Archive for December, 2008

28
Dec
08

Putusan MK Disambut Positif

PAW Harus Berdasar Suara Terbanyak

Suara Pembaruan, 24 Desember 2008
Putusan MK Disambut Positif

[JAKARTA] Putusan Mahkamah Konstitusi (MK) yang membatalkan Pasal 214 Undang-Undang (UU) 10/2008 tentang Pemilu Legislatif disambut positif sejumlah pihak. Putusan MK itu disebut sebagai kemenangan pemilih Indonesia pada Pemilu 2009. Meskipun demikian, ada sejumlah parpol yang mempersoalkan putusan tersebut.

Direktur Eksekutif Center for Electoral Reform (Cetro) Hadar Navis Gumay Selasa (23/12) malam, mengatakan putusan tersebut merupakan bonus akhir tahun dari MK kepada masyarakat Indonesia. Sebab, dengan pembatalan pasal itu, maka penentuan calon terpilih di DPR dan DPRD tidak lagi berdasarkan nomor urut.

Sedangkan, Koordinator Jaringan Pendidikan Pemilihan untuk Rakyat (JPPR) Jeirry Sumampow menilai putusan MK berimplikasi positif terhadap semangat sistem proporsional terbuka yang memberi ruang bagi terakomadasinya suara rakyat.

Senada dengannya, Ketua DPP Partai Demokrat Anas Urbaningrum menyambut putusan itu dengan sukacita. Sejak awal, partai yang didirikan Presiden Yudhoyono itu setuju dengan suara terbanyak dalam penetapan calon terpilih.

Timbulkan Pertanyaan

Sementara itu, Sekjen PDI Perjuangan Pramono Anung menyatakan putusan MK itu bakal menimbulkan banyak pertanyaan. “Misalnya, satu partai bisa memperoleh dukungan 300.000 suara, tetapi caleg dari parpol lainnya mendapat 10.000 suara, melampaui suara caleg-caleg dari partai yang memperoleh 300.000 suara. Siapa yang berhak menentukan, apakah parpol yang memperoleh 300.000 suara atau caleg yang mendapatkan 10.000 suara? Sebab, pada dasarnya suara partai lebih banyak dari perorangan,” katanya.

PDI-P sedang mengkaji putus-an MK dan kemungkinan akan mengajukan tanggapan resmi ke MK. “Apa pun hasilnya, sebagai parpol yang patuh hukum, PDI-P akan mengikuti ketentuan pemilu yang sah,” ujarnya.

Sedangkan, caleg dari Partai Demokrasi Pembaruan (PDP) Rina Ginting mengaku kecewa produk perundangan di Indonesia. “Inilah akibat dari UU yang dibuat hanya kepentingan sesaat. Dalam menit-menit terakhir pun, UU 10/2008 bisa berubah,” ujar wartawati senior di Jakarta ini.

Sekjen Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Anis Mata mengatakan pihaknya sudah mengusulkan agar penetapan caleg berdasarkan suara terbanyak. Tetapi, usulan itu ditolak fraksi-fraksi besar di DPR. “Kami akan melaksanakan putusan tersebut,” kata Anis. [A-21/ASR/J-11]

28
Dec
08

Prahara : Jangan Hanya Kagum pada Obama

/ Home / International / KOMPAS
Prahara : Jangan Hanya Kagum pada Obama
Minggu, 28 Desember 2008 | 00:45 WIB

Berita soal Viktor Bout tidak menggema. Namun, hal ini diharapkan menggema di hati para ahli strategis Indonesia, dengan tujuan mewujudkan secara benar kalimat indah ”Menjaga dan memelihara kedaulatan dan persatuan serta kesatuan bangsa Indonesia”.

Ini adalah kalimat klise dan membosankan dan terasa muluk-muluk. Ini adalah kalimat sakti yang kita nantikan untuk diwujudkan. Nyatanya, minyak dan gas alam Indonesia tidak dinikmati rakyat Indonesia sepenuhnya. Nyatanya, ikan-ikan Indonesia dicuri para nelayan asing. Nyatanya, negara gemah ripah loh jinawi ini tidak membuat kehidupan rakyat lebih baik dari yang seharusnya.

Bahkan, negara ini seperti masuk perangkap Doktrin Wolfowitz, mengambil nama dari mantan Duta Besar Amerika Serikat untuk Indonesia Paul D Wolfowitz. Doktrin ini menyatakan bahwa jika ingin menguasai rakyat suatu negara, kuasailah sumber daya alamnya.

