Posts Tagged ‘Business

09
Jan
13

Bisnis : Investasi Kayu Jabon

Apa Itu Jabon?

Apa Itu Pohon Jabon?

Apa itu pohon Pohon Jabon?, Tahukah anda Jabon? Jabon adalah tanaman kayu yang saat ini sedanf trend, ddngan tingat kebutuhan kayu didunia yang terus meningkat, sedangkan kondisi hutan indonesia yang semakin kritis, saat ini Pohon Jabon menjadi salah satu solusi bagi industri perkayuan untuk mengatasi kendala bahan baku yang semakin habis.

Pohon jabon atau Anthocephalus cadamba adalah tanaman kayu penghijauan yang pertumbuhanya tercepat di dunia, dengan pertumbuhan rata-rata dengan diameter 10 cm per tahun dan dapat mencapai ketingian 25 m dan dapat dipanen pada usia 5 tahun dengan volume kayu +0,9 m3/pohon dan kayu jabon jika dijual dapat mencapai +Rp.1.000.000,-/pohon tergantung besar kecilnya kayu.

Pohon Jabon merupakan tanaman kayu yang cukup populer, dan cocok sebagai bahan baku furniture, kayu lapis, pulp, kertas, mainan anak-anak, hingga batang korek api juga memerlukan kayu jabon ini. Selain itu permintaan ekspor kayu jabon pun terus meningkat, maka tidak heran jika harga kayu jabon dari tahun ke tahun terus melonjak.

Siasat bisnis baru investasi kayu jabon

Merdeka.comMerdeka.com 

MERDEKA.COM,Masyarakat boleh saja meributkan bisnis investasi kayu jabon, apakah terindikasi money game atau tidak. Namun bagi Hendrayana, Manajer dan Penanggung Jawab Sistem di PT Global Media Nusantara (GMN), pemilik program I-GIST (International Green Investment System), meyakini bisnis itu aman. Sebab, menurut dia, perusahaannya tidak pernah mengelola dana investasi laiknya manajer keuangan.“Kami mengalokasikan uang investasi langsung ke lapangan. Untuk mengelola bibit kayu jabon, menyiapkan lahan, memupuk, merawat, dan menjaga keamanan bibit. Jadi lebih tepatnya, kami ini menjual jasa pengelolaan tanaman kayu jabon,” kata dia ketika dihubungi merdeka.com kemarin melalui telepon selulernya.Selama ini, kata dia, GMN melalui paket program I-GIST hanya murni menjual produk satu paket pengelolaan bibit kayu jabon plus lahan. Perusahaan juga memberikan tanda terima berupa sertifikat pengelolaan. Jadi, kata dia, uang investasi tidak hanya diputar-putar sedemikian rupa seperti perusahaan investasi pada umumnya, melainkan langsung disalurkan sesuai amanat pembeli.Bagaimana dengan sistem Multi Level Marketing (MLM)? Menurut dia, itu hanya salah satu cara untuk mendongkrak penjualan. Investor boleh menjadi investor aktif dengan ikut mencari investor baru, boleh juga tidak atau menjadi investor pasif. Bagi investor yang bisa mengajak orang mendapat komisi, bukan bonus.

Penanggung jawab lahan, Dadan, mengatakan hal serupa. Menurut dia, produk bibit kayu jabon selama ini hasil budidaya sendiri. Sebab perusahaan memiliki target lima tahun panen sehingga bibit harus seragam, yakni diambil dari induk pohon langsung berusia 42 tahun. Harga bibit juga bervariasi, tergantung jarak pengiriman. Misalnya di Garut, Jawa Barat, harga satu bibit hanya Rp 1.750.

Sementara di Serang, Provinsi Banten, kata dia, harganya hanya Rp 1.500. Berbeda lagi dengan harga bibit di Sumedang dan Sumbawa, rata-rata harganya Rp 2.000. Karena GMN menjual bibit dalam bentuk paket, lengkap dengan lahan dan pengelolaan, harganya lebih mahal antara Rp 150 ribu hingga 160 ribu satu biji.

Perhitungannya, 65 persen dari harga buat rencana pemasaran, sisanya 35 persen untuk biaya penanaman; pencarian lahan, legalitas, pemasangan kamera, infrastruktur, perawatan dan pemeliharaan selama lima tahun. Namun GMN menjual harga paketan. Misalnya untuk harga paket Rp 500 ribu, investor hanya mendapat dua bibit. Paket Rp 8 juta, investor mendapat 52 bibit, paket Rp 10 juta mendapat 67 bibit, dan paket Rp 71 juta mendapat 469 bibit.

Hingga kini, kata dia, perusahaan sudah menanam bibit jabon di lahan seluas 200 hektar. Lahan itu tersebar di Cianjur 16 hektar, Wado 50 hektar, Leles 50 hektar, kemudian Sumbawa Barat 15 hektar, Awasagara 50 hektar, Singajaya 100 hektar, dan terakhir Banten 13 hektar. Setiap hektar ditanami 1.200 bibit. ”Sekarang sudah 90 hektar lahan tertanami,” katanya.

Sumber: Merdeka.com

Berita Lainnya

Pohon jabon, dulu murah sekarang mahal

Merdeka.comMerdeka.com 

MERDEKA.COM,Berbicara masalah nilai harga kayu untuk bahan furnitur, jelas jati menempati urutan teratas. Menurut R. Rahardian, pengamat agrobisnis, kayu jati memiliki tingkatan dan kelasnya tersendiri. Kayu jati Indonesia adalah salah satu yang terbaik di dunia. Dia menilai ada penguji khusus menilai kualitas sebuah kayu jati.

Meski begitu, bisnis investasi agrobisnis banyak berkembang saat ini justru meninggalkan kayu jati sebagai bahan jualan. Rata-rata perusahaan investasi menawarkan penanaman pohon jabon atau sengon untuk ditawarkan kepada pemilik dana.

Bergesernya pilihan itu, menurut Rahardian, karena masa panen pohon jati butuh waktu lama, bisa sepuluh tahun lebih. Masa tunggu panen itu bisa membuat investor kelamaan menunggu. “Tapi sekarang kebutuhan kayu makin tinggi, pohon apapun laku. Lihat saja pohon kapuk ringan kaya gitu masih bisa dijual,” kata Rahardian kepada merdeka.com saat ditemui di kantornya, kawasan Jalan Gunung Sahari, Jakarta Pusat, Kamis pekan lalu.

Maka tidak mengherankan, tawaran investasi penanaman pohon, meski bukan jati akan tetap laku. Lihat saja pohon jabon atau sengon. Bagi Rahardian, sebelum 1980-an, pohon jabon dan sengon nyaris tidak memiliki harga sama sekali.

Namun, hal itu berubah, sejak awal 1980-an kebutuhan kayu makin meningkat dari Korea Selatan dan Jepang sebagai bahan bangunan ringan. Maka tidak mengherankan hal itu membuat nilai jual dan minat masyarakat kepada kedua jenis kayu itu terbuka lebar. “Dua jenis kayu itu kualitasnya di bawah jati, tapi pohon sengon lebih bagus dari kayu jabon,” ujar Rahardi.

Rahardi masih tidak percaya dengan sistem investasi menawarkan keuntungan berlipat dari investasi penanaman jenis pohon itu. Selain tidak ada kepastian hukum, menurut dia, harga investasi setiap pohon jabon ditawarkan terlalu mahal. Rahardi menuturkan harga bibit jabon dijual petani saat ini masih berkisar di bawah lima ribuan.

Bahkan, Rahadi merekomendasikan, jika ingin investasi lebih jelas kenapa tidak ikut serta program Perum Perhutani yang jelas-jelas butuh modal. Kalaupun alasan bisnisnya untuk mengurangi pemanasan global, Rahardi memprotes hal itu. Dia menilai, kalau ingin benar-benar tanam pohon untuk lingkungan kenapa harus jenis pohon memang untuk ditebang.

“Kalau seperti itu niatnya terus apa bedanya dengan tanam singkong, panen, kemudian tanam lagi atau sebaliknya,” kata Rahardian lebih lanjut. Dia menilai alasan ikut berpartisipasi mengurangi pemanasan global hanya alasan bisnis saja, bukan atas dasar pamrih.

Pendapat berbeda dikemukakan Abdullah Syam, tim ahli PT. Global Media Nusantara (GMN). Pohon jabon ditawarkan pihaknya berbeda dengan jabon biasanya. Jabon dia kelola adalah jabon dari hasil penelitian cukup lama. Jenis jabon itu memiliki kualitas tahan terhadap serangan hama dan dijamin tidak bengkok.

Mahalnya harga pohon jabon dia kelola wajar karena masuk dalam satu paket investasi: tanam, perawatan, hingga panen. Selain itu, menurut Abdullah, jenis pohon jabon itu akan terus dikembangkan. Dia mengatakan sudah berbicara dengan seorang peneliti lulusan Jerman yang juga paham tentang bagaimana mengembangkan pohon jabon.

Mengenai sistem bisnis dijalankan PT. GMN, Abdullah juga staf ahli dari Pusat Litbang Konservasi dan Rehabilitasi di Kementerian Kehutanan mengaku tidak tahu begitu detail. Dia diangkat sebagai penasihat perusahaan untuk mengurusi bidang teknis penanganan jabon, mulai dari menyeleksi, menanam, merawat, hingga panen.

“Sejak diminta sebagai penasihat dalam ke bisnis ini, saya bilang ke PT. GMN, bukan hal teknis yang memajukan bisnis, tapi kejujuran, kerja keras, dan transparansi akan membuat sukses,” ujar Abdullah saat dihubungi merdeka.com kemarin melalui telepon selulernya.

Meski penanaman pertama baru berumur setahun lebih dan perusahaan memanen. Abdullah yakin hasilnya bakal banyak diminati. Bahkan saat ini, dia mengaku sudah ada satu pejabat dari Karawang memesan pohon telah ditanam. “Yang pasti perusahaan kayu lapis akan membutuhkan jenis kayu ini.”

Sumber: Merdeka.com

16
Dec
12

Kewirausahaan : Kombinasi WarTeg dan Restoran

INSPIRASI SISWADI

Siswadi merambah kuliner setelah sukses bisnis bimbel (3)

Oleh Bambang Rakhmanto – Kamis, 11 Agustus 2011 | 13:06 WIB
Siswadi merambah kuliner setelah sukses bisnis bimbel (3)

Sukses mendirikan 45 cabang bimbingan belajar membuat Siswadi kian getol mengembangkan bisnisnya. 2010 lalu, ia membuka restoran Rest Door yang membidik pasar mahasiswa dan karyawan. Hanya dalam jangka setahun, ia berhasil membuka tujuh cabang Rest Door dengan omzet Rp 420 juta per bulan.

Setelah sukses membangun usaha bimbingan belajar (bimbel) Solusi Bintang Mandiri, tidak membuat Siswadi berpuas diri. Mantan pengamen jalanan di Terminal Pulo Gadung itu bahkan kian getol mencari peluang bisnis baru. Bidang usaha baru yang dilirik Siswadi adalah bisnis kuliner.

Bersama lima orang temannya, pada 2010 lalu, Siswadi membuka restoran dengan modal Rp 50 juta. Pertama kali, ia membuka restoran itu di Ciputat, Banten, tidak jauh dari kampus Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah, Jakarta.

Begitu dibuka, restoran tersebut ternyata mampu menggaet banyak pelanggan yang kebanyakan berstatus mahasiswa. Tidak hanya menjadi tempat makan saja, restoran Siswadi juga sering menjadi tempat nongkrong mahasiswa.

Karena pasarnya mahasiswa, Siswadi sengaja menyajikan menu murah seperti laiknya mengudap di warung tegal (warteg). Dengan isi kantong Rp 5.000 saja, pelanggan sudah bisa makan dengan kenyang. Namun, demi kenyamanan Siswadi menerapkan layanan kelas restoran.

Tengok saja ruang restoran yang terkesan mewah karena ber-AC dan dilengkapi dengan teve layar datar. Tak hanya itu, restoran yang diberi nama Rest Door itu dilengkapi perangkat audio yang tak henti bersenandung saat pelanggan melahap hidangan. “Konsep ini memadukan warteg dengan restoran berbintang,” kata Siswadi.

Perkawinan warteg dengan restoran itu pun menjadi kunci sukses bisnis restoran Siswadi. “Warteg punya keunggulan yaitu murah, ini penting untuk diadopsi,” kata Siswadi.

Tidak cukup setahun, Siswadi memutuskan menambah cabang. Kali ini, ia melirik segmen lain selain mahasiswa. “Ada peluang untuk karyawan perkantoran,” kata Siswadi.

Untuk melayani urusan perut para karyawan kantoran itu, Siswadi lantas membuka cabang Rest Door di Jalan Gatot Subroto. Tak hanya itu, ia juga membuka enam gerai lagi yang tersebar di Pamulang, Pondok Gede, dan di beberapa tempat di wilayah Jabodetabek lainnya. “Total ada tujuh cabang yang saya buka dalam setahun,” kata Siswadi

Dewi Fortuna memang lagi berpihak pada Siswadi. Pendapatan tujuh restoran itu sesuai dengan harapan Siswadi. Walaupun keuntungan yang ia kutip relatif kecil, Siswadi berharap perputaran uang dari banyaknya pelanggan. “Harga murah serta tempat yang nyaman akan membuat orang kembali lagi makan ke tempat kami,” jelas Siswadi.

Dari setiap restoran, Siswadi bisa mendulang omzet minimal Rp 2 juta per hari. Artinya, dalam sebulan tujuh restoran itu bisa mendatangkan omzet hingga Rp 420 juta.

Setelah usaha bimbel dan restoran menemukan jalan terang, Siswadi mengaku tidak mau muluk-muluk. Tahun ini, ia hanya ingin fokus mengembangkan bisnis yang ada. “Restoran ini baru setahun, kami kembangkan dulu” kata anak ketiga dari empat bersaudara itu.

Dalam mengembangkan bisnis, Siswadi memiliki satu niat yaitu membahagiakan sang ibu. Ia bilang, perjalanan hidup yang ia alami selama ini tidak lepas dari motivasi yang diberikan oleh sang Ibu. “Sumber semangat bisnis itu paling utama adalah keluarga,” kata Siswadi yang sedari kecil ditinggal pergi oleh sang Ayah.

