https://jakarta45.files.wordpress.com/2012/01/logo.jpg

Gerakan Anti Korupsi 9/12 Cocok sama arti Surat Attaubah 9 Ayat 12

Hari ini Hari Anti Korupsi se-dunia ternyata cocok dengan QS: At-Taubah (9):12Jika mereka merusak sumpah (janji)nya sesudah mereka berjanji, dan mereka mencerca agamamu, maka perangilah pemimpin-pemimpin orang-orang kafir itu, karena sesungguhnya mereka itu adalah orang-orang (yang tidak dapat dipegang) janjinya, agar supaya mereka berhenti.
QS. at-Taubah (9) : 12klo selama ini agan menggembargemborkan anti korupsi, maka didalam Qur’an ada gerakan anti korupsimohon maaf klojangan di klo bisa kasih maaf agan2 ini posting pertama ane di

Al-Qur’an Sebagai Inspirasi Gerakan Anti-Korupsi

Posted in | 2:33 PM

Oleh Muhammad Subhan Setowara *

INDONESIA kini berhadapan dengan sebuah masalah paling krusial dalam kasus korupsi. Ia tidak saja menjadi kendala struktural, namun lebih dari itu. Karena masalah struktural tadi, korupsi telah membudaya (nation culture), menjadi bagian yang tak terpisahkan dari realitas birokrasi kita.

Gerakan pemberantasan memang telah banyak dilakukan. Bahkan beragam metode dan model gerakan telah digalakkan. Mulai dari gerakan moral-kultural, politis-struktural, maupun pembaharuan substansi perundang-undangan. Tapi korupsi tak urung usai, ia senantiasa menyelinap dalam setiap sendi kehidupan kita: ekonomi, politik, sosial, budaya, bahkan agama.

Tentu saja, sebagai bentuk kepedulian moral, agama harus tetap diikutkan untuk masalah yang satu ini. Karena, kita masih berkeyakinan bahwa saat ini, kualitas moral politisi sesungguhnya punya pengaruh yang sangat signifikan dalam membuka pintu-pintu terjadinya praktik korupsi. Pada level inilah, agama perlu menjadi moral guardian (benteng moral) untuk mengawal aktivitas politik penganutnya agar tidak terjebak pada pengingkatan amanah.

Pada sisi yang berbeda, realitas kaum pinggiran yang kini semakin memprihatinkan dalam kehidupan bangsa kita, juga merupakan tanggung tanggung jawab agama. Sungguh argumen reflektif Hassan Hanafi perlu kita hadirkan di sini. Bagi Hanafi, walaupun Islam meneguhkan adanya konsep ummah wahidah dalam Islam, namun secara empiris kaum muslimin terbagi dalam dua kelompok, yakni umat yang kaya dan umat yang miskin. Jika semakin hari semakin lebar jarak itu, maka di sinilah, agama telah kehilangan vitalitasnya sebagai agen kemanusiaan (humanity agency).

Sangat tegas. Banyak ayat dalam al-Quran yang memberi argumen bahwa dalam setiap harta yang dimiliki manusia, senantiasa ada hak yang tersurat. Dan hak itu, jelas bukan miliknya (Qs. Al-Maarij, 70: 24-25). Dengan ungkapan yang berbeda, Allah ingin memberi ketegasan, bahwa sesungguhnya seorang manusia harus menafkah atas harta yang dikuasai (Qs. Al-Hadid, 57: 7). Lalu, jika korupsi dilakukan, bukankah itu merupakan pengingkaran akbar atas amanah kebendaan yang tengah dititipkan pada manusia. Hanya saja, ini sekadar menjadi kesadaran kultural, tidak punya daya paksa struktural, sehingga sang koruptor menjadi tak bergeming.

Begitulah, sesungguhnya memang sudah saatnya al-Quran tidak lagi diletakkan sebagai kesadaran normatif yang hanya bergerak pada wilayah kultural. Ia juga harus mampu menyelinap dalam perbaikan pada ruang-ruang struktural. Dan itu artinya, al-Quran juga sesungguhnya bisa menjadi landasan teoritik yang bisa dipakai untuk melakukan pembebasan kemanusiaan, bahkan untuk masalah seperti korupsi.

Perspektif Qurani

Al-Quran mempunyai kekuatan untuk membentuk budaya masyarakat. Untuk konteks Indonesia, sesungguhnya kebanyakan masyarakat kita, khususnya kaum pinggiran meletakkan agama sebagai kekuatan spiritual. Al-Quran memiliki impetus emosional yang dapat menggerakkan umat Islam untuk bersikap sesuai dengan ajaran yang dikandungnya. Hanya saja, yang patut disayangkan, doktrin-doktrin normatif yang tertuang dalam al-Quran itu, bagi kebanyakan umatnya tidak mempunyai dimensi sosial dan intelektual yang kuat dalam membendung realitas kemungkaran yang terjadi.

Asumsi ini jelas perlu diperbaharui. Islam bukanlah teologi eskapistik yang mengamini umatnya untuk larut dalam buaian spiritual, sehingga lupa akan tanggung jawab sosialnya. Jika ditelaah lebih jauh, al-Quran mempunyai perangkat teoritis yang bisa dipakai untuk membentuk ragam manifes ketidakadilan sosial.

Terkait korupsi, bagi saya al-Quran tidak saja mampu membentuk kesadaran moral manusia untuk tidak rakus memakan harta rakyat. Al-Quran juga punya perangkat teoritis untuk memberantas korupsi. Dalam banyak ayat, seringkali terdapat penegasan akan tesis Lord Acton bahwa kekuasaan itu cenderung korup (power tends to corrupt). Dan al-Quran, tidak saja menghadirkan penegasan itu, ia juga sekaligus melarang umat Islam untuk memilih kaum penindas jadi penguasa (Qs. An-Naml: 34, Al-Kahfi: 71, Saba: 34-35, Al-Zuhruf: 23, Al-Isra: 16, Hud: 27). Namun jika mereka terlanjur berkuasa, maka perlu dilakukan oposisi melawan hegemoni kaum penindas itu (Qs. Al-Hujurat: 9).

Di sinilah, dalam Al-Quran juga sempat disinggung bahwa kaum tertindas perlu menjadi pemimpin di bumi ini (Al-Shaff: 5, Al-Anfal: 137). Jika dipahami secara kontekstual, dapat dimengerti bahwa sifat-sifat seorang pemimpin seharusnya bukan sosok yang korup, namun profil populis yang dekat dengan rakyat, dan mencintai mereka.

Gerakan oposisi terhadap penguasa yang korup bahkan diyakini sebagai jihad fi sabilillah (Al-Nisa: 75) yang juga merupakan agenda para rasul (Al-Anfal: 157). Di sinilah praksis pembelaan terhadap kaum lemah perlu dilakukan. Dengan demikian, boleh dibilang bahwa ruang ketakwaan tidak saja dilihat melalui ibadah ritual serta kepuasan spiritual yang telah diraih, namun lebih dari itu, yang terpenting adalah bagaimana seseorang dapat bermanfaat bagi orang lain. Maka membela kaum lemah juga merupakan bagian dari karakter insan takwa (Qs. Al-Baqarah: 197, Ali Imran: 134, Al-Insan: 8-9, Al-Maarij: 24, Al-Dzariyat: 19). Bahkan sangat mungkin, iman pada level inilah yang justru lebih penting.

Korupsi sebagai bagian dari monopoli dan konsentrasi kekuasaan juga disinggung oleh al-Quran, seraya mengutuknya (Qs. Al-Hasyr: 7). Pada sisi inilah, secara radikal kemudian al-Quran “begitu berani” mengklaim orang yang (mushally) sebagai pendusta agama jika ia tidak memiliki keperpihakan pada anak yatim (Qs. Al-Maun: 1-7). Dan tudingan celaka, bagi umat Islam yang mengumpulkan harta dan menghitung-hitungnya tanpa ada kesadaran nurani (inner conscious) untuk mewujudkan kesejahteraan sosial (social welfare) (Qs. Al-Humazah: 1-9).

Korupsi, juga merupakan bentuk paling nyata dalam membentuk prahara sosial. Dalam surat Al-Fajr: 15-20, pernah disebutkan bahwa masalah sosial yang terjadi disebabkan oleh empat hal: yakni 1) sikap ahumanis: yakni tidak memuliakan anak yatim, 2) sikap asosial: tidak memberi makan orang miskin, 3) sikap monopilistik: memakan warisan (kekayaan) alam dengan rakus, 4) sikap hedonis: mencintai harta benda secara berlebihan. Dilihat dari empat kategori itu, korupsi masuk dalam setiap sendi itu.

Korupsi benar-benar telah membunuh rasa kemanusiaan kita. Tentu saja amat menyedihkan, jika seorang politisi beragama Islam menggunakan jabatannya untuk melakukan korupsi. Jika itu terjadi, berarti dia telah meletakkan al-Qur’an hanya sebagai hiasan kata-kata. Dari sinilah, keberimanan masyarakat oleh al-Quran perlu dipandu untuk menghidupkan kembali rasa kemanusiaan kita, melalui pembaharuan struktural, dan tidak hanya dorongan moral. Al-Qur’an harus menjadi inspirasi dan pelopor untuk melakukan gerakan pembebasan, termasuk dalam memberantas korupsi

* Penulis adalah mahasiswa Fakultas Agama Islam UMM dan mantan aktivis Lembaga Dakwah Kampus Jamaah AR Fachruddin (LDK-JF).

https://jakarta45.files.wordpress.com/2012/01/logo-gasaknas.jpg

QS Jihad Anti Korupsi

Submitted by keeper on Tue, 2011-08-16 10:15
Alquran dan Jihad Antikorupsi

Umat Islam tidak boleh hanya berpangku tangan melihat korupsi yang makin menggurita dan terus meningkat di negeri ini

ALQURAN adalah simbol transformasi umat Islam. Ia menggerakkan perubahan radikal secara individu dan sosial. Menurut Fazlur Rahman (1979), Alquran sarat pesan moral, keadilan sosial, dan ekonomi. Perintah membaca yang kali pertama datang adalah bukti nyata revolusi intelektual Alquran yang dikumandangkan secara terbuka. Menurut Quraish Shihab (2007), membaca merupakan jalan yang mengantar manusia mencapai derajat kemanusiaan yang sempurna. Dilanjutkan dengan revolusi sosial dan spiritual dengan perintah berjuang menumpas kemungkaran dan mengagungkan Tuhan (QS Al-Muddatstsir 74:1-5).

Melihat implikasi ini maka wajar kalau keberadaan Islam ditentang oleh kaum borjuis yang selama ini menindas kalangan lemah tertindas. Menurut Asghar Ali Engineer (1993), kalimat Laa ilaaha illallah muhammadun rasulullah (Tiada tuhan selain Allah, Muhammad utusan Allah) adalah simbol revolusi teologis dan sosial.

Alquran tidak turun di ruang hampa, tanpa ada nilai relevansi dan aktualitasnya. Menurut Nurcholish Madjid (2000), Alquran turun untuk merespons, menjawab, dan menuntun manusia dalam kehidupannya. Nuzulul Quran tiap 17 Ramadan diperingati umat Islam adalah momentum strategis untuk membangkitkan elan vital Alquran dalam melakukan transformasi radikal dalam bidang sosial politik yang menjadi sebab hancurnya bangsa tercinta ini, khususnya korupsi.

Korupsi adalah perbuatan zalim yang sangat dilarang dalam Alquran (QS Al-Furqan:25:19). Menurut Ali As-Shobuni (1970), zalim adalah menggunakan hak orang lain secara semena-mena, tanpa aturan atau melewati batas. Menurut Ibn al-Jauzi sebagaimana dikutip As-Shobuni, zalim mengandung dua makna, mengambil hak orang lain secara semena-mena, dan menentang serta mendurhakai Allah secara demonstratif.  Zalim biasanya dialami orang lemah yang tidak mampu menolong dirinya sendiri (Ali As-Shobuni, Min Kunuz as-Sunnah, 1970:51).

Tamak Harta
Korupsi jelas mengambil hak rakyat yang dianggap kalangan atas sebagai masyarakat bodoh dan dungu, karena tidak bisa mengambil haknya secara adil dan tegas. Korupsi juga mencuri uang negara yang seharusnya digunakan untuk menyejahterakan rakyat. Alquran memberikan hukuman tegas kepada pencuri secara individu maupun kolektif dan mereka juga harus mengembalikan uang yang dicuri (Wahbah Zuhaili, 2009:530-538).

Korupsi yang dilakukan penguasa adalah dosa yang sangat besar karena mereka menurut Alquran   mengemban tanggung jawab untuk menegakkan keadilan tanpa diskriminasi demi kesejahteraan rakyat (QS An-Nisa’ 4:58), namun kenyataannya justru menyengsarakan rakyat. Adil adalah menyampaikan bagian kepada yang berhak dengan jalan yang paling dekat (Wahbah Zuhaili, 2009:134). Korupsi lahir dari sifat tamak harta yang dilarang dalam Alquran. Maka benar pesan Mahatma Gandi bahwa dunia ini cukup untuk semua orang kecuali satu orang yang tamak, karena mereka tidak pernah puas terhadap apa yang ada sehingga melakukan segala cara untuk menambah terus-menerus. Alquran mengancam orang-orang yang tiap hari terus menumpuk harta, menghitung, dan menganggap harta bisa membuatnya abadi, dengan melemparnya di neraka Huthamah yang membakar sampai hati (QS Al-Humazah 104:1-7).

Umat Islam sebagai mayoritas harus tampil sebagai aktor pemberantas korupsi dengan aktif menyuarakan amar makruf nahi mungkar tanpa pandang bulu. Korupsi adalah kemungkaran nyata yang harus diberantas. Dalam hadis masyhur disebutkan bahwa jihad paling utama adalah menyampaikan kebenaran kepada penguasa yang lalim. Umat Islam tidak boleh hanya berpangku tangan melihat korupsi yang makin menggurita dan terus meningkat di negeri ini. (10)

Jamal Ma’mur, dosen Sekolah Tinggi Agama Islam Mathali’ul Falah Pati, mahasiswa S-3 Islamic Studies IAIN Walisongo Semarang
Tulisan ini disalin dari Suara Merdeka, 16 Agustus 2011

Jumat, 11 Februari 2011

Spirit Anti-Korupsi dalam Al-Qur’anMeski bukan negara agama, Indonesia adalah negara berpopulasi terbesar kelima di dunia dengan penduduk mayoritas beragama Islam. Lebih kurang 90 persen rakyat Indonesia beragama Islam. Setiap musim haji, calon jemaah haji asal Indonesia menempati jumlah terbesar dari negara-negara lain di mana pun. Belum lama ini, ada data terbaru bahwa penghafal al-Quran Indonesia juga menempati jumlah terbesar di seluruh dunia.

Namun demikian, apakah kuantitas yang demikian besar itu berbanding lurus dengan tingkat etika yang tinggi pula? Jawabannya: tidak selalu. Buktinya, dalam konteks Asia Tenggara, Indonesia justru tercatat sebagai negara dengan tingkat korupsi yang paling tinggi alias nomor wahid. Di Indonesia, korupsi telah sedemikian menggurita, sehingga seakan-akan menjadi budaya. Dari hulu ke hilir, dari atas ke bawah, korupsi tak ubahnya telah menjadi “denyut nadi” bangsa. Ini berarti, dalam konteks Indonesia, kuantitas umat beragama justru sama sekali tidak berbanding dengan kualitas keberagamaan (baca: kedalaman praktik keagamaan). Benar bahwa secara kuantitas negeri ini adalah terbesar dalam hal penduduk Muslim, akan tetapi, buktinya, tingkat korupsinya juga menduduki posisi puncak. Dari data ini, suka atau tidak suka kita harus menerima sebuah kesimpulan umum, bahwa karena penduduk mayoritasnya adalah Muslim, maka di Indonesia para koruptornya sebagian besar adalah Muslim.

***

Ada banyak pengertian tentang korupsi. Tetapi ada satu definisi umum, bahwa korupsi adalah perbuatan memperkaya diri sendiri atau kelompok (berarti ada korupsi berjamaah) dengan cara menyimpangkan harta kekayaan negara. Definisi ini pula yang penulis maksud dalam tulisan ini.

Tiga alasan

Selanjutnya, secara umum ada sejumlah alasan kenapa seseorang melakukan tindakan korupsi (penyimpangan kekayaan negara), antara lain: Pertama, karena faktor ekonomi. Artinya, seseorang melakukan korupsi disebabkan keterdesakan ekonomi yang menghimpitnya. Ia tidak punya uang, padahal ia butuh untuk menutupi keperluannya yang mendesak. Maka ia pun korups. Keterdesakan tersebut bisa terjadi dalam dua kondisi sebagai berikut: 1) Barangkali ia seorang pejabat, karyawan, atau pegawai yang miskin, sehingga ia sering kekurangan untuk mencukupi keperluan hidup sehari-hari yang pokok. Untuk mencukupinya, ia pun korups. Atau, 2) ia sesungguhnya seseorang yang kaya, yang kebutuhan pokoknya sudah terpenuhi, akan tetapi ia perlu lebih banyak uang lagi untuk menutupi kebutuhan-kebutuhan sekunder seperti kendaraan pribadi, rumah mewah, pendidikan tinggi, gaya hidup, dsb yang mungkin dipengaruhi oleh lingkungan sekitarnya yang menuntut demikian. Untuk mencukupinya, ia pun korups.

Kedua, karena faktor budaya. Dalam artian, seseorang melakukan korupsi karena budaya yang hidup dan berkembang di sekelilingnya, di kantor tempat di mana ia bekerja, adalah budaya korupsi. Ia terpengaruh oleh lingkungannya. Di kantornya, hal ihwal penyimpangan uang negara alias korupsi, melalui aneka trik dan tips, sudah menjadi rahasia umum. Dengan kata lain, korupsi telah menjadi sesuatu yang lumrah, normal, bahkan sebuah bahkan kelaziman kerja. Siapa yang tidak ikut dalam arus tersebut, akan terpinggirkan, dijauhi oleh lingkungan. Atau, malah lebih parahnya lagi, tidak akan mendapat jatah “kue” meski dalam kadar kecil sekalipun. Pendek kata, siapa yang tidak ikut korups, akan jatuh, hancur, dan sengsara lahir dan batin. Maka demi alasan tepaslira, tenggangrasa, ewuh-pekewuh, ia pun ikut-ikutan dalam budaya korupsi tersebut. Lebih parah lagi, ia ikut tenggelam dalam arus korupsi semata-mata demi alasan takut tidak dapat jatah “kue”, khawatir tidak bisa ikut merasakan kenikmatan material yang sudah dianggap lazim dan lumrah di lingkungan tersebut.

Ketiga, karena faktor lemahnya sistem dan pengawasan. Inilah yang umum terjadi. Seseorang tergoda untuk bertindak korups, karena sistem yang berlaku di tempat dia bekerja memungkinkannya untuk bertindak menyimpang. Sebenarnya dia mungkin tidak begitu terdesak oleh kebutuhan hidup dan sejenisnya, akan tetapi lemah sistem yang berlaku pada pekerjaan yang ia hadapi memberinya peluang untuk korupsi, maka ia pun mengambil peluang tersebut. Dengan kata lain, niat (korupsi) sebenarnya tidak ada, tetapi kesempatan memberinya peluang. Ditambah lagi, tidak ada pengawasan yang memadai (monitoring, evaluasi, dsb) terhadap sistem tersebut. Sistem yang lemah, sejatinya, bisa diperlengkapi dengan pengawasan yang ketat, untuk mencegah terjadinya praktik korupsi. Jika sistem lemah, pengawasan juga rapuh, kondisi seperti ini jelas akan menjadi lahan basah korupsi. Sebab kondisi demikian jelas akan menggoda atau menstimulasi pikiran jahat banyak orang untuk bertindak menyimpang.

***

Lantas, apakah Islam, sebagai agama, tidak memiliki kerangka acuan moral yang mencegah terjadinya praktik korupsi? Persisnya, bukankah umat Islam memiliki al-Quran sebagai kitab suci? Apakah kitab suci tersebut tidak mengandung piwulang yang bisa menjadi inspirasi dalam rangka mencegah praktik-praktik korupsi? jawabannya, tentu saja: ada. Sebab, al-Quran, sebagaimana kitab-kitab suci yang lain, adalah spirit bagi pembangunan peradaban yang lebih baik untuk umatnya. Kandungan al-Quran adalah kritik sosial untuk membenahi segala bentuk ketimpangan yang terjadi di masyarakat. Jadi, pastilah ada di dalam al-Quran spirit anti korupsi. Yang jadi soal, apakah umat mengetahui, memahami, atau lebih dari itu mampu menghayatinya atau tidak di dalam lapangan kehidupan yang mereka jalani.

Konsep Musabaqah

Menurut hemat penulis, spirit al-Quran tentang pencegahan korupsi secara substansial terletak pada satu konsep yang sangat filosofis, yakni tentang musabaqah (perlombaan), bisa juga disebut istibaqah ataupun musara’ah (secara substansial artinya sama saja). Rujukan konsep ini begitu banyak di dalam al-Quran, di antaranya QS yang menyatakan bahwa tujuan Allah menciptakan manusia adalah untuk menguji siapa di antara kita yang terbaik amalnya (liyabluwakum ayyukum ahsanu ‘amalan) [QS al-Mulk: 2]; bahwa Allah menciptakan jin dan manusia tidak lain hanya agar mereka beribadah kepada-Nya (wama khalaqtul-jinna wal-insa illa liya’buduni) [QS al-Dzariyat: 56]; bahwa hendaknya kita berlomba-lomba dalam mengerjakan kebaikan (fastabiqul-khairat)[QS al-Baqarah: 148]; bahwa kita musti berlomba-lomba menuju ampunan dan surga Allah Swt (wa sari’u ila maghfiratin min rabbikum wa jannah…) [QS al-Baqarah: 133], dan masih banyak lagi ayat lainnya.

Konsep musabaqah—setidaknya dengan merujuk pada keterangan dalam ketiga ayat di atas—mengandung pengertian kurang lebih sbb: Bahwa Allah menciptakan manusia karena suatu tujuan, yakni agar manusia beribadah kepada-Nya sekaligus menguji siapa di antara kita (manusia) yang terbaik. Ini berarti, hidup ini adalah ajang untuk berlomba-lomba mencari perkenan (ridha) Allah Swt. Pemenang dalam perlombaan tersebut adalah mereka yang bisa meraih ridha Allah itu. Dalam ungkapan al-Quran yang lain, para pemenang itu disebut dengan istilah al-muttaqun (orang-orang yang bertakwa). Sebab, kata Allah, bahwa yang paling di antara kita di sisi Allah adalah yang paling takwa (inna akramakum ‘inda-Allahi atqakum) [QS al-Hujurat: 13]. Lantas, apa takwa itu? Takwa adalah menjalankan segala perintah Allah dan menjauhi semua larangan-Nya. Dengan demikian, menjadi jelas di sini konsep musabaqah (perlombaan) itu, bahwa cakupannya berkisar pada dua hal saja: menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Pemenang adalah mereka yang bisa menjalankan perintah dan mejauhi larangan-Nya, sedangan pecundang adalah yang sebaliknya: melanggar larangan Allah dan mengabaikan titah-Nya.

Hemat penulis, jika dihayati dengan setulus hati oleh setiap insan Muslim, konsep musabaqah ini sangatlah signifikan dan urgens untuk mencegah kecenderungan tindak atau praktik korupsi (menyimpang) yang diakibatkan oleh tiga faktor seperti disebut di paragraf-paragraf sebelumnya. Penjelasannya kurang lebih sbb: Pertama, ketika seseorang menghayati bahwa hidup ini, bahwa kerja ini, atau aktivitas apa pun, adalah perlombaan (musabaqah), maka ia akan memilih berlaku jujur daripada bertindak korups (menyimpang) ketika bekerja. Sebab, dengan jujur berarti ia telah menggapai ridha (perkenan) Allah, yang dengan begitu ia menjadi pemenang di hadapan-Nya. Karena yang jadi tujuan utama adalah ridha Allah, ia tak peduli meski harus hidup miskin, meski tidak bermewah-mewah ala kelas menengah, asal dia tidak melanggar larangan Allah. Baginya, keterhimpitan ekonomi, hidup secara bersahaja dan sederhana, itu semua lebih utama daripada kaya dan bermewah-mewah karena hasil mencuri uang negara (korupsi). Baginya, orang yang mencari kekayaan dengan alasan apa pun (entah karena keterdesakan ekonomi, tuntutan gaya hidup, dsb) dengan jalan korupsi, meski secara lahiriah mereka sukses, jaya, menang, tetapi sesungguhnya di hadapan Allah mereka adalah orang-orang yang kalah di dalam perlombaan, pecundang, karena cara mereka tidak mendapat perkenan di sisi-Nya.

Kedua, ketika seseorang menghayati bahwa hidup ini adalah arena perlombaan (musabaqah) menuju perkenan-Nya, maka ia tidak mau tenggelam dalam budaya yang berkembang di sekelilingnya, sekuat dan sebesar apa pun arusnya. Alih-alih, ia malah menciptakan budaya tanding. Jika berada dalam sebuah tempat atau situasi kerja yang korups, ia tidak terbawa-bawa dalam praktik korupsi, serta tidak peduli jika orang-orang di lingkungan tersebut mencibirnya sebagai orang yang tidak bisa menyesuaikan diri (baca: ikut tradisi korups di tempat tersebut). Karena baginya hidup atau kerja ini adalah musabaqah (pertandingan) menuju perkenan (ridha) Tuhan, maka dengan tidak tenggelam dalam arus budaya korupsi itu, justru ia merasa sangat berbangga hati karena merasa dirinya sebagai satu-satunya pemenang di arena tersebut dan semua orang selain dia adalah pecundang di hadapan Allah Swt. Ia tak ambil pusing meski lingkungan tempat kerjanya mencibir, mengucilkan, memarginalkan dirinya—gara-gara dia tidak ambil bagian dalam praktik massal korupsi, asalkan jangan sampai dia serasa dikucilkan oleh Allah karena telah melanggar ajaran-Nya (dengan bertindak korups). Cibiran, olokan, dan pengucilan, baginya ibarat aral atau kerikil tajam yang menghadang jalan, yang jika tak kuat menghadapi justru akan mengganggu perjalanannya menuju sukses sebagai pemenang di hadapan-Nya.

Ketiga, manakala seseorang memandang bahwa hidup ini adalah ajang musabaqah (perlombaan) menuju perkenan (ridha) Allah, maka ia tak pernah memiliki niat untuk menggunakan kesempatan dalam kesempitan terkait dengan lemahnya sistem dan pengawasan di tempat dia bekerja. Ia menyadari, bahwa sebuah sistem mungkin sangat berpotensi tidak sempurna alias kurang, karena merupakan produk manusia. Dan adalah manusiawi, ketika buatan manusia itu mengandung kelemahan dan kekurangan. Tetapi sembari itu ia menyadari ada sistem yang sempurna dan absolut, yakni pengawasan Allah, Zat yang Mahatahu atas semua tindak tanduk kita. Kesadaran inilah yang menuntunnya untuk, minimal, tidak berbuat menyimpang (korups) meskipun kelemahan sistem memungkinkan untuk itu, atau, maksimal, secara mandiri memperbaiki sistem tersebut agar bisa mengikis peluang-peluang praktik korups setidaknya bagi dia sendiri atau syukur-syukur berlaku juga bagi orang lain lingkungan kerjanya. Kesemua itulah jalan baginya untuk benar-benar menjadi pemenang menuju ridha (perkenan) Allah.

Selain itu, soal pengawasan, dia menyadari betul bahwa hal itu penting juga untuk pemantauan dan evaluasi hasil kerja, atau secara khusus mencegah terjadinya praktik korupsi. Namun demikian, bagi seseorang yang secara batin telah menghayati bahwa hidup ini, kerja ini, adalah sebagai musabaqah (perlombaan) menuju ridha Allah, ada atau tidak pengawasan (tentu saja dari manusia) menjadi tidak begitu signifikan, meski secara prosedural adalah hal yang pokok. Karena hidup ini adalah perlombaan menuju ridha Allah, maka bagi dia sesungguhnya Allah-lah sebagai pengawas dan penilai utama; saban harinya, setiap detik dan setiap saat, di mana pun berada, ia selalu merasa setiap pekerjaan yang dilakukannya berada dalam pengawasan dan penilaian Tuhan. Penilaian dan pengawasan manusia memang perlu dan penting, akan tetapi jauh lebih penting penilaian dan pengawasan Allah. Dengan keyakinan seperti itulah ia akan selalu sadar dan ter jaga untuk tidak melakukan tindak-tanduk penyimpangan (baca: korups) dalam kondisi apa pun, baik darurat ataupun normal, karena jika demikian Tuhan pasti akan mencoretnya dari daftar manusia-manusia pemenang dalam perlombaan menuju perkenan (ridha)-Nya.

Penutup

Satu benang merah yang bisa dijumput di sini, bahwa dalam konteks keberagamaan, keinsafan batin merupakan salah satu modal dasar untuk membangun etika sosial yang luhur. Penghayatan yang tulus atas konsep musabaqah (perlombaan) kiranya bisa menjadi filter diri yang tangguh, karena terinternalisasi dalam kesadaran moral-keagamaan yang terdalam, terhujam di dalam sanubari pribadi insan beriman (Muslim, Mukmin). Jika kesadaran seperti ini sudah terbentuk, terbangun dengan baik—padahal kesadaran adalah pusat pengendalian perilaku manusia (baik atau buruk)—maka ini kemungkinan besar akan sangat efektif untuk mencegah seseorang melakukan praktik-praktik penyimpangan (misalnya: korupsi). Orang yang memiliki kesadaran seperti ini telah memiliki suatu konsep diri, pemahaman spiritual, bahwa kelak di akhirat Allah tidak akan meminta pertanggungjawaban pada kondisi sosial ekonomi, kebutuhan pribadi (gaya hidup), budaya, lingkungan, sistem, atau setan sekalipun, yang (bisa dianggap) menjadi penyebab tindak korupsi. Allah hanya akan meminta pertanggungjawaban atas korupsi itu an-sich, bukan apa yang ada di balik tindakan korupsi. Karena, yang dimintai pertanggungjawaban adalah diri, jiwa (nafs), bukan tetek bengek yang lain. Wallahu a’lam.[]
(Sabrur Rohim, MSI, alumnus PPWI 1994)

https://jakarta45.files.wordpress.com/2012/01/logo.jpg

Menangkal Korupsi Menurut Perspektif Al-Qur’an

21 01 2009

Oleh: Ja’afar Usman Al-Qari

korupsi1

Korupsi sesungguhnya merupakan nama keren dari mencuri, dan mencuri menurut istilah bahasa arab “sarakah” (menyembunyikan sesuatu yang bukan miliknya) dan di dalam KUHP disebutkan bahwa mencuri adalah memindahkan sesuatu dari tempat semula ke tempat lain yang bukan miliknya. Perilaku korupsi bisa juga iindikasikan dari berbagai perspektif atau pendekatan. Tindakan korupsi menurut perspektif keadilan atau pendekatan hukum misalnya mengatakan bahwa korupsi adalah mengambil bagian yang bukan menjadi haknya.

Korupsi adalah mengambil secara tidak jujur perbendaharaan milik publik atau barang yang diadakan dari pajak yang dibayarkan masyarakat untuk kepentingan memperkaya dirinya sendiri. Korupsi adalah tingkah laku yang menyimpang dari tugas-tugas resmi yang secara sengaja dilakukan sendiri atau bersama-sama untuk memperoleh keuntungan berupa status, kekayaan atau uang untuk perorangan, keluarga dekat atau kelompok sendiri.

Pendekatan atau perspektif orang awam dengan lugas mengatakan menggelapkan uang kantor, menyalahgunakan wewenangnya untuk menerima suap, menikmati gaji buta tanpa bekerja secara serius adalah tindakan korupsi. Bisa saja hal itu dikatakan untuk menjelaskan hal yang kita benci dan akan kita jinakkan. Sanksi bagi pencuri dalam agama kan sudah jelas. Namun perlu disadari bahwa untuk menghilangkan korupsi bukanlah perkara gampang karena ia telah berurat berakar dan menjalar kemana-mana terutama di negeri kita ini. Bangsa dari sebuah negara dengan tingkat keberagamaan (religiusitas) nya ternyata tidak bisa dijadikan sebagai ukuran. Karena ternyata, negara yang dikenal sangat religius seperti Indonesia, dalam beberapa survei justru meraih rekor yang sangat tinggi dalam urusan korupsi. Sebaliknya, sejumlah negara sekuler yang abai pada agama, justru berhasil menekan tingkat korupsi hingga pada tingkatan yang paling minim. Padahal, jika merujuk doktrin-doktrin normatif agama yang amat ideal (dalam hal ini Islam), Indonesia –sebagai negara dengan populasi muslim paling besar di dunia– tidak sepantasnya menduduki peringkat negara terkorup. Pertanyaannya, mengapa hal itu bisa terjadi?

Jawabannya, karena tidak adanya hubungan antara agama dengan tingkat korupsi, masalah korupsi mungkin lebih bersifat karikatural. Boleh dikatakan, bahwa terdapat dua kelompok orang yang bersih dari korupsi. Pertama, orang yang betul-betul takut dengan hukum Tuhan. Tapi kelompok pertama ini sedikit sekali jumlahnya. Kedua, khususnya di negeri yang sekuler, motif tidak korupsi bukan karena takut kepada Tuhan, tapi lebih bersifat rasionalis saja. Misalnya, kalau mereka menyuap polisi, mereka sadar itu akan menghancurkan tatanan hukum. Kalau mengambil hak orang lain, mereka sadar akan menyengsarakan banyak orang. Walaupun penulis sepakat dengan Teten Masduki yang berkesimpulan bahwa korupsi bisa dikategorikan sebagai perbuatan syirik, tapi sifatnya sosial.

Kesadaran sosial, semacam penghargaan terhadap hak orang lain, sedikitnya akan mampu mengerem untuk melakukan perbuatan korupsi. Jika mereka sadar betul kalau korupsi akan menilap hak orang. Mereka sadar kalau korupsi akan merusak sistem ekonomi, dengan merusak sistim perekonomian maka negara akan hancur. Islam kan sebenarnya menanamkan kesadaran seperti itu. Pada hakikatnya Islam dilahirkan untuk membebaskan manusia dari pelbagai bentuk perbudakan dan eksploitasi.

Jadi sebenarnya, Islam datang untuk memerangi sistem ketidakadilan. Tindak korupsi tentu termasuk hal yang harus diperangi Islam karena dapat menimbulkan masalah besar. Korupsi dapat menghancurkan apa saja, walau ada pihak yang menyebut soal ini tidak berkaitan dengan soal agama. Itu karena mereka sudah merasa sangat mengerti bagaimana cara bertaubatnya.Yang jelas, mungkin praktik agama kita yang pemaknaannya keliru, karena lebih menekankan hal-hal yang bersifat ritual. Makanya, kadang sedikit aneh jika melihat orang-orang yang getol shalat sampai hitam jidatnya, tapi dalam kehidupan sosial justru menolelir tindak-tindak korupsi.

Untuk konteks Indonesia, ketika sistem hukum dan sistim sosial tidak mendukung, maka keteladanan tokoh masyarakat akan berperan sangat penting dalam memberantas korupsi. Jadi harus dimulai dari diri sendiri. Untuk pola hubungan masyarakat yang masih sangat dipengaruhi community leader (pemimpin kelompok) faktor keteladanan memang harus lebih ditonjolkan. Sayangnya, sentimen sosial kaum muslim terhadap isu-isu seperti korupsi, dan problem-problem sosial lainnya yang bersinggungan langsung dengan kita, nampaknya kurang bersemangat untuk mendapatkan perhatian dibandingkan dengan sentimen persaudaraan sesama muslim seperti dengan Palestina ataupun Irak yang sangat luar biasa. Semua energi bisa dilibatkan dan sedia dikerahkan. Padahal menurut sejarah, perhatian pertama Nabi Muhammad dalam dakwahnya terletak pada usaha perbaikan sistem sosial.

Untuk itu, cita-cita untuk menjadi Indonesia baru, membutuhkan ekstra kerja keras dalam menangani permasalahan yang sangat krusial ini, yang segera harus dicarikan jalan keluarnya untuk menangkal agar tidak lagi bangsa ini dihantui dengan berbagai kasus korupsi. Karena kalau kita perhatikan bahwa permasalahan korupsi tidak saja menjadi kendala struktural, namun lebih dari itu. Karena masalah struktural tadi, korupsi telah membudaya (nation culture), menjadi bagian yang tak terpisahkan dari realitas birokrasi kita. Gerakan pemberantasan memang telah banyak dilakukan. Bahkan beragam metode dan model gerakan telah digalakkan. Mulai dari gerakan moral-kultural, politis-struktural, maupun pembaharuan substansi perundang-undangan. Tapi korupsi tak urung usai, ia senantiasa menyelinap dalam setiap sendi kehidupan kita: ekonomi, politik, sosial, budaya, bahkan agama.