Entah suatu kebetulan atau tidak, hal inilah yang ingin dihindari Presiden Bolivia Evo Morales. Hal ini juga yang ingin dicegah Perdana Menteri Rusia Vladimir Putin dan juga Presiden Venezuela Hugo Chavez. Hal ini juga yang ingin dihindari Presiden Iran Mahmoud Ahmadinejad.

Tapi lihat, apa julukan media Barat kepada Putin dan Chavez serta Ahmadinejad? Mereka dituduh sebagai diktator dan pemimpin ekstrem kiri. Posisi mereka di media Barat terasa tidak terhormat.

Namun, rakyat di negara-negara yang dipimpin para pemimpin tersebut kini lebih baik secara ekonomi. Bandingkan dengan puluhan tahun Amerika Latin di bawah dominasi AS. Amerika Latin pada dekade 1980-an pernah mengalami atau mendapatkan julukan sebagai wilayah yang hilang.

Adakah hal ini menjadi kesadaran Indonesia, atau setidaknya segelintir elite Indonesia, harapan seluruh bangsa? Menjadikan Indonesia yang lebih makmur memang tidak harus menentang penguasa dunia secara verbal dan frontal.

Akan tetapi, sangat perlu diingatkan agar para elite atau, katakanlah, para pemimpin kita tidak lugu. Elite dan para pemimpin harus taktis dan cerdik, secerdik Singapura yang meraup untung dengan keberadaan sumber daya negara tetangganya.

Kita harus cerdik seperti mantan PM Malaysia Mahathir Mohamad, yang di bawah pemerintahannya warga Melayu memiliki jati diri, setidaknya secara ekonomi.

Atau, jangan-jangan elite kita sungkem dan bangga jika bisa dekat dengan elite AS, Eropa, dan Jepang yang kehadiran investornya nyatanya tak banyak melahirkan kemakmuran bagi kebanyakan rakyat Indonesia.

Pesan ini disampaikan sehubungan dengan kasus Viktor Bout. Ini adalah tokoh yang ada di balik pemasokan senjata ke daerah konflik, yang memecah belah negara kaya sumber alam.

Pernahkah kita menggugat konflik-konflik di Indonesia yang pernah melanda sejumlah provinsi Indonesia? Apakah konflik itu murni karena persoalan internal tanpa dipicu elemen asing? Semoga saja tidak pernah ada elemen asing. Namun, kita jangan terlalu lugu.

Lebih jauh dari itu, pernahkah kita menyadari bahwa kolonialisme era baru tetap berlaku walau tidak lagi dalam bentuk rodi seperti di zaman penjajahan Jepang?

Mengingatkan pesan pendiri

Indonesia adalah negara yang terkenal ramah dan baik. Namun, janganlah kebaikan ini dimanfaatkan asing dengan muka ramah, tetapi hanya mengeruk kekayaan Indonesia.

Tentu untuk mewujudkan semua itu, harapan akan perubahan perangai yang disampaikan tidak saja tertuju kepada para elite atau pemimpin. Ini juga tentunya diharapkan menjadi kesadaran para elite Indonesia, setidaknya elite di kalangan kecil.

Harapan ini sangat mengena menjelang Pemilu 2009, di mana kita berharap segera muncul pemimpin dan elite-elite kecil di pusat dan di daerah yang menjual program bagaimana memakmurkan Indonesia secara lebih berarti.

Para pendiri bangsa kita telah mengingatkan secara tegas dan tertancap dalam soal kedaulatan dan kemakmuran. Salah satunya yang selalu kita ingat adalah isi satu pasal di UUD ’45, yakni kekayaan alam harus dimanfaatkan sebesar-besarnya demi kemakmuran rakyat.

Kita tidak pernah mengakuinya secara eksplisit, tetapi fakta menunjukkan, kekayaan alam yang berlimpah ruah itu tidak dirasakan rakyat kebanyakan. Banyak dari warga yang berjuang dengan biaya sekolah, biaya kehidupan sehari-hari.

Jadi, sekali lagi kita jangan terlalu lugu. Kemiskinan warga RI adalah juga karena kebodohan yang melilit warga bangsa, sebuah kebodohan yang antara lain terjadi karena ketidakmampuan menjangkau pendidikan, sebuah kebodohan yang menjadi warisan penjajahan, yang sejauh ini belum terkikis.

Ini adalah pesan yang tidak perlu menyudutkan siapa pun. Ini adalah pesan untuk sebuah perubahan akan munculnya masa depan yang lebih baik.

Jangan hanya kagum Obama

Alangkah baiknya jika elite- elite Indonesia tidak hanya excited dengan keberadaan dan keberhasilan presiden terpilih AS, Barack Obama. Tentu akan menyenangkan jika pada Pemilu 2009 muncul si agen perubahan ala Indonesia.

Obama adalah tokoh lintas batas ras, usia, jender, dan etnis. Elite Indonesia jangan lagi terjebak pada komoditasi politik usang yang semata-mata mengandalkan taburan uang, yang semoga uang itu pun bukan uang haram hasil korupsi.

Menyedihkan jika Obama hanya dikagumi, bukan dituruti atau ditiru. Obama mengajarkan kita soal sebuah perubahan yang kita yakini bisa terjadi (Change We Believe In).

Seperti kata pakar kepemimpinan asal India, Anthony D Souza. Pesannya, ”Jika Anda yakin pada sesuatu hal baik yang akan Anda lakukan, maka lakukanlah itu dengan sebuah kebulatan tekad, keajaiban akan menyertai kebulatan tekad.” (MON)

28
Dec
08

Bisnis Konflik : Drama VIKTOR BOUT

bisnis konflik : Drama Viktor Bout yang Mengusik Nurani
Minggu, 28 Desember 2008 | 00:47 WIB

Simon saragih

Pada Maret 2008 para agen rahasia Amerika Serikat menyamar sebagai anggota pemberontak Amerika Latin dari Angkatan Bersenjata Revolusioner Kolombia (Revolutionary Armed Forces of Colombia/FARC). Dari sinilah awal kisah tertangkapnya Viktor Anatolyevich Bout (41). Penyamaran terjadi di Bangkok, dengan modus FARC ingin membeli senjata dari Bout, pedagang senjata asal Rusia.

FARC dalam bahasa Spanyol adalah Fuerzas Armadas Revolucionarias de Colombia-Ejercito del Puebla (FARC-EP), kelompok pemberontak komunis. Kasus tertangkapnya Bout memercikkan berbagai isu.

Kisahnya juga mencuatkan keberadaan sebuah jaringan perdagangan senjata gelap yang tidak saja melibatkan organisasi teroris, tetapi juga pemerintahan resmi, sebagaimana ditulis Douglas Farah dan Kathi Austin dalam artikel ”Viktor Bout and The Pentagon” pada 12 Januari 2006 di situs Global Policy.

Orang-orang dari Badan Pengawas Obat-obatan AS (DEA) selama setahun menerobos lingkaran dalam Bout dan berhasil meyakinkan Bout untuk mengadakan sebuah pertemuan di satu hotel mewah di Bangkok.

Bruce Falconer dari Motherjones, situs berita yang menjuluki dirinya bebas dari ketakutan, pada 18 Maret 2008 menuliskan kisah penangkapan tersebut. Alhasil, Bout bersedia terbang semalaman dari Moskwa dan mendarat di Bangkok pada 6 Maret 2008. Bout hendak bertemu dengan pelanggan baru, FARC. Penembusan jaringan Bout cukup hebat karena dia dikenal dikitari para letnan hebat.

Diadakanlah perjanjian pemasokan senjata asal gudang-gudang senjata di Eropa Timur untuk dikirim ke hutan-hutan Kolombia yang dikuasai FARC.

Perancangan pengiriman senjata diatur di Hotel Sofitel Silom yang mewah di Bangkok.

Bout dan sejumlah orangnya asal Rusia memasuki ruang konferensi tempat pertemuan dengan FARC akan diadakan. Sesungguhnya, FARC tidak pernah hadir di hotel itu, tetapi agen AS dan 50 polisi Thailand yang siap membantu penangkapan dan sudah siap-siap di luar hotel mulai pukul 5 pagi.

Kemudian polisi memasuki ruangan dengan senjata, sementara Bout dan orang-orangnya tak bersenjata. Bout langsung dibongkar dan seorang polisi Thailand mengutip ucapan Bout yang mengatakan, ”Permainan sudah usai.”

Kisah penangkapan Bout mengisahkan perannya memicu konflik di Dunia Ketiga. Kisahnya juga membuka tabir soal keberadaan mafia, pedagang obat bius, dan teroris turut menyemarakkan perdagangan ilegal senjata di era modern.

”Bout simbol dunia modern dan sebuah produk pasca-Perang Dingin,” kata Mark Galeotti, sejarawan yang menasihati Pemerintah Inggris soal kejahatan terorganisasi Rusia.

