Archive for September, 2011

26
Sep
11

Keuangan : Menjadi Investor Sejati

Menjadi Investor Sejati
Senin, 26 September 2011 | 10:09

Sejumlah investor melakukan registrasi online saham melalui ponselnya untuk melihat kondisi terkini IHSG saat pameran pasar modal di Jakarta. Foto: Investor Daily/EKO S HILMAN
Sejumlah investor melakukan registrasi online saham melalui ponselnya untuk melihat kondisi terkini IHSG saat pameran pasar modal di Jakarta. Foto: Investor Daily/EKO S HILMAN

Jatuhnya harga saham, berapa pun dalamnya, tidak menggusarkan hati investor sejati. Mereka tahu persis filosofi berinvestasi: membeli pada saat harga turun, menjual pada waktu harga menanjak, dan berhatihati pada saat harga mencapai puncak.

Akan tiba saatnya harga saham yang menurun kembali naik mengikuti kinerja fundamental. Betapapun besarnya pengaruh teknikal, pada akhirnya harga saham bergerak mengikuti kinerja fundamental. Cepat atau lambat, harga saham akan mencerminkan kinerja fundamental.

Membeli saham pada musim bearish market seperti sekarang ini tidak boleh sekaligus. Kita tidak pernah tahu kapan penurunan harga saham mencapai floor price. “Setiap hari kok ‘time to buy’, padahal harga saham masih saja turun,” begitulah gerutu banyak orang. Terhadap pertanyaan klasik itu, ada pula jawaban klasik yang jarang diterapkan pemodal.

Mereka yang sudah makan asam dan garam di pasar modal mengajarkan pentingnya investor menerapkan “dollar cost average”, yakni membeli sedikit demi sedikit pada saat harga saham turun. Jika Anda memiliki dana Rp 200 juta untuk investasi di pasar saham, lakukan pembelian bertahap, entah Rp 5 juta atau Rp 10 juta sehari, ataupun angka lain yang dinilai mantap.

Dengan menerapkan dollar cost average, investor tidak kehilangan peluang untuk terus mengoleksi saham-saham yang terus mengalami penurunan harga. Menjelang titik balik, biasanya ada sinyal tertentu yang bisa dirasakan oleh investor sejati. Pada saat menjelang bottom price, pembelian saham bisa lebih banyak.

Dengan strategi ini, investor sejati bakal meraup keuntungan besar pada saat harga kembali meningkat. Sejarah pasar modal dunia menunjukkan, rekor indeks baru selalu diukir setelah harga saham ambruk. Sebelum harga saham rontok tahun 2008, indeks harga saham gabungan (IHSG) mencapai level tertinggi 2.830 pada 9 Januari 2008. Krisis menghempaskan IHSG ke level 1.111, pada 28 Oktober tahun yang sama. Namun, indeks kemudian terus meningkat dan sempat menyentuh 4.193, 1 Agustus 2011. Jauh melampaui rekor sebelum krisis.

Pasar modal dunia saat ini memang sedang dilanda bearish market akibat krisis keuangan di AS dan Eropa. Jika krisis ekonomi tahun 2008 dipicu oleh kebangkrutan perusahaan swasta, krisis saat ini disebabkan oleh kesulitan pemerintah AS dan negara-negara Eropa dalam menjalankan bujet akibat belitan utang. Jepang juga masuk jajaran negara maju yang dibelit utang. Hanya bedanya, masyarakat Jepang memiliki tabungan yang sangat kuat dan utang pemerintah umumnya kepada rakyat Negeri Matahari Terbit itu.

Tingkat utang negara maju saat ini sudah dinilai gawat oleh lembaga rating dan pelaku pasar. Pemerintah negara maju dikhawatirkan tidak mampu membayar bunga dan cicilan utang. Dalam pada itu, pada saat yang sama, pemerintah negara-negara maju harus menambah belanja untuk mendorong pertumbuhan ekonomi dan menurunkan angka pengangguran.

Ibarat makan buah simalakama. Pemerintah AS dan sejumlah negara Eropa harus menentukan dua pilihan yang sama sulitnya. Tidak menambah utang baru sama halnya dengan tidak memberikan stimulus ekonomi. Namun, bila menerbitkan utang baru, pemerintah berhadapan dengan bahaya default atau gagal bayar. Paling tidak, pasar dengan dukungan lembaga rating akan merespons negatif, bahwa negara maju kemungkinan bangkrut akibat ketidakmampuan membayar utang.

Dalam situasi seperti ini, kita yakin, kebangkrutan tidak mungkin terjadi kendati ada tambahan utang baru. Negara yang didera utang akan meningkatkan utang dengan terukur. Yang agak rumit adalah negara-negera Eropa. Karena negara yang tidak mengalami masalah bujet seperti Jerman harus mendukung sejumlah negara bermasalah yang biasa disebut PIIGS (Portugal, Italia, Irlandia, Yunani, dan Spanyol). Tapi, untuk mencegah dampak yang lebih buruk, negara- negara itu akan mendukung penyelamatan negara anggota Masyarakat Eropa guna mencegah efek berantai.

Karena itu, pemulihan harga saham hanya soal waktu. Ekomomi yang dilanda krisis akan kembali berjalan normal. Penurunan harga saham akan mencapai titik balik. Mereka yang saat ini mulai “shopping” saham dengan menerapkan dollar cost average akan meraup untung dalam waktu kurang dari setahun.

Pemodal yang belum berani membeli saham, reksa dana saham bisa menjadi alternatif. Dengan membeli reksa dana saham –apalagi unit penyertaan yang portofolionya terdiri atas bluechips—, peluang gain akan sangat besar. Saham-saham bluechips akan kembali bergerak naik sesuai kinerja fundamentalnya.

Dalam situasi seperti sekarang, belajarlah dari Warren Buffett, si superinvestor. Ia membeli saham berfundamental kuat dan berprospek cerah untuk jangka panjang. Penurunan harga saham seperti saat ini bukanlah periode menakutkan, melainkan peluang emas untuk mengoleksi saham bluechips, saham berfundamental bagus dan saham yang berprospek cerah. Investor sejati tidak risau dengan rontoknya harga saham. (*)

26
Sep
11

Revolusi Libya : Belum Usai Juga

Kuburan Massal

Senin, 26 September 2011 03:38 WIB |

Kuburan Massal 1.700 Tahanan Ditemukan Di Tripoli

Sejumlah orang berdiri mengelilingi bongkahan tulang yang ditemukan pada kuburan masal di Tripoli, Minggu (25/9). Pemerintah sementara Libya menemukan sebuah kuburan masal di ibukota yang berisi 1270 jenazah dari orang-orang yang tewas dibunuh pasukan Gaddafi dalan pembantaian 1996 di penjara Abu Salim Tripoli. (FOTO ANTARA/REUTERS/Suhaib Salem/djo/11)

Berita Terkait
Video

Tripoli (ANTARA News) – Mayat lebih dari 1.700 tahanan yang dieksekusi pada 1996 di penjara terkenal Abu Salim, Tripoli, ditemukan di sebuah kuburan massal di ibu kota Libya tersebut, kata seorang juru bicara Dewan Transisi Nasional (NTC), Minggu.

“Kami menemukan tempat dimana seluruh syuhada ini dimakamkan,” kata Khalid Sharif, juru bicara dewan militer NTC, dengan menambahkan bahwa itu merupakan bukti “tindakan kriminal” oleh rejim terguling Muammar Gaddafi.

Salim al-Farjani, seorang anggota komite yang dibentuk untuk mengidentifikasi mayat-mayat itu, meminta bantuan internasional.

“Kami meminta organisasi asing dan masyarakat internasional membantu kami dalam tugas mengidentifikasi kerangka lebih dari 1.700 orang,” kata Farjani.

“Kami diundang untuk mengunjungi tempat dimana mayat para tahanan Abu Salim ditemukan dan kami melihat tulang-tulang manusia yang berserakan,” katanya.

Farjani juga menunjuk pada “tindakan mengerikan yang dilakukan pada mayat-mayat itu, yang disiram asam untuk menghilangkan bukti pembantaian ini”.

Sharif mengatakan, tugas mengidentifikasi mayat itu akan “memerlukan waktu”.

Kelompok-kelompok hak asasi manusia internasional selama beberapa tahun mendesak rejim Gaddafi menjelaskan nasib tahanan yang tewas di penjara itu selama kerusuhan 1996.

Demonstrasi pertama di Libya, yang akhirnya menggulingkan Gaddafi, meletus pada Februari di Benghazi, ketika keluarga korban Abu Salim menyerukan protes untuk menentang penangkapan pengacara mereka.

Keberadaan Gaddafi hingga kini tidak diketahui secara jelas. Dari tempat persembunyiannya, ia berulang kali melontarkan janji-janji untuk melanjutkan perang, ketika semakin banyak negara mengakui NTC sebagai pemerintah yang berkuasa di Libya.

Dewan itu kini sedang dalam proses memindahkan pemerintah mereka ke Tripoli dari markas sebelumnya di Benghazi, setelah mencapai kemenangan-kemenangan atas pasukan Gaddafi.

NTC, yang mengatur permasalahan kawasan timur yang dikuasai pemberontak, sejauh ini melobi keras untuk pengakuan diplomatik dan perolehan dana untuk mempertahankan perjuangan berbulan-bulan dengan tujuan mendongkel pemimpin Libya Muammar Gaddafi.

Negara-negara besar yang dipelopori AS, Prancis dan Inggris membantu mengucilkan Gaddafi dan memutuskan pendanaan dan pemasokan senjata bagi pemerintahnya, sambil mendukung dewan pemberontak dengan tawaran-tawaran bantuan.

Kelompok pemberontak Libya kini telah memasuki Tripoli dan rejim Gaddafi telah dianggap jatuh oleh banyak kalangan.

Negara-negara yang telah mengakui NTC sebagai perwakilan sah rakyat Libya antara lain China, Rusia, Mesir, Chad, Turki, Uni Emirat Arab (UAE), Australia, Inggris, Prancis, Jerman, Gambia, Italia, Yordania, Malta, Qatar, Senegal, Spanyol dan AS.

Gaddafi (68) adalah pemimpin terlama di dunia Arab dan telah berkuasa selama empat dasawarsa. Gaddafi bersikeras akan tetap berkuasa meski ia ditentang banyak pihak, demikian AFP melaporkan.

(SYS/M014)

Editor: Suryanto

COPYRIGHT © 2011

  • NATO perintahkan pemberontak Libya tunda serang

    Minggu, 25 September 2011 22:34 WIB

    Rencana pasukan penguasa baru di Libya melancarkan serangan lagi di kampung Muamar Gaddafi tertahan pada Minggu atas perintah NATO, yang meledakkan kota itu, kata pemberontak..

  • Pejuang NTC mendadak serbu kota kelahiran Gaddafi

    Minggu, 25 September 2011 15:31 WIB

    Para pejuang  penguasa sementara Libya memasuki kota kelahiran Gaddafi Sirte Sabtu dalam sebuah serangan mendadak yang NATO katakan didukungnya untuk menghentikan tindakan brutal para pengikut rezim terusir..

  • Tunisia tangkap, penjarakan mantan pm Libya

    Jumat, 23 September 2011 06:11 WIB

    Tunisia mengatakan, Kamis, mereka telah menangkap dan memenjarakan Baghdadi al-Mahmudi, perdana menteri Libya di bawah pemimpin Libya Muamar Gaddafi yang dalam pelarian..

  • IMF: Libya butuh lebih satu tahun pulihkan produksi minyak

    Jumat, 23 September 2011 04:01 WIB

    Produksi minyak Libya akan membutuhkan waktu lebih dari satu tahun untuk kembali ke tingkat pra-pemberontakan, seoranmg pejabat terkemuka Dana Moneter Internasional mengatakan Kamis..

  • NTC: Libya segera mulai kembali produksi minyak

    Jumat, 23 September 2011 01:40 WIB

    Produksi minyak Libya akan dimulai lagi dalam beberapa hari mendatang tetapi untuk kembali ke tingkat produksi pra-pemberontakan masih jauh, seorang pejabat senior rezim baru mengatakan kepada AFP pada Kamis..

  • NATO perpanjang 90 hari misi di Libya

    Rabu, 21 September 2011 23:58 WIB

    Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) hari Rabu setuju memperpanjang selama 90 hari misi serangan udara di Libya karena pasukan yang setia pada pemimpin terguling Muammar Gaddafi masih dianggap menimbulkan ancaman bagi warga sipil, kata sejumlah diplomat..

  • Pemimpin NTC: 25.000 tewas dan 50.000 terluka dalam revolusi Libya

    Rabu, 21 September 2011 05:05 WIB

    Sedikitnya 25.000 orang telah tewas dalam pemberontakan terhadap pemimpin Libya Muamar Gaddaf, dan 50.000 orang lagi terluka, kata pemimpin sementara negara itu pada pertemuan puncak PBB, Selasa..

  • Jenderal senior Gaddafi ditangkap di Libya selatan

    Selasa, 20 September 2011 23:58 WIB

    Seorang jenderal senior yang loyal terhadap Muamar Gaddafi ditangkap di Libya bagian selatan, menurut pejabat dari rezim baru negara itu kepada AFP, Selasa..

26
Sep
11

IpTek : Air Laut Potensial Atasi Krisis Air Minum

Air Laut Air Minum

Minggu, 25 September 2011 21:32 WIB |

Air Laut Potensial Atasi Krisis Air Minum

Bonar P Pasaribu* dan Bisman Nabab**

Jakarta (ANTARA News) – Kemarau panjang yang melanda Indonesia belakangan ini sudah mulai memunculkan krisis air minum di berbagai daerah termasuk Jakarta.

Krisis air minum ini diperkirakan akan memburuk di masa mendatang mengingat jumlah penduduk yang terus meningkat sementara cadangan air minum dalam lapisan tanah (aquifer) mengalami penurunan.

Penurunan cadangan air minum dalam lapisan aquifer terjadi karena meningkatnya eksploitasi terhadap sumber mata air aquifer tersebut sementara pengisian kembali air tawar ke dalam lapisan aquifer menurun karena meningkatnya pembabatan hutan.

Juga konversi lahan produktif menjadi pemukiman dan industri, serta kondisi cuaca yang tidak menentu (kemarau yang berkepanjangan), pencemaran lingkungan, dan pemanasan global.

Secara umum tubuh manusia terdiri dari air sebesar 60-80 persen sehingga kualitas hidup manusia sangat tergantung terhadap kualitas air minum yang dikonsumsinya.

Krisis air minum yang terjadi saat ini membuat kita semakin ketakutan akan masa depan kita khususnya krisis air minum ini diduga akan semakin memburuk di masa mendatang apabila tidak diambil langkah-langkah yang tepat mulai sekarang.

Langkah-langkah ini harus dipikirkan secara bersama-sama oleh para peneliti dan pemerintah.

Sumberdaya air minum dari lapisan aquifer merupakan sumberdaya alam yang terbatas sehingga dalam suatu waktu sumberdaya ini dapat habis.

Sumberdaya air minum dari badan air sungai juga merupakan sumberdaya alam yang terbatas mengingat debit air sungai sangat dipengaruhi oleh curah hujan, kondisi lahan di sekitarnya, dan tingkat pencemaran dari sekitarnya.

Air laut merupakan sumberdaya air minum yang tidak terbatas khususnya Indonesia memiliki air laut sebesar 70 persen dari luas wilayahnya.

Dengan demikian untuk mengatasi krisis air minum sekarang dan di masa mendatang, pemanfaatan air laut menjadi air minum merupakan potensi yang harus dieksplor dan dieksploitasi.

Potensi air laut

Konversi air laut menjadi air minum dilakukan melalui proses desalinasi yaitu proses pemisahan air tawar dan kandungan garam yang terdapat di dalam air laut melalui proses pemanasan. Saat pemanasan terhadap air laut dilakukuan maka uap air (air tawar) akan menguap sedangkan larutan yang mengandung garam-garam akan mengendap.

Uap air ini kemudian ditangkap (diendapkan) dengan menggunakan alat tertentu untuk mengumpulkan air tawar.

Air tawar hasil desalinasi ini kemudian diproses menjadi air minum. Secara umum semua air laut dapat dikonversi menjadi air tawar (air minum) melalui proses desalinasi namun air laut dekat pantai rentan dengan pencemaran dari daratan sehingga konversi air laut pantai menjadi air minum menjadi kurang efektif dan efisien.

Air Laut Dalam (ALD) disebut sebagai Deep Sea Water (DSW) ataupun Deep Ocean Water (DOW) adalah air laut yang diambil dari kedalaman 350 m atau lebih.

Air Laut Dalam ini memiliki karakter yang unik seperti suhu yang rendah sekitar 10 derajat Celcius, air tergolong stabil dan matang karena terbentuk dalam ribuan tahun lamanya, relative bebas dari virus dan bakteri, dan memiliki kandungan mineral yang tinggi. Karakter air laut dalam yang unik inilah yang membuat potensi pemanfaatannya menjadi sangat potensial.

Hasil penelitian yang dilakukan Kyowa Concrete Industry Co. Ltd. (KCI) di beberapa lokasi perairan Indonesia menunjukkan nilai kandungan mineral seperti Kalsium, Magnesium, Kalium dan Natrium yang tinggi dan nutrient seperti yang cukup tinggi serta kandungan metal yang cukup rendah.

Dengan demikian dalam proses konversi air laut dalam menjadi air minum tidka perlu melakukan injeksi mineral dan nutrient untuk memenuhi persyaratan air minum yang ditentukan.

Di samping itu mineral dan nutrien yang terkandung dalam air laut dalam bersifat alami sehingga sangat sehat untuk dikonsumsi.

Berdasarkan hasil penelitian KCI (2009), Kanno et al. (2005), dan DKP (2005) beberapa lokasi perairan Indonesia sangat baik sebagai sumber air mineral laut dalam seperti perairan sekitar Nusa Penida, Selat Lombok, perairan sekitar pulau Biak, perairan di sekitar Pelabuhan Ratu, Gondol (bagian utara pulau Bali), Ujung Pandang, Bima-Dompu, dan Kupang.

Hasil olahan

Pada proses pemanfaatan air laut dalam menjadi air minum melalui proses desalinasi dihasilkan produk sampingan seperti garam berkualitas tinggi, air-laut dalam untuk industri kosmetika, industri makanan dan minuman, industri budidaya pertanian (sayur-sayuran, tomat, dan lain-lain).

Serta industri budidaya perikanan (ikan-ikan di perairan suhu dingin, oyster, lobster, dan lain-lain), industri kesehatan (thalassopia, spa, dan lain-lain), industri obat-obatan, dan sebagai pendingin ruangan atau air condition mengingat suhu air laut dalam yang relatif rendah.

Untuk pendingin ruangan (air condition), air laut dalam dialirkan langsung ke konstruksi pipa yang melekat di dinding ruangan gedung-gedung. Pendingin ruangan dengan air laut-dalam ini telah digunakan di Taiwan dan Korea Selatan.

Selain untuk air minum, air mineral laut dalam juga bermanfaat untuk kesehatan. Berdasarkan beberapa laporan di Jepang, manfaat dari air laut dalam untuk kesehatan tubuh manusia seperti

pertama air laut-dalam efektif untuk pemulihan atopic dermatitis dengan validitas sekitar 60 persen. Hal ini dilaporkan sejumlah dokter anak di Jepang.

Kedua kecenderungan menurunnya jumlah kolesterol dalam tubuh manusia ditunjukkan dalam percobaan air laut-dalam oleh National Food Research Institute, Japan.

Ketiga makanan yang difermentasi berkualitas baik dengan menggunakan air laut-dalam di Jepang. Aktivitas gandum dan ragi meningkat dengan penggunaan air laut-dalam pada minuman beralkohol, pasta kacang, dan saus kacang berasal dari magnesium dan kalium.

Keempat Jenis mineral seperti Magnesium dan Kalium yang dikandung air laut-dalam ini mempunyai peranan penting dalam sub-enzyme yang meningkatkan kebutuhan enzim pada beberapa reaksi biologi untuk memelihara kehidupan dalam tubuh manusia.

Kelima karena kandungan mineralnya yang tinggi, air laut-dalam berpotensi digunakan sebagai zat antimikrobial. Air laut-dalam dapat menghambat pertumbuhan jamur berdasarkan hasil uji coba pada 2 spesies dermatophyta, yaitu Trichophyton rubrum dan Trichophyton mentagrophytes.

Proses desalinasi

Desalinasi adalah suatu proses untuk memisahkan air tawar dan kandungan garam dari air laut yang dapat dilakukan melalui metode seperti Thermal Processes or Flash evaporation, Flash Multi-Stage Distillation process, Vapor distillation, Electrodialysis, dan Reverse osmosis. Desalinasi air laut dengan metode Reverse Osmosis adalah metode yang banyak dipakai.

Reverse Osmosis digunakan untuk mereduksi senyawa terlarut dengan salinitas hingga 45.000 ppm TDS (total dissolved solids). Kapasitas mesin reverse osmosis harus mampu secara konsisten mengubah air laut hingga air tawar dan mengubah air tawar itu ke tingkat kemurnian lebih tinggi untuk penggunaan industri pada microelectronics, makanan dan minuman, power, dan fasilitas farmasi.

Teknologi harus juga efektif memisahkan bakteri, patogen dan kontaminan organik.

Teknologi pemisahan Reverse Osmosis juga digunakan untuk memisahkan larutan-larutan tidak murni dari air melalui penggunaan suatu membran semi-permeable.

Proses Reverse Osmosis adalah kebalikan aliran melalui suatu membran dari salinitas tinggi atau konsentrasi larutan ke kemurnian tinggi, atau aliran yang menembus pada sisi berlawanan dari membran. Tekanan digunakan sebagai kekuatan pendorong untuk pemisahan.

Tekanan yang diaplikasikan harus lebih tinggi dari tekanan osmosis dari larutan kontaminan untuk mampu mengalirkannya melewati membran.

Secara umum, biaya yang dikeluarkan untuk industri air mineral dari air laut dalam ini masih reatif tinggi.

Namun dengan kemajuan teknologi dan ketersediaan air laut dalam yang melimpah, maka dimungkin biaya produksi untuk industri ini bukan tidak mungkin menjadi lebih murah dibandingkan dengan biaya produksi air mineral dari sumber air sungai maupun sumber air aquifer.

Khusus untuk industri air mineral dari air laut dalam, hal yang paling krusial adalah penyediaan air laut dalam itu sendiri.

Umumnya pengambilan air laut dalam dapat dilakukan dengan dua jenis cara, yaitu pertama Sistem tetap (fixed system) disebut juga pipeline installation system, dengan menggunakan instalasi pipa yang berhubungan langsung dari lokasi penampungan air laut-dalam ke kedalaman perairan 350 meter atau lebih.

Air laut yang disedot (water intake) dari kedalaman 350 meter tersebut dialirkan melalui pipa hingga ke penampungan air laut-dalam di daratan.

Sistem tetap diaplikasikan untuk penyedotan air laut-dalam dengan kapasitas skala menengah dengan jumlah volume air laut-dalam yang disedot mulai sekitar 100 ton/hari hingga 1000 ton/hari, dan skala besar mulai sekitar 1000 ton/hari hingga belasan ribu ton/hari, bahkan lebih.

Kedua sistem bergerak (mooring system) dengan menggunakan kapal yang mengakomodasi seluruh perangkat pengambilan air laut-dalam.

Kapal berada dalam keadaan mooring di laut dan operasi penyedotan air dilakukan dari kapal dengan menggunakan pipa sepanjang kedalaman laut yaitu sekitar 350 meter atau lebih.

Air laut yang disedot ditampung di kapal dan selanjutnya diangkut ke arah daratan atau pabrik untuk proses pengolahan lanjutan dari air laut-dalam tersebut.

Penyedotan air dapat juga dilakukan melalui kapal dan anjungan terapung (floating rig) di laut dan pengangkutan air ke darat selanjutnya dilakukan dengan kapal tersebut.

Sistem bergerak diaplikasikan untuk penyedotan air laut-dalam dengan kapasitas skala kecil, mulai dari skala laboratorium dengan kapasitas sedot 1 – 5 ton/hari hingga skala kecil sampai sekitar 10 ton/hari.

Untuk kapasitas produksi sebagai output dalam skala kecil, diperlukan kapal berukuran 60-100 GT. Kapal terbuat dari bahan kayu dengan konstruksi kuat dan layak laut.

Kelengkapan kapal terdiri dari peralatan penyedotan air (pompa penyedot air, water intake pump, selang penyedot air, kawat baja dan tali-tali penyokong, winch dan mesinnya), peralatan navigasi (Echosounder, GPS, Radar, Radio), peralatan keselamatan (perahu, pelampung, penanda sinyal), dan tangki-tangki penyimpanan air laut-dalam.

Berdasarkan pengalaman, biaya investasi untuk industri air mineral (air minum) dari air laut dalam pada pabrik skala kecil dan sistem bergerak pada tahap awal membutuhkan dana sekitar Rp15.000.000.000.

Pabrik skala kecil ini dapat memproduksi air mineral sekitar 6000 botol per hari dengan volume 500 mL/botol.

Salah satu contoh pabrik air mineral laut dalam yang sudah operasional di Indonesia adalah pabrik air-mineral laut dalam yang dibangun perusahan P.T. Omega Tirta Kyowa di Bali dengan nama produk “OCEANIC”.

Saat ini produk dalam botol kemasan 500 mL dengan kandungan mineral seperti Calcium 0,6 mg/L, Magnesium 1,6 mg/L, Sodium 50 mg/L, Potassium 5,4 mg/L, pH 7,8 pada temperatur 20?C telah mulai di pasarkan di Bali, dan Jakarta dengan harga Rp. 8000/botol, serta diekspor ke Jepang dan negara lain.

Biaya produksi industri air mineral dari air laut masih tergolong mahal saat ini namun dengan keterbatasan air tawar dari badan air sungai dan badan air tanah aquifer serta pencemaran yang semakin meningkat, ketidak menentuan iklim, serta pemanasan global maka industri air mineral (air minum) dari air laut dalam di masa mendatang memiliki potensi yang sangat besar dan dengan kemajuan teknologi maka biaya produksi industri air mineral (air minum) dari air laut dalam ini akan menjadi lebih murah dan efektif.

***6***

*) Mantan Guru Besar di Departemen Ilmu dan Teknologi Kelautan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, IPB. Guru Besar tamu di Universitas Udayana, Bali.

**) Lektor Kepala di Departemen Ilmu dan Teknologi Kelautan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, IPB.
(E.B012)

Editor: Ruslan Burhani

COPYRIGHT © 2011

25
Sep
11

Hikmah : Mengendalikan Emosi

Mengendalikan Emosi

Shalat, salah satu sarana pengendali diri. Ilustrasi

Mengendalikan Emosi

Sabtu, 24 September 2011 08:24 WIB

Oleh: Prof Dr KH Achmad Satori Ismail

Ketika Rasul SAW berjalan bersama Anas ra, tiba-tiba ada seorang Badui mengejar dan serta merta menarik serbannya dengan keras. Anas berkata, “Aku melihat bekas tarikan serban kasar itu pada leher Rasul.” Lalu Badui berkata, “Wahai Muhammad, berilah aku dari harta Allah yang ada padamu.”

Rasul menoleh sambil tersenyum lalu memerintahkan sahabat agar memberikan harta cukup banyak kepadanya. Sikap Nabi ini menggambarkan betapa hebatnya kemampuan beliau dalam mengendalikan emosi. Beliau disakiti, dihinakan di depan orang, dan dimintai sedekah secara paksa, tetapi beliau tidak marah.

Kemarahan adalah ketegangan jiwa yang muncul akibat penolakan terhadap apa yang tidak diinginkan, atau bersikukuh dengan pendapat tertentu tanpa melihat kesalahan atau kebenarannya.

Secara psikologis dan medis, kemarahan merupakan suatu sikap emosional yang berdampak negatif pada jantung. Saat marah, terjadi perubahan fisiologis seperti meningkatnya hormon adrenalin yang akan memengaruhi kecepatan detak jantung dan menambah penggunaan oksigen. Kemarahan akan memaksa jantung memompakan darah lebih banyak sehinga bisa mengakibatkan tingginya tekanan darah. Akibatnya bisa fatal bila pemarah tersebut memiliki penyakit darah tinggi atau jantung.

Hasil penelitian modern menyimpulkan bahwa kemarahan berulang-ulang bisa memperpendek umur karena diserang berbagai penyakit kejiwaan dan penyakit jasmani. Di sini letak urgensinya larangan marah. Ketika seorang laki-laki datang kepada Rasul SAW lalu berkata, “Berilah aku nasihat.” Rasul bersabda, “Jangan marah.” Lelaki itu mengulangi permintaannya beberapa kali, tetapi beliau tetap menjawab, “Jangan marah.” (HR al-Bukhari).

Dampak kemarahan akan semakin parah saat dalam keadaan berdiri, karena semua urat dan otot mengencang sehingga meningkatkan jumlah hormon adrenalin. Keadaan seperti ini bisa mengakibatkan penyakit kanker. Berbeda kalau dia duduk, maka adrenalin akan menurun.

Dan, apabila mengingat Allah lalu berlindung kepada-Nya dari kejahatan setan maka akan menghasilkan ketenteraman hati secara signifikan. “Bila salah seorang dari kamu marah dalam keadan berdiri hendalah duduk, bila kemarahan masih belum hilang hendaklah ia berbaring.” (HR Ahmad).

Dalam ilmu jiwa, akar dari emosi adalah ketidakpuasan terhadap sesuatu. Saat berlindung kepada Allah dari setan berarti dia mengakui bahwa emosi adalah perbuatan setan, dan emosi bisa dihalau dengan cara meyakini bahwa kebaikan dan keburukan semua datang dari Allah dan dia harus selalu rida dengan ketentuan-Nya.

Saat Rasul SAW melihat seorang sedang marah besar beliau bersabda, “Aku akan ajarkan kalimat-kalimat kalau dia membacanya akan hilang kemarahannya. Kalau dia mengucapkan A’udzubillahi min as syaithoni ar rajiim pasti akan hilang amarahnya.” (HR Bukhari dan Muslim).

Belakangan ini sering terjadi kerusuhan, tawuran, dan tindakan anarkis. Sudah pasti hal itu diawali emosi yang tidak terkendali. Orang kuat dalam Islam adalah orang yang mampu mengendalikan amarahnya. Agar tidak marah kita harus mengingat Allah yang selalu mengawasi kita dan bersikap toleran. Obat manjur ketegangan jiwa adalah sikap toleran.

Redaktur: Siwi Tri Puji B

 

 

24
Sep
11

Peradilan : Vonis BS8793 tentang Rawagede [PS Den Haag]

Minggu, 18/09/2011 18:11 WIB

Laporan dari Den Haag

Vonis Rawagede

Eddi Santosa – detikNews

Teks Vonis Pengadilan Den Haag Tentang Rawagede


Den Haag – Pengadilan mengabulkan sebagian dari tuntutan-tuntutan ahli waris korban pembantaian Rawagede. Tuntutan-tuntutan yayasan (Yayasan Komite Utang Kehormatan Belanda/YKUKB, red) ditolak, karena tidak cukup jelas mereka mewakili kepentingan siapa.

Berikut ini teks vonis Pengadilan Negeri Den Haag dengan kode Vonis: BS8793 mengenai perkara tuntutan para ahli waris korban pembantaian Rawagede dalam gugatan hukum melawan Negara (Kerajaan Belanda), diterjemahkan oleh koresponden detikcom di Den Haag.

Catatan detikcom, vonis Pengadilan Negeri Den Haag mengenai ganti rugi tersebut bukan untuk para korban pembantaian Rawagede seperti diberitakan media massa di tanah air, melainkan untuk para janda korban,yang saat ini jumlahnya ada 9 orang dan usia mereka sudah uzur. Pengadilan bahkan tidak mengabulkan tuntutan ganti rugi untuk anak- anak para korban.

Di bagian bawah ini terlampir teks otentiknya dalam bahasa Belanda, yang diumumkan ke publik di situsweb rechtspraak.nl, sebuah situsweb resmi Yustisi Belanda untuk informasi tentang pengadilan setingkat Pengadilan Negeri, Pengadilan Tinggi, dan Mahkamah Agung, serta untuk mempublikasikan vonis-vonis pengadilan semua tingkatan.

Tuntutan-tuntutan Ahli Waris Orang-orang Tereksekusi di Rawagede Sebagian Dikabulkan

Den Haag, 14-9-2011

Pengadilan Negeri (PN) Den Haag hari ini mengeluarkan vonis atas prosedur versus Negara, yang ditempuh oleh sejumlah janda dan seorang anak perempuan dari para korban eksekusi tentara Belanda saat aksi polisionil (Agresi Militer Belanda, red) di Desa Rawagede, Jawa (Indonesia), pada 9 Desember 1947. Ikut hadir selaku sesama penggugat yakni seorang korban selamat dari eksekusi -namun akhirnya meninggal saat prosedur ini berlangsung- dan sebuah yayasan (Yayasan Komite Utang Kehormatan Belanda/YKUKB, red), yang menyatakan antara lain mewakili korban-korban lainnya dari eksekusi Rawagede.

Para penggugat menuntut suatu pernyataan hukum bahwa Negara telah melakukan tindakan melawan hukum terhadap para janda dan anggota keluarga lainnya dari para korban eksekusi dan terhadap seorang yang menderita cacat akibat eksekusi. Di samping itu mereka menuntut kompensasi atas kerugian, di mana besarnya masih harus ditentukan lebih lanjut. Para penggugat menyatakan bahwa eksekusi yang dilakukan oleh tentara Belanda adalah melawan hukum, karena hal itu menyangkut orang-orang tak bersenjata yang dieksekusi tanpa melalui proses hukum apapun. Melawan hukum pula menurut para penggugat, bahwa tidak pernah dilakukan penyelidikan (pidana) secara mendalam atas eksekusi itu dan para perwira penanggung jawab tidak pernah dituntut. Negara tidak membantah bahwa eksekusi tersebut melawan hukum, tapi berdalih bahwa tuntutan itu telah kadaluarsa.

Pengadilan mengabulkan sebagian tuntutan-tuntutan itu. Pengadilan menilai bahwa tuntutan berdasarkan eksekusi -jika disimpulkan secara cermat- sudah kadaluarsa, namun dalih kadaluarsa oleh Negara terhadap orang-orang yang terlibat langsung, yakni para janda dari orang-orang yang saat itu dieksekusi dan seorang yang selamat dari eksekusi, tidak bisa diterima. Pengadilan telah mempertimbangkan berbagai situasi yang lebih ditekankan pada keseriusan fakta-fakta. Pengadilan juga menganggap penting fakta bahwa tak lama setelah eksekusi Rawagede telah dinyatakanbahwa tindakan itu tidak dibenarkan.

Terhadap ahli waris generasi berikutnya (diantaranya anak perempuan korban yang hadir sebagai penggugat) pengadilan menerima dalih Negara tentang perkara kadaluarsa. Mengenai tuntutan terhadap ‘tidak melakukan investigasi dan tidak menuntut pelaku eksekusi’, pengadilan juga menerima dalih Negara tentang kadaluarsa. Tuntutan-tuntutan yayasan ditolak, karena tidak cukup jelas mereka mewakili kepentingan siapa.

Vonis: BS8793

Vorderingen nabestaanden van in Rawagedeh gexecuteerde mannen gedeeltelijk toegewezen

Den Haag, 14-9-2011

De rechtbank s-Gravenhage heeft vandaag uitspraak gedaan in de procedure die was aangespannen tegen de Staat door een aantal weduwen en een dochter van mannen die ten tijde van de eerste politionele actie op 9 december 1947 door Nederlandse militairen zijn gexecuteerd in het dorp Rawagedeh te Java (Indonesi). Als mede-eisers traden op een – tijdens de procedure overleden – overlevende van de executies en een Stichting die stelde onder meer de overige getroffenen van de executies te Rawagedeh te vertegenwoordigen.

De eisers vorderden een verklaring voor recht dat de Staat onrechtmatig heeft gehandeld jegens de weduwen en overige familieleden van de gexecuteerde mannen en jegens de man die letsel had opgelopen door de executies. Daarnaast vorderden zij vergoeding van schade, waarvan de hoogte nog nader moet worden bepaald. Eisers voerden aan dat de executies die door Nederlandse militairen zijn uitgevoerd onrechtmatig waren omdat het ging om ongewapende personen die zonder enige vorm van proces zijn gexecuteerd. Bovendien was het volgens eisers onrechtmatig dat geen diepgravend (strafrechtelijk) onderzoek heeft plaatsgevonden naar de gebeurtenissen en dat de verantwoordelijke militairen nooit zijn vervolgd. De Staat bestreed in de procedure niet dat de executies onrechtmatig waren maar beriep zich erop dat de vorderingen zijn verjaard.

De rechtbank heeft de vorderingen gedeeltelijk toegewezen. De rechtbank oordeelde dat de vorderingen op grond van de executies strikt genomen zijn verjaard, maar dat een beroep op verjaring door de Staat jegens de direct betrokkenen, dat wil zeggen de weduwen van de destijds gexecuteerde mannen en de overlevende van de executies, onaanvaardbaar is. De rechtbank heeft daarbij verschillende omstandigheden in aanmerking genomen waarbij veel nadruk is gelegd op de ernst van de feiten. De rechtbank achtte het ook van belang dat kort na de executies reeds is geoordeeld dat deze onaanvaardbaar waren.

Jegens de nabestaanden van volgende generaties (waaronder de dochter die als eiser optrad) heeft de rechtbank het beroep van de Staat op verjaring gehonoreerd. Ook ten aanzien van de vorderingen wegens het niet-doen van onderzoek en het niet-vervolgen heeft de rechtbank het beroep van de Staat op verjaring gehonoreerd. De vorderingen van de Stichting zijn afgewezen omdat onvoldoende duidelijk is van wie zij de belangen behartigt.

Uitspraken: BS8793
(es/es)

Senin, 19/09/2011 07:47 WIB

Laporan dari Den Haag

Vonis BS8793 (1)

Eddi Santosa – detikNews

Terjemahan Vonis BS8793 Tentang Perkara Rawagede (1)


Den Haag – Seperti telah kami niatkan, mulai hari ini kami sajikan terjemahan vonis Pengadilan Negeri Den Haag kode Vonis: BS8793 mengenai perkara tuntutan para ahli waris korban pembantaian Rawagede dalam gugatan hukum melawan Negara (Kerajaan Belanda).

Vonis: BS8793
LJN: BS8793, Pengadilan Negeri Den Haag, 354119 / HA ZA 09-4171

Dibacakan : 14-09-2011
Publikasi : 14-09-2011
Yurisdiksi: Perdata lain-lain
Jenis prosedur: penanganan tingkat pertama – beberapa kali

Indikasi isi: Para penggugat menuntut suatu pernyataan hukum bahwa Negara telah melakukan tindakan melawan hukum terhadap para janda dan anggota keluarga lainnya dari orang-orang yang dieksekusi oleh tentara Belanda di Rawagede (Indonesia) pada 9 Desember 1947 dan terhadap seorang yang cedera dalam eksekusi. Di samping itu mereka juga menuntut kompensasi atas kerugian, di mana besarnya masih harus ditentukan lebih lanjut. Tuntutan-tuntutan itu dikabulkan sebagian. Tuntutan-tuntutan berdasarkan eksekusi jika dicermati lebih lanjut telah kadaluarsa, namun dalih kadaluarsa oleh Negara tidak dapat diterima terhadap para mereka yang terlibat langsung, yakni para janda dari mereka orang-orang yang saat itu dieksekusi dan mereka yang selamat dari eksekusi. Pengadilan telah mempertimbangkan berbagai situasi yang lebih ditekankan pada keseriusan fakta-fakta. Pengadilan juga menganggap penting fakta bahwa tak lama setelah eksekusi Rawagede telah dinyatakan bahwa tindakan itu tidak dibenarkan. Terhadap para ahli waris generasi berikutnya (antara lain anak perempuan yang hadir sebagai penggugat), pengadilan mengabulkan dalih kadaluarsa yang disampaikan oleh Negara. Mengenai tuntutan-tuntutan berkaitan dengan tidak dilakukan penyelidikan dan penuntutan, pengadilan juga mengabulkan dalih kadaluarsa yang disampaikan oleh Negara. Tuntutan-tuntutan yayasan ditolak, karena tidak cukup jelas mereka mewakili kepentingan siapa.

Keputusan

Vonnis
PENGADILAN NEGERI DEN HAAG

Sektor Hukum Perdata

Nomor perkara / rolnummer: 354119 / HA ZA 09-4171

Vonnis 14 september 2011

dalam perkara dari

1. [penggugat sub 1],
2. [penggugat sub 2],
3. [penggugat sub 3],
4. [penggugat sub 4],
5. [penggugat sub 5],
6. [penggugat sub 6],
7. [penggugat sub 7],
8. [penggugat sub 8],
9. [penggugat sub 9],
semua pada saat pengajuan gugatan bertempat tinggal di Balongsari, Indonesia,

dan

10. yayasan
YAYASAN KOMITE UTANG KEHORMATAN BELANDA (COMIT� NEDERLANDSE ERESCHULDEN),
berdomisili dan berkantor di Heemskerk,
penggugat,
advokat mr. L. Zegveld di Amsterdam,

melawan

NEGARA BELANDA (KEMENTERIAN LUARNEGERI),
dimana kedudukannya berdomisili di Den Haag,
tergugat,
advocaat mr. G.J.H. Houtzagers di Den Haag.

Para penggugat sub 1 sampai dengan 10 selanjutnya setelah ini secara bersama-sama disebut sebagai “penggugat”, penggugat sub 9 terpisah sebagai “[penggugat sub 9]” dan penggugat sub 10 terpisah sebagai “Yayasan”. Tergugat selanjutnya disebut sebagai “Negara”. (Bersambung)

(es/es)

Senin, 19/09/2011 08:06 WIB

Laporan dari Den Haag

Vonis BS8793 (2)

Eddi Santosa – detikNews

Terjemahan Vonis BS8793 Tentang Perkara Rawagede (2)


Den Haag 1. Prosedur

Jalannya prosedur sebagai berikut:
– dakwaan 30 November 2009, dengan hasil-hasilnya;
– kesimpulan dan jawaban, dengan hasil-hasilnya;
– kesimpulan replik, dengan hasil-hasilnya;
– kesimpulan duplik, dengan hasil-hasilnya;
– proses verbal dari pleidoi yang diselenggarakan pada 20 Juni 2011 dan berkas-berkas yang disebut dan terkait.

Sebagai penutup adalah tanggal untuk vonis telah ditentukan.

2. Fakta-fakta

2.1. Indonesi� sampai 1949 merupakan bagian dari Kerajaan Belanda dengan nama Hindia-Belanda.

2.2. Pada 17 Agustus 1945 Republik Indonesia diproklamirkan oleh pemimpin nasionalistis Indonesia Soekarno dan Hatta. Republik ini semula tidak diakui oleh Belanda.

2.3. Pada 25 Maret 1947 tercapai Perjanjian Linggarjati antara Belanda dan Republik Indonesia di mana ditetapkan bahwa Republik Indonesia selambat-lambatnya pada 1 Januari 1949 akan merdeka.

2.4. Perselisihan mengenai penjelasan dan pelaksanaan Perjanjian Linggarjati telah menyebabkan intervensi militer oleh Belanda di wilayah Republik Indonesia (disebut ‘aksi polisionil’). Aksi ini berlangsung hingga 5 Agustus 1947. Selama aksi ini pasukan Belanda telah menduduki antara lain dataran rendah sekitar kota Karawang. Kota ini terletak beberapa kilometer di sebelah selatan pemukiman Rawagede, sekarang dinamai Balongsari, di mana para penggugat 1 sampai 9 bertempat tinggal atau pernah bertempat tinggal.

2.5. Pada 9 December 1947 tentara Belanda di bawah pimpinan seorang mayor melakukan penyerbuan ke Rawagede dalam rangka menumpas kelompok perlawanan Indonesia yang aktif di wilayah itu. Dalam serbuan ini sejumlah besar penduduk laki-laki, antara lain suami para penggugat sub 1 sampai sub 7, tanpa proses apapun dieksekusi oleh tentara Belanda. [Penggugat sub 9] dalam serbuan ini cedera (selamat, tidak ikut tewas, red].

2.6. Pada 12 Januari 1948 terbit laporan dari Dewan Keamanan PBB, ‘Committee of Good Offices on the Indonesian Question’. Dalam laporan ini tindakan tentara Belanda di Rawagede diselidiki dan disebut sebagai “deliberate and ruthless” (disengaja dan kejam, red). (Bersambung)

(es/es)

Rabu, 21/09/2011 05:50 WIB

Laporan dari Den Haag

Vonis BS8793 (3)

Eddi Santosa – detikNews

Terjemahan Vonis BS8793 Tentang Perkara Rawagede (3)


Den Haag – 2.7. Dalam surat 22 Juli 1948 Letnan Jenderal [komandan pasukan], (selanjutnya: “[komandan pasukan]“), mengajukan permohonan kepada tuan [Jaksa Agung], jaksa agung pada Mahkamah Agung Hindia Belanda (selanjutnya: “[Jaksa Agung]“):

“Dengan ini saya mengirim sebuah berkas mengenai kasus Karawang, di mana sebelumnya saya telah membicarakannya dengan Anda. Ini perihal kasus eksekusi dari Mayor [tak terbaca]. Saya merasa agak tidak nyaman; secara pidana orang ini bertanggung jawab dan jika diproses di Pengadilan Militer akan menyusul vonis bersalah yang tak bisa ditarik kembali, hal mana akan menghancurkan karir dia selanjutnya. Pada sisi lain, orang Pengadilan Militer cenderung lebih suka tidak menuntut perkara ini, karena keadaan semua ini terjadi, penuntutan kelak di kemudian hari akan menempatkan orang-orang yang terlibat dalam situasi sangat tidak menguntungkan daripada keadaan sebenarnya ketika peristiwa itu terjadi (…). Saya mohon pendapat Anda dalam perkara ini, sebab sungguh sangat mudah saat ini untuk memutus sampai pada penuntutan, namun saya bertanya-tanya apakah dengan itu perkara dan keadilannya sebanding. Saya sendiri dalam keragu-raguan dan cenderung untuk mengesampingkan perkara (…)

2.8. [Jaksa Agung] dalam surat tertanggal 29 Juli 1948 kepada [komandan pasukan] menjawab sebagai berikut: (Bersambung)

(es/es)

Rabu, 21/09/2011 07:54 WIB

Laporan dari Den Haag

Vonis BS8793 (4)

Eddi Santosa – detikNews

Terjemahan Vonis BS8793 Tentang Perkara Rawagede (4)


Den Haag – 2.8. [Jaksa Agung] dalam surat tertanggal 29 Juli 1948 kepada [komandan pasukan] menjawab sebagai berikut:

“Kelihatannya sekarang setelah campur tangan dan kepentingan asing sudah tidak ada lagi, saya lebih suka mengesampingkan perkara. Faktanya tetap bahwa perilaku Mayor [tidak terbaca] itu sendiri dapat dimengerti dan dapat dijelaskan, namun walaupun demikian tertolak, sebab dia tidak berada dalam keadaan sangat terpaksa. Asal Mayor [tidak terbaca] tidak bersalah melakukan ekses-ekses seperti penganiayaan dan tidak sepenuhnya keliru menimbang bahwa para pengacau ini dalam waktu dekat tidak membuat keonaran kembali di kawasan, maka saya persilakan Anda untuk tidak melanjutkan perkara.

2.9. Pada 3 Agustus 1949 pemerintah Belanda dan Republik Indonesia mengumumkan gencatan senjata. Penyerahan kedaulatan berlangsung pada 29 Desember 1949.

2.10. Pada 7 September 1966 ‘Perjanjian antara Kerajaan Belanda dan Republik Indonesia tentang Hal-ikhwal Keuangan yang Masih Ada antara Kedua Negara’ berhasil dicapai (selanjutnya: “Perjanjian Keuangan”). Dalam Pasal 3 Ayat 1 Perjanjian ini ditentukan bahwa para pihak sepakat bahwa pembayaran oleh pemerintah Indonesia sejumlah 600 juta Gulden Belanda kepada pemerintah Belanda akan menyelesaikan semua hal-ikhwal keuangan yang masih ada

Catatan detikcom: angka 600 juta Gulden ini di luar tuntutan pengambil alihan beban utang Nederlands-Indie sebesar 6,5 miliar Gulden yang harus dibayar Indonesia kepada Belanda menurut konstruksi perjanjian Konferensi Meja Bundar. Namun�Indonesia akhirnya hanya diwajibkan membayar�4,5 miliar Gulden�(Sumber: De Indonesische injectie, Lambert Giebels, De Groene Amsterdammer, 5/1/2000)

2.11. Pada 1969 ditetapkan sebuah ‘Nota tentang penelitian arsip ke data-data mengenai ekses-ekses di Indonesia yang dilakukan oleh tentara Belanda dalam periode 1945-1950’ (selanjutnya: Excessennota/Nota Ekses-ekses). Dalam nota ini pemerintah Belanda berpendapat bahwa angkatan bersenjata Belanda membiarkan dirinya melakukan ekses kekerasan di wilayah Republik Indonesia, tetapi bahwa hal ini harus dimengerti dalam situasi gerilya yang kacau di mana aksi-aksi penyergapan dan teror oleh orang Indonesia telah memancing reaksi pembersihan dan kontra gerilya oleh Belanda. Excessennota memuat antara lain hasil penyelidikan dari peristiwa Rawagede sebagai berikut: (Bersambung)

(es/es)

Jumat, 23/09/2011 17:38 WIB

Laporan dari Den Haag

Vonis BS8793 (5)

Eddi Santosa – detikNews

Terjemahan Vonis BS8793 Tentang Perkara Rawagede (5)


Den Haag – “Setelah ada keluhan dari pihak Republik, langsung dilakukan penyelidikan di tempat oleh para pengamat dari Commissie van Goede Diensten (Committee of Good Offices atau di Indonesia disebut Komisi Tiga Negara, red). Tim pengamat dalam laporan yang dirilis pada 12/1/1947 sampai pada kesimpuan bahwa telah berkembang gerakan teroris di wilayah-wilayah terkait, di mana Rawagede diduga sebagai pusatnya. Walaupun demikian tindakan pasukan tentara Belanda yang diarahkan terhadap Rawagede disebut dalam laporan itu sebagai “deliberate and ruthless” (sengaja dan kejam, red). Antara lain memang dari pihak Belanda – setelah semula membantah- diakui bahwa beberapa tawanan setelah diinterogasi ditembak mati tanpa proses hukum, walaupun selama dan setelah tindakan yang menurut laporan pihak Belanda memakan korban tewas 150 orang Indonesia, tidak ditemukan senjata di kampung tersebut dan tidak ada korban tewas atau luka-luka di pihak Belanda. Sang Mayor, yang memimpin tindakan itu dan yang bertanggung jawab atas eksekusi -total sekitar 20 orang- tawanan, tidak dituntut atas pertimbangan oportunitas setelah konsultasi antara Komandan Pasukan dengan Jaksa Agung.

2.12. Dalam debat parlemen pada 1969 menyusul terbitnya Excessennota (Nota Ekses-ekses, red), Perdana Menteri [Perdana Menteri] saat itu menyatakan dalam kalimat berikut bahwa tidak akan dilakukan penuntutan atas pertimbangan kejahatan tidak-kadaluarsa, yang dilakukan oleh tentara Belanda di Indonesia dalam periode 1945-1950:

“Kesimpulan yang diambil pemerintah adalah bahwa dalam banyak kasus, dan sebagian besar sangat serius, tidak dimungkinkan lagi tuntutan pidana dan itu dalam beberapa kasus -di mana tuntutan pidana masih dapat dipertimbangkan- harus dikecualikan, karena kebijakan penuntutan yang diarahkan untuk itu tergantung dari ketersediaan berkas lengkap yang cukup dan kecocokan dari beberapa ketentuan hukum yang belum kadaluarsa itu tidak tentu. Bukan keseriusan delik yang akan menentukan, lebih dari itu seriusnya delik-delik itu juga telah kadaluarsa. (Faktor) kebetulan akan terlalu menguasai kebijakan dan ini tidak akan mengarah pada penerapan hukum yang adil.

2.13. Perdana menteri [Perdana Menteri] saat itu, berkaitan dengan pertanyaan parlemen menyusul siaran dokumenter Rawagede oleh RTL pada 1995, telah menjanjikan bahwa Kejaksaan Agung akan melakukan penyelidikan, di mana data-data terbaru yang tersedia akan diuji dengan isi berkas yang ada untuk memastikan apakah berguna untuk meningkatkan ke penuntutan terhadap para penanggung jawab tentara Belanda.
(es/es)

Jumat, 23/09/2011 18:21 WIB

Laporan dari Den Haag

Vonis BS8793 (6)

Eddi Santosa – detikNews

Terjemahan Vonis BS8793 Tentang Perkara Rawagede (6)


Den Haag – 2.14. Dalam surat 28 Agustus 1995 Jaksa Agung dari Wilayah Arnhem telah mengirim laporan resmi kepada Kementerian Yustisi dimana dilampirkan hasil-hasil penyelidikanoleh jaksa [jaksa Sarjana Hukum] dan Letnan Kolonel [Letnan Kolonel Sarjana Hukum] mengenai aspek pidana atas fakta-fakta yang dilakukan oleh tentara Belanda di Rawagede pada 9 Desember 1947 dan pertanyaan apakah fakta-fakta itu sudah atau belum kadaluarsa. Laporan resmi tersebut memuat kesimpulan-kesimpulan sebagai berikut:

“I Ada fakta-fakta pidana yang dilakukan oleh tentara Belanda di Rawagede pada 9 December 1947.

II Fakta-takta pidana yang dilakukan diduga dapat dikualifikasikan sebagai pelanggaran atas Pasal 148 WMS (singkatan dari Wetboek van Militaire Strafrecht atau Kitab Undang-undang Hukum Pidana Militer, red) lama.

III Kami tidak sepenuhnya yakin bahwa kekadaluarsaan atas fakta-fakta ini telah dicabut.

IV Jika kita menganggap bahwa perkara ini tidak kadaluarsa, maka menurut penilaian kami kemungkinan penuntutan akan kandas pada pernyataan tidak layak diadili oleh kejaksaan atas dasar:
a. keputusan pemerintah Belanda, diambil pada 1969, untuk tidak melakukan penuntutan;
b. keputusan sepot (seponering, pengesampingan perkara, red) yang telah diambil sebelumnya;
c. terlalu lama penuntutan dibiarkan padahal fakta kejadian sudah diketahui sejak 1947/1948, pastinya lagi sejak 1969;
d. ketidakadilan hukum, delik-delik sejenis dalam periode 1946-1950 diadili dalam hal pelanggaran atas Pasal 287 dan Pasal 289 KUHP di manadimungkinkanancaman hukuman lebih ringan daripada pasal-pasal yang berlaku sekarang,”

2.15. Menteri Yustisi dalam surat 5 September 1995 telah memberitahukan kepada parlemen mengenai hasil-hasil penyelidikan sebagai berikut:

“Masalah dokumenter itu tidak membawa cahaya baru atas fakta-fakta yang sudah umum diketahui. Tentang peristiwa di Rawagede telah secara berturut-turut dilaporkan dalam korespondensi dari arsip Jaksa Agung [Jaksa Agung], laporan PBB 12 Januari 1948, dan dalam Nota Ekses-ekses 1968. Mengenai jumlah korban yang tewas pada 9 Desember 1947 terdapat bermacam-macam versi. Setidaknya harus dipastikan bahwa tentara Belanda dalam peristiwa Rawagede telah melakukan eksekusi di tempat, di mana telah jatuh sejumlah besar korban.

