PANCASILA MENURUT AJARAN AGAMA-AGAMA DI INDONESIA:

pancasila-mercusuar-dunia_01

Nilai-nilai Pancasila yang termaktub dalam Ajaran Agama Hindu.

Oleh: Ida Bagus Alit Wiratmaja SH MH,
Ketua Parisada Hindu Dharma Indonesia Provinsi Banten.

PENDAHULUAN.

Om Swastyastu,

Dalam rangka memenuhi program Penerbitan Buku oleh Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Provinsi Banten berdasarkan Surat nomor: 127/B/FKUB-2/VII/2017 tertanggal 31 Juli 2017, maka dengan ini kami sajikan materi nilai- nilai Pancasila menurut Ajaran Agama Hindu.
Membumikan Pancasila sebagai ideologi negara sangat mutlak dilakukan, karena dalam satu dekade terakhir ini, kehidupan berbangsa silih berganti diuji dengan berbagai peristiwa yang rentan mengancam kekokohan pondasi Pancasila sebagai falsafah negara.
Kami menyambut baik dan apresiasi yang tinggi kepada FKUB Banten yang sangat aktif dengan berbagai program dan tentunya kita harapkan dapat membumikan Pancasila sebagai falsafah hidup bangsa yang mengakomodasi kemajemukan, sebagai satu-satunya asas untuk menopang nilai-nilai kebhinekaan dan memperkuat NKRI.
Sebagaimana diketahui,secara etimologi kata Pancasila berasal dari bahasa Sansekerta yang dikutip dari kitab Negarakertagama yaitu “Pantjasyila”. Pantja yang berarti lima, sedangkan syila yang berarti sendi atau alas atau sebagai dasar.
Dalam pengertian lain, syila berarti tuntunan manusia dalam berprilaku yang baik.
Dengan demikian, Pantjasyila (Pancasila) pada waktu itu berarti lima dasar atau lima tuntunan kehidupan manusia.
Di negara kita, istilah Pancasila pertama kali ditemukan dalam buku Sutasoma karangan Mpu Tantular yang disusun pada jaman Kerajaan Majapahit (abad ke-14). Hal ini membuktikan bahwa Pancasila yang kita jadikan dasar negara sudah ada pada masa itu.
Dalam kitab Negarakertagama karangan Mpu Prapanca (1365) disebutkan di dalamnya terdapat istilah Pancasila, disini Pancasila diartikan sebagai lima perintah yang berisi lima tuntunan, sebagai berikut :
1. Dilarang melakukan kekerasan.
2. Dilarang mencuri.
3. Dilarang berjiwa dengki.
4. Dilarang berbohong.
5. Dilarang mabuk karena minuman keras.

Dalam kitab Negarakertagama yang disusun oleh Mpu Prapanca adalah merupakan sumber sejarah yang terpercaya, karena ditulis pada saat kerajaan Majapahit masih berdiri di bawah pemerintahan Sri Rajasanagara atau lebih dikenal dengan nama Prabu Hayam Wuruk.
Kitab ini menceritakan banyak hal penting diantaranya tentang silsilah raja-raja Majapahit,peran dari patih Gajahmada dengan Sumpah Palapa-nya, Candi Makam Raja, keadaaan kota raja, upacara Sradha, wilayah kerajaan Majapahit, negara-negara bawahan Majapahit dan berbagai hal bersejarah lainnya.
Semboyan “Bhinneka Tunggal Ika” yang ada pada pita yang dicengkram oleh burung Garuda, juga berasal dari Kitab Negarakertagama yang dikarang oleh Empu Prapanca pada zaman kekuasaan kerajaan Majapahit.
Pada satu kalimat yang termuat mengandung istilah “Bhinneka Tunggal Ika”, yang kalimatnya seperti begini: “Bhinneka tunggal Ika, tanhana dharma mangrwa“.
Sedangkan istilah Pancasila dimuat dalam Kitab Sutasoma yang disusun oleh Empu Tantular yang berisikan sejarah kerajaan bersaudara Singhasari dan Majapahit.
Istilah Pancasila ini muncul sebagai Pancasila Karma, yang isinya berupa lima tuntunan sebagaimana diuraikan di atas.
Pancasila kemudian menjadi dasar Negara kita setelah melalui proses pembahasan yang sangat bersejarah oleh para pendiri negara kita yang terdiri dari berbagai unsur Agama sepakat dengan komitment tinggi menyelamatkan NKRI dari penjajahan dan perpecahan.

