Archive for March, 2017

26
Mar
17

ATSI ITB 1968 : Kajian Histogram Multi Sumber Daya Proyek

Kajian Histogram Multi Sumber Daya Proyek

ilustrasi / ist

SHNet – Membaca berita *Ini Proyek Infrastruktur yang Terancam Gagal Karena Tergesa-gesa* [NusantaraNews, 22 Maret 2017]  http://nusantara.news/ini-proyek-infrastruktur-yang-terancam-gagal-karena-tergesa-gesa/

dimana antara lain‎ disinyalir bahwa terprediksi 30% dari total biaya proyek Rp 5.300 Triliun saja yang mampu ditunjang oleh APBN selebihnya diharapkan peran serta swasta yang diduga berat terimplementasi mengingat pembiayaan swasta untuk infrastruktur terbatas pada proyek2 berpotensi berpengembalian investasi cepat seperti proyek jalan tol.

Tingkat keterbatasan program multi pembiayaan proyek2 infrastruktur itu menurut penulis adalah juga tersebab ketidaklengkapan/ketidaksempurnaan persiapan2 di tahap praproyek seperti pembuatan kajian histogram multi sumber2 daya proyek yang berdimensi lintas wilayah bahkan lintas negara dan lintas proyek sendiri serta lintas teknologi konstruksi selain lintas tahun agar supaya lebih realistis dan layak konstruksi.

Kajian Histogram menjadi lebih sensitif perannya bagi besaran  skala proyek2  berbiaya gigantik yang seringkali terdiri dari beragam paket2 subproyek sehingga tindakan peremajaan perlu berkala dilakukan bahkan seringkali serba dadakan mengikuti dinamika kontraksi dan fluktuasi progres kelola proyek2 multi sumber2 daya tersebut.

‎Untuk itulah, p‎eningkatan derajat mutu layanan dari para profesional ATSI (Ahli Teknik Sipil Indonesia) menjadi hal yang penting dilakukan berkelanjutan, dan ATSI ITB 1968 dalam rangka peringatan 50 tahunnya beragenda *Sarasehan IPTEK Pembangunan* pada bulan Agustus 2018 yad bersama dengan segenap ATSI yang juga peduli, berbagi pendapat, pengetahuan praktek dan pengalaman bertempat di Kampus ITB Jl Ganesha 10 Bandung 40134

Sarasehan IPTEK Pembangunan ini juga disemangati oleh Diskusi Besar Solidaritas Teknologi Pembangunan Abad 21 oleh MPM ITB 1973‎.

‎Dalam kaitan termaksud diatas, diharapkan kepada kolega2 ATSI ITB 1968 yang belum mendaftar ulang, kiranya bersedia meluangkan waktu menghubungi dosen FTSL (Fakultas Teknik Sipil & Lingkungan) ITB dari unsur sesama ATSI ITB 1968 di Kampus ITB, Jl Ganesha 10, Bandung 40134

Jakarta, 25 Maret 2017

Rukun ATSI ITB 1968,
Pandji R Hadinoto, NIA 3268029
http://www.jakarta45.wordpress.com‎

Satu Tahun Keputusan Presiden, Apa Kabar Kilang Darat Blok Masela?

Dipl-Oek. Engelina Pattiasina

Oleh: Dipl.-Oekonom Engelina Pattiasina

Rencana pembangunan kilang Blok Masela di Maluku, awalnya tidak ada masalah. Karena semua tenang. Bisa juga, karena memang tidak mengetahui kekayaan alam yang ada di Masela. Meski rakyat tidak menyadari kekayaan di Blok Masela, tapi dapat dipastikan segelintir elite daerah dan pusat mengetahui persis apa yang ada di Masela. Hal itu setidaknya terbukti dari adanya plan of development (PoD) pada 2010. Sebab, tidak mungkin PoD itu serta merta muncul begitu saja.

Sangat disayangkan karena rakyat Maluku dibiarkan tidak mengetahui dan bahkan secara sengaja mengabaikan masyarakat untuk tidak dilibatkan atau ikut berbicara mengenai rencana pengelolaan Blok Masela. Jadi, tiba-tiba ada PoD, kemudian tiba-tiba mau revisi PoD, tiba-tiba mau memperpanjang kontrak. Menyedihkan memang, karena kekayaan alam yang begitu besar di Maluku, mau dikelola dan diambil tanpa sepengetahuan dan keterlibatan rakyat Maluku. Beginikah pengelolaan sumber daya alam dan cara bernegara yang diimpikan para pendiri negara ini? Tentu tidak.

Namun, siapapun yang menyadari kekuatan yang bermain di Blok Masela tidak akan gegabah, karena berkaitan dengan kekuatan dan uang yang sangat besar di Blok Masela. Yang terjadi, hanya diskusi kecil selama bertahun-tahun karena semua pintu seolah tertutup.

Kalau menoleh sedikit ke belakang, pada tahun 2012 pernah muncul kesepakatan Indonesia Deepwater Development (IDD) yang melibatkan pihak-pihak tertentu, dan mungkin sudah melakukan berbagai kesepakatan yang membuat keputusan darat sangat sulit untuk diambil. Padahal, lebih datri 70 persen pengelolaan IDD ada di Indonesia Timur, terutama Maluku.  Artinya, patut diduga ada kepentingan segelintir elit pada periode itu mengalahkan kepentingan masyarakat luas. Dan satu hal yang pasti, sebagian besar IDD berada di atas 12 mil, sehingga Maluku tidak memiliki kewenangan karena semuanya menjadi kewenangan pusat sesuai dengan Undang-Undang Pemerintahan Daerah.

Perombakan kabinet tahun 2015 menjadi titik krusial dalam pengelolaan Blok Masela, karena Dr. Rizal Ramli diangkat menjadi Menko Kemaritiman dan Sumber Daya Alam. Keberpihakan Rizal Ramli terhadap rakyat tidak perlu diragukan dan teruji. Rizal Ramli seorang ekonom yang memahami dengan baik bagaimana mengelola sumber daya alam. Kesempatan kecil yang ada dimanfaatkan untuk mendatangi Rizal Ramli dan Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres) bersama dosen perguruan tinggi di Maluku untuk memprotes pengelolaan Blok Masela. Tuntutan yang bisa dilakukan membangun kilang Blok Masela di darat.

Jadi, jangankan meminta bagian di Blok Masela, untuk memindahkan kilang dari laut ke darat saja begitu berat. Sekali lagi, kekuatan di Blok Masela sangat kuat mencekeram. Namun, lambat laun aspirasi Maluku didengar dan Presiden Joko Widodo memutuskan pembangunan kilang Blok Masela di darat. Ini keputusan yang strategis bagi masa depan Maluku dan kawasan timur Indonesia. Tapi, Rizal Ramli bertugas dalam masa yang relatif singkat dan tidak ada yang tahu ada tidaknya kaitan dengan sikapnya yang pro rakyat di Blok Masela.

Satu Tahun

Pengumuman Presiden Joko Widodo yang memutuskan kilang di darat Blok Masela ini dilakukan dalam acara tidak resmi kepada wartawan di Bandara Supadio Pontianak, Kalimantan Barat pada 23 Maret 2016. Jadi, persis satu tahun pada 23 Maret 2017 ini. Keputusan Presiden ini layak mendapat sambutan hangat, tentu kalau berpihak kepada kepentingan Maluku. Sebab, kalau mau jujur, ada segelintir pihak, baik di Maluku maupun di Jakarta yang justru mempertahankan agar kilang dibangun di laut, sesuai dengan keinginan investor atau pemilik uang.

Mengapa pilihan di darat lebih bagus bagi Maluku? Meski arus besar di Maluku menghendaki kilang darat, tetapi tidak menyurutkan niat segelintir elit untuk mempertahankan kilang terapung. Begini, Blok Masela itu berada sekitar 40 mil laut dari pantai terdekat. Sementara di satu sisi, sesuai UU Pemda, kewenangan pemerintah provinsi di laut hanya sejauh 12 mil. Selebihnya, merupakan kewenangan pemerintah pusat. Artinya, pengelolaan Blok Masela (kilang terapung) akan menjadi kewenangan penuh pemerintah pusat, karena berada di atas 12 mil.

Tetapi, dengan keberadaan kilang darat, maka mau atau tidak mau, Maluku memiliki daya tawar yang memadai untuk memperoleh manfaat bagi pengembangan wilayah Maluku, terutama di bagian selatan yang memang harus diakui “ditelantarkan” selama ini. Jadi, persoalan Blok Masela bukan perkara darat atau laut semata, tetapi merupakan langkah untuk memastikan rakyat Maluku memperoleh manfaat yang besar dari keberadaan Blok Masela. Ada banyak kisah nyata dimana, pengelolaan SDA itu lebih menyerupai negara dalam negara atau meminjam istilah Presiden Joko Widodo menjadi enclave. Kalau di darat saja seperti itu, bisa dibayangkan jika kilang itu dibangun terapung. Bukan mustahil, rakyat akan menjadi penonton atau bahkan untuk menjadi penonton saja tidak bisa, karena saking tidak terjangkaunya.

Tidak lama setelah pengumuman itu, Presiden Joko Widodo meresmikan Jembatan Merah Putih di Kota Ambon pada 4 April 2016. Ketika berpidato, Presiden Joko Widodo secara gamblang menjelaskan alasannya memutuskan kilang Blok Masela di darat.

Kira-kira begini ucapaan Presiden ketika itu, “Di darat kalau tidak didesain yang baik, jadinya juga tidak baik juga. Apalagi di laut,  ini nanti menjadi super enclave, jadi rakyat hanya lihat dari jauh. Kalau investor maunya di laut, tapi dari sisi pembangunan regional, Blok Masela akan lebih memberikan multiplier effect yang besar di darat”.

Perintah Presiden

Satu hal yang patut digarisbawahi lagi, Presiden Joko Widodo memerintahkan Menteri Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi untuk mempersiapkan ahli migas dari Universitas Pattimura dalam kurun waktu 4-5 tahun yang akan datang. Kutipannya seperti begini: “Saya perintahkan ke Menteri Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi siapkan Politeknik Ambon dan Universitas Pattimura. Siapkan ini. Tidak ada lagi alasan SDM tidak ada. Dihitung sekalian dari sekarang, kalau mereka butuh 1000, siapkan 2000”.

Ini perintah Presiden Joko Widodo satu tahun lalu ketika meresmikan Jembatan Merah Putih, tetapi setelah satu tahun berlalu, rakyat Maluku belum melihat ada gejala perintah Presiden itu direalisasikan. Semestinya, Menristek Dikti melaporkan pelaksanaan perintah kepada Presiden. Sebab, di lapangan, tidak ada upaya untuk mempersiapkan sumber daya manusia Maluku seperti yang diharapkan Presiden Jokowi.

Dalam instruksi itu memang perintah untuk menyiapkan Universitas Pattimura dan Politeknik Ambon, tetapi kedua lembaga ini akan kewalahan menyiapkan sumber daya alam jika tidak ditopang oleh perguruan tinggi lain di Maluku. Sangat penting untuk memperkuat dan memberdayakan perguruan tinggi yang sudah ada, seperti IAIN Ambon, STAKPN Ambon, Universitas Darussalam Ambon, UKI Maluku dan semua perguruan tinggi di Maluku, termasuk berbagai lembaga kursus dan pelatihan.

Niat menyiapkan SDM tidak bisa hanya sebatas wacana, karena membutuhkan keberpihakan kebijakan, penguatan kelembagaan, dan pendanaan. Perintah Presiden Jokowi satu tahun silam itu, menjadi sangat relevan dan penting untuk dilaksanakan dalam konteks penyiapan SDM Maluku, terutama di bidang Migas.

Di sisi lain, muncul keinginan untuk membangun Institut Teknologi Ambon. Sejauh niat untuk memperbaiki kualitas SDM di Maluku, sangat wajar dan patut untuk didukung. Kita semua tentu rindu memiliki lembaga seperti IPB ataupun ITB. Namun, perlu diperhatikan membangun Institut Teknologi Ambon itu membutukan dana sekitar Rp 2 Triliun lebih, serta membutuhkan waktu sekitar 30 tahun untuk benar-benar stabil menghasilkan SDM yang berkualitas. Mengingat keterbatasan sumber dana dan Maluku harus berpacu dengan waktu untuk menyiapkan SDM, maka pilihan rasional semestinya memanfaatkan semua potensi untuk mengembangkan, memperbaiki dan memperkuat perguruan tinggi yang sudah ada.

Keberadaan institut teknologi menjadi kebutuhan, tetapi memulai sesuatu yang baru sama sekali, sementara mengabaikan potensi yang sudah ada juga merupakan langkah yang kurang bijak. Jangan sampai, potensi yang ada tidak dikembangkan, sementara yang baru juga membutuhkan waktu yang relatif lama. Sangat bagus, jika potensi yang ada diperkuat dan diberdayakan sehingga menghasilkan SDM yang berkualitas, sementara secara perlahan merintis institut teknologi untuk menambah kualitas dan kuantitas di masa depan.

Untuk itu, melalui momentum satu tahun ini, tidak ada salahnya, jika kita mengingatkan lagi janji atau perintah yang pernah disampaikan di atas Jembatan Merah Putih. Kalau janji adalah hutang, maka Presiden Joko Widodo masih memiliki hutang untuk menyiapkan SDM Maluku sehingga rakyat Maluku tidak menjadi penonton di atas kekayaan alamnya sendiri. Pelajaran dari PT. Freeport lebih dari cukup untuk menjadi renungan dalam mengelola sumber daya alam, terutama Blok Masela. Sebab, samar-samar sudah terdengar kalau Blok Masela akan menjadi Freeport baru, karena memiliki cadangan gas yang sangat melimpah (sekitar 40 triliun kaki kubik). Jumlah yang jauh lebih besar dibandingkan dengan cadangan gas Blok Tangguh (Papua Barat) sekitar 14,4 Triliun kaki kubik. Sekitar tiga kali lipat dari cadangan gas Blok Masela.

Momentum satu tahun ini perlu menjadi pengingat bagi Presiden dan pembantu presiden, karena niat untuk membangun kilang di darat itu sebatas komitmen lisan, karena tidak diikuti dengan aspek legal formal. Dengan perubahan skema itu, otomatis harus diikuti dengan revisi PoD, yang semestinya lebih transparan bagi rakyat Maluku dan anak-anak Maluku harus dilibatkan dalam proses revisi atau penyunan PoD.

Selain itu, sikap Presiden Joko Widodo yang sama sekali tidak menyinggung perkembangan pengelolaan Blok Masela selama dua kali kunjungan ke Maluku menjadi pertanyaan sendiri. Pertama, ketika menghadiri puncak Hari Pers Nasional di Ambon pada 9 Pebruari 2017 dan ketika membuka Tanwir Muhammadiyah di Ambon pada 24 Pebruari 2017. Memang, itu bukan suatu kewajiban, tetapi rakyat Maluku sesungguhnya membutuhkan progres dari perubahan skema laut ke darat.

Akses Maluku

Keterbukaan informasi mengenai Blok Masela akan menjadi informasi berharga bagi rakyat untuk mempersiapkan diri, sehingga tidak menjadi penonton atau bahkan menjadi korban ketika Blok Masela beroperasi. Rakyat akan memiliki kesiapan untuk merespon perubahan, termasuk menangkap peluang ekonomi yang muncul dari keberadaan Blok Masela. Pemerintah dan semua pimpinan di berbagai level memiliki tanggung jawab untuk tidak menjadikan rakyat miskin di atas kekayaan yang ada.

Apalagi, ketiadaan akses dan informasi yang memadai, bukan hanya melemahkan rakyat, tetapi juga menyulitkan pemerintah daerah untuk menyiapkan kebijakan strategis yang memastikan Maluku memperoleh hak yang adil di Blok Masela. Sikap menutup akses bagi semua stakeholder di Maluku dalam pengembangan Blok Masela sesungguhnya tidak lebih dari keinginan untuk menguasai sumber daya alam tanpa peduli dengan nasib rakyat sekitarnya.

Ketiadaan langkah nyata dari Kemenristek Dikti dan sikap diam Presiden Joko Widodo soal Blok Masela ini menimbulkan berbagai spekulasi, termasuk masih adanya berbagai upaya untuk mengulur waktu, sekaligus menjadi momentum untuk mengembalikan Blok Masela ke laut. Semua berharap ini tidak terjadi, sehingga rakyat Maluku tidak menjadi penonton semata seperti harapan Presiden Joko Widodo.

Komitmen untuk membangun kilang darat memang sebatas lisan, tetapi bagi rakyat dengan tradisi lisan yang panjang, komitmen lisan juga sangat bermakna. Namun, sangat baik kalau komitmen itu tertulis untuk kepentingan legal formal. Bagi Maluku, tidak ada cara lain, kecuali tetap mempersiapkan diri untuk ikut mengambil peran dalam setiap peluang yang hadir melalui Blok Masela.***

Penulis adalah Alumni Universitas Bremen Jerman. Pendiri dan Direktur Archipelago Solidarity Foundation

implementasi perataan sumber daya dalam pelaksanaan konstruksi …

penggunaan sumber daya dalam keseluruhan aktivitas proyek. … histogram kebutuhan sumber daya pekerja sebelum dan setelah dilakukan …. Multi Phi Beta …… dan kebijakan pelaksanaan proyek serta menambah kajian ilmu pengetahuan.
Kajian Histogram Multi Sumber Daya Proyek. 2017-03-25 08:56:19. Wenger: Suarez Ingin Gabung Arsenal. 2017-03-25 02:15:56. Menteri Susi Minta Nelayan …
22 jam yang lalu – Facebook Twitter WhatsApp Line Share this · Previous : Kajian Histogram Multi Sumber Daya Proyek · Next : Akhirnya, Dirut PTDI Akui Adanya …

Koran Buruh – Kontroversi Politik Infrastruktur Presidensiil

koranburuh.com/opini/item/550-kontroversi-politik-infrastruktur-presidensiil
Betapa tidak, ditengah pro & kontra, proyek multi years BUMN to BUMN yang … itu baiknya berdasarkan kajian HSDP (histogram sumber-sumber daya proyek) …

[PPT]Membangun Tim Proyek

dinus.ac.id/repository/docs/ajar/Mempro_10.ppt
Tujuan. Memahami pentingnya manajemen SDM dalam proyek Teknologi Informasi … Histogram sumberdaya adalah bagan kolom yang menunjukkan jumlah …
Manajemen Sumber Daya Manusia dalam proyek adalah proses … Informasi yang terkandung di dalamnya antara lain : Resource Histogram, cara akuisisi …

Green Construction | Manajemen Proyek

mpinfrastruktur.blogspot.com/2015/10/green-construction_25.html
13 Feb 2015 – Gould & Joyce (1994) berpendapat bahwa proyek konstruksi merupakan suatu … yang membutuhkan sumber daya, baik biaya, tenaga kerja, material, dan peralatan. … waste (X3), seperti yang tergambarkan pada histogram berikut ini: …. Kajian Faktor Green Construction Infrastruktur Jalan Berdasarkan …

3 – Investor Daily

id.beritasatu.com/pages/archive/index.php?page=3&month=8&year=2012
21
Mar
17

ATSI ITB 1968 : Bung Karno dan Bentang Konstruksi

Bung Karno dan Bentang Konstruksi

Presiden Pertama RI, Ir. Soekarno / (ist)

SHNet – Adalah menarik, bahwa sebenarnya ‎*Politik Kemerdekaan Proklamasi Indonesia 17845* sebagai berikut :
http://sinarharapan.net/2017/03/politik-kemerdekaan-proklamasi-indonesia-17845/‎

adalah turut diwarnai Bung Karno, yang menurut hemat penulis, telah merujuk ide Bentang Kontruksi dikiprahkan dalam pemaknaan “Saudara-saudara! Apakah yang dinamakan MERDEKA ? Di dalam tahun 33 saya telah menulis satu risalah. Risalah yang bernama *MENCAPAI INDONESIA MERDEKA*. Maka di dalam risalah tahun 33 itu, telah saya katakan, bahwa KEMERDEKAAN, politike onafhankelijkheid, political independence, tak lain dan tak bukan, ialah  suatu JEMBATAN, satu JEMBATAN EMAS. Saya katakan didalam Kitab itu, bahwa di seberangnya JEMBATAN itulah kita sempurnakan kita punya masyarakat” [Pidato  tentang Pancasila 1 Juni 1945]

Rekam jejak ‎konstruktif Bung Karno (BK) sebagai Bapak Kenegarawanan  baik bagi Indonesia (seperti pencetusan Pancasila sebagai Dasar Negara 1 Juni 1945, proklamasi Indonesia Merdeka 17 Agustus 1945, Presiden RI 1945 – 1966, TRIKORA, DWIKORA, dlsb)  maupun bagi dunia (seperti Konperensi Asia Afrika 1955, Pidato To Build The World A New di PBB 1960, KTT Non Blok 1961, Asian Games 1962, Ganefo 1963, dlsb)‎, telah tercatat abadi.

‎Namun mengenang Bung Karno (BK) akan lebih lengkap dengan menapaktilasinya juga sebagai Ahli Teknik Sipil Indonesia (ATSI) lulusan Technische Hooge School (THS) Bandoeng tahoen 1926, kini Institut Teknologi Bandung (ITB), yang dalam konteks Bentang Konstruksi (BK) ketika itu telah terpapar lebih dahulu Bangunan-bangunan Teknik Sipil (BTS) berbentang struktural leluasa seperti Aula Gedung STOVIA 1902 kini Gedung Kebangkitan Nasional, Kwitang, Jakarta Pusat dan Aula THS 1920 kini ITB 1959 sendiri, keduanya rekayasa berkonstruksi kayu, yang diakui adalah keistimewaan tersendiri bagi ATSI.

Pada era kiprah Bung Karno pasca 1926 sampai dengan 1966, dikenali pula beberapa BTS yang termasuk Bentang Konstruksi besar seperti

1) Jembatan Baja di Aceh yang berfungsi ganda yaitu berkiprah bagi jalur jalan lalulintas dan jalur rel kereta api
2) Mesjid ISTIQLAL, Jakarta Pusat
3) Gedung CONEFO kini DPRRI/MPRRI, Senayan
4) Gedung ISTORA, Senayan
5) Stadion Utama Gelora Bung Karno, Senayan
6) Jembatan Semanggi, Jakarta Selatan
7) Jembatan Sungai Musi, Palembang

Dalam rangka turut menapaktilas historis BTS di Indonesia inilah‎ maka Sarasehan IPTEK Pembangunan diagendakan pada bulan Agustus 2018 di ITB oleh Rukun Ahli Teknik Sipil (ATSI) ITB 1968 dengan harapan ikut menyegarkan kembali program studi Fakultas Teknik Sipil & Lingkungan (FTSL) ITB demi peningkatan standar layanan profesional ATSI. Dalam pengertian inilah maka kepada kolega2 ATSI ITB 1968 yang belum sempat mendaftar ulang, dapat kiranya menghubungi dosen2 FTSL dari ATSI ITB 1968.

Bandung, 20 Maret 2017

Rukun ATSI ITB 1968,
Pandji R Hadinoto
http://www.jakarta45.wordpress.com‎

Jembatan Ampera
Jembatan di Palembang, Sumatera Selatan
Jembatan Ampera adalah sebuah jembatan di Kota Palembang, Provinsi Sumatera Selatan, Indonesia. Jembatan Ampera, yang telah menjadi semacam lambang kota, terletak di tengah-tengah kota Palembang, … Wikipedia
Mulai dibangun: April 1962
Tinggi: 63 m

Ani Maryani: KONTRUKSI ATAP STADION GELORA BUNG KARNO

animaryanii.blogspot.com/2015/01/kontruksi-atap-stadion-gelora-bung-karno.html
8 Jan 2015 – Salah satu keunikkan yang menonjol dari bangunan stadion utama senayan ini adalah kontruksi atap model temu gelang. Pemasangan …

Dunia Konstruksi Indonesia

sipil-konstruksi.blogspot.com/
7 Sep 2014 – Hak Paten Rekayasa Konstruksi Kreatifitas Anak Bangsa Indonesia …. adalah jembatan gantung bentang kesembilan terpanjang di dunia, …. tahun 1965, sekaligus mengukuhkan nama Bung Karno sebagai nama jembatan.
19 Apr 2016 – Bung Karno lantas melirik karya Ir Sutami, murid Roosseno semasa di … pertama kali diterapkan dalam konstruksi bangunan di Indonesia. … mengajukan desain jembatan portal berkaki miring dengan bentang 50 meter.
Pada bangunan Stadion Gelora Bung Karno digunakan pondasi tiangpancang dan struktur beton bertulang. Dengan menggunakan struktur bet…
Kata kunci: teknologi bangunan, nilai sejarah, struktur, konstruksi LATAR … LINGKUP PEMBAHASAN Dalam tulisan ini akan dikaji mengenai sistem struktur, material, elemen bangunan, sains …. Atap dengan beton pre-stress untuk solusi struktur bentang lebar ini. … struktur konstruksi, indonesia, gelora bung karno. struktur …

“TINJAUAN STRUKTUR BENTANG LEBAR TERHADAP EFISIENSI …

library.gunadarma.ac.id/…/tinjauan-struktur-bentang-lebar-terhadap-efisiensi-fungsi-b…
3 Apr 2013 – Pada bangunan gelanggang olahraga struktur bentang lebar … Stadion Utama Gelora Bung Karno – Jakarta Pusat merupakan salah satu …
Gelanggang Olahraga (Gelora) Bung Karno adalah sebuah kompleks olahraga … Sebuah konstruksi khusus yang dibangun adalah atap baja besar yang …

Desember, Jembatan Soekarno Manado Tersambung Utuh – Viva Bisnis

bisnis.news.viva.co.id/…/552906-desember-jembatan-soekarno-manado-tersambung-…

29 Okt 2014 – Konstruksi akhir Jembatan Soekarno, Manado. … Sebagai informasi, total bentang Jembatan Soekarno sepanjang 1.127 meter. Terdiri atas …

SEJARAH JEMBATAN AMPERA PALEMBANG

sonsakira.blogspot.com/
7 Okt 2013 – Jembatan Ampera merupakan jembatan kebanggaan masyarakat … warga Palembang, untuk memiliki sebuah jembatan di atas Sungai Musi.
Sungai Musi dan Jembatan Ampera adalah ikon Kota Palembang. Selain itu, juga merupakan salah satu objek wisata yang cukup populer di Provinsi Sumatera …
6 Mar 2016 – JEMBATAN Ampera adalah jembatan yang selain fungsinya sebagai penghubung antara Seberang Ulu dan Seberang hilir yang di pisahkan …

Mitos Hantu Banyu dan ‘Naga’ di Sungai Musi Palembang – Regional …

regional.liputan6.com › Regional › Palembang
6 Jan 2016 – … Gagal Nodong, Pemuda Ini Nekat Terjun Bebas dari Jembatan Ampera … “Di sungai Musi bukan ada Naga, tapi iwak (ikan) Tapa Tembago.
29 Agt 2016 – Jembatan ampera dan sungai musi, dua sejoli yang tak dapat dipisahkan di palembang. Keakraban mereka terpatri dalam ikon kota …
26 Apr 2015 – Diupload oleh Faktapedia : Fakta Lucu, Unik, dan Greget Abis

Sejarah Jembatan Ampera & Proses Pembuatannya Pembangunan … warga palembang, untuk …

15 Jan 2013 – Diupload oleh karim sanzaya

Star Bus Langgeng Utama Sinarjaya di Jembatan Suramadu Menuju Makam Syaikhunal Kholil …

Jembatan Ampera di Palembang – 1001malam.com

http://www.1001malam.com › Wisata Sumatera Selatan › Wisata di Palembang

Jembatan Ampera merupakan ikon wisata dari Palembang, Sumatera Selatan. Jembatan Ampera ini membelah Sungai Musi dan menjadi jantung bagi …

Sejarah Jembatan Semanggi dan Filosofinya – Netralitas.com

May 25, 2016 – BAGI warga Jabodebabek, rasanya tak mungkin jika tak tahu Jembatan Semanggi. Apalagi mereka yang setiap hari bekerja di Jakarta, …

Jembatan Semanggi adalah suatu flyover yang dibangun pada masa pemerintahan Presiden Soekarno. Jembatan ini disebut Jembatan Semanggi karena …

Animasi “the New” of Jembatan Semanggi Jakarta – YouTube

May 2, 2016 – Uploaded by WIJAYA KARYA TV

Proyek Pengembangan Simpang Susun Semanggi ini dikerjakan oleh PT Wijaya Karya (Persero) Tbk …

Sejarah Jembatan Semanggi – IndonesiaIndonesia.com

indonesiaindonesia.com › Sejarah & Budaya

Sejarah Jembatan Semanggi – Sejarah & Budaya. Kunjungi DISKUSI dan INFORMASI Sejarah Jembatan Semanggi.

Keistimewaan Proyek Jalan Layang Semanggi yang Dirancang oleh …

megapolitan.kompas.com/…/Keistimewaan.Proyek.Jalan.Layang.Se…

Apr 8, 2016 – Kompas.com/Alsadad Rudi Maket jembatan layang di Bundaran Semanggi yang pembangunannya resmi dimulai, Jumat (8/4/2016).

Apr 19, 2016 – Insinyur sipil yang menjadi Direktur Utama Hutama Karya itu mengajukan desain jembatan yang mirip dengan bentuk daun semanggi.

Jembatan Semanggi Bakal Dibikin Semakin Keren – Poskota News

poskotanews.com/…/jembatan-semanggi-bakal-dibikin-semakin-ke…

Apr 6, 2016 – JAKARTA (Pos Kota) – Peletakan batu pertama pembangunan jalan layang Semanggi direncananya dilakukan Jumat (8/4). Pembangunan …

Sep 22, 2016 – Anda yang tinggal di Jakarta pastinya sudah tak asing lagi dengan Jembatan Semanggi. Jembatan megah yang membentang di Jalan Gatot …

Berita tag Jembatan Semanggi – Truk bermuatan bagian kepala pesawat tersangkut di kolong flyover Semanggi, Jakarta, Kamis 11 Agustus.

16
Mar
17

Kenegarawanan : Politik Kemerdekaan Proklamasi Indonesia 17845

Politik Kemerdekaan Proklamasi Indonesia 17845

ilustrasi / idpelago.com

SHNet – ‎Gagasan Revolusi Mental muncul ketika \’JokoWi Setuju 6 Jenis Manusia Versi Mochtar Lubis Dihilangkan\’ [Tempo, 19 Agustus 2014] yaitu ikhwal ciri-ciri manusia yang disampaikan Mochtar Lubis saat berpidato di Taman Ismail Marzuki16 April 1977 berjudul \’Manusia Indonesia\’. yakni 1) munafik atau hiporkrit, 2) enggan dan segan bertanggung jawab, 3) bersikap dan berperilaku feodal, 4) percaya tahayul, 5) artistik (berbakat seni), dan 6) lemah watak atau karakter;‎

S‎ungguh bijaksana sekiranya Revolusi Mental itu

1) terutama bertumpu pada amanat Pembukaan UUD 1945 yang tersusun dalam 4 (empat) alinea, yang sebenarnya dapat dijabarkan dalam 7 (tujuh) bagian yang bisa disebut sebagai 7 (Tujuh) Cita *Politik Kemerdekaan Proklamasi Indonesia* yakni :‎

(1.1) ‎Kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa dan oleh sebab itu maka penjajahan di atas dunia harus dihapuskan, karena tidak sesuai dengan Perikemanusiaan dan Perikeadilan; ‎

(1.2) ‎Kemerdekaan Negara Indonesia ‎yang ‎Merdeka, Bersatu, Berdaulat,‎ ‎Adil dan Makmur;Pemerintahan Negara Indonesia yang

(1.3) ‎Melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia,

(1.4) ‎Memajukan kesejahteraan umum‎;

(1.5) ‎Mencerdaskan kehidupan bangsa,

(1.6) Ikut melaksanakan ‎Ketertiban Dunia yang berdasarkan Kemerdekaan, Perdamaian Abadi dan Keadilan sosial;

(1.7) ‎Susunan Negara Republik Indonesia yang berkedaulatan rakyat dengan berdasarkan kepada Ketuhanan Yang Maha Esa, Kemanusiaan yang adil dan beradab, Persatuan Indonesia, dan Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmah kebijaksanaan dalam permusyawaratan / perwakilan, serta dengan mewujudkan suatu Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.‎

2) oleh sebab itu layak berketeguhan pada Tegakkan Politik Konstitusi Pancasila‎ Indonesia 26Peb17 :
http://sinarharapan.net/2017/02/tegakkan-politik-konstitusi-pancasila-indonesia/‎

3) selain berkerangka 7 (tujuh) Strategi Ketahanan Bangsa Indonesia sebagai ‎penguat taktis operasional dalam pemberdayaan kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara yakni (3.1) Keagamaan Tidak Rawan, (3.2) Ideologi Tidak Retak, (3.3) Sosial Politik Tidak Resah, (3.4) Sosial Ekonomi Tidak Ganas, (3.5) Sosial Budaya Tidak Pudar, (3.6) HanKamNas Tidak Lengah, (3.7) Ekologi (Lingkungan) Tidak Gersang,‎

‎4) dan berkeseharian selalu pekikkan MERDEKA [1Sep45] serta budayakan SALAM 17845 cerminan : (a) tanggal akumulasi kesejarahan Perjuangan Indonesia Merdeka sejak awal abad-20, (b) pemaknaan utama tentang 17 butir Jiwa Semangat Nilai-nilai 45 / Roh Indonesia Merdeka + 8 butir Kepemimpinan Hastabrata + 45 butir Pengamalan Pancasila per Tap MPRRI No XVIII/1998 [PRH 2013]

5) berikut senantiasa berkesesuaian dengan 9 (sembilan) Pusaka Bangsa Indonesia [PRH 2004]  :

(5.1) Sang Saka Merah Putih‎
(5.2) Sesanti Bhinneka Tunggal Ika
(5.3) Sumpah Pemuda 1928
(5.4) Lagu Kebangsaan Indonesia Raya 1928
(5.5) Pancasila 1945
(5.6) Proklamasi Indonesia Merdeka 17845
(5.7) Undang Undang Dasar 1945
(5.8) Wawasan Nusantara 1957
(5.9) Jiwa Semangat Nilai-nilai 45 / Roh Indonesia Merdeka
*Revolusi Mental Politik Kemerdekaan Proklamasi Indonesia 17845* adalah kemutlakan yang tidak dapat di-tawar2 lagi bagi arah menuju NKRI Jaya 2045 yad.‎

‎Jakarta, 17 Maret 2017

Badan Pembudayaan Kejoangan 45,
Pandji R Hadinoto

Ketua GPA45/DHD45 Jakarta
http://www.jakarta45.wordpress.com

10 Fakta Unik Seputar Proklamasi 17 Agustus 1945 | 8Share Indonesia

blog.8share.com/id/10-fakta-unik-seputar-proklamasi-17-agustus-1945/
14 Agt 2014 – Soekarno Sedang Sakit Saat Proklamirkan Kemerdekaan. Soekarno, proklamator kemerdekaan Indonesia. Pada 17 Agustus 1945 pukul 08.00 …
Pada tanggal 6 Agustus 1945 sebuah bom atom dijatuhkan di atas kota Hiroshima Jepang oleh Amerika Serikat yang mulai menurunkan moral semangat …
14 Agt 2015 – Situs Proklamasi Indonesia Merdeka 17845 …. sesuai dengan perhitungan politiknya, berpendapat bahwa Indonesia dapat merdeka tanpa …

SURYA NUSA: Misteri 17.8.45

suryanusa.blogspot.com/p/misteri-17845.html
Proklamasi Kemerdekaan Negara Republik Indonesia adalah ….. merdeka karena esensinya masih terjajah baik ekonomi, sosial – budaya, politik dan agama!

2 hari yang lalu – “Saya sampai tak bisa tidur karena takut terlambat menjemput (sang) proklamator,” kata Ali … yakni jenis Buick dengan nomor polisi B-17845 dan mobil dinas “Indonesia 2″. … Batang Yoyok Tak Hafal Nama-nama Partai Politik Pendukungnya … Berbagai Sisi Taman yang Jadi Saksi Bisu Kemerdekaan RI …

Sama-sama Bermimpi Besar – Kampung Gusdurian

17 Agt 2016 – Lengkaplah sudah kepergian para proklamator kemerdekaan kita. … Mobil bernomor B-17845 menjadi penghias halaman masjid Matraman … Hatta: Indonesia Merdeka – di saat belum ada tanda-tanda kemerdekaan sedikitpun. … Kehidupan politik serba bersih dan wajar – di saat korupsi masih menjadi …

Sisi Lain Islam Di Nusantara

Menulis Sejarah Islam Berdasarkan Fakta & Data, Semua tulisan bersifat rasional, terbuka, ilmiah dan bisa diperdebatkan Cp 08179803186, FB : Iwan Mahmoed Al Fattah

Habib Rizieq: Indonesia Negara Musyawarah, Bukan Negara …

Feb 24, 2013 – Jakarta (SI ONLINE) – Benarkah Indonesia Negara Demokrasi? … Disepakati pula saat proklamasi kemerdekaan, Piagam Jakarta ini …. Perbaiki Sistem Politik, Wahdah Islamiyah Usulkan Konsep Demokrasi Wasathiyah … Sudah tepat saat 17845 dibacakan deklarasi kemerdekaan, bukan piagam Jakarta.

Senin, 07 Maret 2016

BUNG HATTA “DIGUGAT”

(Sebuah Jawaban Dan Klarifikasi Terhadap Tokoh Besar Nusantara)

Bung Hatta…..

Siapapun insan di negeri ini pasti mengetahui sosok besar dan berjasa ini. Kapasitas dan keberadaannya sebagai tokoh bangsa tidak perlu  diragukan lagi. Konsistensi dan ketegarannya akan prinsip hidup patut kita contoh dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Tidak banyak tokoh besar seperti beliau yang mampu bertahan secara konsisten dalam mempertahankan prinsip hidup ditengah gempuran-gempuran rezim yang datang silih berganti, dari mulai era Sebelum Kemerdekan, Masa Pendudukan Jepang,  Masa Kemerdekaan, Masa Negara Federal, Era Negara Kesatuan,  Masa Demokrasi Terpimpin, Orde Lama sampai kepada masa Orde Baru, sikapnya tidak berubah,  tetap kritis dan tegar dalam menghadapi “kezaliman” penguasa politik yang ada. Sekalipun dirinya “dikungkung” oleh berbagai rezim yang ada, namun perlawanannya terhadap ketidak adilan terus berkibar sekalipun nanti yang dihadapinya adalah sahabatnya sendiri. Ini yang akhirnya nanti banyak membuat kagum banyak fihak kawan dan lawan.

Bung Hatta adalah satu diantara tokoh-tokoh yang sampai saat ini sangat harum namanya. Sebagai bentuk pengakuan rakyat, pada saat wafatnya saja ratusan ribu orang banyak menghadiri pemakamannya, hal yang sama juga pernah terjadi pada saat KH Wahid Hasyim dan Gus Dur wafat.  Begitu cintanya rakyat akan sosok ini bahkan seorang Iwan Fals saja telah membuat lagu khusus pasca wafatnya. Para sejarawanpun telah banyak banyak yang menulis sosok yang bersahaja ini, mulai dari masa kecilnya, pemikirannya, sampai kepada kisah asmaranya. Tentu dengan banyak ditulisnya sejarah beliau, menandakan jika beliau adalah tokoh besar yang tak lekang dengan masa.

Kami sendiri termasuk orang yang sangat kagum dengan sosok Bung Hatta. Diantara sekian tokoh politik yang ada bagi kami Bung Hatta dapat dijadikan motivasi dan inspirasi dalam kehidupan. Kesederhanaan dirinya bahkan telah membuat kami kagum bukan kepalang, padahal jabatan yang diembannya pada waktu masanya  adalah Wakil Presiden dan juga Perdana Menteri. Sebuah jabatan yang cukup mentereng dan menggoda untuk ukuran saat ini. Tapi Bung Hatta tetaplah Bung Hatta, Sekalipun pada masa itu kondisi  negara dalam keadaan susah tapi Bung Hatta tidak pernah mengambil kesempatan yang ada. Gaya  hidupnya masih tetap sederhana dan apa adanya.

Sekalipun demikian, tentu tidak ada gading yang tak retak, sebagai manusia biasa tentu Bung Hatta dulunya bisa saja mempunyai beberapa “kesalahan” atau “dosa” di dalam kehidupannya seperti yang pernah kami ketahui dari ungkapan beberapa orang yang membicarakan sosok besar ini. Kami sendiri sebenarnya enggan untuk menanggapi “kesalahan” dan “dosa” yang pernah dilakukan tokoh bangsa yang sangat religius ini. Membicarakan “kejelekan” seorang tokoh sekelas Bung Hatta bagi kami bukanlah hal yang bijak mengingat sepak terjangnya yang begitu besar pada bangsa ini. Kalaupun nanti ingin membuka “sisi lain” seorang Bung Hatta sudah tentu harus disertai dengan landasan etika dan fakta-fakta yang bisa dipertanggungjawabkan.

Terus terang saat kami membaca beberapa pendapat yang “miring” tentang Bung Hatta, hati kami begitu tergetar dan tidak habis fikir, benarkah gambaran mereka itu ? kalaupun memang “miring” seberapa besar sih tingkat “kemiringan” pribadi dan sepak terjang seorang Bung Hatta. Kami sendiri tidak menafikkan seorang Bung Hatta pernah melakukan kesalahan, namanya juga manusia biasa dan juga bukan malaikat. Toh Kami sendiri sangat menghargai orang yang bersikap kritis dalam melakukan interpretasi sejarah. Tapi terus terang kalau tokoh sekelas Bung Hatta “diobrak-abrik” kami kok merasa kurang berkenan ya. Oleh karena itu demi untuk menjawab semua kegelisahan tersebut kami akan mencoba memberikan “jawaban” yang mudah-mudahan bisa membuka mata hati orang yang memberikan sefihak tentang Bung Hatta ini.

Diantara beberapa pendapat yang “tidak mengenakkan” tentang Bung Hatta yang kami peroleh dari beberapa akun Facebook yang telah kami amati adalah sebagai berikut:

  1. 1.    Pada Tahun 1930an pada saat pertama kali datang ke Jakarta, Bung Hatta tidak  mau sowan dan dianggap mau membuat mesjid tandingan di Kwitang Jakarta untuk menyaingi masjid Kwitang yang didirikan Habib Ali bin Abdurrahman Al Habsyi.
  2. 2.  Bung Hatta dituduh sebagai antek antek Wahabi (pengikut aliran Syekh Muhammad bin Abdul Wahab).
  3. 3.       Bung Hatta dituduh anti Kyai.
  4. 4.       Bung Hatta dituduh anti tradisi.
  5. 5.      Bung Hatta dituduh telah memerintahkan Jenderal Sudirman  untuk membunuh tahanan politik.
  6. 6.       Bung Hatta dituduh memecat semua Tentara  yang tidak punya ijazah dalam program Re Ra.

Jawaban kami :

  1. Kami tidak tahu darimana sumber yang mengatakan bahwa Bung Hatta mau membuat masjid tandingan di Kwitang Jakarta (atau mungkin kami yang bodoh karena kurang tahu informasi ini ? ). Tapi seumur-umur kami mengaji di Kwitang, tidak pernah kami mendengar hal yang satu ini. Kami mengaji di Kwitang sejak tahun 1989 dan sampai sekarang (2016) sama sekali tidak pernah mendengar berita kalau Bung Hatta mau membuat masjid di Kwitang apalagi untuk sebuah persaingan (aneh…..), Sejak masa Habib Muhammad Al Habsyi dan anaknya Habib Abdurrahman Al Habsyi  bahkan hingga yang sekarang yaitu Habib Ali Al Habsyi kami tidak pernah mendengar riwayat ini. Begitupun dari Habib-habib yang lain seperti Al Marhum Habib Muhammad Al Baqir Al Attas dari Kebun Nanas, Al Marhum Habib Fuad Al Habsyi, Al Marhum Habib Novel bin Salim bin Jindan, Al Marhum Habib Abdullah bin Husein Syami Al Attas, para Kyai seperti Al Marhum KH Abdullah Syafi’i, Al Marhum KH Thohir Rohili, Habib Ali bin Abdurrahman Assegaf, Habib Husein bin Ali Al Attas, dan yang lain-lain sama sekali kami belum pernah  mendengar cerita yang satu ini. Orangtua kami yang pernah lama tinggal di tanah tinggi saja tidak pernah menceritakan hal yang satu ini, kebetulan orangtua kami adalah orang yang faham sejarah tentang daerah seputar Kwitang, Kenari, Senen, Tanah Tinggi, Cikini, dan sekitarnya.

Kalau dikatakan Bung Hatta pertama kali datang ke Jakarta lantas mau membuat Masjid Tandingan, lha ini malah lebih aneh, sebab Bung Hatta itu datang ke Jakarta tahun 1932  dan  pada tahun ini pula beliau kemudian di penjara, kemudian pada bulan Desember ditahun yang sama Hatta lebih banyak sibuk berpolemik dengan Bung Karno. Pada bulan Februari tahun 1933 Hatta justru berangkat ke Jepang dan di sana Hatta mendapat julukan “Gandi Of Java”. Pada bulan Mei 1933 Hatta ditangkap bersama dengan pamannya yang bernama Mak Etek Ayub Rais (Zulkifli, dkk, 2015 : 25 – 26). Pada tahun 1934, selama tujuh bulan Hatta juga pernah ditangkap dan  dipenjara  di Glodok karena dianggap makar oleh Belanda (Zulkfili, dkk, 2015 : 76) sehingga nyaris kehidupan dan aktifitasnya lebih banyak berjuang dan pindah dari satu penjara ke penjara lainnya. Selanjutnya pada tahun 1935 – 1942 Hatta kemudian dibuang atau diasingkan ke Digul (kini menjadi Tanah Merah Papua) dan Banda Naira (Lihat di Pengantar Taufik Abdullah, 1998 : xxvii). Jelaslah antara tahun 1932 s/d 1942 Bung Hatta lebih banyak berada di Penjara ketimbang diluar. Sudah jelas konsentrasi beliau lebih banyak ke perjuangan politik dan pergerakan. Adanya fakta ini mementahkan tuduhan kalau Bung Hatta  ingin membuat masjid di Kwitang, karena bagaimana mungkin mau menyaingi masjid Kwitang,  masjid Kwitang atau Masjid Arriyad saja saja baru didirikan pada tahun 1356 Hijriah atau tahun 1938 Masehi saat Bung Hatta sudah berada di Banda Naira. Sedangkan pada tahun 1932 M saat Bung Hatta datang ke Jakarta,  masjid tersebut belum ada sama sekali !  yang ada adalah Madrasah Unwanul Falah yang memang sudah eksis dalam bidang pendidikan sejak tahun 1920. (lihat di Mauladawilah, Abdul Qodir Umar, 2011 : 150 – 157).

Tuduhan bahwa Bung Hatta mau membangun masjid untuk menyaingi masjid Kwitang jelas sangat tidak sesuai dengan kronologis tahun yang ada. Sumber  data yang mendeskriditkan Bung Hatta ini patutlah dipertanyakan dari mana asalnya, kalau sumber tersebut asalnya dari Belanda, sudah jelas validitasnya wajib dipertanyakan karena seperti biasa Belanda ini sangat senang melakukan pembunuhan karakter tokoh-tokoh bangsa Indonesia yang mengancam kedudukannya. De vide Et Impera selalu mereka gunakan termasuk penyelewengan informasi. Kalau  misalnya data tersebut berasal dari kalangan kiri, wah itu juga  kami pertanyakan lagi kualitas datanya, kalau dari fihak keluarga Habib Ali Kwitang sendiri, mohon maaf kami sangat meragukannya mengingat Keluarga Besar Habib Ali Kwitang dakwahnya terkenal sangat santun dan mengedepankan akhlak dalam melakukan dakwah dan komunikasi dengan tokoh-tokoh politik saat itu, jadi tidak mungkin keluarga besar beliau mengumbar umbar cerita yang seperti ini. Kalau ada tuduhan Bung Hatta tidak mau sowan ke Habib Ali Kwitang, lha bagaimana mau sowan, kalau belum apa-apa sudah ditangkap dan dipenjara, bagaimana mau sowan kalau setiap gerak geriknya selalu diawasi secara ketat oleh Belanda. Tidak sowannya Bung Hatta ke Habib Ali Kwitang itu bukan karena tidak hormat sama ulama, tapi itu semata karena keadaan yang tidak memungkinkan. Habib Ali Kwitang juga tentu sudah mengetahui bagaimana kondisi Bung Hatta yang memang selalu sulit untuk bergerak kesana kemari, apalagi Habib Ali juga terkenal sangat peduli terhadap perjuangan pemuda pejuang seperti Bung Hatta ini, jadi jangan buru-buru menuduh kalau tidak Sowannya Bung Hatta lantaran sombong atau tidak punya adab kepada Habib Ali Al Habsyi, terlalu picik kalau ada anggapan seperti ini. Bung Hatta adalah keturunan dari  beberapa ulama yang juga mursyid dan Waliyullah, dan beliau juga  mempunyai dasar pendidikan agama yang kuat, jadi sangat tidak mungkin beliau bertindak gegabah seperti itu. Sekalipun beliau 11 tahun belajar di Belanda, namun sejarah membuktikan Bung Hatta tetaplah Bung Hatta, keimananannya tidak luntur walaupun belajar di negeri orang kafir Belanda.

  1.    2.. Bung Hatta dituduh sebagai antek Wahabi. Menurut kami ini adalah tuduhan yang cukup kasar dan tidak sopan. Kami tidak ingin masuk dalam perdebatan tentang Wahabi, karena perdebatan tentang ini sudah banyak terjadi. Yang ingin kami luruskan disini adalah pernyataan tersebut.

Setahu kami Bung Hatta tidaklah seperti yang digambarkan tersebut, bagaimana mungkin beliau seorang Wahabi jika dalam hidupnya saja dia sering berziarah ke makam leluhurnya. Semasa menjadi Wakil Presiden, Bung Hatta sering berziarah sambil berdoa di sisi makam ayahnya  (Zulkifli, dkk, 2015 : 16), bahkan semasa masih menjadi Wakil Presiden dan pensiunpun kebiasaan berziarah beliau masih sering dilakukan terutama pada saat ke makam pamannya (Zulkifli, dkk, 2015 : 25 – 26). Ini saja sudah menggugurkan pendapat kalau beliau seorang Wahabi, karena seperti yang kita ketahui bahwa Ajaran Syekh Muhammad bin Abdul Wahab sangat melarang keras yang namanya ziarah kubur. Kalau Hatta seorang Wahabi tulen tentu beliau akan memerintahkan orang-orang bawahannya menghancurkan makam para leluhurnya yang dibangun secara permanen bahkan dibuat dengan memakai gubah, sebuah hal yang sangat tabu bagi penganut ajaran Syekh Muhammad bin Abdul Wahab. Makam Bung Hatta sendiri sampai sekarang dibangun dengan cara permanen.

Dalam faham keagamaan sepertinya adanya anggapan bahwa beliau seorang Wahabi patut dipertanyakan, karena keluarga Bung Hatta adalah keluarga yang menganut ajaran Thoriqoh, terutama Thoriqoh Naqsabandiyah. Bung Hatta adalah keturunan dari ulama besar yang bernama Syekh Muhammad Jamil bin Syekh Batuhampar (Alam, Wawan Tunggul, 2003 : 4) . Syekh Batuhampar pada masanya dikenal sebagai ulama besar di Sumatra Barat. Siapapun mereka yang berasal dari Sumatra Barat terutama mereka yang menggeluti dunia Thoriqoh pasti mengenal dari kakek Bung Hatta ini. Kakek Bung Hatta adalah ulama Karismatik sekelas dengan Mbah Kholil Bangkalan, Kyai Hasyim Asy’ari, Syekh Arsyad Al Banjari, Syekh Junaid Al-Batawi, Habib Ali Kwitang, Syekh Ahmad Khatib Al-Minangkabawi, Syekh Nawawi Banten, Syekh Mahfud Tremas, Syekh Burhanuddin Ulakan, Syekh Abdul Wahab Rokan dan beberapa ulama karismatik Nusantara lainnya.

Menurut Bung Hatta salah satu ajaran dari kakeknya yang masih diingat adalah bahwa bahwa beliau memperingatkan bahwa bagi mereka yang ingin masuk ke jalan tarekat harus dari mereka yang yang sudah cukup pengetahuan agamanya. Ajaran  tarekat adalah pengunci didikan agama. Jalan Tarekat adalah bertangga naik, tidak dapat dilalui dengan meloncat-loncat. Untuk masuk ke dalam Tarekat, orang harus Insyaf benar bahwa dalam agama tidak ada paksaan (La Ikraha Fiddin). Jalan ke Tuhan ialah meyakinkan orang lain dan dimulai dengan meyakinkan diri sendiri. Menurut Bung Hatta begitu besar pengaruh kakeknya, beliau dapat mendamaikan apa yang selalu terasa bertentangan di Minangkabau antara hukum Islam dan hukum adat, terutama yang mengenai harta pusaka.Syekh Abdurrahman inilah yang mampu melaksanakan apa yang menjadi pepatah di Minangkabau : “adat bersendi syara, syara bersendi adat” (Hatta, Muhammad, 2011 : 21).

Jika dilihat guru-guru agama  Bung Hatta sendiri memang harus diakui sebagian mereka telah mendapat pengaruh pemikiran modern, tapi jika disangkut pautkan dengan gerakan Syekh Muhammad Abdul Wahab rasa-rasanya tidak seluruhnya benar, karena guru agama Hatta sendiri lebih banyak bergurunya kepada Syekh Ahmad Khotib Al Minangkabawi yang jelas-jelas merupakan Guru Besar Mazhab Syafi’I di Masjidl Haram pada waktu itu. Kedua Guru Hatta yaitu Syekh Muhammad Jamil Jambek dan DR. Abdullah Ahmad adalah lulusan Mekkah sebelum masuknya era Ibnu Saud di tahun 1924. Syekh Muhammad Jamil Djambek bahkan terkenal sebagai ahli falak dan beliau masih sering merayakan maulid Nabi sekalipun nanti syairnya dirubah dengan bahasa melayu. DR. Abdullah Ahmad adalah pendiri sekolah Adabiah, sekolah yang berbasiskan modern. Sebelum tahun ini seperti diketahui Mekkah banyak bertaburan mazhab-mazhab, dan sebagian besar Mahasiswa Indonesia lebih banyak memilih guru yang berasal dari Indonesia seperti Syekh Ahmad Khotib Al Minangkabawi. Kedua guru Hatta ini terkenal sebagai  pembaharu dalam bidang pendidikan dan pemikiran, dan mereka lebih banyak dipengaruhi pemikiran-pemikiran yang berkembang di Mesir, oleh sebab itu sangatlah tidak relevan jika Hatta dianggap sebagai pengikut ajaran Syekh Muhammad bin Abdul Wahab.

  1.   3. Bung Hatta dituduh anti Kyai. Lho Kyai yang mana ? aneh…setahu kami Hatta adalah tipikal sosok yang sangat terbuka dan ramah pada semua golongan, kalau dengan golongan kiri saja dia masih membina hubungan politik yang baik apalagi kepada golongan kanan. Bung Hatta lahir dari keluarga ulama dan dididik dengan modal keagamaan yang baik, apa mungkin dia menjadi seorang pembenci Kyai ? Kalau dia membenci kyai tidak mungkin beliau bias berhubungan baik dengan KH Wahid Hasyim.

Untuk memperkuat jika hubungan Bung Hatta dengan kyai baik, ini pernah terjadi pada keluarga KH Wahid Hasyim. Rumah keluarga KH Wahid Hasyim yang ada di Matraman sejak dahulu sering didatangi para Kyai NU dan Kyai-kyai lain dan disitu juga terdapat keberadaan Bung Hatta.  Dalam lintasan sejarah, pada tahun 1944  Gus Dur yang merupakan putra sulung KH Wahid Hasyim,  diajak ayahnya ke Jakarta, pada masa itu mereka tinggal di Menteng, Jakarta Pusat yang saat itu merupakan daerah yang diminati oleh pengusaha terkemuka, para profesional, dan politikus. Dengan berdiam di daerah Menteng, KH Wahid Hasyim dan putranya ini berada di pusat kegiatan. Misalnya ketika mereka melaksanakan ibadah sholat di Masjid Matraman yang letaknya tidak begitu jauh, mereka secara teratur dapat bertemu dengan pemimpin-pemimpin nasionalis seperti Muhammad Hatta (Lihat di Barton, Greg,  2006 : 37).

KH Wahid Hasyim adalah ulama karismatik NU pada waktu itu, sangat tidak mungkin Bung Hatta tidak menjadikan beliau sebagai rekan perjuangan. Disamping itu sangat tidak masuk akal Hatta benci kepada Kyai, sedangkan Bung Hatta adalah penasehat Masjid Matraman yang sejak dulu terkenal sebagai gudangnya para Kyai yang ada di Jakarta. Sepengetahuan kami, nama Bung Hatta cukup harum di mata Kyai-kyai Jakarta. Begitu juga hubungan dengan Kyai luar Jakarta, komunikasinya Hatta juga cukup baik. Kami sangat mengetahui betul bagaimana seorang Bung Hatta di lingkungan Masjid Matraman, karena kebetulan kami lahir dan besar di lingkungan masjid ini, jadi kami tahu betul bagaiimana akhlak seorang Bung Hatta ini.

  1. 4. Bung Hatta dituduh anti Tradisi ? Tradisi yang mana ? Setahu kami Bung Hatta justru sangat mendukung tradisi keislaman yang ada. Ini perlu saya tegaskan karena beliau ini merupakan penasehat Masjid Jami Matraman yang terkenal akan wajah Islam Ahlussunnah Wal Jama’ah. Siapapun mereka yang pernah dating ke masjid akan merasakan benar wajah Islam yang penuh dengan tradisi. Di Masjid ini sering diadakan Maulid Nabi sejak masa  Bung Hatta menjadi Wakil Presiden dan pensiun. Selain Maulid, ada juga Isra’ Mi’raj, Yassinan, 1 Muharram, peringatan Nuzulul Qur’an. Tata cara sholat Jumat pun jelas-jelas merupakan cara yang identik dengan faham Ahlussunnah Wal Jama’ah. Mengenai tuduhan kalau Bung Hatta anti tradisi dan wajah keislamannya yang digambarkan beku, telah dibantah  Gus Dur, Gu Dur bahkan menulis, bawah tokoh Bung Hatta ini dulunya agak disalahpahami oleh gerakan keagamaan islam karena penolakannya yang tegas terhadap gagasan negara teokratis. Bung Hatta bukan bagian dari perjuangan kita, begitulah kira-kira jalan pikiran berbagai macam gerakan itu. Akan tetapi di akhir hayatnya, Bung Hatta justru menjadi contoh dari seorang muslim tulen. Setiap jumat selalu datang terdahulu, langsung menuju tempat yang sama di baris pertama. Mobil bernomor B-17845 menjadi penghias halaman masjid Matraman Jakarta secara tetap selama tigapuluh tahun. Kesantrianan Bung Hatta yang penuh dengan jadwal waktu tetap untuk beribadat kepada Allah dijadikan contoh yang ditularkan dari mulut kemulut, dari guru kemurid. Tidak peduli besarnya perbedaan jalan pikiran masyarakat yang memenuhi masjid itu dengan jalan pikiran Bung Hatta sendiri. Kalau ada yang tidak setuju dengan kerasnya pengeras suara yang mengumandangkan suara adzandari masjid tersebut, mungkin Bung Hattalah orang yang pertama akan bersikap demikian. Tetapi sikapnya untuk berdiam diri di hadapan kenyataan seperti itu justru dihargai orang di lingkungan itu; pinter ngemong, kata orang jawa. Kearifan orang yang telah menemukan hubungannya sendiri dengan Tuhannya, tidak terganggu dengan manisfestasike hidupan beragama orang banyak di sekitar (Lihat di Wahid, Abdurrahman, 1999 : 119 – 120). Bagi yang meragukan hal ini sekali-kali datanglah ke Masjid Jami’ Matraman, lihatlah wajah keislaman yang dijalankan pada masjid ini agar nanti pandangan anda kepada Bung Hatta tidak salah.

Dimata cucu Syekh Muhammad Jamil Djambek, Hatta bahkan dikenal sebagai sosok yang sangat religius, bahkan dalam sebuah pidato kebudayaan di Jakarta tahun 2002, penampilan Bung Hatta digambarkan oleh Nurcholis Madjid sebagai sosok seorang sufi, memiliki ketulus ikhlasan, semua ini tidak lepas dari latar belakang keluarganya, dia adalah putra seorang guru mursyid  sebuah gerakan sufi di Sumatra Barat (Zulkifli, Arif, dkk, 2015 : 16 – 18). Begitu sangat terjaganya “akidahnya” Bung Hatta bahkan pernah menolal menjadi anggota Theosofi di Batavia (Organisasi Kebatinan Yang Didirkan Ningrat Berdarah Rusia (Helena Petrova Blavostsy)

  1.   5.. Bung Hatta dituduh telah memerintahkan Jenderal  Sudirman  untuk membunuh tahanan politik ? Benarkah Bung Hatta yang kita kenal sangat religiuus telah memerintahkan  Pak Dirman untuk membunuh tawanan politik yang tidak sefaham dengan pemerintah ? siapa yang dimaksud ? Tan Malaka atau Amir Syarifuddin ? kalau kedua tokoh yang dimaksud, ketahuilah bahwa kedua tokoh “kiri” ini mengalami kematiannya karena situasi lapangan yang saat itu  memang kondisinya sulit untuk dikontrol, apalagi ditengah kondisi bangsa yang sedang berkecamuk. Kematian kedua tokoh tersebut sampai sekarang bahkan masih menjadi tanda tanya, apakah karena “inisiatif” dari eksekutor lapangan atau memang perintah dari “atas”.

Kita perlu tahu, bahwa Bung Hatta adalah sosok yang sangat membenci kekerasan dan darah (Zulkifli, Arif, dkk, 2015 : 51), jadi kalau beliau memerintahkan Pak Dirman untuk membunuh tawanan politik ini adalah hal yang aneh, sekalipun jabatan beliau saat itu sangat mendukung.

  1. Bung Hatta dituduh memecat semua Tentara  yang tidak punya ijazah dalam program Re Ra?  Program yang satu ini sering memberikan kesan yang multi tafsir.  Dan untuk memberikan jawaban yang jernih tentu kita membutuhkan sebuah sumber yang merasakan dan mengikuti hal tersebut. Mengenai Re Ra atau REKONSTRUKSI DAN RASIONALISASI militer pada saat itu Jenderal Abdul Haris Nasution menulis, masalah ini adalah sebuah masalah yang cukup gawat (rawan) karena menjadi sering dipolitisir, masalah ini sebenarnya telah dimulai sejak  sebelum ditandatanganinya “Perjanjian Renvile”. Demikianlah hal itu dilakukan pada bulan Desember 1947 dan Januari 1948 oleh BPKNIP di Jogyakarta  yang telah menerima suatu mosi mengenai susunan Pertahanan Negara atau Angkatan Perang RI. Kemudian mosi itu terkenal setelah ditetapkan dengan Undang-Undang No.3 Tahun 1948. Adapun pokok dari mosi yang diterima BKNIP tersebut antara lain : “Bahwa ditempatkannya Angkatan Perang dibawah kekuasaan Menteri Pertahanan dan ditetapkan bertanggung jawab penuh juga dibidang organisasi, administrasi, perlengkapan persenjataan, kwalitas seluruh Angkatan Perang Politik Pertahanan dan siasat militer Angkatan Perang dan pimpinan Menteri Pertahanan atas kementerian pertahahan serta angkatan perang selalku suatu kesatuan yang erat”.

Perlu diketahui, menurut Jenderal Nasution mosi Rasionalisasi dan Rekonstruksi TNI muncul dari Baharuddin yang merupakan golongan kiri yang kemudian diterima oleh Pemerintah dan Menteri Pertahanan, Aruji Kartawinata,dan menurut Bung Karno dengan Rasionalisasi dan Rekonstruksi haruslah diciptkan satu kesatuan tentara dibawah satu komando, Pertahanan harus pertahanan rakyat, bukan pertahanan partai.

Betapapun demikian menurut Nasution banyak muncul pendapat masyarakat mengenai Re Ra ini yang “seolah-olah” akan memecah pimpinan Angkatan Perang RI. Dan dengan demikian timbul pula pendapat yang mengatakan “ada dua garis Komando”, akan timbul bermacam macam organisasi pasukan, bahkan sampai pada anggapan bahwa konsepsi tersebut akan memecah dan melemahkan potensi Angkatan Perang RI, bahkan sampai ada yang menghubungkan dengan konsepsi yang dihubungkan dengan konsep Pemerintah Belanda yaitu konsepsi Tentara Federal.

Adanya berbagai pendapat tersebut menurut Nasution  karena masyarakat saat itu tidak kompak, masing-masing  orang, golongan, partai menafsirkan setiap kejadian atau peristiwa sesuai dengan kemauan dan kebutuhan kepentingannya sendiri atau kepentingan golongannya sendiri.

Demikianlah mereka (orang/golongan/partai) menafsirkannya untuk menempatkan /meletakkan kepentingannya diatas kepentingan orang banyak (Negara). Dan mereka lupa atau tidak mengindahkan bahwa  “kepentingan orang banyak atau Negarta adalah diatas segala galanya”. (Lihat semuanya di Djenderal Nasution, 1966 : 122 – 123).

Jelaslah adanya tuduhan kepada Bung Hatta yang memecat tentara karena tidak punya ijazah tidak benar ! ini jelas kekeliruan dalam penafsiran peristiwa seperti yang diuraikan oleh Djenderal Abdul  Nasution, lagipula menurut kami sangatlah wajar jika diadakan RE RA, mengingat garis komando saat itu belum merata, bisa dibayangkan sebuah pasukan tidak memiliki garis komando yang jelas. Adanya Re Ra juga demi untuk menciptakan militer yang lebih professional dan tangguh, selama ini harus diakui profesionalitas militer masih “merangkak” dibandingkan dengan militer dari Negara lain. Kalaupun saat itu banyak Tentara yang tereliminir itu adalah seleksi alam, bukan karena Bung Hatta. Harus juga difahami mereka yang banyak bertempur pada masa kemerdekaan itu banyak yang berasal dari kalangan sipil, mereka ikut berperang karena panggilan jiwa dan bangsa, contohnya Hizbullah. Diantara pasukan yang terleminir memang Hizbullah inilah yang terbanyak, tapi sakit hatikah mereka ? kami rasa tidak ! buktinya para pemimpinnya setelah pasca perang banyak yang kembali kepada kehidupannya yang semula seperti KH Noer Ali yang kemudian membuka Pondok Pesantren At Takwa, KH Raden Abdullah Bin Nuh yang kemudian mendirikan majelis Al Ihya, KH Yusuf Hasyim yang lebih memilih mengelola Pesantren Tebu Ireng, KH Soetalaksana, KH Pardjaman, KH Sholeh Iskandar,  KH Rusad Nurdin, KH Syam’oen, KH Ahmad Chatib. Para Pejuang Perang kembali kedunianya tanpa menuntut  tanda jasa, kembali berjuang membina pesantrennya atau lembaga pendidikan lainnya (Suryanagara, 2014 : 295). Seharusnya semua faham siapa yang  awalnya punya “misi khusus” dan ngotot terhadap Re Ra ini, justru yang kemudian berhasil menyapu bersih pengaruh “kiri” di Angkatan Perang adalah Bung Hatta. Kalangan “kiri” inilah yang berkeinginan kuat untuk merongrong kedudukan Panglima Besar Sudirman atau memperlemah Tentara dengan cara apapun. Sedangkan Bung Hatta justru mampu membuat militer berkembang lebih baik. Kalau memang tidak baik, sudah tentu Jenderal Nasution pasti sudah menulisnya.

Kalau kita mau membaca isi Pidato Bung Hatta tentang Re Ra ini maka kita akan mengetahui bagaimana cerdasnya Bung Hatta dalam menangani kasus yang satu ini. Tidak mudah untuk mengatur militer apalagi dalam kondisi yang serba rumit pada saat itu. Kecerdasan dan kebijaksanaan Hatta terlihat pada pidato yang tertulis, “bahwa Pemerintah saat itu tetap menghargai para pemuda  yang  telah ikut dalam perjuangan tentara, tidak melupakan apa yang telah mereka korbankan untuk mempertahankan Negara dan tanah air. Hanya saja pemerintah mau menegaskan bahwa jasa pemuda yang begitu bersemangat, tidak hanya terletak pada pertempuran semata, tetapi juga dalam upaya untuk membangun Negara”. Bung Hatta seperti sangat khawatir akan kesalahan persepsi para pemuda akibat Re Ra ini, apalagi gerakan anti Re Ra pada saat itu banyak bermunculan dan kondisi ini tentu bisa dimanfaatkan oleh oknum yang mempunyai pemahaman yang salah akan Negara saat itu (Muhammad Hatta, 1981 : 206 – 208). Bagi kami terlalu dangkal tuduhan yang mengatakan “dipecatnya” para tentara karena tidak punya ijazah, karena terbukti banyak yang pendidikannya rendah bisa juga menjadi anggota TNI. Cobalah pula lihat bagaimana keadaan kondisi kas Negara yang pada waktu itu yang memang cukup sulit untuk membiayai Angkatan Perang yang memang jumlahnya cukup banyak. Sudah jelas langkah Re Ra adalah sebuah solusi yang harus segera dilakukan. Jelas Bung Hatta malah kami anggap berjasa dan cerdas karena telah berhasil mereformasi kekuatan militer yang lebih efektif dan efesien.

Pengakuan akan jasa Bung Hatta terhadap TNI bahkan ditegaskan oleh Pak Nas, disamping Presiden Soekarno, Panglima Besar Sudirman, Jenderal Urip Sumoharjo. Bung Hatta bersama 3 tokoh tersebut  adalah yang pertama-tama menanamkan politik dan idiologi tentara. Sebagai Perdana Menteri dan Menteri Pertahanan pada tahun 1948 Bung Hatta telah memberikan pegangan pada para Panglima Divisi, Komandan Brigade, Komandan Resimen yang dikumpulkan oleh Panglima Besar Sudirman beretmpat di Rindam Magelang, kepada para Pimpinan TNI waktu itu Bung Hatta secara terperinci dan gambling mengingatkan tentang mukadimah UUD 45 yang harus  selalu menjiwai TNI. Kalau Bung Karno menanamkan Pancasila dan UUD 45 sebagai politik tentara, Panglima Besar menanamkan jiwa Tentara yang tak kenal menyerah, Jenderal Urip mengingatkan rakyat keseluruhan sebagai kekuatan tentara, maka Bung Hatta meresapkan  kepada kita mukadimah  UUD 45 (Yayasan Idayu, 1980 : 238 – 239).

Demikianlah jawaban yang bisa kami berikan terhadap beberapa pandangan “miring’ yang dilontarkan kepada sosok Proklamator yang sederhana dan merakyat ini. Kami tidak menyalahkan kepada mereka mereka yang mempunyai tafsir lain mengenai Bung Hatta, tapi paling tidak sebelum kita memberikan sebuah interpretasi sejarah, ada baiknya kita mempelajari secara utuh dan seimbang mengenai seluk beluk seorang tokoh….Bung Hatta adalah tokoh besar yang sudah berjasa pada negeri ini, sepak terjangnya, kesetiannya, kedisplinanannya, perjuangannya sangat pantas kita hormati. Tidak pantas rasanya kita yang telah merasakan hasil kemerdekaan ini, tiba-tiba mencari kesalahan beliau hanya karena interpretasi yang terburu-buru.

Wallahu A’lam bisshowab…

Daftar Pustaka :

Alam, Wawan Tunggul. Pertentangan Soekarno Hatta, Jakarta : Penerbit Gramedia Pustaka Media, 2003.

Barton, Greg. Biografi Gus Dur (The Authorized Biography Of Abdurrahman Wahid), Yogyakarta : LKIS, Cet 8, 2006,.

Hatta, Muhammad. Bukit Tinggi – Roterdam Lewat Betawi, Sebuah Otobiografi, Jakarta : Kompas, Cet IV, 2011.

Hatta, Muhammad. Kumpulan Pidato Muhammad Hatta, Jakarta : Yayasan Idayu, 1981.

LP3ES, Karya Lengkap Bung Hatta, Jakarta : LP3ES,  Cet 1, 1998.

Mauladawilah, Abdul Qodir Umar. 17 Habaib Berpengaruh di Indonesia, Malang : Pustaka  Bayan, Cet VIII, 2011.

Nasution, AH, DR. Sedjarah Perjuangan Nasional Di Bidang Bersenjata, Djakarta : Mega Bookstore.

Suryanegara, Ahmad Mansur. Api Sejarah 2, Bandung : Salamadani, 2014.

Wahid, Abdurrahman. Tuhan Tidak Perlu Dibela, Yogyakarta :  LKIS, 1999.

Yayasan Idayu, Bung Hatta Kita Dalam Pandangan Masyarakat, Jakarta : Yayasan Idayu, 1980.

Zulkifli, Arif, dkk. Hatta, Jejak Yang Melampaui Zaman, Jakarta : KPG, Cet Ke IV, 2015.

 

Diposkan oleh ikrafaalfattah di 19.23

05
Mar
17

ATSI ITB 1968 : Politik Kemakmuran Persada Indonesia

Politik

Suara Warga: Politik Kemakmuran Persada Indonesia

Pandji R Hadinoto/Foto nusantaranews (Istimewa)

NUSANTARANEWS.CO, Jakarta – Alumni Sipil Institut Teknologi Bandung Angkatan 1968 (ALSI-ITB 1968), Pandji R Hadinoto‎, menilai idealitas kemakmuran persada/bumi Indonesia dapat diketahui dari kearifan lokal. Sebagaimana sebuah ungkapan “Mamuyu Hayuning Bawono” yang artinya mengelola, menjaga dan melestarikan alam semesta untuk kepentingan kesejahteraan seluruh penghuni alam semesta termasuk manusia.

Adapun Allah SWT dalam Al-Qur’an Surat Huud (11) : 61 berfirman “Dia telah menciptakan kamu dari bumi (tanah) dan menjadikan kamu memakmurkannya”. Juga dalam QS Asy-Syura (26) : 183 “Dan janganlah kamu merugikan manusia pada hak-haknya, dan janganlah kamu merajalela dimuka bumi dengan membuat kerusakan”, serta QS Al-A’raf (7) : 56* ‘Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi, sesudah Allah memperbaikinya”.

“Oleh karena itulah, sebagaimana diungkap oleh kolega kami dari ALSI-ITB 1968, Jalan Ganesha No 10 Bandung) tentang rekaman video ikhwal apungan sampah/limbah ulah manusia yang banyak, masif dan panjang terus menerus mengalir di anak sungai yang bertemu ke sungai Citarum, menggugah kami memberikan Advokasi Sosial Teknik (AdSosTek) kepada masayarakat,” kata Pandji di Jakarta, Sabtu (4/3/2017).

AdSosTek tersebut, tambah Pandji, sebagai amalan anak bangsa kepada negarabangsa dalam rangka Home Coming 50 Tahun ALSI-ITB 1968 pada tahun 2018 yang akan datang, sebagai berikut:

Pertama, bahwa Gerakan Rakyat Pedesaan Daerah Aliran Sungai (GeRakDesa DAS) penting didayagunakan berbasis swakarsa seoptimal mungkin dalam turut serta peduli lingkungan hidup terkendali baik dari udik ke hilir sungai bagi kepentingan Kemakmuran Persada/Bumi setempat

Kedua bahwa langkah taktis GeRakDesa DAS adalah pengoperasian jaring2 sekat terkonstruksi sedemikian rupa sebagai penghambat/penangkal apungan sampah2 sungai ulah manusia itu sekaligus berperan sebagai sumber pengepul sampah2 bernilai ekonomis‎ (peran ganda).

Ketiga, bahwa peran pembinaan/pendampingan kelembagaan kewirausahaan pedesaan oleh PemDes/PemKab/PemKot/PemDa melalui BUMDes adalah strategis bagi pendayagunaan sumber2 ekonomis pedesaan DAS dalam hal ini pemanfaatan sampah2 terpilih/terpilah organik non organik termasuk pengorganisasian pemasaran ke pusat2 pengelolaan limbah ulah manusia‎ termaksud.

“Besar harapan kami, AdSosTek di atas dapat jadi jembatan solusi multi manfaat bagi idewalitas versus realitas dan kiranya disambut baik oleh para pemangku kepentingan ‎Kemakmuran Persada/Bumi di Indonesia mengingat bahwa perihal keterpeliharaan lingkungan hidup juga pada gilirannya merupakan nilai tambah kekayaan non migas NKRI bagi pertambahan sumber-sumber pemasukan devisa nasional, berdasarkan Gotong Royong Pancasila per Pembukaan UUD 1945 dan Bab XIV Kesejahteraan Sosial Batang Tubuh UUD 1945 (BRI Th II, 1946 jo LNRI No 75 Th 1959),” harap Pandji. (rep)

Editor: Sulaiman

pancasila-mercusuar-dunia_01

Politik Kemakmuran Persada Indonesia

ilustrasi / warkopanime.com

SHNet – IDEALITA Kemakmuran Persada/Bumi dikenali dari kearifan lokal sebagai ungkapan “Mamuyu Hayuning Bawono” yang artinya mengelola, menjaga dan melestarikan alam semesta untuk kepentingan kesejahteraan seluruh penghuni alam semesta termasuk manusia.

Adapun Allah SWT memfirmankan *QS Huud (11) : 61* “Dia telah menciptakan kamu dari bumi (tanah) dan menjadikan kamu memakmurkannya”, *QS Asy-Syura (26) : 183* “Dan janganlah kamu merugikan manusia pada hak-haknya, dan janganlah kamu merajalela dimuka bumi dengan membuat kerusakan” dan *QS Al-Ar\’fat (7) : 56* ‘Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi, sesudah Allah memperbaikinya”.

Oleh karena itulah, REALITA sebagaimana diungkap oleh kolega kami dari ALSI-ITB 1968 (Alumni Sipil Institut Teknologi Bandung Angkatan 1968, Jalan Ganesha No 10 Bandung) tentang rekaman video ikhwal apungan sampah/limbah ulah manusia yang banyak, masif dan panjang terus menerus mengalir di anak sungai yang bertemu ke sungai Citarum, menggugah kami memberikan *Advokasi Sosial Teknik (AdSosTek)* ini sebagai amalan anak bangsa kepada negarabangsa dalam rangka Home Coming 50 Tahun ALSI-ITB 1968 pada tahun 2018 yang akan datang, sebagai berikut :

PERTAMA bahwa Gerakan Rakyat Pedesaan Daerah Aliran Sungai (GeRakDesa DAS) penting didayagunakan berbasis swakarsa seoptimal mungkin dalam turut serta peduli lingkungan hidup terkendali baik dari udik ke hilir sungai bagi kepentingan Kemakmuran Persada/Bumi setempat

KEDUA bahwa langkah taktis GeRakDesa DAS adalah pengoperasian jaring2 sekat terkonstruksi sedemikian rupa sebagai penghambat/penangkal apungan sampah2 sungai ulah manusia itu sekaligus berperan sebagai sumber pengepul sampah2 bernilai ekonomis‎ (peran ganda).

KETIGA bahwa peran pembinaan/pendampingan kelembagaan kewirausahaan pedesaan oleh PemDes/PemKab/PemKot/PemDa melalui BUMDes adalah strategis bagi pendayagunaan sumber2 ekonomis pedesaan DAS dalam hal ini pemanfaatan sampah2 terpilih/terpilah organik non organik termasuk pengorganisasian pemasaran ke pusat2 pengelolaan limbah ulah manusia‎ termaksud.

Besar harapan kami  bahwa *AdSosTek* diatas dapat jadi *jembatan solusi multi manfaat* bagi IDEALITA versus REALITA dan kiranya disambut baik oleh para pemangku kepentingan ‎Kemakmuran Persada/Bumi di Indonesia mengingat bahwa perihal keterpeliharaan lingkungan hidup juga pada gilirannya merupakan nilai tambah kekayaan non migas NKRI bagi pertambahan sumber2 pemasukan devisa nasional, berdasarkan Gotong Royong Pancasila per Pembukaan UUD 1945 dan Bab XIV Kesejahteraan Sosial Batang Tubuh UUD 1945 [BRI Th II, 1946 jo LNRI No 75 Th 1959]

Jakarta, 5 Maret 2017

ALSI-ITB 1968,
Pandji R Hadinoto‎, AdSosTek
http://www.jakarta45.wordpress.com

Saatnya Revolusi Daulat Rakyat Kelola SDA dan Ekonomi …

obsessionnews.com › NasionalTranslate this page

Nov 29, 2015 – Jakarta, Obsessionnews – Demi Kehormatan Rakyat Indonesia kini saatnya … di bumi persada Indonesia yang de jure adalah milik rakyat Indonesia … oleh negara dan dipergunakan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat. … Kehormatan Rakyat Republik Indonesia) Dr Ir Pandji R Hadinoto MH, … Politik …

Dec 1, 2015 – Jakarta, Obsessionnews – Demi Kehormatan Rakyat Indonesia kini … bumi persada Indonesia yang de jure adalah milik rakyat Indonesia… … negara dan dipergunakan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat. … Kehormatan Rakyat Republik Indonesia) Dr Ir Pandji R Hadinoto MH, Minggu (29/11/2015).

Misi Lebih Besar – Pandji Pragiwaksono

pandji.com/misi-lebih-besar/

Apr 13, 2014 – Mimpi besar kami utk ubah politik Indonesia bisa dibaca di sini. Anies Baswedan & TurunTangan ikut konvensi karena konvensi adalah …

[PDF]intervensi kekuatan politik dan ekonomi dalam pelaksanaan hukum …

download.portalgaruda.org/article.php?article=114715&val…
by DANEDPH DAN – ‎Related articles

migas di Indonesia, globalisasi dan intervensi politik dan ekonomi dalam pembentukan hukum dan ….. persatuan dan keadilan (Panji R Hadinoto, 2005).

Mar 2, 2010 – Indonesia Digdaya Pandji R. Hadinoto, DHN45 (*) sumber … Jakarta, 1908) yang berlanjut menjadi Politik Kebangsaan Indonesia melalui Soempah …. daripada kemewahan tersebab semakin meratanya kemakmuran), dan … tempur kolonialis Portugis, Spanyol dan VOC di bumi persada Nusantara, dlsb.

[PDF]Daftar Isi – Jurnal Konstitusi – Mahkamah Konstitusi

Jun 16, 2011 – Negara Indonesia menegaskan bahwa setiap orang berhak … memuat materi-materi konstitusi yang hanya bersifat politik. Tradisi …… daya alam dimanfaatkan untuk sebesar-besarnya kemakmuran ….. Grafindo Persada, Jakarta, 1994. …… Pertamina selaku Pemohon V, dan Dr. Ir. Pandji R. Hadinoto, PE,.

Feb 1, 2010 – Constitutional Question (Antara Realitas Politik dan Implementasi. Hukumnya) ….. duduk PerkArA. Pemohon adalah perorangan Warga Negara Indonesia yang …… bangsa), SP KEP-FSPSI pertamina, Dr.Ir.Pandji R Hadinoto,PE.,MH., …. dipergunakan bagi sebesar besarnya kemakmuran bersama.



Blog Stats

  • 3,148,238 hits

Recent Comments

Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Sejarah : Bangsa Lemuria, Lelu…