Archive for July, 2012

31
Jul
12

Kebudayaan : Wedhatama

seikat syair wedhatama

Bonggan kang tan merlokena
Mungguh ugering aurip
Uripe lan tri prakara
Wirya – Arta tri Winasis
Kalamun kongsi sepi
Saka wilangan tetelu
Telas tilasing janma
Aji godhong jati aking
Temah papa, papariman ngulandara

[Salah sendiri bagi yang tak memerlukan,
(bahwa) pokok dari kehidupan itu,
hidupnya atas tiga perkara,
Wirya – Arta ketiganya Winasis
Jika sampai tidak punya ketiganya
hilang sudah jejak seorang manusia
lebih berharga daun jati kering
Maka akan hidup sengsara terlunta-lunta)
Ya, Wirya adalah terhormat, bermartabat karena telah berguna
bagi masyarakatnya, pantas menjadi suri tauladan dan jadi
seorang pemimpin. Orang wirya dihormati dan dihargai.
Arta (sering juga disebut Kerta) adalah berkecukupan dalam
hal harta kepemilikan. Jaman sekarang *arta* menjadi
sepadan dengan uang atau dana. Winasis adalah terpelajar.
Intelektual yang arif bijaksana. Maka wajar kalau
sampai seseorang tanpa ketiganya, ibaratnya lebih berharga
daun jati kering yang (di jaman itu) dapat dijadikan
pembungkus tempe …;p. Lha kalau orang, buat bungkus apa?
Ah ternyata dalam wedhatama, yang konon adalah
kritik terselubung dari Wulangreh, terkandung semangat
kewirausahaan. Apalagi dalam salah satu pupuh pucungnya
sebagai berikut:
Ngelmu iku
Kalakone kanthi laku
Lekase lawan khas
Tegese khas nyantosani
Setya budya pangekesing durangkara

[Pengetahuan itu bermanfaat bila dilaksanakan
mulainya dengan semangat (antusias)
yang maksudnya memperkuat niat dan usaha
untuk “membungkam” nafsu angkara]
Ya pengetahuan tanpa pelaksanaan adalah perbuatan
orang bodoh, kata Bapak Manajemen Peter Drukker (1985).
Pikiran baik tanpa realisasi dan implementasi tinggalah
sebagai ide-ide saja. Seperti konsep dan sketsa helikopter,
kapal selam dan mesin penempa otomatis buatan Leonardo
Davinci…..
 
Bahwa ada semangat yang berlawanan dengan yang
dipersepsikan banyak orang sekarang, itulah awal munculnya
inovasi dan kreativitas.
Nuwun,
Ki Denggleng Pagelaran
0819-31101719
31
Jul
12

Hukum : Batal Demi Hukum KUHP Diminta Batalkan MKRI

https://jakarta45.files.wordpress.com/2011/12/jakarta-452.png?w=637&h=609&h=609

 

Jumat, 27/07/2012 17:31 WIB

Yusril Minta MK Batalkan Frasa ‘Batal Demi Hukum’ di Pasal KUHAP

Salmah Muslimah – detikNews
Jakarta – Mahkamah Konstitusi (MK) menggelar sidang perdana pengujian materiil UU No 8 Tahun 1981 Kitab Undang-undang Hukum Acara Pidana (KUHAP) yang dimohonkan oleh Parlin Riduansyah. Pemohon meminta frasa ‘batal demi hukum’ dalam KUHAP dihapuskan.

“Menyatakan bahwa frasa ‘batal demi hukum’ dalam pasal 197 ayat (2) KUHAP secara materil bertentangan dengan UU 1945 dan tidak memiliki nilai hukum,” ucap kuasa hukum Parlin, Yusril Ihza Mahendra, saat menyampaikan permohonananya di ruang sidang MK, Jalan Medan Merdeka Barat, Jakarta, Jumat (27/7/2012).

Menurut Yusril, pihaknya mengajukan uji materi ke MK, agar MK menafsirkan apakah putusan batal demi hukum bisa dieksekusi atau tidak. Jika MK menyatakan putusan ‘batal demi hukum’ tidak dapat dieksekusi, tidak mempunyai nilai hukum, dan tidak berkekuatan hukum tetap, maka orang-orang yang diadili oleh pengadilan tidak dapat dihukum.

“Orang-orang yang diadili oleh pengadian kalau putusannya batal demi hukum tidak dapat dieksekusi,” ucap mantan Menteri Sekretaris Negara ini.

Yusril menambahkan jika ada putusan ‘batal demi hukum’ dan jaksa tetap mengeksekusi orang tersebut ke penjara, maka jaksa bisa dianggap merampas kemerdekaan orang. “Bisa diancam pidana karena melanggar pasal 313 KUHP,” ujar Yusril.

Ahmad Fadlil Sumadi selaku ketua Majelis Hakim menyarankan untuk lebih memperjelas kerugian yang diakibatkan dari norma ambigu yang dialami oleh pemohon.

Di kesempatan yang sama Muhammad Alim selaku hakim anggota memberikan saran agar pemohon mengajukan peninjaun kembali (PK). Hal itu dikarenakan ada satu kesalahan yang bersifat fatal.

“Saya lihat di Pasal 264 ayat (3) untuk PK itu kan tidak ada jangka waktunya. Jadi mungkin supaya dua upaya bisa jalan ada baiknya juga dilakukan peninjauan kembali,” saran Alim.

Sidang ditutup dan dilanjutkan 14 hari mendatang untuk perbaikan permohonan. Yusril berharap MK bisa memberikan kepastian hukum. “Semoga ada kepastian hukum mengenai putusan yang batal demi hukum itu,” tutup Yusril.

31
Jul
12

Pariwisata : Perjalanan Asia Tenggara

Rencana Perjalanan Asia Tenggara Pertama

Oleh Sigit Adinugroho – Jum, 6 Jul 2012

Ketika memulai perjalanan, kita memikirkan tempat tujuan apa yang kiranya cocok, baik dari segi biaya maupun tingkat tantangannya. Warga Australia sebagai contoh, mereka banyak berkunjung ke negara-negara Eropa untuk permulaan, karena infrastrukturnya mirip dan gegar budayanya tidak terlalu jauh.

Setelah itu, mereka akan bepergian ke Thailand atau Bali, karena walaupun berbahasa asing, infrastruktur pariwisatanya sudah terbangun. Ketika sudah merasa lebih percaya diri, mereka mulai melirik negara-negara yang sulit, seperti India atau Vietnam.

Bagaimana dengan warga Indonesia? Menentukan tujuan pertama tidaklah sulit. Jika tidak ingin ke luar negeri, silakan bepergian ke provinsi di Indonesia, misalnya ke Sumatera, atau paling mudah ke kepulauan sekitar Pulau Jawa seperti Karimunjawa dan Sempu, lalu berlanjut ke Bali dan Nusa Tenggara Barat atau Timur jika mampu.

Namun, banyak pula tujuan wisata di Indonesia dengan tingkat kesulitan jauh lebih tinggi dari tujuan internasional di negara tetangga. Jika belum mampu atau percaya diri untuk menjelajahnya, kita bisa berpikir untuk ke negara-negara Asia Tenggara. Selain belajar mempersiapkan paspor (kalau belum punya), kita bisa melihat budaya yang sedikit berbeda, dan merasa “terasing” walau sejenak.

Negara-negara Asia Tenggara mana sajakah yang patut dikunjungi ketika awal memulai perjalanan backpacking? Itu semua tergantung minat dan kemampuan. Berikut beberapa rencana perjalanan rekomendasi yang saya urutkan berdasarkan kepentingan waktu, biaya dan pengalaman.

Malaysia/Singapura
Jika baru pertama kali ke luar negeri, jarang jalan-jalan dan ingin infrastruktur yang nyaman, kunjungilah Malaysia dan/atau Singapura. Hampir pasti manajemen waktu akan lebih bermanfaat, karena kecenderungan tepat waktunya lebih tinggi dibanding negara-negara Asia Tenggara lain. Selain cocok untuk pemula, kedua negara ini cocok untuk mereka yang waktunya terbatas.

Tapi ingat, kedua negara ini tidak hanya untuk belanja. Cobalah menjelajah ke lokasi-lokasi yang kurang populer di mata warga Indonesia, seperti Taman Negara, P. Tioman, Ipoh, Kota Bharu, Sarawak, G. Kinabalu di Malaysia atau P. Ubin di Singapura. Penggemar kereta api bisa menaiki “The Jungle Railway” dari Kuala Lumpur ke Kota Bharu di timur laut semenanjung Malaysia. Coba juga Cherating untuk wisata pantai dan Cameron Highlands untuk wisata pegunungan.

Thailand
Thailand berhak ditulis sendiri dan dikunjungi dalam satu perjalanan saking luas dan menariknya negara ini. Cocok bagi mereka yang sudah “lolos” tahap pertama ke Singapura dan Malaysia dan menginginkan gegar budaya yang lebih tinggi.

Aksara dan bahasa yang berbeda menjadi tantangan tersendiri. Terkenal dengan infrastruktur pariwisata yang baik untuk wisatawan dari barat, tak heran ia menjadi tujuan favorit warga Australia, negara-negara Eropa dan Amerika Serikat.

Bangkok bahkan dinobatkan Lonely Planet sebagai tujuan backpacking terbaik di dunia. Sepanjang wilayahnya dari utara ke selatan, kita mendapati banyak sekali atraksi-atraksi kepulauan dan budaya yang menarik. Cobalah menjelajah dari Phuket, Koh Samui, Ko Samet, Ko Pha Ngan, provinsi Krabi untuk wisata bahari/pantai. Kunjungi Ayutthaya, Chiang Mai dan Chiang Rai untuk wisata historis dan budaya.

Thailand juga terkenal dengan wisata belanja dan kuliner, jadi jangan lewatkan juga.

Hoi An, kota tua di Vietnam. (Sigit Adinugroho)

Vietnam/Laos
Vietnam atau Laos tidak memiliki infrastruktur pariwisata sebaik Thailand, tapi berkembang sangat pesat, terutama Vietnam. Negara ini sangat gencar membuka diri bagi wisatawan dengan menawarkan biaya hidup yang sangat murah, bahkan terkadang lebih murah dari Indonesia.

Laos adalah gambaran negara yang lebih tenang dari Vietnam dan patut dikunjungi jika ingin wisata yang tenang dan romantis. Beberapa sorotan di Vietnam adalah Hanoi, Hoi An, Mui Ne, Ha Long Bay, Ho Chi Minh City dan Mekong Delta. Laos memiliki Vientiane dan Luangprabang.

Kamboja/Myanmar
Kamboja menawarkan pengalaman wisata historis dan budaya yang autentik terutama di Siem Reap, jika kita tertarik dengan keindahan candi Angkor Wat. Selain itu, Phnom Penh juga punya nilai historis yang kental. Jika semangat bertualang, bisa mencoba road trip atau perjalanan dengan kapal menyusuri Sungai Tonle Sap dari Siem Reap ke Phnom Penh.

Bagi yang lebih berani lagi berpetualang, cobalah ke Myanmar dan kunjungi reruntuhan Kerajaan Bagan di Mandalay yang mempersatukan negara ini sebelum ditubuhkan sebagai republik, atau Danau Inle, juga di Mandalay, yang dihuni 22 lebih etnis.

Bagaimana dengan Brunei? Negara ini kurang populer sebagai tujuan backpacking, tapi jika dilakukan bersamaan dengan perjalanan melintasi P. Kalimantan bagian utara maka tidak ada ruginya dicoba.

Kesimpulannya, mulailah dengan yang mudah, walau tak selalu murah: Singapura dan Malaysia dalam satu kali bepergian, lalu dilanjutkan dengan Thailand, dan pilihlah antara Vietnam atau Laos. Jika masih ada waktu dan keinginan, silakan jelajahi Kamboja. Jika ada keberanian, boleh melirik Myanmar.

Yang mana pilihan Anda? Ikuti poll yang tersedia di halaman Yahoo! Travel.

Sigit Adinugroho mengisi blog perjalanan www.ranselkecil.com.

Baca juga:

Jelajah Surga Makanan di Dongmen, Shenzhen
Pesona Danau Terluas di Asia Tenggara
[GALERI] Objek Wisata Gratis di Kuala Lumpur
[GALERI] Keindahan Tanaman Singapura di Gardens by the Bay
[GALERI] Resor Bawah Tanah yang Fantastis di Cina

31
Jul
12

IpTek : Bintang Bermassa Terbesar (320 x Massa Matahari)

TEKNOLOGI

Inggris Temukan Bintang Bermassa Terbesar

Bintang tersebut memiliki massa 320 kali lebih besar daripada massa matahari.

Kamis, 22 Juli 2010, 07:09 Antique, Harriska Farida Adiati
Lahirnya bintang baru di alam semesta

Lahirnya bintang baru di alam semesta (NASA/ESA)
Class-it

VIVAnews – Astronomer Inggris menemukan bintang dengan massa terbesar. Bintang yang diberi nama R136a1 tersebut memiliki massa 320 kali lebih besar daripada massa matahari.

Para ilmuwan di Universitas Sheffield menemukan bintang raksasa R136a1 tersebut, menggunakan Very Large Telescope milik European Southern Observatory di Chile dan data dari teleskop Hubble. R136a1 ditemukan di Nebula Tarantula di Large Magellanic Cloud, galaksi “satelit” yang mengorbit Bima Sakti.

Sebelumnya, bintang-bintang terberat yang pernah dikenal memiliki massa sekitar 150 kali massa matahari dan diyakini mendekati batas ukuran kosmik. Salah satu bintang terbesar sebelum R136a1 adalah Pistol Star dengan massa antara 80 hingga 150 massa solar dan Eta Carinae, sekitar 100 massa solar.

Menurut Astronomy Now seperti dikutip dari laman Telegraph, R136a1 memancarkan lebih banyak energi dibanding semua bintang di Nebula Orion. Bila bintang raksasa tersebut berada di sistem solar kita, dia akan lebih terang dibanding matahari.

Ada empat bintang di gugus bintang RCM 136a, di mana R136a1 berada, yang memiliki massa 150 kali massa matahari. Empat bintang itu mampu menyuplai setengah dari energi di seluruh gugus RCM 136a yang totalnya terdapat 100 ribu bintang.

Bintang-bintang besar seperti R136a1 diyakini terbentuk dari beberapa bintang muda yang bergabung, dan hanya ditemukan di inti gugus bintang. Hasil penelitian tim ilmuwan Inggris ini bisa ditemukan di jurnal Monthly Notices of the Royal Astronomical Society. (hs)

31
Jul
12

Spiritual : Alquran Kuno Peninggalan Kerajaan Hindu Bali

Alquran Kuno Peninggalan Kerajaan Hindu Bali

Kitab suci itu ditulis tangan oleh keluarga Raja Panji Sakti VI.

Minggu, 29 Juli 2012, 06:45 Eko Huda S, Bobby Andalan (Bali)
Alquran kuno peninggalan Kerajaan Hindu Buleleng

Alquran kuno peninggalan Kerajaan Hindu Buleleng (Bobby Andalan (Bali))

VIVAnewsPerkembangan Islam di Pulau Bali tidak lepas dari Puri (kerajaan) Buleleng yang bercorak Hindu. Bukti sejarah yang menggambarkan eratnya hubungan Puri Buleleng dengan perkembangan Islam terlihat dari sebuah peninggalan berupa Alquran kuno.

Kitab suci Islam itu ditulis tangan oleh seorang keluarga Raja Panji Sakti VI, I Gusti Ngurah Ketut Jelantik Celagi. Dia menyepi ke menyepi setelah terjadi perang saudara di Puri Buleleng.

Saat prahara mendera Puri Buleleng, Ketut Celagi menyingkir ke sebuah masjid. Dia diterima dengan tangan terbuka oleh Haji Muhammad Yusuf Saleh, imam pertama masjid tersebut. Berdasarkan catatan lontar dan cerita para pendahulu warga Buleleng, setiap orang yang menimba ilmu agama Islam kepada Haji Muhammad Yusuf Saleh diwajibkan menulis Alquran sebagai ujian akhir.

Ketut Celagi menggunakan kertas yang didatangkan daari Eropa untuk menulis Alquran ini. Selain itu, dia menulis ayat-ayat dalam Alquran ini dengan menggunakan bahan pewarna alami dari dedaunan lokal. Hiasan Alquran juga menggunakan ornamen-ornamen khas Bali.

Namun sayang, tidak diketahui tahun berapa Alquran ini ditulis oleh Ketut Celagi. Namun, berdasarkan catatan perang saudara di Puri Buleleng, Alquran ini diperkirakan ditulis pada tahun 1820-an.

Hingga kini, Alquran kuno ini tersimpan rapi di Masjid Agung Jami, Jalan Imam Bonjol, Singaraja. Alquran ini digunakan khusus saat Ramadan dan hari suci umat Muslim lainnya.

“Sebagai bukti sejarah kekerabatan komunitas Muslim Buleleng dengan Puri Buleleng, Alquran kuno ini disimpan oleh takmir Masjid Jami Singaraja,” kata Ketua Takmir Masjid Agung Jami, Ahmad Muchlis, Sabtu, 28 Juli 2012.

Menurut Muchlis, hingga saat ini banyak pihak yang datang ke Buleleng khusus untuk melihat Alquran kuno ini. Banyak yang menyarankan untuk dibuatkan micro film-nya. Namun, lantaran terkendala dana, niat itu tak kunjung direalisasikan.

Para pengurus Takmir Masjid Jami berharap Alquran kuno ini menjadi warisan budaya untuk mengeratkan tali silaturahmi antara komunitas umat Muslim Buleleng dengan Puri Buleleng. “Semoga bisa terus mempererat tali persaudaraan yang langgeng,” harap Muchlis.