NILAI-NILAI PANCASILA MENURUT AJARAN HINDU

Dalam kesempatan ini, kami menguraikan nilai-nilai Pancasila yang termaktub dalam ajaran Hindu, dimana sila-sila dalam Pancasila tersebut masing-masing sebagai tersebut di bawah ini:

1.Sila pertama: Ketuhanan yang Maha Esa. Tersirat dalam kitab Upanisad berbunyi: ”Isavasyam idam sarvam yat kinca jagatyam“. Artinya : Tuhan Yang Maha Esa
mengendalikan segala yang ada di dunia ini.
Selaras dengan nilai tatanan Hindu “Ekam Evam Adityam Brahman” yang secara luas dapat diartikan “Hanya ada satu Tuhan tidak ada yang kedua, meskipun orang bijaksana menyebutnya dengan banyak nama”. “Om Bhur Bwah Swah Tat Sawitur Warenyam, Bhargo Dewasya Dimahi, Dhyoyonam Prascodayat” yang secara luas dapat diartikan : “Ya Tuhan yang menguasai seluruh jagat raya, engkau adalah asal alam semesta dan satu satunya kekuasaan awal, engkau maha suci tiada ternoda, anugrahkanlah semangat dan kecerdasan pada pikiran kami. Demikianlah dapat dijelaskan secara singkat bahwa tatanan umat Hindu adalah tatanan yang meyakini Tuhan yang Maha Esa. Dengan demikian, sangatlah selaras antara Ideologi NKRI-Pancasila dengan nilai-nilai yang terkandung dalam tatanan umat Hindu.

2.Sila kedua: Kemanusiaan yang Adil dan Beradab. Dalam kitab Weda berbunyi ”Mitrasya ma caksusa sarvani bhutani samiksantam, mitrasyaham caksusa sarvani bhutani samiksa, mitrasya caksusa samiksa mahe“[dalam Yayur Veda XXXVI.18]. Artinya : Semoga semua manusia memandang kami dengan pandangan mata seorang sahabat. Semoga kami memandang semua manusia sebagai seorang sahabat. Semoga kami saling memandang dengan penuh persahabatan.

Selaras dengan nilai-nilai tatanan umat Hindu “Tat Twamasi” yang berarti “aku adalah kamu, kamu adalah aku”, yang secara luas dimaknai bahwa nilai-nilai tatanan umat Hindu sangat menghargai kesamaan derajat manusia sebagai makhluk ciptaan Tuhan yang Maha Esa. Jangankan terhadap sesama manusia ajaran “Tat Twamasi” tersebut bahkan mengajarkan lebih luas
untuk menghargai semua makhluk ciptaan Tuhan.

3.Sila ketiga: Persatuan Indonesia. Terdapat dalam kitab Weda yang berbunyi: ”Sam gacchadhvam sam vadadhvam sam vo manamsi janatam Deva bhagam yatha purve Samjanana upasate.”
Artinya :”Wahai manusia, berjalanlah kamu seiring, berbicara bersama dan berfikirlah kearah yang sama, seperti para Deva dahulu membagi tugas mereka, begitulah mestinya engkau menggunakan hakmu”.
Selaras dengan nilai-nilai tatanan masyarakat Hindu di Bali khususnya mengenal slogan “Selunglung Sabayantaka” yaitu berat sama dipikul, ringan sama dijingjing.
Begitulah nilai-nilai tatanan Agama Hindu memandang nilai persatuan . Persatuan dipandang sebagai rasa kebersamaan dalam suka maupun duka, kebersamaan dalam menjalani berat ringan suatu keadaan. Persatuan berarti persaudaraan. Bersatu dalam cipta, rasa dan karsa. Persatuan juga dipandang sebagai sistem dimana komponen-komponennya menjadi kesatuan yang utuh, dimana masing-masing komponen saling mendukung satu sama lain dalam mencapai tujuan bersama dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

4. Sila keempat: “kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan Perwakilan”. Dalam kitab suci Weda tertulis ”Samano mantrah samitih samani samanam manah saha cittam esam Samanam mantram abhi mantraye yah samanena vo havisa juhomi.”
Artinya Berkumpullah bersama berfikir kearah satu tujuan yang sama, seperti yang telah Aku gariskan. Bicaralah sesuai hatimu lalu satukan pikiranmu, agar engkau dapat mencapai tujuan hidup bersama dan bahagia.

Ada pula nilai-nilai yang disebut “Pesangkepan-Pesamuhan” dalam tatanan Agama Hindu yang berarti berkumpul dan bermusyawarah dalam suatu pertemuan. Sejarah tatanan Agama Hindu telah mengajarkan betapa luhurnya suatu keputusan yang dihasilkan oleh suatu musyawarah yang menghasilkan kesepakatan untuk kepentingan bersama, yang menghasilkan manfaat yang tak lekang oleh waktu dan berbagai keadaan. Umat Hindu memandang bahwa hasil musyawarahlah tatanan dalam ajaran Agama Hindu tetap lestari sampai saat ini. Salah satu yang kita kenal adalah hasil musyawarah bernama “Samuan Tiga” yang hingga saat ini terbukti menciptakan keteraturan dan kesejahteraan. Dengan demikian umat Hindu sangat memandang luhur dari musyawarah itu sendiri.

5.Sila kelima: “Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia”. Tersirat dalam kitab Upanisad berbunyi: “Yas tu sarvani bhutani atmanyevanupasyati sarva bhutesu catmanam tato na vijugupsate.” Artinya : Dia yang melihat semua makhluk pada dirinya (Atman) dan dirinya (Atman) sendiri pada semua makhluk, Dia tidak lagi melihat adanya sesuatu perbedaaan dengan yang lain.
Seperti adanya nilai-nilai yang mengutamakan keseimbangan yang disebut “Tri Hita Karana”, yaitu keselarasan dan keseimbangan hubungan antar manusia dengan manusia, manusia dengan alam, dan manusia dengan ajaran Ketuhanan. Keselarasan itulah dipandang sebagai pondasi keadilan. Keadilan dapat terwujud apabila terjadi saling mengerti dan saling memahami satu sama lain, sehingga akan berpengaruh terhadap perlakuan antara satu dengan yang lain. Perlakuan satu dengan yang lain yang dilandasi oleh saling memahami hak dan kewajiban. Itulah suatu keadilan yang didambakan oleh seluruh umat Hindu.

Dari uraian diatas mudah-mudahan dapat memberi pemahaman bahwa keselarasan nilai-nilai yang terkandung didalam Ideologi Negara Kesatuan Republik Indonesia dengan nilai-nilai yang terkandung dalam tatanan Agama Hindu sangat sejalan. Maka dari itu penting adanya “gerakan peduli budaya local atau local genius” untuk Indonesia yaitu sebuah gerakan yang peduli dan terus berkarya berlandaskan keyakinan terhadap keluhuran nilai-nilai budaya bangsa (hak asal-usul), sehingga “gerakan peduli budaya” dapat mendukung tegaknya NKRI yang ber-Ideologi Pancasila.

PANCA SRADHA

Beberapa ajaran lain yang berhubungan dengan Pancasila adalah tertuang dalam ajaran Tattwa (pengetahuan tentang filsafat agama), dimana di dalamnya diajarkan tentang “Sradha“ atau kepercayaan. Sradha dalam agama Hindu jumlahnya ada lima yang disebut “Panca Sradha “, atau lima keyakinan ummat Hindu.
Panca Sradha terdiri dari :

1. Brahman, artinya percaya akan adanya Sang Hyang Widhi;
2. Atman, artinya percaya akan adanya Sang Hyang Atman;
3. Karma, artinya percaya akan adanya hukum karma phala (hukum sebab akibat);
4. Samsara, artinya percaya akan adanya kelahiran kembali (reinkarnasi);
5. Moksa, artinya percaya akan adanya kebahagiaan abadi.

