Archive for June, 2015

29
Jun
15

Ketuhanan : Misteri Keseimbangan Angka-angka Dalam Al Qur’an

Misteri Keseimbangan Angka-angka Dalam Al Quran

Alquran yang secara harfiah berarti “bacaan sempurna” sungguh merupakan nama pilihan dari Allah yang sangat tepat, karena tiada satu bacaan pun sejak manusia mengenal tulis-baca yang mampu menandingi Al-quran al-kariim bacaan sempurna lagi mulia itu.

Quote:

Tiada bacaan semacam Al-Quran yang dibaca ratusan juta orang yang tidak mengerti artinya dan atau tidak dapat menulis dengan aksaranya. Tiada bacaan seperti Al-Quran yang dipelajari bukan hanya susunan redaksi maupun kosakatanya, tetapi juga kandungan yang tersirat maupun tersurat bahkan sampai kesan yang ditimbulkan

Quote:
Tiada bacaan seperti Al-Quran yang diatur tatacara bacanya, mana yang dipendekkan mana yang dipanjangkan, dipertebal atau diperhalus ucapannya, dimana tempat terlarang atau boleh berhenti atau memulainya, bahkan diatur juga lagu dan iramanya sampai kepada etika membacanya.

Al-Qur’an tersusun atas 77.439 kata dengan jumlah huruf 323.015 buah dan telah dihafal huruf demi hurufnya oleh hafidz atau penghafal alquran. Al-Quran dengan harmoni atau keseimbangan antara jumlah kata dan huruf, antara kata dengan padanannya, maupun antara kata dengan lawan katanya ataupun antara kata dengan dampaknya

Al-Qur’an tidak hanya terbatas pada ayat-ayat mulianya, makna-maknanya, prinsip-prinsip dan dasar-dasar keadilannya serta pengetahuan-pengetahuan gaibnya saja, melainkan juga termasuk jumlah-jumlah yang ada dalam Al-Qur’an itu sendiri, begitu juga pengulangan kata dan hurufnya, orang-orang yang melakukan ‘ulum’ Al-Qur’an sejak dulu sudah menyadarai adanya fenomena tersebut mempunyai maksud dan tujuan tertentu.

Pada dasarnya bahasa Al-Qur`an sedemikian fasih dan indah sehingga setiap orang yang walaupun sedikit memahami bahasa Arab, dengan membaca ataupun mendengar lantunan ayat, dengan sendirinya akan memahami bahwa tidak ada satu orator pun yang dapat berbicara dengan bahasa yang sedemikian rupa fasihnya.

Bahasa dan ucapan fasih tersebut tidak mungkin berasal dari manusia. Mukjizat Al-Qur’an tidak terbatas pada pengetahuan-pengetahuan mendalam berupa ilmu logika, sosial, keindahan serta kefasihan bahasa dan ilmu tentang rahasia alam gaib yang sangat menakjubkan. Setiap hari terungkap bidang-bidang baru dari keajaiban-keajaiban Alqur’an. Sebagai contoh hingga kini terdapat beberapa hal tentang mukjizat angka dalam Alqur’an yang di jelaskan melalui penelitian secara seksama.

Allah SWT berfirman dalam surat al Baqarah, ayat 23 :

“ Dan jika kamu (tetap) dalam keraguan tentang Alqur’an yang kami wahyukan kepada hamba kami (Muhammad), buatlah paling tidak satu surat (saja) yang semisal Alqur’an itu dan ajaklah penolong-penolongmu selain Allah, jika kamu orang-orang yang benar”.

Quote:

Dan pada Al Baqarah, ayat 24 Allah SWT berfirman:

” Maka jika kamu tidak dapat membuat(nya) – dan pasti kamu tidak akan dapat membuat(nya), peliharalah dirimu dari neraka yang bahan bakarnya manusia dan batu, yang disediakan bagi orang-orang kafir”.

1. Kesimbangan antara jumlah Bilangan Kata dengan Bilangan Antonimnya. Contoh :

Quote:
Al Hayah (hidup) dan Al Mawt (mati), masing-masing sebanyak 145 kali
An Naf (manfaat) dan Al Madharrah (mudarat) masing-masing 50 kali
Al Har (panas) dan al Bard (dingin), masing-masing 4 kali
A Shalihat (kebajikan) dan Al Sayyi’at (keburukan), masing-masing 167 kali
Al Thuma’ninah (kelapangan/ ketenangan) dan Al Dhiq (kesempitan/ kekesalan), masing-masing 13 kali
Ar Rahbah (cemas/takut) dan Al Raghbah (hapap/ingin), masing-masing 8 kali
Al Kufr (kekufuran) dan Al Iman, masing-masing 17 kali
Al Shayf (musim panas) dan Al Syita’ (musim dingin), masing masing 1 kali

2. Kesimbangan Jumlah Kata dengan dengan Sinonimnya/ makna yang Dikandungnya. Contoh :

Quote:
Al Harf dan Al Zira’ah (membajak/ bertani), masing-masing 14 kali
Al ‘Ushb dan Al Dhurur ( membanggakan diri/ angkuh) masing-masing 27 kali
Al Dhallun dan Al Mawta (orang sesat/mati (jiwanya), masing-masing 17 kali
Al Islam dan Al Wahyu (Al Qur’an, wahyu, dan Islam), masing-masing 70 kali.
Al ‘Aql dan An Nur (akal dan cahaya) masing-masing 49 kali
Al Jahr dan Al’Alamiyah (nyata), masing-masing 16 kali

3. Keseimbangan antara Jumlah Bilangan Kata dengan Jumlah Kata yang Menunjuk pada Akibatnya. Contoh :

Quote:
Al Infaq (Infaq) dengan Ar Ridha (kerelaan), masing-masing 73 kali
Al Bukhl (kekikiran) dengan Al Hasarah (penyesalan), masing-masing 12 kali
Al Zakah (zakat/penyucian) dengan Al Barakat (kebajikan yan banyak), masing-masing 32 kali
Al Fahisyah (kekejian) dengan Al Ghadb (murka), masing-masing 26 kali

4. Keseimbangan antara Jumlah Bilangan kata dengan Kata Penyebabnya. Contoh :

Quote:
Al Israf (pemborosan) dengan Al Sur’ah (ketergesa-gesaan), masing-masing 23 kali
Al Maw-izhah (nasihat/petuah) Al Lisan (lidah), masing-masing 25 kali
Al Asra (tawanan) dengan Al Harb (perang), masing-masing 6 kali
Al Salam (kedamaian) dengan Al Thayyibat (kebajikan), masing-masing 60 kali

5. Disamping Keseimbangan-keseimbangan Tersebut, Ditemukan juga Keseimbangan Khusus. Contoh :

Quote:
Kata Yaum (hari) dalam bentuk tunggal, masing-masing sejumlah 365 kali. Sama dengan jumlah hari dalam satu tahun.
Sedangkan kata hari yang menunjukkan kata plural (Ayyam) dan dua (Yaw-mayni) jumlah keseluruhannya 30, sama dengan jumlah hari dalam satu bulan. Di sisi lain kata yang berarti bulan (Syahr) hanya terdapat 12 kali, sama dengan jumlah bulan dalam setahun

Al Qur’an menjelasakan bahwa langit ada 7, penjelasan ini diulanginya dalam 7 kali pula
Kata-kata yan menunjukkan kepada utusan Tuhan baik Rasul atau Nabiyy (nabi) atau Basyir (pembawa berita), atau Nadzir (pemberi peringatan), keseluruhannya berjumlah 518 kali. Jumlah ini seimbang dengan nama-nama nabi, rasul dan pembawa berita tersebut, yakni 518 kali
Bismillahirahmannirrahim adalah permulaan setiap kegiatan umat muslim. Kalimat ini mempunyai 19 huruf (dalam bahasa arab). Angka 19 mempunyai rahasia yang berkaitan dengan Al Qur’an, termasuk dengan Bismillah itu sendiri. Dalam Al-Qur’an, kata ism, Allh, Ar Rahman, san Ar Rahim, mempunyai jumlah yang dapat dibagi habis dengan angka 19 itu. Ism 19 kali, Allah 2.698 kali (2.698 : 19 = 142),

Ar Rahman 57 kali (57 : 19 = 3) dan Ar Rahim 114 kali (114 : 19 = 6)

29
Jun
15

Infrastruktur : Kisah Bung Karno dan Patung Pancoran, Jakarta Selatan

METRO
Kisah Bung Karno Jual Mobil Demi Bangun Patung Pancoran
Pada 1964, proyek patung itu berbiaya Rp12 juta.
Senin, 29 Juni 2015 | 06:17 WIB
Oleh : Siti RuqoyahDody Handoko
Kisah Bung Karno Jual Mobil Demi Bangun Patung Pancoran
Patung Pancoran tak lama setelah dibangun (Dody Handoko)

VIVA.co.id – Tak banyak yang tahu tentang pembangunan monumen Patung Dirgantara atau lebih dikenal dengan nama Patung Pancoran. Patung yang letaknya di kawasan Pancoran, Jakarat Selatan, di depan kompleks perkantoran Wisma Aldiron .

Rancangan patung ini berdasarkan atas permintaan Bung Karno untuk menampilkan keperkasaan bangsa Indonesia di bidang dirgantara. Desain patung tersebut maknanya  mencapai keperkasaan, bangsa Indonesia mengandalkan sifat-sifat jujur, berani dan bersemangat.

Berat patung yang terbuat dari perunggu ini mencapai 11 Ton. Sementara tinggi patung itu sendiri adalah 11 Meter, dan kaki patung mencapai 27 Meter. Total biaya pembuatan pada tahun 1964 adalah Rp12 juta.

Dalam buku sejarah singkatpPatung-patung dan monumen di Jakarta dituliskan, patung ini dirancang oleh Edhi Sunarso sekitar tahun 1964-1965 dengan bantuan dari Keluarga Arca Yogyakarta. Proses pengecorannya dilakukan oleh Pengecoran Patung Perunggu Artistik Dekoratif Yogyakarta pimpinan I Gardono.

Proses pembangunannya dilakukan oleh PN Hutama Karya dengan IR. Sutami sebagai arsitek pelaksana.

Biaya awal ditanggung oleh Edhi Sunarso, sang pemahat. Bung Karno menjual mobil pribadinya seharga Rp1 juta pada waktu itu. Pemerintah hanya membayar Rp5 juta. Sisanya, sebesar Rp6 juta, menjadi hutang pemerintah yang sampai saat ini tidak pernah terbayar.

Proyek itu sempat berhenti gara-gara peristiwa 30 September 1965. Bung Karno didemo tiap hari. Puncaknya adalah penolakan MPRS atas pertanggungjawaban Bung Karno, terhadap peristiwa pemberontakan PKI tadi. Lalu Bung Karno dilengserkan, dan Soeharto jadi Presiden.

Meski kondisinya buruk, Bung Karno tetap bertekad meneruskan patung itu. Ia selalu menyempatkan diri memantau pengerjaannya. Tiang penyangga patung sudah selesai, tapi pekerjaan terancam berhenti.

Edhi tak sanggup meneruskan pekerjaan itu, mengingat dirinya banyak hutang untuk pekerjaan itu.

Melihat kondisi tersebut, Bung Karno lantas memanggil Edhi dan memberinya uang Rp1,7 juta. Belakangan Edhi baru tahu, uang itu hasil penjualan mobil pribadi Bung Karno. Sekalipun uang itu belum cukup menutup semua biaya, Edhi  meneruskan pengerjaan patung dirgantara itu.

Hari Minggu tanggal 21 Juni 1970, ketika ia sedang berada di puncak Tugu Dirgantara. Tiba-tiba, melintas iring-iringan mobil jenazah. Salah seorang pekerja memberi tahu Edhi, bahwa yang barusan lewat adalah iring-iringan mobil  jenazah Bung Karno. Sang Proklamator meninggal.

Ia pun langsung turun dari puncak Tugu Dirgantara, dan menyusul ke Blitar, memberi penghormatan terakhir kepada Putra Sang Fajar. (ren)

28
Jun
15

Kebudayaan : Islam Indonesia

 Jakarta45

Islam Indonesia
Oleh: Gregorius Afioma
Menjelang Ramadan, ucapan “Islam Indonesia, bukan Islam di Indonesia” dari Jokowi pada 14 Juni lalu, serta ajakan Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin melalui akun Twitter-nya pada 5 Juni 2015 agar warteg tetap dibuka selama bulan puasa demi toleransi terhadap kalangan non-muslim, tidak serta-merta mendapat dukungan publik secara luas.
Reaksi yang demikian sangatlah ironis di tengah tendensi kekerasan atas nama agama yang terjadi selama bulan puasa. Razia yang dilakukan oleh kelompok radikal, seperti Front Pembela Islam (FPI), misalnya, selalu berujung tindak kekerasan dan perusakan.

Lantas, apakah yang disampaikan Presiden Jokowi dan Menteri Saifuddin itu berlebihan?
Memang pernyataan Jokowi bisa dianggap berlebihan di saat krisis identitas keislaman masih menggerogoti kaum muslim. Masih banyak kalangan muslim yang tidak melihat sebutan Islam Nusantara sebagai hal yang membanggakan.
Pasalnya, otentisitas Islam selalu diukur dengan episentrum kelahiran Islam di Jazirah Arab. Relasi antara Islam di Arab dan di Indonesia ibarat pola relasi pusat dan pinggiran. Pusat dianggap lebih otentik, sedangkan pinggiran sebagai yang tergradasi. Karena itu, desakan pemurnian Islam di Indonesia semakin kuat agar tidak menjadi Islam kelas dua.
Tentu saja anggapan demikian sangat berbahaya. Umat Islam bisa mengabaikan modalitas keberagamaan yang ada selama ini. Benih-benih Islam yang sudah hadir sejak abad ke-7 justru berkembang pesat di Indonesia karena melewati proses persenyawaan yang sangat baik dengan budaya-budaya pra-Islam. Semua itu tidak lepas dari usaha para Wali Sanga dan para pemikir Islam kontemporer, seperti Gus Dur atau Cak Nur.
Hasilnya, karateristik Islam Indonesia terlihat lebih damai, moderat, toleran, dan terbuka. Konflik yang terjadi, meski masih ada, tidak seintensif di Timur Tengah. Wajah Islam yang demikian tidak lepas dari unsur-unsur pra-Islam yang menjadi tempat persemaian bagi benih-benih keislaman. Budaya dan agama, yang semula memang hanyalah dua entitas berbeda, kini tumbuh saling mengkonstitusikan satu sama lain.
Berkat wajah Islam yang demikian, penerimaan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945 sebagai dasar negara menjadi mudah. Asas kesetaraan sebagai warga negara dijunjung tinggi di atas segalanya. Hak-hak sebagai warga negara dikedepankan ketimbang kepentingan-kepentingan primordial, seperti agama, budaya, suku, dan etnis.
Namun, jika tidak melihat fakta keberagamaan itu sebagai kekuatan, bukan hanya umat Islam yang berkonflik, tapi nilai keindonesiaan juga bisa terganggu. Sebab, hanya Islam Indonesia yang dikenal toleran, moderat, dan terbuka, yang sangat kokoh menyanggah keindonesiaan selama ini.
Bertolak dari kenyataan itu, Jokowi berupaya menyadarkan kaum muslim bahwa Islam Indonesia bukanlah Islam kelas dua. Islam Indonesia tidak kalah otentik dari Islam Timur Tengah. Mengingat jumlah penganut Islam di Indonesia yang mencapai 12, 5 persen dari total 1,6 miliar pemeluk Islam di dunia, karateristik Islam Nusantara justru bisa menjadi referensi bagi peradaban Islam di dunia.
Searah dengan pemikiran tersebut, pernyatan Saifuddin sangatlah wajar. Diperbolehkannya warteg dibuka demi menghormati hak-hak umat non-muslim sangat bernada toleran dan sesuai dengan karateristik Islam Indonesia itu sendiri. []

TEMPO, 23 Juni 2015

Gregorius Afioma | Penulis

Sumber Agama Islam itu Alquran dan Hadis, bukan Nusantara
Minggu, 21/06/2015 03:44:27 | Dibaca : 34252

Prof KH Ali Musthafa Ya’qub, MA
Imam Besar Masjid Istiqlal Jakarta, Rais Syuriah PBNU
Istilah “Islam Nusantara” belakangan ramai diperbincangkan. Istilah yang diproduksi oleh kalangan di tubuh Nahdlatul Ulama (NU) ini belakangan aktif dikenalkan oleh Menteri Agama Lukman Hakim Syaifuddin. Bahkan dalam beberapa kesempatan, Presiden Jokowi pun ikut menyebutnya.

