Posts Tagged ‘History

05
Dec
13

Sejarah : Misteri Segitiga Bermuda 5Des45

DUNIA

5-12-45: Enam Pesawat Hilang di Segitiga Bermuda

Kisah “Skuadron yang Hilang” menambah daftar misteri Segitiga Bermuda.

ddd
Kamis, 5 Desember 2013, 07:19 Renne R.A Kawilarang

 

Segitiga Bermuda

Segitiga Bermuda (NOAA)

 

 

 

VIVAnews – Pada 68 tahun yang lalu, enam pesawat militer Amerika Serikat hilang di suatu perairan yang dikenal sebagai kawasan Segitiga Bermuda. Sebanyak 27 awak pesawat dan personel militer AS hingga kini tidak diketahui lagi.

Menurut The History Channel, pada pukul 14.10 5 Desember 1945, lima pesawat pengebom torpedo Avenger milik Angkatan Laut AS yang tergabung dalam gugus tugas Flight 19 lepas landas dari Pangkalan AL Ft. Lauderdale di Florida untuk misi latihan rutin selama tiga jam.

Mereka dijadwalkan paling jauh terbang hingga 120 mil ke arah timur dan 73 mil ke arah utara sebelum kembali ke landasan. Namun, mereka tidak pernah kembali.

Dua jam setelah penerbangan, pemimpin skuadron, yang berpengalaman terbang di kawasan Bermuda selama lebih dari enam bulan, melaporkan bahwa kompas utama dan kompas cadangan yang digunakan gagal berfungsi sehingga posisi dia tidak diketahui.

Para pilot dari pesawat-pesawat lain pun mengalami masalah yang sama dengan kompas mereka saat terbang di perairan Segitiga Bermuda. Itu merupakan sebutan bagi suatu wilayah lautan di Samudra Atlantik seluas 1,5 juta mil2 atau 4 juta km2, yang membentuk garis segitiga antara Bermuda, wilayah teritorial Britania Raya sebagai titik di sebelah utara, Puerto Riko, teritorial Amerika Serikat sebagai titik di sebelah selatan dan Miami, negara bagian Florida, Amerika Serikat sebagai titik di sebelah barat, seperti dikutip dari ensiklopedia online Wikipedia.

Pihak AL pun menggunakan komunikasi radio untuk mencari tahu lokasi skuadron yang hilang itu. Namun, tidak pernah berhasil. Lebih dari dua jam kemudian, sekitar pukul 18.20, pihak pangkalan udara mendeteksi komunikasi radio dari pemimpin skuadron. Dia memerintahkan para anak buah untuk mendarat darurat karena pesawat mereka kehabisan bahan bakar.

Saat itu, lanjut The History Channel, pihak markas dengan pantauan radar berhasil mendeteksi keberadaan para pesawat skuadron Flight 19. Mereka berada di sekitar utara Bahama dan timur Pantai Florida.

Pada pukul 19.27, pihak AL mengerahkan sebuah pesawat dan tim SAR dengan berkekuatan 13 personel untuk mencari dan menyelamatkan rekan-rekan mereka yang hilang. Namun, tim SAR itu juga hilang kontak. Belakangan, muncul laporan dari awak sebuah kapal tanker yang berada di lepas pantai Florida, yang mengaku mendengar bunyi ledakan.

Hilangnya 14 awak skuadron Flight 19 dan 13 anggota tim SAR memaksa AL mengerahkan misi pencarian besar-besaran. Ratusan kapal dikerahkan, namun mereka tidak pernah menemukan para pesawat dan awak yang hilang.

Pimpinan AL akhirnya berkesimpulan bahwa enam pesawat dan 27 personel mereka tidak ditemukan karena menjadi korban amukan badai, yang turut menghancurkan bukti-bukti. Namun, kisah “Skuadron yang Hilang” itu menambah daftar misteri Segitiga Bermuda. Wilayah itu menjadi salah satu daerah yang berbahaya bagi pesawat dan kapal yang melintas.

© VIVA.co.id   |   Share :

26
Nov
13

Sejarah : Harta Karun Nazi di Gunung Pangrango

Ada harta karun Nazi di kaki gunung Pangrango?

 

MERDEKA.COM. Cerita perkebunan teh Cikopo Bogor tinggal cerita. Dulu dari kawasan Mega Mendung ini dihasilkan teh kualitas terbaik yang diekspor ke Eropa.

Perkebunan teh seluas 900 hektare ini milik Emil dan Theodor Hellferich, dua orang Jerman. Mereka membelinya tahun 1914.

Perkebunan teh di kaki Gunung Pangrango ini juga jadi saksi bisu aktivitas tentara Jerman dan Nazi di Bogor. Para awak kapal selam U-Boat menjadikan perkebunan teh Cikopo sebagai tempat peristirahatan. Pengelola kebun teh sangat memanjakan para awak kapal U-Boat dengan makanan enak.

Tahun 1940 Jerman menguasai Belanda. Sebagai balasan, pemerintah Belanda di Hindia menangkapi orang-orang Jerman di sini. Termasuk orang-orang Jerman di perkebunan Cikopo.

Rupanya ada cerita menarik selain makam tentara Jerman di kaki Gunung Pangrango ini.

“Saya ingat ada cerita sebelum pergi orang-orang Jerman itu mengubur emas dan harta. Diletakan di dekat pohon jeruk,” kata Munir (75), seorang warga Cikopo.

Munir lahir dan besar di perkebunan Cikopo. Ayahnya buruh perkebunan teh, ibunya pembantu para bos perkebunan.

Menurut Munir harta karun itu tak pernah terungkap. Dia tidak mengetahui apa pernah ditemukan atau tidak. Informasi yang dikumpulkan, lokasi harta karun itu tak begitu jauh dari makam para tentara Jerman.

“Dulu ditanam di dekat kantor Jerman di sini. Dulu ada yang pernah cari dengan alat, tapi tidak ketemu,” kata Munir.

Dia menduga jika benar ada, harta karun itu cukup banyak. Kebun Teh Cikopo dulu perkebunan besar dengan ratusan buruh dan pabrik pengolahan sendiri. Keuntungan perkebunan pun cukup besar.

Kini tak ada yang tersisa di perkebunan teh Cikopo. Seandainya makam pahlawan tentara Jerman tak diurus oleh Kedutaan Besar Jerman, pasti akan hilang juga.

Tak ada sepucuk pohon teh yang tersisa di sini. Semua lahan sudah dikuasai orang Jakarta. Dibuat vila atau ditanami palawija.

“Kalau orang sini cuma dibayar buat jaga aja,” kata Munir.

Perkebunan ini pernah dikuasai Jerman, lalu Belanda, lalu Jepang. Dikembalikan lagi oleh Jepang pada Jerman dan akhirnya dinasionalisasi. Kebun teh ini dijarah tahun 1998 oleh warga dan dikapling-kapling. Namun karena tak ada uang, mereka menjual hak garap ini pada orang-orang kaya dari Jakarta.

Mereka tak pernah menjadi tuan di tanah kelahiran mereka sendiri.

Sumber: Merdeka.com

 

19
Oct
13

Sejarah : Situs Gunung Padang berusia lebih dari 10000 SM

Riset Geologi Menguak Fakta Mencengangkan tentang Gunung Padang

 

  • Penulis :
  • Yunanto Wiji Utomo
  • Rabu, 16 Oktober 2013 | 19:49 WIB

 

Batu situs Megalitikum Gunung Padang yang dikelilingi keindahan alam pegunungan di kawasan Cianjur, Jawa Barat, Jumat (15/3/2013). Gunung padang merupakan situs pra-sejarah peninggalan Megalitikum yang berupa punden berundak yang terdiri dari susunan batuan andesit yang umurnya diperkirakan jauh lebih tua daripada piramida mesir sekitar 10.000 tahun sebelum masehi. | KOMPAS IMAGES/ANDREAN KRISTIANTO

 

Sebelumnya, telah diduga bahwa Gunung Padang menyimpan bangunan tua. Bangunan tersebut berupa punden berundak, lebih besar dan lebih tua dari piramida Giza di Mesir. Riset ini, menurut tim, membuktikan bahwa bangunan yang dimaksud itu benar-benar ada.

Danny Hilman Natawidjaja, geolog dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) yang termasuk dalam tim riset, mengungkapkan, temuan tersebut dibuat berdasarkan analisis georadar, geolistrik, pengeboran, serta tomografi yang dilakukan hingga Juli 2013.

Pada dasarnya metode tomografi adalah pemindaian dengan menggunakan bantuan gelombang suara. Lewat cara ini, tim bisa mengetahui karakteristik lapisan batuan serta struktur buatan yang mungkin ada di dalam tanah.

“Prinsipnya, tomografi menganalisis berdasarkan kecepatan rambat suara. Kalau di zona yang padat, suara akan bergerak cepat. Sementara kalau di daerah yang kosong atau tidak padat, suara bergerak lebih lambat,” kata Danny.

Berdasarkan analisis tomografi, tim menemukan adanya zona dengan kecepatan rambat suara yang sangat lambat. Keberadaan zona tersebut, menurut Danny dan tim, menunjukkan adanya rongga di bawah situs Gunung Padang.

“Jadi memang dari tomografi terlihat ada rongga dan dinding-dindingnya,” kata Danny saat dihubungi Kompas.com, Rabu (16/10/2013). Rongga itulah yang kemudian dikatakan sebagai ruangan dari bangunan buatan manusia.

Hasil pengeboran, analisis geolistrik, dan georadar memperkuat hasil analisis tomografi. Pada pengeboran hingga kedalaman 10 meter, tim menjumpai water loss, di mana ketika dibor, air langsung mengalir dan meresap di dalam tanah.

“Biasanya, kalau dibor, air akan keluar kembali, tetapi ini tidak. Air langsung menghilang. Nah, ini menunjukkan kalau memang air mengalir ke suatu tempat, menunjukkan adanya ruangan di bawahnya,” papar Danny.

Danny yang juga banyak meneliti tentang kegempaan di Sumatera dan Jawa Barat menjelaskan, volume air yang hilang mencapai 32.000 liter. Ia memperkirakan, air mengalir ke ruangan yang volumenya mencapai 32 meter kubik.

Selama penelitian geologis, Danny dan tim juga menemukan lapisan tanah di antara lapisan batuan dan dikatakan bukan merupakan hasil pelapukan. Tanah sengaja dikumpulkan sebagai lapisan bangunan.

“Kalau hasil pelapukan, tanahnya biasanya ada gradasi. Ada yang sudah lapuk sempurna sampai yang belum lapuk. Kalau ini tidak. Seragam. Jadi lapisan tanah itu bukan hasil pelapukan,” urai Danny.

Dari pengeboran di beberapa titik, tim mengambil sampel karbon. Analisis karbon mengungkap bangunan yang dideteksi dengan analisis geologi itu diperkirakan berasal dari masa 9.000 SM atau bahkan lebih tua.

Menanggapi temuan tersebut, Awang Harun Satyana, geolog senior dari ESDM, mengungkapkan bahwa metode dan hasil penelitian mungkin sudah tepat. “Tapi, hasil itu multitafsir. Satu data, geolog bisa menafsirkan berbeda-beda,” katanya.

Awang menuturkan, adanya zona dengan kecepatan suara rendah serta water loss yang besar tidak selalu menunjukkan adanya ruangan buatan manusia, bisa saja hanya petunjuk akan fenomena alam tertentu.

Wilayah Gunung Padang adalah zona vulkanik. Batuan terbentuk dari lava. Dalam prosesnya, sangat lazim pembekuan batuan tidak seragam. Hasil tomografi bisa merujuk pada lava yang belum benar-benar membeku.

Di sisi lain, bisa jadi zona dengan kecepatan suara rendah memang sebuah ruangan. Namun, belum tentu ruangan itu buatan manusia. “Jadi bisa saja itu hanya sebuah gua. Itu kan alami,” jelas Awang.

Sementara water loss tidak selalu terjadi karena adanya rongga di bawah permukaan. Water loss besar bisa terjadi bila batuan bersifat porous (memiliki pori-pori besar dan banyak) sehingga air mudah “hilang”.

Ali Akbar, arkeolog dari Universitas Indonesia yang menjadi pemimpin tim riset, mengatakan bahwa pihaknya akan terus meneliti lagi. Penanggalan karbon juga menjadi fokus utama riset. Tim akan memastikan bahwa penanggalan tepat karena angka hasil penanggalan di luar dugaan.

 

Editor : Wisnubrata

 

11
Apr
12

Sejarah : kisah kapal pesiar Titanic

Kisah Hantu Titanic

Oleh Yahoo! News | Yahoo! News
Lima Kisah Hantu dari Titanic

Oleh Victoria Leigh Miller, Yahoo! Contributor Network

15 April menandai 100 tahun tenggelamnya RMS Titanic. Meski cerita tragis soal kapal pesiar mewah ini sudah sering jadi berita utama, ada cerita-cerita lain yang muncul dari Titanic, kisah-kisah hantu. Berikut adalah kisah-kisah seram dari Titanic.

* Setelah tragedi Titanic, tim SAR menemukan 328 korban Titanic dan untuk sementara mengevakuasi jasad mereka ke Rumah Rias Jenazah Snow & Co di Halifax, Nova Scotia. Menurut majalah Encompass, rumah rias jenazah tersebut kini menjadi restoran Five Fisherman, dan katrol yang digunakan untuk mengangkut jenazah para korban Titanic ke bagian atas gedung masih ada di atap ruang penyimpanan wine. Kini, berbagai peristiwa aneh seperti gelas terbang dari lemari atau alat makan yang jatuh ke lantai meski tidak ada orang di sekitarnya, sering terjadi di restoran tersebut. Manajer Gary MacDonald bilang, “Kamu harus menghormati mereka atau mereka akan mengganggu.”

* Pada 2008, Jurnal Atlanta Constitusion menerbitkan sebuah cerita tentang Akuarium Georgia setelah pameran “Titanic Aquatic” di sana. Beberapa relawan pameran tersebut melaporkan kejadian aneh saat bekerja di acara yang menampilkan ratusan artifak Titanic. Staf akuarium kemudian membawa paranormal penyelidik yang kemudian menyimpulkan bahwa pameran Titanic tersebut memang merupakan tempat hunian makhluk halus.

* Menurut San Francisco Chronicle, pada 1990an, seorang pria San Francisco bernama Jaime Rodriguez mengatakan ia dihantui arwah. Kemudian ia baru mengetahui bahwa seorang penumpang Titanic pernah tinggal di apartemennya. Tetapi si penumpang tersebut, Dr Henry Washington Dodge bukanlah seorang pahlawan. Dr Dodge mengaku ia mempersilakan perempuan dan anak-anak untuk ikut naik ke sekoci yang menyelamatkan istri dan anak laki-lakinya, tapi kemudian ia sendiri ikut naik ke sekoci tersebut dan mendapat sorotan publik akibat perilakunya itu. Setelah menerima tuntutan hukum dan kerugian keuangan, Dodge menjadi depresi dan bunuh diri di apartemennya di San Francisco pada 1919. Hantunya kemudian muncul di apartemennya itu setiap musim panas setiap tahun, dan selalu di tempat yang sama.

* Sosialita legendaris Margaret “Molly” Brown selamat dari tenggelamnya Titanic, tapi bekas rumahnya di Denver adalah tempat terjadinya hal-hal aneh. Menurut blog Mysterious Colorado, peristiwa-peristiwa yang bersifat paranormal terjadi secara rutin di Museum Rumah Molly Brown di Denver, termasuk gangguan pada perabot dan penampakan hantu Molly Brown serta suaminya James Joseph Brown. Penampakan ibu Molly di jendela atas rumah juga pernah terjadi, begitu juga dengan munculnya bau-bau tembakau Tuan Brown dan parfum favorit istrinya yang beraroma mawar.

* Menurut Daily Mail, rumah kelahiran kapten Titanic di Inggris juga memiliki sejarah misteri. Rumah masa kecil Kapten Edward John Smith diwarnai banjir-banjir misterius dan angin dingin yang muncul tiba-tiba, selain juga penampakan hantu.

19
Aug
09

Khazanah : Evliya Celebi Petualang Muslim di Era Turki Usmani

REPUBLIKA, Selasa, 18 Agustus 2009 pukul 01:04:00

Evliya Celebi

April 1640, Evliya mulai melakukan perjalanan pertamanya keluar dari kota Istanbul. Dia pergi menuju Bursa atau Pursa, sebuah kota di Barat Laut Turki bersama sahabatnya.

Hampir seluruh belahan dunia telah dijelajahinya. Selama 40 tahun, Evliya Celebi melanglang buana ke berbagai penjuru dunia. Tak heran, jika Evliya ditabalkan sebagai petualang hebat dari Kekhalifahan Turki Usmani. Hasil petualangannya ke berbagai negara itu dituliskannya dalam sebuah buku perjalanan berjudul Seyahatname.

Evliya terlahir pada 25 Maret 1611 di Istanbul, Turki. Ayahnya adalah tukang emas yang mengabdikan diri untuk seorang penguasa Turki Usmani bernama Dervis Mehmed Zilli. Meski Evliya terlahir di Istanbul, kedua orangtuanya berasal dari Kutahya.

Dedikasi sang ayah untuk Kekhalifahan Turki Usmani membuat Evliya bisa mengenyam pendidikan yang sangat baik, dari kecil hingga remaja. Setamat sekolah dasar, di Kekhalifahan Turki Usmani, Evliya lalu melanjutkan studinya ke madrasah, yaitu sekolah yang berbasis pendidikan Islam selama tujuh tahun.

Di sela-sela masa studinya di madrasah, Evliya biasa membantu ayahnya bekerja di bengkel kerajinannya. Di tempat tersebut, sang ayah mengajarkannya berbagai macam keterampilan dan kesenian Turki, seperti, tezhip ( cara mendekorasi sampul buku dengan lukisan dan sepuhan emas), khat (cara menulis indah serta nakis (seni mendekorasi tembok dan langit-langit ruangan).

Evliya memiliki semangat belajar yang sangat tinggi. Ia mau belajar dari siapapun. Evliya belajar bahasa Yunani dari pekerja yang magang di bengkel kerajinan ayahnya. Empat tahun kemudian, Evliya belajar di Enderun, yakni, tempat belajar dan training bagi orang-orang yang akan bekerja di Kekhalifahan Turki Usmani.

Begitu lulus dari Enderun, Evliya menjadi pengawal Kaisar Murad IV pada 1636 dengan bantuan pamannya Melek Ahmed Pasa. Sejak kecil, Evliya terobsesi untuk berpetualang dan melakukan perjalanan jauh. Pasalnya ayahnya selalu bercerita tentang petualangannya yang menakjubkan selama melakukan perjalanan dan melayani para sultan, termasuk Sulaiman yang Agung.

Suatu ketika, Evliya bermimpi bertemu dengan Nabi SAW, dalam sebuah kumpulan jamaah yang sangat banyak di Masjid Ahi Celebidi Istambul. Ia sangat senang bisa bertemu dengan Nabi. Mimpi itu juga yang semakin membuatnya bersemangat untuk segera melakukan petualangan.

Bahkan, dia memilih hidup dengan berbagai macam petualangan. Evliya berobsesi juga menulis dan menceritakan berbagai macam hal yang akan dilihat dan ditemuinya dalam perjalanan panjangnya. Setelah bermimpi bertemu Nabi SAW, Evliya meminta nasihat kepada seorang Syeikh yang terkenal tentang keinginannya yang menggebu-gebu untuk segera melakukan perjalanan.

Syeikh tersebut menyarankannya untuk memulai perjalanan di sekitar kota Istanbul terlebih dulu. Setelah mendapatkan petuah yang cu kup, Evliya memulai perjalanannya yang pertama kali di sekitar Istanbul. Dia menulis dan menceritakan berbagai macam objek yang dia lihat dan datangi seperti berbagai macam bangunan, pasar, tokotoko, musik, literatur, festival, aga ma, serta adat-istiadat, serta kebudayaan.

Baru pada April 1640, dia mulai melakukan perjalanan pertamanya keluar dari kota Istanbul. Dia pergi menuju Bursa atau Pursa, sebuah kota di Barat Laut Turki bersama sahabatnya. Setelah melakukan petualangan ke kota itu, semangatnya untuk melakukan perjalanan panjang di seluruh kekuasaan Turki Usmani dan luar negeri kian menggebu.

