Archive for the 'Jiwa Semangat Nilai-nilai 45' Category



29
Aug
15

Kebudayaan : Keadilan Qur’ani

Jakarta45

Keadilan

Oleh: M. Quraish Shihab

Apakah kata yang dapat menggambarkan ajaran Islam secara utuh? Ada yang berkata tauhid, ada lagi yang memilih kata salam/damai. Ada juga yang memilih kata kasih, namun yang paling banyak pendukungnya adalah adil.

Pada masa lalu di Yunani pernah berkumpul sekian banyak filsuf membahas makna Keadilan. Ada yang berkata: “Keadilan tecermin dalam kebenaran ucapan dan kesetiaan membayar utang.” Ada juga yang menggambarkannya dengan: “Bantuan untuk teman-teman dan mudharat terhadap musuh.” Filsuf Thrasymachus menegaskan bahwa Keadilan tidak lain “kecuali keberpihakan kepada yang kuat“.

Sang filsuf menunjuk kenyataan yang dialami oleh masyarakat apa pun dengan sistem pemerintahan apa pun yang mereka anut. Dalam masyarakat itu—menurutnya—terlihat betapa faktor kekuatan mengarahkan makna keadilan. Pemerintah atau penguasa dalam segala kondisi membuat peraturan perundangan yang mengantar kepada terciptanya jaminan untuk kelanggengan kekuasaan mereka. Di sana tidak diperlukan kompetensi sehingga tidak wajar bertanya: “Mengapa saya lebih mampu dari dia, tapi mengapa dia di kedudukan itu?” Karena di sana yang berlaku adalah kekuatan; kekuatan materi, kelompok, atau kekuatan tipu daya.

Dalam pandangan agamawan hal tersebut tidak dapat dibenarkan, karena Tuhan semesta alam Yang Maha-adil itu adalah Tuhannya yang kuat dan yang lemah sehingga seperti ucap Sayyidina Abubakar ra. ketika menerima jabatan kekhalifahan: Yang kuat di antara kamu, lemah hingga hak orang lain yang direbutnya kukembalikan kepada pemiliknya, dan yang lemah, kuat sampai kukembalikan haknya yang direbut orang lain.

Keadilan dalam pandangan agama dan moralis adalah meletakkan segala sesuatu pada tempatnya yang semestinya. Keadilan adalah memberi hak kepada pemiliknya dengan cara yang terbaik dan dengan secepat mungkin. “Penundaan pembayaran utang bagi yang mampu adalah kezaliman,” begitu sabda Nabi saw. Itu karena penundaan tersebut tidak pada tempatnya. Demikianlah, segala sesuatu ada tempatnya.

Ada “tempat” bagi Tuhan, antara lain Dia harus diesakan dan diagungkan sesuai kebesaran-Nya. Manusia pun ada tempatnya. Tidak adil/ kezaliman/ keliru kalau anak dihormati sebagaimana penghormatan kepada ayah. Tidak adil juga bila peci Anda tempatkan di kaki atau mandi di ruang tidur dan makan di WC. Keadilan dalam masyarakat terlaksana dengan baik bila setiap anggotanya berada pada tempat yang sesuai dengan kemampuan dan kodratnya. Ini mencakup pemimpin mereka yang tertinggi hingga rakyat jelata yang lemah. Karena itu, KKN adalah kezaliman.

Dari sini perlu ada ukuran/kriteria bagi segala sesuatu agar ia ditempatkan di tempat yang semestinya. Sebelum meletakkan sesuatu, ketahuilah apa sesuatu itu dan apa tempat yang tersedia untuknya. Atau bila Anda telah memiliki tempat tertentu, maka letakkanlah di sana apa yang sesuai, karena keliru jika Anda meletakkan air di wadah yang bocor. Tidak adil juga jika Anda meletakkan seorang yang bodoh atau tidak tepercaya menjadi pemimpin karena itu berakibat fatal. “Apabila satu tugas diserahkan kepada yang tidak memiliki kriteria yang diperlukan untuknya, maka nantikanlah kehancurannya,” begitu sabda Nabi saw. Di tempat lain beliau mengingatkan, “Siapa yang memilih seseorang sedang dia mengetahui ada yang lebih mampu daripada yang dipilihnya, maka dia telah mengkhianati Allah, Rasul, dan amanat kaum muslimin.”

Keadilan adalah dasar utama dalam segala persoalan. Ia harus ditegakkan terhadap yang dibenci sekalipun (QS. al-Mâ’idah [5]: 8). Itu sebabnya banyak ulama menegaskan bahwa, “Negara/ Pemerintahan non-muslim yang menegakkan keadilan akan didukung Allah ketimbang Negara/ Pemerintah yang mengaku Muslim tapi tidak menegakkan keadilan.” Wa Allâh A’lam. []

Logo Mapindo

Deklarasi Islam Tentang Perubahan Iklim

Oleh: Azyumardi Azra
Bumi makin panas, sehingga makin banyak jumlah orang yang tewas karena kepanasan. Sebaliknya di belahan bumi lain, cuaca kadang-kadang sangat dingin sehingga juga menewaskan banyak manusia.

Musim kemarau dan musim hujan di kawasan seperti Indonesia juga terasa  semakin tidak menentu. Begitu juga musim panas dan musim dingin di bumi belahan utara dan belahan selatan yang iklimnya terus berubah.Perubahan iklim bukan lagi wacana akademik ilmiah teoritis, tetapi juga sudah secara kasat mata melanda umat manusia di hampir seluruh penjuru dunia.
Karena itu, sangat tepat waktu belaka para pemimpin Muslim dari sekitar 20 negara—termasuk Ketua MUI Din Syamsuddin dan Direktur Pusat Kajian Islam Universitas Nasional, Fachruddin Mangunjaya—mengeluarkan ‘Deklarasi Islam tentang Perubahan Iklim’. Bersama sejumlah pemimpin agama lain yang berkumpul di Istanbul, Turki, pekan lalu (17-18/8/2015)  mereka sepakat tentang perlunya perhatian dan kepedulian bersama menghadapi masalah perubahan iklim.
Deklarasi Islam tentang Perubahan Iklim memaparkan ringkas berbagai gejala perubahan iklim secara cepat, seperti pemanasan global (global warming) dalam beberapa dasawarsa terakhir yang mengancam kelangsungan hidup manusia, dan lingkungan hidup secara keseluruhan. Deklarasi Islam  mengutip banyak ayat al-Qur’an dan Hadits yang mengajarkan kepada kaum Muslimin [dan umat manusia secara keseluruhan] untuk menjaga lingkungan hidup; tidak melakukan ‘kerusakan baik di langit maupun di muka bumi’, misalnya. Deklarasi juga mengemukakan bermacam Sunnah  Nabi Muhammad SAW  tentang pentingnya pemeliharaan lingkungan hidup.
Sumber kerusakan lingkungan yang menimbulkan perubahan iklim juga dikemukakan—hal yang sudah diketahui banyak kalangan masyarakat. Kerusakan alam bersumber terutama bersumber dari tingkat konsumsi tidak terkendali di negara-negara maju dan kaya  (termasuk negara-negara Muslim penghasil BBM fosil). Gaya hidup tidak peduli ini misalnya meningkatkan emisi gas, salah satu penyebab utama pemanasan global dan perubahan iklim.
Deklarasi Istanbul menyatakan, 1,6 miliar kaum Muslim turut memikul tanggungjawab menghadapi perubahan iklim. Karena itu, selain menghimbau negara-negara lain, Deklarasi juga menyeru negara-negara Muslim kaya penghasil BBM fosil agar berusaha serius menghasilkan enerji terbarukan menjelang pertengahan abad 21.
Selain itu, Deklarasi Islam tentang Perubahan Iklim menyerukan agar negara-negara kaya meningkatkan bantuan keuangan pada masyarakat yang rentan terhadap perubahan iklim. “Negara-negara kaya memiliki kewajiban moral mengurangi konsumsi, sehingga kaum miskin dapat mengambil manfaat dari apa yang masih tersisa dari sumber alam yang tidak bisa terbarukan”.
Dalam konteks itu, Deklarasi Islam tentang Perubahan Iklim benar belaka. Terdapat dampak akumulatif perubahan iklim berlipat ganda di banyak negara Muslim. Berbagai dampak akumulatif itu misalnya terlihat dengan kian seringnya terjadi banjir, longsor, kegagalan pertanian- peternakan, dan kian memburuknya kualitas lingkungan hidup.
Dampak akumulatif itu terkait dengan masih banyaknya kaum Muslim miskin di berbagai negara di Asia dan Afrika. Konflik politik berkepanjangan yang terjadi di negara-negara tersebut membuat pembangunan dan perbaikan ekonomi tidak bisa terlaksana untuk memperbaiki keadaan.
Hasilnya, kaum miskin tidak berpendidikan dan ketrampilan memadai berbondong pergi ke wilayah urban—melakukan apa saja untuk bertahan hidup. Menduduki lahan di mana saja, di bantaran sungai, di bawah kolong jembatan dan tempat lain yang tidak layak dan kumuh; mereka melakukan pekerjaan apa saja untuk mendapatkan sesuap nasi.
Keadaan ini menimbulkan banyak dampak negatif lebih lanjut. Selain berlanjutnya kemiskinan, yang terjadi juga adalah perusakan lingkungan hidup. Lingkungan hidup di banyak negara Muslim termasuk paling kotor di dunia, sejak dari lingkungan pemukiman sampai sungai. Meski Eropa dan Amerika Utara juga mengalami dampak perubahan iklim, tetapi lingkungan hidup, seperti pemukiman, taman, dan hutan tetap terpelihara baik; masyarakatnya rata-rata cukup disiplin, misalnya dengan tidak membuang sampah seenaknya.
Gejala ini juga terlihat jelas di Indonesia. Lingkungan hidup di negara ini termasuk salah satu yang paling rusak di antara negara-negara lain. Bahkan, Indonesia adalah salah satu di antara  negara penghasil emisi karbon terbesar di dunia, terutama karena penebangan hutan—apakah resmi atau liar.
Jauh sebelum Deklarasi Islam tentang Perubahan Iklim dikeluarkan, MUI telah mengeluarkan sejumlah fatwa terkait penyelamatan lingkungan hidup. Misalnya ada Fatwa MUI No 22/2011 tentang Pertambangan Ramah Lingkungan; Fatwa MUI No 47/2014 tentang Pengelolaan Sampah untuk Pencegahan Kerusakan Lingkungan; Fatwa  No 4/2014 tentang Pelestarian Satwa Langka untuk Keseimbangan Ekosistem. MUI Pusat bahkan sejak 2010 memiliki Lembaga Pemuliaan Lingkungan Hidup dan Sumber Daya Alam.
Kenapa fatwa-fatwa itu nampaknya tidak efektif? Hal ini mengisyaratkan rendahnya kesadaran kaum Muslimin Indonesia tentang perlunya  penyelamatan lingkungan ekosistem guna mengurangi akumulasi dampak perubahan iklim. Inilah salah satu ‘pekerjaan rumah’ bagi setiap Muslim yang peduli. []

REPUBLIKA, 27 Agustus 2015

Azyumardi Azra | Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah Jakarta bidang sejarah dan anggota Council on Faith, World Economic Forum Davos

Logo Kerabat 45

Islam Nusantara dan Penguatan Demokrasi

Oleh: Arfianto Purbolaksono

Sebagai salah satu organisasi yang telah banyak memberikan sumbangan terhadap bangsa ini, Nahdlatul Ulama (NU) lahir dengan tradisi pemahaman ahlussunah waljamaah yang memiliki pandangan adanya sintesis antara rasional dan tekstualitas. Juga, senantiasa menjunjung tinggi petunjuk Alquran dan as-sunah sebagai rujukan utama umat Islam.
Karena itu, dapat dikatakan bahwa dasar tradisi NU merupakan keterbukaan pemahamannya. Sedangkan, demokrasi merupakan sebuah sistem yang tidak berhenti dalam satu titik idealitas bentuknya. Maka, demokrasi akan selalu berkaitan dengan nilai-nilai yang ada dalam masyarakat, salah satunya adalah nilai-nilai Islam.
Sebagai negara yang mayoritas beragama Islam, agama menjadi salah satu modal sosial bagi perkembangan dalam masyarakatnya. Emile Durkheim dalam bukunya, The Elementary Form of Religious Life, mengatakan, agama secara langsung telah berevolusi dari agama kesukuan menjadi agama civil.
Dalam hal ini, Durkheim berpendapat bahwa semua masyarakat memerlukan suatu gabungan yang terdiri dari sistem ajaran dan simbol, norma-norma, dan nilai-nilai sebagai identitas nasional yang berperan sebagai agama civil baru bagi masyarakat modern.
Agama tidak lagi dipandang sebagai sesuatu hal yang irasional, intoleran, dan kaku. Agama sebagai fakta sosial yang tumbuh di masyarakat dapat memengaruhi perkembangannya. Agama yang bersifat formalistik bertransformasi menjadi civil religion yang lebih menghargai pluralitas, egalitarian, dan liberal sebagaimana paradigma civil society yang menopang proses demokratisasi dalam sistem politik.
Dalam kajian hubungan budaya politik dan demokrasi, diakui bahwa agama memiliki peran yang positif terhadap keduanya. Alexis Tocqueville mengungkapkan, agama (sebagai nilai dan asosiasi) secara positif memengaruhi demokrasi di Amerika Serikat. Agama berperan menciptakan kegairahan dan motivasi yang abadi karena ia merupakan sebuah sistem nilai. Interaksi agama dan politik ini yang akhirnya memunculkan kegairahan, motivasi, dan kepentingan manusia.
Melihat adanya hubungan yang saling bersinergi antara nilai agama dan proses demokratisasi, NU sebagai organisasi Islam terbesar di Indonesia memiliki peluang untuk menjadi penggerak utama dalam proses tersebut, religious groups often support democracy (Kalyvas, 1998, 2000; Linz, 1978). NU memiliki karakter khasnya sendiri.
Dengan pola yang bersifat kultural membuat karakter yang lebih plural dan toleran. Hal ini menjadi modal dasar untuk membangun civil religion yang mendukung penguatan demokrasi Indonesia. Penguatan demokrasi dilakukan dengan pendidikan politik bagi masyarakat. Pendidikan demokrasi bagi masyarakat inilah yang akan menentukan keberlanjutan demokrasi di Indonesia.
Namun, proses demokratisasi di Indonesia bukan tanpa halangan pada masa depan. Salah satunya adalah masih adanya pemahaman sebagian kelompok Islam yang memandang Islam dan demokrasi tidak sejalan. Kemudian, demokrasi saat ini di Indonesia hanya ditinjau dari aspek prosedural. Hal ini memiliki peluang pembusukan demokrasi dari kelompok yang memiliki pragmatisme politik untuk kepentingan kekuasaan semata dan menanggalkan kesejahteraan masyarakat. Pendidikan politik masyarakat dalam proses demokratisasi pun mengalami hambatan.
Peran strategis dalam demokratisasi adalah dengan memanfaatkan pesantren sebagai institusi pendidikan. Pendidikan demokrasi dapat berawal dari membangun kesadaran berdemokrasi itu sendiri. Pemahaman yang terbuka dan tetap menjaga tradisi kuat, pesantren menjadi institusi yang efektif secara kultural. Dengan memberikan kesadaran demokrasi yang berlandasakan etika moral agama, diharapkan institusi pesantren melahirkan santri-santri yang dapat mendorong perubahan di masyarakat.
Menurut Wolin, “To become a democrat is to change one’s self, to learn how to act collectively, as a demos. It requires that the individual go ‘public’ and thereby help to constitute a ‘public’ and a ‘open’ politics, in principle accessible for all to take part in it, and visible so that all might see or learn about the deliberation and decision making occuring in public agencies and institusion.” (Sheldon S Wolin, 2008: 289).
Santri akan menjadi agen demokrasi dalam model deliberatif dengan membawa kepentingan umat atau publik di tingkat lokal harus berdasarkan fakta, bukan berdasakan subjektivitas ideologi, berorientasi jauh ke depan bukan demi kepentingan jangka pendek yang memunculkan kompromistis atau dagang sapi, dan melibatkan pendapat semua pihak secara inklusif. Hal ini akan membawa perubahan terhadap penyelenggaraan demokrasi.
Semoga dengan Muktamar NU yang ke-33 ini, NU dapat kembali menjadi garda terdepan bagi penguatan demokrasi Indonesia ke depan. Selamat bermuktamar dan umat menunggu peranannya. []

REPUBLIKA, 07 Agustus 2015

Arfianto Purbolaksono | Peneliti Bidang Politik di The Indonesian Institute (TII)

26
Aug
15

Keagamaan : Pembagian Tauhid Dalam Al Qur’an

Pembagian Tauhid Dalam Al Qur’an

Pembagian yang populer di kalangan ulama adalah pembagian tauhid menjadi tiga yaitu tauhid rububiyah, uluhiyah, dan asma’ wa shifat. Pembagian ini terkumpul dalam firman Allah dalam Al Qur’an

February 7, 2015
283 0
makna-tauhid-dan-pembagiannya

Makna Tauhid

Tauhid secara bahasa merupakan mashdar (kata benda dari kata kerja, ed) dari kata wahhada. Jika dikatakan wahhada syai’a artinya menjadikan sesuatu itu satu. Sedangkan menurut syariat berarti mengesakan Allah dalam sesuatu yang merupakan kekhususan bagi-Nya berupa rububiyah, uluhiyah, dan asma’ wa shifat ( Al-Qaulul Mufiiid Syarh Kitabi At-Tauhid  I/7).

Kata tauhid sendiri merupakan kata yang terdapat dalam hadits-hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, sebagaimana dalam hadits Mu’adz bin Jabal radhiyallahu’anhu,Engkau akan mendatangi kaum ahli kitab, maka jadikanlah materi dakwah yang kamu sampaikan pertama kali adalah agar mereka mentauhidkan Allah”. Demikan juga dalam perkataan sahabat Nabi, “Rasulullah bertahlil dengan tauhid”. Dalam ucapan beliau labbaika Allahumma labbaika, labbaika laa syariika laka labbaika, ucapan talbiyah yang diucapkan ketika memulai ibadah haji. Dengan demikian kata tauhid adalah kata syar’i dan terdapat dalam hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam (Syarh Al-‘Aqidah Ath-Thahawiyah li Syaikh Shalih Alu Syaikh 63).

Pembagian Tauhid dalam Al Qur’an   

Pembagian yang populer di kalangan ulama adalah pembagian tauhid menjadi tiga yaitu tauhid rububiyah, uluhiyah, dan asma’ wa shifat. Pembagian ini terkumpul dalam firman Allah dalam Al Qur’an:

رَبُّ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَمَا بَيْنَهُمَا فَاعْبُدْهُ وَاصْطَبِرْ لِعِبَادَتِهِ هَلْ تَعْلَمُ لَهُ سَمِيّاً

“Rabb (yang menguasai) langit dan bumi dan segala sesuatu yang ada di antara keduanya, maka sembahlah Dia dan berteguh hatilah dalam beribadah kepada-Nya. Apakah kamu mengetahui ada seorang yang sama dengan Dia (yang patut disembah)?” (Maryam: 65).

Perhatikan ayat di atas:

(1). Dalam firman-Nya (رَبُّ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ) (Rabb (yang menguasai) langit dan bumi) merupakan penetapan tauhid rububiyah.

(2). Dalam firman-Nya (فَاعْبُدْهُ وَاصْطَبِرْ لِعِبَادَتِهِ) (maka sembahlah Dia dan berteguh hatilah dalam beribadah kepada-Nya) merupakan penetapan tauhid uluhiyah.

(3). Dan dalam firman-Nya (هَلْ تَعْلَمُ لَهُ سَمِيّاً) (Apakah kamu mengetahui ada seorang yang sama dengan Dia?) merupakan penetapan tauhid asma’ wa shifat.

Berikut penjelasan ringkas tentang tiga jenis tauhid tersebut:

  1. Tauhid rububiyah. Maknanya adalah mengesakan Allah dalam hal penciptaan, kepemilikan, dan pengurusan. Di antara dalil yang menunjukkan hal ini adalah firman Allah:

    أَلاَلَهُ الْخَلْقُ وَاْلأَمْرُ تَبَارَكَ اللهُ رَبُّ الْعَالَمِينَ

    “Ingatlah, menciptakan dan memerintahkan hanyalah hak Allah” (Al- A’raf: 54).

  2. Tauhid uluhiyah atau tauhid ibadah. Disebut tauhid uluhiyah karena penisbatanya kepada Allah dan disebut tauhid ibadah karena penisbatannya kepada makhluk (hamba). Adapun maksudnya ialah pengesaan Allah dalam ibadah, yakni bahwasanya hanya Allah satu-satunya yang berhak diibadahi. Allah Ta’ala berfirman:

    ذَلِكَ بِأَنَّ اللهَ هُوَ الْحَقُّ وَأَنَّ مَايَدْعُونَ مِن دُونِهِ الْبَاطِلُ

    ”Demikianlah, karena sesungguhnya Allah, Dialah yang hak dan sesungguhnya yang mereka seru selain Allah adalah batil” (Luqman: 30).

  3. Tauhid asma’ wa shifat. Maksudnya adalah pengesaan Allah ‘Azza wa Jalla dengan nama-nama dan sifat-sifat yang menjadi milik-Nya. Tauhid ini mencakup dua hal yaitu penetapan dan penafian. Artinya kita harus menetapkan seluruh nama dan sifat bagi Allah sebgaimana yang Dia tetapkan bagi diri-Nya dalam kitab-Nya atau sunnah nabi-Nya, dan tidak menjadikan sesuatu yang semisal dengan Allah dalam nama dan sifat-Nya. Dalam menetapkan sifat bagi Allah tidak boleh melakukan ta’thil, tahrif, tamtsil, maupun takyif. Hal ini ditegaskan Allah dalam firman-Nya:

    لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ البَصِيرُ

    ”Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan-Nya, dan Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (Asy-Syuura: 11) (Lihat Al-Qaulul Mufiiid  I/7-10).

Sebagian ulama membagi tauhid menjadi dua saja yaitu tauhid dalam ma’rifat wal itsbat (pengenalan dan penetapan) dan tauhid fii thalab wal qasd (tauhid dalam tujuan ibadah). Jika dengan pembagian seperti ini maka tauhid rububiyah dan tauhid asma’ wa shifat termasuk golongan yang pertama sedangkan tauhid uluhiyah adalah golongan yang kedua (Lihat Fathul Majid 18).

Pembagian tauhid dengan pembagian seperti di atas merupakan hasil penelitian para ulama terhadap seluruh dalil-dalil Al-Qur’an dan As-Sunnah. Sehingga pembagian tersebut bukan termasuk bid’ah karena memiliki landasan dalil dari Al-Qur’an dan As-Sunnah.