Istilah baru sebagai lawan istilah “Islam Transnasional” yang diproduksi untuk menyebut kelompok organisasi Islam yang berjuang untuk tegaknya syariat Islam secara legal formal dan memiliki jaringan ke Timur Tengah ini mencuat karena pertama kali dimunculkan dalam praktik pembacaan Alquran dengan langgam Jawa di Istana Negara Jakarta saat peringatan Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad Saw 1436 beberapa waktu lalu.

Uniknya, walaupun gagasan ini lahir dari sebagian kalangan “Islam Tradisional”, namun tidak semua tokoh dan ulama dari kalangan tradisional menyetujuinya. Salah seorang Rais Syuriah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Prof KH Ali Musthafa Ya’kub, MA., termasuk salah satu ulama yang menolak gagasan Islam Nusantara bila yang dimaksud adalah menjadikan Nusantara sebagai “sumber”.

Pendapat-pendapat Kyai kelahiran Batang, Jawa Tengah, 2 Maret 1952 yang pernah mondok di Pesantren Tebuireng, Jombang itu, terungkap dalam wawancara singkat dengan penulis Jejak Islam, Andi Ryansyah, di ruang Imam Besar Masjid Istiqlal, Jakarta, Jumat (19/6). Berikut sebagian kutipan wawancara tersebut:

Bagaimana pandangan Pak Kyai tentang istilah “Islam Nusantara”?

Kalau “Islam Nusantara” itu Islam di Nusantara, maka tepat. Kalau “Islam Nusantara” itu Islam yang bercorak budaya Nusantara, dengan catatan selama budaya Nusantara itu tidak bertentangan dengan Islam, maka itu juga tepat. Namun kalau “Islam Nusantara” itu Islam yang bersumber dari apa yang ada di Nusantara, maka itu tidak tepat. Sebab sumber agama Islam itu Alquran dan Hadis. Apa yang datang dari Nabi Muhammad itu ada dua hal yaitu agama dan budaya.Yang wajib kita ikuti adalah agama, akidah dan ibadah. Itu wajib, tidak bisa ditawar lagi. Tapi kalau budaya, kita boleh ikuti dan boleh juga tidak diikuti. Contoh budaya: Nabi pakai sorban, naik unta, dan makan roti.

Demikian pula budaya Nusantara. Selama budaya Nusantara tidak bertentangan dengan ajaran Islam, maka boleh diikuti. Saya pakai sarung itu budaya Nusantara dan itu tidak bertentangan dengan ajaran Islam. Shalat pakai koteka itu juga budaya Nusantara, tapi itu bertentangan dengan ajaran Islam, maka itu tidak boleh. Jadi harus dibedakan antara agama dan budaya.

Tadi Pak Kiai menyatakan Islam yang bercorak budaya Nusantara itu tepat, padahal Pak Kiai tadi juga menyatakan sumber agama Islam bukan dari apa yang ada di Nusantara, jadi maksudnya apa Pak Kyai?

Maksud saya, Islam yang bercorak budaya Nusantara itu boleh saja sepanjang tidak bertentangan dengan Islam. Tapi kalau Islam yang bersumber dari apa yang ada di Nusantara, baik akidah maupun ibadah harus asli dari Nusantara, maka itu tidak tepat.

Tapi saya katakan Islam itu bukan Arab sentris. Islam itu apa kata Alquran dan Hadis, bukan Arab sentris. Tidak semua budaya Arab harus kita ambil. Sebab ada budaya Arab yang bertentangan dengan ajaran Islam. Contohnya, orang- orang minum khamr di zaman Nabi dan beristri lebih dari empat.

Tadi saya katakan, Nabi pakai sorban, apa kita wajib pakai sorban? Tidak ada hadits yang menunjukkan keutamaan memakai sorban. Tidak ada hadits yang mengatakan memakai sorban itu mendapat pahala. Para ulama mengatakan sorban itu budaya Nabi, budaya kaum Nabi pada zamannya.

Pak Kyai bagaimana sebaiknya umat Islam memandang budaya?

Sepanjang budaya tidak bertentangan dengan ajaran Islam, maka kita boleh mengambilnya. Ini masuk wilayah muamalah. Silakan ikuti budaya Arab, silakan pakai sorban. Tapi jangan mengatakan orang yang tidak pakai sorban, tidak mengikuti Nabi. Saya pukul kalau ada orang yang mengatakan seperti itu. Silakan makan roti karena mengikuti budaya Nabi. Tapi jangan mengatakan orang yang makan nasi, tidak mengikuti Nabi.

Demikian juga budaya Nusantara. Sepanjang budaya Nusantara tidak bertentangan dengan Islam, silakan ambil. Islam sangat memberikan peluang bagi budaya, selama budaya itu tidak bertentangan dengan ajaran Islam, boleh kita ambil. Silakan berkreasi dan ambil budaya apapun, selama tidak bertentangan dengan ajaran Islam.

Kemunculan “Islam Nusantara” ini membuat sebagian orang membandingkan dengan “Islam Arab”, bagaimana menurut Pak Kiai?

Saya tidak sependapat dengan bandingan-bandingan seperti itu. Islam itu Islam saja.

Jadi istilah “Islam Nusantara” itu tidak ada ya Pak Kiai?

Ya, Islam itu agama. Nusantara itu budaya. Tidak bisa disatukan antara agama dan budaya.

Apa nasihat Pak Kyai untuk umat Islam di tengah polemik isu “Islam Nusantara” serta NU dan “Wahabi” ?

Pertama, kita harus membedakan antara agama dan budaya. Agama: akidah dan syariah, kita harus mengikuti Rasulullah. Sementara, budaya itu masuk muamalah. Budaya apa pun, termasuk budaya Arab selama tidak bertentangan dengan ajaran Islam, silakan. Tapi hati-hati, sebab bisa saja orang pakai sorban itu dalam rangka mencari popularitas. Ketika semua orang tidak pakai sorban, tapi ada satu orang pakai sorban, maka itu diharamkan dalam Islam karena sorban itu menjadi pakaian popularitas. Menurut seorang Ulama Arab, Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin mengatakan, hal itu menunjukkan kesombongan. Penampilan itu menunjukkan seorang merasa lebih mirip nabi. Itu arogan dan tidak bagus.

Kedua, NU dan “Wahabi” tidak ada pertentangan, yang ada perbedaan. Persamaannya banyak dan perbedaannya sedikit. Perbedaannya itu tidak menimbulkan kekafiran dan perbedaan itu tidak terjadi setelah NU dan “Wahabi” ada. Jadi perbedaannya hanya dalam hal furu’iyyah, bukan hal yang prinsip. []
__._,_.___

Kamis, 25/06/2015 03:03

Kiai Said: Dengan Budaya, Islam Kuat

Jakarta, *NU Online*
Jauh sebelum Islam datang, masyarakat Nusantara telah memiliki kekayaan
budaya dan tradisi. Oleh karena itu, Wali Songo menggunakan strategi lain
dalam berdakwah. Pendekatan yang dilakukan adalah berperadaban dengan
tradisi yang sudah ada. Sehingga Islam yg dibawa Wali Songo bisa menyatu
dengan budaya.

Hal tersebut dikatakan Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj saat didaulat
berpidato pada acara ‘Sholawat dan Tahlil untuk Bangsa’ yang digelar
bersamaan peluncuran Majelis ‘Pecinta Sholawat Nusantara’ (Pesona) di Graha
Gus Dur DPP PKB, Jalan Raden Saleh, Jakarta, Selasa (23/6/2015) malam.

“Lalu bagaimana Wali Songo berdakwah, yakni berangsur-angsur (*al-Tadrij*).
Islam disebarkan tanpa menyakiti siapapun. Tidak pernah mengancam, apalagi
mengintimidasi. Jadi, *sweeping* itu nomor terakhir,” ujar Kiai Said.

Bahkan, lanjut Kiai Said, Wali Songo tetap menjaga hubungan baik dengan
tetua adat. Para wali dalam dakwahnya memperkecil perintah yang membebani,
meminimalisir kewajiban (*taqlilut-takaalif*).

Menurut Kiai Said, para pendakwah masa kini menggunakan Islam Nusantara
dalam rangka mempertahankan tradisi yang sudah ada. “Kenapa pakai Islam
Nusantara? Karena kita ingin mempertahankan Islam Aswaja dan budaya yang
sudah kita warisi dari nenek moyang kita,” tegasnya.

Islam Nusantara, lanjut dia, merupakan Islam yang sudah menyatu dengan
budaya, yang sudah melebur dengan tradisi. “Dengan Islam, budaya menjadi
ramah. Dengan budaya, Islam menjadi kuat,” tandas Kiai Said.

Doktor jebolan Universitas Ummul Quro Mekah ini mengingatkan, waktu itu
Hadratusy Syaikh Muhammad Hasyim Asy’ari tak henti-hentinya mengingatkan
kepada putranya, Kiai Abdul Wahid Hasyim, agar tidak mempertentangkan
antara Islam dan kebangsaan. “Kedua hal penting itu jangan
dipertentangkan,” ujarnya menirukan Mbah Hasyim.

Kiai Said menyatakan keteguhan ormas yang dipimpinnya, yakni NU, dalam
mengajarkan akidah Islam yang bertumpu pada tradisi lokal. Karena itu, Ia
menegaskan bahwa pada Muktamar ke-33 NU yang akan dihelat di Jombang 1-5
Agustus mendatang mengusung tema yang menitikberatkan pada nilai-nilai
Islam Nusantara.

“Karena itu, pada Muktamar NU yang akan datang, untuk pertama kalinya
dilaksanakan di Jombang, mempunyai tema Meneguhkan Islam Nusantara untuk
Peradaban Indonesia dan Dunia,” tuturnya disambut aplaus ribuan warga
Nahdliyin yang hadir.

Tema tersebut, tambah Kiai Said, menjadi bukti komitmen NU sebagai
organisasi keagamaan yang menjadi pilar peradaban Islam yang bertumpu pada
kearifan lokal. Hanya saja, Kiai Said menyayangkan masih banyak masyarakat
bahkan para kiai NU yang belum memahami betul yang dimaksud Islam Nusantara.

Selain Ketua Dewan Syura PKB KH Abdul Aziz Mansyur, Hadir dalam acara
tersebut para ulama NU dan pengasuh pesantren, antara lain KH Kholil Asad
Syamsul Arifin (Situbondo), KH Munif Zuhri (Girikusumo, Demak), Rais
Syuriah PWNU Jawa Timur KH Miftahul Akhyar, KH Yusuf Chudlori (Magelang),
dan Mustasyar PBNU Tuan Guru Haji Turmudzi Badruddin. *(Musthofa
Asrori/Mahbib)*

Sumber:

http://nu.or.id/a,public-m,dinamic-s,detail-ids,44-id,60389-lang,id-c,nasional-t,Kiai+Said++Dengan+Budaya++Islam+Kuat-.phpx

28
Jun
15

Perekonomian : 5 Negara Terbesar Di Dunia pada 2050, Indonesia No. 4 ?

merah-putih

Minggu, 28 Juni 2015 , 06:05:00

Ini Saran untuk JokoWi Demi Selamatkan Ekonomi RI

 Presiden Joko Widodo. Foto: Dokumen JPNN.com
Presiden Joko Widodo. Foto: Dokumen JPNN.com

JAKARTA – Ketua Umum DPP Pro Jokowi (Projo) Budi Arie Setiadi menegaskan, sektor ekonomi Indonesia sudah berat sekali. Bahkan, ia menyebut sudah sampai pada tahapan emergency call. Karenanya, Budi menegaskan, Presiden Joko Widodo harus mengambil langkah cepat agar negeri ini tidak terpuruk lebih dalam.

“Kita harus hati-hati dan kerja keras untuk selamatkan negara dan bangsa ini dari kejadian yang luar biasa,” ungkap Budi dalam sebuah diskusi di Cikini, Jakarta Pusat, Sabtu (27/6).

Dijelaskan Budi, tantangan ekonomi Indonesia benar-benar sangat berat karena melambatnya pertumbuhan hingga melemahnya kurs rupiah terhadap dolar Amerika Serikat. Karenanya, kata dia, memburuknya perekonomian akan berimbas kepada semua pihak.

“Kalau ekonomi memburuk, maka semua terkena kerugian drastis,” ujarnya.

Dia pun mengaku telah menyampaikan secara lisan kepada Presiden Jokowi agar segera mengganti menteri di bidang ekonomi.

“Ya, secara lisan sudah kita sampaikan,” tegasnya.

Juru bicara Partai Demokrat Didi Irawadi Syamsudin mengatakan kondisi bangsa saat ini sedang dalam keadaan tidak baik.

“Sebagai (partai, Red.) penyeimbang yang baik tentu hal-hal yang baik kita dukung.‎ Tapi situasinya sekarang jauh dari baik,” katanya di kesempatan itu.

“Kita ingatkan agak keras supaya pemerintah mendengar,” timpal Didi. (boy/jpnn)

On 06/24/2015 05:12 PM, Awind wrote:

http://bisniskeuangan.kompas.com/read/2015/06/24/085751126/Ini.5.Negara.Dengan.Perekonomian.Terbesar.di.Dunia.pada.2050.Di.Mana.Indonesia.

Ini 5 Negara Dengan Perekonomian Terbesar di Dunia pada 2050, Dimana Indonesia ?
Rabu, 24 Juni 2015 | 08:57 WIB
alt
Bloomberg, EIU Daftar negara perekonomian terbesar

KOMPAS.com – Economist Intelligence Unit memprediksi terdapat lima negara yang bakal menguasai perekonomian global pada 2050.

Dalam laporan Economist Intelligence Unit (EIU) sebagaimana dikutip dari Bloomberg, Rabu (24/6/2015), lima negara itu adalah China, Amerika Serikat, India, Meksiko dan Indonesia.

Laporan itu menyebutkan, Meksiko akan menggeser posisi Rusia, sementara Indonesia akan menggeser posisi Italia dalam kurun waktu 10-35 tahun mendatang.

China sebagai negara berpenduduk terbanyak di dunia akan menggeser posisi AS pada awal 2026 dalam hal produk domestik bruto.

“Sisanya, Indonesia, Jerman, Jepang, Brasil, dan Inggris merupakan negara-negara yang berada di urutan selanjutnya,” tulis EIU.

Dalam hal pendapatan per kapita, China diproyeksikan hampir setara Jepang pada tahun 2050, dan berada di bawah pendapatan per kapita AS per 2014.

Masih menurut laporan sama, PDB Asia diperkirakan akan mencapai 53 persen pada tahun 2050, dengan pangsa Eropa menurun. Tapi untuk peningkatan populasi usia kerja, Afrika dan Timur Tengah kemungkinan akan mengalami pertumbuhan signifikan.

“Banyak negara Eropa dan Asia Timur akan mengalami penurunan angkatan kerja, di mana Jepang diperkirakan mengalami penurunan terbesar lebih dari 25 persen. China dan Korea Selatan dapat melihat kontraksi 17 persen menjadi 18 persen pada tenaga kerja mereka, sementara Yunani, Portugal dan Jerman diperkirakan akan turun lebih dari seperlima,” tulis laporan tersebut.

Economist Intelligence Unit juga mengingatkan munculnya dua raksasa perekonomian di Asia harus diimbangi dengan kekuatan politik yang lebih besar. “Mengingat kekuatan ekonomi China dan India, mereka akan mengambil peran lebih besar dalam mengatasi isu-isu global seperti perubahan iklim, keamanan internasional dan tata kelola ekonomi global, ” tulis laporan tersebut.

“Dalam jangka menengah, ini akan membutuhkan support dari kekuasaan dunia yang ada – terutama AS – untuk membiarkan India, dan terutama China, memainkan peran yang lebih besar di panggung dunia dan beradaptasi dengan lembaga-lembaga internasional untuk memungkinkan mereka menggunakan pengaruh yang lebih besar,” tutup laporan Economist Intelligence Unit.


Penulis : Estu Suryowati
Editor : Bambang Priyo Jatmiko
Sumber : Bloomberg
__._,_.___

28
Jun
15

Kepemimpinan : Bung Karno dan Tugas Illuminaty


Jun25 pada 3:32 PM
28
Jun
15

Keteknikan : Konsolidasi Sumber Daya Proyek Infrastruktur Nasional

Logo InfraWatch

Adakah Konsolidasi Sumber Daya Proyek Infrastruktur Nasional?
Dr Ir Pandji R Hadinoto MH

Jakarta, Obsessionnews – Berbagai media memberitakan tentang proyek-proyek infrastruktur publik berukuran besar seperti 24 pelabuhan laut, 15 bandara udara, 20 waduk air, 8.700 kilometer rel kereta api, belum lagi jalan-jalan tol, kompleks-kompleks perumahan, apartemen-apartemen, pabrik-pabrik industri, bencana alam, dan lain sebagainya.

“Pertanyaannya, apakah kini ada upaya konsolidasi di tingkat nasional yang merangkum histogram sumber-sumber daya proyek (SDP) infratruktur publik tersebut?” tandas Koordinator Infrastructural Watch Indonesia (IWI), Pandji R Hadinoto, Sabtu (27/6/2015).

Ia menegaskan, perencanaan SDP nasional ini dimaksudkan terperinci berdasarkan kategori tenaga kerja (manual dan non manual) berikut bali-balai latihan kerjanya yang dibutuhkan, bahan bangunan pokok dan pelengkap beserta sumber-sumber galiannya, peralatan berat dan perlengkapan kerja, laboratorium teknis pendukung, ketersediaan ruang kerja (lahan) besaran anggaran (biaya langsung dan tidak langsung) dlsb yang terkait.

“Profil SDP nasional ini penting untuk pada akhirnya digunakan bagi pengelolaan optimal kapasitas lokal mendukung pengelolaan proyeknya sendiri agar misalnya tepat jadwal dan anggaran selain juga bisa membantu teknis tata administrasi pembiayaan proyek baik dalam negeri maupun luar negeri,” tegasnya.

IWI mengimbau kepada pemerintah pusat agar konsolidasi SDP nasional infrastruktur publik ini segera didudukkan demi tingkat kepastian kinerja keproyekan infrastruktur publik lebih mantap terukur dan terkelola optimal antara kapasitas lokal yang tersedia vs kebutuhan proyek2nya.

“Optimalisasi hal ini sedini mungkin perlu diketahui sebab kelak pada akhirnya rakyat pula yang harus bayar biaya proyek-proyek infrastruktur publik itu melalui berbagai pungutan pajak-pajak public!” seru mantan Aktivis ITB ini. (Asma)

21
Jun
15

Ideologi : Pancasila 1 Juni 1945, Fakta Sejarah Kebangsaan

REPINDO

Mau menggali kembali atau mau merubah

Pancasila 1 Juni 1945 ?

Tidak dapat dipungkiri lagi tentang adanya gerakan sekelompok orang atas nama agama Islam (elemen-elemen  NU di Berlin), yang ingin menggali kembali dasar Negara Kesatuan Republik Indonesia yaitu Pancasila 1 Juni 1945. Gerakkan ini muncul dalam suatu seminar di KBRI Berlin, yang di selenggarakan pada hari Jumat sore tanggal 05.06.2015  sekitar jam 16, yang mengambil tema Pancasila dan Maritem. Dalam konteks Pancasila seminar tersebut mengambil tema : Menggalai kembali Pancasila untuk keadilan dan kemakmuran bangsa.

Komentar

Pada 1 Juni 1945, dihadapan Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) Bung Karno, pertama kali berpidato tentang Pancasila, yang selanjutnya menjadi dasar Ideologi Negara Republik Indonesia. Dalam pidato pembukaan hahirnya Pancasila 1 Juni 1945 didepan Sidang Dokurizu Zyunbi Tyoo Sakai, untuk menyampaiakan dasar Indonesia Merdeka. Dalam pidato itu Bung Karno menyatakan bahwa Pancasila adalah Sebagai ‘Philosofische Grondslag’ dari pada Indonesia Meredeka. Philosifische grondslag itulah pundamen, filsafat, pikiran-yang-sedalam-dalamnya, jiwa, hasyrat-yang-sedalam-dalamnya untuk diatasnya didirikan gedung Indonesia Merdeka yang kekal dan abadi. Merdeka buat saya (BK) ialah  : “political independence“ politieke onafhankeijkheid. (TUJU BAHAN POKOK INDOKTRINASI- bahan pokok 1 Lahirnya Pancasila –halaman 13).

Paduka tuan yang mulia !  Saya mengerti apakah yang Paduka tuan kehendaki ! Paduka tuan minta d a s a r, minta philosophosche grondslag, atau  jikalau kita boleh memakai perkataan yang muluk-muluk, Paduka tuan Ketua yang mulia meminta suatu adalah “Weltanschauung“. diatas mana kita mendirikan negara Indonesia itu. (TUJU BAHAN POKOK INDOKTRINASI- bahan pokok 1 Lahirnya Pancasila –halaman 20).

Dalam pidato pembukaan Pancasila 1 Juni 1945 itu Bung Karno mengatakan : “Kita hendak mendirikan negara Indonesia Merdeka diatas “Weltanschauung “ apa?, Nasionaliskah?, Marxis-kah, San Min chu I-kah;  “Weltanschauung“ apakah?. (Buku yang sama halaman 22)

Sudara-saudara sekalian, kita telah bersidang tiga hari lamanya, banyak pikiran telah dikemukakan,-macam-macam.- tetapi alangkah benarnya perkataan dr. Soekiman, perkataan Ki Bagoes Hadikoesoemo, bahwa kita harus mencari persetujuan, mencari persetujuan faham. Kita bersama-sama mencari persatuan philosophische grondslag. Mencari satu “Weltanschauung“ yang kita semua setuju. Saya katakan lagi setuju!. Yang saudara  Yamin setujui, yang Ki Bagoes setujui, yang Ki Hajar setujui, yang saudara Sanoesi setujui, yang sadara Abikoesno setujui,yang saudara Lim Koen Kian setujui, pendeknya kita semua mencari satu modus. Tuan Yamin, ini bukan compromis, tapi kita besama-sama mencari satu hal, yang kita bersama-sama setujui,Apakah itu !. Pertama-tama saudara –saudara saya bertanya : Apakah kita hendak mendirikan Indonesia Merdeka untuk sesuatu orang, untuk sesuatu golongan? Mendirikan negara Indonesia Merdeka yang namanya saja Merdeka, tapi sebenarnya hanya untuk mengagungkan satu orang, untuk memberi kekuasaan kepada satu golongan yang kaya, untuk memberi kekuasaan pada satu golongan bangsawan?.

Apakah maksud kita begitu?, Sudah tentu tidak !  Baik saudara-saudara yang bernama kaum kebangsaan yang disisni, maupun saudara-saudara yang dinamakam kaum Islam, semuanya telah mufakat, bahwa bukan negara yang demikian itulah kita punya tujuan. Kita  hendak mendirikan suatu negara “semua buat semua“ . Bukan buat satu orang, bukan buat satu golongan, baik golongan bangsawan maupun golongan yang kaya,-tapi “semua buat semua“

Inilah salah satu dasar pikiran yang nanti akan saya jelaskan kali. (dikutip dari buku yang sama “Pidato Bung Karno pada hari kelahiran Pancasila 1 juni !945“halaman 23 dalam buku yang sama).

Sampai disini jelasaslah bahwa Pancasila itu sudah digali secara teliti, jimet dan sangat mendalam oleh banyak bapak-bapak pendiri bangsa dan NKRI, yang nama-namanya  antara lain sudah di sebutkan diatas.

Kalau sekarang ini ada elemen-elemen agama Islam , kongkritnya elemen-elemen NU, yang hendak menggali kembali Pancasila untuk keadilan dan kemakmuran bangsa; lalu apanya yang mau digali kembali?, dan apa dasarnya?. Bukankan Pancasila itu sudah final dan paling ideal , serta tidak bisa diubah dengan dasar lainnya. Pancasila 1 Juni 1945 adalah senjata  untuk menyatukan bangsa Indonesia yang bineka Tunggal Ika. Bukankah Pancasila 1 juni 1945 itu sudah kita setujui bersama? Lalu apa maunya elemen-elemen NU di Berlin yang hendak menggali kembali Pancasila? Apakah mereka sudah mempunyai strategi politik tertentu, yang ujung-ujungnya menolak Pancasila 1 Juni 1945 ciptaan Bung Karno, dan akan menganti dengan dasar yang lainnya?

Selanjutnya dalam Lahirnya Pancasila 1 Juni 1945, yang ditulis dalam buku TUJU BAHAN POKOK INDOKTRINASI halaman 33-35, Bung Karno menagtakan: Saudara-saudara saya usulkan: Kalau kita mencari demokrasi hendaknya bukan demokrasi barat, tapi permusyawaratan yang memberi hidup, yakni  p o l i t i e k – e c o n o m i s c h e  demokrasi, yang mampu mendatangkan kesejahteraan sosial ! Rakyat Indonesia sudah lama berbicara hal ini.. …… Maka oleh karena itu, jikalu kita memang betul-betul mengerti , mengingat, mencintai rakyat Indonesia, marilah kita  terima prinsip hal sosiale rechtwaardigkeid ini, yaitu bukan saja perasaan  p o l i t i k, saudara-saudara, tapi juga diatas lapangan e k o n o m i  kita harus mengadakan persamaan, artinya kesejahteraan bersama yang sebaik-baiknya.

Dan selanjutnya dalam halaman 34 Bung karno mengatakan: Juga dalam urusan kepala negara, saya terus terang, saya  tidak memilih monarchie. Apa sebab?  Oleh karena monarchie “vooronderstelt erfelijkheid“- turun-menurun.  Saya Islam, saya demokrat karena saya Islam saya menghendaki mufakat, maka saya minta supya tiap-tiap kepala negara pun dipilih. Tidakah  agama Islam mengatakan bahwa kepala-kepada negara, baik kalif, maupun amirul mu´minin, harus dipilih rakyat?

Saudara.saudara apakah, apakah prinsip kelima itu ?

1.   Kebangsaan Indonesia

2.   Internasionalisme – atau pri-kemanusiaan

3.   Mufakat – atau demokrasi

4.   Kesejahteraan sosilal

      Prinsip yang kelima hendaknya : Menyusun Indonesia Merdeka dengan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Setelah mengalami diskusi dengan musyawarah dan mufakat akhirnya Pancasila yang diterapkan dalam pembukaan UUD 45 adalah sebagai berikut :

1.  Ketuhanan yang maha Esa

2.  Kemanusiaan yang adil dan beradap

3.  Persatuan Indonesia

4.  Kerakyatan dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan

5.  Keadilan  social bagi seluruh Rakyat Indonesia.

Pada saat itu ada usulan amandemen yang diajukan, yalah supaya sesudah sila pertama, yaitu Ketuhanan Yang Maha Esa, ditambahkan 7 kata-kata. Dan 7 kata-kata itu yalah berbunyi : dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya. (halaman 368-369, buku Tuju Bahan Pokok Indoktrinasi).

Selanjutnya pada halaman 368 dikatakan (dalam buku yang sama)

Tujuh kata-kata ini diambil dari apa yang dinamakan Piagam-Jakarta atau Jakarta-Charter, suatu dokumen- historis, yang dibuat pada tanggal 22 Juni 1945, ditanda tangani oleh 9 tokoh pemimpin Bangsa kita yaitu : Soekarno, Moh Hatta, AA Maramis, Abikusno, AK Muzakir, HA Salim, Mr. A. Subardjo. K. Wahid Hasjim dan Moh. Yamin.

Kemudian pada saat-saat menjulangnya Api-Revolusi kita. yaitu pada tanggal 18 Agustus 1945, perumusan ini dihilangkan dari  UUD, yang dengan resmi dan sah disusun pada hari itu juga.  Juga dihapuskan sjarat, bahwa Presiden Republik Indonesia harus beragama Islam.

Sebab apa dihilangkan?

Menurut authentiek yaitu catatan-catatan  resmi dari Sidang Pembuat UUD. pada tanggal 18 Agustus itu, maka alasan menghilangkan 7 kata-kata perumusan Jakarta-Charter tersebut yalah untuk menjaga keutuhan-seluruh –bangsa Indonesia dari Sabang sampai ke Merauke.

Bung Hatta sendiri, yang pada waktu itu mengetuai Sidang Panitia persiapan Kemerdekaan, pada tanggal 18 Agustus 1945 itu a.l. berkata:

“ Dengan membuang 7 kata-kata ini serta syarat bahwa Presiden yalah orang Indonesia-asli, yang harus beragama Islam, maka inilah merupakan perobahan yang maha penting, yang menyatukan Bangsa, sjarat-sjarat itu menyinggung perasaan, sedangkan membuang ini maka seluruh Hukum UUD dapat diterima oleh daerah Indonesia yang tidak beragama Islam, umpamanya yang yang pada waktu itu diperintah oleh Kaigum. Persetujuan dalam hal ini juga sudah didapat antara berbagai golongan, sehingga memudahkan pekerjaan kita waktu sekarang ini.  (hal. 369)

Demikianlah apa yang dapat kita baca dari notulen-authentiek dari  Sidang Panitia Persiapan Kemerdekaan tanggal 18 Agustus 1945 itu, ducapkan oleh Ketuanya, yaitu Bung Hatta.

Dari sini dapat kita tarik suatau kesimpulan bahwa Pancsila 1 Juni 1945 itu sudah Final, dan tidak bisa dirubah-rubah lagi dengan dasar yang lain.

Memang kita semua sudah menyaksikan bahwa pelaksanaan Pancasila 1 Juni 1945, saat ini belum memadai jika ditinjau dari hakekat yang sebenarnya dari  Pancasila 1 Juni 1945. Hal ini dapat diterangkan sebagai berikut: Dalam konteks ini bailah kita cermati pidato Bung Karno dalam menyambut Ulang tahun kemerdekaan 17 Agustus 1960, yang berjudul : JALANNYA REVOLUSI KITA (JAREK) (dalam buku yang sama halaman 187). Dalam pidato itu Bung Karno menjelaskan : Ada hubungan yang erat antara Pancasila dengan Manifesto Politik dan USDEK. 

Manifesto Politik adalah pancaran dari Pancasila, USDEK adalah pancaran dari Pancasila. Manifesto Politik, USDEK dan Pancasila, adalah terjalin satu sama lain, Manifesto Politik, USDEK dan Pancasila tak dapat dipisah-pisahkan satu sama liain. Selanjutnya dalam pidato itu Bung Karno mengatakan: Jika saya harus mengambil qias agama, -sekedar qias !-maka katakan bahwa Pancasila adalah semacam Qur´annya, dan Manifesto Politik-USDEK adalah Hadis-shahinya. (Awas! saya tidak mengatakan bahwa Pancasilasila adalah Qur´an, dan bahwa Manifesto Politik dan USDEK adalah Hadis ! Qur´an dan Hadis-shahih merupakan satu kesatuan – maka Pancasila dan Manifesto Politik dan USDEK pun merupakan satu kesatuan (JAREK hal:200 dalam buku TUJU BAHAN POKOK INDOKTRINASI).

Sedikit penjelasan: Manipol/USDEK merupakan akronim1 dari  Manifesto politik/Undang-Undang Dasar1945, Sosialis Indonesia, Demokrasi Terpimpin, Ekonomi Terpimpin,dan Kepribadian Indonesia, yang oleh Bung Karno  dijadikan sebagai Pola pembangunan negara Republik Indonesia, sehingga harus dijunjung tinggi, dipupuk, dan dijalankan oleh semua bangsa Indonesia. Penjelasan dan penekanan Bung Karno bahwa Manifesto Politik, USDEK dan Pancasila, adalah terjalin satu sama lain, Manifesto Politik, USDEK dan Pancasila tak dapat dipisah-pisahkan satu sama liain. Artinya Pancasila itu sudah dipikirkan secara mendalam sekali oleh bapak-bapak para pendiri bangsa dan Negara Kesatuan Republik Indonesia, pemikiran tersebut sesuai dengan pemikiran mutahir (baru dan modern) dizaman modern sekarang ini yaitu pemikiran sistem. Munculnya  pemikiran sistem merupakan sebuah revolusi menyeluruh dalam sejarah pemikiran ilmiah Barat.  Pemikiran sistem dalam rangka adanya saling keterkaitan, hubungan-hubungan, keteraturan dan konteks.  

(akronim1: Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) online [2] kependekan yg berupa gabungan huruf atau suku kata atau bagian lain yg ditulis dan dilafalkan sbg kata yg wajar (msl mayjen mayor jenderal, rudal peluru kendali, dan sidak inspeksi mendadak)

Substansi dan Bentuk. Ketegangan antara pemikiran mekanisme dan holisme2 merupakan tema yang selalau berulang disepanjang sejarah biologi. Ini adalah merupakan konsekuensi yang tak dapat terhindarkan dari pembagian kuno antara subsatansi (materi,struktur, kwantitas) dengan bentuk (pola, keteraturan, kwalitas).

(holisme2 berasal dari perkataan holon; kata  Holons adalah merupakan suatu keseluruhan, tapi juga sekaligus memrupakan bagian dari keseluruhan yang lain. Misalnya , seluruh bagian dari Atom adalah merupakan bagian dari seluruh molekul; seluruh molekul adalah merupakan bagian dari seluruh Celle; seluruh Celle adalah merupakan bagian dari organisme dst. Jadi Holon itu mempunyai dua sifat/kemampuan, yaitu sebagai keseluruhan dan bagian.  Ini berarti Keseluruhan itu juga menghayati bagian).

Mencermati Pancasila 1 Juni 1945 dari sudut pandang pemikiran Sistem.

Dari sudut pandang sistem, memahami Pancasila harus  dimulai dari memahami polanya. Studi tentang pola sangat penting untuk memahami system Pancasila, karena sifat- sifat sistemik, sebagaimana kita lihat dari suatu konfigurasi hubungan-bubungan yang teratur dalam Pancasila 1 Juni 1945. Jadi apa yang rusak ketika ketika Pancasila  mati?; Pancasila mati, karena polanya sudah dihancurkan, sejak berkuasannya rezim totaliterisme militer pimpinan jendral TNI AD Soeharto.

 Pola pembangunan NKRI adalah Manifesto Politik/USDEK (yang merupakan pancaran dari Pancasila 1 Juni 1945),  sejak berkuasanya Orde Baru sudah dihancurkan, dan diganti dengan pola kesaktian Pancasila, yang berkaitan erat dengan pembangunan masyarakat kediktatoran militer fasis, yang menggunakan kesaktian Pancasila untuk menghalalkan pembantaian massal (genosida) 1965-1966, terhadap 3 juta rakyat yang tak bersalah, memenjarakan dan membuang ratusan ribu rakyat yang tak bersalah ke pulau Buru.

Dampak dari kesaktian Pancasila sampai sekarang ini masih terrasakan, ini tercermin dalam bentuk menentang penuntasan pelanggaran HAM berat 1965-1966, melalui pengadilan HAM AD HOC, dan pelestarian TAP MPRS XXV/1966 yang melarang semua faham Sosialisme, dan komunisme, dan TAP MPRS XXXIII/1967 (yang berkaitan dengan nama baik Bung Karno).

Sudah 17 tahun reformasi, tapi  sampai sekarang ini belum ditemukan pemimpin bangsa Indonesia yang mau memahami pola-pola tersebut, sehingga pembangunan yang mencerminkan  tuntutan hakiki Pancasila 1 Juni 1945, hingga saat ini  belum dapat dirasakan hasilnya, dalam konteks ini yang  salah bukan Pancasila 1 Juni 1945, yang salah adalah polanya karena sudah dihancurkan oleh rezim militer fasis Orde Baru, dan diteruskan oleh rezim reformasi gadungan sampai sekarang ini.

Apakah pola Pembangunan NKRI menurut Pancasila 1 Juni 1945, Pola Pembangunan itu adalah :Demokrasi Terpimpim, yang artinya adalah Demokrasi yang mengikuti keteraturan yang telah ditetapkan oleh Pancasila 1 Juni 1945, yaitu Demokrasi yang mempraktekan musyawarah dan mufakat, Demokrasi yang membela amanat penderitaan rakyat, dan membela kedaulatan rakyat, bukan demokrasi leberal/neoliberal yang dikagumi oleh pera elite bangsa Indonesia yang berkuasa dinegeri ini. Demikin juga pola Perekonomian, seharusnya melaksanakan pola Demokrasi ekonomi, menurut UUD 45, khususnya Pasal 33 UUD 45, bukan ekonomi neoliberal, yang mengikuti globalisasi pasar bebas milik kaum kapitalis neoliberal, pimpinan imperialisme AS, dimana kedaulatan pasar ditempatkan diatas kedaulatan rakyat; dan pola persatuan bangsa Indonesia, yaitu persatuan dari semua gplongan, yang menyetujui jiwa Pancasila 1 Juni 1945 , yaitu persatuan yang berjiwa Pluralisme. Semuanya ini sudah dihancurkan, sehingga Pancasila telah busuk dan mati.

Jadi jika mememang kita  iklas dan jujur hendak menghidupkan kembali  Pancasila 1 Juni 1945, maka kita harus berjuang secara bergotong royong dari semua kekuatan demokratis dan revolusioner, menghidupkan kembali pola-pola Pancasila 1 Juni 1945, seperti yang sudah disebutkan diatas; agar supaya kita dapat menghadirkan kesejahteraan hidup bagi Rakyat Indonesia secara keseluruhan.  Menghadirkan suatau masyarakat yang bebas dari adanya penghisapan manusia atas manusia, yang oleh Bung Karno disebut masyarakat sosialis Indonesia.

Cara menggali kembali Pancasila untuk keadilan dan kemakmuran bangsa, sama sekali tidak dapat dibenarkan, karena Pancasila 1 Juni 1945 itu sudah final, tak perlu digali kembali,  yang penting bagi kita adalah menghidupkan kembali pola-pola Pancasila 1 Juni 1945 , yaitu demokrasi terpimpin, demokrasi ekonomi, kebudayaan Indonesia, dan manifesto politik/USDEK, ini yang harus dihidupkan kembali, jika kita memang iklas dan jujur hendak menghadirkan kemakmuran dan kesejahteraan Rakyat Indonsesia. Cara menggali kembali Pancasila adalah jalan yang sesat, oleh karena itu perlu dipertanyakan: Mau menggali kembali atau mau merubah Pancasila 1 Juni 1945?

Oleh karena itu studi tentang pola sangat penting untuk memahami system kehidupan Pancasila 1 Juni 1945 yang sifatnya sistemik, sebagaimana yang telah di sebutkan diatas, yang muncul dari suatu konfigurasi hubungan-hubungan yang teratur. Sifat-sifat sistemik adalah sifat-sifat suatu pola, jadi apa yang rusak ketika Pancasila 1 Juni 1945  mati, yang rusak adalah polanya. Semua komponen-komponennya yaitu bangsa Indonesia masih tetap ada,  Rayat Indonesia yang  patriotik dan revolusioner masih ada, Bineka Tunggal Ika masih ada, kaum Buruh dan Tani yang mendukung UUD 45, khususnya Pasal 33 UUD 45 masih ada, para patriot revolusioner Indonesia masih ada, para pengusaha nasional yang patriotik masih ada, UUD 45, khususnya Pasal 33 UUD 45, Pancasila 1 Juni 1945, semuanya masih tetap ada, tapi konfigurasi hubungan diantara komponen-komponen itu telah dihancurkan lewat TAB MPRS XXV/1966 , bikinan rezim diktator militer fasis pimpinan jendral TNI AD Soeharto, sehingga Pancasila  mati sampai sekarang ini.

Penghancuran komponen-komponen bangsa ini tercarmin dalam TAB MPRS XXV/1966, yang melarang mempelajari teori-teori sosialisme, komunime , TAB MPRS XXV /1966 diera reformasi sekarang ini masih terus dijunjung tinggi oleh  DPR RI, dan para politikus busuk warisan rezim militer fasis Soeharto. Semua gerakan yang memperjuangkan kembalinya UUD 45, khususnya Pasal 33, dan Pancasila  1 Juni 1945, Manifesto Politik /USDEK langsung dicurigai dan diberi stempel PKI, di ancam dan di tangkap oleh polisi.

Hanya almarhum Presiden Gus Dur yang pernah mencanangkan agar supaya TAP MPRS XXV/1966 dicabut, dampaknya adalah Gus Dur dilengser oleh gerakan poros tengah pimpinan Amin rais. Pengalaman Gus Dur inlah yang mencerminkan bahwa di NKRI era reformasi ini masih banyak elemen-elemen orde baru yang anti  UUD 45, khususnya khususnya Pasal 33 UUD 45 , dan Pancasila 1 Juni 1945, dan mereka masih mendominasi kekuasaan politik di NKRI sebagai penumpang–penumpang gelap di NKRI, yang katanya sudah berreformasi sejak 17 tahun lamanya.

Nampaknya semua eleman-eleman Orde Baru dan para elite reformis gadungan (busuk) yang berkuasa di negeri ini, tak dapat memahami keadaan ini, karena mereka gagal dalam memahami pentingnya pola, yang terkandung dalam jiwa Pancasila 1 Juni 1945, dan mereka terus memutus konfigurasi hubungan-hubungan diantara komponen-komponen bangsa Indonesia yang Bineka Tunggal Ika. Itulah sebabnya mengapa sudah 17 tahun reformasi tapi Pancasila 1 Juni 1945 masih belum dapat dilaksanakan sepenuhnya . Sungguh menyedihkan kondesi seperti ini !!!

Roeslan.

 

18
Jun
15

Kepemudaan : Kepanduan Indonesia dalam Sejarah

Image

“Kepanduan dimana pun djuga hanjalah satu, dan dasarnja, satu udjudnja, satu tudjuandja nusa dan bangsa manusia dan dunia jang mempunjai sifat salam dan bahagia” -Supardo (Sesepuh Kepanduan Indonesia)-

Aku adalah seorang pramuka, dahulu, sekarang, dan selamanya. Aku ingat pertama kali memasuki organisasi ini ketika masih SMP dulu. Masih zaman orde baru tentunya. Ketika itu kepanduan tengah memasuki masa-masa kejayaanya karena dianggap sebagai salah satu saluran indoktrinasi paham orde baru. Aku tidak mau melihat hal itu. Yang aku tahu, keputusanku untuk tergabung dengan pramuka puluhan tahun lalu itu tidak pernah kusesali hingga saat ini. “Tidak ada kata pensiun bagi seorang Pramuka”, ujar salah seorang pelatihku. Aku benar-benar mengingat perkataan itu hingga kini. Aku adalah seorang pramuka, dahulu, sekarang, dan selamanya.

Di luar segala kekurangannya, aku melihat pengaruh positif kegiatan kepanduan dalam diriku dan teman-teman yang pernah tergabung Pramuka lainnya. Aku ingin menyebarkan pengaruh positif ini sehingga aku pernah terjun langsung untuk membina satu pangkalan Pramuka di Bandung. Ketika itu Pramuka sudah tidak lagi menjadi kegiatan favorit. Ia tergerus oleh modern dance, basket, futsal dan lain-lain. Organisasi yang sangat mengakar dalam sejarah Indonesia ini begitu saja tersingkir oleh organisasi-organisasi baru yang banyak mengadopsi budaya luar. Pramuka dianggap kuno, “orde baru banget”, tidak asyik dan sebagainya. Aku sedih melihat kenyataan itu. Dengan susah payah aku mempertahankan pramuka untuk eksis di pangkalan yang kubina walaupun pihak sekolah dan orang tua banyak menentangnya. Sedikit siswa-siswi berhasil kukumpulkan untuk kubina menjadi seorang Pramuka. Kusajikan aspek-aspek pendidikan yang tidak mereka dapatkan dalam sistem pendidikan modern. Bukan hal-hal cliche seperti “Budi pekerti”, “sopan santun”, dan sebagainya. Aku hanya ingin menanamkan prinsip “Jadilah dirimu sebaik-baiknya dirimu sendiri” kepada adik-adik binaanku. Itulah Pramuka yang sejati. Yang bangga dan bisa mengembangkan dirinya sebaik mungkin layaknya tunas kelapa yang dapat tumbuh di mana saja. Untuk menjadi pemuda-pemudi yang memiliki sikap, bukan mereka yang hanya mengekor mayoritas. Aku selalu teringat pesan Lord Baden Powell berikut.

…Lebih baik melihat suatu hal dari sisi baiknya daripada dari sisi buruknya. Cara yang benar untuk memperoleh kebahagiaan ialah dengan membahagiakan orang lain. Berusahalah agar kamu dapat meninggalkan dunia ini dalam keadaan yang lebih baik daripada ketika kamu datang. Dan ketika tiba giliranmu untuk meninggalkan dunia ini, maka kamu akan meninggal dengan hati bahagia karena ketika masih hidup kamu tidak menyia-nyiakan waktumu, tetapi telah kamu gunakan dengan sebaik-baiknya…

-PESAN LORD BADEN POWELL OF GILWELL YANG TERAKHIR-

Image

Tiga generasi kepanduan

Indonesia tanah airku. Tanah tumpah darahku. Di sanalah aku berdiri. Jadi pandu ibuku.  -W.R. Soepratman, Indonesia Raya-

Seperti telah kusebutkan sebelumnya, Pramuka atau kepanduan adalah organisasi yang memiliki akar kuat pada sejarah bangsa ini. Bukankah kata “pandu” tercantum pada lagu kebangsaan negara kita ? Ya, kepanduan adalah satu-satunya organisasi yang masih berdiri sejak peristiwa sumpah pemuda hingga saat ini walaupun namanya berubah-ubah seiring zaman. Beruntunglah aku menemukan buku 5 Tahun Pandu Rakyat Indonesia yang menyajikan sekilas sejarah kepanduan di Indonesia hingga tahun 1950. Buku ini diterbitkan oleh Pengurus Besar pandu Rakyat Indonesia tahun 1951. Pada awalnya buku ini hendak diterbitkan seiring peringatan hari ulang tahun ke-V Pandu Rakyat Indonesia tanggal 28 Desember 1950, tapi karena satu dan lain hal penerbitannya diundur hingga tahun berikutnya. Buku kenangan ini memuat berbagai terstimoni tokoh-tokoh kepanduan saat itu termasuk di dalamnya kilasan sejarah kepanduan di Indonesia yang ditulis oleh Sdr. Himodigdojo (Pemimpin Bag. Penerbitan). Berikut garis besarnya :

Gerakan kepanduan dirintis oleh Lord Baden Powell of Gilwell (1857 – 1941). Pada tahun 1908 ia menulis buku “Scouting for Boys” yang isinya sangat menarik berbagai kalangan. Buku ini hingga saat ini menjadi “kitab suci” anggota pandu di seluruh bagian dunia.

Beberapa tahun sebelum meletusnya Perang Dunia pertama, benih kepanduan mulai ditanam di Indonesia. Pada tahun 1912 seorang bernama P. Joh. Smits mendirikan cabang N.P.O. (Nederlandse Padvinderij Organisatie) atas anjuran perkumpulannya di Nederland. Dalam waktu singkat usahanya memancing berbagai kalangan untuk membentuk organisasi serupa. Berdirilah perkumpulan0perkumpulan kepanduan Belanda dengan alirannya masing-masing di Indonesia. Pada tanggal 4 September 1914 seluruh organisasi tersebut disatukan dalam De Nederlands Indische Padvinderij Vereniging (NIPV).

Tidak seperti organisasi kepanduan sebelumnya, NIPV mulai membuka keanggotaan bagi orang pribumi. Itupun masih diisi kalangan bangsawan karena hanya mereka yang bisa mengenyam pendidikan. Kapan resminya organisasi kepanduan Indonesia yang mandiri tidak dapat ditentukan dengan pasti, tapi pada tahun 1916 atas inisiatif S.P. Mangkunegoro VII di Solo didirikan “Javaanse Padvinderij Organisatie” (JPO). Setelah itu didirikan pula organisasi “Taruna Kembang” untuk daerah Kasunanan di bawah pimpinan Pangeran Surjobroto.

Sampai tahun 1922 perkembangan Kepanduan Indonesia sangat subur : Budi Utomo mendirikan Nationale Padvinderij di bawah pimpinan Daslam Adiwarsito; Sarekat Islam mendirikan “Wira Tamtama” di bawah pimpinan A. Zarkasi; Muhammadyah mendirikan “Hizbul Wathan” di bawah asuhan Djumaeri; Sarekat Rakjat yang berhaluan kiri dan berada di bawah kendali PKI turut mendirikan kepanduan sendiri yang dikomandoi Sujar. Sebagian besar perkumpulan organisasi kepanduan Indonesia saat itu memang menginduk kepada organisasi yang lebih besar, oleh karena itu seringkali pemerintah kolonial kurang menyambutnya dengan baik.

Karena sifatnya yang menjadi “onderbouw” organisasi politik, kepanduan Indonesia saat itu memang melanggar asas kepanduan yang “terlepas dari segala ikatan dari luar dan menurut garis-garis yang telah diberikan Baden Powell”. Materi-materi pendidikan dan pelatihan yang diberikan pun seringkali berbeda antar organisasi tergantung kepentingannya masing-masing. Tapi yang pasti organisasi ini menjadi sangat beken di kalangan pelajar saat itu. Tahun 1922 perkumpulan kepanduan ini semakin semarak dengan didirikannya Jong Java Pandvinderij, Nationale Islamitische Padvinderij (Napitij) milik Jong Islamiten Bond, Indonesisch Nationale Padvinderij Organisatie dan Pandu Pemuda Sumatera.

Kalangan agama ikut meramaikan dunia kepanduan ini. Sampai tahun 1935 telah berdiri Al Kasjaaf, Tri Darma (Kristen), Al Wathony, Kepanduan Masehi Indonesia, Kepanduan Azas Katholik Indonesia, Pandu Indonesia, Pandu Kasultanan, Hizbul Wathan, Kepanduan Islam Indonesia, Sinar Pandu Kita, dan Kepanduan Rakjat Indonesia.

Image

Pandu-pandu S.I.A.P. (di bawah naungan SI) bersiap mengawal pemimpin2nya. Di deretan tengah duduk diantaranya A.M. Sangadji, Soerjopranoto, HOS Tjokroaminoto, dan HA Salim

Majunya gerakan kepanduan di kalangan Pribumi ini tentu mengkhawatirkan pemerintah kolonial karena bisa “menambah tenaga penentang pemerintah kolonial”. Oleh karena itu pada tanggal 5 April 1926 atas undangan pimpinan NIPV diadakan pusat permusyawaratan pusat pimpinan organisasi kepanduan Indonesia yang terbesar : HW, JPO, NPO, NP dan NIPO di Jogjakarta. Pertemuan itu dipimpin sendiri oleh komisaris besar NIPV tuan G.J. Ranneft. Ia menyerukan penggabungan organisasi kepanduan Indonesia ke dalam NIPV. Dikarenakan penolakan atas alasan prinsipil dari HW dan NPO, konperensi selama dua hari itu gagal menghasilkan keputusan apa-apa.

Pada tahun 1928 NIPV mencoba kembali untuk menarik kepanduan Indonesia dalam lingkungannya. Anggaran dasarnya dirobah supaya dapat mengakomodir kepentingan golongan kepanduan Indonesia, tapi langkah ini pun lagi-lagi ditolak sebagian besar kepanduan Indonesia.

Pada tahun 1927 kelompok-kelompok kepanduan Indonesia telah mulai membicarakan wacana penggabungan atau fusi, yang dalam prakteknya banyak menemui hambatan karena sebagian besar bergantung kepada organisasi induknya. Atas kebijaksanaan para penganjurnya, pada tahun 1929 didirikanlah badan federatif bernama PERSAUDARAAN ANTARA PANDU INDONESIA (PAPI) dengan anggotanya : JJP, INPO, NATIPIJ, PPS, dan SIAP. Sedangkan HW belum memberikan kepastian. Sebagai pegurus besarnya dipilih Mr. Soenario (INPO), Dr. Moewardi (JJP) dan Ramelan (SIAP). Pimpinan pusatnya berada di Batavia, sedangkan di daerah dibentuk PAPI daerah.

Terbentuknya PAPI merupakan fase pertama menuju arah persatuan. Seiring upaya penggabungan perkumpulan pemuda oleh Jong Java dan Pemuda Indonesia, percepatan penggabungan Pandu Kebangsaan (Dulunya JJP), PPS dan INPO diwujudkan dalam bentuk organisasi baru bernama KEPANDUAN BANGSA INDONESIA (KBI) tanggal 13 September 1930. Anggotanya antara lain Soeratno Sastroamidjojo, Pintor, Tirtosoepono, Nyonya Abdul Rachman, Dr. Bahder Djohan, dll. Untuk menunjukan haluan nasionalismenya, KBI telah menggunakan panji dan kacu berwarna merah-putih.

Persatuan kepanduan Indonesia ini tentu saja semakin mengkhawatirkan pihak kolonial sehingga rintangan-rintangan secara halus maupun terang-terangan mulai dikeluarkan. Peringatan hari Diponegoro dan Kartini yang penting artinya bagi pandu Indonesia dilarang diadakan. Beberapa pemimpin kepanduan ditangkapi. Bahkan Komisaris Besar NIPV melarang kepanduan Indonesia menggunakan istilah “padvinder” atau “padvinderij” yang kemudian digantikan oleh kata “pandu” atau “kepanduan” oleh H. Agus Salim. Pandu Indonesia bahkan tidak berkenan menyambut kedatangan Lord Baden Powell ke pulau Jawa, dalam rangka perjalanan ke Australia (1935). Walau demikian  berbagai rintangan tersebut  membuat Pandu Indonesia semakin solid.

baden

Pada tanggal 30 April 1938 PAPI merintis pertemuan yang dihadiri KBI, SIAP, NAPITIJ, dan Hizbul Wathon di Solo. Menghasilkan Badan Pusat Persaudaraan Kepanduan Indonesia (BPPKI). Pada tahun 1941 anggota BPPKI bertambah dengan masuknya K.I.I. Hizbul Wathan, Sinar Pandu Kita, Al Wathoni, dan KAKI.

BPPKI sempat mewacanakan pengadaan PERKINO (Perkemahan Kepanduan Indonesia Oemoem) tapi gagal dilaksanakan karena kedatangan Jepang. Selama jaman Jepang gerakan kepanduan dilarang sama sekali, sebagai gantinya mereka dimasukkan dalam gerakan Keibondan atau Seinendan.

Pasca kemerdekaan, tepatnya pada bulan September 1945, tokoh-tokoh kepanduan berkumpul di gedung Balai Mataram Jogjakarta untuk menyiapkan Kongres Kepanduan yang dilakukan di kota Bengawan selama tiga hari tanggal 27-29 Desember 1945. Kongres ini langsung disambut oleh berduyun-duyung anggota Pandu dari seantero Jawa. Sekitar 300 perwakilan Pandu dan pemimpinnya menghadiri acara itu.

Tepat pada tanggal 28 Desember 1945 itulah ditempa keputusan untuk mendirikan PANDU RAKJAT INDONESIA. Ditandai dengan Janji Ikatan Sakti yang berbunyi :

1. Melebur segenap Perkumpulan Kepanduan Indonesia dan dijadikan satu organisasi Kepanduan : Pandu Rakjat Indonesia.

2. Tidak akan menghidupkan lagi kepanduan yang lama

3. Tanggal 28 Desember diakui sebagai Hari Pandu bagi seluruh Indonesia

4. Mengganti setangan leher yang beraneka warna dengan warna HITAM.

Selama lima tahun berdirinya PRI banyak sekali rintangan yang dihadapi karena saat itu masih dalam nuansa perlawanan terhadap penjajahan Belanda. Contohnya ketika Kepanduan mengadakan upacara peringatan kemerdekaan Indonesia ke-III tanggal 17 Agustus 1948 di halaman Gedung Pegangsaan Timur 56 Jakarta, acara itu ternodai akibat aksi pembubaran oleh Polisi Militer Belanda yang mengakibatkan jatuhnya nyawa seorang Pandu bernama Suprapto.

IMG_0005

IMG_0007

***

Demikian sekilas ulasan sejarah Kepanduan di Indonesia hingga berdirinya Pandu Rakjat Indonesia tahun 1945. Perjalanan sejarah sebenarnya masih panjang hingga terbentuknya PRAMUKA lewat keputusan Presiden RI nomor 238 tanggal 20 Mei 1961 dengan lambang Tunas Kelapanya.  Gerakan Pramuka pun diresmikan tanggal 14 Agustus 1961 ditandai dengan penganugerahan panji-panji kepada Organisasi Kepanduan oleh Presiden Soekarno. Tanggal 14 Agustus hingga kini tetap dirayakan sebagai hari Pramuka.

pad

Ada satu lagi hal menarik, perkembangan kepanduan di Indonesia (lagi-lagi) tidak bisa dilepaskan dari peranan kaum Teosofi. Semboyan Padvinders “Karaktervorming! Broederschap! Lichamelijke ontwikkeling! (Pembangunan Karakter, Persaudaraan, dan pembanguan fisik) sangat sesuai dengan cita-cita kaum Teosofi.

Kedekatan antara Kepanduan dengan Teosofi juga ditunjukan dari kehadiran Van Hinloopen Labberton (Suhu Agung Teosofi Indonesia) pada upacara pelantikan pengurus kepanduan Hindia Belanda pada tahun 1917 oleh istri Gubernur Jenderal Hindia Belanda, Countess van Limburg Stirum – van Sminia. Selain itu, seorang anggota Gerakan Teosofi terkemuka, A. Meijroos memimpin gerakan Pramuka di Ardjoenaschool (Sekolah kaum teosofi di Bandung). Yang menarik lagi, ternyata markas gerakan Padvinderij di Bandung menempati markas Gerakan Teosofi Bandung (Bandung Loge) !

Image

Pada suatu hari Bung Karno dengan kawan-kawan 7 orang in cluis Bung Karno, di satu rumah yang dulu bernama Regentsweg di Bandung, tujuh orang ini meletakkan, melahirkan satu gedung baru, yaitu gerakan Partai Nasional Indonesia. Dari tujuh orang ini Saudara-saudara, berkembang, berkembang, berkembang, berkembang, berkembang,akhirnya Saudara-saudara menjadi pelopor dari pada gerakan revolusioner yang… pada tanggal 17 Agustus mengkirbalikkan sama sekali kekuasaan yang berakar dari imperialisme di Indonesia…. dengan tujuh orang ini Saudara-saudara, dari gerakan revolusioner ini makin kuat.   -Soekarno-

Apabila Surabaya dikenang sebagai kota pahlawan, maka Bandung selayaknya dikenang sebagai kota nasionalis. Rasanya aku tidak perlu lagi mengungkit kiprah pahlawan-pahlawan nasional seperti Bung Karno, Sjahrir, Dr. Tjipto, Douwes Dekker, Abdoel Moeis dll. di kota “Parijs van Java” ini. Tapi yang pasti kota ini melahirkan sebuah organisasi revolusioner bernama Partai Nasional Indonesia. Satu-satunya partai yang mengemban tugas suci untuk “menyatukan seluruh rakyat Indonesia dengan tiada membedakan agama, suku dan sebagainya dalam suatu kekuatan yang maha hebat.” Suatu partai yang menyerukan perjuangan non-koperasi, melaksanakan “tercapainya Indonesia merdeka secepat mungkin.”

Kita hampir saja melupakan itu. Propaganda orde baru yang membenci segala hal berbau “Soekarno” termasuk partai yang didirikannya menghilangkan ingatan masyarakat atas pergerakan nasional yang banyak dilahirkan di Bandung. Bandung yang memiliki peran dalam melahirkan dan menyatukan tokoh-tokoh perintis kemerdekaan tergeser namanya oleh Surabaya dan Jogjakarta yang lebih berperan pada era “mempertahankan kemerdekaan”. Dalam catatan sejarah itu, Bandung hanya dikenal lewat peristiwa “Bandung Lautan Api”-nya.

Bandung yang saat itu menjadi salah satu pusat pendidikan di Hindia Belanda tidak bisa dipungkiri telah tercatat dalam sejarah sebagai salah satu pusat pergerakan nasional yang sangat berpengaruh. Pada tahun 1913 di Bandung, seorang Suwardi Suryaningrat yang telah bermitra dengan Douwes Dekker dan Dr. Tjipto telah menyebarkan selebaran “Als ik nederlander was” yang sangat menggusarkan pemerintah kolonial. Para penulisnya mendapat hukuman pengasingan dari pemerintah. Jangan pula dilupakan bahwa sebelumnya, pada  tanggal 25 Desember 1912 kota Bandung turut menjadi saksi didirikannya “De Indische Partij  – partai politik pertama di Hindia Belanda oleh Tiga Serangkai (DD, Tjipto, dan Ki Hajar Dewantara).

Sekitar satu dekade setelah didirikannya Indinsche Partij, seorang pemuda bernama Soekarno tiba di Bandung untuk melanjutkan pendidikannya di Technische Hogeschool. Semenjak kakinya menginjak peron stasiun Bandung kala itu, Soekarno telah memasuki episode baru hidupnya dalam dunia politik. Udara Bandung telah dihirupnya. Udara perubahan. Udara kreativitas.

“Minggu terahir bulan Juni tahun 1921 aku memasuki kota Bandung, kota seperti Princeton atau kota pelajar lainnya dan kuakui bahwa aku senang juga dengan diriku sendiri. Kesenangan itu sampai sedemikian sehingga aku sudah memiliki sebuah pipa rokok.” -Soekarno

Pembukaan Studie Club di Surabaya oleh Dr. Soetomo pada Juli 1924 menginspirasi Soekarno muda untuk membuka kelompok serupa di Bandung. Kelompok ini bertujuan untuk memberikan pendidikan politik kepada masyarakat. Studie Club Bandung yang dipimpin Soekarno termasuk sangat progresif diantaranya dengan menerbitkan majalah Suluh Indonesia Muda dan menjalin hubungan dengan Perhimpunan Indonesia di Nederland. Studie Club Bandung ini nantinya akan menjelma menjadi sebuah organisasi besar yang pernah merajai dunia perpolitikan Indonesia pada zamannya. Organisasi itu adalah Partai Nasional Indonesia (PNI). Berikut sekilas sejarah partai berlambang banteng tersebut seperti dimuat dalam buku Banteng Segitiga karya Soenario SH..

Image

Para pengurus PNI (1927)

PNI didirikan di sebuah paviliun selatan rumah di Regentsweg no. 22 (sekarang jl. Dewi Sartika) Bandung pada suatu malam tanggal 4 Juli 1927. Mereka yang berada di tempat itu antara lain Mr. Iskaq, Mr. Sartono, Mr. E.S. Budyarto Martoatmodjo, Mr. Sunario, Dr. Samsi Sastrowidagdo, Ir Soekarno, Ir. Anwari, dan Dr. Tjipto Mangunkusumo. Mereka semua akan tercatat sebagai pendiri PNI, kecuali Dr. Tjipto yang menolak diikutsertakan atas alasan keamanan. Meski demikian Soekarno tetap menganggap Dr. Tjipto sebagai salah satu pendiri, selain Sujadi dan J. Tilaar yang menjadi penghubung antara pemuda di Bandung dengan Hatta di Nederland.

Pembentukan PNI sendiri terjadi secara tidak sengaja. Semua ini diawali atas kedekatan kantor arsitek Soekarno dan Anwari dengan kantor advokat milik Mr. Iskaq yang sama-sama berada di Regentsweg 8 (Kini Hotel Swarha) alun-alun Bandung. Mr. Iskaq merupakan advokat lulusan Leiden yang pernah aktif dalam organisasi Perhimpinan Indonesia di Nederland. Ketika kantor arsitek Soekarno dan Anwari pindah ke Regentsweg 22 ia pun bertemu dengan Dr. Samsji yang berkantor di bagian atasnya. Pertemuan antara tokoh-tokoh tersebut langsung berlanjut kepada keinginan untuk membentuk partai nasional yang beraliran non cooperation. Sempat terjadi debat serius mengenai prinsip non koperasi yang akan diusung partai ini.  Tapi akhirnya Soekarno berhasil mempertahankan keyakinannya atas prinsip tersebut. “…Kita tidak lagi berjalan perlahan-lahan, 350 tahun sudah cukup perlahan,” ujar Soekarno mengusung suatu gerakan radikal.

PNI pun didirikan dengan susunan pengurus sebagai berikut :
1. Ir. Soekarno                                 : Ketua
2. Mr. Iskaq Tjokrohadisurjo   : Sekretaris / Bendahara
3. Dr. Samsi Sastrowidagdo       : Anggota
4. Mr. Sartono                                 : Anggota
5. Mr. Sunario                                 : Anggota
6. Ir. Anwari                                    : Anggota
Pada awalnya PNI merupakan singkatan dari Perserikatan Nasional Indonesia hingga kemudian diubah menjadi Partai Nasional Indonesia pada kongres pertama di Surabaya tahun 1928. Pokok maksud pembentukan PNI adalah mencapai kemerdekaan penuh untuk Indonesia. Yang hendak diakui hanyalah pemerintahan yang disusun dan dibangun oleh rakyat. Bekerja sama dengan pemerintah Hindia Belanda ditolal, tapi hendak dibangunkan suatu bentuk tata negara nasional, di dalam lingkaran perhubungan-perhubungan yang berkalu sekarang. Yang diterima menjadi anggota adalah sekalian orang Indonesia, yang telah beurmur 18 tahun, sedang sekalian bangsa timur asing hanya boleh menjadi  donatur.

Image

Soekarno memberi ceramah di hadapan massa PNI (Ilustrasi dari Film Soekarno, 2013)

Pendirian PNI disambut masyarakat luas. Kharisma Soekarno dalam tiap-tiap rapat umum memberikan sumbangan besar bagi perluasan pengaruh PNI. Pada awal tahun 1929 anggota PNI tercatat 6000 orang, 1500 di antaranya berada di Bandung. Dalam rapat-rapat yang seringkali dihadiri ribuan orang, terpampang simbol-simbol “banteng segitiga”, semboyan-semboyan revolusioner, dan seringkali gambar Pangeran Diponegoro. Sejak diperkenalkan pada event kongres pemuda II tahun 1928, lagu Indonesia Raya pun menjadi lagu  wajib yang diputar pada setiap rapat PNI. Rapat-rapat ini biasanya turut dihadiri agen Politieke Inlichtingen Dienst (PID) bersama Patih, Wedama, Asisten-wedana dan sebagainya yang dengan ketat mengawasi setiap materi yang dibawakan pembicara. Saat itu pegawai pemerintahan dilarang terlibat kegiatan politik. Dalam satu waktu, seorang patih yang sedang mengawasi rapat PNI begitu terpikat oleh pidato-pidato Soekarno sehingga ia tidak sengaja ikut bertepuk tangan. Tidak lama kemudian si Patih ini dipensiunkan (peristiwa patih keplok).

“Kami tidak mempunyai pengeras-suara, karena itu aku harus berteriak sampai parau. Di waktu sore aku memekik-mekik kepada rakyat yang menyemut di tahah-lapang. Di malam hari aku membakar hati orang-orang yang berdesak-desak sampai berdiri dalam gedung pertemuan. Dan di pagi hari aku memekik urat leher dalam gedung bioskop jang penuh sesak dengan para pecinta tanah air. Kami pilih gedung bioskop untuk pertemuan pagi, karena pada jam itu kami dapat menyewanya dengan ongkos murah.”  -Soekarno-

Perkembangan PNI sangat mengkhawatirkan pemerintah kolonial sehingga pada tahun 1929 mereka mengadakan razia dan penangkapan-penangkapan tokoh nasional. Di antara tokoh yang ditangkap merupakan para aktivis PNI seperti Soekarno, Gatot Mangkupraja, Maskun dan Supriadinata. Proses pengadilan mereka yang dilakukan di gedung Landaad Bandung menghasilkan pleidoi legendaris buatan Soekarno berjudul “Indonesia Menggugat”. Soekarno dan kawan-kawannya akhirnya dijatuhi hukuman penjara yang berujung pada pembubaran PNI. Pembubaran partai ini sangat disesalkan oleh Soekarno.

Bekas-bekas anggota PNI pun terpecah. Sebagian mengikuti Mr. Sartono lewat organisasi “Partai Indonesia” (Partindo) yang didirikan tanggal 29 April 1931. Partai ini mengalami pelemahan karena motornya “Soekarno” tidak lagi terlibat di dalamnya. Walau demikian tenaga-tenaga baru mulai terlibat di partai ini, antara lain Amir Sjarifuddin, M. Yamin, Mr. Sujudi, Gatot Mangkupraja, dll. Di sisi lain, sebagian anggota PNI lama membentuk “Pendidikan Nasional Indonesia” yang mengambil sikap lebih lunak dibandingkan Partindo.

Pemerintah Kolonial tetap mengawasi Partindo dengan kecurigaan penuh. Pada tahun 1936 banyak tokoh-tokoh partai ini yang  mendapatkan hukuman pengasingan dari pemerintah, dengan demikian berakhir pulalah perjuangan Partindo pada tanggal 18 November 1936. Kondisi demikian tidak melemahkan upaya segenap perintis kemerdekaan untuk menjalankan perjuangan politiknya. Pada tanggal 24 Mei 1937 beberapa bekas tokoh Partindo mendirikan Gerindo (Gerakan Rakyat Indonesia), dipimpin oleh A.K. Gani. Nasib organisasi ini berakhir seiring kedatangan Jepang ke Nusantara.

Pasca kemerdekaan, tepatnya tanggal 4 Desember 1945 bertempat di Pegangsaan Barat No. 6 Jakarta, di rumah Soewirjo beberapa bekas anggota PNI, Partindo, dan Gerindo membentuk partai politik baru dengan nama “Serikat Politik Indonesia” atau Serindo. Setelah dilakukan pendekatan dengan partai politik lain, pada kongres di Kediri tanggal 129-31 Januari 1946 Serindo dan partai-partai lainnya melakukan fusi untuk membentuk PNI. Selanjutnya PNI akan banyak melibatkan anggota-anggotanya dalam kabinet yang sering berganti dalam masa-masa awal kemerdekaan Indonesia. Puncak kejayaan PNI adalah ketika berhasil menempatkan Ali Sastroamidjojo tahun 1954 dan mendorong diadakannya Konperensi Asia-Afrika tahun 1955 di Bandung. Sebelum diadakannya konperensi tersebut, PNI sempat mengadakan kongres ke-VII di kota yang sama. PNI seakan-akan merayakan kejayaanya di kota yang telah melahirkannya. Luar biasa kemeriahan yang berlangsung di Bandung kala itu, seperti terlihat dalam dokumentasi yang dimuat buku laporan kongres PNI ke-VII berikut :

Image

Image

Gedung Concordia di Bandung, tempat diadakannya kongres PNI ke-VII tahun 1954

Image

Massa PNI membludak menghadiri rapat umum di Lap. Tegalega Bandung

PNI menjadi salah satu partai yang memperoleh hasil terbesar dalam pemilu 1955. Tapi dikarenakan tidak ada partai yang memperoleh suara mayoritas, maka seperti sebelum-sebelumnya, kabinet yang terbentuk pun seringkali seumur jagung, jatuh bangun dalam waktu singkat. Stabilitas nasional menjadi terganggu. Para tahun 1958 Presiden Soekarno akhirnya membubarkan parlemen dan mencanangkan demokrasi terpimpin. Sejak itu PNI menjadi penyokong utama program-program Presiden Soekarno hingga kejatuhannya tahun 1967.

Selepas terjadinya peristiwa pemberontakan Gestok, PNI kembali mengalami perpecahan. Semua itu diawali ketika Sekertaris Jenderal Partai, Ir. Surachman mengeluarkan statemen tanggal 1 Oktober yang memberikan simpati terhadap gerakan kudeta tersebut. Pemecatan pun dilakukan terhadap mereka yang menolak garis kebijakan partai, namun mereka yang dipecat pada tanggal 4 Agustus 1965 mengeluarkan deklarasi pembentukan PNI Baru. Kedua versi PNI ini baru bersatu setelah diadakan Kongres Luar Biasa di Bandung tanggal 24-27 April 1966 yang diprakarsai Letjen Soeharto selaku pemegang kuasa Supersemar.

Saat itu PNI telah menuju jurang kehancuran yang disebabkan kekisruhan internal dan serangan eksternal. Demonstrasi dan teror dilakukan terhadap kantor-kantor PNI di seantero negeri. Kebijakan-kebijakan pemerintah pun banyak yang merugikan dan membatasi gerak partai ini. Puncaknya adalah ketika pemerintah Orde Baru membatasi jumlah partai pada tahun 1973. Tepatnya pada tanggal 10 Januari 1973 pukul 24.00 resmilah fusi antara PNI, Partai Ikatan Pendukung Kemerdekaan Indonesia (IPKI), Partai Kristen Indonesia (Parkindo), Partai Katolik, dan Partai Murba menjadi  Partai Demokrasi Indonesia (PDI).  Tanggal tersebut turut menjadi tanggal matinya PNI yang terlahir tanggal 4 Juli 1927 di Bandung.

Partai Nasional Indonesia (PNI) sebagai Partai Rakyat telah tidak ada. Tetapi sebagai pergerakan rakyat dengan semboyannya “Indonesia Merdeka Sekarang” dan banteng sebagai lambang perjuangannya telah berhasil bersama-sama seluruh rakyat Indonesia mengantarkan rakyat Indonesia memasuki pintu gerbang Kemerdekaan Bangsa Indonesia dant etap tegar mempertahankan Pancasila di bumi Indonesia.

Image

Guntur Soekarnoputra menjadi jurkam untuk PNI

Image

Para pengurus PNI berpose bersama Soeharto selaku pemegang kuasa Supersemar tahun 1966

****

Demikian sejarah singkat Partai Nasional Indonesia (PNI) sejak lahir hingga “kematiannya” dikisahkan dengan detail oleh salah seorang pendirinya, Prof. Soenario SH. dalam buku Banteng Segitiga (Yayasan Marinda Jakarta, 1988). Buku yang sangat berharga karena ditulis oleh pelaku sejarahnya langsung. Prof. Soenario SH. atau lebih dikenal sebagai Mr. Soenario lahir tanggal 28 Agustus 1902, lulus tahun 1925 dari Universitas Leiden, selanjutnya sangat aktif dalam dunia perpolitikan nasional. Di antaranya dalam pendirian PNI, Sumpah Pemuda, Kepanduan, Kabinet RI, dan lain-lain. Beliau adalah salah satu generasi perintis kemerdekaan yang usianya cukup lanjut. Bayangkan saja, ketika buku ini ditulis tahun 1972 beliau telah berusia 70 tahun. Beliau pun sempat menyaksikan cetak ulang buku ini tahun 1988. Sebelumnya pada tanggal 6 Agustus 1985 Presiden Soeharto memberikan gelar Mahaputera Adipradana kepada Mr. Soenario.

Lewat kisah yang dipaparkan Mr. Soenario dalam buku Banteng Segitiga ini aku mengajak pembaca untuk mengingat kembali peran Bandung dalam sejarah pergerakan Nasional. Kota ini harus dicatat sebagai lokasi munculnya partai politik pertama yang menggariskan perjuangan non koperatif. Bandung selayaknya tidak hanya dikenal lewat mojang-mojangnya yang cantik atau factory outletnya. Bandung harus dikenal lewat kemampuannya untuk menghasilkan perubahan-perubahan di negeri ini. Mereka yang menentang perubahan pasti merasa khawatir apabila Bandung melepaskan energinya kembali. Lihat saja beberapa aksi spektakuler  di masa orde baru yang diawali dari aksi mahasiswa di Bandung.

Kota yang dirancang untuk pensiunan dan pelajar ini memang tidak bisa dianggap remeh. Penguasa kota ini bisa saja terlibat korupsi, suatu aib yang memalukan, tapi warganya adalah penggerak perubahan. Kota ini sangat berpengaruh secara politis. Bandung adalah barometer. Bandung adalah episentrum.  Bandung adalah energi.

18
Jun
15

Kenegaraan : Misteri Angka 9696 dan Harta Karun Soekarno

MISTERI ANGKA 9696 DAN HARTA KARUN SOEKARNO


HARTA karun peninggalan mantan presiden Soekarno selama ini masih misteri, bahkan tak sedikit yang meragukannya. Kasus kegagalan pencarian harta peniggalan Prabu Siliwangi di Istana Batutulis beberapa waktu lalu, sepertinya memupus harapan orang untuk memercayai hal-hal yang sulit dibuktikan kebenarannya.

Namun lelaki yang menyebut diri satria piningit bernama Soenuso Goroyo Soekarno mengaku dapat mengangkat peninggalan Presiden Pertama RI itu. Bentuknya berupa ratusan keping emas lantakan, platinum, sertifikat deposito obligasi garansi, dan lain-lain. ”Ini baru sampel dan silakan mengecek kebenarannya. Jika bohong, saya siap digantung,” katanya, Jumat kemarin, kepada pers.

Mantan anggota TNI yang dahulu bernama Suwito itu sengaja mengundang wartawan di rumahnya, Perumahan Cileungsi Hijau, daerah perbatasan Bogor-Bekasi, untuk menyaksikan temuannya. Di rumahnya yang cukup megah disiapkan hidangan layaknya orang hajatan. Maklum, Goroyo, begitu dia biasa disapa, juga mengundang Pangdam Jaya, Kapolda, dan anggota Muspida. Tetapi dari mereka, tak ada pejabat datang.

Kepada tamunya, suami RA Lastika ini memperlihatkan peti besar berisi ratusan keping emas lantakan, masing-masing beratnya 8 ons bergambar Soekarno dan di baliknya ada gambar padi dan kapas. Pada satu sisinya ada tulisan 80 24K 9999. Sementara itu emas putih (platinum) juga berbentuk lantakan berlogo tapal kuda putih bertulisan JM Mathey London. Logam itu dibungkus emas dan bersertifikat emas pula.

Meskipun bersertifikat dan diyakini keasliannya, pada kesempatan itu tidak dihadirkan orang yang mengetahui emas atau pakar yang bisa memastikan asli atau tidak harta benda tersebut.

Memberi Kuasa

Peninggalan lain berupa sertifikat deposito bertanggal 16 Agustus 1945 yang dikeluarkan oleh BPUPKI yang menyebut sejumlah harta yang disimpan di suatu tempat.Adapula sertifikat berbahasa Inggris yang juga disegel dan ditulis di atas lembar kuningan. Sertifikat itu ada yang bertuliskan ”Hibah Substitusi” yang dipercayakan kepada R Edi Tirwata Dinata (108).

Yang terakhir ini, konon karena sudah tua, lantas memberikan kuasa kepada R Anton Hartono untuk mengurus harta benda yang disimpan di Swiss. Bentuknya mikrofilm, dua lembar dokumen, anak kunci boks deposit di JBS, Jenewa, dan dua buah koin. Di dalam sertifikat itu disebutkan, ada dana berjumlah 126,2 miliar dolar AS dan 63,10 miliar dolar AS.

”Insya Allah, jika saya diberi izin, semua harta peninggalan Bung Karno ini bisa membayar utang kita. Saya yakin bisa melaksanakannya,” ungkap Goroyo sembari membantah dirinya paranormal. Dia juga membantah berambisi menjadi presiden atau jabatan politis lain. ”Semua saya lakukan dan beberkan untuk membangun negara kita,” tegasnya.

Saat mendekati rumahnya, di pintu gerbang perumahan dan di depan rumahnya terpampang spanduk putih bertulisan merah, ”Satrio Piningit Soenuso Goroyo Soekarno sang Juru Selamat Telah Hadir di Bumi Indonesia.”

Namun wartawan yang datang sejak pukul 11.00, baru diterima seusai shalat jumat. Goroyo mengenakan stelan jas putih, sepatu putih, mirip yang dikenakan Presiden Soekarno.

Di ruang tamunya juga dipajang foto dirinya bersama seorang jenderal.Adapula yang memperlihatkan saat dirinya menjadi anggota Batalyon Arhanud SE 10/Kodam Jaya. Namun, dia enggan membeberkan latar belakang jati dirinya. ”Saya ini orang susah. Jadi tentara pangkatnya juga di sini (memegang lengannya). Jika saya pakai pakaian seperti ini, hanya model. Kebetulan saya suka,” tuturnya.

Proses Pencarian

Goroyo mengemukakan, dia hanya ingin ada saksi dari aparat soal harta temuannya itu. Selanjutnya akan diserahkan kepada Presiden Megawati dan diharapkan bisa melunasi utang luar negeri pemerintah. ”Saya tidak ingin imbalan apa pun termasuk jabatan. Saya hanya butuh pengakuan dan surat kuasa untuk meneruskan pencarian harta ini. Namun tampaknya Kapolda dan Kapolri berhalangan.”

Dia menceritakan proses pencarian harta tersebut. Diawali dari kebiasaannya bertirakat di berbagai tempat, lantas mendapatkan petunjuk. Petunjuk awal adalah sebuah tongkat wasiat yang diyakini tongkat komando milik Presiden Soekarno yang kemudian disimpannya hingga kini.

Selanjutnya, dengan tirakat pula, secara gaib harta benda itu bisa diangkat dari beberapa daerah di Bali, Jawa Tengah, dan Sumatera Selatan. ”Meskipun benda ini kini nyata, tapi awalnya adalah harta gaib. Jadi, mengambilnya juga dengan cara gaib. Saya tidak boleh memilikinya. Saya diperintahkan menyerahkan kepada negara untuk menyelamatkan bangsa,” paparnya.

Ketika disinggung, kenapa justru membeberkan kepada wartawan, bukan langsung menyerahkan kepada pemerintah, Goroyo menyatakan dirinya sudah capai berhubungan dengan pejabat. Awalnya dia melapor kepada Presiden Megawati, tapi tidak digubris. Kemudian kepada mantan atasannya, Kol Art Harus Putri Osa, Dan Men Arhanud I Kodam Jaya, ke Mabes TNI, bahkan juga dilaporkan kepada anggota DPR Permadi SH.

Namun semua seperti tidak menghiraukannya. ”Karena itu, saya mengundang rekan-rekan wartawan untuk menyaksikan langsung,” ujar Goroyo sembari menegaskan, sebagai satria piningit dirinya mengemban tugas menyelamatkan bangsa. Sebutan satria itu dia jelaskan, tidak ada kaitannya dengan ramalan yang pernah diucapkan Permadi bahwa negeri ini akan dipimpin satria piningit.

Harta Karun Soekarno , Akhirnya Ditemukan Juga

GW sengaja menulis judul sedikir merangsang adrenalin kita sebagai manusia dengan kata pembuka “Harta Karun”. Padahal maksudnya sih kiasan saja sebagai suatu ungkapan metaforik analitik setelah menyusuri sejarah Bangsa Indonesia. Judul aslinya adalah “Bangsa Indonesia dan Harta Karun Soekarno”. Membaca tulisan ini, Anda boleh percaya dan boleh juga tidak. Tidak ada paksaan dalam membaca. Tapi mulailah berpikir dan merenungkannya.

Beberapa waktu yang lalu kita sempat dihebohkan dengan berita mengejutkan tentang Harta Karun Warisan Presiden Soekarno yang disebut-sebut berupa emas, perak yang sangat berharga dan khabarnya dapat membayar seluruh hutang Bangsa Indonesia. Isu dan kisah harta warisan Soekarno pun bergulir. Korbannya tak tanggung-tanggung “Seorang Menteri Agama era Megawati” mengacak-ngacak situ purbakala di Bogor. Amarah dan cemooh pun bermunculan karena kenaifan, kedunguan, ketamakan dan keserakahan si menteri yang belakangan diseret pengadilan karena kasus korupsi “Dana Abadi Umat”. Semenjak peristiwa yang memalukan di Bogor itu kisah harta karun peninggalan Soekarno masih terdengar beberapa waktu kemudian. Klaim-klaim masih bermunculan, umumnya dari dukun dan paranormal. Namun pelan-pelan kisah harta itu pun kemudian lenyap meskipun masih mengendap menjadi sisa informasi di benak kebanyakan masyarakat Indonesia yang kelak akan muncul kembali dengan kisah yang barangkali lebih sedap dengan sedikit rasa pedas di lidah yang membuat merah muka.

Kemunculan kisah harta karun Soekarno yang sempat menghebohkan itu memang membuat banyak orang yang kecondongannya tamak menjadi ngiler. Darimana sumber asal kisah itu pun masih simpang siur, tak ketahuan rimbanya. Mungkin salah satu makhluk halus penghuni pulau Jawa yang membisikkan salah satu budaknya untuk membisik-bisikkan tentang pusaka warisan bangsa Indonesia itu. Tapi apa tepatnya Harta Pusaka warisan Soekarno itu? Tak ada satu pun ahli atau pakar yang berminat menyibak misterinya karena tentunya takut di bilang ketularan ketamakan atau di bilang dungu karena percaya pada bisikan paranormal yang tak jelas ujung pangkalnya.


Saya justru tertarik mengungkapkan Harta Peninggalan Soekarno itu bukan dari perspektif perhartakarunan dengan gambaran emas, perak atau intan permata. Tapi dari perspektif kesejarahan Bangsa Indonesia yang jejaknya telah ditemukan oleh Sokarno di kawasan Bogor yang tidak lain adalah prasasti Batu Tulis sebagai peninggalan masa lalu yang menyimpan sejarah bangsa Indonesia dan erat kaitannya dengan transmisi pengetahuan yang saat ini sudah sangat dikenal.

Gagasan saya mengaitkan harta karun Soekarno dengan peninggalan sejarah di Batu Tulis saya ilhami dari karakter Soekarno itu sendiri yang memadukan intelektualitas dan kemampuan citarasanya yang tinggi tentang berbagai seni dan budaya di tanah air. Benar, saya kemudian harus berasumsi bahwa ungkapan Harta Karun Bangsa Indonesia sebenarnya dinyatakan oleh Soekarno sendiri dengan suatu gaya pengungkapan metaforis puitis sebagai karakter dasar beliau. Seseorang yang menguping ungkapan terselubung ini kemudian mengira bahwa yang diungkapkan Soekarno adalah harta beneran berupa emas, perak, atau berlian yang tersimpan di suatu tempat di Bogor, bahkan ada yang mengatakannya tersimpan di suatu Bank di Swiss. Padahal yang dimaksud Soekarno adalah peninggalan di Bogor yaitu Batu Tulis yang menyimpan rahasia emas dan perak sebagai simbologi tentang sumber asal Pengetahuan Tuhan yang telah dikenal semasa kerajaan Areuteun, bahkan mungkin jauh sebelum era kerajaan Areueun maupun Taruma Negara.

Soekarno selain seorang yang teknis, paham ilmu rekayasa, ia pun dikenal sebagai ahli kesenian. Bukan sekedar seni tari atau lukis, namun ia adalah sastrawan yang paham benar ungkapan-ungkapan al-Qur’an, Injil, Kitab Siwa-Budha maupun agama Hindu, dan kenal benar karya sastra lokal (termasuk cerita daerah) maupun dunia. Sehingga gaya pengungkapannya ketika berkaitan dengan suatu titik tolak entitas kebangsaan Indonesia meniru ungkapan kitab-kitab agama dengan maksud-maksud terselubung.

Maksud terselubung itu berkaitan dengan kemampuan manusia idaman Indonesia yang diimpikan Soekarno sebagai manusia yang mestinya cerdas, berpengetahuan lahir maupun batin dengan butir-butir yang tercantum dalam Pancasila. Singkatnya, impian Soekarno tentang Manusia Indonesia di masa depan adalah “yang jenius sekaligus yang relijius” sebagai figur diri Soekarno sendiri. Dengan menyelubungi rahasia titik tolak asal usul pengetahuan Bangsa Indonesia itu, Soekarno menyodorkan suatu teka-teki mistis “Harta Pusaka Indonesia” atau yang belakangan dihebohkan sebagai “Harta Karun Peninggalan Soekarno”.

Pengungkapan demikian mempunyai tujuan. Tujuan utamanya adalah melindungi Pusaka itu dari tangan-tangan jahil yang tidak bertanggung jawab. Bagi yang mempunyai kecondongan tamak dan serakah, pastilah akan mengira kalau ungkapan terselubung itu berkaitan dengan emas, perak dan intan berlian. Jadi, meskipun Soekarno tak pernah menyatakan Harta Pusaka itu sebagai emas dan perak maupun berlian, perkiraan seperti itu muncul belakangan dari orang-orang yang sempat mendengar atau menguping ungkapan Soekarno dan menafsirkannya dengan ketamakan dan keserakahan akan kemaruknya harta dunia. Dan umumnya manusia mengira demikian karena selubung metaforis Soekarno memang hanya dapat dipahami oleh orang-orang yang paham benar dengan karakteristik Soekarno sebagai intelektual lahir dan batin yang membaca banyak buku teknis, sastra, filsafat dan kenal karakteristik dasar seluruh ajaran agama yang ada di Indonesia. Mereka yang tamak dan serakahpun terkecoh dan babak belur dengan korban pertama seorang menteri yang mengaku dapat bisikan paranormal.

Kalau kita lebih jernih menelusuri sejarah hidup Soekarno, sebenarnya menjadi jelas kalau ungkapan Harta Pusaka Soekarno berkaitan dengan JEJAK SEJARAH MANUSIA INDONESIA yang jejak-jejaknya tertera di prasasti-prasasti yang ditemukan di seluruh wilayah Indonesia. Salah satu yang tertua adalah prasasti Batu Tulis yang ada di Wilayah Bogor yang sampai hari ini menurut perbincangan arkeolog di situs menyimpan misteri yang belum terpecahkan yaitu misteri TULISAN IKAL. Mengenai tulisan ikal sebenarnya sudah saya singgung di risalah Sangkan Paraning Dumadi : Mengintip Fajar Pulau Jawa dalam cacatan sejarah telah dikenal oleh Cina melalui tulisan pendeta Budha Fa Hsien yang terdampar di “Ya-wa-di” dan tinggal di situ selama 5 bulan setelah berlayar selama 90 hari dari Srilangka menuju Kanton pada tahun 414 M. Menurut catatan Fa-Hsien, belum ada pemeluk agama Budha yang ada adalah pendeta Brahmana, jadi saat itu agama Hindu telah ada di Kawasan Jawa atau Javadvipa.

Kontak resmi Cina dengan Ja-wa secara resmi dimulai di zaman Dinasti Sung (420-479 M) yang pada tahun 435 M menerima utusan Ja-wa-da atau Jawa Dwipa yang diperintah oleh Sri Pa-da-do-a-la-mo. Yang membawa sepucuk surat dan upeti. Negara asal dari utusan raja Jawa Kuno itu seringkali disebut sebagai Holotan yang diidentifikasikan oleh Prof. Slamet Muljana sebagai Areuteun kerajaan tertua di Jawa Barat sebelum masa Taruma. Bahkan kerajaan Holotan ini bisa dikatakan sebagai kerajaan tertua di Jawa, lebih tua dari “Ho-ling” atau Keling di lembah sungai Brantas Jawa Timur. Utusan kerajaan Tarumanegara atau menurut teks Cina To-Lo-Mo datang ke Cina pertama kali pada tahun 528 M, sekitar 100 tahun setelah utusan pertama kerajaan Holotan atau Areuteun tadi. Hubungan Cina dengan Tarumanegara terus berlanjut sampai Tarumanegara ditumbangkan Kerajaan Sriwijaya pada tahun 686 M. Arus peradaban dan pelayaran pun bergeser ke Sriwijaya di Sumatra dan Holing atau Keling di Jawa Timur.

Jawa Barat merupakan pusat keramaian yang tertua yang tercatat oleh sejarah di Indonesia. Wilayah kerajaan tertua itu diidentifikasi oleh Profesor Slamet Mulyana sebagai Areuteun di muara sungai Ciliwung. Tidak banyak informasi yang tersedia mengenai kerajaan Areuteun yang muncul sekitar tahun 414 M di Jawa Barat sebelum kerajaan Galuh Pakuan pada tahun 686 M. Catatan tentang kerajaan ini diperoleh dari Fa-Hsien seorang Buddha yang terdampar di Jawa dan prasasti Ciareuteun. Namun, sedikitnya sejarawan Indonesia seperti Prof. Slamet Muljana pernah mengulas tentang kerajaan ini yang bukunya sampai hari ini belum saya temukan di toko buku. Jadi, memang sulit sekali seperti aja wajah kerajaan Areuteun ini yang muncul sekitar 272 tahun sebelum galuh Pakuan dengan nama rajanya yang disebut dalam catatan raja-raja Cina sebagai Holotan.

Di Internet topik “Areuteun” atau “Ciareuteun” ditemukan di suatu situs yang nyaris menjadi situs purba sesuai namanya karena nampaknya aktivitas anggotanya sangat rendah, situs itu adalah situs yang rupanya dikelola oleh mahasiswa arkeologi UI. Diskusi tentang Ciareuteun ditemukan sebagai suatu topik yang cukup hangat dibawah sub-judul “Hindu-Budha Archeology” meskipun nampaknya diskusi itu tidak berlanjut. Kutipannya secara ringkas tentang Areuteun antara lain menjelaskan beberapa prasasti yang ditemukan di Kawasan Jabodetabek.

Dalam suatu topik posting yang dipicu oleh nickname “Manchu Pichu” disebutkan bahwa di daerah Ciampea ada beberapa prasasti. Lahan tempat prasasti-prasasti ini ditemukan berbentuk bukit rendah berpermukaan datar dan diapit tiga batang sungai: Cisadane, Cianten dan Ciaruteun. Sampai abad ke-19, tempat itu masih dilaporkan dengan nama Pasir Muara. Dahulu termasuk bagian tanah swasta Ciampea. Sekarang termasuk wilayah Kecamatan Cibungbulang.

Transkrip diskusi yang dapat ditemui di situs saya lampirkan (berhubung forum di situs tsb mendadak ditutup,jadi saya copy pastekan saja transripnya):

apakah ada yang tahu dimana letaknya prasasti jambu, yaitu prasasti tapak kaki purnawarman…bukan yg di ciaruten..katanya didaerah leuwiliang di bukit koleangkak. tapi orang di daerah leuwiliang tidak ada yg tahu. thx b4

Adapun Prasasti yang di temukan di Sungai Ciareuteun adalah TAPAK KAKI MANUSIA (PURNAWARMAN ) DENGAN DUA JENIS TULISAN, YAITU SANSEKERTA DAN ‘IKAL’ SERTA BEBERAPA GAMBAR SEPERTI LABA-LABA. Kedua prasasti ini letaknya tidak berjauhan dengan jarak lebih kurang 300 m (mohon dikoreksi). Jadi yang dimaksud prasasti Jambu adalah prasasti Tapak Kaki Gajah. Disebut Prasasti Jambu, karene letaknya yang berada di Desa Jambu.

Kemudian, di muara sungai (pertemuan dua sungai) Cianteun (mohon dikoreksi) juga ada Prasasti dengan HURUF IKAL. Letaknya masih berada di Sungai (sebagian batu tempat prasasti dipahatkan terendam air sungai), sedangkan prasasti Ciereuteun sudah dipindahkan lebih kurang 70 m ke dataran yang lebih tinggi (sekarang berada di dalam cungkup). Jarak kedua prasati ini lebih kurang 500 m (mohon dikoreksi).

Semoga ini bisa membantu (juga koreksi untuk posting ismanujev sebelumnya)

Didaerah Ciampea ada beberapa prasasti. Lahan tempat prasasti-prasasti ini ditemukan berbentuk bukit rendah berpermukaan datar dan diapit tiga batang sungai: Cisadane, Cianten dan Ciaruteun. Sampai abad ke-19, tempat itu masih dilaporkan dengan nama Pasir Muara. Dahulu termasuk bagian tanah swasta Ciampea. Sekarang termasuk wilayah Kecamatan Cibungbulang.


Kampung Muara tempat prasasti Ciaruteun dan Telapak Gajah ditemukan, dahulu merupakan sebuah “kota pelabuhan sungai” yang bandarnya terletak di tepi pertemuan Cisadane dengan Cianten. Sampai abad ke-19 jalur sungai itu masih digunakan untuk angkutan hasil perkebunan kopi. Sekarang masih digunakan oleh pedagang bambu untuk mengangkut barang dagangannya ke daerah hilir.

Prasasti pada zaman ini menggunakan aksara Sunda kuno, yang pada awalnya merupakan perkembangan dari aksara tipe Pallawa Lanjut, yang mengacu pada model aksara Kamboja dengan beberapa cirinya yang masih melekat. Pada zaman ini, aksara tersebut belum mencapai taraf modifikasi bentuk khasnya sebagaimana yang digunakan naskah-naskah (lontar) abad ke-16.

Prasasti-prasati itu antara lain:

Prasasti Pasir Muara

Prasasti ini ditemukan di Pasir Muara, di tepi sawah, tidak jauh dari prasasti Telapak Gajah peninggalan Purnawarman. Prasasti itu kini tak berada ditempat asalnya. Dalam prasasti itu dituliskan :

ini sabdakalanda rakryan juru panga-mbat i kawihaji panyca pasagi marsa-n desa barpulihkan haji su-nda

Terjemahannya menurut Bosch:

Ini tanda ucapan Rakryan Juru Pengambat dalam tahun (Saka) kawihaji (panca (5) pasagi (4), pemerintahan begara dikembalikan kepada raja Sunda.

Karena angka tahunnya bercorak “sangkala” yang mengikuti ketentuan “angkanam vamato gatih” (angka dibaca dari kanan), maka prasasti tersebut dibuat dalam tahun 458 Saka atau 536 Masehi (catatan penulis: nabi Muhammad lahir tahun 571 M).

Prasasti Ciaruteun

Prasasti Ciaruteun Museum Sejarah Jakarta

Prasasti Ciaruteun ditemukan pada aliran Sungai Ciaruteun, seratus meter dari pertemuan sungai tersebut dengan Sungai Cisadane; namun pada tahun 1981 diangkat dan diletakkan di dalam cungkup. Prasasti ini peninggalan Purnawarman, beraksara Palawa, berbahasa Sansekerta. Isinya adalah puisi empat baris, yang berbunyi:

vikkrantasyavanipateh shrimatah purnavarmmanah tarumanagararendrasya vishnoriva padadvayam

Terjemahannya menurut Vogel:

Kedua (jejak) telapak kaki yang seperti (telapak kaki) Wisnu ini kepunyaan raja dunia yang gagah berani yang termashur Purnawarman penguasa Tarumanagara.

Selain itu, ada pula gambar sepasang “pandatala” (jejak kaki), yang menunjukkan tanda kekuasaan fungsinya seperti “tanda tangan” pada zaman sekarang. Kehadiran prasasti Purnawarman di kampung itu menunjukkan bahwa daerah itu termasuk kawasan kekuasaannya. Menurut Pustaka Rajyarajya i Bhumi Nusantara parwa II, sarga 3, halaman 161, di antara bawahan Tarumanagara pada masa pemerintahan Purnawarman terdapat nama “Rajamandala” (raja daerah) Pasir Muhara.

Prasasti Telapak Gajah

Prasasti Telapak Gajah bergambar sepasang telapak kaki gajah yang diberi keterangan satu baris berbentuk puisi berbunyi:

jayavi s halasya tarumendrsaya hastinah airavatabhasya vibhatidam padadavayam

Terjemahannya:

Kedua jejak telapak kaki adalah jejak kaki gajah yang cemerlang seperti Airawata kepunyaan penguasa Tarumanagara yang jaya dan berkuasa.

Menurut mitologi Hindu, Airawata adalah nama gajah tunggangan Batara Indra dewa perang dan penguasa Guntur. Menurut Pustaka Parawatwan i Bhumi Jawadwipa parwa I, sarga 1, gajah perang Purnawarman diberi nama Airawata seperti nama gajah tunggangan Indra. Bahkan diberitakan juga, bendera Kerajaan Tarumanagara berlukiskan rangkaian bunga teratai di atas kepala gajah. Demikian pula mahkota yang dikenakan Purnawarman berukiran sepasang lebah (an-Nahl).

Ukiran bendera dan sepasang lebah itu dengan jelas ditatahkan pada prasasti Ciaruteun yang telah memancing perdebatan mengasyikkan di antara para ahli sejarah mengenai makna dan nilai perlambangannya. Ukiran kepala gajah bermahkota teratai ini oleh para ahli diduga sebagai “huruf ikal” yang masih belum terpecahkan bacaaanya sampai sekarang. Demikian pula tentang ukiran sepasang tanda di depan telapak kaki ada yang menduganya sebagai lambang labah-labah, matahari kembar atau kombinasi surya-candra (matahari dan bulan) *asy Syams-al-Qamar). Keterangan pustaka dari Cirebon tentang bendera Tarumanagara dan ukiran sepasang “bhramara” (lebah) sebagai cap pada mahkota Purnawarman dalam segala “kemudaan” nilainya sebagai sumber sejarah harus diakui kecocokannya dengan lukisan yang terdapat pada prasasti Ciaruteun.

Prasasti lain

Di daerah Bogor, masih ada satu lagi prasasti lainnya yaitu prasasti batu peninggalan Tarumanagara yang terletak di puncak Bukit Koleangkak, Desa Pasir Gintung, Kecamatan Leuwiliang. Pada bukit ini mengalir (sungai) Cikasungka. Prasasti inipun berukiran sepasang telapak kaki dan diberi keterangan berbentuk puisi dua baris:

Shriman data kertajnyo narapatir – asamo yah pura tarumayam nama shri purnnavarmma pracurarupucara fedyavikyatavammo tasyedam – padavimbadavyam arnagarotsadane nitya-dksham bhaktanam yangdripanam – bhavati sukhahakaram shalyabhutam ripunam.

Terjemahannya menurut Vogel:

Yang termashur serta setia kepada tugasnya ialah raja yang tiada taranya bernama Sri Purnawarman yang memerintah Taruma serta baju perisainya tidak dapat ditembus oleh panah musuh-musuhnya; kepunyaannyalah kedua jejak telapak kaki ini, yang selalu berhasil menghancurkan benteng musuh, yang selalu menghadiahkan jamuan kehormatan (kepada mereka yang setia kepadanya), tetapi merupakan duri bagi musuh-musuhnya.

Salah satu misteri yang belum diungkapkan dari temuan prasasti Ciareuteun di Jawa Barat yang menarik perhatian saya adalah tulisan atau simbol yang disebut huruf ikal. Saya kemudian melakukan posting yang berkaitan dengan tulisan Ikal dan prasasti Ciareuteun dari Jabar sehubungan dengan simbol-simbol Indra, Petir, Gajah, Teratai, Laba-laba dan Lebah yang tertera pada prasasti yg di temukan di Jabar.

Saya secara teknis akademis bukan arkeolog , tetapi melihat topik diskusi yang berkaitan dengan Tulisan Ikal dan Prasasti Ciareuteun dari Jabar yang berlaitan dengan simbol-simbol Indra, Petir, Gajah, Teratai, Laba-laba dan Lebah yang tertera pada prasasti yg di temukan di Jawa Barat.

Sebenarnya saya mempunyai suatu spekulasi yang muncul dari kemungkinan historis adanya transmisi pengetahuan dari wilayah India, Jawa, ke Mediterania, dan akhirnya berujung kembali di wilayah asalnya yaitu Aleksandria tempat dimana Perpustakaan Terlengkap di Dunia pernah Berdiri dan 9 pemikir Agung menekuni sains. Khususnya berkaitan dengan simbol-simbol agama Siwa Budha dan Islam yaitu simbol Asy Syams (Matahari), Petir (Ar Rad), al-Qamar (Bulan), Lebah (an-Nahl), laba-laba dan Gajah sebagai tunggangan Dewa Indra (Raa, atau Matahari), Bunga Sidrath atau Lotus Tree dengan simbol-simbol dari Mesir.

(tambahan saya: Jadi, gajah tunggangan Dewa Indra sejatinya simbolisme Ganesha atau Gajah sebagai lambang ilmu pengetahuan dimana dua gading gajah menunjukkan makna ilmu pengetahuan bagai gading yang mudah retak dan siapapunyang tak mampu menjaganya akan dililit oleh belalai Si Gajah sebagai suatu ungkapan simbolik metaforik bahwa ilmu pengetahuan adalah netral, baik dan buruknya tergantung pada manusia yang mengimplementasikannya)

Transkrip tulisan ikal itu mungkin bukan tulisan tetapi simbologi Indra Maya sebagai realitas The matrix yang menjadi asal usul penulisan seluruh sistem huruf-huruf yang ada di dunia khususnya sistem dengan 5, 20 (jawa), 22 (Phoenicia), 26(Latin), dan 28 huruf (hiajiah) (saya tak tahu jumlah huruf Sansekerta). Jadi boleh jadi huruf palawa, sansekerta, jawa atau tulisan di Kawasan Asia juga sama asal usulnya dengan simbol dasar tulisan yang muncul di Mediterania khusunya Phoenicia, Aramaik, Yunani, Arab, Hebrew dan lain-lainnya.

Konsep dasar Indra Maya adalah teori Bilangan Euclids yaitu bilangan sempurna 6=1+2+3 dengan pemodelan 9696 :
  • 9 adalah simbol realitas yang tercitra di akal pikiran,
  • 6 adalah bayangan realitas di retina mata manusia,
  • 9 adalah tampilan fenomena realitas benda-benda di bawah naungan sinar matahari,
  • 6 adalah simbol kelahiran Sang Waktu alias Matahari itu Sendiri sebagai Indra.
Prasasti yang mencetak simbol tersebut menyembunyikan arti bahwa cikal bakal kerajaan Kuno di Tanah Sunda adalah seorang raja yang menguasai ilmu pengetahuan dengan transmisi yang berasal dari Yunani Kuno, Mesir, India dan Cina.

Sampai sejauh ini saya masih berspekulasi atas kemungkinan diatas karena kurangnya literatur yang kompeten atau tidak tahu sama sekali karena bidang saya bukan arkeologi. Untuk itu saya membuat tulisan yang lebih banyak saya warnai dengan gaya berkisah karena kurangnya dasar-dasar ilmiah yang dapat dipercaya kecuali penggunaan sejarah dan hubungannya dengan model fisika kuno yaitu Teori Bilangan Euclids untuk menjelaskan fenomena penampilan Kekuasaan Tuhan di muka Bumi yang sebenarnya ungkapan dan simbolnya ada di Al Qur’an dan mungkin kitab Siwa Buda (saya bukan beragama Budha tetapi Islam, jadi tidak tahu persis apa isi kitab penganut Siwa Budha).

Beberapa sejarah Kuno seperti di Cirebon menyebutkan bahwa raja pertama Tarumanegara adalah Adimulya, sebenarnya namanya adalah Adam Awlia sebagai simbolisme manusia yang menciptakan sistem huruf dan hitungan yang tidak lain adalah Nabi Adam a.s. Ajarannya muncul dari transmisi ajaran Ofirisme Phytagorean dimana yang menjadi landasan adalah hukum-hukum fisika yang berkaitan dengan pemantulan atau difraksi cahaya diatas cermin yang dikemudian hari digunakan sebagai model eksperimen Isaac Newton.

Bentuk huruf atau simbol Ikal, saat ini masih saya bayangkan berbentuk seperti tulisan 6 atau 9 yang saling bergulung atau 69 dengan lingkaran O yang makin membesar dari suatu titik pusat. Bentuknya memang akhirnya mirip OBAT NYAMUK yang kita kenal sekarang. Dan sejatinya memang yang kita sebut angka 6 atau 9 itu sejatinya bukan bilangan, namun simbolisme pertama kali ketika manusia Adam menyadari bentuk tampilnya Kekuasaan Tuhan yang tidak lain Simbol Siwa-Buda yaitu seperti bilangan 3. Dalam legenda Cirebon di sebut Walang Sungsang. Simbol 3 kemudian dalam ajaran Islam dinyatakan sebagai simbolisme penampilan Allah, Ar-Rahmaan, Ar-rahiim sebagai 3 Ism Agung dengan simbol geometris bidang segi 3.

Lantas bilangan pun kemudian disesuaikan dengan citra penampilan dan perasaan yang muncul 1+2+3=6, 2+3+4=9, lahirlah sistem bilangan dengan rujukan akhir 1+2+3+4=10, 10 jari tangan kita. Bilangan 6 disebut bilangan sempurna, sedangkan bilangan 3 disebut bilangan yang menjadi Pembagi Agung alias 3 Ism Agung.

Bilangan-bilangan lainnya muncul dengan mengalikan secara berturutan sebanyak 3 kali, 2x2x2=8, 3x3x3=27, 4x4x4=64=8×8 yang ternyata menthok ketika disandingkan dengan geometri dan disebut anomali runtuhnya papan catur Brahmana India. Bilangan kita ternyata hanya akurat sampai hitungan ke 7 kuadrat yaitu 7×7=49 alias Muthaa alias 7 langit bumi. Yang meruntuhkan adalah Si Bintang penembus yang disebut Ahmad nama kecil Nabi Muhammad SAW yang tidak lain adalah ADHI BUDHA atau Budha Yatim Piatu dengan cara memotong papan catur menjadi 4 bagian sehingga didapati bahwa 8×8=64 ternyata bisa menjadi 13×5=65, darimana angka 1 ini muncul? (silahkan cari jawabannya, hint nya buatlah kotak 8×8=64 yaitu kotak papan catur. Buat 3 garis dengan koordinat 0,5 dan 5,3 ; 5,8 dan 5,0 ; lalu garis ketiga 3,0 dan 8,8 dengan catatan sumbu matrisk 8×8 nya dimulai dengan angka 0; kemudian potonglah dengan mengikuti garis tersebut dan susun ulang dengan posisi membuat segi empat 13×5=65 kotak, jadi begitulah kenapa memori komputer hanya berupa kelipatan 64).

Mudah-mudahan postingan saya ini tidak membuat para ahli arkeologi puyeng karena secara tidak langsung saya mengaitkan temuan budaya dengan agama yang ada di Indonesia sejak dulu sampai hari ini yaitu Hindu, Budha, dan Islam dan mungkin juga Yuddeo Kristen yang sudah campur sari.
16
Jun
15

Kepemimpinan : 10 Pesan Bijak David Rockefeller

10 Pesan Bijak dari Orang Kaya Tertua di Dunia

on 15 Jun 2015 at 06:01 WIB

Liputan6.com, New York – Di usia 100 tahun, David Rockefeller, masih memiliki kecerdasan dan kecakapan. Ia merupakan orang kaya tertua di dunia saat ini.

Cucu dari taipan minyak John Davidson Rockefeller ini masih aktif di dunia filantropi dan keuangan. Hidupnya penuh dengan kemewahan sejak ia lahir seratus tahun lalu.

“Memakai nama Rockefeller membuat orang menjadi curiga dan sinis,” katanya kepada Forbes. “Banyak yang mengira pencapaian hidup saya karena nama itu bukan karena kerja keras.”

Dari awal bekerja, ia tidak mengikuti jejak kakaknya di dunia politik. Ia memilih mengembangkan Chase Manhattan Bank sampai sekarang.

Untuk merayakan ulang tahunnya yang seabad, Forbes, Senin (15/6/2015), mengutip kata-kata bijak yang pernah Rockefeller lontarkan ketika wawancara.

Beberapa kutipan juga berasal dari autobiografinya berjudul “Memoir”:

1. Dalam bisnis dan hidup, mendapat keuntungan itu penting.

“Daya tarik keuntungan menciptakan lapangan kerja, kekayaan, dan memberdayakan seseorang. Hal initidak dapat dilakukan oleh sistem sosial atau ekonomi apapun,” katanya.

2. Perceraian dan politik sangat mahal biayanya.

Seorang penasihat pernah mengatakan ada dua hal yang paling mahal di keluarga Rockefeller, jabatan publik dan bercerai.

3. Di tempat kerja, buatlah uang dan teman.

Kalimat ini mengacu pada apa yang dilakukan kakekknya. Ketika membicarakan bisnis, John Davidson Rockefeller selalu mengatakan betapa menyenangkan bekerja dengan orang-orang sekitarnya meskipun membutuhkan kerja keras dan waktu lama.


10 Pesan Bijak dari Orang Kaya Tertua di Dunia




Blog Stats

  • 4,137,731 hits

Archives

Recent Comments

Ratu Adil - 666 on Kenegarawanan : Harta Amanah B…
Ratu Adil - 666 on Kenegarawanan : Harta Amanah B…
Ratu Adil - 666 on Kenegarawanan : Harta Amanah B…
Ratu Adil - 666 on Kenegarawanan : Harta Amanah B…
Ratu Adil - 666 on Kenegarawanan : Harta Amanah B…