Archive for the 'Jiwa Semangat Nilai-nilai 45' Category



09
Apr
15

Politik : Waspada, Ada Bahaya Perang Asimetris Di Depan Mata

 ina-flag
Apr8 pada 12:39 PM
05
Apr
15

Kenegarawanan : Pemerintah Diingatkan Tentang Al Baqarah : 188

Pemerintah Diingatkan Tentang Al Baqarah : 188
Kamis, 02 April 2015 – 10:21 WIB

Dr Ir Pandji R Hadinoto MH

Suara Pembaca:
Pemerintah Diingatkan tentang Al Baqarah: 188

Pemerintah perlu diingatkan tentang keberadaan Firman Allah QS Al Baqarah : 188 “Dan janganlah sebahagian kamu memakan harta sebahagian yang lain di antara kamu dengan jalan yang batil dan (janganlah) kamu membawa (urusan) harta itu kepada hakim, supaya kamu dapat memakan sebahagian daripada harta benda orang lain itu dengan (jalan berbuat) dosa, padahal kamu mengetahui” berkenaan dengan pemberitaan detikFinance | Jokowi Minta Dana Pensiun Rp 141 T `Diputar` di Sektor Infrastruktur [ http://m.detik.com/finance/read/2015/03/30/172240/2873846/4 ]
Selain itu Pemerintah perlu pertimbangkan juga tentang “Politik Tri Kesejahteraan Rakyat Indonesia 28 Oktober 2014″ oleh PARRINDO sebagai berikut :

Berawal dari rekaan tertulis pemuda berusia 25 tahun, Muhammad Yamin yang sekretaris sidang saat Kongres Pemuda II tanggal 28 Oktober 1928 di Rumah Indonesia Jalan Kramat 106, yakni “mengakoe bertoempah darah satoe, berbangsa jang satoe, menjoenjoeng bahasa persatoean Indonesia” yang sejatinya mencerminkan ikhwal Tri Cita Kebangsaan Indonesia dan faktanya kemudian gelorakan jiwa semangat nilai2 Indonesia Merdeka 17 Agustus 1945.

Terinspirasi rekaan monumental tersebut diatas, kini terpikirkan pentingnya secara kolektif dirumuskan tekad wujudkan politik Tri Cita Kesejahteraan Rakyat berdasar potensi yang sejatinya dimiliki Indonesia yaitu Kemaritiman, Pangan Lokal, Energi Terbarukan, per 28 Oktober 2014 dalam kerangka politik Tri Cita Kenegaraan Indonesia Mulia (2015-2025), Indonesia Bermartabat (2025-2035), Indonesia Sejahtera Lahir Batin (2035-2045) menuju kearah Indonesia Jaya 2045 saat 100 tahun Indonesia Merdeka.

Jakarta, 2 April 2015

Pandji R Hadinoto
KBP45 – KelBes Pejoang45
Politisi Keadilan & Persatuan Indonesia
Editor www.jakarta45.wordpress.com

BERITA LAINNYA
Berita Terkini
Kurs Valuta Asing
KURS    JUAL    BELI
USD 12995.00 12975.00
SGD 9561.66 9541.66
EUR 14109.51 14009.51
AUD 9866.40 9786.40
Prakiraan Cuaca

29°C

  • Jakarta
  • Partly Cloudy
  • N 4.83 km/h
05
Apr
15

Politik : FPR Nilai KAA Langgengkan Imperialisme AS

 ina-flag

FPR Nilai KAA Langgengkan Imprealisme AS

Created on Friday, 03 April 2015 00:13

Jakarta, GATRAnews – Front Perjuangan Rakyat (FPR), yang terdiri 28 organisasi, menilai Konferensi Asia Afrika (KAA) ke-60 di Jakarta dan Bandung, merupakan upaya memperkuat kepentingan imperialisme negara adi daya Amerika Serikat (AS). “KAA ke-60 tahun yang mengundang kurang lebih 109 negara, 25 organisasi internasional, serta 650 CEO perusahaan korporat milik imperialisme pada 19-24 April 2015 ini, tidak ubahnya dengan pertemuan 2005,” kata Rudi HB Daman, Koordinator Umum FPR, di Jakarta, Kamis (2/4).

Adapun tema “Memperkuat Kerjasama Negara-Negara Selatan untuk Mendorong Kesejahteraan dan Kemakmuran Dunia”, adalah sebuah kebohongan besar. Sebab, forum ini akan tetap menjadi pertemuan yang mendorong kepentingan imperialisme, khususnya Amerika Serikat (AS) untuk melipatgandakan penguasaan atas sumber daya alam dan manusia di tengah kondisi krisis global yang masih menghantam AS sejak 2008.

Penguatan kebijakan neo-liberalisme dengan bentuk meningkatkan investasi, pencabutan subsidi, pemberian utang, pembangunan megaproyek infrastuktur, penerapan politik upah murah, perluasan perampasan tanah, deregulasi, privatisasi Badan Usaha Milik Negara (BUMN), akan ditekankan secara kuat oleh negara-negara imperialisme, khususnya AS di kawasan Asia-Afrika, terutama di Indonesia dalam KAA.

“Saat ini saja, di bawah kekuasaan Jokowi-JK, telah menunjukkan loyalitasnya untuk menjalankan kebijakan neo-liberalisme imperialisme AS di Indonesia,” kata Rudi.

Konkritnya, ungkap Rudi, berbagai kebijakan antirakyat mulai dari penaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM), Tarif Dasar Listrik (TDL), elpiji, dan kebutuhan pokok, dan pencabutan subsidi pendidikan-kesehatan-transpotasi massal, seperti Kereta Api (KA).

Kemudian, pembangunan bersandarkan investasi dan utang, asing kian menguasai Sumber Daya Alam (SDA), menjalankan megaproyek infrastuktur, menghambat pemberantasan korupsi dan penegakan Hak Asasi Manusia (HAM), dan sebagainya.

Terhadap permasalahan tersebut, FPR mengimbau seluruh rakyat Indonesia, Asia-Afrika, serta media untuk menyikapi KAA yang akan berlangsung 19-24 April 2015 di Jakarta dan Bandung. FPR akan menyelenggarakan kampanye rakyat Asia-Afrika untuk menggalang persatuan rakyat Indonesia, Asia-Afrika untuk menyampaikan aspirasi dan tuntutan.

Tuntutan tersebut, yakni mengembalikan semangat anti neo-kolonialisme imperialisme AS dalam KAA. Rakyat harus menolak KAA dijadikan sebagai forum oleh imperialisme AS untuk memasifkan kepentingannya menguasai kekayaan alam dan manusia sepenuhnya di Asia-Afrika melalui rezim-rezimnya.

“Rakyat harus bersuara untuk menyampaikan, bahwa kemerdekaan sejati, kedaulatan, dan kemandirian adalah hak rakyat Asia-Afrika tanpa dominasi dan intervensi neo-kolonialisme imperialisme AS,” kata Rudi.

Khusus bagi rakyat Indonesia, FPR menyerukan untuk terlibat aktif mengkampanyekan penolakan atas seluruh kebijakan rezim Jokowi-JK yang sangat tunduk menjalankan kebijakan neo-liberalisme imperialisme AS di Indonesia, yang saat ini sangat menyengsarakan rakyat Indonesia.

FPR sendiri merupakan aliansi multisektoral yang terdiri dari organisasi massa buruh, petani, pemuda-mahasiswa, perempuan, Buruh Migran Indonesia (BMI), penggiat hukum dan lingkungan, akademisi, LSM, dan NGO.

Adapun anggota FPR, yakni Gabungan Serikat Buruh Independen (GSBI), Aliansi Gerakan Reforma Agraria (AGRA), Asosiasi Tenaga Kerja Indonesia (ATKI), Pimpinan Pusat Front Mahasiswa Nasional (PP-FMN), Serikat Perempuan Indonesia (Seruni), Eknas Wahana Lingkngan Hidup (Eknas Walhi), dan Wahana Lingkungan Hidup Jabar (Walhi Jabar).

Kemudian, Liga Mahasiswa untuk Demokrasi (LMND), Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI), Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Jakarta, Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Bandung, PUSAKA, Sawit Watch, Archipelago Community, dan Gerakan Rakyat Indonesia (GRI).

Selanjutnya, Serikat Pemuda Jakarta (SPJ), Institut Nasional Demokrasi Studi (Indies), PP Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PP PMKRI), Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Bandung, dan Gerakan Mahasiwsa Kristen Indonesia (GMKI) Bandung.

Sisanya, Front Mahasiswa Demokratik (FMD), Unit Kajian Sosial dan Kemasyarakatan (UKSK) UPI Bandung, Front Mahasiswa Nasional (FMN) Bandung, Laki ’45, Aliansi Gerakan Reforma Agraria (AGRA) Jabar, Aliansi Jurnalis Indonesia (AJI) Bandung, Institut Perempuan (IP), dan Buruh Migran Indonnesia Saud Arabia (BMISA).


Reporter: Iwan Sutiawan
Editor: Tian Arief

05
Apr
15

Presidensiil : PerPPU Kontrak Production Sharing Infrastruktur

PerPPU KPS Infrastruktur

Kamis, 02 April 2015 – 11:02 WIB

Dr Ir Pandji R Hadinoto MH

Surat Pembaca:
PerPPU KPS Infrastruktur

Keterbatasan sediaan dana dalam negeri guna pasokan pembiayaan pembangunan proyek2 infrastruktur ber order of magnitude Rp 6000 Triliun per kajian Oktober 2014, berkonsekwensi pemerintah perlu bersegera menerbitkan PerPPU Kontrak Production Sharing Infrastruktur layaknya di sektor MiGas guna antisipasi dominasi investasi asing.

Hal ini penting dipolakan mengingat bagaimanapun ketersediaan sumber daya bisnis infrastruktur dalam negeri seperti lahan, lingkungan dan pasar adalah oleh penyelenggara negara berbekal mandat rakyat selaku pemilik sumber2 daya terkait, artinya hubungan bisnisnya bukan murni Business to Business tapi Business to BUMN/BUMD (apalagi BUMN peroleh gelontoran APBN).

Hal ini penting didudukkan secara hukum negara melalui produk perundang-undangan menimbang selama Presiden JokoWi menjabat 4 bulan berprestasi (A) :

1. Cadangan devisa Negara yg ditinggalkan SBY per Oktober 2014, adalah UU.$.110.miliar, dan posisi pada akhir Februari 2015 naik menjadi US.$.115.3.miliar , sungguh pencapaian yg luar biasa

2. Sedang dalam tahap pekerjaan 13 Bendungan Besar di seluruh Indonesia untuk pengairan sawah sawah, yg Total nya nanti ada 49 Bendungan

3. Dalam tahap studi kelayakan untuk menciptakan 9.juta hektar persawahan baru, dan akan dimulai pekerjaan nya tahun ini

4. Mulai bulan April 2015 akan dikerjakan Toll Trans Sumatera dari Bakauheni-Lampung-Palembang-Padang-Pekanbaru-Medan-Aceh sepanjang 2.000.Km

5. Percepatan Pembangunan jalur Transportasi Massal di Jakarta, yaitu MRT yg alat Bor Raksasa nya tiba dari Luar Negeri bln April 2015, dan dimulai pengeboran bawah tanah bln Juli 2015

6. Sudah dimulai pekerjaan pembangunan Pelabuhan dalam pada bulan Februari 2015 di Kuala Tanjung, Sumatera Utara

7. Bulan April 2015 dimulai pembangunan Kilang Minyak di Bontang, Kaltim

8. Info dari BI, selama Des.2014-Jan-Feb.2015, investor yg masuk ke Indonesia sebesar Rp.57.Triliun, (90%, lebih tinggi dari bulan yg sama pada tahun sebelum nya)

9. Bulan Februari 2015, telah diresmikan nya KEK di Tanjung Lesung, Pandeglang, Banten yg mangkrak selama 24.tahun.

Dan daftar prestasi (B) per Rapat Kabinet Kerja 5-3-2015 adalah sebagai berikut :

1. Pembangunan jalan Toll Trans Sumatera ( Bakauheni – Palembang – Padang – Pekanbaru – Medan – Aceh ) dimulai bulan April 2015

2. Pekerjaan Rel Kereta Api Bandara Halim – Bandara Soetta dimulai bulan April 2015

3. Percepatan pembangunan Transportasi MRT di Jakarta, Alat Bor raksasa untuk pembuatan jalur bawah tanah akan datang bulan April 2015, dan mulai pemboran bulan Juli 2015

4. Pembangunan Kilang Minyak di Bontang dimulai bulan Mei-2015

Info sebelum nya pada DBS TV Berita Satu tgl.3.3.2015 :
1. Sedang dalam tahap pekerjaan 13 Waduk Waduk besar seluruh Indonesia, yg total nya nanti akan dibangun 49 Waduk besar untuk pengairan sawah sawah

2. Investor yg sudah masuk ke BKPM untuk membangun Infrastruktur, diantaranya Pembangkit Tenaga Listrik sebesar US.$.5.miliar ( setara Rp.60.triliun )

Info lain nya :
1. Dimulainya pembangunan Pabrik Semen di Papua agar harga semen disana tidak mencapai rp.1.5.jt/zak
2. Diresmikan nya KEK di Tanjung Lesung, Pandeglang, Banten
3. Dimulainya tahun ini pembangunan jalan Toll antara Serang – Pandeglang untuk menunjang infrastruktur Ke kawasan KEK Tanjung Lesung
4. Presiden telah menunjuk Harkristuti Herunowo dari KeMenhumkam untuk menyelenggarakan Pansel calon Ketua KPK yg definitif agar Institusi tersebut dapat lebih kuat dalam memerangi Korupsi dan menangkis pelemahan dari unsur unsur lain
5. Tgl.9.3.15, dimulainya Ground Breaking pembangunan Bendungan Besar di Keureuto , Lhokseumawe, Aceh dgn biaya Rp.1.7.triliun
6. Dilanjutkan nya pembangunan Bendungan Paya Seunara, Sabang. Aceh Utara yg sudah mangkrak 9 tahun, diperkirakan tahun ini sdh bisa difungsikan
7. Bulan April dimulai nya pekerjaan jalur Kereta Api Bandara Halim – Bandara Soetta, Cengkareng
8. Info dari BPS tgl.16.3.15, neraca perdagangan Indonesia kumulatif bln Jan-Feb 2015 surplus US.$.1.48 miliar setara Rp.17.triliun. Selain itu baru terjadi sekarang semenjak dari 5 tahun lalu import migas non migas surplus US$518juta periode Januari-Februari 2015, fundamental ekonomi Indonesia akan menguat jika nilai export kita lebih tinggi daripada nilai import
9. Harga beras di pasar untuk jenis IR.3 sudah turun dari semula Rp.10.400,-/ltr turun ke Rp.7.800,-/ltr ( 13.3.2015 )

Dengan begitu, kepentingan sejahterakan dan makmurkan rakyat lebih berkepastian terjamin optimal dikemudian hari.

Jakarta, 2 April 2015

Pandji R Hadinoto
Infrastructural Watch Indonesia
www.jakarta45.wordpress.com

BERITA LAINNYA

Sumber Berita: http://www.edisinews.com


http://www.edisinews.com/berita—perppu-kps-infrastruktur.html#ixzz3WORxvDYB

Masuknya Iwan Fals ke Pemerintahan JokoWi

Gunawan

04 Apr 2015 | 00:53

 Iwan Fals (sumber foto: Kompas.com/IRFAN MAULLANA)

Sumber: Iwan Fals (sumber foto: Kompas.com/IRFAN MAULLANA)

Maafkan kedua orang tuamu kalau(Tak mampu beli susu)BBM naik tinggi (susu tak terbeli)Orang pintar tarik subsidiMungkin bayi kurang gizi(Iwan Fals)Sekarang jamannya beda walau BBM sudah tidak disubsidi tapi rakyat masih mampu beli susu. Kalau sakit berobat gratis ada bantuan untuk orang miskin dan jaman sekarang sekolah-sekolah negeri sudah banyak di desa-desa bahkan gratis. Hanya sekolah mewah dan SDIT yang berbiayai tinggi yang selangit biayanya. Jadi kalau orang desa sekolah di sekolah negeri saja. Menyesuaikan dengan kantong. Jangan gaya-gayaan akhirnya susah dan menjerit gak bisa bayar sekolah dan menyalahkan pemerintah.Musisi Iwan Fals yang di era Orde Baru di jaman Mbah Harto selalu mengkritisi kebijakannya kini masuk ke pemerintahan Jokowi. Ini artinya musisi ini sudah merasakan bahwa kritiknya yang dulu sudah selesai dan tidak terjadi hal seperti jaman Orde Baru dulu. Saya membaca di Kompas.com bahwa memang sudah sejak lama Iwan Fals ditawari untuk didapuk menjadi duta desa oleh Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi Marwan Jafar. Bang Iwan Fals mengatakan butuh waktu untuk memberikan jawaban atas tawaran tersebut. (Baca: Iwan Fals Diminta Menteri Jadi Duta Desa)”Saya enggak bisa jawab sekarang ya, tentu perlu pengamatan dulu ya,” kata Iwan, di kediamannya, Desa Leuwinanggung, Cimanggis, Depok, Jawa Barat, Selasa (16/12/2014). Nah setelah beliau berpikir cukup lama sekitar 4 bulan ternyata pada hari Senin kemarin tanggal 31/03/2015 Iwan Fals bersedia menjadi duta desa. Dengan bersedianya Iwan Fals menjadi duta desa maka menandakan Iwan Fals ingin mendarmabaktikan dirinya sebagai seniman yang menginspirasi rakyat desa untuk bisa berkarya dan membangun desa.”Harapannya Iwan Fals bisa menyemangati masyarakat untuk membangun potensi desa di Indonesia,” kata Menteri Marwan Jafar di Hotel Bidakara, Jakarta Selatan. Marwan mengaku akan berkeliling ke beberapa desa dengan mengajak Iwan Fals–yang diharapkan bisa memberi semangat dan inspirasi kepada masyarakat desa. Iwan pun dijadwalkan akan berkolaborasi dengan para seniman daerah agar masyarakat desa bisa mengembangkan talenta dan karyanya. “Agar musik daerah bisa menjadi musik nasional dan internasional,” kata Marwan. (Sumber).Jadi bagi yang masih mengkritisi kebijakan Pak Jokowi dan mengatakan bahwa sekarang apa-apa sulit dan susah tidak semuanya benar. Rakyat yang memang susah akan dibantu oleh program pemerintah dalam mengentaskan kemiskinan. Terbukti sekarang rakyat di desa sudah mendapatkan perhatian yang serius oleh menteri Marwan dan Iwan Fals.

Seharusnya kita juga tak menutup mata dengan prestasi pak Jokowi selama 4 bulan ini menjadi Presiden RI. Seperti yang telah ditulis oleh Pandji R Hadinoto Infrastructural Watch Indonesia Antara lain:

1. Cadangan devisa Negara yg ditinggalkan SBY per Oktober 2014, adalah UU.$.110.miliar, dan posisi pada akhir Februari 2015 naik menjadi US.$.115.3.miliar , sungguh pencapaian yg luar biasa

2. Sedang dalam tahap pekerjaan 13 Bendungan Besar di seluruh Indonesia untuk pengairan sawah sawah, yg Total nya nanti ada 49 Bendungan

3. Dalam tahap studi kelayakan untuk menciptakan 9.juta hektar persawahan baru, dan akan dimulai pekerjaan nya tahun ini

4. Mulai bulan April 2015 akan dikerjakan Toll Trans Sumatera dari Bakauheni-Lampung-Palembang-Padang-Pekanbaru-Medan-Aceh sepanjang 2.000.Km

5. Percepatan Pembangunan jalur Transportasi Massal di Jakarta, yaitu MRT yg alat Bor Raksasa nya tiba dari Luar Negeri bln April 2015, dan dimulai pengeboran bawah tanah bln Juli 2015

6. Sudah dimulai pekerjaan pembangunan Pelabuhan dalam pada bulan Februari 2015 di Kuala Tanjung, Sumatera Utara

7. Bulan April 2015 dimulai pembangunan Kilang Minyak di Bontang, Kaltim

8. Info dari BI, selama Des.2014-Jan-Feb.2015, investor yg masuk ke Indonesia sebesar Rp.57.Triliun, (90%, lebih tinggi dari bulan yg sama pada tahun sebelum nya)

9. Bulan Februari 2015, telah diresmikan nya KEK di Tanjung Lesung, Pandeglang, Banten yg mangkrak selama 24.tahun. (Sumber).

Memang susah memberi penjelasan kepada orang yang sudah kadung antipati dengan pemerintahan Jokowi. Walau 1000 keberhasilan kita beberkan jika ada satu saja rakyat yang masih susah maka Jokowi masih dianggap gagal. Jadi ya kita lihat saja nanti. Gusti Allah mboten sare.

Salam Kompasiana.

01
Apr
15

Kenegarawanan : Politik Tri Kesejahteraan Rakyat Indonesia 28 Oktober 2014

logo

Politik Tri Kesejahteraan Rakyat Indonesia 28 Oktober 2014

Berawal dari rekaan tertulis pemuda berusia 25 tahun, Muhammad Yamin yang sekretaris sidang saat Kongres Pemuda II tanggal 28 Oktober 1928 di Rumah Indonesia Jalan Kramat 106, yakni “mengakoe bertoempah darah satoe, berbangsa jang satoe, menjoenjoeng bahasa persatoean Indonesia” yang sejatinya mencerminkan ikhwal Tri Cita Kebangsaan Indonesia dan faktanya kemudian  gelorakan jiwa semangat nilai2 Indonesia Merdeka 17 Agustus 1945.

Terinspirasi rekaan monumental tersebut diatas, kini terpikirkan pentingnya secara kolektif dirumuskan tekad wujudkan politik Tri Cita Kesejahteraan Rakyat berdasar potensi yang sejatinya dimiliki Indonesia yaitu Kemaritiman, Pangan Lokal, Energi Terbarukan, per 28 Oktober 2014 dalam kerangka politik Tri Cita Kenegaraan Indonesia Mulia (2015-2025), Indonesia Bermartabat (2025-2035), Indonesia Sejahtera Lahir Batin (2035-2045) menuju kearah Indonesia Jaya 2045 saat 100 tahun Indonesia Merdeka.

Pandji R Hadinoto

penting untuk diperhatikan oleh Pemerintah JokoWi-JK mengelola isu2 pembangunan infrastruktur seperti :

JokoWi Minta Dana Pensiun Rp 141 T ‘Diputar’ di Sektor Infrastruktur

Maikel Jefriando – detikfinance
Senin, 30/03/2015 17:22 WIB
Jokowi Minta Dana Pensiun Rp 141 T Diputar di Sektor Infrastruktur

Jakarta -Hari ini, Direktur Utama PT Taspen (Persero) Iqbal Latanro dipanggil oleh Presiden Joko Widodo (Jokowi). Iqbal diminta menjelaskan soal proyeksi Taspen terkait pemanfaatan dana pensiun.

Iqbal menjelaskan, selama ini Taspen hanya menempatkan dana di deposito bank pemerintah dan surat utang negara (SUN) yang totalnya mencapai Rp 141 triliun. Sehingga dinilai kurang optimal dan masih menyimpan risiko.

“Skema yang selama ini hanya boleh di deposito dan SUN, itu juga ada risiko kata beliau,” ungkap Iqbal di Kantor Presiden, Jakarta, Senin (30/3/2015)

Jokowi mendorong, agar penempatan dana lebih kepada sektor dengan imbal hasil tinggi namun tetap aman. Misalnya untuk pembangunan infrastruktur.

“Ada beberapa hal yang beliau mendorong. Terutama hal-hal yang terkait dengan investasi yang memberi yield tinggi tapi aman, aman itu berarti ada underlying transaksi-nya bagus,” imbuhnya.

Ia mengatakan ada 3 sektor yang cukup aman bagi Taspen adalah infrastruktur seperti jalan tol, pembangkit listrik, properti

Pemerintah akan banyak membangun proyek infrastruktur, harapannya dengan dana pensiun, akan mendorong percepatan pembangunan proyek sekaligus memberikan keuntungan untuk Taspen.

“Tentu kita sedang dikaji dan dilihat. Saya dengar ada beberapa infrastruktur yang dijual, mungkin kami akan ikut membelinya,” pungkasnya.

650 Investor dari 35 Negara Kumpul di Jakarta 20 April 2015

Maikel Jefriando – detikfinance
Senin, 30/03/2015 13:38 WIB
 650 Investor dari 35 Negara Kumpul di Jakarta 20 April 2015Ilustrasi Foto: Jakarta di malam hari (Angga/detikFinance)

Jakarta -Jakarta akan kedatangan 650 investor dunia pada 20 April 2015 mendatang. Para investor kelas kakap ini berkumpul di acara World Economic Forum (WEF).

Hari ini Presiden Joko Widodo (Jokowi) menerima kunjungan dari Ketua WEF Philipp Rosler di Istana Negara. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Sofyan Djalil, yang mendampingi Jokowi pada pertemuan itu mengatakan, perihal kedatangan Rosler.

“Ketua WEF melaporkan persiapan terakhir pelaksanaan WEF di Jakarta. Sudah ada mendaftar 650 peserta dari 35 negara,” kata Sofyan di komplek Istana Negara Jakarta Pusat, Senin (30/3/2015).

Sofyan mengatakan, pada WEF nanti Indonesia akan menjelaskan tentang posisinya dalam ekonomi dunia. Selain itu akan disampaikan juga mengenai investasi, dan reformasi yang telah dilakukan serta prospek ekonomi Indonesia ke depan.

“Sebanyak 650 orang itu semua investor profesional. Ini menunjukan tingginya minat investor datang ke Indonesia untuk melihat secara dekat bagaimana kemajuan Indonesia dalam peningkatan investasi,” jelasnya.

Pemerintah tidak menargetkan ada investasi langsung dari acara tersebut. Namun setidaknya, ujar Sofyan, para investor ini bisa datang dan melihat langsung mengenai situasi dan kondisi terkini iklim investasi di Indonesia.

“Biar mereka (investor) bisa percaya kalau reformasi yang dilakukan pemerintah telah berjalan. Kita tidak menawarkan apa-apa, hanya menjelaskan apa yang sudah kita lakukan,” ungkapnya.

 (ang/rrd)

JokoWi Ingin Bangun Pembangkit 35 Ribu MW, PLN Mulai Tender Gas

Dana Aditiasari – detikfinance
Rabu, 01/04/2015 12:46 WIB
Jokowi Ingin Bangun Pembangkit 35 Ribu MW, PLN Mulai Tender Gas

Jakarta -Pemerintahan pimpinan Joko Widodo (Jokowi) akan membangun pembangkit listrik berkapasitas total 35.000 megawatt (MW) dalam 5 tahun, untuk memenuhi kebutuhan listrik secara nasional. PT PLN (Persero) mulai melakukan tender pembelian gas.

“Kami kan ditarget oleh pemerintah 35.000 MW. Kami harus cari akal bagaimana supaya bisa cepat. Makanya kita lelang primary energinya,” ujar Direktur Pengadaan dan Energi Primer Amin Subekti, saat ditemui di Kantor Pusat PLN, Jakarta, Rabu (1/4/2015).

Adapun besaran gas yang dilelangkan ini memiliki volume sebesar 1.100 miliar British thermal unit per hari (BBTUD). Saat ini proses lelang telah melewati masa pra kualifikasi, dan sedang memasuki masa konsultasi pasar.

Dalam proses ini, PLN mengundang seluruh peserta lelang di kantor Pusat PLN untuk mengetahui kondisi pasar gas khsususnya gas alam cair (LNG/Liquid Nature Gas).

Adapun lelang yang dilakukan ini adalah untuk memperoleh mitra terbaik pemasok gas, untuk pemenuhan kebutuhan bahan bakar pembangkit listrik.

“Yang kita lelangkan adalah suplainya. Itu paket penyediaan. Jadi mereka harus punya pasokan gasnya itu sendiri, lalu punya infrastruktur untuk menyalurkan gas dari penampungan, lalu mencairkan, regasifikasi hingga jadi gas lagi dan siap dipakai pembangkit kami,” tutur dia.

Saat ini kebutuhan gas untuk pembangkit listrik secara nasional adalah 1.100 BBTUD. Adapun untuk sejumlah pembangkit lastrik baru yang akan dibangun akan membutuhkan tambahan sekitar 1.100 BBTUD lagi.