Kaitan Antara Tauhid Rububiyah dan Uluhiyah

Antara tauhid rububiyah dan tauhid uluhiyah mempunyai hubungan yang tidak dapat dipisahkan. Tauhid rububiyah mengkonsekuensikan tauhid uluhiyah. Maksudnya pengakuan seseorang terhadap tauhid rububiyah mengharuskan pengakuannya terhadap tauhid uluhiyah. Barangsiapa yang telah mengetahui bahwa Allah adalah Tuhannya yang menciptakannya dan mengatur segala urusannya, maka dia harus beribadah hanya kepada Allah dan tidak menyekutukan-Nya. Sedangkan tauhid uluhiyah terkandung di dalamnya tauhid rububiyah. Maksudnya, tauhid rububiyah termasuk bagian dari tauhid uluhiyah. Barangsiapa yang beribadah kepada Allah semata dan tidak menyekutukan-Nya, pasti dia meyakini bahwa Allahlah Tuhannya dan penciptanya. Hal ini sebagaimana perkatan Nabi Ibrahim ‘alaihis salam:

قَالَ أَفَرَءَيْتُم مَّاكُنتُمْ تَعْبُدُونَ {75} أَنتُمْ وَءَابَآؤُكُمُ اْلأَقْدَمُونَ {76} فَإِنَّهُمْ عَدُوٌّ لِّي إِلاَّرَبَّ الْعَالَمِينَ {77} الَّذِي خَلَقَنِي فَهُوَ يَهْدِينِ {78} وَالَّذِي هُوَ يُطْعِمُنِي وَيَسْقِينِ {79} وَإِذَامَرِضْتُ فَهُوَ يَشْفِينِ {80} وَالَّذِي يُمِيتُنِي ثُمَّ يُحْيِينِ {81} وَالَّذِي أَطْمَعُ أَن يَغْفِرَ لِي خَطِيئَتِي يَوْمَ الدِّينِ {82}

“Ibrahim berkata: “Maka apakah kamu telah memperhatikan apa yang selalu kamu sembah (75), kamu dan nenek moyang kamu yang dahulu? (76), karena sesungguhnya apa yang kamu sembah itu adalah musuhku, kecuali Tuhan semesta alam (77), (yaitu Tuhan) Yang telah menciptakan aku, maka Dialah yang memberi petunjuk kepadaku (78), dan Tuhanku, Yang Dia memberi makan dan minum kepadaku (79), dan apabila aku sakit, Dialah Yang menyembuhkanku (80), dan Yang akan mematikan aku, kemudian akan menghidupkan aku (kembali) (81), dan Yang amat aku inginkan akan mengampuni kesalahanku pada hari kiamat (82)” (Asy- Syu’araa’: 75-82).

Tauhid rububiyah dan uluhiyah terkadang disebutkan bersamaan, maka ketika itu maknanya berbeda, karena pada asalnya ketika ada dua kalimat yang disebutkan secara bersamaan dengan kata sambung menunjukkan dua hal yang berbeda. Hal ini sebagaimana dalam firman Allah:

قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ النَّاسِ {1} مَلِكِ النَّاسِ {2} إِلَهِ النَّاسِ {3}

“Katakanlah;” Aku berlindung kepada Rabb (yang memelihara dan menguasai) manusia (1). Raja manusia (2). Sesembahan manusia (3)” (An-Naas: 1-3).

Makna Rabb dalam ayat ini adalah raja yang mengatur manusia, sedangkan makna Ilaah adalah sesembahan satu-satunya yang berhak untuk disembah.

Terkadang tauhid uluhiyah atau rububiyah disebut sendiri tanpa bergandengan. Maka ketika disebutkan salah satunya mencakup makna keduanya. Contohnya pada ucapan malaikat maut kepada mayit di kubur: “Siapa Rabbmu?”, yang maknanya adalah: “Siapakah penciptamu dan sesembahanmu?” Hal ini juga sebagaimanan firman Allah:

الَّذِينَ أُخْرِجُوا مِن دِيَارِهِم بِغَيْرِ حَقٍّ إِلآَّ أَن يَقُولُوا رَبُّنَا اللهُ

“(yaitu) orang-orang yang telah diusir dari kampung halaman mereka tanpa alasan yang benar, kecuali karena mereka berkata: ”Tuhan (Rabb) kami hanyalah Allah” (Al-Hajj: 40).

قُلْ أَغَيْرَ اللهِ أَبْغِي رَبًّا

“Katakanlah:”Apakah aku akan mencari Rabb selain Allah” (Al-An’am: 164).

إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا

“Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan “Rabb kami ialah Allah” kemudian mereka istiqamah” (Fushshilat: 30). Penyebutan rububiyah dalam ayat-ayat di atas mengandung makna uluhiyah  ( Lihat Al Irsyad ilaa Shahihil I’tiqad 27-28).

Isi Al-Qur’an Semuanya Tentang Tauhid

Imam Ibnul Qayyim rahimahullah menjelaskan bahwa isi Al-Qur’an semuanya adalah tentang tauhid. Maksudnya karena isi Al-Qur’an menjelaskan hal-hal berikut:

  1. Berita tentang Allah, nama-nama-Nya, sifat-sifat-Nya, perbuatan-Nya, dan perkataan-Nya. Ini adalah termasuk tauhidul ‘ilmi al khabari (termasuk di dalamnya tauhid rububiyah dan asma’ wa shifat).
  2. Seruan untuk untuk beribadah hanya kepada Allah semata dan tidak mempersekutukan-Nya. Ini adalah tauhidul iraadi at thalabi (tauhid uluhiyah).
  3. Berisi perintah dan larangan serta keharusan untuk taat dan menjauhi larangan. Hal-hal tersebut merupakan huquuqut tauhid wa mukammilatuhu (hak-hak tauhid dan penyempurna tauhid).
  4. Berita tentang kemuliaan orang yang bertauhid, tentang balasan kemuliaan di dunia dan balasan kemuliaan di akhirat. Ini termasuk jazaa’ut tauhid (balasan bagi ahli tauhid).
  5. Berita tentang orang-orang musyrik, tentang balasan berupa siksa di dunia dan balasan azab di akhirat. Ini termasuk balasan bagi yang menyelisihi hukum tauhid.

Dengan demikian, Al-Qur’an seluruhnya berisi tentang tauhid, hak-haknya dan balasannya. Selain itu juga berisi tentang kebalikan dari tauhid yaitu syirik, tentang orang-orang musyrik, dan balasan bagi mereka (Lihat  Fathul Majid 19).

Demikianlah sekelumit pembahasan tentang pembagian tauhid. Semoga Allah Ta’ala senantiasa meneguhkan kita di atas jalan tauhid untuk mempelajarinya, mengamalkannya, dan mendakwahkannya.

***

Penyusun: dr. Adika Mianoki (Alumni Ma’had Al ‘Ilmi)

Artikel Muslimah.Or.Id

26
Aug
15

Ekonomi Keuangan : China Kembali Bikin Geger AS dan Dunia

http://finance.detik.com/read/2015/08/25/071738/3000254/6/china-kembali-bikin-geger-as-dan-dunia?f991104topnews

China Kembali Bikin Geger AS dan Dunia
Wahyu Daniel – detikfinance
Selasa, 25/08/2015 07:17 WIB
China Kembali Bikin Geger AS dan Dunia Foto: Bursa Saham China (Reuters)

New York -Setelah beberapa waktu lalu membuat geger dunia karena dengan sengaja mendevaluasi mata uang yuan, China kembali membuat geger dunia karena kejatuhan bursa sahamnya hingga 9% pada Senin kemarin.

Kondisi ini membuat bursa saham di dunia berjatuhan, termasuk juga harga komoditas. Bahkan, bursa saham Wall Street di Amerika Serikat (AS) ikut anjlok setelahnya.

Indeks Dow Jones di Wall Street sempat terjun 1.000 poin atau hampir 7%, beberapa saat setelah pembukaan perdagangan. Pada penutupan, Dow Jones naik dan tercatat turun 3,6%.

“Bila belum ada perbaikan di China, pemburukan masih akan terjadi besok (di Wall Street),” kata Analis, Randy Frederick, dilansir dari Reuters, Selasa (25/8/2015).

Tak hanya bursa AS, indeks saham Hang Seng di Hong Kong juga turun 2% kemarin. Indeks Nikkei di Jepang turun 6%. Lalu, bursa saham di Eropa turun 5,4% kemarin.

Selain bursa saham, harga minyak juga turun. Minyak produksi AS turun 5,5% kemarin menjadi US$ 38,24 per barel. Sementara harga minyak jenis Brent turun 6% menjadi US$ 42,69 per barel.

Menurut Reuters, kejatuhan bursa China merupakan yang terparah sejak krisis keuangan 2007 lalu. Banyak pelaku pasar berharap, pemerintah China melakukan kebijakan untuk menahan pelemahan bursa sahamnya, seperti pemangkasan suku bunga acuan.

(dnl/dnl)

http://finance.detik.com/read/2015/08/25/205752/3001177/6/saktinya-china-kebijakannya-bikin-pasar-saham-dunia-dan-harga-minyak-naik

Saktinya China, Kebijakannya Bikin Pasar Saham Dunia dan Harga Minyak Naik
Wahyu Daniel – detikfinance
Selasa, 25/08/2015 20:57 WIB
Saktinya China, Kebijakannya Bikin Pasar Saham Dunia dan Harga Minyak NaikFoto: Reuters

London -Pasar saham, harga minyak, dan harga-harga obligasi di dunia naik hari ini, setelah bank sentral China, yaitu People’s Bank of China (POBC) memangkas bunga acuan dan jumlah cadangan bank, untuk mendorong perekonomian.

China makin berpengaruh terhadap sektor keuangan dunia. Setelah sebelumnya, penurunan nilai mata uang yuan (devaluasi) yang dilakukan, membuat geger pasar keuangan dunia, sehingga berjatuhan.

Bank sentral China memangkas suku bunga 25 basis poin menjadi 4,6%. Ini merupakan kelima kalinya China memangkas suku bunga sejak November tahun lalu.

Sebelumnya suku bunga China 4,85%, kebijakan China ini memangkas suku bunganya ini memang ditunggu-tunggu investor dunia, tujuannya untuk mendorong perekonomian. Serta memulihkan bursa sahamnya, yang jatuh hingga 8% pada perdagangan Senin awal pekan ini.

“Investor menunggu mereka (China) bertindak, dan mereka melakukannya. Apakah ini cukup? Mungkin tidak, namun ini cukup untuk menahan penurunan lebih lanjut,” ujar Analis, Kallum Pickering, dilansir dari Reuters, Selasa (25/8/2015).

Reuters mencatat, bursa saham Eropa naik. Demikian juga dengan harga-harga komoditas, karena China merupakan konsumen komoditas terbesar di dunia.

Harga minyak produksi AS naik 3,1% menjadi US$ 39,4 per barel. Sementara minyak jenis Brent harganya naik 2,9% menjadi US$ 43,91 per barel.

Hari ini, bursa saham Wall Street di AS dibuka naik tinggi, setelah sebelumnya jatuh hingga nyaris 4%.