30
Jul
12

Ideologi : Ketuhanan Dalam Pemikiran Soekarno

https://jakarta45.files.wordpress.com/2012/03/garuda-1.jpg?w=655

“Ketuhanan” Dalam Pemikiran Soekarno

OPINI | 30 July 2012 | 15:20

“Ketuhanan” Dalam Pemikiran Soekarno

Beberapa catatan tentang Ketuhanan dalam Pidato Lahir Pancasila 1 Juni 1945

Oleh:

Paulus Londo

I

Dari Empiris, Metafisik ke Yuridis

Negara kembali menaruh perhatian terhadap Pancasila. Bahkan Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) kini gencar menyosialisasikan 4 Pilar Kebangsaan yang intinya adalah Pancasila. Tentu, mau tidak mau semua harus menoleh kepada Pidato Ir. Soekarno pada tanggal 1 Juni 1945 yang kini dikenal sebagai Pidato Lahirnya Pancasila, ” termasuk jika mengupas prinsip “Ketuhanan” sebagai Sila –V dalam Pidato 1 Juni 1945, dan kemudian menjadi Sila Pertama dalam tata urutan Pancasila di berbagai dokumen berikutnya, tetap bertitik tolak dari isi pidato Soekarno tersebut. Namun, memahaminya dengan mendalam jelas perlu memahami alur pemikiran Soekarno tentang Ketuhanan, melalui berbagai referensi terutama tulisan dan pidato Soekarno, baik pada masa pra kemerdekaan maupun sesudahnya.

Kendati di masa Orde Baru, pernah ada upaya membangkitkan keraguan terhadap Soekarno sebagai penggali Pancasila, namun tak dapat disangkal bahwa Soekarno adakah sumber pertama dan utama yang memperkenalkan Pancasila bagi bangsa ini, bahkan bagi masyarakat dunia, dan Pidato Ir Soekarno 1 Juni 1945 di depan sidang Dokuritsu Zyunbi Tyoosakai (1) tanggal 1 Juni 1945 itulah yang jadi rujukan awal yang jadi dasar formulasi tata urutan sila-sila dari Pancasila yang dikenal saat ini.

Memang, urutan uraian tentang sila-sila (prinsip) dari Pancasila dalam pidato 1 Juni 1945, berbeda dengan tata urutan sila-sila sebagaimana tercantum dalam dokumen berikutnya, seperti pada Piagam Jakarta yang dirumuskan oleh Panitia Sembilan, di dalam Pembukaan UUD 1945, mau pun dalam pidato-pidato Soekarno di berbagai kesempatan. Namun semua itu, tidak mengurangi peran Soekarno sebagai “key person” dalam perumusan Pancasila baik sebagai dasar negara

maupun sebagai pandangan hidup bangsa. Dengan demikian, untuk dapat memahami Pancasila perlu memahami logika pemikiran Soekarno yang sebagian besar dibangun secara empiris melalui pengalaman sejarah kehidupan bangsa ini.

Tata urutan sila-sila Pancasila yang diucapkan oleh Ir. Soekarno pada 1 Juni 1945 adalah:

1. Kebangsaaan Indonesia

2. Internasionalisme – atau Perikemanusiaan

3. Mufakat – atau Demokrasi

4. Kesejahteraan Sosial

5. Ketuhanan

Sedangkan urutan sila-sila hasil Panitia Sembilan yang kemudian dikenal sebagai Piagam Jakarta adalah:

1. Ketuhanan Yang Maha Esa dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluknya.

2. Kemanusiaan yang adil dan beradab

3. Persatuan Indonesia

4. Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmah kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan.

5. Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

Selanjutnya, tata urutan sila-sila Pancasila di dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 adalah sebagai berikut:

1. Ketuhanan Yang Maha Esa,

2. Kemanusiaan yang adil dan beradab

3. Persatuan Indonesia

4. Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmah kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan

5. Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

Patut dipahami, formulasi dua tata urutan sila-sila dalam Pancasila yang terakhir disusun dengan mengacu kepada Pidato Ir. Soekarno 1 Juni 1945, dan proses formulasi penyusunanan juga melibatkan –bahkan dipimpin—oleh Ir. Soekarno. Bahwa ada perbedaan dalam tata urutan antara susunan pertama dengan yang kedua dan ketiga, itu terjadi karena Pidato 1 Juni 1945 adalah pidato tanpa teks, merupakan curahan hati Soekarno yang disampaikan secara spontan, sesuai dengan situasi dan kondisi pada saat itu. Dalam mengucapkan pidato 1 Juni 1945, Soekarno tidak mementingkan sistematika, melainkan ia lebih mengutamakan pengungkapan realita kehidupan masyarakat yang dirasakannya setiap hari yang sesungguhnya gambaran dari Pancasila itu sendiri.

Karena itu pula, tata urutan sila-sila Pancasila yang diucapkan pada 1 Juni 1945 dapat disebut sebagai formulasi empiris. Sedangkan versi Panitia Sembilan dapat disebut sebagai formulasi filosofis sedangkan di dalam Pembukaan UUD 1945 adalah formulasi yuridis. Pemahaman mendalam nilai-nilai yang terkandung di dalam Pancasila baik filosofis maupun yuridis tentu hanya tercapai jika terlebih dahulu memahami fakta empiris yang diungkapkan oleh Soekarno, serta logika pemikiran Soekarno, terutama pada masa pra kemerdekaan.

II

Ketuhanan Dalam Pikiran Soekarno

Terkait Pidato 1 Juni 1945, maka satu hal yang kerap dipertanyakan oleh berbagai pihak adalah penempatan “Prinsip Ketuhanan” pada urutan terakhir, sementara prinsip Kebangsaan pada urutan pertama. Oleh karena itu beberapa kalangan menilai Soekarno seorang nasionalis sekularis, setidaknya jika menggunakan alur logika barat. Tetapi, penilaian seperti ini kerap terbantahkan jika melihat alur pemikiran Soekarno di berbagai tulisan dan pidatonya, yang sesungguhnya sarat dengan nilai-nilai keimanan (tauhid).

Pada tulisannya berjudul “Nasionalisme, Islamisme dan Marxisme,” dalam buku Di Bawah Bendera Revolusi Jilid I (2),terlihat dengan jelas upaya Soekarno mempertemukan aliran pemikiran yang oleh banyak kalangan mustahil dapat dipertemukan seraya menempatkannya dalam perspektif keimanan. Yakni dengan melihat esensi dan makna yang lebih tinggi atau hogere optrekking (3) dari masing-masing paham itu. Dalam tulisan yang diterbitkan oleh Suluh Indonesia Muda (1926) Sukarno mengatakan:

“…nasionalisme di dalam kelebaran dan keluasannya mengasih tempat cinta pada lain bangsa, sebagai lebar dan luasnya udara, yang mengasih tempat pada segenap sesuatu yang perlu untuk hidupnya segala hal yang hidup … nasionalisme yang membuat kita menjadi ‘perkakasnya Tuhan’ dan membuat kita menjadi ‘hidup dalam roh’ …”

Lalu, mengapa pada Pidato 1 Juni 1945, Prinsip Ketuhanan diuraikan paling terakhir ?

Jawabannya bisa beragam. Tapi jika dikaitkan dengan konteks pidato tersebut, maka penempatan Prinsip Kebangsaan pada urutan pertama, tidak semata-mata pertimbangan teknis untuk memberikan jawaban to the point terhadap pertanyaan Ketua BPUPKI Radjiman Wedyodiningrat, tentang prinsip utama yang jadi fondasi bagi negara yang akan dibangun, tetapi sekaligus menjelaskan kerangka berpikir Soekarno yang berproses dari fisik empiris ke metafisik. Kerangka berpikir ini dengan sendirinya menjelaskan pernyataan Soekarno bahwa ia bukan pencipta Pancasila, melainkan hanya menggali nilai-nilai dasar tersebut dari bumi kehidupan bangsa Indonesia. Dan isi pidato itu mengalir spontan dari dalam hati serta pikiran Soekarno.

Lantas, apakah karena itu pula, Soekarno mengabaikan dimensi keimanan dalam menyampaikan prinsip-prinsip yang menjadi sila-sila dari pada Pancasila ?

Jika menyimak Pidato 1 Juni 1945, sesungguhnya saat Soekarno menjelaskan prinsip kebangsaan, ia telah meletakkan konsep negara sebagai sesuatu yang berciri khas Indonesia yang didalamnya terkandung nilai –nilai keimanan. Dalam pidato itu Soekarno berkata:

“.. Orang dan tempat tidak dapat dipisahkan! Tidak dapat dipisahkan rakyat dari bumi yang ada di bawah kakinya. Ernest Renan (4) dan Otto Bauer (5) hanya sekedar melihat orangnya. Mereka hanya memikirkan gemeinschaftnya dan perasaan orangnya, “I ame et le desir. Mereka hanya mengingat karakter, tidak mengingat tempat, tidak mengingat bumi, bumi yang didiami manusia. Apakah tempat itu ? tempat itu adalah tanah air. Tanah air itu adalah satu kesatuan. Allah SWT membuat peta dunia, menyusun peta dunia……………………………

Maka manakah yang dinamakan tanah tumpah darah kita, tanah air kita ? Menurut geopolitik (6) maka Indonesia-lah tanah air kita. Indonesia yang bulat – bukan Jawa saja, bukan Sumatera saja, atau Borneo saja atau Selebes saja atau Ambon saja atau Maluku saja, tetapi segenap kepulauan yang ditunjuk oleh Allah SWT menjadi satu kesatuan antara dua benua dan dua samudera – itulah tanah air kita (7) (Pidato 1 Juni 1945)

Beberapa hal penting dari pidato diatas adalah:

a. Soekarno menghendaki negara yang dibangun adalah negara kebangsaan (nation state) yang menghimpun dan mengayomi keanekaragaman masyarakat Indonesia.

b. Soekarno menilai konsep “bangsa” dari sejumlah pemikir barat yang hanya melihat bangsa dari aspek “gemeinschaft” (karakter dan perangai manusia), tidak melihat adanya pertautan bangsa dengan alam yang menjadi ruang kehidupannya (lebensraum).

c. Bangsa dan negara sebagai sesuatu yang memiliki makna spiritual, yakni memiliki dimensi keimanan (tauhid), karena terbentuknya bangsa dan negara ini sebagai kehendak illahi.

Bagi Soekarno bangsa dan negara Indonesia tidak hanya suatu fenomena sosiologis, tapi juga memiliki makna geopolitik dan teologis. Tampaknya, Soekarno sengaja menjelaskan ketiga hal itu dibagian awal saat mengupas prinsip kebangsaan, karena sesungguhnya saat menyampaikan pidato itu, kemungkinan besar ia kuatir apa yang ia sampaikan bakal ditolak sebagian anggota BPUPKI –sebagaimana pembicara sebelumnya—terutama oleh mereka yang mengusulkan konsep negara berdasar agama.

Mengedepankan dimensi ketuhanan sebagai bagian yang esensial dari kebangsaan dan kenegaraan yang hendak dibangun bersama tentu dapat menentramkan hati anggota BPUPKI termasuk mereka yang mengusung aspirasi negara berdasar agama. Apalagi hal yang sama secara tersirat juga dipertegas pada saat menjelaskan prinsip kedua, yakni Internasionalisme dengan mengutip pendapat Mahatma Gandhi, yakni “My Nationality Is Humanity” dan prinsip ketiga yakni Permusyawaratan/Perwakilan yang memberikan peluang bagi pemeluk agama memperjuangkan aspirasinya

“Untuk pihak Islam, inilah tempat yang terbaik untuk memelihara agama. Kita, saya pun adalah orang Islam –maaf beribu-ribu maaf, keislaman jauh belum sempurna—tetapi kalau Saudara-saudara membuka saya punya dada, dan melihat saya punya hati, Tuan-tuan akan dapati tak lain, tidak bukan hati Islam. Dan hati Islam Bung Karno ini, ingin membela Islam dalam mufakat, dalam permusyawaratan. Dengan cara mufakat, kita perbaiki segala hal, juga keselamatan agama yaitu dengan jalan pembicaraan atau pun permusyawaratan di dalam Badan Perwakilan rakyat. (Pidato 1 Juni 1945)

Menghubungkan prinsip kebangsaan, internasionalisme (peri kemanusiaan) serta prinsip permusyawaratan/perwakilan, tidak hanya menunjukkan kemampuan Soekarno mengadopsi pemikiran barat modern, tapi sekaligus memperbaikinya dengan memberi landasan keimanan. Beberepa sumber menjelaskan dalam soal kebangsaan, Soekarno memang cenderung memandangnya sebagai fenomena sosial, sebagai fakta empiris. Tapi, persinggungannya dengan H Agus Salim, membuka cakrawala baru tentang kebangsaan sebagai fenomena teologis, yakni tauhid dalam ajaran Islam.

Tauhid mengandung pengertian adanya kesatuan yang Mutlak yakni Allah. Selain itu prinsip Tauhid mengandung pengertian akan kesamarataan semua makhluk di depan Allah SWT tanpa membedakan rasa dan asal usulnya.

III

Pancasila – Trisila – Ekasila

Sebagai formulasi empiris yang disampaikan secara spontan, tampaknya Soekarno tidak terlalu memperdulikan kemasan, sebab bagi dia yang penting kandungan isi yang terdapat di dalamnya. Karena itu itu, selain ia menawarkannya sebagai Pancasila, ia juga menawarkan formulasi yang lebih esensial yakni Trisila, yakni:

1. Sosio Nasionalisme

2. Sosio Demokrasi

3. Ketuhanan Yang Maha Esa

Dalam bentuk yang lebih esensial lagi, Soekarno menawarkan Ekasila yakni: Gotong Royong.

Nasionalisme sosial yang didalamnya mengandung prinsip kebangsaan dan perikemanusiaan, yang menegaskan pentingnya hubungan antara bangsa atas dasar kemerdekaan dan keadilan sesungguhnya memiliki makna tauhid. Begitu pula Demokrasi sosial yang menegaskan tegaknya keadilan sosial sebagai prasyarat terciptanya kesejahteraan sosial juga memiliki basis keimanan karena semua itu dapat ditemukan di dalam ajaran agama-agama.

Sedangkan gotong royong, perikehidupan hidup tolong menolong dalam tradisi masyarakat Indonesia, tidak hanya merupakan wujud keterikatan sosial antar satu dengan yang lain, tapi lebih dari itu memiliki makna religius spiritual yang dipandang sakral.

Nilai-nilai yang terkandung di dalam perikehidupan bangsa Indonesia yang oleh Soekarno diformulasikan baik dalam Pancasila, Trisila dan Ekasila, sesungguhnya dapat ditemukan di dalam pesan-pesan agama yang hidup subur di Indonesia. Karena itu, saat mengenalkan Pancasila kepada dunia, Presiden Soekarno saat berpidato di depan Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa mengutip surat Al Hujarat ayat 13 yang berbunyi “Wahai manusia sesungguhnya aku menjadikan kamu dari seorang lelaki dan seorang perempuan, agar kamu hidup bersuku-suku dan berbangsa-bangsa, dan kamu sekalian dapat mengenal satu sama lain, tapi ketahuilah yang mulia diantara kamu sekalian ialah yang bertaqwa kepadaKu.” (8)

Begitu pula, pada kesempatan yang berbeda, ia kerap mengutip ayat-ayat Injil tentang Hukum Kasih, atau menjelaskan makna “Tat Twam Asi” yang terdapat di dalam kitab agama Hindu “Uphanisad Chandogya, bahkan pada saat menerima gelar Doctor (HC) di bidang ilmu Tauhid dari Universitas Muhammadiyah Jakarta, Soekarno mengutip beberapa kalimat dari serat Bhagavat Gita dari umat Hindu.

IV

Negara Bertuhan

Kuatnya dimensi ketuhanan di dalam pemikiran Soekarno sebagaimana tercermin di dalam Pidato 1 Juni 1945 antara lain terlihat pada konsep “negara bertuhan” sebagai pengembangan perikehidupan masyarakat Indonesia di dalam kehidupan berbansa dan bernegara. Dalam pidato itu Soekarno berkata:

“ …. Prinsip yang kelima hendaknya: Menyusun Indonesia merdeka dengan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. Prinsip Ketuhanan! Bukan saja bangsa Indonesia bertuhan, tetapi masing-masing orang Indonesia hendaknya ber-tuhan, Tuhannya sendiri. Yang Kristen menyembah Tuhan menurut petunjuk Isa Al Masih, yang Islam bertuhan menurut petunjuk Nabi Muhammad SAW, orang Budha menjalankan ibadatnya menurut kitab-kitab yang ada padanya.

Tapi marilah kita semuanya ber-Tuhan. Hendaknya negara Indonesia ialah negara yang tiap-tiap orangnya menyembah Tuhan dengan cara yang leluasa. Segenap rakyat hendaknya ber Tuhan secara kebudayaan, yakni dengan tiada “egoisme agama.” Dan hendaknya negara Indonesia suatu Negara yang ber-Tuhan. (9)

Marilah kita amalkan, jalankan agama, baik Islam maupun Kristen dengan cara berkeadaban . Apakah cara yang berkeadaban itu ? Ialah hormat menghormati satu sama lain. (tepuk tangan sebagian hadirin).

Nabi Muhammad SAW telah memberi bukti yang cukup tentang verdraagzaamheid (10) ]tentang menghormati agama-agama lain. Nabi Isa pun telah menunjukkan verdraagzaamheid itu. Marilah kita didalam Indonesia merdeka yang kita susun ini –sesuai dengan itu—menyatakan bahwa prinsip kelima dari negara kita ialah Ketuhanan yang berkebudayaan. Ketuhanan yang berbudi pekerti yang luhur, Ketuhanan yang hormat menghormati satu sama lain. Hatiku akan berpesta raya, jikalau Saudara-saudara menyetujui bahwa Negara Indonesia merdeka berazaskan Ketuhanan Yang Maha Esa !

Disinilah, dalam pengakuan azas yang kelima inilah, saudara-saudara, segenap agama yang ada di Indonesia sekarang mendapat tempat sebaik-baiknya. Dan negara kita ber-Tuhan pula! Ingatlah, prinsip ketiga –permufakatan, perwakilan—disitulah tempatnya kita mempropagandakan ide kita masing-masing dengan cara yang tidak onverdraagzaam (11) yaitu dengan cara yang berkebudayaan (Pidato 1 Juni 1945)

Bagi Soekarno, negara berketuhanan adalah konsekuensi logis dari perikehidupan masyarakat Indonesia yang bertuhan. Atas dasar ketuhanan, diyakni bahwa segala sesuatu yang terjadi di atas bumi adalah kehendak Tuhan. Karena itu, dalam menjelaskan Prinsip Kelima yakni Ketuhanan, Soekarno memberi penekanan terhadap dua hal, yakni:

Pertama, ketaqwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa sebagai yang absolut berlaku di semua aspek dan dimensi kehidupan, termasuk dalam kehidupan berbangsa dan bernegara;

Kedua, relasi hubungan antar pemeluk agama dalam masyarakat yang beraneka ragam.

Negara sebagai instititusi yang menaungi segenap bangsa Indonesia mesti memberikan kesempatan yang sama dan seluas-luasnya bagi warga negara agar dapat menyembah Tuhan dan menjalankan agamanya dengan leluasa. Relasi antar pemeluk agama didasarkan pada toleransi, tanpa egoisme agama, keluhuran budi, yakni dengan cara yang berbudaya. Hal ini oleh Soekarno disebut sebagai “Ketuhanan Berkebudayaan,” artinya kehidupan spiritual yang berkembang maju seirama dengan perkembangan kebudayaan.

Setiap pemeluk agama dapat memperjuangkan aspirasi keagamaannya, tapi dengan cara berbudaya, yakni dengan cara permufakatan melalui badan perwakilan. Pengamalan prinsip negara betuhan, dan ketuhanan berkebudayaan, tentu hanya bisa terwujud jika sungguh-sungguh juga mengamalkan sila-sila lain dari Pancasila.

Manusia yang menanamkan nilai-nilai Ketuhanan berkebudayaan dalam dirinya, senantiasa akan mengedepankan nilai kemanusiaan. Dari kemanusiaan maka lahirlah hukum-hukum yang adil dan beradab, sebagai dasar terciptanya keadilan sosial. Dengan tatanan itu maka manusia dapat bersatu sebagai satu bangsa yang hidup di dalam negara sebagai sarana perjuangan menuju terbentuknya peradaban baru, Indonesia Baru, dimana manusia yang jumlahnya terdiri ratusan suku, beratus-ratus bahasa dilebur menjadi Manusia Indonesia.

V

Problema Masa Kini

Prinsip negara Bertuhan dan Ketuhanan Berkebudayaan sesungguhnya menjadi dasar moral bagi bangsa Indonesia, baik dalam hidup berkebangsaan mau pun dalam bernegara. Karena itu, ia harus tetap dijaga dan dikembangkan secara kreatif agar dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Soekarno, menegaskan bahwa Pancasila memang digali dari kenyataan hidup masyarakat Indonesia. Artinya, ia berada dialam nyata dan senantiasa dapat dipergunakan sebagai acuan sekaligus parameter dalam penyelenggaraan kehidupan kebangsaaan dan kenegaraan.

Tapi, sepanjang masa Orde Baru Pancasila mengalami pengkramatan yang luar biasa. Ia dipandang sebagai sesuatu yang sakti berbau magis, sehingga menjauh dari realitas kehidupan masyarakat Indonesia. Dalam hidup berketuhanan misalnya, yang kerap terjadi adalah reduksi pemaknaan, yakni sebatas diukur dengan semaraknya ritual keagamaan. Bahkan perikemanusiaan kian kehilangan makna teologis ketika pelanggaran atas hak-hak azasi manusia menjadi sesuatu yang lazim. Sementara kedaulatan rakyat dipersempit menjadi kedaulatan segelintir elite belaka. Belakangan, prinsip musyawarah untuk mufakat kian tersingkir seiring dengan dominasi melalui kompetisi politik kian diniscayakan.

Sebagian orang pun berkilah, bahwa suara rakyat adalah suara Tuhan. Karena itu suara mayoritas bisa dimaknai pula sebagai suara tuhan. Lantas bagaimana memaknai “Mayoritas sebagai Tuhan,” jika dikaitkan dengan Prinsip Ketuhanan Yang Maha Esa ?

Bagi Soekarno, negara berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa adalah wujud tauhid fungsional. Pengabdian kepada Tuhan Yang Maha Esa mesti dapat jadi sumber energi pendorong terwujudnya persatuan nasional. Sebab sesungguhnya warga bangsa yang bertuhan ini berada pada jalan yang sama dalam emanifestikan nilai-nilai dan atribut-atribut ketuhanan (divine values and attributes). Sesama pemeluk agama memiliki space yang sama untuk menyemai kebajikan-kebajikan ketuhanan dalam kehidupan kebangsaan Indonesia.

Dalam menapak tilasi pemikiran Soekarno sebagai Bapak Bangsa, saat ini tentu muncul rasa penyesalan menyaksikan situasi keberagamaan kontemporer. Para pemeluk agama lebih sibuk mengurusi teologi dan bahkan saling mempertengkarkan ritus pemeluk agama lainnya, akibatnya jangankan bisa bersatu memerangi musuh kemanusiaan yang hakiki yakni tiran-tiran yang merintangi perwujudan filosofi penciptaan makhluk. Pemuka agama di suatu daerah lebih sering berfokus mengupayakan agar pemeluk agama berbeda memeluk agamanya, dari pada berjuang agar kekayaan alam yang diciptakan Tuhan di daerah itu betul-betul diperuntukkan bagi kesejahteraan manusianya.

Kealpaan bangsa ini menggali dan memperkaya nilai-nilai Pancasila, tampaknya telah membuat bangsa ini berjalan tanpa arah. Realita faktual menunjukkan, bahwa saat ini, semangat kesukuan/kedaerahan dan keagamaan kian menguat. Bersamaan dengan itu, kehidupan sosial, politik, ekonomi cenderung kehilangan akar teologisnya.

Karena itu, menyegarkan kembali semangat atas dasar nilai-nilai Pancasila menjadi kewajiban kita semua. Ia harus dikembalikan lagi pada arena kehidupan nyata agar berfungsi efektif sebagai landasan kehidupan berbangsa dan bernegara.

VI

Pengembaraan Pemikiran Soekarno

Menurut Soekarno, prinsip Ketuhanan (salah satu sila dari Pancasila) digali dari perikehidupan masyarakat Indonesia, dan dengan keyakinannya itu, ia lebih memilih Indonesia sebagai negara nasional bukan negara berlandaskan agama. Untuk memahami hal ini, tentu perlu mengetahui alur pemikiran Soekarno, khususnya mengenai soal Ketuhanan.

Seperti diakuinya kepercayaannya akan eksistensi Tuhan sudah tertanam di dalam dirinya sejak kecil. “Kami adalah bangsa yang hidup dari pertanian, dan siapakah yang menumbuhkan segala sesuatu ? Al Khalik, Yang Maha Pencipta. Kami terima ini sebagai kenyataan hidup. Jadi aku adalah orang yang takut kepada Tuhan dan cinta kepada Tuhan sejak lahir, dan keyakinan ini telah bersenyawa dengan diriku,” (Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat halaman 151).

Soekarno memang mendapat pelajaran agama secara khusus, sehingga pemahamannya tentang ketuhanan lebih bersifat empiris, yang diserapnya bersama dengan berbagai nilai kehidupan yang ditanamkan kepadanya. Seperti diketahui, Soekarno lahir dari seorang ibu, Ida Ayu Nyoman Rai, penganut Hindu puteri seorang Brahmana dari Kerajaan Singaraja (Buleleng) Bali. Dari ibunya itu, ia menyerap Hinduisme dan Budhaisme. Namun yang paling berkesan dari ibunya adalah, sikap anti penjajahan (Belanda) akibat pengalaman traumatik oleh penaklukan Belanda atas Kerajaan Buleleng yang membuat keluarga ibunya menderita. (12)

Dari kakek-neneknya, ia menyerap kebudayaan Jawa dan mistik, dan dari ayahnya. R Sukemi Sosrodihardjo belajar Islam (Jawa) dan teosofi. (13) Sedangkan Sarinah, pengasuhnya menanamkan cinta kepada sesama (humanisme).

Pemahamannya tentang Islam baru berkembang setelah bersekolah di HBS HBS (Hoogore Burger School) Surabaya, saat ini indekos di rumah HOS Tjokroaminoto, Ketua Serikat Islam. Tetapi, ia peroleh bersama HOS Tjokroaminoto bukan pengetahuan agama yang bersifat dogmatis teologis, melainkan pemikiran-pemikiran Islam yang berhubungan dengan paham kebangsaan dan sosialisme. Jadi lebih berhubungan masalah sosiologi politik. Meski memimpin organisasi Serikat Islam, HOS Tjokroaminoto memang bukan seorang “guru agama” tapi pemimpin pergerakan kebangsaan yang dikemas dengan identitas Islam. Tapi, Soekarno juga menyerap ide-ide pembaruan dalam Islam yang diusung oleh Gerakan Muhamadiyah ia peroleh melalui ceramah-ceramah K H Ahmad Dahlan. “Sejak umur 15 tahun, saat berdiam di rumah Tjokroaminoto, saya telah terpukau dengan K H Ahmad Dahlan,” kata Soekarno. Tahun 1938, ia jadi anggota resmi Muhammadiyah. Bahkan di depan Muktamar Muhamadiyah tahun 1962, ia berdoa agar bisa dikubur dengan nama Muhamadiyah di kain kafannya.

Pada saat bersamaan Soekarno juga berkenalan dengan pemikiran-pemikiran sosialisme (Marxisme) dari Alimin, Muso, Semaun, Darsono serta tokoh-tokoh Sosialis Eropa misalnya Hendrik Sneevliet (orang Belanda yang dikenal dengan sebutan Maring dan ia merupakan wakil komintern di Cina), Adolp Baars, Reeser juga Hartogh.

Lalu, saat kuliah di THS Bandung, ia berkenalan dengan para tokoh Indische Partij, khususnya Tjipto Mangunkusumo dan Douwes Dekker yang jadi idolanya. Dua tokoh ini memberikan pemahaman tentang nasionalisme, pluralisme dalam wajah yang lebih radikal. Sedangkan interaksinya dengan tokoh-tokoh Persatuan Islam (Persis), khususnya Ahmad Hasan juga merangsang minatnya memahami Islam secara lebih mendalam.

Pertemanannya dengan A Hasan kian akrab saat Soekarno masuk penjara dan kemudian dibuang ke Ende Flores. Melalui hubungan surat menyurat ia mendiskusikan berbagai masalah keagamaan (Islam). Yang ia gandrungi adalah pemikiran yang berhubungan dengan modernisasi kehidupan keberagamaan. Karena itu salah satu sumber referensinya adalah kitab-kitab dari Ahmadiyah, meski ia menolak anggapan bahwa Mirza Gulam Ahmad seorang nabi serta sikap Ahmadiyah yang terlalu mengkultuskan Inggris.

Dalam tulisan “Surat-Surat dari Endeh,” terlihat adanya keyakinan kuat dalam diri Soekarno terhadap eksistensi Tuhan. Ia percaya agama dapat berfungsi sebagai enerji menuju kemajuan. Tapi sebaliknya, ia mengeritik kehidupan keberagamaan yang jadi penghambat kemajuan di masyarakat. Menurut Soekarno, itu terjadi karena nilai-nilai ajaran agama, telah disimpangkan oleh para pemuka dan jemaahnya dengan mengatasnamakan agama. Kehidupan keberagamaan (Islam) yang menyimpang akibat lebih mengagungkan fiqh atau fikih, yan ia sebut Islam Sontoloyo. (14) [

Karena itu, ia senantiasa menganjurkan agar ada ijtihad untuk mengeksplorasi nilai-nilai Islam langsung dari sumbernya yakni Qur,an dan Hadist. Tapi ijitihad itu harus berorientasi kepada kemajuan. Bukan seperti Wahabi yang menghendaki pemurnian agama tapi terlalu mengagung-agungkan masa lalu. “Masa lalu memang indah tapi ia sudah mati,” kata Soekarno.

Soekarno juga menganjurkan agar dilakukan pengujian terhadap sumber-sumber yang jadi pegangan dalam beragama

“Saya ingin sekali membaca lain-lain buah pena saudara… Saya perlu kepada Bukhari dan Muslim itu, karena di situlah dihimpunkan hadis-hadis yang dinamakan sahih. Padahal saya membaca keterangan dari salah seorang pengenal Islam bangsa Inggris, bahwa Bukharipun masih terselip hadis-hadis yang lemah. Diapun, menerangkan bahwa kemunduran Islam, kekunoan Islam, ketakhayulan orang Islam, banyaklah karena hadis-hadis lemah itu, yang lebih sering ”laku” daripada ayat-ayat Al-Quran . . .” (Surat-Surat Dari Ende di dalam DBR Jilid I)

Dengan melihat sejarah, khususnya pasang surut dan pasang naik kekuatan Islam, Soekarno memandang perlu pemisahan urusan negara dengan urusan agama. Dengan pemisahan urusan itu, negara dapat mendorong kehidupan keberagamaan yang dinamis. Disatu pihak kehidupan beragama bisa diatur dan disusun agar tidak merusak persatuan bangsa, kehidupan beragama mesti menjamin kesetaraan antar sesama manusia, ia tidak boleh menjadi alat penindas sesama, tetap berpihak kepada kepentingan masyarakat luas dan mampu mewujudkan keadilan bagi semua.

Dalam tulisannya berjudul “ Apa Sebab Turki Memisahkan Agama dengan Negara” yang terbit di tahun 1940 terkait dengan keputusan Kemal Attaturk di Turki), Sukarno berpandangan bahwa agama adalah aturan-aturan spiritual, sedangkan negara merupakan urusan duniawi. Ia pun mengutip Halide Edib Hanoum, bahwa:

“. . . Agama itu perlu dimerdekakan dari asuhannya supaya menjadi subur. Kalau Islam terancam bahaya pengaruhnya di atas rakyat Turki, maka itu bukanlah karena tidak diurus pemerintah tetapi justru diurus oleh pemerintah. Umat Islam terikat kaki-tangannya dengan rantai kepada politiknya pemerintahan. Hal ini adalah suatu halangan besar sekali buat kesuburan Islam di Turki dan bukan saja di Turki, tetapi di mana-mana saja, karena pemerintah campur tangan di dalam urusan agama, di situ menjadikan ia satu halangan besar yang tak dapat dienyahkan.” (lihat DBR Jilid I)

Pemisahan urusan agama dengan urusan negara ini kembali dipertegas oleh Presiden Soekarno saat berpidato di Amuntai dan juga pada beberapa forum lainnya.

Dengan mempelajari dan mendalam “alam pikir” dari setiap paham itu, Sukarno pun berkata : “Saya bukan seorang nasionalis. Saya bukan seorang religius. Saya bukan seorang sosialis. Saya adalah saripati dari ketiganya.”

—————————-

(1). Terjemahan dalam bahasa Indonesia adalah “ Badan Penyelidik Usaha-Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia ( BPUPKI)

(2) Lihat “ Di Bawah Bendera Revolusi Jilid I”

(3) Sintesa tertinggi dari ajaran-ajaran itu.

(4) Ernest Renan adalah seorang pemikir orientalis Perancis. Ia yang pertama kali memperkenalkan konsep bangsa dan kebangsaan melalui pidato ilmiahnya yang terkenal di Sorbone tahun 1882, “qu’est ce qu’une nation” (Apakah suatu bangsa itu?).

(5) Otto Bauer adalah seorang pemikir dan teoritikus dan aktivis Partai Sosial Demokrat Austria.

(6). Ilmu Bumi Politik yang mengaitkan letak geografis suatu kawasan dengan kekuatan dan kekuasaan. Teori ini mulai muncul pada abad XVII. Beberapa pemikir terkenal geopolitik di antaranya Karl Haushofer (1869-1946) dengan teori Pan Region-nya, membagi dunia atas empat kawasan, yakni Pan Amerika, Pan Asia Timur,Pan Rusia-India, dan Pan Eropa-Afrika. Sir Halford Mackinder (1861-1947) membagi dunia dalam apa yang disebutnya sebagai Daerah Jantung (Hearthland), yaitu Kawasan Timur Tengah. Pemikir Geopolitik lainnya,Nicholas J.Spykman (1860-1943) yang terkenal dengan Teori Daerah atas (Rimland Theory).

(7) Mengenai konsep Bangsa, Soekarno tampak sejalan dengan pendapat Jean Jaures, pemikir Italia, yang menghubungkan bangsa dan kemanusiaan yang universal serta tanah air (Patria). Menurut Soekarno, seorang nasionalis dengan sendirinya adalah patriot (cinta tanah air). Soekarno memberikan nilai teologis dengan menegaskan bahwa “Hubbul wathon minal iman” yang artinya mencintai Negara bagian dari iman yang oleh banyak kalangan dianggap sebagai hasil pemikiran Bung Karno dan umat Islam Indonesia. Kata-kata itu tak akan ditemukan di kitab-kitab kuning, kitab putih atau kitab apalah yang sebagainya itu.

(8) Lihat “ To Bulid World Anew (Membangun Dunia Baru): Pidato Presiden Soekarno di depan sidang Majelis Umum Perserikatan Bangsa-bangsa tahun 1960.

(9) Penjelasan tentang “Negara Bertuhan” diuraikan oleh Presiden Soekarno dalam pidato berjudul “Temukan Kembali Api Islam,” yang diucapkan pada penerimaan gelar Doctor Honoris Causa dalam ilmu Ushuluddin jurusan Dakwah dan gelar Pendidik Agung di IAIN Jakarta, 2 Desember 1964. Pada pidato itu ia menjawab pertanyaan : Mengapa negara bertuhan? Apakah negara punya jiwa? Jawab Soekarno: “Pengertian saya tentang Ushuluddin, ialah segala yang kumelip di dunia ini, ya manusia, ya binatang, ya pepohonan, ya gunung, ya laut, ya negara harus menyembah kepeda Tuhan. Segala yang kumelip di dunia ini harus sebenarnya mengerti bahwa Tuhan yang membuat dia, dia harus menyembah kepada Tuhan itu. Tuhan Yang Maha Esa, Tuhan Seru sekalian Alam. …….. Karena itu dengan keyakinan saya berkata, Negara yang tidak menyembah kepada Tuhan, negara yang tidak bertuhan, akhirnya celaka, lenyap dari muka bumi ini.”

(10) Sifat dapat memahami pendapat yang lain (bahasa Belanda)

(11) Tidak sabar, maksudnya dengan pemaksaan (bahasa Belanda)

(12) Raja Singaraja adalah paman dari Ida Ayu Nyoman Rai, ibunda Soekarno

(13) Theosofi berasal dari bahasa yunani, dari asal kata “Theo” yang artinya Tuhan, “Sofia” yang artinya Kearifan atau kebijaksanaan. Secara estimologis Theosofi dimaknai sebagai Kearifan Tuhan atau Kearifan Ilahiah (God’s Wisdom atau Odelyk Wysheid).Dalam perkembangannya Theosofi termasuk kedalam terminologi filsafat yang membahas tentang Tuhan dari segala aspeknya. Dengan demikian ia sebagai sebuah pengetahuan namun bukan merupakan sebuah disiplin ke-Ilmuawan secara khusus, tetapi masuk kedalam ruang lingkup Ilmu Filsafat, khususnya filsafat Ketuhanan dan segala aspeknya Karena Theosofi sebagai sebuah pengetahuan filsafat khususnya tentang filsafat ketuhanan, maka pengetahuan tentang mistisisme, spiritualitas, sufisme dan tasawuf dalam Islam termasuk kedalam ruang lingkup Theosofi, sebab konten dari mistisisme, spiritualitas, sufisme dan tasawuf sangat kaya akan khasanah-khasanah kearifan Tuhan, kebijaksanaan Tuhan dan cinta akan ketuhanan. Teosofi masuk ke Indonesia pada awal abad-20an, Beberapa tokoh pergerakan nasional diketahui pernah tergabung dalam gerakan Teosofi ini, utamanya para aktifis Budi Utomo dan para Priyayi Jawa. Contohnya adalah Raden Mas Aryo Woerjaningrat (Surakarta), R.M. Toemenggoeng pandji Djajeng Irawan (Jogjakarta), Pangeran Pakoe Alam VII (Jogjakarta), Radjiman Wediodiningrat (Surakarta), Sarwoko Mangoenkoesoemo, beberapa bupati di Jawa Barat,. Aktifis lainnya adalah Haji Agus Salim, beliau menjadi anggota aktif Kelompok Teosofi tahun 1916 dan mengundurkan diri tahun 1918. Selama bergabung, H. Agus Salim sempat menerjemahkan Kitab Suci kaum Teosofi karangan C.W. Leadbeater berjudul “Kitab Teosofi” ke dalam bahasa Melayu

(14) Menarik dalam tulisannya berjudul “ Islam Sontoloyo,” di dalam buku “ Di Bawah Bendera Revolusi Jilid I” Soekarno dengan mengutip lengkap berita “Guru Mencabuli Murid-Muridnya” melalui satu ritual pengajian setiap malam jumat. Para murid diajak berdzikir dari maghrib hingga subuh. Sebelumnya, para murid itu harus meneriakkan kalimat “Saya muridnya Kiyai…. (nama kiyai itu)”. Dengan berseru demikian, katanya, Allah SWT mengampuni dosa-dosa mereka. Setiap murid perempuan, meski masih anak-anak, wajib menutup muka. Saat mengaji, mereka dipisah dari para murid laki-laki. Dimulailah pelajaran dari bab “perempuan itu boleh disedekahi”. Akan tetapi, karena perempuan tidak boleh dilihat laki-laki (kecuali suami), maka itulah mereka diwajibkan menutupi mukanya. Nah, bagaimana sang guru bisa “menyedekahi” murid-murid yang perempuan?

Di sinilah sang guru menjelaskan, perlunya para murid itu “dimahram dahulu”. Artinya, perempuan-perempuan itu mesti dinikah olehnya. Dia yang jadi kiyainya, ia juga, yang jadi pengantinnya, ia juga. Caranya? Kalau seorang murid lelaki yang punya istri. Maka pertama yang dilakukan oleh si suami adalah menjatuhkan talak tiga. Seketika juga peremuan itu dinikahkan dengan lelaki lain (kawan muridnya juga), yang kemudian menalaknya lagi hingga berturut-turut tiga kali dinikahkan dan diceraikan lagi. Keempat kalinya dinikah oleh kiyainya sendiri. Sedangkan yang gadis, tidak dinikahkan dulu, melainkan langsung dinikahi sang kiyai. Bung Karno menyebut kiyai model ini dengan sebutan “Dajal”. Dengan demikian, tiap-tiap istri yang jadi muridnya, di mata murid yang lain pun, adalah istri daripada si Dajal itu sendiri. Di surat kabar Pemandangan dikisahkan bahwa seorang gadis yang sudah dinikahi, dimasukkan ke bilik dan di situlah dirusak kehormatannya. Halal, dianggap sah, karena sudah diperistri! Menurut Soekarno jikalau berita di suratkabar Pemandangan itu benar, maka benar-benarlah ini adalah Islam Sontologo! Sesuatu perbuatan dosa dihalalkan menurut hukum fiqh. Praktek Islam Sontoloyo ibarat main kucing-kucingan dengan Tuhan. Karena itu menurut Soekarno figh bukan satu-satunya tiang keagamaan. Tiang utama terletak pada ketundukan jiwa kita kepada Allah.

(15) Di dalam sejarah, faktor kebudayaan ikut banyak berperan dalam penyebaran agama-agama dari luar ke Indonesia, sehingga tidak menimbulkan konflik di dalam masyarakat. Hal menarik, K H Abdurachman Wahid pernah melontarkan gagasan perlunya pribumisasi agama, ini perlu kajian lebih mendalam.


(1) Terjemahan dalam bahasa Indonesia adalah “ Badan Penyelidik Usaha-Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia ( BPUPKI)

25
Jul
12

Hikmah : Serba-serbi Niat Puasa

Serba-Serbi Niat Puasa

Selasa, 24 Juli 2012, 13:48 WIB
freevector.com
Serba-Serbi Niat Puasa
Ilustrasi

Oleh: Dr Muhammad Hariyadi, MA

Dari Umar bin Khathab RA bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya (sahnya) amal itu dengan niat. Dan sesungguhnya setiap orang (tergantung) pada apa yang diniatkannya.” (HR. Bukhari-Muslim).

Hadis mengenai niat ini merupakan hadis utama di antara hadis-hadis lainnya karena pentingnya posisi niat dalam melakukan suatu perbuatan agar diterima oleh Allah SWT.

Oleh karenanya, para ulama hadis meletakkan hadis ini pada permulaan kitabnya dan sebagian dari mereka menyatakan hadis ini secara substansi mengandung bobot sepertiga dari bobot hadis secara keseluruhan.

Dalam puasa Ramadhan, berniat hukumnya wajib. Tidak sah puasa seseorang jika tidak didahului atau dibarengi dengan niat. Dari Hafsah binti Umar RA bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Barang siapa yang tidak berniat puasa (Ramadhan) sebelum terbit fajar maka ia tidak berpuasa.” (HR. Bukhari Muslim).

Jumhur ulama berpendapat bahwa niat puasa Ramadhan harus dilakukan setiap hari karena masing-masing hari di dalam bulan Ramadhan otonom dan berdiri sendiri-sendiri, tidak saling terkait dengan hari berikutnya. Hal tersebut karena batalnya puasa kita hari ini tidak berarti batalnya puasa esok hari atau sebelumnya.

Sedangkan Madzhab Maliki berpendapat bahwa niat sekali untuk berpuasa satu bulan penuh sudah cukup, karena “setiap orang tergantung pada apa yang diniatkannya” (puasa sebulan penuh).

Di samping itu, karena satu bulan penuh di Ramadhan merupakan satu rangkaian ibadah puasa sehingga cukuplah satu niat yang mencakup keseluruhan sebagaimana niat haji dan shalat. Jika nanti di dalam pelaksanaannya terpaksa tidak puasa karena berhalangan, maka dengan memperbarui niat sudah dipandang cukup.

Namun demikian, Imam Malik mensunahkan pembaruan niat setiap hari, karena mempertimbangkan sunahnya mengikuti hadis dari Hafsah binti Umar bin Khathab tersebut.

Pelaksanaan niat menurut jumhur ulama harus dilakukan pada malam Ramadhan atau menjelang waktu terbitnya fajar (selesai sahur) sesuai dengan pemahaman tekstual terhadap hadis.

Hanya madzhab Hanafi yang membolehkan niat puasa Ramadhan sebelum matahari tergelincir (sebagaimana bolehnya niat puasa sunat menurut jumhur ulama) dengan mengqiaskan pada puasa sunah. Namun demikian mereka juga berpandangan bahwa penetapan niat puasa Ramadhan pada malam hari atau sebelum matahari terbit tetap lebih utama.

Kesimpulannya, niat puasa Ramadhan adalah wajib dan menjadi syarat sah puasa kita. Agar kita tidak lupa niat sehingga puasa kita menjadi tidak sah dalam pandangan hukum fikih, maka sebaiknya setiap orang berniat puasa penuh satu bulan, lalu memperbaruinya setiap hari.

Dengan begitu diharapkan jika dalam pelaksanaannya lupa niat, maka niat yang umum telah menutupi (meng-cover) puasa Ramadhan secara keseluruhan. Sehingga berniat setiap hari hukumnya menjadi sunah (mandub) karena sudah berniat secara keseluruhan satu bulan di awal Ramadhan.

Niat tampaknya susah-susah mudah dalam puasa. Namun, tidak bisa dimudah-mudahkan (disepelekan) tanpa didasari ilmu pengetahuan, sebab berkaitan erat dengan syarat sahnya ibadah. Sehingga yang terpenting adalah memiliki pengetahuan seputar niat agar menjadikan kita mudah dan mantap dalam melaksanakan ibadah puasa.

Redaktur: Chairul Akhmad

Hikmah

Selasa, 24 Juli 2012, 05:01 WIB
Tiga Langkah Sebelum Pintu Tobat Tertutup
REPUBLIKA.CO.ID,  Oleh  H Moch HisyamSebusuk apa pun maksiat yang telah dilakukan dan sebanyak apa pun dosa yang telah diperbuat, bila manusia kembali kepada jalan Allah maka Allah SWT akan…
Senin, 23 Juli 2012, 15:34 WIB
Inilah 5 Keutamaan Membaca Alquran
REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: H Otong Surasman SQ MA Alquran Al-Karim adalah pedoman hidup umat manusia, walaupun yang mengambil manfaat hanyalah orang-orang yang bertakwa (QS al-Baqarah [2]: 2). Begitu banyak hikmah dari…
Senin, 23 Juli 2012, 13:01 WIB
Tarawih, Bukan Pada Hitungan Rakaat
Oleh: Dr Muhammad Hariyadi, MATarawih merupakan shalat malam (qiyamul lail) di bulan Ramadhan. Tarawih berasal dari kata raahah yang berarti bersantai setelah empat rakaat. Artinya shalat ini dapat dikerjakan…
Minggu, 22 Juli 2012, 11:45 WIB
Inilah 9 Makna Penting Ramadhan
REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Muhbib Abdul WahabKata “Ramadhan” merupakan bentuk mashdar (infinitive) yang terambil dari kata ramidhayarmadhu yang pada mulanya berarti membakar, menyengat karena terik, atau sangat panas. Dinamakan demikian karena…
Sabtu, 21 Juli 2012, 18:38 WIB
Marhaban, Ya Ramadhan!
Oleh: A Ilyas IsmailSeperti diwartakan dalam banyak hadis sahih, Rasulullah SAW selalu menyambut datangnya bulan suci Ramadhan. Dalam bahasa Arab, kegiatan penyambutan ini dinamai tarhib. Dalam sejumlah sabdanya, Nabi…
Jumat, 20 Juli 2012, 13:17 WIB
Syariat Puasa Ramadhan
Oleh: Dr Muhammad Hariyadi, MASebelum mewajibkan puasa Ramadhan bagi kaum Muslimin tahun ke-2 hijriyah, Allah SWT telah mensyariatkan puasa kepada para nabi terdahulu. Menurut Ibnu Jarir Al-Thabari, syariat puasa…
Jumat, 20 Juli 2012, 10:51 WIB
Puasa Ramadhan Mengikis Budaya Malas
REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Dr HM Harry Mulya Zein Akhir pekan ini, seluruh umat Islam dipastikan sudah menjalankan ibadah puasa Ramadhan. Hampir seluruh umat Islam yang beriman menjalankan ibadah di bulan penuh…
Kamis, 19 Juli 2012, 14:30 WIB
 Inilah Keutamaan Zikir
REPUBLIKA.CO.ID, Oleh Imam NawawiIbnu Abbas RA meriwayatkan, zikir kepada Allah merupakan ibadah terbesar dibandingkan ibadah lainnya. Bahkan, Allah SWT memberikan jaminan langsung kepada hamba-hamba-Nya yang senantiasa berzikir kepada-Nya. “Ingatlah…
Rabu, 18 Juli 2012, 21:24 WIB
Empat Anugerah yang Membahagiakan
Oleh: Dr Muhammad Hariyadi, MARasulullah SAW bersabda, “Empat perkara yang jika dianugerahkan kepada seseorang, maka sungguh ia telah dianugerahi kebaikan dunia dan akhirat, yaitu lidah yang berdzikir, hati yang…

Hikmah

Rabu, 18 Juli 2012, 17:36 WIB
Inilah Kunci Stabilitas Rohani
REPUBLIKA.CO.ID, Oleh Hendra MulyaAda hal yang cukup menarik dari perilaku manusia di sekitar kita terhadap ujian yang Tuhan berikan. Di satu sisi, sebagian manusia memuji Tuhannya tatkala dia diberi…
Selasa, 17 Juli 2012, 11:14 WIB
Sudahkah Kita Bersiap Menyambut Ramadhan?
REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Abu Muhammad Ismal Halim Di dekat rumah kami, ada kedai bubur ayam yang sangat laris. Walau tak terlalu besar, ramai orang datang sepanjang hari. Uniknya, setiap Ramadhan…
Selasa, 17 Juli 2012, 09:28 WIB
Nyekar Jelang Ramadhan
Oleh: Dr Muhammad Hariyadi, MANyekar (ziarah kubur) sebenarnya bukan tradisi khusus menjelang bulan Ramadhan. Ia dapat dilakukan kapan saja dengan tujuan untuk mengingatkan peziarah terhadap kematian dan akhirat. Agar…
Senin, 16 Juli 2012, 06:06 WIB
Meraih Pujian Allah SWT
REPUBLIKA.CO.ID, Oleh Prof KH Didin HafidhuddinHampir semua nabi dan rasul yang mendapatkan pujian dari Allah SWT selalu terkait dengan sifat shiddiq, yaitu jujur dan benar. Baik dalam pemikiran, perkataan,…
Senin, 16 Juli 2012, 06:06 WIB
Cara Rasulullah Sambut Ramadhan
Oleh: Dr Muhammad Hariyadi, MAAdalah Rasul SAW yang mempersiapkan diri betul menyambut kedatangan setiap bulan Ramadhan. Persiapan Rasul tersebut bukan hanya bersifat jasmani, melainkan paduan jasmani dan rohani mengingat…
Minggu, 15 Juli 2012, 16:22 WIB
Inilah Keutamaan Menyebarkan Salam
REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Ustaz Fadzlan Garamatan    Islam adalah agama yang damai dan kasih sayang. Islam adalah agama yang senantiasa menyebarkan kedamaian dan ketenteraman bagi seluruh umat manusia….
Sabtu, 14 Juli 2012, 19:09 WIB
Mampir ke Taman Surga
Oleh: A Ilyas IsmailDalam satu perjalanan, Nabi SAW mengingatkan para sahabat agar berhenti atau mampir apabila melewati taman surga (riyadh al-jannah). Mereka bertanya, “Apakah taman surga itu?” Jawab Nabi,…
Sabtu, 14 Juli 2012, 19:02 WIB
Seperti Inilah Pesona Akhlak Rasulullah SAW
REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Makmun NawawiSuatu ketika Rasulullah SAW berjalan di Kota Makkah. Beliau melihat seorang wanita tua menunggu seseorang yang bisa dimintai tolong membawakan barangnya. Benar saja, begitu Rasulullah lewat di…
Jumat, 13 Juli 2012, 19:15 WIB
Mari Berbenah Menyambut Ramadhan
REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Dr HM Harry Mulya Zein Sebentar lagi seluruh umat Islam akan menjalan ibadah puasa Ramadhan. Puasa di bulan Ramadhan memang ibadah yang paling banyak ditunggu-tunggu umat Islam. Karena…
Kamis, 12 Juli 2012, 21:30 WIB
Pohon Rindang Sedekah
Oleh: Dr Muhammad Hariyadi, MABagaikan sebuah pohon yang rindang, sedekah paling tidak memiliki tujuh cabang. Masing-masing cabang tersebut saling terkait dan komprehensif dalam kesatuan. Jika satu cabang dieksplorasi dengan…



Blog Stats

  • 3,213,320 hits

Recent Comments

Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Sejarah : Bangsa Lemuria, Lelu…