Juga harus dipastikan bahwa penuntutan atas kejahatan dimaksud tidak dimungkinkan lagi. Pada saat penanganan Nota Ekses-ekses di parlemen pada 1969 Perdana Menteri [Perdana Menteri] saat itu telah menyatakan bahwa sehubungan dengan kemungkinan kejahatan tidak kadaluarsa, yang dilakukan oleh tentara Belanda dalam periode 1945-1950, tidak akan dilakukan penuntutan lagi (Dokumen Parlemen 10 008, Rapat ke-74 2 Juli 1969, halaman 3613/3614). Di samping itu dalam rangka pembahasan di parlemen atas UU 8 April 1971, di mana kesimpulan singkatnya kekadaluarsaan kejahatan-kejahatan perang dan kejahatan terhadap kemanusiaan telah dicabut. “Terhadap kejahatan tentara Belanda, yang dilakukan di Indonesia dalam periode 1945-1950, telah dilakukan penyelidikan. Darinya pemerintah telah membuat laporan dalam nota kepada parlemen. Dalam pembahasan terbuka atas nota itu pertimbangan-pertimbangannya telah dijelaskan, yang kemudian telah mendasari keputusan, bahwa sehubungan dengan kemungkinan kejahatan- kejahatan yang belum kadaluarsa dari periode tersebut tidak akan dilakukan penuntutan lagi. Atas pertimbangan itu maka tidak ada lagi dasar untuk pencabutan kekadaluarsaan atas kejahatan- kejahatan tersebut (Dokumen Parlemen 10 251, 140a, MvA kepada EK). Dari sini harus disimpulkan bahwa legislator pada saat pencabutan kekadaluarsaan kejahatan-kejahatan perang tidak dimaksudkan pada kejahatan yang dilakukan oleh tentara Belanda di Indonesia dalam periode 1945-1950. Oleh karena itu penyelidikan lebih lanjut saya anggap tidak berguna.
(es/es)

 

Kamis, 22/09/2011 13:00 WIB

Janda Rawagede Kalahkan Belanda

Rela Mati

Deden Gunawan – detikNews

Rela Mati Demi Begundal dari Karawang


Jakarta – Pria ini bertubuh kecil, namun kiprahnya sangat merepotkan pemerintahan Belanda di Indonesia. Pria Magetan kelahiran 1920 ini bernama Lukas Kustaryo.

Saat zaman pendudukan Jepang, Lukas masuk dalam pasukan Peta dan ditempatkan di Brigade III/Kian Santang, Purwakarta, yang saat itu dipimpin Letkol Sidik Brotoatmodjo.

Lukas Kemudian menjadi Komadan Kompi Batalyon I Sudarsono/ Kompi Siliwangi atau yang dikenal sebagai Kompi Siliwangi Karawang-Bekasi. Saat ini menjadi Batalyon Infantri 302 Tajimalela, Bekasi, di bawah Kodam III Siliwangi.

Saat menjadi komandan kompi, Lukas memang dikenal sebagai pejuang yang gagah berani dan punya banyak taktik untuk mengalahkan pasukan Belanda. “Ia suka memakai seragam pasukan Belanda untuk membunuh para tentara Belanda. Selain itu pria tersebut sangat gesit seperti belut saat disergap Belanda,” kata Sukarman, Ketua Yayasan Rawagede saat berbincang-bincang dengan detik+.

Sementara Sya’ih Bin Sakam pejuang asal Rawagede saat ditemui detik+ Agustus 2010 mengatakan, kiprah Lukas dalam memperjuangkan kemerdekaan sangat besar. Sebab Lukas seringkali menyabotase kereta yang membawa persenjataan Belanda yang diangkut pakai kereta api.

Suatu hari, kata Sa’ih, Lukas pernah membajak rangkaian kereta yang berisi penuh senjata dan amunisi bagi pasukan Belanda dari Karawang menuju Jakarta. Peristiwa itulah yang membuat pasukan Belanda menjadi kesal bukan kepalang kepada Lukas. Hingga akhirnya, Lukas pun menjadi target utama bagi pasukan Belanda di wilayah Karawang hingga Jakarta.

Sebagai orang yang sangat dicari pasukan penjajah Belanda, semua kegiatan Lukas dimonitor. Pasukan Belanda pun rela mengeluarkan uang sejumlah ribuan golden untuk sekadar mencari informasi di mana keberadaan Lukas.

Nah, pada 8 Desember 1947, Belanda mendengar kabar kalau Lukas sedang ada di Rawagede. Informasi itu pun langsung disikapi pasukan Belanda. Skenario penyergapan pun dilakukan pasukan Belanda di Karawang-Bekasi. Bahkan karena dianggap sebagai orang yang paling berbahaya, Pasukan Belanda juga mengerahkan pasukan dari Jakarta.

Pasukan yang datang ke Rawagede bersenjatakan lengkap. Mereka sebagian besar berasal dari pos pasukan Belanda yang ada di Jakarta. Bahkan Pasukan Belanda sampai-sampai mengerahkan tank untuk mengakhiri perjuangan Kapten Lukas saat itu.

“Tapi sejumlah tank itu tidak bisa masuk ke Rawagede lantaran para pejuang dan warga memutus semua jembatan yang menghubungkan ke Rawagede. Akhirnya pasukan infantri yang masuk,” jelas Sya’ih seorang saksi hidup, yang meninggal pada Juni 2011, lalu.

Saat itu pasukan infantri Belanda mengepung Rawagede. Sementara pasukan kavaleri melepaskan tembakan meriam dan cannon ke arah desa. Namun tetap saja Kapten Lukas saat itu masih bisa lolos.

Soal lolosnya Lukas dari kepungan Belanda, ada dua versi. Pertama, sebelum pengepungan terjadi Lukas dan pasukannya sudah pergi terlebih dahulu dari Rawagede sehingga pasukan Belanda tidak bisa menemukannya. Sementara versi lainnya, Lukas ada di Rawagede saat pengepungan terjadi. Hanya saja ia berhasil lolos lantaran diselamatkan para pejuang lainnya.

“Kapten Lukas saat pengepungan bersama anak buahnya lolos dari kepungan dan bersembunyi di Desa Pasirawi (berjarak 2 kilometer dari Rawagede. Saya dapat cerita dari ayah saya (Marta), yang ikut menyelamatkan Kapten Lukas,” kata Edi Junaidi, anak korban pembantaian Rawagede saat ditemui detik+.

Dikatakan Junaidi, Lukas bersembunyi di Desa Pasirawi selama 1 minggu. Setelah itu Lukas berangkat ke Jakarta. Lukas diketahui pergi ke wilayah Cililitan untuk menggempur pasukan Belanda yang ada di sana.

Lolosnya Lukas terang saja membuat pasukan Belanda menjadi kesal. Akhirnya mereka membantai warga Rawagede karena dianggap menyembunyikan Lukas. Warga akhirnya dibantai secara keji oleh pasukan Belanda yang mengepung Rawagede. Saking bencinya terhadap Lukas, pemerintah Belanda sampai-sampai mengabadikannya dalam bentuk patung.

Soal patung Lukas diungkapkan Sukarman yang sempat dua kali datang ke Belanda untuk menghadiri pengadilan gugatan pembataian Rawagede. Kata Sukarwan, ahli waris korban pembantaian Rawagede, patung itu ada di sebuah gedung di Den Hag, Belanda.

“Saya tidak tahu persis lokasinya. Tapi saat datang ke gedung itu saya melihat patung separuh badan yang bertuliskan “Lukas” dan di bawah tulisan itu tertulis “Begundal dari Karawang,” jelas Sukarman kepada detik+.

Usai hengkangnya pasukan Belanda dari Indonesia, nama Lukas seolah hilang ditelan Bumi. Ia baru muncul ketika monumen pembantaian Rawagede didirikan. Saat itu, kata Sukarman, Lukas 3 kali datang ke pemakaman pahlawan Rawagede. Dan setahun kemudian, 8 Juni 1997, Lukas meninggal dunia dan dimakamkan di Taman Makam Pahlawan (TMP) Cipanas.

Lukas meninggal dengan pangkat terakhir Mayjen Anumerta. Gelar tersebut baru diberikan Panglima TNI saat itu beberapa tahun setelah Lukas wafat.

(iy/vit)

Kamis, 22/09/2011 09:29 WIB

Janda Rawagede Kalahkan Belanda

Kemenangan Janda2

Deden Gunawan – detikNews

Kemenangan Melawan Lupa dari Rawagede


Jakarta – Sejarah adalah perjuangan melawan lupa. Dan Rawagede menjadi bukti kemenangan perjuangan itu. Bagi Belanda, pembantaian tentaranya yang menewaskan ratusan orang di Rawagede, Karawang, Jawa Barat itu hanyalah cerita yang sudah kadaluwarsa. Pemerintah Indonesia juga kurang peduli dengan pembantaian biadab pada 9 Desember 1947 itu.

Nama Rawagede pun sekarang sudah tidak ada dan diganti menjadi Balonsari. Saksi pembantaian itu hanya tersisa segelintir orang dan sudah sangat sepuh. Tapi mereka yang tersisa tidak mau menyerah untuk terus menggugat keadilan. Mereka tidak mau kejahatan HAM di Rawagede dilupakan.

Akhirnya, setelah 64 tahun pembantaian berlalu, keadilan berpihak pada mereka. Rabu, 14 September 2011, Pengadilan Den Haag menerbitkan vonis yang memenangkan tuntutan 9 janda dan korban pembantaian di Rawagede. Dilansir BBC, pengadilan di Den Haag menyatakan pemerintah Belanda bertanggung jawab atas pembantaian yang dilakukan tentaranya di Rawagede.

“Alhamdulillah,” kata Wasiah, salah satu janda dari korban pembantaian Rawagede yang ikut menggugat, menanggapi kemenangan gugatan itu.

Gugatan para korban pembantaian Rawagede sejatinya bermula dari buku berjudul ‘Riwayat Singkat Makam Pahlawan Rawagede’. Buku itu ditulis Sukarman, ahli waris korban, dan diterbitkan pada 1991. �
Ayah Sukarman, Sukardi adalah pejuang Indonesia yang lolos dari pembantaian Rawagede. Sementara ibunya, Cawi, adalah janda korban pembantaian itu.

Sukarman menulis buku itu karena tidak ingin pengorbanan besar rakyat Rawagede demi kemerdekaan itu dilupakan begitu saja. Ia tidak mau peristiwa itu ‘hanya’ dikenang melalui bait puisi “Karawang-Bekasi” karya Chairil Anwar.

“Peristiwa Rawagede itu sangat memilukan, saya ingin menceritakan secara gamblang apa yang sebenarnya terjadi di Rawagede pada 9 Desember 1947,” ujar mantan Kepala Desa Rawagede itu, saat ditemui detik+ di rumahnya.

‘Riwayat Makam Pahlawan Rawagede’ berisi keterangan istri-istri para korban yang masih hidup. Saat itu, tahun 1991 waktu buku dibuat, jumlah janda korban Rawagede masih 50 orang. Kini mereka tinggal 6 orang yang masih hidup, salah satunya Cawi, ibunda Sukarman.

Suami Cawi, Bendol, dibantai pasukan Belanda di Rawagede. Tiga tahun setelah pembantaian itu, Cawi menikah dengan Sukardi, pejuang Indonesia yang lolos dari pembantaian sadis itu. Dari pernikahan itulah lahir Sukarman. “Saya tidak lagi dendam,” kata Cawi mengenang pembantaian itu.

Dari kedua orangtuanya itulah, Sukarman mendapatkan cerita yang utuh pembantaian Rawagede. Tanpa disangka buku Sukarman menyebar ke Belanda karena dibawa pengurus Badan Kontak Legium Veteran RI Alif Jumhur.

Di Belanda, buku itu menyedot perhatian akademisi, politisi dan wartawan hingga kemudian dicetak ulang. Orang-orang Belanda sangat kaget dengan kisah pembantaian di buku itu. Yang mereka tahu Indonesia adalah bagian dari Kerajaan Hindia Belanda sehingga tidak ada penjajahan apalagi pembantaian.

Beberapa bulan setelah buku itu beredar, sejumlah akademisi dan wartawan Belanda datang ke Rawagede. Mereka berupaya menggali peristiwa yang sebenarnya di desa yang jaraknya 20 kilometer dari Kota Karawang tersebut. “Setiap bulan ada saja wartawan atau peneliti belanda yang datang ke Rawagede sejak 1994,” kata Sukarman.

Di Indonesia sendiri, tampaknya buku itu hanya menarik perhatian para veteran termasuk Pangdam Siliwangi saat itu, Mayjen TNI Tayo Tarmadi. Begitu membaca buku itu, Tayo langsung mendatangi Sukarman. Tayo meminta Sukarman untuk mengusulkan pendirian Yayasan Rawagede dan mengumpulkan kuburan para korban dalam satu lokasi berikut membangun monumen.

Akhirnya, pada 1995, Bupati Karawang saat itu, Mangkuwijaya, menyetujui penyatuan makam jenazah korban Rawagede. Sang Bupati dan Pangdam Siliwangi mengumpulkan pengusaha sehingga terkumpul sumbangan Rp 400 juta untuk membangun pemakaman yang layak bagi 431 jenazah korban Rawagede.

Pembangunan Monumen Rawagede rampung pada Oktober 1996. Setelah itu setiap 9 Desember, Muspida Karawang mengadakan upacara di monument itu. Begitu monumen berdiri, sejumlah veteran dan LSM HAM Belanda menyarankan Sukarman dan ahli waris menggugat pemerintah Belanda untuk mendapatkan ganti rugi atas pembantaian itu.

Pada 16 Agustus 2007, para janda korban dan ahli waris termasuk saksi mata pembantaian itu Sya’ih bin Sakam, melakukan demo di kedubes Belanda di Jakarta. Tapi aksi itu tidak direspons. Bukan hanya Belanda yang tidak merespon, pemerintah Indonesia juga tidak peduli.

Karena tidak direspons, para korban dan ahli waris lantas menggugat secara hukum. Gugatan yang dilakukan bersama Komite Utang dan Kehormatan Belanda, yang dipimpin Batara Hutagalung itu dilayangkan pada Oktober 2008 di Belanda.

Sejauh itu, pemerintah Indonesia tidak juga menunjukan dukungan. “Pemerintah tidak berbuat apa-apa. Mungkin merasa tidak enak sama Belanda,” kata Sukarman.

Untungnya akademisi, wartawan, serta anggota parlemen Belanda dari partai oposisi mendukung gugatan itu. Bahkan 19 September 2008, dua anggota parlemen Belanda, Harry van Bommel dari Partai Sosialis dan Joel Voordewind dari Partai Uni Kristen (ChristenUnie) bertemu para korban termasuk Wasiah dan Sya’ih di Jakarta.

Pada 2010, Sukarman dan Sya’ih datang ke Belanda untuk memberikan kesaksian. Kemudian awal 2011, Sukarman datang lagi menghadap pengadilan Belanda.

Melihat jalannya persidangan, awalnya Sukarman pesimistis gugatan bakal menang. Itu sebabnya Sukarman dan kuasa hukum penggugat mempersiapkan banding.

Tapi berbarengan proses sidang, ternyata media massa di Belanda mengulas keterangan sejumlah veteran tentara Belanda (Veteran LMD). Media Belanda menulis keterangan 5 orang bekas tentara Belanda yang pernah bertugas di Jakarta. Mereka mengakui pernah melakukan penembakan di Rawagede. Bahkan kelima veteran ini siap memberikan ganti rugi melalui koceknya sendiri sebagai kompensasi dari kebrutalan mereka saat bertugas di Rawagede.

“Awalnya pemerintah Belanda ngotot kalau kasus ini sudah kadaluwarsa. Tapi karena kesaksian 5 pelaku pembantaian itu, majelis hakim mungkin jadi berubah pikiran,” duga Sukarman.

(iy/vit)

Senin, 19/09/2011 09:49 WIB

Janda Rawagede Kalahkan Belanda

Ditembak Mati

Deden Gunawan – detikNews

Semua Ditembak Mati di Rawagede, Jumlahnya Ratusan


Jakarta 9 Desember 1947. Rawagede menjadi merah. Api berkobar-kobar. Sungai-sungai dialiri darah. Inilah salah satu kisah pengorbanan rakyat yang sangat luar biasa untuk mempertahankan kemerdekaan Indonesia.

Rawagede juga menjadi saksi salah satu pembantaian paling biadab yang dilakukan tentara Belanda untuk kembali merebut negeri jajahannya, Indonesia. Sebanyak 431 orang tewas dibantai Belanda di desa itu.

Sehari sebelum pembantaian itu terjadi, perjanjian Renville baru saja dimulai. Dalam perjanjian itu, Belanda hanya mengakui Jawa Tengah, Yogyakarta dan Sumatera sebagai wilayah Indonesia. Sebagai hasil Persetujuan Renville, Indonesia harus mengosongkan wilayah-wilayah yang dikuasai TNI di Jawa Barat dan Jawa Timur.

Divisi Siliwangi yang menguasai Jawa Barat pun diperintahkan untuk hijrah ke Jawa Tengah. Namun divisi Siliwangi membantah dan tetap melakukan perlawanan. Salah satunya pasukan yang dipimpin Kapten Lukas Kustario. Pasukan Kapten Lukas ini berkali-kali berhasil menyerang patroli dan pos-pos militer Belanda. Maka Belanda pun memburu Kapten Lukas dan mengepung Rawagede.

***

Meski kini renta, Cawi tidak mungkin lupa pembantaian 9 Desember 64 tahun lalu itu. Ia ingat hari itu masih terlampau pagi. Baru jam enam pagi. Tapi seluruh warga Rawagede sudah panik. Seluruh pria yang ada di desa itu berlarian mencari tempat perlindungan. Mereka berusaha menyelamatkan diri dari pasukan Tentara Kolonial Belanda yang mengepung desa itu.

