Archive for December, 2012

30
Dec
12

IpTek : 10 Teknologi Canggih Nusantara

10 Teknologi Kuno Bangsa Indonesia Yang Canggih

Apabila kita telusuri lebih dalam, ternyata Indonesia di masa lampau menyimpanan banyak misteri maupun teknologi yang tergolong ‘canggih’ hingga saat ini. Apa saja?

1. Borobudur

Bukti kecanggihan teknologi dan arsitektur

Borobudur adalah candi yang diperkirakan mulai dibangun sekitar 824 M oleh Raja Mataram bernama Samaratungga dari wangsa Syailendra. Borobudur merupakan bangunan candi yang sangat megah.

Tidak dapat dibayangkan bagaimana nenek moyang kita membangun Borobudur yang demikian berat dapat berdiri kokoh dengan tanpa perlu memakukan ratusan paku bumi untuk mengokohkan pondasinya, tak terbayangkan pula bagaimana batu-batu yang membentuk Borobudur itu dibentuk dan diangkut ke area pembangunan di atas bukit.

Bahkan dengan kecanggihan yang ada pada masa kini, sulit membangun sebuah candi yang mampu menyamai candi Borobudur. Borobudur juga mengadopsi Konsep Fraktal.

Fraktal adalah bentuk geometris yang memiliki elemen-elemen yang mirip dengan bentuknya secara keseluruhan.

Candi borobudur sendiri adalah stupa raksasa yang di dalamnya terdiri dari stupa-stupa lain yang lebih kecil. Terus hingga ketidakberhinggaan. Sungguh mengagumkan nenek moyang kita sudah memiliki pengetahuan seperti itu. Bangunan Candi Borobudur benar-benar bangunan yang luar biasa.

2. Kapal Jung Jawa

Teknologi kapal raksasa

Jauh sebelum Cheng Ho dan Columbus, para penjelajah laut Nusantara sudah melintasi sepertiga bola dunia. Meskipun sejak 500 tahun sebelum Masehi orang-orang China sudah mengembangkan beragam jenis kapal dalam berbagai ukuran, hingga abad VII kecil sekali peran kapal China dalam pelayaran laut lepas.

Dalam catatan perjalanan keagamaan I-Tsing (671-695 M) dari Kanton ke Perguruan Nalanda di India Selatan disebutkan bahwa ia menggunakan kapal Sriwijaya, negeri yang ketika itu menguasai lalu lintas pelayaran di “Laut Selatan”.

Pelaut Portugis yang menjelajahi samudera pada pertengahan abad ke-16 Diego de Couto dalam buku Da Asia, terbit tahun 1645 menyebutkan, orang Jawa lebih dulu berlayar sampai ke Tanjung Harapan, Afrika, dan Madagaskar.

Ia mendapati penduduk Tanjung Harapan awal abad ke-16 berkulit cokelat seperti orang Jawa. “Mereka mengaku keturunan Jawa,” kata Couto, sebagaimana dikutip Anthony Reid dalam buku Sejarah Modern Awal Asia Tenggara.

Berdasarkan relief kapal di Candi Borobudur membuktikan bahwa sejak dulu nenek moyang kita telah menguasai teknik pembuatan kapal. Kapal Borobudur telah memainkan peran utama dalam segala hal dalam bahasa Jawa pelayaran, selama ratusan ratus tahun sebelum abad ke-13.
Memasuki abad ke-8 awal, kapal Borobudur digeser oleh Jung besar Jawa, dengan tiga atau empat layar sebagai Jung. Kata “Jung” digunakan pertama kali dalam perjalanan biksu Odrico jurnal, Jonhan de Marignolli, dan Ibn Battuta berlayar ke Nusantara, awal abad ke-14.

Mereka memuji kehebatan kapal Jawa raksasa sebagai penguasa laut Asia Tenggara. Teknologi pembuatan Jung tak jauh berbeda dari karya kapal Borobudur; seluruh badan kapal dibangun tanpa menggunakan paku.

Disebutkan, jung Nusantara memiliki empat tiang layar, terbuat dari papan berlapis empat serta mampu menahan tembakan meriam kapal-kapal Portugis.

Bobot jung rata-rata sekitar 600 ton, melebihi kapal perang Portugis. Jung terbesar dari Kerajaan Demak bobotnya mencapai 1.000 ton yang digunakan sebagai pengangkut pasukan Nusantara untuk menyerang armada Portugis di Malaka pada 1513. Bisa dikatakan, kapal jung Nusantara ini disandingkan dengan kapal induk di era modern sekarang ini.

3. Keris

Kecanggihan teknologi penempaan logam

Teknologi logam sudah lama berkembang sejak awal masehi di nusantara. Para empu sudah mengenal berbagai kualitas kekerasan logam. Keris memiliki teknologi penempaan besi yang luar biasa untuk ukuran masyarakat di masa lampau.

Keris dibuat dengan teknik penempaan, bukan dicor. Teknik penempaan disertai pelipatan berguna untuk mencari kemurniaan besi, yang mana pada waktu itu bahan-bahan besi masih komposit dengan materi-materi alam lainnya.

Keris yang mulanya dari lembaran besi yang dilipat-lipat hingga kadang sampai ribuan kali lipatan sepertinya akan tetap senilai dengan prosesnya yang unik, menarik dan sulit. Perkembangan teknologi tempa tersebut mampu menciptakan satu teknik tempa Tosan Aji ( Tosan = besi, Aji = berharga).

Pemilihan akan batu meteorit yang mengandung unsur titanium sebagai bahan keris, juga merupakan penemuan nenek moyang kita yang mengagumkan. Titanium lebih dikenal sebagai bahan terbaik untuk membuat keris karena sifatnya ringan namun sangat kuat.

Kesulitan dalam membuat keris dari bahan titanium adalah titik leburnya yang mencapai 60 ribu derajat celcius, jauh dari titik lebur besi, baja atau nikel yang berkisar 10 ribu derajat celcius.

Titanium ternyata memiliki banyak keunggulan dibandingkan jenis unsur logam lainnya. Unsur titanium itu keras, kuat, ringan, tahan panas, dan juga tahan karat.

Unsur logam titanium baru ditemukan sebagai unsur logam mandiri pada sekitar tahun 1940, dan logam yang kekerasannya melebihi baja namun jauh lebih ringan dari besi. Dalam peradaban modern sekarang, titanium dimanfaatkan orang untuk membuat pelapis hidung pesawat angkasa luar, serta ujung roket dan peluru kendali antar benua.

4. Benteng Keraton Buton

Arsitektur bangunan untuk pertahanan

Di Buton, Sulawesi Tenggara ada Benteng yang dibangun di atas bukit seluas kurang lebih 20,7 hektar. Benteng yang merupakan bekas ibukota Kesultanan Buton ini memiliki bentuk arsitek yang cukup unik, terbuat dari batu kapur.

Benteng yang berbentuk lingkaran ini memiliki panjang keliling 2.740 meter. Benteng ini memiliki 12 pintu gerbang dan 16 pos jaga / kubu pertahanan (bastion) yang dalam bahasa setempat disebut baluara.

Tiap pintu gerbang (lawa) dan baluara dikawal 4-6 meriam. Jumlah meriam seluruhnya 52 buah. Pada pojok kanan sebelah selatan terdapat godana-oba (gudang mesiu) dan gudang peluru di sebelah kiri.

Letaknya pada puncak bukit yang cukup tinggi dengan lereng yang cukup terjal memungkinkan tempat ini sebagai tempat pertahanan terbaik di zamannya. Benteng ini menunjukkan betapa hebatnya ahli bangunan nenek moyang kita dalam membuat teknologi bangunan untuk pertahanan.

5. Si Gale gale

Teknologi Robot tradisional Nusantara

Orang Toba Batak Sumatra utara pada zaman dahulu sudah bisa membuat robot tradisional yang dikenal dengan sebutan si gale-gale. Boneka ini menguasai sistem kompleks tali yang dibuat sedemikian rupa. Melalui tali yang ditarik ulur inilah boneka itu dapat membungkuk dan menggerakan “tangannya” sebagai mana layaknya orang menari.

Menurut cerita, Seorang Raja dari Suku Karo di Samosir membuat patung dari kayu untuk mengenang anak satu-satunya yang meninggal dunia. Patung kayu tersebut dapat menari-nari yang digerakkan oleh beberapa orang. Sigale – gale dimainkan dengan iringan musik tradisional khas Batak.

Boneka yang tingginya mencapai satu setengah meter tersebut diberi kostum tradisional Batak. Bahkan semua gerak-geriknya yang muncul selama pertunjukan menciptakan kesan-kesan dari contoh model manusia.

Kepalanya bisa diputar ke samping kanan dan kiri, mata dan lidahnya dapat bergerak, kedua tangan bergerak seperti tangan-tangan manusia yang menari serta dapat menurunkan badannya lebih rendah seperti jongkok waktu menari.

Si gale-gale merupakan bukti bahwa nenek moyang kita sudah dapat membuat boneka mekanikal atau robot walau dalam bentuk yang sederhana. Robot tersebut diciptakan untuk dapat meniru gerakan manusia.

6. Pengindelan Danau Tasikardi, Banten

Kecanggihan Teknologi Penjernihan Air

Nenek moyang kita ternyata sudah mengembangkan teknologi penyaringan air bersih. Sekitar abad ke16-17 Kesultanan Banten telah membangun Bangunan penjernih air untuk menyaring air yang berasal dari Waduk Tasikardi ke Keraton Surosowan.

Proses penjernihannya tergolong sudah maju. Sebelum masuk ke Surosowan, air yang kotor dan keruh dari Tasik Ardi disalurkan dan disaring melalui tiga bangunan bernama Pengindelan Putih, Abang, dan Emas.

Di tiap pengindelan ini, air diproses dengan mengendapkan dan menyaring kotoran. Air selanjutnya mengalir ke Surosowan lewat serangkaian pipa panjang yang terbuat dari tanah liat dengan diameter kurang lebih 40 cm.

Terlihat sekali bahwa pada masa tersebut sudah mampu menguasai teknologi pengolahan air keruh menjadi air layak pakai.

Danau Tasik Ardi sendiri merupakan danau buatan. Sebagai situs sejarah, keberadaan danau ini adalah bukti kegemilangan peradaban Kesultanan Banten pada masa lalu.

Untuk ukuran saat itu, membuat waduk atau danau buatan untuk mengairi areal pertanian dan memenuhi kebutuhan pasokan air bagi penduduk merupakan terobosan yang cemerlang.

7. Karinding

Teknologi pengusir hama dengan gelombang suara

Ternyata nenek moyang dan leluhur kita mempunyai suatu alat musik tiup tradisional yang berfungsi sebagai hiburan sekaligus pengusir hama.

Alat musik dari Sunda ini terbuat dari pelepah kawung atau bambu berukuran 20 x 1 cm yang dipotong menjadi tiga bagian yaitu bagian jarum tempat keluarnya nada (disebut cecet ucing atau ekor kucing), pembatas jarum, dan bagian ujung yang disebut panenggeul (pemukul).

Jika bagian panenggeul dipukul, maka bagian jarum akan bergetar dan ketika dirapatkan ke rongga mulut, maka akan menghasilkan bunyi yang khas.

Alat ini bukan cuma untuk menghibur tapi juga ternyata berfungsi mengusir hama di kebun atau di ladang pertanian. Suara yang dihasilkan oleh karinding ternyata menghasilkan gelombang low decibel yang menyakitkan hama sehingga mereka menjauhi ladang pertanian.

Frekuensi suara yang dikeluarkan oleh alat musik tersebut menyakitkan bagi hama tersebut, atau bisa dikatakan frekuensi suaranya melebihi dari rentang frekuensi suara hama tersebut, sehingga hama tersebut akan panik dan terganggu konsentrasinya.

Kecanggihan Karinding sebagai bukti bahwa nenek moyang kita sejak dulu sudah mampu menciptakan alat yang menghasilkan gelombang suara. Ini adalah alat mengusir hama yang aman bagi lingkungan. Dibutuhkan perhitungan yang teliti untuk menciptakan alat musik seperti itu.

8. Rumah Gadang

Arsitektur Rumah Aman Gempa

Para nenek moyang orang Minang ternyata berpikiran futuristik alias jauh maju melampaui zamannya dalam membangun rumah. Konstruksi rumah gadang ternyata telah dirancang untuk menahan gempuran gempa bumi.

Rumah gadang di Sumatera Barat membuktikan ketangguhan rekayasa konstruksi yang memiliki daya lentur dan soliditas saat terjadi guncangan gempa hingga berkekuatan di atas 8 skala richter.

Bentuk rumah gadang membuat Rumah Gadang tetap stabil menerima guncangan dari bumi. Getaran yang datang dari tanah terhadap bangunan terdistribusi ke semua bangunan.

Rumah gadang tidak menggunakan paku sebagai pengikat, tetapi berupa pasak sebagai sambungan membuat bangunan memiliki sifat sangat lentur.

Selain itu kaki atau tiang bangunan bagian bawah tidak pernah menyentuh bumi atau tanah. Tapak tiang dialas dengan batu sandi.

Batu ini berfungsi sebagai peredam getaran gelombang dari tanah, sehingga tidak mempengaruhi bangunan di atasnya. Kalau ada getaran gempa bumi, Rumah Gadang hanya akan berayun atau bergoyang mengikuti gelombang yang ditimbulkan getaran tersebut

Darmansyah, ahli konstruksi dari Lembaga Penanggulangan Bencana Alam, Sumatera Barat menyebutkan, dari sisi ilmu konstruksi bangunan rumah gadang jauh lebih maju setidaknya 300 tahun dibanding konstruksi yang ada di dunia pada zamannya.

9. Tempe

Pemanfaatan bioteknologi untuk makanan

Tempe merupakan hasil bioteknologi sederhana khas Indonesia. Nenek moyang bangsa Indonesia telah menggunakan Rhizopus untuk membuat tempe dari kedelai. Semua ini adalah penggunaan mikroba atau mikroorganisme pada tingkat sel untuk tujuan pangan.

Sebenarnya mengolah kedelai dengan ragi juga dilakukan di negara lain seperti China, Jepang, India, dll. Tetapi yang menggunakan Rhizopus hanya di Indonesia saja. Jadi kemampuan membuat tempe kedelai adalah penemuan orang Indonesia.

Tempe sudah dikenal sejak berabad-abad lalu di Nusantara. Dalam bab 3 dan bab 12 manuskrip Serat Centhini dengan seting Jawa abad ke-16 telah ditemukan kata “tempe”.

Kini, tempe sudah merambah manca negara, tidak saja karena rasa dan aromanya, namun juga karena kandungan gizinya. Penemuan tempe adalah sumbangan nenek moyang kita pada seni masak dunia.

10. Pranata Mangsa

Sistem penanggalan musim bukti kepandaian ilmu astronomi nenek moyang kita

Seperti kebudayaan-kebudayaan lain di dunia, masyarakat asli Indonesia sudah sejak lama menaruh perhatian pada langit. Pengamatan langit digunakan dalam pertanian dan pelayaran.

Dalam masyarakat Jawa dikenal pranatamangsa, yaitu peramalan musim berdasarkan gejala-gejala alam, dan umumnya berhubungan dengan tata letak bintang di langit.

Menurut Daldjoeni di bukunya “Penanggalan Pertanian Jawa Pranata Mangsa”, Pranata Mangsa tergolong penemuan brilian. Kompleksitasnya tak kalah bobot dari sistem penanggalan yang ditemukan bangsa Mesir Kuno, China, Maya, dan Burma. Lebih-lebih jika dibandingkan dengan model Farming Almanac ala Amerika, Pranata Mangsa jauh lebih maju.

Meskipun teknologi sudah semakin canggih seperti sekarang ini, penerapan perhitungan pranata mangsa masih relevan. Hal itu dikarenakan nenek moyang kita dulu mempelajari gejala-gejala alam seperti musim hujan/kemarau, musim tanaman berbunga/berbuah, posisi rasi bintang, pengaruh bulan purnama, dan sebagainya. Dengan mempelajari gejala-gejala alam tersebut nenek moyang kita dapat lebih menghargai kelestarian alam.

Sebenarnya masih banyak teknologi-teknologi yang digunakan nenek moyang kita yang tidak dituliskan disini.

Dari penemuan-penemuan itu sebenarnya sejak dulu bangsa Indonesia sudah mampu menguasai teknologi canggih di zamannya maka tidak pantas lah bila kita menyombongkan diri sebagai generasi sekarang bila kita tidak menghargai dan mengapresiasi leluhur kita.

Nenek moyang kita telah berhasil membangun candi-candi yang sangat indah arsitekturnya dan bertahan ratusan tahun.

Nenek moyang kita juga membangun armada laut yang telah mengarungi samudra luas.

Nenek moyang kita juga telah menemukan benda-benda yang tebilang sederhana tapi banyak manfaatnya.

Itu semua bukti bahwa nenek moyang kita sangat cerdas. Penjajahlah yang telah membuat kita lemah dan kurang percaya diri. Karena itu, setelah menjadi bangsa yang merdeka kita harus dapat bangkit kembali untuk mensejajarkan diri dengan bangsa lain yang telah maju.

Advertisements
30
Dec
12

Kebudayaan : Filosofi Aksara Jawa

Sekedar Resensi Tentang Aksara Jawa

Posted on Maret 29, 2011 by Diemas Dhamardjati

Huruf Jawa yang jumlahnya ada 20 huruf merupakan sabda pangandikanipun dari Tuhan Yang Maha Esa dan mempunyai makna yang sangat luar biasa di tanah Jawa.

Aksara Jawa

Mungkin akhir-akhir ini huruf Jawa sudah banyak ditinggalkan oleh generasi muda. Kenapa demikian?. Karena huruf Jawa merupakan simbul-simbul kehidupan di dunia dan akhirat. Terus siapa yang salah?. Mungkin hanya dipelajari di bangku sekolah di Desa, itupun bagaimana cara menulis huruf Jawa dengan menggunakan tambahan, pepet, layar, lungsi, suku dan wulu dsb., namun makna kandungan tidak pernah dibahas oleh sang Guru. Betul atau salah?. Ketika itu. Kalau tidak salah huruf Jawa juga digunakan oleh sang Dalang Ruwatan inipun masih digunakan sampai saat ini. Oleh para sesepuh dahulu dengan begitu lancar dan hafal dalam membaca huruf Jawa. Oleh Simbah dan Bapak Ibu ku mereka hanya bisa membaca dan tulis huruf Jawa secara lancar dan cepat. Timbul pertanyaan, terus siapa, bagaimana, kemana nasib huruf Jawa nantinya, ini tentunya menjadi PR bersama, mumpung Anda masih mau menuntut ilmu. Bak mengatakan, tuntutlah ilmu sejak ayunan sampai liang kubur walaupun sampai negeri Cinapun.

Maka dengan ini saya akan mencoba menyampaikan isi kandungan tentang hurup Jawa sebagai tambahan olah pikir kita bersama , yang saya ambil dari buku Falsafah Orang Jawa.

HA, berarti “Hidup” , berarti ada hidup, sebab hidup itu ada, karena ada yang menghidupi atau yang memberi hidup itu sendiri dalam arti abadi atau langgeng tidak terkena kematian dalam menghadapi segala keadaan . Hidup tersebut ada empat unsur yaitu : Api, Angin, Bumi, Air.

NA, “nur” atau cahaya, yakni cahaya dari Tuhan YME dan terletak pada sifat manusia.

CA, berarti “Cahaya” artinya cahaya di sini memang sama dengan cahaya yang telah disebutkan di atas. Yakni salah satu sifat Tuhan yang pada manusia. Kita telah mengetahui pula akan sifat Tuhan dan sifat-sifat tersebut ada pada yang dilimpahkan Tuhan kepada manusia karena memang Tuhan pun menghendaki agar manusia itu mempunyai sifat baik.

RA, bearti “Roh” yaitu roh Tuhan yang ada pada diri manusia

KA, “Berkumpul” yakni berkumpulnya Tuhan YME yang juga terletak pada sifat manusia.

DA, “Zat’ ialah zatnya Tuhan YME yang terletak pada sifat manusia.

TA, “Tes” atau tetes, yaitu tetes Tuhan YME yang berada pada manusia.

SA, “Satu” Dalam hal ini huruf sa tersebut telah nyata menunjukkan bahwa Tuhan YME yaitu satu, jadi tidak ada yang dapat menyamai Tuhan.

WA, “Wujud” atau bentuk, dalam arti ini menyatakan bahwa wujud atau bentuk Tuhan YME, itu ada dalam manusia yang setelah bertapa kurang lebih 9 bulan dalam gua garba sang Ibu lalu dilahirkan dalam wujud diri.

LA, “Langgeng”, atau abadi, la yang mengandung arti langgeng ini juga nyata menunjukkan bahwa Tuhan YME sendirian yang langgeng di dunia ini, berarti abadi pula untuk selama-lamanya.

Pa, “Papan” atau tempat, yaitu papan Tuhan YME-lah yang memenuhi alam jagad raya ini, jagad gede juga jagad kecil (manusia).

DHA, “Dhawuh”, yaitu perintah-perintah Tuhan YME inilah yang terletak dalam diri dan besarnya Adam, manusia yang utama.

JA, “Jasad” atau badan Tuhan YME itu terletak pada sifat manusia yang utama.

YA, “Dawuh” Dawuh di sini mempunyai lain arti dengan dhawuh di atas, karena dawuh berarti selalu menyaksikan kehendak manusia baik yang berbuat jelek maupun yang bertindak baik yang selalu menggunakan kata-kata “Ya”.

NYA, “Pasrah” atau menyerahkan, Jelasnya Tuhan YME dengan ikhlas menyerahkan semua yang telah tersedia di dunia ini.

MA,”Marga” atau jalan, Tuhan YME telah memberikan jalan kepada manusia yang berbuat jelek dan baik.

GA, “Gaib” gaib Tuhan YME inilah yang terletak pada sifat manusia.

BA, “ Babar”, yaitu kabarnya manusia dari ghaibnya Tuhan YME.

THA, “Thukul”, atau tumbuh, Tumbuh atau adanya gaib adalah dari kehendak Tuhan YME. Dapat pula dikatakan gaib adalah jalan jauh tanpa batas, dekat tetapi tidak dapat disentuh, seperti halnya cahaya terang tetapi tidak dapat diraba atau pun disentuh, dan harus diakui bahwa besarnya gaib itu adalah seperti debu atau terpandang. Demikianlah gaibnya Tuhan YME itu (micro binubut)

NGA, “ Ngalam” yang bersinar terang, atau terang/gaib Tuhan YME yang mengadakan sinar terang.

Demikianlah huruf Jawa 20 itu dan ternyata dapat digunakan sebagai lambang dan dapat diartikan sesuai dengan sifat Tuhan sendiri, karena memang seperti yang telah diuraikan sebelumnya bahwa Jawa yang menggunakan huruf Jawa itupun merupakan sabda dari Tuhan YME.

Penyatuan huruf :

Ha+Nga = berarti angan-angan panca indera yaitu Otak, Mata, Telinga, Hidup, Mulut.

Na+Ta = Nata berarti “nutuk”,

Ca+Ba = Coba, berarti coblong (lobang) dan kata tersebut di atas berarti wadah atau tempat yang dimilki lelaki atau wanita saat menjalin rasa menjadi satu, adanya perkataan kun berarti pernyataan yang dikeluarkan oleh pria dan wanita dalam bentuk kata ya dan ayo dan kedua kata tersebut mempunyai persamaan arti dan kehendak yaitu mau.

Ra+Ga= Raga, berarti “badan awak/diri. Kata Raga atau ragangan merupakan juga kerangka dan kehendak pria dan wanita ketika menjalin rasa menjadi satu karena bersama-sama mengendaki untuk menciptakan raga atau diri agar supaya dapat terlaksana untuk mendapatkan anak.

Ka+Ma= berarti Kama, atau biji, bibit , benih. Setiap manusia baik laki-laki atau wanita pastilah mengandung benih untuk kelangsungan hidup.

Da+Nya= Danya atau dunia. Persatuan jedua benih atau kama tadi mengakibatkan kelahiran, dan kelahiran ini merupakan calon keturunan di dunia atau (alam). Dengan demikian dapat dipahami kalau atas kehendak Tuhan YME maka diturunkan ke alam dunia ini benih-benih manusia dari Kahyangan dengan melewati penyatuan rasa kedua jenis manusia.

Ta+Ya= Taya, yaitu ari atau banyu. Kelahiran manusia (jabang bayi) diawali dengan keluarnya air (kawah) pun pula kelahiran bayi tersebut juga dijemput dengan air (untuk membersihkan) karena itulah air tersebut berumur lebih tua dari dirinya sendiri disebut juga mutmainah atau sukma yang sedang mengembara dan mempunyai watak suci dan adil.

Sa+Ja= Saja (Siji) atau satu. Pada umumnya kelahiran manusia (bayi) itu hanya satu, andaikata jadi kelahiran kembar maka itulah kehendak Tuhan YME. Dan kelahiran satu tersebut menunjukkan adanya kata saja atau siji atau satu.

Wa+Da= Wada atau wadah atau tempat. Berbicara tentang wadah atautempat, sudah seharusnya membicarakan tentang isi pula, karena kedua hal tersebut tidak dapat dipisah-pisahkan. Dengan demikian timbul pertanyaan mengenai wadah dan isi, siapakah yang ada terlebih dahulu?.

Pada umumnya dikatakan kalau wadah harus diadakan terlebih dahulu, baru kemudian isi, sebenarnya hal ini adalah kurang benar. Yang diciptakan terlebih dahulu adalah isi, dan karena isi tersebut membutuhkan tempat menyimpanan maka diciptakan pula wadahnya. Jangan sampai menimbulkan kalimat “Wadah mencari isi” akan tetapi haruslah “isi mencari wadah” karena memang “isi” diciptakan terlebih dahulu. Bisa juga dicontohkan rumah merupakan wadah manusia..

Sebagai bukti dari uraian di atas, dapatlah dijelaskan bahwa, kematian manusia berarti (raga) ditinggalkan isi (hidup). Bagai pendapat yang mengatakan”wadah terlebih dahulu diciptakan” maka mengenai kematian itu seharusnya wadah mengatakan supaya isi jangan meninggalkan terlebih dahulu sebelum wadah mendahului meninggalkan. Hal ini jelas tidak menungkin terjadi, apalagi kalau kematian itu terjadi dalam umur muda dimaana kesenangan dan kepuasan hidup tersebut belum dialaminya.

Demikian persoalan wadah ini dengan dunia, karena sebelum dunia ini diciptakan , maka yang telah ada adalah (isinya) Tuhan YME . Pendapat lain mengatakan kalau sebelum diadakan jalinan rasa maka keadaan masih kosong (awang-awung). Tetapi setelah jalinan rasa dilaksanakan oleh pria dan wanita maka meneteslah benih dan apabila benih tadi mendapatkan wadahnya akan terjadi kelahiran. Sebaliknya kalau wadah tersebut belum ada maka kelahiran pun tidak akan terjadi, yang berarti masing suwung atau kosong. Meskipun begitu,”hidup” itu tetap telah ada demikian pula “isi”, dan dimanakah letak isi tadi ialah pada Ayah dan Ibu. Maka selama Ayah dan Ibu masih ada maka hidup masih dapat membenihkan biji atau bibit.

La+Pa= Lapa, atau mati atau lampus. Semua keadaan yang hidup selalu dapat bergerak, keadaan hidup tersebut kalau ditinggal oleh hidup maka disebut dengan mati. Sebenarnya pemikiran demikian itu tidak benar, akan tetapi kesalahan tadi telah dibenarkan sehingga menjadi salah kaprah. Sebab yang dikatakan mati tadi sebenarnya bukanlah kematian sebenarnya, akan tetapi hidup hanyalah meninggalkannya saja yaitu untuk mengembalikan semua ke asalnya. Hidup kembali kepada yang meniciptakan hidup, karena hidup berasal dari suwung sudah tentu kembali ke suwung atau kosong (Baca tentang Suwung disini awang-awung) …

Silahkan dikoreksi kembali….Rahayu

30
Dec
12

IpTek : Pranata Mangsa, Prinsip Kearifan Lokal (PKL) Nusantara

PRANATA MANGSA DAN CANDRA NYA

BERDASARKAN PERHITUNGAN KALENDER JAWA KUNO

9 Januari 2011

mgs

1.  Mangsa Kasa/Sura :

Candrane : Sotya murca saking embanan. Sotya =mutiara, murca = hilang. Pindhane mutiara coplok saka embane. Akeh godhong padha rontok, wit-witan padha ngarang. Awal mangsa ketiga.

Umure : 41 dina. 22 Juni – 1 Agustus.

2. Mangsa Karo :

Candrane : Bantala rengka.Bantala = lemah, rengka = pecah. Lemah-lemah padha nela.Mangsane paceklik larang pangan.

Umure : 23 dina. 2 Agustus – 24 Agustus.

3. MangsaKatelu:

Candrane : Suta manut ing bapa. Suta = anak. Pindhane anak manut marang bapake. Pungkasane mangsa ketiga. Lung-lungan, bangsane gadung, wi, gembili padha mrambat.
Umure : 24 dina. 25 Agustus – 17 September

4. Mangsa Kapat :

Candrane : Waspa kumembeng jroning kalbu. Waspa = eluh, kumembeng = kembeng, kebak, kalbu = ati. Pindhane eluh kebak ing jerone ati. Sumber padha garing.Awal mangsa labuh.

Umure : 25 dina. 18 Sptember – 12 Oktober.

5. Mangsa Kalima:

Candrane: Pancuran mas sumawur ing jagat. Mas pindane udan. Wiwit ana udan.

Para among tani wiwit padha nggarap sawah.

Umure : 27 dina. 13 Oktober – 8 Nopember.

6. Mangsa Kanem :

Candrane : Rasa mulya kasucian. Pindhane mulya-mulya rasa kang suci. Woh-wohan bangsane pelem lsp wiwit padha awoh. Pungkasane mangsa labuh. Udan wiwit

akeh lan deres.

Umure : 43 dina. 9 Nopember – 21 Desember.

7. Mangsa Kapitu :

Candrane : Wisa kentir ing maruta. Wisa = racun, penyakit; kentir = keli, katut ; maruta = angin. Pindhane : Penyakit akeh, akeh wong lara.

Umure : 43 dina. 22 Desember – 2 Pebruari.

8. Mangsa Kawolu :

Candrane : Anjrah jroning kayun. Anjrah = sumebar, warata; kayun = karep, kapti. Pindhane akeh pangarep-arep. Para among tani padha ngarep-arep asile tanduran. Wit pari padha mbledug.

Umure: 26 dina. 3Pebruari – 28 Pebruari.

9. Mangsa Kasanga :

Candrane : Wedharing wacana mulya. Wedhar = wetu; wacana = pangandikan, swara, uni; mulya = mulia, endah. Pindhane akeh swara kang keprungu endah, kepenak. Garengpung padha muni, gangsir padha ngethir, jangkrik padha ngerik.

Umure: 25dina. 1 Maret – 25 Maret.

10.  Mangsa Kasepuluh/Kasadasa :

Candrane : Gedhong mineb jroning kalbu. Pindhane akeh kewan padha meteng. Kucing padha gandhik.Manuk padha ngendhog.

Umure : 24 dina. 26 Maret – 18 April.

11.  Mangsa Dhesta :

Candrane : Sotya sinarawedi. Sotya = mutiara; sinarawedi = banget ditresnani (?). Pindhane kaya mutyara kang banget ditresnani. Mangsane manuk ngloloh anake. Mangsa mareng.

Umure : 23 dina. 19 April – 11 Mei.

12.  Mangsa Sada :

Candrane : Tirta sah saking sasana. Tirta = banyu; sah = ilang; sasana = panggonan. Pindhane wong-wong ora kringeten jalaran mangsa bedhidhing (adhem). Akhir mangsa mareng.

Umure : 41 dina. 12 Mei – 21 Juni.

Membaca Pranata Mangsa

Posted by usthof on 2 Januari 2011

JAUH sebelum Hindu menjamah Nusantara, nenek moyang kita telah berhasil mengembangkan suatu teknik penanggalan dalam dunia pertanian. Teknik itu bernama Pranata Mangsa yang berarti Pedoman Musim. Diwariskan dari generasi ke generasi secara oral, diperkirakan teknik ini sudah berusia dua milenium. Baru pada 1856, Sri Susuhunan Pakubuwana VII mengodifikasikan secara rapi teknik tradisional ini dalam sebuah buku. Judulnya tegas: Pranata Mangsa.

Pranata Mangsa tergolong penemuan brilian. Kompleksitasnya tak kalah bobot dari sistem penanggalan yang ditemukan bangsa Mesir Kuno, China, Maya, dan Burma. Lebih-lebih jika dibandingkan dengan model Farming Almanac ala Amerika, Pranata Mangsa jauh lebih maju. Di dalam Pranata Mangsa, tulis Daldjoeni, terdapat pertalian yang mengagumkan antara aspek-aspeknya yang bersifat kosmografis, bioklimatologis yang mendasari kehidupan sosial-ekonomi dan sosial-budaya masyarakat…Pranata Mangsa mencerminkan ontologi menurut konsepsi Jawa serta akhetip alam pikiran Jawa yang dilukiskan dalam berbagai lambang yang berupa watak-watak Mangsa dalam peristilahan kosmologis yang mencerminkan harmoni antara manusia, kosmos, dan realitas (Penanggalan Pertanian Jawa Pranata Mangsa, tanpa tahun, halaman 5-6).

Buku yang ditulis Sindhunata ini adalah refleksi yang menarasikan Pranata Mangsa sebagai sebuah kekayaan tak terpermanai dalam khazanah agrikultur Nusantara. Buku ini sangat berwarna karena digenapi dengan aneka lukisan tematik dan kisah-kisah rakyat yang hidup dalam masyarakat agraris.

Siklus Penanggalan

Dalam siklus satu tahun (365 hari), terdapat 12 mangsa dengan simbol berbeda-beda. Dua belas mangsa itu adalah: Kasa (bintang Sapigumarah), Karo (Tagih), Katelu (Lumbung), Kapat (Jarandawuk), Kalima (Banyakangkrem), Kanem (Gotongmayit), Kapitu (Bimasekti), Kawolu (Wulanjarangurum), Kasanga (Wuluh), Kasapuluh (Waluku), Dhesta (Lumbung), dan Saddha (Tagih).

Letak masing-masing mangsa bisa diketahui dengan membagi satu tahun dalam empat mangsa utama, yakni: mangsa terang (82 hari), semplah (99 hari), udan (86 hari), dan pengarep-arep (98 hari).

Terdapat pula empat mangsa utama lain yang simetris dengan pembagian ini: mangsa katiga (88 hari), labuh (95 hari), rendheng (94 hari), mareng (88 hari).

Nama tiap mangsa sesungguhnya dibuat berdasarkan watak masing-masing. Watak mangsa Kawolu, misalnya, yang berbunyi anjrah jroning kayun (sesuatu yang merebak dalam kehendak). Pada mangsa ini kondisi meteorologis sinar matahari 67%, lengas udara 80 %, dan curah hujan 371,8 mm. Kucing-kucing memasuki musim kawin. Hujan yang turun membasahi bumi menjadi tabungan pengairan kelak saat kemarau.

Sementara mangsa Saddha dengan watak tirta sah saking sasana (air lenyap dari tempatnya) menandai kedatangan musim kemarau. Bahkan, tiap mangsa juga memiliki dewa masing-masing. Nama-nama dewa seperti Wisnu, Sambu, Rudra, Yomo, Metri, hingga Gana menjadi tanda bahwa tiap mangsa memiliki pola kehidupan, kekuasaan, dan wewenang yang berbeda.

Pranata Mangsa menjadi pedoman bagi petani dalam mengolah tanaman. Mulai pilihan jenis tanaman yang sesuai, hingga patokan periode menanam, membajak sawah, sampai memanen. Misalnya saat mangsa Katiga, ketika pohon bambu, gadung, temu, dan kunyit sedang tumbuh, pada masa inilah tanaman palawija mulai dipetik. Contoh lainnya, waktu yang baik untuk menanam padi dimulai adalah pada mangsa Kapitu, bersamaan dengan turun air hujan.

Periode-periode musim itu secara teratur mengalami perulangan setiap tahun. Dengan mengamati kemunculan rasi-rasi bintang yang berubah dari waktu ke waktu, petani memiliki patokan untuk menentukan awal dan akhir dari sebuah mangsa. Panjang bayangan pada siang hari juga menjadi patokan. Petani bahkan mesti peka merasakan arah desir dan gerakan angin karena udara juga mengalami penyesuaian terhadap perjalanan matahari sepanjang tahun.

Dengan demikian, Pranata Mangsa pada dasarnya bukanlah mitos atau takhayul. Ia justru merupakan abstraksi ilmiah karena disusun berdasar pengamatan yang seksama terhadap watak dan perilaku alam (empiris).

Bukti penghitungan ilmiah itu terlihat dalam penentuan permulaan mangsa Kasa yang terjadi pada saat matahari berada di zenith garis balik utara Bumi (tropic of Cancer, 22 Juni). Sementara mangsa Kapitu dimulai pada 22 Desember saat matahari ada di zenith garis balik selatan bumi (tropic of capricorn).

Kedaulatan Agrikultur

Dengan Pranata Mangsa, dunia pertanian di Jawa pernah mengalami kemajuan pesat. Kesejahteraan meningkat sehingga dunia kesenian pun bergairah. Banyak bentuk kesenian yang sangat berkaitan dengan pertanian seperti, Wiwit, yakni upacara tradisi yang menandai dimulai panen padi hingga Merti Bumi atau bersih desa yang disertai dengan seni Gejog Lesung. Pagelaran Wayang juga banyak menampilkan legenda-legenda seperti Dewi Sri dan Saddana. Bahkan, Pranata Mangsa juga sangat menopang kebesaran kerajan Mataram Lama, Pajang, dan Mataram Islam. Tak hanya untuk bertani, Pranata Mangsa juga menjadi pedoman untuk menjalankan kegiatan perdagangan, pemerintahan, dan bahkan militer.

Pranata Mangsa pada dasarnya merefleksikan sikap hidup petani yang manyatu dengan alam (manunggal atau nyawiji). Alam bukanlah lawan yang harus ditaklukkan, bukan pula objek garapan yang diperas habis-habisan, juga bukan barang mati yang bisa diperlakukan sesuka hati. Alam tak lain adalah teman yang dicintai. Sikap hidup menyatu dengan alam itu membuat petani memahami watak dan perilaku alam. Kegembiraan alam adalah kegembiraan manusia. Kesedihannya adalah kesedihan manusia juga. Demikian pula sebaliknya.

Saya pernah belajar dari Mbah Slamet dan Mbah Murdjiyo, dua sosok petani organik yang masih menghayati Pranata Mangsa dalam aktivitas pertanian mereka. Keduanya sama-sama mengeluh bahwa Pranata Mangsa semakin ditinggalkan bukan hanya lantaran kecenderungan mekanistis di kalangan petani sekarang, namun juga pemanasan global yang membuat iklim dan cuaca jadi tak menentu.

Generasi petani sekarang barangkali sudah sangat asing dengan Pranata Mangsa. Tanpa bermaksud melakukan generalisasi, pudarnya Pranata Mangsa di kalangan petani menandakan betapa kodrat agrikultur bangsa ini sudah kian tergerogoti. Yang dimaksud agrikultur bukan sekadar bercocok-tanam, melainkan keseluruhan sikap mental, pendirian jiwa, pandangan hidup, dan tata laksana yang terpateri dalam keseharian petani.

Dalam ancaman global warming, Pranata Mangsa memang kian kehilangan relevansi. Biar bagaimanapun, Pranata Mangsa menandakan bahwa bangsa ini pernah berdaulat secara agrikultur. Agaknya kedaulatan semacam inilah yang mestinya menghidupi kembali dalam masa depan agraris bangsa ini.

Judul : Ana Dina Ana Upa, Pranata Mangsa
Penulis : Sindhunata
Penerbit : Bentara Budaya, Yogyakarta
Cetakan : Pertama, 2008
Tebal : 162 halaman
Suara Merdeka, 05-10-2008

Pranata Mangsa dan Petani Jawa

Pranata mangsa merupakan sebuah sistem penanggalan tentang penentuan musim yang dijadikan pedoman masyarakat tani pada zaman dulu. Pranotomongso berasal dari kata Pranoto dan Mongso. Mongso artinya musim. Pranotomongso merupakan bagian dari perhitungan Petangan Jawi yang juga menghitung baik buruk yang dilukiskan dalam lambang dan watak  suatu hari, tanggal, bulan, tahun, wuku, pranotomongso.

Dalam lintasan sejarahnya, pranatamangsa sangat akrab dengan kehidupan pertanian terutama bagi masyarakat jawa pada masa lalu, pratanamangsa telah menjadi sebuah pedoman dalam bercocok tanam jauh sebelum masuknya agama hindu. Kalender Pranotomongso ini sudah diberlakukan oleh masyarakat Jawa sebelum Hindu datang di pulau Jawa. Kemudian dibakukan oleh Sri Paku Buwono VII (raja kerajaan Surakarta) pada tahun 1855 M. Pada saat itu Raja memberi patokan bagi para petani agar mempunyai hasil panen yang baik. Ini dilakukan untuk menguatkan sistem penanggalan yang mengatur tata kerja dalam ruang dan waktu bagi masyarakat tani untuk mengikuti peredaran musim dari waktu ke waktu. Sebagaimana paparan N. Daldjoeni dalam bukunya “Penanggalan Pertanian Jawa Pratanamangsa”.

Penanggalan Pranotomongso ini didasarkan pada penanggalan Syamsiyah. Selain digunakan sebagai pedoman kaum petani, Pranotomongso juga merupakan perhitungan yang membawakan watak atau pengaruh kehidupan manusia seperti halnya perhitungan-perhitungan Jawa lain-lainnya. Dalam penanggalan masehi diketahui umur hari dalam setahun adalah sekitar 365/366 hari, dengan sistem peredaran bumi yang mengelilingi pada bidang ekliptika sebesar 23 derajat akhirnya mempengaruhi pembagian musim dalam ruang-ruang tertentu di bumi.

Kalender Pranotomongso dihitung berdasarkan perjalanan Matahari yang pada zaman dahulu digunakan oleh orang-orang di tanah Jawa sebagai patokan untuk mengetahui musim. Jumlah bulan pada kalender ini ada 12, yaitu Kaso, “Sotyo murco saking embanan” (mutiara lepas dari pengikatnya), Musim daun-daun gugur pohon-pohon jadi gundul. Karo, “Bantolo Rengko” (tanah retak), Musim tanah jadi gersang dan retak-retak. Katigo, “Suto manut ing bopo”. Musim pucuk tanaman menjalar pada rambatan. Kapat, “Waspo kumembeng jroning kalbu”. Musim sumber-sumber jadi kering. Kalimo, Pancuran emas sumawur ing jagad”. Mulai musim hujan. Kanem, “Roso mulyo kasucian”. Musim pohon-pohon mulai berbuah. Kapitu, “Wiso kenter ing maruto”. Musim bertiupnya angin yang mengandung bias (penyakit). Kawolu, “Anjrah jroning kayun”. Musim kucing kawin, padi mulai berubah, banyak uret. Kasongo,“Wedaring wono mulyo”. Musim jangkrik, gasir, gareng poung, (banyak orang bicara berlebih-lebihan). Kasepuluh, “Gedong mineb jroning kalbu”. Musim binatang-binatang hamil. Dastho, “Sotyo sinoro wedi”. Musim burung-burung menyuapi anaknya. Sodo, “Tirto sah saking sasono” (air pergi dari tempatnya). Musim dingin, orang jarang berkeringat karena teramat dingin.

Pada mulanya, Pranotomongso hanya mempunyai 10 mongso. Sesudah mongso kesepuluh tanggal 18 April, orang menunggu saat dimulainya mongso yang pertama (kasa atau kartika) yakni tanggal 22 Juni. Masa menunggu itu cukup lama, sehingga akhirnya ditetapkan sebagai mongso yang kesebelas (destha atau padawana) dan mongso yang kedua belas (sadha atau asuji). Sehingga satu tahun menjadi genap 12 mongso. Hari pertama mongso kesatu dimulai pada 22 Juni.

Dengan catatan itu dapat diketahui dalam penanggalan Pranotomongso pada bulan Desember-Januari-Pebruari adalah musim badai, hujan, banjir, dan longsor. Dan ketentuan ini mendekati dengan situasi alam zaman sekarang ini. Selanjutnya pada musim berikutnya yaitu Kawolu yang bertepatan pada tanggal 2/3 Pebruari – 1/2 Maret, adalah bulan untuk bersiap-siaga ataupun waspada menghadapi penyakit tanaman maupun wabah bagi manusia dan hewan. seperti dampak akibat terjadinya banjir, badai dan longsor. Yaitu penyakit, kelaparan dan sebagainya akan melanda di daerah tersebut. Hal itu apabila dicermati ternyata masuk akal juga. Manusia, binatang dan tanaman belum siap mempertahankan diri dari serangan hama penyakit akibat terjadinya gejala alam tersebut. Dalam keadaan lemah kuman dan penyakit sangat mudah untuk menyerang.

Sedangkan para nelayan, yang biasanya melaut sambil membaca alam dengan melihat letak bintang yang kemudian dijadikan patokan ketika mereka melaut. Masih juga diterapkan oleh nelayan di Indonesia. Mereka mengetahui pada bulan-bulan berapa saat yang baik melaut sehingga mereka bisa mendapatkan ikan banyak. Begitu pula sebaliknya, mereka juga mengetahui kapan waktu untuk tidak melaut karena berbahaya dan tidak akan menghasilkan apa-apa. Dan pada saat-saat itulah mereka gunakan waktu untuk beraktivitas yang lain, seperti memperbaiki jaring, perahu, rumah dan sebagainya.

Selama ribuan tahun nenek moyang telah menghafalkan pola musim, iklim dan fenomena alam lainnya. Sehingga mereka dapat membuat kalender tahunan bukan berdasarkan kalender Syamsiah (Masehi) atau kalender Komariah (Hijrah/lslam) tetapi berdasarkan kejadian-kejadian alam yaitu seperti musim penghujan, kemarau, musim berbunga, dan letak bintang di jagat raya, serta pengaruh bulan purnama terhadap pasang surutnya air laut, akan tetapi perlu diketahui bahwa pola perhitungan dan data-data yang digunakan dalan penentuan penanggalan tersebut adalah masih bersifat tradisional. Serta kondisi  alam sekarang ini pun berbeda dengan kondisi alam zaman dulu. Nenek moyang dulu mengambil rumus pranotomongso dengan cara melihat kebiasaan kejadian-kejadian alam pada masa itu. Dan untuk saat ini kejadian tersebut sudah tidak beraturan, dan sulit untuk dirumuskan kapan kejadian tersebut akan terjadi.

Kejadian alam untuk musim hujan pada bulan Desembaer-Januari-Februari itu bukan musim hujan yang selalu tetap dan bersifat statis. Apabila dilihat kejadian hujan di negara ini, maka akan merasa bahwa seolah-olah hujan itu turun dengan sendirinya dan susah untuk diprediksi musimnya. Padahal dulunya, musim hujan itu pada bulan Oktober sampai bulan Maret. Sedangkan musim kemarau itu dimulai dari bulan April sampai bulan September.

Namun sayang dalam perjalanannya dengan kondisi itu pranata mangsa semakin tergerus oleh perkembangan zaman. Masyarakat terutama para petani sudah perlahan mulai menanggalkan sistem waktu dalam bertani ini.

56 Pranata Mangsa


Kanggo ngadhepi kahanan apa wae, leluhur Jawa duweni petung kang cacahe akeh banget. Titikane warna-warna, ana kang  sesambungan karo wektu, neptu dina utawa pasaran, lan gumelare alam. Ana ing tlatah padesan,


Puspåwarnå – ᭙

http://t0.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcTOr6_0Ny1OcSFreiD5-eIIGrz0mLF_-PTJIz_TdvzNw160I4GK

56 Pranata Mangsa


Kanggo ngadhepi kahanan apa wae, leluhur Jawa duweni petung kang cacahe akeh banget. Titikane warna-warna, ana kang  sesambungan karo wektu, neptu dina utawa pasaran, lan gumelare alam. Ana ing tlatah padesan, supaya anggone padha jejodhowan lestari, slamet, bagya, lan mulya, mapanake bab petung dadi perangan kang wigati. Petung ngenani sangat akad nikah lan ijab kobul, dipilih supaya ngedohi dina taliwangke lan sampar wangke. Ngelmu ngenani petung  ora bisa pisah tumrap  manungsa Jawa. Ngelmu petung wis nyawiji karo siklus panguripane manungsa Jawa. Petung dadi piranti kanggo ngadhepi kahanan lan prekara kang ana. Ana ing budaya Jawa, ngelmu petung malebu ana ing ranah kawaskithan Jawa. Babagan petung ana kang nembungi wis dadi kearifan lokal (local wisdom) tumrap manungsa Jawa. Karana iku, petung diugemi dadi paugeran utawa pranatan. Petung wus dadi pandam pandoming panguripan. Kalebu ana ing kene, petung utawa pranatan ngenani lumakuning dina lan gilir gumantining mangsa.

Ana ing ulah tetanen, tinemu peranganing mangsa kang sinebut mangsa rendheng, wareng, ketiga, lan mangsa labuh kanggo ngadhepi tekane udan. Pranata mangsa utawa paugeran ngenani obahing mangsa wus lumaku pirang-pirang abad. Methik saka Serat Centhini, minangka buku babon ngenani primbon Jawa, babagan pranata mangsa tinemu ana ing buku jilid VI. Isine caket lan raket karo penanggalan Jawa. Wewaton katrangan utawa cathetan kang ana, paugeran utawa pranatan ngenani mangsa banjur dibiwarakake  dening  Ingkang Sinuwun Kanjeng Susuhunan (ISKS) Pakubuwono VII. Aturan ngenani pranata mangsa nganggo dhasar akehe banyu lan kali, kahanan palemahan, lumakune angin, anane watak kewan lan tetaneman, kang sinebut fenologi. Mindeng kahanan wektu iku, tebaning panguripan agraris utawa ulah tetanen jembar banget. Babagan industri lan ulah dagang durung ngrembaka.

Pranata mangsa dikepyakake ana ing tanggal 22 Juni 1856. Pangajabe, supaya bisa dadi gujengan tumrap kridhaning ulah tetanen ing wektu iku. Pranata mangsa kaperang cacah rolas, yaiku: kasa, karo, katelu, kapat, kalima, kanem, kapitu, kawolu, kasanga, kasepuluh, desta lan sada. Lumakune saben mangsa wiwit mangsa kasa tumeka mangsa dhesta ora padha, umure ana sing 41 dina, 23 dina, 24 dina, 25 dina, lan sapanunggalane. Saben mangsa ditembungi duwe ciri utawa pepindhan kang ora padha. Tuladhane, ana ing mangsa Kasa kawiwitan tanggal 22 Juni (umure 41 dina), tumapak mangsa ketiga, pepindhane kaya ‘sotya murca saka ngembanan’, amarga akeh angin lan gegodhongan padha rontog. Mangsa Karo kawiwitan tanggal 2 Agustus (umure 23 dina) duweni sesebutan ‘bantala rengka’, amarga akeh lemah kang nela-nela amarga ora ana banyu. Mangsa Kalima kawiwitan tanggal 14 Oktober (umure 27 dina), pepindhane ‘pancuran sumawur ing jagad’, amarga wiwit ana udan lan akeh sendhang utawa sumber padha lumintu banyune.

Mangsa Kawolu kawiwitan tanggal 4 Februari (umure 26 dina) duweni watak utawa pepindhan ‘anjrah jroning kayun’, amarga pari utawa tetaneman wiwit ijo, usume kucing padha kawin. Peranganing mangsa duweni ciri utawa pepindhan kang maneka warna.

Tumapak  ing jaman wektu iki, lahan kanggo pekarangan, pemukiman, pertanian, lan perkebunan, ngalami owah-owahan gedhe. Lahan pertanian akeh kang owah kadhesek anane  pabrik-pabrik lan usaha industri liyane. Bancana lan prahara alam kadhang kala nemahi lan nrajang ing saben tlatah. Kali wis ilang kedhunge, pasar wus ilang kumandhange. Bumi saya panas, swasana alam ngalami owah-owahan kang ngedab-edabi. Akeh udan salah mangsa amarga anane ‘pemanasan global’. Pranata mangsa tinggalane leluhur, kadhang kala ana kang trep karo kahanan, nanging uga ana perangan kang cengkah karo kanyatan.


Déníng : Sutadi
Pangarsa Pêrsatuan Pêdalangan Indonesia Komisariat Jawa Têngah

30
Dec
12

IpTek : Dunia Tak Jadi Kiamat 21 Desember 2012 ?

Dunia Tak Jadi Kiamat, Lalu …?

OPINI | 22 December 2012 | 01:08

1356112965147206947

Ilustrasi mobil merek Mazda masa depan yang bisa terbang (Sumber: http://www.gaj-it.com)

Sebenarnya, hari Jumat, 21 Desember 2012 ini dunia kita sudah kiamat. Sebagaimana, katanya berdasarkan sistem perhitungan kalender suku Maya kuno. Padahal, orang Maya sendiri tidak merasa bahwa nenek moyang mereka pernah meramalkan dunia akan kiamat. Apalagi, dengan persis bisa tahu hari dan tanggalnya seperti ini. Suku Maya sendiri tidak percaya dengan ramalan yang ditafsirkan orang-orang di luar suku mereka itu.

Ternyata, memang kiamat itu tidak terjadi. Lebih tepatnya ditunda. Disebutkan “ditunda,” karena katanya, sih, secara ilmu pengetahuan, dunia ini memang suatu ketika akan lenyap dari tata surya ini. Alias, ya, kiamat juga.

Kapan waktunya? Seperti yang diajarkan oleh semua agama, kapan waktu kiamat itu akan tiba, tidak ada satu pun manusia di muka bumi ini yang bisa mengetahuinya.

Menurut NASA, yang mengaku sampai kewalahan harus menjawab banyak sekali panggilan telepon yang menanyakan soal kiamat 21 Desember 2012 ini, dunia ini, planet bumi ini akan masih terus eksis setidaknya sampai 4 miliar tahun lagi. Bagaimana caranya menghitung? Silakan anda tanya sendiri ke NASA. Atau, mungkin mau bikin hitungan sendiri?

Seandainya saja NASA benar bahwa bumi ini akan masih terus eksis di tata surya ini sampai 4 miliar tahun lagi, tidak berarti umat manusia beserta segenap makhluk hidup lainnya di muka bumi ini dijamin pula bisa eksis terus selama itu.

Keserakahan manusia dengan segala rasa bencinya terhadap sesamanya, dengan keangkaramurkanya, ingin menguasai satu terhadap yang lain, merupakan ancaman nyata keberadaan manusia di muka bumi.

Dengan teknologi perang yang semakin super canggih, dan dengan daya musnah yang semakin luar biasa, lewat senjata-senjata pemusnah massal, senjata kimia, bom nuklir, dan lain-lain, manusia berpotensi untuk memusnahkan spesiesnya sendiri. Apabila terjadi lagi perang besar-besaran (Perang Dunia III) dan semua atau sebagian besar senjata pemusnah massal itu digunakan, maka spesies manusia benar-benar akan punah. Atau, kalau ada yang masih bisa bertahan hidup, tinggallah segelintir manusia saja.

Inilah kiamat dalam bentuk lain, dan lebih besar kemungkinannya terjadi, dan lebih cepat bisa terjadi. Tidak perlu “harus menunggu” 4 miliar tahun lagi.

Bumi ini akan terus ada, tidak dilahap “matahari,” ditenggelamkan tsunami mega raksasa dengan ketinggian kilometaran, atau bentuk kiamat lainnya, tetapi tidak lagi dihuni oleh spesies manusia dengan segala peradabannya. Atau, peradaban manusia akan kembali ke era seperti zaman purbakala.

Apakah yang bakal terjadi, jika baik kiamat karena takdir alam, atau kiamat karena ulah manusia yang memusnahkan spisiesnya sendiri itu, semuanya tidak terjadi?

Berarti manusia dengan segala peradaban, kemajuan teknologi di segala bidang, terutama teknologi informasi, komputer, komunikasi, alat transportasi, dan lain-lain akan terus berkembang entah sampai di mana atau bagaimana bentuknya.

Semua teknologi informasi, komputer, komunikasi, alat transportasi, dan sebagainya, yang sekarang ini membuat kita tercengang, terkagum-kagum, sepuluh tahun ke depan sudah hampir pasti akan menjadi teknologi yang kuno. Sama dengan ketika teknologi komputer untuk rumah baru pertamakali diperkenalkan oleh Bill Gates dan Steve Jobs, di kala itu sudah cukup membuat orang tercengang, seolah tak percaya. Sekarang di di era kita, semua teknologi itu sudah kuno.

Seperti juga ketika telepon baru pertamakali ditemukan di abad kesembilan belas oleh Alexander Graham Bell, dibandingkan dengan era teknologi telepon seluler secanggih sekarang, yang dipelopori oleh Steve Jobs dengan iPhone-nya itu.

Lalu, bagaimana dengan seratus tahun kemudian, ribuan tahun kemudian, jutaan tahun kemudian, apalagi sampai miliaran tahun kemudian? Kalau semua peradaban manusia itu masih ada dengan segala perkembangan intelektualnya, bisakah anda bayangkan bagaimana teknologi dan kehidupan di zaman-zaman itu?

Akankah kehidupan manusia itu seperti yang digambarkan di film-film fiksi ilmiah? Teknologi komputer ala film Minority Report, mobil-mobil yang bisa terbang ala Star Wars, pilihan liburan di zaman itu, bukan lagi ke negara mana, tetapi ke planet mana. Perjalanan antarplanet akan menjadi biasa seperti perjalanan antarnegara saat ini. Bukankah di zaman dahulu kala juga, perjalanan antarnegara, merupakan sesuatu yang tak terbayangkan?

Berikut ini adalah video ilustrasi kehidupan di masa depan dengan teknologi informasi dan komunikasi dari Microsoft di tahun 2020 dan di tahun 2050.  Silakan disimak:

Tahun 2020:

Tahun 2050:

30
Dec
12

Keuangan Negara : Skandal BLBI dan Bank Century

Pancasila

Kronologis Mega Skandal Ekonomi Indonesia BLBI

by @InfoBLBIBerawal dari krisis ekonomi yang menerpa negara-negara di Asia tahun 1997. Satu per satu mata uang negara-negara di Asia merosot nilainya. Kemajuan perekonomian negara-negara di Asia yang banyak dipuji oleh banyak pihak sebelumnya, menjadi angin kosong belaka. Persis sebelum krisis ekonomi, @BankDunia pada 1997 menerbitkan laporan berjudul “The Asian Miracle” yang menunjukkan kisah sukses pembangunan di Asia. Ternyata kesuksesan pembangunan ekonomi di negara-negara Asia tersebut tidak berarti banyak karena pada kenyataannya, negara-negara tersebut tidak berdaya menghadapi spekulan mata uang yang tinggi dan berujung pada krisis ekonomi. Menyusul jatuhnya mata uang Baht, Thailand, nilai rupiah ikut merosot. Untuk mengatasi pelemahan rupiah, Bank Indonesia kemudian memperluas rentang intervensi kurs jual dan kurs beli rupiah, dari Rp. 192 (8%), menjadi Rp. 304 (12%). Guna mengurangi tekanan terhadap rupiah, Bank Indonesia mulai melakukan pengetatan likuiditas dengan menaikkan suku bunga Sertifikat Bank Indonesia (SBI) dari 6% menjadi 14%. Akibat kondisi ini bank-bank umum kemudian meminta bantuan BI sebagai lender of the last resort. Ini merujuk pada kewajiban BI untuk memberikan bantuan kepada bank dalam situasi darurat. Dana talangan yang dikucurkan oleh BI ini yang dikenal dengan BLBI.Sesehat apa pun sebuah bank, apabila uang dari masyarakat ditarik serentak tentu tidak akan sanggup memenuhinya. Penyimpangan BLBI dimulai saat BI berikan dispensasi kpd bank-bank umum utk mengikuti kliring, meski rekening gironya di BI bersaldo debet. Dispensasi diberikan ke semua bank tanpa melakukan pre-audit utk mengetahui apakah bank itu benar-benar butuh bantuan likuiditas & sehat. Akibatnya, banyak bank yang tidak mampu mengembalikan BLBI.**11 JULI 1997: Pemerintah RI memperluas rentang intervensi kurs dari 192 (8%) menjadi 304 (12%), melakukan pengetatan likuiditas dan pembelian surat berharga pasar uang, serta menerapkan kebijakan uang ketat.**14 AGUSTUS 1997: Pemerintah melepas sistem kurs mengambang terkendali (free floating). Masyarakat panik, lalu berbelanja dolar dlm jumlah sangat besar. Setelah dana pemerintah ditarik ke BI, tingkat suku bunga & deposito melonjak drastis krn bank berebut dana rakyat.

**1 SEPTEMBER 1997: BI menurunkan suku bunga SBI sebanyak 3 kali. Berkembang isu di masyarakat mengenai beberapa bank besar yg mengalami kalah kliring dan rugi dalam transaksi valas. Kepercayaan masyarakat terhadap bank nasional mulai goyah. Terjadi rush kecil-kecilan.

**3 SEPTEMBER 1997: Sidang Kabinet Terbatas Bid. Ekonomi, Keuangan & Pembangunan, Produksi & Distribusi berlangsung di Bina Graha, dipimpin langsung Soeharto. Hasilnya: pemerintah akan bantu bank sehat yg alami kesulitan likuiditas. Bank ‘sakit’, akan dimerger/likuidasi. Belakangan, kredit ini disebut bantuan likuiditas Bank Indonesia (BLBI).

**1 NOVEMBER 1997: 16 bank dilikuidasi.

**26 DESEMBER 1997: Gubernur BI Soedradjad Djiwandono melayangkan surat ke Soeharto, memberitahukan kondisi perbankan nasional yang terus alami saldo debit akibat tekanan penarikan dana nasabah. Soedradjad usul: “mengganti saldo debit dgn Surat Berharga Pasar Uang (SBPU) Khusus

**27 DESEMBER 1997: Surat Gubernur BI dijawab surat nomor R-183/M.Sesneg/12/1997, ditandatangani Mensesneg Moerdiono. Isinya, Presiden menyetujui saran direksi BI utk mengganti saldo debit bank dengan SBPU Khusus agar tidak banyak bank yg tutup dan dinyatakan bangkrut.

**10 APRIL 1998: Menkeu diminta untuk mengalihkan tagihan BLBI kepada BPPN dengan batas waktu pelaksanaan 22 April 1998.

**MEI 1998: BLBI yg dikucurkan ke 23 bank capai Rp 164 triliun, dana penjamin antarbank Rp 54 triliun, biaya rekapitalisasi Rp 103 triliun. Adapun penerima terbesar (hampir dua pertiga dari jumlah keseluruhan) hanya empat bank. Yakni BDNI Rp 37,039 triliun; BCA Rp 26,596 triliun; Danamon Rp 23,046 triliun; dan BUN Rp 12,067 triliun.

**4 JUNI 1998: Pemerintah diminta membayar seluruh tagihan kredit perdagangan (L/C) bank-bank dalam negeri oleh Kesepakatan Frankfurt. Ini merupakan prasyarat agar L/C yang diterbitkan oleh bank dalam negeri bisa diterima dunia internasional. Pemerintah terpaksa memakai dana BLBI senilai US$ 1,2 miliar (sekitar Rp 18 triliun pada kurs Rp 14 ribu waktu itu).

Bagian 2 ==> http://chirpstory.com/li/39183
Bagian 3 ==> http://chirpstory.com/li/39184
Bagian 4 ==> http://chirpstory.com/li/39370
Bagian 5 ==> http://chirpstory.com/li/41179

Baca Juga:

– “Kronologi Kasus Bantuan Likuiditas Bank Indonesia (BLBI)” ==> http://blog.korupedia.org/?p=42
– “Skandal Skenario KLBI Penyebab Terjadinya Skandal Mega Korupsi BLBI” ==> http://chirpstory.com/li/27890
– “Bantuan Likuiditas Bank Indonesia Sebagai Penyelamat Bank” ==> http://chirpstory.com/li/39113
– “Upaya Menghapus Kasus BLBI” ==> http://chirpstory.com/li/39114
– “Pentingnya Membuka Tabir Skandal BLBI Kembali” ==> http://chirpstory.com/li/39115
– “Daftar Penerima BLBI Berdasarkan MSAA” ==> http://chirpstory.com/li/39116
– “Rapuhnya Kondisi Perbankan Nasional Medio 1997” ==> http://chirpstory.com/li/39117
– “BLBI Salah Satu Skandal Perbankan & Kemanusiaan Paling Keji” ==> http://chirpstory.com/li/40267
– “Terbebaninya Rakyat Indonesia Akibat Hutang Obligor BLBI” ==> http://chirpstory.com/li/40613
– “Pembebanan APBN & Pembengkakan Hutang Akibat Penerbitan Obligasi BLBI” ==> http://chirpstory.com/li/40758
– “Boediono, dari BLBI hingga Century” ==> http://jaringanantikorupsi.blogspot.com/2012/12/medianusantara-boediono-dari-blbi.html
– “Kesalahan Boediono dari Masa kemasa” ==> http://jaringanantikorupsi.blogspot.com/2012/12/medianusantara-kesalahan-boediono-dari.html

Pencucian Uang dalam Skandal Century

Bambang Soesatyo
Anggota Tim Pengawas
Penyelesaian Kasus Bank Century DPR
KETERKAITAN PT Ancora dengan mega skandal Bank Century otomatis tak terbantahkan. PT Ancora layak dicurigai karena pendiri dan manajemen PT Ancora tidak berinisiatif menunjukan itikad baik untuk mengungkap kepada publik dan pihak berwenang perihal penguasaan aset PT Graha Nusa Utama (GNU) yang sedang dicari oleh Tim Bersama Asset recovery Bank Century.
Seperti diketahui, PT Graha Nusa Utama (GNU) diduga melakukan tindak pidana pencucian uang. Mabes Polri sudah menetapkan Toto Kuntjoro (TK) sebagai tersangka.
Dari laporan Kepala Kepolisian RI, Jenderal Pol Timur Pradopo dihadapan Tim Pengawas Bank Century tanggal 10 Oktober 2012 lalu yang didapat, TK dituduh melakukan penipuan atau penggelapan dengan cara menempatkan dana hasil kejahatan tersebut  di rekening PT GNU.
Uang tersebut berasal dari hasil penjualan aset Bank Century dan penipuan nasabah PT Antaboga Delta Sekuritas Indonesia.
Dalam laporan itu, Kapolri menegaskan ada  tindak pidana pencucian uang yang bersumber dari penjualan aset Bank Century dan dana nasabah PT Antaboga Delta Sekuritas Indonesia.
Ringkasnya, PT GNU menerima dana PT Antaboga Delta Sekuritas tahun 2008. Selanjutnya saham PT GNU diambil alih sebesar 51 persen oleh PT Ancora Land dan PT Uni Menara Komunikasi yang merupakan perusahaan milik Menteri Perdagangan, Gita Irawan Wirjawan pada Oktober 2010.
Mengaitkan Menteri Perdagangan Gita Wirjawan dalam persoalan ini bukanlah mengada-ada. Sebab, Gita adalah pendiri kelompok bisnis Ancora. Manajemen PT Ancora memang sudah membuat bantahan resmi, bahwa Gita Wirjawan tidak menerima aliran dana Bank Century. Sejak menjabat Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) dan Menteri Perdagangan RI, Gita sudah tidak terlibat lagi di Ancora.
Ancora Land dan PT Uni Menara Komunikasi, anak usaha Ancora, menyepakati Perjanjiaan Induk dengan para pemegang saham PT GNU dan NUS Januari 2008 untuk mengakuisisi GNU dan NUS berikut lahan bekas Lapangan Golf Fatmawati di kawasan Cilandak. Pada Oktober 2010, Ancora Land resmi menjadi pemegang saham mayoritas GNU dan NUS. Ancora Land pun mengklaim pemilikan tanah di kawasan Fatmawati sah secara hukum
Namun, sangat disayangkan karena baik manajemen Ancora maupun Gita sendiri memanfaatkan bantahan itu untuk mengalihkan persoalan. Ancora memosisikan pengungkapan fakta ini sebagai berlatarbelakang persaingan bisnis dengan individu lain bernama Cahyadi Komala. Padahal, bagi publik pemerhati, bukan faktor persaingan itu yang menarik untuk diamati, melainkan faktor penguasaan aset yang terkait dengan skandal Bank Century.
Sebab, GNU merupakan salah satu perusahaan yang menerima aliran dana PT Antaboga Delta Securitas Indonesia yang berasal dari Bank Century. GNU sendiri diduga sebagai perusahaan fiktif karena tidak jelas alamatnya. Tim Pengawas kasus Century di DPR menduga GNU adalah perusahaan abal-abal yang didirikan oleh mantan Direktur Utama Bank Century Robert Tantular. Oleh Robert, GNU dimanfaatkan untuk menyalurkan kredit fiktif, menyembunyikan aset Bank Century serta dana Antaboga Delta Sekuritas Indonesia.
Hasil penyelidikan dan penyidikan pihak berwenang memperkuat semua dugaan itu. Mabes Polri telah mengungkap dugaan pencucian dana Bank Century sebesar Rp.1,4 triliun. Dana ini bersumber dari Antaboga Delta Securitas Indonesia. Empat orang sudah ditetapkan sebagai tersangka dalam kasus ini, meliputi Robert Tantular, Toto Kuncoro, Johanes Sarwono, Septanus Farok dan Umar Muchsin.  Berkas perkara pencucian uang GNU ini sudah di tangan kejaksaan karena sudah P21, tetapi belum dilimpahkan ke pengadilan.
Dengan demikkian. sudah barang tentu posisi Ancora tidak bisa dipisahkan dari kasus Century. Sebab, menurut hasil penelusuran PPATK, aset-aset GNU dibeli dengan dana dari Bank Century dan Antaboga Delta Securitas. Berarti, aset-aset GNU yang sudah dikuasai Ancora sejak Oktober 2010 seharusnya tercantum dalam daftar aset yang akan disita negara oleh Tim Bersama Asset Recovery Bank Century.
Karena itu, wajar jika dimunculkan dua pertanyaan ini; akuisisi GNU oleh Ancora itu murni bisnis atau modus alih pemilikan untuk menyelamatkan aset yang sedang diburu oleh Tim Bersama Asset recovery Bank Century? Dua pertanyaan inilah yang perlu didalami Komisi Pemberantasan Korupsi  (KPK) untuk memahami motif Ancora.
Jika akuisisi GNU itu murni bisnis, Ancora tentu sangat paham bahwa membeli mayoritas saham GNU beresiko tinggi, karena GNU terlibat tindak pidana pencucian uang.  Dan, menurut ketentuan hukum pencucian uang, pihak atau orang yg menerima aset yang berasal dari pencucian uang juga dapat diancam sanksi pidana. Contohnya adalah Budi mulia yg menerima dana dari robert tantular sudah ditetapkan tersangka oleh KPK.
Serba Janggal
Alih pemilikan GNU ke Ancora memang serba janggal, baik karena alasan perbedaan rekam jejak kedua perusahaan maupun berdasarkan timing eksekusi alih pemilikan itu. Sejumlah catatan atau literatur mendeskripsikan Ancora sebagai  kelompok usaha profesional. Lulus dari Harvard University, Gita Wirjawan dikenal sebagai ahli investasi dan pelaku pasar modal yang andal. Di bawah kepemimpinan Gita, Ancora menguasai saham sejumlah perusahaan terkemuka, seperti PT Apexindo Pratama Duta Tbk dan PT Bumi Resources Tbk. Melalui bendera Ancora International, Gita bisa menguasai aset sejumlah perusahaan yang tak kuat menanggung dampak krisis ekonomi. Sangat bertolakbelakang dengan GNU yang serba tak jelas itu.
Berdasarkan rekam jejak itu, Ancora tentunya sangat paham tentang risiko menguasai aset bermasalah. Kalau benar Ancora selalu bermain di area serba bersih, berbisnis atau bertransaksi dengan perusahaan-perusahaan yang berperilaku seperti GNU mestinya dihindari atau ekstra hati-hati. Paling tidak, penelitian dan pengujian dokumen (due diligence) sangat teliti untuk mengetahui siapa saja sosok-sosok dibalik GNU dan darimana saja sumber keuangan GNU. Perjanjian induk pada 2008 bisa saja gugur kalau status atau jenis kelamin GNU saja tidak jelas.
Apalagi dari aspek waktu memfinalkan akuisisi GNU pada Oktober 2010. Berarti semua aspek  teknis dan negosiasi harga telah berlangsung berbulan-bulan sebelumnya. Dalam periode itu, ruang publik masih diguncang oleh badai besar yang ditimbulkan oleh skandal Bank Century. Panitia Khusus (Pansus) DPR untuk Hak Angket Bank Century dibentuk pada 1 desember 2009, dan mulai bekerja pada awal 2010. Dan, sejak paruh kedua 2009, pemilik dan manajemen Bank Century mulai dirundung masalah, karena baik KPK maupun DPR mulai mempersoalkan dana talangan. Bahkan Robert Tantular divonis 4 tahun penjara oleh Pengadilan Negeri Jakarta Pusat plus denda Rp 50 milyar. Puncaknya pada Maret 2010, ketika sidang Paripurna DPR merekomendasikan proses hukum terhadap orang-orang yang diduga terlibat dalam kasus Bank Century.
Dengan asumsi bahwa Ancora ekstra hati-hati dan due diligence atas latarbelakang GNU akurat, maka tindakan menguasai mayoritas saham GNU pada Oktober 2010 bisa dilihat sebagai kecerobohan yang disengaja atau yang di-skenario-kan. Sebab, sebagai Kepala BKPM (Badan Koordinasi dan Penanaman Modal) saat itu, Gita tentu memiliki informasi yang memadai tentang skandal Bank Century maupun tentang sosok Robert Tanular. Berdasarkan informasi yang dimilikinya, Gita mestinya bisa memerintahkan manajemen Ancora untuk membatalkan atau  mundur dari perjanjian induk 2008 karena aset GNU bermasalah atau terkait pencucian uang.
Barangkali, manajemen Ancora pada akhirnya akan beralasan bahwa mereka tidak tahu kalau GNU dan aset-asetnya bermasalah. Alasan ini pun sulit diterima karena Ancora Land dan Uni Menara Komunikasi wajib melakukan due diligence sebelum memfinalkan akuisisi GNU. Jadi, alasannya sudah terpenuhi untuk mengatakan adanya keterkaitan Ancora dengan kasus Bank Century. Manajemen Ancora mengatakan bahwa Gita tidak terlibat lagi dalam pengelolaan kelompok usaha yang didirikannya. Tetapi, Gita sendiri tahu siapa pesaing Ancora dalam proses akuisisi GNU.
30
Dec
12

Kenegarawanan : Kepresidenan per Hukum Tata Negara

https://jakarta45.files.wordpress.com/2012/02/pkp-1945-_033.jpg?w=655

Legalkah Kepemimpinan SBY-Boediono di hadapan Hukum Tata Negara ?

Jakarta, SUARAKPK.COM – Mungkin memang pemilihan Presiden dan Wakil Presiden pada 2004 sudah selesai dan saat ini pasangan terpilih sudah memimpin Negara Indonesia, namun ternyata hal penetapan dan pengangkatan Presiden dan Wakil Presiden masih menjadi bahan perbincangan di kalangan pakar-pakar ilmu hukum tata negara di Indonesia.

Sebagaimana di kutip dari Rakyat merdeka online, yang memberitakan, Ada celah tata negara yang selama ini dibiarkan menjadi kejanggalan dalam hal penetapan Presiden dan Wakil Presiden RI.

Menurut Ahli Hukum Tata Negara, Margarito Kamis, Presiden SBY tidak sah dari segi hukum tata negara. Sebelum UUD 1945 diubah, dasar hukum pelantikan Presiden adalah Ketetapan MPR (TAP MPR). Namun, setelah UUD 1945 diubah, sejak 2004 MPR tidak dapat lagi mengeluarkan Ketetapan dan Keputusan MPR.

Selama dua periode, dari 2004 dan 2009, SBY dilantik tidak berdasar pada Ketetapan MPR, tapi hanya berdasar pada Pleno Penetapan KPU.

“Presiden dipilih langsung melalui pemilu yang digelar KPU. Setelah perhitungan selesai, KPU gelar pleno untuk menetapkan calon presiden peraih suara terbanyak sebagai pasangan capres dan wapres terpilih. Setelah itu diusulkan ke MPR untuk dilantik. Nah, disini masalahnya,” papar Margarito kepada Rakyat Merdeka Online, sesaat lalu.

Pertanyaannya, apa dasar Presiden dan Wapres diangkat? Apakah dengan suara terbanyak dan ditetapkan sebagai pemenang pemilu, sudah cukup bagi MPR untuk melantik Presiden dan Wapres terpilih? Sedangkan di UUD dan UU KPU tidak ada mengatur hak KPU untuk menetapkan Presiden dan Wapres baru.

“Bagaimana dia dilantik presiden dan wapres padahal dia belum ditetapkan?” gugat Margarito.

Sementara, kesalahan juga terjadi di pihak lain. Untuk proses yang sama terhadap figur lain dibikinkan Surat Keputusan, misalnya Surat Keputusan terhadap anggota DPR yang dipilih dalam pemilu legislatif.

