Posts Tagged ‘Military

03
Mar
14

Militer : Tambahan 20 Ribu Tentara Amerika Serikat di Australia

Waspadai Maksud Terselubung Penambahan 20.000 Tentara AS di Australia


Quote:
Tidak angin tidak ada hujan, AS menambah pasukannya 20.000 ke Darwin, Australia. Sehingga pasukan AS di Darwin menjadi 22.750 orang. Jumlah 22.750 marinir di Darwin itu adalah jumlah resmi yang diumumkan oleh pemerintah AS. Apakah jumlah tidak resminya lebih besar? Mungkin.

Sebelum 2012 pasukan marinir AS di Darwin hanya 250 marinir. Tujuan resmi pemerintah AS terkait 250 marinir itu hanya untuk“kemanusian”. AS tidak pernah sebutkan tujuan kemanusiaan apa persisnya terkait kehadiran 250 marinir tersebut. Juga tidak pernah dipublikasikan aktivitasnya.

alt

Lalu pada 17 Nov 2011 lalu, Presiden AS Barack Obama mengumumkan secara resmi rencana kehadiran pangkalan militer Amerika Serikat di Darwin. Saat ke Australia itu, Obama dan Gillard umumkan bahwa AS akan menambah kekuatannya marinirnya dari 250 jadi 2.500 personel pada 2012. Apa reaksi pemrintah RI ?, Pemerintah mengatakan bahwa AS dan Australia adalah negara sahabat yang tidak mungkin bermaksud jahat terhadap RI.

Pemerintah China yang lokasinya di ujung langit dari Darwin saja protes terhadap AS. “Penempatan pasukan militer yang tak tepat” kata China. Pemerintah AS menanggapi reaksi China dengan mengatakan bahwa kehadiran 2500 marinir AS di Darwin hanya untuk alasan dan tujuan kemanusian.

alt

Alasan dan tujuan kemanusiaan apa? Apakah menambah 20.000 Marinir AS ke Darwin adalah tujuan kemanusian? Yang benar saja!!

AS secara resmi mengatakan bahwa kehadiran 20.000 pasukan tambahan untuk keamanan kawasan! Keamanan “KAWASAN”mana yang dimaksud AS? ASEAN kah? Asia Timur kah? Asia Pasifik kah? Laut China Selatan kah? Australia kah? altalt

Asia Pasifik, Laut China dan Asia Timur jauh di ujung berung. Hanya orang bodoh yang percaya alasan resmi AS itu. Australia bisa jaga kedaulatan negara dan kawasannya sendiri. Pun kalau Australia itu terdesak benar. Mereka tidak akan minta pasukan AS. Seandainya pun Australia terancam dan dia bukan negara yang hebat militernya, Australia TIDAK AKAN PERNAH minta bantuan AS.

Kenapa Australia biarkan 22.750 militer (Marinir lagi) bercokol di Papua? Jawabnya: AS – Aussie punya kepentingan yang sama: PAPUA! Lho bukankah ada resolusi PBB yang mengakui Papua sebagai bagian integral yang sah dari NKRI? 

Lho bukankah Papua sudah ada international recognition via Resolusi Majelis Umum PBB No. 2504/XXIV (1969) yang sahkan Irian Barat jadi NKRI? Resolusi PBB No. 2504/XXIV (1969) itu semudah membalikan telapak tangan mencabutnya dan mengubah dengan Resolusi baru, jika AS menginginkannya.

AS dan Australia punya kepentingan yang sama terhadap Papua: penguasaan kekayaan sumber daya Papua. Pencabutan resolusi PBB yang sahkan Papua sebagai bagian NKRI dengan mudah dibatalkan ketika terjadi pergolakan di Papua.

Jika demi tujuan kemanusiaan atau untuk keamanan kawasan, kenapa yang dikirim AS ke Darwin itu pasukan Marinir ? Anehkan ? Apa FUNGSI MARINIR? Marinir adalah pasukan khusus (Di AS dikenal dengan sebutan Angkatan Ke 4) yang berfungsi sebagai pasukan penyerbu, pendahulu, pembuka jalan. Tugas utama pasukan Marinir bukan untuk PERTAHANAN. Bukan. Tapi sebagai pasukan penyerbu di barisan terdepan untuk buka jalan pasukan lain. 

alt

Bukan sekali ini AS dan sekutunya khianati negara sahabat seperti RI. Sejarahnya panjang.

Ingat, sejarah mencatat bahwa resolusi PBB itu bukan sesuatu yang final. Tidak ada satu pun pengakuan PPB dan Dunia yang final.

Profesor Robin Tennant-Wood dari Universitas Canberra menilai pangkalan militer AS yang permanen di Darwin mengancam Papua sebagai NKRI. Alasan bahwa kehadiran pasukan AS itu akan meningkatkan keamanan Kawasan dan memperkuat aliansi AS-Australia dinilai terlalu “lebay”. Profesor Robin Tennant-Wood malah mengatakan bahwa Pasukan AS yang ancam keutuhan NKRI sebagai risiko besar bagi Australia. RI akan marah.

“Saya welcome saja karena memang diperlukan gerak cepat untuk itu,” ujar SBY menanggapi alasan AS bahwa pasukan Marinir itu untuk kemanusian.

Indonesia mestinya sangat terusik dengan kehadiran pangkalan AS itu. Perairan RI hanya berjarak ratusan kilometer dari pangkalan militer itu. 

Keberatan RI terhadap pangkalan militer di Darwin, bahkan tidak muncul menjadi pernyataan resmi dalam KTT Bali kemaren.

Jika SBY benar-benar jago diplomasi atau mau test hidden agenda AS terhadap Papua gampang saja. Apakah SBY tidak ingin tahu reaksi AS dengan utarakan niat RI yang hendak pindahkan Ibukota RI ke Papua untuk legitimasi kuat NKRI terhadap Papua?

Baca Juga ini Ingin Kuasai Asia, AS Akan Bangun Pangkalan Militer Besar di Asia

12
Apr
13

Militer : Kopassus Diakui Dunia

http://strategi-militer.blogspot.com/2013/04/5-kehebatan-kopassus-hingga-diakui-dunia.html?utm_source=feedburner&utm_medium=feed&utm_campaign=Feed%3A+StrategiMiliter-InformasiPertahananDanKeamananIndonesia+%28Strategi+Militer+-+Informasi+Pertahanan+dan+Keamanan+Indonesia%29

Kamis, 11 April 2013

5 Kehebatan Kopassus hingga diakui dunia

Kasus penembakan empat tahanan Polda DIY di Lapas Cebongan, Sleman, DIY,
yang dilakukan 11 personel Komando Pasukan Khusus (Kopassus), membuat
publik kembali mengarahkan perhatiannya kepada pasukan elite milik TNI
Angkatan Darat itu.

Dulu jelang Reformasi bergulir, Kopassus juga sempat membuat heboh publik.
Saat itu Tim Mawar Kopassus diketahui menculik sejumlah aktivis pro
demokrasi.

Meski demikian, prajurit Kopassus tak selalu berbuat negatif. Pasukan elite
yang memiliki moto ‘Berani, Benar, Berhasil’ itu juga memiliki sederet
prestasi yang membanggakan.

Tak tanggung-tanggung, prestasi yang dimiliki Kopassus tak hanya di dalam
negeri, di dunia internasional Kopassus juga menjadi pasukan elite yang
dipandang dan disegani dengan segudang prestasi.

Berikut lima kehebatan Kopassus hingga diakui dunia

1. Kopassus juara menembak jitu

Keahlian menembak sasaran secara tepat menjadi syarat mutlak anggota
pasukan elite seperti Kopassus. Sebab, berbeda dengan pasukan biasa,
pasukan elite menjadi andalan untuk menjalankan tugas-tugas penting yang
tentunya memiliki tingkat kesulitan yang tinggi.

Menembak tepat sasaran menjadi salah satu keahlian yang dimiliki Kopassus
ketimbang pasukan elite dari negara lain. Dalam pertemuan Pasukan Elite
Asia Pasific yang diselenggarakan pada Desember 2006, personel Kopassus
meraih juara penembak jitu (sniper).

Canggihnya, senjata yang digunakan merupakan senjata buatan bangsa sendiri
yang diproduksi oleh PT Pindad. Sementara, di posisi kedua diraih oleh
pasukan elite Australia.

2. Kopassus peringkat 2 sukses operasi militer

Dunia internasional tak asing dengan nama Kopassus. Sebab, pasukan elite
milik TNI itu dikenal memiliki segudang prestasi.

Pada pertemuan Elite Forces in Tactical, Deployment and Assault di Wina,
Austria, Kopassus meraih peringkat dua dalam melakukan operasi militer
strategis, seperti; intelijen, pergerakan, penyusupan, penindakan.

Sementara, di urutan pertama adalah pasukan elite Amerika Serikat Delta
Force. Saat itu 35 pasukan elite dunia ikut unjuk gigi di ajang tersebut.

3. Kopassus peringkat 3 pasukan elite dunia

Kopassus merupakan salah satu pasukan elite terbaik di dunia. Berdasarkan
urutan pasukan elite dunia versi Discovery Channel Military edisi 2008,
Kopassus berada di posisi tiga pasukan elite dunia.

Sementara di posisi pertama diduduki United Kingdom’s SAS, dan di posisi
dua Israel’s MOSSAD. Hal itu jelas membanggakan TNI dan Indonesia.

Sebab, Kopassus nyatanya mengalahkan pasukan-pasukan elite dari negara
lain, salah satunya Amerika Serikat yang terlalu bergantung pada peralatan
yang berbasis teknologi super canggih, akurat dan serba digital.

4. Skill Kopassus di atas rata-rata pasukan elite negara lain

Personel Kopassus tidak terlalu bergantung dan mengandalkan teknologi
canggih. Karena itu, tiap personel Kopassus dituntut memiliki kemampuan
bela diri yang cakap. Tak heran jika konon kabarnya satu prajurit Kopassus
setimpal dengan lima prajurit biasa.

Hal itu tentu berbeda dengan pasukan negara maju seperti Amerika Serikat
yang terlalu mengandalkan kecanggihan teknologi senjata yang dimilikinya.
Narator Discovery Channel Military menyatakan, sebuah pasukan khusus yang
hebat adalah pasukan yang mampu mencapai kualitas sempurna dalam hal
kemampuan individu.

Kemampuan itu adalah kemampuan bela diri, bertahan hidup (survival),
kamuflase, strategi, daya tahan, gerilya, membuat perangkap dan lain-lain.

5. Kopassus latih pasukan militer negara lain

Kehebatan yang dimilikinya Kopassus membuatnya disegani militer negara
lain. Bahkan, sejumlah negara di dunia meminta Kopassus untuk melatih
pasukan militernya, seperti negara-negara di Afrika Utara dan Kamboja.

80 Persen pelatih militer di negara-negara Afrika Utara diketahui
menggunakan pelatih militer dari Kopassus. Para perwira Kopassus ditugaskan
untuk melatih pasukan militer yang dimiliki negara-negara di benua hitam
itu.

Sementara itu, Kamboja juga telah lama menggunakan pelatih militer dari
Kopassus. Tak tanggung-tanggung, pasukan yang dilatih Kopassus adalah
pasukan khusus bernama Batalyon Para-Komando 911. Pasukan itu merupakan
bagian dari tentara Kerajaan Kamboja (Royal Cambodian Army).

Sumber : Merdeka

FOKUS

Polri Tangkap Ribuan Preman, Bagaimana Modus Operasi Mereka

Ditangkap dari berbagai kota di seluruh Indonesia. Warga senang.

ddd
Kamis, 11 April 2013, 00:09 Anggi Kusumadewi
Unjuk rasa tolak premanisme di Yogyakarta.

Unjuk rasa tolak premanisme di Yogyakarta. (ANTARA/Tirta Prameswara)

VIVAnews – Aksi para preman memang sudah meresahkan. Mereka beraksi di terminal. Menagih secara paksa di angkutan. Dan berulah di tempat-tempat umum. Warga sudah jenggah. Juga Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Setelah kasus pembunuhan anggota Kopassus Serka Heru Santoso di Hugo’s Cafe di Yogyakarta beberapa waktu lalu, Presiden SBY memerintahkan Kapolri agar segera membersihkan para preman di mana saja.

Dan kepolisian tampaknya sigap bertindak. Hingga Rabu 10 April 2013, setidaknya 2000 preman sudah dibekuk di berbagai kota di Indonesia. Dari Pasar Tanah Abang di Jakarta hingga kawasan terminal di Bandung. Proses penangkapan ini bersdasarkan pemantauan langsung polisi dan laporan dari masyarakat yang resah.

Para preman itu didata secara cermat. Ada yang menyaru menjadi tukang parkir liar, dan meminta uang secara paksa. Menjadi penagih utang atau debt collector, sampai menjadi pengamen dengan nyanyian yang tak jelas tapi meminta uang sembari mengancam. Mereka yang menyaru sebagai pengamen itu tentu saja meresahkan para penumpang.

Di Tanah Abang, Jakarta Pusat misalnya, polisi yang tidak memakai seragam,  menyisir kawasan pasar untuk mencari sejumlah orang yang diduga preman. Berdasarkan laporan warga, wilayah Tanah Abang marak dengan aksi pemerasan kepada kepada pengendara mobil. Preman yang menyamar sebagai tukang parkir kerap meminta uang parkir dalam jumlah yang tak wajar kepada para pengendara. Tentu saja dengan muka memaksa.

Dari hasil operasi itu, Polsek Metro Tanah Abang menangkap 26 orang yang diduga preman. Polisi menemukan barang bukti berupa karcis parkir tidak resmi, serta beberapa paket sabu dan ganja. Sementara di Terminal Lebak Bulus, Jakarta Selatan, polisi juga menangkap tiga preman yang sedang menengak minuman beralkohol di sebuah warung.

Polisi juga menangkap setidaknya 20 orang yang diduga preman di Pasar Senen, Jakarta Pusat. Penangkapan itu dilakukan berdasarkan laporan warga di sana. Aksi para preman ini sudah menganggu kenyamanan warga dan mereka yang datang ke pasar itu. Polisi juga menangkap sejumlah preman dari berbagai tempat di Jakarta Utara.

Selain di Jakarta, operasi penangkapan para preman juga berlangsung di sejumlah kota di Indonesia. Sebabnya juga sama. Para preman itu dianggap sudah sangat meresahkan dan menganggu kenyamanan warga.

Di Banten, Satuan Reserse Kriminal Polres Metro Tangerang menangkap 200 preman yang dinilai meresahkan warga. Salah satunya adalah Daud, lelaki 28 tahun yang  tinggal di Kotabumi, Tangerang. Debt collector itu ditangkap karena membawa senjata tajam jenis pisau lipat. Ketika ditangkap, Daud sedang menunggu kendaraan bermotor yang angsuran kreditnya bermasalah. Selain para preman, polisi juga menangkap sejumlah anak gelandangan. (Nonton video penangkapan itu di sini)

Di Bekasi, Jawa Barat, Polresta Kota Bekasi menangkap 60 preman yang kebanyakan berprofesi sebagai tukang parkir liar dan pengamen jalanan. “Mereka kami tangkap karena sudah banyak pengaduan dari masyarakat yang mengaku resah dengan keberadaan  para preman,” kata Wakil Kepala Satuan Reserse Kriminal Polresta Bekasi Kota, AKP Dubbel Manalu, Rabu 10 April 2013.

Para preman tersebut dalam setiap aksinya kerap memaksa meminta uang dari warga. “Mereka yang jadi tukang parkir liar, minta bayaran yang tidak wajar. Dikasih Rp1.000, minta lagi. Begitu juga pengamen. Dikasih uang Rp500, dilempar dan minta Rp1.000,” katanya.

Proses penangkapan para preman itu juga berlangsung di Semarang, Jawa Tengah. Setidaknya sudah 42 orang yang ditangkap. Seperti di sejumlah kota lain, para preman di Semarang itu juga ditangkap karena sudah meresahkan warga. Setelah ditangkap mereka akan dibina.

Kepolisian memastikan bahwa operasi tumpas preman ini akan digelar secara rutin demi menciptakan rasa aman bagi warga. Ratusan preman yang terjaring razia itu selanjutnya akan dibina oleh Dinas Sosial. Namun mereka yang membawa senjata tajam dan berjudi akan diproses hukum lebih lanjut oleh kepolisian.

Warga Senang

Warga sangat senang dengan operasi penertiban para preman ini. Karena memang sudah sangat menganggu. Dalam instruksinya dua pekan lalu Presiden SBY secara tegas memerintahkan Kapolri bertindak tegas menyingkirkan premanisme dan semua bentuk organisasi kriminal.

“Jalan-jalan dan tempat-tempat umum harus bersih dari semua bentuk premanisme yang mengancam harta benda dan nyawa. Warga harus merasa aman di manapun dan di semua waktu, siang dan malam,” kata Presiden SBY melalui Staf Khusus Presiden Bidang Komunikasi Politik, Daniel Sparringa.

Selain warga, aparat pemerintah juga senang dengan operasi para preman ini. Dinas Perhubungan DKI Jakarta mengaku bahwa selama ini selalu kesulitan menertibkan parkir liar. Karena ada preman yang jaga. Padahal parkir liar di bahu jalan itu seringkali membuat kemacetan menjadi kian ruwet.

“Itu preman semua. Saya happy banget waktu mereka ditangkap polisi. Kami selama ini kesulitan menertibkan mereka,” kata Kepala Dinas Perhubungan DKI Jakarta Udar Pristono, di Balai Kota DKI Jakarta, Rabu 10 April 2013. Selama ini para preman itu susah diatasi, karena Dishub tidak memiliki wewenang. “Kami punya tim khusus. Cuma baru sanggup menertibkan pakaian yang dipakai para preman di parkiran liar,” katanya

Maraknya parkir liar yang dijaga para preman itu, kata Pristono, lantaran masyarakat juga sering memberi uang. “Jangan kasih uang kepada mereka kalau berada di tempat resmi. Kalau mereka memaksa, laporkan polisi. Ini masuk ranah kriminal,” katanya.

Soal preman dan lahan parkir itu memang terjadi di banyak tempat. Pekan lalu, kepolisian dari Polda Metro Jaya menangkap puluhan preman yang beroperasi di kawasan Gelora Bung Karno Jakarta. Para preman ini memasang harga parkir Rp5000 tiap kendaraan. Padahal pengendara sudah membayar parkir resmi di pintu masuk.

© VIVA.co.id   |   Share
28
Oct
12

Kepahlawanan : Pertempuran Heroik 10 Nopember 1945

https://jakarta45.files.wordpress.com/2012/02/pkp-1945-_033.jpg?w=655

IBRAHIM ISA – Bahan Referensi Sejarah

Sabtu, 27 Oktober 2012

——————————————————————————

Sepuluh November 2012, bulan depan adalah HARI PAHLAWAN! Bangsa kita, pemerintah Republik Indonesia sejak 1945, memperingati Hari Pahlawan 10 November, saat dimulainya perang perlawanan terhadap tentara pendudukan Inggris yang bertindak atas nama Sekutu, dan embel-embelnya tentara Belanda yang menamakan dirinya NICA.

Perlawanan heroik yang dilakukan oleh para pemuda kita yang baru saja terorganisasi dalam TKR, Tentara Keamanan , bersama-sama dengan para gerilyawan dari pelbagai organisasi pelajar dan mahasiswa pejuang Republik Indonesia dan kekuatan-kekuatan rakyat yang berinisiatif menggabungkan diri dengan PERANG KEMERDEKAAN di Surabaya itu, berakhir dengan didudukinya kota heroik Surabya oleh tentara pendudukan Inggris, ditarik mundurnya ke luar kota semua kekuatan bersenjata Indonesia, serta pengungsian puluhan ribu rakyat Surabaya ke daerah kekuasaan Republik Indonesia di Jawa Timur.

NAMUN, Perlawanan ini, Perang Kemerdekaan yang berskala paling besar yang dilancarkan bangsa Indonesia , menghadapi kekuatan musuh yang bersenjata modern, dan yang didukung oleh angakatan udaranya, dan angkatan lautnya, —- telah menyulut lebih lanjut serta mengobarkan dan memperkokoh semangat REVOLUSI KEMERDEKAAN kita. Di segi lain Pertempuran Surabaya menunjukkan serta meyakikan dunia internasional, bahwa REPUBLIK INDONESIA, yang diproklamasikan oleh Sukarno-Hatta, — bukan republik boneka Jepang, bahwa Sukarno-Hatta bukan kolaborator antek-Jepang, tetapi adalah kekuatan poitik dan bersenjata riil bangsa Indonesia yang bersatu-padu untuk MEMBELA KEMERDEKAANNYA.

* * *

Ratusan bahkan ribuan tulisan dan literatur telah bermunculan sejak saat itu mengenai PERTEMPURAN SURABAYA. Merupakan bahan referensi berharga dalam penulisan sejarah bangsa kita.

Di bawah ini dipublikasikan  tulisan yang diambil dari Ensikopledia Bebas WIKIPEDIA. Ada baiknya untuk dijadikan salah satu bahan referensi sejarah dalam penulisan sejarah kita.
* * *
Peristiwa 10 November

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Pertempuran Surabaya
Bagian dari Perang Kemerdekaan Indonesia
Tentara India Britania menembaki penembak runduk Indonesia di balik tank Indonesia yang terguling dalam pertempuran di Surabaya, November 1945.
Tanggal 27 Oktober20 November, 1945
Lokasi Surabaya, Jawa Timur, Indonesia
Hasil Inggris menguasai Surabaya
Pihak yang terlibat
 Indonesia  Britania Raya
 Belanda
Komandan
Bung Tomo Brigjen A. W. S. Mallaby †
Mayjen Robert Mansergh
Kekuatan
20,000 tentara
100,000 sukarelawan[1]
30,000 (puncak)[1]
didukung tank, pesawat tempur, dan kapal perang
Korban
6,000[2] – 16,000[1] tewas 600[3] – 2,000[1] tewa

Pertempuran Surabaya merupakan peristiwa sejarah perang antara pihak tentara Indonesia dan pasukan Belanda. Peristiwa besar ini terjadi pada tanggal 10 November 1945 di Kota Surabaya, Jawa Timur. Pertempuran ini adalah perang pertama pasukan Indonesia dengan pasukan asing setelah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia dan satu pertempuran terbesar dan terberat dalam sejarah Revolusi Nasional Indonesia yang menjadi simbol nasional atas perlawanan Indonesia terhadap kolonialisme. [2]

Kronologi penyebab peristiwa

Kedatangan Tentara Jepang ke Indonesia

Tanggal 1 Maret 1942, tentara Jepang mendarat di Pulau Jawa, dan tujuh hari kemudian tanggal 8 Maret 1942, pemerintah kolonial Belanda menyerah tanpa syarat kepada Jepang berdasarkan Perjanjian Kalijati. Setelah penyerahan tanpa syarat tesebut, Indonesia secara resmi diduduki oleh Jepang.

Proklamasi Kemerdekaan Indonesia

Tiga tahun kemudian, Jepang menyerah tanpa syarat kepada sekutu setelah dijatuhkannya bom atom (oleh Amerika Serikat) di Hiroshima dan Nagasaki. Peristiwa itu terjadi pada bulan Agustus 1945. Dalam kekosongan kekuasaan asing tersebut, Soekarno kemudian memproklamirkan kemerdekaan Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945.

Kedatangan Tentara Inggris & Belanda

Setelah kekalahan pihak Jepang, rakyat dan pejuang Indonesia berupaya melucuti senjata para tentara Jepang. Maka timbullah pertempuran-pertempuran yang memakan korban di banyak daerah. Ketika gerakan untuk melucuti pasukan Jepang sedang berkobar, tanggal 15 September 1945, tentara Inggris mendarat di Jakarta, kemudian mendarat di Surabaya pada tanggal 25 Oktober 1945. Tentara Inggris datang ke Indonesia tergabung dalam AFNEI (Allied Forces Netherlands East Indies) atas keputusan dan atas nama Blok Sekutu, dengan tugas untuk melucuti tentara Jepang, membebaskan para tawanan perang yang ditahan Jepang, serta memulangkan tentara Jepang ke negerinya. Namun selain itu tentara Inggris yang datang juga membawa misi mengembalikan Indonesia kepada administrasi pemerintahan Belanda sebagai negeri jajahan Hindia Belanda. NICA (Netherlands Indies Civil Administration) ikut membonceng bersama rombongan tentara Inggris untuk tujuan tersebut. Hal ini memicu gejolak rakyat Indonesia dan memunculkan pergerakan perlawanan rakyat Indonesia di mana-mana melawan tentara AFNEI dan pemerintahan NICA.

Insiden di Hotel Yamato, Tunjungan, Surabaya

Artikel utama untuk bagian ini adalah: Insiden Hotel Yamato
Hotel Oranye di Surabaya tahun 1911.

Setelah munculnya maklumat pemerintah Indonesia tanggal 31 Agustus 1945 yang menetapkan bahwa mulai 1 September 1945 bendera nasional Sang Saka Merah Putih dikibarkan terus di seluruh wilayah Indonesia, gerakan pengibaran bendera tersebut makin meluas ke segenap pelosok kota Surabaya. Klimaks gerakan pengibaran bendera di Surabaya terjadi pada insiden perobekan bendera di Yamato Hoteru / Hotel Yamato (bernama Oranje Hotel atau Hotel Oranye pada zaman kolonial, sekarang bernama Hotel Majapahit) di Jl. Tunjungan no. 65 Surabaya.

Sekelompok orang Belanda di bawah pimpinan Mr. W.V.Ch. Ploegman pada sore hari tanggal 18 September 1945, tepatnya pukul 21.00, mengibarkan bendera Belanda (Merah-Putih-Biru), tanpa persetujuan Pemerintah RI Daerah Surabaya, di tiang pada tingkat teratas Hotel Yamato, sisi sebelah utara. Keesokan harinya para pemuda Surabaya melihatnya dan menjadi marah karena mereka menganggap Belanda telah menghina kedaulatan Indonesia, hendak mengembalikan kekuasan kembali di Indonesia, dan melecehkan gerakan pengibaran bendera Merah Putih yang sedang berlangsung di Surabaya.

