Posts Tagged ‘Local Wisdom

01
Sep
14

Kearifan Lokal : Elang Jawa atau Garuda

Sang ‘Garuda’ yang Terancam Punah

Taman Nasional Gunung Merapi berada di 2 provinsi, yakni Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta. Hutan tropis dataran tinggi terhampar di tengah Pulau Jawa ini. Sempat rusak akibat erupsi Gunung Merapi, namun hutan kini kembali asri.

Kawasan hutan seluas 6 ribu hektare ini menjadi habitat beragam tumbuhan dan satwa. Salah satu yang istimewa adalah elang Jawa yang bernama latin spizaetus bartelsi. Spesies burung predator yang ditetapkan sebagai lambang negara Republik Indonesia, Garuda Pancasila.

Sejumlah peneliti dari kelompok pengamat burung Raptor Indonesia (Rain) mendaki lereng Merapi. Rain mengamati perkawinan hingga perkembangbiakan elang Jawa.

Untuk mengamati perkembangbiakan elang Jawa, Rain mendaki hingga ketinggian 1.000 meter di atas permukaan laut. Para peneliti pun menemukan sarang elang Jawa yang langka. Setelah menanti berhari-hari, saat yang ditunggu-tunggu pun tiba. Seekor elang Jawa kembali ke sarang.

Para peneliti cukup beruntung. Sepasang elang Jawa terpantau bertengger di pohon tak jauh dari sarangnya. Elang Jawa betina memiliki ukuran tubuh lebih besar dan warna yang lebih pekat. Sedangkan elang Jawa jantan memiliki ukuran tubuh lebih ramping.

Biasanya, masa bertelur elang Jawa berlangsung pada bulan Januari hingga Juni. Sementara telur elang Jawa biasanya dierami selama kurang lebih 47 hari.

Menurut data Taman Nasional Gunung Merapi, hingga tahun lalu jumlah elang Jawa di kawasan itu hanya tersisa 4 ekor. Tak heran jika elang Jawa kini masuk daftar merah lembaga konservasi dunia. Statusnya kini terancam punah.

Elang Jawa tak bisa lepas dari mitologi burung Garuda, lambang negara Indonesia. Dalam kepercayaan Hindu, Garuda adalah wahana atau kendaraan Dewa Wisnu. Dalam relief Candi Prambanan terekam kisah heroik Garuda yang menyelamatkan Dewi Sinta dari cengkeraman Rahwana.

Sosok Garuda yang memiliki kekuatan, keperkasaan, dan kebajikan dijadikan dasar oleh para pendiri bangsa untuk menjadikannya sebagai lambang negara.

Elang Jawa dikenal sebagai burung pemangsa endemik. Tidak seperti burung pemangsa lainnya yang bermigrasi. Elang Jawa cenderung menempati habitat tertentu dalam waktu yang lama. Itulah salah satu faktor mengapa elang Jawa tidak ditemukan di wilayah lain Nusantara.

Kemiripan dengan lambang negara Garuda Pancasila membuat elang Jawa ditetapkan sebagai simbol satwa nasional melalui Keputusan Presiden (Keppres) Nomor 4 Tahun 1993.

Menyandang status sebagai satwa nasional tak membuat posisi elang Jawa aman. Justru elang Jawa kerap jadi sasaran perburuan dan perdagangan ilegal satwa langka.

Lalu bagaimana nasib sang ‘Garuda’ yang kini terancam punah itu? Apa upaya pemerintah melindungi burung simbol negara dari tangan-tangan manusia yang tak bertanggung jawab itu? Saksikan selengkapnya dalam tayangan video Potret Menembus Batas SCTV, Senin (1/9/2014) di bawah ini. (Ado)

Baca juga:

Perdagangan ‘Garuda’ Ilegal

Didong, Syiar Dalam Syair dari Tanah Rencong

Jejak Purba Manusia Sumatera

08
Oct
13

PusKesMas : Pisang Pencegah Jantung Koroner

Ditemukan … pisang pencegah jantung koroner

Minggu, 6 Oktober 2013 10:02 WIB |

Pewarta: Edy M Ya`kub

Surabaya (ANTARA News) – Tim mahasiswa Fakultas Teknologi Pertanian Jurusan Teknologi Pangan (FTP) Universitas Katolik Widya Mandala (WM) Surabaya menemukan pisang mentah memiliki kandungan `pati tahan cerna` yang bermanfaat untuk diet, membantu penderita autis, dan mencegah jantung koroner.

“Caranya, pisang mentah harus diolah menjadi tepung pisang, maka tepung pisang akan memiliki kandungan `pati tahan cerna` dan bersifat bebas gluten,” kata anggota tim mahasiswa WM, William Kusnanto, Minggu.

Didampingi dua rekannya, Christian Liguori dan Witny Widjaja, ia mengatakan kandungan `pati tahan cerna itu baik dikonsumsi oleh mereka yang sedang melakukan diet atau penderita autisme yang harus mengonsumsi makanan bebas gluten.

“Pati tahan cerna adalah pati yang tidak tercerna oleh enzim tubuh dan kemudian tersimpan di usus besar. Pati tahan cerna ini baik bagi orang-orang yang sedang melakukan diet, baik demi kesehatan maupun penampilan,” katanya.

Seperti halnya sayur dan buah-buahan yang menghasilkan serat, pati tahan cerna ini akan difermentasikan oleh bakteri di dalam usus besar dan menghasilkan senyawa asam propionat yang baik bagi tubuh dan berfungsi sebagai pencegah kanker.

“Cara kerjanya seperti obat penurun kolesterol, sehingga pisang mentah dalam bentuk tepung itu akan dapat mencegah terjadinya jantung koroner,” papar Christian menambahkan.

Sementara itu, Witny menambahkan karya ilmiah mereka memaparkan tentang bagaimana mencegah penyakit jantung koroner dengan mengonsumsi makanan yang mengandung pati tahan cerna.

“Fokus kami adalah pisang. Kami sengaja memilih pisang, karena pisang adalah produk pangan lokal yang bisa didapat dengan mudah dan tidak kenal musim, sehingga pisang menjadi alternatif dalam bidang pangan,” katanya.

Apalagi, dari segi harga, pisang bisa dikatakan memiliki harga yang terjangkau bagi banyak kalangan. “Ini juga meningkatkan nilai tambah produk pangan Indonesia yang bisa diekspor. Umumnya, pisang dikenal hanya dalam bentuk selai pisang, keripik pisang, atau pisang goreng. Pisang memang produk asli Indonesia yang kaya manfaat,” katanya.

Agar memiliki kandungan pati yang tinggi, pisang muda diolah terlebih dahulu menjadi tepung pisang. “Jika diolah menjadi tepung pisang, bisa diolah menjadi bahan dasar makanan, misalnya cookies, cake, pasta, atau mungkin mie,” ujarnya tentang jenis makanan yang bisa dihasilkan dari tepung pisang.

Mahasiswa semester 7 yang sedang menyusun skripsi itu menganggap bahwa pisang adalah komoditas hortikultura yang memiliki diversifikasi pangan yang cukup tinggi di Indonesia dan mengandung bioaktif, karena selain mengandung pati tahan cerna ternyata pisang juga mengandung antioksidan.

“Badan Pusat Statistik juga menyatakan pisang menjadi bahan pangan komoditas ekspor yang menyumbang sekitar 30 persen dari total ekspor buah di Indonesia,” katanya.

Terobosan ketiga mahasiswa WM itu membuat mereka menjadi juara 1 dalam “11th National Student Paper Competition” yang diadakan oleh Institut Pertanian Bogor pada 28 September 2013. Mereka mengambil topik “Breakthrough in Food Technology: Banana Against Coronary Heart Disease”.

Editor: Ella Syafputri

COPYRIGHT © 2013

BONUS :

“KHASIAT APOTIK HIDUP”

TEMPE: UTK KOLESTROL & MEMPERLAMBAT MENOPAUSE

TOMAT: MENTAH (VIT A+E) UTK RAMBUT RONTOK;
TOMAT: MATANG (ZAT LYCOPEN) UTK KANKER PAYUDARA & KANKER PROSTAT

NANAS: UTK KANKER PARU2 & KEPUTIHAN (TENGAHNYA JGN DIBUANG)

KIWI (VIT C-70X DR JERUK) + ANGGUR
HIJAU: UTK MELANGSINGKAN TUBUH

PENDERITA ASAM URAT: JGN MINUM KALDU DAGING

BUAH NAGA PUTIH: UTK KOLESTROL & DIABETES
BUAH NAGA MERAH: UTK GINJAL
BUAH NAGA KUNING (LUARNYA): UTK PENCERNAAN
BUAH NAGA BIRU DR BRAZIL: UTK PARU2

LEMON KUNING (DIMINUM PAGI): UTK MAAG & MELANGSINGKAN TUBUH.
LEMON KUNING (DIMINUM MALAM): UTK LUTUT & MIGREN.
LEMON+MADU: UTK RADANG TENGGOROKAN

ALPUKAT: UTK KOLESTROL

BAKTERI DLM TUBUH: MUTUAL 20%, PATOGEN 30%, NETRAL 50%.
KALAU POLA MAKAN BENAR, YG NETRAL IKUT KE YG MUTUAL.
KALAU TIDAK BENAR, YG NETRAL IKUT KE PATOGEN.

MAKANAN DR HEWAN DARAT KAKI 4: HRS DIMAKAN SIANG, JK DIMAKAN MLM LDL NAIK

MAKANAN DR IKAN: BISA DIMAKAN KAPAN SAJA. LEBIH BAIK YG ADA SISIKNYA KRN ADA ENZIM AKILGLISEROL SBG PENOLAK RACUN

ANGGUR HITAM, JERUK MANDARIN & ALPUKAT: UTK JANTUNG YG TERSUMBAT

45 MG KOPI: UTK OBAT SAKIT KEPALA
360 MG KOPI: MEMPERCEPAT MENOPAUSE & MEROBEK PEMBULUH DARAH.

WORTEL: UTK KANKER USUS KECIL, TAPI BAGI PENDERITA DIABETES PANTANG WORTEL MATANG.

SALMON ATLANTIK & NORWEGIA: UNTUK KESEHATAN MATA

TELOR: TDK BOLEH MENTAH KRN GINJAL AKAN TERBEBANI.….senangnya berbagi….
Salam Negarawan17845,
Pandji R Hadinoto, PKPI Nasionalis Pancasila
GeraKNusa Gerakan Kebudayaan Nusantara
http://www.jakarta45.wordpress.com

06
Jul
13

Kearifan Lokal : Bonokeling Sambut Ramadan

Sambut Ramadan, pengikut Bonokeling jalan kaki puluhan kilometer

MERDEKA.COM. Ratusan pengikut Bonokeling yang berasal dari wilayah Banyumas dan Cilacap, berjalan kaki puluhan kilometer menyambut bulan Ramadan. Mereka berjalan kaki menuju makam Bonokeling di Desa Pekuncen Kecamatan Jatilawang Kabupaten Banyumas.

Salah satu pengikut Bonokeling, Warga (45) mengatakan kegiatan ini sebagai bagian menjaga tradisi yang sudah turun temurun dilakukan oleh leluhurnya. Dia sendiri berjalan kaki sekitar 30 kilometer dari Desa Tambakreja, Cilacap Selatan Jawa Tengah. “Kami memulai perjalanan sekitar pukul setengah empat pagi,” katanya, Kamis (4/7).

Ia berjalan kaki bersama 250 warga Desa Tambakreja lainnya. Selain dari Desa Tambakreja, juga bergabung ratusan pengikut lainnya dari Desa Adiraja, Kalikudi Kecamatan Adipala dan beberapa desa di pesisir Cilacap. Dalam perjalan itu, mereka membawa pikulan berisi hasil bumi yang akan dimasak bersama untuk acara selamatan yang digelar di area pemakaman Bonokeling.

“Ada yang bawa beras, sayuran, kelapa, hasil ternak dan berbagai bumbu dapur. Semuanya dimasukkan ke dalam brokoh yang ditaruh di pikulan,” ujarnya.

Juru bicara adat Desa Pekuncen, Jatilawang, Sumitro mengatakan tradisi ini sudah dijalankan turun temurun dari generasi terdahulu yang menjadi pengikut Bonokeling. “Ritual ini dilakukan setiap hari Jumat terakhir di Bulan Sadran. Selain selamatan, juga ada bersih kubur makam Bonokeling yang setiap tahunnya diikuti ribuan pengikutnya,” jelasnya.

Ritual yang biasa disebut `unggahan` tersebut dilakukan di Bale Agung, kompleks makam Bonokeling. Sesampainya di kompleks makam Bonokeling, para pengikut Bonokeling yang termasuk dalam aliran Kejawen ini akan menggelar acara “muji”. “Muji ini seperti semacam zikir untuk memohon keselamatan kepada Tuhan Yang Maha Esa,” jelas Sumitro.

Lebih jauh, Sumitro menjelaskan, tradisi “unggahan” ini awalnya digelar setiap menjelang musim tanam pada bulan Ruwah. Namun setelah masuknya ajaran agama Islam, kegiatan ini lebih dikenal sebagai “sadranan” karena digelar setiap menjelang bulan Pasa atau Ramadan di kompleks makam Bonokeling.

Bonokeling di kalangan pengikutnya adalah sosok tokoh yang berasal dari Kadipaten Pasir Luhur yang berada di bawah Kerajaan Padjajaran atau Galuh-Kawali. Namun, tidak semua orang tahu asal muasal Bonokeling.

Sumber: Merdeka.com

Berita Lainnya

Wamenag : 1 Ramadan 9 Juli agak berbeda di ajaran dunia Islam

MERDEKA.COM. Muhammadiyah telah menyatakan bahwa 1 Ramadan tahun ini bertepatan dengan hari Selasa 9 Juli 2013. Sedangkan versi pemerintah, awal puasa sendiri diprediksi akan jatuh pada Rabu 10 Juli 2013.

Menurut Wakil Menteri Agama Nasaruddin Umar, kemungkinan pemerintah akan menetapkan 1 Ramadan pada Rabu 10 Juli.

“Ramadan akan distigmalkan Sabat itu 30 hari. Bisa diprediksi Ramadan nanti jatuh pada tanggal 10 Juli,” kata Nasaruddin Umar, Jumat (5/7).

Namun, masih ada mazhab lain yang dipakai di dalam negeri. Seperti ajaran Muhammadiyah yang akan berpuasa pada tanggal 9 Juli.

“Mereka biasa jika di atas ubud sudah 0,001 derajat saja sudah bisa berpuasa, ini agak berbeda dengan ajaran dunia Islam,” ujarnya.

Dia menjelaskan sistem yang dipakai oleh pemerintah sudah sesuai dengan Alquran dan Hadist. Namun Nasaruddin tetap menghormati segala perbedaan yang ada.

“Tradisi ini bukan hanya terjadi di Indonesia saja. Perbedaan ini adalah hal biasa,” tutupnya.

Sumber: Merdeka.com

30
Nov
12

Kenegarawanan : Darma, Agama dan Kepercayaan (DAKep)

https://jakarta45.files.wordpress.com/2011/10/komite-nasional-pancasila.png?w=655

Istilah Agama yang gabungan dari kata2 A dan Gama (aturan) konon timbul pasca Indonesia. Merdeka 170845 termasuk istilah Kepercayaan. Sedangkan istilah Darma telah dikenali oleh masyarakat Nusantara ber-abad2 silam.
Sehingga bilamana terjadi ketidakpastian karena istilah Agama hanya berlaku bagi 6 (enam) Darma yang kini diakui sebagai Agama oleh sistim administrasi kependudukan pemerintah, maka wajar kalau pemerintah patut meninjau ulang kebijakan keberlakuan itu demi Sila-3 Pancasila yaitu Persatuan.
Langkah yang ditempuh pemerintah dengan kosongkan isian Agama pada eKTP bagi Darma2 diluar rumusan resmi pemerintah tentang Agama adalah memicu terjadinya rasa ketidakpastian bahkan dapat berkesan diskriminatif seperti yang baru2 ini dikeluhkesahkan oleh masyarakat Baduy yang berdarma Sunda Kawitan.
Saran kami, istilah Agama di eKTP diganti dengan. Darma/Agama/Kepercayaan dan dalam praktek dicoret yang tidak perlu. Atau digunakan istilah Keyakinan dan diisi sesuai daftar Darma, Agama dan Kepercayaan yang sudah dikenali menusantara itu.
Demikian sumbang saran ini digulirkan, demi penegakan aspirasi Persatuan Negara Bangsa Indonesia dalam konteks Kebhinekaan yang berjiwa Ketuhanan Yang Maha Esa.
Jakarta Selatan, 29-11-2012

Pandji R Hadinoto
Majelis Benteng Pancasila
HP : 08179834545

(WaSekJen, Liga Gerakan Budaya Pancasila)

22
Nov
12

Kearifan Lokal : Adat Karuhun Urang

Adat Karuhun Urang merupakan kepercayaan asli Sunda Kawitan yang tetap eksis di Cigugur Kuningan. Hari ini Kompas menyajikan kupasan tentang perjuangan saudara2 kita itu untuk melepaskan ‘Jati Diri yang semu’ karena ‘paksaan’ mulai jaman penjajahan Belanda hingga sekarang. Mereka (penganut AKUR) ‘dipaksa’ mencantumkan identitas diri yang semu dengan mencantumkan agama di KTP yang sebenarnya tidak mereka pahami.

Kalau direnung2 lebih lanjut, maka sebenarnya banyak insan Jawa yang senasib dengan saudara2 di Cigugur itu. Banyak ritual adat Jawa (termasuk Suran) yang dijustifikasi musyrik oleh kaum agamawan. Persis saat sy diundang untuk sesorah Suran di TV Semarang Cakra kemarin, pembicara pendamping seorang Budayawan yang Ustad. Beliau menyatakan semua ritual Jawa ‘salah’ dipandang dari kacamata ketauhidan Islam. Karena itu, saya mencounter dengan menjelaskan pervbedaan ‘background’ budaya Jawa dengan Islam. Budaya dan peradaban Jawa backgroundnya ‘pertanian sawah’ yang tidak dikenal sama sekali oleh masyarakat Timur Tengah tempat lahirnya agama2 langit. Maka akan tidak nyambung ‘analisis’ berdasrkan agama2 itu terhadap ritual budaya Jawa. Sebaliknya, juga tak miudah dipahami orang Jawa yang berpikir terhadap ritual agama yang berupa kurban penyembelihan hewan. Bagi nurani Jawa ritual kurban terasa kejam mengerikan. Wong tak jelas hubungan penghilangan nyawa hewan dengan ‘panembah’ kepada Tuhan. Oleh karena itu, demi saling menghormati, mbok jangan gampang mengomentari ritual adat orang lain, sementra orang lain pun ternyta banyak yang ‘keheranan’ dengan ritual agama kita masing2.

Sekiranya berkenan, amati banyak ritual asli orang Indonesia yang lebih ‘mendalam’ ekspresi keber- Tuhan-an, kesemestaan, dan keberadabannya. Setidaknya yang mlandasi Kejawen:
1) Falsafah Panunggalan, merupakan konsep sistem yang menyatakan seluruh yang ada ‘manunggal’ dalam susunan ‘pancer-mancapat’ (inti-plasma). Alam semesta dan isinya adlah plasma/mancapat, tuhan sebagai pancernya.
2) Agraris Pradesa Pertanian Sawah, merupakan sistim sosial gotongroyong.
3) Spiritualis Magis, suatu pandangan yang menyatkan semua yang ergelar di alam semesta berhubungan secara kosmis-magis dalam menunjang kemanunggalan.
4) Kalangwan, mempersembahkan keindahan. Ekspresi nyta dalam mengoperasionalkan ‘melu memayu hayuning bawana’.
5) Kejawen (kejawaan), suatu karakter ‘menyaudara’ dengan siapapun. Adalah landasan sikap toleran terhadp perbedaan. Yang penting mampu menyelenggarakan ‘hidup bersama’ yang ‘tata tentrem kerta raharja’. Inilah landasan mewujudkan ‘Bhineka Tunggal Ika’

Demikian pemikiran saya (KSM) untuk memahami ukuran ‘jati diri asli’ Jawa/Nusantara. Semoga bermanfaat. Swuhn.
/KSM.

 

15
Aug
12

Kearifan Lokal : Budaya Mudik Bulan Ramadhan

Rabu, 15/08/2012 13:23 WIB

Kolom

Budaya Mudik dan Dampak Positifnya

Musni Umar – detikNews
Berbagi informasi terkini dari detikcom bersama teman-teman Anda

Jakarta Fenomena pulang kampung (mudik) pada saat Idul Fitri telah menjadi peristiwa budaya dan keagamaan yang sangat semarak. Menjelang Idul Fitri 1433 H, menurut Suroyo Alimoeso, Dirjen Perhubungan Darat Kementerian Perhubungan RI, diprediksi jumlah pemudik mencapai 16 juta jiwa.

Besarnya jumlah pemudik yang puncaknya diperkirakan dua-tiga hari menjelang Idul Fitri, telah menimbulkan permasalahan yang tidak mudah dipecahkan. Karena dalam waktu yang hampir bersamaan puluhan juta orang melakukan perjalanan mudik, melalui darat dengan kendaraan sepeda motor, mobil, kendaraan umum (bus) dan kereta api, serta udara dengan pesawat terbang, dan laut dengan kapal laut. Permasalahan yang ditimbulkan dari mudik antara lain:

Pertama, banyak kecelakaan lalulintas. Dari tahun ke tahun, terus meningkat angka kecelakaan. Tahun ini H-9 dan H-8 (Sabtu 11/8 dan Minggu 12/8), menurut Data Kepolisian Republik Indonesia telah meninggal sebanyak 88 orang. Kecelakaan paling banyak ialah pengendara sepeda motor. Faktor kecelakaan banyak disebabkan oleh faktor manusia, kendaraan, jalan raya, dan cuaca. Walaupun angka kecelakaan tinggi, para pemudik tidak takut dengan bahaya yang mengancam.

Kedua, berutang dan menggadaikan barang demi mendapatkan uang untuk biaya mudik. Ini merupakan permasalahan dan tantangan yang setiap tahun dijalani sebagian pemudik. Demi mudik ke kampung halaman, mereka berutang dan menggadaikan barang.

Ketiga, biaya perjalanan meningkat berlipat kali, karena semua moda transportasi menaikkan biaya menjelang dan sesudah lebaran Idul Fitri. Karena itu para mudik sebagian besar menggunakan kendaraan sepeda motor, walaupun tingkat kecelakaan sangat tinggi dari tahun ke tahun.

Tujuan Mudik

Beratnya tantangan yang dihadapi para pemudik, tidak pernah menyurutkan niat dan kemauan mudik ke kampung halaman. Paling tidak ada lima alasan yang menjadi tujuan para pemudik pulang kampung.

Pertama, dorongan keagamaan yang telah menjadi budaya. Begitu kuat tarikan keagamaan yang telah menjadi budaya, karena Islam mengajarkan bahwa mereka yang sudah berpuasa akan diampuni dosa-dosanya. Akan tetapi, yang diampuni hanya dosa di hadapan Allah, sedang dosa kepada orang tua, saudara kandung, tetangga dan sekampung, tidak akan diampuni kecuali saling bermaaf-maafan dengan jabat tangan melalui silaturahim antara satu dengan yang lain.

Kedua, ziarah ke kubur. Telah menjadi budaya di kalangan masyarakat bahwa menjelang puasa Ramadan dan Idul Fitri, anak-anak, menantu, keluarga dan famili pergi berziarah ke kubur orang tua, kakek, nenek dan leluhur serta keluarga terdekat sambil mendoakan. Itu tidak mungkin dilakukan kalau tidak mudik. Bagi mereka yang berasal dari kampung. Maka dalam kesempatan Idul Fitri dilakukan ziarah ke kubur, selain silaturahim.

Ketiga, rindu kampung halaman. Setiap tahun kerinduan kepada kampung halaman selalu diobati dengan mudik. Ini adalah fenomena sosial yang menarik sebagai makhluk sosial, rindu kepada asal usulnya di kampung halaman. Oleh karena itu, tantangan berat yang dihadapi untuk pulang kampung, tidak menjadi persoalan, mereka tetap lakoni dengan penuh kegembiraan dan kebahagiaan.

Keempat, bernostagia di kampung halaman. Masa kecil di kampung halaman adalah masa-masa yang paling indah dan menyenangkan. Maka setiap tahun, kenangan indah itu, selalu ingin diperbaruai dengan pulang kampung sambil membawa keluarga seperti anak, menantu dan istri supaya ikut menghayati suasana kampung di masa dahulu.

Kelima, unjuk diri kesuksesan di perantauan. Hal itu, ikut juga mewarnai perasaan sebagian pemudik untuk pulang kampung. Budaya pamer berlaku kepada semua tingkatan sosial. Maka momentum Lebaran, pulang kampung dengan niat yang bermacam-macam, salah satu adalah unjuk diri (pamer).

Dampak Negatif Mudik

Mudik Lebaran yang sudah menjadi budaya, diakui atau tidak, mempunyai dampak negatif. Pertama, konsumerisme, pamer kemewahan, boros dan berbagai perilaku yang tidak sepenuhnya sesuai dengan ajaran Islam dan tujuan puasa itu sendiri. Di mana hasil puasa selama sebulan penuh, seharusnya semakin menghadirkan ketakwaan yaitu kedekatan kepada Allah dan sesama manusia yang sebagian besar masih mengalami kesulitan hidup. Mereka masih dihimpit kemiskinan, kebodohan dan keterbelakangan. �
Kedua, bisa mengundang cemburu dan iri hati para penduduk kampung.

Pulangnya para pemudik untuk berlebaran di kampung halaman, dengan memamerkan kemewahan misalnya mobil yang bagus, baju dan sepatu yang baru, bisa menimbulkan ‘cultural shock’ (goncangan budaya). Di mana orang-orang kampung atau desa meniru dan mengikuti cara hidup orang kota yang pulang kampung, misalnya berutang dan atau menjual harta benda seperti tanah untuk membeli motor, mobil dan sebagainya sebagai asesori kemewahan.

Bisa juga orang-orang kampung terutama anak-anak muda, laki-laki dan perempuan merantau, dalam rangka mengikuti jejak para pemudik. Untuk mendapatkan harta dan kemewahan, mereka menghalalkan segala cara untuk mendapatkan uang dan harta, supaya tahun berikutnya, mereka juga bisa mudik dan menampilkan kekayaan dan kemewahan seperti saudara-saudaranya yang mudik tahun lalu.

Ketiga, memacu urbanisasi dan migrasi. Mudik Lebaran, juga bisa berdampak negatif yang memacu peningkatan urbanisasi, yaitu perpindahan penduduk dari kampung atau desa ke berbagai kota di Indonesia. Selain itu, juga dapat mendorong meningkatnya migrasi, yaitu perpindahan penduduk dari satu negara ke negara lain. Dalam sejarah mudik Lebaran, sudah terbukti bahwa usai mudik lebaran, semakin banyak orang kampung yang melakukan urbanisasi, meninggalkan kampung halamannya untuk mencari kehidupan di kota.

Sebenarnya peristiwa urbanisasi dan migrasi adalah sesuatu yang lumrah dalam kehidupan modern, dan merupakan hak asasi setiap orang yang dijamin dan dilindungi oleh hukum dan undang untuk melakukan sesuai yang diinginkan. Akan tetapi, urbanisasi dan migrasi ke negara lain misalnya ke negeri jiran Malaysia, dan Arab Saudi, banyak menimbulkan masalah, karena mereka yang melakukan urbanisasi dan migrasi ke negara lain, tidak memiliki pendidikan dan kepakaran (skill) yang memadai. Akibatnya untuk bertahan hidup di kota atau di negara lain, mereka terpaksa melakukan berbagai perbuatan yang bertentangan dengan hukum seperti menjadi penjual seks, peminta-minta, bahkan pencuri dan perampok.

Dampak Positif Mudik

Mudik Lebaran, di samping menimbulkan dampak negatif, juga banyak dampak positifnya. Pertama, dampak ekonomi. Mudik para perantau telah menimbulkan dampak positif bagi ekonomi di kampung halaman. Mereka pulang dengan membawa uang dan berbelanja telah mendorong perputaran ekonomi yang tinggi di kampung, sehingga para petani, nelayan dan pemerintah daerah mendapat manfaat ekonomi. Mereka menyewa hotel dan penginapan, telah mendorong kemajuan kampung halaman karena membuka dan memajukan bisnis penginapan dan hotel. Belum lagi, pemudik memberi sedekah, zakat fitrah dan zakat harta (mal) kepada keluarga dan penduduk di kampung halaman mereka.

Kedua, silaturahim (hubungan kasih sayang) antara pemudik dan penduduk kampung terbangun kembali, yang selama hampir satu tahun tidak pernah bertemu. Ini sangat positif untuk memelihara, merawat dan menjaga bangunan kebersamaan satu kampung.

Ketiga, persatuan dan kesatuan terjaga dan terpelihara. Bangsa Indonesia yang amat tinggi rasa keagamaan (religiusitas)-nya, telah memberi andil yang besar untuk menjaga, merawat dan memupuk rasa persatuan dan kesatuan seluruh bangsa Indonesia melalui medium silaturahim Idul Fitri. Hal ini, tidak bisa dinilai dengan pengorbanan harta dan tenaga yang dilakukan para pemudik.

Keempat, pengamalan agama. Peristiwa mudik Lebaran, juga mempunyai dampak positif dalam pengamalan ajaran Islam. Karena di tengah kemajuan yang membawa manusia kepada perilaku individualistik, yang enggan berhubungan dengan pihak lain dan merasa terganggu, melalui medium silaturahim Idul Fitri dalam rangka hubungan manusia (hablun minannaas) tetap diamalkan, dan bahkan telah menjadi budaya seluruh bangsa Indonesia.

Kelima, secara sosiologis, mudik Lebaran mendekatkan si perantau yang sudah sukses dengan mereka yang masih berdomisi di kampung halaman seperti orang tua, famili dan teman-teman. Peristiwa mudik, bisa memperbaharui kembali hubungan sosial dengan masyarakat sekampung, yang tentu berdampak positif dalam memperkuat persatuan dan kesatuan bangsa.

Kesimpulan

Peristiwa mudik Lebaran yang telah menjadi budaya, harus terus dipelihara, dijaga dan dilestarikan, karena dampak positifnya lebih banyak ketimbang dampak negatifnya. Yang harus dilakukan ialah mengurangi dampak negatif mudik dengan melakukan, pertama, meningkatkan kesadaran para pemudik bahwa keselamatan dalam perjalanan mudik adalah segalanya.

Mereka yang akan mudik, dan sedang dalam perjalanan mudik, diharapkan semakin hati-hati menjaga keselamatan. Jangan memaksakan diri dalam perjalanan, harus berhenti dan beristirahat secukupnya baru melanjutkan lagi perjalanan.

Pada tahun-tahun mendatang, mudik dengan kendaraan bermotor secara bertahap harus dihentikan dengan menitipkan kendaraannya di kapal laut, dan kereta api untuk diantar ke kampung halaman. Suami istri, dan dan anak-anak, sebaiknya memilih kendaraan umum, kereta api atau kapal laut untuk keselamatan dalam perjalanan mudik.

Kedua, pemerintah harus terus meningkatkan penyediaan transportasi massal untuk melayani pemudik. Selain itu, berbagai perusahaan yang peduli pemudik, dari jauh hari harus bekerja sama dengan media untuk memberitahu masyarakat tentang adanya penyediaan fasilitas mudik.

Ketiga, para pemudik harus membuat perencanaan. Paling kurang tiga bulan sebelum mudik sudah memesan tiket dan menghubungi perusahaan atau organisasi yang biasa menyelenggarakan mudik bareng secara gratis.

Keempat, pemerintah terutama Kementerian Pekerjaan Umum RI, sudah saatnya membuat jalan yang berkualitas tinggi untuk jangka waktu yang panjang. Jangan seperti sekarang, setiap tahun jalan raya yang dilalui pemudik dilakukan tambal sulam dan tidak pernah baik.

Kelima, sudah saatnya seluruh bangsa Indonesia terutama para pemudik meningkatkan disiplin dalam berlalu lintas. Pada saat yang sama, aparat kepolisian sebagai aparat penegak keamanan, menindak mereka yang tidak disiplin dalam berlalu lintas.

Semoga semangat mudik Lebaran mendorong seluruh bangsa Indonesia untuk mengambil hikmah yang positif dan negatif dari peristiwa mudik, demi perbaikan di masa depan.

*) Musni Umar adalah pengamat sosial. Penulis tinggal di Jakarta.

(vit/vit)

09
Jul
12

Peradaban : Kerajaan Nusantara, Kearifan Lokal Bangsa Indonesia

Minggu, 08 Jul 2012 02:21 WIB

Bangsa Indonesia Jangan Ingkari Adanya Kerajaan Nusantara


(Analisa/Khairil Umri) Sultan Deli XIV Tuanku Mahmujd Lamanjiji Perkasa Alam memberikan sambutan dihadapan Sultan Hamengkubuwono X (dua kiri), Walikota Medan Rahudman Harahap (tiga kiri) dan sejumlah raja dan sultan dalam acara Silaturahim Nasional Raja dan Sultan se-Nusantara di Istana Maimoon Medan, Sabtu (7/7).
Medan, (Analisa). Indonesia memiliki ragam etnis dengan adat dan budaya yang berbeda. Hal ini sebenarnya sudah ditunjukkan sejak Indonesia dulu masih disebut dengan Nusantara, yang terdiri dari banyak kerajaan atau kesultanan yang tersebar di seluruh wilayah. Namun, di masa kini, adat dan budaya kerajaan atau kesultanan yang ada di Indonesia perlahan mulai ditinggalkan oleh bangsanya sendiri. Oleh sebab itu, pelestarian adat dan budaya, terutama usaha mengingat kembali keberadaan kerajaan atau kesultanan, di masa globalisasi ini, perlu ditunjukkan kembali kepada bangsa mengingat besarnya peranan leluhur yang sejak dulu ikut mempertahankan kesatuan Indonesia.

Hal ini dibenarkan Walikota Medan Drs H Rahudman Harahap MM, nenjawab Analisa, usai Silaturahmi dan Seminar Nasional Ketiga Raja dan Sultan Se-Nusantara Sabtu (7/7) di Balai Rung Istana Maimoon Jalan Brigjen Katamso. Rahudman mengatakan, kemajuan zaman yang terus berkembang, generai harus memahami adat dan budayanya sendiri agar tidak mudah terpengaruh budaya asing.

Dikatakannya, pemerintah, dalam hal ini, juga mengambil peranannya dengan terus melakukan sosialisasi dalam konteks pelestarian budaya dengan berbagai cara, di antaranya pemecahan rekor MURI (Museum Rekor Indonesia) kirab balai Melayu terbanyak sekitar 2012 balai yang akan dilaksanakan Minggu 8 Juli.

Kegiatan Rutin

Sementara mengenai kedatangan sekitar 15 raja atau sultan di Medan, Sekretaris Jenderal Forum Komunikasi Informasi Keraton Nusantara (FKIKN) Gusti Kanjeng Ratu Kusmutiah Wandasari atau GR Ayu Kusmurtiah membenarkan hal tersebut merupakan kegiatan rutin sejak FKIKN terbentuk 6 Juli 1995 berdasarkan lima kriteria tertentu.

“Lima kriteria itu yakni wujud keraton atau kerajaan masih terlihat, rajanya masih ada, berjalannya adat istiadat, masih terselanggaranya upacara adat, serta keberadaan pusaka,” ungkapnya menjelaskan. Oleh sebab itu, katanya lagi, FKIKN akan melakukan upaya secara berkelanjutan guna melestarikan adat budaya Indonesia tentunya dengan koordinasi dari seluruh perangkat pemerintah.

Mulai Dilupakan

Dia juga menuturkan, sebagai salah satu anggota Keratonan Surakarta, keberadaan kerajaan sebagai leluhur bangsa dan pemersatu nusantara sudah mulai dilupakan oleh bangsa kita sendiri. Padahal katanya, di masa lalu, kerajaan atau kesultanan yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia inilah yang memiliki kekuasaan penuh nusantara, sebelum berganti nama Indonesia.

Oleh sebab itu, lanjutnya, penting untuk masyarakat bisa mengakui keberadaan adat dan budaya yang sudah ada bahkan sebelum Indonesia Merdeka di tahun 1945. Pemerintah juga harus memegang andil melestarikan keberadaan adat dan budaya dari kerajaan dan kesultanan maupun keraton yang masih ada di banyak daerah yang juga turut hadir dalam Silaturahmi Raja dan Sultan, di antaranya Kesepuhan Cirebon PRA Arief Natadiningrat, Kesultanan Banten TB Ismetullah Al-Abbas, Keraton Kanoman Cirebon Sultan Muham mad Saladin, Kesultanan Palembang Sultan Iskandar, Kesultanan Buton Sulawesi Tenggara Laode Rasyid Manarfa, Kesultanan Bulungan Kalimantan Timur Datu Abdul Hamid.

Semantara, untuk tuan rumah Festival Keraton di tahun ini, dia mengungkapkan Kasultanan Buton di Bau-Ba akan menjadi tuan rumah Festival Keraton Kedelapan tanggal 1-4 September mendatang. “Dan di tahun 2014, Ternate sudah mulai mengajukan menjadi tuan rumah Festival Keraton kesembilan dan kita akan melakukan Pleno untuk memutuskannya” ungkapnya menambahkan. (st)

JUMAT, 06 Juli 2012 | 104 Hits
Oleh: Asran Salam, (Alumni UNM, Pengurus Besar HMI MPO)
Pudarnya Peran Negara
Banyak tokoh atau pemikir yang merumuskan teori asal muasal sebuah negara. Terlepas dari semua teori tersebut, ada sebuah kenyatan historis yang tidak terbantahkan bahwa Indonesia sebagai sebuah negara yang….merdeka dari penjajahan berkat perjuangan rakyatnya. Darah banyak tertumpah demi terbebas dari kolonialisasi.

Tapi kini, negara yang berdiri di atas tetesan darah pejuangnya, lesuh dan mengalami kerapuhan serta kemunduran. Darah para pahlawan tidak mampu menjadi pengingat dalam memori kolektif kita. Perjuangan mereka begitu cepat dilupakan. Harapan agung para pahlawan, telah diabaikan anak cucu mereka sendiri. Terbukti dengan tidak diwujudkannya harapan tersebut dalam kenyataan.

Bagaimana tidak, negara kita yang sudah lama merdeka, hanya sebatas bebas dari penjajahan fisik. Sementara penjajahan baru (neokolonial) masih menggerogoti negara kita. Penjajahan baru yang kini menimpa negara kita berbentuk penguasaan semua aset negara oleh pihak asing.

Anehnya, yang menyerahkan itu adalah para pemimpin negara kita melalui beberapa kontrak dengan regulasi tertentu yang banyak merugikan negara. Apa yang dilakukan pemimpin kita sungguh jauh berbeda dari perjuangan para pahlawan. Pahlawan kita dulu berjuang mengusir penjajah namun sekarang kita malah “memanggil” penjajah datang.

Kemunduraan sebuah negara sebagaimana teori dependency, melihat bahwa penyebab adalah faktor eksternal dan struktural. Adanya ketergantungan dari penetrasi asing dan dunia luar menyebabkan timbulnya distorsi besar-besaran dalam struktur ekonomi, politik, budaya yang pada gilirannya menimbulkan konflik sosial yang gawat dan akhirnya menimbulkan penindasan negara terhadap rakyat.

Selain teori dependency tentang kemunduran negara, teori modern juga melihat bahwa sebuah negara mengalami kemunduran disebabkan faktor internal dan cultural. Dalam artian, sebuah negara mengalami berbagai problem internal dan kulutral yang akan menjadi pemicu sebuah kemunduran. Ketika mengamati kedua teori tersebut maka, negara ini berada kedalam kerangka teori ini.

Peran Terabaikan
Peran negara dari segi ekonomi terkait basic needs rakyat, meliputi penyediaan sandang, pangan, dan papan kepada rakyat masih jauh dari yang seharusnya. Kita saksikan kemiskinan masih mencapai angka 70 juta jiwa (2010) dan penerima layanan kesehatan bagi orang miskin (Jamkesmas) mencapai 76,4 juta jiwa. Di sisi lain masih banyak rakyat yang tinggal di tempat-tempat kumuh. Dengan demikian salah satuh peran negara dari segi ekonomi sedang mengalami kemunduran.

Dari segi hukum, peran negara semestinya memperlakukan sama rakyatnya. Tapi kenyataannya, hukum di negara ini hanya diperuntukkkan bagi yang tidak memiliki kekuasaan ataupun uang. Masih segar di ingatan bagaimana kasus hukum terkait korupsi seperti skandal Century yang telah meraup uang rakyat hingga Rp6,7 triliun, korupsi para wakil rakyat sangat mewabah hingga menjalar sampai pada instansi kepolisian serta kasus mafia pajak yang tak kunjung menunjukkan titik terang kapan selesai diusut hingga ke akar-akarnya.

Peran negara dalam bentuk budaya juga mengalami kemunduran. Negara kita yang dulunya dikenal sebagai negara yang santun, ramah, toleransi dijunjung tinggi, akhir-akhir ini justru kerap terjadi aksi kekerasan terhadap aliran tertentu. Saat ini tercipta sebuah teror dalam bentuk perasaan tidak aman, golongan minoritas begitu dikebiri oleh golongan mayoritas. Ironisnya, pemerintah beserta aparat masih juga tidak bertindak cekatan sehingga kejadian seperti itu terus berulang.

Peran negara dalam penyediaan kesehatan dan pendidikan yang merupakan basic needs rakyat, hingga kini juga belum menjadi prioritas. Biaya pendidikan dan kesehatan masih terlalu mahal untuk dijangkau masyarakat bawah. Wajar jika negara ini tertinggal jauh dan tidak mampu mengejar bangsa lain.

Partai politik yang diharapkan mampu menjadi jembatan menyampaikan aspirasi rakyat, faktanya partai politik sibuk dan terjebak pada pragmatisme politik transaksional. Partai politik hanya sibuk mengklarifikasi kasus-kasus korupsi yang menimpa kader-kadernya, hingga tidak ada ruang dan waktu untuk memikirkan kepentingan rakyat. Pada hakikatnya bangsa ini dari segi politik melalui partai politik tidak memiliki arah yang jelas dalam membangun rakyatnya.

Wajah Pemerintah
Pemerintah pusat hingga daerah diharapkan mampu memungsikan dan menjalankan peran-peran negara sebagaimana mestinya. Tapi saat ini pemerintah kita masih sibuk dengan politik serta upaya mempertahankan kekuasaan atau sibuk menjaga citra agar tetap disenangi.

Persiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), sebagai pemegang kebijakan tertinggi negara juga masih terjebak dalam menjaga kekuasaan dan citra hingga tugas-tugasnya sebagai kepala negara banyak terabaikan. Kritik dari berbagai elemen masyarakat pun tidak dijadikan sebagai motivasi untuk bekerja, akan tetapi krtitik itu dianggap sebagai upaya kudeta.

Presiden SBY banyak tampil dalam media layaknya para artis mengumbar berbagai program dan janji bahwa akan menyelesaikan semua permasalahan Negara. Semua itu hanya berada dalam retoris belaka karena faktanya berbagai kasus di negara belum juga diselesaikan. Sebaliknya, yang disuguhkan ke publik adalah memohon belas kasihan agar dimaklumi.

Negara yang tanahnya pernah dibasahi darah para pejuang dan pahlawan, kini berwajah buram karena tindakan para penguasa yang tidak menjalankan perannya. Negara ini sudah lama dieksploitasi untuk kepentingan golongan tertentu. Kekayaannya habis untuk membiayai pertarungan politik dan kekuasaan. Kekayaan negara yang semestinya membiayai kebutuhan dasar rakyat, telah dirampas oleh pemerintahnya sendiri dan segelintir golongan. Mereka terjajah di negeri sendiri.

Negeri ini harusnya telah maju dan dapat disejajarkan negeri maju yang lain. Masalahnya, bahkan Malaysia pun yang negaranya sangat kecil dan dulu sangat jauh tertinggal dari negara ini, kini telah jauh meninggalkan kita. Harapan kita agar negara ini semakin maju, tidak kunjung kita jumpai. Semuanya hanya menjadi angan-angan. Negara ini tidak berjalan maju tetapi justru berjalan menuju kemunduran. (*)

Hedonisme Elite dan Awal Kehancuran Negara

Thomas Koten* | Sabtu, 07 Juli 2012 – 12:13:07 WIB


(dok/antara)Hedonisme dapat menghancurkan negara.Ada sebuah fenomena bangsa yang sesungguhnya sudah sangat mengerikan, tetapi tampaknya masih dianggap biasa-biasa saja, yakni menguatnya demoralisasi dalam kehidupan masyarakat bangsa. Ini terpotret dari perilaku hedonis nan serakah akan materi dan kekuasaan yang berkembang dalam masyarakat bangsa.

Fenomena ini akan bertambah parah, mengingat kehidupan sosial politik bangsa yang dikomandani kaum elite negeri dijejali bebalisme, baik secara institusional maupun personal. Bebalisme ditandai dengan buta dan tulinya mata dan telinga, serta tumpulnya hati nurani para pemimpin, pejabat, dan kaum elite negeri yang berkecimpung di bidang politik, hukum, dan ekonomi.

Implikasinya, politik berjalan hanyalah sekadar mekanisme rutin yang dangkal, dengan lilitan uang yang lebih dikenal dengan politik uang. Hukum tergeletak menjadi formalisme dari sebuah peraturan tertulis dus penanganan kasus secara tebang pilih. Di bidang ekonomi, terjadinya pengguritaan kapitalisme dengan mengabaikan etika bisnis, lantaran yang dikejar hanyalah keuntungan materi semata.

Semua itu membuat korupsi, suap, politik uang, dan berbagai bentuk kejahatan merajalela dan sulit terkendalikan. Akibat dari bekapan bebalisme, segala kritik dan sinisme publik yang begitu gencar dilancarkan dianggap hanyalah pepesan kosong, dan seenaknya mengatakan semua itu adalah bagian dari demokrasi, di mana semua orang boleh bebas bersuara menyampaikan pendapatnya,

Kaum elite negeri lupa fenomena yang sangat mengerikan ini memberikan gambaran akan terjadinya kehancuran bangsa dan rontoknya negara. Namun, apakah semua ini benar-benar sebagai indikasi dari sebuah negara bangsa yang sudah sampai pada ambang batas kehancurannya? Bagaimana mengelaborasi dan menjelaskannya?

Teori Runtuhnya Negara

Ibnu Khaldun dalam karya momumentalnya, The Muqaddimah an Introduction to History (1989), mengingatkan perilaku hedonis serba serakah serta tabiat kekuasaan yang egoistis dan tidak dikelola dengan baik menggiring bangsa dan negara ke jurang kehancurannya. Melalui teori siklus peradaban, Ibnu Khaldun menjelaskan proses kehancuran negara dalam tiga fase.

Pertama, tabiat kekuasaan nan serakah selalu menumpuk di satu tangan (the royal authority, by its very nature, must claim all glory for it self).

Meski kekuasaan itu awalnya diperjuangkan oleh banyak orang, namun kemudian dimonopoli oleh satu orang dengan kekayaan dan segala fasilitas dikuasai dan dinikmati oleh segelintir orang. Maka, kekuasaan negara menjadi kian rapuh dan tidak kuat menahan terjangan badai persoalan yang datang bertubi.

Kedua, tabiat kekuasaan yang menghendaki kemewahan yang berselimutkan kemalasan dan instanisme, ingin cepat kaya dengan menempuh jalan pintas (the royal authority, by its very nature, requires luxury).

Situasi ini ditandai pula dengan korupsi dan suap serta aneka kejahatan moral lainnya yang kian merusak akhlak dan keadaban bangsa. Jika keadaan ini tidak segera dikendalikan, kehancuran dan rontoknya bangsa sudah di pelupuk mata.

Ketiga, tabiat kekuasaan yang melumpuhkan keberanian, kejuangan, kejujuran, dan seterusnya, karena dibungkus pola hidup mewah dengan semangat hidup hedonistik yang semakin menggila. Padahal, negara yang semakin tua semestinya menghendaki tabiat kekuasaan yang stabil dan tenang (the royal authority, by its very nature, requires tranquility and rest).

Pemikiran yang sama perihal negara hancur dan rontok dikemukakan pula oleh Antonio Rosmini (1797-1855) dalam Philips Rusihan S (1998), Rosmini Critico di Rousseau.

Eseme Dellerelazioni tra Etica e Politica, seorang filsuf sekaligus politikus yang notabene berasal dari negara yang pernah menjadi pusat Imperium Romanum, menegaskan bahwa kehancuran sebuah negara atau bangsa terjadi pada tahap akhir dalam perjalanan kemakmurannya.

Dengan ajaran moral personalitasnya, Rosmini menegaskan kehancuran sebuah negara, seperti kerajaan Romawi, selalu diawali oleh demoralisasi individual dan masyarakat. Dalam masing-masing tahap perkembangan suatu masyarakat mempunyai tujuan pokok yang berbeda.

Pertama, yaitu ketika masyarakat masih muda, atau baru terbentuk, tujuan ini terletak dalam masyarakat sendiri. Artinya, eksistensi dari masyarakat itulah yang merupakan keprihatinan utama rakyatnya.

Kedua, ketika keamanan sudah mulai terjamin dan tujuan pokok negara beralih ke kekuasaan. Di sini, negara mengukuhkan kewibawaannya. Ketiga, setelah kekuasaan sudah kuat dan pemerintahan sudah menjadi mantap, dan sasaran pokok negara beranjak ke kesejahteraan sosial dan ekonomi. Ini sering terjadi penumpukan harta dan kekayaan.

Tahap akhir, tatkala kemakmuran telah tercapai dan yang dikejar oleh masyarakat tidak lain adalah kesenangan dan kenikmatan alias perilaku hedonis yang tidak terkontrol, kemudian membawa negara dan bangsa ke jurang kehancurannya.

Ini karena pada tahap ini terjadi demoralisasi bangsa yang tak terkendali. Demoralisasi bangsa oleh Rosmini, ditandai dengan merebaknya prostitusi, perjudian, minuman keras, korupsi, suap dan melekatnya budaya instan ,lunturnya semangat juang, yang semuanya terbungkus rapi perilaku hedonis.

Perilaku Hedonis Elite

Hedonis adalah suatu sikap atau gaya hidup instan yang berorientasi pada kenikmatan badani. Atau, hedonisme merupakan sebuah aliran filsafat yang memaparkan pemikiran bahwa tujuan akhir hidup manusia adalah untuk memperoleh kenikmatan-kenikmatan badani.

Orang yang terasuk semangat hedonisme hanya berprinsip bahwa tujuan utama dalam perbuatan adalah untuk memperoleh kenikmatan atau untuk memuaskan rasa nikmat yang bersifat badani, seperti materi, kekuasaan, dan seks.

Sungguh tragis nasib sebuah bangsa jika para penguasa, pejabat, dan kaum elite negeri sudah dirasuki semangat hedonisme. Karena kelompok ini adalah kelompok strategis yang semestinya memberikan cermin keteladanan bagi masyarakat.

Tatkala masyarakat kehilangan keteladanan dari para elite negeri, di mana mereka terus mengumbar perilaku hedonis, maka akan terus tumbuh subur perilaku hedonis di tengah masyarakat. Jika sudah demikian, nasib bangsa seperti dikatakan di atas, berada di ambang kehancuran dan keruntuhannya.

Jadi, solusi etisnya adalah para penguasa, pejabat, atau para elite negeri semestinya selalu memberikan keteladanan bagi masyarakat dengan selalu memperhatikan sisi etis dan moral di tengah masyarakat. Pencitraan hidup sederhana harus diusung oleh kaum elite. Perilaku elite yang menodai etika dan mengabaikan moralitas akan semakin membunuh akhlak dan membinasakan nurani masyarakat.

Bagi elite negeri mesti menyadari perihal seperti dikatakan filsuf sekaligus seniman Jean Jaques Rousseau, setiap warga negara saja wajib merasa diri tidak henti-hentinya berada di bawah pengawasan publik. Bagaimana jadinya jika itu tidak disadari oleh kaum elite negeri yang memiliki posisi strategis dalam memberikan citra dan contoh di tengah masyarakat?

Karena kaum elite negeri itu, entah dia seorang pejabat publik sebagai pemegang kekuasaan atau bukan, ia tetap laksana pemimpin yang harus memiliki komitmen etis dan leadership moral, serta kepekaan nurani. Karena posisi elite itu sendiri hakikatnya selalu mengandung dimensi moral-etis.

*Penulis adalah Direktur Social Development Center.

(Sinar Harapan)




Blog Stats

  • 3,192,986 hits

Recent Comments

Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Sejarah : Bangsa Lemuria, Lelu…