HASTHA BRATA

Seusai perang besar di negeri Alengka
kini tibalah saatnya Ramawijaya
menobatkan Wibisana sebagai raja
menggantikan kakanda Prabu Rahwana.

Wibisana diminta Prabu Ramawijaya
memulihkan kembali wibawa negeri Alengka
yang telah hancur karena perbuatan Rahwana
agar rakyat kembali hidup sejahtera dan bahagia.

Semasa Alengka dibawah kekuasaan Rahwana
rakyat hidup menderita dan penuh sengsara
seluruh negeri seolah-olah terlanda bisa
Wibisana diharapkan dapat menjadi penawarnya.

Dalam menjalan pemerintahan di negeri Alengka
Wibisana hendaklah meneladan delapan dewa:
yaitu Dewa Indra, Dewa Surya, Dewa Bayu, Dewa Kuwera
Dewa Baruna, Dewa Yama, Dewa Candra, dan Dewa Brama.

Dewa Indra adalah dewa keindahan dan kemuliaan
seorang raja hendaklah menebarkan wewangian
menghujani dana merata hingga seluruh kerajaan
sifat tercela dan angkara haruslah dihindarkan.

Dewa Surya adalah dewa penerangan dunia
menyinari kegelapan semesta dengan cahayanya
memberi energi kehidupan kepada makhluk mayapada
oleh karenanya penguasa memberi pencerahan rakyatnya
membangkitkan semangat beribadah dan berkarya
memecahkan segala persoalan penuh dengan bijaksana.

Dewa Bayu disebut pula Hyang Batara Pawana
sosok dewa yang gagah perkasa dan bersahaja
juga teguh pendirian dan tegas penuh wibawa
sebab itu penguasa harus tampil gagah perkasa,
teguh pada pendirian dan tegas berwibawa,
hidup bersahaja agar rakyat selamat sentosa.

Dewa Kuwera adalah putra ketiga Hyang Batara Ismaya
suka memberi petunjuk, fatwa, dan pahala pada dunia
penguasa juga hendaknya suka memberi petunjuk dan fatwa
serta tidak segan-segannya memberi pahala bagi rakyatnya.

Dewa Baruna bertugas menjaga keselamatan isi samudra
yang mampu menampung berbagai aliran sungai yang ada
demikian halnya penguasa dapat menjaga keselamatan negara
mampu menampung berbagai persoalan dan tidak meluap emosinya.

Dewa Yama adalah dewa penjabut nyawa dan penguasa neraka
tugas lainnya adalah memberantas semua perbuatan angkara
seharusnya penguasa juga tidak membiarkan rusaknya negara
yang disebabkan oleh kejahatan dan tindak angkara murka
perusuh, teroris, dan koruptor dibasmi hingga ke akar-akarnya.

Dewa Candra adalah dewa penerang di malam gelap gulita
sinar cahayanya sejuk tenang dan tidak menyilaukan mata
hendaknya penguasa memberi pencerahan saat rakyat duka
kebijakan yang tenang menyejukkan membuat rakyat bahagia.

Dewa Brama adalah dewa penguasa api dan semua sifat panas
setiap hari menerangi kegelapan dan membangkitkan agar tidak lemas
penguasa berkewajiban membangkit semangat rakyat agar tidak malas
kerja keras membangun negara dan bangsa agar hidup lebih puas.

Demikian wejangan Ramawijaya kepada Gunawan Wibisana
ditulis oleh Pujangga Jawa R.Ng. Jasadipoera dalam Serat Rama
agar seorang penguasa kapan dan di mana pun berada tidak terlena
penguasa senantiasa menjaga keselamatan dan kesejahteraan rakyatnya.

