Archive for February, 2011

28
Feb
11

Khazanah : Masjid Al Akbar, Surabaya dan Masjid Koutoubia, Marrakech

Kongres AS Terkesima Lihat Masjid Al Akbar Surabaya

Kamis, 24 Februari 2011, 19:28 WIB

Kongres AS Terkesima Lihat Masjid Al Akbar Surabaya

MAsjid Al Akbar, Surabaya

REPUBLIKA.CO.ID, SURABAYA – Delegasi Kongres (legislator/DPR) Amerika Serikat (AS) merasa terkesan dengan kunjungan ke Masjid Nasional Al Akbar Surabaya (MAS), Kamis (24/2). “Kami sangat menikmati kunjungan ke Masjid Al Akbar dan kami sangat menghargai diskusi yang mendalam dengan para pengurus masjid,” kata pimpinan rombongan dan anggota California Congressman David Dreier.

Delegasi Kongres AS yang terdiri dari lima legislator itu tiba di MAS pukul 15.30 WIB dan diterima langsung oleh pengurus MAS yang diketuai Drs H Endro Siswantoro MSi di ruang Multazam MAS. Kelima anggota delegasi antara yang berkunjung adalah anggota California Congressman David Dreier (pimpinan rombongan), dan ranking member North Carolina Congressman, David Price.

Selain itu, California Congressman (anggota Kongres) Lois Capps, California Congressman (anggota Kongres) Sam Farr, dan Washington Congressman (anggota Kongres) Jim McDermott. “Mereka mengaku kagum saat melihat Masjid Al Akbar Surabaya yang merupakan simbol keagamaan di Provinsi Jawa Timur,” kata Kabag Humas dan Protokol MAS, Drs H Helmy M Noor.

Rasa kagum itu membuat mereka tidak terasa melakukan dialog dengan pengurus MAS, sehingga dialog yang dijadwalkan hanya 10 menit pun molor hingga 30 menit. “Selama ini, pertemuan mereka di Indonesia seperti bolak-balik ‘meeting’ tapi di Al Akbar justru dialogis, bahkan ada kue bikang dan roti maryam yang enak, kata mereka,” ujarnya.

Menurut Helmy, hal penting dalam dialog adalah pengurus MAS menitipkan kerukunan umat beragama dan toleransi beragama, terutama kaum Muslim AS yang minoritas. “Titipan itu ditanggapi anggota Kongres AS dengan positif. Mereka bilang kelompok minoritas di AS tetap dilindungi, termasuk kelompok Muslim, karena bila ada yang tidak terlindungi, maka hal itu berarti ada pelanggaran HAM,” katanya.

Dalam dialog itu, delegasi Kongres AS juga mengenalkan diri sebagai bagian dari The House of Democracy Partnership (HDP) atau Komisi Kemitraan Demokrasi yang melakukan serangkaian kunjungan ke kawasan Asia Tenggara. HDP atau Komisi Kemitraan Demokrasi itu bersifat bipartisan (dua partai)

sejumlah 22 anggota yang bekerja secara langsung dengan 14 negara mitra untuk mendukung perkembangan institusi legislatif yang efektif, independen, dan responsif.

Setelah berdialog dengan pengurus MAS selama 30 menit, anggota Kongres AS itu berjalan kaki menuju menara MAS dan mereka pun naik ke menara masjid setinggi 99 meter yang melambangkan ‘Asmaul Husna’ itu. Selanjutnya mereka pun berjalan kaki lagi menuju pintu utama di dekat air mancur dan akhirnya naik ke lantai 2 untuk melihat tempat shalat dari lantai 2.

Ketika turun, mereka menerima cendera mata berupa foto MAS dalam pigura serta setiap anggota Kongres AS menerima pin MAS yang disematkan Ketua MAS Drs H Endro Siswantoro MSi dan wakilnya. “Kunjungan dan pertemuan Kongres AS dengan pengurus Masjid Al Akbar itu penting untuk memperkuat hubungan masyarakat dari kedua negara. Para anggota Kongres menilai Al Akbar merupakan tempat yang penting,” kata Humas Konjen AS di Surabaya, Emmily Y Norris.

Red: Djibril Muhammad
Sumber: Antara

Minggu, 27 Februari 2011 pukul 14:07:00

Masjid Koutoubia

Perpaduan Arsitektur Islam-Spanyol

arsitektur
Oleh Nidia Zuraya

Menara Masjid Koutobia merupakan bukti kesempurnaan dari perpaduan seni keramik Islam dan Spanyol yang dikenal dengan nama Hispano-Moresque.

Marrakech adalah kota bersejarah yang menjadi simbol negara Maroko. Orang Barat menyebutnya Marrakesh, dan literatur Indonesia menamainya Marrakus. Kota itu dibangun pada 1062 M oleh Yusuf bin Tasyfin dari Dinasti al-Murabitun. Dinasti itu merebut Maroko setelah kekuasaan Dinasti Fatimiyah di negeri itu tumbang.

Marrakech merupakan kota terbesar kedua di Maroko setelah Casablanca. Penguasa Dinasti Murabitun memilih Marrakech sebagai pusat pemerintahannya yang jauh dari gunung dan sungai. Marrakech dipilih karena berada di kawasan yang netral di antara dua suku yang bersaing untuk meraih kehormatan untuk menjadi tuan rumah di ibu kota baru itu.

Selama berabad-abad, Marrakech sangat dikenal dengan sebutan Seven Saints, atau tujuh orang suci. Ketika sufisme begitu populer semasa kekuasaan Moulay Ismail, di Marrakech sering diadakan festival Seven Saints. Pada 1147 M, Marrakech diambil alih Dinasti al-Muwahiddun. Pada masa itu, bangunan penduduk dan ibadah yang dibangun pada masa Dinasti al-Murabitun dihancurkan.

Namun, seiring dengan berjalannya waktu, penguasa Muwahiddun kembali merekonstruksi seluruh bangunan, termasuk Masjid Koutoubia yang menjadi ikon kota Marrakech hingga saat ini. Mengutip laman Wikipedia, Masjid Koutoubia merupakan masjid terbesar di Marrakech.

Yulianto Sumalyo dalam Arsitektur Masjid dan Monumen Sejarah Muslim mengungkapkan bahwa rekonstruksi terhadap bangunan Masjid Koutoubia semasa Dinasti Muwahiddun dilakukan dalam dua tahap. Pertama, pada 1147 M, yakni ketika penguasa pertama Dinasti Muwahiddun, Abdul Mukmin, berhasil merebut Kota Marrakech dari tangan penguasa Dinasti Murabitun dan memproklamasikan dirinya sebagai khalifah.

Pada tahun tersebut, Abdul Mukmin dapat menguasai berbagai kota di Spanyol dan Afrika Utara, termasuk Marrakech. Penguasaan Kota Marrakech oleh pasukan Abdul Mukmin menjadi tonggak sejarah berakhirnya kekuasaan Dinasti Murabitun dan berdirinya Dinasti Muwahiddun. Sejalan dengan peristiwa tersebut, dari segi perkembangan seni dan arsitektur, mulai berkembang corak klasik khas Muwahiddun,  antara lain yang terdapat dalam bangunan Masjid Koutoubia.

Sementara itu, rekonstruksi tahap kedua diperkirakan selesai pada 1158. Pada rekonstruksi tahap kedua ini dilakukan perubahan terhadap arah kiblat Masjid Koutoubia, yakni dibuat menyamping ke kanan lebih kurang lima derajat ke arah utara dari posisi kiblat sebelumnya.

Perubahan arah kiblat tersebut dilakukan kemungkinan karena arah kiblat pada rekonstruksi masjid tahap pertama setelah selesai dibangun diketahui kurang tepat, kemudian dikoreksi pada saat dilakukan rekonstruksi tahap kedua. Perubahan arah kiblat itu menyebabkan dinding masjid bagian kiri-kanan atau yang menghadap timur dan barat terlihat patah di bagian tengahnya.

Legenda bola emas
Dalam rekonstruksi tahap kedua juga dibangun sebuah menara di bagian sudut kiri-bawah atau di bagian barat daya dari bangunan masjid. Menara tersebut memiliki denah bujur sangkar. Dengan ketinggian 77 meter, menara Masjid Koutoubia ini terlihat menguasai langit-langit di area Old Medina. Pembangunan menara diselesaikan pada masa pemerintahan Khalifah Muwahiddun, Yaqub al-Mansur (1184-1199 M).

Desain menara Masjid Koutoubia menampilkan gaya arsitektur Muwahiddun klasik dengan empat buah bola tembaga menghiasi bagian puncak menara. Menurut cerita yang berkembang di tengah masyarakat Kota Marrakech, pada mulanya bola yang menghiasi puncak menara ini terbuat dari emas murni. Namun, jumlahnya hanya tiga buah.

Sementara bola emas keempat, masih menurut cerita tersebut, disumbangkan oleh istri Khalifah Yaqub al-Mansur sebagai kompensasi atas kegagalannya untuk menjaga puasa selama satu hari penuh selama Ramadhan. Istri Khalifah al-Mansur kemudian mendermakan sejumlah perhiasan emas miliknya untuk dilebur dan kemudian dicetak menjadi bola emas.

Menara masjid ini merupakan bukti kesempurnaan dari perpaduan seni keramik Islam dan Spanyol yang dikenal dengan nama Hispano-Moresque. Selain keramik, material yang digunakan untuk membangun menara yang megah ini adalah perpaduan dari bata merah, semen, dan batu.

Karena keunikan yang dimilikinya, menara Masjid Koutoubia ini menjadi model untuk pembangunan menara Masjid Giralda di Kota Sevilla, Spanyol; dan menara Masjid Hassan II di Rabat, Maroko. Karena kemiripan bentuk dan desainnya, ketiga menara ini kerap disebut sebagai tiga seri menara kembar. Dalam perkembangan berikutnya, model yang ditampilkan oleh menara Masjid Koutoubia dan Masjid Giralda ini banyak diadopsi oleh menara-menara gereja di Spanyol dan Eropa Timur.

Bangunan menara Masjid Koutoubia terdiri atas enam lantai. Pada tiap-tiap lantai terdapat sebuah kamar. Untuk mencapai tiap bagian lantai itu, pengunjung harus melalui sebuah anak tangga yang berakhir di bagian lantai paling atas yang dinamakan balkon. Dari balkon inilah, muazin mengumandangkan azan setiap masuk waktu shalat wajib lima waktu.

Tata letak masjid yang dibangun dalam rekonstruksi tahap pertama dan kedua, tidak berbeda jauh dengan bangunan masjid di kota-kota Maroko lainnya. Persamaan tersebut menjadi ciri khas dari arsitektur masjid di zaman Muwahiddun, yaitu percampuran Islam-Spanyol dan Islam-Abbasiyah.

Persamaan yang paling menonjol dari bangunan-bangunan masjid di negeri-negeri yang pernah dikuasai oleh Dinasti Muwahiddun adalah bentuk T dari bagian koridor tengah masjid, dibentuk oleh kolom-kolom tengah dari haram, tegak lurus dengan sayap kiri-kanan dari deretan terdepan di depan dinding kiblat.

Bentuk T koridor tengah masjid yang dibangun pada tahap pertama dan kedua agak berbeda. Pada tahap pertama, huruf  T terdiri atas tiga lajur berbeda dalam jarak dan bentuk dengan kolom lain di kiri-kanannya. Kedua bagian masjid yang masing-masing hampir sama dan sebangun ini bentuknya segi empat dengan luas masing-masing sekitar 90×60 meter persegi. Jumlah lajur dan deret pada masjid dibangun dalam dua tahap. Keduanya sama, yaitu 17 dan tujuh.

Bangunan Masjid Koutoubia ini mempunyai dua sahn (halaman terbuka), dua haram (ruang khusus bagi jamaah wanita), dan empat buah riwaq. Namun, hanya mempunyai sebuah mihrab. Kedua sahn tersebut relatif tidak luas, riwaq menyambung langsung dengan haram.

Sementara itu, bagian kolom-kolom masjid terbuat dari bata dan dihiasi dengan pelengkung kombinasi patah, majemuk, dan pelengkung lurus. Kesemua model pelengkung ini merupakan ciri khas dari arsitektur campuran Barat-Timur di wilayah Magrib atau Afrika Utara.N ed; heri ruslan

Landmark Kota Marakech

Oleh Nidia Zuraya

Kota Marrakech dibangun pada 1062 M oleh Yusuf bin Tasyfin atau Ibnu Tasyfin dari Dinasti al-Murabitun. Pada 1147 M, Marrakech diambil alih Dinasti Muwahiddun. Pada masa itu, rumah-rumah penduduk dan rumah ibadah yang dihancurkan. Penguasa dinasti itu lalu kembali merekonstruksi seluruh bangunan, termasuk pembangunan Masjid Koutoubia dan Menara Gardens.

Masjid Koutoubia merupakan landmark-ciri khas-Kota Marrakech hingga saat ini. Pada 1269 M, Marrakech diambil alih Dinasti Marrin, dan ibu kota dipindah ke Fez. Dinasti ini sempat mengalami kemunduran pada 1274 M hingga 1522 M.

Mulai 1522 M, Saadians mengambil alih kekuasaan Marrakech. Kota Marrakech yang berubah miskin itu kembali bergairah setelah dijadikan ibu kota Maroko Selatan. Pada akhir abad ke-16 M, Marrakech kembali mencapai kejayaannya. Secara budaya dan ekonomi, Marrakech menjadi kota terkemuka dan terdepan di Maroko. Saat itu, jumlah penduduknya mencapai 60 ribu orang.

Pada 1669, Marrakech dikuasai sultan Maroko, dan ibu kota kembali pindah ke Fez. Pada pertengahan abad ke-18, Marrakech kembali dibangun Sultan Muhammad III. Pada awal abad ke-20, Prancis banyak membangun bangunan bergaya Prancis. Ketika Maroko meraih kemerdekaan pada 1956, ibu kota kerajaan berpindah ke Rabat.

Kini, Marrakech menjadi salah satu kota budaya yang dilindungi UNESCO. Di kota itu banyak berdiri masjid serta madrasah peninggalan masa kejayaan Islam, antara lain Masjid Koutoubia, Madrasah Ben Youssef, Masji Casbah, Masjid Mansouria, Masjid Bab Doukkala, Masjid Mouassine, serta banyak lagi yang lainnya.

Di kota ini juga banyak ditemukan bangunan istana peninggalan kejayaan Islam, seperti Istana El Badi, Royal Palace, dan Istana Bahia. Di Marrakech juga banyak sentra kerajinan tangan. Sebagai kota tua yang dijadikan objek wisata, Marrakech juga banyak memiliki museum, seperti Museum Dar Si Sa’ad, Museum Marrakech, Museum Bert Flint, dan Museum Islamic Art. heri ruslan

Advertisements
28
Feb
11

Republika : Mirza Ghulam Ahmad, Nabi atau Mujadid ?

Senin, 28 Februari 2011 pukul 10:28:00

Nabi atau Mujadid ?

Oleh Neni Ridarineni

Antara JAI dan GAI (Bagian 1)

Ada dua Ahmadiyah. Jemaat Ahmadiyah Indonesia (JAI) dan Gerakan Ahmadiyah Lahore Indonesia (GAI). Mengapa harus ada dua Ahmadiyah dan apa perbedaan di antara keduanya?

Menurut Nanang Sanusi, Koordinator Mubalig JAI Wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), Ahmadiyah awalnya hanya satu karena pendirinya Hazrat Mirza Ghulam Ahmad sebagai mujadid (pembaru). Setelah Mirza Ghulam Ahmad wafat pada 1908, kepemimpinan diteruskan dengan kekhalifahan Hakim Nuruddin sampai 1914. Terjadi lagi pergantian kepemimpinan dan yang terpilih menjadi khalifah adalah putra Hazrat Mirza, Basyiruddin Mahmud Ahmad. Namun, kata Nanang, ada kelompok yang tidak puas dengan naiknya Basyiruddin.

“Nah, kelompok yang tidak puas ini memisahkan diri ke Lahore lalu membentuk sempalan dari Ahmadiyah yang disebut Ahmadiyah Lahore dan di Indonesia menjadi Gerakan Ahmadiyah Indonesia,” jelasnya. Namun, di Yogyakarta, kata Nanang, JAI dan GAI tetap rukun dan saling silaturahim.

JAI atau dikenal sebagai Ahmadiyah Qadiyan sudah memiliki lebih dari 300 cabang. Di Yogyakarta, JAI berkantor di Jl Atmosukarto 15. Anggotanya berjumlah sekitar 200 KK dan sebagian besar bekerja sebagai pegawai sehingga Ahmadiyah DIY biasanya berkegiatan pada hari libur (Ahad). Selain beribabadah, mereka melakukan kegiatan organisasi seperti pengajian, perayaan hari besar Islam, termasuk peringatan Maulid Nabi SAW.

“Kami hanya berupaya melakukan apa yang sudah dicontohkan Nabi Muhammad SAW, apa yang diajarkan oleh beliau,” ungkap Nanang kepada Republika, di kantor JAI Yogyakarta belum lama ini.

Dikatakan, secara umum Ahmadiyah di Yogyakarta tenang-tenang saja. “Tetapi, kami tetap waspada karena potensi yang bisa menimbulkan kerawanan tetap ada.”

Nanang mengatakan JAI di DIY selalu menghormati dan menghargai SKB tiga menteri sebagai keputusan pemerintah dan konsekuen melaksanakannya. SKB, kata dia, intinya mengatur dua hal, yaitu jemaat Ahmadiyah tidak boleh menyebarkan ajaran-ajaran yang mainstream, yaitu adanya nabi setelah Nabi Muhammad SAW. Jika dilanggar, ada sanksi. Kedua, masyarakat umum di luar Ahmadiyah tidak boleh melakukan kekerasan.

“Kami konsekuen, konsentrasi kami ke dalam yakni membina anggota melalui pengajian, ibadah, meningkatkan keimanan, ketakwaan, dan berusaha melakukan kegiatan sosial yang bermanfaat bagi masyarakat.”

Dalam melakukan kegiatan sosial, kata Nanang, pihaknya tidak mengusung nama JAI, tetapi Humanity First. Tujuannya agar tidak terjadi kesalahpahaman. “Kami melakukan kegiatan kemanusiaan, ya hanya untuk kegiatan kemanusiaan, tidak untuk menyebarkan Ahmadiyah. Pengembangan kami dari keturunan, dari keluarga anggota jemaat Ahmadiyah.”

Nanang menyayangkan banyak pandangan masyarakat yang keliru mengenai Ahmadiyah. Ia menegaskan, jemaat Ahmadiyah berpedoman pada Alquran dan sunah, juga meyakini Nabi Muhammad SAW sebagai nabi terakhir.

“Allah SWT tidak akan mendatangkan agama baru, agama yang terakhir adalah Islam, kitab terakhir adalah Alquran, dan Nabi Muhammad SAW adalah nabi terakhir yang membawa agama dan nabi yang paling sempurna. Dalam pandangan kami, puncak kerohanian tertinggi hanya bisa dicapai oleh Nabi Muhammad SAW, tidak ada yang lain.”

Lantas Mirza Ghulam Ahmad? Dia, kata Nanang, adalah seorang mujadid atau pembaru. Dalam keyakinannya, tiap-tiap permulaan 100 tahun, Allah selalu mengutus mujadid atau pembaru untuk menjaga kesucian dan kemurnian agama Islam. Nah, Hazrat Mirza Ghulam Ahmad itulah sosok yang diyakini Nanang dan para pengikut JAI lainnya sebagai mujadid.

“Jadi, pendiri Ahmadiyah itu seorang pembaru dan kami tidak memberikan statusnya sebagai nabi, tetapi sebagai penerus, pelaksana, pelanjut, penegak ajaran Nabi Muhammad SAW. Salah satu tujuan kedatangannya adalah menghidupkan kembali agama Islam dan menegakkan kembali Islam.” ed: wachidah handasah

28
Feb
11

Khazanah : Wang Zipping, Grandmaster Wushu Muslim Cina

Kisah Wang Zipping, Legenda Grandmaster Wushu Muslim Cina (1881-1973)

Wang Zipping

REPUBLIKA.CO.ID, Seratusdelapanpuluh kilometer dari utara Kota Terlarang (Beijing saat ini), terletak Changzhou, tempat tinggal suku Hui. Hui adalah suku Muslim di Cina. Namun, selain Islam, ada hal yang menjadi kecintaan anggota suku, yakni tradisi seni bela diri.