Untuk bisa bekerja sama dengan semua pihak, Bout melepaskan diri dari semua atribut politik resmi. Dia bisa mengirim senjata kepada mulai dari pemberontak, bisnis resmi, kelompok penyalur bantuan, hingga pemerintahan, termasuk AS. Bout memiliki armada penerbangan, memiliki kontrak kerja dengan KBR (perusahaan AS, dengan Wakil Presiden AS adalah salah satu mantan eksekutif) dan Federal Express, untuk pengiriman senjata dan personel ke Irak bertahun-tahun setelah invasi AS ke Irak tahun 2003. ”Ini membuat Bout sulit ditangkap,” kata Galeotti.

Licin dan sakti

Pada 9 Maret 2008 harian Inggris, Guardian, juga menyebutkan, Bout memasok senjata ke Hezbollah Lebanon untuk berperang melawan Israel.

Farah mengatakan, dia licin dan orang yang mendadak muncul dan sakti. Bout lulusan Institut Militer Bahasa Asing di Uni Soviet pada akhir 1980-an. Dia pernah jadi penerjemah di Afrika untuk Angkatan Udara Rusia dan istrinya seorang eks KGB.

Kemudian Uni Soviet ambruk. Bout melihat kesempatan. Pengelolaan gudang senjata kacau. Pejabat dan tentara menjual apa saja yang bisa dijual. Mulailah Bout membentuk jaringan di Belgia dan Uni Emirat Arab. Dia memasok senjata ke daerah konflik di sejumlah negara. Dia menuai untung dari bisnis konflik.

Bout memiliki jaringan armada eks milik Uni Soviet yang leluasa menerbangi udara di negara berkembang yang miskin, dengan monitor khususnya Afrika dan Asia. Penerbangannya memiliki bisnis di 60 negara. Pakar penerbangan mengatakan jaringannya sebagai yang terbesar di era pasca-Uni Soviet.

Sepak terjangnya di Belgia dan Uni Emirat Arab, yang dijadikan basis pengiriman senjata ke wilayah konflik, sudah diketahui dan terus dipantau para diplomat dan wartawan yang penasaran selama enam tahun terakhir.

Bout pernah mengirimkan bantuan kepada korban tsunami pada 2004, korban gempa Pakistan pada 2005, dan mengirimkan pasukan perdamaian PBB dan senjata ke Darfur, Sudan.

Senjata Rusia yang dikirim Bout kepada Hezbollah memberi banyak kerusakan pada Israel selama konflik Israel-Hezbollah tahun 2006.

Bout memiliki kehebatan sebagai pedagang senjata dan memberikan ketenangan kepada rezim rapuh dan kelompok-kelompok teroris. Dia mampu mengirimkan senjata tepat waktu dan hal ini berlangsung lama.

Menurut pakar yang mengetahui Bout, kehebatan terletak pada kemampuannya yang membuatnya lebih menarik ketimbang para panglima perang dan penyelundup.

Alex Yearsley dari Global Witness yang berbasis di London mengatakan, pengiriman senjata Bout dibayar dengan sumber daya alam di Afrika. Bout bisa menjadi siluman tidak saja karena minimnya keinginan politik, tetapi juga karena kekacauan politik di dunia nyata.

Jika tertangkap, Bout bukan diadili, malah dipakai kembali oleh sejumlah pemerintahan. Dewan Keamanan PBB tidak seragam soal penangkapannya. Kisahnya terbongkar sejak PBB menyatakan Bout sebagai penjahat dan Departemen Keuangan AS membekukan kekayaannya.

Bout tetap bisa melanjutkan operasi dari Rusia. Yearsley mengatakan, tampaknya Bout dilindungi Pemerintah Rusia. ”Dia tampak dilindungi pejabat tinggi Rusia, hidup bahagia di Rusia walau ada surat penangkapan dari Interpol dan Belgia. Dia dipakai Vladimir Putin untuk mengacau kelompok liberal Barat dan membuat sejumlah jenderal Rusia kaya,” lanjutnya.

Farah mengatakan, keinginan Bout bekerja sama dengan Hezbollah, Pengadilan Islam Somalia, dianggap sebagai kelompok Al Qaeda oleh AS, mempercepat kejatuhannya. ”Saya kira Bout ditangkap karena beberapa alasan. Dia tidak lagi berguna bagi AS karena bekerja sama dengan kelompok yang menjadi musuh-musuh AS,” kata Yearsley.

28
Dec
08

Tegakkan 7 Cita Politik Indonesia

Menyambut Tahun Baru 1430 Hijriyah 29 Desember 2008 dan Tahun Baru Kalender 1 Januari 2009, kiranya cukup bijak memahami lebih baik Pembukaan UUD 1945 yang tersusun dalam 4 (empat) alinea, yang menurut hemat penulis sebenarnya dapat dijabarkan dalam 7 (tujuh) bagian yang bisa disebut sebagai Cita Politik Indonesia yakni :

(1) Kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa dan oleh sebab itu maka penjajahan di atas dunia harus dihapuskan, karena tidak sesuai dengan Perikemanusiaan dan Perikeadilan; (2) Kemerdekaan Negara Indonesia yang Merdeka, Bersatu, Berdaulat, Adil dan Makmur; Pemerintahan Negara Indonesia yang (3) Melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia, (4) Memajukan kesejahteraan umum; (5) Mencerdaskan kehidupan bangsa, (6) Ikut melaksanakan Ketertiban Dunia yang berdasarkan Kemerdekaan, Perdamaian Abadi dan Keadilan sosial; (7) Susunan Negara Republik Indonesia yang berkedaulatan rakyat dengan berdasarkan kepada Ketuhanan Yang Maha Esa, Kemanusiaan yang adil dan beradab, Persatuan Indonesia, dan Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmah kebijaksanaan dalam permusyawaratan / perwakilan, serta dengan mewujudkan suatu Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

Dan saat ini dikenali pula ada 7 (tujuh) Lembaga Tinggi Negara yaitu (1) MPR (Majelis Permusyawaratan Rakyat), (2) DPR (Dewan Perwakilan Rakyat), (3) DPD (Dewan Perwakilan Daerah), (4) Presiden, (5) MA (Mahkamah Agung), (6) MK (Mahkamah Konstitusi), (7) BPK (Badan Pemeriksa Keuangan).

Sementara itu UU ParPol menyatakan a.l. bahwa ParPol berkewajiban melakukan pendidikan politik dan menyalurkan aspirasi politik. Oleh karena itulah, bilamana ParPol dalam tubuh negara dapat diibaratkan sebagai darah dalam tubuh manusia, maka ParPol bertugas mentransportasi aspirasi politik rakyat (terutama terkait ke-7 Cita Politik termaksud diatas) kepada misalnya ke-7 Lembaga Tinggi Negara tersebut diatas melalui saluran demokrasi, layaknya darah mentransportasi sari makanan / minuman, vitamin, protein dlsb kepada 7 (tujuh) organ tubuh manusia seperti otak, jantung, paru, hati, ginjal, limpa, pancaindera, dlsb melalui saluran darah. Artinya, bilamana saluran demokrasi terganggu dan/atau malah tersumbat maka dapat dipastikan muncul beragam penyakit masyarakat yang dalam tingkatan yang serius berakibat fatal bagi kehidupan berbangsa dan bernegara, layaknya saluran darah terganggu dan/atau malah tersumbat (dalam hal ini seperti plak2 di dinding saluran darah dampak lemak tidak jenuh) maka dapat dipastikan muncul beragam penyakit yang bisa kronis dan berakibat fatal bagi kehidupan manusia.

Dalam pengertian itulah, maka dapat dipahami bahwa perawatan kesehatan tubuh negara layaknya perawatan kesehatan tubuh manusia juga, artinya perawatan kesehatan kehidupan demokrasi misalnya berupa pemberdayaan peranserta pemenuhan hak setiap warga negara dalam memperoleh kesempatan yang sama dalam pemerintahan seperti melalui Pemilihan Umum adalah penting dilakukan mengingat aspirasi ke-7 Cita Politik diatas adalah strategik untuk senantiasa dikiprahkan dalam kehidupan se-hari2. Sehingga bilamana Pemilihan Umum itu tidak diperansertai oleh bagian masyarakat yang lazim disebut GolPut (baik karena alasan administratif maupun pragmatis ataupun ideologis) maka dapat dipastikan GolPut tadi tidak turut serta menyumbangkan peran terbaiknya dalam upaya membangun kehidupan pemerintahan demokratis yang dinamis, kreatif dan konstruktif bagi perkembangan politik kenegaraan terutama dalam rangka kehidupan sosial politik agar tidak meresah.

Namun, kalaupun tidak dapat terhindarkan karena berbagai alasan yang teknis maupun manusiawi, masih dalam kerangka Cita Politik termaksud diatas, sesungguhnya bagian masyarakat itu masih dapat diharapkan berdayaguna bagi kepentingan politik kemasyarakatan, kebangsaan dan kenegaraan, dalam kiprah strategi ketahanan bangsa lainnya seperti kehidupan sosial ekonomi agar tidak mengganas, kehidupan sosial budaya agar tidak memudar dan kehidupan sosial ekologis tidak menggersang.

Oleh karena itulah, organisasi2 terstruktur kemasyarakatan nonParPol seperti Organisasi2 Kemasyarakatan, Organisasi2 Kemahasiswaan, Organisasi2 Kepemudaan, Lembaga2 Swadaya Masyarakat patut diharapkan dapat mengambil peran lebih pro-aktif melakukan pemberdayaan masyarakat GolPut ini, termasuk pembangunan sadar politik kebangsaan dan cinta tanah air, melalui ragam program pengembangan masyarakat. Karena pembangunan kemasyarakatan dan kebangsaan juga berujung dukungan positif bagi kehidupan kenegaraan. Dengan kata lain, ketidakikutsertaan membangun perangkat pejabat publik penyelenggara pemerintahan bukan berarti tertutup peluang peranserta sebagian masyarakat itu bagi pembangunan sadar kehidupan kenegaraan. Apalagi APBN (Anggaran Pendapatan Belanja Negara) dan APBD (Anggaran Pendapatan Belanja Daerah) seringkali semakin dirasakan terbatas, sehingga memang perlu pengembangan aturan struktural yang dapat disepakati bersama tentang peranserta anggaran lain non-pemerintah atau swasta dan/atau swadaya masyarakat pada pemberdayaan masyarakat.

Bagaimanapun, keberdayaan segenap komponen bangsa kini adalah tepat manfaat bagi gerakan semesta kebersamaan, solidaritas atau kesetiakawanan guna atasi dampak krisis ekonomi keuangan global, dan itu tidak cukup dengan pengadaan stimulus ekonomi semata namun perlu pula keserentakan berpasangan dengan sosialisasi lebih intensif ke-7 Cita Politik termaksud diatas, demi perkuatan faktor2 Persatuan dan Kesatuan Bangsa, berpola Pembangunan Karakter & Pekerti Insani.

Jakarta, 28 Desember 2008

DR Ir Pandji R Hadinoto, MH / www.cendekia45.co.cc

28
Dec
08

Pelajar Pejuang Kemerdekaan

Nortier Simanungkalit, Komponis Pejuang45

Fajar kemerdekaan

Kami songsong dengan tegar

Pelajar sang remaja

Jiwa raga masih segar

Pertaruhkan segalanya

Siap ke medan perang

Kemerdekaan harus kami rebut

Wajib maju, maju menyerang

Pelajar pejuang

Pelajar pejuang bahu membahu bersama

Tentara dan laskar rakyat semesta

Pelajar Pejuang

Pelajar pejuang Kemerdekaan

Unsur tonggak sejarah Indonesia

25
Dec
08

Dialog Bela Negara — 20-Desember-2008

bersama_pak-kalit

25
Dec
08

Kecerdasan Ke-7 Sumberdaya Kerjasama


Pada intinya, tiap orang memiliki kecerdasan yang berbeda. Howard Gardner, Profesor Pendidikan Universitas Harvard membagi Kecerdasan Manusia dalam 9 (sembilan) macam, dikenali sebagai Multiple Intelligences atau Kecerdasan Majemuk [Koran Jakarta, 19 Desember 2008]. Kecerdasan tersebut adalah (1) Visual Spatial, (2) InterPersonal, (3) Bodily-Kinesthetic, (4) Naturalist, (5) Verbal Linguistic, (6) Logical-Mathematical, (7) Musical-Rhythmic, (8) IntraPersonal, (9) Existential.

Dalam pengertian itulah, patut disyukuri bahwa pada Dialog Bela Negara 20 Desember 2008 di Jl. Cipete VII No. 86A, Kompleks P & K, Jakarta Selatan, diperoleh bahasan terkait Kecerdasan Ke-7 yakni Musical-Rhythmic, dari praktisi paduan suara sebagai perangkat penggelora Bela Negara, antara lain dari Bapak Jenderal TNI (Purn) Tyasno Sudarto, mantan paduan suara Gelora Patria, bahwa karir KSAD beliau tidak terlepas dari kemampuan bekerjasama dalam keteraturan untuk menghasilkan harmoni layaknya unjuk kerja paduan suara. Demikian pula Bapak Samodra Sriwidjaja, mantan paduan suara Bana Patria, bahwa ketika menjadi DuBes RI di Wahington DC, menemukan filosofi keserentakan bagi unjuk kerjasama antar anggota Perhimpunan Bangsa Bangsa layaknya praktek keserentakan paduan suara. Lebih lanjut, Bapak Prof DR Sri-Edi Swasono yang pengamat Musik Klasik bahkan membenarkan bahwa keteraturan Intelektualitas terkait erat dengan kemampuan Bermusik.

Jiwa Joang45, Kecerdasan Musikal dan Konsistensi terbukti berujung Keteladanan berupa karya yang manfaat sepanjang masa bagi masyarakat, bangsa dan negara, sebagaimana ditunjukkan oleh Bapak Nortier Simanungkalit, Komponis Pejuang 45, pencipta 320 komposisi lagu paduan suara dengan bukti terakhir dinyanyikan oleh 99 kelompok paduan suara di Aula Institut Teknologi Bandung, 24 – 31 Agustus 2008 ybl.

Penguatan Kerjasama dalam Keserentakan layaknya unjuk kerja paduan suara tersebut diatas itu tampaknya adalah kondisi obyektif prasyarat mimpi bersama strategi ketahanan bangsa antara lain ketika menghadapi kegalauan akibat munculnya situasi dan kondisi benturan Pemilu 2009 versus Tsunami Ekonomi [Kompas, 24 Desember 2008].

Selengkapnya, Profesor Howard Gardner membagi Kecerdasan sebagai berikut :

(1). Kecerdasan Visual Spatial merupakan kecerdasan untuk memahami sesuatu secara konsep. Orang yang memiliki kecerdasan ini lebih mengerti melalui gambar dibandingkan dengan kata-kata. Mereka umumnya mampu mengapresiasikan pikirannya melalui gambar, pewarnaan, desain, serta peta.

(2). Kecerdasan InterPersonal merupakan kemampuan untuk memahami orang lain. Pribadi yang memiliki interpersonal tinggi mampu mengerti intensi, motivasi, dan keinginan orang lain. Kemampuan interpersonal yang baik akan menunjang pekerjaan di bidang akademisi, sales, pemuka agama, serta para pemimpin politik. Kemampuan ini akan semakin berkembang bila individu tersebut menambah wawasan pengetahuan.

(3). Kecerdasan Bodily-Kinesthetic banyak menggunakan gerak tubuh untuk berkomunikasi. Kecerdasan ini terlihat pada anak yang belajar berinteraksi pada lingkungan tertentu. Dansa dan membuat prakarya merupakan kecerdasan yang disalurkan melalui bodily-kinesthetic.

(4). Kecerdasan Naturalist adalah mereka yang biasanya senang pada hal2 yang bersifat natural seperti mencintai binatang, berkebun, serta melakukan aktivitas di luar ruangan.

(5). Kecerdasan Verbal-Linguistic adalah mereka yang biasanya memiliki kepekaan terhadap bahasa lisan dan tulisan, kemampuan untuk belajar bahasa, dan kemampuan menggunakan bahasa. Individu yang memiliki kemampuan ini mampu menggunakan bahasa retorika maupun puitis. Selain itu, bahasa digunakan sebagai sarana untuk mengingat informasi. Orang-orang yang memiliki kemampuan dalam bidang ini biasanya bekerja sebagai penulis, penyair, wartawan, atau menjadi juru bicara.

(6). Kecerdasan Logical-Mathematical adalah orang yang mempunyai kemampuan menganalisis pada masalah2 yang bersifat logis. Kecerdasan ini a.l. digunakan untuk memecahkan persoalan matematika dan menyelidiki masalah2 yang berbau ilmiah.

(7). Kecerdasan Musical-Rhythmic yakni kecerdasan musisi yang mengandalkan pada keahlian dalam kinerja yang berkaitan dengan komposisi musik, apresiasi pola musik, mengenali dan menyusun nada.

(8). Kecerdasan IntraPersonal yaitu merupakan kemampuan memahami diri sendiri. Kecerdasan ini digunakan untuk memahami perasaan, rasa takut, dan motivasi. Kecerdasan ini bermanfaat untuk mengelola diri sendiri dari berbagai persoalan hidup yang muncul dalam masyarakat.

(9). Kecerdasan Eksistensial adalah bertitiktolak pada masalah2 pokok kehidupan, seperti makna hidup, arti kematian, psikologis dan pengalaman mengenal cinta. Kecerdasan ini untuk mencari hubungan antara dunia dengan kebutuhan untuk belajar. Profesi yang perlu kecerdasan ini adalah rohaniwan, filsuf, seniman, ilmuwan, dan orang2 mencari jawaban atas pertanyaan hakiki mengenai kehidupan manusia dan alam semesta.

Bagaimanapun, adalah alangkah indahnya dan dahsyatnya ketika Kerjasama dalam Keserentakan itu dapat terwujud dari harmoni prakarsa Kecerdasan Majemuk guna satu tujuan yaitu Kebersamaan demi Strategi Ketahanan Bangsa, antara lain agar supaya kehidupan sosial ekonomi tidak mengganas dan kehidupan ideologis tidak retak.

Selamat Hari Natal 25 Desember 2008 dan Tahun Baru 1 Januari 2009.

Jakarta, 25 Desember 2008

Pandji R Hadinoto / www.cendekia45.co.cc / HP : 0817 983 4545


/ Home / Politik & Hukum / KOMPAS

Dialog Golkar

Pemilu 2009 Lawan Tsunami Ekonomi

Rabu, 24 Desember 2008 | 02:57 WIB

Dalam diskusi politik akhir tahun di kantor Dewan Pimpinan Pusat Partai Golkar, Slipi, Jakarta, Jumat (19/12), wartawan senior Kompas, Budiarto Shambazy, mengemukakan prediksi tentang adanya benturan antara Pemilu 2009 dan tsunami ekonomi. Tsunami ekonomi ini akan parah dan bisa berakibat parah pula bagi pemilu di negeri ini.

Dalam sejarah pemilu di Indonesia, konflik yang terjadi tak pernah sebesar konflik di luar pemilu. ”Seperti pada masa kampanye Pemilu 1982 di Lapangan Banteng, Jakarta, tidak menimbulkan korban jiwa walaupun beberapa mobil rusak,” ujar Budiarto. Ia melanjutkan, ”Tetapi pada masa tsunami ekonomi, saya tidak tahu apa yang akan terjadi.”

Wakil Presiden M Jusuf Kalla, selaku Ketua Umum Partai Golkar, menanggapi prediksi itu dengan menyatakan, ”Memang bisa terjadi tsunami ekonomi, tetapi ada celahnya, yakni kita jauh dari episentrumnya.”

Diskusi yang dipandu artis Nurul Arifin dan presenter Meuthia Hafiz itu dihadiri sebagian besar fungsionaris Partai Golkar. Pengamat politik seperti Eep Saefullah Fatah, Daniel Sparringa, Indra J Piliang, dan Bachtiar Ali jadi pembicara pula.

Menghadapi tsunami ekonomi ini dibutuhkan seorang pemimpin yang mampu menghadapi situasi sulit. Menghadapi tsunami ekonomi ini, rakyat diduga belum berharap banyak kepada partai politik, anggota legislatif, dan tokoh informal. Suka atau tidak suka, rakyat masih mengharapkan pada presiden.

Maka, dalam penjaringan calon presiden yang mampu menghadapi krisis itu, tidak bisa diserahkan kepada satu partai. Perlu ada mimpi bersama. Ini menjadi masalah bangsa. Harus ada kerja sama atau koalisi partai politik. Parpol yang diharapkan kebersamaannya antara lain Partai Golkar, Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P), dan Partai Keadilan Sejahtera (PKS). Namun, diharapkan Partai Golkar yang mempunyai pengalaman dalam menjaga stabilitas akan menjadi pelopor dalam kerja sama itu.

Calon presiden yang tampak saat ini, menurut Budiarto, masih diragukan. ”Bukan karena kurang mampu, tetapi tsunami ekonomi itu memang dahsyat,” katanya lagi.

Akan tetapi, lanjut dia, masih ada yang mau mencalonkan presiden sudah cukup lumayan. ”Karena kalau sampai tidak ada yang mau atau mundur dari pencalonan presiden, itu pertanda situasinya memang sangat dahsyat. Ini celaka,” paparnya.

Uraian ini ditanggapi Jusuf Kalla dengan menganalogikan tsunami ekonomi dengan tsunami yang menimpa Nanggroe Aceh Darussalam. Malaysia, Filipina, India, dan beberapa negara lain juga terkena imbas tsunami itu, tetapi tidak terlalu parah karena jauh dari episentrumnya. Dalam tsunami ekonomi, Indonesia terkena imbasnya di tingkat tiga, tidak terlalu dekat. ”Tsunami ekonomi akan sangat terasa di negara maju yang banyak ekspornya,” ujarnya.

Walaupun tidak diucapkan dalam kata, pernyataan Kalla itu terasa sekali untuk mengembangkan optimisme bangsa ini. Itu mirip dengan ucapan tsunami ekonomi itu tidak terlalu mengkhawatirkan pada masa pemilu mendatang. Budiarto pun berharap tidak akan terjadi konflik dalam pemilu di tengah tsunami ekonomi.

Mungkin bukan hanya disebarkan rasa optimisme menghadapi tsunami, tetapi kesiapan menghadapi hal terburuk perlu juga disampaikan. Sebab, riak gelombang pemutusan hubungan kerja terhadap pekerja Indonesia sudah terasa. (J OSDar)




Blog Stats

  • 3,242,738 hits

Recent Comments

Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Sejarah : Bangsa Lemuria, Lelu…