“Sekarang itu kebutuhan harian adalah 1.100 BBTUD setiap hari yang kami butuhkan konsumsinya segitu. Kemudian nanti kalau semua ini (proyek-proyek pembangkit baru) jalan semua akan butuh sebesar 1.100 BBTUD lagi. Jadi memang besar sekali,” tutur dia.

Keseluruhan proses lelang pun ditargetkan dapat selesai dalam kurun waktu 4-5 bulan ke depan.

“Hasil hari ini (konsultasi pasar) akan diumumkan dalam waktu setengah bulan. Setelah itu mereka diberi waktu sekitar satu bulan untuk mengajukan proposal, estimasi 4-5 bulan dari sekarang sudah selesai proses lelang,” pungkas dia.

 (dna/dnl)
dalam pengertian aset milik Taspen seperti di Artaloka dekat Grand Indonesia (GI).

“Juga menurut beliau kalau dikelola dengan baik akan bermanfaat buat pensiunan,” jelas Iqbal.Next

Selama Presiden Jokowi menjabat 4 bulan, Prestasi nya adalah sbb :
1. Cadangan devisa Negara yg ditinggalkan SBY per Oktober 2014, adalah UU.$.110.miliar, dan posisi pada akhir Februari 2015 naik menjadi US.$.115.3.miliar , sungguh pencapaian yg luar biasa
2. Sedang dalam tahap pekerjaan 13 Bendungan Besar di seluruh Indonesia untuk pengairan sawah sawah, yg Total nya nanti ada 49 Bendungan
3. Dalam tahap studi kelayakan untuk menciptakan 9.juta hektar persawahan baru, dan akan dimulai pekerjaan nya tahun ini
4. Mulai bulan April 2015 akan dikerjakan Toll Trans Sumatera dari Bakauheni-Lampung-Palembang-Padang-Pekanbaru-Medan-Aceh sepanjang 2.000.Km
5. Percepatan Pembangunan jalur Transportasi Massal di Jakarta, yaitu MRT yg alat Bor Raksasa nya tiba dari Luar Negeri bln April 2015, dan dimulai pengeboran bawah tanah bln Juli 2015
6. Sudah dimulai pekerjaan pembangunan Pelabuhan dalam pada bulan Februari 2015 di Kuala Tanjung, Sumatera Utara
7. Bulan April 2015 dimulai pembangunan Kilang Minyak di Bontang, Kaltim
8. Info dari BI, selama Des.2014-Jan-Feb.2015, investor yg masuk ke Indonesia sebesar Rp.57.Triliun, (90%, lebih tinggi dari bulan yg sama pada tahun sebelum nya)
9. Bulan Februari 2015, telah diresmikan nya KEK di Tanjung Lesung, Pandeglang, Banten yg mangkrak selama 24.tahun.

Joe Surya L Joseph
Yesterday at 3:56pm · Edited
HSL KERJA JOKOWI 4 Bln ini (Bag 2)
Hasil Rapat Kabinet Kerja : 5-3-2015.
1. Pembangunan jalan Toll Trans Sumatera ( Bakauheni – Palembang – Padang – Pekanbaru – Medan – Aceh ) dimulai bulan April 2015
2. Pekerjaan Rel Kereta Api Bandara Halim – Bandara Soetta dimulai bulan April 2015
3. Percepatan pembangunan Transportasi MRT di Jakarta, Alat Bor raksasa untuk pembuatan jalur bawah tanah akan datang bulan April 2015, dan mulai pemboran bulan Juli 2015
4. Pembangunan Kilang Minyak di Bontang dimulai bulan Mei-2015
Info sebelum nya pada DBS TV Berita Satu tgl.3.3.2015 :
1. Sedang dalam tahap pekerjaan 13 Waduk Waduk besar seluruh Indonesia, yg total nya nanti akan dibangun 49 Waduk besar untuk pengairan sawah sawah
2. Investor yg sudah masuk ke BKPM untuk membangun Infrastruktur, diantaranya Pembangkit Tenaga Listrik sebesar US.$.5.miliar ( setara Rp.60.triliun )
Info lain nya :
1. Dimulainya pembangunan Pabrik Semen di Papua agar harga semen disana tidak mencapai rp.1.5.jt/zak
2. Diresmikan nya KEK di Tanjung Lesung, Pandeglang, Banten
3. Dimulainya tahun ini pembangunan jalan Toll antara Serang – Pandeglang untuk menunjang infrastruktur Ke kawasan KEK Tanjung Lesung
4. Presiden telah menunjuk Harkristuti Herunowo dari KeMenhumkam untuk menyelenggarakan Pansel calon Ketua KPK yg definitif agar Institusi tersebut dapat lebih kuat dalam memerangi Korupsi dan menangkis pelemahan dari unsur unsur lain
5. Tgl.9.3.15, dimulainya Ground Breaking pembangunan Bendungan Besar di Keureuto , Lhokseumawe, Aceh dgn biaya Rp.1.7.triliun
6. Dilanjutkan nya pembangunan Bendungan Paya Seunara, Sabang. Aceh Utara yg sudah mangkrak 9 tahun, diperkirakan tahun ini sdh bisa difungsikan
7. Bulan April dimulai nya pekerjaan jalur Kereta Api Bandara Halim – Bandara Soetta, Cengkareng
8. Info dari BPS tgl.16.3.15, neraca perdagangan Indonesia kumulatif bln Jan-Feb 2015 surplus US.$.1.48 miliar setara Rp.17.triliun. Selain itu baru terjadi sekarang semenjak dari 5 tahun lalu import migas non migas surplus US$518juta periode Januari-Februari 2015, fundamental ekonomi Indonesia akan menguat jika nilai export kita lebih tinggi daripada nilai import
9. Harga beras di pasar untuk jenis IR.3 sudah turun dari semula Rp.10.400,-/ltr turun ke Rp.7.800,-/ltr ( 13.3.2015 )
Pandji R Hadinoto
Infrastructural Watch Indonesia
www.jakarta45.wordpress.com

30
Mar
15

Kenegarawanan : Pro Gerakan Anti Korupsi Asia Afrika

Pro `Gerakan Anti Korupsi Asia Afrika`

Sabtu, 28 Maret 2015 – 14:23 WIB

Dr Ir Pandji R Hadinoto MH

Suara Pembaca:
Pro “Gerakan Anti Korupsi Asia Afrika”

“Gerakan Anti Korupsi Asia Afrika” disingkat “GAK AA, adalah strategis dioperasikan lintas negara2 Asia Afrika berformat fasilitasi Government to Government (G to G) mempertimbangkan masih banyak negara2 di Asia Afrika yang memiliki Indeks Persepsi Korupsi (IPK) 2014 yang rendah.

Kehadiran IPK juga menyadarkan pentingnya upaya2 perbaikannya demi keterkaitannya dengan kemartabatan negarabangsa.

Seperti IPK Indonesia 2014 yang 3,4 adalah benar menaik dari IPK Indonesia 2004 yang 2,4 namun dari faktor keperingkatan negara obyek survei justru terbuki menurun yakni dari 130/163 atau 0,798 di 2004 menjadi 107/175aau 0,611 di 2014. Artinya penguatan IPK berdurasi 10 tahun itu kurang memadai guna perolehan peringkat yang lebih terhormat bagi Indonesia.

Dalam pengertian inilah momentum 60 tahun Konperensi Asia Afrika, April 2015 yang akan datang penting diberdayakan guna membangun kembali kebersamaan sesama negarabangsa di Asia Afrika bagi penguatan Gerakan Anti Korupsi (GAK) se Asia Afrika merujuk keberhasilan 60 tahun yang lalu menggalang Gerakan Non Blok.

Bagi Indonesia sendiri GAK AA akan simbiosa mutualistik dalam arti media saling berbagi ilmu pengetahuan dan pengalaman dengan GAK yang kini merebak di berbagai kota di Indonesia demi Selamatkan Indonesia dan negara2bangsa di Asia Afrika pada umumnya
dari perangkap virus korupsi berkelanjutan.

Turunan kegiatan dari GAK AA ini misalnya dalam pendampingan turut memantau potensi ketidakmandirian ekonomi sebagaimana sinyalemen seperti http://sinarharapan.co/news/read/150326084/-i-kemandirian-ekonomi-i- guna senantiasa tercapai keserasian terbaik dengan amanat Pembukaan UUD45.

Untuk itulah kegiatan warga Pro “Gerakan Anti Korupsi Asia Afrika” penting menjadi penggerak mula berujung perbaikan mutu peradaban negarabangsa di Asia Afrika.

Jakarta, 28 Maret 2015

Pandji R Hadinoto, Advokator Pancasila
MAPAN – Majelis Adat Pancasila
Editor www.jakarta45.wordpress.com

BERITA LAINNYA
30
Mar
15

Politik : Peran Strategis Indonesia di Balik Terselenggaranya Konferensi Asia-Afrika

Isu Hangat
10-03-2015
Peringatan KAA Ke-60 di Bandung Tahun 2015
Peran Strategis Indonesia di Balik Terselenggaranya Konferensi Asia-Afrika
Penulis : Hendrajit, Direktur Eksekutif Global Future Institute (GFI)
Indonesia Pemrakarsa KAA

Jika kita menelisik kembali sejarah singkat Konferensi Asia-Afrika (KAA) di Bandung pada 18 hingga 24 April 1955, peran yang dimainkan Indonesia cukup besar sejak tahap perencanaan hingga konferensi berskala internasional tersebut terselenggara dengan sukses dan gilang gemilang. Sejak Bung Hatta, selaku Wakil Presiden merangkap Perdana Menteri RI mengeluarkan kebijakan politik luar negeri yang Bebas dan Aktif pada 1948, maka sejak saat itu Indonesia punya haluan yang jelas dan tegas dalam ikut mewarnai perkembangan dunia internasional dan bebas dari kendali dan arahan negara-negara adidaya seperti Amerika Serikat, pada satu pihak, dan Uni Soviet dan Republik Rakyat Cina, pada pihak lain, dua kutub bertentangan yang terlibat dalam Perang Dingin ketika itu.

Dengan demikian, Politik Luar Negeri RI yang Bebas dan Aktif, berarti bangsa Indonesia tidak memihak pada salah satu blok  dari dua kutub yang sedang bertikaia dalam Perang Dingin ketika itu, seraya pada saat yang ssama bangsa Indonesia berhak bersahabat dengan negara manapun asal tanpa ada unsur ikatan tertentu.

Bebas juga bisa diartikan bahwa bangsa Indonesia mempunyai cara sendiri dalam menanggapi masalah internasional yang sedang terjadi. Selain itu,  Aktif berarti bahwa bangsa Indonesia secara aktif ikut mengusahakan terwujudnya perdamaian dunia. Aktif berarti mengandung unsur “kreativitas”, yang tumbuh bebas dari arahan ataupun tekanan-tekanan dari pihak asing.

Hal ini semakin diperkuat oleh Perdana Menteri Ali Sastroamidjojo dalam keterangannya di depan Sidang DPRS pada 25 Agustus 1953, yang  menegaskan bahwa semenjak berdirinya Republik Indonesia, negara kita menjalankan politik luar negeri yang Bebas dan Aktif, berdasarkan kepentingan rakyat menuju ke arah perdamaian dunia. Selanjutnya Ali Sastroamidjojo menambahkan: “Sesungguhnya politik Bebas dan Aktif itu adalah politik yang biasa untuk tiap-tiap negara yang ingin menegakkan kedaulatannya.”

Frase “Politik Bebas dan Aktif berdasarkan kepentingan rakyat menuju ke arah perdamaian dunia”, nampaknya dijabarkan secara sungguh-sungguh oleh Perdana Menteri Ali Sastroamidjojo yang kemudian bermuara pada terselenggaranya KAA pada April 1955. Namun, ada baiknya kita telisik sejenak peristiwa bersejarah pada April 1954, sekitar setahun sebelum berlangsungnya Konferensi AA.

Sebagaimana penuturan Pak Ali Sastroamidjojo, Perdana Menteri RI ketika KAA berlangsung dalam bukunya Tonggak-Tonggak di Perjalananku, pada awal 1954 ketika sedang genting-gentingnya ketegangan di Indo Cina, Ali Sastro menerima surat dari Perdana Menteri Sri Langka Sir John Kotelawala, yang bermaksud mengundang Perdana Menteri Indonesia untuk turut serta di dalam suatu konferensi antara Lima Perdana Mentteri, yaitu Sri Langka, Birma, India, Indonesia dan Pakistan, yang akan diadakan di Colombo dalam bulan April 1954.

Konferensi itu menurut surat John Kotelawala akan bersifat informil. Bagi Ali Sastro, meski dipandang aneh karena menggunakan istilah pertemuan informil, namun  undangan Sir Kotelawala dipandang sebagai kesempatan baik untuk dipergunakan sebagai suatu forum guna mengemukakan apa yang sudah lama menjadi pikiran pemerintah Indonesia, sebagaimana tertuang dalam keterangan Pemerintah di depan Sidang DPRS  25 Agustus 1953:
“Kerjasama dalam golongan Negara-Negara Asia-Arab (Afrika) kami pandang penting benar, karena kami yakin, bahwa kerjasama erat antara Negara-Negara tersebut tentulah memperkuat usaha ke arah tercapainya perdamaian dunia yang kekal. Kerjasama antara Negara-Negara Asia-Afrika tersebut adalah sesuai benar dengan aturan-aturan PBB yang mengenai kerjasama kedaerahan (Regional Arrrangements).

Selain dari itu Negra-Negara itu pada umumnya memang mempunyai pendirian yang sama dalam beberapa soal di lapangan internasional, jadi mempunyai dasar sama (Common Ground) untuk mengadakan golongan yang khusus. Dari sebab itu, kerjasama tersebut akan kamu lanjutkan dan pererat.”

Demikian arah kebijakan strategis Politik Luar Negeri RI yang Bebas dan Aktif mulai dijabarkan secara lebih imajinatif di era pemerintahan Ali Sastroamidjojo.

Maka Perdana Menteri Ali Sastro kemudian melihat adanya momentum pertemuan Colombo untuk menjabarkan sebuah format yang lebih pas dan efektif dalam rangka mempererat kerjasama antara negara-negara Asia-Afrika. Dalam benak Ali Sastro, pertemuan 5 Perdana Menteri di Colombo itu, bisa menjadi sarana bagi Indonesia untuk secara aktif memprakarsai diselenggarakannya Konferensi Negara-negara Asia-Afrika, untuk mewujudkan politik pemerintah tentang kerjasama di bidang politik internasional dengan negara-negara tersebut.

Setelah mempertimbangkan hal tersebut, Perdana Menteri Ali Sastro menerima undangan Perdana Menteri Sri Langka Sir John Kotelawala. Jika kita membuka kembali beberapa dokumen lama terkait persiapan pemerintah Indonesia untuk menghadairi Konferensi di Colombo tersebut, terungkap bahwa gagasan untuk memprakrsai pertemuan Asia-Afrika berdasarkan model KAA, sudah ada di benak Perdana Menteri Ali Sastro maupun Menteri Luar Negeri Mr Sunarjo.

Sesaat sebelum delegasi RI yang dipimpin Perdana Menteri Ali Sastro berangkat ke pertemuan Colombo pada 26 April 1954, Perdana Menteri Ali Sastro mengeluarkan pernyataan sebagai berikut:
“Saya mengusulkan untuk membicarakan kemungkinan mengadakan suatu konferensi yang lebih luas antara negara-negara Asia-Afrika dan mudah-mudahan usul saya itu akan berhasil. Saya pergi ke Konferensi Colombo dengan penuh harapan, karena kalau pada permulaannya dunia tidak memberi arti kepada Konferensi Colombo ini, maka  sekarrang dengan adanya perkembangan di dunia internasional, rupa-rupanya suara kita dari Colombo akan mendapat perhatian juga. Dalam pada itu saya dapat menerangkan dengan tegas, bahwa saya pergi ke Colombo dengan membawa pegangan teguh bagi Indonesia, yaitu politik luar negeri bebas yang aktif dan bersandarkan atas kepentingan rakyat.”

Jelaslah sudah bahwa Politik Luar Negeri RI yang Bebas dan Aktif merupakan dasar satu-satunya yang secara konkrit bisa dijadikan landasan untuk bermain catur politik di dalam konferensi itu. Kira-kira begitulah ada dalam benak Perdana Menteri Ali Sastro dan para anggota delegasi RI pada Konferensi Colombo.

Adapun Delegasi RI yang dipimpin oleh Ali Sasto terdiri dari: Mr Achamd Subardjo sebagai penasehat, Ir Juanda (Direktur Biro Perancangan Nasional), juga sebagai penasehat, JD de Fretes, Kuasa Usaha ad interim kita di Colombo, dan M. Maramis, sebagai anggota. Sedangkan selain Indonesia, dari India hadir Perdana Menteri Jawaharlal Nehru, Perdana Menteri Pakistan Mohammad Ali, dan Perdana Menteri Birma U Nu.

Sesuai dengan tema sentral konferensi yang membahas perang dingin, hampir semua negara peserta umumnya fokus pada soal Indo Cina dan peran Konferensi Jenewa yang merupakan kelanjutan dari perkembangan perang dingin di Asia. Dan pentingnya Isu Indo Cina bagi negara-negara Asia untuk dijadikan agenda utama pembahasa di Konferensi Colombo.

Perdana Menteri Ali Sastro dalam ketika mendapat giliran berpidato mengangkat satu tema yang kita pandang sebagai sebuah terobosan baru, dengan memberi perspektif baru dari konflik di Indo Cina, yaitu bahaya timbulnya kembali lagi kolonialisme dalam bentuk yang lama maupun yang baru.

“Dimanakah kita bangsa-bangsa Asia berdiri sekarang? Apakah kita akan mau diseret di dalam persengketaan ini yang sebetulnya dilakukan untuk merebut kekuasaan? Kita sekarang sudah sungguh-sungguh berada di persimpangan jalan sejarah umat manusia.”
Lontaran pertanyaan strategis Perdana Menteri Ali Sasto inilah, kemudian Indonesia mengusulkan diadakannya suatu konferensi lain yang berskala lebih luas, atas dasar pertimbangan bahwa masalah-masalah Asia tidak dihadapi oleh bangsa-bangsa Asia saja, melainkan juga bangsa-bangsa Afrika juga.

Sambutan para peserta Konferensi Colombo memang disambut baik namun tidak cukup antusias. Mungkin gagasan Perdana Menteri Ali dipandang terlalu utopis dan ambisius. Perdana Menteri Nehru, misalnya, memang setuju dengan usulan Indonesia, namun Nehru meramalkan bahwa di dalam pelaksanaannya gagasan tersebut banyak kesulitan akan dihadapi. Sebab tentulah ada bahaya bahwa akan terdapat banyak perbedaan pendapat antara negara-negara peserta, sehingga akan sangat sukar untuk mencapai persetujuan tentang hal-hal yang akan dibicarakan. Belum lagi, negara-negara manakah yang akan diundang menghadiri konferensi yang demikian itu. Apakah negara-negara Afrika yang masih dijajah akan diundang juga?

Atau terkait dengan konflik di Indo Cina, pemerintah manakah yang akan diundang, dari Viet minh atau dari Vietnam?  Maka itu, Nehru meski mendukung gagasan Ali Sastro dan delegasi RI, namun menggarisbawahi perlunya persiapan diadakan pada tingkat resmi. Sambutan dari para perdana menteri lain, meski tidak begitu terperinci, umumnya setuju usulan Indonesia, namun tidak begitu antusias.

Akhirnya, atas saran Nehru, konferensi menyetujui untuk memberikan dukungan moril sepenuhnya kepada Indonesia atas prakarsanya tentang KAA itu. Maka di dalam pasal 14 Komunike terakhir disebutkan: Para Perdana Menteri membicarakan tentang baiknya mengadakan suatu konferensi negara-negara Afro-Asia dan menyokong usul supaya Perdana Menteri Indonesia mungkin dapat menjajaki kemungkinan diadakannya konferensi demikian itu.

Pernyataan tersebut dengan terang-benderang menggambarkan pendirian keempat Perdana Menteri tentang usul saya itu. Susunan kalimat didalam bahasa diplomatik ini bermaksud mengatakan bahwa sebetulnya keempat Perdana Menteri tidak yakin konferensi Afro-Asia yang diusulkan oleh Indonesia akan bisa diselenggarakan.

Dalam tafsiran Ali Sastro ketika itu, rumusan pernyataan tersebut sejatinya hanya untuk tidak menyinggung perasaan hati pihak Indonesia sebagai pengusul. Sehingga mereka menyokong gagasan Indonesia, namun menyerahkan kepada Indonesia untuk menyelidiki lebih dulu sampai berapa jauh ada kemungkinan untuk mengadakan konferensi tersebut.

Nampaknya keempat Perdana Menteri tidak begitu yakin Indonesia akan sanggup untuk mewujudkan gagasan yang diajukan oleh Perdana Menteri Ali Sastro. Mengingat pada era 1950-an kondisi perekonomian Indonesia belum cukup sehat. Sedangkan situasi keamanan dipandang belum cukup tentram dan stabil. Kalau dipikir-pikir, wajar juga keraguan mereka tersebut mengingat KAA boleh dibilang merupakan konferensi berskala internasional yang cukup besar.

KAA Sebagai Embrio “Kekuatan Ketiga”

Begitupun, Konferensi Colombo merupakan landasan yang dijadikan Indonesia sebagai titik awal persiapan KAA. Setelah Indonesia ditetapkan sebagai Tuan Rumah KAA, maka kemudian diputuskan agar sebelum KAA diselenggarakan, perlu diadakan pertemuan persiapan di Bogor pada 28-31 Desember 1954.

Konferensi ini dihadiri oleh wakil dari lima negara yang hadir pada Konferensi Colombo sebelumnya, dan dalam pertemuan ini disepakati beberapa hal sebagai berikut:
a) KAA diselenggarakan di Bandung pada tanggal 18-24 April 1955.
b) Menetapkan kelima negara peserta Konferensi Bogor sebagai negara-negara sponsor.
c) Menetapkan 25 negara Asia-Afrika yang akan diundang.
d) Menentukan empat tujuan pokok KAA berikut ini:
–   Memajukan kerja sama antar bangsa Asia-Afrika demi kepentingan bersama
–   Membahas dan meninjau persoalan ekonomi, sosial, dan budaya
–   Membahas dan berusaha mencari penyelesaian masalah kedaulatan nasionalisme, rasialisme, dan kolonialisme

Begitulah. Yang semula gagasan Indonesia dianggap utopis dan terlalu muluk, akhinya KAA bisa diselenggarakan pada 18 April hingga 24 April 1955, di Bandung, Jawa Barat. Konferensi ini dihadiri oleh 23 negara Asia  dan 6 negara Afrika.

Dari Asia adalah Indonesia, India, Burma, Pakistan, Sri Lanka, Cina, Jepang, Vietnam Utara, Vietnam Selatan, Laos, Kamboja, Thailand, Filipina, Nepal, Afganistan, Iran, Irak, Yordania, Turki, Syria, Saudi Arabia dan Yaman. Adapun negara–negara dari benua Afrika adalah Mesir, Ethiopia, Libya, Sudan, Liberia dan Pantai Emas (sekarang Ghana).

Akhirnya penyelenggaraan KAA berjalan sukses sesuai harapan Indonesia, dan Bung Karno pada umumnya. KAA menjadi pusat perhatian dunia saat itu. Indonesia pun tidak lepas dari perhatian dunia karena menjadi tuan rumah.

Konferensi Asia Afrika menghasilkan beberapa keputusan penting. Beberapa keputusan penting tersebut sebagai berikut :
a)  Memajukan kerja sama antarbangsa di kawasan Asia dan Afrika dalam bidang sosial, ekonomi, dan kebudayaan
b) Menyerukan kemerdekaan Aljazair, Tunisia, dan Maroko dari penjajahan Prancis
c) Menuntut pengembalian Irian Barat (sekarang Papua) ke Perda Indonesia dari Aden kepada  Yaman
d) Menentang diskriminasi dan kolonialisme
e) Ikut aktif dalam mengusahakan dan memelihara perdamaian dunia Selain beberapa keputusan penting tersebut. Konferensi Asia Afrika juga mencetuskan Dasasila Bandung atau disebut juga “Bandung Declaration“.

Kolonialisme-Imperialisme Perekat Persatuan Peserta KAA

Segi menarik yang perlu kami paparkan di sini adalah, keberhasilan Indonesia untuk mengakomodikasikan seluruh agenda strategis negara-negara peserta KAA, sehingga kekhawatiran Nehru pada Konferensi Colombo terhadap kemungkinan jalan buntu mencapai kesepakatan, ternyata tidak terjadi sama sekali.

Apa yang menjadi perekat antar negara-negara KAA? Rupanya ada beberapa hal yang menjadi perekat sehingga tercipta ikatan yang solid antar negara-negara peserta KAA:
a) Persamaan nasib dan sejarah, yaitu bangsa-bangsa di Asia-Afrika terutama pernah mengalami penjajahan.
b) Kesadaran untuk memperoleh kemerdekaan.
c) Kecemasan akan persaingan Blok Barat dan Blok Timur.
d) Perubahan politik pada tahun 1950-an, yaitu berakhirnya Perang Korea (1953). Akibat Perang Korea, semenanjung terbagi menjadi dua negara, yaitu Korea Utara dan Korea Selatan. Peristiwa ini semakin menambah ketegangan dunia dikarenakan adanya intervensi dari blok yang bersaing.
e) PBB sudah ada forum konsultasi dan dialog antarnegara yang baru merdeka, tetapi di luar PBB belum ada forum yang menjembatani dialog antarnegara tersebut.
f) Persamaan masalah sebagai negara yang masih terbelakang dan berkembang.

Adapun penyelenggaraan KAA mempunyai tujuan berikut:
1. Mengembangkan saling pengertian dan kerja sama antarbangsa Asia-Afrika dan meningkatkan persahabatan.
2. Membicarakan dan mengatasi masalah-masalah sosial, ekonomi, dan kebudayaan.
3. Menaruh perhatian secara intensif terhadap  masalah khusus terkait dengan kedaulatan, kolonialisme, dan Imperialisme.
4. Memerhatikan posisi dan partisipasi Asia-Afrika dan bangsa-bangsa dalam dunia Internasional.

KAA Sebagai Langkah Lanjut Menuju Konferensi Gerakan Non-Blok

Dengan keberhasilan memprakarsai dan menyelenggarakan KAA pada 18-24 April 1955, maka Indonesia tercatat dalam sejarah sebagai negara yang memprakarsai Gagasan terbentuknya “Kekuatan Ketiga” sehingga bebas dari pengaruh dan tekanan baik blok barat maupun blok timur. Sehingga tidak bisa dikatakan sebagai negara-negara yang masuk dalam orbit Amerika ataupun Uni Soviet dan Cina.

Prakarsa Indonesia beserta keempat negara lainnya sebagai the Sponsoring Countries, tidak saja menempatkan Indonesia maupun Bung Karno sebagai kekuatan utama yang memelopori perjuangan kemerdekaan negara-negara Asia-Afrika yang masih terjajah, juga mempunyai saham yang kuat untuk memelopori terbentuknya Gerakan Negara-Negara Non-Blok pada skala lintas kawasan, 6 tahun ke kemudian di Beograd, Jugoslavia.

Sebab KAA selain memainkan peran penting alam upaya menciptakan perdamaian dunia dan mengakhiri penjajahan di seluruh dunia secara damai, khususnya di Asia dan Afrika, pada saat sama memberi inspirasi terhadap terbentuknya “kekuatan ketiga” yang tidak berpihak ke blok barat maupun timur, sehingga mendorong lahirnya Gerakan Nonblok yang didasari tujuan untuk meredakan ketegangan dunia yang dipicu oleh konflik antara kutub AS dan Sekutu-sekutu baratnya yang berhaluan Kapitalis/Liberal, versus kutub Uni Soviet dan Cina yang berhaluan komunis.

Bedannya, kalau dalam KAA Bung Karno menawarkan tema anti kolonialisme dan imperialisme sebagai dasar persatuan negara-negara peserta KAA, maka dalam Konferensi Non Blok 1961, Bung Karno dan Indonesia menawarkan tema baru: Aspirasi Negara-Negara Berkembang dalam berhadapan dengan Negara-Negara maju. Yang tidak lagi perhadapan antara kutub barat versus timur, melainkan antara Utara dan Selatan.




Blog Stats

  • 2,456,475 hits

Recent Comments

Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Sejarah : Bangsa Lemuria, Lelu…
Ratu Adil - 666 on Sejarah : Bangsa Lemuria, Lelu…

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 137 other followers