Posts Tagged ‘Cultural

30
Jan
15

Kebudayaan : Budi Pekerti Jatidiri Kepribadian Bangsa

Sabda Pandita Ratu

Sebuah Refleksi Jatidiri Pemimpin

27 Januari 2015 17:35 WIB Category: Budaya jawa, Pringgitan, Tradisional 

Foto: artkimianto

 SABDA PANDHITA RATU TAN KENA WOLA-WALI. Ungkapan ini rasa-rasanya telah melekat dalam keseharian masyarakat Jawa. Apalagi jika dikaitkan dengan kepemimpinan, ungkapan ini begitu tepat menohok pada kepribadian seorang pemimpin, terutama dalam sikapnya ketika mengambil sebuah kebijakan.

Sabda Pandita Ratu adalah ucapan pimpinan yang seharusnya menjadi harapan rakyat kepada mereka. Ratu dan Pandita merupakan sebuah kesatuan. Seorang pemimpin harus mampu menyeimbangkan diri baik dalam aspek spiritual maupun material, dan inilah yang menjadikan beratnya tanggung jawab sebagai seorang pemimpin. Terlebih dengan ungkapan “Sabda brahmana raja sepisan dadi tan kena wola-wali” yang bermakna, ucapan pendeta atau raja atau lebih tepatnya seorang pemimpin, tidak boleh mencla-mencle. Apa yang diucapkan, menjadi pegangan bagi rakyatnya. Apa yang telah dikatakan, menjadi pegangan dari semua pihak, bahwa apa yang diucapkannya itu akan dilaksanakan. Bayangkan saja bila seorang pimpinan bersikap mencla-mencle pada apa yang diutarakan? Tak hanya membingungkan rakyatnya, namun juga akan merusak citra dirinya.

Untuk itulah, seorang pemimpin juga harus memegang prinsip berbudi bawa leksana. Berbudi bawa leksana dapat berarti, mempunyai sifat teguh memegang janji, setia pada janji, atau secara harafiah,  bawa leksana dapat juga diartikan sebagai satunya kata dan perbuatan. Untuk berucap, seorang pemimpin  harus benar-benar berhati-hati, mengingat ia harus bawa leksana, atau sama dalam ucapan dan tindakan.

Itu sebabnya, masyarakat Jawa sangat memperhatikan deduga,prayoga, watara dan reringa, sebelum mengucapkan kata demi kata. Apalagi bagi seorang pemimpin yang “sepisan dadi tan kena wola-wali”. Maka benarlah yang memberi penegasan, sabda pandita ratu memiliki resiko yang tak kecil. Tanggung jawab yang diemban teramat besar. Sepantasnyalah, seorang pemimpin harus selalu memikirkan secara jernih dan bijak apapun, dalam situasi apapun, sehingga bijaklah setiap apa yang terlontar dari mulut penguasa. Ajining diri gumantung ana ing lathi.

(Fadhil Nugroho/CN41)

Hasta Brata, Luhurnya Konsep Kepemimpinan Jawa

26 Januari 2015 18:28 WIB Category: Budaya jawa, Pringgitan, Tradisional 

Click Here

bima

Pemimpin yang menguasai sifat Angin adalah ia yang selalu terukur bicaranya (tidak asal ngomong), setiap perkataannya selalu disertai argumentasi serta dilengkapi data dan fakta. Dengan demikian, pemimpin yang menguasai sifat Angin ini akan selalu melakukan check and recheck sebelum berbicara atau mengambil keputusan…

HASTA BRATA berasal dari bahasa Sansekerta. Hasta artinya delapan dan Brata yaitu perilaku atau tindakan pengendalian diri. Hasta Brata melambangkan kepemimpinan dalam delapan unsur alam, yakni bumi, matahari, api, samudra, langit, angin, bulan, dan bintang. Tiap unsur Hasta Brata mengartikan tiap karakteristik ideal dari seorang pemimpin.

Ilmu Hasta Brata tergolong ajaran yang sangat tua, mulai diperkenalkan melalui lakon pewayangan Wahyu Makutharama. Istilah Hasta Brata berasal dari kitab Hindu berbahasa Sansekerta “Manawa Dharma Sastra”. Konsep Hasta Brata dalam kitab tersebut menyiratkan bahwa pemimpin bertindak sesuai dengan karakter para dewa. Hasta Brata pun menjadi tolok ukur sebuah kepemimpinan di masa itu.

Konon, pemimpin yang menguasai ilmu Hasta Brata ini akan mampu melakukan internalisasi diri (pengejawantahan) ke dalam delapan sifat agung tersebut. Dalam beberapa literatur juga disebutkan bahwa delapan sifat alam ini mewakili simbol kearifan dan kebesaran Sang Pencipta.

Yasadipura I (1729-1803 M), pujangga keraton Surakarta menuliskan Hasta Brata sebagai delapan prinsip kepemimpinan sosial yang meniru filosofi atau sifat alam, yaitu:

  1. Mahambeg Mring Kismo (meniru sifat bumi). Bumi diibaratkan sebagai ibu pertiwi. Sebagai ibu pertiwi, bumi memiliki peran sebagai ibu, yang memiliki sifat keibuan, yang harus memelihara dan menjadi pengasuh, pemomong, dan pengayom bagi makhluk yang hidup di bumi. Implementasinya adalah, kalau sanggup menjadi pemimpin, maka ia harus mampu mengayomi dan melindungi anak buahnya. Ada juga yang menerjemahkan sifat Bumi sebagai sifat seorang yang suka memberikan perhatian kepada fakir miskin, dan kaum lemah. Seorang pemimpin yang menguasai sifat Bumi akan mengarahkan kekuasaannya untuk mensejahterakan rakyat dan mengentaskan kemiskinan.
  2. Mahambeg Mring Warih (meniru sifat air). Seorang pemimpin harus mempunyai kemampuan untuk menyesuaikan diri dengan siapapun termasuk pengikutnya (adaptif). Air selalu mengalir ke bawah, artinya pemimpin harus memperhatikan potensi, kebutuhan dan kepentingan pengikutnya, bukan mengikuti kebutuhan atasannya. Pemimpin juga harus menjadi sosok yang membuka mata dan pikiran secara luas. Seorang pemimpin harus bersedia menerima pendapat dari bawahan dan memikirkan baik-baik semua pendapat yang ada.
  3. Mahambeg Mring Samirono (meniru sifat angin). Pemimpin yang menguasai sifat Angin adalah ia yang selalu terukur bicaranya (tidak asal ngomong), setiap perkataannya selalu disertai argumentasi serta dilengkapi data dan fakta. Dengan demikian, pemimpin yang menguasai sifat Angin ini akan selalu melakukan check and recheck sebelum berbicara atau mengambil keputusan.
  4. Mahambeg Mring Condro (meniru sifat bulan). dalam memperlakukan anak buahnya, seorang pemimpin harus dilandasi oleh aspek-aspek sosio-emosional. Pemimpin harus memperhatikan harkat dan martabat pengikutnya sebagai sesama, atau nguwongke. Ia juga harus menjadi penuntun dan memberikan pencerahan kepada rakyatnya. Oleh karena itu pemimpin seperti ini memahami dan mengamalkan ajaran luhur yang terkandung dalam agama (religiusitas) dan menjunjung tinggi moralitas. Sifat bulan ini diterapkan oleh raja-raja Mataram, salah satu tandanya adalah dengan memberikan status/posisi kepada Sultan Hamengku Buwono sebagai Senopati Ing Ngalogo Ngabdurrohman Sayidin Panoto Gomo Kalifatullah.
  5. Mahambeg Mring Suryo (meniru sifat matahari). Seorang pemimpin yang menguasai sifat Matahari harus mampu memberikan inspirasi dan semangat kepada rakyatnya untuk menyelesaikan segala persoalan yang dihadapi. Energi positif seorang pemimpin dapat memberi petunjuk dan solusi atas masalah yang dihadapi rakyatnya.
  6. Mahambeg Mring Samodra (meniru sifat laut/samudra). Seorang pemimpin hendaknya mempunyai keluasan hati dan pandangan, dapat menampung semua aspirasi dari siapa saja, dengan penuh kesabaran, kasih sayang, dan pengertian terhadap rakyatnya.  Pemimpin harus memiliki wawasan yang luas dan dalam, seluas dan sedalam samudra.
  7. Mahambeg Mring Wukir (meniru sifat gunung). Layaknya sifat gunung yang teguh dan kokoh, seorang pemimpin harus memiliki keteguhan-kekuatan fisik dan psikis serta tidak mudah menyerah untuk membela kebenaran maupun membela rakyatnya.
  8. Mahambeg Mring Dahono (meniru sifat api). Seorang pemimpin yang menguasai sifat Api adalah ia yang cekatan dan tuntas dalam menyelesaikan persoalan. Juga selalu konsisten dan objektif dalam menegakkan aturan, tegas, tidak pandang bulu dan objektif, serta tidak memihak.

