Archive for the 'Jiwa Semangat Nilai-nilai 45' Category



04
Jul
15

GERAKMIGAS : Masalah BBM Dan Korupsi MiGas

Dr Ir Pandji  Hadinoto MH  Masalah BBM dan Korupsi MiGas
Dr Ir Pandji R Hadinoto MH : Masalah BBM dan Korusi Migas

Saat Pertamina 57 tahun, GERAKMIGAS atau Gerakan Anti Korupsi MiGas perlu digebyar, menyimak Politik Energi seusai Penaikan Harga BBM, Minggu, 23 November 2014 [http://www.mediaindonesia.com/editorial/view/277/Politik-Energi-seusai-Penaikan-Harga-BBM/2014/11/23], mencermati aspirasi mulia “Pastikan Pertamina Asian Energy Champion” tahun 2035, menuju Indonesia Jaya 2045, menimbang situasi dan kondisi terkini ikhwal sediaan komoditas sektor MiGas Dalam Negeri (DN) bercorak net importir yang menyulitkan pembentukan harmoni kebijakan publik nasional mengingat ketimpangan antara tingkat Konsumsi DN sekitar 1,4 juta bph vs tingkat Produksi DN 0,8 juta bph, selain tingkat kapasitas nasional kilang DN yang terbatas, sehingga perimbangan neraca pembayaran negara negatif (pengeluaran > pendapatan asli negara).
Selain upaya2 diversifikasi pasokan energi, upaya memperbaiki perimbangan itu adalah mengendalikan sisi pengeluaran khususnya sisi Konsumsi seperti langkah2 penghematan yang telah dilakukan Kabinet Kerja dimulai dari gaya bekerja berciri pelayanan bukan berbudaya kerja pemberi perintah seperti melalui kesederhanaan gaya hidup pejabat negara dlsb.
Dalam konteks pengendalian pengeluaran itulah bersama keluarga besar SPKP (Serikat Pensiunan Karyawan Pertamina) kini diprakarsai GERAKMIGAS beranah kegiatan Promotif dan Preventif.
GERAKMIGAS ini komplementer bersama langkah2 seperti reformasi birokrasi, pemerintahan bersih, reformasi dan pelurusan penyimpangan, penyalahgunaan dan pencurian sumber2 daya ekonomi negara misalnya illegal fishing, illegal logging, illegal trading yang berujung juga pada penggunaan konsumsi BBM non produktif, termasuk upaya2 reformasi konsumsi MiGas DN.
Langkah Promotif antara lain pembudayaan PAKTA45 – Politik Anti Korupsi Tanpa Akhir ber Roh Indonesia Merdeka JSN45 (Jiwa Semangat Nilai2 45) yakni 1) Tidak ingkari janji konstitusional, 2) Tidak koruptif terhadap Pancasila & UUD45, 3) Tidak korupsi APBN/APBD, Keuangan BUMN/BUMD dan Pajak.
PAKTA45 ini diyakini sekarang lebih bernilai komprehensif dibandingkan Pakta Integritas yang terbukti adalah tumpul di 10 tahun rezim pemerintahan yang lalu.
Langkah Preventif antara lain adalah pembudayaan Pengamalan Pancasila Tap MPR No XVIII/1998 seperti turut memandu publik pahami 7 butir Ketuhanan Yang Maha Esa yakni terutama 1) Bangsa Indonesia menyatakan kepercayaannya dan ketaqwaannya terhadap Tuhan Yang Maha Esa, 2) Manusia Indonesia percaya dan taqwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa, sesuai dengan agama dan kepercayaannya masing-masing menurut dasar kemanusiaan yang adil dan beradab, dst.
Selanjutnya, GERAKMIGAS ingin turut pula memandu insan2 pembijak publik, praktisi, pengguna MiGas pahami “Awalludin Ma’rifatullah” ,”Man Arofa Nafsahu Faqod Arofa Robbahu”, dengan pengertian semakin tinggi tingkat kedekatan illahiyahnya, semakin melekat pengendalian kelurusan perilaku dirinya, ibarat peran Kulit Durian sebagai penjernih Minyak Jelantah [http://berita.suaramerdeka.com/kulit-durian-bawa-bryan-raih-penghargaan-internasional/] Akhirul kata, mengingat MiGas adalah karunia Allah SWT bagi bangsa dan negara Indonesia, maka lebih bijaklah bilamana dalam upaya “Pastikan Pertamina Asian Energy Champion” tahun 2035, menuju Indonesia Jaya 2045 guna bermanfaat se-besar2-nya bagi kemashalatan rakyat Indonesia, prasyarat konstitusional cabut UU MiGas 2001 sebagaimana tuntutan banyak komponen masyarakat Gerakan Nasional Pasal 33 UUD45 diakomodasi dan UU No 1/1971 tentang Pertamina diberlakukan kembali dengan Adendum antara lain pelembagaan internal bernafaskan GERAKMIGAS ditubuh struktural Pertamina yang terkoneksi dengan kerja2 KPK.

Jakarta, 9 Desember 2014

gerakmigas@gmail.com
Mengingat MiGas adalah karunia Allah SWT bagi bangsa dan negara Indonesia, maka lebih bijak bila aspirasi “Pastikan Pertamina Asian Energy Champion” tahun 2035, menuju Indonesia Jaya 2045, benar tepat manfaat se-besar2-nya bagi kemashalatan rakyat Indonesia.
Prasyarat konstitusional untuk strategi itu adalah cabut UU MiGas 2001 sebagaimana tuntutan banyak komponen masyarakat Gerakan Nasional Pasal 33 UUD45, segera dapat diakomodasi dan UU No 8/1971 tentang Pertamina diberlakukan kembali dengan Adendum antara lain pelembagaan internal bernafaskan GERAKMIGAS ditubuh struktural Pertamina yang terkoneksitas dengan kerja2 KPK.
GERAKMIGAS (Gerakan Anti Korupsi MiGas) ini taktis distrukturalkan mengingat UU No 8/1971 dibentuk pasca demo dari Bandung Bergerak 1970 yang suarakan Anti Korupsi Pertamina.

Catatan sejarah, Pertamina itu dulu kuat dibawah Undang-Undang No. 8 tahun 1971, dimana di dalamnya mengatur peran Pertamina sebagai satu-satunya perusahaan milik negara yang ditugaskan melaksanakan pengusahaan MiGas mulai dari mengelola dan menghasilkan MiGas dari ladang-ladang minyak di seluruh wilayah Indonesia. Semua perusahaan asing yang melakukan investasi wajib bekerjasama dengan Pertamina.

Reformasi telah menghancurkan Pertamina sekaligus mengakhiri kekuasaan negara atas MiGas. Sejak saat itu berpindahlah lebih dari 85 persen kekayaan MiGas ke tangan asing. MiGas digerogoti mafia dan sindikat yang memgakibatkan produksi nasional menurun secara drastis.

Pertamina hanya memproduksi sekitar 15 persen dari 800 ribu barel/hari, sebanyak 85 persen minyak milik asing. Sonangol mampu memproduksi 2 juta barel minyak/hari pada 2015, dan kendalikan semua perusahaan swasta asing. Sementara elite lingkaran penguasa Indonesia sibuk menyerang Pertamina dan anak usahannya, agar bisa merebut rente impor minyak dari Sonangol, tragis jadinya.

Jakarta, 12 Desember 2014

Mantan Pendemo Bandung Bergerak 1970,

Pandji R Hadinoto, Nasionalis Pancasila 45
Politisi Keadilan & Persatuan Indonesia
PARRINDO – Parlemen Rakyat Indonesia
PKP17845 – PorosKonstitusiProklamasi17845

29
Jun
15

Ketuhanan : Misteri Keseimbangan Angka-angka Dalam Al Qur’an

Misteri Keseimbangan Angka-angka Dalam Al Quran

Alquran yang secara harfiah berarti “bacaan sempurna” sungguh merupakan nama pilihan dari Allah yang sangat tepat, karena tiada satu bacaan pun sejak manusia mengenal tulis-baca yang mampu menandingi Al-quran al-kariim bacaan sempurna lagi mulia itu.

Quote:

Tiada bacaan semacam Al-Quran yang dibaca ratusan juta orang yang tidak mengerti artinya dan atau tidak dapat menulis dengan aksaranya. Tiada bacaan seperti Al-Quran yang dipelajari bukan hanya susunan redaksi maupun kosakatanya, tetapi juga kandungan yang tersirat maupun tersurat bahkan sampai kesan yang ditimbulkan

Quote:
Tiada bacaan seperti Al-Quran yang diatur tatacara bacanya, mana yang dipendekkan mana yang dipanjangkan, dipertebal atau diperhalus ucapannya, dimana tempat terlarang atau boleh berhenti atau memulainya, bahkan diatur juga lagu dan iramanya sampai kepada etika membacanya.

Al-Qur’an tersusun atas 77.439 kata dengan jumlah huruf 323.015 buah dan telah dihafal huruf demi hurufnya oleh hafidz atau penghafal alquran. Al-Quran dengan harmoni atau keseimbangan antara jumlah kata dan huruf, antara kata dengan padanannya, maupun antara kata dengan lawan katanya ataupun antara kata dengan dampaknya

Al-Qur’an tidak hanya terbatas pada ayat-ayat mulianya, makna-maknanya, prinsip-prinsip dan dasar-dasar keadilannya serta pengetahuan-pengetahuan gaibnya saja, melainkan juga termasuk jumlah-jumlah yang ada dalam Al-Qur’an itu sendiri, begitu juga pengulangan kata dan hurufnya, orang-orang yang melakukan ‘ulum’ Al-Qur’an sejak dulu sudah menyadarai adanya fenomena tersebut mempunyai maksud dan tujuan tertentu.

Pada dasarnya bahasa Al-Qur`an sedemikian fasih dan indah sehingga setiap orang yang walaupun sedikit memahami bahasa Arab, dengan membaca ataupun mendengar lantunan ayat, dengan sendirinya akan memahami bahwa tidak ada satu orator pun yang dapat berbicara dengan bahasa yang sedemikian rupa fasihnya.

Bahasa dan ucapan fasih tersebut tidak mungkin berasal dari manusia. Mukjizat Al-Qur’an tidak terbatas pada pengetahuan-pengetahuan mendalam berupa ilmu logika, sosial, keindahan serta kefasihan bahasa dan ilmu tentang rahasia alam gaib yang sangat menakjubkan. Setiap hari terungkap bidang-bidang baru dari keajaiban-keajaiban Alqur’an. Sebagai contoh hingga kini terdapat beberapa hal tentang mukjizat angka dalam Alqur’an yang di jelaskan melalui penelitian secara seksama.