Indeks Dow Jones naik 272,12 poin (1,71%) ke 16.143,47. Indeks S&P500 naik 31,1 poin (1,64%) ke 1.924,31. Sementara indeks Nasdaq naik 150,18 poin (3,32%) menjadi 4.676,43.(dnl/hen)

http://news.detik.com/berita/3000315/china-berlakukan-aturan-setiap-keluarga-miliki-satu-anak

Selasa 25 Aug 2015, 08:37 WIB

Laporan Dari Beijing

China Berlakukan Aturan Setiap Keluarga Miliki Satu Anak
Andri Haryanto – detikNews

China Berlakukan Aturan Setiap Keluarga Miliki Satu AnakIlustrasi (Foto: Andri Haryanto/detikcom)

Beijing – Bukan hanya sukses menekan jumlah kendaraan di jalanan, pemerintah China juga terbilang berhasil membendung laju pertumbuhan penduduknya.

Jurus yang digunakan adalah membatasi jumlah anak. Setiap pasangan diwajibkan memiliki satu anak. Namun ini tidak berlaku mutlak. Ada beberapa pasangan yang diperbolehkan memiliki dua anak.

“Misalkan ada salah satu pasangan yang sudah tidak punya siapa-siapa, dia diperbolehkan untuk punya dua anak,” kata Tiery, warga Beijing, China, yang mahir berbahasa Indonesia ini, Selasa (25/8/2015).

Namun demikian, kebijakan tersebut berdampak kepada China sendiri. Mereka kekurangan warga-warga berusia produktif.

“Orangtua lebih banyak dari kaum muda,” ujar Tiery.

Dampak lainnya yaitu kepada ekonomi di China. Karena kurangnya usia-usia produktif akibat dari penerapan aturan, banyak investor dan juga pengusaha pindah ke berbagai negara, seperti Vietnam, Thailand, dan juga Indonesia.

“Harga barang-barang buatan China jadi lebih mahal karena kurangnya tenaga-tenaga produktif,” beber Tiery.
(ahy/fdn)

On 08/25/2015 09:00 PM, Awind wrote:

http://www.antaranews.com/berita/514366/menkeu-gejolak-berlanjut-hingga-fed-keluarkan-keputusan?utm_source=topnews&utm_medium=home&utm_campaign=news

 

MenKeu : Gejolak Berlanjut Hingga FED Keluarkan Keputusan
Rabu, 26 Agustus 2015 00:24 WIB |
Pewarta: Satyagraha

Menkeu: gejolak berlanjut hingga Fed keluarkan keputusan

Menteri Keuangan Bambang Brodjonegoro (ANTARA FOTO/Sigid Kurniawan)

Jakarta (ANTARA News) – Menteri Keuangan Bambang Brodjonegoro mengatakan gejolak ekonomi yang sedang terjadi di dunia saat ini diperkirakan masih akan terus berlanjut hingga Bank Sentral Amerika Serikat (The Fed) mengeluarkan keputusan terkait penyesuaian suku bunga acuan.

“Kita lihat sampai September ini, sampai pertemuan FOMC (Federal Open Market Comittee) masih ada gejolak. Makanya tugas kita menjaga, semoga dalam gejolak ini, kita bisa menjaga stabilitas ekonomi,” ujarnya di Jakarta, Selasa.

Menkeu kembali menegaskan saat ini kondisi stabilitas ekonomi masih terkendali, dan seluruh indikator makro menunjukkan belum ada tanda-tanda terjadinya krisis, berbeda ketika terjadi krisis finansial pada 1998.

“Pertumbuhan kita masih positif di semester satu, masih 4,7 persen, trade balance juga surplus, current account turun defisitnya. Jadi kondisi makro masih bagus, belum lagi perbankan, NPL dan CAR dalam kondisi sehat. Kondisinya sama sekali berbeda dengan 1998,” ujarnya.

Terkait keputusan Bank Sentral Tiongkok (The Peoples Bank of China/PBoC) yang terbaru memangkas suku bunga sebesar 25 basis poin, Menkeu mengatakan hal tersebut tidak berpengaruh secara langsung kepada perekonomian Indonesia.

Menurut dia, aksi terbaru PBoC tersebut lebih berdampak pada situasi internal Tiongkok yang ingin mendorong sektor konsumsi masyarakat untuk meningkatkan kinerja perekonomian yang sempat mengalami kelesuan.

“Kalau cut rate menurut saya lebih ke internal dan mendorong pertumbuhan. Tapi yang berpengaruh keluar kalau dia melakukan devaluasi, dan dia (kemungkinan) masih terus melakukan devaluasi, karena Yuan masih overvalued,” ujarnya.

Meskipun dalam beberapa hari terakhir, kurs rupiah dan bursa saham mengalami tekanan akibat pengaruh global, namun pada Selasa sore, sempat mengalami penguatan atau mendapatkan respon positif dari para pelaku pasar.

Hal tersebut terlihat dari nilai tukar rupiah yang ditransaksikan antarbank di Jakarta yang bergerak menguat sebesar 25 poin menjadi Rp14.024 per dolar AS dibandingkan posisi sebelumnya di posisi Rp14.049 per dolar AS.

Langkah Bank Indonesia untuk menjaga stabilitas rupiah salah satunya dengan melakukan pembelian Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder cukup membantu mata uang rupiah untuk bergerak positif terhadap dolar AS.

“Kebijakan BI itu menjaga volatilitas mata uang rupiah sehingga pergerakannya menjadi terbatas, cenderung positif,” kata Analis dari PT Platon Niaga Berjangka Lukman Leong.

Menurut dia, meski kebijakan Bank Indonesia itu bersifat jangka pendek, namun dapat membantu mengurangi kekhawatiran pasar dan pelaku usaha di dalam negeri di tengah sifat penguatan dolar AS yang sudah mengglobal.

Sementara, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia ditutup menguat sebesar 64,77 poin atau 1,56 persen menjadi 4.228,50 menyusul pelaku pasar yang kembali melakukan aksi beli.

Analis HD Capital Yuganur Wijanarko menjelaskan bahwa pelaku pasar yang kembali melakukan aksi beli terhadap beberapa saham BUMN dan saham emiten lainnya telah menopang IHSG BEI agar tidak terus terpuruk.

“Kondisi jenuh jual (oversold) akhirnya mendorong aksi beli investor sehingga IHSG terhindar dari kejatuhan lebih lanjut,” katanya.

Editor: B Kunto Wibisono

COPYRIGHT © ANTARA 2015

On 08/25/2015 10:11 PM, Awind wrote:

http://bisniskeuangan.kompas.com/read/2015/08/25/190844726/Menko.Darmin.Besarnya.Dana.Asing.di.Perekonomian.RI.Membuat.Rupiah.Rentan

Ekonomi / Makro

Menko Darmin: Besarnya Dana Asing di

Perekonomian RI Membuat Rupiah Rentan

MenKo Darmin : Besarnya Dana Asing di Perekonomian RI Membuat Rupiah Rentan
Selasa, 25 Agustus 2015 | 19:08 WIB
altESTU SURYOWATI/Kompas.com Menteri Koordinator Bidang Perekonomian yang baru saja dilantik, Rabu (12/8/2015) Darmin Nasution, tiba di kantor Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Lapangan Banteng, Jakarta. Darmin menyoroti perekonomian Indonesia selama ini salah karena kebijakan yang diambil didasarkan pada data-data yang tidak akurat.

JAKARTA, KOMPAS.com — Menteri Koordinator Perekonomian Darmin Nasution mengakui, merosotnya nilai tukar rupiah tak hanya disebabkan oleh faktor eksternal. Besarnya dana asing dalam ekonomi Indonesia juga dinilai membuat rupiah rawan goyah.

“Tidak harus persoalan yuan ini yang harus didengungkan. Rupiah sudah rentan kalau soal kurs. Ya karena terlalu besar dana asing di dalam ekonomi kita,” ujar Darmin saat ditemui di Kantor Kementerian Koordinator Perekonomian, Jakarta, Selasa (25/8/2015).

Dia menjelaskan, besarnya dana asing dalam ekonomi Indonesia bisa terlihat dari besarnya kepemilikan asing pada surat berharga negara (SBN), yaitu surat utang negara (SUN) yang mencapai 38 persen.

Tak hanya Darmin, Gubernur Bank Indonesia Agus Martowardojo juga sempat resah dengan besaran persentase asing pada SBN. Berdasarkan keterangan Agus pada April lalu, kepemilikan asing pada SBN pernah mencapai 40 persen, tetapi turun hingga 37 persen dan naik kembali ke angka 38,8 persen saat ini.

Sementara itu, angka aman kepemilikan asing pada SBN, kata Agus, ialah di bawah 30 persen. Jika dibandingkan dengan beberapa negara, persentase kepemilikan asing pada SBN di Indonesia memang terbilang tinggi.

Di India, misalnya, kepemilikan asing pada SBN hanya 7 persen, Brasil 20 persen, Korea Selatan 16 persen, dan Thailand 14 persen. Selain pada SBN, dana asing juga banyak terdapat di bursa saham Indonesia. Bahkan, kata Darmin, persentasenya mencapai 60 persen.

“Nah, kalau sebanyak itu asing, itu artinya apa? ‘Batuk’ sedikit ya keluar dia, kita goyah,” kata Darmin.

Menurut dia, meski dana asing memiliki risiko tersendiri, Indonesia tetap membutuhkan dana tersebut untuk investasi di segala bidang. Dia pun mengatakan bahwa pemerintah tidak bisa menghilangkan semua dampaknya bagi perekonomian Indonesia saat ini.

Salah satu upaya untuk mendorong pertumbuhan ekonomi yang saat ini dilakukan pemerintah adalah dengan mendorong belanja, terutama belanja modal.

Selain itu, pemerintah juga mengaku akan mengundang investor untuk mengerjakan proyek besar, tetapi investasinya tidak masuk ke dalam penanaman modal asing (PMA). Alasannya, dengan PMA, dana asing di Indonesia akan manjadi lebih besar.


Penulis : Yoga Sukmana
Editor : Bambang Priyo Jatmiko

res :  Dalam waktu satu tahun hutang membengkak 13%, untuk selanjutnya apakah terus membengkak?

http://www.sinarharapan.co/news/read/150825166/utang-ri-membengkak-13-persen

Utang RI Membengkak 13 Persen

Dihitung dari akhir Desember 2014 di posisi Rp 12.440 rupiah sudah melemah hampir 13 persen.

25 Agustus 2015 19:45 Faisal Rachman Ekonomi dibaca: 89

IsJAKARTA – Menguatnya kurs dolar AS terhadap rupiah membuat utang luar negeri, baik swasta maupun pemerintah, kian membengkak. Mengutip Bloomberg, Selasa (25/8) pagi, rupiah dibuka melemah ke Rp14.055 per dolar AS. Gerak rupiah ini melemah delapan poin atau setara 0,06 persen.

Dihitung dari akhir Desember 2014 di posisi Rp 12.440 rupiah sudah melemah hampir 13 persen. Jika dihitung berdasarkan asumsi rupiah dalam APBN-P 2015, pelemahannya menjadi di kisaran 12,5 persen.

Paling kentara, dikatakan analis Asosiasi Ekonomi Politik Indonesia Dani Setiawan, posisi rupiah saat ini akan membebani defisit anggaran dan pembayaran bunga utang dan pokok utang pemerintah. Dalam APBN-P 2015, asumsi rupiah dipatok di level Rp 12.500 per dolar AS.

“Kenaikan beban utang tersebut in line dengan persentase pelemahan rupiah. Artinya, dengan pelemahan 13 persen, beban outstanding utang rata-rata akan bertambah sebesar itu,” ujarnya kepada SH, Selasa (25/8).