Pengibaran bendera Indonesia setelah bendera belanda berhasil disobek warna birunya di hotel Yamato

Tak lama setelah mengumpulnya massa di Hotel Yamato, Residen Soedirman, pejuang dan diplomat yang saat itu menjabat sebagai Wakil Residen (Fuku Syuco Gunseikan) yang masih diakui pemerintah Dai Nippon Surabaya Syu, sekaligus sebagai Residen Daerah Surabaya Pemerintah RI, datang melewati kerumunan massa lalu masuk ke hotel Yamato dikawal Sidik dan Hariyono. Sebagai perwakilan RI dia berunding dengan Mr. Ploegman dan kawan-kawannya dan meminta agar bendera Belanda segera diturunkan dari gedung Hotel Yamato. Dalam perundingan ini Ploegman menolak untuk menurunkan bendera Belanda dan menolak untuk mengakui kedaulatan Indonesia. Perundingan berlangsung memanas, Ploegman mengeluarkan pistol, dan terjadilah perkelahian dalam ruang perundingan. Ploegman tewas dicekik oleh Sidik, yang kemudian juga tewas oleh tentara Belanda yang berjaga-jaga dan mendengar letusan pistol Ploegman, sementara Soedirman dan Hariyono melarikan diri ke luar Hotel Yamato. Sebagian pemuda berebut naik ke atas hotel untuk menurunkan bendera Belanda. Hariyono yang semula bersama Soedirman kembali ke dalam hotel dan terlibat dalam pemanjatan tiang bendera dan bersama Koesno Wibowo berhasil menurunkan bendera Belanda, merobek bagian birunya, dan mengereknya ke puncak tiang bendera kembali sebagai bendera Merah Putih.

Setelah insiden di Hotel Yamato tersebut, pada tanggal 27 Oktober 1945 meletuslah pertempuran pertama antara Indonesia melawan tentara Inggris . Serangan-serangan kecil tersebut di kemudian hari berubah menjadi serangan umum yang banyak memakan korban jiwa di kedua belah pihak Indonesia dan Inggris, sebelum akhirnya Jenderal D.C. Hawthorn meminta bantuan Presiden Sukarno untuk meredakan situasi.

Kematian Brigadir Jenderal Mallaby

Artikel utama untuk bagian ini adalah: Aubertin Mallaby

Brigadir Jenderal Aubertin Mallaby

Setelah gencatan senjata antara pihak Indonesia dan pihak tentara Inggris ditandatangani tanggal 29 Oktober 1945, keadaan berangsur-angsur mereda. Walaupun begitu tetap saja terjadi bentrokan-bentrokan bersenjata antara rakyat dan tentara Inggris di Surabaya. Bentrokan-bentrokan bersenjata di Surabaya tersebut memuncak dengan terbunuhnya Brigadir Jenderal Mallaby, (pimpinan tentara Inggris untuk Jawa Timur), pada 30 Oktober 1945 sekitar pukul 20.30. Mobil Buick yang ditumpangi Brigadir Jenderal Mallaby berpapasan dengan sekelompok milisi Indonesia ketika akan melewati Jembatan Merah. Kesalahpahaman menyebabkan terjadinya tembak menembak yang berakhir dengan tewasnya Brigadir Jenderal Mallaby oleh tembakan pistol seorang pemuda Indonesia yang sampai sekarang tak diketahui identitasnya, dan terbakarnya mobil tersebut terkena ledakan granat yang menyebabkan jenazah Mallaby sulit dikenali. Kematian Mallaby ini menyebabkan pihak Inggris marah kepada pihak Indonesia dan berakibat pada keputusan pengganti Mallaby, Mayor Jenderal Eric Carden Robert Mansergh untuk mengeluarkan ultimatum 10 November 1945 untuk meminta pihak Indonesia menyerahkan persenjataan dan menghentikan perlawanan pada tentara AFNEI dan administrasi NICA.

Perdebatan tentang pihak penyebab baku tembak

Mobil Buick Brigadir Jenderal Mallaby yang meledak di dekat Gedung Internatio dan Jembatan Merah Surabaya

Tom Driberg, seorang Anggota Parlemen Inggris dari Partai Buruh Inggris (Labour Party). Pada 20 Februari 1946, dalam perdebatan di Parlemen Inggris (House of Commons) meragukan bahwa baku tembak ini dimulai oleh pasukan pihak Indonesia. Dia menyampaikan bahwa peristiwa baku tembak ini disinyalir kuat timbul karena kesalahpahaman 20 anggota pasukan India pimpinan Mallaby yang memulai baku tembak tersebut tidak mengetahui bahwa gencatan senjata sedang berlaku karena mereka terputus dari kontak dan telekomunikasi. Berikut kutipan dari Tom Driberg:

“… Sekitar 20 orang (serdadu) India (milik Inggris), di sebuah bangunan di sisi lain alun-alun, telah terputus dari komunikasi lewat telepon dan tidak tahu tentang gencatan senjata. Mereka menembak secara sporadis pada massa (Indonesia). Brigadir Mallaby keluar dari diskusi (gencatan senjata), berjalan lurus ke arah kerumunan, dengan keberanian besar, dan berteriak kepada serdadu India untuk menghentikan tembakan. Mereka patuh kepadanya. Mungkin setengah jam kemudian, massa di alun-alun menjadi bergolak lagi. Brigadir Mallaby, pada titik tertentu dalam diskusi, memerintahkan serdadu India untuk menembak lagi. Mereka melepaskan tembakan dengan dua senapan Bren dan massa bubar dan lari untuk berlindung; kemudian pecah pertempuran lagi dengan sungguh gencar. Jelas bahwa ketika Brigadir Mallaby memberi perintah untuk membuka tembakan lagi, perundingan gencatan senjata sebenarnya telah pecah, setidaknya secara lokal. Dua puluh menit sampai setengah jam setelah itu, ia (Mallaby) sayangnya tewas dalam mobilnya-meskipun (kita) tidak benar-benar yakin apakah ia dibunuh oleh orang Indonesia yang mendekati mobilnya; yang meledak bersamaan dengan serangan terhadap dirinya (Mallaby). Saya pikir ini tidak dapat dituduh sebagai pembunuhan licik… karena informasi saya dapat secepatnya dari saksi mata, yaitu seorang perwira Inggris yang benar-benar ada di tempat kejadian pada saat itu, yang niat jujurnya saya tak punya alasan untuk pertanyakan … ” [4]

10 NOVEMBER 1945
Setelah terbunuhnya Brigadir Jenderal Mallaby, penggantinya, Mayor Jenderal Robert Mansergh mengeluarkan ultimatum yang menyebutkan bahwa semua pimpinan dan orang Indonesia yang bersenjata harus melapor dan meletakkan senjatanya di tempat yang ditentukan dan menyerahkan diri dengan mengangkat tangan di atas. Batas ultimatum adalah jam 6.00 pagi tanggal 10 November 1945.

Ultimatum tersebut kemudian dianggap sebagai penghinaan bagi para pejuang dan rakyat yang telah membentuk banyak badan-badan perjuangan / milisi. Ultimatum tersebut ditolak oleh pihak Indonesia dengan alasan bahwa Republik Indonesia waktu itu sudah berdiri, dan Tentara Keamanan Rakyat TKR juga telah dibentuk sebagai pasukan negara. Selain itu, banyak organisasi perjuangan bersenjata yang telah dibentuk masyarakat, termasuk di kalangan pemuda, mahasiswa dan pelajar yang menentang masuknya kembali pemerintahan Belanda yang memboncengi kehadiran tentara Inggris di Indonesia.

Pada 10 November pagi, tentara Inggris mulai melancarkan serangan berskala besar, yang diawali dengan pengeboman udara ke gedung-gedung pemerintahan Surabaya, dan kemudian mengerahkan sekitar 30.000 infanteri, sejumlah pesawat terbang, tank, dan kapal perang.

Inggris kemudian membombardir kota Surabaya dengan meriam dari laut dan darat. Perlawanan pasukan dan milisi Indonesia kemudian berkobar di seluruh kota, dengan bantuan yang aktif dari penduduk. Terlibatnya penduduk dalam pertempuran ini mengakibatkan ribuan penduduk sipil jatuh menjadi korban dalam serangan tersebut, baik meninggal maupun terluka.