Untuk menciptakan kehidupan yang damai (shanti), seseorang wajib memiliki sradha yang mantap.
Seseorang yang sradhanya tidak mantap, maka hidupnya menjadi ragu, canggung, dan tidak tenang.

Dalam kesempatan ini, kami sedikit mempertegas Sila Pertama dalam Pancasila yaitu Ketuhanan Yang Maha Esa, dimana kami menyebut juga sebagai Brahman (Percaya akan adanya Hyang Widhi ).
Hyang Widhi adalah yang menakdirkan, maha kuasa, dan pencipta semua yang ada. Kami percaya bahwa Beliau ada, meresap di semua tempat dan mengatasi semuanya atau yang disebut “Wyapi Wyapaka Nirwikara“.

Di dalam kitab Brahman Sutra dinyatakan “Jan Ma Dhyasya Yatah“, artinya Hyang Widhi adalah asal mula dari semua yang ada di alam semesta ini. Dari pengertian tersebut bahwa Hyang Widhi adalah asal dari segala yang ada. Kata ini diartikan semua ciptaan, yaitu alam semesta beserta isinya termasuk Dewa – Dewa dan lain –lainnya berasal dan ada di dalam Hyang Widhi. Tidak ada sesuatu di luar diri Beliau. Penciptaan dan peleburan juga adalah kekuasaan Beliau.

Agama Hindu mengajarkan bahwa Hyang Widhi Esa adanya tidak ada duanya. Hal ini dinyatakan dalam beberapa kitab Weda antara lain :

Dalam Chandogya Upanishad dinyatakan : “Om tat Sat Ekam Ewa Adwityam Brahman“, artinya Hyang Widhi hanya satu tak ada duanya dan maha sempurna.

Dalam mantram Tri Sandhya tersebut juga kata – kata: “Eko Narayanad na Dwityo Sti Kscit“, artinya hanya satu Hyang Widhi dipanggil Narayana, sama sekali tidak ada duanya.

Dalam Kitab Suci Reg Weda disebutkan: “Om Ekam Sat Wiprah Bahuda Wadanti“, artinya Hyang Widhi itu hanya satu, tetapi para arif bijaksana menyebut dengan berbagai nama.

Dalam kekawin Sutasoma dinyatakan :
Bhineka Tunggal Ika Tan Hana Dharma Mangrwa artinya berbeda – beda tetapi satu, tak ada Hyang Widhi yang ke dua.

Dengan pernyataan – pernyataan di atas sangat jelas, umat Hindu bukan menganut Politheisme, melainkan mengakui dan percaya adanya satu Tuhan yaitu Hyang Widhi.

Hindu sangat lengkap, dan fleksibel. Tuhan dalam Hindu diinsafi dalam 3 aspek utama, yaitu Brahman (Yang tidak terpikirkan), Paramaatma (Berada di mana-mana dan meresapi segalanya),dan Bhagavan (artinya berwujud).

Atman (Percaya akan adanya Sang Hyang Atma).
Atma berasal dari Hyang Widhi yang memberikan hidup kepada semua makhluk.

Oleh sebab itu, Agama merupakan salah satu hak asasi manusia yang paling mendasar dan sangat sensitive, sehingga perlu mendapat kebebasan memilih dan memeluk agamanya masing-masing tanpa mendapat paksaan dari siapapun.
Interaksi antara masyarakat yang berbeda agama perlu dibina serta ditangani secara arif dan bijaksana agar tidak menimbulkan rasa ketersinggungan pemeluk agama yang satu dengan yang lainnya yang berbeda cara pelaksanaannya walaupun mempunyai tujuan yang sama yaitu mencapai kebahagiaan di dunia dan kemoksaan di akhirat.
Salah satu cara untuk merukunkan sesama umat beragama adalah dengan jalan musyawarah secara dialogis dan bertanggung jawab atas segala ucapan yang diikuti dengan tindakan yang konsekwen dan konsisten guna menghindari timbulnya permasalahan yang menjadi penyebab retaknya persatuan dan kesatuan bangsa. Demikian juga halnya senantiasa perlu dijaga dan dikembangkan kerjasama dan saling hormat menghormati
sesama umat beragama.

Lembaga yang bertugas untuk mengatur tata kehidupan beragama dalam sistem kehidupan berbangsa dan bernegara tidak hanya diserahkan kepada instansi dan lembaga yang formal saja melainkan seluruh masyarakat luas, termasuk semua komponen bangsa harus bertanggungjawab untuk melakukan pencegahan dan penanggulangan terhadap kerawanan-kerawanan yang timbul sebagai akibat pergaulan sesama umat beragama.
Krisis kerukunan hidup beragama merupakan suatu keadaan yang rawan dan gawat serta mengancam stabilitas nasional dan integritas bangsa sebagai akibat adanya konflik terbuka antara sesama umat beragama yang belum menyadari betapa pentingnya kerukunan umat beragama secara intern dan antar umat serta kerukunan antar umat beragama dengan pemerintah.

Setiap aspek yang dapat menimbulkan kerawanan yang mengarah kepada perpecahan serta dapat mengancam goyahnya persatuan dan kesatuan, perlu diantisipasi secara dini sehingga tetap tegaknya persatuan dan kesatuan bangsa dengan jalan mewujudkan kerukunan sesama umat beragama sesuai dengan nilai-nilai luhur yang terkandung dalam Pancasila.
Kita semua telah menyadari betapa pentingnya penghayatan dan pengamalan Pancasila itu sendiri sehingga kita memiliki mental dan moral yang kuat untuk bersama-sama menjaga keutuhan bangsa Indonesia yang berBhinneka Tunggal Ika mampu meningkatkan persatuan dan kesatuan bangsa, melaksanakan demokrasi untuk mewujudkan masyarakat madani yang aman, damai, sejahtera dan bahagia.

Dalam kaitannya dengan peningkatan ketaqwaan dan keimanan demi terwujudnya kerukunan hidup beragama perlu lebih dihayati dan makin diamalkan lagi butir-butir kerukunan yang ada pada setiap agama sesuai dengan caranya masing-masing demi menjaga keutuhan persatuan dan kesatuan bangsa.

BUTIR-BUTIR KERUKUNAN

Dalam ajaran Hindu dikenal adanya butir-butir kerukunan sebagai berikut : Tri Hita
Karana, Tri Kaya Parisudha dan Tat Twam Asi.

Tri Hita Karana
Secara harfiah Tri Hita Karana dapat diartikan tiga penyebab kebahagiaan. (tri artinya tiga, hita artinya kebahagiaan, dan karana artinya penyebab).
Unsur-unsur Tri Hita Karana adalah :

1. Parahyangan, yaitu membina hubungan yang harmonis antara manusia dengan Tuhan Yang Maha Esa;
2. Pawongan, yaitu membina hubungan yang harmonis antara sesama manusia sehingga tercipta keselarasan, keserasian dan keseimbangan;
3. Palemahan, yaitu membina hubungan yang harmonis antara manusia dengan alam lingkungannya.

Secara keseluruhan Tri Hita Karana merupakan tiga unsur keseimbangan hubungan Manusia dengan Tuhan, hubungan Manusia dengan Manusia dan hubungan Manusia dengan alam lingkungannya yang dapat mendatangkan kesejahteraan, kedamaian dan kebahagiaan bagi kehidupan manusia.
Ketiga unsur tersebut tidak dapat dipisah-pisahkan karena merupakan penyebab yang satu dengan yang lainnya berjalan secara bersamaan dalam kehidupan manusia sehari-hari.
Manusia senantiasa ingat akan kebesaran dan kekuasaan Tuhan Yang Maha Esa, senantiasa taqwa kepada Tuhan, senantiasa mohon keselamatan dan senantiasa pula
tidak lupa memohon ampun atas segala kesalahan yang diperbuat baik kesalahan dalam berpikir, berkata maupun kesalahan dalam perbuatan yang nyata dalam kehidupan sehari-hari.
Manusia senantiasa berhubungan dengan manusia lain atau berhubungan sesama manusia dengan mengembangkan sikap saling asah, saling asih dan saling asuh, sehingga tercipta kerukunan hidup yang selaras, serasi dan seimbang sesuai dengan sloka yang terdapat dalam Kekawin Ramayana : ….. Prihen temen dharma dumeranang sarat, Saraga Sang Sadhu sireka tutana, Tan harta tan kama pidonya tan yasa, Ya sakti Sang Sajana dharma raksaka ….. Dan seterusnya.
Manusia senantiasa berhubungan dengan alam lingkungannya dengan maksud untuk melestarikannya demi tercapainya kesejahteraan dan kedamaian dalam kehidupan sehari-hari untuk mewujudkan kebahagiaan yang kekal baik di dunia maupun di akhirat kemudian hari.
Merusak alam lingkungan sama artinya merusak kehidupan manusia itu sendiri karena segala kebutuhan manusia terdapat dalam lingkungan alam itu sendiri, baik binatang maupun tumbuh-tumbuhan dan segala sesuatu yang terpendam di dalam alam semesta sebagai ciptaan Tuhan Yang Maha Esa.

Tri Kaya Parisudha
Secara arti kata Tri Kaya Parisudha dapat diterjemahkan prilaku yang suci. (tri artinya tiga, kaya artinya prilaku, parisudha artinya semuanya suci).
Unsur-unsur Tri Kaya Parisudha adalah :

Manacika Parisudha, yaitu berpikir yang suci, baik dan benar.
Wacika Parisudha, yaitu berkata yang suci, baik dan benar.
Kayika Parisudha, yaitu berbuat yang suci, baik dan benar.

Dalam ajaran Agama Hindu, Tri Kaya Parisudha merupakan suatu etika sopan santun dan budi pekerti yang luhur yang harus dilaksanakan dalam kehidupan nyata sehari-hari untuk menghindari adanya rasa kurang menghormati harkat dan martabat manusia yang
dapat menimbulkan kemarahan dan rasa dendam yang berkepanjangan di antara sesame manusia. Oleh karena itu perlu diperhatikan dan dihayati hal-hal yang sebagai berikut.
Manusia hendaknya selalu berpikir yang suci, baik dan benar yang merupakan langkah awal untuk melangkah lebih lanjut. Kesalahan dalam berpikir walaupun tidak
dilanjutkan dengan perkataan dan perbuatan sudah merupakan suatu pelanggaran dan menghasilkan hal yang tidak baik sebagai terdapat dalam ungkapan “Riastu
riangen-angen maphala juga ika”.
Manusia hendaknya selalu berkata yang suci, baik dan benar agar tidak menyinggung perasaan orang lain yang dapat menimbulkan kemarahan dan rasa sakit hati yang
mengakibatkan permusuhan di antara sesama manusia.

Oleh karena itu setiap manusia hendaknya selalu berupaya agar dapat berkata yang baik, sehingga enak didengar yang dapat menimbulkan rasa simpati setiap manusia dalam berinteraksi.
Rasa simpati manusia dapat mewujudkan kerukunan dalam kehidupan.
Manusia hendaknya senantiasa dapat berbuat dan bertingkah laku yang suci, baik dan benar sehingga tidak merugikan orang lain bahkan perbuatan itu selalu dapat menyenangkan orang lain dan bermanfaat bagi kehidupan manusia yang merupakan kebajikan dapat meringankan penderitaan sesama manusia.
Dalam ungkapan Sarasamuscaya manusia hendaknya dapat berbuat dan bertingkah laku untuk menyenangkan orang lain (Angawe sukaning wong len), sehingga akan terwujud kerukunan dalam kehidupan bermasyarakat.
Dalam hukum karmaphala bahwa segala perbuatan yang baik akan mendapatkan imbalan atau hasil yang baik pula sesuai dengan ungkapan : “Ala ulah ala ketemu, ayu prakirti ayu kinasih”.
Sebagai manusia yang merupakan makhluk ciptaan Tuhan yang sempurna yang memiliki tri pramana yaitu bayu, sabda dan idep atau pikiran yang suci, baik dan benar. Di samping itu manusia dalam berpikir yang positif selalu mendasarkan pikirannya kepada “Catur Paramita” yaitu Maitri (mengembangkan rasa kasih saying); Mudhita (membuat orang simpati), Karuna (suka menolong), dan Upeksa (mewujudkan keserasian, keselarasan dan keseimbangan).

Tat Twam Asi.
Apabila diterjemahkan secara artikulasi Tat Twam Asi berarti Itu adalah Kamu atau Kamu adalah Itu.
Dalam pergaulan hidup sehari-hari hendaknya manusia senantiasa berpedoman kepada Tat Twam Asi, sehingga tidak mudah melaksanakan perbuatan yang dapat menyinggung perasaan bahkan dapat menyakiti hati orang lain dan pada akhirnya menimbulkan rasa iri hati dan benci.
Tat Twam Asi menjurus kepada Tepa Salira atau Tenggang Rasa yang dapat menuntun sikap dan prilaku manusia senantiasa tidak melaksanakan perbuatan yang dapat menimbulkan sakit hati, sehingga terjadi perpecahan dan permusuhan.
Oleh karena itu janganlah suka menyakiti hati orang lain karena pada hakikatnya apa yang dirasakan oleh orang lain seyogyanya kita rasakan juga. Jikalau kita memukul orang akan dirasakan sakit lalu bagaimana kalau kita dipukul orang lain pasti akan sakit pula. Marilah kita membiasakan diri untuk senantiasa menaruh rasa simpati kepada orang lain sehingga tidak pernah terlintas dalam hati untuk berbuat yang
dapat menyakiti orang lain, Vasudeva kuthumbhakam : kita semua bersaudara.
“Salahkanlah diri sendiri terlebih dahulu sebelum menyalahkan orang”.
“Senantiasalah mengoreksi diri sebelum mengoreksi orang lain”.

Untuk mendapat gambaran lebih lanjut dan mempertegas beberapa uraian yang saya kemukakan di atas, maka di bawah ini akan disampaikan beberapa sloka Kerukunan yang berhubungan dengan nilai-nilai Pancasila yang terdapat dalam Kitab Suci Agama Hindu sebagai berikut:
1. Sam Gacchadhvan Sam Vadadhvam, Sam Vo Manamsi Janatam, Deva Bhagam Yatha Purvo, Sanjanano Upasate (Rg Veda X.191.2: Berkumpul-kumpullah, bermusyawarahlah, Satu sama lain satukanlah semua pikiranmu, Dewa pada jaman dulu, Senantiasa dapat bersatu.
2. Samani Va Akutih, Samana Hrdayani Vah, Samana Astu Vo Mano, Yatha Va Susahasati, (Rg Veda X.191.4): Samalah hendaknya tujuanmu, Samalah hendaknya hatimu, Samalah hendaknya pikiranmu, Semoga semua hidup bahagia bersama.
3. Sarve Mandati Yasa Sagatena, Sabhasahena Sakhya Sakhyayah, Kilbisah Prt Pitusanir
Hyosamaram, Hito Bhavati Vajinaya, (Rg Veda X.17.10): Semua teman senang hati dalam persahabatan yang datang, Dengan kejayaan setelah berhasil dalam permusyawaratan, Tuhan sesungguhnya pelindung kita dari kejahatan, Yang memberi makan, bersiap baik untuk pemulihan.
4. Yadi Na Syurmanusyesu, Ksaminah Prtivismah, Na Syat Sakhyam Manusyanam, Krodhamulahi Vigrahah, (Sarasamuscaya, 94): Apabila tidak ada orang yang ksamawan, sabar, tahan uji, Bagaikan Ibu Pertiwi niscaya tidak ada kepastian persahabatan, Melainkan jiwa murka menyelubungi sekalian makhluk. Karenanya pasti bertengkar satu sama lainnya.
5. Japye Nalva Samsidhyed, Brahmano Natra Samcayah, Kuryan Anyan Na Va Kuryan, Maitro Brahmana Ncyate, (Manawa Dharmasastra II, 87): Tak dapat disangkal lagi seorang yang utama, dapat mencapai tujuan yang tertinggi dengan mengucapkan mantra, Apakah ia melakukan yadnya melalui orang lain atau melalaikannya, Ia yang bersahabat dengan semua makhluk dinyatakan manusia utama.
6. Ye Yatha Mam Prapadyante, Tams Tathal Va Bhajamy Aham, Mama Vartma Nuvartante, Manusyah Partha Arvasah, (Bhagawadgita, IV.II): Jalan manapun ditempuh manusia, ke arah-Ku semuanya Kuterima, Dari mana-mana semua mereka.
7. Devan Bhavayana Nana, Te Deva Bhavayantu Vah, Parasparam Bhavayantah, Suyah Param Avapsyatha, (Bhagawadgita, III,II
Dengan ini pujalah dewata, Semoga dewata memberkati engkau, Dengan saling menghormati begini, Engkau mencapai kebajikan tertinggi).

Dari beberapa kutipan yang terdapat dalam Kitab Suci tersebut, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa semua manusia mendambakan adanya penyesuaian pikiran dan tujuan untuk mencapai hidup bersama yang bahagia. Hal tersebut sekaligus untuk mengantisipasi sikap-sikap yang negatif yang sering muncul dalam masyarakat kita
yang majemuk seperti misalnya sikap fanatisme buta yaitu sikap yang meyakini kebenaran mutlak yang ada pada agama yang dipeluknya.

Oleh sebab itu, perlu dipahami sikap yang toleransi yang dapat mewujudkan rasa kerukunan umat beragama. Sikap toleransi adalah sikap menghormati agama yang dipeluknya tetapi tidak merendahkan agama lain. Sikap semacam ini muncul apabila kita memiliki pengetahuan yang baik tentang agama kita dan juga agama orang lain.

PENUTUP

Itulah keyakinan ummat Hindu terhadap Pancasila, lima sila yang memiliki satu kesatuan yang utuh dan bulat guna dilaksanakan secara serasi dan utuh pula.
Pada hakekatnya sila demi sila yang ada dalam Pancasila, yang mempunyai nilai yang sangat luhur dan mulia dalam kehidupan manusia dalam arti universal.
Pancasila menjadi ideologi nasional, dimana nilai-nilai luhur Pancasila dijabarkan dalam sila-sila Pancasila.
Pancasila merupakan idiologi pengayom bagi ragam polarisasi idiologi dan agama di Indonesia.

Agama sejatinya dijadikan sebagai landasan moral etis dalam melakukan interaksi sosial. Menjadi manusia seutuhnya bukan semata menjadi baik secara personal,
melainkan mampu memberikan harapan kepada masyarakat lainnya untuk membangun Indonesia yang damai dan bermartabat.
Umat Hindu percaya dan sangat menghormati ajaran Catur Guru (Guru Swadiyaya, Guru Wisesa, Guru Rupaka dan Guru Pengajian). Dengan demikian, umat Hindu berarti juga sangat percaya dan menghormati Pemerintah dan negara sebagai Guru Wisesa yang berkesinambungan melakukan pembinaan ideologi Pancasila agar Pancasila sebagai ideologi negara harus menjadi penghayatan dan pengamalan dalam kehidupan sehari-hari.
Kesimpulan kami dari berbagai referensi ini semua bahwa dalam usaha membumikan Pancasila adalah dimulai dari diri sendiri dan mulai sadar akan pentingnya nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila itu sendiri. Semoga dengan materi Pancasila yang termaktub dalam Ajaran Agama Hindu ini dapat bermanfaat untuk semua.Amin. Kami menghaturkan terima kasih dan penghargaan yang tinggi kepada Bapak Prof.Dr.H. Suparman Usman S.H, Ketua FKUB Provinsi Banten dan Dr.H.A.M. Romly, sesepuh/Ketua Umum Dewan Pimpinan MUI Provinsi Banten yang senantiasa membina dengan sangat baik kerukunan umat beragama di provinsi Banten.

Om Shanti, Shanti, Shanti, Om.

Advertisements


Blog Stats

  • 3,275,470 hits

Recent Comments

Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Sejarah : Bangsa Lemuria, Lelu…

%d bloggers like this: