Archive for the 'Jiwa Semangat Nilai-nilai 45' Category



25
Jan
15

Kenegarawanan : Dr Moewardi Bapak Pandu Indonesia

Alm Dr Moewardi Bapak Pandu Indonesia 

Jumat, 23 Januari 2015 – 10:13 WIB

 

Dr Moewardi

Suara Pembaca :

Alm Dr Moewardi Bapak Pandu Indonesia 

30 Januari 1907 adalah hari lahir Pahlawan Kemerdekaan Nasional Dr Moewardi sesuai Surat Keputusan Presiden RI No 190/1964 tanggal 4 Agustus 1964.

Dalam konteks ditengah situasi dan kondisi kenegaraan Republik Indonesia terkini khususnya Keadilan dan Persatuan Indonesia kiranya strategik ditampilkan sosok kepemimpinan Patriot Indonesia yang telah berkontribusi signifikan di 2 (dua) tonggak sejarah Indonesia strategik yaitu Sumpah Pemuda 1928 dan Proklamasi Indonesia Merdeka 1945, untuk diteladani bersama baik oleh pemangku pemerintahan maupun oleh komunitas masyarakat sipil.

Sebagai sosok intelektual terekam dari rangkaian pendidikan formal seperti HIS (Hollandsch Inlandsche School, Kudus), ELS (Europesche Lagere School, Pati), STOVIA (School Tot Opleiding Voor Inlandshe Aartsen, Jakarta), NiAS (Nederlandch Indische Arts School), GH (Geneeskundig Hoogeschool, Jakarta) yang berujung dokter spesialis THT di tahun 1939.

Sebagai sosok pejoang politik kebangsaan terjejak dari keorganisasian yang digeluti semisal PemRed Majalah Jong Java 1922; Ketua Jong Java Cabang Djakarta 1925; Utusan Jong Java di Kerapatan Besar Pemuda 28 Oktober 1928 ikrarkan Sumpah Pemuda; turut bentuk Indonesia Muda (IM) Desember 1928 (fusi Jong Java, Jong Sumatera, Jong Ambon, Jong Minahasa, Sekar Rukun, Sangkoro Mudo); Ketua Barisan Pelopor (BP) Djakarta 1944; pimpinan BP amankan acara Proklamasi Indonesia Merdeka 17 Agustus 1945 di Jl Pegangsaan Timur 56 Jakarta dan Rapat Raksasa IKADA 19 September 1945; Pemimpin Umum Barisan Banteng Republik Indonesia (BBRI, pengganti BP), Solo; turut bentuk Persatuan Perjuangan (PP) 5 Januari 1946 di Purwokerto; turut sebagai penggerak Bandung Lautan Api 23 Maret 1946 bersama BBRI Bandung (M Toha, AH Nasution, Suprayogi); pimpinan Kongres BBRI Pebruari 1948 di Solo, bersikap anti perundingan dengan Belanda dan anti Swapraja, pasca Perjanjian Renville 17 Januari 1948.

Sebagai sosok berjiwa kepemimpinan Pandu Nasionalistik ditapaki dari Nederlandsch Indische Padvinder Vereneging (NIPV) dan di tahun 1925 berprestasi Kelas-I (Kepala Pasukan, Ploeg Leider / Assistant Troep); sebagai pimpinan Jong Java Padvinderij (JJP) mengubah nama jadi Pandu Kebangsaan (PK 1925); inisiator Persatuan Antara Pandu Indonesia (PAPI 23 Mei 1928) bersama Nationale Islamietische Padvinderij (NATIPIJ) dan Indonesische Nationale Padvinders Organisatie (INPO); penggagas prinsip “pandu yang satu adalah saudara pandu yang lainnya, oleh karena itu seluruh pandu harus menjadi satu” atau Satu Organisasi Kepanduan Indonesia (SOKI) di temu PAPI 15 Desember 1929; pembentuk dan Komisaris Besar Kepanduan Bangsa Indonesia (KBI 13 September 1930) fusi dari PK, Pandu Pemuda Sumatera (PPS) dan INPO; pembentuk dan pimpinan Badan Pusat Persaudaraan Kepanduan Indonesia (BPPKI 30 April 1938) bersama Kepanduan Azas Katholik Indonesia (KAKI), NATIPIj dan Syarikat Islam Afdeling Padvinderij (SIAP); pimpinan Perkemahan Kepanduan Indonesia Oemoem (PERKINO-I 19-23 Juli 1941, Jogjakarta dan PERKINO-II 2-12 Pebruari 1943, Jakarta); inisiator Panitia Kesatuan Kepanduan Indonesia, September 1945, Jogjakarta; pimpinan Kongres Kesatuan Kepanduan Indonesia 27-29 Desember 1945, Solo dan pembentuk serta Ketua Pandu Rakyat Indonesia (PRI 28 Desember 1945, yang diakui satu2nya organisasi kepanduan per Keputusan Menteri Pendidikan, Pengajaran dan Kebudayaan No 93/Bag A, 1 Pebruari 1947).

Sebagai tokoh Patriot Indonesia, sayang saat sedang menjalankan profesi kedokterannya
pada 13 September 1948 di Solo, dinyatakan hilang yang diduga sebagai korban revolusi di era Perang Kemerdekaan 1945-1949.    Sebagai inisiator Pandu Kebangsaan 1925, dimana istilah Pandu untuk pertama kalinya digunakan di Indonesia dan disyairkan WR Soepratman “Pandoe Iboekoe” pada lagu kebangsaan Indonesia Raja 28 Oktober 1928 lalu bermuara serta berkiprah jiwai Gerakan Pramuka 1961-sekarang, maka layaklah Dr Moewardi berkehormatan Bapak Pandu Indonesia dan diteladani pemangku Republik Indonesia jelang peringatan hari lahirnya ke 107 pada 30 Januari 2015 yang akan datang.