Kedelapan ajaran luhur ini sudah semestinya menjadi pepeling para pemimpin untuk selalu eling dan waspada. Apabila seluruh elemen alam mampu dikuasai seorang pemimpin, negeri yang gemah ripah loh jinawi pun, tak pelak akan seutuhnya tercapai.
(Fadhil Nugroho/CN41)

03
Oct
14

Kebudayaan : Revolusi Mental JokoWi

“Revolusi Mental” Jokowi Membingungkan?

Agence France-Presse/Getty Images

Joko Widodo bertemu pendukungnya, 11 April.

Bagi beberapa orang, gagasan “Revolusi Mental” yang diusung Joko Widodo (Jokowi) layaknya hembusan angin segar. Sementara bagi yang lain, ide itu justru membingungkan.

Jokowi merebut popularitas dalam bursa calon presiden, sebagian besar karena kharismanya. Saat pemilihan presiden (Pilpres) semakin dekat ia terdesak untuk memasukkan beberapa visi baru ke dalam gaya pemerintahan blusukan ala Jokowi.

“Jika gagal berpindah dari fase tersebut ke dalam sesuatu yang lebih fundamental, dia akan menghadapi kesulitan,” kata Wimar Witoelar, pengamat politik yang sempat menjadi juru bicara mantan presiden Abdurrahman Wahid (Gus Dur).

“Revolusi Mental” yang didengungkan Jokowi terurai pada salah satu surat kabar nasional baru-baru ini. Beberapa pengamat menilai hal itu sebagai upaya memberi bobot lebih pada tema kampanyenya yang sejauh ini dianggap miskin detail.

Dengan “Revolusi Mental,” ia menyerukan perubahan yang sanggup menyokong pemerintahan yang bertanggungjawab, bersih dan bebas korupsi. Ia juga mendesak terciptanya sebuah sistem yang danggup melayani rakyat. Tak lupa Jokowi menyuarakan dukungan terhadap keberadaan militer yang kuat untuk menyatukan bangsa.

Jokowi menyerukan kemandirian dalam sektor pangan dan energi. Pernyataannya menekankan pandangan bahwa pemerintah selama ini besar bergantung pada industri ekstraksi sumber daya, sehingga tak banyak membutuhkan tenaga kerja. Selain itu, Jokowi menginginkan penguatan toleransi.

Bagaimanapun, pandangan yang ditulis sang calon presiden ikut membuat orang bertanya-tanya. Gaya dan waktu penulisan meretaskan kritik. Beberapa orang menilai tulisan tak seperti dibuat Jokowi yang biasa mereka kenal.

“Ini sama sekali tidak seperti Jokowi, yang bisa menulis artikel reflektif sepanjang itu,” papar Philips Vermonete, peneliti dari Centre for Strategic and International Studies.

Laku Jawa yang kental pada diri Jokowi serta bahasa sehari-hari yang sederhana telah mendongkrak popularitasnya, sejak merebut kursi Gubernur DKI Jakarta pada 2012.

Kini, orang-orang ingin mengetahui kemampuan Jokowi menciptakan lapangan kerja serta meningkatkan mutu pendidikan dan kesehatan—langkah yang mulai ditempuhnya sebagai Gubernur DKI Jakarta.

“Pemilih tidak butuh atau ingin mendengar soal kedaulatan nasional atau ide samar-samar tentang keadilan sosial,” sahut Liam Gammon, peneliti dari Departemen Perubahan Sosial dan Politik di Australian National University dalam tulisan blog-nya, baru-baru ini.

Dan, mereka pastilah tak tertarik dengan “kiasan basi” seperti tertulis dalam kolom, imbuhnya.

Kekurangan Jokowi dalam memiliki platform kebijakan yang solid, ikut mendongkrak—meski kecil—posisi Prabowo Subianto, pesaing Jokowi dalam perebutan kursi kepresidenan.

Calon presiden dari Partai Gerakan Indonesia Raya itu telah lama mengajukan enam poin landasan atas transformasi ekonomi. Ia menyerukan nasionalisasi sumber daya alam yang mengutamakan kebijakan pro-rakyat miskin.

Tak cukup di situ, Prabowo menggandeng Hatta Rajasa sebagai pendampingnya. Hatta merupakan perancang agenda ekonomi nasional terkini. Menurut pengamat, keberadaan Hatta akan menopang visi ekonomi Prabowo.

Sebagian besar pembaca surat kabar yang menerbitkan tulisan Jokowi merupakan kalangan menengah dan cenderung konservatif. Pengamat menilai tulisan itu sebagai tanggapan atas kritik seputar minimnya pengalaman Jokowi.

Apapun motivasi di belakang manifesto “Revolusi Mental,” menurut Wimar, Jokowi sebetulnya tak membutuhkan lebih banyak pengakuan. Calon pemilih juga mengatakan, mereka menginginkan pemimpin yang jujur dan bisa dipercaya—nilai-nilai yang erat bertalian dengan Jokowi.

Ketika ia mampu memenangi kursi presiden, saat itulah Jokowi “harus menyajikan program konkret serta meneguhkan kepercayaan rakyat terhadap dirinya,” papar Wimar.

04
Sep
14

Kebudayaan : Festival Betawi Mini 26-28Sep14

Khas Jakarta: Ayo ke Festival Betawi Mini!

Reporter : Yusmaisya | Kamis, 4 September 2014 14:34

Khas Jakarta: Ayo ke Festival Betawi Mini! Ilustrasi Foto
Nah, bagi Anda yang ingin mencicipi makanan Khas Jakarta, festival ini wajib didatangi. KhasJakarta.com menyelenggarakan festival Mini Khas Betawi kedua.

Dream – Makanan di Tanah Air sangat beragam. Banyak suku bangsa menghadirkan makanan yang berbeda-beda. Tiap daerah memiliki kuliner khas masing-masing.

Salah satunya kuliner khas Tanah Betawi. Anda pasti sudah tak asing dengan kerak telor bukan? Juga panganan Betawi lainnya seperti selendang mayang dan asinan Betawi. Nah, bagi yang ingin mencicipi makanan Khas Jakarta, festival ini wajib didatangi.

KhasJakarta.com menyelenggarakan festival Mini Khas Betawi kedua. Berlokasi di Pusat Oleh-oleh dan Kerajinan Jakarta, Jalan Dr Satrio. Acara diadakan mulai 26 hingga 28 September 2014.

 

Nikmati menu betawi lainnya yang tak kalah enak. Info selengkapnya klik tautan ini http://bit.ly/1qeITcd (Ism)

Kirimkan blog atau website kamu kekomunitas@dream.co.id, dengan syarat dan ketentuan sebagai berikut:

1. Lampirkan satu paragraf dari konten blog/website yang ingin dipublish
2. Sertakan link blog/web
3. Foto dengan ukuran high-res

 

02
Aug
14

Kebudayaan : Makna Bercinta Kamasutera

Makna Bercinta dalam Kamasutra

HISTORIA.CO.ID – Ia bukan sekadar manual bercinta, tapi mengandung kebijaksanaan dari kitab suci Hindu, Veda.KUIL-kuil di Khajuraho, suatu desa di India bagian Madhya Pradesh, tersohor dengan pahatan-pahatan patungnya yang bermuatan eksotis. Begitu pula relief di candi Hindu dari abad ke-10, Muktesvara Deula di Orissa, India. Indonesia juga punya: Candi Sukuh di Jawa Tengah, juga dari masa Hindu.

Seni pahat ini punya alasan tertentu. Filosofinya, alamiah dan lazim bagi seseorang untuk menjalani kehidupan penuh kama atau gairah cinta. Tapi dia akan jadi objek yang terkekang bila tak dapat mengendalikan nafsu-nafsunya. Mengutip apa yang diutarakan Vatsyayana dalam Kamasutra: “Dapat dilihat bahwa mereka yang terlalu menyerahkan diri pada kehidupan seksual yang berlebih-lebih, sesungguhnya mereka memusnahkan diri mereka sendiri.”

“Itulah makna arsitektur dari kuil di Khajuraho, perlambang yang menunjukkan seni eksotis hanya terletak di bagian luar dari kuil, tempat pahatan-pahatan ini jauh dari kuil dalam dan patung-patung dewata suci Hindu,” kata L.G. Saraswati Dewi, dosen filsafat Universitas Indonesia dan Sekolah Tinggi Agama Hindu dalam kuliah umum “Erotika dari Timur: Kamasutra” di Komunitas Salihara, Jakarta, 3 Maret 2012.

Melalui struktur kuil itulah manusia harus menghargai kehidupan seksual sebagai babak hidup yang alamiah. Namun, untuk mencapai spiritualitas yang lebih superior, dia harus belajar mengendalikan dan pada akhirnya melepaskan diri dari kepuasaan yang sementara di dunia.

Tak hanya tercermin dari relief candi. Kebudayaan Hindu yang kaya erotisme dan seksualitas juga terdapat dalam teks. Yang terkenal adalah Kamasutra karya Vatsyayana. Sedikit yang diketahui tentang Vatsyayana kecuali dia memulai sebuah tren –beberapa menyebutnya revolusi– ketika memutuskan untuk menulis risalah ilmiah (sutra) tentang keinginan seksual (kama).

Menurut Saraswati, ada kesalahpahaman yang mengganggap Kamasutra hanya menggambarkan secara dangkal nafsu manusia terhadap seks. “Nyatanya bila dipahami lebih mendalam, Kamasutra memberikan ilustrasi yang tidak saja indah tapi juga paparan filosofis yang substansial tentang kondisi alamiah manusia.”

Kamasutra dapat diartikan sebagai ajaran-ajaran (sutra) mengenai cinta (kama). Dalam ajaran agama Hindu, Kamasutra dihormati sebagai salah satu dari Veda Smrti. Artinya, di dalamnya memuat kebijaksanaan dari Veda sebagai kitab suci agama Hindu.

Kamasutra dipandang umat Hindu sebagai kitab penting untuk memandu kehidupan etis manusia. Teks ini mendeskripsikan dengan indah proses keintiman sepasang manusia. Mengapa Kamasutra disanjung sebagai pedoman dalam mencapai kebahagiaan? “Garis besar keyakinan dari agama Hindu adalah cinta,” tandas Saraswati. “Hinduisme meyakini bahwa proses keintiman mencitrakan eksistensi manusia yang tinggi.”

Bagian filosofis dari Kamasutra terletak di bagian pengantar atau bab kedua. Pada bagian ini Vatsyayana mengutip Veda, yaitu dalam hubungannya dengan Catur Purusarthas atau Empat Tujuan Hidup, pandangan hidup umat Hindu yang mengidealkan tahapan hidup yang seimbang. Catur Purusarthas terdiri dari dharma atau kebaikan, artha atau kesejahteraan material, kama atau cinta dan kepuasan indrawi, dan moksha atau pembebasan diri menuju Tuhan. Vatsyayana menulis: “Dharma lebih baik dari artha, sedangkan artha lebih baik dari kama.Vatsyayana menekankan bahwa kebaikan dan kebijaksanaan adalah pencapaian tertinggi bila dibandingkan kekayaan dan cinta.

Kemudian apa substansi aktivitas kama, bila tujuan utama dari manusia adalah dharma? Vatsyayana berargumentasi, dalam realitasnya manusia diberikan kemampuan dan keistimewaan untuk merasakan dan mengkontemplasikan kenikmatan. “Seksualitas adalah esensial dalam keberlangsungan hidup manusia,” kata Vatsyayana.

Vatsyayana menggarisbawahi bahwa segala kepuasan itu adalah tahap dalam kehidupan seseorang; kama bukanlah tahap final. Pemahaman ini lahir karena konsep dukkha, bahwa segala kenikmatan dapat menyebabkan kesengsaraan. Kesadaran bahwa kenikmatan itu sementara dan semata-mata satu babak singkat dalam kehidupan manusia akan mencerahkan dan mendorong manusia mencari kebijaksanaan yang lebih tinggi.

Kamasutra dari Vatsyayana dikenal sebagai salah satu saja dari rangkaian Kama Shastra. Di India, dikenal bermacam kitab atau teks yang memuat topik seksualitas dari berbagai penulis. “Kedudukan teks-teks ini Smrti (tafsir) bukan Sruti (wahyu),” kata Saraswati.

Kamasutra Vatsyayana terkenal di dunia karena menggabungkan aturan-aturan relasi intim antara perempuan dan laki-laki dengan bahasa Sanskerta yang sederhana. Berbeda di zamannya ketika aporisme teks-teks sarat akan metafora dan analogi, Vatsayayana menginginkan karyanya jelas dan mampu dicerna siapapun. Kamasutra diduga dikompilasikan Vatsyayana pada abad ke-2 M. Teks ini terdiri dari 1.250 penggalan aporisme, dibagi menjadi 7 bagian besar, dan 7 bab tersebut terdiri atas 36 subbab.

Dalam sejarah Barat, teks Kamasutra baru dikenal pada 1883. Seorang penjelajah dan penulis Sir Richard Francis Burton (1821-1890) tertarik dengan karya-karya bermuatan seksualitas. “Meski dengan keterbatasan penerjemahan,” kata Saraswati, “Burton adalah orang pertama yang menterjemahkan Kama Sutra ke dalam bahasa Inggris.”

Sebenarnya Burton hanyalah editor yang melengkapi hasil terjemahan dengan catatan kaki. Penerbitnya, Kama Shastra Society, dia bentuk bersama seorang pegawai negeri India, Forster Fitzgerald Arbuthnot. Sedangkan penerjemahannya dari bahasa Sanskerta dikerjakan oleh perintis arkeologi India Bhagwanlal Indraji, dibantu seorang mahasiswa, Shivaram Parshuram Bhide, di bawah arahan Arbuthnot.

Menurut Saraswati, kecenderungan orang yang tak sungguh-sungguh memahami teks Kamasutra akan mengklasifikasikan buku ini sebagai teks pornografi. “Salah satu yang menyebabkan populernya stigma porno ini disebabkan terjemahan yang tak memadai,” tegas Saraswati.

Para peneliti studi Sanskerta menuding Sir Richard Francis Burton tak menjabarkan teks Kamasutra secara koheren. Kebudayaan populer pun lebih kerap mengeksploitasi bagian-bagian dari Kamasutra yang menjelaskan tahap-tahap erotis dari hubungan seksual dibandingkan kebijaksanaan Catur Purusarthas.

(Historia – Hendri F. Isnaeni)

Berita Terkait:
Hetairai, Pelacur Athena
Meleburkan Seks dan Mistik
Di Balik Tembok Keraton
Seni dan Seksualitas
Memberangus Seksualitas
Ritual Seksualitas
Memadu Perempuan
Paradoks Centhini
Sumber : historia.co.id

08
Mar
14

Riwayat : Pembentukan Jakarta dan Betawi

RIWAYAT PEMBENTUKAN JAKARTA

Jakarta bermula dari sebuah bandar kecil di muara Sungai Ciliwung sekitar 500 tahun silam. Selama berabad-abad kemudian kota bandar ini berkembang menjadi pusat perdagangan internasional yang ramai. Pengetahuan awal mengenai Jakarta terkumpul sedikit melalui berbagai prasasti yang ditemukan di kawasan bandar tersebut. Keterangan mengenai kota Jakarta sampai dengan awal kedatangan para penjelajah Eropa dapat dikatakan sangat sedikit.

Sejarah1

Laporan para penulis Eropa abad ke-16 menyebutkan sebuah kota bernama Kalapa, yang tampaknya menjadi bandar utama bagi sebuah kerajaan Hindu bernama Sunda, beribukota Pajajaran, terletak sekitar 40 kilometer di pedalaman, dekat dengan kota Bogor sekarang. Bangsa Portugis merupakan rombongan besar orang-orang Eropa pertama yang datang ke bandar Kalapa. Kota ini kemudian diserang oleh seorang muda usia, bernama Fatahillah, dari sebuah kerajaan yang berdekatan dengan Kalapa. Fatahillah mengubah nama Sunda Kalapa menjadi Jayakarta pada 22 Juni 1527. Tanggal inilah yang kini diperingati sebagai hari lahir kota Jakarta. Orang-orang Belanda datang pada akhir abad ke-16 dan kemudian menguasai Jayakarta.

Nama Jayakarta diganti menjadi Batavia. Keadaan alam Batavia yang berawa-rawa mirip dengan negeri Belanda, tanah air mereka. Mereka pun membangun kanal-kanal untuk melindungi Batavia dari ancaman banjir. Kegiatan pemerintahan kota dipusatkan di sekitar lapangan yang terletak sekitar 500 meter dari bandar. Mereka membangun balai kota yang anggun, yang merupakan kedudukan pusat pemerintahan kota Batavia. Lama-kelamaan kota Batavia berkembang ke arah selatan. Pertumbuhan yang pesat mengakibatkan keadaan lilngkungan cepat rusak, sehingga memaksa penguasa Belanda memindahkan pusat kegiatan pemerintahan ke kawasan yang lebih tinggi letaknya. Wilayah ini dinamakan Weltevreden. Semangat nasionalisme Indonesia di canangkan oleh para mahasiswa di Batavia pada awal abad ke-20.

Sebuah keputusan bersejarah yang dicetuskan pada tahun 1928 yaitu itu Sumpah Pemuda berisi tiga buah butir pernyataan , yaitu bertanah air satu, berbangsa satu, dan menjunjung bahasa persatuan : Indonesia. Selama masa pendudukan Jepang (1942-1945), nama Batavia diubah lagi menjadi Jakarta. Pada tanggal 17 Agustus 1945 Ir. Soekarno membacakan Proklamasi Kemerdekaan Indonesia di Jakarta dan Sang Saka Merah Putih untuk pertama kalinya dikibarkan. Kedaulatan Indonesia secara resmi diakui pada tahun 1949. Pada saat itu juga Indonesia menjadi anggota Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Pada tahun 1966, Jakarta memperoleh nama resmi Ibukota Republik Indonesia. Hal ini mendorong laju pembangunan gedung-gedung perkantoran pemerintah dan kedutaan negara sahabat. Perkembangan yang cepat memerlukan sebuah rencana induk untuk mengatur pertumbuhan kota Jakarta. Sejak tahun 1966, Jakarta berkembang dengan mantap menjadi sebuah metropolitan modern. Kekayaan budaya berikut pertumbuhannya yang dinamis merupakan sumbangan penting bagi Jakarta menjadi salah satu metropolitan terkemuka pada abad ke-21.

* Abad ke-14 bernama Sunda Kelapa sebagai pelabuhan Kerajaan Pajajaran.
* 22 Juni 1527 oleh Fatahilah, diganti nama menjadi Jayakarta (tanggal tersebut ditetapkan
sebagai hari jadi kota Jakarta keputusan DPR kota sementara No. 6/D/K/1956).
* 4 Maret 1621 oleh Belanda untuk pertama kali bentuk pemerintah kota bernama Stad
Batavia.
* 1 April 1905 berubah nama menjadi ‘Gemeente Batavia’.
* 8 Januari 1935 berubah nama menjadi Stad Gemeente Batavia.
* 8 Agustus 1942 oleh Jepang diubah namanya menjadi Jakarta Toko Betsu Shi.
* September 1945 pemerintah kota Jakarta diberi nama Pemerintah Nasional Kota Jakarta.
* 20 Februari 1950 dalam masa Pemerintahan. Pre Federal berubah nama menjadi Stad
Gemeente Batavia.
* 24 Maret 1950 diganti menjadi Kota Praj’a Jakarta.
* 18 Januari 1958 kedudukan Jakarta sebagai Daerah swatantra dinamakan Kota Praja
Djakarta Raya.
* Tahun 1961 dengan PP No. 2 tahun 1961 jo UU No. 2 PNPS 1961 dibentuk Pemerintah
Daerah Khusus Ibukota Jakarta Raya.
* 31 Agustus 1964 dengan UU No. 10 tahun 1964 dinyatakan Daerah Khusus Ibukota
Jakarta Raya tetap sebagai Ibukota Negara Republik Indonesia dengan nama Jakarta.
* Tahun1999, melalaui uu no 34 tahun 1999 tentang pemerintah provinsi daerah khusus
ibukota negara republik Indonesia Jakarta, sebutan pemerintah daerah berubah menjadi
pemerintah provinsi dki Jakarta, dengan otoniminya tetap berada ditingkat provinsi dan
bukan pada wilyah kota, selain itu wiolyah dki Jakarta dibagi menjadi 6 ( 5 wilayah
kotamadya dan satu kabupaten administrative kepulauan seribu)

Sejarah2

Undang-undang Nomor 29 tahun 2007 tentang Pemerintahan Provinsi Daerah Khusus Ibukota Jakarta sebagai Ibukota Negara Kesatuan Republik Indonesia(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2005 Nomor 140, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4700);

RIWAYAT PEMBENTUKAN BETAWI

Penduduk asli Jakarta dengan ciri utamanya mempergunakan bahasa Betawi sebagai bahasa ibu, tinggal dan berkembang di wilayah DKI Jakarta dan sekitarnya. Terbentuk sekitar abad ke-17, merupakan hasil dari campuran beberapa suku bangsa seperti Bali, Sumatera, China, Arab dan Portugis. Dari latar belakang sosial dan budaya yang berbeda-beda, mereka mencoba mencari identitas bersama dalam bentuk lingua franca bahasa Melayu yang akhirnya terbentuk masyarakat homogen secara alamiah. Suku bangsa ini biasa juga disebut Orang Betawi atau Orang Jakarta (atau Jakarte menurut logat Jakarta). Nama “Betawi” berasal dari kata “Batavia”. Nama yang diberikan oleh Belanda pada zaman penjajahan dahulu.

Jakarta, yang terletak di pinggir pantai atau pesisir, dalam proses perjalanan waktu menjadi kota dagang, pusat administrasi, pusat kegiatan politik, pusat pendidikan, dan disebut kota budaya. Proses perkembangan itu amat panjang, sejak lebih dari 400 tahun yang lalu. Sejak masa itulah Jakarta menjadi arena pembauran budaya para pendatang dari berbagai kelompok etnik. Mereka datang dengan berbagai sebab dan kepentingan, dan tentunya dengan latar belakang budaya masing-masing, sehingga menjadi suatu kebudayaan baru bagi penghuni Kota Jakarta, dan pendukung kebudayaan baru itu menyebut dirinya “Orang Betawi.”

Anggota suku bangsa atau bangsa asing (dari luar Jakarta) tadi mulai berdiam di Jakarta pada waktu yang berbeda-beda. Pendatang paling dahulu adalah orang Melayu, Jawa, Bali, Bugis, Sunda, diikuti oleh anggota-anggota suku bangsa lainnya. Orang asing yang datang sejak awal adalah orang Portugis, Cina, Belanda, Arab, India, Inggris, dan Jerman. Unsur-unsur budaya kelompok etnik atau bangsa itu berasimilasi dan melahirkan budaya baru yang tampak dalam bahasa, kesenian, kepercayaan, cara berpakaian, makan, dan lain-lain.

Sejarah Suku Betawi: Sebutan suku, orang, kaum Betawi, muncul dan mulai populer ketika Mohammad Husni Tamrin mendirikan perkumpulan “Kaum Betawi” pada tahun 1918. Meski ketika itu “penduduk asli belum dinamakan Betawi, tapi Kota Batavia disebut “negeri” Betawi. Sebagai kategori “suku” dimunculkan dalam sensus penduduk tahun 1930. Asal mula Betawi terdapat berbagai pendapat, yang mengatakan berasal dari kesalahan penyebutan kata Batavia menjadi Betawi. Ada pula cerita lain, yaitu pada waktu tentara Mataram menyerang Kota Batavia yang diduduki oleh Belanda, tentara Belanda kekurangan peluru. Belanda tidak kehilangan akal, mereka mengisi meriam-meriamnya dengan kotoran mereka dan menembakkan meriam-meriam itu ke arah tentara Mataram sehingga tersebar bau tidak enak, yakni bau kotoran orang-orang Belanda. Sambil berlarian ten tara Mataram berteriak-teriak: Mambu tai! Mambu tai! Artinya bau tahi! bau tahi! Dari kata mambu tai itulah asal mula nama Betawi.

Menurut Bunyamin Ramto, masyarakat Betawi secara geografis dibagi dua bagian, yaitu Tengah dan Pinggiran. Masyarakat Betawi Tengah meliputi wilayah yang dahulu menjadi Gemente Batavia minus Tanjung Priok dan sekitarnya atau meliputi radius kurang lebih 7 km dari Monas, dipengaruhi kuat oleh budaya Melayu dan Agama Islam seperti terlihat dalam kesenian Samrah, Zapin dan berbagai macam Rebana. Dari segi bahasa, terdapat banyak perubahan vokal a dalam suku kata akhir bahasa Indonesia menjadi e, misal guna menjadi gune.

Masyarakat Betawi Pinggiran, sering disebut orang sebagai Betawi Ora yang dikelompokkan menjadi dua bagian yaitu bagian utara dan selatan. Kaum Betawi Ora dalam beberapa desa di sekitar Jakarta berasal dari orang Jawa yang bercampur dengan suku-suku lain. Sebagian besar mereka itu petani yang menanam padi, pohon buah dan sayur mayur. Bagian utara meliputi Jakarta Utara, Barat, Tangerang yang dipengaruhi kebudayaan Cina, misalnya musik Gambang Kromong, tari Cokek dan teater Lenong. Bagian Selatan meliputi Jakarta Timur, Selatan, Bogor, dan Bekasi yang sangat dipengaruhi kuat oleh kebudayaan Jawa dan Sunda. Sub dialeknya merubah ucapan kata-kata yang memiliki akhir kata yang berhuruf dengan ah, misalgua menjadi guah.

Penduduk Betawi: Komunitas penduduk di Jawa (Pulau Nusa Jawa) yang berbahasa Melayu, dikemudian hari disebut sebagai orang Betawi. Orang Betawi ini disebut juga sebagai orang Melayu Jawa. Merupakan hasil percampuran antara orang-orang Jawa, Melayu, Bali, Bugis, Makasar, Ambon, Manado, Timor, Sunda, danmardijkers (keturunan Indo-Portugis) yang mulai menduduki kota pelabuhan Batavia sejak awal abad ke-15. Di samping itu, juga merupakan percampuran darah antara berbagai etnis: budak-budak Bali, serdadu Belanda dan serdadu Eropa lainnya, pedagang Cina atau pedagang Arab, serdadu Bugis atau serdadu Ambon, Kapten Melayu, prajurit Mataram, orang Sunda dan orang Mestizo.

Sementara itu mengenai manusia Betawi purbakala, adalah sebagaimana manusia pulau Jawa purba pada umumnya, pada zaman perunggu manusia Betawi purba sudah mengenal bercocok tanam. Mereka hidup berpindah-pindah dan selalu mencari tempat hunian yang ada sumber airnya serta banyak terdapat pohon buah-buahan. Mereka pun menamakan tempat tinggalnya sesuai dengan sifat tanah yang didiaminya, misalnya nama tempat Bojong, artinya “tanah pojok”.

Dalam buku Jaarboek van Batavia (Vries, 1927) disebutkan bahwa semula penduduk pribumi terdiri dari suku Sunda tetapi lama kelamaan bercampur dengan suku-suku lain dari Nusantara juga dari Eropa, Cina, Arab, dan Jepang. Keturunan mereka disebut inlanders, yang bekerja pada orang Eropa dan Cina sebagai pembantu rumah tangga, kusir, supir, pembantu kantor, atau opas. Banyak yang merasa bangga kalau bekerja di pemerintahan meski gajinya kecil. Lain-lainnya bekerja sebagai binatu, penjahit, pembuat sepatu dan sandal, tukang kayu, kusir kereta sewaan, penjual buah dan kue, atau berkeliling kota dengan “warung dorongnya”. Sementara sebutan wong Melayu atau orang Melayu lebih merujuk kepada bahasa pergaulan (lingua franca) yang dipergunakan seseorang, di samping nama “Melayu” sendiri memang sudah menjadi sebutan bagi suku bangsa yang berdiam di Sumatra Timur, Riau, Jambi dan Kalimantan Barat.

Posisi wanita Betawi di bidang pendidikan, perkawinan, dan keterlibatan dalam angkatan kerja relatif lebih rendah apabila dibandingkan dengan wanita lainnya di Jakarta dan propinsi lainnya di Indonesia. Keterbatasan kesempatan wanita Betawi dalam pendidikan disebabkan oleh kuatnya pandangan hidup tinggi mengingat tugas wanita hanya mengurus rumah tangga atau ke dapur, disamping keterbatasan kondisi ekonomi mereka. Situasi ini diperberat lagi dengan adanya prinsip kawin umur muda masih dianggap penting, bahkan lebih penting dari pendidikan. Tujuan Undang-Undang Perkawinan untuk meningkatkan posisi wanita tidak banyak memberikan hasii. Anak yang dilahirkan di Jakarta, tidak mempunyai hubungan dengan tempat asal di luar wilayah bahasa Melayu, dan tidak mempunyai hubungan kekerabatan atau adat istiadat dengan kelompok etnis lain di Jakarta.

Mata pencaharian orang Betawi dapat dibedakan antara yang berdiam di tengah kota dan yang tinggal di pinggiran. Di daerah pinggiran sebagian besar adalah petani buahbuahan, petani sawah dan pemelihara ikan. Namun makin lama areal pertanian mereka makin menyempit, karena makin banyak yang dijual untuk pembangunan perumahan, industri, dan lain-lain. Akhirnya para petani ini pun mulai beralih pekerjaan menjadi buruh, pedagang, dan lain-lain.

Dalam sistem kekerabatan, pada prinsipnya mereka mengikuti garis keturunan bilineal, artinya garis keturunan pihak ayah atau pihak ibu. Adat menetap sesudah nikah sangat tergantung pada perjanjian kedua pihak orang tua sebelum pernikahan dilangsungkan. Ada pengantin baru yang menetap di lingkungan kerabat suami (patrilokal) dan ada pula yang menetap di lingkungan kerabat istri (matrilokal). Secara umum orang tua cenderung menyandarkan hari tuanya pada anak perempuan. Mereka menganggap anak perempuan akan lebih telaten mengurus orang tua dari pada menantu perempuan.

Tatanan sosial orang Betawi lebih didasarkan pada senioritas umur, artinya orang muda menghormati orang yang lebih tua. Hal ini dapat diamati dalam kehidupan sehari-hari. Apabila seseorang bertemu dengan orang lain, yang muda mencium tangan orang yang lebih tua. Pada hari-hari Lebaran, orang yang didahulukan adalah orang tua atau yang dituakan. Memang orang Betawi juga cukup menghormati haji, orang kaya, orang berpangkat, asalkan mereka memang “baik” dan bijaksana, atau memperhatikan kepentingan masyarakat.

Latar belakang jumlah penduduk atau pendukung budaya Betawi, pada masa lalu maupun sekarang tidak diketahui secara pasti. Catatan yang berasal dari tahun 1673 menunjukkan bahwa jumlah penduduk (dalam tembok kota) Jakarta adalah 27.068 jiwa. Jumlah ini terdiri atas orang “merdeka” dan “budak”, yang banyaknya hampir seimbang. Penduduk di luar tembok kota berjumlah 7.286 jiwa. Mereka yang berada dalam tembok kota terdiri atas orang Mardijkers, Cina, Belanda, Moor, Jawa, Bali, Peranakan Belanda, dan Melayu. Golongan yang jumlahnya terbesar adalah Mardijkers (5.362 jiwa) dan yang terkecil Melayu (611 jiwa). Menurut proyeksi lebih baru tentang jumlah orang Betawi di Jakarta dan sekitarnya, jumlah orang Betawi pada tahun 1930 (menurut sensus) adalah 418.894 jiwa, dan pada tahun 1961 adalah 655.400 jiwa.

Kebudayaan Betawi: Merupakan sebuah kebudayaan yang dihasilkan melalui percampuran antar etnis dan suku bangsa, seperti Portugis, Arab, Cina, Belanda, dan bangsa-bangsa lainnya. Dari benturan kepentingan yang dilatarbelakangi oleh berbagai budaya. Kebudayaan Betawi mulai terbentuk pada abad ke-17 dan abad ke-18 sebagai hasil proses asimilasi penduduk Jakarta yang majemuk. Menurut Umar Kayam, kebudayaan Betawi ini sosoknya mulai jelas pada abad ke-19. Yang dapat disaksikan, berkenaan dengan budaya Betawi diantaranya bahasa logat Melayu Betawi, teater (topeng Betawi, wayang kulit Betawi), musik (gambang kromong, tanjidor, rebana), baju, upacara perkawinan dan arsitektur perumahan.

Berdasarkan pemakaian logat bahasa, budaya Betawi dapat dikelompokkan menjadi empat, yaitu: 1) Betawi Pesisir, termasuk Betawi Pulo; 2) Betawi Tengah/Kota; 3) Betawi Pinggir; 4) Betawi Udik, daerah perbatasan dengan wilayah budaya Sunda. Jika pemetaan budaya disusun berdasarkan intensitas transformasi budaya Barat, maka terbagi menjadi tiga, yaitu: 1) Betawi Indo; 2) Betawi Tengah/Kota; 3) Betawi Pesisir, Pinggir, Udik.

Dalam kebudayaan Betawi terlihat jelas pengaruh kebudayaan Portugis, terutama dalam bahasa. Rupanya bahasa Portugis pernah mempunyai pengaruh yang berarti di kalangan masyarakat penghuni Jakarta. Pengaruh Portugis terasa pula dalam seni musik, tari-tarian, dan kesukaan akan pakaian hitam. Budaya Portugis ini masuk melalui orang Moor (dari kata Portugis Mouro, artinya “muslim”). Pengaruh Arab itu tampak dalam bahasa, kesenian dan tentunya dalam budaya Islam umumnya. Budaya Cina terserap terutama dalam bentuk bahasa, makanan dan kesenian. Dalam kesenian, pengaruh budaya Cina tercermin, misalnya pada irama lagu, alat dan nama alat musik, seperti kesenian Gambang Rancak. Pengaruh Belanda terasa antara lain dalam mata pencaharian, pendidikan, dan lain-lain. Hingga saat ini, unsur budaya asing lain dapat dirasakan di sana sini dalam budaya Betawi.

Kehadiran berbagai anggota suku bangsa ditandai adanya nama-nama kampung atau tempat di Jakarta yang menunjukkan asal mereka, misalnya ada Kampung Melayu, Kampung Bali, Kampung Bugis, Kampung Makasar, Kampung Jawa, Kampung Ambon. Di antara kelompok-kelompok etnik tersebut di atas, kelompok etnik Melayu menempati kedudukan yang cukup penting, meskipun jumlah mereka relatif sedikit dibandingkan oleh orang Bali, Bugis, Cina dan lain-lain. Pengaruh Melayu menjadi penting karena peranan bahasanya.

Kebiasaan Hidup Masyarakat Betawi: Gambaran beberapa kebiasaan hidup berkaitan dengan berkeluarga dan rumah masyarakat Betawi, khususnya di daerah Jakarta Timur/Tenggara dan lainnya. Khusus menyoroti berbagai etika yang harus dilaksanakan dalam hubungan antara pria bujang dengan gadis penghuni rumah. Awalnya laki-laki akan ngglancong bersama-sama kawannya, berkunjung ke rumah calon istrinya untuk bercakap-cakap dan bergurau sampai pagi. Hubungan tersebut tidak dilakukan secara langsung tetapi melalui jendela bujang atau jendela Cina. Si laki-laki duduk atau tiduran di peluaran (ruang depan) sedangkan si perempuan ada di dalam rumah mengintip dari balik jendela bujang. Perempuan juga tidak boleh duduk di trampa (ambang pintu). Ada kepereayaan “perawan dilamar urung, laki-laki dipandang orang”, yang artinya perempuan susah ketemu jodoh dan kalau laki-laki bisa disangka berbuat jahat. Maksudnya, perempuan yang duduk di atas trampa dianggap memamerkan diri dan dipandang tidak pantas. Sementara apabila laki-laki yang melanggar trampa dapat dianggap sebagai orang yang yang bermaksud jahat.

Muncul juga istilah ngebruk, yaitu apabila laki-laki berani melangkahi trampa rumah (terutama rumah yang ada anak gadisnya) maka perjaka itu diharuskan mengawini gadis yang tinggal di rumah tersebut. Karena kalau tidak dikawinkan akan mendapat nama yang tidak baik dalam masyarakat. Pengertian ngebruk juga disebut “nyerah diri”, dalam arti si laki-laki datang ke rumah perempuan yang ingin dinikahinya dengan menyerahkan uang atau pakaian. Hal ini dilakukan jika belum ada persetujuan terhadap hubungan itu atau karena kondisi keuangan yang belum memenuhi syarat.

 

13
Feb
14

Kebudayaan : Napak Tilas Kepanduan Indonesia

IPINDO download

IKATAN PANDU INDONESIA (IPINDO)

Napak Tilas Kepanduan Indonesia

Jauh sebelum nama Pramuka (Praja Muda Karana) kita kenal sekarang. Gerakan Pramuka khususnya di Indonesia, dahulu lebih dikenal dengan kepanduan. Diawali dengan adanya cabang gerakan kepanduan, pada jaman Hindia Belanda pada tahun 1912, Nederlandse Padvinders Organisatie” (NPO) kemudian berganti nama menjadi “Nederlands-Indische Padvinders Vereeniging” (NIPV) pada tahun 1916. Saat terjadinya Perang Dunia I yang memiliki kwartir besar sendiri.

Sementara organisasi kepanduan yang didirikan oleh orang pribumi atas inisiatif S.P. Mangkunegara VII bernama Javaanse Padvinders Organisatie (JPO) pada tahun 1916 juga. Sebelumnya, organisasi pandu ini telah merambah ke seluruh dunia dan bertujuan untuk melatih fisik, mental dan spiritual para pesertanya dan mendorong mereka untuk melakukan kegiatan positif di masyarakat, yang kita kenal sekarang dengan nama Jambore Nasional.

Sebelum kita napak tilas kembali kegiatan Pramuka di Indonesia?

Mari kita tengok asal mula kegiatan kepanduan ini. Seabad lalu, sejak didirikan oleh Bapak Pandu Dunia Robert Baden-Powell, seorang pensiunan Tentara Britania, pada 1907 di Inggris. Nama lengkap Baden-Powell adalah Robert Stephenson Smyth Baden-Powell, 1st Baron Baden-Powell.

Berdirinya Boy Scouts (Pramuka) secara tidak sengaja dari kumpulan anak-anak remaja yang di sebut Scout Troops. Gerakan pramuka berkembang seiring dengan Boys’ Brigade. Pendiri Boys’ Brigade, Sir William Alexander Smith adalah sahabat Baden-Powell.

Semasa di ketentaraan Inggris Baden-Powell menulis sebuah buku Aids to Scouting berisi ringkasan ceramah yang dia berikan mengenai peninjau ketentaraan, untuk membantu melatih perekrutan tentara baru.

Dengan buku panduan ini ditambah kaidah lain, ia melatih mereka untuk berpikir sendiri, menggunakan daya usaha sendiri, dan untuk bertahan hidup dalam hutan. Setelah kembali dari tugasnya, Baden-Powell mendapati buku panduan ketentaraannya “Aids to Scouting” telah menjadi buku terlaris, dan telah digunakan oleh para guru dan organisasi pemuda.

Akhirnya, Baden-Powell memutuskan untuk menulis kembali Aids to Scouting agar sesuai dengan pembaca remaja, dan pada tahun 1907 membuat satu perkemahan di pulau Brownsea bersama dengan 22 anak lelaki yang berlatar belakang berbeda, untuk menguji sebagian dari idenya. Buku “Scouting for Boys” kemudian diterbitkan pada tahun 1908 dalam 6 jilid. Nah itulah asal mula gerakan Pramuka.

Di Indonesia sendiri, bapak pandu ialah Sri Sultan Hamengkubuwono IX. Sebelum lahirnya gerakan Pramuka pada tahun 1961. Tidak dapat kita pungkiri perjalanan sejarah kepramukaan di bumi pertiwi melibatkan peran aktif pemuda Indonesia. Sebab sebelum tahun 1960-an bermunculan gerakan kepanduan, seperti Padvinder Muhammadiyah yang pada 1920 yang kemudian oleh Budi Utomo dirubah namanya menjadi Hisbul Wathon” (HW); Nationale Padvinderij.

Sementara itu, Syarikat Islam mendirikan Syarikat Islam Afdeling Padvinderij. Lalu berubah nama menjadi Syarikat Islam Afdeling Pandu. Namun lebih dikenal dengan SIAP. Sedangkan Jong Islamieten Bond (JIB) mendirikan Nationale Islamietishe Padvinderij (NATIPIJ), dan Pemuda Indonesia membentuk Indonesisch Nationale Padvinders Organisatie (INPO).

Hasrat bersatu bagi organisasi kepramukaan Indonesia waktu itu tampak mulai dengan terbentuknya PAPI yaitu “Persaudaraan Antara Pandu Indonesia” merupakan federasi dari Pandu Kebangsaan, INPO, SIAP, NATIPIJ dan PPS pada tanggal 23 Mei 1928.

Federasi ini tidak dapat bertahan lama, karena niat adanya fusi, akibatnya pada 1930 berdirilah Kepanduan Bangsa Indonesia (KBI) yang dirintis oleh tokoh dari Jong Java Padvinders/Pandu Kebangsaan (JJP/PK), INPO dan PPS (JJP-Jong Java Padvinderij); PK-Pandu Kebangsaan).

PAPI kemudian berkembang menjadi Badan Pusat Persaudaraan Kepanduan Indonesia (BPPKI) pada bulan April 1938.