Selain sukses bikin usaha sendiri, pria yang berusia 27 tahun itu sukses menyelesaikan kuliah. Dengan meraih gelar sarjana, ia juga bisa merealisasikan cita-cita keluarga. “Sebelumnya di keluarga saya tidak ada satu pun yang bisa melanjutkan kuliah,” tutur Siswadi.

Kebahagian Siswadi juga tercukupi saat ia berhasil menemukan sang Ayah yang telah meninggalkan dia sejak ia berusia lima tahun. Siswadi mendapat informasi tentang keberadaan sang Ayah dari salah seorang tetangga di kampung halaman. “Saya langsung mencari ke lokasi untuk membuktikan kebenaran informasi itu,” kata Siswadi.

Ternyata, ayah Siswadi menetap tidak jauh dari desa. Saat ditemui Siswadi, sang ayah sudah uzur. “Alhamdulillah, saya bisa menemukan beliau,” kata Siswadi yang kini bercita-cita ingin membahagiakan kedua orang tuanya itu.

(Selesai)

 

28
May
10

Politik : Koalisi Politisi dan Pengusaha ?

Anas Bos Demokrat, Koruptor Bahagia?

lokasi: Home / Berita / Analisa / [sumber: Jakartapress.com]

Kamis, 27/05/2010 | 19:16 WIB Anas Bos Demokrat, Koruptor Bahagia?Anas Bos Demokrat, Koruptor Bahagia?

Salah satu Ketua DPP Partai Demokrat Anas Urbaningrum telah menjadi ketua umum Partai Demokrat. Mantan anggota KPU ini mengalahkan pesaingnya di Kongres II Partai Demokrat, minggu ke-4 Juni lalu, yaitu Andi Malarangeng dan Marzukui Alie.  Namun, ada isu bahwa di belakang ‘pendanaan’ menangnya Anas ini ada konglomerat Arta Graha Tomy Winata, sehingga bisa unggul menaklukkan perolehan suara lawan tandingnya. Meski masih perlu dibuktikan kebenarannya, namun gosip tersebut sempat beredar. Isu sebelumnya adalah dugaan keterlibatan Anas dalam kasus suap/korupsi di Komisi Pemilihan Umum (KPU). Isu ini sempat muncul saat Anas mendeklarasikan diri menjadi calon ketua umum Partai Demokrat bulan lalu di Hotel Sultan Jakarta.

Acara deklarasi Anas Urbaningrum tersebut dilaksanakan di Hotel Sultan yang mewah dan berbintang lima di Jakartas, menurut sekretaris tim sukses Anas, Angelina Sondakh, sudah 359 orang check-in di Hotel Sultan untuk menyongsong malam acara deklarasi Anas pada medio April lalu (Koran Tempo, 15/4). Sungguh suatu “lompatan besar” bagi seorang Anas Urbaningrum bisa mendeklarasikan pencalonannya di hotel super mewah.

Anda bisa mengkalkulasikan sendiri harga kamar standar Hotel Sultan untuk minimal 2 malam (menurut web site hotel sultan hari ini room rate rata-rata mulai dari US$ 100 per malam), belum lagi biaya untuk penyelenggaraan, konsolodasi, mobilisasi dan mendatangkan artis. Kontras sekali dengan 8 tahun yang lalu, dimana Anas “hanya” seorang anggota KPU Pusat dan baru mentas jadi celeb politik Indonesia. Kalau kata Tukul Arwana masih ‘katro‘.

Seperti opini yang ditulis oleh Ferly Norman dalam situs Kompasiana, 15 April 2010, ia mengurai tentang dugaan keterlibatan Anas Urbaningrum dalam kasus suap saat menjadi anggota KPU. Tepatnya tanggal 8 Juni 2005, Anas didampingi oleh Wakil Ketua KPU Ramlan Surbakti dan Anggota KPU lainnya Valina Sinka Subekti, mengadakan jumpa pers pengunduran dirinya sebagai anggota KPU. Disebabkan hengkangnya ia ke Partai Demokrat sebagai Ketua Bidang Politik. Padahal KPU Pusat saat itu ditengah sorotan publik akibat gratifikasi dan tertangkap basahnya Mulyana W Kusumah oleh KPK ketika akan menyuap auditor BPK Khairiansyah Salman.

Sungguh tindakan “penyelematan diri” yang gemilang dan timing yang tepat saat itu. Terbukti pamor Anis makin mencorang setelah itu, sedangkan kemudian beberapa Anggota KPU masuk bui dan yang lainnya pamornya telah tenggelam di hiruk pikuk dunia politik Indonesia. Jadi jangan heran, Bung Anas membayar penyelamatan tersebut dengan retorika yang apik (kadang-kadang tidak nyambung) dan membela habis-habisan kebijakan pemerintah ketika PD dirundung malang akibat gempuran kaus pat-gulipat Bank Century.

Untuk menyegarkan ingatan pembaca maka penulis merangkum beberapa kesaksian seputar kasus KPU saat itu. KPU ketika itu menerima gratifikasi (kick back) dari 11 rekanan KPU sebesar Rp 20 miliar. Kemudian berdasarkan saksi-saksi di persidangan terungkap fakta sbb:

1. Kesaksian Mulyana W Kusumah, anggota KPU Pusat

•    Tertangkap basah oleh pegawai KPK ketika menyuap ketua sub tim investigasi BPK sebesar Rp 100 juta.
•    “Saya memang mengirim pesan pendek kepada Anas Urbaningrum, yang isinya meminta bantuan menggenapi uang Rp 300 juta untuk auditor BPK”. “Dalam jawabannya, Anas berjanji akan membicarakan permintaan tersebut dengan ketua KPU”. Tetapi Hakim Tipikor kala itu tidak mendalami kesaksian ini. Sehingga Anas “lepas” dari jeratan KPK saat itu.

2. Hamdani Amin, Mantan Kabiro Keuangan KPU Pusat

•    Semua anggota KPU mengetahui dana taktis yang berasal dari rekanan KPU senilai total Rp 20 miliar. Juga mereka (anggota KPU) telah menerima dana tersebut , mulai dari pimpinan sampai pegawai harian di lingkungan KPU (detik.com, 8/6/2005).
•    Menurut Hamdani, setiap anggota KPU menerima US$ 105 ribu (hampir Rp 1 miliar), Ketua dan Wakil Ketua KPU tentu saja lebih besar.
•    Saya mencatat semua pengeluaran dan peruntukan dari dana taktis tersebut secara detail.

3. Hasil Audit BPK terhadap KPU Pusat

•    BPK menemukan 33 indikasi penyimpangan senilai lebih dari Rp 179,444 miliar dalam pengadaan barang dan jasa Pemilu 2004 oleh KPU.
•    Semua penyimpangan tsb terdiri dari 4 bagian: Kekurangan penerimaan pajak dan keterlambatan pajakkepada rekanan, indikasi kerugian negara, dan pertanggungjawaban keuangan tidak sesuai dengan ketentuan, antara lain tidak dilampiri dokumen. Bagian keempat adalah pemborosan keungan negara termasuk adanya mark-up dalam pengadaan barang dan jasa.

Akibatnya kasus ini, Ketua KPU beserta 3 orang lainnya masuk bui. Dan lima orang anggota KPU lainnya (termasuk Anas) lepas dari jeratan hukum.

