Archive for February, 2012

29
Feb
12

IndoGreenWay : 6 Tips Pelepas Stress

6 Tips Pelepas Stres

Lusia Kus Anna | Selasa, 28 Februari 2012 | 17:05 WIB
6 Tips Pelepas Stres Tanpa Biaya

Kompas.com – Reputasi stres sebagai penyebab hilangnya kebahagiaan, sampai penyebab penyakit, rasanya sudah sangat dikenal. Sayangnya tak banyak orang yang sadar bagaimana mengelola stres yang sulit dielakkan dari kehidupan.

Setiap orang memerlukan kegiatan rekreasi sebagai pelampiasan untuk mengendurkan ketegangan. Para ahli psikologi bahkan menegaskan bahwa rekreasi sangat penting untuk kesehatan jiwa karena tekanan hidup yang berat memerlukan penyaluran agar tidak menyebabkan frustasi.

Ingin mengurangi tekanan hidup dengan murah dan tanpa mengurangi waktu? 6 tips pelepas stres berikut mungkin bisa Anda masukkan dalam agenda harian.

1. Membaca buku

Ini merupakan kegiatan yang bukan saja membuat kita sejenak berhenti memikirkan segunung masalah, tapi juga membuat kita seolah masuk ke dunia baru yang sedang dibaca. Membaca di malam hari adalah kegiatan yang dianjurkan. Kamar tidur adalah tempat yang hangat, nyaman, dan damai. Kombinasikan dengan buku bagus, maka Anda akan merasa kembali fokus pada diri sendiri.

2. Duduk di taman

Bila Anda jeli, sebenarnya cukup banyak “oase” kecil di sekitar kita. Selain di area kompleks perumahan, taman kecil yang hijau kini sudah lumayan banyak bertebaran di sekitar perkantoran. Luangkan waktu sekitar 5 menit untuk duduk menikmati udara segar dan hijaunya taman.

3. Melihat foto

Melihat-lihat kembali album foto dari peristiwa menyenangkan adalah salah satu pelepas stres yang murah dan efektif. Bayangkan kembali diri Anda pada peristiwa bahagia tersebut dan rasakan sensasinya.

4. Berjalan kaki atau olahraga

Aktivitas fisik adalah cara yang sehat untuk melepas stres karena bisa memicu hormon-hormon antistres. Luangkan waktu beberapa menit setiap pagi atau setelah makan siang.

5. Meditasi

Setiap aktivitas yang bisa membuat perhatian kita tetap tenang dan fokus sudah bisa disebut sebagai meditasi. Itu berarti bisa kegiatan menyulam, menulis, menjahit, atau duduk diam. Lakukan 5-10 menit setiap hari dan rasakan kadar stres yang menurun.

6. Ambil jeda

Bila emosi sudah tidak bisa dibendung, alihkan perhatian Anda untuk sejenak fokus pada sesuatu yang baru. Misalnya melihat ke jendela, menyeruput teh hangat, atau memperhatikan pohon yang tertiup angin. Biarkan imajinasi Anda bebas untuk sesaat.

47 Resep IndoGreenWay

http://www.hdindonesia.com/gabung.asp?id=indogreenway

Opini 19 Pakar HD

Persembahan Bagi Kesehatan Masyarakat

Profil 19 Produk IndoGreenWay

Advertisements
29
Feb
12

Politik : Popularitas ParPol Dipertanyakan ?

27.02.2012 13:04

Popularitas Parpol (1)

Penulis : Sulung Prasetyo/Fransisca Ria Susanti   [ 1 Komentar ]

Runtuhnya Popularitas Parpol (1),

Kepada Siapa Rakyat Harus Percaya ?

(foto:dok/ist)

Popularitas Partai Demokrat turun yang ditunjukkan oleh hasil survei. Namun ini sama sekali bukan berita besar dan sudah bisa diduga.

Sejumlah kader Demokrat yang bergantian “mengunjungi” ruang sidang tindak pidana korupsi (tipikor) akhir-akhir ini sudah pasti menyeret jatuh popularitas Demokrat yang selama ini mengklaim diri sebagai partai pelopor pemberantasan korupsi.

Lebih ironis lagi, ikon yang dipasang dalam kampanye antikorupsi merekalah yang justru diseret jadi terdakwa kasus korupsi. Riset Centre for Strategic and International Studies (CSIS) yang dilansir baru-baru ini menunjukkan, popularitas Demokrat turun 8,25 persen dari tahun 2009.

Meskipun masih meraih popularitas tertinggi dibanding parpol lain, tapi penurunan ini cukup signifikan. Hal yang menarik adalah penurunan popularitas ini terjadi pada seluruh partai.

Mulai dari Golkar yang turun 3,95 persen; PDIP turun 6,23 persen; PKS turun 4,78 persen; PPP turun 2,53 persen; PAN turun 3,71 persen; hingga partai baru seperti Gerindra dan Hanura yang masing-masing turun 1,46 persen dan 3,07 persen. PKB yang pada 2009 menduduki tingkat popularitas nomor empat setelah Demokrat, Golkar, dan PDIP pun turun 0,54 persen.

Meski menurun tipis, tetap saja ada tren penurunan di PKB yang juga dialami oleh hampir semua parpol.Peneliti dari CSIS Sunny Tanuwidjaya mengatakan, fenomena penurunan popularitas parpol ini menarik.

Mestinya, jika sebuah partai “pemerintah” (ruling party) mengalami penurunan popularitas, maka yang akan meraup “untung” atau mendapat limpahan suara dari publik yang kecewa ini adalah parpol yang menyebut diri “oposisi” pemerintah, atau setidaknya parpol yang dianggap oposisi.

Namun ternyata hal itu tidak terjadi. Sunny menemukan bahwa tren penurunan popularitas parpol ini justru dibarengi dengan melonjaknya angka “golput” dari publik. “Orang yang dulunya—katakanlah—memilih Demokrat dan kemudian kecewa, tahun 2014 tidak akan memilih Demokrat lagi, tapi juga tidak memilih partai lain,” ungkapnya.

Survei CSIS menunjukkan tren orang yang tidak memilih parpol mencapai 48 persen. Angka ini sudah dipastikan bakal bertambah jika para pemilih parpol yang kecewa dengan pilihan awalnya akan lari dan akhirnya memutuskan tidak memilih siapa pun. Jurang antara publik dengan parpol semakin jauh.

Parpol menjadi institusi yang semakin asing. Sementara wakil rakyat yang mestinya dikenal dan menjadi figur yang lebih dekat dengan publik karena mekanisme pemilihan langsung pascareformasi, juga seperti kaum yang hidup di menara gading. Publik tak mengenalnya.

Survei menunjukkan 92,2 persen tak mengenal wakil mereka di parlemen dan hanya 1,3 persen orang yang merasa perlu menyumbang untuk parpol. Hal yang sama terjadi pada sosok presiden. Tingkat kekecewaan publik terhadap Presiden Susilo Bambang Yudhoyono meningkat. Namun ketika ditanyakan siapa yang akan mereka pilih dalam 2014 nanti, banyak yang tak punya pilihan.

KecewaPara “golputers” ini memiliki pandangan yang pesimistis terhadap tata kelola pemerintahan. Sikap mereka terhadap masalah ekonomi dan pemberantasan korupsi menunjukkan bahwa mereka memiliki kekecewaan besar terhadap kinerja pemerintahan dan sistem yang ada.

Survei menunjukkan 52,10 persen “golputers” menilai bahwa kondisi ekonomi sekarang lebih buruk, sedangkan pemberantasan KKN mengalami kemunduran dinyatakan oleh 49, 60 persen “golputers”.

Namun benarkah sistem yang amburadul membuat publik berpaling dari parpol? Atau kader-kader parpol yang “busuk” yang membuat sikap antipati ini muncul? Atau jangan-jangan degradasi integritas di kalangan rakyat sendiri yang membusukkan parpol? Atau ada faktor lainnya?Cheppy Triprakoso Wartono, anggota DPR dari PDIP, menilai bahwa hasil survei CSIS sangat dipengaruhi oleh media massa.

Agenda setting yang dibuat medialah yang membuat bandul survei menggoyang sikap orang orang terhadap partai politik, juga calon presiden. Pengalaman politik memberinya pelajaran bahwa rakyat tak bisa lagi diyakinkan dengan program.

Riil politik, menurutnya, adalah soal negosiasi yang berhenti pada angka rupiah. Seluruh kerja-kerja penggarapan dan konsolidasi massa, jelang pemilihan wakil rakyat, dimentahkan hanya dengan iming-iming rupiah. “Rakyat selesai dengan Rp 50.000. Ini fakta politik,” ujarnya.

Sunny tak menolak fenomena ini.  Rakyat hari ini sudah—dalam istilah Sunny—”rusak” karena kini tidak gampang mendapat dukungan gratis. “Di tingkat grassroot, orang sudah tidak percaya pada siapa pun,” ungkapnya.

Namun fenomena ini bisa jadi menunjukkan sebaliknya, bahwa rakyat sudah cukup “cerdas” dan menolak untuk terus-menerus dibohongi.  Apa yang terjadi pada Cheppy, menurut Sunny, karena wakil rakyat atau parpol yang memajukan calon wakilnya tak siap untuk kalah dan mereka melakukan apa pun untuk bisa memenangkan pertarungan itu.

Jika yang lain melakukannya dengan membeli suara, maka hal sama dilakukan kandidat lainnya. Sementara itu, para pengusaha yang mestinya juga terlibat dalam proses demokrasi, rata-rata juga hanya mau mendukung calon yang sudah pasti bakal menang.

Ini karena mereka punya kepentingan juga dengan bisnisnya. Jadi jika ada calon, baik untuk legislatif maupun eksekutif—juga yudikatif—yang cukup bersih dan punya perspektif maju, tapi tak punya duit, sudah bisa dipastikan akan jarang mendapat dukungan.

Siapa salah? Kandidat yang maju, parpol, sistem politiknya atau rakyatnya? Indonesia, menurut pengamat ekonomi Christianto Wibisono dan pengamat ekonomi Faisal Basri yang nekad menjajal peluang kursi No 1 DKI Jakarta, membutuhkan sebuah alternatif. Apa alternatif itu? (Bersambung)

28.02.2012 12:47

Popularitas Parpol (2)

Penulis : Fransisca Ria Susanti

Runtuhnya Popularitas Parpol  (2-Habis),

Demokrasi Pun Butuh Inspirasi

(foto:dok/ist)

Para kandidat wakil rakyat bisa saja kecewa terhadap “ketulusan” dukungan dari rakyat yang memilihnya. Kerja penggalangan massa dan konsolidasi yang dilakukan ternyata mentah pada iming-iming lembaran Rp 50 ribu rupiah.