Ia mengakui setiap perjanjian utang memiliki kesepakatan tersendiri. Namun, jika menghitung rata-ratanya, pemerintah harus merogoh kocek lebih dalam. “Apalagi utang luar negeri itu 71 persennya denominasi dolar AS,” ucapnya.

BI baru-baru ini melansir, posisi Utang Luar Negeri (ULN) sampai akhir kuartal II tercatat US$ 304,3 miliar. Jumlah tersebut terdiri atas ULN sektor publik (pemerintah) senilai US$ 134,6 miliar (44 persen dari total ULN) dan ULN sektor swasta US$ 169,7 miliar (55,8 persen dari total ULN).

Direktur Eksekutif INDEF, Enny Sri Hartati mengatakan, pemerintah tahun ini menyusun anggaran belanja dalam APBN-P 2015 hampir Rp 2.000 triliun. Namun, ia me­nyayangkan rencana belanja yang ditambal dari utang tak mampu terserap.
Sumber : Sinar harapan

__._,_.___

Posted by: “Sunny” <ambon@tele2.se>

Prasyarat Mental Atasi Krisis

Oleh: Yudi Latif

Peringatan Hari Kemerdekaan Indonesia mestinya memantulkan semangat optimistis jiwa pemenang. Namun, memburuknya perekonomian dan kegaduhan politik yang tak kunjung reda membuat cuaca kebatinan bangsa ini diliputi kabut pesimistis. Suka atau tidak, kita tidak bisa menutup mata akan kenyataan adanya berbagai krisis yang mengancam kehidupan bangsa. Kita tidak bisa tenang-tenang saja, seolah-olah keadaan bangsa ini tak ada masalah, segalanya on the right track.

Selain krisis ekonomi, seperti ditandai dengan merosotnya nilai tukar rupiah, jatuhnya Indeks Harga Saham Gabungan, jatuhnya harga komoditas andalan, menurunnya penerimaan pajak, dan ancaman pemutusan hubungan kerja dalam skala masif, kita juga dihadapkan pada ancaman lima macam krisis yang ditengarai Bung Karno pada 1952. Pertama, krisis politik, yang membuat banyak orang tidak percaya lagi kepada demokrasi. Kedua, krisis alat kekuasaan negara. Ketiga, krisis cara berpikir dan cara meninjau. Keempat, krisis moral. Kelima, krisis gejag (kewibawaan otoritas).

Kelima macam krisis itu seakan berdaur ulang mengancam kehidupan demokrasi hari ini. Bertahun-tahun pemerintahan demokratis diperjuangkan oleh gerakan reformasi dengan keringat dan darah. Namun, ketika kesempatan itu diraih, politik dirasa kurang berkhidmat bagi kepentingan orang banyak, aparatur negara belum mampu menegakkan hukum dan ketertiban, politisi dan pejabat kurang memperhatikan visi dan wawasan perjuangan, serta perilaku politik dan birokrasi tercerabut dari etika. Orang-orang yang menggenggam otoritas saling bertikai, berlomba menghancurkan kewibawaan negara.

Lebih buruk lagi, di titik genting krisis multidimensi ini, penyelenggara negara dan masyarakat politik justru kehilangan rasa krisis dan rasa tanggung jawab. Kepemimpinan negara dan elite politik hidup dalam penjara narsisme yang tercerabut dari suasana kebatinan rakyat. Elite politik lebih tertuju pada upaya memanipulasi pencitraan, bukan mengelola kenyataan, lebih mengutamakan kenyamanan diri ketimbang kewajiban memajukan kesejahteraan sosial.

Situasi itulah yang melahirkan krisis kepemimpinan. Pemimpin ada kalau mereka hadir dalam alam kesadaran dan penderitaan rakyat. Bung Karno mengatakan, ”Mereka seharusnya belajar bahwa seorang tidak dapat memimpin massa rakyat jika tidak masuk ke dalam lingkungan mereka…. Demi tercapainya cita-cita kita, para pemimpin politik tidak boleh lupa bahwa mereka berasal dari rakyat, bukan berada di atas rakyat.” Secara retoris, Bung Karno juga mempertanyakan, ”Berapa orangkah dari alam pemimpin Indonesia sekarang ini yang masih benar-benar ’rakyati’ seperti dulu, masih benar-benar ’volks’ seperti dulu?”

Dengan tercerabut dari lumpur kehidupan rakyat, para penyelenggara negara cenderung mengembangkan sikap defensif untuk melarikan diri dari tanggung jawab. Misalnya saja, kita mendengar ada pejabat yang menyatakan jatuhnya nilai rupiah adalah baik bagi perekonomian nasional.

Lebih dari itu, ketika dihadapkan pada berbagai persoalan pelik yang menuntut semangat solidaritas dan tanggung jawab bersama, kepedulian politik kita justru hanya berhenti pada persoalan bagi-bagi kekuasaan. Kegaduhan politik hanya di sekitar persoalan siapa, partai apa, mendapatkan apa. Belakangan, indikasi pertarungan kepentingan mulai merobek kekompakan kabinet. Padahal, dalam situasi krisis, mentalitas yang harus ditumbuhkan bukanlah eker-ekeran mempertentangkan hal remeh-temeh, melainkan mentalitas gotong royong; berat sama dipikul, ringan sama dijinjing.

Berbeda dengan ledakan harapan banyak orang, pemerintahan demokratis sering dihadapkan pada aneka masalah dan kekecewaan yang sulit diatasi. Karena itu, betapapun legitimasi kinerja memainkan peranan penting bagi kelangsungan pemerintahan demokratis, yang lebih menentukan bukanlah kesanggupan mereka menuntaskan masalah itu, melainkan cara pemimpin politik menanggapi ketidakmampuannya dengan ketulusan dan kelapangan jiwa melibatkan partisipasi segenap elemen bangsa.

Untuk keluar dari krisis menuju politik harapan, suatu bangsa harus keluar dari tahap anarki, tradisionalisme, apatisme, menuju penciptaan pemimpin publik yang sadar. Tahap pertama, seluruh tindakan politik diabsahkan menurut logika pemenuhan kepentingan pribadi, yang menghancurkan sensibilitas pelayanan publik. Tahap kedua, untuk mencapai sesuatu, pemimpin mendominasi dan memarjinalkan orang lain. Pada tahap ketiga, peluang-peluang yang dimungkinkan demokrasi tak membuat rakyat berdaya, tetapi justru membuatnya apatis.

Pada tahap keempat, tahap politik harapan, para pemimpin menyadari pentingnya merawat harapan dan sikap optimistis dalam situasi krisis, dengan cara memahami kesalingtergantungan realitas serta kesediaan bekerja sama menerobos batas-batas politik lama. Kekuasaan digunakan untuk memotivasi dan memberi inspirasi yang memungkinkan orang lain mewujudkan keagungannya. Warga menyadari pentingnya keterlibatan dalam politik dan aktivisme sosial untuk merealisasikan kebajikan bersama. []

KOMPAS, 25 Agustus 2015

Yudi Latif  ;   Anggota Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia

70  Tahun Tenun Keindonesiaan

Oleh: Asep Salahudin

Kalau ada sebuah bangsa yang menjadi panggung interaksi semua agama, etnisitas, dan lintas budaya, maka ia Indonesia. Kalau ada sebuah bangsa yang memiliki ratusan pulau membelah garis Khatulistiwa, dengan bahasa dan kultur bahkan warna kulit yang tidak serupa tetapi masih sepakat bersatu, maka ia Nusantara.

Kalau ada sebuah negara yang wujudnya masih tegak padahal “hanya” ditenun semboyan silam Bhinneka Tunggal Ika yang dianggit dari kitab Sutasoma Empu Tantular abad ke-14, maka ia NKRI. Kalau ada sebuah nation  yang seluruh warganya bisa dipersatukan falsafah Pancasila, maka  ia negara Indonesia.

Namun, juga harus dikatakan bahwa kalau ada sebuah negeri  dengan kekayaan sumber daya alam melimpah tapi rakyatnya berada dalam indeks garis kemiskinan yang parah, maka lagi-lagi ia Indonesia. Bangsa dengan kesuburan tanah yang bisa menanam apa pun jenis  tumbuh-tumbuhan, tapi beras, kedelai, dan aneka buah ternyata harus impor dari negara lain.

Kalau ada sebuah negara dengan Ketuhanan Yang Maha Esa  bertengger sebagai sila pertama dasar negaranya, tapi setiap hari berita yang menerpa adalah ihwal korupsi yang tidak pernah berhenti, anggaran negara yang selalu dikemplang, dan tingkah kerumunan politikus yang  lebih mengerikan dari monster sekalipun, maka harus dengan jujur ditulis bahwa  kawasan itu adalah negeri kepulauan yang saat ini merayakan ulang tahun ke-70 kemerdekaannya.

Gambaran paradoks

Sungguh Indonesia menggambarkan tentang situasi yang serba ambigu dan nyaris kita selalu kesulitan dari mana sesungguhnya benang kusut itu harus diurai. Kita senantiasa tersekap dalam kegamangan yang tak berkesudahan, dalam sikap diri yang seolah-olah tak punya kemampuan menurunkan norma-norma yang baik  menjadi bagian akhlak keseharian.

Sekian undang-undang dan aturan yang kita bikin sekaligus  agama yang menjadi pegangan seperti  menguap tanpa bekas. Berhenti sebatas penataran dan khotbah. Pancasila pun alih-alih menjadi jalan kebudayaan, malah hanya menyisakan sekadar monumen yang dikunjungi setiap 1 Juni lengkap dengan gemuruh upacara, retorika murahan, dan  pekik pidato yang diulang-ulang.

Ketika manusia pergerakan mencanangkan “Indonesia merdeka”, maka sesungguhnya lengkap di dalamnya upaya mewujudkan cita-cita luhur tergelarnya kemanusiaan yang adil dan beradab, persatuan, musyawarah mufakat, hikmah kebijaksanaan, dan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Indonesia yang seharusnya dibentangkan dengan rute yang jelas, tegas, dan terukur.

Kita sangat tak habis pikir membaca artikulasi politik kaum pejuang ketika merumuskan keindonesiaan. Dengan fasilitas ala kadarnya tapi mampu bikin trayektori politik imajinatif, bisa meretas jalan keindonesiaan yang bukan saja tepat, melainkan sangat kontekstual, revolusioner, dan visioner.

Di bawah ancaman Hindia Belanda dengan kekuatan senjata yang masih kukuh tidak kemudian membuat nyali mereka ciut, tapi kian menyala-nyala. Bagaimana Bung Karno lewat Klub Studi Bandung dan pamflet yang terus dibikin  dengan  bahasa radikal  untuk menyulut kesadaran massa pada akhirnya harus dihadapkan ke pengadilan pada Agustus 1930.

Dengan lantang diungkapkannya, “…Kami punya pidato-pidato bukanlah pidato paderi di dalam gereja atau pidato juru khotbah di dalam masjid. Kami adalah nasionalis revolusioner, nasionalis yang radikal, nasionalis kepala banteng! Kami punya bahasa adalah bahasa yang keluar dari kalbu yang berkobar-kobar dengan semangat nasional, berkobar-kobar dengan rasa kecewa atas celaka dan sengsara rakyat.”

Tak kalah garang Bung Hatta pada 9 Maret 1928 melalui pembelaannya di Mahkamah Den Haag bukan saja jiwanya disulut keberaniannya  yang tanpa batas, tapi juga iman kebangsaannya yang tak pernah lekang, “Bahwa kekuasaan Belanda akan berakhir, bagi saya hal itu sudah pasti. Soalnya bukan iya atau tidak, tapi cepat atau lambat. Janganlah Nederland memukau diri bahwa  kekuasaan kolonialnya akan kukuh kuat sampai akhir zaman.”

