Semalam beberapa media online seperti Kompas, Tempo dll menurunkan berita bahwa beberapa penyanyi kelas internasional atau selebritis internasional seperti Guns & Roses; Sting; Jason Mraz; Madonna dll mempromosikan dukungan mereka kepada pencalonan Jokowi sebagai presiden Indonesia berikutnya. Berita ini sebenarnya biasa saja karena dukungan seleb internasional tidak mempunyai arti apapun dan tidak boleh menjadi alasan kita mendukung atau tidak mendukung calon pemimpin Indonesia. Masak kita mau menggantungkan nasib negara ini kepada para bule yang hidup bergelimang narkoba seperti Guns & Roses atau yang suka kimpoi cerai dan pernah menyobak Alkitab di dalam sebuah konser seperti Madonna? Tidak masuk akal dan miris bila ada yang melakukan hal demikian. Tapi sayangnya itulah yang dilakukan oleh para pendukungnya yang sedang menghebohkan dukungan selebritis tersebut. Weleh….ini mah namanya mental inlander dan inferiority complex masih menjangkiti Jokowi dan kawan-kawan karena menganggap bule selalu benar.

Apa sih artinya mental inlander? Inlander berakar dari bahasa Belanda yang berarti pribumi dan digunakan Belanda untuk menyebut rakyat di tanah jajahan, khususnya Hindia Belanda atau yang telah merdeka menjadi Republik Indonesia. Penyebutan inlander oleh Belanda ini melahirkan konotasi negatif sebagai hasil propaganda selama 350 tahun terhadap rakyat Indonesia dengan tujuan memudahkan atau memuluskan penjajahan yaitu melalui usaha menanam di pikiran kaum inlander atau pribumi bahwa mereka adalah kaum bodoh, terbelakang dan primitif sedangkan Belanda adalah manusia modern yang status atau stratanya lebih tinggi daripada kaum inlander, oleh karena itu secara alamiah Belanda memiliki hak istimewa untuk memperbudak atau menjajah kaum inlander. Salah satu wujud doktrinasi tersebut adalah melalui Pasal 131 dan Pasal 163 Indsiche Staatsregeling (I.S.) yang membagi golongan masyarakat di Hindia Belanda menjadi tiga strata atau golongan, yaitu: 1. Eropa, 2. Golongan Timur Asing (China, Arab, dll), dan 3. Pribumi (Bumi Putera). Sebagaimana terlihat, golongan bumiputera atau inlander diletakan oleh Belanda di strata paling bawah.

Doktrinasi Belanda yang begitu kuat di kalangan yang disebut inlander sehingga sekalipun Indonesia sudah merdeka, pemikiran bahwa bangsa Indonesia adalah bangsa inferior yang bodoh, tidak percaya diri pada kemampuan sendiri, menganggap bangsa lain lebih superior, lebih bagus, lebih pintar, lebih berpengalaman dalam segala hal masih terpaku kuat dalam mental kita, inilah yang disebut sebagai mental inlander atau yang dapat disebut sebagai sindrom mantan rakyat terjajah. Ironisnya semakin lama kita merdeka mental inlander ini bukan semakin hilang, dan sebagaimana terlihat dari fenomena dukungan selebritis internasional, kasus seragam NAZI dan Allan Nairn justru semakin meluas ke generasi muda kita khususnya Joko Widodo alias Jokowi.

Mental inlander Jokowi pernah terlihat dengan benderang ketika Jokowi sebagai Gubernur DKI Jakarta dan capres PDIP malah menghadap para duta besar negara-negara imperialis dan penjajah atas undangan (perintah) Jacob Soetoyo petinggi CSIS yang merupakan lembaga perwakilan CIA di rumah sang petinggi CSIS tersebut. Yang lebih menyedihkan, Jokowi juga membawa mantan presiden Indonesia, Megawati menghadap meneer-meneer dan mister-mister imperialis. Di manakah kehormatan dan harga diri Jokowi dan Megawati sehingga mereka tidak malu menghadap dan menundukan kepala demi menyerahkan leher untuk memohon dukungan kepada para duta besar negara imperialis terkait pencapresan Jokowi. Masa calon presiden Indonesia mengemis-ngemis dukungan kepada negara imperialis?

Peristiwa kedua yang menunjukan mental inlander Jokowi adalah pertemuan keduanya dengan negara imperialis di restoran super mewah bernama Restoran Oasis di Cikini dengan alasan pertemuan konsultasi biasa antara gubernur dengan dubes negara sahabat. Memang Jokowi mau membohongi siapa? bila memang acara tersebut adalah acara Pemprov DKI Jakarta, maka pertemuan tersebut seharusnya diadakan di Balai Kota dan tidak perlu di restoran mewah berharga mahal yang akan membebankan kepada APBD atau rakyat Jakarta demi kepentingan politiknya. Menyedihkan, di saat Laporan BPK menemukan tahun 2013 keuangan Pemprov DKI jebol Rp. 1,54trilyun, Jokowi malah menghamburkan pajak rakyat Jakarta hanya sekedar supaya Jokowi yang bermental inlander itu dapat belagak di depan meneer-meneer dan mister-mister .

Ada sebuah teori psikologis yang berbunyi bahwa manusia cenderung berkumpul atau mencari teman-teman yang memiliki kesamaan dengan dirinya sebab semua orang di sekeliling Jokowi adalah manusia-manusia bermental inlander. Tidak percaya? Mari kita lihat beberapa contoh:

1. PDIP: tahun lalu menghadap Partai Komunis China untuk “belajar” cara berorganisasi dengan baik. #mental inlander.

2. Soekarno: patron PDIP, pendukung marxis alias komunis, ajaran orang asing, dan mau menerapkan di Indonesia #mental inlander.

3. Megawati Soekarnoputri: anak dari ayah bermental inlander, terbukti menyerahkan leher ke asing dalam pertemuan di Rumah Jacob Soetoyo dan menjual aset negara bernilai mahal dengan harga murah kepada pihak asing. #mental inlander.

4. Budiman Soejatmiko: komunis dan mau menerapkan di Indonesia #bermental inlander.

5. CSIS: bentukan agen CIA bernama Pater Beek, menjalankan perintah Amerika Serikat sejak pendirian #mental inlander.

6. Tempo: didirikan Goenawan Mohamad, didikan agen CIA bernama Ivan Kats, menerima uang asing dan menjalankan agenda asing di Indonesia sejak lama. #mental inlander

7. Todung Mulya Lubis: didikan Amerika Serikat, menerima uang George Soros dan Amerika Serikat serta menjalankan agenda asing di Indonesia sejak lama. #mental inlander

8. Kontras dan NGO lain: menerima uang asing dan menyerahkan informasi tentang Indonesia kepada negara-negara asing. #mental inlander

9. James Riady: penyumbang kampanye Bill Clinton, sedangkan Bill Clinton adalah penghancur Indonesia tahun 1997 sampai 1998. #mental inlander

10. Ribka Tjiptaning: anak PKI, komunis. #mental inlander

11. Tahir: anggota Dewan Universitas Berkeley, dan menggunakan gedung Mayapada miliknya sebagai pusat agitasi dan propaganda bagi Jokowi. #mental inlander

12. Edward Soerjadjaja: harus mengundang perusahaan RRC untuk membangun monorel. #mental inlander

dan lain sebagainya.

NGO peliharaan asing di Indonesia seperti Kontras atau AJI (bentukan Goenawan Mohamad) biasanya akan menantang ketika dipermasalahkan sikap mereka yang menerima uang asing, menjalankan agenda asing di Indonesia dan memberikan laporan tentang Indonesia kepada asing, bagi mereka tidak ada masalah selama “niat” mereka baik dan demi kepentingan bangsa. Sayangnya adalah dari standar apapun, termasuk standar Barat yang liberal semua orang yang menerima dana dari negara asing untuk menjalankan agenda negara asing dan bahkan memberikan informasi kepada negara asing adalah penghianat negara. Tidak ada istilah lain, orang seperti ini adalah penghianat. Tidak percaya? Kita akan mengambil satu contoh, satu saja, yaitu Wilfred Burchett.

Siapa Wilfred Burchett? Dia adalah jurnalis perang asal Australia yang liputannya selalu bertentangan dengan sikap barat, dalam hal ini Amerika Serikat termasuk Australia. Liputan-liputan mengenai bom atom di Hiroshima-Nagasaki, perang Vietnam dan Korea begitu menyudutkan barat dan menguntungkan komunis sehingga Wilfred sempat dituduh sebagai simpatisan komunis atau agen Uni Soviet dan tahun 1955 paspornya sempat dicabut yang menyebabkan dia tidak bisa masuk Australia sampai tahun 1972 ketika paspornya dikembalikan. Tuduhan Wilfred Burchett adalah agen Soviet semakin diperkuat dengan kesaksian Yuri Krotkov, agen Soviet yang menyerahkan dirinya kepada Amerika Serikat, yang mana di depan senat Amerika Serikat tahun 1969 dia menyatakan Wilfred Burchett menerima uang dari Uni Soviet.

Sikap rakyat Australiapun terbelah dua, ada yang membela Wilfred Burchett sebagai pembela kebebasan pers (karena tudingan dia menerima uang Soviet tidak terbukti); sedangkan ada yang menganggapnya penghianat karena percaya keterangan Yuri Krotkov. Belakangan sikap yang bertentangan ini mengerucut pada kesimpulan akhir bahwa Wilfred Burchett memang penghianat Australia karena berdasarkan dokumen KGB yang dilepas ke publik pada awal tahun 1990an terbukti bahwa tahun 1957 komite sentral Uni Soviet memberikan Burchett uang sejumlah 20,000 rubel dan selanjutnya memberi gaji sebesar 3,000 rubels setiap bulannya sampai setidaknya akhir tahun 1960an. Sejak saat itu semua orang Australia termasuk para profesor di bidang HAM dan demokrasi melihat Burchett sebagai penghianat karena dia menerima uang dari Uni Soviet (negara asing) dan membuat berita yang menyudutkan Australia dan sekutunya.

Bila kita sandingkan dengan Kontras dan kawan-kawan, jelas bahwa mereka menerima uang dari negara asing dan bahkan Haris Azhar dari Kontras sering menghadap Uni Eropa untuk memberikan data tentang Indonesia kepada negara-negara asing tersebut, dan karena itu tidak ada kata ajektif yang layak untuk menyebut perbuatan NGO Indonesia itu selain penghianat dan tidak nasionalis dengan karakter bermental inlander karena menganggap konsep HAM negara luar lebih bagus daripada konsep HAM berpancasila di Indonesia.

Mau punya presiden yang dikelilingi orang-orang bermental inlander yang menganggap dirinya layak dijajah negara asing baik secara fisik maupun psikis? Pilih Jokowi dan JK. Namun demikian bila tidak mau dan bila anda masih punya harga diri untuk berdiri tegak melawan para imperialis, maka jangan pilih Jokowi. Pilihan di tangan anda, tapi ingat, pilihan anda juga menentukan nasib Indonesia dan anak-anak maupun sanak saudara anda yang ada di Indonesia. Selamat memilih!

REVOLUSI MENTAL

Mental seseorang tercermin dari sikap, pemikiran dan perilakunya. Dengan demikian mentalitas seseorang tidak hanya terbatas pada kejujuran. Kejujuran juga tidak terbatas tidak mencuri, tidak korupsi atau tidak menipu. Bangsa Indonesia yang dijajah selama tiga setengah abad memerlukan perubahan mental dari bangsa yang terjajah yang disebut inlander menjadi bangsa yang mandiri yang percaya diri dan memiliki harga diri yang tinggi. Mental seperti itulah yang akan membawa bangsa ini ke kemakmuran, keadilan dan peradaban.
kita sering mendengar kata self-esteem yang artinya adalah bagiamana seseorang menilai atau menyikapi dirinya. Selama dalam penjajahan, bangsa ini secara sistematis dijadikan bangsa dengan self esteem yang rendah. Warga pribumi adalah bangsa yang bodoh, miskin, tidak mandiri, tidak beradab dan sejenisnya. Mereka adalah kawula alit, wong cilik yang hanya mungkin hidup dengan bantuan atau dukungan orang-orang yang lebih tinggi derajadkan, yakni kaum ningrat dan bangsa-bangsa lain. Itulah gambaran warga pribumi di masa penjajahan. Itulah strereotype inlander yang diciptakan oleh penjajah.
Indonesia sudah meredeka selama hampir tujuh dekade, tetapi tidak berarti mental inlander sudah sirna dari bumi Indonesia. Mengapa demikian adalah karena secara sistematis negara tidak melakukan apapun untuk menghapuskannya. Yang terjadi adalah bahwa banyak pemimpin yang bahkan melestarikan mentalitas inlader ini terhadap rakyat dengan bersikap sama dengan para pemimpin kolonial dulu.  Bung Karno adalah satu-satu pemimpin nasional yagn selalu berusaha keras untuk mengangkat mentalitas bangsa menjadi bangsa yang “perkasa”. “Bangsa Indonesia bukan bangsa tempe”, kata Bung Karno menggugah bangsanya.
PM Mahathir dari Malaysia menyadari bahwa bangsa Melayu bermentalitas lemah, punya self esteeem rendah. Hal itu diuraikan dalam bukunya “Malay Dilema”. Setelah berada ditampuk kekuasaan, PM Mahathir mengembangkan program pembangunan manusia Melayu. Berbagai cara daln program dilakukan, termasuk melakukan diskriminasi ekonomi terhadap ras lain di Malaysia. Sistem pendidikan diubah, para pribumi mendapat kesempatan prioritas untuk berbisnis dan menjadi pegawai pemerintah. Mahathir melakukan revolusi mental secafa masif.
Selain memperlakukan rakyat bagaikan inlander, para pemimpin kita juga msih banyak yang bersikap sebagai inlander. Para pemimpin ini dalam pewayangan diibaratkan sebagai “Petruk Jadi Ratu”, atau seorang pelayan menjadi raja. Selain itu juga ada ungkapan bagi mereka yaitu “Kere Munggah Bale” (si miskin yang mendadak mendapat peluang naik di meja makan atau peraduan mewah).
Kalau ada niat mau melakukan revolusi mental, maka diperlukan program jangka panjang yang sistematis, terstruktur dan massive. Untuk itu dibutuhkan pemimpin nasional yang betul-betul kuat dalam arti inspiratif dan mampu memmotivasi bangsanya serta mempu mengelola negara menuju kemakmuran.
Salam
Ki Rawis

Mental Inlander yang Menghantui Bangsa

14 Desember 2013 01:55:27Diperbarui: 24 Juni 2015 03:57:20Dibaca : Komentar : Nilai :
Mental Inlander yang Menghantui Bangsa
indonesia dulu

Soekarno, Bapak bangsa negeri ini mengatakan “Nasionalis yang sedjati, jang nasionalismenya itu bukan timbul semata-mata suatu copie atau tiruan dari nasionalisme barat akan tetapi timbul dari rasa tjinta akan manusia dan kemanusiaan”. jelas sejak dulu bangsa ini sudah menemukan harga diri dan jati diri,berupa nasionalisme yang kuat dan berakar dari humanis. Ironinya Belanda dengan segala cara telah menanamkan doktrin inlander dan inferior kepada rakyat Indonesia. Belanda mencekoki dengan kita dengan membodohi bangsa ini dengan perilaku rasis, membuat kesenjangan sosial yang tinggi antar lapisan masyarakat, terjadi semacam gap tentang golongan penjajah dan yang dijajah, ditambah lagi struktur sosial kita pada saat itu juga mendukung segregasi antara priyayi dan kaum papa(proletaar). Hal inilah yang coba dikikis oleh Bung Karno melalui Marhaenisme nya yang terinpirasi dari sosialis ala Marxisme.

Namun sayangnya budaya inlander yang menjelma menjadi mental inlander itu sekarang masih juga bersarang di sebagian besar rakyat bangsa ini. Tak terkecuali virus akut ini juga menjalar ke para pemimpin kita  sekarang. Hal ini juga pernah sangat disoroti oleh bapak Amien Rais, penjarahan kekayaan alam kita oleh pihak Asing, kebijakan ekonomi dan politik yang berkiblat ke Washington DC. Freeport merajalela di Papua, policy UU migas yang tunduk kepada asing,semua aspek ekonomi politik membuat bangsa ini menjadi bangsa yang kerdil.  Tidak heran Malaysia merajalela,Australia juga begitu , inisidebabkan tidak adanya wibawa politik di mata Internasional. Kalo dirunut ke bagian dasar , maka mentoknya ke Mental tadi. Bahaya Virus Inlander ini juga membuat kita merasa pesimistis dan skeptis. Contoh jelas , pertandingan Sea Games sepakbola yang mempertemukan Thailand dan Indonesia. Skuad kita terlebih dahulu telah dihantui nama besar Thailand di kancah Asia Tenggara,sehingga menjatuhkan mental tim kita, terbukti setelah Gol cepat Thailand di menit pertama , nampak jelas Indonesia hanya bermain seadanya , seakan tertanam di jiwa pemain masing masing ; ” ini Thailand , ini lawan berat, susah ngalahinnya”!. Yah terlepas dari masalah taktik Indonesia yang amburadul dan pola kolektivitas yang tak terlihat, namun sebenarnya kita juga punya potensi besar mengalahkan Thailand! Seharusnya Coach RD berkaca kepada yang dilakukan Coach Indra Sjafrie yang terlebih dahulu menanamkan mental yang kuat kepada anak didiknya , bahwa ga da yang ga bisa dikalahkan kecuali Tuhan, bangsa Indonesia adalah bangsa yang besar dan ingat kita pernah menjadi MACAN ASIA! Saya heran dengan orang yang apatis dan skeptis dengan perkataan Indra Sjafrie, padahal beliau mencoba menyadarkan kita bahwa kita bangsa yang punya harga diri! dan yang tak kalah pentingnya adalah beliau bukan hanya sekedar membual dan membuat pernyataan semu belaka,terbukti dengan pencapaian Timnya dan persiapan pelatihan yang sangat intensif dan pola latihan fisik yang ketat, dan perekrutan yang sangat ketat buat masuk ke dalam timnya. Saya berharap Tim ini menjadi sebuah batu loncatan bukan hanya bagi timnas Indonesia tapi ke paradigma berfikir yang lebih luas lagi,bahwa kita harus sadar dengan jati diri kita! ingat ! kemerdekaan kita bukan pemberian dari negara penjajah namun hasil dari darah ,air mata,dan keringat! Tahukah anda salah satu faktor kenapa Yahudi menjadi bangsa yang jenius dan cerdas dan mendominasi Nobel? selain faktor genetis dan pola penerapan tata cara kehidupan yang serba canggih, ternyata sejak kecil mereka telah tertanam chip berupa doktrin di otak mereka : ” Mereka adalah bangsa pilihan Tuhan ,mereka adalah manusia yang pintar,mereka lebih dari siapapun”, nah doktrin sugesti psikis ini mendarah daging hingga ke generasi sekarang, kalaulah diambil positifnya kenapa kita ga menanamkan mental berupa sugesti yang membuat mental kita menjadi kuat?? REVOLUSI MENTAL PERLU UNTUK BANGSAKU INI

Mental Inlander, Penyakit Paling Indonesia

Penyakit mental yang paling berbahaya yang diwariskan semasa zaman Penjajahan (1600-1945) adalah watak inlander dimana warga pribumi selalu dijadikan kelas paling bawah diantara golongan masyarakat Eropa, Arab dan Cina. Kekalahan yang diderita selama ratusan tahun telah membentuk watak pecundang bagi sebagian besar penduduk di Nusantara.

Mental Inlander ditandai dengan tidak dimilikinya rasa percaya diri sebagai sebuah bangsa, memandang bangsa lain jauh lebih hebat dan maju. Tidak mampu membaca potensi bangsa yang begitu besar, bahkan berpikiran picik menyerahkan pengelolaan kekayaan bangsa kepada pihak lain karena menganggap bangsa ini tidak akan mampu mengatur dirinya sendiri.

Walaupun bangsa ini sudah mendeklarasikan kemerdekaan sejak 17 Agustus 1945, namun penyakit inlander tidak serta merta hilang dari bumi pertiwi. Mari kita lihat bagaimana sistem politik dan ketatanegaraan kita masih belum menemukan jatidirinya. Berbagai sistem politik pernah dijalankan di bangsa ini mulai dari sistem demokrasi liberal (parlementer tahun 1949-1959), demokrasi terpimpin (tahun 1959-1965), sistem otoritarian (zaman orba tahun 1965-1998) hingga demokrasi multi partai (masa Reformasi 1998-sekarang). Watak inlander membuat bangsa ini gagal menemukan sistem ketatanegaraan yang sesuai dengan Keindonesiaan. Sampai saat ini masih dirasakan adanya adopsi sistem ketatanegaraaan yang kebarat-baratan.

Pada aras ekonomi sungguh tampak nyata betapa banyak perusaahaan asing yang bergerak di bidang pertambangan, telekomunikasi, transportasi, perkebunan, perikanan hingga pertanian. Cita-cita membangun ekonomi rakyat yang mandiri dan kuat sebagaimana harapan founding fathers seakan hanya mimpi yang tak kunjung tercapai. Nasib bangsa masih tidak jauh berbeda dengan masa penjajahan, kue pembangunan hanya dinikmati segelintir priyayi sementara rakyat sebagai kawula alithanya mendapatkan sisa-sisa pembangunan. Lagi-lagi ini dikarenakan watak inlander yang masih menggerogoti para pengusaha nasional sehingga industri nasional tidak pernah menjadi tuan di negeri sendiri.

Dalam hal sosial budaya berkembang fenomena konsumerisme yang menggejala di seluruh pelosok nusantara. Bangsa yang memiliki penduduk lebih dari 230 juta ini hanya dijadikan sasaran iklan produk asing, baik produk yang berupa barang maupun jasa. Bisa dilihat mental anak bangsa bekas jajahan ini begitu bangga bergaya kebara-baratan, ke arab-araban, kecina-cinaan, atau apapun produk yang dari luar. Ini sungguh sangat membahayakan bangsa, sebab jika dibiarkan bangsa ini benar-benar akan menjadi bangsa kuli, bangsa pemasok tenaga kerja murah, bahkan dimungkinkan akan menjadi bangsa bermental budak di zaman modern.

Rasanya memang pahit kalau kita mengatakan bahwa bangsa ini masih terkena penyakit mental inlander, tetapi kenyataan di lapangan tak bisa kita pungkiri. Dalam sejarahnya perubahan untuk menjadikan mental bangsa yang kalah menjadi bangsa yang pemenang memang tidak mudah dan butuh waktu yang relatif lama. Jika mau belajar dari para nabi-nabi atau dari para revolusioner di muka bumi ini, maka pembenahan harus dimulai dari penyadaran melalui pendidikan yang mencerahkan untuk pemimpin dan rakyatnya. Harus ada rekayasa sosial untuk generasi muda agar mereka menemukan jatidiri bangsa yang tercermin dalam nilai-nilai pancasila. Religiusitas, humanisme , nasionalisme, demokrasi, keadilan bagi seluruh rakyat Indonesia harus menjadi fondasi dalam menentukan arah nahkoda kapal dalam mengarungi samudra yang penuh tantangan besar ini.

Tak ada sesuatu yang tidak mungkin, jika bangsa ini mau bekerja keras menggapai cita-citanya. Memang tidak mudah, tapi kita harus yakin dengan tujuan hidup berbangsa dan bernegara..

Sumber

Baca Juga

Mental Inlander

Ilustrasi : Peta tambang di Indonesia yang dikuasai asing.

HM Aru Syeiff Assadullah
Pemred Tabloid Suara Islam

Ketika pertama kali muncul berita sejumlah pemimpin puncak Indonesia telah disadap teleponnya oleh Australia, menyusul berita gempar  sebelumnya Amerika Serikat telah menyadap telepon kepala pemerintahan Jerman, namun tanggapan pemerintah Indonesia tampak hambar dan tidak responsif. Tapi tatkala sejumlah media di Australia, seperti Guardian Australia, Sydney Morning Herald, membeberkan penyadapan itu,–di antaranya selain SBY yang telah disadap bersama menteri ekonominya, juga termasuk istri SBY, Ny. Ani Yudhoyono– barulah tanggapan serius muncul yang dimulai dengan komentar Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), melalui media sosial yang menunjukkan kemarahannya. Sikap selanjutnya justru hanya menunjukkan betapa sangat lemah strategi diplomasi pemerintah SBY, kalau tidak ingin menyebut masih mengidap mental “inlander”.

Istilah Inlander muncul pertamakali tatkala pemerintah Kolonial Belanda menerbitkan Undang-Undang yang berbau ras-segregasi pada 1854 untuk memilah-milah masyarakat Hindia Belanda di dalam tiga klas-golongan, yakni kelas tertinggi ditempati orang-orang Barat, khususnya Belanda disebut Eropeanen, klas kedua golongan Asia Timur diduduki keturunan Cina, Arab dan India yang banyak menjadi penduduk Hindia Belanda. Klas paling bawah  disebut golongan  Inlander, untuk menyebut rakyat Indonesia asli sebagai kaum pribumi.

Sebutan Inlander sejak saat itu sekaligus sebagai ungkapan yang sangat memperhinakan kaum pribumi dengan dibatasi hak-haknya. Karena status Inlander-nya itu kaum pribumi tidak memiliki hak misalnya menempuh pendidikan tinggi bahkan pendidikan rendah sekalipun. Tempat-tempat eksklusif di kota Batavia atau Jakarta pun dilarang dimasuki golongan Inlander dan peringatan larangan itu ditulis secara mencolok di pintu masuk.

Penyebutan sekaligus penghinaan kepada golongan pribumi dengan cap Inlander ini rupanya melekat dan lama-kelamaan justru menjadi watak dan karakter bangsa Indonesia yang permanen. Mental Inlander itu ditandai dengan sikap dan karakter seseorang yang kini justru meluas menjadi sikap bangsa Indonesia bahkan para pemimpin dan penguasanya. Ciri khas sikap inlander ini, selalu memandang bangsa lain lebih hebat dari bangsa Indonesia. Mereka tidak yakin potensi bangsa Indonesia sendiri yang sejatinya sangat besar. Dengan sikap Inlander itu, bagaikan memperlakukan bangsa Barat menjadi “Tuan”, dan siap melayani apa perintah dan kemauannya.

Wartawan kawakan Mohctar Lubis menulis buku Ciri Khas Bangsa Indonesia, di antaranya disebutkan bangsa Indonesia  bermental munafik, rendah diri yang berlebihan atau mengidap inferiority complex yang menjadi bagian dari watak Inlander.

Dengan sikap Inlander yang tak mau pergi dari watak bangsa Indonesia itu, kendati penjajah-kolonial Belanda-Barat telah hengkang dari negeri ini, hakikatnya kolonialisme bangsa Barat atas Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) ini terus dipertahankan bercokol—walau dalam bentuk lain—di negeri ini.

Karena “kerelaan” bangsa Indonesia sendiri mau bersikap sebagai Inlander, maka bangsa Barat pun memperlakukan sesuai keinginan Sang Inlander. Bangsa Barat memandang bangsa Indonesia sangat rendah dan hina dengan sebutan bangsa Tidak/Belum Beradab. Sebutan ini oleh Barat—bahasa resmi PBB– dalam bahasa diplomasi disebut resmi sebagai Under Developing Countries. Karena keyakinannya ini Barat merasa perlu bangsa seperti itu harus dikawal atau dijajah. Dan karena penjajahan secara fisik tidak bisa dilakukan di era modern ini sebagaimana di Abad Pertengahan, maka kolonialisme dalam makna mengawal Bangsa Belum Beradab dilakukan dengan cara yang lain. Barat harus “ikut-campur” dan mengatur NKRI sepenuhnya lahir dan batin, dan sebagai imbalannya mereka harus mendapatkan berbagai konsesi eksploitasi ekonomi, melalui penguasaan tambang-tambang, perkebunan, perbankan, dan seluruh potensi ekonomi lainnya.

Untuk membuktikan secara faktual mental Inlander dan Kolonialisme Barat masih mencengkeram negeri ini, masyarakat diingatkan oleh momentum kasus penyadapan Australia bulan lalu. Presiden SBY, baru berani marah dan tersinggung per-nya setelah kasus itu direnung-renungkan, baru disadari betul-betul memperhinakan eksistensinya bahkan keluarga-pribadinya. Padahal perlakuan Barat sebelumnya yang jauh lebih menghina banyak terjadi dan hal ini diterima dengan tenang-tenang saja, bahkan bagai suka-cita dengan alasan yang sepele misalnya dibayar dengan uang sangat kecil. Sementara  “marwah”, harkat dan martabat bangsa besar NKRI dibuatnya tersungkur  bersama comberan yang hina-dina.

Contoh paling  mengemuka dalam kasus seperti itu bisa disebutkan– di antara puluhan atau ratusan kasus lain– yakni soal pemberian ijin konsesi eksploitasi tambang dan usaha penanaman modal asing di negeri ini yang kini melalui UU Penanaman Modal, yakni Undang-Undang  No. 25 Tahun 2007, berhak mengoksploitir sepanjang hampir satu abad, tepatnya 95 tahun. UU ini diterbitkan karena desakan pemerintah AS yang merasa panik karena izin konsesi penambangan emas Freeport miliknya hampir habis ijin 30 tahun hak eksploitasinya di Papua. Yang jadi pertanyaan kendati permintaan perpanjangan izin eksploitasi itu diberikan, tapi mengapa perpanjangannya hingga mencapai hampir satu abad. Padahal izin yang ada sebelumnya diberikan pemerintahan Soeharto hanya 30 tahun saja. Bahkan di era pemerintah Kolonial Inggris di bawah Raffles (1811) ijin diberikan hanya 45 tahun saja, dan di era kolonial Belanda (1870) ijin diberikan maksimal 75 tahun, sementara di era rejim Soeharto izin eksploitasi itu hanya diberikan maksimal 30 tahun saja.

Betapa mengerikan melihat data yang ada dengan penguasaan seperti itu kini asing telah menguasai teritorial Indonesia, laut dan daratan/tanah yang telah dibagi-bagi dalam bentuk: Kontrak Karya (KK) Migas, KK Pertambangan, HGU Perkebunan, dan HPH Hutan, total berjumlah 175 juta hektar, meliputi 93% luas daratan NKRI kini dimiliki pemodal asing. Dalam kasus Freeport di Papua Forbel Wilson pemiliknya  mensyaratkan investasinya tidak boleh diganggu. Indonesia harus tunduk pada investasi asing dan tidak ada bagi hasil kecuali royalti 1,5% (Bradly Simpson 2008 232-234).

Sebetulnya  sudah banyak media massa membeberkan penguasaan habis-habisan harta kekayaan NKRI oleh asing ini. Bahkan harian Kompas yang biasa tampil dalam sajian yang lunak kali ini pada edisi  23 Mei s/d 25 Mei 2011 tiba-tiba  memajang headline-headline yang sangat garang mengkritik rejim SBY yang dianggap bertanggungjawab sehingga kini sistem ekonomi bercorak liberalistik dan kapitalistik dan telah dikuasai secara telak oleh asing. Disertai data dan tabel yang sangat lengkap, penguasaan asing di sektor perekonomian yang paling strategis, meliputi : dominasi sektor pertambangan, keuangan, telekomunikasi, energi dani sumber-daya mineral, juga perkebunan yang menjadi hajat petani, rakyat terbesar.

Menurut data yang ada, sampai dengan Maret 2011, asing telah menguasai lebih 50% asset perbankan nasional. Ini berarti asset bank 1.5551 trilyun rupiah lebih, dari total asset bank senilai Rp 3,065 trilyun, kini dikuasai asing. Bidang asuransi lebih separuh milik asing dari sekitar 45 perusahaan asuransi. Bidang lain, pasar modal total investor asing menguasai 70%.

Data yang parah juga terjadi kepemilikan BUMN yang telah diprivatisasi kini 60% dikuasai asing. Lebih mengerikan lagi adalah penguasaan sektor pertambangan minyak dan gas yang kini 75% telah dikuasai asing. Kini rakyat Indonesia dipaksa membeli BBM dengan harga pasar dunia, padahal semula Indonesia merupakan anggota OPEC, negeri pengekspor minyak, kini terbalik menjadi pengimpor bahan BBM karena hampir 100% minyak yang dieksploitasi dari Bumi Pertiwi justru dieksport dengan harga yang murah. Sebagai Negara penghasil minyak selayaknya minyak yang dihisap dari bumi Indonesia bisa dipakai  maksimal untuk kepentingan rakyat Indonesia.

Penetrasi atau tekanan asing melalui perusahaan multi-nasional di bidang pangan yang merupakan hajat rakyat paling mendasar kini makin gila-gilaan. Perusahaan asing di bidang pangan tidak saja menguasai perdagangan tetapi telah meluas dari hulu sampai hilir, seperti sarana produksi pertanian meliputi benih dan obat-obatan hingga industri pengolahan, pengepakan, perdagangan, angkutan hingga ritel. Pendek kata, segalanya sudah dikuasai asing.

Petani Indonesia kini tergantung pada benih yang diproduksi asing hingga para petani bagai disandera hidupnya. Penguasaan asing di Indonesia di bidang pertanian ini, sepenuhnya dikoordinasi oleh MNC (Multy National Corporation) dengan omzet mencapai 40 milyar dolar AS. Lima perusahaan raksasa asing itu antara lain : Syngenta Monsanto, Bayer Corp, BASF AG, dan Down Agro. Sementara petani dan rakyat Indonesia juga tergantung pada industry olahan MNC senilai 409 Milyar dolar AS, di antaranya melalui perusahaan Nestle, Cargil ADM, Unilever, dan Kraft Food. Cengkereman lima perusahaan MNC itu antara lain : Nestle menguasai perdagangan kakao, Cargil menguasai pakan ternak, dan Unilever menguasai pangan olahan. Sementara di bidang ritel penjualan eceran pangan dikuasai pula group MNC ini antara lain : Carrefour (sekarang milik Chairul Tanjung), Wallmart, Metro Group, Tesco dan Seven & I Holding. Produk pangan secara lokal pun sudah dijual kepada asing yakni : Danone (Perancis), Unilever (Belanda), Nestle (Swiss), Coca Cola (AS), Hj. Heinz (AS), Campble (AS), Numico (Belanda), dan Philip Morries (AS). Catatan ini menggambarkan gamblang, betapa habis sudah segalanya di negeri ini. Catatan data penguasaan asing yang telah dilansir luas koran-koran nasional ini bisa dideretkan lebih panjang lagi.

Mental Inlander lebih memuluskan kolonialisasi Gaya Baru yang semakin mencengkeram NKRI. Rakyat Indonesia kini benar-benar telah menjadi kuli di negerinya sendiri. Wallahu’alam bissawab .

Buang Jauh-Jauh Mental Inlander Itu!

Ketua Umum Partai Rakyat Demokratik (PRD), Agus ‘Jabo’ Priyono, berpendapat, perekonomian Indonesia saat ini semakin dicengkeram oleh neokolonialisme. Hal tersebut tidak terlepas dari mental inlander yang masih menghinggapi sebagian besar elit kita.

“Mayoritas elit politik di negeri ini bermental inlander. Ini yang menyebabkan perekonomian kita sangat bergantung kepada kapital asing,” kata Agus Jabo saat di temui di Jakarta, Senin (5/8/2013).

Menurut dia, mental inlander itu merupakan penyakit psikologis yang sengaja diinjeksikan oleh kaum kolonialis terhadap bangsa Indonesia. Dengan begitu, bangsa Indonesia tidak pernah akan punya rasa percaya diri dan rasa mampu untuk membangun bangsanya sendiri.

“Ini sangat nyata sekarang. Misalnya, mereka selalu berdalih, bahwa kita tidak punya kemampuan modal, SDM, dan teknologi untuk mengelola kekayaan alam kita. Karena itu lebih baik diserahkan kepada perusahaan asing,” ungkapnya.

Agus Jabo menegaskan, mental inlander itu membuat perekonomian Indonesia tidak pernah beranjak menjadi ekonomi berdikari. Menurut dia, jangankan untuk menciptakan kemakmuran bagi rakyat, dalam urusan pangan saja pemerintahan sekarang gagal untuk berdikari.

“Ini kan sangat ironis. Dalam urusan pangan, seperti beras, kedelai, bawang, daging, dan garam, kita masih mengimpor dari negara lain. Padahal kita ini negara agraris,” ujarnya.

Agus Jabo pun mengeritik kegagalan pemerintah memproduksi bahan-bahan kebutuhan dasar rakyat. Padahal, kata dia, jika merujuk ke konstitusi, prioritas pertama dari pengembangan ekonomi Indonesia semestinya adalah memenuhi kebutuhan rakyat.

Sayangnya, ungkap Agus Jabo, perekonomian Indonesia masih mewarisi watak perekonomian jaman kolonial. Salah satu buktinya adalah ketergantungan terhadap ekspor bahan mentah.

“68 tahun Indonesia merdeka, belum banyak yang berubah. Sampai sekarang ekspor kita masih mengandalkan bahan mentah, seperti batubara, minyak, bauksit, gas, minyak kelapa sawit, dan karet,” kata Agus Jabo.

Menurutnya, kebiasaan mengekspor bahan mentah menyebabkan kita kehilangan potensi keuntungan dan nilai tambah. Tak hanya itu, bangsa ini tidak punya rencana untuk memperkuat pasar internal dan membangun industri nasional.

Karena itu, Agus Jabo mengingatkan, agar dalam Pilpres 2014 mendatang, bangsa Indonesia tidak lagi menyerahkan kemudi Republik ini kepada elit bermental inlander.

“Kalau mentalnya masih inlander, masih mau bergantung di ketiak imperialisme, masih senang menjadi embel-embelnya pihak asing, bangsa ini tidak akan maju. Malahan kita akan hancur berkeping-keping. Jadi buanglah mental inlander itu,” tegasnya.

Ia menyerukan agar bangsa Indonesia memilih pemimpin yang setia dan mau memperjuangkan cita-cita Proklamasi 17 Agustus 1945, yakni menjadi bangsa yang berdaulat di bidang politik, mandiri di bidang ekonomi, dan berkepribadian secara budaya.

Mahesa Danu

Benarkah Pemimpin Negeri ini Bermental Inlander?

Menurut Dr Amien Rais, mentalitas Inlander ini tidak hanya mewabah di kalangan rakyat bawah. Tapi juga dialami, dengan sama-sama akutnya, oleh para pemimpin dan elite politik kita

Benarkah Pemimpin Negeri ini Bermental Inlander?

hminews
Ilustrasi

 

Terkait

Oleh: Imam Nawawi

DI TENGAH keterpurukan dan krisis ekonomi yang menyengsarakan rakyat kecil di Indonesia, tiba-tiba publik dikejutkan oleh berita media tentang kunjungan Ketua DPR dan Wakil Ketua DPR ke Amerika yang bertemu pengusaha besar properti asal Amerika yang juga seorang rasis Donald Trump yang berlanjut ‘kehebohan’ komunikasi antara Fadli Zon dengan Imam Masjid New York Shamsi Ali.
Tetapi, tulisan ini tidak tertarik untuk membahas siapa yang benar dalam soal ‘komunikasi’ antara Fadli Zon dan Shamsi Ali. Yang menarik disimak adalah mengapa seorang pemimpin DPR mau datang ke Amerika dan kemudian yang diblow up media justru pertemuan mereka dengan pengusaha Donald Trump (DT)?

Sejatinya, persoalan fundamental negeri ini setelah kemerdekaan adalah kepercayaan diri, yang dalam konteks lebih luas yaitu superioritas. Ketika seseorang, terlebih pemimpin dalam suatu negara melihat bahwa SDM dari negara lain lebih unggul dari SDM dalam negeri, maka pembangunan SDM di dalam negeri tidak akan mengalami peningkatan yang membanggakan. Karena ketika seorang pemimpin berpikir buruk atau setidaknya pesimis dengan negerinya sendiri, maka tindakan negatiflah yang kemudian akan dipilih untuk negerinya sendiri.

Sebagai contoh, apakah Indonesia kekurangan lahan untuk ber-swasembada dalam hal pangan? Jawabannya tidak.

Tetapi kenapa negeri ini seperti sulit lepas dari ketergantungan impor? Karena pemimpin kita tidak berpikir dan bertindak optimis terhadap negerinya sendiri, sehingga impor seolah tak bisa dihindari. Jadi, akar masalah yang dihadapi negeri ini ada pada sikap buruk terhadap negeri sendiri. Padahal ada aksioma yang menyatakan, “Sikap kita menentukan cara pandang kita.”

Karena sikap menentukan cara pandang seseorang, maka sikap pula yang menentukan dengan siapa relasi yang membanggakan dibangun. Berhubungan dengan Amerika, cenderung negara manapun di dunia ini, terutama negara-negara yang disebut sebagai dunia ketiga, akan memiliki kebanggaan tersendiri.

Seorang anggota DPR atau siapapun yang mendapat jadwal kunjungan kerja ke Amerika dengan negara lainnya, apalagi Afrika tentu akan sangat antusias yang ke Amerika. Jawabannya jelas, cara pandang kita menempatkan Amerika sebagai negara unggul, sehingga bertemu orang Amerika akan terasa lebih bergensi ketimbang ketemu orang yang bukan Amerika, lebih-lebih tidak di Amerika.

Dalam kamus Inlanders (bahasa Belanda untuk “pribumi”) atau pada akhir abad ke-19 seringkali disebut dengan istilah Indonesiërs (“orang Indonesia”) adalah satu dari tiga kelompok penduduk Hindia-Belanda menurut undang-undang tahun 1854. Dalam kelompok ini dimasukkan semua penduduk pribumi Nusantara yang tidak disamakan statusnya dengan kelompok Europeanen atau bangsa Eropa. (Wikipedia)

Mental Inlander ditandai dengan tidak dimilikinya rasa percaya diri sebagai sebuah bangsa,
Sebuah kata yang bermakna “ejekan” penjajah Belanda pada kaum pribumi, tepatnya masyarakat nusantara.

Menurut Dr Amien Rais, mentalitas Inlander ini tidak hanya mewabah di kalangan rakyat bawah. Tapi juga dialami, dengan sama-sama akutnya, oleh para pemimpin dan elite politik kita.

Mental atau sikap semacam inilah yang selanjutnya disebut inferior. Dalam bahasa orang masa kini biasa disebut udik atau inlander. Dan, dalam pandangan Bapak Sosiologi Dunia, Ibn Khaldun inilah yang disebut sebagai mental yang terjajah.

“Bangsa terjajah selalu mengikuti mode penjajah, baik dalam slogan-slogan, gaya busana, agama dan keyakinan, serta berbagai aktivitas dan perilaku mereka.” (Mukaddimah Ibn Khaldun pasal ke-23).

Lebih lanjut Ibn Khaldun menjelaskan, “Semua ini terjadi karena jiwa manusia selalu meyakini kesempurnaan orang yang menguasainya dan ia pun patuh kepadanya. Pandangan seperti ini, bisa jadi dipengaruhi oleh keyakinan pada kesempurnaan jiwa yang dihormati dari orang yang menundukkkannya tersebut. Sebab, jiwa ini mempunyai asumsi keliru bahwa kepatuhannya kepada orang yang menguasainya bukanlah kepatuhan yang wajar, tapi karena kesempurnaan orang tersebut.”

Hal inilah yang dialami oleh kebanyakan penduduk di negeri ini, tidak terkecuali pejabat tinggi negara. Ibn Khaldun melanjutkan. “Jika suatu jiwa telah memiliki asumsi yang keliru dan kemudian asumsi ini berlanjut menjadi suatu keyakinan, maka ia akan mengadposi gaya dan pandangan hidup orang yang menaklukkannya dan berupaya meniru mereka semaksimal mungkin. Inilah yang biasa disebut dengan mengikuti mode, sebagaimana yang Anda lihat.”

Pendapat ini seolah terkonfirmasi ketika sikap seorang pimpinan DPR yang mendapat ‘kritik’ dari seorang penduduk asal Indonesia atas sikapnya yang bersuka cita bertemu dengan warga negara asing, berlanjut cukup serius sampai pada tahap akan disomasi. Artinya apa, mental menyatakan bahwa warga negara asing itu lebih terhormat daripada orang asal Indonesia, meskipun sudah lama tinggal di luar negeri.

Pokok bahasan dalam uraian ini adalah, ketika mental inferior atau inlander ini belum diatasi, maka segala macam rencana pembangunan meskipun didasarkan pada dasar negara lengkap dengan yel-yel-nya yang retoris, semua tak akan pernah melampaui dari sekedar menjadi slogan belaka. Jawabannya jelas, kita masih negatif dalam memandang negeri sendiri.

Buruknya lagi, suatu bangsa yang pemimpinnya bermental inferior alias inlander tidak saja hormat kepada negara maju, tetapi juga bangga menjamu pemimpin dari negara lain yang dalam prosesnya tidak mengindahkan hukum dan nurani kemanusiaan. Dengan kata lain, hadirnya Al-Sisi di istana adalah wujud dari inferiorisme bangsa dan pemimpin negeri ini sendiri, sehingga andaikata satu juta orang turun ke jalan menolak Al-Sisi, pertemuan itu akan tetap digelar.

Berdikari

Satu-satunya cara untuk melepaskan jiwa-raga bangsa Indonesia dari mental inlander adalah meyakini dan memantabkan gerakan Berdikari alias berdiri di atas kaki sendiri. Secara psikologis, term Berdikari ini sangat superior. Dan, ini tidak mungkin lahir dari pikiran orang yang berpikiran kerdil. Oleh karena itu penting bangsa ini segera menerapkan konsep pembangunan yang mengarah terciptanya kemandirian bangsa dalam segala sektor kehidupan.

Secara lebih operasional, berdikari dalam bingkai peraadaban kini dan kedepan dijelaskan oleh BJ. Habibie sebagaimana dikutip dalam buku The Next Civilization Menggagas Indonesia sebagai Puncak Peradaban Dunia karya Nanat Fatah Natsir dengan kalimat, “Tiga tiang peradaban yang diperlukan dan dikembangkan untuk membangun peradaban Indonesia yang maju, sejahtera, mandiri dan kuat adalah; Manusia Indonesia yang memiliki keunggulan ‘HO2’ yakni, “Hati (iman dan taqwa), Otak, (ilmu pengetahuan) dan Otot (teknologi).”

Dari sini dapat diambil kesimpulan bahwa, sejauh bangsa ini meyakini mengunjungi negeri maju bisa memajukan negeri sendiri maka sejauh itu kemajuan tidak lebih dari ilusi. Tetapi, sejauh pembangunan bangsa ini dimulai dari konsep memberdikarikan bangsa sendiri sebagaimana wasiat Bung Karno, andaikata pun tidak berkunjung kemana-mana, dengan kekuatan HO2 yang dikatakan BJ. Habibie Indonesia ke depan bisa menjadi negara yang disegani dunia.*

Mantan Sekretaris Jenderal Syabab Hidayatullah 2009-2013

Rep: Admin Hidcom

Editor: Cholis Akbar

Mental Inlander: penyakit mental kronis yg masih menggurita

 

Amien Rais: Celakanya mentalitas inlander ini tidak hanya mewabah di kalangan rakyat bawah. Tapi juga dialami, dengan sama-sama akutnya, oleh para pemimpin dan elite politik kita. Kalau yang terserang mental inlander itu rakyat kecil, paling akibatnya mereka terkagum-kagum kepada bule dan ketagihan nonton sinetron Indonesia. Kalau yang terkena penyakit inlander ini artis Indonesia, paling-paling akibatnya mereka jadi terkagum-kagum dan berlomba menikah atau memacari bule. Apa saja asal bule jadi rebutan artis kita, tidak peduli bule, yang di negeri asalnya jadi kuli pun, di sini jadi rebutan. Tapi, kalau yang terserang penyakit mental inlander ini adalah elite politik, sosial, ekonomi, intelektual, wartawan, agamawan, dan elite-elite yang lain, celakalah bangsa kita ini. [1]

Tulisan oleh: Novie Ayub Windarko

Definisi

Inlanders (bahasa Belanda untuk “pribumi”) atau pada akhir abad ke-19 seringkali disebut dengan istilah Indonesiërs (“orang Indonesia”) adalah satu dari tiga kelompok penduduk Hindia-Belanda menurut undang-undang tahun 1854. Dalam kelompok ini dimasukkan semua penduduk pribumi Nusantara yang tidak disamakan statusnya dengan kelompok Europeanen atau bangsa Eropa. (wikipedia)

Mental Inlander ditandai dengan tidak dimilikinya rasa percaya diri sebagai sebuah bangsa, memandang bangsa lain jauh lebih hebat dan maju. Tidak mampu membaca potensi bangsa yang begitu besar, bahkan berpikiran picik menyerahkan pengelolaan kekayaan bangsa kepada pihak lain karena menganggap bangsa ini tidak akan mampu mengatur dirinya sendiri. [4]

javanese immigrant

Javanese immigrants, brought as contract workers from the Dutch East Indies, picture taken between 1880-1900. http://en.wikipedia.org/wiki/Suriname

 

Penyebab

Almarhum Edward Said, intelektual Amerika kelahiran Palestina, telah mendedikasikan seluruh karier intelektualnya untuk mengungkap masalah mentalitas jongos ini. Dalam studi yang dituangkan dalam buku Orientalism dan sekuelnya Culture and Imperialism, Said antara lain menunjukkan bahwa mentalitas inlander itulah yang membuat kolonialisme dan imperialisme meluas ke seluruh negara di Asia dan Afrika dan bertahan ratusan tahun. Mentalitas inlander itu dibangun secara sistematis dan terus-menerus melalui kekuasaan dan bahkan sastra dan seni, sehingga telah mendarah mendaging dan menulang-sumsum sampai sekarang. [1]

Akibat

Amien Rais: Celakanya mentalitas inlander ini tidak hanya mewabah di kalangan rakyat bawah. Tapi juga dialami, dengan sama-sama akutnya, oleh para pemimpin dan elite politik kita. Kalau yang terserang mental inlander itu rakyat kecil, paling akibatnya mereka terkagum-kagum kepada bule dan ketagihan nonton sinetron Indonesia. Kalau yang terkena penyakit inlander ini artis Indonesia, paling-paling akibatnya mereka jadi terkagum-kagum dan berlomba menikah atau memacari bule. Apa saja asal bule jadi rebutan artis kita, tidak peduli bule, yang di negeri asalnya jadi kuli pun, di sini jadi rebutan. Tapi, kalau yang terserang penyakit mental inlander ini adalah elite politik, sosial, ekonomi, intelektual, wartawan, agamawan, dan elite-elite yang lain, celakalah bangsa kita ini. [1]

Pak Pray menyatakan dalam analisisnya menurut sudut pandang intelijen bahwa mental lemah orang terjajah ini mengakibatkan sifat menjilat masih sangat kental, disebut mental ABS. Pada umumnya mental inlander menjadikan orang kurang kreatif, kurang disiplin, cenderung malas, hanya akan bekerja kalau dilecut. Kalau jadi pemimpin maunya menang sendiri (cenderung otoriter). [2]

Sarjana menjadi job seeker tentu tidak lepas dari mengguritanya mental inlander (pekerja terjajah) dalam “mindset” mahasiswa, yakni seorang sarjana dianggap berhasil jika bekerja di kantor dengan pakaian rapi, tempat kerjanya jelas, dan cukup mentereng. [3]

 

Antitesis

Akibat penjajahan yang dimulai hampir 4 abad yang lalu ternyata berpengaruh kepada kondisi mental kita. Sampai sekarang hampir semua dari kita secara bawah sadar masih mengidap perasaan inferior dan rendah diri terhadap orang-orang bule. Bersyukur setelah sekian tahun berinteraksi dengan orang-orang Jepang dan bule, saya semakin percaya diri kala berhadapan dengan mereka walau terkadang penyakit lama masih muncul pula. Bandingkan dengan diplomat-diplomat masa revolusi seperti LN. Palar, Mochtar Kusumaatmaja, Sam Ratulangi dan Hasyim Jalal yang ditempa oleh semangat revolusi perjuangan sehingga tercatat dalam sejarah sering memenangkan pertempuran di meja diplomatik dan perundingan internasional. [5]

 

Bung Karno: “Aku ingin agar Indonesia dikenal orang. Aku ingin memperlihatkan kepada dunia, bagaimana rupa orang Indonesia. Aku ingin menjampaikan kepada dunia, bahwa kami bukan “Bangsa jang pandir” seperti orang Belanda berulang-ulang kali mengatakan kepada kami. Bahwa kami bukan lagi “Inlander goblok hanja baik untuk diludahi” seperti Belanda mengatakan kepada kami berkali-kali. Bahwa kami bukanlah lagi penduduk kelas kambing jang berdjalan menjuruk-njuruk dengan memakai sarung dan ikat-kepala, merangkak-rangkak seperti jang dikehendaki oleh madjikan-madjikan kolonial dimasa jang silam.” [5]

 

Berikut ini adalah dua kisah mengagumkan KH. Agus Salim yang menunjukkan Intelektualitas, Spiritualitas dan Integritas yang tinggi yang ditampakkan dihadapan dunia internasional. Sebuah kisah yang sarat dengan ibrah, dalam salah satu konferensi besar Beliau makan dengan menggunakan tangannya, sementara ketika itu para peserta muktamar menggunakan sendok. Ketika sebagian anggota muktamar mencemooh dengan mengatakan “Salim, Sekarang tidak saatnya lagi makan dengan tangan, tapi dengan sendok”, pemuda cerdas ini menjawab penuh wibawa “tangan yang selalu saya gunakan ini selalu saya cuci setiap kali akan makan, dan hanya saya yang memakai dan menjilatnya. Sementara sendok-sendok yang kalian gunakan sudah berapa mulut yang telah menjilatnya”. [6]

 

Solusi

Ada beberapa pendekatan yang bisa kita lakukan:

1. Biasakan anak kita berinteraksi dengan orang-orang asing sedini mungkin.

2. Ajari anak kita untuk “berani” terhadap orang asing. [5]

3. Perkenalkan anak kita dengan bahasa asing sedini mungkin. [5]

4. Biasakan berfikir bahwa mereka juga sama seperti kita, ada yang pintar ada yang males.

 

Ref:

  1. http://www.sunan-ampel.ac.id/forum/topic.php?id=42
  2. http://hankam.kompasiana.com/2010/12/28/bagaimana-intelijen-melihat-garuda-vs-harimau/
  3. http://wartapurbalingga.lokal.detik.com/2011/05/15/gurita-mental-inlander/
  4. http://sosbud.kompasiana.com/2011/05/19/mental-inlander-penyakit-paling-indonesia/
  5. http://edukasi.kompasiana.com/2010/04/05/kompleks-quasimodo/
  6. http://anjari.blogdetik.com/2008/04/04/kota-ilmu-dan-gerbangnya/