Sekarang dengan “beban sejarah” seperti itu Saudara Anas berani mencalonkan dirinya menjadi Ketua Umum Demokrat. Entah siapa yang mengelus-elus Anas sehingga maju mencalokan diri. Karena untuk menjadi Ketua Umum Partai di Indonesia, tidak hanya dibutuhkan kehebatan tetapi juga punya  “gizi” yang gemuk.

Nampaknya, dengan masa lalu Anas di KPU dulu, akan menjadikannya “tawanan” di mata beberapa oportunis dan para koruptor kakap di Indonesia. Jika ia berani melibas para mafia hukum tersebut maka pasti menimbulkan perlawanan yang kuat dari para koruptor tersebut. Kasus KPU Pusat tahun 2005 akan menjadi sasaran tembak sekaligus alat “gertak” dari sang koruptor.

Sekarang timbul pertanyaannya, apakah Anas sudah lupa dengan masalah di atas? apa karena ia dalam eforia kemenangan Pilleg dan Pilpres PD dan “diselamatkan” oleh PD sehingga ia merasa PD (Percaya Diri)? Itulah yang harus dihitung-hitung olehnya. Jangan-jangan menjadi ketua Umum PD membuat dia dibui di masa depan. Seperti slogan orang Medan, Ini Medan Bung! tetapi untuk Anas berubah menjadi: “Ini politik (yang kejam) Bung”! Itulah sebabnya, tulisan ini diberi judul: “Anas Bos Demokrat, Koruptor Bahagia”. (*/Ferly Norman/Kompasiana)

Apa Bedanya Setgab dan Sekber Golkar?
lokasi: Home / Berita / OPINI / [sumber: Jakartapress.com]

Rabu, 26/05/2010 | 23:14 WIB

Apa Bedanya Setgab dan Sekber Golkar?
OLEH: ARIEF TURATNO

BILA kita cermati pendirian Sekretariat Gabungan (Setgab) Partai Politik Koalisi Pemerintah yang dibentuk Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan Ketua Umum DPP Partai Golkar Aburizal Bakrie (Ical), mengingatkan kita kepada masa lalu, ketika sebelum meletus peristiwa G30S/PKI. Waktu itu kaum nasionalis yang merasa risi terhadap geliat PKI yang dianggap mulai merusak tatanan pemerintahan membentuk Sekretaris Bersama (Sekber) Kekaryaan yang kemudian berubah menjadi Sekber Golkar. Diawalnya, Sekber Golkar bukanlah partai politik, tetapi organisasi yang dibentuk untuk membendung pengaruh komunis. Namun, setelah pecah peristiwa G30S/PKI, Sekber Golkar berubah menjadi Partai Politik yang dalam perkembangan berikutnya jadi Golongan Karya (Golkar).

Karena sebagian unsur-unsur yang terlibat pembentukan Sekber Golkar di masa lalu hampir sama dengan kondisi saat pembentukan Setgab Partai Politik Koalisi Pemerintah. Maka ada yang mengidentikkan antara Sekber Golkar dan Setgab kali ini serupa, tetapi tidak sama. Serupa di sini karena sama-sama memiliki tujuan politik untuk memenangkan Pemilu 2014 nanti. Bedanya, situasinya sekarang tidak sama dengan dulu. Isu yang ada saat ini bukan lagi soal bahaya komunis, tetapi bahaya teroris. Pertanyaan dan persoalannya adalah apakah mungkin Setgab Partai Politik Koalisi Pemerintah akan sejalan dengan Sekber Golkar di masa lalu? Inilah yang menurut banyak pengamat tidak mungkin sama. Jika yang dimaksud dalam Setgab itu hanya dua partai, yakni Partai Golkar dan Partai Demokrat, mungkin saja asumsi tadi benar.

Namun kita harus ingat, bahwa sampai saat ini ada sedikitnya enam partai politik yang menjadi mitra atau koalisi pemerintah. Selain Partai Demokrat dan Partai Golkar, disana masih ada Partai Keadilan Sejahtera (PKS), Partai Persatuan Pembangunan (PPP), Partai Amanat Nasional (PAN), dan Partai Kebangkitan Bangsa (PKB). Keempat partai tersebut, memang hanya dua partai yang berazaskan Islam, yakni PKS dan PPP. Namun meskipun PAN dan PKB bukanlah partai politik yang berbasiskan Islam. Tetapi jangan lupa, bahwa PAN didirikan komunitas Muhammadiyah, dan PKB didirikan komunitas Nahdlatul Ulama (NU). Yang satu didirikan oleh Amien Rais, mantan Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, dan satunya lagi didirikan KH Abdurahman Wahid (Gus Dur), mantan Ketua Umum Pengurus Besar (PB) NU. Dan kedua organisasi Muhammadiyah dan NU adalah dua organisasi Islam terbesar di Indonesia saat ini.

Karena itu, meskipun PAN dan PKB tidak berazaskan Islam, tetap saja corak ke-Islaman kedua partai politik itu sangat kental. Nah, bila yang dimaksud Setgab Partai Politik Koalisi Pemerintah adalah yang keempat partai ini pula. Maka nampaknya akan sangat sulit untuk mencari format yang ideal demi mewujudkan Setgab tadi menjadi sebuah partai politik besar. Mengapa? Karena banyaknya perbedaan, banyaknya ketidaksamaan, dan inilah yang bakal menjadi persoalan di dalam maupun di luar. Situasi ini yang membedakan antara Setgab sekarang dengan Sekber Golkar di masa lalu. Meskipun format pembentukannya hampir mirip, tetapi para komponen yang bergabung di dalamnya tidak sama. Ini akan berbeda, bilamana keempat partai tadi keluar, digantikan dengan tiga partai atau dua partai yang di luar, yakni Partai Gerindra dan Partai Hanura, atau pun PDIP. Mungkinkah? Inilah yang sebenarnya pernah dicoba dan digagas SBY, namun nampaknya upaya itu untuk sekarang masih belum mungkin. Sebab masih banyaknya perbedaan di antara mereka. (*)

Ada Cukong Bisnis di Belakang SBY dan Ical?

lokasi: Home / Berita / Politik / [sumber: Jakartapress.com]

Kamis, 27/05/2010 | 20:03 WIB Ada Cukong Bisnis di Belakang SBY dan Ical?

Jakarta – Menjadi penguasa di sebuah negeri nampaknya harus bisa bersikap tegas terutama dalam menghadapi para pengusaha raksasa apalagi mereka yang datang dari luar. Sebab, kerapkali berbagai macam kebijakan hanyalah berupa negosiasi penguasa demi kepentingan-kepentingan modal semata. Hal tersebut juga berlaku bagi Presiden SBY juga pentolan Golkar Aburizal Bakrie (Ical). Siapakah di belakang mereka?

Budayawan Radar Panca Dahana menyatakan bahwa sebenarnya kekisruhan politik yang selama ini terjadi di Indonesia tidak bisa terlepas dari permainan sekelompok bisnis raksasa. Ia menduga ada beberapa kelompok elit bisnis yang berada di belakang SBY dan Ical.

“Untuk mensejahterakan sebuah masyarakat dan menciptakan stabilitas ekonomi, nampaknya SBY pun tidak bisa mengelak dari negosiasi-negosiasi dengan para pebisnis besar,” ujarnya saat sarasehan di Gedung Jakarta Media Center (JMC), Kamis (27 Mei 2010).

Menurutnya, SBY tidak bisa mengelak karena para pebisnis besar tersebut dapat menciptakan situasi ekonomi Indonesia lemah atau kuat. Mereka juga dapat mengguncang rupiah bahkan sampai Rp 15.000 atau Rp 20.000 per dolar.

“Kekuatan bisnis raksasa tersebut dapat mengguncang rupiah bahkan sampai Rp. 15.000. sebab itu mau tidak mau SBY nampaknya mesti bernegosiasi dengan para pebisnis tersebut,” tambahnya

Sebab itu, apa yang terjadi dalam kekisruhan politis saat ini, juga apa yang menimpa Sri Mulyani dan bersatunya SBY dan Ical sebenarnya bisa dibaca sebagai bersatunya kekuatan bisnis di belakang kedua orang tersebut.

Masalahnya adalah apakah SBY bernegosiasi secara win-win solution atau hanya menggadaikan kekayaan Indonesia kepada kerajaan bisnis tersebut tanpa mendatangkan kesejahteraan bagi rakyat miskin.

Koordinator Group Diskusi Aktivis 77/78 Muhammad Hatta Taliwang menyatakan bahwa apa yang terjadi pada Indonesia saat ini sangat menyedihkan, terutama berkenaan dengan aset-aset dan kekayaan Indonesia. “Berbagai macam sektor kekayan Indonesia seperti pertambangan habis dikuras oleh pebisnis besar tanpa mendatangkan keuntungan yang berarti bagi masyarakat Indonesia terutama masyarakat bawah,” tegas mantan anggota DPR RI dari PAN ini.

Belum lagi ditambah dengan besarnya jumlah hutang Indonesia. Terutama, lanjut dia, hutang-hutang yang bersifat politis. Hatta mengungkapkan, era pemerintahan Presiden SBY menghutang untuk biaya BLT, PNPM Mandiri yang diduga hanya untuk menaikkan popularitas SBY sebelum Pilpres 2009 lalu.

“SBY seperti menggadaikan negeri ini ke orang asing. Ia banyak berhutang untuk sesuatu yang bersifat politis seperti BLT dan PNPM Mandiri menjelang Pilpres. Sangat menyedihkan,” ujar anggota Gerakan Indonesia Bersih (GIB) ini. (boy)

Kasus Pajak, Putusan MA Diintervensi Setgab?

lokasi: Home / Berita / FOKUS / [sumber: Jakartapress.com]

Kamis, 27/05/2010 | 21:20 WIB Kasus Pajak, Putusan MA Diintervensi Setgab?

Jakarta – Anggota Komisi XI DPR RI Eva Kusuma Sundari dari Fraksi PDIP, menduga kemenangan PT Kaltim Prima Coal (KPC) dalam sengketa pajak senilai Rp 1,5 T dengan Ditjen Pajak di Mahkamah Agung (MA) tidak lepas dari keberadaan Sekretariat Gabungan (Setgab) Partai Koalisi. Apalagi, pengadilan pajak selama ini memang dikenal rawan intervensi.

“Saya tidak menyalahkan kalau orang mencurigai ada intervensi dari Setgab. Belum ada Setgab pun tingkat kepercayaan publik rendah terhadap pengadilan pajak, apalagi ada Setgab, malah makin buruk. Sebelum ada Setgab pengadilan ini yang paling korup kok,” kata Eva saat dihubungi, Kamis (27/5/2010).

Putusan MA yang menolak permohonan peninjauan kembali (PK) Ditjen Pajak, kata Eva, juga menunjukkan lembaga tertinggi peradilan itu tidak menghormati nota kesepahaman (MoU) yang sudah dibuat Kementerian Keuangan, Komisi Yudisial dan MA sendiri. MoU itu beirisi komitmen tiga lembaga untuk membenahi pengadilan pajak. “Belum ada pembenahan fundamental, malah ada putusan itu,” keluh politisi PDIP ini.

Eva menjelaskan sebanyak 85 persen kasus sengketa pajak di pengadilan pajak dimenangkan oleh perusahaan. Oleh karenanya, putusan itu juga menunjukkan tidak adanya political will MA untuk menyelamatkan uang negara. “Tidak ada political will menyelamatkan negara dari kerugian bertubi-tubi,” ungkapnya.

Terkait hal ini, Ketua DPP Partai Golkar, Priyo Budi Santoso, telah membantah adanya intervensi politik dalam kasus hukum perusahaan grup Bakrie ini. “Itu tidak ada hubungannya dengan Setgab. Jadi tidak ada intervensi apa pun,” kata Priyo kemarin. (*/dtc/jpc)

29
Oct
09

John Perkins : 4 Cara Suap Resmi di Indonesia

Satrio Arismunandar, Nasional-List.Com , 27 Oktober 2009

 

JOHN  PERKINS : 4 CARA SUAP RESMI DI INDONESIA
Dalam Confessions of Economic Hit Man, aku menggambarkan hubunganku pada akhir 1980-an dan 1990-an dengan Stone and Webster Company (SWEC), yang pada saat itu merupakan firma konstruksi dan konsultan paling terhormat dan terbesar di AS. SWEC akan memberiku sekitar setengah juta dolar asalkan aku menghentikan penulisan buku tentang kehidupanku sebagai Bandit Ekonomi. Sesekali, perusahaan tersebut meminta aku benar-benar mengabdi kepada mereka.

Suatu hari pada tahun 1995, seorang petinggi SWEC menelepon untuk meminta bertemu denganku. Sambil makan siang, ia membahas proyek pembangunan kompleks pemrosesan bahan kimia di Indonesia. Ia berusaha meyakinkanku bahwa pembangunan itu akan menjadi salah satu proyek terbesar sepanjang seabad sejarah perusahaan. Nilainya tak kurang dari 1 Milyar dolar. “Aku bertekad mewujudkan proyek ini,” katanya dan kemudian, sambil melirihkan suaranya, ia mengaku, “tapi aku tak bisa melakukannya sebelum menemukan cara membayar salah seorang anggota keluarga Soeharto sebesar 150 juta dolar.”

“Suap,” jawabku.
Ia mengangguk. “Anda pernah tinggal lama di Indonesia. Tolong beritahukan kepadaku bagaimana mewujudkannya.”

Aku katakan ada empat cara memberi “suap resmi”.
SWEC bisa menyewa buldozer, mesin derek, truk, dan peralatan berat lainnya dari perusahaan milik keluarga Soeharto dan kroninya dengan harga yang lebih tinggi dari harga normal
Cara kedua dengan mengalihkan kontrak beberapa proyek kepada perusahaan milik keluarga tersebut dengan harga tinggi
Ketiga, menggunakan cara serupa untuk memenuhi kebutuhan makanan, perumahan, mobil, bahan bakar dan kebutuhan lainnya
Dan keempat, mereka bisa menawarkan diri untuk memasukan putra-putri para kroni orang Indonesia itu ke kampus-kampus prestisius AS, menanggung biaya mereka, dan menggaji mereka setara dengan konsultan dan pegawai perusahaan ketika berada di AS

Meski tahu bahwa barangkali dibutuhkan keempat pendekatan di atas sekaligus, dan butuh waktu beberapa tahun untuk mengatur uang sebanyak itu, aku meyakinkan dirinya bahwa aku sudah menyaksikan keberhasilan siasat semacam ini, dan bahwa perusahaan dan eksekutif AS yang melakukannya tak pernah terseret hukum. Aku sarankan juga agar ia memikirkan usulan menyewa geisha untuk memuluskan rencana.

