Archive for September, 2018

22
Sep
18

Kenegarawanan : InPres Pembangunan Kembali RUMAH PROKLAMASI

Logo Segilima GPA45

Suara Warga45

*InPres Pembangunan Kembali RUMAH PROKLAMASI*

Kepada Yth Bapak Presiden Republik Indonesia‎

Berkerangka *JATIDIRI INDONESIA MERDEKA 1945* sbb

https://jakarta45.wordpress.com/2018/08/06/kenegarawanan-jatidiri-indonesia-merdeka-1945/amp/

Maka pada hari-hari peringatan *Penegakan Proklamasi Kemerdekaan Indonesia* 19 September 1945 [Rapat Raksasa IKADA, Jakarta] dan 21 September 1945 [Rapat Raksasa TAMBAKSARI, Surabaya], kami selaku mantan PasKiBraKa Nasional 17 Agustus 1964 dan dari Generasi Penerus 45 (GPA45) / DHD45 Jakarta turut memastikan bahwa -*InPres Pembangunan Kembali RUMAH PROKLAMASI 17 Agustus 1945 di ;l Proklamasi d/h Jl Pegangsaan Timur 56, Jakarta Pusat* adalah kebutuhan mendasar bagi Bina Nation & Character Building khususnya Generasi Milenial Indonesia kini & esok.

‎Menimbang *Politik Karakter Patriot Indonesia*
https://jakarta45.wordpress.com/2017/04/08/kenegarawanan-politik-karakter-patriot-indonesia/amp/

Mengingat *17 Doktrin Front Nasionalis45*
https://jakarta45.wordpress.com/2018/05/17/17-doktrin-front-nasionalis45/amp/

Memperhatikan *Pembangunan SDM Indonesia 2019-2024*
https://nasional.kompas.com/read/2018/03/15/18385161/puan-maharani-pembangunan-sdm-program-besar-jokowi-pada-periode-kedua

Demikianlah disampaikan kiranya InPres termaksud diatas dapat diluncurkan menjelang peringatan Hari Sumpah Pemuda 28 Oktober 2018 yang akan datang.

Jakarta, 21 September 2018

Salam Indonesia Maju,

Pandji R Hadinoto
Ketua GPA45/DHD45 Jakarta
http://www.jakarta45.wordpress.com

Rumah Proklamasi dan “Celana Dalam” Bung Karno – koransulindo.com/rumah-proklama… pic.twitter.com/FtpIc05AmtRumah Proklamasi dan “Celana Dalam” Bung Karno – koransulindo.com/rumah-proklama… pic.twitter.com/FtpIc05Amt

https://chirpstory.com/li/386873

Rumah Proklamasi 01

Koran Sulindo – Mengapa Bung Karno memutuskan bekas kediamannya di Jalan Pegangsaan Timur No, 56, yang menjadi tempat upacara proklamasi kemerdekaan Indonesia, 17 Agustus 1945, dibongkar di tahun 1964?

Pertanyaan itu diajukan seorang peserta diskusi bertajuk “Hikayat Sebuah Jalan: Pegangsaan Timur” dalam Kancah Revolusi, dua pekan lalu. Menurut sejarawan Dr. dr. Rushdy Hoesein, yang sudah hampir 30 tahun melakukan riset tentang “Rumah Proklamasi” dan memperjuangkan pembangunan kembali situs bersejarah tersebut, hanya ada satu catatan menarik terkait pembongkaran rumah itu.

Suatu kali, dr. Suharto—dokter pribadi Bung Karno—mengajukan keberatan soal rencana pembongkaran rumah itu. Mendengar keberatan itu, Bung Karno berkata: “Apakah kamu akan memamerkan celana dalamku di situ?”

Apa yang dimaksud Bung Karno dengan “celana dalam” tersebut?

Dalam diskusi itu saya sempat memberikan jawaban spekulatif berdasarkan pengetahuan yang saya punya. Bisa jadi yang dimaksud “celana dalam” oleh Bung Karno itu, kemunkingnan besar adalah kepahitan hidup yang mendera Bung Karno selama menempati rumah tersebut.

Lantas, apa saja kepahitan hidup Bung Karno itu?

Saya akan memulai dengan cuplikan dari buku Proklamasi, karya Osa Kurniawan Ilham, juga dari buku saya: Riwu ga, 14 tahun Mengawal Bung Karno.

Setelah meninggalkan Bengkulu, Bung Karno bersama Bu Inggit dan para anak angkatnya, menetap sebentar di Palembang. Setelah dengan susah payah Bung Karno meninggalkan Palembang, sesampainya di Jakarta, ia bersama keluarga kecilnya ditempatkan di Hotel Des Indes. Oleh Achmad Soebardjo, keluarga itu diusahakan menempati rumah di Jalan Diponegoro No. 11. Barulah kemudian menempati rumah di Jalan Pegangsaan Timur No. 56, milik seorang Arab bernama Faradj bin Said Awad Martak.

Yang berperan mengusahakan rumah di Jl. Pegangsaan No. 56 ini adalah Chaerul Basri, seorang pemuda yang sejak umur 8 tahun menjadi pengagum Bung Karno. Dia kemudian dari Padang ia pindah ke Jakarta untuk melanjutkan sekolah di AMS Jakarta. Kebetulan ia bersahabat dengan keponakan Husni Thamrin bernama Abdel Hassan. Dari situ ia dekat dengan tokoh-tokoh pergerakan dan membuat ia dikenal oleh Hitoshi Shimizu, pegawai Sendenbu, divisi propaganda Jepang, Gunseikanbu yang saat itu menjadi penggerak Gerakan Tiga A.

Ketika Bung Karno sudah mendarat di Jakarta, ia didekati oleh Shimizu untuk memimpin PUTERA dan Bung Karno menyatakan persetujuannya. Lalu pihak Jepang bermaksud menyediakan sebuah rumah dan mobil untuk Bung Karno. Shimizu lalu meminta tolong Chaerul Basri: “Orang muda, bisakah engkau mencarikan rumah untuk orang besar ini sambil menunjuk Bung Karno di sampingnya”. Bung Karno lalu menjelaskan tipe rumah yang diinginkan, yaitu rumah yang pekarangannya luas agar bisa menerima rakyat banyak.