Bangsa ini perlu banyak belajar dan merenung untuk menghargai bahwa korupsi merugikan orang banyak yang telah bekerja keras dan berlaku jujur, tindakan korupsi tidak menghargai fitrah manusia yang diilhamkan kepadanya untuk cinta kepada kebaikan, dengan begitu kita semua sedang belajar untuk hidup lebih lurus.

Tentu saja, sebagai bentuk kepedulian moral, agama harus tetap diikutkan untuk masalah yang satu ini. Karena, kita masih berkeyakinan bahwa saat ini, kwalitas moral politisi sesungguhnya punya pengaruh yang sangat signifikan dalam membuka pintu-pintu terjadinya praktik korupsi. Pada level inilah, agama perlu menjadi moral guardian (benteng moral) untuk mengawal aktivitas politik penganutnya agar tidak terjebak pada pengingkaran amanah.

Makanya diperlukan pemaknaan kembali atas agama. Banyak sekali ayat-ayat Al-Qur’an yang berbicara soal kemiskinan. Dan korupsi itu jelas dampaknya menimbulkan kemiskinan.

Pada sisi yang berbeda, realitas kaum pinggiran yang kini semakin memprihatinkan dalam kehidupan bangsa kita, juga merupakan tanggung jawab agama. Sungguh argumen reflektif Hassan Hanafi perlu kita hadirkan di sini. Bagi Hanafi, walaupun Islam meneguhkan adanya konsep ummatan wahidatan dalam Islam, namun secara empiris kaum muslimin terbagi dalam dua kelompok, yakni umat yang kaya dan umat yang miskin. Jika semakin hari semakin lebar jarak itu, maka di sinilah, agama telah kehilangan vitalitasnya sebagai agen kemanusiaan (humanity agency).

Beberapa ayat dalam al-Quran yang memberi argumen cukup tegas bahwa dalam setiap harta yang dimiliki manusia, senantiasa ada hak yang tersurat. Dan hak itu, jelas bukan miliknya (Qs. Al-Maarij [70]: 24-25). Dengan ungkapan yang berbeda, Allah ingin memberi ketegasan, bahwa sesungguhnya seorang manusia harus menafkahkan atas harta yang dikuasai (Qs. Al-Hadid [57]: 7). Lalu, jika korupsi dilakukan, bukankah itu merupakan pengingkaran besar atas amanah kebendaan yang dititipkan pada manusia. Hanya saja, ini sekadar menjadi kesadaran kultural, tidak punya daya paksa struktural, sehingga sang koruptor menjadi tak bergeming.

Sesungguhnya memang sudah saatnya al-Quran tidak lagi diletakkan sebagai kesadaran normatif yang hanya bergerak pada wilayah kultural. Ia juga harus mampu menyelinap dalam perbaikan pada ruang-ruang struktural. Dan itu artinya, al-Quran juga sesungguhnya bisa menjadi landasan teoritik yang bisa dipakai untuk melakukan pembebasan kemanusiaan, bahkan untuk masalah seperti korupsi.

Al-Quran mempunyai kekuatan untuk membentuk budaya masyarakat. Al-Quran memiliki impetus emosional yang dapat menggerakkan umat Islam untuk bersikap sesuai dengan ajaran yang dikandungnya. Hanya saja, yang patut disayangkan, doktrin-doktrin normatif yang tertuang dalam al-Quran itu, bagi kebanyakan umatnya tidak mempunyai dimensi sosial dan intelektual yang kuat dalam membendung realitas kemungkaran yang terjadi.Asumsi ini jelas perlu diperbaharui. Islam bukanlah teologi eskapistik yang mengamini umatnya untuk larut dalam buaian spiritual, sehingga lupa akan tanggung jawab sosialnya. Jika ditelaah lebih jauh, al-Quran mempunyai perangkat teoritis yang bisa dipakai untuk membentuk ragam manifes ketidakadilan sosial.

Terkait korupsi, bagi saya al-Quran tidak saja mampu membentuk kesadaran moral manusia untuk tidak rakus memakan harta rakyat. Al-Quran juga punya perangkat teoritis untuk memberantas korupsi. Dalam banyak ayat, seringkali terdapat penegasan akan tesis Lord Acton bahwa kekuasaan itu cenderung korup (power tends to corrupt). Dan al-Quran, tidak saja menghadirkan penegasan itu, ia juga sekaligus melarang umat Islam untuk memilih kaum penindas jadi penguasa (Qs. An-Naml: 34, Al-Kahfi: 71, Saba: 34-35, Al-Zuhruf: 23, Al-Isra: 16, Hud: 27). Namun jika mereka terlanjur berkuasa, maka perlu dilakukan oposisi melawan hegemoni kaum penindas itu (Qs. Al-Hujurat: 9).

Demikian itulah, kenapa di dalam Al-Quran juga sempat disinggung bahwa kaum tertindas perlu menjadi pemimpin di bumi ini (Al-Shaff: 5, Al-Anfal: 137). Jika dipahami secara kontekstual, dapat dimengerti bahwa sifat-sifat seorang pemimpin seharusnya bukan sosok yang korup, namun profil populis yang dekat dengan rakyat, dan mencintai mereka. Gerakan oposisi terhadap penguasa yang korup bahkan diyakini sebagai jihad fi sabilillah (Al-Nisa: 75) yang juga merupakan agenda para rasul (Al-Anfal: 157). Di sinilah praksis pembelaan terhadap kaum lemah perlu dilakukan. Dengan demikian, boleh dibilang bahwa ruang ketakwaan tidak saja dilihat melalui ibadah ritual serta kepuasan spiritual yang telah diraih, namun lebih dari itu, yang terpenting adalah bagaimana seseorang dapat bermanfaat bagi orang lain. Maka membela kaum lemah juga merupakan bagian dari karakter insan takwa (Qs. Al-Baqarah: 197, Ali Imran: 134, Al-Insan: 8-9, Al-Maarij: 24, Al-Dzariyat: 19). Bahkan sangat mungkin, iman pada level inilah yang justru lebih penting.

Korupsi sebagai bagian dari monopoli dan konsentrasi kekuasaan juga disinggung oleh al-Quran, seraya mengutuknya (Qs. Al-Hasyr: 7). Pada sisi inilah, secara radikal kemudian al-Quran “begitu berani” mengklaim orang yang (mushally) sebagai pendusta agama jika ia tidak memiliki keperpihakan pada anak yatim (Qs. Al-Maun: 1-7). Dan tudingan celaka, bagi umat Islam yang mengumpulkan harta dan menghitung-hitungnya tanpa ada kesadaran nurani (inner conscious) untuk mewujudkan kesejahteraan sosial (social welfare) (Qs. Al-Humazah: 1-9).

Dari sinilah, keberimanan masyarakat oleh al-Quran perlu dipandu untuk menghidupkan kembali rasa kemanusiaan kita, melalui pembaharuan struktural, dan tidak hanya dorongan moral. Al-Qur’an harus menjadi inspirasi dan pelopor untuk melakukan gerakan pembebasan, termasuk dalam memberantas korupsi. Wallahu ‘alam.

undefined

AGAMA PASTI ANTI KORUPSI

Korupsi sebenarnya menjadi fenomena seluruh masyarakat di dunia ini. Secara  historis, korupsi  terjadi semenjak masyarakat kuno telah memiliki sistem kolektivitas yang terkait dengan ekonomi dan pelayanan sosial. Masyarakat Yunani Kuno, Persia Kuno, Cina Kuno dan sebagainya telah mengenal cara yang kemudian di era sekarang disebut korupsi.

Korupsi dapat dilihat secara bahasa (etimologis) dan istilah (terminologis).  Secara etimologis korupsi berasal dari kata korup yang berarti buruk, rusak dan busuk. Korupsi ini berasal dari kata latin corrumpere dan corruptio yang berarti penyuapan dan corruptore yang berarti merusak. Di dalam bahasa Inggris disebut corruption atau corrupt.   Di  dalam bahasa Belanda disebut corruptie atau korruptie.  Di  dalam bahasa Indonesia disebut korupsi.

Di dalam bahasa Arab disebut rishwah atau uang suap. Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Ahmad dinyatakan : “Allah melaknat orang yang memberi suap, penerima suap, dan broker suap yang menjadi penghubung di antara keduanya”.  Korupsi dapat dinisbahkan dengan tindakan melakukan penyuapan yang dilakukan untuk mencapai tujuan. Memberikan suap berarti melakukan korupsi.

Di dalam pengertian tindakan merusak, maka korupsi dikaitkan dengan istilah fasad.  Didalam Al-Qur’an (QS. 7: 55) Allah berfirman: “Janganlah kamu berbuat kerusakan di muka bumi setelah (Allah) memperbaikinya”. Di dalam Al-Qur’an (QS. 7:85) Allah berfirman: “janganlah kamu menipu manusia sedikitpun dan janganlah berbuat kerusakan sesudah sebelumnya Tuhan memperbaikinya”. Melakukan korupsi berarti merusak atau menodai terhadap kejujuran atau merusak proses yang seharusnya berlangsung dengan cara memberikan sesuatu untuk mencapai tujuan sesuatu.

Di dalam konteks khianat disebut ghulul. Di dalam Al-Qur’an (QS: 161) Allah berfirman: “Tidaklah mungkin seorang Nabi melakukan ghulul (berkhianat) dalam urusan harta rampasan perang. Barang siapa yang melakukan ghulul dalam harta rampasan perang, maka pada hari kiamat ia akan datang dengan membawa apa yang telah dikhianatinya itu…”  merusak kesepakatan atau merusak proses yang seharusnya dijunjung tinggi untuk mencapai tujuan juga dapat disebut sebagai korupsi.

Secara fenomenologis, bahwa unsur penting di dalam korupsi adalah pencurian dan penipuan. Menilik konsepsi Al-Qur’an tentang rishwah, maka nampak bahwa korupsi tentunya sudah ada gejala seperti itu semenjak Nabi Muhammad saw. Korupsi adalah fenonena dunia, artinya bahwa ketika Rasulullah menyampaikan misi kenabiannya, maka di wilayah Arab tentunya juga sudah terdapat praktik-praktik kehidupan seperti rishwah, ghulul dan fasad di atas. Secara logika semiotik saja dapat dipastikan bahwa setiap bahasa yang muncul dan menjadi wacana pastilah ada fenomena yang seperti itu.

Jika Islam sudah memberikan ajarannya tentang rishwah atau suap berarti bahwa tradisi rishwah juga merupakan kenyataan empiris di wilayah Arab ketika itu. Sebagai sebuah kawasan dengan sistem kekabilahan pada masing-masing regionnya, maka sangat dimungkinkan terjadinya berbagai praktik rishwah, yang di belahan wilayah lain disebut sebagei upeti dari masyarakat kepada penguasa. Praktik ini tentunya merupakan bentuk pemberian timbal balik, yaitu masyarakat memberikan hadiah kepada pimpinannya sebagai lambang kesetiaan dan kepatuhan, dan di sisi lain pemimpin memberikan jaminan keamanan dan ketenteraman.

Di dalam agama dipastikan akan terdapat ajaran tentang  amanah atau dapat dipercaya. Nabi Muhammad saw juga merupakan contoh bagaimana amanah tersebut dijunjung tinggi secara implementatif. Sehingga Nabi Muhammad saw adalah teladan atau dapat dipercaya yang diberi gelar al-Amin. Ketika Beliau dipercaya oleh Khadijah berdagang maka Beliau terapkan konsep amanah dalam perdagangan itu. Tak satupun beliau menyelewengkan kepercayaan yang diberikan kepadanya.

Nabi Muhammad saw juga menerapkan prinsip shiddiq atau kejujuran. Di dalam prinsip kejujuran maka seseorang tidak akan melakukan pengkhianatan, tidak merusak perjanjian atau kesepakatan yang sudah ada dan benar dan tidak melakukan penyuapan untuk mencapai tujuan yang diinginkan. Seseorang harus jujur di dalam perkataan dan tindakannya. Korupsi dalam banyak hal adalah tindakan yang menyeleweng dari kejujuran. Misalnya untuk mempercepat proses maka seseorang melakukan cara tertentu agar proses dapat diperpendek.

Agar korupsi dapat dicegah dan diberantas, maka yang sangat penting juga menciptakan sistem yang dapat  menjamin keamanahan dan keshiddiqan tersebut dapat berlangsung. Sistem ini dapat terjadi jika terdapat sistem keterbukaan atau tranparansi. Transparan di dalam proses dan transparan di dalam hasil. Yang kita lihat sekarang ini adalah lemah di dalam proses dan lemah di dalam hasil sebab transparansinya juga lemah. Maka agar negeri kita tercinta ini bisa meraup kesejahteraan yang salah satu di antaranya disebabkan oleh ketiadaan korupsi, maka diperlukan sistem yang menjamin terjadinya kejujuran, kepercayaan dan transparansi.

Wallahu a’lam bi al shawab.

ISLAM harus terdepan dalam Anti Korupsi
12 Desember 2009
Beberapa upaya telah ditempuh untuk membrantas korupsi , saat ini dilakukan oleh beberapa institusi:  Tim Tastipikor (Tindak Pidana Korupsi),  KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi),  Kepolisian, Kejaksaan, BPKP, Lembaga non-pemerintah: Media massa Organisasi massa (mis: ICW). Sesungguhnya bila dibandingkan dengan Era Orde Baru, pada Zaman Reformasi ini pemberantasan korupsi  di Indonesia sudah sangat berkembang, namun hingga kini  hasilnya belum menunjukkan titik terang, mungkin karena sumber oknum korupsi justru berada di dalam institusi penegak hukum (Kepolisian dan Kejaksaan). Hal itu yang membikin pemberantasan korupsi susah diuraikan. Mungkin yang paling tepat pemberantasan korupsi itu dimulai dari diri sendiri.

Tanggal 9 Desember telah ditetapkan sebagai hari anti korupsi  se dunia. Sebagai orang muslim harus menanggapi sebagai aksi gerakan moral yang cukup baik untuk memulai mengetuk pada diri sendiri, dan terus menjaga kebenciannya terhadap korupsi.

Di dalam diri harus ditanamkan betul-betul  bahwa korupsi itu pertanggung jawaban  diakherat nanti itu sangat berat, dan dalam hati sorang mukmin harus dipatrikan kebenciannya terhadap korupsi, sebagaimana bencinya bila dicampakkan ke neraka .

Karena korupsi itu akan merusak tatanan akhlak bangsa , maka seharusnya seorang muslim secara terus menerus menasehatkan kepada diri sendiri, kelurga dan bangsa ini untuk berjihad melawan korupsi. Sudah menjadi pemahaman orang banyak bahwa korupsi di Indonesia ini sudah menjadi penyakit kronis. Dalam seluruh penelitian perbandingan korupsi antar negara, Indonesia selalu menempati posisi paling rendah.

Karena korupsi di Indonesia berkembang secara sistemik, sehingga masyarakat Indonesia (mungkin termasuk orang muslim) menganggap bahwa  korupsi bukan lagi merupakan suatu pelanggaran hukum, melainkan sekedar suatu kebiasaan.  Dengan demikian mata hati bangsa ini seolah-olah buta karena tidak bisa membedakan korupsi itu benar atau salah, padahal umat Islam hampir 88%  dari penduduk di Indonesia, yang seharusnya mengenal betul bahwa korupsi suatu kesalahan besar.

Berdasarkan penilaian Lembaga Dunia, justru Negara yang tidak terkorupsi itu malah Negara Denmark yang menurut catatannya Negara Ateis. Oleh karena itu mengacu pada penilaian Lembaga Dunia itu, maka tidak  ada kaitan antara agama seseorang dengan korupsi. Bagaimana dengan Orang Islam yang diciptakan terbaik ditengah-tengah masyarakat dunia, kok masih ada yang melakukan korupsi?.

Islam itu bukan identitas lho, tapi Islam itu Din (tuntunan hidup di dunia) yang harus diikuti umatnya. Dengan demikian walaupun ada orang mempunyai identitas islam kalau korupsi berarti belum sempurna memenuhi tuntunan Din islam. Menurut aturannya memeluk Din Islam ini harus kafah, sehingga sebagai umat islam yang kuat dan baik mari memberantas korupsi dengan sungguh-sungguh dimulai dari diri sendiri mudah-mudahan berpengaruh luas terhadap Bangsa Indonesia yang mayoritas umat islam. Sudah saatnya umat islam menjadi garda paling depan dalam anti korupsi.

Pada hari ANTI KORUPSI  ini mari kita renungkan kembali ayat -ayat Al-Quran sebagai berikut:

كُنْتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَلَوْ آمَنَ أَهْلُ الْكِتَابِ لَكَانَ خَيْرًا لَهُمْ مِنْهُمُ الْمُؤْمِنُونَ وَأَكْثَرُهُمُ الْفَاسِقُونَ

Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka; di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik.  (QS.3 : 110)

وَلْتَكُنْ مِنْكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ

Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung.  (QS.3 : 104)

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا ادْخُلُوا فِي السِّلْمِ كَافَّةً وَلا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُبِينٌ

Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam secara keseluruhannya, dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu. (QS : 2 : 208)

Semoga bermanfaat

http://rumaljawi.blogsopt.com

Tersurat di Al-Qur’an

| Dec 09, 2009 |

Subhanallah, Peringatan Hari Korupsi 9 Desember, Tersurat di Al-Qur’an

Korupsi di negeri kita benar-benar sudah sangat parah karena sudah jadi kerak yang susah sekali di kikis, hampis semua sistem tatanan bernegara kita sampai saat ini masih terjadi praktek-praktek penyalahgunaan wewenang dan kekuasaan yang merugikan kepentingan negara dan rakyat satu negara hanya untuk kepentingan pribadi dan golongan tertentu.

Al-Quran Surat ke-9 (At-Taubah) ayat ke 12

Bukan hanya di Indonesia, di seluruh dunia korupsi menjadi penyakit yang sangat berbahaya dalam kehidupan manusia. Karena kerugiannya bukan hanya bersifat material namun juga rusaknya moral serta akhlak dimana manusia yang bersangkutan tidak bisa menjaga amanah yang telah dipercayakan padanya untuk di kelola dan dipegang. Korupsi bukan hanya dilakukan oleh seorang bos atau pemimpin, namun mulai dari kelas pegawai rendahan sekalipun sudah terjangkiti.

Entah apakah ini suatu kebetulan atau memang Allah sudah mengingatkan kita semua termasuk semua pemimpin umat dan pemimpin negara, pemimpin golongan,  pemimpin apapun yang ada untuk tetap menjaga amanah. Menjaga janji dan sumpah yang telah diucapkan.  Mari sejenak kita merenungkan ayat Al-Quran dibawah ini  Surat ke 9 Al-Quran yaitu Surat At-Taubah Ayat Ke-12  yang artinya:

[9:12] Jika mereka merusak sumpah (janji)nya sesudah mereka berjanji, dan mereka mencerca agamamu, maka perangilah pemimpin-pemimpin orang-orang kafir itu, karena sesungguhnya mereka itu adalah orang-orang (yang tidak dapat dipegang) janjinya, agar supaya mereka berhenti.

Coba kita renungkan dan cerna maksud ayat diatas, apakah maksud Allah dalam ayat tersebut? ini mungkin bisa menjadi bahan refleksi serta koreksi bagi kita semua, karena kita semua hakekatnya adalah pemimpin, dan setiap pemimpin bertanggung jawab atas amanah yang telah dipercayakan padanya. Kita coba untuk memberantas korupsi dari diri kita masing-masing kita cegah korupsi dari diri kita lingkungan kita. Semoga Allah Tuhan semesta alam memberikan berkah dan kebaikan bagi negeri yang sesungguhnya kaya raya ini.

Sesungguhnya ini semua adalah tanda dan perintah Allah pada kita semua yang beriman pada-Nya untuk melaksanakan dan menjaga amanah itu. Wallahualam bi shawab

KORUPSI : Pandangan dan Sikap Islam

Kamis, 01 Januari 2004 00:00 Marzuki Wahid

“Tidak ada penyebab ketidakadilan

dan kekejaman yang lebih besar daripada korupsi,

karena penyuapan menghancurkan baik iman maupun negara.”

Sari Mehmed Pasha

“Hai orang-orang beriman,

janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan cara batil,

kecuali dengan cara perniagaan yang berlaku

dengan suka sama suka di antara kamu…”

al-Qur’an, Surat an-Nisâ’: 29

Salah satu kenyataan yang secara sadar dinilai buruk dan merusak, tetapi berulang kali dilakukan oleh banyak orang di negeri ini adalah “ korupsi ”. Bukan tidak mau menghindar dan bertobat, melainkan jika tidak melakukannya rasanya tidak wajar dan tidak memperoleh tambahan yang berarti dari yang dilakukannya. Ini yang sering kali dijadikan alasan oleh “para koruptor” bahwa korupsi itu bukan karena tindakan yang kotor melainkan sistem birokrasi dan sistem pemerintahan kita mengkondisikan para birokrat, politisi, dan semua yang bersentuhan dengan sistem itu untuk korupsi. Artinya “korupsi” di negeri ini bukan lagi soal moral dan hukum semata, melainkan adalah persoalan sistemikstruktural yang telah mengakar sedemikian rupa.

Hal lain yang menyebabkan korupsi tumbuh-subur di negeri ini adalah lemahnya penegakan hukum (law enforcement). Hingga hari ini, belum ada koruptor meskipun jelas diketahui khalayak dihukum setimpal dengan perbuatannya. Kalaupun ada yang dihukum (masih bisa dihitung jari) dirasa oleh masyarakat masih belum adil. Selain aturan hukum tentang korupsi tidak tegas, juga aparat penegak hukumnya masih bisa dipermainkan dan ditukar-tukaruntuk tidak mengatakan “dibeli”.

Oleh karenanya bisa dipahami jika keterpurukan Indonesia ke dalam multikrisis ini dinilai oleh banyak pihak akibat korupsi yang terus menerus dilakukan ke semua alokasi keuangan, termasuk ke dalam alokasi dana bantuan presiden (banpres) dan dana-dana non-bugeter lainnya. Tetapi dengan mencoba memahami ini, tidak berarti kita membiarkan korupsi sebagai sesuatu yang wajar. Tulisan berikut tak bermaksud menawarkan “jalan keluar” atas kompleksitas soal korupsi, melainkan sekadar ingin menyodorkan pandangan-tegas Islam atas korupsi. Pandangan ini rasanya penting dikemukakan ke hadapan publik selain ingin menunjukkan ketegasan Islam anti korupsi, juga menyadarkan umat Islam sendiri karena tidak bisa dipungkiri bahwa sebagian besar koruptor-koruptor di negeri ini adalah beragama Islam.

Apa itu Korupsi?
Sebelum mengkajinya lebih jauh, harus clear dulu makna dan tipologi korupsi. Kata “korupsi” berasal dari bahasa Latin corruptio (Fockema Andreae: 1951) atau corruptus (Webster Student Dictionary: 1960). Secara harfiah, korupsi berarti kebusukan, keburukan, kebejatan, ketidakjujuran, dapat disuap, tidak bermoral, dan penyimpangan dari kesucian. Meskipun kurang tepat, korupsi seringkali disamakan sengan suap (risywah), yakni sebagai “perangsang (seorang pejabat pemerintah) berdasarkan itikad buruk (seperti suapan) agar ia melakukan pelanggaran kewajibannya (abuse of power).” Suapan sendiri diartikan sebagai “hadiah, penghargaan, pemberian atau keistimewaan yang dianugerahkan atau dijanjikan dengan tujuan merusak pertimbangan atau tingkah laku, terutama dari seorang dalam kedudukan terpercaya (sebagai pejabat pemerintah).” Dalam kitab Hâsyiah Ibn ‘Abidin, suapan (risywah) dipahami sebagai sesuatu yang diberikan seseorang kepada hakim, pejabat pemerintah atau lainnya supaya orang itu mendapatkan kepastian hukum atau memperoleh keinginannya.

Dalam konteks untuk memperoleh kebebasan politik, prakarsa perorangan, transparansi, dan perlindungan hak-hak warga negara terhadap otoritas negara yang otoriter, Syed Hussein Alatas dalam Corruption Its Nature, Causes and Functions membedakan tujuh tipologi korupsi yang berkembang selama ini. Pertama, transactive corruption, yakni korupsi yang menunjukkan adanya kesepakatan timbal-balik antara pihak penyuap dan penerima suap demi keuntungan kedua belah pihak dan dengan aktif diusahakan tercapainya keuntungan ini oleh kedua-duanya.

Tipologi ini umumnya melibatkan dunia usaha dan pemerintah atau masyarakat dan pemerintah. Kedua, extortive corruption (korupsi yang memeras), yakni pihak pemberi dipaksa untuk menyuap agar mencegah kerugian yang sedang mengancam dirinya, kepentingannya, dan hal-hal yang dihargainya. Ketiga, investive corruption, yakni korupsi dalam bentuk pemberian barang atau jasa tanpa ada pertalian langsung dengan keuntungan tertentu, selain keuntungan yang dibanyangkan akan diperoleh di masa yang akan datang. Tipe keempat adalah supportive corruption, korupsi yang secara tidak langsung menyangkut uang atau imbalan langsung dalam bentuk lain untuk melindungi dan memperkuat korupsi yang sudah ada. Kelima, nepostistic corruption, yakni korupsi yang menunjukkan tidak sahnya teman atau sanak famili untuk memegang jabatan dalam pemerintahan atau perilaku yang memberi tindakan yang mengutamakan dalam bentuk uang atau lainnya kepada teman atau sanak famili secara bertentangan dengan norma dan aturan yang berlaku. Keenam, defensive corruption, yakni perilaku korban korupsi dengan pemerasan untuk mempertahankan diri. George L. Yaney menjelaskan bahwa pada abad 18 dan 19, para petani Rusia menyuap para pejabat untuk melindungi kepentingan mereka. Tipe ini bukan pelaku korupsi, karena perbuatan orang yang diperas bukanlah korupsi. Hanya perbuatan pelaku yang memeras sajalah yang disebut korupsi. Terakhir, autogenic corruption adalah korupsi yang tidak melibatkan orang lain dan pelakunya hanya seorang diri.

Pada esensinya korupsi adalah pencurian melalui penipuan dalam situasi yang mengkhianati kepercayaan. Jika kita pegangi pengertian ini, maka tradisi korupsi telah merambah ke seluruh dimensi kehidupan manusia secara sistematis, sehingga masalah korupsi merupakan masalah yang bersifat lintas-sistemik dan melekat pada semua sistem sosial, baik sistem feodalisme, kapitalisme, komunisme, maupun sosialisme.

Pandangan dan Sikap Islam
Pandangan dan sikap Islam terhadap korupsi sangat tegas: haram dan melarang. Banyak argumen mengapa korupsi dilarang keras dalam Islam. Selain karena secara prinsip bertentangan dengan misi sosial Islam yang ingin menegakkan keadilan sosial dan kemaslahatan semesta (iqâmat al-’adâlah alijtimâ’iyyah wa al-mashlahat al-’âmmah), korupsi juga dinilai sebagai tindakan pengkhianatan dari amanat yang diterima dan pengrusakan yang serius terhadap bangunan sistem yang akuntabel. Oleh karena itu, baik al- Qur’an, al-Hadits maupun ijmâ’ al- ‘ulamâ menunjukkan pelarangannya secara tegas (sharih).

Dalam al-Qur’an, misalnya, dinyatakan: “Dan janganlah sebagian kamu memakan harta sebagian yang lain di antara kamu dengan cara batil dan (janganlah) kamu membawa (urusan) harta itu kepada hakim, supaya kamu dapat memakan sebagian daripada harta benda orang lain itu dengan (cara berbuat) dosa padahal kamu mengetahui.” Dalam ayat yang lain disebutkan: “Hai orangorang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan cara batil, kecuali dengan cara perniagaan yang berlaku dengan suka sama suka di antara kamu…” Sedangkan dalam al-Hadits lebih konkret lagi, dinyatakan bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Allah melaknati penyuap dan penerima suap dalam proses hukum.” Dalam redaksi lain, dinyatakan: “Rasulullah SAW melaknati penyuap, penerima suap, dan perantara dari keduanya.” Kemudian dalam kesempatan yang berbeda, Rasulullah SAW bersabda: “penyuap dan penerima suap itu masuk ke neraka.”

Dalam sejarah, baik para sahabat Nabi, generasi sesudahnya (tabi’in), maupun para ulama periode sesudahnya, semuanya bersepakat tanpa khilaf atas keharaman korupsi, baik bagi penyuap, penerima suap maupun perantaranya. Meski ada perbedaan sedikit mengenai kriteria kecenderungan mendekati korupsi sebab implikasi yang ditimbulkannya, tetapi prinsip dasar hukum korupsi adalah haram dan dilarang.

Ini artinya, secara mendasar, Islam memang sangat anti korupsi. Yang dilarang dalam Islam bukan saja perilaku korupnya, melainkan juga pada setiap pihak yang ikut terlibat dalam kerangka terjadinya tindakan korupsi itu. Bahkan kasus manipulasi dan pemerasan juga dilarang secara tegas, dan masuk dalam tindakan korupsi. Ibn Qudamah dalam al-Mughnî menjelaskan bahwa “memakan makanan haram” itu identik dengan korupsi. Zamakhsyari dalam tafsir al-Kasysyaf juga menyebut hal yang sama. Umar Ibn Khaththab berkata: “menyuap seorang hakim” adalah tindakan korupsi.

Dalam sejarah Islam sering dikutip kepemimpinan Umar bin Abdul Aziz, salah seorang Khalifah Bani Umayyah, sebagai prototipe Muslim anti korupsi. Umar bin Abdul Aziz adalah figur extra-ordernary, suatu figur unik di tengah-tengah para pemimpin yang korup dalam komunitas istana. Ia sangat ketat mempertimbangkan dan memilahmilah antara fasilitas negara dengan fasilitas pribadi dan keluarga. Keduanya tidak pernah dan tidak boleh dipertukarkan (changeble). “Pada suatu malam, Khalifah Umar bin Abdul Aziz berada di kamar istana melakukan sesuatu berkaitan dengan urusan negara. Tiba-tiba salah seorang anaknya mengetuk pintu ingin menemui bapaknya. Sebeum masuk, ditanya oleh Khalifah, “Ada apa Anda malam-malam ke sini?” “Ada yang ingin dibicarakan dengan bapak”, jawab anaknya. “Urusan keluarga atau urusan negara?” tanya balik Khalifah. “Urusan keluarga,” tegas anaknya. Seketika itu, Khalifah mematikan lampu kamarnya dan mempersilakan anaknya masuk. “Lho, kok lampunya dimatikan,” tanya anaknya sambil keheranan. “Ini lampu negara, sementara kita mau membicarakan urusan keluarga, karena itu tidak boleh menggunakan fasilitas negara,” demikian jawab Kh alifah. Sang anakpun mengiyakannya.

Itulah sekelumit cerita tentang Khalifah Umar bin Abdul Aziz dalam upayanya untuk menegakkan good qovernance, melalui sikap-sikap yang akuntabel dan menghindari pemanfaatan fasilitas negara untuk kepentingan diri, kelompok, dan keluarganya. Adakah pemimpin sekarang seperti Umar bin Abdul Aziz?

*) Penulis adalah Sekretaris Dewan Kebijakan Fahmina-institute Cirebon

  Sumber: Blakasuta Ed. 6 (2004)

Minggu, 28/08/2011 10:27 WIB

Berantas Korupsi

Said Zainal Abidin – detikNews
Pemberantasan Korupsi Butuh Kreativitas dan Kesabaran
Jakarta – Pemberantasan korupsi telah menjadi pekerjaan besar dan membutuhkan waktu yang panjang. Namun dengan segala ketekunan dan dukungan rakyat yang tak pernah putus, tak ada hambatan yang tak akan dapat ditembus. Selain itu, dibutuhkan juga kreatifitas dan kesabaran untuk dapat bekerja secara terus menerus.Pertama, kita membutuhkan kreativitas, karena kita berhadapan dengan perkembangan teknologi dan kelihaian dari para koruptor serta para pembelanya. Repotnya, kreatifitas dalam pemberantasan korupsi selalu harus mengindahkan batasan ketentuan peraturan perundang-undangan yang resmi, sementara para koruptor dapat berakrobat sesuka hati tanpa melihat batasan peraturan yang ada.Kedua, semua orang tahu, bahwa pemberantasan korupsi harus berhadapan dengan kekuasaan dan kekayaan yang besar. Dimana saja didunia, tindak pidana korupsi didukung oleh kekuatan pendanaan yang besar. Hampir semua koruptor terdiri dari orang-orang kaya. Dengan kata lain, yang melakukan korupsi itu adalah orang-orang kaya, bukan orang miskin. Sepanjang sejarah pemberantasan korupsi, belum pernah ditemukan ada korupsi yang dilakukan oleh orang miskin. Paling-paling mereka hanya menjadi alat atau suruhan dari orang kaya.Ketiga, koruptor itu memiliki kekuasaan. Maka itu ada istilah bahwa kekuasaan itu cenderung mendorong orang untuk korupsi, makin besar kekuasaan makin besar dorongan untuk melakukan korupsi (power tend to corrupt, the more powerful the more tend to corrupt and absolute power corrupt absolutely).Kekuasaan itu bermacam-macam. Ada yang berbentuk kekuasaan politik, kekuatan keuangan maupun dalam bentuk kekuatan phisik. Uniknya, masing-masing kekuatan itu cenderung saling melengkapi dan menciptakan. Pada tahap awal, tindak pidana korupsi membutuhkan dukungan kekuatan politik dari pihakm lain. Begitu pula sebaliknya.Untuk mendapatkan kekuasaan politik perlu dukungan kekayaan. Pada tahap selanjutnya, masing-masing pihak berusahan untuk melengkapi diri dengan memiliki sendiri kedua kekuasaan atau kekuatan itu sekaligus. Karena itu, penguasa (pemilik kekuasaan politik) cenderung berhasrat menjadi kaya. Sebaliknya, pengusaha ingin membeli kekuasaaan atau menjadi penguasa. Selanjutnya kedua kekuatan atau kekuasan yang telah terhimpun itu saling mendukung untuk menjadi lebih besar dan lebih besar lagi.Keempat, sebagai konsekwensi dari perpaduan kekuatan itu, setiap tindak pidana korupsi, di manapun di dunia ini, selalu didukung atau dibela oleh para pengacara yang lihai, yang harganya bermiliar-miliar rupiah. Yakni, mereka yang dapat memutihkan yang hitam dan menghitamkan yang putih. Mereka sangat lihai melihat dan mencari lobang-lobang atau celah-celah hukum dan kebijakan yang kurang rapi dan kurang hati-hati dalam perumusannya. Dinegara-negara tertentu, lubang-lubang itu memang sengaja dibuat.

Kelima, waktu untuk memberantas korupsi selalu terbatas. Keadaan ini disebabkan karena rakyat yang menderita akibat dari korupsi dan karena itu mendukung upaya pemberantasan korupsi, tidak sabar menunggu lebih lama. Mereka menghendaki pemberantasan korupsi dilakukan dengan bahasa rakyat. Yakni dengan cara sikat saja. Sementara koruptor selalu bertindak dengan perhitungan dan persiapan yang cukup lama yang didukung perpaduan kekuasaan atau kekuatan itu.

Di Indonesia, korupsi itu telah berurat berakar. Susunannya sudah berlapis-lapis. Muncul ke permukaan secara bergelombang. Susul menyusul tidak habis-habisnya. Bagaikan gelombang laut yang menghempas pantai secara beruntun. Habis satu, datang yang baru secara berkelanjutan.

Rakyat yang menderita beteriak dan berdemontrasi setiap hari didepan Kantor KPK. Mereka berdemonstrasi untuk memberi dukungan. Tetapi, hanya itu yang dapat mereka lakukan, karena pada umumnya para pendukung upaya pemberantasan korupsi (KPK) adalah orang-orang miskin yang tak memiliki kekayaan, apalagi kekuasaan politik.

Di samping itu banyak juga para intelektual yang mempunyai hati dan keinsafan terhadap akibat yang akan timbul terhadap nasib bangsa ini di masa depan, jika korupsi tidak dapat segera dituntaskan sampai ke akar-akarnya.

Sebab itu, apa yang diperlukan adalah, pertama, kreatifitas dari segenap pihak, baik dari mereka yang berada dalam lembaga resmi seperti KPK dan PPATK dan lain-lain, maupun dari mereka yang selalu memberi dukungan dengan pikiran-pikiran yang brilian tanpa henti dan para pelapor dari seluruh pelosok Tanah Air.

Kedua, kesabaran untuk secara terus menerus bergerak dan berupaya sampai tuntas. Percayalah, bahwa Allah SWT selalu berada dipihak yang benar. Insya Allah, dalam waktu yang tidak akan terlalu lama lagi, semua korupsi akan dapat disapu bersih di Indonesia.

*) Said Zainal Abidin adalah ahli majanemen pembangunan daerah (regional development management) dan kebijakan publik, guru besar STIA LAN. Sekarang sebagai penasihat KPK.

(vit/vit)


2 Responses to “qs : anti korupsi”


  1. January 25, 2012 at 9:29 pm

    Download Kumpulan Contoh Makalah Gratis

  2. January 25, 2012 at 10:12 pm

    niche for share gan , terima kasih


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




Blog Stats

  • 3,148,238 hits

Recent Comments

Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Sejarah : Bangsa Lemuria, Lelu…

%d bloggers like this: