Archive for February, 2013

26
Feb
13

Politik : Kenali Kandidat Sebelum Disokong

Kenali Jenderal Sebelum Disokong

M Bachtiar Nur | Senin, 25 Februari 2013 – 15:35:40 WIB

: 265

(SH/Edy Wahyudi)
Puncak peringatan hari ulang tahun (HUT) ke-65 TNI dilaksanakan di Pangkalan Udara Halim Perdana Kusuma, Jakarta Timur. Foto direkam 5 Oktober 2012.
Keberhasilan para jenderal pada pemilu mendatang tak lebih dari mengandalkan uang saja.
Jelang Pemilu 2014, genderang perang antarjenderal siap ditabuh. Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra), misalnya, dengan jelas dan secara tegas mengusung Ketua Dewan Pembina mereka, yaitu Prabowo Subianto sebagai calon presiden pada Pemilu 2014.
Kampanye gencar dan bukti kemenangan terhadap pasangan Jokowi-Ahok saat Pilkada DKI Jakarta beberapa waktu lalu menjadi modal kuat. Selain menyoroti perlunya energi alternatif pengganti BBM, mantan Danjen Komando Pasukan Khusus (Kopassus) ini bahkan mengingkatkan bahaya ledakan populasi penduduk, pemerintahan yang lemah, tidak efisien, korupsi, dan ketidakseimbangan struktural perekonomian.

Pun demikian dengan Partai Hati Nurani Rakyat (Hanura) yang mendorong Wiranto sebagai capres mereka. Tentunya niatan Hanura tak bisa dipandang enteng saat ini, mengingat bergabungnya bos MNC Group Hary Tanoesudibjo ke partai ini.

Nama jenderal lain yang juga sempat mengemuka ke permukaan adalah Menteri Koordinator bidang Politik Hukum dan Keamanan (Menko Polhukam) Djoko Suyanto, mantan Panglima TNI Endriatono Sutarto, dan Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) Jenderal TNI Pramono Edhie Wibowo.

Nama Djoko Suyanto dan Pramono Edhie mencuat sebagai pengganti sosok Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dari Partai Demokrat. Sesuai undang-undang, SBY yang telah dua kali terpilih menjadi presiden tak dapat lagi menjadi calon pada Pemilu 2014. Sementara Endriartono meski belum bisa dipastikan akan diusung oleh Partai Nasdem, namun sempat muncul namanya sebagai calon pemimpin negara yang akan membawa perubahan.

Uniknya, meski bertaburan, namun kalangan pengamat menilai para purnawirawan jenderal tak akan mampu berbicara banyak pada pemilu mendatang. Hal ini karena sosok kepemimpinan mereka belum tentu selaras dengan kenegarawanannya.

“Dari 2004, 2009, hingga ke 2014 kalau kita lihat perkembangannya semakin banyak pemilu demokrasi, saya lihat jenderal-jenderal semakin kurang mendapat perhatian. Jenderal-jenderal semakin tidak bisa membuktikan kejenderalannya dalam politik. Bisa saja dia jagoan dalam militer, tapi dalam politik tidak ada jaminan buat dia lebih hebat,” ucap pengamat politik UI, Arbi Sanit saat dihubungi SH, Minggu (25/2) malam.

Menurutnya, selain SBY belum terlihat jenderal yang mampu mengelola politik demokrasi dengan baik. “Sekarang ini mana jenderal yang lebih baik dari tokoh-tokoh sipil? Nggak ada lagi. SBY sudah habis masa jabatannya, kemungkinannya nggak ada lagi. Wiranto? Jenderal yang kalah terus. Prabowo? Kalah dan juga banyak sisa masa Orde Baru digendongnya. Jenderal Edhie (Pramono Edhie), Anda pernah mencatat karier politiknya atau kemampuan kenegarawanannya?” kata dia.

Arbi mengungkapkan tren perkembangan sejarah tentara dalam politik Indonesia dapat habis pada 2019 mendatang.
Krisis Kepemimpinan
Hal senada disampaikan pengamat politik Universitas Gadjah Mada (UGM), Arie Sudjito. Menurutnya, wacana sipil militer itu relevan buat zaman Orde Baru, untuk mengimbangi. Tapi tampaknya sekarang ini agak sulit untuk mereproduksi lagi wacana sipil militer itu. Meskipun tentara selalu mereproduksi itu dan memanfaatkan krisis kepemimpinan sipil. Namun sesungguhnya sekarang ini bukan krisis kepemimpinan sipil yang terjadi, tapi krisis politik kepartaian.

“Artinya siapa pun mereka, tentara atau polisi yang ada sekarang, sejauh mempunyai kemampuan leadership, punya kemampuan mempraktikkan nilai-nilai demokrasi akan diterima masyarakat,” sambungnya.

Arie mengingatkan, selain harus telah purnawirawan, keterlibatan para jenderal dalam politik harus merupakan bagian keinginan mereka untuk merubah kekuasaan tidak lagi seperti zaman Orde Baru.

“Demokrasi memberi kesempatan mereka masuk partai. Pertanyaannya adalah mereka bisa mengubah keadaan dengan masuk partai? Itu tergantung kemampuan mereka memengaruhi sekaligus beradaptasi terhadap kebijakan-kebijakan partai itu,” selorohnya.

Ia menambahkan, para jenderal memang memanfaatkan akses mereka, namun tetap tak menjamin latar belakang tersebut dapat mengubah situasi politik sekarang ini. Terlebih kondisi saat ini kata Arie menggambarkan banyaknya politik pragmatis menggunakan uang.

“Apalagi di partai sendiri tidak terjadi reformasi politik sehingga keputusan-keputusan politik masih juga pakai oligarki. Jadi menurut saya fenomena SBY, Prabowo, Wiranto, dan sebagainya tidak akan berpengaruh,” jelasnya.

Karena menurutnya yang dinilai masyakarakat itu leadership. Masyarakat menilai leadership dari kapasitas politik, intelektual, dan komitmen. Romantisme pengalaman dalam tugas militer masa lalu tidak cukup berguna. Di sisi lain, pada sejumlah kasus menunjukkan banyak jenderal yang tak mampu mengelola partai.

“Nah itu yang saya kira ukuran sipil-militer kurang relevan saat sekarang. Yang sekarang harus diputuskan adalah bagaimana kemampuan leadership untuk menjalankan praktik demokrasi secara benar dan komitmen untuk mengubah keadaan. Orang seperti Mahfud itu populer kan? Dia sipil, tapi bagus. Jokowi? Bukan tentara, tapi bisa mengalahkan yang lain. Artinya apa? Yang dinilai masyarakat itu leadership dan komitmen,” pungkasnya.

Sementara pengamat politik UI lainnya, Iberamsjah berpendapat keberhasilan para jenderal di partai politik pada pemilu mendatang tak lebih dari mengandalkan banyaknya materi atau uang dimiliki saja.

“Seperti Prabowo bukan karena dia hebat, tapi karena duitnya banyak. Bahkan masa lalunya sangat suram sekali, pelanggaran HAM. Endriartono, cerdas, cuma partainya baru, dananya nggak ada. Jadi saya melihat jenderal-jenderal di partai sekarang tidak terlalu signifikan untuk mendulang suara. Sebagai capres, siapa yang mau diunggulkan? Saya tidak jelas siapa yang dicapreskan sekarang. Endriatono atau Djoko Suyanto, belum terlalu populer banget. Masih kalah dengan Dahlan Iskan atau Mahfud MD, seperti Jusuf Kalla, itu lebih potensial sebenarnya,” urainya.

Disinggung mengenai kuatnya keinginan para jenderal untuk menjadi pemimpin negara, Iberamsjah mengatakan wajar saja sebagai bentuk tanggung jawab moral melihat bangsa yang sedang terpuruk hingga membangkitkan rasa nasionalismenya. “Tidak salah kalau para jenderal ingin terjun sebagai capres atau cawapres, tapi dengan cara yang ikhlas. Jangan pencitraan yang menipu dengan pasang iklan setiap hari,” kata dia.

Sudut pandang berbeda disampaikan Direktur Operasional Developing Countries Studies Center (DCSC) Indonesia, Tole Sutrisno yang melihat efektivitas peran para jenderal di partai politik lebih kepada opini yang berkembang di masyarakat bahwa figur jenderal atau TNI itu digambarkan sebagai sosok tegas dan berani. Hal itu menurutnya dicermati oleh seluruh parpol yang lolos Pemilu 2014.

Lebih jauh Tole memandang masuknya para jenderal murni karena tujuan politik, tidak karena ingin menguasai Indonesia. Stigma militer ingin menguasai negara kata Tole telah hilang setelah era Soeharto.

“Kalau ingin menguasai Indonesia sebenarnya gampang, para jenderal itu bersatu, bergabung dalam satu partai. Dengan kondisi Indonesia yang masih terjadi konflik di beberapa wilayah, peran jenderal atau TNI memang masih diharapkan oleh masyarakat,” ucapnya.

Supaya tidak seperti beli kucing dalam karung, rakyat memang perlu mengenal lebih dalam rekam jejak dan kemampuan para jenderal.

Sumber : Sinar Harapan
26
Feb
13

GerakNusa : Syarat Kuliner Nusantara Go Global

Sabtu, 23 Feb 2013 17:00 WIB

GerakNusa

Jakarta (ANTARA News) – Sebanyak 30 kuliner tradisional Indonesia telah dicanangkan sebagai promosi kuliner di luar negeri, dengan salah satu kriteria penting adalah ketersediaan bahan baku di dalam dan luar negeri.
Ada alasan mengapa kemudahan mendapat bahan baku menjadi salah satu syarat di balik terpilihnya kuliner tradisional Indonesia, seperti nasi tumpeng, yakni agar mudah memasaknya di luar Indonesia. Karena salah satu tujuan membuat ikon kuliner tradisional Indonesia adalah untuk ajang promosi di luar negeri.
“Kalau mau ada yang jual di luar negeri kan gampang kalau ada materialnya,” kata Achyaruddin, Direktur Pengembangan Wisata Minat Khusus, Konvensi, Insentif, dan Event saat jumpa media Patali Day, di Jakarta, Sabtu.
Ikon kuliner tradisional juga akan dianjurkan untuk dimasukkan dalam menu hotel-hotel di Indonesia. Untuk luar negeri, pengenalan kuliner tradisional Indonesia akan disajikan di acara kedutaan besar RI.
“Kuliner itu bisa jadi media diplomatik,” kata Firmansyah Rahim Dirjen Destinasi Wisata, Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif.
Selain kemudahan mencari bahan baku, kriteria lain yang dimiliki 30 ikon kuliner tradisional Indonesia adalah dikenal oleh masyarakat luas secara nasional (populer), dan ada pelaku secara profesional.
Sebagian ikon kuliner tradisional terpilih itu adalah Nasi Tumpeng, Ayam Panggang Bumbu Rujak Yogyakarta, Gado-Gado Jakarta, Nasi Goreng Kampung, Serabi Bandung, Sarikayo Minangkabau, Es Dawet Ayu Banjarnegara, Urap Sayuran Yogyakarta, Sayur Nangka Kapau, Lunpia Semarang, Nagasari Yogyakarta, Kue Lumpur Jakarta, Soto Ayam Lamongan, Rawon Surabaya, Asinan Jakarta, dan Sate Ayam Madura. (nan)
__._,_.___
26
Feb
13

Hikmah : Obat Keresahan Jiwa

Obat Keresahan Jiwa

Selasa, 26 Februari 2013, 03:00 WIB

Reuters/Carlos Jasso
Sujud.

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: A Ilyas Ismail

Dikisahkan, orang-orang kafir terus menghalang-halangi dakwah Rasul, dan terus menyerang serta mengolok-oloknya, sehingga Nabi merasa tidak nyaman, bahkan resah. Dalam suasana demikian, diturunkan kepada Nabi saw al-Qur’an surah al-Hijr ayat  97 – 99.

Dipertanyakan, apakah secara kejiwaan Rasulullah mengalami perasaan gelisah, tidak senang (unhappy) atau sempit dada seperti ditunjuk ayat di atas?

Menurut pakar tafsir al-Razi dalam Mafatih al-Ghayb, Rasulullah dilihat dari sisi kemanusiaan (basyariyyah)-nya, boleh jadi mengalami perasaan semacam itu. Hanya saja, demikian al-Razi, Rasulullah saw kemudian mendapat petunjuk dan bimbingan secara langsung dari Allah SWT.

Menunjuk pada ayat di atas, supaya terbebas dari perasaan sedih atau gelisah, Rasulullah saw diperintahkan Allah SWT melakukan empat hal: mensucikan Allah (tasbih), memuji kebesaran dan keagungan Allah (tahmid), melakukan shalat (bersujud), dan ibadah kepada Allah SWT sampai datang kematian.

Petunjuk ini,  tidak hanya penting bagi Nabi, tetapi lebih penting lagi bagi umat manusia, khususnya kaum beriman.

Perintah pertama, tasbih, sesungguhnya  dimaksudkan untuk menolak anggapan dan kepercayaan sesat kaum kafir yang  menyangka ada tuhan-tuhan lain selain Allah (QS. Al-Hijr [15]: 96), dan memandang Allah memiliki anak-anak perempuan (QS. Al-Shaffat [37]: 149).

Tasbih bermakna mensucikan Allah dari sifat-sifat yang tidak pantas bagi-Nya. Tasbih juga bermakna mengosongkan pikiran kita dari prasangka buruk (su’u al-zhann) dan sebaliknya membangun prasangka baik, positiv thinking (husn al-zhann) kepada Allah. Positive thinking ini menimbulkan harapan (optimisme) yang mengeliminasi kecemasan.

Perintah kedua adalah tahmid, yang berarti memuji keagungan dan kebesaran Allah. Tahmid merupakan kelanjutan logis dari tasbih. Logikanya, kalau Allah adalah Tuhan yang Maha suci, bebas dan terlepas dari segala bentuk kekurangan (munazzahun `an al-naqa’ish), maka milik-Nya segala kemuliaan dan keagungan.

Maka kita ucapkan alhamdulillah (segala puji milik Allah). Jadi, bagi kaum Muslim, tasbih dan tahmid itu [juga takbir] menggambarkan Psychocological Stages yang menjamin ketentraman batin.

Perintah ketiga sujud (min al-sajidin). Semua pakar tafsir sepakat, maksud sujud ini adalah shalat. Seperti
dimaklumi, shalat adalah media komunikasi yang ampuh antara manusia dengan Allah, Tuhannya.

Melalui shalat, orang beriman berdialog (munajat) dengan Allah. Dialog ini mencerahkan dan mendatangkan kebahagiaan. Rasulullah saw sendiri, apabila ditimpa kesulitan, langsung melakukan shalat (HR. Ahmad dan Abu Daud).

Lalu, perintah keempat adalah beribadah sampai manusia menemui ajalnya. Ibadah di sini, bagi Ibn Katsir, juga Zamahsyari, tak hanya shalat, tapi semua kebaikan dan kepatuhan (kull al-tha`ah) kepada Allah. Bagi kaum beriman, tak boleh berlalu suatu waktu tanpa ibadah dan amal shalih.

Siapa yang melaksanakan keempat macam ibadah ini, menurut al-Razi, akan mengalami ‘pencahayaan ilahi’ (adhwa’ ‘alam al-rububiyyah) yang membuatnya mampu menghadapi “godaan dunia.”

Di matanya, dunia menjadi kecil, sehingga kedatangannya tak membuatnya gembira, kepergiannya pun tak mebuatnya berduka. Inilah obat keresahan jiwa yang paling manjur. Wallahu a`lam.  n

Redaktur : Damanhuri Zuhri

Senin, 25 Februari 2013, 13:32 WIB
Belajar Optimis
Oleh Muhbib Abdul Wahab”Janganlah kalian berputus…
Senin, 25 Februari 2013, 00:57 WIB
Hadiah Allah
Oleh Ustaz Yusuf MansurKamil Lubudy, memasuki…
Minggu, 24 Februari 2013, 11:18 WIB
Enam Panduan Berbicara Bagi Kaum Beriman
Oleh M HusnainiSetiap manusia punya hak…
Sabtu, 23 Februari 2013, 08:59 WIB
Kemajuan Teknologi dan Moralitas
Oleh Dr HM Harry Mulya Zein Sebulan…
Jumat, 22 Februari 2013, 07:21 WIB
Berdakwah dengan Hikmah
Oleh YuliasihSuatu hari, Rasulullah SAW mengutus…
Jumat, 22 Februari 2013, 02:00 WIB
Gaji
Oleh Syahruddin El-FikriAbu Bakar ash-Shiddiq adalah…
Kamis, 21 Februari 2013, 19:16 WIB
Bijak dalam Berdakwah
Oleh YuliasihSuatu hari, Rasulullah SAW mengutus…
Kamis, 21 Februari 2013, 11:08 WIB
Inilah Tiga Wajah Sabar
Oleh Dr Amir Faishol FathSabar menjalani…

Hikmah

Rabu, 20 Februari 2013, 13:09 WIB
Oleh Ahmad Kusyairi Suhail Dari Abdullah bin Amr bin Ash RA, dari Rasulullah SAW bersabda, “Apabila ditundukkan bangsa…
Selasa, 19 Februari 2013, 07:54 WIB
Cinta Sejati
HIKMAH Oleh: Imam NawawiIbnu Al-Mundzir meriwayatkan dari…
Senin, 18 Februari 2013, 09:51 WIB
Panen Raya
Oleh Ustaz Yusuf MansurSedekah makanan, wa-th’imuth-tha’am,…
Senin, 18 Februari 2013, 04:00 WIB
Apa Motivasi Kita Beribadah?
Oleh M HusnainiMafhum bagi kita bahwa…
Minggu, 17 Februari 2013, 21:14 WIB
Generasi Saleh
Oleh: Ustaz Hasan Basri Tanjung MAAnak…
Minggu, 17 Februari 2013, 06:07 WIB
Inilah Dua Cara Mencegah Bencana
Oleh: Imron Baehaqi MAMasalah bencana ada…
Sabtu, 16 Februari 2013, 14:59 WIB
Salah Kaprah Pendidikan
Oleh M HusnainiSejenak mari renungkan tugas…
Jumat, 15 Februari 2013, 13:40 WIB
Lima Ujian yang Dihadapi Seorang Mukmin
  Oleh Prof KH Achmad Satori IsmailDalam…
Jumat, 15 Februari 2013, 07:55 WIB
Membangun Persaudaraan
  Oleh: Dr HM Harry Mulya ZeinSepekan…

Hikmah

Kamis, 14 Februari 2013, 09:04 WIB
Oleh: Ustaz Hasan Basri Tanjung, MA.Suatu ketika, Baginda Rasulullah Saw pernah berpesan yang diriwayatkan Imam Bukhari dan Muslim…
Rabu, 13 Februari 2013, 13:44 WIB
Nikmat Hidayah
Oleh Zainal ArifinAbu Thalib bin Abdul…
Rabu, 13 Februari 2013, 09:41 WIB
Nikmat Hidayah
Oleh Zainal Arifin  Abu Thalib bin…
Selasa, 12 Februari 2013, 05:40 WIB
Hukuman Koruptor
  Oleh: Muhbib Abdul Wahab  Ada seorang…
Senin, 11 Februari 2013, 12:36 WIB
Mendamba Generasi Rabbani
Oleh: Ustaz Toto Tasmara Saat kegelapan menerkam…
Senin, 11 Februari 2013, 06:43 WIB
Perhatikan Alarm Kehidupan!
  Oleh M HusnainiRentetan musibah berulang kali…
Senin, 11 Februari 2013, 00:33 WIB
Barang Langka
Oleh Ustaz Yusuf MansurAyah saya, menunjukkan…
Minggu, 10 Februari 2013, 07:34 WIB
Rasulullah dan Sebutir Kurma
Oleh: Soraya Khoirunnisa HalimPada suatu ketika,…
Jumat, 08 Februari 2013, 20:37 WIB
Menahan Emosi
Oleh: Fauzi BahreisyPada masa Rasulullah saw…
26
Feb
13

Kenegarawanan : Pusat Pendidikan Pancasila dan Konstitusi

SBY Resmikan Gedung Pusat Pendidikan Pancasila

Selasa, 26 Februari 2013, 08:47 WIB
Haji Abror Rizki/Rumgapres
Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY)

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Presiden SBY dijadwalkan akan meresmikan Gedung Pusat Pendidikan Pancasila dan Konstitusi.

Rencananya, peresmian tersebut dilakukan Selasa (26/2) pukul 10.00 WIB. Gedung tersebut terletak di Desa Tugu Selatan, Kecamatan Cisarua, Bogor, Jawa Barat.

Gedung tersebut dimulai pembangunannya sejak April 2012 yang ditandai secara simbolik dengan pemancangan tiang pertama oleh Ketua Mahkamah Konstitusi, Mahfud MD dan Bupati Bogor, Rachmat Yasin.

Pembangunan gedung pusat pendidikan Pancasila dan Konstitusi MK ini dibangun di atas lahan seluas 14.200 meter persegi, dan dibiayai APBN sebesar Rp 14,2 miliar.

Gedung ini memiliki fasilitas seperti auditorium yang mampu menampung 208 orang, dua asrama yang masing-masing dapat menampung seratus orang, perpustakaan, klinik, ruang makan dan lapangan upacara.

Mahfud MD dalam kesempatan sebelumnya mengatakan, pembangunan gedung tersebut untuk menanamkan dan membumikan kembali nilai-nilai masyarakat di tengah masyarakat.

Reporter : Esthi Maharani
Redaktur : Karta Raharja Ucu
26
Feb
13

Resonansi : Meneguk Air Laut

Resonansi

Meneguk Air Laut

Selasa, 26 Februari 2013, 07:06 WIB
Republika/Daan
Professor Ahmad Syafii Maarif

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Ahmad Syafii Maarif

Dalam pembendaraan lama, Nusantara ini ternyata sangat kaya dengan butur-butir kearifan sebagai sari pati sub-kultur dari ratusan suku yang kita miliki. Kearifan ini merupakan puncak-puncak pengalaman manusia yang berasal dari pertarungan hidup yang panjang, berliku, dan bahkan penuh kekerasan.

Pantun, bidal, sloka, pribasa, dan sebutan lain sebangsanya itu, adalah di antara bentuk warisan lama yang masih hidup di lingkungan sub-kultur Indonesia. Maka peribahasa “Meneguk air laut” yang merupakan kependekan dari “Ibarat meneguk air laut, semakin diteguk semakin haus” adalah kiasan yang dikemas dalam nuansa puitis yang masih hidup dalam suku Melayu.  Peribahasa ini masih sering diucapkan saat membaca fenomena anomali dan kumuh dalam kehidupan seseorang atau dalam sistem kekuasaan.

Bila kita pasangkan peribahasa ini pada kelakuan seorang perwira tinggi Polri yang punya rumah sekian banyak, uang simpanan ratusan miliar, bini yang bertebaran di berbagai kota, maka ungkapan “meneguk air laut” sungguh tepat mengenai sasaran.

Air laut jika diminum tidak akan menghilangkan dahaga. Bahkan semakin diminum, kerongkongan semakin terasa kering, karena airnya asin. Jika seseorang tak punya visi moral yang jelas dan tajam dalam hidup, nafsu memburu harta, kekuasaan, dan kesenangan duniawi tidak akan pernah terpuaskan sampai malaikat maut merenggut nyawanya. Makna ungkapan dalam ayat pertama dan kedua surat al-Takâstur: “Kamu telah dilengahkan oleh [nafsu] bermegah-megah. Sampai kamu mendatangi kubur.” Bermegah-megah dengan uang miliaran, rumah di berbagai kota, dan bini yang banyak, adalah di antara sasaran strategis yang dibidik oleh firman itu.

Kasus perwira Polri di atas hanyalah satu dari sekian ratus kelakuan busuk yang telah puluhan tahun “dipelihara” oleh institusi polri ini.

Jika semuanya dibongkar dan dibuka di pengadilan, maka seluruh penjara tidak akan bisa menampung jumlah nara pidana yang biasa “meneguk air laut” ini.

Kasus-kasus serupa di dunia APBN/APBD, perpajakan, pelabuhan, BUMN/BUMD, bea-cukai, dan di ranah basah lainnya, sudah bukan berita lagi, karena demikian mewabahnya. Sebagian aparat penegak hukum kita juga punya hobi “meneguk air laut” ini, untuk kemudian yang ketahuan diadili dan masuk bui. Ada pun yang tidak ketahuan, kasusnya pasti akan digelar di Mahkamah Akhirat tanpa didampingi pengacara yang biasa mahir dalam mengakali fasal-fasal hukum dan UU. Tetapi di lingkungan kultur pragmatisme tunamoral dan tunavisi, siapa yang masih mau percaya kepada doktrin eskatologis yang menyangkut adanya kehidupan pasca kematian?

Situasinya menjadi semakin runyam dan batas moral semakin kabur, ketika mereka yang berlagak suci juga berlomba dalam “meneguk air laut”  itu.

Inilah Indonesia kita yang perlu secepatnya dibenahi dan diluruskan dengan menampilkan para pemimpin yang berhati nurani, akal sehat, dan punya nyali luar biasa untuk menghentikan semua anomali yang jelas menyengsarakan rakyat banyak ini. Bangsa ini pasti punya tipe pemimpin serupa itu, tetapi perlu dicari dalam tempo dekat ini agar para “peneguk air laut” itu dihentikan dalam pesta petualangan hitamnya yang biadab itu.

Redaktur : M Irwan Ariefyanto
2.022 reads

Kampus Entrepreneur

Dan orang-orang yang beriman serta beramal saleh, mereka itu penghuni surga, mereka kekal di dalamnya. (QS Al-Baqarah [2[:82)
26
Feb
13

Spiritualitas : Hakekat Sholat dan Pengenalan Diri

http://teguhwe.blogspot.com/2012/07/hubungan-hakekat-sholat-dan-pengenalan.html
Hubungan Hakekat Sholat dan Pengenalan Diri

Sunan Bonang menghubungkan hakikat salat berkaitan dengan pengenalan diri, sebab dengan melakukan salat seseorang sebenarnya berusaha mengenal dirinya sebagai ‘yang menyembah’, dan sekaligus berusaha mengenal Tuhan sebagai ‘Yang Disembah’. bait-bait dalam Suluk Wujil Sunan Bonang menulis:

Kebajikan utama (seorang Muslim)
Ialah mengetahui hakikat salat
Hakikat memuja dan memuji
Salat yang sebenarnya
Tidak hanya pada waktu isya dan maghrib
Tetapi juga ketika tafakur
Dan salat tahajud dalam keheningan
Buahnya ialah mnyerahkan diri senantiasa
Dan termasuk akhlaq mulia

Apakah salat yang sebenar-benar salat?
Renungkan ini:
Jangan lakukan salat
Andai tiada tahu siapa dipuja
Bilamana kaulakukan juga
Kau seperti memanah burung
Tanpa melepas anak panah dari busurnya
Jika kaulakukan sia-sia
Karena yang dipuja wujud khayalmu semata

Lalu apa pula zikir yang sebenarnya?
Dengar: Walau siang malam berzikir
Jika tidak dibimbing petunjuk Tuhan
Zikirmu tidak sempurna
Zikir sejati tahu bagaimana
Datang dan perginya nafas
Di situlah Yang Ada, memperlihatkan
Hayat melalui yang empat

Yang empat ialah tanah atau bumi
Lalu api, udara dan air
Ketika Allah mencipta Adam
Ke dalamnya dilengkapi
Anasir ruhani yang empat:
Kahar, jalal, jamal dan kamal
Di dalamnya delapan sifat-sifat-Nya
Begitulah kaitan ruh dan badan
Dapat dikenal bagaimana
Sifat-sifat ini datang dan pergi, serta ke mana

Anasir tanah melahirkan
Kedewasaan dan keremajaan
Apa dan di mana kedewasaan
Dan keremajaan? Dimana letak
Kedewasaan dalam keremajaan?
Api melahirkan kekuatan
Juga kelemahan
Namun di mana letak
Kekuatan dalam kelemahan?
Ketahuilah ini

Sifat udara meliputi ada dan tiada
Di dalam tiada, di mana letak ada?
Di dalam ada, di mana tempat tiada?
Air dua sifatnya: mati dan hidup
Di mana letak mati dalam hidup?
Dan letak hidup dalam mati?
Kemana hidup pergi
Ketika mati datang?
Jika kau tidak mengetahuinya
Kau akan sesat jalan

Pedoman hidup sejati
Ialah mengenal hakikat diri
Tidak boleh melalaikan shalat yang khusyuk
Oleh karena itu ketahuilah
Tempat datangnya yang menyembah
Dan Yang Disembah
Pribadi besar mencari hakikat diri
Dengan tujuan ingin mengetahui
Makna sejati hidup
Dan arti keberadaannya di dunia

Kenalilah hidup sebenar-benar hidup
Tubuh kita sangkar tertutup
Ketahuilah burung yang ada di dalamnya
Jika kau tidak mengenalnya
Akan malang jadinya kau
Dan seluruh amal perbuatanmu, Wujil
Sia-sia semata
Jika kau tak mengenalnya.
Karena itu sucikan dirimu
Tinggalah dalam kesunyian
Hindari kekeruhan hiruk pikuk dunia
Pertanyaan-pertanyaan itu tidak diberi jawaban langsung, melainkan dengan isyarat-isyarat yang mendorong Wujil melakukan perenungan lebih jauh dan dalam. Sunan Bonang kemudian berkata dan perkatannya semakin memasuki inti persoalan:

Keindahan, jangan di tempat jauh dicari
Ia ada dalam dirimu sendiri
Seluruh isi jagat ada di sana
Agar dunia ini terang bagi pandangmu
Jadikan sepenuh dirimu Cinta
Tumpukan pikiran, heningkan cipta
Jangan bercerai siang malam
Yang kaulihat di sekelilingmu
Pahami, adalah akibat dari laku jiwamu!

Dunia ini Wujil, luluh lantak
Disebabkan oleh keinginanmu
Kini, ketahui yang tidak mudah rusak
Inilah yang dikandung pengetahuan sempurna
Di dalamnya kaujumpai Yang Abadi
Bentangan pengetahuan ini luas
Dari lubuk bumi hingga singgasana-Nya
Orang yang mengenal hakikat
Dapat memuja dengan benar
Selain yang mendapat petunjuk ilahi
Sangat sedikit orang mengetahui rahasia ini

Karena itu, Wujil, kenali dirimu
Kenali dirimu yang sejati
Ingkari benda
Agar nafsumu tidur terlena
Dia yang mengenal diri
Nafsunya akan terkendali
Dan terlindung dari jalan
Sesat dan kebingungan
Kenal diri, tahu kelemahan diri
Selalu awas terhadap tindak tanduknya

Bila kau mengenal dirimu
Kau akan mengenal Tuhanmu
Orang yang mengenal Tuhan
Bicara tidak sembarangan
Ada yang menempuh jalan panjang
Dan penuh kesukaran
Sebelum akhirnya menemukan dirinya
Dia tak pernah membiarkan dirinya
Sesat di jalan kesalahan
Jalan yang ditempuhnya benar

Wujud Tuhan itu nyata
Mahasuci, lihat dalam keheningan
Ia yang mengaku tahu jalan
Sering tindakannya menyimpang
Syariat agama tidak dijalankan
Kesalehan dicampakkan ke samping
Padahal orang yang mengenal Tuhan
Dapat mengendalikan hawa nafsu
Siang malam penglihatannya terang
Tidak disesatkan oleh khayalan

Selanjutnya dikatakan bahwa diam yang hakiki ialah ketika seseorang melaksanakan salat tahajud, yaitu salat sunnah tengah malam setelah tidur. Salat semacam ini merupakan cara terbaik mengatasi berbagai persoalan hidup. Inti salat ialah bertemu muka dengan Tuhan tanpa perantara. Jika seseorang memuja tidak mengetahui benar-benar siapa yang dipuja, maka yang dilakukannya tidak bermanfaat. Salat yang sejati mestilah dilakukan dengan makrifat. Ketika melakukan salat, semestinya seseorang mampu membayangkan kehadiran dirinya bersama kehadiran Tuhan. Keadaan dirinya lebih jauh harus dibayangkan sebagai ’tidak ada’, sebab yang sebenar-benar Ada hanyalah Tuhan, Wujud Mutlak dan Tunggal yang ilmu-Nya meliputi segala sesuatu. Sedangkan adanya makhluq-makhluq, termasuk manusia, sangat tergantung kepada Adanya Tuhan.

Diam dalam tafakur, Wujil
Adalah jalan utama (mengenal Tuhan)
Memuja tanpa selang waktu
Yang mengerjakan sempurna (ibadahnya)
Disebabkan oleh makrifat
Tubuhnya akan bersih dari noda
Pelajari kaedah pencerahan kalbu ini
Dari orang arif yang tahu
Agar kau mencapai hakikat
Yang merupakan sumber hayat

Wujil, jangan memuja
Jika tidak menyaksikan Yang Dipuja
Juga sia-sia orang memuja
Tanpa kehadiran Yang Dipuja
Walau Tuhan tidak di depan kita
Pandanglah adamu
Sebagai isyarat ada-Nya
Inilah makna diam dalam tafakur
Asal mula segala kejadian menjadi nyata

Setelah itu Sunan Bonang lebih jauh berbicara tentang hakikat murni ‘kemauan’. Kemauan yang sejati tidak boleh dibatasi pada apa yang dipikirkan. Memikirkan atau menyebut sesuatu memang merupakan kemauan murni. Tetapi kemauan murni lebih luas dari itu.

Renungi pula, Wujil!
Hakikat sejati kemauan
Hakikatnya tidak dibatasi pikiran kita
Berpikir dan menyebut suatu perkara
Bukan kemauan murni
Kemauan itu sukar dipahami
Seperti halnya memuja Tuhan
Ia tidak terpaut pada hal-hal yang tampak
Pun tidak membuatmu membenci orang
Yang dihukum dan dizalimi
Serta orang yang berselisih paham

Orang berilmu
Beribadah tanpa kenal waktu
Seluruh gerak hidupnya
Ialah beribadah
Diamnya, bicaranya
Dan tindak tanduknya
Malahan getaran bulu roma tubuhnya
Seluruh anggota badannya
Digerakkan untuk beribadah
Inilah kemauan murni

Kemauan itu, Wujil!
Lebih penting dari pikiran
Untuk diungkapkan dalam kata
Dan suara sangatlah sukar
Kemauan bertindak
Merupakan ungkapan pikiran
Niat melakukan perbuatan
Adalah ungkapan perbuatan
Melakukan shalat atau berbuat kejahatan
Keduanya buah dari kemauan

Di sini Sunan Bonang agaknya berpendapat bahwa kemauan atau kehendak (iradat) , yaitu niat dan iktiqad, mestilah diperbaiki sebelum seseorang melaksanakan sesuatu perbuatan yang baik. Perbuatan yang baik datang dari kemauan baik, dan sebaliknya kehendak yang tidak baik melahirkan tindakan yang tidak baik pula. Apa yang dikatakan oleh Sunan Bonang dapat dirujuk pada pernyataan seorang penyair Melayu (anonim) dalam Syair Perahu, seperti berikut:

Inilah gerangan suatu madah
Mengarangkan syair terlalu indah
Membetulkan jalan tempat berpindah
Di sanalah iktiqad diperbaiki sudah
Wahai muda kenali dirimu
Ialah perahu tamsil tubuhmu
Tiada berapa lama hidupmu
Ke akhirat jua kekal diammu
Hai muda arif budiman
Hasilkan kemudi dengan pedoman
Alat perahumu jua kerjakan
Itulah jalan membetuli insan

La ilaha illa Allah tempat mengintai
Medan yang qadim tempat berdamai
Wujud Allah terlalu bitai
Siang malam jangan bercerai
(Doorenbos 1933:33)

Tamsil Islam universal lain yang menonjol dalam Suluk Wujil ialah cermin beserta pasangannya gambar atau bayang-bayang yang terpantul dalam cermin, serta Mekkah. Para sufi biasa menggunakan tamsil cermin, misalnya Ibn `Arabi. Sufi abad ke-12 M dari Andalusia ini menggunakannya untuk menerangkan falsafahnya bahwa Yang Satu meletakkan cermin dalam hati manusia agar Dia dapat melihat sebagian dari gambaran Diri-Nya (kekayaan ilmu-Nya atau perbendaharaan-Nya yang tersembunyi) dalam ciptaan-Nya yang banyak dan aneka ragam. Yang banyak di alam kejadian (alam al-khalq) merupakan gambar atau bayangan dari Pelaku Tunggal yang berada di tempat rahasia dekat cermin (Abu al-Ala Affifi 1964:15-7).

Pada pupuh atau bait ke-74 diceritakan Sunan Bonang menyuruh muridnya Ken Satpada mengambil cermin dan menaruhnya di pohon Wungu. Kemudian dia dan Wujil disuruh berdiri di muka cermin. Mereka menyaksikan dua bayangan dalam cermin. Kemudian Sunan Bonang menyuruh salah seorang dari mereka menjauh dari cermin, sehingga yang tampak hanya bayangan satu orang. Maka Sunan Bonang bertanya: ”Bagaimana bayang-bayang datang/Dan kemana dia menghilang?” (bait 81). Melalui contoh datang dan perginya bayangan dari cermin, Wujil kini tahu bahwa ”Dalam Ada terkandung tiada, dan dalam tiada terkandung ada” Sang Guru membenarkan jawaban sang murid. Lantas Sunan Bonang menerangkan aspek nafi (penidakan) dan isbat (pengiyaan) yang terkandung dalam kalimah La ilaha illa Allah (Tiada tuhan selain Allah). Yang dinafikan ialah selain dari Allah, dan yang diisbatkan sebagai satu-satunya Tuhan ialah Allah.

Pada bait atau pupuh 91-95 diceritakan perjalanan seorang ahli tasawuf ke pusat renungan yang bernama Mekkah, yang di dalamnya terdapat rumah Tuhan atau Baitullah. Mekkah yang dimaksud di sini bukan semata Mekkah di bumi, tetapi Mekkah spiritual yang bersifat metafisik. Ka’bah yang ada di dalamnya merupakan tamsil bagi kalbu orang yang imannya telah kokoh. Abdullah Anshari, sufi abad ke-12 M, misalnya berpandapat bahwa Ka’bah yang di Mekkah, Hejaz, dibangun oleh Nabi Ibrahim a.s. Sedangkan Ka’bah dalam kalbu insan dibangun oleh Tuhan sebagai pusat perenungan terhadap keesaan Wujud-Nya (Rizvi 1978:78).

Sufi Persia lain abad ke-11 M, Ali Utsman al-Hujwiri dalam kitabnya menyatakan bahwa rumah Tuhan itu ada dalam pusat perenungan orang yang telah mencapai musyahadah. Kalau seluruh alam semesta bukan tempat pertemuan manusia dengan Tuhan, dan juga bukan tempat manusia menikmati hiburan berupa kedekatan dengan Tuhan, maka tidak ada orang yang mengetahui makna cinta ilahi. Tetapi apabila orang memiliki penglihatan batin, maka seluruh alam semesta ini akan merupakan tempat sucinya atau rumah Tuhan. Langkah sufi sejati sebenarnya merupakan tamsil perjalanan menuju Mekkah. Tujuan perjalanan itu bukan tempat suci itu sendiri, tetapi perenungan keesaan Tuhan (musyahadah), dan perenungan dilakukan disebabkan kerinduan yang mendalam dan luluhnya diri seseorang (fana’) dalam cinta tanpa akhir (Kasyful Mahjub 293-5).

Berdasarkan uraian tersebut, dapatlah dipahami apabila dalam Suluk Wujil dikatakan, “Tidak ada orang tahu di mana Mekkah yang hakiki itu berada, sekalipun mereka melakukan perjalanan sejak muda sehingga tua renta. Mereka tidak akan sampai ke tujuan. Kecuali apabila seseorang mempunyai bekal ilmu yang cukup, ia akan dapat sampai di Mekkah dan malahan sesudah itu akan menjadi seorang wali. Tetapi ilmu semacam itu diliputi rahasia dan sukar diperoleh. Bekalnya bukan uang dan kekayaan, tetapi keberanian dan kesanggupan untuk mati dan berjihad lahir batin, serta memiliki kehalusan budi pekerti dan menjauhi kesenangan duniawi.
Di dalam masjid di Mekkah itu terdapat singgasana Tuhan, yang berada di tengah-tengah. Singgasana ini menggantung di atas tanpa tali. Dan jika orang melihatnya dari bawah, maka tampak bumi di atasnya. Jika orang melihat ke barat, ia akan melihat timur, dan jika melihat timur ia akan menyaksikan barat. Di situ pemandangan terbalik. Jika orang melihat ke selatan yang tampak ialah utara, sangat indah pemandangannya. Dan jika ia melihat ke utara akan tampak selatan, gemerlapan seperti ekor burung merak. Apabila satu orang shalat di sana, maka hanya ada ruangan untuk satu orang saja. Jika ada dua atau tiga orang shalat, maka ruangan itu juga akan cukup untuk dua tiga orang. Apabila ada 10.000 orang melakukan shalat di sana, maka Ka`bah dapat menampung mereka semua. Bahkan seandainya seluruh dunia dimasukkan ke dalamnya, seluruh dunia pun akan tertampung juga”.

Wujil menjadi tenang setelah mendengarkan pitutur gurunya. Akan tetapi dia tetap merasa asing dengan lingkungan kehidupan keagamaan yang dijumpainya di Bonang.
Berbeda dengan di Majapahit dahulu, untuk mencapai rahasia Yang Satu orang harus melakukan tapa brata dan yoga, pergi jauh ke hutan, menyepi dan melakukan kekerasan ragawi. Di Pesantren Bonang kehidupan sehari-hari berjalan seperti biasa. Shalat fardu lima waktu dijalankan dengan tertib. Majlis-majlis untuk membicarakan pengalaman kerohanian dan penghayatan keagamaan senantiasa diadakan. Di sela-sela itu para santri mengerjakan pekerjaan sehari-hari, di samping mengadakan pentas-pentas seni dan pembacaan tembang Sunan Bonang menjelaskan bahwa seperti ibadat dalam agama Hindu yang dilakukan secara lahir dan batin, demikian juga di dalam Islam. Malahan di dalam agama Islam, ibadat ini diatur dengan jelas di dalam syariat. Bedanya di dalam Islam kewajiban-kewajiban agama tidak hanya dilakukan oleh ulama dan pendeta, tetapi oleh seluruh pemeluk agama Islam. Sunan bonang mengajarkan tentang egaliterianissme dalam Islam. Sunan bonang mengajarkan tentang egaliterisme di dalam Islam. Jika ibadat zahir dilakukan dengan mengerjakan rukun Islam yang lima, ibadat batin ditempuh melalui tariqat atau ilmu suluk, dengan memperbanyak ibadah seperti sembahyang sunnah, tahajud, taubat nasuha, wirid dan zikir. Zikir berarti mengingat Tuhan tanpa henti. Di antara cara berzikir itu ialah dengan mengucapkan kalimah La ilaha illa Allah. Di dalamnya terkandung rahasia keesaan Tuhan, alam semesta dan kejadian manusia.

Berbeda dengan dalam agama Hindu, di dalam agama Islam disiplin kerohanian dan ibadah dapat dilakukan di tengah keramaian, sebab perkara yang bersifat transendental tidak terpisah dari perkara yang bersifat kemasyarakatan. Di dalam agama Islam tidak ada garis pemisah yang tegas antara dimensi transendental dan dimensi sosial. Dikatakan pula bahwa manusia terdiri daripada tiga hal yang pemiliknya berbeda. Jasmaninya milik ulat dan cacing, rohnya milik Tuhan dan milik manusia itu sendiri hanyalah amal pebuatannya di dunia.

26
Feb
13

Kenegarawanan : Kedewasaan Partai Politik ?

Menyoal Kedewasaan Partai Politik

Jeffrie Geovanie* | Jumat, 22 Februari 2013 – 14:45:31 WIB


(dok/SH)
Kurang terbukanya ruang demokratisasitubuh partai politik ini berpotensi mengerdilkan individu.

 

Tugas partai politik antara lain mendewasakan rakyat melalui pendidikan politik. Namun pada saat partai politik sendiri belum dewasa, misalnya dalam menyikapi perbedaan, bagaimana dia akan memberikan pendidikan politik pada rakyat?

Ungkapan umum yang sering dikatakan dan kita dengar adalah bahwa partai politik merupakan pilar utama demokrasi. Namun pertanyaan yang banyak mengumandang adalah bagaimana dengan demokrasi di kalangan internal partai-partai politik? Sudah demokratiskah proses pengambilan keputusan politik yang dijalankan? Kenapa pengaruh pemimpin pusat atau para pendiri begitu kuat? Banyak lagi pertanyaan sumir yang ditujukan pada partai politik.

Untuk menjawab semua pertanyaan itu, tampaknya pendidikan demokrasi layak dilakukan terhadap fungsionaris partai-partai politik, sehingga mampu memahami prinsip-prinsip dasar demokrasi. Kian terbukanya pertikaian partai-partai politik di kalangan masyarakat menunjukkan satu kondisi riil, di mana pilar demokrasi itu sendiri masih menghadapi masalah yang serius.

Dalam penyelesaian kasus persengketaan di parlemen, misalnya, terasa sekali bagaimana hak-hak anggota parlemennya sendiri didistorsi. Mereka yang secara konstitusional mewakili konstituen dan daerah pemilihannya, pada kenyataannya harus lebih tunduk kepada pemimpin partai politik masing-masing, entah untuk membentuk “koalisi”,”kaukus”, atau yang semacamnya.

Kurang terbukanya ruang demokratisasi dalam tubuh partai politik berpotensi mengerdilkan individu-individu yang bergabung di dalamnya, dan menyuburkan praktik korupsi, baik dilakukan oleh individu untuk kepentingan individu maupun secara kolektif untuk kepentingan partainya. Banyaknya kader-kader partai politik yang masuk bui karena terjerat korupsi membuktikan buruknya integritas individual (aktivis) partai politik.

Persoalan-persoalan “dapur” itulah yang masih belum terbuka kepada publik. Dengan demikian, ketika partai politik mendapatkan kesempatan emas untuk memainkan peran utama dalam transisi demokrasi, bahkan dengan mengesampingkan peranan dari birokrasi dan – bahkan – militer, terasa sekali partai politik belum begitu siap. Yang banyak kita temukan, partai politik baru pada tahap menjadi alat politik, atau sekadar menjadi perahu bagi mereka yang ingin berlayar menuju pulau jabatan.

Sebagai penentu kehidupan berdemokrasi, selayaknya partai-partai politik mulai menentukan arah perkembangannya. Jangan sampai partai politik hanyalah milik sejumlah keluarga terpandang, produk dari budaya feodal dalam bentuk pewarisan kekuasaan secara turun-temurun.

Realitasnya memang demikian, terutama di tingkat lokal ketika partai-partai politik dikuasai secara turun-temurun oleh segelintir orang. Dalam suasana demikian, bagaimana bisa partai politik bisa terbuka terhadap perbedaan? Bagaimana bisa melakukan perubahan jika dari segi perekrutan saja masih berdasarkan nilai-nilai lama?

Menguji Diri

Partai politik harus menguji dirinya dengan melakukan proses kaderisasi dan perekrutan atas kaum profesional yang bertebaran di luar dirinya. Selama ini, terdapat upaya menepuk dada di kalangan sejumlah fungsionaris, betapa merekalah yang berkeringat dan berkucuran darah dan air mata untuk “membangun” partai politik. Padahal, hakikatnya yang membangun partai politik menjadi besar adalah rakyat, terutama mereka yang telah memilihnya dalam pemilu.

Jangan lupa, pemilih hari ini adalah pemilih yang relatif otonom, mudah berpindah haluan, tetapi bukan berarti tidak konsisten. Karena itu, proses pembaruan dan keterbukaan di tubuh partai politik banyak ditunggu oleh kalangan pemilih, terutama yang sudah melek politik.

Melihat realitas yang masih belum menggembirakan, dalam kenyataannya, partai politik belum mampu menjadi unsur utama dalam transisi demokrasi karena masih ketinggalan dalam melakukan pembaruan organisasi. Upaya pembaruan ini penting, sembari melakukan penyegaran di kalangan pengurus.

Partai politik juga dituntut memberikan pelayanan maksimal ke masyarakat, terutama dengan cara memberikan masukan yang positif dan konstruktif kepada anggota parlemen. Jangan sampai anggota parlemen hanya pajangan belaka, tanpa diberikan pendidikan yang layak sehingga tidak mampu melakukan tugas-tugasnya secara profesional.

Dalam setiap proses pergantian kepemimpinan, partai politik harus lebih ketat lagi dalam melakukan proses perekrutan calon pemimpinnya, termasuk yang akan dicalonkan untuk duduk di lembaga eksekutif dan legislatif. Banyaknya kasus penyelewengan kekuasaan yang terjadi di DPR dan DPRD dalam periode ini menunjukkan betapa partai politik mengalami kegagalan dalam merekrut dan mendidik anggota-anggotanya.

Partai politik ibarat show room bagi berjalan atau tidaknya proses demokratisasi di suatu negara. Karena itu, partai politik harus menunjukkan kedewasaan dalam bertindak, terutama dalam proses pengambilan keputusan. Setiap tindakan harus diorientasikan pada kepentingan rakyat. Bukan kepada upaya mempertahankan status quo, atau sekadar untuk mendukung atau menyokong satu sosok kepemimpinan saja.

*Penulis adalah Founder The Indonesian Institute.

Sumber : Sinar Harapan



Blog Stats

  • 3,225,110 hits

Recent Comments

Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Sejarah : Bangsa Lemuria, Lelu…