PANCASILA JATIDIRI BANGSA [1 April 2010]

DR Ir Pandji R Hadinoto, MH / Ketua Umum IKA STIH IBLAM

http://www.jakarta45.wordpress.com

 

Situasi dan Kondisi Obyektif [Bob Novandy, 1 Maret 2010] :

(1)Ketuanan Yang Maha Kuasa; (2)Persetanan Yang Tidak Adil Dan Biadab; (3)Persatean Indonesia;(4) Kerakyatan Yang Dihimpit Oleh Kesewenang-wenangan; (5) Ketidakadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia

BUNG KARNO Penggali Pancasila :

pada Pidato 1 Juni 1945 perkenalkan PANCASILA yang terdiri atas :

(1)Kebangsaan Indonesia; (2) Internasionalisme atau Perikemanusiaan; (3)Mufakat atau Demokrasi; (4) Kesejahteraan Sosial; (5)Ketuhanan Yang Maha Esa.

pada Kursus ke-2 tentang PANCASILA, 16 Juni 1958 di Istana Negara maupun pada Kongres

Rakyat Jawa Timur 24 September 1955, ditekankan bahwa PANCASILA itu ialah

(1)Ketuhanan Yang Maha Esa; (2)Kebangsaan; (3)Perikemanusiaan; (4)Kedaulatan Rakyat; (5)Keadilan Sosial.

Pada Pidato 30 September 1960 di PBB dengan judul To Build The World Anew :

(1)Believe in God; (2)Nationalism; (3)Humanity; (4)Democracy; (5)Social Justice.

 

PN Pos dan Telekomunikasi Republik Indonesia

17 Agustus 1965 (20 Tahun Indonesia Merdeka)

(1)Ketuhanan Yang Maha Esa;(2) Kedaulatan Rakyat; (3)Kebangsaan; (4)Peri Kemanusiaan; (5)Keadilan Sosial.

KONSTITUSI

Pemboekaan Oendang Oendang Dasar 18 Agustus 1945 [Berita Repoeblik Indonesia Tahoen II

No. 7, 15 Febroeari 1946] adalah

Ketuhanan Yang Maha Esa; Kemanusiaan Yang Adil Dan Beradab; Persatuan Indonesia;

Kerakyatan Yang Dipimpin Oleh Hikmah Kebijaksanaan Dalam Permusyawaratan/Perwakilan;

Keadilan Sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

Dengan catatan :

Baik Mukadimah Konstitusi Republik Indonesia Serikat [Keputusan Presiden RIS 31 Januari

1950 Nr.48, LN 50-3, 6 Februari 1950] maupun Mukadimah Undang-Undang Dasar Sementara

Republik Indonesia [Undang-undang 15 Agustus 1950 No. 7, LN 50-56, 15 Agustus 1950,

Penjelasan TLN 37], tercantum pengakuan

Ketuhanan Yang Maha Esa, Perikemanusiaan, Kebangsaan, Kerakyatan, Keadilan Sosial

Baik Lembaran Negara Republik Indonesia No. 75, 1959 tentang Keputusan Presiden Republik

Indonesia No. 150 Tahun 1959, Dekrit Presiden Republik Indonesia / Panglima Tertinggi

Angkatan Perang tentang Kembali Kepada Undang-Undang Dasar 1945, maupun Risalah Rapat

Paripurna ke-5 Sidang Tahunan MPR Tahun 2002 Sebagai Naskah Perbantuan Dan Kompilasi

Tanpa Ada Opini, 10 Agustus 2002, mencantumkan jiwa atau batang tubuh PANCASILA yakni

Ketuhanan Yang Maha Esa; Kemanusiaan Yang Adil Dan Beradab; Persatuan Indonesia;

Kerakyatan Yang Dipimpin Oleh Hikmah Kebijaksanaan Dalam Permusyawaratan/Perwakilan;

Keadilan Sosial bagi seluruh rakyat Indonesia,

sebagaimana juga Butir-butir PANCASILA, Nilai dan Norma yang terkandung dalam Pedoman

Penghayatan dan Pengamalan PANCASILA (Eka Presetya Pancakarsa) sesuai dengan

Ketetapan No. II/MPR/1978 tanggal 22 Maret 1978.

Riwayat Jiwa PANCASILA Pra 1 Juni 1945

Seperti dapat disimak dari www.jakarta45.wordpress.com [lembar 123 Tatanilai Kearifan Lokal Nusantara], maka batang tubuh atau jiwa PANCASILA dapat ditemui pula di

3.1. AJARAN LIMA PINTU UTAMA dari Prabu Liman Senjaya Kusumah, negara Galuh Pakuan, 1545 M yakni (1) Semiaji (cerminan Kemanusiaan), (2) Bratasena (cerminan Persatuan), (3) Harjuna (cerminan Keadilan), (4) Nakula (cerminan Kerakyatan), (5) Sadewa (cerminan Ketuhanan), dan

3.2. LIMA BANGUNAN UTAMA dari Prabu Susuk Tunggal, negara Soenda, 1345 M ialah (1) Bima Resi / Sadewa (pengaturan Tatacara & Pelaksanaan Keagamaan), (2) Punta Dewa / Bratasena (pengaturan Persatuan & Kesatuan Rakyat), (3) Narayana / Sri Kresna (pengaturan tegaknya Peri Kemanusiaan), (4) Madura / Kakak Sri Kresna (pengaturan hak2 Kerakyatan), (5) Suradipati / Harjuna (pengaturan Keamanan, Kesejahteraan, Keadilan).

Kedua tersebut diatas merujuk paparan dari Bapak Mohamad K. Soeseno, Barisan Marhaenis Indonesia, Majalaya [21 Juli 2007] dilanjut dengan tertulis. Dan dengan adanya semacam keteraturan waktu yaitu 1345, 1545 dan 1945 maka hal itu dapat memandu kita menggunakan tahun 2045 sebagai tonggak (milestone) sejarah kiprah PANCASILA dimasa depan.

3.3 DASHA SHILA pada kitab Sutasoma [era Majapahit], berisi (1) Janganlah menyakiti perasaan orang, (2) Janganlah menjatuhkan hukuman yang tidak adil, (3) Janganlah menjarah harta rakyatmu, (4) Janganlah menunda kebaikan terhadap mereka yang kurang beruntung, (5) Mengabdilah kepada mereka yang sadar, (6) Janganlah menjadi sombong, walau banyak orang menghormatimu, (7) Janganlah menjatuhkan hukuman mati, kecuali menjadi tuntutan keadilan, (8) Adalah yang terbaik, jika kau tidak takut mati, (9) Dan bersabar dalam keadaan susah, (10) Adalah yang terbaik jika kau berjiwa besar dan memberi tanpa pilih kasih. Dan pemaknaan terhadap jiwa PANCASILA adalah bahwa butir (1) merupakan landasan untuk berdemokrasi, dimana kepentingan rakyat banyaklah yang utama, dengan catatan bahwa suara terbanyak bukan berarti kepentingan rakyat banyak. Maka butir (1) ini harus dijiwai oleh butir (2) yang merupakan asas keadilan, dimana asas keadilan ini digunakan sebagai sarana untuk mencapai yang tercantum di butir (3) dan butir (4) yakni kemakmuran dan kesejahteraan. Adapun butir2 (5), (6), (7) dan (9) berkaitan dengan keagamaan. Keagamaan disini bukan hanya sekedar beragama (ritual) tetapi merupakan esensi dari beragama, dan esensi beragama ini akan tercermin dari tingkah laku. Kemudian butir terakhir (10) adalah berkaitan dengan kemanusiaan. Sehingga pemaknaan DASHA SHILA dapat disarikan menjadi

(1) Demokrasi demi terwujudnya (2) Keadilan, Kesejahteraan/Kemakmuran bagi semua, (3) Keagamaan demi terwujudnya (4) Manusia yang berperikemanusiaan, dan (5) asas kebangsaan adalah sebagai ruang (tempat) untuk mewujudkan hal-hal diatas, sebagai satu bangsa yakni bangsa Indonesia [Dana, Politikana, 15 April 2009]

Jiwa PANCASILA bersemangat Al Qur’an

Sebagaimana bisa dipahami dari www.nusakalapa.wordpress.com] khususnya lembar Penjelasan Hubungan PANCASILA dan ayat-ayat Al Qur’an [Lampiran-1, 6 April 2008], maka dapat disimpulkan bahwa jiwa PANCASILA itu adalah seharusnya keseharian bagi kehidupan umat ketika mengemban Firman-Firman Allah Yang Maha Kuasa.

Jiwa PANCASILA adalah MAQASID SYARIAH [Adiwarman A Karim, Imam al Syathibi, kitab al Muwafaqat] yakni

(1) Melindungi agama (Ps – Ketuhanan Yang Maha Esa), (2) Melindungi jiwa (Ps – Perikemanusiaan yang adil dan beradab), (3) Melindungi keutuhan keluarga besar (Ps – Persatuan Indonesia), (4) Melindungi akal pendapat (Ps – Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/ perwakilan, (5) Melindungi hak atas harta (Ps – Keadilan Sosial bagi seluruh rakyat Indonesia).

PANCASILA Penerang Perdamaian Dunia

Melalui utusannya, penulis terima informasi Januari 2008 tentang Bapak La Ode Amunu Ahmad Muhammad Nur Kaimuddin dari Dusun Tanjung Yainuelo, Desa Sepa, Amahai, Maluku Tengah, pada tanggal 13 Nopember 1989 telah menerima petunjuk Kalam Allah Ta’ala “Kalau kamu jadi dukun, sesaat nanti kamu dukung dunia. Sekarang kamu jadi tukang urut, sesaat nanti kamu urus dunia”, dalam bukunya Pelita Penerang Dunia, Amanat Tuhan Terhadap Umat Manusia Sedunia, Ikatan Pendukung Perjalanan Sejarah Dunia, Garuda Pancasila Sakti, sbb :

Lima Sinar Cahaya itu adalah (1) Cahaya Putih, (2) Cahaya Kuning, (3) Cahaya Hijau, (4) Cahaya Merah, (5) Cahaya Hitam. Lima Sinar Cahaya itu disebut pula sebagai PANCASILA, adalah Cahaya Ilahi (Nur Allah) yang merupakan kebesaran dan kemuliaan Allah dan merupakan satu kesatuan yang utuh tidak terpisahkan [Bersatu Menuju Perdamaian, Ikatan Pendukung Perjalanan Sejarah Dunia, Garuda Pancasila Sakti].

Dengan catatan :

BUNG KARNO mengedepankan istilah LEITSTAR atau Bintang Kepemimpinan bagi sosok PANCASILA ini [Kursus ke-2 tentang PANCASILA, 16 Juni 1958 di Istana Negara]

Batu Pentagonal (Era Megalitik, Gunung Padang, Cianjur, Jawa Barat),

Jafar M. Sidik, Kamis, 17 September 2009 06:35 WIB

Selengkapnya dapat dibaca dari http://www.jakarta45.wordpress.com


0 Responses to “Pancasila Jatidiri Bangsa”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




Blog Stats

  • 3,243,695 hits

Recent Comments

Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Sejarah : Bangsa Lemuria, Lelu…

%d bloggers like this: