Posts Tagged ‘Arts & Culture

21
Oct
09

Seni Suara : Kikan Cokelat Ingatkan Soal Pembajakan

Kikan “Cokelat” Ingatkan SBY-Boediono Soal Pembajakan
Rabu, 21/10/2009
Dok. Cokelat.net
Kikan
Artikel Terkait:
  • Kikan Kaget Video Klipnya Dicekal ..

JAKARTA, KOMPAS. com – Susilo Bambang Yudhoyono dan Boediono resmi dilantik sebagai presiden dan wakil presiden Indonesia. Sejumlah tugas berat pun akan diembannya selama lima tahun ke depan. Berbagai pengharapan kembali disuarakan sejumlah komponen bangsa.

Kikan, vokalis grup band Cokelat, misalnya, mengingatkan pemimpin bangsa ini betapa pentingnya industri kreatif termasuk musik dalam meningkatkan pertumbuhan ekonomi Indonesia di masa mendatang. Karenanya, ia meminta pemerintah untuk lebih berperan aktif dalam memberantas pembajakan.

“Sebagai musisi saya pribadi berharap minimal adanya menurunan aksi pembajakan. Hukum di negeri ini harus dibenahi. Harus ada hukum yang lebih tegas di Indonesia untuk masalah pembajakan,” harap Kikan ditemui di Studio RCTI Kebon Jeruk, Jakarta Barat, kemarin.

Secara ekonomi kerugian yang muncul karena pembajakan tak sedikit. Bayangkan saja, nyaris 100 persen karya-karya yang beredar di pasaran adalah barang bajakan. “Kalau kerugian secara materil sebenarnya enggak bisa dihitung. Karena dari 100 persen karya kita yang asli, 96 persen bajakan yang beredar di pasar. Buat kita itu sangat memprihatinkan,”  jelas  Kikan.

Sejumlah upaya telah dilakukan untuk memerangi masalah pembajakan. Misalnya, mengkampanyekan kepada penggemar agar tak membeli bajakan dan memerangi pembajak dengan terus berkarya.  “Sebagai musisi kita enggak boleh menyerah dan berhenti untuk berkarya. Jangan stop berkarya. Kita harus terus suarakan virus positif agar mental musisi kuat,” tutur Kikan.

“Kalau cokelat, positif thinking aja. Di manapun kita manggung kita selalu suarakan agar tidak membeli karya bajakan,” lanjut Kikan. (C9-09)

19
Oct
09

Seni Budaya : Indonesia Channel 2009, Solo

IndonesiaChannel2009

Senin, 19 Oktober 2009 07:58 WIB | Hiburan | Seni/Teater/Budaya |
Indonesia Channel 2009 Tunjukkan Kekayaan Budaya Indonesia
Indonesia Channel 2009 Tunjukkan Kekayaan Budaya Indonesia
Peserta menampilkan karya-karya seni budaya Indonesia dalam pergelaran Indonesia Channel 2009 di Pura Mangkunegaran, Solo, Jateng (18/10). (ANTARA/Andika Betha/*)

Solo (ANTARA News) – Pentas kesenian “Indonesia Channel 2009” yang dilakukan oleh 50 seniman asing dari 31 negara di Pamedan Puri Mangkunegaran, Kota Solo, Jawa Tengah, Minggu malam (18/10), menunjukkan kekayaan budaya Indonesia.

Sejumlah tarian, musik tradisional, hingga kesenian kontemporer yang merupakan kolaborasi dari kesenian-kesenian daerah di sejumlah daerah di Indonesia, disajikan dalam sebuah pertunjukan yang diselenggarakan Departemen Luar Negeri Republik Indonesia sebagai penutup program Beasiswa Seni Budaya Indonesia (BSBI) 2009.

Pertunjukkan dibuka oleh kolaborasi antara kesenian barongsai, Tari Sesinggaan khas Jawa Barat, dan Tari Sesaji khas Solo yang dilakukan sejumlah seniman Indonesia untuk menyambut kedatangan tamu undangan yang terdiri dari sejumlah perwakilan kedutaan besar negara-negara penerima BSBI.

Ribuan penonton yang memadati Pamedan Puri Mangkunegaran tersebut memberikan sambutan meriah saat 11 seniman asing, dari India, Azerbaijan, Fiji, Papua Nugini, Singapura, dan Belanda, yang belajar di Sanggar Seni Saung Angklung Udjo, Bandung, tampil di atas panggung memainkan kesenian musik angklung.

Paduan musik angklung dengan sejumlah alat musik perkusi tersebut berhasil membawa penonton untuk ikut bertepuk tangan dan bernyanyi mengikuti irama tiga lagu yang dimainkan, Indonesia Pusaka karya Ismail Marzuki, Black or White karya Michael Jackson, dan Lupa-lupa Ingat karya Kuburan Band.

Usai penampilan dari 11 seniman asing tersebut, tiga kelompok senimman asing lainnya yang belajar kesenian dan kebudayaan Indonesia di Solo, Yogyakarta, dan Denpasar, bergantian tampil di atas panggung.

Mereka menampilkan sejumlah kesenian tari dan musik dari tiga daerah tersebut, seperti tari Nawung Sekar dan tari Kuda-kuda dari Solo, Karawitan Bali, dan seni drama tari (sendratari) Sondokoro dari Yogyakarta.

Pada bagian lain dalam pertunjukan tersebut, empat kelompok seniman asing tersebut kembali menampilkan kesenian-kesenian Indonesia lainnya, seperti rampak kendang, karawitan Surakarta, tari Pendet dan Baris Gede dari Bali, tari Angguk Putri, dan pencak silat.

Sebanyak 50 seniman asing yang tampil secara berturut-turut terlihat lihai dalam mempertunjukkan kebolehan mereka.

Seorang seniman dari Fiji yang menjadi peserta dalam program BSBI 2009, Iliesa mengatakan, dalam pertunjukkan tersebut menunjukkan bahwa Indonesia memiliki keragaman budaya yang merupakan kekayaan bangsa tersebut.

“Di setiap gerakan dan alunan musik memiliki arti dan filosofi tersendiri. Saya sangat menikmati kesenian-kesenian Indonesia yang saya praktekkan dalam pentas tersebut,” kata dia.