Mendengar permintaan itu, Chaerul Basri sore itu juga berkeliling di wilayah Menteng, dengan berboncengan dengan sahabatnya Adel Sofian. Hasil observasinya, semua rumah di sekitar Taman Suropati Menteng sudah ditempati para pembesar Jepang. Ia pun berkeliling lagi. Sampai di Jl. Pegangsaan Timur, Basri dan Adel melihat sebuah rumah yang cocok sekali dengan yang diinginkan Bung Karno.

Keesokan harinya ia sudah melaporkan penemuannya ke Hitoshi Shimizu. Agar jelas, Hitoshi meminta Basri untuk menjelaskan sendiri kepada Bung Karno, melalui telepon dengan bahasa Indonesia. Mendengar penjelasan itu, Bung Karno langsung setuju.

Lantas, hari itu juga Basri dan Adel Sofian mendatangi rumah yang masih ditempati seorang perempuan Belanda, yang suaminya baru saja ditahan tentara Jepang. Mendengar permintaan Basri, sang nyonya rumah marah besar dan menolak untuk pindah, walau dijanjikan akan dipindahkan ke rumah yang lebih besar.

Basri lantas menyarankan kepada Hitoshi agar pengosongan rumah dilakukan oleh pihak Jepang. Hitoshi setuju, dan seminggu kemudian sang nyonya bersedia pindah ke sebuah rumah bertingkat di Jalan Lembang sebagai gantinya.

Demikian sejarahnya rumah itu ditempati Bung Karno bersama keluarga kecilnya yang terdiri dari Bung Karno, Ibu Inggit, Kartika, dan Riwu Ga. Kartika adalah anak angkat mereka yang dibawa dari Ende, sedang Riwu Ga adalah pemuda yang selama dalam pembuangan bekerja apa saja untuk membantu Bung Karno.

Dokter Soeharto, yang kemudian menjadi dokter pribadi Bung Karno, dan keluarga sebelumnya sudah akrab dengan rumah itu. Ketika masih belajar di Sekolah Tinggi Kedokteran (GHS – Geneeskundige Hoogeschool ) tahun 1928 dia mendapatkan beasiswa bulanan dari Tjandi Stichting, sebuah yayasan di Gravenhage, Belanda, yang begerak untuk melakukan kampanyek agar pemerintah Belanda secara bertahap memerdekaan Indonesia.

Kebetulan perwakilan di Batavia adalah Prof. F. M. Baron van Asbeck yang menempati rumah di Jalan Pegangsaan Timur itu. Prof. Asbeck adalah Guru Besar di Sekolah Tinggi Hukum. Tiap bulan dr. Soeharto pergi ke rumah itu untuk mengambil beasiswanya. Dr. Soeharto pun kemudian akrab dengan penghuni baru, Bung Karno dan keluarganya. Bahkan, ia ikut juga ke Dalath bersama Bung Karno, Bung Hatta, dan dokter Radjiman, untuk menerima janji kemerdekaan dari Jepang.

Setelah Presiden Soekarno dan Wakil Presiden Mohammad Hatta hijrah ke Yogyakarta, awal Januari 1946, “Rumah Proklamasi” dijadikan kantor Perdana Menteri Sjahrir. Disinilah, Sjahrir kerap memimpin rapat kabinetnya, serta menerima tamu.

Dibongkar Karena Kenangan Pahit?

Kisah dr. Soeharto dan Chaerul Basri diatas tidaklah cukup untuk menjawab, mengapa rumah bersejarah itu akhirnya dibongkar justru oleh Bung Karno sendiri. Meski mendapat tentangan dari berbagai kalangan saat itu, termasuk Walikota Jakarta Henk Ngantung, dr. Soeharto, dan sejumlah petinggi pemerintahan. Di lahan bekas “Rumah Proklamasi” itu kemudian dibangun Gedung Pola, dan kemudian juga Tugu Proklmasi.

Kartika (kini sudah berusia 90 tahun), anak angkat Bung Karno dan Bu Inggit dalam sebuah wawancara dengan saya, menceritakan: “Saya sudah terlelap tidur malam itu. Tiba2 kami dibangunkan . Sudah ada Bung Hatta, Kiyai Mas Mansyur, dan Ki Hadjar Dewantoro. Saya kaget ketika ditanya, mau ikut siapa, bapak atau Ibu. Maksudnya Bung Karno atau Ibu Inggit. Baru saya tahu, keduanya akan bercerai”.

Cerita Riwu Ga, juga seperti itu:

“Setelah Kartika, saya lalu dipanggil masuk. KH Mas Mansyur bertanya pada saya, “Riwu, kamu mau ikut siapa, Bapak atau Ibu?

Saya tertegun menunduk. Bibir saya berat. Bung Karno dan Ibu Inggit sama-sama menyayangi saya. Saya pun begitu, menyayangi keduanya. Tidak. Saya harus memilih salah satu, inilah pilihan yang paling sulit seumur hidup saya. Tiba-tiba muncul sebuah pikiran, entah itu dari mana, andaikan saya ikut ibu, siapa yang menjaga Bung Karno? Dia orang penting bagi bangsa ini yang perlu dijaga. Tapi saya tak mampu mengucapkannya sampai KH Mas Mansyur mengulangi pertanyaannya.

Saya mengangkat muka, memandang kiai itu lurus-lurus. Lalu, dengan berat hati saya katakan: “saya iku bapak saja.” Sungguh, saya tak berani memandang mata Ibu Inggit. Takut, ia menyangka saya lebih sayang pada Bung Karno. Tapi rupanya Ibu Ingit mengerti perasaan saya.

“Riwu,” kata Bu Inggit, “Jaga bapak baik-baik. Tapi kalau sempat, datang-datang menengok saya di Bandung ya,” pesannya. Hati saya hancur. Perempuanj sejati itu lalu berpaling kepada Bung Karno lalu berkata, “ Izinkan Riwu ke Bandung kalau dia ingin menjenguk saya. Juga kalau suatu saat saya butuh dia.”

Itulah saat terakhir kami berkumpul. Saya tak dapat menahan air mata. Tak terasa kenanganku melayang jauh. Jauh ke Ende saat-saat rumah tangga ini bahagia, jauh ke belantara Sumatra ketika bersama kami melintasi hutan yang penuh binatang buas itu, jauh ke atas perahu yang membawa kami mengarungi laut yang bergelora sampai ke Jakarta sini. Sampai ke rumah Pegangsaan ini. Kini, ternyata, semua itu saya lalui untuk menyaksikan suatu perpisahan yang menyakitkan begini”.

