Kader2 Pembudaya Pancasila Tentang Rawagede

Pandji R Hadinoto / Komite Nasionalis Pancasila

Peringatan 110 tahun Hari Kelahiran Bung Karno pada 6 Juni 2011 oleh kelompok Benteng Penegak Pancasila (BPP) bertempat di Gedung DHN45, Jalan Menteng Raya 31, Jakarta Pusat, adalah dapat disimpulkan sebagai cerminan jiwa, semangat dan nilai2 Kader Pembudaya Pancasila, seperti munculnya usulan tentang Badan Pembudayaan Pancasila (BPP), Pancasila Award, Revolusi Pancasila / Merdeka, Dwitunggal sebagai Bapak Bangsa Indonesia, dlsb.

Selain itu juga diperoleh informasi tentang aktualisasi nyata berciri kejuangan Kader2 Pembudaya Pancasila dari penggiat Yayasan Komite Utang Kehormatan Belanda (KUKB) di Jakarta yaitu Irwan Lubis SH dan Ray Sahetapy, bahwa Pengadilan Negeri Den Haag, Belanda, pada hari Senin tanggal 20 Juni 2011 pukul 9.30 waktu setempat akan sidangkan pembacaan Pledooi Pembelaan Janda2 Korban Pembantaian Rawagede oleh Pengacara Ibu Prof Segveld atas gugatan Kejahatan Perang Tentara Belanda tanggal 9 Desember 1947.

Sebenarnya agenda KUKB ini telah dibawa ke KomNasHAM pada bulan Desember 2006 oleh penulis, saat itu selaku Ketua Departemen Politik dan Hukum, Dewan Harian Nasional 45, bersama pengurus KUKB Jakarta, a.l. Laksamana Pertama TNI (Purn) Mulyo Wibisono SH dan Bapak Abdul Irsan SH, diterima oleh komisioner KomNasHAM, Bapak BrigJen TNI (Purn) DR Sjafroedin Bahar, selain mengadakan gelar perkara di Gedung Joang 45, Jl. Menteng Raya 31, Jakarta Pusat dan bertandang ke Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia.

Tidak berkelebihan, bahwa semacam keserentakan telah memutar roda tentang Pembudayaan Kebangkitan Pancasila Indonesia yang bergulir semakin cepat di tahun 2011 ini semenjak Petisi-17 tentang Monumen Nasional Pancasila (13 Januari 2011), diikuti a.l. Sarasehan Nasional Pancasila 2-3 Mei 2011 di UGM, Pidato Megawati Tawarkan Pancasila Kepada Dunia di World Cultural Forum 18 Mei 2011, Pidato Kebangsaan 1 Juni 2011 di Gedung Nusantara MPR RI, dlsb.

Keserentakan tentang semangat Pembudayaan Pancasila ini juga akan memuncak di Pengadilan Negeri Den Haag tanggal 20 Juni 2011, dan oleh karena itu kepada teman2 Persatuan Pelajar Indonesia di Eropah kiranya berkenan turut semangati upaya hukum KUKB tentang Pembantaian 431 Warga Rawagede itu demi prinsip Kemanusiaan (Pidato Bung Karno tentang Kelahiran Pancasila 1 Juni 2011) dan amanat Kemanusiaan Yang Adil Beradab (Pembukaan UUD 1945, 18 Agustus 1945) yang kedua peristiwa hukum itu jelas dan tegas telah mendahului kehadiran Deklarasi Universal Hak Azasi Manusia 10 Desember 1948.

Jakarta, 8 Juni 2011

EMPATI (Empat Aksi Tetap keINDONESIAan)

Pandji R Hadinoto / Komite Nasionalis Pancasila

Ditataran konsep/gagasan/ide berbangsa bernegara dikenali istilah empat yang pertama bernama Pilar yakni Bhinneka Tunggal Ika, Pancasila, UUD45 dan NKRI. Namun alhasil kini masih saja menyisakan beberapa kegelisahan di masyarakat antara lain akibat terberitakannya di layar kaca bahwa distribusi penguasaan/ pengendalian hampir 60% sumber daya perbankan berada di tangan pihak yang 0,011%, demikian pula peta sumber2 daya ekonomi lainnya yang hajat hidup orang banyak. Bahkan mantan Presiden RI ke-3 menegaskan dalam Pidato Kebangsaan tanggal 1 Juni 2011 yaitu ikhwal hadirnya VOC Gaya Baru. Artinya peran aktualisasi dan revitalisasi keempat Pilar tersebut diatas jelas perlu diperkaya supaya membumi. Sehingga dengan berteori dua muka keping mata uang, maka pola kehidupan berbangsa bernegara itu patut ditambahkan energi pembudayaan lain semisal serangkaian upaya2 pengingatan publik berkala dan berskala nasional kepada segenap komponen Negara bangsa seperti empat aksi tetap lain yakni (1) Peringatan Kelahiran Pancasila Indonesia 1 Juni, (2) Peringatan Kebangkitan Pancasila Indonesia 5 Juli, (3) Peringatan Konstitusi Pancasila Indonesia 18 Agustus dan (4) Peringatan Kesaktian Pancasila Indonesia 1 Oktober, sebagai suatu prosedur tetap Pembudayaan Kebangkitan Pancasila Indonesia [Jakarta45, www.google.com]. Bilamana dicermati, kehadiran keempat tanggal2 tersebut adalah  berurutan kacang yang diyakini sebenarnya suatu anugerah bagi bangsa Indonesia, oleh karena itu perlu disyukuri untuk senantiasa dipedomani dalam hidup keseharian agar hakekat Pancasila dapat mengendap dalam pikiran, perilaku dan perasaan terdalam. Dengan kata lain 4 (Empat) Pilar Konsep Berbangsa Bernegara itu dijabarkan juga dalam 4 (Empat) Aksi Pembudayaan Kebangkitan Pancasila Indonesia. Wujudnya tidak harus selalu dalam bentuk upacara statis saja seperti apel di tempat terbuka, tapi dapat diartikulasi dalam berbagai ragam program dinamis media, kegiatan2 masyarakat bercorak seni budaya, sambung rasa, penghayatan & pengamalan, dlsb.

Khususnya Aksi ke-2 yaitu Peringatan Kebangkitan Pancasila Indonesia tiap tanggal 5 Juli cukup beralasan karena pertimbangan bahwa Konstitusi Pancasila 18 Agustus 1945 teriwayat telah selamatkan kehidupan berbangsa bernegara melalui Dekrit Presiden tanggal 5 Juli 1959 dan Tolak Atheis Tegakkan Tap MPRS XXV/’66 tanggal 5 Juli 1966.

Lebih daripada itu, kehendak nasional untuk melakukan perbaikan terhadap kontrak2 asing sebagaimana tersirat dari Pidato Kebangsaan Presiden RI Ke-6 tanggal 1 Juni 2011 ybl, bagaimanapun juga diperlukan penyikapan yang strategis kenegarawanan seperti Politika Adendum UUD45 [Jakarta45, www.google.com]

Akhirulkata, berbagai peringatan 110 tahun kelahiran Bung Karno akan lebih lengkap kiranya bilamana tidak sebatas keupacaraan saja, namun sampai kepada rencana berbagai aksi Pembudayaan Kebangkitan Pancasila Indonesia yang dapat berujung pada Instruksi Presiden, Keputusan MenDikNas, Peraturan Daerah, dlsb.

Jakarta, 6 Juni 2011

2011 : Pembudayaan Kebangkitan Pancasila Indonesia

Kebangkitan Pancasila menyongsong tanggal 1 Juni 2011 semakin menggelora dipicu antara lain oleh kesadaran dan kepedulian masyarakat tentang Pancasila seperti jajag pendapat Kompas 4-6 Mei 2011 yang 92,5 % responden menyatakan perlunya penguatan terhadap ideology Pancasila, kesimpulan dan rekomendasi Saresahan Nasional Pancasila 2-3 Mei 2011 di UGM yaitu Nilai Pancasila Harus Membumi, Megawati Sukarnoputri Tawarkan Pancasila Kepada Dunia di World Cultural Forum 18 Mei 2011, Kesepakatan Temu 9 Lembaga2 Negara 24 Mei 2011 yakni Semua lembaga negara berkomitmen secara aktif mengambil tanggung jawab untuk menguatkan Pancasila sebagai ideologi Negara, Seluruh lembaga negara sepakat bahwa Pancasila harus menjadi ideologi dan inspirasi untuk membangun kehidupan berbangsa yang rukun, harmonis, dan jauh dari perilaku mendahulukan kepentingan kelompok atau golongan, Pancasila, UUD 1945, NKRI, dan Bhineka Tunggal Ika adalah empat pilar kebangsaan yang harus diterapkan, Diperlukan rencana aksi nasional untuk mensosialisasikan dan menguatkan nilai-nilai Pancasila.

Pertanda Kebangkitan ini sangat boleh jadi diisyaratkan pula oleh alam semisal tahun 2011 yang berakhiran 2 (dua) angka kembar itu juga diikuti oleh 4 (empat) tanggal istimewa yaitu 1/1/11, 11/1/11, 1/11/11 dan 11/11/11 serta bahwa umur manusia pada tahun 2011 ini bila ditambahkan 2 (dua) angka akhir tahun kelahirannya akan berjumlah 111, demikian pula bulan Oktober 2011 mempunyai 5 (lima) Ahad, 5 (lima) Senin dan 5 (lima) Saptu, yang konon terjadi sekali dalam 823 tahun saja.

Pertanda alamiah lainnya adalah bahwa ekor kembar tahun Masehi 2011 ini juga koinsidensi dengan ekor kembar tahun2 Buddha 2555, Jawa 1944, Saka 1933 dan Hijrah 1433 pada bulan Nopember yang akan datang.

Bagi yang beraliran nalar positif spiritualis, Kebangkitan Ketuhanan Yang Maha Esa (Sila-1 Pancasila yang sesungguhnya mendasari Sila-sila lainnya) adalah sangat dipahami sebagai solusi bagi kehidupan manusia menyongsong era Kebangkitan Spiritual tahun 2012 yang akan datang.

Dalam pengertian itulah, beberapa pemikiran pengkayaan demi aktualisasi dan artikulasi Pancasila seperti dapat diimbuh dari arsip2 Jakarta45 di www.google.com yaitu 123 Tatanilai Kearifan Lokal 20 Desember 2007, Garuda Pancasila Sakti [25 Nopember 2008], Politika Adendum UUD 1945 [21 Oktober 2009], Pancasila Jatidiri Bangsa [1 April 2010], Monumen Nasional Pancasila [13 Januari 2011] kiranya mendapatkan perhatian yang seksama pula dari masyarakat dan lembaga2 negara yang telah bertekad peduli akan pentingnya kehadiran berbagai kegiatan berskala nasional menuju kearah Indonesia Mulia 2020 yakni Pembudayaan Kebangkitan Pancasila Indonesia.

Jakarta, 25 Mei 2011

Komite Nasionalis Pancasila,

Pandji R Hadinoto / eMail : komnaspan45@yahoo.com

LAPANGAN MERDEKA & MONAS PANCASILA

Sekarang dikenali sebagai Lapangan MoNas, dahulu disebut Lapangan IKADA, tempo doeloe dikenang sebagai Lapangan Gambir, yang jelas sejarah mencatat bahwa Rapat Besar IKADA tanggal 19 September 1945 berperan selaku semacam Perayaan Kemenangan Proklamasi Indonesia Merdeka 17 Agustus 1945 yang produk Revolusi Rakyat Pro Indonesia Merdeka. Rapat Besar IKADA itu diprakarsai oleh Pemoeda-pemoeda jalan Menteng 31 yang menyebut dirinya Committee van Actie, yang fakta lapangan dikawal oleh perangkat bersenjata Penguasa Militer kala itu yaitu Pemerintah Pendudukan Militer Jepang.

Situasi dan kondisi itu tampaknya menjadi reinkarnasi di Lapangan Tahrir (yang berarti Merdeka), Kairo, yaitu Perayaan Kemenangan Revolusi Mesir 11 Pebruari 2011 oleh elemen2 Pro Demokrasi dibawah kawalan perangkat bersenjata Pemerintah Sementara Transisi Militer.

Oleh karena itulah selayaknya Lapangan MoNas itu segera menjadi LAPANGAN MERDEKA, apalagi faktanya memang sudah dikelilingi oleh Jalan-jalan Protokol Merdeka Utara, Timur, Selatan dan Barat.

Sedangkan MoNas sendiri seharusnya bernama lengkap MONUMEN NASIONAL PANCASILA seperti yang telah dinyatakan oleh Petisi-17 tanggal 13 Januari 2011 yang baru lalu, antara lain beralasan yaitu :

(1)   Wujud Api Emas diatas bangunan tugu adalah dapat menjadi perlambang Sumber Cahaya Sila-1 Pancasila “Ketuhanan Yang Maha Esa”, dan

(2)   Wujud Segi Empat bangunan tugu dan cawan adalah dapat menjadi perlambang kiprah Sila-sila 2, 3, 4. 5 Pancasila, sebagai turunan makna Sila-1 Pancasila itu sendiri, yaitu (2) Kemanusiaan Yang Adil Dan Beradab, (3) Persatuan Indonesia, (4) Kerakyatan Yang Dipimpin Oleh Hikmah Kebijaksanaan Dalam Permusyawaratan/ Perwakilan dan (4) Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia.

(3)   Alinea IV Pembukaan UUD45 mengandung sila2 Pancasila yang diwakili oleh bentuk segi empat bujur sangkar komponen utama MoNas

(4)   Alinea IV Pembukaan UUD45 dapat diaktualisasikan berupa :

4.1 Atap Pelataran Puncak MoNas sebagai perlambang “melindungi segenap bangsa dan seluruh tumpah darah Indonesia”

4.2 Pelataran Puncak MoNas sebagai perlambang “melindungi segenap bangsa dan seluruh tumpah darah Indonesia”

4.3 Pelataran Bawah MoNas sebagai perlambang “mencerdaskan kehidupan bangsa”

4.4 Pelataran Dasar MoNas sebagai perlambang “ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan social

4.5 Sosok Tugu MoNas yang menjulang tinggi 132 meter sebagai perlambang “Negara Republik Indonesia yang berkedaulatan rakyat”

(5)   Dan angka 132 itu bilamana dibagi angka 3 ditemukan angka 44 yang adalah perkalian angka 11 dengan angka 4, dan komposisi angka 114 itu adalah dipahami sebagai berarti Menerangi

Jakarta, 19 Pebruari 2011

Komite Nasionalis Pancasila,

Pandji R Hadinoto / HP : 0817 983 4545 / Anggota DHD45 Jakarta, Jl. Menteng Raya 31, JakPus 10340

Monumen Nasional PANCASILA

Monumen Nasional PANCASILA

Monumen Nasional PANCASILA
Monumen Nasional Bangunan Letak Jakarta Pusat, Indonesia Pembangunan Dimulai 17 Agustus 1961 Selesai 12 Juli 1975 Dibuka 12 Juli 1975 Tinggi 132 meter Tim Perancang Arsitek Frederich Silaban, R.M. Soedarsono

MONAS, PANCASILA dan PEMBUKAAN UUD45

Menyikapi situasi dan kondisi Kebangsaan dan Kenegaraan Indonesia dewasa ini, temu Kaum Nasionalis Pancasila 13 Januari 2011 berpendapat pentingnya segera dilakukan penguatan2 tentang keberadaan Jati Diri Bangsa PANCASILA sebagai dasar falsafah Kebangsaan dan Kenegaraan Indonesia ditengah berbagai terpaan Politik Globalisasi pada khususnya dan kebangkitan jiwa, semangat dan nilai2 spiritualitas warga dunia pada umumnya, selain setelah memaknai ulang dengan sungguh-sungguh rancangan arsitekturis MONUMEN NASIONAL (MoNas) di Jakarta Pusat sebagai berikut :

(1)   Wujud Api Emas diatas bangunan tugu adalah dapat menjadi perlambang Sumber Cahaya Sila-1 Pancasila “Ketuhanan Yang Maha Esa”, dan

(2)   Wujud Segi Empat bangunan tugu dan cawan adalah dapat menjadi perlambang kiprah Sila-sila 2, 3, 4. 5 Pancasila, sebagai turunan makna Sila-1 Pancasila itu sendiri, yaitu (2) Kemanusiaan Yang Adil Dan Beradab, (3) Persatuan Indonesia, (4) Kerakyatan Yang Dipimpin Oleh Hikmah Kebijaksanaan Dalam Permusyawaratan/ Perwakilan dan (4) Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia.

(3)   Alinea IV Pembukaan UUD45 mengandung sila2 Pancasila yang diwakili oleh bentuk segi empat bujur sangkar komponen utama MoNas

(4)   Alinea IV Pembukaan UUD45 dapat diaktualisasikan berupa :

4.1 Atap Pelataran Puncak MoNas sebagai perlambang “melindungi segenap bangsa dan seluruh tumpah darah Indonesia”

4.2 Pelataran Puncak MoNas sebagai perlambang “melindungi segenap bangsa dan seluruh tumpah darah Indonesia”

4.3 Pelataran Bawah MoNas sebagai perlambang “mencerdaskan kehidupan bangsa”

4.4 Pelataran Dasar MoNas sebagai perlambang “ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan social

4.5 Sosok Tugu MoNas yang menjulang tinggi 132 meter sebagai perlambang “Negara Republik Indonesia yang berkedaulatan rakyat”

(5)   Dan angka 132 itu bilamana dibagi angka 3 ditemukan angka 44 yang adalah perkalian angka 11 dengan angka 4, dan komposisi angka 114 itu adalah dipahami sebagai berarti Menerangi

Dengan kata lain, pemaknaan ulang tersebut diatas dan/atau upaya penafsiran kembali terhadap bentuk fisik bangunan MoNas itu dapat lebih memberikan arti yang khusus dan khas ikhwal kandungan kejiwaan yang juga melekat, bagi kepentingan upaya penghayatan anak bangsa khususnya dan warga dunia pada umumnya.

Oleh karena itulah penyebutan Monumen Nasional PANCASILA atau MoNas Pancasila kiranya terasa lebih sempurna apalagi sejarah mencatat bahwa konsepsi PANCASILA 1 Juni 1945 dikumandangkan di gedung PANCASILA d/h Volksraad yang berdekatan dengan lokasi MoNas itu berada, yang dalam perjalanan sejarah konstitusi menjiwai kehadiran Alinea IV Pembukaan UUD45 18 Agustus 1945.

Semoga rahmat dan hidayah Tuhan Yang Maha Kuasa senantiasa bersama Bangsa Indonesia dan Negara Kesatuan Republik Indonesia berkenaan wacana termaksud diatas.

Jakarta, 17 Januari 2011

Pandji R Hadinoto dkk Kaum Nasionalis Pancasila, petisi17@yahoo.com


0 Responses to “KomNasPan 2011”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




Blog Stats

  • 3,242,738 hits

Recent Comments

Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Sejarah : Bangsa Lemuria, Lelu…

%d bloggers like this: