Posts Tagged ‘Moslem Wisdom

21
Nov
13

ImTaq : Perilaku Kebahagiaan Pribadi Imani (PKPI)

https://encrypted-tbn2.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcSnWPeE6nU2U6QVAVZLXhDJlWns76XjiYeK-rN8ftcQXba_bW730A

Kita sering mendengar seseorang mengatakan ingin mencari kebahagiaan.

Kalau kebahagiaan bisa dibeli , pasti orang-orang kaya akan membeli kebahagiaan ΐťų , saya tidak akan mendapat kebahagiaan karena sudah diborong oleh mεrεƙα .

Kalau kebahagiaan itu ada di suatu tempat , pasti belahan lain di bumi ini akan kosong karena semua orang akan berkumpul di mana kebahagiaan itu berada .

Untungnya kebahagiaan itu berada di dalam hati setiap manusia . Jadi kita tidak perlu membeli atau mencari kebahagiaan ΐťų . Hanya dengan hati yang bersih dan ikhlas serta fikiran yang jernih , kita bisa rasakan kebahagiaan itu kapanpun, di manapun dan dengan kondisi apapun .

Ciptakan selalu kebahagiaan di hati dan fikiran ƙίƗα dan bersyukur, maka kita akan jadi org yang beruntung.

​Kunci Kebahagiaan Milik Orang2 Yang Dapat BERSYUKUR Setiap Saat Dalam Kondisi Apapun.

“Jika kamu tidak memiliki apa yang kamu sukai, maka syukurilah dan nikmatilah apa yang kamu miliki saat ini”

Bersyukur adalah sebuah ketrampilan yg bisa di pelajari .
Bersyukur bukanlah hasil dari suatu keaadaan tertentu melainkan hasil dari sebuah gaya hidup yg dilakukan dgn sengaja (dibiasakan).

“Janganlah mengeluh karena tangan yg belum dapat menggapai Bintang, tapi bersyukurlah karena kaki yg masih dpt menginjak Bumi.” Salam sukses dan salam bahagia.selamat beaktifitas sobat2 ku.
Salam Negarawan 17845,
Pandji R Hadinoto, PKPI Nasionalis Pancasila
CaLeg DPRRI Jkt-2 (JakPus-JakSel-LN) No. 2
http://www.jakarta45.wordpress.com

13
Aug
13

Hikmah : Istiqamah Ibadah Pasca Ramadhan

Istiqamah Ibadah Pasca-Ramadhan

Senin, 12 Agustus 2013, 07:04 WIB

Komentar : -1
Warga muslim Cina tengah beribadah di dalam Masjid Niujie, Beijing, Selasa (16/7).(AP/Andy Wong)
Warga muslim Cina tengah beribadah di dalam Masjid Niujie, Beijing, Selasa (16/7).(AP/Andy Wong)

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh Dr Muhammad Hariyadi MA

Suasana hari raya Idul Fitri masih menyelimuti kita. Kebahagiaan dan kegembiraan masih lekat terasa karena setiap muslim merasakan limpahan karunia dan rahmat Allah SWT. Seandainya bukan karena kewajiban untuk masuk kerja, maka suasana tersebut masih berlangsung sebab manusia memiliki kecenderungan untuk memperpanjang masa bahagia.

Namun telah menjadi fenomena umum jika Ramadhan berlalu, maka ketaatan di dalam menjalankan ibadah dan aneka kebajikan menjadi menurun dan melemah. Jumlah jemaah shalat lima waktu dipastikan drastis menurun. Kesemarakan orang-orang dalam berinfak berkurang. Kelembutan hati dan perilaku yang memancar di bulan Ramadhan menjadi sirna.

Padahal kesemua kebiasaan baik tersebut tidak seharusnya hanya terjadi di bulan Ramadhan. Idealnya kebiasaan baik Ramadhan mampu menghiasi 11 bulan lain di luar Ramadhan, karena perintah shalat berjamaah, berinfak dan berbuat kebajikan serta bersikap lemah lembut dengan sesama manusia adalah akhlak Islam sepanjang zaman. Bahkan semua perilaku kebaikan tersebut merupakan pemberian (minhah) dari Allah SWT guna merepresentasikan diri seorang muslim sebagai hamba terpilih dan contoh yang mudah bagi manusia di sekelilingnya.

Jika kita perdetail, paling tidak terdapat empat kebiasaan (habit) kebajikan yang ditinggalkan oleh madrasah ramadhan, yaitu: puasa di siang hari, shalat sunah di malam hari, membaca Al-Qur’an di sela-sela puasa dan shalat malam, serta mensegerakan diri dalam perbuatan kebajikan. Keempat kebiasaan tersebut jika mampu diistiqamahkan di luar Ramadhan, niscaya akan menjadi akhlak kaum muslim sepanjang zaman.

Allah SWT berfirman: “Sesungguhnya orang-orang yang berkata: “Tuhan kami adalah Allah” kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat-malaikat akan turun kepada mereka (dengan berkata), “Janganlah kalian merasa takut dan bersedih hati; dan bergembiralah dengan (memperoleh) surga yang telah dijanjikan kepadamu.” (QS. Fussilat: 30).

Mengapa istiqamah dalam beribadah pasca-Ramadhan itu penting?

Pertama, karena kelanggengan memerlukan kesungguhan, ketekunan dan kesabaran. Dan ketiga unsur tersebut merupakan profil terpuji seorang muslim. Aisyah RA berkata : “Di dalam melakukan shalat, Nabi SAW menggemari untuk menunaikannya dengan langgeng, sehingga bila kantuk menguasainya atau karena sakit hingga tidak dapat bangun malam, maka beliau melaksanakan shalat di siang hari sebanyak dua belas rakaat.” (HR. Muslim).

Kedua, keistiqamahan yang panjang akan memberikan hasil yang besar dan luar biasa, tanpa tersadari secara langsung oleh pelakunya dan keistiqamahan tersebut tetap berpahala pada saat yang bersangkutan udzur sakit atau bepergian.

Rasulullah Saw bersabda: “Jika seseorang sakit atau melakukan perjalanan, maka dia akan dicatat melakukan amalan sebagaimana amalan rutin yang dia lakukan ketika bermuqim (tidak bepergian) dan dalam keadaan sehat.” (HR. Bukhari).

Ketiga, keistiqamahan menunjukkan kuatnya iman seseorang dan menjauhkan diri dari virus jenuh beramal. Rasulullah SAW bersabda: ”Setiap amal itu pasti ada masa semangatnya. Dan setiap masa semangat itu pasti ada masa futur (malasnya). Barangsiapa yang kemalasannya masih dalam sunnah (petunjuk) Nabi SAW, maka dia berada dalam petunjuk. Namun barangsiapa yang keluar dari petunjuk tersebut, sungguh dia telah menyimpang.” (HR. Tabrani).

Inilah pentingnya Istiqamah ibadah di luar Ramadhan yang dengannya sesungguhnya setiap pribadi sedang menapaki jalan orang-orang saleh yang akan membimbingnya pada penghapusan dosa dan lebih mendekatkannya kepada Allah SWT.

Wallahu A’lam.

Redaktur : Heri Ruslan
3.694 reads

Terasa Nikmatnya

Selasa, 13 Agustus 2013, 00:31 WIB
Republika/ Yasin Habibi
Beribadah di Bulan Ramadhan
Beribadah di Bulan Ramadhan

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Ustaz Hasan Basri Tanjung MA*

Suatu ketika Aisyah Ra. bercerita, ia melihat Nabi SAW. qiyamullail dengan khusyu’. Ketika terbangun, Nabi masih shalat. Lalu ia tidur dan terbangun lagi, ternyata Nabi SAW masih shalat hingga bengkak kakinya.

Begitu selesai, Aisyah bertanya : ”Untuk apa engkau melakukan ini ya, Rasulullah ? Padahal telah diampuni dosa-dosamu yang lampau dan yang akan datang?” Nabi SAW menjawab dengan tawadhu’ : ”afalaa akuuna ’abdan syakura” (Tak sepatutnyakah aku menjadi hamba yang pandai bersyukur?). (HR. Muttafaq ’alaih).

Dalam al-Qur’an, ungkapan ’abdan syakura (hamba yang bersyukur), ditemukan dalam surat al-Isra ayat 3 yang ditujukan kepada Nabi Nuh as.

Nabi Sulaiman yang kaya raya dan berkuasa, juga selalu berdoa agar diberikan rasa syukur (QS.27:19).  Orang yang bisa merasakan nikmatnya karunia itu hanyalah orang-orang yang bersyukur, yakni orang-orang baik. Baik hati, pikiran, ucapan dan lakunya.

Dengan rasa syukur itu pula, Allah terus menambahkan karunia baginya (QS. 14:7-8,27:40,31:12). Sepatutnya kita  bersyukur (QS. 28:73,39:66,45:12), namun kebanyakan tidak pandai bersyukur (QS.2;243,40:61), dan sedikit yang bersyukur (QS.7:10,32:9,34:13,67:23).  Kiranya kita menjadi yang sedikit itu.

Abu Hurairah Ra, meriwayatkan Nabi SAW bersabda : ”… dan bagi orang yang berpuasa itu akan beroleh dua kegembiraan. Di kala berbuka, ia bergembira dengan berbuka itu dan di saat ia menemui Tuhannya nanti, ia akan gembira karena puasanya itu.” (HR. Ahmad dan Muslim).

Beranjak dari Hadis tersebut maka ibadah dan amal saleh akan menghantarkan kita untuk meraih tiga kenikmatan yakni: Pertama : Nikmat Material.

Dalam Hadis di atas, kata fariha bi fitrihi bermakna gembira di saat berbuka puasa setelah matahari terbenam.  Terasa nikmatnya segelas air teh  dan sesuap nasi. Minum yang paling nikmat ketika haus dan makan yang paling nikmat di saat lapar.

Selain itu, makan bersama orang lapar, baik lapar karena puasa maupun orang yang kelaparan (fakir miskin). Makan dan minumlah tapi jangan berlebihan (QS.7:31). Kelak di Hari Kiamat pun kita diberikan makan dan minuman yang enak (QS.52:19,69:24,77:43).

Nikmat material berkaitan tubuh (fisik) dan indikasinya jelas yakni  enak makan, buang air/angin, tidur, hubungan suami istri. Jika hal ini terasa nikmat maka badan akan sehat. Sehat itu nikmat sekali.

Oleh karena itu, selesai menikmatinya, mestinya berdoa ”alhamdulillah...”. Tentu nikmat pula punya harta banyak, kendaraan mewah, perhiasan, sawah ladang dan seterus sebagai perhiasan dunia (QS.,3:14).

Kedua : Nikmat Sosial. Selain dimaknai dengan berbuka puasa, fariha bi fitrihi diartikan pula dengan gembira di saat Hari Raya Idul Fitri. Nikmat berkumpul dengan orang tua, sanak famili dan handai taulan (silaturrahim).

Kebersamaan ketika sahur, berbuka, Shalat Taraweh dan tadarus al-Qur’an bersama keluarga. Buka puasa bersama (ifthar jama’i) dengan yatim dhuafa dan asatidz disertai dengan pemberian bingkisan.

Nikmat berbagi, bahagia memberi. Shalat Ied di pagi hari yang sejuk dan syahdu dengan lantunan takbir yang mendayu-dayu. Setelahnya, saling bersalaman dan berpelukan sebagai tanda pemaafan. Duduk bersama keluarga untuk introsfeksi diri dan saling memaafkan.

Mudik ke kampung dengan berbagai cara dilakukan, biaya seadanya, perjalanan yang melelahkan, tidur tak sempat, musibah mengancam, bahkan tidak sedikit yang mudik ke kampung asal. 

Bersimpuh, mencium tangan dan memeluk orang tua yang mulai renta, memohon maaf dan ridhanya.  Rasa lelah menempuh perjalanan panjang tak dirasakan lagi, tinggal nikmatnya.

Ketiga : Nikmat Spritual. Nabi SAW adalah hamba yang pandai bersyukur.  Padahal, Allah sudah memberikan privillage (hak istimewa) yakni ma’shum (terjaga atau terampuni dari dosa).

Nikmat spritual adalah nikmat iman dan islam. Kita akan kehilangan nikmat material dan sosial, tapi jangan kehilangan nikmat spritual. Nikmat dan senang  beribadah dan beramal saleh.

Kedua nikmat sebelumnya itu bersifat nisbi dan sesaat, tapi nikmat spritual itu hakiki, mutlak hingga Akhirat. Dalam shalat, kita berdoa agar ditunjuki jalan yang lurus, yakni jalan orang-orang yang telah diberi nikmat (QS.1:6-7). Yakni para Nabi, as-Shiddiqin, As-Syuhada wa Ash-Shalihin (QS.4:69).

Beribadah karena rasa syukur dan cinta kepada Allah. Terasa nikmatnya beribadah itu seakan hati dilanda cinta asmara. Ingin selalu dekat dan berlama-lama dengan sang kekasih, dengan rasa syahdu dan rindu.

Mengabdi kepada Allah, bukan hanya karena takut neraka dan mengharap surga, tapi karena cinta.  Mengharap kehidupan akhirat yang surgawi (QS.3:15) dan bertemu Allah kelak (fariha ’inda liqoi robbihi). Bagi yang berpuasa, Allah telah siapkan satu pintu khusus yakni ar-Rayyan (HR. Bukhari Muslim).

Kenikmatan material itu hanya jalan untuk meraih kenikmatan sosial. Orang yang terjebak dengan nikmat material itu laksana binatang piaraan. Nikmat material dan sosial itu sementara dan akan sirna. Kita akan ditinggalkan atau kita yang meninggalkannya.

Oleh karena itu, nikmat spritual harus diraih. Walau pun kita tak punya materi yang banyak dan keluarga yang mendampingi lagi, tapi kita punya Allah yang akan menyertai setiap langkah, ke mana, di mana dan kapan pun. Allah yang patut menjadi sandaran, gantungan dan tujuan hidup kita. Allahu a’lam bish-shawab.

*Ketua Yayasan Dinamika Umat dan dosen Unida Bogor

Redaktur : Damanhuri Zuhri
13
Aug
13

Hikmah : Mengapa Muslimah Harus Berjilbab ?

Mengapa Muslimah Harus Berhijab?

Selasa, 13 Agustus 2013, 13:04 WIB
Rakhmawaty La’lang
Para muslimah berhijab
Para muslimah berhijab

REPUBLIKA.CO.ID, Hijab secara harfiah artinya tabir, tirai, atau dinding. Di dalam syariat Islam bermakna perlindungan wanita dari pandangan laki-laki yang bukan muhrimnya. Rasulullah SAW telah menerangkan bahwa wanita ialah aurat yang mesti dilindungi. Di dalam kehidupan sehari-hari, perwujudan dari perlindungan itu dapat berupa pemakaian jilbab.

Keharusan kaum wanita memakai jilbab tertera dalam surat an-Nur ayat 31, ”Katakanlah kepada wanita yang beriman, hendaklah mereka menahan pandangannya dan memelihara kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya kecuali yang (biasa) tampak dari padanya. Dan, hendaklah mereka menutupkan kain kudung sampai ke dadanya dan janganlah menampakkan perhiasannya, kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putra-putra mereka, putra-putra suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, putra-putra saudara laki-laki mereka, atau putra-putra saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita Islam, atau budak-budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita), atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita.”

Menurut pakar tafsir, Dr Mukhlis Hanafi, ayat di atas bersifat umum. Berlaku tidak hanya pada masa Nabi Muhammad SAW, tetapi juga bagi seluruh umat Muslim di mana pun dan sampai kapan pun. ”Ayat itu jelas bersifat umum. Itu sudah menjadi kesepakatan banyak ulama. Yang menjadi perbedaan pendapat para ulama adalah batas-batas penutupan aurat,” tuturnya.

”Para ulama dari Arab Saudi memandang bahwa penutupan aurat mencakup seluruh badan, termasuk wajah. Ulama lain berpendapat yang ditutupi seluruh badan kecuali muka dan telapak tangan. Sedangkan ulama bermazhab Hanafi lebih longgar lagi. Mereka membolehkan membuka anggota badan hingga di atas mata kaki dan lengan tangan,” terangnya.

Ketentuan menjaga aurat ini juga tercantum dalam surat al-Ahzab ayat 59 yang artinya sebagai berikut, ”Hai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang Mukmin, hendaklah mereka menutup kepala dan badan mereka dengan jilbabnya supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu. Dan, Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”

Redaktur : Endah Hapsari
2.932 reads
Berita Terkait:

Pilihlah Laki-Laki Seperti Ini untuk Jadi Suami

Senin, 12 Agustus 2013, 11:58 WIB

WordPress.com
Pasangarn suami istri (ilustrasi).
Pasangarn suami istri (ilustrasi).

REPUBLIKA.CO.ID, Masalah pernikahan mendapat perhatian yang sangat khusus dalam ajaran Islam.  Sebelum menikah, seorang Muslimah dianjurkan untuk memperhatikan kriteria dan kualitas calon suami yang akan menjadi pendamping hidupnya hingga akhir hayat.

Umar bin Khatthab RA seperti dikutip dalam kitab Makarim al-Akhlaq, mengajarkan kaum Muslimah agar memperhatikan kriteria laki-laki calon suaminya. Menurut Umar, kriteria laki-laki secara umum terbagi ke dalam tiga golongan.

Pertama, laki-laki yang menjaga diri, lemah lembut, cepat berpikir, dan memiliki keputusan yang tepat. Kedua, laki-laki yang ketika dihadapkan pada satu persoalan akan pergi pada orang yang ahli untuk meminta nasihat dan masukan. Dan ketiga, laki-laki yang selalu bingung, tidak pintar, dan enggan mendengarkan pendapat orang lain.

Tidak semua Muslimah mendapatkan jodoh terbaik seperti dijelaskan Umar pada kriteria pertama. Karenanya, para ulama menjelaskan prinsip-prinsip utama menentukan calon suami sebelum mengarungi bahtera rumah tangga. Suatu ketika Imam Hasan bin Ali ditanya oleh seseorang, Saya mempunyai seorang anak gadis. Menurut tuan, dengan siapakah sebaiknya ia saya nikahkan?

Nikahkanlah dengan laki-laki yang bertakwa kepada Allah, jawab Imam Hasan. Kalau laki-laki itu mencintai anakmu, ia akan memuliakannya, dan kalau tidak mencintainya, ia tidak akan menganiayanya, imbuh Imam Hasan.

Apa yang dikatakan oleh Imam Hasan itu merupakan pedoman bagi seorang wali dan seorang gadis untuk memilih calon suami yang tepat. Bahwa seorang suami haruslah sosok yang beriman kepada Allah SWT dan berakhlak mulia.

Di samping itu, para ulama juga menguraikan konsep kufu’. Umumnya, kufu’ diartikan kesepadanan antara suami dan istri, baik status sosialnya, nasabnya, hartanya, ilmunya, dan imannya. Akan tetapi sekelompok ulama berpandangan, unsur kufu’ yang terpenting adalah iman dan akhlak; bukan nasab, harta, dan lainnya.

Hal itu didasarkan pada firman Allah, Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan perempuan, dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu adalah orang yang paling bertakwa di antara kamu. (QS al-Hujurat [49]: 13).

Ayat itu menegaskan persamaan semua manusia. Tidak seorang pun yang lebih mulia dari yang lain kecuali karena ketakwaannya. Itu ditunjukkan dengan menjalankan kewajiban-kewajibannya kepada Allah dan kepada sesama manusia.

Reporter : Wachidah Handasah
Redaktur : Endah Hapsari
5.520 reads
Berita Terkait:

Jika Muslimah Enggan Berhijab

Selasa, 13 Agustus 2013, 15:07 WIB
Antara
Muslimah elegan/ilustrasi
Muslimah elegan/ilustrasi

REPUBLIKA.CO.ID, Meski jilbab secara jelas disyariatkan oleh agama, banyak kaum Muslimah yang masih enggan menjalankan perintah itu. Di antara mereka ada yang menyatakan bahwa kewajiban menggunakan jilbab hanya berlaku bagi kaum Muslimah pada zaman dahulu, bukan untuk di zaman sekarang. Bahkan, tidak sedikit di antara mereka yang menilai pemakaian jilbab dapat membatasi pergaulan dan mengganggu aktivitas.

Dalam pandangan pakar tafsir, Dr Mukhlis Hanafi, apa pun alasan yang diajukan seorang Muslimah untuk tidak mengenakan jilbab, tidaklah dapat diterima. ”Nas-nas Alquran secara terang menjelaskan, menutup aurat itu wajib hukumnya. Dengan demikian, Muslimah yang enggan memakai jilbab berarti telah melanggar syariat. Adapun di balik itu misalnya ada alasan sosial atau yang lain, sudah menjadi hak prerogatif Allah untuk menentukannya. Apakah akan diberi hukuman atau ampunan,” katanya.

Secara sosial, mengenakan jilbab menjadi penting mengingat persinggungan antara kaum laki-laki dan perempuan sangat intensif. Berkaitan dengan pilihan-pilihan berjilbab, Mukhlis menuturkan, siapa pun bebas memilih bentuk-bentuk jilbab. Mau yang modis atau tidak modis, terserah. Yang penting adalah menutup aurat. Yang dikedepankan oleh Islam adalah substansi, bukan simbol.

Dalam sebuah dinamika hidup yang semakin terbuka ini, Abidah Muflihati, ketua umum Pimpinan Pusat (PP) Nasyiatul Aisyiyah, menyayangkan kurang adanya korelasi positif antara perilaku Muslimah dan simbol pakaian yang dikenakan, jilbab. ”Secara ideal, orang yang berjilbab itu perilakunya juga baik. Dengan berperilaku baik, prinsip-prinsip agama tidak dijalankan setengah-setengah. Nilai dan simbolnya harus dijalankan sepenuhnya,” tuturnya.

Dengan semakin banyaknya produk jilbab sekarang ini, jelas Abidah, di satu sisi ada Muslimah yang mencerminkan semangat keislamannya naik. Tetapi, di sisi lain, ada juga Muslimah yang berjilbab hanya untuk memenuhi tuntutan mode. Prinsip-prinsip berjilbab dengan benar tidak diperhatikan.

”Tidak etis kalau memakai jilbab, tetapi pakaiannya ketat, atau kelihatan sebagian tubuhnya yang seharusnya wajib ditutupi. Padahal, kalau berjilbab dengan komitmen yang baik akan menimbulkan efek positif bagi kehidupan sosial, begitu juga sebaliknya,” paparnya.

Dengan demikian, komitmen dan kesadaran berjilbab adalah unsur penting yang harus disadari oleh para Muslimah. Tujuan utama syariat Islam mewajibkan jilbab adalah adalah untuk menjaga kehormatan kaum Muslimah sebagai hamba Allah yang mulia di mata-Nya dan manusia seluruhnya.

Redaktur : Endah Hapsari 
08
Jul
13

ImTag : Sebab Perbedaan Penetapan Ramadan

Ini Sebab Perbedaan Penetapan Ramadan

TEMPO.CO, Jakarta – Dosen Program Studi Astronomi Institut Teknologi Bandung Hakim L. Malasan mengatakan perbedaan penetapan tanggal satu Ramadan oleh beberapa kelompok muslim disebabkan perbedaan penetapan kriteria. Mereka, kata dia, masing-masing menggunakan metode yang telah digunakan sejak lama. “Tiap kelompok memiliki perbedaan metode,” kata Hakim saat dihubungi, Ahad, 7 Juli 2013.

Salah satunya, kata Hakim, pengikut Tarekat Naqsabandiyah di Sumatera Barat yang mulai berpuasa Ramadhan 1434 Hijriah hari ini. Hakim menjelaskan Tarekat menggunakan perhitungan berdasarkan pasang surut air laut yang dipengaruhi oleh gravitasi bulan. Menurutnya, metode ini kurang dapat diandalkan lantaran pasang surut air laut bersifat situasional.

Pergantian bulan baru, kata Hakim, memang ditandai oleh pasang surut air laut namun tanda-tanda itu tidak selalu dapat dilihat oleh mata telanjang karena adanya beberapa faktor. Faktor itu, kata dia, di antaranya bentuk geologis laut dan arus bawah laut.

Sekretaris Naqsabandiyah Sumatera Barat, Edison, mengatakan penetapan ini menggunakan perhitungan metode hisab munjid atau melalui penanggalan yang sudah dilakukan turun-temurun. Metode ini dilakukan dengan cara menghitung 360 hari dari puasa tahun lalu. Tahun lalu, mereka puasa pada hari Rabu. Untuk penghitungannya, puasa tahun ini dimulai 5 hari setelah Rabu dan jatuhnya hari ini.

Sedangkan Majelis Ulama Indonesia yang menggunakan metode imkanur rukyat, kata Hakim, melihat ketinggian bulan di atas cakrawala harus berada minimum dua derajat pada saat matahari terbenam. Sehingga, kata dia, jika puasa dimulai pada Rabu, wujudul hilal akan terlihat pada hari Selasa,” kata Hakim.

Lain halnya dengan metode yang dilakukan oleh warga Muhammadiyah yang menggunakan metode wujudul hilal. Hakim mengatakan penetapan Ramadan bagi warga Muhammadiyah dilakukan walaupun ketinggian bulan di atas cakrawala belum mencapai dua derajat.

Hari ini, ribuan pengikut Tarekat Naqsabandiyah di Sumatera Barat sudah mulai berpuasa Ramadan 1434 Hijriah.

LINDA HAIRANI

Terhangat:

Karya Penemu Muda| Bursa Capres 2014| Ribut Kabut Asap |Tarif Progresif KRL| Bencana Aceh

Baca Juga:

Sopir Bus Kembali Blokir Tol Jagorawi

Rilis Lagu PKS, Sefti Sanustika: Saya Cari Nafkah

Tasikmalaya Resmi Buka Sekolah Penerbangan

Istri Ultah, SBY Kasih Selamat Via Twitter

Demokrat: Facebook SBY Bukan Strategi Politik

Berita Lainnya

Puasa Ramadhan pada 1434 H ini bermula pada:

Minggu, 7 Juli, bagi warga Naqsyabandi di Sumatra Barat.
Senin, 8 Juli, bagi warga Samanniyah di Sumatra Barat dengan patokan purnama bulan Sya’ban pada 15 hari yang lalu.
Selasa, 9 Juli warga Muhammadiyah, warga penganut Asapon, dan yang bersesuaian dengannya besok sudah mulai berpuasa.
Rabu, 10 Juli warga yang mengikuti pemerintah dan yang bersesuaian dengannya, akan berpuasa.
Kamis, 11 Juli warga yang mengikuti Aboge akan berpuasa.
Ya, memang untuk berpuasa itu kalau zaman Nabi tidak untuk menyulitkan pengikut Nabi Muhammad. Oleh karena itu di dalam Alquran 2:185 disebutkan: “Yuriidullaahu bi kum al-yusra wa laa yuriidu bi kum al-‘usra.” Allah menghendaki kalian dalam kemudahan dan Dia tidak menghendaki kalian dalam kesukaran.
Yang menjadi persoalan, ajaran agama yang mudah ini dipersulit melalui kekuasaan. Dan, kekuasaan memerlukan kebakuan dalam operasionalnya. Oleh karena itu, muncul berbagai cara untuk “syahida min kum al-syahra” (di antara kalian yang hadir di syahar, bukan di bulan). Akibatnya, awal Ramadhan dikaitkan rembulan dan bukan “syahr” lagi, dan akhirnya awal Ramadhan bisa berselang hingga 5 hari.
Kalau kita kembali ke khitthah, maka puasa dimulai ketika kita “syahida syahra” bukan “syahida qamrata” (menyaksikan rembulan). Semula masa dalam setahun itu dikaitkan dengan matahari (Jawa: sasi). Oleh sebab itu, kata Ramadhan berarti sasi atau 1/12 tahun yang paling panas dalam sehari-harinya. Hal ini terjadinya antara pertengahan Juli hingga pertengahan September dalam setiap tahunnya. Dan, tanda mulainya adalah purnama, maka dikatakan “syahr” yang artinya terang alias mudah dikenali. Makanya orang yang terkenal disebut “masyhur”.
Nah, kalau ulama Islam independen, dan tak terkait dengan kekuasaan, maka ulama pasti berani mengembalikan awal puasa itu “syahr” dan bukan “qamrah”.
Suwun,
Chodjim
27
Jun
13

Hikmah : Biblioterapi

Biblioterapi

Kamis, 27 Juni 2013, 10:26 WIB

Komentar : 0
wordpress.com
Kitab Suci Alquran (ilustrasi).
Kitab Suci Alquran (ilustrasi).

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Muhbib Abdul Wahab

Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang Menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Paling Pemurah.” (QS Al-Alaq [96]: 1-3).

Hanya Islam, satu-satunya agama di dunia ini, yang perintah pertamanya adalah membaca.  Dalam bahasa Arab, kata iqra  mengandung arti: menghimpun (informasi, data, pengetahuan, wawasan), meneliti, memahami, menganalisis, membaca, dan memaknai.

Karena itu, perintah tersebut tidak harus dimaknai hanya sekadar membaca (melafalkan simbol-simbol bunyi dalam bentuk tulisan), melainkan harus dipahami dalam makna generiknya yang luas tersebut.

Dengan demikian, perintah iqra’ berarti juga perintah meneliti, mengembangkan sains dan teknologi, serta mengkaji dan memahami persoalan secara akademik-ilmiah.

Membaca adalah sendi tegaknya kehidupan dan peradaban manusia. Membaca tidak hanya bermanfaat bagi siapapun yang haus informasi, tetapi kini juga dapat difungsikan sebagai terapi (pengobatan).

Iqra’ bukan hanya menjadi terapi kebodohan, tetapi juga terapi berbagai penyakit, terutama psikosomatik. Di beberapa negara seperti Amerika Serikat, Eropa, dan Mesir, kini sedang dikembangkan terapi dengan membaca (al-‘ilaj bil qira’ah) atau biblioterapi.

Di Florida Amerika Serikat, pernah dilakukan ujicoba penggunaan bacaan Al-Qur’an terhadap lima sukarelawan nonmuslim dalam proses terapi penyakit mereka.

Riset eksperimen itu membuktikan bahwa 97 persen bacaan Alquran dapat menormalkan fungsi-fungsi syaraf dan menurunkan ketegangan jiwa, membuat suasana hati menjadi lebih rileks, meskipun mereka tidak memahami bahasa Arab (isi Alquran), apalagi jika mereka memahami kandungan dan pesannya.

Biblioterpi sebenarnya sudah dimulai pada abad ketiga belas di rumah sakit al-Manshur di Kairo. Selain diberi obat yang sesuai dengan jenis penyakitnya, para pasien saat itu juga diberi terapi berupa bacaan ayat-ayat Alquran.

Hasilnya sangat positif; selain memberi sugesti positif, mereka merasakan kedamaian hati, sehingga memperoleh kesembuhan yang lebih cepat.

Biblioterapi di beberapa rumah sakit di Eropa juga dikembangkan dalam bentuk musik. Pasien dibuat rileks dengan mendengar musik-musik religius, sehingga beban psikologis berupa rasa sakit berkurang.

Dalam karyanya, al-‘Ilaj bi al-Qira’ah (terapi dengan membaca), Dr. Sya’ban Khalifah menyatakan rumah-rumah sakit Islam sudah saatnya mengembangkan biblioterapi sebagai bagian dari proses penyembuhan berbagai penyakit, terutama penyakit jiwa.

Selain diberi bacaan religius yang perlu dibaca sebelum maupun sesudah proses pengobatan, kepada para pasien perlu diperdengarkan secara periodik alunan ayat-ayat Alquran.

Dokter dalam hal berperan penting untuk membuat pasien merasa yakin (iman) bahwa ayat-ayat yang didengar atau dibaca sendiri secara langsung dapat membantu proses terapi.

Biblioterapi, menurut Sya’ban Khalifah, memang sesuai dengan firman Allah: “Dan Kami turunkan Al-Qur’an suatu yang menjadi penawar (obat) dan rahmat bagi orang-orang yang beriman...” (QS Al-Isra’ [17]: 82).

Dalam konteks ini, Umar bin al-Khaththab pernah menyatakan: “Siapa yang tidak berterapi dengan Alquran, maka Allah tidak akan memberi kesembuhan. Dan siapa yang tidak merasa cukup dengan Alquran, maka Allah tidak akan memberikan kecukupan kepadanya.

Jadi, selama dikaitkan dengan nama Allah (bismi rabbik), membaca itu ternyata tidak hanya baik untuk mencerdaskan umat, tetapi juga menyembuhkan aneka penyakit, termasuk penyakit korupsi.

Calon koruptor boleh jadi mengurungkan niatnya untuk korupsi, jika di tempat kerjanya dibacakan ayat-ayat suci yang menjelaskan hukuman potong tangan bagi pencuri dan ayat-ayat lainnya yang membuat spiritualitas dan moralitas mereka mampu meredam syahwat korupsi. Wallahua’lam bish shawab!

Alquran Bagi Calon Legislatif

Rabu, 26 Juni 2013, 13:29 WIB

Komentar : 0
wordpress.com
Kitab Suci Alquran (ilustrasi).
Kitab Suci Alquran (ilustrasi).

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh Teuku Zulkhairi*

Dalam sebuah hadis, Rasulullah SAW mengingatkan, “Telah kutinggalkan untuk kalian dua perkara yang selama kalian berpegang teguh dengan keduanya, kalian tidak akan tersesat selama-lama, kedua perkara tersebut adalah Kitabullah (Alquran) dan sunahku.” (HR Hakim dan Daruquthni).

Sebagai umat Islam, bagi kita Alquran adalah kitab suci yang harus kita jadikan sebagai pegangan hidup. Alquran adalah masdarul hayah. Alquran memberi petunjuk atas apa pun persoalan yang dihadapi umat Islam selama hidupnya.

Tentu saja, termasuk dalam ranah negara di era demokrasi dengan trias politica-nya, yakni legislatif, eksekutif, dan yudikatif. Dalam Islam, kenestapaan yang mendera bangsa kita saat ini terjadi karena Alquran sudah demikian jauh ditinggalkan oleh pelaksana ketiga lembaga negara itu.

Alquran menjelaskan, beragam petunjuk dan pedoman hidup bagi manusia. Tak hanya umat Islam tapi seluruh manusia. Misalnya, Alquran sebagai yang menerangkan dan menjelaskan (QS [16]:89), Alquran sebagai kebenaran mutlak (Al-Haq) (QS [2]: 91), Alquran sebagai Furqan (pembeda antara hak dan yang batil, baik dan buruk), Alquran sebagai obat penyakit (jiwa) (QS [10]: 57), pemberi kabar gembira, sebagai hidayah atau petunjuk (QS [2]: 2), sebagai peringatan, sebagai cahaya petunjuk (QS [42]: 52), sebagai pedoman hidup (QS [45]: 20), dan sebagai pelajaran.

Fungsi legislatif
Maka, bagi seorang calon anggota legislatif (caleg) yang jika kelak terpilih sebagai anggota legislatif, khususnya para legislator Muslim, ada kewajiban besar untuk menjadikan Alquran sebagai sumber pijakan dalam menjalankan amanah rakyat, sekaligus petunjuk jalan kehidupan.

Patut diingat, tugas mengimplementasikan kandungan Alquran bukan hanya diemban oleh anggota legislatif yang berasal dari partai politik berbasis massa Islam, tapi juga bagi setiap kader parpol yang beragama Islam. Sebagai Muslim, sudah sewajarnya menjalankan ajaran Alquran dan sunah Rasulullah dalam segala aspek kehidupan.

Terkait fungsi legislatif, masyarakat manapun bisa mengkaji apa fungsi sebuah lembaga legislatif karena memang untuk memahaminya tidak terlalu sulit. Sebagaimana dijelaskan Ali Moertopo (1974), ada tiga tugas pokok sebuah lembaga legislatif.

Pertama, fungsi di bidang legislasi, bersama-sama dengan pemerintah menentukan pokok-pokok kebijakan pemerintahan melalui perundang-undangan. Kedua, fungsi bidang anggaran (budgetting), menentukan anggaran belanja dan penerimaan negara bersama dengan pemerintah untuk melaksanakan kebijaksanaan yang disetujui bersama. Ketiga, fungsi bidang pengawasan, melalui komisi-komisi pengawasan terhadap pemerintah dengan mempunyai hak bertanya, angket, dan lain-lain.

Fungsi Alquran bagi Legislatif
Fungsi Alquran bagi anggota legislatif sebenarnya sama juga dengan fungsi Alquran bagi kategori umat Islam lainnya. Alquran adalah petunjuk hidup, solusi atas berbagai persoalan umat manusia.

Jika dikaitkan dengan fungsi dan wewenang lembaga legislatif yang terangkum dalam tiga fungsi utama seperti disebutkan di atas, maka seharusnya Alquran menjadi petunjuk dalam setiap kebijakan legislasi, prosesi penentuan anggaran dan petunjuk utama dalam melakukan pengawasan penggunaan anggaran dan kinerja pemerintah dengan segenap kabinetnya.

Dengan menjadikan Alquran sebagai petunjuk dalam proses legislasi, budgeting dan pengawasan, maka kita yakin negeri ini akan semakin berkah dan diridhai Allah. Setiap produk Undang-undang pasti di sana akan dipenuhi pesan-pesan langit yang menyeru kepada rahmatan lil alamin, bukan hanya menjadi berkah bagi jaringan dan kelompok tertentu.

Setiap proses penentuan budgeting, kita yakin anggaran akan sepenuhnya diperuntukkan bagi kepentingan masyarakat serta sepenuhnya benar dalam perspektif Islam, benar secara syari’i dan secara politik serta tidak ada KKN lagi di sana.

Begitu juga, pengawasan yang dilakukan oleh lembaga legislatif akan memiliki patron yang jelas yang akan menyelamatkan kita semua di dunia dan di akhirat. Dan yang lebih penting, Alquran menjelaskan, apa pun pekerjaan manusia akan selalu berada dalam pengawasan sang pencipta, Allah SWT.

Melihat realitas kehancuran hari ini dan harapan kita di hari esok, kita berharap negeri ini mampu memelopori terobosan-terobosan baru dalam seleksi kepemimpinan. Pemilu ke depan, kita berharap para bacaleg Muslim mampu membaca Alquran, memahami, menerjemahkan, dan mengimplementasikan isinya dalam kehidupan pribadi dan juga dalam bentuk produk legislasi.

Kita berharap, suatu hari nanti lembaga legislatif kita diisi oleh para penghafal Alquran yang selalu ber-mulazamah dengan Alquran. Selain itu, hatinya juga selalu terpaut dengan masjid sehingga dengan itu akan memudahkan tugasnya sebagai seorang anggota legislatif.

Dengan model legislatif seperti ini, tentu kita yakin dengan cita-cita. Kita yakin, 10 atau 20 tahun mendatang, lembaga legislatif kita pasti akan berpihak sepenuhnya untuk kesejahteraan rakyat. Dan yang lebih penting, posisi Alquran bisa dikembali pada posisi idealnya.

Sebelum hal itu terwujud, kita berharap legislator Muslim saat ini dan yang akan terpilih di Pileg 2014 agar terus mengkaji pesan-pesan Alquran dan hadis untuk menjalankan semua tugasnya di lembaga legislatif. Saya yakin tidak sulit jika ada kesungguhan.

*Alumnus Pascasarjana IAIN Ar-Raniry Banda Aceh

Redaktur : Heri Ruslan
3.927 reads
Berita Terkait:
Kejujuran (ilustrasi).
06
Jun
13

Hikmah : lima tiket menuju surga

Lima Tiket Menuju Surga, Anda Berminat?

Sunday, 02 June 2013, 06:46 WIB


REPUBLIKA
Berdoa (Ilustrasi)
Berdoa (Ilustrasi)

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh M Husnaini
(Penulis Buku “Keadilan Tuhan dalam Tulisan”)

Segala kenikmatan di surga tentu tidak gratis. Ibarat tempat wisata, untuk masuk ke dalamnya diperlukan tiket. Siapa tidak mengantongi tiket harus rela mundur.

Surga merupakan tempat di akhirat yang dijanjikan Allah bagi orang-orang beriman. Kehidupan surga penuh keselamatan, kebahagiaan, dan kemuliaan. Masyarakat dalam surga mendapatkan kenikmatan yang tidak pernah mereka rasakan di dunia. “Para penghuni surga pada hari itu paling baik tempat tinggalnya dan paling indah tempat istirahatnya” (QS Al-Furqan: 24).

Masyarakat surga mengenakan pakaian berwarna hijau, terbuat dari sutra halus dan tebal (QS Al-Kahfi: 31). Perhiasan mereka berupa gelang-gelang emas dan mutiara (QS Al-Haj: 23). Mereka bertelekan pada bantal-bantal hijau dan permadani-permadani yang indah (QS Ar-Rahman: 74-76).

Bahkan, menurut keterangan Rasulullah yang dituturkan Muslim, masyarakat surga tidak buang air kecil maupun air besar. Tidak meludah dan beringus. Keringat mereka berupa minyak kesturi. Mereka selalu muda, bersih, halus, tidak berambut kecuali pada kepala dan bulu mata. Tinggi badan mereka setinggi Nabi Adam, yakni 60 hasta dan seusia Nabi Isa, yakni 33 tahun.

Mereka memperoleh segala yang diinginkan (QS Al-Furqan: 16). Tidak berduka, lelah, apalagi lesu (QS Fathir: 34-35). Setiap hari selalu riang gembira (QS Yasin: 56-57). Karena dikelilingi anak-anak muda yang siap melayani. Wajah mereka bagai mutiara tersimpan (QS At-Thur: 24). Juga disediakan pendamping yang lebih sempurna dari pendamping mereka di dunia. Para pria beristrikan bidadari-bidadari cantik dan bermata indah (QS At-Thur: 20). Rumah tangga mereka selalu rukun dan memuji Allah sepanjang pagi dan petang.

Fasilitas dalam surga juga serba lengkap dan istimewa. Piring-piring terbuat dari emas (QS Az-Zukhruf: 71), bejana dan gelas dari perak (QS Al-Insan: 15-16). Ada pohon bidara tidak berduri dan pohon pisang yang bersusun-susun buahnya (QS Al-Waqiah: 27-34), kebun-kebun dan buah anggur (QS An-Naba’: 31-34).

Semua buah-buahan itu mudah dipetik (QS Al-Insan: 4). Juga ada minuman jahe (QS Al-Insan: 17), aneka daging yang lezat (QS At-Thur: 22), minuman keras yang tidak memabukkan (QS As-Shaffat: 45-47), dan sungai susu, madu, arak, serta bermacam buah-buahan lain (QS Muhammad: 15).

Segala kenikmatan di surga tentu tidak gratis. Ibarat tempat wisata, untuk masuk ke dalamnya diperlukan tiket. Siapa tidak mengantongi tiket harus rela mundur. Berikut lima kebaikan untuk mendapatkan tiket itu. Pertama, mencegah diri dari kemaksiatan.

Sepele, tetapi dalam praktiknya sangat tidak mudah. Sering kita mampu melanggengkan ibadah, tetapi gagal menanggalkan kemaksiatan. Boleh dikata, tidak bermaksiat rasanya lebih berat ketimbang taat. Karena itu, Allah berfirman, “Dan menahan diri dari dorongan nafsu, maka sungguh surga tempat tinggalnya” (QS An-Naziat: 40-41).

Kedua, siap hidup sederhana. Kelemahan utama manusia adalah mudah tergiur oleh kesenangan sesaat dengan mengorbankan kebahagiaan abadi. Melihat kekayaan Qarun, orang-orang yang gila harta berseru, “Amboi, andai kita memiliki seperti apa yang diberikan kepada Qarun. Sungguh ia mempunyai keuntungan yang besar (QS Al-Qashash: 79). Padahal Rasulullah berkisah, “Saya berdiri di pintu surga, sebagian besar yang memasukinya adalah orang-orang miskin. Orang-orang kaya ditahan dulu” (HR Bukhari dan Muslim).

Ketiga, gemar mengerjakan ketaatan kepada Allah. Umat Islam adalah umat yang dididik untuk taat kepada aturan. “Sungguh Allah menetapkan hukum-hukum menurut yang dikehendaki-Nya” (QS Al-Maidah: 1). Islam disebut sebagai ‘din’, yang artinya sistem ketundukan atau kepatuhan. Masyarakatnya disebut ‘madinah’, artinya suatu tempat yang kehidupannya teratur, karena orang-orangnya tunduk dan patuh kepada aturan. Mereka diganjar oleh Allah dengan surga. “Dan itulah surga yang diwariskan kepadamu, karena amal yang dahulu kamu kerjakan” (QS Al-A’raf: 43).

Keempat, mencintai orang-orang saleh. Dunia ini hancur karena adanya orang-orang jahat yang merasa berbuat baik. Hatinya bukan lagi nurani tetapi sudah zulmani. Rugilah bergaul dengan orang-orang demikian. Orang-orang saleh akan memberikan syafaat kepada kita. Tepatlah pesan Rasulullah, “Jangan kamu bersahabat, kecuali dengan orang Mukmin dan jangan pula makan makananmu, kecuali orang yang bertakwa” (HR Tirmidzi). Pentingnya bergaul dengan orang-orang saleh, kata Rasulullah, karena setiap orang akan bersama dengan kekasihnya (HR Bukhari dan Muslim).

Kelima, memperbanyak doa kepada Allah agar dapat menutup hidup dengan khusnul khatimah. Tiada daya tanpa pertolongan Allah. Memperbanyak doa merupakan wujud pengakuan bahwa kita memang hamba yang serba lemah. Sepanjang berkenan melangitkan doa, niscaya Allah akan menjawabnya. “Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia berdoa kepada-Ku. Maka hendaklah mereka memenuhi segala perintah-Ku dan beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran” (QS Al-Baqarah: 186).

Redaktur : Heri Ruslan
01
Apr
13

Hikmah : 8 Syarat Berkumpul Keluarga di Surga

Delapan Syarat Agar Dapat Berkumpul Bersama Keluarga di Surga

Senin, 01 April 2013, 06:24 WIB

Antara
Seorang pria shalat di Masjid Istiqlal, Jakarta. (ilustrasi)

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh Ir Aris Ahmad Risadi MSi

Reuni merupakan momen indah yang banyak ditunggu. Setelah sekian lama tidak berjumpa, dipisahkan oleh jarak dan rutinitas baru, kita berkeinginan  untuk bertemu kembali dengan kawan lama dalam suasana gembira dan penuh nostalgia.

Kegiatan ini diselenggarakan bukan saja oleh mereka yang memiliki kesamaan sekolah, tapi seringkali dilakukan pula oleh paguyuban yang memiliki kesamaan keturunan, asal-usul daerah, atau kesamaan bentuk lainnya.

Meluasnya penggunaan teknologi informasi khususnya jejaring sosial yang mampu melacak keberadaan kawan lama telah ikut mendorong meningkatnya aktifitas reunian di berbagai kalangan. Suasana romantisme masa lalu telah membuat reuni menjadi peristiwa yang diharapkan. Bahkan diperjuangkan.

Bagi muslimin ada satu reuni yang memiliki nilai luar biasa, yaitu kesempatan bertemunya kembali keluarga besar seketurunan di tempat baru yang sangat menyenangkan di akhirat kelak.

Allah berfirman dalam QS Ar-Ra’d [13]: 22-24 yang artinya “Orang-orang itulah yang mendapat tempat kesudahan (yang baik), yaitu Surga ‘Adn yang mereka masuk kedalamnya bersama-sama orang yang saleh dari bapak-bapak mereka, istri-istri mereka, dan anak-cucu mereka, sedang malaikat-malaikat masuk ke tempat-tempat mereka dari semua pintu (sambil mengucapkan), ‘salaamun alaikum bimaa shabartum (keselamatan atasmu berkat kesabaranmu). ‘Maka, alangkah baiknya tempat kesudahan itu”

Sayyid Quthb dalam “Tafsir Fi Zhilalil-Qur’an” menjelaskan peristiwa di atas  laksana  sebuah festival atau reuni dimana mereka saling bertemu, mengucapkan salam, dan melakukan perbuatan-perbuatan yang menyenangkan dan menggembirakan serta penuh dengan penghormatan.

Kebersamaan di surga tersebut tentu tidak mudah untuk dicapai, karena dalam kisah yang dijelaskan Alquran banyak keturunan/keluarga yang tidak lagi bisa bertemu di akhirat, seperti: Nabi Nuh dengan putra dan istrinya, Asiyah yang solehah dengan suaminya (Firaun), dan Nabi Luth dengan istrinya. Namun bertemunya  keluarga besar di surga bukan pula sesuatu yang tidak mungkin.

Allah menjelaskan dalam QS. Ar-Ra’d [13] : 18-21 kita bersama keluarga besar bisa bertemu di surga ‘Adn, asal dapat memenuhi delapan syarat.

Pertama, memenuhi seruan Tuhannya Barang siapa yang patuh kepada Allah niscaya ia akan mendapatkan pembalasan yang sebaik-baiknya.

Kedua, memenuhi janji Allah dan tidak melanggar perjanjian. Janji Allah disini mutlak, meliputi semua macam perjanjian. Janji terbesar yang menjadi pokok pangkal semua perjanjian ialah janji iman. Perjanjian untuk setia menunaikan segala konsekuensi iman.

Ketiga, menghubungkan apa-apa yang Allah perintahkan supaya dihubungkan. Dalam hal ini taat secara paripurna, istiqomah yang berkesinabungan, dan berjalan di atas sunnah sesuai dengan  aturan-Nya dengan tidak menyimpang dan tidak berpaling.

Kempat, takut kepada Allah.  Takut kepada Allah dan takut kepada siksaan yang buruk dan menyedihkan pada hari pertemuan yang menakutkan.

Kelima, sabar.  Sabar atas semua beban perjanjian di atas (seperti beramal, berjihad, berdakwah, berijtihad), sabar dalam menghadapi kenikmatan dan kesusahan, dan sabar dalam menghadapi kebodohan dan kejahilan manusia yang sering menyesakkan hati.

Keenam,  mendirikan Shalat.   Ini termasuk juga  memenuhi janji dengan Allah. Shalat  ditonjolkan karena merupakan rukun pertama perjanjia ini, sekaligus menjadi lambang penghadapan  diri secara  tulus dan sempurna kepada Allah. Juga penghubungan yang jelas antara hamba dengan Tuhan, yang tulus dan suci.

Ketujuh,  Menginfakkan sebagian rezeki secara sembunyi atau terang-terangan.

Kedelapan, menolak kejahatan dengan kebaikan dalam pergaulan sehari-hari. Dalam hal ini diperintahkan membalas kejelekan dengan kebaikan apabila tindakan ini memang dapat menolak  kejahatan itu, bukan malah menjadikan yang bersangkutan semakin senang berbuat kejahatan.

Delapan syarat ini telah Allah jamin akan menghantarkan seseorang dapat berkumpul di surga ‘Adn. Mereka mendapati tempat kesudahan yang baik.

Di samping masuk surga, mereka juga dimuliakan  dengan bertemunya kembali  dengan orang-orang yang mereka cintai. Hal ini merupakan kelezatan lain yang mereka rasakan di dalam surga.  Semoga kita termasuk di dalamnya. Amin.

Redaktur : Heri Ruslan
Berita Terkait:

Mengawini Besan, Bolehkah?

Jumat, 25 Januari 2013, 06:54 WIB

Menikah (Ilustrasi)

REPUBLIKA.CO.ID, Assalamualaikum wr wb,

Ustaz, jika ada yang ingin menjodohkan bapak dari pihak istri untuk menikah dengan ibu dari pihak suami apakah itu boleh, mengingat kedua anak perempuan dan laki-laki mereka sudah menjadi suami istri dan dalam hubungan pernikahan?
Hamba Allah

Waalaikumussalam wr wb

Allah berfirman, ’’Dan janganlah kamu kawini perempuan-perempuan yang telah dikawini oleh ayahmu, terkecuali pada masa yang telah lampau. Sesungguhnya perbuatan itu amat keji dan dibenci Allah dan seburuk-buruk jalan (yang ditempuh). Diharamkan atas kamu (mengawini) ibu-ibumu; anak-anakmu yang perempuan; saudara-saudaramu yang perempuan, saudara-saudara bapakmu yang perempuan; saudara-saudara ibumu yang perempuan; anak-anak perempuan dari saudara-saudaramu yang laki-laki; anak-anak perempuan dari saudara-saudaramu yang perempuan; ibu-ibumu yang menyusui kamu; saudara perempuan sepersusuan; ibu-ibu istrimu (mertua); anak-anak istrimu yang dalam pemeliharaanmu dari istri yang telah kamu campuri, tetapi jika kamu belum campur dengan istrimu itu (dan sudah kamu ceraikan), maka tidak berdosa kamu mengawininya; (dan diharamkan bagimu) istri-istri anak kandungmu (menantu); dan menghimpunkan (dalam perkawinan) dua perempuan yang bersaudara, kecuali yang telah terjadi pada masa lampau; sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS an-Nisa` [4]: 23).

Ayat tersebut menjelaskan secara perinci perempuan-perempuan yang haram dinikahi seorang laki-laki, yaitu mantan istri bapak, ibu yang melahirkannya, anak perempuannya sendiri, saudara perempuannya sendiri, saudara perempuan bapaknya (bibi dari pihak bapak), saudara perempuan ibunya (bibi dari pihak ibu), dan anak perempuan dari saudara laki-laki (keponakan dari jalur saudara laki-laki).

Lainnya adalah anak perempuan dari saudara perempuan (keponakan dari jalur saudara perempuan), perempuan yang pernah menyusuinya (ibu susuan), saudara perempuan sepersusuan, ibu dari istri (mertua), anak tiri yang ibunya sudah dicampuri olehnya, istri anaknya sendiri, dan saudara istri, jika masih menjadi istrinya (mengumpulkan dua wanita bersaudara sekaligus dalam hubungan pernikahan).

Dalam ayat setelahnya Allah menegaskan, ’’Dan (diharamkan juga kamu mengawini) wanita yang bersuami, kecuali budak-budak yang kamu miliki (Allah telah menetapkan hukum itu) sebagai ketetapan-Nya atas kamu. Dan dihalalkan bagi kamu selain yang demikian (yaitu) mencari istri-istri dengan hartamu untuk dikawini bukan untuk berzina.’’ (QS an-Nisa` [4]: 24).

Dalam ayat ini, Allah juga mengharamkan menikah dengan perempuan yang masih bersuami (masih menjadi istri orang). Kemudian, Allah menegaskan, selain yang disebutkan dalam ayat-ayat di atas maka boleh dinikahi. Rasulullah  menjelaskan, hubungan sepersusuan itu juga mengharamkan sebagaimana hubungan nasab.

Dan, dalam semua yang diharamkan itu tidak disebutkan mertua dari anak atau besan, maka boleh hukumnya bagi mereka untuk menikah karena itu termasuk ke dalam apa yang dibolehkan oleh Allah dalam firman-Nya. ‘’Dan dihalalkan bagi kamu selain yang demikian.’’ (QS an-Nisa` [4]: 24).

Wallahu a’lam bish shawab.

Ustaz Bachtiar Nasir

Redaktur : Heri Ruslan



Blog Stats

  • 3,146,654 hits

Recent Comments

Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Sejarah : Bangsa Lemuria, Lelu…