Archive for the 'Jiwa Semangat Nilai-nilai 45' Category



22
Jul
15

Keuangan : Dialektika Penindasan Utang Luar Nergeri dan Modal Asing

Jakarta45

DIALEKTIKA PENINDASAN UTANG LUAR NEGERI DAN MODAL ASING DI INDONESIA.

Refleksi: Beginilah terjadinya pemerasan di Indonesia sebagai dampak dari utang luar negeri, dan modal asing,  menurut pemahaman orang awam, yang digambarkan secara grafik (Attach Pdf atau Word)

 

Penjelasan  tentang grafik : Garis titik-titik merah meruapakan batasan NKRI, yang mengantungkan dirinya pada Utang luar negeri dan Modal asing dalam menjalankan kebijakkan Infrastruktur Pembangunan. Anak panah merah tebal dalam grafik, menunjukkan besaran utang luar negeri, dan anak panah warna coklat adalah Modal asing.  Dengan demikian NKRI telah menghasilkan PRODUKSI DAN JASA (BRUTO SOSIAL PRODUK). Dari broto sosial produk tersebut, Pemerintah mendapatkan Pajak sebagai masukan.  Para kapitalis Birokrat, komprador+pemodal besar, dan bisnis militer mendapatkan surplus Economi (nilai tambah). Demikian juga BUMN dan para perantara juga mendapatkan surplus ekonomi. Komponen-komponen yang berada dalam garis titik-titik merah ini berada dalam cengkeraman pihak asing ( utang luar negeri dan Modal asing), yang dalam konteks ini Utang Luar Negeri ditempatkan diatas, dan Modal Asing ditempatkan dibawah , dalam grafik.Sehingga NKRI terjepit ditengah-tengah.

 

Sementara itu ekonomi Rakyat (ekonomi lemah) terus menggantungkan hidup mereka , dan berada dalam kerangkeng eksploitasi oleh kekuatan ekonomi yang berada dalam starta atas, yang ditunjukkan dalam garis  titik-titik warna ungu yang memagarinya. Dalam konteks ini rakyat tidak mendapatkan pembagian nilai lebih, mereka hanya menerima upah dan penghasilan subsisten. Ini dibuktikan antara lain dalam bentuk semakin besarnya kemiskinan dan semaikn tingginya tingkat pengangguran. Kebangkitan posisi ekonomi rakyat terblokir, sementara strata atas dalam ekonomi menikmati nilai tambah ekonomi yang massif.

 

Demikianlah dialektika penindasan Utang Luar negeri dan modal asing di Indonesia. Meskipun dana tabungan tidak dipakai, tapi toh harus juga menbayar bunga utang. Dalam konteks ini Rakyat kecil mengalami dobel penindasan (penindasan rangkap), yaitu dari utang luar negri + modal asing, dan dari para pemodal besar, bisnis militer, dan perantara-perantaranya, yang dalam grafik dilukiskan sebagai strata atas.

Secara keseluruhan dampak dari Utang luar negeri dapat disimpulkan bahwa : Indonesia yang Merdeka sekarang ini dapat dikatakan merupakan replika dari Indonesia yang Terjajah pada zaman kolonialisme Belanda, yang dampaknya adalah: INDONESIA TERUS MERUPAKAN PEMASOK  SURPLUS EKONOMI YANG SETIA PADA PIHAK ASING!!!  .

 

Utang Luar Negeri.

 

Dalam dunia perekonimian masalah utang luar negeri adalah suatu masalah yang masih belum bisa dipecahkan oleh pemerintah NKRI. Pemerintah NKRI sampai saat ini masih belum mampu untuk melunasi utang negaranya.  Bisa dipercaya bahwa utang luar negeri NKRI akan memperburuk keuamngan negara, karena penghasilan NKRI (Broto sosial Produk- lihat grafik) hanya sebagaian yang bisa masuk kas negara (tabungan), karena sebagian harus digunakan untuk membayar utang luar negeri tersebut, dan sebagian lagi dari nilai lebih masuk kekantong para kapitalis birokrat,komprador dan perantara-perantara dan calo-calo.

 

Utang luarnegeri NKRI tidak hanya memiliki resiko terhadap keuangan negara, tapi beresiko juga pada masyarakat. Karena pembanyaran utang melalui APBN, pada dasarnya dibayar oleh masyarakat melalui pajak (lihat grafik). Sampai sekarang masyarakat terus menanggung bunga utang oblikasi rekapitalisasi perbankan tidak kurang Rp. 50 triliun/tahun kepada  perbakan (data BPS). Keadaan seperti ini akan ditanggung juga oleh generasi bangsa dimasa depan.  Demikianlah bentuk mekanisme  penindasan dalam konteks utang Luar negeri di NKRI.

Sulit untuk mengharapkan kebijakan ekonomi Indonesia bersih dari kepentingan lembaga multilateral atau negara donor asing, seperti IMF, Bank Dunia, Tiongkok. Ini disebabkan oleh karena Pemerintah Indonesia dimana kondesi keuangan negara kita sekarang ini buruk, dan kondesi sosisal kita secara signifikan masih di warnai oleh kemiskinan dan pengangguran (terbuka plus terselubung), kita sudah buru-buru melangkah ke arah pembanunagn mega infrastruktur canggih, dengan high tech industri secara selektif dan bertahab sebagai gengsi, yang mebutuhkan dana sebesar sekali. Untuk maksut tersebut tiada jalan lain, kecuali Indonesia akan semakin terjerat oleh Utang luar negeri, yang dalam konteks ini sebasar Rp.650 Triliun, yang disertai dengan tenaga kerja dari Tiongkok.

Dampak dari utang luar negeri:

1.   Dampak langsung dari utang yaitu cicilan dan bunga utang yang semakin mencekik, sampai negra harus menguras bersih tabungan pemerintah (lihat grafik), karena kita sudah terjebak dalam jaringan utang luar negeri, yang menurut istilahnya pak Kwik Kian Gie disebut debt trap.

2.   Hilangnya kemandirian akibat keterbelengguan atas keleluasan arah pembangunan negeri, oleh si pemberi utang, dan hilangnya kehendak untuk melaksanakan Pasal 27 (aya2) UUD 45 . Ini adalah dampak yang paling hakiki dari utang Uar negeri.

Dampak tersebut diatas nampak sangat serius, kareana kedaulatan dalam pengolahan ekonomi Indonesia akan terampas, sehingga pada akhirnya arah pembangunan kita penuh dengan kompromi dan di setir, sehingga NKRI akan semakin terjepit (lihat grafik) dan terbelenggu dalam kebijakan-kebijakan yang dibuat oleh negara pendonor.

Menurut aliran neoklasik memang ada yang positif dari utang luarnegeri. Hal ini dikarenakan menambah cadangan devisa dan mengisi modal pembangunan untuk mengejar ketinggalan-ketinggalan dari negara-negara maju. Mungkin inilah yang dimaksud oleh Jokowi bahwa tambah utang menguntungkan; ya menguntungkan siapa???

Adalah cukup beralasan dalam kondesi keuwangan NKRI sekarang ini dan kondesi sosial kita yang secara signifikan masih diwarnai oleh kemiskinan dimana-mana, dan pengangguran baik yang berbuka maupun yang tertutup, kita melakukan lompatan katak tanpa pertimbangan-pertimbangan yang mendalam dalam melakukan pembangunan  mega infrastrukrur, langkah ini sangat dikhawatirkan akan merusak upaya-upaya pengentasan kemiskinan, penyerapan tenaga kerja yang luas, dan meningkatkan kewalitas sumberdaya manusia secara menyeluruh.

Nampaknya sudah tidak ada lagi peluang untuk mengurangi jumlah utang luar negri, karena masih banyak utang lama yang sudah jatuh tempo tapi belum dibayar cicilan dan bunga utangnya, hingga April 2015, total utang luar negeri Indonesia sudah mencapai 299,84 miliar dollar AS, Sabtu (18/7), utang luar negeri Indonesia sudah menembus Rp. 4002 triliun. Utang pemerintah sendiri tercatat sudah Rp 2.845,25 triliun, dan utang pda Tiongkok sejumlah Rp.650 triliun.

Sampai sekarang saya tidak yakin bahwa strategi pembangunan infrastruktur yang didasarkan pada utang luarnegeri, akan dapat membawa Indonesia kearah berdaulat dibidang Politik, Berdikari dibidang ekonomi dan Berkepribadian dibidang Budaya, yang di diklarasikan dalam Trisakti Bung Karno, yang digembar-gemborkan Jokowi dalam pemilu dan pilpres 2014 untuk meraih kemenangannya.

Roeslan.

__._,_.___

Attachment(s) from roeslan roeslan12@googlemail.com [nasional-list] | View attachments on the web

2 of 2 File(s)


Posted by: roeslan <roeslan12@googlemail.com>

 

 

20
Jul
15

Kenegarawanan : JokoWi, Tabuhlah Bedug Keadilan dan Persatuan Indonesia di Tolikara, Papua

KBP45

Suara Pembaca :

JokoWi, Tabuhlah Bedug Keadilan & Persatuan Indonesia

Tabuhan Bedug Tradisi Nusantara oleh Presiden JokoWi pada tanggal 16 Juli 2015 di Banda Aceh, ujung Barat NKRI bijaknya segera lanjut ke ujung Timur NKRI sesuai panggilan menjawab peristiwa di kota Karubaga, kabupaten Tolikara, propinsi Papua, 17 Juli 2015.

Tabuhan Bedug Tradisi Nusantara lanjutan di bulan Syawal 1436H yang fitri ini, adalah layak diagendakan berpijak kepada Firman Allah SWT tentang Ajaran KEADILAN [18 ayat Al Qur’an] dan Ajaran KEBANGSAAN [1 ayat Al Qur’an] sebagai petunjuk bagi PERSATUAN INDONESIA.

KEADILAN difirmankanNya pada QS 16/An Nahl : 90, 6/Al An’aam : 152, 7/Al A’roof : 29, 55/Ar Rochmaan : 7-9, 4/An Nisaa’ : 3, 4/An Nisaa’ : 129, 4/An Nisaa’ : 135, 4/An Nisaa’ : 58, 5/Al Maaidah : 42, 38/Shood : 26, 5/Al Maaidah : 8, 60/Al Mumtahanah : 8, 5/Al Maaidah : 44, 5/Al Maaidah : 47, 4/An Nisaa’ : 105, 5/Al Maaidah: 48

Dan KEBANGSAAN difirmankanNya pada QS 49/Al Hujuroot : 13 yakni “Hai manusia, sungguh Kami menciptakan kamu dari seorang lelaki dan seorang perempuan serta menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal”

Ke-19 ayat Al Qur’an ini diyakini mantapkan PERSATUAN INDONESIA dengan penuh suasana kesejahteraan lahir bathin untuk tetap berbagi kedamaian, keamanan dan kenyamanan berkelanjutan dalam wadah keluarga besar Negara Kesatuan Republik Indonesia, sekaligus mantapkan Jiwa Semangat Nilai2 Kejoangan 45.

Jakarta, 20 Juli 2015

Pandji R Hadinoto, KBP45 KelBes Pejoang45
Editor www.jakarta45.wordpress.com

Pukulan Beduk Jokowi Awali Pawai Takbir di Banda Aceh

Kamis, 16 Juli 2015 23:40

Pukulan Beduk Jokowi Awali Pawai Takbir di Banda Aceh
SERAMBI/M ANSHAR
Presiden RI, Joko Widodo bersama Ibu Negara menghadiri malam pawai takbir 1 Syawal 1436 Hijriah di halaman Masjid Raya Baiturrahman, Banda Aceh, Kamis (16/5/2015) malam. Pawai takbir menyambut malam Idul Fitri 1436 Hijriah ini dibuka Presiden ditandai dengan pemukulan beduk di halaman depan Masjid Raya Baiturrahman, didampingi Gubernur Zaini Abdullah dan Wali Naggroe Malik Mahmud Al Haytar.

Dari Kompolnas, Pemuka Agama hingga Budayawan angkat bicara terkait peristiwa pembakaran masjid Baitul Mutaqqin, Tolikara, Papua.

Ini Kata Komisioner Kompolnas Soal Peristiwa Pembakaran Masjid Tolikara – Mata Indonesia News – http://mataindonesianews.com/ini-kata-komisioner-kompolnas-soal-peristiwa-pembakaran-masjid-tolikara/

————–

PW NU PAPUA : Papua Untuk Semua – Mata Indonesia News – http://mataindonesianews.com/pw-nu-papua-papua-untuk-semua/

————

Jokowi, Tabuhlah Bedug Keadilan Dan Persatuan Indonesia – Mata Indonesia News – http://mataindonesianews.com/jokowi-tabuhlah-bedug-keadilan-dan-persatuan-indonesia/

Bangun Toleransi Tegakkan Hukum
Selasa, 21 Juli 2015 Penulis: MI/MARCELINUS KELEN

SITUASI di Distrik Karubaga, ibu kota Kabupaten Tolikara, Papua, tiga hari pasca-kerusuhan Jumat (17/7), berangsur kondusif.

Meski warga yang tempat tinggalnya ikut terbakar saat kerusuh-an terjadi masih tinggal di tenda penampungan yang ada di halaman Koramil 172, aktivitas masyarakat di sana mulai pulih.

“Sudah aman terkendali. Semula kami khawatir, tapi kini kami sudah beraktivitas seperti biasa (berdagang),” ungkap Arifin Panjaitan, warga Karubaga, kemarin.

Staf Khusus Presiden Joko Widodo, Lenis Kogoya, pun mengunjungi tempat kejadian perkara dan lokasi pengungsian.

Insiden berawal ketika sekelompok orang dari Gereja Injili di Indonesia (GIDI) membubarkan secara paksa jemaah salat Idul Fitri yang sedang memulai beribadah.

Pemerintah berupaya keras agar peristiwa yang menyebabkan satu korban meninggal serta 54 kios bangunan dan Musala Baitul Muttaqin terbakar itu tidak sampai meluas ke daerah lain.

“Kami mengantisipasi supaya ja-ngan sampai ada situasi yang sama di daerah lain. Sejauh ini tidak ada laporan gejolak di daerah, dan kita harapkan semua tenang dan tidak terpancing,” kata Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan Tedjo Edhy Purdijatno di kantornya di Jakarta, kemarin.

Dalam rapat koordinasi yang digelar di Kemenko Polhukam, Sabtu (18/7), Tedjo menjelaskan didapat tujuh poin kesimpulan, antara lain upaya penegakan hukum terhadap pelaku dan aktor intelektual di Karubaga serta penyelidikan prosedur oleh aparat keamanan saat kejadian.

Kerusuhan berbau SARA itu mendapat kecaman sejumlah kalangan. Human Rights Working Group (HRWG) mengutuk keras tindakan intoleransi dan kekerasan yang terjadi di Tolikara.

Menurut Direktur Eksekutif HRWG Rafendi Djamin, peristiwa itu melukai perasaan seluruh umat beragama, mencederai bangunan toleransi, dan melanggar hak kebebasan beragama.

“Toleransi itu tidak tumbuh dengan sendiri. Ia berada pada tatanan sosial masyarakat. Tokoh agama dan masyarakat ialah kunci terbangunnya sikap tersebut. Namun, di sisi lain, pemerintah di daerah memiliki kewajiban untuk memfasilitasi toleransi dan dialog antaragama,” kata Rafendi.

Staf Khusus Presiden Lenis Kogoya menyayangkan peristiwa tersebut. “Sejak Indonesia merdeka, di Papua tidak pernah terjadi konflik kerukunan agama,” kata Lenis kepada Metro TV.

Jamin penegakan hukum
Presiden Jokowi menjamin penegakan hukum atas kasus tersebut. “Saya jamin, hukum akan ditegakkan setegak-tegaknya, bukan hanya untuk pelaku kriminal di lapangan, tetapi juga semua pihak yang terbukti mencederai kedamaian di Papua,” cetus Jokowi lewat akun Facebook resminya, Presiden Joko Widodo, kemarin.

Polisi pun sudah memeriksa 22 orang, termasuk dari GIDI. “Ini masih proses penyidikan. Calon tersangka sudah ada,” kata Kapolri Jenderal Badrodin Haiti, di Jakarta, kemarin.

Sementara itu, Komnas HAM akan menerjunkan tim investigasi dari Jakarta ke Tolikara, hari ini. Lembaga itu juga berharap pene-gakan hukum yang adil. “Bukan hanya para pelaku pembakaran, aparat yang menembak juga harus diproses,” tandas komisioner Komnas HAM Natalius Pigai.

Pemerintah juga segera memulih-kan keadaan di Tolikara melalui dialog antarelemen dan merehabilitasi kerusakan. Tiga menteri akan mengunjungi Tolikara, yaitu Mendagri Tjahjo Kumolo, Mensos Khofifah Indar Parawansa, juga Menteri PPPA Yohana Susana Yambise. (Kim/Gol/Nur/Try/Deo/DY/TS/X-6)

 BK
Ini Kronologi Sementara Insiden Tolikara versi Stafsus Presiden
LB Ciputri Hutabarat – 18 Juli 2015 13:15 wib
StafSus Presiden
Lenis Kagoya—Metrotvnews.com/Ciputri

Metrotvnews.com, Jakarta: Staf Khusus Presiden, Lenis Kagoya melansir kronologis sementara insiden kerusuhan di Tolikara, yang dia dapat dari sejumlah sumber. Dia membenarkan insiden Tolikara diawali permasalahan pengeras suara di musala yang sedang merayakan hari raya Idul Fitri.

Suara pengeras suara itu dianggap menganggu oleh pemuda gereja yang juga sedang mengadakan pertemuan tahunan. “Pemuda Gereja Injili di Indonesia (GIDI) sedang ada Kongres, lokasinya berdekatan dengan musala yang menggunakan pengeras suara,” kata Lenis kepada wartawan di Gedung Sekretariat Negara, Jalan Veteran III, Jakarta Pusat, Sabtu (18/7/2015).

Karena merasa terganggu dengan suara itu, kata Lenis, pemuda gereja mendatangi musala untuk berdialog. Tapi, tak ada titik temu antarkeduanya. Sehingga, terjadilah insiden pembakaran.

Lantaran hal itu, Lenis mempertanyakan posisi pemerintah daerah. Sebab, kata Lenis, pemerintah daerah punya peran dengan memberikan izin gereja melaksanakan kongres yang bertepatan dengan hari raya Idul Fitri.

“Agenda nasional itu penentuannya harus dipertanyakan dan dapat izin dari pemerintah daerah dan pihak kepolisian setempat. Di sini yang perlu dipertanyakan. Apakah tak pernah dibicarakan sebelumnya soal tanggal di kalender ini?,” ungkap dia.

Menurut Lenis, sejak jauh hari, pemerintah daerah seharusnya melakukan mediasi antartokoh agama setempat. Sebab, diketahui antara tanggal 17 dan 18 merupakan hari besar umat muslim di Indonesia.

“Sepertinya tidak ada koordinasi yang baik. Seharusnya itu gereja dan tokoh agama duduk bersama difasilitasi oleh pemerintah daerah supaya tak jadi masalah,” jelas dia.

Untuk memperjelas duduk masalah ini, Lenis juga berencana akan terbang langsung ke Papua pada 29 Juli 2015.

Kerusuhan di Kabupaten Tolikara terjadi Jumat pagi. Insiden diduga disebabkan salah paham karena pengeras suara. Pada saat bersamaan di daerah tersebut berlangsung dua acara yang digelar oleh dua umat agama yang berbeda. Ada acara perayaan Idul Fitri dan pertemuan pemuka masyarakat gereja.
TII

TEROPONGRakyat
Pikirkan Terapi UU Darurat Sipil Papua
Minggu, 19 Juli 2015 – 08:04:49
Oleh Djoko Edhi S Abdurrahman (Mantan Anggota Komisi III DPR-RI, Direktur Nasional LBH Desa), TEROPONGSENAYAN
80MasjidDibakar.jpg
Sumber foto : Istimewa
Bangunan dan masjid yang dibakar massa di kabupaten Tolikara, Papua, Jumat (17/7/2015)

GIDI itu harus dibubarkan. Ia sudah jadi negara dalam negara. Maka aparat harus kerja keras untuk mencari bukti saat sekarang, sehingga memudahkan pembubaran GIDI di Pengadilan. Jika terbukti ada keterlibatan konspirasi dengan Papua Merdeka, diusulkan agar dilakukakan Darurat Sipil. Ini akan menyelesaikan masalah secara komprehensif.

Pengumuman Darurat Sipil dilakukan dan wewenang Presiden. Tetapi resolusinya oleh DPR-RI, cq Komisi 1, 2, dan 3. Presiden juga perlu mendengar konsul dengan Mahkamah Agung dan Mahkamah Konstitusi.

Pada Darurat Sipil, ada sejumlah hak-hak sipil yang ditiadakan, antara lain hak untuk menyatakan merdeka dalam kasus separatisme, baik di ruang publik, maupun diruang privat sebagai subtansi. Semua yang berkaitan dengan separatisme dilarang, pelanggaran untuk itu ditangkap, “langsung masuk”. Frasa langsung masuk, berasal dari KUHAP yg berarti tidak ada penangguhan penahanan. Saya setuju dengan usul penerapan hukum Darurat Sipil Papua untuk penyelesaian masalah secara komprehensif, minimal selama tiga tahun.

Pertama, Darurat Sipil akan mengatasi intervensi regional dan internasional yang bermain di belakang Papua Merdeka. Kedua, Darurat Sipil segera mengenyahkan isu Papua Merdeka hingga ke pelosok dan ke dalam rumah. Ketiga, dalam Darurat Sipil, semua bahan, sejak bendera, surat, bicara, perkumpulan, demonstrasi dilarang, yang menjadi subtansi, adalah pelanggaran, ditangkap langsung masuk. Keempat, dalam Hukum Darurat Sipil, semua aktivitas, dalam dan di luar rumah yang melibatkan nama, jargon, icon, orang, tokoh, tulisan dan non tulisan, publikasi Papua Merdeka, ditangkap langsung masuk. Kelima, Darurat Sipil menyensor semua publikasi, surat menyurat, termasuk surat-surat elektronik, chatting dan lain-lain yang melanggar ditangkap langsung masuk. Keenam, Darurat Sipil meniadakan hak yang menyangkut subtansi, Papua Merdeka, yang melanggar ditangkap, langsung masuk.

Laporan Sekjen PENA dalam sembilan hari, bulan ini, tiga kerusuhan terjadi di Tolikara, Papua. Tanggal 9 Juli 2015, Kampung Yelok dibakar warga Panaga. Tanggal 15 Juli 2015, 100 Hanoi (rumah tradisional) di Panaga dibakar. Dan 17 Juli 2015, Di Karubaga 70 bangunan dan mushola dibakar saat salat Idul Fitri. Peristiwa 9 dan 15 Juli konon dipicu perzinahan, sementara kasus 17 Juli dipicu pelarangan salat Idul Fitri oleh Gereja Injili di Indonesia (GIDI).

Terkait kasus di Karubaga (25 KM dari Panaga) saat ini, entah benar atau tidak, muncul surat berkop GIDI tgl 11 Juli 2015. Surat itu berisi tiga point yang isinya larangan agar tidak ada sholat Idul Fitri dan larangan berjilbab di Karabuga karena ada Seminar pemuda GIDI tingkat Internasional. Selain tiga poin itu, diparagraf terakhir surat itu tertulis : “… GIDI selalu melarang Agama lain dan Gereja Denominasi lain dirikan tempat Ibadah di wilayah Kabupaten Tolikara”. Lebih lanjut dalam surat itu juga diakui bahwa GIDI juga menutup gereja Adven Distrik Paido.
“Ada apa di Tolikara? Ada apa di Papua? Ada apa di Indonesia?” Ada tiga peristiwa kekerasan massal dalam sembilan hari di satu kabupaten, adalah hal luar biasa. Di mana Polri, militer, BIN dan aparatur negara lainnya sehingga peristiwa tadi leluasa terjadi. Jika surat GIDI itu benar dan dikeluarkan 11 Juli 2015 mengapa tak ada upaya pencegahan. Bukankah ada enam hari untuk cegah tangkal. Jika Surat GIDI benar, aneh karena GIDI sebagai Organisasi Gereja ternyata juga melarang dan menutup Gereja Denominasi lainnya untuk membangun Gereja di Tolikara.

Banyak keanehan dari peristiwa yang menerbitkan tafsir isu terkait sikap Presiden Jokowi pada Freeport, dan percepatan Papua Merdeka. Apapun sebab dibalik itu, kekerasan dan diskriminasi atas nama dan tujuan apapun tak bisa dibenarkan, dan harus menjadi musuh bersama umat manusia. Demi umat manusia, maka peristiwa ini harus diusut tuntas dan transparan. Secara hukum pidana, peristiwa hukumnya adalah penyerangan, pengeroyokan, pembakaran. Ketiganya diancam hukuman berat, 20 tahun penjara.

Menurut saya, kasus ini harus diambilalih oleh Mabes Polri, dan tersangka disidik di Jakarta. Masalahnya menunjukkan aparatur daerah sudah tidak signifikan, maka harus diambil alih oleh pusat. Ada baiknya jika diteruskan ke proses Hukum Darurat Sipil. Artinya satu masalah sudah dapat dituntaskan.(*)

TeropongRakyat adalah media warga. Setiap opini/berita di TeropongRakyat menjadi tanggung jawab Penulis.

Dalang Kerusuhan Tolikara Layak Dikategorikan Teroris
Minggu, 19 Juli 2015 | 15:26 WIB

alfian kartono Pimpinan dan Tokoh agama di Provinsi Papua menyesalkan terjadinya aksi pembakaran mushola yang dilakukan sekelompok orang di Karubaga, Kabupaten Tolikara, Jumat (17/7/2015) kemarin. Mereka juga mendesak agar pihak berwenang segera menyelesaikan masalah tersebut dengan tuntas dan memproses pelaku sesuai hukum yang berlaku.

JAKARTA, KOMPAS.com — Presidium Perhimpunan Indonesia Timur (PPIT) menyayangkan insiden berbau SARA di Kabupaten Tolikara, Papua, dan berpendapat bahwa pelaku dan dalang kerusuhan itu layak dikategorikan sebagai teroris.

“Kami berharap polisi menemukan aktor di balik peristiwa itu berikut jaringannya dan mengategorikan mereka sebagai kelompok teroris,” ujar Ketua Umum PPIT Laode Ida melalui siaran persnya, Minggu (19/7/2015).

Jika pelakunya tertangkap, lanjut Laode, proses hukum terhadap mereka harus diperlakukan layaknya seorang terduga teroris yang menjalani proses hukum. Salah satunya, memeriksa pelaku secara intensif selama tujuh hari berturut-turut. Lebih lanjut, Laode yakin provokator insiden itu justru berasal dari luar Papua.

“Kekerasan kepada kelompok agama bukan karakter orang Papua. Orang Papua tidak seperti itu. Mereka toleran dan menghormati kebebasan beragama orang lain. Kami duga kuat ada kelompok yang datang dari luar Papua lalu melakukan propaganda provokasi,” lanjut dia.

Provokasi tersebut, menurut Laode, bertujuan untuk mewujudkan Papua tetap menjadi kawasan tak aman dan bergejolak. Jika demikian, pemerintahan Joko Widodo-Jusuf Kalla akan terbebani secara moral dan politik baik di dalam maupun luar negeri.

Selain menghukum pelaku sekaligus dalang insiden, Laode meminta pemerintah mulai membentuk forum antarumat beragama di Papua untuk menjaga komunikasi umat beragama di provinsi tersebut.

“Selain itu, kita mau pemerintah mengadakan rekonsiliasi warga di wilayah penyerangan itu. Tujuannya supaya persoalan ini selesai dan tak terulang,” ujar dia.

Seperti telah diberitakan sebelumnya, sekelompok orang yang diduga berasal dari umat Gereja Injili di Indonesia (GIDI) mendatangi Mushala Baitul Mustaqin di Tolikara, Papua, saat umat Islam menggelar shalat Idul Fitri, Jumat (17/7/2015) pagi.

Sekelompok orang ini melakukan protes lantaran pengeras suara yang digunakan dalam shalat Idul Fitri itu mengganggu acara yang juga tengah digelar umat GIDI. Menurut Ketua Persekutuan Gereja dan Lembaga Injil di Indonesia (PGLII) Roni Mandang, kedatangan umat GIDI ke umat Islam dengan cara baik-baik.

Namun, tembakan aparat ke arah umat GIDI membuat situasi menjadi kacau. Situasi semakin kacau begitu diketahui satu orang meninggal dunia akibat rentetan tembakan itu. Akibatnya, warga kemudian membakar kios di sekitar lokasi. Tetapi, api merembet ke mushala yang dijadikan tempat shalat Idul Fitri.

Kabag Penum Divisi Humas Polri Kombes Suharsono menegaskan, tembakan ke arah umat GIDI dilakukan karena mereka tak mengindahkan imbauan petugas untuk pergi dari sekitar mushala. Meski polisi telah mencoba menghalau massa yang mengeluarkan pernyataan provokatif, warga yang marah tidak mengindahkan permintaan polisi.

Pukul 07.05 WIT massa mulai melempari mushala dengan menggunakan batu. Pada pukul 07.10 WIT massa merusak lalu membakar kios dan masjid. Setelah tembakan peringatan tak diindahkan, barulah polisi melepaskan tembakan ke arah tanah. Di tengah kekacauan ini diketahui seorang remaja meninggal dunia akibat terkena tembakan. Sementara 11 orang lain mengalami luka-luka, sebagian besar di antaranya mengalami luka tembak.


Ikuti perkembangan berita ini dalam topik:

Penulis : Fabian Januarius Kuwado
Editor : Ervan Hardoko

Rusuh Tolikara, Ini 4 Fakta Temuan KomNas HAM

Sabtu, 18 Juli 2015 | 14:02 WIB

Rusuh Tolikara, Ini 4 Fakta Temuan Komnas HAM

Ilustrasi kerusuhan. AFP PHOTO / ANDREAS SOLARO

TEMPO.CO, Jakarta -Sehari setelah kejadian, Komisi Nasional Hak Asasi Manusia langsung mengeluarkan hasil analisis sementara kerusuhan di Karubuga, Tolikara, Papua. Mereka menemukan empat fakta terkait bentrok yang melibatkan jemaat Gereja Injil di Indonesia dengan umat Islam di Tolikara dan kepolisian.

“Yang terpenting bukan permusuhan antara GIDI dengan umat Islam,” kata Komisioner Komnas HAM, Natalius Pigai saat dihubungi Tempo, 18 Juli 2015.

Pertama, Pigai mengatakan kerusuhan di Tolikara dipicu oleh surat edaran Ketua GIDI wilayah Tolikara, Pendeta Nayus Wenea dan Sekretaris GIDI Pendeta Marthe Jingga kepada umat muslim di Tolikara. Surat yang juga disampaikan ke Kepolisian Resort Tolikara, dan Pemerintah Daerah tersebut berisi larangan umat Islam merayakan Idul Fitri di Karubaga Tolikara. Mereka juga meminta umat Islam tak berjilbab. Meski begitu, pada surat edaran yang sama, Nayus menjelaskan pihaknya juga melarang pemeluk agama mendirikan tempat ibadah di Tolikara.

“Penjelasan soal penutupan Gereja Adven menunjukkan bahwa GIDI Tolikara memang eksklusif dari agama lain,” kata Pigai. “Mereka tidak membaca Islam sebagai musuh, tapi justru Kristen selain GIDI.”

Pigai membenarkan tentang  surat edaran yang ditulis pada 11 Juli 2015. Dalam surat tersebut tertulis jemaat GIDI sengaja melarang perayaan Idul Fitri yang bersamaan dengan Seminar dan KKR Pemuda GIDI pada 13-19 Juli 2015. “Surat itu tidak palsu, tapi memang keliru,” kata Pigai.

Kedua, Pigai menyesalkan surat tersebut tidak direspons serius oleh pemerintah daerah Tolikara. Padahal, kata dia, jemaat GIDI tidak berhak melarang umat agama lain beribadah. “Pemerintah tidak mengantisipasi surat edaran itu. Mereka tidak melakukan upaya pencegahaan untuk menjaga ketertiban dan keamanan,” kata Pigai.

Tepat saat Idul Fitri, Jumat, 17 Juli 2015, masyarakat muslim Tolikara tetap menggelar salat Idul Fitri dan mengumandangkan takbir dengan pengeras suara di lapangan Makoramil 1702/ Karubaga. Lapangan tersebut berdekatan dengan penyelenggaraan KKR jemaat GIDI.

Pigai mengatakan jemaat GIDI langsung marah dan memprotes polisi yang berjaga di sekitar lapangan. “Mereka protes karena sudah memberi iimbauan, kemudian polisi balik menembak warga,” kata Pigai.

Rentetan tembakan polisi melukai 11 orang, dan mengakibatkan satu anak Sekolah Dasar meninggal. Karena kerusuhan itu, kemudian jemaat GIDI mulai melempari batu kios dan Musala Baitul Mutaqin. Mereka juga membakar beberapa rumah, kios, dan musala itu.

“Masyarakat melampiaskan kemarahan ke arah musala. Kalau polisi tidak menembaki warga, pasti reaksi mereka berbeda,” kata Pigai. Ia menyayangkan sikap aparat yang arogan. Menurut dia, polisi di Papua terbiasa menangani kerusuhan dengan cara kekerasan.

PUTRI ADITYOWATI

KERUSUHAN TOLIKARA : Kronologi & Permintaan Maaf Presiden GIDI

Newswire Minggu, 19/07/2015 07:55 WIB

KERUSUHAN TOLIKARA: Kronologi & Permintaan Maaf Presiden GIDI

Presiden Gereja Injili di Inonesia (GIDI), Pendeta Dorman Wandikmbo, meminta maaf ke seluruh umat Islam di Indonesia terutama umat Islam di Tolikara, Papua yang tersakiti oleh peristiwa kericuhan Idul Fitri, Jumat (17/7/2015).
Antara

Kabar24.com, JAKARTA– Presiden Gereja Injili di Inonesia (GIDI), Pendeta Dorman Wandikmbo, meminta maaf ke seluruh umat Islam di Indonesia terutama umat Islam di Tolikara, Papua yang tersakiti oleh peristiwa kericuhan Idul Fitri, Jumat (17/7/2015).

SIMAK: KERUSUHAN TOLIKARA: Musala Tak Dibakar, tapi Dekat Kios Terbakar

Menurut dia, ada kesalahpahaman dalam mencerna konflik ini.

SIMAK: KERUSUHAN TOLIKARA: Kapolri ke Lokasi Kejadian Hari Ini

“Kami menyampaikan permohonan maaf kepada warga muslim di Indonesia, secara khusus di Kabupaten Tolikara atas pembakaran kios-kios yang menyebabkan musala (rumah ibadah warga muslim) ikut terbakar,” kata Dorman, Sabtu (18/7/2015).

BACA JUGA: Wartawan Diduga Dibunuh: Korban Bercelana Dalam, Pintu Berlapis Empat

Dikatakan, terbakarnya musala bukan peristiwa yang disengaja.

SIMAK: 10 Atlet Wanita Tercantik & Terseksi

“Aksi ini merupakan spontanitas masyarakat Tolikara karena ulah aparat keamanan di Tolikara yang melakukan penembakan secara brutal,” kata dia.

Geram

Awalnya, kata Dorman, pemuda setempat yang geram dengan penembakan itu membakar kios untuk menunjukkan perlawanan, tetapi api dengan sangat cepat merembet ke musala yang dipakai oleh umat Islam di sana untuk beribadah.

Dia juga mengatakan bubarnya salat Ied bukan atas paksaan pemuda gereja. Sebab, saat beberapa pemuda tengah di jalan hendak meminta jemaah Islam berdoa di dalam musala, penembakan terjadi.

“Belum sempat diskusi atau negosiasi dilangsungkan, aparat TNI/Polri sudah mengeluarkan tembakan sehingga 11 orang tertembak dan satu anak kami meninggal dunia.,” katanya.

Dikatakan, jemaat GIDI Tolikara sudah memberikan kebebasan beragama bagi umat Islam yang menjadi minoritas.

“Kalau ada peringatan besar keagaaman umat Islam, kami selalu sumbang sapi untuk mereka,” katanya.

Dia mengklaim budaya ini berjalan sangat lama sehingga pemeluk agama Islam di tempat itu tahu bersikap dan tak pernah ada konflik antar-agama.

Tak Bergesekan

Menurut Dorman, kehadiran gereja GIDI tak pernah bergesekan dengan umat beragama lain.

“Saya sebagai pimpinan tertinggi gereja GIDI di seluruh Indonesia, telah menasehati umat, agar tidak melarang umat apapun, termasuk saudara muslim untuk melangsungkan ibadah, namun ibadah harus dilangsungkan di dalam koridor hukum wilayah tersebut,” katanya.

Selama berpuluh-puluh tahun, Dorman mengklaim, umat Islam di Tolikara paham bahwa beribadah harus ada di dalam musala dan tak menggunakan pengeras suara.

Kepala Kepolisian Daerah Papua, Inspektur Jenderal Yotje Mende, mengatakan masih menyelidiki peran 11 orang yang terkena luka tembak saat kejadian pelemparan warga yang sedang melakukan salat Iedul Fiti dan juga pembakaran sejumlah bangunan kios yang menyebabkan terbakarnya musala dan sejumlah kios di Karubaga, Kabupaten Tolikara.

“Dari hasil identifikasi nantinya, kami juga akan menjejaki sejauh mana tembakan ini sesuai dengan prosedur atau tidak. Kami akan tetap proses anggota polisi yang melakukan penembakan tanpa prosedur tetap,” kata Yotje.

http://www.antaranews.com/berita/507697/presiden-bp-gidi-tidak-pernah-keluarkan-rekomendasi?utm_source=populer_home&utm_medium=populer&utm_campaign=news

Presiden BP GIDI Tidak Pernah Keluarkan Rekomendasi

Sabtu, 18 Juli 2015 18:31 WIB | 13.522 Views

Pewarta: Evarukdijati

Direktur Jenderal Bimas Kristen Kementerian Agama, Oditha R Hutabarat (kanan), didampingi Kepala Biro Humas PGI, Jeirry Sumampow (kiri), memberikan keterangan pers di Jakarta, Sabtu (18/7). Dalam keterangannya mereka menyesalkan aksi kekerasan oleh Gereja Injil di Indonesia (GIDI) pada umat Islam yang sedang beribadah salat Ied di Karubaga, Tolikara, Papua, pada Jumat (17/7). (ANTARA FOTO/Sigid Kurniawan)

… mereka membubarkan dan menyelamatkan diri ke belakang Markas Koramil setempat…

Jayapura, Papua (ANTARA News) – Kepala Polda Papua, Inspektur Jenderal Polisi Yotje Mende, menyatakan, Presiden Badan Pekerja Gereja Injili di Indonesia (BP GIdI), Dorman Wandikmo, tidak pernah merekomendasi surat edaran terkait kerusuhan berlatar SARA, di Karubaga, Papua.

Mende, di Jayapura, Sabtu. mengakui, kerusuhan di Karubaga, Jumat (17/7), disebabkan edaran Badan Pekerja Tolikara.

Kekerasan berlatar SARA ini menambah panjang pelanggaran HAM di bidang agama di Tanah Air. Tercatat juga pelarangan pembangunan gereja di Kompleks Yasmin (kasus Gereja Yasmin) oleh sementara kalangan mayoritas setempat sebagaimana penyerbuan fisik berdarah pada komunitas penganut Ahmadiyah.

Juga pengeboman dan teror pada sejumlah gereja di Jakarta saat kebaktian Natal pada awal dasawarsa 2000-an. Rangkaian peristiwa ini dikenal dengan nama Bom Natal.

Padahal UUD 1945 sebagai sumber hukum formal tertinggi di Indonesia menjamin kemerdekaan tiap warga negara Indonesia untuk memeluk dan mengamalkan ajaran agamanya masing-masing.

Dalam surat edaran yang ditandatangani Nayus Wenda dan Jingga itu, melarang perayaan Idul Fitri dan juga melarang agama lain dan gereja denominasi lain mendirikan tempat-tempat ibadah di Tolikara.

Dikatakan Mende, Wandikmo menyatakan bantahannya itu dalam pertemuan yang juga dihadiri Panglima Kodam XVII/Cenderawasih, Mayor Jenderal TNI Fransen Siahaan, di Karubaga, Sabtu (18/7).

Menurut Mende, ada kemungkinan surat edaran tertanggal 11 Juli itu, sempat disalahtafsirkan peserta seminar dan kebaktian kebangunan rohani pemuda GIdI.

“Memang saat umat Islam sedang shalat Idul Ied, sekitar 300-an orang menyerang dengan cara melempari umat Islam hingga mereka membubarkan dan menyelamatkan diri ke belakang Markas Koramil setempat,” kata Mende.

Dikatakan, saat itulah anggota TNI AD setempat menggeluarkan tembakan peringatan hingga menyebabkan jatuh korban di kelompok penyerang.

Akibatnya para pemuda marah dan membakar kios atau warung yang berjumlah 54 (bukan 70) yang lokasinya bersebelahan dengan mushola hingga menyebab mushola ikut terbakar.

“Pembakaran itu dilakukan spontan dan tidak direncanakan,” kata Mende, mengutip pernyataan Mandikmo, yang diungkapkan saat pertemuan di Karubaga.

(rw)

Editor: Ade Marboen

COPYRIGHT © ANTARA 2015

__._,_.___

Posted by: “Sunny” <ambon@tele2.se>

MASJID DI TOLIKARA DIBAKAR : Berikut Pernyataan Sikap Ulama, JK & KaPolRI

Newswire Sabtu, 18/07/2015 07:28 WIB

MASJID DI TOLIKARA DIBAKAR: Berikut Pernyataan Sikap Ulama, JK, & Kapolri

ilustrasi
antara

Bisnis.com, JAKARTA–Sebanyak 33 orang tokoh muslim yang tergabung dalam Presidium Aliansi Alim Ulama Indonesia (AAUI) di Jakarta, Jumat (17/7/2015) saat hari Lebaran, menyampaikan pernyataan bersama atas insiden di Karubaga, Ibu Kota Kabupaten Tolikara, Papua.

Presidium AAUI mengimbau kepada tokoh-tokoh Islam, Kristen dan agama-agama lain, agar mengedepankan kerukunan antarumat beragama dan menjaga toleransi beragama, dalam rangka menjaga keutuhan bangsa Indonesia yang beradab dan berkemanusiaan.

Sebelumnya Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Din Syamsuddin menyerukan seluruh umat Islam di Tolikara menahan diri atas kekerasan massa yang bertepatan dengan Idul Fitri 1 Syawal 1436 H di daerah itu.

Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK)  juga telah menyampaikan penyesalan atas terjadinya kasus tersebut dan berdasarkan laporan yang dia terima, sumber persoalan bermula dari salah paham antarkelompok agama di daerah itu.

“Ya kebetulan ada dua acara yang berdekatan, ada acara Idul Fitri dan ada pertemuan pemuka masyarakat gereja di sana. Memang asal muasalnya soal speaker (pengeras suara). Jadi mungkin butuh komunikasi lebih baik lagi untuk acara-acara seperti itu,” kata Wapres mengenai kasus yang menimbulkan aksi pembakaran sejumlah bangunan di daerah itu.

Kepala Kepolisian Indonesia, Jenderal Polisi Badrodin Haiti, sesuai menghadiri open house, di Istana Wakil Presiden, menjelaskan situasi dan kondisi di Papua pascaperistiwa tersebut sudah ditangani dan tidak memerlukan penambahan pasukan.

Presidium AAUI menyesalkan yang sedalam-dalamnya insiden yang meretakkan kerukunan umat beragama di Indonesia.

Mereka juga mengutuk keras kelompok penyerang yang telah melanggar hukum dan prinsip-prinsip toleransi di negeri ini, apalagi, dengan semakin besarnya toleransi yang diberikan oleh kaum muslimin.

Presidium AAUI mendesak polisi segera menangkap para pelakunya dan memproses mereka secara hukum dengan secepat-cepatnya.

Mereka mengimbau para tokoh muslim agar menenangkan dan mengontrol umat dan anggotanya untuk tidak melakukan tindakan pembalasan.

http://nasional.republika.co.id/berita/nasional/umum/15/07/19/nrqp1u-pembakaran-mushala-papua-diyakini-ada-pihak-perkeruh-suasana

Pembakaran Masjid

Pembakaran Mushala Papua, Diyakini Ada Pihak Perkeruh Suasana

Minggu, 19 Juli 2015, 21:46 WIB

Komentar : 0

Sisa-sisa masjid Tolikara yang dibakar

Sisa-sisa masjid Tolikara yang dibakar

A+ | Reset | A-

REPUBLIKA.CO.ID, ‪JAKARTA — Jaringan Kerja Antar Umat Beragama (Jakatarub) mengatakan, insiden pembakaran mushala di Kabupaten Tolikara, Papua karena ada pihak yang memperkeruh suasana.

‪Anggota Jakatarub Rio Tuasikal menyayangkan terjadinya peristiwa ini mengingat masyarakat Papua telah mengalami sejumlah konflik berdarah yang menewaskan ratusan warga. Namun, yang justru jadi kekuatan selama ini, masyarakat Papua khususnya Kabupaten Tolikara tidak pernah bentrok terkait masalah agama.

“Perlu disesalkan pula dalam penyebaran informasi soal insiden tersebut terdapat sejumlah pihak yang memperkeruh suasana dengan memperbesar sentimen keagamaan. Apalagi kemudian menghasut dengan pendekatan mayoritas versus minoritas,” katanya, Ahad (19/7).

Kurangnya informasi yang bisa diakses langsung karena minimnya infrastruktur di wilayah ini membuat berita-berita yang meresahkan tersebut tidak bisa langsung diklarifikasi. Melihat kejadian tersebut, pihaknya menilai adanya provokasi yang dilakukan oleh pihak-pihak yang menginginkan terjadinya perpecahan di Tanah Papua dan juga Indonesia demi menghilangkan narasi damai yang ada.

“Atas kejadian tersebut Jakatarub menyampaikan empati yang mendalam atas apa yang dialami umat Muslim di Karubaga, Kabupaten Tolikara yang terganggu hak asasinya untuk beribadah dan menderita secara moril maupun materiil karena insiden tersebut,” katanya.

Dia menambahkan, sudah selayaknya warga negara Indonesia (WNI) dilindungi hak asasinya dimanapun dia berada, apapun agama, suku, ras, dan latar belakangnya. Pihaknya juga menyerukan pemerintah daerah Kabupaten Tolikara dan Pemerintah Provinsi Papua agar mengusut tuntas dan menindak tegas provokator serta pelaku insiden ini.

Kemudian memberikan jaminan perlindungan kepada semua warganya agar dapat menjalankan hak asasinya termasuk hak untuk beribadah. Selain itu, seruan agar pemerintah pusat agar lebih dalam lagi usahanya untuk memajukan pembangunan dan menyelesaikan konflik di wilayah Papua dengan keberpihakan pada masyarakat Papua.

“Agar insiden ini tidak dimanfaatkan oleh pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab demi kepentingan pribadi atau golongan dan memecah belah kerukunan bangsa,” ujarnya.

Pihaknya juga menyampaikan imbauan kritis pada setiap elemen dan tokoh masyarakat Indonesia agar berhati hati dalam menyampaikan informasiyang belum jelas kebenarannya dan berpotensi memicu sentimen keagamaan.

“Kemudian, kesadaran agar tiap elemen masyarakat kembali kejati diri asal bangsa kita yang menghargai keberagaman dan toleransi‬,” ujarnya.

__._,_.___

Posted by: “Sunny” <ambon@tele2.se>

http://nasional.republika.co.id/berita/nasional/umum/15/07/19/nrq7mb-gidi-harus-dibubarkan

GIDI Harus Dibubarkan

Minggu, 19 Juli 2015, 15:30 WIB

Komentar : 1

Surat larangan dari GIDI yang menyebar di masyarakat

A+ | Reset | A-

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Anggota Komisi VIII DPR RI Muhammad Syafii mengatakan organisasi Gereja Injili Di Indonesia (GIDI) harus dibubarkan. Mereka telah melarang pemeluk agama lain untuk beribadah sesuai dengan kepercayaan masing-masing.

“Organisasi seperti Gereja Injili Di Indonesia (GIDI) yang melarang agama lain beribadah, harus dibubarkan. Tabiatnya seperti komunis,” kata Syafii seperti dalam siaran pers yang diterima ROL, Ahad (19/7).

Menurutnya pelarangan yang dilakukan jemaat GIDI sebagai bentuk anti agama. Ini tentunya aturan yang bertentangan dengan Pancasila dan prinsip hak asasi manusi (HAM). Seperti diketahui dalam Undang-Undang Dasar (UUD) 1945 disebutkan kebebasan yang diberikan pemerintah dalam Pasal 29 untuk memeluk agama sesuai kepercayaan masing-masing.

Ia menambahkan pemuka-pemuka dalam organisasi tersebut harus bertanggung jawab dengan tindakan yang dilakukan oleh lembaga yang dipimpinnya. Para pemuka itu juga harus dihukum berat. Pasalnya, masalah ini bukan permasalahan sepele yang harus diusut tuntas.

Politikus Partai Gerindra ini menyesalkan insiden tersebut bisa terjadi. Ia bahkan menyebut penyerangan terhadap Muslim tersebut merendahkan dan mengucilkan umat Islam sebagai pemeluk agama mayoritas di Indonesia.

Aksi kekerasan terhadap Muslim di Tolikara, Papua saat menjalankan ibadah shalat Idul Fitri dinilai mencoreng toleransi beragama di Indonesia. Dikhawatirkan kasus ini dapat memicu pertikaian antar umat beragama.

__._,_.___

Posted by: “Sunny” <ambon@tele2.se>

‘GIDI Harus Dibubarkan’ | Republika Online

http://www.republika.co.id › Nasional › Umum

2 days ago – Home / GIDI Dianggap Ormas Preman, Fuad: Bubarkan Saja! … bagaikan organisasi masyarakat (Ormas) ‘preman’ yang harus dibubarkan.

http://www.solopos.com/2015/07/17/masjid-di-papua-dibakar-jemaat-gereja-diduga-marah-karena-speaker-masjid-625016

http://www.solopos.com/2015/07/17/masjid-di-papua-dibakar-beredar-surat-larangan-perayaan-idul-fitri-dan-pakai-jilbab-dari-gereja-toli-625024

Kop surat GIDI yang beredar via Youtube (Istimewa)

Kop surat GIDI yang beredar via Youtube (Istimewa)

Jumat, 17 Juli 2015 15:45 WIB | Jafar Sodiq Assegaf/JIBI/Solopos.com/Newswire|

|Masjid di Papua dibakar kabarnya dipicu oleh surat edaran larangan merayakan Lebaran.

Solopos.com, TOLIKARA – Insiden nahas terjadi di Kabupaten Tolikara, Papua, sejak Jumat (17/7/2015). Sebuah musala di daerah itu dilempari dan dibakar usai dalam rangkaian salat Idulfitri.

Kabarnya insiden ini dipicu oleh pelarangan yang dilakukan oleh Gereja Injili di Indonesia (GIDI) Badan Pekerja Wilayah Toli. Pelarangan yang disiarkan dalam bentuk surat ini bahkan cepat tersebar di media sosial, blog, dan forum Internet.

“Penyerbuan oleh massa GIDI disinyalir karena ada larangan bagi Umat Islam di Kabupaten Tolikara untuk merayakan/sholat Idul Fitri. GIDI beralasan karena tanggal tersebut bertepatan dengan adanya kegiatan GIDI tingkat internasional. GIDI sudah membuat surat pemberitahuan larangan Idul Fitri dan juga larangan memakai jilbab bagi muslimat,” demikian tulis salah satu blog seperti dikutip Solopos.com, Jumat siang.

Dalam surat ini GIDI menegaskan bahwa pada tanggal 13-19 Juli 2015 ada kegiatan Seminar dan KKR Pemuda GIDI tingkat Internasional.

Dalam surat yang ditujukan kepada Umat Islam se-Kabupaten Tolikara, GIDI memberitahukan bahwa acara Idulfitri pada tanggal 17 Juli 2015 tidak diijinkan pihak gereja. Perayaan hanya boleh dilakukan di luar Kabupaten Tolikara.

“Dilarang Kaum Muslimat [Muslimah] memakai pakain Yilbab [jilbab],” tulis surat itu.

Meski belum dapat dipastikan keasliannya, surat ini sudah menjadi pembahasan panas di kalangan blogger. Beberapa bahkan mengecam keras surat tersebut.

Seperti diberitakan sebelumnya, dikutip Solopos.com dari Metrotvnews.com, pembakaran itu terjadi saat Umat Islam tengah melaksanakan salat Id di halaman Koramil 1702 / JWY. Saat imam mengucapkan takbir pertama, tiba-tiba beberapa orang mendekati jemaah dan berteriak.

Jemaah bubar dan menyelamatkan diri ke markas Koramil. Sejam kemudian, orang-orang itu melempari Musala Baitul Mutaqin yang berada di sekitar lokasi kejadian. Mereka juga membakar rumah ibadah tersebut. Selain musala, enam rumah dan sebelas kios pun menjadi sasaran amukan orang-orang itu.

Hingga berita ini dimuat, polisi dan TNI berjaga-jaga di sekitar lokasi kejadian. Petugas gabungan mengantisipasi kerusuhan berlanjut. Alasan pengrusakan dan pembakaran tersebut pun belum diketahui. Belum ada pula keterangan resmi dari aparat setempat.

__._,_.___

Posted by: “Sunny” <ambon@tele2.se>

Jemaat Gereja Diduga Marah karena Speaker Masjid

Masjid di Papua dibakar (Istimewa/Metrotv)

Jumat, 17 Juli 2015 15:25 WIB |Lavinda/JIBI/Bisnis|

Masjid di Papua dibakar hari ini. Diduga, hal ini disebabkan kencangnya speaker masjid dan kegiatan gereja saat bersamaan.

Solopos.com, JAKARTA — Wakil Presiden Jusuf Kalla menyesalkan adanya tragedi perselisihan antar umat beragama di Tolikara, Papua. Sebuah musala (masjid kecil) di Papua dibakar jemaat Gereja Injil di Indonesia (GIDI) Tolikara.

Jusuf Kalla mengimbau kepolisian dan pemerintah daerah setempat untuk segera menyelesaikan persoalan yang sensitif itu dengan baik dan sesuai ketentuan. “Kami menyesalkan kejadian di Tolikara [masjid di Papua dibakar]. Saya yakin kepolisian dan Pemda menyelesaikannya dengan baik. Ada masalah dengan kios atau lainnya,” ujarnya di sela acara Open House di Istana Wakil Presiden, Jumat(17/7/2015).

Dia mengaku mendapat laporan bahwa perselisihan terjadi karena terdapat dua acara keagamaan yang berdekatan, yakni salat Idulfitri dan pertemuan para pemuka masyarakat gereja. Menurut JK, kesalahpahaman bermula dari kencangnya suara dari alat pengeras suara (speaker) oleh salah satu pihak yang dianggap mengganggu pihak lain.

Untuk itu, JK meminta kedua pihak untuk saling berkomunikasi dan saling memahami kepentingan masing-masing. Dia juga mengimbau masyarakat untuk menahan diri agar persoalan tak semakin meluas.

Sebelumnya dilaporkan, sekelompok massa dari Gereja Injil di Indonesia (GIDI) Tolikara Papua melakukan pelemparan dan upaya pembakaran saat umat muslim menjalankan salat Idulfitri di salah satu masjid pada Jumat pagi (17/7/2015).

Penyebabnya, terdapat dua acara yang berlangsung secara bersamaan di lokasi tersebut. Akibat peristiwa tersebut, sebanyak 10 orang terkena luka bakar.

__._,_.___

Posted by: “Sunny” <ambon@tele2.se>

http://www.antaranews.com/berita/507655/presiden-jokowi-sesalkan-insiden-tolikara?utm_source=topnews&utm_medium=home&utm_campaign=news

Presiden JokoWi Sesalkan Insiden Tolikara

Sabtu, 18 Juli 2015 11:41 WIB |

Pewarta: Agus Salim

Jakarta (ANTARA News) – Staf Khusus Presiden Lenis Kogoya mengungkapkan bahwa Presiden Joko Widodo menyesalkan dan meminta maaf atas insiden yang terjadi di Tolikara, Papua pada Jumat (17/7).

“Ini musibah dan atas nama Presiden, saya memohon maaf,” kata Lenis dalam jumpa pers di Kantor Staf Khusus Presiden Gedung Sekretariat Negara Jakarta, Sabtu.

Ia sudah melaporkan insiden itu kepada Presiden melalui Sekretaris Pribadi dan kepada Seskab Andi Widjajanto pada Jumat malam.

“Saya juga minta izin untuk menggelar jumpa pers pada pagi ini,” kata Lenis.

Ia menyebutkan pemerintah akan segera membangun kembali bangunan yang rusak atau terbakar termasuk rumah dan pasar.

“Tanggal 29 Juli ini saya akan ke sana, kami akan selidiki, jangan khawatir negeri ini kaya,” kata Lenis yang juga Kepala Suku Papua.

Ia menyebutkan berdasar laporan dari Masyarakat Adat Papua, akibat kejadian itu satu orang meninggal dan 12 orang mengalami luka.

“Ini sudah ada pelanggaran hukum. Siapa yang melakukan tindakan kekerasan harus diproses secara hukum,” katanya.

Ia menilai kejadian itu merupakan musibah karena datang tiba-tiba.

“Pengalaman sejak merdeka, di Papua tidak pernah ada konflik agama,” katanya.

Ia menyebutkan berdasar kalender nasional, tanggal 17-18 Juli 2015 sudah ada agenda nasional sehingga semua pihak di daerah harusnya saling berkoordinasi dan berkomunikasi.

“Perlu ditanyakan kepada pemda, polres, gereja dan pihak lain apa pernah bicara soal agenda di kalender ini atau tidak. Jangan sampai yang disalahkan hanya masyarakat,” katanya.

Ia menyebutkan tanggal 25 Desember juga ada agenda nasional sehingga orang harus menghormati dan memberi kesempatan kepada orang untuk menjalankan ibadah.

Sebelumnya pada Jumat 17/7 terjadi kerusuhan di Kabupaten Tolikara yang diduga disebabkan salah paham karena pengeras suara.

Pada saat bersamaan di daerah tersebut berlangsung dua acara yang digelar oleh dua umat agama yang berbeda. Ada acara perayaan Idul Fitri dan pertemuan pemuka masyarakat gereja.

Editor: AA Ariwibowo

+++++

http://www.antaranews.com/berita/507640/menag-minta-aparat-usut-tuntas-kasus-tolikara

MenAg Minta Aparat Usut Tuntas Kasus Tolikara

Sabtu, 18 Juli 2015 08:57 WIB | 3.857 Views

Menag Lukman Hakim Saifuddin. (ANTARA FOTO/Saptono)

Jakarta (ANTARA News) – Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin mengecam keras terjadinya kasus pelemparan dan perusakan lokasi ibadah umat Islam yang sedang menjalankan Shalat Idul Fitri oleh sejumlah oknum di Karubaga, ibu kota Tolikara, Papua, pada Jumat (17/7), dan meminta kasus tersebut diusut tuntas.

“Selaku Menag, saya mengecam keras terjadinya kasus Tolikara yang telah mengoyak jalinan kerukunan antar umat beragama,” tegas Menag, Sabtu.

“Saya meminta kepada aparat penegak hukum untuk benar-benar mengusut pihak-pihak yang telah melakukan tindak perusakan dan penganiayaan, dan mengusut tuntas siapa pihak-pihak dibalik kasus tersebut,” tambah Menag dalam siaran pers Kemenag, Sabtu.

Menteri Agama juga memohon kepada umat Islam melalui para tokoh-tokohnya agar bisa menahan diri, tidak terprovokasi, dan mempercayakan sepenuhnya penyelesaian masalah ini kepada pihak kepolisian.

“Sehubungan dengan adanya ajakan jihad ke Papua terkait kasus Tolikara, saya memohon kedewasaan dan kearifan umat Islam melalui para tokoh-tokohnya untuk tidak terpancing dan terprovokasi lakukan tindak pembalasan,” terang Menag.

“Kita percayakan penuh kepada Polri yang telah bertindak cepat menangani dan mengusut kasus tersebut,” tambahnya.

Menurut informasi kericuhan Shalat Id di Tolikara berawal ketika imam Salat Id mengumandangkan takbir pertama, tiba-tiba sejumlah orang dari beberapa penjuru melempari jamaah yang sedang shalat, sambil berteriak bubarkan.

Aparat keamanan dari kesatuan Brimob dan Yonif 756 yang melakukan pengamanan saat Idul Fitri itu kemudian mengeluarkan tembakan peringatan guna membubarkan massa yang melakukan pelemparan. Warga muslim yang shalat kemudian memutuskan membubarkan diri.

Menurut Menag, semua umat beragama harus mewaspadai adanya pihak ketiga yang menjadikan sentimen agama sebagai hal untuk saling membenturkan antar sesama umat beragama. “Mari bersama mewaspadai adanya oknum pihak ketiga yang ingin membenturkan sesama umat beragama dengan menggunakan sentimen agama,” ajaknya.

Menag menegaskan, kasus Tolikara sungguh telah mengoyak dan menghancurkan jalinan kerukunan hidup antarumat beragama, apalagi terjadi pada saat umat Islam sedang beribadah merayakan Hari Raya.

“Saya amat mengimbau tokoh-tokoh Kristen dan semua tokoh agama untuk senantiasa mengedepankan toleransi dan merawat kerukunan demi menjaga nilai-nilai kemanusiaan,” pesan Menag.

__._,_.___

Posted by: “Sunny” <ambon@tele2.se>

http://nasional.republika.co.id/berita/nasional/umum/15/07/17/nrn1s8-shalat-id-di-papua-diserang-ini-tanggapan-dirjen-bimas-kristen-kemenag

Shalat Id di Papua Diserang, Ini Tanggapan DirJen BiMas Kristen KemenAg

Jumat, 17 Juli 2015, 22:31 WIB

Komentar : 1

Surat larangan dari GIDI yang menyebar di masyarakat

A+ | Reset | A-

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Sehubungan dengan peristiwa kericuhan shalat Id di Papua, Dirjen Bimas Kristen Oditha R Hutabarat mengatakam bahwa pihaknya telah memgambil beberapa langkah untuk mengatasi persoalan itu. Pertama, ia menghubungi ketua Sinode Gereja Injil di Indonesia (GIDI) agar bisa segera membuat surat penjelasan kronologis kejadian sekaligus pernyataan permohonan maaf kepada umat Islam Indonesia terkait dengan peristiwa tersebut.

Menurut Oditha, Ketua Sinode akan membuat surat tersebut dan mengirimkannya melalui email. Kedua, pihaknya sudah menghubungi Persekutuan Gereja dan Lembaga Injili Indonesia (PGLII) yang merupakan persekutuan di mana GIDI merupakan anggotanya, agar bisa bersama-sama melakukan langkah-langkah strategis dalam menyikapi persitiwa ini.

“Sabtu (18/7) besok, Dirjen Bimas Kristen bersama PGI akan mengadakan konferensi pers di PGI untuk memberikan penjelasan sekaligus menyampaikan permohonan maaf kepada umat Islam,” ujar Oditha dalam siaran pers kepada Republika.

Sebelumnya, saat umat Islam sedang melaksanakan shalat Idul Fitri sekitar pukul 07.00 WIT, massa GIDI wilayah Tolikara, Papua tiba-tiba menyerbu jamaah. Dampaknya masjid di sana terbakar dan menimbulkan korban.

__._,_.___

Posted by: “Sunny” <ambon@tele2.se>

http://www.eramuslim.com/berita/nasional/gidi-malah-tuding-aparat-polritni-yang-memicu-kerusuhan-di-tolikara.htm#.Vat5g_mvw9Y

Translated from bahasa Indonesia

http://www.antaranews.com/berita/507738/dua-kompi-gabungan-tni-ad-polisi-dikirim-ke-karubaga-papua

Two joint  companies of the army and police sent to Karubaga Papua

Sabtu, 18 Juli 2015 21:53 WIB | 4.130 Views

Pewarta: Evarukdijati

Jayapura, Papua (ANTARA News) – The head of Papua Police, Inspector General of Police Yotje Mende, said the two companies combined personnel of the Army and Papua Police Mobile Brigade are now sent to Karubaga to strengthen forces in the region.

“The troops sent there to Karubaga for Police officers Tolikara only about 100 people. Although the condition is relatively calm, but officials remain on guard,” he said, in Jayapura, Papua, on Saturday.

SARA background of unrest in Tolikara, Karubaga, Papua, then, 11 people were injured in the shooting and one of them died in two Jayapura Dok Hospital from a gunshot wound in the abdomen.

Of the reports received, he said, revealed also the burning of kiosks that caused the fire then burned mosque in the neighborhood kiosk.

From the description of the President Gidi, Dorman Wandikbo, revealed the burned mosque arson started by people currently know of gunshot wound victims.

Once heard a gunshot wound victim they immediately burned kiosks that also menhanguskan mushala.

Separately, leaders of the Catholic, Father Benny, states, similar riots this has never happened before in Papua, which is known to people are very tolerant of differences.

Some call for restraint and not to be provoked and hand over the case to the legal sphere also made by various parties, ranging from the Ministry of Religious Affairs, the Indonesian Ulema Council, the Communion of Churches of Indonesia, and mass organizations. Besides, they also condemned the violence.

Now police are working to capture and process of law actors and the mastermind behind the riots.

++++

http://www.antaranews.com/berita/507738/dua-kompi-gabungan-tni-ad-polisi-dikirim-ke-karubaga-papua

Dua Kompi Gabungan TNI AD – Polisi Dikirim ke Karubaga Papua

Sabtu, 18 Juli 2015 21:53 WIB | 4.130 Views

Pewarta: Evarukdijati

Dokumentasi sejumlah personel TNI AD. (FOTO ANTARA)

… karena petugas Polres Tolikara hanya sekitar 100 orang…

Jayapura, Papua (ANTARA News) – Kepala Polda Papua, Inspektur Jenderal Polisi Yotje Mende, menyatakan, dua kompi personel gabungan TNI AD dan Brigade Mobil Polda Papua kini dikirim ke Karubaga guna memperkuat pasukan yang ada di kawasan itu.

“Pasukan dikirim ke sana ke Karubaga karena petugas Polres Tolikara hanya sekitar 100 orang. Walaupun kondisi sudah relatif kondusif namun aparat tetap berjaga-jaga,” katanya, di Jayapura, Papua, Sabtu.

Dari kerusuhan berlatar SARA di Tolikara, Karubaga, Papua, itu, 11 orang terluka tembak dan satu di antaranya meninggal di RSUD Dok 2 Jayapura akibat luka tembak di perut.

Dari laporan yang diterima, kata dia, terungkap juga aksi pembakaran kios yang menyebabkan api kemudian membakar mushola yang ada di lingkungan kios.

Dari keterangan Presiden GIdI, Dorman Wandikbo, terungkap mushala terbakar itu berawal aksi pembakaran oleh warga saat mengetahui ada korban luka tembak.

Begitu mendengar ada korban luka tembak mereka langsung membakar kios yang juga menhanguskan mushala.

Secara terpisah, tokoh Katolik, Romo Benny, menyatakan, kerusuhan serupa ini tidak pernah terjadi sebelumnya di Papua, yang diketahui masyarakatnya sangat toleran terhadap perbedaan.

Sejumlah seruan saling menahan diri dan jangan sampai terprovokasi serta menyerahkan kasus ini ke ranah hukum juga dilontarkan berbagai pihak, mulai dari Kementerian Agama, Majelis Ulama Indonesia, Persekutuan Gereja-gereja Indonesia, dan organisasi massa. Kecuali itu, mereka juga mengecam kekerasan itu.

Kini polisi tengah bekerja untuk menangkap dan memproses hukum pelaku-pelaku dan dalang di balik kerusuhan itu.

Editor: Ade Marboen

__._,_.___

Posted by: “Sunny” <ambon@tele2.se>

http://nasional.republika.co.id/berita/nasional/umum/15/07/17/nrn31k-aliansi-alim-ulama-indonesia-minta-oknum-gidi-ditindak

Aliansi Alim Ulama Indonesia Minta Oknum GIDI Ditindak

Jumat, 17 Juli 2015, 22:58 WIB

Komentar : 0

Republika/Prayogi

(dari kiri) Habib Muhsin Alatas Sekretaris Majelis Syura DPP FPI,Perwakilan PBNU Shohibul Faroji Azmatkhan, Moderator Masyur Icardi, Perwakilan PP. Muhammadiyah Amirsyah Tambunan dan Ketua Wahdah Islamiyyah M. Zaitun Rasmin menjadi raeasumber dalam diskusi

A+ | Reset | A-

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Presidium Aliansi Alim Ulama Indonesia (AAUI) meminta Dewan Gereja Indonesia menindak tegas oknum pengurus Gereja Injili di Indonesia (GIDI) yang melarang pelaksanaan shalat Ied dan memicu insiden pembakaran masjid di Tolikara, Papua.

“Kami meminta Dewan Gereja Indonesia memanggil pengurus GIDI, minta pertanggungjawaban atas suratnya, kemudian memberi sanksi tegas terhadap oknum pengurus GIDI dan menyerahkan mereka ke pihak yang berwajib,” kata Ketua Presidium AAUI, KH Shohibul Faroji Azmatkhan dalam rilis yang diterima Republika, Jumat (17/7).

Ia mengimbau kepada tokoh-tokoh Islam, Kristen, dan agama-agama lain supaya mengedepankan kerukunan antar umat beragama dan menjaga toleransi beragama. Toleransi tersebut penting dalam rangka menjaga keutuhan bangsa Indonesia yang beradab dan berkemanusiaan.

Selain itu, ia juga meminta majelis agama dan para tokoh Kristen serius mendidik umat supaya menghargai hukum dan toleransi yang telah diberikan oleh kaum Muslim.

Seperti diketahui, perayaan shalat Idul Fitri di Tolikara pagi tadi berujung ricuh setelah sekelompok massa melempari jamaah dengan batu. Tak tanggung-tanggung, massa dari Gereja Injili di Indonesia ini membakar masjid dan beberapa kios di sekitarnya.

__._,_.___

Posted by: “Sunny” <ambon@tele2.se>

Redaksi – Minggu, 19 Juli 2015 11:00 WIB

GIDI Malah Tuding Aparat Polri/TNI Yang Memicu Kerusuhan di Tolikara

Wajah Pendeta Dorman Wandikmbo, Presiden GIDI

Eramuslim.com – Presiden Gereja Injili Di Indonesia (GIDI), Pdt. Dorman Wandikmbo mengungkap kronologi aksi teror berupa penyerangan massa Gereja yang berakibat pembakaran masjid di Kabupaten Tolikara, Papua pada Jumat (17/7) lalu.

Disampaikan Dorman kejadian bermula pada Jumat, 17 Juli 2015, pukul 08.30 WIT, beberapa Pemuda gereja mendatangi kelompok umat Muslim yang sedang melangsungkan Sholad Ied dengan maksud menyampaikan aspirasi secara damai dan terbuka.

