Archive for December, 2009

31
Dec
09

PEPORA : PerPres 14/2007, Legalisasi Korupsi Lapindo

Perpres 14/2007, Legalisasi Korupsi Lapindo

Oleh : Subagyo SH

MASYARAKAT korban lumpur Lapindo semakin terlunta-lunta. Masa depan dan keselamatan rakyat di wilayah-wilayah kerja korporasi pertambangan terancam akibat pencemaran dan kerusakan lingkungan hidup. Bukan untung, malah buntung.

Dalam rangka penyelesaian kasus lumpur Lapindo di Sidoarjo, presiden telah mengeluarkan Peraturan Presiden Nomor 14 Tahun 2007 (Perpres No. 14/2007) tentang Badan Penanggulangan Lumpur Sidoarjo. Tetapi hari demi hari yang kita lihat adalah nasib para korban yang seolah-olah hidup di dalam kontes penderitaan.

Warga korban memang sudah ‘tertipu’ sejak awal-awal kasus ini. Bayangkan, untuk mendapatkan rumah baru, mereka terperosok dalam alam pikiran yang sudah didesain, yaitu: ganti rugi dengan format jual beli tanah, yang ujung-ujungnya ribut soal ada atau tidaknya sertifikat, setelah itu harus ada jaminan dari Bupati Sidoarjo bahwa tanah yang dijual kepada Lapindo tidak bermasalah, dan lain-lain. Padahal secara hukum, tanpa menjual tanah pun masyarakat korban berhak memperoleh ganti kerugian yang jumlahnya tak terhingga sebab telah kehilangan harta benda dan penderitaan hidup serta mengalami kehancuran seperti itu.

Lapindo jelas dilindungi oleh Perpres No. 14/2007. Pasal 15 menentukan bahwa kewajiban Lapindo melakukan pembayaran tanah dan bangunan korban yang terkena dampak lumpur dilakukan secara bertahap.

Skema pembayaran 20 persen di muka dan 80 persen sebelum masa kontrak rumah dua tahun tersebut dipaksakan dengan hukum alat kekuasaan yang berupa Perpres No. 14/2007. Ini regulasi administratif yang melanggar asas keadilan bagi korban untuk menggugat ganti kerugian secara bebas dan penuh.

Perpres No. 14/2007 juga merugikan rakyat sebab Lapindo hanya dibebani membayar peta daerah terdampak tanggal 22 Maret 2007. Jika ternyata nantinya dampak semburan lumpur Lapindo terus meluas maka biaya masalah sosial kemasyarakatan di luar peta area terdampak tanggal 22 Maret 2007 dibebankan pada APBN atau sumber lain yang sah. Jadi seluruh rakyat Indonesia akan menanggungnya.

Selain itu, Lapindo juga diberi diskon lebih banyak dengan ketentuan bahwa biaya untuk upaya penanganan masalah infrastruktur termasuk infrastruktur penanganan luapan lumpur di Sidoarjo, dibebankan kepada APBN dan sumber dana lainnya yang sah (pasal 15 ayat 6). Ada pepatah, “Siapa yang berbuat, dia yang bertanggung jawab,” tetapi khusus dalam kasus Lumpur Lapindo itu menjadi, ”Lapindo yang berbuat, mari kita ikut kualat!”

Jelaslah bahwa Perpres No. 14/2007 adalah termasuk kebijakan ‘kesopanan’ pemerintah pusat pro Lapindo, tidak tegas dalam memberesi persoalan rakyat akibat kebijakan pengelolaan usaha hulu minyak dan gas bumi (migas) yang tidak berorientasi pada social safety.

Perpres No. 14/2007, sebagai ‘regulasi kesopanan’ kepada yang mulia investor tersebut, juga bertentangan dengan UU No. 22/2001 menentukan bahwa kontrak kegiatan usaha hulu migas antara pemerintah (diwakili BP Migas) dengan korporasi usaha hulu migas harus memuat klausul adanya penanggungan seluruh modal dan resiko dalam kegiatan usaha migas oleh korporasi tersebut (pasal 6 ayat (2) huruf c).

Setelah negara ini telah ditundukkan independensinya oleh asing dengan UU No. 22/2001, maka kini justru rakyat pun harus ditekan lagi ketertundukannya dengan Perpres No. 14/2007 yang derajat keadilannya lebih buruk dari UU No. 22/2001 yang sudah buruk itu. Setelah pemerintah menggadaikan kedaulatan (terjajah), kini justru menindas (menjajah) rakyatnya sendiri. Bukan salah takdir kalau kita lahir di negara ini. Desy Ratnasari harus dikecam ulama ketika bersyair, “Takdir memang kejam.” Mana fatwamu dalam kasus lumpur Lapindo, hai yang mulia Majelis Ulama Indonesia?

Perpres No. 14/2007 menjadi alat legalisasi korupsi sebab memberikan dasar agar dampak kerusakan ekologis kasus lumpur Lapindo dibebankan pada keuangan negara, tanpa menentukan kewajiban agar Lapindo (dan korporasi dalangnya) untuk mengganti pengeluaran negara.

Masyarakat korban Lapindo pun sudah tidak percaya kepada siapa-siapa. Percuma segala cara dan acara diadakan, jika tak ada perubahan terhadap nasib korban. Segala proyek penyelesaian teknis untuk menghentikan, menghambat atau mengalirkan lumpur telah memakan dana ratusan miliar. Tapi kalau kelakuan orang Indonesia seringkali mengail ikan di air keruh maka hak publik akan terus dikorupsi, termasuk dana yang telah dikeluarkan Lapindo. Semakin lama lumpur mengalir maka semakin banyak ‘ikan’ yang diperoleh para pengail.

Mengendalikan lumpurnya memang sulit. Tapi, tak ada kebijakan yang tegas dari pemerintah pusat untuk segera mengentaskan korban langsung dari keadaan hidup yang mengenaskan. Lapindo yang ‘tidak lulus’ dalam menyelenggarakan usaha hulu migas mestinya ‘dipecat’ izinnya dan digugat untuk membayar ganti rugi. Para pengurus ‘kapal’ Lapindo dan nahkodanya seharusnya segera dipidanakan karena telah melakukan kejahatan ekologis paling mengerikan dalam sepanjang sejarah republik BBM (Berulang-ulang Benjut dan Memble) ini.

Seumur-umur kita hidup di negara di mana keadilan dan kesejahteraan merupakan utopia dan mimpi yang selalu diteriak-teriakkan dalam kampanye-kampanye pemilu. Entah berapa banyak obat tidur yang telah kita telan sehingga tak sanggup-sanggup untuk bangun menyadari kenyataan. Para petualang semakin lama membius rakyat dan setelah itu mencuri kekayaan negara dengan leluasa.

Mari teruskan mimpi indah sebagai rakyat Indonesia yang hidup di negara demokratis, adil, makmur dan kaya-raya, berdasarkan Pancasila dan UUD 1945! Suatu saat jika kita terbangun, harta hilang dicuri orang yang telah kita pilih dalam pemilu yang telah bekerjasama dengan para sponsor dan donaturnya.

* Subagyo SH, Aktivis dari LHKI, WALHI Jatim, LBH-KL, dan anggota Tim Advokasi Kemanusiaan Korban Lumpur Lapindo.

Sumber: http://www.surabaya pagi.com/ index.php? p=detilberita&id=32231

Advertisements
31
Dec
09

PEPORA : Tahun 2010, Tahun Penentuan

Suara Pembaruan

ZOOM2009-12-31Tahun 2010, Tahun Penentuan
Oleh Primus Dorimulu, Wartawan “SP”

Hari ini menentukan hari esok. Semua yang kita lakukan hari ini menentukan peruntungan kita pada masa akan datang. Karena itu, tidak ada tahun yang lebih penting dari tahun lainnya. Tapi, mengapa tahun 2010 adalah tahun yang sangat menentukan perjalanan bangsa Indonesia lima, bahkan 30 tahun ke depan? Berhasil-tidaknya Indonesia menjadi bangsa makmur sejahtera dan negara besar yang disegani dunia ditentukan oleh langkah konkret yang diambil pemerintah tahun 2010.

Tahun depan adalah tahun pertama pemerintahan kedua Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Jika dalam lima tahun pertama, pemerintahan SBY lebih banyak disibukkan oleh upaya mengatasi dampak buruk lonjakan harga minyak mentah dan dampak krisis global, dalam lima tahun ke depan pemerintah diharapkan mampu memperkuat fondasi ekonomi, sehingga mulai 2015, pertumbuhan ekonomi Indonesia bisa melaju lebih kencang. Hanya dengan laju pertumbuhan ekonomi di atas 7% setahun, Indonesia mampu menjadi negara besar.

Fondasi ekonomi Indonesia masih rapuh. Setelah 64 tahun merdeka, pertanian dan industri, dua sektor yang menyerap 70% tenaga kerja masih tercecer. Ekonomi Indonesia akan kokoh seperti negara maju jika dua sektor ini dikelola dengan baik. Jika kedua sektor ini mampu meningkatkan daya beli rakyat dan memberikan kontribusi besar kepada produk domestik bruto (PDB). Akibat kelemahan dua sektor utama ini, ekspor Indonesia jauh di bawah Singapura, negera kecil yang hanya seluas Jakarta. PDB per kapita Indonesia baru US$ 3.300, jauh di bawah Malaysia yang sudah mencapai US$ 8.500.

Luas lahan 24 juta keluarga petani hanya rata-rata 0,3 ha. Tidak mungkin hidup sejahtera dengan luas lahan sebesar ini. Tak pelak lagi, mayoritas petani desa hidup miskin. Untuk memperbaiki hidup, sebagian petani -yang sesungguhnya adalah buruh tani-mengadu nasib ke kota. Urbanisasi tak terbendung. Kota menjadi kumuh karena para perantau adalah pekerja yang tidak memiliki keterampilan dan pendidikan. Sekitar 70% lebih tenaga kerja Indonesia terserap di sektor informal.

Dalam beberapa tahun terakhir, satu demi satu industri manufaktur Indonesia rontok akibat kalah bersaing. Infrastruktur belum mendukung. Ketersediaan energi masih menjadi masalah.

Pasokan listrik tidak stabil. Peraturan tenaga kerja masih merugikan perusahaan. Tahun depan, dengan diterapkannya Asean-China Free Trade Area (AC-FTA –perdagangan bebas lingkup Asean plus Tiongkok), industri manufaktur lebih bermasalah lagi. Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) memperkirakan, AC-FTA akan menjadi ajang pembantaian industri manufaktur Indonesia. Tanpa ada langkah antisipasi yang tepat, Apindo memperkirakan PHK tahun depan bakal mencapai 7,5juta.

Indonesia berpotensi menjadi negara besar. Luas wilayah, alam yang masih kaya, dan dan jumlah penduduk yang mencapai 230 juta adalah modal untuk menjadi besar dan sejahtera. Jika dalam jumlah penduduk, Indonesia sudah masuk the big four, mestinya dalam tingkat kemakmuran Indonesia juga masuk empat besar, atau minimal sepuluh besar. Faktanya, saat ini, PDB Indonesia baru US$ 550 miliar atau menempati peringkat ke-19. Sedangkan PDB per kapita Indonesia berada di urutan ke-115 dari 179 negara yang disurvei Bank Dunia.

Kegaduhan Politik

Tahun 2010 adalah tahun penting untuk membangun fondasi ekonomi Indonesia. Tapi, suasana politik yang kian gaduh membuat para pengamat yang pada Agustus 2009 optimistis akan masa depan Indonesia, kini mulai ragu. Jika sejumlah kasus hukum tidak segera diselesaikan dengan baik, kredibilitas pemerintah akan jatuh dan situasi politik akan memburuk. Kegiatan investasi terganggu dan perbaikan ekonomi sulit berjalan dengan baik, minimal sesuai rencana.

Dalam dua bulan pertama, waktu dan energi pemerintah nyaris dihabiskan untuk mengurusi kasus kriminalisasi Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dengan korban Bibit Samad Rianto dan Chandra M Hamzah, dua wakil ketua lembaga superbody itu. Kini, setelah Bibit dan Chandra kembali yang sempat dinonaktifkan ke posisinya, KPK belum sepenuhnya pulih dari krisis kepercayaan diri. Kriminalisasi yang dilakukan sistematis terhadap para petinggi lembaga pemberantas korupsi itu membuat mereka kini kehilangan semangat tarung.

Fakta persidangan kasus pembunuhan Nasruddin Zulkarnaen yang menghadirkan mantan Ketua KPK Antasari Azhar sebagai terdakwa mulai memperlihatkan tanda-tanda rekayasa. Sebagai ketua KPK, Antasari tidak sepenuhnya bersih. Ada kesan tebang pilih dalam menangani kasus. Tapi, langkah yang diambil pria necis berkumis tebal itu cukup membuat petinggi pemerintahan, Polri, Kejaksaan, dan anggota parlemen gerah dan merasa tidak aman. Kriminalisasi KPK ditengarai dimulai dari penahanan Antasari. Satu per satu terdakwa kasus pembunuhan Nasruddin membantah berita acara perkara (BAP) yang dibuat sebelumnya.

Kasus Bank Century akan menyita banyak waktu dan energi pemerintah. Pemanggilan Wapres Boediono dan Menkeu Sri Mulyani Indrawati oleh Pansus Angket Century sedikit-banyaknya mengurangi efektivitas pemerintahan. Sedang pemanggilan para mantan petinggi Bank Indonesia (BI), pegawai BI, mantan Wapres Muhammad Jusuf Kalla, pejabat Pusat Pelaporan dan Analisis Keuangan (PPATK), dan sejumlah saksi kunci lainnya bisa mengungkapkan fakta baru tentang keterlibatan para politisi dan penguasa dalam kasus yang berpotensi merugikan negara Rp 6,7 triliun.

Buku George Junus Aditjondro berjudul, Membongkar Gurita Cikeas, Di Balik Skandal Bank Century memberikan kehebohan tersendiri. Meski ada sejumlah isi tulisan yang dinilai tidak akurat, buku ini berhasil mengungkapkan hubungan politik dan bisnis serta minimnya transparansi mobilisasi dana untuk kepentingan kampanye pemilu dan pilpres. Perlakuan yang keliru terhadap buku ini dan penulisnya bisa memicu krisis politik.

Presiden SBY sudah mencanangkan pembasmian mafia hukum sebagai salah satu target Seratus Hari Kabinet Indonesia Bersatu (KIB) II. Namun, hingga saat ini, tidak langkah meyakinkan untuk memproses para calo kasus. Anggodo yang sudah jelas-jelas mengaku menyuap KPK masih menghirup udara bebas. Hukum masih jauh dari keadilan. Dalam kasus Bibit dan Chandra hukum mengikuti politik. Padahal, dalam negara yang menjunjung rule of law, politik harus mengikuti hukum.

Potensi kegaduhan politik juga bisa datang dari ratusan pilkada yang bakal digelar tahun 2010. Politik uang pada setiap pilkada perlu lebih ditertibkan agar pilkada tidak berpotensi memicu konflik horizontal.

Tahun Menjanjikan

Optimisme menyambut tahun 2010 sesungguhnya sangat berdasar. Keamanan semakin stabil pasca penembakan Noordin M Top, gembong teroris yang paling dicari aparat keamanan. Pemilu Legislatif dan Pilpres 2009 berjalan aman dan menjadi salah satu bukti bahwa demokrasi yang mulai digulirkan tahun 1998 semakin matang.

Pemilu 2009 juga melahirkan pemimpin yang kuat. Dengan hasil pilpres 61%, Presiden SBY mendapat modal politik yang sangat kuat untuk kembali memimpin Indonesia lima tahun ke depan. Modal politik SBY pun semakin mantap dengan koalisi di parlemen yang mencapai 57%, bahkan di atas 75% jika Golkar juga diperhitungkan. Posisi double winner diharapkan membuat Presiden lebih mantap dan tegas dalam mengambil kebijakan.

Namun, penanganan kasus kriminalisasi KPK, penahanan Bibit dan Chandra, pemberantasan mafia mafia peradilan, serta kasus Bank Century tidak menunjukkan kuatnya dukungan politik yang dimiliki pemerintah. Presiden terkesan ragu dan banyak mengeluhkan perlakuan pihak tertentu yang dinilainya tidak fair.

Modal politik dikhawatirkan tergerus jika koalisi parpol pendukung SBY tidak lagi kompak. Sikap parpol terhadap skandal Century sudah memperlihatkan tanda-tanda perpecahan. Koalisi yang solid di parlemen sangat penting untuk memuluskan RUU yang diajukan pemerintah. Tanpa dukungan parlemen, program pemerintah akan terganjal. UU Ketenagakerjaan yang selama ini mengganggu iklim investasi harus diamandemen. Begitu pula amandemen UU Sistem Jaminan Sosial Nasional dan RUU Badan Penyelenggara Jaminan Sosial Nasional.

Dari sisi ekonomi, tahun 2009 diakhiri dengan sejumlah sukses yang bisa membangkitkan optimisme menyambut 2010. Selama 2009, suku bunga simpanan turun sekitar 5% ke level 4-7% meski bunga kredit hanya turun tipis 2-3%. Suku bunga bank sentral, BI rate, sudah sejak lima bulan lalu berada di level 6,5%.

Perkembangan ini terjadi karena laju inflasi 2009 kemungkinan besar berhasil ditekan di level 3%. Selama sebelas bulan pertama 2009, inflasi hanya sebesar 2,45%. Kurs rupiah relatif stabil di kisaran Rp 9.200-Rp 9.500 per dolar AS. Bila tidak ada lonjakan harga minyak mentah hingga di atas US$ 100 per barel, gejolak ekonomi global, dan kenaikan harga barang yang dikendalikan pemerintah, inflasi tahun depan bisa ditekan ke level 4%.

Kinerja Bursa Efek Indonesia tahun 2009 merupakan salah satu yang terbaik di dunia. Selama tahun ini, indeks harga saham gabungan (IHSG) melesat 87% menjadi 2.534, menempati peringkat kedua setelah Indeks Shenzen, RRT, yang melesat hingga 116%. Tidak ada alasan pemodal tidak mengalihkan dananya ke pasar modal Indonesia. Tahun depan, para manajer investasi kakap yang selama ini wait and see akan masuk Indonesia.

Masuk The Big Four

Jika dikelola dengan baik, Indonesia bisa masuk the big four dilihat dari PDB. Saat ini, Indonesia yang memiliki PDB US$ 550 miliar menempati peringkat ke-19. Sedangkan dilihat dari pendapatan per kapita yang baru US$ 3.300, Indonesia berada di peringkat ke-115 dari 179 negara yang disurvei Bank Dunia. Tidak salah jika kita bermimpi Indonesia mampu masuk the big four pada tahun 2040. Modal untuk mencapai level itu sudah kita miliki. Saat ini, Indonesia masuk the big four berdasarkan jumlah penduduk. Dengan jumlah penduduk 230 juta, Indonesia menempati peringkat keempat negara dengan jumlah penduduk terbesar se setelah Tiongkok (1,3 miliar), India (1,1 miliar), dan AS (340 juta).

Bila dikelola dengan tepat, Indonesia mampu menjadi salah satu kekuatan ekonomi terbesar di dunia seperti tercermin pada jumlah penduduk yang besar. Meski sudah banyak dikeruk, kekayaan alam Indonesia masih besar. Negeri yang terbentang di sepanjang garis kathulistiwa ini masih kaya akan sumber daya alam. Indonesia masih memiliki gas, batubara, berbagai jenis mineral juga masih berlimpah. Lahan luas dan subur mampu menopang Indonesia menjadi lumbung pangan dan energi dunia.

Untuk bisa menjadi negara besar dan makmur, kita berharap agar tahun 2010 bisa menajdi tahun penting bagi pemerintah untuk membangun fondasi ekonomi Indonesia agar mulai tahun 2014, pertumbuhan ekonomi Indonesia bisa melaju minimal 10 persen per tahun. Pertama, untuk memajukan sektor pertanian, land reform atau reformasi agraria perlu segera dilakukan. Pastikan bahwa setiap petani memiliki lahan tidak kurang dari 2 ha. Deptan dan lembaga terkait harus bisa mengembangkan bibit unggul, pupuk organik, dan tenaga pendamping petani.

Kedua, pemerintah perlu lebih serius dan terarah membangun industri manufaktur. Hadapi produk RRT dengan menciptakan daya saing produk nasional dan mengajak seluruh rakyat untuk mengutamakan produk lokal. Para pemimpin harus memberikan suri teladan. Industri pengolahan produk pertanian, perkebunan, hingga pertambangan harus mulai dibangun.

Ketiga, pembangunan infrastruktur tidak boleh lagi sekadar wacana. Mulai tahun 2010, jalan tol dibangun lebih cepat. Begitu pula pelabuhan laut dan udara. Krisis listrik harus bisa segera diatasi menggunakan sumber energi yang lebih murah, yakni gas dan batubara.

Keempat, perbaiki iklim investasi dengan mengamandemen semua peraturan yang tidak menguntungkan pemodal dan pekerja. Kelima, pembangunan kawasan harus dilakukan terpadu dengan pembangunan infrastruktur dan itu semua harus didahului penetapan rencata tata ruang.

Ketika dunia diguncang krisis finansial tahun 2008, ekonomi Indonesia mampu tumbuh 6,1%. Indonesia mampu mengatasi krisis dan menjadi negara besar dan makmur jika ada tekad, perencanaan yang baik , dan kerja keras. Dengan semangat “Indonesia bisa”, tahun 2010 akan menjadi tahun menjanjikan dengan laju pertumbuhan ekonomi di atas 6%. Tahun 2010 akan menjadi tahun yang memberikan fondasi bagi pembangunan ekonomi selanjutnya.

31
Dec
09

Historia : Wisata Situs Keemasan Majapahit

Wisata Situs, Mereka-reka Masa Keemasan Majapahit
Situs Segaran di Trowulan, Mojokerto, Jawa Timur, yang merupakan salah satu kolam kuno Majapahit. Kolam ini memiliki panjang 375 meter dan lebar 125 meter.

Jumat, 4 Desember 2009 | 09:35 WIB

Myrna Ratna

KOMPAS.com – Inginkah Anda merasakan sensasi yang membangkitkan rekaan tentang kehidupan ratusan tahun silam ketika Kerajaan Majapahit (abad XIII- abad XV) mencapai masa kejayaannya? Jejak masa keemasan itu ada di Trowulan, Mojokerto, Jawa Timur.

Mungkin inilah satu-satunya situs kota di Indonesia yang luasnya sekitar 11 km x 9 km (99 km persegi) dan menyimpan ratusan ribu peninggalan arkeologis, baik yang sudah ditemukan maupun yang masih terkubur.

Mampirlah ke kolam kuno Majapahit, Segaran, yang memiliki panjang 375 m dan lebar 125 meter, dengan ketinggian dinding 3,16 meter. Kolam yang sampai saat ini masih dialiri air tersebut tak ubahnya telaga di tengah kota. Pada zaman Majapahit, Segaran merupakan tempat rekreasi sekaligus tempat untuk menjamu tetamu dari luar negeri.

Konon, saking makmurnya kerajaan ini, setelah perjamuan usai, peralatan makan, seperti sendok dan piring yang terbuat dari emas, dibuang ke kolam (Mengenal Kepurbakalaan Majapahit di Daerah Trowulan, I Made Kusumajaya, Aris Soviyani, Wicaksono Dwi Nugroho).

Sempatkan juga mengunjungi situs Wringin Lawang dan duduk di pelatarannya yang asri. Gapura berbentuk simetris dan dibangun dari batu merah ini diduga merupakan bagian dari tembok keliling kota. Temuan-temuan arkeologis yang ditemukan di sekitar situs berupa sumur-sumur kuno menguatkan dugaan bahwa wilayah ini dulunya merupakan kawasan permukiman. Suasana di sekitar situs yang relatif sepi, hamparan rumput yang luas dengan semilir angin yang tak henti, membuat tempat ini menjadi tetirah yang menenangkan.

Menikmati

Begitu banyak situs penting di Trowulan sehingga untuk menikmatinya mungkin membutuhkan waktu lebih dari sehari. Di antaranya, ”ikon” Trowulan: Candi Brahu dan Candi Tikus. Candi Tikus merupakan bangunan petirtaan yang memiliki puluhan pancuran. Juga sejumlah makam (yang kerap dikeramatkan), seperti makam Putri Campa (permaisuri Raja Majapahit terakhir, Brawijaya), pekuburan Islam kuno Troloyo yang membuktikan adanya komunitas Muslim di dalam kota kerajaan Majapahit, dan makam Panjang yang menunjukkan adanya penghuni Trowulan sebelum era Majapahit.

Untuk ”menyatukan” mozaik pemahaman yang didapatkan lewat situs-situs yang tersebar di Kecamatan Trowulan, ada baiknya kita meluangkan waktu ke Museum Trowulan yang jaraknya tak jauh dari situs Segaran. Di sini gambaran kejayaan Majapahit tersajikan secara lebih utuh dan sistematis.

Kebetulan, kunjungan pada pertengahan November itu bertepatan dengan Pameran Majapahit yang diselenggarakan Departemen Kebudayaan dan Pariwisata Indonesia yang bekerja sama, antara lain, dengan Departemen Arkeologi Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia.

Pameran ini memperkaya pemahaman pengunjung tentang tingkat peradaban di Trowulan pada era Majapahit, mulai dari sistem pemerintahan, perdagangan, hubungan luar negeri, teknologi, arsitektur, pertanian, hingga seni kerajinan.

Situs yang berada di sebelah selatan halaman Museum Trowulan, misalnya, memperlihatkan sisa-sisa bangunan permukiman pada era Majapahit. ”Hasil penggalian ini sangat penting karena menunjukkan struktur lengkap sebuah rumah zaman Majapahit, termasuk selokan dan saluran airnya,” kata guru besar luar biasa Departemen Arkeologi FIPB Universitas Indonesia, Prof Dr Moendardjito, sambil menunjuk ke arah situs permukiman BPA (balai penyelamatan arkeologi). Moendardjito saat ini merupakan Ketua Tim Evaluasi, Rehabilitasi, Relokasi, dan Rancang Ulang Pusat Informasi Majapahit di Trowulan.

Kekaguman makin bertambah ketika saya diizinkan menengok ruang penyimpanan benda-benda purbakala berupa koleksi benda-benda terakota, keramik, logam, dan batu yang masing-masing memiliki ”gudang” sendiri. Koleksi yang jumlahnya ribuan ini tidak dipamerkan untuk umum. ”Kami masih memiliki puluhan ribu koleksi lainnya yang disimpan di tempat rahasia, demi alasan keamanan,” kata Fatoni dari Kantor Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala (BP3) Mojokerto.

Mungkin ini hari keberuntungan saya, bisa mengamati koleksi langka nan indah yang menggambarkan peradaban maju pada masa silam. Kemampuan para perajin logam (emas, perak, kuningan, perunggu, tembaga, besi) pada era itu telah mencapai tingkatan empu. Bahkan, lonceng dari logam untuk gantungan di leher sapi pun ditatah dengan cita rasa tinggi. ”Coba lihat lampu minyak ini. Indah sekali kan,” kata arkeolog Ni Ketut Wardhani dari BP3 Jatim yang bertanggung jawab terhadap ruang penyimpanan benda-benda logam.

Di ruangan ini pun yang tersimpan hanya sebagian koleksi museum, kebanyakan berupa benda-benda keseharian, seperti sanggurdi (pijakan untuk kaki pada pelana kuda), gong, aneka perhiasan, peralatan sesaji, dan kelat bahu.

Dari patung sampai batik

Saat ini, talenta masyarakat Trowulan dalam seni kerajinan logam, batu, maupun terakota tetap terpelihara. Perajin logam, khususnya kuningan, dapat ditemui di sepanjang Dusun Kedungwulun, Desa Bejijong. Aneka cendera mata, dari tingkat kesulitan yang mudah sampai sangat rumit, tersedia di sini dengan harga yang terjangkau.

Pengunjung pun bisa meninjau langsung proses pembuatannya yang meliputi pembuatan model dari lilin, pencetakan, pembakaran, pengecoran, penuangan, penghalusan, dan pewarnaan. Sebuah proses yang panjang dan rumit, yang butuh ketelitian, kesabaran, dan cita rasa.

Demikian juga dengan seni pahat batu. Kami sempat menemui salah satu pemahat batu terbaik di sini, Sutikno, yang karyanya dikoleksi sejumlah hotel dan bar di dalam dan luar negeri. Di bengkel kerjanya terdapat patung Buddha raksasa, pesanan kolektor dari luar negeri, dan beragam patung batu lain yang terinspirasi benda-benda purbakala peninggalan masa Majapahit.

Bahkan, batik pun ada di sini. Namun, perlu kesabaran bertanya untuk bisa menemukan lokasinya. Warga setempat umumnya mengernyitkan dahi mendapat pertanyaan tentang ”batik Mojokerto”. Adalah Erna, perempuan setengah baya yang keluarganya secara turun temurun meneruskan tradisi membatik dengan canting (tulis) di kediamannya di kawasan Surodinawan. Bisa jadi, dia kini tinggal satu-satunya pembatik yang masih produktif di Mojokerto.

”Kekhasan batik Mojokerto itu ya pada simbol Surya Majapahit. Itu patennya,” kata Erna yang biasanya menyelesaikan sepotong kain batik sekitar satu bulan. ”Karena membatik itu harus pakai hati. Kalau lagi gelo (susah hati), lebih baik tidak usah meneruskan membatik,” kata perempuan yang sehari-hari menjadi guru sekolah dasar ini. Batik tulis halus buatan Erna selain bermotif khas Surya Majapahit (lingkaran yang melambangkan sinar matahari) juga dicampur dengan motif ” merica bolong”, ”beras tumpah”, dan motif-motif primitif.

Kini, di mana tempat paling pas untuk menutup rangkaian wisata situs ini? Di salah satu rumah makan yang berjejer di depan Kolam Segaran. Menunya, tentu saja khas Mojokerto, ikan wader, nasi panas, lalapan, sambal tomat, dan sebutir kelapa muda penghapus dahaga….

Editor: wsn

Sumber : Kompas Cetak

31
Dec
09

PEPORA : Profil dan Cakrawala Gus Dur

Biografi Singkat

By Republika Newsroom
Rabu, 30 Desember 2009 pukul 20:05:00

Biografi Singkat Gus DurDION-BATA.BLOGSPOT.COM

Nama:
Abdurrahman Wahid
Lahir:
Denanyar, Jombang, Jawa Timur, 4 Agustus 1940.
Orang Tua:
Wahid Hasyim (ayah), Solechah (ibu).
Istri :
Sinta Nuriyah
Anak-anak :
Alisa Qotrunnada, Zannuba Ariffah Chafsoh, Anisa Hayatunufus, Inayah Wulandari
Pendidikan :
• Pesantren Tambak Beras, Jombang (1959-1963)
• Departemen Studi Islam dan Arab Tingkat Tinggi, Universitas Al-Azhar, Kairo, Mesir (1964-1966)
• Fakultas Surat-surat Universitas Bagdad (1966-1970)
Karir
• Pengajar Pesantren Pengajar dan Dekan Universitas Hasyim Ashari Fakultas Ushuludin (sebuah cabang teologi menyangkut hukum dan filosofi)
• Ketua Balai Seni Jakarta (1983-1985)
• Penemu Pesantren Ciganjur (1984-sekarang)
• Ketua Umum Nahdatul Ulama (1984-1999)
• Ketua Forum Demokrasi (1990)
• Ketua Konferensi Agama dan Perdamaian Sedunia (1994)
• Anggota MPR (1999)
• Presiden Republik Indonesia (20 Oktober 1999-24 Juli 2001)
Penghargaan
• Penghargaan Magsaysay dari Pemerintah Filipina atas usahanya mengembangkan hubungan antar-agama di Indonesia (1993)
• Penghargaan Dakwah Islam dari pemerintah Mesir (1991)

Perjalanan Karir

By Republika Newsroom
Rabu, 30 Desember 2009 pukul 20:00:00

Perjalanan Karir Gus DurWORDPRESS.COM

Sepulang dari pegembaraanya mencari ilmu, Gus Dur kembali ke Jombang dan memilih menjadi guru. Pada tahun 1971, tokoh muda ini bergabung di Fakultas Ushuludin Universitas Tebu Ireng Jombang. Tiga tahun kemudian ia menjadi sekretaris Pesantren Tebu Ireng, dan pada tahun yang sama Gus Dur mulai menjadi penulis. Ia kembali menekuni bakatnya sebagaii penulis dan kolumnis. Lewat tulisan-tulisan tersebut gagasan pemikiran Gus Dur mulai mendapat perhatian banyak.

Djohan Efendi, seorang intelektual terkemuka pada masanya, menilai bahwa Gus Dur adalah seorang pencerna, mencerna semua pemikiran yang dibacanya, kemudian diserap menjadi pemikirannya tersendiri. Sehingga tidak heran jika tulisan-tulisannya jarang menggunakan foot note.

Pada tahun 1974 Gus Dur diminta pamannya, K.H. Yusuf Hasyim untuk membantu di Pesantren Tebu Ireng Jombang dengan menjadi sekretaris. Dari sini Gus Dur mulai sering mendapatkan undangan menjadi nara sumber pada sejumlah forum diskusi keagamaan dan kepesantrenan, baik di dalam maupun luar negeri.

Selanjutnya Gus Dur terlibat dalam kegiatan LSM. Pertama di LP3ES bersama Dawam Rahardjo, Aswab Mahasin dan Adi Sasono dalam proyek pengembangan pesantren, kemudian Gus Dur mendirikan P3M yang dimotori oleh LP3ES.

Pada tahun 1979 Gus Dur pindah ke Jakarta. Mula-mula ia merintis Pesantren Ciganjur. Sementara pada awal tahun 1980 Gus Dur dipercaya sebagai wakil katib syuriah PBNU. Di sini Gus Dur terlibat dalam diskusi dan perdebatan yang serius mengenai masalah agama, sosial dan politik dengan berbagai kalangan lintas agama, suku dan disiplin. Gus Dur semakin serius menulis dan bergelut dengan dunianya, baik di lapangan kebudayaan, politik, maupun pemikiran keislaman.

Karier yang dianggap ‘menyimpang’-dalam kapasitasnya sebagai seorang tokoh agama sekaligus pengurus PBNU-dan mengundang cibiran adalah ketika menjadi ketua Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) pada tahunn 1983. Ia juga menjadi ketua juri dalam Festival Film Indonesia (FFI) tahun 1986, 1987.

Pada tahun 1984 Gus Dur dipilih secara aklamasi oleh sebuah tim ahl hall wa al-’aqdi yang diketuai K.H. As’ad Syamsul Arifin untuk menduduki jabatan ketua umum PBNU pada muktamar ke-27 di Situbondo. Jabatan tersebut kembali dikukuhkan pada muktamar ke-28 di pesantren Krapyak Yogyakarta (1989), dan muktamar di Cipasung Jawa Barat (1994). Jabatan ketua umum PBNU kemudian dilepas ketika Gus Dur menjabat presiden RI ke-4.

Meskipun sudah menjadi presiden, ke-nyleneh-an Gus Dur tidak hilang, bahkan semakin diketahui oleh seluruh lapisan masyarakat. Dahulu, mungkin hanya masyarakat tertentu, khususnya kalangan nahdliyin yang merasakan kontroversi gagasannya. Sekarang seluruh bangsa Indonesia ikut memikirkan kontroversi gagasan yang dilontarkan oleh K.H. Abdurrahman Wahid.

Catatan perjalanan karier Gus Dur yang patut dituangkan dalam pembahasan ini adalah menjadi ketua Forum Demokrasi untuk masa bakti 1991-1999, dengan sejumlah anggota yang terdiri dari berbagai kalangan, khususnya kalangan nasionalis dan non muslim. Anehnya lagi, Gus Dur menolak masuk dalam organisasi ICMI (Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia). Tidak hanya menolak bahkan menuduh organisai kaum ‘elit Islam’ tersebut dengan organisasi sektarian.

Dari paparan tersebut di atas memberikan gambaran betapa kompleks dan rumitnya perjalanan Gus Dur dalam meniti kehidupannya, bertemu dengan berbagai macam orang yang hidup dengan latar belakang ideologi, budaya, kepentingan, strata sosial dan pemikiran yang berbeda. Dari segi pemahaman keagamaan dan ideologi, Gus Dur melintasi jalan hidup yang lebih kompleks, mulai dari yang tradisional, ideologis, fundamentalis, sampai moderrnis dan sekuler.

Dari segi kultural, Gus Dur mengalami hidup di tengah budaya Timur yang santun, tertutup, penuh basa-basi, sampai denga budaya Barat yang terbuka, modern dan liberal. Demikian juga persentuhannya dengan para pemikir, mulai dari yang konservatif, ortodoks sampai yang liberal dan radikal semua dialami.

Pemikiran Gus Dur mengenai agama diperoleh dari dunia pesantren. Lembaga inilah yang membentuk karakter keagamaan yang penuh etik, formal, dan struktural. Sementara pengembaraannya ke Timur Tengah telah mempertemukan Gus Dur dengan berbagai corak pemikirann Agama, dari yang konservatif, simbolik-fundamentalis sampai yang liberal-radikal.

Dalam bidang kemanusiaan, pikiran-pikiran Gus Dur banyak dipengaruhi oleh para pemikir Barat dengan filsafat humanismenya. Secara rasa maupun praktek prilaku yang humanis, pengaruh para kyai yang mendidik dan membimbingnya mempunyai andil besar dalam membentuk pemikiran Gus Dur. Kisah tentang Kyai Fatah dari Tambak Beras, KH. Ali Ma’shum dari Krapyak dan Kyai Chudhori dari Tegalrejo telah membuat pribadi Gus Dur menjadi orang yang sangat peka pada sentuhan-sentuhan kemanusiaan.

Dari segi kultural, Gus Dur melintasi tiga model lapisan budaya. Pertama, Gus Dur bersentuhan dengan kultur dunia pesantren yang sangat hierarkis, tertutup, dan penuh dengan etika yang serba formal; kedua, dunia Timur yang terbuka dan keras; dan ketiga, budaya Barat yang liberal, rasioal dan sekuler. Kesemuanya tampak masuk dalam pribadi dan membetuk sinergi.

Hampir tidak ada yang secara dominan berpengaruh membentuk pribadi Gus Dur. Sampai sekarang masing-masing melakukan dialog dalam diri Gus Dur. Inilah sebabnya mengapa Gus Dur selalu kelihatan dinamis dan suliit dipahami. Kebebasannya dalam berpikir dan luasnya cakrawala pemikiran yang dimilikinya melampaui batas-batas tradisionalisme yang dipegangi komunitasnya sendiri. */kpo

Pendidikan

By Republika Newsroom
Rabu, 30 Desember 2009 pukul 19:46:00

Perjalanan Pendidikan Gus DurANTARA

Pertama kali belajar, Gus Dur kecil belajar pada sang kakek, K.H. Hasyim Asy’ari. Saat serumah dengan kakeknya, ia diajari mengaji dan membaca al-Qur’an. Dalam usia lima tahun ia telah lancar membaca al-Qur’an. Pada saat sang ayah pindah ke Jakarta, di samping belajar formal di sekolah, Gus Dur masuk juga mengikuti les privat Bahasa Belanda. Guru lesnya bernama Willem Buhl, seorang Jerman yang telah masuk Islam, yang mengganti namanya dengan Iskandar.

Untuk menambah pelajaran Bahasa Belanda tersebut, Buhl selalu menyajikan musik klasik yang biasa dinikmati oleh orang dewasa. Inilah pertama kali persentuhan Gu Dur dengan dunia Barat dan dari sini pula Gus Dur mulai tertarik dan mencintai musik klasik.

Menjelang kelulusannya di Sekolah Dasar, Gus Dur memenangkan lomba karya tulis (mengarang) se-wilayah kota Jakarta dan menerima hadiah dari pemerintah. Pengalaman ini menjelaskan bahwa Gus Dur telah mampu menuangkan gagasan/ide-idenya dalam sebuah tulisan. Karenanya wajar jika pada masa kemudian tulisan-tulisan Gus Dur menghiasai berbagai media massa.

Setelah lulus dari Sekolah Dasar, Gus Dur dikirim orang tuanya untuk belajar di Yogyakarta. Pada tahun 1953 ia masuk SMEP (Sekolah Menengah Ekonomi Pertama) Gowongan, sambil mondok di pesantren Krapyak. Sekolah ini meskipun dikelola oleh Gereja Katolik Roma, akan tetapi sepenuhnya menggunakan kurikulum sekuler. Di sekolah ini pula pertama kali Gus Dur belajar Bahasa Inggris.

Karena merasa terkekang hidup dalam dunia pesantren, akhirnya ia minta pindah ke kota dan tinggal di rumah Haji Junaidi, seorang pimpinan lokal Muhammadiyah dan orang yang berpengaruh di SMEP. Kegiatan rutinnya, setelah shalat subuh mengaji pada K.H. Ma’shum Krapyak, siang hari sekolah di SMEP, dan pada malam hari ia ikut berdiskusi bersama dengan Haji Junaidi dan anggota Muhammadiyah lainnya.

Ketika menjadi siswa sekolah lanjutan pertama tersebut, hobi membacanya semakin mendapatkan tempat. Gus Dur, misalnya, didorong oleh gurunya untuk menguasai Bahasa Inggris, sehingga dalam waktu satu-dua tahun Gus Dur menghabiskan beberapa buku dalam bahasa Inggris. Di antara buku-buku yang pernah dibacanya adalah karya Ernest Hemingway, John Steinbach, dan William Faulkner. Di samping itu, ia juga membaca sampai tuntas beberapa karya Johan Huizinga, Andre Malraux, Ortega Y. Gasset, dan beberapa karya penulis Rusia, seperti: Pushkin, Tolstoy, Dostoevsky dan Mikhail Sholokov. Gus Dur juga melahap habis beberapa karya Wiill Durant yang berjudul ‘The Story of Civilazation’.

Selain belajar dengan membaca buku-buku berbahasa Inggris, untuk meningkatan kemampuan bahasa Ingrisnya sekaligus untuk menggali informasi, Gus Dur aktif mendengarkan siaran lewat radio Voice of America dan BBC London. Ketika mengetahui bahwa Gus Dur pandai dalam bahasa Inggis, Pak Sumatri-seorang guru SMEP yang juga anggota Partai Komunis-memberi buku karya Lenin ‘What is To Be Done’ . Pada saat yang sama, anak yang memasuki masuki masa remaja ini telah mengenal Das Kapital-nya Karl Marx, filsafat Plato,Thales, dan sebagainya. Dari paparan ini tergambar dengan jelas kekayaan informasi dan keluasan wawasan Gus Dur.

Setamat dari SMEP Gus Dur melanjutkan belajarnya di Pesantren Tegarejo Magelang Jawa Tengah. Pesantren ini diasuh oleh K.H. Chudhari, sosok kyai yang humanis, saleh dan guru dicintai. Kyai Chudhari inilah yang memperkenalkan Gus Dur dengan ritus-ritus sufi dan menanamkan praktek-praktek ritual mistik. Di bawah bimbingan kyai ini pula, Gus Dur mulai mengadakan ziarah ke kuburan-kuburan keramat para wali di Jawa.

Pada saat masuk ke pesantren ini, Gus Dur membawa seluruh koleksi buku-bukunya, yang membuat santri-santri lain terheran-heran. Pada saat ini pula Gus Dur telah mampu menunjukkan kemampuannya dalam berhumor dan berbicara. Dalam kaitan dengan yang terakhir ini ada sebuah kisah menarik yang patut diungkap dalam paparan ini adalah pada acara imtihan-pesta akbar yang diselenggarakan sebelum puasa pada saat perpisahan santri yang selesai menamatkan belajar-dengan menyediakan makanan dan minuman dan mendatangkan semua hiburan rakyat, seperti: Gamelan, tarian tradisional, kuda lumping, jathilan, dan sebagainya. Jelas, hiburan-hiburan seperti tersebut di atas sangat tabu bagi dunia pesantren pada umumnya. Akan tetapi itu ada dan terjadi di Pesantren Tegalrejo.

Setelah menghabiskan dua tahun di pesantren Tegalrejo, Gus Dur pindah kembali ke Jombang, dan tinggal di Pesantren Tambak Beras. Saat itu usianya mendekati 20 tahun, sehingga di pesantren milik pamannya, K.H. Abdul Fatah, ia menjadi seorang ustadz, dan menjadi ketua keamanan. Pada usia 22 tahun, Gus Dur berangkat ke tanah suci, untuk menunaikan ibadah haji, yang kemudian diteruskan ke Mesir untuk melanjutkan studi di Universitas al-Azhar.

Pertama kali sampai di Mesir, ia merasa kecewa karena tidak dapat langsung masuk dalam Universitas al-Azhar, akan tetapi harus masuk Aliyah (semacam sekolah persiapan). Di sekolah ia merasa bosan, karena harus mengulang mata pelajaran yang telah ditempuhnya di Indonesia. Untuk menghilangkan kebosanan, Gus Dur sering mengunjungi perpustakaan dan pusat layanan informasi Amerika (USIS) dan toko-toko buku dimana ia dapat memperoleh buku-buku yang dikehendaki.

Terdapat kondisi yang menguntungkan saat Gus Dur berada di Mesir, di bawah pemerintahan Presiden Gamal Abdul Nasr, seorang nasioonalis yang dinamis, Kairo menjadi era keemasan kaum intelektual. Kebebasan untuk mengeluarkkan pendapat mendapat perlindungan yang cukup. Pada tahun 1966 Gus Dur pindah ke Irak, sebuah negara modern yang memiliki peradaban Islam yang cukup maju.

Di Irak ia masuk dalam Departement of Religion di Universitas Bagdad samapi tahun 1970. Selama di Baghdad Gus Dur mempunyai pengalaman hidup yang berbeda dengan di Mesir. Di kota seribu satu malam ini Gus Dur mendapatkan rangsangan intelektual yang tidak didapatkan di Mesir. Pada waktu yang sama ia kembali bersentuhan dengan buku-buku besar karya sarjana orientalis Barat. Ia kembali menekuni hobinya secara intensif dengan membaca hampir semua buku yang ada di Universitas.

Di luar dunia kampus, Gus Dur rajin mengunjungi makam-makam keramat para wali, termasuk makam Syekh Abdul Qadir al-Jailani, pendiri jamaah tarekat Qadiriyah. Ia juga menggeluti ajaran Imam Junaid al-Baghdadi, seorang pendiri aliran tasawuf yang diikuti oleh jamaah NU. Di sinilah Gus Dur menemukan sumber spiritualitasnya.

Kodisi politik yang terjadi di Irak, ikut mempengaruhi perkembangan pemikiran politik Gus Dur pada saat itu. Kekagumannya pada kekuatan nasionalisme Arab, khususnya kepada Saddam Husain sebagai salah satu tokohnya, menjadi luntur ketika syekh yang dikenalnya, Azis Badri tewas terbunuh.

Selepas belajar di Baghdad Gus Dur bermaksud melanjutkan studinya ke Eropa. Akan tetapi persyaratan yang ketat, utamanya dalam bahasa-misalnya untuk masuk dalam kajian klasik di Kohln, harus menguasai bahasa Hebraw, Yunani atau Latin dengan baik di samping bahasa Jerman-tidak dapat dipenuhinya, akhirnya yang dilakukan adalah melakukan kunjungan dan menjadi pelajar keliling, dari satu universitas ke universitas lainnya.

Pada akhirnya ia menetap di Belanda selama enam bulan dan mendirikan Perkumpulan Pelajar Muslim Indonesia dan Malaysia yang tinggal di Eropa. Untuk biaya hidup dirantau, dua kali sebulan ia pergi ke pelabuhan untuk bekerja sebagai pembersih kapal tanker. Gus Dur juga sempat pergi ke McGill University di Kanada untuk mempelajari kajian-lkajian keislaman secara mendalam.

Namun, akhirnya ia kembali ke Indonesia setelah terilhami berita-berita yang menarik sekitar perkembangan dunia pesantren. Perjalanan keliling studi Gus Dur berakhir pada tahun 1971, ketika ia kembali ke Jawa dan mulai memasuki kehidupan barunya, yang sekaligus sebagai perjalanan awal kariernya.

Meski demikian, semangat belajar Gus Dur tidak surut. Buktinya pada tahun 1979 Gus Dur ditawari untuk belajar ke sebuah universitas di Australia guna mendapatkkan gelar doktor. Akan tetapi maksud yang baik itu tidak dapat dipenuhi, sebab semua promotor tidak sanggup, dan menggangap bahwa Gus Dur tidak membutuhkan gelar tersebut. Memang dalam kenyataannya beberapa disertasi calon doktor dari Australia justru dikirimkan kepada Gus Dur untuk dikoreksi, dibimbing yang kemudian dipertahankan di hadapan sidang akademik. */kpo

Pembebas Tionghoa

By Republika Newsroom
Rabu, 30 Desember 2009 pukul 20:13:00

Gus Dur, Pembebas Etnis TionghoaSUARA MERDEKAGus Dur, berpakaian congosan saat dinobatkan sebagai Bapak Tionghoa, 10 Maret 2004, di Semarang

JAKARTA–Indonesia kehilangan satu lagi putra terbaiknya, mantan presiden Republik Indonesia ke-4, Abdurrahman Wahid berpulang pada Rabu (30/12), pukul 18.45, di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, Jakarta.

Lelaki yang akrab dipanggil Gus Dur itu dikenal sebagai tokoh fenomenal di Indonesia. Namun, di antara kisah kontroversi Gus Dur, tak sedikit peran besar yang ditorehkan lelaki peraih sepuluh gelar dokter kehormatan tersebut.

Salah satunya, saat menjabat menjabat Presiden RI pada 1999 – Juli 2001,Gus Dur telah membuat berbagai keputusan menyangkut sejarah bangsa. Keputusannya adalah mencabut PP No 14 Tahun 1967 yang berisi larangan atau pembekuan kegiatan-kegiatan warga Tionghoa.

Dalam dialog “Living in Harmony the Chinese Heritage in Indonesia” yang digelar menyambut Hari Imlek di Jakarta, 30 Januari setahun lalu, Gus Dur meyakini Imlek merupakan perayaan budaya, bukan keagamaan.

“Imlek itu perayaan tani,” kata mantan presiden yang kini menjabat ketua umum Dewan Syura Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) tersebut.

Gus Dur sendiri mengaku memiliki aliran darah Cina dalam tubuhnya. Darah Cina itu mengalir dari Putri Campa yang menjadi selir Raja Majapahit Brawijaya V yang silsilahnya sampai pada dirinya.

Namun bukan karena alasan itu dirinya mengizinkan perayaan Imlek secara luas ketika menjabat presiden, melainkan demi menjaga pluralitas Indonesia.

Ketika PP No 14 tahun 1967 masih erlaku, praktis peribadatan umat Konghucu dan aktivitas-aktivitasnya harus dipendam. Umat harus sembunyi-sembunyi untuk bersembahyang di kelenteng. Bahkan untuk merenovasi kelenteng pun harus melakukan gerakan “bawah tanah”

Setelah keran yang menyumbat kegiatan itu dicabut, masyarakat Tionghoa boleh dikatakan terbebas dari belenggu selama puluhan tahun. Mereka bisa sembahyang di kelenteng tanpa sembunyi-sembunyi. Bahkan berkat Tokoh Nahdatul Ulama itu, Hari Raya Tionghoa, Imlek pun resmi menjadi hari raya dan hari libur nasional.

Kebebasan yang diraih oleh kalangan Tionghoa itulah yang juga membuat Gus Dur dinobatkan menjadi Bapak Tionghoa, 10 Maret 2004 silam. Di Kelenteng Tay Kak Sie, Gang Lombok, kawasan Pechinan Semarang, ketika penobatan dilakukan, Gus Dur pun mengenakan pakaian congosan. berbagaisumber/itz

Gus Dur Wafat, Sempat Ketemu Arwah Kakeknya

lokasi: Home / Berita / Nasional / [sumber: Jakartapress.com]

Rabu, 30/12/2009 | 20:32 WIB Gus Dur Wafat, Sempat Ketemu Arwah KakeknyaJakarta – Mantan Presiden RI KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) telah wafat dalam usia 69 tahun, Rabu (30/12) sore. Sebelum meninggal pukul 18.45 WIB, Gus Dur sempat bercerita kepada salah satu orang dekatnya soal pengalaman spiritual yang dialami.

Menurut Gus Dur, saat berziarah ke makam kakeknya KH Hasyim Asy’ari di Tebu Ireng, Jombang, ia sempat bertemu dan berkomunikasi dengan kakeknya, Mbah Hasyim (KH Hasyim Asyari, pendiri NU).

“Gus Dur bercerita kepada saya, saat ziarah ke makam Mbah Hasyim, Gus Dur ditemui Mbah Hasyim. Gus Dur bercerita soal pengalamannya dengan tenang dan senang wajahnya,” ungkap sumber yang tak mau disebutkan namanya, Rabu (30/12).

Menurut orang yang selalu menemani Gus Dur ini, dalam percakapannya dengan Mbah Hasyim, Gus Dur mengaku dikasihani. Gus Dur pun hanya tersenyum saat dibilangi kakeknya tersebut.

“Gus Dur bilang, ‘Mbah Hasyim kasian sama saya mas’. Mbah Hasyim mengatakan, Le, kok tugasmu bersih-bersih terus yo? Sing sabar yo? (Nak, kok tugasmu bersih-bersih terus ya? Yang sabar ya?),” kata sumber itu menirukan Gus Dur.

Sayangnya, lanjut sumber itu, Gus Dur tidak melanjutkan lagi ceritanya soal pertemuan dengan Mbah Hasyim. Gus Dur langsung mengalihkan ke pembicaraan lainnya.

Sementara menurut tim dokter Kepresidenan, Gus Dur meninggal dunia pukul 18.45 WIB. Gus Dur mengalami komplikasi dan kritis pada pukul 18.15 WIB sebelum akhirnya menghembuskan nafas terakhir.

“Dengan ini kami beritahukan bahwa Gus Dur telah meninggal dunia pada hari Rabu 30 Desember pukul 18.45 WIB,” ujar dr Jusuf Misbach dari tim dokter Kepresidenan di RSCM, Jakarta Pusat, Rabu (30/12).

Jusuf menambahkan Gus Dur dirawat sejak 26 Desember 2009 lalu dan kondisinya sempat membaik. “Namun pada Rabu hari ini pukul 11.30 WIB kondisinya memburuk dengan komplikasi penyakit stroke, diabetes, jantung dan pada pukul 18.15 WIB kondisinya kritis. Tepat pukul 18.45 WIB beliau meninggal,” ungkapnya.

SBY Datang Sebelum Gus Dur Meninggal
Sebelumnya, saat perawatan di RSCM kondisi kesehatan Gus Dur dikabarkan kritis Rabu (30/12) sore. Presiden SBY pun menjenguk Gus Dur di RSCM. Kabarnya, SBY mengunjungi Gus Dur di RSCM karena mendapat laporan dari tim dokter yang merawat mantan presiden RI tersebut sedang kritis.

“Kabarnya Beliau (Gus Dur) sedang kritis makanya Pak SBY langsung menjenguk Gus Dur,” kata sumber di Istana Kepresidenan yang tidak mau disebutkan namanya, Rabu (30/12).

Menurutnya, SBY sudah berada di RSCM untuk menjenguk Gus Dur. Pengamanan di sekitar RSCM terlihat ketat. Sementara sumber di RSCM menjelaskan bahwa kedatangan SBY mengagetkan pengelola rumah sakit karena mendadak. Kedatangan SBY memang tidak terjadwal sebelumnya.

Dengan demikian, Presiden SBY menyaksikan detik-detik terakhir menjelang Gus Dur meninggal. “Pak SBY tiba sekitar pukul 18.00 WIB dan pulang sekitar pukul 19.00 WIB,” ujar kerabat Gus Dur yang menolak disebutkan namanya di RSCM.

Selain SBY, sejumlah pejabat negara lainnya juga ada di saat-saat terakhir Gus Dur. Antara lain Menteri Kesehatan (Menkes) Endang Rahayu Sedyaningsih. “Dari pihak keluarga ada di antaranya Mbak Yenny,” ungkapnya.

Sebelumnya, adik kandung Gus Dur, KH Salahuddin Wahid alias Gus Sholah, mengatakan Gus Dur menghembuskan nafas terakhirnya pukul 18.45 WIB. “Saya mendapat kabar beliau meninggal. Kabar yang saya terima beliau meninggal pada pukul 18.45 WIB,” ujar Gus Sholah.

SBY Batalkan Rencana Kerja
Presiden SBY membatalkan rencana kerjanya pada Kamis 31 Desember. Hal ini dilakukan untuk menghormati meninggalnya Mantan Presiden RI Abdurrahman Wahid alias Gus Dur. “Rencananya besok Presiden akan melakukan kunjungan kerja ke Cipanas. Tapi acara itu dibatalkan untuk menghormati meninggalnya Gus Dur,” kata Staf Khusus Presiden Bidang Bencana, Andi Arief di RSCM.

Hingga pukul 20.15 WIB, sejumlah tokoh terus berdatangan ke RSCM. Mereka antara lain Menteri Negara Pembangunan Daerah Tertinggal (PDT) Helmy Faishal Zaini, budayawan Romo Mudji Soetrisno dan politisi PKB Lukman Edi.

Sementara itu anggota keluarga masih berada di dalam ruangan tempat jenazah Gus Dur berada di gedung Pelayanan Jantung Terpadu. Suasana haru masih sangat terasa. Para anggota keluarga tak mampu menyembunyikan kesedihan atas berpulangnya tokoh bangsa itu.

Presiden SBY pun menggelar rapat mendadak dengan beberapa menteri di Istana Negara, untuk membahas prosesi pemakaman Gus Dur. “Sejumlah menteri terkait diminta datang. Salah satunya Menkes yang akan mengkonfirmasikan kondisi terakhir dan kapan tepatnya Gus Dur tutup usia,” ujar Jubir Kepresidenan Julian Aldrin Pasha di Istana Negara, Rabu (30/12).

Menurut Julian, akan dibicarakan prosesi pemakaman bagi Gus Dur sebagai mantan Presiden RI sesuai dengan kelaziman. “Termasuk kemungkinan untuk pengibaran bendera setengah tiang selama seminggu penuh. Saya pikir ini wajar, karena Gus Dur seoerang tokoh besar,” jelasnya sembari menambahkan, SBY akan memberikan pernyataan resmi terkait kematian Gus Dur pada pukul 21.00 WIB.

Biografi Gus Dur
Abdurrahman Wahid yang akrab dipanggil Gus Dur menjabat Presiden ke-4 RI mulai 20 Oktober 1999 hingga 24 Juli 2001. Beliau lahir tanggal 4 Agustus 1940 di desa Denanyar, Jombang, Jawa Timur. Gus Dur adalah putra pertama dari enam bersaudara. Ayahnya adalah seorang pendiri organisasi besar Nahdlatul Ulama, yang bernama KH. Wahid Hasyim. Sedangkan Ibunya bernama Hj. Sholehah adalah putri pendiri Pesantren Denanyar Jombang, K.H. Bisri Syamsuri. Dari perkawinannya dengan Sinta Nuriyah, mereka dikarunia empat orang anak, yaitu Alissa Qotrunnada Munawaroh, Zannuba Arifah Chafsoh, Annita Hayatunnufus, dan Inayah Wulandari .

Sejak masa kanak-kanak, Gus Dur mempunyai kegemaran membaca dan rajin memanfaatkan perpustakaan pribadi ayahnya. Selain itu beliau juga aktif berkunjung keperpustakaan umum di Jakarta. Pada usia belasan tahun Gus Dur telah akrab dengan berbagai majalah, surat kabar, novel dan buku-buku. Di samping membaca, beliau juga hobi bermain bola, catur dan musik. Bahkan Gus Dur, pernah diminta untuk menjadi komentator sepak bola di televisi. Kegemaran lainnya, yang ikut juga melengkapi hobinya adalah menonton bioskop. Kegemarannya ini menimbulkan apresiasi yang mendalam dalam dunia film. Inilah sebabnya mengapa Gu Dur pada tahun 1986-1987 diangkat sebagai ketua juri Festival Film Indonesia.

Masa remaja Gus Dur sebagian besar dihabiskan di Yogyakarta dan Tegalrejo. Di dua tempat inilah pengembangan ilmu pengetahuan mulai meningkat. Masa berikutnya, Gus Dur tinggal di Jombang, di pesantren Tambak Beras, sampai kemudian melanjutkan studinya di Mesir. Sebelum berangkat ke Mesir, pamannya telah melamarkan seorang gadis untuknya, yaitu Sinta Nuriyah anak Haji Muh. Sakur. Perkawinannya dilaksanakan ketika Gus Dur berada di Mesir.

Sepulang dari pengembaraannya mencari ilmu, Gus Dur kembali ke Jombang dan memilih menjadi guru. Pada tahun 1971, beliau bergabung di Fakultas Ushuludin Universitas Tebu Ireng Jombang. Tiga tahun kemudian beliau menjadi sekretaris Pesantren Tebu Ireng, dan pada tahun yang sama Gus Dur mulai menjadi penulis. Beliau kembali menekuni bakatnya sebagaii penulis dan kolumnis. Lewat tulisan-tulisan tersebut gagasan pemikiran Gus Dur mulai mendapat perhatian banyak.

Pada tahun 1974 Gus Dur diminta pamannya, K.H. Yusuf Hasyim untuk membantu di Pesantren Tebu Ireng Jombang dengan menjadi sekretaris. Dari sini Gus Dur mulai sering mendapatkan undangan menjadi nara sumber pada sejumlah forum diskusi keagamaan dan kepesantrenan, baik di dalam maupun luar negeri. Selanjutnya Gus Dur terlibat dalam kegiatan LSM. Pertama di LP3ES bersama Dawam Rahardjo, Aswab Mahasin dan Adi Sasono dalam proyek pengembangan pesantren, kemudian Gus Dur mendirikan P3M yang dimotori oleh LP3ES.

Pada tahun 1979 Gus Dur pindah ke Jakarta. Mula-mula beliau merintis Pesantren Ciganjur. Sementara pada awal tahun 1980 Gus Dur dipercaya sebagai wakil katib syuriah PBNU. Di sini Gus Dur terlibat dalam diskusi dan perdebatan yang serius mengenai masalah agama, sosial dan politik dengan berbagai kalangan lintas agama, suku dan disiplin. Gus Dur semakin serius menulis dan bergelut dengan dunianya, baik di lapangan kebudayaan, politik, maupun pemikiran keislaman. Karier yang dianggap `menyimpang`-dalam kapasitasnya sebagai seorang tokoh agama sekaligus pengurus PBNU-dan mengundang cibiran adalah ketika menjadi ketua Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) pada tahunn 1983. Beliau juga menjadi ketua juri dalam Festival Film Indonesia (FFI) tahun 1986, 1987.

Pada tahun 1984 Gus Dur dipilih secara aklamasi oleh sebuah tim ahl hall wa al-`aqdi yang diketuai K.H. As`ad Syamsul Arifin untuk menduduki jabatan ketua umum PBNU pada muktamar ke-27 di Situbondo. Jabatan tersebut kembali dikukuhkan pada muktamar ke-28 di pesantren Krapyak Yogyakarta (1989), dan muktamar di Cipasung Jawa Barat (1994). Jabatan ketua umum PBNU kemudian dilepas ketika Gus Dur menjabat presiden RI ke-4. Selama menjadi presiden, tidak sedikit pemikiran Gus Dur kontroversial. Seringkali pendapatnya berbeda dari pendapat banyak orang. (*/dtc/jpc)

Suara Pembaruan

ZOOM2009-12-31Pekerjaan Rumah dari Gus Dur
Garin Nugroho

Barang siapa yang menghina agama orang lain, ia menghina agamanya sendiri.” Demikianlah pernyataan Gus Dur dalam iklan layanan masyarakat yang penulis buat pada saat beliau masih menjabat sebagai Presiden Republik Indonesia.

Pernyataan di atas terasa sederhana, namun merefleksikan kenegarawanan dalam beragam perspektif. Pertama, ketegasan kepemimpinan terhadap nilai pluralisme. Kedua, sikap tidak tawar-menawar melawan ekstremitas beragama yang menginginkan salah satu agama menjadi dasar negara. Ketiga, nilai beragama diletakkan dalam bentuknya yang paling dasar sekaligus mulia, yakni dalam tata nilai hubungan sehari-hari antarumat manusia.

Sepeninggal Gus Dur, sesungguhnya pekerjaan rumah semacam apa yang ditinggalkannya?

Daya hidup, tindakan, dan pikiran Gus Dur, sesungguhnya hidup dan menghidupi bangsa dari periode menurunnya kekuatan Soeharto hingga sepuluh tahun pasca-Reformasi. Pada dua periode ini, Gus Dur melakukan dua kerja kebangsaan yang sangat penting. Pertama, periode Soeharto, dengan caranya yang khas, Gus Dur mengelola religiositas sebagai daya hidup kebebasan berpikir dan berorganisasi guna melakukan perlawanan terhadap militerisme dan anrakisme. Kedua, era Reformasi, Gus Dur terus melakukan kerja tanpa tawar-menawar terhadap berbagai bentuk ekstremitas beragama, yang tumbuh di masa transisi sekaligus mencoba melakukan terobosan-terobosan kenegaraan yang sangat tidak mudah yang melahirkan kontroversi. Termasuk upaya Gus Dur mencoba membangun generasi baru dalam sebuah dunia baru, yang tidak mudah baginya, di tengah kesehatannya yang melemah serta dunia politik baru dalam pemilu langsung dalam kerja suara terbanyak, serta tumpang-tindih konflik kekuasaan intern serta dalam lingkup berbangsa.

Yang harus dicatat, kenegarawanan Gus Dur mampu tumbuh didasari beberapa aspek dasar pertumbuhan. Pertama, tumbuh dan lahir dari tradisi keluarga dan organisasi keagamaan Islam terbesar yang memiliki relasi kebangsaan yang kuat dengan nasionalisme sejarah Indonesia. Kedua, pemikirannya mampu memiliki daya hidup dalam berbagai ruang hidup berbangsa, dari seni, teknologi, pendidikan, partai, keagamaan, serta kebangsaan sekaligus dialog keagamaan global. Oleh karena itu, Gus Dur dikenal mampu berdialog dengan bergam kalangan hingga disiplin ilmu serta profesi. Ketiga, daya hidup kepemimpinannya mampu hidup dalam beragam waktu krisis, yang tentu saja, bisa dipahami, melemah seiring melemahnya kesehatannya.

Oleh karena itu, Gus Dur adalah guru bangsa di tengah arus perubahan besar masa-masa Soeharto hingga Reformasi. Guru bangsa yang tidak dalam gaya kepemimpinan yang birokrasi, formal, dan jumawa. Layaknya wayang, Gus Dur adalah tokoh semar ataupun punokawan yang selalu menjaga nilai-nilai serta para kesatria melewati berbagai tantangan, dengan lelucon, kenakalan, dan pemikiran, serta kerja kebangsaan yang sangat egaliter. Dengan kata lain, Gus Dur adalah pengawal Pancasila di berbagai bentuk transisi dan krisis.

Pengawal Baru

Pasca-Reformasi , seperti layaknya masa transisi, melahirkan beragam gejolak serta kerja kebangsaan dan pemikiran-pemikiran, disertai beragam perubahan tata cara bernegara, Baik itu, pemikiran ke depan maupun pemikiran ulang terhadap nilai-nilai kebangsaan, yang tidak bisa bertumbuh pada era Soeharto serta masa proklamasi. Sebutlah, tafsir sejarah peristiwa September 1965 hingga upaya kembali meletakkan agama sebagai dasar negara, yang sesungguhnya sudah selesai dengan lahirnya Pancasila dan UUD 1945.

Bisa diduga, seluruh pemikiran yang tidak bisa tumbuh pada era Soeharto, maupun yang mati oleh pemikiran pluralis Pancasila, berupaya ditumbuhkan kembali dalam era yang penuh transisi serta dibuka lewat pemilu langsung dan suara terbanyak. Era yang memungkinkan berbagai dimensi pemikiran masuk lewat partai, parlemen hingga yudikatif, eksekutif, serta berbagai bentuk proses berbangsa lainnya.

Catatan sederhana di atas, memberikan suatu isyarat bahwa Gus Dur memberikan pekerjaan rumah yang sangat besar. Yakni, di tengah era demokrasi suara terbanyak dan langsung, maka diperlukan kepemimpinan baru yang tidak tawar-menawar terhadap daya hidup Pancasila dengan ketegasan hukum, serta keberanian nilai kritis, untuk senantiasa melawan segala bentuk anarkisme minoritas maupun mayoritas keagamaan. Di sisi lain, kepemimpinan itu dituntut mampu hidup dalam demokrasi suara terbanyak dan langsung, yang penuh paradoks kekuasaan, cita-cita, kegagapan , serta politik sebagai primadona baru.

Pada sisi lain, pekerjaan rumah terbesar yang diberikan Gus Dur adalah lahirnya kepemimpinan yang mampu memandu masyarakat untuk menjadi penjaga kritis Pancasila dalam hidup sehari-hari, di tengah era informasi dan komunikasi baru, serta migrasi besar politik aliran, ideologi, hingga peran kepartaian, organisasi masyarakat dan politik, yang dipenuhi ketimpangan, krisis dan bencana serta kepemimpinan yang serba baru dan gamang, dipenuhi euforia kekuasaan ketimbang menjadi pelayan Pancasila.

Selamat jalan Gus Dur, Pekerjaan rumah ini adalah sebuah proses dialog panjang dan memerlukan keberanian kenegarawanan.

Penulis adalah Direktur Yayasan Sains Estetika dan Teknologi (SET)

Suara Pembaruan

ZOOM2009-12-31Gus Dur Sebenarnya Sedang Tidur
Arswendo Atmowiloto

Gus Dur, barangkali sebutan yang paling demokratis, paling bersahabat, sekaligus paling hormat dan paling hangat menggambarkan persaudaraan dengan tokoh yang luar biasa, yang menjila, sang pemilik nama. Semua mulut bisa menyebutkan nama Gus Dur, semua telinga mengerti siapa yang dimaksud, dan semua hati menaruh rasa kagum dan rasa hormat yang tinggi. Gus Dur menggambarkan semua yang terangkum dalam sebutan KH Abdurrahman Wahid, mantan Presiden RI, atau jabatan apa pun, yang beragam yang pernah digenggam.

Tanyakan kepada semua posisi atau tokoh masyarakat, baik agamawan, politisi, seniman, negarawan, tukang ojek, maupun pemulung, mereka bisa menceritakan pengalamannya. Tanyakan kepada angin, kepada hujan, atau pepohonan, mereka bisa mengatakan hal yang sama. Tanyakan kepada debu atau batu, jawaban mereka tak jauh berbeda. Dalam budaya Jawa, Gus Dur adalah lakone, sang tokoh utama dalam segala perkara yang boleh apa saja, dan bisa. Segala yang luar biasa pantas disandangkan padanya. Sebaliknya, segala yang biasa menjadi luar biasa. Maka kepergiannya yang abadi, Rabu, 30 Desember 2009, di RSCM Jakarta, dalam usia 69 tahun, sesungguhnya diterima sebagai tidur sementara. Tidur tanpa mendengkur, seperti kebiasannya selama ini.

Tradisi

Guru bangsa yang memperjuangkan demokrasi, pluralisme budaya, dan hak-hak kemanusiaan ini, mempunyai riwayat yang dekat dengan siapa saja, mempunyai jalan awal yang tak berbeda dari kita pada umumnya. Pada awal tahun 70-an, saya masih ingat Gus Dur datang dengan Vespa -kemudian lebih sering diboncengkan, ke redaksi Kompas di Palmerah Selatan, Jakarta. Menunggu mesin ketik yang kosong, kemudian mengetik apa saja: komentar film, pertandingan sepak bola, atau soal politik. Yang unik bukan apa yang dituliskan, melainkan pembicaraan yang mengganggunya saat mengetik. Para wartawan mengerumuni, bertanya apa saja. Dan dijawab dengan ringan menawan. Jauh sebelum idiom, “gitu aja kok repot”, Gus Dur telah menjalaninya dengan sederhana, dengan biasa. Kalau hanya begitu, kurang seru. Karena “tradisi” ini juga terjadi pada majalah Zaman, yang diterbitkan oleh grup Tempo. Padahal, sebenarnya kedatangannya ke sana untuk menjemput istrinya yang menjadi redaktur di situ. Sambil menunggu, bisa mengetik artikel dan memberikan pembekalan kepada wartawan-wartawan yang masih terlalu hijau dalam bekerja. Tapi, begitulah Gus Dur, tak membedakan senior-yunior, tak membedakan kelompok mana.

Saya juga pernah menikmati satu-dua kali, dengan mobil kecil datang ke berbagai seminar -pernah bertiga dengan Goenawan Mohammad. Kalau tak salah, usulan karcis tol berlangganan muncul di sini. Karena seringnya menggunakan jalan tol -terutama ke bandara, Gus Dur menuliskan atau mengusulkan melalui surat pembaca. Kadang kami menggoda dengan sengaja menanyakan nomor telepon seseorang, yang dihapal Gus Dur di luar kepala, bahkan sambil tiduran sekali pun. Tujuh angka bisa disebutkan, dan bukan hanya tujuh belas tokoh yang ditanyakan. Kadang, Gus Dur ngomel, bukan karena dikerjai, melainkan karena terganggu tidurnya.

Soal tidur ini merupakan hal yang extraordinary betulan. Dalam sebuah diskusi teater pada 1993, di mimbar panel diskusi, Gus Dur benar-benar tertidur sampai mendengkur. Bahkan ketika sampai gilirannya, harus disenggol dan dibangunkan. Tapi, ya itulah lakone, terbangun seketika, bisa menanggapi pembicara sebelumnya dan tetap membuat pendengarnya tertawa. Saya ingat tahun itu, karena itu saat saya keluar dari penjara. Adalah Gus Dur sendirian yang membela “kasus Monitor”, yang menghebohkan, yang membuatnya “diadili” kaum ulama, tiga tahun sebelumnya. Saya khusus menemui dan mengucapkan terima kasih, mencium tangannya. Gus Dur menerima, seperti juga menerima salam dan ciuman tangan dari yang lain, sambil terus jalan. Saya agak kecewa dan terucap.”Yaaah, Gus Dur lupa sama saya….” Di tengah jalan menuju mimbar, Gus Dur berhenti dan berpaling: “Kalau baumu, saya masih ingat…” Selalu ada yang mencengangkan dari sikap yang biasa-biasa. Bagi saya, pembelaan Gus Dur sesuatu yang luar biasa, tapi bagi Gus Dur itu selalu yang biasa, yang dilakukannya. Juga bukan hal yang pribadi -karena yang dibela soal kebebasan berpendapat.

Soal cium tangan ini Gus Dur kemudian sekali menolak. Bukan karena apa, melainkan saat itu Gus Dur mulai sering cuci darah dan tangannya masih sakit terkena infus. “Nanti saja kalau sudah sembuh.” Sayangnya, tangan kiri-kanan tak segera membaik.

Tanggung Jawab

Semasa menjabat sebagai Presiden RI pun gaya Gus Dur tak banyak berubah. Masih selalu terbuka -dan ini tidak biasa- menerima teman-teman seniman, di Istana Negara. Kadang pengawal direpotkan, karena para tamu tidak tercantum namanya dalam daftar undangan. Kalaupun kemudian dikonfirmasikan, ya tetap diterima. Kadang pertemuannya pun tak berbeda dengan di luar Istana. Pernah waktu buka puasa bersama, Umar Kayam, almarhum, yang waktu itu sudah agak sakit, duduk di kursi. Sementar Gus Dur duduk lesehan di bawah. Pembicaraan tetap terbuka, berlangsung tanya jawab ke sana kemari dengan orang nomor satu di republik ini.

Kadang sedemikian terbuka. Dalam rangka menyambut Hari Anak, saya mewawancarai bersama penyanyi cilik, Yoshua. Gus Dur bicara berapi-api, situasi politik sedang memanas, dengan menyebut nama-nama tokoh lain. Saya berusaha mengingatkan. “Gus, ini direkam, kamera tv masih nyala.” Jawabannya? “Sekarang menjadi tanggung jawabmu. Kamu yang menentukan disiarkan atau tidak.”

Begitulah, dengan gayanya, Gus Dur’s way, hal -hal yang mendasar ditularkan, dibagi, tanpa ketegangan.

Terakhir kali bertemu Gus Dur, di kediamannya di Ciganjur, saat berbuka bersama anak-anak yatim piatu, dan saya diminta memberikan sambutan. Pada akhir acara, Gus Dur memuji dan saya berbisik: “Gus, itu tadi kan dari tulisan Gus Dur. Saya sudah katakan di depan, waktu Gus Dur belum datang.”

Masih banyak kisah sesungguhnya dari Gus Dur, yang dialami siapa saja. Dengan segala kearifan, kejenakaan -satu-satunya presiden di dunia yang memiliki koleksi humor terbanyak dan diutarakan terbuka, menyapa, bahkan menghibur. Segala debu segala batu pun akan bercerita, betapa sesungguhnya Gus Dur adalah berkah, adalah kasih, bagi bangsa Indonesia, tanpa terbedakan agama, keyakinan, suku, atau nama asal, atau pakaian yang dikenakan. Gus Dur adalah anugerah bagi bangsa Indonesia yang utuh, yang bisa disentuh.

Saya lebih berharap saat ini Gus Dur sedang tidur tanpa dengkur, dan setiap saat akan terbangun pada mereka -cantrik-cantriknya, santri-santri, anak didik- yang memahami karunianya yang karismatis.

Penulis adalah budayawan

Suara Pembaruan

ZOOM2009-12-31Pidato di PBB dan Istana Rakyat
Gus Dur dalam Kenangan

SP/Charles Ulag

KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) membaca sumpah jabatan saat dilantik menjadi Presiden RI pada 21 Oktober 1999. Gus Dur adalah presiden ke-4 setelah menggantikan BJ Habibie.

Banyak kenangan yang tersisa di hati para wartawan yang meliput di Istana Kepresidenan selama Presiden Abdurrahman Wahid (Gus Dur) menjabat presiden. Kenangan itu masih melekat hingga kini.

Meliput Istana Kepresidenan di era merupakan periode paling sibuk. Wartawan tidak berani meninggalkan lokasi kalau belum yakin Gus Dur tidak akan menemui tamu lagi. Jadwal Gus Dur padat karena tamu-tamunya beragam. Kadang-kadang beliau sudah menerima tamu pukul 06.30 hingga malam hari. Bukan hal yang luar biasa, kalau wartawan sudah di Istana pada pukul 07.00 dan baru meninggalkan istana saat matahari tenggelam. Bahkan, beberapa kali hingga lewat tengah malam.

Walaupun lelah mengikuti acaranya yang kesekian dalam sehari, wartawan tidak berani membiarkan acara Gus Dur tidak diliput. Takut kecolongan berita. Bukan apa-apa, Gus Dur sering mengeluarkan pernyataan-pernyataan tak terduga. Pidato-pidato Gus Dur dalam berbagai acara, yang sering menjadi berita spektakuler. Jadi, jangan coba-coba membiarkan acara Gus Dur tidak diliput.

Pidato di PBB

Pidato resmi ataupun dalam acara informal mesti dicermati. Gus Dur berbicara tanpa naskah pidato karena kesehatan matanya terganggu. Ketika tampil di depan Majelis Umum PBB di New York, Gus Dur membuat banyak orang berdecak kagum. Gus Dur berpidato dalam bahasa Inggris tanpa teks dalam waktu yang cukup lama, dengan gagasan yang mengalir runut. Tanpa catatan kecil sekalipun, Gus Dur bisa berbicara lancar.

Pada saat salat Jumat, ada warga yang berniat mendonorkan matanya untuk Gus Dur. Dengan santun Gus Dur berterima kasih. “Saya tidak apa-apa dengan kondisi ini. Kalau ingin mendonorkan mata, silakan ke Jakarta Eye Center, Jalan Cik Di Tiro. Saudara bisa mendonorkan untuk orang yang lebih membutuhkan.”

Selama menjabat presiden, Gus Dur salat Jumat di tempat berbeda dalam sebulan. Ia membaginya antara masjid di Istana Merdeka, depan rumahnya, dan masjid-masjid lainnya di wilayah Jabotabek. Tujuannya, untuk memberikan kesempatan bagi rakyat melontarkan pertanyaan, komentar, ataupun unek-unek.

Pernah ketika salat Jumat di depan masjid depan rumahnya, khatib menyinggung soal kerusuhan yang menurutnya disebabkan oleh pihak ketiga. Gus Dur, seperti biasa, terlihat menganggukkan kepala bukan tanda setuju, melainkan tanda mengantuk. Bahkan mungkin sudah tertidur pulas. Namun, begitu gilirannya, Gus Dur merespons khotbah khatib tadi. Ia mengingatkan agar tidak gampang menyalahkan orang atau menuding pihak ketiga kalau ada masalah. Gus Dur meminta agar semua pihak tidak lagi meniru gaya Orde Baru, yang suka mencari kambing hitam untuk ketidakbecusan menyelesaikan masalah. Oh, rupanya Gus Dur tidak tidur.

Itulah sikap tegas Gus Dur. Siapa pun berani dikritiknya. Keberanian dia juga terlihat ketika terjadi unjuk rasa Laskar Jihad ke Istana. Ratusan anggota Laskar Jihad yang mengenakan jubah dan sorban putih berdemonstrasi sambil membawa pedang. Mengetahui itu, Gus Dur justru mengundang mereka masuk ke Istana. Jadilah beberapa perwakilan Laskar Jihad masuk ke kompleks Istana Merdeka. Penampilan mereka yang menyeramkan karena membawa senjata tajam tidak menyurutkan nyali Gus Dur. Beliau lebih suka berbincang dan berdialog.

Banyak hal baru yang dilakukan oleh Gus Dur. Apalagi ketika itu, Gus Dur tinggal di Istana Merdeka. Praktis antara kediaman resmi dan kantor menyatu di satu gedung.

Ia menghendaki agar Istana Merdeka yang megah bisa didatangi rakyat biasa. Tak heran kalau di era Gus Dur, tamu-tamu Istana bukan hanya orang yang mengenakan setelan jas necis lengkap dengan dasi atau pakaian batik tulis halus, melainkan juga rakyat jelata yang mengenakan sandal dan pakaian bersahaja. Hal ini terlihat nyata, terutama ketika Gus Dur akan dimakzulkan. Pada hari-hari terakhir Gus Dur di Istana, orang datang silih berganti. Dari petinggi NU, politisi, aktivis, hingga ibu rumah tangga dan anaknya, datang memberi dukungan dan doa bagi Gus Dur. Mereka diizinkan masuk oleh Paspamres karena sudah ada imbauan dari dalam untuk tidak terlalu kaku. Itulah yang diinginkan Gus Dur. Ia ingin yang substansial bahwa Istana Merdeka juga milik rakyat, bukan hanya pejabat dan tamu-tamu elite. Itulah keinginan Gus Dur, membuat Istana Merdeka bisa dijejaki oleh rakyatnya.

Ketika Gus Dur akhirnya harus melepas kursinya, masyarakat penuh sesak di depan pagar Jalan Merdeka Utara untuk mengiringinya keluar dari gerbang Istana Merdeka.

Salah satu pengalaman yang menegangkan adalah saat Gus Dur berkeinginan untuk mengeluarkan Dekrit Presiden pada Minggu tanggal 22 Juli 2001. Kondisi ketika itu, mulai dari pukul 08.00 WIB, Istana Merdeka sudah banyak wartawan yang hadir. Dengan beranjaknya waktu ke siang hingga malam hari, situasi di Istana juga ikut memanas.

Dukungan dari warga kepada Gus Dur yang berdemo di Jalan Merdeka Utara, makin siang juga jumlahnya makin banyak. Jumlah tersebut tidak berkurang hingga malam hari. Situasi bertambah tegang, pada malam harinya, banyak tokoh-tokoh pendukung Gus Dur hadir ke Istana. Ketegangan itu masih terbawa hingga dini hari, pada hari berikutnya. Karena para menteri dipanggil ke Istana Merdeka. Paling tidak, Menteri Koordinator Politik dan Keamanan Agum Gumelar, sekitar pukul 01.00 WIB keluar dari Istana Merdeka dengan wajah tegang dan berusaha menghindar dari kejaran wartawan.

Seperti telah tercatat dalam sejarah, pada Senin, tanggal 23 Juli 2001 dini hari, Gus Dur mengeluarkan Maklumat Presiden. Wartawan mendapat isi lengkap maklumat tersebut dari Juru Bicara Kepresidenan Yahya Staquf, yang membacakannya ketika itu. Maklumat tersebut, antara lain adalah membekukan Majelis Permusyawaratan Rakyat dan Dewan Perwakilan Rakyat. [SP/Marcellus Widiarto dan Yohanna Ririhena]

Suara Pembaruan

ZOOM2009-12-31Konsisten hingga Akhir Hayat
ANTARA/Eric Ireng

Peti jenazah KH Abdurrahman Wahid diturunkan dari pesawat Hercules TNI AU, seusai mendarat di Bandara Internasional Djuanda, Surabaya, Jawa Timur, Kamis (31/12).

Tak salah bila banyak orang menilai pemikiran KH Abdurrahman Wahid yang akrab disapa Gus Dur melampaui pemikiran orang kebanyakan pada masanya. Pemikiran Gus Dur kerap jauh melintasi ruang dan waktu. Konsistensinya dalam menegakkan kehidupan demokrasi, menjunjung tinggi nilai-nilai pluralisme, memihak kelompok minoritas, serta aktif memantau perkembangan dunia, tetap terjaga hingga akhir hayatnya.

Buktinya, beberapa jam sebelum mengembuskan napas terakhir pada Rabu (30/12) pukul 18.45 WIB di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) Jakarta, Gus Dur masih meminta orang dekatnya membacakan berita dari majalah Gatra tentang pemilu di Cile dan kondisi Israel.

“Sekitar jam 12 siang, Bapak meminta saya membacakan berita dari majalah Gatra,” kata Bambang Susanto yang menemani Gus Dur pada saat-saat terakhir.

Saat itu Gus Dur dirawat di kamar A 116 RSCM, karena kondisi kesehatannya menurun setelah berziarah di Jombang, Jawa Timur. Presiden keempat RI itu masuk RSCM sejak Sabtu (26/12). Dalam kamar itu hanya ada putri bungsunya, Inayah Wulandari, asisten pribadi Sulaiman, dua pengawal pribadi, serta Bambang Susanto sendiri.

Tiba-tiba, kata Bambang, Gus Dur mengeluh sakit di bagian paha ke bawah dan minta dipijat. Kondisi kesehatan Gus Dur terus menurun sehingga harus dibawa ke gedung Pelayanan Jantung Terpadu RSCM di lantai lima atrium dua untuk keperluan tindakan medis. Di dalam ruang perawatan itu hanya ada tim dokter yang dipimpin Yusuf Misbach. Tak ada seorang pun anggota keluarga di ruangan itu, termasuk istri Gus Dur, Sinta Nuriyah yang tiba di RSCM pukul 12.30 WIB.

“Agak sore, dokter meminta tambahan darah golongan O. Sekitar pukul setengah lima, Bapak masih meminta audio book, saya pikir keadaan Bapak sudah enakan. Namun, sekitar pukul enam sore, dokter Yusuf mengatakan kondisi Bapak kritis karena tekanan darah drop,” katanya.

Dalam kondisi yang kritis itu, sekitar pukul 18.15 WIB, hanya Presiden SBY ditemani menantu Gus Dur, Dhohir Farisi, bersama tim dokter, yang berada di kamar tersebut. “Saya tidak tahu kejadian dalam ruangan itu, karena yang ada hanya Presiden SBY, menantu Gus Dur, dan tim dokter,” ujar Bambang. Akhirnya, pada pukul 18.45 WIB, Gus Dur meninggalkan dunia untuk selamanya.

Islah dengan Soeharto

Salah satu yang menonjol dari kehidupannya Gus Dur adalah perseteruannya dengan mantan Presiden Soeharto.

Menjelang Muktamar ke-29 NU pada 1994 di Tasikmalaya, Jabar, Gus Dur menominasikan diri untuk masa jabatan ketiga. Pencalonan ini ditentang Soeharto dengan menolak disambut dan bersalaman dengan Gus Dur pada prosesi pembukaan muktamar. Pascamuktamar, dimana Gus Dur tetap terpilih sebagai Ketua Umum PBNU, perseteruan keduanya semakin meruncing.

Dua tahun kemudian, para ulama sepuh mencoba mencari jalan untuk mencairkan hubungan Gus Dur dengan Soeharto. Dalam Munas Asosiasi Pondok Pesantren se Indonesia di Ponpes Zainul Hasan, Genggong, Pajarakan, Probolinggo, keduanya akhirnya saling berjabatan tangan pertanda islah. [SP/Aries Sudiono/Anselmus Bata]

Suara Pembaruan

ZOOM2009-12-31Tokoh Dialog Antarumat Beragama
SP/Abimanyu

Istri mantan Presiden Abdurrahman Wahid (Gus Dur), Sinta Nuriyah dikawal petugas saat mengiringi jenazah Gus Dur ke mobil jenazah di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, Jakarta Pusat, Rabu (30/12). Gus Dur meninggal dunia karena sakit.

[JAKARTA] Kepergian KH Abdurrahman Wahid yang akrab dipanggil Gus Dur telah menimbulkan duka yang mendalam bagi bangsa ini. Gus Dur adalah sosok pemimpin, bangsawan, dan tokoh bangsa yang tidak ada duanya.

“Gus Dur adalah bapak dialog antaragama internasional, khususnya tiga agama Abraham, yakni Islam, Kristen, dan Yahudi. Dia tidak pernah ragu membela yang lemah dan didiskriminasi. Contohnya, dia menjadi pembela ulung bagi etnis Tionghoa dan akhirnya menjadikan Imlek sebagai hari nasional. Dia adalah bapak kultural yang humanis, nasionalis dan demokratis,” ujar rohaniwan Mudji Sutrisno di RS Cipto Mangunkusumo (RSCM), beberapa saat setelah Gus Dur mengembuskan nafas terakhir pada pukul 18.45 WIB, Rabu (30/12).

Gus Dur yang pada beberapa waktu terakhir rutin mencuci darah di RSCM, tiga kali seminggu, sebelumnya kembali menjalani perawatan inap seusai pulang dari rangkaian kegiatan di Jawa Timur. Ketua tim dokter yang menangani Gus Dur, Yusuf Misbach mengatakan, mantan Presiden RI itu dirawat di RSCM sejak Sabtu (26/12).

Pada Senin (28/12), Gus Dur harus menjalani pencabutan gigi untuk mengurangi dan mengantisipasi infeksi, karena dia menderita diabetes. Infeksi akan muncul jika gigi yang bermasalah tersebut tidak dicabut.

“Gus Dur juga menderita komplikasi dan gangguan pada pembuluh darah, jantung, ginjal, serta diabetes. Pada Selasa (29/12), Gus Dur menjalani cuci darah terakhir. Kondisinya menurun pada Rabu siang dan segera dibawa ke ruang pelayanan intensif. Dia mengalami kritis sejak pukul 18.00 dan akhirnya Gus Dur pergi untuk selamanya sekitar pukul 18.45 WIB,” kata anggota tim dokter Akmal Taher.

Sebelumnya, Gus Dur sempat dibesuk Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dan beberapa sahabat, keluarga, serta orang-orang dekatnya. Begitu banyak pejabat negara dan tokoh-tokoh bangsa berduka dan melayat Gus Dur sejak dari RSCM hingga kediamannya di Ciganjur.

“Saya datang untuk menyatakan belasungkawa yang mendalam. Gus Dur sangat pantas dijenguk banyak orang. Beberapa hari yang lalu, saya sempat meminta maaf ke Gus Dur, jika selama ini pernah membuat kesalahan. Gus Dur sosok yang luar biasa bagi saya,” kata Menkumham Patrialis Akbar.

Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Muhaimin Iskandar, yang pernah tidak sepaham dengan Gus Dur di PKB, juga datang melayat jenazah pamannya itu. Cak Imin, demikian dia akrab disapa, tidak mau berkomentar.

Salah satu Menteri muda di KIB II itu meneteskan air mata duka bagi Gus Dur, yang sebelum meninggal sempat bersilaturahmi ke kediaman KH Mustofa Bisri di Rembang, Jawa Tengah dan berziarah ke makam Nyai Fatah di Pesantren Bahrul Ulum, Tambak Beras, Jombang.

Gus Dur memiliki pendekatan dan kultur demokrasi yang khas. “Dia memperlakukan Papua dengan hati dan bersuasana kultural. Bukan dengan kekuasaan, apalagi yang represif. Masyarakat Papua pasti sangat merasa kehilangan,” kata tokoh muda Papua Velix Wanggai. [EMS/O-1]

Suara Pembaruan

ZOOM2009-12-31Gus Dur Pembela Kaum Lemah
SP/Fuska Sani Evani
Ratusan aktivis kemanusiaan, bersama kaum Nahdliyin Yogyakarta, mengenang Gus Dur di Tugu Yogyakarta, Kamis (31/12) dini hari. Acara dipimpin Ketua Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama DIY Mochamad Maksum.

[YOGYAKARTA] Sampai hari ini, belum ada tokoh yang mampu menyamai mantan Presiden KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur), baik dari dalam Nahdlatul Ulama (NU) maupun di luar NU. Sikap-sikap kritis Gus Dur yang selalu bertolak belakang dengan pandangan umum, mencerminkan dedikasi Gus Dur untuk perjuangan kemanusiaan.

Gus Dur itu adalah pembela kaum lemah. “Di saat pemerintahan Gus Dur, warga keturunan Tionghoa di Indonesia mendapatkan tempat yang sama. Kong Hu Chu diakui sebagai salah satu agama resmi dan perayaan Imlek tidak lagi dilangsungkan dengan sembunyi-sembunyi. Saya kira masih banyak perjuangan Gus Dur yang tidak terlihat oleh kita. Tokoh-tokoh Tionghoa merasa kehilangan, semua anak bangsa dan saya benar-benar merasa kehilangan,” kata Ketua Pimpinan Wilayah NU DIY Mochamad Maksum, di Yogyakarta, Kamis (31/12).

Kepergian Gus Dur cukup menyentak masyarakat Indonesia sekaligus membangunkan kesadaran bahwa perjuangan untuk menegakkan keadilan belum selesai. Sosok Gus Dur yang penuh dengan kontroversi justru menjadikan bangsa ini akrab dengan ‘bahasa’ demokrasi, termasuk membuka seluruh saluran kebersamaan.

Seluruh elemen masyarakat di Yogyakarta berduka dan untuk mewujudkannya, ratusan masyarakat Rabu (30/12) malam menjelang Kamis (31/12) dini hari, berkumpul di Tugu untuk merenung bersama, sekaligus menyalakan lilin dan tabur bunga.

Dipimpin M Maksum, ratusan warga yang terdiri dari aktivis pergerakan ’98, Forum Persatuan Umat Beriman, komunitas masyarakat pinggiran hingga mahasiswa, mengusung foto Gus Dur sekaligus memancangkan bendera setengah tiang.

Fenomenal

Prof Yusni Sabi, mantan Rektor IAIN Ar-Raniry mengatakan, sosok Gus Dur sangat fenomenal. Pikiranya luwes, gagasannya cerdas, pola kepemimpinnya demokratis. Pada masa kepemimpinannya, budaya Tionghoa diakui dan mampu mempersatukan lintas agama. Dia juga memperjuangkan kebebasan dalam berekspresi.

Gus Dur juga ikut merintis lahirnya perundingan untuk menyelesaikan konflik di Aceh dengan mengirim utusan guna melakukan negosiasi dengan para petinggi GAM waktu itu, katanya.

Warga keturunan Tionghoa di Makassar, Sulawesi Selatan sangat kehilangan atas kepergian Gus Dur, seorang tokoh yang dianggap sangat berjasa telah memanusiakan warga keturunan. “Kami sangat berkabung atas wafatnya Gus Dur dan merasa kehilangan tokoh yang paling berjasa yang telah memanusiakan kami,” ujar Pieter Gozal, tokoh Tionghoa di Makassar. [152/147/148/WMO/141/142/ 151/146/154/070/080/153/149]

Suara Pembaruan

ZOOM2009-12-31Gus Dur Rela Dihujat demi Kerukunan
SP/Ignatius Liliek

Mantan Presiden RI Ke-4 Abdurrahman Wahid (Gus Dur) bersalaman dengan Bhante Sukhemothera pada gelar doa bersama di Wahid Institute, Jakarta, Jumat (28/7/2006).

[JAKARTA] Sejumlah tokoh lintas agama dan rakyat Indonesia seluruhnya merasa kehilangan dengan wafatnya mantan Presiden KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur.

Mereka menilai, Indonesia sulit menemukan sosok seperti Gus Dur, yang rela dihujat demi membela kaum minoritas dan mempertahankan kerukunan beragama. Banyak tokoh saat ini sangat pragmatis dan sarat kepentingan politik subjektif, sesuatu yang jauh berbeda dengan Gus Dur.

Romo Benny Susetyo dari Konferensi Waligereja (KWI) kepada SP, Kamis (31/12), mengatakan, bangsa ini telah kehilangan tokoh nasionalis tulen. Gus Dur adalah sosok yang berani menghadapi risiko apa pun untuk membela dan mempertahankan keindonesiaan yang pluralis. Gus Dur selalu memperjuangkan keadilan sosial bagi kelompok minoritas.

“Tidak hanya fenomenal, tetapi dia juga pemikir besar, brilian, dan punya cita-cita agar Indonesia menjadi negara yang besar, yakni negara yang menghargai perbedaan, dan potensi yang ada,” kata Romo Benny.

Romo yang mengaku mempunyai hubungan fundamental dengan Gus Dur ini mengatakan, sulit bagi Indonesia mendapatkan sosok pengganti seperti Gus Dur.
Bagi Romo, pesan terakhir Gus Dur yang paling berkesan adalah mencintai kaum fundamentalis, bukan memusuhinya. “Fundamentalis harus dikasihani dan mendekati mereka,” kata Romo Benny, mengutip pernyataan Gus Dur.

Ketua Umum Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (PGI) Andreas Yewangoe mengatakan, Gus Dur sosok yang selalu memperhatikan relasi dan kerukunan antarumat beragama. Hal ini ditunjukkan dengan sikapnya yang selalu terbuka dengan kelompok mana pun, tanpa diskriminasi.

“Gus pernah hadir di Sidang Raya PGI di Palangka Raya. Ini menunjukkan dia seorang nasionalis, tidak membeda-bedakan orang di negeri ini. Bagi umat Kristen, dia relasi yang sangat baik,” ucapnya.

Gus Dur juga, lanjutnya, adalah pembela bagi golongan yang dianggap kecil di negeri ini. Baginya, demokrasi sejati adalah kaum minoritas memperoleh hak-haknya.

Bahkan, sikapnya yang selalu kontroversial dalam membela kerukunan antarumat beragama pun dikenal hingga dunia internasional. “Yang paling fenomenal ketika dia membela agama Konghucu yang tidak diakui oleh pemerintahan kala itu. Ketika dia menjadi presiden, Konghucu kemudian diakui sebagai salah satu agama di Indonesia,” katanya.

Agamawan Sejati

Jiwa nasionalisme Gus Dur yang tinggi, lanjut dia, menurun dari ayahnya KH Wahid Hasyim dan kakeknya KH Hasyim Asy’ari.

Sementara itu, Ketua Yayasan Indonesian Conference on Religion and Peace (ICRP), Abdul Muhaimin mengatakan, bangsa ini kehilangan agamawan sejati. Dia dikenal sebagai perekat agama, yang semangat spiritualnya tinggi untuk merangkum semua agama dengan segala perbedaannya. “Saya rasa semua agama merasa kehilangan. Tetapi ini juga pelajaran bagi kita semua untuk melanjutkan cita-citanya menciptakan kerukunan,” katanya.

Menurut Abdul, Indonesia sulit menemukan sosok seperti Gus Dur. Banyak tokoh sekarang ini yang pragmatis dan dipengaruhi oleh kepentingan subjektif. Sangat berbeda dengan Gus Dur yang rela dihujat demi membela kelompok lain, terutama kaum minoritas dan mempertahankan kerukunan beragama.[D-13]

Suara Pembaruan

ZOOM2009-12-31Gus Dur, Tokoh Politik yang Sangat Berbudaya
Antara

Gus Dur menunjukkan buku berjudul “Gus Dur Bertutur” seusai peluncuran buku tersebut di Semarang, beberapa tahun yang lalu.

[JAKARTA] Di mata budayawan Butet Kertaradjasa, Gus Dur adalah sosok yang luar biasa. Bahkan, Butet menyebut Gus Dur sebagai se- orang sufi karena mampu mengolok-olok dan menertawakan diri sendiri. Sesuatu yang jarang bisa dilakukan orang lain.

“Beliau memang sosok yang humoris sekali. Humor tertinggi adalah saat sese- orang bisa menertawakan diri sendiri. Itu sudah sekelas sufi. Dan, Gus Dur sudah pada tingkat itu. Ia bisa menciptakan kejenakaan dengan mengolok-olok dirinya sendiri. Itu menunjukkan kematangan jiwa seseorang,” tutur Butet kepada SP, Kamis (31/12).

Selain itu, Butet juga mengaku kagum akan semangat Gus Dur menjunjung tinggi pluralisme, menghargai, dan menghormati keragaman di Indonesia. Apalagi, ia melanjutkan, salah satu ciri kebudayaan Indonesia adalah keberagaman itu sendiri.

“Gus Dur adalah penjaga nilai spirit pluralisme yang diamanatkan pendiri bangsa ini,” katanya.

Selama menjadi budayawan, Butet mengaku kerap bertemu dan bersinggungan dengan Gus Dur. Bahkan tak jarang, Butet melontarkan guyonan tentang Gus Dur dalam pentas monolog yang dihadiri oleh sang mantan presiden itu. Bukannya tersinggung, Gus Dur malah tertawa karena beliau juga menyukai humor.

Oleh karena itu, Butet merasa sosok Gus Dur haruslah diteladani banyak pihak, terutama para birokrat dan politikus Indonesia. “Namun, saya yakin, kader-kader Gus Dur, yakni para intelektual muda NU juga mengusung semangat pluralisme. Saya tidak cemas atau khawatir karena Gus Dur menyisakan warisan berupa kader-kader yang bisa menjunjung semangat pluralisme. Kita masih ada Gus Mus, Ulil, Muslim Abdurrahman, Komarudin Hidayat, Yudi Latief, orang-orang Islam yang moderat,” kata Butet.

Berbeda

Sementara itu, seniman kawakan Indonesia, Slamet Rahardjo Djarot menjelaskan, seperti halnya Presiden pertama RI, Soekarno, Gus Dur membuat dirinya berbeda dengan para politisi bangsa Indonesia saat ini karena dia seorang budayawan.

“Artinya, sebagai seorang budayawan, Gus Dur memiliki jiwa seni dan sosial yang tinggi. Sehingga, ketika dia terjun ke dunia politik, beliau mewarnai semuanya itu dengan kekayaan berkesenian yang beliau miliki dan dalami. Lahirnya pluralisme, merupakan salah satu keputusan Gus Dur sebagai seorang budayawan yang berpolitik. Harus diakui, soal pluralisme ini, merupakan langkah berani Gus Dur dalam mengambil risiko,” kata Slamet.

Lebih lanjut, pemain film, teater, dan sutradara ternama Indonesia menambahkan, segala kepiawaian yang dimiliki Gus Dur, khususnya untuk bangsa ini, tidak bisa dilepaskan dari kehidupan beliau dari sisi budaya yang tentunya sangat mengedepankan keindahan.

“Yang jelas, di mana ada krisis, di situ ada Gus Dur sebagai sang penyelamat. Di mana ada ketidakadilan di situ ada Gus Dur sebagai sang pengadil,” ujarnya.

Kematian itu, kata Slamet, adalah keniscahyaan. Jarang sekali ada orang yang meninggal secara terhormat seperti Gus Dur. Maka, banggalah keluarga punya ayah dan suami yang sangat berjasa buat negara. [D-10/F-4]

Firasat Gus Dur Sebelum Wafat

lokasi: Home / Berita / Tokoh / [sumber: Jakartapress.com]

Kamis, 31/12/2009 | 04:55 WIB Firasat Gus Dur Sebelum WafatFIRASAT wafatnya Gus Dur sudah terasa sejak Gus Dur berziarah terakhir ke makam kakek dan ayahnya di Tebu Ireng, Jombang. Adik kandung Gus Dur KH Salahudin Wahid yang juga pengasuh Ponpes Tebu Ireng mengaku dirinya sudah diberi sinyal dan firasat saat Gus Dur ke Jombang.

“Gus Solah bercerita pada kami beberapa hari lalu di kediamannya. Gus Solah kaget dan heran tiba-tiba Gus Dur bilang, ‘dik mengko tanggal 31 jemputen aku nang kene‘ (Dik, nanti tanggal 31 jemput saya di sini,” kata salah satu ketua PP GP Ansor Maskut yang mendapat cerita dari Gus Solah, Kamis (31/12).

Menurut Maskut, Gus Solah juga sudah merasa tidak enak saat Gus Dur memanggil dirinya dengan sebutan ‘dik’ (adik). Sebab, selama ini panggilan Gus Dur kepada Gus Solah selalu ‘Los’ kebalikan dari ‘Sol’ panggilan akrab Salahuddin Wahid sejak kecil.

“Gus Solah juga mengaku rasa herannya saat Gus Dur memanggil dirinya dengan ‘dik’. Padahal seumur-umur kalau memanggil Gus Solah dengan ‘Los’. Atau memanggil Gus Umar dengan pangilan ‘Ram’, kebalikan Mar,” paparnya.

Pernyataan Gus Dur ini dimaknai Gus Solah sebagai bentuk wasiat. Karena itu sejak awal, Gus Solah menegaskan bahwa bani Hasyim memang kalau meninggal dimakamkan di Tebu Ireng. Apalagi tokoh sekaliber Gus Dur.

Dipanggil Mbah Hasyim
Sebelum menghembuskan nafasnya yang terakhir, Gus Dur sempat memberi tahu putri pertamanya Alissa Qatrunnada bahwa dirinya dipanggil Kakeknya, Hasyim Asy’ari. Alissa pun mengaku tak tahu arti cerita ayahnya. “Memang waktu bapak di Jombang, bapak bilang sama saya. ‘Saya kok merasa dipanggil oleh Mbahmu, Hasyim Asy’ari. Saya nggak tahu apa ini artinya itu,” ujar putri pertama Gus Dur, Alissa Qatrunnada.

Hal itu disampaikan Alissa saat jumpa pers di kediaman Gus Dur, Jl Warung Sila X, Ciganjur, Jakarta Selatan, Kamis (31/12) pukul 00.20 WIB.

Alissa menambahkan proses Gus Dur sakaratul maut hingga menghembuskan nafas terakhir sangat cepat dan lancar. “Proses bapak meninggal Alhamdulilah sangat cepat dan lancar. Dan saat itu didampingi ibu (Shinta Nuriyah), Mbak Inayah (Inayah Wulandari, putri terakhir Gus Dur) dan Faris (Dhohir Farisi, menantu Gus Dur dan suami Yenny Wahid),” ungkap putri Gus Dur ini.

Peci ‘Presiden RI’
Salah satu peninggalan penting Gus Dur adalah kopiah yang terbuat dari akar-akaran bertuliskan ‘Presiden RI’ dan ‘Gus Dur’. Gus Dur sangat sering mengenakan kopiah ini saat menjadi Presiden. Peci ini diberikan Gus Dur diberikan kepada Abdul Mudjib Manan dengan disertai surat bermaterai.

Abdul Mudjib Manan adalah kawan lama Gus Dur saat kuliah di Universitas Al Azhar, Kairo, Mesir. Pada tahun 2001, Gus Dur menarik Abdul Mudjib ke Jakarta dan dijadikan sebagai Sekretaris Presiden. Abdul Mudjib mendampingi Gus Dur hingga masa-masa terakhir Gus Dur berada di Istana Merdeka.

Sebagai kenang-kenangan, Gus Dur memberikan kopiah ‘Presiden RI’ kepada Abdul Mudjib tak lama setelah lengser. Peci ini sangat bersejarah, karena dipakai Gus Dur saat mengumumkan dekrit Presiden RI tentang pembubaran DPR dan Partai Golkar.

Sebagai otentifikasi terhadap pemberian kopiah itu, Gus Dur menuliskan surat penyataan yang ia tandatangani pada 24 Juli 2001, saat yang sama ketika Gus Dur meninggalkan Istana.

Dalam selembar surat bermaterai Rp 6.000 itu, Gus Dur menyatakan telah memberikan peci kepada Abdul Mudjib Manan. Di surat tersebut ditulis ciri-ciri peci tersebut antara lain: terbuat dari bahan sejenis akar-akaran, di kedua sisi tertulis Gus Dur dan Presiden RI. Dalam surat disebutkan juga “Peci tersebut saya pakai pada saat dibacakan dekrit Presiden RI pada tanggal 23 Juli 2001”

“Jadi kita tidak mengaku-aku, karena ini ada surat penyataan yang langsung ditandatangani Gus Dur,” kata Achmad Seno Aldinata, putra kedua Alm Abdul Mudjib Manan, saat ditemui detikcom di rumahnya, di Sidoarjo, Jawa Timur, Rabu (30/12/2009) malam.

Hingga saat ini, Seno dan keluarganya masih menjaga dan merawat kopiah tersebut. Abdu Mudjib Manan yang telah meninggal dunia pada 2006 lalu juga telah mewasiatkan kepada keluarganya untuk menjaga benar-benar kopiah tersebut.

Berikut surat Gus Dur kepada Abdul Mudjib selengkapnya:

SURAT PERNYATAAN

Yang bertanda tangan di bawah ini:

Nama : KH Abdurrahman Wahid
Pekerjaan: mantan Presiden RI ke IV
Alamat: Jalan Warung Sila, Gg Munawaroh, Ciganjur-Jakarta

Menyatakan bahwa saya telah memberikan sebuah peci kepada:

Nama: Abd Mudjib Manan
Pekerjaan:  – mantan Sekretaris Presiden RI
– Dosen Fakultas Dakwan IAIN Sunan Ampel Surabaya
Alamat: Makarya, Binangun Blok G no 17, Waru Sidoarjo

Adapun ciri-ciri peci tersebut, antara lain:
1. Terbuat dari bahan sejenis akar-akaran
2. Di kedua sisinya bertuliskan ‘ Gus Dur Presiden Republik Indonesia’
3. Peci tersebut saya pakai pada saat pengumuman Dekrit Presiden RI pada tanggal 23 Juli 2001

Demikian pernyataan surat ini saya buat untuk digunakan seperlunya

Jakarta, 24 Juli 2001

Yang menyatakan

materai+ttd

KH Abdurrahman Wahid

Biografi Gus Dur
Abdurrahman Wahid yang akrab dipanggil Gus Dur menjabat Presiden ke-4 RI mulai 20 Oktober 1999 hingga 24 Juli 2001. Beliau lahir tanggal 4 Agustus 1940 di desa Denanyar, Jombang, Jawa Timur. Gus Dur adalah putra pertama dari enam bersaudara. Ayahnya adalah seorang pendiri organisasi besar Nahdlatul Ulama, yang bernama KH. Wahid Hasyim. Sedangkan Ibunya bernama Hj. Sholehah adalah putri pendiri Pesantren Denanyar Jombang, K.H. Bisri Syamsuri. Dari perkawinannya dengan Sinta Nuriyah, mereka dikarunia empat orang anak, yaitu Alissa Qotrunnada Munawaroh, Zannuba Arifah Chafsoh, Annita Hayatunnufus, dan Inayah Wulandari .

Sejak masa kanak-kanak, Gus Dur mempunyai kegemaran membaca dan rajin memanfaatkan perpustakaan pribadi ayahnya. Selain itu beliau juga aktif berkunjung keperpustakaan umum di Jakarta. Pada usia belasan tahun Gus Dur telah akrab dengan berbagai majalah, surat kabar, novel dan buku-buku. Di samping membaca, beliau juga hobi bermain bola, catur dan musik. Bahkan Gus Dur, pernah diminta untuk menjadi komentator sepak bola di televisi. Kegemaran lainnya, yang ikut juga melengkapi hobinya adalah menonton bioskop. Kegemarannya ini menimbulkan apresiasi yang mendalam dalam dunia film. Inilah sebabnya mengapa Gu Dur pada tahun 1986-1987 diangkat sebagai ketua juri Festival Film Indonesia.

Masa remaja Gus Dur sebagian besar dihabiskan di Yogyakarta dan Tegalrejo. Di dua tempat inilah pengembangan ilmu pengetahuan mulai meningkat. Masa berikutnya, Gus Dur tinggal di Jombang, di pesantren Tambak Beras, sampai kemudian melanjutkan studinya di Mesir. Sebelum berangkat ke Mesir, pamannya telah melamarkan seorang gadis untuknya, yaitu Sinta Nuriyah anak Haji Muh. Sakur. Perkawinannya dilaksanakan ketika Gus Dur berada di Mesir.

Sepulang dari pengembaraannya mencari ilmu, Gus Dur kembali ke Jombang dan memilih menjadi guru. Pada tahun 1971, beliau bergabung di Fakultas Ushuludin Universitas Tebu Ireng Jombang. Tiga tahun kemudian beliau menjadi sekretaris Pesantren Tebu Ireng, dan pada tahun yang sama Gus Dur mulai menjadi penulis. Beliau kembali menekuni bakatnya sebagaii penulis dan kolumnis. Lewat tulisan-tulisan tersebut gagasan pemikiran Gus Dur mulai mendapat perhatian banyak.

Pada tahun 1974 Gus Dur diminta pamannya, K.H. Yusuf Hasyim untuk membantu di Pesantren Tebu Ireng Jombang dengan menjadi sekretaris. Dari sini Gus Dur mulai sering mendapatkan undangan menjadi nara sumber pada sejumlah forum diskusi keagamaan dan kepesantrenan, baik di dalam maupun luar negeri. Selanjutnya Gus Dur terlibat dalam kegiatan LSM. Pertama di LP3ES bersama Dawam Rahardjo, Aswab Mahasin dan Adi Sasono dalam proyek pengembangan pesantren, kemudian Gus Dur mendirikan P3M yang dimotori oleh LP3ES.

Pada tahun 1979 Gus Dur pindah ke Jakarta. Mula-mula beliau merintis Pesantren Ciganjur. Sementara pada awal tahun 1980 Gus Dur dipercaya sebagai wakil katib syuriah PBNU. Di sini Gus Dur terlibat dalam diskusi dan perdebatan yang serius mengenai masalah agama, sosial dan politik dengan berbagai kalangan lintas agama, suku dan disiplin. Gus Dur semakin serius menulis dan bergelut dengan dunianya, baik di lapangan kebudayaan, politik, maupun pemikiran keislaman. Karier yang dianggap `menyimpang`-dalam kapasitasnya sebagai seorang tokoh agama sekaligus pengurus PBNU-dan mengundang cibiran adalah ketika menjadi ketua Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) pada tahunn 1983. Beliau juga menjadi ketua juri dalam Festival Film Indonesia (FFI) tahun 1986, 1987.

Pada tahun 1984 Gus Dur dipilih secara aklamasi oleh sebuah tim ahl hall wa al-`aqdi yang diketuai K.H. As`ad Syamsul Arifin untuk menduduki jabatan ketua umum PBNU pada muktamar ke-27 di Situbondo. Jabatan tersebut kembali dikukuhkan pada muktamar ke-28 di pesantren Krapyak Yogyakarta (1989), dan muktamar di Cipasung Jawa Barat (1994). Jabatan ketua umum PBNU kemudian dilepas ketika Gus Dur menjabat presiden RI ke-4. Selama menjadi presiden, tidak sedikit pemikiran Gus Dur kontroversial. Seringkali pendapatnya berbeda dari pendapat banyak orang. (*/din/dtc/jpc)

31
Dec
09

PEPORA : Pemuda Remaja Mesjid Dukung Pelengseran Presiden

BKPRMI Dukung Pelengeseran Presiden

lokasi: Home / Berita / Politik / [sumber: Jakartapress.com]

Rabu, 30/12/2009 | 21:13 WIB BKPRMI Dukung Pelengeseran Presiden

Jakarta – Gerakan pemakzulan Presiden SBY-Boediono menjelang datangnya tahun 2010 menguat dengan bergulirnya kasus Bank Century . Desakan tersebut datang dari kelompok pemuda dan remaja masjid yang tergabung dalam organisasi Badan komunikasi Pemuda Remaja Masjid Indonesia (BKPRMI) yang dipimpin Ali Mochtar Ngabalin, mantan anggota DPR RI.

“Kasus Bank Century ini bila menyitir  beberapa pengamat hukum tata negara adalah sudah menjadi skandal kenegaraan. Oleh karena itu kita percayakan pengungkapan ini kepada Panitia Angket kasus Bank Century,” tegas ketua umum BKPRMI Ali Mochtar Ngabalin, Rabu (30/12).

Ali juga mengancam akan mengerahkan massanya dari pemuda Masjid seluruh Indonesia untuk menggelar aksi kembali seperti peringatan Hari Anti Korupsi Sedunia 9 Desember lalu. “9 Desember lalu adalah bukti jika kita mempunyai massa yang besar. Kita akan melakukan kembali aksi jika persoalan Century ini tidak sampai selesai,” tegasnya.

Ia menambahkan, pihaknya juga sangat kecewa dengan kinerja Pansus Century DPR yang sangat lamban. “Saya lima tahun lalu menjadi anggota Dewan dan pernah juga duduk dalam Hak Angket. Bedanya, kalau kita dulu mencari data, sedangkan Pansus Angket Century ini malah data yang mencari mereka. Untuk itu, kita minta angket Century bisa lebih bekerja maksimal dalam menuntaskan kasus Century dengan adanya data yang tidak terbatas. Kalau tidak, kita lihat saja massa pemuda masjid akan menduduki DPR,” ungkapnya.

Menurut Ali, bila menyimak hasil laporan PPATK sudah disebutkan aliran dana Bank Century tersebut mengalir ke beberapa petinggi partai. “Untuk itu, kami berharap Pansus Angket Kasus Bank Century harus berani menghungkapa paklah dana tersebut mengalir ke Partai Demokrat, Golkar, PAN atau partai saya Bulan Bintang,” paparnya.

Dalam penjelasan reflesi akhir tahun Ali menilai SBY karena gagal menjalankan 100 hari pemerintahannya. “Kasus mafia hukum dan skandal Century contoh kecil tidak becusnya SBY. Makanya, kita sangat dukung agar SBY mundur dari jabatannya,” kata Ali .

MK Buat Aturan Pelengseran Presiden

Mahkamah Konstitusi (MK) akan menandatangani Peraturan yang mengatur tentang impeachment (pelengseran) Presiden dan Wapres. Peraturan ini akan disahkan sebelum tahun 2010. “Sebelum tahun baru akan menandatangani Peraturan MK tentang impeachment,” kata Ketua MK Mahfud MD kepada wartawan di Gedung MK, Rabu (30/12).

Dijelaskan Mahfud, Peraturan itu dibuat mengantisipasi kekosongan hukum acara impeachment jika terjadi perubahan aturan soal impeachment yang berlaku saat ini. Menurutnya, untuk melakukan impeachment sebenarnya bukanlah perkara yang mudah. Dijelaskan dia, secara teori usulan impeachment yang dibahas di rapat paripurna DPR harus dihadiri 2/3 anggota DPR. Selain itu harus disetujui oleh 2/3 yang hadir bahwa presiden dan wapres telah melakukan kesalahan.

Kalau hal itu disetujui di DPR, lanjut Mahfud, baru dibawa ke MK. Setelah itu dibawa ke MPR dan harus dihadiri 3/4 anggota dan disetujui oleh 2/3 yang hadir. “Ini kalau eksak matematiknya agak sulit,” ungkapnya. Namun, bukan berarti impeachment sulit diwujudkan. “Dalam politik tidak selalu matematik,” imbuhnya. (wan)

“Secara Institusional SBY Terlibat Bailout Century”

lokasi: Home / Berita / Politik / [sumber: Jakartapress.com]

Rabu, 30/12/2009 | 21:02 WIB "Secara Institusional SBY Terlibat Bailout Century"

Jakarta – Tanda-tanda publik mengenai apakah SBY terlibat atau tidak dalam bailout Bank Century mulai mendapat titik terang ketika tokoh senior PDI-P, AP Batubara menyatakan bahwa keterlibatan SBY dalam bailout Bank Century sangat jelas.

Anggota Dewan Pertimbangan Pusat (Deperpu) PDI-P ini mengemukakan, SBY secara institusional terlibat dalam bailout Century yang telah merugikan Negara 6,7 triliun. Hal tersebut diungkapkan oleh AP Batubara kepada jakartapress.com Rabu (30/12).

Menurutnya, keterlibatan SBY tersebut bisa dilihat dalam 2 hal. Pertama, kehadiran Marsilam Simanjuntak di rapat KSSK saat pengambilan keputusan bailout Century. Sebagaimana banyak diberitakan, Marsilam datang di rapat tersebut atas perintah SBY. Kedua, tidak mungkin Boediono dan Sri Mulyani mengeluarkan bailout Century tanpa sepengetahuan SBY.

Kedua, hal tersebut nampaknya cukup membuktikan keterlibatan SBY dalam proses bailout Century yang menurut penulis buku Wartawan Bertanya AP Batubara Menjawab ini tidak rasional.

Menurut AP Batubara, Bank Century adalah Bank kecil yang tidak diketahui oleh masyarakat dan tidak mungkin berdampak sistemik, sekalipun dalam keadaan krisis. Sebab itu, ia menilai bahwa kesalah dalam bailout Century bukan hanya saja pada aliran dana yang sampai saat ini belum jelas, tetapi juga proses bailout itu sendiri sudah merupakan kekeliruan.

“Kekeliruan yang terjadi dalam skandal Bank Century bukan hanya terletak pada kemana aliran dana bank Century tersebut, tetapi juga pada kebijakan bailout itu sendiri. Mengapa bank kecil seperti Century yang tidak berdampak sistemik mesti dibailout?” ungkapnya mempertanyakan kebijakan yang diambil oleh Boediono dan Sri Mulyani tersebut.

Saat ditanya soal sikapnya terhadap buku “’Membongkar Gurita Cikeas: Dibalik Skandal Bank Century” karya George Junus Aditjondro ia tidak begitu kaget dengan buku tersebut karena apa yang ditulis dalam buku tersebut sebenarnya sudah menjadi perbincangan publik. Justru ia heran melihat sikap SBY yang terlihat panik dan kebingungan. Ia menilai bahwa kelompok SBY seharusnya tidak meributkan buku tersebut kalau memang apa yang ditulis dalam buku tersebut tidak benar.

“Kalau memang apa yang ditulis oleh George tidak benar untuk apa ditanggapi? Biarlah nanti publik yang menilai apakah yang ditulis oleh George tersebut benar atau tidak” ujar penasihat politik Megawati Soekarnoputri ini. (Boy)

30
Dec
09

PEPORA : Download Soft Copy Membongkar Gurita Cikeas

Download Soft Copy Buku Membongkar Gurita Cikeas Karya George Junus Aditjondro
Oleh Administrator    Rabu, 30 Desember 2009 11:21 PDF Cetak E-mail

Roabaca.com.- Hilangnya  buku “Membongkar Gurita Cikeas, di balik skandal Bank Century” Karya George Junus Aditjondro dari toko-toko buku ternyata membuat sebagian masyarakat tidak kehilangan akal. Dalam beberapa hari ini ternyata soft copy buku tersebut sudah beredar di internet dan bisa didownload secara bebas oleh siapapun.

Namun soft copy buku ini tidak menampilkan secara utuh isi dari buku yang membikin kelompok cikeas kebakaran jenggot. Soft Copy buku ini hanya berisi 41 halaman, dengan beberapa halaman masih kosong. Halaman yang masih kosong ini sebenarnya berisi tabel atau photo, namun data tersebut belum sempat dimasukkan.

Untuk mendapatkan soft copy buku tersebut silakan klik di sini

Politik
inilah.com , 30/12/2009 – 17:45
Diskusi Membongkar Gurita Cikeas (1)
George Hanya Kibaskan Kertas?
R Ferdian Andi R
(istimewa)

INILAH.COM, Jakarta — Ramadhan Pohan melapor ke polisi bahwa ia dipukul George Aditjondro saat diskusi buku Gurita Cikeas. Sedangkan George mengaku hanya kibaskan kertas. Siapa lebay?

Luas ruangan Doekoen Coffee tempat rilis buku Membongkar Gurita Cikeas tak begitu luas. Bisa dibayangkan luas kafe yang terletak di bangunan rumah toko (ruko) berukuran 4×6. Pilihan untuk mendirikan tenda di halaman kafe cukup tepat diambil oleh penyelenggara, karena kehadiran peserta diskusi jelas di luar dugaan penyelenggara.

Selain pers yang sejak sepekan memberitakan perihal buku George Junus Aditjondro, acara soft launching juga dihadiri sejumlah aktivis LSM, politik, akademisi, dan berbagai kalangan masyarakat luas. Sebut saja, Adhie Massardi, Ray Rangkuti, Permadi, Kastorius Sinaga, Bima Aria Sugiarto, Mulyana W Kusumah, Marwan Batubara, Farid Faqih, Bambang Soesatyo, Ramadhan Pohan, Boni Hargens, aktivis PMII, aktivis HMI dan sejumlah elemen pemuda lainnya.

Menariknya, saat acara tengah berlangsung, sejumlah massa sekitar 20-an orang melakukan aksi unjuk rasa persis di depan halaman kafe. Dalam poster yang diusung, agenda para demonstran mudah ditebak yaitu membela SBY. Seperti tertulis di salah satu poster peserta aksi ‘Biarkan SBY dan Umat Islam Tenang’.

Di tengah diskusi yang dipandu Harris Moti itu, tepatnya saat giliran Ramadhan Pohan anggota Fraksi Partai Demokrat DPR RI yang dalam forum itu hadir guna mengklarifikasi materi buku karya Geroge Junus Aditjondro. Pada awal pembicaraan, Ramadhan menilai menghargai kebebasan orang untuk menyampaikan pendapat. “Saya menghormati hak kebebasan George,” cetus anggota Komisi I DPR itu.

Lebih lanjut Ramadhan menyebutkan karya George itu sebagai karya halusinasi yang menyebutkan seolah-olah dana talangan Bank Century masuk ke koran Jurnas. Jurnas merupakan koran yang sempat dipimpin Ramadhan Pohan sebelum ia terpilih menjadi anggota DPR. “Saya baca di buku dan tayangan di Metro TV, seolah-olah dana Century masuk ke Jurnas. Keluarga saya terkejut dengan informasi seperti itu. Data yang ada di sini penuh kebohongan,” ujarnya.

Mendengar pernyataan itu, seorang panelis yang hadir dalam forum itu, Boni Hargens, menegaskan apa yang disampaikan Ramadhan Pohan salah besar. Karena dalam buku itu tidak menyebut Jurnas mendapat kucuran dana dari Bank Century. “100% itu tidak benar,” tegas Boni.

Mulai di situlah perdebatan tak terhindarkan. Moderator pun mengingatkan Ramadhan agar fokus pada tema diskusi dan tidak melebar kemana-mana. Mendegar teguran itu, Ramadhan tetap saja mengulang pernyataan yang hampir sama dengan pernyataan sebelumnya.

Dari situlah insiden kedua mulai terjadi. Ramadhan Pohan menyebut insiden itu sebagai pemukulan oleh George Aditjondro, Setelah insiden itu, Ramadhan Pohan langsung keluar dari ruangan diskusi dan lari menjauh dari lokasi hingga sekitar 300 meter dari tempat acara. Saat itu pula, sejumlah media dan peserta turut membuntuti langkah Ramadhan. “Gue dipukul sama Geroge Aditjondro,” klaim Ramadhan.

Pasca kejadian itu suasana di luar sempat gaduh. Sejumlah peserta diskusi meneriakkan agar yang lain tidak terprovokasi. “Awas jangan terprovokasi.”

Namun informasi berbeda muncul dari sejumlah saksi yang hadir di forum tersebut. Seperti dari dalam jajaran panelis, misalnya Boni Hargens dan Bambang Soesatyo, yang menyebutkan insiden itu bukan pemukulan. “Itu bukan pemukulan, hanya kibasan kertas makalah saja,” ujar Boni yang ditemui usai diskusi.

Hal senada disampaikan Bambang Soesatyo yang menduga kibasan kertas Geroge Junus Aditjondro tak terlepas dari kekesalan George terhadap Ramadhan yang berkali-kali mengulang pernyataannya, baik di forum tersebut maupun di sejumlah forum sebelumnya.

Kini insiden ‘kibasan kertas’ itu telah masuk ranah hukum. Ramadhan Pohan telah melaporkan kejadian itu ke Polda Metro Jaya. Ia juga melakukan visum di rumah sakit.

Yang pasti kehadiran Ramadhan Pohan dalam acara itu tidak sebagai tamu undangan untuk menaggapi isi buku George. George menegaskan bahwa ia sama sekali tak menyentuh kulit Ramadhan Pohan dalam insiden tersebut. Ia juga siap untuk dilaporkan ke pihak penegak hukum.

Entahlah, siapa yang dusta dalam insiden tersebut. Dari banyak kesaksian di forum tersebut tidak ada satupun pernyataan yang menyebutkan Ramadhan dipukul hingga berdarah oleh George. Jika hanya kibasan kertas, semua mengamini sebagaimana foto ‘kibasan kertas’ yang telah beredar di publik. Jadi siapa yang lebay? [bersambung/mor]

BERITA TERKAIT

Buku Gurita Cikeas

By Republika Newsroom
Senin, 28 Desember 2009 pukul 17:16:00

Buku Gurita Cikeas: Dari di Balik Century Hingga Kemenangan Fantastis Partai Demokrat ANTARA

Buku Gurita Cikeas: Dari di Balik Century Hingga Kemenangan Fantastis Partai Demokrat

YOGYAKARTA – Buku ini mudah-mudahan tidak hanya menjawab rahasia di balik skandal Bank Century, melainkan juga berusaha menjawab rahasia di balik kemenangan fantastis Partai Demokrat yang suara pemilihnya naik tiga kali lipat dalam satu periode pemerintahan, dari sekitar tujuh persen menjadi sekitar 20 persen.

Itulah salah satu kesimpulan dari buku “Membongkar Gurita Cikeas Di Balik Skandal Bank Century karya Geoge Junus Aditjondro dengan ukuran 15X23 centimeter sebanyak 183 halaman. Skandal Bank Century tak ayal menjadi pekerjaan rumah yang cukup berat bagi SBY. Ia harus bisa membuktikan janjinya sebagai panglima di garda depan untuk memerangi korupsi.”Katakan Tidak untuk Korupsi” itulah slogan yang didengungkan SBY, Kader-kader Demokrat dan keluarga Cikeas.

Di dalam buku yang dipatok dengan harga Rp 36.000 ini, Aditjondro memaparkan tulisannya menjadi tujuh judul yaitu: Pertama, Membongkar Gurita Cikeas, di Balik Skandal Bank Century;Kedua, Bantuan Grup Sampoerna untuk Harian Jurnas; Ketiga, Pemanfaatan PSO LKBN Antara untuk Bravo Media Center; Keempat, Yayasan-Yayasan yang Berafiliasi dengan SBY; Kelima, Kaitan dengan Bisnis Keluarga Cikeas; Keenam, Yayasan-yayasan yang Berafiliasi dengan Ny. Ani Yudhoyono; Ketujuh, Pelanggaran-pelanggaran UU Pemilu oleh Caleg-caleg Partai Demokrat.

Di halaman awal tulisannya yang berjudul Membongkar Gurita Cikeas, Aditjondro mengutip Pernyataan Presiden SBY dalam pidatonya Senin malam, 23 November 2009 yang menanggapi rekomendasi Tim 8 yang telah dibentuk oleh Presiden sendiri untuk mengatasi krisis kepercayaan yang meledak di tanah air. ….Apakah pernyataan modal sementara yang berjumlah Rp 6,7 triliun itu ada yang bocor atau tidak sesuai dengan peruntukannya? Bahkan berkembang pula desas-desus, rumor atau tegasnya fitnah, yang mengatakan bahwa sebagian dana itu dirancang untuk dialirkan ke dana kampanye Partai Demokrat dan Capres SBY, fitnah yang sungguh kejam dan sangat menyakitkan”.

Menurut Aditjondro yang meraih gelar Doctor of Philosophy di Cornell University, Ithaca, New York, pernyataan SBY yang begitu defensif dalam menangkal adanya kaitan antara konflik KPK versus Polri dengan skandal Bank Century tersebut bagaikan membuka kotak Pandora yang sebelumnya agak tertutup oleh drama yang dalam bahasa awam populer dijuluki drama cicak melawan buaya.

Selanjutnya dalam buku ini Aditjondro juga mengungkapkan bahwa selain melalui lebih dari selusin tim kampanye, penggalangan dukungan politis dan ekonomis bagi SBY dimonotori oleh yayasan-yayasan yang berafiliasi dengan SBY dan Ny. Ani Yudhoyono (Yayasan Majelis Dzikir SBY Nurussalam , Yayasan Puri Cikeas, Yayasan Kesetiakawanan dan Kepedulian). Ketiga Yayasan tersebut tidak dipimpin oleh SBY sendiri tapi oleh orang-orang dari inner circl. Hasil audit ketiga yayasan itu oleh auditor publik yang betul-betul independen belum pernah dilaporkan ke parlemen dan media massa.

Yayasan tersebut sejauh tidak menggunakan uang rakyat dan murni dibiayai oleh pengusaha swasta tidak masalah. Namun karena Sofyan Basir, Direktur Utama Bank Rakyat Indonesia adalah Wakil Ketua Dewan Pembina Yayasan Puri Cikeas, maka keuangan yayasan ini perlu diaudit dan dilaporkan ke parlemen, mengingat BRI merupakan BUMN. Secara khusus para nasabah Bank Bukopin juga berkepentingan mengetahui laporan keuangan yayasan ini, sebab Dirut Bank Bukopin, Glen Glenardi, adalah Ketua Badan Pengawas Yayasan ini.

Buku ini juga menyebutkan tentang berbagai pelanggaran-pelanggaran UU Pemilu oleh kader Partai Demokrat yang terjadi di berbagai daerah diantaranya di Samosir Sumatera Utara, kabupaten Ploso Sulawesi Tengah, Nanggroe Aceh Darussalam, Propinsi Banten, Jawa Tengah, Jawa Timur.Penggalangan dana yang luar biasa serta besarnya pembelian suara oleh para kadernya, memainkan peranan yang besar dalam melonjaknya angka pemilih Partai Demokrat dan calon presidennya.

Yang menarik dari buku ini, justru lampirannya lebih banyak daripada pemaparan isi buku. Untuk lampiran berjumlah 96 halaman dan pemaparan dari isi buku hanya 59 halaman. Isi lampiran antara lain: Tim-tim Kampanye Partai Demokrat dan Capres-Wapres SBY-Boediono, Susunan Dewan Pengurus Yayasan Puri Cikeas Periode 2006-2011, Yayasan Kesetiakawanan dan Kepedulian, Aktivitas Yayasan Kesetiakawanan dan Kepedulian, Gara-gara Artalyta, Syamsul Nursalim tetap melenggang, Allure, meluncur di alur Yayasan Batik Indonesia, Susunan Pengurus dan Peneliti Brighten Institute.

Di dalam buku ini Aditjondro mengemukakan guna mencegah kembalinya tradisi buruk yang dirintis mendiang Jenderal Soeharto, SBY perlu bersikap lebih tegas terhadap kerabat dan sahabatnya. Agar tidak mengambil jalan pintas mengembangkan bisnis dengan mncari order dari bankir-bankir pemerintah, serta birokrat-birokrat papan atas. SBY juga perlu mendorong kerabat dan sahabatnya untuk menolak pemberian kemudahan dalam penyediaan jasa jalan, listrik dan bahan bakar bersubsidi, bagi pengembangan pabrik yang baru berdiri kemarin sore. Sikap tegas terhadap keluarga dan sahabat merupakan dasar moral untuk mengambil sikap tegas terhadap semua pejabat yang melakukan komersialisasi jabatan. neni ridarineni/pur

Politik
inilah.com , 30/12/2009 – 19:45
Diskusi Membongkar Gurita Cikeas (2 )
Kliping Media Gegerkan Istana
R Ferdian Andi R
(istimewa)

INILAH.COM, Jakarta — Tak ada yang baru dari Buku Membongkar Gurita Cikeas karya George Junus Aditjondro, karena data yang tersedia berasal dari pemberitaan media, termasuk dari situs Inilah.Com. Lalu, apa menariknya buku ini hingga menjadi kontroversi?

Acara soft launching Membongkar Gurita Cikeas di Doekoen Coffe, Jakarta, Rabu (30/12) yang berbuntut insiden dugaan pemukulan oleh George Aditjondro terhadap Ramadan Pohan sebenarnya untuk membedah dan mendiskusikan isi buku yang heboh tersebut. Panitia pun menghadirkan nara sumber dari berbagai pihak.Seperti pengamat politik Kastorus Sinaga, dosen UI Boni Hargens, Direktur Eksekutif LIMA Ray Rangkuti, aktivis PMII, aktivis HMI.

Panitia juga mengundang Staf Khusus Presiden bidang bantuan sosial dan bencana Andi Arief. Namun, hingga acara selesai, Andi Arief tidak hadir, justru anggota Fraksi Partai Demokrat (FPD) Ramadhan Pohan yang sebenarnya tidak diundang sebagai penanggap buku itu hadir.

Dalam kesempatan itu, Kastorius Sinaga menyebutkan buku Membongkar Gurita Cikeas sebagai pengantar untuk mengenali kelompok strategi di Cikeas dan SBY. Menurut dia, buku karya George ini memiliki kontribusi untuk mengungkap fakta secara tidak formal di lingkaran SBY.

“George melalui buku iniini menelusuri apakah saat ini sudah seperti Orde Baru, karena, perpaduan kekuasaan politik yang terintervensi kekuatan ekonomi dan layanan yang bersifat sosial. ini mengingatkan pada era Orde Baru,” ujarnya.

Ia menegaskan terdapat empat tokoh yang menjadi penghubung terkait Gurita Cikeas yaitu Budi Sampoerna yang dekat dengan Mordaya Poo yang sama-sama menjadi tim sukses SBY. Selain itu Syamsul Nursalim dan Artalyta Suryani yang memiliki hubungan dengan yayasan di Cikeas. “Dugaan George, ini semua sebagai praktik bisnis curang,” cetusnya.

Kastorius mengingatkan, momentum keluarnya buku ini bertepatan dengan pengungkapan kasus Bank Century. Jangan sampai buku ini sebagai alat untuk menjatuhkan SBY. “Saya punya sikap politik, dari buku ini jangan coba-coba menjatuhkan SBY, dan memang belum saatnya,” paparnya seraya menegaskan, agar yayasan yang ada di sekitar SBY dan keluarganya untuk diaudit serta bagi yang merasa dirugikan bisa menempuh jalur hukum.

Sementara Staf Pengajar UI Boni Hargens menilai secara metodologi sahih secara ilmiah. Menurut dia, George melakukan postulasi atas suara yang muncul di masyarakat. “Kelebihannnya dia hadir dengan data dan dengan struktur sistematis,” katanya. Jika terdapat pihak yang merasa dirugikan, jangan menyuruh George untuk mengklarifikasi, namun falsifikasi,” katanya.

Boni menilai, buku Membongkar Gurita Cikeas sebagai pembuka jalan bagi KPK untuk menelusuri sejumlah yayasan yang disebutkan dalam buku karya George Aditjondro ini.

Pendapat senada muncul dari Direktur Eksekutif LIMA Ray Rangkuti. Ia menegaskan langkah George membuat buku ini lebih maju daripada upaya Pansus Hak Angket Kasus Bank Century, KPU, Bawaslu, bahkan KPK.

Menurut dia, semangat keberadaan buku Membongkar Gurita Cikeas luar biasa. “Apa yang ditemukan George, harus merevisi KPU tentang audit KPU. Setidaknya ada tiga indikasi dana haram, pengusaha hitam, asing, dan BUMN. Kalau ketahuan, pasangan calon tidak dibatalkan, tetapi kena sanksi, tentu jika pasangan capres kena sanksi pidana, ya harus mundur,” ujarnya.

Sementara anggota Pansus Hak Angket Kasus Bank Century Bambang Soesatyo menilai buku karya George memiliki dua manfaat sekaligus, yaitu dapat membuka mata publik bahwa praktik Orde Baru masih berlangsung seperti membuka yayasan dan menampung bantuan dari penguasaha hitam. “Pengalaman saat Orde Baru ternyata tidak memberi pelajaran bagi SBY,” ujarnya.

Poin lainnya, sambung Bambang, dengan buku ini Pansus telah menemukan benang merah, ke mana aliran dana mengalir. Buku ini pula mengkonfirmasi temuan BPK menemukan keberannya. “Kita lihat dokumen, ternyata bank Century ada dana dari BUMN sebesar Rp412 miliar dan sosok Budi Sampoerna yang uangnya Rp 5 triliun. Ini yang makin menguatkan dugaan kita,” ujarnya.

Buku yang berisi dokumentasi dari pemberitaan media yang dibumbui analisis George ini memang memiliki resonansi politik yang tidak kecil terutama bagi SBY dan para pendukungnya. Buku Membongkar Gurita Cikeas menjadi pelengkap pertaruhan kredibilitas pemerintahan SBY-Boediono yang belum genap 100 hari ini. [mor]

BERITA TERKAIT
30
Dec
09

Khazanah : Berdakwah dengan Cara Berbeda

Amr Khaled

By Republika Newsroom
Rabu, 30 Desember 2009 pukul 09:18:00
Berdakwah dengan Cara Berbeda

Amr Khaled Berdakwah dengan Cara BerbedaMENASSAT.COMAmr Khaled, namanya disebut di urutan ke-13 dalam daftar orang paling berpengaruh di dunia oleh Majalah Time.

Amr Khaled memang beda. Gayanya, tak seperti penceramah agama pada umumnya. Tak ada sorban yang menutup kepalanya. Tak ada pula jubah yang ia kenakan menyelimuti tubuhnya, seperti yang digunakan para penceramah sambil berdiri di atas mimbar.

Khaled mengenakan pakaian kasual dan menggunakan bahasa Mesir yang biasa dipakai dalam pergaulan sehari-hari dalam ceramahnya. Biasanya, para imam dan penceramah memiliki kecenderungan menggunakan pakaian klasik Arab saat berceramah.

Keunikan Khaled dalam memberikan ceramah agama, telah membuatnya menjadi salah salah satu penceramah terkenal di dunia. Bahkan, belum lama ini namanya disebut di urutan ke-13 dalam daftar orang paling berpengaruh di dunia oleh Majalah Time.

Selain itu, Khaled juga memliliki salurannya sendiri di  Youtube, membuat ia bisa menjangkau lebih banyak audiens. Ia pun lalu karib disebut  Muslim Televangelist. Rekaman ceramahnya dalam bentuk DVD pun banyak diburu orang.

Di Virgin, sebuah toko yang menjual DVD di Kairo, Mesir, DVD berisi rekaman ceramah Khaled bertengger di rak bagian atas dan masuk kategori  best seller, bersebelahan dengan DVD Bruce Willis dan Charlie Chaplin.

Di sisi lain, gayanya yang beda dalam memberikan ceramah telah menuai kritik dari sejumlah ulama yang telah mapan dan dia harus meninggalkan tempat kelahirannya, Mesir. Namun, melalui ceramahnya di televisi dan disiarkan melalui satelit, telah membuatnya memiliki banyak audiens.

Jadi, ceramahnya tak lagi dibatasi oleh dinding-dinding sebuah masjid atau aula. Apa yang ia sampaikan dalam ceramahnya telah menembus dan melampaui batas-batas negara. Sebab, audiens di mana pun berada yang terjangkau siaran bisa mendengar ceramah dan melihat gaya ceramahnya.

Seorang perempuan muda Kairo, mengungkapkan, rahasia sukses Khaled dalam berceramah sebenarnya sederhana saja. ”Dia berbicara dengan menggunakan bahasa kami,” kata perempuan yang mengenakan kerudung berwarna-warni itu.

Geneiva Abdo, seorang penulis, mengatakan, perbedaan Khaled dengan penceramah lainnya terletak pada bahasa yang digunakannya. Menurut dia, pengaderan penceramah dengan gaya seperti Khaled memang perlu dilakukan untuk memenuhi kebutuhan yang ada sekarang ini.

”Orang-orang seperti Khaled, telah menemukan sebuah cara untuk menyisipkan nilai-nilai agama ke dalam gaya hidup yang lebih modern. Dengan kata lain, perilaku Anda yang menentukan apakah Anda bisa disebut sebagai Muslim yang baik atau bukan,” kata Abdo. Dalam konteks ini, ungkap Abdo, para penceramah seperti Khaled melontarkan paradigma berbeda.

Sukses besar yang diraih Khaled melalui ceramah di televisi dengan audiens berjumlah jutaan orang di seluruh dunia, mendorongnya untuk lebih jauh berkiprah. Kini, ia berencana meluncurkan sebuah  reality show ‘The Apprentice’, menurut versinya sendiri.

Acara serupa berasal dari AS, yang mempertunjukkan pebisnis ternama, Donald Trump, mencari seorang kandidat yang dianggap bisa menjalankan bisnis yang dimilikinya. Versi Inggris, para peserta berkompetisi untuk bisa bekerja dengan pengusaha Lord Sugar.

”Tujuan acara yang saya buat, bukan untuk menghasilkan uang,” kata Khaled seperti dikutip BBC baru-baru ini. Namun, kata dia, acara yang benar-benar beda dibandingkan versi AS dan Inggris ini bertujuan agar para pemuda siap memberikan dukungan dan berbuat bagi masyarakatnya.

Khaled mengungkapkan, perbedaan mendasar acara yang akan ia buat adalah para peserta tak bersaing untuk meraih keuntungan personal secara finansial. Kontestan yang menang adalah mereka yang memiliki ide terbaik untuk memberikan pelayanan kepada masyarakat.

”Dalam satu misi, mereka akan pergi beberapa desa. Kami akan melihat siapa yang mampu memberikan bantuan maksimal pada keluarga-keluarga miskin di desa tersebut dibandingkan kontestan lainnya,” jelas Khaled.

Menurut Khaled, Nabi Muhammad mengatakan bahwa bekerja untuk membantu sebuah keluarga yang miskin lebih baik dibandingkan berdiam diri di masjid selama 40 hari. ”Bagaimana sebuah keyakinan bisa membantu mendukung keberadaan sebuah masyarakat, inilah jalan saya,” katanya. Ferry Kisihandi/taq




Blog Stats

  • 3,307,090 hits

Recent Comments

Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Sejarah : Bangsa Lemuria, Lelu…