semua hewan yang memiliki eksoskeleton yang keras). Arthropoda adalah kelompok hewan yang paling beragam di dunia dan melakukan segala macam peran penting dalam lingkungan mereka, mulai dari memakan kotoran hingga melakukan penyerbukan bunga.

Hutan hujan juga terdiri dari tanaman yang bisa membantu manusia, termasuk kina yang bisa dijadikan obat anti-malaria yang awalnya ditemukan di pohon kina Amazon. Sangatlah membahayakan saat kehilangan kekayaan alam semacam itu, terlebih sebelum kita sempat menemukannya.

Hutan juga menyediakan planet kita dengan pasokan oksigen yang sangat besar. Meskipun demikian, dari tahun 2000 hingga 2010, misalnya, sekitar 240.000 kilometer persegi hutan hujan Amazon rusak. Area tersebut kira-kira seluas Inggris.

3. Melindungi wilayah dengan keanekaragaman hayati yang tinggi
Tidak semua wilayah diciptakan sama. Beberapa tempat tertentu sebaiknya tidak diganggu, seperti wilayah yang menjadi habitat bagi spesies langka.

Contohnya adalah Madagaskar, yang merupakan satu-satunya tempat tinggal lemur dan banyak makhluk hidup lainnya. Namun hutan dan habitat padang rumput di lepas pantai Afrika tersebut hancur dengan cepat. Madagaskar telah kehilangan setidaknya 90 persen dari jumlah cakupan hutan aslinya.

Keindahan alam lainnya adalah Filipina, yang memiliki salah satu tingkat keanekaragaman hayati tertinggi di planet ini, namun terancam oleh penggundulan hutan dan pembangunan. Sebuah ekspedisi terbaru menemukan bahwa lebih dari 300 spesies merupakan penemuan yang baru bagi ilmu pengetahuan, termasuk hiu yang hidup di laut dalam yang bisa mengembang ketika merasa terancam. Namun spesies tersebut berada dalam ancaman terkait aktivitas manusia.

4. Mengurangi gas rumah kaca dan membatasi perubahan iklim
Manusia adalah makhluk yang banyak menggunakan gas, bahan bakar fosil dan meningkatkan konsentrasi karbon dioksida, metana, dan perangkap gas panas lainnya di atmosfer. Banyak peneliti iklim memperkirakan bahwa konsentrasi karbon dioksida di atmosfer harus dibatasi hingga 350 ppm untuk menghindari suhu panas, gelombang panas, kekeringan, naiknya permukaan laut, dan kepunahan.

Konsentrasi karbondioksida saat ini hampir 393 ppm dan meningkat sekitar 2 ppm per tahun, seperti yang diungkap Mauna Loa Observatory di Hawaii. Untuk menghindari dampak terburuk pemanasan global, manusia perlu segera menemukan sumber energi alternatif.

Dampak terburuk pemanasan global dapat dilihat di Kutub Utara dan Antartika, karena fenomena yang disebut amplifikasi kutub. Banyak wilayah di Arktik yang menghangat hingga 1,7 derajat Celcius selama 30 tahun terakhir. Arktik menjadi wilayah yang memanas lebih cepat daripada bagian belahan Bumi lainnya dan menjadi suatu pertanda bahwa pemanasan global memang benar terjadi.

Kutub juga merupakan rumah bagi hewan yang luar biasa seperti beruang kutub dan penguin, yang sensitif terhadap perubahan lingkungan. Belum lagi fakta bahwa wilayah tersebut menyimpan air beku dalam jumlah yang besar. Jika mencair, es itu akan membuat sebagian besar wilayah perkotaan dunia saat ini berada di bawah permukaan laut.

5. Mengatasi pencemaran air
Manusia benar-benar melakukan hal yang merugikan dirinya sendiri. Meskipun langkah besar telah ditempuh di Amerika Serikat, Eropa dan negara lain, namun pencemaran air tetap saja menjadi masalah besar dan terus berkembang di seluruh belahan dunia, termasuk Cina, Asia selatan dan Afrika.

Selain kerusakan yang sangat jelas yaitu  pencemaran air minum dan polusi dari limbah pertanian, hal lain yang terjadi saat pencemaran tersebut mencapai lautan adalah bahwa pencemaran akan menciptakan wilayah yang disebut zona mati.

Zona mati terbentuk karena ganggang berkembang dengan pesat dan mengonsumsi semua oksigen di wilayah tersebut hingga akhirnya spesies lain mati karena kehabisan oksigen.

6. Mengelola penangkapan ikan lebih baik dan menekan perburuan hiu
Teknik perburuan ikan yang menyebabkan kematian ikan, penyu dan mamalia laut yang terlalu banyak, sering terjadi ketika hewan-hewan tersebut tidak ditargetkan oleh nelayan. Hal terburuk dari teknik semacam itu adalah penggunaan jaring besar (termasuk jala dan pukat, yang menangkap apapun yang berada di jalur mereka) dan memancing dengan teknik longline, saat ratusan hingga ribuan kait dipasang hingga bermil-mil di belakang perahu.

Panjang rata-rata longline di Teluk Meksiko membentang hingga 48 kilometer, dan lebih dari setengah dari tuna dan ikan todak yang tertangkap dilemparkan kembali, sebagian besar sudah mati, seperti yang diungkapkan kelompok Pew Environment.

Perburuan hiu juga telah meningkat secara dramatis, terutama karena meningkatnya permintaan untuk sup sirip ikan hiu di Cina, suatu zat yang telah terbukti berulang kali mengandung racun. Sebanyak 73 juta hiu dibunuh setiap tahun untuk memenuhi kebutuhan ini. Ekosistem laut tergantung pada predator ini untuk menjaga rantai kehidupan tetap seimbang.

7. Mengurangi konsumsi

Yang satu ini cukup sederhana, yaitu mengurangi konsumsi. Penggunaan kembali bahan bekas mungkin adalah tindakan yang bagus. Hal ini bisa berarti perubahan yang sederhana seperti penggunaan kembali tas belanja, sehingga mengurangi kebutuhan akan plastik dan kertas.

Banyak barang-barang lain yang juga tidak perlu dibuang hanya karena mereka sudah kuno. Sebuah penelitian terbaru menemukan bahwa sebagian besar peralatan yang dibuang masih berfungsi dengan baik. Selain itu, tingkatkan efisiensi energi dengan membuat dan membeli mobil yang lebih baik, seperti kendaraan hibrida atau listrik yang didukung oleh sumber-sumber daya yang dapat diperbarui.

Anda juga dapat melakukan hal-hal sederhana seperti mematikan lampu dan peralatan elektronik lainnya, menggunakan termostat yang bisa diprogram dan mengganti filter udara AC.

Menggunakan lebih sedikit plastik juga merupakan langkah yang baik. Sumber daya bumi terbatas, dan jika manusia tidak lebih berhati-hati, maka kerusakan Bumi akan menjadi semakin jelas.

15
Nov
12

Bencana Alam : Do The Math, Akhir Dunia Tahun 2028 ?

2028 : Akhir Dunia ?

Ilustrasi (Foto: Thinkstock)

Akhir dunia akan datang pada 2028

Hancurnya Planet Bumi hanya hitung-hitungan matematika sederhana. Maka siap-siap 2028. Sebabnya

Link terkait

Yahoo! NewsOleh Yahoo! News | Yahoo! News 

Oleh Takepart.com

“Tidak ada yang radikal tentang hal yang kita bicarakan,” tutur jurnalis dan aktivis perubahan iklim Bill McKibben di hadapan 1.000 orang di University of California Los Angeles kemarin malam. “Orang yang radikal bekerja untuk perusahaan minyak.”

Pernyataan seperti itu mungkin terdengar berlebihan bagi kebanyakan orang Amerika. Namun, siapa pun yang mengikuti penuh kuliah McKibben akan tahu dia tidak berlebihan.

McKibben berada di Los Angeles sebagai bagian dari tur nasionalnya, “Do the Math”. Berdasarkan artikel terbarunya di Rolling Stone, (“Dengan Justin Bieber sebagai model sampulnya,” canda McKibben) acara itu pada dasarnya adalah sebuah rangkaian kuliah yang didasarkan pada premis tunggal: perubahan iklim adalah matematika sederhana — dan hasil perhitungan tidak terlihat baik. Jika para pemimpin dunia tidak segera mengambil tindakan: “Planet ini akan hancur.”

Matematika iklim, McKibben menjelaskan, bekerja seperti ini. Pemimpin dunia baru-baru ini mencapai suatu perjanjian internasional yang didasarkan pada pemahaman ilmiah bahwa kenaikan suhu global 2 derajat Celsius akan menimbulkan bencana bagi masa depan umat manusia.

Untuk mencapai temperatur global yang mengkhawatirkan itu, bumi melepaskan 565 gigaton karbon dioksida ke atmosfer. Inilah masalahnya: perusahaan bahan bakar fosil saat ini memiliki 2.795 gigaton karbon dioksida dalam cadangan bahan bakar mereka — dan bisnis mereka tergantung pada bahan bakar yang dipasarkan dan digunakan. Pada tingkat konsumsi saat ini, dunia akan melewati ambang batas 565 gigaton dalam waktu 16 tahun.

Untuk mencegah kiamat, industri yang paling menguntungkan dalam sejarah umat manusia justru perlu ditutup.

“Malam ini,” kata McKibben, “kita akan mencecar industri bahan bakar fosil.”

Bukan hal yang mudah. Industri minyak memberikan keuntungan tahunan sebesar $137 miliar (sekitar Rp1,3 kuadriliun) dan kekuasaan politik. McKibben mencatat, “perusahaan minyak patuh hukum karena mereka bisa mendikte hukum.”

Namun, ada beberapa angka yang menguntungkan McKibben. Jajak pendapat terbaru menunjukkan 74 persen orang Amerika sekarang percaya pada perubahan iklim, dan 68 persen menganggap itu sebagai sesuatu yang berbahaya. Masalah yang dihadapi aktivis lingkungan adalah bagaimana menerjemahkan angka-angka itu menjadi tindakan nyata.

Munculah  “Do the Math.”

Menggunakan popularitas McKibben sebagai seorang penulis, kegiatan kuliah diubah menjadi mesin politik. Sebelum mengadakan kuliah umum, Do the Math dengan cerdas bekerja sama dengan kelompok-kelompok lingkungan setempat. Sebelum perkuliahan McKibben dimulai, kelompok-kelompok ini diperbolehkan naik ke atas panggung dan berbicara tentang isu-isu setempat yang perlu diperjuangkan.

Informasi kontak dikumpulkan untuk menjaga penonton selalu mengetahui upaya terbaru tentang isu-isu tersebut. Para penonton ternyata tidak hanya menjadi pendengar kuliah McKibben, mereka tiba-tiba menjadi bagian dari gerakan lokal lingkungan mereka.

Ini adalah strategi cerdas, dan penting — karena masalah perubahan iklim hampir secara eksklusif bersifat politis. Antara energi yang dapat diperbaharui dan teknik yang lebih efisien, teknologi sudah ada untuk mencegah bencana pemanasan global.

Meskipun penerapannya di Amerika Serikat masih tertinggal, teknologi itu sedang digunakan dalam skala massal di negara-negara lain. Di Cina dengan populasi miliaran dan kesenjangan kekayaan yang luar biasa, 25 persen negara itu masih menggunakan panel surya untuk memanaskan air. Jerman — negara dengan perekonomian kuat di Eropa — selama hampir satu dekade, berhasil mendapatkan setengah energi dari sumber yang berkelanjutan.

Hal yang sama bisa terjadi di Amerika asalkan negara itu memiliki kemauan untuk mewujudkannya. Menurut McKibben, kunci untuk mewujudkan tujuan itu adalah dengan memerangi industri bahan bakar fosil dari akarnya.

Untuk memulainya, dia menyerukan pembebasan global dari perusahaan bahan bakar fosil. “Kami meminta orang-orang yang percaya pada masalah perubahan iklim untuk menghentikan mencari nafkah dari itu. Sama seperti dengan gerakan pembebasan apartheid di Afrika Selatan, kita harus mengeliminasi perusahaan minyak yang dianggap terhormat. ”

Melanjutkan aksi protes terhadap proyek-proyek energi yang tidak berkelanjutan juga akan sangat penting. McKibben akan berada di Washington, D.C. pada 18 November untuk memimpin unjuk rasa menentang perubahan iklim dan Keystone Pipeline. “Kita tidak bisa lagi hanya berasumsi bahwa Presiden Obama akan melakukan segala yang dijanjikannya selama kampanye. Kita perlu mendorongnya. ”

“Saya tidak tahu apakah kita akan menang. Namun, saya tahu kita akan berjuang.”

LIHAT JUGA
NASA soal ramalah kiamat pada 2012
Orang-orang yang bersiap akan kedatangan kiamat
Benarkah Bumi blackout menjelang Natal
Suku Maya protes ramalan kiamat jadi komersil
Tantangan buat geolog, berhentilah mencari minyak
Makam ratu suku Maya ditemukan

Berita Lainnya

  • NASA: Tak Ada Bukti Sains Kiamat 2012

    Liputan 6Liputan 6 – Rab, 14 Nov 2012

    Liputan6.com, California: Jelang satu bulan menuju kiamat versi Suku Maya pada 21 Desember 2012, Badan Antariksa dan Penerbangan Amerika Serikat (NASA) kembali melansir beberapa penjelasan ilmiah untuk membantahnya. NASA dalam situs resminya menyatakan dunia tidak akan berakhir pada 21 Desember mendatang. Namun, dipastikan akan terjadi titik balik Matahari.

    “Untuk klaim, bencana, atau perubahan dramatis apa pun pada tahun 2012, mana pemaparan sainsnya Mana buktinya Tidak ada,” demikian papar NASA, Selasa (13/11/2012).

    Menurut kalender kuno Suku Maya, titik balik Matahari 2012 akan menandai akhir dari siklus 144 ribu hari. Siklus ini sudah berulang sebanyak 12 kali dan yang ke-13 akan jatuh pada 2012. Pada saat inilah dunia akan mencapai akhirnya.

    Tapi ditegaskan kembali oleh NASA, berakhirnya perhitungan kalender Suku Maya di tanggal tersebut, sama jika dibandingkan dengan tandasnya perhitungan normal pada 31 Desember. “Sama seperti kalender yang Anda miliki di dinding di mana tidak ada lagi tanggal sesudah 31 Desember, kalender Suku Maya tidak ada tanggal lagi sesudah 21 Desember 2012.”

    Kisah mengenai kiamat Suku Maya dimulai ketika ada cerita yang berkembang mengenai planet bernama Nibiru yang akan menabrak Bumi. Bencana ini diprediksi terjadi pada 2003 silam.

    Tapi ketika tidak ada bencana apa pun yang terjadi di tahun 2003, prediksi itu diubah ke tahun 2012. Kemudian dihubungkan dengan siklus perhitungan kalender Suku Maya dan titik balik Matahari 2012. Hingga akhirnya muncullah tanggal klaim kiamat pada 21 Desember.

    “Nibiru itu konyol karena planet ini tidak ada dan tidak pernah ada. Sama seperti halnya bagian dari imajinasi semu ilmuwan yang bahkan tidak terganggu dengan kurangnya bukti yang ada,” kata Don Yeomans, Manajer dari program NASA, Near-Earth Object, di Jet Propulsion Laboratory, California pada Januari lalu.(NatGeo)

01
Dec
11

Lingkungan : Persimpangan Perubahan Iklim

Perubahan Iklim

Oleh Yahoo! News | Newsroom Blog – Sel, 29 Nov 2011
Pertemuan Durban : Persimpangan Perubahan Iklim

Oleh: Mohammed Ikhwan

Pertemuan Durban yang berlangsung sejak 28 November hingga 9 Desember 2011 diharapkan memberikan terobosan pada masa depan penanganan perubahan iklim di dunia.

Banyak pihak menilai, pertemuan negara-negara yang berkepentingan untuk membahas perubahan iklim (Conference on Parties, COP 17) adalah sebuah persimpangan. Ada dua hal yang jadi perdebatan besar, yakni perpanjangan komitmen terhadap Protokol Kyoto dan penurunan emisi karbon bagi negara-negara berkembang.

Pada 1992, sekitar 154 negara menandatangani Konvensi Perubahan Iklim. Tujuannya tak lain menangani emisi gas rumah kaca yang dinilai berperan besar dalam pemanasan global dan perubahan iklim. Negara maju diwajibkan memikul tanggung jawab lebih dalam pengurangan emisi gas ini.

Namun hingga detik ini, mandat Protokol Kyoto tak kunjung terlaksana. Emisi gas rumah kaca dari negara-negara maju tetap meningkat. Dalam laporan badan iklim PBB yang dirilis 17 November 2011 lalu, emisi gas rumah kaca di negara industri tercatat meningkat 2,3 persen selama kurun waktu 2002-2006.

Dan perhitungan ini belum memasukkan negara dengan laju pertumbuhan ekonomi yang sangat tinggi seperti Cina dan India.

Tahun depan, komitmen pertama Protokol Kyoto akan berakhir. Maka itu, pertanyaan kunci di Durban adalah, apakah negara-negara (terutama negara maju) akan bersedia memperpanjang komitmen mereka?

Beberapa tahun terakhir telah muncul banyak resistensi terhadap Protokol Kyoto dari Amerika Serikat, Jepang, Rusia dan Kanada.

Perlu dicatat, Amerika Serikat dan beberapa negara Uni Eropa saat ini sedang mengalami krisis ekonomi. Untuk menggenjot perekonomian, mereka harus menggenjot sektor industri (yang berarti menggenjot emisi gas rumah kaca).

Di sisi lain, negara yang perekonomiannya sedang melaju seperti Cina dan India akan sulit diminta menurunkan laju industri mereka. Konsekuensinya jelas, tingkat emisi gas rumah kaca tak akan menurun. Inilah yang membuat isu perpanjangan Protokol Kyoto semakin suram.

Di sisi lain, negara-negara berkembang akan terus menggenjot upaya “gerilya” penurunan penurunan emisi gas rumah kaca. Selama ini, Indonesia dan banyak negara berkembang lain membuka diri untuk menurunkan emisi mereka sebagai kompensasi tingginya emisi di negara maju (skema offset).

Upaya ini membuka peluang Indonesia mendapatkan dana-dana dari proyek perdagangan karbon. Tapi di sisi lain, ada kekhawatiran bahwa upaya ini tidak akan menyelesaikan akar masalah.

Indonesia ditengarai akan mendapat beban ganda. Yakni sebagai negara yang rentan terhadap perubahan iklim dan harus berkorban mengurangi emisi gas rumah kaca sebagai upaya mengurangi emisi oleh negara-negara maju.

Persimpangan dalam penanganan perubahan iklim dan masa depan bumi hanya akan bisa diselesaikan dengan kemauan politik yang hebat oleh seluruh pihak — terutama dari negara maju dan negara berkembang. Sayangnya, ini belum direfleksikan dari situasi saat ini.

Sepertinya pertemuan di Durban akan sulit menjembatani perbedaan sikap dari negara-negara pihak tersebut. Padahal konsekuensi perubahan iklim ini menyangkut hidup miliaran jiwa dan juga planet kita. Masalah yang seharusnya direspon segera, sebelum semuanya terlambat.

20
Mar
11

Perubahan Iklim : Awan Hujan Payungi Jakarta

Jumat, 18/03/2011 19:44 WIB

fotoNews

Awan Hujan Payungi Jakarta

Awan-Hujancov.jpg
3 Komentar | icon_star_full icon_star_full icon_star_full icon_star_off icon_star_off

Awan pembawa hujan (Commulus Nimbus) terlihat setia memayungi Jakarta beberapa hari terakhir seperti terlihat Jumat (18/3/2011). Menurut prakiraan BMKG, kondisi ini akan berlangsung hingga akhir April 2011.

21
Feb
11

Perubahan Iklim : Ketidakpastian Prediksi Cuaca La Nina

Senin, 21/02/2011 18:20 WIB
Ketidakpastian Prediksi Cuaca, Kasus La Nina 2010/2011
Yudha Setiawan Djamil – detikNews

Jakarta – Pada 2010 kemarin kondisi cuaca di musim kemarau (Juni, Juli dan Agustus) tetap menunjukkan tingkat curah hujan di atas normal, hal ini membuat Kepala Divisi Perubahan Iklim BMKG menyebutnya sebagai periode “Kemarau Basah”. Kondisi cuaca seperti ini memberi pengaruh buruk yang signifkan pada sektor pertanian, kegagalan panen terjadi mulai dari tebu, tembakau sampai di awal 2011 ini terjadi pada komoditi cabai. Dampak buruk ini telah dirasakan di berbagai daerah, yaitu dengan meningkatnya harga komoditi tani.

BMKG sebagai badan yang bertanggung jawab memantau, menganalisa dan menginformasikan kondisi iklim/ cuaca ke masyarakat telah mengeluarkan informasi tentang kemungkinan terjadinya kemarau basah sejak awal 2010, informasi ini terus diperbaharui (terakhir 3 Januari 2011). Kejadian La Nina diidentifikasi sebagai pendorong utama di samping faktor-faktor lainnya. Dalam dokumentasinya BMKG juga melampirkan hasil prediksi kondisi La Nina 2-3 bulan ke depan yang disandingkan dengan hasil prediksi badan-badan cuaca internasional lainnya. Hasil prediksi ini terus diperbarui oleh BMKG (di samping informasi kondisi terkini) dan publik bisa mendapatkannya dari situs BMKG di internet.

Melakukan prediksi cuaca bukanlah perkara sederhana, dibutuhkan formulasi kondisi cuaca sebagai fungsi waktu yang disebut dengan model cuaca. Model cuaca sebagaimana formulasi matematis dalam aplikasi fisis pasti memiliki rentang ketidakpastian (range of uncertainty). Rentang ketidakpastian muncul karena beberapa hal, salah satu yang mendasar ialah penjalaran ketidakpastian dari data akibat keterbatasan tingkat ketelitian alat ukur yang digunakan. Kemudian juga sifat dari formulasi yang digunakan apabila bersifat acak (chaos) maka hasil keluarannya akan memberi nilai berbeda-beda dan membentuk suatu sebaran, pola sebaran ini juga memberikan informasi tentang rentang ketidakpastian.

Sifat dari formulasi model cuaca telah diidentifikasi sebagai chaos, hal ini membuat rentang ketidakpastian dari hasil prediksinya menjadi penting. Rentang nilai ini kerap ditampilkan dalam suatu rentang statistik dengan probabilitas 90-99%, ini artinya kemungkinan besar nilai prediksi yang muncul berada pada rentang nilai tersebut tanpa ada satu nilai yang pasti. Menjadi penting untuk dicermati kemudian ialah sebesar apa rentang ketidakpastian ini, sebab apabila rentang nilai ini terlalu besar maka hasil prediksi bisa dinilai tidak signifikan dan disarankan untuk diabaikan. Dengan kata lain, model tersebut tidak dapat dipercaya.

Laporan BMKG pada Juli 2010 tidak menampilkan rentang ketidakpastian untuk hasil prediksi indeks Nino (parameter ukur kejadian El Nino-La Nina) tertanggal 14 Juni 2010. Pada pemutakhiran dokumen tertanggal 3 Januari 2011 BMKG melampirkan sebaran hasil prediksi indeks Nino yang bisa memberikan gambaran tentang rentang ketidakpastian. Sayangnya hal ini hanya muncul pada laporan hasil prediksi indeks Nino oleh lembaga cuaca luar negeri (NOAA-Amerika, JAMSTEC-Jepang dan BOM-Australia) tapi tidak dengan BMKG sendiri. Kondisi ini tentunya menjadi tanda tanya besar akan kualitas model cuaca yang digunakan oleh BMKG, sebab apabila ternyata nilai rentang ketidakpastian cukup besar maka selayaknya hasil tersebut tidak diinformasikan ke-publik.

Rentang ketidakpastian sangat penting untuk ditampilkan sebagai bagian dari kredibilitas model cuaca itu sendiri. Memperkecil rentang ketidakpastian adalah usaha yang terus dilakukan oleh para ilmuwan bidang cuaca, agar dapat memberikan nilai prediksi yang semakin signifikan. BMKG sebagai lembaga pemerintah dituntut untuk memberikan informasi prediksi cuaca sebaik mungkin kepada publik terutama sektor pertanian, maka sangatlah penting bagi BMKG untuk turut peduli akan perkembangan mutakhir kemajuan performa model cuaca didunia dan berusaha meng-adopsi-nya. Selama performa model cuaca yang digunakan oleh BMKG dipertanyakan, maka selama itu pula informasi prediksi cuaca oleh BMKG tidak akan dapat dipandang secara serius.

Referensi :
http://iklim.bmg.go.id/ekstrim/revisi_072010.ppt
http://www.bmkg.go.id/share/Dokumen/update_nino_131210.pdf

*) Yudha Setiawan Djamil adalah lulusan program studi Meteorologi ITB, kini staf peneliti di NTU-Singapura.

(vit/vit)

08
Nov
10

IpTek : Modifikasi BlackBerry dan Modifikasi Cuaca Jakarta

FourSquare 1.9.5

Minggu, 7 November 2010 10:38 WIB | Iptek | Teknologi |
FourSquare 1.9.5 Percepat Fungsi BlackBerry
Foursquare 1.9.5 Percepat Fungsi BlackBerry
Blackberry (ANTARA News/Prasetyo Utomo)

Jakarta (ANTARA News) – Foursquare, perusahaan jasa pihak ketiga untuk aplikasi perangkat komunikasi seluler di Amerika Serikat (AS), meluncurkan piranti lunak versi 1.9.5 untuk mempercepat berbagai fungsi pengingat dan mempercepat akses data di peralatan BlackBerry.

Aplikasi yang dapat diakses melalui laman http://foursquare.com/blackberry/beta tersebut memiliki kelebihan mempercepat fungsi penerimaan pesan di perangkat BlackBerry, dan proses pengunduhan data dalam berbagai format menjadi lebih cepat.

Selain itu, Forsquare BlackBerry 1.9.5 dikabarkan mampu menghemat asupan baterai karena aplikasi yang dikembangkan menggunakan hanya memerlukan tenaga minimal.

Dalamk keterangan persnya, Foursquare juga mengumumkan bahwa aplikasi yang dikembangkannya mampu meningkatkan kepekaan perangkat BlackBerrry berteknologi layar sentuh, termasuk dalam penggunaan menggeser fungsi layarnya.

Aplikasi tersebut dapat pula diunduh melalui laman Application World khas BlackBerry maupun secara langsung menggunakan fasilitas jaringan penyedia jasanya (Over the Air/OTA).
(*)

COPYRIGHT © 2010

Baca Juga

Modifikasi Cuaca

Rabu, 27 Oktober 2010 15:10 WIB | Iptek | Teknologi |
Teknologi Modifikasi Cuaca Bisa Kurangi Banjir Jakarta
Teknologi Modifikasi Cuaca Bisa Kurangi Banjir Jakarta

Jakarta (ANTARA News) – Intensitas curah hujan yang cukup tinggi dan kemungkinan banjir di ibukota Jakarta musim hujan ini bisa dikurangi sejak dari dimulainya pembentukan awan dengan teknologi modifikasi cuaca.

“Teknologi modifikasi cuaca difokuskan pada pengendalian awan sebagai sumber dari curah hujan,” kata Kepala Unit Pelaksana Teknis Hujan Buatan Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), Samsul Bahri, di sela-sela Seminar “Teknologi Modifikasi Cuaca untuk Energi dan Lingkungan yang Lebih Baik” di Jakarta, Rabu.

Dikatakan Samsul, ada tiga sumber curah hujan di Jakarta. Yakni curah hujan yang merupakan hasil konveksi (penguapan) dari wilayah Jakarta sendiri dan curah hujan yang berasal dari konveksi di laut Jawa yang terbawa angin dan kemudian berkumpul dalam bentuk awan di langit Jakarta.

Selain itu, curah hujan yang berdasarkan orografik atau pertumbuhan awan di lereng gunung tempat hulu sungai-sungai di Jakarta seperti Gunung Gede, Pangrango dan Gunung Salak yang kemudian menuju langit Jakarta.

“Jadi sebelum awan-awan itu membesar kita bisa memecah dia menjadi awan-awan kecil atau jika sudah terlanjur matang dijatuhkan dengan intensitas hujan yang kecil sebelum sampai di Jakarta,” katanya.

Sebelum dilakukan modifikasi cuaca tersebut, lanjut dia, kondisi awan harus dipantau lebih dulu melalui radar bergerak (mobile) yang sudah dimiliki oleh BPPT.

Jika kondisi awan seperti usia awan sudah beberapa jam dan berapa menit, kandungan awan dan lainnya sudah diketahui, mulailah pihaknya melakukan penyemaian awan.

Untuk menghentikan pertumbuhan awan, penyemaian dilakukan dengan bahan semai Natrium Klorida (NaCl) dengan ukuran di bawah 10 mikron, sedangkan untuk mempercepat turunnya hujan, awan disemai dengan butiran NaCl seukuran 30-100 mikron, ujarnya.

Penyemaian awan bisa dilakukan secara konvensional ditabur melalui lubang khusus di pesawat, atau bisa dengan sistem “flare” atau ditembakkan melalui mercon ke awan.

BPPT, ujar dia, memiliki lima pesawat jenis Casa 212-200 untuk melakukan penyemaian awan.

Ia mengatakan, teknologi modifikasi cuaca memang mahal dimana tarif sesuai PP untuk Jakarta mencapai Rp110-115 juta per hari sehingga untuk operasional sebulan dibutuhkan sekitar Rp3,5 miliar.

“Jika dibandingkan dengan anggaran Pemprov DKI Jakarta untuk mengatasi banjir yang sampai ratusan miliar, apalagi jika dibandingkan dengan kerugian warga Jakarta akibat banjir, nilai itu kecil,” ujarnya.

Tahun 2002, Pemprov DKI Jakarta pernah meminta BPPT melakukan modifikasi cuaca selama lima hari untuk mengurangi banjir, ujarnya. “Sebagian awan kami buang ke Sukabumi. Hasilnya curah hujan di Jakarta memang berkurang.”

Sebelumnya Kepala Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Sri Woro pada acara yang sama mengatakan, kondisi curah hujan di Jakarta akan terus tinggi seperti hari-hari terakhir ini sampai Februari 2011.
(T.D009/P003)

COPYRIGHT © 2010

10
Mar
10

PEPORA : Empat Indikator Iklim Dan Cuaca

IKLIM DAN CUACA
El Nino dan Tiga Indikator Pengaruhi Musim Kemarau

Rabu, 10 Maret 2010 | 03:53 WIB

Jakarta, Kompas – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika saat ini terus memantau fenomena El Nino yang disertai tiga indikator lainnya, yaitu Dipole Mode, Madden Julian Oscillation, dan perubahan angin muson timur. Ke- empat fenomena ini berpengaruh secara serempak terhadap musim kemarau yang akan berlangsung di wilayah Indonesia.

”Sekarang ini tidak bisa lagi melihat data yang berdiri sendiri, seperti halnya El Nino yang diperingatkan NOAA (The National Oceanic and Atmospheric Administration) Amerika Serikat,” kata Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika Sri Woro B Harijono dalam konferensi pers mengenai Prakiraan Musim Kemarau 2010 di Indonesia, Selasa (9/3) di Jakarta.

Menurut Sri Woro, untuk mengetahui dampak terhadap musim kemarau, El Nino masih mempunyai tiga ”teman” lainnya yang juga harus dipantau.

Hasil pemantauan tersebut, yaitu El Nino pada akhir Februari 2010 masih berlangsung dengan intensitas moderat. Sementara prediksi Maret hingga Juni 2010, El Nino melemah hingga berubah netral.

Nilai indeks Dipole Mode pada Februari 2010 berkisar antara minus 0,4 dan 0,4. Ini mengindikasikan pergerakan uap air Samudra Hindia dari arah selatan India atau timur Afrika menuju wilayah Indonesia dalam intensitas normal.

Intensitas Madden Julian Oscillation (MJO) pada Februari 2010 terpantau 0,8 yang terus melemah hingga minggu pertama Maret 2010. Kondisi demikian mengindikasikan tidak ada penambahan awan hujan.

”Kesimpulannya, kemarau akan normal,” kata Sri Woro.

Berdasarkan data yang disampaikan Kepala Humas BMKG Edison Gurning, musim kemarau di beberapa wilayah di Indonesia—sebagian besar di wilayah Jawa Timur—mulai lebih awal. (NAW)

30
Jan
10

PEPORA : Matahari Tidur, Bumi Membeku vs Lapangan Kerja

Cuaca
Matahari Tidur, Bumi Membeku

Kompas, Sabtu, 30 Januari 2010 | 03:31 WIB

YUNI IKAWATI

Cuaca dingin ekstrem melanda kawasan lintang tinggi bumi. Fenomena ini, antara lain, disebabkan oleh matahari yang tidur berkepanjangan. Dampaknya menjadi terasa berat karena semakin diperparah oleh adanya pemanasan bumi dan perubahan iklim global.

Sejak Desember lalu, suhu ekstrem terus melanda kawasan Lintang Utara, yaitu mulai dari benua Amerika, Eropa, hingga Asia. Di Eropa, suhu dingin bulan lalu pernah mencapai minus 16 derajat celsius di Rusia dan minus 22 derajat celsius di Jerman. Bagi Inggris, ini suhu ekstrem terdingin dalam 30 tahun terakhir. Jalur transportasi ke Perancis lumpuh.

Amerika Serikat pun mengalami hal yang sama. Serbuan cuaca ekstrem ini berdampak pada kegagalan panen di Florida dan menyebabkan dua orang meninggal di New York.

Kejadian luar biasa yang berskala global ini diyakini para pengamat meteorologi dan astronomi berkaitan dengan kondisi melemahnya aktivitas matahari yang ditandai menurunnya kejadian bintik matahari atau sunspot .

Bintik hitam yang tampak di permukaan matahari melalui teropong bila dilihat dari sisi samping menyerupai tonggak yang muncul dari permukaan matahari. Tonggak itu terjadi akibat berpusarnya massa magnet di perut matahari hingga menembus permukaan.

Akibat munculnya bintik hitam berdiameter sekitar 32.000 kilometer atau 2,5 kali diameter rata-rata bumi, suhu gas di fotosfer dan khromosfer naik sekitar 800 derajat celsius dari normalnya. Hal ini dapat mengakibatkan badai matahari dan ledakan cahaya yang disebut flare.

Namun, yang terjadi beberapa tahun terakhir ini adalah matahari non-aktif. Menurunnya aktivitas matahari itu berdasarkan pantauan Clara Yono Yatini, Kepala Bidang Matahari dan Antariksa Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan), mulai terlihat sejak tahun 2000.

Para pakar astrofisika matahari di dunia menyebutkan, tahun 2008 sebagai tahun dengan hari tanpa bintik matahari yang tergolong terendah dalam 50 tahun terakhir. Mereka memperkirakan beberapa tahun sesudah 2008 akan menjadi tahun-tahun yang dingin, kata Mezak Ratag, pakar astrofisika yang tengah merintis pendirian Earth and Space Science Institute di Manado, Sulawesi Utara.