Begitu pula yang dilakukan Bendol, suami Cawi. Pagi itu Bendol terpaksa batal menggarap sawah, karena di batas desa ia melihat sejumlah tentara Belanda bergerak memasuki Rawagede.

“Suami saya sempat pulang dan bilang kalau Tentara Belanda mengepung desa. Dia kemudian pergi lagi untuk menemui sejumlah tetangga. Katanya mau mencari tempat sembunyi,” terang Cawi kepada detik+ saat ditemui di kediamannya, di Desa Balongsari (dulu Rawagede).

Tapi tidak lama Bendol pergi, suara tembakan terdengar. Disusul suara ledakan meriam dan berondongan senjata. Para perempuan dan anak-anak yang ada di dalam rumah langsung tengkurap ketakutan. Mereka ada yang bersembunyi di kolong ranjang, lemari, maupun hanya tiarap di lantai.

Cawi tidak tahu apa yang terjadi di luar. Sebab ia hanya bisa bersembunyi di kolong ranjang kala suara tembakan dan meriam berseliweran di sekitar rumahnya. Setelah suara tembakan agak mereda, rumahnya tiba-tiba didatangi sejumlah orang. Mereka adalah orang keturunan Indonesia tapi memakai seragam pasukan Belanda (dulu dikenal sebagai pasukan KNIL).

Nah pasukan KNIL itulah yang meminta semua perempuan dan anak-anak yang sembunyi di rumah untuk segera keluar. Selanjutnya, mereka disuruh pergi meninggalkan rumah masing-masing. Cawi sendiri mengaku pergi ke persawahan yang berjarak ratusan meter dari rumahnya.

Dari kejauhan, Cawi melihat rumahnya dibakar. Begitu juga dengan rumah-rumah tetangganya yang lain yang waktu itu jaraknya cukup berjauhan. “Saya melihat rumah saya terbakar. Tapi saya hanya diam saja di pesawahan,” ujar Cawi.

Hal sama juga dilakukan Wasiah (92), janda korban pembantaian Rawagede lainnya. Saat penyerangan itu, ia hanya bisa memeluk dua anaknya yang masih kecil di dalam rumah. Sementara suaminya, Senaf, pagi-pagi sekali pergi membajak sawah. “Saya mah diam saja di rumah,” ujarnya perempuan kelahiran 1919 ini kepada detik+.

Penyerbuan pasukan Belanda ke Rawagede baru berakhir menjelang siang. Begitu pasukan kompeni angkat kaki, Cawi, Wasiah, dan perempuan-perempuan desa langsung mencari suami mereka masing-masing. Alangkah terkejutnya mereka ketika yang mereka temukan justru tumpukan jasad para pria di seantero desa.

“Saya menemukan suami saya di pinggir sungai Rawagede sore hari. Ia tertembak di bagian kepala,” kenang Cawi sambil berlinang air mata.

Sedangkan Wasiah baru menemukan suaminya 2 hari kemudian. Saat itu ada warga yang melihat jasad Senaf tertumpuk diantara mayat-mayat pemuda di sekitar stasiun Rawagede, jaraknya sekitar 1 kilometer dari rumahnya.

Sya’ih Bin Sakam, saksi mata peristiwa itu, menuturkan pasukan Belanda melakukan pembantaian di delapan titik di Rawagede. Diantaranya ada yang dibantai di sungai, pesawahan, jalan desa, dan stasiun kereta Rawagede yang kini sudah jadi rumah penduduk.

Kala itu, sejumlah pemuda desa yang tertangkap saat sembunyi di sungai dan akan melarikan diri dijajarkan. Mereka ditanya soal keberadaan Kapten Lukas Kustaryo. Tapi warga desa dan sejumah pejuang yang tertangkap hanya bisa berkata “Tidak tahu Tuan.”

Setelah itu senjata pasukan Belanda pun langsung menyalak. Mereka pun langsung jatuh bersimbah darah. Para korban tertembus sejumlah peluru. Bahkan ada yang terkena belasan peluru.

Sya’ih ingat ia sedang sembunyi di sungai saat tertangkap Belanda. Kemudian ia dan 11 pria desa yang lain dijajarkan dalam 3 baris, masing-masing empat orang dalam posisi jongkok. Sya’ih saat itu berada di barisan paling depan. Sementara pasukan Belanda posisinya berada di belakang mereka.

Ketika Belanda memberondong tembakan ia langsung tersungkur. “Saya selamat karena berada di bagian depan dan segera jatuh ke tanah,” terang Sya’ih pada 10 Agustus 2010 lalu pada detik+. Sya’ih kini sudah tiada. Ia meninggal dunia pada Juni 2011 lalu.

Sehari sebelum penyerbuan itu, Lukas dan pasukannya memang sempat singgah di Rawagede. Namun menjelang Magrib, pasukannya kembali bergerak menuju Cililitan untuk melakukan penyerangan. Namun tidak semua pasukannya dibawa serta. Puluhan pejuang lainnya tinggal di Rawagede karena ada yang sakit dan kelelahan.

Tidak heran ketika usai pembantaian banyak berserakan jasad-jasad pria tidak dikenal. Mereka dibiarkan begitu saja hingga menjadi tulang belulang. Sebab warga desa yang tersisa tinggal kaum perempuan saja. Mereka hanya menguburkan saudara-saudaranya. Penguburan itu pun hanya ala kadarnya. Pasca pembantaian, selama 2 bulan Rawagede menjadi desa mati.

Seorang veteran Belanda memberi kesaksian yang lebih memilukan. Pembantaian tidak hanya dilakukan terhadap para pria, tapi juga perempuan dan anak-anak. “Wanita dan anak-anak yang mau melarikan diri dinyatakan patut dibunuh: semuanya ditembak mati. Jumlahnya ratusan,” tulis seorang veteran Belanda yang menyembunyikan namanya dalam surat kepada Komite Utang Kehormatan Belanda(KUKB) di Belanda seperti dilansir Radio Nederland

“Semua lelaki ditembak mati – kami dinamai ‘Angkatan Darat Kerajaan’.Semua perempuan ditembak mati – padahal kami datang dari negara demokratis. Semua anak ditembak mati– padahal kami mengakunya tentara yang kristiani,” imbuh sang veteran menyesali diri.

Setelah desa dibakar, tentara Belanda mengumpulkan penduduk desa yang tersisa. Mereka disuruh jongkok, dengan tangan melipat di belakang leher. Dan menurut veteran itu hanya sedikit penduduk yang tersisa. “Aku teringat anak-anak yang tangannya masih terlalu pendek untuk melipat tangan di belakang leher, dan mata mereka terbelalak, ketakutan dan tak faham,” kata veteran Belanda itu.

Begitu memilukannya pengorbanan rakyat di Rawagede untuk kemerdekaan. Tidak aneh bila kisah ini mengilhami Chairil Anwar menulis puisi ‘Karawang-Bekasi’. ‘Kenang, kenanglah kami yang tinggal tulang-tulang diliputi debu. Beribu kami terbaring antara Karawang-Bekasi’.

Tulisan detik+ berikutnya: ‘Kemenangan Melawan Lupa dari Rawagede’, ‘Yang Penting Bukan Uang Tapi Pengakuan’, ‘Rela Mati Demi Begundal Karawang’ dan ‘Rp 10,2 M untuk Rawagede Tak Jelas Nasibnya’ bisa anda dapatkan di detiKios for Ipad yang tersedia di apple store.

(ddg/iy)

Kamis, 22/09/2011 11:36 WIB

Janda Rawagede Kalahkan Belanda

Pengakuan Penting

M. Rizal – detikNews

Yang Penting Bukan Uang Tapi Pengakuan


Jakarta – Sudah tidak ada dendam lagi di hati para janda korban pembantaian tentara Belanda di Rawagede, Kecamatan Rawamerta, Kabupaten Karawang, Jawa Barat. Yang penting bagi mereka kini Belanda mengakui mereka telah melakukan pelanggaran HAM di desa itu 64 tahun lalu.

Cawi, salah satu janda korban pembantaian Rawagede, sampai tergetar begitu tahu gugatannya dimenangkan Pengadilan Belanda. Bendol, suami Cawi ditembak di bagian kepalanya saat akan bersembunyi dari kejaran tentara Belanda. Perempuan yang kini berusia 83 tahun itu bersyukur akhirnya gugatannya bersama 8 janda dan seorang saksi mata kejahatan HAM Belanda itu menang.

“Syukur, alhamdulillah. Yang penting aya pengakuan ti Belanda,” ungkap Cawi kepada detik+ di rumah anaknya, yang berjarak beberapa meter dari areal pemakaman Monumen Perjuangan Rawagede itu.

Cawi merasa sudah tua sehingga uang sudah bukan hal penting lagi baginya. Namun bila benar ia akan mendapatkan ganti rugi dari Belanda, ia ingin membangun rumah karena dulu rumahnya dibakar saat pembantaian itu terjadi.

Janda korban lainnya, Wasiah (93), juga gembira atas kemenangan gugatan itu. Suami Wasiah, Enap, kakaknya Wirya dan adiknya, Kacid, serta beberapa sanak sudara lelakinya dibantai tentara Belanda. Soal ganti rugi uang ia juga tidak begitu peduli lagi. “Ya jang naon wae lah, jang cucu-cucu (Ya buat apa saja, buat cucu-cucu),” kata nenek itu tersenyum.

Kemenangan gugatan itu memang menjadi kabar gembira bagi warga Rawagede. Apalagi warga mendengar akan menerima uang ganti rugi. Bahkan, begitu mendengar informasi dari sejumlah media massa, banyak ahli waris korban menanyakan ganti rugi itu kepada pengurus Yayasan Rawagede.

“Kapan turun dan cairnya? Begitu semua menanyakan, tapi saya jelaskan kita masih menunggu proses di Belanda dulu,” imbuh Ketua Yayasan Rawagede Sukarman yang juga putra Cawi itu.

Sukarman menjanjikan uang ganti rugi bila sudah diterima akan dimanfaatkan sebaik mungkin untuk para janda korban dan ahli warisnya serta masyarakat Rawagede. Meski begitu, ia akan berkonsultasi lebih dulu dengan pengacara di Belanda.

“Ini belum jelas, karena ternyata pemerintah Belanda memutuskan melakukan banding atas vonis dari pengadilan di sana, terkait keberatan mereka disebut sebagai pelanggar HAM,” kata Sukarman.

Sukarman berharap pemerintah Indonesia untuk segera lebih serius lagi dan proaktif membantu perjuangan masyarakatnya yang sedang melakukan sebuah proses hukum di Belanda. Mantan anggota DPRD ini pun menyatakan akan berkonsultasi dengan pemerintah soal pemanfaatan ganti rugi nantinya.

Pemerintah dalam menyikapi kemenangan gugatan Rawagede ini memang harus hati-hati. Karena Belanda melakukan banding, pemerintah harus memfasilitasi korban dan tim pengacara korban untuk membuat memori bandingnya. Tapi pemerintah tidak boleh terlibat langsung dalam kasus pembantaian 431 orang di Rawagede itu.

“Ini kan pengadilan nasional di Belanda yang memperkarakan pemerintah di sana dan warga di sini. Beda dengan pengadilan antar negara yang berada di bawah pengadilan internasional PBB. Harus hati-hati,” jelas pengamat hukum internasional, Hikmahanto Juwana kepada detik+.

Hikmahanto menyarankan agar angka jumlah korban diperjelas lagi. Dana kompensasi yang nantinya akan dibayarkan atas keputusan pengadilan itu langsung diberikan kepada para penggugat, bukan pemerintah Indonesia.

Menurut Sukarman, yang tercatat dan terdata secara utuh ada 141 orang korban dari 483 orang korban. Selebihnya ada yang hanyut, tinggal tulang yang berserakan di mana-mana sehingga sulit diidentifikasi. “Jadi uang ganti rugi ini bukan hanya untuk penggugat sebanyak 10 orang, tapi ini kan mewakili korban-korban dan ahli waris yang lainnya sebanyak itu,” jelas penulis buku ‘Riwayat Singkat Makam Pahlawan Rawagede’ itu.

Pemerintah Indonesia sendiri nampaknya masih menunggu sikap pemerintah Belanda. Presiden SBY hingga kini belum berani mengambil sikap. Apalagi, sampai saat ini pemerintah mengaku belum menerima salinan amar keputusan gugatan di pengadilan Belanda.

“Kita belum dapat putusannya, baru tahu dari media, tapi itu tidak sendiri karena melibatkan banyak pihak termasuk Kementerian Luar Negeri, nanti kita koordinasikan,” kata Menteri Hukum dan HAM Patrialis Akbar.

Uang ganti rugi sebenarnya hanya salah satu butir gugatan para janda korban pembantaian Rawagede. Ketua Komite Utang Kehormatan Belanda (KKUB) Batara Ricard Hutagalung menyatakan masih ada tuntutan penting lainnya, yakni tuntutan agar Belanda mengakui kemerdekaan dan tuntutan permintaan maaf. Sayang yang masuk sidang hanya tuntutan ganti rugi. Sementara dua tuntutan lainnya tidak bisa masuk ke persidangan karena dinilai masuk ranah politik.

Soal uang, pada Februari 2009, pemerintah Belanda melalui Menteri Kerjasama Pembangunan telah memberikan bantuan sebesar 850.000 euro atau sekitar Rp 10,2 miliar untuk kesejahteraan masyarakat Rawagede. “Tapi itu bukan dalam rangka tuntutan kita. Kalau vonis kemarin ini untuk langsung untuk 9 orang penggugat dan ahli warisnya,” jelas Batara.

(iy/vit)

23
Sep
11

Ideologi : Pancasila Jatidiri Bangsa dan Batu Pentagonal Gunung Padang

PANCASILA JATIDIRI BANGSA [1 April 2010]


garuda_pancasila

DR Ir Pandji R Hadinoto, MH / Ketua Umum IKA STIH IBLAM

http://www.jakarta45.wordpress.com

Situasi dan Kondisi Obyektif [Bob Novandy, 1 Maret 2010] :

(1)Ketuanan Yang Maha Kuasa; (2)Persetanan Yang Tidak Adil Dan Biadab; (3)Persatean Indonesia;(4) Kerakyatan Yang Dihimpit Oleh Kesewenang-wenangan; (5) Ketidakadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia

BUNG KARNO Penggali Pancasila :

pada Pidato 1 Juni 1945 perkenalkan PANCASILA yang terdiri atas :

(1)Kebangsaan Indonesia; (2) Internasionalisme atau Perikemanusiaan; (3)Mufakat atau Demokrasi; (4) Kesejahteraan Sosial; (5)Ketuhanan Yang Maha Esa.

pada Kursus ke-2 tentang PANCASILA, 16 Juni 1958 di Istana Negara maupun pada Kongres

Rakyat Jawa Timur 24 September 1955, ditekankan bahwa PANCASILA itu ialah

(1)Ketuhanan Yang Maha Esa; (2)Kebangsaan; (3)Perikemanusiaan; (4)Kedaulatan Rakyat; (5)Keadilan Sosial.

Pada Pidato 30 September 1960 di PBB dengan judul To Build The World Anew :

(1)Believe in God; (2)Nationalism; (3)Humanity; (4)Democracy; (5)Social Justice.

PN Pos dan Telekomunikasi Republik Indonesia

17 Agustus 1965 (20 Tahun Indonesia Merdeka)

(1)Ketuhanan Yang Maha Esa;(2) Kedaulatan Rakyat; (3)Kebangsaan; (4)Peri Kemanusiaan; (5)Keadilan Sosial.

KONSTITUSI

Pemboekaan Oendang Oendang Dasar 18 Agustus 1945 [Berita Repoeblik Indonesia Tahoen II

No. 7, 15 Febroeari 1946] adalah

Ketuhanan Yang Maha Esa; Kemanusiaan Yang Adil Dan Beradab; Persatuan Indonesia;

Kerakyatan Yang Dipimpin Oleh Hikmah Kebijaksanaan Dalam Permusyawaratan/Perwakilan;

Keadilan Sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

Dengan catatan :

Baik Mukadimah Konstitusi Republik Indonesia Serikat [Keputusan Presiden RIS 31 Januari

1950 Nr.48, LN 50-3, 6 Februari 1950] maupun Mukadimah Undang-Undang Dasar Sementara

Republik Indonesia [Undang-undang 15 Agustus 1950 No. 7, LN 50-56, 15 Agustus 1950,

Penjelasan TLN 37], tercantum pengakuan

Ketuhanan Yang Maha Esa, Perikemanusiaan, Kebangsaan, Kerakyatan, Keadilan Sosial

Baik Lembaran Negara Republik Indonesia No. 75, 1959 tentang Keputusan Presiden Republik

Indonesia No. 150 Tahun 1959, Dekrit Presiden Republik Indonesia / Panglima Tertinggi

Angkatan Perang tentang Kembali Kepada Undang-Undang Dasar 1945, maupun Risalah Rapat

Paripurna ke-5 Sidang Tahunan MPR Tahun 2002 Sebagai Naskah Perbantuan Dan Kompilasi

Tanpa Ada Opini, 10 Agustus 2002, mencantumkan jiwa atau batang tubuh PANCASILA yakni

Ketuhanan Yang Maha Esa; Kemanusiaan Yang Adil Dan Beradab; Persatuan Indonesia;

Kerakyatan Yang Dipimpin Oleh Hikmah Kebijaksanaan Dalam Permusyawaratan/Perwakilan;

Keadilan Sosial bagi seluruh rakyat Indonesia,

sebagaimana juga Butir-butir PANCASILA, Nilai dan Norma yang terkandung dalam Pedoman

Penghayatan dan Pengamalan PANCASILA (Eka Presetya Pancakarsa) sesuai dengan

Ketetapan No. II/MPR/1978 tanggal 22 Maret 1978.

Riwayat Jiwa PANCASILA Pra 1 Juni 1945

Seperti dapat disimak dari www.jakarta45.wordpress.com [lembar 123 Tatanilai Kearifan Lokal Nusantara], maka batang tubuh atau jiwa PANCASILA dapat ditemui pula di

3.1. AJARAN LIMA PINTU UTAMA dari Prabu Liman Senjaya Kusumah, negara Galuh Pakuan, 1545 M yakni (1) Semiaji (cerminan Kemanusiaan), (2) Bratasena (cerminan Persatuan), (3) Harjuna (cerminan Keadilan), (4) Nakula (cerminan Kerakyatan), (5) Sadewa (cerminan Ketuhanan), dan

3.2. LIMA BANGUNAN UTAMA dari Prabu Susuk Tunggal, negara Soenda, 1345 M ialah (1) Bima Resi / Sadewa (pengaturan Tatacara & Pelaksanaan Keagamaan), (2) Punta Dewa / Bratasena (pengaturan Persatuan & Kesatuan Rakyat), (3) Narayana / Sri Kresna (pengaturan tegaknya Peri Kemanusiaan), (4) Madura / Kakak Sri Kresna (pengaturan hak2 Kerakyatan), (5) Suradipati / Harjuna (pengaturan Keamanan, Kesejahteraan, Keadilan).