Jakarta, 22 Januari 2015
Pandji R Hadinoto, MAPINDO

MAPINDO – Majelis Pandu Indonesia
Politisi Keadilan dan Persatuan Indonesia
PKP17845 – Poros Koalisi Proklamasi 17845
Editor www.jakarta45.wordpress.com

BERITA LAINNYA

Sumber Berita: http://www.edisinews.com


http://edisinews.com/berita-alm-dr-moewardi-bapak-pandu-indonesia-2-.html#ixzz3PnlJ3DFa

Logo Mapindo

 

NAPAK TILAS Dr MOEWARDI

30 Januari 1907 Moewardi terlahir di desa Randukuning, Pati, Jawa Tengah
Periode Kebangkitan Nasional 1908 -1928
Tercatat bersekolah di HIS (Hollandsch Inlandsche School, Kudus), ELS (Europesche Lagere School, Pati), dan1921 Moewardi bersekolah di STOVIA (School Tot Opleiding Voor Inlandshe Aartsen atau Sekolah Dokter Bumi Putera di Kwitang, Jakarta), berlanjut ke NIAS (Nederlandsch Indische Arts School) dan lulus 1931, setelah praktek 5 tahun mengambil spesialisasi THT di GH (Geneeskundig Hoogeschool, Salemba, Jakarta) dan lulus 1939.
Aktivis Nederlandsch Indische Padvinder Vereneging (NIPV) sampai 1925 dan juga Jong Java.
1922 Pemimpin Redaksi Majalah Jong Java
1925 Ketua Jong Java Cabang Jakarta, dan berinisiatif mengubah nama Jong Java Padvinderij (JJP) jadi Pandu Kebangsaan (PK)
23 Mei 1928 turut bentuk Persatuan Antara Pandu Indonesia (PAPI) di Jakarta oleh PK (Pandu Kebangsaan), NATIPIJ (Nationale Islamietische Padvinderij), INPO (Indonesische Nationale Padvinders Organisatie).
28 Okober 1928 Utusan Jong Java di Kongres Pemuda Nasional di Jakarta dan ikut ikrar Sumpah Pemuda
Desember 1928 turut bentuk Indonesia Muda (IM) yang fusi dari Jong Java, Jong Sumatera, Jong Ambon, Jong Minahasa, Sekar Rukun (Sunda), Sangkoro Mudo (Jawa).
Periode Pergerakan Kemerdekaan 1929-1945 :
15 Desember 1929 Moewardi PK di pertemuan PAPI Jakarta usul SOKI (Satu Organisasi Kepanduan indonesia) berprinsip “pandu yang satu adalah saudara pandu yang lainnya, oleh karena itu seluruh pandu harus menjadi satu”
13 September 1930 turut bentuk Kepanduan Bangsa Indonesia (KBI) yang fusi dari Pandu Kebangsaan (PK), Pandu Pemuda Sumatera (PPS), Indonesisch Nationale Padvinders Organisatie), dan Moewardi Komisaris Besar KBI
Desember 1930 Kongres/jambore KBI Pertama di Ambarwinangun, Jogjakarta
Juni 1931 Pertemuan Pemimpin I KBI di Purworejo, menetapkan warna “merah putih” sebagai warna setangan leher dan bendera KBI sesuai azas kebangsaan Indonesia.
19-21 Juli 1932 Jambore II KBI di Banyak, Malang, dipimpin KomBes Moewardi, memutuskan tentang Upacara Pelantikan Pandu dan Upacara Pengibaran Bendera
20-24 Juni 1934 Jambore III KBI di Solo, menerbitkan AD/ART, Petunjuk Permainan, Peraturan Mendirikan Cabang dlsb
1936 Jambore Nasional IV KBI di Kali Urang, Jogjakarta dan perkemahan di lapangan Diponegoro dipimpin KomBes Moewardi
26-30 April 1938 temu PAPI di Solo bicarakan All indonesian Jambore, dibentuk Badan Pusat Persaudaraan Kepanduan Indonesia (KBI Ketua, KAKI (Kepanduan Azas Katholik indonesia) Notulen, NATIPiJ Bendahara, SIAP (Syarikat Islam Afdeling Padvinderij) Urusan Bagian Teknik,
1939 Konperensi BPPKI di Bandung putuskan All Indonesian Jambore jadi Perkemahan Kepanduan Indonesia Oemoem (PERKINO)
11 Pebruari 1941 BPPKI di Solo putuskan PERKINO di Jogjakarta.
19-23 Juli 1941 PERKINO I di Gampingan, Jogjakarta
Maret 1942 Jepang menaklukkan Hindia Belanda, dan 4 bulan kemudian melarang partai dan organisasi rakyat Indonesia, serta menghidupkan Keibodan & Seinendan.
2-12 Pebruari 1943 PERKINO II di Jakarta
4 April 1944 KBI dibekukan di Gang Tengah, Jakarta
1944 Ketua Barisan Pelopor Daerah Djakarta Raja, wakilnya Wilopo SH
16-17 Agustus 1945 memimpin Barisan Pelopor amankan Proklamasi Indonesia Merdeka di Jl Pegangsaan Timur 56
18 Agustus 1945 Dr Moewardi KetUm Barisan Pelopor (berubah nama jadi Barisan Pelopor Republik Indonesia – BPRI)
19 September 1945 memimpin Barisan Pelopor amankan Rapat Raksasa IKADA
September 1945 PKPI Panitia Kesatuan Kepanduan Indonesia dibentuk di Jogjakarta
15-16 Desember 1945 BPRI berubah nama jadi Barisan Banteng Republik Indonesia (BBRI) bermarkas di Solo, Dr Moewardi Pemimpin Umum BBRI
27-29 Desember 1945 pimpinan Kongres Kesatuan Kepanduan Indonesia di Solo membentuk Pandu Rakyat Indonesia (PRI) yang diketuai Dr Moewardi
Periode Perang Kemerdekaan 1945 – 1949 :
5 Januari 1946 ikut bentuk Persatuan Perjuangan (PP) di Purwokerto, dilanjuti bentuk jaringan teritorial BBRI Jawa Barat, Jawa Tengah dan Jawa Timur
23 Maret 1946 pelaku Bandung Lautan Api bersama Barisan Banteng di Bandung seperti Toha, AH Nasution, Suprayogi
1 Pebruari 1947 PRI diakui sebagai satu2nya organisasi kepanduan per Keputusan Menteri Pendidikan, Pengajaran dan Kebudayaan No 93/Bag.A.
25 Maret 1947 Perjanjian Linggarjati yang ditentang Moewardi bersama Soedirman, Oerip Soemoharjo dan Tan Malaka
1 Juli 1947 Agresi Militer I Belanda
17 Januari 1948 Persetujuan Renville
Pebruari 1948 Kongres BBRI di Sarwakan, Solo, sikapi anti perundingan dengan Belanda dan anti Swapraja, bersama Mulyadi Djojomartono ditangkap atas perintah Mendagri Dr Soedarsono, namun dilepaskan kembali atas dukungan BBRI, Soedirman dan Oerip Soemohardjo.
13 September 1948 hilang saat berangkat praktek kedokteran di RS Jebres, Solo, terduga korban aksi kekerasan ditengah suasana dan kondisi saat itu yaitu pasca aksi Partai Komunis Indonesia 11 September 1948 di Madiun, sementara Dr Moewardi pimpinan Gerakan Rakyat Revolusioner yang berseberangan.
Periode Indonesia Berkedaulatan 1950 – sekarang
4 Agustus 1964 ditetapkan jadi Pahlawan Kemerdekaan Nasional per Surat Keputusan Presiden RI No 190/1964

Jakarta, 30 Januari 2015
MAPINDO, Majelis Pandu Indonesia
DR Ir Pandji R Hadinoto, MH

20
Jan
15

PusKesMas : Tujuh Tanda Jantung Tidak Sehat

Tujuh Tanda Jantung Tidak Sehat

Kematian akibat penyakit jantung di dunia sangat tinggi.

Senin, 19 Januari 2015 | 10:29 WIB
Oleh : Asep Ahmad Fauzininixnews
Tujuh Tanda Jantung Tidak Sehat
Tanda jantung yang tidak sehat pada manusia. (http://revolusiilmiah.blogspot.com)

Wajib bagi kita untuk tanda jantung yang tidak sehat agar dapat mengantisipasi kemungkinan terburuk dalam masalah jantung yang dapat mengakibatkan kematian. Penyakit jantung adalah salah satu penyebab kematian tertinggi di dunia. Oleh sebab itu mulai waspada ketika mengetahui gejala yang kurang baik dari penyakit ini.

Gejala penyakit jantung dapat kita ketahui dengan mudah hanya dengan meneliti gejala yang di tunjukan oleh bagian bagian tertentu dari tubuh kita.

Baca juga:

Warganya Dieksekusi Mati, Dua Dubes Ditarik Pulang

Gadis 10 Tahun Dikubur Hidup-hidup Ayahnya

Ditemukan Ikan yang Hidup di Laut Terdalam Dunia

Ada Suara Tembakan, 6 Napi Sudah Dieksekusi Mati?

Derita Aga, ABG yang Akhiri Hidupnya Sendiri

Baca selengkapnya..

TERKAIT

Wisata Edukasi Mengenal Tanaman Purwaceng Khas Dieng

Makin Merasa Sakit, Makin Cepat Tua

Tujuh Tips Menurunkan Kolesterol Tinggi

10 Sayuran Wajib Konsumsi Agar Jantung Sehat

Inilah Makanan Penyebab Gigi Menjadi Kuning

Manfaat Tidur Menggunakan Kaos Kaki

16
Jan
15

Politik : Rekomendasi PerPres ManiPol Ekonomi Konstitusi

HUT PKPI – Rekomendasi PerPres Manifestasi Politik Ekonomi Konstitusi

Rabu, 14 Januari 2015 – 01:24 WIB


Pandji R Hadinoto. (kiri)

Suara Pembaca :
HUT PKPI – Rekomendasi PerPres Manifestasi Politik Ekonomi Konstitusi

Mencermati dilema/kontroversi ditataran praktek politik ekonomi Indonesia terkini yang ditandai oleh opini-opini seperti diungkap oleh http://m.berdikarionline.com/editorial/20150109/pro-pasar-atau-pro-rakyat-2.html dan http://teropongsenayan.com/4979-duh-rizal-ramli-bilang-jokowi-jualan-trisakti-kelakuan-neolib
serta http://obsessionnews.com/bukan-depan-harga-bbm-premium-bisa-turun-rp5-500/

Maka memperhatikan Manifesto Politik Rakyat Indonesia 17 Oktober 2014 [ http://m.edisinews.com/berita-manifesto-politik-manipol-rakyat-indonesia.html ] dan Manifesto Politik Trisakti 20 Oktober 2014 [ http://edisinews.com/berita-manifesto-politik-trisakti-20102014.html ], dirasa perlu meluruskan navigasi politik kenegaraan Indonesia melalui Peraturan Presiden tentang Manifesto Politik Ekonomi Konstitusi Indonesia Merdeka 17 Agustus 1945 per Pasal 33 UUD 18 Agustus 1945 guna menghindari situasi dan kondisi kearah keterpurukan ekonomi (economy crash).

Pelurusan navigasi politik kenegaraan ini sebetulnya analog saja dengan kebijakan pelurusan perijinan penerbangan pasca peristiwa crash pesawat terbang AirAsia QZ8501 di selat Karimata Kalimantan Tengah 28 Desember 2014 ybl. Artinya, Politik Ekonomi Indonesia yang lebih luas cakupan kiprahnya dapat juga merujuk ke peristiwa AirAsia QZ8501 itu sehingga crash di sektor ekonomi Indonesia terhindarkan. Sedangkan ketentuan dari Pasal 33 UUD 18 Agustus 1945 itu yang digunakan dengan alasan sebagai “original intent” daripada Indonesia Merdeka 17 Agustus 1945 yang penting ditaatazasi khususnya bagi sektor/ bidang pembangunan ekonomi Indonesia, selain tidak ada ketentuan konstitusional yang menyatakan bahwa Pasal 33 UUD 18 Agustus 1945 itu tidak diberlakukan.

Dengan kata lain, pelurusan ini memastikan kiprah “original intent” itu sehingga para
pemangku kenegaraan Indonesia merasa lebih terakomodasi kepentingannya sesuai konstitusi Indonesia Merdeka 17 Agustus 1945.

Adapun rekomendasi Peraturan Presiden tersebut dimaksudkan juga sebagai turut bertekad meneguhkan 100 hari pemerintahan JokoWi-JK demi penguatan Ketahanan Bangsa dan peningkatan Kesejahteraan Rakyat, yang bijak diutarakan dalam rangka HUT Partai Keadilan dan Persatuan Indonesia (PKPI) 15 Januari 2015 mengingat legitimasi PKPI Benteng Pancasila karena nama PKPI melekat sila ke-5 dan sila ke-3 Pancasila sesuai amanat Pembukaan UUD 1945 selain PKPI bermotto Bekerja Untuk Rakyat.

Jakarta, 13 Januari 2015

Dewan Pakar PKPI,
Pandji R Hadinoto, Advokator PolKum
Politisi Keadilan & Persatuan Indonesia
PARRINDO – Parlemen Rakyat Indonesia
PKP17845 – PorosKonstitusiProklamasi17845
Editor www.jakarta45.wordpress.com

07
Jan
15

MiGas : Rekomendasi Keberadaan PETRAL

Tim Reformasi Tata Kelola Migas: Rekomendasi Keberadaan PETRAL


Posted on December 30, 2014
by faisal basri

1. Latar Belakang Pembentukan Petral
Pada 1969, Pertamina dan satu “interest group” Amerika Serikat mendirikan Perta Group dengan tujuan memasarkan minyak mentah dan produk minyak Pertamina di pasar Amerika Serikat. Petra Group—yang memulai kegiatan perdagangan minyak pada tahun 1972—terdiri dari Perta Oil Marketing Corporation Limited, perusahaan Bahama yang berkantor di Hong Kong, dan Perta Oil Marketing Corporation, perusahaan California yang menjalankan aktivitas keseharian di Amerika Serikat.
Pada tahun 1978 terjadi reorganisasi besar-besaran. Perusahaan yang berbasis di Bahama digantikan dengan Perta Oil Marketing Limited, perusahaan yang berbasis di Hong Kong. Pada September 1998, Pertamina mengambil alih seluruh saham Perta Group. Pada Maret 2001, atas persetujuan pemegang saham, perusahaan berubah nama menjadi Pertamina Energy Trading Limited (PETRAL) yang berperan sebagai trading and marketing armPertamina di pasar internasional.
Petral mendirikan anak perusahaan berbadan hukum dan berkedudukan di Singapura bernama Pertamina Energy Services Pte Limited (PES) pada tahun 1992 yang dibebani tugas melakukan perdagangan minyak mentah, produk minyak, dan petrokimia.
Pembentukan dan operasional Petra Group pada awalnya lebih diarahkan untuk pemasaran minyak bumi mengingat di masa itu Indonesia merupakan pengekspor netto (net exporter) minyak bumi dan masih menjadi anggota OPEC. Peranan minyak bumi juga masih sangat dominan baik sebagai sumber penerimaan devisa maupun sebagai sumber penerimaan negara dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).
Pembentukan dan operasional Petra Group tidak terlepas dari kepentingan elit penguasa Orde Baru untuk mendapatkan rente dari ekspor minyak bumi. Operasional Petra Group praktis hanya sebagai “agen penjualan” minyak bumi dari Indonesia. Proses pemburuan rente dari penjualan minyak tersebut melalui keikutsertaan kroni penguasa dalam kepemilikan Petra Group.
Produksi yang terus menurun sementara konsumsi meningkat tajam menyebabkan sejak 2003 konsumsi melebihi produksi dengan jurang yang kian menganga, yang harus ditutup dengan impor (Peraga 1). Sebelum 2003, defisit perdagangan bahan bakar minyak (BBM) masih dapat ditutupi oleh surplus perdagangan minyak mentah. Namun, setelah itu, defisit BBM tidak lagi dapat ditutupi oleh surplus minyak mentah, sehingga Indonesia mengalami defisit minyak total (minyak mentah dan BBM). Bahkan, sejak 2013, transaksi perdagangan minyak mentah mulai mengalami defisit (Peraga 2).

2. Operasional Petral Dewasa Ini

Perubahan status Indonesia dari eksportir netto menjadi importir netto ternyata tidak mengubah peran Petra Group. Petra Group yang kemudian diubah namanya menjadi Petral dengan PES sebagai anak perusahaannya tetap hanya sebagai trading arms dengan tambahan fungsi sebagai “agen pengadaan” minyak bumi dan BBM. Mengingat kebutuhan BBM Indonesia yang relatif sangat besar dan Petral merupakan satu-satunya pihak yang ditunjuk sebagai penjual dan pembeli minyak mentah dan BBM, volume usaha Petral semakin membesar.
Petral berperan hanya sebagai “administrator tender”, tidak melakukan transaksi dengan dan ke pihak ketiga sehingga tidak dapat dikatakan sebagai perusahaan trading (tradingcompany). Petral tidak pernah bertransaksi di Platts Window Market (Bursa Minyak Singapura) karena tidak memiliki fisik barang. Oleh karena itu, Petral tidak memilikiprofessional trader dan sepenuhnya menjadi price taker.
Petral praktis tidak kunjung beranjak menjadi trading company. Petral tidak memilikiblending facilities sendiri, hanya menyewa dari pihak lain (Trafigura) di Tanjung Langsat Terminal, Malaysia. Karenanya Petral tidak mempunyai blending specialists, padahal punya kesempatan belajar dari kerja sama dengan Trafigura.
Pelaksanaan fungsi sebagai market intelligence oleh Petral tidak dilakukan dengan baik. Siapa pemasok sebenarnya dari minyak yang dibeli Petral dari national oil companies(NOCs) atau major oil companies (MOCs) tidak dipandang sebagai kewajiban Petral.

3. Tuntutan Perubahan Menghadapi Tantangan ke Depan
Berikut adalah berbagai perkembangan yang menuntut perubahan kebijakan dan pengelolaan ekspor dan impor minyak mentah dan BBM.
Kebutuhan minyak mentah dan BBM semakin tidak dapat dipenuhi oleh produksi dalam negeri sehingga impor minyak mentah dan BBM cenderung meningkat. Kondisi tersebut menuntut kehadiran perusahaan perdagangan (trading company) minyak nasional yang dapat mendorong peningkatan efisiensi pengadaan minyak mentah dan BBM.
Selama beberapa tahun terakhir muncul ketidakpercayaan masyarakat terhadap Petral dalam menjalankan fungsinya sebagai anak perusahaan negara yang ditunjuk untuk melakukan perdagangan minyak mentah dan produk minyak, khususnya dalam pengadaan BBM yang dari waktu ke waktu semakin meningkat cukup tajam;
Peran Petral selama ini dipandang belum dapat memenuhi tuntutan efisiensi dalam pengadaan minyak mentah dan BBM. Petral dianggap cukup hanya berperan sebagaitrading arms atau buying agent Pertamina dan tidak perlu berkembang menjaditrading company karena dianggap akan membahayakan keamanan pasokan minyak (supply security).
Indonesia merupakan konsumen minyak mentah dan BBM terbesar di kawasan Asia Tenggara, bahkan telah menjadi importir BBM terbesar di dunia. Kehadiran Petral di Singapura lewat anak perusahaannya, PES, sejatinya bisa meningkatkan posisi tawar Indonesia sebagai konsumen besar. Perannya yang sebatas administrator tender membuat efisiensi pengadaan minyak tak membaik. Sebagai contoh, untuk produk RON 88 yang mana Indonesia sebagai satu-satunya pembeli (monopsony), Petral tersudut di pasar Singapura sebagai price taker.

