Posts Tagged ‘Outer Space

29
Dec
11

Alam Semesta : Kalender Hujan Meteor 2012

Hujan Meteor 2012

Nurvita Indarini – detikNews

Kamis, 29/12/2011 20:45 WIB

Inilah Kalender Hujan Meteor Sepanjang 2012
Jakarta – Bagi pencinta fenomena angkasa, tentu selalu menantikan datangnya hujan meteor. Peristiwa ini memang terjadi setiap tahun. Namun ada baiknya Anda mengantongi kalender hujan meteor untuk tahun 2012.

Hujan meteor yang ditampilkan adalah yang memiliki kemungkinan bisa dilihat di langit dengan jumlah meteor yang dihasilkan 10 atau lebih per jam. Nah, catat baik-baik tanggal puncak terjadinya hujan meteor seperti dikutip dari space.com, Rabu (28/12/2011).

1. Hujan meteor Quadrantids puncaknya terjadi pada 4 Januari. Jumlah meteor yang bisa disaksikan per jamnya adalah 120.

2. Hujan meteor Lirids puncaknya terjadi pada 22 April. Jumlah meteor yang bisa disaksikan adalah 20 per jam.

3. Hujan meteor Pi-Puppids puncaknya terjadi pada 23 April. Jumlah meteor yang dihasilkan bervariasi.

4. Hujan meteor Eta Aquarids puncaknya terjadi pada 6 Juni. Jumlah meteor yang dihasilkan 60 per jam.

5. Hujan meteor June Bootids puncaknya terjadi pada 27 Juni. Jumlah meteor yang dihasilkan bervariasi.

6. Hujan meteor S Delta Aquarids puncaknya terjadi pada 29 Juli. Jumlah meteor yang dihasilkan 20 per jam.

7. Hujan meteor Perseids puncaknya terjadi pada 12 Agustus. Jumlah meteor yang dihasilkan 90 per jam.

8. Hujan meteor Aurigids puncaknya terjadi pada 1 September. Jumlah meteor yang dihasilkan bervariasi.

9. Hujan meteor Draconids puncaknya terjadi pada 8 Oktober. Jumlah meteor yang dihasilkan bervariasi.

10. Hujan meteor Orionids puncaknya terjadi pada 21 Oktober. Jumlah meteor yang dihasilkan adalah 20 per jam.

11. Hujan meteor S Taurids puncaknya terjadi pada 5 November. Jumlah meteor yang dihasilkan 10 per jam.

12. Hujan Meteor N Taurids puncaknya terjadi pada 12 November. Jumlah meteor yang dihasilkan 15 per jam.

13. Hujan meteor Leonids puncaknya terjadi pada 17 November. Jumlah meteor yang dihasilkan 20 per jam.

14. Hujan meteor Alpha-Monocerotids puncaknya terjadi pada 21 November. Jumlah meteor yang dihasilkan bervariasi.

15. Hujan meteor Dec Phoenicids puncaknya terjadi pada 6 Desember. Jumlah meteor yang dihasilkan bervariasi.

16. Hujan meteor Puppid/Velid puncaknya terjadi pada 6 Desember. Jumlah meteor yang dihasilkan 10 per jam.

17. Hujan meteor Geminid puncaknya terjadi pada 14 Desember. Jumlah meteor yang dihasilkan 120 per jam.

18. Hujan meteor Ursids puncaknya terjadi pada 22 Desember. Jumlah meteor yang dihasilkan 10 per jam.

(vit/nwk)

 

Advertisements
25
Dec
11

IpTek : Bola Misterius Namibia dan Planet Baru Seukuran Bumi

Bola Misterius

RepublikaRepublika – Jum, 23 Des 2011

Bola Misterius Ditemukan di Namibia

Konten Terkait

REPUBLIKA.CO.ID, WINDHOEK – Polisi Namibia dibuat kalang kabut. Di padang rumput terpencil di bagian utara negaranya, ditemukan bola misterius yang diduga jatuh dari langit. Bola misterius  dengan diameter 35 cm dan berat 6 kilogram itu ditemukan sekitar 750 kilometer (480 mil) dari ibukota Windhoek. Pemerintah setempat segera mengadu ke NASA dan Badan Antariksa Eropa untuk menyelidiki temuan itu.

Sekitar 18 meter dari tempat ditemukannya bola ini, terdapat sebuah lubang sedalam 33 sentimeter dan lebar 3,8 meter. Sebelum bola ini ditemukan oleh petani di tanahnya, sejumlah warga mengaku mendengar ledakan kecil beberapa hari sebelumnya.

Menurut ahli forensik, Paul Ludik, bola itu terbuat dari paduan logam yang dikenali oleh manusia. “Bola memiliki permukaan kasar dan tampaknya terdiri dari dua bagian dilas bersama-sama,” kata Ludik seperti dikutip kantor berita AFP. Dia menjelaskan bahwa ledakan yang didengar oleh penduduk setempat merupakan ‘sonic boom’ ketika benda itu turun ke bumi, atau suara akibat benturan dengan tanah.

Deputi Inspektur Polisi Jendral Vilho Hifindaka menyimpulkan bola tidak menimbulkan bahaya apa pun. “Ini bukan bahan peledak, melainkan bola berongga, tetapi kami harus menyelidiki semua ini dulu,” katanya.

Baca juga:
Hujan apel di Inggris
Keunikan Gua Putri Baturaja
Jenis virus HIV langka ditemukan di Prancis
Mahluk misterius pembunuh ternak
Arkeolog temukan tulisan aneh di di Kota Daud, Jerusalem
Ilmuwan sewot soal ‘partikel Tuhan’

Berita Lainnya

Planet Baru = Bumi ?

RepublikaRepublika – Kam, 22 Des 2011
Tata Surya Miliki Dua Anggota Lagi Seukuran Bumi, Planet Baru Ditemukan

Konten Terkait

  • Planet Kepler 20-e seukuran bumi terlihat dalam pencitraan tanpa tanggalPerbesar Foto
  • Planet Kepler 20-e seukuran bumi terlihat dalam pencitraan tanpa tanggal

REPUBLIKA.CO.ID, WASHINGTON — Misi Kepler dari badan antariksa Amerika Serikat (NASA) memastikan telah menemukan dua planet seukuran Bumi yang mengorbiti sebuah bintang seperti Matahari dalam sistem tata surya kita, demikian NASA seperti dikutip Reuters, Kamis (22/12)

NASA menyebut penemuan ini adalah tonggak bersejarah dalam misi pencarian planet-planet serupa Bumi.

Kedua planet yang dinamai Kepler-20e dan Kepler-20f ini adalah planet-planet terkecil di luar sistem tata surya yang dikonfirmasi mengelilingi sebuah bintang seperti Matahari, demikian NASA.

Kedua planet baru  ini terlalu dekat ke bintang mereka untuk bisa disebut berada di zona layak ditempati kehidupan (habitable zone) di mana ada air likuid pada permukaan planet.

“Penemuan ini menunjukkan untuk pertama kalinya bahwa planet-planet seukuran Bumi ada di sekitar bintang-bintang lain (di luar Matahari) dan bahwa kita mampu mendeteksinya,” kata Francois Fressin dari Harvard-Smithsonian Center for Astrophysics di Cambridge, Massachusetts.

Kedua planet baru ini diyakini sebagai planet berbatu.  Kepler-20e agak lebih kecil dibandingkan Venus, dengan radius 0,87 kali dari jari-jari Bumi.

Kepler-20f sedikit lebih besar dibandingkan Bumi dengan jari-jari 1,03 kali jari-jari Bumi. Kedua planet ini berada di sistem beranggotakan lima planet yang dinamai dengan Kepler-20, sedangkan jaraknya adalah 1.000 tahun cahaya dalam konstelasi Lyra.Kepler-20e mengorbiti bintangnya setiap 6,1 hari, sementara Kepler-20f mengorbit setiap 19,6 hari.Kepler-20f, yang bersuhu 800 derajat Fahrenheit, mirip dengan rata-rata hari planet Merkurius.

Suhu di permukaan Kepler-20e yang mencapai lebih dari 1.400 derajat Fahrenheit, bisa melelehkan kaca.

Teleskop ruang angkasa Kepler mendeteksi planet-planet dan calon planet dengan mengukur kekuatan cahaya lebih dari 150.000 bintang ketika planet-planet melintas di depan bintang-bintangnya. (*)

Berita Lainnya

http://sains.kompas.com/read/2011/12/23/15493297/Gelang.Purba.9.500.Tahun.Sehalus.Lensa.Teleskop

Gelang Purba 9.500 Tahun Sehalus Lensa Teleskop

Yunanto Wiji Utomo | Inggried Dwi Wedhaswary | Jumat, 23 Desember 2011 | 15:49 WIB

CNRS Gelang purba berusia 9500 tahun berbahan kaca vulkanik.

ISTANBUL, KOMPAS.com — Sebuah gelang purba berusia 9.500 tahun pernah ditemukan di Asikli Höyük, Turki, pada tahun 1995. Gelang tersebut dibuat dalam masa kebudayaan neolitik dari bahan kaca vulkanik atau biasa disebut obsidian.

Peneliti dari Institut Français d’Etudes Anatoliennes di Istanbul dan Laboratoire de Tribologie et de Dynamiques des Systèmes mempelajari gelang tersebut serta melihat permukaan dan struktur topografi mikronya.

Hasil penelitian menunjukkan, gelang yang berukuran 10 sentimeter itu dibuat dan diasah dengan teknik yang sangat maju. Menurut para ilmuwan, teknik asahan gelang tersebut menyamai teknik asahan lensa teleskop saat ini.

Gelang purba dari zaman 7500 SM itu merupakan salah satu contoh tertua benda yang terbuat dari kaca vulkanik. Kerajinan kaca vulkanik memuncak pada milenium ke-6 SM atau ke-7 SM. Selain berupa gelang, kerajinan juga berupa cermin dan vas.

Studi ini dipublikasikan di Journal of Arachaelogical Science yang terbit pada Desember 2011. Masyarakat neolitik, kadang juga disebut masyarakat Zaman Batu Baru, memang dikenal sebagai petani yang juga berkemampuan membuat kerajinan.

Sumber : Daily Mail

http://sains.kompas.com/read/2011/12/23/17280953/Merpati.Juga.Pintar.Matematika

Studi Universitas Otago
Merpati Juga Pintar Matematika

Yunanto Wiji Utomo | Inggried Dwi Wedhaswary | Jumat, 23 Desember 2011 | 17:28 WIB

William van der Wiet Merpati tengah menjalani tes berhitung.

DUNEDIN, KOMPAS.com — Kecerdasan bangsa burung semakin terkuak lewat penelitian. Burung beo abu-abu Afrika memiliki kemampuan verbal yang hebat, burung scrub jay memiliki memori yang luar biasa, sementara gagak Kaledonia Baru punya kemampuan menggunakan peralatan. Kini, ilmuwan berhasil membuktikan bahwa merpati juga pintar matematika.

Berdasarkan studi yang dilakukan Dr Damian Scarf dan timnya dari Universitas Otago, burung punya kemampuan berhitung, mengurutkan angka abstrak dari yang terkecil ke yang paling besar, dari 1 sampai 9. Hasil ini mencengangkan sebab kemampuan serupa semula diperkirakan hanya ada pada bangsa primata.
Hasil penelitian menunjukkan, merpati bisa memahami bahwa dua lebih besar dari satu, dan tiga lebih besar dari dua.

Untuk mendapatkan hasil tersebut, awalnya ilmuwan melatih merpati dengan 35 set gambar himpunan. Masing-masing dengan satu, dua, dan tiga obyek yang warna dan bentuknya berbeda. Selanjutnya, merpati dihadapkan dengan himpunan obyek yang lebih besar tanpa dilatih untuk meneliti apakah mereka masih tetap mampu mengurutkannya.

Hasil penelitian menunjukkan, merpati bisa memahami bahwa dua lebih besar daripada satu, dan tiga lebih besar daripada dua. Meski tanpa latihan, merpati juga terbukti memahami bahwa enam lebih besar daripada lima dan seterusnya. Kemampuan merpati ini menyamai kemampuan monyet rhesus yang pernah diteliti dengan metode yang sama tahun 1990-an.

“Penemuan kami menambah bukti bahwa merpati merupakan salah satu spesies burung yang memiliki kemampuan mental hebat,” kata Scarf, seperti dikutip Physorg, Kamis (22/12/2011).

Penelitian yang dipublikasikan di jurnal Science, Kamis (22/12/2011), juga memberi bukti bahwa bangsa burung tak kalah cerdas dengan primata.

Scarf, seperti diuraikan New York Times, mengatakan, kemampuan burung dan primata dalam menghitung didapatkan melalui evolusi. Nenek moyang burung dan primata yang hidup 300 juta tahun lalu memang memiliki kemampuan berhitung yang kemudian diturunkan. Scarf bertaruh, kemampuan ini pasti menguntungkan bagi dua bangsa hewan itu.

Penelitian Scarf dipublikasikan di jurnal Science yang terbit Jumat (23/11/2011). Hingga saat ini belum diketahui apakah merpati mampu menyusun himpunan obyek yang jumlahnya lebih besar, lebih dari 9. Namun, penelitian masih akan terus dilanjutkan, termasuk mengamati aktivitas otak merpati ketika sedang berhitung.

Sumber : Physorg, New York Times]

http://sains.kompas.com/read/2011/12/24/0112149/Rupanya.Gajah.Punya.Enam.Jari

Rupanya Gajah Punya Enam Jari

Yunanto Wiji Utomo | Tri Wahono | Sabtu, 24 Desember 2011 | 01:12 WIB

LONDON, KOMPAS.com — Selama ini manusia menyangka bahwa gajah hanya memiliki lima jari. Namun, studi yang dilakukan ilmuwan Royal Veterinary College baru-baru ini mengungkap bahwa gajah memiliki enam jari, meski jari keenam tak bisa dikatakan betul-betul jari.

Menurut ilmuwan, jari keenam gajah sebenarnya adalah pemanjangan tulang. Pada gajah, pre-digit atau bisa dikatakan bakal tulang tulang jari telah berkembang menjadi struktur berukuran besar, menyaingi jari yang sebenarnya.

Uniknya, kata John R Hutchinson, sang peneliti, jari keenam pada gajah ini berkembang dengan cara yang unik. Pertama, pre-digit berkembang menjadi batang tulang kartilago (lunak). Baru di tahap selanjutnyalah tulang itu tumbuh menjadi tulang sejati.

Peneliti penasaran dengan fungsi jari keenam itu. Setelah diteliti, ternyata jari keenam itu berfungsi menyeimbangkan berat badan gajah yang super. Jari keenam ini mentransfer beban ke tulang kaki dan engsel.

Menurut peneliti, jari keenam tumbuh seiring dengan proses evolusi gajah. Hutchinson mengungkapkan, mammoth atau gajah purba dan gajah modern pasti memiliki cara berjalan yang berbeda, mulai berevolusi sejak 40 juta tahun lalu.

“Sejauh yang kita tahu, hanya gajah yang masih memakai tulang sesamoid untuk mendukung fungsi ini. Mamalia darat lain telah kehilangannya dan tak mengembangkan kaki besar berlemak atau fitur lainnya yang unik pada gajah,” jelas Hutchinson seperti dilansir Daily Mail, Jumat (23/12/2011).

Sumber : Daily Mail

16
Jun
11

Alam Semesta : Gerhana Bulan

Kamis, 16/06/2011 14:48 WIB

fotoNews

Tertutupnya Bulan

Fotografer – M. Rasyid
Detik-detik Tertutupnya Bulan
   

Detik-detik Tertutupnya Bulan
Bulan saat masih menampakan purnamanya.
icon_star_full icon_star_full icon_star_full icon_star_full icon_star_off

Foto Lain

Gerhana bulan total terlihat di langit Jakarta, Kamis (16/6) dinihari. Berikut detik-detik tertutupnya bulan oleh bayangan bumi.

Kamis, 16/06/2011 08:01 WIB

fotoNews

GerhanaBulanJakarta

Fotografer – Gagah Wijoseno
Gerhana Bulan Total Terlihat di Jakarta
   

Gerhana Bulan Total Terlihat di Jakarta
Bulan perlahan-lahan tertutup oleh bayangan bumi.
icon_star_full icon_star_full icon_star_full icon_star_full icon_star_off

Foto Lain

Fenomena gerhana bulan total juga terlihat di Jakarta, Kamis (16/6/2011) malam.Gerhana yang berlangsung lama tersebut dapat dilihat dengan mata telanjang.

Kamis, 16/06/2011 08:13 WIB

fotoNews

Gerhana Bulan Total

Fotografer – Pool
Fenomena Gerhana Bulan Total
   

Fenomena Gerhana Bulan Total
Gerhana bulan terlihat di Roma, Italia. Reuters/Alessandro Bianchi.
icon_star_full icon_star_full icon_star_full icon_star_full icon_star_off

Gerhana bulan total terlihat di sejumlah negara, Kamis (16/6/2011) malam. Proses gerhana bulan total kali ini berlangsung cukup lama.

Debu Angkasa

Kamis, 16 Juni 2011 19:27 WIB
Debu Angkasa Bikin Gerhana Bulan Berwarna Merah

REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA – Gerhana bulan total telah terjadi Kamis (16/6) dini hari lalu. Seperti yang telah diprediksi sebelumnya, peristiwa alam tersebut berlangsung cukup lama.

Astronom Institut Teknologi Bandung (ITB), Moedji Raharto, mengungkapkan keistimewaan gerhana bulan kali ini adalah warnanya yang merah-gelap. “Itu adalah indikator bahwa banyak sekali debu di angkasa kita,” ujarnya saat dihubungi Republika pada Kamis (16/6).

Banyaknya debu di angkasa bumi tersebut tidak normal. Karena, kandungannya lebih banyak dari yang seharusnya.

Moedji tidak bisa mengetahui secara pasti asal-muasal debu tersebut. Namun demikian, ia memprediksi debu tersebut merupakan aerosol yang berasal dari letusan gunung berapi di Indonesia.

“Pelajaran yang bisa dipetik adalah gerhana bulan telah merekam seta memberikan suatu informasi mengenai kondisi angkasa bumi yang dilalui cahaya matahari,” ujarnya.

Redaktur: Didi Purwadi
Reporter: Fernan Rahadi
15
May
10

IpTek : Voyager 2 Dibajak Alien ?

Voyager 2 Dibajak

VIVAnews

By Elin Yunita KristantiJumat, 14 Mei
Pesawat Luar Angkasa Voyager 2 Dibajak Alien ?
Voyager 2

VIVAnews – Misteri melingkupi Voyager 2, pesawat tak berawak milik Amerika Serikat yang diluncurkan 20 Agustus 1977, 33 tahun yang lalu.

Sebab, baru-baru ini Voyager 2 mengirimkan pesan dalam format yang tak bisa dibaca ilmuwan Badan Antariksa Amerika Serikat, NASA.

Muncul dugaan pesawat itu dibajak alien alias mahluk luar angkasa — yang mengirimkan jawaban pesan NASA. Seperti diketahui, menurut astrofisikawan, Stephen Hawking, NASA pernah mengirim sinyal ke luar angkasa berupa sebuah tembang dari grup pop legendaris The Beatles.

Tembang itu berjudul, “Across the Universe” (Melintasi Alam Semesta).

“Ini seperti seseorang telah memprogram ulang atau membajak Voyager 2, tapi kita tak tahu pasti apa yang sebenarnya terjadi,” kata pakar alien, Hartwig Hausdorf, seperti dimuat laman Daily Telegraph, 12 Mei 2010.

Saat ini, para insinyur sedang mencoba untuk membaca data yang dikirim Voyager 2 — yang lokasinya berada dekat tepi tata surya.

Keanehan Voyager 2 terjadi pada bulan lalu, ketika pesawat itu mengirim data dari jarak 8,6 miliar mil ke Bumi dalam format yang berubah dari sebelumnya. Data itu tak terbaca.

Selama ini Voyager 2 diprogram untuk mengirimkan data tentang kondisinya kesehatannya sendiri agar para insinyur di Bumi bisa memperbaiki — jika ada masalah.

Semenjak diluncurkan, Voyager 2 dan kembarannya, Voyager 1 ditugasi mengeksplorasi Planet Jupiter, Saturnus, Uranus, dan Neptunus.

Dua Voyager ini adalah pesawat manusia dengan daya jelajah paling jauh.

Voyager 1 kini berjarak 10,5 miliar mil dari bumi, dalam lima tahun pesawat ini diharapkan dapat melintasi heliosfer — gelembung matahari yang terbentuk di tata surya, dan masuk ke lintasan antarbintang.

Sementara, Voyager 2 bergerak mengikuti kembarannya. (jn)

01
Jan
10

Gerhana Bulan Sambut Tahun Baru 1 Januari 2010

Jumat, 01/01/2010 01:06 WIB
Malam Tahun Baru Disambut Gerhana Bulan Sebagian
Ramadhian Fadillah – detikNews


Reuters

Jakarta – Malam tahun baru 2010 disambut oleh gerhana bulan sebagian (GBS). GBS ini bisa disaksikan di seluruh wilayah Indonesia pada dini hari.

“Pada tanggal 1 Januari 2010 akan kembali terjadi Gerhana Bulan Sebagian (GBS). GBS ini dapat disaksikan dari seluruh wilayah Indonesia pada saat dini hari,” demikian informasi dari website Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika, Jumat (1/1/2010).

Pada GBS 1 Januari 2010 ini, piringan bulan yang tertutupi saat maksimumnya hanyalah 8,2 persen dari keseluruhan piringan bulan yang tampak dari bumi.

Di Indonesia bagian barat, GBS terjadi mulai pukul 00.17 WIB. Selanjutnya, bulan akan memasuki bayangan umbra Bumi pada pukul 01:52 WIB. Puncak GBS diperkirakan akan terjadi pukul 02.22 WIB. Pada pukul 02.52.41 WIB, bulan mulai meninggalkan bayangan umbra bumi dan piringan bulan yang terlihat dari bumi kembali utuh.

(rdf/irw)

07
Nov
09

Jagat Raya : Kelahiran Bintang Neutron

A Neutron Star is Born

This supernova was captured by Nasa’s Chandra X-Ray Observatory. The neutron star is the blue dot at the centre of the picture

Friday, 6 November 2009 | 9:10 AM

KOMPAS.com – An infant neutron star, the super-dense core of a stellar explosion, has been observed for the first time. The 12.4 mile-wide object is the youngest object of its kind ever discovered, having appeared just 330 years ago.

It has been cloaked in mystery since it was identified as a powerful X-ray source in 1999. Astronomers  now know the source is a neutron star 11,000 light years from Earth at the centre of the supernova Cassiopeia A.

Neutron stars are the super-dense compact cores of massive stars whose outer shells have been blasted away in violent explosions at the end of their lives. Compressed tightly by gravity, they are composed almost entirely of neutrons, sub-atomic particles with no electric charge that form part of atoms.

One teaspoonful of material from a neutron star would weigh a billion tonnes. The newly identified neutron star has a unique carbon atmosphere just four inches thick.

Britain’s first Astronomer Royal, John Flamsteed, is believed to have observed the supernova that spawned it in 1680. Astronomers studied the supernova using the Chandra X-ray space telescope launched by the American space agency Nasa in 1999.

Every other neutron star identified by scientists has been much older. It is hoped the object will reveal more clues about the role exploding stars play in building the Universe. Heavy elements flung out into space by supernovae end up in the rocks of planets such as the Earth. Even the human body is largely composed of stardust.

Professor Craig Heinke, from the University of Alberta in Canada, who co-led the new research published in the journal Nature, said: ‘The discovery helps us understand how neutron stars are born in violent supernova explosions.

‘This neutron star was born so hot that nuclear fusion happened on its surface, producing a carbon atmosphere just 10 centimetres thick.’

Source : The Daily Mail

16
Oct
09

IpTek : Asteroid Terbesar Kedua di Bimasakti Diindentifikasi Sebagai Purwarupa Planet

Asteroid Bimasakti

Senin, 12 Oktober 2009 08:10 WIB | Iptek | Sains |
Asteroid Terbesar Kedua di Bimasakti Diindentifikasi Sebagai Purwarupa Planet
Asteroid Terbesar Kedua di Bimasakti Diidentifikasi Sebagai Purwarupa Planet
Galaxi Bimasakti (wikimedia.org)

Jakarta (ANTARA News) – Asteroid terbesar di dalam Sistem Bimasakti sebenarnya adalah purwarupa planet, satu blok yang sedang berkembang menjadi planet sesungguhnya yang lebih besar, demikian hasil satu studi.

Beberapa peneliti di University of California, Los Angeles (UCLA), membuat kesimpulan tersebut setelah menggunakan teleskop Antariksa Hubble untuk mempelajari Pallas, asteroid terbesar kedua di dalam Sistem Bimasakti, kata studi tersebut, yang disiarkan di dalam jurnal “Science”, terbitan Oktober.

Pallas, yang namanya diambil dari nama Dewi Yunani, Pallas Athena, berada di sabuk utama asteroid antara orbit Jupiter dan Mars.

Menurut teori pembentukan planet, purwarupa planet adalah awan partikel gas, batu dan debu yang berada dalam proses pembentukan satu planet. Purwarupa planet agak berada di jalur masing-masing orbit lain, sehingga terjadi benturan dan secara berangsur membentuk planet yang sesungguhnya.

“Sangat menggairahkan untuk menyaksikan satu objek perspektif baru ini yang sangat menarik dan belum di amati oleh Hubble dengan resolusi tinggi,” kata mahsiswi tingkat doktor UCLA Britney E. Schmidt, penulis utama studi itu.

“Kami memperkirakan asteroid yang sangat besar ini bukan hanya sebagai blok planet yang sedang terbentuk tapi sebagai peluang untuk meneliti pembentukan planet beku pada waktunya.”

“Memiliki kesempatan menggunakan Hubble, dan melihat citra itu kembali dan memahami secara otomatis ini dapat mengubah apa yang kami pikirkan mengenai objek ini –itu ada buku yang sangat besar dan berat,” kata Schmidt sebagaimana dilaporkan kantor berita resmi China, Xinhua.

Dengan gambar Hubble, Schmidt mengatakan ia dan rekannya dapat membuat pengukuran baru mengenai bentuk dan ukuran Pallas. Mereka dapat melihat permukaannya memiliki daerah gelap dan cerah, yang menunjukkan benda yang kaya akan air tersebut mungkin telah mengalami perubahan internal dengan cara yang sama yang dilalui planet.

“Itu lah yang membuatnya lebih mirip planet –variasi warna dan bentuk bulat sangat penting sepanjang yang kami pahami, adalah objek dinamis atau benda itu telah memiliki ukuran yang persis sama sejak terbentuk,” kata Schmidt. “Kami kira barangkali itu adalah objek yang dinamis.”

Untuk pertama kali, Schmidt mengatakan ia dan rekannya juga melihat tempat tabrakan besar di Pallas. Mereka tak dapat memastikan apakah itu adalah kawah, tapi depresinya memang menunjukkan sesuatu yang penting lain: bahwa itu dapat membawa kepada keluarga kecil asteroid Pallas yang mengorbit di antariksa.(*)

COPYRIGHT © 2009




Blog Stats

  • 3,348,934 hits

Recent Comments

Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Sejarah : Bangsa Lemuria, Lelu…