“Setelah KPU tetapkan dia (anggota DPR) terpilih, lalu diusulkan ke presiden dan diterbitkan SK. Begitu juga DPD. Bagaimana mungkin presiden tidak ada SK-nya. Cuma pleno KPU terus usul ke MPR kemudian dilantik. Ini ilegal. Siapa tetapkan dia sebagai presiden, KPU cuma tetapkan pasangan terpilih,” tegasnya. Demikian di kutip dari Rakyat Merdeka online

Blunder Legislatif, SBY dan Boediono Tak Punya SK Pengangkatan, Ilegalkah ?

Terpisah, menanggapi atas pemberitaam tersebut, beberapa sumber ikut mengkaji keabsahan kepemimpinan SBY Boediono yang di kirimkan ke redaksi suarakpk melalui email redaksi, mengjelaskan bahwa belum pernah dalam sejarah pemerintahan Republik Indonesia terjadi, bahwa pengangkatan jabatan Presiden dan Wapres RI terpilih berdasarkan perhitungan KPU (Komisi Pemilihan Umum) tidak mengeluarkan SK. Pengangkatan. Untuk mendirikan sebuah PT (Perseroan Terbatas) saja harus menggunakan Akta Notaris serta untuk mengangkat Menteri-menteri dan pejabat pemerintah lainnya saja diperlukan SK. Pengangkatan. Bagaimana lagi dengan posisi seorang pemimpin bangsa yang bertanggung jawab secara nasional untuk bangsa dan negara juga untuk pengakuan Internasional sebagai pemimpin Negara Kesatuan Republik Indonesia?

Sumber mengatakan “Terus terang, saya mencari dan mencari dimana SK. Pengangkatan Presiden SBY dan Wapres Boediono untuk periode pemerintahan 2009-2014. Baik pada website resmi MPR – www.mpr.go.id dan lain-lain situs resmi lembaga pemerintahan ternyata SK Pengangkatan ini tidak ada. Hal serupa ini juga pernah ditanyakan oleh Ketua MPR sebelumnya Dr. Hidayat Nur Wahid”.

Legalkah jabatan Presiden SBY dan Wapres Boediono periode 2009-2014?

Banyak pengamat politik dan akademisi hukum tata negara mempertanyakan status jabatan Presiden SBY dan Boediono berdasarkan hukum dan konstitusi tata negara.

Sesuai dengan isi pasal 6 ayat (2) BAB III UUD 1945 tentang Kekuasaan Pemerintahan Negara (perubahan terakhir tanggal 10 Nopember 2001), maka;“ayat (2) Presiden dan Wakil Presiden dipilih oleh Majelis Permusyawaratan Rakyat dengan suara yang terbanyak”.

Pemerintah era Reformasi setelah tumbangnya rezim Orba telah membentuk Undang-undang no.3 Tahun 1999 tentang Pemilihan Umum. Undang-undang ini kemudian diperbaharui dengan Undang-undang no.4 Tahun 2000, khususnya tentang penyelenggaraan Pemilihan Umum, karena dinilai tidak sesuai dengan ketentuan yang digariskan oleh Ketetapan MPR no. IV/MPR/1999 tentang Garis-garis Besar Haluan Negara Tahun 1999-2004. Demikian isi Menimbang butir b. Jadi dalam Undang-undang no.4 Tahun 2000 hanya mengubah beberapa pasal dalam Undang-undang no.3 Tahun 1999. Pasal-pasal itu adalah pasal 8 ayat (2), pasal 9 ayat (1),(2) dan (3) diubah dan ditambah ayat (3a), (3b) dan (3c).

Pada isi Menimbang butir c Undang-undang no.3 Tahun 1999 tentang Pemilihan Umum disebutkan; “c. Pemilihan Umum bukan hanya bertujuan untuk memilih wakil-wakil rakyat yang akan duduk dalam lembaga Permusyawaratan/Perwakilan, melainkan juga merupakan suatu sarana untuk mewujudkan penyusunan tata kehidupan Negara yang dijiwai semangat Pancasila dan Undang-undang Dasar 1945 dalam Negara kesatuan Republik Indonesia”.
Landasan hukum terbentuknya UU no.3 Tahun 1999 tentang Pemilu ini adalah ;

– pasal 1 ayat (2), pasal 5 ayat (1), pasal 20 ayat (1), pasal 27 ayat (1) UUD 1945.
– Ketetapan MPR no.XIV/IV/1998 tentang Perubahan dan Tambahan atas Ketetapan
MPR no.III/MPR/1988 tentang Pemilihan Umum.

– UU no.2 Tahun 1999 tentang Partai Politik (LN no.22 Tahun 1999, Tambahan LN no.3809)
– UU no.4 Tahun 1999 tentang Susunan dan kedudukan MPR, DPR, DPR-D (LN no. 24 tahun 1999, Tambahan LN no.3811)

Dan untuk tertibnya penyelenggaraan Pemilihan Umum di Indonesia, baik untuk Pemilihan Umum tingkat Presiden dan Wakil Presiden, juga anggota DPR dan DPR-D, maka pemerintah telah menyerahkan tugas ini semua kepada suatu lembaga atau komisi yang disebut KPU. Lembaga ini adalah lembaga independen dan non-partisan. Menurut pasal 8 ayat (4) dari UU no.3 Tahun 1999 tentang Pemilu bahwa “Pembentukan KPU diresmikan dengan Keputusan Presiden”. Sesuai dengan pasal 5 ayat (1) UUD 1945, bahwa “Presiden memegang kekuasaan membentuk undang-undang dengan persetujuan Dewan Perwakilan Rakyat”. Sebab itu Presiden membentuk KPU. Landasan hukum dibentuknya KPU adalah Keppres RI no.70 Tahun 2001, khusus untuk pemilihan Presiden RI. Sedangkan KPU untuk Pemilihan Umum anggota DPR dan DPR-D tertuang dalam UU no.10 Tahun 2008.

Dalam pencaharian ini, saya memang tidak mendapatkan SK. Pengangkatan Presiden dan Wapres RI untuk periode 2009-2014, yang mengesyahkan jabatan mereka sebagai pemimpin bangsa dan negara Indonesia. Tetapi hanya Kep.KPU no.373/Kpts/KPU/Tahun 2009 tentang Penetapan Pasangan Calon Presiden dan Wakil Presiden terpilih Dalam Pemilihan Umum tahun 2009 yaitu DR.H.Susilo Bambang Yudhoyono dan Prof.DR. Boediono sebagai Presiden dan Wakil Presiden RI untuk masa jabatan 2009-2014.

Secara hukum, SK.KPU yang bernomor 373/Kpts/KPU/Tahun 2009 itu tidak dapat dijadikan landasan hukum sebagai SK.Pengangkatan Presiden SBY dan Wapres Boediono untuk memangku jabatan resmi masa pemerintahan periode 2009-2014.

Secara kronologis maka hasil pemilihan umum yang dikelola oleh KPU sebagai sebuah lembaga independen dan non.partisan ini harus diserahkan kepada;

a. Hasil perhitungan suara atau verifikasi dari KPU tentang jumlah suara yang dimenangkan oleh Capres dan Cawapres untuk periode 2009-2014, akan dibuatkan BA (Berita Acara)nya, yang kemudian akan diteruskan kepada MA (Mahkamah Agung) untuk disyahkan secara hukum, setelah itu

b. Hasil Pemilu Presiden dan Wapres RI yang sudah mendapatkan pengesyahan secara hukum dari MA akan diteruskan kepada Lembaga Legislatif, yaitu MPR untuk dibuatkan Surat Ketetapan Pengangkatan Presiden dan Wapres RI untuk masa jabatan lima tahun selanjutnya 2009-2014

c. MPR selanjutnya akan melakukan langkah-langkah hukum yang resmi dan legal dengan membuatkan Surat Pengangkatan bagi Presiden SBY dan Wapres Boediono untuk masa jabatan pemerintahan lima tahun 2009-2014. TAP MPR inilah dasar hukum yang syah bagi Presiden SBY dan Wapres Boediono untuk menjalankan tugas-tugasnya. Tanpa TAP MPR ini, maka seseorang akan dianggap ilegal menjalankan kinerjanya.

Kecerobohan Lembaga Legislatifkah?

Lebih lanjut, sumber menjelaskan “Kalau keputusan KPU sampai bisa mempunyai kekuatan hukum yang syah dan sampai bisa mengalahkan kekuatan TAP MPR sebagai Lembaga Legislatif atau lembaga tinggi negara. Maka dengan tegas saya katakan di sini, hal ini akan membuat semu hierarchie lembaga sesuai dengan fungsi dan kedudukannya. Dan dengan tegas saya katakan, bahwa setiap lembaga di negara ini bisa saja membuat keputusan yang diinginkan dengan tidak memperhatikan sistem birokrasi dan perundang-undangan yang berlaku”.

Sumber menguraikan “Tidak pernah terjadi, bahwa keputusan sebuah KPU yang kelembagaannya dibuat dengan Keputusan Presiden bisa mengalahkan TAP MPR”.

“Saya mengatakan, secara hukum jelas-jelas jabatan Presiden SBY dan Wapres Boediono untuk periode 2009-2014 bertentangan secara hukum. Dan dapat dikategorikan sebagai “tidak syah secara hukum”. Bahkan hasil BA dari KPU telah mengalami “cacat hukum” dalam perjalannnya oleh karena tidak menempuh jalur formalitas yang sebenarnya”.

Diketahui, KPU tidak bisa mengangkat seorang Presiden dan Wapres RI. KPU adalah lembaga Pemilihan Umum, KPU bukan MPR yang bisa menentukan seseorang bisa menjadi Presiden dan Wapres RI. KPU hanya menjalankan tugas untuk mengkoordinasi acara pemilihan umum baik tingkat pusat dan daerah. KPU tidak bisa mengalahkan TAP MPR. Kalaupun telah terjadi “blunder legislatif” karena sesuatu hal yang diluar ketentuan hukum dan undang-undang yang berlaku. Maka seharusnya MPR dan DPR yang terpilih selanjutnya untuk periode 2009-2014, harus menegaskan kembali untuk menguatkan BA dari KPU tentang terpilihnya Presiden SBY dan Wapres Boediono untuk masa jabatan lima tahun 2009-2014 dengan membuat dan mengeluarkan TAP MPR Pengangkatan Presiden dan Wapres RI. Sebuah ucapan, bukan pengesyahan. Sebab itu harus diikuti oleh langkah juridis, yaitu mengeluarkan TAP MPR.

TAP MPR adalah landasan hukum yang kuat, yang berdasarkan undang-undang yang berlaku tentang tata pengesyahan jabatan seorang Presiden dan Wapres RI terpilih untuk menjalankan masa jabatannya. Tanpa TAP MPR, maka seseorang tidak bisa menjalankan kinerjanya secara legal.

“Kesimpulannya, masa jabatan Presiden Susilo Bambang Yudhono dan Wakil Presiden Boediono untuk periode 2009-2014 mengandung cacat hukum, dalam arti ilegal. Dalam arti tidak syah secara hukum karena melanggar prinsip Pancasila dan UUD Tahun 1945. Saya sampaikan tulisan ini untuk Lembaga Legislatif MPR, DPR. semoga mereka sadar langkah keliru yang sebenarnya membawa fatal kepemimpinan Presiden SBY dan Wapres Boediono”. Terang sumber, yang diterima redaksi suarakpk.com. (Team)

baca juga:
Kisah SBY dan Indro Tjahjono: Kecurangan Dalam Dua Pemilihan Umum Presiden ==> http://jaringanantikorupsi.blogspot.com/2012/07/medianusantara-kisah-sby-dan-indro.html
29
Dec
12

Politik : Demokrasi Minus Toleransi dan Demokrasi Ekonomi

Demokrasi Minus Toleransi

Jeffrie Geovanie* | Jumat, 28 Desember 2012 – 14:49:12 WIB

: 97

(dok/SH)
Ilustrasi.
Hidup di bangsa pluralis di dunia seperti Amerika dan Indonesia, mensyaratkan toleransi yang tinggi.

BANYAK kalangan menilai, Indonesia saat ini merupakan negara paling demokratis di dunia. Bahkan Amerika yang kita kenal sebagai gurunya demokrasi, dalam batas-batas tertentu sudah kalah dengan Indonesia, dalam memilih calon presiden misalnya, cara yang digunakan di Indonesia lebih demokratis dibandingkan cara Amerika.

Indikator lain yang membuat Indonesia lebih demokratis adalah dalam hal kebebasan pers dan kebebasan menyatakan pendapat.

Di luar adanya kasus-kasus ancaman terhadap wartawan, pers memiliki kebebasan yang maksimal. Begitu pun cara rakyat mengemukakan pendapat. Saking bebasnya, siapa pun bisa menjadi bulan-bulanan pers kita, termasuk presiden.

Karena demokrasi diyakini sebagai sumber kekuatan rakyat maka atas nama rakyat, siapa pun bisa mengritik atau bahkan mengecam pihak-pihak yang tak disukainya, terutama mereka yang dianggap memiliki kekuasaan. Maka tak perlu heran, di negeri ini, bahkan presiden pun bisa dikecam, dan di-bully kapan saja, terutama di jaringan media sosial.

Di negeri ini, intoleransi benar-benar berkembang dengan mengatasnamakan demokrasi. Yang paling sering kita dapatkan, intoleransi itu diekspresikan oleh “para pemilik suara mayoritas” untuk mengecam atau bahkan menistakan “suara minoritas”.

Sepanjang 2012, atas nama demokrasi, intoleransi umat beragama berkembang. Banyak kita saksikan para penganut agama dan mazhab mayoritas mengucilkan dan mengusir yang minoritas. Di daerah-daerah tertentu, pengikut mazhab minoritas bahkan bisa dibunuh dan dibakar tanpa ada pembelaaan, bahkan dari negara sekali pun.

Demokrasi minus toleransi, jika dibiarkan berkembang secara perlahan namun pasti akan membunuh demokrasi itu sendiri. Karena pada saat otoritas pemerintah tak lagi dihiraukan, dan hak-hak orang lain diabaikan, maka pada saat itulah demokrasi akan mati. Itulah sebab mengapa toleransi, menurut Robert Putnamm, menjadi modal sosial yang teramat penting bagi demokrasi.

Jadi Fondasi

Di Eropa dan Amerika, toleransi sudah menjadi fondasi bagi bangunan negara yang ditemukan dan dipelihara sejak awal sebagai instrumen nilai untuk menata keadaban publik dan demokrasi. Sejak abad ke-17, prinsip dasar toleransi sudah ditekankan John Locke dalam A Letter Concerning Toleration, (1689).

Dari kota pengungsian di Amsterdam, Locke menulis surat terbuka tentang pentingnya toleransi untuk negerinya tercinta, Inggris, yang saat itu sedang diselimuti suasana intoleransi dan tahun-tahun konflik berdarah.

Para dissenters—sebutan untuk mereka yang berbeda pendapat dan menolak pemaksaan doktrin gereja Anglikan yang didukung Pemerintah—menjadi korban penyiksaan secara politik dan keagamaan. Peristiwa itu mendorong Locke untuk mengingatkan bahwa tugas pemerintah sipil bukanlah mendukung gereja Anglikan; tetapi menjaga prinsip netralitas dalam masalah keyakinan agama dan iman.

Setiap usaha intervensi iman oleh kekuatan eksternal, baik pemerintah sipil maupun institusi keagamaan, mengandung kekeliruan pada dirinya sendiri. Itu karena iman yang benar, kata Locke, bukan ditentukan oleh kekuatan eksternal; melainkan oleh hati nurani individu. Bahkan kekuatan mayoritas yang mengatasnamakan demokrasi pun tak boleh menindas yang minoritas.

Argumen itulah yang diadopsi Bapak Konstitusi Amerika, James Madison, untuk merumuskan konstitusinya. Sadar akan posisi agama dan iman sebagai anugerah Tuhan, bukan manusia, Madison mendesain toleransi dan kebebasan beragama sebagai spirit utama konstitusi Amerika.

Kebebasan beragama ditafsirkan sebagai kebebasan dari agama apa pun. Karena itu, ateis pun dijamin konstitusi; juga sekte dan aliran agama apa pun dan ada berarapa pun pengikutnya, dibiarkan hidup dan berkembang.

Indonesia, seperti halnya Amerika, sebenarnya didesain bapak pendiri bangsa di atas fondasi serupa. “Bineka Tunggal Ika” (Berbeda-beda tetapi tetap satu juga) melambangkan moto yang serupa dengan Amerika, “E Pluribus Unum” atau “Satu dari Banyak”.

Setiap warga diikat oleh kesatuan komitmen dan tekad suci akan pluralitas. Hidup di bangsa pluralis di dunia seperti Amerika dan Indonesia, mensyaratkan toleransi yang tinggi. Ini adalah anak tangga ke arah terwujudnya high trust society. Amerika mencerminkan warganya yang punya tingkat kepercayaan tinggi satu dengan lainnya karena toleransi yang tinggi.

Indonesia justru sebaliknya, low trust society; ditandai oleh rendahnya tingkat kepercayaan satu warga dengan warga lainnya. Kehidupan kita, hampir di semua lini, ditandai rasa curiga dan sarat rumor, dengan kadar toleransi yang rendah pula. Padahal, toleransi yang rendah, dengan sendirinya, mudah retak dan membawa kita ke jurang perpecahan.

Demokrasi tak bisa ditegakkan tanpa fondasi toleransi yang kokoh!

*Penulis adalah Founder The Indonesian Institute.

Sumber : Sinar Harapan
Jumat, 28 Des 2012 00:03 WIB
Oleh: Jon Roi Tua Purba.
Negara Indonesia disebut-sebut sebagai negara yang mempunyai pertumbuhan ekonomi yang kuat. Pertumbuhan ekonomi Indonesia triwulan ketiga tahun 2012 mengalami pertumbuhan sebesar 6,17 persen dan ini menjadi catatan kebanggan tersendiri di negeri ini. Namun, sayangnya pertumbuhan ekonomi makro berbanding terbalik dengan kondisi secara mikro yang masih sangat memprihatinkan. Kebijakan pemerintah yang jauh dan tidak menyentuh menjadi catatan penting dalam pembahasan tingkat pertumbuhan perekonomian di negeri ini.
Seluruh sektor perekonomian Indonesia pada triwulan III-2012 mengalami peningkatan pertumbuhan dibandingkan triwulan sebelumnya (q-to-q), pertumbuhan terbesar terjadi pada Sektor Pertanian sebesar 6,15 persen, terutama karena terjadinya pertumbuhan yang cukup tinggi pada Subsektor Perkebunan sebesar 23,43 persen. Sektor Pengangkutan dan Komunikasi tumbuh 4,20 persen, Sektor Industri Pengolahan tumbuh 3,99 persen, Sektor Konstruksi tumbuh 3,97 persen, Sektor Keuangan, Real Estat dan Jasa Perusahaan tumbuh 2,21 persen, Sektor Jasa-Jasa tumbuh 1,81 persen, Sektor Perdagangan, Hotel, dan Restoran tumbuh 1,79 persen, dan Sektor Listrik, Gas, dan Air Bersih tumbuh 1,04 persen, selanjutnya Sektor Pertambangan dan Penggalian tumbuh 0,11 persen (Sumber: BPS, 2012).Melihat data diatas sangat jelas pertumbuhan ekonomi secara makro sangat kuat. Pertumbuahan perekonomian Indonesia ini sudah selayaknya menjadi catatan untuk awal kebangkitan sesungguhnya. Seperti yang sudah disinggung di awal bahwa langkah untuk beranjak dari lapisan bawah negeri ini masih jauh dari kata sepakat.

Kebijakan ekonomi secara mikro penting menjadi perhatian. Karena sangat jelas kesenjangan yang terjadi secara ekonomi. Di negeri ini terletak salah seorang terkaya di dunia dan ada juga segudang orang miskin. Inilah kesenjangan yang harus diretas. Kebijakan ekonomi sebaiknya tidak hanya menyentuh secara makro tetapi harus membumi hingga pada lapisan masyarakat kecil.

Kesenjangan yang menjadi pembahasan dalam perekonomian mikro harus bisa difokuskan. Hampir diseluruh sektor mikro kebijakan perekonomian di negeri ini perlu dipertanyakan. Sendi-sendi perekonomian melayang hanya diatas saja (pemodal) tanpa kekuatan fundasi, yakni ekonomi mikro.

Kebijakan ekonomi mikro sering juga disebut kebijakan yang berorientasi pada rakyat miskin dan disinilah kita temukan konteks pemerataan pendapatan masyarakat.

Melaksanakan Demokrasi Ekonomi

Bangsa ini sesungguhnya sudah mempunyai konsep ekonomi yang berpihak dan membangun kemakmuran rakyat. Hal ini sangat jelas dinyatakan dalam UUD 1945 pada pasal 33. Dalam UUD terdapat penjelasan apa itu Demokrasi Ekonomi. Bahkan lebih lanjut dalam penjelasannya salah satu caranya adalah menciptakan masyarakat yang mandiri untuk terlibat dalam kegiatan ekonomi lebih banyak.

Dalam Demokrasi Ekonomi harus ada pembelaan oleh negara dan atas nama negara terhadap kepentingan ekonomi rakyat banyak diatas perorangan atau kelompok. Negara berperan untuk menegakkan keadilan dalam perekonomian supaya tidak ada penindasan terhadap rakyat banyak. Setiap warga negara mempunayi hak yang sama untuk memperoleh kesejahteraan dari sumber-sumber kemakmuran yang berada dibumi, air dan kekayaan alam yang terkandung didalamnya berdasar atas asas kekeluargaan. Negara dengan segala perlengkapanya mempunyai kekuasaan untuk menjamin agar proses tersebut dapat berlangsung sebaik-baiknya (baca: Pokok-Pokok Pikiran).

Konsep Demokrasi Ekonomi yang dipelopori oleh Bung Hatta dan Sokarno ternyata mempunyai andil yang kuat dalam mewujudkan kemakmuran. Bukankah tujuan setiap negara adalah mencapai rakyat yang makmur? Maka Indonesia harus menata kembali sistem ekonominya yang berorientasi pada rakyat. Negara sebagai penyelenggara seperti yang dikatakan diatas harus berperan aktif dan memberikan akses kapada masyarakat untuk mengembangkan cara berprilaku ekonomi yang mandiri.

Dalam konsep ini juga menegaskan bahwa konsep tewujudnya negara yang rakyatnya makmur tidak begitu mementingkan pertumbuhan ekonomi secara makro. Pemikir Demokrasi Ekonomi bung Hatta sangat jelas menegaskan pentingnya pemerataan pendapatan secara nasional. Indoensia harus kembali kepada amanat UUD 1945 yang sangat memihak kepada rakyat dan kemakmuran yang akan membawa bangsa ini lebih besar dan kokoh secara ekonomi dan tentu saja mampu bersaing dengan sistem ekonomi yang berdasarkan konstitusi sendiri. Dibangun secara jelas demi kemakmuran rakyat dengan konsep pemerataan.

Maka tepatlah, apabila sila pertama Pancasila dan Pasal-29 UUD-1945 dijadikan kerangka acuan dan dimasukan sebagai bagian doktrin ekonomi dalam menyusun ekonomi Indonesia. Hanya perekonomian yang disusun berdasarkan Doktrin KeEsaan Tuhan sajalah yang mampu menjawab berbagai tantangan pembangunan untuk meningkatkan kemakmuran rakyat secara merata dan berkeadilan (Baca: Pokok-Pokok Pikiran).

Penegakan Hukum dan Pemberantasan Korupsi

Penegakan hukum yang lemah di negeri ini menjadi catatan penting lambatnya laju perekonomian. Banyaknya uang negara yang diserap pelaku korupsi adalah masalah yang kian membanyangi Indonesia. Korupsi menjadi senjata memperkaya diri sendiri atau kelompok tanpa melihat halayak ramai secara umum. Kekuasaan dijadikan sebagai payung penlindung untuk korupsi. Parahnya lagi aturan perndangan diatur sedemikian rupa supaya bisa mempunyai kesempatan korupsi.

Untuk membentuk negara yang besar dan kokoh setidaknya penegakan hukum menjadi perhatian. Hukum harus dilaksanakan sesuai dengan konstitusi negeri ini. Indonesia sudah memiliki semuanya dalam aturan untuk kemudian bisa malakukan langkah penanganan secara hukum. Hanya saja yang menjadi pertanyaan adalah bagaimana kemudian penegak hukum bisa meberikan keputusan yang independen. Tentu saja hal ini bisa terwujud dengan kebijakan politik yang bisa menguatkan terjadi.

Kebijakan Politik yang Memihak Kepada Rakyat

Dari berbagai aspek dan indikator membangun negara yang besar dan kokoh yang harus diperhatikan adalah kebijakan politik. Hal ini harus sesuai dengan kepentingan rakyat yang bertujuan terciptanya negara yang makmur rakyat sejahtera. Langkah memajukan bangsa menjadi harapan setiap negara. Namun, seringkali kebijakan ekonomi memihak pada pihak yang mempunyai modal. Indonesia yang memiliki falsafah ekonomi demokrasi sebaiknya terus dikembangkan.

Dalam konteks ini kebijakan ekonomi sangat memihak pada pemerataan yang akhirnya memberikan kemandirian dan sangat mungkin mewujudkan negara yang besar kuat secara ekonomi dan kokoh dengan berbagai permasalahan yang ada.

Maka penting kebijakan politik memperhatiakan kostitusi yang ada di negeri ini, yakni UUD-1945. Jika lebih spesifik dalam kebijakan ekonomi keberpihakan pada rakyat, yakni: pasal 33 ayat 1-3, pasal 27 ayat 2, pasal 31 ayat 1, dan psal 34. Semoga dengan pelaksanaan Demokrasi Ekonomi di negeri ini bisa segera terwujud yang memihak pada rakyat untuk sejahtera.

Penulis adalah Mahasiswa Magister Admnistrasi Publik UGM Yogyakarta.




Blog Stats

  • 3,373,338 hits

Recent Comments

Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Sejarah : Bangsa Lemuria, Lelu…