4. Temuan dan Penilaian Tim Reformasi Tata Kelola Migas

Sejak pembentukannya, Tim Reformasi Tata Kelola Migas (Tim) telah memperoleh berbagai temuan terkait dengan praktik usaha Petral.
Petral mengklaim pengadaan minyak lambat laun sudah semakin banyak melaluinational oil companies (NOCs), bahkan sekarang sudah sepenuhnya dari NOC (Presentasi Petral di hadapan Tim). Dengan perubahan ini muncul kesan kuat mata rantai pengadaan minyak semakin pendek. Kenyataannya, NOCs yang memenangi tender pengadaan tidak selalu memasok minyaknya sendiri, bahkan kerap memperoleh minyak dari pihak lain. Praktik demikian dimungkinkan berdasarkan Persetujuan Direksi No. RRD-54/C00000/2012-SO Tanggal 4 Juni 2012 Huruf B nomor 1: “Pola pengadaan Minyak Mentah dan BBM melalui Petral/PES sebagai armlength Pertamina untuk pemenuhan kebutuhan nasional dilakukan melalui: a. NOC yang tidak terbatas hanya pada produksi sendiri; b. Produsen Minyak Mentah sebagaimajor share holder dan major oil company; c. Pemilik kilang BBM.” Tim menyimpulkan tidak banyak perubahan dalam praktik pengadaan minyak. Mata rantai pengadaan tidak mengalami perbaikan berarti.
Tidak semua NOC merupakan produsen minyak atau memiliki ladang minyak. Salah satunya adalah Maldives NOC LTD (tertera dalam Daftar Mitra Usaha Petral). Berdasarkan Informasi yang diperoleh Tim, NOC tersebut beberapa kali digunakan sebagai “kedok” untuk memenuhi ketentuan pengadaan minyak oleh Petral.
Hingga rekomendasi ini disusun, Tim belum memperoleh data pemasok akhir minyak mentah maupun BBM ke Data yang diperoleh dari Petral masih sebatas pemenang tender resmi yang mensyaratkan NOC. Petral tidak mempermasalahkan dari mana asal atau sumber minyak yang diperoleh NOC itu. Tim sudah meminta Petral memberikan data pemasok akhir pada pertemuan Tim dengan Pertamina dan Petral tanggal 17 Desember 2014.
Tim menemukan pelaku pasar bertindak sebagai agent/arranger yang menggunakanfronting NOC PetroVietnam Oil Corporation (PV Oil) dalam pengadaan minyak mentah dari Nigeria. Padahal PV Oil tidak memiliki equity di blok minyak Escravos atau lainnya di Nigeria. Pemasok sebenarnya adalah Trafigura yang memiliki hak alokasi atas minyak Nigeria. Dengan demikian, mata rantai pengadaan minyak mentah dari Nigeria itu menjadi panjang walaupun menggunakan NOC.
PTT (NOC Thailand) digunakan sebagai vehicle dalam pengadaan minyak mentah Azeri dari Azerbaijan. Muncul pertanyaan mengapa Petral tidak melakukan kontrak langsung dengan SOCAR Trading Singapore PTE LTD yang merupakan NOC Azerbaijan atau setidaknya mendalami mengapa NOC Azerbaijan itu tidak mengikuti tender pengadaan minyak mentah Azeri atau mengikuti tender tetapi kalah. Semakin dipertanyakan karena dalam pengadaan minyak mentah Azeri PTT kerap menang.
Pada 2013, Petco Trading Labuan Company Limited, perusahaan trading milik NOC Petronas digunakan dalam pengadaan High Speed Diesel Fuel 0,35% Sulphur yang pengapalannya dilakukan HinLeongTrading (PTE) LTD atas nama Sinopec (Hong Kong) Petroleum Company Limited.
Pada 2013, Petco Trading Labuan Company Limited digunakan sebagai NOC dalam pengadaan Gasoil 0,35% Sulphur yang pengapalannya dilakukan SK Energy Co., LTD atas nama SK Energy International PTE LTD.
Pada 2013, Petco Trading Labuan Company Limited digunakan sebagai NOC pengadaan Jet/Kerosene yang pengapalannya dilakukan AVTTI atas nama Vitol Asia Pte Ltd.
Pada 2013, Petco Trading Labuan Company Limited digunakan sebagai NOC dalam pengadaan Gasoil 0,35% Sulphur yang dilakukan oleh HinLeongTrading (PTE) LTD.
Pada 2013, Petco Trading Labuan Company Limited digunakan sebagai NOC dalam pengadaan Gasoil 0,35% Sulphur yang dikirimkan oleh HinLeong Trading (PTE) LTD atas order Sinopec (Hong Kong) Petroleum Company Limited.
Pada 2014, Petral melakukan beberapa pengadaan Gasoline 88 RON menggunakan kapal Akrotiri oleh Vopak atas pesanan Phillips 56 International Trading PTE LTD.
Berdasarkan temuan Tim, beberapa pelaku di pasar minyak Singapura tidak melakukan penawaran langsung ke Petral karena spesifikasi produk (minyak mentah dan BBM) yang ditenderkan tidak lazim dalam usaha perminyakan, proses berbelit-belit, dan harus menghadapi pihak ketiga yang bertindak sebagai agent atau arranger. Namun, pelaku yang bersangkutan mengakui dengan terbuka mengapalkan minyak secara teratur ke Indonesia melalui trader.
Tim menemukan indikasi kebocoran informasi mengenai spesifikasi produk danowner estimate sebelum tender berlangsung.
Tim menemukan cukup banyak indikasi adanya kekuatan “tersembunyi” yang terlibat dalam proses tender oleh Petral.

5. Rekomendasi

Memerhatikan kondisi obyektif industri perminyakan dan kebutuhan BBM di dalam negeri, serta pentingnya perombakan kelembagaan dan personalia untuk menjaga dan meningkatkan kredibilitas dan akuntabilitas badan usaha milik negara, Tim merekomendasikan agar dilaksanakan langkah-langkah dan kebijakan terkait dengan keberadaan Petral sebagai berikut:
Menata ulang seluruh proses dan kewenangan penjualan dan pengadaan minyak mentah dan BBM.
Tender penjualan dan pengadaan impor minyak mentah dan BBM tidak lagi oleh Petral melainkan dilakukan oleh ISC (integrated supply chain) Pertamina:
Petral dapat menjadi salah satu peserta lelang pengadaan dan penjualan minyak mentah dan BBM yang dilaksanakan oleh ISC;
Petral mengefektifkan fungsinya dalam market intelligence di pasar minyak global dan regional sebagai masukan bagi ISC;
Penjualan dan pengadaan minyak mentah dan BBM oleh ISC dilakukan melalui proses tender terbuka dengan mengundang semua vendor terdaftar yang kredibel dan tidak terbatas pada NOC;
Tender penjualan dan pengadaan minyak mentah dan BBM dilakukan di Indonesia yang dilaksanakan oleh ISC Pertamina sehingga tunduk sepenuhnya pada hukum dan perundang-undangan yang berlaku di Indonesia. Dengan begitu, auditor dan penegak hukum (BPK, KPK dan lain-lain) dapat menjalankan fungsinya secara optimal.
Mengganti secepatnya manajemen Petral dan ISC dari tingkat pimpinan tertinggi hingga manajer.
Menyusun roadmap menuju “world class oil trading company” oleh manajemen baru Petral serta mempersiapkan infrastruktur yang diperlukan.
Melakukan audit forensik agar segala proses yang terjadi di Petral menjadi terang benderang. Audit forensik agar dilakukan oleh institusi audit yang kompeten di Indonesia dan memiliki jangkauan kerja ke Singapura serta negara terkait lainnya. Hasil audit forensik bisa dijadikan sebagai pintu masuk membongkar potensi pidana, khususnya membongkar praktik mafia migas.

Forwarded by :

Pandji R Hadinoto, BaMus NasPan45
Politisi Keadilan & Persatuan Indonesia
PARRINDO – Parlemen Rakyat Indonesia
PKP17845 – Poros Koalisi Proklamasi 17845
Editor www.jakarta45.wordpress.com

07
Jan
15

AirAsia : Asuransi Rp1,25Miliar/Korban, Bayar !

Asuransi Rp1,25 Miliar Per Korban AirAsia Harus Tetap Dibayarkan!

Pandji4

Jakarta –  Ganti rugi bagi keluarga korban penumpang AirAsia QZ8501 sebesar Rp1,25 miliar harus tetap dibayarkan. Tidak boleh ada alasan bahwa dana asuransi itu terancam tak cair, karena izin penerbangan AirAsia QZ8501 itu diduga ilegal.

Ketidakserasian antara Ijin Trayek Direktorat Jenderal Perhubungan (DitJenHub) dengan Ijin Terbang Bandara secara yuridis formal, seharusnya dalam konteks praktek keperdataan asuransi bukanlah jadi bahan pertimbangan utama untuk kemudian secara tekstual berkesimpulan sebagai Illegal Flight, mengingat penerbitan Ijin Terbang Bandara Pemberangkatan bagaimanapun sudah diakui (general acceptance) oleh operator-operator teknikal terkait seperti pihak ATC dan pihak Bandara Tujuan.

“Artinya legalitas ijin terbang terbitan oleh Bandara Pemberangkatan telah berfungsi dalam praktek penerbangan berdasarkan otoritas Bandara Pemberangkatan,” tegas Advokator Politik Hukum, Dr Ir Pandji R Hadinoto MH di Jakarta, Selasa (6/1/2015), terkait Legalitas Biasa Polis Asuransi Penerbangan Ekstra.

Menurut Pandji, sudut pandang ini penting agar Kemanusiaan Yang Adil Beradab (Sila-2 Pancasila) dan Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia (Sila-5 Pancasila) terselenggara baik apalagi demi hak-hak para korban kecelakaan penerbangan.

“Bahwa ada perkara ketidakserasian praktek kebijakan operasional dengan praktek kebijakan regulator, hal itu adalah masalah tersendiri terkait good governance khusus tatakelola koordinasi internal regulator dengan subordinatnya yang tidaklah bijak diperlakukan serta merta berdampak negatif atau halangan terhadap hak-hak para korban,” ungkapnya.

Apalagi, lanjut Pandji, dikabarkan AirAsia dapat ganti rugi pesawat Rp1 triliun. “Dengan alasan-alasan seperti di atas maka hak Rp1,25 miliar per korban PerMenHub Nomor 77/2011 tentang ganti rugi kecelakaan pesawat seharusnya serta merta terselenggara,” tandas Inisiator PARRINDO (Parlemen Rakyat Indonesia).

Pandji menegaskan, bagaimanapun tidaklah elok bila bencana penerbangan yang tragis ini jadi polemik dan kemudian disikapi secara yuridis formal semata tanpa pertimbangan cita ideologi negara bangsa Indonesia yakni Pancasila.

“Selain itu juga perlu dirumuskan kebijakan ganti rugi uang rakyat yang digunakan ekstra bagi pembiayaan task forces BASARNAS dan mitra-mitra kerja lainnya akibat kelemahan pemrakarsa bencana yakni pihak operator pesawat terbang,” tutur Koordinator Poros Koalisi Proklamasi 17845 ini.

Sebagaimana diberitakan, AirAsia sebenarnya mengasuransikan penerbangannya. Perusahaan asuransi penanggung jawab utama penerbangan itu adalah Allianz. Klaim untuk pesawat diperkirakan US$ 94 juta. Sementara masing-masing penumpang yang jadi korban, keluarganya dapat santunan US$ 165.000 atau sekitar Rp 2 miliar.

Namun, dana asuransi itu terancam tak cair, karena izin penerbangan AirAsia QZ8501 itu diduga ilegal. Polis asuransi yang diterbitkan secara umum harus seusai dengan peraturan yang berlaku jika ingin dicairkan, peraturan ini termasuk izin terbang dan standar aturan penerbangan. (Ars)

Peradi: Keluarga Korban Bisa Tuntut AirAsia

Senin, 5 Januari 2015 | 16:07 WIB
AFP PHOTO / ADEK BERRY Anggota Basarnas menurunkan jenazah korban jatuhnya pesawat AirAsia QZ8501 dari helikopter Bell-420 yang membawanya dari KRI Banda Aceh di Laut Jawa dekat perairan Pangkalan Bun, Kalimantan Tengah, Sabtu (3/1/2015).


JAKARTA, KOMPAS.com
 — Ketua Umum Perhimpunan Advokat Indonesia (Peradi) Otto Hasibuan mengatakan, keluarga korban jatuhnya pesawat AirAsia QZ8501 bisa menuntut maskapai penerbangan tersebut.

“Ada dua hal yang bisa dituntut keluarga korban kepada pihak AirAsia atas kecelakaan pesawat tersebut,” kata Otto Hasibuan di Jakarta, Senin (5/1/2015), seperti dikutip Antara.

Dia menjelaskan, hak keluarga korban atas peristiwa jatuhnya pesawat dengan rute penerbangan Surabaya-Singapura tersebut tidak hanya pada klaim asuransi semata.

“Namun, juga hak yang lebih luas jika benar AirAsia melanggar jadwal penerbangan,” katanya.

Jika terbukti ada pelanggaran, batasan limitasi jumlah tanggung jawab ganti rugi kepada penumpang sebagaimana diatur Undang-Undang Penerbangan, kata dia, menjadi tidak berlaku. Sebab, hal itu bukan lagi sekadar kecelakaan, bukan kelalaian, melainkan merupakan perbuatan melawan hukum “tort” sesuai Pasal 1365 KUHP perdata.

Otto menambahkan, kalau benar terbukti ada pelanggaran tentang jadwal penerbangan dan karena perubahan jadwal tersebut mengakibatkan atau berkaitan dengan kecelakaan tersebut, keluarga penumpang dapat menuntut ganti rugi AirAsia dengan dasar perbuatan melawan hukum.

Sementara itu, jika kecelakaan tersebut terjadi karena “human error“, yaitu karena kesalahan pilot dan lain-lain, keluarga penumpang juga dapat menuntut ganti rugi kepada AirAsia karena mengakibatkan kerugian bagi penumpang atau keluarga adalah tanggung jawab perusahaan.

Selanjutnya, kalau kecelakaan terjadi kerena kesalahan design pesawat, itu adalah tanggung jawab perusahaan yang membuat pesawat Airbus, dan perusahaan tersebut juga bisa diminta tanggung jawab. Tuntutan-tuntutan tersebut tentu di luar asuransi penerbangan yang wajib dibayar.

“Masyarakat harus disadarkan akan haknya di depan hukum jika terjadi sebuah kecelakaan agar perusahaan penerbangan lebih berhati-hati dan tidak menganggap enteng nyawa manusia,” ujar Otto.

Dalam kesempatan itu, Otto juga menyampaikan ucapan dukacita yang sedalam-dalamnya kepada keluarga korban. Peradi, baik secara institusi maupun perorangan, tidak akan berdiam diri jika ada keluarga korban yang meminta bantuan.

 

Rabu, 07 Januari 2015 , 14:25:00

Biaya Pencarian Korban AirAsia Dibebankan Pada Maskapai
Operasional Basarnas Didanai Negara

 

Tim pencari pesawat AirAsia QZ801 memantau dari udara. Foto: istimewa
Tim pencari pesawat AirAsia QZ801 memantau dari udara. Foto: istimewa

JAKARTA – Wakil Ketua Komisi V DPR, Yudi Widiana Adia menyatakan biaya pencarian korban jatuhnya pesawat AirAsia dibebankan kepada maskapai, kecuali kegiatan official Basarnas yang didanai oleh negara.

Hal ini disampaikan Yudi menanggapi operasi pencarian dan evakuasi korban AirAsia yang sudah berlangsung 11 hari. Tentunya aktivitas tersebut memerlukan biaya yang tidak sedikit.

“Secara undang-undang anggaran pencarian dibebankan kepada maskapai. Untuk luar negeri mereka yang nanggung sendiri. Untuk kegiatan official Basarnas di backup negara,” kata Yudi saat dikonfirmasi lewat pesan singkat, Rabu (7/1/2015).

Ditanya mengenai pembagian tanggungjawab pembiayaan antara AirAsia dengan Basarnas selaku leading sector pencarian dan evakuasi, Yudi menyebut tergantung kesepakatan antara Basarnas dengan pihak maskapai.

“Itu tergantung kesepakatan antara Basarnas dengan pihak maskapai. Kan ada sumbangan-sumbvangan juga dari SKK Migas untuk BBM dan lain-lain,” jelasnya. (fat/jpnn)

 

Ikuti perkembangan berita ini dalam topik:

Editor : Sandro Gatra
Sumber : Antara
06
Jan
15

PusKesMas : Khasiat Air Kelapa bagi Orang Diet

Khasiat Air Kelapa bagi Orang Diet

Selasa, 6 Januari 2015 – 06:00 wib |Dewi Kania – Okezone

Kelapa berkhasiat bagi orang diet (Foto: Gosocio)

Khasiat Air Kelapa bagi Orang Diet

MEMILIKI tubuh langsing merupakan resolusi cemerlang di tahun 2015. Berat badan yang ideal memang tak lepas dengan pola diet yang sehat. Lantas, makanan apa yang cocok dan menyenangkan tanpa merusak pola diet Anda?

Patricia Bannan seorang ahli gizi dari Los Angeles menjelaskan, kunci utama untuk menjaga resolusi diet sehat nan sederhana. Selain itu, dia membocorkan rahasia beragam makanan, minuman, dan buah-buahan rendah kalori.

“Anda ingin fokus dengan resolusi positif, rajinlah makan sayur dan buah-buahan dalam sehari. Kalau makanan sejenis kue sebaiknya dapat dicap sebagai musuh saja,” ujar Bannan seperti dikuti Foxnews, Selasa (6/1/2015)

Lebih lanjut, dia mengatakan resolusi diet sebaiknya jangan hanya terpaku ingin menurunkan berat badan saja. Namun, kini di benak Anda diet haruslah mengarah terhadap pola makan sehat.

Bannan merekomendasikan alpukat sebagi tameng diet. Pasalnya, seperlima dari si hijau menyehatkan itu mengandung 50 kalori dan tergolong buah mengenyangkan.

Bukan hanya itu, dia juga menyarankan untuk rajin minum air kelapa segar setiap hari. Minuman tersebut mengandung elektrolit yang membuat tubuh Anda terasa bugar.

Terlebih, lanjut Bannan, camilan kacang-kacangan juga baik untuk diet. Satu ons kacang memiliki kandungan 160 kalori.

“Selain menu diet saya juga menyarankan minum teh agar pola tidur Anda teratur. Minum teh di malam hari menjadi ramuan alami untuk mendorong rasa kantuk,” tutupnya.

(ren)

06
Jan
15

Politik Hukum : Menuju Arah Lebih Beradab

http://www.antaranews.com/berita/472380/menuju-arah-politik-hukum-lebih-beradab-dan-bermanfaat

Menuju arah politik hukum lebih beradab dan bermanfaat

Senin, 5 Januari 2015 22:32 WIB |
Oleh Dr Laksanto Utomo*
Menuju             arah politik hukum lebih beradab dan bermanfaat

ilustrasi Lambang Burung Garuda (ANTARA FOTO/Prasetyo Utomo)
Jakarta (ANTARA News) – Indonesia adalah negara hukum sehingga Republik Indonesia berarti negara yang berasaskan hukum (rechtsstaat), bukan berdasarkan kekuasaan, (machtstaat), yang berarti pemerintahannya mesti berdasarkan konstitusi, tidak memiliki kekuasaan tidak terbatas.

Itu sebabnya, semua pihak harus menjunjung hukum sebagai landasan untuk meningkatkan kualitas berdemokrasi dan yang terpenting meningkatkan kesejahteraan rakyat seperti dijanjikan pasangan Presiden Joko Widodo dan Jusuf Kalla pada masa kampanye silam.

Namun sayangnya, harapan itu hingga kini belum sepenuhnya terwujud, lantaran pemerintah di masa lalu belum fokus pada pembentukan karakter dan arah politik hukum yang berpijak pada sendi-sendi Pancasila dan UUD 1945.

Rencana pembangunan Jangka Menengah (RPJM) 2009-2014, dipublikasi Badan Perencanaan Pembangunan Nasional, pada Bab 9 soal pembenahan sistem dan politik hukum nasional, belum nyata betul pembentukan karakter hukum berlandaskan Pancasila. Masih terkesan adanya pengabaian nilai tersebut.

Disebutkan dalam RPJM itu, penegakan hukum dan ketertiban merupakan syarat utama menciptakan Indonesia lebih damai dan sejahtera. Penegakan hukum dilakukan guna menciptakan ketertiban dengan menekankan aspek hukum positifnya. Namun, penegakan hukum yang hanya menitikberatkan pada kepastian hukum, seperti disampaikan ahli hukum Hans Kelsen, tidak akan menjadikan Indonesia lebih sejahtera dan bermartabat.

Politik hukum ke depan tidak dapat hanya menyandarkan diri pada hukum positif atau hukum yang dikonstruksi menguntungkan para penguasa. Sehingga, penentuan orang salah dan benar tergantung dari justifikasi penegak hukum itu sendiri, apakah Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Kepolisian, atau Kejaksaan. Dengan begitu, penegakan hukum di Indonesia, termasuk bidang pencegahan korupsi masih gagal, meski sudah ada Komisi pemberantasan Korupsi (KPK).

Menteri Hukum dan HAM Yassonna Hamonangan Laoly, di Jakarta pekan lalu, menyampaikan otokritik dari kegagalan reformasi hukum, khususnya dalam hal pencegahan korupsi.

Ia menyebut hasil survei dari Transparancy International menempatkan nilai Indeks Persepsi Korupsi (IPK) Indonesia 3,4. Angka itu berada di peringkat 107 dari 175 negara yang disurvei. IPK rendah itu mengindikasikan Indonesia masih sejajar dengan negara yang, maaf, tingkat hukum dan peradabannya masih primitif, yakni masyarakat menjalankan hukum bukan karena kesadaran, tetapi karena takut dengan penguasa atau lembaga hukumnya.

Menurut Menteri, IPK itu menggambarkan masih belum tercapainya target RPJM 2009-2014, yakni berada di angka lima. Dalam ungkapan lain, pencapaiannya masih jauh dari nilai yang dikehendaki dalam Strategi Nasional Pemberantasan dan Pencegahan Korupsi, yaitu peringkat 40 besar.

Mengingat belum adanya kemajuan berarti dari nilai IPK itu, Presiden Joko Widodo tentu harus melakukan pembenahan atau penataan kembali tumpang tindihnya kelembagaan maupun penggantian para pimpinan di Kejaksaan dan Kepolisian yang belum mampu meningkatkan kinerja secara optimal. Pasalnya, Kejaksaan dan Kepolisan merupakan garda terdepan lembaga permanen yang mencegah dan memberantas korupsi, dibanding KPK.

Pakar hukum Romli Atmasasmita (2014) secara khusus memaparkan ketidakefektifan tiga lembaga pemberantasan korupsi yang gagal mengembalikan kerugian uang negara lantaran pendekatan hukum yang diterapkan semata-mata aspek jera, atau mengutamakan hukum positif.

Dalam kalimat lain, tindak itu hanya terikat pada teks dalam pasal KUHP atau UU No. 30 Tahun 2002 tentang Komisi Pemberantasan Korupsi.

Menyoal kerugian negara selama lima tahun, yaitu 2007-2012, uang yang diselamatkan tidak lebih dari 50 persen dari total kerugian, sekitar Rp469 triliun, termasuk kerugian “illegal logging” dan “fishing”. Bahkan, uang yang diselamatkan itu, jika dihitung biaya operasional dan perawatan para narapidana turut menghabiskan dana lebih besar dari jumlah uang yang disita.

Dengan demikian, pemerintah ke depan perlu menata ulang konstruksi hukum tidak lagi berbasis apek jera, tetapi juga mendatangkan aspek manfaat dan keberadaban.

Hukum belum prorakyat

Pemerintahan Jokowi, jika tidak ingin dinilai gagal melanjutkan agenda reformasi hukum, harus mampu mendorong pembentukan hukum pro rakyat, bukan “law against society“. Persoalannya, pembuatan hukum di era reformasi ini agaknya lebih banyak dipengaruhi para pemilik modal yang justru anti rakyat.

Mereka memanfaatkan kebebasan yang kebablasan itu demi memperluas cengkraman kapitalisasi dan kekuasannya, sehingga tak usah heran jika banyak lahan pertanian tiba-tiba berubah menjadi lahan bisnis. Ujungnya, banyak petani kesulitan mencari lahan garapannya lantaran digempur sana-sini oleh kepentingan korporasi.

Joko Widodo yang dipersepsi sebagai pemimpin “pamomong kawulo alit” merupakan figur, diharapkan, hadir memberi pelayanan kepada rakyat kecil yang selama ini terabaikan keadilannya, sehingga sering tertindas.

Oleh karena itu, dalam penegakan hukum, pemerintah harus dapat mendorong untuk tidak menekankan pada aspek legalistiknya saja. Alasannya, hal itu terbukti gagal atau kurang optimal. Dalam konvensi PBB, diadopsi Indonesia, pendekatan hukum mestinya tidak represif, melainkan preventif dan restoratif.

Dengan begitu, para investor akan melihat kemajuan pelaksanaan hukum nasional, sehingga mereka akan mengapresiasi dan berbondong-bondong datang ke Indonesia. Meminjam pendapat mantan Dirut PT Kereta Api, Ignasius Jonan kala mengubah citra karyawan PT.KAI, “kita digaji oleh konsumen yang memakai kereta, jadi para pekerjanya harus ramah dalam memberikan pelayanan.”.

Kiranya, makna kalimat itu perlu ditularkan ke semua instansi penyelenggara negara, sehingga tujuan menyejahterakan rakyat dapat terwujud.

Hal yang mesti direkam, jangan harap rakyat akan mengapresiasi kerja pemerintah, jika situasinya, penegakan hukum lemah, dan para pimpinan di pemerintahan tidak dapat dijadikan panutan bawahannya. Kabinet kerja harus menjadi suri teladan bagi semua sendi kehidupan di Indonesia. Panutan itu terbentuk lewat komitmen melayani masyarakat sebagai suatu keharusan. Selamat Tahun baru 2015, selamat bekerja lebih tenang, damai dan harmonis.

*Penulis Pengajar Fakultas Hukum Usahid Jakarta, tinggal di Jakarta.

Editor: Ruslan Burhani

COPYRIGHT © ANTARA 2015




Blog Stats

  • 2,409,712 hits

Recent Comments

Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Sejarah : Bangsa Lemuria, Lelu…
Ratu Adil - 666 on Sejarah : Bangsa Lemuria, Lelu…

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 135 other followers