15
Oct
18

Kenegarawanan : Nawacita & Nawa Politika Indonesia

Logo MABINDO

Suara Warga45

NAWACITA & NAWA POLITIKA INDONESIA

Mengemban *Penegakan Ketahanan Proklamasi Indonesia*

https://jakarta45.wordpress.com/2018/10/09/kenegarawanan-penegakan-ketahanan-proklamasi-indonesia/amp/

pemantapan promosi Indonesia alangkah bijak bilamana berdayakan dalil2 tatanilai keIndonesiaan sendiri seperti Indonesia Paru2 Dunia, Indonesia Lintas Kargo Dunia, Indonesia Dinamisator & Stabilisator Aspirasi Dunia dlsb, ketimbang merujuk dalil2 Globalis yang berkembang eksternal seperti di era digital ini,‎ berpenjuru Think Globally Act Locally.

Dalam kaitan pemantapan itulah maka NAWACITA 2014 juga perlu dikiprahkan berdampingan selalu dengan tatanilai yang berkembang internal seperti NAWA POLITIKA sebagaimana NAWA SUMPAH PEMUDA 2015 dan NAWA PUSAKA BANGSA INDONESIA 2004

Konstruksi pendampingan sistim NAWA POLITIKA itu dapat diwujudkan berkonstruksi nalar sebagai berikut

‎Sumbu Vertikal mewakili NAWACITA 2014

https://nasional.kompas.com/read/2014/05/21/0754454/.Nawa.Cita.9.Agenda.Prioritas.Jokowi-JK‎

Sumbu-1 Horizontal mewakili NAWA SUMPAH PEMUDA‎ 2015 berkandungan tatanilai sebagai berikut

Kami putra dan puteri Indonesia mengaku

1) bertumpah darah yang satu, tanah air Indonesia,

2) berbangsa yang satu, bangsa Indonesia,

3) berbahasa persatuan, bahasa Indonesia,

4) berideologi yang satu, Pancasila,

5) berkonstitusi yang satu, Undang Undang Dasar 1945,

6) bernegara yang satu, Negara Kesatuan Republik Indonesia,

7) berbendera persatuan bangsa, Bendera Merah Putih.

8) berbudaya kebangsaan yang satu, Bhinneka Tunggal Ika

9) berketahanan hidup yang satu, keseimbangan lingkungan hidup nasional dan global.

Sumbu-2 Horizontal mewakili NAWA PUSAKA BANGSA INDONESIA 2004 berkandungan tatanilai sebagai berikut

1) Sang Saka Bendera Merah Putih,
2) Sesanti Bhinneka Tunggal Ika 1350,
3) Sumpah Pemuda 1928,
4) Indonesia Raya 1928,
5) Pancasila 1945,
6) Proklamasi Indonesia Merdeka 17845,
7) Konstitusi UUD 18845,
8) Wawasan Nusantara 1957,
9) Jiwa Semangat Nilai2 45,

Majelis Anak Bangsa Indonesia (MABINDO) berharap bahwa sinkronisasi terbaik antara program NAWACITA terhadap tolok2 ukur NAWA POLITIKA dimaksud diatas dapat lebih meneguhkan pemantapan ke-Indonesiaan

Jakarta, 15 Oktober 2018

Salam Indonesia Jayaraya,

Pandji R Hadinoto
MABINDO
http://www.jakarta45.wordpress.com

Advertisements
14
Oct
18

Kenegarawanan : Politik Kebahagiaan Penduduk Indonesia

Logo MABINDO

Suara Warga45

POLITIK KEBAHAGIAAN PENDUDUK INDONESIA

Kepada Yth TimSes PEMILU INDONESIA 2019

Tema Utama Kampanye Pemilu Indonesia 2019 bijaknya adalah berkenaan dengan

*Penegakan Ketahanan Proklamasi Indonesia*
https://jakarta45.wordpress.com/2018/10/09/kenegarawanan-penegakan-ketahanan-proklamasi-indonesia/amp/

Menimbang‎ ‎*World Happiness Index, Indonesia*
https://countryeconomy.com/demography/world-happiness-index/indonesia

Mengingat *World Rule of Law Index 2017-2018 Indonesia*
https://today.line.me/id/article/Ini+Negara+Hukum+Terbaik+Dunia+Indonesia+Merosot+Dua+Tingkat-alvVjP

Memperhatikan *Indonesia 2018 Partly Free*
https://freedomhouse.org/report/freedom-world-2018-table-country-scores

Mencermati *Human Capital Index, Indonesia 2017*
https://jakartaglobe.id/economy/indonesias-rank-wefs-global-human-capital-index-improves/

Majelis Anak Bangsa Indonesia (MABINDO) berharap agar dengan tema utama Politik Indonesia Bahagia (PIB) diatas maka masyarakat pemilih menjadi bisa lebih jernih dalam menentukan penggunaan suaranya di Lembar-lembar pilihan PilPres dan PiLeg ‎di bilik suara.

Jakarta, 11 Oktober 2018

Salam Indonesia Bahagia,

Pandji R Hadinoto
MABINDO
http://www.jakarta45.wordpress.com

Kebahagiaan atau kegembiraan adalah suatu keadaan pikiran atau perasaan yang ditandai dengan kecukupan hingga kesenangan, cinta, kepuasan, kenikmatan, atau kegembiraan yang intens. Berbagai pendekatan filsafat, agama, psikologi, dan biologi telah dilakukan untuk mendefinisikan kebahagiaan dan menentukan sumbernya.

https://id.wikipedia.org/wiki/Kebahagiaan

https://www.kepogaul.com/inspirasi/kata-kata-tentang-kebahagiaan/

https://jagokata.com/kutipan/kata-kebahagiaan.html

https://www.dictio.id/t/apa-yang-dimaksud-dengan-kebahagiaan-atau-happiness/14954

https://www.hipwee.com/list/memahami-hakikat-bahagia-dengan-menjadi-sebab-bagi-kebahagiaan-orang-lain/

https://www.spiritualresearchfoundation.org/indonesian/latihan-spiritual/menemukan-kebahagiaan/

https://rumaysho.com/335-letak-kebahagiaan-adalah-di-hati.html

https://dalamislam.com/info-islami/bahagia-menurut-al-quran

https://www.lyceum.id/delapan-istilah-kebahagiaan-dalam-al-quran/

https://www.ngopibareng.id/timeline/tujuh-indikator-kebahagiaan-menurut-al-quran-3634700

http://tafsiralhayah.blogspot.com/2015/03/al-quran-dan-kebahagiaan.html

https://www.hidayatullah.com/kajian/oase-iman/read/2015/09/10/77792/10-konsep-kebahagiaan-dalam-surah-an-nasyr-1.html

https://www.gramedia.com/products/conf-hidup-bahagia-bersama-al-quran

https://muslim.or.id/457-resep-hidup-bahagia.html

https://www.isadanalquran.com/kesaksian/pencinta-al-quran-mendapat-keselamatan-dalam-injil-isa-al-masih/?gclid=CjwKCAjw0oveBRAmEiwAzf6_rG7Nf0V0rDrDQmYutAob72cW4IXuLMECAp1Qy3PUllpfD62zWx2ysxoCAQMQAvD_BwE

09
Oct
18

Kenegarawanan : Penegakan Ketahanan Proklamasi Indonesia

Logo MABINDO

Suara Warga45

PENEGAKAN KETAHANAN PROKLAMASI INDONESIA

Menilik *90 tahun* sejarah peran *Poetoesan Congres Pemoeda-Pemoeda Indonesia 28 Oktobert 1928*‎ yang turut serta mengantarkan *Proklamasi Indonesia Merdeka 17 Agustus 1945*, maka guna mengisi Indonesia Merdeka dan penuhi kebutuhan menghadapi Ancaman Hambatan Gangguan Tantangan kini dan esok, pada 14 Nopember 2015 sesungguhnyanya telah diteguhkan *Nawa Sumpah Pemuda* yang diyakini tepat manfaat dan relevan kini dan esok sebagai berikut :

Kami putra dan puteri Indonesia mengaku

1) bertumpah darah yang satu, tanah air Indonesia,

2) berbangsa yang satu, bangsa Indonesia,

3) berbahasa persatuan, bahasa Indonesia,

4) berideologi yang satu, Pancasila,

5) berkonstitusi yang satu, Undang Undang Dasar 1945,

6) bernegara yang satu, Negara Kesatuan Republik Indonesia,

7) berbendera persatuan bangsa, Bendera Merah Putih.

8) berbudaya kebangsaan yang satu, Bhinneka Tunggal Ika

9) berketahanan hidup yang satu, keseimbangan lingkungan hidup nasional dan global.

Menimbang‎. *Nawa Sumpah Pemuda 2015, Surabaya*
https://jakarta45.wordpress.com/2015/11/19/nawa-sumpah-pemuda-2015-surabaya/amp/

Mengingat *17 Doktrin Front Nasionalis45*
https://jakarta45.wordpress.com/2018/05/17/17-doktrin-front-nasionalis45/amp/

Memperhatikan *Politik Karakter Patriot Indonesia*
https://jakarta45.wordpress.com/2017/04/08/kenegarawanan-politik-karakter-patriot-indonesia/amp/

Mencermati *JATIDIRI INDONESIA MERDEKA 1945*
https://jakarta45.wordpress.com/2018/08/06/kenegarawanan-jatidiri-indonesia-merdeka-1945/amp/

Majelis Anak Bangsa Indonesia (MABINDO) berharap ikhwal diatas dapat diperlakukan sebagai *Penegakan Ketahanan Proklamasi Indonesia Merdeka 17 Agustus 1945* oleh para anak-anak bangsa Indonesia.

‎Jakarta, 7 Oktober 2018

Salam Indonesia Raya,

Pandji R Hadinoto
MABINDO
http://www.jakarta45.wordpress.com

09
Oct
18

Jatidiri : Pancasila Dari Majapahit Ke 1 Juni 1945

Logo Jakarta45

*PANCASILA: DARI PUNCAK KEJAYAAN MAJAPAHIT HINGGA PIDATO BUNG KARNO 1 JUNI 1945*
Oleh Dr Bambang Noorsena

Secara etimologis, kata “Pancasila” berasal dari bahasa Jawa kuno, yang sebelumnya diserap dari bahasa Sanskerta dan Pali, yang artinya “sendi dasar yang lima” atau “lima dasar yang kokoh”. Mula-mula kata “sila” dipakai sebagai dasar kesusilaan atau landasan moral Buddhisme, yang memuat lima larangan.

Sebagaimana disebutkan dalam Tipitaka, kelima sila itu dalam bahasa Pali adalah sebagai berikut:

1. _Pānātipātā veramani sikkhapadamsamādiyāmi_ (Aku melatih diri untuk menghindari pembunuhan);
2. _Adinnādānā veramani sikhapadam samādiyāmi_ (Aku bertekad melatih diri untuk tidak mengambil barang yang tidak diberikan);
3. _Kāmesu micchācāra veramani sikkhapadam samādiyāmi_ (Aku bertekad melatih diri untuk tidak melakukan perbuatan asusila);
4. _Musāvāda veramani sikhapadam samādiyāmi_ (Aku bertekad untuk melatih diri menghindari ucapan yang tidak benar, berdusta, atau memfitnah).
5. _Surāmeraya majjapamādatthān veramani sikkhapadam samādiyāmi_ (Aku bertekad untuk melatih diri menghindari segala minuman dan makanan yang dapat menyebabkan lemahnya kewaspadaan).

Dalam makna “lima dasar moral” yang harus dijatuhi tersebut, maka istilah Pancasila di negara kita sudah kita kenal sejak zaman Majapahit. Istilah ini dijumpai baik dalam karya Mpu Tantular dalam bukunya *”Kekawin Sutasoma”* (ditulis tahun 1384 M), maupun karya Mpu Prapanca yang ditulis sebelumnya dalam sastra pujanya yang berjudul *”Kekawin Negara Krtagama”* (ditulis tahun 1367 M).
Jadi, kedua pujangga itu hidup pada masa puncak kejayaan Majapahit, yang dikenal sebagai negara nasional ( _Nasionale Staat_ ) yang kedua, yaitu setelah kedatuan Sriwijaya dan sebelum Negara kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Dalam *Kekawin Sutasoma*, istilah Pancasila disebutkan 2 kali, yaitu dalam _seloka-seloka_ suci yang dalam bahasa Jawa kuno bunyinya:

*Bwat Bajrayana Pancasila ya gegen den teki hawya lupa!*
Artinya: “Bagi yang mengikuti vajrayana, Pancasila harus dipegang teguh, jangan sampai dilupakan” (Sutasoma 145:2).

Dalam _pupuh_ lain dari _Kekawin_ yang sama, Mpu Tantular mencatat pula:

*Astam sang catursrameka tarinen ring Pancasila Krama!*
Artinya: “Wajibkanlah kepada semua anggota catur asrama supaya Pancasila dijalankan secara teratur” *(Sutasoma 4:4).*

Selanjutnya, dalam *Kekawin Negara Krtagama*, kata Pancasila dijumpai dalam _seloka_ yang berbunyi:

*”Yatnagegwani Pancasila krtasangskara bhisekakrama”.*
Artinya: “Sang Raja selalu waspada dan teguh memegang Pancasila, berlaku mulia, dan menjalankan upacara agama” *(Negara Krtagama 43:2).*

*PANCASILA DIGAUNGKAN KEMBALI DALAM PIDATO BUNG KARNO, 1 JUNI 1945.*

Dalam pidatonya tanpa teks di depan sidang _Dokuritsu Zunbi Tyusakai_ (Badan Usaha Persiapan Kemerdekaan), Bung Karno menggaungkan kembali Pancasila sebagai nama dasar negara kita, untuk memenuhi pertanyaan Dr. KRT. Radjiman Wedyodiningrat, yaitu apa dasarnya Indonesia merdeka yang akan didirikan.

Menurut Bung Karno, yang diminta dr. Radjiman tidak lain adalah *_Welthanchauung_* atau *_Philosofische Gronslag_* (Dasar Filsafat) yang di atasnya Negara Indonesia merdeka akan didirikan. Dalam pidato yang akhirnya dikenal sebagai “Lahirnya Pantja-Sila” itu, Bung Karno mengusulkan dasar-dasar sebagai berikut:

1. Kebangsaan Indonesia
2. Internasionalisme atau Peri Kemanusiaan
3. Mufakat atau Demokrasi, dasar perwakilan, dasar permusyawaratan
4. Kesejahteraan Sosial
5. Ketuhanan Yang Maha Esa.

Istilah Pancasila diusulkan oleh Bung Karno dalam pidatonya yang bersejarah itu, pada tanggal 1 Juni 1945.