Demikian juga Sutan Sjahrir, Tan Malaka, Amir Sjarifuddin, Natsir, Muhammad Yamin, Wahid Hasyim, Soedriman, Otto Iskandar Dinata dengan cara masing-masing memburu mimpi keindonesiaan dalam tenun kebersamaan.

Bahkan, dalam kasus Tan Malaka, sosok yang pertama kali menulis “Indonesia Merdeka”  dalam Naar de Republiek Indonesia (1924) dan disebut-sebut Bung Karno sebagai “seorang yang mahir dalam revolusi” bukan saja tak mencicipi masa kemerdekaan yang diperjuangkannya selama 30 tahun tanpa lelah untuk bangsanya, tetapi juga dengan sangat tragis harus mati di tangan bangsanya sendiri dalam sebuah kemelut yang gelap.

“Kemerdekaan” bukan sebagai hadiah dari kolonial, tapi diperjuangkan dengan raga dan roh. Chairil Anwar dengan bagus memotret pergulatan kaum pejuang itu dalam “Aku”: …biar peluru menembus kulitku/aku tetap meradang menerjang/luka dan bisa kubawa berlari/berlari/hingga hilang pedih peri/dan aku akan lebih tidak peduli/aku mau hidup seribu tahun lagi.

Kemerdekaan dan proklamasi yang digelorakan dari Gang Pegangsaan oleh Soekarno dan Hatta atas nama seluruh rakyat Indonesia bukan kata tanpa rajah, melainkan di belakangnya terhampar keniscayaan para pewarisnya mengelola keindonesiaan dengan politik lurus.

Politik tentu tidak harus selalu diidentikkan dengan perebutan kekuasaan lewat sirkulasi kekuasaan demokrasi pemilu lima tahunan atau melalui pilkada, tapi tak kalah pentingnya bagaimana menjadikan politik itu sebagai tindakan (dan kebijakan) harian untuk mempercepat massa menemukan peluang  ekonomi, budaya, dan harkat sosial. Politik adalah siasat etik, bukan konspirasi licik. Cara menggapai keutamaan.

Termasuk politik adalah sikap bagaimana kita sebagai warga memperlakukan “liyan” secara lapang dan penuh tanggung jawab. Bahwa liyan secara ontologis bukanlah orang lain (mereka) yang diperlakukan secara berbeda apalagi diskriminatif, tapi liyan sejatinya adalah bagian eksistensial dari tubuh kita, dari cara kita “mengada”. Lewat tubuh liyan, kita satu sama lain saling menemukan keunikan diri, saling belajar dan berempati, menuju sukma  keindonesiaan yang majemuk. Liyan menjadi ruang kebersamaan melakukan transendensi.

Sebuah pertanyaan

Tujuh puluh tahun usia yang tidak lagi bisa dianggap muda. Usia yang telah menghabiskan enam presiden dan Joko Widodo yang ketujuh. Tidaklah keliru kalau rezim sekarang mengenang masa depan dengan cara menating ingatan silam generasi pertama dalam mengusung pemerintahannya, revolusi mental dan Nawacita, sekaligus mengingatkan pentingnya kembali ke laut selaras dengan karakter negeri bahari, memastikan kehadiran negara dalam penegakan hukum, tidak ada lagi politik diskriminasi.

Sejauh mana program ini berhasil diimplementasikan? Jawabannya harus didiskusikan dengan kepala jernih agar setiap kekuasaan tak terkena kutukan: mendaur ulang kesalahan yang sama. Supaya kemerdekaan terhindar dari utopia. []

KOMPAS, 22 Agustus 2015

Asep Salahudin  ;   Dekan Fakultas Syariah IAILM Pesantren Suryalaya Tasikmalaya; Dosen di FISS Unpas Bandung

26
Aug
15

Ketuhanan Yang Maha Esa : Agama Jawi, Sebuah Pranata Yang Terlupa

http://berita.suaramerdeka.com/agami-jawi-sebuah-pranata-yang-terlupa/

Agama Jawi : Sebuah Pranata Yang Terlupa
25 Agustus 2015 18:30 WIB Category: Budaya jawa, Pringgitan, Tradisional Dikunjungi: 1271 kali A+ / A-

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Ilustrasi : istimewa

SISTEM religi Jawa merupakan hasil olah cipta rasa karsa dan daya spiritual orang Jawa. Olah cipta rasa karsa dan daya spiritual tersebut melahirkan pemahaman adanya maha kekuatan yang murba wasesa (mengatur dan menguasai) seluruh jagad raya dan isinya. Maka lahir kesadaran hakiki tentang adanya realitas tertinggi atau sesembahan yang disebut Kang Murbeng Dumadi (sebutan lain: Kang Maha Kuwasa, Hyang Wisesa, Hyang Tunggal, dan sebagainya).

Karena dasarnya telah berwujud hasil olah cipta rasa karsa dan daya spiritual maka ada perjalanan menuju kesadaran adanya Realitas Tertinggi yang disebut Kang Murbeng Dumadi tersebut. Perjalanan menuju kesadaran adalah suatu proses penalaran yang dibarengi dengan laku kebatinan yang dalam khasanah Jawa disebut laku nawungkridha. Hasilnya berupa deskripsi Kang Murbeng Dumadi yang disebutkan sebagai “tan kena kinayangapa lan murbawasesa jagad saisine”.

Sistem budaya agami Jawi setaraf dengan sistem budaya dari agama yang dianut orang Jawa. Terdapat berbagai keyakinan, konsep, pandangan dan nilai, seperti antara lain konsep keyakinan adanya Tuhan Yang Maha Esa/Allah, konsep keykinan akan adanya Muhammad adalah pesuruh Allah, konsep keyakinan akan adanya nabi-nabi lain. Konsep keyakinan adanya tokoh-tokoh Islam yang keramat; keyakinan adanya konsep kosmogoni tertentu tentang penciptaan alam, yakni adanya dewa-dewa tertentu yang menguasai bagian-bagian dari alam semesta; memiliki konsep-konsep tertentu tentang hidup dan kehidupan setelah kematian, yakin akan adanya makhluk-makhluk halus penjelmaan nenek moyang yang sudah meninggal, yakni adanya roh-roh penjaga; yakin adanya setan, hantu dan raksasa; dan yakin adanya kekuatan-kekuatan gaib dalam alam semesta ini.

Dari hasil kesusasteraan juga dapat ditinjau keterkaitan antara agami Jawi dengan unsur-unsur agama Islam yang ditulis oleh para pujangga keraton Mataram pada abad XVI dan abad XVIII, seperti Serat Centhini, Primbon atau Suluk. Konsep keagamaan Jawa-Bali mengenai Tuhan yang dilambangkan sebagai Dewa Ruci juga dimasukkan dalam karangan yang mengandung pandangan magis-mistik yang sangat berorientasi kepada agami Jawi seperti Serat Darmogandhul dan Serat Gatholoco.

ranggawarsitaKonsep mengenai Tuhan-Dewa Ruci juga banyak dijumpai dalam karya para puajangga keraton yang terkenal yang hidup dua abad sesudah itu, seperti Yasadipura I dan puteranya Yasadipura II, serta R.Ng. Ronggowarsito. Dalam gubahannya yang berjudul Serat Sasanasunu, Yasadipura II banyak menulis bait-bait mengenai sifat Tuhan dan mengenai hakekat dari hubungan antara Tuhan dan manusia. Demikian halnya dengan keyakinan tentang Nabi Muhammad, sistem keyakinan agama Jawi memandang Nabi Muhammad sangat dekat dengan Allah. Dalam setiap ritus dan upacara, pada waktu mengadakan pengorbanan, sajian, atau slametan, selain mengucapkan nama Allah, mereka juga mengucapkan nama Nabi Muhammad, yang dalam bahasa Jawa dinyatakan sebagai Kanjeng Nabi Muhammad Ingkang Sumare Ing Siti Medinah.

Dalam hal keyakinan terhadap tokoh-tokoh keramat, selain keyakinan terhdap dewa-dewa yang berperan sebagai pelindung manusia, agama Jawi banyak mengangkat guru-guru agama menjadi orang keramat dalam sistem keyakinan orang Jawa seperti Walisanga, tokoh penyebar Islam yang bersifat historis. Agama Jawi juga memiliki keyakinan tersendiri terhadap konsepsi penciptaan alam semesta yang dapat digolongkan menjadi tiga bagian, yakni :

  1. Mite-mite yang mengandung unsur-unsur dominan Hindu-Budha.
  2. Mite-mite yang mengandung unsur-unsur sinkretik antara Agama Jawi dan Islam.
  3. Mite-mite dengan unsur magis-mistik.

Maneges : Sebuah Laku Kebatinan Jawa

Spiritualisme atau laku kebatinan berkaitan dengan pemahaman manusia akan hakekat hidupnya. Hal ini berkaitan langsung dengan sistem religi yang dipahami dan dianut. Pada sistem religi, mitologi, dan hakekat hidup Jawa, maka laku kebatinan Jawa juga sejalan dengan ketiga hal tersebut. Laku kebatinan jawa terbagi dalam tiga golongan, antara lain :

  1. Laku kebatinan sebagai bagian dari ritual panembah kepada Tuhan Yang Maha Esa sesuai sistem religi Jawa.
  2. Laku kebatinan yang berhubungan dengan menjaga panunggalan semesta yang berkaitan dengan mitologi Jawa.
  3. Laku kebatinan yang berhubungan dengan upaya mencapai tingkat titah utama.

Spiritualisme keberadaban manusia, selanjutnya merupakan laku kebatinan untuk mencapai derajat manusia utama yang disebut Insan Kamil  dalam khazanah lain. Laku kebatinan ini lebih mengutamakan kepada pendidikan moral yang disebut Piwulang Kautaman. Isi ajarannya tentang budi pekerti luhur yang harus dipenuhi setiap insan yang bercita-cita menjadi titah utama.

semar1Cukup luas cakupan laku spiritualisme keberadaban manusia, namun intinya adalah upaya menyelenggarakan hidup bersama yang tata tentrem kerta raharja. Termasuk dalam hal ini laku kebatinan untuk kepentingan mendapatkan berbagai daya linuwih untuk menunjang kehidupan duniawi.

Laku kebatinan juga digunakan untuk mencari pesugihan, aji-aji, gendam, jimat, pusaka, dan sebagainya. Ilmu kebatinan jenis ini dalam Wedhatama dianggap kurang baik, karena dianggap melakukan persekutuan (kekarangan) dengan bangsa gaib, sebagaimana tercantum dalam pupuh Pangkur Wedhatama pada 9 berikut,

“Kekerane ngelmu karang, kekarangan saking bangsaning gaib, iku boreh paminipun, tan rumasuk ing jasad, amung aneng sajabaning dagng kulup, yen kapengok pancabaya, ubayane mbalenjani”

(Pengaruh atau andalan ngelmu karang itu berteman atau menadakan perjanjian (minta pertolongan) kepada bangsa gaib. Yang seperti itu ibaratnya hanya bedak yang tidak masuk ke jiwa raga. Tempatnya masih di luar daging. Ketika digunakan untuk menghadapi bahaya, biasanya malah jadi hambar, tidak berdaya guna)

Laku kebatinan lain yang juga dipercaya dalam spiritualitas Kejawen terdiri atas tiga tingkatan, yaitu Maneges, Semedi, dan Wiridan.

  1. Maneges adalah perilaku kebatinan yang diwujudkan dalam kegiatan bertapa di tempat-tempat sepi yang bertujuan untuk meminta “petunjuk” Tuhan. Ada yang menyebutnya sebagai Sembah Jiwa kepada Tuhan.
  2. Semedi yang istilah populernya adalah meditasi, yaitu suatu kediatan kebatinan yang memiliki tujuan untuk mencapai ketenteraman batin dan menata dayaning urip (prana jati) agar dapat diberdayakan dalam menjalani hidup.
  3. Wiridan yaitu kegiatan batin dengan membaca atau melafalkan rapal (japa mantra) yang isinya untuk berserah diri kepada Tuhan. Umumnya dilakukan dengan rutin, dengan hitungan-hitungan tertentu.

Ada banyak tatacara maneges, semadi, dan wiridan. Setiap penekunan kebatinan Jawa memiliki tatacara sendiri. Ada yang mudah dijalankan, ada yang sangat sulit, bahkan mustahil. Ada yang hanya dilakukan begitu saja tanpa syarat dan sarana apa-apa, ada yang perlu ubarampe berupa sesaji dan membakar dupa. Kesemuanya punya muara yang sama: menuju tingkat tertinggi spiritualitas manusia.

(Fadhil Nugroho/CN41/SMNetwork)

Quraish Shihab dan Islam Nusantara

Oleh: Fathurrahman Karyadi
Kita patut bangga memiliki ulama pakar tafsir Al-Qur’an terkemuka alumnus Al-Azhar Mesir. Ia tak lain adalah Prof. Dr. M. Quraish Shihab. Selama bulan Ramadan kemarin, setiap hari menjelang imsak dan berbuka puasa ia tampil di saluran televisi swasta untuk menerangkan isi kandungan Al-Qur’an. Buku biografinya berjudul Cahaya, Cinta dan Canda M Quraish Shihab baru di-launching di Jakarta pada Rabu 8 Juli 2015.
Selain itu, Pak Quraish juga kerap mengisi ceramah agama di berbagai masjid. Penulis pernah mengikuti ceramahnya beberapa hari yang lalu. Awalnya, penulis mengira bahwa penyusun Tafsir Al-Mishbah itu akan menerangkan tafsir Al-Qur’an sebagaimana di layar kaca, ternyata tidak. Dengan sangat memukau, mantan menteri agama RI itu mengemukakan pandangannya terkait tema yang sedang hit belakangan ini, yaitu “Islam Nusantara”.
Menurut Pak Quraish, istilah “Islam Nusantara” bisa saja diperselisihkan. Terlepas setuju atau tidaknya dengan istilah tersebut, ia lebih terfokus pada substansi. Islam sebagai substansi ajaran. Islam pertama turun di Makkah lalu tersebar ke Madinah dan ke daerah-daerah lain, Negara Yaman, Mesir, Irak, India, Pakistan, Indonesia dan seluruh dunia. Islam yang menyebar itu bertemu dengan budaya setempat. Pada mulanya, Islam di Makkah bertemu dengan budaya Makkah dan sekitarnya. Akulturasi antara budaya dan agama ini—sebagaimana di tempat lain kemudian—oleh Islam dibagi menjadi tiga.
Pertama, adakalanya Islam menolak budaya setempat. Pak Quraish mencontohkan budaya perkawinan di Makkah. Kala itu ada banyak cara seseorang menikah. Salah satunya, terlebih dahulu perempuan berhubungan seks dengan 10 laki-laki lalu kalau hamil, si perempuan bebas memilih satu dari mereka sebagai suaminya. Ada kalanya juga dengan cara perzinaan yang diterima masyarakat kala itu. Dan, ada lagi pernikahan melalui lamaran, pembayaran mahar, persetujuan dua keluarga. Nah, yang terakhir inilah yang disetujui Islam, sedangkan budaya perkawinan lainnya ditolak. Ini pula yang dipraktikkan Rasulullah SAW ketika menikahi Khadijah RA.
Kedua, Islam merevisi budaya yang telah ada. Lebih lanjut, Pak Quraish memberi contoh, sejak dahulu sebelum Islam orang Makkah sudah melakukan thawaf (ritual mengelilingi Kakbah). Namun, kaum perempuan ketika thawaf tanpa busana. Alasan mereka karena harus suci, kalau mengenakan pakaian bisa jadi tidak suci, maka mereka menghadap Tuhannya dengan apa adanya alias “telanjang”. Kemudian Islam datang tetap mentradisikan thawaf akan tetapi merevisinya dengan harus berpakaian suci dan bersih, serta ada pakaian ihram bagi yang menjalankan haji dan umrah.
Ketiga, Islam hadir menyetujui budaya yang telah ada tanpa menolak dan tanpa merevisinya. Seperti budaya pakaian orang-orang Arab, yang lelaki mengenakan jubah dan perempuan berjilbab. Oleh Islam budaya ini diterima.
Alhasil, kesimpulannya ialah jika ada budaya yang bertentangan dengan Islam maka ditolak atau direvisi, dan jika sejalan maka diterima. Inilah prinsip Islam dalam beradaptasi dengan budaya. “Jadi Islam itu bisa bermacam-macam akibat keragaman budaya setempat. Bahkan adat, kebiasaan dan budaya bisa menjadi salah satu sumber penetapan hukum Islam,” tutur Pak Qurasih.
Melihat pemaparan Pak Quraish ini kita bisa menilai, jika memang ada budaya di bumi Nusantara yang bertentangan dengan Islam maka dengan tegas kita harus menolaknya seperti memuja pohon dan benda keramat, atau meluruskannya seperti tradisi sedekah bumi yang semula bertujuan menyajikan sesajen untuk para danyang diubah menjadi ritual tasyakuran dan sedekah fakir miskin. Dan, jika ada budaya yang sesuai dengan syariat Islam maka kita terima dengan lapang dada, seperti ziarah kubur dalam rangka mendoakan si mayit, meneladaninya serta dzikrul maut (mengingat mati).  Inilah wajah Islam Nusantara.

Jilbab dan Langgam Jawa
Ada hal yang menarik dalam ceramah Pak Quraish itu. Beberapa jamaah mengkritisi pemikiran Pak Quraish terkait jilbab dan membaca Al-Qur’an dengan langgam Jawa, seperti yang terjadi di Istana Negara tak lama ini.
Menanggapi hal itu, Pak Quraish balik bertanya, “Anda pernah lihat foto istri Ahmad Dahlan, istri Hasyim Asy’ari, istri Buya Hamka, atau organisasi Aisyiyah? Mereka pakai kebaya dengan baju kurung, tidak memakai kerudung yang menutup semua rambut, atau pakai tapi sebagian. Begitulah istri-istri para kiai besar kita. Apa kira-kira mereka tidak tahu hukumnya wanita berjilbab? Pasti tahu. Tapi mengapa mereka tidak menyuruh istri-istrinya pakai jilbab?”
Kritikan mengenai jilbab bagi ayah Najwa Shihab itu bukan hal yang baru. Pada tahun 2009, dalam sebuah talkshow bertajuk Lebaran bersama Keluarga Shihab di sebuah saluran televisi, Pak Quraish mengemukakan pendapatnya yang dinilai cukup kontroversial. Ia juga menulis buku tentang pendapatnya itu dengan judul Jilbab, Pakaian Wanita Muslimah: Pandangan Ulama Masa Lalu & Cendikiawan Kontemporer.
Sebagaimana diketahui, soal pakaian wanita muslimah, para ulama berbeda pendapat setidaknya ada tiga pandangan. Pertama, seluruh anggota badan adalah aurat yang mesti ditutupi. Kedua, kecuali wajah dan kedua telapak tangan. Ketiga, cukup dengan pakaian terhormat. Dalam hal ini, Pak Quraish lebih condong pada pendapat yang terakhir.
Seorang pakar tafsir Al-Qur’an di Jawa Timur, KH A Musta’in Syafi’i pernah menulis artikel menarik tentang hal ini. Ia menuturkan, memang jilbab itu berasal dari budaya, tapi sudah ditetapkan menjadi syari’at. Ia lebih melihat sisi aksiologis, di balik pesan nash yang tidak sekedar bertafsir seputar teks, melainkan memperhatikan pula efek hikmah dan tujuan pensyari’atan jilbab atau tutup aurat itu. “Apakah pendapat Pak Quraish itu jawaban nurani keagamaanya atau sekedar membela diri?” ungkapnya.
Pak Quraish tak pernah merasa bosan menanggapi pertanyaan seputar jilbab, bahkan sesudah melampaui tiga dekade, ketika ia dicap sebagai cendekiawan yang membolehkan wanita muslimah tak berjilbab. Jika ada waktu luang, ia dengan senang hati memenuhi undangan diskusi atau seminar seputar jilbab. “Dan, pendapat saya seputar itu tak berubah, atau belum berubah,” tegasnya dalam buku Cahaya, Cinta dan Canda M Quraish Shihab (hal.255).
Mengenai membaca Al-Qur’an dengan langgam Jawa, Pak Quraish berpandangan boleh. Menurutnya, membaca Al-Qur’an boleh pakai lagu mana saja asal huruf dan tajwidnya benar.  “Anda boleh pakai langgam Jawa, Sunda, sedangkan saya pakai langgam Bugis misalnya, silakan saja karena itu yang Anda anggap enak dan sedap didengar orang,” paparnya.

Rahmat Bukan Laknat
Sebagian hasil ceramah Pak Quraish di atas penulis share di media sosial Facebook. Banyak tanggapan pro dan kontra terkait hal itu. Seorang teman yang kini sedang study di Al-Azhar berkomentar, “Quraish Shihab habis dibantai ketika di Mesir. Tak usah dibanggakan, ngatur anak sendiri aja nggak becus. Kecerdasan seseorang diukur bukan dari cara dia lolos dari perdebatan. Dia pandai di depan orang awam belum tentu lolos debat dengan sesama ulama apalagi di depan Allah. Beragamalah yang benar sesuai tuntunan Rosul. Ahmad Dahlan dan Hasyim Asy’ari keduanya bukanlah Rosul”.
Maka dengan berusaha santun meredam emosi penulis menanggapi; (1) Saya dan kami semua tetap membanggakan Pak Quraish, ahli tafsir negeri ini. Masalah dibantai karena pendapat itu wajar. Ia sudah berijtihad, bukankah orang yang berijtihad kala benar dapat dua pahala dan kala salah dapat satu pahala. Beliau banyak jasanya, bayangkan ayat-ayat Al-Qur’an seluruhnya diterjemah-ditafsiri. Mengapa hanya karena segelintir pendapatnya yang berbeda dengan kita lantas dimusuhi, dibenci? Kalau pun Anda membenci ya bencilah pendapatnya yang itu saja, bukan semua pendapatnya, apalagi orangnya. Tuhan melarang kita saling benci. (2) Nggak becus membina anak? Ingat Pak Quraish manusia biasa. Jangankan dia, anak Nabi Nuh AS saja tidak beriman, itu sederajat nabi. Justru kalau Pak Quraish selalu benar itu tidak wajar, bisa jadi beliau malaikat bukan manusia? intermezoo (3) Kita tidak mungkin bisa kenal Rasul SAW tanpa bantuan ulama-ulama kita. Toh, Nabi bersabda ulama adalah pewarisnya. Contoh mudahnya, kita tidak mungkin bisa berhaji-umrah tanpa bimbingan ketua rombongan, kalau berangkat sendiri bisa-bisa nyasar dan salah ritual.
Salah seorang famili Pak Quraish, Amna Alatas, menuturkan kepada penulis “Ami (demikian dia menyebut Pak Quraish) memang sepertinya sudah kebal dengan komentar-komentar miring tentang dirinya. Taushiyah Ami bukan untuk semua kalangan, banyak orang yang belum bisa terima karena tidak tahu persis esensinya. Kalau diambil sepotong-potong tanpa penjelasan selanjutnya memang artinya bisa jadi kontroversi”.
Di negeri kita tampaknya memang sering terjadi perbedaan pendapat dalam keislaman, mulai hal kecil sampai besar, termasuk istilah “Islam Nusantara” yang digaungkan oleh Nahdlatul Ulama dan istilah “Islam Berkemajuan” oleh Muhammadiyah. Belum lagi, ormas-ormas lain di luar keduanya.
Maka, sebagaimana Pak Quraish, kita sepakat tidak perlu berkutat pada istilah, namun lebih pada substansi. Dengan demikian, umat Islam di negeri ini akan lebih saling menerima, dan menjadikan perbedaan sebagai rahmat bukan laknat. Wallahu A’lam. []
Editor dan Alumnus Pesantren Tebuireng, Jombang.

25
Aug
15

Iklim : 2015 jadi Tahun `Terpanas` Selama 135 Tahun Terakhir

2015 Jadi Tahun Terpanas Selama 135 Tahun Terakhir

Sains Teknologi

By

on 24 Agu 2015 at 06:14 WIB

Liputan6.com, California – Jika banyak orang yang mengeluh mengapa beberapa minggu terakhir cuaca menjadi lebih panas daripada biasanya, hal tersebut disebabkan karena periode Juli sampai Agustus menjadi musim kemarau panjang yang kini terjadi pada beberapa titik wilayah di dunia.

Menurut yang dilansir International Business Times dari U.S. National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA), meskipun periode kemarau panjang terjadi dari Juli sampai Agustus, bulan Juli menjadi bulan dimana intensitas iklim panas meningkat sebanyak tiga kali lipat.

Bahkan, tahun 2015 diklaim menjadi tahun dengan kondisi cuaca sangat panas selama 135 tahun terakhir sejak pengamatan iklim secara rutin dimulai pada tahun 1880.

Para ilmuwan peneliti iklim Bumi di NOAA mengungkap, temperatur rata-rata Bumi pada tahun ini berada pada titik 1,53 derajat Fahrenheit yang digabung dari cuaca tanah dan air di Bumi.

“Temperatur tersebut kami nilai cukup tinggi sejak pengamatan iklim yang telah dilakukan sejak 1880. Jika persentase iklim tersebut terus meningkat, itu akan mengalahkan rekor temperatur bumi 1,24 derajat Fahrenheit yang terjadi di abad lalu, dimana menjadi suhu terpanas pada saat itu,” jelas tim peneliti NOAA.

Meskipun begitu, NOAA menjelaskan bahwa secara norma Juli memang menjadi bulan yang `panas` dalam setahun di seluruh wilayah Bumi.

Hal tersebut secara ilmiah dijelaskan karena terjadinya peristiwa badai El Nino yang terjadi di beberapa titik samudera di daerah tropikal Pasifik. Bahkan, peneliti mengungkap bahwa tahun ini, intensitas El Nino semakin meningkat dan menjadi lebih kencang, sehingga membuat suhu di beberapa titik daerah tropikal menjadi panas.

“Kami bisa pastikan bahwa 2015 menjadi tahun terpanas dalam sepanjang masa, kami telah melakukan penelitian iklim di setiap bulannya,” ungkap juru climatologist NOAA, Jake Crouch.

Mengingat tahun ini merupakan tahun dengan cuaca paling panas, tak menutup kemungkinan bahwa teori global warming kembali menyeruak. Sebelumnya, NASA mengumumkan prediksinya lewat sebuah dataset bahwa bumi akan mengalami perubahan iklim besar-besaran dalam waktu 85 tahun lagi, tepatnya di tahun 2100.

Menurut para ilmuwan yang sedang meneliti fenomena ini, hal tersebut disebabkan oleh lapisan karbondioksida di atmosfer bumi yang nantinya akan mencapai angka yang sangat tinggi, yakni 935 ppm (parts per million). Untuk saat ini, lapisan karbondioksida tersebut sedang berada di angka 400 ppm.

Jika nanti ternyata prediksi yang diumumkan benar terjadi, sebagian besar wilayah bumi akan mengalami perubahan iklim drastis yang menjadi sangat panas. Bahkan nantinya di wilayah Afrika, India, dan Amerika Selatan, temperatur hariannya bisa mencapai angka 45 derajat Celcius.

(jek/cas)

25
Aug
15

Infrastruktur : Bandara-bandara Udara Menakjubkan

Senin, 24 Agustus 2015 , 06:26:00
Bandara Ibrahim Nasir International Airport, Maladewa. Foto: Transmaldivian.Com
Bandara Ibrahim Nasir International Airport, Maladewa. Foto: Transmaldivian.Com

HARIAN Independent di Inggris baru-baru ini menurunkan laporan tentang bandara-bandara yang menakjubkan. Media yang dikenal dengan sebutan Indy itu menulis 11 bandara yang unik.

Lantas, bandara mana saja itu? Berikut ini laporannya: (baca juga: Bandara-Bandara Ini Sangat Menakjubkan…)

1. Ibrahim Nasir International Airport, Maladewa

Foto: Transmaldivian.Com

Lokasinya berada di Male, ibu kota Maladewa, sebuah negeri di Lautan Hindia. Bandara ini terdiri satu pulau dan landas pacunya benar-benar dikelilingi laut.

2. Tenzing-Hillary Airport, Nepal

25
Aug
15

Perekonomian : Strategi JokoWi Atasi Perlambatan Ekonomi

Strategi Ini Dipakai JokoWi Atasi Perlambatan Ekonomi
Maikel Jefriando – detikfinance
Senin, 24/08/2015 20:24 WIB
Strategi Ini Dipakai Jokowi Atasi Perlambatan Ekonomi
Bogor -Pasca China sengaja melemahkan mata uang Yuan secara drastis, pasar keuangan dunia termasuk Asia bahkan Indonesia kena dampaknya. Merespons kondisi ini, pemerintahan Presiden Jokowi menyiapkan beberapa strategi.

Berbagai kebijakan yang sudah direncanakan sejak lama semakin dipercepat untuk direalisasikan. Kebijakan ini disebut sebagai counter-cyclical atau pembalikan siklus ekonomi yang tengah menurun ke arah yang lebih positif.

Secara umum teori ini pernah dipraktikkan ketika masa krisis 2008 lalu.

“Dalam situasi ekonomi melambat satu-satunya jawaban yang jitu adalah Counter-cyclical. Jangan ikuti iramanya, tetapi ambil posisi lawannya,” ungkap Menko Perekonomian Darmin Nasution di Istana Bogor, Jakarta, Senin (24/8/2015)

Bagian pertama dari kebijakan ini adalah percepatan belanja modal pemerintah. Dana yang disiapkan mencapai Rp 280 triliun dalam APBN Perubahan 2015. Namun sampai sekarang baru terealisasi 20%. Sehingga semua masalah yang menghambat pencairan itu harus segera diselesaikan.

“Kita meningkatkan pengeluaran pemerintah terutama belanja modal. Kalau belanja rutin berjalan ya, gaji kan mau nggak mau dibayar ya kan. Tapi belanja modal memang masih sedikit 20%-an sampai saat ini,” katanya.

Kedua, adalah dengan mendorong investasi, dari dalam dan luar negeri. Poin yang dijanjikan pemerintah adalah melakukan deregulasi berbagai peraturan yang menggangu dunia usaha.

“Presiden juga menyampaikan itu sudah dicanangkan sejak empat lima hari lalu, yaitu melakukan deregulasi besar-besaran di setiap departemen agar investasi bisa lebih lancar dan pasar ekonomi bisa bergerak. Tidak sekedar hanyut mengikuti pelambatan ekonomi. Itu dia garis besarnya,” kata Darmin.

Darmin menambahkan, pemerintah bukanlah Bank Indonesia (BI) yang bisa memperlihatkan kebijakannya dalam kurun waktu cepat, yaitu dengan intervensi. Tugas pemerintah adalah untuk perbaikan ekonomi secara fundamental.

“Jadi jangan dibilang memperbaiki kurs itu harus intervensi. Itu memang hanya BI yang bisa,” tegas Mantan Gubernur BI tersebut.

(mkl/hen)

Baca Juga
On 08/24/2015 05:02 PM, Awind wrote:

http://www.antaranews.com/berita/514059/gubernur-bi-devaluasi-bukan-solusi-bagi-indonesia


Gubernur BI : Devaluasi Bukan Solusi Bagi Indonesia
Senin, 24 Agustus 2015 16:40 WIB |
Pewarta: Afut Syafril
Gubernur             BI: devaluasi bukan solusi bagi Indonesia

Gubernur Bank Indonesia Agus Martowardojo.(ANTARA FOTO/ Wahyu Putro A)
Jakarta (ANTARA News) – Gubernur Bank Indonesia Agus D.W. Martowardojo mengatakan cara pelemahan mata uang nasional atau devaluasi adalah bukan salah satu cara terbaik bagi Indonesia.

“Tren pelemahan mata uang di negara lain, belum tentu berhasil di Indonesia, karena Indonesia juga masih tergantung pada ekspor dan impor primer,” kata Agus D.W Martowardojo di Gedung Nusantara I, Komplek DPR, Jakarta, Senin.

Ia menjelaskan jika kebijakan devaluasi bisa diterapkan pada negara-negara yang berbasis ekonomi pengolahan produksi atau negara penghasil sumber daya alam beserta pengolahan turunannya.

Sedangkan Indonesia saat ini dinilai masih memiliki rasio 50 berbanding 50 dalam hal produksi, bahkan untuk kebutuhan primer masih bergantung pada sektor ekspor dan impor, karena sumber daya alam masih berupa mentahan yang diekspor.

“Ketika sumber daya alam kita hanya masih menjual mentahan, serta masih banyak bergantung impor, kebijakan devaluasi kurang berpengaruh positif bagi negara,” kata Agus.

Sebelumnya, Bank sentral Tiongkok (PBoC) mendevaluasi mata uang yuan pada sebesar hampir dua persen terhadap dolar AS, karena pihak berwenang mengatakan mereka berusaha untuk mendorong reformasi pasar.

Langkah dramatis itu mengejutkan pasar dan menyebabkan gelombang penjualan di bursa saham AS dan Eropa, serta di banyak bursa komoditas.

Sementara itu, Bank sentral Vietnam juga telah memutuskan memperlebar batas perdagangan untuk transaksi antar bank mata uang Vietnam dong terhadap dolar AS dari dua persen menjadi tiga persen.

State Bank of Vietnam (SBV), bank sentral negara itu, juga mengumumkan menaikkan rata-rata nilai tukar antar bank sebesar satu persen, dari 21.673 dong per dolar AS menjadi 21.890 dong per dolar.

Editor: Unggul Tri Ratomo

COPYRIGHT © ANTARA 2015




Blog Stats

  • 2,581,571 hits

Recent Comments

Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Sejarah : Bangsa Lemuria, Lelu…
Ratu Adil - 666 on Sejarah : Bangsa Lemuria, Lelu…

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 142 other followers