“Geisha,” katanya sambil menyerangi culas, “itu saja pekerjaan sulit.” Selain itu, ia mengaku prihatin karena anak buah Soeharto meminta “uang di muka secara terang-terangan.”

Harus aku akui, aku tidak tahu bagaimana menyediakan uang tunai sebanyak itu “di muka”. Setidaknya secara ilegal.

Ia berterimakasih kepadaku, dan aku tak mendengar kabar lebih jauh darinya.

Pada 15 Maret 2006, The Boston Globe memuat tajuk berikut ini dalam halaman depan segmen bisnisnya : MEMO SUAP DAN BANGKRUTNYA STONE & WEBSTER. Artikel itu membeberkan kisah tragis bagaimana perusahaan yang berdiri tahun 1889 dan memiliki sejarah cemerlang itu ambruk dan mencatatkan kebangkrutannya pada tahun 2000. Ujung-ujungnya perusahaan ini diakuisisi Shaw Group. Menurut Globe “lebih dari 1.000 karyawan di PHK, dan tabungan mereka dalam bentuk saham Stone & Webster lenyap.” Wartawan Globe, Steve Bailey menyimpulkan bahwa keruntuhan tersebut berpangkal pada “Memo kritis (yang) membeberkan suatu usaha rahasia perusahaan secara detail. Yakni, membayar suap senilai 147 juta dolar kepada seorang kerabat Presiden Soeharto untuk mengamankan kontrak terbesar sepanjang sejarah Stone & Webster.

Insiden kedua bermula dengan email yang aku terima dari putra seorang pejabat pemerintah Indonesia yang pernah mempekerjakanku pada tahun 1970-an. Ia meminta bertemu denganku.

Emil (bukan nama sebenarnya) bertemu denganku di sebuah restoran Tailand yang tenang di Upper West Side New York. Ia mengaku terkesan dengan bukuku, Confessions of Economic Hit Man. Ayahnya mengenalkan padaku di Jakarta saat usianya kira-kira sepuluh tahun. Seingatnya ia sering mendengar namaku. Ia mengaku mafhum bahwa ayahnya adalah salah seorang pejabat korup yang aku gambarkan dalam buku itu. Lalu, sambil menatap lurus ke mataku, ia mengaku telah mengikuti jejak ayahnya. “Aku ingin bertobat,” katanya. “Aku ingin mengaku seperti Anda.” Ia tersenyum lembut. “Tapi aku mempunyai keluarga dan akan kehilangan banyak hal. Aku yakin Anda mengerti maksudku.”

Aku meyakinkannya bahwa aku tak akan memberitahukan namanya atau apa saja yang bisa membuat identitasnya terbongkar.

Kisah Emil sesungguhnya membuka pikiran kami. Ia menegaskan bahwa militer Indonesia memiliki sejarah panjang mengumpulkan uang dari sektor swasta untuk membiayai kegiatan-kegiatanny a. Dia mencoba menganggap enteng hal ini, mengabaikannya dengan tawa, karena sepengetahuannya, hal semacam itu sudah biasa di negara Dunia Ketiga. Lalu ia menjadi serius. “Sejak lengsernya Soeharto 1998, segalanya bahkan kian buruk. Soeharto benar-benar diktator militer yang bertekad tetap mengendalikkan angkatan bersenjata. Begitu kekuasaan berakhir, banyak tokoh Indonesia yang berusaha mengubah hukum agar kedudukan sipil bisa lebih tinggi dibanding militer, tapi sia-sia. Mereka pikir dengan mengurangi anggaran militer, tujuan akan tercapai. Tapi para jenderal tahu kemana mereka harus meminta bantuan: perusahaan-perusaha an pertambangan dan energi asing.”

Aku katakan kepada Emil bahwa ucapannya mengingatkanku pada kondisi di Kolombia, Nigeria, Nikaragua, dan banyak negara lain. Di negara-negara itu, milisi swasta digunakan untuk menambah angkatan bersenjata nasional.

Emil mengiyakan. ” Di Indonesia pun banyak tentara bayaran. Tapi yang aku ceritakan ini lebih buruk. Dalam beberapa tahun terakhir angkatan bersenjata kami dibeli oleh korporasi-korporasi asing. Dampaknya menakutkan karena, seperti Anda lihat, sekarang korporasi memiliki angatan bersenjata sekaligus sumber daya alam kami.”

Saat aku bertanya mengapa ia membeberkan informasi ini, ia menoleh dan memandang lalu lintas jalanan dari jendela restoran. Akhirnya ia kembali menatapku. “Aku seorang kolaborator. Korupsi yang aku lalukan bahkan lebih parah kalau dibandingkan ayahku. Aku satu diantara orang yang mengatur, mengumpulkan uang dari perusahaan, dan menyerahkan kepada militer. Aku malu. Yang bisa aku lakukan hanya berbicara dengan Anda dan berharap Anda memberitahukannya kepada dunia.”

Berminggu-minggu setelah pertemuan itu, sebuah artikel di website The New York Time menggelitik sanubariku. Tulisan itu merinci kegiatan sebuah perusahaan yang berbasis di New Orleans, Freeport-McMoRan Copper and Gold. Mereka “membayar 20 juta dolar untuk para komandan dan unit militer di kawasan tersebut (Papua) selama tujuh tahun terakhir sebagai imbalan perlindungan terhadap berbagai fasilitas mereka di sana.” Selanjutnya ditegaskan, “Hanya sepertiga dana untuk angkatan bersenjata Indonesia yang berasal dari anggaran negara. Selebihnya dikumpulkan dari sumber “tak resmi” sebagai “biaya perlindungan”, sehingga administrasi militer bisa berjalan mandiri, terpisah dari kontrol keuangan pemerintah.

Artikel tersebut mengantarkanku kepada dua artikel lainnya yang pernah muncul di website The Times pada September 2004. Keduanya mendeskripsikan dua kejadian baru-baru ini di tempat aku dahulu bermain, Sulawesi, selain mendokumentasikan dugaan bahwa perusahaan penghasil emas terbesar dunia, Newmont Mining Corp., yang berbasis di Denver, membuang arsenik dan merkuri secara ilegal ke lautan di Teluk Buyat. Saat membaca, aku teringat pekerjaanku- jaringan listrik, jalanan, pelabuhan, dan infrastruktur lainya yang didanai Bandit Ekonomi dan dibangun kembali pada 1970-an. Semua itu menciptakan kondisi yang memungkinkan Newmont menjalankan aktivitas penambangan sekaligus meracuni laut. Sebagaimana ditegaskan manajer proyekku, Charlie Illingworth, pada kunjungan pertamaku, kami dikirim ke Indonesia untuk memastikan perusahaan minyak mendapatkan apa saja yang mereka perlukan. Tapi sebentar kemudian aku paham bahwa misi kami tidak sebatas itu. Sulawesi menjadi contoh utama bagaimana uang “bantuan” memberi keuntungan pada perusahaan multinasional.

The Times menunjukan, “perseteruan dengan Newmont telah menyulut kesan populer yang menguat bahwa perusahaan pertambangan dan energi mengendalikan sistem regulasi Indonesia yang lemah. Banyak yang menuding korupsi, kronisme, dan tidak berkembangnya struktur hukum adalah kondisi yang diwariskan Jenderal Soeharto, diktator yang lengser pada 1998 dan yang, demi sejumlah uang, membuka pintu bagi investasi asing.”

Saat menatap artikel-artikel itu, dugaan yang dulu dilontarkan walikota “Desa Kelelawar” dan orang Bugis pembuat kapal, muncul di layar komputer. Seolah para rasul yang disebutan kitab suci turun kembali untuk menghantuiku. AS benar-benar telah mengirim kelelawarnya untuk mengekspliotasi dan mencemari negeri-negeri asing. Para pelaut dan kapal-kapal kuno, yang hanya bersenjatakan golok besar, tak punya banyak peluang untuk mempertahankan negeri mereka dari kekuatan Pentagon, atau melawan angkatan bersenjata yang menjadi antek perusahaan.

02
Sep
09

Strategi Pemasaran : 10 Kekuatan Horizontal

10 Kekuatan yang Menyebabkan Horisontalisasi Pemasaran

“Hermawan Kartajaya adalah pakar pemasaran dari Indonesia. Sejak tahun 2002, ia menjabat sebagai Presiden World Marketing Association (WMA) dan oleh The Chartered Institute of Marketing yang berkedudukan di Inggris (CIM-UK) ia dinobatkan sebagai salah satu dari “50 Gurus Who Have Shaped The Future of Marketing”. Saat ini ia juga menjabat sebagai Presiden MarkPlus, Inc., perusahaan konsultan pemasaran yang dirintisnya sejak tahun 1989. Selain aktif menulis buku-buku seputar dunia bisnis dan pemasaran Indonesia maupun internasional, ia juga kerap diundang sebagai pembicara dalam berbagai forum di berbagai negara.”
Rabu, 2 September 2009 | 08:12 WIB

Kekuatan teknologi memang semakin hebat. Teknologi pencarian di Google contohnya, diibaratkan sebagai malaikat pencatat amal baik dan buruk. Ketik nama merek Anda di sana, dan akan terlihat betul perbuatan apa yang telah Anda lakukan selama ini. Kalau banyak yang positif, tentunya bagus karena dapat mempengaruhi otak, hati, dan jiwa konsumen.

Tapi kalau hasil pencarian yang ditampilkan di halaman pertama di situs tersebut berisikan amukan dan caci-maki konsumen yang tidak puas, itu saatnya Anda harus hati-hati. Perbanyaklah amal baik. Makanya slogan unofficial dari Google yang terkenal adalah ”Don’t Be Evil” alias jangan jadi setan.

Di Amerika, banyak pengelola rumah peribadatan yang semakin frustasi karena jumlahnya terus menurun. Sebegitu frustasinya, ada satu yang menulis di papan pengumuman di depan rumah peribadatannya dengan mengatakan ”Banyak hal yang tidak bisa dijawab oleh Google, maka dari itu datanglah ke mari untuk meminta jawaban.”

Kita semua tahu bahwa Google, yang notabene-nya perusahaan pemasang iklan, adalah fenomena internet yang telah menjadi bagian dari wawasan kita dalam mencari informasi mulai dari yang besar sampai yang terkecil, melihat dunia luar (contohnya Google Earth), mendengar (Google Alert), dan berkolaborasi dengan rekan sekantor (Google Docs, Gmail, Google Talk).

Tidak hanya merevolusi industri teknologi informasi, Google juga merubah banyak tatanan industri mulai dari media (Google news, YouTube/Google Video) sampai perpustakaan (Google Books, Google Scholar).

Google adalah internet, dan internet adalah Google. Dengan misinya yang sangat horisontal yaitu ”Mengelola informasi dunia dan membuatnya mudah diakses dan berguna,” Google telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat tulen dunia New Wave, yang ingin mencari, melacak, dan menggunakan sebuah informasi. Google merupakan contoh tersendiri bahwa di era New Wave, kita telah masuk ke dunia yang transparan dan lebih terbuka.

Internet sendiri saat ini masih terus berevolusi. Teknologi Web 2.0 contohnya telah merubah pengalaman kita dalam menggunakan internet. Dulu di era Web 1.0, internet masih bersifat satu arah, statis, dan ekslusif. Kalangan yang berkutat di dunia teknologi informasi dan komunikasi sering mengatakan bahwa era Web 1.0 adalah eranya kita melihat tapi tidak bisa ’menyentuh.’ Memang betul, dulu di era web 1.0 kita hanya bisa mencari, browsing, dan read-only. Google pada waktu muncul tahun 1998 adalah satu contoh produk Web 1.0.

Tapi dunia internet kini telah berubah. Teknologi Web 2.0 membuat internet bersifat lebih interaktif dan dinamis. Interaksi dengan komunitas menjadi lebih memungkinkan karena pada dasarnya kekuatan sesungguhnya dari aplikasi internet yang bersifat Web 2.0 adalah read & write. Dalam arti lain, kita ini eranya kita dapat melihat sekaligus menyentuh. You can look and you can also touch!

Seiring dengan perubahan teknologi internet dari era Web 1.0 ke 2.0, mereka yang tadinya berkutat di aplikasi era lama mentransform diri ke era yang baru. Contohnya Google yang kini banyak mengeluarkan produk-produk yang bersifat kolaboratif, interaktif, dan partisifatif sesuai dengan Web 2.0 experience.

Di era internet seperti ini pula, orang yang tadinya amatir menjadi terlihat profesional. Contohnya untuk membuat sebuah blog pribadi, Anda tidak perlu mengerti mendalam tentang programming, cukup pergi ke penyedia platform untuk blogging seperti blogspot, wordpress, myspace, multiply, dan lain sebagainya.

Dengan Web 2.0 orang jadi lebih mudah mengekspresikan dirinya, berpartisipasi, melakukan networking, membentuk komunitas lewat situs jejaring, dan banyak hal lainnya. Teknologi yang sama memungkinkan setiap orang memiliki kesempatan yang sama, bukan hanya milik sekelompok orang tertentu.

Seperti yang telah dikatakan sebelumnya lewat kolom ini, kita masuk ke dalam alam baru di mana tatanan lanskap bisnis telah berubah menjadi datar. Segala aktor dalam lingkungan bisnis saling terhubung dan duduk sama rata; mulai dari agen-agen yang membawa perubahan industri (kalangan di dunia teknologi, birokrat, ekonomi, sosial dan budaya), kompetitor, konsumen, dan perusahaan saling membaur.

Sebagai contoh adalah jika Anda membuat sebuah platform berbasiskan internet portal. Meskipun intensi utama dari portal tersebut adalah sebagai wadah untuk konsumen Anda agar bisa saling berinteraksi, tapi tetap saja portal Anda tersebut disusupi oleh kompetitor Anda. Alih-alih yang ikut nimbrung di sana adalah kumpulan kompetitor Anda.

Perkembangan Internet dengan Web 2.0 membuat proses horisontalisasi semakin cepat. Di dunia yang serba horisontal ini, berkat perkembangan teknologi internet, semua orang punya kesempatan yang sama untuk terhubung.

Perlu dicatat bahwa apa yang saya katakan sebagai dunia yang serba horisontal ini bukan hanya disebabkan oleh perkembangan teknologi semata. Memang pendorong nomor satu adalah perubahan teknologi dari yang bersifat one-to-many ke many-to-many. Perubahan teknologi ini kontan mengundang datangnya sembilan tren lain yang mendorong horisontalisasi pemasaran.

Ikuti artikel-artikel selanjutnya di kolom ini, yang akan menjabarkan 10 New Wave Trends yang mendorong Horisontalisasi Pemasaran.
Hermawan Kartajaya

25
Aug
09

Seni Budaya : Soal Tari Pendet Diselesaikan di EPG (Eminen Person Groups)

Soal Tari Pendet Diselesaikan di EPG
Wakil Duta Besar Malaysia Dipanggil

Selasa, 25 Agustus 2009 | 04:54 WIB

Jakarta, Kompas – Berkaitan dengan tari pendet, hasil budaya Indonesia yang dijadikan iklan pariwisata Malaysia, Pemerintah Indonesia akan melakukan protes. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono berharap masalah itu bisa diselesaikan melalui eminent person group Indonesia-Malaysia.

”Yang jelas sudah ada eminent person group (EPG). Jadi Malaysia dan Indonesia mestinya, jika ada hal-hal semacam ini, bisa menyelesaikannya melalui EPG,” ujar Juru Bicara Kepresidenan Andi Mallarangeng di Istana Negara, Jakarta, Senin (24/8).

EPG Indonesia terdiri atas Jenderal (Purn) Try Sutrisno (Ketua), Quraish Shihab, Musni Umar, dan Des Alwi Abubakar. Tujuan dari pembentukan EPG Indonesia dan Malaysia, menurut Juru Bicara Kepresidenan Dino Patti Djalal, untuk mengkaji hubungan kedua negara secara keseluruhan dan mempelajari masalah-masalah yang kerap timbul di antara kedua negara.

Presiden Yudhoyono hari Selasa ini dijadwalkan akan menerima laporan resmi dari Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Jero Wacik.

”Kalau tari pendet, semua orang sudah tahu itu berasal dari Bali. Mana mungkin itu dari tempat lain. Kalau tari Melayu, mungkin ada share culture. Namun, kalau tari pendet, ya enggak ada ceritanya bukan dari Bali,” ujar Andi.

Diantar langsung

Secara terpisah, Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Jero Wacik mengatakan, surat protes kepada Pemerintah Malaysia diantarkan langsung ke Kuala Lumpur, Senin siang. Wakil Duta Besar Malaysia di Indonesia Amran Mohamed Zain pun sudah dipanggil dan ditegur.

”Surat protes akan diantar langsung dengan didampingi Duta Besar RI di Malaysia ke Kementerian Kebudayaan, Kesenian, dan Warisan Budaya Malaysia,” kata Jero Wacik.

Seperti diberitakan, penayangan tari pendet dalam iklan ”Enigmatic Malaysia” di saluran televisi Discovery Channel untuk pariwisata Malaysia telah menimbulkan reaksi dari berbagai kalangan di Tanah Air. Bahkan, di Bali, puluhan seniman, Sabtu (22/8), melakukan protes. Protes dipimpin guru besar Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar, Wayan Dibia. Protes ini disampaikan kepada Ida Ayu Agung Mas, anggota Dewan Perwakilan Daerah, di Taman Budaya Denpasar.

Menurut Dibia kepada pers, tari pendet merupakan warisan budaya Bali secara turun-temurun. Berdasarkan pengamatan Dibia, penari pendet dalam iklan tersebut merupakan alumnus ISI Denpasar yang bernama Lusia dan Wiwik. Pengambilan gambar dilakukan dua tahun lalu.

Menurut Wacik, Pemerintah Indonesia dan Malaysia sebenarnya telah mempunyai perjanjian bilateral untuk menangani setiap sengketa yang timbul antara kedua belah pihak. Perjanjian ini dibuat tahun 2007.

Ini terjadi setelah tahun 2007 lagu ”Indang Sungai Garinggiang” ciptaan Tiar Ramon dari Minangkabau digunakan oleh delegasi kesenian Malaysia pada Asia Festival 2007 di Osaka, Jepang. Kemudian ”Rasa Sayange” asal Maluku digunakan untuk jingle Visit Malaysia 2007. Kemudian, klaim Reog Ponorogo di situs web pariwisata Malaysia.

”Untuk mata budaya yang grey area, kedua pihak sepakat saling memberi tahu dan meminta izin apabila digunakan dalam iklan komersial di setiap negara,” kata Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Jero Wacik.(INU/NAL/BEN)

24
Aug
09

Perdagangan : China Makin Agresif Jajaki RI

Senin, 24/08/2009 13:44 WIB
China Makin Agresif Jajaki RI
Suhendra – detikFinance


Foto: dok.detikFinance

Jakarta – Pengusaha dan pemerintah China beberapa tahun terakhir terus agresif melakukan penjajakan investasi dan perdagangan dengan Indonesia.

Duta Besar Indonesia untuk China Sudrajat mengatakan saat ini Indonesia tengah gencar melakukan upaya-upaya revitalisasi industri di dalam negeri, sedangkan China sedang gencar-gencarnya melakukan ekspansi dari sisi perdagangan maupun investasi termasuk ke Indonesia.

Menurut Sudrajat setidaknya ada 3 faktor mendukung kerjasama kedua negara antara China ke Indonesia.

Pertama , China ditopang oleh GDP yang mencapai US$ 4,4 triliun pada tahun 2008 sedangkan dari sisi devisa, hingga Juli 2009 devisa China mencapai US$ 2,31 triliun, kondisi kekuatan ekonomi tersendiri bagi China.

Kedua , adalah faktor pemerintah China yang terus mendorong pengusaha untuk mengembangkan usahanya untuk terus melakukan perluasan usaha dan pasar.

Ketiga , sebagai negara yang cukup maju industrinya, China sangat memerlukan kebutuhan barang primer, termasuk peluang yang bisa dipasok dari Indonesia.

“Henan didukung oleh 100 juta penduduk. Selama 20 tahun terakhir ekonominya tumbuh 10%, dengan GDP terbesar kelima di Cina,” katanya dalam acara kunjungan delegasi pengusaha China asal Provinsi Henan di kantor Departemen Perindustrian, Senin (24/8/2009).

Ia mengatakan Indonesia memiliki sumber daya primer, stabilitas politik yang terjaga, iklim investasi yang kondusif sehingga menjadi peluang investasi bagi China.

“Diharapkan bisa membantu dalam bidang investasi dan kerjasama industri yang saling menguntungkan,” katanya.

Dengan tegas, Sudrajat mengatakan forum-forum komunikasi semacam ini tidak hanya dilakukan dalam rangka seremonial saja melainkan harus ada upaya tindak lanjut yang nyata.

Sementara itu Gubernur Provinsi Henan Guo Gengmao di tempat yang sama mengatakan nilai volume perdagangan Indonesia dengan provinsi Henan pada tahun  2008  mencapai US$ 216 juta naik 47,7%.

“Pembentukan ASEAN China FTA punya arti penting yang terjadi 1 Januari 2010,” ucap Guo.

Pada semester I-2009 nilai investasi non finansial China ke Indonesia  mencapai US$ 100 juta sedangkan investasi Indonesia ke China pada periode yang sama mencapai US$ 65 juta atau meningkat 12,1%

(hen/dnl)




Blog Stats

  • 3,245,655 hits

Recent Comments

Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Sejarah : Bangsa Lemuria, Lelu…