Posts Tagged ‘Terrorism

20
Mar
11

Politik Bom : Motivasi Multi Tafsir Berkembang

Bom untuk Tameng SBY Atau Gulingkan SBY? 

lokasi: Home / Berita / Analisa / [sumber: Jakartapress.com]

Minggu, 20/03/2011 | 00:26 WIB Bom untuk Tameng SBY Atau Gulingkan SBY?

Bom untuk Tameng SBY Atau Gulingkan SBY?

TEROR bom terus bermunculan pekan ini. Mulai dari teror bom yang dikemas melalui paket buku hingga bentuk-bentuk paket mencurigakan. Tim Gegana pun sibuk menjinakkan bom. Banyak variasinya pula karena ada yang benar-benar bom dan ada pula cuma sekadar paket mencurigakan. Pada 15 Maret 2011, sebuah bingkisan bom jenis low eksplosif (daya ledak rendah) berbentuk buku “mampir” di kantor tokoh Jaringan Islam Liberal (JIL) Ulil Abshar Abdalla  di kawasan Utan Kayu, Jakarta Timur yang melukai tiga orang. ‘

Pada hari bersamaan, paket bom juga dikirim ke Kantor Badan Narkotika Nasional (BNN) ditujukan kepada Kepala BNN Gories Mere di Cawang, Jakarta Timur. Pada hari berbaerangan pula,. paket bom dialamatkan ke kediaman Ketua Pemuda Pancasila Yapto S Soeryosumarno di Cilandak, Jakarta Selatan. Polda Metro Jaya telah menjinakkan dan menyita bom tersebut. Paket bom pun mampir ke rumah musisi Ahmad Dhani di Pondok Indah, Jakarta Selatan.

Hari berikutnya, Tim Gegana menemukan bom yang berada di Kota Wisata, Cibubur. Jaraknya kebetulan cukup dekat (sekitar 2 km) dengan rumah Presiden SBY di Cikeas. Selanjutnya, Jumat (18/3) malam, paket mencurigakan dikirim ke aktivis HAM, Hendardi. Paket ini punya ciri-ciri sama dengan paket yang berisi bom di Utan Kayu. Hendardi, sebagai aktivis HAM kerap membela kelompok Ahmadiyah. Setelah itu, rentetan teror bom dan paket mencurigakan berturut-turut juga menyebar di berbagai daerah di tanah air.

Pertanyaannya adalah mengapa teror bom dan paket mencurigakan beredar belakangan ini? Bagi publik yang kecewa dengan kepemimpinan rezim pemerintah SBY yang dinilai mengabaikan keadilan dan kesejahteraan rakyat, tentu menuduh bahwa teror bom ini dibuat sebagai pengalihan isu terhadap berbagai serangan terhadap SBY seperti skandal Century dan kasus yang membongkar dugaan korupsi jaringan Istana. Ditambah lagi, adanya dua koran Australia, The Age dan Sidney Morning Herald, yang memberitakan dugaan korupsi SBY dan kroni Istana dari bocoran dokumen rahasia kawat diplomatik Wikileaks.

Sedangkan bagi pihak penguasa dan Densus 88 Polri khususnya serta pihak yang membenci kelompok “Islam radikal”, tentunya menuding teror bom ini sebagai upaya kelompok “Islam radikal”. Mislanya, Mantan Wakil Kepala Badan Intelijen Negara (BIN) As’ad Said Ali menilai pendukung Abu Bakar Ba’asyir berada di balik teror bom buku yang marak belakangan ini. Ini didasari pada kenyataan target pengeboman yang tak jauh dari pihak yang sering dituduh antek Amerika, seperti Gories Merre, Ahmad Dhani dan Ulil Abshar Abdalla.

Sebagai catatan, Ulil Abshar Abdalla dan Hendardi adalah sosok pembela Ahmadiyah. Sedangkan Ahmad Dhani dan Yapto Soerjosoemarno memiliki keturunan Yahudi. Ibu Yapto adalah seorang Belanda Yahudi yang pernah menjadi atlit nasional Indonesia dari cabang bridge. Sedangkan Ahmad Dhani dikabarkan ibunya berkebangsaan Yahudi, Joice Kohler. Dhani tak membantah kalau ia mempunyai keturunan Yahudi dari kakeknya. Namun Dhani membantah kalau dikatakan sebagai penyebar paham zionisme.

Selain itu waktu pengeboman yang berdekatan dengan sidang pengadilan Abu Baka Baásyir menjadi pembenar bahwa kelompok pendukung amir Jamaah Anshorut Tauhid ini yang menjadi dalang intelektual teror bom buku. Namun, anak bungsu Ustad Abu, Abdul Rochim Baasyir buru-buru membantahnya. “Itu analisa konyol dan tak berdasar,” katanya, Minggu (19/3), seperti dilansir RM Online.

Direktur Jamaah Anshorut Tauhid Media Center, Sonhadi pun menilai, tuduhan Abu Bakar Baasyir adalah dalang teror bom adalah sebuah rekayasa busuk. Tuduhan seperti ini terus dikembangkan hingga terbentuk opini bahwa Ustad Abu layak dituduh sebagai teroris. “Padahal sampai sekian kali sidang terorisme digelar, opini itu tak terbentuk. Bahkan rekayasa persidangan adalah pesanan makin terkuak,” paparnya sembari menambahkan,  ujung dari opini menyesatkan ini adalah revisi UU terorisme dan kepentingan security bisnis atau bisnis pengamanan. “Ujungnya ya perubahan pada UU terorisme. Artinya aparat dan intelijen mendapat payung hukum untuk berbuat leluasa lagi terhadap orang yang diduga teroris,” imbuhnya.

Bahkan, Abu Bakar Ba’asyir balik menuding, bom buku yang dikirim di ke kediaman Ahmad Dhani dan tokoh lainnya tersebut dilakukan oleh Densus 88 yang bertujuan untuk mendapatkan uang. “Ya soal bom itu, itu rekayasa saya menuding itu dilakukan oleh Densus tujuannya untuk mendapatkan uang dari Amerika Serikat,” ucap Ba’asyir di Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Selatan (Jaksel), Kamis (17/3/2011). Ba’asyir mengatakan, Densus 88 sengaja memelihara teroris untuk melakukan sejumlah teror di masyarakat. “Teroris ini dipelihara oleh Densus karena selama teroris masih ada Densus dapat uang,” tuding Ba’asyir.

Penilaian mengejutkan datang dari pengamat intelijen Soeripto. Ia menduga bom buku yang ditujukan kepada mantan Koordinator Jaringan Islam Liberal (JIL) Ulil Abshar Abdalla yang berkantor di Utan Kayu, Jakarta Timur, merupakan pekerjaan intelijen. Untuk situasi Indonesia saat ini, yang paling mungkin melakukan kekerasan dengan menggunakan bom adalah intelijen profesional. “Yang bisa melakukan itu adalah orang yang profesinya sebagai intelijen. Bisa saja agen intel yang melakukan pekerjaan itu. Orang biasa sulit,” ungkap mantan petinggi BIN ini.

Penilaian agak kontroversial datang dari Wakil Ketua Komisi I DPR RI yang membidangi intelijen dan keamanan, Mayjen TNI (Purn) TB Hasanudin. Anggota Fraksi PDIP ini menilai, serangkaian teror bom yang terjadi belakangan ini bertujuan menjungkalkan Presiden SBY. “Ada kelompok-kelompok yang ingin menjatuhkan presiden sebelum 2014,” ujarnya, Sabtu (19/3), seperti dilansir Tempo. Mantan sekretaris militer presiden di era Megawati Soekarnoputri ini menyebut ada beberapa kelompok yang ingin menjaungkalkan SBY, yakni kelompok jaringan lama, Islam radikal, dan juga barisan sakit hati.

Menurut Hasanudin, untuk mengungkap siapa pelaku di belakang teror bom ini, sangat mudah. “Kalau saya yang jadi penyidik, saya pasti sudah bisa membongkar siapa dalangnya,” tuturnya. Ia tak membantah kemungkinan adanya permainan intelijen dalam kasus teror bom ini. “Dalam setiap kegiatan yang menyerang pemerintah, baik itu demo ataupun teror, ada intelijen yang bermain,” ungkapnya pula. Ia juga membuka kemungkinan adanya kelompok radikal Islam dalam aksi kali ini. Ia pun menuding kinerja aparat keamanan yang lamban menyebabkan teror seperti ini terus berlangsung.

Terlepas dari berbagai penilaian apapun, yang jelas maraknya teror bom berturut-turut sekarang ini adalah bukti nyata bahwa aparat keamanan era pemerintahan SBY telah gagal melindungi rasa aman masyarakat. Setiap ada ledakan bom itu jelas menteror masyarakat. Lebih celaka lagi, penanganan paket bom kurang profesional dan masih jauh dair peralatan canggih. Akibat penanganan paket bom hanya memakai metal detector maka begitu ada kandungan jenis logam sekecil apa pun seperti steples kecil yang menempel di kertas, langsung diledakkan. Sehingga ada kejadian menggelikan, paket sepatu baru (mungkin akibat lobang tali sepatunya dari logam), diledakkan juga, sehingga merugikan pemiliknya. Mestinya pendeteksian bom harus pakai alat semacam X-Ray sehingga terlihat apa yang ada di dalam paket tersebut.

Kisahnya adalah berikut, kiriman paket dari Jambi untuk sang adik yang sedang berulang tahun di Jakarta diledakkan tim Gegana Brimon Polda Metrojaya karena dikira paket bom. Yakni, Tim Gegana meledakkan paket mencurigakan berbentuk kardus sepatu yang diterima keluarga tersebut di Jalan Raya Gardu, Condet, Jakarta Timur. Paket mencurigakan tersebut awalnya diterima oleh sebuah perusahaan travel CV Granada yang terletak tak jauh dari tempat paket tersebut diledakkan. Pengirim paket pun menyayangkan kinerja aparat polisi yang terkesan paranoid dan tak menguasai prosedur standar pengamanan terhadap ancaman bom tersebut, sehingga tanpa melakukan investigasi dan pemeriksaan barang yang dicurigai langsung diledakkan, dimusnahkan, pada Jumat (18/3).

Aparat polisi juga harus jeli dan pinter, serta tidak memasang badan angker dan kebpribadian jauh dari masyarakat. Polisi harsu berupaya dekat dengan masyarakat  sehingga membuat rasa aman dan menarik simpati  masyarakat. Oleh karena itu, aparat polisi tidak hanya berupaya bagaimana mengatasi atau menjinakkan bom, melainkan juga bagaimana mengendalikan emosi agar polisi dekat dnegan masyarakat sehingga tidak saling curiga. Dengan demikian, masyarakat senantiasa akan membantu polisi, bukan malah menjauhi polisi.

Dari paparan dia atas, dengan asumsi bahwa masih eksisnya Ahmadiyah  di Indonesia yang tidak dilarang pemerintah, dan apalagi keberadaan Ahmadiyah di Indonesia didukung oleh Kongres Amerika Serikat, tentu membuat kalangan Islam radikal di Indonesia menjadi “marah” kepada rezim pemerintah SBY yang terlalu lunak dan tunduk serta manut kepada pihak AS. Sebagai cara perlawanan, bisa saja membuat protes dengan pertunjukan serangkain teror bom. Apalagi, kini penegakan hukum tebang pilih dan melukai keadilan rakyat, ditambah lagi maraknya kemiskinan dan pengangguran serta melonjaknya harga barang.

Sebaliknya, dengan asumsi posisi Presiden SBY sekarang ini sangat terpojok dengan adanya pemberitaan tentang dugaan korupsi Sby dan jaringan Istana yang dimuat dua surat kabar Australia, The Age dan Sidney Morning Herald, dari bocoran nota dokumen rahasia kawat diplomatik Wikileaks. Ini menyusul desakan yang mengecam sikap SBY yang tidak tegas dan terkesan memetieskan pengusutan skandal Bank Century, mafia pajak, rekening gendut sejumlah jenderal Polri, dugaan rekayasa kriminalisasi pimpinan KPK, dugaan IPO Krakatau Steel, kasus BLBI, kasus Miranda, kasus IT KPU, dugaan KKN gurita Cikeas dan lain sebagainya.

Jadi, apakah rentetan teror bom dan paket mencurikan belakangan ini yang terjadi di mana-mana adalah upaya untuk menutupi isu yang menimpa rezim penguasa sekarang alias pengalihan isu? Ataukah sebaliknya, sebagai protes atau perlawanan dari kelompok “Islam Radikal” terhadap kepemimpinan SBY yang tidak tegas dan dinilai menjadi “antek” asing yang dianggap merugikan Islam? Ini lambat laun akan segera terjawab apakah teror bom tersebut sengaja dipakai tameng SBY untuk menghadapi serangan terhadap dirinya, atau justeru gerakan untuk menjungkirkan SBY. (Ani jakpress)

Berita Terkait

20/03/2011Teror Bom Berlanjut, Berarti SBY Gagal

20/03/2011Benarkah Teror Bom Kerjaan Intel?

20/03/2011Isu Seputar Teror Bom Buku

19/03/2011Rentetan Teror Bom untuk Jatuhkan SBY?

19/03/2011Dhani Akui Keturunan Yahudi

18/03/2011Paket “Bom” di DPR Berisi Buku Ahmadiyah

18/03/2011Penyelesaian Bom Harus Pakai Jurus Mabok

18/03/2011Paket ‘Bom Buku’ Dikirim ke Wakil Ketua DPR

18/03/2011The Age Tantang SBY Usut Bocoran

The Age: Laporan Kami Bukan “Sampah” !!!

lokasi: Home / Berita / Analisa / [sumber: Jakartapress.com]

Kamis, 17/03/2011 | 19:18 WIB The Age: Laporan Kami Bukan "Sampah" !!!

The Age : Laporan kami bukan “sampah” !!!

Dalam laporannya hari ini, Kamis (17/3/2011), koran Australia ‘The Age‘ membantah kalau laporan menyangkut Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) yang bersumber dari Kedutaan Besar Amerika Serikat (AS) yang kemudian dibocorkan Wikileaks adalah “sampah”.

The Age menjelaskan, penting untuk dicatat bahwa laporan ini bukanlah hanya berdasarkan satu atau beberapa dokumen saja, melainkan berdasarkan dari banyak dokumen atau kabel yang dikumpulkan oleh Diplomat Senior AS selama bertahun-tahun dengn kontak-kontak yang tidak sembarangan.

The Age juga melaporkan, laporan tersebut telah membuka babak baru hubungan AS-Indonesia dan memunculkan kritisisme di Jakarta khususnya istana. Namun demikian, The Age kembali menegaskan posisinya tidak untuk menghakimi SBY atas isi kabel yang sebelumnya merupakan rahasia, oleh karena nya tidak akan meminta maaf atas tindakannya mengekspose isi kabel dan menjadikan SBY sorotan publik.

Bocoran menunjukkan, apa yang SBY sebut sebagi New Indonesia – Indonesia yang bebas korupsi- masih merupakan ilusi. Hal ini sangat memalukan mengingat SBY selama ini menikmati reputasi sebagai pribadi yang jujur dan dianggap sebagai reformis pro demokrasi yang paling penting.

The Age menyarankan pemerintah Indonesia melakukan investigasi untuk membuktikan tuduhan tersebut (bahwa SBY telah melakukan korupsi dan abuse of power atau penyalahgunaan kekuasaan). Demokrasi Indonesia dibuktikan dan diuji dgn adanya tuduhan yang menggangu tersebut. (Bambang Soestayo, Anggota Komisi III DPR RI)

12
Sep
10

Terorisme : Sandiwara Besar Penjajahan Baru ?

Jika Benar Osama Agen CIA, Isu Teroris Sandiwara Besar AS

lokasi: Home / Berita / OPINI / [sumber: Jakartapress.com]

Minggu, 29/08/2010 | 05:33 WIB

Jika Benar Osama Agen CIA, Isu Teroris Sandiwara Besar AS
OLEH: ARIEF TURATNO

TIDAK hanya selagi berkuasa, setelah mantan Presiden pun Fidel Castro tetap memiliki pesona tersendiri. Sebab pernyataan-pernyataannya yang kritis selalu menohok dominasi Amerika Serikat (AS). Mantan Presiden Kuba tersebut kali ini membuat pernyataan yang cukup menghebohkan, sebagaimana dilansir Sky News, pecan lalu. Dengan penuh percaya diri Fidel Castro mengatakan bahwa pimpinan Al Qaeda, Osama bin Laden adalah agen Central Intelligence Agency (CIA). Dia dibayar oleh CIA untuk melakukan apapun. Osama itu, kata Casto, adalah anak buah mantan Presiden AS George W Bush. Karena itu kapan saja Osama dibutuhkan AS di sanalah dia akan muncul. Pertanyaan dan persoalannya adalah apakah benar pernyataan Fidel Castro tersebut?

Semua mantan pejuang Afghanistan, terutama mereka yang pernah berjuang melawan pendudukan Uni Sovyet di kawasan tersebut, pasti membenarkan. Bahwa sebagian besar para pejuang tersebut mendapat didikan atau pelatihan perang (tempur) dari personil-personil militer AS. Dan diantara mereka yang diterjunkan untuk melatih para mujahidin tersebut, pastilah ada personil CIA. Sehingga dugaan Castro boleh jadi benar bahwa Usama memiliki kedekatan dengan lembaga inteljen AS tersebut. Sebab Osama adalah pejuang Afghan yang pernah perang melawan Uni Sovyet di daerah tersebut. Hanya permasalahannya adalah apakah hubungan itu masih berlanjut atau tidak kita belum tahu?

Berbeda dengan kita yang masih meragukan tentang kebenaran bahwa Osama adalah agen CIA. Castro justeru sangat yakin jika Usama masih punya hubungan yang dekat dengan AS. Tuduhan Castro didasarkan laporan inteljen AS yang sempat bocor keluar. Juga dari beberapa kasus invansi AS di kawasan Timur Tengah dan Afghanistan. Osama menurut Castro, sengaja diminta muncul untuk membuat ancaman kepada dunia dalam bentuk terror. Setelah itu, dengan alasan untuk menangkal ancaman tersebut, AS akan mengirimkan sejumlah pasukan kepada Negara berkaitan. Dan celakanya sebagian besar Negara yang terprovokasi itu percaya dengan bualan AS.

Maka secara tidak sadar telah terjadi penjajahan secara halus. Lihat saja beberapa Negara Arab atau Negara-negara di kawasan teluk. Mereka dengan rasa takut memberi kesempatan kepada AS untuk membuat pangkalan di Negaranya. Padahal dengan begitu, maka semua rahasia pertahanan Negara berkaitan akan dapat dengan mudah diketahui AS. Dengan begitu pula, kapan saja AS ingin mencengkeramkan kukunya lebih dalam di Negara tersebut peluangnya sangat terbuka lebar. Karena alasan inilah, sehingga Usama dibiarkan terus malang-melintang di dunia. Sekali lagi benar tidaknya asumsi tersebut, kita belum jelas benar. Sebab Castro pun saya yakin baru menduga, tetapi tidak memiliki bukti yang kuat.

Namun ada logika menarik yang harus kita kritisi. Dalam beberapa press release yang dikeluarkan pemerintah AS, mereka kerap mengklaim mampu mengetahui segala macam kejadian di dunia. Dengan banyak ragam inteljen yang dimiliki AS, serta kecanggihan peralatan inteljen yang digunakan. Sebenarnya tidak begitu sulit untuk menemukan Osama ben Laden. Karena hal ini juga pernah digunakan AS saat menemukan Uday, anak mantan Presiden Irak, Saddam Husien. Juga saat melacak keberadaan almarhum mantan Presiden Irak itu sendiri. Pertanyaannya adalah bagaimana mungkin AS yang sangat hebat sulit menemukan Osama? Jadi benarkah Osama adalah agen CIA? (*)

19
Sep
09

Terorisme : Noordin Ubah Penampilan Wajah [PolRI]

Noordin Ubah Wajah

Sabtu, 19 September 2009 14:03 WIB | Peristiwa | Hukum/Kriminal |
Polri: Noordin Ubah Penampilan Wajah
Kadiv Humas Mabes Polri Irjen Pol. Nanan Soekarna memperlihatkan sejumlah foto sketsa wajah tersangka teroris Noordin M Top yang merupakan warga negara Malaysia (foto kiri) dan foto Noordin M Top setelah proses autopsi dan forensik (foto kanan) saat memberikan keterangan pers di Mabes Polri, Jakarta, Sabtu (19/9). (ANTARA/Widodo S. Jusuf)

Jakarta (ANTARA News) – Kepala Divisi Humas Mabes Polri Irjen Pol Nanan Soekarna mengemukakan, buronan berbagai kasus terorisme selama sembilan tahun di Indonesia, Noordin M Top yang tewas dalam penyergapan di Solo (Jawa Tengah) pada Kamis (17/9) telah mengubah penampian wajah sehingga susah dikenali.

Dia mengemukakan hal itu dalam jumpa pers di Mabes Polri Jakarta Selatan, Sabtu bersama Kepala Pusat Kedokteran dan Kepolisian Mabes Polri Brigjen Pol Edi Saparwoko.

Menurut Nanan, ketika tewas tertembak di Solo, Noordin telah memelihara jambang dan jenggot yang sangat lebat dan menjadikan bentuk wajahnya amat berbeda dengan gambar-gambar yang disebarkan Polri.

“Dulu, salah satu gambar yang kita sebar ke masyarakat, Noordin hanya punya punya jenggot tipis, tetapi sekarang wajahnya `brewok` banget. Semua telah berubah,” katanya.

Menurut dia, sejak tahun 2000, Polri telah membuat sketsa wajah Noordin sebanyak 12 buah yang diduga mirip Noordin M Top dalam berbagai penampilan, termasuk saat memakai topi, berkacamata maupun arah sisir rambut yang berbeda.

“Mungkin saja, Noordin mengikuti pemberitaan sehingga dia memelihara jambang dan jenggot panjang yang berbeda dengan gambar-gambar sebelumnya,” kata Nanan.

Terkait dengan hasil uji DNA, Nanan mengungkapkan bahwa hasilnya cocok dengan sampel yang dimiliki Polri. Hasil uji DNA menguatkan hasil identifikasi melalui sidik jari dan data fisik warga negara Malaysia itu.

Sedangkan Edi Saparwoko mengemukakan, proses untuk mendapatkan sampel pembanding DNA yang dimiliki Polri melalui proses panjang. Bahkan Polri datang langsung ke Malaysia.

Menurut dia, Polri pada Juli 2009 telah mengambil sampel DNA dari dua anak, masing-masing wanita berusia tiga tahun dan laki-laki berusia satu tahun yang diduga anak Noordin M Top hasil pernikahan dengan Arina, warga Cilacap (Jawa Tengah).

Pada awal Agustus 2009, tim Polri ke Malaysia untuk mengambil sampel DNA dari istri Noordin dan anak laki-laki Noordin yang berusia 12 tahun, di samping mengambil sidik jari Noordin yang dimiliki Kepolisian Diraja Malaysia.

“Hasilnya adalah dua anak di Cilacap dan satu anak di Malaysia berasal dari ayah yang sama, yaitu Noordin M Top yang tewas di Solo,” kata Edi.

Menurut dia, tidak hanya itu saja. Polri juga melakukan uji khusus untuk membandingkan wajah Noordin saat memelihara jambang dan jenggot panjang dengan wajah-wajah lain dan ternyata memiliki kesamaan.

Dia mengemukakan, tiga jenazah lainnya yang ikut tewas bersama Noordin M Top masih dalam proses identifikasi.

Menurut Edi, identifikasi jenazah Noordin didahulukan karena Polri telah memiliki data pembanding yang lengkap. Sedangkan data pembading ketiga jenazah lainnya, belum dimiliki Polri.

Ketiga jenazah itu, adalah Bagus Budi Pranoto alias Urwah, Hadi Susilo dan Aryo Sudarso alias Aji. Bagus berperan merakit bom yang yang diledakkan di Hotel JW Marriott dan Ritz-Carlton pada 17 Juli 2009. Demikian juga Aryo Sudarso.

Sedangkan Hadi Susilo berperan menyediakan rumah untuk persembunyian Noordin.

Polri masih menunggu kedatangan ketiga keluarga korban tersebut untuk proses identifikasi sebelum diserahkan kepada pihak keluarga untuk dimakamkan. (*)

COPYRIGHT © 2009

18
Sep
09

Terorisme : Entakan di Mojosongo Menjelang Lebaran

Entakan di Mojosongo Menjelang Lebaran
Polisi berjaga di depan rumah yang telah ditutup seng seusai penyergapan oleh tim polisi antiteror dan Brimob Polda Jawa Tengah di Kampung Kepuhsari RT 03 RW 11, Kelurahan Mojosongo, Kecamatan Jebres, Solo, Jawa Tengah, Kamis (17/9). Sebanyak empat orang yang diduga terlibat dalam jaringan teroris tewas dalam penyergapan tersebut.

Jumat, 18 September 2009 | 06:46 WIB

Oleh Sri Rejeki dan Sonya Hellen Sinombor

KOMPAS.com – Warga Kampung Kepuhsari, Mojosongo, Solo, Jawa Tengah, terentak malam itu. Sampai Kamis (17/9) pagi, mereka ketakutan dan terkurung di dalam rumah.

Rentetan tembakan yang terdengar semalaman ternyata bersumber dari sebuah rumah di RT 03 RW 11 Kelurahan Mojosongo, Kecamatan Jebres, Solo, saat tim polisi antiteror Markas Besar Polri menyergap rumah yang dikontrak pasangan Susilo (23) dan Putri Munawaroh (19), tersangka teroris.

Keluarga Widodo, yang rumahnya persis bersebelahan dengan rumah kontrakan keluarga Susilo, benar-benar tak menyangka bahwa tetangganya adalah teroris. Menurut Ny Partini, istri Widodo, sebelum tembakan terdengar, Rabu sekitar pukul 21.30, terlihat beberapa orang berseliweran di sekitar rumah Susilo.

Tak berapa lama, ada yang mengetuk pintu rumah Widodo dan meminta lampu di rumahnya dimatikan. Selanjutnya terdengar tembakan ke arah rumah Susilo. Partini bersama Widodo, dua anaknya, dan seorang cucunya diminta tiarap. ”Kira-kira tembakan tiga kali, saya dengar ada teriakan Allahu Akbar. Kayaknya yang teriak laki-laki,” ujar Partini (56), yang rumahnya kemarin sempat dititipi barang bukti yang ditemukan tim polisi antiteror dari rumah Susilo.

Setelah penyerbuan di rumah Susilo, Partini ingat, sekitar dua bulan lalu ia pernah didatangi anggota Kepolisian Kota Besar (Poltabes) Surakarta dan memberitahukan bahwa tetangganya terkait aksi terorisme. Saat itu ia tidak percaya. ”Semalam polisi itu datang lagi dan memberi tahu, ’benar kan sebelahe panjenengan itu teroris’,” ujar Partini.

Beberapa tetangga di sekitar rumah Susilo juga terkejut saat mendengar tembakan. Keluarga Murdiyanto (41), yang rumahnya berjarak sekitar 15 meter dari rumah Susilo, juga terkejut. Saat itu jarum jam baru menunjukkan pukul 22.30, Murdiyanto, istrinya, Martini, dan anaknya, Dita (18), belum tidur dan sedang menonton televisi.

Saat rentetan tembakan memekakkan telinga dari arah belakang rumah mereka, ketiganya ketakutan dan saling merapatkan diri sambil berzikir. Sempat terdengar teriakan, ”Tiarap, tiarap. Ada bom.” Putri bungsu Murdiyanto, Marsha (5), terbangun dari tidurnya, lalu menangis ketakutan.

Mereka tidak menyangka rumah tetangga mereka, Susilo dan Munawaroh, akan menjadi tempat baku tembak karena sejak sore tidak terjadi sesuatu yang mencurigakan.

Dalam sekejap Kampung Kepuhsari diliputi ketegangan. Warga di sekitar rumah Susilo mengungsi ke rumah Ketua RT 03 Kampung Kepuhsari Suratmin dan tetangga lain yang agak jauh dari tempat kejadian. Sekitar pukul 00.30, Kamis dini hari, lampu di kampung itu dipadamkan. Suara tembakan terus berlanjut dan makin sering hingga sekitar pukul 01.10.

Penyerbuan tim polisi antiteror benar-benar mengejutkan warga setempat. Mereka sama sekali tidak menyangka pasangan Susilo dan Munawaroh terkait terorisme. Kendati Susilo bekerja di Pondok Pesantren Al-Kahfi, Surakarta, dan Munawaroh giat dalam kegiatan Taman Pendidikan Al Quran di rumahnya, keduanya jarang bergaul.

Berdasarkan informasi, pasangan ini mengontrak rumah milik Sri Indarto atau Totok sejak enam bulan lalu. Namun, Susilo, yang akrab disapa Adib, baru melapor tiga bulan lalu dengan menyerahkan fotokopi kartu tanda penduduk dan surat nikah, serta mengaku bekerja di Pondok Pesantren Al-Kahfi. ”Keduanya jarang bergaul. Undangan pertemuan bapak-bapak tanggal 1 setiap bulan tidak pernah dihadiri,” kata Suratmin.

Istri Suratmin, Sarti, hingga saat ini belum pernah melihat wajah Susilo. Sarti sehari-hari bekerja sebagai guru. Rata-rata suami dan istri di kampung itu sama-sama bekerja sehingga hanya berada di rumah pada pagi dan malam hari. Murdiyanto dan Martini sama-sama bekerja. Demikian pula dengan Anik dan suaminya, yang rumahnya berjarak hanya 5 meter dari rumah Susilo, sama-sama bekerja.

Suara rentetan tembakan semakin rapat frekuensinya mulai pukul 24.00 dan reda pukul 01.10 saat sebuah bunga api menyembur ke udara setinggi 100 meter. Pukul 02.00, mobil pemadam kebakaran masuk mendekati lokasi penyergapan. Rumah kontrakan Susilo berada di wilayah yang berkontur naik-turun.

Polisi membatasi masyarakat hanya boleh mendekat di jarak 500 meter dari lokasi pengepungan. Pukul 02.30, ambulans Poltabes Surakarta, mobil jenazah Kepolisian Daerah Jawa Tengah, dan mobil unit identifikasi tempat kejadian perkara Poltabes Surakarta mendekati lokasi.

Pukul 02.45 kembali terjadi rentetan tembakan dan berakhir sekitar pukul 06.00. Dalam kurun waktu itu, polisi antiteror membawa peti-peti berisi amunisi, karung-karung, dan gulungan kabel. Juga ada panggilan mencari dokter, muncul mobil Satuan Gegana Brimob ke lokasi, dan empat ambulans meninggalkan lokasi pengepungan pada waktu berbeda. Dua kantong mayat warna oranye dimasukkan ke mobil jenazah warna hitam.

Di ambulans pembawa jenazah, spidol di tangan petugas Indonesia Automatic Fingerprint Identification System (Inafis)-Polri bergetar. Karena gugup, sang komandan lalu meninggalkan si petugas. Pekerjaannya siang itu memang amat penting dan ditunggu rakyat seantero negeri, yakni mengidentifikasi sidik jari jenazah yang membujur di hadapannya.

Identifikasi itu berlangsung di dalam ambulans di landasan Bandara Adi Sumarmo, Solo. Rupanya identitas jenazah itu harus sudah jelas sebelum diterbangkan ke Jakarta.

Sekitar pukul 11.00, hasil yang ditunggu-tunggu akhirnya dapat disimpulkan. Petugas Inafis menyimpulkan, sidik jari jenazah identik dengan data sidik jari milik buronan teroris Noordin M Top, yang diperoleh dari Polis Diraja Malaysia. Sang petugas mencocokkan sidik jari itu dengan metode klasifikasi Henry Faulds.(Sarie Febriane)

Sumber : Kompas Cetak

KOMPAS IMAGES/DHONI SETIAWAN
Empat jenazah teroris, yang tewas dalam penyergapan oleh tim polisi antiteror di Solo, tiba di Rumah Sakit Polri Sukamto, Jakarta Timur, Kamis (17/9). Gembong teroris Noordin M Top akhirnya tewas tertembak peluru dalam peristiwa tersebut.

Noordin Tewas di Kamar Mandi
Malaysia Akui Tak Berperan dalam Operasi

Jumat, 18 September 2009 | 04:23 WIB

Jakarta, Kompas – Buronan teroris warga negara Malaysia, Noordin M Top, akhirnya tewas dalam penyergapan tim polisi antiteror di Solo, Jawa Tengah, Kamis (17/9) dini hari. Identitas Noordin disimpulkan melalui identifikasi sidik jari dengan sistem Henry Faulds oleh tim Indonesia Automatic Fingerprint Identification System-Polri.

Informasi tewasnya Noordin itu diumumkan oleh Kepala Polri Jenderal (Pol) Bambang Hendarso Danuri di Markas Besar Polri, Kamis sore kemarin. ”Ia adalah Noordin M Top,” kata Kepala Polri.

Berdasarkan identifikasi tim Indonesia Automatic Fingerprint Identification System (Inafis)- Polri, pola sidik jari ibu jari tangan kanan pada jenazah terdapat 12 titik kesamaan dengan data sidik jari Noordin milik Polisi Diraja Malaysia. Sementara dari sidik ibu jari tangan kiri terdapat 2 titik kesamaan. Sidik jari dapat disimpulkan identik jika minimal terdapat 11 titik kesamaan.

Meski demikian, Kepala Polri mengatakan, Polri akan tetap menguji DNA (deoxyribonucleic acid) Noordin untuk verifikasi identitas. Uji DNA diprediksi akan selesai dalam 30 jam sejak pemeriksaan.

Operasi penyergapan tim satuan tugas polisi antiteror berlangsung di Kampung Kepuhsari, Kelurahan Mojosongo, Kecamatan Jebres, Solo, sejak Rabu malam hingga Kamis pagi. Operasi berawal dari penangkapan terhadap Rohmad Puji Prabowo alias Bejo di Pasar Gading, Solo, Rabu sekitar pukul 13.30. Setelah menangkap Bejo, polisi kemudian menangkap Supono alias Kedu. Rohmad merupakan bekas terpidana terorisme yang ditangkap pada Juni 2004 terkait kasus bom di Kedutaan Besar Australia.

Dari penangkapan Rohmad dan Supono, operasi penyergapan berlanjut di rumah kontrakan Susilo di RT 03 RW 011 Kampung Kepuhsari. Penyerbuan polisi di rumah Susilo dimulai hari Rabu sekitar pukul 22.30. Rentetan tembakan terus terdengar hingga Kamis subuh dan baru berhenti sekitar pukul 06.00.

Polisi lalu menemukan jenazah Noordin dalam posisi meringkuk miring menghadap kiri di pojok kamar mandi yang berada di bagian belakang rumah Susilo. Tangan kiri Noordin menutupi wajahnya. Noordin mengenakan kaus putih kebiruan, celana kain coklat gelap, dan sandal gunung. Di punggungnya tergantung ransel berisi laptop dan kertas-kertas dokumen. Polisi juga menemukan senjata api jenis Baretta di dekat jenazah Noordin. Senjata M-16 juga ditemukan di salah satu pojok kamar mandi.

Noordin sedikitnya mendapat tiga luka tembak, yakni di bagian kepala, rusuk kanan, dan paha kaki kiri. Kepala bagian belakang Noordin pecah, diduga akibat terempas saat tim satuan tugas polisi antiteror meledakkan tembok belakang kamar mandi.

Masih di kamar mandi, jenazah lain yang ditemukan adalah buronan Ario Sudarso (36) alias Aji, Susilo (23), dan Putri Munawaroh, istri Susilo. Munawaroh yang tengah hamil ditemukan hidup tertindih tubuh suaminya. Sementara jenazah Bagus Budi Pranoto alias Urwah ditemukan di halaman belakang, tepat di balik tembok kamar mandi yang jebol diledakkan polisi. Urwah sempat berusaha melarikan diri.

Di rumah Susilo itu polisi juga menemukan satu laptop lainnya, 200 kilogram bahan peledak, amunisi, dan dokumen.

Melawan

Suara tembakan terdengar saat warga tengah bersiap untuk tidur. Dari dalam rumah Susilo juga meletus tembakan ke arah polisi. Semula warga mengira suara tembakan adalah ledakan mercon. Suara rentetan tembakan yang tidak berhenti selama 1,5 jam membuat warga mendekati lokasi penyerbuan yang dijaga ketat polisi dari jarak 500 meter di sejumlah titik akses.

Kepala Polri juga mengatakan, para buronan teroris sempat melawan dengan serangan tembakan senjata ke arah polisi.

Pada pukul 05.20 dan 05.39 juga terdengar ledakan bom dari rumah kontrakan Susilo. Suara tembakan kadang-kadang mereda dan baru benar-benar berhenti pukul 06.00. Tim satuan tugas polisi antiteror beberapa kali menambah amunisi yang dibawa di dalam peti-peti kayu.

Polisi juga tampak membawa gulungan-gulungan kabel, memasukkan karung-karung putih, tas, dan kardus besar yang tidak diketahui isinya. Mobil pemadam kebakaran, ambulans, mobil jenazah, dan mobil unit identifikasi tempat kejadian perkara juga dikirimkan mendekati lokasi penyergapan.

Ambulans sebanyak empat unit terlihat meninggalkan lokasi sekitar pukul 07.40 dan menuju Bandara Adisumarmo, Solo, kemudian diterbangkan ke Jakarta sekitar pukul 11.00.

Rombongan yang membawa empat jenazah, yaitu Noordin M Top, Ario Sudarso, Susilo, dan Urwah, serta Munawaroh tiba di Rumah Sakit Polri, Kramat Jati, Jakarta Timur, sekitar pukul 13.00. Keempat jenazah langsung dibawa ke kamar mayat untuk diotopsi, sedangkan Munawaroh dibawa ke gedung unit gawat darurat.

Tak berapa lama, Munawaroh dibawa ke ruang operasi. ”Kaki kanannya terluka oleh peluru, tetapi kondisinya relatif stabil kok. Kehamilan baik,” kata seorang perawat di Ruang Cendrawasih RS Polri.

Ketua Komisi III DPR Trimedya Panjaitan seusai mengunjungi kamar mayat mengungkapkan, bagian belakang kepala Noordin berlubang. ”Kulitnya kuning langsat, berambut ikal, dengan janggut lebat,” ucap Trimedya.

Jenazah lainnya dalam keadaan mengenaskan. ”Keduanya diletakkan di dalam kantong jenazah, sedangkan mayat keempat sudah tertutup rapat dalam kantong jenazah,” kata Trimedya.

Malaysia menyesal

Menteri Luar Negeri Malaysia Datuk Anifah Aman mengatakan, pihaknya memercayakan penangkapan Noordin tersebut kepada Polri. Pemerintah Malaysia juga tidak akan menggurui Indonesia dalam hal bagaimana seharusnya menangkap Noordin.

Malaysia, tambah Anifah, tak akan mengintervensi dalam bentuk apa pun. ”Kami akan menitikberatkan perhatian pada upaya pemberantasan teroris dan saling bertukar informasi agar masalah ini segera diatasi,” ujarnya.

Sementara itu, Menteri Dalam Negeri Malaysia Hishammuddin Hussein, seperti dikutip Associated Press, mengatakan, Pemerintah Malaysia menginginkan agar jenazah Noordin dipulangkan ke Malaysia supaya bisa dikuburkan di kampung halamannya. Menurut dia, Pemerintah Malaysia tidak berperan apa pun dalam penyergapan Polri di Solo.

Ia menyatakan menyesal bahwa Malaysia tidak bisa menangkap Noordin sebelum melarikan diri dari Malaysia. ”Saya menyesal bahwa kami tidak bisa merehabilitasinya, bahwa kami tidak memiliki kesempatan untuk mengubah pemikirannya, dan bahwa ia harus berakhir seperti ini. Akan tetapi, apa yang dilakukannya salah. Kami tidak bisa mengampuninya,” ujar Hishammuddin.

Keluarga Noordin di Malaysia mengaku pasrah mendengar kabar tewasnya Noordin. Mereka sudah lama tidak berhubungan lagi dengan Noordin. ”Keluarga pasrah apa yang berlaku,” ujar juru bicara keluarga Noordin di Malaysia, Badaruddin Ismail, yang dihubungi Kompas.com, Kamis sore.

Soal tes DNA, Badaruddin berpendapat, pihak keluarga tidak perlu lagi datang ke Indonesia karena contoh DNA sudah pernah diambil saat polisi melakukan penyergapan teroris di Temanggung, Jawa Tengah.

Buronan teroris yang masih diburu adalah Syaifudin Zuhri, Syahrir, dan Bahrudin Latief. (SF/ONG//EKI/SON/WIN/CAL/FRO/KSP)


KOMPAS/HERU SRI KUMORO
Polisi berjaga di depan rumah yang telah ditutup seng seusai penyergapan oleh tim polisi antiteror dan Brimob Polda Jawa Tengah di Kampung Kepuhsari RT 03 RW 11, Kelurahan Mojosongo, Kecamatan Jebres, Solo, Jawa Tengah, Kamis (17/9). Sebanyak empat orang yang diduga terlibat dalam jaringan teroris tewas dalam penyergapan tersebut.

Noordin, 17 Kali Tercium Jejaknya…

Jumat, 18 September 2009 | 04:26 WIB

Teroris warga negara Malaysia, Noordin M Top, setidaknya sudah tercium jejaknya sebanyak 17 kali oleh polisi sejak ”perantauannya” ke Indonesia pada tahun 2002. Tim satuan tugas antiteror Polri akhirnya menangkap Noordin di Kampung Kepuhsari, Kelurahan Mojosongo, Solo, Jawa Tengah, pada 17 September 2009, genap dua bulan setelah peledakan bom di Hotel JW Marriott dan Ritz-Carlton pada 17 Juli 2009.

Rabu (16/9) siang, tim satuan tugas antiteror Polri sebenarnya menuju Urwah alias Bagus Budi Pranoto, bekas terpidana terorisme yang pernah ditangkap polisi pada Juli 2004. Urwah lolos dalam operasi di Solo pada 7-8 Agustus 2009.

Setelah menangkap Rohmad Puji Prabowo alias Bejo dan Supono alias Kedu di Solo, Rabu siang, polisi langsung bergerak menuju rumah kontrakan Susilo di Kepuhsari. Berdasarkan keterangan Bejo, Urwah ada di rumah Susilo.

Bejo sendiri merupakan rekan Urwah selama ini. Tak disangka, saat penyergapan yang diwarnai baku tembak, terungkap ada dua buronan penting di rumah Susilo, yakni Ario Sudarso dan Noordin M Top.

Ario Sudarso sendiri merupakan perakit bom yang juga melatih Sugi, perakit bom di Kelompok Palembang yang diringkus pada 2008.

Berdasarkan catatan kepolisian, Noordin M Top bertanggung jawab atas empat peristiwa peledakan bom di Indonesia, yaitu bom Marriott 2003, bom Kedutaan Besar Australia 2004, bom Bali 2005, dan bom di Hotel JW Marriott dan Ritz-Carlton Jakarta, 17 Juli 2009.

Awal tahun 2002 Noordin tiba di Pekanbaru, Riau, dari Malaysia. Di kota ini, Noordin bahkan sempat menikah lagi.

Berdasarkan catatan tim satuan tugas antiteror Polri, mulai dari Pekanbaru, polisi setidaknya sudah 17 kali mencium jejak Noordin sebelum akhirnya terdeteksi kembali di Kepuhsari.

Noordin memang amat licin. Namun, satu hal yang amat menentukan pelariannya adalah jejaring simpatisan yang senantiasa melindunginya.

Pada Januari 2003, misalnya, Noordin tercium di Bukittinggi, Sumatera Barat. Kemudian, pada Januari 2003, Noordin, Rais, dan Azhari Husin (warga negara Malaysia, sudah tewas) pindah lagi ke Bengkulu. Di Bengkulu inilah Noordin terlecut ide untuk menggelar aksi peledakan bom spektakuler, yang lalu berujung pada sasaran Hotel JW Marriott pada 5 Agustus 2003.

Setelah itu, Noordin juga sempat singgah di Lampung (2003), Bandung (2003), Solo (2004), Surabaya (2004), Tangerang (2004), Jakarta (saat bom Kedubes Australia 2004), Cikampek (2004), Semarang (2005), Solo (2005), Temanggung (2005), Cilacap (2006), Palembang (2007), Cilacap (2009), dan Jakarta (17 Juli 2009).

Saat penyergapan di Bandung, Jawa Barat, Oktober 2003, Noordin bahkan sudah sempat berhadap-hadapan dengan polisi, tetapi lolos. Ketika itu polisi sempat khawatir Noordin membawa bom dan nekat meledakkan diri di areal padat penduduk.

Noordin—lulusan Universiti Teknologi Malaysia—selama ini menjalankan aksinya dengan memanfaatkan orang dari organisasi Al Jamaah Al Islamiyah atau Jemaah Islamiyah (JI). Noordin sendiri menganggap dirinya sebagai pemimpin sayap militer JI. Namun, banyak dari anggota JI memandang kelompok Noordin sebagai kelompok sempalan JI. Diperkirakan sejak tahun 2003 Noordin dan kelompoknya merencanakan dan menjalankan aksinya sendiri.

Sejak sekitar tahun 2004, Noordin kerap merekrut orang- orang muda dari organisasi lain ataupun yang tak berpayung dalam suatu organisasi.

Saat bersekolah mengambil gelar sarjana S-1 di Universiti Teknologi Malaysia, sekitar tahun 1995, Noordin mulai kerap bersinggungan dengan Pondok Pesantren Luqmanul Hakiem, yang tak jauh dari kampusnya.

Pondok pesantren ini merupakan salah satu sekolah jaringan JI di Malaysia. Belakangan Noordin telah menjadi kepala sekolah di pondok pesantren itu hingga 2001. Saat Malaysia intensif memberangus jaringan JI, pondok pesantren itu pun berhenti beroperasi tahun 2002. (SF)

Teror Pasca-Noordin M Top

KOMPAS, Jumat, 18 September 2009 | 04:53 WIB

Oleh Andi Widjajanto

Akhirnya, Detasemen Khusus 88 berhasil menewaskan gembong teroris Noordin M Top. Keberhasilan ini membuka berbagai skenario tentang perkembangan jejaring teror di Indonesia. Skenario ini penting dibangun untuk menentukan arah strategi kontrateror Indonesia.

Skenario terbaik yang bisa dibayangkan adalah tewasnya Noordin M Top sekaligus menjadi akhir dari gerak jejaring teror di Indonesia. Semua anggota jejaring diperkirakan akan mengalami proses demoralisasi. Tidak ada anggota jejaring yang akan mampu menggantikan kepemimpinan Noordin M Top. Jejaring teror di Indonesia tidak lagi mampu untuk melakukan revitalisasi jejaring.

Namun, strategi kontrateror Indonesia harus dibangun untuk mengantisipasi skenario terburuk. Skenario terburuk yang bisa dibangun adalah terjadinya proses metamorfosis jejaring sehingga Indonesia akan menghadapi ancaman teror dengan tingkat eskalasi lebih tinggi.

Balas dendam

Metamorfosis teror di Indonesia akan diawali suatu aksi retaliasi atas kematian Noordin M Top. Aksi retaliasi ini merupakan balas dendam sekaligus pembuktian bahwa jejaring tetap bisa bertahan tanpa kehadiran Noordin.

Pengalaman Kolombia dalam penumpasan gembong-gembong teror menunjukkan, aksi retaliasi ini biasanya tidak berwujud suatu serangan teror dalam skala besar, tetapi lebih ditujukan terhadap individu-individu yang dianggap paling bertanggung jawab atas tewasnya Noordin M Top. Rencana Jatiasih juga menunjukkan bagaimana kelompok Noordin berencana melakukan serangan Cikeas bukan karena Presiden Yudhoyono memiliki ideologi politik yang mengancam mereka, tetapi karena dianggap bertanggung jawab atas pelaksanaan eksekusi mati tiga pelaku teror bom Bali I.

Aksi retaliasi ini sekaligus menjadi titik awal konsolidasi jejaring teror. Pola retaliasi Tentara Republik Irlandia (IRA) menunjukkan, saat melakukan retaliasi, jejaring teror akan menggunakan orang-orang paling militan untuk melaksanakan serangan. Kemunculan semangat militan baru ini akan menjadi landasan bagi jejaring teror untuk melakukan revitalisasi jejaring.

Revitalisasi jejaring teror di Indonesia tampaknya akan sekaligus menjadi kemunculan kelompok Al Qaeda Asia Tenggara. Dokumen Solo yang ditemukan Densus 88 untuk pertama kali mengonfirmasi keberadaan kelompok ini. Dalam dokumen itu, Noordin M Top, Syaifudin Zuhri, dan Syahrir disebut sebagai pemimpin (qo’id) Tandzim Al Qaeda wilayah Asia Tenggara.

Skenario buruk yang bisa diprediksikan muncul adalah Syaifudin Zuhri dan Syahrir akan melanjutkan tandem kepemimpinan dengan cara menjadikan Indonesia sebagai front kedua perlawanan Al Qaeda. Front kedua ini dibutuhkan untuk mengalihkan konsentrasi gelar pasukan AS yang saat ini memprioritaskan penghancuran front Al Qaeda di Afganistan dan Pakistan barat.

Jika front kedua ini tercipta, Indonesia akan melihat suatu eskalasi ancaman teror ke tingkat lebih tinggi. Karakter jejaring teror Noordin M Top, yang selama ini mengandalkan perekrutan-perekrutan lokal dari komunitas Jemaah Islamiyah maupun komunitas Negara Islam Indonesia akan menguat menjadi jejaring teror transnasional. Jejaring teror transnasional ini akan memperkokoh interaksi ad hoc yang sudah tercipta antara front Indonesia-Moro-Pattani.

Sasaran

Kemungkinan terbentuknya jejaring teror transnasional di Indonesia akan secara signifikan mengubah target serangan teror. Sebelumnya, kelompok Noordin M Top melakukan serangan ke sasaran-sasaran biasa, sasaran penting, dan sasaran yang berdampak besar. Karakter sasaran ini dapat berubah dengan melihat pola serangan terorisme internasional.

Dalam enam tahun terakhir, jejaring teroris transnasional cenderung memilih fasilitas-fasilitas bisnis (58 persen) sebagai target serangan utama. Namun, jejaring ini juga menyerang target-target militer dan pemerintahan. Serangan jejaring teroris transnasional yang ditujukan langsung ke fasilitas-fasilitas militer mengambil 1,8 persen kasus dari semua populasi serangan teroris.

Serangan untuk fasilitas pemerintah dan diplomasi juga terjadi, yaitu masing-masing 3,6 persen dan 7,5 persen.

Densus 88

Skenario penguatan jejaring teror di Indonesia harus diimbangi dengan penguatan strategi kontrateror. Tewasnya Noordin M Top seharusnya sudah dapat menepis segala bentuk keraguan tentang kemampuan Densus 88 untuk menggelar strategi kontrateror yang efektif. Untuk mengantisipasi skenario terburuk metamorfosis jejaring teror pasca-Noordin M Top dan sebagai penghargaan atas keberhasilan operasional Densus 88, kapasitas Densus 88 harus diperkuat sehingga unit ini dapat berperan sebagai penjuru implementasi strategi kontrateror di Indonesia.

Penguatan peran Densus 88 sebagai penjuru harus disertai upaya untuk mempertahankan tingkat kepercayaan publik terhadap Densus 88 yang saat ini berada di tingkat sangat tinggi. Tingkat kepercayaan publik bisa dipertahankan dengan memberi legitimasi politik bagi tiap gelar operasional yang dilakukan Densus 88.

Legitimasi politik ini akan hilang jika pemerintah berusaha menerapkan paradigma perang dan bukan paradigma pendekatan hukum sebagai landasan operasional strategi kontrateror di Indonesia. Legitimasi ini akan lenyap jika pemerintah berupaya merevisi UU Antiteror tahun 2003 dengan regulasi baru yang memiliki karakter otoritarian. Legitimasi ini pasti pudar jika pemerintah berusaha membentuk badan antiteror nasional yang memiliki kewenangan luas. Legitimasi ini pasti lenyap jika pelaksanaan strategi kontrateror mencabut prinsip-prinsip demokrasi dan hak asasi manusia.

Andi Widjajanto Dosen Pascasarjana Intelijen Strategis Universitas Indonesia

Tewasnya Noordin M Top
Diam-diam Susilo Latih Pencak Silat untuk Anak-anak
Kapolri Jenderal Pol bambang Hendarso Danuri menunjukkan foto lama Hadi Susilo, tersangka teroris yang tewas dalam penyergapan Densus 88 di Jebres, Solo.

Jumat, 18 September 2009 | 16:31 WIB

Laporan wartawan KOMPAS Sonya Helen Sinombor

SOLO, KOMPAS.com — Sebelum rumah Susilo diserbu Densus 88, ternyata Susilo melatih beberapa anak laki-laki (SD dan SMP) dengan ilmu bela diri pencak silat. Latihan ini dilakukan secara diam-diam di rumahnya di Kampung Kepuhsari, Mojosongo, Jebres, Solo, sejak pertengahan Agustus 2009.

Hari Jumat (18/9) sore, wartawati Kompas mewawancarai tiga anak yang dilatih Susilo. Ketiga anak itu adalah Andika Bayu Pamungkas (12), Indro Purnomo (11), dan Kenvin Yovi Pratama (10). Mereka adalah anak tetangga Susilo.

Ketiganya mengaku mendapat tawaran dari Susilo untuk berlatih bela diri setelah mengikuti Taman Pengajian Al Quran yang digelar istri Susilo, Putri Munawaroh. “Kami habis pengajian, dilatih sama Mas Adib, diajari cara menangkis, cara menendang, memukul. Pokoke diajari bela diri,” cerita Indro.

Mereka mengatakan sempat bertanya kepada Susilo, untuk apa latihan bela diri. Susilo menjawab bahwa itu untuk menghadapi lawan atau teman, jika mereka bertengkar.

Pengakuan anak-anak ini baru disampaikan Kamis kemarin kepada orangtua mereka setelah anak-anak itu tahu bahwa Susilo adalah teroris. “Ya kaget, kok pak guru silat teroris,” ujar Andika.

Ditanya wartawan mengapa baru sekarang mengaku, Indro menjawab, selama ini Susilo melarang mereka memberi tahu kepada siapa pun, termasuk kepada orangtuanya.

Sampai saat ini, anak-anak itu masih mengalami trauma, mengingat peristiwa tembak-tembakan hari Rabu malam.

17
Sep
09

Terorisme : Kepala PolRI Pastikan Noordin Tewas

Kepala Polri Pastikan Noordin Tewas
Kamis, 17 September 2009 | 15:10 WIB

Laporan wartawan KOMPAS Wisnu Nugroho A

JAKARTA, KOMPAS.com — Kepala Polri (Kapolri) Jenderal Polisi Bambang Hendarso Danuri memastikan, satu dari empat korban tewas dalam penggerebekan oleh Tim Densus 88 di Jebres, Solo, Jawa Tengah, Kamis (17/9), adalah gembong teroris yang selama ini dicari, Noordin M Top.

Kepastian ini disampaikan Kapolri seusai menghadap Presiden Susilo Bambang Yudhoyono di Istana Negara, Kamis sore ini. “Ya-ya-ya,” ujar Kapolri sambil mengacungkan dua jempolnya dan tersenyum saat ditanya wartawan, apakah benar Noordin tewas dalam penggerebekan itu.

Ditanya Kompas dari mana kepastian itu diperoleh, apakah melalui identifikasi DNA atau sidik jari, dia menjawab, “Nanti, penjelasannya di Mabes Polri sore ini.”

Kedatangan Kapolri ke Istana pun di luar jadwal, tetapi hal ini biasa dilakukannya tiap kali berlangsung operasi terorisme. Hal serupa dilakukan Kapolri seusai melakukan operasi penggerebekan di Jatiasih, Bekasi, dan Temanggung, Jawa Tengah.

Empat Mayat Teroris Tiba di RS Polri
Kamis, 17 September 2009 | 13:02 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — Rombongan pembawa empat mayat teroris yang tewas dalam penggerebekan Densus 88 di Solo tiba di RS Polri Sukanto, Jakarta Timur, Kamis (17/9) pukul 12.45.

Empat mayat dibawa dengan empat unit ambulan. Begitu tiba, mayat dikeluarkan satu per satu, kemudian dimasukkan ke dalam ruang jenazah dengan pengawalan ketat puluhan petugas kepolisian. Masing-masing mayat berada di dalam peti yang ditutup dengan kain putih.

Tampak empat anggota Tim Densus 88 mengawal ketat, lengkap dengan senjata api. Setelah semua jasad masuk ke dalam ruang jenazah, dua anggota Tim Densus 88 berjaga tepat di pintu masuk ruang tersebut. Hingga saat ini puluhan petugas masih berjaga-jaga di sekitar ruang jenazah.

Sementara itu sekitar pukul 13.15, Kapolri Jenderal Pol Bambang Hendarso Danuri beserta jajarannya meninjau Rumah Sakit Polri Sukanto. Tampak ikut hadir Wakapolri Komjen Pol Makbul Padmanagara, Menteri Perhubungan Jusman Syafii Djamal, Staf humas Mabes Polri Kombes Pol I Ketut Untung Yoga, dan beberapa pejabat tinggi TNI AL.


C8-09

Korban, DPO Teroris

By Republika Newsroom
Kamis, 17 September 2009 pukul 16:44:00

Seluruh Korban Tewas Adalah DPO TerorisPRIMAONLINEKadiv Humas Polri, Irjen Pol Drs Nanan Sukarna memperlihatkan empat wajah dalam Daftar Pencarian Orang.

JAKARTA — Seluruh korban tewas dalam penggeberekan di Solo adalah buronan kelas kakap Mabes Polri. Terutama dalam bom JW Marriott dan Ritz Carlton.

Dalam jumpa pers Kamis (17/9), Kapolri Jenderal Bambang H Danuri, mengatakan keempat korban tewas adalah Bagus Budi Pranoto alias Urwah, Hadi Susilo, Aryo Sudarso, dan terakhir Noordin M Top.

Urwah adalah pelaku pengeboman Kedubes Australia 2003 yang sudah divonis tujuh tahun. Ia dibebaskan bersyarat empat tahun. Tapi bermain lagi mennyiapkan bom di Jatiasih. Urwah adalah ahli pembuat bom.

Kedua adalah Hadi Susilo, yang menyewa rumah. Ketiga, Kapolri menyebutnya dengan tegas, ”Ini betul-betul kita cari dan dapat karena dia murid Dr Azahari. Ahli pembuat bom, Aryo Sudarso alias Aji,” katanya.

Korban terakhir, adalah Noordin M Top. Bagaimana cara korban meninggal? Kapolri tidak memberikan keterangan rinci. ”Terjadi tembak menembak, mereka berhasil kita lumpuhkan jadi meninggalnya ada tindakan tegas, mereka menyerang tidak mau serahkan diri, bahkan terus menembak, dengan teriakan heroik,” katanya.

Kapolri menyebut, ada granat yang sudah siap diledakkan, ”Kuncinya sudah ditarik. Ini berbahaya, dan ada juga bom tangan,” katanya. Kedua bahan peledak ini sudah diamankan oleh polisi di tempat kejadian. evy/itz

Kapolri: 14 Titik Sidik Jari Buktikan Itu Noordin M Top
Kamis, 17 September 2009 | 16:02 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — Kapolri Jenderal Pol Bambang Hendarso Danuri memastikan salah satu korban tewas dalam penggerebekan tim Detasemen Khusus 88 di Kampung Kepuh Sari RT 3 RW 11, Kelurahan Mojo Songo, Kecamatan Jebres, Solo, adalah Noordin M Top.

“Berdasar sidik jari, terdapat kesamaan pada 14 titik, baik jari kiri maupun kanan identik dengan DPO yang sembilan tahun kita jadikan target untuk kita tangkap. Dan dia adalah Noordin M Top,” ujar Kapolri di Mabes Polri, Jakarta, Kamis (17/9). Pernyataan Kapolri itu langsung disambut tepuk tangan semua yang hadir di sana.

Menurut Kapolri, keberhasilan Densus 88 melumpuhkan empat teroris dalam penggerebekan Kamis pagi itu merupakan berkah bagi bangsa Indonesia. “Ini adalah berkah di bulan Ramadhan bagi seluruh bangsa Indonesia.”

Dikatakan Kapolri, selain Noordin, korban yang tewas adalah Bagus Budi Pranoto alias Urwah, pelaku pengeboman Kedubes Australia tahun 2003, lalu Susilo alias Abid (24), yang menghuni rumah di Jebres, Ario Sudarso alias Aji alias Suparjo Dwi Anggoro alias Dayat alias Mistam Husamudin. Sementara korban luka adalah Putri Munawaroh yang dirawat di RS Polri Kramat Jati, istri Susilo.


BOB

GB
Kapolri Jenderal Bambang Hendarso Danuri menunjukkan sidik jari buronan paling dicari, Noordin M Top.
Kamis 17/09/2009 17:49 WIB

Foto News

Noordin M T Tewas

Fotografer – Dikhy Sasra

Kapolri Jenderal Bambang Hendarso Danuri memastikan gembong teroris Noordin M Top tewas dalam penggerebekan di Solo, Jawa Tengah, Kamis (17/9). Hal itu disampaikan dalam jumpa pers di Mabes Polri.

Foto Lain:

  • Fotolain
  • Fotolain
  • Fotolain
  • Fotolain
  • Fotolain
Kalla: Setelah NMT Tewas, Giliran Ulama yang Turun Tangan
Kamis, 17 September 2009 | 16:55 WIB

Laporan wartawan KOMPAS Suhartono

JAKARTA, KOMPAS.com — Wakil Presiden M Jusuf Kalla menyatakan, setelah tewasnya Noordin M Top, saatnya bagi tokoh-tokoh ulama ataupun organisasi massa Islam turun tangan memulihkan dan mengingatkan kembali ajaran Islam yang benar, kepada sisa-sisa pengikut dan jaringan NMT. Tujuannya agar benih-benih terorisme dan radikalisme, sebagaimana yang ditinggalkan NMT, tidak ada lagi di Indonesia.

Hal itu disampaikan Wapres dalam keterangan pers seusai kepastian tewasnya NMT di Istana Wapres Jakarta Kamis (17/9). “Saya kira sekarang setelah polisi berhasil menewaskan Noordin M Top, saatnya bagi ulama maupun ormas Islam untuk segera mengembalikan ajaran Islam yang benar kepada mereka yang pernah diajarkan Noordin M Top dan jaringannya,” tandas Kalla.

Dikatakan Kalla, ideologi radikalisme dan terorisme harus dihilangkan dari bumi Indonesia. Para pengikut NMT juga harus dikembalikan pada ajaran Islam yang benar.

Dalam kesempatan itu, secara khusus Wapres Kalla menyampaikan ucapan selamat kepada jajaran Polri, khususnya Densus 88, yang tidak kenal lelah mengejar dan akhirnya menewaskan NMT. “Keberhasilan ini akan mengembalikan dan memulihkan citra Polri, yang sebelumnya sempat mendapat sorotan saat kasus penyerbuan Temanggung,” demikian Kalla.

Kamis, 17/09/2009 18:53 WIB
9 Tahun Buron, Pelarian Noordin Berakhir di Kamar Mandi
Ken Yunita – detikNews


Jakarta – 9 Tahun, Noordin M Top menjadi buronan polisi. Akhirnya, gembong teroris asal Malaysia itu dapat dibekuk setelah bersembunyi di kamar mandi sebuah rumah di Solo, Jawa Tengah yang digerebek Densus 88.

“Rumah terbakar karena ada motor yang terkena tembakan dan terbakar. Untuk menghindari api, 5 orang itu berlari ke kamar mandi untuk berlindung,” kata Kapolri Jenderal Bambang Hendarso Danuri (BHD).

Hal itu disampaikan BHD dalam jumpa pers di kantornya, Jalan Trunojoyo, Jakarta, Kamis (17/9/2009).

Di kamar mandi inilah, nyawa Noordin akhirnya melayang. Pria yang konon memiliki banyak istri itu tewas setelah terkena ledakan. Namun BHD memastikan, Noordin tidak meledakkan bom bunuh diri.

“Dia terkena senjata kita bukan bom bunuh diri,” kata BHD.

Tewasnya Noordin hampir mirip dengan rekannya sesama alumnus Universiti Teknologi Malaysia (UTM), Dr Azahari. Azahari yang ahli merakit bom itu tewas dalam sebuah penggerebekan di Malang, Jawa Timur, pada 9 November 2005.

Bersama Azahari, teroris yang dihargai Rp 1 miliar itu ditengarai menjadi otak serangkaian pengeboman di Indonesia yang menewaskan ratusan korban. Keduanya mendalangi aksi Bom Bali I (2002), bom Hotel JW Marriott, Jakarta (2003), bom Kedutaan Australia (2004), dan Bom Bali II (2005).

Noordin (40) merupakan warga negara Malaysia yang lahir di Kluang Johor, pada 11 Agustus 1968. Noordin tercatat pernah bergabung dengan Jamaah Islamiyah (JI) dan memegang bagian pendanaan.

Namun, menurut Direktur International Crisis Group (ICG), Sidney Jones, JI mengalami perpecahan internal pada tahun 2003. Sejak itu pula, Noordin memimpin kelompok sempalan yang tidak tunduk kepada JI pusat dan merasa menjadi wakil Al Qaeda di Indonesia dan Asia Tenggara.

“Penting untuk dibedakan antara Noordin dan JI. Dia memang anggota JI, tapi selama 5 tahun belakangan ini sudah menjadi ketua kelompok sempalan, di mana ada beberapa anggota JI tapi mereka tidak tunduk kepada JI sebagai organisasi,” kata Sidney beberapa waktu lalu.

Sepeninggal Azahari, Noordin terus merekrut kader-kader yang bersedia diajak untuk melakukan ‘jihad’ dengan aksi pengeboman yang menetapkan orang asing sebagai sasaran. Noordin memang dikenal piawai untuk mempengaruhi dan membujuk pengikutnya.

Kepiawaian Noordin tidak hanya dalam hal merekrut ‘pengantin’, sebutan bagi mujahid yang melakukan bom bunuh diri. Noordin juga licin bak belut alias pandai menghindari kejaran polisi. Noordin diketahui selalu berpindah-pindah. Dia sempat tinggal di Riau, namun belakangan lebih senang berkeliaran di Jawa Tengah.

Menurut mantan investigator bom Bali I Hermawan Sulistyo, Noordin bisa secepat ‘kilat’ menghilang apabila diendus oleh polisi. Terhitung, 9 tahun sudah Noordin berada dalam pelariannya.

“Saat di Semarang saja Noordin sudah berpapasan sama polisinya. Habis itu dikejar dalam hitungan 2 menit hilang di depan publik,” jelas Kiki, panggilan akrab Hermawan.

Namun kini pelarian Noordin telah berhenti. Gembong teroris itu tewas bersama 3 rekannya, Bagus Budi Santoso alias Urwah, Aryo Sudarso alias Aji, dan Hadi Susilo alias Adib.
(ken/iy)

Kamis, 17/09/2009 19:05 WIB
Noordin Tewas dengan Brewok Panjang
Didit Tri Kertapati – detikNews


Jakarta – Gembong teroris Noordin M Top selalu berubah-ubah penampilannya. Saat ditembak mati di Solo, Jawa Tengah, pria asal Malaysia tersebut tewas dengan kondisi memiliki brewok panjang.

“Brewoknya yang panjang,” kata Kadiv Humas Mabes Polri Irjen Pol Nanan Soekarna di Mabes Polri, Jl Trunojoyo, Jakarta, Kamis (17/9/2009)/

Nanan enggan menjelaskan lebih jauh kondisi fisik Noordin saat tewas. Ia hanya memastikan hasil identifikasi 14 persamaan titik sidik jari jenazah itu dengan Noordin.

Terkait kabar Noordin yang memiliki istri di Pandeglang, Nanan memastikan itu tidak benar. Kapolda Banten mengaku sudah menelusuri hal tersebut, tapi tidak ada hasilnya.

“Ternyata Pandeglang nggak ditemukan. Kapolda sudah telusuri tidak ada nama itu,” tegasnya. (mad/sho)

Kamis, 17/09/2009 19:11 WIB
Penggerebekan di Solo
Sibuk Mengajar & Pelihara Sapi, Susilo Tak Aktif di Luar Pesantren
Muchus Budi R. – detikNews


Dok Detikcom

Jakarta – Tidak ada aktivitas mencurigakan yang ditunjukkan Hadi Susilo alias Adib. Karena sibuk mengajar dan memelihara hewan ternak di pesantren Al Kahfi, Susilo (24) hampir tidak punya kegiatan di luar pesantren.

“Karena tugas yang sangat sibuk itu, sebetulnya Susilo tidak pernah bepergian jauh atau izin lama, karena bertangung jawab terhadap sapi-sapi itu,” kata Ketua Yayasan Al Kahfi, Sunoto Ahmad.

Hal itu dikatakan dia saat ditemui di pesantrennya di Mojosongo, Jebres, Solo, Jawa Tengah, Kamis (17/9/2009).

Sunoto membenarkan Susilo merupakan bekas murid di Al Kahfi. Dia masuk tahun 2002 dan lulus pada 2005. Setelah lulus, Susilo diangkat sebagai pengajar di pesantren tersebut.

Mulai Februari 2008-sekarang, Susilo diberi tugas baru, yaitu menjadi pengawas dan pemelihara ternak sapi yang dimiliki pesantren.

Susilo tewas dalam penggerebekan teroris di rumah kontrakannya di Desa Kepuhsari, Mojosongo. Polisi juga berhasil menembak mati gembong teroris Noordin M Top dan dua buronan lainnya, Bagus Budi Pranoto alias Urwah dan Ario Sudarso alias Aji.

(irw/sho)

KepalaBelakangHancur

By Republika Newsroom
Kamis, 17 September 2009 pukul 16:51:00
KEPALA BAGIAN BELAKANG NOORDIN HANCUR

Kepala Bagian Belakang Noordin Hancur

JAKARTA–Ketua Komisi III DPR, Trimedya Panjaitan memastikan salah satu jasad yang ada di RS Polri Sukanto, Kramat Jati, Jakarta Timur adalah Noordin M. Top. Noordin tewas dengan luka di sekujur tubuhnya dan kepala bagian belakangnya hancur.

Usai melihat langsung ke empat jenazah di Instalasi Forensik RS Polri, Kamis (17/9) sekitar pukul 15.30, Trimedya langsung menggelar jumpa pers. “Sudah dipastikan di dalam itu Noordin M. Top. Kalau ditangkap hidup-hidup akan lebih baik lagi, tapi ini telah mati,” tukas Trimedya.

Trimedya menjelaskan, jasad Noodin dalam keadaan utuh, namun terdapat luka-luka luka di sekujur tubuhnya dan kepala di bagian belakang hancur. Sayangnya, Trimedya tidak menjelaskan apa penyebab hancurnya kepala bagian belakang Noordin.

Salah satu jenazah, kata Trimedya, mengalami patah tulang di kedua lengannya. Sedangkan dua jasad lain di bagian kepalanya tidak ditutup kain kafan, sehingga salah satu kepala jenazah terlihat hancur.

Wakil Ketua Komisi 1 DPR, Sidarto Danu Subroto, mengatakan secara fisik jasad Noordin M. Top bisa diidentifikasi dari tanda-tanda yang ada di hidungnya. Menurut Sidarto, ada tahi lalat besar di bagian kiri hidungnya. “Gigi gingsulnya punya dia dan mukanya punya dia,” tukas Sidarto.

Pada kesempatan itu, Sidarto mengucapkan selamat atas nama pribadi dan seluruh anggota DPR kepada Kepolisian Republik Indonesia terutama Tim Densus 88 anti teror yang tidak pernah lelah melakukan pengintaian terus menerus. “Ini bulan puasa bulan, yang harus dihormati dan Tuhan meridhoi,” tandasnya. c14/itz

Akhir Aksi Teroris

Liputan 6

Liputan 6 – Jumat, September 18
Akhir Aksi Sang Penebar Teror

Liputan6.com, Jakarta: Bersama Doktor Azahari, Noordin M. Top, menebar teror di Tanah Air. Setelah sembilan tahun diburu dan kerap lolos dalam sejumlah penyergapan, teroris asal Malaysia ini tewas dalam penyergapan di Solo, Jawa Tengah, Kamis (17/9) pagi [baca: Kapolri: Noordin M. Top Tewas].

Lahir di Malaysia 41 tahun lalu, Noordin belajar dan mengajar di Madrasah Lukmanul Hakim yang didirikan Abdullah Sungkar. Di sinilah, Noordin mengenal Azahari. Dari sekolah ini pula muncul nama-nama Ali Ghufron, Amrozi, dan Imam Samudra, pelaku bom Bali pertama.

Saat pemerintah Malaysia memburu pentolan Jamaah Islamiyah, Noordin dan Azahari lari ke Indonesia melalui Riau. Jika Azahari mahir merakit bom, Noordin dikenal piawai merekrut calon pelaku bom bunuh diri. Noordin juga melatih kelompok binaannya Thaifah Muqotilah atau pasukan tempur.

Setelah perburuan panjang, Azahari tewas dalam pengepungan oleh tim Detasemen Khusus 88 Antiteror di Malang, Jawa Timur, empat tahun lalu. Setahun kemudian, Noordin pun nyaris masuk dalam genggaman polisi ketika penyergapan besar-besaran di Wonosobo.

Dalam penyergapan di Temanggung, Jawa Tengah, bulan lalu, Noordin diyakini tewas meskipun belakangan tidak terbukti. Dan dalam penyergapan pagi tadi di Solo, Noordin bersama tiga orang lain dipastikan tewas. Ketiganya adalah Bagus Budi Pranoto alias Urwah, Susilo, dan Aryo Sudarso. Simak video berikut.(JUM/LUC)

Pistol Noordin

detikcom

detikcom – Jumat, September 18
Sama Dengan Azahari, Noordin Tak Pernah Lepas dari Pistol

Duo teroris asal Malaysia kini tamat. Noordin M Top dipastikan tewas, menyusul sekondannya yang tewas lebih dahulu Dr Azahari. Tapi dari pasangan teroris asal negeri jiran ini ternyata memiliki ciri yang sama. Keduanya selalu memegang pistol.

“Noordin sama dengan Azahari, senjata api jenis Baretta tidak pernah lepas dari badannya,” kata Kapolri Jenderal Pol Bambang Hendarso Danuri di Mabes Polri, Jl Trunojoyo, Jakarta, Kamis (17/9/2009).

Bukan hanya itu saja, keduanya juga menyiapkan pertahanan yang sama, mereka menyimpan peluru yang banyak di saku jaketnya. “Demikian juga pelurunya dimasukkan ke bajunya,” terang Kapolri.

Hidup dalam buruan, membuat Noordin selalu waspada. Selain itu bersama kelompoknya dia juga memegang senjata jenis lain. “Ada M 16 dan granat serta bom tangan yang siap ditarik pemicunya,” jelas Kapolri.

Untuk melumpuhkan Noordin dan temannya Hadi Susilo, Bagus Budi Pranoto alias Urwah, dan Aji alias Ario Sudarso polisi menggunakan alat penghancur tembok.

WaspadaiSisaIdeologi

detikcom

detikcom – Jumat, September 18
JK: Waspadai Sisa-sisa Ideologi Noordin

Polri menyatakan buronan teroris paling dicari di Indonesia, Noordin M Top, tewas dalam penggerebekan di Solo, Jawa Tengah. Atas hal ini Wapres Jusuf Kalla menyampaikan ucapan selamatnya kepada Mabes Polri dan Densus 88. Namun JK mengingatkan agar sisa ideologi teroris tetap diwaspadai.

“Selamat pada Mabes Polri yang telah berhasil menangkap Noordin M Top. Ini merupakan prestasi besar polisi. Selamat juga pada Densus 88 yang tak pernah lelah dalam mengatasi keamanan bangsa,” ujar Wakil Presiden Indonesia Jusuf Kalla kepada wartawan di Istana Wapres, Jl Medan Merdeka Selatan, Jakarta Pusat, Kamis (17/9/2009).

Dikatakan JK, keberhasilan ini merupakan usaha terus menerus yang dilakukan oleh Polri selama 7 tahun terakhir. Dan, lanjut JK, prestasi ini perlu dijaga agar nantinya aksi terorisme di Indonesia bisa semakin berkurang.

Namun, JK menekankan masih adanya sisa-sisa ideologi yang dibawa oleh mantan teroris maupun anak buah Noordin. Ideologi yang memahami bahwa bom bunuh diri itu adalah jihad.

“Ini harus diwaspadai. Ulama harus mengarahkan ke paham yang benar,” tutur JK.

Terhadap hal ini, JK meminta pimpinan ormas Islam untuk melakukan re-edukasi atau dakwah ulang untuk mengembalikan ideologi mereka. Selain itu, tambah JK, diperlukan juga adanya sosialisasi kepada napi-napi pelaku teroris.

13
Sep
09

Terorisme : Patah Tumbuh Hilang Berganti

KOMPAS/P RADITYA MAHENDRA YASA
Rumah Muhjahri di Dusun Beji,Desa Kedu, Kecamatan Kedu, Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah,pernahdijadikan lokasi persembunyian teroris.

TERORIS
Patah Tumbuh Hilang Berganti

KOMPAS, Sabtu, 12 September 2009 | 05:00 WIB

Maruli Tobing

Sejak peristiwa bom Bali I hingga saat ini Polri telah menangkap lebih dari 400 teroris. Angka tersebut merupakan yang tertinggi di Asia Tenggara, menempatkan Indonesia di bawah Pakistan, negara nyaris gagal dan ”kampus” teroris. Dapat dibayangkan bencana apa yang terjadi seandainya teroris sebanyak itu tidak tertangkap.

Dari data yang dirilis Mabes Polri, lebih dari 300 teroris telah diproses secara hukum dan sebagian besar sudah berakhir masa hukumannya. Kini mereka kembali ke masyarakat setelah bertahun-tahun dibui. Namun, tidak ada yang tahu bagaimana mereka beradaptasi dan menghidupi keluarganya di tengah sulitnya perekonomian rakyat.

Prestasi Densus Antiteror Mabes Polri yang mengungkap semua peristiwa serangan bom bunuh diri dan menangkap para pelakunya mendapat pujian di dalam dan luar negeri. Ditambah lagi tewasnya Dr Azahari Husin dalam suatu pengepungan di kawasan wisata Batu, Malang, November 2005.

Akan tetapi, keberhasilan itu bukan berarti berakhirnya aksi teroris di Indonesia. Memang dua tahun lalu kalangan pengamat domestik maupun asing menyimpulkan, jaringan dan organisasi Kelompok Jemaah Islamiyah porak poranda. Kini Kelompok Jemaah Islamiyah bukan merupakan ancaman lagi terhadap keamanan Indonesia.

Kesimpulan itu ternyata keliru. Setelah absen hampir empat tahun, mendadak Noordin M Top beraksi kembali dengan mengirim dua pelaku bunuh diri ke Hotel JW Marriott dan Ritz-Carlton di Mega Kuningan, Jakarta, 17 Juli. Dalam serangan pertama tanpa Dr Azahari, Noordin tampil dengan jaringan baru dan tampak lebih kuat— baik dalam perencanaan, taktik, koordinasi, infiltrasi, maupun pendanaan.

Peristiwa ini mengejutkan banyak pihak karena belum satu bulan Densus 88 Mabes Polri membongkar jaringan Noordin M Top di Cilacap, Jawa Tengah, dan menangkap tangan kanannya, Jaelani Zuhri.

Jauh sebelumnya, Polri menggulung habis jaringan Dr Azahari Husin-Noordin M Top yang terlibat dalam aksi peledakan bom di Hotel JW Marriott I, Kedutaan Besar Australia, dan bom Bali II. Dua pemimpin teras Kelompok Jemaah Islamiyah, Zarkasih (45) alias Zaenuddin alias Irsjad alias Mbah dan Abu Dujana (37), diringkus di Yogyakarta dan Banyumas, Juni 2007.

Lantas, mengapa aksi teroris belum juga berakhir?

Bukan masalah hukum

Banyak teroris yang ditangkap, tetapi banyak pula yang baru muncul karena sumber rekrutmen yang melimpah. Terutama pascakonflik Maluku dan Poso, ribuan tenaga terampil dalam berbagai aksi kekerasan kembali ke kampung masing- masing.

Sebagian besar di Pulau Jawa. Di banyak negara, mantan milisi bersenjata mendapat perhatian dari pemerintah, termasuk dalam mencari pekerjaan.

Dr Azahari dan Noordin M Top merekrut alumni Poso dan Maluku dalam setiap aksi mereka. Diperkirakan saat ini tenaga siap pakai yang tersedia akan cukup sebagai sumber rekrutmen untuk beberapa tahun ke depan. Situasi demikian disebut patah tumbuh hilang berganti. Mati satu lahir sepuluh.

Khawatir atas perkembangan di atas, Amerika Serikat, Inggris, dan Australia mendesak Pemerintah RI agar memperberat hukuman penjara atas kasus tindak pidana terorisme. Ketiga negara itu sempat gusar ketika terpidana kasus terorisme juga mendapat remisi pada setiap tanggal 17 Agustus.

Akan tetapi, fenomena terorisme bukan semata-mata masalah penegakan hukum, seperti halnya kejahatan korupsi. Mereka yang berpendapat memperberat hukuman penjara akan menimbulkan efek jera jelas keliru. Teroris abad ke-21 tidak akan bisa ditakut-takuti dengan hukuman penjara.

Amrozi, Mukhlas, dan Imam Samudera, misalnya, sedikit pun tidak gentar menghadapi regu tembak yang melaksanakan eksekusi mati bagi mereka. Jauh sebelumnya, mereka justru meminta agar eksekusi dilakukan dengan cara dipancung dan jadwalnya tidak diundur-undur.

Cinta kematian

Kematian adalah sesuatu yang pasti karena semua manusia harus mati. Bagi teroris, kematian dalam perang melawan mereka yang dipersepsikan sebagai musuh Allah adalah peristiwa yang didambakan. Dambaan ini bercokol seperti karang dalam diri Dani Dwi Permana (19) dan Nana Maulana (28).

Maka, keduanya melangkah dengan tenang menuju restoran Hotel JW Marriott dan Hotel Ritz-Carlton di Mega Kuningan, Jakarta. Saat itu banyak tamu hotel sedang sarapan pagi, termasuk para pengusaha AS. Hanya berbeda waktu beberapa menit, keduanya meledakkan bom yang ”disembunyikan di ransel yang tergantung di punggung mereka” (17/7).

Dalam bahasa lain, Sheikh Ikremeh Sabri, ulama besar di Palestina, menyatakan dalam khotbahnya di Masjid Al Aqsa, Jerusalem, ”Israel mengira kita dapat ditakut-takuti. Sekali lagi kami nyatakan, seperti halnya Israel mencintai kehidupan, begitulah kami mencintai kematian dan martir.” (Rabbi Moshe Reiss, ”Suicide bombing: Theology of Death”, 2004).

Indonesia memang bukan Palestina. Tetapi, teroris di negeri ini adalah bagian dari jaringan global yang musuhnya melebihi bangsa Palestina. Sebagai contoh, kelompok perlawanan Palestina menggunakan bom bunuh diri hanya terhadap Israel. Di Indonesia, sasarannya meliputi warga AS, Yahudi, Australia, dan sekutunya. Dalam beberapa fatwanya, Osama bin Laden menyebutnya sebagai ”musuh Allah”.

Pelatihan di Afganistan

Jaringan global ini berawal dari prakarsa Dr Abdullah Yusuf Azzam, teolog Palestina, yang memobilisasi mujahidin internasional dalam perang menghadapi tentara pendudukan Uni Soviet di Afganistan.

Strategi Azzam ternyata ampuh. Uni Soviet akhirnya menarik pasukannya tahun 1989. Dengan demikian, perang telah berakhir dan mujahidin kembali ke negara masing-masing. Ribuan orang lagi luntang-lantung di Peshawar. Mereka yang pulang kampung otomatis menjadi bagian dari jaringan global mujahidin. Posisinya mirip sel tidur yang setiap saat dapat diaktifkan.

Pada tahun yang sama Abdullah Azzam tewas bersama dua putranya akibat ledakan bom di Peshawar, Pakistan. Al Qaeda dan beberapa kelompok jihad yang bermarkas di Pakistan maupun Timur Tengah tetap melanjutkan program Abdullah Azzam dengan tujuan lain, khususnya dalam pendidikan militer bagi calon mujahidin.

Pendidikan dilakukan di kamp-kamp yang dikelola kelompok jihad masing-masing di Afganistan. Salah satu di antaranya adalah Kelompok Jemaah Islamiyah yang membangun kampnya bagi pemuda asal Indonesia.

Pendidikan militer tersebut dikombinasikan dengan pendalaman ilmu agama untuk mencetak kader mujahidin yang tangguh.

Tujuannya berbeda-beda. Jemaah Islamiyah, misalnya, bercita-cita mendirikan pemerintahan pan-Islam di Asia Tenggara, atau disebut kilafa. Osama bin Laden mendirikan kilafa di Timur Tengah, sementara beberapa kelompok jihad di Pakistan bercita-cita mendirikan kilafa yang mencakup Afganistan dan Asia Tengah.

Putar haluan

Rontoknya rezim Soeharto, Mei 1998, diikuti dengan pulangnya alumni Afganistan dan Mindanao Selatan. Bertahun-tahun mereka tinggal di Malaysia demi menghindari penangkapan oleh rezim Soeharto.

Saat itu situasi politik dan keamanan di Indonesia sangat labil dan bergejolak. Di Poso, konflik komunal pecah pada Desember 1998 dan di Ambon pada pertengahan Januari 1999. Alumni Afganistan dan Mindanao Selatan cepat beradaptasi, membangun jaringan, dan membuka tempat pelatihan militer di Poso maupun Maluku.

Agar situasi lebih memanas, Ridwan Ishamuddin alias Hambali, salah satu pemimpin Kelompok Jemaah Islamiyah, menginstruksikan jaringannya agar meledakkan bom di sejumlah gereja di beberapa kota pada malam Natal 2000. Sedikitnya 16 orang tewas dan 56 orang cedera.

Peristiwa 11 September mengubah semuanya. Khususnya setelah AS dan sekutunya melakukan invasi militer di Afganistan pada Oktober 2001, dan menyusul ke Irak pada Maret 2003.

Jaringan teroris di Indonesia yang tadinya aktif memprovokasi konflik antaragama mendadak putar haluan. Fokusnya berubah menjadi kegiatan menyebarkan kebencian terhadap AS, Yahudi, Australia, dan sekutunya. Puncaknya adalah serangan bom Bali I yang menewaskan 202 orang, termasuk 88 wisatawan asal Australia.

Sejak itu, hingga saat ini serangan teroris tidak terkait dengan isu domestik, tetapi bagian dari jihad perang global Osama bin Laden melawan AS, Yahudi, Australia, dan sekutunya. Namun, aksi teroris itu jelas melanggar hukum dan membahayakan Indonesia. Lebih khusus lagi, membuat rakyat makin merana.

11
Sep
09

Terorisme : Agama Tidak Mengajarkan Terorisme [MenAg]

Agama & Terorisme

By Republika Newsroom
Kamis, 10 September 2009 pukul 08:01:00

Menag: Agama Tidak Mengajarkan Terorisme

YOGYAKARTA–Menteri Agama Dr. H. Muhammad Maftuh Basyuni menegaskan, bahwa agama tidak membenarkan tindakan terorisme, karena agama-agama jelas mengajarkan moderasi.

Penegasan Menag itu disampaikan ketika membuka Dialog Pemuka Lintas Agama Asia-Eropa (ASEM Interfaith/Intercultural Retreat for Religious) di Yogyakarta, Rabu malam.

Kegiatan itu sendiri berlangsung selama 3 hari, 9 – 12 September 2009, diikuti 80 peserta, 30 diantaranya berasal dari Asia-Eropa dan 50 peserta dari dalam negeri. Nampak hadir Dirjen Amerika dan EropaDeplu, Retno Marsudi dan sejumlah tokoh agama.

Dalam Islam, diajarkan bahwa Tuhan menginginkan kemudahan bagi manusia, bukan kesulitan. Juga Islam mengajarkan rahmat dan salam, bukan bom dan teror, kata Maftuh.

Demikian juga Yesus menekankan kasih dan damai. Buddha dan Khonghucu mengutamakan keseimbangan antara Yin dan Yang, antara sifat maskulin dan feminim. ”Sesungguhnya penganut faham keagamaan moderasi jauh lebih besar daripada radikal,” katanya lagi.

Dengan demikian jelas bahwa yang dibutuhkan saat ini adalah melakukan gerakan bersama menyuguhkan semangat moderasi, toleransi dan damai. Hal ini dapat dilakukan melalui gerakan kultural yang bisa menyadarkan kepada semua umat bahwa agama tidak membenarkan tindakan terorisme.

Dialag, kata Menag, merupakan salah satu jalan keluar dari persoalan antar umat beragama dan bahkan kelompok bangsa. Konflik agama yang pernah terjadi sesungguhnya bukan disebabkan oleh agama, namun dilatarbelakangi oleh isu ekonomi, politik dan ditambah lagi tidak adanya dialog antarkelompok masyarakat yang berbeda agama dan budaya.

”Dengan demikian, melalui dialog keagamaan dan sosial yang konstruktif dapat menghasilkan penyelesain berbagai ketegangan,” Maftuh menegaskan.

Pemerintah, menurut dia, berupaya memperkuat kemandirian masyarakat, khususnya kelompok agama dalam menangani persoalan kerukunan dengan keterlibatan pemerintah secara minimal.
Terbentuknya Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) di tingkat propinsi kebupaten dan desa merupakan satu hasil dari kebijakan pemerintah.

Upaya menciptakan kerukunan umat beragama, katanya, dilakukan melalui pendidikan, budaya dan pendekatan hukum melalui Peraturan Pemerintah No.1/1965 tentang Pencegahan Penyalahgunaan dan/atau Penodaan Agama adalah dalam rangka menjamin kerukunan sosial.

Contoh implementasi kebijakan pemerintah dapat dilihat dari pola pendekatan menangani isu sensitif Ahmadiyah, sebagai salah satu aliran keagmaan yang dianggap sebagai salah satu warisan dalam masyarakat muslim.

Pendekatan yang digunakan melalui dialog guna memahami persoalan tersebut ke arah yang seharusnya. Kebijakan ini diharapkan dapat mencegah munculnya konflik komunal yang mungkin dapat dipicu polemik mengenai aliran keagamaan, ia menjelaskan.

Dalam konteks lebih luas, kata Maftuh, Indonesia aktif mempromosikan dialog antaragama, budaya dan media. Juga dengan Dialog Asia-Eropa Meeting (ASEM) pertama di Bali pada 2005 lalu.

Dialog Bali, kata Menag, menghasilkan ”deklarasi dalam membangun kerukunan antarumat beragama melalui masyarakat internasional”.

Pada dialog tersebut para tokoh agama setuju untuk menciptakan dasar umum guna mempromosikan toleransi antarumat beragama dan pemahaman antarmasyarakat di Asia dan Eropa.

Terkait dengan pertemuan dialog ASEM yang akan berlangsung di Seoul, akhir September tahun ini, Maftuh berharap pertemuan Yogya itu dapat ditindaklanjuti.

Dengan demikian dialog pemuka agama Asia-Eropa di Yogya dapat dijadikan penambah cakrawala dan peretas jalan untuk sebuah gerakan mempromosikan budaya perdamaian yang lebih nyata. ant/taq




Blog Stats

  • 3,213,849 hits

Recent Comments

Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Sejarah : Bangsa Lemuria, Lelu…