Kedua tersebut diatas merujuk paparan dari Bapak Mohamad K. Soeseno, Barisan Marhaenis Indonesia, Majalaya [21 Juli 2007] dilanjut dengan tertulis. Dan dengan adanya semacam keteraturan waktu yaitu 1345, 1545 dan 1945 maka hal itu dapat memandu kita menggunakan tahun 2045 sebagai tonggak (milestone) sejarah kiprah PANCASILA dimasa depan.

3.3 DASHA SHILA pada kitab Sutasoma [era Majapahit], berisi (1) Janganlah menyakiti perasaan orang, (2) Janganlah menjatuhkan hukuman yang tidak adil, (3) Janganlah menjarah harta rakyatmu, (4) Janganlah menunda kebaikan terhadap mereka yang kurang beruntung, (5) Mengabdilah kepada mereka yang sadar, (6) Janganlah menjadi sombong, walau banyak orang menghormatimu, (7) Janganlah menjatuhkan hukuman mati, kecuali menjadi tuntutan keadilan, (8) Adalah yang terbaik, jika kau tidak takut mati, (9) Dan bersabar dalam keadaan susah, (10) Adalah yang terbaik jika kau berjiwa besar dan memberi tanpa pilih kasih. Dan pemaknaan terhadap jiwa PANCASILA adalah bahwa butir (1) merupakan landasan untuk berdemokrasi, dimana kepentingan rakyat banyaklah yang utama, dengan catatan bahwa suara terbanyak bukan berarti kepentingan rakyat banyak. Maka butir (1) ini harus dijiwai oleh butir (2) yang merupakan asas keadilan, dimana asas keadilan ini digunakan sebagai sarana untuk mencapai yang tercantum di butir (3) dan butir (4) yakni kemakmuran dan kesejahteraan. Adapun butir2 (5), (6), (7) dan (9) berkaitan dengan keagamaan. Keagamaan disini bukan hanya sekedar beragama (ritual) tetapi merupakan esensi dari beragama, dan esensi beragama ini akan tercermin dari tingkah laku. Kemudian butir terakhir (10) adalah berkaitan dengan kemanusiaan. Sehingga pemaknaan DASHA SHILA dapat disarikan menjadi

(1) Demokrasi demi terwujudnya (2) Keadilan, Kesejahteraan/Kemakmuran bagi semua, (3) Keagamaan demi terwujudnya (4) Manusia yang berperikemanusiaan, dan (5) asas kebangsaan adalah sebagai ruang (tempat) untuk mewujudkan hal-hal diatas, sebagai satu bangsa yakni bangsa Indonesia [Dana, Politikana, 15 April 2009]

Jiwa PANCASILA bersemangat Al Qur’an

Sebagaimana bisa dipahami dari www.nusakalapa.wordpress.com] khususnya lembar Penjelasan Hubungan PANCASILA dan ayat-ayat Al Qur’an [Lampiran-1, 6 April 2008], maka dapat disimpulkan bahwa jiwa PANCASILA itu adalah seharusnya keseharian bagi kehidupan umat ketika mengemban Firman-Firman Allah Yang Maha Kuasa.

Jiwa PANCASILA adalah MAQASID SYARIAH [Adiwarman A Karim, Imam al Syathibi, kitab al Muwafaqat] yakni

(1) Melindungi agama (Ps – Ketuhanan Yang Maha Esa), (2) Melindungi jiwa (Ps – Perikemanusiaan yang adil dan beradab), (3) Melindungi keutuhan keluarga besar (Ps – Persatuan Indonesia), (4) Melindungi akal pendapat (Ps – Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/ perwakilan, (5) Melindungi hak atas harta (Ps – Keadilan Sosial bagi seluruh rakyat Indonesia).

PANCASILA Penerang Perdamaian Dunia

Melalui utusannya, penulis terima informasi Januari 2008 tentang Bapak La Ode Amunu Ahmad Muhammad Nur Kaimuddin dari Dusun Tanjung Yainuelo, Desa Sepa, Amahai, Maluku Tengah, pada tanggal 13 Nopember 1989 telah menerima petunjuk Kalam Allah Ta’ala “Kalau kamu jadi dukun, sesaat nanti kamu dukung dunia. Sekarang kamu jadi tukang urut, sesaat nanti kamu urus dunia”, dalam bukunya Pelita Penerang Dunia, Amanat Tuhan Terhadap Umat Manusia Sedunia, Ikatan Pendukung Perjalanan Sejarah Dunia, Garuda Pancasila Sakti, sbb :

Lima Sinar Cahaya itu adalah (1) Cahaya Putih, (2) Cahaya Kuning, (3) Cahaya Hijau, (4) Cahaya Merah, (5) Cahaya Hitam. Lima Sinar Cahaya itu disebut pula sebagai PANCASILA, adalah Cahaya Ilahi (Nur Allah) yang merupakan kebesaran dan kemuliaan Allah dan merupakan satu kesatuan yang utuh tidak terpisahkan [Bersatu Menuju Perdamaian, Ikatan Pendukung Perjalanan Sejarah Dunia, Garuda Pancasila Sakti].

Dengan catatan :

BUNG KARNO mengedepankan istilah LEITSTAR atau Bintang Kepemimpinan bagi sosok PANCASILA ini [Kursus ke-2 tentang PANCASILA, 16 Juni 1958 di Istana Negara]

Batu Pentagonal (Era Megalitik, Gunung Padang, Cianjur, Jawa Barat),

Jafar M. Sidik, Kamis, 17 September 2009 06:35 WIB

Selengkapnya dapat dibaca dari http://www.jakarta45.wordpress.com

Menerawangi Indonesia Tua di Gunung Padang

Monday, 15 November 2010 22:56 rochtri

Cianjur, – Pertanyaan mengenai apakah orang-orang Nusantara, Sunda khususnya, merupakan bangsa tua di dunia, kerap terbersit dari pikiran banyak orang begitu mengunjungi situs megalitik Gunung Padang di Desa Karyamukti, Kecamatan Campaka, Cianjur, Jawa Barat.

“Nenek kakek kami bercerita bahwa pada malam-malam tertentu di atas bukit sana, sering terdengar suara-suara musikal dan tempat itu menjadi terang benderang. Kami lalu menamai bukit ini dengan Gunung Padang (gunung terang),” kata Yuda Buntar, salah seorang pengelola situs purbakala itu, awal pekan ini.

Nenek moyang Yuda dan orang-orang sekitar Gunung Padang tak menyebutnya sebagai situs purbakala. Yang mereka tahu tempat itu keramat, sampai kemudian pada 1979 tiga warga kampung itu melaporkan situs tepat di puncak bukit tersebut, ke otoritas purbakala di Cianjur.

Segera daerah itu ditetapkan sebagai cagar budaya untuk bukti keluhuran kebudayaan lokal dan ketinggian peradaban asli Indonesia, khususnya orang-orang yang sekarang mendiami Tatar Pasundan.

Para arkeolog percaya bahwa Situs Megalitik Gunung Padang adalah situs megalitik terbesar di Asia Tenggara.

Situs itu diperkirakan dibangun kira-kira 2.000 tahun sebelum Masehi atau sekitar 2.400 tahun sebelum kerajaan Nusantara pertama berdiri di Kutai, Kalimantan, atau kira-kira 2.800 tahun sebelum Candi Borobudur dibangun.
gunung-padang-foto-hendijo

Melihat susunan batu dan pemilihan panorama lingkungan sekitar situs, siapa pun akan takjub pada betapa tingginya kebudayaan Nusantara purba.

Sumber material bangunan dan kualitasnya yang terpilih, serta orientasinya pada simbol-simbol keilahian khas era purbakala, seperti gunung dan samudera, membuat pengunjung menerawang bahwa betapa agung dan berperspektifnya peradaban purba Nusantara.

Tegak lurus dari situs, berdiri Gunung Gede yang sejak Kerajaan Pajajaran sudah dianggap sakral, atau jangan-jangan masyarakat Pajajaran hanya mewarisi tradisi kuno puak megalitik.

Jika dicermati lebih dalam, situs berisi serakan batu hitam bermotif itu, ternyata memuatkan keteraturan geometris, selain pesan kebijaksanaan kosmis yang tinggi, sebelum agama-agama modern masuk ke Nusantara.

Geometri ujung batu dan pahatan ribuan batu besar dibuat sedemikian teratur rata-rata berbentuk pentagonal. Simbol “lima” ini mirip dengan tangga nada musik sunda pentatonis, da mi na ti na.

Keajaiban-keajaiban itu membuat orang takjub, khususnya para pengunjung situs. Banyak yang menyebut situs ini satu teater musikal purba, sekaligus kompleks peribadatan purba.

“Obelix harus ke sini,” kata seorang pengunjung dari Universitas Padjadjaran, Bandung, seperti tertulis dalam buku tamu kesan dan pesan setelah mengunjungi situs megalitik Gunung Padang.

Obelix adalah salah satu tokoh dari duet Asterix-Obelix dalam komik “Petualangan Asterix” karya Rene Goscinny dari Prancis, yang mengisahkan para ksatria Galia, Prancis awal, di era Romawi kuno.

Poligonal

Untuk mencapai situs, seseorang harus menapaki dulu 468 anak tangga batu endesit yang direkonstruksi, begitu bukit itu ditetapkan sebagai cagar budaya. Tangga batunya pun dibuat dengan hitungan matematis, dengan bilangan lima terlihat dominan.

Kalau Babylonia menganggap sakral angka 11 atau Romawi Kuno dengan angka 7, maka di Gunung Padang, bangsa kuno Nusantara yang mendiami tanah Pasundan ini “memuja” bilangan lima.

Di pelataran undak pertama, pemandangan menakjubkan terhampar dari seluruh konstruksi situs yang disusun dari kolom-kolom batu berdimensi kebanyakan segi lima, dengan permukaannya yang halus.
gunung_padang1

Batu-batu itu dipasang melintang sebagai tangga dari kaki bukit sampai pintu masuk situs. Di puncak bukit, pada pelataran pertama, pintu gerbangnya diapit kolom batu berdiri.

Sejumlah pakar menilai batu-batu itu tidak dibuat manusia, melainkan hasil proses geologis ketika aliran magma membeku, seperti terbentuknya retakan-retakan poligonal ketika lumpur mengering.

Proses serupa membentuk situs tanggasegi enam raksasa di Giant Causeway, Irlandia atau Borger-Odoorn di Belanda. Semuanya terjadi saat proses pendinginan lava menjadi batuan beku yang umumnya berjenis batu andesit.

Gunung Padang sendiri diperkirakan terbentuk dari hasil pembekuan magma, sisa gunung api purba era Pleistosen Awal, 21 juta tahun lalu.

Para pakar menilai, gunung itu adalah sumber alamiah kolom batu penyusun konstruksi situs, terbukti dari berserakannya kolom-kolom batu alamiah yang bukan dari reruntuhan situs yang banyak ditemukan di kaki Gunung Padang.

“Memang, batu-batu sejenis bisa dengan mudah digali dari kaki Gunung Padang ini,” kata Yuda, seraya menunjuk tumpukan batu andesit berbalut tanah merah di seberang jalan dan dekat dapur rumahnya.

Namun, masyarakat setempat percaya, seperti dituturkan Ahmad Zaenuddin, salah seorang pengelola situs sekaligus pelaku konstruksi situs megalitik Gunung Padang, batu-batu andesit di lokasi situs terlebih dahulu diukir di satu tempat yang kini disebut Kampung Ukir.

Kemudian, dicuci di satu empang yang tempatnya sekarang disebut Kampung Empang yang hingga kini terhampar serakan sisa-sisa ukiran batu purba. Kedua kampung berada sekitar 500 meter arah tenggara Situs Megalitik Gunung Padang.

Batu-batu andesit sendiri hanya ditemui di sekitar Gunung Padang. “Begitu menyeberangi Kali Cikuta dan Kali Cipanggulaan, tak ada lagi batu-batu besi seperti itu,” kata Zaenudin.

Kaki Cikuta dan Kali Cipanggulaan adalah dua sungai kecil yang mengapit situs Gunung Padang yang telah dicatat arkeolog Belanda, N.J. Krom, pada 1914.

Gunung Padang sendiri bukan satu-satunya kompleks tradisi megalitik. Masih ada peninggalan tradisi megalitik sekitar Cianjur di Ciranjang, Pacet, Cikalong Wetan dan Cibeber.

Yang pasti, situs megalitik Gunung Padang yang dapat ditempuh dalam waktu 45 menit dari kota Cianjur itu adalah yang paling menakjubkan dan paling agung.

Sayang, satu kilometer menuju lokasi, kondisi jalan menuju situs amat buruk, di samping penunjuk arah situs yang tak jelas. Lain dari itu, Situs Megalitik Gunung Padang tampaknya harus lebih dirawat dan dilindungi lagi.

Sumber: antaranews.com

Tuesday, June 14, 2011

Menerawangi “Indonesia Tua” di Gunung Padang

Pertanyaan mengenai apakah orang-orang Nusantara, Sunda khususnya, merupakan bangsa tua di dunia, kerap terbersit dari pikiran banyak orang begitu mengunjungi situs megalitik Gunung Padang di Desa Karyamukti, Kecamatan Campaka, Cianjur, Jawa Barat.

“Nenek kakek kami bercerita bahwa pada malam-malam tertentu di atas bukit sana, sering terdengar suara-suara musikal dan tempat itu menjadi terang benderang. Kami lalu menamai bukit ini dengan Gunung Padang (gunung terang),” kata Yuda Buntar, salah seorang pengelola situs purbakala itu kepada ANTARA, awal pekan ini.

Nenek moyang Yuda dan orang-orang sekitar Gunung Padang tak menyebutnya sebagai situs purbakala. Yang mereka tahu tempat itu keramat, sampai kemudian pada 1979 tiga warga kampung itu melaporkan situs tepat di puncak bukit tersebut, ke otoritas purbakala di Cianjur.
Segera daerah itu ditetapkan sebagai cagar budaya untuk bukti keluhuran kebudayaan lokal dan ketinggian peradaban asli Indonesia, khususnya orang-orang yang sekarang mendiami Tatar Pasundan.
Para arkeolog percaya bahwa Situs Megalitik Gunung Padang adalah situs megalitik terbesar di Asia Tenggara.
Situs itu diperkirakan dibangun kira-kira 2.000 tahun sebelum Masehi atau sekitar 2.400 tahun sebelum kerajaan Nusantara pertama berdiri di Kutai, Kalimantan, atau kira-kira 2.800 tahun sebelum Candi Borobudur dibangun.
Melihat susunan batu dan pemilihan panorama lingkungan sekitar situs, siapa pun akan takjub pada betapa tingginya kebudayaan Nusantara purba.
Sumber material bangunan dan kualitasnya yang terpilih, serta orientasinya pada simbol-simbol keilahian khas era purbakala, seperti gunung dan samudera, membuat pengunjung menerawang bahwa betapa agung dan berperspektifnya peradaban purba Nusantara.
Tegak lurus dari situs, berdiri Gunung Gede yang sejak Kerajaan Pajajaran sudah dianggap sakral, atau jangan-jangan masyarakat Pajajaran hanya mewarisi tradisi kuno puak megalitik.
Jika dicermati lebih dalam, situs berisi serakan batu hitam bermotif itu, ternyata memuatkan keteraturan geometris, selain pesan kebijaksanaan kosmis yang tinggi, sebelum agama-agama modern masuk ke Nusantara.
Geometri ujung batu dan pahatan ribuan batu besar dibuat sedemikian teratur rata-rata berbentuk pentagonal. Simbol “lima” ini mirip dengan tangga nada musik sunda pentatonis, da mi na ti na.

Keajaiban-keajaiban itu membuat orang takjub, khususnya para pengunjung situs. Banyak yang menyebut situs ini satu teater musikal purba, sekaligus kompleks peribadatan purba.
“Obelix harus ke sini,” kata seorang pengunjung dari Universitas Padjadjaran, Bandung, seperti tertulis dalam buku tamu kesan dan pesan setelah mengunjungi situs megalitik Gunung Padang.
Obelix adalah salah satu tokoh dari duet Asterix-Obelix dalam komik “Petualangan Asterix” karya Rene Goscinny dari Prancis, yang mengisahkan para ksatria Galia, Prancis awal, di era Romawi kuno.
Poligonal
Untuk mencapai situs, seseorang harus menapaki dulu 468 anak tangga batu endesit yang direkonstruksi, begitu bukit itu ditetapkan sebagai cagar budaya. Tangga batunya pun dibuat dengan hitungan matematis, dengan bilangan lima terlihat dominan.
Kalau Babylonia menganggap sakral angka 11 atau Romawi Kuno dengan angka 7, maka di Gunung Padang, bangsa kuno Nusantara yang mendiami tanah Pasundan ini “memuja” bilangan lima.

Di pelataran undak pertama, pemandangan menakjubkan terhampar dari seluruh konstruksi situs yang disusun dari kolom-kolom batu berdimensi kebanyakan segi lima, dengan permukaannya yang halus.
Batu-batu itu dipasang melintang sebagai tangga dari kaki bukit sampai pintu masuk situs. Di puncak bukit, pada pelataran pertama, pintu gerbangnya diapit kolom batu berdiri.
Sejumlah pakar menilai batu-batu itu tidak dibuat manusia, melainkan hasil proses geologis ketika aliran magma membeku, seperti terbentuknya retakan-retakan poligonal ketika lumpur mengering.
Proses serupa membentuk situs tanggasegi enam raksasa di Giant Causeway, Irlandia atau Borger-Odoorn di Belanda. Semuanya terjadi saat proses pendinginan lava menjadi batuan beku yang umumnya berjenis batu andesit.
Gunung Padang sendiri diperkirakan terbentuk dari hasil pembekuan magma, sisa gunung api purba era Pleistosen Awal, 21 juta tahun lalu.
Para pakar menilai, gunung itu adalah sumber alamiah kolom batu penyusun konstruksi situs, terbukti dari berserakannya kolom-kolom batu alamiah yang bukan dari reruntuhan situs yang banyak ditemukan di kaki Gunung Padang.
“Memang, batu-batu sejenis bisa dengan mudah digali dari kaki Gunung Padang ini,” kata Yuda, seraya menunjuk tumpukan batu andesit berbalut tanah merah di seberang jalan dan dekat dapur rumahnya.
Namun, masyarakat setempat percaya, seperti dituturkan Ahmad Zaenuddin, salah seorang pengelola situs sekaligus pelaku konstruksi situs megalitik Gunung Padang, batu-batu andesit di lokasi situs terlebih dahulu diukir di satu tempat yang kini disebut Kampung Ukir.

Kemudian, dicuci di satu empang yang tempatnya sekarang disebut Kampung Empang yang hingga kini terhampar serakan sisa-sisa ukiran batu purba. Kedua kampung berada sekitar 500 meter arah tenggara Situs Megalitik Gunung Padang.
Batu-batu andesit sendiri hanya ditemui di sekitar Gunung Padang. “Begitu menyeberangi Kali Cikuta dan Kali Cipanggulaan, tak ada lagi batu-batu besi seperti itu,” kata Zaenudin.
Kaki Cikuta dan Kali Cipanggulaan adalah dua sungai kecil yang mengapit situs Gunung Padang yang telah dicatat arkeolog Belanda, N.J. Krom, pada 1914.
Gunung Padang sendiri bukan satu-satunya kompleks tradisi megalitik. Masih ada peninggalan tradisi megalitik sekitar Cianjur di Ciranjang, Pacet, Cikalong Wetan dan Cibeber.
Yang pasti, situs megalitik Gunung Padang yang dapat ditempuh dalam waktu 45 menit dari kota Cianjur itu adalah yang paling menakjubkan dan paling agung.
Sayang, satu kilometer menuju lokasi, kondisi jalan menuju situs amat buruk, di samping penunjuk arah situs yang tak jelas. Lain dari itu, Situs Megalitik Gunung Padang tampaknya harus lebih dirawat dan dilindungi lagi. (*)

Musik Purba dari Cianjur Selatan?

Sumber: http://qmuse.wordpress.com/2008/03/22/musik-purba-dari-cianjur-selatan/
Mengapa manusia suka pada musik? Dan mengapa hanya musik-musik tertentu? Percaya atau tidak, ini masih teka-teki yang belum terpecahkan hingga saat ini. Ada sesuatu di serabut-serabut kelabu kita sehingga untaian nada tertentu menjadi imbang, sementara suara-suara lain seolah adalah falsetto dan kurang indah. Musik paling tua yang pernah diumumkan mungkin adalah musik tulang yang ditiup (bone whistles) di kawasan Hemudu, China yang diduga telah ada semenjak 5000-4500 SM, kemudian ada pula temuan instrumentasi mirip harpa dan lira di kawasan Mesopotamia, Irak yang diduga telah berusia 5000 tahun. Tanah nusantara mungkin tak ketinggalan. Sebuah arahan penelitian menunjukkan ada kemungkinan penemuan instrumen musik kuno di Cianjur Selatan, di sebuah desa Campaka, Jawa Barat. Di sebuah situs megalitikum yang diduga didirikan pada tahun 2500 SM, terdapat batu-batuan raksasa yang jika dipukul menghasilkan nada-nada tertentu. Nusantara kita nan kaya dan hebat…
Di kawasan perkebunan teh itu ada sebuah situs kuno megalitikum, dinamai situs megalitik Gunung Padang, di kawasan Cianjur Selatan, Jawa Barat. Ini mungkin adalah situs megalitikum terbesar di kawasan Asia Pasifik karena luasnya lebih dari 3 kilometer persegi. Di tengah puing-puing ini, terdapat sekelompok bebatuan berbentuk persegi yang jika dipukulkan akan menghasilkan bunyi-bunyi berfrekuensi tinggi. Kita bisa menonton lokasi gambarannya dari link YOUTUBE ini.

Belum diketahui pasti, dimaksudkan sebagai tempat apa sebenarnya puing-puing bangunan purba ini ketika didirikan. Kita masih menunggu hasil penelitian arkeologis, antropologis, tentang hal ini. Situs ini baru dilaporkan diketemukan sekitar tahun 1979 oleh penduduk setempat dan saat ini masih dalam kajian-kajian untuk memastikan fungsionalitasnya. Yang jelas di sini tersimpan sesuatu informasi yang kita belum tahu tentang keberadaan diri kita, tentang mereka yang pernah tinggal di tanah tercinta ini, tentang nenek moyang kita atau bisa jadi penduduk asli yang dibasmi oleh nenek moyang kita dalam perebutan tanah yang kita sebut nusantara ini.
Di sebuah lokasi sempit di dalam lokasi ini, terdapat sekumpulan batu, ada beberapa di sana yang tergeletak sedemikian dengan panjang lebih dari 1.5 meter dan lebar serta ketebalan lebih dari 25 cm. Beberapa batu besar ini jika dipukul dengan batu lain yang lebih kecil maka akan memberikan bunyi berfrekuensi dalam interval 2500-5000 Hz. Range frekuensi bunyi yang masuk dalam kategori bunyi yang bisa kita dengar. Ketika batu-batu itu dipukul-pukulkan sedemikian, maka diperoleh spektrum nada-nada yang unik sekali. Terdapat kecenderungan, satu batu menghasilkan satu frekuensi yang sama – yang dimaksudkan untuk representasi satu nadakah? Ini tentu merupakan penemuan yang mengejutkan! Ada instrumentasi musik dari zaman megalitikum!

Ada sekitar beberapa batu yang dipukul-pukul, dan berhasil diekstrak 4 batu yang dipukul dan menghasilkan 4 frekuensi yang dapat dipetakan ke dalam tangga nada yang kita kenal saat ini. Empat nada ini, bisa didengarkan di sini,

>>> empat nada purba <<<
Yang kemudian direkonstruksi menjadi empat nada dalam tangga nada yang kita kenal:

…untaian bunyi dengan nada f”’ – g”’ – d”’ – a”’ yang bisa jadi adalah urutan nada pentatonik? Kalau benar peradaban kuno ini telah mengenal nada pentatonik, mungkin nada yang hilang adalah nada-nada di antara nada pertama dan kedua, karena jarak larasnya yang agak jauh antara kedua nada tersebut. Rekonstruksi nada-nada ini bisa didengar pada file mp3 berikut ini:
>>> rekonstruksi nada purba <<<


Dari sisi ukurannya, jika ini adalah benar alat musik kuno, maka ini merupakan alat musik yang sangat besar dan sulit dibayangkan jika dimainkan oleh satu orang. Sangat mungkin pemainnya adalah sekelompok orang yang secara bergantian memainkan lagu-lagu secara monofonik. Wow, sungguh mengherankan dan menarik sekali. Bayangkan ada peradaban purba yang belum mengenal tulisan, namun sudah mengenal konsep kerja sama dalam menghasilkan bentuk-bentuk estetika suara.
Ini merupakan suatu hal yang sangat memperkaya khazanah pengetahuan kita akan sejarah musik dunia. Banyak pertanyaan baru akhirnya timbul, termasuk pertanyaan siapakah mereka ini? Apakah mereka adalah nenek moyang orang Sunda? Jika ya, berarti ada fasa prasejarah dengan tradisi megalitikum di kalangan orang Sunda? Situs ini menyimpan banyak hal yang memperkaya wawasan mereka yang kini tinggal di Jawa Barat, dan kepuluaan Indonesia secara umum, bahkan mungkin dunia, karena mungkin inilah temuan pertama tradisi megalitikum di mana instrumentasi musik pukul ditemukan pertama kali. Wallahualambissawab!

Situs Megalith paling Ajaib !! situs ini berusia sekitar 5000 tahun..orientasi situs ini mengarah ke puncak gunung gede, setelah ditelusuri melalui google earth ternyata ada 5 puncak gunung yang berada dalam satu garis lurus..5 puncak gunung tersebut merupakan mirror dari situs megalith itu sendiri yang mempunyai 5 undakan…batunya berbentuk batang dengan 5 sisi ( pentagonal )…batu gamelannya di-indikasi-kan menghasilkan nada pentatonis..AJAIB !!

Diposting oleh Yasirmaster di 1:47 AM  

Situs Megalitikum

Situs Megalitikum Musikal Purba Cianjur Terbesar di Asia

Kumpulan artikel dari berbagai sumber

Pada tanggal 15 Agustus 2009 lalu, saya berkesempatan mengikuti “Tur Situs Megalitik Gunung Padang”. Situs Gunung Padang terletak di Desa Karyamukti, Kecamatan Campaka, Kabupaten Cianjur. Konon, menurut para ahli arkeologi, situs ini merupakan situs megalitik terbesar di Asia Tenggara. Pada judul tulisan ini, saya menambahkan tanda tanya pada akhir kalimat judul karena masih membutuhkan pembuktian lebih lanjut untuk meyakinkan bahwa Situs Gunung Padang merupakan situs megalitik terbesar di Asia Tenggara.

Asyiknya, “Tur Megalitik Situs Gunung Padang” dimulai dengan naik kereta ekonomi jurusan Bandung – Cianjur. Jalur kereta Bandung – Cianjur merupakan jalur kereta api tertua, yang mulai dioperasikan pada tahun 1884. Sepanjang jalur ini, banyak terdapat potensi geowisata tentang pembentukan Danau Bandung Purba. Untungnya, pemimpin dan interpreter tur adalah pakar geologi, jadi, di sepanjang perjalanan dengan kereta ini, kami  mendapatkan penjelasan ttg berbagai  fenomena geologis yang dilalui.  Sebetulnya, tidak hanya peserta tur yang mengikuti penjelasan ini, ketika Pak Budi -interpreter- menunjukkan sesuatu di luar jendela, penumpang yang lain -plus penjual yang berlalu lalang- pun ikut melongok ke jendelanya  masing-masing…

image0012

Gambar 1 Suasana kereta api ekonomi Bandung – Cianjur yang membawa peserta tur

Jalur Bandung – Cianjur merupakan jalur yang sangat sepi karena hanya melayani satu rute kereta api, yaitu Bandung – Cianjur – Bandung, berangkat dari Bandung pukul 08.10, dan kembali lagi dari Cianjur pukul 14.00. Karena jalurnya sepi, kereta api Bandung – Cianjur ini bisa berhenti hampir di setiap stasiun kereta api yang dilewatinya.

Rombongan tur sendiri turun di Stasiun Cipeuyeum. Perjalanan Bandung – Stasiun Cipeuyeum ditempuh dalam waktu 1,5 jam. Stasiun Cipeuyeum ini merupakan stasiun di pinggir Kota Cianjur. Di sana kami sudah dijemput oleh bis yang akan membawa kami ke Situs Gunung Padang. Perjalanan dari Stasiun Cipeuyeum ke Gunung Padang ditempuh dalam waktu sekitar 1 jam 45 menit, tetapi kami singgah  dulu di Stasiun Lampegan yang memiliki terowongan kereta api yang juga sudah tua umurnya.

image0032

Gambar 2 Stasiun Cipeuyeum, Cianjur

Stasiun Lampegan saat ini sedang dalam perbaikan untuk dapat dioperasikan lagi pada tahun 2010 nanti. Terowongan kereta api Lampegan dibangun selama tiga tahun, sejak tahun 1879 – 1882. Informasi ini tercantum di atas mulut  terowongan tersebut. Memasuki terowongan, suasana gelap dan dinginlah yang kami rasakan. Hanya sekitar 10 menit kami berada di dalam terowongan karena terowongan pun sedang dalam renovasi.

image0052

Gambar 3 Terowongan Lampegan, terowongan tua yang dibangun selama tiga tahun

Perjalanan kami lanjutkan ke Situs Gunung Padang. Tepat 15 menit, kami tiba di perkebunan teh milik PTPN VIII Panyairan yang terletak di sekitar  Situs Gunung Padang. Perjalanan harus dihentikan di sana karena bis yang kami gunakan, tidak memungkinkan untuk masuk sampai ke kaki Gunung Padang. Kendaraan  yang lebih kecil  dapat langsung sampai ke kaki Gunung Padang.

image0071

Gambar 4 Dari perkebunan teh Penyairan inilah pendakian ke Situs Gunung Padang dimulai

Dari sini kami berjalan kaki sekitar 1 km, sebetulnya hal ini tidak menjadi masalah karena kami berjalan melalui perkebunan teh yang pemandangannya sangat indah, namun karena saat itu hampir tengah hari, jadi terasa agak panas.

Setelah melalui jalan-jalan mendaki, menurun, mendaki lagi, akhirnya kami tiba di kaki Gunung Padang sekitar satu  jam kemudian. Karena hari sudah siang, kami memutuskan untuk menyantap makan siang dulu sebelum melanjutkan pendakian ke Situs Gunung Padang. Sedapnya…, makan siang yang disediakan oleh masyarakat adalah makanan khas Sunda, yaitu nasi liwet, ikan asin goreng, ayam goreng, pepes ikan mas, dan tidak ketinggalan karedok.

image0091

Gambar 5 Perjalanan mendaki menuju kaki Gunung Padang

Setelah sejenak beristirahat dan sholat, kami mulai melakukan ‘pendakian’ ke Situs Gunung Padang. Untuk menuju Situs Gunung Padang, terdapat dua alternatif jalan. Alternatif pertama adalah jalan utama, mendaki sekitar 370 anak tangga dengan kemiringan yang cukup tajam, hampir 40 derajat. Alternatif kedua adalah mendaki sekitar 500 anak tangga dengan kemiringan yang lebih landai. Kami memutuskan untuk mengambil jalan utama  yang jarak tempuhnya lebih pendek dan terbuat dari batuan asli, walaupun dengan kemiringan yang lebih tajam.

image0111

Gambar 6 Jalan masuk Situs Gunung Padang, di sisi kiri terdapat anak-anak tangga menuju situs

Satu per satu anak tangga kami daki. Anak-anak tangga ini disusun dari batu-batu berbentuk kolom poligonal yang dipasang melintang. Dengan sedikit terengah-engah, akhirnya 15 menit kemudian, kami tiba di Situs Gunung Padang. Woww…!! Pemandangan k depan dan ke belakang betul-betul menakjubkan!

image0131image0151

Gambar 7 Perjalanan mendaki sekitar 370 anak tangga dan pemandangan di belakangnya

Situs Gunung Padang ini terdiri dari lima pelataran (bisa juga menjadi 7 pelataran jika bagian-bagian tertentu di bawahnya dianggap sebagi pelataran). Masing-masing pelataran berada lebih tinggi sekitar 50-cm dari pelataran sebelumnya.

Beberapa peserta tur yang kelelahan langsung merebahkan diri ke atas rerumputan begitu tiba di  pelataran pertama. Pelataran pertama adalah pelataran dengan gerbang kecil yang terbentuk oleh kolom-kolom batu yang berdiri berhadapan. Pada pelataran pertama ini terdapat batu-batu berwarna abu-abu berbentuk kolom yang masih tersusun rapi membentuk ruang persegi panjang. Batu-batuan di Gunung Padang adalah batuan jenis andesit basaltis yang merupakan hasil pembekuan magma pada lingkungan sisa-sisa gunung api purbakala pada jaman Pleistosen Awal, sekitar 2 – 1 juta tahun yang lalu. Karena pengaruh proses alam, batu-batuan ini membentuk dirinya menjadi kolom-kolom poligonal segi empat, lima, enam, delapan, yang permukaannya sangat halus sehingga banyak orang yang mengira batu-batuan ini merupakan hasil karya tangan manusia jaman dahulu.

image0171

Gambar 8 Pelataran pertama Situs Gunung Padang

Arsitek megalitik yang diperkirakan hidup sekitar 6000 tahun yang lalu, menyusun kolom-kolom batu tersebut menjadi sebuah bangunan berundak-undak yang sangat indah. Sayangnya, letak batu-batuan tersebut saat ini sudah banyak yang tidak beraturan, tergeletak begitu saja. Menurut Pak Dadi, petugas di situs Gunung padang, sebelum dianggap memiliki nilai budaya yang tinggi, Gunung Padang merupakan sumber kayu bagi para pencari kayu. Banyak pohon-pohon besar yang tumbuh di sini dan ditebang oleh para pencari kayu. Selain itu, Gunung Padang juga pernah dimanfaatkan sebagai ladang oleh masyarakat sekitar. Penebangan dan pengangkutan pohon serta perladangan lah yang mengubah posisi bebatuan dari posisi aslinya. Untungnya, masih terdapat beberapa batuan yang tersusun rapi pada posisi aslinya sehingga nilai-nilai budayanya tidak hilang begitu saja.

Pada pelataran pertama, terdapat batu berbentuk poligon yang disebut batu gamelan. Konon, pada jaman dahulu, dari arah Gunung Padang  ini kerap terdengar bunyi-bunyi gamelan setiap malam Selasa dan malam Jumat. Sampai saat ini bunyi gamelan ini sesekali saja terdengar, dikalahkan oleh bunyi-bunyi dari sumber-sumber suara lain yang lebih modern, seperti TV, radio, maupun kendaraan bermotor. Salah satu petugas yang mengantar kami, memainkan batu gamelan tersebut, terdengarlah alunan musik tradisional Sunda dari pukulan-pukulan batu kecil pada batu gamelan. Para seniman tradisional Sunda, seperti pesinden, dalang, konon sering melakukan doa di sini sebelum melakukan pertunjukan.

image0191

Gambar 9 Batu gamelan yang sedang dimainkan oleh pemandu kami, Pak Nanang

Pada pelataran berikutnya, Pak Dadi, menunjukkan kepada kami batu dengan cerukan yang menyerupai bentuk telapak kaki harimau berukuran besar.

image0211

Gambar 10 Ceruk berbentuk Telapak kaki harimau pada salah satu batu

Di pelataran selanjutnya, terdapat batu gendong. Menurut Pak Dadi, jika ada yang berhasil mengangkat batu gendong tersebut, maka semua keinginannya akan terwujud. Penasaran, saya mencoba untuk mengangkat batu tersebut. Ternyata, saangaat berat! Beberapa kali saya coba, tidak satu kali pun batu itu terangkat oleh saya. Beberapa peserta tur lain pun mencoba mengangkat batu gendong, tetapi tidak ada satu orang pun yang berhasil, termasuk Pak Dadi….!!

image0231

Gambar 11 ‘Penguasa’ Gunung Padang pun tidak berhasil mengangkat batu gendong ini

Pada pelataran kelima, terdapat tempat yang dianggap memiliki aura paling kuat di Gunung Padang. Di tempat ini terdapat lubang kecil di bawah tanah yang ditutupi oleh batu-batu poligonal. Menurut Pak Dadi, lubang  ini pada awalnya berukuran besar, bahkan manusia pun bisa masuk ke dalamnya, tetapi untuk menghindari hal-hal yang membahayakan pengunjung, lubang ini sebagian ditutup olehnya. Di tempat inilah orang-orang yang percaya pada kekuatan mistis Gunung Padang bersemedi untuk mendapatkan kesuksesan dan keberhasilan yang diinginkannya.

image0251

Gambar 12 Tempat yang dianggap memiliki kekuatan paling besar di Gunung Padang

Kalau merujuk pada sejarah Jawa Barat, Gunung Padang ini diperkirakan merupakan salah satu kebuyutan yang ditemukan oleh seorang pangeran Kerajaan Sunda yang berkelana menjelajahi tempat-tempat keramat di Pulau Jawa dan Bali pada sekitar abad ke-15. Konon, tujuan perjalanannya adalah untuk meningkatkan ilmu yang dimilikinya.

Pangeran ini adalah pangeran yang mendapat julukan Bujangga Manik. Dari perjalanannya, Bujangga Manik berhasil mencatat sekitar 450 nama geografis yang sebagian besar masih dapat dikenali sampai saat ini. Catatan dalam lembar-lembar daun lontar tersebut sekarang tersimpang di Museum Bodleian, Oxford, Inggris. Dari catatan tersebut diketahui bahwa Bujangga Manik pernah melakukan persiapan untuk perjalanan spiritualnya ke Nirwana di suatu tempat kebuyutan yang ditemukannya di hulu Sungai Cisokan, Cianjur. Walaupun belum ada kepastian di mana kebuyutan di hulu Sungai Cisokan yang disebut oleh Bujangga Manik, tetapi satu-satunya tempat kebuyutan yang ada di hulu Sungai Cisokan – Cikondang, Cianjur adalah Gunung Padang.

Nampaknya, masih banyak cerita bernilai tinggi yang dapat digali dari Situs Gunung Padang. Ini tentu saja membutuhkan dukungan para peneliti arkeologi maupun sejarah. Potensi arkeologi, sejarah, maupun geologi Gunung Padang yang masih belum digali secara optimal ini merupakan kekayaan alam dan budaya yang sangat tinggi bagi Cianjur, dan bahkan bagi Indonesia.

Kami duduk-duduk menikmati angin sepoi-sepoi dan bertukar cerita tentang kemungkinan sejarah geologis dan kebudayaan situs ini  di pelataran ke lima hingga sore hari. Kami kemudian turun kembali ke kaki Gunung Padang. Kali ini, kami mengambil jalan yang lebih landai agar pengalaman yang kami dapatkan lebih utuh. Melalui jalan ini dapat dilihat sisi situs Gunung Padang yang dibentuk dari tumpukan (mungkin) ribuan batu poligonal ini.  Wah, sungguh  mengesankan…

Saya pasti akan kembali lagi ke sini. Sampai jumpa lagi, Gunung Padang!

image027

Gambar 13 Sisi Situs Gunung Padang

image029

Gambar 14 Perjalanan pulang melalui jalan alternatif kedua, lebih panjang tetapi lebih landai

(Yani Adriani) http://ayotamasya.com/?p=462

Situs Megalitikum Gunung Padang Cianjur

Situs Gunung Padang di Kampung Gunung Padang dan Kampung Panggulan, Desa Karyamukti Kecamatan Campaka, Cianjur, merupakan situs megalitik berbentuk punden berundak yang terbesar di Asia Tenggara. Ini mengingat luas bangunan purbakalanya sekitar 900 m2 dengan luas areal situs sendiri kurang lebih sekitar 3 ha.

Gerbang Situs Gunung Padang Cianjur Jawa Barat

Keberadaan situs ini peratama kali muncul dalam laporan Rapporten van de oudheid-kundigen Dienst (ROD), tahun 1914, selanjutnya dilaporkan NJ Krom tahun 1949. pada tahun 1979 aparat terkait dalam hal pembinaan dan penelitian benda cagar budaya yaitu penilik kebudayaan setempat disusul oleh ditlinbinjarah dan Pulit Arkenas melakukan peninjauan ke lokasi situs. Sejak saat itu upaya penelitian terhadap situs Gunung Padang mulai dilakukan baik dari sudut arkeologis, historis, geologis dan lainnya.

Bentuk bangunan punden berundaknya mencerminkan tradisi megalitik (mega berarti besar dan lithos artinya batu) seperti banyak dijumpai di beberapa daerah di Jawa Barat. Situs Gunung Padang yang terletak 50 kilometer dari Cianjur konon merupakan situs megalitik paling besar di Asia Tenggara. Di kalangan masyarakat setempat, situs tersebut dipercaya sebagai bukti upaya Prabu Siliwangi membangun istana dalam semalam.

Dibantu oleh pasukannya, ia berusaha mengumpulkan balok-balok batu yang hanya terdapat di daerah itu. Namun, malam rupanya lebih cepat berlalu. Di ufuk timur semburat fajar telah menggagalkan usaha kerasnya, maka derah itu kemudian ia tinggalkan. Batu-batunya ia biarkan berserakan di atas bukit yang kini dinamakan Gunung Padang. Padang artinya terang.

Teras 1 Situs Gunung Padang Cianjur

Punden berundak Gunung Padang, dibangun dengan batuan vulkanik masif yang berbentuk persegi panjang.

Bangunannya terdiri dari lima teras dengan ukuran berbeda-beda. Batu-batu itu sama sekali belum mengalami sentuhan tangan manusia dalam arti, belum dikerjakan atau dibentuk oleh tangan manusia.

Balok-balok batu yang jumlahya sangat banyak itu tersebar hampir menutupi bagian puncak Gunung Padang. Penduduk setempat menjuluki beberapa batu yang terletak di teras-teras itu dengan nama-nama berbau Islam. Misalnya ada yang disebut meja Kiai Giling Pangancingan, Kursi Eyang Bonang, Jojodog atau tempat duduk Eyang Swasana, sandaran batu Syeh Suhaedin alias Syeh Abdul Rusman, tangga Eyang Syeh Marzuki, dan batu Syeh Abdul Fukor.

Situs Peninggalan Zaman Megalitikum di Gunung Padang Kian Terbengkalai

Terang ke-2 Situs Gunung Padang

Kapanlagi.com – Situs peninggalan zaman megalitikum yang terletak di Gunung Padang Desa Cimenteng, Kecamatan Campaka, Kabupaten Cianjur hingga kini kondisinya sangat memprihatinkan, dan Pemkab Cianjur nampaknya belum memiliki perhatian serius untuk memelihara situs purbakala yang sangat berguna bagi pengungkapan kebudayaan pra-sejarah yang ada di daerah itu.

Ketua Komisi I DPRD Kabupaten Cianjur, Iwan Permana SH kepada ANTARA di Cianjur, Rabu menyatakan, pihaknya menyesalkan sikap Pemkab Cianjur yang kurang menghargai nilai-nilai sejarah. Padahal, kata Iwan, situs semacam itu di daerah lain bisa dimanfaatkan untuk kepentingan pariwisata.

“Sejak ditemukannya, situs Gunung Padang memang sangat memprihatinkan, padahal masyarakat terutama kalangan arkeolog telah berupaya agar situs tersebut dipelihara. Kini bebatuan di daerah itu mulai rusak karena banyaknya tangan-tangan jahil yang memanfaatkan bebatuan di lokasi tersebut untuk kepentingan yang tidak jelas,” ujar Iwan.

Teras ke-3 Situs Gunung Padang

Sementara itu Bupati Cianjur, Ir Wasidi Swastomo Msi secara terpisah kepada ANTARA mengemukakan, situs Gunung Padang sebenarnya telah beberapa kali mendapat pemugaran dan pemeliharaan dari instansi terkait, terutama Pemkab Cianjur. Namun karena keterbatasan dana, Pemkab belum bisa membuat akses jalan ke daerah itu dengan lebih baik karena medannya yang relatif sulit.

“Saya kira kalau Pemkab Cianjur tidak peduli itu salah besar, karena tiap tahun kita senantiasa melakukan pemugaran dan pemeliharaan agar situs tersebut tetap terjaga dan terawat,” kata Wasidi.

Teras ke-5 Situs Gunung Padang

Berdasarkan data yang diperoleh ANTARA, bangunan berundak Gunung Padang merupakan temuan peninggalan tradisi megalitik yang baru. Uraian tentang peninggalan tradisi megalitik di Gunung Padang ini pada masa sebelum tahun 1950 jarang ditemukan, baik dalam hasil penerbitan di dalam maupun di luar negeri.

Teras ke-4 Situs Gunung Padang Cianjur

Peneliti di bidang arkeologi khususnya tradisi megalitik seperti Van der Hoop, Van Tricht, Pleyte yang pernah mengadakan peninjauan dan penulisan tentang peninggalan di daerah Jawa Barat itu belum menyinggung tentang temuan bangunan berundak Gunung Padang.

Bangunan berundak Gunung Padang muncul dalam percaturan di bidang prasejarah sekitar tahun 1979 setelah tiga orang penduduk menemukan misteri yang terkandung dalam semak belukar di bukit Gunung Padang.

Penduduk setempat yang bernama Endi, Soma dan Abidin ketika bekerja di tempat tersebut dikejutkan oleh adanya dinding tinggi dan susunan batu-batu berbentuk balok yang oleh mereka tidak diketahui peninggalan apakah sebenarnya.

Peristiwa itu kemudian dilaporkan kepada Edi, seorang Penilik Kebudayaan Kecamatan Campaka yang kemudian bersama-sama R Adang Suwanda, Kepala Seksi Kebudayaan Departemen Pendidikan Kebudayaan Kabupaten Cianjur saat itu mengadakan pengecekan pada tahun 1979.

Sejak itu kemudian berturut-turut tim peneliti, di antaranya dari Puslitarkenas mengadakan pemetaan, penggambaran, dan deskripsi. Mereka mengakui, temuan bangunan berundak Gunung Padang merupakan temuan penting karena dapat dipergunakan sebagai studi banding dalam penelitian bangunan berundak di Indonesia.

Bangunan berundak itu terletak di atas sebuah bukit yang memanjang ke arah tenggara dan barat laut pada ketinggian 885 m di atas permukaan laut dari perhitungan altimeter. Situs itu dikelilingi oleh lembah-lembah yang sangat dalam.

Menurut para ahli, bangunan berundak Gunung Padang dibangun dengan batuan vulkanik yang berbentuk persegi panjang, terdiri dari balok-balok batu. Batu tersebut belum dikerjakan (belum dibentuk) dengan tangan manusia. Batu-batu konstruksi itu diperkirakan berasal dari Gunung Padang itu juga.

Bangunan itu terdiri dari teras pertama sampai kelima. Kelima teras itu mempunyai ukuran yang berbeda-beda. Teras pertama merupakan teras terbawah, mempunyai ukuran paling besar, kemudian berturut-turut sampai ke teras lima yang ukurannya semakin mengecil (*/erl)

23
Sep
11

Politik : Sutiyoso Siap Jadi CaPres Alternatif

Cendrawasih Post, Kamis, 22 September 2011 , 17:16:00
SURABAYA – Ketua Umum Partai Keadilan dan Persatuan (PKP) Indonesia mengaku siap mencalonkan diri sebagai calon presiden (capres). Karena itu, saat ini dia tengah menyiapkan partai yang dipimpinnya untuk menghadapi Pemilu 2014. Persiapan itu dimulai dengan safari politik yang diawali di Jawa Timur sejak Senin (19/9) lalu.
Hal itu disampaikan Sutiyoso saat berkunjung di redaksi Jawa Pos, Gedung Graha Pena Lantai 4, Surabaya. Dia datang didampingi Ketua Dewan Pengurus Provinsi (DPP) PKP Indonesia Ellen Sukmawati dan fungsionaris partai. Rombongan tersebut disambut Direktur Jawa Pos Nany Wijaya dan Pemimpin Redaksi Jawa Pos Leak Kustiya beserta awak redaksi.
Mantan Gubernur DKI Jakarta itu mengatakan, saat ini ideologi atau platform partai tidaklah penting. Masyarakat Indonesia ini lebih melihat figur daripada platform atau ideologi. Karena itu, PKP Indonesia mengusung Sutiyoso sebagai figur, termasuk untuk dicalonkan untuk menjadi presiden. Dia yakin pengalamannya sebagai gubernur DKI Jaya bisa digunakan untuk memperbaiki negara ini.
Namun, Sutiyoso menegaskan, menjadi capres bukanlah target utama. Dia lebih berambisi untuk membesarkan partai daripada menjadi capres. Dia merasa lebih bangga bila berhasil menempatkan kader-kader partainya sebagai anggota legislatif atau kepala daerah. “Yang penting partai ini besar dulu. Saya malu diusung sebagai capres kalau partai ini gagal dalam pemilu,” ujarnya.
Sutiyoso, yang akrab disapa Bang Yos, mengatakan, menurut undang-undang, partai politik harus memiliki dewan pengurus di seluruh provinsi, 75 persen kabupaten/kota di masing-masing provinsi, dan 50 persen kecamatan di masing-masing kabupaten/kota. “Saya yakin itu bisa tercapai. Bahkan saya menargetkan memiliki dewan pengurus 100 persen hingga kecamatan,” katanya.
Aturan mengenai partai politik, kata Sutiyoso, tampak sekali dibuat untuk mengganjal partai-partai kecil. Namun, dia mengaku siap menghadapi segala kemungkinan, termasuk apabila parliament treshold (PT) ditetapkan sebesar 5 persen. “Aturan itu memang dibuat untuk mengganjal partai-partai kecil. Padahal, partai-partai kecil itu sebenarnya banyak yang memiliki potensi,” ucapnya.
Mantan Pangdam Jaya itu mengatakan, bila partai-partai nonparlemen yang kalah dalam Pemilu 2004 lalu bergabung, sebenarnya mereka memiliki suara hingga 18 persen. Itu berarti mereka menjadi runner up, melebihi suara Partai Golkar dan PDI Perjuangan. “Namun, mereka lebih memilih untuk berkoalisi dengan salah satu partai pemenang pemilu. Hasilnya, mereka hanya dimanfaatkan, tidak dapat apa-apa,” tuturnya. (dew)
» Tajuk Rencana
Bali Post, 23 September 2011 | BP
Sorotan kepada Kepemimpinan
KEPEMIMPINAN tiba-tiba saja menjadi sorotan akhir-akhir ini. Tidak saja pada tingkat nasional tetapi juga daerah. Ambilah contoh, pada tingkat nasional kepemimpinan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono disorot karena membiarkan menggelindingnya isu perombakan kabinet. Kepemimpinan dua kementerian, yakni kementerian pemuda dan olahraga serta kementerian tenaga kerja dan transmigrasi mendapat sorotan karena disangka terlibat korupsi.

Pada tingkat daerah, kepemimpinan beberapa kelompok di Ambon disoroti karena tidak mampu menjaga situasi kondusif. Di Bali, kepemimpinan desa pakraman menjadi pusat perhatian akhir-akhir ini karena tidak mampu mencegah konflik. Ada memang beberapa pertanyaan, apakah pemimpinnya yang salah atau masyarakat yang memang kurang mengerti perubahan zaman. Atau ini merupakan bias reformasi dimana orang bisa berpendapat apa saja.

Hemat kita, sesungguhnya menjadi pemimpin itu sebuah tugas yang berat. Ada perbedaan yang cukup mendasar antara menjadi pemimpin di masa sekarang dengan pemimpin di masa lalu, apalagi di zaman kerajaan. Di masa lalu, pemimpin berkuasa tinggal perintah dan sangat ditakuti. Malah di zaman kerajaan pemimpin itu sangat ditakuti karena suaranya terkadang menjadi suara hukum. Siapa yang tidak mematuhi akan mendapat hukuman. Saat ini sebaliknya, pemimpin adalah sasaran hujatan. Kebebasan berpendapat di masa reformasi, membuat posisi pemimpin sangat pelik. Maka kita menghargai, siapa yang menduduki posisi sebagai pemimpin di zaman sekarang adalah seorang yang berani mengorbankan perasaannya. Akan tetapi, sesungguhnya seorang pemimpin memang layaknya seorang pelayan karena suaranya, langkahnya akan menentukan seberapa jauh rakyat itu bisa mendapatkan keadilan.

Di zaman reformasi ini, banyak pemimpin yang mendapat hujatan. Kita pahami fenomena itu. Akan tetapi yang mesti diperhatikan, masyarakat juga harus sadar seberapa jauh sebenarnya kondisi lingkungan yang dihadapi seorang pemimpin yang mendapat hujatan itu. Masyarakat yang memang kurang menghargai perubahan zaman, akan sangat susah dipimpin oleh orang-orang yang memahami bagaimana zaman tersebut berkembang. Konflik horizontal yang dihadapi masyarakat Bali saat ini, seperti yang terlihat dari konflik perebutan kuburan, perebutan tempat sembahyang, atau penyanderaan jenazah, sering kali dibelokkan menjadi kesalahan manajemen kepemimpinan. Sebagian mungkin pendapat ini benar, tetapi sebagian salah. Nilai benarnya terletak pada kenyataan bahwa banyak pemimpin adat itu yang kurang memahami perubahan zaman. Sehingga ketika berupaya memperkenalkan pola adat baru, tiba-tiba mendapat kecaman dari rakyatnya. Nilai salahnyaa terletak karena masyarakat juga tidak paham dengan laju perubahan zaman. Inilah salah satu yang memicu munculnya konflik sosial itu.

Seorang pemimpin mungkin saja akan membiarkan dirinya dicaci maki terlebih dulu tetapi menunggu waktu untuk memperlihatkan keunggulan kebijakannya kepada masyarakat. Model pemimpin seperti ini memerlukan mental yang kuat, terutama untuk menghadapi kecaman sambil menunggu hasil positifnya itu. Celakanya, hemat kita, di Indonesia model-model seperti ini ternyata tidak banyak ada. Apalagi dalam kasus kepemimpinan tradisional.

Seni dalam melaksanakan kepemimpinan haruslah lebih dipahami akhir-akhir ini demi menjaga kesalahan tafsir terhadap maksud dan kehendak rakyat. Dengan cara seperti itulah nanti seorang pemimpin akan bisa ‘mendinginkan’ suasana dan menjelaskan pola kebijakannya.




Blog Stats

  • 3,213,320 hits

Recent Comments

Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Sejarah : Bangsa Lemuria, Lelu…