“Sekarang”, kata Bung Karno, “banyaknya prinsip: kebangsaan, internasionalisme, mufakat, kesejahteraan, dan ketuhanan, lima bilangannya. Namanya bukan Panca Dharma, tetapi saya namakan ini dengan petunjuk seorang teman kita ahli bahasa, namanya ialah Pancasila. Sila artinya asas atau dasar, dan di atas kelima dasar itulah kita mendirikan negara Indonesia, kekal dan abadi”, yang disambut dengan tepuk tangan riuh.

Setelah melalui proses perumusan ulang, pidato Lahirnya Pancasila, 1 Juni 1945 tersebut, kemudian dituangkan dalam Pembukaan UUD 1945, Alinea 4, yang lengkapnya berbunyi:

1. Ketuhanan yang Maha Esa.
2. Kemanusiaan yang adil dan beradab.
3. Persatuan Indonesia.
4. Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan.
5. Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

*MENGAPA MAJAPAHIT MENJADI SUMBER INSPIRASI, BUKAN BUGIS, BANTEN ATAU MATARAM?*

Dalam pidato “Lahirnja Pantja-Sila”, Bung Karno menekankan bahwa kita adanya dua kali mengalami _Nationale Staat_, yaitu di zaman Sriwijaya dan Majapahit. Selain kedua negara itu, kita tidak mengalami negara nasional. Bung Karno memberi contoh, Mataram, Pejajaran, Banten, dan Bugis adalah negara-negara berdaulat, negara-negara merdeka, tetapi bukan negara nasional.
Itulah sebabnya para pendiri bangsa, banyak terinspirasi oleh Majapahit. Dari Majapahit kita mengambilalih istilah Pancasila sebagai nama Dasar Negara, salam nasional kita “Merdeka”, dan Bhinneka Tunggal Ika sebagai “sesanti” dalam lambang negara kita.

Demak, Mataram, Bugis, Banten tidak pernah berhasil mempersatukan Nusantara, karena landasan dalam bina negara bukan sebuah “welthansauung” dari semua, oleh semua dan buat semua, melainkan berasas primordialitas agama tertentu. Terbukti bahwa sistem teokrasi atau negara agama, tidak pernah bisa mempersatukan Nusantara yang sangat majemuk.

Selanjutnya, sama-sama negara nasional yang wilayahnya bahkan lebih besar dari NKRI sekarang, mengapa para pendiri bangsa lebih terinspirasi oleh Majapahit, bukan Sriwijaya? Dasar negara kita, misalnya, namanya tidak diambil dari Sriwijaya? Saya pernah menyampaikan hal ini kepada Pak Taufiek Kiemas (almarhum), ketika empat pilar MPR pertama digagas, dan pada waktu itu saya sebagai salah satu narasumber. Faktanya, dokumentasi tertulis Sriwijaya tidak selengkap Majapahit, yang telah mengabadikan prinsip-prinsip kehidupan bina negara dalam sejumlah prasasti, lontar-lontar perundang-undangan, dan sejumlah besar karya sastra yang sampai sekarang masih dibaca dan terus dilestarikan di pulau Bali.

“Mungkin karena itu Ibu Mega sangat mencintai Bali, Pak”, kata saya dalam obrolan singkat, sebelum saya mempresentasikan makalah “Bhinneka Tunggal Ika: Sejarah, Filosofi dan Relevansinya”. Semua peninggalan sejarah itu tidak ada lagi di Jawa, tetapi justru diwariskan utuh-utuh kepada kita dari Pulau Dewata. Orang Jawa tidak lagi berbicara dalam bahasa Jawa kuno, tetapi di Bali bahasanya Mpu Tantular dan Mpu Prapanca ini masih dilestarikan dalam bentuk sastra kekawin.

Ada yang mengatakan bahwa “teman ahli bahasa” yang dimaksud Bung Karno dalam pidatonya itu Pak Yamin. Tetapi yang lain bilang Ida Bagus Sugriwa, salah seorang putra Bali yang turut dalam sidang-sidang menjelang kemerdekaan RI. Baik Profesor Yamin maupun Ida Bagus Sugriwa adalah dua orang yang agaknya berdiskusi dengan Bung Karno, yang disebut ya “seorang teman ahli bahasa”.

Meskipun Yamin adalah seorang putra Minang, namun sebagai ahli kebudayaan dan bahasa, dikenal sudah lama bersentuhan dengan segala hal yang berkenaan dengan kebesaran Majapahit. Konon, di sela-sela Sidang BPUPKI antara Mei-Juni 1945, Yamin yang mula-mula menyebut ungkapan “Bhinneka Tunggal Ika”, I Gusti Bagus Sugriwa yang duduk di sampingnya spontan melengkapi sambungan ungkapan itu “Tan hana dharma mangrwa” (Tidak ada kebenaran yang mendua).
Keakraban keduanya seperti tampak dalam penggalan catatan sejarah di atas, membuktikan bahwa kedua sahabat Bung Karno ini memang sangat mendalami karya-karya Jawa kuno. Lebih-lebih Ida Bagus Sugriwa, sebagai putra Bali dari Buleleng, menjadi saksi hidup bahwa di Bali istilah-istilah seperti Pancasila, Bhinneka Tunggal Ika, Mahardhika, dan sebagainya, adalah ungkapan-ungkapan yang masih hidup, dihayati, dan dilestarikan selama berabad-abad melalui sastra Kekawin. Bali adalah museum hidup Majapahit yang masih tegak berdiri sampai hari ini.

Selain naskah Leiden, sumber rujukan lontar Sutasoma yang banyak menginspirasi para bapa bangsa di awal kemerdekaan, yang mungkin dibaca saat itu. Jadi, sangat mungkin sebelum mengucapkan pidatonya, Bung Karno mendiskusikannya dengan Yasin dan Ida Bagus Sugriwa.

Majapahit menjadi inspirasi para bapa bangsa, bukan hal yang kebetulan. Negara nasional Kedua ini tidak hanya memberikan kebanggaan sebagai inspirasi untuk menghadirkan keagungan sejarah yang pernah ada, tetapi juga telah memberikan model dalam mengelola warisan pluralisme bangsa. Jadi, bukan hanya istilahnya yang kita warisi, tetapi pemikiran filsafat kenegaraan yang dibangun di atas jiwa merdeka yang terbuka, toleran, bahkan secara aktif berbagi dalam kebersamaan untuk merenda masa depan bangsa dan umat manusia.

Selamat memperingati Hari Lahirnya Pancasila! *

MERDEKAAAA !!
🇮🇩🇮🇩🇮🇩🇮🇩🇮🇩

*Pancasila Dari Majapahit Ke 1Jun45*
http://www.academia.edu/36776322/PANCASILA_DARI_PUNCAK_KEJAYAAN_MAJAPAHIT_HINGGA_PIDATO_BUNG_KARNO_1_JUNI_1945_Bambang_Noorsena

09
Oct
18

Jatidiri : Rumahku, Surgaku & Panca Wasiat

Logo Jakarta45

🌷🌹 *RUMAHKU, SURGAKU……* 🌹🌷💐

_Ir. Jusuf Mahdi, MM._

*_Bangsa Indonesia adalah makhluk hamba Allah akan dikaruniai hidup dan kehidupan di sebuah tempat yang bernama bumi Nusantara. Sebuah-dongeng tempat atau daerah kawasan yang tanahnya subur, makmur, gemah ripah loh jinawi, yang dikenal sebagai surga di khatulistiwa. Inilah tanah tumpah darah Indonesia, yang jadi rumah tinggal bangsa yang bagaikan Baiti Jannatii, rumahku surgaku._*

*_Karunia Allah Yang Maha Penyayang kepada bangsa Indonesia dengan rakhmat berupa Sumber Daya Alam yang berlimpah ruah dengan kualitas yang bagus yang tidak dimiliki oleh bagian bumi yang lain._*

*_Maka bangsa lain berlomba ingin menjadikan Indonesia sebagai bagian dari wilayah atau negara mereka dan terjadilah penjajahan oleh Belanda yang berlangsung selama 350 tahun, dimana mereka menguras hasil bumi Nusantara untuk kepentingan dan kesejahteraan mereka._*

*_Akhirnya perjuangan bangsa Indonesia sampailah pada saat yang berbahagia dengan di proklamirkannya kemerdekaan bangsa Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945, yang disusul dengan pembentukan negara Republik Indonesia dan undang-undangnya, yang dikukuhkan pada tanggal 18 Agustus 1945 , yang menjadi pedoman hidup bangsa / way of life bangsa Indonesia._*

*_Kini telah memasuki tahun ke 73 kemerdekaan bangsa Indonesia, tetapi ternyata cita-cita kemerdekaan yang sudah jelas dinyatakan dalam rumusan di alinea keempat pembukaan Undang-undang Dasar empat-lima, belum bisa dilaksanakan tuntas. Adanya persaingan dan mementingkan kepentingan pribadi dan golongan atau kelompok menyebabkan situasi dan kondisi bangsa dan negara amburadul dalam sistem pengelolaan tatapemerintahan dan tatakenegaraan yang memunculkan terjadinya korupsi, saling jegal, saling merasa paling benar yang bermuara pada tidak lagi mengutamakan kepentingan rakyat dan tidak amanah terhadap kepercayaan masyarakat dan rakyat untuk mensejahterakan kehidupan bangsa. hal ini makin parah dengan terjadinya amandemen terhadap UUD 1945 yang sebenarnya merupakan nilai yang disepakati / share values, dimana dengan amandemen tersebut negara sudah menjadi negara neo liberalisme, neo kapitalisme yang dimanfaatkan untuk dan oleh kepentingan asing, aseng dan asong, dimana SDA sudah dikuasai oleh mereka dan untuk kepentingan mereka. Kita tidak berkemampuan dan tidak mandiri untuk memberdayakan, mengolah dan memanfaatkan kekayaan alam yang dianugerahkan Allah kepada kita. Akhirnya kita berketergantungan kepada pihak lain dalam segala aspek dan bidang kehidupan yang bermuara kepada Ketahanan Nasional dan Kekuatan Nasional yang lemah, tak berkemampuan dan tidak mandiri. Bangsa atau masyarakat menjadi bersifat konsumtif, instan untuk mendapatkan cara yang mudah dan cepat menghasilkan, terutama yang bersifat duniawi. Moralitas dan mentalitas bangsa, terutama mereka yang menjadi petinggi dan pejabat negara dalam keadaan bobrok sehingga marak terjadi penyelewengan di berbagai bidang._*

*_Nilai luhur dari inti, essensi, makna Pancasila sudah hilang atau luntur dari hati mereka. Partai, organisasi dan lembaga kemasyarakatan tidak lagi membawa dan menyuarakan aspirasi dan kepentingan masyarakat, dan hal ini akan menghilangkan kepercayaan rakyat kepada para pemimpin dan pemerintah yang akan menjadi krisis kepercayaan._*

*_Keadaan , situasi dan kondisi ini akan membahayakan keutuhan NKRI, persatuan dan kesatuan bangsa serta martabat, derajat, wibawa, kehormatan bangsa dan negara di masa depan. Generasi penerus bangsa akan diperbudak oleh bangsa dan negara lain._*

*_Kita harus segera keluar dari keterpurukan dan harus ada solusi terbaik untuk dilakukan. Kita harus berkarya nyata dengan cepat dan tepat menata manajemen sistem pengelolaan negara sesuai cita-cita dan tujuan kemerdekaan yang telah dirumuskan dalam alinea keempat UUD._*

*_Penataan dan pembinaan Watak dan Karakter Bangsa (Nation Character Building) harus segera dibenahi dan mulai sejak dini agar terwujud komitmen yang satu dari seluruh elemen dan komponen bangsa yang secara sinergis mengisi kemerdekaan._*

*_Komitmen tersebut dapat dijabarkan dalam bentuk sebuah Pranata Laku Panca Wasiat sebagai implementasi pemahaman nilai-nilai luhur Pancasila untuk bisa menjadi manusia mulia, bersih, jujur dan amanah._*

*_Panca Wasiat berisikan sbb. :_*

🌹 *_SADAR, yaitu mengapa Allah menurunkan manusia ke muka bumi dengan kriteria mulia. Memiliki kelebihan yang tidak dipunyai oleh makhluk yang lain dan harus bisa menjadi pemimpin panutan kepada bangsa. Inilah jalan untuk memahami jati diri sebagai individu dan bangsa, sebagai diri yang akan menjadi sosok religious yang nasionalis, sosok nasionalis yang religious._*

🌹 *_KARYA, yaitu dalam hidupnya dan kehidupannya manusia itu harus bekerja. Sebab kerja itu berisikan hal-hal yang meliputi sebagai : ANUGERAH, IBADAH, KARYA, PELAYANAN, PENGABDIAN, KEHORMATAN. Dalam Karya dimaknai sebagai sebuah hasil kerja yang bermanfaat bagi dirinya sendiri, keluarga, sesama, nusa, bangsa, negara, agamanya dan alam semesta._*

🌹 *_MARGA, yaitu bahwa manusia itu harus tunduk dan taat kepada aturan dan hukum yang dibuat Allah baginya dan juga yang dibuat oleh manusia sendiri untuk mengatur kehidupannya yaitu berupa Undang-undang dan hukum._*

🌹 *_BHAKTI, yaitu bahwa semua laku manusia itu adalah sebagai sebuah bhakti bagi dirinya, keluarga, masyarakat, sesama, nusa dan bangsanya._*

🌹 *_BASUKI, yaitu bahwa dalam hidup dan kehidupannya, manusia harus memiliki tujuan utama. Tentunya tujuan itu adalah kebaikan, kebajikan, kebenaran yang bermuara kepada kesejahteraan lahir dan bathin. Kesejahteraan rakyat yang dalam Ridho dan barokah Allah, dalam negeri yang baldatun toyyibatun war robbun ghafur ._*

*_Dengan komitmen Panca Wasiat yang dijalankan secara konsisten dan konsekwen maka akan tercipta dan terwujudnya rasa persatuan, kesatuan dan kepedulian sosial yang kokoh menuju kebersamaan meraih cita-cita dan tujuan kemerdekaan._*

*_Tentunya kita harus menyelesaikan permasalahan yang dihadapi nusa bangsa dan negara._*
*_Berikut adalah :_*

*SOLUSI BAGI UMAT ISLAM DALAM MENYIKAPI DAN MENYIASATI TREND YANG BERKEMBANG.*

🌹 *_Yang utama saat ini harus dilakukan adalah umat Islam membentuk wadah Majelis Permusyawaratan Umat Islam Indonesia Bersatu, dimana wadah ini menjadi tempat mengkaji, diskusi, merumuskan program dan solusi, think tank pemecahan persoalan, dengan tujuan agar politik umat Islam hanyalah SATU suara utk kepentingan umat dan bangsa._*

🌹 *_Membangun Nation Character Building umat, dengan sendi-sendi Islami yang bertumpu pada akhlaqul kariimah, menjadi SDM yang berkualitas lahir dan bathin, mandiri, berkemampuan._*

🌹 *_Mulailah dari para ulama muda yang mau dan dapat berpikir logik, strategik, berwawasan untuk Membentuk forum atau Majelis Permusyawaratan Umat Islam Indonesia Bersatu, dimana membahas langkah-langkah jitu yg realistik ke depan. Mulai dari ekonomi kerakyatan dengan konsep Mini Market – Super Market yang islami. Cuma syarat utamanya adalah dikelola oleh SDM yang Bersih Jujur dan Amanah. Kalau 1 orang joint Rp. 10.000,- , misalnya ada 500 santri / pesantren, maka modal awal sudah ada : Rp. 5.000.000,- Dari menyisihkan uang untuk beli pulsa, khan tidak terasa terbebani atau berat, khan. Bisa ditambahi dari 2-3 kali infaq kotak Jum’atan, maka sudah ada modal awal yang bisa dikelola untuk bidang perekonomian umat. Ini baru dari 1 pondok pesantren._*

🌹 *_Inilah politik bermasyarakat umat Islam yang peduli pada kehidupan umat sendiri._*

🌹 *_Apakah dimensi dari Pancasila itu??_*

💐 *_Yang dimaksudkan dengan dimensi Itu adalah semua hal yang meliputi aspek dan bidang kehidupan, yang dikenal sebagai Ketahanan Nasional, yang harus diberdayakan dengan memilah, memilih, dan memetakan prioritas sesuai perkembangan strategik untuk dijadikan Kekuatan Nasional yang memiliki 3 dimensi, yaitu Ruang, Waktu dan Action ._*

💐 *_Penjabarannya dikokohkan melalui GBHN yang dirancang secara cermat dan seksama, berkeadilan dan mengutamakan kepentingan rakyat._*

💐 *_Pentahapan GBHN dirancang dalam tahapan jangka pendek, menengah dan panjang, untuk kurun waktu 50 tahun._*

💐 *_Pemberdayaan potensi aspek dan bidang kehidupan yang sudah dirancang melalui GBHN dapat dirubah atau direvisi sesuai kebutuhan, perubahan dan perkembangan situasi dan kondisi, keadaan darurat atau mendesak, yang diluar dari prediksi, perkiraan, bencana nasional dll yang butuh penanganan cepat dan segera._*

💐 *_Namun dalam mempersiapkan dan merancang GBHN harus melalui analisa yang tajam dengan didukung akurasi perkembangan dan perubahan lingkungan strategik berjangka sampai 50 tahun ke depan._*

🌹 *_Dimensi matematis Pancasila adalah 3 sisi, yaitu mliputi : Sisi RUANG yang mencakup potensi SDM dan SDA yang harus diberdayakan guna kepentingan rakyat, menuju kesejahteraan lahir dan bathin. Sisi WAKTU mencakup perencanaan terstruktur dan terstandard program yang diinginkan untuk mencapai tujuan melalui penganalisaan yang tajam (SWOT, 7S, Risk management dll). Sisi ACTION mencakup siapa berbuat apa (5W+1H, 5P dll)._*

*_Kenapa Hal diatas jangan dipresentasikan kepada pihak lain, karena mereka akan mengkaji dan jadi tahu kelebihan dan kelemahannya yang nantinya akan digunakan memukul kita. Dan yang penting adalah sosialisasi dari aksi nyata langsung kepada masyarakat. Memberdayakan masyarakat kecil untuk bisa maju dan sejahtera._*

🌹 *_Yang penting adalah menyamakan rasa hati dengan feel of the feel, feeling the feel of the feel (memahami rasa, mencermati rasa dari rasa) sehingga kita bisa sehati, saling bergenggam jemari dan hati menyelesaikan permasalahan bangsa dan negara._*

🌹 *_Dengan hal tersebut tidak akan terjadi ganti pemimpin ganti kebijakan, yang membuat pembangunan Nasional tak terarah, kehilangan tujuan, marwah kebangsaan tertutup oleh kepentingan diri, kelompok dan golongan, tidak berpihak kepada amanat penderitaan rakyat. Tujuan dan cita-cita kemerdekaan menjadi kabur, sistem manajemen penyelenggaraan negara menjadi amburadul, tatanan ketatanegaraan dan ketatapemerintahan saling tumpang tindih tak terarah. Saat ini itu semua sudah terjadi, terutama sejak dilakukan amandemen UUD 1945._*

💐 *_lnti dan essensi Pancasila boleh disosialisasikan ke dunia, malah ttg hal tersebut sudah dijadikan referensi kajian di Russia. Tapi rincian ilmiah matematis 3 Dimensi yang penjabarannya adalah teknis, yang telah melalui pertimbangan analisis sikon dan trend yg berkembang, harus menjadi rahasia kita. Ibarat orang ingin minta resep nasi kuning, dll, silahkan diberitahu bahannya dlsb. Tapi cara penyajian khan sesuai selera dan kreasi kita masing2._*

💐 *_Kita perlu menyamakan persepsi, mengadakan diskusi dlsb untuk mendapatkan solusi jitu menyelesaikan masalah._*

🇮🇩🌹❤ *_MARI BERBUAT WALAUPUN KECIL, DARI PADA TIDAK MELAKUKAN APAPUN. INGATLAH BAHWA MASA DEPAN GENERASI ANAK, CUCU, CICIT DAN PENERUS KITA DITENTUKAN OLEH KITA DI SAAT INI._*

*_Semoga tanah airku adalah rumahku yang merupakan surga bagi hidup dan kehidupan kita semua, bangsa Indonesia. Aamiin ya robbal alamiin._*

❤🌹🌹🌹🌹🌹🇮🇩❤❤
_Visionary Spiritual Strategical Nation Character Building Center, 092018._

Penggagas Panca Wasiat adalah :
1. Bpk Soedarsono SH MHum, mantan Hakim MK, senior, akhli hukum tatanegara yang telah mengajar di Paris dll.

2. Bapak Prof. Tjuk Suherman Djamal, SH, MHum. Guru besar FH Unair.

3. Bapak Wijoyo, pakar hypermethaphysica.

4. Gus Chandra, pemimpin pondok pesantren modern berkonsep Spiritual character nation building.

5. Ir. Jusuf Mahdi, MM. Narasumber Wawasan Kebangsaan.

Pembahasan dilakukan pada tgl 1 Juni 2012, dirumah bpk Soedarsono, mulai jam 10.00, dan pada jam 13.30 telah berhasil membuat soft copy buku kecil yang menjelaskan tentang Panca Wasiat sebagai pranata laku pengimplementasian menuju pemahaman inti dan essensi Pancasila.

09
Oct
18

Politik Pusat Logistik Bencana Alam Terpadu

Logo MABINDO

Suara Warga45

POLITIK PUSAT LOGISTIK BENCANA ALAM‎ TERPADU

Kepada Yth Pemangku Politik Kebencanaan Indonesia

Menimbang status Ring of Fire bagi NKRI dan Mengingat Rekam Jejak Kegempaan Indonesia serta Memperhatikan seperti AHGT (Ancaman Hambatan Gangguan Tantangan) Gempa seperti per pemberitaan sbb :
1) Waspadai Gempa Besar di Sulawesi [Kompas, 31 Mei 2017]
2) ‎Waspadai Siklus Gempa Besar di Selatan Jawa [Kompas, 18 Desember 2017]
3) Waspadai Gempa Dahsyat Di Depan Mata [Antara News, 7 Desember 2017]

Berikut Mencermati Gempa2 Besar seperti Gempa Palu 7,4 M tanggal 28 September 2018 dan Gempa Lombok 6,4 M tanggal 29 Juli 2018 serta Gempa Lebak Banten 6,1 M tanggal 23 Januari 2018

Tampaknya kedepan perlu dilengkapi dengan mekanisme pengelolaan bencana alam nasional dengan Poltik Pusat Logistik Bencana Alam Terpadu Yang tersebar di Pusat2 Potensi Gempa Besar Indonesia, sehingga Sistim Bantuan Perdana Logistik‎ dapat bersegera dilakukan.

MABINDO (Majelis Anak Bangsa Indonesia) berharap agar sikon black out seperti pengalaman terakhir di Palu dan Donggala dapat menjadi pembelajaran guna peningkatan mutu Perumusan Politik Kebencanaan Indonesia sesegera mungkin baik ditingkat nasional maupun ditingkat daerah secara terpadu.

Jakarta, 29 September 2018

Salam Indonesia Raya,

Pandji R Hadinoto
MABINDO
http://www.jakarta45.wordpress.comSuara Warga45

POLITIK PUSAT LOGISTIK BENCANA ALAM‎ TERPADU

Kepada Yth Pemangku Politik Kebencanaan Indonesia

Menimbang status Ring of Fire bagi NKRI dan Mengingat Rekam Jejak Kegempaan Indonesia serta Memperhatikan seperti AHGT (Ancaman Hambatan Gangguan Tantangan) Gempa seperti per pemberitaan sbb :
1) Waspadai Gempa Besar di Sulawesi [Kompas, 31 Mei 2017]
2) ‎Waspadai Siklus Gempa Besar di Selatan Jawa [Kompas, 18 Desember 2017]
3) Waspadai Gempa Dahsyat Di Depan Mata [Antara News, 7 Desember 2017]

Berikut Mencermati Gempa2 Besar seperti Gempa Palu 7,4 M tanggal 28 September 2018 dan Gempa Lombok 6,4 M tanggal 29 Juli 2018 serta Gempa Lebak Banten 6,1 M tanggal 23 Januari 2018

Tampaknya kedepan perlu dilengkapi dengan mekanisme pengelolaan bencana alam nasional dengan Poltik Pusat Logistik Bencana Alam Terpadu Yang tersebar di Pusat2 Potensi Gempa Besar Indonesia, sehingga Sistim Bantuan Perdana Logistik‎ dapat bersegera dilakukan.

MABINDO (Majelis Anak Bangsa Indonesia) berharap agar sikon black out seperti pengalaman terakhir di Palu dan Donggala dapat menjadi pembelajaran guna peningkatan mutu Perumusan Politik Kebencanaan Indonesia sesegera mungkin baik ditingkat nasional maupun ditingkat daerah secara terpadu.

Jakarta, 29 September 2018

Salam Indonesia Raya,

Pandji R Hadinoto
MABINDO
http://www.jakarta45.wordpress.com

http://theconversation.com/belajar-dari-gempa-palu-indonesia-betul-betul-butuh-sistem-logistik-kedaruratan-bencana-104319

https://www.cnnindonesia.com/ekonomi/20181003070629-92-335214/pemerintah-bentuk-pusat-logistik-peralatan-penanganan-gempa

http://industri.bisnis.com/read/20181008/98/846913/gempa-sulteng-2-tahun-lalu-asosiasi-usul-pendirian-pusat-logistik

http://pelatihindonesia.com/pemerintah-membentuk-pusat-logistik-peralatan-penanganan-gempa/pusat-logistik-peralatan-penanganan-gempa/

https://bisnis.tempo.co/read/1133831/luhut-pandjaitan-godok-pembangunan-pusat-logistik-usai-gempa-palu

https://www.inews.id/finance/read/tanggap-bencana-menko-luhut-usul-bangun-pusat-logistik/271433

https://www.merdeka.com/uang/menko-luhut-usul-pembangunan-pusat-logistik-bantuan-bencana.html

22
Sep
18

Kenegarawanan : InPres Pembangunan Kembali RUMAH PROKLAMASI

Logo Segilima GPA45

Suara Warga45

*InPres Pembangunan Kembali RUMAH PROKLAMASI*

Kepada Yth Bapak Presiden Republik Indonesia‎

Berkerangka *JATIDIRI INDONESIA MERDEKA 1945* sbb

https://jakarta45.wordpress.com/2018/08/06/kenegarawanan-jatidiri-indonesia-merdeka-1945/amp/

Maka pada hari-hari peringatan *Penegakan Proklamasi Kemerdekaan Indonesia* 19 September 1945 [Rapat Raksasa IKADA, Jakarta] dan 21 September 1945 [Rapat Raksasa TAMBAKSARI, Surabaya], kami selaku mantan PasKiBraKa Nasional 17 Agustus 1964 dan dari Generasi Penerus 45 (GPA45) / DHD45 Jakarta turut memastikan bahwa -*InPres Pembangunan Kembali RUMAH PROKLAMASI 17 Agustus 1945 di ;l Proklamasi d/h Jl Pegangsaan Timur 56, Jakarta Pusat* adalah kebutuhan mendasar bagi Bina Nation & Character Building khususnya Generasi Milenial Indonesia kini & esok.

‎Menimbang *Politik Karakter Patriot Indonesia*
https://jakarta45.wordpress.com/2017/04/08/kenegarawanan-politik-karakter-patriot-indonesia/amp/

Mengingat *17 Doktrin Front Nasionalis45*
https://jakarta45.wordpress.com/2018/05/17/17-doktrin-front-nasionalis45/amp/

Memperhatikan *Pembangunan SDM Indonesia 2019-2024*
https://nasional.kompas.com/read/2018/03/15/18385161/puan-maharani-pembangunan-sdm-program-besar-jokowi-pada-periode-kedua

Demikianlah disampaikan kiranya InPres termaksud diatas dapat diluncurkan menjelang peringatan Hari Sumpah Pemuda 28 Oktober 2018 yang akan datang.

Jakarta, 21 September 2018

Salam Indonesia Maju,

Pandji R Hadinoto
Ketua GPA45/DHD45 Jakarta
http://www.jakarta45.wordpress.com

Rumah Proklamasi dan “Celana Dalam” Bung Karno – koransulindo.com/rumah-proklama… pic.twitter.com/FtpIc05AmtRumah Proklamasi dan “Celana Dalam” Bung Karno – koransulindo.com/rumah-proklama… pic.twitter.com/FtpIc05Amt

https://chirpstory.com/li/386873

Rumah Proklamasi 01

Koran Sulindo – Mengapa Bung Karno memutuskan bekas kediamannya di Jalan Pegangsaan Timur No, 56, yang menjadi tempat upacara proklamasi kemerdekaan Indonesia, 17 Agustus 1945, dibongkar di tahun 1964?

Pertanyaan itu diajukan seorang peserta diskusi bertajuk “Hikayat Sebuah Jalan: Pegangsaan Timur” dalam Kancah Revolusi, dua pekan lalu. Menurut sejarawan Dr. dr. Rushdy Hoesein, yang sudah hampir 30 tahun melakukan riset tentang “Rumah Proklamasi” dan memperjuangkan pembangunan kembali situs bersejarah tersebut, hanya ada satu catatan menarik terkait pembongkaran rumah itu.

Suatu kali, dr. Suharto—dokter pribadi Bung Karno—mengajukan keberatan soal rencana pembongkaran rumah itu. Mendengar keberatan itu, Bung Karno berkata: “Apakah kamu akan memamerkan celana dalamku di situ?”

Apa yang dimaksud Bung Karno dengan “celana dalam” tersebut?

Dalam diskusi itu saya sempat memberikan jawaban spekulatif berdasarkan pengetahuan yang saya punya. Bisa jadi yang dimaksud “celana dalam” oleh Bung Karno itu, kemunkingnan besar adalah kepahitan hidup yang mendera Bung Karno selama menempati rumah tersebut.

Lantas, apa saja kepahitan hidup Bung Karno itu?

Saya akan memulai dengan cuplikan dari buku Proklamasi, karya Osa Kurniawan Ilham, juga dari buku saya: Riwu ga, 14 tahun Mengawal Bung Karno.

Setelah meninggalkan Bengkulu, Bung Karno bersama Bu Inggit dan para anak angkatnya, menetap sebentar di Palembang. Setelah dengan susah payah Bung Karno meninggalkan Palembang, sesampainya di Jakarta, ia bersama keluarga kecilnya ditempatkan di Hotel Des Indes. Oleh Achmad Soebardjo, keluarga itu diusahakan menempati rumah di Jalan Diponegoro No. 11. Barulah kemudian menempati rumah di Jalan Pegangsaan Timur No. 56, milik seorang Arab bernama Faradj bin Said Awad Martak.

Yang berperan mengusahakan rumah di Jl. Pegangsaan No. 56 ini adalah Chaerul Basri, seorang pemuda yang sejak umur 8 tahun menjadi pengagum Bung Karno. Dia kemudian dari Padang ia pindah ke Jakarta untuk melanjutkan sekolah di AMS Jakarta. Kebetulan ia bersahabat dengan keponakan Husni Thamrin bernama Abdel Hassan. Dari situ ia dekat dengan tokoh-tokoh pergerakan dan membuat ia dikenal oleh Hitoshi Shimizu, pegawai Sendenbu, divisi propaganda Jepang, Gunseikanbu yang saat itu menjadi penggerak Gerakan Tiga A.

Ketika Bung Karno sudah mendarat di Jakarta, ia didekati oleh Shimizu untuk memimpin PUTERA dan Bung Karno menyatakan persetujuannya. Lalu pihak Jepang bermaksud menyediakan sebuah rumah dan mobil untuk Bung Karno. Shimizu lalu meminta tolong Chaerul Basri: “Orang muda, bisakah engkau mencarikan rumah untuk orang besar ini sambil menunjuk Bung Karno di sampingnya”. Bung Karno lalu menjelaskan tipe rumah yang diinginkan, yaitu rumah yang pekarangannya luas agar bisa menerima rakyat banyak.

Mendengar permintaan itu, Chaerul Basri sore itu juga berkeliling di wilayah Menteng, dengan berboncengan dengan sahabatnya Adel Sofian. Hasil observasinya, semua rumah di sekitar Taman Suropati Menteng sudah ditempati para pembesar Jepang. Ia pun berkeliling lagi. Sampai di Jl. Pegangsaan Timur, Basri dan Adel melihat sebuah rumah yang cocok sekali dengan yang diinginkan Bung Karno.

Keesokan harinya ia sudah melaporkan penemuannya ke Hitoshi Shimizu. Agar jelas, Hitoshi meminta Basri untuk menjelaskan sendiri kepada Bung Karno, melalui telepon dengan bahasa Indonesia. Mendengar penjelasan itu, Bung Karno langsung setuju.

Lantas, hari itu juga Basri dan Adel Sofian mendatangi rumah yang masih ditempati seorang perempuan Belanda, yang suaminya baru saja ditahan tentara Jepang. Mendengar permintaan Basri, sang nyonya rumah marah besar dan menolak untuk pindah, walau dijanjikan akan dipindahkan ke rumah yang lebih besar.

Basri lantas menyarankan kepada Hitoshi agar pengosongan rumah dilakukan oleh pihak Jepang. Hitoshi setuju, dan seminggu kemudian sang nyonya bersedia pindah ke sebuah rumah bertingkat di Jalan Lembang sebagai gantinya.

Demikian sejarahnya rumah itu ditempati Bung Karno bersama keluarga kecilnya yang terdiri dari Bung Karno, Ibu Inggit, Kartika, dan Riwu Ga. Kartika adalah anak angkat mereka yang dibawa dari Ende, sedang Riwu Ga adalah pemuda yang selama dalam pembuangan bekerja apa saja untuk membantu Bung Karno.

Dokter Soeharto, yang kemudian menjadi dokter pribadi Bung Karno, dan keluarga sebelumnya sudah akrab dengan rumah itu. Ketika masih belajar di Sekolah Tinggi Kedokteran (GHS – Geneeskundige Hoogeschool ) tahun 1928 dia mendapatkan beasiswa bulanan dari Tjandi Stichting, sebuah yayasan di Gravenhage, Belanda, yang begerak untuk melakukan kampanyek agar pemerintah Belanda secara bertahap memerdekaan Indonesia.

Kebetulan perwakilan di Batavia adalah Prof. F. M. Baron van Asbeck yang menempati rumah di Jalan Pegangsaan Timur itu. Prof. Asbeck adalah Guru Besar di Sekolah Tinggi Hukum. Tiap bulan dr. Soeharto pergi ke rumah itu untuk mengambil beasiswanya. Dr. Soeharto pun kemudian akrab dengan penghuni baru, Bung Karno dan keluarganya. Bahkan, ia ikut juga ke Dalath bersama Bung Karno, Bung Hatta, dan dokter Radjiman, untuk menerima janji kemerdekaan dari Jepang.

Setelah Presiden Soekarno dan Wakil Presiden Mohammad Hatta hijrah ke Yogyakarta, awal Januari 1946, “Rumah Proklamasi” dijadikan kantor Perdana Menteri Sjahrir. Disinilah, Sjahrir kerap memimpin rapat kabinetnya, serta menerima tamu.

Dibongkar Karena Kenangan Pahit?

Kisah dr. Soeharto dan Chaerul Basri diatas tidaklah cukup untuk menjawab, mengapa rumah bersejarah itu akhirnya dibongkar justru oleh Bung Karno sendiri. Meski mendapat tentangan dari berbagai kalangan saat itu, termasuk Walikota Jakarta Henk Ngantung, dr. Soeharto, dan sejumlah petinggi pemerintahan. Di lahan bekas “Rumah Proklamasi” itu kemudian dibangun Gedung Pola, dan kemudian juga Tugu Proklmasi.

Kartika (kini sudah berusia 90 tahun), anak angkat Bung Karno dan Bu Inggit dalam sebuah wawancara dengan saya, menceritakan: “Saya sudah terlelap tidur malam itu. Tiba2 kami dibangunkan . Sudah ada Bung Hatta, Kiyai Mas Mansyur, dan Ki Hadjar Dewantoro. Saya kaget ketika ditanya, mau ikut siapa, bapak atau Ibu. Maksudnya Bung Karno atau Ibu Inggit. Baru saya tahu, keduanya akan bercerai”.

Cerita Riwu Ga, juga seperti itu:

“Setelah Kartika, saya lalu dipanggil masuk. KH Mas Mansyur bertanya pada saya, “Riwu, kamu mau ikut siapa, Bapak atau Ibu?

Saya tertegun menunduk. Bibir saya berat. Bung Karno dan Ibu Inggit sama-sama menyayangi saya. Saya pun begitu, menyayangi keduanya. Tidak. Saya harus memilih salah satu, inilah pilihan yang paling sulit seumur hidup saya. Tiba-tiba muncul sebuah pikiran, entah itu dari mana, andaikan saya ikut ibu, siapa yang menjaga Bung Karno? Dia orang penting bagi bangsa ini yang perlu dijaga. Tapi saya tak mampu mengucapkannya sampai KH Mas Mansyur mengulangi pertanyaannya.

Saya mengangkat muka, memandang kiai itu lurus-lurus. Lalu, dengan berat hati saya katakan: “saya iku bapak saja.” Sungguh, saya tak berani memandang mata Ibu Inggit. Takut, ia menyangka saya lebih sayang pada Bung Karno. Tapi rupanya Ibu Ingit mengerti perasaan saya.

“Riwu,” kata Bu Inggit, “Jaga bapak baik-baik. Tapi kalau sempat, datang-datang menengok saya di Bandung ya,” pesannya. Hati saya hancur. Perempuanj sejati itu lalu berpaling kepada Bung Karno lalu berkata, “ Izinkan Riwu ke Bandung kalau dia ingin menjenguk saya. Juga kalau suatu saat saya butuh dia.”

Itulah saat terakhir kami berkumpul. Saya tak dapat menahan air mata. Tak terasa kenanganku melayang jauh. Jauh ke Ende saat-saat rumah tangga ini bahagia, jauh ke belantara Sumatra ketika bersama kami melintasi hutan yang penuh binatang buas itu, jauh ke atas perahu yang membawa kami mengarungi laut yang bergelora sampai ke Jakarta sini. Sampai ke rumah Pegangsaan ini. Kini, ternyata, semua itu saya lalui untuk menyaksikan suatu perpisahan yang menyakitkan begini”.

Dari kisah Riwu Ga dan Kartika tersebut, barangkali sedikit dapat memberi jawaban suasana hati Bung Karno, hingga akhirnya memutuskan untuk membongkar “Rumah Proklamasi”– tempat yang menyimpan kenangan pahit bagi dirinya.

Bersamaan dengan itu pula, berbagai kenangan tentang sejarah bangsa nan penting ikut terkuburkan. Kini, tugas kita sebagai anak bangsa, untuk menghidupkan lagi memori bangsa itu, hingga “Rumah Proklamasi” bisa dibangun kembali di lokasi yang asli.

Peter A. Rohi, wartawan senior

Faradj bin Said, Pemilik ‘Rumah Proklamasi’ yang Berjasa Bagi Indonesia

https://www.boombastis.com/faradj-bin-said/85313

Selama ini kita hanya tahu kalau proklamasi kemerdekaan yang diucapkan oleh Bung Karno berlangsung di Jalan Pegangsaan Timur no. 56. Selebihnya kita tidak tahu siapa gerangan pemilik dari rumah yang sangat bersejarah ini. Siapa empu rumah yang menjadi tempat tinggal Bung Karno hingga tanah dan bangunannya dihibahkan pada negara.

Beliau adalah Faradj bin Said bin Awad Martak. Pedagang Indonesia keturunan Arab ini mengizinkan rumahnya digunakan untuk upacara proklamasi. Bahkan, selama Bung Karno di sana, beliau memberikan pelayanan yang pria termasuk membantu menyembuhkan penyakit dari Bung Karno.

Berikut kisah dari Faradj bin Said yang jangan sampai dilupakan oleh sejarah. Berkat jasa beliau, proklamasi bisa dilakukan dengan lancar dan tanpa gangguan apa pun.
Sedikit Mengenal Faradj bin Said

Faradj bin Said adalah seorang pedagang yang cukup sukses di masa itu. Beliau lahir di Hadramaut lalu tumbuh dan akhirnya menetap di Indonesia dengan menjalankan sebuah perusahaan. Sebagai seorang pebisnis yang sukses, Faradj bin Said ternyata tidak lupa daratan. Beliau justru dikenal aktif berjuang untuk Indonesia dan membantu pejuang agar negeri ini segera merdeka.

Kekayaan yang dimiliki oleh Faradj bin Said ternyata dipergunakan dengan baik untuk negeri ini. Beliau tidak segan-segan memberikan sejumlah dana atau bahkan tanah kepada negeri ini agar cita-cita negeri ini bisa tercapai. Bagi Faradj bin Said, mengabdi untuk negeri ini adalah kewajiban di samping dia tetap bekerja sebagai seorang pebisnis yang andal.

Rumah Proklamasi yang Diberikan kepada Negara

Salah satu bentuk perjuangan dari seorang Faradj bin Said adalah pemberian rumahnya kepada para pejuang. Rumah di Pegangsaan Timur no.56 yang kita kenal baik sebagai lokasi dari proklamasi kemerdekaan adalah milik dari Fardj bin Said. Beliau mengizinkan Bung Karno tinggal di sana setelah peristiwa Rengasdengklok terjadi.

Dini hari sebelum proklamasi diadakan, Bung Karno dan golongan tua serta muda berkumpul di sini. Setelah naskah proklamasi dirumuskan, semuanya berkumpul dan menunggu saat yang tepat untuk melakukan proklamasi kemerdekaan. Semua orang datang ke sini meski sembunyi-sembunyi dari militer Jepang yang masih belum menerima kekalahannya dari sekutu.

Membantu Mengobati Penyakit Bung Karno

Sebelum proklamasi kemerdekaan akhirnya dikumandangkan, Bung Karno mengalami sakit yang cukup parah. Beliau mengidap beri-beri dan juga malaria. Dua penyakit ini menyebabkan tubuh dari proklamator ini terus lemas. Melihat Bung Karno yang cukup mengkhawatirkan, Faradj bin Said akhirnya memberikan Bung Karno sebuah madu yang sangat berkhasiat bernama sidr bahiyah.

Dengan madu yang sangat berkhasiat ini, kesehatan dari Bung Karno lambat laun membaik. Beliau mampu bertahan meski harus banyak tidur untuk memulihkan stamina. Oh ya, menurut dokter pribadi dari Bung Karno, penyembuhan yang dialami Bung Karno cukup signifikan berkat madu Faradj bin Said dan juga obat yang dia berikan.

Sahabat Baik Bung Karno yang Hobi Menghibahkan Tanah

Setelah kesehatannya membaik, Bung Karno akhirnya mampu mengumandangkan proklamasi kemerdekaan dengan baik. Di rumah yang dimiliki oleh Faradj bin Said, perubahan besar bagi negeri ini akhirnya berjalan dengan baik hingga Bung Karno memberikan ucapan terima kasih resmi kepada Faradj bin Said setelah menjadi presiden.

Setelah digunakan sebagai lokasi proklamasi kemerdekaan, rumah yang terletak di Jalan Pegangsaan Timur no. 56 diberikan kepada negara. Faradj bin Said menghibahkan rumah itu agar saksi sejarah itu bisa dikelola dengan baik oleh negara. Selain kediamannya, beliau juga pernah menghibahkan tanah dan membangun masjid besar Al-Azhar di Kebayoran Baru.

Faradj bin Said mungkin tidak seterkenal pahlawan-pahlawan yang berjuang untuk negeri ini. Namun, perjuangan yang diberikannya pada negeri ini tidaklah sedikit. Bahkan Bung Karno sampai mengagumi sosok pedagang pekerja keras ini.




Blog Stats

  • 3,708,764 hits

Recent Comments

Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Sejarah : Bangsa Lemuria, Lelu…
Advertisements