Pengukuran kuat medan magnet bintik matahari dalam 20 tahun terakhir di Observatorium Kitt Peak Arizona menunjukkan penurunan. Dari medan magnet maksimum rata-rata 3.000 gauss pada awal 1990-an turun menjadi sekitar 2.000 gauss saat ini.

Penurunan sangat signifikan ini merupakan bukti bahwa hingga beberapa waktu ke depan matahari masih akan pada keadaan malas, kata Mezak. Ia memperkirakan kalau aktivitas maksimumnya terjadi pada sekitar tahun 2013, tingkatnya tidak akan setinggi maksimum dalam beberapa siklus terakhir.

Matahari dan iklim

Saat matahari redup berkepanjangan, musim dingin ekstrem berpotensi terjadi. Karena matahari sumber energi bagi lingkungan tata surya adalah penggerak mesin iklim di bumi.

Sejak 1865, data di Lapan menunjukkan kecenderungan curah hujan berkurang saat matahari tenang. Demikian pula musim dingin parah sejak akhir 2009 terjadi saat matahari amat tenang ( deep minimum ) mirip kejadian 1995 -1996, urai Thomas Djamaluddin, Kepala Pusat Pemanfaatan Sains Atmosfer dan Iklim Lapan.

Bukti keterkaitan dengan perilaku matahari ini ditunjukkan oleh fenomena kebalikannya, yaitu musim dingin minim salju, saat matahari aktif pada tahun 1989. Musim dingin sangat panjang terjadi saat minimum Maunder tahun 1645-1716 dan minimum Dalton awal 1980-an.

Kondisi serupa terjadi pada 1910-1914. Itu banyak dikaitkan dengan dinginnya laut pada musibah tenggelamnya Titanic pada April 1912. Normalnya, waktu itu sudah musim semi.

Sementara itu, Mezak berpendapat, pola aktivitas matahari minimum saat ini mirip dengan kejadian tahun 1880, 1890, 1900, dan 1910. Jadi, siklus matahari tidak hanya menunjukkan siklus sebelas tahun. Ada siklus lebih panjang dengan periode sekitar 100 tahunsiklus Gleisberg. Dalam catatan meteorologis, saat terjadi siklus itu banyak cuaca ekstrem dingin, tetapi tidak seekstrem Minimum Maunder.

Cuaca dan GRK

Efek aktivitas matahari minimum lebih banyak memengaruhi daerah lintang tinggi. Aktivitas matahari sejak sekitar tahun 2007 hingga kini memperbesar peluang terjadinya gradien suhu yang besar antara lintang tinggi dan lintang rendah. Akibatnya, kecepatan komponen angin arah utara-selatan (meridional) tinggi.

Prof CP Chang, yang mengetuai Panel Eksekutif Monsun Badan Meteorologi Dunia (WMO), berkesimpulan, aktivitas monsoon lintas-ekuator yang dipicu gradien suhu yang besar di arah utara-selatan akhir-akhir ini meningkat secara signifikan dibanding dengan statistik 50 tahun terakhir.

Hal ini memperkuat dugaan, aktivitas matahari minimum yang panjang berkaitan erat dengan cuaca ekstrem dingin. Di Indonesia, kejadian angin berkecepatan tinggi lintas ekuator menjadi penyebab utama munculnya gelombang-gelombang tinggi dari Laut China Selatan ke perairan Laut Jawa.

Adanya gas rumah kaca di atmosfer, lanjut Thomas, juga meningkatkan suhu udara yang menyebabkan perubahan iklim. Efek gabungannya cenderung tingkatkan kerawanan bencana terkait iklim, kata Thomas.

Teori pemanasan global mengatakan, atmosfer yang memanas membuat partikel-partikel udara menjadi semakin energetik dan berpotensi menghasilkan cuaca ekstrem.

Timur Makin Bangkit, Barat Mulai Gusar

Kompas, Sabtu, 30 Januari 2010 | 04:11 WIB

DAVOS, Jumat – Krisis global sudah mempercepat per alihan kekuasaan ekonomi dari Barat ke Timur, yang membuat Barat gusar. Demikian diungkapkan para panelis di Forum Davos, Jumat (29/1). Pergeseran kekuasaan itu juga membawa dampak-dampak politis.

Hirotaka Takeuchi dari Hitotsubashi University, Jepang, mengatakan, krisis merupakan hal yang jelas-jelas meningkatkan kecenderungan itu.

Mereka (para pengamat) sungguh-sungguh tepat. Kuncinya kini adalah Asia, ujarnya sebagai reaksi dari jajak pendapat BBC Inggris yang menemukan bahwa 60 persen responden yang disurvei mengatakan krisis ini telah menaikkan pamor Timur.

Volume perdagangan Jepang ke China sudah mencapai 48,5 persen dari total perdagangan Jepang dengan dunia. Itulah kenyataannya dan itulah masa depan kita, ujar Takeuchi.

Lapangan kerja

Kenneth Roth, Direktur Eksekutif Human Rights Watch, mengatakan, Menurut saya, kesulitan ekonomi yang kita alami telah mempercepat kebangkitan wilayah Timur, khususnya China.

Roht mengatakan, pergeseran kekuasaan juga menimbulkan kekhawatiran. Saya khawatir mengenai konsekuensi politisnya. Apakah China akan menjadi model dari pembangunan ekonomi dan liberalisasi politik? tuturnya.

Pergeseran itu juga mempunyai dampak pada pasar tenaga kerja global. Lapangan kerja ada di Timur, tidak berada di Barat, di tempat tantangan itu berada, ujar Gerard Lyons, ekonom senior di Standard Chartered Bank. Kenyataannya adalah banyak orang di Barat yang merasa kesulitan untuk menghadapi era dan fakta bahwa ada pergeseran kekuatan itu, katanya.(AFP/joe)

KOLOM POLITIK-EKONOMI
(me-Mandiri-kan) Anak Bangsa

Kompas, Sabtu, 30 Januari 2010 | 02:39 WIB

Oleh Andi Suruji

Pernyataan Agus Martowardojo itu disambut gempita sekitar 4.000 mahasiswa dari sejumlah perguruan tinggi se-Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi di Jakarta Convention Center, pekan lalu, dalam acara pemberian penghargaan wirausaha muda mandiri.

Ketika para finalis tingkat nasional dipanggil untuk naik ke pentas, Uung Nastiya (62) yang duduk di samping saya tak kuasa menahan air mata keharuan menyaksikan anak keduanya naik pentas dan mendapat tepukan meriah dari 4.000 mahasiswa lainnya.

”Dia bisnis somai di Yogya. Dia memulai bisnisnya dengan modal dua juta rupiah. Kini dia sudah memiliki 11 outlet,” ujar Uung dengan nada bergetar penuh kebanggaan sekaligus kebahagiaan sambil mengusap air matanya.

Bangsa ini memang tidak ”mencari” pencari kerja sebab pencari kerja sudah terlampau banyak. Penganggur berjuta-juta jumlahnya. Belum lagi semua angkatan kerja sempat terserap, datang lagi angkatan kerja baru, termasuk yang berpendidikan tinggi. Kalau penganggur yang berpendidikan tinggi semakin banyak, tentu bisa berdampak sistemik serta dapat menimbulkan ekses sosial yang negatif.

Karena itulah negara ini lebih membutuhkan orang-orang yang berani membuka dan menciptakan lapangan kerja bagi dirinya sendiri. Tentu lebih mulia lagi apabila seseorang mampu menciptakan lapangan kerja bagi orang lain.

Siapa pencipta dan pemberi kerja itu? Mereka adalah para wirausaha, entrepreneur. Menurut David McCelland, untuk menjadi negara yang makmur, suatu negara harus memiliki minimum 2 persen wirausaha dari total penduduknya. Amerika Serikat, misalnya, konon pada tahun 2007 sudah memiliki 11,5 persen wirausaha, Singapura pada tahun 2005 sudah mencapai 7,2 persen, sedangkan Indonesia baru memiliki 0,18 persen wirausaha dari total penduduknya.

Saya salah satu dari belasan dewan juri dalam final kompetisi wirausaha muda mandiri yang diselenggarakan Bank Mandiri. Kompetisi di Jakarta ini merupakan ajang tingkat nasional. Mereka adalah wirausaha muda mandiri dari berbagai perguruan tinggi se-Indonesia. Ada juga sarjana dan pascasarjana. Sebelumnya, mereka mengikuti seleksi di wilayahnya masing-masing.

Mencengangkan, tak menyangka bahwa ada mahasiswa yang sudah menjalankan bisnisnya dengan omzet ratusan juta rupiah, bahkan ada yang miliaran rupiah. Lebih mencengangkan lagi, klien mereka tersebar secara global mulai dari Eropa sampai Afrika. Tanpa banyak terekspos, mereka sudah berani menceburkan diri dalam kompetisi global, yang justru ditakuti banyak orang.

Mereka mengelola bisnis di daerah dengan bermodal cekak, pas-pasan, bertindak lokal berpikir global. Mereka tidak berteriak-teriak minta fasilitas negara, tetapi diam-diam menciptakan uang dan lapangan kerja bagi orang lain.

Inilah salah satu program tanggung jawab sosial (CSR) Bank Mandiri yang dimulai sejak tahun 2007. Tahun lalu saja, jumlah peserta workshop wirausaha mandiri yang diselenggarakan di sembilan kota melibatkan 6.117 peserta dari 125 perguruan tinggi. Beasiswa setahun pun disediakan bagi 1.680 mahasiswa yang sudah berani berwirausaha. Adapun penghargaan Wirausaha Mandiri dimaksudkan sebagai penghargaan kepada generasi muda yang telah berwirausaha, sukses, dan beretika. Program penghargaan tahun lalu itu diikuti sebanyak 1.706 peserta dari 200 perguruan tinggi di 27 provinsi.

Tak hanya itu, enam perguruan tinggi bekerja sama dengan para pelaku usaha menyusun kurikulum kewirausahaan yang akan diterapkan sebagai mata kuliah di perguruan tinggi. Tak kalah pentingnya adalah pembinaan dan pendampingan berwirausaha kepada wirausaha mandiri, yakni pemenang dan finalis Wirausaha Mandiri.

Andaikan semuanya itu bisa menetas menjadi wirausaha mandiri, betapa signifikan dampaknya untuk mengatasi persoalan ketenagakerjaan. Tidaklah berlebihan apabila program pilihan jajaran manajemen Bank Mandiri itu dinilai sebagai upaya visioner. Wakil Presiden Boediono pun mengakui program CSR Bank Mandiri ini tepat sasaran karena lebih bersifat fundamental ketimbang sekadar bagi-bagi bahan kebutuhan pokok.

Seorang juri mengatakan merinding ketika ada mahasiswa memaparkan etika bisnis yang dipegangnya, seperti ini: clean business or never (berbisnis dengan bersih atau tidak sama sekali).

Tentu ini membesarkan hati manakala kita melihat fakta di tengah masyarakat bahwa kian banyak pengusaha yang mengabaikan etika berbisnis, misalnya dengan menjiplak ciptaan orang lain, membajak produk orang lain, menyelundup, menyuap untuk mendapatkan bisnis, dan mengemplang pajak. Ternyata masih banyak mutiara bertebaran di kampus-kampus di seluruh pelosok Nusantara.

Bahwa mereka—anak-anak bangsa yang telah mendapat pelatihan, pembinaan, dan fasilitas lainnya itu—kelak tidak menjadi nasabah Bank Mandiri, setidaknya Bank Mandiri telah memberikan sesuatu yang fundamental bagi generasi muda bangsa ini. Bank Mandiri telah mencoba menempa baja dan menggosok mutiara-mutiara Nusantara. Satu langkah kecil, tetapi signifikan untuk memandirikan anak-anak bangsa.

25
Dec
09

Lingkungan : Puncak Aktivitas Matahari Tahun 2013

Puncak Aktivitas Matahari Tahun 2013

Rabu, 16 Desember 2009 | 05:27 WIB

Jakarta, Kompas – Hasil pengamatan Matahari sejak tahun 2000 menunjukkan jumlah bintik Matahari cenderung menurun hingga mencapai tingkat terendah tahun 2009. Namun, tahun depan diperkirakan mulai terjadi peningkatan kejadian bintik Matahari hingga mencapai puncaknya pada tahun 2013.

Hal ini dipresentasikan Kepala Bidang Matahari dan Antariksa Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan) Clara Yono Yatini, dalam forum komunikasi kehumasan instansi pemerintah bertema ”Fenomena 2012”, di Jakarta, Selasa (15/12).

Sri Kaloka Prabotosari, Kepala Pusat Pemanfaatan Sains Antariksa Lapan, menambahkan, saat ini Matahari sedang berada pada awal siklus ke-24. ”Menurut perhitungan, puncak siklus terjadi pada sekitar tahun 2012-2013. Saat itu terjadi flare yang sangat besar,” ujarnya.

Munculnya prediksi Lapan, yang dikuatkan dengan data dari National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA), menggugurkan prakiraan tahun lalu yang menyebutkan bahwa puncak bintik Matahari terjadi tahun 2012.

Meski demikian, lanjut Clara, aktivitas Matahari yang mengancam magnet dan lingkungan ionosfer dan atmosfer Bumi bukan hanya berupa bintik Matahari, melainkan ada fenomena lain, seperti flare, lontaran massa korona (corona mass ejection/CME), badai Matahari, dan partikel energetik.

Gangguan komunikasi

Hasil pengamatan sejak tahun 2000, ketika bintik Matahari mengalami penurunan, gangguan cuaca antariksa justru terjadi karena munculnya fenomena tersebut, yaitu pada tahun 2000, 2003, dan tahun 2005.

Gangguan pada tahun-tahun tersebut antara lain mengakibatkan gangguan komunikasi satelit dan blackout atau padamnya jaringan listrik di beberapa negara. ”Oleh karena itu, pemantauan dan antisipasi menjelang puncak aktivitas Matahari harus terus dilakukan,” katanya.

Bintik hitam Matahari mencapai jumlah tertinggi pada tahun 2013 hingga 90 buah. Namun, prediksi sumber lain menyebutkan 170 buah, sama dengan kejadian tahun 2000.

Di daerah bintik hitam itu terjadi puntiran garis medan magnet Matahari. Ini berpotensi menimbulkan flare atau ledakan di permukaan Matahari akibat terbukanya kumparan medan magnet. Selain melepaskan partikel berenergi tinggi, flare juga memancarkan radiasi gelombang elektromagnetik dan menimbulkan badai Matahari. (YUN)

Peneliti Lapan :

Fenomena 2012 Siklus 11 Tahunan
Kamis, 10 Desember 2009 05:31 WIB | Iptek | Sains |
Peneliti Lapan: Fenomena 2012 Siklus 11 Tahunan
Lapan/ilustrasi (ANTARA)

Jakarta (ANTARA News) – Seorang peneliti dari Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan) menyatakan fenomena meningkatnya aktivitas matahari yang menurut ramalan suku Maya terjadi pada 2012 tidak perlu dikhawatirkan apalagi dihubungkan dengan hari kiamat.

Peneliti astronomi dan astrofisik Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan) yang baru saja dikukuhkan sebagai profesor riset Indonesia Dr Thomas Djamaluddin Msc, Rabu, menyatakan tidak ada yang istimewa dari fenomena alam 2012 itu karena hanya siklus 11 tahunan meningkatnya aktivitas matahari.

“Fenomena 2012 yang menghebohkan masyarakat lebih banyak berawal dari ramalan suku Maya, bukan berasal dari alasan ilmiah. Kalau kemudian memang ada fenomena 2012 alasan ilmiahnya apa? Tapi yang lebih banyak diungkapkan justru bukan sainsnya,” kata Thomas usai dikukuhkan sebagai profesor riset di kantor Lapan Jakarta.

Menurut Thomas, fenomena aktivitas puncak matahari sebelumnya diperkirakan terjadi pada 2011, namun titik minimumnya bergeser sehingga diperkirakan terjadi pada 2012. Namun, sekarang pun ada pergeseran lagi sehingga kemungkinan terjadi pada 2013.

Secara alamiah, tegas Thomas, tidak ada yang istimewa karena itu merupakan siklus 11 tahunan. “Terakhir terjadi pada 1989 kemudian pada 2000, dan nanti 2012 atau 2013 akan terjadi lagi.”

Orang kemudian mengkhawatirkan terjadi badai matahari, padahal tidak akan ada badai matahari dahyat yang menimbulkan dampak parah.

Badai matahari pada dasarnya adalah fenomena bumi yang sering terjadi bukan saja saat aktivitas matahari mencapai puncak, tetapi saat aktivitas mulai naik hingga turun lagi tetap ada badai matahari.

Artinya memang frekuensi kejadiannya lebih banyak pada saat puncak. Tetapi, menurut Thomas, kekuatan terbesarnya belum tentu pada saat puncak. Sering kali yang paling kuat justru setelah puncak.

“Katakan puncak yang lalu terjadi di 2000, tetapi aktivitas matahari yang paling besar, yang paling kuat justru terjadi pada 2003,” katanya.

Perbincangan fenomena aktivitas matahari ini juga berkembang, yang kemudian dikaitkan lagi dengan seolah-olah akan ada tumbukan komet.

“Itu juga secara astronomi tidak ada buktinya. Tidak ada informasi atau perkiraan akan ada komet besar yang menabrak bumi pada 2012. Kemudian ada lagi yang memperkirakan ada planet Nibiru, padahal planet Nibiru tidak dikenal dalam astronomi,” jelas Thomas.

Berbagai perbincangan mengenai fenomena 2012, seperti seolah-olah berdasarkan teori astronomi ada asteroit besar yang akan menghantam bumi, sama sekali tidak punya dasar atau tidak ada alasan astronominya.

“Jadi pada dasarnya kekhawatiran 2012 lebih banyak terkait dengan penafsiran ramalan suku Maya, dan oleh ketua suku Maya sendiri sudah menyatakan bahwa 2012 bukan akhir dan itu hanyalah pergantian item kalender yang biasa,” kata dia.

Menurut Thomas, dampak dari badai matahari yang ditimbulkan dari percikan partikel matahari dan menimbulkan medan magnit itu selama ini hanya berdampak pada keberadaan satelit di orbit dan terhadap transformer fasilitas jaringan listrik.

Badai matahari dapat menimbulkan induksi ke fasilitas jaringan listrik sehingga terjadi kelebihan beban dan bisa menyebabkan trafo meledak atau terbakar.

Sampah Antariksa

Dalam orasi ilmiahnya pada pengukuhannya sebagai profesor riset bersama Dr Ir Chunaeni Latief Msc, Thomas juga menyatakan bahwa wilayah Indonesia yang dilalui garis ekuator cukup panjang rentan menjadi tempat jatuhnya sampah antariksa yang sekarang kian banyak.

“Sampah antariksa semakin lama semakin banyak. Yang terpantau oleh sistem jaringan pemantau internasional ada sekitar 13 ribu lebih dan ancamannya bisa mengganggu satelit aktif. Dan salah satunya pernah, sampah antariksa bekas satelit Rusia menabrak satelit aktif karena semakin banyak satelit di antariksa kemungkinan bertabrakan semakin besar,” katanya.

Indonesia yang berada di garis ekuator memiliki kemungkinan lebih besar untuk terkena risiko jatuhnya sampah antariksa dibanding kawasan lain. Oleh karena itu Indonesia harus selalu waspada karena berada pada wilayah yang sering dilalui orbit satelit.

Hal itu harus menjadi perhatian Lapan dalam memberikan pelayanan informasi potensi bahaya benda jatuh dari antariksa sehingga kemungkinan terjadi hal-hal yang tidak diinginkan dapat dinetraliskan, demikian Thomas Djamaluddin.

Bersama Thomas, peneliti Lapan Dr Ir Chunaeni Latief Msc juga dikukuhkan sebagai profesor riset dalam bidang Opto Elektronika dan Aplikasi Laser. Dalam orasinya ia lebih mencermati kandungan dan efek emisi gas rumah kaca (CO2) dan pemanfaatan instumensi Satklim LPN-1A untuk penelitiannya yang bermanfaat bagi dunia penerbangan, dan kajian pemanasan global.(*)

COPYRIGHT © 2009

LAPORAN IPTEK
Bumi Makin Panas, Bumi Direkayasa

Kompas, Rabu, 16 Desember 2009 | 05:15 WIB

Oleh NINOK LEKSONO

Dari Konferensi Perubahan Iklim PBB yang alot di Kopenhagen, Denmark, kemarin di harian ini kita membaca berita berjudul ”Cuaca Ekstrem Bencana 2009”. Disebutkan di sana, dari semua bencana alam yang terjadi sepanjang tahun 2009, lebih dari tiga perempatnya terkait dengan cuaca ekstrem (Kompas, 15/12).

Di harian International Herald Tribune (11/12), mantan Perdana Menteri Portugal yang kini Komisioner Komisi Tinggi PBB untuk Urusan Pengungsi (UNHCR), Antonio Guterres, juga menulis, ”Gempa bumi, siklon, tsunami, banjir, dan tanah longsor merupakan bencana alam yang frekuensinya lipat dua dalam dua dekade terakhir.” Selain frekuensinya meningkat, katastrofi tersebut juga bertambah intensitasnya, meningkat daya penghancuran serta ancamannya terhadap kehidupan manusia. Pada tahun 2008 saja, sekitar 36 juta orang tiba-tiba harus tergusur oleh fenomena alam ini.

Menurut Guterres, meskipun angka yang disebut di atas sudah amat besar, itu masih amat kecil bila dibandingkan dengan jumlah orang yang keamanannya, juga sumber penghidupannya, terus-menerus dirongrong oleh konsekuensi jangka panjang perubahan iklim. Konsekuensi yang dimaksud berupa kekeringan, pola curah hujan yang semakin sulit diramalkan, degradasi dan desertifikasi (penggurunan) tanah, erosi pantai, dan salinifikasi (makin asinnya air tanah).

Skenario yang akan mengikuti situasi tersebut adalah meningkatnya potensi konflik di dalam dan antarnegara. Itu akan terjadi ketika berbagai komunitas berebut sumber daya yang semakin langka, seperti air segar dan lahan pertanian.

Sedikit melihat lebih jauh ke masa depan, rakyat di negara kecil dan berpermukaan rendah akan menghadapi prospek negaranya runtuh berhadapan dengan naiknya laut; kebangsaan, kultur, dan identitasnya pun akan tenggelam.

Ketika hari demi hari kita merasakan cuaca semakin panas, suka atau tidak kita pun mengakui, pemanasan global itu sudah menjadi realitas hidup di sekeliling kita, dengan segenap potensi dampaknya yang amat mencengkam.

Merekayasa Bumi

Dalam konteks ini, masuk akal kalau harapan terhadap Konferensi Kopenhagen atau COP-15 sangat besar. Para pemimpin dunia diseru untuk mendorong dicapainya kesepakatan baru untuk pengurangan emisi karbon.

Sementara waktu terus berjalan, kini sudah muncul pertanyaan yang mengusik. Misalnya saja, apa yang terjadi kalau kesepakatan pengurangan emisi yang dicapai di Kopenhagen tidak memadai? Atau lebih jauh lagi, apa yang akan terjadi kalau target yang disepakati tidak dijalankan? Atau, apa yang akan terjadi seandainya kita dihadapkan dengan krisis ekologi dalam satu-dua dasawarsa ke depan?

Dalam kaitan inilah para ilmuwan mulai menyinggung kemungkinan dilakukannya perekayasaan Bumi atau geoenjiniring (geo-engineering). Pilihan ini mengemuka ketika sejumlah pihak menyangsikan hasil di Kopenhagen.

Salah seorang ilmuwan yang menyusun laporan ini, John Shepard, dari Universitas Southampton, Inggris, mengaku, dia merasa ngeri sendiri membayangkan manusia harus melakukan geoenjiniring. Meski demikian, intervensi teknologi dalam skala besar-besaran ini perlu dilakukan bila memang tidak ada kesepakatan pengurangan emisi karbon.

Seperti dilaporkan Claudia Ciobanu dari Inter-Press Service (JP, 13/12), pada dasarnya geoenjiniring adalah campur tangan dalam skala besar pada sistem iklim bumi.

Dua tipe

Pada saat sekarang ini, proses merekayasa bumi ini bisa dibagi dalam dua macam. Yang pertama adalah penghilangan CO (carbon dioxide removal/CDR), yang dilakukan melalui fertilisasi besi samudra, penggunaan pohon buatan. CDR dapat dilakukan secara lokal dan risikonya dinilai kecil.

Pilihan kedua dikenal sebagai manajemen radiasi matahari (solar radiation management/SRM). Ini dilakukan dengan memantulkan sinar matahari untuk mengurangi pemanasan global dengan menggunakan, misalnya, cermin di angkasa, penyemprotan aerosol di atmosfer, atau penguatan awan.

Metode yang kedua ini tidak mengurangi gas-gas rumah kaca dan juga tidak akan menanggulangi konsekuensi emisi, seperti pengasaman (asidifikasi) laut. Namun, ia dipandang sebagai solusi yang bisa dilakukan dengan cepat. Hanya saja, para ilmuwan mengaku, mereka khawatir dengan efek SRM yang tak teramalkan, khususnya terhadap pola cuaca dan ekosistem.

Dalam kaitan ini, fisikawan Jason Blackstock dari Center for International Governance Innovation melihat geoenjiniring sebagai ”judi yang amat tak pasti, yang tak ingin kami lakukan”.

Dengan melihat risiko yang ada, Blackstock, sebagaimana Shepard, berkeyakinan bahwa pengurangan emisi tetap merupakan prioritas, (karena cara ini yang) paling aman dan lebih bisa diramalkan (hasilnya).

Kemajuan sains dan teknologi memang membawa umat manusia pada peluang untuk menanggulangi krisis yang dihadapinya.

Dalam hal geoenjiniring, risikonya sungguh tidak main-main. Bila cermin pemantul panas matahari dipasang, lalu suhu global turun, sementara ada timbunan karbon dioksida miliaran ton di atmosfer, apa yang akan terjadi dengan pola cuaca? Apa yang akan terjadi pada makhluk hidup? Sulit diramalkan.

Tampak bahwa merekayasa Bumi juga membuat manusia berhadapan dengan ketidakpastian. Alih-alih mendapatkan solusi, manusia justru bisa berhadapan dengan problem baru yang tidak kalah mengerikan.

Dalam perspektif inilah kita semua wajib mendesak para perunding di Kopenhagen untuk mencapai kesepakatan pengurangan emisi karbon. Bahkan, bukan kesepakatan biasa, tetapi kesepakatan dengan target memadai.

Cuaca Ekstrem Bencana 2009

Selasa, 15 Desember 2009 | 09:44 WIB

Kopenhagen, Kompas – Dari semua bencana alam yang terjadi sepanjang tahun 2009, lebih dari tiga perempatnya terkait dengan cuaca ekstrem. Cuaca ekstrem juga bertanggung jawab atas penderitaan 55 juta jiwa di seluruh dunia.

Demikian laporan yang diluncurkan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) Belgia bekerja sama dengan Centre for Research on the Epidemiology of Disasters (CRED) berdasarkan data 1 Januari 2009 hingga November 2009.

”Cuaca ekstrem menjadi isu penting yang harus diperhatikan,” kata Wakil Khusus Sekretaris Jenderal PBB untuk Pengurangan Risiko Bencana Margaretha Wahlstrom dalam jumpa pers, Senin (14/12).

Dari 245 bencana pada tahun 2009, 224 di antaranya terkait cuaca ekstrem. Cuaca ekstrem bertanggung jawab atas 55 juta jiwa dari 58 juta korban bencana alam, di mana 7.000 orang (dari 8.900 jiwa) di antaranya tewas.

Cuaca ekstrem juga menyebabkan kerugian sebesar 15 miliar dollar AS dari total kerugian akibat bencana alam sebesar 19 miliar dollar AS.

Dari banjir, 11 juta jiwa terkena dampak sepanjang tahun 2009— turun dibandingkan dengan tahun 2008 (45 juta) dan tahun 2007 (178 juta). ”Dari sisi jumlah menurun. Namun, cuaca ekstrem akan tetap menjadi ancaman serius. Lebih dari setengah mengancam penduduk kawasan pesisir,” katanya.

Menurut Direktur CRED Debarati Guha Sapir, data cuaca ekstrem itu belum memasukkan angka korban yang disebabkan kekeringan. ”Secara statistik sulit ditemukan,” katanya. Di Afrika, jumlah dampak kekeringan sangat besar, belum lagi dampak ikutannya. Di Kenya, misalnya, 3,8 juta jiwa butuh bantuan makanan. Dampak tidak kalah serius menerjang kawasan Amerika Tengah, Kolombia, dan Sahel barat yang terserang kekeringan.

Tidak bisa dicegah

Sekretaris Jenderal Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) Michael Jarraud mengatakan, badai tropis, hujan ekstrem, dan kekeringan tidak dapat dicegah oleh siapa pun. ”Yang bisa dilakukan adalah memprediksikan datangnya sehingga bisa mengurangi dampak buruknya,” katanya. Namun, tidak semua negara memiliki kemampuan teknologi dan ahli untuk itu. Berdasarkan data WMO tahun 2006, sekitar 60 persen dari 189 anggota WMO kemampuannya terbatas.

Dari berbagai kawasan, Asia adalah kawasan paling rentan banjir dan badai. Antara Januari dan November 2009, 48 juta jiwa terkena dampak cuaca ekstrem. Sebagian besar penduduk Asia tinggal di kawasan pesisir. (GESIT ARIYANTO dari Kopenhagen, Denmark)

Matahari dan Pemanasan Bumi Saling Menguatkan

Kompas, Selasa, 15 Desember 2009 | 10:44 WIB

Geneva, Senin – Terjangan radiasi Matahari lebih dari 60 tahun lalu telah menyebabkan lapisan es di puncak gunung di Swiss meleleh lebih cepat daripada saat ini walaupun sekarang pun terekam ada kenaikan temperatur. Demikian hasil penelitian sejumlah ilmuwan yang dipaparkan pada Senin (14/12).

Penelitian mereka tentang dampak radiasi Matahari pada gletser Alpen membawa pada ”penemuan mengejutkan”. Penemuan tersebut adalah pada tahun 1940-an, terutama pada musim panas 1947, volume es yang meleleh adalah terbanyak sejak diukur dari 95 tahun lalu.

Penelitian yang dilakukan Zurich’s Federal Institute of Technology (ETHZ) ini juga mencatat kenaikan temperatur yang mempercepat proses melelehnya es pada tingkat yang tak terduga sebagai akibat pemanasan global. ”Yang baru adalah paradoks tersebut dapat dijelaskan dengan adanya radiasi,” ujar Matthias Huss, salah seorang peneliti.

Penelitian tersebut dipublikasikan dalam Geophysical Research Letters sebagai laporan dari penelitian besar yang dilakukan terkait dampak perubahan iklim dan peran radiasi Matahari dalam model iklim.

Dari penelitian ditemukan bahwa level radiasi Matahari pada tahun 1940-an adalah 8 persen lebih tinggi daripada radiasi rata-rata. Hal itu mengakibatkan salju meleleh sekitar 4 persen. (AFP/ISW)

25
Dec
09

Lingkungan : Daya Rusak Muka Laut Diabaikan

Daya Rusak Muka Laut Diabaikan

Rabu, 23 Desember 2009 | 03:49 WIB

Jakarta, Kompas – Kenaikan paras muka laut akibat pemanasan global, penurunan tanah, serta pengaruh lainnya sebatas satuan milimeter tiap tahun masih kerap diremehkan sehingga daya rusaknya diabaikan pula.

Padahal, dampak kerusakannya meluas, mencapai ketinggian 50 kali-200 kali kenaikan paras muka laut itu. ”Daya rusak akibat kenaikan paras muka laut bukan vertikal, tetapi horizontal. Kita jangan terpukau meski perkiraan kenaikan muka laut di berbagai wilayah Indonesia hanya 3-5 milimeter per tahun,” kata Kepala Bidang Medan Gaya Berat dan Pasang-Surut pada Badan Koordinasi Survei dan Pemetaan Nasional Parluhutan Manurung, Senin (21/12) di Jakarta.

Parluhutan mengatakan, daya rusak kawasan pantai mencapai 50 kali-200 kali kenaikan muka laut mengacu pada teori Brun. Jika diperkirakan kenaikan muka laut 3 milimeter per tahun, risiko daya rusak kawasan pantai hingga pada ketinggian 150 milimeter-600 milimeter (0,15 meter-0,6 meter).

”Kenaikan paras muka laut 3 milimeter per tahun itu sangat kecil. Namun, dalam setahun daya rusaknya bisa sampai kawasan pantai dengan ketinggian 0,6 meter. Risiko ini masih kurang diperhitungkan,” kata Parluhutan.

Daya rusak tersebut, menurut dia, akibat gerusan ombak yang makin tinggi dan menimbulkan abrasi. Sebetulnya kerusakan itu dapat diperhitungkan untuk menetapkan langkah-langkah adaptasi dan mitigasi.

Daya rusak itu juga dipengaruhi kondisi pantai. Pantai yang masih dilindungi zona mangrove yang baik berisiko lebih kecil. ”Efek teori Brun inilah yang dikhawatirkan negara-negara kepulauan kecil,” kata Parluhutan.

Pulau tenggelam

Menurut Direktur Pesisir dan Lautan pada Departemen Kelautan dan Perikanan Subandono Diposaptono, erosi air laut merupakan penyebab utama tenggelamnya pulau-pulau kecil yang mengalami kerusakan ekosistem, biasanya akibat aktivitas penambangan pasir. Di Indonesia banyak pulau kecil hilang.

Berdasarkan inventarisasi Departemen Kelautan dan Perikanan pada 2005-2007, menurut Subandono, 24 pulau kecil di Indonesia telah tenggelam.

Rinciannya, masing-masing tiga pulau kecil di wilayah Nanggroe Aceh Darussalam, Sumatera Utara, dan Papua. Disusul lima pulau kecil di kawasan Kepulauan Riau. Di Sumatera Barat terdapat dua pulau kecil tenggelam. Di Sulawesi Selatan satu pulau kecil tenggelam. Di Kepulauan Seribu, yang masuk wilayah DKI Jakarta, tujuh pulau kecil hilang.

Tenggelamnya pulau kecil seperti Pulau Nipah di Kepulauan Riau tak hanya berdampak pada hilangnya ekosistem darat atau perubahan arus laut di sekitarnya, tetapi juga bermakna politis. Pulau Nipah adalah pulau terdepan yang menandai perbatasan wilayah Indonesia dengan Singapura. Hilangnya pulau terdepan berpotensi memperkecil wilayah perairan Indonesia. (NAW)




Blog Stats

  • 4,137,731 hits

Archives

Recent Comments

Ratu Adil - 666 on Kenegarawanan : Harta Amanah B…
Ratu Adil - 666 on Kenegarawanan : Harta Amanah B…
Ratu Adil - 666 on Kenegarawanan : Harta Amanah B…
Ratu Adil - 666 on Kenegarawanan : Harta Amanah B…
Ratu Adil - 666 on Kenegarawanan : Harta Amanah B…