“Rakyat selesai dengan Rp 50 ribu,” ujar seorang anggota DPR dari Fraksi PDIP Cheppy Tripakoso Wartono dalam sebuah diskusi bertajuk “Menyimak Hasil Survey Mutakhir tentang Tingkat Penilaian Masyarakat atas Kinerja Pemerintahan, Runtuhnya Kepercayaan pada Parpol, Melonjaknya Golput’” yang digelar Perkumpulan Alumni Tsinghua University Indonesia (Perti) dan Lembaga Indonesia China (LIC) bekerja sama dengan harian Shang Bao dan Sinar Harapan di Jakarta, akhir pekan lalu.

Riil politik menunjukkan bahwa rakyat tak lagi percaya siapapun dan suara mereka tak ada yang bisa diambil secara gratis.

Tapi sungguhkah demikian? Benarkah hati rakyat sudah terbuat dari batu? Sehingga segala hal yang datang kepada mereka harus dinegosiasi dalam kalkulasi untung rugi (baca: uang).

Faisal Basri, pengamat ekonomi dari Universitas Indonesia, yang nekad maju dalam pencalonan kursi gubernur DKI Jakarta mencoba mematahkan pandangan ini. “Saya mendapatkan dukungan 400.000 KTP dan tidak perlu membayar satu senpun,” ungkapnya sambil menegaskan bahwa ia mengharamkan dirinya menerima dukungan dengan cara membayar. Tapi, ia mengakui, ini bukan hal mudah.

“Rakyat sudah sering dirusak oleh parpol, tapi rakyat masih bisa diajak dialog,” ungkapnya.

Di awal penggalangan dukungan, warga dengan terang-terangan bertanya ke Faisal, apa yang akan mereka dapat jika dukungan diberikan? “Apa” di sini adalah sesuatu yang bisa mereka sentuh, raba, dan nikmati secara cepat, hari itu juga.

Sembako, uang, atau apapun namanya. Karena begitulah yang selama ini terjadi, setiap kali ada politisi yang datang meminta dukungan suara. Sementara Faisal tak membawa apa-apa.

Menjawab pertanyaan ini, Faisal hanya mengatakan bahwa ia membutuhkan sebuah kerja sama. “Saya memang tak bisa memberi uang sembako seperti calon lain. Tapi saya ingin tanya, apakah mereka yang telah memberi itu kembali ke bapak dan ibu sekalian setelah terpilih?” ucapnya mengulang apa yang dikatakan di depan warga yang ia mintai dukungan.

Atas pernyataan itu, ia ingin mengatakan kepada warga bahwa peningkatan kesejahteraan adalah tujuan jangka panjang yang harus dikerjakan bersama, bukan sekadar janji kampanye yang diusung kandidat lewat cara “instan” pemberian uang sembako. Dan kemudian lupa ketika sudah berada di tampuk kekuasaan.

Bahwa hal yang sedang ia dan warga harus perjuangkan adalah bagaimana membuat APBD senilai Rp 36 triliun bisa digunakan sebesar-besar kemakmuran bersama, bukan sekadar perolehan “kue kecil” bernama sembako, sementara “kue besar” dinikmati oleh pengusaha ataupun gangster yang menjadi “backing” sang kandidat.

Gerakan Sosial

Berpasangan dengan Biem Benyamin -anak aktor dan tokoh Betawi Benyamin S- Faisal maju sebagai pasangan calon gubernur dan wakil gubernur dari kelompok independen.

“Gerakan kami lebih merupakan gerakan sosial dan kultural. Kami mencoba melawan struktur yang ada bukan dengan gerakan politik. Karena gerakan politik membutuhkan mesin poltik dan mesin politik membutuhkan uang. Sementara kami tak cukup punya uang,” ungkapnya. Dan Faisal yakin gerakannya bisa merebut hati warga DKI.

Namun anggota DPR dari Fraksi PDIP Rieke Diah Pitaloka tidak terlalu yakin dengan gerakan ini, pun seandainya pasangan independen ini memenangkan pertarungan. Sistem yang ada saat ini muskil membuat para kandidat independen bertahan. Ia mencontohkan apa yang yang terjadi dengan Bupati Garut Aceng H M Fikri.

Awalnya ia maju sebagai calon independen bersama wakilnya, pemain sinetron Dicky Chandra. Namun begitu memenangkan pilihan, Aceng pindah haluan ke Partai Golkar dan bahkan menjabat sebagai wakil ketua DPD Jabar dari partai tersebut. Dicky yang kecewa pun mundur dari jabatan.

“Sistem yang ada membuat mereka (calon independen-red) tersendat-sendat dalam menjalankan pemerintahan,” ujar Rieke.

Soal persetujuan anggaran, misalnya, akan tersendat-sendat jika pemerinmtah (apakah pusat atau daerah) tidak memiliki channel parpol karena anggota DPR atau DPRD yang akan terlibat dalam persetujuan anggaran notabene adalah kader parpol.

Namun Faisal tidak khawatir tentang hal ini. “Rakyat ada di belakang saya,” ujarnya yakin. Ia meyakini bahwa jika semua dilakukan secara transparan dan forum-forum publik digelar intensif dengan warga, maka rakyat tidak akan diam saja jika anggaran diotak-atik oleh parlemen untuk kepentingan politik.

Peneliti dari Centre for Strategic and International Studies (CSIS) Sunny Tanuwidjaja mengatakan, pada akhirnya permasalahan bukan pada sistem-nya, tapi lebih kepada orangnya.

“Selama 10 tahun reformasi, sistem pemilu diotak-atik terus. Dari tidak langsung menjadi langsung dan sekarang mau balik ke langsung lagi. Sistem pemerintahan dari sentralisasi menjadi desentralisasi, dan sekarang mau ditarik ke sentralisasi lagi,” ungkapnya.

Padahal menurut Sunny, problemnya bukan lagi dari sisi lembaga, tapi dari sisi orang. Rakyat hari ini sulit percaya dengan siapapun. Karena itu yang dibutuhkan adalah mengembalikan kepercayaan rakyat bahwa ada masih orang yang “bersih”, masih ada orang yang layak dipercaya, masih ada sesuatu yang bisa dijadikan inspirasi.

Sementara pengamat politik Christianto Wibisono melihat gerakan politik seperti yang dilakukan Faisal Basri harus bisa menggalang para “golputers” yang tidak lagi memiliki kepercayaan terhadap parpol yang ada sekarang.

“Ini (para pendukung calon independen-red) harus menjadi partai alternatif. Karena kalau tidak seperti itu, kita akan seperti ini terus,” ungkap Christianto.

“Golput ini harus diorganisir untuk mengganti golongan sontoloyo,” tambah Christianto.

Sementara Faisal sendiri menegaskan bahwa apa yang ia lakukan sama sekali bukan sebuah sikap antiparpol, tapi upaya untuk memberi keseimbangan pada fungsi parpol yang nyaris karam.

Calon independen sama sekali bukan upaya menciderai demokrasi, tapi justru untuk merawatnya agar tak lupa akar.

29
Feb
12

Historia : Injil Beritakan Nabi Muhammad

Kontroversi Injil Kuno

RepublikaRepublika
Kontroversi Injil Kuno yang Mengabarkan Kedatangan Nabi Muhammad

Konten Terkait

REPUBLIKA.CO.ID, LONDON – Penemuan Injil kuno yang memprediksi kedatangan Nabi Muhammad telah memunculkan kontroversi, terutama yang terkait dengan kesamaannya dengan Alquran maupun kontroversi seputar keasliannya.

Menurut Laman Al-Arabiya, meskipun spekulasi tentang kitab kuno yang diduga sebagai Injil Barnabas itu meramalkan kedatangan Islam, namun sejauh ini tidak ada bukti yang menegaskan hipotesis tersebut.

Walau Injil Barnabas “mengakui” kedatangan Islam dan Nabi Muhammad SAW, namun skeptisisme tetap muncul karena kontradiksinya dengan Alquran. “Sebab, sebagian besar studi tentang kitab ini menyatakan Injil Barnabas hanya kembali ke 500 tahun yang lalu. Sementara, Alquran telah ada sejak 1400 tahun silam,” demikian tulis Al-Arabiya, Senin (27/2).

Adanya kontradiksi inilah yang menjadi alasan utama mengapa para sarjana Arab mengabaikan terjemahan bahasa Arab Injil tersebut, yang diterbitkan 100 tahun lalu. Sebagaimana diulas secara rinci oleh penulis dan pemikir Mesir, Abbas Mahmoud Al-Akkad.

Dalam sebuah analisis yang ditulisnya pada 26 Oktober 1959 di surat kabar Al-Akhbar, Akkad mengatakan deskripsi neraka dalam Injil Barnabas didasarkan pada informasi yang relatif baru yang tidak tersedia pada saat di mana teks itu seharusnya ditulis. “Sejumlah deskripsi yang tertulis dalam Injil itu merupakan kutipan orang-orang Eropa dari sumber-sumber Arab,” ungkapnya.

Akkad menambahkan, kisah Injil Barnabas tentang bagaimana Yesus mengabarkan tentang munculnya Nabi Muhammad kepada kerumunan ribuan pengikutnya amat sulit dipercaya. Injil ini, kata dia, mengandung beberapa kesalahan yang begitu vulgar, baik bagi Yahudi, Kristen, maupun Muslim.

Misalnya, sambung Akkad, kitab itu mengatakan ada sembilan lapis langit dan yang kesepuluh adalah surga. Sementara dalam Alquran hanya ada tujuh lapis langit. Juga klaim Injil yang menyatakan perawan Maria tidak merasakan sakit saat melahirkan Yesus. Padahal, dalam Alquran disebutkan Maryam menderita kesakitan saat melahirkan putranya.

Menurut Injil (Barnabas), Yesus mengatakan kepada imam Yahudi bahwa dirinya bukan Mesiah dan Mesiah sesungguhnya adalah Muhammad SAW. “Ini berarti ada penolakan atas keberadaan Mesiah, yang tak lain adalah Yesus sendiri. Dengan demikian, seolah-olah Yesus dan Muhammad tampak seperti satu orang yang sama,” kata Akkad.

Kitab Injil ini juga berisi informasi yang tidak memiliki kredibilitas sejarah, seperti adanya tiga tentara—masing-masing terdiri dari 200.000 tentara—di Palestina. Sedangkan seluruh penduduk Palestina sekitar 2.000 tahun lalu, tidak mencapai 200.000. Tragisnya, Palestina saat itu diduduki oleh Romawi, dan tak mungkin diizinkan memiliki bala tentara sendiri.

Demikian pula, lanjut Akkad, kalimat terakhir dalam Bab 217 yang menyatakan bahwa tubuh Yesus dibebani 100 pon batu. “Ini menegaskan bahwa Injil tersebut ditulis baru-baru ini, karena penggunaan pon sebagai satuan berat untuk pertama kali dilakukan oleh Dinasti Ottoman, dalam sebuah eksperimen dengan Italia dan Spanyol. Dan kata-kata “pon” tidak pernah dikenal pada masa Yesus.

Menurut Akkad, salah satu fakta paling mencolok yang disebutkan dalam Injil Barnabas terdapat dalam Bab 53, yang mengatakan bahwa pada Hari Kiamat bulan akan berubah menjadi balok darah. Dan pada hari kedua, darah ini akan menetes ke bumi seperti embun. Kemudian pada hari ketiga, bintang-bintang akan bertempur laksana serdadu perang.

“Berdasarkan sejumlah penelitian, Injil Barnabas ditulis pada Abad Pertengahan oleh seorang Yahudi Eropa yang cukup akrab dengan Alquran dan Injil. Dia kemudian mencampur-adukkan fakta dan opini dari berbagai sumber, tanpa diketahui motif dan tendensinya,” tandas Akkad.

Temuan Injil

Temuan Injil yang Memberitakan Datangnya Nabi Muhammad
Posted on February 29 2012 by PR / IM

ANKARA, – Kitab Injil berumur 1.500 tahun menarik perhatian Vatikan, karena Yesus diyakini telah mengatakan akan datangnya Nabi Muhammad saw ke bumi. Paus Pulus Benedict XVI dikabarkan telah meminta untuk melihat kitab tersebut, yang disembunyikan di Turki selama 12 tahun, seperti dilaporkan Daily Mail yang dikutip Al Arabiya.net.

Tulisan itu diperkirakan berharga 22 juta USD (Rp 200 miliar), yaitu bagian yang mengandung perkiraan Yesus soal kedatangan Rasulullah, namun bertahun-tahun ditentang gereja kristen karena isi teks tersebut sejalan dengan padangan Islam soal Yesus, ungkap Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Turki Ertugrul Gunay.

“Sejalan dengan kayakinan kalangan Islam, Injil memperlakukan Yesus sebagai manusia bukan tuhan. Ini membantah trinitas kudus dan penyaliban sekaligus memunculkan perkiraan Yesus mengenai datangnya Nabi Muhammad,” tambah Ertugrul.

“Pada satu versi Injil, dikatakannya kepada seorang pendeta, ‘Siapa nama Messiah? Muhammad adalah nama yang diberkati. Pada bagian lain, Yesus menolak disebut sebagai Messiah, seraya menyebutkan orang itu akan berasal dari Bani Ismail, sebutan untuk bangsa Arab.”

Injil yang disebut sebagai Injil barnabas itu dijaga pihak berwenang di Ankara, Turki sebelum diserahkan kepada Museum Etnografis Ankara, untuk kemudian dipamerkan

Rahasia Injil Kuno

RepublikaRepublika – Sel, 28 Feb 2012
Paus Ingin Ungkap Rahasia Injil Kuno Berusia 1500 Tahun

REPUBLIKA.CO.ID, VATIKAN – Paus Benediktus XVI telah membuat permintaan untuk mengungkap rahasia Alkitab kuno berusia 1500 tahun. Permintaan resmi itu telah disampaikan Vatikan kepada pemerintah Turki, senin (27/2).

Vatikan ingin mengungkap kontroversi Injil ini dengan ajaran dan dogma Kriten juga dibanding injil lain. Menteri Budaya dan Pariwisata Turki, Ertugrul Gunay telah mengkonfirmasi permintaan Vatikan ini.

Injil yang ditulis dengan tinta emas ini menggunakan bahasa Aramik, bahasa yang dipercayai digunakan Yesus. Alkitab berusia 1.500 tahun tersebut diduga, adalah Injil Barnabas dan bernilai lebih dari 20 juta dolar AS.

Pemerintah Turki telah menyembunyikan injil ini selama 12 tahun terkahir. Buku itu ditemukan oleh polisi Turki dalam operasi anti-penyelundupan pada tahun 2000 dan terus dijaga selama 10 tahun.

Alkitab ini jauh berbeda dengan empat injil utama Kristen, Markus, Matius, Lukas dan Yohanes. Hal itu dikarenakan, Alkitab ini berisi prediksi kedatangan seorang nabi setelah Isa (Yesus). Dan dianggap inilah ajaran versi asli Injil.

Selain itu, adalah versi yang lebih konsisten dengan keyakinan Islam dari Kristen. Alkitab ini menolak dogma Tritunggal dan Penyaliban. Hal ini juga menggambarkan Yesus menolak Mesias dan mengklaim penerusnya berasal dari keturuan Ismael (Arab).

Pendeta Protestan, Ihsan Oznek membantah keaslian isi  Alkitab ini, Dia mengatakan bahwa St. Barnabas hidup pada abad pertama dan merupakan salah satu rasul Yesus, yang berbeda dengan versi Injil ini yang berasal dari abad kelima. Namun menurut, Profesor Teologi, Omer Faruk Harman untuk membuktikan keaslian dan umur dari Alkitab ini adalah dibuktikan dengan scan secara ilmiah.

29
Feb
12

Kenegarawanan : Strategi Budaya Indonesia Mulia

https://jakarta45.files.wordpress.com/2012/02/pkp-1945-_033.jpg?w=655

Strategi Budaya Indonesia Mulia

Pandji R Hadinoto (X)

Tanggal 1 Maret 1949 dikenang dengan peristiwa heroik yaitu Serangan Oemoem TNI kuasai 6 jam kota Jogjakarta yang memberikan fakta kepada dunia kala itu bahwa Republik Indonesia masih eksis sehingga mendorong diselenggarakannya Konperensi Meja Bundar yang lalu berujung pengakuan Indonesia Berdaulat 27 Desember 1949. Artinya sebagai peristiwa, hal itu mencerminkan budaya kejoangan khas bangsa Indonesia dalam menyatakan jatidirinya, yaitu Indonesia Merdeka 17 Agustus 1945.
Dalam konteks bersejarah itulah, maka ditengah kegalauan berbagai peristiwa dunia dan dalam negeri terkini, adalah tepat pula sekiranya bangsa Indonesia kembali menunjukkan jatidirinya antara lain dalam bentuk tekad Indonesia Mulia sebagaimana digagas 80 tahun yang lalu oleh dr Soetomo, pahlawan nasional yang juga adalah pendiri Boedi Oetomo 1908, berwujud Strategi Budaya Indonesia Mulia 1 Maret 2012, yang dapat berkerangka sebagai berikut :
Strategi 7 (tujuh) Sehat [Pandji R Hadinoto], dalam konteks Tubuh Negara-Bangsa yakni 1. Sehat Bermasyarakat, 2. Sehat Berbangsa, 3. Sehat Bernegara, 4. Sehat Politik Hukum Perundang-undangan, dan dalam konteks Tubuh Manusia yaitu 5. Sehat Logika/Nalar, 6. Sehat Rohani/Jiwa, 7. Sehat Jasmani/Raga;
Strategi 7 (tujuh) Ketahanan Bangsa [alm HR Soeprapto] yaitu 1. Kehidupan Agama tidak Rawan, 2. Kehidupan Ideologi tidak Retak, 3. Kehidupan Politik tidak Resah, 4. Kehidupan Ekonomi tidak Ganas, 5. Kehidupan Sosial Budaya tidak Pudar, 6. Kehidupan HanKamNas tidak Lengah, 7. Kehidupan Lingkungan tidak Gersang;
Strategi 7 (tujuh) Kemenangan Hidup [Gus Sholeh] yakni 1. Yang tetap Sejuk ditempat yang Panas, 2. Yang tetap Manis ditempat yang Pahit, 3. Yang tetap Merasa Kecil walau telah menjadi Besar, 4. Yang tetap Tenang ditengah Badai yang Dahsyat, 5. Yang tetap berSyukur atas segala Karunia-Nya, 6. Yang tetap Istiqomah di Jalan-Nya, 7. Yang tetap menggantungkan harapan hanya kepada Tuhannya
Tradisi berlatar belakang kesejarahan yang telah terbukti berujung kepada peristiwa hukum sesungguhnya dapat saja diberlakukan sebagai pernyataan budaya hukum yaitu sikap2 dan nilai2 yang berhubungan dengan hukum bersama, ber-sama2 dengan sikap2 dan nilai2 yang terkait dengan tingkah laku yang berhubungan dengan hukum dan lembaga2-nya, baik secara positif maupun negatif. Dalam pengertian tradisi budaya hukum itulah, maka Strategi Budaya Indonesia Mulia 1 Maret 2012 patut diyakini dan diharapkan berkemampuan cukup dalam turut serta menyumbangkan perangkat lunak bagi pembangunan watak Negara-bangsa menuju Indonesia Berjaya berdasarkan Pancasila yang adalah falsafah, jatidiri dan pandangan hidup bangsa, ideologi dan dasar Negara, sumber daripada segala sumber hukum, dan juga dipahami sangat boleh jadi adalah mercusuar dunia.
Jakarta, 1 Maret 2011
(X) Deklarator, Penegak Konstitusi Proklamasi 1945 [17Peb12]
eMail : pkp1945@yahoo.com

PENEGAK KONSTITUSI PROKLAMASI 1945

PERNYATAAN KEBULATAN TEKAD

Atas berkat rakhmat Tuhan Yang Maha Esa, pada hari ini, Jumat tanggal 17 Pebruari 2012, kami yang bertandatangan dibawah ini bertekad melaksanakan amanat yang tertuang dalam Pembukaan Undang Undang Dasar 1945 yang ditetapkan pada tanggal 18 Agustus 1945 sepenuhnya.

Kebulatan tekad ini diyakini setelah mempertimbangkan hal-hal sebagai berikut :

a. bahwa ketika bangsa Indonesia ingin menetapkan dasar Negara dalam sidang2 konstituante tahun 1955 sampai dengan 1959, terjadilah polarisasi pendapat tentang dasar Negara yang tidak dapat dipertemukan, sehingga keluarlah Dekrit Presiden 5 Juli 1959 yang menetapkan kembali kepada Undang Undang Dasar 1945;

b. bahwa pada era permulaan reformasi 1998, Undang Undang Dasar 1945 tersebut diatas telah dirubah sebanyak 4 (empat) kali antara tahun 1999 sampai dengan tahun 2002, ternyata dalam pelaksanaannya banyak menimbulkan dampak yang membawa perpecahan pendapat, perpecahan bangsa, yang selanjutnya membuat bangsa Indonesia mundur dalam segala aspek kehidupan (multi dimensi);

c. bahwa pengalaman mengelola Negara bangsa melalui multi partai politik seperti terjadi pada era pemerintahan Presiden Soekarno dan sekarang diulangi lagi pada era reformasi ini ternyata tidak dapat membawa kehidupan bangsa seperti yang dikehendaki oleh amanat Pembukaan Undang Undang Dasar 1945 yaitu masyarakat yang adil dan makmur, sejahtera lahir dan batin;

d. bahwa kini kerusakan kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara sudah pada titik kritis yang dapat membawa kehancuran bangsa;

e. bahwa oleh karena akar masalah pengelolaan Negara yang berakibat negatif tersebut diatas terletak  pada Undang-Undang Dasar 2002 terutama Pasal 33, dan Pasal 33 inilah yang seharusnya segera dibatalkan dan diberlakukan kembali Pasal 33 Undang Undang Dasar 1945 yang ditetapkan dan disahkan pada tanggal 18 Agustus 1945;

f. bahwa pemberlakuan Pasal 33 Undang Undang Dasar 1945 tanggal 18 Agustus 1945 itu tidak terlepas dari Politika Adendum Undang Undang Dasar 1945 yang sedang diperjuangkan berdasarkan pemberdayaan kembali Undang-Undang Dasar 1945 [Lembaran Negara Republik Indonesia No. 75, 1959] yang jelas berlandaskan Pancasila, maka dengan demikian bangsa Indonesia lebih mampu mengelola Negara lebih baik dengan dinamika yang tinggi, aman dan damai sehingga Ketahanan Bangsa dan Negara terjamin terus menerus serta berkemampuan mengakomodasi perkembangan jaman tanpa meninggalkan karakter bangsa;

Oleh karena itulah, demi kejayaan Negara Kesatuan Republik Indonesia dan tegak serta kuatnya Negara Kesatuan Republik Indonesia ditengah-tengah Negara-negara bangsa di dunia, maka peran serta segenap komponen bangsa sangat diperlukan, baik organisasi-organisasi kemasyarakatan, lembaga-lembaga negara maupun perorangan, dalam rangka melaksanakan amanat yang tertuang dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945, diserukan antara lain turut serta menandatangani pernyataan kebulatan tekad ini secara sadar, ikhlas, dan keluhuran budi.

Jakarta, Jum’at Legi, 17 Pebruari 2012

Deklarator dan pendukung,

Pitoyo / Pandji R Hadinoto / Sishendarwati / Hadi M / Paulus Pase / M Kasim Ramli / Topek Martopo S

Amankan APBN
Jero : Berkorban ?
Ester Meryana | Erlangga Djumena | Rabu, 29 Februari 2012 | 09:30 WIB
KOMPAS/ALIF ICHWAN Menteri Energi Sumber Daya Mineral (ESDM) Jero Wacik (kanan) didampingi Wakil Menteri Widjajono Partowidagdo mengadakan jumpa pers di Kantor ESDM, Jakarta, Senin (20/2/2012).
Jero : Pemerintah dan Rakyat Berkorban

JAKARTA, KOMPAS.com – Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral, Jero Wacik, mengatakan pemerintah dan rakyat sama-sama berkorban dalam mengamankan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Pasalnya, sejumlah asumsi yang dipatok dalam anggaran itu sudah melenceng seiring dengan perubahan kondisi ekonomi global.

“Arahan Pak Presiden yang perlu saya sampaikan juga, kalau kantong kita kempes maka jangan rakyat saja disuruh berkorban. Pemerintah harus juga berkorban,” ujar Jero, usai menghadiri rapat kerja dengan Komisi VII DPR RI, di DPR, Selasa (28/2/2012) malam.

Ia menyebutkan, pengorbanan pemerintah yakni dengan mengurangi APBN di kementerian. Maksudnya, pemerintah dapat menunda proyek yang belum mendesak untuk dikerjakan. Penundaan proyek-proyek pemerintah ini ditujukan untuk menyelamatkan APBN. “Proyek-proyek atau pembangunan gedung yang bisa ditunda ke tahun 2013, tundalah,” tambah dia.

Pengetatan anggaran ini tidak lain sebagai upaya menyesuaikan APBN karena perubahan ekonomi global. Jero menyebutkan, sejumlah asumsi dalam APBN 2012 sudah melenceng jauh. Salah satunya adalah asumsi harga rata-rata minyak mentah Indonesia (ICP) yang dipatok 90 dollar AS per barrel. Padahal ICP per Januari 2012 saja sudah mencapai angka 115 dollar AS per barrel.

Sekalipun berusaha irit, tapi pemerintah tetap berjanji untuk melindungi masyarakat miskin. Akan ada kompensasi yang diberikan oleh pemerintah. Kompensasi itu direncanakan meliputi pangan, pendidikan, hingga transportasi. “APBN ini perlu diselamatkan karena ini masa depan negara kita,” tegasnya.

Oleh karena itu, pemerintah sekarang ini sedang berusaha menyesuaikan APBN dengan melakukan perubahan terhadap sejumlah asumsinya.

Pemimpin Loyo !
Maria Natalia | Aloysius Gonsaga Angi Ebo | Selasa, 28 Februari 2012 | 17:29 WIB
KOMPAS/HENDRA A SETYAWANFranz Magnis Suseno, SJ.
Indonesia Tidak Butuh Pemimpin Loyo

JAKARTA, KOMPAS.com — Ahli filsafat dan tokoh agama, Romo Franz Magnis Suseno, mengatakan bahwa saat ini negara membutuhkan seorang pemimpin yang berani, bukan pemimpin yang loyo dan hanya turut bersedih atas masalah rakyat, tetapi tak memberikan solusi. Saat ini, kata dia, pemerintah terlihat tidak berani dalam menyelesaikan masalah-masalah yang dihadapi masyarakat, seperti masalah pelanggaran hak asasi manusia di masyarakat dan masalah korupsi yang merajalela.

“Bangsa ini tidak butuh pemimpin yang loyo dan lemas. Bagaimana bisa memimpin kalau lihat reaksi masyarakat yang bersalah sama-sama menangis, tidak cukup itu. Jadi pemimpin yang hanya mengeluh juga tidak cukup. Harus berani bertindak dan menawarkan penyelesaian masalah bangsa,” ujar Magnis dalam diskusi “Meneladani Misi Profetik dalam Kepemimpinan Nasional” di Mega Institute, Jakarta, Selasa (28/2/2012).

Menurutnya, jika pemimpin nasional yang loyo tak dapat diandalkan maka harus muncul pemimpin yang bersifat profetik. Artinya, orang yang memiliki sifat kepemimpinan tapi berada di luar panggung kekuasaan. Orang-orang yang memiliki suara keras untuk mengutarakan aspirasi rakyat dan mengungkapkan kebenaran.

Kini, kepemimpinan profetik itu belum terlihat karena ada berbagai kepentingan yang menginginkan kekuasaan dibandingkan membela kepentingan rakyat. “Kepemimpinan profetik adalah mereka yang tidak berkuasa. Mengatakan kebenaran terhadap mereka yang berkuasa,” lanjutnya.

Menunggu datangnya pemimpin yang profetik, kata Romo Magnis, Indonesia merindukan juga sosok pemimpin seperti Soekarno. Meski tidak banyak menyelesaikan masalah negara, kata dia, Soekarno memiliki misi untuk membawa ke mana tujuan bangsanya.

“Soekarno membuat dan mengingatkan semua orang bahwa mereka menjadi rakyat Indonesia. Itu yang selalu saya ingat. Di mana pun warga Indonesia berada, mereka bangga menjadi bangsa Indonesia, karena Soekarno menanamkan itu. Pemimpin harus seperti itu, bukan yang loyo,” jelasnya.

Sementara itu, tokoh senior Partai Golkar, Akbar Tanjung, mengungkapkan, pemimpin yang baik adalah pemimpin yang memikirkan kemaslahatan banyak orang, bukan hanya kepentingan pribadi. Namun, sosok pemimpin tersebut sulit ditemukan saat ini.

“Sulit kita mendapatkan pemimpin yang seperti itu dalam kondisi sekarang ini. Di situasi politik sekarang ini, politik dimaknai untuk mendapatkan kekuasaan dan kekuasaan saat menjadi pimpinan hanya dipakai untuk mencari kekayaan dan kehormatan,” terangnya.

Ia mengatakan bahwa saat ini Indonesia kehilangan sosok pemimpin yang dapat dijadikan teladan untuk membangun bangsa yang bersih. “Kita membutuhkan orang-orang yang menjadi teladan. Kita ingin membangun kehidupan politik yang benar sehingga menghasilkan pemimpin yang terpanggil untuk memperbaiki negara ini. Itu haruslah pemimpin yang kuat memiliki misi profetik untuk membawa kebenaran,” pungkas Akbar.

Beginilah keadaan penguasa Negara Kleptokrasi Republik Indonesia.

Gaya Hidup Pejabat Negara

Selasa, 28 Februari 2012 | 13:50 WIB ·

karikatur (Indopos)Anda tahu harga jam tangan Ruhut Sitompul? Katanya, politisi partai Demokrat ini menggunakan jam tangan berharga Rp 450 juta. Sedangkan Anis Matta, yang juga salah satu pimpinan Partai Keadilan Sejahtera (PKS), mengenakan jam tangan seharga Rp 70 juta.

Itu baru harga jam tangan. Coba tengok harga mobil para pejabat negara itu. Konon, ada tiga anggota DPR yang punya mobil seharga Rp 7 milyar. Sementara harga mobil rata-rata pejabat menteri berkisar antara Rp 400 juta hingga 1,325 miliar. Bagaimana dengan harga rumah dan kekayaan lainnya?

Nah, bagaimana dengan gaji Presiden? Berdasarkan peringkat gaji presiden tertinggi di dunia, gaji Presiden SBY menempati peringkat ke-16. Ia berada di atas peringkat gaji Presiden Rusia, Dmitry Medvedev, yang memimpin negeri yang jauh lebih maju dan lebih makmur dibanding Indonesia.

Gaji Presiden SBY mencapai US$ 124.171 atau sekitar Rp 1,1 miliar per tahun. Gaji itu setara dengan 28 kali lipat dari pendapatan per kapita Indonesia. Bahkan, jika dikaitkan dengan PDB per-kapita masing-masing negara, gaji Presiden SBY tercatat di peringkat ketiga di dunia. Gaji Pesiden SBY mencapai 28 kali PDB per-kapita.

Lebih tragis lagi, menurut Anis Matta, dirinya membeli arloji seharga Rp70 juta sebagai aksesoris untuk ‘memantaskan’ dirinya sebagai pejabat publik. Artinya, di mata Anis Matta, standar seorang pejabat publik harus punya, diantaranya, jam tangan paling murah Rp70 juta.

Apakah harus begitu? Bung Hatta, Wakil Presiden Republik Indonesia yang pertama, mengatakan, seorang pemimpin haruslah mengambil beban yang lebih berat; ia harus tahan sakit dan tahan terhadap cobaan; ia juga tidak boleh berubah hanya karena kesusahan hidup. “Keteguhan hati dan keteguhan iman adalah conditio sine qua non (syarat yang utama) untuk menjadi pemimpin,” kata Bung Hatta.

Dengan demikian, di mata Hatta, seorang pejabat negara atau pemimpin tidak boleh punya gaya hidup mewah. Sebab, gaya hidup mewah akan menuntut biaya hidup yang tiggi pula. Tentunya, hal itu akan memaksa si pejabat akan menggunakan segala macam cara untuk membiayai gaya-hidupnya itu.

Hatta sendiri adalah seorang sosok pemimpin sederhana. Ia melamar istrinya dengan sebuah mas kawin berupa buku karyanya sendiri. Ia juga harus menabung bertahun-tahun untuk memenuhi keinginannnya membeli sepatu. Konon, Hatta pernah negosiasi panjang dengan kusir bendi soal tariff. Akan tetapi, karena tidak terjadi titik temu, Hatta pun memilih jalan kaki.

Bung Karno juga begitu. Semasa hidupnya, sebagaian besar pakaian kebanggaan Bung Karno dijahit dan dipermak sendiri. Salah satu seragam kebesaran Bung Karno adalah pakaian bekas militer wanita Australia.

Orang bisa mengatakan jaman sudah berubah. Apakah bisa begitu? Tidak juga. Buktinya, Fidel Castro, Presiden Kuba, hanya menerima gaji sebesar 900 peso atau kira-kira 36$ per bulan. Atau, mari kita dengar cerita tentang Ahmadinejad. Konon, Presiden paling dibenci oleh AS ini tidak menerima gajinya. Ketika ia pertama kali menempati jabatan Presiden, ia memerintahkan menggulung karpet antik peninggalan Persia untuk dimuseumkan. Ia juga menolak kursi VIP di pesawat kepresidenan. Bahkan ia memilih tinggal di rumahnya yang sederhana.

Kenapa bisa berbeda begitu? Ini menyangkut beberapa hal. Pertama, ini adalah soal mendefenisikan kekuasaan. Di jaman Bung Karno dan Bung Hatta, kekuasaan dianggap sebagai sarana untuk memperjuangkan masyarakat adil dan makmur. Sedangkan sekarang, kekuasaan dijadikan sarana untuk memperkaya diri sendiri. Kedua, politisi di jaman Bung Karno dibimbing oleh sebuah ideologi atau keyakinan politik. Sedangkan pejabat publik sekarang berjalan tanpa ideologi dan tanpa keberpihakan kepada rakyat. Ketiga, sistim politik kita makin terkomoditifikasi dan jabatan politik tak ubahnya barang dagangan.

++++
Hak Asasi, Gaya Hidup Pejabat Tak Bisa Diatur
Sandro Gatra | Glori K. Wadrianto | Jumat, 18 November 2011 | 12:28 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — Gaya hidup pejabat negara dinilai tidak bisa diatur dalam suatu peraturan. Pasalnya, gaya hidup, salah satunya mempertontonkan kemewahan, merupakan hak asasi setiap warga.

Hal itu dikatakan Dekan FISIP UIN Syarif Hidayatullah, Bahtiar Effendy, dan mantan Menteri Pemuda dan Olahraga ketika Kepemimpinan Presiden Gus Dur, Mahadi Sinambela, dalam diskusi di Dewan Perwakilan Daerah (DPD) bertema “Betulkah Pejabat Negara Hedonistis?”, Jumat (18/11/2011).

“Kita enggak bisa melarang orang menikmati kekayaan. Kalau anggota DPR pakai mobil Bentley punya sendiri, kita enggak bisa melarang. Kita hanya bisa bertanya, apakah pantas sebagai pejabat publik,” kata Bahtiar.

Mahadi mengatakan, pengaturan gaya hidup itu hanya terjadi ketika zaman kepemimpinan Presiden Soeharto. Pada zaman reformasi saat ini, kata dia, setiap warga bebas mempertontonkan kekayaan hasil kerjanya. “Negara sosialis yang melarang-larang,” kata dia.

Bahtiar mengatakan, solusi mengerem gaya hidup mewah dengan instruksi lisan pimpinan lembaga masing-masing. Cara lain dengan mempraktikkan gaya hidup sederhana agar diikuti pejabat lain. “Seperti Pak Dahlan Iskan (Menteri BUMN) dan Pak Jusuf Kalla (waktu menjabat Wakil Presiden),” ucap dia.

++++

http://www.republika.co.id/berita/nasional/umum/11/11/29/lveqbm-pejabat-negara-hedonispantas-saja-korupsi-tumbuh-subur

Pejabat Negara Hedonis…Pantas Saja Korupsi Tumbuh Subur!

Selasa, 29 November 2011 12:38 WIB

REPUBLIKA.CO.ID, SEMARANG – Pakar komunikasi Universitas Diponegoro Semarang Turnomo Rahardjo menilai, gaya hidup hedonis yang ditunjukkan pejabat tinggi turut memicu dan melestarikan praktik korupsi di negeri ini. “Saat seseorang terbiasa dengan gaya hidup mewah, sulit untuk mengubah gaya hidupnya menjadi sederhana,” katanya di Semarang, Selasa, menanggapi gaya hidup hedonis kalangan pejabat tinggi.

Ia mengakui, banyak pejabat negara yang berlatar belakang pengusaha sehingga sudah kaya secara ekonomi sebelum menduduki jabatan publik. Sikap hedonis ini masih terbawa setelah mereka menjadi pejabat.

Namun, kata dia, apabila latar belakang pejabat negara bukan dari kalangan ekonomi atas, maka yang terjadi ada kelabilan saat mereka memasuki dunia yang cenderung menunjukkan kemewahan hidup.

“Bagi mereka yang sebelumnya sudah kaya, susah juga mengubah kebiasaaannya meski sudah jadi pejabat, namun bagi mereka yang hidupnya semula biasa saja, budaya hedonis sanggup menyeret mereka untuk berlaku korup,” katanya.

Karena itu, kata pengajar Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Undip itu, yang patut dicurigai sebenarnya adalah mereka yang tadinya biasa saja, namun setelah menjadi pejabat gaya hidupnya berubah drastis.

Ia mencontohkan, gaya hidup hedonis yang ditunjukkan bisa dilihat dari barang-barang yang dipakainya, seperti mobil, rumah, dan sebagainya yang kemungkinan justru melebihi gaji yang didapatnya.

Memang tidak semua pejabat bergaya hidup hedonis, kata dia, namun jika ada pejabat yang menunjukkan gaya hidup mewah sebenarnya menjadi potret kesenjangan sosial, sebab mereka menjadi panutan rakyat.

Menurut dia, cermin hidup mewah yang ditunjukkan pejabat sebenarnya tak hanya bisa dilihat di kalangan pusat, sebab pejabat-pejabat daerah pun melakukan hal serupa, menunjukkan gaya hidup bermewah-mewah.

“Yang jelas menampakkan kesenjangan sosial, saat sebagian besar masyarakat bekerja keras untuk bisa makan sehari-hari, sebagian lain justru berlomba-lomba menampilkan mobil jenis terbaru,” katanya.

Turnomo mengharapkan kalangan pejabat bisa menahan diri untuk tidak bergaya hidup mewah, sebab mereka menjadi panutan rakyat dan menghindari kesan kesenjangan ekonomi yang sangat besar.

Redaktur: Siwi Tri Puji B
Sumber: Antara

 

28
Feb
12

IndoGreenWay : Makanan Sehat

Selasa, 28/02/2012 07:07 WIB

Makanan Sehat

Merry Wahyuningsih – detikHealth

Makanan Sehat yang Tak Bikin Cepat Haus

img
(Foto: thinkstock)

Jakarta, Tubuh manusia 70 persennya adalah air, sehingga perlu menjaga tubuh tetap terhindrasi untuk membuat tubuh berfungsi dengan benar. Ada beberapa makanan yang banyak mengandung air dan membuat Anda tak cepat haus.

Kehilangan cairan tubuh atau dehidrasi kadang tidak disadari. Kebanyakan orang hanya berpikir harus minum air ketika merasa haus. Padahal minum saat sudah kehausan adalah tanda tubuh sudah dehidrasi.

Efek dehidrasi antara lain sakit kepala, kelelahan, kesulitan berkonsentrasi, ketegangan dan kecemasan.

Ada tiga jenis makanan yang dapat mencegah terjadi dehidrasi dan membuat Anda tak cepat haus, seperti dilansir timeofindia, Selasa (28/2/2012):

1. Buah-buahan segar berair

Berikut adalah berbagai buah-buahan yang dapat Anda pilih jika Anda tidak minum air yang banyak. Buah yang terbaik adalah semangka, yang memiliki kadar air maksimal di dalamnya. Buah-buahan segar akan memberikan hidrasi yang diperlukan agar tubuh merasa lebih baik dan lebih sehat.

Beberapa contoh lain adalah apel, kiwi, jeruk, kelapa, stroberi dan semua jenis berry.

2. Sayuran berdaun hijau

Sayuran hijau segar menyediakan nutrisi yang membantu tubuh untuk tetap terhidrasi dan tidak terlalu berat dengan makanan lain. Lebih baik makan sayuran mentah. Memasak sayuran akan mengeluarkan kelembaban alami dan mengurangi kandungan air.

3. Sup atau kaldu berbasis air

Sup atau kaldu dapat memberikan beberapa cairan yang dibutuhkan tubuh. Cobalah sup ayam sayur, jika Anda tidak suka ayam maka cobalah sup sayuran.

(mer/ir)

BACA JUGA :

47 Resep IndoGreenWay

http://www.hdindonesia.com/gabung.asp?id=indogreenway

Opini 19 Pakar HD

Persembahan Bagi Kesehatan Masyarakat

Profil 19 Produk IndoGreenWay

Senin, 27/02/2012 18:28 WIB

MakananBakarLemak

Merry Wahyuningsih – detikHealth

Makanan yang Bantu Bakar Lemak Saat Tidur
img
Ilustrasi (dok: Thinkstock)

Jakarta, Siapa bilang saat tidur Anda tak bisa membakar lemak? Bila Anda mengonsumsi makanan tertentu sebelum tidur, maka kandungan nutrisinya bisa membantu tubuh untuk membakar lemak saat tidur. Makanan apa saja?

Makanan yang bisa membantu membakar lemak saat tidur biasanya mengandung rendah kalori tapi sangat bergizi. Tak hanya dikonsumsi menjelang tidur, makanan-makanan pembakar lemak ini juga bisa dikonsumsi sepanjang hari untuk mendapatkan manfaat lebih.

Berikut beberapa makanan yang bisa bantu bakar lemak saat tidur, seperti dilansir Livestrong, Senin (27/2/2012):

1. Jeruk
Jeruk mengandung serat pembakar lemak dan vitamin C. Vitamin C dapat merangsang kemampuan tubuh untuk membakar lemak yang ditemukan dalam asam amino karnitin. Vitamin C juga memainkan peran dalam kemampuan memproses lemak tubuh, dengan mempercepat proses penipisan lemak dan kemudian membuangnya dari tubuh.

Tak hanya buah jeruk, beberapa buah yang mengandung citrus juga bisa membantu membakar lemak saat tidur, contohnya jambu, lemon, jeruk keprok, pepaya dan tomat.

2. Sayur-sayuran
Sayuran menyediakan protein nabati, yang akan lebih lama dicerna oleh tubuh sehingga dapat membakar lebih banyak kalori. Makan semangkuk sup atau salad untuk makan malam dapat membantu membakar kalori selama jam tidur malam. Kacang-kacangan seperti lentil, kacang polong, buncis juga bisa membakar lebih banyak kalori.

3. Produk susu
Minum produk susu sebelum tidur juga bisa membantu membakar lemak saat tidur. Susu dapat menurunkan berat badan dengan membantu dalam pemecahan sel lemak, karena mengandung banyak kalsium.

Selain itu, susu juga merupakan sumber korbohidrat kompleks, yang membantu menjaga tingkat insulin tetap rendah. Tingkat insulin yang rendah akan meningkatkan metabolisme dan membakar kalori lebih banyak.

4. Gandum utuh
Gandum utuh mengandung nutrisi yang membakar lemak dengan menjaga tingkat insulin rendah, menurut New York Daily News. Gandum utuh menyediakan sumber yang sangat baik dari karbohidrat kompleks dan serat, yang sangat bermanfaat dalam merangsang metabolisme. Tak hanya gandum utuh, beras merah dan barley juga efektif untuk membakar lemak saat Anda sedang tidur.

(mer/ir)

 

Artikel terkait :

27
Feb
12

Pakem : 3 x 7 Strategi Penegak Konstitusi Proklamasi 1945

https://jakarta45.files.wordpress.com/2012/02/pkp-1945-_033.jpg

Strategi 7 Sehat [Pandji R Hadinoto]

Tubuh Negara-Bangsa

1. Sehat Bermasyarakat
2. Sehat Berbangsa
3. Sehat Bernegara
4. Sehat Politik Hukum Perundang-undangan

Tubuh Manusia

5. Sehat Logika/Nalar
6. Sehat Rohani/Jiwa
7. Sehat Jasmani/Raga

Strategi 7 Ketahanan Bangsa [alm HR Soeprapto]

1. Kehidupan Agama tidak Rawan
2. Kehidupan Ideologi tidak Retak
3. Kehidupan Politik tidak Resah
4. Kehidupan Ekonomi tidak Ganas
5. Kehidupan Sosial Budaya tidak Pudar
6. Kehidupan HanKamNas tidak Lengah
7. Kehidupan Lingkungan tidak Gersang

Strategi 7 Kemenangan Hidup [Gus Sholeh]

1. Yang tetap Sejuk ditempat yang Panas
2. Yang tetap Manis ditempat yang Pahit
3. Yang tetap Merasa Kecil ealau telah menjadi Besar
4. Yang tetap Tenang ditengah Badai yang Dahsyat
5. Yang tetap berSyukur atas segala Karunia-Nya
6. Yang tetap Istiqomah di Jalan-Nya
7. Yang tetap menggantungkan harapan hanya kepada Tuhannya

Pengaman Zona Euro

AntaraAntara
Prancis : ‘Lebih Cepat Lebih Baik’ untuk Pengaman Zona Euro

Meksico City (AFP/ANTARA) – Menteri Keuangan Prancis Francois Baroin hari Minggu menyerukan kepada Eropa untuk cepat menyetujui meningkatkan sistem pengaman terhadap krisis utang, setelah pertemuan G20 di Meksiko yang mendesak untuk membahas kemajuan dalam masalah ini.

“Saya setuju dengan Wolfgang Schaeuble, bahwa bulan Maret adalah saat yang baik,” kata Baroin, mengacu pada tanggal yang diusulkan oleh rekannya dari Jerman, setelah pertemuan para menteri keuangan dan bank sentral di Mexico City.

Schaeuble mengatakan hari Sabtu bahwa Uni Eropa memiliki waktu bulan Maret untuk menentukan ukuran dari mekanisme pertahanannya.

“Secara obyektif, lebih cepat lebih baik,” kata Baroin.

Prancis berharap sejumlah dana untuk mengatasi krisis Eropa dan dukungan sumber daya Dana Moneter Internasional, dimana Eropa sedang mencari sebanyak mungkin, kata Baroin.

Semakin besar sumber daya, “akan lebih sedikit serangan.”

Perdebatan Eropa tidak harus menunda diskusi pada peningkatan sumber daya untuk Dana Moneter Internasional (IMF), lanjutnya, setelah G20 mendesak zona euro untuk menyepakati sistem pengaman yang lebih besar sebelum negara-negara lain memberikan lebih banyak uang kepada IMF.

“Ini bukan tentang menjawab pertanyaan: ‘Yang datang pertama, ayam atau telur? Ini tentang bergerak maju bersama-sama pada kedua isu,” katanya. (nm/mp)

Berita Lainnya

25.02.2012 11:38

Alternatif Politik ?

Penulis : Sulung Prasetyo

Rakyat Butuh Alternatif Politik

JAKARTA – Tingginya angka ketidakpercayaan masyarakat pada partai politik (parpol) diperkirakan akan menyebabkan makin banyak orang menjadi golongan putih (golput).

Kondisi tersebut jelas mencemaskan bagi perkembangan demokrasi di Indonesia. Calon pemimpin independen, pembentukan parpol baru, atau pembenahan total sistem demokrasi di Indonesia bisa diajukan sebagai opsi solusi masalah.

Demikian beberapa kesimpulan diskusi bertema “Menyimak Hasil Survei Mutakhir tentang Tingkat Penilaian Masyarakat atas Kinerja Pemerintahan, Runtuhnya Kepercayaan pada Parpol, Melonjaknya Golput” yang digelar Perkumpulan Alumni Tsinghua University Indonesia (Perti), Lembaga Indonesia China (LIC) bekerja sama dengan Harian Shang Bao dan Sinar Harapan, di Jakarta, Jumat (24/2).

“Saat ini masyarakat seperti merasa adanya stagnasi dan ketidakpastian pada sistem demokrasi di Indonesia,” papar Sunny Tanuwidjaja, peneliti dari Centre for Strategic and International Studies (CSIS).

Penilaian Sunny tersebut merupakan analisis dari beberapa survei yang dilakukan CSIS. Dalam survei penilaian publik terhadap pemerintah, terlihat publik tak puas dengan pemberantasan korupsi dan penegakan hukum yang terjadi selama ini.

Sementara untuk parameter kontribusi ekonomi dan kepemimpinan presiden, nilai ketidakpuasan menduduki peringkat tertinggi. Jadi wajar bila kemudian survei mengenai demokrasi sebagai sistem terbaik saat ini, salah satu jawaban terbesar yang ada adalah tidak yakin.

Faisal Basri, pengamat politik dan ekonomi yang juga maju dalam pencalonan gubernur DKI Jakarta, yang juga turut hadir pada diskusi tersebut, lebih mengajukan opsi calon independen untuk presiden mendatang guna mengatasi masalah cacat demokrasi di Indonesia yang ada saat ini.

“Independen bukan musuh partai, karena independen tidak akan hidup kalau partai-partai yang ada sekarang dapat dianggap baik,” ujar Faisal.

Namun usulan independensi tersebut sebenarnya memiliki riwayat yang tak enak di Indonesia, seperti yang dijabarkan anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Rieke Dyah Pitaloka. Menurut Rieke, satu-satunya daerah di Indonesia yang pernah mempraktikkan calon independen tersebut adalah Garut.

Meskipun akhirnya calon independen meraih kemenangan, program kerja tersendat-sendat karena tak ada dukungan dari Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) setempat yang didominasi orang parpol.

“Jadi secara filsafat politik, segala persoalan yang ada saat ini merupakan bentuk demokrasi yang tidak akan pernah selesai dan terus berkembang,” urai Rieke.

Pengamat ekonomi Christianto Wibison menyatakan agar tak perlu terlalu memaksakan calon presiden independen sebagai alternatif solusi. Ini karena adanya sebuah partai baru yang lebih benar-benar mencirikan demokrasi dan menampilkan profil presiden yang baik merupakan solusi yang lebih baik ketimbang adanya calon independen.

Sementara untuk urusan golput yang makin membeludak saat ini harus dicermati dengan lebih bijak. “Golput harus diorganisasi menjadi sebuah partai yang mampu memperbaiki Indonesia,” ungkapnya.

Secara umum, akar masalah demokrasi saat ini lebih mengarah pada sistem konstitusi yang tak jelas. Satu pihak menjalankan presidentil, pihak lain juga menjalankan konstitusi parlementer.

Kerancuan tersebut mengakibatkan banyak hasil keputusan dan tindakan berpolitik di Indonesia menjadi tidak seperti yang diinginkan demokrasi itu sendiri. Salah satu upaya yang paling utama untuk dilakukan adalah perombakan secara mendasar pada konstitusi politik di Indonesia, yang ditetapkan hanya pada satu konsep pilihan demokrasi.

Ada Empat Pilar

Minggu, 26 Februari 2012 02:37 WIB |

Ada Empat Pilar menjawab Persoalan Bangsa

Sosialisasi Empat Pilar Wakil Ketua MPR Lukman Hakim Saifuddin (kanan) bersama Melani Leimena Suharli (kiri). (FOTO ANTARA/Yudhi Mahatma) ()
Berita Terkait

Medan (ANTARA News) – Wakil Ketua MPR RI A Lukman Hakim Saifuddin mengatakan empat pilar bernegara yakni Pancasila, UUD 1945, Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dan Bhinneka Tunggal Ika merupakan jawaban atas persoalan bangsa ini.

“Saat ini bangsa kita dilanda persoalan yang belum mendapatkan jalan keluarnya, seperti persoalan moralitas, nasionalisme, dan kenakalan remaja. Karena itu penanaman nilai-nilai empat pilar kebangsaan itu menjadi merupakan solusinya,” katanya di Medan, Sabtu, saat membuka seminar Peningkatan Pemahaman Empat Pilar Kehidupan Bernegara.

Pada seminar yang merupakan kerja sama MPR RI dan Universitas Negeri Medan (Unimed) itu, ia mengatakan dulu penanaman nilai Pancasila dilaksanakan oleh BP7, namun selanjutnya ditiadakan.

Oleh karena itu, kata dia, pimpinan MPR RI mencanangkan perlunya menghidupkan kembali penanaman nila-nilai empat pilar kebangsaan itu.

Menurut dia Indonesia merupakan negara dengan pluralitas yang tinggi dan bisa berpotensi terjadinya masalah destruktif dan merusak persatuan nasional.

“Hal itu bisa saja terjadi jika potensi tersebut tidak dikelola dengan baik dan tepat,” katanya.

Bentangan geografis Indonesia yang panjang dan memiliki tiga perbedaan waktu, keragaman suku dan agama, sebenarnya menjadi potensi luar biasa bagi kemajuan bangsa ini.

Namun hal itu bisa juga menjadi potensi negatif secara geografis dan ekonomis karena bisa saja diintervensi kekuatan asing.

Oleh karena itu, kata dia, pimpinan MPR RI mencanangkan menanamkan empat pilar kebangsaan itu agar negeri ini tidak seperti beberapa negara yang terpecah belah setelah sekian lama bersatu.

“Mari kita membayangkan Indonesia akan tetap bertahan sampai ratusan tahun kemudian dan menjadi lebih maju. Ini terwujud karena pengikat persatuannya terangkum dalam empat pilar kebangsaan.

Rektor Unimed Prof Ibnu Hajar Damanik mengatakan, dalam beberapa tahun belakangan ini Unimed terus berupaya menerapkan “character building university” dan penanaman nilai pendidikan karakter itu diintegrasikan dalam metoda pendidikan di kampus.

Program tersebut sejalan dengan rencana strategis Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan untuk menciptakan generasi terbaik bangsa ini dalam menghadapi tingkat persaingan global yang semakin pesat dan terbuka.

Penanaman pendidikan karakter itu sejalan dengan penanaman nilai empat pilar kebangsaan karena pemuda berkarakter berarti memiliki integritas, kualitas dan kecintaan tinggi kepada bangsanya agar lebih baik serta maju dari sebelumnya.
(T.KR-JRD/E005)

Editor: Ruslan Burhani

COPYRIGHT © 2012

Senin, 13 Februari 2012

Suku-suku Muslim di Tiongkok dan Tionghoa Islam Nusantara

Muslim di Tiongkok

Jumat, 24 Februari 2012

Suku-suku Muslim di Tiongkok dan Tionghoa Islam Nusantara (12)

Suku Hui Siarkan Islam ke Nusantara

Suku Hui, komunitas muslim yang istimewa di mata Beijing
Repro: Biro Budaya Tiongkok

KB ketat Tiongkok: satu keluarga satu anak, tak berlaku untuk suku Hui, komunitas muslim yang istimewa di mata Beijing

Pemerintah Republik Rakyat Tiongkok (RRT) memiliki pandangan lebih lunak terhadap Islam daripada Kristen karena Islam dipandang agama pribumi warga Tiongkok.

Pemerintah RRT mendirikan Asosiasi Islam China (CIA) untuk pemberdayaan kesejahteraan warga minoritas muslim. Bahkan sejak tahun 2010, lisensi makanan dan minuman halal yang dikeluarkan pemerintah RRT lebih kuat di Timur Tengah maupun Eropa, daripada keluaran Majelis Ulama Indonesia maupun Malaysia.

Serbuan produk-produk halal dari Tiongkok bukan hanya ke Timur Tengah maupun Eropa melalui jalur darat, namun di jalur laut juga menembus pasar halal Australia maupun benua Amerika bagian utara.

Persaingan bisnis makanan-minuman berlabel halal dari Tiongkok ini membuat negara-negara di Asia Tenggara yang memiliki komunitas Islam besar menekan pemerintahnya untuk membatasi peredarannya.

Poros Beijing-Dubai-Riyadh terbentuk, salah satu kegiatan ekonomi yang menjadi saingan Amerika dan Eropa sejak pengujung tahun 2010, selaras krisis keuangan melanda dua benua itu.

Salah satu suku yang menjadi duta Beijing itu, berasal dari suku Hui, sebuah komunitas minoritas terbesar ketiga dari 55 minoritas yang diakui resmi RRT. Meskipun mereka terdiri kurang dari 1% penduduk Tiongkok, mereka kelompok muslim terbesar dengan 8.603.000 anggota resmi di data pemerintah.

Sedangkan data tak resmi lebih besar lagi, selaras program keluarga berencana (KB) ketat yang digalakkan Beijing, satu keluarga satu anak. Anak kedua di sebuah keluarga di Tiongkok, tak dapat tunjangan kesehatan gratis dan pendidikan gratis selama 12 tahun pendidikan. Peraturan KB ketat itu, tidak diberlakukan kepada suku Hui. Namun beberapa keluarga Hui menyembunyikan status anak angkatnya dengan menyekolahkannya di asrama-asrama Islam di Asia Tengah maupun di Asia Tenggara.

Kehidupan ekonomi yang lebih baik daripada suku-suku minoritas lain di Tiongkok, menjadikan Hui salah satu pemain besar di RRT. Salah satu, tentara khusus penjaga keselamatan Ketua Besar Mao Jedong berasal dari suku Hui, seorang Muslim yang taat, tak makan daging babi dan arak, membuatnya kuat untuk menjaga Ketua Besar hingga kemenangan Ketua Mao di tahun 1949.

Sejarah itu, membuat Hui paling diterima berdampingan suku Han memerintah RRT sampai sekarang ini. Perdana Menteri Tiongkok Wen Jiabao (masih menjabat sampai tahun 2012 ini), seorang suku Han namun khatam membaca kitab suci suku Hui, Alquran yang juga kitab agama Islam.

Kemahirannya dalam membaca Alquran dan diterjemahkannya ke dalam Bahasa Mandarin, membuat kagum pemerintah Qatar, sehingga menjalin kerja sama ekonomi dalam pengembangan teknologi nano maupun perminyakan. Negara di Asia Tenggara yang berkesempatan mendengarkan PM Wen Jiabao membaca kitab suci Alquran, Indonesia, tepatnya di perguruan Al-Azhar Jakarta, dan menjadi berita heboh di Aljazeera.

Hui menikmati banyak hak istimewa yang mencirikan etnis minoritas Tiongkok: mereka menerima subsidi pemerintah untuk daging sapi, dan mereka diperbolehkan memiliki lebih dari satu anak.

Populasi suku Hui telah meningkat tajam melalui migrasi, perkawinan dan adopsi. Hui, keluarga yang paling sering mengadopsi anak-anak Han, membesarkan mereka sebagai muslim dan menerima mereka sebagai Hui.

Hui memiliki unit administrasi yang lebih otonom daripada minoritas lain, dan komunitas mereka ditemukan dalam pengaturan baik di pedesaan dan perkotaan. Karena nafsu berkelana bersama dengan kesediaan untuk pergi ke mana pun peluang berdagang muncul, membuat Hui tersebar di seluruh Tiongkok.

Hui memiliki berbagai macam pekerjaan yang berhubungan dengan pembatasan Islam pada diet dan kebersihan (maksudnya makanan halal): restoran, pemilik penginapan, gembala, petani, kavaleri, caravanserai, tukang daging, penyamak kulit, pedagang teh, perhiasan, interpreter, dan ulama.

Pada bagian arah Barat-laut Tiongkok, paras Hui lebih ke Asia Tengah daripada paras suku Han Tionghoa. Suku Hui pada kawasan itu, mereka memiliki bola mata hijau hazel, jenggot panjang, tinggi, dan hidung mancung, bahkan memiliki rambut merah (pirang versi Bahasa Indonesia).

Pemerintah berikan dana rekonstruksi masjid dan telah memberikan izin untuk literatur Islam yang akan diterbitkan dan dijual. Pada tahun 1989, universitas Tionghoa muslim pertama dibuka di kota Xian, sekaligus pusat dunia Islam di Asia Timur.

Hui telah meminta suara lebih besar dalam urusan-urusan mereka sendiri. Pada tahun 1989, di Beijing, sebelum insiden Lapangan Tiananmen, 3.000 muslim memprotes penerbitan buku Seksual Bea Cukai karena ada penulis menyatakan budaya Islam berpusat pada seks. Pemerintah mendengarkan, langsung melarang buku itu, mengancam hukuman mati kepada editor dan penulis kalau tak mau meminta maaf di depan umum.

Masuknya suku Hui menjadi muslim pertama kali, sejak awal pemerintahan Dinasti Tang (618-906) awal, ketika muslim Arab dan Persia pedagang menetap di pelabuhan Kanton, Guangdong, Guangzhou, dan Fujian.

Pertengahan abad ke-8, suku-suku Turki (subras Mongol) memberontak ke penguasa Dinasti Tang, merasa kalah teknologi, suku-suku itu meminta bantuan tentara Arab penjaga perbatasan Tiongkok-Persia, akhirnya bantuan tentara Arab meraih kemenangan dan menetap di kawasan Tiongkok barat laut. Dalam perkembangannya, penguasa Tang menjalin hubungan komandan tentara Arab untuk menjaga kawasan perbatasan.

Dari 1260-1368 Masehi, Dinasti Yuan yang didirikan Kubhilai Khan, cucu Jenghis Khan merekrut suku-suku Mongol yang beragama Islam sebagai tentara dan administrator. Banyak tentara dan pejabat ini menetap di Yunnan, Tiongkok selatan.

Anak-anak Jenghis Khan mendirikan pemerintahan otonom (kerajaan sendiri), sejarawan lain menyebutnya Khanate, namun bersatu dalam panji kebesaran Kerajaan Pan Mongolia Raya. Di awal abad 14, semua Khanate keturunan Jenghis Khan memeluk Islam, kecuali Dinasti Yuan yang beribu kota di Beijing dengan raja termasyhur Khubilai Khan.

Jenghis Khan sendiri penganut kepercayaan Tengri dengan kuil besarnya di Gunung Tian Shan (Kazakhstan). Berikut sebagian Khanate keturunan Jenghis Khan yang dalam perkembangan raja-rajanya menjadi muslim, Golden Horde (Angkatan Pengelana Emas) dengan ibukota kerajaannya di Moskow (Rusia), Blue Horde (Angkatan Pengelana Biru), White Horde (Angkatan Pengelana Putih) di Eropa Timur, Mongul beribu kota di Delhi (India), Amir Timur Lenk (Pemimpin Timur yang Pincang), dan lain-lain.

Ketika suku-suku Islam di zaman Dinasti Yuan, Ming, hingga Qin (runtuh tahun 1911) identik menjadi tentara, suku Hui lebih kentara di perdagangan dan pemerintahan.

Keistimewaan suku Hui di mata Beijing saat ini, juga memiliki sejarah kelam, di pertengahan Dinasti Ming (1368-1644), Tiongkok ingin menyingkirkan suku-suku asing yang memiliki bola mata biru dan hijau, berambut pirang atau merah, memiliki kulit bule, dan tak bermata sipit. Segala sesuatu yang berbau budaya asing, dianggap menodai kebudayaan Han, salah satu korban tragedi ini semua kapal pusaka (kapal terbesar di waktu itu) pimpinan Laksamana Zeng He (Cheng Ho), dibakar habis.

Untuk menghindari penganiayaan, suku-suku muslim maupun campuran mengadopsi kebudayaan dan bahasa Tionghoa. Seiring waktu, penampilan mereka menjadi tidak bisa dibedakan dengan suku Han, baik adat istiadat maupun bahasa suku Han, meskipun mereka mempertahankan akar Islam mereka dan budaya.

Di sisi lain, merantau ke Asia Tenggara dan menjadi penyiar Islam di Nusantara. Laskar Giri Kusuma yang didirikan Sunan Giri (1478), di awal pendiriannya sebagiannya para santri suku Han Islam maupun Hui yang Islam yang merupakan pengungsi dari Tiongkok, berdakwah kepada warga lokal. Kemudian para santri Sunan Ampel yang berasal dari daerah Champa (Vietnam) sebagiannya juga suku Hui. Sampai saat ini (tahun 2012), suku Han beragama Islam di Pulau Hainan, disebut juga warga Hui Cham, sebab di zaman dulu ada negeri Champa yang diperintah penguasa Islam di zaman Dinasti Yuan (Laksamana Nasrudin).

Ketika Panembahan Jin Bun naik takhta dan menjadi Sultan Demak (1500) bergelar Sultan Sultan Fatah (meniru nama sultan Ottoman penakluk Romawi Byzantium, Sultan Fatih), menampung banyak pengungsi Hui di tentara dan pemerintahannya. Kekecewaan pada pemerintah Ming di Nanjing, pengurus perguruan Ampel Denta menginstruksikan membuang nama-nama dengan bantalan Han, dan menamainya dengan nama-nama lokal.

Pada masa Dinasti Qing (1644-1911), Beijing dikuasai bangsa Mancu dari Manchuria (atas Korea). Pemerintahan Manchu menganggap sudah tak ada bedanya antara suku Hui dan Han, kecuali agama yang dianutnya. Sehingga penguasa Mancu menganggap, suku Hui merupakan suku Han yang memeluk Islam, pengklasifikasian ini tercatat dokumen resmi pemerintahan Dinasti Qing.

Antara 1911-1949, pembangunan masjid oleh warga Hui meningkat. Pada tahun 1949, terdapat 20 ribu warga Hui di wilayah selatan Tiongkok melarikan diri ke Taiwan, menyusul kemenangan komunis di daratan. Hubungan suku Hui yang kala itu banyak di kawasan selatan Tiongkok, atau lebih dekat dengan Tibet dan Indo China (Asia Tenggara daratan) dengan suku-suku muslim di kawasan barat laut Tiongkok, memang jarang terjadi. Apalagi bahasa dan adat istiadat sangat jauh berbeda dengan suku-suku muslim di Tiongkok lainnya.

Selama Revolusi Kebudayaan (1966-1976), Pengawal Tentara Merah menghancurkan masjid, memaksa biksu dan biarawati Buddha untuk melanggar sumpah atau mengeksekusi mereka, dilarang mengajar bahasa Arab dan membakar salinan Alquran.

Namun sejak Deng Xioping memimpin Tiongkok, hak-hak warga Hui mulai diperhatikan bahkan sangat lebih dibandingkan dengan suku-suku muslim di Tiongkok lainnya. Khususnya, di pendidikan dan kesehatan, serta boleh memiliki anak lebih dari satu. Para pengungsi Hui di Taiwan, akhirnya banyak yang kembali ke kampung halamannya. Di sebagian yang lain pindah ke Pulau Hainan, karena ada ratusan ribu suku Hui hidup di pulau itu sejak abad 14.

Salah satu diktat yang dibacakan pengawal Deng Xioping ketika akan mengubur salah satu pahlawan revolusi yang beragama Islam, “Ingatlah keselamatan Ketua Mao (pendiri RRT) dijaga pahlawan Hui, dia tak makan daging babi dan tak minum arak, membuatnya selalu sehat walaupun jarang tidur, kejayaan Tiongkok di masa silam juga peran para pemikir Hui, kembalikan kehormatan Hui karena tetangga kita di barat semuanya negara-negara Islam, dan Hui bisa membantu negara kita melangkah jauh ke depan.” (habis)

Berita Utama

Jumat, 24 Februari 2012, 10:19:38 WIB

Ubah Demonstrasi Menjadi Gerakan Intelektualisme

Presiden SBY menyampaikan sambutan pembukaan Munas IX GM FKPPI di Asrama Haji Pondok Gede, Jakarta, Jumat (24/2) pagi. (foto: abror/presidensby.info)
Presiden SBY menyampaikan sambutan pembukaan Munas IX GM FKPPI di Asrama Haji Pondok Gede, Jakarta, Jumat (24/2) pagi. (foto: abror/presidensby.info)

Jakarta: Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mendukung pemikiran GM FKPPI yang mengusulkan agar ada perubahan paradigma dan perilaku gerakan kepemudaan dari yang bernuansa demonstratif, menjadi sebuah gerakan yang berbasis intelektualisme dan profesionalisme. “Saya dukung pemikiran seperti itu,” kata Presiden.

Hal tersebut diutarakan saat membuka Musyawarah Nasional IX Generasi Muda Forum Komunikasi Putra-Putri Purnawirawan dan Putra-Putri TNI Polri (GM FKPPI) Tahun 2012 di Ruang Serbaguna II, Asrama Haji Pondok Gede, Jakarta, Jumat (24/2) pagi.

Kepala Negara setuju dengan argumen tersebut karena kekuatan pemuda, termasuk mahasiswa, justru bersumber dari daya intelektualnya untuk menyampaikan gagasan yang segar, menjangkau, dan profesionalisme. “Kita ingin negara kita kaya akan paradigma seperti itu, sehingga tidak kering idealisme dan bisa menata serta membangun diri lebih baik lagi,” SBY menambahkan.

Selain itu, SBY juga mendukung tekad GM FKPPI untuk meningkatkan solidaritas dan persaudaraan serta mengutamakan persatuan dan kesatuan bangsa. Sebaiknya bukan sekadar tekad, tapi lebih dari itu. “Saya harap FKPPI menjadi dan memberi contoh memperkuat persaudaraan dan solidaritas serta memperkuat persatuan dan kesatuan bangsa,” ujar SBY.

Di era kebebasan dan demokrasi seperti saat ini, Presiden menambahkan, ada yang terasa melemah, yaitu solidaritas, persaudaraan, serta persatuan dan kesatuan di antara kita. Misalnya, munculnya kembali aksi-aksi kekerasan, main hakim sendiri, premanisme, dan konflik komunal serta horizontal. “Ini sesuatu yang berlebihan dari reformasi yang dijalankan, ini sesuatu yang berlebihan dari cara-cara yang keliru menggunakan kebebasan hak dan individu,” Presiden SBY menjelaskan.

“Saya mengajak dan mendorong keluarga besar FKPPI berjuang untuk mengubah keadaan yang tidak baik itu,” kata Presiden. “Yang baik, dukung, karena itu amanah dan agenda reformasi. Yang ternyata tidak membawa kebaikan setelah 13-14 tahun reformasi berjalan tentu harus dihentikan dan ubah,” Presiden menambahkan.

Presiden berharap FKPPI dan semua pihak dapat ikut mencegah dan menganggulangi aksi kekerasan yang hanya membuat hidup rakyat tidak tenteram. SBY juga mengajak untuk memastikan agar semua bentuk hak dan kebebasan digunakan secara patut. “Jangan justru penggunaan hak dan kebebasan secara berlebihan membuat negeri kita tidak aman, tertib, serta stabil, dan mengganggu kehidupan masyarakat sehari-hari,” Presiden menandaskan. (dit)

 

 

Link Terkait:

Presiden Buka Munas IX GM FKPPI

24
Feb
12

Keuangan : Memutar atau Menimbun ?

Pilih Mana

Oleh Herry Gunawan | Newsroom Blog – Rab, 22 Feb 2012
Pilih Mana : Memutar Uang atau Menimbunnya ?

Beberapa waktu lalu, Badan Pusat Statistik mengumumkan besaran Produk Domestik Bruto Indonesia tahun 2011 mencapai sekitar Rp 7.400 triliun. Angka inilah yang biasa dijadikan indikator besarnya pendapatan nasional Indonesia dalam satu tahun tertentu itu.

Menariknya, jika kita melihat data jumlah uang yang beredar, nilainya tidak sebesar itu melainkan “hanya” kurang lebih Rp 280 triliun. Lantas bagaimana bisa jumlah uang beredar sekecil itu menghasilkan pendapatan nasional yang demikian besar?

Kuncinya ada pada perputaran uang yang beredar.

Ekonom berkebangsaan Amerika Serikat, Irving Fisher, pernah mengatakan bahwa harga barang tidak hanya dipengaruhi oleh jumlah uang beredar. Namun juga dipengaruhi oleh kecepatan peredaran uang. Dalam ekonomi, hal ini biasa disebut teori kuantitas uang.

Hubungannya dengan pengumuman BPS tadi, untuk menghasilkan pendapatan nasional sebesar Rp 7.400 triliun dengan jumlah uang beredar sebesar Rp 280 tiliun, maka rata-rata tiap rupiah harus berputar atau berpindah tangan sebanyak 26 kali dalam bentuk transaksi.

Semakin cepat uang itu berpindah, perputarannya makin tinggi. Maka celaka jika uang yang ditabung masyarakat di bank tidak disalurkan dalam bentuk kredit, melainkan disimpan dalam Sertifikat Bank Indonesia. Jelas tidak produktif.

Ilustrasi ini menjelaskan betapa pentingnya perputaran uang terhadap perekonomian nasional. Sehingga jika Anda ingin memiliki kontribusi lebih terhadap perekonomian, maka jangan sekadar simpan uang Anda di bawah bantal. Selain karena nilai uangnya akan berukurang akibat inflasi, Anda juga ikut berperan menghambat laju percepatan perekonomian.

Seperti yang dilakukan bank dengan menyimpannya di surat berharga.

Meskipun sangat dianjurkan untuk mendorong pergerakan roda perekonomian, perputaran uang yang salah — seperti banyak menempatkan dana di surat berharga oleh perbankan — bisa menimbulkan masalah lain.

Akibat tidak tersalurkan ke sektor riil, perputaran uang pada sektor keuangan jauh lebih cepat dan meninggalkan perputaran uang pada sektor riil. Dengan begitu, pertumbuhan uang lebih cepat dibandingkan pertumbuhan barang. Akibatnya, nilai uang menjadi berkurang dan muncullah apa yang disebut dengan inflasi.

Terjun langsung dalam memutar uang seperti membuka usaha (yang dapat mempekerjakan orang) memang jauh lebih bagus dan nyata. Namun, untuk sebagian orang yang tidak mampu terjun langsung tentunya akan menyerahkan pada pihak ketiga. Misalnya yang paling sering terjadi, menyerahkannya kepada bank dalam bentuk tabungan atau deposito.

Agar perputaran uang tetap terjadi tetapi nilai uang tetap terjaga, maka sebagai pemilik dana kita harus sedikit teliti kemana harus mempercayakan aset itu. Jika memilih perbankan setidaknya kita harus tahu berapa Loan to Deposit Ratio (LDR) atau rasio pinjaman yang disalurkan dibanding dana pihak ketiga yang direngkuh bank.

Sehingga, kita bisa membayangkan kemana uang itu diputarkan. Jika rasio pinjaman terhadap dana pihak ketiga ini besar, kemungkinan uang kita untuk diputarkan pada sektor riil semakin besar. Sebaliknya, jika LDR ini rendah maka uang kita akan diendapkan dalam bentuk Sertifikat Bank Indonesia atau diputarkan di pasar uang — yang berarti potensi mendorong inflasi.

Pilihannya ada di kita. Ke mana mau kita gunakan uang kita? Apakah dibiarkan disimpan di bawah bantal dan habis dikorupsi oleh inflasi, atau diputar di pasar uang yang juga akan turut mendorong inflasi?

Atau, digunakan sebagai modal usaha di sektor riil yang berarti bermanfaat bagi kita sebagai pemilik uang?

Perputaran uang yang tinggi di sektor riil serta menekan inflasi agar lebih rendah akan memicu perekonomian nasional yang tumbuh berkualitas.

Herry Gunawan adalah mantan wartawan dan konsultan, kini sebagai penulis dan pendiri situs inspiratif: http://plasadana.com




Blog Stats

  • 3,373,329 hits

Recent Comments

Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Sejarah : Bangsa Lemuria, Lelu…