“Sesuai (Peraturan Daerah) Kabupaten Tolikara, berdasarkan aspirasi Gereja dan Masyarakat boleh melaksanakan ibadah tapi tidak menggunakan toa atau penggeras suara,” kata Dorman melalui keterangan persnya (18/7).

Dorman menyatakan alasan pelarangan penggunaan pengeras suara tersebut dikarenakan dapat mengganggu ribuan pemuda yang bersiap untuk melangsungkan seminar dan Kebaktian Kebangunan Rohani (KKR).

“Apalagi jarak toa atau pengeras suara dengan tempat dilangsungkannya ibadah umat GIDI hanya berjarak sekitar 300 meter,” jelas Dorman.

Selain itu para pemuda juga ingin pertanyakan surat resmi Gereja yang pernah dikirimkan kepada Kepala Kepolisian (Kapolres) Tolikara, AKBP Suroso, sejak dua minggu sebelum kegiatan seminar maupun idul fitri dimulai.

Menggingat akan diselenggarakannya Seminar dan KKR Injili Pemuda Tingkat Pusat bertaraf Nasional/Internasional yang dilangsungkan pada tanggal 15-20 Juli 2015, umat Muslim juga diminta tidak melakukan kegiatan peribadatan dilapangan terbuka.

“Saat para pemuda hendak menyampaikan aspirasi ini di depan umum secara tertib tiba-tiba seorang Pemuda tertembak timah panas tanpa ada perlawanan,” ungkapnya.

Lebih Lanjut Dorman menyatakan TNI/Polri yang melakukan penembakan bertubi-tubi di depan kerumunan masyaratakt tersebut mengakibatkan masyarakat marah.

“Maka masyarakat tidak terima dengan perbuatan penembakan tersebut dan langsung melakukan pembakaran terhadap beberapa kios, yang merembet hingga membakar mushola dan terkena masyarakat Papua serta non-Papua,” jelasnya.

Yang jadi pertanyaan, kenapa pula GIDI menyelenggarakan seminar internasional di hari lebaran, seolah tidak ada hari lainnya. Padahal hari raya umat Islam sudah berjalan berabad-abad yang lalu. Bahkan Ketua Lembaga Adat Papua juga heran dengan hal ini dan menyatakan jika seminar tersebut jangan-jangan tidak memiliki izin kegiatan.

Kedua, aparat Polri/TNI memiliki standar prosedur yang jelas. Mereka aparat yang terlatih dengan baik. Tidak mungkin dan alangkah tidak masuk akal jika aparat akan melepaskan tembakan dengan peluru tajam jika para pemuda Gereja Injili datang dengan baik-baik dan damai seperti dikatakan Pendeta Dorman. Yesus mengajarkan umatnya untuk berkata jujur, jangan berbohong, sebaiknya ini diteladani oleh pengikutnya.(rz)

+++++

http://www.eramuslim.com/berita/nasional/jangan-sampai-kasus-teror-di-papua-membesar-seperti-kasus-ambon-1999.htm#.Vat6NPmvw9Y

Jangan Sampai Kasus Teror di Papua Membesar Seperti Kasus Ambon 1999

Redaksi – Minggu, 19 Juli 2015 09:00 WIB

Eramuslim.com – Direktur Eksekutif Pusaka Trisakti, Fahmi Habsyi, punya pandangan lain soal kerusuhan di Kabupaten Tolikara, Papua, sehingga berdampak pada terbakarnya sebuah musola pada Jumat pagi (17/). Menurut dia, disinyalir, peristiwa tersebut merupakan bagian dari operasi intelijen. Karena, kehidupan beragama di Bumi Cenderawasih selama ini sangat baik. “Ini murni operasi intelijen tingkat tinggi. Masyarakat Papua sangat santun dan toleran soal beragama dan merasakan kebijakan dan hati Pak Jokowi yang fokus pada keberpihakan pada kesejahteraan masyarakat Papua,” katanya di Jakarta, Sabtu (18/7).

Menurut Fahmi, indikasi adanya operasi intelijen dalam insiden Tolikara terlihat dari rangkaian peristiwa beberapa aksi sepihak yang menuntut referendum Papua di Jakarta. “Jadi, dua minggu lalu, saya sudah dapat informasi akan ada eskalasi meningkat di Papua. Tanda-tandanya tampak. Tapi, informasi dan letupan kecil tersebut tidak segera diantisipasi pihak intelijen kita dan aparat keamanan,” ujar Fahmi.

Ia mengingatkan, situasi di Papua tidak bisa dilihat berdiri sendiri dari apa yang digerakkan di Jakarta. “Kita harus gunakan pendekatan helicopter view, jangansimptomian per kejadian. Nanti terlihat otaknya siapa yang mendanai, memprovokasi, dan menggerakkan. Operasi intelijen ini seperti tukang bakarnya tidak terlihat, tapi asap dan baunya terasa. Yang harus dijadikan analisis pertama dalam melihat setiap insiden di Papua, adakah pihak-pihak yang terganggu kepentingannya dengan kebijakan Jokowi di Papua saat ini. Siapa yang paling khawatir Papua lebih baik dan lebih maju? Setelah itu, petakan,” tutur Fahmi.

Ia menyayangkan sikap aparat keamanan dan intelijen yang seharusnya memantau gerak pihak-pihak tersebut, bukan sibuk mengawasi masyarakat Papua. Jika sudah seperti ini, masyarakat Papua yang muslim dan non-muslim yang jadi korban. “Ini melibatkan intelijen asing dan seorang tokoh intelijen berpengaruh di era SBY. Otaknya di Jakarta. Tapi, apakah ada buktinya? Susah untuk ditunjuk aktor intelektualnya. Cukup Jokowi kasih ‘pesan politik’ yang jelas dan tegas kepada yang coba bermain di Papua bahwa presiden mengetahui dan akan gebuk balik. Saya sarankan aparat keamanan perlakukan rakyat Papua dengan lembut dan persuasif,” ujarnya.

Pembentukan tim mediasi atau tim dialog, menurut Fahmi, tidak perlu dilakukan. Karena, masalahnya bukan masyarakat Papua, tapi kekuatan lain lebih dari itu. Lingkaran Istana Presiden tampaknya, katanya lagi, tidak memberikan informasi utuh kepada Presiden Joko. “Ada pihak yang mencoba buat ‘penyakit’ dan sekaligus menawarkan ‘obatnya’ dengan  kepentingan yang lain untuk dikompromikan. Ini gaya lama. Mudah-mudahan saja Pak Jokowi sudah tahu kok siapa otaknya.  Atau memang tidak ada yang mengingatkan dan menginfokan ke Pak Jokowi untuk waspada situasi Papua setelah aksi meminta referendum. Jangan dianggap remeh, ingat kasus kerusuhan Ambon 1999 hanya perkelahian pemuda di terminal, yang di Papua lebih serius dari itu,” katanya.

Sebelumnya, Menteri Dalam Negeri Tjahjo Kumolo juga sempat mempertanyakan kerja Badan Intelijen Negara (BIN), yang kini dipimpin Letjen (Purn) Sutiyoso, yang tidak dapat mengantispasi Tragedi Tolikara. Seharusnya, kata Tjahjo, sistem peringatan dini BIN bekerja sehingga peristiwa itu dapat diantisipasi.(rz/pribuminews)

__._,_.___

Posted by: “Sunny” <ambon@tele2.se>

http://www.bergelora.com/nasional/kesra/2188-gidi-bantah-larang-perayaan-hari-raya-idul-fitri.html

GIDI Bantah Larang Perayaan Hari Raya Idul Fitri

Minggu, 19 Juli 2015Dilihat: 28

Isiden di Tolikara, Papua (Ist)‏JAYAPURA- Gereja Injili Di Indonesia (GIDI) membantah melarang umat Islam merayakan Hari Raya Idul Fitri pada Jumat (17/7) lalu. Namun Gereja GIDI meminta agar kegiatan sholat tersebut tidak menggunakan pengeras suara (Toa) karena sedang berlangsung seminar nasional dan internasional pada jarak 250 meter dari lokasi sholat.

“Tidak benar pemuda gereja GIDI, masyarakat Tolikara, dan umat Kristiani melarang umat Islam untuk merayakan hari raya Idul Fitri dan Sholat ied. Namun dua minggu lalu kami sudah kirim surat pemberitahuan agar tidak menggunakan penggeras suara karena sedang sedang ada seminar nasional dan internasional hanya berjarak sekitar 250 meter,” demikian Presiden GIDI, Pendeta Dorman Wandikmbo dari Tolikara, Papua dalam kepada Bergelora.com, di Jayapura, Sabtu (18/7)

Dibawah ini Pernyataan Sikap Presiden Gereja Injili Di Indonesia (GIDI) terkait insiden/peristiwa di Kabupaten Tolikara, Propinsi Papua :

Sejak tadi malam, 17 Juli 2015, saya mengikuti berbagai pemberitaan di media massa yang terkesan menyudutkan pihak gereja, ditulis berdasarkan laporan/argumentas aparat keamanan (TNI/Polri), serta penyebaran berbagai surat kaleng/palsu di media social (Medsos), yang menempatkan orang Papua sebagai pihak yang anti toleransi umat beragama, maka dalam kesempatan ini saya perlu menegaskan atau menyampaikan beberapa hal agar dapat dipahami oleh seluruh warga Indonesia;

Pertama, tidak benar pemuda gereja GIDI, masyarakat Tolikara, dan Umat Kristiani melarang umat Islam untuk merayakan hari raya Idul Fitri (Sholat ied), namun harus mematuhi surat pemberitahuaan yang telah dilayangkan pemuda/gereja dua minggu sebelum kegiatan dilangsungkan; yakni tidak menggunakan penggeras suara (toa), apalagi jarak antar pengeras suara dengan tempat dilangsungkannya seminar nasional/internasional hanya berjarak sekitar 250meter. (baca juga kronologi singkat yang kami susun).    

Kedua, pimpinan gereja wilayah Kabupaten Tolikara, Presiden GIDI, Bupati Kabupaten Tolikara, Usman Wanimbo, dan tokoh masyarakat setempat telah menyampaikan maksud pemuda GIDI (Ibadah tidak menggunakan penggeras suara) sejak dua minggu sebelum hari “H” kegiatan seminar, dan hari raya idul fitri.

Kami menilai, aparat Kepolisian dan aparat Tentara Nasional Indonesia (TNI) di Kabupaten Tolikara tidak punya itikad baik untuk menjaga keamanan dan ketertibatan masyarakat Tolikara, termasuk umat Muslim sendiri. Kami sangat menyayangkan lambannya sosialisasi yang dilakukan aparat keamanan kepada warga muslim, sehingga terjadi hal-hal yang tidak kita inginkan, apalagi toleransi umat beragama sejak puluhan tahun lalu di Tolikara, dan secara umum di seluruh tanah Papua sangat baik, dan paling baik di Indonesia.  

Ketiga, yang sangat disayangkan, para pemuda (11 orang tertambak timah panas aparat TNI/Polri saat dalam perjalanan ke Musolah untuk berdiskusi dengan warga setempat, 1 anak usia 15 tahun meninggal dunia, Endi Wanimbo, usia 15 tahun), belum sempat diskusi atau negosiasi dilangsungkan, aparat TNI/Polri sudah mengeluarkan tembakan secara brutal dan membabi buta, sehingga 12 orang tertembak.

Jadi amukan dan kemarahan masyarakat bukan disebabkan oleh aktivitas ibadah umat muslim, tapi lebih karena tindakan dan perlakukan biadab aparat TNI/Polri, yang tidak membukan ruang demokrasi atau untuk mendiskusikan hal-hal yang baik bagi keberlangsungan ibadah kedua belah pihak.

Keempat, tidak benar masyarakat Tolikara, atau warga gereja GIDI melakukan pembakaran terhadap Mushola (seperti pemberitaan berbagai media massa di tingkat nasional), namun hanya beberapa kios yang dibakar pemuda, dan merembet hingga membakar Musolah karena dibangun menggunakan kayu, dan berhimpit-himpit dengan kios/rumah milik warga Papua maupun non-Papua, sehingga dengan cepat melebar dan terbakar.

Tindakan spontan yang dilakukan beberapa pemuda membakar beberapa kios ini muncul karena ulah aparat keamanan yang tak bisa menggunakan pendekatan persuasive, tapi menggunakan alat-alat Negara (senjata dan peluru) untuk melumpuhkan para pemuda tersebut.

Kami minta Kepala Kepolisian Republik Indonesia (Kapolri), dan Panglima TNI untuk juga mengusut tuntas penembakan warga sipil oleh aparat keamanan yang menyebabkan 1 orang meninggal dunia (Endi Wanimbo, usia 15 tahun), dan 11 orang terluka.  

Kelima, saya sebagai pimpinan tertinggi gereja GIDI di seluruh Indonesia, telah menasehati umat saya agar tidak melarang umat apapun, termasuk saudara Muslim untuk melangsungkan ibadah, namun ibadah harus dilangsungkan di dalam koridor hukum wilayah tersebut, dan juga mematuhi surat atau himbauan yang dikeluarkan, demi keamanan, ketertibatan, dan ketentraman masyarakat setempat.  

Keenam, yang datang mengikuti ibadah/seminar internasional di Kabupaten Tolikara bukan hanya warga GIDI di wilayah tanah Papua, tapi dari berbagai provinsi di seluruh Indonesia, antara lain pemuda dari Nias, Sumatera Utara, Papua Barat, Kalimantan (Dayak), Yogyakarta, Jawa Timur, Jawa Tengah, dan diperkikran mencapai 2.000 orang pemuda GIDI.

Ketujuh, sebagai presiden GIDI, kami menyampaikan permohonan maaf kepada warga muslim di Indonesia, secara khusus di Kabupaten Tolikara atas pembakaran kios-kios yang menyebabkan Musolah (rumah ibadah warga muslim) ikut terbakar; Aksi ini merupakan spontanitas masyarakat Tolikara karena ulah aparat keamanan di Tolikara yang melakukan penembakan secara brutal.

Kedelapan, Kapolri dan Panglima TNI juga harus mengusut tuntas insiden penembakan terhadap 12 warga gereja, yang menyebabkan satu anak usia sekolah meninggal dunia; Ini merupakan pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM) berat, karena menggunakan alat Negara untuk menghadapi pemuda-pemuda usia sekolah yang tak datang untuk melakukan perlawanan atau peperangan. 

Demikian pernyataan sikap ini dibuat untuk disebarluaskan kepada berbagai jaringan di tingkat lokal, nasional, dan internasional, terutama media massa, agar pemberitaan terkait insiden/peristiwa yang tidak kita inginkan ini dapat berimbang. Tuhan memberkati kita semua.

Kabupaten Tolikara, Provinsi Papua,

18 Juli 2015

Presiden GIDI

Pendeta Dorman Wandikmbo (HP: 081248604070);

Nb : Jika Pendeta Dorman susah dihubungi, bisa lewat Ketua Pemuda GIDI (081344354689).

Sebelumnya Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK) menilai penyebab kerusuhan yang terjadi di Kabupaten Tolikara, Papua pada Jumat (17/7) pagi tadi disebabkan oleh pengeras suara (speaker). JK menjelaskan, di daerah tersebut ada dua acara yang letaknya berdekatan yang digelar dari dua umat agama berbeda, Islam dan Kristen Protestan.

“Ada acara Idul Fitri, ada pertemuan pemuka masyarakat gereja. Memang asal-muasal soal speaker itu,” ujar JK dalam konferensi pers di Istana Wakil Presiden, Jakarta Pusat.

Ia menuturkan, masyarakat seharusnya dapat mengetahui bahwa ada dua kepentingan yang terjadi bersamaan.

“Satu Idul Fitri, satu karena speaker, saling bertabrakan. Mestinya kedua-duanya menahan diri. Masyarakat yang punya acara keagamaan lain harus memahami,” kata JK. (Yuliana Lantipo)

__._,_.___

Posted by: “Sunny” <ambon@tele2.se>

 A. Z. Muttaqin Ahad, 2 Syawwal 1436 H / 19 Juli 2015 08:00
Ingat Ambon, pemerintah tak segera tangkap otak pembakaran Masjid Baitul Muttaqin akan berdampak luas
Masjid Baitul Muttaqin runtuh rata dengan tanah d bakar oleh gerombolan Kafir Kristen di Karubaga Kabupaten Tolikara, Papua saat kaum Muslimin shalat Idul Fitri 1436 H, Jum’at (17/7/2015), yang diotaki oleh Ketua Gereja Injili di Indonesia (GIDI Tolitora Pdt. Nayus Wenea, S.Th dan Sekertaris Marthen Jingga, S.Th; MA.
JAKARTA (Arrahmah.com) – Pembakaran masjid oleh gerombolan kafir Kristen di Karubaga Kabupaten Tolikara, Papua saat kaum Muslimin shalat Idul Fitri 1436 H, Jum’at (17/7/2015), harus segera diselesaikan pemerintah dengan menangkap para pelaku dan desainernya. Diduga kuat Ketua Gereja Injili di Indonesia (GIDI Tolitora Pdt. Nayus Wenea, S.Th dan Sekertaris Marthen Jingga, S.Th; MA. orang yang menciptakan kondisi permusuhan terhadap Islam dan kaum Muslimin sebelum tragedi Idul Fitri yang memilukan di Tolikara
Advokat SNH Advocacy Center, Sylviani Abdul Hamid mengatakan, pemerintah mempunyai tugas untuk menjaga keamanan dan ketentraman di wilayah NKRI, oleh karenanya langkah yang harus segera diambil adalah menangkap para pelaku baik pelaku di lapangan maupun intelektual dader (pelaku intelektual).
“Selesaikan, jangan ditunda-tunda, kami khawatir kalau tidak diselesaikan segera akan berdampak luas,” ujar Sylviani, dalam rilisnya Sabtu (18/7/2015).
Dia mengingatkan peristiwa serupa pada 1998 silam yang terjadi di Ambon meluas hingga ke beberapa wilayah di Kota Ambon akibat lambatnya penanganan dari pemerintah. Ia juga mempertanyakan kinerja dari Badan Intelejen Negara. “Seharusnya BIN sudah bisa mengantisipasi kejadian ini,” ucap Sylvi.
Kewajiban Pemerintah lanjutnya, adalah melindungi setiap pemeluk agama untuk melakukan aktifitas keagamaannya, sebagaimana yang dijamin dalam konstitusi.
“Kalau terbukti ada kelalaian dari pemerintah, maka dapat dikatakan bahwa pemerintah lalai menjalankan konstitusi,” kata aktivis dan pengacara publik ini.
Ingat Ambon, pemerintah tak segera tangkap otak pembakaran Masjid Baitul Muttaqin akan berdampak luas
A. Z. Muttaqin Ahad, 2 Syawwal 1436 H / 19 Juli 2015 08:00
Masjid Baitul Muttaqin runtuh rata dengan tanah d bakar oleh gerombolan Kafir Kristen di Karubaga Kabupaten Tolikara, Papua saat kaum Muslimin shalat Idul Fitri 1436 H, Jum’at (17/7/2015), yang diotaki oleh Ketua Gereja Injili di Indonesia (GIDI Tolitora Pdt. Nayus Wenea, S.Th dan Sekertaris Marthen Jingga, S.Th; MA.
Laporkan iklan tak layak
JAKARTA (Arrahmah.com) – Pembakaran masjid oleh gerombolan kafir Kristen di Karubaga Kabupaten Tolikara, Papua saat kaum Muslimin shalat Idul Fitri 1436 H, Jum’at (17/7/2015), harus segera diselesaikan pemerintah dengan menangkap para pelaku dan desainernya. Diduga kuat Ketua Gereja Injili di Indonesia (GIDI Tolitora Pdt. Nayus Wenea, S.Th dan Sekertaris Marthen Jingga, S.Th; MA. orang yang menciptakan kondisi permusuhan terhadap Islam dan kaum Muslimin sebelum tragedi Idul Fitri yang memilukan di Tolikara
Advokat SNH Advocacy Center, Sylviani Abdul Hamid mengatakan, pemerintah mempunyai tugas untuk menjaga keamanan dan ketentraman di wilayah NKRI, oleh karenanya langkah yang harus segera diambil adalah menangkap para pelaku baik pelaku di lapangan maupun intelektual dader (pelaku intelektual).
“Selesaikan, jangan ditunda-tunda, kami khawatir kalau tidak diselesaikan segera akan berdampak luas,” ujar Sylviani, dalam rilisnya Sabtu (18/7/2015).
Dia mengingatkan peristiwa serupa pada 1998 silam yang terjadi di Ambon meluas hingga ke beberapa wilayah di Kota Ambon akibat lambatnya penanganan dari pemerintah. Ia juga mempertanyakan kinerja dari Badan Intelejen Negara. “Seharusnya BIN sudah bisa mengantisipasi kejadian ini,” ucap Sylvi.
Kewajiban Pemerintah lanjutnya, adalah melindungi setiap pemeluk agama untuk melakukan aktifitas keagamaannya, sebagaimana yang dijamin dalam konstitusi.
“Kalau terbukti ada kelalaian dari pemerintah, maka dapat dikatakan bahwa pemerintah lalai menjalankan konstitusi,” kata aktivis dan pengacara publik ini.
Surat GIDI (Foto: TPF LUIS) jelas berisi permusuhan terhadap Islam dan kaum Muslimin di Papua
Sebelum kejadian tersebut telah beredar surat pelarangan kegiatan Solat dan penggunaan jilbab yang juga sudah ditembuskan ke pihak pemerintah. Ini merupakan salah satu bukti kelalaian pemerintah yang membiarkan adanya pihak yang ingin melawan Konstitusi. “Pembiaran ini yang dapat mengindikasikan pemerintah lalai menjalankan Konstitusi,” tutup Sylviani.
Sebelumnya Laskar umat Islam Surakarta juga telah meminta polisi segera menangkap provokator Nayus Wenea dan Marthen Jingga. (azmuttaqin/arrahmah.com)
Topik: GIDI, headline, kebring
Surat GIDI (Foto: TPF LUIS) jelas berisi permusuhan terhadap Islam dan kaum Muslimin di Papua
Sebelum kejadian tersebut telah beredar surat pelarangan kegiatan Solat dan penggunaan jilbab yang juga sudah ditembuskan ke pihak pemerintah. Ini merupakan salah satu bukti kelalaian pemerintah yang membiarkan adanya pihak yang ingin melawan Konstitusi. “Pembiaran ini yang dapat mengindikasikan pemerintah lalai menjalankan Konstitusi,” tutup Sylviani.
Sebelumnya Laskar umat Islam Surakarta juga telah meminta polisi segera menangkap provokator Nayus Wenea dan Marthen Jingga. (azmuttaqin/arrahmah.com)
Topik: GIDI, headline, kebring
__._,_.___

Posted by: “Sunny” <ambon@tele2.se>

http://www.bergelora.com/nasional/kesra/2187-ada-brondongan-timah-panas-dahului-insiden-tolikara.html

Ada Brondongan Timah Panas Dahului Insiden Tolikara

Minggu, 19 Juli 2015Dilihat: 62

Salah satu korban tertembak aparat sebelum insiden, sedang digotong dari lokasi penembakan menuju Bandara Karubaga untuk dievakuasi ke RSUD Dok 2 Jayapura (Foto : Badan Pengurus GIDI). (Ist)‏JAYAPURA- Insiden di Tolikara yang menyebabkan terbakarnya sebuah rumah ibadah didahului dengan brondongan timah panas yang melukai 12 orang dan menewaskan seseorang. Hal ini dijelaskan olehPresiden Gereja Injili di Indonesia (GIDI), Pendeta Dorman Wandikmbo dalam kronologi yang diterima Bergelora.com di Jayapura, Papua, Sabtu (18/7).

Dibawah ini kronologi lengkap versi pimpinan Gereja Injili di Indonesia (GIDI) atas insiden/peristiwa di Kabupaten Tolikara:

Pada Jumat, 17 Juli 2015, pukul 08.30 WIT, beberapa Pemuda gereja mendatangi kelompok umat Muslim yang sedang melangsungkan Sholad ied, dengan maksud menyampaikan aspirasi secara damai dan terbuka, bahwa sesuai (Peraturan Daerah) Kabupaten Tolikara, berdasarkan aspirasi Gereja dan Masyarakat – isinya boleh melaksanakan ibadah, tapi tidak menggunakan toa atau penggeras suara karena dapat menggangu ribuan pemuda yang bersiap untuk melangsungkan seminar dan KKR, apalagi jarak toa atau pengeras suara dengan tempat dilangsungkannya ibadah umat GIDI hanya berjarak sekitar 300meter. 

Para pemuda juga ingin pertanyakan surat resmi Gereja yang pernah  dikirimkan kepada Kepala Kepolisian (Kapolres) Tolikara, AKBP. Suroso, sejak dua minggu sebelum kegiatan seminar maupun idul fitri dimulai, “bahwa menggingat akan diselenggarakannya Seminar dan KKR Injili Pemuda Tingkat Pusat bertaraf Nasional/Internasional, pada tanggal 15-20 Juli 2015, maka diminta kepada pihak Muslim agar tidak melakukan kegiatan peribadatan dilapangan terbuka; tidak menggunakan pengeras suara dan ibadahnya cukup dilakukan didalam Mushola atau ruangan tertutup.”

Sebelumnya, dua minggu sebelum pelaksanaan kegiatan ibadah, Bupati Tolikara, Usman Wanimbo, dan Presiden GIDI, Pdt. Dorman Wandikmbo, juga sudah mendapat konfirmasi langsung dari Kapolres Kab. Tolikara tentang tanggapan positif surat Gereja yang dikirimkan kepada beliau, dan akan ditindak lanjuti, yakni memberitahukan kepada ratusan umat muslim, untuk dan melangsungkan ibadah di dalam ruang Mushola, dan tidak menggunakan penggeras suara.

Kemudian Bupati Tolikara dan President GIDI juga menyampaikan kepada Kapolres, dan kelompok umat Muslimin, bahwa gereja tidak melarang mereka beribadah, namun jangan dilapangan terbuka karena mengingat situasi dan kondisi seperti yang disampaikan masyarakat dan demi keamanan kita bersama, demi menjamin kegiatan berjalan lancar, aman dan kondusif, baik itu Seminar Pemuda maupun peribadatan Muslim, maka disarankan agar ibadah diadakan didalam Mushola. Dan sebagai wujud toleransi ini, Bupati Tolikara menyumbangkan 1 ekor sapi bagi umat Muslim di Kab. Tolikara.

Nah, ketika Pemuda hendak menyampaikan aspirasi ini didepan umum, secara tertib tiba-tiba seorang Pemuda tertembak timah panas tanpa ada perlawanan. Dan TNI/Polri melakukan penembakan bertubi-tubi mengakibatkan 12 orang Pemuda terkena peluru.

Akibat 12 pemuda tertembak didepan kerumunan masyarakat, maka masyarakat tidak terima dengan perbuatan penembakan tersebut dan langsung melakukan pembakaran terhadap beberapa kios, yang merembet hingga membakar Mushola (artinya tidak benar kalau para pemuda melakukan pembakaran Mushola), yang kebetulan ada ditengah ruko/kios (yang dibangun mengelilingi Mushola). Selain Mushola dan ruko/kios, juga terbakar rumah masyarakat Papua dan non-Papua.

Pkl.14.15 WIT (17 Juli 2015), 12 korban luka tembak tersebut di evakuasi ke Jayapura dan ke Wamena dengan menggunakan pesawat Cessna dan Helikopter yang ditangani langsung oleh President GIDI bersama Bupati Tolikara.

Salah satu korban luka tembak meninggal dunia a.n. ENDI WANIMBO (15) dan 11 orang masih dalam perawatan intensif di RSUD Dok 2 Jayapura dan di RSUD Wamena. Setelah evakuasi dilakukan, Bupati Tolikara, DPR Kab. Tolikara, Kapolres, Tokoh Agama dan Masyarakat melakukan pawai damai mengelilingi Tolikara untuk mengajak masyarakat kembali beraktivitas seperti biasa dan sampai saat ini aman terkendali.

Pimpinan gereja juga menahan masyarakat untuk tidak melakukan aksi balasan terkait tewasnya satu anak usia sekolah. (Baca: 8 Point Pernyataan sikap Presiden GIDI di lampiran).  

Kabupaten Tolikara, Provinsi Papua, 18 Juli 2015

Presiden GIDI

Pdt. Dorman Wandikmbo (HP: 081248604070)

Nb: Jika Pdt. Dorman susah dihubungi, bisa lewat Ketua Pemuda GIDI 081344354689)    

Sebelumnya, Presiden Joko Widodo meminta maaf atas peristiwa di Tolikara, Papua, yang terjadi tepat pada saat hari raya Idul Fitri 1436 Hijriah, Jumat (17/7/2015). Dalam kerusuhan tersebut, terjadi pembakaran rumah, kios, dan mushala.

“Saya atas nama lembaga masyarakat adat Papua dan atas nama Presiden RI memohon maaf kepada seluruh masyarakat Muslim di seluruh Indonesia atas musibah di Tolikara,” ujar staf khusus presiden, Lenis Kogoya, dalam jumpa pers di Gedung Sekretariat Negara, Jakarta, Sabtu (18/7) siang. (Yuliana Lantipo)

__._,_.___

Posted by: “Sunny” <ambon@tele2.se>

TERPOPULER
Bukan Karena Ibadah atau Speaker, Tapi Ini Yang Buat Jemaat GIDI Marah

Senin, 20 Juli 2015, 13:53 WIB

Komentar : 6
Sisa-sisa masjid Tolikara yang dibakar
Sisa-sisa masjid Tolikara yang dibakar

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Aksi kekerasan yang dilakukan jemaat Gereja Injili Di Indonesia (GIDI) terhadap Muslim Tolikara, Papua dilakukan bukan karena kemarahan atas pelaksanaan ibadah salat Idul Fitri. Kemarahan warga justru karena perlakuan aparat keamanan yang berjaga di sekitar lokasi.

Presiden GIDI, Dorman Wandikmbo mengatakan aparat keamanan bertindak keras dengan tidak memberikan ruang demokrasi untuk berdiskusi. Hal ini menyusul aksi protes jemaat GIDI yang sebelumnya telah mengeluarkan aturan untuk tidak menggunakan pengeras suara saat pelaksanaan kegiatan ibadah.

“Jadi amukan dan kemarahan masyarakat bukan disebabkan oleh aktivitas ibadah umat muslim, tapi lebih karena tindakan dan perlakukan biadab aparat TNI/Polri, yang tidak membukan ruang demokrasi atau untuk mendiskusikan hal-hal yang baik bagi keberlangsungan ibadah kedua belah pihak,” kata Dorman lewat siaran pers yang diterima ROL, Senin (20/7).

Menurutnya, warga belum berdiskusi untuk menegosiasikan hal yang sebaiknya bisa dilakukan. Hanya saja aparat keamanan sudah melepaskan tembakan secara brutal dan membabi buta. Aksi aparat ini menyebabkan korban tewas dan luka dari pemuda GIDI.

Diketahui 11 orang terluka tertembak timah panas saat mencoba berdiskusi dengan warga setempat. Satu orang bocah berusia 15 tahun juga dilaporkan meninggal dunia akibat kericuhan tersebut.

Pelarangan penggunaan pengeras suara saat melaksanakan salat Idul Fitri memang dikeluarkan menyusul adanya seminar internasional yang diadakan tidak jauh dari lokasi kejadian. GIDI membantah tudingan melarang Muslim menjalankan ibadahnya namun hanya melarang penggunaan pengeras suara.

16
Jul
15

Kebudayaan : Bedug Nusantara Jatidiri Budaya Indonesia

GeraKNusa

Bedug Nusantara Jatidiri Budaya Indonesia

Suara Pembaca :

Bedug terdengar bertalu-talu digebug di malam takbiran jelang Hari Lebaran Idul Fitri 1 Syawal 1436H. Perangkat Bedug juga Kentongan tercatat adalah produk budaya Nusantara jauh sebelum abad ke-7 Masehi, artinya secara alami telah terjadi kerjasama tatacara keagamaan Islam dengan tradisi budaya Nusantara yang kontekstual sampai kini, dan bahkan bisa berlanjut berulang kedepan sebagai gaya hidup muslim/muslimah Indonesia yang melekat.

Bedug dan Kentongan sehari-hari masih digunakan untuk permakluman publik semisal waktu solat, waktu rembug desa, syiar maklumat desa, dlsb.

Dalam konteks hari-hari nasional dapat segera diawali saat peringatan Proklamasi Indonesia Merdeka 17 Agustus 1945 yad melalui pemberdayaan tradisi permakluman publik dengan tabuhan Bedug Nusantara yang akan memeriahkan suasana sekaligus menjaga semangat kemerdekaan bangsa Indonesia.

Kiprah Bedug Nusantara dapat diamanatkan oleh Peraturan atau Keputusan Presiden dan dilakukan diseluruh negeri, yang untuk kali pertama ditujukan pada hari peringatan Proklamasi Indonesia Merdeka 2015 yang dapat dijadwalkan 3 (tiga) hari sejak tanggal 16 Agustus (sebagai hari persiapan Naskah Proklamasi), tanggal 17 Agustus (sebagai hari Proklamasi) dan tanggal 18 Agustus (sebagai hari penetapan Konstitusi Republik Indonesia)

Semangat Kejoangan Indonesia memang perlu digelorakan berkesinambungan apalagi ditengah kerisauan publik akan situasi dan kondisi terkini terutama saat penggerusan kesejahteraan rakyat terjadi akibat dampak gangguan sistemik terhadap perekonomian hajat hidup orang banyak.

Hari-hari Nasional resmi dapat didaftarkan juga di Peraturan/lKeputusan Presiden tersebut diatas, sehingga upaya-upaya pemberdayaan masyarakat terstruktur dapat dioperasionalkan demi senantiasa terwujud solidaritas nasional bagi Persatuan Indonesia
Jakarta, 15 Juli 2015

Pandji R Hadinoto, KBP45 KelBes Pejoang45
Editor http://www.jakarta45.wordpress.com

Bedug Warisan Budaya Yang Mesti Dilestarikan
Selasa, 14/07/2015 03:02

Subang, NU Online
Bedug merupakan salah satu warisan budaya masyarakat Nusantara yang mesti dijaga dan dilestarikan. Kalau tidak demikian, bedug ini akan punah dan hanya akan menjadi sejarah.

Demikian disampaikan oleh Bupati Subang H Ojang Sohandi pada penutupan kegiatan lomba bedug DKM Masjid Besar Baiturrohman, Purwadadi, Subang, Ahad (12/7) malam.

“Bedug merupakan warisan budaya nenek moyang kita yang harus kita lestarikan, dengan lomba bedug ini kita ikut menjaga dan melestarikannya,” katanya.

Senada dengan Ojang, Ketua DKM Masjid Besar Baiturrohman KH Agus Syarifudin mengatakan bahwa sebelum ada pengeras suara atau teknologi modern lain, bedug dan kentongan merupakan alat yang dimanfaatkan untuk mengingatkan waktu shalat. Karena, suaranya bisa terdengar dalam radius sekian meter.

“Sebelum ada speaker, radio, teve, orangtua dulu pakai bedug untuk mengingatkan orang bahwa waktu shalat telah datang, supaya orang ingat dan melaksanakan sholat, sebelum menabuh bedug biasanya 15 menit sebelumnya ditabuh kentongan dulu,” ungkapnya.