Dari kisah Riwu Ga dan Kartika tersebut, barangkali sedikit dapat memberi jawaban suasana hati Bung Karno, hingga akhirnya memutuskan untuk membongkar “Rumah Proklamasi”– tempat yang menyimpan kenangan pahit bagi dirinya.

Bersamaan dengan itu pula, berbagai kenangan tentang sejarah bangsa nan penting ikut terkuburkan. Kini, tugas kita sebagai anak bangsa, untuk menghidupkan lagi memori bangsa itu, hingga “Rumah Proklamasi” bisa dibangun kembali di lokasi yang asli.

Peter A. Rohi, wartawan senior

Faradj bin Said, Pemilik ‘Rumah Proklamasi’ yang Berjasa Bagi Indonesia

https://www.boombastis.com/faradj-bin-said/85313

Selama ini kita hanya tahu kalau proklamasi kemerdekaan yang diucapkan oleh Bung Karno berlangsung di Jalan Pegangsaan Timur no. 56. Selebihnya kita tidak tahu siapa gerangan pemilik dari rumah yang sangat bersejarah ini. Siapa empu rumah yang menjadi tempat tinggal Bung Karno hingga tanah dan bangunannya dihibahkan pada negara.

Beliau adalah Faradj bin Said bin Awad Martak. Pedagang Indonesia keturunan Arab ini mengizinkan rumahnya digunakan untuk upacara proklamasi. Bahkan, selama Bung Karno di sana, beliau memberikan pelayanan yang pria termasuk membantu menyembuhkan penyakit dari Bung Karno.

Berikut kisah dari Faradj bin Said yang jangan sampai dilupakan oleh sejarah. Berkat jasa beliau, proklamasi bisa dilakukan dengan lancar dan tanpa gangguan apa pun.
Sedikit Mengenal Faradj bin Said

Faradj bin Said adalah seorang pedagang yang cukup sukses di masa itu. Beliau lahir di Hadramaut lalu tumbuh dan akhirnya menetap di Indonesia dengan menjalankan sebuah perusahaan. Sebagai seorang pebisnis yang sukses, Faradj bin Said ternyata tidak lupa daratan. Beliau justru dikenal aktif berjuang untuk Indonesia dan membantu pejuang agar negeri ini segera merdeka.

Kekayaan yang dimiliki oleh Faradj bin Said ternyata dipergunakan dengan baik untuk negeri ini. Beliau tidak segan-segan memberikan sejumlah dana atau bahkan tanah kepada negeri ini agar cita-cita negeri ini bisa tercapai. Bagi Faradj bin Said, mengabdi untuk negeri ini adalah kewajiban di samping dia tetap bekerja sebagai seorang pebisnis yang andal.

Rumah Proklamasi yang Diberikan kepada Negara

Salah satu bentuk perjuangan dari seorang Faradj bin Said adalah pemberian rumahnya kepada para pejuang. Rumah di Pegangsaan Timur no.56 yang kita kenal baik sebagai lokasi dari proklamasi kemerdekaan adalah milik dari Fardj bin Said. Beliau mengizinkan Bung Karno tinggal di sana setelah peristiwa Rengasdengklok terjadi.

Dini hari sebelum proklamasi diadakan, Bung Karno dan golongan tua serta muda berkumpul di sini. Setelah naskah proklamasi dirumuskan, semuanya berkumpul dan menunggu saat yang tepat untuk melakukan proklamasi kemerdekaan. Semua orang datang ke sini meski sembunyi-sembunyi dari militer Jepang yang masih belum menerima kekalahannya dari sekutu.

Membantu Mengobati Penyakit Bung Karno

Sebelum proklamasi kemerdekaan akhirnya dikumandangkan, Bung Karno mengalami sakit yang cukup parah. Beliau mengidap beri-beri dan juga malaria. Dua penyakit ini menyebabkan tubuh dari proklamator ini terus lemas. Melihat Bung Karno yang cukup mengkhawatirkan, Faradj bin Said akhirnya memberikan Bung Karno sebuah madu yang sangat berkhasiat bernama sidr bahiyah.

Dengan madu yang sangat berkhasiat ini, kesehatan dari Bung Karno lambat laun membaik. Beliau mampu bertahan meski harus banyak tidur untuk memulihkan stamina. Oh ya, menurut dokter pribadi dari Bung Karno, penyembuhan yang dialami Bung Karno cukup signifikan berkat madu Faradj bin Said dan juga obat yang dia berikan.

Sahabat Baik Bung Karno yang Hobi Menghibahkan Tanah

Setelah kesehatannya membaik, Bung Karno akhirnya mampu mengumandangkan proklamasi kemerdekaan dengan baik. Di rumah yang dimiliki oleh Faradj bin Said, perubahan besar bagi negeri ini akhirnya berjalan dengan baik hingga Bung Karno memberikan ucapan terima kasih resmi kepada Faradj bin Said setelah menjadi presiden.

Setelah digunakan sebagai lokasi proklamasi kemerdekaan, rumah yang terletak di Jalan Pegangsaan Timur no. 56 diberikan kepada negara. Faradj bin Said menghibahkan rumah itu agar saksi sejarah itu bisa dikelola dengan baik oleh negara. Selain kediamannya, beliau juga pernah menghibahkan tanah dan membangun masjid besar Al-Azhar di Kebayoran Baru.

Faradj bin Said mungkin tidak seterkenal pahlawan-pahlawan yang berjuang untuk negeri ini. Namun, perjuangan yang diberikannya pada negeri ini tidaklah sedikit. Bahkan Bung Karno sampai mengagumi sosok pedagang pekerja keras ini.

Advertisements
20
Sep
18

MH Muthahar : Penegak Proklamasi Kemerdekaan Indonesia

Logo Bulat GPA45

PENEGAK PROKLAMASI KEMERDEKAAN INDONESIA

Berkerangka *JATIDIRI INDONESIA MERDEKA 1945* sbb

https://jakarta45.wordpress.com/2018/08/06/kenegarawanan-jatidiri-indonesia-merdeka-1945/amp/

Maka pada 19 September 2018 sebagai hari peringatan Penegakan Proklamasi Kemerdekaan Indonesia 19 September 1945 [Rapat Raksasa IKADA, Jakarta], kami Generasi Penerus 45 (GPA45) / DHD45 Jakarta turut memastikan bahwa almarhum *Mayor TNI AD (Purn) Muhammad Husein Muthahar* adalah berhak menyandang kehormatan sebagai PEJOANG45

Menimbang Profil Kepejoangan45 beliau sebagaimana

*MH Muthahar, Penyandang Bintang Gerilya dan Bintang Mahaputera, *

https://id.m.wikipedia.org/wiki/Husein_Mutahar

Mengingat *PRIMER45 Politik Roh Indonesia Merdeka 45*

https://jakarta45.wordpress.com/2016/05/17/30620/amp/

Memperhatikan *Keteladanan Bapak-bapak Pandu Indonesia*

https://nusantaranews.co/pembudayaan-keteladanan-pandu-indonesia%E2%80%8E-tentang-bapak-bapak-pandu-indonesia/

‎Demikianlah peluncuran Suara Warga45 ini dilakukan dengan iktikad baik guna memberikan pemahaman publik dan memotivasi Generasi Pejoang Milenial Indonesia serta sekaligus penghargaan kehormatan bagi tokoh generasi Penegak Proklamasi Kemerdekaan Indonesia.

Jakarta, 19 September 2018

Salam Joang45,

Pandji R Hadinoto
Ketua GPA45/DHD45 Jakarta
www‎.jakarta45.wordpress.com

Tembusan Yth. Rekan2 Alumni
1) Pandu Rakyat Indonesia, Jakarta1
2) Gerakan Pramuka, Gambir13

Habib Muhammad Husein Muthahar, Penyelamat Bendera Pusaka Sang Saka Merah Putih

http://www.elhooda.net/2015/08/habib-muhammad-husein-muthahar-penyelamat-bendera-pusaka-sang-saka-merah-putih/

HUT Kemerdekaan Republik Indonesia, 17 Agustus 2015, tinggal menghitung hari. Terkait HUT RI, ada satu hal yang menjadi momen “suci” bangsa Indonesia khususnya di saat detik-detik Proklamasi Kemerdekaan RI, yakni pengibaran bendera pusaka Sang Saka Merah Putih oleh Pasukan Pengibar Bendera Pusaka atau Paskibraka.

Sang Saka Merah Putih sebagai bendera pusaka ternyata mempunyai catatan sejarah yang cukup heroik sehingga harus diselamatkan dari penjajahan Belanda saat itu. Jika tidak, mungkin anak cucu keturunan bangsa Indonesia sekarang ini tidak dapat menyaksikan bendera pusaka sebagai salah satu bukti sejarah kemerdekaan Indonesia. Tahukah anda bahwa sang penyelamat bendera pusaka dari tangan penjajah saat itu adalah seorang habib, yang mempunyai darah pertalian keturunan dengan Sayyidina Rasulullah shollallohu ‘alaihi wa alihi wa shohbihi wa sallam?

Sayyidil Habib Muhammad Husein bin Salim bin Ahmad bin Salim bin Ahmad Al-Muthahar, beliau lah sang penyelamat bendera pusaka Sang Saka Merah Putih dari tangan penjajah. Tanpa jasa beliau, bangsa Indonesia sekarang mungkin sudah tidak dapat melihat lagi bendera pusaka yang dijahit oleh istri Presiden Soekarno, Ibu Fatmawati. Saat itu, Presiden Soekarno menugaskan Habib Muhammad Husein Muthahar yang berpangkat Mayor untuk menjaga dan menyelamatkan bendera pusaka dari tangan penjajahan Belanda meski harus dengan mengorbankan nyawanya. Amanah “menjaga bendera pusaka dengan nyawa” ini pun berhasil dilaksanakan sang Habib dengan penuh perjuangan.

KH Achmad Chalwani Nawawi, pengasuh Pondok Pesantren An-Nawawi Berjan, Gebang, Purworejo yang juga Mursyid Thariqah Qadiriyah wa Naqsyabandiyah menuturkan bahwa Habib Muhammad Husein Muthahar yang merupakan penyelamat bendera pusaka ini adalah paman dari Habib Umar Muthohar Semarang.

Ingin tahu kisah sang Habib dalam menyelamatkan bendera pusaka? Berikut adalah kisah selengkapnya tentang penyelamatan bendera pusaka oleh Habib Muhammad Husein Muthahar ini yang mesti diketahui oleh bangsa Indonesia khsusunya umat Islam agar tahu bagaimana perjuangan para pendahulu bangsa ini dalam mempertahankan kemerdekan Republik Indonesia.

KISAH HEROIK PENYELAMATAN BENDERA PUSAKA OLEH HABIB MUHAMMAD HUSEIN MUTHAHAR

Bendera Pusaka Sang Saka Merah Putih adalah sebutan bagi bendera Indonesia yang pertama. Bendera Pusaka dibuat dan dijahit oleh Ibu Fatmawati, istri Presiden Republik Indonesia pertama, Ir. Soekarno. Bendera pusaka untuk pertama kali berkibar pada Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia 17 Agustus 1945, di Jalan Pegangsaan Timur 56 Jakarta, setelah Soekarno membacakan Proklamasi Kemerdekaan Indonesia. Bendera dinaikkan pada tiang bambu oleh Pasukan Pengibar Bendera Pusaka (Paskibraka) yang dipimpin oleh Kapten Latief Hendraningrat. Setelah dinaikkan, lagu “Indonesia Raya” kemudian dinyanyikan secara bersama-sama.

Pada tahun pertama Revolusi Nasional Indonesia, Bendera Pusaka dikibarkan siang dan malam. Pada 4 Januari 1946, karena aksi teror yang dilakukan Belanda semakin meningkat, presiden dan wakil presiden Republik Indonesia dengan menggunakan kereta api meninggalkan Jakarta menuju Yogyakarta. Bendera pusaka dibawa ke Yogyakarta dan dimasukkan dalam koper pribadi Soekarno. Selanjutnya, ibukota dipindahkan ke Yogyakarta.

Tanggal 19 Desember 1948, Belanda melancarkan agresinya yang kedua yang membuat Presiden, wakil presiden dan beberapa pejabat tinggi Indonesia akhirnya ditawan Belanda. Di saat-saat genting dimana Istana Presiden Gedung Agung Yogyakarta dikepung oleh Belanda, Presiden Soe­karno sempat memanggil salah satu ajudannya berpangkat Mayor yang bernama Sayyidil Habib Muhammad Husein Muthahar, yang kemudian ditugaskan untuk menyelamatkan sang bendera pusaka. Penyelamatan bendera pusaka ini merupakan salah satu bagian “heroik” dari sejarah tetap berkibarnya Sang Merah putih di persada bumi Indonesia. Saat itu, Soe­karno berucap kepada Habib Husein Muthahar:

“Apa yang terjadi terhadap diriku, aku sendiri tidak tahu. Dengan ini aku memberikan tugas kepadamu pribadi. Dalam keadaan apapun juga, aku memerintahkan kepadamu untuk menjaga bendera kita dengan nyawamu. Ini tidak boleh jatuh ke tangan musuh. Di satu waktu, jika Tuhan mengizinkannya engkau mengembalikannya kepadaku sendiri dan tidak kepada siapa pun kecuali kepada orang yang menggantikanku sekiranya umurku pendek. Andaikata engkau gugur dalam menyelamatkan bendera ini, percayakanlah tugasmu kepada orang lain dan dia harus menyerahkannya ke tanganku sendiri sebagaimana engkau mengerjakannya.”

Di saat bom-bom berjatuhan dan tentara Belanda terus mengalir melalui setiap jalanan kota, Habib Husein Muthahar terdiam dan memejamkan matanya, berpikir dan berdoa. Amanah “menjaga bendera pusaka dengan nyawa” dirasakannya sebagai tanggungjawabnya yang sungguh berat. Setelah berpikir, Habib Husein Muthahar pun menemukan solusi pemecahan masalahnya. Sang Habib ini membagi bendera pusaka menjadi 2 bagian dengan mencabut benang jahitan yang menyatukan kedua bagian merah dan putih bendera itu. Dengan bantuan Ibu Perna Dinata, kedua carik kain merah dan putih itu berhasil dipisahkan. Oleh Habib Husein Muthahar, kain merah dan putih itu lalu diselipkan di dasar dua tas terpisah miliknya. Seluruh pakaian dan kelengkapan miliknya dijejalkan di atas kain merah dan putih itu. Sang Habib hanya bisa pasrah, dan menunggu apa yang akan terjadi selanjutnya. Yang ada dalam pemikiran Habib Husein Muthahar saat itu hanyalah satu, yakni bagaimana agar pihak Belanda tidak mengenali bendera merah-putih itu sebagai bendera, tapi ha­nya kain biasa, sehingga tidak melakukan penyitaan. Di mata seluruh bangsa Indonesia, bendera itu adalah sebuah “prasasti” yang mesti diselamatkan dan tidak boleh hilang dari jejak sejarah.

Benar, tak lama kemudian Presiden Soekarno ditangkap oleh Belanda dan diasingkan ke Prapat (kota kecil di pinggir danau Toba) sebelum dipindahkan ke Muntok, Bangka, sedangkan wakil presi­den Mohammad Hatta langsung dibawa ke Bangka. Habib Husein Muthahar dan beberapa staf kepresidenan juga akhirnya tertangkap dan diangkut dengan pesawat Dakota. Mereka dibawa ke Semarang dan ditahan di sana. Pada saat menjadi tahanan kota, Habib Husein Muthahar berhasil melarikan diri dengan naik kapal laut menuju Jakarta.

Di Jakarta Habib Husein Mutahar menginap di rumah Perdana Menteri Sutan Syahrir, yang sebelumnya tidak ikut mengungsi ke Yogyakarta. Beberapa hari kemudian, Habib Husein Muthahar indekost di Jalan Pegangsaan Timur 43, di rumah Bapak R. Said Soekanto Tjokrodiatmodjo (Kepala Kepolisian RI yang pertama). Selama di Jakarta Habib Husein Muthahar selalu mencari informasi dan cara, bagaimana bisa segera menyerahkan bendera pusa­ka kepada presiden Soekarno. Pada suatu pagi sekitar pertengahan bulan Juni 1948, akhirnya ia menerima pemberitahuan dari Sudjono yang tinggal di Oranje Boulevard (sekarang Jalan Diponegoro) Jakarta. Pemberitahuan itu menyebutkan bahwa ada surat dari Presiden Soekarno yang ditujukan kepadanya.

Sore harinya, surat itu diambil oleh Habib Husein Muthahar dan ternyata memang benar berasal dari Soekarno pribadi. Isinya sebuah perintah agar ia segera menyerahkan kembali bendera pusaka yang dibawanya dari Yogya kepada Sudjono, agar dapat diba­wa ke Bangka. Soekarno sengaja tidak memerintahkan Habib Husein Muthahar sendiri datang ke Bang­ka dan menyerahkan bendera pusaka itu langsung kepadanya. Dengan cara yang taktis, ia menggunakan Soedjono sebagai perantara untuk menjaga kerahasiaan perjalanan bendera pusaka dari Jakarta ke Bangka. Itu tak lain karena dalam pengasingan, Soekarno hanya boleh dikunjungi oleh anggota delegasi Republik Indonesia dalam perundingan dengan Belanda di bawah pengawasan UNCI (United Na­tions Committee for Indonesia). Dan Sudjono adalah salah satu anggota delegasi itu, sedangkan Habib Husein Muthahar bukan.

Setelah mengetahui tanggal keberangkatan Soedjono ke Bangka, Habib Husein Muthahar berupaya menyatukan kembali kedua helai kain merah dan putih dengan meminjam mesin jahit tangan milik seorang istri dokter yang ia sendiri lupa namanya. Bendera pusaka yang tadinya terpisah dijahitnya persis mengikuti lubang bekas jahitan tangan Ibu Fatmawati. Tetapi sayang, meski dilakukan dengan hati-hati, tak urung terjadi juga kesalahan jahit sekitar 2 cm dari ujungnya. Dengan dibungkus kertas koran agar tidak mencurigakan, selanjutnya bendera pusaka diberikan Habib Husein Muthahar kepada Soedjono untuk diserahkan sendiri kepada Presiden Soekarno. Hal ini sesuai dengan perjanjian Soekarno dengan Habib Husein Muthahar sewaktu di Yogyakarta. Dengan diserahkannya bendera pusaka kepada orang yang diperintahkan Soekarno maka selesailah tugas penyelamatan yang dilakukan Habib Husein Muthahar. Sejak itu, Sang Habib tidak lagi menangani masalah pengibaran bendera pusaka.

Habib Muhammad Husein Muthahar Sang Penyelamat Bendera PusakaTanggal 6 Juli 1949, Presiden Soekarno dan Wakil Presiden Mohammad Hatta kembali ke Yogyakarta dari Bangka dengan membawa serta bendera pusaka. Tanggal 17 Agustus 1949, bendera pusaka dikibarkan lagi di halaman Istana Presiden Gedung Agung Yogyakarta. Pada 27 Desember 1949, naskah pengakuan kedaulatan lndo­nesia ditandatangani dan sehari setelah itu Soekarno kembali ke Jakarta untuk memangku jabatan Presiden Republik Indonesia Serikat (RIS). Setelah empat tahun ditinggalkan, Jakarta pun kembali menjadi ibukota Republik Indonesia. Hari itu juga, bendera pusaka dibawa kembali ke Jakarta. Dan untuk pertama kalinya setelah Prok­lamasi Kemerdekaan Indonesia, bendera pusaka Sang Saka Merah Putih kembali berkibar di Jakarta pada peringatan Detik-detik Proklamasi 17 Agustus 1950. Karena kerapuhan bendera pusaka, sejak tahun 1968, bendera yang dinaikkan di Istana Negara adalah replika yang terbuat dari sutra.

Pada tahun 1968, Habib Muhammad Husein Muthahar membentuk organisasi mahasiswa Pasukan Pengibar Bendera Pusaka, atau Paskibraka (Bendera Pusaka Flag Hoisting Troop). Paskibraka inilah yang nantinya akan selalu bertugas sebagai pasukan pengibar bendera pusaka pada setiap upacara HUT Kemerdekaan Republik Indonesia hingga sekarang. Selain membentuk Paskibraka, beliau pun menyusun tata cara pengibaran bendera pusaka. Atas jasanya ini, beliau mendapat julukan Bapak Paskibraka Indonesia.

SANG KOMPONIS LAGU INDONESIA YANG FENOMENAL, HARI MERDEKA, DAN HYMNE SYUKUR

Habib Muhammad Husein Muthahar tidak hanya dikenal sebagai penyelamat bendera pusaka dan pendiri Paskibraka saja tetapi beliau juga seorang komponis lagu Indonesia yang hebat. Habib yang dikenal dengan nama H. Mutahar ini telah menghasilkan ratusan lagu Indonesia, seperti lagu nasional Hari Merdeka, Hymne Syukur, Hymne Pramuka, Dirgayahu Indonesiaku, juga lagu anak-anak seperti Gembira, Tepuk Tangan Silang-silang, Mari Tepuk, dan lain-lain.

Lagu Hari Merdeka dan Hymne Syukur adalah salah satu lagu fenomenal yang diciptakan oleh Habib Muhammad Husein Muthahar. Terkait penciptaan lagu Hari Merdeka, ada satu cerita yang menarik. Ternyata inspirasi lagu Hari Merdeka ini muncul secara tiba-tiba saat beliau sedang berada di toilet salah satu hotel di Yogyakarta. Bagi seorang komponis, setiap inspirasi tidak boleh dibiarkan lewat begitu saja. Beliau pun cepat-cepat meminta bantuan Pak Hoegeng Imam Santoso (Kapolri pada 1968 –1971). Saat itu Pak Hoegeng belum menjadi Kapolri. Sang Habib menyuruh Pak Hoegeng untuk mengambilkan kertas dan bolpoin. Berkat bantuan Pak Hoegeng, akhirnya jadilah sebuah lagu yang kemudian diberi judul “Hari Merdeka”. Sebuah lagu yang sangat fenomenal dan sangat terkenal yang banyak dinyanyikan oleh bangsa Indonesia, bahkan anak-anak pun sangat hafal dan pandai menyanyikannya.

Berikut lirik lagu Hari Merdeka ciptaan Habib Muhammad Husein Muthahar:

Hari Merdeka

Your browser does not support the audio element.

Tujuh belas agustus tahun empat lima
Itulah hari kemerdekaan kita
Hari merdeka nusa dan bangsa
Hari lahirnya bangsa Indonesia
Merdeka

Sekali merdeka tetap merdeka
Selama hayat masih di kandung badan
Kita tetap setia tetap sedia
Mempertahankan Indonesia
Kita tetap setia tetap sedia
Membela negara kita

Selain “Hari Merdeka”, lagu berikut juga menjadi karya fenomenal beliau. Judulnya “Syukur”. Lagu ini tercipta setelah menyaksikan banyak warga Semarang, kota kelahirannya, bisa bertahan hidup dengan hanya memakan bekicot. Berikut lirik lagunya:

Dari yakinku teguh
Hati ikhlasku penuh
Akan karuniamu
Tanah air pusaka
Indonesia merdeka
Syukur aku sembahkan
Kehadiratmu Tuhan

Dan masih banyak lagi karya fenomenal beliau yang lainnya.

Habib Muhammad Husein Muthahar meninggal dunia di Jakarta pada usia hampir 88 tahun, pada 9 Juni 2004 akibat sakit tua. Semestinya beliau berhak dimakamkan di Taman Makam Pahlawan (TMP) Kalibata dengan upacara kenegaraan sebagaimana penghargaan yang lazim diberikan kepada para pahlawan. Tetapi, beliau tidak menginginkan itu. Sesuai dengan wasiat beliau, pada 9 Juni 2004 beliau dimakamkan sebagai rakyat biasa di Tempat Pemakaman Umum (TPU) Jeruk Purut Jakarta Selatan dengan tata cara Islam.

Allahu yarhamhu, semoga Allah senantiasa melimpahkan rahmat (kasih sayang) kepada beliau, Sayyidil Habib Muhammad Husein Muthahar. Semoga jasa dan perjuangan beliau untuk Tanah Air Indonesia dibalas dengan surga dan keridhaan Allah subhanahu wa ta’ala. Semoga pula beliau tercatat sebagai pejuang yang syahid. Amin Ya Robbal ‘Alamin, Alfatihah….

DIRGAHAYU REPUBLIK INDONESIA KE-70, JAYALAH NEGERIKU JAYALAH BANGSAKU
17 AGUSTUS 1945 – 17 AGUSTUS 2015

(Berbagai sumber)
Tulisan berjudul Habib Muhammad Husein Muthahar, Penyelamat Bendera Pusaka Sang Saka Merah Putih terakhir diperbaharui pada Wednesday 12 August 2015 oleh Pejuang Ahlussunnah di Ngaji Yuk! – Kajian Ceramah Islam Ahlussunnah wal Jamaah.

Cucu Rasulullah SAW Ini Pendiri Paskibraka dan Penyelamat Merah Putih

https://www.eramuslim.com/berita/tahukah-anda/bapak-paskibraka-bapak-pramuka-indonesia-dan-pencipta-lagu-17-agustus-adalah-seorang-habib.htm

Eramuslim.com – 17 Agustus tahun 45 ! Itulah Hari Kemerdekaan kita. Hari Merdeka, nusa dan bangsa. Hari lahirnya Bangsa Indonesia… Mer. De. Ka ! ( Hari Merdeka, Ciptaan H. Mutahar)

Perayaan Hari Kemerdekaan, di Istana Negara dan di mana-mana, tidak akan pernah terlepas dari menyanyikan lagu 17 Agustus. Penciptanya sampai saat ini kita cuma mengenal sebagai H. Muthahar. Padahal, nama panjang beliau adalah Habib Haji Muthahar. Inilah fakta-fakta tentang Habib Muthahar yang tidak banyak diketahui orang:
1. TERNYATA SEORANG HABIB

Nama pencipta lagu 17 Agustus sering disingkat sebagai H. Mutahhar, yang merupakan kepanjangan dari Habib Husin Mutahhar. Beliau lahir di Semarang pada 5 Agustus 1916. habib secara bahasa berarti keturunan Rasulullah yang dicinta. Diakui sebagai seorang habib berarti H. Mutahhar memiliki kematangan dalam hal umur, memiliki ilmu yang luas, mengamalkan ilmu yang dimiliki, ikhlas terhadap apapun, wara atau berhati-hati serta bertakwa kepada Allah.

Dan yang paling penting, lanjutnya, adalah akhlak yang baik. Sebab, bagaimanapun keteladanan akan dilihat orang lain. Seseorang akan menjadi habib atau dicintai orang kalau mempunyai keteladanan yang baik dalam tingkah lakunya.
2. SEORANG PEJUANG

Sebagai pemuda pejuang, H. Mutahar juga ikut dalam “Pertempuran Lima Hari” yang heroik di Semarang.

Pertempuran lima hari di Semarang adalah serangkaian pertempuran antara rakyat Indonesia di Semarang melawan tentara Jepang pada masa transisi kekuasaan setelah Belanda yang terjadi sejak tanggal 15 Oktober 1945 sampai dengan tanggal 20 Oktober 1945. Dua penyebab utama pertempuran ini adalah karena larinya tentara Jepang dan tewasnya dr. Kariadi . Nama dr. Kariadi, yang gugur dalam pertempuran tersebut kemudian diabadikan menjadi salah satu nama Rumah Sakit di Semarang.
3. PERNAH JADI “SOPIR” BUNG KARNO

Ketika pusat pemerintah Indonesia hijrah ke Yogyakarta, H. Muntahar pernah diajak Laksamana Muda Mohammad Nazir yang ketika itu menjadi Panglima Angkatan Laut sebagai sekretaris panglima. Beliau diberi pangkat kapten angkatan laut.

Ketika mendampingi Nazir itulah Bung Karno kemudian mengingat Mutahar sebagai “sopir” yang mengemudikan mobilnya di Semarang, beberapa hari setelah “Pertempuran Lima Hari.”

H. Mutahar kemudian “diminta” oleh Bung Karno dari Nazir untuk dijadikan ajudan, dengan pangkat mayor angkatan darat.
4. PENDIRI GERAKAN PRAMUKA DAN PASKIBRAKA

H. Mutahar aktif dalam kegiatan kepanduan. Ia adalah salah seorang tokoh utama Pandu Rakyat Indonesia, gerakan kepanduan independen yang berhaluan nasionalis.

Ketika seluruh gerakan kepanduan dilebur menjadi Gerakan Pramuka, Mutahar juga menjadi tokoh di dalamnya. Namanya juga terkait dalam mendirikan dan membina Pasukan Pengibar Bendera Pusaka (Paskibraka), tim yang beranggotakan pelajar dari berbagai penjuru Indonesia yang bertugas mengibarkan Bendera Pusaka dalam upacara peringatan Hari Kemerdekaan RI.

5. BANYAK MENCIPTAKAN LAGU

17 Agustus cuma salah satu lagu dari ratusan lagu yang beliau ciptakan. Lagu – lagu lain yang juga beliau ciptakan antara lain Syukur dan Hymne Satya Darma Pramuka.
6. KISAH HEROIK MENYELAMATKAN BENDERA PUSAKA

Tanggal 19 Desember 1948, Belanda melancarkan agresi militernya yang kedua. Presiden, wakil presiden dan beberapa pejabat tinggi Indonesia akhirnya ditawan Belanda.

Namun, pada saat-saat genting dimana Istana Presiden Gedung Agung Yogyakarta dikepung oleh Belanda, Soe­karno sempat memanggil H. Mutahar, yang saat itu merupakan ajudannya. Beliau lalu ditugaskan untuk untuk menyelamatkan bendera pusaka. Penyelamatan bendera pusaka ini merupakan salah satu bagian “heroik” dari sejarah tetap berkibarnya Sang Merah putih di persada bumi Indonesia.

Sementara di sekeliling mereka bom berjatuhan dan tentara Belanda terus mengalir melalui setiap jalanan kota, Mutahar terdiam. Ia memejamkan mataya dan berdoa, Tanggungjawabnya terasa sungguh berat. Akhirnya, ia berhasil memecahkan kesulitan dengan mencabut benang jahitan yang menyatukan kedua bagian merah dan putih bendera itu.

Dengan bantuan Ibu Perna Dinata, kedua carik kain merah dan putih itu berhasil dipisahkan. Oleh Mutahar, kain merah dan putih itu lalu diselipkan di dasar dua tas terpisah miliknya. Seluruh pakaian dan kelengkapan miliknya dijejalkan di atas kain merah dan putih itu. Ia hanya bisa pasrah, dan menunggu apa yang akan terjadi selanjutnya.

Yang ada dalam pemikiran Mutahar saat itu hanyalah satu: bagaimana agar pihak Belanda tidak mengenali bendera merah-putih itu sebagai bendera, tapi ha­nya kain biasa, sehingga tidak melakukan penyitaan. Di mata seluruh bangsa Indonesia, bendera itu adalah sebuah “prasasti” yang mesti diselamatkan dan tidak boleh hilang dari jejak sejarah.

Benar, tak lama kemudian Presiden Soekarno ditangkap oleh Belanda dan diasingkan ke Parapat (kota kecil di pinggir danau Toba) sebelum dipindahkan ke Muntok, Bangka, sedangkan wakil presi­den Mohammad Hatta langsung dibawa ke Bangka. Mutahar dan beberapa staf kepresidenan juga ditangkap dan diangkut dengan pesawat Dakota. Ternyata mereka dibawa ke Semarang dan ditahan di sana. Pada saat menjadi tahanan kota, Mutahar berhasil melarikan diri dengan naik kapal laut menuju Jakarta.

Di Jakarta Mutahar menginap di rumah Perdana Menteri Sutan Syahrir, yang sebelumnya tidak ikut mengungsi ke Yogyakarta. Beberapa hari kemudian, ia kost di Jalan Pegangsaan Timur 43, di rumah Bapak R. Said Soekanto Tjokrodiatmodjo (Kepala Kepolisian RI yang pertama)

Selama di Jakarta, Mutahar selalu mencari informasi dan cara, bagaimana bisa segera menyerahkan bendera pusa­ka kepada presiden Soekarno. Pada suatu pagi sekitar pertengahan bulan Juni 1948, akhirnya ia menerima pemberitahuan dari Sudjono yang tinggal di Oranje Boulevard (sekarang Jalan Diponegoro) Jakarta. Pemberitahuan itu menyebutkan bahwa ada surat dari Presiden Soekarno yang ditujukan kepadanya.

Sore harinya, surat itu diambil Mutahar dan ternyata memang benar berasal dari Soekarno pribadi. Isinya sebuah perintah agar ia segera menyerahkan kembali bendera pusaka yang dibawanya dari Yogya kepada Sudjono, agar dapat diba­wa ke Bangka. Bung Karno sengaja tidak memerintahkan Mutahar sendiri datang ke Bang­ka dan menyerahkan bendera pusaka itu langsung kepadanya. Dengan cara yang taktis, ia menggunakan Soedjono sebagai perantara untuk menjaga kerahasiaan perjalanan bendera pusaka dari Jakarta ke Bangka.

Itu tak lain karena dalam pengasingan, Bung Karno hanya boleh dikunjungi oleh anggota delegasi Republik Indonesia dalam perundingan dengan Belanda di bawah pengawasan UNCI (United Na­tions Committee for Indonesia). Dan Sudjono adalah salah satu anggota delegasi itu, sedangkan Mutahar bukan.

Setelah mengetahui tanggal keberangkatan Soedjono ke Bangka, Mutahar berupaya menyatukan kembali kedua helai kain merah dan putih dengan meminjam mesin jahit tangan milik seorang istri dokter yang ia sendiri lupa namanya. Bendera pusaka yang tadinya terpisah dijahitnya persis mengikuti lubang bekas jahitan tangan Ibu Fatmawati. Tetapi sayang, meski dilakukan dengan hati-hati, tak urung terjadi juga kesalahan jahit sekitar 2 cm dari ujungnya.

Dengan dibungkus kertas koran agar tidak mencurigakan, selanjutnya bendera pusaka diberikan Mutahar kepada Soedjono untuk diserahkan sendiri kepada Bung Karno. Hal ini sesuai dengan perjanjian Bung Karno dengan Mutahar sewaktu di Yogyakarta. Dengan diserahkannya bendera pusaka kepada orang yang diperintahkan Bung Karno maka selesailah tugas penyelamatan yang dilakukan Husein Mutahar. Sejak itu, sang ajudan tidak lagi menangani masalah pengibaran bendera pusaka.

Tanggal 6 Juli 1949, Presiden Soekarno dan Wakil Presiden Mohammad Hatta kembali ke Yogyakarta dari Bangka dengan membawa serta bendera pusaka. Tanggal 17 Agustus 1949, bendera pusaka dikibarkan lagi di halaman Istana Presiden Gedung Agung Yogyakarta.

Sungguh sebuah kisah heroisme dari seorang H. Mutahar.

7. PERNAH JADI DUTABESAR RI UNTUK VATIKAN

H. Mutahar Diangkat menjadi Duta Besar Republik Indonesia pada Tahta Suci di Vatikan, 1969-1973.
8. MEMILIH TIDAK DIMAKAMKAN DI TAMAN MAKAM PAHLAWAN

Husein Mutahar yang penuh kisah inspirasi ini kemudian meninggal dunia pada tanggal 9 Juni 2004 pada usia 87 tahun. Walaupun beliau berhak dimakamkan di Makam Taman Pahlawan Kalibata karena memiliki Tanda Kehormatan Negara Bintang Mahaputera atas jasanya menyelamatkan Bendera Pusaka Merah Putih dan juga memiliki Bintang Gerilya atas jasanya ikut berperang gerilya pada tahun 1948 – 1949, namun beliau menolak dan memilih untuk dimakamkan di TPU Jeruk Purut Jakarta Selatan.

9. TIDAK SUKA DIFOTO

Di dekat jenazah beliau, diletakkan sebuah foto berwarna berukuran besar H. Mutahar dalam seragam Pramuka, lengkap dengan tanda jasa Bintang Gerilya dan Bintang Mahaputra, serta tanda kemahiran Pramuka sebagai pembina bertaraf internasional. Foto itu baru diambil dua minggu yang lalu oleh cucunya, dengan kamera digital pinjaman.

Foto itu sendiri merupakan firasat besar. Beliau tidak pernah suka dipotret. Ia selalu mencari alasan untuk pergi setiap kali melihat orang bersiap membuat potret. Tiba-tiba ia ingin dipotret dengan berbagai atribut.

Sungguh sebuah kisah besar dari salah satu pejuang inspiratif republik ini. Saya yakin kamu pun banyak belum tahu tentang cerita – cerita yang saya sajikan ini kan ?

Saya pun awalnya begitu, ketika melakukan riset untuk menulis artikel ini. Sungguh tidak pernah tahu bahwa pencipta lagu yang karyanya kita nyanyikan saban tahun ini, memiliki kisah hidup yang luar biasa. Kisah orang biasa yang telah membaktikan seluruh hidupnya untuk bangsa dan negara Indonesia.

Semoga kita semua, terutama saya mampu meneladani beliau.

Sumber Informasi :

Sayyid Habib Husin Al Muthahar, pencipta lagu 17 Agustus dan lagu kemerdekaan lainya, adalah juga salah satu pendiri Gerakan Pramuka

http://www.republika.co.id/berita/nasional/umum/14/10/11/nd9vk0-salah-kaprah-sebutan-habib-di-masyarakat

Sayid Husein Mutahar Sang Penyelamat Bendera Pusaka

http://www.kompasiana.com/nanda_mulyana/mari-mengenang-h-mutahar_552877a8f17e610d528b4571

(kl/blog.rumahsinau.org)




Blog Stats

  • 3,812,113 hits

Archives

Recent Comments

Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Sejarah : Bangsa Lemuria, Lelu…
Advertisements