28
Nov
16

Kenegarawanan : Moewardi Bapak Pandu Indonesia dan Pejoang45

Suara Pembaca :
Alm Dr Moewardi Bapak Pandu Indonesia 

30 Januari 1907 adalah hari lahir Pahlawan Kemerdekaan Nasional Dr Moewardi sesuai Surat Keputusan Presiden RI No 190/1964 tanggal 4 Agustus 1964.

Dalam konteks ditengah situasi dan kondisi kenegaraan Republik Indonesia terkini khususnya Keadilan dan Persatuan Indonesia kiranya strategik ditampilkan sosok kepemimpinan Patriot Indonesia yang telah berkontribusi signifikan di 2 (dua) tonggak sejarah Indonesia strategik yaitu Sumpah Pemuda 1928 dan Proklamasi Indonesia Merdeka 1945, untuk diteladani bersama baik oleh pemangku pemerintahan maupun oleh komunitas masyarakat sipil.

Sebagai sosok intelektual terekam dari rangkaian pendidikan formal seperti HIS (Hollandsch Inlandsche School, Kudus), ELS (Europesche Lagere School, Pati), STOVIA (School Tot Opleiding Voor Inlandshe Aartsen, Jakarta), NiAS (Nederlandch Indische Arts School), GH (Geneeskundig Hoogeschool, Jakarta) yang berujung dokter spesialis THT di tahun 1939.

Sebagai sosok pejoang politik kebangsaan terjejak dari keorganisasian yang digeluti semisal PemRed Majalah Jong Java 1922; Ketua Jong Java Cabang Djakarta 1925; Utusan Jong Java di Kerapatan Besar Pemuda 28 Oktober 1928 ikrarkan Sumpah Pemuda; turut bentuk Indonesia Muda (IM) Desember 1928 (fusi Jong Java, Jong Sumatera, Jong Ambon, Jong Minahasa, Sekar Rukun, Sangkoro Mudo); Ketua Barisan Pelopor (BP) Djakarta 1944; pimpinan BP amankan acara Proklamasi Indonesia Merdeka 17 Agustus 1945 di Jl Pegangsaan Timur 56 Jakarta dan Rapat Raksasa IKADA 19 September 1945; Pemimpin Umum Barisan Banteng Republik Indonesia (BBRI, pengganti BP), Solo; turut bentuk Persatuan Perjuangan (PP) 5 Januari 1946 di Purwokerto; turut sebagai penggerak Bandung Lautan Api 23 Maret 1946 bersama BBRI Bandung (M Toha, AH Nasution, Suprayogi); pimpinan Kongres BBRI Pebruari 1948 di Solo, bersikap anti perundingan dengan Belanda dan anti Swapraja, pasca Perjanjian Renville 17 Januari 1948.

Sebagai sosok berjiwa kepemimpinan Pandu Nasionalistik ditapaki dari Nederlandsch Indische Padvinder Vereneging (NIPV) dan di tahun 1925 berprestasi Kelas-I (Kepala Pasukan, Ploeg Leider / Assistant Troep); sebagai pimpinan Jong Java Padvinderij (JJP) mengubah nama jadi Pandu Kebangsaan (PK 1925); inisiator Persatuan Antara Pandu Indonesia (PAPI 23 Mei 1928) bersama Nationale Islamietische Padvinderij (NATIPIJ) dan Indonesische Nationale Padvinders Organisatie (INPO); penggagas prinsip “pandu yang satu adalah saudara pandu yang lainnya, oleh karena itu seluruh pandu harus menjadi satu” atau Satu Organisasi Kepanduan Indonesia (SOKI) di temu PAPI 15 Desember 1929; pembentuk dan Komisaris Besar Kepanduan Bangsa Indonesia (KBI 13 September 1930) fusi dari PK, Pandu Pemuda Sumatera (PPS) dan INPO; pembentuk dan pimpinan Badan Pusat Persaudaraan Kepanduan Indonesia (BPPKI 30 April 1938) bersama Kepanduan Azas Katholik Indonesia (KAKI), NATIPIj dan Syarikat Islam Afdeling Padvinderij (SIAP); pimpinan Perkemahan Kepanduan Indonesia Oemoem (PERKINO-I 19-23 Juli 1941, Jogjakarta dan PERKINO-II 2-12 Pebruari 1943, Jakarta); inisiator Panitia Kesatuan Kepanduan Indonesia, September 1945, Jogjakarta; pimpinan Kongres Kesatuan Kepanduan Indonesia 27-29 Desember 1945, Solo dan pembentuk serta Ketua Pandu Rakyat Indonesia (PRI 28 Desember 1945, yang diakui satu2nya organisasi kepanduan per Keputusan Menteri Pendidikan, Pengajaran dan Kebudayaan No 93/Bag A, 1 Pebruari 1947).

Sebagai tokoh Patriot Indonesia, sayang saat sedang menjalankan profesi kedokterannya
pada 13 September 1948 di Solo, dinyatakan hilang yang diduga sebagai korban revolusi di era Perang Kemerdekaan 1945-1949.    Sebagai inisiator Pandu Kebangsaan 1925, dimana istilah Pandu untuk pertama kalinya digunakan di Indonesia dan disyairkan WR Soepratman “Pandoe Iboekoe” pada lagu kebangsaan Indonesia Raja 28 Oktober 1928 lalu bermuara serta berkiprah jiwai Gerakan Pramuka 1961-sekarang, maka layaklah Dr Moewardi berkehormatan Bapak Pandu Indonesia dan diteladani pemangku Republik Indonesia jelang peringatan hari lahirnya ke 107 pada 30 Januari 2015 yang akan datang.

Jakarta, 22 Januari 2015
Pandji R Hadinoto, MAPINDO
Pandji R Hadinoto,
MAPINDO – Majelis Pandu Indonesia
Politisi Keadilan dan Persatuan Indonesia
PKP17845 – Poros Koalisi Proklamasi 17845
Editor www.jakarta45.wordpress.com

Sumber Berita: http://www.edisinews.com

Ringkasan Napak Tilas Bapak Pandu Indonesia sebagaimana uraian dibawah ini :
MOEWARDI SOSOK TRIBHAKTI INDONESIA
Mohon dibroadcast ke rekan2 “Pandu Ibuku”
senafas dengan seruan “Indonesia Raya”

Dalam rangka SAVE INDONESIA berbasis http://m.edisinews.com/berita-piagam-karakter-pandu-indonesia.html , maka perlu IKON Persatuan Indonesia (sila ke-3 Pancasila) menuju Indonesia Jaya 2045.

Berdasarkan rekam jejak TRIBHAKTI (Pandu – Patriotik – Profesional) daripada sosok Dr Moewardi, dibudayakan keteladannya melalui bahasan Napak Tilas kiprahnya sejak tahun kelahirannya 1907 s/d tahun gugurnya 1948 di lokasi sejarah keterlibatannya sbg utusan Jong Java saat Sumpah Pemuda 1928 (Moewardi, Ketua Cabang Jong Java, Batavia)

Sarasehan Bedah Tokoh Dr Moewardi di Museum Sumpah Pemuda, Jl Kramat Raya 106, JakPus, 22 Pebruari 2015 Jam 10 wib

“Bangsa yang tidak percaya kepada kekuatan dirinya sebagai suatu bangsa, tidak dapat berdiri sebagai suatu bangsa yang merdeka.” (Bung Karno – 1963)

NAPAK TILAS Dr MOEWARDI Bapak Pandu Indonesia (Rev 22Peb15), Pandu & Patriot Kebangsaan Pancasila Indonesia

30 Januari 1907 Moewardi terlahir di desa Randukuning, Pati, Jawa Tengah, di tahun yang sama bina pemuda Boy Scout diawali Baden Powell berbasis pengalaman bina 300 cadetten corps (1899-1900) saat berdinas sebagai Kolonel dikota Mafeking, Afrika Selatan.

PERIODE KEBANGKITAN NASIONAL 1908-1928

20 Mei 1908 Boedi Oetomo terbentuk
1911 terbentuk Serikat Dagang Islam (SDI) dpp H Samanhudi
1912 Nederlandse Padvinders Organisatie (NPO) terbentuk cabangnya di Batavia oleh P Jon Smits, pada tahun yang sama SDI jadi Serikat Islam (SI), juga terbentuk Indische Partij (IP) dengan tekad Hindia untuk Indiers yang bertujuan mempersiapkan bangsa Hindia ke arah kehidupan sebagai bangsa yg merdeka.

1913 Moewardi bersekolah di SD Bumiputera Jakenan lanjut di HIS (Hollandsch Inlandsche School, Kudus), lalu di ELS (Europesche Lagere School, Pati)

4 September 1914 Nederlands Indische Padvinders Vereeniging (NIPV) terbentuk
7 Maret 1915 Tri Koro Dharmo (Tiga Tujuan Mulia) terbentuk di Gedung STOVIA prakarsa Satiman Wirjosandjojo, berbasis kemuliaan
1) Mengabdi pada tanah air berdasar cinta
2) Membangkitkan keikutsertaan masyarakat dengan maksud mempertinggi kebudayaan Jawa seluruhnya
3) Mempererat persaudaraan diantara suku2 bangsa di IndonesiaJuli
1915 terbentuk Padvinders Truna Kembang (PTK) di Surakarta
1916 Javaansche Padvinders Organisatie (JPO) dibentuk Mangkunegoro VII di Solo
2 Desember 1917 Jong Sumatranen Bond terbentuk, berikut Pasundan, Jong Ambon, Jong Celebes, Sekar Rukun, Pemoeda Kaoem Betawi dll‎

12 Juni 1918 Tri Koro Dharmo jadi Jong Java dan pada tahun yang sama Moewardi jadi anggota padvinderij Spoorzoeker, Pati

1 September 1919 terbit Pasal 111 Regerings Reglement tentang berserikat diakui termasuk perkumpulan politik bersyarat Koninklijk Besluit 17 Desember 1918
1921 Moewardi bersekolah di STOVIA (School Tot Opleiding Voor Inlandshe Aartsen atau Sekolah Dokter Bumi Putera di Kwitang, Jakarta), berlanjut ke NIAS (Nederlandsch Indische Arts School) dan lulus 1 Desember 1933, serta setelah praktek 5 tahun mengambil spesialisasi THT di GH (Geneeskundig Hoogeschool, Salemba, Jakarta) 1939 dan lulus 1941.
Moewardi adalah aktivis Nederlandsch Indische Padvinder Vereneging (NIPV) sampai 1925 disamping Jong Java.
Nopember 1922 Jong Java bentuk kepanduan Mataram, di tahun yang sama Moewardi Pemimpin Redaksi Majalah Jong Java, juga terbentuk Nationale Padvinderij dpp Deslam Adiwarsito, berikut Wira Tamtama, Hisbul Wathan
1925 Moewardi Ketua Jong Java Cabang Batavia, pada tahun yang sama dideklarasi Manifesto Politik Perhimpunan Indonesia di Belanda yaitu :
1) Rakyat Indonesia sewajarnnya diperintah oleh pemerintahan yang dipilih sendiri oleh mereka,
2) Dalam memperjuangkan pemerintahan sendiri itu tidak diperlukan bantuan dari pihak manapun,
3) Tanpa persatuan yang kokoh dari berbagai unsur rakyat, tujuan perjuangan itu sulit dapat dicapai.
15 Nopember 1925 pembentukan penggerak mula Kongres Pemuda Indonesia oleh Soemarto, Soewarso, Moh Tabrani (Jong Java), Bahder Djohan, Djamaludin, Sarbaini (Jong Sumatranen Bond), Jan Toule Soulehuwij (Jong Ambon), Sanusi Pane (Jong Bataks Bond), Pelajar Minahasa, Sekar Rukun dll
30 April – 2 Mei 1926 Kongres Pemuda I dan pada tahun yang sama terbentuk INPO (Indonesische Nationale Padvinders Organisatie).

28 Agustus 1926 Moewardi ikut membentuk Jong Java Padvinderij (JJP) dan pada Nopember 1926 Moewardi Komisaris Besar JJP, diduga sudah berpikiran JJP adalah Pandu Kebangsaan (PK)
1927 Moewardi pengurus pusat JJP dan pada tahun yg sama terbentuk Pandoe Pemoeda Soematra (PPS) di Jakarta & Tebing Tinggi
23 Mei 1928 Moewardi inisiator Persaudaraan Antara Pandu Indonesia (PAPI) di Batavia antara PK (Pandu Kebangsaan), NATIPIJ (Nationale Islamietische Padvinderij)‎
28 Okober 1928 Moewardi utusan Jong Java di Kongres Pemuda Nasional II di Jakarta dan ikut ikrarkan Sumpah Pemuda
Desember 1928 Moewardi turut bentuk Indonesia Muda (IM) yang fusi dari Jong Java, Jong Sumatera, Jong Ambon, Jong Minahasa, Sekar Rukun (Sunda), Sangkoro Mudo (Jawa).

PERIODE PERGERAKAN KEMERDEKAAN 1929-1945 :

Desember 1929 PK Pandu Kebangsaan terpisah dari Jong Java.
15 Desember 1929 Moewardi (PK) di temu PAPI Batavia usul SOKI (Satu Organisasi Kepanduan indonesia) berprinsip “pandu yang satu adalah saudara pandu yang lainnya, oleh karena itu seluruh pandu harus menjadi satu” yang lalu ditindaklanjuti fusi PK, INPO dan PPS (Pandu Pemuda Sumatera) jadi KBI (Kepanduan Bangsa Indonesia) dan pelantikan Moewardi Komisaris Besar 8 Pebruari 1930
20 April 1930 Moewardi menulis tentang Kepandoean Dalam Jong-Java [GedenkBoek Jong-Java 1915-1930 terbitan Pedoman Besar Jong Java], Moewardi sebagai ATC dari Jong Java Padvinder (Pandu Kebangsaan)

Desember 1930 Kongres/jambore KBI Pertama di Ambarwinangun, Jogjakarta
Juni 1931 Pertemuan Pemimpin I KBI di Purworejo, menetapkan warna “merah putih” sebagai warna setangan leher dan bendera KBI sesuai azas kebangsaan Indonesia.
19-21 Juli 1932 Jambore II KBI di Banyak, Malang, dipimpin KomBes Moewardi, memutuskan tentang Upacara Pelantikan Pandu dan Upacara Pengibaran Bendera
20-24 Juni 1934 Jambore III KBI di Solo, menerbitkan AD/ART, Petunjuk Permainan, Peraturan Mendirikan Cabang dlsb
1936 Jambore Nasional IV KBI di Kali Urang, Jogjakarta dan perkemahan di lapangan Diponegoro dipimpin KomBes Dr Moewardi
1936-1939 Dr Moewardi Ketua Voetbalbond Indonesia Jacatra.‎
26-30 April 1938 Dr Moewardi memimpin temu PAPI di Solo bicarakan All indonesian Jambore, dibentuk BPPKI atau Badan Pusat Persaudaraan Kepanduan Indonesia dimana KBI Ketua, KAKI (Kepanduan Azas Katholik Indonesia) Notulen, NATIPIJ Bendahara, SIAP (Syarikat Islam Afdeling Padvinderij) Urusan Bagian Teknik,
1939 Dr Moewardi Ketua Ikatan Sport indonesia (ISI), di tahun yang sama Dr Moewardi pimpin Konperensi BPPKI di Bandung putuskan All Indonesian Jambore jadi Perkemahan Kepandoean Indonesia Oemoem (PERKINO)
11 Pebruari 1941 Dr Moewardi memimpin BPPKI di Solo putuskan PERKINO di Jogjakarta.
1941 Dr Moewardi Ketua Persatuan Koperasi di Batavia & 1941-1942 Dr Moewardi Ketua Persatuan Olah Raga (POR)‎
19-23 Juli 1941 PERKINO I di Gampingan, Jogjakarta

Maret 1942 Jepang menaklukkan Hindia Belanda, dan 4 bulan kemudian melarang partai dan organisasi rakyat Indonesia, serta hidupkan Keibodan & Seinendan.
2-12 Pebruari 1943 Dr Moewardi pimpin PERKINO II di Djakarta
4 April 1944 KBI dibekukan di Gang Tengah, Djakarta
1944 Dr Moewardi Ketua Barisan Pelopor Daerah Djakarta Raja, wakilnya Wilopo SH
3 Juni 1945 Dr Moewardi turut bentuk Gerakan Angkatan Baru Indonesia
16-17 Agustus 1945 Dr Moewardi memimpin Barisan Pelopor amankan Proklamasi Indonesia Merdeka dan memberi Kata Sambutan ke-4 di Jl Pegangsaan Timur 56
18 Agustus 1945 Dr Moewardi Ketua Umum Barisan Pelopor (berubah nama jadi Barisan Pelopor Republik Indonesia – BPRI)
19 September 1945 Dr Moewardi memimpin Barisan Pelopor amankan Rapat Raksasa IKADA
September 1945 PKKI Panitia Kesatuan Kepanduan Indonesia dibentuk di Jogjakarta

9 Oktober 1945 Pengurus Pusat Bank Indonesia perdana : Drs M Hatta, Dr MUWARDI, Dr R Soeharto, Djohar, MR Mardanus, Ir Surachman, dpp RM Margono Djojohadikusumo, Mr Abdulkarim, berkantor di jl Menteng 23, Jakarta Pusat
15-16 Desember 1945 BPRI berubah nama jadi Barisan Banteng Republik Indonesia (BBRI) bermarkas di Solo, Dr Moewardi Pemimpin Umum BBRI
27-29 Desember 1945 Dr Moewardi pimpinan Kongres Kesatuan Kepanduan Indonesia (dari 300 perwakilan pandu) di Solo membentuk Pandu Rakyat Indonesia (PRI) yang diketuai Dr Moewardi

PERIODE PERANG KEMERDEKAAN 1945-1949 :

5 Januari 1946 Dr Moewardi ikut membentuk Persatuan Perjuangan (PP) di Purwokerto, dilanjutkan membentuk jaringan teritorial BBRI Jawa Barat, Jawa Tengah dan Jawa Timur
23 Maret 1946 Dr Moewardi pelaku Bandung Lautan Api bersama Barisan Banteng di Bandung seperti M Toha, Abdul H Nasution, Suprayogi
12 Nopember 1946 BBRI bergabung di Dewan Kelaskaran Pusat dpp Jenderal Soedirman di Jogjakarta

1 Pebruari 1947 PRI diakui sebagai satu2nya organisasi kepanduan per Keputusan Menteri Pendidikan, Pengajaran dan Kebudayaan No 93/Bag.A.

25 Maret 1947 Perjanjian Linggarjati (yang ditentang Dr Moewardi bersama Soedirman, Oerip Soemoharjo dan Tan Malaka)
1 Juli 1947 Agresi Militer I Belanda
17 Januari 1948 Persetujuan Renville
Pebruari 1948 Kongres BBRI di Sarwakan, Solo, Dr Moewardi sikapi anti perundingan dengan Belanda dan anti Swapraja, bersama Mulyadi Djojomartono ditangkap atas perintah Mendagri Dr Soedarsono, namun dilepaskan kembali atas dukungan BBRI, Soedirman dan Oerip Soemohardjo.
6 juni 1948 Dr Moewardi membentuk Gerakan Revolusi Rakyat (GRR) bersama Maruto Nitimihardjo & Rustam Effendi, melawan Front Demokrasi Rakyat (FDR).
13 September 1948 Dr Moewardi gugur diculik saat praktek kedokteran di RS Jebres, Solo, terduga korban aksi kekerasan dalam suasana dan kondisi saat itu yaitu pasca aksi Partai Komunis Indonesia 11 September 1948 di Madiun. Sikap mengutamakan profesi dokter ini terkait komitmennya pada Sumpah Hipokrates yaitu ikrar Penjaga Kemanusiaan (dalam keadaan apapun harus berpihak pada kelestarian hidup seorang manusia apapun status, kedudukan & pangkat orang itu)
19 Desember 1948 Agresi Militer II Belanda

PERIODE INDONESIA BERDAULAT 1950 – kini

14 Agustus 1961 eksponen2 Kepanduan termasuk Pandu Rakyat Indonesia turut peresmian Gerakan Pramuka di IKADA

4 Agustus 1964 Dr Moewardi ditetapkan jadi Pahlawan Kemerdekaan Nasional per Surat Keputusan Presiden RI No 190/1964

Nopember 1988 berdiri Patung Dr Moewardi Sastrowardojo di lokasi Bumi Perkemahan Gerakan Pramuka Cabang XI-31, Jurug, Kodya Surakarta, diresmikan oleh Mashudi Ketua Kwarnas Gerakan Pramuka (display foto ada di Museum Keluarga Besar Dr Moewardi Sastrowardojo, Jl Cempaka III/16 Bintaro)

Jakarta, 22 Pebruari 2015

MAJELIS PANDU INDONESIA (MAPINDO)
Pandji R Hadinoto, guspandji@gmail.com
Alumni Pandu Rakyat Indonesia 1958-1961
Alumni Gerakan Pramuka 1961-1967

Dr. Moewardi, Bapak Pandu Indonesia?

Sebagai pejuang kemerdekaan Republik Indonesia dan dokter spesialis yang merakyat, nama Dr. Moewardi sudah amat dikenal. Pemerintah telah menganugerahkan gelar pahlawan nasional atas jasa-jasanya. Bahkan selain diabadikan dalam nama jalan, nama Dr. Moewardi juga dijadikan nama Rumah Sakit yang terkenal di Kota Solo, Jawa Tengah.

Tetapi mungkin belum begitu banyak yang tahu betapa besar juga jasanya pada gerakan pendidikan kepanduan (scouting movement), yang kini di Indonesia dikenal dengan nama Gerakan Pramuka. Bahkan ketertarikan saya berkunjung ke Museum Dr. Moewardi di bilangan Bintaro, Jakarta Selatan, adalah karena saya pernah membaca  betapa besarnya peranan Dr. Moewardi di bidang kepanduan di Tanah Air tercinta.

Mungkin hanya kebetulan, Dr. Moewardi dilahirkan pada 1907, tahun yang sama ketika Baden-Powell, kelak diberi gelar Lord dan dijuluki Bapak Pandu Sedunia, mengadakan suatu perkemahan percobaan di Pulau Brownsea di Inggris. Melalui perkemahan percobaan itulah, Baden-Powell kemudian menuliskan artikel-artikelnya yang dibukukan dengan judul Scouting for Boys. Suatu buku yang kemudian melahirkan gerakan pendidikan kepanduan, pendidikan bagi anak-anak dan remaja yang melengkapi pendidikan di lingkungan keluarga dan pendidikan di lingkungan sekolah.

Tapi yang pasti, belakangan Dr. Moewardi juga aktif di gerakan kepanduan sejak gerakan pendidikan yang menekankan pendidikan di alam terbuka masuk ke Indonesia (ketika itu masih bernama Hindia-Belanda) pada 1912. Saat itu, seorang pegawai Dinas Meteorologi Hindia-Belanda di Batavia (sekarang Jakarta) bernama P. Joh Smits, memulai pendidikan kepanduan pada anak-anak keluarga Belanda di negeri kita ini.

Awalnya, organisasi kepanduan yang ada merupakan cabang dari Nederlandsch Padvinders Organisatie (NPO), organisasi gerakan kepanduan di Belanda. Baru kemudian, organisasi di Hindia-Belanda berdiri sendiri dengan nama Nederlandsch Indische Padvinders Vereeniging (NIPV). Moewardi menjadi anggota yang sangat aktif, bahkan dia mencapai jenjang Assistant Troep Leider, wakil pimpinan pasukan yang sangat jarang dicapai oleh seorang pandu bumiputera, karena biasanya jabatan itu hanya dikuasai oleh anak-anak dan remaja Belanda saja.

Namun saat akan diangkat sebagai Troep Leider atau pimpinan pasukan, Moewardi menolak dan memilih keluar, karena dia diharuskan mengucapkan janji setia kepada Raja Belanda. Tapi bukan berarti lalu dia berhenti berkegiatan di kepanduan. Dia bahkan kemudian ikut menjadi pemimpin sejumlah organisasi kepanduan nasional. Dimulai dari Jong Java Padvinders (JJP), organisasi kepanduan dari perkumpulan Jong Java. Moewardi sempat menjadi Komisaris Besar dan memimpin Kwartir Besar JJP, jabatan yang setara dengan Ketua Kwartir Nasional saat ini. Organisasi JJP ini kemudian berubah menjadi Pandoe Kebangsaan.

moewardi-5-572ae17f709773040c75beb2.jpg

Moewardi bersama teman-temannya dari Jong Java Padvinders (JJP), foto yang terdapat di Museum Dr. Moewardi. (Foto: R. Andi Widjanarko, ISJ)

Sebagai tokoh Jong Java, dia juga ikut Kongres Pemuda II pada 1928 yang melahirkan “Sumpah Pemuda”. Di dalam ikrar tersebut selain janji: “Bertanah air satu Indonesia, berbangsa satu Indonesia, dan menjunjung bahasa persatuan Indonesia”, juga dilengkapi dengan keterangan tentang upaya-upaya memajukan kaum muda dan Indonesia seutuhnya. Di situlah tertulis bahwa kepanduan juga berperan dalam Kongres Pemuda itu. Selain Mr. Soenario yang mewakili kepanduan, maka Dr. Moewardi walaupun sebagai utusan Jong Java, tetapi jiwa pandunya tetap memberikan masukan agar kepanduan dimasukkkan dalam ikrar lengkap ‘Sumpah Pemuda’.

Jauh sebelum ide Ir. Soekarno untuk menyatukan semua organisasi kepanduan dalam satu wadah bernama Gerakan Pramuka, maka Moewardi telah lebih dulu mengungkapkannya pada pertemuan Pandoe Kebangsaan di tahun 1929. Dia mengusulkan supaya diadakan fusi atau peleburan semua organisasi kepanduan menjadi Satu Organisasi Kepanduan Indonesia (SOKI). Sayang ide tersebut belum dapat diterima ketika itu.

Tetapi setahun kemudian, Pandoe Kebangsaan, Pandoe Pemoeda Sumatera (PPS), dan Indoneisch Nationale Padvinders Organisatie (INPO) untuk melebur menjadi satu organisasi kepanduan dengan nama Kepandoean Bangsa Indonesia (KBI) pada 13 September 1930. Di organisasi tersebut Muwardi duduk sebagai Komisaris Besar KBI.

Dia kemudian berperan besar dalam penyusunan organisasi KBI, termasuk tata upacara, aturan-aturan, sampai beberapa kali sukses menyelenggarakan jambore, perkemahan besar yang diikuti cabang-cabang KBI dari berbagai daerah.

Pada sekitar 1938, Dr. Moewardi walaupun di tengah kesibukannya sebagai dokter yang melayani pasien-pasiennya, tetap aktif di kepanduan. Dia bahkan termasuk pimpinan sejumlah organisasi kepanduan yang memutuskan untuk menyelenggarakan All Indonesian Jambore. Belakangan nama yang berbahasa asing diganti dengan Bahasa Indonesia dan disebut Perkemahan Kepandoean Indonesia Oemoem disingkat Perkino.

Di tengah Perang Dunia II yang mulai meletus, Perkino pertama masih bisa diselenggarakan di Gampingan, Yogyakarta, pada 1941. Hebatnya lagi, meski Jepang sudah menguasai Indonesia, namum Perkino II tetap berlangsung sukses selama sepuluh hari dari 2 sampai 12 Februari 1943 di Jakarta. Adalah Dr. Moewardi sendiri yang langsung memimpin Perkino II.

Sayangnya, setelah itu Balatentara Dai Nippon melarang kegiatan kepanduan di Tanah Air. Di samping tetap menjalankan profesi sebagai dokter, Dr. Moewardi kemudian membentuk Barisan Pelopor dan selanjutnya Barisan Banteng. Banyak di antara anggotanya adalah para Pandu yang pernah dibinanya, sehingga tidak menyulitkan mereka untuk melatih baris-berbaris dan kedisplinan serta keterampilan lain yang diperlukan. Mereka sudah mendapat pendidikan itu sewaktu masih aktif di gerakan kepanduan.

Atas jasa-jasanya dalam kepanduan itulah, patung Dr. Moewardi yang cukup besar didirikan di depan Bumi Perkemahan Pramuka di kawasan Jurug, Solo, pada November 1988. Bahkan kini sejumlah kalangan mengusulkan pula agar Dr. Moewardi dapat diberi gelar Bapak Pandu Indonesia.

Di lingkungan Gerakan Pramuka sendiri telah ada Bapak Pramuka Indonesia. Gelar yang disematkan kepada Sri Sultan Hamengku Buwono IX melalui Keputusan Musyawarah Nasional Gerakan Pramuka di Dili, Timor Timur (sekarang Timor Leste), pada 1988. Sri Sultan Hamengku Buwono IX memang sangat besar jasanya pada pembentukan Gerakan Pramuka, bahkan dialah yang menerima Panji Gerakan Pramuka pertama kalinya dari tangan Presiden Soekarno pada 14 Agustus 1961.

Jadi, ada yang mengusulkan agar generasi muda, khususnya dari kalangan kepramukan, tidak lupa sejarah gerakan pendidikan non-formal itu, mungkin tidak salah bila Dr. Moewardi dijadikan Bapak Pandu Indonesia bersanding dengan Sri Sultan Hamengku Buwono IX sebagai Bapak Pramuka Indonesia. Sehingga terlihat kesinambungan sejarah dari masa kepanduan sebelum 1961 ke masa kepramukaan setelah 1961.

Persoalannya, ada juga menganggap Pandu itu ya Pramuka, dan Pramuka itu ya Pandu. Cukup satu saja yang diberi sebutan Bapak Pramuka atau Bapak Pandu Indonesia. Karena Sri Sultan Hamengku Buwono IX sudah lebih dulu diberi gelar itu, maka cukup satu saja.

Walaupun demikian, tentu saja kita –terutama para Pramuka– tak boleh melupakan jasa-jasa Dr. Moewardi dalam mengembangkan gerakan pendidikan kepanduan. Kalau pun tak disebut sebagai Bapak Pandu Indonesia agar tidak membuat orang bingung kenapa ada Bapak Pandu dan ada Bapak Pramuka, seyogyanya nama Dr. Moewardi tetap ditulis dengan ‘tinta emas’ dalam sejarah gerakan pendidikan kepanduan di Tanah Air.

Nama Dr. Moewardi memang sejak lama telah diabadikan sebagai nama salah satu bangunan di Taman Rekreasi Wiladatika, kompleks pendidikan dan rekreasi Gerakan Pramuka di Cibubur, Jakarta Timur. Namun rasanya pantas pula bila pimpinan Kwartir Nasional Gerakan Pramuka memberikan penghargaan tertinggi Gerakan Pramuka, Lencana Tunas Kencana.

(Kisah ini belum selesai, nantikan kisah berikutnya).

Dr. Moewardi atau Lainnya?

Tulisan saya bertajuk “Dr. Moewardi, Bapak Pandu Indonesia?” ternyata mendapat sambutan hangat para Kompasianer. Kurang dari sehari, yang membaca sudah lebih dari 375 orang, belum lagi yang menanggapi. Soal yang menanggapi ini, ada yang langsung berkomentar di bawah tulisan itu pada Kompasiana, namun ada juga yang berkomentar ketika saya menyertakan tautan tulisan tersebut di akun Facebook saya.

Banyak yang setuju terhadap besarnya jasa Dr. Moewardi kepada kepanduan Indonesia sehingga layak disebut “Bapak Pandu Indonesia”. Tetapi ada juga yang mempertanyakan nama-nama lain seperti Presiden Soekarno, Jenderal Soedirman, dan KH Agus Salim. Termasuk pula yang rupanya tidak membaca teliti tulisan saya tadi, menanyakan kembali kenapa bukan Sri Sultan Hamengku Buwono IX yang disebut Bapak Pandu Indonesia.

Padahal, dalam tulisan tersebut sudah saya jelaskan bahwa Sri Sultan Hamengku Buwono IX  adalah Bapak Pramuka Indonesia yang ditetapkan melalui Keputusan Musyawarah Nasional Gerakan Pramuka di Dili, Timor Timur (sekarang Timor Leste), pada 1988. Jadi bisa saja Dr. Moewardi dijadikan Bapak Pandu Indonesia bersanding dengan Sri Sultan Hamengku Buwono IX sebagai Bapak Pramuka Indonesia. Dari Pandu ke Pramuka, agar terlihat kesinambungan sejarah dari masa kepanduan sebelum 1961 ke masa kepramukaan setelah 1961.

Walaupun, masih dalam tulisan tadi, saya juga mengungkapkan, ada juga yang menganggap Pandu adalah Pramuka, dan Pramuka adalah Pandu. Maka, cukup satu saja yang diberi sebutan Bapak Pramuka atau Bapak Pandu Indonesia. Karena Sri Sultan Hamengku Buwono IX sudah lebih dulu diberi gelar itu, maka cukup satu saja.

Tapi, baiklah kembali ke soal nama-nama yang disebutkan dalam komentar menanggapi tulisan saya. Presiden Soekarno, jelas beliau bukan tokoh pandu, karena beliau itulah yang meleburkan semua organisasi kepanduan ke dalam satu wadah, Gerakan Pramuka. Lalu tentang Jenderal Soedirman, yang memang pada masa mudanya pernah ikut dalam kegiatan kepanduan. Namun, dari catatan-catatan sejarah yang ada, Jenderal Soedirman lebih dikenal sebagai seorang pejuang dalam bidang kemiliteran dan merupakan salah satu organisasi nasional tentara Republik Indonesia yang kini dikenal dengan nama Tentara Nasional Indonesia (TNI). Itulah sebabnya, Pak Dirman – panggilan akrabnya – juga disebut sebagai Panglima Besar TNI.

Lalu bagaimana dengan KH Agus Salim? Menurut data sejarah, Agus Salim dilahirkan dengan nama Mashudul Haq di Kota Gadang, Sumatera Barat, pada 8 Oktober 1884. Berarti ketika gerakan pendidikan kepanduan masuk ke bumi Nusantara pada 1912, Agus Salim telah berusia sekitar 28 tahun. Usia itu menunjukkan bahwa dia tak mungkin lagi mengecap pendidikan kepanduan sebagai peserta didik, yang umumnya di negara mana pun berusia antara 6 atau 7 tahun sampai 23 atau 25 tahun.

Tetapi sebagai tokoh Sarekat Islam, KH Agus Salim memang menaruh perhatian pada pendidikan kepanduan. Dia juga yang mengusulkan penggunaan kata “pandu” dan “kepanduan” untuk mengganti istilah padvinder dan padvinderij dalam Bahasa Belanda. Usulan itu disebabkan adanya larangan bagi organisasi-organisasi kepanduan yang didirikan dan beranggotakan bumiputera untuk menggunakan istilah dan nama padvinder dan padvinderij. Saat itu, dalam masa pendudukan Belanda dan Indonesia masih bernama Hindia-Belanda, memang pemerintah kolonial Belanda yang berkuasa penuh.

Namun untuk tetap mengembangkan kegiatan pendidikan kepanduan, kaum bumiputera tak kalah akal. Antara lain Agus Salim yang mengemukakan agar digunakan saja kata “pandu” (pandoe) dan “kepanduan” (kepandoean). Dia mengemukakan hal itu pertama kali dalam kongres Sarekat Islam Afdeeling Padinderij (SIAP) di Banjarnegara, Banyumas, Jawa Tengah, pada 1928. SIAP adalah bagian atau divisi dari Sarekat Islam untuk kegiatan kepanduan. Sesuai usul Agus Salim, SIAP berubah kepanjangannya menjadi Sarekat Islam Afdeeling Pandoe.

Dari data sejarah tercatat memang KH Agus Salim itulah yang mengusulkan penggunaan kata “pandu” dan “kepanduan”. Tetapi bisa dikatakan, sama seperti Wage Rudolf Supratman, komponis yang menggubah lagu Indonesia Raya, yang kelak menjadi lagu kebangsaan Republik Indonesia. Supratman sering disebut bukan seorang Pandu – kalau pun dia ikut kegiatan kepanduan hanya sekadar anggota biasa yang kurang berperan – tetapi dia begitu terinspirasi dengan kata “Pandu”, sehingga memasukkan kata itu dalam lirik lagunya, “Indonesia tanah airku, tanah tumpah darahku, di sanalah aku berdiri, jadi Pandu ibuku, ……”. Boleh juga disebutkan sama seperti Presiden Soekarno. Bisa dikatakan dia yang membentuk Gerakan Pramuka, namun dia bukan Bapak Pramuka Indonesia.

Seperti itu juga keberadaan Dr. Moewardi. Dia bukan sekadar anggota biasa di kepanduan, namun dia adalah anggota yang aktif sejak menjadi peserta didik di usia mudanya. Bahkan karena cintanya kepada kepanduan nasional dan Tanah Airnya, dia menolak diangkat sebagai Troep Leider atau pimpinan pasukan saat masih bergabung dengan dalam organisasi Nederlandsch Indische Padvinders Vereeniging (NIPV). Moewardi menolak dan memilih ke luar, karena dia diharuskan mengucapkan janji setia kepada Raja Belanda.

Tapi justru dengan keluarnya dari NIPV, Moewardi membentuk Jong Java Padvinders (JJP) yang kemudian berubah menjadi Pandoe Kebangsaa). Dalam aktivitasnya di kepanduan, Moewardi bahkan mencapai jabatan tertinggi sebagai Komisaris Besar, baik di JJP dan Pandoe Kebangsaan, maupun di Kepandoean Bangsa Indonesia (KBI), yang lahir dari penyatuan Pandoe Kebangsaan, Pandoe Pemoeda Sumatera (PPS), dan Indoneisch Nationale Padvinders Organisatie (INPO).

Penyatuan ketiga organisasi itu juga adalah atas usulannya, karena dia berpendapat semua Pandu adalah saudara satu dengan lainnya, dan sebaiknya organisasi pandu yang bermacam-macam disatukan saja. Dia dan teman-temannya sepakat menggunakan nama KBI untuk menunjukkan inilah organisasi pandu bangsa Indonesia. Suatu organisasi gerakan pendidikan kepanduan bangsa Indonesia yang lahir 13 September 1930 atau 15 tahun sebelum Indonesia merdeka.

plakat-2-572c45a1c0afbd6812d5dc55.jpg

Bapak Witjaksono Moewardi, anak keenam Dr. Moewardi, menjelaskan tentang foto Patung Dr. Moewardi yang didirikan di Bumi Perkemahan Jurug di Solo, Jawa Tengah. (Foto: R. Andi Widjanarko, ISJ)

Hal ini jugalah yang dibincangkan sejumlah anggota komunitas Indonesia Scout Journalist (ISJ) ketika berkunjung ke Museum Dr. Moewardi di bilangan Bintaro, Jakarta Selatan. Ketika berjumpa dengan Bapak Witjaksono Moewardi, anak keenam Dr. Moewardi, perbincangan ini disampaikan juga kepadanya. Apalagi sebelumnya telah ada usulan menjadikan Dr. Moewardi sebagai Bapak Pandu Indonesia dari komunitas lain maupun beberapa kalangan perorangan.

Mengenai hal ini, Pak Witjaksono menjawab dengan rendah, “Sebaiknya dilihat dan dicari dulu tokoh-tokoh lainnya”, maksudnya agar tidak terburu-buru menyebut Dr. Moewardi sebagai Bapak Pandu Indonesia. Dia menyarankan agar sejarah kepanduan Indonesia diteliti data-data yang ada selengkap  mungkin.

Namun biar bagaimana pun, jelas sekali betapa besar jasa Dr. Moewardi terhadap perkembangan gerakan pendidikan kepanduan di Indonesia. Ada baiknya juga bila Himpunan Pandu dan Pramuka Wreda (Hipprada) yang merupakan organisasi bagi mereka yang pernah aktif di kepanduan dan kepramukaan, dapat membantu menelusuri hal ini. Hipprada yang kini dipimpin oleh Prof. Dr. Haryono Suyono, mempunyai anggota-anggota yang mungkin masih menyimpan data-data sejarah kepanduan Indonesia. Hal itu dapat dimanfaatkan untuk menelusuri sejarah kepanduan dan kepramukaan di Indonesia lebih lengkap lagi. Bukan mustahil pula, nantinya dapat dikumpulkan memorabilia atau artefak sejarah kepanduan Indonesia dalam berbagai bentuk. Bisa untuk disumbangkan ke Museum Dr. Moewardi, dan dapat juga dijadikan bahan untuk mendirikan Museum Kepanduan Indonesia. Siapa tahu?!

Hilang, Tapi Tak Terlupakan

Berkunjung ke Museum Dr Moewardi di kawasan Bintaro, Jakarta Selatan, membuat kami – para anggota komunitas Indonesia Scout Journalist (ISJ), komunitas pewarta Pramuka dan Pramuka pewarta – mengenang kembali tokoh pahlawan nasional tersebut. Ditemani anak keenam Dr. Moewardi, Bapak Witjaksono Muwardi, dan suami anak ketujuh Dr. Moewardi, Bapak Hardjanto Sugiharto, sambil melihat foto-foto yang terpampang di museum itu, kami seolah dibawa kembali ke masa kehidupan Dr. Moewardi.

Dari data sejarah diketahui bahwa Dr. Moewardi dilahirkan di Desa Randukuning, Pati, Jawa Tengah, pada 1907. Tidak banyak tulisan yang menyebut tanggal dan bulan lahirnya, namun dari salah satu data diketahui Moewardi dilahirkan pada 30 Januari 1907, bahkan lengkap dengan pertanggalan Jawa, yaitu Rebo Pahing, pukul 22.15 WIB.

Dia merupakan anak ketujuh dari Mas Sastrowardojo dan Roepeni. Setelah menempuh pendidikan dasar dan menengah di Hollandsch Inlandsche School (HIS) di Kudus, Jawa Tengah,  dan di Europesche Lagere School (ELS) di Pati, Jawa Tengah, ayahnya mendorong Moewardi untuk masuk ke sekolah dokter School Tot Opleiding Voor Indische Arsten (STOVIA). Pada 1926, dia telah tercatat sebagai seorang mahasiswa tingkat tiga STOVIA. Ia kemudian melanjutkan belajar di Nederlansch Indische Arts School (NIAS) hingga lulus sebagai dokter pribumi pada 1931.

Setelah 5 tahun berpraktek sebagai dokter umum, ia kembali memperdalam ilmunya dengan mengambil spesialisasi Telinga, Hidung, Tenggorok (THT) di Geneeskundig Hoogeschool (GH) Salemba dan menjadi asisten pada rumah sakit CBZ, yang sekarang dikenal dengan nama Rumah Sakit Umum Pusat Nasional Cipto Mangunkusumo atau popular dengan sebutan RSCM. Pada 1939, Dr. Moewardi resmi menjadi dokter spesialis THT.

Dalam kariernya sebagai dokter, dia benar-benar berpihak pada pelayanan untuk rakyat. Bahkan dari cerita yang ada, beliau pernah mendapat panggilan Dokter Gembel, karena pergaulannya yang sering membantu masyarakat kelas bawah yang sering disebut gembel atau gelandangan.  Bahkan karena tekadnya yang begitu besar untuk membantu orang yang membutuhkan pertolongan medis, membuat dia tak ragu mempertaruhkan jiwa raganya.

Dalam suasana revolusi kemerdekaan Republik Indonesia yang situasinya masih “panas”, ditambah lagi adanya pemberontakan PKI pada 1948, Dr. Moewardi tetap melanjutkan tugasnya sebagai dokter. Pada 13 September 1948, ia berangkat ke Rumah Sakit Jebres untuk melakukan operasi terhadap seorang pasien. Dalam perjalanan naik andong ke rumah sakit itulah Dr Moewardi diculik dan dibawa entah ke mana. Meskipun tidak jelas oleh siapa, namun menurut situasi saat itu, besar kemungkinan kalau Dr. Moewardi telah diculik orang-orang PKI. Merujuk kepada dua anak buahnya, Darmosalimin dan Citromargongso, yang juga hilang dan akhirnya ditemukan di sebelah selatan tanggul Keraton Kasunanan Surakarta. Berbeda dengan dua anak buahnya, jenazah Dr. Moewardi tidak pernah ditemukan sampai kini.

Berbicara tentang anak buah, Dr. Moewardi selain aktif sebagai seorang dokter yang sampai akhir hayatnya melayani rakyat, dia juga seorang pejuang kemerdekaan. Dia bisa dikatakan salah seorang tokoh Barisan Pelopor yang kemudian menjadi saksi sejarah dibacakannya Proklamasi Kemerdekaan RI oleh Ir. Soekarno di Jalan Pegangsaan Timur 56, Jakarta, pada 17 Agustus 1945.

moewardi-1-5729ebad569773f806e88854.jpg

Foto koleksi Museum Dr. Moewardi yang memperlihatkan Bung Karno sedang membaca doa selesai mengucapkan teks Proklamasi RI pada 17 Agustus 1945. Dr Moewardi berdiri di sebelah kirinya, dan paling kiri adalah Latief Hendraningrat. (Foto: Istimewa)

Bahkan saat pembacaan itu, Dr. Moewardi merupakan salah satu yang berdiri paling dekat dengan Bung Karno. Konon, setelah pembacaan teks Proklamasi Kemerdekaan RI dan Bung Karno memimpin doa, maka Dr. Moewardi termasuk salah satu dari empat orang yang memberikan kata sambutan. Dimulai dari Bung Karno, kemudian Bung Hatta, selanjutnya Suwirjo, dan berikutnya Dr. Moewardi.

Lahirnya pasukan pengamanan Presiden yang saat ini kita kenal sebagai Paspampres, tak lepas dari jasa seorang Dr. Moewardi. Setelah Kemerdekaan RI, dia membentuk Barisan Pelopor istimewa untuk mengawal Presiden Soekarno. Atas jasanya itu, Dr. Moewardi pernah ditawari jabatan Menteri Pertahanan, namun ditolaknya karena dia ingin terus bekerja sebagai dokter secara penuh waktu, mendedikasikan keahlian dalam bidang medis untuk masyarakat luas.

Dalam perjalanan perjuangan berikutnya, Dr. Moewardi juga membentuk Barisan Banteng. Ada juga yang mengatakan bahwa Barisan Banteng ini adalah penjelmaan dari Barisan Pelopor, setelah Barisan Pelopor itu pusatnya dipindahkan dari Jakarta ke Solo.

Anak buahnya dari Barisan Banteng itulah yang kemudian ikut hilang dan ditemukan sudah tak bernyawa. Sedangkan Dr. Moewardi sendiri tetap hilang, tak bisa ditemukan lagi. Tentu saja kehilangannya itu dicari oleh banyak pihak dan keluarganya. Dalam Museum Dr. Moewardi ada fotokopi surat keterangan yang diberikan Gubernur Militer Solo, Gatot Subroto, kepada istri Dr. Moewardi untuk mencari sang suami.

Menurut Witjaksono, walaupun telah ditempuh berbagai cara, namun keberadaan Dr. Moewardi tetap tak dapat dilacak. Dokter Moewardi telah hilang, namun tetap tak terlupakan. Jasa-jasanya kepada rakyat, bangsa, dan negara Republik Indonesia tetap dikenang dan diingat sepanjang masa. Sebagai dokter dia telah membuktikan kesetiaannya pada sumpah dokter untuk senantiasa menolong orang yang membutuhkan, termasuk rakyat kecil.

Sebagai pejuang kemerdekaan, dia pun telah membuktikan dirinya benar-benar membaktikan diri bukan untuk jabatan. Buktinya, jabatan sebagai Menteri Pertahanan ditolaknya, dan dia memilih berjuang dengan memimpin Barisan Pelopor yang kemudian menjadi Barisan Banteng, di samping tetap menjalankan tugasnya sebagai dokter.

Kami, para anggota komunitas ISJ yang mendatangi Museum Dr. Moewardi terkagum-kagum atas jasa dan baktinya kepada Tanah Air. Namun yang lebih mengagumkan lagi bagi kami para pewarta Pramuka dan Pramuka pewarta, karena Dr. Moewardi adalah seorang tokoh Pandu yang tak kecil jasanya – bila tak mau dibilang sangat besar – dalam mengembangkan gerakan pendidikan kepanduan di bumi tercinta kita ini.

(Kisah ini belum selesai, nantikan kisah berikutnya).

 

Saksikan Pameran Tokoh Dr. Moewardi di Museum Sumpah Pemuda

Sudah beberapa kali hari ini, Kamis, 20 Oktober 2016, saya membuka Kompasiana. Alih-alih meneruskan janji saya untuk membuat serial tulisan menyambut peringatan Hari Sumpah Pemuda, saya justru hanya membaca-baca saja isi Kompasiana. Padahal, sudah sejak pukul 13.30 WIB, saya mempunyai waktu luang. Dapat membuka komputer jinjing saya, dan… tak tahu apa yang ingin ditulis.

Kemarin siang (Rabu, 19 Oktober 2016), saya mendapat pesan melalui WA, “Berth, besok ada pembukaan pameran Muwardi di Mus Sumpah Pemuda jam 9, diundang gak?” Pesan itu datang dari sahabat saya yang juga seorang Kompasianer, Djulianto Susantio. Saya jawab tidak dan dia meneruskan pesannya, “Lo kalo ada waktu datang aja ya… gw diundang pake nama komunitas… gw juga kenal ama kepala museumnya.”

Itulah sebabnya, Rabu pagi saya sudah mengarah ke Museum Sumpah Pemuda yang terletak di Jalan Kramat Raya 106, Jakarta Pusat. Dalam perjalanan, tiba-tiba ada pesan WA lain masuk. “Selamat pagi mas Berthold (resmi nih). Mohon maag telat menginfokan. Hari ini ada Ceramah Ilmiah ttg Situs Trowulan dr Mbak Watty Joesman. Tempat di Adt Gedung B MNI pk 09.30….“

Pesan tersebut mengajak saya ke Museum Nasional Indonesia (MNI) di Jalan Medan Merdeka Barat, Jakarta Pusat. Namun, karena saya sudah janji dengan Djulianto, saya pun mengarahkan kendaraan ke Museum Sumpah Pemuda. Saya berencana cukup satu jam saja di Museum Sumpah Pemuda dan dari situ ke MNI.

Kutipan kalimat dari Dr. Moewardi. (Foto: BDHS)
Kutipan kalimat dari Dr. Moewardi. (Foto: BDHS)

Ketika tiba di Museum Sumpah Pemuda, acara belum dimulai. Padahal, saat itu sudah pukul 9.10 WIB, dan undangan sudah cukup banyak memenuhi halaman depan museum tersebut. Saya bertemu dengan beberapa tokoh permuseuman di DKI Jakarta, serta teman-teman dari Komunitas Pencinta Museum Indonesia (KPMI), suatu komunitas yang digagas Djulianto dan teman-temannya.

Tak berapa lama, acara pun dimulai. Ketika sedang mengikuti rangkaian acara pembukaan pameran, teman dari KPMI memberi tahu bahwa jalan ke arah Istana Negara macet, karena ada demonstrasi alias unjuk rasa yang kabarnya terkait dengan dua tahun pemerintahan Jokowi-JK. Mengingat MNI berada di Medan Merdeka Barat dan dekat dengan Istana Negara, dan daripada nanti terjebak macet di sana, saya memutuskan tidak jadi ke MNI.

Lagi pula, saat itu waktu sudah sekitar pukul 10.00 WIB. Kalaupun saya memaksakan diri ke MNI, paling cepat mungkin sampai sekitar pukul 10.30, berarti sudah satu jam sejak pelaksanaan ceramah ilmiah di sana. Daripada terlambat dan tidak dapat mengikuti keseluruhan acara, saya memutuskan untuk tetap di Museum Sumpah Pemuda saja.

Bagi saya pribadi, kehadiran menyaksikan pameran bertajuk “Pameran Tokoh Dr. Moewardi – Pengabdian Seorang Dokter Nasionalis” yang berlangsung sebulan penuh sejak 20 Oktober 2016 ini juga penting. Bukan berarti bahwa seminar tentang Situs Trowulan tidak penting. Walaupun lebih banyak penelitian dari naskah teks, skripsi saya sebagai Sarjana Arkeologi dari Fakultas Sastra (sekarang Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya) Universitas Indonesia puluhan tahun silam, sedikit banyak juga terkait dengan Trowulan, situs bersejarah dari zaman Kerajaan Majapahit, yang terletak di Jawa Timur. Skripsi saya “Nagarakrtagama, Sebuah Tinjauan Jurnalistik” membahas dan menelaah naskah Nagarakrtagama karya Mpu Prapanca, berupa laporan perjalanan sang pujangga – Mpu Prapanca – mengikuti perjalanan dinas Hayam Wuruk, Raja Majapahit yang terkenal itu.

Namun kini, bagi saya sosok Dr. Moewardi juga tak kalah menarik untuk diamati. Sebagai seorang anggota Gerakan Pramuka dan pemerhati sejarah kepanduan di Indonesia, saya melihat Dr. Moewardi merupakan tokoh kepanduan di Indonesia yang tak dapat dilupakan namanya.

Suasana pameran tokoh Dokter Moewardi. (Foto: BDHS)
Suasana pameran tokoh Dokter Moewardi. (Foto: BDHS)

Ketika pembukaan pameran itu, mewakili pihak keluarga, anak Dr. Moewardi yang bernama Ir. Banteng Witjaksono juga sudah mengungkapkan, bahwa ayahnya adalah tokoh nasional yang bergerak di dua bidang, yaitu bidang kepanduan dan bidang kedokteran.

Saya sendiri sudah menulis beberapa artikel tentang Dr. Moewardi, yang dalam salah satu tulisan saya telah digadang-gadang sebagai Bapak Pandu Indonesia, melengkapi Bapak Pramuka Indonesia, Sri Sultan Hamengku Buwono IX, yang telah ditetapkan secara resmi (baca juga di sini).

Pameran yang ditampilkan, memang tidak terlalu banyak – kalau mau dibilang hanya sedikit – benda-benda bersejarah yang terkait dengan Dr. Moewardi. Lebih banyak reproduksi foto-foto dan panil keterangan tertulis tentang siapa dan mengapa Dr. Moewardi yang juga telah ditetapkan sebagai salah satu Pahlawan Nasional ini.

Meskipun benda koleksi bersejarah yang ditampilkan hanya sedikit, pameran itu tetap penting. Paling tidak dapat semakin memperkenalkan tokoh nasional yang jasanya amat besar dalam sejarah pergerakan perjuangan dan kemerdekaan Republik Indonesia. Bagi anggota Gerakan Pramuka, mengenal Dr. Moewardi berarti juga lebih mendalami sejarah perkembangan gerakan pendidikan kepanduan di Indonesia yang kini bernama Gerakan Pramuka itu.

Sejumlah tokoh permuseuman di Jakarta. (Foto; Anna CN Saragih)
Sejumlah tokoh permuseuman di Jakarta. (Foto; Anna CN Saragih)

Di luar itu, yang tak kalah menarik adalah pertemuan dengan tokoh-tokoh permuseuman di Jakarta. Baik yang masih aktif dalam pengelolaan permuseuman, maupun yang sudah pensiun tetapi tetap memantau perkembangan “dunia museum” di Jakarta dan di Tanah Air. Bincang-bincang upaya meningkatkan minat masyarakat terhadap museum, sampai percakapan tentang siapa sebenarnya Bapak Permuseuman Indonesia. Semua sepakat untuk menunjuk nama Moh Amir Sutaarga sebagai Bapak Permuseuman Indonesia, yang hampir sepanjang hayatnya terus membaktikan dirinya untuk mengembangkan permuseuman di Tanah Air.

Sejarah, “History”, dan “His Story” dari Dr. Moewardi

Dalam Bahasa Inggris kata “sejarah” disebut history. Pengertian history adalah studi tentang masa lalu, terutama tentang masalah-masalah manusia. Ada juga yang menyebutkan sebagai, keseluruhan dari serial kejadian di masa lalu yang terkait dengan seseorang atau sesuatu.

Namun, history sering juga dikomentari sebagai his story atau ceritanya. Rangkaian kisah sejarah memang banyak dicatat dari ceritanya atau cerita mereka. Ini merupakan salah satu sumber sejarah, di samping dalam bentuk fisik, seperti artefak atau peninggalan warisan budaya lainnya. Dan his story dianggap lebih otentik dalam bentuk tulisan dibandingkan hanya cerita lisan yang disebarkan dari satu ke lain orang. Apalagi kalau tulisan itu memang tulisan dari pelaku sejarah itu sendiri.

Walaupun tetap saja diperlukan penelitian kritis dengan membandingkan pula sumber-sumber lain yang terkait sejarah tersebut. Bisa saja, tulisan dari pelaku justru “menenggelamkan” sebagian sejarah sebenarnya. Contoh yang mungkin paling banyak diingat adalah foto pengibaran Bendera Merah Putih yang kelak disebut Bendera Pusaka saat Proklamasi Kemerdekaan RI dikumandang di Jalan Pegangsaan Timur No.56, Jakarta, pada 17 Agustus 1945.

Pada buku-buku sejarah yang diterbitkan Pemerintah “Orde Baru” foto itu dipotong sedemikian rupa, bahasa teknis fotografi di-cropping, sehingga Presiden Soekarno yang seharusnya terlihat dalam foto itu di posisi paling kiri, tidak terlihat. Dipotong dan hanya menyisakan Bung Hatta serta tokoh-tokoh lain yang mengibarkan dan menyaksikan pengibaran Bendera Pusaka.

Bahkan buku sejarah resmi yang dikeluarkan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan (sekarang namanya Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan) yang diberi judul “Sejarah Nasional Indonesia” dan terdiri dari enam jilid dari sejarah masa prasejarah sampai masa modern, foto Proklamasi Kemerdekaan RI juga sempat ditampilkan tanpa Bung Karno.

Untunglah belakangan hal itu dikoreksi, dan Bung Karno serta Bung Hatta mendapat tempat yang layak dalam panggung sejarah Republik Indonesia (RI). Termasuk dibuatkan patungnya di halaman bekas rumah Bung Karno di Jalan Pegangsaan Timur No.56 yang sekarang menjadi Gedung Pola, serta penamaan bandar udara internasional yang menjadi pintu masuk ke Jakarta, ibu kota RI, dengan nama Bandara Soekarno-Hatta.

Berbicara soal foto sejarah itu, semua foto-foto waktu Proklamasi Kemerdekaan RI dikumandang adalah karya dua bersaudara Frans dan Alex Mendur. Dua fotografer profesional itu menjadi saksi sejarah dan sekaligus mengabadikan bukti sejarah lahirnya negara baru yang bernama RI. Bahkan kabarnya, Frans Mendur sempat menyembunyikan rol-rol film hasil pemotretannya di Jalan Pegangsaan Timur No.56 Jakarta, ditanam di dalam tanah di bawah sebuah pohon rindang. Hal itu dilakukannya, karena dia khawatir Balatentara Jepang mencoba merampas hasil pemotretan yang menjadi bukti sejarah itu.

Di salah satu foto yang diabadikan Frans Mendur itulah, belakangan menjadi bukti pula besarnya peranan seorang bernama Dr. Moewardi, yang dalam foto bahkan sempat berdiri dekat sekali dengan Bung Karno sewaktu Bung Karno berdoa di depan seusai membacakan teks Proklamasi Kemerdekaan RI. Selain sebagai pejuang kemerdekaan, Dr. Moewardi juga tercatat aktif sebagai dokter spesialis THT yang tak sungkan memberi pelayanan kesehatan bagi rakyat kecil tanpa bayaran, dan sekaligus aktif pula mengembangkan gerakan pendidikan kepanduan di Indonesia.

Sudah banyak disebutkan, bahwa sebelum seluruh organisasi gerakan pendidikan kepanduan dileburkan menjadi satu dalam wadah Gerakan Pramuka pada 1961, sebenarnya keinginan menyatukan hal semacam itu telah diungkapkan oleh Dr. Moewardi lebih dari seperempat abad sebelumnya. Apa yang diungkapkan Dr. Moewardi juga mendahului slogan yang populer menjelang peringatan 50 tahun Gerakan Pramuka pada 2011 dan 100 gerakan pendidikan kepanduan di Indonesia pada 2012, yaitu “Satu Pramuka untuk Satu Indonesia”. Slogan itu dipopulerkan, karena setelah Reformasi pada 1998, sejumlah organisasi gerakan pendidikan kepanduan yang sebelumnya telah menyatu dalam Gerakan Pramuka, mencoba kembali berdiri sendiri.

buku-2-573045c5f77a614209ec80a9.jpg

Anak keenam Dr. Moewardi, Bapak Witjaksono Moewardi (kedua dari kiri), menjelaskan dua buku yang diberikannya. (Foto: Koleksi ISJ)

Jadi, melalui Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2010 tentang Gerakan Pramuka, ditegaskan kembali cukup satu (organisasi) Pramuka untuk satu Indonesia. Suatu hal yang kabarnya, telah diungkapkan Dr. Moewardi puluhan tahun sebelumnya dengan ungkapan “Satu Pandu untuk Satu Indonesia”.

Tapi bagaimana ucapan Dr. Moewardi sesungguhnya? Sungguh mengejutkan dan menyenangkan, kata-kata asli Dr. Moeewardi berhasil saya peroleh, ketika berkunjung ke Museum Dr. Moewardi di bilangan Bintaro, Jakarta Selatan, beberapa waktu lalu.

Saya ke sana bersama teman-teman dari komunitas Indonesia Scout Journalist (ISJ). Di sana, anak keenam Dr. Moewardi, Bapak Witjaksono Moewardi, menyerahkan dua buku hasil reproduksi dari buku lama. Menurut Pak Witjaksono, dia mencari ke penjual buku bekas di berbagai tempat untuk memperoleh buku-buku yang terkait dengan aktivitas ayahnya mengembangkan gerakan pendidikan kepanduan di Indonesia.

Di antara buku-buku yang diperolehnya, dua buku berhasil direproduksi oleh Pak Witjaksono dan diserahkan kepada saya. Pertama adalah Gedenkboek Jong-Java 1915-1930, dan kedua adalah buku Penoendjoek Permainan KBI. Buku pertama diterbitkan oleh Pedoman Besar Jong Java pada 20 April 1930, sedangkan buku kedua diterbitkan oleh Kwartier Besar Kepandoean Bangsa Indonesia (KBI) pada 1933.

Buku Gedenkboek Jong Java 1915-1930 merupakan kitab peringatan dari organisasi Jong Java yang menceritakan sejarah organisasi kaum muda Jawa dari 1915 sampai 1930. Pada halaman 141 sampai 180 terdapat tulisan berjudul “Kepandoean dalam Jong Java” yang ditulis oleh Moewardi. Tulisan menceritakan mengenai organisasi kepanduan di dalam Jong Java yang diberi nama Jong Java Padvinders dan kemudian berubah menjadi Pandoe Kebangsaan (PK). Belakangan, PK dan sejumlah organisasi kepanduan lainnya menyaturkan diri dalam Kepandoean Bangsa Indonesia (KBI).

buku-3-57304608c222bdfd05796cda.jpg

Tiga anggota komunias Indonesia Scout Journalist (ISJ) memegang plakat yang berisi usulan menjadi Dr. Moewardi sebagai Bapak Indonesia dan dua buku yang diberikan anak Dr. Moewardi. (Foto: R. Andi Widjanarko, ISJ)

Pada halaman 148 buku itu, terdapat tulisan Moewardi yang bercerita, “Perloe kami katakan disini, bahwa Kepandoean Jong-Java pertama dari moela-moelanja bermaksoed oentoek mentjampoerkan dirinja dengan Kepandoean Indonesia oemoem….”.

Jadi dari tulisan itu, jelas bahwa walaupun Moewardi berasal dari organisasi pemuda Jawa, tapi semangat kebangsaannya, membuat dia ingin bergabung dan mendirikan suatu organisasi kepanduan nasional Indonesia. Semangat persatuan Moewardi membuatnya bercita-cita mengembangkan suatu gerakan kepanduan nasional.

Masih di halaman yang sama, Moewardi menulis juga pandangannya sebagai seorang Pandu yaitu, “bahwa haroesnja hanja diadakannja soeatoe Kepandoean di Indonesia ini”. Moewardi berpendapat, cukup satu organisasi kepanduan untuk Indonesia. Pemikiran yang mendahului zaman, karena baru pada 1961, semua organisasi gerakan pendidikan kepanduan di Indonesia disatukan dalam Gerakan Pramuka.

Pandoe jalah saudaranja Pandoe lainnja, maka ta’ ada pentjarian lagi bagi ia selainnja selekas-lekasnja mengoempoelkan saudara-saudaranja itoe menjadi satoe”, tulis Moewardi lagi.

Dari buku itu, dari his story Moewardi itu, jelaslah bahwa sangat besar peranan Dr. Moewardi dalam mengembangkan gerakan pendidikan kepanduan , untuk menyatukan berbagai organisasi kepanduan yang ada di Indonesia, untuk menjadi satu (organisasi) Pandu untuk satu Indonesia.

(Kisah ini belum selesai, nantikan kisah berikutnya).

Kisah Moewardi, Dokter Gembel dengan Bayaran Sukarela

Selasa siang lalu ketika sedang berkunjung ke Museum Seni Rupa dan Keramik di Jakarta Kota, telepon genggam saya berbunyi. “Pak, Kamis, 20 Oktober 2016 kami mengundang bapak untuk acara pembukaan pameran tokoh Dokter Moewardi. Undangan akan kami kirim lewat surat elektronik,” begitu kata staf Museum Sumpah Pemuda. Sorenya saya cek memang surat elektronik sudah masuk.

Nama dokter Moewardi jelas masih asing di telinga masyarakat. Di Jakarta nama Moewardi hanya diabadikan untuk nama jalan di bilangan Grogol, Jakarta Barat. Dikabarkan, nama Moewardi juga diabadikan sebagai nama jalan di beberapa kota. Di Surakarta, menjadi nama rumah sakit, lengkapnya RSUD Dokter Moewardi.

Pembukaan pameran berlangsung pagi hari, dimulai sekitar pukul 09.00 dengan lagu Indonesia Raya, sambutan, dan doa. Dari situ saya tahu bahwa Dokter Moewardi juga seorang pandu. Pamerannya sendiri bertema “Pengabdian Seorang Dokter Nasionalis” dan akan berlangsung hingga 20 November 2016 di aula Museum Sumpah Pemuda. Oh ya, museum ini beralamat Jalan Kramat Raya No. 106, tidak jauh dari perempatan Senen.

Pandu

Lumayan juga saya mendapat brosur. Dari situ saya tahu Moewardi lahir pada 30 Januari 1907 di Dusun Randu Kuning, Kecamatan Pati Lor, Jawa Tengah. Ia pernah bersekolah di Hollandsch Inlandsche School (HIS) dan Europeesche Lagere School (ELS). Pada 1921 ia tamat dari ELS, lalu melanjutkan ke sekolah kedokteran di Batavia yang populer disebut STOVIA. Moewardi lulus sebagai dokter bumiputera pada 1933.

Panel informasi tentang berbagai kegiatan dokter Moewardi. dokumentasi pribadi
Panel informasi tentang berbagai kegiatan dokter Moewardi. dokumentasi pribadi

Sebelum di STOVIA, Moewardi pernah menjadi pandu. Ia bergabung dengan Netherlands Indische Padvinder Vereniging (NIPV) saat menempuh pendidikan ELS di Pati. Ia memutuskan keluar dari NIPV saat di STOVIA karena menolak mengangkat sumpah tunduk dan taat kepada Ratu Belanda pada 1925.

Selepas itu Moewardi bergabung dengan Jong Java Padvinder (JJP). Pada 1929 nama JJV diubah menjadi Pandu Kebangsaan. Selanjutnya Pandu Kebangsaan, Pandu Sumatera (PPS), dan Indonesisch Nationale Padvinders Organisatie (INPO), melebur menjadi Kepanduan Bangsa Indonesia (KBI) pada 1930.

Dokter

Dari brosur diketahui pula Moewardi pernah mengabdi sebagai dokter. Sampai masa pendudukan Jepang, ia bertugas di CBZ, sekarang RSU Cipto Mangunkusumo. Ia pernah membuka praktek di Jalan Raden Saleh dengan bayaran sukarela. Begitu juga ketika berpindah ke Jalan Teuku Cik Ditiro.

Dokter Moewardi terkenal dengan sebutan Dokter Gembel. Ia memang senang bergaul dengan gembel daripada golongan atas. Tempat nongkrongnya di Tanah Abang (1930).

Pernak-pernik warisan dokter Moewardi. dokumentasi pribadi
Pernak-pernik warisan dokter Moewardi. dokumentasi pribadi

Dari Jakarta Dokter Moewardi pindah ke Surakarta. Ketika itu ia mendapat tugas dari pemerintah untuk mendirikan sekolah kedokteran di Rumah Sakit Jebres. Keterlibatan Dokter Moewardi dalam bidang pendidikan kedokteran berlangsung hingga digabungkannya pendidikan kedokteran di Surakarta dan di Klaten yang kemudian diadopsi menjadi sekolah pendidikan kedokteran di Universitas Gadjah Mada pada 1949.

Barisan Pelopor

Pada masa pendudukan Jepang, Dokter Moewardi menjadi ketua Barisan Pelopor Daerah Batavia. Organisasi ini menjadi wadah dan sarana perjuangan para pemuda. Pada masa sekitar proklamasi, dokter Moewardi ikut mengambil keputusan untuk menculik Soekarno ke Rengasdengklok.

Moewardi mengerahkan Barisan Pelopor sebanyak mungkin ke lapangan IKADA. Setelah proklamasi, nama Barisan Pelopor diubah menjadi Barisan Pelopor Republik Indonesia (BPRI). Setelah dipindahkan ke Surakarta pada 1946, nama Barisan Pelopor diubah lagi menjadi Barisan Banteng.

Dokter Moewardi bersama Maruto Nitimiharjo dan Rustam Effendi membentuk Gerakan Revolusi Rakyat (GRR) pada 6 Juni 1948. GRR dinyatakan sebagai musuh oleh Front Demokrasi Rakyat (FDR). Konflik antara GRR dengan FDR berujung pada penculikan dokter Moewardi pada 12 September 1948. Sejak penculikan itu jenazah dokter Moewardi tidak pernah ditemukan. Dokter Moewardi dianugerahi gelar pahlawan nasional pada 1964.

Nah, kalau penasaran dengan kisah heroik dokter Moewardi, langsung aja deh ke TKP. Selain info tentang Dokter Moewardi, Anda bisa melihat pernak-pernik peninggalannya. Pameran berlangsung tiap hari, kecuali Senin tutup.

Maju Bersama Menggapai Indonesia Baik

19 April 2015 23:20:28Diperbarui: 17 Juni 2015 07:54:28Dibaca : Komentar : Nilai :

Dalam suatu pembicaraan dengan kakak senior. Beliau termasuk aktivis yang bahkan sampai tahun terakhirnya pun masih tetap berusaha untuk tetap berkontribusi untuk umat. Beliau menganalogikan kebersamaan sebagai satu ikat lidi. Yaitu ketika hanya satu lidi digunakan untuk menyapu sampah yang berserakan tentu tidak akan bisa. Tetapi ketika banyak lidi yang diikat kemudian digunakan untuk menyapu sampah-sampah, tentu akan berfungsi dengan baik.memang lidi digunakan untuk membersihkan sampah, tapi jika dikumpulkan dalam jumlah banyak. Begitu pun seorang mahasiswa. Walau seorang mahasiswa itu sangat cerdas dan kritis dalam menghadapi berbagai masalah yang ada dalam bangsa ini. Mempunyai berbagai solusi atas kebobrokannya bangsa Indonesia. Tapi tetap saja, akan percuma jika ia hanya bergerak sendiri. Sama seperti sebuah lidi tadi, tetap tak berdaya membersihkan sampah yang berserakan. Seberapa jauh pun ia bergerak, tentu tak seberapa jika ia bergerak bersama.

Begitulah apa yang dipikirkan Dr. Moewardi, sebagai bapak pandu ia mengagas prinsip pandu yaitu, “pandu yang satu adalah saudara pandu yang lainnya. Oleh karena itu, seluruh pandu harus menjadi satu”.Beliau mengerti betapa pentingnya kebersamaan. Dimana dengan bersama maka akan mencapai hasil yang maksimal.

Prinsip inilah yang harusnya dipegang teguh seorang mahasiswa ataupun seorang aktivis. Dimana menjadi satu adalah cara terbaik. Sering mengadakan kajian-kajian untuk menyatukan persepsi. Sering berdialog dengan orang yang lebih mengerti mengenai suatu permasalahan yang terjadi agar action yang kita lakukan ada dasar yang kuat. Sering silaturahim dengan berbagai organisasi yang ada didalam kampus atau pun diluar kampus. Walau tidak satu persepsi dan satu bidang, mahasiswa tetaplah mahasiswa. Tanggung jawab yang ia emban adalah untuk kemaslahatan rakyat Indonesia. Sebagai apapun, dimana pun ia berada, ia tetap bagian dari rakyat Indonesia. Dan harus terus memperjuangkan hak-hak rakyat Indonesia dengan semaksimal mungkin.

Dr. moewardi juga dijuluku sebagai dokter gembel, karena ia lebih dekat dalam melayani pengobatan kepada para fakir miskin ataupun para gembel. Umurnya pun berakhir ketika ia menjalankan tugasnya sebagai dokter di suatu rumah sakit di pinggiran Solo. Ia diculik dan tidak diketemukan sampai sekarang. Selama 41 tahun ia baktikan hidupnya untuk Indonesia yang lebih baik.

Meski hilang dan tidak pernah ditemukan lagi, perjuangan dr. Moewardi tidak pernah hilang di benak bangsa Indonesia. Pahlawan nasional yang namanya diabadikan sebagai nama rumah sakit di Solo tersebut, telah banyak sekali berjasa bagi tanah airnya. Untuk mengenang perjuangan dr. Moewardi, Ikatan Alumni Fakultas Kedokteran (Iluni FK) UI bekerja sama dengan Perhimpunan Ahli THT Indonesia (PERHATI), Perhimpunan Sejarah Kedokteran Indonesia (PERSEKIN), RSUD Dr. Moewardi Solo, dan Yayasan Dokter Moewardi menyelenggarakan acara sarasehan dan pameran foto bertajuk “Jejak Langkah Pahlawan Nasional Dokter Moewardi, SpTHT, Membangkit Batang Terendam”. Acara sarasehan berlangsung pada Kamis (12/9) di Aula Fakultas Kedokteran UI. Pada hari yang sama berlangsung pula pembukaan pameran foto yang berisi foto-foto kenangan tentang dr. Moewardi.

Acara dibuka oleh sambutan dari Ketua Iluni FKUI Dr. Doddy P. Partomihardjo, Sp.M, Dekan FKUIDr. dr. Ratna Sitompul, Sp.M (K) dan Direktur RSUD Dr. Moewardi. Selanjutnya, dalam sarasehan hadir sebagai pembicara yaitu, Dr. dr. Rusdy Hoesein, M. Hum., yang merupakan perwakilan keluarga dr. Moewardi. Ia menyampaikan pemaparan secara garis besar tentang jejak langkah dr. Moewardi. Hadir pula Laksma TNI (Purn) Dr. Amoroso Katamsi, SpKJ, MM yang mengisahkan kiprah dr. Moewardi sebagai perintis pandu dan pramuka. Selain itu, hadir pula Prof. Dr. dr. Padmosantjojo yang menceritakan perjuangan dr. Moewardi sebagai dokter spesialis. Acara juga diramaikan dengan pembacaan puisi oleh cucu Dr. Moewardi, Alya Bambang Adhi. Selain itu ada juga nyanyian lagu pahlawan oleh anak dan cucu dr. Moewardi, yaitu Ir. Hardjanto Soegianto dan Amatta Hardjanto. Secara garis besar, acara ini bertujuan untuk menginspirasi kaum muda Indonesia untuk mencintai bangsa dan negara. Dengan mengenang pahlawannya, generasi muda juga diharapkan dapat memelajari dan menerapkan nilai kepahlawanan dalam kehidupan.

dr. Moewardi adalah alumni School Tot Opleiding Voor Indische Arsten (STOVIA), yang saat ini menjadi Fakultas Kedokteran UI. Ia lahir di Pati, Jawa Tengah pada tahun 1907 dari pasangan Sastrowardoyo dan Sastrowarsoyo. Setelah menamatkan kuliah di STOVIA, ia kemudian melanjutkan ke Geneeskuundige Hogeschool (GH) untuk mendapat gelar dokter atau Indische Arts. Di GH, pada 1939 ia berhasil lulus sebagai dokter spesialis Telinga Hidung Kerongkongan (THK). dr. Moewardi secara resmi dinobatkan sebagai Pahlawan Kemerdekaan Nasional melalui SK Presiden RI No. 190 tahun 1964. Inisiator Pekan Olahraga Nasional pertama di Solo ini, juga adalah pelopor terbitnya Koran Jateng. Kiprah dr. Moewardi tidak sampai di situ saja. Ia juga pada 1929 memimpin Kepanduan Bangsa Indonesia yang berdasar pada tekad “Satu Pandu untuk Seluruh Indonesia”.

Selain menjalani tugas mulia sebagai dokter, dr. Moewardi juga memberikan kontribusi besar lain, salah satunya saat proklamasi kemerdekaan Indonesia. Pada saat itu, ia bertindak sebagai Ketua Barisan Pelopor cabang Jakarta yang mempersiapkan proklamasi kemerdekaan oleh Bung Karno dan Bung Hatta di Pegangsaan Timur. Tak berselang lama setelah proklamasi digulirkan, ia ditunjuk sebagai Ketua Umum Barisan Pelopor menggantikan Bung Karno. Pada tahun 1948, dr. Moewardi turun ke politik dan membentuk Gerakan Rakyat Revolusioner (GRR). Saat itu kondisi Jakarta sedang memanas dan GRR dibentuk untuk melawan aksi-aksi Front Demokrasi Rakyat (FDR), yang merupakan underbow Partai Komunis Indonesia (PKI). Pada 13 September 1948 saat menjalankan praktek sebagai dokter di Rumah Sakit Jebres Solo, dr. Moewardi diculik dan sampai saat ini jasadnya tidak ditemukan. (KHN)

28
Nov
16

Kenegarawanan : Politik Kehormatan/Kebahagiaan Publik Indonesia

Politik Kehormatan/Kebahagiaan Publik Indonesia


ilustrasi / ist

SHnet – Kinerja Politik Rezim (KPR) sebenarnya kini dapat diukur antara lain oleh 1) Kadar Kehormatan berkomitmen terhadap pengamalan Jatidiri Paripurna Nawa Pusaka Bangsa Indonesia [2004] seutuhnya [http://www.repelita.com/pusaka-bangsa-indonesia-jatidiri-paripurna/], 2) Indeks Kebahagiaan Bangsa Indonesia [Biro Pusat Statistik] dan 3) Peringkat Kebahagiaan Nasional Bruto [Perhimpunan Bangsa Bangsa]

Peristiwa-peristiwa Pergantian Politik Rezim di Indonesia sesungguhnya cerminan kiprah KPR dimaksud diatas sebagai dinamika kenegaraan yang wajar terjadi beberapa kali seperti rezim RIS 1949, rezim UUDS 1950, rezim Kembali Ke UUD 1945, rezim Orde Lama ke Orde Baru 1966, rezim Orde Baru ke Orde Reformasi 1998, yang semuanya tidak pernah disebut sebagai peristiwa MAKAR.

Demikian pula setelah hampir 2 (dua) dekade berkiprahnya UUD Reformasi (Risalah Paripurna MPRRI 1999-2002 yg terdaftar jadi LNRI 11-14 tahun 2006) yang berKPR jauh menyimpangi amanat Pembukaan UUD 1945 sehingga kasat mata kontroversial dan kontraproduktif semisal terhadap ideologi negara Pancasila‎, adalah wajar saja diaspirasikan publik kini untuk dikoreksi.

Koreksi yang mengerucut kini adalah kembali refungsikan UUD 1945 per Berita Repoeblik Indonesia Tahun II, 1946 jo Lembaran Negara Republik Indonesia No 75 tahun 1959 plus Adendum-adendum yang dibutuhkan untuk menjawab ‎ancaman, hambatan, gangguan, tantangan bernegara masa kini dan esok.

Kalau disimak dengan cerdas, maka MAKAR Konstitusi (soft coup d’etat) sebetulnya telah terjadi‎ di tahun 1999-2002 karena Risalah-risalah Paripurna MPRRI tersebut meniadakan keberadaan Pembukaan UUD 1945 per LNRI 11-14 / 2006, sehingga Amandemen 1999-2002 di-sebut2 kebablasan.

Sebagai negara hukum, wajarlah kalau anak bangsa Indonesia sebagai pemilik negeri kini beraspirasi agar dilakukan pembentukan politik hukum nasional baru berupa penyegaran konstitusional guna perbaikan Politik Kehormatan/Kebahagiaan Publik Indonesia. ***

Jakarta, 27 Nopember 2016

Pandji R Hadinoto
Ketua GPA45/DHD45 Jakarta
http://www.jakarta45.wordpress.com

Politik Kehormatan/Kebahagiaan Publik Indonesia

logo-mkrri

Apa Arti Makar? Apa Bedanya dengan Kudeta?

Jakarta – Kepala Kepolisian Daerah Metro Jaya Irjen Pol M Iriawan menggelar jumpa pers untuk mengumumkan maklumat soal rencana unjuk rasa yang ditengarai bisa disusupi upaya makar, Selasa (22/11).

Pernyataan tersebut mendorong sejumlah wartawan untuk bertanya tentang definisi makar.

“Menggulingkan pemerintah yang sah, selama itu tidak ada ya enggak ada masalah,” kata Iriawan.

“Jadi ada aturan yang mengatur berkaitan dengan ini. Itu ada ketentuan, silakan gampang sekali buka di Google, diperdalam saja itu. Gampang sekali.”

Kami melakukannya.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), makar punya beberapa arti: 1 akal busuk; tipu muslihat; 2 perbuatan (usaha) dengan maksud hendak menyerang (membunuh) orang, dan sebagainya; 3 perbuatan (usaha) menjatuhkan pemerintah yang sah.

Lebih jauh, makar diatur dalam Kitab Undang-undang Hukum Pidana sebagai kejatahan terhadap keamanan negara, terutama di pasal 104, 107 dan 108, dengan ancaman hukuman mati. Pasal-pasal ini mengatur pidana kejahatan terhadap presiden dan wakilnya, dan juga ancaman pidana terhadap para penggerak makar.

Bunyi pasal 104: Makar dengan maksud untuk membunuh, atau merampas kemerdekaan, atau meniadakan kemampuan Presiden atau Wakil Presiden memerintah, diancam dengan pidana mati atau pidana penjara seumur hidup atau pidana penjara sementara paling lama dua puluh tahun.

Bunyi pasal 107:
(1) Makar dengan maksud untuk menggulingkan pemerintah, diancam dengan pidana penjara paling lama lima belas tahun.

(2) Para pemimpin dan pengatur makar tersebut dalam ayat 1, diancam dengan pidana penjara seumur hidup atau pidana penjara sementara paling lama dua puluh tahun.

Pasal 108

(1) Barang siapa bersalah karena pemberontakan, diancam dengan pidana penjara paling lama lima belas tahun:

1. orang yang melawan pemerintah Indonesia dengan senjata;

2. orang yang dengan maksud melawan Pemerintah Indonesia menyerbu bersama-sama atau menggabungkan diri pada gerombolan yang melawan Pemerintah dengan senjata.

(2) Para pemimpin dan para pengatur pemberontakan diancam dengan penjara seumur hidup atau pidana penjara sementara paling lama dua puluh tahun.

Sedangkan pengertian kudeta menurut KBBI adalah: perebutan kekuasaan (pemerintahan) dengan paksa.

Menurut situs Hukum Online, perbedaan makar dan kudeta kurang lebih sebagai berikut: secara umum, kudeta lebih merujuk pada istilah politik sementara makar merujuk pada istilah hukum.

Kenapa Kapolda mengatakan: “selama itu tidak ada ya enggak ada masalah”? Menurut ketentuan pasal 87 KUHP, tindak pidana makar baru dianggap terjadi apabila telah dimulainya perbuatan-perbuatan pelaksanaan dari si pembuat makar.

Baca juga: Ini Poin Maklumat Kapolda Metro soal Unjuk Rasa

kartunama GP45

19
Nov
16

advokasi : seruan 1711 / politik konstitusi pancasila indonesia

Foto GPA45 1Jun16
ADVOKASI KEPADA PEYELENGGARA NEGARA
SERUAN 1711 / Politik Konstitusi Pancasila Indonesia 1945
MERDEKA !
Berpijak pula pada Maklumat Nawa Sumpah Pemuda 28 Oktober 2015 sebagaimana [https://obsessionnews.com/perkuatan-politik-pemuda-indonesia-merdeka/] pada‎
28 Oktober 2016, dan mengingat semaraknya aksi unjuk aspirasi rakyat peduli kebangsaan Indonesia di bulan Nopember 2016 ini ditengah suasana curah hujan ekstrim berdampak bencana banjir yang tingkatkan kerusakan infrastruktur‎, serta menghormati kepahlawanan kaum bumiputera kontra aksi agresi militer asing di pertempuran 3 (tiga) minggu 10-30 Nopember 1945, maka ‎kepentingan Bela Negara tentang penegakan Jatidiri Konstitusi Negara Republik Indonesia UUD 1945 bijaklah juga jadi perhatian serius bagi kita bersama.
Alasan prinsipiilnya adalah bahwa ibarat struktur raga manusia, Kepala (Pembukaan UUD 1945, BRI Tahun II/1946 jo LNRI 75/1959) dan Kaki (Penjelasan UUD 1945, BRI Tahun II/1946 jo LNRI 75/1959) faktanya terpenggal dari Batang Tubuh UUD 2002 (LNRI 11, 12, 13, 14 / 2006) akibat kerja agresor nir-militer Amandemen 1999-2002 terhadap UUD 1945 sehingga keutuhan dan keberlanjutan NKRI kini jadi potensial rawan dari ancaman dan bahaya seperti pelemahan lanjutan orientasi perundang-undangan organik turunan dan aksi lanjutan kontra Jatidiri Paripurna Nawa Pusaka Bangsa Indonesia seutuhnya sebagaimana

[ http://www.repelita.com/pusaka-bangsa-indonesia-jatidiri-paripurna/ via @RepelitaOnline ]‎ oleh anasir-anasir potensial kontra NKRI.

Oleh karena itulah sesungguhnya kini perlu aksi pemulihan kehormatan sesegera mungkin guna perbaiki situasi dan kondisi keterpenggalan konstitutif termaksud diatas setelah lebih daripada 1 (satu) dekade lamanya diciderai oleh Politik Amandemen Batang Tubuh UUD 2002 yang dirasakan kontroversial & kontraproduktif tersebut.
Rekomendasi kami, GPA45, adalah aksi Politik Konstitusi Pancasila Indonesia berupa Refungsi UUD 1945 (BRI Tahun II/1946 jo LNRI 75/1959) secara utuh dengan dilengkapi pembentukan Adendum-adendum konstitutif yang diperlukan sesuai dengan kebutuhan penyelenggaraan negara kini dan esok.
Aksi tersebut diatas ditujukan selain pemulihan kehormatan konstitutif juga pemastian integrasi amanat sila-sila Pancasila di Pembukaan UUD 1945 ke Batang Tubuh UUD 1945 dan segenap perundang-undangan organik turunannya yang diyakini berujung sangat menentukan kearah Pro Bonum Publicum terbaik termasuk kendali ketertiban umum optimal menuju Bangsa Pemenang [amanah Panglima TNI di Temu BEM se Indonesia] dan NKRI Berjaya 2045 yang senantiasa berkerangka Strategi Ketahanan Bangsa sebagai berikut :
1) Kehidupan Keagamaan Tidak Rawan, 2) Kehidupan Ideologi Tidak Retak, 3) Kehidupan Politik Tidak Resah, 4) Kehidupan Ekonomis Tidak Ganas, 5) Kehidupan Sosial Budaya Tidak Pudar, 6) Kehidupan HanKamNas Tidak Lengah, 7) Kehidupan Ekologis Tidak Gersang
‎SERUAN 1711 ini adalah lanjutan SERUAN 711 / PATRIOT AKSI KEHORMATAN UUD 1945 (PAKU45)
Padamu Negeri, Jiwa Raga Kami
Tetap MERDEKA !
‎Jakarta, 17 Nopember 2016
Generasi Penerus Angkatan 45 (GPA45),
Pandji R Hadinoto
Ketua DHD45 Jakarta
Ketua Majelis Kehormatan Rakyat Republik Indonesia
kartunama GP45

Pengertian Konstitusi | Definisi

Konstitusionalisme
Tiap-tiap negara modern hampir seluruhnya membutuhkan sebuah sistem pengaturan yang dijelaskan dalam sebuah konstitusi. Oleh sebab itu konstitusionalisme mengarah kepada definisi sistem institusionalisasi secara teratur dan efektif terhadap pelaksanaan pemerintahan. Dengan lain perkataan untuk menciptakan sebuah tertib pemerintahan dibutuhkan perlakuan sedemikian rupa, sehingga dinamika kekuasaan dalam proses pemerintahan bisa dikendalikan dan dibatasi [Hamilton, 1931:255]. Opini tersebut digagas karena tumbuhnya kebutuhan untuk menanggapi perkembangan peran relative kekuasaan umum dalam kehidupan umat manusia.
Dasar utama konstitusionalisme adalah persetujuan (consensus) ataupun kesepakatan umum di antara sebagian besar masyarakat tentang bangunan yg didambakan sehubungan dengan negara. Organisasi Negara itu dibutuhkan oleh warga masyarakat politik supaya kepentingan bersama bisa dilindungi atau dipromosikan dengan pembentukkan & penggunaan mekanisme yang dinamakan dengan negara. Intinya adalah consensus-general-agreement. Apabila kesepakatan ini hancur, maka hancur juga legitimasi kekuasaan negara yang berkaitan, & pada waktu tertentu dapat terjadi perang sipil(civil war), atau bisa juga suatu revolusi.
Konsensus yang memberi jaminan kokohnya konstitusionalisme di era modern ini pada umumnya dipahami atas dasar tiga komponen kesepakatan/Konsensus:
  • Kesepakatan mengenai tujuan atau cita-cita bersama (the general goals of society or general acceptance of the same philosophy of government)
  • Kesepakatan mengenai the rule of low sebagai landasan pemerintahan ataupun penyelenggaraan negara (the basis of government)
  • Kesepakatan mengenai bentuk institusi-institusi & prosedur-prosedur ketatanegaraan (the form of institusions and procedures). (Andrews 1968: 2)
Kesepakatan yang pertama yaitu berkaitan dengan tujuan bersama yang begitu menentukan tegaknya konstitusi dan konstitusionalisme dalam sebuah negara. Sebab cita-cita bersama inilah yang pada puncak abstraksinya paling mungkin menggambarkan bahkan menciptakan kesamaan kepentingan diantara sesama warga masyarakat yang dalam kehidupan nyata memang hidup di tengah-tengah kemajemukan atau pluralisme sehingga untuk menjamin kebersamaan dalam kerangka kehidupan bernegara dibutuhkan perumusan mengenai cita-cita atau tujuan-tujuan bersama yang disebut falsafah kenegaraan(staatsidee) yang memiliki fungsi sebagai philosofhiscegronslaag & common platforms, di antara masyarakat dalam hal kehidupan bernegara.
Filosofi Bangsa Indonesia adalah Pancasila. Berikut kelima sila dasar yang menjadi dasar filosofi:
  1. Ketuhanan yang maha esa
  2. Kemanusiaan yang adil dan beradab
  3. Persatuan Indonesia
  4. Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan / perwakilan
  5. Keadilan social bagi seluruh rakyat Indonesia.
Pancasila ini merupakan filosofi basis dalam upaya mewujudkan cita-cita Indonesia yang termuat dalam pembukaan UUD 1945:
  • Melindungi segenap bangsa dan seluruh tumpah darah Indonesia.
  • Meningkatkan atau memajukan kesejahteraan umum
  • Mencerdaskan kehidupan bangsa
  • Ikut melaksanakan ketertiban dunia berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi, dan keadilan social
Kesepakatan yang ke-dua adalah kesepakatan bahwa basis pemerintahan berdasarkan konstitusi danaturan hukum. Kesepakatan ini begitu utama sebab dalam sebuah negara harus ada keyakinan bersama bahwa dalam semua hal penyelenggaraan negara wajib didasarkan atas rule of law.
The Rule of Law >< The Rule by Law. Dalam istilah yang kedua ini, kedudukan hukum (law) digambarkan hanya hanya sebagai alat(instrumentalis) sedangkan kepemimpinan tetap dipengang di tangan orang atau manusia yaitu The Rule of Man by Law. Jadi hukum dapat dianggap sebagai sebuah kesatuan sistem uang puncaknya terdapat pengertian tentang hukum dasar yang dinamakan konstitusi, baik itu tertulis ataupun tidak tertulis. Dari pengertian ini kita tahu istilah Constitusional State yang merupakan salah satu ciri penting Negara demokrasi modern. Oleh sebab itu kesepakatan tentang sistem aturan sangat penting sehingga konstitusi tidak ada gunanya sebab ia sekadar berfungsi sebagai kertas dokumen mati yang hanya bernilai sematik & tidak berfungsi / tidak bisa difungsikan yang seharusnya.
Kesepakatan ketiga, adalah berhubungan dengan:
Bangunan organ negara & prosedur-prosedur yg mengatur kekuasaan
Hubungan-hubungan antar organ Negara itu sama lain
Hubungan antara organ-organ Negara itu dengan warga Negara.
Dengan adanya kesepakatan itu, maka isi  dari konstitusi dapat dirumuskan dengan mudah sebab benar-benar mencerminkan cita-cita bersama. Kesepakatan inilah yang dirumuskan dalam dokumen konstitusi yang diharpkan dijadikan pegangan bersama untuk rentang waktu yang lama. Konstitusi tidak sama dengan undang-undang yang bisa lebih mudah diubah. Sebab itulah tata cara perubahan undang-undang dasar memang sudah seharusnya tidak diubah semudah mengubah undang-undang. Walaupun demikian harusnya konstitusi tak disakralkan dari kemungkinan perubahan seperti yang terjadi di era orde baru.
Seluruh kesepakatan ini berhubungan dengan  prinsip pengaturan & pembatasan kekuasaan. Atas dasar pengertian tersebut maka sebenarnya prinsip konstitusionalisme modern adalah menyangkut prinsip konstitusionalisme modern adalah menyangkut prinsip pembatasan kekuasaan atau yang lazim disebut sebagai prinsip limited government. Dalam pengertian ini konstitusi mengatur dua hubungan yang saling berkaitan satu sama lain, yaitu pertama, hubungan antara lembaga pemerintahan dengan warga negara. Kedua, hubungan antara lembaga pemerintahan yang satu dengan lainnya.
Jhon Alder dan Daniel S.Lev memberikan pendapat, paham konstitusionalisme merupakan suatu paham negara terbatas, dimana kekuasaan politik resmi dikelilingi oleh hukum yang akan mengubah kekuasaan menjadi wewenang yang ditentukan secara hukum, sehingga pada pokoknya, konstitusionalisme merupakan suatu proses hukum yang mengatur soal pembagian kekuasaan & wewenang.
 logo-mkrri

Konstitusi

Definisi Konstitusi | Konstitusi adalah norma-norma dalam dokumen dasar yang dibentuk untuk menjalankan suatu organisasi pemerintahan/negara yang bersifat kodifikasi tertulis. Namun tidak semua negara membuat konstitusi yang bersifat kodifikasi tertulis seperti Inggris. Tetapi kebutuhan akan aturan dasar adalah mutlak. Konstitusi Inggris menurut Phillips Hood and Jackson adalah suatu bangun aturan, adat istiadat, kebiasaan-kebiasaan yang menentukan susunan dan kekuasaan organ-organ negara dan yang mengatur hubungan-hu- bungan di antara berbagai organ negara itu satu sama lain, serta hubungan organ-organ negara itu dengan warga negara. Dengan demikian, ke dalam konsep konstitusi itu tercakup juga pengertian peraturan tertulis, kebiasaan dan konvensi-konvensi kenegaraan (ketatanegaraan) yang menentukan susunan dan kedu- dukan organ-organ negara, mengatur hubungan antar organ-organ negara itu, dan mengatur hubungan organ-organ negara tersebut dengan warga negara.
Konstitusi dalam arti sempit : hukum dasar yang tertulis atau UUD
Konstitusi dalam arti luas     : hukum dasar tertulis dan tidak tertulis
K. C. Wheare, konstitusi adalah keseluruhan sistem ketaatanegaraaan suatu negara yang berupa kumpulan peraturan yang mmbentuk mengatur /memerintah dalam pemerintahan suatu negara.
Herman Heller, konstitusi mempunyai arti luas daripada uud. Konstitusi tidak hanya bersifat yuridis tettapi juga sosiologis dan politis.
Lasalle, konstitusi adalah hubungan antara kekuasaaan yang terdapat di dalam masyarakat seperti golongan yang mempunyai kedudukan nyata di dalam masyarakat misalnya kepala negara angkatan perang, partai politik dsb
L.j Van Apeldoorn, konstitusi memuat baik peraturan tertulis maupun peraturan tak tertulis 5)
Koernimanto soetopawiro, istilah konstitusi berasal dari bahasa latin cisme yang berarati bewrsama dengan dan statute yang berarti membuat sesuatu agar berdiri. Jadi konstitusi berarti
menetapkan secara bersama.
Carl Schmitt membagi konstitusi dalam 4 pengertian yaitu:
aKonstitusi dalam arti absolut mempunyai 4 sub pengertian yaitu;
  • Konstitusi sebagai kesatuan organisasi yang mencakup hukum dan semua organisasi yang ada di dalam negara.
  • Konstitusi sebagai bentuk negara • Konstitusi sebagai faktor integrasi
  • Konstitusi sebagai sistem tertutup dari norma hukum yang tertinggi di dalam negara
b. Konstitusi dalam arti relatif dibagi menjadi 2 pengertian yaitu:
  • Konstitusi sebagai tuntyutan dari golongan borjuis agar haknya dapat dijamin oleh penguasa
  • Konstitusi sebagai sebuah konstitusi dalam arti formil (konstitrusi dapat berupa terttulis) dan konstitusi dalam arti materiil (konstitusi yang dilihat dari segi isinya)
c. Konstitusi dalam arti positif adalah sebagai sebuah keputusan politik yang tertinggi sehingga
mampu mengubah tatanan kehidupan kenegaraan
d. Konstitusi dalam arti ideal yaitu konstitusi yang memuat adanya jaminan atas hak asasi serta perlindungannya
Kekuasaan yang tak terbatas adalah sebuah resiko yang sangat besar. Oleh karena itu, Konstitusi merupakan sesuatu yang harus ada untuk membatasi kekuasaan. Pengawasan dan pembatasan dilakukan terhadap tindakan-tindakan pemerintah(penguasa). Sedangkan sumber konstitusi sebagai hukum dasar tergantuk dari kedaulatan negara. Sebuah negara yang menganut paham demokrasi(kedaulatan rakyat), maka yang menentukan berlaku tidaknya konstitusi adalah rakyat. Jika kedaulatan negara berada di tangan sultan, maka legitimasi konstitusi berada di tangan penguasa. Kemudian setelah konstitusi berlaku, konstitusi tersebut menjadi sumber hukum paling tinggi dan fundamental sebagai pedoman peraturan-peraturan dibawahnya.
Agar sebuah hukum dapat disebut konstitusi maka harus memenuhi beberapa syarat
1.Menperhatikan kepentingan rakyat
2. Melindungi asas demokrasi
3. Untuk melaksanakan dasar negara
4. Bersifat adil

Konstitusi atau Undang-undang Dasar (bahasa Latin: constitutio) dalam negara adalah sebuah norma sistem politik dan hukum bentukan pada pemerintahan negara—biasanya dikodifikasikan sebagai dokumen tertulis. Hukum ini tidak mengatur hal-hal yang terperinci, melainkan hanya menjabarkan prinsip-prinsip yang menjadi dasar bagi peraturan-peraturan lainnya. Dalam kasus bentukan negara, konstitusi memuat aturan dan prinsip-prinsip entitas politik dan hukum, istilah ini merujuk secara khusus untuk menetapkan konstitusi nasional sebagai prinsip-prinsip dasar politik, prinsip-prinsip dasar hukum termasuk dalam bentukan struktur, prosedur, wewenang dan kewajiban pemerintahan negara pada umumnya, Konstitusi umumnya merujuk pada penjaminan hak kepada warga masyarakatnya. Istilah konstitusi dapat diterapkan kepada seluruh hukum yang mendefinisikan fungsi pemerintahan negara.

Dalam bentukan organisasi konstitusi menjelaskan bentuk, struktur, aktivitas, karakter, dan aturan dasar organisasi tersebut.

Jenis organisasi yang menggunakan konsep Konstitusi termasuk:

Daftar isi

Pengertian konstitusi

Konstitusi pada umumnya bersifat kodifikasi yaitu sebuah dokumen yang berisian aturan-aturan untuk menjalankan suatu organisasi pemerintahan negara, namun dalam pengertian ini, konstitusi harus diartikan dalam artian tidak semuanya berupa dokumen tertulis (formal). namun menurut para ahli ilmu hukum maupun ilmu politik konstitusi harus diterjemahkan termasuk kesepakatan politik, negara, kekuasaan, pengambilan keputusan, kebijakan dan distibusi maupun alokasi [1], Konstitusi bagi organisasi pemerintahan negara yang dimaksud terdapat beragam bentuk dan kompleksitas strukturnya, terdapat konstitusi politik atau hukum akan tetapi mengandung pula arti konstitusi ekonomi [2]

Dewasa ini, istilah konstitusi sering di identikkan dengan suatu kodifikasi atas dokumen yang tertulis dan di Inggris memiliki konstitusi tidak dalam bentuk kodifikasi akan tetapi berdasarkan pada yurisprudensi dalam ketatanegaraan negara Inggris dan mana pula juga.

Istilah konstitusi berasal dari bahasa inggris yaitu “Constitution” dan berasal dari bahasa belanda “constitue” dalam bahasa latin (contitutio,constituere) dalam bahasa prancis yaitu “constiture” dalam bahasa jerman “vertassung” dalam ketatanegaraan RI diartikan sama dengan Undang – undang dasar. Konstitusi / UUD dapat diartikan peraturan dasar dan yang memuat ketentuan – ketentuan pokok dan menjadi satu sumber perundang- undangan. Konstitusi adalah keseluruhan peraturan baik yang tertulis maupun tidak tertulis yang mengatur secara mengikat cara suatu pemerintahan diselenggarakan dalam suatu masyarakat negara

  • Pengertian konstitusi menurut para ahli
  1. K. C. Wheare, konstitusi adalah keseluruhan sistem ketatanegaraaan suatu negara yang berupa kumpulan peraturan yang membentuk mengatur /memerintah dalam pemerintahan suatu negara.
  2. Herman heller, konstitusi mempunyai arti luas daripada UUD. Konstitusi tidak hanya bersifat yuridis tetapi juga sosiologis dan politis.
  3. Lasalle, konstitusi adalah hubungan antara kekuasaaan yang terdapat di dalam masyarakat seperti golongan yang mempunyai kedudukan nyata di dalam masyarakat misalnya kepala negara angkatan perang, partai politik, dsb.
  4. L.J Van Apeldoorn, konstitusi memuat baik peraturan tertulis maupun peraturan tak tertulis.
  5. Koernimanto Soetopawiro, istilah konstitusi berasal dari bahasa latin cisme yang berarti bersama dengan dan statute yang berarti membuat sesuatu agar berdiri. Jadi konstitusi berarti menetapkan secara bersama.
  6. Carl schmitt membagi konstitusi dalam 4 pengertian yaitu:
  • Konstitusi dalam arti absolut mempunyai 4 sub pengertian yaitu;
  1. Konstitusi sebagai kesatuan organisasi yang mencakup hukum dan semua organisasi yang ada di dalam negara.
  2. Konstitusi sebagai bentuk negara.
  3. Konstitusi sebagai faktor integrasi.
  4. Konstitusi sebagai sistem tertutup dari norma hukum yang tertinggi di dalam negara .
  • Konstitusi dalam arti relatif dibagi menjadi 2 pengertian yaitu konstitusi sebagai tuntutan dari golongan borjuis agar haknya dapat dijamin oleh penguasa dan konstitusi sebagai sebuah konstitusi dalam arti formil (konstitusi dapat berupa tertulis) dan konstitusi dalam arti materiil (konstitusi yang dilihat dari segi isinya).
  • konstitusi dalam arti positif adalah sebagai sebuah keputusan politik yang tertinggi sehingga mampu mengubah tatanan kehidupan kenegaraan.
  • konstitusi dalam arti ideal yaitu konstitusi yang memuat adanya jaminan atas hak asasi serta perlindungannya.

Tujuan

  • Tujuan konstitusi yaitu:
  1. Membatasi kekuasaan penguasa agar tidak bertindak sewenang – wenang maksudnya tanpa membatasi kekuasaan penguasa, konstitusi tidak akan berjalan dengan baik dan bisa saja kekuasaan penguasa akan merajalela Dan bisa merugikan rakyat banyak.
  2. Melindungi HAM maksudnya setiap penguasa berhak menghormati HAM orang lain dan hak memperoleh perlindungan hukum dalam hal melaksanakan haknya.
  3. Pedoman penyelenggaraan negara maksudnya tanpa adanya pedoman konstitusi negara kita tidak akan berdiri dengan kokoh.

Nilai

  • Nilai konstitusi yaitu:
  1. Nilai normatif adalah suatu konstitusi yang resmi diterima oleh suatu bangsa dan bagi mereka konstitusi itu tidak hanya berlaku dalam arti hukum (legal), tetapi juga nyata berlaku dalam masyarakat dalam arti berlaku efektif dan dilaksanakan secara murni dan konsekuen.
  2. Nilai nominal adalah suatu konstitusi yang menurut hukum berlaku, tetapi tidak sempurna. Ketidaksempurnaan itu disebabkan pasal – pasal tertentu tidak berlaku / tidsak seluruh pasal – pasal yang terdapat dalam UUD itu berlaku bagi seluruh wilayah negara.
  3. Nilai semantik adalah suatu konstitusi yang berlaku hanya untuk kepentingan penguasa saja. Dalam memobilisasi kekuasaan, penguasa menggunakan konstitusi sebagai alat untuk melaksanakan kekuasaan politik.

Jenis

  • Macam – macam konstitusi
  1. Menurut CF. Strong konstitusi terdiri dari:
  • Konstitusi tertulis (documentary constitution / written constitution) adalah aturan – aturan pokok dasar negara , bangunan negara dan tata negara, demikian juga aturan dasar lainnya yang mengatur perikehidupan suatu bangsa di dalam persekutuan hukum negara.
  • Konstitusi tidak tertulis / konvensi (non-documentary constitution) adalah berupa kebiasaan ketatanegaraan yang sering timbul.
  • Adapun syarat – syarat konvensi adalah:
  1. Diakui dan dipergunakan berulang – ulang dalam praktik penyelenggaraan negara.
  2. Tidak bertentangan dengan UUD 1945.
  3. Memperhatikan pelaksanaan UUD 1945.

Secara teoretis konstitusi dibedakan menjadi:

  • Konstitusi politik adalah berisi tentang norma- norma dalam penyelenggaraan negara, hubungan rakyat dengan pemerintah, hubungan antar lembaga negara.
  • Konstitusi sosial adalah konstitusi yang mengandung cita – cita sosial bangsa, rumusan filosofis negara, sistem sosial, sistem ekonomi, dan sistem politik yang ingin dikembangkan bangsa itu.

Berdasarkan sifat dari konstitusi yaitu:

  1. Fleksibel / luwes apabila konstitusi / undang undang dasar memungkinkan untuk berubah sesuai dengan perkembangan.
  2. Rigid / kaku apabila konstitusi / undang undang dasar jika sulit untuk diubah.

Unsur konstitusi

Unsur/substansi sebuah konstitusi yaitu

Menurut Sri Sumantri konstitusi berisi 3 hal pokok yaitu
  • Jaminan terhadap Ham dan warga negara.
  • Susunan ketatanegaraan yang bersifat fundamental.
  • Pembagian dan pembatasan tugas ketatanegaraan.
Menurut Miriam Budiarjo, konstitusi memuat tentang
  • Organisasi negara.
  • HAM.
  • Prosedur penyelesaian masalah pelanggaran hukum.
  • Cara perubahan konstitusi.
Menurut Koerniatmanto Soetopawiro, konstitusi berisi tentang
  • Pernyataan ideologis.
  • Pembagian kekuasaan negara.
  • Jaminan HAM (Hak Asasi Manusia).
  • Perubahan konstitusi.
  • Larangan perubahan konstitusi.

Parameter

  • Parameter terbentuknya pasal-pasal UU yaitu:
  1. Agar suatu bentuk pemerintahan dapat dijalankan secara demokrasi dengan memperhatikan kepentingan rakyat.
  2. Melindungi asas demokrasi.
  3. Menciptakan kedaulatan tertinggi yang berada ditangan rakyat.
  4. Untuk melaksanakan dasar negara.
  5. Menentukan suatu hukum yang bersifat adil.

Kedudukan

  • Kedudukan konstitusi/UUD yaitu:
  1. Dengan adanya UUD baik penguasa dapat mengetahui aturan / ketentuan pokok mendasar mengenai ketatanegaraan.
  2. Sebagai hukum dasar.
  3. Sebagai hukum yang tertinggi.
  • Perubahan konstitusi/UUD yaitu:

Secara revolusi, pemerintahan baru terbentuk sebagai hasil revolusi ini yang kadang – kadang membuat sesuatu UUD yang kemudian mendapat persetujuan rakyat. Secara evolusi, UUD/konstitusi berubah secara berangsur – angsur yang dapat menimbulkan suatu UUD, secara otomatis UUD yang sama tidak berlaku lagi.

  • Keterkaitan antara dasar negara dengan konstitusi yaitu:

Keterkaitan antara dasar negara dengan konstitusi nampak pada gagasan dasar, cita – cita dan tujuan negara yang tertuang dalam pembukaan UUD suatu negara. Dasar negara sebagai pedoaman penyelenggaraan negara secara tertulis termuat dalam konstitusi suatu negara.

  • Keterkaitan konstitusi dengan UUD yaitu:

Konstitusi adalah hukum dasar tertulis dan tidak tertulis sedangkan UUD adalah hukum dasar tertulis. UUD memiliki sifat mengikat oleh karenanya makin elastik sifatnya aturan itui makin baik, konstitusi menyangkut cara suatu pemerintahan diselenggarakan.

Lihat pula

Referensi

  1. ^ lihat: Miriam Budiardjo, Miriam B dkk. Dasar-dasar ilmu politik, Gramedia Pustaka Utama (2003)
  2. ^ lihat: makalah Prof. Jimly Asshiddiqie, Perekonomian Nasional dan Kesejahteraan Sosial Menurut UUD 1945 serta Mahkamah Konstitusi

Pranala luar

Beberapa konstitusi nasional

Konstitusi lainnya

07
Nov
16

Politik : Seruan 711 Patriot Aksi Kehormatan UUD45 (PAKU45)

Logo Bulat GPA45

SERUAN 711 :

Kepada Yth
Patriot Aksi Kehormatan UUD45 (PAKU45)
MERDEKA !
Salam 5-Jari, Salam PANCASILA,
Pada 71 tahun Kongres Umat Islam di Jogjakarta 7-8 Nopember 1945 yang kukuhkan Resolusi JIHAD Hadratussyaikh KH Hasyim Asy’ari 21-22 Oktober 1945 sebagai kebulatan sikap merespon makin gentingnya keadaan pasca ultimatum Panglima AFNEI 31 Oktober 1945‎ pra agresi militer sekutu ke Surabaya 10-30 Nopember 1945, maka patut ditekadkan :
Berporoskan Panca Strategi Indonesia Sejahtera (PanSIS) [http://www.petisionline.net/petisi_revolusi_kehormatan_rakyat_republik_indonesia]


wajar kini digelorakan JIHAD Kontra Agresi Nir Militer Tindak Penistaan / Penodaan oleh Amandemen UUD 2002 [LNRI No 11, 12, 13, 14 / 2006] yang dilakukan MPRRI 1999-2004 terhadap Jatidiri Konstitusi Negara Republik Indonesia UUD 18Aug45 [BRI Tahun II, 1946] jo KepPres 150/1959 [LNRI No 75/1959] qq Akta Pendirian Negara Republik Indonesia sebagai sikap bersama kita Bela Negara dengan bergerak serentak dukung Patriot Aksi Kehormatan UUD 1945 (PAKU45) sebagai berikut :‎

MOSI TIDAK PERCAYA AMANDEMEN UUD 2002
PETISI KEMBALI KE DEKRIT PRESIDEN 5 Juli 1959
 
Menuju Kearah
Moratorium Perundang-undangan RI
Dan Sidang Umum KEHORMATAN Rakyat Republik Indonesia
Bersandarkan
Nawa Sumpah Pemuda 28 Oktober 2015,‎ 
Tetap MERDEKA !‎

Jakarta, 7 Nopember 2016

Salam 45,‎

Generasi Penerus Angkatan 45 (GPA45),

Pandji R Hadinoto / Ketua DHD45 Jakarta
poster-gpa45
31
Oct
16

Kenegarawanan : Patriotisme Aksi Kembali Ke UUD 1945 (PAKKU45)

poster-gpa45
MERDEKA !‎
Salam 5-Jari, Salam PANCASILA,‎
Berporoskan Panca Strategi Indonesia Sejahtera (PanSIS) [‎http://www.petisionline.net/petisi_revolusi_kehormatan_rakyat_republik_indonesia]

maka Pergerakan Kaum Patriotik Indonesia kini saatnya bersama kita Bela Negara dan bergerak mendukung

Bersandarkan
Nawa Sumpah Pemuda 28 Oktober 2015,‎ 
Tetap MERDEKA !‎

Salam 45,‎

Generasi Penerus Angkatan 45 (GPA45),

Pandji R Hadinoto / Ketua DHD45 Jakarta‎

Sent from my BlackBerry 10 smartphone on the XL network.
logo-mkrri

29
Oct
16

Kenegarawanan : PERGERAKAN KAUM PATRIOTIK INDONESIA

kartunama GP45
Suara Warga :

PERGERAKAN KAUM PATRIOTIK INDONESIA

Memperingati 88 Tahun “Resoloesi Kerapatan Besar Pemoeda Indonesia 28 Oktober 1928”,
berporoskan ‎Panca Strategi Indonesia Sejahtera [http://www.petisionline.net/petisi_revolusi_kehormatan_rakyat_republik_indonesia] sebagai tumpuan, Pergerakan Kaum Patriotik Indonesia dapat diharapkan amalkan ideologi Pancasila sebagai aksi penyempurna tingkat kebanggaan pemuda terhadap keIndonesiaan per [Jajak Pendapat Perjuangan Pemuda pada Era Digital, Kompas 24Okt16] diperkuat juga oleh ideologi Kebangsaan Indonesia per Nawa Sumpah Pemuda 28 Oktober 2015 sebagaimana‎
‎Peringatan 88 Tahun Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928 ‎dapat pula jadi tonggak waktu bagi prakarsa Kemitraan Aspiratif Lembaga Tertinggi Negara MPRRI bersama Pergerakan Kaum Patriotik Indonesia yang berkepentingan dibina, digalang dan dikerahkan guna senantiasa berkinerja mengawal penjabaran cita amanat Pembukaan UUD 1945 ke berbagai rupa bentuk perundang-undangan Republik Indonesia mempertimbangkan bila kelak diberlakukan MORATORIUM PERUNDANG-UNDANGAN RI [http://www.repelita.com/suara-warga-moratorium-perundang-undangan-ri/‎via@RepelitaOnlinep‎] yang adalah juga Peta Jalan Politik Perubahan bagi hadirnya kembali Garis-garis Besar Haluan Negara (GBHN) yang strategik segera dibentuk dan ditetapkan oleh MPRRI dengan syarat status kedudukan hukum sebagai Lembaga Tertinggi Negara.
Jakarta, ‎27 Oktober 2016
Generasi Penerus Angkatan 45 (GPA45),
Pandji R Hadinoto‎ / Ka DHD45 Jakarta
Ka Majelis Kehormatan Rakyat Republik Indonesia
logo-mkrri
Suara Warga :

PERKUATAN POLITIK PEMUDA INDONESIA MERDEKA

Fenomena Politik Hindia Belanda pada‎ akhir abad ke-19,‎ tergelar Politik Etis Belanda berlatar keprihatinan Kaum Liberal dan Humanis Belanda terhadap penderitaan penduduk pribumi Hindia Belanda akibat kebijakan pemerintah penjajah yang berbentuk monopoli perdagangan, tanam paksa, kerja paksa, eksploitasi kekayaan alam, penduduk diperintah kerja keras, sementara hasilnya se-besar2nya masuk ke Kas Kerajaan Belanda sebagai prinsipal Pemerintah Hindia Belanda.
Untuk kepentingan investor Belanda, pada tahun 1881 diterbitkan Koeli Ordonantie yang memberi Hak Hukum bagi perusahaan2 Investor Belanda untuk menghukum koeli2 pribuminya bilamana kedapatan dianggap bersalah terhadap kepentingan perusahaan2 Investor Belanda (disebut juga PoenaleSanctie).
Pada tahun 1899, van Deventer menulis Eeu Eereschuld (Hutang Budi) di majalah De Gids yang kemudian mendorong lahirnya Politik Etis akhir abad 19 yang direalisasikan di abad 20.
Kini fenomena Indonesia di dua dekade awal abad 21 yang berjudul Era Reformasi Batang Tubuh UUD 1945 menjadi Batang Tubuh UUD 2002 sebenarnya seperti mirip perkaranya dengan siklus dekade akhir abad 19 dan dekade dekade abad 20 pra Indonesia Merdeka.
Oleh karena itulah, salah satu terapi ideologis terhadap fenomena Reformasi Indonesia tersebut diatas adalah dengan memperbarui Tri Sumpah Pemuda 1928 menjadi Sapta Sumpah Pemuda 2008 yang kemudian diperbarui lagi menjadi Nawa Sumpah Pemuda 2015 sbb :
‎Semoga pada peringatan Hari Sumpah Pemuda 2016 kini, Nawa Sumpah Pemuda 2015 dapat
turut mewarnai semangat pemuda sebagai agen perubahan dan pembangunan sesuai jamannya dalam konteks Perkuatan Politik Pemuda Indonesia Merdeka.
‎Jakarta, 28 Oktober 2016
Generasi Penerus Angkatan 45 (GPA45),
Pandji R Hadinoto, Ketua DHD45 Jakarta
Ketua, Majelis Kehormatan Rakyat Republik Indonesia
Logo Bulat GPA45

NASIONALISME

Macam-macam Organisasi Pergerakan Nasional Indonesia

  1. Budi Utomo (BU)

Budi utomo adalah suatu organisasi yang didirikan oleh kalangan terpelajar di sekolah kedokteran yang berasal dari priyayi Jawa yang “baru” atau priyayi rendahan. Mereka memiliki pandangan bahwa pendidikan adalah kunci untuk kemajuan. Kelompok inilah yang merupakan kelompok pertama pembentuk suatu organisasi yang benar-benar modern. Dr. Wahidin Sudirohusodo adalah tokoh yang membidani lahirnya Budi Utomo melalui kegiatannnya menghimpun dana beasiswa untuk memberikan pendidikan Barat kepada golongan priyayi Jawa.

Kegiatan yang dilakukan oleh Dr. Wahidin tersebut disambut oleh Soetomo, seorang mahasiswa School Tot Opleiding van Indische Arsten (STOVIA) atau Sekolah Dokter Jawa. Bersama rekan-rekannya dia mendirikan Budi Utomo (BU) di Jakarta pada 20 Mei 1908. Budi utomo sejak awal berdiri sudah menetapkan bahwa bidang perhatian organisasi ini pada upaya peningkatan pendidikan dan memajukan pendidikan masyarakat dengan memberi kesempatan dan beasiswa bagi rakyat Indonesia untuk menempuh pendidikan. Hanya saja ruang lingkup yang menjadi obyek pengembangan pendidikan ini pada awalnya hanya meliputi penduduk Jawa dan Madura.

Bilamana diperhatikan dari segi keanggotaannya, organisasi budi utomo mempunyai sifat-sifat sebagai berikut:

1)   bersifat lokal, sebab anggotanya hanya terbatas pada orang jawa dan madura, kemudian berkembang ke Bali, tidak meliputi seluruh wilayah Indonesia;

2)   bersifat moderat dan aristokratis, tidak bertindak radikal dalam memperjuangkan tujuannya. Hal ini dimaklumi karena sebagian besar anggotanya adalah pegawai negeri dan juga dari lapisan ningrat.

Pada kongres Budi Utomo yang diselenggarakan pada 3-5 Oktober 1908, Tirto Kusumo diangkat menjadi Ketua Pengurus Besar. Dalam kongres ini, etnonasionalisasi semakin bertambah besar. Selain itu, dalam kongres tersebut juga timbul dua kelompok, yaitu kelompok pertama diwakili oleh golongan pemuda yang merupakan minoritas yang cenderung menempuh jalan politik dalam menghadapi pemerintah kolonial.

Adapun kelompok kedua merupakan golongan mayoritas diwakili oleh golongan tua yang menempuh perjuangan dengan cara lama, yaitu sosiokultural (pendidikan, pengajaran dan kebudayaan). Golongan minoritas yang berpandangan maju dalam organisasi ini dipelopori oleh Dr. Tjipto Mangunkusumo. Dr. Tjipto Mangunkusumo ingin menjadikan Budi Utomo bukan hanya sebagai partai politik yang mementingkan rakyat, melainkan juga sebuah organisasi yang kegiatannya tersebar di Indonesia, bukan hanya di Jawa dan Madura.

Sementara golongan tua menginginkan pembentukan dewan pimpinan yang didominasi oleh para pejabat generasi tua. Golongan ini juga mendukung pendidikan yang luas bagi kaum priyayi dan mendorong kegiatan pengusaha Jawa. Tjipto terpilih sebagai seorang anggota dewan. Namun, pada 1909 dia mengundurkan diri dan akhirnya bergabung dengan Indische Partiij yang perjuangannya bersifat radikal.

Karakteristik Budi Utomo yang seperti demikian menyulitkan untuk bertindak revolusioner, walaupun lambat laun juga mempunyai program politik dan memperluas keanggotanya hingga sampai ke Bali. Hal ini terjadi karena banyak dari anggota Budi Utomo adalah pegawai pemerintahan Belanda dan banyak yang berasal dari kalangan ningrat. Kondisi inilah yang mengakibatkan keluarnya beberapa orang tokoh utama dari Budi Utomo, seperti Cipto Mangunkusumo, Soetomo, dan Soepomo.

Tokoh-tokoh ini beralih ke Indische Party yang gerakannya lebih radikal. Dalam perkembangan selanjutnya Budi Utomo tetap meneruskan cita-cita mulia menuju kemajuan yang selaras buat tanah air dan bangsa. Ketika pecah Perang Dunia I (1914) Budi Utomo turut memikirkan cara mempertahankan Indonesia dari serangan luar, yang mengusulkan dibentuknya ”Komite Indie Weeber” (komisi untuk pertahanan negara) Budi Utomo juga terlibat dalam rapat-rapat untuk membentuk Dewan Rakyat (Volksraad), yang baru dapat terealisasi tahun 1918.

Belanda memang memberi peluang pada Budi Utomo untuk terlibat, karena sikapnya yang moderat sehingga pemerintah kolonial tidak terlalu mengkhawatirkan organisasi tersebut. Pada dekade ketiga abad ke-20, April 1930, Budi Utomo dibuka keanggotannya bagi semua golongan bangsa Indonesia. Pada kongres April 1931, anggaran dasar Budi Utomo diubah untuk membuka diri. Pada kongres itu diputuskan untuk bekerja sama dengan organisasi lain yang berdasarkan prinsip kooperasi.

Dalam konferensi yang diselenggarakan pada Desember 1932 di Solo, diumumkan tentang disahkannya badan persatuan yang terdiri dari organisasi-organisasi yang bertujuan mencapai Indonesia merdeka, namanya Parindra. Kelompok organisasi ini bersifat kooperasi tapi terhadap sesuatu hal yang lain bisa jadi non kooperasi.

Walaupun pada awalnya organisasi Budi Utomo dikhususkan untuk masyarakat Jawa dan Madura, namun Budi Utomo adalah organisasi modern pertama dalam pergerakan nasional Indonesia yang bertujuan untuk memajukan masyarakat pribumi dan usianya paling lama, Budi Utomo merupakan organisasi perintis jalan untuk pertumbuhan organisasi-organisasi politik lainnya. Budi Utomo merupakan fase pertama dari nasionalisme Indonesia, menjadi inspirasi bangkitnya fahamfaham kebangsaan Indonesia.

  1. Sarekat Islam (SI)

Sarekat Islam (SI) pada awalnya bernama Sarekat Dagang Islam (SDI), yaitu perkumpulan bagi pedagang Islam yang didirikan tahun 1911 di Solo, oleh H. Samanhudi. Organisasi ini mempunyai tujuan memajukan perdagangan Indonesia di bawah panji Islam, serta agar para pedagang Islam dapat bersaing dengan pedagang Barat maupun Timur Asing. Sarekat Dagang Islam mengalami perkembangan cukup pesat, hal ini terjadi karena:

  1. Pedagang keturunan Tionghoa melakukan monopoli bahan-bahan batik, ditambah pula dengan tingkah laku mereka yang tidak mengenakkan pada pedagang pribumi;
  2. Penyebaran agama Kristen yang merupakan tantangan bagi para penganut Islam;
  3. Adat lama yang bertentangan dengan ajaran Islam yang terus dipertahankan di daerah Jawa, makin lama makin dirasakan sebagai penghinaan terhadap umat Islam.

Faktor lain yang mempengaruhi pesatnya pertumbuhan perkumpulan pedagang Islam tumbuh pesat terutama setelah Tjokroaminoto masuk dan kemudian menjadi pemimpin Sarekat Dagang Islam. SDI berganti namanya menjadi Sarekat Islam (SI) pada tahun 1912. SI mempunyai tujuan mengembangkan perekonomian guna mencapai kemajuan rakyat yang nyata dengan jalan persaudaraan, persatuan, dan tolong menolong di antara kaum muslimin. Keanggotaannya terbuka untuk setiap lapisan masyarakat yang beragama Islam.

Pada Juni 1916, mengembangkan sebuah cita-cita terbentuknya satu bangsa bagi penduduk Indonesia. Pada kongres 1917, SI mulai dimanfaatkan oleh kekuatan lain untuk kepentingan politik tertentu dan disusupi aliran revolusioner sosialis dengan tokohnya Semaun yang menduduki ketua SI cabang Semarang. Dengan masuknya Semaun, tujuan SI kemudian berubah menjadi membentuk pemerintah sendiri dan perjuangan melawan penjajah dari kapitalisme yang jahat.

Dalam kongres diputuskan tentang keikutsertaan SI dalam Volksraad. Masuknya kaum sosialis-komunis di dalam tubuh SI, hingga memberikan pengaruh terhadap tujuan SI dan ditambah dengan pernyataan bahwa menjadi penjajahan dalam lapangan kebangsaan dan perekonomian itu adalah buah dari kapitalisme dan kapitalisme hanya bisa dikalahkan oleh per satuan kaum buruh dan petani. Pada tahun 1921, SI menetapkan bahwa seseorang harus memilih antara SI atau organisasi lain.

Pilihan ini sebenarnya bertujuan untuk membersihkan barisan SI dari unsur-unsur komunis. Dengan keputusan tersebut, seseorang tidak mungkin menjadi anggota SI sekaligus menjadi anggota PKI. Kondisi tersebut mengakibatkan terjadinya perpecahan di tubuh SI, dan berganti nama SI Merah dan SI Putih. SI Merah yang dipimpin oleh Semaun berpusat di Semarang dan berazaskan komunis. Adapun SI Putih dipimpin oleh HOS Tjokroaminoto yang berlandaskan Islam. Perkembangan selanjutnya SI berubah menjadi Partai Sarekat Islam (PSI), sedangkan SI Merah menjadi Sarekat Rakyat yang kemudian menjadi organisasi yang berada di bawah naungan PKI.

PSI mempunyai tujuan perjuangan untuk mencapai kemerdekaan nasional. Karena tujuannya yang jelas itulah maka PSI menggabungkan diri dengan Permufakatan Perhimpunan-Perhimpunan Politik Kebangsaan Indonesia (PPPKI). Kongres PSI 1927 menyatakan bahwa Karena keragaman cara pandang di antara elite partai, PSII pecah menjadi beberapa partai politik, seperti Partai Islam Indonesia yang dipimpinan oleh Sukiman, PSII Kartosuwiryo, PSII Abikusno, dan PSII sendiri. Perpecahan itu melemahkan PSII dalam perjuangannya.

  1. Indische Partiij

Indische Partiij merupakan organisasi yang didirikan oleh orang Indo dan anggotanya juga kebanyakan orang Indo, yaitu campuran orang Indo dengan Pribumi. Didirikan oleh Dr. Ernest Francois Eugene Douwes Dekker pada 25 Desember 1912. Dr. Ernest Francois Eugene Douwes Dekker adalah seorang keluarga jauh Edward Douwes Dekker (Multatuli). Dia kemudian bekerja sama dengan dua orang, Tjipto Mangunkusumo dan Suwardi Suryaningrat. Ketiga tokoh ini dikenal dengan sebutan Tiga Serangkai.

Indische Partiij menyatakan bahwa nasionalisme merupakan hal paling penting dan oleh karena itu harus diperjuangkan. Partai ini juga dengan tegas menyatakan harus dicapainya kemerdekaan Indonesia dari pemerintah kolonial Belanda. Dalam perjuangannya, partai ini bersikap radikal terutama dalam menghadapi sistem kolonial Belanda. Indische Partiij menuntut dihapusnya eksploitasi rakyat dan oleh karena itu mereka beranggapan bahwa penghapusan eksploitasi dapat dicapai apabila Hindia Belanda memperoleh kemerdekaan sistem politik dan pemerintahan yang demokratis.

Anggaran dasar Indische Partiij menetapkan tujuan membangun lapangan hidup, menganjurkan kerja sama atas dasar persamaan ketatanegaraan, memajukan tanah air Hindia Belanda, dan mempersiapkan kehidupan rakyat merdeka. Indische Partiij berdiri atas dasar nasionalisme yang menampung semua suku bangsa di Hindia Belanda dengan tujuan akhir mencapai kemerdekaan. Paham kebangsaan ini kemudian diolah dan dikembangkan oleh partai-partai lain, seperti Perhimpunan Indonesia (PI) dan Partai Nasional Indonesia (PNI).

Karena keradikalan partai ini, pemerintah kolonial bersikap keras dan oleh karena itu tidak memberi badan hukum. Sikap pemerintah kolonial semakin keras terutama setelah setelah munculnya artikel Suwardi Suryaningrat pada peringatan 100 tahun bebasnya negeri Belanda dari jajahan Prancis. Artikel ini berjudul “Als ik een Nederlander was” (Andaikata aku seorang Belanda). Artikel ini membuat pemerintah kolonial Belanda marah dan disusul dengan ditangkapnya ketiga tokoh Indische Partiij yang kemudian diasingkan ke Belanda.

Pada 4 Mei 1913, Indische Partiij dinyatakan sebagai partai terlarang. Walaupun sudah dibubarkan, ketiga tokoh ini tetap berjuang. Douwes Dekker tetap di jalur politik. Suwardi Suryaningrat yang kemudian lebih dikenal sebagai Ki Hajar Dewantara terjun dalam bidang pendidikan. Adapun Tjipto Mangunkusumo meneruskan perjuangannya yang radikal walaupun dalam beberapa waktu harus berjuang di dalam penjara. Meskipun organisasi ini berumur pendek, Indische Partiij telah memberikan perlawanan gigih dalam memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Partai ini merupakan partai pertama yang menanamkan paham kebangsaaan.

  1. Partai Komunis Indonesia (PKI)

Partai Komunis Indonesia adalah organisasi pergerakan sosialis yang mengadopsi nilai-nilai perjuangan komunisme dari Rusia. Pada awalnya organisasi ini bernama Indische Social Demokratische Vereeniging (ISDV), yang kemudian berubah menjadi Partai Komunis Indonesia pada tahun 1924. Gerakan ini dipelopori oleh seorang Marxis Belanda Sneevliet yang ingin menyebarkan ajaran-ajaran Marxis di Indonesia, khususnya tentang manifesto-komunisnya.

Konsep perjuangannya adalah mempertentangkan kelas antara kaum pribumi sebagai buruh dan penjajah sebagai kapitalisme Barat. Sneevliet adalah pendiri organisai Indische Social Demokratische Vereeniging (ISDV) (Dekker, 1993). ISDV didirikan Sneevliet pada tahun 1914 di Semarang. Perkumpulan ini merupakan perkumpulan campuran antara orang-orang Belanda dengan orang-orang Indonesia yang mempunyai pandangan politik sama.

Sneevliet berusaha mempengaruhi tokoh-tokoh terkemuka pada perkumpulan orang Indonesia untuk menerima ajaran Marxis. Setelah itu tokoh-tokoh Marxis dalam ISDV menyusup ke tubuh organisasi Sarekat Islam yang dianggap memiliki basis massa yang banyak dan bersedia menerima pikiran-pikiran radikal perjuangan sosialis. Selain itu, anggota Sarekat Islam yang radikal bisa masuk ISDV tanpa harus meninggalkan Sarekat Islam.

Komunisme cepat berkembang di kalangan rakyat Indonesia yang terjajah. Kondisi buruknya kehidupan ekonomi pribumi dapat dimanfaatkan dengan baik oleh tokoh-tokoh komunis Indonesia. Tokoh-tokoh komunis juga memanfaatkan kondisi buruknya hubungan antara gerakan politik dan pemerintah Belanda. ISDV semakin kuat setelah pecahnya Revolusi Rusia pada 1917, berdirinya Uni Soviet, dan Communis International (Comintern) Maret 1919. Komunis Indonesia makin radikal dan mendapat dukungan yang luas setelah pada 1922 melakukan pemogokkan-pemogokkan untuk menuntut kenaikan upah dari kaum kapitalis.

Gerakan-gerakan ISDV yang radikal dalam menentang kapitalisme Belanda mengakibatkan orang-orang ISDV diusir Belanda. Pimpinan komunis di Indonesia diambil alih oleh orang Indonesia sendiri dan kemudian mendirikan organisasi dengan nama Perserikatan Komunis Hindia pada Mei 1920. Pada 1924 nama ini berubah menjadi Partai Komunis Indonesia (PKI). PKI dengan cepat berkembang karena mendapat banyak dukungan dari kalangan rakyat jelata yang terjajah.

PKI masuk Komintern pada 1920. Tokoh-tokoh PKI di antaranya, Semaun, Alimin, Tan Malaka, dan Darsono (Dekker, 1993). PKI dalam melaksanakan kegiatannya bersifat praktis dan radikal, organisasi ini dengan tegas menyatakan ingin melakukan gerakan revolusi untuk menggulingkan pemerintahan kolonial Belanda. Tokoh-tokohnya dengan cerdik mampu memanfaatkan militansi Islam yang juga berkeinginan untuk melawan pemerintah kolonial Belanda. Oleh karena itu, banyak tokoh Islam yang direkrut untuk menyebarkan propaganda PKI yang anti kapitalisme Belanda.

Misalnya di daerah berbasis Islam, Banten dan Minangkabau, terjadi pemberontakan melawan kapitalisme Barat pada 1926 dan 1927. Akibat pemberontakan, pemerintah kolonial Belanda melakukan penindasan terhadap pengikutnya. Pemimpinnya dibuang, sejumlah 13.000 anggotanya ditangkap, 4.000 orang dihukum, dan 1.300 orang dibuang ke Digul. Oleh pemerintah kolonial, PKI dinyatakan sebagai organisasi terlarang, walaupun aktivitas politiknya masih terus berjalan. Semaun, Darsono, dan Alimin meneruskan propaganda untuk mendukung aksi revolusioner dan menuntut kemerdekaan Indonesia.

  1. Partai Nasional Indonesia (PNI)

Partai Nasional Indonesia didirikan oleh kaum terpelajar, yang dipelopori oleh Soekarno. Berdiranya PNI, tidak terlepas dari pengaruh dilarangnya PKI oleh pemerintah kolonial. Kaum terpelajar dan intelektual serta tokoh-tokoh perjuangan lainnya berusaha memikirkan strategi yang harus dijalankan untuk mencegah agar organisasi-organisasi baru tidak terperangkap pada kendala yang sama. Untuk itu mereka berkesimpulan bahwa kekerasan dan radikalisme bukan jalan perjuangan yang baik dalam menghadapi pemerintah kolonial.

Golongan terpelajar yang berada dalam Algemene Studie Club Bandung pada 4 Juli 1927 mendirikan Partai Nasional Indonesia (PNI) di Bandung. Organisasi yang dipimpin oleh Ir. Soekarno. PNI didirikan dengan tujuan untuk menampung orang-orang yang merasa aspirasinya tidak terwakili dalam organisasi-organisasi politik yang ada saat itu. Tujuan PNI adalah untuk mencapai Indonesia merdeka dengan asas perjuangan berdiri di atas kaki sendiri, nonkooperasi, dan marhaenisme.

Sebagai sebuah organisasi yang baru, PNI cepat berkembang dan menarik perhatian banyak pihak. Hal ini disebabkan karena adanya propaganda-propaganda yang dilakukan Ir. Soekarno dengan mengusung tema antara lain: karakter yang buruk dari penjajah, konflik antara pengusaha dan petani, “front sawo matang melawan front kulit putih,” menghilangkan ketergantungan dan menegakkan kemandirian, serta perlunya pembentukan negara dalam negara. Propaganda-propaganda Ir. Soekarno yang menarik dukungan masyarakat telah mengkhawatirkan pemerintah kolonial Belanda.

Gubernur Jenderal Belanda dalam pembukaan sidang Volksraad pada 15 Mei 1928 memberi peringatan kepada pemimpin PNI untuk menahan diri dalam ucapan dan propagandanya. Karena tidak dihiraukan, pemerintah kolonial Belanda segera mengadakan penangkapan terhadap para pemimpin PNI, seperti Ir. Soekarno, Maskun, Gatot Mangkupraja, dan Supriadinata. Penangkapan itu terjadi pada 24 Desember 1929. Mereka kemudian diajukan ke depan pengadilan Landraad di Bandung.

Pengadilan Ir. Soekarno dan rekannya dihadiri oleh banyak kalangan, baik dari tokoh-tokoh pergerakan di luar maupun di dalam kota Bandung. Pidato pembelaan Soekarno dikenal dengan Indonesia Menggugat yang di dalamnya berisi antara lain pandangan Soekarno mengenai pergerakan nasional, pentingnya kemerdekaan bagi bangsa Indoensia, dan dihapuskannya pemeritah kolonial. Pengadilan tersebut menjatuhkan hukuman 4 tahun penjara untuk Soekarno, 2 tahun untuk Gatot Mangkuraja, 1 tahun 8 bulan untuk Maskun dan 1 tahun 3 bulan untuk Supriadinata dengan tuduhan melakukan perbuatan yang mengganggu ketertiban umum dan menentang kekuasaan pemerintah.

Dipenjarakannya tokoh-tokoh penting PNI menimbulkan pemikiran untuk membubarkan PNI, demi keselamatan para anggota, 1933. Sementara itu, Mr. Sartono, melalui kongres luar biasa mendirikan partai baru bernama Partai Indonesia (Partindo) dengan Sartono sebagai ketuanya. Sedangkan Mohammad Hatta dan Sutan Sjahrir mendirikan partai baru yaitu PNI Pendidikan (PNI Baru). Partai Indonesia (Partindo) Partindo berasaskan non kooperatif, konsep sosio-demokrasi dan sosio-nasionalisme dari Ir. Soekarno diterima sebagai citacita yang dituju Partindo.

Partindo adalah partai politik yang menghendaki kemerdekaan Indonesia yang didasarkan prinsip menentukan nasib sendiri, kebangsaan, menolong diri sendiri, dan demokrasi. Partindo menekankan perjuangan radikal dalam rangka memperjuangkan kemerdekaan penuh. Kongres Partindo pada 15-17 Mei 1932 di Jakarta dihadiri oleh Ir. Soekarno yang saat itu belum menjadi anggota. Dalam pidato tersebut, Soekarno memunculkan slogan “Indonesia merdeka sekarang,” “kerakyatan dan kebangsaan,” dan “Persatuan Indonesia.”

Pada kongres Juli 1933, Soekarno menjelaskan konsep Marhaenisme. Pada dasarnya Marhaenisme menyukai perjuangan membela rakyat kecil serta menekankan kebahagiaan, kesejahteraan, dan keadilan sosial untuk marhaen atau rakyat kecil. Sikap pemerintah kolonial Belanda terhadap Partindo semakin keras. Pada 1933 dikeluarkan larangan bagi pegawai negeri untuk menjadi anggota Partindo.

Puncaknya adalah penangkapan Soekarno pada 1 Agustus 1933 oleh Gubernur Jenderal De Jonge. Soekarno kemudian dibuang ke Ende, Flores. Setelah penangkapan tersebut, ruang gerak partai menjadi sempit. Kongres yang rencananya akan diselenggarakan pada 30-31 Desember 1934 dilarang oleh pemerintah. Meskipun begitu, Partindo berjalan terus sampai membubarkan diri pada 18 November 1936.

  1. Perhimpunan Indonesia

Perhimpunan Indonesia adalah salah satu organisasi pergerakan nasional yang berdiri di negeri Belanda. Perhimpunan Indonesia didirikan oleh mahasiswa Indonesia serta orang-orang Belanda yang menaruh perhatian pada nasib Hindia Belanda yang tinggal di Negeri Belanda. Perhimpunan Hindia atau Indische Vereeniging (IV) berdiri pada tahun 1908, yang dibentuk sebagai sebuah perhimpunan yang bersifat sosial. Organisasi ini merupakan ajang pertemuan dan komunikasi antar mahasiswa Indonesia yang belajar di negeri Belanda.

Namun, setelah kedatangan pemimpin Indische Partiij di Belanda, IV berkembang pesat dan memusatkan kegiatannya pada bidang politik. Tokoh-tokoh organisasi yang berpandangan maju tersebut mencetuskan untuk pertama kali konsep Hindia Bebas dari Belanda dan terbentuknya negara Hindia yang diperintah oleh rakyatnya sendiri. Program kegiatannya antara lain bekerja di Indonesia dan membentuk Indonesische Verbond van Studeerenden (Persatuan Mahasiswa Indonesia).

Hal terpenting dari penggabungan ini adalah dengan digantinya “Indische” dengan “Indonesische.” Hal ini merupakan pertama kalinya dalam sejarah pergerakan nasional Indonesia dikenalkan istilah “Indonesische” atau “Indonesia” dalam kegiatan akademik dan politik. Pada tahun 1923, Iwa Kusumasumatri sebagai ketua, sejak saat itu sifat perjuangan politik organisasi semakin kuat. Dalam rapat umum 1923 organisasi ini menyepakati tiga asas pokok organisasi yaitu:

  1. a) Indonesia menentukan nasib sendiri;
  2. b) untuk itu Indonesia harus mengandalkan kekuatan dan kemauan sendiri;
  3. c) untuk melawan pemerintah kolonial Belanda, bangsa Indonesia harus bersatu.

Untuk menunjukkan sikap nasionalismenya, para pengurus organisasi ini kemudian mengubah nama majalah Hindia Putera dengan Indonesia Merdeka. Pada edisi pertama majalah Indonesia Merdeka diungkapkan bahwa penjajahan Indonesia oleh Belanda dan penjajahan Belanda oleh Spanyol memiliki banyak persamaan. Selain itu diungkapkan pula alasan tidak disebutnya negara Hindia Belanda karena hampir sama dengan orang Belanda yang tidak mau menyebut negaranya dengan Nederland-Spanyol. Para mahasiswa mengetahui hal ini setelah mempelajari mengenai perjuangan Belanda melawan Spanyol.

Organisasi ini juga berpendapat bahwa kemerdekaan adalah hak setiap bangsa yang ada di dunia, termasuk hak bangsa Indonesia yang masih terjajah. Semangat perjuangan politiknya yang jelas menuju Indonesia merdeka menjadikan organisasi ini disegani oleh oranisasi-organisasi sejenis di kalangan negara-negara terjajah di Asia. Propaganda tentang tujuan dan ideologi baru bangsa Indonesia disosialisasikan secara lebih gencar oleh organisasi ini dengan menerbitkan buklet dalam rangka memperingati hari jadi yang ke-15 pada 1924.

Indische Vereeniging (IV) pada 3 Februari 1925 berubah namanya menjadi Perhimpunan Indonesia. Dalam majalah Indonesia Merdeka, ditulis bahwa perubahan nama ini diharapkan dapat memurnikan organisasi dan mempertegas prinsip perjuangan organisasi. Sementara, dalam artikel yang muncul pada bulan yang sama dengan judul Strijd in Twee Front (Perjuangan di Dua Front), menyatakan bahwa perjuangan selanjutnya akan lebih berat dan pemuda Indonesia tidak akan ada yang dapat menghindarinya.

Mereka harus berusaha mengerahkan semua kemampuannya jika ingin mencapai kemerdekaan. Para pemimpin Perhimpunan Indonesia menyatakan bahwa organisasi mereka merupakan organisasi pergerakan nasional. Sebagai kelompok elite serta golongan menengah baru, mereka harus memainkan peran pentingnya sebagai agen pengubah masyarakat dari masyarakat terjajah menjadi masyarakat merdeka, dari masyarakat terbelenggu menjadi masyarakat bebas, dan dari masyarakat yang bodoh menjadi masyarakat yang pintar.

Untuk mewujudkan cita-cita tersebut diperlukan wadah negara kesatuan yang merdeka dan berdaulat. Salah seorang pemimpin Perhimpunan Indonesia, Moh. Hatta, dengan penuh semangat menyerukan bersatunya semua unsur nasionalis Indonesia. Di antara empat pikiran pokok ideologi Perhimpunan Indonesia, pokok pikiran “merdeka” merupakan kuncinya. Keempat pokok pikiran itu adalah kesatuan nasional, kemerdekaan, nonkooperatif, dan kemandirian.

Ideologi Perhimpunan Indonesia yang terdiri dari empat gagasan telah disetujui pada Januari 1925. Keempat gagasan tersebut adalah sebagai berikut:

1)   membentuk suatu negara Indonesia yang merdeka;

2)   partisipasi seluruh lapisan rakyat Indonesia dalam suatu perjuangan terpadu untuk mencapai kemerdekaan;

3)   konflik kepentingan antara penjajah dan yang dijajah harus dilawan dengan mempertajam dan mempertegas konflik. Konflik

ditujukan untuk melawan penjajah; dan

4)   pengaruh buruk penjajahan Belanda terhadap kesehatan fisik dan psikis bangsa Indonesia harus segera dipulihkan dan dinormalkan dengan cara terus berjuang mencapai kemerdekaan.

Berkembangnya paham marxisme, leninisme, dan sosialisme di Eropa mengenai perjuangan kelas dan konflik antara kaum kapitalis dan kaum proletar telah mempengaruhi cara pandang tokoh-tokoh pergerakan nasional yang tinggal di Belanda, Eropa. Oleh tokoh-tokoh pergerakan nasional, paham-paham tersebut diaplikasikan dalam ideologi pergerakan nasional. Mereka memandang bahwa rakyat negeri jajahan adalah sebagai kaum proletar yang tertindas akibat imperialisme yang identik dengan kapitalisme.

Tokoh pergerakan, seperti Semaun, dibuang ke Amsterdam, Mohammad Hatta, Ali Sastroamidojo, Gatot Mangkupraja, dan Subarjo adalah penganut paham-paham baru dari Eropa tersebut. Paham marxis, leninis, dan sosialis telah memberikan dorongan kepada mahasiswa dalam menumbuhkan semangat perjuangan bangsa kulit sawo matang Indonesia dengan bangsa kulit putih Belanda. Dalam melakukan kegiatan politiknya, para mahasiswa Indonesia di Belanda sering mengadakan pertemuan, diskusi ilmiah dan politik diantara mereka sendiri serta dengan berbagai mahasiswa lainnya di negeri Belanda.

Tujuannya adalah untuk mengembangkan persamaan pandangan serta menggalang simpati baik dari Indonesia, dunia internasional, maupun dari orang Belanda sendiri tentang Indonesia merdeka. Oleh karena itu, PI menganjurkan agar semua organisasi pergerakan nasional menjadikan konsep Indonesia merdeka sebagai program utamanya. Seruan mahasiswa Indonesia di negeri Belanda terhadap organisasi pergerakan di Indonesia untuk meningkatkan aktifitas politik mendapat sambutan di Indonesia. Salah satu di antaranya adalah PKI.

Pada November 1926, komite revolusioner PKI mengadakan pemberontakan di Jawa Barat. Januari 1927, PKI juga mengulangi aksinya di pantai barat Sumatra. Namun kedua aksi ini mengalami kegagalan. Pemberontakan PKI yang gagal di Banten dianggap tanggung jawab PI di Negeri Belanda. Setelah terjadi pemberontakan tersebut pemerintahan kolonial Belanda berusaha menangkap para pemimpin PI di Belanda. Tokoh-tokoh PI, seperti Ali Sastroamidjojo, Abdul Karim, M Jusuf, dan Moh.

Hatta dianggap memiliki hubungan dekat dengan Moskow, sebagai markas gerakan comintern. Akibat tuduhan itu mereka ditangkap, kemudian diadili atas tuduhan makar terhadap pemerintah. Karena pembelaan mereka, akhirnya mereka dibebaskan setelah tidak terbukti terlibat dalam pemberontakan tersebut. Dalam pidato pembelaannya, mereka menjelaskan bahwa PI hanya sekedar membicarakan kemungkinan tindak kekerasan, kecuali pemerintah Belanda memikirkan tentang kemerdekaan Indonesia.

Pembebasan mereka dari tuduhan tersebut dirayakan oleh anggota-anggota PI dan partai-partai nasionalis Indonesia, karena dianggap sebagai suatu kemenangan gerakan nasionalis atas negeri kolonial Belanda. Karena kemenangan tersebut, maka kaum nasionalis Indonesia di Belanda semakin mendapat simpati massa di Belanda. Perhimpunan Indonesia mempunyai peran penting dalam pergerakan nasionalis Indonesia, walaupun organisasi ini berdiri di Belanda dan banyak bergerak di negeri tersebut. Peran tersebut antara lain:

1)   sebagai pembuka keterkungkungan psikologis bangsa Indonesia dan kekuasaan sistem kolonial;

2)   pengembang ideologi sekuler sehingga bisa mendorong semangat revolusioner dan nasionalis;

3)   mempersatukan unsur golongan ke dalam organisasi secara keseluruhan;

4)   memperkenalkan istilah Indonesia untuk mengembangkan jati diri nasional dan tidak bersifat kedaerahan; dan

5)   sebagai organisasi kebangsaan yang paling orsinil dalam mempropagandakan ideologi Indonesia Merdeka.

  1. Permufakatan Perhimpunan-Perhimpunan Politik Kebangsaan Indonesia (PPPKI)

PPKI merupakan organisasi yang didirikan sebagai upaya untuk mengumpulkan berbagai macam organisasi sosial politik menjadi satu, agar bisa menjadi kekuatan yang sangat besar dalam melawan penjajah Belanda. Terbentuknya gagasan tentang persatuan Indonesia dilatarbelakangi adanya kesadaran dikalangan tokoh-tokoh pergerakan nasional bahwa berjuang hanya melalui masing-masing organisasi pergerakan nasional tidak akan membawa hasil. Dengan perjuangan sendiri-sendiri akan mudah ditumpas oleh pemerintah kolonial.

Terbukti, PKI yang melakukan pemberontakan sendiri juga telah gagal dan berakhir dengan dilarangnya partai politik tersebut. Ir. Soekarno merupakan salah satu tokoh yang merasa yakin benar bahwa front bersama sangatlah penting bagi mempersatukan perjuangan politik pergerakan nasional Indonesia. Dalam merealisasikan ide ini, Soekarno dibantu oleh Sukiman, mengajak PSI untuk turut bergabung. Namun ide ini ditolak oleh PSI dengan alasan bahwa sebagian tokoh PNI dan Soekarno sendiri dianggap sebagai didikan Belanda, karena itu diragukan kenasionalisannya.

Sebagian kalangan pergerakan nasional Indonesia yang masih berpandangan kolot masih menganggap bahwa mereka yang bukan dididik dan dibesarkan di Indonesia tidak memiliki pandangan positif tentang kemerdekaan Indonesia. Pada tanggal 17-18 Desember 1927 diputuskan untuk dibentuk Permufakatan Perhimpunan-Perhimpunan Politik Kebangsaan Indonesia (PPPKI). Perhimpunan ini menampung beberapa organisasi pergerakan nasional, seperti PSI, BU, PNI, Pasundan, Sumatranen Bond, Kaum Betawi, dan Kelompok Studi Indonesia.

PPPKI dianggap telah mampu mengimbangi kekuatan pemerintah Belanda. PPPKI juga diharapkan mampu mempersatukan dan menjadikan gerakan-gerakan politik nasional berada dalam satu koordinasi yang baik. PPPKI terus berkembang dan memiliki daya tarik tersendiri bagi parpol-parpol yang ada di Indonesia. PSI dan BU merupakan salah satu yang memberikan perhatian khusus terhadap ideologi nasionalis sekuler. Kongres PPPKI I diselenggarakan pada 2 September 1928 di Surabaya.

Para wakil parpol berharap bahwa kongres ini merupakan kongres yang dapat membawa Indonesia ke era baru gerakan kebangsaan. Kongres menunjuk Soetomo sebagai ketua Majelis Pertimbangan PPPKI. Sebagai ketua, Soetomo berhasil mempersatukan kaum moderat dan kaum radikal di tubuh PPPKI. Kongres juga menganjurkan agar dibentuknya seksi PPPKI daerah agar memudahkan sekaligus memantapkan PPPKI dalam kesadaran nasionalisnya. PPPKI ternyata tidak mampu mewujudkan cita-cita idealnya, karena terjadi pertentangan antara tokoh-tokoh partai, seperti pertentangan antara PNI Baru dan Partindo.

Perhimpunan ini akhirnya tidak memiliki peran apapun di panggung politik, meskipun segala upaya sudah dilakukan Soekarno dalam rangka mempersatukan partai-partai yang ada. Intervensi pemerintah kolonial Belanda terhadap perhimpunan ini juga menjadi salah satu penyebab semakin menurunnya peran perhimpunan ini dalam pergerakan nasional. Hal ini sangat disayangkan karena bergabungnya beberapa parpol dalam sebuah himpunan dianggap sebagai salah satu peristiwa penting dalam sejarah pergerakan nasional Indonesia.

  1. Partai Indonesia Raya (Parindra)

Parindra adalah salah satu organisasi yang didirikan sebagai upaya untuk mempersatukan persepsi di antara organisasi pergerakan nasional. Mereka menyadari bahwa hanya dengan persatuan, cita-cita kemerdekaan Indonesia dapat diwujudkan. Upaya tersebut terus dilakukan dalam rapat-rapat, diskusi, dan surat kabar. Salah satu surat kabar yang menampung gagasan persatuan adalah “Soeloeh Rayat Indonesia.” Surat kabar ini antara lain dimanfaatkan oleh Kelompok Studi Indonesia di Surabaya untuk menyerukan konsepsinya bahwa perbedaan golongan pendukung nonkooperasi dan pendukung kooperasi tidaklah harus dibesar-besarkan.

Menurut mereka, tujuan pergerakan saat ini adalah mengangkat rakyat Indonesia dari penderitaan berkepanjangan, baik itu melalui kegiatan ekonomi, sosial, maupun politik. Pada November 1930 kelompok studi ini mengubah namanya menjadi Partai Bangsa Indonesia (PBI). Meskipun berusaha mengutamakan agitasi politik, PBI lebih terlihat sebagai partai lokal Surabaya yang berorientasi pada kerakyatan. Perkumpulan Rukun Tani yang didirikannya menjadi sarana perbaikan dan kesejahteraan petani.

Dengan basis tersebut, PBI mendapat dukungan luas di pedesaan sehingga pada 1932 organisasi ini sudah memiliki anggota 2500 orang dengan 30 cabang. Pada tahun yang sama diadakan kongres yang menetapkan penggalakan koperasi, serikat sekerja dan pengajaran. Pada 1934, diadakan kongres di Malang, yang menetapkan bahwa PBI akan lebih memajukan pendidikan rakyat. PBI menggandeng BU untuk bekerja sama dalam upaya untuk menggalang persatuan.

Dari kerja sama yang telah disepakati tersebut disepakati untuk membentuk Partai Indonesia Raya atau Parindra pada 1935 dengan menggabungkan organisasi lainnya, seperti Sarikat Celebes, Sarikat Sumatra, Sarikat Ambon, Perkumpulan Kaum Betawi, dan Tirtayasa. Parindra memiliki tujuan mencapai Indonesia mulia dan sempurna. Keunikan Parindra dibanding partai yang lainnya adalah bahwa partai ini bersifat kooperasi dan dalam beberapa kegiatannya juga nonkooperasi.

Kongres I Parindra yang diselenggarakan pada Mei 1937 di Jakarta diputuskan bahwa Parindra bersikap kooperatif dan anggota yang ada dalam dewan harus loyal pada partainya. KRMH Wuryaningrat yang menggantikan Sutomo sebagai ketua berusaha dengan keras untuk mencapai perbaikan ekonomi rakyat, pengangguran, peradilan, dan kemiskinan. Dalam memajukan kesejahteraan ekonomi rakyat, Parindra telah berjasa mendirikan Perkumpulan Rukun Tani, Rukun Pelayaran Indonesia dan Bank Nasional Indonesia.

  1. Gabungan Politik Indonesia (Gapi)

Sebelum Gapi dibentuk, tokoh-tokoh pergerakan nasional masih mencari jalan lain agar perjuangan mereka mencapai kemerdekaan segera dapat diraih. Ternyata jalan perjuangan kooperatif dan nonkooperatif masih menghadapi jalan buntu. Tindakan Belanda yang menutup jalan gerakan non kooperatif dan mengharuskan gerakan yang kooperatif untuk selalu meminta izin terhadap Belanda, telah membuat kesal bangsa Indonesia. Oleh karena itu, melalui Volksraad, partai-partai mengeluarkan petisi pada 15 Juli 1936.

Petisi yang dikenal sebagai Petisi Sutarjo tersebut berisi usulan kepada pemerintah Belanda untuk mengadakan konferensi membahas tentang status politik Hindia Belanda di Indonesia. Ia menuntut kejelasan status politik Belanda pada 10 tahun mendatang. Selain itu, petisi ini juga bertujuan untuk mendorong rakyat memajukan negerinya dengan rencana yang mantap dan matang di bidang politik, ekonomi, dan sosial. Petisi tersebut ditandatangani oleh Sutardjo, I.J. Kasimo, Sam Ratulangi, Datuk Tumenggung dan Kwo Kwat Tiong.

Petisi Sutardjo ditolak oleh pemerintah kolonial Belanda. Hal ini tentu saja membuat para tokoh pergerakan dan pendukungnya merasa sangat kecewa. Apalagi setelah petisi tersebut tidak jelas kedudukannya selama dua tahun, apakah ditolak atau diterima. Meskipun begitu, kejadian tersebut telah mendorong semangat baru bangsa Indonesia untuk mencari jalan lain dalam pergerakan nasional. Perbedaan pendapat dan krisis baru di antara tokoh-tokoh pergerakan nasional masih terus tampak.

Untuk mengatasi krisis kekuatan nasional, tampillah seorang tokoh yang berusaha untuk mengurangi konflik dan menyamakan persepsi kembali tentang betapa pentingnya kesatuan di antara partai-partai politik nasional. Tokoh tersebut adalah M.Husni Thamrin yang memelopori berdirinya sebuah organisasi baru, yaitu Gabungan Politik Indonesia (Gapi), pada 21 Mei 1939. Gapi merupakan gabungan dari Parindra, Gerindo, Persatuan Minahasa, Partai Islam Indonesia, Partai Katolik Indonesia, Pasundan, dan PSII.

Langkah selanjutnya yang ditempuh Gapi adalah pada 24 Desember 1939, dengan membentuk Kongres Rakyat Indonesia (KRI). Tujuan utama dari kongres ini adalah “Indonesia Berparlemen.” Resolusi Gapi ditanggapi dingin oleh pemerintah kolonial. Untuk meredam gerakan nasionalis, pemerintah kolonial segera membentuk Komisi Visman, sebuah komisi yang ditujukan untuk menyelidiki keinginan bangsa Indonesia. Komisi ini bekerja tidak jujur dan lebih memihak kepada penguasa Belanda, sehingga pemerintah Belanda hanya berjanji memberikan status dominion kepada Indonesia di kemudian hari.

Di mata sebagian kaum nasionalis, komisi ini dianggap sebagai cara pemerintah kolonial untuk mengulur-ngulur waktu tentang tuntutan bangsa Indonesia. Gapi yang tetap teguh pada pendiriannya, segera merubah KRI menjadi Majelis Rakyat Indonesia (MRI) padal 14 September 1941. Mr. Sartono diangkat sebagai ketua. Organisasi ini beranggotakan Gapi sebagai wakil federasi organisasi politik, Majelis Islam A’la Indonesia (MIAI) sebagai wakil organisasi Islam, dan PVPN sebagai federasi serikat sekerja dan pegawai negeri.

Pada September 1942, MRI berhasil menyelenggarakan Kongres II di Yogyakarta. Kongres ini dihadiri ole h MIAI, PVPN, Kongres Perempuan Indonesia, Isteri Indonesia, Perti, Parindra, Gerindo, Pasundan, PII, PPKI, PAI, NU, PPBB, Muhammadiyah, PMM, Taman Siswa, dan PSII. Pada saat itu, MRI merupakan organisasi yang paling maju karena telah berhasil menggabungkan organisasi politik, sosial, dan keagamaan dalan satu wadah.

Nasionalisme adalah suatu gerakan yang bersifat politik dan sosial dari kelompok-kelompok bangsa yang bersifat politik dan sosial dari kelompok-kelompok bangsa yang memiliki persamaan budaya, bahasa, wilayah, serta persamaan cita-cita dan tujuan. Paham baru di Eropa tersebut berdampak luas ke wilayah Asia-Afrika. Hal itu terlihat dari banyaknya gerakan yang menentang penjajahan dan gerakan yang memperjuangkan kemerdekaan setiap bangsa Asia dan Afrika.

Peristiwa-peristiwa penting antara Perang Dunia I dan II, antara lain Perang Dunia I, Perjanjian Versailes, pembentukan Liga Bangsa-Bangsa, Perang Dunia II, dan pembentukan Perserikatan Bangsa-Bangsa. Pergerakan nasional Indonesia yang terjadi pada awal abad ke-20 dapat diartikan sebagai pergerakan di seluruh bangsa Indonesia yang berasal dari berbagai kelompok etnis, agama, dan budaya yang terhimpun dalam organisasi-organisasi pergerakan dan yang bertujuan untuk memajukan bangsa Indonesia di bidang pendidikan, ekonomi, sosial-budaya, dan politik serta untuk memperoleh kemerdekaan yang meliputi seluruh bangsa dari penjajah Belanda.

Organisasi pergerakan nasional yang pernah lahir di Indonesia antara lain, Budi Utomo, Sarekat Islam, Indische Partiij, PNI, Partindo, PKI, Taman Siswa, Perhimpunan Indonesia, Parindra, Muhammadiyah, PPPKI, dan PPPI. Sedangkan organisasi pemuda di antaranya Trikoro Dharmo, Jong Celebes, Jong Sumatra Bond, PPPI, Jong Indonesia, dan Indonesia Muda. Demikian pula pada pergerakan kaum wanita Indonesia yang dipelopori oleh R.A. Kartini dan Dewi Sartika.

Pada 15 Juli 1936, bangsa Indonesia mengeluarkan Petisi Sutarjo yang berisi tentang usulan untuk mengadakan konferensi membahas status politik Hindia Belanda di Indonesia. Adapun Gapi yang merupakan organisasi gabungan dari beberapa partai-partai politik dan pergerakan nasional di Indonesia menuntut kepada pemerintah kolonial Belanda agar “Indonesia Berparlemen.”

  1. Gerakan dan Organisasi Pemuda

Organisasi pemuda yang didirikan pada awal abad ke-20 meliputi organisasi-organisasi yang didukung oleh para pemuda di daerah. Salah satu di antaranya adalah Perkumpulan Pasundan. Perkumpulan ini didirikan pada 1914 dengan tujuan mempertinggi derajat kesopanan, kecerdasan, memperluas kesempatan kerja, dan penghidupan kegiatan masyarakat. Pemimpinnya adalah R. Kosasih Surakusumah, R.Otto Kusuma, dan R.A.A. Jatiningrat. Organisasi Pasundan merupakan organisasi semacam Budi Utomo bagi orang Sunda.

Pada masa sesudah sekitar 1909, di seluruh Indonesia banyak bermunculan organisasi-organisasi baru di kalangan elite terpelajar yang sebagian besar didasarkan atas identitas-identitas kesukuan. Misalnya Sarekat Ambon (1920), bertujuan untuk melindungi kepentingan orangorang Ambon. Organisasi ini bersifat radikal, ingin berparlemen dan meminta pemerintahan sendiri. Perkumpulan yang lain adalah Jong Java (1918) yang keanggotaannya khusus untuk orang-orang Jawa.

Organisasi lainnya yang berusaha menampung para pemuda dan mahasiswa adalah Sarekat Sumatera (Sumatranen Bond, 1918) yang merupakan kelompok mahasiswa Sumatra, Jong Minahasa (Pemuda Minahasa, 1918), yaitu organisasi untuk orang-orang Minahasa, dan Timorsch Verbond atau Persekutuan orang-orang Timor (1921) yang didirikan oleh orang-orang Timor dari Pulau Roti dan Sawu untuk melindungi kepentingan-kepentingan rakyat Timor.

Pada 1923 dibentuk pula Kaum Betawi di bawah pimpinan M.Husni Thamrin yang berusaha memajukan hak-hak warga Betawi. Organisasi ini bertujuan memajukan perdagangan, pertukaran pengajar. MH. Thamrin kemudian menjadi anggota Volksraad dan Ketua Fraksi Nasional. Pendirian organisasi kepemudaan di atas tidak hanya mencerminkan adanya kegairahan baru untuk berorganisasi pada zaman pergerakan nasional, namun juga mencerminkan kuatnya identitas-identitas kesukuan dan kemasyarakatan yang terus berlangsung.

Unsur-unsur etnosentrismenya juga masih ada dengan mengisolasi diri, tetapi regionalisme itu juga perlahan dapat menciptakan nasionalisme. Regionalisme itu selalu dimanfaatkan oleh pemerintah kolonial untuk memecah belah dengan melakukan infiltrasi. Perkumpulan pemuda didirikan untuk mencapai kemerdekaan bangsa Indonesia. Perkumpulan pemuda pertama adalah Tri Koro Dharmo (Tiga Tujuan Mulia) yang berdiri pada 7 Maret 1915 di gedung perkumpulan Budi Utomo.

Tri Koro Dharmo bertujuan untuk mengadakan suatu tempat latihan untuk calon-calon pemuda nasional. Cinta tanah air menjadi dorongan bagi berdirinya organisasi ini. Organisasi ini kemudian diganti namanya menjadi Jong Java yang orientasinya lebih luas dari sekedar organisasi daerah, serta berorientasi pada pergerakan rakyat. Setelah berkembangnya rasa nasionalisme pada akhir Perang Dunia I, kegiatan Jong Java beralih ke politik.

Dalam kongresnya pada 1926 di Solo, organisasi ini memiliki anggaran dasar yang menyebutkan ingin menghidupkan rasa persatuan dengan seluruh bangsa Indonesia  dan bekerja sama dengan semua organisasi pemuda yang ada guna membentuk kesatuan Indonesia. Organisasi Jong Java dan yang lainnya dibubarkan dan diganti dengan Indonesia Muda yang bertujuan Indonesia merdeka.

Di Sumatra, lahir Jong Sumatra Bond pada 9 Desember 1927 dengan tujuan memperkokoh ikatan sesama murid Sumatera dan mengembangkan kebudayaan Sumatra. Organisasi ini dipimpin oleh M. Yamin. Kehadiran organisasi ini segera diikuti dengan berdirinya Jong Minahasa dan Jong Celebes. Pada Kongres Pemuda I, Mei 1926, untuk pertama kalinya beberapa organisasi pemuda berhasil dikumpulkan dalam sebuah kongres. Kongres yang dipimpin oleh M. Tabrani ini dihadiri Jong Java, Jong Sumatra, Jong Ambon, Jong Minahasa, Jong Batak, Jong Islamieten Bond, dan Perkumpulan Pemuda Theosofi.

Walaupun tidak berhasil membuat fusi, mereka telah sepakat tentang paham persatuan. Baru pada 28 Oktober 1928 pada Kongres Pemuda II di gedung Indonesische Club Kramat No. 106 Jakarta, dapat dipadukan semua organisasi pemuda menjadi satu kekuatan nasional. Kesepakatan tersebut diikuti dengan ikrar satu nusa, satu bangsa, dan satu bahasa yang terkenal dengan Sumpah Pemuda, yang isinya:

  1. Kami Putra dan Putri Indonesia mengaku bertumpah darah satu tanah air Indonesia.
  2. Kami Putra dan Putri Indonesia mengaku berbangsa yang satu bangsa Indonesia.
  3. Kami Putra dan Putri Indonesia menjunjung bahasa persatuan bahasa Indonesia.

Kongres berhasil menetapkan Sumpah Pemuda yang nantinya dijadikan landasan perjuangan Indonesia merdeka. Pada malam penutupan, untuk pertama kali diperdengarkan lagu Indonesia Raya oleh WR. Supratman. Selanjutnya, PNI, PPPI, Indonesia Muda, dan seluruh perkumpulan pemuda mengaku Indonesia Raya sebagai lagu kebangsaan.

  1. Organisasi Kepanduan

Selain organisaasi pemuda yang sifatnya politis, lahir pula organiasi kepanduan. Kepanduan mulai ada pada permulaan Perang Dunia I. Kegiatannya difokuskan pada olah raga dengan anggotanya sebagian besar dari kalangan murid-murid sekolah, baik sekolah pribumi maupun Belanda. Salah satu organisasi kepanduan adalah Ned Indische Badvinders Vereeniging (NIPV). Organisasi ini merupakan kepanduan campuran pertama yang didirikan pada 1917. Organisasi kepanduan Indonesia yang pertama adalah Javaansche Padvinders Organisatie (JPO) didirikan di Solo (1916) oleh Mangkunegoro VII.

Setelah 1920, organisasi kepanduan berkembang sejalan dengan berkembangnya semangat nasionalisme dan patriotisme. Dalam organisasi politikpun terdapat organisasi kepanduan, seperti Sarekat Islam Afdeling Pandu, Hizbul Wathon, dan Nationale Islamitische Padvinderij. Pada 1938, didirikan Badan Pusat Persaudaraan Kepanduaan untuk menampung organisasi-organisasi kepanduan yang sudah ada. Organisasi tersebut pada Februari 1941 mengadakan perkemahan bersama.

  1. Gerakan Wanita

Pergerakan nasional Indonesia tidak hanya di bidang politik melainkan juga sosial dan wanita. Salah seorang tokoh wanita yang menyuarakan pentingnya emansipasi antara pria dan wanita adalah RA. Kartini. Dia kemudian dinggap sebagai pelopor gerakan emansipasi yang dalam tulisan-tulisannya menuntut agar wanita Indonesia diberi pendidikan karena mereka memikul tugas sebagai seorang ibu yang bertanggung jawab atas pendidikan anaka-naknya.

Buku Kartini yang diberi judul Habis Gelap Terbitlah Terang adalah buku yang berisi kumpulan surat-surat Kartini tentang berbagai buah pikirannya. Buku ini ditulis oleh Abendanon pada 1899. Isinya antara lain tentang posisi wanita dalam keluarga, adat istiadat, dan keterbelakangan wanita. Karena senang membaca dan bergaul dengan berbagai kalangan, Kartini memiliki padangan yang positif tentang betapa pentingnya memajukan kaum wanita. Dengan belajar sungguh-sungguh, dia berpendapat bahwa memajukan kaumnya dan menolak konservatisme adalah sangat penting.

Demikian juga adat yang mengharuskan wanita hanya tinggal di dalam rumah harus dirombak. Kartini meminta agar rakyat Indonesia diberi pendidikan karena pendidikan merupakan masalah pokok bagi masyarakat Indonesia. Pendidikan tersebut bukan hanya untuk laki-laki, tapi juga kaum wanita. Pendidikan yang diperoleh itu selain untuk mengasah intelegensi, juga untuk membangun sopan santun dan kesusilaan. Kunci kemajuan wanita menurut Kartini adalah kombinasi antara kebudayaan Barat dan Timur.

Perkumpulan atau organisasi wanita yang muncul di masa pergerakan diantaranya adalah Putri Mardika (1912) yang bertujuan memajukan pengajaran terhadap anak-anak perempuan dengan memberikan penerangan dan bantuan dana. Demikian pula dengan sekolah Kaoetamaan Istri yang didirikan oleh Raden Dewi Sartika di Bandung pada 1904. Sekolah Kartini juga didirikan di Jakarta pada 1913, di Madiun, Malang dan Cirebon, Pekalongan, Indramayu, Surabaya, dan Rembang.

Selanjutnya, pada 1920 mulai muncul perkumpulan wanita yang bergerak di bidang sosial dan kemasyarakatan. Di Minahasa, berdiri De Gorontalosche Mohammedaansche Vrouwen Vereeniging. Di Yogyakarta lahir perkumpulan Wanita Utomo yang mulai memasukan perempuan ke dalam kegiatan dasar pekerjaan. Corak kebangsaan sudah mulai mempengaruhi pergerakan wanita sejak 1920, hal ini ditandai dengan adanya Kongres Perempuan Indonesia di Yogyakarta pada 1928.

Kongres tersebut dihadiri oleh berbagai wakil organisasi wanita, di antaranya Ny. Sukamto (Wanito Utomo), Nyi Hajar Dewantara (Taman Siswa bagian wanita), dan Nona Suyatin (Pemuda Indonesia bagian keputrian). Tujuan kongres Perempuan Indonesia adalah untuk mempersatukan cita-cita dan usaha untuk memajukan wanita Indonesia serta mengadakan gabungan di antara per kumpulan wanita ter sebut. Dalam rapat itu dibicarakan soal nasib wanita dalam perkawinan dan poligami.

Dalam kongres itu pada umumnya disepakati untuk memajukan wanita Indonesia serta mengadakan gabungan yang berhaluan kooperatif. Hasil kongres yang terpenting adalah dibentuknya federasi perkumpulan wanita, bernama Perikatan Perempuan Indonesia (PPI). Kongres Perempuan Indonesia II diadakan membicarakan tentang masalah perburuhan perempuan, pemberantasan buta huruf, dan perkawinan. Dalam konggres tersebut, pergerakan wanita Indonesia mendapat perhatian dari Komite Perempuan Sedunia yang berkedudukan di Paris.

Kongres Perempuan III berlangsung 1938, menyetujui suatu rencana undang-undang perkawinan modern, membicarakan masalah politik, antara lain hak pilih dan dipilih bagi kaum wanita untuk Badan Perwakilan. Selain itu, kongres memutuskan pada 22 Desember menjadi Hari Ibu, dengan menyatakan bahwa peringatan Hari Ibu tiap tahun diharapkan akan menambah kesadaran kaum wanita Indonesia akan kewajibannya sebagai Ibu Bangsa.

Related Posts :

Foto GPA45 1Jun16

Peranan Pemuda Indonesia dalam Pergerakan Kemerdekaan

Oktober 31, 2009 at 9:18 am 1 komentar

    Oleh: Nabil Abdurahman

Dalam setiap sejarah bangsa-bangsa di dunia, terdapat beberapa titik kritis yang dianggap sebagai momentum sangat menentukan dalam perjalanannya. Pada titik-titik itu terjadi peristiwa yang sangat krusial bagi masa depan bangsa tersebut. Sehingga dapat dibayangkan, jika pada titik-titik itu, bukan terjadi peristiwa sebagaimana yang telah terjadi tersebut, maka keadaan bangsa itu pada masa sekarang sudah akan lain ceritanya.
Kemudian dalam umur manusia juga ada titik-titik yang menunjukan bahwa manusia tersebut mengalami perubahan, pertumbuhan dan berkembang, baik dari segi fisik, psikologis, maupun yang lainnya, yang secara umum biasanya terbagi ke dalam empat titik/fase: anak-anak, remaja, pemuda dan tua.
Dalam keterbatasan wawasan kesejarahan Indonesi, saya memberanikan diri memaparkan satu titik dari beberapa titik-titik penting dalam sejarah bangsa ini, dan dengan mengambil satu titik dari fase umur manusia, yaitu yang ada kaitannya dengan: Peranan pemuda indonesia dalam pergerakan kemerdekaan.
Ketika kita membicarakan sebuah tema yang menjadi objek pembicaraannya menghususkan suatu golongan masyarakat tertentu, maka kita dituntut untuk mengenal golongan tersebut terlebih dahulu, sebelum membicarakan hal-hal pokok lainnya yang ada kaitannya dengan objek tersebut, agar pembicaraannya bisa lebih fokus dan terarah. Dan tema yang ada kaitannya dengan pemuda biasanya banyak mendapat sorotan yang signifikan dari para pemerhati atau kalangan luas, hal ini dikarenakan:
– Hasan al-Banna mengatakan: “Dalam setiap kebangkitan sebuah peradaban di belahan dunia manapun maka kita akan menjumpai bahwa pemuda adalah salah satu irama rahasianya”.
– Bung karno berkata: “Beri aku seribu orang, dan dengan mereka aku akan menggerakkan Gunung Semeru! Beri aku sepuluh pemuda yang membara cintanya kepada Tanah Air, dan aku akan mengguncang dunia
– Pepatah arab mengatakan: “Syubanul yaom, rijalul ghad” artinya: pemuda/remaja dimasa sekarang ini pemimpin dimasa depan. “Inna fi yadi syubban amrol ummah, wa fi aqdamihim hayataha” artinya: sesungguhnya di tangan dan langkah pemudalah urusan dan hidupnya suatu umat/masyarakat.
Dengan ungkapan-ungkapan di atas, menunjukan bahwa pemuda merupakan sumber potensi yang dapat menciptakan keadaan yang lebih baik melalui berbagai kekuatan yang dimilikinya baik dari segi fisik, maupun pemikirannya dalam membangun suatu peradaban masyarakat atau bangsa.

Definisi Pemuda
Banyak yang mengatakan pemuda bukan dilihat dari usianya melainkan dari semangatnya. Namun ada juga yang tidak sepaham dengan pernyataan tersebut. Oleh karenanya mari kita lihat definisi pemuda tersebut dari dua segi:

a. Berdasarkan usia

Menurut WHO pemuda digolongkan berdasarkan usia, yakni 10-24 tahun. Sedangkan remaja atau adolescence berada pada rentang usia 10-19 tahun.
– National Highway Traffic Administration memberikan batasan pemuda berusia antara 15 sampai dengan 29 tahun.
– Sedangkan United Nations General Assembly dan World Bank melihat pemuda adalah individu yang berusia antara 15 sampai 24 tahun.
– sedangkan Government of Tasmania melihat bahwa batasan pemuda berkisar antara 20 sampai 25 tahun
Dari kumpulan definisi di atas Secara umum pemuda digolongkan berdasarkan rentang usia antara 10 sampai 30 tahun.
Untuk Indonesia sendiri beberapa kalangan berbeda pendapat dalam menentukan batasan pemuda dari segi umur:
– KNPI menyatakan bahwa batasannya yaitu 40 tahun ke bawah
– DEPDIKNAS menetapkan bahwa batasannya dari umur 35 ke bawah.
– Menteri P dan K RI No. 0323/V/1978, menetapkan bahwa pemuda adalah orang di luar sekolah maupun perguruan tinggi dengan usia antara 15-30 tahun.

b. Berdasarkan watak/sifat

Al Quran mendefinisikan pemuda dari segi fitrahnya dalam ungkapan sifat dan sikap :
1. berani merombak dan bertindak revolusioner terhadap tatanan sistem yang rusak.
Seperti kisah pemuda (Nabi) Ibrahim. “Mereka berkata: ‘Siapakah yang melakukan (perbuatan) ini terhadap tuhan-tuhan kami? sungguh dia termasuk orang yang zalim, Mereka (yang lain) berkata: ‘Kami dengar ada seorang pemuda yang mencela (berhala-berhala) ini , namanya Ibrahim.” (QS.Al¬-Anbiya, 21:59-60).
2. memiliki standar moralitas (iman), bersatu, optimis dan teguh dalam pendirian serta konsisten dengan perkataan.
Seperti tergambar pada kisah Ash-habul Kahfi (7 orang pemuda yang mengasingkan diri dalam gua untuk menyelematkan iman. Mereka menolak perintah raja Dakianus yang mengharuskan rakyatnya menyembah patung yang disembahnya dengan ancaman hukuman mati, semua rakyat menyerah kecuali 7 orang pemuda tadi.).“Kami ceritakan kepadamu (Muhammad) kisah mereka dengan sebenarnya. Sesungguhnya mereka adalah pemuda-pemuda yang beriman kepada Tuhan mereka dan Kami tambahkan petunjuk kepada mereka; dan Kami teguhkan hati mereka ketika mereka berdiri” (QS.18: 13-14).
3. Tidak gampang berputus-asa, pantang mundur sebelum cita-citanya tercapai.
Seperti digambarkan pada pribadi pemuda (Nabi) Musa. “Dan (ingatlah) ketika Musa berkata kepada pembantunya, “Aku tidak akan berhenti (berjalan) sebelum sampai ke pertemuan dua laut; atau aku akan berjalan (terus sampai) bertahun-tahun” (QS. Al-Kahfi,18 : 60).
Secara fitrah inilah pemuda, manusia berkarakter khas yang berbeda dengan golongan lainnya.

Kelebihan dan Kekurangan Pemuda
Sebagaimana yang telah dijelaskan dalam al quran, secara fitrah pemuda memiliki sifat-sifat seperti berani, pantang mundur, dan memiliki standar moralitas keimanan. Pemuda memiliki kelebihan juga memiliki kekurangan. Kelebihan pemuda secara umum terlihat dari :
1. kelebihan dari segi kekuatan fisik dan psikologi berbeda dengan usia kanak dan tua, pemuda memiliki kelebihan dalam kekuatan fisiknya, bahkan seorang pemuda yang sedang jatuh hati dia akan mampu mendaki gunung yang tinggi atau menuruni ngarai terjal sekalipun, karena pada saat itulah dia memiliki kekuatan fisik yang primadan energik
2. kekuatan akal berbeda dengan usia kanak dan tua, pemuda memiliki kelebihan dalam kekuatan akalnya. Kekuatan yang membatasi antara ketidaktahuan dengan kepikunan diiringi dengan spirit idealisme dan eksplorasi pemaknaan dalam lingkup yang luas
3. kekuatan semangat berbeda dengan usia kanak dan tua, pemuda memiliki kelebihan dalam kekuatan semangatnya. Semangat untuk bergerak, berubah, hingga memberi kontribusi bagi integritas diri serta ruang dan waktu yang meliputi dirinya.
4. masa muda adalah masa subur idealisme. Banyak peristiwa-peirstiwa besar dalam sejarah adalah karena idealisme masa muda. Semangat kemerdekaan yang telah mengantarkan negeri ini bebas dari penjajahan adalah karena gelora idealisme anak-anak muda masa itu.
5. masa muda adalah masa yang paling efektif untuk menabung amal untuk hari tua. Sebagaimana Nabi saw. menyebutkan lima hal yang harus diperhatikan oleh manusia sebelum lima hal lainnya, dan salah satunya: “Syabaabaka qabla haramika (Masa mudamu sebelum masa tuamu).”
Di sisi lain pemuda memiliki kekurangan. Kekurangan yang paling mencolok adalah mudah emosional, tempramental, senang bergerombol.
Maka dari itu, secara umum bisa kita lihat bahwa Pemuda memiliki semangat untuk berubah dan kemampuan untuk melakukan perubahan sehingga dikatakan bahwa pemuda adalah agent of change. Hal inilah yang menjadi peran paling penting dari pemuda.
Hal ini jika kita korelasikan dengan sejarah bangsa kita Indonesia, kita akan melihat begitu dominannya peran pemuda dalam melakukan perubahan di negri ini. Dimulai dari kebangkitan nasional yang menandakan mulai tumbuhnya rasa nasionalisme, sumpah pemuda yang menjadi cikal bakal persatuan Indonesia, kemerdekaan republik Indonesia, tumbangnya orla, lahir dan tumbangnya orde baru sampai lahinya orde reformasi. Sejarah mengatakan tanpa pemuda negeri ini tidak akan menikmati kemerdekaan dan terus menerus hidup dalam ketidakadilan.
Sehingga Ben Anderson, pengamat politik Indonesia, dalam Java In A Time Of Revolution, Occupation And Resisten (1944-1946) meyakini bahwa sejarah Indonesia adalah sejarah pergerakan kaum muda. Dalam setiap fase sejarah, kepemimpinan kaum muda adalah motor penggerak perubahan zaman. Ia mengatakan, “Akhirnya saya percaya bahwa watak khas dan arah dari revolusi Indonesia pada permulaannya memang ditentukan oleh kesadaran pemuda ini.”
Untuk itu pada kesempatan ini saya akan membahas peranan pemuda dalam pergerakan kemerdekaan, yang secara umum ditandai oleh dua fase penting yaitu fase berdirinya organisasi-organisasi yang bersifat nasionalis antara tahun 1905-1927 dan fase dari peristiwa sumpah pemuda tahun 1928 sampai diproklamasikannya kemerdekaan republik Indonesia tahun 1945.

Fase pertama dari tahun 1905-1927

Apabila kita menengok fakta-fakta sejarah Indonesia, tak dapat di pungkiri bahwa pergerakan kemerdekaan indonesia modern melawan kolonialisme digerakan dan dipelopori oleh kaum muda yang membentuk beberapa organisasi pergerakan yang bersifat nasionalis.
Hal ini bisa kita lihat bahwa umur-umur para tokoh pergerakan nasional tersebut berkisar antara 20-30 tahunan. Kartini sewaktu menyuarakan Cri De Coueurnya (Jeritan Hati Nuraninya) pada tahun 1900-an melawan feodalisme dan kolonialisme, berusia 20 tahunan. Begitu juga Sutomo dan Gunawan Mangunkusumo beserta kawan-kawannya ketika mendirikan Budi Utomo pada 20 Mei 1908 mereka semua berusia 20-25 tahunan. Tokoh Serikat Islam yang terkenal yaitu HOS Tjokroaminoto ketika memimpin organisasi tersebut berusia 25 tahun. Soebadio Sastrosatomo, Wikana, Chaerul Saleh, dan Soekarni, serta dokter Moeward ketika memaksa sukarno untuk memproklamasikan kemerdekaan Indonesia berusia 25-30 tahunan, dan Sultan syahri sendiri yang ikut menggerakan pemuda pada waktu itu berusia 36 tahun.
Bangkitnya pergerakan pemuda pada fase ini, tidak terlepas dari faktor-faktor yang mempengaruhinya, yang secara umum terbagi ke dalam dua faktor:
1. Faktor eksternal (luar negri)
– Faktor ini berupa kejadian-kejadian di luar Negeri yang mengilhami cita-cita angkatan muda indonesia pada waktu itu, seperti: Revolusi “Young Turks” di Turki, gerakan pembaharuan di dunia islam, gerakan kebangkitan nasionalisme Arab, India, Tiongkok, Filiphina, kemenangan jepang dalam peperangan melawan Czaris Rusia, dan sebagainya.
– Masuknya filsafat nasionalisme yang berkembang di eropa, yang di bawa oleh para pelajar yang belajar di eropa pada waktu itu.
2. Faktor internal (dalam negri)
– Faktor ini terlihat dari kondisi tanah air kita yang masih dalam cengkraman kolonialisme Hindia-Belanda yang dengan peralatan feodalisme pribumi dapat leluasa menjalankan dominasi politik, eksploitasi politik dan ekonomi serta infiltrasi kebudayaan.
– Juga merupakan salah satu dampak politik etis sejak 1900, khususnya bidang pendidikan, yang mulai diperjuangkan sejak masa Multatuli dan di kembangkan oleh van deventer, yang membuka timbulnya lapisan inteligensia muda di berbagai bidang ilmu pengetahuan
Berikut ini adalah daftar beberapa organisasi perkumpulan pemuda di era masa pergerakan nasional dari tahun 1905-1927 tersebut:
1. 16 Oktober 1905. Syarikat Dagang Islam (SDI) berdiri di kampung Sondokan, Solo, oleh Haji Samanhudi, Sumowardoyo, Wiryotirto, Suwandi, Suryopranoto, Jarmani, Haryosumarto, Sukir dan Martodikoro.
2. 20 Mei 1908. Budi Utomo berdiri atas prakarsa Dr. sutomo yang pada awal mula berdirinya merupakan organisasi pelajar yang ruang lingkupnya masih kedaerahan, namun pada perkembangannya berubah menjadi organisasi perkumpulan pemuda nasional, dan tanggal berdirinya organisasi ini di tetapkan oleh pemerintah sebagai hari kebangkitan nasional..
3. Tahun 1909. Tirtoadisuryo mendirikan Sarekat Dagang Islamiah (SDI) di Batavia. Kemudian pada tahun selanjutnya dia membuka cabang di bogor.
4. Tahun 1911. Ambon’s Bond didirikan oleh pegawai negeri di Ambonia, untuk memajukan pengajaran dan penghidupan rakyat Ambon.
5. 10 September 1912. Sampai dengan awal tahun 1912, Syarikat Dagang Islam masih memakai anggaran dasar yang lama yang di buat oleh Haji Samanhudi. Karena beliau tidak puas atas anggaran dasar itu, maka beliau menugaskan kepada Cokroaminoto di Surabaya yang baru masuk Syarikat Islam, supaya membuat anggaran dasar yang baru yang disahkan di depan Notaris pada tanggal 10 September 1912. Sehingga Syarikat Dagang Islam (SDI) berganti nama menjadi Syarikat Islam (SI).
6. 25 Desember 1912. Partai Hindia atau IP (Indische Partij) didirikan oleh E.F.E. Douwes Dekker alias Setiabudi di Bandung, dan merupakan organisasi campuran orang Indo dan bumiputra. IP menjadi organisasi politik yang kuat pada waktu itu, setelah ia bekerjasama dengan dr. Cipto Mangunkusumo dan Suwardi Suryaningrat alias Ki Hajar Dewantoro. Douwes Dekker menjadi ketuanya, dr. Cipto Mangunkusumo dan R.M. Suwardi Suryaningrat (Ki Hajar Dewantoro) menjadi anggota pengurus. Indische Partij terbuka buat semua golongan bangsa (bangsa Indonesia, bangsa Eropa yang terus tinggal disini, Belanda peranakan, peranakan Tionghoa dan sebagainya), yang merasa dirinya seorang “indier”.
7. Tahun 1914. Jong Pasundan berdiri di Jakarta. Anggaran dasarnya adalah secorak dengan Budi Utomo, tetapi ditujukan untuk daerah Pasundan saja. Pasundan (Paguyuban Pasundan) didirikan untuk mempersatukan “bangsa Sunda”.
8. 7 Maret 1915. Tri Koro Dharmo didirikan di Jakarta di bawah pimpinan dr. Satiman untuk mempersatukan pelajar-pelajar dari pulau Jawa, kemudian bernama “Jong Java”. Semboyan : “Sakti, Budi, Bakti”. Yang menjadi anggota kebanyakan murid-murid sekolah menengah asal dari Jawa Tengah dan Jawa Timur.
9. 9 Desember 1917. Mengikuti jejak murid-murid Jawa dari sekolah menengah, murid-murid Sumatra mendirikan Jong Sumatranen Bond di Jakarta. Maksud tujuannya antara lain adalah memperkokoh hubungan ikatan di antara murid-murid asal dari Sumatra dan menanam keinsyafan bahwa mereka kelak akan menjadi pemimpin, dan membangunkan perhatian dan mempelajari kebudayaan Sumatra. Di antara pemimpin-pemimpinnya terdiri Mohammad Hatta dan Mohammad Yamin.
10. September 1926. Berdirinya Perhimpunan Pelajar-Pelajar Indonesia (PPPI) setelah selesai Kongres Pemuda I pada tahun tersebut. PPPI merupakan wadah pemuda nasionalis radikal non kedaerahan. Tujuan utama PPPI adalah menyatukan perkumpulan-perkumpulam pemuda yang telah ada, yang memiliki latar belakang berbeda, sehingga mempunyai satu visi. Tokoh-tokohnya adalah Sigit Soegondo Djojopoespito, Suwirjo, S. Reksodipoetro, Muhammad Yamin, A. K Gani, Tamzil, Soenarko, Soemanang, dan Amir Sjarifudin. Atas prakarsa PPPI kongres ke II diadakan.
11. 4 Juli 1927. Sukarno dan Algemeene Studie Clubnya memprakarsai pembentukan partai Perserikatan Nasional Indonesia, dengan Sukarno sebagai ketuanya. PNI berpolitik non-cooperatie, berdasar kebangsaan Indonesia, menentang Kapitalisme dan Imperialisme, dan bertujuan mencapai Indonesia merdeka. Di dalam memimpin partainya Ir. Sukarno di bantu Gatot Mangkupraja, Maskun, Supriadinata, Mr. Iskaq Cokroadisuryo, dr. Cipto Mangunkusumo, Mr. Sunaryo, Mr. Budiarto dan 4 orang lainnya.
12. Tahun 1927. pada tahun ini didirikan Perkumpulan pemuda dan pemudi di Bandung, di mana kemudian organisasi ini diubah menjadi Pemuda Indonesia untuk yang berjenis kelamin laki-laki dan Putri Indonesia bagi yang perempuan.

Titik Kritis/Sorotan Utama
Namun dari sekian banyak organisasi-organisasi tersebut yang menjadi sorotan utama para pemerhati sejarah adalah organisasi budi utomo dan Serikat Islam yang asal-mulanya bernama Serikat Dagang Islam. Hal ini dikarenakan beberapa ahli sejarah menyatakan bahwa berdiriya Budi Utomo menunjukan awal bangkitnya rasa nasional, yang kemudian oleh pemerintah ditetapkan tanggal berdirinya sebagai hari kebangkitan nasional. Di sisi lain SI juga banyak mendapat sorotan dari beberapa ahli sejarah baik lokal seperti: H. Agus Salim, Tamar Djaja, Ridwan Saidi, Anwar Harjono, Ahmad Mansyur Suryanegara, dan Adabi Darban, yang menganggap bahwa kelahiran SI pantas dijadikan tolak ukur awal dalam pergerakan Indonesia selanjutnya, maupun internasional seperti: APE Korver, Van der Wal dan George McTurnan Kahin yang menceritakan dampak berdirinya organisasi ini terhadap pemerintahan kolonial.
Agar kita sebagai bagian dari bangsa Indonesia yang menjunjung tinggi para pejuangnya, tidak salah dalam menanggapi perihal tersebut di atas, ada baiknya kita membahas sedikit definisi nasionalisme itu sendiri kemudian membuat perbandingan dari kedua organisasi tersebut. Sehingga dengan hal itu kita dapat mengambil kesimpulan dengan lebih proporsional.
Definisi nasionalisme seperti yang di kemukakan oleh Benedict Anderson misalnya adalah merupakan sebuah institusi imajinatif yang mengikat beberapa kelompok masyarakat yang kerap tidak saling mengenal atas dasar persaudaraan, yang dari sana kemudian terciptalah bayangan tentang sebuah kedaulatan dengan sebuah batasan teritorial tertentu. (Benedict Anderson, Imagined Communities: Reflections on the Origin and Spread of Nationalism (London: Verso Editions and NLB), 1983).
Pendapat tersebut senada dengan pandangan Montserrat Guibernau dan John Rex, juga “bapak teori nasionalisme” Ernest Rennan, bahwa dengan dilandasi oleh semangat untuk mengedepankan hak-hak masyarakat pada wilayah politik tertentu, nasionalisme sejatinya merupakan “kemauan untuk bersatu tanpa paksaan dalam semangat persamaan dan kewarganegaraan (trans-etnis)”. (Montserrat Guibernau dan John Rex (eds.), The Ethnicity Reader Nationalism, Multiculturalism and Migrations (Cambridge: Polity Press, 1997)).
Jadi suatu pergerakan masyarakat bisa di kategorikan nasionalis, apabila di dalamnya memiliki atau memunculkan masalah-masalah sebagai berikut:
1. Penguatan Identitas kebersamaan dan persamaan serta Semangat Perjuangan melawan Sistem Kolonial.
2. Persoalan Pembebasan & Emansipasi.
3. Komitmen terhadap Persaudaraan dan Solidaritas atau tolong-menolong.
4. Semangat Berusahan Secara Mandiri & Berkeadilan.
5. mengedepankan hak-hak masyarakat umum daripada golongan atau etnis.

Setelah itu, mari kita melihat perbandingan antara organisasi Budi utomo dan Sarikat Islam dari tiga sudut, yang menurut hemat saya sangat penting untuk di ketahui, yaitu:

A. Sifat, tujuan di dirikan dan dasar perjuangannya
1) Budi Otomo
– Tujuan Budi Utomo adalah melakukan pengajaran bagi orang Jawa dan berusaha untuk membangkitkan kembali budaya Jawa dan Madura, hal ini bisa terlihat dari hasil keputusan Kongres pertama budi utomo yang diadakan di Yogyakarta pada bulan oktober 1908 yaitu :
1. Tidak mengadakan kegiatan politik.
2. Bidang utama adalah pendidikan dan kebudayaan.
3. Terbatas wilayah jawa dan madura.
4. Mengangkat R.T. Tirtokusumo yang menjabat sebagai Bupati Karanganyar sebagai ketua.
– Kemudian dalam masa perkembangannya Budi Utomo mengalami beberapa pergeseran visi dan misinya, hal ini dikarenakan:
1. Kelurga R.T. Tirtokusumo lebih memperhatikan kepentingan pemerintah kolonial daripada rakyat.
2. Lebih memajukan pendidikan kaum priyayi dibanding rakyat jelata.
3. Bupati-bupati lebih suka mendirikan organisasi masing-masing.
4. Bahasa belanda lebih menjadi prioritas dibandingkan dengan Bahasa Indonesia.
5. pengaruh golongan priyayi yang mementingkan jabatan lebih kuat dibandingkan yang nasionalis.
– Karena keadaan itulah menyebabkan kemudian beberapa tokoh muda memilih keluar dari keanggotaan Budi Utomo, seperti: Tjipto Mangunkusumo, Soewardi Soeryaningrat yang keluar dari BO dan bersama-sama Douwes Dekker membentuk organisasi baru, yaitu Indische Partij.
– Sedangkan awal mula BU terjun dalam kegiatan politik terjadi satu tahun setelah terjadinya Perang dunia I yaitu pada tahun 1915. Pada saat itu BU turut memikirkan cara mempertahankan Indonesia dari serangan dengan mengusulkan kepada pemerintah untuk membentuk Indiandsche Militie (Milisi untuk Bumiputera).
2) Serikat Islam
– Serikat Islam ketika masih bernama Sarikat Dagang Islam mempunyai tujuan melindungi hak-hak pedagang pribumi dari monopoli pedagang-pedagang besar asing dan keturunan yang di backing kolonial dan membantu masyarakat yang kekurangan.
– Namun setelah berganti nama menjadi Sarikat Islam pada tahun 1912 organisasi ini mempunyai tujuan tidak hanya mencakup bidang ekonomi tetapi bidang politik dengan menekankan pentingnya persatuan, juga mengembangkan sentimen dan solidaritas anti-kolonialisme asing demi mencapai kemajuan rakyat yang nyata baik rohani maupun jasmani dengan jalan persaudaraan, persahabatan dan tolong-menolong diantara sesama muslim, juga menghilangkan anggapan yang sangat sesat tentang ajaran islam.
– pada tahun 1916 di Bandung pada saat kongres Nasional Central Sarekat Islam tersebut, HOS Cokroaminoto memperkenalkan paradigma nasionalisme untuk membela dan membangun Nusantara. Selain itu, beliau mendeklarasikan Pemerintahan sendiri untuk bangsa Indonesia dan tidak mengakui nama Hindia Belanda yang diberikan oleh Belanda untuk nusantara. Sebagai bangsa timur, beliau lebih bangga menyebut Indonesia dengan ‘Hindia Timur’.

B. Keanggotaannya
1) Budi Otomo. Keaanggotaannya terbatas hanya pulau jawa dan Madura, dan hanya menerima keanggotaan dari suku jawa dan Madura. Pada tahun kedua dari berdirinya, Budi Utomo memiliki sekitar 40 cabang yang tersebar di Yogyakarta, Madura, Bandung, Surabaya, Jakarta. (http://www.e-dukasi.net. Situs ini dikembangkan Pustekkom sejak 2003).
2) Sarikat Islam. Sarekat Islam dalam periode awalnya (1912-1916). Sudah mencapai sekitar 860.000 terkait dengan mereka yang hadir dalam Kongres Nasional pertama pada tahun 1916, dan mempunyai cabang yang mencapai 180 dan tersebar di seluruh Indonesia sepeti: Aceh, Palembang, Banten, Jakarta, Surabaya, Balikpapan, Makassar, hingga Donggala, dll. (Deliar Noer, Gerakan Modern Islam di Indonesia (Jakarta: LP3ES, 1994)).

C. Pengaruh keberadaannya terhadap kolonial belanda
1) Budi Utomo.
Organisasi ini dianggap tidak membahayakan pemerintahan kolonial, hal ini dikarenakan:
– Tidak memunculkan kegiatan yang berbau politik atau anti kolonialis, sehingga dengan atas dasar itulah pemerintah kolonial dengan tanpa susah payah mengesahkan Budi Utomo sebaga badan hukum yang sah.
– Anggoata Budi Utomo mayoritasnya terdiri dari kaum priyayi dan pegawai negeri kolonial, hal ini menyebabkan tujuan organisasi lebih diarahkan untuk kepentingan kolonial dan kaum priyayi, sehingga kepentingan rakyat banyak agak terabaikan.
– Disamping itu Ketua Umum BU yang juga sebagai bupati lebih memperhatikan reaksi pemerintah kolonial daripada reaksi anggota atau rakyat banyak. Dengan keadaan seperti ini tentunya kolonial tidak merasa terganggu dengan pergeraknnya, justru sebaliknya.
3) Sarikat Islam
Organisasi ini dari mulai berdirinya –seperti yang di katakan APE Korver dan Van der Wal- sudah membuat kepanikan yang yang belum pernah dirasakan sebelumnya oleh pemerintahan kolonial. (A.P.E Korver, Sarekat Islam Gerakan ratu Adil? (Jakarta: Grafiti Press, 1985)). Hal ini disebabkan:
– Organisasi ini mampu menarik perhatian hampir semua golongan tidak saja kalangan Islam puritan, kaum pedagang dan rakyat jelata, namun pula orang abangan, para priyayi progresif dan bangsawan. Sebuah perkumpulan yang bersifat lintas-etnis karena tidak saja menggugah dan meningkatkan pengharapan orang Jawa, Madura, Pasundan, maupun Betawi, namun pula beragam suku mulai dari Sumatera, Kalimantan, Sunda Kecil hingga Sulawesi.
– Sudah memunculkan rasa persaudaraan, gotong-royong dan tolong menolong dalam mengangkat harkat martabat kaum pribumi dari kaum pendatang.
– Berkumpulahnya tokoh-tokoh besar pergerakan (yang belakangan kemudian menjadi ideolog dari berbagai macam keyakinan politik) seperti Samanhudi, R HOS Tjokroaminoto, Agus Salim, Abdoel Moeis, KH Ahmad Dahlan, sampai dr. Sukiman, Kartosoewiryo, Ki Hajar Dewantara, Semaoen, Darsono. Semuanya mengusung sebuah keyakinan akan pembebasan, persatuan, perlawanan, dan kemandirian atas dasar identitas dan keyakinan bersama dalam SI.
– Timbulnya reaksi dari Gubernur Jenderal Idenburg dan aparatnya dengan meningkat kewaspadaan, dan pengawasan serta penelitian sebab kemunculan dan penyebaran organisasi SI tersebut.
Setelah kita memperhatikan perbebdaan dari sifat, tujuan, keanggotaan dan pengaruh masing-masing kedua organisasi tersebut, maka saya melihat bahwa organisai yang lebih dominan masuk kategori hakekat kebangsaan dan nasionalisme adalah Sarikat Islam. Hal ini seiring dengan pengakuan George Mc Turner Kahin seorang Indonesianis dan diamini oleh Guru Besar Sejarah UNPAD Prof. Dr. Ahmad Mansur Suryanegara, bahwa ada 3 faktor terpenting yang mempengaruhi terwujudnya integritas Nasional; 1) Agama Islam dianut mayoritas rakyat Indonesia, 2) Agama Islam tidak hanya mengajari berjama’ah, tapi juga menanamkan gerakan anti penjajah, 3) Islam menjadikan bahasa Melayu sebagai senjata pembangkit kejiwaan yang sangat ampuh dalam melahirkan aspirasi perjuangan Nasionalnya. (George McTurnan Kahin, Nationalism and Revolution in Indonesia (Cornell University Press, Itacha, 1952)

Fase kedua dari tahun 1928-1945

Fase ini di mulai dari di ikrarkannya sumpah pemuda pada tanggal 28 oktober 1928 di Batavia, sebagai reaksi atas menjamurnya organisasi-organisai yang bersifat kedaerahan dan statemen yang di lontarkan Hendrikus Colijn -mantan Menteri Urusan Daerah Jajahan, kemudian Perdana Menteri Belanda, juga bekas Veteran perang Aceh dan ajudan Gubernur Jenderal van Heutz. Sekitar tahun 1927–1928-, yang ditulis dalam sebuah pamphlet, yang menyebut Kesatuan Indonesia sebagai suatu konsep kosong. Katanya, masing-masing pulau dan daerah Indonesia ini adalah etnis yang terpisah-pisah sehingga masa depan jajahan ini tak mungkin tanpa dibagi dalam wilayah-wilayah. Namun statemen tersebut di bantah oleh para pemuda dengan diikrarkan Satu Nusa, Satu Bangsa dan Satu Bahasa. Pada saat itu juga untuk pertamakalinya diperdengarkan lagu Indonesia Raya ciptaan W.R. Supratman. Peristiwa ini akhirnya kita kenang sebagai hari Sumpah Pemuda.
Pada tahun-tahun berikutnya organisasi-organisasi yang tumbuh pada fase pertama banyak yang di fusi, namun setelah jepang menjajah Indonesia yang di mulai akhir tahun 1942 semua organisasi-organisi di larang, akhirnya banyak para pemuda yang memilih jalan under ground dan masuk barisan-barisan muda yang di bentuk oleh jepang, walaupun begitu semangat kemerdekaan tetap menggelora di tubuh mereka. Inilah beberapa pergerakan pemuda pada fase kedua ini:
1. 28 Desember 1930 – 2 Januari 1931. Kongres Indonesia Muda di Solo. Disahkan berdirinya Indonesia Muda (fusi dari Jong Java, Pemuda Indonesia, Jong Celebes dan Pemuda Sumatra yang telah membubarkan diri).
2. 22 April 1943. Jepang membentuk Heiho (pembantu prajurit). Heiho semula merupakan tenaga pekerja kasar, tetapi kemudian dikerahkan untuk tugas-tugas bersenjata dan merupakan barisan pembantu tentara, yang menjadi bagian langsung dari kesatuan angkatan darat dan angkatan laut. Anggota Heiho adalah pemuda-pemuda yang berumur antara 18-30 tahun.
3. 29 April 1943. Jepang memobilisasi para pemuda untuk digunakan dalam angkatan bersenjata Jepang dan digunakan dalam organisasi pertahanan sipil. Kemudian dibentuklah Seinendan (barisan pemuda yang berumur 14-22 tahun) dan Keibodan (barisan pembantu polisi). Para anggota Seinendan dan Keibodan itu mendapat latihan kemiliteran.
4. 3 Oktober 1943. Pada tanggal ini di betuknya pasukan Pembela Tanah Air (PETA) atas usulan Gatot Mangkupraja. Manfaat yang dapat di petik dari pembentukan tentara PETA adalah timbulnya inspirasi bagi anggota PETA, sebab dengan latihan-latihan militer yang berat, memperkuat rasa percaya diri sendiri untuk menghadapi kekuatan musuh yang lebih besar. Selain itu, juga tumbuh perasaan harga diri yang sepadan dengan bangsa lain, khususnya bangsa Barat dan kesempatan ini harus direalisasikan dalam bentuk solidaritas bersama guna menciptakan diri sebagai bangsa yang merdeka. Para pemuda yang mendaftarkan untuk menjadi anggota PETA mendapat latihan di Bogor. Pemuda-pemuda Islam yang menjadi anggota PETA dan mengikuti latihan di Bogor adalah Sudirman, Mulyadi, Joyomartono, Aruji Kartawinata, Kiai Khotib, Iskandar Idris, Iskandar Sulaiman, Kiai Basuni, Mr. Kasman Singodimejo, Yunus Anis, Kiai Idris, Kiai Haji Mochfuda, Kiai Kholiq Hasyim, Kiai Sami’un dan sebagainya.
5. Juni 1944. Sikap permusuhan para pemuda terpelajar meningkat, juga keadaan Jepang yang semakin terdesak oleh Sekutu, mendorong timbulnya organisasi pemuda baru, yang dinamai Angkatan Muda Indonesia (AMI). Mula-mula organisasi ini didirikan atas inisiatif Jepang, tetapi kemudian tumbuh menjadi organisasi pemuda yang anti Jepang. AMI kemudian berubah menjadi Pemuda Republik Indonesia (PRI).
6. Desember 1944. Atas desakan Masyumi, Jepang memberikan dan mengizinkan pembentukan Hizbullah, yang direncanakan sebagai cadangan PETA. Sebagai tambahan, suatu pasukan polisi pembantu yang berkekuatan satu juta orang, yang di sebut Korps Kewaspadaan, juga didirikan di daerah-daerah pedesaan Jawa.
7. 16 Mei 1945. Kongres Pemuda seluruh Jawa di Bandung, yang disponsori oleh Angkatan Muda Indonesia. Kongres itu dihadiri oleh lebih dari 100 pemuda terdiri dari utusan-utusan pemuda, pelajar dan mahasiswa seluruh Jawa, antara lain Jamal Ali, Chairul Saleh, Anwar Cokroaminoto dan Harsono Cokroaminoto serta mahasiswa-mahasiswa Ika Daigaku di Jakarta. Dalam kongres itu, dianjurkan agar supaya para pemuda di Jawa hendaknya bersatu dan mempersiapkan dirinya untuk pelaksanaan proklamasi kemerdekaan, bukan sebagai hadiah Jepang.
8. 15 Juni 1945. Sekelompok pemuda mendirikan Gerakan Angkatan Baru Indonesia, yang berpusat di Menteng 31, Jakarta. Ketua organisasi itu adalah BM Diah dan anggotanya yaitu Sukarni, Sudiro, Chaerul Saleh, Syarif Thayeb, Wikana, Supeno, Asmara Hadi dan P. Gultom.
Puncak dari pergerakan-pergerakan pemuda tersebut terjadi ketika pada tanggal 14 dan 16 Agustus 1945, Nagasaki dan Hiroshima di bom atom oleh tentara sekutu yang menyebabakan Jepang mengalami kekalahan dalam perang dunia ke II, maka terjadi kevakuaman kekuasaan di tanah-tanah jajahan pemerintahan fasis Jepang termasuk Indonesia, sementara tentara Sekutu belum datang. Kevakuman tersebut mengilhami para pemuda Menteng 31 dan barisan pelopor yang di dukung sultan syahrir untuk memaksa Sukarno-Hatta memproklamasikan kemerdekaan Republik Indonesia dengan membawa keduanya secara paksa ke rengas dengklok pada tanggal 16 Agustus 1945, diantara pemuda tersebut adalah: Soebadio Sastrosatomo, Wikana, Chaerul Saleh, dan Soekarni, serta dokter Moewardi. Akhirnya berkat inisiatif dan keberanian dari kaum muda, Proklamasi Kemerdekaan Indonesia dapat dibacakan pada tanggal 17 agustus l945 di jln Pegangsaan Timur no:56 pada jam 10.00 WIB. Inisiatif ini juga timbul didasari pada patriotisme bahwa kemerdekaan tidaklah boleh sebagai pemberian dari Jepang atau hadiah dari Sekutu, tapi berkat kepemimpinan dari para pejuang Indonesia.

Titik Kritis/Sorotan Utama
Dari fase kedua ini yang menjadi titik kritis adalah peristiwa sumpah pemuda. Hal ini karena peristiwa tersebut mengandung beberapa esensi yang sangat berarti bagi pergerakan nasional indonesia menuju kemerdekaannya. Diantara esensi-esensi tersebut:
– Merupakan tekad sosial-kultural dan politis untuk menyatukan persepsi dalam rangka membebaskan bangsa dan tanah air Indonesia dari penjajahan serta mempertahankan kedaulatannya.
– Menunjukan bahwa di atas tanah air yang berbangsa dan berbahasa Indonesia tak selayaknya ada penjajahan dalam bentuk apapun dan dilakukan siapapun.
– Timbulnya kekuatan kultural yang membongkar kebekuan primodialisme, artinya, ketika membicarakan persoalan bangsa tidak ada lagi jong java, jong ambon, jong Celebes, atau jong borneo, yang ada hanya kaum muda Indonesia yang memiliki satu tanah air, bangsa dan bahasa, yakni Indonesia. Ini berarti tali ikatan primodial harus di lepas demi cita-cita merebut kemerdekaan dan kedaulatan Negara Indonesia.
– Bahwa dengan mengakuinya bahasa dan bangsa satu yaitu Indonesia, tidak berarti bahwa keanekaragaman bahasa daerah harus di lebur, budaya dan keragaman suku bangsa dihapuskan, akan tetapi keanekaragaman bahasa daerah, budaya dan suku bangsa tsb, secara otomatis menjadi aset budaya bangsa yang harus di pelihara, dihormati, di kembangkan, namun dengan atas nama Indonesia. Artinya setiap suku bangsa yang mempunyai budaya, bahasa lokal/daerah harus meyakini bahwa budaya dan bahasa lokal tersebut merupakan milik suku bangsa yang telah mencipta, mengembangkan dan memeliharanya, juga milik bangsa Indonesia keseluruhan, yang berarti juga milik suku bangsa lain yang tidak menciptanya, karena suku-suku lain tersebut merupakan bagian dari bangsa indonesia. Hal ini berarti juga bahwa setiap suku bangsa yang telah menyatakan kesatuannya dalam satu bahasa, satu bangsa dan satu tanah air harus menghormati perbedaan suku, bahasa, budaya lokal atasa nama Indonesia.
Disamping mengandung esensi tersebut di atas, ada hal lain yang menjadikan peristiwa Sumpah Pemuda ini sangat berarti bagi pergerakan nasional Indonesia, dan ini mungkin banyak yang kurang memperhatikannya, yaitu isi uraian pidato yang menulis rumusan Sumpah Pemuda tersebut, yaitu Moehammad Yamin, tentang arti dan hubungan persatuan dengan pemuda. Menurutnya, ada lima faktor yang bisa memperkuat persatuan Indonesia yaitu sejarah, bahasa, hukum adat, pendidikan, dan kemauan.
Kelima faktor tersebut kiranya bukan hanya bisa memperkuat persatuan indinesia pada waktu itu, tetapi harus menjadi faktor pemersatu bahkan kemajuan bangsa Indonesia di masa-masa sekarang dan selanjutnya. Hal ini dikarenakan:
1. Sejarah. Dengan memepelajari sejarah dimasa lampau maka kita dapat mengambil manfaat dalam merencanaan suatu konsep yang lebih baik untuk dimasa yang akan datang. Dalam hal ini Allah Swt. Berfirman: “Sesungguhnya pada kisah-kisah mereka itu terdapat pengajaran bagi orang-orang yang berakal…”(QS Yusuf ayat 111). Dalam suatu hadist Rasulullah bersabda: “Hari ini harus lebih baik dari hari kemarin, dan hari esok harus lebih baik dari hari ini”.
Dan diantara manfaat mempelajari sejarah adaah:
– Memberikan pelajaran (edukasi) dan pengalaman-pengalaman kepada generasi selanjutnya.
– Memberikan inspirasi untuk melakukan sesuatu yang baru di masa yang akan datang, karena sebuah inspirasi akan muncul ketika ada stimulus, dan salah satu faktor yang bias menstimulus inspirasi adalah sejarah.
– Membawa kita berekreasi ke alam lain, juga bisa memberikan hiburan yang menyenangkan.
– memungkinkan seseorang untuk dapat memandang sesuatu secara keseluruhan secara utuh.
– Memberikan peranan penting dalam pembentukan identitas dan kepribadian bangsa.
2. Bahasa. Salah satu manfaat terbesar belajar bahasa adalah untuk keperluan berkomunikasi. Kehidupan manusia tidak mungkin dilepaskan dari kegiatan berkomunikasi. Apa pun bidang kegiatan yang akan diterjuni seseorang, pastilah dia tidak bisa menghindar untuk tidak berkomunikasi. Salah satu kemampuan penting berkomunikasi adalah menampakkan pikiran. Agar pikiran yang ada di dalam benak seseorang menjadi jelas dan dapat dipahami seseorang, pikiran perlu ditampakkan dengan bantuan kata-kata. Memang, gagasan atau ide dapat ditampakkan tidak hanya lewat kata-kata. Gagasan dapat ditunjukkan lewat nyanyian (lagu), gambar atau lukisan, patung, konstruksi bangunan, dan banyak lagi yang lain. Namun, pemahaman terhadap sebuah gagasan baru akan sangat efektif apabila gagasan tersebut dapat ditampakkan lewat kata-kata atau dibahasakan secara tertulis.
Bahasa juga merupakan nilai tertinggi dari suatu peradaban. Suatu bangsa dipengaruhi nilai tertentu jika bahasanya dipengaruhi oleh nilai tersebut. Bahasa Indonesia misalnya, banyak dipengaruhi oleh bahasa Arab (bahasa Qur’an) contohnya kata ibarat yang kata dasarnya dari ibrah ini yang bermakna pelajaran dan masih banyak lagi bahasa indonesia yang berasal dari bahasa Arab. Ini membuktikan bahwa budaya Indonesia sudahdipengaruhi oleh budaya islami.
3. Hukum Adat. Hukum adat adalah sistem hukum yang dikenal dalam lingkungan kehidupan sosial. Sumbernya adalah peraturan-peraturan hukum tidak tertulis yang tumbuh dan berkembang dan dipertahankan dengan kesadaran hukum masyarakatnya. Karena peraturan-peraturan ini tidak tertulis dan tumbuh kembang, maka hukum adat memiliki kemampuan menyesuaikan diri dan elastis. Pendapat lain terkait bentuk dari hukum adat, selain hukum tidak tertulis, ada juga hukum tertulis. Hukum tertulis ini secara lebih detil terdiri dari hukum ada yang tercatat (beschreven), seperti yang dituliskan oleh para penulis sarjana hukum yang cukup terkenal di Indonesia, dan hukum adat yang didokumentasikan (gedocumenteerch) seperti dokumentasi awig-awig di Bali.
Seorang pakar Belanda, Cornelis van Vollenhoven adalah yang pertama membagi wilayah Nusantara menurut hukum adat bisa dibagi menjadi 23 lingkungan adat berikut: mulai dari Aceh sampai papua dan mulai dari jawa sampai dayak.
Hukum Adat berbeda di tiap daerah karena pengaruh:
– Agama : Islam, Kristen, Hindu, Budha, dan sebagainya. Misalnya : di Pulau Jawa dan Bali dipengaruhi agama Hindu, Di Aceh dipengaruhi Agama Islam, Di Ambon dan Maluku dipengaruhi agama Kristen.
– Kerajaan seperti antara lain: Sriwijaya, Airlangga, Majapahit.
– Masuknya bangsa-bangsa Arab, China, Eropa.
4. Pendidikan. Pendidikan merupakan satu usaha pengembangan potensi individu-individu suatu masyarakat secara menyeluruh dan bersepadu untuk mewujudkan insan yang seimbang dan harmonis dari segi intelektual, rohani, emosi, dan jasmani. Oleh karena itu pendidikan memiliki andil yang sangat besar bagi kemajuan suatu bangsa, hal ini bisa kita lihat dari manfaatnya:
– Melatih kemampuan akademis setiap individu.
– Menggembleng dan memperkuat mental, fisik dan disiplin.
– Memperkenalkan tanggung jawab.
– Membangun jiwa sosial dan jaringan pertemanan.
– Sebagai identitas diri.
– Sarana mengembangkan diri dan berkreativitas.
– Sarana memperdalam agama, norma-norma dan etika.
5. Kemauan. Setiap orang tentu mempunyai keinginan dalam hidup. Sebagai manusia biasa, seseorang dapat saja memiliki keinginan bahkan memiliki beberapa keinginan (tidak hanya satu). Keinginan dapat berbentuk bermacam-macam, berbagai fantasi manusia juga dapat menjadi sebuah keinginan. Namun demikian keinginan tersebut dapat dibedakan menjadi keinginan yang realistis atau tidak realistis -meski terkadang banyak orang yang menginginkan keinginan yang tidak realistis dapat terealisasi-. Setiap orang yang mempunyai keinginan tentu harus siap dengan berbagai dampak atau konsekuensi logis dari apa yang diinginkannya. Baik konsekuensi tercapainya keinginan dan konsekuensi gagalnya keinginan.
Konsekuensi logis agar dapat tercapainya keinginan, adalah dengan meningkatkan kemauan. Mau untuk berusaha mencapai keinginan, mau untuk berjuang, mau untuk sukses, juga mau untuk menerima resiko dari apa yang diperjuangkannya -termasuk resiko untuk sukses dan berhasil atau sebaliknya-.
Keinginan harus disertai dengan tindakan untuk mewujudkannya. Bukan hanya sekedar ingin tetapi harus mau dan berusaha memperjuangkannya. Disinilah kemauan berperan penting. Ketika kemauan sudah mulai tumbuh, sedikit demi sedikit harus ditingkatkan agar semangat untuk terus “mau” tetap tumbuh dalam diri.
Inilah lima faktor yang seharusnya mendapat perhatian kita dalam mempersatukan elemen-elemen bangsa dan memajukan Negara ini, yaitu dengan cara:
– Selalu mengingat, mengambil pelajaran dari para founding father kita bagaimana mereka, khususnya, dalam hal membangkitkan rasa nasionalisme dan membebaskan negri ini dari penjajahan, sehingga bangsa Indonesia bisa memproklamirkan kemerdekaannya.
– Menjadikan bahasa Indonesia bahasa pemersatu yang selalu dijaga dan di pergunakan dalam berkomunikasi antar elemen-elemen bangsa yang mempunyai beraneka ragam bahasa daerah.
– Menjunjung tinggi hukum adat yang beraneka ragam dan tersebar di tanah air bangsa ini, dan menjadikannya sebagai aset budaya bangsa yang harus di pelihara, dihormati, di kembangkan, atas nama Indonesia.
– Selalu memperhatikan pendidikan generasi bangsa dalam berbagai disiplin ilmu, karena pendidikan merupakan modal utama untuk bisa membangun dan memajukan bangsa ini. Hal ini akan bisa terwujud apabila seluruh komponen bangsa menjadikan pendidikan sebagai prioritas utama dalam kehidupannya baik dalam kehidupan pribadi-pribadinya, maupun dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
– Selalu terus-menerus menumbuhkan kemauan dalam diri setiap elemen bangsa untuk selalu bersatu dalam menjalin persatuan dan kesatuan serta memajukan bangsa ini.

Kesimpulan
Dari peranan pemuda dalam pergerakan kemerdekaan tersebut, paling tidak terdapat tiga faktor yang sangat signifikan bagi investasi Indonesia: Pertama, pemuda telah menunjukkan peran dan eksistensinya secara jelas untuk menjadi lokomotif perubahan yang heroik bagi tercapainya kemerdekaan dan perjalanan kenegaraan serta kebangsaan Indonesia. Pada konteks tersebut, semakin menegaskan bahwa pemuda memiliki posisi strategis dalam menggerakkan perubahan dan menciptakan sejarah baru bangsa ini atau paling tidak menjadi trend setter sejarah Indonesia. Hampir seluruh sejarah yang tercipta di negeri ini dilakukan atas peran serta pemuda, seperti gerakan 1908, 1928, 1945, 1966, hingga 1998. Fenomena tersebut sekaligus menunjukkan betapa signifikannya keberadaan pemuda dalam konteks keindonesiaan. Dari gugusan sejarah Indonesia yang jangan pernah dilupakan adalah bahwa kontribusi terbesar terbentuknya sejarah Indonesia karena adanya komitmen dan kesadaran yang tulus melalui peran pemuda di masa lalu. Kita sebagai generasi muda yang hidup di masa ini, harus menjadi estapet perjuangan para pendahulu kita, baik dalam hal ikut serta dalam mempertahankan kesatuan dan kedaulatan bangsa Indonesia, maupun dalam memajukannya menuju masa depan Indonesia yang mandiri, berkeadilan, sejahtera (baldatun thayyibatun warabbun ghafur).
Kedua, dari lembaran sejarah Indonesia berikutnya, secara faktual tertoreh kontribusi daerah-daerah dalam proses terbentuknya dan terpeliharanya konstruksi nasionalisme Indonesia. Melalui peran, komitmen, dan kesadaran yang tulus dari daerah, yang menjadi bingkai persatuan dan kesatuan nasional, dalam kerangka mewujudkan kemerdekaan dan memaknai arti kemerdekaan, juga sebagai pijakan bagi pembangunan bangsa yang menghimpun secara harmonis elemen-elemen daerah, dalam tujuan dan cita-cita bersama, yaitu memajukan Indonesia secara bersama-sama, sebagai implementasi nyata dari pengakuan kita terhadap tanah air satu, bangsa satu dan bahasa satu, yaitu indonesia.
Ketiga, bahwa modal utama yang harus diperhatikan, ditanamkan dan di kembangkan dalam membangun persatuan dan kemajuan bangsa yang paling utama adalah lima faktor, yaitu: sejarah, bahasa, hukum adat, pendidikan, dan kemauan, yang di bingkai oleh tiga pokok utama, yaitu: satu tanah air, satu bangsa, satu bahasa indonesia.

* Makalah ini disarikan dari berbagai sumber.
* Makalah ini di sampaikan dalam seminar peringatan hari sumpah pemuda yang ke 81 yang diadakan di KBRI Tripoli Libya.

LOGO PARTINDO

National Indische Partij

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

Indische Partij (Partai Hindia) adalah partai politik pertama di Hindia Belanda, berdiri tanggal 25 Desember 1912. Didirikan oleh tiga serangkai, yaitu E.F.E. Douwes Dekker, Tjipto Mangunkusumo dan Ki Hadjar Dewantara yang merupakan organisasi orang-orang Indonesia dan Eropa di Indonesia. Hal ini disebabkan adanya keganjilan-keganjilan yang terjadi (diskriminasi) khususnya antara keturunan Belanda totok dengan orang Belanda campuran (Indonesia). Indische Partij sebagai organisasi campuran menginginkan adanya kerja sama orang Indo dan bumi putera. Hal ini disadari benar karena jumlah orang Indo sangat sedikit, maka diperlukan kerja sama dengan orang bumi putera agar kedudukan organisasinya makin bertambah kuat.

Indische Partij, yang berdasarkan golongan indo yang makmur, merupakan partai pertama yang menuntut kemerdekaan Indonesia.

Partai ini berusaha didaftarkan status badan hukumnya pada pemerintah kolonial Hindia Belanda tetapi ditolak pada tanggal 11 Maret 1913, penolakan dikeluarkan oleh Gubernur Jendral Idenburg sebagai wakil pemerintah Belanda di negara jajahan. Alasan penolakkannya adalah karena organisasi ini dianggap oleh kolonial saat itu dapat membangkitkan rasa nasionalisme rakyat dan bergerak dalam sebuah kesatuan untuk menentang pemerintah kolonial Belanda.

Selain itu juga disadari betapa pun baiknya usaha yang dibangun oleh orang Indonesia, tidak akan mendapat tanggapan rakyat tanpa adanya bantuan orang-orang bumiputera. Perlu diketahui bahwa E.F.E. Douwes Dekker dilahirkan dari keturunan campuran, ayah Belanda, ibu seorang Indonesia. Indische Partij merupakan satu-satunya organisasi pergerakan yang secara terang-terangan bergerak di bidang politik dan ingin mencapai Indonesia merdeka. Tujuan Indische Partij adalah untuk membangunkan patriotisme semua indiers terhadap tanah air. IP menggunakan media majalah Het Tijdschrifc dan surat kabar De Expres pimpinan E.F.E Douwes Dekker sebagai sarana untuk membangkitkan rasa kebangsaan dan cinta tanah air. Tujuan dari partai ini benar-benar revolusioner karena mau mendobrak kenyataan politik rasial yang dilakukan pemerintah kolonial. Tindakan ini terlihat nyata pada tahun 1913. Saat itu pemerintah Belanda akan mengadakan peringatan 100 tahun bebasnya Belanda dari tangan Napoleon Bonaparte (Perancis). Perayaan ini direncanakan diperingati juga oleh pemerintah Hindia Belanda. Adalah suatu yang kurang pas di mana suatu negara penjajah melakukan upacara peringatan pembebasan dari penjajah pada suatu bangsa yang dia sebagai penjajahnya. Hal yang ironis ini mendatangkan cemoohan termasuk dari para pemimpin Indische Partij. R.M. Suwardi Suryaningrat menulis artikel bernada sarkastis yang berjudul Als ik een Nederlander was (Andaikan aku seorang Belanda). Akibat dari tulisan itu R.M. Suwardi Suryaningrat ditangkap. Menyusul sarkasme dari Dr. Cipto Mangunkusumo yang dimuat dalam De Expres tanggal 26 Juli 1913 yang diberi judul Kracht of Vrees?, berisi tentang kekhawatiran, kekuatan, dan ketakutan. Dr. Tjipto pun ditangkap, yang membuat rekan dalam Tiga Serangkai, Douwes Dekker mengkritik dalam tulisan di De Express tanggal 5 Agustus 1913 yang berjudul Onze Helden: Tjipto Mangoenkoesoemo en Soewardi Soerjaningrat (Pahlawan kita: Tjipto Mangoenkoesoemo dan Soewardi Soerjaningrat). Kecaman-kecaman yang menentang pemerintah Belanda menyebabkan ketiga tokoh dari Indische Partij ditangkap. Pada tahun 1913 mereka diasingkan ke Belanda. Douwes Dekker dibuang ke Kupang, NTT sedangkan Dr. Cipto Mangunkusumo dibuang ke Pulau Banda. Namun pada tahun 1914 Cipto Mangunkusumo dikembalikan ke Indonesia karena sakit. Sedangkan Suwardi Suryaningrat dan E.F.E. Douwes Dekker baru kembali ke Indonesia pada tahun 1919. Suwardi Suryaningrat terjun dalam dunia pendidikan, dikenal sebagai Ki Hajar Dewantara, mendirikan perguruan Taman Siswa. E.F.E Douwes Dekker juga mengabdikan diri dalam dunia pendidikan dan mendirikan yayasan pendidikan Ksatrian Institute di Sukabumi pada tahun 1940. Dalam perkembangannya, E.F.E Douwes Dekker ditangkap lagi dan dibuang ke Suriname, Amerika Selatan.

Pada tahun 1913 partai ini dilarang karena tuntutan kemerdekaan itu, dan sebagian besar anggotanya berkumpul lagi dalam Serikat Insulinde dan Comite Boemi Poetera.Akhirnya pun organisasi ini tenggelam karena tidak adanya pemimpin seperti 3 serangkai yang sebelumnya.

Pandji R Hadinoto ITB68

Menganalisis Perjuangan Organisasi Pergerakan Kebangsaan

Mengamati Lingkungan

Perhatikan kutipan dari buku Van Miert berikut ini:

“Pada 31 Oktober 1920 anggota dari dua perhimpunan pelajar terbesar di Hindia Belanda, Jong Java dan Jong Sumatranen Bond berkumpul di sebuah ruangan di Batavia untuk mendengarkan pidato P. Fournier, seorang pimpinan gerakan teosofi Hindia. Itu adalah pertemuan pertama Studiegroep PolitiekWetenshappen (Kelompok Studi Ilmu Politik)…” Kepala yang dingin dan hati yang gembira”.

Begitulah Fournier menyimpulkan kualitas-kualitas terpenting yang wajib dipunyai seorang pemimpin politik. Hati yang gembira maksudnya adalah cinta yang menggelora pada tanah air, hasrat yang menyala-nyala untuk bekerja demi kemajuan bangsa.” Begitulah jiwa politik yang diharapkan oleh Fournier kepada para pelajar. Bagi Fournier, dalam sosok seorang politikus diperlukan kepala yang dingin, jangan sampai terbawa oleh situasi dan kondisi yang ada oleh pergolakan politik yang ada pada jamannya (Kamu dapat membaca lebih lanjut Hans van Miert, 2003).

Nah, cobalah kamu renungkan dan pahami teks yang dimuat pada tulisan diatas!

  1. Cobalah kalian buat analisis kritis, mengenai sosok politikus di Indonesia yang memiliki jiwa dan semangat “kepala yang dingin dan hati yang gembira”!
  2. Diskusikan dengan teman sekelasmu bagaimanakah perkembangan politik di Indonesia saat ini?

Bagaimanakah sikap kalian jika menjadi seorang politikus kelak, langkah-langkah apakah yang akan kalian ambil untuk menjaga kehormatan bangsa dan negara dalam percaturan dunia? Coba bandingkan perjuangan masa pergerakan kebangsaan yang dimulai pada tahun 1908!

Memahami Teks

1. Organisasi Awal Pergerakan

a. Budi Utomo

Pada awal abad ke-20, di Nusantara muncul bermacam-macam kelompok dan organisasi yang mempunyai konsep nasionalisme, seperti Sarekat Dagang Islam (kemudian menjadi Sarekat Islam), Budi Utomo (BU), Jong Java, Jong Celebes, Jong Minahasan, Jong Sumatranen Bond, dan lainnya. Munculnya organisasi- organisasi itu mendanai fase perubahan perlawanan pada pemerintah kolonial Belanda. Kalau sebelumnya berupa perlawanan fisik kedaerahan menjadi pergerakan nasional yang bersifat modern. Organisasi-organisasi itu mengusung tujuan yang sama, yakni untuk lepas dari penjajahan. Budi Utomo

Menganalisis Perjuangan Organisasi Pergerakan Kebangsaan
Budi Utomo

Boedi Oetomo (BO) atau Budi Utomo (BU) adalah pergerakan nasional yang didirikan pada tanggal 20 Mei 1908, di Jakarta. Organisasi ini dirintis oleh dr. Wahidin Sudirohusodo. BU didirikan dengan tujuan untuk menggalang dana untuk menolong anak-anak bumiputra yang kekurangan dana. Namun ide itu kurang memperoleh dukungan dari Kaum Tua. Ide dr. Wahidin itu lalu diterima dan kembangkan oleh Sutomo. Seorang mahasiswa School tot Opleiding voor Inlandsche Arsten (STOVIA). Sutomo kemudian dipilih sebagai ketua organisasi itu. Sebagian besar pendiri BU adalah pelajar STOVIA, seperti Sutomo, Gunawan Mangunkusumo, Cipto Mangunkusumo, dan RT Ario Tirtokusumo. Pada tanggal 29 Agustus 1908, dr. Wahidin Sudirohusodo mendirikan BU di Yogyakarta.

Para tokoh pendiri BU berpendapat bahwa untuk mendapatkan kemajuan, maka pendidikan dan pengajaran wajib menjadi perhatian utama. Organisasi itu memiliki corak sebagai organisasi modern, yaitu memiliki pimpinan, ideologi dan keanggotaan yang jelas. Corak baru itu lalu diikuti oleh organisasi-organisasi lain yang membawa pada perubahan sosial-politik. Organisasi BU bersifat kooperatif pada pemerintah kolonial Belanda. BU bersifat tidak membedakan agama, keturunan, dan jenis kelamin. Pada mulanya organisasi ini orientasinya hanya sebatas pada kalangan priyayi, namun pancaran etnonasionalisme semakin terlihat saat dilaksanakan kongres BU yang diselenggarakan pada 3-5 Oktober 1908, di Yoyakarta.

Dalam kongres itu dibahas mengenai dua prinsip perjuangan, golongan muda menginginkan perjuangan politik dalam menghadapi pemerintah kolonial, sedangkan golongan tua mempertahankan cara lama yaitu perjuangan sosio-kultural.

Perdebatan itu tidak saja menyangkut tujuan BU tetapi juga pemakaian Bahasa Jawa dan Bahasa Melayu. Perdebatan juga menyangkut tentang sikap menghadapi westernisasi. Radjiman berpendapat bahwa “Bangsa Jawa tetap Jawa” dan menunjukkan identitasnya yang masih Jawasentris.

Sementara Cipto Mangunkusuma berpendapat bahwa bangsa Indonesia perlu memanfaatkan pengetahuan Barat dan unsur-unsur lain sehingga dapat memperbaiki taraf kehidupannya. Cipto Mangunkusumo juga berpendapat bahwa sebelum memecahkan masalah budaya perlu diselesaikan masalah politik. Orientasi politik semakin menonjol di kalangan muda kemudian mencari organisasi yang cocok dengan mendirikan Sarekat Islam. Dalam perkembangannya, walaupun ada kelompok muda yang radikal, tetapi kelompok tua masih meneruskan cita-cita BU yang mulai disesuaikan dengan kondisi politik pada saat itu. Pada waktu dibentuk Dewan Rakyat (Volksraad) pada tahun 1918, wakil-wakil BU duduk di dalamnya. Pemerintah dengan demikian tidak menaruh curiga sebab sifat BU yang moderat. Seorang pimpinan BU yang menyaksikan rapat. Bupati mengeluh mengenai mereka yang hanya ingin mempertahankan kedudukannya sebagai bupati karena warisan, sedangkan zaman mulai berubah. Agus Salim tidak lama setelah rapat Volksraad dibuka, berharap agar kaum kuno atau golongan konservatif itu bukan adalah golongan suara yang dominan dalam dewan itu.

Pemerintah Hindia Belanda mengakui BU sebagai organisasi yang sah pada Desember 1909. Dukungan dari Pemerintah Hindia Belanda ini tidak lain sebagai bagian dari pelaksanaan Politik Etis. Sambutan baik pemerintah inilah yang menyebabkan BU sering dicurigai oleh kalangan bumiputera sebagai organ pemerintah. BU mulai kehilangan wibawanya pada tahun 1935, organisasi itu bergabung dengan organisasi lain menjadi Partai Indonesia Raya (Parindra). Namun demikian, dengan segala kekurangannya BU telah mewakili aspirasi pertama rakyat Jawa ke arah kebangkitan dan juga aspirasi rakyat Indonesia. Keberadaan BO memberikan inspirasi untuk organisasi- organisasi modern lainnya, seperti Jong Sumatra, Jong Ambon, Sedio Tomo, Muhammadiyah, dan lain-lain.

b. Sarekat Islam

Pada mulanya SI lahir sebab adanya dorongan dari R.M. Tirtoadisuryo seorang bangsawan, wartawan, dan pedagang dari Solo. Tahun 1909, ia mendirikan perkumpulan dagang yang bernama Sarekat Dagang Islam (SDI).

Perkumpulan itu memiliki tujuan untuk memberikan pertolongan pada para pedagang pribumi agar dapat bersaing dengan pedagang Cina. Saat itu perdagangan batik mulai dari bahan baku dikuasai oleh pedagang Cina, sehingga pedagang batik pribumi semakin terdesak. Kegelisahan Tirtoadisuryo itu diutarakan pada H. Samanhudi. Atas dorongan itu H. Samanhudi mendirikan Sarekat Dagang Islam di Solo (1911). Pada mulanya SI memiliki tujuan untuk kesejahteraan sosial dan persamaan sosial. Mula-mula SI adalah gerakan sosial ekonomi tanpa menghiraukan masalah kolonialisme.

Jelaslah bahwa tujuan utama SDI adalah melindungi kegiatan ekonomi pedagang Islam agar dapat terus bersaing dengan pengusaha Cina. Agama Islam digunakan sebagai faktor pengikat dan penyatu kekuatan pedagang Islam yang saat itu juga memperoleh tekanan dan kurang diperhatikan dari pemerintah kolonial. Sebagai perkumpulan dagang SDI lalu berpindah ke Surabaya yang adalah kota dagang di Indonesia. SDI selanjutnya dipimpin oleh Haji Umar Said Cokroaminoto. Cokroaminoto dikenal sebagai seorang orator yang cakap dan bijak, kemampuannya berorator itu memikat anggota-anggotanya. Di bawah kepemimpinannya diletakkan dasar-dasar baru yang memiliki tujuan untuk memajukan semangat dagang bangsa Indonesia.

Disamping itu SDI juga memajukan rakyat dengan menjalankan hidup sesuai ajarana agama dan menghilangkan paham yang keliru mengenai agama Islam. SDI lalu berubah nama menjadi Sarekat Islam (SI) pada tahun 1913. Pada kongres SI yang pertama, tanggal 26 Januari 1913, dalam pidatonya di Kebun Bintang Surabaya, dia menegaskan bahwa tujuan SI adalah menghidupkan jiwa dagang bangsa Indonesia, memperkuat ekonomi pribumi agar mampu bersaing dengan bangsa asing. Usaha di bidang ekonomi itu nampak sekali dengan didirikannya koperasi di Kota Surabaya. Di Surabaya pula berdiri PT. Setia Usaha, yang bergerak tidak saja menerbitkan surat kabar “Utusan Hindia”, juga bergerak di bidang penggilingan padi dan perbankan.

Usaha itu dimaksudkan untuk membebaskan kehidupan ekonomi dari ketergantungan bangsa asing. Dalam kurun waktu kurang dari satu tahun, SI sudah memiliki cabang di bermacam-macam kota. Organisasi itu tumbuh menjadi besar. Kemajuan yang dicapai oleh SI itu dianggap ancaman untuk pemerintah kolonial. Pemerintah kemudian mengeluarkan peraturan untuk menghambat laju pertumbuhan SI, yaitu cabang wajib berdiri sendiri dan terbatas daerahnya. Pemerintah kolonial tidak keberatan SI daerah mengadakan perwakilan yang diurus oleh pengurus sentral. Kemudian dibentuklah Central Sarikat Islam (CSI) yang mengorganisasikan 50 cabang kantor SI daerah.

Ketika pemerintah kolonial mengijinkan berdirinya partai politik, SI yang semula adalah organisasi nonpolitik berubah menjadi partai politik. SI mengirimkan wakilnya dalam Volksraad (Dewan Rakyat) dan memegang peran penting dalam Radicale Concentratie, yaitu gabungan perkumpulan yang bersifat radikal. Pemerintah kolonial yang dianggap cenderung kearah kapitalisme mulai ditentang. SI juga aktif mengorganisasi perkumpulan buruh. Dalam suatu pembukaan rapat Volksraad masih terekam dalam ingatan bersama kaum terpelajar bumiputera mengenai Janji November (November Beloofte). Dalam pidatonya itu Gubernur Jenderal Hindia Belanda mengatakan bahwa dalam zaman baru hubungan pemerintah kolonial dan proses demokratisasi dimulai. Dia juga mengatakan, bila saatnya kelak

Volksraad menjadi dewan rakyat, sebuah lembaga untuk rakyat Hindia untuk menyampaikan hasrat untuk merdeka. Namun Volksraad tidak pernah menjadi badan rakyat Hindia, Volksraad tetap menjadi perangkat bagi pemerintah kolonial. Karena kecilnya capaian yang diraih oleh dewan rakyat itu, mendorong Cokroaminoto dan Agus Salim untuk mengubah aliran politik SI dari kooperatif ke nonkooperatif dan menolak ikut serta dalam setiap dewan rakyat yang didirikan pemerintah.

Dalam kongres SI tahun 1914, yang diselenggarakan di Yogyakarta Cokroaminoto dipilih sebagai pimpinan SI. Gejala konflik internal mulai kelihatan dan kewibawaan CSI mulai berkurang. Dalam kondisi itu Cokroaminoto tetap mempertahankan keutuhan dengan mengatakan kecenderungan untuk memisahkan diri dari CSI wajib dikutuk. Karena itu perpecahan wajib dihindari, persatuan, wajib dijaga sebab Islam sebagai unsur penyatu. Dalam kongres tahunan yang diselenggrakan SI pada tahun 1916, Cokroaminoto menyampaikan dalam pidatonya perlunya pemerintahan sendiri untuk rakyat Indonesia. Pada tahun itu kongres pertama SI yang dihadiri oleh 80 anggota SI lokal dengan anggotanya sebanyak 36.000 orang. Kongres itu adalah Kongres Nasional sebab SI memiliki cita- cita supaya penduduk Indonesia menjadi satu nation atau suku bangsa, dengan kata lain mempersatukan etnis Indonesia menjadi bangsa Indonesia. Cokroaminoto dikenal sebagai seorang politikus dan orator yang cerdas. Seorang pemuda yang tinggal indekost di rumahnya tertarik dengan cara berpidatonya. Setiap hari pemuda itu sering mengikuti diskusi-diskusi yang diadakan di rumah Cokroaminoto. Ia juga meniru cara Cokro berpidato dengan berlatih pidato di balkon rumah Cokro. Kelak pemuda itu kita kenal sebagai seorang orator yang cerdas dan menjadi presiden pertama Indonesia, Sukarno.

Sebelum kongres tahunan selanjutnya (1917) di Jakarta, muncul aliran revolusioner sosialis ditubuh SI, yang berasal dari SI Semarang yang dipimpin oleh Semaun. Kongres tetap berjalan dan memutuskan bahwa azas perjuangan SI adalah pemerintahan berdiri sendiri dan perjuangan melawan penjajahan dari kolonialisme. Sejak itu Cokroamitono dan Abdul Muis mewakili SI dalam Dewan Rakyat. SI semakin memperoleh simpati dari rakyat. Keanggotaannya pun semakin meningkat. Sementara itu pengaruh Semaun semakin menjalar ke tubuh SI. Sejak itulah pengaruh sosial-komunis masuk ke dalam tubuh SI pusat atau cabang-cabangnya. Sebagai organisasi besar SI sudah disusupi oleh orang-orang yang menjadi anggota Indische Sociaal Democratische Vereninging (ISDV), seperti Semaun dan Darsono.

Pada kongres SI kelima tahun 1921, Semaun melancarkan kritik terhadap kebijakan SI Pusat sehingga timbul perpecahan. Di satu pihak aliran yang diinginkan SI adalah ekonomi dogmatis yang diwakili oleh Semaun, yang kemudian dikenal dengan SI Merah beraliran komunis. Di sisi lain, SI menginginkan aliran nasional keagamaan yang diwakili oleh Cokroaminoto, yang lalu dikenal dengan SI Putih. Rupanya gejala perjuangan dua aliran itu tidak dapat dipersatukan. Agus Salim dan Abdul Muis mendesak agar ditetapkan disiplin partai yang melarang keanggotaan rangkap. Usulan itu sangat mengkhawatirkan Partai Komunis Indonesia (PKI). Oleh sebab itu, Tan Malaka meminta displin partai diadakan perkecualian untuk PKI. Namun demikian, disiplin partai dapat diterima oleh kongres dengan suara mayoritas. Konsekuensi dari itu Semaun dikeluarkan dari SI, sebab tidak boleh rangkap anggota. Dengan demikian, langkah pertama dari pengaruh PKI ke dalam tubuh SI sudah dapat diatasi.

Sementara itu dalam kongres di Madiun 1923, Central Sarekat Islam (CSI) diganti menjadi Partai Sarekat Islam (PSI), dan memberlakukan disiplin partai. Di lain pihak, SI yang memperoleh pengaruh PKI menyatakan diri bernaung dalam Sarekat Rakyat yang adalah bentukan PKI. Azas perjuangan PSI adalah nonkooperasi maknanya oraganisasi itu tidak mau bekerjasama dengan pemerintah kolonial. Namun organisasi itu mengijinkan anggotanya duduk di dalam Dewan Rakyat atas nama pribadi. Kongres PSI tahun 1927 menegaskan azas perjuangan organisasi itu adalah mencapai kemerdekaan nasional berdasar agama Islam. Karena PSI menggabungkan diri dalam Permufakatan Perhimpunan-Perhimpunan Politik Kebangsaan Indonesia (PPPKI), nama PSI ditambah dengan Indonesia untuk menunjukkan perjuangan kebangsaan. Selanjutnya organisasi itu bernama Partai Sarikat Islam Indonesia (1927). Maka muncullah pengaruh positif untuk perkembangan nasionalisme PSI. Perubahan nama itu berkaitan dengan kedatangan Sukiman yang baru datang dari Belanda. Dalam konggres Pemuda tahun 1928, PSII aktif mengambil bagian dalam PPPKI.

Banyaknya anggota muda dalam PSII membawa perbedaan paham antara golongan muda dengan golongan tua. Pada 1932, timbulah perpecahan dalam tubuh organisasi itu. Muncullah Partai Islam Indonesia (PARII) dibawah Dr. Sukiman yang berpusat di Yogyakarta. Agus Salim dan A.M. Sangaji mendirikan Barisan Penyedar yang berusaha menyadarkan diri sesuai dengan tuntutan zaman. Persatuan dalam PSII tidak dapat dipertahankan lagi, Sukiman kemudian memisahkan diri yang diikuti oleh Wiwoho, Kasman Singodimedjo dll. Pada tahun 1940, Sekar Maji Kartosiwiryo mendirikan PSII tandingan terhadap PSII yang dipimpin Abikusno Cokrosuyoso. Akibat perpecahan itu PSII mengalami kemunduran. Peranannya sebagai Partai Islam kemudian dilanjutkan oleh Partai Islam Indonesia yang adalah lanjutan dari PARII di bawah pimpinan Dr. Sukiman.

c. Indische Partij (IP)

Indische Partij adalah organisasi politik yang anggota-anggotanya berasal dari keturunan campuran Belanda-pribumi (Indo-Belanda) dan orang asli pribumi. Munculnya organisasi ini sebab adanya sejumlah golongan orang Indo-Belanda yang dianggap lebih rendah kedudukannya dari pada orang Belanda asli (totok). Secara hukum mereka itu masuk dalam bangsa kelas I, sebab kedudukan ayahnya yang orang Belanda. Namun demikian secara sosial sebab ibunya orang pribumi mereka anggap lebih rendah oleh golongan Belanda totok. Sejumlah orang dari golongan Indo Belanda itu kemudian mendirikan perkumpulan Indische Bond (1898). E.F.E Douwes Dekker yang lalu berganti nama Dr. Danudirjo Setiabudhi berkeinginan untuk melanjutkan Indische Bond sebagai organisasi politik yang kuat.

Keinginan Douwes Dekker itu semakin menguat saat dia bertemu dengan dr. Cipto Mangunkusumo dan Suwardi Suryaningrat atau dikenal dengan Ki Hajar Dewantoro. Mereka lalu dikenal dengan “Tiga Serangkai”. Douwes Dekker adalah cucu Eduard Douwes Dekker atau Multatuli, seorang penulis Max Havelaar yang membela petani Banten dalam masa Tanam Paksa. Dia seorang campuran ayah Belanda dan ibunya Indo. Pengalaman hidupnya itulah yang menjiwai gerak politiknya. Kedekatannya dengan buruh perkebunan kopi, saat dia menjadi pengawas perkebunan di Jawa, yang menjadi alasan pemerintah Kolonial Belanda untuk memecatnya.

Kondisi itulah yang mendorong ia untuk mendirikan organisasi yang bertujuan untuk mendapatkan kemerdekaan untuk Indie (istilah Indonesia pada saat itu). Bersama-sama dengan Suwardi Suryaningrat dan Cipto Mangunkusumo maka dibentuklah Indische Partij (IP) pada tahun 1912. Keinginan IP untuk mewujudkan cita-citanya itu memperoleh respon positif dari masyarakat saat itu. Keanggotaan IP berkembang dengan pesat. Sebagai seorang koresponden surat kabar de Locomotief di Semarang, kemudian harian Soerabajasch Handelsblad, Bataviaasch Nieuwsblad, dan akhirnya di majalah Het Tijdschrift dan surat kabar De Expres, Douwes Dekker dengan mudah dapat mengutarakan gagasannya. Dia berpendapat hanya melalui kesatuan aksi melawan kolonial dapat mengubah sistem yang berlaku. Ia juga berpendapat bahwa setiap gerakan politik haruslah memiliki tujuan akhir, yaitu kemerdekaan. Pendapat itulah yang lalu ditulis dalam Het Tijdschrift dan De Expres. Kedekatan Douwes Dekker dengan pelajar STOVIA di Jakarta membuka peluang untuk pemuda terpelajar saat itu untuk menuangkan gagasan-gagasan mereka dalam surat kabar Bataviaasch Nieuwsblad, saat dia menjadi redaktur surat kabar itu. Pengaruh BU juga mendasari jiwa Douwes Dekker saat dia melakukan propaganda ke seluruh Jawa dari tanggal 15 September hingga 3 Oktober 1912. Dalam perjalanannya itu ia menyelenggarakan rapat-rapat dengan elit lokal di Yogjakarta, Surakarta, Madiun, Surabaya, Tegal, Semarang, Pekalongan, dan Cirebon. Dalam pertemuannya dengan para tokoh elit BU itu Douwes Dekker mengajak membangkitkan semangat golongan bumiputera untuk menentang penjajah.

Kunjungannnya itu menghasilkan tanggapan positif di kota-kota yang dikunjunginya. Dari itulah IP lalu mendirikan 30 cabang dengan jumlah anggota 730 orang. Kemudian terus bertambah hingga mencapai 6000 orang yang terdiri atas orang Indo dan bumiputera. Dalam Anggaran Dasar IP disebutkan, untuk membangun patriotisme Bangsa Hindia kepada tanah airnya yang sudah memberikan lapangan hidup, dan menganjurkan kerjasama untuk persamaan ketatanegaraan guna memajukan tanah air Hindia dan untuk mempersiapkan kehidupan rakyat yang merdeka. Bagi pemerintah kolonial keberhasilan IP mendapat simpatisan dari masyarakat adalah suatu yang berbahaya. Organisasi itu kemudian dinyatakan sebagai organisasi terlarang dan berbahaya (pertengahan 1913). Pemimpinnya kemudian ditangkap dan dibuang. Douwes Dekker diasingkan ke Timor, Kupang. Cipto Mangunkusumo dibuang ke Bkamu. Suwardi Suryaningrat dibuang ke Bangka. Tiga Serangkai itu kemudian dibuang ke Negeri Belanda.

Pembuangan Tiga Serangkai itu membawa akibat luas, tidak saja di Hindia Belanda, akan tetapi juga di Negara Belanda. Di Hindia Belanda, keberadaan mereka semakin mendorong bumiputera untuk memperjuangkan hak-haknya. Sementara di Negeri Belanda menjadi perdebatan politik di kalangan Dewan Perwakilan Rakyat Belanda mengenai pergerakan rakyat Indonesia.

Karena alasan kesehatan, pada 1914 Cipto Mangunkusumo dipulangkan ke Indonesia. Douwes Dekker dipulangkan pada 1917 dan Ki Hajar Dewantoro dipulangkan pada 1918. Setelah IP dibubarkan dan pimpinannya menjalankan pembuangan organisasi itu lalu bernama Insulinde. Namun organisasi itu kurang memperoleh sambutan dari masyarakat. Kemudian tahun 1919 berganti nama menjadi Nationaal Indische Partij (NIP). Ki Hajar Dewantoro kemudian mendirikan Perguruan Taman Siswa (1922), sebagai badan perjuangan kebudayaan dan perjuangan politik.

2. Organisasi Keagamaan

Pada abad ke-19, muncul gerakan pembaruan di negara-negara Islam, di Asia Barat. Pemikiran itu adalah reaksi atas tantangan Barat. Gerakan itu berpusat di Universitas Al Azhar, Kairo, Mesir dengan pimpinan Jamaluddin Al Afghani. Pengaruh gerakan itu sampai di Indonesia dengan tokoh-tokohnya Muhammad Iqbal dan Amir Ali. Reformasi Islam dapatlah dikatakan sebagai gerakan emansipasi keagamaan, yaitu dengan perbaikan kaum muslim melalui pendidikan yang sedapat mungkin sejajar dengan pendidikan barat. Di Jakarta, tahun 1905, berdiri perkumpulan Jamiyatul khair yang mendirikan sekolah dasar untuk masyarakat Arab. Sekolah modern itu disamping mengajarkan agama juga mengajarkan pelajaran berhitung, sejarah, geografi, dll.

a. Muhammadiyah

Keberadaan organisasi BU sudah memberikan inspirasi kepada KH Ahmad Dahlan untuk mendirikan sebuah orgaisasi yang bersifat modern bernama Muhammadiyah. Organisasi yang didirikan Ahmad Dahlan pada 18 November 1912, bercirikan organisasi sosial, pendidikan, dan keagamaan. Salah satu tujuan pendirian Muhammadiyah adalah memurnikan ajaran Islam. Islam seharusnya berasal pada Al-Quran dan Al-Hadis. Tindakannya adalah amar makruf nahimunkar, atau mengajak hal baik dan mencegah hal yang jelek. Pembaruan model Wahabiyah di Arab pun dimulai, antara lain dengan manajemen organisasi modern, pendirian lembaga pendidikan dan dakwah melalui media atau surat kabar.

Menganalisis Perjuangan Organisasi Pergerakan Kebangsaan

Sistem pendidikan dibangunnya dengan cara menggabungkan cara tradisional dengan cara modern. Model sekolah Barat ditambah pelajaran agama yang dilakukan di dalam kelas. Dalam bidang kemasyarakatan organisasi ini mendirikan rumah sakit, poliklinik, dan rumah yatim piatu yang dikelola oleh lembaga-lembaga. Usaha di bidang sosial itu ditandai dengan berdirinya Pertolongan Kesengsaraan Umum (PKU) pada tahun 1923. Itulah bentuk kepedulian sosial dan tolong membantu sesama muslim.

Selanjutnya organisasi wanita juga dibentuk dengan nama ‘Aisyiah di Yogyakarta, sebagai bagian dari organisasi wanita Muhammadiah. Nama ‘Aisyiyah terinspirasi dari nama ‘Aisyah, istri nabi Muhammad yang dikenal taat beragama, cerdas, dan rajin bekerja untuk mendukung ekonomi rumah tangga. Diharapkan profil ‘Aisyah juga menjadi profil warga ‘Aisyiyah. ‘Aisyiyah yang masih eksis sampai kini didirikan sebagai pembaru peran kaum perempuan, terutama di bidang keagamaan. Ketika ‘Aisyiyah berdiri, perempuan tidak mendapatkan akses pendidikan dan kemasyarakatan karena dianggap tidak perlu mengenyam pendidikan, apalagi mempunyai peran kemasyarakatan. ‘Aisyiyah berpendapat bahwa perempuan dan laki- laki sama-sama memiliki kewajiban untuk mengajak kepada kebaikan dan mencegah kemungkaran, termasuk melalui bidang pendidikan.

b. Nahdlatul Ulama (NU)

Pembaruan Islam yang dilakukan di kota-kota mendorong kaum tua yang ingin mempertahankan tradisi mereka untuk mendirikan organisasi. Reaksi positif dari golongan tradisionalisme adalah lahirnya organisasi di kalangan mereka. Saat itu kebetulan bertepatan dengan akan dilakukannya Kongres Islam sedunia (1926), di Hijaz. ulama terkemuka saat itu lalu membentuk lembaga yang bernama Jam’iyatul Nahdlatul Ulama (NU) pada 31 Januari 1926, di Surabaya. Sebagai pendiri organisasi ini adalah Kyai Haji Hasyim Ashari dan sejumlah ulama lainnya. Organisasi itu berpegang teguh pada Ahlusunnah wal jam’ah. Tujuan organisasi ini terkait dengan masalah sosial, ekonomi, dan pendidikan.

Menganalisis Perjuangan Organisasi Pergerakan Kebangsaan

Pada dasarnya NU tidak berurusan dengan problem politik. Dalam kongres yang diadakan di Surabaya, 28 Oktober 1928, diambil keputusan untuk menentang kaum reformis dan perubahan-perubahan yang dilakukan oleh Paham Wahabi. Pada gilirannya pertentangan antara kaum reformis dan tradisionalis itu tidak saja dapat dikurang, mereka bahkan melakukan kerjasama dalam melaksanakan perubahan. NU termasuk organisasi yang giat mengubah tradisi berkhutbahnya dari berbahasa Arab menjadi bahasa daerah yang dapat dimengerti oleh jamaahnya. Perubahan itu lalu dapat memberikan akibat yang positif untuk pengikutnya. Perubahan cara berpikir pun mulai terlihat yang lalu diikuti dengan perbaikan organisasi secara lebih modern, lembaga-lembaga sosial mulai didirikan, seperti rumah sakit, rumah yatim piatu, serta sekolah-sekolah. Yang tidak kalah penting dalam konteks Indonesia adalah bangkitnya nasioalisme modern, yaitu nasionalisme non kesukuan yang adalah modal penting dalam terbentuknya negara- bangsa di lalu hari

Pada tahun 1935, NU berkembang dengan pesat, NU sudah memiliki 68 cabang dengan jumlah anggota 6.700. Pada tahun 1938, dalam kongresnya di Menes, Pandeglang, Banten, NU berusaha untuk dapat memperluas pengaruhnya ke seluruh Jawa. Kongres selanjut di Surabaya, tahun 1940, diputuskan untuk mendirikan Wanita Nahdlatul Ulama Muslimat dan pemudanya dibentuklah Organisasi Ansor.

c. Organisasi Islam lainnya

Gerakan Islam modern juga dilakukan keturunan Arab di Indonesia. Pada tahun 1914 didirikan perkumpulan Al-Irsyad oleh Syekh Ahmad Surkati. Dia berkeinginan agar pendidikan agama Islam dilakukan sejak dini dan diajarkan terus menerus. Juga dikembangkannya ukhuwwah Islamijah di antara pemeluk agama Islam. Banyaknya keturunan Arab yang berdomisili di Indonesia, mendorong A.R. Baswedan untuk mendirikan Partai Arab Indonesia pada tahun 1934. Mereka berpendapat bahwa Indonesia sebagai tanah airnya, sebab mereka dilahirkan dari seorang perempuan Indonesia. Di Sumatra Barat, berdiri Sumatra Thawalib. Organisasi itu didirikan oleh kalangan pemuda Sumatra Barat, tahun 1918. Para pemuda itu mendapat pendidikan Islam di Mekah. Mereka belajar pada Syekh Akhmad Khatib, ketika kembali ke Sumatera Barat, mereka membawa pemikiran Islam modern yang digerakan oleh Jamaluddin Al Afghani dan Muhammad Abduh. Organisasi itu memiliki tujuan untuk mengusahakan dan memajukan ilmu pengetahuan dan pekerjaan yang berguna untuk kemajuan dan kesejahteraan menurut ajaran Islam. Kemudian organisasi itu berubah menjadi Persatuan Muslim Indonesia yang memperluas tujuan, yaitu Indonesia Merdeka dan Islam Jaya.

Organisasi itu khususnya bergerak dalam bidang pendidikan dan politik. Secara cepat pengaruh organisasi itu meluas di Sumatera Barat. Sebagai organisasi politik yang radikal, Thawalib lalu dilarang untuk beraktivitas oleh pemerintah pada tahun 1936.

Persatuan Tarbiyah Islamiyah, organisasi ini didirikan oleh ulama-ulama di Sumatera Barat yang tidak setuju dengan Thawalib, antara lain Syekh Sulaiman ar Rasuly. Kegiatan organisasi itu terutama bergerak di bidang pendidikan, yaitu dengan mendirikan madrasah. Mereka juga membuat majalah sebagai fasilitas menyalurkan gagasan dan ide-ide kemajuan, antara lain Suara Tarbiyatul Islamiyah (SUARTI), Al Mizan, dan Perti Bulanan. Setelah kemerdekaan organisasi itu bernama Partai Tarbiyatul Islamiyah (PERTI). Organisasi yang sejalan dengan PERTI adalah Persatuan Muslim Tapanuli (PMT). Organisasi PMT ini didirikan oleh Syekh Musthafa Purba, baru pada tahun 1930 juga sebab tidak sepaham dengan Thawalib.

Selanjutnya di Bandung berdiri Persatuan Islam (PERSIS). Organisasi itu muncul sebagai reaksi dari pembatasan gerak Jamiyatul Khair, pada tahun 1923 oleh Kiai Hasan. Organisasi itu memiliki tujuan untuk meningkatkan kesadaran beragama dan semangat ijtihat dengan melaksanakan dakwah dan pembentukan kader melalui madrasah dan sekolah.

Di Kalimantan Selatan juga berdiri organisasi yang adalah kelanjutan dari SI. Usaha SI di bidang pendidikan dilanjutkan dengan mendirikan madrasah Daru Salam. Madrasah ini dilengkapi dengan asrama dan sawah sebagai tempat untuk belajar hidup mandiri para santri.

Kegagalan SI juga mendorong masyarakat Aceh untuk melanjutkan perjuangan SI, maka didirikanlah Persatuan Ulama Seluruh Aceh (PUSA). Organisasi itu dibentuk oleh Tengku M.Daud Beureureh pada 5 Mei 1939. Tujuan organisasi itu meningkatan pendidikan agar terlaksana syari’at Islam dalam masyarakat. Kemudian Nahdatul Wathan yang juga merupakan organisasi kelanjutan SI di Nusa Tenggara barat. Organisasi itu juga bertujuan untuk meningkatkan kesadaran beragama. Perhatian utama organisasi itu adalah mendirikan lembaga-lembaga pendidikan.

d. Majelis Islam Ala Indonesia (MIAI)

MIAI adalah gabungan dari organisasi politik dan beberapa organisasi massa yang bersifat moderat pada Belanda. Golongan Muslim yang tergabung dalam organisasi memilih sikap nonkooperasi terhadap pemerintahan kolonial. Saat Jepang berkuasa, organisasi ini mendapat kelonggaran menjalankan aktivitasnya, sementara aktivitas organisasi yang lain dilarang. Karena MIAI dilihat sebagai organisasi yang anti barat. Suatu saat seluruh pemuka agama diundang oleh Gunsikan, Mayor Jenderal Okazaki ke Jakarta. Mereka diajak untuk bertukar pendapat. Pertemuan itu menghasilkan MIAI wajib menambah azas dan tujuannya. Kegiatan MIAI menyelenggarakan badan amal dan peringatan hari keagamaan.

Sebagai organisasi yang diakui Jepang MIAI dianggap kurung memuaskan pemerintah Jepang. Pada Oktober 1943 MIAI dibubarkan dan diganti dengan Majelis Syuro Muslimin Indonesia (Masyumi). Masyumi dipimpin oleh K.H. Hasyim Asyari, K.H Mas Mansyur, K.H Farid Ma’aruf, K.H Hasyim, Kartosudarmo, K.H Nachrowi, dan Zainal Arifin.

3. Organisasi pemuda

Di samping organisasi keagamaan juga berkembang organisasi dan partai politik. Organisasi itu masih bersifat kedaerahan dan menentang kolonialisme. Organisasi itu memiliki tujuan untuk kebangsaan dan cinta tanah air. Pada kalangan pemuda berkembang bermacam-macam gerakan untuk membebaskan tanah air dari penjajahan. Tri Koro Dharmo, didirikan di Jakarta pada 7 Maret 1915. Organisasi itu didirikan di Gedung Kebangkitan Nasional dengan ketua dr. Satiman Wiryosanjoyo. Perkumpulan itu beranggotakan pemuda-pemuda Jawa. Dalam kongresnya di Solo organisasi itu berubah nama Jong Java. Kemudian pada 1920-an Jong Java mulai melaksanakan perubahan pandangan dari kedaerahan ke nasional. Setelah Sumpah Pemuda dia berfusi dalam Indonesia Moeda.

Pemuda Sumatera juga mendirikan persatuan pemuda Sumatera yang dikenal dengan Jong Sumatera Bond. Organisasi itu dirikan pada 1917, di Jakarta. Persatuan itu memiliki tujuan untuk memperkukuh hubungan antarpelajar yang berasal dari Sumatera. juga menumbuhkan kesadaran di antara anggotanya, dan membangkitkan kesenian Sumatera. Tokohnya adalah Moh. Hatta dan Moh. Yamin.

Perkumpulan yang lainnya dibentuk berdasar daerah yang ada, antara lain Jong Minahasa, Jong Celebes, dan Jong Ambon. Perkumpulan ini kemudian berfusi dalam Indonesia Muda. Di samping itu juga muncul Perhimpunan Pelajar-Pelajar Indonesia (PPPI), pada 1925, oleh mahasiswa Jakarta dan Bandung. Tujuan PPPI adalah kemerdekaan tanah air Indonesia Raya. Organisasi bersifat anti-imperialisme. Di Bandung pada tahun 1927, berdiri Jong Indonesia. Berbeda dengan organisasi-organisasi pemuda sebelumnya, organisasi ini sudah bersifat nasional. Organisasi itu lalu berganti nama Pemuda Indonesia dan organisasi wanitanya bernama Putri Indonesia.

Pada tahun 1926, diadakanlah Kongres Pemuda Indonesia I di Jakarta yang dihadiri oleh organisasi-organisasi pemuda yang masih bersifat kedaerahan itu. Meskipun dalam Kongres I itu belum menghasilkan keputusan penting, namun setidaknya benih-benih kebangsaan dan nasionalisme sudah ditanamkan pada saat itu.

4. Organisasi Wanita

Organisasi wanita yang berkembang sebelum tahun 1920, lebih menekankan pada perbaikan status sosial di dalam keluarga. Organisasi itu juga menekankan pada pentingnya pendidikan dan masih bersifat kedaerahan. Pada tahun 1912, berdiri organisasi Putri Mardika di Jakarta. Organisasi itu memiliki tujuan untuk menolong bimbingan dan penerangan pada gadis bumiputera dalam menuntut pelajaran dan mengemukakan pendapat dimuka umum, serta memperbaiki hidup wanita sebagai manusia yang mulia. Berbagai aktivitas dilakukan organisasi itu, terutama memberikan beasiswa untuk menunjang pendidikan dan menerbitkan majalah wanita Putri Mardika. Beberapa tokoh yang pernah duduk dalam kepengurusan Putri Mardika, yaitu Sabaruddin, R.A Sutinah, Joyo Pranoto, Rr. Rukmini, dan Sadikun Tondokusumo.

Kartini Fonds, didirikan atas usaha Ny. C. Th. Van Deventer, seorang penasehat Politik Etis. Perkumpulan itu didirikan pada 1912 dengan tujuan untuk mendirikan sekolah Kartini. Pada tahun 1913- 1915 berdiri berbagai organisasi wanita, terutama di Jawa dan Minangkabau. Fokus perhatian mereka adalah mendobrak semua tradisi yang mengungkung wanita dan keinginan memajukan mereka. Corak pergerakan wanita pada mulanya untuk berbaikan kedudukan dalam kehidupan berumah tangga dengan memperbaiki pendidikan dan mempertinggi kecakapan wanita. Sebagai contoh pada tahun 1913 berdiri Kautamaan Istri di Tasikmalaya yang bertujuan mendirikan sekolah anak-anak remaja putri, sekolah perempuan di Cianjur (1916), Ciamis (1916), Sumedang (1916), dan Cicurug (1918). Selanjutnya juga berdiri sekolah-sekolah Kartini di Jakarta (1913), Madiun (1914), Malang dan Cirebon (1916), Pekalongan (1917), dan kota-kota lain. Sementara itu, di Sumatera Barat didirikan Kerajinan Amai Setia (KAS), yang diketua Rohana Kudus. Organisasi itu memiliki tujuan untuk meningkatkan derajat wanita dengan belajar membaca dan menulis, baik huruf Arab maupun Latin. Juga belajar membuat kerajinan tangan, mengatur rumah tangga, dan pada 1914 Kerajinan Amai Setia itu berhasil mendirikan sekolah perempuan pertama di Sumatera Barat.

Munculnya organisasi-organisasi wanita di bermacam-macam daerah itu mendorong pergerakan wanita untuk lebih berperan untuk meningkatkan kesejahteraan kaum perempuan. Organisasi itu pun tumbuh semakin banyak. Di Jawa misalnya terbentuk Pawiyatan Wanito di Magelang (1915), Wanita Susilo di Pemalang (1918), Wanito Rukun Santoso di Malang, Putri Budi Sejati di Surabaya (1919). Organisasi-organisasi lainnya pun merasa perlu untuk membentuk organisasi wanita sebagai bagiannya, seperti SI yang kemudian mendirikan Sarekat Siti Fatimah di Garut (1918). Organisasi dan partai lalu memberikan perhatian yang besar pada organisasi wanita.

Mereka berpandangan, bahwa melalui organisasi wanita itulah peran pertama sebagai pendidikan anak-anak dapat dilakukan. Dengan demikian cita-cita perjuangan dan kemerdekaan disampaikan sejak dini pada anak- anak.

Seiring meningkatnya pendidikan pada kaum perempuan, semakin meningkat pula perkumpulan-perkumpulan wanita. Mereka tidak saja bergerak dalam bidang pendidikan, tetapi juga di bidang sosial. Perkumpulan kaum wanita ini juga lahir sebagai organisasi wanita dari organisasi-organisasi pergerakan yang sudah ada. Organisasi yang dimaksud misalnya ‘Aisyiah. Sejak itu, saat K.H. Ahmad Dahlan mendirikan dan mengembangkan organisasi Muhammadiyah, juga mendorong dan memberikan pertolongan pada kaum wanita Muhammadiyah untuk mendalami dan mengamalkan ajaran agama Islam. Pada tahun 1914, wanita Muhammadiyah bergabung dalam organisasi Sopo Tresno, yang lalu berganti nama menjadi Aisyiah, dengan Nyai Dahlan sebagai ketuanya. Organisasi itu berkembang dengan jumlah anggota mencapai 5000 orang dan memiliki 47 cabang dengan 50 kring. Aisyiah mempunyai sekolah perempuan sebanyak 32 sekolahan dengan 75 guru.

Selanjutnya muncul bermacam-macam organisasi wanita di bermacam-macam tempat. Tahun 1920 di Gorontalo berdiri organisasi Gorontalosche Muhammedaansche Vrouwen Vereninging. Pada tahun itu juga Sarekat Kaum Ibu Sumatera di Bukittinggi mendirikan Nahdatul Fa’at di Sumatera Barat. Wanita Utama (1921) dan Wanita Khatolik (1924) didirikan di Yogyakarta. Sarekat Ambon mendirikan INA TUNI (1927) di Ambon, Wanita Taman Siswa (1922), Jong Islamieten Bond Dames Afdeeling (1925), dan Putri Indonesia (1927). Di Manado berdiri organisasi Puteri Setia (1928), Wanita Perti bagian dari Persatuan Tarbiyah Islamiyah, dan Mameskransje Help Elkander (Sahati) di Jakarta.

5. Partai Komunis Indonesia

Dalam kongres nasional SI yang pertama penggabungan prinsip Islam dan sosialisme dibicarakan. Sosialisme dilihat sebagai simbol modern yang berlawanan dengan imperialisme. Suatu paham yang dilihat dapat membawa keadilan sosial, kemakmuran, dan kemerdekaan bangsa terjajah. Sementara itu di Belanda, Sneevliet, Brandstrder, dan Dekker mendirikan ISDV. Mereka berusaha mencari kontak dengan IP dan SI untuk mendekati rakyat tetapi tidak berhasil.

Untuk mendapatkan pengaruh yang luas di kalangan masyarakat Indonesia, Sneevliet berusaha memasukkan ajaran-ajaran komunis kepada masyarakat. Pilihan Sneevliet agar dapat menguasai masyarakat yaitu melalui organisasi yang memiliki wibawa dan pengaruh yang luas, maka dipilihlah SI. Pada waktu itu SI adalah organisasi dengan pengaruh yang cukup kuat di kalangan penduduk bumiputera. Anggotanya adalah kalangan pemuda dan berpikiran radikal. Pengikut ISDV lalu membentuk fraksi dalam tubuh SI.

Cepatnya pengaruh komunis di Indonesia mencerminkan buruknya perekonomian dan hubungan antara gerakan politik dan pemerintah Belanda. Radikalisme kaum komunis menyebabkan pemerintah Belanda mengusir kaum komunis Belanda untuk pergi dari Indonesia. Dengan kepergian kaum komunis itu maka terjadilah pergantian pimpinan. Tahun 1920 organisasi itu lalu berganti nama Partai Komunis Hindia dan tahun 1924 berganti menjadi Partai Komunis Indonesia (PKI). Komunisme mudah menarik untuk kaum terjajah, sebab mereka beranggapan segara terbebas dari penjajah. Itulah sebabnya komunisme dapat dengan cepat menyebarkan pengaruhnya ke masyarakat Indonesia. Pada saat bersamaan pemerintah Belanda mengadakan penangkapan pada orang PKI yang mengadakan aksi politik. Semaun dan Darsono melarikan diri ke Rusia. Kedudukan pimpinan PKI digantikan oleh Tan Malaka. Karena keterlibatan SI dan PKI dalam pemogokan besar-besaran pada tahun 1922, maka Tan Malaka dan Abdul Muis ditangkap dan diasingkan. PKI selanjutnya bergabung dengan Comintern (Communist International).

SI lalu terpecah menjadi SI Putih dan SI Merah. SI Putih dibawah H. Agus Salim memutuskan hubungan dengan PKI. Meskipun prinsip persatuan dipegang teguh dalam menghadapi pemerintah, tetapi sebab kondisi sosio politik menguntungkan PKI bila terus diadakan kerjasama, maka Cokroaminoto pada tahun 1923 melakukan “disiplin partai”. Penerapan disiplin itu melarang anggota SI merangkap sebagai anggota PKI.

PKI memperoleh dukungan dari kalangan buruh. Sebagai akibat dari depresi ekonomi pada 1923, kaum buruh yang bergabung dalam Vereeninging voor Spoor en Tramwegpersoneel (VSTP) mendesak melaksanakan pemogokan untuk menuntut kenaikan upah. Pemogokan itu diikuti oleh buruh percetakan dan juru mudi di Semarang. Pemogokan di Semarang meluas hingga ke Surabaya. Akibat pemogokan itu pimpinan PKI Semaun dan Darsono diusir dari Indonesia. Pada tahun 1926-1927 pemimpin PKI melakukan pemberontakan, pimpinannya lalu dibuang ke Boven Digul. Tindakan itu adalah penyimpangan dari pola-pola kaum terpelajar, dengan semangat Kebangkitan Nasional.

6. Perhimpunan Indonesia: Manifesto Politik

Pada awal abad ke-20, para pelajar Hindia yang berada di Belanda mendirikan organisasi yang bernama Indische Vereniging (1908), yaitu perkumpulan Hindia, yang beranggotakan orang-orang Hindia, Cina dan Belanda. Organisasi itu didirikan oleh R.M Notosuroto, R. Panji Sostrokartono, dan R. Husein Jajadiningrat. Semula organisasi itu bergerak di bidang sosial dan kebudayaan sebagai ajang bertukar pikiran mengenai situasi tanah air. Organisasi itu juga menerbitkan majalah yang diberi nama Hindia Putera. Banyaknya pemuda-pemuda pelajar di tanah Hindia yang dibuang ke Belanda, semakin menggiatkan aktivitas perkumpulan itu. Dalam perkembangan selanjutnya perkumpulan itu mengedepankan masalah-masalah politik.

Jiwa kebangsaan yang semakin kuat diantara mahasiswa Hindia di Belanda mendorong mereka untuk mengganti nama Indische Vereninging menjadi Indonesische Vereeniging (1922). Selanjutnya perkumpulan itu berganti nama Indonesische Vereeniging (1925), dengan pimpinan Iwa Kusuma Sumatri, JB. Sitanala, Moh.Hatta, Sastramulyono, dan D. Mangunkusumo. Nama perhimpunannya diganti lagi menjadi “Perhimpunan Indonesia” (PI). Nama majalah terbitan mereka juga berganti nama Indonesia Merdeka. Itu semua adalah usaha baru dalam memberikan identitas nasioalis yang muncul di luar tanah air. Mereka juga membuat simbol-simbol baru, merah putih sebagai lambang mereka dan Pangeran Diponegoro sebagai tokoh perjuangan.

Perhimpoenan Indonesia semakin memperoleh simpatik dari para mahasiswa Indonesia di tanah Belanda. Jumlah keanggotaannya pun semakin bertambah banyak. Tahun 1926 jumlah anggota mencapai 38 orang. Di tanah Belanda itulah para mahasiswa itu menyerukan pada semua pemuda di Indonesia Hindia untuk bersatu padu dalam setiap gerakan-gerakan mereka. PI bersemboyan “ self reliance, not mendiancy”, yang berarti tidak meminta- minta dan menuntut-nuntut. Dalam Anggaran Dasarnya juga disebutkan, bahwa kemerdekaan Indonesia hanya diperoleh melalui aksi bersama, yaitu kekuatan serentak oleh seluruh rakyat Indonesia berdasar kekuatan sendiri. Kepentingan penjajah dan yang terjajah berlawanan dan tidak mungkin diadakan kerjasama (nonkoperasi). Bangsa Indonesia wajib mampu berdiri di atas kaki sendiri, tidak bergantung pada bangsa lain.

PI menjadi organisasi politik yang semakin disegani sebab pengaruh Moh. Hatta. Di bawah pimpinan Hatta, PI berkembang dengan pesat dan merangsang para mahasiswa yang ada di Belanda untuk terus memikirkan Sumber: Dengan Semangat Berkobar: Nasionalisme dan Gerakan Pemuda di Indonesia 1918-193, 2003. Nama Indonesia mulanya dikembangkan oleh Adolf Bastians ( sarjana Jerman) yang diambil dari Logan (sarjana Inggris). Namun yang dimaksud Bastians dengan konsep Indonesia, adalah Indonesia secara etnografi, bukan konsep Indonesia seperti saat ini. selanjutnya dalam rapat-rapat menjelang kemerdekaan pandangan etnografi dikalahkan oleh pandangan Ernest Renan mengenai nasion yang saat itu masih digunakan sebagai konsep bangsa dan wilayahnya.

Para pelajar dan mahasiswa Hindia di Belanda lalu menggunakan Indonesia sebagai identitas dirinya, tanah airnya, dan nasionnya, serta posisi politiknya. Karena itulah Organisasi IndischeVereeniging berganti nama ke Perhimpoenan Indonesia.

Hatta dalam memoarnya menuturkan,” ….Langkah pertama untuk memperkenalkan Tanah Air kita Indonesia di luar negeri dibuat dengan berhasil. Nama “INDONESIA” tidak perlu dimajukan dengan resolusi. Selama aku di sana dan setelah mendengar pidatoku pada pembukaan Kongres itu, semuanya menyebut Indonesia. orang-orang Belanda, yang pada pidato permulaan masih menyebut “Hindia Belanda”, kata itu tidak diulang mereka lagi, dalam perdebatan atau dalam pembicaraan lainnya. Dalam tulisan- tulisan mereka keluar, kepada kawan dan keterangan umum, mereka menyebut “INDONESIA”. Apalagi setelah bertukar pikiran dengan aku. Dalam pimpinan agenda Kongres, nama Indonesia sudah terekam, tidak dapat ditukar kembali dengan “Indes Neerlandises”.” kemerdekaan tanah airnya. Aktivitas politik PI tidak saja dilakukan di Belanda dan Indonesia, juga dilakukan secara internasional. Mahasiswa secara teratur melakukan diskusi dan melaksanakan kritik pada pemerintah Belanda. PI juga menuntut kemerdekaan Indonesia dengan segera.

Dengan demikian jelaslah bahwa Perhimpunan Indonesia merupakan manifesto politik pergerakan Indonesia. Karena Perhimpunan itu lahir di negeri asing yang saat itu menjadi penjajah tanah Hindia. Dari tempat penjajah itulah perkumpulan pemuda terpelajar itu berhasil mengobarkan semangat dan panji-panji kemerdekaan Indonesia. jelaslah bahwa para pemuda Indonesia tidak takut untuk membela dan berjuang untuk kemerdekaan tanah airnya dengan segala resikonya.

7. Taman Siswa 

Awalnya, Taman Siswa bernama Nationaal Onderwijs Instituut Taman Siswa (Institut Pendidikan Nasional Taman Siswa). Saat itu Taman Siswa hanya memiliki 20 siswa kelas Taman Indria. Namun, lalu Taman Siswa berkembang pesat dengan memiliki 52 cabang dengan siswa kurang lebih 65.000 siswa. Demi mempertahankan Taman Siswa, Ki Hajar Dewantara rela melelang beberapa barangnya untuk membayar pajak. Sebuah idealisme dan cita-cita memang wajib dibayar mahal. Azas Taman Siswa adalah “Ing Ngarsa Sung Tulada, Ing Madya Mangun Karsa, Tut Wuri Hkamuyani”. Artinya, “guru di depan harus memberi contoh atau teladan, di tengah wajib bisa menjalin kerjasama, dan di belakang harus memberi motivasi atau dorongan kepada para siswanya.” Azas ini masih relevan dan penting dalam dunia pendidikan. Taman Siswa mendobrak sistem pendidikan Barat dan pondok pesantren, dengan mengajukan sistem pendidikan nasional. Pendidikan nasional yang ditawarkan adalah pendidikan bercirikan kebudayaan asli Indonesia.

Taman Siswa mengalami banyak kendala dari pihak-pihak yang tidak mendukung. Pemerintah Kolonial Hindia Belanda mengeluarkan berbagai aturan untuk membatasi pergerakan Taman Siswa, seperti dikenai pajak rumah tangga dan Undang-Undang Ordonansi Sekolah Liar Tahun 1932 yakni larangan mengajar untuk guru-guru yang terlibat partai politik. Taman siswa mampu memberikan kontribusi yang luar biasa untuk masyarakat luas dengan pendidikan, Taman Siswa mampu menyediakan pendidikan untuk rakyat yang tidak mampu disediakan oleh pemerintah kolonial. Saat ini sekolah Taman Siswa masih berdiri dan tetap berperan untuk kemajuan pendidikan di Indonesia.

8. Organisasi Buruh

Perkumpulan Adhi Dharma yang didirikan oleh Suryopranoto (kakak Ki Hajar Dewantara) pada tahun 1915 berperan sebagai organisasi yang membela kepentingan kaum buruh, termasuk menolong para buruh yang dipecat untuk mendapat pekerjaan baru dan menolong keuangan mereka selama mencari pekerjaan.

Pada bulan Agustus 1918, Suryopranoto membentuk gerakan kaum buruh bernama Prawiro Pandojo ing Joedo atau Arbeidsleger (tentara buruh) yang adalah cabang dari Adhi Dharma. Organisasi ini didirikan sebagai akibat dari terjadinya aksi perlawanan kaum buruh pabrik gula di Padokan (sekarang pabrik gula Madukismo), Bantul, Yogyakarta.

Bulan November 1918, Suryopranoto mendeklarasikan berdirinya Personeel Fabriek Bond (PFB) yang beranggotakan buruh tetap, Perkumpulan Tani dan koperasi yang lalu lazim disebut sebagai Sarekat Tani dengan anggota kuli kenceng atau pemilik tanah yang disewa pabrik, serta Perserikatan Kaoem Boeroeh Oemoem (PKBO) yang beranggotakan buruh musiman. PFB didirikan untuk membela kepentingan kaum buruh yang terus mengalami penindasan. Bersama PFB, Suryopranoto memimpin banyak aksi mogok kerja untuk menuntut peningkatan kesejahteraan untuk kaum buruh. Pada tahun 1918 Adi Dharma menjadi bagian dari Sarekat Islam (SI), maka Personeel Fabriek Bond (PFB) yang terbentuk dalam tahun itu otomatis berada di bawah perlindungan Central Sarekat Islam (CSI).

Sepulang dari pembuangan penjara Sukamiskin, Suryopranoto dan Adhi Dharma turut berkiprah sebagai pengajar di Taman Siswa, lembaga pendidikan untuk kaum bumiputera yang didirikan oleh sang adik, Suwardi Suryaningrat, yang saat itu sudah berganti nama menjadi Ki Hajar Dewantara.

KESIMPULAN

  1. Pendidikan tidak saja dilihat sebagai perangkat menuju ke arah pembaruan masyarakat, peningkatan kecerdasan, dan perangkat bagi terbukanya mobilititas sosial tetapi juga mampu membangun ruh nasionalisme.
  2. Tumbuhnya ruh nasionalisme di kalangan kaum terpelajar, kaun terdidik, sudah mendorong berkembangnya semangat kebangsaan di berbagai kalangan dan kelompok masyarakat. Lahirlah kemudian berbagai bentuk organisasi pergerakan kebangsaan, sesuai dengan ideologi dan bidang yang diminati dan diyakini oleh para pendirinya. Lahirlah organisasi kebangsaan yang yang berpaham nasionalisme, kominisme, ada yang bergerak dalam bidang pendidikan, melalui bidang agama, ada organisasi kaum buruh, dan juga organisasi yang diembangkan oleh para pemuda dan juga perempuan.
  3. Pada mulanya perjuangan pergerakan organisasi kebangsaan itu bersifat kedaerahan atau kelompok, namun paham kebangsaan dan nasionalisme sudah terlihat dalam tujuan dan cita-cita organisasi itu sehingga sifat kebangsaannya semakin berkembang.
  4. Secara khusus terdapat organisasi pergerakan yang lahir di negeri Belanda (yang menjajah Indonesia) yakni Perhimpunan Indonesia yang sudah merintis dan mempopulerkan semangat persatuan dan kesatuan (kerja sama), kemandirian, tidak bekerja sama dengan penjajah untuk kemerdekaan.

LATIH UJI KOMPETENSI

  1. Buatlah notulen mengenai organisasi pemuda yang ada pada saat ini di daerahmu. Buatlah dalam bentuk esai lima hingga tujuh lembar kertas folio. Bagaimana latar belakang dibentuknya? Siapa penggagas berdirinya? Kapan dan dimana dirikannya? Apakah tujuan didirikan organisasi itu?
  2. Jelaskan secara empiris fakor-faktor apa saja yang menyebabkan lahirnya perjuangan pergerakan organisasi kebangsaan?
  3. Bandingkan bentuk dan strategi perjuangan rakyat Indonesia pada masa sebelum tahun 1908 dan sesudah tahun 1908. Bandingkan pula strategi perjuangan antarorganisasi kebangsaan sesudah tahun 1908 dalam menghadapi kekuasaan kolonial. Buatlah jawaban kalian dalam bentuk esai!
  4. Jelaskan menurut pendapat kamu, mengapa para pemuda dan mahasiswa Hindia di Belanda memilih Indonesia sebagai nama organisasi mereka?
Sumber : Sejarah Indonesia kelas XI, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI
Subscribe to receive free email updates:

Related Posts :

Foto Pandji RH CEO Forum

Pergerakan Nasional Bangsa Indonesia, Organisasi Politik

04 Januari 2011 05:15:27Diperbarui: 26 Juni 2015 09:59:11Dibaca : Komentar : Nilai :

Organisasi di Bidang Politik

  1. Indische Partij

Didirikan pada 25 Desember 1912 oleh E. F. E. Douwes Dekker yang kemudian dikenal dengan nama Danudirdja Setyabuddhi. Sebelumnya dia juga telah mendirikan organisasi lain yang didirikannya tahun 1898 yaitu Indische Bond sebagai organisasi kaum indo dan eropa di Indonesia. Ketika melihat adanya diskriminasi kepada kaum indo dan sistem kolonial yang hanya menyengsarakan kaum indo maka dia mendirikan sebuah Partij: Indische Partij sebagai alat perangnya. Selain itu juga dalam karangannya yang berjudul Het Tijdschrift dan De Express yang didalamnya terdapat propaganda mengenai bahaya dari praktek sistem kolonial terhadap kaum indo dan bumiputra.

Sebagai persiapan pendirian Indische Partij hal yang dilakukan Douwes Dekker adalah melakukan beberapa pertemuan dengan tokoh-tokoh besar dan lembaga lainnya yang mendukung perjuangannya seperti dokter Tjipto Mangunkusumo, Suwardi Suryaningrat, Abdul Muis, Redaktur surat kabar Tjahaya Timoer dan beberapa tokoh serta redaktur surat kabar lainya. Yang kesemuanya mendukung berdirinya Indische Partij sebagai organisasi pelopor gerakan revolusioner berdasarkan pada konsepsi nasional yang luas. Hal ini terjadi karena Budi Utomo dan Sarekat Islam belum mampu menunjukkan gerak revolusionernya.

Setelah itu pada tanggal 25 Desember 1912 berdirilah Indische Partij yang bertujuan untuk membangun patriotisme semua Indiers terhadap tanah air yang telah memberi lapangan kehidupan kepada mereka, agar mereka mendapat dorongan untuk bekerjasama atas dasar persamaan ketatanegaraan untuk memajukan tanah air Hindia dan untuk mempersiapkan kehidupan rakyat yang merdeka (E. F. E. Douwes Dekker, 1913:51-52).

Indische Partij berdiri sebagai suatu organisasi yang radikal dan merupakan partai politik pertama di Indonesia yang berdasarkan jiwa nasionalisme yang tinggi untuk mencapai kemerdekaan Indonesia sebagai national home bagi semua ketrurunan bumiputra, belanda, cina, arab, dan lain sebagainya, yang mengakui Hindia sebagai tanah air dan kebangsaanya. Inilah paham yang dahulu disebut Indisch Nationalisme yang pada hari kemudian menjadi paham dari Perhimpunan Indonesia dan PNI.

Pemerintah Hindia-Belanda akhirnya mengambil sikap tegas terhadap Indische Partij. Pada tanggal 4 Maret 1913 surat permohonan untuk mendapat pengakuan sebagai lembaga hokum ditolak oleh Gubernur Jenderal, dengan alasan bahwa Indische Partij merupakan partai yang berdasarkan politik dan mengancam keamanan publik. Selanjutnya pada tanggal 11 Maret 1913, audiensi yang diadakan oleh pihak pimpinan Indische Partij dengan Gubernur Jenderal dan diubahnya dua pasal dasar tetap saja tidak merubah keputusan pemerintah hindia-Belanda dan Indische Partij merupakan partai terlarang.

Pada saat peringatan ke-100 kemerdekaan Negeri Belanda dari penjajahan Perancis, di Bandung kemudian di bentuk suatu komite yang hendak bertujuan untuk mengirimkan telegram kepada Ratu Belanda yang isinya mengandung permintaan pencabutan pasal III R. R. (Reglement op het beleid der Regeering), dibentuknya majelis perwakilan rakyat sejati dan ketegasan adanya kebebasan berpendapat di daerah jajahan. Salah satu pemimpin dari komite ini adalah Suwardi Suryaningrat, menulis sebua risalah yang berjudul ” als ik een nederlander was …”, yang isinya merupakan sindiran tajam atas ketidak adilan di daerah jajahan.

Karena tindakan dari komite ini maka Douwes Dekker,dr. Tjipto Mangunkusumo, dan Suwardi Suryaningrat dibuang ke Belanda sebagai hukuman. Setelah kepergian ketiga tokoh tersebut maka perlahan tapi pasti akhirnya Indische Partij mulai menurun, yang pada akhirnya berganti nama menjadi Partai Insulinde. Azas yang digunakan adalah mendidik suatu nasionalisme Hindia dengan memperkuat cita-cita persatuan bangsa.

Namun karena pengaruh yang kuat dari Partai sarekat Islam banyak tokoh yang mulai berganti haluan dan membuat Partai Insulinde menjadi lemah. Sejak kedatangan Douwes Dekker pada tahun 1918 dari pembuangan ternyata tetap saja tidak membawa pengaruh yang signifikan, pada akhirnya tahun 1919 berganti nama lagi menjadi National Indische Partij akan tetapi tidak memiliki pengaruh yang kuat yang kemudian hanya menjadi wadah perkumpulan para pelajar saja.

  1. Perhimpunan Indonesia

Perhimpunan Indonesia didirikan oleh orang-orang Indonesia yang tinggal di belanda pada tahun 1908, semulai bernama Indische Vereeniging. Beberapa tokoh pendirinya adalah Sutan Kasayangan dan R. N. Noto Suroto. Tujuan dibentuknya adalah sebagai bentuk untuk memajukan kepeningan bersama yang berasal dari orang-orang Indonesia yang tinggal di Belanda serta hubungan dengan Indonesia. Awalnya semua kegiatan hanya bersifat organisasi sosial saja namun pada akhirnya setelah berakhirnya Perang Dunia I timbul rasa persatuan dan sikap anti kolonialisme dan imperialisme terhadap penjajah dari para tokoh Indische Vereeniging. Terlebih lagi sejak presiden Amerika Serikat Woodrow Wilson menyatakan bahwa setelah berakhirnya Perang Dunia I negara yang terjajah berhak untuk menentukan nasib dan kemerdekaan mereka sendiri.

Pada tahun 1922 berganti nama menjadi Indonesische Vereeneging dan pada tahun 1925 resmi memakai nama dalam bahasa Indonesia yaitu Perhimpunan Indonesia, dengan demiian maka sekarang bukan lagi organisasi sosial tetapi termasuk juga dalam bentuk partai politik. Azas yang dipakai adalah mengusahakan suatu pemerintahan untuk Indonesia yang bertanggung jawab hanya kepada rakyat Indonesia semata-mata, bahwa hal yang demikian itu hanya akan didapat dengan usaha orang Indonesia sendiri tanpa bantuan siapapun dan perpecahan harus dihindari gar segera terbentuk suatu bentuk yang diharapkan saat ini.

Sejak tahun 1923 Perhimpunan Indonesia aktif berjuang dalam segala bentuk upaya perjuangan kemerdekaan Indonesia apalagi setelah M. Hatta dan A. Subardjo bergabung bergabung dan pernah menjadi ketua, serta menyatakan diri keluar dari Indonessisch Verbond van Studeerenden karena sudah tidak memerlukan lagi peranan dari wadah perkumpulan ini. Pada tahun itu juga Perhimpunan Indonesia menerbitkan buku yamg berjudul Gedenkboek 1908-1923: Indonesische Vereeneging yang menggemparkan orang-orang Belanda. Kemudian mengganti nama majalahnya yang semula bernama Hindia Poetra menjadi Indonesia Merdeka pada tahun 1924.

Dalam dunia international Perhimpunan Indonesia juga turut aktif dalam hubungan kerja sama dengan organisasi lain di Asia-Afrika yang anti penjajahan. Pemerintah belanda mulai mengawasi kegiatan dari Perhimpunan Indonesia setelah M. Hatta menuntut kemerdekaan Indonesia dalam kongres ke-6 Liga Demokratie internasional di Paris bulan agustus 1926. Ditambah lagi dengan perjanjian rahasia dengan Semaun seorang tokoh dari PKI pada 5 Desember 1926 yang berisi tentang dukungan penuh dari PKI terhadap Perhimpunan Indonesia selama tetap konsekwen terhadap cita-cita kemerdekaan Indonesia.

Akhirnya pemerintah Belanda bertindak tegas menangkap dan memenjarakan keempat tokohnya yaitu: M. Hatta, Nazir Pamontjak, Abdulmadjiid djojoadinimgrat, dan Ali sastroamidjojo pada 10 juni 1927 atas tuduhan menghasut rakyat untuk memberontak kepada pemerintah Belanda. Namun pada persidangan di Den Haag pada 22 Maret 1928 dinyatakan bebas karena tidak terbukti bersalah.

  1. Partai Komunis Indonesia

Paham Marxisme datang ke Indonesia pada masa Perang Dunia I yang dimulai oleh H. J. F.M. Sneevliet yang merupakan seorang pemimpin buruh negeri Belanda dan anggota Sociaal democratische Arbeiderspartij (SDAP) atau Partai Buruh Sosial Demokrat. Semula ia hanya bekerja sebagai staf redaksi disebuah surat kabar Soerabajaasch Handeelslad kemudian pindah ke Semarang tahun 1913 menjadi sekretaris pada semarangse Handelsvereeneging. Baginya pindah ke semarang merupakan suatu keuntungan dimana disana terdapat Vereeneging van Spoor en Tramweg Personeel (VSTP) yaitu serikat buruh tertua di Indonesia dan menjadi ketuanya.

Pada 9 Mei 1914 bersama dengan J. A. Brandsteder, H. W. Dekker dan P. Begsma atas prakarsanya berdirilah Indische Sociaal-Democratische Vereeneging (ISDV) dan menerbitkan majalah Het Vrije Woord. Namun karena merasa organisasinya kurang diterima masyarakat akhirnya membentuk sekutu dengan Insulinde yang memiliki anggota lebih dari 6000 orang pada tahun 1917 tetpi kurang berhasil karena tujuan awal ISDV tidak tercapai. Salah satu usaha yang cukup berhasil adalah dengan infiltrasi yaitu menyusup kedalam tubuh sarekat Islam, caranya adalah anggota ISDV menjadi anggota SI dan menjadikan anggota SI menjadi ISDV. Selain itu dengan memanfaatkan efek dari panen padi yang jelek serta ketidak-puasan tehadap upah buruh yang dinilai kecil. Kemudian beberapa tokoh SI berhasil dipengaruhi seperti Semaun dan Darsono.

Dalam tubuh ISDV sendiri juga mnalami perpecahan karena ketidak cocokan dengan pemimpinnya dan akhirnya sebagian yang merasa tidak cocok keluar mengundurkan diri dan mendirikan SDAP cabang Hindia-Belanda yang kemudian menjadi Indische Sociaal-Democratische Partij (ISDP).

Kemudian pada saat kemenangan kaum Boljsyevik di Rusia disambut dengan penuh antusiasme dari ISDV dan pada 1917 mengorganisir demonstrasi. Darsono melalui surat kabar menyerukan pemberontakan dan mengibarkan bendera merah, sedangkan para partai moderat seperti Budi Utomo, Insulinde, ISDP, dan Si mendesak agar pemerintah elanda segera menggantikan Volksraad dengan perlemen pilihan rakyat. Melihat hal ini pemerintah mengambil sikap tegas dengan menangkap para demonstran serta membawa kepersidangan, Sneevliet diusir dari Hindia-Belanda dan Darsono dengan beberapa tokoh Indonesia ditangkap. Akhir tahun 1918 ISDV dinyatakan telah mati.

Ketika ISDP mempermaklumkan diri menjadi Partai Komunis Belanda (CPN), langkah tersebut juga di ambil oleh ISDV yang berganti menjadi Perserikatan Kommunist di Hindia. Kemudian pada bulan Desember 1920 berubah lagi menjadi Partai komunis Indonesia yang diketuai oleh Semaun.partai tetap memegang teguh prinsip internasionalis dan nasionalis sebagai musuh. PKI berafiliasi dengan komintren.

Pada 25 Oktober 1922 PKI semakin kuat dan berhasil mengimbangi SI-Tjokroaminoto dengan SI-Merah yang pada bulan Maret 1923 diputuskan mendirikan SI-Merah dimana ad SI-Putih. Dan mengubah nama SI-Merah menjadi Serekat Rakyat untuk membedakannya. Organisasi PKI bertambah kuat lagi setelah Darsono kembali lagi ke Indonesia untuk mendampingi Semaun, serta tokoh-tokoh seperti alimin yang memimpin SI-Merah dan Muso yang berasal dari PKI cabang Jakarta. Walaupun pada akhirnya SI-Merah dilebur menjadi satu akibat dari perpecahan ditubuh PKI sendiri.

Setelah berhasil menjadi partai terkuat PKI melakukan pemberontakan pada 13 November 1926, meskipun banyak tokoh yang tidak menyetujui pemberontakan terebut karena merasa PKI belum mampu. Dan akhirnya muncullah pemberontakan di Jakarta kemudian di Jawa Barat, Jawa tengah, dan Jawa Timur. Semua pemberontakan terebut dapat padamkan, selanjutnya para pemberontak ditangkap, dipenjara dan pembuangan ke Tanah Merah, Digul Atas, Irian Jaya. Dan sejak peristiwa tersebut pergerakan nasioanal Indonesia dibatasi ruang geraknya.

  1. Partai Nasional Indonesia

Setelah kegagalan PKI menjadi partai terlarang akibat pemberontakannya maka dirasakan perlu adanya wadah baru penyalur aspirasi rakyat. Gagasan pertama muncul dari Ir. Sukarno pada tahun 1925 mendirikan Algemeene Studie Club di Bandung. Landasan pergerakannya adalah Nasionalisme,Islamisme, dan Marxisme, yang dianggap dapat menjadi landasan pegaerakan nasional secara garis besar dan sebagai alat pemersatu pergerakan rakyat.

Pada 4 Juli 1927 diadakn rapat mengenai pendirian Perserikatan Nasional Indonesia yang dihadiri oleh Ir. Sukarno, Tjipto Mangunkusumo, Soedjadi, mr. IskaqTjokrohadisurjo, Mr. Budiarto dn Mr. Sunario (ketiganya tokoh dari perhimpunan Indonesia). Dalam rapat tersebut Tjipto Mangunkusumo tidak setuju, beliau lebih memilih meneruskan pergerakan dalam bentuk PKI yang baru.

Tujuan dari PNI adalah bekerja untuk kemerdekaan Indonesia yang dapat dicapai dengan azas percaya pada diri sendiri artinya memperbaiki keadaan politik, ekonomi, sosial dengan kekuatan dan kebiasaan sendiri antara lain dengan mendirikan sekolah, poliklinik, bank nasional, koperasi dll. Maka dari itu PNI tidak mau turut serta dalam kegiatan pemerintah.

Pada 17-18 Desember 1927 diadakan rapat yang dihadiri oleh PNI,Partai Sarekat Islam, Budi Utomo, Pasundan, Soematranenbond, Kaum Betawi, dan Indonesische Studieclub dan Algeemene Studiclub sepakat mendirikan suatu federasi yaitu Permufakatan Perhimpunan-Perhimpunan politik Kebangsaan Indonesia (PPPKI).

Pengaruh PNI dalam usaha mempersatukan seluruh kekuatan Indonesia tidak hanya dalam bentuk oganisasi politik tetapi juga melalui gerakan dari para pemuda Indonesia. Selanjutnya pada penutupan kongres pemuda Indonesia tanggal 28 Oktober 1928 diucapkannya sumpah pemuda dan mempersatukan diri dalam Indonesia Muda.

Setelah Kongres PNI pertama diadakan di Surabaya yang bertujuan untuk mengesahkan anggaran dasar, azas dan rencana kerja PNI serta menetapkan Ir. Sukarno sebagai ketua dan Mr. Sartono sebagai bendahara. Serta sebagai perkenalan lebih jauh terhadap masyarakat.

Ada dua macam langkah yang ditempuh oleh PNI untuk memperkuat diri dan pengaruhnya dalam masyarakat yaitu:

  1. Intern yaitu usaha terhadap lingkungan sendiri dengan mengadakan kursus, mendirikan sekolah, bank nasional dll.
  2. Ekstern yaitu usaha memperkuat opini publik terhadap tujuan PNI antara lain melalui rapat-rapat umum, surat kabar Banteng Priangan dan Persatuan Indonesia.

Pada 18-20 Mei 1929 diadakan kembali kongres PNI kedua di Jakarta, selain untuk memilih kembali pengurus juga membahas mengenai penyelesaian dibidang ekonomi/sosial dan juga politik. Hal yang menarik adalah mengenai wacana transmigrasi sebagai usaha mengatasi kemelaratan rakyat.

Propaganda dari PNI secara tidak langsung telah menjadi ancaman serius bagi pemerintah belanda sehingga harus diambil tindakan tegas. Seperti pelarangan anggota militer dan keamanan untuk menjadi anggota PNI. Pada saat muncul desas desus bahwa PNI akan melakukan pemberontakan maka pemerintah Belanda melakukan pengeledahan dimana-mana serta penangkapan terhadap Ir. Sukarno, R. Gatot Mangkoepraja, Makoen Soamadiredja dan Soepriadinata di Yogyakarta dan dibawa ke Bandung untuk dilakukan persidangan.

Akibat dari penangkapan Ir. Sukarno telah menjadi pukulan telak bagi PNI. Pada kongres luar biasa ke II diambil keputusan untuk membuberkan PNI untuk sementara waktu karena keadaan yang memaksa. Selanjutnya timbul perpecahan akibat dari pembubaran ini dan akhirnya masing-masing pihak mendirikan partai sendiri.

  1. Fraksi Nasional

Pembentukan Fraksi Nasional didalam Volksraad atas prakarsa M. Husni Tamrin ketua kaum Betawi dan juga anggoyta volksraad, karena beberapa factor pada saat itu seperti:

  1. Sikap pemerintah terhadap gerakan politik diluar Volksraad, terutam PNI.
  2. Anggapan dan perlakuan yang sam terhadap semua gerakan yang non maupun ko-operatif.
  3. Didirikannya Vaderlandsche Club (VC) tahun 1929 sebagai protes terhadap esthisch beleid Gubernur Jenderal de Graaf.

Fraksi ini berdiri pada 2 Januari 1930 yang beranggotakan 10 orang anggota volksraad. Tujuan yang diusung oleh Fraksi Naasional adalah menjamin kemerdekaan nasional dalam waktu yang sesingkat-singkatnya dengan jalan:

  1. Mengusahakan perubahan ketatanegaraan
  2. Menghapuskan perbedaan politik, ekonomi, dan intelektual sebagai antithesis kolonial.
  3. Mengusahakan keua hal tersebut dangan cara yang tidak melanggar hukum.

Terlandanya Indonesia terhadap malaise dan diangkatnya de Jonge seorang yang reaksioner sebagai Gubernur Jenderal membuat keadaan memburuk. De Jonge menjalankan pemerintahan dengan sikap yang keras dan kaku sehingga masa pemerintahannya adalah yang paling terburuk. Anggota fraksi Nasional dalm sidang Volksraad menuntut untuk mencabut segera peraturan mengenai pendidikan yang dinilai memberatkan dan tuntutan tersebut diterima dan peraturan dicabut. Dibawah tekanan politik Gubernur Jenderal Fraksi Nasional terpecah dan tidak dapat berbuat apa-apa lagi.

  1. Partai Indonesia Raya

Pada tahun 1935 berdiri Partai Indonesia Raya yng di singkat Parindra. Dalam perkembangannya Parindra berpendapat bahwa perjuangan konsentrasi nasional haruslah:

  1. Intern yaitu dapat menyadarkan dan menggerakkan rakyat untuk memperoleh suatu pemerintahan sendiri.
  2. Ekstern yaitu dapat menggugah pemerintah Belanda untuk menyadari cita-cita bangsa Indonesia dan kemudian menyerukan agar ada perubahan dalam pemerintahan ssi Indonesia

Dalam masa dari Parinda muncul Petisi Sutardjo yang berisi usulan pergantian tata negara agar lebih bersifat adil hal ini terjadi akibat kekecewaan rakyat terhadap Gubernur Jenderakl. Dalam petisi ini Parindra bersikap berbeda setelah hasil rapat pada 12 Desember 1937 dimana Parindra bersikap menolak karena sudah keluar dari tujuan dan cita-cita Parindra. Padahal sebelumnya pada bulan November 1936, Parindra menyerukan kaum pergerakan juga ikut mendukung petisi tersebut.

  1. Gabungan Politik Indonesia

Suatu gagasan muncul tahun 1939 untuk membina kembali kerjasama diantara partai-partai politik di Indonesia. Oleh karena pembentukannya mengalami hambatan maka parindra mengambil kebijakan mempercepat terbentuknya federasi nasional dengan alasan:

  1. Kegagalan petisi sutardjo
  2. Kepentingan internatioanal akibat dari fasisme
  3. Sikap pemerintah yang tidak memperhatikan kepentingan Indonesia.

Pada 21 Mei 1939 dibentuklah Gabungan Partai Politik Indonesia yang merupakan bentuk kerjasama dari tiap-tiap partai politik. M. Husni Tamrin, Mr. Amir Syarifudin, Abikusno Tjokrosuyoso tampil sebagai pemimpin dari GAPI. Azas yang diterapkan adalah:

  1. Hak menentukaan diri sendiri.
  2. Persatuan national dari seluruh bangsa Indonesia.
  3. Persatuan aksi seluruh pergerakan Indonesia.

Dalam usaha perjuangannya GAPI menyerukan agar perjuangan GAPI disokong oleh semua lapisan masyarakat dan rakyat Indonesia. Ternyata seruan tersebut mendapat respon yang baik dari masyarakat dan mendukung sepenuhnya kebijakan dan perjuangan dari GAPI. Namun ketika terjadi Perang Dunia II keadaan bertambah parah di Indonesia, pemerintah memperketat perizinan pelakanaan rapat-rapat partai serta untuk rakyat indonesiamemberlakukan sistem wajib militer.

DAFTAR PUSTAKA

Djoened Poesponegoro, Marwati dan Ngroho Notosusanto.1984.”Sejarah Nasional Indonesia V”. Jakarta: Balai Pustaka

Onghokham.1989.”Runtuhnya Hindia Belanda”. Jakarta: Gramedia

Pane, Sanusi.1956.”Sedjarah Indonesia II”.Jakarta: Balai Pustaka

Tim-7 Sumpah Pemuda 2008

ORGANISASI PERGERAKAN NASIONAL : SARANA PERJUANGAN MELAWAN KOLONIALISME DI INDONESIA

Selasa, 11 November 2014

ORGANISASI PERGERAKAN NASIONAL : SARANA PERJUANGAN MELAWAN KOLONIALISME DI INDONESIA Oleh ERMAN WADISON, S.Hum (Ketua Umum HMI Cabang Pesisir Selatan)

 

ORGANISASI PERGERAKAN NASIONAL : SARANA PERJUANGAN MELAWAN KOLONIALISME DI INDONESIA

  1. Karakteristik Perjuangan Indonesia Melawan Kolonialisme Setelah Tahun 1908
  • Dipimpin dan digerakkan oleh kaum terpelajar

Salah satu kebijakan pemerintah kolonial yang pernah dilakukan di negri kita adalah pelaksanaan politik etis atau politik balas budi yang dicetuskan oleh Conrad Theodore Van Deventer dengan triloginya, yaitu :

  1. irigasi
  2. imigrasi
  3. edukasi

Dalam pelaksanaan politik etis bidang pendidikan dilaksanakan bukan untuk kepentingan mencedrdaskan kehidupan bangsa Indonesia, melainkan untuk memenuhi kebutuhan akan tenaga tenaga terdidik untuk dipekerjakan dibidang administrasi murahan. Dengan banyak berdirinya sekolah sekolah untuk golongan pribumi, maka secara perlahan tapi pasti mulailah muncul bibit bibit kaum terpelajar di Indonesia yang makin lama makin banyak jumlahnya, hal ini merupakan salah satu dampak positif pelaksanaan politik etis. Karena dengan munculnya golongan terpelajar inilah yang nanti mejadi motor penggerak lahir dan tumbuhnya kesadaran nasiomal di Indonesia.

Tumbuhnya golongan terpelajar sebagai akibat dari perkembangan pendidikan baik yang bercorak barat maupun islam akhirnya membangkitkan suatu kekuatan baru dalam kehidupan bangsa Indonesia. Dari pendidikan yang mereka dapat itulah mereka akhirnya dapat menemukan kesalahan dalam perjuangan bangsanya dalam mengusir penjajah, yaitu :

  1. tidak adanya ikatan persatuan dan kesatuan dalam mengusir penjajah, karena mereka berjuang untuk kepentingan daerahnya sendiri-sendiri.
  2. perjuangan yang dilakukan terlalu bergantung pada seorang pemimpin, tidak ada regenerasi
  3. perjuangan yang dilakukan tidak terorganissir dengan baik
  4. perjuangan yang dilakukan tidak memiliki tujuan yang jelas

Belajar dari kesalahan masa lampau, akhirnya timbullah kesadaran untuk membentuk orgasisasi perjuangan yang teratur agar tujuan perjuangan dapat segera terwujud.

Tumbuh dan berkembangnya kesadaran nasional Indonesia dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu :

  1. Faktor dari dalam negeri :
    1. lahirnya golongan terpelajar/cerdik pandai
    2. timbulnya perasaan senasib sepenanggungan akibat penjajahan
    3. timbulnya kesadaran pentingnya persatuan dan kesatuan
    4. timbulnya dorongan untuk mengembalikan kejayaan bangsa dimasa lalu, seperti dulu masa sriwijaya dan Majapahit
    5. Faktor dari Luar negeri :
    6. kemenangan Jepang atas Rusia tahun 1905, yang membangkitkan semangat bangsa Asia melawan bangsa Eropa
    7. Masuknya paham paham baru. misalnya paham demokrasi dan liberalisme
    8. Munculnya pergerakan nasional diberbagai negara di kawasan Asia.

Semua faktor yang tersebut diatas telah mendorong kaum terpelajar untuk berjuang mengusir penjajah. Mereka akhirnya menyadari bahwa perjuangan untuk memajukan dan memerdekakan bangsa Indonesia harus dilakukan dengan mempergunakan organisasi yang bersifat modern, baik pendidikan,perjuangan politik, perjuangan ekonomi maupun sosial budaya.

  • Perkembangan Pergerakan Nasional di Indonesia

Masa pergerakan nasional di Indonesia ditandai dengan berdirinya organisasi-organisasi pergerakan.Masa pergerakan nasional (1908 – 1942), dibagi dalam tiga tahap berikut :

  1. a)      Masa pembentukan (1908 – 1920) berdiri organisasi seperti Budi Utomo, Sarekat      Islam,      dan Indische       Partij.
  2. b)      Masa radikal/nonkooperasi (1920 – 1930), berdiri organisasi seperti Partai Komunis Indonesia (PKI), Perhimpunan Indonesia (PI), dan Partai Nasional Indonesia (PNI).
  3. c)      Masa moderat/kooperasi (1930 – 1942), berdiri organisasi seperti Parindra, Partindo, dan Gapi. Di samping itu juga berdiri organisasi keagamaan, organisasi pemuda, dan organisasi perempuan.

1). Organisasi yang berdiri pada Masa pembentukan (1908 – 1920) adalah :

Ø  Budi   Utomo ( B U )

Organisasi ini berdiri pada tanggal 20 Mei1908, didirikan oleh beberapa mahasiswa STOVIA di Jakarta, antara lain Dr. Sutomo, Gunawan Mangunkusumo, Dr. Wahidin Sudirohusodo.

Budi Utomo didirikan dengan tujuan :

“Mencapai kemjuan dan derajat bangsa melalui pendidikan dan kebudayaan” Karena merupakan organisasi modern yang pertama kali lahir, maka Budi Utomo dipandang sebagai pelopor pergerakan nasional, oleh karena itu berdirinya budi Utomo tanggal 20 Mei oleh bangsa Indonesia dipeeringati sebagai “Hari Kebangkitan Nasional ”.

Ø  Sarekat Islam ( S I )

Pada awal berdirinya, organisasi ini bernama “Sarekat Dagang Islam”, didirikan oleh Haji Samanhudi pada tahun 1911 dengan tujuan :

  1. memajukan perdagangan Indonesia dibawah panji panji Islam
  2. mengadakan persaingan dengan pedagang pedagang China

Karena sifatnya yang merakyat dan pertumbuhannya yang amat pesat, maka atas usul HOS Cokroaminoto pada tahun 1912 Sarekat Dagang Islam namanya diubah menjadi “Sarekat Islam”. Organisasi Sarekat Islam memiliki tujuan :

  1. mengembangkan jiwa dagang
  2. membantu anggota yang mengalami kesulitan dalam berusaha
  3. memajukan pengajaran dan semua usaha yang mempercepat naiknya derajat rakyat
  4. memperbaiki pendapat pendapat yang keliru mengenai agama islam
  5. hidup menurut perintah agama islam

Sarekat Islam dalam waktu relative singkat berhasil menjadi organisasi masa terbesar di Indonesia saat itu dengan jumlah anggota 800.000 orang yang tersebar dalam 90 Sarekai Islam lokal diseluruh Indonesia. Untuk menghambat Sarekat Islam Belanda senantiasa memantai gerak langkah Sarekat Islam.

Dalam perkembangannya, akibat taktik infiltrasi yang dilakukan oleh Parat Komunis Indonesia (PKI), pada tahun 1917 Sarekat Islam pecah menjadi dua, yaitu :

  1. Sarekat Islam Putih (SI Putih), yaitu Sarekat Islam yang tetap nerlandaskan pada asas perjuangan semula, dipimpin oleh HOS Cokroaminoto, Abdul Muis dan H. Agus Salim.
  2. Sarekat Islam Merah (SI Merah), yaitu Sarekat Islam yang telah terpengaruh oleh paham komunis, dipimpin oleh Semaun, Darsono dan Alimin

Ø  Indische Partij ( I P )

Indische Partij berdiri pada tanggal 25 Desember 1912, oleh tokoh “Tiga Serangkai”, yaitu :

  1. Suwardi Suryaningrat (Kihajar Dewantara)
  2. Douwes Dekker (dr.Danudirja Setiabudi)
  3. dr.Tjipto Mangunkusumo

Tujuan dari Indische Partij adalah :

  1. menumbuhkan dan meningkatkan jiwa persatuan semua golongan
  2. memajukan tanah air dengan dilandasi jiwa nasional
  3. mempersiapkan kehidupan rakyat yang merdeka

Indische Partij dianggap sebagai “organiasi politik” yang pertama kali berdiri karena organisasi inilah yang pertama kali dengan tegas menyatakan cita citanya mencapai Indonesia merdeka.

Pada tanggal 11 Maret 1913 Indische Partij dinyatakan sebagai organisasi terlarang oleh pemerintah Belanda, karena dianggap membahayakan kepentingan penjajah dan juga karena Belanda merasa malu dengan sindiran Suwardi Suryaningrat yang tertuang dalam tulisan “ALS IKEENS NEDERLANDER WAS” yang berarti “ANDAIKAN AKU SEORANG BELANDA’. Ketiga tokoh tiga serangkai dijatuhi hukuman buang ke negri Belanda dan sejak itu Indische Partij mundur.

2). Organisasi yang berdiri pada masa radikal (non cooperation) adalah :

Ø  Perhimpunan   Indonesia ( P I )

Organisasi Perhimpunan Indonesia didirikan oleh para pemuda Indonesia yang sedang belajar di negri Belanda pada tahun 1908, semula bernama INDISCHE VERENIGING, tujuannya semula adalah “membantu kepentingan para pemuda dan pelajar Indonesia yang ada di negeri Belanda.” Pada tahun 1922 nama Indische Vereniging diubah menjadi “INDONESISCHE VERENIGING”, yang diikuti pula dengan perubahan tujuan organisasi menjadi bersifat politik yaitu “menuntut kemerdekaan bagi Indonesia”.

Pada tahun 1924 nama Indonesische Vereniging kembali mengalami perubahan menjadi “PERHIMPUNAN INDONESIA’ dengan tujuan “berjuang untuk memperoleh suatu pemerintahan di Indonesia yang hanya bertanggung jawab kepada rakyat Indonesia”.

Tokoh tokoh Perhimpunan Indonesia yang terkenal antara lain adalah :

  1. Drs. Moh Hatta
  2. Nazir Datuk Pamuncak
  3. Abdul Madjid Djoyoadiningrat
  4. Ali Sastroamijoyo
  5. Gunawan Mangunkusumo
  6. Iwa Kusuma Sumantri

Ø  Partai Komunis Indonesia ( P K I )

Pada awalnya Partai Komunis Indonesia bernama “INDISCHE SOCIAL DEMOCRATISHE VERENIGING’ ( ISDV ) , berdiri pada tanggal 9 Mei 1914. Pada tanggal 23 Mei 1920 namanya diubah menjadi PARTAI KOMUNIS HINDIA, dan baru pada bulan Desember 1920 namanya diubah lagi menjadi PARTAI KOMUNIS INDONESIA. Tokoh tokoh PKI antara lain adalah Semaun, Alimin dan Darsono.

Tujuan PKI adalah “melaksanakan garis politik yang ditetapkan komunisme internasional(komintern) dengan cara mengusir penjajah Belanda dan mendirikan Negara komunis Indonesia”. PKI dalam perjuangannya menggunakan taktik infiltrasi, yaitu dengan cara menyusup kedalam organisasi lain, diantaranya adalah kedalam tubuh Sarekat Islam, hingga akhirnya Sarekat Islam pecah menjadi dua.

Ø  Partai Nasional Indonesia ( P N I )

Partai Nasional Indonesia berdiri pada tanggal 4 Juli 1927 dikota Bandung. Tokoh tokoh PNI yang terkenal adalah Ir. Sukarno. Maskun, Supriadinata,dan Gatot Mangkupraja.

Tujuan PNI adalah “Mencapai Indonesoa merdeka yang dilakukan atas usaha sendiri”. Hasil hasil Pergerakan Partai Nasional Indonesia antara lain adalah

  1. Makin kuatnya kesadaran Nasional
  2. Membentuk Permufakatan Perhimpunan Politik Kebangsaan Indonesia (PPPKI)
  3. mendirikan kursus kursus, sekolah, bank. Koperasi dan rumah sakit
  4. bekerjasama dengan Perhimpunan Indonesia menggelorakan anti imperialis
  5. Ir. Sukarno memiliki pengaruh yang meluas dikalangan masyarakat.

3). Organisasi Yang Berdiri Pada Masa Moderat (Cooperativ) adalah :

Ø  Partai   Indonesia Raya (PARINDRA)

Parindra berdiri pada tanggal 26 Desember 1935 di kota Solo, Parindra merupakan fusi (gabungan) antara Budi Utomo dan Persatuan Bangsa Indonesia (PBI).

Tokoh tokoh Parindra adalah dr. Sutomo, Moh. Husni Tamrin, R Panji Suroso, R. Sukarji Wiryopranoto, Mr Susanto. Taktik dan asas perjuangannya adalah kooperatif.

Tujuan Parindra adalah “ Mencapai Rindonesia Raya” dengan jalan :

  1. memperkokoh persatuan dan kesatuam bangsa
  2. menjalankan aksi polotok untuk mencapai pemerintahan yang demokratis
  3. memajukan ekonomi dan sosial masyarakat Indonesia.

Ø  Gerakan Rakyat Indonesia ( GERINDO )

Gerindo berdiri pada tanggal 24 Mei 1937 di Jakarta.

Tujuan Gerindo adalah :

  1. mencapai Indonesia merdeka
  2. memperkokoh ekonomi Indonesia
  3. mengangkat kesejahteraan kaum buruh
  4. memberi bantuan bagi para pengangguran

Keanggotaan Gerindo terbuka untuk umum, dan menerima seluruh lapisan masyarakat baik itu orang pribumi, china, arab maupun Eropa.

Tokoh tokoh Gerindo yang terkenal adalah Drs. AK Ghani, Mr. Sartono, Mr.Muhammad Yamin, R Wilopo, Amir Syarifudin.

Ø  Gabungan Politik Indonesia (GAPI )

Gabungan politik Indonesia (GAPI) adalah organisasi yang berdiri dengan latar belakang penolakan “Petisi Sutarjo” oleh pemerintah Belanda. Petisi Sutarjo adalah petisi yang berisi tuntutan kepada pemerintah Belanda agar Indonesia diberi pemerintahan sendiri, alas an pemerintah Belanda menolak petisi tersebut adalah Indonesia belum tiba waktunya untuk memiliki pemerintahan sendiri.

GAPI berdiri tanggal 21 Mei 1939 di Jakarta dan merupakan fusi dari Parindra, Gerindo,Pasundan,Persatuan Minahasa, Partai Sarekat Islam Indonesia dan PNI baru. Tokoh tokoh GAPI yang terkenal adalah Moh.Husni Tamrin,Amir Syarifudin dan Abikusno.

Hal hal yang diperjuangkan GAPI antara lain adalah :

  1. memperjuangkan pemakaian bahasa Indonesia dalam sidang Volksraad
  2. penghapusan diskriminasi
  3. perubahan kata inlander menjadi orang Indonesia

4). Organisasi Keagamaan

Muhammadiyah adalah organisasi Islam modern yang didirikan di Yogyakarta pada tanggal 18 November 1912 oleh K.H. Ahmad Dahlan.Muhammadiyah berarti umat Muhammad atau pengikut Muhammad. Dengan nama ini memiliki harapan dapat mencontoh segala jejak perjuangan dan pengabdian Nabi Muhammad. Tujuan yang ingin dicapai adalah

  1. Memajukan pengajaran berdasarkan agama islam, dan
  2. Memupuk  keimanan dan ketaqwaan para anggotanya.

Dalam rangka mencapai tujuan itu, Muhammadiyah melakukan beberapa upaya berikut.

ü  Mendirikan sekolah-sekolah (bukan pondok pesantren) dengan pengajaran agama dan kurikulum yang modern.

ü  Mendirikan rumah sakit dengan nama Pusat Kesengsaraan Umum (PKU).

ü  Mendirikan rumah yatim piatu.

ü  Mendirikan perkumpulan kepanduan Hisbul Wathan.

Dalam perkembangannya, Muhammadiyah menghadapi tantangan dari golongan Islam konservatif. Mereka melihat Muhammadiyah begitu terbuka terhadap kebudayaan Barat sehingga khawatir kemurnian Islam akan dirusakkan. Oleh karena itu para ulama mendirikan Nahdlatul Ulama pada tahun 1926.Gerakan NU dipelopori oleh K.H. Hasyim Asy’ari. Gerakan Muhammadiyah banyak mendapat simpati termasuk pemerintah kolonial Belanda karena perjuangannya tidak bersifat konfrontatif(menentang).

Disamping Muhammadiyah, gerakan keagamaan lain yang memiliki andil bagi kemajuan bangsa antara lain, berikut ini

  1. Jong Islamienten Bond, berdiri tanggal 1 Januari 1925 di Jakarta.
  2. Nahdlatul Ulama (NU), berdiri pada tanggal 31 Januari 1926 di Surabaya, Jawa Timur
  3. Nahdlatul Wathan, berdiri tahun 1932 di Pacor, Lombok Timur.

5). Organisasi Pemuda dan Wanita

Perkumpulan pemuda yang pertama berdiri adalah Tri Koro Dharmo.Organisasi ini berdiri pada tanggal 7 Maret 1915 di Jakarta atas petunjuk Budi Utomo. Diprakarsai oleh dr. Satiman Wirjosandjojo, Kadarman, dan Sunardi. Mereka mufakat untuk mendirikan organisasi kepemudaan yang anggotanya berasal dari siswa sekolah menengah di Jawa dan Madura. Perkumpulan ini diberi nama Tri Koro Dharmo yang berarti tiga tujuan mulia (sakti, budhi, bakti).

Dalam perkembangannya, Tri Koro Dharmo membuka cabang di Surabaya. Dalam rangka mengefektifkan perjuangan, diterbitkan sebuah majalah yang juga diberi nama Tri Koro Dharmo.

Berikut ini tujuan Tri Koro Dharmo secara nyata dalam anggaran dasarnya.

  1. Ingin menghidupkan persatuan dan kesatuan, diantara pemuda jawa, sunda, Madura, Bali, dan Lombok
  2. Kerja sama dengan semua organisasi pemuda guna membentuk ke-Indonesia. Keanggotaannya terbatas pada para pemuda jawa, sunda, Madura, Bali, dan Lombok

Di samping gerakan para pemuda, kaum wanita juga tidak mau ketinggalan.Pergerakan wanita dipelopori oleh R.A.Kartini dari Jepara dengan mendirikan Sekolah Kartini. Perkumpulan wanita yang didirikan sebelum tahun 1920 antara lain Putri Mardika yang didirikan atas bantuan Budi Utomo. Perkumpulan ini bertujuan untuk memajukan pengajaran terhadap anak-anak perempuan mempertinggi sikap yang merdeka, dan melenyapkan tindakan malu-malu yang melampaui batas.

Perkumpulan Kautamaan Istri didirikan pada tahun 1913 di Tasikmalaya, lalu pada tahun 1916 di Sumedang, Cianjur, dan tahun 1917 di Ciamis, menyusul di Cicurug tahun 1918.Tokoh Kautamaan Istri yang terkenal adalah Raden Dewi Sartika, seorang pengajar Kautamaan Istri di tanah Pasundan. Di Yogyakarta pada tahun 1912 didirikan perkumpulan wanita yang benafaskan Islam dengan nama Sopa Tresna, yang kemudian pada tahun 1914 menjadi bagian wanita dari Muhammadiyah dengan nama Aisyah. Di Yogyakarta selain Aisyah juga ada perkumpulan wanita yang bernama Wanito Utomo, yang mulai memasukkan perempuan ke dalam kegiatan dasar pekerjaan ke arah emansipasi.Di samping R.A.Kartini dan Dewi Sartika, masih terdapat seorang tokoh wanita yaitu Ibu Maria Walanda Maramis dari Minahasa.

  1. Faktor Pendorong Lahirnya Pergerakan Nasional Indonesia

Tahun 1908 adalah titik permulaan bangkitnya kesadaran nasional. Pada tahun itu lahirlah organisasi pergerakan nasional yang pertama, yang kemudian disusul oleh organisasi-organisasi lainnya. Dengan demikian perjuangan bangsa Indonesia untuk mencapai kemerdekaan itu telah memasuki tahap baru, yang lain sifatnya dengan perjuangan masa sebelumnya.

Perasaan akan timbulnya nasionalisme bangsa Indonesia telah tumbuh sejak lama, bukan secara tiba-tiba. Nasionalisme tersebut masih bersifat kedaerahan, belum bersifat nasional.Nasionalisme yang bersifat menyeluruh dan meliputi semua wilayah Nusantara baru muncul sekitar awal abad XX.Lahirnya nasionalisme bangsa Indonesia didorong oleh dua faktor, baik faktor intern maupun faktor ekstern.

  1. Faktor Intern

1).       Sejarah Masa Lampau yang Gemilang Indonesia sebagai bangsa telah mengalami zaman nasional pada masa kebesaran Majapahit dan Sriwijaya. Kedua kerajaan tersebut, terutama Majapahit memainkan peranan sebagai negara nasional yang wilayahnya meliputi hampir seluruh Nusantara. Kebesaran ini membawa pikiran dan angan-angan bangsa Indonesia untuk senantiasa dapat menikmati kebesaran itu. Hal ini dapat menggugah perasaan nasionalisme golongan terpelajar pada dekade awal abad XX.

2).      Penderitaan Rakyat Akibat Penjajah. Bangsa Indonesia mengalami masa penjajahan yang panjang dan menyakitkan sejak masa Portugis. Politik devide et impera, monopoli perdagangan, sistem tanam paksa, dan kerja rodi merupakan bencana bagi rakyat Indonesia. Penderitaan itu menjadikan rakyat Indonesia muncul kesadaran nasionalnya dan mulai memahami perlunya menggalang persatuan. Atas prakarsa para kaum intelektual, persatuan itu dapat diwujudkan dalam bentuk perjuangan yang bersifat modern. Perjuangan tidak lagi menggunakan kekuatan senjata tetapi dengan menggunakan organisasi-organisasi pemuda.

3).   Pengaruh Perkembangan Pendidikan Barat di Indonesia. Perkembangan sistem pendidikan pada masa Hindia Belanda tidak dapat dipisahkan dari politik etis. Ini berarti bahwa terjadinya perubahan di negeri jajahan (Indonesia) banyak dipengaruhi oleh keadaan yang terjadi di negeri Belanda. Tekanan datang dari Partai Sosial Demokrat yang di dalamnya ada van Deventer. Pada tahun 1899, Mr. Courad Theodore van Deventer melancarkan kritikan-kritikan yang tajam terhadap pemerintah penjajahan Belanda. Kritikan itu ditulis dan dimuat dalam jurnal Belanda, de Gids dengan judul Een eereschuld yang berarti hutang budi atau hutang kehormatan. Dalam tulisan tersebut dijelaskan bahwa kekosongan kas negeri Belanda telah dapat diisi kembali berkat pengorbanan orang-orang Indonesia. Oleh karena itu, Belanda telah berhutang budi kepada rakyat Indonesia. Untuk itu harus dibayar dengan peningkatan kesejahteraan melalui gagasannya yang dikenal dengan Trilogi van Deventer.

4).  Pengaruh Perkembangan Pendidikan Islam di Indonesia. Perkembangan pendidikan di Indonesia juga banyak diwarnai oleh pendidikan yang dikelola umat Islam. Ada tiga macam jenis pendidikan Islam di Indonesia yaitu pendidikan di surau atau langgar, pesantren, dan madrasah. Walaupun dasar pendidikan dan pengajarannya berlandaskan ilmu pengetahuan agama Islam, mata pelajaran umum lainnya juga mulai disentuh. Usaha pemerintah kolonial Belanda untuk memecah belah dan Kristenisasi tidak mampu meruntuhkan moral dan iman para santri. Tokoh-tokoh pergerakan nasional dan pejuang muslim pun bermunculan dari lingkungan ini. Banyak dari mereka menjadi penggerak dan tulang punggung perjuangan kemerdekaan. Rakyat Indonesia yang mayoritas adalah kaum muslim ternyata merupakan salah satu unsur penting untuk menumbuhkan semangat nasionalisme Indonesia. Para pemimpin nasional yang bercorak Islam akan sangat mudah untuk memobilisasi kekuatan Islam dalam membangun kekuatan bangsa.

5)   Pengaruh Perkembangan Pendidikan Kebangsaan di Indonesia. Berkembangnya sistem pendidikan Barat melahirkan golongan terpelajar. Adanya diskriminasi dalam pendidikan kolonial dan tidak adanya kesempatan bagi penduduk pribumi untuk mengenyam pendidikan, mendorong kaum terpelajar untuk mendirikan sekolah untuk kaum pribumi. Sekolah ini juga dikenal sebagai sekolah kebangsaan sebab bertujuan untuk menanamkan rasa nasionalisme di kalangan rakyat dan mencetak generasi penerus yang terpelajar dan sadar akan nasib bangsanya. Selain itu sekolah tersebut terbuka bagi semua masyarakat pribumi dan tidak membedakan dari kalangan mana pun. Tokoh-tokoh pribumi yang mendirikan sekolah kebangsaan antara lain Ki Hajar Dewantara mendirikan Taman Siswa, Douwes Dekker mendirikan Ksatrian School, dan Moh. Syafei mendirikan perguruan Indonesische Nederlandsche School Kayu Tanam (INS Kayu Tanam).

6). Dominasi Ekonomi Kaum Cina di Indonesia. Kaum pedagang keturunan nonpribumi, khususnya kaum pedagang Cina semakin membuat kesal para pedagang pribumi. Puncak kekesalan kaum pedagang pribumi terjadi ketika keturunan Cina mendirikan perguruan sendiri yakni Tionghoa Hwee Kwan pada tahun 1901. Kekesalan tersebut diciptakan oleh Belanda untuk menimbulkan rasa iri hati rakyat Indonesia kepada keturunan Cina. Cina diberi kesempatan untuk menguasai bisnis eceran, pertokoan, dan menjadi kolektor pajak dari pemerintah Belanda. Akibatnya kaum Cina menjadi lebih agresif. Peristiwa itu membangkitkan persatuan yang kokoh di antara sesama pedagang pribumi untuk menghadapi secara bersama pengaruh dari pedagang Cina.

7).   Peranan Bahasa Melayu. Di samping mayoritas beragama Islam, bangsa Indonesia juga memiliki bahasa pergaulan umum (Lingua Franca) yakni bahasa Melayu. Dalam perkembangannya, bahasa Melayu berubah menjadi bahasa persatuan nasional Indonesia. Dengan posisi sebagai bahasa pergaulan, bahasa Melayu menjadi sarana penting untuk menyosialisasikan semangat kebangsaan dan nasionalisme ke seluruh pelosok Indonesia.\

8).   Istilah Indonesia sebagai Identitas Nasional. Istilah ‘Indonesia‘ berasal dari kata India (bahasa Latin untuk Hindia) dan kata nesos (bahasa Yunani untuk kepulauan), sehingga kata Indonesia berarti Kepulauan Hindia. Istilah Indonesia, Indonesisch dan Indonesier makin tersebar luas pemakaiannya setelah banyak dipakai oleh kalangan ilmuwan seperti G.R. Logan, Adolf Bastian, van Vollen Hoven, Snouck Hurgronje, dan lain-lain.\

  1. Faktor Ekstern

1).  Kemenangan Jepang atas Rusia. Selama ini sudah menjadi suatu anggapan umum jika keperkasaan Eropa (bangsa kulit putih) menjadi simbol superioritas atas bangsa-bangsa lain dari kelompok kulit berwarna. Hal itu ternyata bukan suatu kenyataan sejarah. Perjalanan sejarah dunia menunjukkan bahwa ketika pada tahun 1904-1905 terjadi peperangan antara Jepang melawan Rusia, ternyata yang keluar sebagai pemenang dalam peperangan itu adalah Jepang. Hal ini memberikan semangat juang terhadap para pelopor pergerakan nasional di Indonesia.

2). Partai Kongres India. Dalam melawan Inggris di India, kaum pergerakan nasional di India membentuk All India National Congress (Partai Kongres India), atas inisiatif seorang Inggris Allan Octavian Hume pada tahun 1885. Di bawah kepemimpinan Mahatma Gandhi, partai ini kemudian menetapkan garis perjuangan yang meliputi Swadesi, Ahimsa, Satyagraha, dan Hartal. Keempat ajaran Ghandi ini, terutama Satyagraha mengandung makna yang memberi banyak inspirasi terhadap perjuangan di Indonesia.

3). Filiphina dibawah Jose Rizal. Filipina merupakan jajahan Spanyol yang berlangsung sejak 1571 – 1898. Dalam perjalanan sejarah Filipina muncul sosok tokoh yang bernama Jose Rizal yang merintis pergerakan nasional dengan mendirikan Liga Filipina. Pada tahun 1892 Jose Rizal melakukan perlawanan bawah tanah terhadap penindasan Spanyol. Tujuan yang ingin dicapai adalah bagaimana membangkitkan nasionalisme Filipina dalam menghadapi penjajahan Spanyol. Dalam perjuangannya Jose Rizal dihukum mati pada tanggal 30 Desember 1896, setelah gagal dalam pemberontakan Katipunan. Sikap patriotisme dan nasionalisme yang ditunjukkan Jose Rizal membangkitkan semangat rela berkorban dan cinta tanah air bagi para cendekiawan di Indonesia.

4). Gerakan Nasionalisme Cina. Dinasti Manchu (Dinasti Ching) memerintah di Cina sejak tahun 1644 sampai 1912. Dinasti ini dianggap dinasti asing oleh bangsa Cina karena dinasti ini bukan keturunan bangsa Cina. Masuknya pengaruh Barat menyebabkan munculnya gerakan rakyat yang menuduh bahwa Dinasti Manchu sudah lemah dan bekerja sama dengan imperialis Barat. Oleh karena itu muncul gerakan rakyat Cina untuk menentang penguasa asing yaitu para imperialis Barat dan Dinansti Manchu yang juga dianggap penguasa asing. Munculnya gerakan nasionalisme Cina diawali dengan terjadinya pemberontakan Tai Ping (1850 – 1864) dan kemudian disusul oleh pemberontakan Boxer. Gerakan ini ternyata berimbas semangatnya di tanah air Indonesia.

5). Gerakan Turki Muda. Gerakan nasionalisme di Turki pada tahun 1908 dipimpin oleh Mustafa Kemal Pasha. Gerakannya dinamakan Gerakan Turki Muda. Ia menuntut adanya pembaruan dan modernisasi di segala sektor kehidupan masyarakatnya. Gerakan Turki Muda memberikan pengaruh politis bagi pergerakan bangsa Indonesia sebab mengarah pada pembaruan-pembaruan dan modernisasi.

 

 

18
Oct
16

Kenegarawanan : MOSI TIDAK PERCAYA AMANDEMEN UUD 2002

poster-gpa45

Suara Warga : MOSI TIDAK PERCAYA AMANDEMEN UUD 2002

Suara Warga :

MOSI TIDAK PERCAYA AMANDEMEN UUD 2002
Demi Keutuhan Kiprah Jatidiri Paripurna Nawa Pusaka Bangsa Indonesia sesuai pada
[ http://www.repelita.com/pusaka-bangsa-indonesia-jatidiri-paripurna/ ] maka ternyata UUD 1945 versi 1999, 2000, 2001, 2002 itu PALSU per a.l. paparan 7 Oktober 2016 oleh Advokat M Taufik Budiman SH seperti dimuat  [ www.jakarta45.wordpress.com ], sehingga Amandemen UUD 2002 itu sebenarnya tidak layak ditoleransi keberlanjutannya.

Tindak Pemalsuan ini jelas telah melibatkan Pelaku Utama Pemalsuan (PUP), Pihak-pihak Turut Pemalsuan (PTP) dan Kaum Pembiaran Kepalsuan (KPK).

Rakyat sebagai Turut jadi Obyek Pemalsuan jelas tidak bersedia dituduh telah/sedang/akan turut membiarkan terjadinya kejahatan Pemalsuan UUD 1945 demi keberadaan UUD 1999, 2000, 2001, 2002 termaksud.

Oleh sebab itu peringatan 71 tahun Revolusi jihad 22 Oktober 1945, yang kini didapuk sebagai Hari Santri Nasional adalah tepat jadi tonggak REVOLUSI JATIDIRI KONSTITUSI INDONESIA [http://www.repelita.com/resolusi-jatidiri-konstitusi-indonesia/ ] demi tegaknya Kehormatan Rakyat Republik Indonesia.

Untuk itu, penegasan MOSI TIDAK PERCAYA terhadap AMANDEMEN UUD 1999, 2000, 2001, 2002 (LNRI 11, 12, 13, 14 / 13 Pebruari 2006) ini perlu segera saja disosialisasikan mengingat Pembukaan UUD 1945 ternyata masih tetap terberkas di LNRI No 75/1959, sehingga berkas ke-4 Amandemen itu jelas terpisah dari Pembukaan UUD 1945. Fakta yuridis ini potensi merongrong keberdayaan Amandemen UUD 2002 sebagai konstitusi yang handal bagi pemenuhan cita amanat Pembukaan UUD 1945.

MOSI TIDAK PERCAYA ini adalah iktikad baik tambahan bagi aksi penguatan Rekomendasi GPA45 17 Oktober 2016 kepada Pimpinan MPRRI yang telah disampaikan melalui Sekretariat Jenderal MPRRI.

Jakarta, 18 Oktober 2016

Generasi Penerus Angkatan 45

1) Pandji R Hadinoto, Ketua DHD45 Jakarta
2) Darmawan, Ketua DHC45 JakSel
3) Letty Ismet D, Ketua DHC45 JakSel
4) Sunartri S Boedjoenagoro, Dewan Paripurna DHC45 JakSel
5) RA Berar Fathia, Presidium MKRRI
6) H Chalid Akbar, Dewan Paripurna DHC45 JakSel
7) Hari Setiawan, Ketua DHC45 JakSel
8) Kemal A Surianegara, Dewan Paripurna DHC45 JakSel
9) Hans Suta Widhya, Presidium MKRRI
10) Wiwik Maskat, Ketua DHC45 JakSel
11) Nanang RI Iskandar, KelBes Pejoang45
12) Raden Hazairin, Sekretaris Umum DHD45  Jakarta
13) Madiri T Sianipar, Fungsionaris DHD45 Jakarta
14) Ivan Ardiansyah, Fungsionaris DHD45 Jakarta
15) H Markoni Koto, Fungsionaris DHD45 Jakarta
16) Amril Sabara, Fungsionaris DHD45 Jakarta
17) Liberty Simbolon, Fungsionaris DHC45 JakSel

Publikator :

Presidium BPUPKI

Pandji R Hadinoto
Ka DHD45 Jakarta
Ka Majelis Kehormatan Rakyat
Republik Indonesia
Editor www.jakarta45.wordpress.com

kartunama GP45

FPP 45 Sampaikan Mosi tidak Percaya pada MPR

Kamis, 08 Agustus 2002 | 10:14 WIB
TEMPO Interaktif, Jakarta:Kelompok Front Pembela Proklamasi (FPP) 45 yang beranggotakan para purnawirawan TNI menyatakan penolakannya atas amandemen UUD 1945. Selain itu, mereka juga menyampaikan ketidakpercayaannya kepada MPR RI hasil Pemilu 1999 bila dalam sidang tahunan kali ini tidak mencabut seluruh amandemen UUD 1945 yang telah dilakukannya. Demikian disampaikan Sekjen FPP 45, Saiful Sulun –yang juga mantan Ketua MPR, kepada pimpinan Komisi A, di Gedung Nusantara V, komplek DPR/MPR, Kamis (8/8).

Dalam kesempatan itu, delegasi FPP 45 diterima oleh Amru Al Mutasyim, Wakil Ketua Komisi A dari Fraksi Kebangkitan Bangsa, dan didampingi oleh Julius Usman (Fraksi PDIP), Seto Haryanto (Fraksi PDKB), I Ketut Astawa (Fraksi TNI/Polri), Burhanuddin Aritonang (Fraksi Partai Golkar) dan Soetjipto (Fraksi Utusan Golongan), dan Yanuar Muin (Fraksi Utusan Daerah).

Di hadapan Mutasyim dan kawan-kawan, Sulun juga mengaku sedih karena kelompoknya sering disebut anti-demokrasi, anti-reformasi dan anti-amandemen karena sikapnya tersebut. “Kami tidak menentang. Hanya saja, amandemen ini sudah lepas dari makna Pembukaan UUD 45,” kata Sulun.

Lalu, ia menunjuk amandemen yang mengubah bentuk MPR, membentuk Dewan Perwakilan Daerah (DPD), pemilihan presiden langsung, dan penghapusa utusan golongan. Semua itu dinilai sebagai penyimpangan dari asas kebersamaan dan kekeluargaan sebagai nilai luhur demokrasi Indonesia. “Kalau dulu, presiden dipilih MPR sebagai perwujudan kedaulatan seluruh rakyat Indonesia. Sekarang, presiden hanya dipilih mayoritas rakyat saja,” kata Sulun, sambil menuding MPR telah diracuni paham liberal dan individualisme.

Berdasarkan pertimbangan itu, FPP 45 menyatakan mosi tidak percaya pada MPR, menuntut MPR untuk menghentikan semua kegiatan poitiknya, serta menganggap tidak ada amandemen I-IV. Sebagai solusinya, mereka minta kepada presiden untuk membentuk Komisi Konstitusi yang independen karena MPR dinilai tidak mampu menjalankan fungsinya. Sulun menegaskan, “Hasil kerja komisi ini baru disahkan MPR hasil Pemilu 2004. Sebab itu, sampai 2004, semua kehidupan tata negara didasarkan pada naskah asli UUD 1945.”

Menyinggung tentang praktik kehidupan tatanegara Indonesia di masa lalu, kalaupun ada yang salah, FPP 45 tegas-tegas menyatakan semua itu bukan karena faktor isi UUD 1945, tapi lebih pada manusia pelaksananya. “UUD 1945 belum pernah dilaksanakan secara murni dan konsekuen,” katanya.

Menanggapi pernyataan FPP 45, Al Mutasyim menyatakan bahwa amandemen yang dilakukan MPR tidak menyimpang dari Pembukaan UUD 45 dan Pancasila. Bahkan, dalam amandemen pasal 37 sudah disepakati bahwa bentuk NKRI tidak akan diubah. “Bahkan, saat ini kami sedang membahas dengan serius pembentukan Komisi Konstitusi sebagaimana tuntutan masyarakat,” katanya (Wahyu Dhiyatmika—Tempo News Room)

logo-mkrri

REKOM GENERASI PENERUS ANGKATAN 45


Kepada Yth
Pimpinan MPRRI
Gedung Nusantara III
Senayan, Jakarta Selatan

Perihal : SOMASI-3/16 September 2016 tentang Resolusi 4 Juli 2016 Refungsikan UUD 18 Agustus 1945 jo KepPres No 150/1959 LNRI 75/1959

MERDEKA !

Dengan Hormat,

Mempertimbangkan perihal diatas yang telah diserahkan a.l. atas nama Tim DHD45 Jakarta bersama Tim Advokasi Resolusi 4 Juli 2016 Bung Bambang Suroso SH, MH dan kawan2, serta realita bahwa Resolusi termaksud diatas kini belum juga kami terima jawaban resmi sebagaimana mestinya dari Pimpinan MPRRI, serta sekaligus demi Keutuhan Kiprah Jatidiri Paripurna Nawa Pusaka Bangsa Indonesia,
[ http://www.repelita.com/pusaka-bangsa-indonesia-jatidiri-paripurna/ via @RepelitaOnline ] maka kami mendesakkan rekomendasi ini kiranya Pimpinan MPRRI segera dapat menyikapi Resolusi 4 Juli 2016 termaksud diatas memperhatikan juga Tri Joang Generasi Penerus Angkatan 45 per Petisi Revolusi Kehormatan Rakyat Republik Indonesia tanggaal 14 Oktober 2016
[ http://www.petisionline.net/petisi_revolusi_kehormatan_rakyat_republik_indonesia ].

Besar harapan kami bahwa surat ini dapat kiranya diterima dengan baik sebagai pertanda keinginan kuat kami meningkatkan kepercayaan rakyat atas keseriusan MPRRI memahami situasi dan kondisi penting dan strategisnya Kembali Ke UUD 1945 Asli a.l. sesuai paparan 7 Oktober 2016 dari Advokat M Taufik Budiman SH seperti termuat di [ www.jakarta45.wordpress.com ].

Atas perhatian terhadap iktikad baik kami bagi NKRI Berjaya ini, tiada lain sebelum dan sesudahnya diucapkan terima kasih.

Tetap MERDEKA !

Jakarta, 17 Oktober 2016

Generasi Penerus Angkatan 45

1) Pandji R Hadinoto, Ketua DHD45 Jakarta
2) Darmawan, Ketua DHC45 JakSel
3) Letty Ismet D, Ketua DHC45 JakSel
4) Sunartri S Boedjoenagoro, Dewan Paripurna DHC45 JakSel
5) RA Berar Fathia, Presidium MKRRI
6) H Chalid Akbar, Dewan Paripurna DHC45 JakSel
7) Hari Setiawan, Ketua DHC45 JakSel
8) Kemal A Surianegara, Dewan Paripurna DHC45 JakSel
9) Hans Suta Widhya, Presidium MKRRI
10) Wiwik Maskat, Ketua DHC45 JakSel
11) Nanang RI Iskandar, KelBes Pejoang45
12) Raden Hazairin, Sekretaris Umum DHD45  Jakarta
13) Madiri T Sianipar, Fungsionaris DHD45 Jakarta
14) Ivan Ardiansyah, Fungsionaris DHD45 Jakarta
15) H Markoni Koto, Fungsionaris DHD45 Jakarta
16) Amril Sabara, Fungsionaris DHD45 Jakarta
17) Liberty Simbolon, Fungsionaris DHC45 JakSel

Publikator :

Presidium BPUPKI

Pandji R Hadinoto
Ka DHD45 Jakarta
Ka Majelis Kehormatan Rakyat
Republik Indonesia
Editor www.jakarta45.wordpress.com

Logo Bulat GPA45

 

Melanjutkan Reformasi Konstitusi

Kategori: Majalah Esquire Diterbitkan: Kamis, 22 April 2010 10:38 Ditulis oleh Administrator Dilihat: 1995

Majalah Esquire, Agustus 2007.

Melanjutkan Reformasi Konstitusi

Oleh Saldi Isra

Dosen Hukum Tata Negara dan

Direktur Pusat Studi Konstitusi (PUSaKO) Fakultas Hukum Universitas Andalas, Padang.

Bulan ini, tepatnya 10 Agustus 2007, lima tahun sudah hasil amandemen generasi pertama Undang-Undang Dasar 1945 (UUD 1945) dilaksanakan. Jika dibandingkan dengan naskah asli, UUD 1945 hasil perubahan generasi pertama (1999-2002) tersebut jauh lebih demokratis dibandingkan dengan sebelum perubahan.

Karena keberhasilan yang telah dicapai pada perubahan generasi pertama tersebut, dalam pidato penutupan Sidang Tahunan Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) 10 Agustus 2002, Ketua MPR Amien Rais mengatakan: “Reformasi konstitusi yang telah dilakukan merupakan suatu langkah besar dalam upaya menyempurnakan UUD 1945 menjadi konstitusi yang demokratis, konstitusi yang sesuai dengan semangat zaman, konstitusi yang mampu mewadahi dinamika bangsa dan perubahan zaman pada masa yang akan datang.

Namun demikian, jika hasil perubahan diletakkan dalam bingkai membangun penyelenggaraan negara menuju kehidupan yang lebih demokratis dan modern melalui mekanisme saling mengawasi dan saling imbang antaralembaga negara (checks and balances), hasil amandemen masih menyimpan sejumlah kelemahan. Bahkan, sejumlah kajian yang dilakukan setelah perubahan UUD 1945 termasuk hasil kajian yang dilakukan oleh komisi konstitusi (yang dibentuk MPR) menyimpulkan bahwa kelemahan yang ada potensial membuyarkan upaya membangun checks and balances.

Sejumlah kelemahan

Salah satu kelemahan mendasar hasil perubahan UUD 1945 terjadi dalam penataan lembaga perwakilan rakyat, yaitu hubungan antara Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) dan Dewan Perwakilan Daerah (DPD). Sejumlah hasil penelitian menunjukkan, hubungan antar-kamar dalam lembaga perwakilan rakyat tidak mungkin menciptakan pola hubungan dua kamar yang efektif.

Pasal 20A Ayat (1) UUD 1945 menyatakan, DPR memiliki fungsi legislasi, fungsi anggaran, dan pengawasa. Karena fungsi yang sama tidak diberikan kepada DPD, Pasal 20A Ayat (1) UUD 1945 memunculkan superioritas DPR terhadap DPD. Karena posisi yang tidak seimbang tersebut, dalam penataan lembaga perwakilan rakyat, hasil perubahan UUD 1945 hanya menempatkan DPD sebagai lembaga pelengkap penderita pelaksanaan fungsi legislasi, fungai anggaran, dan fungsi pengawasan. Artinya, dengan sejumlah demarkasi yang dihasilkan amandemen generasi pertama, DPD hadir sebagai pelengkap penderita dalam struktur lembaga perwakilan rakyat Indonesia.

Padahal, guna membangun checks and balances di lembaga perwakilan rakyat, pola hubungan seharusnya dibangun dalam kerangka sistem bukameral yang efektif. Secara teori, kalau salah satu kamar kedua (upper house, seperti DPD di Indonesia) tidak diberikan fungsi legislasi secara utuh seperti kamar lainnya, kamar kedua berhak untuk mengubah, mempertimbangkan, atau menolak rancangan undang-undang dari lower house (seperti DPR di Indonesia). Sekiranya hak itu juga tidak ada, upper hose diberi hak menunda pengesahan undang-undang yang disetujui lower house. Dalam pandangan Kevin Evans (2002), hak menunda pengesahan sering menjadi satu-satunya kekuatan jika upper house tidak mempunyai hak mengubah dan menolak rancangan undang-undang.

Dalam pandangan Jimly Asshiddiqie (1996), dengan adanya dua majelis di suatu negara dapat menguntungkan karena dapat menjamin semua produk legislatif dan tindakan-tindakan pengawasan dapat diperiksa dua kali (double check). Keunggulan sistem double check ini semakin terasa apabila upper house yang memeriksa dan merevisi suatu rancangan undang-undang memiliki keanggotaan yang komposisinya berbeda dari lower house. Bahkan, dari segi produktifitas, kemungkinan sistem dua kamar akan lebih produktif karena segala tugas dan wewenang dapat dilakukan oleh kedua kamar tanpa menunggu atau tergantung pada salah satu kamar saja.

Selain kelemahan di atas, hasil amandemen juga tidak sepenuhnya bisa keluar dari ketidakjelasan sistem pemerintahan. Sekalipun disepakati tetap mempertahankan dan memperkuat sistem pemerintahan presidensial, sejumlah pasal hasil amandemen masih memperlihatkan karakter sistem pemerintahan parlementer. Karakter tersebut dapat dilihat dalam keterlibatan presiden (pemerintah) dalam pembahasan rancangan undang-undang. Bahkan, sebuah rancangan undang-undang (bill) tidak akan pernah menjadi undang-undang jika tidak ada persetujuan bersama antara DPR dan presiden.

Tidak hanya dalam proses pembahasan tersebut, dengan kehadiran Pasal 20A Ayat (2) UUD 1945 menentukan bahwa dalam melaksanakan fungsi legislasi, anggaran, dan pengawasan, DPR mempunyai hak interpelasi, hak angket, dan hak menyatakan pendapat karakter parlementer makin kelihatan. Dalam pandangan Robert L. Maddex (1996), interpelasi merupakan the heart of the process of accountability in a parliamentary system of government. Muara penggunaan hak interpelasi, perdebatan diakhiri dengan suatu pemungutan suara dukungan (vote of confidence) atau mosi tidak percaya (vote of censure).

Ruang reformasi konstitusi

Kelemahan-kelemahan yang terdapat di lembaga perwakilan rakyat dan sistem pemerintahan di atas masih bisa ditambah dengan sejumlah kelemahan lainnya yang terdapat di ranah kekuasaan yudikatif, eksekutif dan lain-lain. Bahkan dari tampilan fisik saja, hasil amandemen muncul dengan pasal-pasal yang sulit dipahami sebagian kalangan yang tidak mengerti legal drafting. Artinya, perubahan pertama sampai dengan perubahan keempat amat memerlukan perubahan berikutnya (perubahan kelima).

Secara konstutusional, UUD 1945 memberi ruang kelanjutan reformasi konstutusi. Pasal 37 UUD 1945 menentukan, (1) usul perubahan pasal-pasal UUD dapat diagendakan dalam sidang MPR apabila diajukan oleh sekurang-kurangnya sepertiga dari jumlah anggota MPR, (2) setiap usul perubahan pasal-pasal UUD diajukan secara tertulis dan ditunjukkan dengan jelas bagian yang diusulkan untuk diubah beserta alasannya, (3) untuk mengubah pasal-pasal UUD, sidang MPR dihadiri oleh sekurang-kurangnya dua pertiga dari jumlah anggota MPR, dan (4) putusan untuk mengubah pasal-pasal UUD dilakukan dengan persetujuan sekurang-kurangnya lima puluh persen ditambah satu anggota dari seluruh anggota MPR.

Meski secara hukum ada ruang untuk melanjutkan perubahan UUD 1945, persyaratan kuorum yang ditentukan dalam Pasal 37 UUD 1945 harus dipenuhi. Misalnya untuk mengagendakan perubahan, sekurang-kurangnya sepertiga dari jumlah keseluruhan anggota MPR harus mengusulkan perubahan dimaksud. Berdasarkan persyaratan itu, secara kuantitatif, amandemen kelima baru dapat diagendakan kalau diusulkan oleh sekirang-kurangnya 226 (1/3 dari 678) anggota MPR.

Kemudian untuk mengubah pasal-pasal UUD, sidang MPR harus dihadiri oleh sekurang-kurangnya 2/3 dari jumlah anggota MPR. Artinya, untuk mengubah pasal-pasal, sidang MPR harus dihadiri oleh sekurang-kurangnya dua kali jumlah pengusul, yaitu dua pertiga dari keseluruhan anggota MPR atau sama dengan 452 orang. Setelah kuorum untuk mengubah terpenuhi, jumlah yang diperlukan untuk menyetujui perubahan lebih rendah yaitu “hanya” diperlukan dukungan 340 orang (1/2 dari 678 ditambah 1 orang) dari keseluruhan jumlah anggota MPR.

Melanjutkan reformasi konstitusi

Sekalipun sudah disadari sejak awal ada kelemahan hasil perubahan generasi pertama dan adanya ruang untuk melanjutkan reformasi konstitusi, langkah menuju kelanjutan reformasi konstitusi tidak semudah yang dibayangkan. Sampai sejauh ini DPD –didukung oleh sejumlah kekuatan politik di DPR– telah mengajukan usul kelanjutan perubahan kepada pimpinan MPR.

Dari segi jumlah, usul perubahan memang telah terpenuhi. Namun untuk mewjudkan perubahan, sidang MPR harus dihadiri oleh sekurang-kurangnya 452 orang (dua pertiga dari 678) anggota MPR. Dengan demikian, perjuangan sesungguhnya untuk melanjutkan reformasi konstitusi adalah perjuangan untuk mendapatkan dua pertiga dari semua anggota MPR. Apalagi, sebelum agenda sidang terjadi sejumlah kekuatan politik yang mendukung gagasan DPD menarik kembali (membatalkan) dukungan perubahan.

Dalam konteks jumlah dukungan yang terbatas tersebut, dukungan optimal dari Pimpinan MPR menjadi sebuah keniscayaan. Sekiranya Pimpinan MPR tidak memberikan dukungan maksimal, bisa jadi kuota 2/3 jumlah anggota MPR tidak akan terpenuhi. Oleh karena itu, dalam sebuah kesempatan saya pernah menyatakan bahwa pimpinan MPR yang berasal dari partai politik mesti mampu meyakinkan partai politik mereka masing-masing (Media Indonesia, 12/05-2007). Dalam hal ini, peran Ketua MPR Hidayat Nurwahid dan Wakil Ketua MPR AM Fatwa amat diperlukan. Konkretnya, kedua orang pimpinan MPR tersebut seharusnya mampu meyakinkan partai politik mereka masing-masing untuk mendukung kelanjutan perubahan konstitusi.

Di samping itu, sekadar mengingatkan kembali, diujung proses amandemen keempat (2002) MPR secara eksplisit mengakui ada kelemahan hasil perubahan UUD 1945. Karena kelemahan itu, MPR membentuk komisi konstitusi. Lalu, mengapa hasil perubahan yang sudah diakui punya kelemahan itu masih tetap dipertahankan? Karenanya, sebelum ada penilaian mendukung status quo, reformasi konstitusi harus dilanjutkan. Semoga…




Blog Stats

  • 3,060,795 hits

Recent Comments

Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Sejarah : Bangsa Lemuria, Lelu…
Ratu Adil - 666 on Sejarah : Bangsa Lemuria, Lelu…