Bung Tomo di Surabaya, salah satu pemimpin revolusioner Indonesia yang paling dihormati. Foto terkenal ini bagi banyak orang yang terlibat dalam Revolusi Nasional Indonesia mewakili jiwa perjuangan revolusi utama Indonesia saat itu.[5]

Di luar dugaan pihak Inggris yang menduga bahwa perlawanan di Surabaya bisa ditaklukkan dalam tempo tiga hari, para tokoh masyarakat seperti pelopor muda Bung Tomo yang berpengaruh besar di masyarakat terus menggerakkan semangat perlawanan pemuda-pemuda Surabaya sehingga perlawanan terus berlanjut di tengah serangan skala besar Inggris.

Tokoh-tokoh agama yang terdiri dari kalangan ulama serta kyai-kyai pondok Jawa seperti KH. Hasyim Asy’ari, KH. Wahab Hasbullah serta kyai-kyai pesantren lainnya juga mengerahkan santri-santri mereka dan masyarakat sipil sebagai milisi perlawanan (pada waktu itu masyarakat tidak begitu patuh kepada pemerintahan tetapi mereka lebih patuh dan taat kepada para kyai) shingga perlawanan pihak Indonesia berlangsung lama, dari hari ke hari, hingga dari minggu ke minggu lainnya. Perlawanan rakyat yang pada awalnya dilakukan secara spontan dan tidak terkoordinasi, makin hari makin teratur. Pertempuran skala besar ini mencapai waktu sampai tiga minggu, sebelum seluruh kota Surabaya akhirnya jatuh di tangan pihak Inggris.

Setidaknya 6,000 – 16,000 pejuang dari pihak Indonesia tewas dan 200,000 rakyat sipil mengungsi dari Surabaya. [2]. Korban dari pasukan Inggris dan India kira-kira sejumlah 600 – 2000 tentara. [3] Pertempuran berdarah di Surabaya yang memakan ribuan korban jiwa tersebut telah menggerakkan perlawanan rakyat di seluruh Indonesia untuk mengusir penjajah dan mempertahankan kemerdekaan. Banyaknya pejuang yang gugur dan rakyat sipil yang menjadi korban pada hari 10 November ini kemudian dikenang sebagai Hari Pahlawan oleh Republik Indonesia hingga sekarang.

Referensi

  1. ^ a b c d The Battle of Surabaya, Indonesian Heritage.
  2. ^ a b c Ricklefs (1991), p. 217.
  3. ^ a b Woodburn Kirby, S (17 Oktober 1965). The War Against Japan Vol. V. London: HMSO. ISBN 0-333-57689-6.
  4. ^ Batara R. Hutagalung: “10 November ’45. Mengapa Inggris Membom Surabaya?” Penerbit Millenium, Jakarta Oktober 2001, cetakan xvi, 472 halaman
  5. ^ Frederick, William H. (April 1982). “In Memoriam: Sutomo” ([pranala nonaktif]). Indonesia (Cornell University outheast Asia Program) 33: 127–128. seap.indo/1107016901.

Pranala luar

14
Oct
12

Kemiliteran : Pokok-pokok Gerilya

PENEGAK KONSTITUSI PROKLAMASI 1945

http://serbasejarah.wordpress.com/2010/12/23/pokok-pokok-gerilja/

Pokok-pokok Gerilja

Tempat saya yang terbaik adalah di tengah-tengah anak buah (Jenderal Soedirman)

Pengalaman perang terutama perang kemerdekaan Indonesia berhasil disarikan dalam sedikit tulisan yang diantaranya oleh Jenderal A.H. Nasution dalam bukunya “Sekitar Perang Kemerdekaan Indonesia” yang terdiri dari 11 jilid. Sebelumnya beliau menerbitkan buku “Pokok-pokok Gerilja Dan Pertahanan Republik Indonesia Dimasa Jang Lalu dan Jang Akan Datang” yang ditulis pada tahun 1953. Sebenarnya masih banyak buku yang lain dari Pak Nas Sampai pertengahan 1986, lima dari tujuh jilid memoar perjuangan Pak Nas telah beredar. Kelima memoarnya, Kenangan Masa Muda, Kenangan Masa Gerilya, Memenuhi Panggilan Tugas, Masa Pancaroba, dan Masa Orla, Serta dua memoar lainnya, Masa Kebangkitan Orba dan Masa Purnawirawan.

Tetapi yang paling menarik perhatian saya adalah buku “Pokok-pokok Gerilja”, karena banyak penulis militer dan ahli strategi mensejajarkan nama Nasution dengan Mao Tse Tung, Grivas , Vo Nguen Giap , Roger Triniqueir dan Che Guevara. Konon, buku ini masih tetap menjadi bahan acuan untuk pendidikan gerilya dan antigerilya di west point (“AKMIL” nya Amerika) .

Dalam tulisan ini saya mencoba meresume beberapa pokok pikiran dalam buku “Pokok-pokok Gerilja” yang diterbitkan oleh Cv Pembimbing-Djakarta Tjetakan kedua April 1954. (Hatur tararengkyu buat orang pasar buku palasari Bandung yang telah membawakan buku lawas ini pada saya)

******
Pokok-pokok Gerilja

1. Peperangan abad ini adalah perang rakjat semesta

Usaha perang bukanlah cuma usaha angkatan perang saja, melainkan dan malah telah menjadi usaha rakyat semesta pelbagai sektor kehidupannya, yang masing-masing menjadi pesertaan dalam usaha yang seluruhnya, yang tak dapat lalai-melalaikan lagi.
Perang yang sekarang bukan lagi perang antara tentara dengan tentara saja, bukan lagi cuma perang militer. Melainkan sekarang yang berperang adalah rakyat,  rakyat seluruhnya. Perang bergolak secara semesta, walaupun keputusan akhirnya ditentukan oleh kalah menangnya kedua angkatan bersenjata yang berhadapan.
Maka ilmu perang itu bukan cuma ilmu perang yang khusus dengan strategi, taktik dan logistiknya, meainkan pula politik militer, politik, psychologi dan ekonomi. Lapangan perang bukan lagi cuma yang militer, melainkan juga sepenuhnya politik dan ekonomi. Pimpinan perang bukan lagi mengenai medan militer, melainkan medan-medan seluruhnya secara semesta. Syarat-syarat yang diminta dari padanya bukan lagi keahlian cuma keahlian militer, melainkan pemahaman seanteronya politik, militer dan ekonomi.

2. Perang Gerilja adalah perang sikecil/silemah melawan sibesar/sikuat.

Berperang gerilja bukanlah karena menganut “ideologi” bergerilja, melainkan karena kita diharuskan, karena telah tidak mampu menyusun kekuatan yang berorganisasi secara modern, yang setara dengan musuh. Maka gerilja kitapun baru pada tingkatan melelahkan musuh, belum sampai dapat menghancurkannya walaupun bagian demi bagian.

3. Perang gerlija tidak dapat secara sendiri membawa kemenangan terakhir, perang gerilja hanya untuk memeras darah musuh. Kemenangan terakhir hanyalah dapat dengan tentara yang teratur dalam perang yang biasa, karena hanya tentara demikianlah yang dapat melakukan offensif dan hanya offensiflah yang dapat menaklukan musuh.

Defensif tidak dapat mengalahkan musuh, hanya offensiflah yang mampu demikian. Deffensif sekedar sementara menyiapkan dan menantikan untuk melakukan offensif pada suatu waktu.
Perang gerilja strategis hayalah defensif. Kemenangan perang hanya mungkin oleh offensif, offensif oleh suatu tentara yang teratur, oleh suatu tentara yang setara.

4. Perang gerilja biasanya adalah perang ideologi. Perang gerilja adalah perang  rakyat semesta.

Prajurit gerilja bukanlah cuma prajurit pemanggul senjata seperti yang lazim dalam perang biasa, melainkan ia adalah pemanggul ideologi. Ia bukan cuma pelopor pertempuran melainkan terutama pelopor ideologi.
Sejarah cukup menunjukan bahwa perang gerilja adalah senantiasa sebagai pelopor perjuangan ideologi. Rakyat yang tertindas, rakyat yang terjajah, rakyat yang teraniaya oleh pendudukan, mengepalkan tangannya untuk mengenyahkan penjajahan, sipenindas dan sipenduduk yang kejam. Penderitaan perjuangan yang bagaimanapun rasanya enteng jika dibandingkan dengan kesengsaraan penindasan, penjajahan dan pendudukan yang kejam.
Ideologi, semangat kemerdekaan, menjadi sumber kekuatan dan kesanggupan untuk memulai peperangan melawan musuh yang kuat dan teratur dengan segala tentaranya.
Maka hanya dengan ideologi yang kuat, hanya batin yang teguh, yang dapat meledakan perang gerilja yang cukup tabah buat menempuh jalan penderitaan yang panjang dan sulit sampai pada tingkatan mengalahkan musuh yang kuasa.
Tindakan-tindakan sigerilja tidak bisa cuma mengutamakan pertempuran-pertempuran, melainkan haruslah pula mengutamakan psyichologis dan sosial ekonomis dengan gerakan-gerakan propaganda, politik non-kooperasi, politik bumi-hangus, infiltrasi dll.

5. Akan tetapi perang gerilja tidaklah berarti bahwa seluruh rakyat bertempur.

Rakyat adalah sendi bagi gerilja
Pemimpin-pemimpin kita selalu mengibaratkan gerilja sebagai ikan dan rakyat sebagai air, mencontoh pelajaran dari Mao Tse Tung. Maka “air” itu harus dipelihara dalam “hawa” politik dan sosial-ekonomi yang sewajarnya untuk menyuburkan pertumbuhan gerilja yang “berenang” didalamnya.
Perang gerilja adalah perang rakyat, gerilja lahir dan tumbuh diatas haribaan rakyat yang berjuang, gerilja berjuang dengan bantuan, pemeliharana dan perlindungan rakyat pula. Gerilja adalah prajurit rakyat yang sedjati.
Massa bisa gampang diagitir untuk mengganas beramai-ramai, tetapi pula massa itu gampang pecah dan kacau balau, sehingga menjadi sangat sulit untuk dipimpin. Suatu sukses bisa menjalankan semangat massa dengan cepat, tetapi kegagalan bisa pula merosotkan dan mematahkan semangatnya sekaligus. Pula massa sangat gampang dikacaubalaukan oleh gerakan desas-desus.

6. Perang gerilja tidaklah boleh sembarangan “geriljisme”

Kaum gerilja juga harus berdisiplin, juga harus berorganisasi, juga harus berlatih, juga harus mempelajari taktik bertempur, juga harus mempunyai rancangan dan perhitungan. Kaum gerilja juga mempunyai pemimpin yang harus ditaati, Bahkan segala sesuatu harus lebih berat disadari.
Gerilja harus bersifat geriljis terhadap musuh, sehingga ia tetap pusing dan kacau mengenai keadaan dan maksud-maksud gerila, akan tetapi harus bersifat teratur dan berdisiplin kepada pemimpin sendiri.

7. Gerilja berpangkalan dalam rakyat. Rakyat membantu, merawat dan menyembunyikan gerilja, serta menyelidik untuk keperluannya.

Gerilja berpangkalan dalam rakyat, mempersiapkan diri ditengah-tengah rakyat, bersembunyi ditengah-tengah rakyat. Gerilja berpangkalan dimana-mana, asal saja ada rakyatnya dan asal saja buminya cukup ruangan dan persembunyian.

8. Gudang senjata gerilja adalah gudang senjata musuh.

Persenjataan dan amunisi teramat sangat penting dan teramat sulit dalam suatu perang gerilja. Perang gerilja adalah perang sikecil melawan sibesar, maka kekuatannya adalah cara-cara geriljanya, yang muncul dan hilang dimana-mana menurut keprluan keadaan.
Sebagai sikecil dapat dimengerti, betapa pentingnya penghematan tenaga dan penghematan peluru.

9. Menyimpulkan strategi dan taktik perang gerilja.

Perang gerilja dan pertahanan rakyat total sebagai obat mujarab untuk mengatasi tiap-tiap agresi terhadap negara kita. Maka perlulah secara obyektif disadari lagi sepenuh-penuhnya arti strategis dari perang gerilja. Gerilja memang dapat hebat dan dahsyat, dapat mengikat dan melemahkan musuh yang berpuluh-puluh jumlahnya. Namun perang gerilja adalah strategis tetap defensif pada hakekatnya, dan tidak mampu mengalahkan musuh.
Siasat gerilja adalah mengikat musuh sebanyak mungkin, melalhkan, memeras darah dan keringatnya sebanyak mungkin, dan menggoncangkan urat-urat syarafnya. Gerilja adalah muncul-menghilang, mondar-mandir dimana-mana, sehingga bagi musuh tiada dapat dicari dimanapun, tapi dirasakan menggempur dimana saja.
Siasat gerilja ialah untuk memaksa musuh tersebar kemana-mana menjadi immobil sebanyak-banyaknya, dan terpaksa mengadakan stelsel pembentengan yang tetap. Musuh disebar-sebar, dipecah-pecah dan dipakukan, sambil sigerilja terus memeras darah, keringat dan urat syarafnya. Musuh yang besar harus dihindari, atau diganggu secara dicubiti dimana-mana. Musuh yang kecil harus dikepung dan dihancurkan serta alat-alatnya dirampas.
Untuk dapat melakukan tindakan yang muncul menghilang yang tak dapat dicari tetapi selalu terasa dimana-mana, gerilja memerlukan “pangkalan” diantara kedudukan musuh, yang diladeni oleh rakyat, yang cukup tersedia dipelbagai pelosok buat keperluan gerilya yang mondar-mandir.
“Pangkalan” itu harus dipilih didaerah yangbumi dan rakyatnya cukup memenuhi syarat. Bumi yang sulit didatangi oleh musuh, yang cukup tempat persembunyian dan jalan penyingkiran, yang tak dapat diserbu oleh musuh secara besar-besaran denga peralatan yang berat, dimana sigerilja dapat memaksa musuh untuk berhadapan dengan peralatan yang sama, yakni setara infanteri belaka. Bumi yang dikenal sedalam-dalamnya oleh para gerilja. Bumi yang didiami oleh rakyat yang bersemangat, yang memperjuangkan ideologi yang sama dengan gerilya, atau paling sedikitnya yang menyukai gerilya. Syarat-syarat bumi dan rakyat adalah yang terbaik, jika gerilja bersarang dalam daerah kampung halamannya ditengah-tengah sanak saudaranya sendiri.

10. Sifat pokok perang gerilja ialah rakyat yang membantu, ruangan geografis yang cukup dan adanya perang yang lama.

Rakyat yang membantu itu memang kuat batinnya, kuat ideologinya, kuat semangat kemerdekaannya, kuat semangat perjuangannya, tabah menderita kesengsaraan perjuangan.
Syarat geografis yang diminta wilayah-wilayah yang cukup luas dan daerah-daerah yang sulit dilintasi, tidak begitu banyak jalan raya, banyak gunung dan bukitnya, banyak hutan dan belukarnya. Daerah demikian adalah sarang-sarang gerilja.
Untuk memenuhi syarat perang lama, maka perlulah sungguh-sungguh tabah rakyat dan tentaranya, dengan seksama berjuang menderita sampai tercapai kemenangan perang yang terakhir. Rakyat dan lebih-lebih pemimpin-pemimpin harus tabah terhadap intimidasi musuh yang saling berganti dengan bujukan manis seperti madu. Tabah untuk tetap menolak kolaborasi, tabah untuk tetap bernon-kooperasi, dan tetap lebih suka menderita daripada menerima pekerjaan dari musuh, daripada menerima perlindungan di rumah yang disediakan musuh atau kota-kota yang dipasifisirnya.

11. Perang rakyat yang total memerlukan pemimpin yang total dan bukan saja pada puncak nasional, melainkan juga pada daerah-daerah gerilja yang terbawah.

Kesatuan dan kebulatan pemimpin adalah syarat mutlak untuk kesempurnaan perang rakyat yang semesta.

12. Perang anti-gerilja harus menuju kepada memisah gerilja dari rakyat pangkalnya, dan karena itu lebih-lebih harus mengutamakan gerakan politik, psychologis dan ekonomis. Gerilja harus dilawan dengan senjata-senjatanya sendiri, kegiatan offensif, kemampuan yang mobil dan flexible.

Perang anti-gerilya adalah usaha pasifikasi, dan pasifikasi adalah terutama usaha membangun, sedangkan perang biasa adalah terutama usaha menghancur.
Perang anti-gerilja adalah memberantas perlawanan rakyat yang bbersifat total, baik yang aktif menggerilja dan menyabotir, maupun yang passif melawan belaka seperti bergerak di bawah tanah, dilapangan propaganda dan intelligence.
Pertikaian politik dalam negeri biasa menggunakan kegiatan gerilja dan perlawanan bawah tanah. Tugas anti-gerilja dalam arti yang luas adalah tugas yang tiada henti bagi banyak negara apalagi negara yang muda.
Tujuan pokok dalam anti gerilja ialah memisahkan rakyat dari gerilja. Hanya atas dasar itu dapat berhasil tindakan anti-gerilja secara militer.
Kemenangan politik-ideologis, kemenangan sosial-ekonomis dan psychologis adalah pangkal untuk dapat mencapai kemenangan militer.
Menangkapi rakyat bersama-sama, menghukum rakyat secara kolektif, membakari rumah-rumahnya, semuanya karena membantu atau menyembunyikan agen-agen gerilja adalah menjadi senjata yang paling kuat yang “dihadiahkan” kepada kaum gerilja. Kaum gerilja yang akan semakin muncul sebagai pelindung rakyat. Sebaliknya maka siasat anti-gerilja haruslah mengikhtiarkan keadilan dan kebajikan yang sebenar-benarnya.
Soal pokok adalah menawan hati rakyat. Inilah strategi perang anti-gerilja. Mengenal rakyat, mengenal cita-citanya, mengenal adat-istiadatnya, mengenal masalahnya adalah senjata utama dalam tangan pihak anti-gerilja.
Perlu sekali pihak anti-gerilja sebanyak mungkin menggerakan tenaga-tenaga rakyat, mempergunakan pemimpin-pemimpin rakyat. Gagallah usaha-usahanya, kalau ia harus bertindak dengan cuma tentaranya, gagallah kalau ia tiada dapat menggerakan tenaga rakyat. Sedapat mungkin haruslah ia usahakan, supaya pemimpin-pemimpin rakyat yang berpengaruh tertarik kepada pihaknya dengan pelbagai macam daya upaya. Sedapat mungkin rakyat jangan merasakan langsung paksaannya dan kebutuhannya, haruslah ia disalurkan melalui pemimpin-pemimpin rakyat sendiri.
Perang psychologisnya mengusahakan memperoleh keterangan tentang ketegangan-ketegangan dan perselisihan di dalamnya, apalagi antara pemimpin atau pemimpin dengan pengikutnya. Hanya inilah yang bisa dipergunakan untuk memisahkan mereka, dan tidak akan berhasil cuma desas-desus atau fitnah belaka.
Peristiwa perselisihan kecil atau keteledoran yang kecil pada pihak gerilja, yang sungguh terjadi bisa dipergunakan dengan sangat bermanfaat oleh pihak anti-gerilja
Yang paling penting ialah menawan hati dan pikiran anggota-anggota gerilja sendiri, terutama yang telah tertawan. Dengan sikap yang baik-adil, dengan menyadarkan kepada maksud anti-gerilja lebih tinggi daripada sigerilja, dengan lain-lain daya upaya,  supaya akhirnya tercapai perubahan pikiran mereka.
Gerilja harus dipisah dari rakyat. Gerilja harus dihadapi dengan senjata-senjatanya sendiri. Inilah pokok pegangan anti-gerilja.

Bersambung ………

http://www.dephan.go.id/kemhan/?pg=31&id=638

Komponen Cadangan Dapat Menjadi Salah Satu Daya Tangkal



Rabu, 10 Oktober 2012

Jakarta, DMC – Bangsa Indonesia harus mempunyai daya tangkal dan sistem pertahanan yang kuat apabila ingin diperhitungkan oleh bangsa lain. Salah satu yang dapat menjadi daya tangkal yaitu dengan memilki komponen cadangan (Komcad). Komcad dapat menjadi daya tangkal karena yang terdiri dari sumber daya nasional yaitu warga negara yang dapat menjadi suatu kekuatan untuk menggentarkan keinginan bangsa lain yang ingin mengganggu kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Demikian dikatakan Direktur Komponen Cadangan Direktorat Jenderal Potensi Pertahanan Kementerian Pertahanan (Dir Komcad Ditjen Pothan Kemhan) Brigjen TNI Santoso, Rabu (10/10) saat menjadi nara sumber dalam program Talk Show “Sarapan Pagi” Radio KBR 68 H di Studio Mini Puskom Publik Kemhan, Jakarta.

Talk show yang disiarkan secara on air ini merupakan kerjasama antara Kemhan dengan Radio KBR 68 H dalam rangka memberikan informasi secara rutin kepada publik terkait kebijakan – kebijakan pemerintah di bidang pertahanan negara. Dalam kesempatan ini, Dir Komcad Ditjen Pothan Kemhan menjelaskan beberapa hal – hal yang melatarbelakangi pembentukan Komcad.

Dir Komcad Ditjen Pothan Kemhan menjelaskan bahwa secara aspek yuridis, pembentukan Komcad ini diamanatkan dalam Undang Undang Pertahanan Negara bahwa Sistem pertahanan negara adalah sistem pertahanan yang bersifat semesta yang melibatkan seluruh warga negara, wilayah, dan sumber daya nasional lainnya, serta dipersiapkan secara dini oleh pemerintah dan diselenggarakan secara total, terpadu, terarah, dan berlanjut untuk menegakkan kedaulatan negara, keutuhan wilayah, dan keselamatan segenap bangsa dari segala ancaman.

Sedangkan fungsi dan tugas Komponen Cadangan sebagaimana diamanatkan dalam pasal 7 ayat 2 Undang Undang Pertahanan Negara bahwa sistem pertahanan negara dalam menghadapi ancaman militer menempatkan Tentara Nasional Indonesia sebagai komponen utama dengan didukung oleh komponen cadangan dan komponen pendukung.

Menurutnya, untuk menghadapi ancaman dalam rangka menjaga mempertahankan kedaulatan negara, keutuhan wilayah dan keselamatan bangsa tidak cukup oleh komponen utama saja. Dari berbagai pemikiran oleh para pakar – pakar maupun pengalaman sejarah bangsa Indonesia bahwa mempertahankan negara memang melibatkan unsur-unsur lain selain TNI.

Lebih lanjut Dir Komcad Ditjen Pothan Kemhan menjelaskan bahwa konsep Komcad berbeda dengan konsep wajib militer seperti di negara – negara lain. Konsep Komcad adalah suatu konsep pertahanan negara yang melibatkan warga negara yang terseleksi baik jasmani, rohani dan juga keterampilan yang dibutuhan.

Dir Komcad Ditjen Pothan Kemhan mengatakan bahwa kebijakan pembentukan Komponen Cadangan ini sudah dituangkan di dalam bentuk Rancangan Undang Undang dan masuk pada Prolegnas 2010-2014. Pada tahun 2010, pemerintah sudah mengirimkan RUU kepada DPR RI untuk dibahas, tapi sampai sekarang belum diprioritaskan untuk dibahas. Pemerintah dalam hal ini Kemhan berharap pada Prolegnas 2010-2014 ini, RUU Komcad akan dibahas bersama – sama antara Pemerintah dan Parlemen sehingga Kemhan dapat segera melaksanakan kegiatan untuk mewujudkan Komponen Cadangan.

Sumber :  DMC

Posted by Admin in Keamanan | Hit : 59

11
Sep
12

Kemiliteran : Politik Militer Pasukan KNIL

Pengaruh Karakter Suku dalam Organisasi Pasukan KNIL

Oleh: Yohanes Apriano Fernandez | 25 February 2012 | 04:02 WIB

Anda tahu suku apa saja yang digunakan oleh KNIL (Koninkiljke Nederlandsche Indische Leger) dalam menumpas berbagai perlawanan di tanah air? Rata-rata hampir semua suku di Nusantara menjadi bagian dari pasukan KNIL, namun persentasenya berbeda-beda. Hal ini merupakan salah satu politik Devide et Impera Belanda dalam melemahkan perlawanan di tanah air. Selain itu, pasukan Belanda yang sebelumnya bertugas menggempur perlawanan di daerah banyak yang gugur akibat terbunuh atau menderita sakit  kolera, sehingga prajurit pribumi diharapkan lebih tahan terhadap penyakit tropis. Belanda juga tidak perlu mendatangkan prajurit Belanda dalam jumlah banyak karena akan memboroskan anggaran.
Komposisi Prajurit Pribumi dalam Pasukan KNIL

Pengumuman Perekrutan Prajurit KNIL (Sumber/engelfriet.net)
Menurut catatan Capt. R.P. Suyono dalam bukunya yang berjudul Peperangan Kerajaan di Nusantara terbitan Grasindo, sejak terbentuk (tahun 1830) pasukan KNIL sangat kekurangan prajurit karena rata-rata kebutuhannya adalah 2.000 per tahun, namun prajurit Belanda yang dikirm ke Hindia Belanda rata-rata hanya 1500 hingga 1600 per tahun. Selisih 500 orang merupakan hal urgent mengingat sebagian pasukan yang dikirim juga gugur dalam menjalankan tugas sehingga kebutuhan prajurit semakin membengkak. Tentu saja hal ini tidak dapat memenuhi kebutuhan untuk menaklukan daerah-daerah yang belum dikuasai –pada abad 19 daerah kekuasaan Hindia Belanda masih kecil– serta menumpas pemberontakan di daerah-daerah yang bergejolak.
Melihat perbandingan antara jumlah prajurit dan kebutuhan yang tidak seimbang maka perekrutan prajurit pribumi merupakan satu-satunya solusi. Perekrutan ini memberikan kemenangan pihak kompeni terhadap berbagai perlawanan di tanah air, terbukti prajurit Ambon, Manado dan Jawa berhasil menumpas perlawanan di Bali  pada tahun 1860. Seiring makin masifnya perekrutan parajurit pribumi serta bergabungnya anak-anak prajurit KNIL yang lahir di tangsi maka jumlah prajurit pribumi di dalam pasukan KNIL meningkat dari tahun ke tahun.
Suyono mencatat pada tahun 1916, jumlah prajurit KNIL terdiri dari 17.854 orang Jawa, 1.792 orang Sunda, 151 orang Madura, 36 orang bugis –menurut Maulwi Saelan (mantan Wakil Komandan Tjakrabirawa), orang bugis dan Makasar jarang dijadikan prajurit KNIL karena tingkat kesetiaan yang rendah– dan 1.066 orang Melayu. Adapun orang Ambon yang berjumlah 3.519 orang, orang Manado 5.925 dan 59 orang Alfuru. Jumlah pasukan pribumi ini dilengkapi dengan 8.649 orang Eropa sehingga kekuatan pasukan KNIL menjadi kuat terutama pada awal abad ke 20 hingga sebelum Perang Dunia (PD) II. Komposisi suku dalam pasukan KNIL ini sangat dinamis dari tahun ke tahun namun rata-rata orang Jawa tetap memiliki jumlah prajurit terbanyak karena bisa mencapai 50 %. Orang Sunda 5 %, Manado 15 % dan justru orang Ambon hanya mencapai 12 %. Sisanya adalah suku Timor 4 % dan suku-suku lain seperti Aceh, Batak, Madura dan Bugis masing-masing 1 %.
Komposisi kesukuan yang memiliki sifat dan karakter berbeda ini ternyata juga berpengaruh pada organisasi berperang pasukan KNIL. Hal ini terbukti dari penempatan prajurit ke dalam empat Kompi yang berbeda dalam satu batalyon infanteri. Kompi pertama adalah gabungan orang Eropa dan Manado yang difungsikan berhadapan langsung dengan musuh, menyerang, menembak dan membuat lubang perlindungan. Mereka juga bertugas untuk menghitung kekuatan musuh dengan mengintai. Kompi kedua yang terdiri dari orang Ambon dan Timor merupakan pasukan penggempur yang bertugas melibas musuh namun harus segera ditarik kembali sebelum semuanya hancur. Setelah ditarik maka fungsi kompi ketiga dan keempat yang terdiri dari orang Sunda dan Jawa yaitu melakukan pendudukan dan meciptakan perdamaian. Tugas terakhir ini diberikan kapada prajurit Jawa dan Sunda karena mereka memiliki sifat tenang dan mampu menahan diri.
Diskriminasi Dalam Pasukan KNIL
Belanda selalu senang menciptakan segregasi antara satu kelompok dan kelompok yang lainnya termasuk antar Para Prajurit KNIL yang berdarah Ambon (Sumber/engelfriet.net
suku di dalam pasukan KNIL. Segregasi yang diciptakan berupa diskriminasi dalam bentuk penggajian dan fasilitas. Orang Jawa yang merupakan mayoritas ternyata tidak serta merta dihargai oleh Belanda, justru merekalah yang mengalami perlakuan diskriminasi.
Jika ada penghargaan medali kuning untuk keberanian dan kesetiaan (Voor Moed en Trouw) maka prajurit Ambon dan Manado akan mendapatkan tambahan gaji f10,9 (gulden), sedangkan prajurit Sunda dan Jawa hanya mendapat f6,39. Hal ini juga berlaku dalam berbagai fasilitas termasuk tingkat kelas jika bepergian. Sebelum tahun 1905 prajurit Jawa tidak mendapatkan fasilitas sepatu karena keunggulan berperang dianggap tidak sebaik prajurit Ambon dan Manado. Prajurit Jawa yang cenderung nrimo dengan perlakukan ini menyebabkan selalu mengalami diskriminasi.
Nasib prajurit Jawa mengalami perbaikan setelah diprotes oleh J. van der Weiden –menantu Jendral van Heutsz (komandan pasukan Belanda yang berhasil menaklukkan Aceh)– yang mengatakan bahwa prajurit Jawa juga gagah berani –selain prajurit Aceh– terbukti dari perang Jawa yang sangat sulit dihentikan Belanda. Orang Belandalah yang berpikiran bahwa prajurit Jawa lebih lemah sehingga mendapatkan perlakuan diskriminasi.
Kekuatan pasukan KNIL mengalami penurunan setelah Perang Dunia II berakhir dan Belanda ingin menguasai kembali Indonesia dengan melancarkan Agresi Militer I dan II. Sebagian besar pasukan KNIL –antara lain A.H Nasution, Urip Sumoharjo, Alex Kawilarang dan yang lainnya– pada masa ini sudah terpengaruh ide revolusi dan kemerdekaan sehingga mereka berjuang untuk kemerdekaan Republik Indonesia.

02
Feb
12

Militer : Pesawat Pengintai Tanpa Awak Buatan AS dan Israel Rajai Langit

Pesawat Pengintai

Nurvita Indarini – detikNews

Rabu, 01/02/2012 18:22 WIB

Pesawat Pengintai Tanpa Awak Buatan AS & Israel ‘Rajai’ Langit
Grumman Global Hawk/http://newpacificinstitute.org
Jakarta – Kemenhan dikabarkan akan segera mendatangkan pesawat tanpa awak alias unmanned aero vehicle/UAV untuk keperluan penjagaan di daerah perbatasan. UAV buatan Israel, Inggris dan Prancis jadi lirikan. Sekadar diketahui, UAV yang paling ‘merajai’ langit adalah buatan AS dan Israel.

“AS dan Israel di ranah internasional memimpin dalam pengembangan dan penyebaran UAV,” demikian ditulis Asif Anwar, seorang analis global di lemaga Strategy Analytics, yang dipublikasikan pada 15 Agustus 2011.

Meski demikian, ada upaya dari Eropa untuk menjembatani kesenjangan yang ada dalam pengembangan dan penyebaran UAV ini. Selain itu upaya negara-negara lainnya seperti China dan India untuk mengembangkan kemampuannya dalam bidang ini pun mulai terlihat.

Menurut Asif, ada 5 kategori utama yang secara kasar dikelompokkan berdasar parameter ukuran, berat dan daya tahan UAV. Kelima kategori itu yakni: Micro Air Vehicles, Mini UAV,�
Tactical UAV, Medium Altitude/Long Endurance (MALE) UAV, dan High Altitude/Long Endurance (HALE) UAV.

Meskipun ada tekanan dalam anggaran militer AS, namun Strategy Analytics memperkirakan akan tetap ada pertumbuhan dalam pengeluaran pertahanan AS terkait platform UAV. Hal ini menegaskan bahwa AS merupakan basis pembuatan UAV, serta berada di garis depan pengembangan dan penyebaran pesawat ini.

“Israel yang memiliki basis landasan (platform) juga memimpin dan menunjukkan kesuksesan besar di pasar internasional,” sambung Asif.

Di airforce-technology.com pada Oktober 2009 lalu juga disebut AS dan Israel merupakan dua negara yang membuat kemajuan spektakuler di bidang UAV. Di AS ada 2 perusahan yang mendominasi pembuat UAV yakni Northrop Grumman dan General Atomics. Sedangkan di Israel yang merajai produksi UAV kelas dunia adalah Israel Aerospace Industries (IAI). Heron dan Reaper merupakan UAV produksi Israel dan AS yang banyak dipesan.

Baru-baru ini UAV militer digunakan untuk melakukan misi pengintaian dan serangan. Namun ada juga UAV yang digunakan untuk kegiatan sipil seperti pemadaman kebakaran dan kegiatan nonmiliter lainnya.

Pesawat tanpa awak mulai digunakan sekitar 1915-1916. Pesawat jenis ini dikembangkan untuk meminimalisir kecelakaan dan jatuhnya korban jiwa di udara. UAV digerakkan dengan pengendali jarak jauh. Pesawat ini dapat membawa kamera, sensor, peralatan komunikasi atau muatan lainnya. Ukuran pesawat ini lebih kecil ketimbang pesawat berawak sehingga lebih mudah disimpan dan diangkut.

Aneka produk UAV antara lain Boeing/Insitu ScanEagle (AS), Elbit Hermes 450 (Israel), General Atomics MQ-9 Reaper alias Predator B atau Guardian (AS), dan Northrop Grumman Global Hawk (RQ-4A) (AS).

Indonesia melalui Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) juga mengembangkan Pesawat Udara Nir Awak (PUNA) untuk berbagai keperluan pemantauan dari udara. PUNA dirancang dengan kecepatan jelajah 80 knot dengan jangkauan terbang hingga 30 km di ketinggian kurang lebih 7.000 kaki.

(vit/nrl)

Baca Juga
21
Dec
11

Militer : Kapal Perang Canggih Trimaran




Blog Stats

  • 3,146,654 hits

Recent Comments

Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Sejarah : Bangsa Lemuria, Lelu…