Posts Tagged ‘Global Warming

06
Feb
11

Pemanasan Global : Ancaman Lingkungan Hidup

rss feed
  • Indonesia Hadapi Tantangan Hukum Mitigasi Perubahan IklimSabtu, 05 Februari 2011 18:23 WIBIndonesia menghadapi sejumlah tantangan hukum dalam kaitannya dengan upaya mitigasi dan adaptasi perubahan iklim mengingat masyarakat Indonesia cukup rentan dengan perubahan iklim..
  • Korban Tewas Akibat Cuaca Ekstrem Jepara 8 OrangSelasa, 01 Februari 2011 23:07 WIBCuaca ekstrem yang terjadi di wilayah Kabupaten Jepara, Jawa Tengah, dalam sebulan terakhir telah menyebabkan delapan orang meninggal dunia dalam belasan kasus insiden terkait perubahan iklim tersebut..
  • Banjir Rob Rendam Ratusan Rumah Penduduk di MalundaSenin, 31 Januari 2011 04:54 WIBBanjir rob air pasang laut kembali merendam ratusan rumah pemukiman penduduk di desa Deking, Kecamatan Malunda, Kabupaten Majene, Sulawesi Barat yang terjadi sejak sore, Minggu..
  • Gebyar Musik Satu Miliar Pohon di Sergai Minggu, 30 Januari 2011 16:12 WIBKomite Nasional Pemuda Indonesia Kabupaten Serdang Bedagai, Sumatera Utara, menggelar “gebyar musik satu miliar pohon” yang berlangsung di kawasan wisata bahari Theme Park, Kecamatan Pantai Cermin, 29-30 Januari 2011..
  • Ki-moon: Dunia Kehabisan Waktu Atasi Perubahan IklimJumat, 28 Januari 2011 20:35 WIBSekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) Ban Ki-Moon menegaskan bahwa dunia sudah kehabisan waktu untuk mengatasi perubahan iklim..
  • “Green Finance” Bisa Jadi Solusi Perubahan IklimKamis, 27 Januari 2011 15:34 WIBKonsep green finance atau pengucuran modal dengan menggunakan prinsip ramah lingkungan bisa menjadi solusi dari sektor finansial untuk mengatasi dampak perubahan iklim global..
  • Kawasan Bukit Barisan di Pagaralam Retak 4000 MeterKamis, 27 Januari 2011 07:37 WIBKawasan Bukit Barisan di Kelurahan Jangkaremas, Kecamatan Dempo Utara, Kota Pagaralam, Sumatera Selatan diketahui mengalami keretakan sepanjang sekitar 4.000 meter di kawasan Bukit Kayu Manis..
  • Amerika Utara Produsen Emisi Karbondioksida TerbesarRabu, 26 Januari 2011 13:28 WIBMasyarakat dan industri di belahan Amerika Utara menyandang predikat produser emisi gas karbondioksida terbanyak di dunia, sementara Eropa hanya separuh dari mereka sedangkan Asia Selatan paling sedikit menyumbang gas rumah kaca penyebab perubahan iklim global itu..
  • Amerika Utara Produsen Emisi Karbondioksida TerbesarRabu, 26 Januari 2011 11:26 WIBMasyarakat dan industri di belahan Amerika Utara menyandang predikat produser emisi gas karbondioksida terbanyak di dunia, sementara Eropa hanya separuh dari mereka sedangkan Asia Selatan paling sedikit menyumbang gas rumah kaca penyebab perubahan iklim global itu..
  • Hujan Es di CilacapSelasa, 25 Januari 2011 17:17 WIBHujan es dan angin kencang melanda Desa Mulyadadi dan Salebu, Kecamatan Majenang, Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah, Selasa siang sekitar pukul 15.15 WIB dan tiga rumah roboh dalam kejadian itu..
26
Jan
11

Pemanasan Global : Beruang Kutub Berenang 9 Hari Cari Makan

Rabu, 26/01/2011 06:13 WIB
Pemanasan Global, Beruang Terpaksa Berenang 9 Hari Untuk Cari Makan
Ramadhian Fadillah – detikNews


Foto: BBC

Jakarta – Ternyata bukan orang miskin saja yang susah makan. Akibat pemanasan global, beruang salju pun harus bersusah payah mencari mangsa. Berdasarkan riset terbaru, mereka harus berenang selama 9 hari tanpa berhenti dan mengarungi area seluas 687 Km untuk berburu anjing laut.

Para peneliti di Laut Beaufort, Alaska, menduga akibat pemanasan global, makin banyak es yang mencair. Beruang salju pun harus berenang lebih jauh untuk memburu mangsa. Demikian ditulis BBC, Selasa (25/1/2011).

“Kami sangat terkejut bahwa beruang itu bisa berenang begitu lama dalam suhu yang sangat dingin. Mereka berenang selama 232 jam dan menempuh jarak 687 Km,” ujar seorang peneliti George M Durner.

Para peneliti menggunakan GPS untuk melacak pergerakan para beruang itu. Hasilnya diketahui beruang tersebut terpaksa berenang sangat jauh. Hal ini membahayakan kesehatan mereka dan anak beruang yang ditinggal sendiri selama induknya berburu.

“Beruang ini kehilangan 22 persen berat tubuhnya dalam dua bulan,” lanjut Durner.

Durner dan timnya prihatin dengan keadaan ini. Dia menjelaskan habitat beruang salju di lapisan-lapisa es sangat rentan berubah karena efek pemanasan global. Mamalia besar ini pun menjadi binatang yang paling terancam dengan pemanasan global.

“Beruang salju adalah binatang yang paling terancam akibat perubahan iklim,” jelasnya.

(rdf/fjr)

11
Dec
10

Pemanasan Global : Indonesia Perbaiki Peringkat Emisi Karbon

PeringkatEmisiKarbon

Selasa, 7 Desember 2010 11:30 WIB | Warta Bumi | Pemanasan Global |
Indonesia Perbaiki Peringkat Emisi Karbon

Cancun-Meksiko (ANTARA News) – LSM German Watch dan Climate Action Network (CAN) Europe mengeluarkan laporan Indeks Kinerja Perubahan Iklim yang menyebutkan Indonesia berhasil mengurangi emisi karbondioksida dengan peringkat indeks naik dari 23 pada 2010 menjadi 21 pada 2011.

“Indonesia menempati rangking yang lebih baik tahun ini yaitu rangking ke 21, berdasarkan trend emisi, tingkat emisi dan kebijakan iklim,” kata Penasehat Senior German Watch, Jan Burch usai presentasi laporan “The Climate Change Performance Index” pada `side event` KTT (COP) ke-16 Perubahan Iklim di Cancun, Meksiko, Senin.

Untuk kategori negara industrialisasi baru, Indonesia berperingkat keempat terbaik setelah Brazil, India, Meksiko dan Thailand.

Sedangkan untuk kategori indeks penampilan perubahan iklim di negara ASEAN plus India, China, Jepang dan Korea, peringkat Indonesia nomor tiga besar setelah India dan Thailand.

Laporan tersebut juga menyebutkan rangking 10 negara pengemisi karbon terbesar yaitu Jerman, Inggris, India, Korea Selatan, Jepang, Rusia, Iran, Amerika, China dan Kanada.

Jan menjelaskan pihaknya meranking negara berdasarkan tiga hal utama yaitu trend emisi, tingkat emisi dan kebijakan iklim.

Untuk trend emisi dengan indikator dari sektor energi, transportasi, peruahaman, industri dan perbandingan target penampilan emisi karbon.

Sedangkan tingkat emisi dilihat dari level karbondiosida per unit energi utama, dan penggunaan energi per kapita, sementara kebijakan iklim dilihat secara internasional dan nasional.

Burch mengatakan laporan German Watch ini merupakan instrumen inovatif yang meningkatkan transparansi kebijakan iklim internasional.

Dia mengatakan laporan dikeluarkan oleh German Watch dan CAN Europe dengan bantuan 190 ahli energi dan kebijakan iklim.

Penilaian berdasarkan kriteria yang distandarkan, indeks dievaluasi dan dibandingkan dari penampilan usaha-usaha perlindungan iklim dari 57 negara yang bertanggung jawab terhadap 90 persen emisi karbondioksida di dunia.

Untuk itu, Indonesia disebutkan berada pada posisi moderat atau ditengah-tengah dalam usaha mengurangi emisi karbondioksida.

Dalam laporan itu juga disebutkan secara khusus bahwa Brazil dan Indonesia dimana 80 persen emisi berasal dari penggundulan hutan, harus mengurangi emisi karbon dari sektor kehutanan dan dibantu pendanaan dari komunitas internasional.

Brazil mencatat berhasil menurunkan 50 persen emisi karbon dari sektor kehutanan dalam beberapa tahun terakhir .
(ANT/A024)

COPYRIGHT © 2010

16
Jul
10

Lingkungan : Dampak Pemanasan Global

Karbon Global

Antara

Antara – Jumat, 16 Juli
Walhi: Perdagangan Karbon Tidak Kurangi Pemanasan Global

Jakarta (ANTARA) – Deputi Direktur Wahana Lingkungan Hidup Nasional, Ali Akbar, mengatakan, perdagangan karbon tidak menjamin mengurangi dampak pemanasan global.

“Perdagangan karbon bukan jalan terbaik untuk mengurangi dampak pemanasan global, melainkan menurunkan daya konsumsi masyarakat,” katanya dalam acara diskusi yang bertema “Carbon Trading, Siapa Untung?” di Jakarta, Kamis.

Menurut dia, perdagangan karbon yang merupakan salah satu isi Protokol Kyoto tersebut justru akan merugikan negara berkembang yang memiliki hutan tropis penghasil karbon.

Perdagangan karbon, katanya, dapat memberikan dampak pada wilayah konservasi di negara berkembang termasuk Indonesia seperti swastanisasi hutan negara, marginalisasi posisi rakyat, dan penyerahan kawasan dalam jangka panjang.

Perdagangan karbon adalah mekanisme berbasis pasar untuk membantu membatasi peningkatan CO2 di atmosfer. Pasar perdagangan karbon sedang mengalami perkembangan yang membuat pembeli dan penjual kredit karbon sejajar dalam peraturan perdagangan yang sudah distandardisasi.

Senada dengan itu, pembicara lainnya Anggota IV Badan Pemeriksa Keuangan (BPK), Ali Masykur Musa mengatakan, jika semua negara berkembang pemilik hutan tropis memasuki pasar karbon, bisa dipastikan harga karbon akan jatuh.

Sehingga, lanjutnya, target pengurangan emisi karbon tidak akan tercapai.

“Perdagangan karbon lebih banyak merugikan negara berkembang,” ujarnya.

Ali mengatakan, dalam beberapa hal perdagangan karbon sama sekali tidak berkaitan dengan upaya penanggulangan krisis bumi.

Ia menilai, Indonesia boleh saja ikut serta dalam agenda tersebut namun dengan beberapa syarat yang di antaranya menyiapkan infrastruktur kebijakan dan kelembagaannya.

Selain itu, tambahnya, dengan meningkatkan posisi tawar-menawar dan tidak menjadikan perdagangan karbon sebagai bisnis baru dengan mengabaikan agenda penyelamatan lingkungan hidup.

Perdagangan karbon merupakan salah satu isi Protokol Kyoto untuk mengurangi emisi sebagai dampak dari pemanasan global.

Pulau Tenggelam

Antara

Antara – Jumat, 16 Juli
Walhi: Pulau Kecil di Dunia Terancam Tenggelam

Jakarta (ANTARA) – Deputi Direktur Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) Nasional, Ali Akbar mengatakan, beberapa pulau kecil di dunia termasuk beberapa pulau di Indonesia terancam tenggelam.

“Jika kita tidak dapat mengatasi dampak pemanasan global dari sekarang, tidak tertutup kemungkinan beberapa pulau akan hilang terendam,” katanya dalam acara diskusi yang bertema “Carbon Trading, Siapa Untung?” di Jakarta, Kamis.

Ia mengatakan, salah satu penyebab pemanasan global adalah banyaknya emisi Gas Rumah Kaca (GRK) yang terperangkap di atmosfer sehingga menyebabkan pemanasan suhu bumi.

Menurut data Second National Communication 2009, paparnya, penyumbang emisi GRK paling besar berasal dari sektor “Land Use Change Forest” (LUCF) atau perubahan penggunaan lahanhutan sebesar 1.060.766 giga gram karbon.

“Akibatnya saat ini suhu bumi naik dari 0,6 derajat Celcius hingga 1 derajat Celcius,” kata Ali.

Namun, lanjutnya, jika keadaan tersebut masih terus berjalan tanpa diambilnya sebuah tindakan maka kemungkinan pada tahun 2020 akan ada 2,95 ton emisi terlepas.

“Maka suhu bumi akan naik sebesar 2 derajat Celcius dan permukaan laut akan naik menyebabkan banyak pulau-pulau akan terendam,” jelasnya.

Ia menilai, masyarakat terutama di negara maju sebagai penyumbang emisi terbesar di dunia untuk sedikit menahan nafsunya dalam menggunakan barang-barang yang dapat melepaskan emisi ke atmosfer.

Dalam acara tersebut juga hadir Anggota IV Badan Pemeriksa Keuangan (BPK), Ali Masykur Musa yang menyampaikan tanggapannya seputar perdagangan karbon yang merupakan salah satu isi Protokol Kyoto.

30
Jan
10

PEPORA : Matahari Tidur, Bumi Membeku vs Lapangan Kerja

Cuaca
Matahari Tidur, Bumi Membeku

Kompas, Sabtu, 30 Januari 2010 | 03:31 WIB

YUNI IKAWATI

Cuaca dingin ekstrem melanda kawasan lintang tinggi bumi. Fenomena ini, antara lain, disebabkan oleh matahari yang tidur berkepanjangan. Dampaknya menjadi terasa berat karena semakin diperparah oleh adanya pemanasan bumi dan perubahan iklim global.

Sejak Desember lalu, suhu ekstrem terus melanda kawasan Lintang Utara, yaitu mulai dari benua Amerika, Eropa, hingga Asia. Di Eropa, suhu dingin bulan lalu pernah mencapai minus 16 derajat celsius di Rusia dan minus 22 derajat celsius di Jerman. Bagi Inggris, ini suhu ekstrem terdingin dalam 30 tahun terakhir. Jalur transportasi ke Perancis lumpuh.

Amerika Serikat pun mengalami hal yang sama. Serbuan cuaca ekstrem ini berdampak pada kegagalan panen di Florida dan menyebabkan dua orang meninggal di New York.

Kejadian luar biasa yang berskala global ini diyakini para pengamat meteorologi dan astronomi berkaitan dengan kondisi melemahnya aktivitas matahari yang ditandai menurunnya kejadian bintik matahari atau sunspot .

Bintik hitam yang tampak di permukaan matahari melalui teropong bila dilihat dari sisi samping menyerupai tonggak yang muncul dari permukaan matahari. Tonggak itu terjadi akibat berpusarnya massa magnet di perut matahari hingga menembus permukaan.

Akibat munculnya bintik hitam berdiameter sekitar 32.000 kilometer atau 2,5 kali diameter rata-rata bumi, suhu gas di fotosfer dan khromosfer naik sekitar 800 derajat celsius dari normalnya. Hal ini dapat mengakibatkan badai matahari dan ledakan cahaya yang disebut flare.

Namun, yang terjadi beberapa tahun terakhir ini adalah matahari non-aktif. Menurunnya aktivitas matahari itu berdasarkan pantauan Clara Yono Yatini, Kepala Bidang Matahari dan Antariksa Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan), mulai terlihat sejak tahun 2000.

Para pakar astrofisika matahari di dunia menyebutkan, tahun 2008 sebagai tahun dengan hari tanpa bintik matahari yang tergolong terendah dalam 50 tahun terakhir. Mereka memperkirakan beberapa tahun sesudah 2008 akan menjadi tahun-tahun yang dingin, kata Mezak Ratag, pakar astrofisika yang tengah merintis pendirian Earth and Space Science Institute di Manado, Sulawesi Utara.

Pengukuran kuat medan magnet bintik matahari dalam 20 tahun terakhir di Observatorium Kitt Peak Arizona menunjukkan penurunan. Dari medan magnet maksimum rata-rata 3.000 gauss pada awal 1990-an turun menjadi sekitar 2.000 gauss saat ini.

Penurunan sangat signifikan ini merupakan bukti bahwa hingga beberapa waktu ke depan matahari masih akan pada keadaan malas, kata Mezak. Ia memperkirakan kalau aktivitas maksimumnya terjadi pada sekitar tahun 2013, tingkatnya tidak akan setinggi maksimum dalam beberapa siklus terakhir.

Matahari dan iklim

Saat matahari redup berkepanjangan, musim dingin ekstrem berpotensi terjadi. Karena matahari sumber energi bagi lingkungan tata surya adalah penggerak mesin iklim di bumi.

Sejak 1865, data di Lapan menunjukkan kecenderungan curah hujan berkurang saat matahari tenang. Demikian pula musim dingin parah sejak akhir 2009 terjadi saat matahari amat tenang ( deep minimum ) mirip kejadian 1995 -1996, urai Thomas Djamaluddin, Kepala Pusat Pemanfaatan Sains Atmosfer dan Iklim Lapan.

Bukti keterkaitan dengan perilaku matahari ini ditunjukkan oleh fenomena kebalikannya, yaitu musim dingin minim salju, saat matahari aktif pada tahun 1989. Musim dingin sangat panjang terjadi saat minimum Maunder tahun 1645-1716 dan minimum Dalton awal 1980-an.

Kondisi serupa terjadi pada 1910-1914. Itu banyak dikaitkan dengan dinginnya laut pada musibah tenggelamnya Titanic pada April 1912. Normalnya, waktu itu sudah musim semi.

Sementara itu, Mezak berpendapat, pola aktivitas matahari minimum saat ini mirip dengan kejadian tahun 1880, 1890, 1900, dan 1910. Jadi, siklus matahari tidak hanya menunjukkan siklus sebelas tahun. Ada siklus lebih panjang dengan periode sekitar 100 tahunsiklus Gleisberg. Dalam catatan meteorologis, saat terjadi siklus itu banyak cuaca ekstrem dingin, tetapi tidak seekstrem Minimum Maunder.

Cuaca dan GRK

Efek aktivitas matahari minimum lebih banyak memengaruhi daerah lintang tinggi. Aktivitas matahari sejak sekitar tahun 2007 hingga kini memperbesar peluang terjadinya gradien suhu yang besar antara lintang tinggi dan lintang rendah. Akibatnya, kecepatan komponen angin arah utara-selatan (meridional) tinggi.

Prof CP Chang, yang mengetuai Panel Eksekutif Monsun Badan Meteorologi Dunia (WMO), berkesimpulan, aktivitas monsoon lintas-ekuator yang dipicu gradien suhu yang besar di arah utara-selatan akhir-akhir ini meningkat secara signifikan dibanding dengan statistik 50 tahun terakhir.

Hal ini memperkuat dugaan, aktivitas matahari minimum yang panjang berkaitan erat dengan cuaca ekstrem dingin. Di Indonesia, kejadian angin berkecepatan tinggi lintas ekuator menjadi penyebab utama munculnya gelombang-gelombang tinggi dari Laut China Selatan ke perairan Laut Jawa.

Adanya gas rumah kaca di atmosfer, lanjut Thomas, juga meningkatkan suhu udara yang menyebabkan perubahan iklim. Efek gabungannya cenderung tingkatkan kerawanan bencana terkait iklim, kata Thomas.

Teori pemanasan global mengatakan, atmosfer yang memanas membuat partikel-partikel udara menjadi semakin energetik dan berpotensi menghasilkan cuaca ekstrem.

Timur Makin Bangkit, Barat Mulai Gusar

Kompas, Sabtu, 30 Januari 2010 | 04:11 WIB

DAVOS, Jumat – Krisis global sudah mempercepat per alihan kekuasaan ekonomi dari Barat ke Timur, yang membuat Barat gusar. Demikian diungkapkan para panelis di Forum Davos, Jumat (29/1). Pergeseran kekuasaan itu juga membawa dampak-dampak politis.

Hirotaka Takeuchi dari Hitotsubashi University, Jepang, mengatakan, krisis merupakan hal yang jelas-jelas meningkatkan kecenderungan itu.

Mereka (para pengamat) sungguh-sungguh tepat. Kuncinya kini adalah Asia, ujarnya sebagai reaksi dari jajak pendapat BBC Inggris yang menemukan bahwa 60 persen responden yang disurvei mengatakan krisis ini telah menaikkan pamor Timur.

Volume perdagangan Jepang ke China sudah mencapai 48,5 persen dari total perdagangan Jepang dengan dunia. Itulah kenyataannya dan itulah masa depan kita, ujar Takeuchi.

Lapangan kerja

Kenneth Roth, Direktur Eksekutif Human Rights Watch, mengatakan, Menurut saya, kesulitan ekonomi yang kita alami telah mempercepat kebangkitan wilayah Timur, khususnya China.

Roht mengatakan, pergeseran kekuasaan juga menimbulkan kekhawatiran. Saya khawatir mengenai konsekuensi politisnya. Apakah China akan menjadi model dari pembangunan ekonomi dan liberalisasi politik? tuturnya.

Pergeseran itu juga mempunyai dampak pada pasar tenaga kerja global. Lapangan kerja ada di Timur, tidak berada di Barat, di tempat tantangan itu berada, ujar Gerard Lyons, ekonom senior di Standard Chartered Bank. Kenyataannya adalah banyak orang di Barat yang merasa kesulitan untuk menghadapi era dan fakta bahwa ada pergeseran kekuatan itu, katanya.(AFP/joe)

KOLOM POLITIK-EKONOMI
(me-Mandiri-kan) Anak Bangsa

Kompas, Sabtu, 30 Januari 2010 | 02:39 WIB

Oleh Andi Suruji

Pernyataan Agus Martowardojo itu disambut gempita sekitar 4.000 mahasiswa dari sejumlah perguruan tinggi se-Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi di Jakarta Convention Center, pekan lalu, dalam acara pemberian penghargaan wirausaha muda mandiri.

Ketika para finalis tingkat nasional dipanggil untuk naik ke pentas, Uung Nastiya (62) yang duduk di samping saya tak kuasa menahan air mata keharuan menyaksikan anak keduanya naik pentas dan mendapat tepukan meriah dari 4.000 mahasiswa lainnya.

”Dia bisnis somai di Yogya. Dia memulai bisnisnya dengan modal dua juta rupiah. Kini dia sudah memiliki 11 outlet,” ujar Uung dengan nada bergetar penuh kebanggaan sekaligus kebahagiaan sambil mengusap air matanya.

Bangsa ini memang tidak ”mencari” pencari kerja sebab pencari kerja sudah terlampau banyak. Penganggur berjuta-juta jumlahnya. Belum lagi semua angkatan kerja sempat terserap, datang lagi angkatan kerja baru, termasuk yang berpendidikan tinggi. Kalau penganggur yang berpendidikan tinggi semakin banyak, tentu bisa berdampak sistemik serta dapat menimbulkan ekses sosial yang negatif.

Karena itulah negara ini lebih membutuhkan orang-orang yang berani membuka dan menciptakan lapangan kerja bagi dirinya sendiri. Tentu lebih mulia lagi apabila seseorang mampu menciptakan lapangan kerja bagi orang lain.

Siapa pencipta dan pemberi kerja itu? Mereka adalah para wirausaha, entrepreneur. Menurut David McCelland, untuk menjadi negara yang makmur, suatu negara harus memiliki minimum 2 persen wirausaha dari total penduduknya. Amerika Serikat, misalnya, konon pada tahun 2007 sudah memiliki 11,5 persen wirausaha, Singapura pada tahun 2005 sudah mencapai 7,2 persen, sedangkan Indonesia baru memiliki 0,18 persen wirausaha dari total penduduknya.

Saya salah satu dari belasan dewan juri dalam final kompetisi wirausaha muda mandiri yang diselenggarakan Bank Mandiri. Kompetisi di Jakarta ini merupakan ajang tingkat nasional. Mereka adalah wirausaha muda mandiri dari berbagai perguruan tinggi se-Indonesia. Ada juga sarjana dan pascasarjana. Sebelumnya, mereka mengikuti seleksi di wilayahnya masing-masing.

Mencengangkan, tak menyangka bahwa ada mahasiswa yang sudah menjalankan bisnisnya dengan omzet ratusan juta rupiah, bahkan ada yang miliaran rupiah. Lebih mencengangkan lagi, klien mereka tersebar secara global mulai dari Eropa sampai Afrika. Tanpa banyak terekspos, mereka sudah berani menceburkan diri dalam kompetisi global, yang justru ditakuti banyak orang.

Mereka mengelola bisnis di daerah dengan bermodal cekak, pas-pasan, bertindak lokal berpikir global. Mereka tidak berteriak-teriak minta fasilitas negara, tetapi diam-diam menciptakan uang dan lapangan kerja bagi orang lain.

Inilah salah satu program tanggung jawab sosial (CSR) Bank Mandiri yang dimulai sejak tahun 2007. Tahun lalu saja, jumlah peserta workshop wirausaha mandiri yang diselenggarakan di sembilan kota melibatkan 6.117 peserta dari 125 perguruan tinggi. Beasiswa setahun pun disediakan bagi 1.680 mahasiswa yang sudah berani berwirausaha. Adapun penghargaan Wirausaha Mandiri dimaksudkan sebagai penghargaan kepada generasi muda yang telah berwirausaha, sukses, dan beretika. Program penghargaan tahun lalu itu diikuti sebanyak 1.706 peserta dari 200 perguruan tinggi di 27 provinsi.

Tak hanya itu, enam perguruan tinggi bekerja sama dengan para pelaku usaha menyusun kurikulum kewirausahaan yang akan diterapkan sebagai mata kuliah di perguruan tinggi. Tak kalah pentingnya adalah pembinaan dan pendampingan berwirausaha kepada wirausaha mandiri, yakni pemenang dan finalis Wirausaha Mandiri.

Andaikan semuanya itu bisa menetas menjadi wirausaha mandiri, betapa signifikan dampaknya untuk mengatasi persoalan ketenagakerjaan. Tidaklah berlebihan apabila program pilihan jajaran manajemen Bank Mandiri itu dinilai sebagai upaya visioner. Wakil Presiden Boediono pun mengakui program CSR Bank Mandiri ini tepat sasaran karena lebih bersifat fundamental ketimbang sekadar bagi-bagi bahan kebutuhan pokok.

Seorang juri mengatakan merinding ketika ada mahasiswa memaparkan etika bisnis yang dipegangnya, seperti ini: clean business or never (berbisnis dengan bersih atau tidak sama sekali).

Tentu ini membesarkan hati manakala kita melihat fakta di tengah masyarakat bahwa kian banyak pengusaha yang mengabaikan etika berbisnis, misalnya dengan menjiplak ciptaan orang lain, membajak produk orang lain, menyelundup, menyuap untuk mendapatkan bisnis, dan mengemplang pajak. Ternyata masih banyak mutiara bertebaran di kampus-kampus di seluruh pelosok Nusantara.

Bahwa mereka—anak-anak bangsa yang telah mendapat pelatihan, pembinaan, dan fasilitas lainnya itu—kelak tidak menjadi nasabah Bank Mandiri, setidaknya Bank Mandiri telah memberikan sesuatu yang fundamental bagi generasi muda bangsa ini. Bank Mandiri telah mencoba menempa baja dan menggosok mutiara-mutiara Nusantara. Satu langkah kecil, tetapi signifikan untuk memandirikan anak-anak bangsa.

25
Dec
09

Lingkungan : Puncak Aktivitas Matahari Tahun 2013

Puncak Aktivitas Matahari Tahun 2013

Rabu, 16 Desember 2009 | 05:27 WIB

Jakarta, Kompas – Hasil pengamatan Matahari sejak tahun 2000 menunjukkan jumlah bintik Matahari cenderung menurun hingga mencapai tingkat terendah tahun 2009. Namun, tahun depan diperkirakan mulai terjadi peningkatan kejadian bintik Matahari hingga mencapai puncaknya pada tahun 2013.

Hal ini dipresentasikan Kepala Bidang Matahari dan Antariksa Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan) Clara Yono Yatini, dalam forum komunikasi kehumasan instansi pemerintah bertema ”Fenomena 2012”, di Jakarta, Selasa (15/12).

Sri Kaloka Prabotosari, Kepala Pusat Pemanfaatan Sains Antariksa Lapan, menambahkan, saat ini Matahari sedang berada pada awal siklus ke-24. ”Menurut perhitungan, puncak siklus terjadi pada sekitar tahun 2012-2013. Saat itu terjadi flare yang sangat besar,” ujarnya.

Munculnya prediksi Lapan, yang dikuatkan dengan data dari National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA), menggugurkan prakiraan tahun lalu yang menyebutkan bahwa puncak bintik Matahari terjadi tahun 2012.

Meski demikian, lanjut Clara, aktivitas Matahari yang mengancam magnet dan lingkungan ionosfer dan atmosfer Bumi bukan hanya berupa bintik Matahari, melainkan ada fenomena lain, seperti flare, lontaran massa korona (corona mass ejection/CME), badai Matahari, dan partikel energetik.

Gangguan komunikasi

Hasil pengamatan sejak tahun 2000, ketika bintik Matahari mengalami penurunan, gangguan cuaca antariksa justru terjadi karena munculnya fenomena tersebut, yaitu pada tahun 2000, 2003, dan tahun 2005.

Gangguan pada tahun-tahun tersebut antara lain mengakibatkan gangguan komunikasi satelit dan blackout atau padamnya jaringan listrik di beberapa negara. ”Oleh karena itu, pemantauan dan antisipasi menjelang puncak aktivitas Matahari harus terus dilakukan,” katanya.

Bintik hitam Matahari mencapai jumlah tertinggi pada tahun 2013 hingga 90 buah. Namun, prediksi sumber lain menyebutkan 170 buah, sama dengan kejadian tahun 2000.

Di daerah bintik hitam itu terjadi puntiran garis medan magnet Matahari. Ini berpotensi menimbulkan flare atau ledakan di permukaan Matahari akibat terbukanya kumparan medan magnet. Selain melepaskan partikel berenergi tinggi, flare juga memancarkan radiasi gelombang elektromagnetik dan menimbulkan badai Matahari. (YUN)

Peneliti Lapan :

Fenomena 2012 Siklus 11 Tahunan
Kamis, 10 Desember 2009 05:31 WIB | Iptek | Sains |
Peneliti Lapan: Fenomena 2012 Siklus 11 Tahunan
Lapan/ilustrasi (ANTARA)

Jakarta (ANTARA News) – Seorang peneliti dari Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan) menyatakan fenomena meningkatnya aktivitas matahari yang menurut ramalan suku Maya terjadi pada 2012 tidak perlu dikhawatirkan apalagi dihubungkan dengan hari kiamat.

Peneliti astronomi dan astrofisik Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan) yang baru saja dikukuhkan sebagai profesor riset Indonesia Dr Thomas Djamaluddin Msc, Rabu, menyatakan tidak ada yang istimewa dari fenomena alam 2012 itu karena hanya siklus 11 tahunan meningkatnya aktivitas matahari.

“Fenomena 2012 yang menghebohkan masyarakat lebih banyak berawal dari ramalan suku Maya, bukan berasal dari alasan ilmiah. Kalau kemudian memang ada fenomena 2012 alasan ilmiahnya apa? Tapi yang lebih banyak diungkapkan justru bukan sainsnya,” kata Thomas usai dikukuhkan sebagai profesor riset di kantor Lapan Jakarta.

Menurut Thomas, fenomena aktivitas puncak matahari sebelumnya diperkirakan terjadi pada 2011, namun titik minimumnya bergeser sehingga diperkirakan terjadi pada 2012. Namun, sekarang pun ada pergeseran lagi sehingga kemungkinan terjadi pada 2013.

Secara alamiah, tegas Thomas, tidak ada yang istimewa karena itu merupakan siklus 11 tahunan. “Terakhir terjadi pada 1989 kemudian pada 2000, dan nanti 2012 atau 2013 akan terjadi lagi.”

Orang kemudian mengkhawatirkan terjadi badai matahari, padahal tidak akan ada badai matahari dahyat yang menimbulkan dampak parah.

Badai matahari pada dasarnya adalah fenomena bumi yang sering terjadi bukan saja saat aktivitas matahari mencapai puncak, tetapi saat aktivitas mulai naik hingga turun lagi tetap ada badai matahari.

Artinya memang frekuensi kejadiannya lebih banyak pada saat puncak. Tetapi, menurut Thomas, kekuatan terbesarnya belum tentu pada saat puncak. Sering kali yang paling kuat justru setelah puncak.

“Katakan puncak yang lalu terjadi di 2000, tetapi aktivitas matahari yang paling besar, yang paling kuat justru terjadi pada 2003,” katanya.

Perbincangan fenomena aktivitas matahari ini juga berkembang, yang kemudian dikaitkan lagi dengan seolah-olah akan ada tumbukan komet.

“Itu juga secara astronomi tidak ada buktinya. Tidak ada informasi atau perkiraan akan ada komet besar yang menabrak bumi pada 2012. Kemudian ada lagi yang memperkirakan ada planet Nibiru, padahal planet Nibiru tidak dikenal dalam astronomi,” jelas Thomas.

Berbagai perbincangan mengenai fenomena 2012, seperti seolah-olah berdasarkan teori astronomi ada asteroit besar yang akan menghantam bumi, sama sekali tidak punya dasar atau tidak ada alasan astronominya.

“Jadi pada dasarnya kekhawatiran 2012 lebih banyak terkait dengan penafsiran ramalan suku Maya, dan oleh ketua suku Maya sendiri sudah menyatakan bahwa 2012 bukan akhir dan itu hanyalah pergantian item kalender yang biasa,” kata dia.

Menurut Thomas, dampak dari badai matahari yang ditimbulkan dari percikan partikel matahari dan menimbulkan medan magnit itu selama ini hanya berdampak pada keberadaan satelit di orbit dan terhadap transformer fasilitas jaringan listrik.

Badai matahari dapat menimbulkan induksi ke fasilitas jaringan listrik sehingga terjadi kelebihan beban dan bisa menyebabkan trafo meledak atau terbakar.

Sampah Antariksa

Dalam orasi ilmiahnya pada pengukuhannya sebagai profesor riset bersama Dr Ir Chunaeni Latief Msc, Thomas juga menyatakan bahwa wilayah Indonesia yang dilalui garis ekuator cukup panjang rentan menjadi tempat jatuhnya sampah antariksa yang sekarang kian banyak.

“Sampah antariksa semakin lama semakin banyak. Yang terpantau oleh sistem jaringan pemantau internasional ada sekitar 13 ribu lebih dan ancamannya bisa mengganggu satelit aktif. Dan salah satunya pernah, sampah antariksa bekas satelit Rusia menabrak satelit aktif karena semakin banyak satelit di antariksa kemungkinan bertabrakan semakin besar,” katanya.

Indonesia yang berada di garis ekuator memiliki kemungkinan lebih besar untuk terkena risiko jatuhnya sampah antariksa dibanding kawasan lain. Oleh karena itu Indonesia harus selalu waspada karena berada pada wilayah yang sering dilalui orbit satelit.

Hal itu harus menjadi perhatian Lapan dalam memberikan pelayanan informasi potensi bahaya benda jatuh dari antariksa sehingga kemungkinan terjadi hal-hal yang tidak diinginkan dapat dinetraliskan, demikian Thomas Djamaluddin.

Bersama Thomas, peneliti Lapan Dr Ir Chunaeni Latief Msc juga dikukuhkan sebagai profesor riset dalam bidang Opto Elektronika dan Aplikasi Laser. Dalam orasinya ia lebih mencermati kandungan dan efek emisi gas rumah kaca (CO2) dan pemanfaatan instumensi Satklim LPN-1A untuk penelitiannya yang bermanfaat bagi dunia penerbangan, dan kajian pemanasan global.(*)

COPYRIGHT © 2009

LAPORAN IPTEK
Bumi Makin Panas, Bumi Direkayasa

Kompas, Rabu, 16 Desember 2009 | 05:15 WIB

Oleh NINOK LEKSONO

Dari Konferensi Perubahan Iklim PBB yang alot di Kopenhagen, Denmark, kemarin di harian ini kita membaca berita berjudul ”Cuaca Ekstrem Bencana 2009”. Disebutkan di sana, dari semua bencana alam yang terjadi sepanjang tahun 2009, lebih dari tiga perempatnya terkait dengan cuaca ekstrem (Kompas, 15/12).

Di harian International Herald Tribune (11/12), mantan Perdana Menteri Portugal yang kini Komisioner Komisi Tinggi PBB untuk Urusan Pengungsi (UNHCR), Antonio Guterres, juga menulis, ”Gempa bumi, siklon, tsunami, banjir, dan tanah longsor merupakan bencana alam yang frekuensinya lipat dua dalam dua dekade terakhir.” Selain frekuensinya meningkat, katastrofi tersebut juga bertambah intensitasnya, meningkat daya penghancuran serta ancamannya terhadap kehidupan manusia. Pada tahun 2008 saja, sekitar 36 juta orang tiba-tiba harus tergusur oleh fenomena alam ini.

Menurut Guterres, meskipun angka yang disebut di atas sudah amat besar, itu masih amat kecil bila dibandingkan dengan jumlah orang yang keamanannya, juga sumber penghidupannya, terus-menerus dirongrong oleh konsekuensi jangka panjang perubahan iklim. Konsekuensi yang dimaksud berupa kekeringan, pola curah hujan yang semakin sulit diramalkan, degradasi dan desertifikasi (penggurunan) tanah, erosi pantai, dan salinifikasi (makin asinnya air tanah).

Skenario yang akan mengikuti situasi tersebut adalah meningkatnya potensi konflik di dalam dan antarnegara. Itu akan terjadi ketika berbagai komunitas berebut sumber daya yang semakin langka, seperti air segar dan lahan pertanian.

Sedikit melihat lebih jauh ke masa depan, rakyat di negara kecil dan berpermukaan rendah akan menghadapi prospek negaranya runtuh berhadapan dengan naiknya laut; kebangsaan, kultur, dan identitasnya pun akan tenggelam.

Ketika hari demi hari kita merasakan cuaca semakin panas, suka atau tidak kita pun mengakui, pemanasan global itu sudah menjadi realitas hidup di sekeliling kita, dengan segenap potensi dampaknya yang amat mencengkam.

Merekayasa Bumi

Dalam konteks ini, masuk akal kalau harapan terhadap Konferensi Kopenhagen atau COP-15 sangat besar. Para pemimpin dunia diseru untuk mendorong dicapainya kesepakatan baru untuk pengurangan emisi karbon.

Sementara waktu terus berjalan, kini sudah muncul pertanyaan yang mengusik. Misalnya saja, apa yang terjadi kalau kesepakatan pengurangan emisi yang dicapai di Kopenhagen tidak memadai? Atau lebih jauh lagi, apa yang akan terjadi kalau target yang disepakati tidak dijalankan? Atau, apa yang akan terjadi seandainya kita dihadapkan dengan krisis ekologi dalam satu-dua dasawarsa ke depan?

Dalam kaitan inilah para ilmuwan mulai menyinggung kemungkinan dilakukannya perekayasaan Bumi atau geoenjiniring (geo-engineering). Pilihan ini mengemuka ketika sejumlah pihak menyangsikan hasil di Kopenhagen.

Salah seorang ilmuwan yang menyusun laporan ini, John Shepard, dari Universitas Southampton, Inggris, mengaku, dia merasa ngeri sendiri membayangkan manusia harus melakukan geoenjiniring. Meski demikian, intervensi teknologi dalam skala besar-besaran ini perlu dilakukan bila memang tidak ada kesepakatan pengurangan emisi karbon.

Seperti dilaporkan Claudia Ciobanu dari Inter-Press Service (JP, 13/12), pada dasarnya geoenjiniring adalah campur tangan dalam skala besar pada sistem iklim bumi.

Dua tipe

Pada saat sekarang ini, proses merekayasa bumi ini bisa dibagi dalam dua macam. Yang pertama adalah penghilangan CO (carbon dioxide removal/CDR), yang dilakukan melalui fertilisasi besi samudra, penggunaan pohon buatan. CDR dapat dilakukan secara lokal dan risikonya dinilai kecil.

Pilihan kedua dikenal sebagai manajemen radiasi matahari (solar radiation management/SRM). Ini dilakukan dengan memantulkan sinar matahari untuk mengurangi pemanasan global dengan menggunakan, misalnya, cermin di angkasa, penyemprotan aerosol di atmosfer, atau penguatan awan.

Metode yang kedua ini tidak mengurangi gas-gas rumah kaca dan juga tidak akan menanggulangi konsekuensi emisi, seperti pengasaman (asidifikasi) laut. Namun, ia dipandang sebagai solusi yang bisa dilakukan dengan cepat. Hanya saja, para ilmuwan mengaku, mereka khawatir dengan efek SRM yang tak teramalkan, khususnya terhadap pola cuaca dan ekosistem.

Dalam kaitan ini, fisikawan Jason Blackstock dari Center for International Governance Innovation melihat geoenjiniring sebagai ”judi yang amat tak pasti, yang tak ingin kami lakukan”.

Dengan melihat risiko yang ada, Blackstock, sebagaimana Shepard, berkeyakinan bahwa pengurangan emisi tetap merupakan prioritas, (karena cara ini yang) paling aman dan lebih bisa diramalkan (hasilnya).

Kemajuan sains dan teknologi memang membawa umat manusia pada peluang untuk menanggulangi krisis yang dihadapinya.

Dalam hal geoenjiniring, risikonya sungguh tidak main-main. Bila cermin pemantul panas matahari dipasang, lalu suhu global turun, sementara ada timbunan karbon dioksida miliaran ton di atmosfer, apa yang akan terjadi dengan pola cuaca? Apa yang akan terjadi pada makhluk hidup? Sulit diramalkan.

Tampak bahwa merekayasa Bumi juga membuat manusia berhadapan dengan ketidakpastian. Alih-alih mendapatkan solusi, manusia justru bisa berhadapan dengan problem baru yang tidak kalah mengerikan.

Dalam perspektif inilah kita semua wajib mendesak para perunding di Kopenhagen untuk mencapai kesepakatan pengurangan emisi karbon. Bahkan, bukan kesepakatan biasa, tetapi kesepakatan dengan target memadai.

Cuaca Ekstrem Bencana 2009

Selasa, 15 Desember 2009 | 09:44 WIB

Kopenhagen, Kompas – Dari semua bencana alam yang terjadi sepanjang tahun 2009, lebih dari tiga perempatnya terkait dengan cuaca ekstrem. Cuaca ekstrem juga bertanggung jawab atas penderitaan 55 juta jiwa di seluruh dunia.

Demikian laporan yang diluncurkan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) Belgia bekerja sama dengan Centre for Research on the Epidemiology of Disasters (CRED) berdasarkan data 1 Januari 2009 hingga November 2009.

”Cuaca ekstrem menjadi isu penting yang harus diperhatikan,” kata Wakil Khusus Sekretaris Jenderal PBB untuk Pengurangan Risiko Bencana Margaretha Wahlstrom dalam jumpa pers, Senin (14/12).

Dari 245 bencana pada tahun 2009, 224 di antaranya terkait cuaca ekstrem. Cuaca ekstrem bertanggung jawab atas 55 juta jiwa dari 58 juta korban bencana alam, di mana 7.000 orang (dari 8.900 jiwa) di antaranya tewas.

Cuaca ekstrem juga menyebabkan kerugian sebesar 15 miliar dollar AS dari total kerugian akibat bencana alam sebesar 19 miliar dollar AS.

Dari banjir, 11 juta jiwa terkena dampak sepanjang tahun 2009— turun dibandingkan dengan tahun 2008 (45 juta) dan tahun 2007 (178 juta). ”Dari sisi jumlah menurun. Namun, cuaca ekstrem akan tetap menjadi ancaman serius. Lebih dari setengah mengancam penduduk kawasan pesisir,” katanya.

Menurut Direktur CRED Debarati Guha Sapir, data cuaca ekstrem itu belum memasukkan angka korban yang disebabkan kekeringan. ”Secara statistik sulit ditemukan,” katanya. Di Afrika, jumlah dampak kekeringan sangat besar, belum lagi dampak ikutannya. Di Kenya, misalnya, 3,8 juta jiwa butuh bantuan makanan. Dampak tidak kalah serius menerjang kawasan Amerika Tengah, Kolombia, dan Sahel barat yang terserang kekeringan.

Tidak bisa dicegah

Sekretaris Jenderal Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) Michael Jarraud mengatakan, badai tropis, hujan ekstrem, dan kekeringan tidak dapat dicegah oleh siapa pun. ”Yang bisa dilakukan adalah memprediksikan datangnya sehingga bisa mengurangi dampak buruknya,” katanya. Namun, tidak semua negara memiliki kemampuan teknologi dan ahli untuk itu. Berdasarkan data WMO tahun 2006, sekitar 60 persen dari 189 anggota WMO kemampuannya terbatas.

Dari berbagai kawasan, Asia adalah kawasan paling rentan banjir dan badai. Antara Januari dan November 2009, 48 juta jiwa terkena dampak cuaca ekstrem. Sebagian besar penduduk Asia tinggal di kawasan pesisir. (GESIT ARIYANTO dari Kopenhagen, Denmark)

Matahari dan Pemanasan Bumi Saling Menguatkan

Kompas, Selasa, 15 Desember 2009 | 10:44 WIB

Geneva, Senin – Terjangan radiasi Matahari lebih dari 60 tahun lalu telah menyebabkan lapisan es di puncak gunung di Swiss meleleh lebih cepat daripada saat ini walaupun sekarang pun terekam ada kenaikan temperatur. Demikian hasil penelitian sejumlah ilmuwan yang dipaparkan pada Senin (14/12).

Penelitian mereka tentang dampak radiasi Matahari pada gletser Alpen membawa pada ”penemuan mengejutkan”. Penemuan tersebut adalah pada tahun 1940-an, terutama pada musim panas 1947, volume es yang meleleh adalah terbanyak sejak diukur dari 95 tahun lalu.

Penelitian yang dilakukan Zurich’s Federal Institute of Technology (ETHZ) ini juga mencatat kenaikan temperatur yang mempercepat proses melelehnya es pada tingkat yang tak terduga sebagai akibat pemanasan global. ”Yang baru adalah paradoks tersebut dapat dijelaskan dengan adanya radiasi,” ujar Matthias Huss, salah seorang peneliti.

Penelitian tersebut dipublikasikan dalam Geophysical Research Letters sebagai laporan dari penelitian besar yang dilakukan terkait dampak perubahan iklim dan peran radiasi Matahari dalam model iklim.

Dari penelitian ditemukan bahwa level radiasi Matahari pada tahun 1940-an adalah 8 persen lebih tinggi daripada radiasi rata-rata. Hal itu mengakibatkan salju meleleh sekitar 4 persen. (AFP/ISW)

25
Dec
09

Lingkungan : Daya Rusak Muka Laut Diabaikan

Daya Rusak Muka Laut Diabaikan

Rabu, 23 Desember 2009 | 03:49 WIB

Jakarta, Kompas – Kenaikan paras muka laut akibat pemanasan global, penurunan tanah, serta pengaruh lainnya sebatas satuan milimeter tiap tahun masih kerap diremehkan sehingga daya rusaknya diabaikan pula.

Padahal, dampak kerusakannya meluas, mencapai ketinggian 50 kali-200 kali kenaikan paras muka laut itu. ”Daya rusak akibat kenaikan paras muka laut bukan vertikal, tetapi horizontal. Kita jangan terpukau meski perkiraan kenaikan muka laut di berbagai wilayah Indonesia hanya 3-5 milimeter per tahun,” kata Kepala Bidang Medan Gaya Berat dan Pasang-Surut pada Badan Koordinasi Survei dan Pemetaan Nasional Parluhutan Manurung, Senin (21/12) di Jakarta.

Parluhutan mengatakan, daya rusak kawasan pantai mencapai 50 kali-200 kali kenaikan muka laut mengacu pada teori Brun. Jika diperkirakan kenaikan muka laut 3 milimeter per tahun, risiko daya rusak kawasan pantai hingga pada ketinggian 150 milimeter-600 milimeter (0,15 meter-0,6 meter).

”Kenaikan paras muka laut 3 milimeter per tahun itu sangat kecil. Namun, dalam setahun daya rusaknya bisa sampai kawasan pantai dengan ketinggian 0,6 meter. Risiko ini masih kurang diperhitungkan,” kata Parluhutan.

Daya rusak tersebut, menurut dia, akibat gerusan ombak yang makin tinggi dan menimbulkan abrasi. Sebetulnya kerusakan itu dapat diperhitungkan untuk menetapkan langkah-langkah adaptasi dan mitigasi.

Daya rusak itu juga dipengaruhi kondisi pantai. Pantai yang masih dilindungi zona mangrove yang baik berisiko lebih kecil. ”Efek teori Brun inilah yang dikhawatirkan negara-negara kepulauan kecil,” kata Parluhutan.

Pulau tenggelam

Menurut Direktur Pesisir dan Lautan pada Departemen Kelautan dan Perikanan Subandono Diposaptono, erosi air laut merupakan penyebab utama tenggelamnya pulau-pulau kecil yang mengalami kerusakan ekosistem, biasanya akibat aktivitas penambangan pasir. Di Indonesia banyak pulau kecil hilang.

Berdasarkan inventarisasi Departemen Kelautan dan Perikanan pada 2005-2007, menurut Subandono, 24 pulau kecil di Indonesia telah tenggelam.

Rinciannya, masing-masing tiga pulau kecil di wilayah Nanggroe Aceh Darussalam, Sumatera Utara, dan Papua. Disusul lima pulau kecil di kawasan Kepulauan Riau. Di Sumatera Barat terdapat dua pulau kecil tenggelam. Di Sulawesi Selatan satu pulau kecil tenggelam. Di Kepulauan Seribu, yang masuk wilayah DKI Jakarta, tujuh pulau kecil hilang.

Tenggelamnya pulau kecil seperti Pulau Nipah di Kepulauan Riau tak hanya berdampak pada hilangnya ekosistem darat atau perubahan arus laut di sekitarnya, tetapi juga bermakna politis. Pulau Nipah adalah pulau terdepan yang menandai perbatasan wilayah Indonesia dengan Singapura. Hilangnya pulau terdepan berpotensi memperkecil wilayah perairan Indonesia. (NAW)




Blog Stats

  • 3,212,988 hits

Recent Comments

Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Sejarah : Bangsa Lemuria, Lelu…