“Usai program ini, saya juga akan mempraktekkan dan mengajarkan kebudayaan Indonesia yang saya pelajari. Satu hal yang menarik adalah adanya pusat-pusat kebudayaan di Indonesia sebagai tempat pembibitan dan pertunjukkan kesenian-kesenian setempat,” kata dia.

Ilieasa mengatakan, hal tersebut yang tidak ada di negaranya, “Saya akan menyampaikan kepada Pemerintah Fiji untuk membangun pusat-pusat kebudayaan Fiji,”.

Sementara itu, Menteri Luar Negeri RI, Hasan Wirajuda mengatakan, dia memberi apresiasi dan salut kepada 50 peserta program BSBI 2009, “Kebudayaan dan kesenian Indonesia yang mereka pelajari dapat mereka praktekkan secara lihai,”.

“Saya yakin melalui kebudayaan seperti ini dapat menjadikan alat diplomasi yang bagus bagi Indonesia kepada negara-negara lain di dunia,” kata Hasan yang pada kesempatan tersebut juga berpamitan usai masa jabatannya berakhir.

Selain itu, lanjut Hasan Wirajuda, seni dan budaya menjadi alat pemersatu bangsa yang sangat efektif, “Kesenian pada akhirnya memiliki bahasa yang global, dapat dipraktikkan dan dinikmati oleh semua bangsa,”.

Pentas yang berakhir Minggu, sekitar pukul 23:00 WIB, tersebut diakhiri dengan kolaborasi seni dan budaya Indonesia oleh 50 peserta program BSBI 2009.

Selain 50 peserta BSBI 2009 tersebut, “Indonesia Channel 2009” juga menampilkan sejumlah seniman dan artis Indonesia, seperti Tia AFI dan Baim.(*)

COPYRIGHT © 2009

16
Oct
09

Khazanah : Safi al-Din al-Urmawi, Musisi Abbasiyah

Safi al-Din al-Urmawi

By Republika Newsroom
Safi al-Din al-Urmawi Musisi Gaek dari Kekhalifahan Abbasiyah
Rabu, 16 September 2009 pukul 08:49:00

Safi al-Din al-Urmawi Musisi Gaek dari Kekhalifahan Abbasiyah

Pada abad ke-13 M, peradaban Islam memiliki seorang musikus ulung. Dia dikenal sebagai pencipta musik yang hebat di dunia Islam. Musikus Muslim legendaris itu bernama  Safi al-Din al-Urmawi. Di era keemasan Islam, al-Urmawi telah menggunakan tujuh belas nada dalam menciptakan musik-musiknya.

Nada-nada  yang diciptakannya itu, lalu dikembangkan bangsa Arab. Hasilnya, terciptalah musik-musik yang merdu dan enak didengar. Menurut sejumlah catatan sejarah, al-Urmawi terlahir di Urmia pada 1216 M  dan  tutup usia pada 1294  M di ibukota Kekhalifahan Abbasiyah,  Baghdad.

Para sejarawan memperkirakan, dari asal-usul etnis keluarganya, al-Urmawi merupakan keturunan Persia dari Quthb al-Din al-Syiraz,i yang sering disebut sebagai Afdhal-i Iran yang artinya adalah seorang yang bijaksana yang berasal dari Iran. Pada masa mudanya, al-Urmawi hijrah dari tanah kelahirannya untuk menimba ilmu di metropolis intelektual dunia pada masa itu, yakni  Baghdad.

Di kota yang sangat terkenal itu, al-Urmawi mendapatkan pendidikan tentang bahasa Arab, sastra, sejarah juga seni tulisan tangan. Bahkan, dia juga mempelajari  kaligrafi dan menjadikannya seorang ahli kaligrafi terkenal. Lalu dia diberi jabatan sebagai seorang ahli penyalin di perpustakaan yang dibangun oleh Khalifah Abbasiyah, al-Musta?im.

Selain mempelajari dan menguasai berbagai macam ilmu, al-Urmawi juga mempelajari ilmu hukum Syafi’i dan hukum perbandingan (Khilaf Fiqh) di Madrasah Mustansiriyya yang berdiri pada  1234. Kepandaiannya dalam kedua ilmu hukum tersebut membuatnya memenuhi syarat untuk mendapatkan pekerjaan sebagai administrator yuridis al-Mustasim pada  1258.

Setelah itu, kariernya kian moncer. Al-Urmawi kemudian dipercaya sebagai  kepala pengawas yayasan (nazhariyyat al-wakaf) di Irak, sampai 1267, ketika Nasir al-Din Tusi mengambil alih kekuasaan di Irak. Selain berkiprah di bidang pemerintahan, al-Urmawi pun mulai dikenal sebagai seorang musisi terkemuka.

Ia mendedikasikan dirinya sebagai seorang musisi dan pemain kecapi yang berbakat. Kehebatannya dlam bidang Muslim membuatnya menjadi seorang anggota pemain musik  terkenal pada masa itu. Talentanya yang sangat tinggi dalam bidang musik, membuatnya tetap bisa bertahan hidu,p pada saat jatuhnya Baghdad ke tangan Hulagu.

Ketika Baghdad dihancurkan bangsa Mongol, al-Urmawi justru mendapatkan perlakuan istimewa dari Hulagu Khan. Pemimpin bangsa Mongol itu  sangat terkesan dengan kehebatan al-Urmawi.  Sang musisi pun mendapatkan gaji yang besarnya dua kali lipat dari pendapatannya di era kepemimpinan Dinasti Abbassiyah.

Karier musik Al-Urmawi pun semakin berkibar. Ia mendapat dukungan dari keluarga Juvayni, terutama oleh Syams al-Din Muhammad dan putranya Sharaf Din Harun. Namun, setelah para pendukungnya tersebut mendapatkan hukuman mati, Al-Urmawi mengalami kejatuhan dan keterpurukan. Dia terlupakan dan jatuh miskin. Bahkan dia dijebloskan ke dalam tahanan karena didakwa berutang sebanyak 300 dinar. Hingga akhirnya dia meninggal  Madrasah al-Khalil di Baghdad.