Wakil Ketua PCNU Subang ini menegaskan bahwa warga NU sudah paham dan mengerti tentang masalah bid’ah, karena kitab-kitab yang membahas tentang bid’ah sudah banyak dan sering dikaji di pesantren. Dengan demikian, menurutnya, bedug ini masuk dalam kategori bid’ah hasanah karena bisa mengingatkan orang untuk segera melaksanakan shalat.

“Kalau memang bedug ini bid’ah speaker juga harusnya lebih bid’ah, karena speaker datangnya belakangan jauh setelah ada bedug,” tambahnya. (Aiz Luthfi/Alhafiz K)

Tak Tak Tak… Dug Dug Dug.

Bunyi bedug yang menjadi penanda awal sebelum adzan yang mengajak umat Muslim untuk menunaikan shalat. Selain itu, bedug juga menjadi alat komunikasi.

Pengertian

Bedug adalah alat musik tabuh seperti gendang. Bedug merupakan instrumen musik tradisional yang telah digunakan sejak ribuan tahun lalu, yang memiliki fungsi sebagai alat komunikasi tradisional, baik dalam kegiatan ritual keagamaan maupun politik. Di Indonesia, sebuah bedug biasa dibunyikan untuk pemberitahuan mengenai waktu shalat atau sembahyang. Bedug terbuat dari sepotong batang kayu besar atau pohon enau sepanjang kira-kira satu meter atau lebih. Bagian tengah batang dilubangi sehingga berbentuk tabung besar. Ujung batang yang berukuran lebih besar ditutup dengan kulit binatang (kerbau, sapi atau banteng) yang berfungsi sebagai membran atau selaput gendang. Bila ditabuh, bedug menimbulkan suara berat, bernada khas, rendah, tetapi dapat terdengar sampai jarak yang cukup jauh.

Sejarah

Dari Cina

Bedug sebenarnya berasal dari India dan Cina. Berdasarkan legenda Cheng Ho dari Cina, ketika Laksamana Cheng Ho datang ke Semarang, mereka disambut baik oleh Raja Jawa pada masa itu. Kemudian, ketika Cheng Ho hendak pergi, dan hendak memberikan hadiah, raja dari Semarang mengatakan bahwa dirinya hanya ingin mendengarkan suara bedug dari masjid. Sejak itulah, bedug kemudian menjadi bagian dari masjid, seperti di Negara Cina,Korea dan Jepang, yang memosisikan bedug di kuil-kuil sebagai alat komunikasi ritual keagamaan.

Asli Warisan Nusantara

Namun menurut Drs M Dwi Cahyono, arkeolog dari Universitas Negeri Malang yang melakukan studi bedug di Jawa bersama tim Sampoerna Hijau, pada masa prasejarah, nenek moyang kita juga sudah mengenal nekara dan moko, sejenis genderang dari perunggu. Pemakaiannya berhubungan dengan religi minta hujan.

Kata Bedug juga sudah disinggung dalam kidung Malat, sebuah karya sastra berbentuk kidung. Susastra kidung berisi cerita-cerita panji. Umunya ditulis pada zaman Mahapahit, dari kurun waktu abad ke 14-16 Masehi. Dalam Kidung Malat dijelaskan, instrumen musik membrafaon bedug dibedakan antara bedug besar yang diberi nama teg-teg dengan bedug ukuran biasa.

Bedug pada masa itu berfungsi sebagai alat komunikasi dan penanda waktu seperti perang, bencana alam, atau hal mendesak lainnya. Dibunyikan pula untuk menandai tibanya waktu. Maka ada istilah dalam bahasa Jawa: wis wanci keteg. Artinya “sudah waktu siang” yang diambil dari waktu saat tegteg dibunyikan.

Cornelis De Houtman dalam catatan perjalanannya D’eerste Boek menjadi saksi keberadaan bedug yang sudah meluas pada abad ke-16. Ketika komandan ekspedisi Belanda itu tiba di Banten, ia menggambarkan di setiap perempatan jalan terdapat genderang yang digantung dan dibunyikan memakai tongkat pemukul yang ditempatkan di sebelahnya. Fungsinya sebagai tanda bahaya dan penanda waktu. Kesaksian ini jelas menunjuk pada bedug.

Kendati demikian, pengaruh Cina pun tidak dinafikan. Ditilik dari sisi konstruksi, teknik pemasangan tali/pasak untuk merekatkan selaput getar ke resonator pada bedug Jawa, mirip pada cara yang digunakan pada bedug di Asia Timur seperti Jepang, Cina, atau Korea. Bukti lain terlihat pada penampilan arca terakota yang ditemukan di situs Trowulan. Arca-arca prajurit berwajah Mongoloid itu tampak menabuh tabang-tabang, sejenis genderang yang terpengaruh budaya timur tengah. Kemungkinannya itulah instrumen musik yang dimainkan orang-orang Cina Muslim di ibukota Majapahit.

Menariknya, tabang-tabang sebenarnya merupakan instrumen musik yang sudah ada sejak masa Hindu-Budha. Di dalamnya ada pengaruh kuat dari India dan budaya Semit beragama Islam. Namun diperkenalkan dan dimainkan oleh masyarakat Cina Muslim.

Jadi, bedug bisa dikatakan contoh perwujudan akulturasi budaya waditra (instrumen musik membrafon, di mana secara fisiografis terjadi perpaduan antara waditra membrafon etnik Nusantara dengan wadistra sejenis dari luar seperti India, Cina, dan Timur Tengah.

Di Indonesia, sebuah bedug biasa dibunyikan untuk pemberitahuan mengani waktu salat atau sembahyang. Saat Orba berkuasa bedug pernah dikeluarkan dari surau dan masjid karena mengandung unsur-unsur non-Islam. Bedug digantikan oleh pengeras suara. Hal itu dilakukan oleh kaum Islam modernis, namun warga NU melakukan perlawanan sehingga sampai sekarang dapat terlihat masih banyak masjid yang mempertahankan bedug.

Fungsi

  • Fungsi sosial: bedug berfungsi sebagai alat komunikasi atau petanda kegiatan masyarakat, mulai dari ibadah, petanda bahaya, hingga petanda berkumpulnya sebuah komunitas.
  • Fungsi estetika: bedug berfungsi dalam pengembangan dunia kreatif, konsep, dan budaya material musikal.

Permainan (Seni Ngadulag)

Seni ngadulag berasal dari daerah Jawa Barat. Pada dasarnya, bedug memiliki fungsi yang sama seperti yang telah dijelaskan sebelumnya. Namun, tabuhan bedug di tiap-tiap daerah memiliki perbedaan dengan daerah lainnya, sehingga menjadikannya khas. Sehingga lahirlah sebuah istilah “Ngadulag” yang menunjuk pada sebuah keterampilan menabuh bedug. Kini keterampilan menabuh bedug telah menjadi bentuk seni yang mandiri yaitu seni Ngadulag (permainan bedug). Di daerah Bojonglopang, Sukabumi, seni ngadulag telah menjadi sebuah kompetisi untuk mendapatkan penabuh bedug terbaik. Kompetisi terbagi menjadi 2 kategori, yaitu keindahan dan ketahanan. Keindahan mengutamakan irama dan ritme tabuhan bedug, sedangkan ketahanan mengutamakan daya tahan menabuh atau seberapa lama kekuatan menabuh bedug. Kompetisi ini diikuti oleh laki-laki dan perempuan. Dari permainan inilah seni menabuh bedug mengalami perkembangan. Dahulu, peralatan seni menabuh bedug hanya terdiri dari bedug, kohkol, dan terompet. Tapi kini peralatannya pun mengalami perkembangan. Selain yang telah disebutkan di atas, menabuh bedug kini juga dilengkapi dengan alat-alat musik seperti gitar, keyboard, dan simbal.

Lalu, tahukah kamu? Ada bedug terbesar di dunia loh! Bedug terbesar di dunia berada di dalam Masjid Darul Muttaqien, Purworejo. Bedug ini merupakan karya besar umat Islam yang pembuatannya diperintahkan oleh Adipati Tjokronagoro I, Bupati Purworejo pertama. dibuat pada tahun 1762 Jawa atau 1834 M. Dan diberi nama Kyai Begelan. Ukuran atau spesifikasi bedug ini adalah: Panjang 292 cm, keliling bagian depan 601 cm, keliling bagian belakang 564 cm, diameter bagian depan 194 cm, diameter bagian belakang 180 cm. Bagian yang ditabuh dari bedug ini dibuat dari kulit banteng. Bedug raksasa ini dirancang sebagai “sarana komunikasi” untuk mengundang jamaah hingga terdengar sejauh-jauhnya lewat tabuhan bedug sebagai tanda waktu salat menjelang adzan dikumandangkan.

(Dikutip dari berbagai sumber) – See more at: http://www.kesekolah.com/artikel-dan-berita/pendidikan/asal-usul-bedug.html#sthash.fSokluPR.dpuf

Sejarah Asal Usul Beduk

Beduk adalah alat yang dipakai oleh kelompok Islam bermazhab di Nusantara untuk menandai masuknya waktu sembahyang. Sejak Islam datang ke Nusantara bedug sudah dipakai di hampir seluruh masjid, sehingga biasa dijadikan tanda bagi para kelana akan adanya sebuah desa. (Lihat Centini). Belum diketahuai asal usul alat ini, ada yang memperkirakan dari Cina, atau India, tetapi ada yang merupakan kreativitas asli Nusantara.

Dari China

_________________________________________________________

Bedug senantiasa dikaitkan dengan media panggil peribadatan. Ada pendapat tradisi bedug dikaitkan dengan budaya Cina. Adanya Bedug dikaitkan dengan ekspedisi pasukan Cheng Ho abad ke-15. Laksamana utusan kekaisaran Ming yang Muslim itu menginginkan suara bedug di masjid-masjid, seperti halnya penggunaan alat serupa di kuil-kuil Budha di Cina. Ada pula pendapat bedug berasal dari tradisi drum Cina yang menyebar ke Asia Timur, kemudian masuk Nusantara.

Asli Warisan Nusantara

_____________________________________________________

Namun menurut Drs M Dwi Cahyono, arkeolog dari Universitas Negeri Malang yang melakukan studi bedug di Jawa bersama tim Sampoerna Hijau, pada masa prasejarah, nenek moyang kita juga sudah mengenal nekara dan moko, sejenis genderang dari perunggu. Pemakaiannya berhubungan dengan religi minta hujan.

Kata Bedug juga sudah disinggung dalam kidung Malat, sebuah karya sastra berbentuk kidung. Susastra kidung berisi cerita-cerita panji. Umunya ditulis pada zaman Mahapahit, dari kurun waktu abad ke 14-16 Masehi. Dalam Kidung Malat dijelaskan, instrumen musik membrafaon bedug dibedakan antara bedug besar yang diberi nama teg-teg dengan bedug ukuran biasa.

Bedug pada masa itu berfungsi sebagai alat komunikasi dan penanda waktu seperti perang, bencana alam, atau hal mendesak lainnya. Dibunyikan pula untuk menandai tibanya waktu. Maka ada istilah dalam bahasa Jawa: wis wanci keteg. Artinya ”sudah waktu siang” yang diambil dari waktu saat tegteg dibunyikan.

Cornelis De Houtman dalam catatan perjalanannya D’eerste Boek menjadi saksi keberadaan bedug yang sudah meluas pada abad ke-16. Ketika komandan ekspedisi Belanda itu tiba di Banten, ia menggambarkan di setiap perempatan jalan terdapat genderang yang digantung dan dibunyikan memakai tongkat pemukul yang ditempatkan di sebelahnya. Fungsinya sebagai tanda bahaya dan penanda waktu. Kesaksian ini jelas menunjuk pada bedug.

Kendati demikian, pengaruh Cina pun tidak dinafikan. Ditilik dari sisi konstruksi, teknik pemasangan tali/pasak untuk merekatkan selaput getar ke resonator pada bedug Jawa, mirip pada cara yang digunakan pada bedug di Asia Timur seperti Jepang, Cina, atau Korea. Bukti lain terlihat pada penampilan arca terakota yang ditemukan di situs Trowulan. Arca-arca prajurit berwajah Mongoloid itu tampak menabuh tabang-tabang, sejenis genderang yang terpengaruh budaya timur tengah. Kemungkinannya itulah instrumen musik yang dimainkan orang-orang Cina Muslim di ibukota Majapahit.

Menariknya, tabang-tabang sebenarnya merupakan instrumen musik yang sudah ada sejak masa Hindu-Budha. Di dalamnya ada pengaruh kuat dari India dan budaya Semit beragama Islam. Namun diperkenalkan dan dimainkan oleh masyarakat Cina Muslim.

Jadi, bedug bisa dikatakan contoh perwujudan akulturasi budaya waditra (instrumen musik membrafon, di mana secara fisiografis terjadi perpaduan antara waditra membrafon etnik Nusantara dengan wadistra sejenis dari luar seperti India, Cina, dan Timur Tengah.

Debedukisasi

______________________________________________________

Pada Muktamar NU ke-11 di Banjarmasin Kalimanatan Selatan 1936 kembali mengukuhkan penggunaan Beduk dan kentongan, bahwa pemakaian kedua alat tersebut di masjid-masjid sangat diperlukan untuk memperbesar syiar Islam. Dengan adanya keputusan itu serangan Islam modernis bisa dieliminir, dan tradisi pemakaian beduk terus dipertahankan.

Pada masa orde baru ketika organisasi NU mulai ditekan sementara Islam modernis mulai mendapat tempat, maka ”debedukisasi” dilakukan, sehingga banyak beduk-beduk bersejarah yang hilang dan sebagian besar digudangkan. Kemudian dikembangkan program speakerisasi, sehingga hampir tiap masjid yang sudah dihilangkan beduknya diganti dengan memasang speaker di menara atau di kubah. Hanya dilingkungan masjid Nu dan kelompok Islam bermazhab seperti Perti, Al Washliyah, Mathlaul Anwar dan sebagainya, atau mesjid yang belum diambil oleh kelompok Islam modernis tetap memakai beduk. Hal itu menadji petanda masjid yang dikelola oleh Islam bermazhab dengan Islam modernis yang tidak bermazhab.

Jumat, 30 September 2011

Satu Islam – Jakarta – Ratusan orang meriung di sungai. Tua muda. Laki-laki dan perempuan. Mereka berjejal. Berbaur. Berendam di air yang dingin. Membasuh sekujur tubuh. Dari ujung kaki hingga kepala.

Belasan bocah terlihat sumringah. Bersiap di bibir kali. Berancang-ancang. Sekejap kemudian mereka terjun ke dalam air. Byur…. Gelak tawa pun membahana. Kebahagiaan benar-benar meruap dari bekas pemandian noni-noni Belanda itu.

Itulah keceriaan warga Padang, Sumatera Barat, di Sungai Lubuk Minturun. Di penghujung Sya’ban yang lalu, mereka beramai-ramai menjalankan ritual mandi Balimau. Mandi dengan menggunakan limau alias jeruk nipis.

Pada Rabu 17 Juni 2015 itu, warga Lubuk Minturun, Koto Tengah, Padang, sudah berjubel sejak siang hari. Ritual ini digelar hingga petang. Saat bulan Sya’ban berganti Ramadan. Selain Sungai Lubuk Minturun, prosesi ini juga dihelat di berbagai tempat, seperti sungai Batang Kuranji, Batu Busuk, bahkan di pantai.

Balimau sudah dimulai sejak berabad silam. Terutama menjelang Ramadan. Kebiasaan ini menyebar dari Minangkabau hingga Riau. Tak jelas dari mana berasal. Sebagian mengaitkan dengan tradisi penyucian diri di Sungai Gangga, India. Ada pula yang menyebut kebiasaan ini muncul pada zaman Belanda.

Yang jelas, tradisi ini dimaknai sebagai penyucian diri menyambut Ramadan. Bagi masyarakat Minang, Balimau berarti menyucikan diri dengan limau atau jeruk nipis. Tradisi ini sudah dilakukan secara turun-temurun. Selama berabad-abad silam.

***

Tradisi Balimau sangat unik. Masyarakat tak menggunakan sabun saat mandi. Mereka memilih limau untuk bersuci. Ini diyakini sebagai warisan masa lalu. Sebab, tempo dulu tak ada sabun. Ya limau itulah yang digunakan oleh masyarakat untuk mandi. Buah ini bisa meluruhkan minyak di badan.

Balimau merupakan rangkaian panjang. Sejak pagi setiap keluarga sudah menyiapkan limau. Juga ramuan wewangian alami sebagai pelengkap. Saat itu, kaum ibu juga memasak lemang, ketan yang dimasak di dalam bambu, dan berbagai masakan lainnya, untuk sajian makan di hari Balimau. Makan siang di hari Balimau merupakan pesta besar. Berbagai menu tersaji.

Setelah Zuhur, masyarakat menenteng rantang. Berisi aneka macam makanan dan juga limau. Rantang-rantang itu diantarkan ke sanak famili. Ternyata, Balimau tak sekadar urusan mandi. Melainkan juga mempererat tali silaturahmi.

Setelah Salat Asar, barulah para lelaki berbondong ke sungai. Mereka membawa ramuan Balimau untuk mandi. Di waktu yang sama, kaum perempuan juga mandi Balimau. Namun bukan di tempat umum. Melainkan di rumah masing-masing.

***

Balimau hanyalah satu di antara keunikan tradisi Nusantara menyambut Ramadan. Di Jawa, tradisi ini juga ada. Disebut dengan padusan. Masyarakat mendatangi sungai, kolam pemandian, dan juga pantai untuk mandi. Menyucikan diri menyambut bulan Puasa.

Tak hanya bersuci. Masyarakat Nusantara juga punya kebiasaan unik menjelang Ramadan. Di Semarang, ada “Dugderan”. Tradisi yang diambil dari suara “dug” dan “der.” Berasal dari suara bedug bertalu-talu dan gelegar meriam yang memekakkan telinga.

Tradisi Dugderan diawali oleh arak-arakan. Dari kantor Walikota Semarang menuju Masjid Kauman. Dalam iring-iringan itu, diaraklah patung kambing berkepala naga. Makhluk ini diyakini merupakan hasil perpaduan budaya Jawa dan China. Semarang memang didominasi oleh dua suku bangsa itu.

Saat arak-arakan tiba di Masjid Kauman, melalui pengeras suara, Walikota Semarang mengumumkan bahwa esok hari merupakan awal puasa. Setelah pengumuman itulah petugas menabuh bedug bertalu-talu. Disusul oleh gelegar meriam.

Dugderan pertama kali digelar pada 1881, sebagai bentuk komunikasi antara pemerintah dengan warganya dalam menetapkan awal puasa.

Sementara, bedug dan meriam, menjadi simbol penyatuan dua kebijakan, antara pemerintah dan ulama. Bedug ditabuh di area masjid, meriam berdentum di area kantor bupati. Bunyi kedua benda inilah yang menjadi pertanda sudah ada kesepakatan antara pemerintah dan ulama soal awal Ramadan.

Pemandangan unik juga terlihat di Banjarbaru, Kalimantan Selatan. Pada malam ke-21 bulan Ramadan, masyarakat di sana menggelar festival lampion atau yang dikenal dengan Tanglong. Biasanya, tradisi ini dihelat bersama Bagarakan, tradisi membangunkan orang sahur.

Tanglong diyakini ada sejak Islam masuk Banjarbaru. Dulu, warga karib dengan Badadamaran atau menyalakan lampu dari getah damar. Lampu-lampu ini biasanya dipajang di halaman dan pinggir jalan sejak malam ke-21 Ramadan hingga menjelang Lebaran.

Namun, sejak 25 tahun silam, tradisi itu mulai pudar. Apalagi pohon damar yang diambil getarnya untuk Dadamaran mulai langka. Warga kemudian menggantinya dengan pelita bersumbu kain yang diletakkan di botol atau kaleng bekas minuman. Tradisi ini pun berkembang. Bentuk pelita berkembang menjadi lampion aneka bentuk.

Sejak tahun 2000, Tanglong kemudian mulai dilombakan. Digelar bersamaan dengan Bagarakan Sahur. Berpawai keliling kota. Kedua tradisi ini menjadi momentum menciptakan keindahan dan kesejukan beragama. Selain itu juga memupuk silaturahmi.

Semakin tahun,  pola lampion yang ditampilkan dalam festival ini semakin beragam. Mulai burung hingga menyerupai Buraq, makhluk menyerupai kuda bersayap, yang diyakini sebagai tunggangan Nabi Muhammad saat Isra’ dan Mi’raj.

Masyarakat di Nusantara memang sangat kaya akan budaya. Tak jarang tradisi itu muncul dan mewarnai kehidupan beragama. Seperti tradisi Balimau, Dugderan, maupun Tanglong. Tradisi unik masyarakat lokal rupanya bisa hidup harmonis dengan agama. Berdampingan secara damai.

Sejarah Singkat Bedug di Nusantara

Main. Hampir seluruh masjid di Indonesia memiliki bedug, biasanya dipergunakan sesaat sebelum adzan untuk mengingatkan waktu shalat dan mengajak umat Islam shalat berjamaah di Masjid. Ada yang berpendapat, bedug terkait erat dengan budaya Tiongkok yang dibawa masuk ke masjid-masjid nusantara oleh Laksamana Cheng Ho yang kebetulan juga muslim. Namun, bila ditilik dari sisi sejarah, nenek moyang kita sudah mengenal nekara dan moko, semacam genderang untuk ritual minta hujan yang terbuat dari perunggu atau logam lainnya.


Kata bedug sendiri sudah disinggung dalam kidung Malat, karya sastra berisi cerita-cerita panji yang ditulis pada zaman Majapahit di abad 14-16 masehi. Disana disebutkan 2 macam bedug, yaitu bedug besar yang diberi nama tegteg dan bedug biasa. Pada masa itu bedug berfungsi sebagai alat komunikasi, penanda waktu dan pemberi peringatan. Menurut Cornelis de Houtman dalam D’Eerste Boek, penggunaan bedug sudah meluas pada abad ke-16. Ini dia saksikan sendiri saat ekspedisi ke Banten.


Bedug dapat disebut sebagai perwujudan akulturasi budaya lokal dengan Tiongkok, India dan Timur Tengah. Muktamar Nahdlatul Ulama (NU) ke-11 tahun 1936 di Banjarmasin, Kalimantan Selatan mengukuhkan penggunaan bedug dan kentongan sebagai bagian syiar Islam yang selama ini telah dirintis oleh para Wali Songo. Meskipun saat ini penggunaan bedug sudah mulai digerus gerakan modernisme Islam, namun di pelosok desa-desa muslim di seluruh nusantara sisa-sisanya masih banyak kita lihat. Sudah sepantasnya bedug sebagai warisan budaya kita lestarikan dan jaga bersama-sama.

Haji Hasan Pembawa Bedug Masjid dari Armada Cheng Ho 1414
14 Juli 2015 00:30:21Dibaca : 2,093
Haji Hasan Pembawa Bedug Masjid dari Armada Cheng Ho 1414

“Dug, dug, dug”.

Suara pukulan bedug yang kedengarannya menggema mantap dari kejauhan maupun kedekatan, merupakan suara yang melegakan hati setelah menjalani sehari puasa dimasa Ramadhan. Legendanya tambur besar yang merupakan alat tanda waktu magrib dan buka puasa disetiap masjid itu adalah bersama dengan Armada Tionghoa Ming yang dipimpin oleh Laksamana Mahmud Shamsuddin Cheng Ho dari Tiongkok datang di Nusantara, maka sampai sekarang bedug tersebut dikaitkan dengan jasa pengekspornya Cheng Ho bagi umat Islam Nusantara diabad 15 Masehi.

Disini sekedar membedah sejarah kejadian itu, bagaimana asal usulnya dan bagaimana juga kebenarannya.

Kita mulai dari menelusuri latar belakang Cheng Ho, keturunan Muslim yang menurut pandangan umum pantas sebagai pembawa bedug masjid tersebut, sebab Laksamana Armada Ming diabad 15, Mahmud Shams ed-Din Cheng Ho kelahiran didaerah Kunming Yunnan di barat daya Tiongkok yang eyangnya, Sayyid Ejjal Shams ed-Din Omar سید اجل شمس‌الدین عمر  (1211-1279), menurut Catatan Tartar, Shams ed-din merupakan warga Ahl al-Bayt dari keturunan keponakan dan anak menantu Rasullulah SAW, Ali ibn Abi Talib علي بن أبي طالب yaitu Khalifah Ar-Rashyidin (pemimpin pertama agama Islam) yang keempat dan terachir setelah Nabi Muhammad wafat.

Keluarga Shams ed-Din dipimpin oleh neneknya (Shams ed-Din Omar al-Bukhari) dan ayahnya (Kamal ed-Din) membawa pasukannya menyerah dan menggabungkan diri kepada Mongol Tartar sewaktu Genghis Khan menyerbu dan menumpas Khwarizmi Shah, dengan itu mereka dibawa dari Khwaresmi (sekarang Bukhara, Uzbekistan) sebagai tahanan perang oleh Genghis Khan ke Yanjing (sekarang Beijing, Tiongkok). Sayyid Ejjal mulai masuk dalam pemerintahan dan menjabat bendahara kerajaan Tartar pada tahun 1259, yang kemudian diusia tuanya dikirim ke Yunnan untuk menjabat gubernur di Yachi dibekas Kerajaan Dali yang baru dicakup oleh Tartar Kublai Khan pada tahun 1274. Sewaktu di Yunnan, Sayyid Ejjal meng-islamisasi sedikit-dikitnya sejuta penduduk bekas Kerajaan Dali tersebut yang kebanyakannya merupakan Tionghoa keturunan Semu (serba ragam orang asing Sogdiana dan Gujarati) yang berniaga teh dan sutra melalui Jalur Selatan. Kedudukan gubernur itu menurun sampai Melik Tekin (Haji Ma) ayahnya Mahmud Shams ed-Din Cheng Ho pembela sisa Tartar Pangeran Basalawarmi sebelum dimusnahkan oleh pasukan Ming, yang akibatnya Mahmud yang terlahir di Yunnan itu menjadi tawanan perang dan dijadikan kasim pengabdi Istana Ming di Nanjing, sewaktu beliau hanya berusia 10 tahun pada 1381.

Sebelum Sayyid Ejjal dianugrahi gelar Raja Dian-yang (Dian adalah nama kecil Yunnan dan ‘yang’ berarti utara) gubernur Yachi (Kunming, Yunnan) oleh Kublai Khan, pernah menjabat kepala daerah di Chang’an (sekarang Xi’an), bertahun-tahun disana beliau berjasa memperkembangkan ajaran Islam dan melestarikan salah satu masjid tua setempat yang didirikan ditahun 705, yaitu Masjid Gang Kaji Besar.

Xi’an merupakan salah satu kota tua yang sejak 2000 tahun lalu sudah menjadi ibukota Dinasti Han, dari sanalah terbukanya Jalur Perniagaan Karavan Unta yang dikemudian hari disebut Jalur Sutra diabad ke-2 Masehi. Xi’an mencapai puncak kemakmurannya sewaktu menjadi ibukota Dinasti Tang diabad 7 Masehi, merupakan metropolitan yang terbesar didunia dengan penduduk sedikit-dikitnya sejuta orang dan pusat perniagaan internasional dengan ratusan ribu pedagang Semu yang datang dari Barat melalui Jalur Sutra pada waktu itu. Disana didirikan dua pasar perdagangan, Pasar Timur disebelah timur Istana Tang memperdagangkan teh, sutra, ceramik dan lain-lain produk dalam negeri untuk diekspor dan, Pasar Barat disebelah barat Istana Tang merupakan pemukiman saudagar mancanegara dengan barang-barang impor mereka. Dengan demikian juga banyak masjid yang didirikan dibagian barat kota sejak masa itu, yang sekarang masih tersisa 7 masjid disana, diantaranya adalah Masjid Agung Xi’an yang tersohor dan Masjid Gang Kaji Besar yang akan diperhatikan disini.

Sekarang tiba pada masalah tambur besar dari Tiongkok yang menjadi bedug pemanggil shalat umat Islam di Nusantara itu. Pastinya bedug bukan penemuan atau ciptaan Tionghoa, sudah diketemukan keberadaan tambur dikebudayaan Mesopotamia (Irag) sekitar 6000 tahun lalu. Semula bedug merupakan alat tabuh pembangkit semangat serdadu dan tanda perintah penyerbuan diwaktu perang sejak purba kala, yang kemudian juga menjadi alat musik. Masuknya bedug di Tiongkok diperkirakan juga selama itu dijaman kebudayaan purba lebih dari 4500 tahun lalu, yang kemudian dari alat perang menjadi tanda pemberi waktu di-vihara setelah masuknya ajaran Buddhis dijaman Dinasti Han 2000 tahun lalu, sejak itu menjadi budaya Tionghoa yang membunyikan genta didini hari dan memukul bedug pada magrib.

Diatas telah disebutkan Pasar Timur dan Pasar Barat yang membelah Xi’an dijaman Tang. Sejak zaman itu sudah dibangun gerdu pemberi tanda waktu kota didepan Istana Tang yang terletak dipertengahan kota Xi’an, pukul genta didini hari dan pukul bedug pada senja hari. Namun setelah jatuhnya Tang dan ratusan tahun kemudian, melalui kerusakan total kota Semula Xi’an oleh serbuan Tartar diabad 12, meskipun sudah ada pembangunan kembali oleh Sayyid Ejjal Shams ed-Din sewaktu berdinas disana pada abad 13, tidak juga dibangun kembali gerdu tambur itu, sampai 13 tahun setelah berdirinya Dinasti Ming diabad 14, pada tahun 1380, ditengah kota Xi’an bekas situs Istana Tang itu dibangunlah Gerdu Tambur Besar baru untuk pemberi tanda waktu kota yang masih berdiri disana sampai hari ini. Cheng Ho kebetulan bersinggah di Xi’an dalam rangka tilik asal leluhurnya pada tahun 1412, dan Tambur Besar Xi’an tersebut menjadi prototipe bedug dimasjid Nusantara.

Ada diceritakan bahwa datangnya bedug bersama Armada Cheng Ho. Asal usul adanya pelayaran Cheng Ho bisa diceritakan sebagai berikut. Setelah Kaisar Ming Yongle berhasil kudeta merebut tahta dari keponakannya ditahun 1402, memerintahkan pembentukan armada militer raksasa untuk memerangi sisa Mongol Tartar yang bangkit sebagai kekuatan Timur di India, juga dengan misi memburu mantan Kaisar Jian-wen yang berhasil lolos ke-Hormuz setelah tahtanya direbut. Armada Ming tersebut dipercayakan kepada tiga laksamana sarbon yang di-Sinisasi-kan ‘Sam Po’ (Cheng Ho, Ong Khing Hong dan Ho Sian) sebagai duta besar Ming, yang diantaranya Sam Po Cheng Ho yang diutus sebagai ‘Wali Kaisar’ untuk memimpinnya, dengan demikian Armada ‘Penjelajah Lautan Asing’ Ming tersebut pada umumnya dikenal sebagai Armada Cheng Ho dikemudian hari. Segera armada dibentuk pada tahun 1402, Cheng Ho diutus membawa armadanya ke Jepang supaya Shogun menanggulangi masalah perompak Ronin yang selama itu merongrong pesisir Tiongkok, dan pada tahun selanjutnya 1403, Cheng Ho berlayar menuju Siam (Thailand) untuk percobaan sebelum Pelayaran Perdana ke Lautan Barat (Lautan Hindia dibaratnya Kerajaan Lambri, Aceh) pada tanggal 11 Juli 1405, armada tersebut achirnya dibubarkan pada tahun 1434 setahun setelah Cheng Ho meninggal dunia. Dari 1402-1434 keseluruhan pelayaran Armada Ming tersebut sebanyak 11 kali, diantaranya 9 kali dipimpin Cheng Ho disertai dua Sam Po lainnya, dan 2 kali dipimpin oleh Sam Po lain tanpa Cheng Ho. Masih banyak pelayaran rombongan detasemen yang belum jelas perinciannya seperti yang pernah menuju Luzon, Brunei, Mecca, Mogadishu dan lain-lain, mungkin juga ada yang menyasar sampai di Australia, Eropah Barat maupun suatu tempat disebelah timur Benua Amerika, sebelum Columbus.

Sejak Cheng Ho diberi kuasa untuk berlayar ke Hormuz, walau sudah berlayar tiga kali, sejauh armada mencapai hanya di Sri Langka. Sekembalinya Cheng Ho dari pelayaran ke-3 (1409-1411), segera diperintahkan lagi oleh Kaisar yang tidak puas untuk mempersiapkan armada yang lebih besar demi menyelesaikan misinya. Dalam waktu dua tahun mempersiapkannya, selain membentuk armada yang sekali-kalinya terbesar, juga perlu mencari ahli paham kebudayaan Timur Tengah dan mahir bahasa Arab sebagai pandu pelayaran ke-4-nya, dan Cheng Ho menemukannya calon itu di Xi’an setelah gagal mencarinya dimana-mana.

Karena mengetahui asal dari mana eyangnya, memerlukan Cheng Ho tilik leluhur di Xi’an. Sekalian Cheng Ho mencari pandunya disana dengan mengumpulkan banyak umat Islam Xi’an di Masjid Agung pada tahun 1412. Pilih punya pilih achirnya mengenal Kyai Haji Hasan, sang ustad dari Masjid Gang Kaji Besar yang pernah dilestarikan oleh eyang Sayyid Ejjal tersebut. Hasan yang ternyata mahir aneka bahasa selain Arab, pernah tinggal di Sri Langka dan juga sudah naik Haji seperti ayah dan kakek Cheng Ho sendiri. Berhari-hari Cheng Ho mendapat pencerahan Islam darinya, sehingga dalam waktu singkat bisa mengenalnya secara mendalam, selain sangat cerdas dan luas pengetahuannya, berbudi luhur juga berkepribadian tegas yang mantap diambil sebagai penasehat kepercayaannya dan patut diangkat Wakil Duta menuju Hormuz ditahun 1413.

Sewaktu armada melintasi Selat Malaka, menyadari nilai strategis Malaka dalam lintas perniagaan Jalur Sutra Maritim, Hasan menganjurkan Cheng Ho membangun benteng depot untuk kepentingan armada berteduh ditengah perjalanan, walaupun setelahnya dijajah oleh Portugis, sampai sekarang masih ada bekas situs Sam Po tersebut disana. Sewaktu mencapai Negara Kotte (Colombo, Sri Langka), Hasan yang sedang diutus menghadap Raja Parapramabahu VI, karena paham bahasa Tamil, bisa mencium komplotan Patih Alagakkonara yang menggerakkan pasukan hendak merampok Kapal Pusaka, Hasan memimpin pasukan dengan menyamar sebagai orang Arab menerobos dan menyulutkan api membakar kota dibelakang musuh, dengan mengepung dari muka-belakang berhasil menangkap Patih tersebut dan dibawa kembali ke Nanjing, namun dikembalikan lagi setelah diberi amnesti Kaisar Yongle.

Ternyata Haji Hasan memegang peran utama dalam pelayaran ini, selain sangat diperlukan untuk memimpin shalat dan menegakkan peradatan Islam disepanjang pelayaran dalam armada yang disertai 27600 anak kapal dan serdadu yang kebanyakannya Muslim, juga atas ketegasan mengambil keputusan dan kecerdasan memberi siasat perang, Hasan berjasa menyelamatkan Cheng Ho dan armadanya dari ancaman bahaya selama 11 bulan pelayaran tersebut, dari Nopember 1413 hingga Agustus 1415.

Armada sudah hampir mencapai pangkalnya di Malaka dalam pelayaran kembali dari Hormuz, sekonyong-konyong dihantam badai dahsyat dipertengahan Selat yang hampir menggulingkan kapal-kapalnya, pada saat yang genting dan kalut begitu, terlihat Haji Hasan tenang bersujut menyanyikan tartil Al-Qur’an dengan suara yang menggema keatas langit, konon tidak lama kemudian topan lewat, langit cerah dan permukaan laut kembali tenang, dan seluruh armada mendapat keselamatan karenanya. Allahu Akhbar الله أكبر .

Bila demikian, apakah memangnya Cheng Ho yang memimpin armadanya itu memperkenalkan kebudayaan pukul bedug dimasjid? Hal ini perlu kita kaji lebih lanjut yang kemungkinannya, betul meragukan. Mahmud Shams ed-Din yang sudah menjadi kasim sejak usia 10 tahun, meskipun dirinya keturunan Muslim tetapi beliau dibesarkan didalam Istana Tionghoa Ming yang senantiasa bernuansa condong Buddhisme dan Taoisme, maka dalam hidupnya berkejauhan dengan ajaran Islam dan tidak pernah naik Haji. Sewaktu armada tiba di Nusantara, juru tulisnya mencatat sudah banyak umat Islam bermukim di Palembang, Gresik, Malaka dan Lambri, dengan itu sukar dipercaya bahwa Cheng Ho pernah akan berpengaruh dalam pembawaan maupun penyebaran Islam di Nusantara. Dengan kebiasaan tulisan para cendekiawan yang selama ini menjunjung tinggi beliau, senantiasa meng-kredit-kan segala jasa Armada pada Cheng Ho seorang, tidak pernah mengemukakan tokoh-tokoh yang disampingnya, seperti Kyai Haji Hasan, ustad Masjid Gang Kaji Besar Xi’an dan penegak adat Islam disepanjang pelayaran ke-4 Armada Cheng Ho, boleh jadi Haji Hasan yang sesungguhnya pembawa bedug dari dipukul memanggil shalat jemaah Muslim maupun buka puasa dalam Armada yang kemudian masuk kedalam masjid, dan berperan penyebar dini Islam yang tiba di Nusantara pada tahun 1414.

Sekembalinya Haji Hasan dengan Cheng Ho menghadap Kaisar Yongle, beliau dihargai tinggi dalam jasa memperkembangkan hubungan diplomatik dan perekonomian disepanjang pelayaran itu, juga berulang kali keajaiban menyelamatkan armada, maka hendak dianugrahi banyak hadiah dan kedudukan tinggi dipemerintahan oleh Kaisar, tetapi semua ditolak hanya satu permohonannya kepada Kaisar supaya membantu melestarikan lagi Masjid Gang Kaji Besar yang selama ini sudah banyak rusaknya. Kaisar memujudkan harapannya dengan mengeluarkan dana besar dan memerintahkan Cheng Ho pribadi untuk melaksanakan proyek pembaharuan dan perluasan Masjid yang sampai tampaknya seperti sekarang ini.

Tidak banyak peninggalan catatan mengenai Haji Hasan diluar Kampung Muslim Xi’an, karena Hasan hanya sekali saja menyertai Cheng Ho dalam pelayaran ke-4 itu, segera kembali Xi’an beliau meneruskan tugas ustad-nya di Masjid Gang Kaji. Hanya Cheng Ho menegakkan sebuah batu prasasti dwi-bahasa Mandarin dan Arab yang mencatat jasa Hasan di-Masjid di Gang Kaji Besar (Da-xue-xi Xiang), Kampung Muslim Xi’an.

Memperingati 610 tahun Pelayaran Cheng Ho.

Monterey Park, 11 Juli 2015.

Selasa, 03 Desember 2013

Warisan Budaya Bercorak Islam

Abad ke-15 dan ke-17 merupakan masa puncak perkembangan pengaruh Islam di Indonesia. Pe-ngaruh itu tidak saja berlangsung dalam bidang religi (agama), tetapi juga dalam bidang politik dan sosial-budaya. Perkembangan pengaruh Islam di Indonesia dapat kita ketahui dari berbagai pening-galan sejarah bercorak Islam, seperti masjid, kera-ton, nisan, kaligrafi, dan karya sastra.

  1. Masjid

Masjid-masjid kuno di Indonesia bentuknya masih menunjukkan gaya Indonesia asli. Atapnya menggunakan atap tumpang (bersusun) yang jum-lahnya tiga atau lima susun, seperti terdapat pada Masjid Demak, Masjid Sendang Duwur, Masjid Agung Banten, Masjid Agung Palembang, dan Masjid Baiturrahman di Aceh. Sebagian masjid-masjid kuno di Jawa dilengkapi gapura seperti yang ada pada keraton atau candi. Bahkan, menara Mas-jid Sunan Kudus yang dibangun pada abad ke-16 bentuknya menyerupai Candi Langgam di Jawa Timur. Dengan demikian, pengaruh Hindu pada tem-pat peribadatan Islam tetap ada. Hal itu bisa terjadi karena beberapa kemungkinan, Pengaruh itu disengaja, agar para pemeluk Is-lam tingkat pemula tidak terlalu asing dengan tempat ibadat yang baru. Karena teknik membuat bangunan yang diku-asai hanya warisan dari ajaran Hindu.

Masjid yang berada di Indonesia biasanya di-lengkapi dengan bedug dan kentongan. Kedua alat ini adalah warisan budaya nenek moyang dari zaman prasejarah. Pada masa itu, bedug dan ken-tongan digunakan sebagai alat panggil masyarakat. Misalnya, saat kepala suku menginginkan rak-yatnya berkumpul atau orang tua menginginkan anaknya yang di sawah agar segera pulang.

Pada mulanya, masjid di Indonesia tidak dilengkapi dengan menara. Suara adzan yang dikumandangkan jangkauannya sangat terbatas. Se-mentara itu, banyak warga yang bekerja jauh dari tempat tinggalnya, misalnya di sawah atau di ladang. Untuk mengatasi hal itu dipakailah bedug dan kentongan. Biasanya alat ini dibunyikan lebih dahulu, baru kemudian dikumandangkan adzan.

  1. Keraton

Keraton artinya tempat tinggal ratu atau raja. Dari tempat tinggalnya itu, seorang ratu atau raja mengendalikan roda pemerintahan kerajaan. Jadi, keraton adalah pusat pemerintahan. Rumah atau bangunan tempat tinggal raja disebut istana. Seni bangunan masjid dan keraton di Indone-sia mempunyai ciri khusus yang berbeda dengan bentuk arsitektur di negara Islam lain. Hal itu bisa terjadi karena yang membuat bangunan terse-but adalah bangsa Indonesia sendiri. Disamping memeluk agama Islam, mereka juga masih dise-mangati oleh kebudayaan tradisional. Jadi, seni bangunan berupa masjid dan keraton merupakan perpaduan antara kebudayaan tradisional dan ke-budayaan Islam.

Di berbagai daerah di Indonesia banyak istana peninggalan zaman Islam, seperti Istana Maimun (Deli), Istana Sultan Riau Lingga, Istana Sultan Ter-nate, Istana Pagaruyung (Sumatera Barat), Keraton Cirebon, Keraton Surakarta, Keraton Yogyakarta, Istana Mangkunegaran, dan Istana Raja Gowa.

  1. Nisan dan kompleks makam

Nisan adalah batu atau kayu yang terdapat pada makam dan berfungsi sebagai tanda kubur. Pada batu nisan peninggalan Islam ada hiasan ukir-ukiran dan kaligrafi. Bentuk nisan ada yang seder-hana dan ada yang diukir dengan pahatan sangat indah. Pada bagian depan nisan dipahatkan tulisan dengan huruf Arab. Tulisan-tulisan pada batu ni-san biasanya menerangkan tahun wafat dan riwa-yat singkat orang yang dimakamkan. Batu-batu nisan peninggalan sejarah Islam di In-donesia antara lain adalah: nisan makam Fatimah binti Maimun di desa Leran (Gresik), nisan Malik al-Saleh di Lhokseumawe (Aceh), nisan Ratu Nahrasiyah di Sam-udera Pasai, nisan Maulana Malik Ibrahim di Gresik, batu nisan di Troloyo (Jawa Timur).

  1. Seni Kaligrafi

Kaligrafiatau Khot adalah menulis indah dan disusun dalam aneka bentuk menarik dengan meng-gunakan bahasa Arab. Dalam dunia Islam, kaligrafiterdiri atas petikan ayat-ayat suci Al Qur’an. Ben-tuknya beraneka macam, dari yang sederhana, ber-bentuk tulisan mendatar, sampai bentuk yang rumit seperti sebuah lingkaran, segitiga atau mem-bentuk suatu bangun tertentu seperti masjid.Seni kaligrafiIslam berkembang pesat karena agama Islam melarang melukis makhluk hidup se-hingga para pelukis Islam mencurahkan bakat lukisannya pada seni kaligrafi. Beraneka ragam hias kaligrafi dapat kita temukan pada dinding masjid, keramik, keris, batu nisan, dan berbagai hiasan di rumah-rumah.

  1. Karya sastra

Dalam dunia Islam sastra mendapat tempat yang terhormat. Ini berkaitan dengan tradisi tulis-menulis yang dijunjung tinggi masyarakat Islam. Peninggalan karya sastra yang bercorak Islam di Indonesia mengambil bentuk hikayat, suluk, syair, kitab sejarah, ajaran agama, dan sejarah.Contoh karya sastra berbentuk hikayat adalah Hikayat Hamzah, Hikayat Jauhar Manikam, Hikayat Hang Tuah, dan Hikayat Raja-raja Pasai.Kitab Suluk contohnya Syair Perahudan Syair Si Burung Pingai (Hamzah Fansuri), Suluk Wijil(Sunan Bonang),Suluk Suka Rasa, dan Suluk Kaderesan.Contoh karya sastra yang berbentuk syair, misalnya: Syair Abdul Muluk, Gurindam Dua Belas.

Contoh karya sastra yang berbentuk sejarah adalah Sejarah Melayukarya Tun Muhammad. Contoh karya sastra berisi ajaran agama ada-lah Tajus Salatinatau Mahkota Segala Rajakarya Bu-khari al Jauharidari Aceh, tahun 1603 M.Contoh karya sastra yang mencampur unsur sejarah dan ajaran agama Islam misalnya kitab Bus-tanus Salatina, karya Nuruddin ar-Raniri. Contoh karya-karya sastra peninggalan Islam berupa surat menyurat dan dokumen kerajaan, misalnya: Adat Mahkota Alam karya Sultan Iskandar Muda,Kitab Salokantara karya Sultan Trenggana

Diposkan oleh Muhammad abdul aziz di 09.16

 Tadarus Warna-Warni Pemikiran Islam Nusantara

Oleh: M. Rikza Chamami, MSI

Mencari Islam original hari ini sama halnya mencari intan berlian di dasar lautan. Islam yang ada hari ini adalah ijtihad Islam original yang disampaikan oleh Nabi Muhammad. Namun demikian, bukan berarti Islam yang ada hari ini bukan original. Islam tetap original sebagai sebuah ajaran suci dan agama yang memberikan pengayoman dunia dan akhirat. Sedang umatnya melakukan ijtihad mencari originalitas agamanya.

Yang perlu dibahas dalam paper singkat ini adalah sebuah definisi makro tentang Islam. Penulis merasa memiliki tanggung jawab untuk ikut memberikan penjelasan akademik terhadap respon pemikiran Islam. Pendapat “Islam ya Islam” tidak ada embel-embel, bukanlah salah. Definisi itu adalah sunnatullah. Sebab itu pendapat yang didasari atas argumentasi yang kuat menurut keyakinannya.

Di sisi lain, pendapat yang menyebutkan bahwa Islam masih butuh embel-embel. Seperti Islam Nusantara, Islam Jawa, Islam rahmatan lil ‘alamin, Islam toleran dan lain-lain. Pendapat demikian juga punya dasar argumentasi, bahwa embel-embel itu sebagai pelengkap dan penjelas atas luasnya makna Islam. Sama dengan istilah kopi. Ada kopi tubruk, kopi item, kopi susu dan kopi-kopi lainnya.

Dalam kajian Islamic studies (dirasah islamiyyah) selalu dibahas Islam normatif dan Islam historis. Perbedaan pandangan antara dua pendapat di atas merupakan aplikasi dari pemahaman dua model kajian Islam itu. Islam normatif hadir memberi jawaban Islam original, sesuai aturan dan sangat syar’i sehingga Islam ya Islam (tidak butuh embel-embel). Sedangkan Islam historis adalah realitas Islam yang melalui perjalanan sejarah, maka lahir istilah Islam Nusantara, Islam Jawa, Islam rahmatan lil ‘alamin dan lainnya.

Penulis masih ingat betul ketika mengambil mata kuliah Metodologi Studi Islam di Program Doktor UIN Walisongo. Mata kuliah yang fantastis ini diajar oleh Prof Dr H Mujiyono MA, seorang guru besar fiqh lingkungan dan aktivis Muhammadiyah. Begitu luasnya pemahaman yang membuat penulis tercengang dalam memahami Islam. Walau pun organisasi Muhammadiyah yang dianutnya, ia tak segan membuka wawasan terhadap semua ajaran dan keanekaragaman Islam. Sebab itu adalah realitas Islam di Indonesia.

Satu buku tebal 571 halaman karya Abuddin Nata berjudul Studi Islam Komprehensif tak boleh lepas untuk dibaca. Abuddin Nata (2011) menyebutkan ada dinamika pemikiran Islam yang sangat dinamis muncul. Sehingga Islam yang lahir dalam dataran empiris ada 31 warna-warni, antara lain: Islam normatif, Islam ideologis, Islam politik, Islam formalistis, Islam dogmatis, Islam ekslusif, Islam tekstualis-literalis, Islam radikal, Islam fundamentalis, Islam tradisionalis, Islam historis dan kultural, Islam rasional dan intelektual.

Warna-warni lainnya adalah: Islam substantif, Islam moderat, Islam humanis, Islam transformatif, Islam nusantara, Islam dinamis, Islam aktual, Islam reformis, Islam alternatif, Islam interpretatif, Islam inklusif-pluralis, Islam modernis, Islam kosmopolitan, Islam esoteris, Islam liberal, Islam warna-warni, Islamku Islam Anda dan Islam kita, Islam mazhab HMI dan Islam rahmatan lil alamin.

Dengan demikian, cukup tegas bahwa Islam dengan embel-embel bukan “agama” baru dan bukan “ijtihad baru, melainkan dinamika pemikiran yang berkembang dalam merespon keberislaman. Alhasil, jika ini yang dimaksudkan, maka melihat Islam sebagai agama dengan Islam sebagai pemikiran juga terjadi perbedaan.

Islam sebagai agama selalu dilihat dengan kacamata doktrin ketuhanan. Doktrin ketuhanan ini yang melahirkan kebenaran mutlak. Saking yakinnya dengan kemutlakan kebenaran dimaksud, semua orang terkadang berubah wujud menjadi “tuhan-tuhan” kecil yang menyebut ini kebenaran dan itu kesalahan. Kebenaran manusia (yang disebut kebenaran Tuhan) tadi itu yang membuat awal dari pintu masuk perbedaan. Oleh sebab itu, Islam normatif ternyata juga melahirnya persepsi beda dalam sisi agama.

Oleh sebab itu, Nabi Muhammad telah memberikan orientasi matang di dalam melihat agama. Bahwa agama adalah keyakinan yang harus didialogkan. Keyakinan orang terhadap Islam, Allah, Nabi dan Al Qur’an sebagai kitab suci merupakan tanggung jawab individu.

Dan isi dari ajaran Islam itu kemudian menjadi tanggung jawab sosial yang perlu didialogkan. Dalam dialog (sebut saja dialog teologi) inilah lahir fanatisme. Tinggal siapa yang mengajarkan fanatisme ini. Jika yang melatih fanatis adalah anti dialog, maka lahir ilmu itu. Tapi jika belajar fanatisme dengan cara dialogis, maka lahir dialog teologi (bukan tukar menukar teologi/keimanan).

Sebagai pemikiran, Islam tentu saja lahir dengan beragam pola pikir. Jelas saja, namanya juga pemikiran. Jadi pikiran satu dengan yang lainnya berbeda-beda. Untuk membuat identitas pemikiran itu, maka muncul penamaan-penamaan yang ada setelah kata Islam. Apapun namanya, itulah identitas (entah disebut identitas ideologi, budaya, kelompok atau apapun) yang jelas untuk membuat orang semakin bermana.

Sebab nama itu sangat penting. Sama halnya, santri ketika belajar Alfiyyah Ibnu Malik bab ‘alam: Ismun yu’ayyinul musamma muthlaqa, ‘alamuhu kaja’farin wa hirniqa. Bahwa nama itu hal yang sangat mutlak disandarkan pada yang diberi nama. Memang agak kaget, ketika Islam yang sebegitu suci kok kemudian disempitkan dengan identitas sosiologis. Namun akan tidak jadi aneh kalau kita mau melihat Islam itu adalah Islam empirik, Islam bumi dan Islam nyata di dunia.

Batasan Islam sebagai pemikiran ini nampaknya tidak bisa dibendung. Akan lahir ribuan istilah yang tentang Islam. Termasuk ada Islam negeri dan Islam swasta—sebagai simbolisasi Islam versi negara dan Islam versi sipil. Maka, dapat diambil benang merah, bahwa keanekaragaman Islam Nusantara (Indonesia) adalah rahmat Tuhan. Dan ini menjadi bukti, bahwa kajian keislaman masih sangat menarik untuk didialogkan.

Yang paling penting dipegang adalah, jika mendialogkan Islam sebagai pemikiran perlu pikiran yang jernih dan tidak boleh emosi. Sebab ini adalah bagian dari kajian pemikiran yang menggunakan akal—bukan menggonakan okol (kekuatan emosi dengan pukulan). Akan lebih menarik jika kajian-kajian semacam ini menghadirkan khazanah-khazanah khas pesantren yang cukup unik dengan siraman Kiai-Kiai. []

Dosen FITK, Mahasiswa Program Doktor Islamic Studies UIN Walisongo dan Mantan Pjs Ketua Umum PP IPNU


http://harian-oftheday.blogspot.com/

“…menyembah yang maha esa,
menghormati yang lebih tua,
menyayangi yang lebih muda,
mengasihi sesama…”
__._,_.___
Posted by: Ananto <pratikno.ananto@gmail.com>

Dakwah Islam Nusantara

Oleh: Abdul Moqsith Ghazali

[image: Inline image 1]

Islam masuk ke Nusantara tak menghancurkan seluruh kebudayaan masyarakat.
Wali Songo mendakwahkan Islam bahkan dengan menggunakan strategi
kebudayaan. Dalam beberapa kasus, Islam justru mengakomodasi budaya yang
sedang berjalan di masyarakat Nusantara. Tradisi sesajen yang sudah
berlangsung lama dibiarkan berjalan untuk selanjutnya diberi makna baru.

Sesajen dimaknai sebagai bentuk kepedulian kepada sesama bukan sebagai
pemberian terhadap dewa. Begitu juga tradisi nyadran dengan mengalirkan
satu kerbau ke pantai Jawa tak dihancurkan, melainkan diubahnya hanya
dengan membuang kepala kerbau atau kepala sapi ke laut. Nyadran tak lagi
dimaknai sebagai persembahan pada dewa, melainkan sebagai wujud syukur
kepada Allah. Hasil bumi yang terhidang dalam upacara tak ikut dilarungkan
ke laut, tapi dibagi ke penduduk.

Dalam menyampaikan ajaran Islam Wali Songo menggunakan cara-cara persuasif
bukan konfrontatif. Anasir-anasir Arab yang tak menjadi bagian dari ajaran
Islam tak dipaksakan untuk diterapkan. Sunan Kudus membangun mesjid dengan
menara menyerupai candi atau pura. Memodifikasi konsep “Meru” Hindu-Budha,
Sunan Kalijogo membangun ranggon atau atap mesjid dengan tiga susun yang
menurut KH Abdurrahman Wahid untuk melambangkan tiga tahap keberagamaan
seorang muslim, yaitu iman, islam, dan ihsan. Ini kearifan dan cara ulama
dalam memanifeskan Islam sehingga umat Islam tetap bisa ber-Islam tanpa
tercerabut dari akar tradisi mereka sendiri.

Para Wali tak ragu meminjam perangkat-perangkat budaya sebagai perangkat
dakwah. Sunan Kalijogo menggunakan Wayang Kulit sebagai media dakwah. Ia
memasukkan kalimat syahadat dalam dunia pewayangan. Doa-doa,
mantera-mantera, jampi-jampi yang biasanya berbahasa Jawa ditutupnya dengan
bacaan dua kalimat syahadat. Dengan cara ini, kalimah syahadat menjelma di
hampir semua mantera-mantera yang populer di masyarakat.

Itu cara dakwah yang ditempuh para ulama Nusantara yang ternyata efektif
dalam mengubah masyarakat. Dalam berdakwah, para ulama Nusantara sempurna
mengamalkan firman Allah, ud`u ila sabili rabbika bil hikmah wal
maw`idhatil hasanah wa jadilhum billati hiya ahsan. Jika dakwah dengan
jalan hikmah dan mau`idhah hasanah tak menghasilkan perubahan, maka jalan
dialog yang dilakukan, bukan pentungan dan pedang yang dihunjamkan.

Dengan cara dan strategi dakwah yang demikian, Islam dianut banyak orang.
Islam memang masuk ke Indonesia sejak abad ke 13, tapi kenyataannya Islam
betul-betul dipilih warga Nusantara secara luas baru pada periode Wali
Songo. Ini berkah dari dakwah penuh perdamaian para ulama. Jawa bisa
diislamkan tanpa pertumpahan darah. Begitu juga dengan dakwah damai yang
dilakukan para ulama Nusantara lain di Sumatera bagian utara, Kalimantan,
Maluku, dan lain-lain bahkan hingga ke Melaka.

Cara-cara persuasif para ulama Nusantara dalam menyiarkan Islam tersebut,
kini menjadi “trademark” Islam Nusantara, yaitu Islam yang sanggup
berdialektika dengan kebudayaan masyarakat. Ajaran-ajaran Islam bisa
diserap masyarakat tanpa menumbangkan basis-basis tradisi masyarakat.
Hubungan Islam dan kebudayaan Nusantara adalah ‘alaqah jadaliyah (hubungan
dialektik) bukan ‘alaqah ikhdha’ (hubungan penundukan-subordinatif) oleh
satu pihak pada pihak lain. Islam Nusantara lebih mendahulukan cara-cara
persuasi daripada konfrontasi, lebih mengutamakan jalan damai ketimbang
jalan perang walau dalam beberapa kasus perang tak terhindarkan terutama
sejak kaum penjajah merampas kedaulatan Nusantara.

Di tengah kecenderungan sebagian umat Islam untuk mendakwahkan Islam dengan
jalan kekerasan, maka “jalan damai Islam” yang fondasinya telah diletakkan
para ulama Nusantara bisa dijadikan solusi untuk menyelesaikan konflik dan
ketegangan.

Harapannya, melalui jalan damai ini kemajuan di berbagai aspek kehidupan
bisa dicapai. Bukankah dalam suasana damai, umat Islam bisa bekerja lebih
produktif dengan mengembangkan ilmu pengetahuan, memperbaiki pereokonomian
umat, dan lain-lain. Sebaliknya, dalam kekerasan yang tak berkesudahan,
energi umat Islam akan terkuras untuk pekerjaan yang tak banyak gunanya
bagi kepentingan izzul Islam wal muslimin, izzu Nusantara wa nusantariyyin,
izzu Indonesia wa indunisiyyin. []

Abdul Moqsith Ghazali, dosen pascasarjana Islam Nusantara STAINU Jakarta.


http://harian-oftheday.blogspot.com/

“…menyembah yang maha esa,
menghormati yang lebih tua,
menyayangi yang lebih muda,
mengasihi sesama…”

[Non-text portions of this message have been removed]

__._,_.___

Posted by: Ananto <pratikno.ananto@gmail.com>

Nasionalis 45
14
Jul
15

Kenegarawanan : Indonesia Inspirator Peradaban Dunia

Indonesia Inspirator Peradaban Dunia
Selasa, 14 Juli 2015 – 00:12 WIB

Suara Pembaca:
Indonesia Inspirator Peradaban Dunia

Lebaran 1436 H kali ini terasa istimewa, bangsa Indonesia diberkahi sambutan simpatik dari para cendekiawan lintas bangsa tentang gagasan Islam Nusantara, sebagaimana dapat dikutip dari situs VOA Indonesia, bertempat di PBB, New York, Amerika lewat diskusi publik membahas wajah Islam moderat di Indonesia, Selasa (7/7/2015) waktu setempat. Diskusi publik ini digagas oleh perwakilan tetap Indonesia di PBB, diikuti oleh pemuka agama, pengamat, diplomat, serta tokoh masyarakat.

Tercatat, Dr. James B. Hoesterey dari Universitas Emory di Atlanta, Georgia yang menganggap Islam Nusantara sebagai gagasan yang layak dicontoh oleh dunia internasional. “Sebagai seorang antropolog yang sudah lama melakukan penelitian di Indonesia, saya senang bahwa dunia luar dan wakil-wakil serta duta besar dari negara masing-masing dapat mendengarkan sedikit lebih dalam mengenai Islam di Indonesia yang mungkin tidak sama dengan Islam di negara mereka, misalkan Arab Saudi. Kalau kita lihat ke depan, mungkin Indonesia bias menjadi contoh,” kata Dr. James.

Demikian juga Dr. Chiara Formichi, pakar sejarah Islam di Indonesia dari Universitas Cornell di Ithaca, New York, mengatakan banyak pelajaran yang bisa dipetik dari Islam di Indonesia. “Gagasan Islam Nusantara sangat erat dengan budaya dan sejarah Indonesia. Saya tidak tahu bisa diterapkan di negara lain atau tidak, tetapi yang jelas bisa menjadi contoh untuk mengerti mengapa seseorang memeluk Islam,” katanya.

Peristiwa bersejarah ini seperti mengulang peristiwa Bung Karno berpidato To Build The World A New, 30 September 1960 ditempat yang sama, yang tercatat menginspirasi dunia dengan gagasan Pancasila yakni Belief in God, Humanity, Nationalism, Democracy, Social Justice.

Pendapat para cendekiawan Barat itu patut dicermati bahkan disyukuri mengingat dari pengalaman empiris, Politik Etis produk pikir cendekiawan Belanda yang dikiprahkan penjajah Hindia Belanda pada akhir abad 19 pasca penikmatan sumber daya muka bumi Indonesia sejak 1870, kemudian berbuah keberdayaan masyarakat negara jajahan Indonesia dapat lebih memaknai kedaulatan nasionalnya sehingga bangkit sejak 1908 menuju Indonesia Merdeka 17 Agustus 1945. Dan kini adalah saat tepat bagi Negara-negara kreditor yang telah menikmati sumber-sumber daya alam Indonesia sejak 1967 untuk ber “politik etis abad-21″ misal antara lain dengan aksi penghapusan transaksi utang piutang sebagian bahkan se-banyak2nya demi harmonisasi lintas bangsa di dunia.

Bagaimanapun gagsan-gagasan besar seperti Konperensi Asia Afrika, Negara Kepulauan Republik Indonesia, dan kini tentang Poros Maritim, diakui adalah produk pikir strategik bangsa besar Indonesia yang telah dan akan berdampak inspiratif terbaik bagi peradaban dunia.

Jakarta, 13 Juli 2015

Pandji R Hadinoto, Kerabat 45
Pembudaya Jiwa Semangat Nilai-nilai 45
Pengamal Pancasila Tap MPRRI XVIII/1998
Editor www.jakarta45.wordpress.com

BERITA LAINNYA

Sumber Berita: http://www.edisinews.com


http://edisinews.com/berita-indonesia-inspirator-peradaban-dunia.html#ixzz3fq6PIxGT

 Empat Temuan Ini Disebut Peradaban Dunia Berasal Dari Indonesia
Reporter : Pandasurya Wijaya | Jumat, 3 April 2015 08:02
Empat temuan ini sebut peradaban dunia berasal dari Indonesia

gunung padang. disparbudjabar.go.id

Merdeka.com – Pada Oktober 2010 lalu Indonesia kedatangan seorang ahli genetika dan struktur DNA manusia dari Universitas Oxford, Inggris. Dia adalah Stephen Oppenheimer.

Lewat bukunya yang merupakan catatan perjalanan penelitian genetis populasi di dunia, ia mengungkapkan bahwa peradaban yang ada sesungguhnya berasal dari Timur, khususnya Asia Tenggara.

Sejarah selama ini mencatat bahwa induk peradaban manusia modern itu berasal dari Mesir, Mediterania dan Mesopotamia.

Tetapi, menurut dia, nenek moyang dari induk peradaban manusia modern berasal dari tanah Melayu yang sering disebut dengan Sundaland atau Indonesia.

Apa buktinya? Peradaban agrikultur Indonesia lebih dulu ada dari peradaban agrikultur lain di dunia, kata Oppenheimer dalam diskusi di Gedung LIPI, Jakarta, ketika itu.

Pernyataan dia seolah mendukung sejumlah teori yang menyatakan beberapa temuan di Indonesia menjadi tonggak dari peradaban dunia.

Apa saja temuan-temuan itu? Simak ulasannya berikut ini.

Mulai dari :Benua Atlantis

Sejarah Budaya & Peradaban “Tatar Sunda”: (Sunda Land) Saampareun Jagat ( Dok SALAKANAGARA)

Oleh : Ahmad Yanuana Samantho, S.IP, MA

Pengantar

Era Globalisasi saat ini telah menggiring banyak bangsa dan kelompok warga dunia untuk menerima begitu saja nilai-nilai pandangan dunia dan budaya serta gaya hidup dari negara-bangsa pemenang Perang Dunia II (Barat: Amerika & Eropa) yang ditunjang oleh perkembangan sains dan teknologi.

Namun kemilau kemajuan material dan kesejahteraan ekonomi yang dijanjikan oleh peradaban moderen Barat, ternyata semakin terbukti rapuh dan mengabaikan kesejahteraan bersama lahir dan batin, serta melukai keadilan sosial. Gerakan massal protes sosial “Occupy Wall Street” dan “99% fight to 1 %”,  yang saat ini semakin menggelora di seantero kota-kota besar di Amerika dan Eropa, serta revolusi di beberapa negera Timur Tengah dan Afrika, menjadi bukti kepalsuan dan kegagalan filsafat ideologi materialisme-kapitalisme-individualisme yang sekular dan antrophosentrik bahkan anti Tuhan YME dan anti tradisi agama-agama dan budaya lokal.

Krisis multi-dimensional (ipoleksosbudhankamnas) yang diakibatkan oleh filsafat Barat Moderenisme itu, akhirnya mulai menyadarkan minoritas cendikiawan dan tokoh Barat, untuk berpaling dan menoleh kepada warisan kearifan lokal Timur dan agama-agama Timur. Bahkan, sebagai suatu contoh, Prof.Dr, George Mc. Lean, seorang akademisi filsafat dari Chatolik Washington University USA, pada tahun 2009, pernah sengaja berusaha keras membawa rombongan para pemikir dari Barat, untuk bekerja sama dengan para ilmuwan dan sarjana filsafat-budaya di Indonesia (termasuk saya) mengali kearifan Timur Nusantara dengan menyelengarakan National Research Seminars di 10 Universitas di Pulau Jawa tentang “Philosophy Emerging from Culture”.

Sebagai salah satu unsur terbesar penyusun Budaya Nusantara, Sejarah & Budaya Sunda mendapat porsi perhatian yang penting dari para sarjana dan cendikiawan nasional dan dunia. Negeri Indonesia, pada dekade belakangan ini menjadi perhatian dunia, antara lain karena publikasi penelitian beberapa sarjana tingkat dunia semisal Prof.Dr. Arisyio Nunes Dos Santos yang mempublikasikan hasil penelitiannya selama 30 tahun dan menulis buku berjudul: Atlantis, The Lost Continent Finnally Found, The Definitive Location of Plato’s Lost Civilization, yang terbit tahun 2005, (terjemahan Indonesianya diterbitkan oleh Ufuk Jakarta tahun 2010, berjudul yang sama, dengan tambahan anak judul: “Indonesia ternyata Tempat Lahir Peradaban Dunia.”

Indonesia ternyata Tempat Lahir dan Sumber Peradaban Dunia.

Teori dan Hipotesis Prof. Santos yang sangat kontroversial dan menyentak kesadaran publik dunia itu tak urung juga menyentak kesadaran sebagian rakyat Indonesia, yang selama ini sebagian besarnya seperti terjangkiti penyakit mental rendah diri dan kurang percaya diri bahkan “tidak tahu diri.” Padahal ternyata Indonesia bukanlah negara pinggiran, terkebelakang dan pariah. Ternyata Indonesia memiliki warisan sejarah peradaban kuno yang unggul dan cemerlang.

Sentakan kesadaran itu bertambah lagi frekuensinya setelah Prof.Dr. Stephen James Oppenheimer, dokter ahli Human Genom (Genetika & DNA) dari Oxford University, London, Inggris, mempublikasikan hasil penelitian DNA-nya selama 20 tahun lebih di Indonesia & Asia Tenggara serta Papua Nugini.

Buku Oppenheimer berjudul: Eden in The East, The Drowned Continent in South East Asia, menyimpulan teorinya bahwa Asia Tenggara atau tepatnya Paparan Benua Sunda (Sunda Land) adalah lokasi “Syurga Adn” (Eden)-nya keluarga “Manusia Pertama“ Nabi Adam as. & Siti Hawa, tempat lahirnya peradaban umat manusia sedunia, pada kurun waktu 80.000 – 6.000 tahun yang lalu.

Induk Peradaban di Nusantara yang unggul itu menjadi inspirator yang melahirkan peradaban-peradaban dunia lainnya seperti Sumeria, Mohenjodaro-Harrapa-India, Mesir, Indian Maya & Aztek di benua Amerika Selatan, Yunani dan Eropa serta Persia. Namun kemudian Induk Peradaban di Nusantara itu musnah terkena bencana banjir besar kolosal global 3 kali pada sekitar 12.000 – 6.000 tahun yang lalu, yang salah satunya, menurut Oppenheimer terkait dengan legenda/mitos banjir besar Nabi Nuh as. Mitos dan legenda banjir besar itu ternyata ada (banyak yang mirip) dan hidup ceritanya di beberapa sejarah peradaban besar lainnya, seperti Sumeria, India, Mesir, Yunani, Eropa dan penduduk asli Amerika (indian Maya & Aztek, dll.) yang terekam pada kitab-kitab /inskripsi sucinya, prasasti dan artefak tinggalan budaya mereka.

Prof. Santos sampai pada kesimpulan peenelitiannya bahwa Peradaban Atlantis yang hilang, yang diceritakan Plato (427-347 SM) dalam bukunya Critias dan Timeaus, itu, dia temukan tenyata berlokasi di Nusantara/Indonesia (Sunda Land). Kesimpulan atau teorinya ini begitu diyakini oleh Santos dan para pengikutnya, karena detail-detail 32 ciri geografis-ekologis dan ciri-ciri sosio-antropologis-budaya yang diceritakan oleh Plato itu, 100% terpenuhi di Nusantara (Sunda Land), berbeda dengan 10 lokasi lainnya yang menjadi objek studi banding Santos, seperti: Pulau Thera/Creta di Yunani, Inca di Peru, Indian Maya di Mexico, Pulau tenggelam di Samudra Atlantik, Benua Antartika, Skandinavia di Laut Utara, Troy (Hisarlik), Celtiberia, Afria Barat Daya (Selat Giblartar/Spanyol) danTartasos, yang sangat kecil presentasi keberadaan ciri-ciri tersebut. Santos juga banyak mendapat petunjuk tentang lokasi Atlantis tersbut dari berbagai mitos, legenda dan informasi kitab-kitab suci Hindu-Budha (India), inskripsi di situs arkeologis Mesir, Sumeria, dll.

Temuan-temua ilmiah dan historis dari kedua sarjana kelas dunia tersebut, semakin meyakinkan lagi, karena kemudian, banyak sarjana, sejarawan, budayawan-filosof dan peneliti lain yang menemukan banyak fakta dan bukti-bukti lain yang memperkuat teorinya Santos maupun Oppenheimer, baik dari dalam negeri Indonesia sendiri maupun dari luar negeri. Dari University of Canterbury, Christchurch, New Zealand, Dr. Edwina Palmer menemukan banyak ternyata bangsa Jepang itu berasal dari Sundaland. Dia menulis 2 artikel ilmiah hasil penelitiannya yang berjudul: “Out of Sunda? Provenance of the Jomom Japanese” dan “Out of Sundaland: The Provenance of Selected Japanese Myths”.  Begitu pula, ada para peneliti dari Korea yang yakin bahwa nenek moyang bangsa Korea berasal dari lembah Pasemah, Pagar Alam, Sumatra Selatan, sebagaimana yang dikatakan oleh arkeolog Indonesia yang bergabung dengan para peneliti dari Korea tersebut: Dr. Retno Purwanti, dari Balai Arkeologi Palembang. Bahkan Oppenheimer pu dengan tak ragu-ragu mengatakan dalam wawancaranya dengan Majalah Tempo edisi Bahasa Inggris edisi 8 Febuary 2011, bahwa “Southeast Asia is The Source of Western Civilization”.

Dari dalam negeri, sampai kini telah bermunculan kelompok swadaya masyarakat dan para aktifis pencinta dan peneliti sejarah Peradaban Nusantara dan budaya etnis Nusantara, yang kemudian menemukan beberapa petunjuk dari berbagai situs purbakala yang kemungkinan besar terkait dengan sejarah Induk Peradaban di Nusantara kuno, yang bisa membuktikan keberadaan peradaban Lemuria maupun Atlantis di Nusantara. Misalnya kelompok Turangga Seta (TS) atau Greget Nuswantoro (GN), yang mengklaim menemukan petunjuk tersebut di relief dan bangunan Candi Cetho & Candi Sukuh di Gunung Lawu, Surakarta; Candi Penataran di Blitar, lalu mempublikasikan lewat berbagai media. Dari petunjuk itu TS/GN lalu menemukan keberadaan bukit yang diduga Piramida yang ditimbun di Bukit Lalakon, Soreang-Cililin, Bandung, Juga Bukit Piramida Sadahurip di desa Pangatikan, Sukawening Garut.

Penemuan dan penelitian TS itu kemudian ditindaklanjuti oleh beberapa kelompok peneliti swasta/LSM seperti Grup Atlantis Indonesia dan Great Pandora Nuswantara (di mana saya aktif sebagai pembinanya), bahkan juga oleh Lembaga semi pemerintah, seperti Team Survey Penelitian Bencana Katastropik Purba dari Staf Khusus Kepresidenan RI (SBY), yang dipimpin oleh Andi Arif. Temuan-temuan Team pimpinan Andi Arif ini, bahkan lebih spektakuler lagi, karena didukung oleh biaya yang cukup, peralatan teknologi dan para ahli yang kompeten yang dihimpunnya. Team Andi Arif ini mengumumkan telah menemukan lagi 3 Piramida atau Candi Punden Berundak di Garut, dan telah menemukan beberapa situs yang diduga Piramida Klotok di Jawa Tengah dan di Jawa Timur, serta situs bekas kota tenggelam di Laut Selatan Provinsi Banten (berita tentang hal ini dapat dilihat di Blog Bayt al-Hikmah Institute atau Blog Atlantis Sunda yang saya kelola), atau di berbagai media online lainnya.

Berbagai kelompok pegiat dan peneliti sejarah budaya dan Peradaban Nusantara Kuno ini, pun tumbuh semakin banyak, dan semakin aktif kegiatannya. Termasuk Kelompok peneliti dari Australia yang dipimpin oleh Hans Berekoven dengan Kapal beradar sonar bawah laut bernama Southern Sun, Atlantis Sunda Archaelogical Research Project yang telah berusaha mengajak LIPI dan Bakorsurtanal untuk meneliti sisa-sisa keberadaan Atlantis/lemuria di Perairan Laut Jawa dan sekitarnya.

Temuan Jejak Sejarah Para Nabi Allah di Nusantara dan Agama-agama Dunia.

Dari sisi lain, yaitu dimensi kajian sejarah filsafat, ilmu kebahasaan dan sejarah agama-agama, saya sendiri telah menemukan banyak sumber informasi yang memperkuat keyakinan bahwa Peradaban Atlantis dan Lemuria (yang lebih dahulu eksis) di Nusantara dan wilayah sekitarnya { dari Madagaskar-pantai Afrika Timur, sampai ke Pulau Easter/Rapanui di Samudra Pasifik Timur, Dari New Zealand di selatan sampai Hawai (Hawa Iki/Jawa Iki) di Utara Pasifik}. Peradaban Atlantis dan Lemuria itu identik atau paralel dengan sebaran ras dan bahasa Austronesia, sebagaimana yang diteliti oleh Prof.Dr. Sangkot Marzuki, direktur lembaga Eikjman Institute, bersama sekitar 98 ilmuwan Asia lainnya yang bergabung dalam the Pan-Asia Single Nucleotide Polymorphism Consortium under the Auspices of The Human Genome Organization (Mapping Human Genetic Dicersity in Asia).

Peradaban Austronesia atau Sunda Land, atau Lemuria dan Atlantis, atau Kerajaan Rama & Alengkapura di Nusantara, itu saya temukan (hipotesisnya) sebagai tempat persemaian peradaban umat manusia dan tempat lahir agama-agama dunia yang terkait dengan sejarah para Rasul Allah SWT, sejak Nabi Adam as, Nabi Syist, Idris as (Hermes Trimegistus), Nabi Nuh as, sampai Nabi Ibrahim as (Abraham/Brahman). Kesamaan inti ajaran agama Sunda Wiwitan, Kejawen, Hindu, Budha, Yahudi, Kristen dan Islam. Bahkan ada temuan informasi yang mungkin masih sulit diterima oleh kebanyakan umat Islam awam, bahwa ternyata, Agama Sunda Wiwitan, Kejawen, atau Kaharingan dari Kalimantan, serta Hindu, Budha, Taoisme itu pada awalnya berkarakter Tauhid (Monotheis) sebagaimana yang dimiliki agama terakhir: Islam. Ini misalnya terlihat pada tulisan Dr. Zakir Abdul Karim Naik: Kesamaan antara Hindu dan Islam[8], Juga hal ini saya tulis dalam buku Peradaban Atlantis Nusantara di Bab 11 WarisanFilosofis dan Spiritual Atlantis: Konteks Keindonesia (p.339-356), dan Bab 12: Dari Kebijaksanaan Abadi (Perennial Wisdom) untuk Dialog Antar Peradaban: Sebuah Perspektif Islam (p.357-468). Ini semakin memperkuat landasan dan latar belakang kenapa muncul motto “Bhineka Tunggal Ika” dalam lambang negara kita Garuda Pancasila. Dalam sumber aslinya motto Bhineka Tunggal Ika itu berlanjut dengan kalimat: Tan Hanna Dharma Mangrwa, yang artinya: “Tak ada Kebenaran (al-Haqq) yang mendua.”

Hubungan Sunda dengan Nabi Ibrahim as.

Lutfia Az-Zahra, di Grup Atlantis Indonesia menulis:

Di dalam Mitologi Jawa diceritakan bahwa salah satu leluhur Bangsa Sunda (Jawa) adalah Batara Brahma atau Sri Maharaja Sunda, yang bermukim di Gunung Mahera.

Selain itu, nama Batara Brahma, juga terdapat di dalam Silsilah Babad Tanah Jawi. Di dalam Silsilah itu, bermula dari Nabi Adam yang berputera Nabi Syits, kemudian Nabi Syits menurunkan Sang Hyang Nur Cahya, yang menurunkan Sang Hyang Nur Rasa. Sang Hyang Nur Rasa kemudian menurunkan Sang Hyang Wenang, yang menurunkan Sang Hyang Tunggal. Dan Sang Hyang Tunggal, kemudian menurunkan Batara Guru, yang menurunkan Batara Brahma.

Berdasarkan pemahaman dari naskah-naskah kuno bangsa Jawa, Batara Brahma merupakan leluhur dari raja-raja di tanah Jawa/Sundaland/ Nusantara.

Bani Jawi Keturunan Nabi Ibrahim

Orang orang Arab menyebut penduduk Nusantara sebagai “Bani Jawi”

Di dalam Kitab ‘al-Kamil fi al-Tarikh‘ tulisan Ibnu Athir, menyatakan bahwa Bani Jawi (yang di dalamnya termasuk Bangsa Sunda, Jawa, Melayu Sumatera, Bugis… dsb), adalah keturunan Nabi Ibrahim.

Bani Jawi sebagai keturunan Nabi Ibrahim, semakin nyata, ketika baru-baru ini, dari penelitian seorang Profesor Universiti Kebangsaaan Malaysia (UKM), diperoleh data bahwa, di dalam darah DNA Melayu, terdapat 27% Variant Mediterranaen (yang merupakan DNA bangsa-bangsa EURO-Semitik).

Variant Mediterranaen sendiri terdapat juga di dalam DNA keturunan Nabi Ibrahim yang lain, seperti pada bangsa Arab dan Bani Israil.

Sekilas dari beberapa pernyataan di atas, sepertinya terdapat perbedaan yang sangat mendasar. Akan tetapi, setelah melalui penyelusuran yang lebih mendalam, diperoleh fakta, bahwa Brahmayang terdapat di dalam Metologi Jawa indentik dengan Nabi Ibrahim.

Brahma adalah Nabi Ibrahim

Mitos atau Legenda, terkadang merupakan peristiwa sejarah. Akan tetapi, peristiwa tersebut menjadi kabur, ketika kejadiannya di lebih-lebihkan dari kenyataan yang ada.

Mitos Brahma sebagai leluhur bangsa-bangsa di Nusantara, boleh jadi merupakan peristiwa sejarah, yakni mengenai kedatangan Nabi Ibrahim untuk berdakwah, dimana kemudian beliau beristeri Siti Qanturah (Qatura/Keturah), yang kelak akan menjadi leluhur Bani Jawi (Melayu Deutro).

Dan kita telah sama pahami bahwa, Nabi Ibrahim berasal dari bangsa ‘Ibriyah, kata ‘Ibriyah berasal dari ‘ain, ba, ra atau ‘abara yang berarti menyeberang. Nama Ibra-him (alif ba ra-ha ya mim), merupakan asal dari nama Brahma (ba ra-ha mim).

Beberapa fakta yang menunjukkan bahwa Brahma yang terdapat di dalam Mitologi Jawa adalah Nabi Ibrahim, di antaranya :

1. Nabi Ibrahim memiliki isteri bernama Sara, sementara Brahma pasangannya bernama Saraswati.

2. Nabi Ibrahim hampir mengorbankan anak sulungnya yang bernama Ismail, sementara Brahma terhadap anak sulungnya yang bernama Atharva (Muhammad in Parsi, Hindoo and Buddhist, tulisan A.H. Vidyarthi dan U. Ali)…

3. Brahma adalah perlambang Monotheisme, yaitu keyakinan kepada Tuhan Yang Esa (Brahman), sementara Nabi Ibrahim adalah Rasul yang mengajarkan ke-ESA-an ALLAH.

Ajaran Monotheisme di dalam Kitab Veda, antara lain :

Yajurveda Ch. 32 V. 3 menyatakan bahwa tidak ada rupa bagi Tuhan, Dia tidak pernah dilahirkan, Dia yg berhak disembah

Yajurveda Ch. 40 V. 8 menyatakan bahwa Tuhan tidak berbentuk dan dia suci

Atharvaveda Bk. 20 Hymn 58 V. 3 menyatakan bahwa sungguh Tuhan itu Maha Besar

Yajurveda Ch. 32 V. 3 menyatakan bahwa tidak ada rupa bagi Tuhan

Rigveda Bk. 1 Hymn 1 V. 1 menyebutkan : kami tidak menyembah kecuali Tuhan yg satu

Rigveda Bk. 6 Hymn 45 V. 6 menyebutkan “sembahlah Dia saja, Tuhan yang sesungguhnya”

Dalam Brahama Sutra disebutkan : “Hanya ada satu Tuhan, tidak ada yg kedua. Tuhan tidak berbilang sama sekali”.

Sumber : http://religiku.wordpress.com/2007/09/10/hindu-dan-islam-ternyata-sama/

Ajaran Monotheisme di dalam Veda, pada mulanya berasal dari Brahma (Nabi Ibrahim). Jadimakna awal dari Brahma bukanlah Pencipta, melainkan pembawa ajaran dari yang Maha Pencipta.

4. Nabi Ibrahim mendirikan Baitullah (Ka’bah) di Bakkah (Makkah), sementara Brahmamembangun rumah Tuhan, agar Tuhan di ingat di sana (Muhammad in Parsi, Hindoo and Buddhist, tulisan A.H. Vidyarthi dan U. Ali).

Bahkan secara rinci, kitab Veda menceritakan tentang bangunan tersebut :

Tempat kediaman malaikat ini, mempunyai delapan putaran dan sembilan pintu… (Atharva Veda 10:2:31)

Kitab Veda memberi gambaran sebenarnya tentang Ka’bah yang didirikan Nabi Ibrahim.

Makna delapan putaran adalah delapan garis alami yang mengitari wilayah Bakkah, diantara perbukitan, yaitu Jabl Khalij, Jabl Kaikan, Jabl Hindi, Jabl Lala, Jabl Kada, Jabl Hadida, Jabl Abi Qabes dan Jabl Umar.

Sementara sembilan pintu terdiri dari : Bab Ibrahim, Bab al Vida, Bab al Safa, Bab Ali, Bab Abbas, Bab al Nabi, Bab al Salam, Bab al Ziarat dan Bab al Haram.

Peradaban Agama Sunda Wiwitan di Sekitar Lokasi Gunung (Supervolcano) Sunda Purba hingga Krakatoa

Penemuan fosil dan artefak tahun-tahun terakhir ini disekitar Gua Pawon sampai Gunung Padang (Kab Bandung Barat sampai Cianjur) memang cukup mengejutkan. Ada sejumlah fosil mammoth dan sejumlah peninggalan dari jaman megalitikum. Sejumlah peneliti dari IAGI dan Wanadri yang setia menyusuri DAS Citarum menjumpai beberapa situs seperti di bawah ini:

Situs Desa Gunung Padang, di Campaka Cianjur

Gunung Sunda Purba sendiri pernah meletus serta menjadi tiga gunung anakan Gn Burangrang, Gn Tangkubanperahu dan Gn Bukit Tunggul. Puncaknya ada di atas Gn Tangkubanperahu dengan perkiraan ketinggina sampai 4.000 mdpl. Konon letusannya membuka Sanghyang Tikoro, sehingga Danau Purba Bandung menjadi daratan.

Nama Gn. Sunda Purba pun adalah bahasa lokal yang sama dengan penulisan geologist jaman pertengahan yang memperkirakan Sundaland (Paparan Sunda) berdiri di atas Sunda Plate (Lempeng Sunda tektonis). Douwess Dekker lah yang merubah nama Sundaland menjadi Nusantara, sehingga orang Malaysia pun sekarang merasa menjadi orang Nusantara. Bahkan mereka merasa sebagai sebuah kekaisaran (lebih tinggi dari kerajaan dan negara) dengan nama Kekaisaran Sunda Nusantara, berkedudukan di Kuala Lumpur.

Penemuan-penemuan baru piramida di Indonesia bahkan cukup menakutkan kelompok tertentu yang seolah akan mengembalikan keberadaan agama Sunda Wiwitan. Ini pendapat-pendapat dari masing-masing sumber, bukan saya, dan mohon maaf, hanya sekedar sharing bacaan.

Orang Pasundan merasa Sunda bukanlah etnis rakyat di Jawa Barat melainkan orang-orang se-Paparan Sunda yang berkumpul di pusat peradaban. Agama yang dianutnya pun adalah Sunda Wiwitan. Beberapa penganut Kejawen mengakui Sunda Wiwitan sebagai sumber “ke-jawa-an”, di mana agama Sunda yang monotheisme adalah ajaran Islam dari Brahma (Abhram menurut Taurat, Abraham menurut Injil dan Ibrahim menurut Quran), serta ajaran-ajaran sebelum Brahma (mungkin ajaran Islam sejak Nabi Adam as), di mana ajaran yang diusung adalah garis Habil dengan musuh ajaran Qabil.

Gunuung Krakatoa berkali-kali meletus dahsyat (dan diduga menjadi salah satu penyebab bencana besar katastopik yang memusnahkan peradaban Atlantis Nusantara dengan banjir dan Gempa serta Letusan Vulkanik raksasa menurut Santos, dan lokasinya dekat dengan suku Kanekes Banten (Baduy), yang sangat mempertahankan Agama Sunda Wiwitan dan mengaku bahwa Nabi panutan mereka adalah langsung Nabi Adam as.

Sunda Wiwitan yang berkembang dan disempurnakan oleh ajaran Al-Quran menjadi agama yang menurut faham Kejawen adalah Manunggaling Kawula Gusti yaitu bersatunya hamba dengan Tuhan-nya. Perspektif ajaran Kejawen berdimensi tasawuf percampuran antara kebudayaan Jawa, Hindu, dan Budha yang dianggap orang kurang menghargai aspek fiqh syariat dengan hukum-hukum agama Islam, alasannya adalah bahwa penyebar agama Islam pada waktu itu lebih mementingkan Islam diterima dahulu walau harus menyesuaikan dengan adat Jawa. Kejawen sendiri bukanlah berasal dari kata Jawa, melainkan dari “jawi” atau bermakna kesederhanaan. Tetapi orang Jawa sudah menggunakan atau memakai gelar “Sayidina Panatagama”, “Khalifatullah”, “Ajaran agama ageming aji” (perhiasan) untuk raja-raja Jawa, karena raja adalah dianggap wakil Allah di dunia.

Kitab Mahabarata dan Ramayana serta takwil Al-Qur’an merupakan sumber inspirasi ajaran Kejawen yang mengandung ajaran moral dan karakter prilaku tuntunan hidup dengan pola pemahaman kajian pikiran Jawa yang lebih terfokus pada aspek indra batin dan prilaku batin. Strategi pendekatan Kejawen adalah mencari pendekatan (taqorub) kepada Tuhan bahkan selalu ingin menyatu dengan Tuhan (Manunggaling Kawula Gusti) dan analisanya bersifat batiniah.

Sunda Wiwitan di Jawa Barat menjadi agama Sunda yang cenderung melengkapinya dengan ajaran Al-Quran al-Karim dalam bentuk tajalli (manifestasi Ilahiyah) dan Nga-Hyang (Fana Fillah), mirip dengan kejawen, tetapi tetap melaksanakan syariat secara hakiki. Penyatuan diri dengan Allah secara fisikal adalah tidak mungkin karena manusia berbeda zat dengan Allah, tetapi manusia harus mampu mencapai dimensi maqomat ketuhanan sesuai kemampuan akalnya. Maka secara tasawuf, tajalli adalah menyatukan diri kepada penampakan Diri Tuhan yang bersifat absolut dalam bentuk alam yang bersifat terbatas. Istilah ini berasal dari kata tajalla atau yatajalla, yang artinya “menyatakan/mewujudkan diri”. Tidak mengherankan, pada 1576M, Raja Sunda Galuh (atau dikenal dengan raja Pakuan Pajajaran karena berkantor di Pakuwuan yang berjajar, yaitu Prabu Siliwangi (Sribaduga Maharaja, karena raja adalah mandataris dari board of director raja-raja dari trias politica pemerintahan Paparan Sunda ala kearifan lokal: Tri Tantu di Buana ) lebih suka mengalah dan menghilang (raib atau tilem/fana/moksa) ketimbang harus berperang sesama bangsa yang dikepalai oleh panglima-panglima Gujarat dan China yang menjadi wakil Kerajaan Demak, Cirebon, Bali dan Banten. Hal yang sama juga terjadi kepada raja majapahit terakhir: Prabu Brawijaya V, yang memilih moksa di Gunung Lawu (lokasi Candi Cetho dan Sukuh) ketimbang terus mempertahankan kekuasaan politiknya yang diperebutkan kalangan istananya dan keluarganya.

Oleh sebagian kalangan Islam kaum santri Indonesia berwarna Islam Saudi Arabia yang literal-harfiyah (Wahabiyin), konsep penyatuan manusia dengan Tuhan dalam Kejawen dan agama Sunda dianggap mengarah kepada penyekutuan Tuhan atau prilaku Syirik. Anehnya banyak ahli-ahli spiritual Islam Timur Tengah (juga Persia) bahkan banyak belajar kepada agama Islam Sunda ini. Apakah karena pola pikir tasawuf Jawa/Sunda/Nusantara pada waktu itu sudah lebih maju ketimbang tasawuf Arab? Di mana Nabi Muhammad SAW sendiri melaksanakan tingkat-tingkat di atas syariat seperti tarekat, hakekat dan marifat. Kemudian untuk menjadi marifatullah seseorang harus mengikuti sunnah Rasul dalam sifat siddiq, amanah, tabligh dan fatonah? Memang ajaran tasawuf Islam (Islamic Mysticism) itu lebih leluasa berkembang di kalangan para pengkikut Ahlu Bayt Nabi (baik dari kalangan Syiah pada khususnya maupun kalangan Sunni pada umumnya, Di pulau Jawa (Jawa Barat & Jawa Timur), kita mengenal tokoh Syekh Siti Jenar yang mengajarkan kesederhanaan hidup, ketulusan-kejujuran dan penyatuan diri dengan kehendak Tuhan YME (Manunggaling Kawulo lan Gusti) serta “Hamemayu Hayuning Bawono” (Rahmatan lil Alamin, dalam bahasa al-Qur’an).

Dari sudut pandang Tasawuf, gambar relief-relief dan pesan moral di Candi Borobudur yang merupakan peninggalan kerajaan Budha, itu pun ternyata dapat dipahami dan sangat sejalan dengan pola suluk (perjalanan) dan pembinaan spiritual dalam tasawuf, meneuju kesempurnaan tauhid dan makrifatullah. Begitu juga di Jawa barat telahdiketemukan Komplek Candi Jiwa di Batu Jaya Karawang yang merupakan peninggalan Kerajan Budha-Hinddu (?) Taruma Negara. Dan kerajaan Sunda sebelumnya.

Masih banyak warisan ajaran mulia dari para leluhur nusantara, khususnya dari Sunda Wiwitan maupun Kejawen serta masukan dari berbagai agama dan tradisi suci yang pernah tumbuh dan masih hidup di Nusantara ini yang masih sangat relevan dan perlu digali lebih dalam lagi serta dididikan kepada para putra bangsa Nusantara karena akan bermanfaat bagi kebangkitan spiritual dunia di millenium ketiga ini, di mana Nusantara pada umumnya dan urang Bogor (Sunda) pada khususnya, akan berperan penting dan strategis dalam proses maha hebat di akhir zaman ini, sebagaimana diramalkan dalam Uga Wangsit Prabu Siliwangi, atau ramalan Pandita Ronggowarsito tentang Satrio Piningit Sinihan Wahyu yang akan menjadi atau menengakkan Sistem Pemerintahan Ratu Adil di akhir zaman ini, serta ramalan atau prediksi para pujangga waskita lainnya. Dalam hal ini, saya rasa para budayawan, sesepuh dan para cendikiawan ilmuwan lain yang hadir di sini mungkin lebih tahu dan lebih paham daripada saya yang baru belajar ini.

Salah satu tokoh Budaya Sunda, yang sudah meninggalkan kita belum lama ini, yaitu almarhum Abah Hidayat Suryalaga, dari Bandung, pernah memberikan beberapa copy bukunya yang belum diterbitkan kepada saya yang berjudul: Rawayan Jati Kasundaan, dan Falsafah Sunda. Begitu juga Almarhum Anis Jati Sunda. Keduanya masih sempat penulis temui di Konferensi Internasional Budaya Sunda Kuno: Alam, Filsafat dan Budayanya di Hotel Salak, Bogor 25-26 Oktober 2010. Semoga Sang Hyang Widhi Wasa, Sang Hyang Pangersa, Tuhan YME/Allah SWT melapangkan jalanNya menuju Kebahagiaan dan Kesmpurnaan bersama-Nya. Dan kita yang menjadi muridnya dapat mengikuti jejak amal salehnya serta ajaran kemuliaan dan keluhuran ajaran kasajatian hirup.

Demikian sedikit pengantar diskusi pada Sarasehan atau Gempungan Budaya Sunda kali ini, semoga bisa menjadi pemicu diskusi konstrukstif-progresif dan mendorong penelitian lebih lanjut, demi membangkitkan national character building bangsa Nusantara/Indonesia para umumnya dan khususnya komunitas Budaya Sunda di Tatar Sunda.*** (AYS).

………………………………………………………………………………………………….

[1] Judul Makalah yang dipresentasikan dalam acara “Gempungan Budayawan Sunda”, hari Sabtu, 10 Desember 2011, di Rumah Kediaman Wakil Bupati Bogor: H. Karyawan Faturahman, S.H, MH., di Komplek Karadenan, Cibinong Bogor.

[2] Akademisi (dosen) & Peneliti Sejarah, Filsafat, Budaya-Peradaban dan Agama-agama, di PMIAI Universitas Paramadina Islamic College for Advaced Studies (ICAS) Jakarta; Penulis buku PERADABAN ATLANTIS NUSANTARA, terbitan Ufuk, Jakarta, 2011; anggota Pengurus ISIP (International Society for Islamic Philosophy) cabang Indonesia, Philipina, Austarlia & New Zealand; Pembina Grup Atlantis Indonesia & Great Pandora Nuswantoro di FB; Pengelola Situs Bayt al-Hikmah Institute

Menjadikan Indonesia sebagai Soko Guru Peradaban Dunia
Ilustrasi @abrrar
Oleh : Dr Sukamta
Di tengah berkecamuknya permasalahan bangsa, Sumpah Pemuda menjadi momentum yang tepat bagi kita untuk merefleksikan maknanya. Bangsa Indonesia telah berkali-kali memperingatinya, namun permasalahan bangsa belum juga terurai. Memang ini semua membutuhkan waktu. Dan ketidakjelasan mindset bangsa cukup signifikan menyebabkan kemajuan berjalan lambat meskipun Sumpah Pemuda telah terlewati 86 tahun lamanya, juga kemerdekaan yang 69 tahun sudah berlalu. Refleksi kita terhadap Sumpah Pemuda hendaknya menembus sekat-sekat yang ada hingga menyelami sanubari terdalam sejarah dan kekayaan bangsa. Mindset, yang merupakan derivasi dari visi bangsa kita, perlu terus diasah agar dapat memberikan arah perjalanan bangsa secara jelas.
Benar, selama ini bangsa Indonesia dikenal sebagai bangsa yang ramah, bangsa yang majemuk namun mampu hidup berdampingan dan bangsa yang secara geostrategis diapit oleh 2 samudera dan 2 benua. Namun hal ini bukanlah identitas yang menjadi visi, melainkan hanyalah sebuah identitas berupa fakta alamiah.
Bangsa Amerika menjadikan kebebasan (freedom) sebagai identitas yang sekaligus menjadi visi. Hal tersebut mengalir dan mendarah daging dalam jiwa setiap masyarakat Amerika. Jargon “novus ordo seclorum” menunjukkan visi Amerika untuk membawa masyarakat dunia pada satu tata dunia baru yang menjunjung tinggi kebebasan. Hasilnya, Amerika telah menjadi negara besar dan maju serta mampu “berekspansi” ke seluruh penjuru dunia. Jepang juga terkenal dengan sifat ksatria-nya. Jiwa Bushido demikian melekat pada jiwa-jiwa masyarakatnya. Jargon “hakko ichiu” juga merupakan visi besar bangsa Jepang yang menginginkan semua bangsa di dunia dari 8 penjuru mata angin berada di bawah satu atapnya. Demikian juga dengan bangsa Tiongkok yang memiliki visi “zhong guo” yang terkandung maknanya dalam nama negerinya : tiong / zhong (tengah) dan guo / kok (negeri). Bangsa Tiongkok menginginkan negerinya menjadi pusat peradaban dunia.
Visi-visi tadilah yang melahirkan mindset ekspansi. Amerika dengan visi besarnya itu kini mampu berekspansi dan “menguasai” dunia dengan ajaran demokrasi liberal dan kapitalismenya. Jepang juga mampu berekspansi dan merajai dunia dengan produk-produk teknologinya bahkan sempat “head to head”, meminjam istilah Lester Thurow, dengan Amerika. Tiongkok juga mampu berekspansi dan “menguasai” dunia dengan jumlah rasnya yang berjumlah sekitar 1.5 milyar dan produk-produknya yang membanjiri pasaran dengan harga bersaing. Kini Tiongkok pun menjadi “ancaman” yang digadang-gadang akan menggantikan Amerika sebagai penguasa dunia. Jargon Lebensraum Hitler juga menjadi inspirator bagi Jerman untuk berekspansi mencari ruang hidup (leben = hidup, sraum = ruang) ke bangsa-bangsa lain. Lalu, bagaimana dengan Indonesia?
Bangsa Arisan
Bangsa Indonesia telah dijajah oleh bangsa-bangsa lain seperti Spanyol, Belanda, Portugis dan Jepang selama berabad-abad. Konon, bangsa Eropa terinspirasi mencari rempah-rempah ke nusantara dari sebuah buku Ittinerario yang menyebutkan adanya sebuah wilayah kepulauan di wilayah Timur yang kaya akan rempah-rempah, bertanah subur dan beriklim tropis. Terlepas dari benar atau tidaknya berita ini, penjajahan bangsa-bangsa tadi memang fakta.
Alih-alih untuk berekspansi, bangsa kita sibuk dengan keterkungkungan dalam negeri akibat penjajahan tadi. Penjajahan yang terjadi sebagai akibat dari segala hal ada di sini. Mulai dari minyak bumi, batu bara, gas alam, karet, kelapa sawit, bauksit, rempah-rempah, perikanan, hingga kekayaan flora dan fauna. Kekayaan alam inilah yang menjadikan bangsa kita kurang memiliki jiwa ekspansi karena justeru bangsa-bangsa lainlah yang berekspansi ke nusantara untuk mengeruk kekayaan alamnya.
Kecenderungan “mangan ora mangan asal kumpul” menandakan bangsa kita suka dengan kebersamaan. Jargon ini tetap hidup hingga sekarang. Maka tidak mengherankan jika masyarakat kita dikenal suka dengan aktivitas kumpul-kumpul dalam berbagai bentuknya seperti perkumpulan, paguyuban dan arisan. Pada level politik, hal ini menjadi social capital yang membentuk corak pengambilan keputusan dengan mengedepankan prinsip musyawarah untuk mufakat.
Tapi hampir dapat dipastikan, bangsa Indonesia tidak pernah melakukan ekspansi ke bangsa-bangsa lain. Memang nenek moyang kita dahulu para pelaut yang menjelajahi samudera. Tapi hal ini tidak lantas menjadi indikator bahwa bangsa kita melakukan ekspansi. Masyarakat kita lebih cenderung untuk berkumpul di negerinya sendiri. Maka muncul pameo “hujan emas di negeri orang, masih lebih baik hujan batu di negeri sendiri.” Di sini, “orang bilang tanah kita tanah surga, rumput dan batu tumbuh jadi tanaman,” kata Koes Plus.
Kimia Perubahan
Minimnya jiwa ekspansi yang diakibatkan secara tidak langsung oleh keterlenaan jiwa karena kenyamanan di negeri sendiri, menyebabkan pula bangsa kita menjadi bangsa yang rapuh. Hampir tidak ada kemandirian yang kita miliki. Banyak sekali sektor kita yang tergantung dengan kepentingan asing. Tidak ada keadaan yang mampu memaksa kita untuk menciptakan sesuatu yang dapat menjadi komoditas bangsa yang layak ekspor, selain bahan mentah.
Melihat realita seperti ini, hendaknya kita tanamkan dalam jiwa kita masing-masing tekad kuat untuk berubah. Untuk melakukan perubahan, alangkah baiknya kita menengok kimia perubahan yang tercipta saat Sumpah Pemuda dahulu.
Pada masa sebelum tahun 1928, para pemuda terpecah-pecah ke dalam kelompok-kelompok suku. Kemudian pada tahun 1928, mereka yang berasal dari beragam organisasi seperti Jong Java, Jong Batak, Jong Ambon, Jong Islamiten Bond, Jong Celebes, Jong Sumatera, Jong Borneo, merasa terpanggil untuk berkumpul, berinteraksi dan berdiskusi demi kemajuan bangsa. Interaksi ini menghasilkan kesenyawaan dan keterikatan dalam hal pandangan dan perasaan. Ibarat reaksi kimia yang terjadi akibat dua unsur yang berinteraksi yang menyebabkan elektron-elektron bertemu lalu menghasilkan senyawa baru. Yang kemudian melahirkan kimia perubahan dalam pikiran dan jiwa mereka. Berubahlah mindset dan perasaan mereka yang sebelumnya terpecah ke dalam suku-suku bangsa. Mereka yang datang dari berbagai daerah dengan unsur-unsur kimia suku yang berbeda seperti fisik, bahasa, adat dan budaya, melebur menjadi satu bangsa, satu tanah air dan satu bahasa; Indonesia. Tercetuslah Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928 sebagai tonggak berdirinya sebuah bangsa.
17 tahun kemudian, tepatnya 17 Agustus 1945 adalah puncak perlawanan rakyat Indonesia dengan diproklamasikan berdirinya Negara Kesatuan Republik Indonesia. Ini menjadi tonggak berdirinya sebuah negara. Lalu 53 tahun lamanya Indonesia menyibukkan dirinya dengan pembangunan. Hingga kemudian lahirlah senyawa baru tahun 1998 bernama reformasi. Sejak itulah bangsa Indonesia melakukan perbaikan dalam semua sektor kehidupan berbangsa dan bernegaranya.
Syarat Perubahan
Kimia perubahan yang terjadi pada Sumpah Pemuda tadi memberi contoh sebuah perubahan yang nyata dalam generasi kita. Maka, hal penting yang menjadi syarat perubahan di sini adalah adanya interaksi. Jika kita ingin berubah, banyak-banyaklah berinteraksi dengan segala hal. Berinteraksilah dengan peradaban lain, dengan orang lain. Lakukanlah diskusi dan curah gagasan, bukan sekadar kumpul-kumpul atau arisan. Diharapkan dengan interaksi-interaksi ini terbentuklah kimia perubahan yang melahirkan senyawa baru berupa mindset dan jiwa ekspansi.
Jika kita ingin menumbuhkan mindset dan jiwa ekspansi pada generasi muda, dorong dan bukalah peluang mereka untuk berinteraksi dengan peradaban luar. Sekitar 1 dekade belakangan ini ada gelombang berbondong-bondongnya generasi muda kita untuk mengenyam pendidikan di luar negeri. Ini sinyal yang bagus dan harus terus ditingkatkan. Anggaran pendidikan nasional 20% turut andil penting dalam menciptakan gelombang ini. Dengan menimba ilmu dari bangsa Amerika, Eropa, Tiongkok, Jepang, dst, diharapkan lahir jiwa ekspansi, bukan malah lahir perasaan inferiority complex terhadap bangsa-bangsa yang sudah maju.
Karenanya, tidak hanya sekadar interaksi, generasi muda harus mampu meneguhkan jati diri, identitas dan visinya sebagai bangsa Indonesia yang memiliki kepribadian tangguh serta berbudi luhur. Jika tidak, maka alih-alih jiwa ekspansi yang lahir, tapi justeru perasaan minder. Alih-alih mampu memberi pengaruh positif kepada bangsa-bangsa lain, tapi justeru terlarut oleh arus global yang akhirnya “menjajah” bangsanya sendiri.
Modal Ekspansi
Seiring dengan kemajuan zaman, ekspansi tidak melulu dilakukan dengan persenjataan militer. Budaya, ekonomi, ilmu pengetahuan dan teknologi serta tata nilai dapat menjadi modal ekspansi.
Bangsa Amerika, Eropa, Tiongkok, Jepang dan India, tidak serta merta melakukan ekspansi yang bebas tata nilai. Amerika berekspansi dengan tata nilai kebebasan dan demokrasi. Tiongkok juga berekspansi dengan nilai-nilai keluhuran filosofi Konfusianisme. Demikian juga dengan Jepang dan India yang masing-masing memiliki tata nilai dan budayanya.
Maka, tata nilai adalah modal ekspansi yang paling utama. Tata nilai yang dimiliki oleh bangsa Indonesia adalah nilai-nilai luhur yang ada pada Pancasila. Seharusnya, Pancasila inilah yang kita jadikan sebagai nilai jual ketika berhadapan dengan bangsa-bangsa yang lain. Hampir semua ideologi di dunia terakomodasi dalam payung bernama Pancasila. Hal ini unik, karena sepertinya belum ada negara di dunia ini yang mampu mengakomodasi keragaman ideologi yang ada ke dalam dasar negaranya seperti Indonesia. Indonesia bukan negara agama sekaligus bukan negara sekular, tapi agama menjadi dasar yang menjiwai kehidupan berbangsa. Karenanya, Pancasila inilah nilai jual bangsa Indonesia di kancah global. Pancasila bisa menjadi contoh tata nilai bagi bangsa-bangsa lain. Dan inilah modal ekspansi kita.
Tidak Asal Ekspansi
Selama ini bangsa kita juga dianggap telah melakukan “ekspansi” dengan mengirim tenaga-tenaga kerja (TKI) pembantu rumah tangga ke berbagai negara di dunia yang pada praktiknya banyak mengalami intimidasi dan kekerasan dari para majikannya. Kita harus berusaha untuk menciptakan generasi muda yang tangguh sehingga dapat berekspansi ke seluruh penjuru dunia untuk menjadi tenaga kerja yang dihargai dan disegani karena keahlian, kepribadian dan intelektualitasnya.
Selama ini juga bangsa kita telah melakukan “ekspansi” secara ekonomi dengan mengekspor bahan-bahan mentah ke berbagai penjuru dunia. Sebetulnya hal ini tidaklah terlalu menguntungkan karena bahan mentah itu berharga cukup murah yang memiliki selisih harga yang besar dengan harga jual ketika bahan tersebut telah siap pakai. Selisih yang besar inilah yang menjadi keuntungan bagi negara-negara importir bahan mentah tadi. Ke depannya kita harus mampu mengelola sendiri bahan mentah menjadi barang siap pakai agar kemakmuran itu dapat kita rasakan.
Demikian harapan-harapan yang menjadi pekerjaan rumah kita semua. Bangsa ini memerlukan tekad perubahan dan ini dapat kita refleksikan dari semangat Sumpah Pemuda. Dengan modal nilai Pancasila, keahlian, intelektualitas, kekayaan alam dan kepribadian bangsa, kita dapat menciptakan mindset ekspansi ke segala penjuru dunia pada jiwa generasi muda. Menjadikan Indonesia sebagai soko guru peradaban dunia. Semoga. []

sumber : Bersama Dakwah

JokoWi-JK Bikin Universitas Bakal Pusat Peradaban Islam Dunia
Noor Aspasia Hasibuan, CNN Indonesia
Rabu, 17/06/2015 14:15 WIB
Jokowi-JK Bikin Universitas Bakal Pusat Peradaban Islam DuniaPresiden Joko Widodo (kanan) didampingi Wapres Jusuf Kalla (tengah) dan Menag Lukman Hakim Saifuddin (kiri) bersiap menyalami para tamu undangan seusai acara Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW di Istana Negara, Jakarta, Jumat (2/1). (ANTARA/Andika Wahyu/pd/15.
Jakarta, CNN Indonesia — Pemerintah Jokowi-JK berencana untuk membangun perguruan tinggi atau universitas Islam moderat yang diproyeksikan menjadi pusat peradaban Islam dunia. Salah satu usaha yang akan dilakukan pemerintah untuk mewujudkan rencana ini melalui merekrut tenaga pengajar asing.

“Nanti akan melibatkan banyak guru besar dari luar negeri selain yang sudah tersedia di Indonesia,” kata Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin di Kantor Wapres, Jakarta, Rabu (17/6). (Baca juga: Jokowi Pilih Berbaju Militer saat Terima PP Muhammadiyah)

Melalui pembangunan universitas ini, pemerintah berencana untuk menghasilkan para cendekiawan muslim, dan pemikiran-pemikiran Islam yang bisa digunakan oleh seluruh muslim dunia. Adapun rencana pembangunan perguruan ini ditujukan untuk mahasiswa pascasarjana baik untuk S2 dan S3.

“Karena yang S1 biarlah menjadi konsentrasi perguruan tinggi islam negeri yang ada sekarang ini seperti STAIN, IAIN, UIN,” kata Lukman menjelaskan. (Baca juga: Beberapa Sekolah di Inggris yang Melarang Siswa Muslim Puasa)

Kendati sudah mendetailkan rencana pembangunan ini, pemerintah masih mematangkan dan mendalami konsep lebih mendalam agar realisasi pembangunan ini sesuai dengan output yang dicanangkan.

Adapun anggaran yang dipakai, Lukman menjamin tidak akan menganggu pagu lembaga negara atau universitas lainnya. “Keppres tersendiri terkait hal ini sehingga kemudian ada alokasi anggaran dari APBN,” katanya

Untuk mewujudkan hal ini pemerintah melibatkan sejumlah tokoh masyarakat, tokoh Islam, ormas-ormas Islam. Sebelumnya, JK mengatakan sumber inspirasi pemerintah menjadikan peradaban Islam moderat ialah konflik Timur Tengah. (Baca juga: Kementerian Agama Setuju Mengaji Jangan Pakai Rekaman)

“Pada saat kondisi di negara-negara Islam di Timur Tengah dan Afrika mengalami banyak kesulitan dan diperkirakan jangka panjang, maka indonesia mempunyai peran yang besar untuk pemikiran-pemikiran Islam yg moderat,” kata JK di Istana Wakil Presiden, Jakarta, Senin (15/6).

Untuk diketahui, JK mengatakan pemerintah tengah mempersiapkan langkah-langkah kesiapan Negara Indonesia untuk menjadi pusat Islam moderat dunia salah satu cara yang disiapkan ialah lewat metode pendidikan perguruan tinggi.

“Indonesia akan punya pusat penelitian, pusat pengembangan pikiran-pikiran agama internasional,” kata JK dalam pidato pembukannya di ijtimak ulama Komisi Fatwa MUI, Tegal, Jawa Tengah awal bulan ini.

JK menegaskan bahwa Indonesia siap mengeluarkan dana untuk proyek pembangunan ini walaupun menyentuh angka di Rp 10 triliun.

Etika Sosial Islam Nusantara

Oleh: Ali Masykur Musa

Hampir semua sejarawan sepakat, penyebaran Islam di kawasan Nusantara tumbuh dan berkembang melalui proses dan pola secara damai. Penduduk di kepulauan ini pada umumnya menerima dan memeluk agama yang dibawa Nabi Muhammad SAW secara sukarela, tanpa dilatarbelakangi paksaan yang berarti.
Islam berkembang pesat di Indonesia karena pengaruh para sufi yang menyebarkan ajaran Islam yang inklusif dan akomodatif terhadap kehidupan sosial budaya setempat. Dakwah damai ini dilanjutkan para kiai atau syekh yang tidak punya kepentingan politik dengan mendirikan pesantren yang mengutamakan akhlak dan kearifan lokal. Pola pembumian Islam secara damai ini menjadi ikon penting Islam di bumi Nusantara hingga kini.
Pengertian inilah yang disebut dengan Islam Nusantara, yang masih disalahpahami. Sayangnya, di tengah kesejukan Islam Nusantara, ajaran wahabisme muncul untuk menghancurkannya. Kelompok Wahabi mengklaim dapat mengembalikan umat Islam kepada ajaran Islam dan akidah yang murni.
Dengan pedoman al-ruju’ ila al-Qur’an wa al-Sunnah (kembali kepada Alquran dan al-hadis) mereka ingin kembali kepada Alquran dalam makna harfiah. Alquran dianggap hanya deretan huruf yang tak berkaitan dengan konteks di sekitar. Mereka menolak sejumlah tradisi masyarakat. Semua keadaan ingin dikembalikan pada keadaan zaman Nabi Muhammad SAW. Mereka tak setuju rasionalisme dalam filsafat Islam. Demi literalisme Alquran, ushul fiqih mereka acuhkan.
Kearifan beribadah adalah wujud pemahaman menyeluruh terhadap beragama. Secara umum, hampir semua ibadah di Islam terbagi dua varian utama: simbol (madzhar) dan substansi (jauhar).
Simbol mengajarkan tentang gerakan ritual, cara, jumlah, waktu, dan tempat dalam setiap ibadah. Substansi mengajarkan tujuan di balik gerakan ritual itu.
Meskipun Islam mengenalkan simbol, tetapi tujuan beragama adalah substansi, bukan simbol. Puncaknya ketika Islam mengajarkan bahwa beragama bukanlah menghadapkan jasad ke timur dan barat, tetapi melahirkan praktik sosial yang mendalam. Inilah makna Nabi Muhammad diutus tidak lain untuk menyempurnakan akhlak umat manusia.
Jika kita melihat sikap keberagamaan umat Islam di zaman modern ini, hampir semuanya memberikan volume sangat besar ke dalam simbol. Umat Islam selalu merasa cukup jika telah melaksanakan ibadah ritual. Mereka tidak pernah melirik kembali tujuan di balik simbol ibadah.
Karena lebih menitikberatkan simbol, agama pun bagaikan aktivitas rutin harian yang sangat kering. Akibatnya, agama hanya mampu melahirkan kesalehan individual, tidak sampai pada kesalehan sosial.
Pemahaman salah dalam beragama bisa mengarahkan penganutnya kepada jebakan fundamentalisme dan radikalisme. Artinya, ketika agama dibajak untuk melegalkan radikalisme atas nama agama, maka agama menjadi instrumen pembenaran.
Untuk mencegah meluasnya radikalisme, dibutuhkan penguatan Islam Nusantara melalui sistem pendidikan yang mampu memberikan pemahaman yang benar akan teks agama. Ini diharapkan bisa memutus ideologi radikal.
Mayoritas pesantren di Indonesia menganut ideologi ahlussunnah waljamaah (aswaja). Ideologi aswaja mengusung ajaran moderat (tawasuth), seimbang (tawazun), toleran (tasamuh), dan adil (i’tidal) sebagai etika sosial. Budaya kafir-mengafirkan tidak dikenal di pesantren. Selagi masih bersyahadat dan mengimani ajaran Islam, tak ada alasan mencap orang/kelompok lain kafir.
Pesantren yang berpegang teguh pada aswaja menghindari tafsir tunggal teks agama. Setiap teks terbuka akan berbagai penafsiran baru. Inilah yang menjadikan pesantren mampu menjaga eksistensinya. Karena pesantren senantiasa inklusif dan terbuka pada penafsiran baru yang tidak bertentangan dengan ajaran substantif Islam, menunjukkan pesantren terbuka terhadap keragaman pemikiran.
Pesantren merupakan lembaga yang inklusif dan menghargai perbedaan pendapat. Perbedaan pendapat tak lantas ditolak, apalagi dikecam. Perbedaan pendapat merupakan keniscayaan dinamika pemikiran manusia yang mempunyai perspektif dan kapasitas pemikiran berbeda.
Sikap demikian sejatinya juga dipelajari oleh pesantren dari ulama-ulama aswaja yang tak memaksakan kebenaran tunggal. Sebab, dalam setiap kebenaran terdapat kemungkinan kesalahan, pun sebaliknya.
Kearifan ini bisa terbaca, misalnya, dari ungkapan Imam Abu Hanifah, salah satu pendiri mazhab fikih. Terkait hasil ijtihadnya, ia mengatakan, “Inilah pendapatku. Jika ada yang datang kepadaku untuk menyampaikan pendapat yang lebih baik, aku akan menerimanya.”
Kearifan yang demikian dipraktikkan tokoh pesantren almaghfurlah Abdurrahman Wahid. Menurut Gus Dur, ribuan sumber tertulis (dalil naqli), baik berupa ayat Alquran maupun hadis akan memiliki peluang yang sama bagi pendapat yang berbeda. Islam sangat menghargai perbedaan pendapat.
Yang dilarang oleh Islam adalah saling bertentangan yang mengakibatkan perpecahan (QS Ali Imran: 103). Hal inilah yang menjadikan pesantren sebagai pelopor Islam yang rahmatan lil alamin sebagai wajah Islam Nusantara yang cinta kedamaian dan menolak kekerasan.
Untuk menanggulangi kaum fundamentalis dan radikal, inklusivitas pemikiran dan penerimaan keberagaman melalui pendidikan di pesantren harus tetap dipelihara dan bahkan diperkuat. Tiada lain, pesantren harus mempertahankan ideologi aswaja yang mengedepankan Islam yang wasath (tengah-tengah) dalam segala hal.
Pesantren harus tetap memperjuangkan dakwah kultural yang sarat nilai dan nirkekerasan. Amar makruf nahi mungkar harus tetap dilaksanakan dengan jalan yang makruf tanpa mengedepankan konflik.
Inilah ideologi pesantren yang harus tetap dipertahankan dan bahkan diperjuangkan. Melalui pesantren, identitas Islam yang toleran, moderat, damai diajarkan dan disebarluaskan. Sekarang, saat tepat bagi Islam Indonesia menjadi pelopor kepada dunia.
Tidak boleh lagi ada nyawa yang hilang sebagai korban perjuangan beragama. Islam yang santun dan moderat itulah substasi Islam Nusantara sebagai wajah Islam dunia ke depan yang penuh kebajikan dan kedamaian. []

REPUBLIKA, 09 Juli 2015
Ali Masykur Musa | Ketua Umum Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (ISNU)


http://harian-oftheday.blogspot.com/

“…menyembah yang maha esa,
menghormati yang lebih tua,
menyayangi yang lebih muda,
mengasihi sesama…”
__._,_.___
Posted by: Ananto <pratikno.ananto@gmail.com>

12
Jul
15

Politik : Partai IDAMAN (Islam Damai dan Aman)

Minggu, 12 Juli 2015 , 05:50:00

Rhoma Gunakan Simbol “Love” untuk Partai IDAMAN, Ternyata Ini Alasannya

 Ketua Umum Partai Islam Damai dan Aman (Idaman), Rhoma Irama di Jakarta, Sabtu (11/7).    Foto: Denisa Tristanty/JPNN.Com
Ketua Umum Partai Islam Damai dan Aman (Idaman), Rhoma Irama di Jakarta, Sabtu (11/7). Foto: Denisa Tristanty/JPNN.Com

JAKARTA – Rhoma Irama kemarin (11/7) mendeklarasikan Partai Islam Damai dan Aman atau yang disingkat Idaman. Namun, berbeda dengan partai-partai Islam lainnya, Idaman tidak menggunakan simbol agama untuk lambangnya.

Partai Idaman justru memiliki lambang berupa hati yang dalam budaya barat menjadi simbol cinta. Hanya saja, Rhoma menegaskan penggunaan simbol cinta itu bukan berarti partainya mengusung  ideologi barat.

Rhoma menuturkan, simbol itu hanya menggambarkan visi Partai Idaman yang mengedepankan Islam yang memberi rahmat kepada semua. Selain itu, penggunaan simbol cinta juga diyakini bakal lebih menarik perhatian.

“Love itu Bahasa Inggris yang sudah meng-Indonesia. Saya gunakan love karena lebih populis, lebih universal, lebih catching gitu loh,” katanya dalam acara deklarasi Partai Idaman di Jakarta, Sabtu (11/7).

Pemimpin Soneta Group itu menambahkan, unsur Islam dalam simbol Partai Idaman terwakili dengan bentuk persegi lima. Maksud persegi lima itu adalah unsur rukun Islam.

Sedangkan warna merah dan putih digunakan sebagai representasi RepuIik Indonesia.

Sebagai tagline Partai Idaman, Rhoma memilih kata-kata “Love Indonesia” (cinta Indonesia). Kata-kata itu digunakan dalam seruan khas Partai Idaman.

Jadi ketika diteriakkan kata “Idaman”, maka disambut dengan yel “love Indonesia”. “Kalau kita katakan Islam, mereka jawab damai aman,” pungkas pria berjuluk Si Raja Dangdut itu.(dil/jpnn)

 
12
Jul
15

Kebangsaan : Jalan Nasionalisme Keindonesiaan

 Logo MapindoJalan Nasionalisme Keindonesiaan

Oleh: Asep Salahudin

“KAMI adalah bangsa yang hidup dari pertanian, dan siapakah yang menumbuhkan segala sesuatu? Al Khalik, Yang Mahapencipta. Kami terima ini sebagai kenyataan hidup. Jadi aku adalah orang yang takut kepada Tuhan dan cinta kepada Tuhan sejak lahir, dan keyakinan ini telah bersenyawa dengan diriku” (Bung Karno, Penyambung Lidah Rakyat).

Di tengah gencarnya aliran politik dan ormas keagamaan yang hidup di negeri kepulauan, tapi menolak NKRI, Mempercakapkan nasionalisme merupakan sesuatu yang penting. Menganggap nasionalisme sebagai bidah yang akan merusak nilai transendental keimanan yang agung seperti yang diartikulasikan HT (Hizbut Tahrir) dengan pengikutnya sudah mulai menyebar di berbagai tempat.

Kecintaan terhadap Tanah Air yang kemudian mengikatkan diri menjadi sebuah NKRI ialah fitrah yang melesak dalam palung setiap jiwa warga negara Indonesia. Bukankah dahulu saat Nabi Muhammad SAW hendak hijrah ke Madinah, beliau sangat bersedih sampai meneteskan air mata karena jiwanya sangat terpaut dengan tanah kelahirannya. Itu juga yang menjadi alasan Sumpah Pemuda pada 1928 mendapatkan sambutan gempita dari seluruh anak bangsa. Sumpah Pemuda yang dengan sangat imajinatif dan visioner membayangkan kesatuan bahasa, bangsa, dan Tanah Air itu kemudian ditubuhkan pada 1945 lewat gelora proklamasi yang dibacakan Soekarno dan Hatta.

Dalam konteks kebangsaan, negara dibangun kaum leluhur. Mengutip Benedict Anderson, nation (bangsa) sebagai komunitas politik yang terbatas dan berdaulat yang dibayangkan justru diacukan pada kesamaan sebuah bayangan negara masa depan. Hal yang dapat mempersatukan antarpulau dan kerajaan-kerajaan masa silam yang dahulu sering berperang ialah keserupaan nasib, perasaan, hasrat, dan cita-cita masa depan untuk memiliki sebuah institusi negara yang dapat mendistribusikan keadilan, menjamin rasa aman, memberikan kebebasan memeluk keyakinan, dan kemerdekaan dalam berpolitik.

Bayangan ‘negara masa depan’ kemudian diperjuangkan secara heroik oleh kaum pergerakan lewat beragam cara. Yakni melalui senjata, diplomasi, pena, atau bambu runcing yang disulut keberanian yang tak tepermanai melawan persenjataan mutakhir kaum kolonial. Berbagai cara dilakukan untuk membangkitkan semangat rakyat, di antaranya berbagai organisasi didirikan, kesadaran berpolitik massa yang dikobarkan, semangat antipenjajahan yang digalakkan, dan nama agama yang dianggitkan.

Diaraknya ideologi, baik berlatar keyakinan, nasionalisme, maupun komunisme bertujuan melakukan konsolidasi dengan berbagai pihak agar massa solid dan satu tujuan. Yakni kaum penjajah harus secepatnya hengkang dari ‘bumi pertiwi’ setelah sekian lama mengambil kekayaan Indonesia, mengambil hak-hak kemanusian, dan terus-menerus memata-matai kebebasan beragama.

Nalar nasionalisme

Pada awal kemerdekaan, di gedung konstituante, manusia pergerakan yang dahulu berjuang melawan kaum penjajah kemudian melanjutkan sengketanya dengan sesama elite Indonesia untuk membentuk Indonesia baru. Mereka bersidang dengan mendahulukan nalar, kepentingan bersama, dan kelapangan dada. Setelah diambil satu kata itifak, semua menyetujui dengan sepenuh hati. Sama halnya ketika kata sepakat diambil dalam perumusan Pancasila dan pembuatan UUD 1945.

Para pendiri bangsa itu sama sekali tidak memperdebatkan nasionalisme, apalagi memperhadapkannya dengan agama. Dalam kesadaran mereka, agama justru menjadi dasar metafisika agar nasionalisme memiliki landasan etik yang kuat. Nasionalisme menjadi ‘perkakas Tuhan’ sehingga kehidupan menjadi selaras dengan ruhnya yang asasi. Seperti yang ditulis Bung Karno, ‘…nasionalisme di dalam kelebaran dan keluasannya memberi tempat cinta pada bangsa lain sebagai lebar dan luasnya udara yang memberi tempat pada segala sesuatu yang perlu untuk hidupnya segala hal yang hidup… nasionalisme yang membuat kita menjadi perkakas Tuhan dan membuat kita menjadi hidup dalam roh.’

Nasionalisme dan keimanan bukan sesuatu yang berseberangan, bahkan justru beririsan. Ketuhanan ialah pandu agar negara yang telah dibuat tidak menemui jalan sesat. Nilai-nilai ketuhanan yang maha esa yang diletakkan pada sila pertama justru menjadi karakter khas dalam berbangsa. Pidato Bung Karno pada 1 Juni 1945 dengan fasih menggambarkan tautan Tanah Air di hadapan Allah SWT, ‘…Tanah air itu ialah satu kesatuan. Allah SWT membuat peta dunia, menyusun peta dunia…Maka manakah yang dinamakan tanah tumpah darah kita, Tanah Air kita? Menurut geopolitik, Indonesia-lah Tanah Air kita. Indonesia yang bulat, bukan Jawa saja, bukan Sumatra saja, Borneo saja, Selebes saja, Ambon saja, atau Maluku saja, melainkan segenap kepulauan yang ditunjuk Allah SWT menjadi satu kesatuan antara dua benua dan dua samudra. Itulah Tanah Air kita.’

Godaan Islam politik

Nasionalisme bukan menjadi alasan kaum beragama mencari ‘mazhab’ lain dalam bernegara. Bahkan, NKRI memberikan kebebasan sepenuhnya kepada setiap warga untuk melakukan penghayatan dan pengalaman ajaran agama. Soekarno sadar bahwa pada masanya ada banyak aktivis Islam yang masih terpikat dengan fantasi negara Islam. Bahkan kawannya sendiri ketika mondok di HOS Tjokroaminoto, Kartosuwiryo, tidak hanya tergoda politik Islam, tetapi juga memperjuangkannya lewat jalan kekerasan. Tidak sedikit juga politisi yang pada saat itu satu kaki mereka terhunjam di bumi Ibu Pertiwi yang telah diperjuangkan dan kaki lain terhunjam jauh dalam sejarah silam Islam. Para penggiat Islam politik itu mendayung dalam karang nasionalisme dan islamisme dalam kebimbangan yang tidak pernah terselesaikan secara memuaskan.

Fenomena itu yang menjadi latar Soekarno menyampai pidatonya dengan sangat bagus, yakni ‘Untuk pihak Islam, inilah tempat yang terbaik untuk memelihara agama. Kita, saya pun adalah orang Islam–maaf beribu-ribu maaf, keislaman jauh belum sempurna, tetapi kalau saudara-saudara membuka, saya punya dada dan melihat saya punya hati. Tuan-tuan akan dapati tak lain, tidak bukan hati Islam. Hati Islam Bung Karno ini ingin membela Islam dalam mufakat dan dalam permusyawaratan. Dengan cara mufakat, kita perbaiki segala hal, juga keselamatan agama yaitu dengan jalan pembicaraan atau pun permusyawaratan di dalam Badan Perwakilan rakyat. (1945).’

Hari ini ialah sebuah ironi kalau ada sebagian ormas yang masih mengutak-atik ihwal nasionalisme, apalagi mempertentangkannya dengan agama. Hal itu bukan hanya mencerminkan kegagapan pikir, melainkan juga menggambarkan pemahaman yang tercerabut dari akar sejarah kebangsaan. Mereka tidak pernah membaca bagaimana negeri ini didirikan oleh leluhur kita. Selebihnya, mereka tak dapat memaknai agama secara rasional, membumi, dan kontekstual.

Saatnya nasionalisme yang sudah menghunjam dalam palung seluruh warga membawa kesejahteraan. Inilah hakikat jalan nasionalisme, yakni jalan menuju keadilan dan kesejahteraan, bukan nasionalisme yang mengawang-ngawang seperti ditulis Bung Karno, ‘Nasionalisme, masyarakat ialah nasionalisme yang timbulnya tidak karena rasa saja, tidak karena gevoel saja, tidak karena lirik saja, tetapi juga karena keadaan-keadaan yang nyata di dalam masyarakat.’

Keadaan di dalam masyarakat perlu diperbaiki sehingga keadaan yang pincang itu menjadi keadaan yang sempurna, tidak ada kaum yang tertindas, dan tidak ada kaum yang celaka. Akhirnya, tercipta suatu nasionalisme yang bermaksud mencari keberesan politik dan keberesan ekonomi serta keberesan negeri dan keberesan rezeki. []

MEDIA INDONESIA, 03 Juli 2015

Asep Salahudin, Dekan Fakultas Syariah IAILM Suryalaya Tasikmalaya


http://harian-oftheday.blogspot.com/

“…menyembah yang maha esa,
menghormati yang lebih tua,
menyayangi yang lebih muda,
mengasihi sesama…”
__._,_.___
Posted by: Ananto <pratikno.ananto@gmail.com>

12
Jul
15

Kebudayaan : Islam Nusantara ke Perhimpunan Bangsa-bangsa

   Jakarta45

PBNU Senang, Diskusi Islam Nusantara Digelar di Gedung PBB

Rabu, 08/07/2015 18:59

[Jakarta, *NU Online*
Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama, KH. Said Aqil Siroj, bersyukur
gagasan Islam Nusantara yang dijadikan tema besar Muktamar ke-33 Nahdlatul
Ulama, 1 – 5 Agustus mendatang, diterima oleh dunia internasional.

“Saya dengar PBB (Perserikatan Bangsa Bangsa) sampai menggelar diskusi
khusus tentang Islam Nusantara. Alhamdulillah, Islam Nusantara bisa
diterima dunia internasional,” kata Kiai Said di Jakarta, Rabu (8/7/2015).

Dikutip dari situs voa indonesia, PBB menggelar diskusi membahas wajah
Islam moderat di Indonesia di markas besar mereka di New York, Amerika
Serikat, Selasa (7/7/2015) waktu setempat. Diskusi yang digagas oleh
perwakilan tetap Indonesia di PBB ini diikuti oleh pemuka agama, pengamat,
diplomat, serta tokoh masyarakat.

“Ini membanggakan,” lanjut Kiai Said.

Lebih lanjut Kiai Said meminta pihak-pihak di luar NU, khususnya yang terus
mempertanyakan gagasan Islam Nusantara, untuk tidak lagi memperdebatkannya.

“Saya tegaskan lagi Islam Nusantara bukan agama baru, bukan juga aliran
baru. Dan yang paling penting Islam Nusantara tidak akan mengajarkan
seseorang menjadi radikal, tidak akan mengajarkan permusuhan dan
kebencian,” tegasnya.

Dalam diskusi tentang Islam Nusantara di PBB, Dr. James B. Hoesterey dari
Universitas Emory di Atlanta, Georgia, menganggap Islam Nusantara sebagai
gagasan yang layak dicontoh oleh dunia internasional.

“Sebagai seorang antropolog yang sudah lama melakukan penelitian di
Indonesia, saya senang bahwa dunia luar dan wakil-wakil serta duta besar
dari negara masing-masing dapat mendengarkan sedikit lebih dalam mengenai
Islam di Indonesia yang mungkin tidak sama dengan Islam di negara mereka,
misalkan Arab Saudi. Kalau kita lihat ke depan, mungkin Indonesia bisa
menjadi contoh,” kata Dr. James.

Sementara Dr. Chiara Formichi, pakar sejarah Islam di Indonesia dari
Universitas Cornell di Ithaca, New York, mengatakan banyak pelajaran yang
bisa dipetik dari Islam di Indonesia.

“Gagasan Islam Nusantara sangat erat dengan budaya dan sejarah Indonesia.
Saya tidak tahu bisa diterapkan di negara lain atau tidak, tetapi yang
jelas bisa menjadi contoh untuk mengerti mengapa seseorang memeluk Islam,”
katanya.

Muktamar ke-33 Nahdlatul Ulama akan digelar di Jombang, Jawa Timur, 1 – 5
Agustus mendatang. Muktamar yang merupakan forum permusyawaratan tertinggi
di Nahdlatul Ulama tersebut mengangkat tema ‘Meneguhkan Islam Nusantara
untuk Peradaban Indonesia dan Dunia’. *Red: Mukafi Niam Foto: VOA
Indonesia*

Sumber:

http://nu.or.id/a,public-m,dinamic-s,detail-ids,44-id,60756-lang,id-c,nasional-t,PBNU+Senang++Diskusi+Islam+Nusantara+Digelar+di+Gedung+PBB-.phpx


http://harian-oftheday.blogspot.com/

“…menyembah yang maha esa,
menghormati yang lebih tua,
menyayangi yang lebih muda,
mengasihi sesama…”

[Non-text portions of this message have been removed]__._,_.___

Posted by: Ananto <pratikno.ananto@gmail.com>

Landasan Operasional Islam Nusantara

Oleh: Zainul Milal Bizawie

Saat ini istilah Islam Nusantara telah menimbulkan polemik pro dan kontra. Bagi NU sebagai ormas Islam terbesar, Islam Nusantara merujuk pada fakta sejarah penyebaran Islam di wilayah Nusantara dengan cara pendekatan budaya, tidak dengan doktrin yang kaku dan keras. Bahwa Islam di Nusantara didakwahkan dengan cara merangkul budaya, menyelaraskan budaya, menghormati budaya, dan tidak memberangus budaya. Dari pijakan sejarah itulah, NU akan bertekad mempertahankan karakter Islam Nusantara yaitu Islam yang ramah, damai, terbuka dan toleran. Presiden Jokowi juga telah menyatakan dukungannya secara terbuka atas model Islam Nusantara, yaitu Islam yang penuh sopan santun, Islam yang penuh tata krama dan penuh toleransi.

Namun, banyak kalangan yang melontarkan kritik dan penolakan terhadap istilah Islam Nusantara karena terkesan memperhadapkan dengan Islam di Arab, bahkan dianggap rasial dan menimbulkan fanatisme primordial dan akan semakin mengkotak-kotakkan umat Islam, bahkan dituduh sebagai bagian strategi baru dari agenda islam liberal dan zionis. Karenanya, agar tidak terjadi tumpang tindih dan kesalahpahaman terkait Islam Nusantara, penting kiranya memaknai Islam Nusantara sebagai konsep dan bagaimana operasionalisasinya dalam konteks keberagamaan di Indonesia saat ini. Hal ini karena kita bertanggung jawab menyebarluaskan paham Islam Nusantara sebagai bentuk penegasan Islam yang memberi kesejahteraan dan kedamaian bagi seluruh rakyat Indonesia.

Memaknai Islam Nusantara

Islam Nusantara adalah Islam yang khas ala Indonesia, gabungan nilai Islam teologis dengan nilai-nilai tradisi lokal, budaya, dan adat istiadat di Tanah Air. Karakter Islam Nusantara menunjukkan adanya kearifan lokal di Nusantara yang tidak melanggar ajaran Islam, namun justru menyinergikan ajaran Islam dengan adat istiadat lokal yang banyak tersebar di wilayah Indonesia. Kehadiran Islam tidak untuk merusak atau menantang tradisi yang ada. Sebaliknya, Islam datang untuk memperkaya dan mengislamkan tradisi dan budaya yang ada secara tadriji (bertahap). Bisa jadi butuh waktu puluhan tahun atau beberapa generasi. Pertemuan Islam dengan adat dan tradisi Nusantara itu kemudian membentuk sistem sosial, lembaga pendidikan (seperti pesantren) serta sistem Kesultanan (KH. Said Aqil Siraj: 2015). Tradisi itulah yang kemudian disebut dengan Islam Nusantara, yakni Islam yang telah melebur dengan tradisi dan budaya Nusantara.

Pemahaman tentang formulasi Islam Nusantara menjadi penting untuk memetakan identitas Islam di negeri ini. Islam Nusantara dimaksudkan sebuah pemahaman keislaman yang bergumul, berdialog dan menyatu dengan kebudayaan Nusantara, dengan melalui proses seleksi, akulturasi dan adaptasi (Abdul Mun’im DZ: 2010). Islam nusantara tidak hanya terbatas pada sejarah atau lokalitas Islam di tanah Jawa. Lebih dari itu, Islam Nusantara sebagai manhaj atau model beragama yang harus senantiasa diperjuangkan untuk masa depan peradaban Indonesia dan dunia (Ahmad Baso: 2015). Islam Nusantara adalah Islam yang ramah, terbuka, inklusif dan mampu memberi solusi terhadap masalah-masalah besar bangsa dan negara. Islam yang dinamis dan bersahabat dengan lingkungan kultur, sub-kultur, dan agama yang beragam. Islam bukan hanya cocok diterima orang Nusantara, tetapi juga pantas mewarnai budaya Nusantara untuk mewujudkan sifat akomodatifnya yakni rahmatan lil ‘alamin.

Menyimak wajah Islam di dunia saat ini, Islam Nusantara sangat dibutuhkan, karena ciri khasnya mengedepankan jalan tengah karena bersifat tawasut (moderat), tidak ekstrim kanan dan kiri, selalu seimbang, inklusif, toleran dan bisa hidup berdampingan secara damai dengan penganut agama lain, serta bisa menerima demokrasi dengan baik. Model Islam Nusantara itu bisa dilacak dari sejarah kedatangan ajaran Islam ke wilayah Nusantara yang disebutnya melalui proses vernakularisasi dan diikuti proses pribumisasi, sehingga Islam menjadi embedded (tertanam) dalam budaya Indonesia (Azyumardi Azra:2-15). Oleh karena itu, sudah selayaknya Islam Nusantara dijadikan alternatif untuk membangun peradaban dunia Islam yang damai dan penuh harmoni di negeri mana pun, namun tidak harus bernama dan berbentuk seperti Islam Nusantara karena dalam Islam Nusantara tidak mengenal menusantarakan Islam atau nusantarasasi budaya lain.

Dalam konteks ini, budaya suatu daerah atau negara tertentu menempati posisi yang setara dengan budaya Arab dalam menyerap dan menjalankan ajaran Islam. Suatu tradisi Islam Nusantara menunjukkan suatu tradisi Islam dari berbagai daerah di Indonesia yang melambangkan kebudayaan Islam dari daerah tersebut. Dengan demikian, corak Islam Nusantara tidaklah homogen karena satu daerah dengan daerah lainnya memiliki cirikhasnya masing-masing tetapi memiliki nafas yang sama. Kesamaan nafas merupakan saripati dan hikmah dari perjalanan panjang Islam berabad-abad di Nusantara yang telah menghasilkan suatu karakteristik Islam Nusantara yang lebih mengedepankan aspek esotoris hakikah ketimbang eksoteris syariat.

Salah satu dari masterpiece Islam Nusantara adalah tegaknya NKRI dan Pancasila (Zainul Milal Bizawie: 2014). Dalam pandangan Islam Nusantara, Indonesia adalah darussalam dan Pancasila merupakan intisari dari ajaran Islam ahlussunnah wal jamaah. Karenanya, mempertahnakan NKRI dan mengamalkan Pancasila merupakan perwujudan dari upaya umat Islam Indonesia utk menjalankan syariat Islam. Pancasila merupakan pengejawantahan dari Islam Nusantara, karena itu nilai-nilai Pancasila harus terus ditegakkan, apalagi saat ini tengah terjadi liberalisasi sistem politik dan ekonomi serta budaya, sehingga keberadaan Pancasila menjadi samar-samar.

Perlu ditegaskan disini bahwa Islam Nusantara tidaklah anti budaya Arab, akan tetapi untuk melindungi Islam dari Arabisasi dengan memahaminya secara kontekstual. Islam Nusantara tetaplah berpijak pada akidah tauhid sebagaimana esensi ajaran Islam yang dibawa Nabi Muhammad. Arabisasi bukanlah esensi ajaran Islam. Karenanya, kehadiran karakteristik Islam Nusantara bukanlah respon dari upaya Arabisasi atau percampuran budaya arab dengan ajaran Islam, akan tetapi menegaskan pentingnya sebuah keselarasan dan kontekstualisasi terhadap budaya lokal sepanjang tidak melanggar esensi ajaran Islam. Tentu saja, Islam Nusantara tidak seekstrim apa yang terjadi di Turki era Mustafa Kemal Attaturk yang pernah mengumandakan adzan dengan bahasa Turki. Ada pokok-pokok ajaran Islam yang tidak bisa dibudayakan ataupun dilokalkan. Dalam hal ini, penggunaan tulisan Arab Pegon oleh ulama-ulama terdahulu adalah salah satu strategi jitu bagaimana budaya lokal bedialektika dengan budaya Arab dan telah menyatu (manunggal). Pesan rahmatan lil alamin menjiwai karakteristik Islam Nusantara, sebuah wajah Islam yang moderat, toleran, cinta damai dan menghargai keberagaman. Islam yang merangkul bukan memukul, Islam yang membina bukan menghina, Islam yang memakai hati bukan memaki-maki, Islam yang mengajak taubat bukan menghujat, dan Islam yang memberi pemahaman bukan memaksakan.

Landasan dan Operasionalisasinya

Dalam membangun karakteristik Islam Nusantara, peran penyebar masuknya Islam di Nusantara seperti Walisongo cukup dominan dalam pembentukan kultur Islam Nusantara. Para Wali yang merupakan gabungan antara ahli syari’ah dan tasawuf ini telah mengembangkan Islam ramah yang bersifat kultural. Sifat kultural ini bisa terbentuk, karena penekanan para Wali atas substansi Islam yang akhirnya bisa membumi ke dalam bentuk budaya keagamaan lokal pra-Islam. Proses ini yang disebut KH. Abdurrahman Wahid (1980-an) sebagai pribumisasi Islam, di mana ajaran Islam disampaikan dengan meminjam “bentuk budaya” lokal. Pribumisasi Islam ala Walisongo mengajarkan toleransi, substansi dan kesadaran kebudayaan di dalam dakwah Islam. Pola pribumisasi Islam inilah yang akhirnya membentuk perwujudan kultural Islam. Sebuah perwujudan keislaman yang bersifat kultural yang merupakan pertemuan antara nilai-nilai normatif Islam dengan tradisi lokal.

Perwujudan kultural ala Walisongo ini kemudian mencapai titik paripurna di dalam pesantren. Hal ini tidak lepas dari jejaring ulama Nusantara pada abad-abad setelahnya yang menggambarkan proses kesinambungan yang terus berproses menyempurnakan. Proses tersebut mengalami persilangan lintas kultur, dengan transmisi keilmuan, jaringan ulama dan interaksi kebudayaan. Persilangan lintas kultural antara kawasan Nusantara dengan Arab, Yaman, Haramain, Ottoman dan kawasan Asia tengah menjadi titik penting untuk melihat bagaimana penyerbukan lintas budaya terjadi. Islam Nusantara lahir dari interaksi antar budaya yang menghasilkan harmoni dalam tradisi, ritual dan pemahaman konsep-konsepnya. Islam di Nusantara tidak berangkat dari kekerasan, namun dari cara-cara perdamaian untuk meresap di hati.

Bentuk operasionalisasi Islam Nusantara adalah proses perwujudan nilai-nilai Islam melalui (bentuk) budaya lokal. Dalam tataran praksisnya, membangun Islam Nusantara adalah menyusupkan nilai Islami di dalam budaya lokal atau mengambil nilai Islami untuk memperkaya budaya lokal atau menyaring budaya agar sesuai nilai Islam. Proses tersebut dimungkinkan karena dalam Islam terdapat kaidah fikih al-‘adah al-muhakkamah (adat bisa menjadi hukum) maupun pengembangan dan pemahaman aplikasi nash (al Qur’an dan Hadits). Kaidah Fiqh dan pengembangan tersebut semata-mata ditujukan untuk tercapainya maqāṣīd al-syarīʻah (tujuan syariat), yaitu terwujudnya kemaslahatan (maṣlaḥah) manusia di dunia dan akhirat, suatu kebaikan dan kemanfaatan yang bernaung di bawah lima prinsip pokok (al-kulliyāt al-khams), yaitu hifẓ ad-dīn, hifẓ al-ʻaql, hifẓ an-nafs, hifẓ al-māl, dan hifẓ al-ʻirḍ.

Oleh karenanya, sudah selayaknya kita terlepas dari pandangan orientalis, para peneliti barat atau cendekiawan pribumi yang berprespektif seperti mereka, bahwa Islam di Nusantara sebagai periferal, singkretis, pinggiran, dan Islam yang jauh dari bentuk asli yang terdapat dan berkembang di pusatnya di Timur Tengah. Justru dalam perjalanan sejarah, Islam Nusantara teruji telah tahan banting dan sanggup mengemban Islam rahmatan lil alamin dan untuk kepentingan kemaslahatan ummat. Islam Nusantara sudah selayaknya dijadikan model dan suatu cara pandang membangun dan mengkaji berbagai persoalan di dunia.

Dalam konteks inilah, meneguhkan Islam Nusantara dimaksudkan untuk memperkokoh dan upaya terus menerus menemukan (Invention), meramifikasi, merekonsiliasi, mengkomunikasikan, menganyam dan menghasilkan konstuksi-konstruksi baru (inovation). Konstruksi tersebut tidak harus merupakan pembaharuan secara total atau kembali ke tradisi masa lalu secara total, melainkan bisa saja hanya pembaharuan terbatas. Sebuah invensi tidak dimaksudkan menemukan tradisi atau autentitas secara literal, mengkopi apa yang pernah dilakukan, melainkan bagaimana tradisi lokal itu menjadi suatu yang dapat dimodifikasi ulang sehingga dalam konteks kekinian jadi relevan dan kontekstual. Dengan demikian, Islam Nusantara merupakan suatu proses yang berkelanjutan dan tidak berhenti dalam menemukan bentuk dan manhaj berfikir dan bertindak dalam keberislaman yang selalu mengkontekstualisasikan dalam gerak sejarah. []

Zainul Milal Bizawie, Penulis buku Laskar Ulama Santri dan Resolusi Jihad, Penggiat Historiografi Islam Nusantara


http://harian-oftheday.blogspot.com/

“…menyembah yang maha esa,
menghormati yang lebih tua,
menyayangi yang lebih muda,
mengasihi sesama…”
__._,_.___
Posted by: Ananto <pratikno.ananto@gmail.com>

http://www.sinarharapan.co/news/read/150707104/islam-nusantara-suatu-keniscayaan

Islam Nusantara, Suatu Keniscayaan

Hukum di Arab bukanlah buatan manusia

07 Juli 2015 16:50 Herman Hakim Galut OPINI dibaca: 161

Islam Nusantara adalah model yang diinilai cocok untuk diaplikasikan di Indonesia. Ide ini kembali didengungkan pejabat teras Nahdlatul Ulama (NU) dalam musyawarah nasional (munas) organisasi itu di Jakarta, baru-baru ini.

NU ingin membuat suatu pemisahan tegas antara Islam dengan seluruh perangkat ajarannya serta Arab dengan seluruh rakyat dan perangkat kebudayaannya. Salah satu contoh, agar langgam pembacaaan Alquran tak perlu lagi dalam langgam Arab, tetapi dalam  langgam budaya lokal di Indonesia, seperti Jawa dan Sunda.

Kalau ihwal itu ditempatkan pada ranah kebudayaan, contoh yang disebutkan di atas mencakup ekspresi rasa (seni dan cita rasa) dan karsa (keterampulan) rakyat Indonesia dalam kehidupan sehari-hari. Meminjam istilah Kristen, yang diuraikan itu digolongkan sebagai tata ibadah atau liturgi. Apabila  ditempatkan ke ranah politik, seseorang yang buta politik sekali pun akan mengetahui ungkapan religius orang Arab sangat berbeda dengan ungkapan religius orang Indonesia dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
????
Hukum  di Arab bukanlah buatan manusia, melainkan langsung dari Sang Pencipta. Dalam ekspresi keagamaan, orang Arab dan bangsa Indonesia memiliki religiusitas yang berbeda. Orang Arab memilih monarki dalam sistem pemerintahan, sementara orang Indonesia lebih menyukai model negara-bangsa (nation  state) yang berdasarkan konstitusi buatan manusia.

Konstitusi mengatur pembagian kekuasaan dalam tiga cabang, yakni eksekutif (presiden), legislatif (DPR) dan yudikatif (kehakiman). Konstitusi menetapkan pula masa jabatan seorang presiden cukup dua kali saja. Presiden baru  dipilih melalui pemilihan umum. Inilah sila demokrasi, bahwa monopoli kekuasaan tak diberi tempat di bumi Indonesia.

Di dunia Arab, pengaturan semacam ini dianggap tak layak karena hukum positif buatan manusia adalah dosa besar. “Hukum buatan manusia yang hidupnya tak kekal (mortal) tidak layak membuat undang-undang,” ujar Tarek Heggy, seorang reformis, dalam artikelnya yang dibuat dalam buku Reforming Islam.

Berpijak ke pola pikir semacam itu, tak heran sumber kekuasaan di hampir semua negara di dunia Arab, kecuali Mesir dan Tunisia, berpusat pada keluarga tertentu yang masih punya hubungan keluarga dengan Nabi Muhammad saw.

Pendidika
Perbedaan mendasar antara dunia Arab dan Indonesia adalah pendidikan para bapak bangsanya. Inisiator gerakan Budi Oetomo pada 1908 berlatar belakang pendidikan Barat. Gerakan Sumpah Pemuda diprakarsai tokoh pemuda yang berwawasan global dan berperilaku lokal (ingat slogan think globally, act locally). Presiden Soekarno dan Wakil Presiden (Wapres) Muhammad Hatta juga merupakan proklamator yang berpendidikan Barat.

Contoh-contoh ini jauh dari maksud mengagung-agungkan Barat, namun lebih kepada penekanan bahwa para bapak bangsa Indonesia berkemampuan membedakan westernity dan modernity.  Mereka tidak mengambil westernity dari sudut pandang budaya dan agama. Akan tetapi, mereka mengambil modernity yang merupakan pergulatan manusia dalam mencapai kemajuan (human progress) lewat pengembangan sains dan teknologi. Kedua bidang itu merupakan produk dari berbagai gerakan di Eropa, seperti renaisans , Revolusi Prancis, pencerahan, Magna Carta, Revolusi Industri , demokrasi, dan deklarasi hak asasi manusia (HAM).

Human progress bukanlah suatu yang partikular orang Barat,  melainkan universal bagi umat manusia di seluruh dunia. Insinyur yang membangun Candi Borobudur, Candi Prambanan, dan Candi Mendut tidak mengacu teknologi Barat, tetapi kepada kemampuan diri sendiri. Pertanyaannya, mengapa sekarang kita kurang mampu membuat jalan tol yang tahan lama seperti Candi Borobudur?

Tidak bermaksud melecehkan sistem pendidikan di dunia Arab, namun panelis Tunisia dalam sebuah simposium di National Press Club, Washington DC, Desember 2014, mendapati kurikulum di kawasan itu tidak menggiring anak didik agar ikut mengambil bagian secara aktif dalam proses human progress. Pendidikan di Arab sangat menekankan kemampuan menghafal berbagai teks keagamaan. Seorang panelis perempuan dari Tunisia mengutip perkataan seorang ibu di Tunisia yang menanyakan alasan tujuan seseorang harus belajar psikologi.

Perdebatan seputar Islam di Indonesia harus mengikuti secara bulat ajaran Islam dalam bungkusan budaya Arab tak akan menghasilkan apa-apa. Ini karena religiusitas dan sejarah  keduanya sudah sangat berbeda.

Konsili
Solusi terbaik mengatasi konflik interpretasi yang terjadi sekarang agar para pemimpin teras Islam di Indonesia, baik dari Nahdlatul Ulama atau Muhammadiyah, menggelar konsili guna membahas ajaran mana yang diterima dan yang dianggap sesat.

Sejak lahirnya Islam pada abad ketujuh,  pemimpin Islam baru sekali menggelar konsili atau Saqifat Bani Saida. Berbeda dengan tradisi greco-Roman (Katolik dan Protestan). Pemimpin Katolik telah menggelar 20 konsili, yang pertama berlangsung di Nicea atas prakarsa  Kaisar Konstantin Roma  pada 325 . Konsili berikutnya menyusul di Efesus (sekarang Turki) pada 431 atas prakarsa Kaisar Theodosius. Pemimpin Protestan menggelar sinode hampir setiap tahun untuk membahas berbagai isu seputar peningkatan pelayanan kepada umat dan lain sebagainya.

Kalau pemimpin Islam Indonesia memiliki keberanian iman menggelar konsili dan  menelurkan keputusan-keputusan strategis yang menyatukan umat, besar kemungkinan peran Indonesia makin cemerlang di panggung internasional. Pencapaian ini bagian dari human progress orang Indonesia.

Keputusan ini diharapkan bisa membebaskan kita  dari dari slogan lama yang cuma menekankan kuantitas, yakni sebuah negara dengan umat Islam terbesar di dunia. Generasi muda Islam Indonesia menghendaki negara ini mayoritas rakyatnya modern dan cemerlang. Ini sebuah keniscayaan.

Penulis adalah wartawan, anggota National Press Club di Washington DC.

Sumber : Sinar Harapan

__._,_.___

Posted by: “Sunny” <ambon@tele2.se>

 

Indonesia Tak Tepat Tiru Corak Islam Timur Tengah dan Maghrib Arabi

Selasa, 07/07/2015 21:30

Jakarta, *NU Online*
Pengurus Pusat Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (PP
Lakpesdam) NU ikut menyumbangkan ide, wacana, dan gagasan Islam Nusantara
dengan menggelar diskusi bertajuk ‘Antara Agama Tradisi dan Tradisi Agama:
Sebuah Upaya Meneguhkan Islam Nusantara’.

Acara yang digelar di lantai 8 Gedung PBNU, Selasa (7/7) ini menghadirkan
Pakar Islam Nusantara, Drs Agus Sunyoto, dan Pengamat Kawasan Timur Tengah
dan Maghrib Arabi, Dr Arwani Syaerozi dengan moderator Savic Ali, aktivis
muda Nahdlatul Ulama dan Pimred NU Online.

Dalam pengantarnya, Savic menjelaskan bahwa wacana Islam Nusantara semakin
kaya dan berkembang. Kelompok yang kontra ditanggapi dengan baik oleh
berbagai kalangan NU seperti para kiai, intelektual, maupun aktivis muda
NU.

Namun demikian, kata Savic, Islam Nusantara tetap mempunyai tantangan besar
mengingat umat Islam di Indonesia masih ada yang menganggap bahwa Islam
Nusantara bersifat Jawa sentris. Padahal menurutnya, Nusantara secara
demografi mencakup seluruh wilayah Asia Tenggara.

Dalam pemaparannya, Agus Sunyoto menerangkan, bahwa Islam Nusantara harus
melihat perjalanan sejarah. Selain memiliki paham inklusif, toleran, dan
ramah, Agus menjelaskan bahwa Islam Nusantara mendorong kemajuan keilmuan
dan peradaban seperti yang telah dibangun para Wali Songo.

“Seperti teknik metalurgi atau pengecoran, ilmu falak, palalindon atau ilmu
gempa, ilmu fisionomi atau ilmu memahami karakter tubuh dan masih banyak
lagi. Ilmu-ilmu yang kini modern itu justru dikembangkan oleh orang-orang
Nusantara,” ungkap penulis buku Atlas Wali Songo itu.

Sementara itu, Arwani Syaerozi menjelaskan, bahwa masyarakat Indonesia yang
multikultural dan lebih majemuk daripada masyarakat Timur Tengah (Asia
Barat dan Afrika Timur) dan Maghrib Arabi (Afrika Utara) tidak tepat jika
ber-Islam meniru corak Timur Tengah dan Maghrib Arabi.

“Konsep Islam Nusantara yang mengakomodir kearifan lokal dan memperhatikan
nilai-nilai luhur bangsa sangat tepat diterapkan di Indonesia dan dijadikan
model di negara-negara muslim di dunia,” jelasnya.

Menurutnya, Islam Nusantara mampu mengkombinasikan antara ber-Islam secara
tekstual dan kontekstual. “Hal ini adalah konsep yang sejalan dengan
Maqasid al-Syariah (tujuan-tujuan syariat),” tuturnya.

Diskusi ini dihadiri oleh Ketua PP Lakpesdam NU, H Yahya Ma’shum beserta
seluruh jajaran pengurus pusat lainnya dan peserta dari berbagai unsur
organisasi NU dan aktivis Islam Nusantara. *(Fathoni) *

Sumber:

http://nu.or.id/a,public-m,dinamic-s,detail-ids,44-id,60719-lang,id-c,nasional-t,Indonesia+Tak+Tepat+Tiru+Corak+Islam+Timur+Tengah+dan+Maghrib+Arabi-.phpx


http://harian-oftheday.blogspot.com/

“…menyembah yang maha esa,
menghormati yang lebih tua,
menyayangi yang lebih muda,
mengasihi sesama…”

[Non-text portions of this message have been removed]

__._,_.___

Posted by: Ananto <pratikno.ananto@gmail.com>

http://www.suara-islam.com/read/index/14840/-Sejumlah-Kyai-NU-Tolak-Islam-Nusantara-Jadi-Tema-Muktamar-NU-ke-33Kamis, 09/07/2015 12:11:30 |

Sejumlah Kyai NU Tolak Islam Nusantara Jadi Tema Muktamar NU ke-33

KH Muhyiddin Abdusshomad (foto: Bangsa Online)

Surabaya (SI Online) –  Pro dan kontra mengenai gagasan “Islam Nusantara” sebagai tema utama Muktamar NU ke-33 terus berlanjut. Sejumlah Kyai NU di Jember, Jawa Timur mengaku tidak setuju dengan istilah Islam Nusantara. Mereka lebih cenderung dengan Islam Rahmatan lil Alamin.

Seperti diketahui Muktamar ke-33 NU di Jombang mendatang akan mengambil tema sentral “Meneguhkan Islam Nusantara untuk peradaban Indonesia dan dunia”. Tema ini secara resmi diluncurkan di gedung PBNU, Jakarta pada Senin malam (09/03) lalu.

Menurut kalangan NU yang menolak, istilah Islam Nusantara mempersempit ruang lingkup Islam dan cenderung eksklusif.

”Padahal NU sendiri tidak hanya di Indonesia tapi juga berkembang di luar negeri. Bagaimana dengan teman-teman NU yang berada di Singapura, Malaysia dan sebagainya,” kata KH Misbahussalam, Wakil Ketua Pengurus Cabang Nahdjatul Ulama (PCNU) Kabupaten Jember kepada wartawan, Selasa (7/7/2015).

Bahkan, menurut Misbah, ada dugaan disosialisasikannya Islam Nusantara untuk mengakomodasi ajaran Syiah, Islam Liberal, Wahabi dan idelogi lain yang bertentangan dengan Ahlussunnah Wal Jamaah (Aswaja).

Apalagi mulai muncul pendapat bahwa Syiah di Indonesia ada lebih dulu ketimbang Sunni. Artinya, Syiah harus diakomodasi oleh Islam Nusantara karena bagian dari khazanah atau kekayaan agama Nusantara. ”Panitia Muktamar harus mengganti istilah Islam Nusantara dengan istilah yang tidak bertentangan dengan ideologi NU,” katanya.

KH Muhsyiddin Abdusshomad, Rais Syuriah PCNU Kabupaten Jember juga minta agar Panaitia Muktamar NU ke-33 memakai Islam Rahmatan Lil Alamin yang selama ini sudah jadi jati diri NU. “Istilah Islam Rahmatan lil Alamin yang dipakai selama ini sudah benar karena ada rujukannya dalam Alquran,” katanya, Selasa (7/7/2015).

Menurut dia, istilah Islam Nusantra tak punya sumber baik dalam Alquran, hadits, ijma’ maupun qiyas. ”Justru banyak pihak baik di internal maupun eksternal NU menyerang NU karena persoalan istilah Islam Nusantara,” kata Kiai Muhyiddin.

KHA Muhith Muzadi juga mengaku tak setuju dengan istilah Islam Nusantara. Alasannya, Islam itu satu. Yaitu Islam yang sudah jelas ajarannya. “Rumusan khittah itu sudah jelas dan itu adalah ideologi NU. Kalau Islam Nusantara pasti ada mafhum mukholafah. Berarti Islam non Nusantara,” kata kiai penggagas khittah NU 26 yang diratifikasi KH Ahmad Siddiq itu.

red: abu faza

sumber: Bangsa Online

__._,_.___

Posted by: “Sunny” <ambon@tele2.se>

http://www.suara-islam.com/read/index/14760/Sebagaimana-Islam-Liberal–Masyarakat-Juga-Harus-Menolak-Ajaran-Islam-Nusantara

Senin, 29/06/2015 16:49:12 |

Sebagaimana Islam Liberal, Masyarakat Juga Harus Menolak Ajaran Islam Nusantara

  1. Didin Hafidhuddin

Bogor (SI Online) – Menanggapi munculnya istilah Islam nusantara, KH. Didin Hafidhuddin mengajak masyarakat untuk menolak pemikiran tersebut sebagaimana selama ini masyarakat juga menolak pemikiran liberalisme.

“Saat ini gerakan kelompok liberal mulai menurun karena masyarakat sudah tahu kesalahannya dan dananya juga sudah tidak ada lagi,” ujar Kyai Didin kepada Suara Islam Online, Ahad (28/6/2015).

Menurutnya, sebelumnya sudah ada istilah seperti Islam rahmatan lil alamin, Islam yang hanya amar makruf tapi nahi munkarnya tidak ada. “Sekarang kan begitu, kalau ada orang maksiat atau mau kawin sejenis itu dibiarkan saja dengan dalih hak asasi manusia,” ujar Kyai Didin.

Kapan bisa dikatakan rahmatan lil alamin, ketika Islam dilaksanakan secara kaffah, bukan dibuat-buat, jelasnya.

Terkait Islam nusantara, menurut Kyai Didin ajarannya seolah-olah Islam itu harus tunduk ke nusantara, bukan nusantara yang harus tunduk sama Islam. “Ini membahayakan sekali. Kalau Islam ya Islam saja, Islam itu di atas nusantara,” tegasnya.

Ia menambahkan, pemikiran seperti Islam Nusantara malah akan menjustifikasi terhadap nilai-nilai sinkretisme, mencampur adukkan antara nilai Islam dengan tradisi.

“Menurut para ulama tradisi itu dibagi dua, ada yang sejalan dengan syariat dan ada yang tidak. Misalnya halal bihalal itukan sejalan dengan silaturahim itu bagus dan sah-sah saja, tetapi kalau yang tidak sejalan itu misalnya menyatakan kepercayaan terhadap animisme yang menjadi budaya bangsa, itu tidak boleh,” pungkasnya.

__._,_.___

Posted by: “Sunny” <ambon@tele2.se>

http://www.suara-islam.com/read/index/14825/Menag-Klaim-Gagasan-Islam-Nusantara-tak-Bermuatan-PolitikRabu, 08/07/2015 09:04:11 |

MenAg Klaim Gagasan Islam Nusantara tak Bermuatan Politik

Menag Lukman Hakim Saifuddin (foto: liputan6.com)

Jakarta (SI Online) – Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin mengklaim gagasan Islam Nusantara tidak untuk memecah belah persatuan umat Islam.

“Saya pikir tidak ada hubungannya,” kata Lukman kepada sejumlah wartawan seusai mengikuti diskusi Majelis Kemisan “Islam Nusantara” di rumah dinas Menag, Komplek Widya Chandra, Jakarta Selatan, Selasa (07/7/2015).

Lukman mengklaim, kontroversi mengenai gagasan Islam Nusantara di masyarakat lebih kepada perbedaan pemahaman mengenai Islam Nusantara itu sendiri. “Kontroversi lebih kepada tidak adanya kesamaan pemahaman akan substansi Islam Nusantara itu,” lanjutnya.

Menurut Lukman tidak ada yang perlu dikhawatirkan dari kemunculan istilah Islam Nusantara. Sebab. itu hanya istilah lama yang ada dalam sejarah Islam di Indonesia yang kini dimunculkan kembali.

“Tidak ada yang dikhawatirkan, karena Islam Nusantara bukan untuk menegasikan kelompok lain,” tegas politisi PPP kubu muktamar Surabaya itu.

Lukman bersikukuh Islam Nusantara yang kini turut ia kampanyekan dapat menjadi model bagi negara-negara lainnya.

“Bagaimana Islam ratusan tahun di nusantara, kekhasannya di Indonesia, ya mungkin bisa menjadi model bagi negara-negara lain di dunia untuk mengambil sisi positif yang bisa diterapkan di tempat lain,” pungkasnya.

__._,_.___

Posted by: “Sunny” <ambon@tele2.se>

Islam Nusantara vs Berkemajuan

Oleh: Ahmad Najib Burhani
Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama (NU) akan menyelenggarakan muktamar pada waktu yang berdekatan yakni minggu pertama Agustus 2015.
Tema yang diangkat sekilas mirip: Muhammadiyah ”Gerakan Pencerahan Menuju Indonesia Berkemajuan” dan NU ”Meneguhkan Islam Nusantara untuk Peradaban Indonesia dan Dunia”. Meski terlihat bersinggungan, ”Islam berkemajuan” dan ”Islam Nusantara” adalah respons yang berbeda terhadap fenomena yang sama yaitu globalisasi, terutama globalisasi kebudayaan, baik dalam bentuk arabisasi ataupun westernisasi.
Globalisasi sering dipahami sebagai proses penyatuan dunia di mana waktu, jarak, dan tempat bukan lagi persoalan dan ketika setiap hal dan setiap orang di bumi ini terkait satu sama lain. Ada empat pergerakan utama dalam globalisasi yaitu barang dan layanan, informasi, orang, dan modal. Perpindahanempat haltersebutdari satunegara kenegara lain memang telah terjadi sejak dahulu kala.
Namun, perpindahan dengan sangat cepat hanya terjadi setelah revolusi dalam teknologi telekomunikasi dan transportasi pada beberapa dekade belakangan ini. Akibat dari revolusi itu, dimensi jarak dan waktu menjadi semakin kabur dan sedikit demi sedikit menghilang. Dalam konteks Indonesia, globalisasi ini menyebabkan masyarakat secara mudah mengakses informasi dari luar ataupun berinteraksi secara intens dalam sebuah ruang global.
Ketika Islamic State of Iraq and Syria (ISIS) mendeklarasikan kekhilafahan di bawah Abu Bakar al-Baghdadi, kita dikejutkan dengan ada sejumlah orang Indonesia yang sudah bergabung dengan mereka di Timur Tengah dan sebagian dari mereka merekrut anggota di Indonesia serta melakukan baiat di Universitas Islam Negeri (UIN) Jakarta. Ketika konflik Sunni dan Syiah terjadi di Suriah, pengaruhnya merembet ke Indonesia dengan munculnya gerakan anti- Syiah seperti dalam bentuk Aliansi Nasional Anti-Syiah (ANNAS).
Globalisasi juga menyebabkan trans-national capitalist network (TNC) masuk dalam kehidupan masyarakat dan menyedot kekayaan yang mestinya diperuntukkan untuk kesejahteraan rakyat. Bekerja sama dengan ”komprador”, para kapitalis global itu menciptakan jurang yang begitu lebar antara mereka yang kaya dan miskin seperti terjadi di daerah penambangan Freeport di Papua.
Filosofi yang mendasari globalisasi adalah asimilasionisme. Dalam filosofi ini, yang kuat akan mendominasi yang lemah. Maka itu, dalam globalisasi budaya, salah satu dampaknya adalah homogenisasi. Ini misalnya terwujud dalam bentuk McWorld atau McDonaldization. Contoh lainnya adalah memandang Islam secara homogen dengan mengidentikkannya dengan Arab dan arabisasi.
Islam Nusantara
Homogenisasi ini tentu tidak serta-merta diterima oleh masyarakat. Respons balik atau resistensi terhadap homogenisasi ini di antaranya dalam bentuk indigenization. Islam Nusantara yang dipopulerkan anak-anak NU dan menjadi tema Muktamar NU Ke-33 di Jombang pada 1-5 Agustus nanti adalah satu bentuk respons terhadap globalisasi dengan melakukan indigenisasi.

Islam Nusantara merupakan istilah yang sering dipakai untuk mengacu pada Islam ala Indonesia yang otentik; langgamnya Nusantara, tapi isi dan liriknya Islam; bajunya Indonesia, tapi badannya Islam. Ide Islam Nusantara ini berkaitan dengan gagasan ”pribumisasi Islam” yang pernah dipopulerkan almarhum KH Abdurrahman Wahid. Penggunaan resmi nama ini di antaranya dalam Jurnal Tashwirul Afkar Edisi No 26 Tahun 2008.
Munculnya Islam Nusantara adalah bagian dari apa yang biasanya disebut sebagai ”paradoks globalisasi”. Dalam istilah TH Erikson (2007, 14), ”Semakin orang mengglobal seringkali dia menjadi semakin terobsesi dengan keunikan budaya asalnya.” Dalam kalimat ilmuwan lain,”Ketika dunia semakin global, perbedaan- perbedaan kecil antar umat manusia itu semakin ditonjolkan” (Ang 2014).
Banyak yang menduga bahwa semakin kita mengenal dunia luar dan kelompok yang berbeda, kita menjadi semakin terbuka. Namun, seringkali yang terjadi tidak sejalan dengan logika itu. Di tengah globalisasi banyak orang yang semakin fanatik dan tidak menerima perbedaan serta pluralitas. Ini misalnya terjadi dalam beberapa pilkada yang ”mengharuskan” putra daerah yang dipilih.
Dalam konteks dunia, justru di era globalisasi ini hampir setiap tahun kita melihat kemunculan negara baru dalam keanggotaan PBB. Tentu saja respons terhadap globalisasi dalam bentuk ”Islam Nusantara” adalah pilihan terbaik dibandingkan dengan penolakan total atau penerimaan total.
Dalam merespons terhadap globalisasi, terutama yang datang dari Barat, beberapa kelompok agama justru mencari perlindungan dalam homogenitas dan eksklusivitas kelompoknya. Sepertinya kedamaian itu bisa terjadi dengan menolak keragaman atau sesuatu yang asing. Di tengah globalisasi, banyak orang yang mencoba menutup diri dan menghalangi orang yang berbeda hadir di tengah masyarakat.
Fenomena kemunculan perumahan atau kluster perumahan eksklusif untuk komunitas agama tertentu adalah misal. Kuburan/ pemakaman dan rumah kos pun kadang dibuat untuk pengikut agama tertentu. Respons terhadap globalisasi yang lebih buruk lagi tentu saja seperti dalam bentuk radikalisme dan terorisme. Islam Nusantara bisa menjadi respons yang sangat baik terhadap globalisasi jika ia tidak mengarah pada parokhialisme dan sektarianisme.
Islam Berkemajuan
Respons lain terhadap globalisasi ditampilkan oleh Muhammadiyah dengan slogan ”Islam berkemajuan”. Sebelum 2009 slogan ini jarang terdengar bahkan di kalangan Muhammadiyah sendiri. Ia baru diperkenalkan kembali, setelah cukup lama terpendam, dengan terbitnya buku berjudul Islam Berkemajuan: Kyai Ahmad Dahlan dalam Catatan Pribadi Kyai Syuja (2009). Buku yang ditulis oleh murid langsung Kyai Dahlan ini di antaranya menjelaskan seperti apa karakter Islam yang dibawa oleh Muhammadiyah.
Istilah yang dipakai oleh Muhammadiyah awal untuk menyebut dirinya adalah ”Islam berkemajuan”. Pada Muktamar di Yogyakarta 2010, istilah ini lantas dipakai dan dipopulerkan untuk mengidentifikasi karakter keislaman Muhammadiyah. Dalam kaitannya dengan globalisasi, Islam berkemajuan itu sering dimaknai sebagai ”Islam kosmopolitan” yakni kesadaran bahwa umat Muhammadiyah adalah bagian dari warga dunia yang memiliki ”rasa solidaritas kemanusiaan universal dan rasa tanggung jawab universal kepada sesama manusia tanpa memandang perbedaan dan pemisahan jarakyangbersifat primordialdan konvensional” (Tanfidz Muhammadiyah 2010, 18).
Mengapa Islam kosmopolitan menjadi pilihan Muhammadiyah? Muhammadiyah menyadari bahwa kelahirannya merupakanprodukdari interaksi TimurT engah dan Barat yang dikemas menjadi sesuatu yang otentik di Indonesia. Ia memadukan pemikiran Muhammad Abduh, sistem yang berkembang di Barat, dan karakter Indonesia. Karena itu, kosmopolitanisme yang dikembangkan Muhammadiyah diharapkan menjadi wahana untuk dialog antar peradaban.
Ringkasnya, kelahiran dari slogan ”Islam Nusantara” dan ”Islam berkemajuan” memiliki kemiripan dengan apa yang terjadi pada 1920-an. Ketika itu, sebagai respons terhadap berbagai peristiwa di Arab dan Turki (Comite Chilafat dan Comite Hijaz), lahirlah NU.
Sementara Muhammadiyah lahir sebagai reaksi terhadap penjajahan, misi Kristen, pemikiran Abduh, dan budaya Jawa. Bisa dikatakan bahwa apa yang terjadi saat ini adalah semacam deja vu. []

Koran SINDO, 3 Juli 2015

Ahmad Najib Burhani | Peneliti Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI)


http://harian-oftheday.blogspot.com/

“…menyembah yang maha esa,
menghormati yang lebih tua,
menyayangi yang lebih muda,
mengasihi sesama…”
__._,_.___
Posted by: Ananto <pratikno.ananto@gmail.com>

 




Blog Stats

  • 2,542,098 hits

Recent Comments

Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Sejarah : Bangsa Lemuria, Lelu…
Ratu Adil - 666 on Sejarah : Bangsa Lemuria, Lelu…

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 141 other followers