Archive for June, 2012

28
Jun
12

Prasarana Umum : Taman Gantung Kota New York

High Line, Taman Gantung Kota New York

Oleh Sigit Adinugroho | Yahoo! News – Jum, 22 Jun 2012

High Line merupakan taman kota yang merupakan atraksi relatif baru untuk kota New York, Amerika Serikat. Berbeda dengan taman biasa, taman ini letaknya tidak di tanah, tetapi di atas (elevated).

Taman kota ini mengambil tempat bekas rel kereta layang yang dulu digunakan New York Central Railroad (West Side Line).
Bersantai di High Line. (Sigit Adinugroho)
Rel layang ini mulai dibangun setelah sebelumnya rel berada di atas tanah, namun menyebabkan kemacetan dan serangkaian kecelakaan. Tahun 1934, ia pertama kali beroperasi, hampir lima puluh tahun sampai 1980. Pertumbuhan transportasi rel di Amerika Serikat lesu ketika ledakan jumlah kendaraan bermotor pada tahun 1950-an, yang menyebabkan jasa kereta api di High Line tak sepadat sebelumnya.
Bekas rel masih terlihat di sini. (Sigit Adinugroho)
Tahun 1980-an sampai 1990-an akhir, banyak wacana untuk meruntuhkan rel layang ini karena dianggap mengganggu penghuni sekitar dan tak berguna. Rel pun ditumbuhi ilalang dan tak sedap dipandang. Ada pula kalangan yang lalu menginginkan jasa kereta api disambung kembali, namun lebih banyak yang menentang.

Akhir tahun 1999, sebuah organisasi nirlaba bernama “Friends of the High Line” dibentuk oleh Joshua David dan Robert Hammond, dan bertujuan menyelamatkan High Line dari penggusuran dan mengubahnya menjadi sebuah taman gantung.

Dukungan publik digalang dan usaha ini sukses, ditandai dengan investasi signifikan dari pemerintah kota New York.

Saat ini, panjang taman ini adalah 1,6 kilometer, dari total 2,3 kilometer panjang rel asli. Ia dibangun dalam beberapa tahap, dimulai dari selatan. Saat ini setiap segmennya memiliki atraksi dan desain yang berbeda, walau satu tema.
Bangku-bangku panjang, tempat Anda bersantai di High Line. (Sigit Adinugroho)
Di sela-selanya terdapat panggung kecil untuk menikmati musik jalanan berlatarbelakang hiruk-pikuk jalanan, di segmen lain ada fitur air yang menarik. Di segmen lain pula rel layang ini akan memotong bangunan dan kita berada di bawah bangunan tersebut. Namun, desainer taman ini tetap menyisakan ilalang atau tanaman-tanaman liar yang disusun sedemikian rupa sehingga menjadi aksen yang melengkapi kecenderungan desain industrialis.
Tanaman liar di kawasan High Line. (Sigit Adinugroho)
Jangan khawatir lelah, karena di sepanjang jalan banyak terdapat tempat duduk yang disusun menghadap ke dalam maupun ke luar, melihat jalanan.

Kegiatan apa yang cocok di sini? Banyak sekali. Selain menikmati jalan-jalan pagi atau sore, Anda bisa mendengarkan pertunjukan musik live, berolahraga atau jogging, duduk santai, jalan sambil makan, bermain dengan anak, melukis atau menggambar, memuaskan hobi fotografi dan masih banyak lagi.

Namun, yang paling penting, Anda dapat menjadi manusia di tengah ringkih dan kakunya hutan beton kota New York.

Sigit Adinugroho mengisi blog perjalanan www.ranselkecil.com.

Baca juga:

[GALERI] Keindahan Tanaman Singapura di Gardens by the Bay
[GALERI] Resor Bawah Tanah yang Fantastis di Cina
[GALERI] Kampong Phluk, Kehidupan di Tepi Danau Terbesar Asia Tenggara
[GALERI] Farah Quinn di Auckland
[GALERI] Kota Fiktif Radiator Springs Jadi Nyata

28
Jun
12

Keuangan : Pinjaman Indonesia Untuk International Monetary Funds

Indonesia Pertimbangkan Pinjaman untuk IMF

AntaraAntara

Jakarta (ANTARA) – Pemerintah Indonesia sedang mempertimbangkan untuk memberikan bantuan pinjaman dalam rangka memperkuat permodalan Dana Moneter Internasional (IMF) secara maksimum sebesar satu miliar dolar AS.

“Kita sedang menyelesaikan proses intern untuk memberikan pinjaman kepada IMF, supaya kita bisa menjaga kekuatan ekonomi dunia agar jangan menjadi terus buruk dan membahayakan kondisi keseluruhan,” kata Menteri Keuangan Agus Martowardojo saat ditemui di Gedung DPR RI, Jakarta, Kamis.

Menkeu memastikan akan memberikan bantuan komitmen kepada lembaga multilateral tersebut maksimum satu miliar dolar AS, namun pemerintah sedang menunggu persetujuan dalam proses internal.

“Belum bisa saya sampaikan, tapi saya rasa maksimum satu miliar dolar AS,” katanya.

Menurut dia, permodalan tersebut dibutuhkan oleh IMF dan kebijakan untuk memberikan pinjaman itu menunjukkan Indonesia dalam kondisi baik serta berkomitmen untuk menjaga perekonomian global dari pengaruh krisis di Eropa.

“Sekarang kalau kita bisa memberikan pinjaman kepada IMF ini menunjukkan kita sudah dalam posisi lebih baik dan sekarang juga harus memperhatikan kondisi di dunia yang sedang tidak beruntung, yang perlu disehatkan,” ujarnya.

Menkeu menjelaskan bantuan komitmen tersebut bukan berasal dari anggaran negara, namun dari pengelolaan dana yang merupakan bagian dari cadangan devisa Indonesia.

“Kalau nanti kita memberikan bantuan pinjaman kepada IMF, itu tetap berada dalam neraca Indonesia sebagai cadangan devisa, tetapi tercatat sebagian di IMF,” ujarnya.

Salah satu hasil pertemuan KTT G20 di Los Cabos, Meksiko, adalah negara peserta menyatakan komitmen untuk mendukung ketersediaan sumber keuangan yang cukup bagi IMF dalam menjalankan fungsi surveillance globalnya.

Untuk keperluan tersebut, para pemimpin G20 mendukung penuh kesepakatan para Menteri Keuangan dan Gubernur Bank Sentral untuk penambahan sumber dana bagi operasional IMF sebesar 430 miliar dolar Amerika Serikat yang diperoleh melalui mekanisme bilateral arrangement antara negara donor dan IMF.(rr)

Untuk berita terbaru, ikuti Yahoo! Indonesia di Twitter dan Facebook

Berita Lainnya

Kisah Bank Palsu dari Cina

Oleh Didi Tang | Associated Press | Yahoo! News – Jum, 22 Jun 2012

BEIJING (AP) — Cina sudah terkenal sebagai negara yang penuh iPhone palsu, DVD bajakan dan tas Louis Vuitton tiruan. Tapi semua itu tak ada apa-apanya dibandingkan yang dilakukan Lin Chunping, seorang pengusaha beras.

Dia “menciptakan” sebuah bank di AS dan mengklaim telah membeli bank itu.

Terang saja nama Lin Chunping, yang sebelumnya bukan siapa-siapa, langsung melejit pada bulan Januari, ketika dia diberitakan telah mengambil alih Atlantic Bank di Delaware. Akuisisi yang baru pertama kali terjadi ini langsung mendatangkan pujian bagi Lin.

Dia diberi jabatan politik bergengsi di kampung halamannya. Media ramai menyebut peristiwa bisnis ini “legendaris”. Padahal satu-satunya yang legendaris adalah kelihaian Chunping. Dia tidak membeli Atlantic Bank senilai $ 60 juta (Rp 560 miliar). Bahkan, tidak ada yang namanya Atlantic Bank di negara bagian Delaware!

“Prestasi” Lin menunjukkan betapa pemalsuan telah berevolusi di Cina — dari yang awalnya hanya barang palsu/tiruan, kini beranjak ke pemalsuan lembaga dan karier.

Tahun lalu saja, ditemukan lima toko Apple palsu di kota Kunming. Toko ini dibuat mirip toko Apple di seluruh dunia — lengkap dengan tangga putar dan pegawai berkaus biru. Lalu pada awal Juni, terungkap pula sebuah universitas palsu di provinsi Shandong.

Para mahasiswa yang tidak lulus SNMPTN mendapatkan surat penerimaan dari Shandong Institute of Light Industry. Universitasnya sih sungguhan, tetapi surat penerimaannya palsu. Mereka membayar hampir 30 ribu yuan (Rp 45 juta) selama masa kuliah 4 tahun.

Beberapa minggu menjelang kelulusan, para mahasiswa baru mengetahui bahwa mereka tidak akan mendapatkan ijazah karena mereka tidak resmi terdaftar di Shandong Institute — melainkan di sebuah program pelatihan yang menyewa ruangan dari institut itu. Pengelola program telah melarikan diri, seperti dilaporkan Jinan Times.

Di antara mahasiswa, praktik “mendandani” CV adalah hal yang jamak.

Zinch China, cabang Zinch.com, memperkirakan 90 persen surat rekomendasi ke universitas di AS adalah palsu. Kemudian, 70 persen esai juga ditengarai ditulis oleh orang lain. Setengah transkrip nilai juga dipermak. Temuan ini didapatkan Zinch dari wawancara terhadap mahasiswa Cina, orangtua, dan agen pendidikan.

Apa penyebab evolusi pemalsuan ini? Menurut para ahli, jawabannya berkisar dari ketatnya persaingan di tengah masyarakat hingga pepatah orang tua yang membolehkan berbohong demi mendapatkan hasil yang besar.

“Jargon yang tersisa dari berabad-abad revolusi politik sangat tidak terhubung dengan kenyataan bahwa masyarakat kini dipenuhi pembicaraan yang kosong dan tiada makna,” kata He Huaihong, dosen etika Peking University.

Kembali ke Lin. Dia mengatakan kepada reporter, negosiasi pembelian Atlantic Bank memakan waktu dua tahun. Bank itu sendiri sudah menyatakan bangkrut pada 2008 karena krisis keuangan. Untuk menambah bumbu cerita, bank itu telah beroperasi 85 tahun dan sebelumnya dijalankan oleh orang Yahudi — yang di mata orang Cina memiliki keahlian bisnis mumpuni.

Cerita Lin amat menawan hati sebab akuisisi luar negeri jadi sebuah kebanggaan di Cina (jadi bukti kebangkitan kekuatan ekonomi). Jadi pengambilalihan bank ini sebagai simbol kemenangan Cina dan kejatuhan Amerika.

“Orang terkejut, seorang pengusaha tidak jelas bisa membeli bank asing, dan milik Amerika pula. Dia bahkan bukan seorang bankir,” kata Zhu Xiaochuan, periset hukum keuangan Cina di CEIBS Lujiazui Institute of International Finance di Shanghai.

“Berita ini pastilah terpercaya karena disiarkan di media terkemuka. Orang terpana melihat kekayaan pengusaha Wenzhou.”

Lin, yang digambarkan koran People’s Daily sebagai pintar dan pekerja keras, dikisahkan memulai bisnisnya dengan berjualan kancing ketika remaja. Kemudian dia membeli tambang emas dan tembaga di Ghana dan menanam modal di bisnis beras di Cina.

Lin mengganti nama Atlantic Bank menjadi New HSBC Federation Consortium Inc. — yang dipinjam dari raksasa bank HCBC yang bermarkas di London.

Beberapa wartawan Cina yang akrab dengan peraturan perbankan AS memeriksa keabsahan klaim Lin. Mereka tidak menemukan adanya Atlantic Bank di Delaware, dan New HSBC tidak punya izin beroperasi di Delaware.

Ketika kebohongannya terkuak pada bulan Maret, Lin mengatakan dia “melebih-lebihkan” cerita untuk menaikkan status sosialnya serta mendapatkan kesempatan bisnis di masa depan.

Lin ditangkap polisi atas tuduhan memalsukan faktur senilai ratusan miliar rupiah melalui beberapa perusahaannya dalam upaya menghindari pajak. Jabatan politiknya pun terpaksa melayang.

Untuk berita terbaru, ikuti Yahoo! Indonesia di Twitter dan Facebook
28
Jun
12

Bangunan Sejarah : Katedral Jakarta

Riwayat Satu Abad Katedral Jakarta

Oleh Hairun Fahrudin | Yahoo! News – Jum, 22 Jun 2012

Gereja Katedral Jakarta yang berdiri kokoh di sebelah utara Lapangan Banteng ternyata menyimpan banyak cerita menarik. Bangunan dengan arsitektur neo-Gotik — yang terletak berseberangan dengan Masjid Istiqlal ini merupakan salah satu gedung cagar budaya paling menawan di Jakarta.

Gereja Katedral Jakarta memiliki sebuah museum yang bisa dikunjungi semua kalangan. Setelah membaca sebuah berita yang menyatakan Museum Katedral Jakarta dinobatkan sebagai museum terbaik di Jakarta untuk kategori pelestarian cagar budaya, saya langsung berkunjung ke museum itu.

Museum Katedral Jakarta berada di balkon ruang utama gereja yang biasa digunakan untuk misa. Lantai balkon itu dahulu digunakan untuk koor gereja, namun kini dimanfaatkan untuk memajang koleksi museum. Dari lantai balkon ini bisa disaksikan ruang utama Katedral Jakarta yang digunakan untuk beribadah.
Tempat misa dilihat dari atas. (Hairun Fahrudin)
Gereja Katedral Jakarta sendiri mulai didirikan pada 1891 untuk mengganti gereja lama yang runtuh pada 9 April 1890 (hanya beberapa hari menjelang perayaan Paskah). Pembangunannya menemui banyak sekali kendala, bahkan sempat terhenti karena kekurangan dana. Pembangunan Katedral Jakarta baru selesai 10 tahun kemudian, yakni pada 1901.

Riwayat Katedral Jakarta yang panjang itu terangkum rapi dalam koleksi museum. Saat ini ada sekitar 400 koleksi yang dipamerkan, semuanya barang-barang milik pastoran Katedral Jakarta dan ada juga koleksi hasil sumbangan dari pihak tertentu.
Anda juga dapat melihat koleksi barang-barang milik pastoran Katedral di ruangan ini. (Hairun Fahrudin)
Ibu Lusi, salah seorang pengurus Museum Katedral Jakarta, berbaik hati mengantar saya berkeliling museum. Di antara ratusan koleksi museum, perhatian saya langsung tertuju pada pakaian rohaniwan Katolik yang tersimpan dalam beberapa kotak kaca. Dalam kotak kaca itu tersimpan jubah, topi dan kasula berbagai warna.
Deretan pakaian rohaniwan Katolik di dalam Gereja Katedral. (Hairun Fahrudin)
Kasula adalah lapisan terluar busana yang dikenakan rohaniwan Katolik. Warna kasula yang dikenakan seorang pastor memiliki makna tertentu. Kasula berwarna putih biasanya dipakai untuk ibadah sehari-hari, sedangkan ungu dan merah digunakan untuk acara duka cita seperti misa tutup peti dan paskah, lanjutnya lagi.

Koleksi lainnya yang cukup menarik adalah tongkat Paus Paulus VI dan piala Paus Yohanes Paulus II yang sengaja ditinggal untuk kenang-kenangan saat mereka berkunjung ke Indonesia. Ada juga lukisan bergambar gereja karya Kusni Kasdut yang terbuat dari pelepah pisang (Kusni Kasdut adalah seorang penjahat kelas kakap yang dihukum mati pada 1980.).

Saya juga sangat tertarik dengan koleksi relikui yang dipajang dalam kotak kecil dari kaca. Relikui adalah benda-benda peninggalan atau sisa-sisa tubuh orang kudus yang sudah meninggal, misalnya potongan pakaian, rambut dan serpihan tulang. Benda-benda ini ditaruh dalam wadah kecil berbentuk bundar dan biasanya ditempatkan dalam altar.

Barang-barang lain yang turut dipamerkan antara lain mebel antik, alat musik, patung, jam bandul, buku doa, foto-foto tua, serta perlengkapan yang biasa digunakan umat Katolik untuk beribadah. Pendek kata, koleksi museum ini sangat lengkap dalam menjelaskan tradisi Katolik.

Dari balkon, saya beranjak ke lantai pertama yang merupakan ruangan tempat beribadah. Ruang utama Gereja Katedral Jakarta ini agak gelap, kecuali bagian altarnya. Ini merupakan simbolisasi bahwa bagian terpenting dari sebuah gereja adalah altarnya. Dinding ruang utama gereja ini dihiasi lukisan dari potongan keramik yang menggambarkan kehidupan Yesus.

Langit-langit Gereja Katedral Jakarta terbuat dari kayu jati supaya tidak mudah roboh saat terjadi gempa bumi. Menaranya juga hanya terbuat dari rangka besi, bukan beton seperti umumnya gereja di Eropa.
Menara-menara khas Gereja Katedral. (Hairun Fahrudin)
Gereja Katedral Jakarta memiliki dua menara utama yang disebut Menara Daud dan Menara Gading. Sekilas bentuk kedua menara itu terlihat sama, namun kalau diperhatikan lebih seksama ternyata berbeda. Menara Gading diapit oleh empat menara kecil berbentuk lancip, sedangkan Menara Daud berbentuk seperti benteng yang melambangkan Benteng Daud. Menara lainnya yang lebih kecil disebut Angelus Dei, letaknya di belakang dua menara utama.

Kalau Anda tertarik dengan sejarah Katedral Jakarta serta ingin mengenal lebih dekat tradisi Katolik, silahkan berkunjung ke Museum Katedral Jakarta. Sayangnya, museum ini tidak buka pada akhir pekan.

Museum Katedral Jakarta
Jl. Katedral 7B, Jakarta Pusat
Telp.: (021) 3519 186, Faks.: (021) 3509 952
Jam buka: Senin, Rabu, Jumat, pukul 10.00-12.00 WIB
Tiket masuk: gratis
Pengunjung harus berbusana rapi dan sopan

Kunjungi juga blog Hairun Fahrudin di easybackpacking.blogspot.com.

Baca juga:

Rumah Kenangan Jenderal AH Nasution
Makan di Jakarta: Terjangkau Tapi Nikmat (Bagian 1)
Sehari Menjelajah Bogor
Pasar Trajan: Permata yang Diabaikan di Jantung Kota Roma
[GALERI] Pesona Borobudur

26
Jun
12

Peradaban : Pintu Masuk Situs Megalit Gunung Padang

Pintu masuk situs megalit Gunung Padang ditemukan

Minggu, 24 Juni 2012 19:30 WIB |

Situs Megalit Gunung Padang. (infowisata.com)

“Ada garis yang sama di kedua bebatuan ini.”

Cianjur (ANTARA News) – Tim arkeologi di bawah kordinator Ali Akbar menyatakan menemukan pintu masuk ke Situs Megalit Gunung Padang, Campaka, Cianjur, Jawa Barat (Jabar), berupa batu tegak dan punden berundak. pada Minggu.

“Ada kesamaan dan perbebedaan dengan struktur yang selama ini diteliti. Bebatuan yang ditemukan, seperti ada garis tegas horizontal berjumlah tiga garis,meskipun sudah rubuh namun ini menjadi salah satu kunci utama,” katanya.

Adanya kelainan pada temuan kali ini, ungkap dia, di mana untuk temuan sebelumnya batu bergaris tersebut berada di kedalaman tebing sekitar 40 meter, dan sejajar dengan teras ke tiga.

Batu yang disekelilingnya masih ditutupi belukar, dan diduga kuat menuju rongga yang berada di perut situs megalitik Gunung Padang. Temuan itu diperkuat dengan temuan dua batu tegak di bawahnya yang berjarak 50 meter dari lokasi dan sejajar dengan teras ke lima.

“Dua batu dengan tinggi satu meter lebih dengan diameter 40 centimeter, berdiri sejajar dengan jarak sekitar dua meter. Ada garis yang sama di kedua bebatuan ini, seperti batu bergaris di atasnya,” ujarnya.

Batu berdiri tersebut, jelas dia, diperkirakan sebagai pintu masuk dengan susunan tangga yang berada di bawahnya. Penemuan anak tanga pada punden berundak yang lebih kecil sisi timur situs, diperkuat dengan temuan sumber mata air yang tidak jauh dari temuan itu.

“Ini memperkuat bagaimana sumber mata air, menjadi kesatuan dari struktur dan konstruksi Situs Gunung Padang. Mata air alur religi masayarakat purba yang mengarah pada pemujaan di di situs pada masanya,” tuturnya.

Saat ini, menurut dia, tim memfokuskan diri untuk mencari titik dan upaya membuka rongga yang diduga sebagai pintu masuk kedalam perut situs itu. Hasil geo listrik dan geo radar menegaskan pengalaman Dadi, juru pelihara situs, yang sempat masuk ke sebuah rongga mirip goa yang terdiri dari batuan sekira 40 tahun lalu.

“Kontruksi situs yang terdiri tanah dan bebatuan yang mulai lapuk dan labil menjadi pertimbangan, sehingga menghambat tim untuk melakukan eskavasi,” katanya.

Meskipun mendapat kendala, tim yang terdiri dari 15 orang itu tetap melakukan pencarian. Tim arkeologi bekerja menyebar secara berkelompok, dan dibagi menjadi empat kelompok mengunakan alat kerja sederhana.
(T.KR-FKR)

Editor: Priyambodo RH

COPYRIGHT © 2012

Gunung Padang, Buktikan Ras Indonesia Unggul

“Kita harus bangga terdapat ras kita dan nenek moyang kita punya kemampuan ini.”

Sabtu, 23 Juni 2012, 05:13 WIB
Arfi Bambani Amri, Permadi (Sukabumi)

VIVAnews – Danny Hilman Natawijaya, Ketua Tim Terpadu Penelitian Mandiri Gunung Padang, mengatakan pembuktian situs megalitik Gunung Padang menegaskan bangsa Indonesia bukan ras atau bangsa kacangan. Situs ini membuktikan adanya kemampuan teknologi hingga sosial budaya nenek moyang yang jauh lebih modern dari catatan sejarah ilmu pengatahuan dan peradaban yang diyakini selama ini.

“Kita harus bangga terdapat ras kita dan nenek moyang kita punya kemampuan ini. Seperti Hitler yang bangga akan ras arya atau para yahudi yang bangga akan garis keturunannya. Gunung Padang membuktikan kita juga keturunan ras yang sangat luar biasa,” kata geolog dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia itu.

Menurut Danny, semangat itulah yang memotivasi para peneliti untuk terus melakukan riset dan pembuktian di Gunung Padang. Semangat ini memompa mereka untuk terus mencari kehebatan nenek moyang di nusantara yang berhasil membuat struktur modern di eranya, yang diperkirakan pada era prasejarah.

Selama ini, kata Danny, catatan sejarah peradaban dunia selalu melihat pada peradaban Mesir yang diperkirakan ada sekitar 5.000 tahun sebelum Masehi atau peradaban sungai Indus yang tumbuh pada 3.000 tahun sebelum Masehi. “Dari hasil penelitian hingga hari ini, kami masih yakin peradaban Gunung Padang adalah yang tertua dan lolos dari catatan sejarah,” katanya.

Sementara, Erick Rizky menjelaskan kemungkinan Gunung Padang tidak sempat tertulis dalam catatan sejarah karena sistem sosial masyarakat Gunung Padang saat itu menggunakan budaya lisan sendiri, tidak menggunakan budaya lisan seperti yang tercatat saat ini. “Asumsi ini yang menyebabkan peradaban Gunung Padang sepertinya luput dari catatan sejarah peradaban dunia. Kami yang akan terus berupaya memasukkan temuan ini sebagai catatan peradaban dunia,” katanya.

Maret lalu, Tim Bencana Katastropik Purba yang membawahi tim penelitian telah melakukan pengeboran di situs megalitikum Gunung Padang, di Kabupaten Cianjur, Jawa Barat. Hasil carbon dating memperlihatkan hasil yang mengejutkan. Menurut salah satu anggota tim, Boedianto Ontowirjo, carbon dating menunjukkan Gunung Padang lebih tua dari piramida Giza di Mesir.

Dari sampel hasil pengeboran yang diambil dari teras 5 di titik bor 2 dengan kedalaman 8 hingga 10 meter, hasilnya menunjukkan 11.060 thn +/- 140 tahun Before Present. “Kalau dikonversikan ke umur kalender setara dengan 10 ribu SM,” ucap Boedianto, dalam keterangan tertulis yang diterima VIVAnews, 4 Maret 2012.

• VIVAnews

 

26
Jun
12

Kenegarawanan : Djangan Sekali-kali Melupakan Sedjarah (DJAS MERAH)

https://jakarta45.files.wordpress.com/2011/12/jakarta-452.png?w=637&h=609&h=609

 

 

*Kolom IBRAHIM ISA*
*Minggu, 24 Juni 2012*
*——————–*

“*DJAS MERAH”, kata BUNG KARNO*

“*Djangan Sekali-kali Melupakan Sejarah”*

Ini adalah kata-kata, adalah ajaran, dan petuah Bung Karno pada generasi
penerus dan seluruh bangsa. Ajaran Bung Karno tsb dikemukakannya dalam
pidato beliau pada “Hari Ulang Tahun Republik Indonesia, 17 Agustus,
1966. Imbauan Bung Karno tsb amat menyolok dan punya arti sejarah
poenting sekali. Mengundang perhatian, karena justru diserukannya pada
saat ketika dimulainya*kudeta merangkak* *Jendral Suharto* dan
pendukung-pendudukungnya.

Pada saat dimulainya persekusi, pengejaran, penyiksaan, pemenjaraan dan
eksekusi ekstra-judisial besar-besaran terhadap golongan Kiri dan
pendukung Presiden Sukarno.

Imbauan Presiden Sukarno mengenai*JASMERAH*, punya nilai sejarah yang
harus dicamkan bangsa ini. Karena mulai period ini Jendral Suharto
menegakkan rezim Orde Baru, yang memporak-porandakan pengertian dan
makna sejarah bangsa. Rezim Orde Baru adalah suatu kekuasaan yang
tak-tahu-malu dan terang-terangan memalsu dan merekayasa sejarah
semata-mata untuk berkuasa dan melanggengkan kekuasaannya.

Namun Orde Baru gagal total dalam niat jahatnya hendak menenggelamkan
dan menghapuskan samasekali peranan dan jasa-jasa seorang tokoh nasional
penegak-pembina bangsa serta proklamator kemerdekaan bangsa: BUNG KARNO.

Ajaran Bung Karno mengenai arti penting pemahaman sejarah bangsa, selalu
harus diingat dan berupaya diberlakukan di sepanjang hidup kita sebagai
bangsa. Pengalaman membangun dan memperkokoh nasion Indonesia yang masih
muda, dibanding dengan nasion-nasion lainnya seperti India, Tiongkok dan
Jepang umpamanya; — Menunjukkan sekaligus betapa dalam dan
fundamentilnya pengertian dan visi Bung Karno mengenai masalah bangsa.

Bangsa kita, — di satu segi berjuang untuk kemerdekaan nasional. Di
segi lainnya, bersamaan dengan itu terus-menerus bergumul dan berjuang,
pantang mundur dalam proses membangun dan memperkokoh KESADARAAN
BERBANGSA serta mengkonsolidasi persatuan bangsa.

Proses Kesadaran berbangsa itu, berjalan bersamaan dengan proses
perjuangan melawan kolonialisme dan imperialisme, untuk menjadikan
nasion muda ini suatu bangsa yang merdeka, berdaulat, berdiri sama
derajat dengan bangsa-bangsa lainnya di mancanegara, adil dan makmur.

Berbahagialah bangsa kita ini memiliki pemimpin-pemimpin,
pendahulu-pendahulu dalam perjuangan gagah berani melawan kolonialisme
Belanda, pejuang-pejuang melawan pendudukan militer Jepang.
Berbahagialah kita memiliki pemimpin-pemimpin Republik Indonesia yang
memimpin perjuangan bangsa ini berperang melawan tentara Inggris, yang
datang atas nama Sekutu untuk mengurus penyerahan Jepang di Indonesia
dan para warganegara Hindia Belanda yang ditawan Jepang.

Kita mengalaminya, bahwa Inggris yang datang atas nama Sekutu itu,
diam-diam membawa ‘boncengan’, a.l yang terpenting adalah Van Mook, dari
Australia. Van Mook yang punya tugas utama NICA ( Netherlands Indies
Civil Administgration). Yaitu untuk mengembalikan kekuasaan Hindia
Belanda atas Indonesia. Mengembalikan ‘kedaulatan’ Kerajaan Belanda atas
‘daerah-daerah seberang lautan’, khususnya atas Indonesia, yang sudah
memproklamasikan kemerdekaan bangsa dan negeri. Yang sudah menegakkan
NEGARA REPUBLIK INDONESIA.

* * *

Berbahagialah kita memiliki pemimpin-pemimpin nasional yang juga TIDAK
LUPA MENULIS, mendokumentasikan jadi aset sejarah. Yaitu hal-hal
bersangkutan dengan perjuangan kita menjadi suatu bangsa baru, dengan
perjuangan kermerdekaan nasional. Maka kita memiliki pemimpin-pemimpin
perjuangan kemerdekaan seperti Ir Sukarno yang menuliskan visi, strategi
dan taktik perjuangan bangsa, seperti a.l tertera dalam dua bukunya “Di
Bawah Bendera Revolusi”. Perlu khusus diangkat pidato beliau dimuka
Pengadilan kolonil Belanda, di Bandung berjudul “Indonesia Menggugat”
dan pidato beliau pada tanggal 1 Juni 1945 “Lahirnya Pancasila”, dll.

Tercatat pula dalam tulisan bersejarah visi nasional dan pengalaman
perjuangan seperti ditulis oleh Tan Malaka (“Dari Penjara ke Penjara”
dan “Madilog”, dll). Seperti tulisan Drs Moh Hatta mengenai Masalah
Koperasi dan Otobiorgrafinya. Tulisan Sutan Syahrir , “Perjuangan Kita”
dan “Renungan Indonesia”; serta tulisan tulisan Haji Agus Salim, Ki
Hajar Dewantoro dll. Semuanya itu merupakan dokumen otentik sekitar
perjuangan bangsa ini dalam proses menjadi suatu nasion baru yang
bersatu, untuk mencapai kemerdekaan Indonesia.

Dari tokoh-tokoh partai politik kita temui tulisan-tulisan yang
sistimatis dan programatis mengenai perjuangan kemerdekaan bangsa untuk
kemerdekaan dan keadilan; untuk suatu Indonsia yang sosialis. Menonjol
diantaranya serta terdokumentasi adalah tokoh pemimpin parpol D.N.
Aidit, Ketua CC PKI. Tulisan-tulisan dan pidato DN Aidit yang terpenting
di muat dalam bukunya “Pilihan Tulisan Aidit” (PTA), terbitan Yayasan
Pembaruan. DN Aidit dengan jelas mengemukakan visinya mengenai bangsa
dan perjuangan untuk mencapai suatu Indonesia yang kokoh, adil dan makmur.

* * *

Tulisan-tulisan para pejuang kemerdekaan pendahulu kita itu, selain
menguraikan visi dan misi mereka, strategi dan taktik perjuangan bangsa
untuk kemerdekaan nasional, juga menguraikan situasi dan kondisi bangsa
dan negeri ini dalam periode-periode penting dalam sejarah bangsa.

Dengan demikian merupakan aset berharga dalam penelitian, penulisan dan
pendidikan sejarah untuk generasi muda. Merupakan bahan input tak
ternilai dalam menyusun penulisan yang menyeluruh dan kesatuan utuh
tentang sejarah bangsa.

* * *

Disinilah relevansi prakarsa dan ajakan kerjasama tiga lembaga
penelitian sejarah Belanda <yaitu KITLV, Institut Kerajaan Untuk Kajian
Asia Tenggara dan Karibia di Leiden, dan NIOD, Institut Kajian Perang,
Holocaust dan Genosida di Amsterdam> untuk melakukan riset dan studi,
mengkaji kembali sejarah hubungan Indonesia-Belanda, khususnya mengenai
kekerasan militer yang dilakukan oleh Belanda di Indonesia dalam periode
1945-1949. Suatu periode peperangan yang berlangsung antara Indonesia
dan Belanda, disebabkan politik Belanda ketika itu untuk menghancurkan
Republik Indonesia, mengembalikan Indonesia di bawah kekuasaan kolonial
Belanda.

Salah seorang sejarwan muda Indonesia, Bambang Purwanto telah menyatakan
sambutannya sehubungan dengan uluran tangan sejarawan-sejarawan Belanda itu.

Kita baca a.l dalam tulisan Joss Wibosono dari Ranesi (Radio Nederland
Seksi Indonesia), bagian dari Radio Nederland Wereld Omroep, sbb:

“Usul mengadakan penelitian ini juga dilengkapi dengan seruan untuk
melibatkan kalangan Indonesia. Dan sudah ada seorang gurubesar sejarah
Indonesia yang diwawancarai, itulah Prof. Bambang Purwatno dari
Universitas Gadjah Mada di Yogyakarta. Menyambut baik ajakan ini Bambang
Purwanto tetap berhati-hati, katanya, kalau ia memahami langkah Belanda,
maka itu bukan berarti ia juga menyetujuinya.

“Bambang paham: dalam soal istilah saja Indonesia sudah berbeda dari
Belanda. Belanda misalnya menggunakan istilah politionele actie (aksi
polisi) sementara bagi Indonesia itu adalah agresi militer. Kemudian
pada akhirnya Indonesia menyebut Belanda mengakui kemerdekaannya,
seperti berlangsung di Amsterdam pada tanggal 27 Desember 1949. Belanda
menyebut upacara di Istana De Dam itu sebagai “penyerahan” kedaulatan.

“Bagi saya Hindia Belanda itu sudah berakhir pada tahun 1942. Tuan
penjajah kita waktu itu ganti dengan masuknya Jepang”, demikian Bambang
Purwanto. Baginya yang terjadi pada tahun 1945 sampai 1949 itu adalah
langkah Indonesia mempertahankan proklamasi kemerdekaannya. Belanda yang
belum bisa menerima itu mencoba membangun kembali kekuasaan kolonialnya.
“Ya, otomatis yang terjadi adalah konflik!” Tegas Bambang.

“Bambang juga melihat di Indonesia sendiri kenyataannya tidak semudah
yang digambarkan orang. Tidak semua orang Indonesia menghendaki Belanda
diusir dengan kekerasan militer. Ada kelompok yang mau bernegosiasi
sehingga muncullah pelbagai macam perjanjian damai, mulai dari
Linggarjati sampai Renville. Sampai kemudian menghasilkan apa yang
disebut Meja Bundar. Di lain pihak juga ada kelompok yang mengatakan
Indonesia merdeka 100%. Mereka tidak setuju dengan diplomasi atau
perundingan, karena Indonesia sudah merdeka.

“Kenapa kita tidak memanfaatkan data Belanda. Kalau kita bicara tentang
periode 1945-1949 seakan-akan datanya hanya yang berasal dari Indonesia
saja. Padahal data Belanda tentang itu banyak sekali”.

“ . . . . Bambang juga berpendapat Belanda tidak bisa hanya
menggantungkan diri pada dokumen yang ada di arsip Belanda. Menurutnya
Belanda juga harus mendengar apa yang dikatakan dan dialami oleh orang
Indonesia. “Jadi saya kira ini akan membangun sebuah keseimbangan
historiografis sehingga orang bisa saling mengerti”. Demikian a.l. Tulis
Joss Wbisono dari Radio Hilversum ( yang sayang pada tanggal 29 Juni
2012 nanti menghentikan siarannya).

* * *

Bila proyek penelitian bersama berkenaan dengan sejarah hubungan
Indonesia-Belanda, menjadi realita, maka yang terpenting adalah agar
yang bersangkutan dengan sungguh-sungguh mengikutsertakan banyak
historikus muda kita, dan melibatkan seluruh masyarakat cinta-sejarah
dalam usaha besar ini.

Semoga akan menjadi kenyataan dan memperoleh dukungan semakin meluas
AJARAN BUNG KARNO—

*JANGAN SEKALI-KALI MELUPAKAN SEJARAH — “DJAS MERAH”.*

* * *

26
Jun
12

Perekonomian : Ekonomi Komodo, Strategi Wilayah Tertinggal, Renegosiasi Kontrak Karya

logo_frontnas453

`Ekonomi Komodo’

Sabtu, 23 Juni 2012 |Editorial Berdikari Online

Ada yang menarik dari pernyataan Wakil Presiden Boediono di depan
Wharton Global Alumni Forum, Jumat, 22 Juni 2012. Ia menyebut
perekonomian Indonesia sudah berkembang seperti “komodo”. Bagi
Boediono, ekonomi Indonesia sudah tumbuh menjadi raksasa dan lincah.

Konon, julukan ini diungkapkan pertamakali oleh majalah ekonomi paling
bergengsi, The Economist. Yang jelas, dengan julukan `ekonomi
komodo’ ini, ekonomi Indonesia dianggap telah berkembang besar,
kuat, dan lincah. Watak ekonomi Indonesia disebut ulet (resilient),
enteng hingga bisa mengapung (buoyant), tetapi juga gesit (agile).

Apakah julukan itu sesuai dengan kenyataan? Bagi Boediono, salah satu
ukuran ketangguhan ekonomi Indonesia adalah kemampuannya survive dari
krisis ekonomi tahun 2008. Bahkan, di tengah krisis yang melanda Eropa
saat ini, Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia masih tumbuh 6%.

Selain itu, satu hal yang dibanggakan oleh Boediono adalah capaian
kinerja BUMN. Menurutnya, banyak BUMN hasil privatisasi atau perusahaan
publik telah memperlihatkan perbaikan kinerja dan profesionalisme.
Bahkan, enam diantaranya sudah masuk daftar “Fortune 500 Global
Companies”.

Juga, kata Boediono, sektor keuangan Indonesia makin tangguh. Ia
menganggap Indonesia memiliki sektor perbankan yang sangat baik dengan
tingkat kesehatan yang cukup kuat. Indonesia memiliki 120 bank yang
aktif di pasar.

Tentu saja, apa yang disampaikan Boediono patut dipertanyakan. Boediono
kurang mengungkapkan faktor-faktor penyebab pertumbuhan ekonomi
Indonesia. Ia juga gagal menjelaskan keterkaitan pertumbuhan ekonomi
dengan kesejahteraan rakyat: penyerapan tenaga kerja, penaikan
pendapatan rakyat, dan ketersediaan/pemenuhan kebutuhan dasar.

Pertama, pertumbuhan ekonomi Indonesia banyak digerakkan oleh utang luar
negeri. Hingga saat ini, utang luar negeri Indonesia sudah mencapai 1900
triliun. Versi lain menyebutkan, akumulasi utang luar negeri Indonesia
sudah mencapai Rp 2.870 triliun atau mencapai 45 persen dari PDB.

Tingginya utang tentu bukan gejala yang positif. Apalagi, jika negara
bersangkutan tidak memiliki kemampuan membayar. Biasanya, jurus jitu
negara-negara yang tak sanggup membayar utang ini adalah privatisasi
BUMN dan obral habis sumber daya alam. Kondisi ini tentu tidak positif
bagi pembangunan ekonomi berkelanjutan.

Negara yang `terperangkap utang’ akan dipaksa untuk terus
menggenjot ekspornya—terutama ekspor bahan mentah—dan melakukan
penghematan pada pengeluaran pemerintah dan belanja kesejahteraan
sosial. Ini akan berakibat pada pemiskinan massa rakyat. Namun, pada
aspek lain, sebagian besar sumber daya telah mengalir deras ke
kantong-kantong negeri imperialis.

Kedua, faktor penggerak pertumbuhan ekonomi adalah konsumsi, khususnya
konsumsi klas menengah ke atas. Akan tetapi, jika mengacu pada survei
Kompas, nafsu konsumtif klas menengah ini sebagian besar dipicu oleh
`gaya hidup’. Banyak diantara mereka hidup diluar kemampuannya
alias `ngutang’.

Ketiga, penggerak pertumbuhan ekonomi Indonesia adalah investasi asing.
Patut dicatat, membanjirnya investasi asing di Indonesia juga disertai
dengan `menguatnya penguasaan modal asing’ terhadap perekonomian
nasional. Lihat saja, modal asing makin merajai penguasaan kekayaan alam
dan aset-aset strategis kita: sektor migas (85-90%), batubara (75%),
mineral (89%), perkebunan (50%), perbankan ( 50,6%), farmasi (80%),
telekomunikasi (70%) dan lain-lain.

Keempat, pertumbuhan ekonomi Indonesia banyak disumbangkan oleh ekspor
bahan mentah:batubara, minyak, bauksit, minyak kelapa sawit, dan karet.
Ini tidak berbeda jauh dengan model ekspor di jaman kolonial. Kebiasaan
ekspor bahan mentah ini juga membawa banyak kerugian: kehilangan nilai
tambah, kehilangan lapangan pekerjaan, dan menghilangkan basis untuk
pembangunan industri dalam negeri.

Dengan penjelasan di atas, sangat jelas bahwa pertumbuhan ekonomi
Indonesia digerakkan oleh faktor-faktor berbahaya. Selain itu, hal itu
juga menjelaskan bahwa struktur ekonomi Indonesia masih sangat
kolonialistik. Inilah yang menjelaskan mengapa pertumbuhan ekonomi
Indonesia tidak mensejahterakan rakyat. Inilah yang gagal dipahami
Boediono.

Anda dapat menanggapi Editorial Berdikari Online di:
redaksiberdikari@yahoo.com

http://www.berdikarionline.com/editorial/20120623/ekonomi-komodo.html
<http://www.berdikarionline.com/editorial/20120623/ekonomi-komodo.html>

Berdikari (Ulfha) menulis, saya kutip :

Pertama, pertumbuhan ekonomi Indonesia banyak digerakkan oleh utang luar
negeri. Hingga saat ini, utang luar negeri Indonesia sudah mencapai 1900
triliun. Versi lain menyebutkan, akumulasi utang luar negeri Indonesia
sudah mencapai Rp 2.870 triliun atau mencapai 45 persen dari PDB.
Tingginya utang tentu bukan gejala yang positif. Apalagi, jika negara
bersangkutan tidak memiliki kemampuan membayar. Biasanya, jurus jitu
negara-negara yang tak sanggup membayar utang ini adalah privatisasi
BUMN dan obral habis sumber daya alam. Kondisi ini tentu tidak positif
bagi pembangunan ekonomi berkelanjutan.

Negara yang `terperangkap utang’ akan dipaksa untuk terus
menggenjot ekspornya—terutama ekspor bahan mentah—dan melakukan
penghematan pada pengeluaran pemerintah dan belanja kesejahteraan
sosial. Ini akan berakibat pada pemiskinan massa rakyat. Namun, pada
aspek lain, sebagian besar sumber daya telah mengalir deras ke
kantong-kantong negeri imperialis. (Kutipan selesai)

Tanggapan saya: Indonesia saat sekarang ini telah mengalami situasi apa yang disebut “Fisher Paaradox“ dalam hubungannya dengan utang luar negerinya; artinya semakin banyak cicilan utang luarnegeri yang dilakukan, maka semakin besar akumulasi utang luarnegerinya.  Ini disebabkan oleh karena nilai cicilan plus bunga utang luar negeri lebih besar dari nilai utang baru, dengan demikian terjadilah apa yang disebut “net transfer“ sumber-sumber keuangan dari Indonesia ke pihak-pihak kriditor asing.

Ini ditunjukkan dalam penomena sebagai berikut: Pada tahun 2002, dalam kuartal I pemerintah menerima utang luarnegeri dari IMF sebesar 342 juta dollar AS, tapi harus membyar 587 juta dollar AS.   Ini berarti bahwa jumlah utang pemerintah mejadi bertambah sebesar 587 dollar AS – 342 dollar AS = 245 dollar AS (utang baru). (sumber buku KKG yang berjudul Kebijakan Ekonomi Politik dan Hilangnya Nalar- halaman 69-71).  Penomena seperti yang digambarkan dalam salah satu data dalam tabel di bukunya pak KKG , seperti misalnya , setelah melakukan pembayaran cicilan dan bunga utang sebasar 342 dollar AS, maka terjadilah tambahan utang baru sebesar 245 dollar AS, penomena seperti ini akan terus berkelanjutan selama rezim neoliberal SBY-Boedi tetap mabuk utang luarnegeri, yang dijadikan sebagai pola dasar pertumbuhan ekonomi di NKRI. Dampaknya adalah utang luar negeri akan semakin  betumpuk-tumpuk sehingga pemerintah tak punya uang lagi untuk membayarnya, maka jalan keluarnya adalah menjual semua aset negara, seperti  BUMN, menjual atau mengadaikan sumber-sumber kekayaan alam, seperti salah satunya contoh yaitu gunung Emas di Papua telah dijual pada AS, yang telah dikeduk (digali emasnya) sehingga menjadi telaga yang sangat beracun untuk selama-lamanya (karena dibawah telaga itu terdapat uranium). Inilah warisan yang akan di tinggalkan oleh kepemimpinan rezim neoliberal SBY-Boedi kepada generasi  bangsa Indonesia yang akan datang, dan khususnya pada generasi bangsa yang hidup di Papua yang berikutnya, yang langsung akan hidup diatas telaga yang sangat beracun.

Keadaan seperti ini, jika diteruskan, jelas cenderung akan menghantar NKRI, entah berapa tahun lagi akan masuk liang kubur. Inilah hakekat kinerja Partai Demokrat pimpinan SBY, yang telah mendominasi kekuasaan di NKRI. Masihkah bangsa ini akan mempertahankannya?????

Kedua : Kedua, faktor penggerak pertumbuhan ekonomi adalah konsumsi, khususnya
konsumsi klas menengah ke atas. Akan tetapi, jika mengacu pada survei
Kompas, nafsu konsumtif klas menengah ini sebagian besar dipicu oleh
`gaya hidup’. Banyak diantara mereka hidup diluar kemampuannya
alias `ngutang’. (kutipan selesai).

Tanggapan saya : Apa yang dikatakan oleh wapres Boediono bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia berkembang pesat seprti “komodo“ adalah bentuk penipuan, yang tidak tahu malu. Apa yang sesungguhnya terjadi dibalik itu.

Menurut Dialektika Hubungan Ekonomi Indonsia, sejak dulu dari jamannya penjajahan kolonialisme Belanda, zaman orde barau jilit ke I sampai ke II (rezim SBY-Boedi), pada dasarnya tidak mengalami perubahan secara mendasar. Ini tercermin dalam ekonomi rakyat dimana klas Buruh, Tani dan golongan lapisan bawah yang lainnya, selalu mengantungkan hidupnya, dan tetap berada dalam posisi tertindas sebagai struktur terbawah dalam konstellasi ekonomi Indonesia.

Proses eksploitasi dipercaya telah semakin  mencengkam, ini disebabkan oleh karena timbulnya interaksi antara aktor-aktor ekonomi kuat, yaitu para bisnis militer, yang didukung oleh kekuasaan birokrasi, para pembisnis dan pencari rente ekonomi yang berada dalam jaringan partai penguasa (PD) dan kongsinya (Golkar, PAN, PBK, PPP dan PKS);- dengan aktor-aktor ekonomi lemah yang terdiri dari klas Buruh, Tani dan golongan lapisan bawah yang lainnya, yang mencari nafkah sebagai buruh pabrik, buruh tani, pentani gurem, buruh nelayan, pengrajin kecil dan aktor-aktor ekonomi kecil yang lainnya. Tentu saja adanya interaksi tersebut telah menimbukan effek negatif terhadap pertumbuhan ekonomi, karena pertumbuhan ekononi yang diibaratkan seperti “Kompdo“ oleh wapres Boediono ternyata tidak menyerap tenaga kerja. Ini dibuktikan antara lain dalam bentuk menurunnya tingkat upah riil kaum buruh,menurunnya nilai tukar petani kecil, semakain banyaknya petani tak bertanah, dan semaking tingginya tingkat pengaguran (terbuka + tertutup).

Yang terjadi adalah “komodo“ gemuk yang setia, yang terus merupakan pemasok surplus ekonomi pada pihak asing. Ucapan Boediono ini diperlukan dalam rangka propaganda untuk menarik investor asing sebanyak-banyaknya, dan untuk mendapatkan utang secara berkelanjutan, demi kemewahan dan kesejahteraan hidup golongan tengah ke atas sampai kerajaan Cikeas.

Ketiga, penggerak pertumbuhan ekonomi Indonesia adalah investasi asing.
Patut dicatat, membanjirnya investasi asing di Indonesia juga disertai
dengan `menguatnya penguasaan modal asing’ terhadap perekonomian
nasional. Lihat saja, modal asing makin merajai penguasaan kekayaan alam
dan aset-aset strategis kita: sektor migas (85-90%), batubara (75%),
mineral (89%), perkebunan (50%), perbankan ( 50,6%), farmasi (80%),
telekomunikasi (70%) dan lain-lain. (kutipan selesai)

Tanggapaan saya:  Kutipan diatas tekah membrikan kesan bahwa:  Arus masuk investasi asing dalam rangka reloksi industri untuk memanfaatkan biruh murah bangsa Indonesia, telah memperbesar kekuasaan pihak asing dalan sektor ekport Indonesia. Adalah merupakan suatu ilusi bahwa, bahwa ekport yang terjadi di Indonesia terutama eksport nonmigas, telah dan akan meningkatkan nilai tambah yang substansial di Indonesia. Dalam konteks ini sungguh relevan apa bila kita melontarkan pertanyaan:  Eksport kita siapa yang punya???

Kesimpulan akhir: Dari apa yang saya utarakan diatas,pada prinsipnya membenarkan kesimpulan yang telah di ambil oleh tulisan Ulfha, bahwa bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia digerakkan oleh faktor-faktor berbahaya. Saya tambahkan ;Dampaknya adalah Indonesia telah kembali menjadi negara jajahan (jajahan model Baru), yang sangat empuk bagi penghisapan surplus ekonomi oleh pihak asing. Inilah yang dimaksud oleh Boediono bahwa Indonesia telah berkembang seperti “komodo“ yang bisa melapangkan jalannya aliran surplus ekonomi ke pihak asing.

Roeslan.

RABU, 20 Juni 2012 |
Oleh : H. Thaher Hanubun *)

Kajian Strategis Pengembangan Potensi Wilayah Tertinggal

Beberapa pendekatan yang dilakukan dalam pembangunan dewasa ini semakin memberikan peluang pengembangan daerah yang semakin dinamis.Namun, kedinamisan yang terjadi bisa menjadi pemicu munculnya permasalahan tersendiri ketika masih terjadinya kesenjangan/ gap dalam prosesi pembangunan daerah. Setelah lebih dari tiga dasawarsa pemerintah melaksanakan program pembangunan nasional, telah banyak kemajuan dan manfaat yang dapat dirasakan oleh masyarakat banyak. Namun demikian, dibalik keberhasilan tersebut, masih banyak pula berbagai kekurangan dan kelemahan yang menyertainya. Salah satu kekurangan dan kelemahan di tengah-tengah pertumbuhan pembangunan yang begitu pesat tersebut adalah terjadinya pertumbuhan yang tidak seimbang antar sektor, kesenjangan ekonomi antar golongan penduduk dan kesenjangan pembangunan antar wilayah.

Pengurangan kesenjangan pembangunan antar wilayah atau kawasan sebagaimana akan sulit dilakukan apabila proses perkembangan dibiarkan tanpa adanya intervensi pemerintah secara transparan dan adil. Wilayah yang tertinggal akan semakin tertinggal apabila tidak ada upaya yang sungguh-sungguh dari pemerintah untuk mengatasinya dan hanya sumberdaya alamnya yang dikuras sebagai penyokong pembangunan di kawasan yang sudah maju tanpa ada kompensasi kontribusi yang jelas untuk pengembangan.

Indonesia sebagai negara berkembang yang selama ini berkiblat pada pola pembangunan negara-negara barat sudah waktunya melakukan penyelarasan pembangunan dengan tidak mengedepankan pertumbuhan semata dan melalaikan pemerataannya, sehingga muncul banyak kesenajangan. Sehingga perlu upaya yang simultan untuk bagaimana mengakselerasi proses pembangunan yang seimbang antara pertumbuhan dan pemerataan. Ketika salah satu diantara dua konsep pembangunan ini lebih diprioritaskan maka yang terjadi adalah ketimpangan/ kesenjangan pembangunan yang luar biasa, akibat adanya pola eksploitasi yang massif.

Proses menuju terwujudnya keadilan pembangunan yang selama ini ada, sebenarnya sudah di implementasi dengan kebijakan-kebijakan pemerintah derah pada program-program pembangunan. Dus, juga diprioritaskan bagi daerah pesisir dengan kategori tertinggal/ terbelakang. namun pada kenyataannya, banyak bias kebijakan pembangunan yang seakan justru semakin meretas adanya kesenjangan dalam pembangunan, baik menyangkut kesenjangan antar wilayah, kesenjangan desa-kota maupun kesenjangan masyarakat dari sisi pendapatan, akses dan kesempatan.

Penelusuran terhadap variable-variabel sebagai dasar indikator wilayah daerah tertinggal maka di temukan bahwa umumnya daerah tertinggal dicirikan dengan masalah:
1. Perekonomian masyarakat yang masih rentan,
2. Prasarana atau infrastruktur yang kurang memadai,
3. Kemampuan keuangan local yang masih dibawah normal,
4. Kurangnya Aksesibilitas dan Keterjangkauan dari pusat pertumbuhan
5. Karakteristik/ tipologi daerah (sosio-kultur dan sosial behavior) masyarakat yang masih berkutat pada sektor tradisional.

Kalau di cermati secara seksama, sesungguhnya daerah-daerah yang di kategorikan sebagai daerah tertinggal bukanlah daerah yang mempunyai sumberdaya alam rendah atau nihil, tetapi sebaliknya daerah-daerah tersebut malah banyak terdapat potensi sumberdaya alamnya. Dan bahkan tidak sedikit dari daerah-daerah tersebut yang selama ini di eksploitasi untuk kepentingan kawasan-kawasan maju.

Lebih jauh dalam membahasakan fenomena diatas akan melahirkan suatu pemahaman bahwa potensi yang selama ini digali dan diekploitasi pada kawasan daerah tertinggal perlu dilakukan re-ingeneering dan re-inventing berdasarkan kelokalan masing-masing sehingga ada penataan ulang yang berdasarkan kebutuhan daerah yang ada. Hal ini sangat diperlukan karena memungkinkan daerah untuk bisa berkembang lebih baik. Bisa saja keterisolasian dan ketertinggalan yang terjadi merupakan hasil dari kesengajaan dalan menutup saluran distribusi kompensasi eksploitasi potensi sumberdaya alam yang dimilki. Sehingga daerah tidak memperoleh bagian yang proposional dan adil sesuai dengan kandungan potensi yang dimiliki. Kondisi ini sudah berlangsung lama dan telah berakar.

Dampaknya adalah banyaknya daerah-daerah yang kaya sumberdaya alam tapi tertinggal dari segi sumberdaya manusia dan daya dukung sarana prasana yang memadai yang pada akhirnya terkategorikan dalam daerah tertinggal. Oleh karena itu penting untuk dipahami bahwa keadilan pengelolaan sumberdaya alam dalam rangka akselerasi pemerataan pembangunan antar kawasan mengandung urgensi nilai yang cukup signifikan.

Permasalahan yang muncul pada daerah-daerah tertinggal di Provinsi Maluku merupakan bias praktek pengelolaan pembangunan antar kawasan yang tidak merata. Pembangunan yang tidak merata antar kawasan ini simetris dengan ketidakadilan dalam pengelolaan sumberdaya alamnya. Sehingga potensi SDA yang terkandung di daerah-daerah tertinggal sampai sejauh ini maksimalisasi kontribusinya untuk pembangunan prosentasinya sangat tidak proposional dengan nilai yang seharusnya di peroleh. Permasalahannya adalah ketika saat ini semua stakeholder memahami ketidakadilan praktek pembangunan antar kawasan yang sedemikian rupa apakah terus membiarkan kondisi ini terjadi ataukah perlu melakukan langka-langkah strategis dan kongkrit untuk menghilangkan gap development yang terjadi. Dengan kesadaran tersebut, maka sebagai langkah strategis dalam menyeimbangkan dan mengatasi ketimpangan pembangunan yang berdampak pada stagnatisasi pembangunan di daerah, dipandang perlu untuk melakukan pemetaan ulang yang diikuti dengan menata ulang potensi wilayah yang ada, yang tidak terbatas pada sumberdaya alam akan tetapi keseluruhan kandungan sumberdayanya.

Kondisi masyarakat di daerah tertinggal, dari waktu ke waktu tetap memprihatinkan. Penyediaan infrastruktur dasar yang sesungguhnya merupakan prasyarat bagi tercapainya kemajuan masih morat-marit. Pembangunan di daerah ini lebih sering dianggap sebagai beban dan bukan dipandang sebagai bentuk investasi untuk menopang kesejahteraan. Pembangunan sarana dan prasarana dasar memang membutuhkan modal besar, dan mungkin juga tidak segera diikuti oleh loncatan perolehan nilai tambahnya (value added). Oleh karena itu, guna memacu pembangunan di daerah tertinggal, program utama yang harus dilakukan adalah menyediakan sarana dan prasarana dasar untuk mendorong tumbuhnya investasi.

Pandangan ini sebagai masukan dalam menyusun program pembangunan untuk daerah tertinggal. Sarana dan prasarana dasar, seperti jalan raya, listrik, air bersih, dan telekomunikasi, belum tersedia secara layak atau tidak memadai. Akibatnya, banyak daerah, umumnya berada di kawasan timur Indonesia, masih terus dililit persoalan kemiskinan dan keterbelakangan, baik dilihat dari aspek ekonomi maupun sosial budaya.

Syarat utama untuk menuntun daerah tertinggal menuju kemajuan adalah menyediakan infrastruktur dasar. Untuk membangun daerah terpencil dibutuhkan kemauan politik yang serius dan konsisten dari pemerintah setempat. Di kawasan ini biasanya tersedia beragam sumber daya alam yang belum dikelola, ataupun hany dieksploitasi dengan kurang memperhatikan komunitasnya Akan tetapi, karena infrastruktur dasar seperti listrik, jalan raya, pelabuhan, air bersih, dan telekomunikasi belum tersedia, kawasan ini tetap tidak menarik minat bagi investor.

Infrastruktur dasar yang belum tersedia atau belum memadai menjadi external cost bagi investor. Pemerintah juga sering memandang pembangunan di daerah terpencil sebagai “penguras biaya” karena efeknya tidak langsung diikuti oleh loncatan pertambahan nilai secara finansial. Cara pandang seperti itu harus diubah. Pembangunan di daerah terpencil, meski akan menyedot biaya yang besar, harus tetap dipandang sebagai bentuk investasi bangsa.

Sebagai pembanding bahwa kondisi sebagian daerah di negara kita sulit berkembang karena berbagai hambatan, sehingga mutlak diperlukan berbagai langkah atau kebijakan Pemerintah untuk mengatasi ketertinggalan pembangunan antar kawasan terutama di KTI. Dalam hubungan ini, sejak tahun 1996 yang lalu, Pemerintah Pusat telah mengeluarkan kebijakan untuk membangun Kawasan-kawasan Andalan atau Growth Centre di setiap Propinsi, yang diharapkan akan dapat menjadi ‘prime mover’ pembangunan di daerah yang bersangkutan sekaligus merangsang pertumbuhan daerah sekitarnya (hinterlands-nya).

Untuk memajukan pembangunan daerah-daerah miskin dan terbelakang, telah menyebabkan munculnya kebutuhan untuk mencari jalan yang terbaik guna mempromosikan aktivitas perekonomian dan penciptaan lapangan kerja di daerah-daerah miskin dan terbelakang tersebut, dan sekaligus upaya untuk mengejar ketertinggalan pembangunan dan pengentasan kemiskinan. Salah satu respon atau jawaban Pemerintah Pusat untuk mengatasi permasalahan di atas, adalah melaksanakan strategi yang dinamakan pembangunan pusat-pusat pertumbuhan atau growth centre
Meskipun pembangunan growth centre ini bukan lagi merupakan strategi yang baru, akan tetapi hingga saat ini selalu memperoleh perhatian yang sangat besar dari para pengambil kebijakan maupun perencana baik di negara maju ataupun negara-negara berkembang termasuk Indonesia. Bahkan, growth center dipercayai sebagai suatu strategi yang dapat mengatasi kesulitan dalam melaksanakan percepatan pembangunan daerah. (*

 

Pemerintah Tutupi Renegosiasi Kontrak Karya

CR-27 | Senin, 25 Juni 2012 – 15:19:04 WIB


(dok/SH)Kontrak yang dilakukan 20–30 tahun lalu tidak tepat atau adil.

JAKARTA – Renegosiasi kontrak karya hingga kini masih berjalan. Pemerintah menyatakan tidak akan buru-buru menyampaikan perkembangan renegosiasi kepada publik.

Hal ini mengingat dalam pembicaraan renegosiasi belum diputuskan kesepakatan final dan belum ada penandatanganan poin renegosiasi antara kedua belah pihak.

Hal itu dikatakan Direktur Jenderal Mineral dan Batu Bara (Dirjen Minerba) Kementerian ESDM, Thamrin Sihite, kepada SH di Jakarta, Kamis (21/6) lalu. ”Khusus untuk Newmont dan Freeport nanti ada waktunya kami umumkan ke publik,’’ katanya.

Ia menyatakan, hal prinsip yang dijaga pemerintah dalam proses renegosiasi ini adalah menjaga kerahasiaan poin-poin kontrak renegosiasi masing-masing perusahaan. Kebijakan ini diharapkan akan memuluskan proses renegosiasi. Tujuan renegosiasi ini adalah mencapai keadilan bagi kedua belah pihak, baik investor ataupun pemerintah.

Ia meminta semua pihak sabar menunggu hasilnya, karena renegosiasi kontrak karya memerlukan waktu yang panjang.

Pemerintah bekerja serius dalam program kerja renegosiasi kontrak karya dengan membentuk tim renegosiasi kontrak yang dilindungi Keputusan Presiden (Keppres) Nomor 3 Tahun 2012. Timnya diberi nama Tim Evaluasi untuk Penyesuaian Kontrak Karya dan Perjanjian Karya Pengusahaan Pertambangan Batu bara (PKP2B) yang dibentuk pada Januari 2012.

Berdasarkan data Kementerian ESDM, ia menyebutkan, renegosiasi kontrak karya pertambangan dilakukan sejak Agustus 2010 terhadap 37 perusahaan kontrak karya (KK) dan 74 perusahaan perjanjian karya pengusahaan pertambangan batu bara (PKP2B).

Perkembangan akhir 2011, untuk kontrak karya, secara prinsip sembilan kontrak karya yang telah setuju seluruhnya, 23 kontrak karya menyetujui sebagian poin renegosiasi, dan lima kontrak karya belum menyetujui seluruhnya.

Perkembangan Mei 2012, 60 PKP2B telah menyetujui seluruh poin-poin renegosiasi, dan 14 PKP2B setuju sebagian. Kondisi tersebut jauh lebih baik ketimbang perkembangan pada Desember 2010 lalu, dengan hanya empat kontrak karya yang menyetujui seluruh poin renegosiasi.

Nasionalisasi Perusahaan Asing

Ketua Ikatan Ahli Geologi Indonesia Rovicky Dwi Putrohari mengatakan kepada SH, pemerintah akan menghabiskan banyak energi untuk membicarakan renegosiasi dengan pemegang konsesi pertambangan dan migas.

Padahal, ada cara lain yang lebih efisien dan menguntungkan bangsa ini, yakni dengan menasionalisasi perusahaan asing yang dilakukan pada saat kontrak habis. Malaysia telah sukses melakukan hal itu dan tidak ada huru-hara.

”Memang seperti yang ditulis di kontrak Production Sharing Contract (PSC)-nya bahwa kontrak habis. Habis, ya selesai. Diperpanjang atau tidak diperpanjang, tidak disinggung sama sekali dalam kontrak PSC. Kalau mau menasionalisasi ya saat kontrak habis itu adalah saat yang sangat tepat. Tanpa perlu perubahan UUD, tidak perlu membuat UU, dan tanpa takut melanggar kesepakatan kontrak PSC,” ujarnya.

Menurutnya, yang perlu diantisipasi dan disiapkan adalah bahwa perusahaan yang akan dinasionalisasi mungkin tidak akan berinvestasi lagi disitu. Artinya, kemungkinan akan terjadi penurunan produksi. Tetapi, ini tidak menjadi persoalan karena cadangannya masih ada dan menjadi milik negara.

Nanti setelah dinasionalisasi produksi bisa digenjot kembali. Pada prinsipnya, perusahaan (operator) akan menghitung keekonomiannya sendiri. Produksi yang anjlok juga tidak sehat bagi operator. ”Bebaskan saja mereka (operator) melakukan fungsi bisnisnya secara otomatis dalam lima tahun terakhir (ingat depresiasi itu berlaku lima tahun),” tuturnya.

Malaysia mengalami penurunan produksi 13–15 persen pada 1998–2001, menurut Vicky, salah satunya karena masa transisi itu.

Produksi mereka kembali meningkat setelah banyak orang Indonesia dipekerjakan sebagai expatriate oleh Petronas sejak awal 2000-an, hingga mampu mempertahankan produksi minyaknya sekarang. Di sisi lain, produksi gasnya meningkat seperti Indonesia.

Dari proyeksi produksi minyak Indonesia saat ini sudah terlihat bahwa lifting minyak terendah akan terjadi pada 2013. Menurut dia, mungkin ini berlanjut sampai 2014, kalau ada kemunduran jadwal lapangan baru.

Saat-saat seperti ini semestinya dipakai sebagai waktu berpikir menggali kesadaran kemandirian energi, baik di internal pemerintah, DPR, maupun masyarakat. Sadar energi meliputi sikap hemat dan keilmuan dalam mengeksplorasi bentuk energi baru yang diperlukan.

Mengapa Pertamina tidak atau belum bisa seperti Petronas, lanjut Vicky, karena Indonesia tidak mengikuti langkah Malaysia dalam menasionalisasi industri atau usaha migas. Malaysia menggunakan momentum pengembalian blok-blok PSC-nya sebagai mementum untuk mulai berkiprah sendiri dan mandiri pada aset negara sendiri.

“Sebelum adanya pengembalian blok-blok yang sebelumnya dioperasikan Shell di Sabah dan Sarawak dan Exxon di Malay Peninsular, lanjut dia, pertumbuhan Petronas datar saja. Petronas saat sebelum memiliki blok-blok yang masih berproduksi ini, masih seperti Pertamina sekarang atau malah jauh di belakangnya. Tetapi setelah Petronas mengelola aset-aset yang dikembalikan Shell dan Exxon ini, mereka langsung gagah dan high profile,” tuturnya.

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dalam keterangan persnya di Rio de Janeiro, Brasil, Jumat (22/6) pekan lalu, menegaskan komitmennya untuk tetap melanjutkan kebijakan renegosiasi pada kontrak-kontrak yang merugikan negara dan rakyat Indonesia pada umumnya.

“Kontrak-kontrak dengan mitra kita yang dilakukan 20–30 tahun lalu, ternyata tidak tepat atau adil. Ini karena ada kewajiban moral kita untuk melakukan perubahan. Saya memiliki kewajiban moral untuk melakukan perubahan,” katanya.

Ia mengatakan, keputusan itu diambil agar Indonesia memiliki konsep kegiatan ekonomi yang lebih baik dan adil, termasuk kebijakan terhadap kontrak karya dengan mitra asing.

SBY kemudian memberikan contoh tentang sejumlah kontrak kerja di bidang pertambangan dengan mitra asing yang dinilainya merugikan Indonesia dalam jangka panjang.

Oleh karena itu, pemerintah menyusun kebijakan untuk merenegosiasi kontrak-kontrak kerja jangka panjang dengan investor asing yang merugikan pemerintah dan rakyat Indonesia. (Ant)

(Sinar Harapan)

BERITA TERKAIT

26
Jun
12

Kenegarawanan : Bung Karno, Imam Al Bukhari dan Khrushchev

https://jakarta45.files.wordpress.com/2011/12/jakarta-452.png?w=637&h=609&h=609

 

BUNG KARNO MENCARI MAKAM IMAM AL BUKHARI

DI Tashkent tidak ada jalan bernama Bung Karno. Tapi bukan berarti rakyat Uzbekistan ini tidak mengenal presiden pertama Republik Indonesia itu.

Tidak banyak yang tahu kalau Bung Karno adalah penemu makam Imam Al Bukhari, seorang perawi hadist Nabi Muhammad SAW.

Begini ceritanya. Tahun 1961 pemimpin tertinggi Partai Komunis Uni Soviet sekaligus penguasa tertinggi Uni Soviet Nikita Sergeyevich Khrushchev mengundang Bung Karno ke Moskow. Kayaknya Khrushchev hendak menunjukkan pada Amerika bahwa Indonesia berdiri di belakang Uni Soviet.

Karena bukan orang lugu, Bung Karno tidak mau begitu saja datang ke Moskow.
Bung Karno tahu, kalau Indonesia terjebak, yang paling rugi dan menderita adalah rakyat. Bung Karno tidak mau membawa Indonesia ke dalam situasi yang tidak menguntungkan. Bung Karno juga tidak mau Indonesia dipermainkan oleh negara mana pun.

Bung Karno mengajukan syarat. Kira-kira begini kata Bung Karno, “Saya mau datang ke Moskow dengan satu syarat mutlak yang harus dipenuhi. Tidak boleh tidak.”

Khrushchev balik bertanya, “Apa syarat yang Paduka Presiden ajukan?”

Bung Karno menjawab, “Temukan makam Imam Al Bukhari. Saya sangat ingin menziarahinya.”

Jelas saja Khrushchev terheran-heran. Siapa lagi ini Imam Al Bukhari. Dasar orang Indonesia, ada-ada saja. Mungkin begitu sungutnya dalam hati.

Tidak mau membuang waktu, Khrushchev segera memerintahkan pasukan elitnya untuk menemukan makam dimaksud. Entah berapa lama waktu yang dihabiskan anak buah Khrushchev untuk menemukan makam itu, yang jelas hasilnya nihil.

Khrushchev kembali menghubungi Bung Karno. “Maaf Paduka Presiden, kami tidak berhasil menemukan makam orang yang Paduka cari. Apa Anda berkenan mengganti syarat Anda?”

Bung Karno tersenyum sinis. “Kalau tidak ditemukan, ya udah, saya lebih baik tidak usah datang ke negara Anda.”

Kalimat singkat Bung Karno ini membuat kuping Khrushchev panas memerah. Khrushchev balik kanan, memerintahkan orang-orang nomor satunya langsung menangani masalah ini. Nah, akhirnya setelah bolak balik sana sini, serta mengumpulkan informasi dari orang-orang tua Muslim di sekitar Samarkand, anak buah Khrushchev menemukan makam Imam kelahiran Bukhara tahun 810 Masehi itu. Makamnya dalam kondisi rusak tak terawat.

Imam Al Bukhari yang memiliki pengaruh besar bagi umat Islam di Indonesia itu dimakamkan di Samarkand tahun 870 M.

Khrushchev memerintahkan agar makam itu dibersihkan dan dipugar secantik mungkin. Selesai renovasi, Khrushchev menghubungi Bung Karno kembali. Intinya, misi pencarian makam Imam Al Bukhari berhasil.

Sambil tersenyum Bung Karno mengatakan, “Baik, saya datang ke negara Anda.”

Setelah dari Moskow, tanggal 12 Juni 1961 Bung Karno tiba di Samarkand. Sehari sebelumnya puluhan ribu orang menyambut kehadiran Pemimpin Besar Revolusi Indonesia ini di Kota Tashkent.

^
SIAPA IMAM BUKHARI?
Para Perawi Hadits: Imam Bukhari, Perawi Hadits yang utama

Nama sebenarnya adalah Muhammad bin Ismail bin Ibrahim dijuluki Al-Mughirah bin Bardizbah. Namun ia dikenal dengan sebutan Imam Bukhari. Ia lahir di Bukhara pada tahun 194 H.

Semua ulama, baik dari gurunya maupun dari sahabatnya memuji dan mengakui ketinggian ilmunya. Ia seorang Imam yang tidak tercela hapalan haditsnya dan kecermatannya. Bukhari mulai menghapal hadits ketika umurnya belum mencapai 10 tahun. Ia mencatat lebih dari seribu guru, hapal 100.000 hadits shahih dan 200.000 hadits tidak shahih.

Karyanya yang amat masyhur di dunia Islam adalah “Al-Jami’us Shahih Al-Musnad min Haditsi Rasulillah wa Sunanihi wa Ayyamihi” yang kemudian terkenal dengan nama kitab “Shahih Al-Bukhari”. Kata “Bukhari” sendiri maknanya adalah orang dari negeri Bukhara. Jadi kalau dikatakan “Imam Bukhari”, maknanya ialah seorang tokoh dari negeri Bukhara.

Bukhari lahir pada hari Jum’at, 13 Syawal 194 H di tengah-tengah keluarga yang mencintai ilmu sunnah Nabi Muhammad SAW. Ayahnya, Ismail bin Ibrahim bin Al-Mughirah, adalah seorang ulama ahli hadits yang meriwayatkan hadits-hadits Nabi dari Imam Malik bin Anas, Hammad bin Zaid, dan sempat pula berpegang tangan dengan Abdullah bin Mubarak. Riwayat-riwayat Ismail bin Ibrahim tentang hadits Nabi tersebar di kalangan orang-orang Irak.

Ayah Bukhari meninggal dunia ketika ia masih kecil. Di saat menjelang wafatnya, Ismail bin Ibrahim sempat membesarkan hati anaknya yang masih kecil sembari berpesan, “Aku tidak mendapati pada hartaku satu dirham pun dari harta yang haram atau satu dirham pun dari harta yang syubhat.”

Tentu anak yang ditumbuhkan dari harta yang bersih dari perkara haram atau syubhat akan lebih baik dan mudah dididik kepada yang baik. Sehingga sejak wafatnya sang ayah, Bukhari hidup sebagai anak yatim dalam dekapan kasih sayang ibunya.

Muhammad bin Ismail atau Bukhari kecil mendapat perhatian penuh dari ibunya. Sejak usia belia ia telah hapal Alquran dan tentunya belajar membaca dan menulis. Kemudian pada usia sepuluh tahun, Bukhari mulai bersemangat mendatangi majelis-majelis ilmu hadits yang tersebar di berbagai tempat di negeri Bukhara.

Imam Bukhari pun akhirnya terkenal di berbagai negeri Islam. Ketika ia berkeliling ke berbagai penjuru negeri, para ulama ahli hadits menghormatinya. Bukhari berkeliling ke berbagai negeri pusat-pusat ilmu hadits seperti Mesir, Syam, Baghdad (Irak), Bashrah, Kufah dan lain-lainnya.

Karya-karya Bukhari dalam bidang hadits terus mengalir dan beredar di dunia Islam. Kepiawaiannya dalam menyampaikan keterangan tentang berbagai kerumitan di seputar ilmu hadits di berbagai majelis ilmu bersinar cemerlang. Tak heran jika majelis-majelis ilmu Imam Bukhari selalu dijejali ribuan para penuntut ilmu

Karena ada perbedaan pendapat antara Bukhari dengan penguasa setempat, maka dia kemudian diusir paksa meninggalkan kota itu..

Bukhari meninggalkan Bukhara dengan penuh kekecewaan dan dilepas penduduk dengan penuh kepiluan. Ia berjalan menuju Desa Bikanda kemudian berjalan lagi ke desa Khartanka, yang keduanya adalah desa-desa negeri Samarkand. Di desa terakhir inilah ia jatuh sakit dan dirawat di rumah salah seorang kerabatnya di desa itu.

Dalam suasana hati yang terluka, tubuhnya yang kurus kering di usia ke-62 tahun, Bukhari berdoa mengadukan segala kepedihannya kepada Allah. “Ya Allah, bumi serasa sempit bagiku. Tolonglah ya Allah, Engkau panggil aku keharibaan-Mu.”

Dan sesaat setelah itu, ia pun menghembuskan nafas terakhir. Ia wafat pada malam Sabtu di malam hari Raya Idul Fitri 1 Syawwal 256 H. Sebelum menghembuskan nafas terakhir, ia sempat berwasiat agar mayatnya nanti dikafani dengan tiga lapis kain kafan tanpa imamah (ikat kepala). Ia juga berwasiat agar kain kafannya berwarna putih.

Semua wasiat itu dilaksanakan dengan baik oleh kerabat yang merawat jenasahnya. Imam Bukhari dikuburkan di desa itu di hari Idul Fitri 1 Syawal 256 H, setelah shalat Dzuhur.

Sumber: Para Ulama Ahlul Hadit

(Kutipan dr FB teman saya, Hendrajit):

 

Satrio Arismunandar
Executive Producer, News Division Trans TV, Lantai 3
Jl. Kapten P. Tendean Kav. 12 – 14 A, Jakarta 12790
Telp: 7917-7000 ext: 3542;   Fax: 021-79184558

HP pribadi: 081286299061/  Kantor: 081908199163
http://satrioarismunandar6.blogspot.com
http://facebook.com/satrio.arismunandar

“They know only some appearance of the life of the world,
and are heedless of the Hereafter”. (Al-Quran, The Roman 30, 7)




Blog Stats

  • 3,174,064 hits

Recent Comments

Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Sejarah : Bangsa Lemuria, Lelu…