Archive for March, 2009

31
Mar
09

Perundang-undangan PKL Ramah Lingkungan Kota

PerUUan Pedagang Kaki Lima (PKL) Ramah Lingkungan Kota

Mencermati pesan politik Partai Keadilan dan Persatuan Indonesia yakni “Mari Kita Gusur Kemiskinan Bukan Gusur Orang Miskin” maka memperhatikan bahwa Pedagang Kaki Lima terutama yang keberadaannya kini menempati lahan-lahan Hijau Kota adalah faktanya kenyal terhadap dinamika perkembangan ekonomi nasional bahkan global karena senyatanya mewakili jiwa, semangat dan nilai-nilai gerakan ekonomi kesejahteraan rakyat, maka penggusuran Pedagang Kaki Lima Hijau Kota perlu dipertimbangkan yang terbaik mengingat solusi Kota Hijau Ramah Lingkungan adalah (1) Berhenti atau Kurangi Makan Daging, (2) Batasilah Emisi Karbon Dioksida, (3) Tanamlah Lebih Banyak Pohon, (4) Daur Ulang (ReCycle) dan Gunakan Ulang (ReUse), (5) Gunakan Alat Transportasi Alternatif Untuk Pengurangan Emisi Karbon, (6) Tekan Egoisme Penyebab Kerusakan Alam & Lingkungan, (7) Rubah Gaya Hidup Pemicu Perubahan Iklim, selain fakta bahwa Pemanasan Global sebenarnya terwakilkan oleh (1) Mencairnya Es di Kutub Utara & Selatan, (2) Meningkatnya Permukaan Air Laut, (3) Perubahan Iklim/Cuaca Yang Semakin Ekstrim, (4) Mengganasnya Gelombang Panas, (5) Habisnya Gletser sebagai Sumber Air Bersih Dunia, (6) Mencairnya Methane Hydrate, (7) Mencairnya Es Abadi di Siberia sehingga Krisis Iklim Global Kian Mengkhawatirkan.
Oleh karena itulah PKL sesungguhnya dapat diberdayakan juga menjadi Peduli Kelola Lingkungan sekaligus sebagai komponen masyarakat akar rumput terstruktur mandiri terutama di perkotaan yang mampu mengemban Strategi 7 (Tujuh) Ketahanan Bangsa (StraHanSa) yakni (1) Keagamaan Tidak Rawan, (2) Ideologi Tidak Retak, (3) Sosial Politik Tidak Resah, (4) Sosial Ekonomi Tidak Ganas, (5) Sosial Budaya Tidak Pudar, (6) HanKamNas Tidak Lengah dan (7) Ekologi (Lingkungan) Tidak Gersang.
Tiada berkelebihan bahwa keberdayaan PKL sebagai Peduli Kelola Lingkungan akan senantiasa memperoleh pendampingan dari PKPI sebagai Poros Kelola Penghijauan Indonesia a.l. melalui prakarsa Gerakan Jarak Pagar Sejahtera [7 Maret 2009] dan perjuangan pembentukan PerUUan Pedagang Kaki Lima (PKL) Ramah Lingkungan Kota
Demikianlah Press Release ini dibuat untuk dapat dipergunakan oleh semua pihak Nasionalis, Patriotis, Negarawan yang berkepentingan kepada kemashalatan, kemuliaan, kebajikan, kedamaian dan kesejahteraan lahir dan batin.
Jakarta, 30 Maret 2009
Pusat Kebijakan Publik IpTek,
Dr Ir Pandji R. Hadinoto, MH / http://www.pkpi.co.cc / HP : 0817 983 4545
CaLeg DPR RI, ParPol No. 7 PKPI, DaPil Jakarta II (JakPus, JakSel, LN) No. Urut 2

26
Mar
09

Krisis Global dan Etika Global

Krisis Global dan Etika Global

SUARA PEMBARUAN DAILY, 25 March 2009
——————————————————————————–

Krisis Global dan Etika Global
Oleh Binsar A Hutabarat

Krisis ekonomi global, saat ini, pada awalnya mengguncang negara-negara maju kemudian merambah ke negara-negara miskin. Yang mendebarkan, tak ada yang tahu kapan krisis ini berakhir. Bahkan tak ada yang dapat menjamin krisis ini tidak akan melahirkan depresi besar yang akan menciptakan ledakan pengangguran serta bahaya kelaparan. Apalagi dampak krisis tersebut makin terasa di Indonesia.

Krisis subprime mortgage di Amerika, yang mengawali krisis global ini, menurut Raden Pardede dalam seminar ekonomi yang diselenggarakan oleh Reformed Center for Religion and Society, Sabtu (28/2) adalah akibat eksploitasi kerakusan manusia. Ter-giur oleh kompensasi yang tinggi diciptakanlah produk keuangan, mortgage loan: prime, subprime (produk KPR), dan oleh rekayasa yang canggih, mengubah surat utang BB dan unrated, berisiko tinggi menjadi rating AAA atau Aaa (investment grade) menjadi berisiko rendah. Akibatnya, terjadilah kredit macet yang kemudian melahirkan krisis finansial di Amerika.

Meski kondisi Indonesia lebih baik dibandingkan dengan Malaysia dan Singapura, tetap saja Pemerintah Indonesia mesti mewaspadainya. Aliran dana kampanye mungkin akan sedikit menolong pengetatan likuiditas yang berdampak buruk pada sektor riil, tapi tak ada yang menjamin bahwa krisis global akan berakhir setelah Pemilu 2009. Apalagi dalam triwulan keempat 2008, ekonomi Indonesia hanya tumbuh 5,2 persen, melemah dari triwulan sebelumnya 6,1 persen.

Keyakinan Adam Smith akan adanya tangan siluman dari pasar bebas yang akan menciptakan keseimbangan atas fluktuasi harga, ternyata hanya ilusi. Kapitalisme yang mendewakan uang, materi selalu saja mengabaikan nilai-nilai kemanusiaan. Neoliberalisme dengan pasar bebasnya telah membelah dunia menjadi negara-negara kaya dan miskin, serta gap antara keduanya terus bertambah lebar.

Jauh-jauh hari teori tangan siluman Adam Smith itu sesungguhnya telah ditentang oleh Joseph Stiglitz, “tangan siluman sering tidak kelihatan karena memang tidak ada”. Krisis ekonomi yang bermula dari krisis keuangan global, sebuah krisis yang lahir karena eksploitasi kerakusan manusia, telah membuktikan bahwa tangan siluman itu memang tidak ada.

Etika Global

Jurang lebar antara negara kaya dan miskin, utamanya bukan karena kebodohan manusia, tetapi lebih karena kejahatan manusia yang melahirkan ketidakadilan dalam bidang ekonomi. Kapitalisme global yang mengeksploitasi kerakusan manusia melabrak nilai-nilai kemanusiaan yang harus dihormati, akhirnya mengalami kehancuran karena tidak memenuhi asas keadilan.

Akibat manusia tidak lagi memperlakukan manusia lainnya sebagai sesama manusia, sebaliknya memperlakukan sesamanya sebagai objek pemuasan napsu keserakahan. Kerja sama yang harmonis antarsesama manusia menjadi barang mewah. Jika kondisi itu terus terpilihara, krisis ekonomi yang terjadi saat ini bukan mustahil akan melahirkan depresi global.

Secara harfiah, manusia bukanlah serigala atas sesamanya. Manusia dapat hidup bersama meski tak bisa bekerja sama. Namun, manusia yang membiarkan sesamanya terus hidup dalam kemiskinan dan tak memiliki tanggung jawab untuk mengentaskan kemiskinan sesamanya adalah bagai serigala atas sesamanya. Ini melanggar hukum kodrat yang mengajarkan agar manusia dalam hidup bersama-sama itu mencapai kesempurnaan bersama. Manusia harus hidup saling menolong dalam mencari atau menyelenggarakan hidup yang luhur, kata Driyarkara (Driyarkara, 2006, hal 500.)

Dalam masyarakat yang tidak menghargai keadilan, manusia yang kuat memanfaatkan manusia yang lemah, dan yang lemah tak mampu memghindarinya. Ini adalah suatu kejahatan.

Kejahatan atau penindasan terhadap orang miskin, atau yang mengakibatkan kemiskinan, adalah salah satu persoalan serius yang menyebabkan kemiskinan terus bertambah, khususnya kejahatan yang dilakukan oleh para penguasa dan pengusaha. Lebih parah lagi jika kejahatan itu dilakukan dalam perselingkuhan antara penguasa dan pengusaha. Tak ada jalan lain, apabila dunia ingin membangun ekonomi global yang menguntungkan semua pihak, maka ekonomi global tersebut mesti dibangun di atas dasar etika global, suatu etika yang lahir dari konsensus bersama umat manusia sedunia. Untuk mewujudkan hal tersebut setiap negara wajib membangun tatanan ekonomi di atas landasan etika bisnis, yang juga sesuai dengan etika bisnis global.

Pembangunan ekonomi sangat berkaitan erat dengan pembangunan politik. Hadirnya pemimpin-pemimpin bangsa yang cerdas dan bermoral akan melahirkan regulasi dalam bidang ekonomi yang berpihak kepada rakyat. Suksesnya pemilu yang jujur dan adil akan sangat mempengaruhi kondisi ekonomi Indonesia.Kerja sama yang membuahkan kebaikan bersama hanya mungkin jika keadilan dijunjung tinggi. Etika bisnis, etika kerja harus ditegakkan. Dan itulah yang akan mengantarkan Indonesia pada cita-cita bangsa, yaitu kesejahteraan untuk seluruh rakyat.

Penulis adalah Peneliti pada Reformed Center for Religion and Society

26
Mar
09

Menuju TRIHITA KARANA

Suara Pembaruan, 25 Maret 2009

Menuju “Trihita Karana”

Oleh I Ketut Bantas ,

Ketua Parisada Hindu Dharma Indonesia, DKI Jakarta.

Pada 26 Maret 2009, umat Hindu merayakan Hari Raya Nyepi Tahun Baru Saka 1931, hari raya keagamaan yang sarat makna. Nyepi merupakan tradisi yang selalu diapre-siasi sesuai dengan kondisi nyata yang dihadapi saat itu, yang dalam bahasa agama Hindu disebut dengan istilah desa, kala, dan patra, yang artinya tempat, waktu, dan keadaan.

Tahun ini, kehidupan kita masih diselimuti suasana keprihatinan, seperti bencana alam dan krisis global yang mendera seluruh dunia, yang berdampak pada pemutusan hubungan kerja massal. Dalam kondisi prihatin itu, umat Hindu Indonesia merayakan Nyepi, memasuki tahun Saka yang baru, yang tentunya penuh harapan adanya perbaikan di segala segi kehidupan.

Adalah Raja Kaniska I yang menghayati secara mendalam tentang makna kehidupan, terutama nilai-nilai kemanusiaan yang menyangkut toleransi, kerukunan, dan persaudaraan sejati antarsesama warga dari berbagai suku, yang pada waktu itu menghuni kawasan Asia Selatan. Dinobatkan menjadi raja pada Minggu, 21 Maret 79, beliau menyadari bahwa selama permusuhan dibalas dengan permusuhan, kekerasan tidak akan pernah berhenti.

Itulah sebabnya perjuangan bangsanya dialihkan ke arah perjuangan kesejahteraan dengan mengedepankan nilai-nilai budaya yang luhur.

Kearifan yang bersumber pada ajaran kitab suci Veda itu diartikulasikan dalam kehidupan nyata sehari-hari. Tanggal penobatannya ditetapkan menjadi tahun Saka, yang kemudian berkembang sampai ke Indonesia.

Dalam pustaka Bhagawadgita Bab IV sloka 10, dinyatakan bahwa pada jaman dahulu Tuhan mencipta manusia bersama bakti persembahan-Nya, dan bersabda, “Dengan ini engkau akan berkembang biak dan terimalah dunia ini sebagai kamadhuk.” Kamadhuk artinya yang dapat memenuhi segala keinginan.

Dunia sebagai kamadhuk, yang digambarkan sebagai sapi perahan. Maknanya adalah susunya boleh diperah, tetapi sapinya harus selalu dirawat. Demikian pula dengan dunia atau alam ini boleh dieksploitasi, tetapi juga harus selalu dirawat dan dilestarikan.

Tercipta Hubungan

Sejak penciptaan itu, terjalinlah hubungan manusia dan Tuhan sebagai penguasa alam semesta. Sejak dititahkan untuk berkembang, manusia pun berkembang merambah seluruh pelosok dunia. Sejak itu timbul hubungan manusia dengan manusia. Demikian pula sejak dunia ini sebagai kamadhuk dihadiahkan kepada manusia, terjadilah hubungan manusia dengan alam. Hubungan manusia dengan Tuhan, hubungan manusia dengan sesama manusia, dan hubungan manusia dengan alam, melahirkan kearifan lokal yang disebut Trihita Karana.

Hubungan manusia dengan Tuhan dijalin dengan upaya selalu mendekatkan diri kepada-Nya, dengan cara melaksanakan persembahyangan atau pemujaan sebagaimana diamanatkan dalam Bhagawadgita III sloka II. Oleh karena itu pujalah Tuhan, semoga Tuhan memberkati engkau. Dengan pujaanmu, engkau mencapai kebijaksanaan tertinggi.

Hubungan manusia dengan sesamanya hendaknya dengan menyadari diri sebagai sahabat dari sesama manusia, baik dalam hubungan sesama agama, antarsuku, ras, dan antaragama. Tidak perlu memandang perbedaan asal usul maupun budaya, kita semua adalah teman dari semua ciptaan Tuhan, karena berasal dari pencipta yang sama serta diisi dan digerakkan oleh sumber hidup yang sama pula. Pandang memandanglah sebagai sahabat, demikian ditegaskan dalam Yajur Veda XXXVI.18.

Melestarikan Alam

Alam semesta, khususnya dunia ini, adalah tempat di mana kita hidup. Ia memberi apa yang kita butuhkan. Oleh karena itu, alam lingkungan hendaknya jangan hanya dimanfaatkan, tetapi juga ada upaya pelestarian. Bhagawadgita III.14 mengamanatkan demikian, “Karena makanan makhluk (menjadi) hidup, karena hujan tumbuhan (menjadi) hidup, karena persembahan hujan turun, dan persembahan lahir dari kerja.”

Dalam merayakan Nyepi selalu diawali upacara melis atau melasti, yaitu pemujaan di laut atau sumber air. Makna penting dari upacara ini adalah pelestarian sumber air. Laut adalah sumber air terbesar. Uapnya menghasilkan mendung. Karena ditahan oleh hutan atau gunung mendung menghasilkan hujan. Air hujan diserap dan mengalir lagi menuju laut.

Dalam perjalanan menuju laut inilah, air memberikan kesejahteraan dan kemakmuran terhadap manusia. Tetapi kalau manusia tidak memberlakukan air dengan baik, ia bisa berubah menjadi pembawa bencana.

Selanjutnya, dilakukan upacara Tawur atau upacara Caru, berupa bakti persembahan terhadap alam semesta. Dalam ajaran Hindu, alam semesta ini terjadi dari perpaduan lima unsur yang disebut Panca Maha Bhuta, terdiri dari unsur tanah (pertiwi), unsur air (apah) unsur api (teja), unsur angin (bayu), dan unsur eter yaitu unsur alam yang paling halus perekat dari semuanya. Dalam upacara Caru ini, dimohonkan ke hadapan Tuhan agar perpaduan kelima unsur itu selalu harmonis. Jika tidak harmonis dapat mendatangkan bencana.

Upacara yang paling khas dalam perayaan tahun baru Saka ini adalah Nyepi atau sipeng, dengan melaksanakan catur brata Nyepi, yaitu amati ghni atau mematikan api kosmik untuk menghidupkan api spiritual yang ada di dalam diri, amati karya atau enghentikan kegiatan kerja untuk mencari makna dan hakikat kerja yang sesungguhnya. Selanjutnya amati lelungaan, artinya tidak bepergian mengikuti keinginan nafsu, serta amati lelanguan, atau tidak bersuka ria agar menemukan kesadaran.

Hakikat dari catur brata ini adalah pengendalian diri, untuk mendapatkan kesadaran hidup yang sesungguhnya, kesadaran yang sulit dirasakan dalam kesibukan sehari-hari. Kesadaran ini akan menuntun peningkatan sraddha (takwa) kepada Tuhan. Sraddha jangan diartikan sebatas pemujaan atau upacara ritual di altar pemujaan, tetapi hendaknya dikembangkan pada upaya-upaya lain yang mencakup upaya kesejahteraan umat manusia.

Setelah melaksanakan catur brata, esok harinya dilanjutkan dengan ngembak ghni, yakni kembali pada kehidupan seperti biasa. Ngembak ghni artinya menghidupkan api, diawali dengan Dharma Santi, yaitu berbagi suasana kedamaian dengan mengucapkan doa keselamatan dan permohonan maaf kepada handai taulan. Roda kehidupan baru di awal tahun Saka telah digulirkan kembali.

Perayaan tahun baru Saka kali ini mengusung tema “Melalui Brata Nyepi Tahun Saka 1931, Kita Tingkatkan Sraddha dan Bakti Serta Kebersamaan Dalam Melaksanakan Dharma Agama dan Dharma Negara.” Sebagai umat Hindu, ia wajib mengamalkan ajaran agama sesuai tuntunan Veda. Sebagai warga negara, wajib tunduk dan patuh kepada segenap peraturan yang berlaku. Itulah mengapa, umat Hindu hendaknya juga berpartisipasi dalam pemilu nanti.

Selamat Hari Raya Nyepi tahun baru Saka 1931. Semoga semua memperoleh kebahagiaan. Semoga semua memperoleh kedamaian. Semoga semua melihat kebajikan. Semoga semua penderitaan meninggalkan kita. Semoga kedamaian selalu bersama kita. *

26
Mar
09

Perdamaian Demi Kebahagiaan

KOMPAS, Rabu, 25 Maret 2009 | 04:28 WIB
Oleh RAKA SANTERI

Pada tahun 77 Masehi, Maharaja Kaniska I di India tercenung. Penguasa dari dinasti Kusana ini berpikir: setelah musuh-musuh dapat ditaklukkan dan kekuasaan dapat direbut, apakah arti kemasyhuran dalam hidup bila selalu diwarnai dendam dan diancam oleh pemberontakan? Adakah yang lebih indah dalam hidup ini selain kedamaian, seperti yang telah ditunjukkan oleh musuh-musuhnya dari suku bangsa Saka?

Raja Kaniska pun semakin yakin bahwa tidak ada kebahagiaan tanpa kedamaian. Dan, kedamaian baru bisa tercipta bila tidak ada lagi kekerasan. Maka, Raja Kaniska memutuskan untuk mengakhiri peperangan dan menciptakan perdamaian selama hidupnya melalui diplomasi budaya. Minggu, 21 Maret 78, Raja menetapkan kalender sistem Saka menjadi sistem tahun kerajaan. Tampaknya keputusan itu diambil untuk menghargai suku Saka.

Penetapan tahun Saka ini kemudian tersebar sampai ke Dvipantara (Indonesia) yang oleh masyarakat Hindu di Bali ditetapkan sebagai hari raya Nyepi. Perayaan Nyepi tahun baru Saka 1931 jatuh pada 26 Maret 2009.

Dengan demikian, perayaan tahun baru Saka pada hakikatnya adalah peneguhan tekad untuk menegakkan perdamaian. Tidak akan ada capaian yang dapat dibanggakan tanpa melewati jalan damai, jalan yang dilandasi kebenaran. Lebih-lebih pada saat kita memasuki tahun pemilu seperti sekarang ini. Suasana damai jelas sangat diperlukan oleh bangsa ini, betapa pun dinamisnya manuver-manuver politik dilakukan.

Masyarakat Bali sendiri sudah bertekad menjadikan pemilu tahun ini sebagai sebuah atraksi budaya yang dapat meredakan ketegangan-ketegangan ciptaan para elite politik yang sedang berebut kekuasaan. Di kalangan masyarakat sudah lama beredar guyonan ”jika para elite menenggak minuman keras, mengapa rakyat kecil yang disuruh mabuk?”

Damai, itulah inti Nyepi. Damai yang kita butuhkan sekarang mungkin berbeda dengan damai yang dibangun pada zaman Raja Kaniska I. Pada zaman itu damai lebih banyak berarti tidak ada peperangan. Tetapi sekarang kedamaian yang kita cita-citakan jauh lebih dalam dan luas. Bukan hanya tidak ada kekerasan berupa perang, tetapi juga tidak ada ”kekerasan” lain berupa kemiskinan, penyakit, pemaksaan kehendak, dendam, dominasi budaya kelompok, penghinaan, ketidakadilan, pembabatan hutan dan kerusakan lingkungan, serta kekerasan lahir dan batin lainnya.

Oleh karena itu, masyarakat Hindu merayakan tahun baru Saka dengan berbagai prosesi dan pantangan. Semuanya menyimbolkan sesuatu. Upacara melasti, yaitu prosesi ke laut sebelum Nyepi, menyimbolkan usaha menghilangkan penderitaan dan kekotoran batin manusia. Damai tidak akan pernah tercapai jika penderitaan rakyat masih merajalela dan kekotoran pikiran masih menguasai hidup manusia. Damai juga tidak bisa terwujud bila tidak ada keseimbangan dalam hidup ini.

Segala sesuatu memiliki nilai positif dan negatif, memiliki sisi baik dan buruk. Rwa bhineda (dua hal yang berbeda) akan selalu ada. Keadaan demikian menuntut kita untuk menilai segala sesuatu secara obyektif, berimbang, dan dengan itikad baik. Jangan meracuni rakyat dengan pandangan satu sisi, suatu pandangan yang seolah-olah dianggap ”sah” dalam dunia politik menjelang pemilu seperti sekarang ini.

Umat Hindu menyimbolkan keseimbangan itu dalam wujud caru atau tawur, yang dilakukan sehari menjelang Nyepi. Di samping menyimbolkan keseimbangan, caru juga menyimbolkan bahwa sesungguhnya tidak ada yang sepenuhnya ”jelek” di dunia ini kalau kita pandai mengelolanya. Secara teologis, para pandita Hindu melakukan pengelolaan itu dalam proses nyomia, mengubah kekuatan jelek menjadi kekuatan baik.

Introspeksi diri

Tetapi, perdamaian adalah sebuah proses dinamis. Perdamaian tidak pernah berhenti pada suatu kondisi. Maka, untuk menjaga perdamaian, kita diharapkan senantiasa waspada pada perkembangan, terutama gejolak yang terjadi. Umat Hindu melakukan pengelolaan itu dengan terlebih dahulu menoleh ke dalam dirinya sendiri.

Secara fisik, ada empat hal yang dilakukan, disebut catur brata penyepian. Ke-4 hal itu adalah melaksanakan puasa serta tidak menyalakan api, tidak bekerja, tidak bepergian, dan tidak mencari hiburan. Dalam keadaan seperti itulah umat Hindu diharapkan melakukan meditasi, berdialog dengan hati nuraninya sendiri serta memohon ampunan dan bimbingan Tuhan.

Kitab suci Bhagawadgita IV.39 menyebutkan, ”Ia yang memiliki keyakinan kuat dan memusatkan pikirannya kepada-Ku, mengendalikan indrianya, akan mendapatkan kebijaksanaan. Setelah itu ia akan mencapai puncak keheningan jiwa”. Umat Hindu meyakini, jika seseorang telah dekat dengan Tuhan, tangan Tuhan akan turut membimbing melalui usaha manusia itu sendiri, mengatasi segala rintangan.

RAKA SANTERI Wartawan; Tinggal di Denpasar

25
Mar
09

7 (Tujuh) Hukum Kebahagiaan

/ Home / KOMPAS
Pergulatan Menggapai Kepasrahan
Minggu, 22 Maret 2009 | 03:28 WIB
J SUMARDIANTA

Alam melimpah dengan kebajikan yang bisa diteladani. Inilah semesta hikmah yang bisa ditimba dari dongeng tentang kodok yang tak pernah puas diri.

Ada seekor kodok di pinggir kolam yang sunyi. Kodok itu, dengan suasana hati senantiasa kacau, menunggu serangga terbang di atasnya. Setiap kali ada lalat, ia segera mencaploknya.

Kalau sudah kenyang kodok itu ngorek (berbunyi), ”Rek, kek-kek, rek kek-kek”. Namun, sering kali ia tidak menangkap apa-apa. Maka bersungut-sungut ia dan beginilah gerutunya, ”Ko-ak, ko-ak”. Anak-anak desa mendengar gerutu kodok. Mereka tidak tahu kalau kodok itu lapar. Kata mereka, ”Dengarlah, si kodok minta hujan”.

Suatu pagi, kodok tampak gundah-gulana. Hanya lalat-lalat kecil yang sempat dicaploknya. Sambil menggerutu, ko-ak-ko-ak, ia mengeluh dalam hati, betapa malang nasibku. Sering aku pergi tidur dengan perut kosong.

Kodok rupanya iri dengan ikan-ikan emas yang hidup bersamanya di kolam. Batinnya, sepanjang hari ikan-ikan itu hanya bermain-main saja, berenang ke sana kemari, tak pernah bekerja. Toh mereka selalu mendapat makan. Setiap pagi anak-anak datang melemparkan nasi ke kolam dan dengan lahap ikan-ikan itu menyantapnya.

Tiba-tiba si kodok mendengar langkah manusia. Ia bersembunyi di balik daun sambil mengintip anak yang biasanya datang memberi makan ikan. Ia datang bersama seorang lelaki yang membawa jaring. Segera lelaki itu melemparkan nasi ke kolam. Datanglah ikan-ikan emas berebut makanan. Ikan terjaring dalam jumlah besar. Ikan besar dimasukkan ke dalam keranjang. Yang kecil kembali dilepaskan ke kolam. Katanya, tunggulah sampai ikan-ikan ini besar nanti. Ia bilang lagi, kali ini cukup. Mari kita masak ikan-ikan ini dengan bumbu asam manis perasan limau (orange) di dapur Haji Mangoes. Hari ini Pak Haji kedatangan tamu istimewa. Bagi tamunya, mesti ada ikan bakar, nasi mengepulkan asap, dan sambal mentah di meja hidangan.

Si kodok menyaksikan apa yang terjadi. Pula mendengar semua yang dikatakan kedua manusia itu. Kodok menjadi ketakutan, tetapi ia tidak menyesali diri dan nasibnya lagi. Katanya, ”Betapa saya bahagia bahwa saya seekor kodok”.

Susah memaafkan

Tamsil kodok yang tak pernah puas diri sangat cocok buat mengapresiasi buku Arvan Pradiansyah, The 7 Laws of Happiness. Motivator, penulis buku laris Life is Beautiful ini, memaparkan tujuh rahasia kebahagiaan otentik: sabar (patience), syukur (gratefulness), bersahaja (simplicity), kasih (love), memberi (giving), memaafkan (forgiving), dan pasrah (surrender). Tiga rahasia pertama bersifat menerima berkaitan dengan kecerdasan personal. Tiga rahasia kedua bersifat melepaskan ego berurusan dengan kecerdasan sosial. Satu rahasia terakhir bersemayam di jantung kecerdasan spiritual.

Manusia cenderung kemrungsung, tergopoh, dan ruwet hingga susah berdamai dengan diri sendiri karena terperangkap perasaan iri. Iri hati adalah perasaan impoten yang membikin lumpuh usaha manusia untuk meraih kebahagiaan otentik. Soalnya, segala sesuatu entah berupa jabatan, kekuasaan, uang, mobil, rumah, dan tanah itu milik orang lain. Manusia diamuk dengki karena penyesalan berlarut, gagal memiliki obyek yang diinginkannya.

Manusia sulit mengasihi, memberi, dan memaafkan hingga susah berdamai dengan sesama karena terjebak budaya bertahan hidup. Kesibukan sehari-hari menjerumuskan manusia pada nitty-grity (tetek bengek) penguras energi, patuh pada sistem yang membelenggu, mengelola birokrasi yang tidak waras, dan menjalankan kepatuhan keras. Kerja menjadi lubang hitam raksasa yang menyedot habis energi dan kesehatan. Mereka sampai rela membayar kesuksesan dengan tukak lambung akut, perkawinan kandas, dan pola hidup sinting. Bahkan, para dokter sengsara di tempat kerja. Mereka menghabiskan seluruh hari buat mengobati orang-orang yang sengsara akibat pekerjaan. Kegilaan egosentris inilah yang oleh William James, Bapak Psikologi Modern, disebut sebagai ”kelembekan moral demi kesuksesan banal”.

Saat bahagia kita kurang berfokus pada diri sendiri, lebih menyukai orang lain, dan ingin berbagi nasib baik kepada siapa pun. Sebaliknya, ketika sedih, kita kurang memercayai orang lain, suka menyendiri, dan secara defensif berfokus terhadap kebutuhan-kebutuhan sendiri. Bahagia itu cermin pribadi yang terbuka (extrovertion). Murung itu gambaran orang yang cenderung menarik diri dari pergaulan (introvert).

Kebahagiaan, menurut Arvan Pradiansyah, akan terwujud dengan sendirinya bila orang gemar memberi. Memberi berarti melepaskan yang kita miliki. Kita takut memberi karena memberi membuat kita kehilangan. Memberi kesempatan mobil yang hendak mendahului sulit saja kita lakukan. Kita acap bersikap kompetitif untuk hal-hal sepele ini. Kita enggan didahului mobil lain karena kita menikmati kemenangan remeh seperti itu.

Garuklah punggung kaum altruis maka darah kemunafikan bakal mengucur deras. Apa pun yang dilakukan orang, selama masih mengandung standar ganda, bukan dilandasi kasih sejati. Kita intens mendengarkan pembicaraan orang penting tapi memotong pembicaraan kaum rendahan. Kita begitu ramah kepada wartawan, tetapi dengan ketus menghardik wiraniaga yang hendak menawarkan produk. Kita melayani pelanggan dengan segenap hati, tetapi memperlakukan supplier secara kasar. Relasi menjadi tidak tulus karena bergelimang kepentingan. Sudah menjadi pemandangan jamak di pusat-pusat perbelanjaan, para majikan bergegar-gegaran penuh derai tawa seraya menikmati hidangan lezat, para pembantu sibuk melayani majikan tanpa mendapatkan air segelas pun. Dus, kalau hendak melihat apakah seseorang memiliki kasih sejati, perhatikanlah bagaimana saat berinteraksi dengan orang-orang yang ”tidak penting”.

Resep cespleng yang dikampanyekan Arvan Pradiansyah adalah menjadi pemaaf. Memaafkan melepaskan sakit hati dan keinginan membalas kejahatan. Permaafan melepaskan kita dari belenggu kesalahan masa lalu dan akan membuat kita kembali kuat. Maafkanlah diri sendiri! Agar perasaan malu dan penyangkalan diri tidak terlalu berat untuk dipikul. Maafkanlah juga orang lain atas peran mereka dalam kekecewaan dan kesedihan kita. Tujuan hidup manusia bukanlah untuk memikul segala keluhan sesal melainkan untuk terus berkembang dan tumbuh. Memaafkan berarti membebaskan seorang tawanan dan menyadari bahwa tawanan itu adalah diri Anda sendiri.

Menyaring pikiran

Berbeda dengan memilih tindakan sebagai inti The 7 Habits Steven R Covey. The 7 Laws lebih menukik ke relung jiwa terdalam dengan memilih pikiran. The 7 Habits for Highly Effecttive People kitab perihal efektivitas dalam memilih tindakan. The 7 Laws of Happiness merupakan buku mengenai kebahagiaan dengan cara menyaring pikiran. Memilih tindakan menghasilkan kesuksesan. Menyaring pikiran menghasilkan kebahagiaan. Saat mendapat musibah, misalnya, renungkan hikmah apa yang bisa saya timba dari kemalangan ini? Bukan menyiksa pikiran dengan menyalahkan diri sendiri dan orang lain. Tuhan memberi rahmat berupa persoalan rumit agar kita mampu mengendalikan diri sendiri. Proses penemuan solusi inilah yang akan membuat kita tumbuh secara spiritual.

Manusia punya kecenderungan tidak sabar dan tidak tahan menderita. Manusia senantiasa mengejar kenikmatan. Kecenderungan para artis yang gemar kawin-cerai merupakan kasus ekstrem manusia yang sangat dahaga kebahagiaan. Bagai menenggak air laut, dahaga tak pernah bisa dipuaskan. Mereka hanya mendapat kesenangan dan kenikmatan yang menyamar sebagai kebahagiaan. Kesenangan dan kebaikan merupakan dua jalan berseberangan arah. Kesenangan kendati tampak indah, menarik, menggairahkan, mudah, dan menjanjikan menjauhkan manusia dari kebahagiaan. Jalan kebaikan memang terjal, berkelok, mendaki, berbahaya, dan penuh tantangan. Kebaikan adalah jalan menuju kebahagiaan. Kesenangan selalu berujung kesengsaraan.

Saripati buku The & Laws of Happiness amat sederhana. Segala yang dikerjakan manusia mesti berawal dari kesabaran dan berakhir pada sikap pasrah. Hidup pada dasarnya a struggle to surrender—pergulatan spiritual menggapai kepasrahan. Rumus kepasrahan adalah Do the best and let God do the rest (Berusahalah sebaik mungkin maka Tuhan akan menyempurnakannya)”.

Kisah-kisah bagaimana Arvan Pradiansyah, sebagai motivator, mengamalkan apa yang dia anjurkan (practice what him preach) dengan menerapkan tujuh rahasia hidup bahagia dalam tindakan keseharian (living the 7 Laws) sungguh inspirasional. Buku yang ditulis dengan gaya bertutur ikhlas mengalir ini sangat mencerahkan bagi masyarakat Indonesia yang sedang kelimpungan didera zaman meleset akibat resesi global.

J Sumardianta Guru Sosiologi SMA Kolese de Britto Yogyakarta, Penulis Buku ”Simply Amazing: Inspirasi Menyentuh Bergelimang Makna”

25
Mar
09

Cakrawala Legislator

Cakrawala Legislator

Terinspirasi dari nama PKPI Partai Keadilan dan Persatuan Indonesia yang melekat sila ke-5 dan sila ke-3 PANCASILA maka

VISI
Benteng PANCASILA dan NKRI

MISI
PANCASILA Penghela Indonesia Digdaya 2045, dan

7 (Tujuh) Resolusi SUMPAH PEMUDA 2008

1.Kami putra dan putri Indonesia mengaku bertumpah darah yang satu, Tanah Air Indonesia
2.Kami putra dan putri Indonesia mengaku berbangsa yang satu, Bangsa Indonesia
3.Kami putra dan putri Indonesia mengaku berbahasa persatuan, Bahasa Indonesia
4.Kami putra dan putri Indonesia mengaku berideologi yang satu, Pancasila
5.Kami putra dan putri Indonesia mengaku berkonstitusi yang satu, Undang Undang Dasar 1945
6.Kami putra dan putri Indonesia mengaku bernegara yang satu, Negara Kesatuan Republik Indonesia
7.Kami putra dan putri Indonesia mengaku berbendera persatuan bangsa, Bendera Merah Putih

NILAI
1.Strategi 7 (Tujuh) Ketahanan Bangsa
2.9 (Sembilan) Pusaka Kebangsaan
3.Tiga Pilar Kenegarawanan
4.NKRI Negara Hukum
5.Negara Kesejahteraan
6.Kedaulatan Rakyat
7.Kemanusiaan dijamin Negara

AGENDA
Poros Kejuangan PANCASILA Indonesia, dan

7 (Tujuh) Politik Kesejahteraan ProRakyat Indonesia, yakni

Kelola (1. Pengangguran; 2. Inflasi; 3. Kemiskinan) + (4. Sektor Riil; 5. Daya Beli; 6. Ketahanan/Kedaulatan Pangan & Energi; 7. Pertumbuhan/Pemerataan Ekonomi),

TEMA PROGRAM

1.Pastikan Kebahagiaan Publik Indonesia (7 Hukum)
2.Patriotisme Kenegerawanan Pilar Indonesia
3.Politik Ketahanan & Pertahanan Indonesia
4.Poros Kebangkitan Perekonomian Indonesia
5.Pusat Kebijakan Publik IpTek
6.Penghijauan Kita Pastikan di Indonesia
7.Pastikan Kesejahteraan ProRakyat Indonesia

Jakarta Selatan, 24 Pebruari 2009

Dr Ir Pandji R. Hadinoto, MH / http://www.pkpi.co.cc / HP : 0817 983 4545
CaLeg DPR, ParPol No. 7 PKPI, DaPil Jakarta II No. 2, JakSel-JakPus-LuarNegeri

25
Mar
09

PerUndang-Undangan Perlindungan Tenaga kerja indonesia

PRESS RELEASE
PerUUan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia (TKI)

Mencermati Pro3 RRI pada hari Senin, tanggal 23 Maret 2009, pukul 20 wib, kata pengantar oleh pembawa acara diutarakan bahwa jumlah TKI di luar negeri mencapai populasi 4,3 juta yang memberikan sumbangan bagi 10% APBN.
Profil tersebut menunjukkan bahwa TKI adalah Pahlawan Devisa Negara, dan oleh karena itulah patut dipayungi lebih lanjut oleh PerUUan Perlindungan TKI mengingat salah satu daripada 7 (Tujuh) Cita Politik Indonesia adalah “Melindungi segenap bangsa Indonesia” [Pembukaan UUD 1945] selain mempertimbangkan pandangan hidup bangsa yakni “Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab” [Sila ke-2 PANCASILA].
Oleh karena itulah, sebagai kader Partai Keadilan dan Persatuan Indonesia (PKPI), yang namanya melekat Sila-5 dan Sila-3 PANCASILA, maka tindakan pembelaan berupa perjuangan bagi Perlindungan TKI adalah merupakan hak dan kewajiban nasional.
Dalam pengertian inilah Poros Kejuangan PANCASILA Indonesia menjadi penting dibentuk dalam membangun kebersamaan nasional antara lain dalam rangka (1) perjuangan bagi pembentukan PerUUan Perlindungan TKI yang diharapkan berkapasitas lintas negara, misalnya kelak ditindaklanjuti melalui nota-nota kesepahaman dengan beberapa negara pengguna TKI, bahkan kesepakatan2 antar negara yang diakui oleh konvensi internasional, (2) sosialisasi PANCASILA Penerang Dunia kepada masyarakat internasional khususnya masyarakat negara2 pengguna TKI guna sekaligus meningkatkan harkat dan martabat bangsa dan negara Indonesia khususnya masyarakat TKI, (3) penguatan jiwa, semangat dan nilai2 (JSN) Kejuangan PANCASILA bagi TKI sehingga meningkatkan kepercayaan diri sebagai pengemban JSN Kejuangan PANCASILA di luar negeri yang oleh karenanya kedudukan hukumnya dapat diakui oleh masyarakat negara2 pengguna TKI termaksud.
Untuk penyediaan lapangan kerja dalam negeri, PKPI siap dengan penyuluhan Gerakan Jarak Pagar Sejahtera berikut perangkat lokomotif gerakan yakni teknologi Kompor Biji Jarak dan Kompor Minyak Jarak guna memacu industri kerakyatan atau rumah tangga.
Demikianlah Press Release ini dibuat untuk dapat dipergunakan oleh semua pihak Nasionalis, Patriotis, Negarawan yang berkepentingan kepada kemashalatan, kemuliaan, kebajikan, kedamaian dan kesejahteraan lahir dan batin.
Jakarta, 24 Maret 2009
Dr Ir Pandji R. Hadinoto, MH / http://www.pkpi.co.cc / HP : 0817 983 4545
CaLeg DPR RI, ParPol No. 7 PKPI, DaPil Jakarta II (JakPus, JakSel, LN) No. Urut 2




Blog Stats

  • 3,174,064 hits

Recent Comments

Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Sejarah : Bangsa Lemuria, Lelu…