Sebagai seorang komposer, Al-Urmawi dikenal sebagai seorang yang mengembangkan bentuk vokal sawt, awl dan nawba. Dia juga dikenal sebagai orang yang menemukan dua alat musik dawai yaitu nuzha dan mughni. Bahkan dawai masih menjadi alat musik yang disukai hingga zaman modern ini.

Karya milik al-Urmawi yang paling penting adalah dua bukunya dalam bahasa Arab yang merupakan teori musik. Buku teori musik tersebut berjuduk  Kitab al-Adwar dan risalah  al-Sharafiyya fil Nisab al-Talifiyya. Bukunya yang berjudul  Kitab al-Adwar dikerjakannya saat  masih bekerja di perpustakaan al-Mustasim.

Khalifah al-Mustasim dikenal sebagai pemimpin  yang sangat  menyukai merdunya bunyi-bunyian dari berbagai macam musik.  Kitab al-Adwar, merupakan kitab pertama yang mengembangkan sejumlah teori musik ilmiah yang sebelumnya  telah ditulis oleh Ibnu Sina.

Kitab itu berisi informasi yang berharga mengenai berbagai macam praktik dan teori musik di Persia serta di Irak,  seperti penciptaan lima senar kecapi yang belum pernah dilakukan pada masa Ibnu Sina. Selain itu, kitab tersebut juga berisi tahap akhir dalam pembagian oktaf menjadi 17 langkah, tata nama lengkap dan definisi timbangan yang merupakan sistem dari dua belas Makams (disebut shudud) dan enam Awaz.

Kitab ini juga berisi gambaran tepat tentang musik kontempore, dan penggunaan huruf dan angka untuk notasi melodi. Kitab karya al-Urmawi  itu tercatat sebagai  karya yang unik dan memiliki nilai terbesar. Kitab tersebut juga menggambarkan dominasi musik lokal Arab dan Persia dalam tradisi musik Arab.

Kitab al-Adwar yang isinya ringkas dan padat tersebut menjadi salah satu buku teori musik yang paling populer pada abad itu. Bahkan buku tentang musik itu memiliki pengaruh yang besar selama berabad-abad. Buku tersebut disalin baik dalam bahasa Arab, Persia, maupun Turki.

Pada masa Kekhalifahan Turki Usmani, kitab tersebut disalin hingga beberapa kali. Bahkan buku tersebut juga telah disalin negara-negara Barat. Kitab al-Adwar dianggap sebagai kompendium (Mukhtasar) dari pengetahuan musik standar pada masanya.

Buku kedua al-Urmawi  bertajuk  Risalah al-Sharafiyya, yang ditulis sekitar 1267. Buku musik tersebut dipersembahkan kepada para mahasiswa dan kepada pelindung Khurasan, Sharaf Din Juvayni. Al-Urmawi adalah bagian dari kehidupan ilmiah, sastra dan seni di lingkungan keluarga Juvayni.

Melalui pertemuan dengan keluarga Juvayni, al-Urmawi pernah bertemu dengan sarjana Persia terkenal bernama Nasir al-Din Tusi yang membuat risalah singkat tentang proporsi interval musik yang menarik perhatian al-Urmawi. Risalah Nasir al-Din Tusi tersebut merangsang minat al-Urmawi dalam mempelajari bahasa Yunani serta ilmu pengetahuan dan teori musik.

Kedua adikarya al-Urmawi itu  telah menjadi buku rujukan para akademisi di bidang musik Arab. Bahkan, seorang ahli musik modern, Briton Owen Wright juga banyak memberikan komentar mengenai karya-karya teoritis al-Urmawi.

Warisan Zarlino dari Timur

Dunia musik merupakan bagian dari hidupnya. Sepanjang kariernya,  al-Urmawi dengan seksama menganalisis sumber-sumber teori musik, baik dari para pemusik Yunani maupun karya-karya musik para sarjana Muslim terdahulu seperti al-Kindi, al-Farabi, dan Ibnu Sina. Dia belajar musik praktis secara ilmiah dan sistematis yang tergambar dalam bukunya  Kitab al-Adwar dan dalam risalah utamanya  al-Risalah al-Sharafiyya fi al-Nisab al-Ta’lifiyya.

Kontribusi Safi al-Din al-Urmawi terhadap teori dan praktik musik Arab sangat penting dalam sejarah. Sebab karya-karyanya sangat berharga dalam rantai karya teoretis dalam sejarah teori musik yang dimulai dengan teori musik Al-Kindi. Kemampuannya dalam bidang fisika membuatnya mampu  menciptakan alat-alat musik.

Dia juga dikenal sebagai salah satu pencipta sistem suara terbaik. Karena tingkat briliannya yang sangat memukau. Ia pun ditabalkan sebagai Gioseffo Zarlino dari Timur. Zarlino adalah komposer legendari dari Italia pada abad ke-16 M. Karya-karya al-Umrawi telah memberi inspirasi para musisi Muslim untuk menulis teori musik setelah wafatnya al-Urmawi. Tak heran jika pengaruhnya sebagai seorang ahli musik yang hebat tetap melekat dalam karya-karya para musikus setelahnya.

Buku  al-Risalah al-sharafiyya yang ditulisnya  terdiri dari lima bab dengan judul yang berbeda-beda. Dalam buku tersebut terdapat bab khusus yang membahas diletakkannya dasar-dasar matematika dalam dunia musik. Bagian dari karya-karya al-Kindi, al-Farabi, dan Ibn Sina yang penting bagi Al-Urmawi juga ditunjukkan dalam buku tersebut.

Akhirnya, jejak-jejak  al-Sharafiyya bisa ditelusuri dengan melihat referensi beberapa karya yang ditulis beberapa abad kemudian. Hal itu memperlihatkan pentingnya dampak buku tersebut dalam dunia musik.

Al-Urmawi juga mempelajari rasio antara angka-angka yang sangat sistematis dalam bermusik, rasio tersebut bernama interval yang diklasifikasikan menurut konsonan dan disonan interval secara terperinci.