Allah SWT berfirman dalam surat al Baqarah, ayat 23 :

“ Dan jika kamu (tetap) dalam keraguan tentang Alqur’an yang kami wahyukan kepada hamba kami (Muhammad), buatlah paling tidak satu surat (saja) yang semisal Alqur’an itu dan ajaklah penolong-penolongmu selain Allah, jika kamu orang-orang yang benar”.

Quote:

Dan pada Al Baqarah, ayat 24 Allah SWT berfirman:

” Maka jika kamu tidak dapat membuat(nya) – dan pasti kamu tidak akan dapat membuat(nya), peliharalah dirimu dari neraka yang bahan bakarnya manusia dan batu, yang disediakan bagi orang-orang kafir”.

1. Kesimbangan antara jumlah Bilangan Kata dengan Bilangan Antonimnya. Contoh :

Quote:
Al Hayah (hidup) dan Al Mawt (mati), masing-masing sebanyak 145 kali
An Naf (manfaat) dan Al Madharrah (mudarat) masing-masing 50 kali
Al Har (panas) dan al Bard (dingin), masing-masing 4 kali
A Shalihat (kebajikan) dan Al Sayyi’at (keburukan), masing-masing 167 kali
Al Thuma’ninah (kelapangan/ ketenangan) dan Al Dhiq (kesempitan/ kekesalan), masing-masing 13 kali
Ar Rahbah (cemas/takut) dan Al Raghbah (hapap/ingin), masing-masing 8 kali
Al Kufr (kekufuran) dan Al Iman, masing-masing 17 kali
Al Shayf (musim panas) dan Al Syita’ (musim dingin), masing masing 1 kali

2. Kesimbangan Jumlah Kata dengan dengan Sinonimnya/ makna yang Dikandungnya. Contoh :

Quote:
Al Harf dan Al Zira’ah (membajak/ bertani), masing-masing 14 kali
Al ‘Ushb dan Al Dhurur ( membanggakan diri/ angkuh) masing-masing 27 kali
Al Dhallun dan Al Mawta (orang sesat/mati (jiwanya), masing-masing 17 kali
Al Islam dan Al Wahyu (Al Qur’an, wahyu, dan Islam), masing-masing 70 kali.
Al ‘Aql dan An Nur (akal dan cahaya) masing-masing 49 kali
Al Jahr dan Al’Alamiyah (nyata), masing-masing 16 kali

3. Keseimbangan antara Jumlah Bilangan Kata dengan Jumlah Kata yang Menunjuk pada Akibatnya. Contoh :

Quote:
Al Infaq (Infaq) dengan Ar Ridha (kerelaan), masing-masing 73 kali
Al Bukhl (kekikiran) dengan Al Hasarah (penyesalan), masing-masing 12 kali
Al Zakah (zakat/penyucian) dengan Al Barakat (kebajikan yan banyak), masing-masing 32 kali
Al Fahisyah (kekejian) dengan Al Ghadb (murka), masing-masing 26 kali

4. Keseimbangan antara Jumlah Bilangan kata dengan Kata Penyebabnya. Contoh :

Quote:
Al Israf (pemborosan) dengan Al Sur’ah (ketergesa-gesaan), masing-masing 23 kali
Al Maw-izhah (nasihat/petuah) Al Lisan (lidah), masing-masing 25 kali
Al Asra (tawanan) dengan Al Harb (perang), masing-masing 6 kali
Al Salam (kedamaian) dengan Al Thayyibat (kebajikan), masing-masing 60 kali

5. Disamping Keseimbangan-keseimbangan Tersebut, Ditemukan juga Keseimbangan Khusus. Contoh :

Quote:
Kata Yaum (hari) dalam bentuk tunggal, masing-masing sejumlah 365 kali. Sama dengan jumlah hari dalam satu tahun.
Sedangkan kata hari yang menunjukkan kata plural (Ayyam) dan dua (Yaw-mayni) jumlah keseluruhannya 30, sama dengan jumlah hari dalam satu bulan. Di sisi lain kata yang berarti bulan (Syahr) hanya terdapat 12 kali, sama dengan jumlah bulan dalam setahun

Al Qur’an menjelasakan bahwa langit ada 7, penjelasan ini diulanginya dalam 7 kali pula
Kata-kata yan menunjukkan kepada utusan Tuhan baik Rasul atau Nabiyy (nabi) atau Basyir (pembawa berita), atau Nadzir (pemberi peringatan), keseluruhannya berjumlah 518 kali. Jumlah ini seimbang dengan nama-nama nabi, rasul dan pembawa berita tersebut, yakni 518 kali
Bismillahirahmannirrahim adalah permulaan setiap kegiatan umat muslim. Kalimat ini mempunyai 19 huruf (dalam bahasa arab). Angka 19 mempunyai rahasia yang berkaitan dengan Al Qur’an, termasuk dengan Bismillah itu sendiri. Dalam Al-Qur’an, kata ism, Allh, Ar Rahman, san Ar Rahim, mempunyai jumlah yang dapat dibagi habis dengan angka 19 itu. Ism 19 kali, Allah 2.698 kali (2.698 : 19 = 142),

Ar Rahman 57 kali (57 : 19 = 3) dan Ar Rahim 114 kali (114 : 19 = 6)

29
Jun
15

Infrastruktur : Kisah Bung Karno dan Patung Pancoran, Jakarta Selatan

METRO
Kisah Bung Karno Jual Mobil Demi Bangun Patung Pancoran
Pada 1964, proyek patung itu berbiaya Rp12 juta.
Senin, 29 Juni 2015 | 06:17 WIB
Oleh : Siti RuqoyahDody Handoko
Kisah Bung Karno Jual Mobil Demi Bangun Patung Pancoran
Patung Pancoran tak lama setelah dibangun (Dody Handoko)

VIVA.co.id – Tak banyak yang tahu tentang pembangunan monumen Patung Dirgantara atau lebih dikenal dengan nama Patung Pancoran. Patung yang letaknya di kawasan Pancoran, Jakarat Selatan, di depan kompleks perkantoran Wisma Aldiron .

Rancangan patung ini berdasarkan atas permintaan Bung Karno untuk menampilkan keperkasaan bangsa Indonesia di bidang dirgantara. Desain patung tersebut maknanya  mencapai keperkasaan, bangsa Indonesia mengandalkan sifat-sifat jujur, berani dan bersemangat.

Berat patung yang terbuat dari perunggu ini mencapai 11 Ton. Sementara tinggi patung itu sendiri adalah 11 Meter, dan kaki patung mencapai 27 Meter. Total biaya pembuatan pada tahun 1964 adalah Rp12 juta.

Dalam buku sejarah singkatpPatung-patung dan monumen di Jakarta dituliskan, patung ini dirancang oleh Edhi Sunarso sekitar tahun 1964-1965 dengan bantuan dari Keluarga Arca Yogyakarta. Proses pengecorannya dilakukan oleh Pengecoran Patung Perunggu Artistik Dekoratif Yogyakarta pimpinan I Gardono.

Proses pembangunannya dilakukan oleh PN Hutama Karya dengan IR. Sutami sebagai arsitek pelaksana.

Biaya awal ditanggung oleh Edhi Sunarso, sang pemahat. Bung Karno menjual mobil pribadinya seharga Rp1 juta pada waktu itu. Pemerintah hanya membayar Rp5 juta. Sisanya, sebesar Rp6 juta, menjadi hutang pemerintah yang sampai saat ini tidak pernah terbayar.

Proyek itu sempat berhenti gara-gara peristiwa 30 September 1965. Bung Karno didemo tiap hari. Puncaknya adalah penolakan MPRS atas pertanggungjawaban Bung Karno, terhadap peristiwa pemberontakan PKI tadi. Lalu Bung Karno dilengserkan, dan Soeharto jadi Presiden.

Meski kondisinya buruk, Bung Karno tetap bertekad meneruskan patung itu. Ia selalu menyempatkan diri memantau pengerjaannya. Tiang penyangga patung sudah selesai, tapi pekerjaan terancam berhenti.

Edhi tak sanggup meneruskan pekerjaan itu, mengingat dirinya banyak hutang untuk pekerjaan itu.

Melihat kondisi tersebut, Bung Karno lantas memanggil Edhi dan memberinya uang Rp1,7 juta. Belakangan Edhi baru tahu, uang itu hasil penjualan mobil pribadi Bung Karno. Sekalipun uang itu belum cukup menutup semua biaya, Edhi  meneruskan pengerjaan patung dirgantara itu.

Hari Minggu tanggal 21 Juni 1970, ketika ia sedang berada di puncak Tugu Dirgantara. Tiba-tiba, melintas iring-iringan mobil jenazah. Salah seorang pekerja memberi tahu Edhi, bahwa yang barusan lewat adalah iring-iringan mobil  jenazah Bung Karno. Sang Proklamator meninggal.

Ia pun langsung turun dari puncak Tugu Dirgantara, dan menyusul ke Blitar, memberi penghormatan terakhir kepada Putra Sang Fajar. (ren)

28
Jun
15

Kebudayaan : Islam Indonesia

 Jakarta45

Islam Indonesia
Oleh: Gregorius Afioma
Menjelang Ramadan, ucapan “Islam Indonesia, bukan Islam di Indonesia” dari Jokowi pada 14 Juni lalu, serta ajakan Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin melalui akun Twitter-nya pada 5 Juni 2015 agar warteg tetap dibuka selama bulan puasa demi toleransi terhadap kalangan non-muslim, tidak serta-merta mendapat dukungan publik secara luas.
Reaksi yang demikian sangatlah ironis di tengah tendensi kekerasan atas nama agama yang terjadi selama bulan puasa. Razia yang dilakukan oleh kelompok radikal, seperti Front Pembela Islam (FPI), misalnya, selalu berujung tindak kekerasan dan perusakan.

Lantas, apakah yang disampaikan Presiden Jokowi dan Menteri Saifuddin itu berlebihan?
Memang pernyataan Jokowi bisa dianggap berlebihan di saat krisis identitas keislaman masih menggerogoti kaum muslim. Masih banyak kalangan muslim yang tidak melihat sebutan Islam Nusantara sebagai hal yang membanggakan.
Pasalnya, otentisitas Islam selalu diukur dengan episentrum kelahiran Islam di Jazirah Arab. Relasi antara Islam di Arab dan di Indonesia ibarat pola relasi pusat dan pinggiran. Pusat dianggap lebih otentik, sedangkan pinggiran sebagai yang tergradasi. Karena itu, desakan pemurnian Islam di Indonesia semakin kuat agar tidak menjadi Islam kelas dua.
Tentu saja anggapan demikian sangat berbahaya. Umat Islam bisa mengabaikan modalitas keberagamaan yang ada selama ini. Benih-benih Islam yang sudah hadir sejak abad ke-7 justru berkembang pesat di Indonesia karena melewati proses persenyawaan yang sangat baik dengan budaya-budaya pra-Islam. Semua itu tidak lepas dari usaha para Wali Sanga dan para pemikir Islam kontemporer, seperti Gus Dur atau Cak Nur.
Hasilnya, karateristik Islam Indonesia terlihat lebih damai, moderat, toleran, dan terbuka. Konflik yang terjadi, meski masih ada, tidak seintensif di Timur Tengah. Wajah Islam yang demikian tidak lepas dari unsur-unsur pra-Islam yang menjadi tempat persemaian bagi benih-benih keislaman. Budaya dan agama, yang semula memang hanyalah dua entitas berbeda, kini tumbuh saling mengkonstitusikan satu sama lain.
Berkat wajah Islam yang demikian, penerimaan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945 sebagai dasar negara menjadi mudah. Asas kesetaraan sebagai warga negara dijunjung tinggi di atas segalanya. Hak-hak sebagai warga negara dikedepankan ketimbang kepentingan-kepentingan primordial, seperti agama, budaya, suku, dan etnis.
Namun, jika tidak melihat fakta keberagamaan itu sebagai kekuatan, bukan hanya umat Islam yang berkonflik, tapi nilai keindonesiaan juga bisa terganggu. Sebab, hanya Islam Indonesia yang dikenal toleran, moderat, dan terbuka, yang sangat kokoh menyanggah keindonesiaan selama ini.
Bertolak dari kenyataan itu, Jokowi berupaya menyadarkan kaum muslim bahwa Islam Indonesia bukanlah Islam kelas dua. Islam Indonesia tidak kalah otentik dari Islam Timur Tengah. Mengingat jumlah penganut Islam di Indonesia yang mencapai 12, 5 persen dari total 1,6 miliar pemeluk Islam di dunia, karateristik Islam Nusantara justru bisa menjadi referensi bagi peradaban Islam di dunia.
Searah dengan pemikiran tersebut, pernyatan Saifuddin sangatlah wajar. Diperbolehkannya warteg dibuka demi menghormati hak-hak umat non-muslim sangat bernada toleran dan sesuai dengan karateristik Islam Indonesia itu sendiri. []

TEMPO, 23 Juni 2015

Gregorius Afioma | Penulis

Sumber Agama Islam itu Alquran dan Hadis, bukan Nusantara
Minggu, 21/06/2015 03:44:27 | Dibaca : 34252

Prof KH Ali Musthafa Ya’qub, MA
Imam Besar Masjid Istiqlal Jakarta, Rais Syuriah PBNU
Istilah “Islam Nusantara” belakangan ramai diperbincangkan. Istilah yang diproduksi oleh kalangan di tubuh Nahdlatul Ulama (NU) ini belakangan aktif dikenalkan oleh Menteri Agama Lukman Hakim Syaifuddin. Bahkan dalam beberapa kesempatan, Presiden Jokowi pun ikut menyebutnya.

Istilah baru sebagai lawan istilah “Islam Transnasional” yang diproduksi untuk menyebut kelompok organisasi Islam yang berjuang untuk tegaknya syariat Islam secara legal formal dan memiliki jaringan ke Timur Tengah ini mencuat karena pertama kali dimunculkan dalam praktik pembacaan Alquran dengan langgam Jawa di Istana Negara Jakarta saat peringatan Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad Saw 1436 beberapa waktu lalu.

Uniknya, walaupun gagasan ini lahir dari sebagian kalangan “Islam Tradisional”, namun tidak semua tokoh dan ulama dari kalangan tradisional menyetujuinya. Salah seorang Rais Syuriah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Prof KH Ali Musthafa Ya’kub, MA., termasuk salah satu ulama yang menolak gagasan Islam Nusantara bila yang dimaksud adalah menjadikan Nusantara sebagai “sumber”.

Pendapat-pendapat Kyai kelahiran Batang, Jawa Tengah, 2 Maret 1952 yang pernah mondok di Pesantren Tebuireng, Jombang itu, terungkap dalam wawancara singkat dengan penulis Jejak Islam, Andi Ryansyah, di ruang Imam Besar Masjid Istiqlal, Jakarta, Jumat (19/6). Berikut sebagian kutipan wawancara tersebut:

Bagaimana pandangan Pak Kyai tentang istilah “Islam Nusantara”?

Kalau “Islam Nusantara” itu Islam di Nusantara, maka tepat. Kalau “Islam Nusantara” itu Islam yang bercorak budaya Nusantara, dengan catatan selama budaya Nusantara itu tidak bertentangan dengan Islam, maka itu juga tepat. Namun kalau “Islam Nusantara” itu Islam yang bersumber dari apa yang ada di Nusantara, maka itu tidak tepat. Sebab sumber agama Islam itu Alquran dan Hadis. Apa yang datang dari Nabi Muhammad itu ada dua hal yaitu agama dan budaya.Yang wajib kita ikuti adalah agama, akidah dan ibadah. Itu wajib, tidak bisa ditawar lagi. Tapi kalau budaya, kita boleh ikuti dan boleh juga tidak diikuti. Contoh budaya: Nabi pakai sorban, naik unta, dan makan roti.

Demikian pula budaya Nusantara. Selama budaya Nusantara tidak bertentangan dengan ajaran Islam, maka boleh diikuti. Saya pakai sarung itu budaya Nusantara dan itu tidak bertentangan dengan ajaran Islam. Shalat pakai koteka itu juga budaya Nusantara, tapi itu bertentangan dengan ajaran Islam, maka itu tidak boleh. Jadi harus dibedakan antara agama dan budaya.

Tadi Pak Kiai menyatakan Islam yang bercorak budaya Nusantara itu tepat, padahal Pak Kiai tadi juga menyatakan sumber agama Islam bukan dari apa yang ada di Nusantara, jadi maksudnya apa Pak Kyai?

Maksud saya, Islam yang bercorak budaya Nusantara itu boleh saja sepanjang tidak bertentangan dengan Islam. Tapi kalau Islam yang bersumber dari apa yang ada di Nusantara, baik akidah maupun ibadah harus asli dari Nusantara, maka itu tidak tepat.

Tapi saya katakan Islam itu bukan Arab sentris. Islam itu apa kata Alquran dan Hadis, bukan Arab sentris. Tidak semua budaya Arab harus kita ambil. Sebab ada budaya Arab yang bertentangan dengan ajaran Islam. Contohnya, orang- orang minum khamr di zaman Nabi dan beristri lebih dari empat.

Tadi saya katakan, Nabi pakai sorban, apa kita wajib pakai sorban? Tidak ada hadits yang menunjukkan keutamaan memakai sorban. Tidak ada hadits yang mengatakan memakai sorban itu mendapat pahala. Para ulama mengatakan sorban itu budaya Nabi, budaya kaum Nabi pada zamannya.

Pak Kyai bagaimana sebaiknya umat Islam memandang budaya?

Sepanjang budaya tidak bertentangan dengan ajaran Islam, maka kita boleh mengambilnya. Ini masuk wilayah muamalah. Silakan ikuti budaya Arab, silakan pakai sorban. Tapi jangan mengatakan orang yang tidak pakai sorban, tidak mengikuti Nabi. Saya pukul kalau ada orang yang mengatakan seperti itu. Silakan makan roti karena mengikuti budaya Nabi. Tapi jangan mengatakan orang yang makan nasi, tidak mengikuti Nabi.

Demikian juga budaya Nusantara. Sepanjang budaya Nusantara tidak bertentangan dengan Islam, silakan ambil. Islam sangat memberikan peluang bagi budaya, selama budaya itu tidak bertentangan dengan ajaran Islam, boleh kita ambil. Silakan berkreasi dan ambil budaya apapun, selama tidak bertentangan dengan ajaran Islam.

Kemunculan “Islam Nusantara” ini membuat sebagian orang membandingkan dengan “Islam Arab”, bagaimana menurut Pak Kiai?

Saya tidak sependapat dengan bandingan-bandingan seperti itu. Islam itu Islam saja.

Jadi istilah “Islam Nusantara” itu tidak ada ya Pak Kiai?

Ya, Islam itu agama. Nusantara itu budaya. Tidak bisa disatukan antara agama dan budaya.

Apa nasihat Pak Kyai untuk umat Islam di tengah polemik isu “Islam Nusantara” serta NU dan “Wahabi” ?

Pertama, kita harus membedakan antara agama dan budaya. Agama: akidah dan syariah, kita harus mengikuti Rasulullah. Sementara, budaya itu masuk muamalah. Budaya apa pun, termasuk budaya Arab selama tidak bertentangan dengan ajaran Islam, silakan. Tapi hati-hati, sebab bisa saja orang pakai sorban itu dalam rangka mencari popularitas. Ketika semua orang tidak pakai sorban, tapi ada satu orang pakai sorban, maka itu diharamkan dalam Islam karena sorban itu menjadi pakaian popularitas. Menurut seorang Ulama Arab, Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin mengatakan, hal itu menunjukkan kesombongan. Penampilan itu menunjukkan seorang merasa lebih mirip nabi. Itu arogan dan tidak bagus.

Kedua, NU dan “Wahabi” tidak ada pertentangan, yang ada perbedaan. Persamaannya banyak dan perbedaannya sedikit. Perbedaannya itu tidak menimbulkan kekafiran dan perbedaan itu tidak terjadi setelah NU dan “Wahabi” ada. Jadi perbedaannya hanya dalam hal furu’iyyah, bukan hal yang prinsip. []
__._,_.___

Kamis, 25/06/2015 03:03

Kiai Said: Dengan Budaya, Islam Kuat

Jakarta, *NU Online*
Jauh sebelum Islam datang, masyarakat Nusantara telah memiliki kekayaan
budaya dan tradisi. Oleh karena itu, Wali Songo menggunakan strategi lain
dalam berdakwah. Pendekatan yang dilakukan adalah berperadaban dengan
tradisi yang sudah ada. Sehingga Islam yg dibawa Wali Songo bisa menyatu
dengan budaya.

Hal tersebut dikatakan Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj saat didaulat
berpidato pada acara ‘Sholawat dan Tahlil untuk Bangsa’ yang digelar
bersamaan peluncuran Majelis ‘Pecinta Sholawat Nusantara’ (Pesona) di Graha
Gus Dur DPP PKB, Jalan Raden Saleh, Jakarta, Selasa (23/6/2015) malam.

“Lalu bagaimana Wali Songo berdakwah, yakni berangsur-angsur (*al-Tadrij*).
Islam disebarkan tanpa menyakiti siapapun. Tidak pernah mengancam, apalagi
mengintimidasi. Jadi, *sweeping* itu nomor terakhir,” ujar Kiai Said.

Bahkan, lanjut Kiai Said, Wali Songo tetap menjaga hubungan baik dengan
tetua adat. Para wali dalam dakwahnya memperkecil perintah yang membebani,
meminimalisir kewajiban (*taqlilut-takaalif*).

Menurut Kiai Said, para pendakwah masa kini menggunakan Islam Nusantara
dalam rangka mempertahankan tradisi yang sudah ada. “Kenapa pakai Islam
Nusantara? Karena kita ingin mempertahankan Islam Aswaja dan budaya yang
sudah kita warisi dari nenek moyang kita,” tegasnya.

Islam Nusantara, lanjut dia, merupakan Islam yang sudah menyatu dengan
budaya, yang sudah melebur dengan tradisi. “Dengan Islam, budaya menjadi
ramah. Dengan budaya, Islam menjadi kuat,” tandas Kiai Said.

Doktor jebolan Universitas Ummul Quro Mekah ini mengingatkan, waktu itu
Hadratusy Syaikh Muhammad Hasyim Asy’ari tak henti-hentinya mengingatkan
kepada putranya, Kiai Abdul Wahid Hasyim, agar tidak mempertentangkan
antara Islam dan kebangsaan. “Kedua hal penting itu jangan
dipertentangkan,” ujarnya menirukan Mbah Hasyim.

Kiai Said menyatakan keteguhan ormas yang dipimpinnya, yakni NU, dalam
mengajarkan akidah Islam yang bertumpu pada tradisi lokal. Karena itu, Ia
menegaskan bahwa pada Muktamar ke-33 NU yang akan dihelat di Jombang 1-5
Agustus mendatang mengusung tema yang menitikberatkan pada nilai-nilai
Islam Nusantara.

“Karena itu, pada Muktamar NU yang akan datang, untuk pertama kalinya
dilaksanakan di Jombang, mempunyai tema Meneguhkan Islam Nusantara untuk
Peradaban Indonesia dan Dunia,” tuturnya disambut aplaus ribuan warga
Nahdliyin yang hadir.

Tema tersebut, tambah Kiai Said, menjadi bukti komitmen NU sebagai
organisasi keagamaan yang menjadi pilar peradaban Islam yang bertumpu pada
kearifan lokal. Hanya saja, Kiai Said menyayangkan masih banyak masyarakat
bahkan para kiai NU yang belum memahami betul yang dimaksud Islam Nusantara.

Selain Ketua Dewan Syura PKB KH Abdul Aziz Mansyur, Hadir dalam acara
tersebut para ulama NU dan pengasuh pesantren, antara lain KH Kholil Asad
Syamsul Arifin (Situbondo), KH Munif Zuhri (Girikusumo, Demak), Rais
Syuriah PWNU Jawa Timur KH Miftahul Akhyar, KH Yusuf Chudlori (Magelang),
dan Mustasyar PBNU Tuan Guru Haji Turmudzi Badruddin. *(Musthofa
Asrori/Mahbib)*

Sumber:

http://nu.or.id/a,public-m,dinamic-s,detail-ids,44-id,60389-lang,id-c,nasional-t,Kiai+Said++Dengan+Budaya++Islam+Kuat-.phpx

28
Jun
15

Perekonomian : 5 Negara Terbesar Di Dunia pada 2050, Indonesia No. 4 ?

merah-putih

Minggu, 28 Juni 2015 , 06:05:00

Ini Saran untuk JokoWi Demi Selamatkan Ekonomi RI

 Presiden Joko Widodo. Foto: Dokumen JPNN.com
Presiden Joko Widodo. Foto: Dokumen JPNN.com

JAKARTA – Ketua Umum DPP Pro Jokowi (Projo) Budi Arie Setiadi menegaskan, sektor ekonomi Indonesia sudah berat sekali. Bahkan, ia menyebut sudah sampai pada tahapan emergency call. Karenanya, Budi menegaskan, Presiden Joko Widodo harus mengambil langkah cepat agar negeri ini tidak terpuruk lebih dalam.

“Kita harus hati-hati dan kerja keras untuk selamatkan negara dan bangsa ini dari kejadian yang luar biasa,” ungkap Budi dalam sebuah diskusi di Cikini, Jakarta Pusat, Sabtu (27/6).

Dijelaskan Budi, tantangan ekonomi Indonesia benar-benar sangat berat karena melambatnya pertumbuhan hingga melemahnya kurs rupiah terhadap dolar Amerika Serikat. Karenanya, kata dia, memburuknya perekonomian akan berimbas kepada semua pihak.

“Kalau ekonomi memburuk, maka semua terkena kerugian drastis,” ujarnya.

Dia pun mengaku telah menyampaikan secara lisan kepada Presiden Jokowi agar segera mengganti menteri di bidang ekonomi.

“Ya, secara lisan sudah kita sampaikan,” tegasnya.

Juru bicara Partai Demokrat Didi Irawadi Syamsudin mengatakan kondisi bangsa saat ini sedang dalam keadaan tidak baik.

“Sebagai (partai, Red.) penyeimbang yang baik tentu hal-hal yang baik kita dukung.‎ Tapi situasinya sekarang jauh dari baik,” katanya di kesempatan itu.

“Kita ingatkan agak keras supaya pemerintah mendengar,” timpal Didi. (boy/jpnn)

On 06/24/2015 05:12 PM, Awind wrote:

http://bisniskeuangan.kompas.com/read/2015/06/24/085751126/Ini.5.Negara.Dengan.Perekonomian.Terbesar.di.Dunia.pada.2050.Di.Mana.Indonesia.

Ini 5 Negara Dengan Perekonomian Terbesar di Dunia pada 2050, Dimana Indonesia ?
Rabu, 24 Juni 2015 | 08:57 WIB
alt
Bloomberg, EIU Daftar negara perekonomian terbesar

KOMPAS.com – Economist Intelligence Unit memprediksi terdapat lima negara yang bakal menguasai perekonomian global pada 2050.

Dalam laporan Economist Intelligence Unit (EIU) sebagaimana dikutip dari Bloomberg, Rabu (24/6/2015), lima negara itu adalah China, Amerika Serikat, India, Meksiko dan Indonesia.

Laporan itu menyebutkan, Meksiko akan menggeser posisi Rusia, sementara Indonesia akan menggeser posisi Italia dalam kurun waktu 10-35 tahun mendatang.

China sebagai negara berpenduduk terbanyak di dunia akan menggeser posisi AS pada awal 2026 dalam hal produk domestik bruto.

“Sisanya, Indonesia, Jerman, Jepang, Brasil, dan Inggris merupakan negara-negara yang berada di urutan selanjutnya,” tulis EIU.

Dalam hal pendapatan per kapita, China diproyeksikan hampir setara Jepang pada tahun 2050, dan berada di bawah pendapatan per kapita AS per 2014.

Masih menurut laporan sama, PDB Asia diperkirakan akan mencapai 53 persen pada tahun 2050, dengan pangsa Eropa menurun. Tapi untuk peningkatan populasi usia kerja, Afrika dan Timur Tengah kemungkinan akan mengalami pertumbuhan signifikan.

“Banyak negara Eropa dan Asia Timur akan mengalami penurunan angkatan kerja, di mana Jepang diperkirakan mengalami penurunan terbesar lebih dari 25 persen. China dan Korea Selatan dapat melihat kontraksi 17 persen menjadi 18 persen pada tenaga kerja mereka, sementara Yunani, Portugal dan Jerman diperkirakan akan turun lebih dari seperlima,” tulis laporan tersebut.

Economist Intelligence Unit juga mengingatkan munculnya dua raksasa perekonomian di Asia harus diimbangi dengan kekuatan politik yang lebih besar. “Mengingat kekuatan ekonomi China dan India, mereka akan mengambil peran lebih besar dalam mengatasi isu-isu global seperti perubahan iklim, keamanan internasional dan tata kelola ekonomi global, ” tulis laporan tersebut.

“Dalam jangka menengah, ini akan membutuhkan support dari kekuasaan dunia yang ada – terutama AS – untuk membiarkan India, dan terutama China, memainkan peran yang lebih besar di panggung dunia dan beradaptasi dengan lembaga-lembaga internasional untuk memungkinkan mereka menggunakan pengaruh yang lebih besar,” tutup laporan Economist Intelligence Unit.


Penulis : Estu Suryowati
Editor : Bambang Priyo Jatmiko
Sumber : Bloomberg
__._,_.___

28
Jun
15

Kepemimpinan : Bung Karno dan Tugas Illuminaty


Jun25 pada 3:32 PM
28
Jun
15

Keteknikan : Konsolidasi Sumber Daya Proyek Infrastruktur Nasional

Logo InfraWatch

Adakah Konsolidasi Sumber Daya Proyek Infrastruktur Nasional?
Dr Ir Pandji R Hadinoto MH

Jakarta, Obsessionnews – Berbagai media memberitakan tentang proyek-proyek infrastruktur publik berukuran besar seperti 24 pelabuhan laut, 15 bandara udara, 20 waduk air, 8.700 kilometer rel kereta api, belum lagi jalan-jalan tol, kompleks-kompleks perumahan, apartemen-apartemen, pabrik-pabrik industri, bencana alam, dan lain sebagainya.

“Pertanyaannya, apakah kini ada upaya konsolidasi di tingkat nasional yang merangkum histogram sumber-sumber daya proyek (SDP) infratruktur publik tersebut?” tandas Koordinator Infrastructural Watch Indonesia (IWI), Pandji R Hadinoto, Sabtu (27/6/2015).

Ia menegaskan, perencanaan SDP nasional ini dimaksudkan terperinci berdasarkan kategori tenaga kerja (manual dan non manual) berikut bali-balai latihan kerjanya yang dibutuhkan, bahan bangunan pokok dan pelengkap beserta sumber-sumber galiannya, peralatan berat dan perlengkapan kerja, laboratorium teknis pendukung, ketersediaan ruang kerja (lahan) besaran anggaran (biaya langsung dan tidak langsung) dlsb yang terkait.

“Profil SDP nasional ini penting untuk pada akhirnya digunakan bagi pengelolaan optimal kapasitas lokal mendukung pengelolaan proyeknya sendiri agar misalnya tepat jadwal dan anggaran selain juga bisa membantu teknis tata administrasi pembiayaan proyek baik dalam negeri maupun luar negeri,” tegasnya.

IWI mengimbau kepada pemerintah pusat agar konsolidasi SDP nasional infrastruktur publik ini segera didudukkan demi tingkat kepastian kinerja keproyekan infrastruktur publik lebih mantap terukur dan terkelola optimal antara kapasitas lokal yang tersedia vs kebutuhan proyek2nya.

“Optimalisasi hal ini sedini mungkin perlu diketahui sebab kelak pada akhirnya rakyat pula yang harus bayar biaya proyek-proyek infrastruktur publik itu melalui berbagai pungutan pajak-pajak public!” seru mantan Aktivis ITB ini. (Asma)




Blog Stats

  • 2,523,161 hits

Recent Comments

Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Sejarah : Bangsa Lemuria, Lelu…
Ratu Adil - 666 on Sejarah : Bangsa Lemuria, Lelu…

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 140 other followers