HASTHA BRATA
Penulis : http://www.PesonaGetar.com

Oleh: Ki Ronoatmoko

Dialog Begawan Kesawasidhi dengan Arjuna

Kesawasidhi : Adinda Parta (Arjuna), duduklah, jangan ragu-ragu;
Kita berada di gunung, harus menerima seadanya.
Arjuna : Dengan segala hormat, menerima perintah!
Kesawasidhi : Dinda Parta, terus terang apa yang anda kehendaki sehingga
bersusah payah mencari tempatku ini?
Arjuna : Duh, Sang Begawan, saya terdorong mencari Wahyu Makutharama
Kesawasidhi : Apakah Anda sudah mengetahui bentuknya Wahyu Makutharama yang
Anda cari?
Arjuna : Sebenarnya, saya belum pernah tahu bentuk dan macam apa yang disebut Wahyu Makutharama; Namun dorongan hati nurani saya atas dasar kesetiaan kepada para pinisepuh; Juga keyakinan bahwa mustahil ada nama tanpa bentuk.
Kesawasidhi : Itu tepat sekali, hanya saja bagaimana bisa ketemu dan mencari bentuk, sebab Anda berupaya dari nama!
Arjuna : Supaya bertemu, tidak ada jalan lain kecuali minta tahu kepada yang sudah menguasai antara wujud dan nama itu sendiri dalam kenyataan
Kesawasidhi : Dinda Parta, apa bekal Anda sebagai laku untuk mencapai tujuan?
Arjuna : Bekal saya tekad bulat dan disiplin baja
Kesawasidhi : Siapa yang Anda percaya dengan kesetiaan tekad Adinda?
Arjuna : Tidak ada lain kecuali Paduka Sang Adi Panembahan
Kesawasidhi : Hai, Adinda Parta, sudah lama kunanti para ksatria yang berhak menerima wejangan Wahyu Makutharama; Baru kali ini ada pertanda yang pantas menerima arahanku. Ketahuilah Adinda, arti dari Wahyu Makutharama adalah pamor dari tiga kata yang wajib diikuti oleh para Pemimpin (Raja). Jelasnya begini,

Pertama, Kata Wahyu itu tidak ada Wujudnya, sebab itu merupakan karunia karena kesungguhan upaya.
Kedua, Makhuta : keprabon (kuluk/kopyah), yang berada atau dipakai di Kepala, artinya Pedoman (ngelmu) yang sangat dipegang teguh.
Ketiga, Rama, itu adalah nama besar Raja di Pancawati Deudha. Jadi, Wahyu Makutharama yang dianggap sebagai sumber kekuatan negara adalah wawasan (ngelmu), pegangan Sri Bethara Rama yang dijadikan haluan memimpin negara untuk mengemong rakyatnya, yang sangat dikagumi para Dewata dan Raja-raja lain di
muka bumi. Jangankan manusia, para Rewanda dan Palwaga (bangsa) kera pun sujud kepada Rama.
Arjuna : Duh, Sang Panembahan, apa kiranya yang menjadi sebab begitu luhur wibawa Sri Bethara Rama?
Kesawasidhi : Sebabnya adalah tata-laksana negara dan cara mengenang para kawula selalu berpedoman dengan sungguh-sungguh pada watak 8 (delapan) perkara
yang disebut Hastha Brata.
Arjuna : Tentang bagian-bagian watak 8 (delapan) yang disebut Hastha Brata, mohon Sang Panembahan menguraikannya.
Kesawasidhi : Keterangannya demikian :

Yang Pertama, watak/temperamen bumi, (Krisna/Bantala)
Yang Kedua, watak air, (Warih)
Yang Ketiga, watak angin, (Samirana)
Yang Keempat, watak samudra, (Jaladri)
Yang kelima, watak bulan, (Candra)
Yang Keenam, watak matahari, (Baskara)
Yang Ketujuh, watak api, (Dahana)
Yang Kedelapan, watak gunung, bintang,(Kartika/Wukir)

Secara lebih terperinci penjelasannya sebagai berikut :
– Tingkah laku bertemperamen bumi (Krisna/Bantala) :Selalu murah-asih kepada siapa saja yang minta dimurahi, sebab bumi itu selalu menunjukkan sumber logistik seluruh jenis tumbuh-tumbuhan sebagai pangan untuk makhluk. Ini adalah produk bumi. Walau pun badannya disiksa manusia, dipacul, dikeduk, dibor, namun sebaliknya bumi selalu menunjukkan kemurahannya: emas, hasil tambang bermacam-macam menjadi harta benda yang menyiksanya. Begitulah watak dasar bumi.
– Tingkah laku bertemperamen air (Warih) : Air berwatak merata, selalu berdaya sebagai pendingin, menjadi obat pamungkas yang kehausan.
– Tingkah laku berwatak angin (Samirana) : Selalu mengisi di seluruh tempat.
Untuk pemimpin : selalu memeriksa terhadap seluruh lapisan masyarakat; sehat, sakit diketahui dengan upaya yang teliti dan telaten. Karena perbuatan angin itu selalu tembus ke segala tempat, dan tidak bisa lain (tidak pernah bohong)
– Tingkah laku dan sikap berwatak samudra (Jaladri) : Artinya : Legawa dan sabar. Hati Pemimpin harus bisa jadi wadah, jika menemukan kebahagiaan dan kesedihan hendaknya diterima secara proporsional. Samudra terlihat tanpa batas, diisi runtuhan dari sungai-sungai, dan air yang tumpah dari bumi tidak pernah kekurangan tempat serta tidak pernah meluap.
– Sikap dan tingkah laku berwatak bulan (Candra) : Selalu menerangi seluruh jagad
Untuk pemimpin : selalu menyelenggarakan peningkatan kecerdasan bangsanya. Sampai tempat terpencil pun disediakan sarana pendidikan.
– Tingkah laku berwatak matahari (Baskara) : Selalu memberikan daya/kekuatan terhadap siapa pun yang digelar di jagad raya. Untuk pemimpin : Selalu memberikan dorongan kekuatan kepada rakyatnya. Nelayan, petani, pekerja/buruh yang kekurangan mendapat kasih sayang, diberi modal, sekali pun harus mengembalikan dengan tempo, dan setelah ada buah karya (hasil).
– Tingkah laku dan sikap bertemperamen api (Dahana) : Penyelesaian tuntas; Tidak ada sesuatu yang tidak lebur karena api. Untuk pemimpin : Sebagai figur pengambil keputusan tertinggi, semua perkara yang berada dalam batas wewenangnya harus diselesaikan dengan adil, tanpa pandang bulu, tanpa tebang pilih.
– Berbuat dengan temperamen bintang (Kartika) : Bisa disebut juga hambeg Wukir (gunung), artinya tegas. Untuk pemimpin : Satunya kata dan perbuatan; Apa yang telah digariskan harus dilaksanakan. Dasarnya karena keyakinan, kesemuanya karena Ridha Tuhan Yang Mahaesa.

Demikian penjelasan Hastha Brata bagi yang berkenan memikirkan.

Kesawasidhi : Sekarang pertanyaan Kakanda kepada Dinda Parta, apakah sudah paham atas pengertian Wahyu Makutharama yang Kanda uraian tadi?
Arjuna : Secara keseluruhan saya telah memahami, hanya saja bagaimana dapat melaksanakan contoh baik karya besar Sri Bethara Rama, mohon Dinda diberi
tuntunan.
Kesawasidhi : Agar terlaksana, harus dikerjakan secara pribadi dengan tekad yang bulat dan terus menerus. Tak ada gunanya ngelmu (wawasan) tanpa dikerjakan/
diaplikasikan. Jika mulai berbuat dan berhasil, jangan mengharap buah karya seolah-olah dari dirinya pribadi (rasa ingin memiliki); Itu pertanda belum suci hatinya.
Arjuna : Duh, Sang Adi Panembahan, setelah mendengar dan meresapi, kami seperti manusia yang lupa diri, manusia yang hanya makan-minum sekali pun kenyang, namun tidak pernah tentram karena diselubungi hati serakah. Semoga Sang Mahamurni
selalu sabar memberikan tuntunan kepada kami.
Kesawasidhi : Memang demikian adanya Adinda! Celakanya seperti menanam biji, sekali pun biji baik, tanah bagus, tetap saja harus dijaga dan dipelihara.

Hastha (8) Brata (pola/prinsip/wacana) yang telah menjadi bacaan para Dhalang dan calon Dhalang, diharapkan pada kesempatan ini akan dibaca oleh masyarakat/ umum secara luas. Hal ini dapat terjadi karena, Pertama, Distribusi buku ini sasarannya lebih luas. Kedua, Bahasa, dengan diterjemahkan secara bebas dalam bahasa Indonesia dapat dimengerti bagi yang tidak bisa berbahasa Jawa.

Pertanyaannya. Pertama, Teori kepemimpinan gaya klasik tersebut apakah masih relevan untuk diterapkan di zaman kini? Kedua, Apa yang ditulis oleh Pujangga/ pengarang, khusus pada lakon Wahyu Makutharama, menurut kami sebagian besar bertolak pada prinsip-prinsip universal yang dapat menembus kurun zaman, tempat, bangsa, bahkan agama, karena fenomena 8 macam ciptaan Tuhan adalah isi jagad raya, makro-kosmos, dimana manusia/pemimpin diharapkan menjadi mikro-kosmos yang diminta nulad, memberi tauladan sikap, prilaku ciptaan Tuhan Allah SWT yang tidak pernah keluar rel dari polah tingkah laku yang telah ditetapkan oleh Khaliknya sehingga menuju Swacita Bahagia Jaya.

Kesimpulan dari harapan :
1. Dari unsur budaya klasik/daerah yang digali dengan cermat, jauh lebih baik dibanding demokrasi ala manapun di atas bumi. Bagi pemimpin sejati, apabila menghayati Hastha Brata, demokrasi inherent dalam dirinya.
2. Kepemimpinan yang dijaga dengan Pambengan (prinsip) Hastha Brata, akan selalu dituntun amanah (jauh dari tindak deksura, adigang adigung adiguna, ojo dumeh). Nurani (hati) dan pikirannya dijaga oleh yang hak dan yang bathil atau yang menjadi dosa atau dharma yang diperintahkan oleh Tuhan Yang Mahaesa.
3. Bagi pemimpin kecil (kepala rumah tangga, bapak/ibu), apabila akan mengambil keputusan sebaiknya selalu disaring dengan Hastha Brata. Insya Allah, hasil keputusannya akan bening dan enak dilaksanakan oleh anak-cucu (putra wayah).
4. Semoga terjemahan bebas dan saduran ini dapat menjadi urun kecil yang berdampak besar bagi pribadi-pribadi Pemimpin Bangsa Indonesia yang bukan saja menjadi idola bangsanya, juga dikagumi bangsa lain di muka bumi; bukan karena luasnya negara, namun karena kenegaraan yang penuh gezaag dan dicintai oleh rakyatnya sebagai pamong kawula dasih keseluruhannya.

(Dipetik dan diterjemahkan secara bebas dari buku Wahyu Makutha Rama, cerita wayang karya bapak Siswaharsaya, 1963, cetakan V, Jogyakarta)

TEMBANG ILIR-ILIR

Ilir ilir lir ilir
tandure wis sumilir
Tak ijo royo-royo,
tak sengguh penganten anyar
Cah angon, cah angon,
penekna blimbing kuwi,
Lunyu-lunyu peneken
kanggo masuh dodotira,
Dodotira kumitir bedhah pinggire
dondomana, jlumatana,
kanggo seba mengko sore
Mumpung gedhe rembulane
Mumpung jembar kalangane
Ha suraka … surak … hore…
          Konon kabarnya, “Tembang Ilir-ilir” diciptakan oleh Kanjeng Sunan Kalidjaga, salah seorang wali sanga terkemuka di tanah Jawa, semasa abad XIV—XV Masehi. Tembang ini digunakan sebagai sarana berdakwah bagi Sunan Kalidjaga dalam rangka menyebarkan agama Islam di pulau Jawa pada masa itu. Mengingat masyarakat yang tinggal di Pulau Jawa pada umumnya adalah masyarakat agraris, petani, dan masih dipengaruhi kuat oleh budaya lama (seperti Animisme, Dinamisme, Hindhu, Budha, dan kepercayaan lainya), maka tembang dolanan anak-anak itu dibuatlah melalui simbol-simbol masyarakat agraris di pedalaman Pulau Jawa. Makna dari tembang Ilir-ilir tersebut kurang lebih sebagai berikut.
          Ilir ilir lir ilir “Bangun, bangun, bangunlah, bangun” Kanjeng Sunan Kalidjaga mengajak kita agar bangun dari kelelapan tidur panjang, segeralah sadar akan tugas dan kewajiban kita hidup di dunia ini, tidak hanya tidur saja. Setelah bangun dan sadar, segeralah mencari dan menemukan pencerahan sinar cahaya Tuhan. Maknanya, setelah engkau sadar, segeralah berbakti, beriman dan bertakwa kepada Tuhan yang Mahakuasa, salah satunya diwujudkan dalam bentuk melakukan zikir dan bersembahyang sesuai dengan perintah agama.
Tandure wis sumilir “Tanamannya sudah semburat bersemi”. Biasanya orang Jawa yang agraris itu menanam padi di sawah atau ladang. Kini, tanaman padi itu sudah tampak semburat bersemi, sudah mulai berisi. Ibarat suatu tanaman padi yang sudah semburat bersemi tersebut, kebaktian, sadar, iman, dan takwa kita kepada Tuhan yang Mahakusa sudah mulai semburat bersemi pula. Oleh karena itu, lanjutkan dan tetap terus pelihara cahaya kebaktian, kesadaran, keimanan, dan ketakwaan kita kepada Tuhan yang Mahakuasa itu agar tetap menyala terus, agar semakin lama semakin bercahaya terang benderang untuk menerangi jalan hidup kita dari pondok dunia hingga sampai ke istana akhirat.
Tak ijo royo-royo, tak sengguh penganten anyar “Tanaman padi tersebut sudah tampak menghijau berseri laksana pengantin baru”. Sebagaimana halnya seorang pengantin baru, tentu tampak indah, bahagia, dan berseri-seri. Seseorang yang telah sadar, penuh kebaktian kepada Tuhan yang Mahakuasa, diperkokoh dengan iman yang bulat, serta takwa yang berusaha teguh memenuhi semua perintah dan menjauhi semua larangan-Nya, tentu hidupnya akan tampak indah, bahagia, dan berseri-seri seperti pengantin baru yang senantiasa penuh kasih sayang sehingga dapat mengasyikan sekali. Apalagi suasananya masih dalam bulan madu, tentu membahagian sekali. Demikian halnya kebaktian, kesadaran, keimanan, dan ketakwaan kita kepada Tuhan yang dilandasi rasa kasih sayang kepada sesama umat, tentu sangat membahagiakan sekali.
Cah angon, cah angon, penekna blimbing kuwi “Wahai, anak-anak pengembala, tolong panjatkan pohon blimbing itu”. Biasanya di ladang atau di sawah, selain ditanami padi, juga ditanami pohon-pohonan sebagai peneduh di kala terik panas matahari yang menyengat bumi. Salah satu pohon yang ada di dekat pematang sawah atau ladang itu adalah pohon belimbing. Ketika seorang petani yang tengah berada di sawahnya melihat beberapa gembala, biasanya menggembalakan sapi, kerbau, atau kambing sebagai binatang piaraan petani, sang petani tersebut meminta bantuan para gembala itu untuk memanjatkan pohon belimbing, lalu memetik buahnya. Ada dua jenis belimbing, yaitu belimbing manis (yang enak dan segar rasanya, dapat sebagai pelepas dahaga) dan belimbing wuluh (belimbing sayur yang hijau dan masam rasanya). Buah belimbing manis rupanya kuning keemasan berlingir (seperti lekuk bintang) lima, tetapi permukaannya licin. Hal ini secara semiotis melambangkan lima watak utama yang harus diliki manusia untuk menyempurnakan kebaktian, kesadaran, keimanan, dan ketakwaannya kepada Tuhan yang Mahakuasa. Lima watak keutamaan itu adalah: ridla (rela), qanaah (narima), al-shidqu (jujur), shabr (sabar), dan al-akhlaq al-karimah (berbudi pekerti lihur dan mulia). Sementra itu, belimbing wuluh yang rasanya asam hanya dapat menjadi enak setelah dimasak buat sayur asam. Tentu hal ini juga menyiratkan makna agar kelima watak utama tersebut, meskipun getir dan asam rasanya, tetaplah harus dapat diolah sedemikian rupa sehingga nanti dapat menjadi enak dirasakannya. Jadi, agar sempurna baktimu, sadarmu, imanmu, dan takwamu kepada Tuhan yang Mahakuasa, harusalah melaksanakan watak utama lima hal di atas.
Lunyu-lunyu peneken kanggo masuh dodotira “Biarpun licin, tetap panjatlah, untuk mencuci pakaianmu”. Setelah diguyur hujan, pohon belimbing tersebut begitu licin. Namun, tetaplah panjat dan petiklah buahnya untuk mencuci pakaian agar bersih suci. Buah belimbing pada zaman dahulu, sebelum ditemukan sabun, dapat digunakan untuk mencuci atau membersihkan pakaian. Kata “dodot” yang arti harfiahnya “pakaian” atau “kain”, sebagai lambang hati manusia. Jadi, maknanya hati manusia agar bersih dan mencapai kesucian, haruslah dicuci dengan revolusi jiwa mengubah watak, dari angkara murka, malas, dengki, iri, pendendam, tamak, loba, dan aniaya, menjadi watak manusia yang tulus ikhlas, bersyukur, tawakal, sabar, jujur, kasih sayang, dan berbudi pekerti luhur dan mulia. Hanya dengan kesucian inilah bekal manusia untuk dapat menghadap ke hadirat Tuhan yang Mahakuasa di tahta suci hati sanubari (Kalbhu mukmin Batullah).
Dodotira kumitir bedhah pinggire/dondomana, jlumatana,/kanggo seba mengko sore “Pakaianmu bertikai-tikai sobek pinggirnya, jahitlah, jerumatlah, agar dapat dipakai menghadap nanti sore”. Secara semiotis menyiratkan makna bahwa pakaian (dodot) selain sebagai perumpamaan hati, juga menjadi lambang kepercayaan (iman) kepada Allah. Pakaian yang robek pinggirnya, agar pantas dipakainya, hendaklah harus dijahit atau dijerumat supaya utuh kembali. Hal ini mengandung makna bahwa kepercayaan (iman) kita kepada Allah haruslah tetap utuh (bulat), hendaklah dojaga agar jangan sampai surut, robek, gempil, atau sompel. Sesungguhnya orang yang telah berbakti, sadar, iman, dan takwa kepada Allah dan sudah suci hatinya, bilamana iman dan takwanya tersebut goncang, minipis, dan masih lobang-lobang, berarti orang tersebut belumlah sempurna kesuciannya. Sebab busana atau pakaiannya belum lengkap, utuh, untuk dipakainya menghadap ke hadirat Tuhan yang Mahakuasa. Kata “mengko sore” sebagai penanda waktu bahwa ajal kematian kita sudah dekat. Oleh karenanya, sungguhpun belum tahu kapan kita dipanggil kembali ke hadirat Tuhan, setiap manusia harus sudah siap sedia sewaktu-waktu menerima panggilan Tuhan.
Mumpung gedhe rembulane/ Mumpung jembar kalangane ”Senyampang besar rembulanya, senyampang luas lingkarannya”. Pada waktu malam hari ketika terang bulan, bulan purnama raya, tampak sinar bulan begitu terang dan lingkaranya besar dan luas sekali. Hal ini bermakna untuk memberi pesan, yang berisi peringatkan, agar kawula muda (juga siapa pun) janganlah menunda-nunda waktu, selagi masih muda, senyampang masih sehat wal afiat gagah perkasa, dan mumpung masih mempunyai waktu panjang, bergegas-gegasalah atau bersiap-siap dan bersiagalah mengenakan busana kesucian untuk menghadap ke hadirat Tuhan yang Mahakuasa, sewaktu-waktu, kapan pun, dan di mana pun kita berada. Sebab, jikalau sudah terlanjur tua renta, jompo, sakit-sakitan, dan pikun, tentu mustahil dapat mengenakan busana kesucian serta membina kebaktian, kesadaran, keimanan, dan ketakwaan kepada Allah secara baik dan benar.
Ha suraka … surak … hore… “Ayo bersorak soraklah bergembira”. Hal ini menggambarkan perasaan, senang, bergembira ria, bahagia, dan juga senantiasa bersyukur kepada Tuhan yang Mahakuasa bahwa kita mampu mengenakan busana delapan watak keutaman (sadar, iman, takwa, ridla, tawakal, jujur, sabar, dan berbudi pekerti luhur dan mulia), mentaati sabda Allah, menjauhi semua larangan-Nya, dan memasuki Taman Kemulian Abadi, kembali bertunggal dengan Tuhan yang Mahakuasa. Amin.

Diposkan oleh Puji Santosa di Senin, Oktober 11, 2010 (pujagita.blogspot.com)

Advertisements

0 Responses to “IndoHeritage”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




Blog Stats

  • 3,307,090 hits

Recent Comments

Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Sejarah : Bangsa Lemuria, Lelu…

%d bloggers like this: