Archive for September, 2012

27
Sep
12

IndoGreenWay : Pepaya Hilangkan Racun di Tubuh dan Antikanker

Pepaya Hilangkan Racun di Tubuh dan Antikanker

Info Kesehatan | oleh Tanti Yulianingsih
Posted: 26/09/2012 11:33

Pepaya Hilangkan Racun di Tubuh dan Antikanker Liputan6.com, London: Tanaman pepaya telah dikenal orang memiliki banyak manfaat bagi kesehatan manusia. Tak hanya daun dan bunganya, tapi juga buahnya. Apa sesungguhnya manfaat buah pepaya? Berikut kegunaan buah rendah kalori namun bergizi ini bagi kehidupan manusia, seperti ditulis Times of India.

Pepaya merupakan buah rendah kalori bergizi tinggi. Pepaya adalah pilihan tepat bagi mereka yang sedang melakukan diet. Bahkan buah ini merupakan salah satu solusi detoksifikasi terbesar, karena setelah diolah dapat membantu menyingkirkan racun tubuh. Mereka yang menderita sembelit dan gangguan pencernaan, juga dapat mengandalkan pepaya sebagai solusinya.

Buah yang memiliki sifat anti-inflamasi dan antikanker ini, ternyata juga bermanfaat bagi para penderita osteoporosis, arthritis, dan edema jika dikonsumsi secara teratur. Nah, jika Anda mengalami masalah pertumbuhan rambut atau ketombe, pepaya juga dapat diandalkan menjadi solusinya.

Tak hanya daging buahnya yang dapat dimanfaatkan bagi kesehatan Anda. Bagian luar kulit pepaya juga dapat digunakan untuk membantu penyembuhan kulit yang terluka.

Tanaman pepaya atau dalam bahasa Latin disebut Carica Papaya, konon berasal dari Meksiko dan kawasan selatan serta utara Amerika Latin. Tanaman pepaya kemudian menyebar luas ke berbagai kawasan daerah tropis di seluruh dunia. Sebutan pepaya dalam bahasa Indonesia diambil dari bahasa Belanda, “papaja”. Di tanah Jawa, khususnya Jawa Tengah dan Jawa Timur, buah pepaya sering disebut “gandul” atau “kates”. Sementara di tanah Sunda, buah pepaya biasa disebut “gedang”. (Vin)

Kamis, 27/09/2012 13:12 WIB

Kecerdasan mempengaruhi tingkat kebahagiaan

BBCIndonesia.com – detikNews
Berbagi informasi terkini dari detikcom bersama teman-teman Anda

Orang dengan kecerdasan lebih rendah cenderung kurang bahagia dibandingkan dengan orang yang memiliki kecerdasan lebih tinggi, demikian temuan peneliti Inggris.

Studi yang melibatkan 6.870 orang itu menunjukkan bahwa kecerdasan rendah kerap terkait dengan pendapatan yang lebih rendah dan buruknya kesehatan mental, yang berkontribusi pada perasaan tidak bahagia.

Para peneliti menghimbau agar lebih banyak bantuan dan dukungan diberikan pada orang dengan kecerdasan rendah.

Temuan mereka dipublikasikan di jurnal Psychological Medicine.

Ilmuan-ilmuan dari University College London itu menganalisa data dari survey psikiater Inggris.

Salah satu pertanyaan survey adalah, “Dengan mempertimbangkan berbagai aspek, bagaimana anda menilai perasaan anda saat ini, sangat bahagia, cukup bahagia atau kurang bahagia?”

Kecerdasan verbal seseorang juga dievaluasi.

Proporsi tertinggi mengatakan mereka “sangat bahagia” ditemukan pada orang dengan IQ antara 120-129. Empat puluh tiga persen mengatakan mereka sangat bahagia.

Namun jumlah tertinggi yang mengatakan “tidak terlalu bahagia”, 12% ditemukan pada orang dengan IQ antara 70-79.

Dr Angela Hassiotis mengatakan, “Orang yang berada di ujung spektrum normal lebih cenderung menganggap diri mereka tidak bahagia.”

Studi itu juga mengatakan kecerdasan yang lebih rendah terkait dengan pendapatan yang lebih rendah, kesehatan buruk atau membutuhkan bantuan dengan kehidupan sehari-hari seperti berbelanja atau melakukan pekerjaan rumah tangga, yang semuanya berkontribusi pada kebahagiaan.

Dr Hassiotis mengatakan, “Ini adalah bukti bahwa strategi jangka panjang intensif yang ditujukan pada anak-anak dari latar belakang sosial tidak mampu dapat memiliki dampak positif bukan hanya pada IQ tetapi juga pada kesejahteraan dan kesempatan.

“intervensi ini akan berbiaya mahal, tetapi biaya itu akan terganti dengan manfaat di masa depan seperti berkurangnya ketergantungan pada fasilitas negara dan kesehatan mental serta fisik yang lebih baik.”

(bbc/bbc)

Advertisements
27
Sep
12

Bunga Rampai : Gerakan Renassance Jawa, Pluralisme Pemimpin, Peradaban Atlantis

Gerakan Renaissance Jawa

07 Friday Sep 2012

Gerakan Renaissance Jawa

“Sekar Jagad”

“HONG ILAHENG, SEKARING BAWANA LANGGENG”

      “….. Demikian juga selain mengenai masalah kibijaksanaan, tahu sebelum mendapatkan pengajaran serta mengenai segala hal tentang ilmu kesaktian, bisa menghilang serta tampak seperti yang aku ceritakan kepadamu tadi.  Sebab di hamparan bentangan bumi dan dibawah langit yang mendapatkan ijin untuk memperlihatkan kebijaksanaan, kesaktian yang luar biasa, hanyalah Engkau beserta sanak keluargamu. “

      “Jadi kelebihan orang-orang di barat daya negeri Hindi tersebut, hanya sebatas kemampuan manusia biasa.  Adapun yang menguasai Negara, raja atau pembesar di negeri Hindi dan seterusnya serta pulau-pulau di tenggara negeri Hindi, secara turun-temurun tidak ada lain, semua itu berasal dari silsilahmu serta silsilah para dewa keluargamu.”  (Paramayoga Ranggawarsita, Otto Sukatno Cr.)

* * *
Pendahuluan

      Dalam rangka mengajak banyak pihak mendirikan Yayasan Sekar Jagad, maka penulis mewacanakan perlunya Gerakan Renaissance Jawa.  Merupakan kegiatan untuk mengkaji, meneliti, merekonstruksi kembali dan merevitalisasi budaya dan peradaban Jawa.  Continue reading »

Sikap Plurarisme Pemimpin Kita

01 Saturday Sep 2012

Bulan-bulan ini bangsa indonesia di haru-biru oleh berbagai isu, ketegangan konflik dan meningkatnya suhu politik, serta berbagai perilaku aneh para politisi dan kontestan terutama pemilu Pilkada yang tidak gentlemen, ada yang menggunakan cara-cara yang tidak mendidik hingga isu agama yang di politisir  menjadi fatwa halal-haram dalam memilih sosok pemimpin.

Sangat di sayangkan bahwa kita yang hidup dalam lingkungan yang majemuk namun tidak mencerminkan sikap plurarisme, terlebih sifat pemimpin kita yang kebanyakan masih memiliki mental feodal dan fanatisme. Seperti contoh nyata dari seorang Dai kondang yang menyatakan bahwa Tuhannya tidak akan meridloi pemimpin yang tidak seagama. Tentu saja penuturan ini sangatlah rendah, menggelikan, tidak manusiawi sekaligus rasis. Continue reading »

Kontroversi Peradaban Atlantis Nusantara

01 Saturday Sep 2012

Kagem poro pinisepuh, para sahabat dan semuanya, mungkin topik yang saya sajikan ini sudahlah bukan hal baru lagi, kita semua tahu bahwa semua mata dunia tertuju pada hasil penelitian proffesor Arysio Santos seorang ahli geology dari Brazil, yang menyatakan bahwa misteri peradaban surga Atlantis yang di paparkan oleh Plato adalah Indonesia.

Saya tertarik menjadikannya bahan diskusi, karena adanya seorang putra bangsa Indonesia sendiri yang mengkritisi penemuan ini, adalah Bapak Harry Truman Simanjuntak dari Pusat Arkeologi Nasional yang menyatakan… “Sayang sekali, kita sebenarnya menginginkan piramida dan atlantis itu ada di negeri ini,Tapi kenyataannya tidak ada bukti arkeologi, sehingga kita juga tidak ingin mengada-ada.” Continue reading »

27
Sep
12

Hikmah : Merindukan Pemimpin nan Adil

Merindukan Pemimpin nan Adil

Kamis, 27 September 2012, 14:38 WIB
wordpress.com
Merindukan Pemimpin nan Adil
Ilustrasi

Oleh: Nanat Fatah Natsir

Alkisah yang terdapat dalam buku Dakwah yang ditulis Fethullah Gulen, Sa’ad Ibn Abi Waqqash RA —sahabat Nabi Muhammad SAW, yang termasuk salah seorang dari 10 sahabat nabi yang akan memperoleh surga— adalah seorang panglima perang tentara Islam yang sukses menaklukkan musuh-musuh Islam pada saat itu.

Ia juga termasuk menaklukkan Persia pada masa kepemimpinan Khalifah Umar bin Khathab RA. Atas kesuksesannya itu, Sa ad Ibn Abi Waqqash dipercaya Khalifah Umar untuk menjadi gubernur di beberapa daerah yang telah ditaklukkan.

Pada suatu waktu, seorang rakyat miskin yang tinggal di wilayah kekuasaan Sa’ad mengadukan sang gubernur kepada Khalifah Umar bin Khathab, karena perlakuan kesewenang- wenangan seorang gubernur yang dianggap menzalimi rumah pribadinya.

Padahal, kebijakan pemerintah Khalifah Umar, tidak dibenarkan seorang gubernur daerah berlaku sewenang-wenang terhadap rakyat yang berada di bawah kepemimpinan kekuasaannya.

Jika hal tersebut dilakukan, sama artinya dengan melakukan suatu tindakan kemunkaran. Kemudian Umar bertanya kepada yang mengadukan. “Apakah ada keluhan lain selain yang Anda rasakan itu dari gubernur.”

Penggugat menjawab, “Ada, sesungguhnya gubernur Sa’ad lalai dalam mendirikan shalat berjamaah.”

Umar menduga pengaduan yang diajukan itu, sepertinya mustahil dilakukan seorang sahabat terkemuka seperti Sa’ad Ibn Abi Waqqash yang tidak dapat menunaikan shalat berjamaah secara istiqamah.

Sikap Khalifah Umar bin Khathab sebagai pemimpin pemerintahan tertinggi, berani dan tegas mengambil tindakan hukum. Jika ada yang benar, akan dikatakan benar. Sebaliknya, jika terbukti bersalah kepada siapa pun, dia akan menegakkan aturan sesuai dengan hukum yang berlaku.

Umar akan bersikap adil, tidak diskriminatif dalam menyelesaikan masalah hukum, termasuk kepada Gubernur Sa’ad Ibn Abi Waqqash. Prinsip yang dipegang Umar adalah Alquran yang menjadi firman Allah SWT, “…. apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil …” (QS An-Nisa [4]: 58).

Tampaknya, kondisi bangsa kita saat ini sedang diuji dengan berbagai tindakan kekerasan, teror antara satu kelompok terhadap kelompok lainnya. Akibatnya, menimbulkan korban jiwa meninggal dunia dan kerugian finansial yang cukup banyak, seperti terjadi di Sampang, Madura.

Akar masalahnya, antara lain, karena lemahnya penegakan hukum dengan adil, sikap diskriminatif dari penegak hukum sehingga menyentuh pe rasaan keadilan yang paling dalam dari suatu kelompok masyarakat.

Di samping itu, dampak dari lemahnya penegakan hukum itu juga mengakibatkan tidak adanya sikap jera dari orang-orang yang melanggar hukum. Sehingga, mereka selalu memiliki keinginan mengulangi perbuatan tersebut.

Sesungguhnya, peristiwa Sampang, Madura, harus menjadi pelajaran berharga bagi kita bersama. Kita berharap, kasus serupa tidak terulang lagi, dimana pun di bumi pertiwi yang kita cintai ini. Bangsa kita membutuhkan hadirnya seorang pemimpin yang berani menegakkan keadilan secara arif di tengah masyarakat Indonesia yang heterogen. Wallahu a’lam.

Redaktur: Chairul Akhmad
18
Sep
12

Peradaban : Innocent of Muslims, Kontroversial

‘Innocence of Muslims Picu Benturan Peradaban’

TEMPO.COTEMPO.CO

TEMPO.CO, Yogyakarta- Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Mohammad Nuh mengatakan gelombang protes yang terjadi di banyak negara terhadap kehadiran film Innocence of Muslims adalah bentuk benturan peradaban (clash of civilization).

“Demonstrasi itu (muncul) karena tidak ada dialog (antar peradaban),” katanya usai menghadiri pembukaan Asia Europe Meeting Culture Ministers Meeting ke-5 di Yogyakarta, Selasa 18 September 2012.

Dihadiri 120 delegasi dari 35 negara Asia dan Eropa, satu di antara empat agenda pembahasan dalam pertemuan tingkat Menteri itu adalah menjadikan budaya sebagai jembatan antar peradaban manusia. M.Nuh mengatakan, masing-masing negara peserta ASEM-CMM mewakili sebuah peradaban besar, termasuk peradaban yang berbasis pada Agama.

Eropa, sambung dia, mewakili peradaban berbasis Nasrani, sementara Asia berbasis Islam, Hindu, Budha, dan Konghucu. Dengan jumlah penduduk di Asia dan Eropa mencapai 4 miliar, dari total penduduk bumi 7 miliar, forum ini penting untuk menjembatani dialog antar peradaban. “(Sehingga) efektif untuk menyelesaikan konflik,” katanya.

Menurut dia, aliran peradaban terbagi menjadi tiga jenis. Pertama, dominasi peradaban yang lebih besar terhadap peradaban lainnya. Hasilnya, peradaban yang lebih besar mencaplok peradaban yang lebih kecil. Yang kedua benturan peradaban dan yang ketiga adalah stabisilisasi peradaban.

 

Ia menyayangkan kehadiran film itu dan mempertanyakan kenapa produser justru membuat film yang memicu kemarahan banyak orang. “Itu (film) kurang gawe (kurang kerjaan),”katanya.

Nuh juga menilai film itu tidak kreatif. Manusia hidup dalam peradaban yang global. Apa yang dilakukan di satu belahan bumi bisa berpengaruh pada orang-orang di belahan yang lain. “(Memproduksi) film tentang kodok kan bisa,” sahutnya.

Duta Besar Siprus Nicos Panayi mengatakan ASEM-CMM merupakan forum pertemuan yang sangat penting untuk mendialogkan antar peradaban. Karena itu, ia berpendapat, bahwa hasil pertemuan tak hanya berlangsung di tingkat pemerintahan saja. Tapi bisa disosialisasikan dan disebarkan hingga berbagai komunitas di negara masing-masing, termasuk komunitas antar agama.

ANANG ZAKARIA

Berita Lain:

Selingkuhan Rooney dan Balotelli Hamil

Di Hotel Ini, Pengguna Toilet Diintip Pejalan Kaki

Begini Nasib Keluarga Pembuat Film Anti-Islam

Munarman Terjengkang Saat Demo Film Anti-Islam

Iran Akan Kejar Pembuat Film Anti-Islam

15
Sep
12

Demokrasi : Strategi Berebut DKI-1

https://jakarta45.files.wordpress.com/2011/12/jakarta-452.png?w=637&h=609&h=609

http://www.gatra.com/nasional/1-nasional/17628-adu-strategi-berebut-dki-1Adu

Strategi Berebut DKI-1

Thursday, 13 September 2012 00:14
0 KomentarFoke-Nara mengerahkan segala daya-upaya menghadapi pilkada Jakarta putaran kedua. Foke menonjolkan program pro-rakyat, menambah koalisi parpol, dan mengubah strategi. Jokowi-Ahok mengandalkan apa yang mereka istilahkan sebagai koalisi rakyat. Lembaga survei dan pengamat politik tak berani memprediksi pemenangnya. Mengapa? —
Spanduk itu terkesan sebagai duet Foke-Nara banget. Lihatlah, di situ terpampang foto Fauzi ”Foke” Bowo, berdampingan dengan foto Nachrowi ”Nara” Ramli.
Sederet tulisan mencolok melengkapi spanduk yang ditujukan kepada warga Jakarta tersebut. Bunyinya: ”Lebaran di Kampung Betawi Bersatu untuk Jakarta”.

Siapa pun tahu, Foke-Nara merupakan pasangan calon gubernur-wakil gubernur yang akan bertarung pada pilkada DKI Jakarta putaran kedua, 20 September mendatang. Memang pada spanduk itu Fauzi Bowo disebutkan sebagai Gubernur DKI Jakarta, sedangkan Nachrowi Ramli selaku Ketua Badan Musyawarah (Bamus) Betawi. Tak ada kalimat yang menyebut mereka sebagai pasangan calon gubernur-wakil gubernur.

Toh, bagi Tim Advokasi Jakarta Baru –satu kesatuan dengan tim advokasi dan hukum pasangan calon gubernur Joko Widodo-Basuki Tjahaja Purnama– spanduk itu patut diduga melanggar hukum. ”Diduga kuat kampanye di luar jadwal,” kata Koordinator Tim Advokasi Jakarta Baru, Habiburokhman, ketika melaporkan temuannya itu kepada Panitia Pengawas Pemilu (Panwaslu) DKI Jakarta, Rabu pekan lalu.

Tim ini melampirkan laporannya dengan lima bukti foto spanduk itu. Menurut Habiburokhman, pihaknya baru menemukan spanduk-spanduk tersebut pada Rabu itu, antara lain terbentang di Jalan Letjen Suprapto, Jakarta Timur. Dari penelusuran tim diketahui, spanduk itu terpasang sejak Senin 3 September lalu.

Terlepas apakah terbukti melanggar hukum atau tidak, pemasangan spanduk-spanduk itu jelas menunjukkan bahwa kubu Foke-Nara sangat gencar melakukan upaya pencitraan menyongsong pilkada DKI putaran kedua. Spanduk paling banyak tentu saja menonjolkan sosok Foke sendirian selaku gubernur. Isinya menampilkan program-program pro-rakyat yang digulirkannya, seperti pelayanan kesehatan gratis dan pendidikan gratis sampai SMA.

Spanduk-spanduk promosi itu terpampang di sejumlah tempat. Spanduk berbau pendidikan mejeng di sekolah-sekolah, misalnya di SMK Negeri 50, Jatinegara, Jakarta Timur. Sekolah kejuruan ini memajang dua spanduk berukuran besar, sekitar 3 x 1 meter. Satu spanduk berbunyi: ”Terima Kasih Bapak Gubernur. Kami Komunitas SMK Jakarta Siap Melaksanakan Wajib Belajar 12 Tahun.” Spanduk satu lagi memuat ucapan terima kasih, lengkap dengan foto Foke berpakaian dinas sembari tersenyum sumringah.

Kebetulan atau tidak, sejumlah kebijakan pro-rakyat itu direalisasikan Pemprov DKI pada 1 Juli lalu atau hanya berselang 10 hari menjelang pilkada putaran pertama. Sementara itu, untuk program pelayanan gratis yang sudah lama diterapkan, misalnya pembuatan KTP dan surat keterangan lainnya, Pemprov DKI menjamin gratis 100% alias tak ada pungli. Di loket-loket pelayanan terpampang tulisan ”Gratis” dengan ukuran besar. Petugasnya pun mendadak telaten dan ramah serta ”anti-pungli”.

Tak berlebihan jika sejak awal timbul kesan kuat bahwa pasangan Foke-Nara bertekad memenangkan pilkada dengan banyak memanfaatkan kewenangannya sebagai Gubernur DKI Jakarta. Sebagai incumbent, Foke memang diuntungkan karena memungkinkannya menggenjot berbagai kebijakan pro-rakyat guna menarik simpati warga, tanpa perlu takut dituding berkampanye memanfaatkan fasilitas negara.

Sialnya, itu semua ternyata belum cukup untuk mendulang suara seperti yang diharapkan pasangan Foke-Nara. Yakni sekurang-kurangnya 51%, sehingga dapat memenangkan pilkada dalam satu putaran sesuai dengan kampanye yang digembar-gemborkan. Dukungan sejumlah partai politik (parpol), seperti Partai Demokrat, Partai Amanat Nasional, Partai Hanura, dan Partai Kebangkitan Bangsa, serta sejumlah parpol non-parlemen, juga nggak ngaruh banyak.

Hasil pemilu menempatkan Foke-Nara di posisi kedua (34,05%), di bawah pasangan Joko Widodo-Basuki Tjahaja Purnama (42,60%) yang berhasil mencitrakan diri sebagai sosok sederhana dan dekat dengan masyarakat Jakarta. Walhasil, pilkada DKI Jakarta 2012 terpaksa berlanjut ke putaran kedua. Kenyataan yang mengejutkan, sekaligus menjungkirbalikkan hasil survei sejumlah lembaga survei yang menjagokan Foke-Nara, ini mau tak mau membuat Foke-Nara dan tim pendukungnya ketar-ketir serta ekstra keras melakukan konsolidasi.

Gaya kampanye Foke-Nara yang jarang menyentuh langsung masyarakat pemilih, khususnya kalangan bawah, terkesan segera berubah. Jauh sebelum putaran kedua berlangsung, Foke mulai terlihat getol mengunjungi dan berdialog dengan masyarakat pingiran Jakarta. Momen bulan Ramadan silam banyak dimanfaatkan Foke untuk lebih berdekat-dekat dengan masyarakat. Foke juga terlihat berusaha merapat ke komunitas Tionghoa dan masyarakat Katolik. Senyumnya pun makin kerap tersungging di balik kumisnya yang tebal.

Foke agaknya menyadari bahwa kebijakan pro-rakyat yang digulirkannya belum begitu bergaung lantaran relatif masih baru dan belum tersosialisasi dengan baik. Untuk itulah, pihaknya menggenjot sosialisasi dengan memperbanyak spanduk, plus pemberitaan di media massa. Pada 1 September lalu, Foke juga meluncurkan fasilitas akses internet gratis, dengan memasang titik-titik Wi-Fi di sejumlah koridor busway.

Dukungan politik diperluas pula, dengan merangkul semua parpol pendukung para calon gubernur yang tereliminasi pada putaran pertama, tanpa menyisakannya buat pasangan lawan. Partai yang dirangkul belakangan itu adalah Partai Golkar, Partai Persatuan Pembangunan (PPP), Partai Keadilan Sejahtera (PKS), dan parpol non-parlemen. Sangat kentara, Foke-Nara mengerahkan segenap daya dan potensi yang ada guna memenangkan pertarungan.

Foke agaknya ingin mengulang suksesnya pada pilkada DKI 2007. Ketika itu, Foke berpasangan dengan Prijanto dan didukung banyak parpol, mengungguli pasangan Adang Daradjatun-Dani Anwar yang hanya didukung PKS.

***

Kubu Joko Widodo-Basuki Tjahaja Purnama yang populer dengan sebutan Jokowi-Ahok juga giat memantapkan strategi menyongsong pilkada DKI putaran kedua yang sudah di depan mata. Jokowi yang menjabat sebagai Wali Kota Solo, Jawa Tengah, ini bahkan merasa perlu bolak-balik Solo-Jakarta guna mengadakan pertemuan-dengan relawan, pimpinan parpol pendukung, serta menghadiri undangan berbagai pihak. Semua itu dalam rangka mengonsolidasikan kekuatan.

Maklumlah, pasangan yang didukung PDI Perjuangan dan Partai Gerindra ini banyak diterpa isu negatif. Mulai selebaran gelap berbau SARA dan spanduk liar yang mendiskreditkan mereka sampai upaya hukum resmi yang tujuannya menggoyang pasangan ini. Upaya hukum itu, antara lain, berupa laporan ke Komisi Pemberantasan Korupsi oleh kelompok yang menamakan diri Tim Selamatkan Solo, Selamatkan Jakarta, Selamatkan Indonesia.

Tim ini menuding Jokowi melakukan pembiaran terhadap dugaan korupsi Bantuan Pendidikan Masyarakat Surakarta (BPMKS) tahun 2010. Kelompok lain dengan nama Tim Pembela Masyarakat Surakarta (TPMS) menggugat Jokowi ke Pengadilan Negeri Surakarta. Penggugat –dua warga Solo bernama Paidi dan Ari Setiawan– menilai Jokowi ingkar janji terhadap warga Solo lantaran ikut bertarung pada pilkada DKI sebelum menuntaskan amanah memimpin Solo.

”Kalau Jokowi mencintai Solo, kenapa meninggalkan Solo? Ini yang membuat warga merasa diingkari,” kata Sri Hadi Fahrudin, kuasa hukum penggugat, kepada wartawan GATRA Arif Koes Hernawan. Penggugat pun menuntut Jokowi membayar ganti rugi materiil Rp 143,9 milyar dan imateriil Rp 200 milyar. Ganti rugi materiil dihitung atas dasar biaya PPB dan pajak kendaraan yang telah dibayar warga selama dua tahun –bertepatan dengan sisa masa jabatan Jokowi.

Menurut Boy Sadikin, ketua tim kampanye Jokowi-Ahok, tuduhan korupsi dan ingkar janji itu tak mendasar sama sekali sehingga tak memusingkan mereka. Jokowi bahkan menanggapinya dengan santai. ”Saya itu ikut pilkada tiga kali. Dianiaya, dilapori, itu sudah biasa. Soal yang bener-nya kayak apa, ya, tanya yang laporin, dia itu dibayar siapa,” kata Jokowi kepada GATRA. Jokowi menginstruksikan agar timnya dan para relawan tidak terprovokasi, termasuk oleh aksi teror di Solo yang sempat dikait-kaitkan dengan pilkada DKI.

Terkait dengan strategi pemenangan, menurut Sekjen PDI Perjuangan, Tjahjo Kumolo, masih tetap seputar mempertahankan kantong-kantong suara Jokowi-Ahok, dan berupaya meraup dukungan seluasnya. Ketua DPD Gerindra Jakarta, M. Taufik, menambahkan bahwa partai pendukung juga menggarap tempat-tempat Jokowi-Ahok kalah pada putaran pertama, daerah yang angka golputnya tinggi, serta daerah yang dimenangkan pasangan di luar Foke-Nara. ”Mereka ini potensial milih Jokowi-Ahok,” kata Taufik kepada wartawan GATRA Cavin R. Manuputty.

Meski tak memperoleh tambahan dukungan parpol, kubu Jokowi-Ahok tetap pede karena lebih mengandalkan apa yang mereka sebut ”koalisi rakyat”. Menurut M. Taufik, mengacu pada hasil pilkada putaran pertama, perolehan suara partai terbukti tidak berbanding lurus dengan suara masyarakat. Contohnya, Jokowi-Ahok yang didukung PDI Perjuangan dan Gerindra (pada Pemilu 2009 memperoleh total suara 18%) nyatanya meraup 42,60% suara. Berangkat dari kenyataan ini, meski Foke-Nara didukung tujuh parpol parlemen, M. Taufik yakin, perolehan suara Foke-Nara kelak belum tentu signifikan.

Keyakinan kubu Jokowi-Ahok ini mungkin tak berlebihan. Apalagi, internal sejumlah parpol pendukung Foke-Nara terkesan tak kompak. Kebijakan DPD Golkar Jakarta yang mendukung Foke-Nara, misalnya, tak mendapat restu DPP Golkar. Secara kasatmata, dukungan yang diberikan Golkar tak begitu tampak. Ketua DPD Golkar Jakarta, Priya Ramadhani, dikabarkan kurang sreg dengan Foke-Nara. Tapi Priya membantah. ”Kami tetap komit dan solid mendukung (Foke-Nara),” katanya kepada wartawan GATRA Anthony Djafar.

Begitu pula di internal PKS. Survei di internal partai ini menyebutkan, dukungan para kader lebih mengarah ke Jokowi, yakni sebanyak 30%, sedangkan dukungan ke Foke hanya 25%. Adapun sisanya menunggu keputusan pimpinan partai. Namun suara resmi yang keluar, kader PKS kompak mendukung Foke. Nantinya tim Foke dan tim PKS bekerja sendiri-sendiri. ”Pemetaan dan pembagian (tugas) dilakukan di awal. Selebihnya, kami minta kebebasan,” kata juru bicara PKS, Mardani Ali Sera, kepada Rach Alida Bahaweres dari GATRA.

Di antara parpol yang belakangan mendukung Foke-Nara, agaknya hanya PPP yang terkesan cukup solid. Setidaknya, tak ada bisik-bisik yang menyebutkan bahwa dukungan partai ini terpecah. Wakil Sekjen PPP, Ridho Kamaluddin, menegaskan bahwa pihaknya sudah menyusun strategi untuk mengunduh suara, seperti mengerahkan pengurus partai untuk turun ke masyarakat. Ridho optimistis, partainya mampu mendongkrak perolehan suara Foke. Apalagi, katanya pula, sejak putaran pertama, banyak orang PPP yang menjadi relawan Foke-Nara.

***

Siapakah yang bakal merebut kursi DKI-1? Masih sulit memprediksinya, mengingat putaran kedua ini sama sekali tidak diwarnai survei elektabilitas pasangan calon. Meski begitu, Direktur Riset Lingkaran Survei Indonesia, Arman Salam, memperkirakan bahwa Foke-Nara lebih unggul dibandingkan dengan Jokowi-Ahok. Alasannya, ”Incumbent biasanya memanfaatkan posisinya melalui birokrasi. Misalnya dengan merealisasikan program-program pro-rakyat,” kata Arman.

Soal dukungan parpol, menurut Arman, tak terlalu berpengaruh pada perolehan suara calon yang diusung, kecuali mesin politik partai itu mampu menggalang dukungan. Hal ini diamini Burhanudin Muhtadi, Direktur Komunikasi Lembaga Survei Indonesia. Pengamat politik ini membagi dua teori, paralel dan split. Teori paralel, jika dukungan partai berbanding lurus dengan dukungan massa di bawahnya. Sedangkan teori split, terjadi ketidaksesuaian antara dukungan partai dan massa di bawahnya.

Sejauh ini, dalam pengamatan Burhanuddin, PDI Perjuangan dan Gerindra masuk dalam teori pararel. Kendati begitu, ia tak mau menyampaikan prediksi siapa yang unggul dalam putaran kedua nanti. ”Saya tidak bisa menyampaikan (prediksi) jika tidak didukung data,” katanya kepada Ade Faizal Alami dari GATRA.

Senada dengan Burhanuddin, M. Qodari juga enggan menyinggung prediksi menyangkut siapa yang bakal memenangkan pilkada DKI, dengan alasan tidak punya data. Yang jelas, kata Qodari, pada pilkada ini Foke sebagai incumbent memiliki beban berat. Dua masalah besar yang menghantui Jakarta selama ini, yakni banjir dan kemacetan, belum bisa ditanggulanginya.

Menurut Qodari, terhadap incumbent, masyarakarat cenderung melihat ke belakang, melihat realitas, bukan janji. Ia yakin, masyarakat Jakarta pasti masih ingat betul tagline yang diangkat Foke pada pilkada DKI 2007, yakni ”Serahkan Pada Ahlinya”. Nyatanya, banjir dan kemacetan masih menjadi masalah besar. ”Kalau masalah-masalah itu sudah diselesaikan, saya kira tagline-nya saat ini adalah ‘Saya Memang Ahlinya’,” ucap Qodari, agak berseloroh.

Lalu, siapa yang bakal menjadi pemenang pilkada yang hiruk-pikuk itu? Yang pasti, siapa pun pemenangnya, masalah banjir dan kemacetan diperkirakan masih akan tetap menghantui Jakarta. Nasib…!

(Taufik Alwie, Sandika Prihatnala, Bernadetta Febriana, dan Andya Dhyaksa)Laporan Utama Majalah GATRA edisi 18/45, terbit Kamis 13 September 2012

Foke Sindir Jokowi Tidak Amanah

TEMPO.COTEMPO.CO –

TEMPO.CO, Jakarta – Calon Gubernur DKI Jakarta inkamben, Fauzi Bowo menyindir rivalnya, Joko Widodo dalam pemilihan putaran kedua. “Ini kumis amanah, tidak bakal kabur dari Jakarta,” kata Fauzi Bowo saat berkampanye di Jalan Delima Ujung RW 6, Kelurahan Jatipulo, Jakarta Barat, Sabtu 15 September 2012.

Fauzi menyebut, meskipun ditawari jabatan kursi wakil presiden, dia dan pasangannya Nachrowi Ramli tidak akan meninggalkan masa jabatan. Dia beralasan Jakarta sebagai tanah kelahiran dirinya. “Saya bakal bekerja keras untuk Jakarta,” kata dia.

Sindiran Fauzi Bowo ini tentu ditujukan kepada Joko Widodo yang meninggalkan masa jabatannya sebagai Wali Kota Surakarta untuk bertarung dalam pemilihan Gubernur DKI Jakarta. Menurut dia, jangan sampai amanah belum dituntaskan tetapi sudah pindah ke tempat lain. “Itu namanya tidak amanah kepada janji,” kata dia.

Dalam debat kandidat calon Gubernur DKI Jakarta di Hotel Gren Melia, Jumat malam, Foke juga sempat menyentil Joko Widodo dalam paparan penutupnya. “Kami akan bertanggung jawab sampai akhir masa jabatan, itu pasti,” kata Foke.

WAYAN AGUS P

Berita terpopuler lainnya:

Jokowi Kunjungi Basis Pendukung Foke

Jika Menang, Jokowi Akan Ubah Wajah Jakarta

Spanduk ”Jangan Pilih Gua Lagi..!” Bertahan 13 Jam 

Masalah Kemanan DKI, Pro-Foke Tersulut Joko Widodo

Ganti Baju Kotak, Tentara Dilarang Masuk Ruang

Jokowi Berencana Bangun Usaha Rumah Tangga

Jokowi Batal Jumatan Bersama Foke

Joko Widodo-Ahok Tawarkan Kampung Susun

Berita Lainnya

  • Sabtu, 15/09/2012 13:22 WIB

    Survei SMRC: Jokowi Kalah Ganteng dari Foke, Tapi Lebih Ramah

    Elvan Dany Sutrisno – detikNews
    Berbagi informasi terkini dari detikcom bersama teman-teman Anda

    Jakarta Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) mengadakan survei menyambut putaran dua Pilgub DKI Jakarta. Calon gubernur Fauzi Bowo (Foke) mayoritas masyarakat lebih ganteng ketimbang rivalnya, Joko Widodo (Jokowi).

    “Fauzi Bowo cenderung unggul citra berwibawa, enak dipandang, dan tidak cacat moral. Sedangkan Jokowi unggul dalam citra bisa dipercaya dan bersih dari korupsi, menyenangkan, ramah, hangat, dan perhatian kepada rakyat,” demikian temuan survei Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) yang dipublikasikan melalui situs resminya saifulmujani.com, Sabtu (15/9/2012).

    Survei ini juga menyimpulkan Warga DKI hampir semuanya sudah mengenal Foke (95 persen) di atas Jokowi yang baru dikenal (83 persen). Namun demikian kualitas popularitas Jokowi sedikit lebih di atas Foke, yang suka pada Jokowi (diantara yang tahu) sekitar 71 persen dan yang suka pada Foke (67 persen).

    Survei ini diadakan dalam kurun waktu 7-11 September 2012. Sampel awal yang digunakan 1.000 responden yang dipilih secara acak dari data pemilih tetap Pilgub DKI. Dari target 1.000 responden, sebanyak 501 orang berhasil diwawancarai, sisanya 499 orang tidak bisa diwawancarai

    karena berbagai alasan.

    Berdasarkan survei ini, 67 persen responden menilai Foke terlihat ganteng dan enak dipandang. Sementara Jokowi hanya digandrungi (51) persen responden, disusul Nachrowi Ramli (Nara) dengan 62 persen dan Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) dengan 65 persen. Sebanyak 74 persen responden memandang Foke berwibawa, sementara 68 persen responden memandang Jokowi berwibawa. Nara dinilai berwibawa oleh 71 persen responden disusul Ahok dengan 63 persen responden.

    Foke dinilai mampu memimpin oleh 57 persen responden, Jokowi sedikit di atas dengan 58 persen responden. Sementara Nara yang dipuji 51 persen responden bersaing tipis dengan Ahok yang didukung 50 persen responden seoal kewibawaannya. Jokowi dianggap 57 persen responden lebih bersih dari korupsi dari Foke (46 persen). Sementara Nara dan Ahok sama-sama dinilai bersih dari korupsi oleh 43 persen responden.

    Sebanyak 80 persen responden menilai Foke pintar dan berwawasan luas, sementara Jokowi dinilai oleh 79 persen responden berwawasan luas. Sementara Nara didukung 61 persen responden disusul Ahok yang dianggap pintar oleh 73 persen responden.Jokowi dianggap sebagai cagub yang menyenangkan, hangat, dan ramah oleh 74 persen responden, diatas Foke (63 persen). Sementara Nara (53 persen responden) bersaing tipis dengan Ahok (56 persen).

    Sebanyak 75 persen responden menilai Jokowi perhatian kepada rakyat. Sementara Foke dinilai 60 persen responden perhatian kepada rakyat, disusul Ahok (52 persen), dan Nara (45 persen). Foke juga dipandang oleh 64 responden sebagai cagub yang tegas, Jokowi dinilai tegas oleh 63 persen responden, disusul Nara (61 persen), dan Ahok (54 persen).

    (van/ndr)

    Baca Juga

    Jumat, 14/09/2012 21:36 WIB

    Foke kepada Jokowi: Anda Bisa Jadi Masalah Bagi Masyarakat

    Jumat, 14/09/2012 21:12 WIB

    Jokowi Pamerkan 2 Kartu “Sakti” di Depan Foke
14
Sep
12

Hikmah : Empat Tipe Manusia di Masyarakat dan lain lain

Hikmah

Jumat, 14 September 2012, 17:42 WIB
Empat Tipe Manusia di Masyarakat
Oleh: Dr Muhammad Hariyadi, MAAllah SWT menciptakan manusia dan memberinya peran yang berbeda-beda antara satu dengan yang lain. Semua peran tersebut merupakan pilihan manusia dalam qadar Allah. Setiap manusia bebas…
Jumat, 14 September 2012, 04:00 WIB
 Spirit Haji untuk Membangun Masyarakat Berakhlakul Karimah
REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Dr HM Harry Mulya Zein  Labaik Allahumma Labaik. Panggilan haji kembali tiba. Mulai 21 September 2012, jamaah Haji Indonesia mulai diberangkatkan ke tanah suci Makkah dan Madinah.Haji…
Kamis, 13 September 2012, 16:25 WIB
Memuliakan Perempuan
REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Ustadz Toto TasmaraIbu adalah sosok perempuan yang menjadi pusat kerinduan anak-anaknya yang cemas karena berpisah atau tersesat saat asyik bermain yang melalaikan. Seperti planet dan galaksi, mereka…
Rabu, 12 September 2012, 10:56 WIB
Subhanallah, Inilah Keutamaan Basmalah
REPUBLIKA.CO.ID,  Oleh Moch HisyamDalam kitab an-Nawadir, karya Ahmad Syihabudin bin Salamah al-Qalyubiy dikisahkan, ada seorang Yahudi yang mencintai seorang wanita sampai tergila-gila. Akibatnya, ia merasa makan dan minum tak…
Selasa, 11 September 2012, 13:58 WIB
Sinergi Empat Tuntunan Ilahi
Oleh: Ina Salma FebrianiMemiliki akhlak mahmudah (akhlak baik), diperlukan niat teguh dalam hati serta usaha untuk mengisinya dengan ibadah yang konsisten dalam kehidupan sehari-hari.Sebaliknya, memiliki akhlak madzmumah (akhlak buruk),…
Selasa, 11 September 2012, 11:34 WIB
 Menyelami Nikmat Allah
REPUBLIKA.CO.ID, Oleh Makmun NawawiDikisahkan, suatu hari di sebuah negeri, matahari tidak terbit. Para petani bangun pagi-pagi agar bisa berangkat ke sawah dan ladangnya, namun keadaan gelap gulita. Para pegawai…
Senin, 10 September 2012, 21:10 WIB
Sebab-Sebab Turunnya Keberkahan
Oleh: Dr Muhammad Hariyadi, MAKeberkahan bukanlah pemberian Allah yang tiba-tiba dengan tanpa sebab diturunkan kepada seseorang. Keberkahan merupakan sesuatu yang senantiasa diminta dan harus diupayakan oleh setiap manusia kepada…
Senin, 10 September 2012, 12:38 WIB
Dikejar Bayang-Bayang
REPUBLIKA.CO.ID, Oleh Prof Yunahar IlyasSiang itu, Wahsyi begitu bersemangat dan ceria. Senyum terus tersungging di bibirnya. Janji Hindun, istri Abu Sufyan, selalu terngiang di telinganya: “Wahsyi, jika kau berhasil…
Senin, 10 September 2012, 06:25 WIB
Berkah dan Balasan Sedekah
Oleh: Moch Hisyam      Dalam perjalanan menuju Makkah untuk menunaikan ibadah haji, Abdullah ibnu Mubarak, ulama termasyhur abad ke-12 (1118 M/797 H) singgah di Kota Kufah, Irak. Di kota itu,…
Sabtu, 08 September 2012, 18:23 WIB
Mengharap Berkah Allah
Oleh: Dr Muhammad Hariyadi, MABerkah berarti selamat, tetap, langgeng baik, bertambah, tumbuh dan membahagiakan. Keberkahan datangnya dari Allah bukan dari manusia. Oleh karenanya, meminta keberkahan harus pula kepada-Nya, bukan…
14
Sep
12

Lingkungan : Mangrove pelindung pesisir pantai

7 September 2012

Laporan:

Mangrove melindungi pemukiman pesisir terhadap gelombang angin

Ede, Belanda – Sebuah laporan terbaru oleh The Nature Conservancy dan Wetlands International membuktikan bahwa hutan mangrove melindungi pemukiman pesisir terhadap dan gelombang angin ekstrem. Hutan mangrove dengan ketebalan mangrove minimal 100 meter mengurangi tinggi gelombang sebanyak 66% sehingga dapat mencegah banjir dan kerusakan infrastruktur pesisir. Dengan semakin banyaknya pemukiman pesisir di Indonesia yang rentan terhadap dampak dari gelombang, organisasi-organisasi ini mengatakan pengelolaan mangrove perlu diperhatikan dan masuk dalam kebijakan adaptasi perubahan iklim dan upaya pengurangan risiko bencana untuk daerah pesisir di seluruh dunia.

Populasi penduduk di daerah pesisir sangat rentan terhadap dampak dari peristiwa ekstrim seperti badai dan angin topan. Lahan basah pesisir seperti hutan mangrove sangat berkontribusi pada keamanan, ketahanan pangan dan pendapatan puluhan juta orang di seluruh daerah tropis, termasuk di Indonesia. Laporan terbaru dari oleh LSM Internasional The Nature Conservancy (TNC) dan Wetlands International (WI) menyatukan penelitian ilmiah terbaru dari para ahli konstruksi dan ekologi mengenai perlindungan pantai terhadap gelombang angin. Laporan ini menyimpulkan bahwa “mangrove dengan ketebalam minimual 100 meter dapat mengurangi ketinggian gelombang angin: tinggi gelombang dapat berkurang antara 13 sampai 66%”.

Penulis Anna McIvor (TNC): “Gelombang paling cepat berkurang ketika mereka melewati hambatan dengan kepadatan yang lebih besar. Ini berarti bahwa mangrove dengan akar napas meredam gelombang di perairan dangkal lebih cepat daripada mangrove yang tidak memiliki akar napas”. Dia menambahkan bahwa “pada kedalaman air yang lebih besar, gelombang dapat melewati akar napas, tapi kemudian cabang-cabang yang lebih rendah memiliki fungsi yang sama.” Laporan ini menguraikan bahwa kemiringan pantai dan ketinggian gelombang juga mempengaruhi tingkat pengurangan gelombang oleh mangrove.

Walaupun sabuk mangrove yang sempit masih dapat mengurangi pengaruh gelombang angin, namun untuk perlindungan terhadap gelombang badai dibutuhkan area mangrove yang lebih besar. Selain itu, hutan mangrove menyediakan banyak servis ekosistem penting lainnya, seperti kayu, sumber pangan, daerah perlindungan untuk perikanan dan penyerapan karbon, sehingga habitat mangrove yang luas harus dipertahankan atau dipulihkan dilokasi yang masih memungkinkan.

Wetlands International telah memiliki lebih dari satu dekade pengalaman dalam melindungi dan memulihkan hutan mangrove di Indonesia. Direktur Wetlands International Indonesia Program Nyoman Suryadiputra telah melihat langsung kesimpulan dari laporan ini: ” desa-desa pesisir di Aceh dan Jawa Tengah sekarang mendapatkan perlindungan yang lebih besar karena mangrove yang kita restorasi bersama”.

Mangrove untuk perlindungan pesisir

Untuk memperkuat peran hutan mangrove untuk perlindungan di pesisir, hutan mangrove harus dikelola dengan tepat. Laporan ini menunjukan bahwa ahli konstruksi pesisir sudah mulai melakukan pemodelan bagaimana gelombang mengalir melalui mangrove untuk memahami tingkat perlindungan yang diberikan dan bagaimana untuk meningkatkan peran tersebut. Pengelolaan yang tepat meliputi perlindungan kawasan mangrove yang masih alami, dan restorasi atau penanaman mangrove di daerah terdegradasi atau rusak, di mana kondisi setempat telah terbukti dapat mendukung pembentukan bibit mangrove baru. Laporan ini lebih lanjut menunjukkan bahwa hutan mangrove yang lebat, termasuk spesies dengan akar napas dapat memberikan tingkat perlindungan tertinggi terhadap gelombang angin.

Wetlands International Indonesia Program saat ini bekerja di provinsi Nusa Tenggara dan Jawa untuk mengembangkan daerah buffer hijau mangrove untuk melindungi wilayah pesisir.Bersama masyarakat setempat saat ini telah lebih dari setengah juta pohon mangrove ditaman. “Mangrove adalah cara terbaik dan termurah untuk melindungi wilayah pesisir. Kita perlu melindungi dan memulihkan infrastruktur alami seperti ini di seluruh Indonesia” himbau Nyoman Suryadiputra.

Penelitian lebih lanjut

Dengan adanya bukti bahwa mangrove dapat meredam gelombang angin, Anna McIvor mengatakan masih ada kebutuhan mendesak untuk lebih memahami peran ekosistem dalam perlindungan pesisir seperti terhadap tsunami, kenaikan muka laut dan erosi. Dengan laporan teknis pertama ini, The Nature Conservancy dan Wetlands International akan meluncurkan serangkaian makalah teknis yang akan membahas topik-topik tersebut.

Contact:

Vera Coelho

Communications and Advocacy Officer

Vera.coelho@wetlands.orgFemke Tonneijck

Mangrove Capital Project Manager

Femke.tonneijck@wetlands.orgTel.

+31 318 660910NOTES:

Report details:

McIvor, A.L., Möller, I., Spencer, T. and Spalding. M. (2012) Reduction of wind and swell waves by mangroves. Natural Coastal Protection Series: Report 1. Cambridge Coastal Research Unit Working Paper 40. Published by The Nature Conservancy and Wetlands International. 27 pages. ISSN 2050-7941.

URL:

http://www.naturalcoastalprotection.org/documents/reduction-of-wind-and-swell-waves-by-mangrovesMangrove work by Wetlands InternationaI:

http://www.wetlands.org/Whatwedo/Mangrovesforcoastalresilience/tabid/174/Default.aspxMangrove work by TNC:

http://coastalresilience.org/Ringkasan Eksekutif

Populasi penduduk di daerah pesisir sangat rentan terhadap dampak dari peristiwa ekstrim seperti badai dan angin topan, dan tekanan-tekanan tersebut dapat diperburuk oleh pengaruh perubahan iklim dan kenaikan permukaan laut. Ekosistem pesisir seperti hutan mangrove semakin sering dipromosikan dan digunakan sebagai alat dalam strategi pertahanan pesisir. Namun, masih ada kebutuhan mendesak untuk lebih memahami bagaimana peran ekosistem dalam perlindungan pantai. Laporan ini berfokus pada hutan mangrove dan peran mereka dalam mengurangi dampak angin dan gelombang. Hutan mangrove biasanya ditemukan di pantai dengan energi gelombang yang kecil, tetapi mangrove terkadang terkena gelombang besar pada waktu badai, topan dan periode angin kencang. Gelombang besar dapat menyebabkan banjir dan kerusakan infrastruktur pesisir. Dengan mengurangi energi dan tinggi gelombang, mangrove berpotensi berpotensi dapat mengurangi kerusakan akibat gelombang tersebut.

Semua bukti menunjukkan bahwa mangrove dapat mengurangi ketinggian gelombang: tinggi gelombang dapat dikurangi antara 13 sampai 66% dengan ketebalan mangrove 100 m. Tingkat pengurangan tertinggi tinggi gelombang per satuan jarak terjadi dekat tepi mangrove, dimana gelombang memulai perjalanannya melalui mangrove.

Terdapat sejumlah karakteristik mangrove yang mempengaruhi laju pengurangan tinggi gelombang persatuan jarak, terutama struktur fisik dari pohon. Gelombang semakin cepat berkurang ketika melewati kepadatan hambatan yang lebih besar . Bakau dengan akar napas akan menipiskan gelombang di perairan dangkal lebih cepat daripada mangrove yang tidak memiliki akar napas. Pada kedalaman air yang lebih besar, gelombang dapat melewati di atas akar udara, tetapi cabang-cabang yang rendah dapat berfungsi yang sama dengan akar napas. Kemiringan pantai dan ketinggian gelombang juga mempengaruhi tingkat pengurangan gelombang melalui mangrove.

Untuk memahami tingkat perlindungan yang diberikan oleh hutan mangrove, dan untuk merencanakan bagaimana untuk meningkatkan tingkat perlindungan tersebut, perjalanan gelombang melalui mangrove telah dimodelkan secara numerik menggunakan pemodelan gelombang standar yang digunakan oleh para insinyur pesisir disebut SWAN (Simulasi WAvesNearshore) (Suzuki et al., 2011), serta model yang dikembangkan khusus untuk gelombang di hutan bakau disebut WAPROMAN (WAvePROpagation di Hutan Mangrove) (Vo-Luong dan Massel, 2008). Model ini dapat memprediksi tingkat atenuasi gelombang dengan memasukan karakteristik mangrove, parameter gelombang dan informasi batimetri lokal dan topografi. Sebuah model statistik juga telah dikembangkan untuk mengeksplorasi hubungan antara beberapa standar pengukuran hutan (tinggi pohon, kerapatan pohon dan penutupan kanopi) dan atenuasi gelombang dengan jarak (Bao, 2011). Model ini telah mampu memprediksi pengurangan gelombang dalam mangrove di Vietnam di mana model ini dikembangkan, dan dapat digunakan untuk menentukan lebar sabuk mangrove yang diperlukan untuk memberikan tingkat standar perlindungan dari gelombang.

Walaupun, ada konfirmasi umum bahwa mangrove dapat meredam gelombang, namun penelitian telah difokuskan pada gelombang kecil (tinggi gelombang <70 cm), dan ada kebutuhan untuk mengukur redaman angin dan gelombang lebih besar terkait dengan kedalaman air yang lebih besar, yang mungkin terjadi selama badai. Lebih banyak dataset juga dibutuhkan untuk menguji validitas model yang ada untuk kondisi gelombang yang berbeda dan di daerah dengan berbagai jenis hutan mangrove dan topografi yang berbeda.




Blog Stats

  • 3,373,338 hits

Recent Comments

Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Sejarah : Bangsa Lemuria, Lelu…