Ini merupakan karya terperinci dalam musik setelah karya al-Farabi. Dia juga menyebutkan empat tetrachords dengan interval dan pentachordal untuk menjelaskan jenis konsonan. Beberapa musisi setelahnya menghindari topik tersebut karena sangat rumit dan penuh detail. Inilah yang membuat musisi dunia  memuji kehebatan al-Urmawi. dya

15
Oct
09

Seni Budaya : Teknologi Batik, dari Ngrengreng Hingga Nyoga

Teknologi Batik, dari Ngrengreng Hingga Nyoga
Teknologi batik di Jawa merupakan suatu contoh keberhasilan inovasi teknologi impor menjadi teknologi tradisional.
Rabu, 14 Oktober 2009 | 12:14 WIB

INDONESIA baru saja mendapat pengakuan dunia atas teknologi di bidang tekstil, yaitu teknologi batik yang pernah berkembang menjadi industri rakyat di Pulau Jawa. Teknologi batik mengikuti keris dan wayang yang sudah terlebih dahulu masuk dalam daftar Warisan Budaya Tak Benda UNESCO. Teknologi batik adalah teknologi memroses kain dengan memberikan berbagai desain motif dan warna pada kain tersebut. Teknologi batik di Jawa merupakan suatu contoh keberhasilan inovasi teknologi impor menjadi teknologi tradisional.

Teknologi batik bisa dipahami demikian, sebuah teknologi dasar mencetak desain motif pada kain menggunakan bahan malam (lilin/wax) diperkirakan tiba di Nusantara, khususnya Jawa pada abad 12 dari Kalingga, India. Canting, alat menggambar berbentuk seperti pulpen yang diisi lilin panas, mungkin datang bersama teknik batik dari India pula. Selain kedua hal itu, seluruh teknologi membatik adalah hasil inovasi orang di Jawa. Begitulah Sahari Besari menulis dalam buku Teknologi di Nusantara: 40 Abad Hambatan Inovasi.

Sebut saja teknologi mencuci kain dan menggodok dengan minyak, menggambar desain motif dengan canting dan bahan lilin panas (ngrengreng) dan nembok; memberi warna biru (medel atau celep); membuang malam dari kain (nglorod atau ngerok); menutupi lagi bagian kain yang dipertahankan berwarna biru dengan canting (mbironi); memberi warna cokelat (nyoga); kembali proses nglorod; membersihkan sisa bahan lilin dan melipat kain. Pada kira-kira tahun 1850 revolusi teknologi batik terjadi, di mana orang di Jawa menginvensi stempel cap (printing) yang terbuat dari perunggu.

Membatik semula bukanlah industri, ia adalah bentuk kerajinan tangan rumah tangga yang biasa dilakukan perempuan di perkotaan. Di masa lampau, membatik biasanya dikerjakan di rumah pembesar Jawa, kaum ningrat. Dalam kisah pengalamannya mengunjungi Istana Sultan Agung pada 1606, Rijckloff van Goens menyebut, melihat 4.000 perempuan yang sedang membatik di sana. Pada awal abad 19 membatik berkembang menjadi industri kerajinan rakyat, ini terjadi di Kerajaan Jawa di mana membatik semula adalah kerajinan rumah tangga.   

Di Jawa, industri batik bisa ditemukan di Cirebon, Indramayu, Garut, Tasikmalaya, Ciamis, Pekalongan, Semarang, Juwana, Lasem. Tentu saja Yogyakarta dan Surakarta, menjadi pusat batik konservatif – motif klasik dengan warna biru dan cokelat soga. Selain di Yogyakarta dan Surakarta, industri biasanya dimiliki oleh kaum Tionghoa sementara para pekerja adalah pribumi.

Industri batik mengalami surut di masa PD II karena kesulitan mendapatkan bahan. Di Batavia, tercatat tokoh Tionghoa yang berperan di Indonesia (Tokoh- tokoh Etnis Tionghoa di Indonesia). Ia adalah Lim Hiong Tjheng. Awalnya ia hanyalah pekerja di pabrik batik di Palmerah pada sekitar 1924. Namun kemudian ia malah memiliki pabrik batik sendiri bernama Hajadi dan hingga kini masih beroperasi.
WARTA KOTA Pradaningrum Mijarto

14
Oct
09

Seni Budaya : Pameran 60 Batik Tulis, UGM, Jogja

Pameran Batik di UGM Tampilkan 60 Batik Tulis dari 15 Provinsi

Gelar Batik Nusantara digelar di Graha Sabha Pramana, Universitas Gadjah Mada, 11-16 Oktober.

Selasa, 13 Oktober 2009 | 19:15 WIB
Laporan wartawan KOMPAS Lukas Adi Prasetya

YOGYAKARTA, KOMPAS.com – Gelar Batik Nusantara yang digelar di Graha Sabha Pramana, Universitas Gadjah Mada, 11-16 Oktober, menampilkan 60 batik tulis dari 15 provinsi di Indonesia, seperti DIY, Jawa Barat, Jawa Timur, DKI Jakarta, dan Bengkulu. Digelar pula bazaar batik, dan demo membatik bagi masyarakat, sebagai acara pendamping pameran.

Batik-batik di pameran ini semuanya koleksi dari pecinta batik. Semuanya merupakan koleksi anggota paguyuban Sekar Jagad dan 11 paguyuban pecinta batik tradisional lainnya.

“Ini pameran yang cukup langka digelar. Mengumpulkan batik ternyata tidak mudah. Sebab, kolektor cukup was-was karena banyak batik yang tergolong tua. Aturan di pameran ini, mestinya batik tidak dipegang, tapi ternyata banyak yang memegangnya,” ujar Murdijati Gardjito, Sekretaris Umum Paguyuban Pecinta Batk Indonesia Sekar Jagad, di sela-sela acara itu, Selasa (13/10).

Batik-batik di pameran itu memang berkelas karena bahannya halus dan membatiknya rapi. Motifnya juga indah. Erna (30), salah satu pengunjung tertarik dan tidak menyangka bahwa batik ada di banyak tempat, dan sedemikian kaya.

“Sepertinya perlu digelar banyak pameran batik dan demo membatik,” ujarnya.

11
Oct
09

Seni Rupa : Wirid Kiai Nasirun dan Memilih atau Mencipta Presiden

SANGKRING ART SPACE
Ngilo karya Nasirun

pameran 1
Wirid “Kiai” Nasirun

Minggu, 11 Oktober 2009 | 03:01 WIB

Ilham Khoiri

Memperingati 1.000 hari meninggalnya sang ibu, pelukis Nasirun (44) menggelar pameran tunggal ”Salam Bekti” di Sangkring Art Space, Yogyakarta, 28 September-12 Oktober. Karya-karyanya mengusung wajah sinkretisme Jawa-Islam yang penuh getaran spiritual.

Boleh dibilang, ”Salam Bekti” adalah salah satu pameran penting dalam perjalanan kreatif Nasirun. Bayangkan saja, begitu memasuki dua lantai Sangkring Art Space, pengunjung langsung digedor lebih dari 20 lukisan gede-gede—satu lukisan bisa terdiri dari jejeran empat-enam panel selebar tujuh meter lebih. Semua karya itu digarap sungguh-sungguh demi mengenang orangtua dengan segala warisan budayanya.

Di lantai I, dekat pintu masuk, kita disambut kotak ”Damar Kurung”, semacam lampion besar yang dibungkus lukisan. Lukisan itu dipenuhi sosok Nasirun dengan rambut dan jenggot panjang tengah melaju dengan sepeda. Seperti wayang beber, sosok itu digambarkan bersukaria sambil merambah jalan, pepohonan, hewan, dan aneka makhluk lain.

Tak jauh dari situ, ada lukisan ”Wayang Ilang Gaphite”. Sosok-sosok wayang digambarkan terkulai lemas karena kehilangan gapit yang menopangnya. Di bawah setiap wayang tampak kepala Nasirun dengan rambut panjang tergelung.

Nasirun juga memajang banyak lukisan dengan kaligrafi Arab—sesuatu yang jarang diperlihatkannya. Di lantai II, misalnya, kita dikejutkan kotak mirip Kabah yang dibentuk dari susunan kanvas berjudul ”Duh Gusti”. Di tengah nuansa kanvas gelap itu tertoreh teks ingatan kepada Tuhan dalam huruf Jawa, Indonesia, dan Arab: ”Duh Gusti”, ”Lailaha illa Allah”, atau ”Allah”.

Lukisan lain, ”Ngilon”, menampilkan Nasirun sedang melihat dirinya dalam cermin bulat sambil memegang wayang. Di atasnya tercatat doa dalam kaligrafi Arab: ”… sebagaimana Engkau baguskan wujudku, baguskanlah budi pekertiku.”

Beberapa lukisan menampilkan spirit kejawen dan Islam yang berbaur jadi satu. Contohnya, satu lukisan yang dipenuhi para punakawan. Di antara sosok itu tertera kaligrafi Arab berbunyi ”fatruk al-bagha wa sammir al-khairat” (tinggalkan jalan menyimpang dan bergegaslah pada kebaikan). Konon, nama Petruk, Bagong, Semar, dan Gareng diambil dari kata-kata Arab itu.

Warisan

Masih banyak karya yang menyuguhkan pergulatan Nasirun dalam spiritualitas Jawa-Islam. Sebenarnya apa hubungan budaya sinkretis itu dengan salam bekti kepada orangtua—tema pameran ini? ”Budaya Jawa-Islam itu adalah warisan dari orangtua. Itu saya gauli secara intim sejak kecil,” kata Nasirun.

Seniman lulusan Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta tahun 1994 ini pun bercerita. Ayahnya, Sanrustam (meninggal saat Nasirun masih kecil), adalah tokoh tariqah Naksyabandiah yang punya otoritas membaiat anggota. Ibunya, Nyai Supiah, adalah sosok yang tekun dalam beribadah.

Sejak kecil, Nasirun terbiasa dengan ritual sembahyang dan mendengar orang membaca Alquran dan berzikir atau melantunkan puji-pujian kepada Allah. Begitu pun ketika dia belajar di madrasah ibtidaiyah di lingkungan pesantren di kampung Doklang, Adipala, Cilacap.

Kenangan dan penghayatan spiritualitas Islam-Jawa pesisiran itu terus melekat dalam dirinya. Ketika memasuki momen 1.000 hari wafatnya sang ibu dan haul ayahnya, juga kebetulan masuk suasana Idul Fitri, pelukis ini terkenang kembali pada asal-usulnya. Dia serta-merta menumpahkan kenangan itu di atas kanvas.

Lukisan ”Damar Kurung”, misalnya, menggambarkan tradisi masyarakat di kampung saat menyambut Idul Fitri dengan membuat lampion. Biasanya, anak-anak merayakan hari besar itu dengan berkeliling kampung.

”Wayang Ilang Gaphite” terinspirasi dari pesan ibunya. ”Ibu saya bilang, segagah apa pun kamu nanti, jangan nakal. Kalau nakal, kamu akan seperti wayang kehilangan gapitnya,” katanya.

”Duh Gusti” bermula dari ingatan Nasirun pada ritual ayahnya saat memimpin zikir. Dalam kekhusyukan ritual, pujian kepada Tuhan diulang terus-menerus sampai menancap dalam hati. Itu seperti putaran orang mengelilingi Kabah.

Begitu pula lukisan ”Ngilon” yang berangkat dari doa bercermin warisan ibu. Adapun punakawan dari kalimat Arab mengenang kearifan Wali Songo yang mengawinkan Jawa dan Islam. Mereka menyisipkan nilai-nilai agama, tanpa mengganggu cerita pewayangan.

Ekspresif

Budaya sinkretis Jawa-Islam itu menjadi unik karena didekati dengan olah rupa yang ekspresif, kuat, sekaligus penuh permainan. Ekspresi lahir dari spontanitas Nasirun mengolah ingatan budaya dan menerjemahkannya dalam elemen-elemen visual yang cair-mengalir. Kadang dia menggambar metafor secara realistik, memasukkan teks, atau melukiskan hal-hal gaib yang aneh-aneh.

Kedalaman muncul dari kemampuan Nasirun menggali spiritualitas dan menelusupkannya pada tampilan rupa. Tak tampak basa-basi visual atau keinginan mengindah-indahkan warna, komposisi, garis, atau bidang. Dia membiarkan kekuatan naluri mistik menuntun dirinya bekerja.

”Dua puluhan lukisan besar-besar dalam pameran ini saya siapkan hanya dua bulan. Saya merasa dapat energi besar untuk ditumpahkan, seperti tak ada capeknya,” katanya.

Kekuatan itu mungkin juga dirasakan pengunjung saat menatap lukisan di ruang pameran. Menelusuri karya-karya Nasirun, kita seperti diajak untuk melakukan wirid, mengingat akan asal-usul, akan alam, akan Tuhan. Dalam momen-momen tertentu, lukisan itu seakan menjelma sebagai wirid rupa.

Ekspresi dan kedalaman itu tetap terasa renyah dan manusiawi karena digarap dengan penuh insting bermain, bergembira, kadang meledek diri sendiri. Permainan diwakili sosok Nasirun yang hadir pada hampir setiap lukisan atau pada pilihan idiom yang seenaknya, kadang mengagetkan. Lihat saja lukisan ”Nasirun” yang menampilkan profil dirinya berpeci dan tengah membawa kendi yang mengeluarkan buih kata-kata.

Begitulah. Nasirun yang dulu dikenal dengan lukisan-lukisan mistis dunia pewayangan Jawa kini memperlihatkan sisi lain dirinya: keislaman. Perpaduan ini mengantarkan dia pada gagasan, pendekatan, dan penyajian karya seni rupa yang menggugah dan kental nuansa lokal. Suatu capaian yang berharga di tengah arus umum lukisan kontemporer di Tanah Air yang cenderung berlanggam realistik-fotografis.

KATALOG PAMERAN
Who Wants To Be A President

Pameran 2
Memilih atau Mencipta Presiden?

Minggu, 11 Oktober 2009 | 03:00 WIB

Wayan Kun Adnyana

Perupa Pande Taman kelahiran kampung turis Desa Peliatan Ubud tahun 1970 memilih Dusun Jagalan, Muntilan, Jawa Tengah, sebagai tempat tinggal sekaligus studio kreatifnya. Jagalan tentu saja bukan sebuah kota, melainkan pedesaan yang sejuk, dengan sisi sekitar tetumbuhan hijau dan bukit-bukit. Pun, Taman beranjak dari komunitas perupa-perupa alumni ISI Yogyakarta yang kebanyakan bermukim di seputaran Nitiprayan, Bantul, Yogyakarta. Berjarak dari Bali juga sedikit berjalan menjauhi Yogyakarta, sosok yang lahir dari trah ahli keris dan alat persenjataan tradisional Bali ini seakan menempa diri dalam sunyi.

Sunyi bagi Taman adalah bara yang membakar jiwa kreatifnya. Sunyi pula yang mengobati dia dari kondisi-kondisi psikologisnya yang guncang. Taman sebagaimana dituturkan kurator Suwarno Wisetrotomo dalam katalog pameran tunggal Taman di Komaneka Gallery, Ubud, ”… tiba-tiba meminta dan memutuskan pulang, balik ke Bali, begitu pesawat yang ditumpanginya tiba di Bandara Chek Lap Kok, Hongkong. Beruntung Koman Wahyu Suteja yang mengajak Taman mampu menenangkannya dari suasana gegar seperti itu”. Taman memang acap kali teringsut dalam kondisi kejiwaan yang tidak menentu. Di Taman Jiwa—begitu Pande Taman memberi nama studionya—perlahan kepungan suasana psikologis ”chaotik” tadi, ditata, dipertanyakan kembali, disadarkan, pun diajak berdialog ke persoalan sosiologis makro kehidupan. Taman melahirkan karya dari proses terapi atas dirinya sendiri ini.

Membaca karya-karya Taman pada pameran tunggal bertajuk ”Taman (the garden)”, 25 September-25 Oktober 2009 kali ini, saya tertuju pada pertanyaan hakikat hak perilaku individu dan kolektif dalam membentuk konsensus, keidealan, dan bahkan ihwal kebenaran khusus. Perupa peraih penghargaan Excellent Achievement Award, Bali Biennale 2005 ini selalu membeberkan berpuluh, bahkan beratus muka manusia untuk menyuratkan subyek tertentu. Tema di setiap karya merupakan identifikasi wujud figurasi yang muncul dari tumpahan, jejeran, dan tumpukan kepala-kepala manusia dengan wajah nyaris tanpa ekspresi. Raut muka terlihat semuanya datar, dingin, tanpa senyum ataupun tangis. Contoh paling gamblang, lihat karya lukisnya yang berjudul ”Siapa yang Ingin Jadi Buddha?” (200 x 150 cm), atau ”Siapa yang Ingin Jadi Presiden?” (200 x 250 cm), siluet wajah Buddha dan Presiden dibentuk oleh deretan beratus muka manusia anonim.

Kedua karya ini mengernyitkan pemikiran saya tentang interaksi perilaku sosial dengan perilaku individu. Suatu hal, taruhlah sesosok presiden, sesungguhnya bukan dipilih oleh komunitas sosial sebuah negara, melainkan dibentuk dan diciptakan oleh perilaku sosial dominan. Jargon pemilihan umum, yang selama ini kita kenal, tidak lebih hanya sebagai peristiwa kebahasaan. Karena sesungguhnya memang presiden bukan ditentukan semata saat proses pemilihan umum, melainkan telah dibentuk dan diciptakan jauh-jauh hari oleh perilaku konsumsi, selera, pemikiran, ide-ide, juga cita-cita komunitas sosial dominan. Pemahaman ”dominan” tentu menunjuk pada relasi ”kawula-gusti”.

Karya-karya patung Taman juga sebentuk dunia kerumunan yang tanpa nama. Tubuh-tubuh berjejal, menumpuk, dalam berbagai fragmen kehidupan. Lihat karya patungnya berbahan kayu, ”Memetik Buah Surga” (110 x 235 cm) menggambarkan tubuh-tubuh manusia berbaris-sesak menghamba sesuatu. Karya ini mengesankan betapa keterkaitan perilaku konsumsi secara otomatis mencipta sebentuk habitus.

Pendek kata, kegelisahan dan keputusan Taman untuk berjarak dari interaksi sosial paling kompleks seperti Ubud akhirnya memang memuarakan kesejatian. Kesejatian yang mengarah pada kesadaran dan keseriusan untuk selalu melakukan pembertanyaan atas perilaku sosial hari ini.

Kehilangan kelakar

Beranjak menuju pertanyaan sosial, bagi Taman bukannya tanpa risiko. Secara tematis, karya-karya Taman kali ini kelihatan kehilangan kelakar, rasa humor, dan hal yang terkait dengan upaya ekspose perilaku individu. Kalau dalam lima tahun sebelumnya secara terang benderang, Taman mengajukan gugatan penuh satiristik tentang perilaku tubuh-tubuh personal. Semisal Taman memberi judul sebuah karyanya ”Aku Bukan Anjing” (2001) yang semata untuk menegaskan subyek karyanya itu memang sesosok binatang berbelalai selayak gajah. Boleh jadi logika satiristik seperti ini terilhami dari bagaimana Rene Magritte, terutama pada karyanya tentang ”Bukan Cangklong”, padahal jelas subyek karyanya tentang cangklong rokok, tetap saja kehendak untuk mengolok-olok antara batas kenyataan dan imaji telah dibersitkan Taman.

Atau seri karyanya yang bertajuk ”Don’t Put Head on Your Head” yang secara bergurau menertawakan diri pribadi dan karib sesama perupa dengan meminjam wajahnya berikut ia bubuhi gambar-gambar binatang seperti kura-kura, babi, dan monyet tepat di kepala. Teman perupa yang dilukis seperti itu hanya bisa tersenyum melihat ulah nakal Taman itu.

Upaya membangun relasi antara perilaku individu dan perilaku sosial dominan barangkali sebuah tawaran yang menarik untuk dilalui Taman pada hari esok. Bagaimanapun, di dalam sebuah komunitas komunal membutuhkan kelahiran patron baru, yang menawarkan perilaku pemikiran liyan, sebelum semua sisian sejarah ruang kolektif terjerembab dalam dekadensi berkepanjangan. Tanda-tanda terbangunnya ruang individu pada ruang sosial terbaca ketika muncul sosok, tokoh, dan juga pahlawan. Sekiranya seniman berkesempatan untuk mengorbitkan perilaku berpikir liyan yang menyosok itu.

Wayan Kun Adnyana Pengajar Seni Rupa di FSRD ISI Denpasar

10
Oct
09

Seni Budaya : Batik Indonesia, Batik Malaysia, dan Hari Batik

Hari Batik

Sabtu, 10 Oktober 2009 12:21 WIB | Artikel | Spektrum |

Edy M Ya`kub

Batik Indonesia, Batik Malaysia, dan Hari Batik
Batik/ilustrasi. (ANTARA/Andika Wahyu)@

Surabaya (ANTARA News) – Setelah wayang dan keris diakui UNESCO sebagai Karya Agung Budaya Lisan dan Tak Benda Warisan Manusia, maka batik pun kini mendapatkan pengakuan itu.

Organisasi Pendidikan, Ilmu Pengetahuan, dan Kebudayaan Perserikatan Bangsa-Bangsa (United Nations Educational, Scientific, and Cultural Organization/UNESCO) sudah mengakui wayang pada tahun 2003 dan mengakui keris pada 2005.

“Pengakuan UNESCO terhadap batik itu merupakan proses panjang yang melalui pengujian dan sidang tertutup. Sebelumnya, pada 11-14 Mei 2009 telah dilakukan sidang tertutup dalam penentuan di hadapan enam negara di Paris,? kata Menkominfo Muhammad Nuh beberapa waktu lalu.

Untuk tanggal 2 Oktober di Abu Dhabi itu, kata Nuh yang juga Menteri Ad-Interim Kebudayaan dan Pariwisata (Budpar) itu, merupakan sidang terbuka sebagai acara pengukuhan.

Dalam keterangan pers Departemen Kebudayaan dan Pariwisata (Depbudpar) menyebutkan hari kedua sidang UNESCO “Intergovernmental Committee for Safeguarding of the Intangible Cultural Heritage” di Abu Dhabi, Uni Emirat Arab, antara lain membahas evaluasi nominasi inskripsi pada Daftar Representatif mengenai Budaya bukan benda Warisan Manusia.

“Dalam `Representative List of the Intangible Cultural Heritage of Humanity` itu, Batik Indonesia disebutkan dalam Rancangan Keputusan 13.44 yang diharapkan dapat disahkan pada sidang akhir pada 2 Oktober 2009 malam,” kata Dirjen Nilai Budaya Seni dan Film Depbudpar, Tjetjep Suparman, yang memimpin delegasi Indonesia pada sidang ke-4 komite itu.

Lantas, bagaimana dengan batik yang konon juga ada di negara lain seperti Malaysia, Jepang, China, India, Afrika, Jerman, Belanda, dan negara lainnya ?

“Batik Indonesia berbeda dengan batik milik Malaysia dan China, karena negara ini memiliki ciri khas yang tidak dimiliki negara lain,” kata Ketua Asosiasi Tenun, Batik, dan Bordir Jawa Timur, Erwin Sosrokusumo.

Menurut dia, batik asli Indonesia bukan produksi pabrikan (printing/cap/kain bermotif batik), meski ada pula batik cap yang juga termasuk batik khas Indonesia.

“Batik Indonesia sebenarnya sudah dikenal bangsa lain sejak zaman Kerajaan Jenggala, Airlangga, dan Majapahit, namun saat itu bahan utamanya didatangkan dari China. Penyebabnya, kain sebagai bahan dasar membatik sulit diperoleh di Indonesia. Untuk itu, batik memang harus diklaim Indonesia dan bukan negara lain yang mengaku-aku,” katanya.

Menanggapi pengakuan tersebut, Kepala Bidang Perdagangan Dalam Negeri, Dinas Perindustrian dan Perdagangan Jawa Timur, Arifin T. Hariadi, merasa bangga karena batik sebagai warisan nenek moyang Indonesia bisa memperoleh pengakuan internasional.

“Kerajinan Batik Indonesia sudah sepantasnya diangkat menjadi warisan budaya dunia. Untuk itu, bangsa Indonesia tidak perlu khwatir jika negara lain mengakui batik menjadi miliknya,” katanya.

Menurut dia, klaim yang dilakukan Malaysia dan China dengan alasan memproduksi batik, tentu perlu dilihat bahwa produk itu bukan batik sebenarnya alias “printing” (kain bermotif batik produksi pabrik).

“Kami bersyukur konsep batik kita sulit ditiru karena memiliki ciri khas tertentu, karena itu dengan adanya pengakuan dunia itu, maka seluruh lapisan masyarakat Indonesia ke depan, khususnya Jatim, harus lebih mencintai produk batik dan produk dalam negeri. Minimal mereka berkenan memakai batik satu kali dalam sepekan,” katanya.

Seni batik di Jawa Timur berkembang di kawasan pesisir, seperti halnya penyebaran Agama Islam di ranah Jawa dengan Wali Songo-nya (lima di antaranya berada di Jatim), semuanya berawal dari pesisir.

Di Tuban dengan Gedog-nya, di Lamongan dengan Pacirannya, dan Surabaya dengan batik Mangrove, Sidoarjo dikenal dengan batik Jetis serta Kenongo, di Madura maupun Banyuwangi dengan Gajah Uling-nya, semuanya berada di wilayah Pantai Utara (Pantura), sedangkan di Selatan berkembang Batik Baronggung di Tulungagung.

Motif batik tulis pesisir Jatim, sarat dengan nuansa flora dan fauna maupun benda yang memadukan budaya lokal, Islam dan Tiongkok maupun Eropa. Begitu juga perwarnaan mengadalkan bahan-bahan alami (tumbuhan).

Bila masyarakat sudah mencintai dengan memasyarakatkan batik, kata Arifin, pertumbuhan angka penjualan perajin batik, baik Industri Kecil Menengah (IKM) dan Usaha Kecil Menengah (UKM), akan semakin meningkat, apalagi di Jatim sekarang sudah ada 191 sentra IKM, sedangkan di sektor batik dan bordir ada 5.926 unit.

Hari Batik

Terkait ikhtiar menumbuhkan kecintaan terhadap batik itulah agaknya usul Universitas Kristen Petra (UKP) Jawa Timur untuk menjadikan 2 Oktober –tanggal pengakuan UNESCO terhadap batik sebagai warisan pusaka budaya dunia (world heritage) dari Indonesia– menjadi “Hari Batik Nasional” patut didukung.

“Pengakuan UNESCO pada tanggal 2 Oktober itu merupakan peluang untuk didorong menjadi Hari Batik Nasional,” kata Ketua Komunitas Batik Surabaya (KiBaS), Lintu Tulistyantoro.

Menurut dosen Desain Interior pada Fakultas Seni dan Desain Komunikasi Visual UKP itu, Hari Batik Nasional itu perlu dicanangkan untuk mengingatkan masyarakat bahwa batik telah menjadi warisan budaya dunia dari Indonesia pada tanggal itu.

“Untuk memperingatinya, kita tidak harus mengenakan baju batik. Namun, untuk menghargai warisan budaya itu sebaiknya kita mengenakan baju batik pada Hari Batik Nasional,” katanya, didampingi Kepala Perpustakaan UKP Surabaya, Aditya Nugraha.

Ia mengakui motif yang mirip batik juga ada di Jepang, China, India, Afrika, Jerman, Belanda, Malaysia, dan negara lainnya. Namun, teknik pembuatan dan budaya pertumbuhan batik di Indonesia memiliki kekhasan.

“Batik di Indonesia merupakan teknik membuat motif kain dengan menorehkan canting berisi lilin, sedangkan di negara lain hanya merupakan cetak atau cap (print) bermotif batik, teknologi batik, dan sebagainya,” katanya.

Apalagi, kata pria yang meraih Master of Design dari Institut Teknologi Bandung (ITB) pada tahun 2004 itu, pertumbuhan batik di Indonesia berkembang seiring budaya yang ada, sedangkan di negara lain lebih bersifat industri.

“Saya sudah mengecek kepada seorang rekan di UNESCO tentang alasan menjadikan batik sebagai warisan budaya dunia dari Indonesia, ternyata pengakuan UNESCO itu sudah melalui riset bertahun-tahun. Batik di Indonesia ada motif dan filosofi, bukan sekadar produksi,” katanya.

Secara terpisah, sosiolog Islam Prof Dr H. Nur Syam, M.Si. menilai, Hari Batik Nasional itu sangat penting, tetapi pakaian batik hendaknya tidak dipaksakan untuk dipakai pada hari itu. “bergantung konvensi (kesepakatan),” ujarnya.

Ia menegaskan, baju batik itu jangan menjadi sebuah pemaksaan, tetapi biarkan menjadi konvensi, seperti pegawai Departemen Dalam Negeri yang mengenakan baju batik pada hari Kamis dan Jumat, atau pegawai dari instansi lain yang berbatik-ria pada setiap hari Jumat.

“Itu bukan instruksi resmi dan tertulis, tetapi menjadi konvensi. Kalau ada Hari Batik Nasional, saya juga setuju,” kata rektor IAIN Sunan Ampel Surabaya itu.

Terlepas dari itu, UKP akan menyambut pengakuan UNESCO terhadap batik itu dengan menggelar karnaval batik pada tanggal 2 Oktober itu yang dilepas dan diikuti Wali Kota Surabaya Bambang D.H. mulai dari halaman gedung T kampus UKP hingga ke gedung P dengan melewati Jalan Raya Siwalankerto.

Sementara itu, Jurusan Arsitektur Interior di Universitas Ciputra (UC) Surabaya juga merayakan pengakuan UNESCO terhadap batik itu dengan menggelar pameran produk desain batik dan mewajibkan dosen, karyawan, dan mahasiswa mengenakan baju batik pada tanggal itu.

Gubernur Jatim, Soekarwo dalam waktu dekat mengeluarkan surat edaran mengenai kewajiban memakai batik bagi kalangan PNS di Provinsi “Bumi Majapahit”, Sebagai tindakan pendahuluan, kebijakan itu akan diterapkan mulai 12 Oktober 2009, bersamaan dengan puncak peringatan Hari Jadi Pemprov.(*)

COPYRIGHT © 2009




Blog Stats

  • 3,242,738 hits

Recent Comments

Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Sejarah : Bangsa Lemuria, Lelu…