Sebelum penemuan senjata, Wushu merupakan alat utama pertempuran dan pertahanan diri di Cina. Para pemimpon Hui selalu mendorong anggotanya mempelajari Wushu sebagai ‘kebiasaan suci’ demi memperkuat disiplin dan keberanian untuk memperjuangkan sekaligus bertahan di tanah mereka.

Saat itu masjid-masjid, bagi suku Hui, bukan hanya tempat untuk beribadah, tapi juga medan latihan bagi grandmaster untuk menempa dasar-dasar Wushu kepada murid-murid yang antusias.

Seperti banyak Hui yang lain, Wang Ziping lahir di tengah keluarga miskin. Ayahnya bekerja sebagai petinju bayaran. Saat masih bocah, Ziping menunjukkan keinginan kuat belajar Wushu. Bela diri ini adalah identitas Hui. Tidak ada Hui–yang saat itu hanya senilai upah garam–akan berani menjalani hidup tanpa “Latihan Delapanbelas Pukulan Pertempuran” dan “Tinju Diagram Delapan” melekat pada tubuh dan pikiran.

Selain Wushu, Hui juga mendalami ajaran Islam. Dengan demikian kehidupan Hui adalah campuran antara buruh miskin, latihan keras dan spiritual mendalam. Kemampuan luar biasa mereka dalam Wushu bukan sesuatu yang datang sekejap mata.

Begitu pula yang dialami Ziping. Di tengah pelajaran mengaji Al Qur’an, Ziping juga harus mengangkat batu berat untuk membangun stamina, kekuatan dan galian parit yang kian lama kiat luas begitu kemampuannya melompat meningkat. Keseimbangan yang baik diasah dengan cara berbahaya. Zipping ditanam dalam tanah.

Saat itu pula Zipping membaca lantunan zikir. Kekuatan dan keseimbangannya pun bertambah berlipat ganda. Konsentrasi yang biasa dilakukan saat shalat sebagai tuntutan dalam Islam menjadi tulang punggung sesolid batu bagi gerakan mengalir Wushu.

Iklim di Changzou cukup sejuk ketika musim panas, namun dingin saat musim salju. Dalam bulan-bulan musim dingin salju jarang turun sehingga memungkina latihan tetap digelar. Zipping berlatih dengan seluruh elemen untuk membuat tangguh tubuhnya. Begitu ia menginjak usia 14 tahun, ia sudah bisa melompat lebih dari 3 meter dari posisi berdiri.

Sayang bocah dengan tubuh setegap pria dewasa dan kualitas petarung itu tak memiliki guru. Ayahnya yang keras kepala menolak memasukkan Zipping ke sekolah Wushu. Setengah putus asa mencari guru dan teman, ia jatuh ke dalam komunitas rahasia yang menyebut diri mereka “Jurus Kebenaran dan Keharmonian”.

Akhirnya Wang Zipping memutuskan pergi dan mengembara ke selatan Jinan, di mana ia menjadi musafir yang tinggal di sebuah Masjid Besar. Dalam ruang utama masjid itulah, Zipping bertemu pria seperti dirinya, seorang petinju. Ia bernama Yang Hongxiu, grandmaster Wushu yang akhirnya menjadi gurunya.

Dan Zipping pun dengan serius mulai mempelajari gerakan burung dan mamalia, seperti elang menukik menyambar mangsa, gerakan kelinci melintas padang rumput, hingga lompatan jitu anjing menghindar dari bahaya. Ia menyerap semua karakter gerakan itu kemudian menciptakan gayanya sendiri. Stamina dan refleksnya yang kian berkembang, membuat Zipping tak hanya kuat tetapi juga cepat–sebuah kombinasi mematikan dalam Wushu.

Seorang dianggap Grandmaster ketika ia mampu menggunakan alat apa pun sebagai senjata. Pengembangan kemampuan ini adalah seni sekaligus kebutuhan dalam Wushu. Zipping, menjadi luar biasa fasih dengan semua senjata utama.

Dia sangat mahir terutama dalam melakukan Qinna, yakni teknik sergapan yang dapat mengunci sendi dan otot-otot lawan dalam persiapan melakukan serangan dahsyat; Shuaijiao.  Nama yang terakhir itu adalah gaya bertarung tangan kosong yang menggabungkan prinsip Tai Chi, Hard Qigong dan Teknik Meringankan Tubuh.

Ia mendapat pengakuan sebagai seniman bela diri yang utuh. Pada saat bersamaan ia juga pakar dalam trauma tulang. Ia mengombinasikan pengetahuan mendalam dalam Qinna dengan ketrampilang mengatur tulang. Akhirnya ia menemukan sistem penyembuhan untuk cedera Wushu dan olahraga di utara Cina.

Legenda Klasik

Banyak kisah, ada yang asli dan juga sekedar mitos, yang telah disematkan pada sosoknya. Namun yang selalu diulang adalah kisah satu ini.

Selama melakukan praktek pengobatan di Jiaozhou, Jerman ditugaskan untuk membangun rel kereta api dari kawasan itu menuju Jinan. Proyek mercusuar itu adalah harga mahal yang harus dibayar setelah Ratu Ci’xi gagal dalam pemberontakan tinju. Rel dibuat dengan yang tujuan memperluas dan mengkokohkan kontrol Eropa atas daratan Cina.

Reputasi Zipping bukannya tak diketahui oleh Jerman. Lebih cerdas dan berani dari pada koleganya, para Jerman berupaya mempermainkannya. Seorang petinggi militer Jerman bersiasat dengan menempatkan penggilingan batu besar di depan stasiun rel kereta api dan menantang siapa pun untuk mengangkatnya.

Zipping yang tidak pernah bisa tahan dengan penghinaan terhadap orang Cina, secara alami langsung gusar. Seperti yang diharapkan Jerman, Zipping masuk perangkap.

“Bagaimana kalau saya bisa mengangkatnya,” tanya Zipping.

“Maka gilingan itu menjadi milikmu,” para Jerman menjawab dengan tampang mengolok-olok.

“Bila saya gagal?”

“Maka kamu harus membayar,”

Zipping denga mudah mengangkan gilingan batu itu, meninggalkan para Jerman tercengang-cengang. Seorang warga Amerika yang bekerja sebagai guru fisika di tempat itu, menyaksikan aksi Zipping. Ia pun menantang duel.

Saat berjabat tangan mengawali pertandingan, tiba-tiba si Amerika dengan kuat memegang tangan Zipping dan berupaya membantingnya ke tanah. Zipping secepat kilat menyapukan kaki ke bagian bawah tubuh lawannya dan membuatnya ambruk.

Karena reputasinya, Zipping ditunjuk sebagai kepala Divisi Shaolin di Institut Pusat Seni Bela Diri. Ia juga pernah menjabat wakil presiden Asosiasi Whusu Cina, organisasi Wushu tertinggi di CIna.

Ia memegang banyak gelar dan tanggung jawab, termasuk konsultan sejumlah rumah sakit besar di penjuru Cina. Karirnya sebagai pakar bela diri juga kian menajam setelah ia melakoni banyak duel dengan orang asing. Ia selalu ingin membuktikan bahwa Cina bukan ras inferior.

Meski dalam usia senja, Zipping tak pernah kehilangan kekuatan dan kecepatannya. Pada 1960 ketika ia menjadi pelatih dan direktur grup pelajar Wushu yang menyertai perdana menteri saat itu, Zhou Enlai, melawat ke Burma, ia diminta mendemonstrasikan kemampuannya. Di depan tuan rumah ia menampilkan jurus dengan senjata luar biasa berat, Pedang Naga Hitam. Dengan teknik tinggi, kemampuan dan semangat muda, tak satupun orang berpikir ia telah berkepala delapan.

Red: Ajeng Ritzki Pitakasari
Sumber: Berbagai sumber

28
Feb
11

Hikmah : Cinta Rasul

Hikmah: Cinta Rasul

Senin, 28 Februari 2011, 11:57 WIB

.

Hikmah: Cinta Rasul

Ilustrasi

Oleh: Ali Mustofa Akbar

Cerdas, bijaksana, berakhlak mulia. Dialah Muhammad saw. Rasul akhir zaman, pemberi peringatan, suri tauladan terbaik bagi umat manusia. Pembawa risalah penyempurna atas nabi-nabi yang terdahulu.

Dialah kekasih Allah, manusia yang terjaga dari kesalahan, sosok pribadi sempurna, figur terbaik yang pernah ada di dunia. Ia di kagumi, dicintai, sekaligus diikuti oleh umatnya yang beriman. Tidak heran apabila orang barat sendiri mengakui bahwa beliau merupakan tokoh yang paling berpengaruh di dunia. (Michael Hart, 100 Tokoh Paling Berpengaruh di Dunia).

Rasulullah sangat mencintai umatnya, itu tercermin bahkan di saat-saat akhir hayatnya ia masih sempat mengucapkan umati….umati…(umatku…umatku…). Sesaat sebelumnya, beliau juga sempat bercakap-cakap dengan malaikat Jibril yang hendak mencabut nyawanya:“Jibril, jelaskan apa hakku nanti dihadapan Allah?” Tanya Rasulullah dengan suara yang sangat lemah. Jibril pun menjawab “Pintu-pintu langit telah terbuka, para malaikat telah menanti ruhmu. Semua surga terbuka lebar menanti kedatanganmu,”

Namun hal itu ternyata tidak membuat Rasulullah lega, sorot matanya masih penuh kecemasan. “Engkau tidak senang mendengar kabar ini?” Tanya Jibril lagi.

“Kabarkan kepadaku bagaimana nasib umatku kelak?” Tanya Rasul. “Jangan khawatir, wahai Rasul Allah, aku pernah mendengar Allah berfirman kepadaku: Kuharamkan surga bagi siapa saja, kecuali umat Muhammad telah berada didalamnya,” Jawab Malaikat Jibril.

Subhanallah, betapa cintanya Muhammad kepada kita, sampai-sampai menjelang akhir hayatnya pun masih memikirkan umatnya. Meskipun begitu, memang tidak semua orang menyukainya.Ada juga orang-orang yang membencinya. Itulah kaum kafir yang tidak mau menerima kebenaran Islam. Yang mungkin telah dibutakan mata dan hatinya.

Ketika awal-awal dakwah beliau di Makkah, orang-orang kafir Quraysi juga sangat membenci Rasulullah Saw, bukan karena pola sikapnya, namun karena agamanya, karena ideologinya.

Mereka tidak rela agama nenek moyangnya diganti dengan Islam. Berbagai halangan, rintangan, tuduhan miring, bahkan sampai percobaan pembunuhan pernah dilakukan oleh mereka (kafir Quraysi) dalam merintangi dakwah Islam. Merekalah musuh-musuh Allah dan Rasul-Nya.

Allah SWT berfirman: “Dan seperti itulah, telah Kami adakan bagi tiap-tiap nabi, musuh dari orang-orang yang berdosa. Dan cukuplah Tuhanmu menjadi Pemberi petunjuk dan Penolong.” (QS Al Furqaan: 31).

Dan kini, setelah beliau wafat pun, kedengkian orang-orang kafir itu tidak ada habisnya. Bahkan hingga kini.

Namun hal itu tidaklah mampu melunturkan kemuliaan sosok Muhammad SAW. Ia tetaplah sang kekasih Allah, suri tauladan terbaik bagi manusia. Kita sangat mencintainya, melebihi cinta pada diri ini. Apapun bisa kita perbuat demi Allah dan Rasul-Nya.

*) Direktur Rise Media Surakarta

Red: Siwi Tri Puji B

28
Feb
11

Politik : Seleksi Alamiah ParPol dan Kepemimpinan Nasional

Wiranto: Parpol akan Ikuti Seleksi Alam 

lokasi: Home / Berita / Politik / [sumber: Jakartapress.com]

Minggu, 27/02/2011 | 12:47 WIB Wiranto: Parpol akan Ikuti Seleksi Alam

Sumenep – Partai Hati Nurani Rakyat (Hanura) mengatakan siap dengan berapa pun besaran Parlimentary Threshold (ambang batas partai politik di parlemen), yang akan ditetapkan dalam Pemilu mendatang.

Hal tersebut disampaikan oleh Ketua Umum DPP Partai Hanura, Wiranto saat membuka Rapat Pimpinan Daerah (Rapimda) I Partai Hanura Jawa Timur di Sumenep, Sabtu (26/2/2011), menurut Wiranto palimentary threshold (PT) sebesar 3 persen adalah angka yang tepat.

“Jadi yang usul 5 persen turun, yang 2,5 naik. Akhirnya ketemu 3 persen. Hanura siap dengan besaran tersebut,” ujarnya.

Namun demikian Wiranto mengaku tidak habis pikir dengan ribut-ribut soal prosentase PT. Menurut mantan calon wakil presiden itu, pada akhirnya kepercayaan rakyat terhadap satu parpol adalah yang akan menentukan.

“Kenapa sih kita ini harus meributkan soal angka? Tho nanti rakyat ini yang akan memilih dan menyeleksi Parpol. Seleksinya alamiah saja. Kalau sudah tidak dilirik rakyat, ya lama kelamaan partai itu akan mati,” terangnya.

Ia menambahkan, rakyat akan bisa menilai bagaimana sepak terjang parpol, dan bagaimana pembelaannya terhadap rakyat. “Kalau parpol mengesampingkan 3 hal, yakni keterwakilan hak politik rakyat, mandat rakyat, dan akuntabilitas, maka dengan sendirinya akan terseleksi dan tidak dapat bertahan,” tandasnya.

Ia menambahkan, sebenarnya bukan hal yang buruk jika negara ini diwarnai multi parpol. “Di Amerika, di Malaysia, jumlah partainya juga banyak. Kenapa kita yang 9 partai ini harus gerah?” imbuhnya.

Lebih lanjut Wiranto mengaku menghargai penuh usulan menaikkan angka PT. “Menaikkan PT itu sah-sah saja asal diasari pemikiran bersih, yakni mencapai kehidupan politik yang lebih baik. Bukan trik poltik saling membunuh,” katanya mengingatkan. [beritajatim.com]

RR Ingatkan SBY Hadapi Krisis Kepercayaan 

lokasi: Home / Berita / Politik / [sumber: Jakartapress.com]

Senin, 28/02/2011 | 15:44 WIB RR Ingatkan SBY Hadapi Krisis Kepercayaan

Jakarta – Mantan Menko Perekonomian era Presiden Gus Dur, Rizal Ramli (RR) menyatakan masa pemerintahan SBY sudah kehilangan dukungan intelektual, aktivis, ulama, purnawirawan TNI/Polri, perwira dan civil society serta media, sehingga harus dikoreksi total.

Selain itu, Rizal juga menyatakan, ekonomi Indonesia dewasa ini menyerupai apa yang dikritik Hariman Siregar sebagai ekonomi neoliberal dan kolonial, di mana modal asing  dan uang panas (hot money) amat dominan. Bahkan kekuatan asing melenyapkan kedaulatan kita dan membuat kehidupan sosial-ekonomi rakyat makin lumpuh.

“Harga kebutuhan pokok melonjak terus,  pendapatan rakyat tetap dan malah merosot, pemerintah sudah kehabisan dukungan dari intelektual, agamawan, aktivis purnawirawan TNI/Polri, perwira dan civil society serta media. Ibarat kepala kerbau di panggung ini, ada 10 persen orang Indonesia yang makmur, namun selebihnya 90% hidup dalam kemiskinan dan kesulitan serta pengangguran, dan itulah tubuh kerbau tersebut,” katanya dalam rilis yang diterima CyberNews.

Dia mengatakan, Pemerintah mestinya mengutamakan kepentingan rakyat atau tubuh kerbau itu. “Jangan hanya kepalanya yakni orang-orang kaya yang sudah bisa mengurus dirinya. Kini terjadi krisis kepercayaan,” tambahnya.

Rizal, mantan demonstran ITB yang dipenjara Orde Baru, memahami Hariman dan menyerukan agar  mahasiswa dan seluruh kekuatan intelektual dan aktivis untuk melakukan kontrol atas pemerintah, termasuk mengoreksi kebohongan publik yang disampaikan pemerintah, yang selama ini sudah dikritik dan dikecam oleh para tokoh agamawan/rohaniwan.

Rizal kembali mengingatkan rezim SBY bahwa  kondisi sosial-ekonomi rakyat makin terpuruk, angka kemiskinan meluas dan ekonomi rente melalui penunjukkan impor beras Bulog, kembali meluap.

“Apalagi neoliberalisme makin meluas dengan privatisasi,liberalisasi dan janji-janji pemerintah untuk membantu rakyat  terbukti gagal sehingga masuk akal kalau  dianggap menjadi pembohongan publik oleh para tokoh lintas agama,” kata Gus Romli, panggilan akrabnya di kalangan NU.

Rizal melihat, SBY tidak akan mau menerima pandangan Hariman yang menyarankan agar SBY melempar handuk atau meletakkan jabatan, meski SBY sudah kenyang,  meski pemerintah SBY gagal  menolong rakyat,  meski SBY lebih berkutat pada kekuasaan dan pencitraan serta gagal membawa kesejahteraan dan keadilan sosial.

“Karena itu, elan dan spirit Hariman harus kita lanjutkan untuk mengontrol dan mengoreksi penguasa yang salah dan keliru dalam membangun bangsa sesuai  konstitusi dan cita-cita para pendiri bangsa,” kata tokoh nasional itu.

Konsolidasi dengan Hariman Siregar
Rizal Ramli  dan mantan Ketua Umum Dewan Mahasiswa Universitas Indonesia Hariman SIregar melakukan rangkaian pertemuan untuk konsolidasi perubahan, ditengah resonansi dari gejolak di Mesir dan Timur Tengah ke Indonesia. Kedua tokoh nasional itu menilai,  pemerintah SBY yang menganut neoliberalisme kehilangan dukungan intelektual, aktivis, ulama, purnawirawan TNI/Polri, perwira dan civil society serta media. Demokrasi kriminal dan korupsi kian membuat rakyat kecewa pada demorkatisasi ala Cikeas yang membuat kelas menengah jatuh ke bawah.

Dalam dialog di Kliniki Baruna, Jakarta, Senin (28/2/11) Kedua sosok itu melihat,  ada resonansi peristiwa Mesir, Tunisia dan Libya ke Indonesia, dan  terjadi krisis kepercayaan dari rakyat pada SBY, dan demokrasi kita sudah  demokrasi kriminal sehingga harus dikoreksi total. Skandal Century, mafiapajak dan KKN membuat rakyat makin kecewa dan menderita.

Rizal juga menyatakan ekonomi Indonesia dewasa ini menyerupai apa yang dikritik Hariman Siregar sebagai ekonomi neoliberal dan kolonial, dimana modal asing  dan uang panas (hot money) amat dominan. Bahkan kekuatan asing melenyapkan kedaulatan kita dan membuat kehidupan sosial-ekonomi rakyat makin lumpuh.

Rizal dan Hariman mengingatkan bahwa rakyat merindukan perubahan karena pemerintah gagal  memenuhi janji  kampanyenya sendiri untuk mensejahterakan rakyat.  Harga kebutuhan pokok melonjak terus,  pendapatan rakyat tetap dan malah merosot, pemerintah sudah kehabisan dukungan dari intelektual, agamawan, aktivis purnawirawan TNI/Polri, perwira dan civil society serta media. Ibarat kepala kerbau di panggung ini, ada 10 persen orqang Indonesia yang makmur, namun selebihnya 90% hidup dalam kemiskinan dan kesulitan serta pengangguran.

”Pemerintah mestinya mengutamakan kepentingan rakyat atau tubuh kerbau itu, jangan hanya kepalanya yakni orang-orang kaya yang sudah bisa mengurus dirinya. Kini terjadi krisis kepercayaan,,’’ kata Rizal Ramli, Senin . Hariman malah menyatakan SBY tidak bisa beruat banyak dan  rakyat makin sulit, demokrasi kian mahal sementara  kelas menengah kian merosot ke bawah akibat kebijakan SBY yang neolib, jual mineral dan bahan mentah dengan gampang ke luar negri, dan rakayt disuruh jadi penonton belaka. ”Ini sudah keterlaluan dan harus dilawan,” kata tokoh Malari itu.

Rezim Neolib SBY Terbukti Gagal
Tokoh nasional Rizal Ramli dan Hariman Siregar menyatakan momentum perubahan sedang ditunggu rakyat yang menderita  di bawah pemerintahan neolib  SBY-Boed yang terbukti gagal mengangkat harkat dan martabat  bangsa dengan kehidupan yang lebih baik. SBY kepada pers akhirnya juga mengakui kegagalan pemerintah itu.

Kedua tokoh dan mantan aktivis mahasiswa itu menilai, masalah korupsi,  tragedi SARA, dan kesenjangan  sosial makin membuat rakyat kian marginal dan sengsara, karena negara gagal melindungi dan menjamin warganya, termasuk kaum minoritas.

Dalam pertemuan di Klinik Baruna Jakarta Senin itu (28/2/11), Rizal dan Hariman melihat pengaruh parubahan di Timur Tengah ke Indonesia dan rakyat kini menanti momentum perubahan yang terjadi di sini.

Munculnya berbagai gerakan sosial di era  Presiden SBY, mencerminkan krisis kepercayaan dari rakyat makin meninggi dan hanya soal waktu, jika presiden terus gagal menegakkan hukum, gagal membangun ekonomi yang adil dan sejahtera, gagal memberantas korupsi, dan gagal mengatasi krisis pangan, maka SBY bakal jatuh. Seruan dan desakan  civil society agar Presiden SBY (dan Wapres Boediono)  mundur adalah sah dan musti dihormati dalam demokrasi. ”Dari dulu kita sudah cabut mandat dan  mendorong SBY melempar handuk,” ujar Hariman seusai dialog.

Mantan menko perekonomian Dr Rizal Ramli,  dan tokoh Malari Hariman Siregar yakin momentum perubahan akan datang ke Indonesia seperti yang terjadi di Timur Tengah  karena kegagalan pemerintah dalam mengatasi pengangguran, kemiskinan dan korupsi.

Rizal Ramli kembali mengingatkan pemerintahan SBY-Boed bahwa banyak faktor yang menyebabkan krisis kepercayaan rakyat pada  Presiden SBY dan itu hanya soal waktu, SBY bakal terseret ke dalam lubang kejatuhan. Apalagi setelah gerakan tokoh lintas agama dan gerakan sosial 100 tokoh nasional di Gedung Juang Jakarta, kemudian muncul  gerakan anti mafia hukum (GERAM) oleh seratur intelektual, budayawan dan tokoh pula, untuk menyuarakan aspirasi masyarakat. ‘’Banyak pihak, banyak tokoh, banyak aktivis,  banyak orang menginginkan SBY mundur karena sudah tidak mampu memberikan harapan bagi rakyat. Ini kenyataan ,’’ kata Rizal Ramli yang akrab dipanggil Gus Romli di kalangan NU itu.

Rizal dan Hariman mengingatkan berbagai kasus hukum (kasus  Bank Century dan mafia pajak) belum selesai dan  terus mengendur pasca terbentuknya Sekretariat Gabungan (Setgab) sehingga hukum tersandera kepentingan politik dan uang. Situasi ini memperparah kondisi sosial ekonomi bangsa kita yang kian kehilangan harapan.

Aktivis Mahasiswa HarsuLakukan “Revolusi”
Sendi-sendi kehidupan bernegara di bawah pemerintahan SBY-Boediono dirasakan kian hari, kian lemah dan kropos. Dalam bidang ekonomi, kehidupan rakyat semakin tertekan dengan melonjaknya harga kebutuhan pokok yang kian menggerus nadi-nadi kehidupan ekonomi rakyat. Di bidang hukum, masyarakat juga kian dibuat pesimis dengan aparat penegak hukum yang dirasakan tak cukup mampu untuk menuntaskan berbagai macam skandal korupsi negeri ini.

Menyikapi kondisi ini, tokoh pergerakan senior Hariman Siregar mengajak seluruh komponen bangsa, utamanya pemuda, untuk segera mengusung perubahan guna kepentingan rakyat banyak. “Keadaan ini sudah tidak bisa ditolerir lagi, perubahan harus segera digulirkan demi Indonesia yang lebih baik,” ungkap Sang Tokoh Malari ini dalam acara Konsolidasi Pergerakan di gedung Baruna, Jakarta, Senin (28/2).

Menurut Hariman, perubahan tidak dapat diharapkan lahir dari dalam parlemen yang telah dipenuhi poltik transaksional, yang hanya mementingkan kepentingan partai semata. Karenanya, Hariman berharap kekuatan ekstraparlementer yang dimotori para pemuda untuk segera bergerak mengusung perubahan tersebut. “Dari dulu perubahan itu tidak datang dari dalam parlemen, melainkan dari gerakan pemuda dan mahasiswa,” ungkapnya.

Untuk melakukan perubahan tersebut, Hariman melihat perlu adanya “big issue” yang dapat menjadi “big push” bagi para aktivis gerakan untuk bersatu menggulirkan perubahan itu sendiri.

Sementara itu, ekonom senior DR Rizal Ramli melihat persoalan pokok bangsa ini adalah ketiadaan akses bagi rakyat, baik akses untuk mendapatkan pekerjaan, pelayanan kesehatan, maupun yang lainnya.

Menyambung ungkapan Hariman, Rizal melihat faktor-faktor obyektif untuk menggulirkan perubahan sudah cukup matang. Untuk konteks Indonesia, menurut Rizal, sekurangnya telah ada 5 faktor pendukung yang dapat menopang terjadinya perubahan tersebut.

1. Kalangan intelektual sudah enggan membela pemerintahan SBY-Boediono secara terbuka, kecuali intelektual istana.
2. Berbagai media sudah mulai kritis dan skeptis atas ketulusan dan kinerja pemerintahan SBY-Boediono.
3. Para aktivis dan mahasiswa sudah mulai bangkit menentang rezim berkuasa yang dinilai tidak berpihak pada rakyat dan hanya melayani kepentingan para pemilik kapital.
4. Demi kepentingan nasional yang lebih baik, para tokoh senior, pejuang kemerdekaan, dan purnawiraan  TNI menilai pergantian rezim SBY-Boediono, lebih cepat lebih baik.
5. Para tokoh agama juga telah menyatakan bahwa pemerintahan SBY-Boediono dipenuhi dengan kebohongan dan pengingkaran atas konstitusi negara.

Selain Hariman Siregar dan Rizal Ramli, acara tersebut juga dihadiri Adhi Massardi dari Gerakan Indonesia Bersih (GIB), Miming Abdurrachim dan juga M. Hatta Taliwang, yang keduanya merupakan aktivis 77-78. (*/SM/rmn)

Hariman Serukan Mahasiswa Lakukan “Revolusi” 

lokasi: Home / Berita / FOKUS / [sumber: Jakartapress.com]

Selasa, 01/03/2011 | 06:00 WIB Hariman Serukan Mahasiswa Lakukan "Revolusi"

Jakarta – Sendi-sendi kehidupan bernegara di bawah pemerintahan SBY-Boediono dirasakan kian hari, kian lemah dan kropos. Dalam bidang ekonomi, kehidupan rakyat semakin tertekan dengan melonjaknya harga kebutuhan pokok yang kian menggerus nadi-nadi kehidupan ekonomi rakyat. Di bidang hukum, masyarakat juga kian dibuat pesimis dengan aparat penegak hukum yang dirasakan tak cukup mampu untuk menuntaskan berbagai macam skandal korupsi negeri ini.

Menyikapi kondisi ini, tokoh pergerakan senior Hariman Siregar mengajak seluruh komponen bangsa, utamanya pemuda, untuk segera mengusung perubahan guna kepentingan rakyat banyak.

“Keadaan ini sudah tidak bisa ditolerir lagi, perubahan harus segera digulirkan demi Indonesia yang lebih baik,” ungkap Sang Tokoh Malari ini dalam acara Konsolidasi Pergerakan di gedung Baruna, Jakarta (28/2/2011).

Menurut Hariman, perubahan tidak dapat diharapkan lahir dari dalam parlemen yang telah dipenuhi poltik transaksional, yang hanya mementingkan kepentingan partai semata. Karenanya, Hariman berharap kekuatan ekstraparlementer yang dimotori para pemuda untuk segera bergerak mengusung perubahan tersebut.

“Dari dulu perubahan itu tidak datang dari dalam parlemen, melainkan dari gerakan pemuda dan mahasiswa,” ungkapnya.

Untuk melakukan perubahan tersebut, Hariman melihat perlu adanya “big issue” yang dapat menjadi “big push” bagi para aktivis gerakan untuk bersatu menggulirkan perubahan itu sendiri.

Sementara itu, ekonom senior DR Rizal Ramli melihat persoalan pokok bangsa ini adalah ketiadaan akses bagi rakyat, baik akses untuk mendapatkan pekerjaan, pelayanan kesehatan, maupun yang lainnya.

Menyambung ungkapan Hariman, Rizal melihat faktor-faktor obyektif untuk menggulirkan perubahan sudah cukup matang. Untuk konteks Indonesia, menurut Rizal, sekurangnya telah ada 5 faktor pendukung yang dapat menopang terjadinya perubahan tersebut.

1. Kalangan intelektual sudah enggan membela pemerintahan SBY-Boediono secara terbuka, kecuali intelektual istana.
2. Berbagai media sudah mulai kritis dan skeptis atas ketulusan dan kinerja pemerintahan SBY-Boediono.
3. Para aktivis dan mahasiswa sudah mulai bangkit menentang rezim berkuasa yang dinilai tidak berpihak pada rakyat dan hanya melayani kepentingan para pemilik kapital.
4. Demi kepentingan nasional yang lebih baik, para tokoh senior, pejuang kemerdekaan, dan purnawiraan  TNI menilai pergantian rezim SBY-Boediono, lebih cepat lebih baik.
5. Para tokoh agama juga telah menyatakan bahwa pemerintahan SBY-Boediono dipenuhi dengan kebohongan dan pengingkaran atas konstitusi negara.

Selain Hariman Siregar dan Rizal Ramli, acara tersebut juga dihadiri Adhi Massardi dari Gerakan Indonesia Bersih (GIB), Miming Abdurrachim dan juga M. Hatta Taliwang, yang keduanya merupakan aktivis 77-78. (Rimanews)

Setgab Sebabkan Instabilitas Permanen

lokasi: Home / Berita / Politik / [sumber: Jakartapress.com]

Senin, 28/02/2011 | 19:22 WIB Setgab Sebabkan Instabilitas Permanen

Jakarta-Pengamat Politik dari Charta Politika, Yunarto Wijaya mengatakan diperlukan “kocok ulang” komposisi setgab berkaitan dengan perbedaan pendapat yang terjadi pada pelaksanaan hak angket pajak beberapa waktu lalu. Hal ini perlu dilakukan untuk demi efektifitas dari koalisi untuk mengamankan kebijakan pemerintah.

“Dalam konteks jangka pendek, saya sepakat bahwa hal ini perlu dilakukan, akan tetapi di sisi lain, perlu dievaluasi juga bangunan politik bernama setgab yang terbukti tidak efektif keberadaannya.  Ada beberapa point yang menurut saya bisa dievaluasi dari keberadaan setgab, baik dari analisis secara sistemik ataupun dalam konteks politik praktis,” ujar Yunarto kepada wartawan di Jakarta, Senin (28/2).

Tanpa disadari, pembentukan Setgab menurut Direktur Riset Charta Politika ini sebenarnya memperlihatkan besarnya dominasi parpol dalam wilayah eksekutif.  Posisi presiden dan parpol seakan-akan menjadi sejajar dalam hal kerja pemerintahan.  Seorang kepala negara dan pemerintahan tidak sepatutnyalah ditempatkan sejajar dengan para pimpinan parpol didalam setgab.

“Selain itu, perlu diingat bahwa eksekutif tidak hanya terbentuk dari gabungan parpol saja. Beberapa menteri, bahkan Wakil Presiden, adalah unsur yang juga membentuk pemerintahan yang ada.  Kehadiran Setgab ini bisa jadi akan semakin memperkecil ruang gerak mereka dalam mengeluarkan suatu kebijakan,” tambahnya.

Oleh karena itu menurutnya bisa disimpulkan bahwa  telah terjadi distorsi dalam proses demokratisasi di negara kita. Demokratisasi yang telah terkungkung oleh proses kartelisasi dengan partai sebagai aktor utamanya. “Kartelisasi yang pada akhirnya akan menghasilkan periode dimana partai lebih mengurus kepentingannya sendiri,” ujar Yunarto mengutip Katz dan
Mair.

Alih-alih ingin membangun  suatu stabilitas, dominasi politik kartel menurutnya malah bisa menjadi bibit terjadinya instabilitas permanen. Instabilitas yang disebabkan oleh konflik di tingkat para elite, ataupun konflik yang diakibatkan oleh krisis kepercayaan di level masyarakat. “Di tingkat elite, konflik akan terjadi diantara parpol pendukung koalisi untuk merebut posisi dominan dalam setgab.

Pilihan terhadap seorang ketua umum golkar akan terus menjadi sorotan bagi partai lainnya.  Hal ini bisa berimplikasi pada terbentuknya ‘faksionalisme’ dalam tubuh setgab sendiri,” jelasnya.

Belum lagi menurut Yunarto intervensi dari parpol terhadap unsur pemerintah yang berasal dari kaum profesional. Presiden bukan hanya harus berhadapan dengan parpol dalam konteks hubungan eksekutif-legislatif, akan tetapi juga didalam internal pemerintahannya.

“Disisi lain, dominasi parpol dalam pemerintahan berarti menegasikan peran masyarakat sebagai pemegang kontrak sosial dalam pemilu langsung. Pada akhirnya, akan terbentuk apatisme publik secara menyeluruh baik kepada lembaga eksekutif dan legislatif secara bersamaan,” tandasnya. (wan)

Banner space (468×60)

28
Feb
11

Purbakala : Piramida Raksasa di Jawa Barat ?

Senin, 28 Februari 2011 | 13:18 WIB
Nasional
Betulkah Ada Piramida Raksasa di Jawa Barat
Sejumlah ahli geologi dan ahli sejarah ikut dalam peburuan Piramida raksasa itu.
Senin, 28 Februari 2011, 10:07 WIB

Wenseslaus Manggut

VIVAnews – Mentari nyaris berada di atas ubun-ubun, saat empat mobil menepi di pinggiran Jalan Raya Soreang-Cipatik, medio Februari 2011. Siang itu, Kampung Badaraksa yang terletak di lereng bukit, kedatangan tamu.

Rombongan itu menyusuri  jalan kecil mendaki di tengah pemukiman penduduk, hendak menuju ke atas puncak Gunung Lalakon, yang terletak di Desa Jelegong, Kecamatan Kotawaringin, Kabupaten Bandung.

Dari Kampung Badaraksa yang berada di ketinggian sekitar 720 m di atas permukaan laut, mereka bergegas naik memutari bukit dari bagian selatan ke barat.

Sambil membawa berbagai peralatan dan beberapa gulungan besar kabel, rombongan membelah hutan gunung. Derap langkah kaki mereka seolah berkejaran dengan ritme suara jengkerik, dan tonggeret di kanan-kiri.

Tim yang terdiri dari sekelompok pemuda dan para peneliti itu, akhirnya sampai di puncak setinggi 988 meter dari permukaan laut.

Kabel direntang. Tim mulai memasang alat geolistrik yang mereka bawa. Sebanyak 56 sensor yang dipasangi altimeter (alat pengukur ketinggian) diuntai dari puncak bukit ke bawah lereng, masing-masing berjarak lima meter, dicatu oleh dua aki listrik.

Alat-alat itu berfungsi mendeteksi tingkat resistivitas batuan, dan bisa digunakan menganalisa struktur kepadatan batuan hingga ratusan meter ke bawah.  “Tujuan kami saat itu mengetahui apakah ada bangunan tersembunyi di dalam gunung,” kata Agung Bimo Sutedjo, kepada VIVAnews, di Jakarta, Selasa, 15 Februari 2011.

Liputan Sorot Soal Piramida Itu Baca di Sini


• VIVAnews

Senin, 28 Februari 2011 | 13:24 WIB
Nasional
SOROT 124
Menjelajah Jejak Piramida Raksasa
Sejumlah tempat di nusantara diduga menyimpan piramida dari masa silam. Di mana saja?
Senin, 28 Februari 2011, 12:40 WIB

Nezar Patria

VIVAnews–Sekelompok orang peminat arkeologi dan sejarah memburu peradaban masa silam di nusantara. Turangga Seta, demikian nama kelompok itu, menyatakan ada ratusan gunung piramida di Indonesia.

“Tingginya tak kalah dari piramida Giza di Mesir yang cuma 140-an meter,” kata Agung Bimo Suredjo, salah seorang pegiat Turangga Seta. Mereka melakukan penjelajahan ke sejumlah bukit dan gunung, termasuk Gunung Lalakon di Kotawaringin, Bandung.

Pernyataan mereka ini mengernyitkan dahi banyak kalangan. Tapi, Turangga Seta tak mau asal bicara. Mereka bahkan mengajak sejumlah geolog ternama untuk menguak secara ilmiah isi bukit yang mirip piramida itu.

Lalu, benarkah gunung dan bukit kita menyimpan piramida yang mirip dengan temuan di Mesir dan suku Maya? Simak hasil uji geolistrik atas bukit piramida itu di SOROT 124, Infografik: Menjelajahi Jejak Piramida.

Baca juga cerita lengkap ihwal piramida itu di SOROT 124:

Berburu Piramida Nusantara

Nusantara Memendam Atlantis?

• VIVAnews

Gunung mirip piramida

28
Feb
11

Infrastruktur : Transportasi Jakarta, Perumahan dan Ekonomi Kemiskinan

Senin, 28/02/2011 08:21 WIB
Mengurai Macet Jakarta
Harun al-Rasyid Lubis – detikNews

 

Jakarta – Kemacetan seyogianya pertanda bahwa ekonomi kota berdenyut. Namun bila kemacetan tidak terkendali seperti di Jakarta, perjalanan identik menjadi pemborosan (economic lost). Waktu tempuh tak bisa diprediksi, kesempatan usaha dan produktivitas berkurang.

Fragmentasi perencanaan ruang kota dan transportasi, serta kesulitan berkordinasi sesama kelembagaan publik, sebut saja antara Pemerintah Pusat dengan Pemda DKI Jakarta, antara pemerintahan provinsi dengan pemerintahan kabupaten/kota di wilayah Bodetabek menjadi penghalang utama pembangunan kota yg berkelanjutan. Akhirnya pengembangan ruang kota lebih dominan dipimpin dan dinikmati oleh sektor swasta (private-led), ketimbang publik yang hanya terbebani pengadaan dan pemeliharaan infrastruktur dasar.

Koordinasi atau kerjasama antar Pemerintah Pusat, Pemda DKI, dan Bodetabek, termasuk keterlibatan entitas swasta ( BUMN & BUMD) saat ini menjadi keharusan. Persoalannya adalah bentuk kerjasama dan lembaga yang bagaimana yang paling realistis dan efektif untuk kasus seperti DKI Jakarta & Bodetabek, inilah yang menjadi persoalan. Sebagai langkah awal paling mungkin dimulai dari pembentukan Badan Otorita Angkutan Umum, kemudian menjelma dalam jangka menengah menjadi Badan Otorita Transportasi Jabodetabek.

Persoalan MRT Jakarta

Kemacetan di Jakarta sudah sangat kompleks. Yang terpenting adalah penyadaran dan keberpihakan seluruh pihak terhadap pengembangan angkutan massal. MRT tidak bisa stand alone mengatasi masalah kemacetan di Jakarta. MRT harus integrated dengan moda lain dan menjangkau seluruh wilayah.

Pembangunan beberapa jalan layang non tol arteri serta recana jalan lingkar tol dalam, sudah pasti menambah kergantungan akan penggunaan mobil, dan counter productive dengan kampanye dan upaya menambah kapasitas transportasi massal selama ini.

Perencanaan MRT sudah dimulai sejak 30 tahun lalu, dalam puncak perdebatan pasca krisis moneter ketika itu, pernah mengemuka pendapat seorang ekonom “langkahi mayat saya dulu, baru pendanaan MRT bisa ngocor” Masa-masa sepert itu telah berlalu. Kita patut bersyukur, walaupun ritme tahapan MRT sungguh lambat sekarang persiapan tender pembangunan MRT tahap-1 segera dimulai. Saya sendiri nanti insya Allah akan memilih calon Presiden 2014 yang dapat dengan cepat dan serempak menghidupkan mesin bor terowongan MRT dari segala penjuru mata angin! Kalau tidak, “it is just too late to be fruitful”.

Persoalannya sekarang adalah bagaimana strategi bernegosiasi agar dalam tahapan lanjut pembangunan MRT, porsi ketergantungan terhadap sumber daya asing menjadi minimum, walaupun ketergantungan loan mungkin tidak terhindarkan. Atau sebaliknya bagaimana membuat agar porsi lokal meningkat secara berarti. Siapa yang menyiapkan
dan memikirkan strategi ini?

Busway/ BRT

Demam bus rapid transit (BRT) dimulai dari beberapa kota di Amerika Latin. Jakarta meniru teknologinya tidak utuh, bukan karena apa-apa, cuma persoalan semangat dan setting sosialnya berlainan. Rakyat dan pejabat di sana sudah muak dengan kemesraan pembangunan jalan (tol) dan penggunaan mobil.

Ibarat demam menggigil (kemacetan), mungkin obat paracetamol (busway) tidak mempan. Tapi itu pun sudah sedikit melegakan, daripada tanpa obat sama sekali. Perlu ketegasan Gubernur DKI tentang skala prioritas pengembangan pelayanan bus Transjakarta, serta komitmen pedanaan subsidi yang ajeg untuk keberlanjutannya, bukan serba tanggung.

Pada waktunya nanti dan jangan terlalu molor, lembagaan MRT (BUMD) dilebur ke dalam BLU Transjakarta, atau sebaliknya. Bila moda bis Transjakarta tidak efisien karena batasan teknologi dan pasokan gas, tram listrik lebih menjanjikan sebagai feeder MRT dalam jangka panjang.

Outside the Box: Jalan Tol Berbayar

Persoalan yang paling mendasar sekarang adalah bagaimana memadukan pelayanan antarmoda transportasi, jalan (tol), kereta api, busway, bus, mikrolet, keterpaduan tiket dapat terwujud di kawasan Jabodetabek.

Persoalan terbesar yang harus diselesaikan terlebih dulu adalah keterpaduan kelembagaan. Yakni bagaimana membenahi organisasi hubungan pemerintah pusat dengan pemda, juga dengan BUMN/BUMD, re-distribusi power antar jurisdiksi Pemda, serta sharing skills dan pendanaan pembangunan infrastruktur transportasi.

Perlu inovasi kebijakan dan pengaturan agar jalan tol berbayar dapat lebih dulu diberlakukan ketimbang rencana jalan berbayar. Konsensusnya semua pendapatan digunakan untuk pemberdayaan dan subsidi khusus angkutan umum.

Jabodetabek butuh protap perencanan transportasi kota metropolitan yang dilengkapi kolaborasi institusi publik, swasta dan peran serta masyarakat, melalui Forum Lalu Lintas dan Angkutan Jalan. Namun bagaimanapun idealnya proses perencanaan, kalau pemerintahan lemah dan gagal mengendalikan kesemrawutan ruang kota, jangan harap akan ada perbaikan yang berarti.

Jadi yang terpenting sekarang fokus saja membangun protap perencanana dan pengembangan kapasitas lembaga, sembari berusaha memecahkan masalah (quick wins) jangka pendek. Saat ini mendahulukan kehadiran Otorita Angkutan Umum Jabodetabek sangat dibutuhkan, karena perang kecil lebih mudah dimenangkan daripada perang besar.

Membentuk dan mengefektifkan otoritas angkutan umum dahulu lebih mudah daripada mengaktifkan BKSP (Badan Kerja Sama Pembangunan) Jabodetabek yang sudah ada. Terobosan-terobosan outside the box seperti inilah yang dibutuhkan saat ini, tanpa perlu menunggu Pilpres 2014. Dan semua ini kebanyakan lebih bermuara kepada kebijakan pengaturan fiskal di bawah komando Kemenkeu, bukan Kemenhub, dan bukan Gubernur DKI.

*) Harun al-Rasyid Lubis, Associate Professor, Transportation Research Group, ITB.

Jumat, 25/02/2011 09:04 WIB
Rumah dengan Dimensi Komunitas
Tantan Hermansah – detikNews

 

Jakarta – Pernahkah Anda ‘nyasar’ ke tempat di mana para buruh, pekerja kasar, pekerja musiman, pengusaha sektor informal, istirahat. Jika belum pernah, akan saya coba gambarkan sedikit. Mereka tinggal di ruang-ruang sederhana, banyak beberapa sangat kurang layak, bersama-sama, dengan satu rasa: merayakan kelelahan setelah seharian hidup mencari nafkah buat keluarganya.

Apa yang mengikat mereka sehingga rela berdesak-desakan, kepanasan, kamar mandi yang mengantri, dan sejumlah kekurangan lainnya? Ya, karena mereka memiliki harapan, serta mereka hanya menjadikan ruang tempat mereka tinggal itu, melepas penat.

Lalu, berapa banyak di antara kita yang juga memperlakukan rumah seperti itu. Para pekerja yang terikat dengan ketatnya waktu, menjadikan rumah hanya dua fungsi. Hotel dan Vila. Disebut hotel karena umumnya mereka meninggalkan ruangan itu masih pagi. Bahkan mungkin ketika anak-anaknya masih asyik dalam mimpi. Dan datang kembali ketika keluarganya sudah lelap.

Jika demikian, kapan mereka membangu hubungan layaknya keluarga? Hanya satu waktu: hari libur. Jadi rumah mereka hanya menjadi vila yang diisi secara aritifisial pada hari libur.

Kita melihat itu merupakan gejala perkotaan yang ritme dan dinamikanya berbeda dengan kultur pedesaan. Sehingga wajar jika kemudian, unsur-unsur yang melekatkan antar individu tersebut bukan lagi rasa berkomunitas, tapi hanya kepentingan. Coba lihat, ketika mereka mau bertamu saja ke tetangganya, harus janjian dulu. Tidak bisa lagi maen terobos seperti halnya di desa-desa.

Gambaran di atas ada dua model kehidupan yang sesungguhnya fakta komunitasnya sama. Kita sudah mulai banyak kehilangan daya kohesivitas sosial dalam bentuk ruang-ruang komunitas itu. Sehingga, akibat dari fenomena seperti itu, kita dihadapkan pada model individualisme estrim dan sangat transaksional.

Lalu mengapa para buruh masih bisa membangun kebersamaan pada rumah-rumah sempit dan sesak itu? Karena daya rekatnya masih ada. Jadi dibanding warga kota yang mapan dan sibuk itu, para buruh relative tidak kehilangan ikatan berkomunitasnya meskipun direkat oleh hal-hal pragmatis seperti pekerjaan atau asal daerah.

Tulisan ini ingin menawarkan gagasan lama yang sudah pudar itu. Rumah yang berkarakter komunitas bagi warga kecil. Hal ini didasarkan kepada kesalahan paradigmatic dari pemerintah tatkala mengadakan pembangunan perumahan. Mari kita telisik beberapa kesalahan tersebut.

Pertama, banyak perumahan bagi rakyat kurang mampu akhirnya tetap dinikmati orang kaya. Hal ini terjadi karena meskipun disubsidi, harga jual rumah tetap tinggi. Sehingga yang memiliki duit dan jaminan ini itu yang bisa mendapatkannya.

Kedua, konsep rumahnya sendiri memang mengakibatkan harganya tetap tinggi. Rumah dengan perhitungan setiap orang harus memiliki 8 meter persegi menyebabkan luasan rumah bagi kalangan tidak mampu pun, disamakan. Padahal praktiknya, ruangan tidak efektif dipergunakan 24 jam.

Ketiga, banyak rumah berdiri di tanah pemda, didirikan oleh pemerintah pusat hanya mengejar target berdiri. Setelah itu mekanisme pembangunan ‘dalam’ nya tidak digarap. Pindah rumah bukan semata pindah fisik, tetapi juga pindah kebudayaan, sosial, ekonomi, dan sebagainya, Akibatnya, banyak yang terbengkalai padahal sudah ada pemiliknya.

Untuk itu, pendekatan baru dalam konsep RUMAH harus dibangun. Misalnya prinsip rumah komunitas yang sesungguhnya sudah banyak dilakukan oleh warga negeri ini. Di Padang Sumatera Barat misalnya, kita misalnya mengenal rumah gadang. Sebuah rumah besar yang bisa dihuni oleh beberapa keluarga batih. Di negara maju seperti Jepang, konsep rumah bersama tetap dipertahankan meski tidak oleh seluruh keluarga Jepang.

Rumah Bersama atau Rumah Komunitas

Rumah bersama atau rumah komunitas adalah sebuah rumah besar yang didalamnya bisa jadi dihuni oleh beberapa keluarga, misalnya 10 keluarga. Tiap keluarga dibolehkan memiliki kamar yang sifatnya privasi. Sedangkan sisanya seperti ruang tengah, ruang tamu, atau ruang dapur, adalah ruang bersama. Bagi para buruh, atau keluarga para buruh seperti yang disinggung di atas, semestinya tidak mendapat kesulitan jika mereka disatukan dalam sebuah rumah besar itu. Sebab itu tetap jauh lebih baik dibandingkan di bedeng-bedeng yang tak layak.

Agar menghemat tanah, tentu bangunannya dibuat vertikal. Tapi jangan terlalu tinggi. Misalnya maksimal 4 atau 5 lantai. Satu lantai, satu komunitas. Ke depan, jika kelembagaan sosialnya terbentuk, mungkin satu gedung itu, bisa jadi satu RT.

Agar keberlangsungkan komunitasnya bisa terbangun, maka pemerintah perlu melakukan pendampingan. Para pendamping ini misalnya bisa diambil dari fresh graduate universitas, yang ditugaskan dalam masa waktu yang cukup panjang. Tiap pendamping bisa mendampingi lebih dari 1 rumah.

Pada pendamping ini yang kemudian menjadi fasilitator jika ada masalah, atau mengelola potensi produktif dari komunitas itu agar berimplikasi positif. Misalnya mengajarkan kerajinan tangan kepada mereka yang tidak bekerja ke luar rumah sehingga bisa menambah penghasilan.

Siapa saja yang tinggal di situ? Dan di mana akan dibangun?

Pertama, yang akan tinggal di rumah itu, adalah mereka yang tanahnya selama ini mereka pergunakan untuk membangun rumah-rumah tak layak itu. Pemerintah tinggal mendata, siapa saja yang nantinya bisa tinggal. Sesuai aturan, misalnya, mereka yang tinggal di situ tapi di bawah 5 tahun, harus mencari lokasi baru (itu berlaku jika tanah negara). Atau jika pemiliknya ada mereka tinggal dikonvensasi ketika rumahnya ditempati.

Kedua, harus dilihat juga proyeksi ke depannya. Sebagaimana para buruh yang tengah bermimpi dalam kepenatan mereka itu, pasti mereka tidak akan selamanya tinggal di situ. Begitu juga di rumah komunitas ini. Mereka harus diingatkan agar punya cita-cita memiliki rumah sendiri yang jauh lebih pantas dan layak bagi keluarga mereka tinggal.

Pendekatan di atas hanya awal dari sesuatu yang lebih besar, yakni menata kembali sistem komunitas kita yang semakin hari meluruh karena persoalan sehari-hari. Jika ini terbangun “tentu membutuhkan waktu yang tidak sebentar” maka Indonesia yang memiliki ‘imagine community’ itu, bisa hidup kembali dan menguat. Komunitas adalah akar dari bangsa ini. Jika komunitas kita terus diperkuat, maka tidak mustahil kita siap menjadi bangsa yang kuat.

*) Tantan Hermansah adalah mahasiswa Program Doktor Sosiologi.

(vit/vit)

Kamis, 24/02/2011 11:17 WIB
Pertumbuhan Ekonomi dan Kemiskinan di Indonesia
Said Zainal Abidin – detikNews

Jakarta – Pada akhir tahun tujuh puluhan orang mengenal istilah stagflation (stagnation and  inflation), di mana inflasi terjadi berbarengan dengan stagnasi. Dewasa ini Indonesia menghadapi dua kondisi yang terjadi secara simultan yang sifatnya antagonistis, yakni pertumbuhan ekonomi berlangsung serentak dan kemiskinan.

Dari satu segi, kondisi makro ekonomi berada dalam keadaan yang cukup meyakinkan. Tingkat inflasi relatif cukup terkendali pada tingkat satu digit, import-eksport berjalan cukup baik, tingkat bunga lumayan rendah dan cadangan devisa cukup tinggi untuk dapat menjamin import dalam waktu sedang, investasi cukup tinggi (angka-angkanya boleh dilihat sendiri dalam Laporan BPS, Laporan Bank Indonesia dan Nota Keuangan).

Tetapi dari segi mikro, pengangguran dan kemiskinan makin meningkat. Urbanisasi meningkat terutama dari kelompok miskin dan pengemis. Tidak hanya di Jakarta, tetapi juga disemua kota-kota besar seluruh Indonesia. Semua ini menandakan adanya kemiskinan dan sempitnya kesempatan kerja di pedesaan.

Dibandingkan dengan banyak negara lain, pertumbuhan ekonomi Indonesia tidak rendah. Bahkan ketika krisis keuangan global yang menimpa hampir semua negara, sebagai akibat dari krisis kredit perumahan (prime morgate loans) di Amerika, yang bermula pada tahun 2006 sampai tahun 2009, ekonomi Indonesia tidak mengalami goncangan yang berarti.

Kemampuan untuk meredam akibat dari keuangan ini dapat terjadi berkat kebijakan makro ekonomi yang hati-hati dan tepat, di samping kondisi keterbukaan yang memangnya tidak sebesar negara-negara tetangga seperti Singapore dan Malaysia.
Kemampuan Indonesia bertahan terhadap krisis keuangan tersebut menimbulkan keyakinan rakyat pada kemampuan pemerintah SBY Periode I, sehingga dapat memenangkan Pemilihan Umum untuk Priode II. Sayangnya keberhasilan dalam bidang ekonomi pada tataran makro ini tidak mampu menekan tingkat kemiskinan yang sejak lama sudah berlangsung.

Selama masa yang panjang, sejak beberapa dekade yang lalu, di Indonesia berlangsung proses pemiskinan desa secara berkelanjutan. Dalam Era Orde Baru dikenal kebijaksanaan peningkatan ekspor non-migas. Sub-sektor industri non migas ini menjadi prioritas utama. Berbagai fasilitas diberikan kepadanya, termasuk hak untuk membayar upah buruh rendah.

Upah buruh murah ini memang telah menjadi trade mark Indonesia dalam promosi penarikan modal asing. Asumsi yang dipakai, bahwa dengan upah buruh yang murah, maka harga pokok barang-barang yang diproduksi akan murah. Dengan demikian, produk eksport Indonesia mempunyai daya saing yang tinggi. Padahal, meskipun harga pokok mempunyai korelasi dengan daya saing, karena barang dapat dijual dengan harga murah, tetapi daya saing suatu barang tidak sekadar ditentukan oleh harga (pokok), tetapi juga oleh kualitas barang, teknik marketing , politik/ diplomasi dan lain-lain.

Agar buruh (termasuk PNS) dapat hidup, maka harga bahan makanan harus dapat dipertahankan rendah. Inilah yang menjadi tugas pokok Bulog sejak waktu itu. Jika harga bahan makanan dalam negeri naik, Bulog segera harus mengimpor dari luar negeri. Rendahnya harga bahan makanan yang note bene hasil produksi petani, mengakibatkan terjadinya proses pemiskinan petani di daerah pedesaan secara berkelanjutan.

Perbedaan dua kondisi yang yang berlangsung secara terus menerus tersebut selama masa yang panjang telah mengakibatkan semakin melebarnya ketimpangan ekonomi antar penduduk di Indonesia. Hal yang perlu diindahkan adalah, jika ketimpangan pendapatan antar penduduk sudah sangat lebar, akan terdapat kecenderungan mengaburnya pertumbuhan ekonomi sebagai ukuran dari pembangunan. Artinya, setiap kita melihat adanya pertumbuhan ekonomi yang ditunjukkan oleh peningkatan pendapatan per kapita, sulit dirasakan, pada saat yang sama boleh jadi sedang berlangsung proses pemiskinan.

Sebagai contoh dari keadaan ini dapat ditunjukkan dengan angka-angka sederhana  sebagai berikut:

Jika misalnya, suatu negara berpenduduk 100 juta orang, terdapat 5% penduduk dengan pendapatan rata-rata US$ 300.000 per tahun, sementara 95% lainnya berpendapatan US $ 3000 per tahun (setingkat pendapatan rata-rata Indonesia sekarang). Andaikan, jika golongan penduduk kaya yang 5% itu naik pendapatannya 10% per tahun, sementara golongan menengah ke bawah yang 95% itu mengalami penurunan pendapatan per tahun sebesar 20%, akan terjadi kenaikan pendapatan rata-rata sebesar 5,21%. Hal ini dapat ditunjukan dengan perhitungan sederhana seperti berikut.

1. Total pendaptan semula adalah:
a. 5 Juta X US$ 300.000 = US$ 1.500.000
b. 95 Juta X US$ 3.000 = US$ 285.000
Total pendaptan US$ 1.785.000

2. Kalau kemudian terjadi kenaikan pendapatan 10% dari golongan kaya (5%), dan   pendaptan golongan miskin turun 20%, maka akan terlihat:

a. Total pendapatan penduduk kaya yang 5% menjadi = US$ 1.500.000 + US$ 150.000 = US$ 1.650.000
b. Total pendapatan penduduk menengah dan miskin yang 95% adalah = US$ 285.000 – US$ 57.000 = US$ 228.000.

3. Total pendapatan nasional baru adalah = US$ 1.650.000 + US$ 228.000 = US$ 1.878.000. Ini berarti telah terjadi pertumbuhan ekonomi sebesar =

US$ 1878.000 – US$ 1.785.000 =  US$ 93.000 atau sama dengan (93.000 / 1.785.00)   x 100% = 5,21%.

Dengan demikian dapat dipahami mengapa meskipun kita mengalami kenaikan pendapatan per kapita setiap tahun sekitar 5 – 6%, kemiskinan dalam masyarakat makin bertambah. Inilah barangkali yang dapat disebutkan sebagai growth with poverty atau bisa kita singkat sebagai groverty, atau dalam bahasa Indonesia dapat disebut sebagai pertumbuhan dengan kemiskinan atau disingkat sebagai pertumkin. Meskipun contoh tersebut memang dikemukakan secara agak menyolok, tetapi bagaimanapun, inilah yang sedang terjadi di Indonesia dewasa ini.

Akibat dari keadaan ini tidak mengherankan, kalau di satu pihak ada yang mengklaim bahwa proses pembangunan nasional berjalan mulus, ditandai dengan kenaikan pendapatan per kapita tiap tahun. Di lain pihak ada yang menuduh, pembangunan ekonomi gagal karena tidak dapat menghilangkan kemiskinan.

Singkatnya, yang menjadi masalah adalah melebarnya ketimpangan ekonomi antar penduduk dalam masyarakat, yang tidak sepenuhnya dapat ditunjukkan hanya dengan  menggunakan indeks gini ratio. Untuk mengatasinya, diperlukan adanya pengamatan yang lebih seksama di lapangan dan kebijakan yang bersifat affirmatif memihak kepada golongan miskin, terutama kepada mereka yang ada di pedesaan.

*) Said Zainal Abidin adalah ahli majanemen pembangunan daerah (regional development management) dan kebijakan publik, guru besar STIA LAN. Sekarang sebagai penasihat KPK.

(vit/vit)




Blog Stats

  • 3,374,624 hits

Recent Comments

Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Sejarah : Bangsa Lemuria, Lelu…