Evliya terkadang menemani para petinggi kekaisaran menuju daerah-daerah pedesaan yang terpencil, kadang melakukan perjalanan dengan misi yang ditugaskan dari Sultan, dan kadang juga ikut melakukan peperangan. Setelah melakukan perjalanan ke Izmit, Evliya pergi ke Trabzon di sebuah pantai di Laut Hitam menemani Ketenci Omer Pasa yang akan bertemu dengan Gubernur Izmit. Selama tinggal di Izmit, dia menyaksikan kegagalan tentara Turki Usmani menaklukan Kastil Azov.

Setelah itu, dia pindah ke Crimea dan menghabiskan musim dingin di tempat tersebut. Evliya baru kembali ke Istanbul, setelah Turki Usmani berhasil menaklukan Kastil Azov. Pada 1645, dia bersama tentara Turki Usmani menaklukan Pulau Kreta dan kembali ke Istanbul untuk beristirahat selama empat tahun.

Lalu dia mulai melakukan perjalanan lagi menuju Anatolia, mengunjungi Azerbaijan dan Georgia, bersama tentara Turki Usmani menaklukan para pemimpin lokal wilayah tersebut. Dia juga melakukan perjalanan ke Gumushane, sebuah provinsi di timur laut Turki.

Setelah menghabiskan musim dingin di Erzurum, Evliya ditugasi mengantarkan pesan kepada pemberontak Vardar Ali Pasa oleh penguasa Turki Usmani untuk membuat perjanjian damai. Ketika mengantarkan pesan tersebut, Evliya tersesat akibat badai salju yang hebat. Untunglah dia, bisa menemui sejumlah pemimpin pemberontak lainnya.

Pengalaman itu dikisahkannya dalam sebuah catatan tentang pemberontakan Vardar Ali Pasa secara komprehensif. Antara 1648-1650, Evliya melakukan perjalanan ke Damaskus. Dari perjalanan ini, dia melakukan eksplorasi lebih dalam mengenai negara Suriah dan Palestina. Lalu dia kembali ke Istanbul. Ia lalu menemani pamannya, Melek Ahmed Pasa untuk bertemu dengan perdana menteri.

Evliya paham betul berbabai intrik politik yang tengah terjadi di Kekhalifahan Turki Usmani. Selama menemani perdana menteri, Evliya memiliki kesempatan mengunjungi Balkan antara 1651-1653. Sekembalinya dari Balkan, dia mengunjungi Anatolia bagian timur dan Iran. Dia menghabiskan waktu dengan Sekte Yezidis yang percaya bahwa Ali adalah Tuhan dalam bentuk manusia. Dia mengetahui banyak informasi mengenai sekte sesat tersebut.

Setelah itu, dia melakukan perjalanan lagi dengan pamannya Melek Ahmed Pasa menuju Bosnia. Lalu, pada1660, dia mengikuti ekspedisi yang dipimpin oleh Kose Ali Pasa. Selama ekspedisi tersebut, dia melakukan eksplorasi ke Albania, Bohemia dan wilayah sekitarnya.

Setelah menghabiskan musim dingin di Belgrade, dia kembali ke Istanbul. Lalu dia bergabung dengan pasukan Fazil Ahmed Pasa menyerang Austria. Selama masa ekspedisi, Evliya juga mengunjungi Swedia dan Belanda. Kemudian dia kembali lagi ke Balkan untuk mengunjungi Edirne, Komotini dan Salonika.

Ia lalu melanjutkan perjalanannya ke Pulau Kreta di Yunani. Ia menyaksikan kehebatan tentara Turki Usmani. Setelah itu, ia mengunjungi pantai Adriatik melalui Albania dan kembali ke Istanbul pada 1670.

Merasa berdosa karena belum pernah menunaikan ibadah haji ke Tanah Suci, Makkah, Evliya kembali ke Istanbul untuk mempersiapkan perjalanannya yang terakhir. Dia menuju Makkah melalui bagian barat Anatolia, kemudian melewati Scio dan Rhodes, melewati selatan Anatolia dan bergabung dengan jamaah haji di Suriah. Ia pun berhasil menunaikan rukun Islam ke lima itu.

Seusai menunaikan ibadah haji di Makkah, dia menuju Mesir melalui terusan Suez bersama jamaah haji Mesir. Kemudian menuju Sudan dan Ethiopia, ia tinggal di sana cukup lama. Namun tidak ada catatan sejarah di mana sang petualang menghembuskan nafas terakhirnya.

Ada dua perkiraan, yakni di Mesir atau di Istanbul. Meski begitu, kiprah dan dedikasinya sebagai seorang petualang Muslim di zaman kejayaan Turki Usmani hingga kini masih tetap dikenang. dyah ratna meta novia.


SEYAHATNAME Kisah Perjalanan Sang Petualang

Seyahatname berarti sebuah buku perjalanan. Ini merupakan karya besar Evliya Celebi. Dalam buku tersebut, dia menuliskan dan menceritakan berbagai macam pengalamannya. Seyahatname terdiri dari 10 volume yang menggambarkan secara detail beragam pengalaman yang dialami Evliya diwilayahwilayah yang dikunjunginya.

Dia menuliskan tentang komunitas , gaya hidup, bahasa, maupun budaya orang-orang di wilayah tersebut. Buku tersebut merupakan catatan yang komprehensif untuk menggambarkan kehidupan pada abad ke-17 M. Evliya mampu menggambarkan objek-objek yang dilihatnya secara mendetail dan menarik.

Selain itu, Evliya menuliskan bukunya dengan cara sederhana, sehingga mudah dipahami orang awam. Dia tidak khawatir dengan kesalahan tata bahasa, asalkan yang membacanya paham.

Seyahatnamesangat baik dalam menggambarkan hubungan Kekhalifahan Turki Usmani dengan negara-negara lain. Buku tersebut, merupakan sumber informasi yang berharga pasalnya buku tersebut mencakup pengetahuan tentang budaya, sejarah, geografi, cerita rakyat, bahasa, sosiologi, arsitektur, dan ekonomi.

Evliya tidak hanya menuliskan apa yang dia lihat dan dengar saja. Tetapi, dia juga berusaha menggambarkan kemajuan umat manusia di setiap bidang pada masa itu. Dia menuliskan tentang berbagai macam bangunan-bangunan penting seperti kerajaan, kastil, benteng, maupun masjid.

Dia juga menuliskan biografi orang-orang yang penting dan terkenal, karakter bangsa di setiap wilayah yang dikunjungi, juga kepercayaankepercayaan mereka. Buku Seyahatnamevolume I hingga VIII diterbitkan pada 1896-1928 dalam bahasa Arab.

Sedangkan volume IX dan X Seyahatnamedipublikasikann pada 1935-1938 dalam bahasa Latin. Seyahatnamejuga dialihbahasakan ke bahasa Inggris, Jerman, Prancis, Rusia, Hungaria, Romania, Bulgaria, Serbia, Yunani, Armenia dan bahasa-bahasa asing lainnya. Ada sebuah rumor bahwa Evliya juga membuat buku keduanya yang berjudul Sakaname.

Namun buku tersebut hingga saat ini belum ditemukan keberadaannya. Evliya juga menuliskan sejumlah kata-kata asli dari setiap wilayah yang dia kunjungi selama melakukan perjalanan. Dia juga menuliskan 30 dialek bahasa Turki dan 30 katalog bahasa asing lainnya di buku Seyahatname.

Dia sempat menuliskan persamaan antara bahasa Persia dengan bahasa Jerman. Dalam buku tersebut dia mendeskripsikan berbagai macam bahasa Kaukasia, Tsakonian, Kudish, dan Ubykh. dya

07
Aug
09

Nostalgia : Kehidupan Indo 1920-an di Batavia

REPUBLIKA, Minggu, 02 Agustus 2009 pukul 01:33:00

Indo Batavia

Nostalgia
Oleh Alwi Shahab

Pada tahun  1920-an  dimulai sejak dibukanya Terus Suez (1869)  Batavia mengalami perkembangan pesat. Baik dalam jumlah penduduk karena beroperasinya perusahaan-perusahaan besar, maupun makin meningkatnya kedatangan warga Eropa.

Di sekitar Weltevreden muncul hunian-hunian baru, seperti Tanah Abang, Gondangdia, Meester Cornelis, dan Menteng. Di tempat-tempat ini orang membangun rumah di pinggir jalan dan dinaungi pohon-pohon rindang.

Rumah-rumah yang dibangun itu tidak seperti di Kota Lama (Oud Batavia, Jakarta Kota, Pasar Ikan), dekat ke jalan dan bertingkat dua, tetapi berupa rumah-rumah modern seperti di Eropa: satu tingkat, luas dan sejuk. Satu gejala baru pada arsitektur ialah pavilyun yang setengah terpisah dari rumah besar untuk anggota keluarga, rekan kerja atau untuk disewakan.

Sekonyong-konyong Weltevreden mempunyai gereja-gereja baru — tapi masjid dilarang dibangun di jalan-jalan raya  sekolah, klab malam dan teater. Pendeknya, seperti diitulis Willard A Hanna dalam Hikayat Jakarta semua ciri khas Eropa yang modern.

Dan, di daerah pedalaman Batavia, di daerah Priangan yang indah dan produktif, dibangun perkebunan-perkebunan yang luas serta rumah-rumah tinggal para manejernya, yang keindahannya melebihi hampir semua rumah di  Nieuw  Batavia , yang secara meyakinkan mengembalikan gelar ‘Ratu dari Timur’, yang terkait dengan  Oud Batavia (kota tua), tulis Hanna.

Warga Belanda, khususnya Indo yang sudah tinggal lebih awal di Batavia, hidup dengan gaya pribumi. Di kediamannya, sebelum matahari terbit dan ketika udara masih dingin, tukang kebun menyapu halaman dengan sapu lidi. Sementara seorang pembantu menyibukkan diri di sumur menimba air.

Sampai 1960-an, rumah-rumah di Jakarta memiliki sumur. Sumur mulai menghilang sejak perusahaan daerah air minum (PDAM) mendistribusikan air bersih sampai ke kampung-kampung.

Dalam buku  Recalling the Indies , Joost Cote dan Loes Westerbeek (ediotr), menggambarkan kehidupan sebuah rumah tangga Indo di Batavia. Sebelum pukul 05.00 atau 06.00 pimpinan keluarga muncul di beranda depan untuk menikmati kopi tubruk pertamanya dan mengisap rokok.  Dia masih memakai  slaapbroek (pakaian tidur).

Sementara, keluarga lainnya mulai ribut di belakang rumah. Mandi, bertengkar dan makan. Sarapan yang disajikan sekitar pukul enam adalah bubur, roti dan biskuit dengan selai atau keju di sebuah kaleng.

Setelah sarapan anggota keluarga pergi ke arah berbeda. Sementara sang tante yang tinggal di keluarga ini pergi dengan sebuah delman. Setelah sang ibu pergi, anak-anak pergi ke sekolah dengan sebuah  dokar atau sepeda.

Sementara, si ayah punya mobil sendiri untuk mengantarnya ke kantor melalui jalan-jalan sempit di dalam kota. Dia tidak akan pulang sampai pukul empat sore. Sekitar pukul 12.00 dia dikirimi sebuah rantang berisi nasi, sayur, ikan dan kerupuk.

Setelah anak-anak dan suaminya meninggalkan rumah, nyonya rumah yang masih mengenakan kimono berjalan-jalan menuju kebun memetik beberapa tangkai bunga melati dan cempaka. Pada saat demikian ia memberikan isntruksi kepada  koki untuk pergi ke pasar membeli sayuran, tempe dan cabe.

Anak-anak akan tiba dari sekolah sekitar pukul 13.00. Setelah melepaskan sepatunya, mandi dan memakai baju yang bagus, mereka duduk rapi untuk menyantap sepiring nasi dan sambel goreng tempe. Pakaian yang dikenakan orang di rumah sangat berbeda dengan yang mereka pakai saat bepergian.

Sarong kabay, sarung batik dan kebaya putih menjadi norma bagi perempuan Eropa. Sarung kebaya dan pakaian tidur tetap dipelihara, namun dibatasi dipakai di rumah. Di luar rumah memakai pakaian Barat. Di dalam rumah pria memakai  piyama . Sementara ibu-ibu Belanda terutama para Indo mengenakan kimono atau jas rumah ( hoskut ).

Pada sore hari di antara anggota keluarga pergi ke luar rumah untuk rekreasi atau mencari udara segar. Peristiwa yang menyenangkan adalah saat acara pelelangan barang-barang warga Belanda yang akan meninggalkan Nusantara.

Pelelangan adalah peristiwa yang sangat menyenangkan, kesempatan bagus untuk bertemu dan ngobrol dengan teman. Olahraga adalah pengisi waktu lainnya. Lapangan olahraga didominasi atlet-atlet Indo. Sementara ada yang menyukai pergi ke kolam renang yang mulai banyak terdapat di Batavia.

Sementara para ibu sangat suka berbelanja di Weltevreden di waktu senja, untuk keliling mengunjungi toko-toko busana di Noordwijk (kini Jalan Juanda). Mereka akan membeli kosmetik dan barang-barang  renik serta melihat-lihat desain terbaru di Bonafaas (sekitar Noorwijk dan Rijswijk).

Tujuan utama  shopping mereka adalah toko  The Little Fashion House dan  Versteeg Fashion Emporium untuk memperoleh pakaian wanita yang mewah yang koleksinya langsung dari pusat mode di Paris.

Pada masa sebelum Perang Dunia II itu, jazz Amerika adalah gaya musik paling populer. Pengaruh jazz datang langsung dari Amerika dan koloni Amerika: Pilipina. Musisi jazz Pilipina pertama, yang dipanggil Milanese, datang ke Batavia pada 1928. Beberapa diantaranya menetap.

Musik Hawai juga sangat populer. Idola utamanya adalah grup band Batavia yang digemari dan populer,  The Silver King dan  Brown’s Sugar Babies yang bermain di restoran-restoran besar atau di Hotel der Nederlanden (kini menjadi Gedung Bina Graha tempat kegiatan presiden). Demikian secuil kehidupan para Indis sebelum perang di Batavia seperti diceritakan Pamela Pattyanama dalam  Recalling the Indies .

06
Aug
09

Khazanah : As Miliki Ikatan Tua dengan Islam

AS – Islam

By Republika Newsroom
Rabu, 05 Agustus 2009 pukul 18:24:00

AS Miliki Ikatan Tua dengan IslamCHARTAONLINE.COMArabian Night

Bila mendengar berita dan hujatan di tahun-tahun terkahir, orang cenderung menganggap hubungan antara Abang Sam dengan Dunia Muslim adalah buruk permanen. Kekerasan dan polemik membakar akibat serangan teroris 11 September dan perang di Irak dan Afghanistan memang membuat sulit untuk berpikir sebaliknya.

Padahal, jika mau melihat panduan sejarah intelektual, dulu, ada masa di mana tidak ada bangsa Barat yang begitu positif terlibat dengan peradaban Islam seperti yang dilakukan Amerika Serikat (AS).

Beberapa contoh berikut memperjernih sejarah hubungan antara AS dan Islam. Sebuah negara Islam, Kerajaan Maroko, adalah yang pertama mengakui kedaulatan dan kemerdekaan Amerika Serikat, demikian pula yang disampaikan oleh Presiden Obama dalam pidato di Kairo. Kemudian pada 1778, George Washington dan Sultan Mohmmmed III dari Maroko meneken perjanjian persahabatan untuk melindungi semua alat angkut membawa “Bendera Amerika” dari pencoleng.

Menilai dari puisi, drama, dan novel-novel yang ditulis pada awal tahun republik Amerika terbentuk, pertemuan pertama dengan sebuah bangsa bermayoritas Muslim itu menjadi landasan bagi Amerika untuk mulai secara bertahap melakukan dialog rutin dengan Muslim dan Arab.

‘Algerine Captive’ karya Royall Tyler, dianggap sebagai novel tertua kedua di Amerika, adalah satu contoh utama. Ditulis pada 1779, Algerine Captive bertutur tentang seorang dokter yang ditangkap oleh pencoleng Muslim Barbar, lalu dijual ke perbudakan di Aljeria. Karakter utama, Dr. Updike Underhill, menghabiskan beberapa tahun dalam penangkapan sebelum memperoleh kebebasan dan kembali pulang ke Amerika.

Selang dua abad tidak pernah dicetak, tiba-tiba novel kembali dibangkitkan, sayang dengan ironi. Ia dicetak ulang pada 2002 untuk memberi latar belakang sejarah tragedi 11 September. Menanggapi, itu seorang kritikus menulis di sampul buku, bahwa novel menggambarkan benturan budaya dan diplomatik tanah basah, tidak mirip yang ada antara AS dan bangsa-bangsa Muslim saat ini.

Benar, ketegangan atmosfer novel mengusung komparasi dua budaya, cocok bila seseorang hendak membandingkan kriminal abad ke-18 dengan terorisme modern. Namun, bila dilihat lebih seksama, novel menyajikan referensi sebagai penolakan, bukan dukungan terhadap retorika benturan-peradaban. Dramatisasi naratif terhadap konflik politik dengan Islam, hanyalah untuk mengimajinasikan cara mengatasi masalah.

Royall mengubah kisah penangkapan karakter utama menjadi perjalanan dan pencarian ilmu pengetahuan mendebarkan. Bermacam dialog awal tokoh protagonis novel tentang obrolan bertopik perbudakan Amerika, peralihan agama, praduga dan paradigma buruk dengan imam, penangkap dan warga Algeria, memunculkan semangat besar mengungkap budaya Islam. Tokoh utama pun mempromosikan keyakinan Kristiani yang ia peluk.

Royal Tyler telah membuka jalan kepada lebih banyak penulis tersohor lain,–pionir di Renaisans Amerika–untuk melebarkan pengetahuan peradaban mereka terhadap budaya Islam. Washington Irving, menulis sebuah buku tentang Rasul Muhammad. Edgar Allan Poe mengukir cerita menggoda tentang Arabian Night.

Lalu ada Herman Melville, yang menjatuhkan perhatian luar biasa pada teks-teks Arab di dalam karya klasik Moby-Dick. Dalam dongengnya ia memiliki karakter utama termasuk Ishmael dan sang teman, Queequeg, yang berpuasa saat Ramadhan serta Fedallah orang Persia.

Pada 1850, Arabian Night menjadi begitu populer di dunia imajinasi Amerika, sehingga Harriet Beecher Stowe, figur utama lain di babak pencerahan Amerika, lewat kotbahnya berhasil memaksa para orang tua di AS mendongengkan cerita seribu satu malam Syahrazade, kepada anak-anak, untuk menanam nilai estetika dan penghormatan terhadap perbedaan sejak dini.

Mengacu pada Al Qur’an, hadis dan perilaku Rasul Muhammad dan sahabat adalah praktik umum di kalangan Pendiri negara, penulis, penyair, mulai Benjamin Franklin dan Thomas Jefferson hingga Ralph Waldo Emerson dan Walt Whitman. Emerson, bapak transendentalisme Amerika, menggambarkan Al Qur’an sebagai kerajaan kehendak dan kemauan.

Ia mendorong pembaca Amerika untuk melihat nabi “Mahomet”, Ali, dan Umar sebagai model inspirasi keseimbangan kuat yang dibekali “suara pikiran di dalam suara tubuh”. Meski transendentalisme dipasarkan dalam label budaya Amerika, Emerson mengakui jika itu adalah produk Timur, filosofi Sufi, asli dari puisi-puisi Persia yang ia baca dan ia alih bahasakan.

Hubungan itu kini mulai masuk babak baru. Untuk memahami bahwa tradisi masa lalu Amerika jauh lebih toleran terhadap perbedaan ketimbang yang cenderung dipikirkan saat ini, seharusnya mampu mengantarkan dialog, ada beda antara teroris yang beraksi atas nama islam dan ideologi konservatif  yang menunggu dengan tangan terbuka. Sebagian besar sejarah membuktikan, hubungan AS dan dunia Muslim penuh perdamaian. (philadelphia inquirer/itz)




Blog Stats

  • 3,243,695 hits

Recent Comments

Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Sejarah : Bangsa Lemuria, Lelu…