Antara tahun 1928-1935 bermuncullah gerakan kepramukaan Indonesia baik yang bernafas utama kebangsaan maupun bernafas agama. kepramukaan yang bernafas kebangsaan dapat dicatat Pandu Indonesia (PI), Padvinders Organisatie Pasundan (POP), Pandu Kesultanan (PK), Sinar Pandu Kita (SPK) dan Kepanduan Rakyat Indonesia (KRI). Sedangkan yang bernafas agama Pandu Ansor, Al Wathoni, Hizbul Wathon, Kepanduan Islam Indonesia (KII), Islamitische Padvinders Organisatie (IPO), Tri Darma (Kristen), Kepanduan Azas Katholik Indonesia (KAKI), Kepanduan Masehi Indonesia (KMI).

Sebagai upaya untuk menggalang kesatuan dan persatuan, Badan Pusat Persaudaraan Kepanduan Indonesia BPPKI merencanakan “All Indonesian Jamboree”. Rencana ini mengalami beberapa perubahan baik dalam waktu pelaksanaan maupun nama kegiatan, yang kemudian disepakati diganti dengan “Perkemahan Kepanduan Indonesia Oemoem” disingkat PERKINO dan dilaksanakan pada tanggal 19-23 Juli 1941 di Yogyakarta.

Sebulan sesudah proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia, beberapa tokoh kepramukaan berkumpul di Yogyakarta dan bersepakat untuk membentuk Panitia Kesatuan Kepanduan Indonesia sebagai suatu panitia kerja. Pada tanggal 27-29 Desember 1945 panitia kerja mengadakan Konggres Kesatuan Kepanduan Indonesia.

Konggres tersebut menghasilkan keputusan membentuk Pandu Rakyat Indonesia, yang didukung oleh segenap pimpinan dan tokoh serta dikuatkan dengan “Janji Ikatan Sakti”, lalu pemerintah RI mengakui sebagai satu-satunya organisasi kepramukaan yang ditetapkan dengan keputusan Menteri Pendidikan, Pengajaran dan Kebudayaan No.93/Bag. A, tertanggal 1 Februari 1947.

Lalu Pandu Rakyat Indonesia mengadakan Kongres II di Yogyakarta pada tanggal 20-22 Januari 1950. Salah satu isi keputusannya adalah andu Rakyat Indonesia bukan lagi satu-satunya organisasi kepramukaan di Indonesia dengan keputusan Menteri PP dan K nomor 2344/Kab. tertanggal 6 September 1951. Sehingga peraturan sebelumnya, tidak berlaku lagi.

Pada tanggal 16 September 1951 berdirilah Ikatan Pandu Indonesia (IPINDO) sebagai suatu federasi hasil dari konferensi wakil-wakil kepramukaan yang diadakan di Jakarta, dan pada tahun 1953 Ipindo berhasil menjadi anggota kepramukaan sedunia.

Pada Dirgahayu RI ke-10 Ipindo menyelenggarakan Jambore Nasional, bertempat di Ragunan, Pasar Minggu pada tanggal 10-20 Agustus 1955, Jakarta. Presiden/Mandataris MPRS Dr. Ir. Soekarno, menyampaikan pidato agar pada peringatan Proklamasi Kemerdekaan RI Gerakan Pramuka telah ada dan dikenal oleh masyarakat, Hari Kamis (9 Maret 1961). Presiden menyatakan hal itu dihadapan para tokoh dan pemimpin gerakan kepramukaan Indonesia, bertempat di Istana Negara.

Gerakan Pramuka secara resmi diperkenalkan kepada seluruh rakyat Indonesia pada tanggal 14 Agustus 1961 bukan saja di Ibukota Jakarta, tapi juga di tempat yang penting di Indonesia. Di Jakarta sekitar 10.000 anggota Gerakan Pramuka mengadakan Apel Besar yang diikuti dengan pawai pembangunan dan defile di depan Presiden dan berkeliling Jakarta. Sehingga tanggal 14 Agustus diperingati sebagai hari Pramuka.

13
Jan
14

Kebudayaan : Deklarasi Relawan Budaya TRISTAR

Dr Ir Pandji R Hadinoto, MH

Menimbang strategisnya bina jatidiri bangsa menuju Indonesia Jaya 2045 bertahapan TRISTAR (Tri Strategi Rakyat) yaitu Indonesia Mulia 2014-2024, Indonesia Bermartabat 2024-2034, Indonesia Sejahtera 2034-2044; dan memperhatikan Petisi-17 tanggal 13 Januari 2011 serta Rekomendasi Presidium Koalisi Penyelamat Indonesia tanggal 5 Januari 2014, maka kami Calon Legislatif DPRRI, PKP Indonesia (15), Daerah Pemilihan Jakarta2 No2, deklarasikan Relawan Budaya TRISTAR sebagai berikut :
Pertama, Pembudayaan Monumen Nasional di Jakarta Pusat sebagai Monumen Nasional Pancasila;
Kedua, Pembudayaan Lapangan Monumen Nasional di Jakarta Pusat sebagai Lapangan Indonesia Merdeka mengingat peran Rapat Raksasa 19 September 1945 di Lapangan IKADA;
Ketiga, Pembudayaan GOLDEN (Golongan Demokrasi Negarawan) sebagai pengawal Proklamasi Indonesia Merdeka 17845 bernafaskan (17 butir Jiwa Semangat Nilai-nilai 45 + 8 butir Kepemimpinan Hastabrata + 45 butir Pengamalan Pancasila Tap MPRRI No XVIII/1998)
Demikianlah Deklarasi Relawan Budaya ini diluncurkan untuk dapat bermanfaat bagi segenap anak bangsa Indonesia dan dapat dipergunakan se-baik2nya demi amanat Pembukaan UUD45, sekaligus Dirgahayu HUT ke-15 PKP Indonesia (15) yang Bekerja Untuk Rakyat, pada tanggal 15 Januari 2014.
Jakarta Selatan, 13 Januari 2014
Deklarator,
Dr Ir Pandji R Hadinoto, MH
Dewan Pakar PKP Indonesia
Turut Deklarasi,
Turut Deklarasi, CaLeg DPRRI :
(1) Ir Kusnadi Notonegoro, SH, MH / DaPil JaTeng4 No3, (2) Drs AV Arinto Pribadi / DaPil JaTeng1 No1, (3) Asmara Roni BE / DaPil Jambi1, (4) Hj Siti Aisyah MR Soekarnoputri / DaPil Banten1 No1, (5) Hj Annissa Amazia Cassandra / DaPil JaTim7 No7, (6) M Rusli Zamzammi Said / DaPil SulTeng 3, (7) Ch Marini Ambasari / DaPil JaTim 6, (8) Bea Larasati Iskandar / DaPil Jakarta3 No2, (9) Safril Partang, SH, MH / DaPil SulSel3 No1, (10) Antonia Josephine Maria / DaPil KalBar3
Turut Deklarasi, CaLeg DPRD Jakarta :
(1) LS Djoko Sasanto / DaPil JakPus1 No1, (2) Roedi Susyanto / DaPil JakSel7 No9, (3) Rumbung Pasaribu, SH, MH / DaPil JakSel8 No12
Salam Negarawan 17845,
Pandji R Hadinoto, PKPI Nasionalis Pancasila CaLeg DPRRI Jkt-2 (JakPus-JakSel-LN) No, 2 www.jakarta45.wordpress.com




Blog Stats

  • 3,148,238 hits

Recent Comments

Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Sejarah : Bangsa Lemuria, Lelu…