10
Feb
10

Perdagangan : Memotret Kegagalan Ekonomi Pasar

Memotret Kegagalan Ekonomi Pasar

Koran Jakarta, Rabu, 10 Februari 2010

Judul : Transformasi Besar: Asal Usul Politik Ekonomi Zaman Sekarang
Penulis : Karl Polanyi
Penerbit : Pustaka Pelajar
Tahun : I, 2009
Tebal : 363 halaman
Harga : Rp 37.500

Karl Polanyi adalah sejarawan ekonomi modern terkemuka abad ke-20. Beberapa karyanya menyoroti mata rantai perkembangan pemikiran ekonomi modern yang berkembang di Eropa Barat.

Buku Transformasi Besar: Asal Usul Politik Ekonomi Zaman Sekarang (Origins of Our Time: Th e Great Transformation) merupakan adikarya pertama dari Karl Polanyi, dosen sejarah ekonomi di Bennigton College dan University of Columbia, Amerika Serikat.

Buku ini memotret sejarah periode awal transformasi ekonomi di Inggris yang pada akhirnya memengaruhi belahan dunia lain, Eropa Barat, bahkan Asia, yang belakangan juga ikut terseret arus besar ini.

Tesis utama dari buku ini adalah kritik terhadap kapitalisme modern yang menurutnya adalah anomali sejarah.

Polanyi mengkritik ekonomi modern yang menurutnya telah mengubah relasi-relasi sosial dengan mendefi nisikan sistem relasi sosial dengan relasi-relasi yang bersifat ekonomi.

Menurut Polanyi, pada masa sebelum lahirnya kapitalisme, pengaturan-pengaturan ekonomi justru sebaliknya, tertanam dalam hubungan sosial.

Buku ini terbagi dalam tiga bagian. Pertama, Polanyi melakukan tinjauan terhadap realitas perubahan relasirelasi sosial yang terjadi di Inggris dan Eropa Barat.

Kemunculan ide tentang self regulating market (pasar swatata) telah mengubah relasi sosial, pola industri, dan paradigma sosial di kawasan tersebut.

Lewat pemotretan yang cermat, Polanyi mengambil suatu kesimpulan bahwa self regulating market merupakan sebuah utopia. Dalam bagian ini, Polanyi juga menyinggung tentang perimbangan kekuatan antarnegara.

Kedua, Polanyi dengan lugas mengkritik ekonomi pasar dan kegagalan fi lsafat liberal dalam memahami permasalahan perubahan di era itu.

Dengan tegas Polanyi menyatakan liberalisme telah salah dalam membaca sejarah revolusi industri. Basis kegagalan liberalisme adalah sikap bersikukuh untuk menempatkan dan menilai peristiwa-peristiwa serta relasi-relasi sosial melulu dari cara pandang ekonomi.

Di bagian ini, Polanyi memotret sejarah dampak revolusi industri serta dominasi paham utilitarian ortodoks dan pengaruhnya terhadap relasirelasi sosial di Inggris dan Eropa Barat pada saat itu.

Polanyi berpendapat dalam masyarakat kapitalistik (di bawah dominasi paham utilitarian ortodoks), pemerintah tidak lebih sebagai pelayan kapitalisme dan membantu memajukannya lewat produk undang-undang, regulasi, bahkan kekuatan militer.

Pada bagian akhir buku ini, Polanyi membicarakan tentang mekanisme yang mengatur perubahan sosial dan perubahan di tingkat negara pada masa itu (pascaperang dunia I). Polanyi juga mengemukakan munculnya permasalahan masyarakat pasar, yaitu intervensionisme dan mata uang.

Peresensi adalah Fahmi Alatas, Koordinator Komunitas Saung Buku

PERDAGANGAN
Ekspor Nonmigas Menunjukkan Tren Positif

Rabu, 10 Februari 2010 | 03:51 WIB

Jakarta, Kompas – Kinerja ekspor nonmigas Indonesia menunjukkan tren positif. Ekspor nonmigas pada triwulan IV- 2009 meningkat 1,3 persen atau sekitar 331 juta dollar AS daripada triwulan IV-2008.

Namun, nilai total ekspor 2009 turun ketimbang 2008. Total ekspor nonmigas 2009 hanya 116,49 miliar dollar AS atau turun 15 persen daripada 2008.

Wakil Menteri Perdagangan Mahendra Siregar di Jakarta, Selasa (9/2), optimistis ekspor nonmigas 2010 akan mencapai target pertumbuhan dalam rencana pembangunan jangka menengah sebesar 7-8,5 persen.

Optimisme itu dilandasi mulai membaiknya ekonomi dunia. Itu, kata Mahendra, akan mendorong peningkatan permintaan, yang akan berdampak positif terhadap harga-harga komoditas, yang jadi unggulan ekspor Indonesia.

Mahendra menjelaskan, pertumbuhan ekonomi China dan India yang sangat kuat akan meningkatkan permintaan terhadap produk Indonesia. ”Karena itu, sudah semestinya akses pasar ekspor Indonesia ke negara-negara itu dijaga melalui strategi free trade agreement (kesepakatan perdagangan bebas),” katanya.

Dalam lima tahun terakhir terjadi pergeseran pasar tujuan ekspor Indonesia, dari Uni Eropa, AS, dan Jepang ke China, India, dan negara lainnya.

Adapun terkait impor, total impor nonmigas 2009 menurun daripada 2008. Total impor 2009 hanya 77,9 miliar dollar AS atau turun 21,1 persen dari 2008. Penurunan terutama disebabkan turunnya impor bahan baku.

Turunnya impor bahan baku menjadi salah satu indikasi kinerja industri manufaktur di dalam negeri melesu.

Dalam lima tahun terakhir juga terjadi pergeseran negara asal impor. Pada 2004 impor dari AS dan Jepang masing-masing 19 persen dari total impor, sementara 2009 hanya 10 persen dan 14 persen. Sementara impor dari China meningkat dari 7,9 persen (2004) jadi 19,7 persen (2009). ”Ini bukan karena turunnya produk industri dalam negeri, tetapi daya saing China yang meningkat, mengalahkan negara pengekspor lainnya,” kata Mahendra. (OSA)

10
Feb
10

PEPORA : Demokrasi, Presidensial, Kepemimpinan

Menggugat Demokrasi Kita

Kompas, Rabu, 10 Februari 2010 | 03:38 WIB

Oleh Kiki Syahnakri

Pembicaraan tentang demokrasi kembali merebak. Ada yang berpendapat bahwa sistem demokrasi di Indonesia sudah on the track dan tinggal menyempurnakan. Ada pula yang berpendapat sebaliknya bahwa demokrasi di Indonesia telah gagal karena tidak mampu menghadirkan kesejahteraan dan keadilan.

Pendapat yang lebih tajam disampaikan oleh Bima Arya Sugiarto bahwa di tengah kemajuan demokrasi Indonesia ada tiga kelompok yang berpotensi membahayakan demokrasi itu sendiri.

Tiga kelompok itu adalah kelompok ”nasionalis romantis” yang menyederhanakan persoalan dengan menyerukan kembali ke Undang-Undang Dasar (UUD) 45, kelompok ”aktivis romantis” yang tidak bisa mengikuti perkembangan modern dan hanya tahu ”turun ke jalan” sebagai satu-satunya metode pembebasan, serta ”kaum fundamentalis” yang selalu mengaitkan segala hal dengan hukum Islam dan memandangnya sebagai payung tunggal untuk penyelesaian sejumlah masalah bangsa (Rakyat Merdeka, 31/1).

Pernyataan ini mengundang saya untuk turut meramaikan diskusi atau lebih tepatnya mengkritisi pendapat tersebut.

Demokrasi Pancasila

Pada hakikatnya, demokrasi bukanlah gagasan mewah atau ide statis yang ”terjun bebas” dari langit, kemudian diletakkan di ruang hampa, melainkan harus ditempatkan dalam realitas atau dikawinkan dengan realisme kehidupan multiaspek masyarakat atau bangsa-bangsa yang majemuk secara kodrati.

Oleh karena itu, sebagai cara atau konsep demokrasi sangatlah variatif; ada yang disebut demokrasi konstitusional, demokrasi parlementer, demokrasi liberal, demokrasi rakyat, demokrasi Soviet, demokrasi nasional, dan sebagainya. Pemaksaan suatu sistem demokrasi (demokrasi liberal, misalnya) dalam suatu tatanan masyarakat atau bangsa pada hakikatnya merupakan pengingkaran terhadap demokrasi itu sendiri.

Agar demokrasi itu benar-benar hidup dan terimplementasi secara efektif, tidak boleh diimajinasikan secara idealistis semata. Formula dan elaborasinya harus disesuaikan realitas dan tatanan sosial-budaya lokal/domestik. Tata nilai sosial-kultural domestik itulah yang justru menjadi ”ladang pertumbuhan” bagi benih demokrasi. Para pendiri bangsa (founding fathers/mothers) sebenarnya secara sangat cerdas, arif, dan visioner telah memformulasikan demokrasi Pancasila sebagai sistem demokrasi terbaik dan paling tepat untuk Indonesia, dengan merujuk pada nilai-nilai universal kemudian mengawinkannya dengan karakteristik bangsa dan sejumlah ciri keindonesiaan.

Muatan nilai-nilai kearifan lokal, seperti musyawarah mufakat, gotong royong, semangat kekeluargaan, semangat Bhinneka Tunggal Ika, harmoni dalam persatuan, pola perwakilan/keterwakilan, membuat demokrasi Pancasila benar-benar berakar dan bersumber pada ranah keindonesiaan yang ideal sekaligus realistis. Nilai dan semangat itu telah termuat padat dalam Pembukaan UUD 1945.

Perkembangan demokrasi

Realitas perkembangan demokrasi di Indonesia kini telah didominasi oleh sistem demokrasi liberal yang amat mengedepankan kebebasan individu, sistem jajak pendapat, dan keterpilihan.

Dihadapkan pada fenomena feodalisme yang makin mewabah dan supremasi hukum yang masih kedodoran, kebebasan tadi malah menyuburkan Machiavellianisme, bahkan telah bermetamorfosis dalam wajah yang lebih canggih karena dibungkus kesantunan (good looking machiavellian) serta meningkatkan perilaku perburuan kekuasaan dan koruptif yang meluas ke segala institusi dan level pemerintahan.

Adapun sistem jajak pendapat, pemilihan langsung (one man one vote), pada kenyataannya tidak melahirkan kepemimpinan yang lebih berkualitas. Sebaliknya, yang dihasilkan adalah kepemimpinan dengan kompetensi, pengalaman, dan karakter yang memprihatinkan. Patut disadari bahwa mayoritas pemilih di Indonesia masih berada pada tingkat pendidikan dan kesejahteraan yang rendah. Mereka belum menjadi voters yang sesungguhnya, melainkan sebagai supporters yang tidak digerakkan oleh nalar dan nurani, tetapi kerap kali uang berperan besar karena dorongan kebutuhan hidup.

Patut dipahami penegasan Bung Hatta bahwa prinsip demokrasi bukanlah ”keterpilihan”, melainkan ”keterwakilan” dengan mengedepankan prinsip egalitarianisme. Sementara itu, praktik demokrasi di Indonesia dewasa ini yang sangat liberal justru ”membunuh” prinsip egaliter dan keterwakilan itu. Seharusnya suku Dani, Anak Dalam, dan sejumlah kelompok minoritas diwakili dengan cara ”ditunjuk”, bukan dipilih (karena tidak mungkin mereka terwakili dengan cara pemilihan free fight). Keterwakilan merupakan perekat bagi masyarakat/bangsa yang serba majemuk seperti Indonesia.

Adalah salah kaprah yang fatal jika demokrasi diidentikkan dengan jajak pendapat karena hal itu hanyalah salah satu cara dalam berdemokrasi. Musyawarah mufakat dan penunjukan berdasarkan asas egalitarian pun merupakan cara berdemokrasi yang elegan, benar, etis, dan rasional, yang secara obyektif sangat tepat diterapkan dalam konteks keindonesiaan.

Kembali ke ”roh”

Yang harus dilakukan bangsa Indonesia saat ini adalah menghidupkan kembali spirit Pembukaan UUD 1945 yang merupakan ”roh” dari eksistensi Negara Kesatuan Republik Indonesia. Benar bahwa batang tubuh UUD 1945 bukanlah barang keramat atau sesuatu yang transendental sehingga tidak bisa diubah, Pasal 37 UUD 1945 memberi peluang untuk itu.

Namun, sekali lagi bila yang terjadi adalah pengingkaran terhadap spirit mukadimahnya dan promosi besar-besaran terhadap sistem demokrasi liberal yang tidak berakar pada basis kultural bangsa Indonesia, sungguh membahayakan demokrasi itu sendiri, bahkan potensial menimbulkan keretakan bangsa.

Dalam beberapa hal saya setuju dengan Bima Arya, tetapi uraian di atas mengantarkan kita pada kesimpulan bahwa ancaman nyata justru datang dari kelompok ”romantis liberalis”, bukan dari kaum nasionalis romantis. Karena itu, urgen bagi bangsa Indonesia untuk segera kembali pada spirit mukadimah UUD 1945 dalam kehidupan berbangsa bernegaranya.

Kiki Syahnakri

Ketua Bidang Pengkajian Persatuan Purnawirawan TNI AD (PPAD)

Politik Kerbau dan Kebo Dungkul

lokasi: Home / Berita / OPINI / [sumber: Jakartapress.com]

Selasa, 09/02/2010 | 08:31 WIB

Politik Kerbau dan Kebo Dungkul
OLEH: ARIEF TURATNO

SAHABAT baik saya yang kerap memberi komentar di opini jakartapress.com, Dr Ir Pandji R Hadinoto, SH, MH, kemarin SMS sembari bercanda. Bahwa Indonesia tengah dilanda “politik kerbau”. Mencuatnya nama hewan pembajak sawah ini gara-gara si kerbau diajak demo elemen masyarakat yang mengkrisi kinerja pemerintah dibawah kepimpinan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Kerbau yang diberi nama SiBuYa ini memang menarik perhatian. Selain terlihat aneh dan langka, beberapa poster menepel di bokong SiBuYa. Kontan, adegan “porno” itu menjadi lahan subur bagi fotografer. Lepas dari itu pertanyaannya adalah apa maksud dari dibawanya kerbau ke arena demo?

Pada masa dulu, sebenarnya nama kerbau cukup harum dan banyak digunakan untuk julukan seseorang yang punya pengaruh di lingkungannya. Ada yang menyebut, kerbau sengaja digunakan untuk nama julukan atau panggilan seseorang dikarenakan badan kerbau yang besar dan kuat. Juga kerbau dikenal hewan yang pantang menyerah. Meskipun badannya gede, kerbau adalah hewan pekerja keras. Karena alasan itulah sehingga hewan tersebut kerap dipakai membajak sawah. Ada juga legenda tentang kerbau dan gembalanya. Menurut legenda yang berkembang di masyarakat dulu, kerbau pernah bertarung melawan petir yang hendak menyambar gembalanya.

Dalam pertarungan tersebut kerbau berhasil mengalahkan petir. Karena itu ada kepercayaan di masyarakat, bahwa anak gembala akan selalu selamat dari sambaran petir, meskipun di sekelilingi terjadai badai petir. Benar tidaknya legenda tersebut, itulah kepercayaan yang sampai sekarang masih dipegang masyarakat. Tidak hanya itu legenda kerbau dan gembalanya. Suatu ketika kerbau dan gembala bertemu dengan harimau yang kelaparan. Melihat gembala yang lemah, harimau lapar itu bermaksud memangsanya. Namun, si kerbau yang melihat niat buruk harimau berusaha mencegahnya. Maka terjadi pertarungan antara kerbau dan harimau. Menurut legenda, si kerbau berhasil menanduk harimau sehingga tewas dan selamatlah si gembala.

Entah karena terpengaruh legenda yang berkembang di masyarakat, atau sebab lain, nama itu lantas banyak digunakan untuk sebutan seseorang. Misalnya, Kebo Dungkul, Kebo Ngadah dan lainnya. Nama lain dari kerbau atau kebo adalah Mahesa. Pertanyaannya adalah apa bedanya nama kebo dan mahesa? Kebo biasanya digunakan untuk julukan seseorang yang berpengaruh di golongan hitam, seperti Kebo Dungkul, tokoh rampok yang sangat terkenal di jamannya. Sedangkan mahesa digunakan untuk julukan seseorang yang berpengaruh di golongan ksatria. Contohnya, Mahesa Jenar (Kebo Abang), atau Mahesa Kanigara (Kebo Kanigara) dan lain sebagainya. Bagaimana denga kerbau SiBuYa?

Nama SiBuYa, nampaknya identik dengan nama seseorang yang sekarang sedang berkuasa. Sehingga wajar, jika orang yang namanya dipelintir sedemikian rupa bereaksi. Rekasi semacam itu kita anggap sesuatu yang manusiawi. Namun, kalau reaksi itu dilakukan secara berlebihan, bukan simpati yang didapat, tetapi cemoohanlah yang lantas mengalir kepada si pemilik nama. Berbeda kalau hal itu dibiarkan saja mengalir. Malah mungkin publik tidak akan pernah tahu, kalau ada seokor kerbau yang ikut berpolitik. Sayang, nasi telah menjadi bubur, semuanya sudah terlanjur, sehingga barangkali di tahun 2010 inilah, seekor kerbau masuk dalam percaturan politik nasional. Ada-ada saja! (*)

Sudah Gawat, SBY Dekati TNI/Polri?

lokasi: Home / Berita / OPINI / [sumber: Jakartapress.com]

Senin, 08/02/2010 | 14:25 WIB

Sudah Gawat, SBY Perlu Dukugan TNI/Polri?
OLEH: ARIEF TURATNO

SUDAH sedemikian gawatkah, sehingga Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) memerlukan dukungan TNI/Polri? Itulah kira-kira bunyi SMS seorang teman dalam menanggapi manuver SBY terakhir ini. Sebagaimana kita ketahui, Minggu (7/2) SBY dengan para pembantunya berkunjung ke Lampung untuk menemui Kesatuan (Corp) Marinir di wilayah itu yang kebetulan sedang mengadakan latihan tempur. Hari berikutnya, SBY mengunjungi salah satu Kesatuan TNI Angkatan Darat untuk bersama-sama lari pagi. Dan pada kesempatan lain, SBY mengunjungi Polri dan mungkin pula dalam waktu dekat mengunjungi Kesatuan TNI Angkatan Udara.

Dengan demikian ketiga matra darat, laut dan udara serta Polri akan dikunjungi semua oleh Presiden. Dalam tata aturan kenegaraan Republik Indonesia, Presiden adalah Pimpinan tertinggi ketiga angkatan dan Polri. Karena kunjungan Presiden ketiga matra, yakni darat, laut dan udara serta Polri adalah hal yang biasa. Kalau pun sekarang dianggap luar biasa, karena posisi Presiden saat ini dalam keadaan terjepit. Dimana semua elemen masyarakat menilai bahwa dalam kasus Bank Century SBY-lah yang paling bertanggungjawab. Penilaian masyarakat tentu bukan tanpa dasar yang jelas. Mereka menilai tentunya setelah mendengar keterangan semua saksi dan berdasarkan logika atau penalaran.

Misalnya, sangat tidak mungkin Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani maupun Gubernur Bank Indonesia (BI) Boediono menyetuji tentang bailout sebssar Rp 6,7 triliun jika tanpa persetujuan atau sepengetahuan Presiden. Dan sebelum diputuskan mengucurkan dana talangan tersebut, terlebih dulu diadakan rapat Komite Stabilitas Sistem Keuangang (KSSK) yang dipimpin Menkeu sebagai Ketua KSSK. Dalam rapat itu hadir antara lain Marsilam Simanjuntak yang saat ini menjabat sebagai “orang dekat” Presiden SBY. Meskipun berkali-kali Marsilam membantah bahwa kedatangannya dalam rapat KSSK itu diperintah SBY. Namun, logika awam jelas menolak bantahan tersebut. Sebab awam atau semua orang mengetahui Marsilam adalah orang yang tertib dan disiplin.

Ada pula yang menyebut Marsilam adalah orang yang selalu menjaga diri untuk tidak berbuat aneh-aneh. Dengan semua latar belakang yang disandang Marsilam, maka sangat tidak mungkin dia datang di rapat KSSK (mengaku sebagai narasumber) tanpa memberitahukan bosnya. Kita sangat yakin, jika kedatangan Marsilam ke tempat rapat itu pasti telah meminta ijin kepada SBY terlebih dahulu. Bahkan banyak orang yang menilai kedatangan Marsilam adalah atas perintah SBY. Namun anehnya baik Marsilam, Sri Mulyani maupun Boediono yang sekarang menyandang jabatan Wakil Presiden bungkam soal keterlibatan bosnya. Apakah karena ada tekanan atau alasan lain? Kita semua tidak tahu tentang apa yang terjadi di antara mereka. Namun begitu tidak menyurutkan niat rakyat untuk meminta pertanggungjawaban masalah Bank Century kepada SBY. Karena alasan inilah kemudian masyarakat menghubungkan antara kedatangan SBY kepada TNI AD, Laut dan Udara serta Polri sebagai upaya merangkul mereka untuk menghadapi rakyat. Mungkinkah?

Selama ini kita tahu, TNI, baik Angkatan Darat, Laut maupun Udara dan Polri selau berpihak kepada rakyat dan menjadi pelindung serta pengayom rakyat. Dalam kapasitas Presiden selaku pimpinan tertinggi ketiga angakatan dan Polri, memang SBY punya kewenangan mengerahkan mereka. Namun tentunya dengan alasan yang dapat dibenarkan, misalnya karena negara sedang terancam bahaya, atau diserbu musuh. Baik dari dalam maupun luar negeri. Itu pun harus dengan persetujuan DPR, sebagaimana diamanatkan UUD 1945. Pertanyaannya adalah apakah mungkin TNI akan digunakan SBY untuk melindungi dirinya? Bagi SBY mungkin, tetapi untuk TNI mereka pasti akan melihat sejauh mana hal tersebut dapat dilakukan tanpa melanggar ketentuan undang-undang.

Artinya, jika Presiden SBY dalam keadaan benar, maka adalah menjadi kewajiban alat negara untuk melindunginya. Sebaliknya, jika rakyat pada posisi yang benar, maka tentu TNI tidak mungkin mau bertempur melawan rakyatnya sendiri. Dan jangan lupa semboyan TNI sendiri bahwa mereka berasal dari rakyat maka akan kembali mengabdikan dirinya kepada rakyat, bukan kepada sosok individu. Karena itu, kita tidaklah terlalu bercuriga berlebihan tentang sikap TNI dan Polri  terhadap kunjungan SBY belakangan ini. Tanggapilah semua itu sebagai sesuatu yang wajar, dan jangan berlebihan.. Kita percayakan saja kepada TNI dan Polri, bahwa mereka pasti akan berdiri di pihak yang benar dan pantas dibela. (*)

Tantangan Besar Bangsa dan Rakyat

Kompas, Rabu, 10 Februari 2010 | 03:44 WIB

Oleh Jusuf Wanandi

Tantangan besar bangsa Indonesia kini adalah bagaimana menjawab perkembangan Indonesia yang berada di ambang pintu kebesaran dan kemajuan, dengan suatu kepemimpinan, kebijakan, dan program yang tepat agar dapat mewujudkan kesempatan ini menjadi kenyataan. Kesempatan baik ini mungkin tidak akan berulang.

Kita telah diakui sebagai anggota G-20 yang secara informal dianggap sebagai ”direksi” pemerintahan dunia karena perangkat yang diciptakan hingga kini semenjak Perang Dunia II, baik dalam kerangka Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB) maupun di antara lembaga-lembaga Perjanjian Bretton Woods, sudah tidak memadai lagi. Kita pun diharapkan dapat memimpin ASEAN di kawasan Asia Tenggara dan menjadi negara penting dalam perkembangan kawasan Asia Timur dan Asia Pasifik.

Untuk itu, tidak cukup jika kita hanya dapat mengikuti dan menyelami masalah-masalah yang ditimbulkan oleh pemerintahan global. Meskipun ini merupakan bagian yang penting untuk kita kuasai, kita harus ikut mengatur perkembangan serta kemajuan negara dan bangsa sendiri. Ini adalah suatu tantangan besar.

Seperti sedang kita alami sekarang, kepemimpinan nasional lemah dan tidak tegas, parlemen masih tidak menyadari betapa besarnya tantangan bangsa dan negara sehingga mereka hanya bermain politik-politikan yang tidak membawa manfaat bagi bangsa keseluruhan, tetapi malah memecah belahnya dengan hanya mementingkan kepentingan pribadi atau kelompok.

Masalah-masalah yang ditekuni, seperti kasus Bank Century dan Perjanjian Perdagangan Bebas ASEAN-China (ACFTA), tidak dilakukan demi kepentingan bersama, tetapi demi kepentingan kelompok-kelompok sehingga mengalihkan perhatian dari tantangan besar bangsa dan negara. Kasus Bank Century dijadikan alat kepentingan kelompok untuk melakukan perombakan (reshuffle) kabinet ataupun menggantikan pejabat-pejabat yang notabene dianggap masyarakat paling bersih dan jujur.

ACFTA yang tidak banyak berpengaruh pada masuknya barang-barang China ke Indonesia mau dibongkar karena alasan-alasan politis belaka yang tidak akan membawa perbaikan dalam daya saing industri kita. Yang harus diupayakan adalah bagaimana mengurangi ongkos tinggi bagi industri dan perdagangan kita dengan menekankan agar pemerintah menciptakan infrastruktur yang telah ketinggalan semenjak 1998, menghapus pungli-pungli, menurunkan suku bunga untuk pinjaman-pinjaman usaha UKM, mengatur lebih baik kesejahteraan buruh yang memadai dan adil (sambil menghilangkan hambatan-hambatan yang mengganggu), serta memberantas penyelundupan-penyelundupan yang masih saja terjadi karena korupsi.

Kita harus bangga telah mencapai tahap tinggal landas (take off) menjadi bangsa besar dan maju. Namun, sekarang ini kita harus melaksanakan serangkaian kebijakan yang benar-benar diimplementasikan agar take off itu bisa berkelanjutan. Tanpa perkembangan industri dan hanya mengandalkan pertanian dan sumber alam, tidak akan cukup untuk memberikan pekerjaan yang layak bagi buruh dan petani kita. Sumber alam dan hasil pertanian harus dapat diolah dengan membangun industri hulu dan hilir yang tangguh agar menambah pekerjaan bagi rakyat yang jauh masih ketinggalan.

Beri contoh

Kepemimpinan nasional harus memberi percontohan dan kepemimpinan kepada bangsa dan negara secara visionary dan dengan hati besar. Bukan dengan merengek dan mengeluh tentang masalah-masalah sepele yang tidak ada gunanya bagi pekerjaan besar yang dihadapi. Dia harus berani, tetapi cukup bijak. Dia harus terbuka kepada semua, tetapi tetap berani mengambil putusan. Dia harus bisa bermain politik, tetapi menjaga statesmanship yang diperlukan sebagai pemimpin bangsa.

Dia harus dapat membela pembantu-pembantunya, dan jangan tinggal diam bila mereka diserang agar mereka pun loyal pada kepemimpinannya dan sungguh-sungguh membantunya. Dia harus mendengar kritik dan terbuka untuk koreksi karena akhirnya bangsa ini menghendaki suatu demokrasi sejati. Para pembantu dan penasihat-penasihat harus datang dari segala macam pandangan politik, bukan terdiri atas orang-orang yang hanya memuji-muji.

Kita telah melalui pemilihan umum yang meskipun banyak kekurangannya diterima oleh bangsa. Sebab, rakyat mau berusaha menghidupkan demokrasi di negara Indonesia. Oleh sebab itu, pimpinan nasional hendaknya jangan ketakukan bahwa sistem yang didukung rakyat ini akan dilanggar dengan cara-cara inkonstitusional oleh mereka.

Ini kesempatan terakhir kita karena kemajuan dan perubahan dunia dan kawasan kita dahsyat, cepat, dan fundamental. Momentum sejarah ini bisa membawa kita jadi bangsa besar, maju, demokratis, dan berkeadilan sosial. Kesempatan ini harus kita tangkap dengan melaksanakan hal-hal besar seperti diharapkan dan ditunggu rakyat. Kita ikut bertanggung jawab untuk itu.

Jusuf Wanandi

Wakil Ketua Dewan Penyantun Yayasan CSIS

Budaya Keluh Kesah

Koran Jakarta, Rabu, 10 Februari 2010

Berkeluh kesah adalah sifat normal dan manusiawi yang dimiliki setiap manusia. Tetapi berkeluh kesah ini menjadi sifat yang tidak normal ketika terjadi pada frekuensi yang tidak lazim dan waktu dan tempat yang tidak seharusnya. Berkeluh kesah adalah ungkapan keputusasaan dari suatu kondisi yang berada di luar kendali.

Ketika segala daya upaya tidak lagi berarti, maka sebagai satu sifat normal berkeluh kesah menjadi hal yang paling efektif untuk menyalurkan luapan emosi.

Akhir-akhir ini, kita disuguhi tontonan dan “nyanyian” keluh kesah dari hampir seluruh elemen masyarakat mulai rakyat jelata yang tidak memunyai kekuasaan dan kekuatan sampai kepada kalangan pejabat yang notabene pemegang kekuasaan dan pengambil kebijakan di negeri ini. Hampir setiap hari di setiap media massa selalu terpampang berita tentang keluh kesah.

Tuntutan pemenuhan kebutuhan hidup yang semakin berat, harga kebutuhan pokok yang terus naik, biaya kesehatan yang mahal, sampai perilaku sebagian masyarakat yang tidak bisa diatur, selalu menjadi headline di setiap media baik cetak maupun elektronik. Sepertinya selama satu dekade ini telah terjadi pembudayaan dari kebiasaan berkeluh kesah.

Sebagaimana dalam teori ilmu sosiologi, kebudayaan terbentuk dari perilaku yang dilakukan secara berulangulang.

Hal inilah yang terjadi dari kebiasaan berkeluh kesah. Para pejabat yang seharusnya tampil optimistis dan menjadi penemu solusi dari semua permasalahan yang dikeluhkesahkan masyarakat, sekarang telah menjadi bagian dari masalah itu dan ikut-ikutan berkeluh kesah.

Bila berkeluh kesah sebagai ungkapan dari ketidakmampuan sudah dilontarkan oleh para pejabat negara maka hampir sudah bisa dipastikan bahwa negara ini ada di tangan orang yang pesimistis dan tidak kapabel dalam mengurus negara.

Hal ini diperparah dengan kondisi masyarakat yang terjangkit virus budaya keluh kesah. Satu kondisi yang sangat mengerikan, yaitu masyarakat Indonesia hidup di tengah masyarakat yang pesimistis dengan dipimpin oleh orang-orang yang pesimistis pula.

Sedikitnya ada dua motif yang melatarbelakangi munculnya budaya keluh kesah di Indonesia, ekonomisasi dan politisasi ketidakberdayaan.

Di tengah kesulitan ekonomi dan ketidakmampuan masyarakat dalam mencari penghasilan untuk menutupi kebutuhan ekonominya, sebagian masyarakat mencari penghasilan dengan cara meminta bantuan, sedekah, dan pemberian orang lain secara langsung.

Untuk mendapatkan simpati dari orang yang dimintai bantuan dan pertolongan, salah satu caranya adalah dengan berkeluh kesah mengenai kondisi pribadinya.

Cara seperti inilah yang sering dan biasa dilakukan oleh sebagian besar orang yang berprofesi sebagai pengemis di Jakarta.

Kondisi mencari pekerjaan yang susah, lamaran yang terus ditolak, dan tidak adanya bantuan dari pemerintah sering dijadikan alasan oleh sebagian orang untuk mengemis di jalanan.

Bahkan ada sebagian yang lebih ekstrem dengan menyalahkan orang lain atas kegagalan mereka dalam meraih kesuksesan.

Berkeluh kesah juga tidak hanya dilakukan oleh para pengemis, tetapi telah merambah pada obrolan sehari-hari ibu-ibu rumah tangga.

Hampir setiap hari dalam setiap obrolan baik di rumah maupun di tukang sayur, obrolan masyarakat berkutat pada kondisi yang tidak mendukung mereka.

Dan yang biasa menjadi keluhan masyarakat adalah ketidakadilan dan ketidakmampuan pemerintah dalam mengelola dan mengakomodasi kepentingan dan kebutuhan masyarakat.

Bila hal ini telah terjadi, maka berkeluh kesah telah mengalami pergeseran makna. Berkeluh kesah adalah ungkapan dari ketidakmampuan kondisi pribadi atau kelompok untuk mengendalikan lingkungannya, dan sekarang telah berubah menjadi cara untuk mendapatkan simpati yang pada akhirnya bisa digunakan untuk mendapatkan keuntungan ekonomi (ekonomisasi).

Selain motif ekonomi, berkeluh kesah sering dijadikan cara untuk mendapatkan dukungan publik dan selama ini terbukti menjadi cara yang paling efektif.

Berkeluh kesah bisa dijadikan sebagai alat bukti penganiayaan dan selama dua dekade terkahir ini orang teraniaya sudah pasti mendapat simpati publik yang sangat besar. Orang teraniaya dan tidak berdaya akan mendapat simpati dan dukungan publik.

Kasus Prita Mulyasari, menangnya Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) pada pemilu 1999, dan terpilihnya Susilo Bambang Yudhoyono sebagai Presiden RI pada 2004 merupakan contoh riil dari keefektifan politisasi ketidakberdayaan.

Publik merasa memunyai keterikatan emosional dengan orang-orang teraniaya karena selama ini publik merasa sebagai pihak yang selalu teraniaya dan terzalimi.

Oleh karena itu, politisasi keteraniayan dan ketidakberdayaan dengan cara berkeluh kesah menjadi cara yang paling efektif dalam memperoleh simpati dan dukungan publik.

Berangkat dari hal ini, maka banyak pihak yang berbondong-bondong melakukan politik keluh kesah demi mendapatkan tujuan politik yang diharapkan. Tidak salah jika berkeluh kesah telah menjadi budaya yang membudaya di negeri ini.

Demi kekuasaan dan demi keuntungan ekonomi, sebagian besar bangsa Indonesia rela menggadaikan harga dirinya dengan berkeluh kesah karena hanya orang yang menyerah dan pesimistis yang selalu berkeluh kesah terhadap kondisi lingkungan dan kegagalannya dalam meraih kesuksesan. Optimistis Idealis Budaya berkeluh kesah bukanlah budaya yang baik.

Bangsa Indonesia adalah bangsa bahari yang sudah terbiasa menghadapi berbagai tantangan dan kesulitan.

Bangsa yang hidup di tengah samudra memunyai visi ke depan dengan tekad kuat bahwa selalu ada harapan di ujung pandangan manusia. Pasti masih ada daratan membentang yang akan memberikan sedikit harapan untuk terus maju menemukan daratan berikutnya.

Yang perlu dilakukan bangsa Indonesia saat ini adalah tahan banting dan sabar dalam menjalani segala tantangan dan rintangan.

Bangsa Indonesia tidak perlu terlalu reaksionis dengan merespons segala hal yang sebenarnya bukan masalah yang substantif.

Permasalahan kritik yang tajam dan penghinaan ketika demonstrasi, bukanlah hal yang perlu dibesarkan-besarkan tetapi perlu dicermati.

Tidak ada asap jika tidak ada api. Tidak akan ada kritik dan cercaan jika tidak ada sebab yang menimbulkan kritikan dan cercaan tersebut.

Biarkanlah anjing menggongong kafi lah berlalu jika memang merasa diri benar. Kritikan dan cercaan harus dijawab dengan pembuktian positif bukan dengan kemarahan yang menunjukkan ketidakdewasaan.

Bangsa Indonesia adalah bangsa kepulauan yang sudah dan harus terbiasa dengan kritikan dan cercaan yang sifatnya membangun.

Pun dengan masyarakat harus terbiasa dengan kondisi yang serbasulit. Tidak ada satu pemerintahan pun yang menginginkan masyarakatnya hidup dalam kesulitan dan kesengsaraan.

Penulis adalah Peneliti PRIDE Indonesia
Agus Herta Sumarto

10
Feb
10

Historia : Kenangan Properti Tempo Doeloe

Masjid Merah Panjunan, Masjid dari Lima Abad Silam

Dian Anditya MutiaraDian Anditya Mutiara

Inilah Masjid Merah Panjunan di Cirebon yang usianya sudah lebih dari lima abad. Masjid ini berawal dari mushala.
Senin, 8 Februari 2010 | 15:39 WIB

KOMPAS.com — Dilihat dari luar, Masjid Merah Panjunan sangat menarik perhatian, terutama bagi orang yang baru pertama kali datang ke Cirebon, Jawa Barat. Warna merah bata mendominasi keseluruhan bangunan yang didirikan pada tahun 1480 ini.

Masjid Merah Panjunan terletak di Kampung Panjunan, kampung pembuat jun atau keramik porselen. Bangunan ini didirikan oleh Pangeran Panjunan yang adalah murid Sunan Gunung Jati, salah satu dari Wali Songo (Sembilan Wali), penyebar Islam di Jawa.

Dalam sebuah catatan sejarah yang mengacu pada Babad Tjerbon, nama asli Pangeran Panjunan adalah Maulana Abdul Rahman. Dia memimpin sekelompok imigran Arab dari Baghdad. Sang pangeran dan keluarganya mencari nafkah dari membuat keramik. Sampai sekarang, anak keturunannya masih memelihara tradisi kerajinan keramik itu, meski kini lebih untuk tujuan spiritual ketimbang komersial.

Catatan tersebut juga menyatakan, selain untuk tempat beribadah, masjid ini juga dipakai Wali Songo untuk berkoordinasi dalam menyiarkan agama Islam di daerah Cirebon dan sekitarnya. Masjid yang konon dibikin hanya dalam waktu semalam ini lebih mirip surau karena ukurannya kecil. Kemeriahan memuncak pada Ramadhan, ketika orang, baik dari dalam maupun luar kota, berburu takjil, hidangan buka puasa, berupa gahwa alias kopi jahe khas Arab.

Akan banyak orang bertanya-tanya mengapa di masjid ini juga penuh dengan ornamen bernuansa Tionghoa. Misalnya, piring-piring porselen asli Tiongkok yang menghias penghias dinding. Ada sebuah legenda bahwa keramik Tiongkok itu merupakan bagian dari hadiah kaisar China ketika Sunan Gunung Jati menikahi putri sang kaisar yang bernama Tan Hong Tien Nio. Adanya hubungan dengan Tiongkok sejak zaman Wali Songo itu juga ditunjukkan dengan keberadaan Vihara Dewi Welas Asih, sebuah wihara kuno dengan dominasi warna merah yang berdiri tak jauh dari masjid.

Perpaduan Arab dan Tiongkok ini tak lain terjadi karena Cirebon, yang pernah bernama Caruban pada masa silam, adalah kota pelabuhan. Lantaran lokasi masjid itu di kawasan perdagangan, sungguh tak aneh jika Masjid Merah—semula mushala Al-Athyah— tumbuh dengan berbagai pengaruh, seperti juga semua keraton yang ada di Cirebon.

Bangunan lama mushala itu berukuran 40 meter persegi saja, kemudian dibangun menjadi berukuran 150 meter persegi karena menjadi masjid. Pada tahun 1949, Panembahan Ratu (cicit Sunan Gunung Jati) membangun pagar Kutaosod dari bata merah setebal 40 cm dengan tinggi 1,5 m untuk mengelilingi kawasan masjid.

Keunikan lain dari struktur bangunan adalah bagian atap yang menggunakan genteng tanah warna hitam dan hingga kini masih dijaga keasliannya. Namun sayangnya, beberapa keramik yang ada di tembok pagar ada yang sudah dicukil oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab, terutama yang ada pada bagian pagar temboknya.

Pada salah satu sisi masjid terdapat sebuah makam yang diberi pagar, tetapi tidak jelas makam siapa. Menurut pengurus masjid, Nasruddin (35), ada dua versi, versi pertama ada yang mengatakan seorang yang cukup disegani di daerah Pajunan, sementara versi lain mengatakan, yang dikuburkan di tempat itu adalah benda-benda yang pernah dipakai untuk membangun masjid. “Kami sendiri tidak pernah membongkar makam tersebut. Pendiri masjid ini tidak dimakamkan di sini,” ungkapnya.

Di sini bisa kita temui sumur sedalam setidaknya tiga setengah meter yang menjadi sumber mata air untuk keperluan masjid dan masyarakat di sekitarnya.

Akulturasi budaya

Dalam berbagai tulisan sejarah, dijelaskan bahwa proses akulturasi di Indonesia sudah terjadi semenjak masa pra-Islam, yaitu Buddha dan Hindu. Agama Hindu datang ke Indonesia dibawa oleh bangsa India. Setelah itu, datanglah agama Islam. Agama-agama tersebut kemudian bertemu dan mengadakan kontak secara terus-menerus. Akhirnya, terjadilah akulturasi di antara ketiga agama tersebut.

Wujud akulturasi tersebut dapat dilihat dari unsur budaya yang ada pada arsitektur Masjid Merah Panjunan.  Unsur budaya Islam terlihat dari fisik dan fungsi masjid, terlihat pada mimbar, mihrab, tempat wudhu, dan beberapa ragam hias kaligrafi yang terlihat di tiang dan blandar.

Unsur budaya Jawa terlihat pada arsitektur masjid ini, yaitu dengan adanya tajug dan limasan. Sementara itu, pengaruh dari China adalah penggunaan beberapa keramik produksi Tiongkok untuk hiasan tempel, dan penggunaan bahan sirap seperti pada bangunan khas China.

Makna-makna filosofis dan simbol-simbol di Masjid Merah Panjunan merupakan pengaruh Hindu. Tentu saja kemudian makna filosofis dan simbol itu disesuaikan dengan ajaran Islam. (WARTA KOTA – Dian Anditya Mutiara)
DAM

Dian Anditya MutiaraDian Anditya Mutiara

Salah satu pedagang bubur sup ayam yang masih bertahan, Bubur Sop Ayam Mang Djohar di Cirebon.

KOMPAS.COM – Bubur Sop Ayam, begitulah nama resminya. Penulisan kata sup masih memakai “sop”. Pertama kali mendengar nama itu mungkin membuat orang bertanya-tanya, apakah bubur itu dimakan dengan kuah sup ayam?

Sepertinya memang agak aneh. Pada umumnya orang hanya mengenal bubur nasi yang biasa ditaburi ayam, kadang kedelai bawang goreng, dan daun bawang seledri. Bubur “unik” itu merupakan salah satu makanan khas Cirebon, Jawa Barat, yang mungkin jarang ditemui di daerah lain. Bahan dasar bumbunya hampir sama dengan bubur ayam biasa namun beda bumbu.

Dalam penyajiannya, makanan ini diberi kuah bening dari sari kaldu ayam, lalu diberi tambahan soun, irisan kol, tauco, kacang kedelai, kentang dan tambahan kerupuk kanji yang sudah diremukkan. Perpaduan ini mirip dengan soto dan kuahnya juga dirasakan sepintas seperti soto. Paling enak bila disantap dengan kuah yang masih panas, ditambah dengan cabai bubuk yang menjadi ciri khasnya.

Bubur sup ayam ini bisa untuk sarapan atau makan malam. Selain mengenyangkan perut, bubur ini dapat membuat badan hangat dan berkeringat. Ampuh juga sebagai obat penolak masuk angin dan sebagai penambah ketahanan saat harus bekerja hingga larut malam (begadang).

Tapi di Cirebon, bubur sup ini sepertinya hampir menghilang dari peredaran. Ketika Warta Kota mencari bubur ini agak kesulitan juga. Warga setempat mengatakan, pedagang bubur sup sudah jarang. Kebanyakan, pedagang yang masih bertahan adalah mereka yang meneruskan usaha orangtuanya.

Bubur Sop Ayam Muhamad Djohar, salah satunya. Ia mulai berjualan sejak tahun 1959. Kini digantikan oleh anak keempat, Aminah (41) ,yang berjualan di Jalan Siliwangi. Aminah menuturkan, sebelumnya sang ayah sempat berjualan di Jalan Kartini  dengan kedai sederhana. Selain bubur, ia juga menjual es campur. Maka dulu lebih sering dikenal sebagai Bubur Mang Djohar Panas Dingin.

“Memang dulu Bapak jualan es serut. Biasanya orang paling suka pas siang, makan bubur terus minum es. Makanya dibilang panas dingin,” tuturnya.

Namun sepeninggalan sang ayah dan karena keterbatasan tenaga, maka kini Aminah hanya menyediakan bubur sup. Apalagi ia harus berjualan dari pagi sampai malam, tenaga akan terkuras hanya dengan membuat bubur.

Awalnya Aminah tidak tahu cara membuat bubur tersebut, tetapi karena sering memperhatikan pembantunya memasak akhirnya ia bisa membuat sendiri. Karena sejak dulu pun yang memasak bubur bukan ayah maupun ibunya, tetapi pembantu.

Dengan dibantu saudaranya, biasanya dia akan bergantian jualan di warung yang sangat sederhana tersebut. Yang unik adalah sambal cair yang terbuat dari campuran cabai bubuk, gula pasir, dan minyak goreng. Harga semangkuk bubur sup ayam ini Rp 8.000.

Karena sudah cukup lama, maka pelanggannya pun juga bervariasi, hingga sampai tiga generasi. Tay Seng (61), warga Pakaliman, mengaku kerap kali makan bubur sup tersebut sejak generasi pertama yang berjualan. Dari segi rasa menurutnya tidaklah berubah banyak.

“Saya suka dengan bubur ini karena bisa membuat badan hangat. Buburnya yang agak padat ini bila dibawa pulang tidak akan mencair. Tetapi saya lebih suka makan di tempat, karena kalau sudah dibawa pulang, rasanya jadi kurang enak,” ungkapnya.

Ia menyayangkan bila makanan seperti ini sampai hilang dari peredaran. Tay Seng pun mengakui, kini sudah kesulitan menemukan bubur sup ayam di wilayah Cirebon. Ia berharap kedepan, masih ada generasi muda yang mau melestarikan kuliner ini. (WARTA KOTA – Dian Anditya Mutiara)

Alamat warung Bubur Sop Ayam:


Bubur Sop Ayam Mang Djohar, Cirebon

Jalan Raya Siliwangi (seberang Bank CIMB Niaga)
Buka: 09.00-22.00

Bubur Sop Ayam M Kapo
Jalan Raya Gunung Sari, Cirebon
Buka: 17.00-23.00
DAM,Dian Anditya M

Rumah Dayang Sumbi milik PT Kereta Api (Persero)sedang dalam proses pemugaran. Rumah ini dibangun pertama pada 2 Maret 1927.
Dari Si Tedi hingga Dayang Sumbi Celestinus Trias HP Rumah Dayang Sumbi milik PT Kereta Api (Persero)sedang dalam proses pemugaran. Rumah ini dibangun pertama pada 2 Maret 1927.
Senin, 8 Februari 2010 | 15:30 WIB

KOMPAS.COM-Menelusuri jalur kereta api (KA) Jakarta-Bandung sungguh mengasyikkan. Bukan hanya pemandangan alam yang asri tapi juga bangunan tua yang menarik. Boleh jadi masih banyak yang belum tahu bahwa jalur tersebut menyimpan beberapa bangunan yang memiliki kisah panjang.

Mengetahui ada hal menarik yang bisa “dijual” sebagai produk wisata, pihak PT Kereta Api (Persero) – PT KA (Persero) – tahun ini mulai mempersiapkan sejumlah bangunan yang dari abad 18 dan 19 di jalur itu sebagai lokasi wisata sejarah. Untuk memperkenalkan aset PT KA yang bernilai sejarah itu, beberapa waktu lalu PT KA mengadakan Heritage Trip Jakarta-Bandung untuk banyak pihak, termasuk wartawan.

Dari sekian banyak bangunan bersejarah yang ada di jalur tersebut, ada satu yang sudah siap yaitu kantor pusat PT KA di Jalan Perintis Kemerdekaan, Cikapundung, Bandung, Jawa Barat. Bangunan yang dibangun tahun 1869 itu, sudah mulai diubah bak museum. Bangunan itu dipugar sehingga detil gaya yang menunjukkan usia dan keunikan arsitektur bangunan kantor itu tampak.

Sebagai penanda, di pintu masuk ke kantor pusat PT KA ini dipajang satu lokomotif tua berwarna hitam legam, TD 1002.  Lokomotif bikinan Belanda tahun 1926 itu terakhir digunakan tahun 1970 dan pernah berjasa mengangkut segala jenis bahan pangan di wilayah Jawa Barat (dulu disebut wilayah Priangan).

Tedi, demikian nama loko yang pernah jadi penarik gerbong manusia dengan rute Rengasdengklok-Karawang-Wadas-Cikampek-Cilamaya. Tak pelak lokomotif itu jadi perhatian banyak orang karena baru kali itu kantor pusat PT KA memamerkan lokomotif tua. “Ini memang sebagai bagian untuk menarik perhatian. Namun, selain ini masih banyak lagi yang bisa jadi daya tarik sejarah. Seluruh bagian gedung kantor kereta api ini adalah bangunan tua peninggalan Belanda. Usianya sudah 100 tahun lebih dan memang sudah kami catatkan sebagai benda cagar budaya, yang patut dan harus dilestarikan,” kata Ella Ubaidi, Kepala Pusat Pelestarian Benda dan Aset Bersejarah PT KA.

Untuk sementara, pengunjung hanya boleh menikmati bangunan bersejarah tersebut pada akhir pekan, Sabtu dan Minggu.

Memasuki kantor yang seabad lalu dijadikan kantor kereta api oleh pemerintah Hindia Belanda kita bisa menyaksikan sebuah ruangan besar yang khas Eropa, atap tinggi dan berukir, yang digunakan untuk menerima tamu dan rapat.

Sejumlah bangunan lain di kompleks kantor pusat itu juga menarik, salah satunya gedung administrasi dan operasional PT KA saat ini, di mana dahulu merupakan bangunan untuk menyimpan arsip. Sebagai kantor arsip, maka bangunan tersebut tahan api. Ketebalan tembok adalah 30 cm dengan  pintu dan jendela baja murni setebal 12 cm.

Seperti pada bangunan Eropa, khususnya Belanda, yang lain, bangunan ini juga memiliki ruang bawah tanah (bunker). “Sebenarnya di bahwa lantai ini ada bunker yang digunakan sebagai gudang dan perlindungan saat perang,” ungkap Sukendar Mulya, salah satu pejabat internal PT KA. Sayang, PT KA tak mengantisipasi keinginan wartawan untuk melihat bunker di kedalaman tujuh meter itu.

Satu lagi bangunan tua milik PT KA di Kota Bandung, yaitu Rumah Dayang Sumbi. Diberi nama demikian karena rumah itu terletak di Jalan Dayang Sumbi, Dago. Rumah ini dibangun tahun 1927 menjadi tempat tinggal seorang juragan tanah dan perkebunan teh berdarah Belanda. Namun, selanjutnya rumah seluas 700 m2, yang tidak jauh dari lokasi wisata belanja Dago dan kampus ITB ini, dijadikan rumah untuk pejabat kereta api pada zaman tersebut.

Kini bangunan itu masih dalam proses pemugaran. Plakat yang menyatakan bahwa peletakan batu pertama dilakukan oleh Ernst Gerard Oscar Kelling pada 2 Maret 1927 masih dipertahankan.

PT KA juga akan menyiapkan satu lagi bangunan bersejarah yang akan dijadikan obyek wisata sejarah, yaitu 21 bangunan gudang di Jalan Sukabumi, Cikudapateuh, Bandung. Karena baru akan dipersiapkan, maka rombongan trip dari Jakarta sekali lagi hanya bisa penasaran, tak  bisa melongok isi gudang dan sebelumnya tak bisa melihat bunker.

Menurut PT KA, dalam gudang itu masih tersimpan persediaan onderdil kereta api dan alat komunikasi zaman baheula. Meski belum jadi atraksi wisata, areal gudang itu sudah acapkali jadi lokasi pemotretan dan syuting film. Gudang yang dibangun pada 1907 ini dulu luasnya 42 hektar, menyambung hingga Balai Yasa (bengkel kereta api) dan Stasiun Kiaracondong. Kini sebagian lahan itu sudah jadi rumah warga. (WARTA KOTA – Celestinus Trias HP)
WARTA KOTA Celestinus Trias HP.

10
Feb
10

Perbankan : Gelora Skandal Century

Pansus Minta BPK Audit Penyumbang Capres

lokasi: Home / Berita / Politik / [sumber: Jakartapress.com]

Selasa, 09/02/2010 | 21:39 WIB Pansus Minta BPK Audit Penyumbang Capres

Jakarta – Pansus angket Century meminta BPK mengaudit perusahaan penyumbang capres yang menerima aliran dana Century. BPK pun menyanggupi dan akan mulai mengaudit PT Asuransi Jaya Proteksi (PT AJP).

“Kami menemukan PT Asuransi Jaya Proteksi yang menyumbang salah satu capres pernah menarik dana di atas 1 M dari Bank Century,” kata anggota Pansus Century dari Fraksi Partai Hanura Akbar Faisal dalam rapat Pansus Century DPR di Senayan, Selasa (9/2.

Menurut Akbar, seperti keterangan Roahurmuzi (FPPP) sebelumnya, PT AJP pernah menyumbang dana sebesar 600 juta dan 850 juta kepada salah satu capres peserta pilpres 2009. “Kabarnya juga ada 11 rekening yang selama ini tidak terdaftar di BPK dengan angka rekening Rp 1,9 triliun. Kami minta kedua hal tersebut supaya BPK audit,” paparnya.

Ketua BPK Hadi Purnomo yang hadir memenuhi panggilan pansus bersama anggota BPK Taufiqurahman Ruki dan Saleh Husein pun menanggapi dengan positif.  “Itu karena bukan data dari kami ya akan kami lihat sebagai masukan. Kalau memungkinkan akan kami audit,” jawab Hadi.

Pansus Sita Data 1 Truk dari BPK
Pansus Century DPR akan menyita data dari Badan Pemeriksa Keuangan (BPK). Pansus mengkopi ribuan lembar data, kira-kira satu truk pick up. “Kamis besok Pansus akan mulai penyalinan 200 outner data kami. Satu outner sekitar 100 atau 200 halaman Pak,” kata Ketua BPK Hadi Purnomo dalam rapat konsultasi antara Pansus dengan BPK di Gedung DPR, Selasa (9/2).

Hadi mengingatkan agar Pansus mengamankan data BPK selama proses penyalinan. “Bapak siapkan gudangnya, kalau bapak hilangkan tanggungjawab nanti,” kata Ketua BPK.

Pimpinan sidang wakil ketua Pansus Gayus Lumbuun pun menimpali. Gayus mengakui butuh waktu lama menyalin data BPK. “Kalau kita menyalin bisa jadi dua tahun kalau fotokopi tiga bulan soalnya itu satu truk. Ya itu kita salin yang penting-penting saja,” jelas Gayus.

Pansus Century diperkenankan menyita atau menyalin data BPK setelah PN Pusat memberikan ketetapan sita kepada Pansus Century. (*/dtc/jpc)

PPATK Diminta Periksa 11 Nasabah Mencurigakan

lokasi: Home / Berita / Legislatif / [sumber: Jakartapress.com]

Selasa, 09/02/2010 | 21:03 WIB PPATK Diminta Periksa 11 Nasabah Mencurigakan

Jakarta – Ada 11 Nasabah Bank Century dianggap mencurigakan karena total penarikan yang mereka lakukan pada Bank tersebut hingga mencapai Rp 1,9 triliun. Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) diminta mengusut pemilik rekening yang dianggap mencurigakan tersebut.

“Kami menemukan 11 nasabah dengan total penarikan Rp 1,9 triliun di luar sepengetahuan BI dan Bareskrim. Sebab nasabah ini tidak pernah dilaporkan ke Bank Century. Tetapi anehnya data nasabah-nasabah ini disimpan manajemen Bank Mutiara. Apa Bapak sudah mengendus?” tanya Anggota Pansus dari Fraksi Golkar, Azis Syamsudin kepada Ketua PPATK Yunus Husein dalam rapat Pansus Angket Century di Gedung DPR, Senayan, Selasa (9/2).

“Kalau boleh tahu namanya siapa saja?” tanya Ketua PPATK. “Kami tidak punya, tidak bisa menyebut namanya,” jawab Azis.

“Kalau begitu susah bagi kami,” timpal Yunus.

Azis pun meminta agar PPATK menyelidiki aliran uang tersebut meskipun dia tidak bisa menyebutkan namanya satu persatu. “Saya mohon untuk diselidiki Pak. Bagaimana pun juga itu transaksi yang aneh dan patut dicurigai,” kata politisi Golkar ini.

Azis menambahkan, pihaknya juga menemukan beberapa nasabah yang menabung di Bank Century cabang senayan antara lain berinisial JH menabung sebesar Rp 95 miliar, AR sebesar Rp 31,5 miliar, HH sebesar Rp 43 miliar, BS sebesar Rp 100 miliar. “Itu baru beberapa Pak. Kami minta diselidiki,” tandasnya.

PPATK Gandeng PwC Selidiki Aliran Dana Bailout Century
Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi (PPATK) menyewa akuntan publik Pricewaterhouse Cooper (PwC) untuk mendapatkan data yang akurat seputar aliran dana bailout Bank Century Rp 6,7 triliun. Kepala PPATK Yunus Husein mengatakan, PPATK meminta PwC untuk melakukan audit kepada Bank Mutiara (dulu Bank Century) dari sejak periode bailout pada November 2008 sampai Desember 2009.

“PwC dapat membantu menghimpun informasi akurat guna membantu PPATK. Audit telah dilakukan kepada Bank Mutiara. Audit itu dimulai periode bailout November 2008 sampai dengan Desember 2009 kemarin. Itu untuk melengkapi verifikasi dan data transaksi keuangan di Bank Mutiara,” tuturnya dalam rapat dengan Panitia Angket Century di Gedung DPR, Selasa (9/2).

Yunus mengatakan, dalam rangka penyelesaian audit aliran dana bailout Century, PPATK juga menyelenggarakan forum group discussion yang akan mengundang narasumber dari BPKP dan dari PwC untuk meneliti dan mengkaji apakah aliran dana bailout Bank Century Rp 6,7 triliun mengandung unsur tindak pidana.

Selain itu, PPATK juga terus menelusuri transaksi yang terjadi di Bank Century pasca bailout. “Selanjutnya dalam memperkuat basis pengelolaan data, PPATK juga bertemu dengan BI dan LPS. Serta tidak lupa untuk menelusuri aset-aset baik di dalam maupun di luar negeri. PPATK berkomitmen untuk membantu pengembalian aset-aset tersebut,” tutupnya. (*/dtc/ika)

Pansus Minta BPK Audit Penyumbang Capres

lokasi: Home / Berita / Politik / [sumber: Jakartapress.com]

Selasa, 09/02/2010 | 21:39 WIB Pansus Minta BPK Audit Penyumbang Capres

Jakarta – Pansus angket Century meminta BPK mengaudit perusahaan penyumbang capres yang menerima aliran dana Century. BPK pun menyanggupi dan akan mulai mengaudit PT Asuransi Jaya Proteksi (PT AJP).

“Kami menemukan PT Asuransi Jaya Proteksi yang menyumbang salah satu capres pernah menarik dana di atas 1 M dari Bank Century,” kata anggota Pansus Century dari Fraksi Partai Hanura Akbar Faisal dalam rapat Pansus Century DPR di Senayan, Selasa (9/2.

Menurut Akbar, seperti keterangan Roahurmuzi (FPPP) sebelumnya, PT AJP pernah menyumbang dana sebesar 600 juta dan 850 juta kepada salah satu capres peserta pilpres 2009. “Kabarnya juga ada 11 rekening yang selama ini tidak terdaftar di BPK dengan angka rekening Rp 1,9 triliun. Kami minta kedua hal tersebut supaya BPK audit,” paparnya.

Ketua BPK Hadi Purnomo yang hadir memenuhi panggilan pansus bersama anggota BPK Taufiqurahman Ruki dan Saleh Husein pun menanggapi dengan positif.  “Itu karena bukan data dari kami ya akan kami lihat sebagai masukan. Kalau memungkinkan akan kami audit,” jawab Hadi.

Pansus Sita Data 1 Truk dari BPK
Pansus Century DPR akan menyita data dari Badan Pemeriksa Keuangan (BPK). Pansus mengkopi ribuan lembar data, kira-kira satu truk pick up. “Kamis besok Pansus akan mulai penyalinan 200 outner data kami. Satu outner sekitar 100 atau 200 halaman Pak,” kata Ketua BPK Hadi Purnomo dalam rapat konsultasi antara Pansus dengan BPK di Gedung DPR, Selasa (9/2).

Hadi mengingatkan agar Pansus mengamankan data BPK selama proses penyalinan. “Bapak siapkan gudangnya, kalau bapak hilangkan tanggungjawab nanti,” kata Ketua BPK.

Pimpinan sidang wakil ketua Pansus Gayus Lumbuun pun menimpali. Gayus mengakui butuh waktu lama menyalin data BPK. “Kalau kita menyalin bisa jadi dua tahun kalau fotokopi tiga bulan soalnya itu satu truk. Ya itu kita salin yang penting-penting saja,” jelas Gayus.

Pansus Century diperkenankan menyita atau menyalin data BPK setelah PN Pusat memberikan ketetapan sita kepada Pansus Century. (*/dtc/jpc)

Dana Century Rp 6,35 Triliun Mengalir ke 63 Bank

lokasi: Home / Berita / Ekonomi / [sumber: Jakartapress.com]

Selasa, 09/02/2010 | 21:14 WIB Dana Century Rp 6,35 Triliun Mengalir ke 63 Bank

Jakarta – Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) menemukan transfer antar bank secara langsung (Real Time Gross Settlement/RTGS) yang keluar dari Bank Century kepada 63 bank dengan nilai sebesar Rp 6,35 triliun.

Ini terjadi pada 6 November 2008 (Bank Century dalam pengawasan khusus) hingga 10 Agustus 2009 (Bank Century telah mendapatkan Penyertaan Modal Sementara/PMS). Hal ini diungkapkan Kepala PPATK Yunus Husein dalam Rapat dengan Pansus Hak Century DPR di Senayan, Selasa (9/2).

“Antara lain Bank Mandiri, Bank Bukopin, Bank Mega, Bank Central Asia, Bank Danamon, Bank Panin dan Bank OCBC NISP,” papar Kepala PPATK.

Yunus mengatakan sebesar 52% atau sekitar Rp 3,32 triliun dikirimkan kepada pihak yang namanya sama dengan nama pihak pengirim dana di Bank Century. “Ini berarti dana nasabah yang disimpan di Bank Century telah dipindahkan oleh para nasabahnya ke rekening milik nasabah tersebut di bank-bank tersebut,” bebernya.

Sementara itu, jumlah nilai transaksi dari kelompok pihak pengirim dan pihak penerima melalui RTGS yang berbeda sebesar Rp 3,03 triliun antara lain terdapat nama perusahaan BUMN.

“Pihak pengirim dan penerimanya yang beda yakni nasabah perorangan dengan nilai sebesar Rp 1,6 triliun, BUMN dengan nilai sebesar Rp 276 miliar, perusahaan swasta Rp 986,4 miliar dan yayasan, dana pensiun dan koperasi Rp 92 miliar,” ungkapnya sembari menambahkan, selama periode tersebut Bank Century kehilangan 49% nasabahnya.

Rp 13,48 T Keluar dari Century Selama 10 Bulan
PPATK mencatat dana sebesar Rp 13,48 triliun keluar dari Bank Century selama periode bank masuk dalam pengawasan khusus atau special surveilance unit (SSU) pada November 2008 hingga Penyertaan Modal Sementara (PMS) terakhir pada bulan Agustus 2009.

Dana tersebut digunakan untuk para deposan yang menarik dananya atau memindahkan dananya di bank yang telah berganti nama menjadi Bank Mutiara tersebut.

Hal tersebut disampaikan Kepala PPATK Yunus Husein dalam  pertemuan dengan Pansus Bank Century dengan agenda paparan PPATK mengenai aliran dana Bank Century di Gedung DPR, Jakarta, Selasa (9/2/2010).

“Dari seluruh dana yang keluar paling besar dilakukan melalui Real Time Gross Settlement (RTGS) sebesar Rp 6,3 triliun, kemudian melalui Sistem Kliring Nasional (SKN) sebesar Rp 3,79 triliun dan penarikan tunai sebesar Rp 3,33 triliun,” ujarnya.

Yunus menambahkan PPATK menemukan beberapa kesalahan atas data RTGS dari Bank Century seperti adanya data yang tercatat dua kali, termasuk adanya satu data aliran dana masuk yang tercatat juga dalam data aliran dana keluar.

“Kemudian dalam data SKN pada periode bulan November 2008 sampai dengan Agustus 2009 hanya sebagian yang mencantumkan informasi mengenai nama pihak pengirim dan penerima,” tuturnya.

PPATK juga mengalami kendala yakni beberapa rekening penerima dana pada layer 2 dan layer 3 transaksi rekeningnya sangat aktif dan bercampur dengan sumber dana lainnya sehingga sangat sulit untuk memastikan dana yang keluar selanjutnya dari rekening penerima dana tersebut bersumber dari Bank Century.

Berikut Rekapitulasi Keseluruhan Nilai Transaksi RTGS, SKN dan Tarik Tunai Periode 6 November 2008 hingga 10 Agustus 2009:

Periode I (6 November 08 – 13 November 08) RTGS : Rp 249,6 miliar / SKN : Rp 245, 2 miliar / Penarikan Tunai : Rp 418,5 miliar / Total : Rp 913,4 miliar (Keterangan : talangan dana menggunakan SSU-FPJP)

Periode II (14 November 08 – 23 November 08) RTGS : Rp 35,5 miliar / SKN : Rp 816,2 miliar / Penarikan Tunai : Rp 303,5 miliar / Total : Rp 1,15 triliun  (Keterangan : talangan dana menggunakan FPJP)

Periode III (24 November 08 – 08 Desember 08) RTGS : Rp 1,19 triliun / SKN : Rp 633,1 miliar / Penarikan Tunai : Rp 396,72 miliar / Total : Rp 2,22 triliun (Keterangan : talangan dana menggunakan (PMS 1)

Periode IV (09 Desember 08 – 03 Februari 09) RTGS : Rp 1,81 triliun / SKN : Rp 978,7 miliar / Penarikan Tunai : Rp 520,3 miliar / Total : Rp 3,3 triliun (Keterangan : talangan dana menggunakan PMS 2)

Periode V (04 Februari 09 – 23 Juli 09) RTGS : Rp 2,567 triliun / SKN : Rp 1,035 triliun / Penarikan Tunai : Rp 1,449 triliun / Total : Rp 5,02 triliun (Keterangan : talangan dana menggunakan PMS 3)

Periode VI (24 Juli 09 – 10 Agustus 09) RTGS : Rp 488 miliar / SKN : Rp 83 miliar / Penarikan Tunai : Rp 249 miliar / Total : Rp 3,3 triliun (Keterangan : talangan dana menggunakan PMS 4)

“Pada periode III, IV, V dan VI jumlah total aliran dana yang dikeluarkan Bank Century sebesar 11,4 triliun, sedangkan PMS yang dikucurkan yaitu Rp 6,7 triliun. Perbedaan jumlah ini diindikasikan karena banyak DPK dan sumber lainnya yang masuk ke Bank Century pada periode tersebut,” papar Yunus.

Data aliran dana keluar melalui RTGS periode 6 November 2008 hingga 10 Agustus 2009 diketahui sebesar 52% (Rp 3,3 triliun). Menurut Yunus, dana tersebut dikirimkan kepada pihak yang namanya sama dengan nama pihak pengirim dana di Bank Century.

“Hal ini menunjukkan bahwa dana yang disimpan di Bank Century telah dipindahkan oleh nasabah tersebut ke rekening milik nasabah yang sama di bank lain,” tandasnya. (*/dtc/ika)

PPATK: Ada Transaksi Anggota DPR Mencurigakan

lokasi: Home / Berita / Legislatif / [sumber: Jakartapress.com]

Selasa, 09/02/2010 | 20:33 WIB PPATK: Ada Transaksi Anggota DPR Mencurigakan

Jakarta – Ketua Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) Yunus Husein mengungkapkan jika lembaganya menemukan transaksi anggota DPR yang mencurigakan. Saat ini PPATK terus menelusuri aliran dana anggota DPR ini.

“Terdapat indikasi transaksi yang memenuhi kriteria transaksi keuangan yang mencurigakan atas nama salah satu anggota nasabah Bank Century yang juga merupakan tokoh parpol dan anggota DPR,” kata Ketua KPK Yunus Husein dalam rapat konsultasi antara Pansus Century DPR dengan PPATK di gedung DPR, Senayan, Selasa (9/2).

Untuk itu, lanjut Yunus, PPATK terus mengumpulkan data lengkapnya. “PPATK tengah melakukan penelitian lebih lanjut atas indikasi transaksi keuangan yang mencurigakan tersebut,” jelas Ketua PPATK.

Namun sebaliknya, Yunus menjelaskan, PPATK tidak menemukan kesamaan profil antara rekening bernama mirip tokoh parpol dengan tokoh sebenanrnya. “Namun hasil penelitian dan hasil klarifikasi dengan Bank menunjukkan profil penerima aliran dana tersebut berbeda dengan profil pejabat negara dan tokoh parpol sebenarnya,” tandasnya.

Ada Aliran Dana Mencurigakan Dari Rekening Anggota DPR

PPATK mengendus adanya transaksi mencurigakan dari anggota DPR terkait aliran dana Bank Century. PPATK justru tidak menemukan adanya kesamaan nama profil tokoh parpol yang terlibat dalam skandal Bank Century.

“Terdapat indikasi transaksi yang memenuhi kriteria transaksi keuangan yang mencurigakan atas nama salah satu nasabah Bank Century yang juga merupakan tokoh parpol dan angota DPR,” kata Ketua PPATK Yunus Husein saat membacakan kesimpulan PPATK dalam rapat konsultasi Pansus Century di Gedung DPR, Senayan, Selasa (9/2).

Yunus mengatakan, PPATK terus mengumpulkan data. Sebagian datanya sudah dilaporkan ke Pansus Century. “PPATK tengah melakukan penelitian lebih lanjut atas indikasi transaksi keuangan yang mencurigakan tersebut,” ungkapnya.

PPATK mengaku justru tidak menemukan kesamaan profil pemilik rekening Bank Century dengan tokoh parpol pejabat negara. “Namun hasil penelitian dan hasil klarifikasi dengan bank, menunjukkan profil penerima aliran dana tersebut berbeda dengan profil pejabat negara dan tokoh parpol sebenarnya,” tegasnya. (*/dtc/jpc)

Ada Penyumbang Capres Terima Dana Century?

lokasi: Home / Berita / Politik / [sumber: Jakartapress.com]

Selasa, 09/02/2010 | 20:14 WIB Ada Penyumbang Capres Terima Dana Century?

Jakarta – PPP menengarai adanya aliran dana Bank Century masuk ke kantong perusahaan yang menyumbang ke salah satu tim sukses calon presiden (capres) pada Pilpres 2009. PPP meminta Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menyelidiki aliran dana tersebut.

“Ada indikasi PT berinisial AJPE yang menjadi penyumbang salah satu pasangan capres menerima aliran dana pada periode keempat Penyertaan Modal Sementara. PT AJPE ini memberikan sumbangan sebanyak dua kali Rp 600 juta dan 850 juta kepada salah satu capres. Perusahaan ini juga menerima aliran dana Century dalam aliran besar selama dua periode,” ungkap anggota Pansus Century DPR dari Fraksi PPP Romahurmuzy dalam rapat Pansus dengan PPATK di Gedung DPR, Selasa (9/2).

Pada periode pertama dikucurkan sebanyak Rp 4,28 miliar. Dan pada periode kedua dikucurkan dana sebesar 10,73 miliar. “Nama industri ini terdapat dalam data salah satu tiga tim sukses yang kami miliki,” bebernya.

“Kami ingin tahu perusahaan ini bekerja di bidang apa. Untuk itu kami meminta PPATK menyelidiki detil perusahaan ini, bergerak di bidang apa dan aliran dananya seperti apa. Kami minta supaya data ini dikroscek,” tegas politisi PPP.

“Oke, cukup detil informasinya, kami akan segera selidiki,” jawab Ketua PPATK (Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan) Yunus Hesein di depan pansus Century DPR RI.

Transaksi Aneh Seorang Berinisial MT di Century
PPATK menemukan adanya transaksi keuangan puluhan milyar yang dilakukan nasabah Bank Century. MT, nama inisialnya, melakukan transaksi dengan nama yang berubah-ubah di akhir kedua periode penyertaan modal sementara (PMS).

“Ada 7 nama, salah satunya saya sebut MT. Kita lagi mencari siapa orang ini, kenapa dia transaksi besar, dan kenapa dia transaksi terjadi ketika pada periode PMS akhir kedua, dan seterusnya,” jelas anggota Pansus Century DPR dari PKS Andi Rahmat saat jeda sidang Pansus di DPR, Selasa (9/2).

Andi mengaku melihat transaksi MT tersebut di dalam laporan PPATK yang diterimanya. “Kita ingin tahu nasabah dengan modus (transaksi) yang unik, tapi profil yang menurut kita menarik itu  buat PPATK tidak menarik, tidak di uji,” keluhnya.

Andi menceritakan, dalam mengirim uang, MT seringkali mengubah-ubah namanya. Misalkan saja namanya Muhammad Tjiptarjo, pertama dia kirim ke rekening dia sendiri di bank lain atas nama Muhammad Tjiptarjo. “Tidak lama di rekening ini ditulis juga Tjiptarjo Tjip Muhammad Tjiptarjo. Jadi nulis namanya nggak konsisten,” tuturnya.

Jika dibandingkan dengan nama nasabah lainnya, maka nasabah lainnya itu konsisten. “Misalkan BS (budi Sampoerna), itu tulisannya benar,” katanya.

Dalam sekali transaksi, MT dapat berubah 3 kali namanya. “Jadi anda bayangkan, dia ke sana membawa 3 slip dan 3 nama berbeda dalam slip itu,” jelasnya.

Berapa jumlah transaksinya? “Puluhan M lah. Kadang-kadang pakai dolar, valas. Transaksinya juga banyak. Kadang dia ke Bank suatu kampung di Jawa Tengah,” ujarnya.

Akan tetapi, Andi mengaku belum tahu pekerjaan MT lebih lanjut. Katanya, MT bukan juga anggota dewan. “Kita belum tahu profil rekeningnya, kata PPATK kalau ada permintaan, itu bisa (dilanjuti),” jelasnya.

Informasi tambahan terkait MT ini datang dari anggota Pansus Aziz Syamsudin. “MT ini merupakan nasabah Bank Century cabang Senayan,” papar Aziz.

PPATK Serahkan Transaksi Mencurigakan ke Polri dan KPK
Pusat Pelaporan Analisis dan Transaksi Keuangan (PPATK) juga menyetor aliran dana mencurigakan ke KPK dan Polri. PPATK berharap kedua instansi tersebut bersama Pansus menuntaskan Skandal Century.

“Kami menemukan 180 transaksi mencurigakan. 22 Kami serahkan untuk pidana ke Polri, 20 ke BPK dan 21 kami serahkan ke KPK,” kata Ketua PPATK Yunus Husein dalam rapat konsultasi antara Pansus Century DPR dengan PPATK, Selasa (9/2).

Yunus mengaku sudah memberikan data dalam bentuk rekap. Saya sudah kasih ke Kapolri termasuk KPK dan sudah Saya berikan ke Pansus dalam bentuk rekap tapi sudah dibaca,” jelas Yunus.

Mendengar  pernyataan PPATK, Pansus pun ingin diberitahu data-data tersebut secara lengkap. Namun PPATK hanya mau membuka data tersebut secara tertutup. “Kami bisa menyampaikan asal secara tertutup di tempat ini atau di sini,” kata Yunus menjawab permintaan anggota pansus dari FPDIP Eva Kusuma Sundari.

PPATK juga akan mencari aliran dana mencurigakan lebih dalam setelah Pansus memberikan detil alamat Bank yang dicurigai oleh Pansus. “Memang agak susah kalau berapa karena karena ada di Padang, ada di Jatim, jadi pokoknya tolong lebih fokus, informasi yang spesifik,” papar Yunus.

Namun Yunus tidak mau PPATK jadi tumbuan. “Jangan bertumpu Kami, ajak kerjasama pihak Kepolisian dan KPK juga,” tandasnya. (*/dtc/din)

Dana Century Juga Mengalir ke Sinar Mas!

lokasi: Home / Berita / Ekonomi / [sumber: Jakartapress.com]

Selasa, 09/02/2010 | 16:11 WIB Dana Century Juga Mengalir ke Sinar Mas!

Jakarta – Selama ini Sinar Mas tak pernah disebut dalam kasus aliran dana Bank Century. Namun, dalam laporan Pusat Analisa Transaksi Keuangan (PPATK), ada aliran dana ke perusahaan Sinar Mas Sekuritas. Pansus Century DPR akan menelusurinya.

“Aliran dana ke Sinar Mas jumlahnya siginifikan. Ada di laporan PPATK,” kata anggota Pansus Hak Angket Century DPR RI dari Fraksi PKS Andi Rahmat di Gedung DPR, Senayan, Selasa (9/2).

Namun, Andi menolak berkomentar lebih jauh termasuk saat ditanya berapa jumlah tepatnya dana yang mengalir ke Sinar Mas. Saat ini Pansus masih bekerja dan melakukan pengumpulan data.

Sedangkan Ketua PPATK Yunus Husein saat dimintai komentar enggan memberikan tanggapan mengenai aliran dana Sinar Mas Sekuritas yang merupakan Grup Sinar mas itu. “Saya tidak bisa pastikan,” terangnya.

Berdasarkan dokumen yang beredar di DPR, disebutkan bila PT Sinar Mas Sekuritas diduga merupakan salah satu perusahaan yang diduga terkait dengan kasus tindak pidana dalam kasus PT Antaboga Delta Sekuritas.

Dalam dokumen itu bahkan disebutkan PT Sinarmas Sekuritas diduga menerima aliran dana dari PT Antaboga Delta Sekuritas melalui seorang berinisial HA.

Sebelum dilakukan bailout Century, Sinar Mas pernah berencana untuk membeli bank ini. Namun, akhirnya pembelian oleh Sinar Mas dibatalkan! (*/dtc/ikc)

Ada 11 Nama Misterius Terima Dana Century?

lokasi: Home / Berita / Legislatif / [sumber: Jakartapress.com]

Selasa, 09/02/2010 | 15:50 WIB Ada 11 Nama Misterius Terima Dana Century?

Jakarta – Anggota Pansus Century DPR RI Bambang Soesatyo (Fraksi Partai Golkar) mengungkapkan, berdasar informasi yang diterimanya terdapat 11 nama misterius yang turut menerima aliran dana bailout Bank Century. Kesebelas nama tersebut tidak terdapat dalam daftar nasabah Bank Century ataupun dalam pemeriksaan Bareskrim Mabes Polri.

“Kami sedang mendalami 11 nama atau pihak yang tidak terdaftar nasabah Bank Century, tidak ada dalam catatan Bank Indonesia serta data yang ada di Bareskrim,” ungkap Bambang Soesatyo, Selasa (9/2), sebelum rapat Pansus di Gedung DPR, Senayan. Menurutnya, nama-nama tersebut tercantum dalam audit lanjutan BPK. Oleh karena itu, pihaknya akan mengkonfirmasi nama-nama tersebut rapat Pansus dengan BPK, Selasa (9/2) malam. “Nanti malam, kami akan tanya ke BPK,” tandasnya.

Secara terpisah, Wakil Ketua DPR Pramono Anung (Fraksi PDIP) berharap Pansus Century juga menyelidiki aliran dana sebelum dilakukannya bailout oleh Bank Indonesia (BI) kepada Bank Century sebesar Rp 6,7 triliun. “Memang saat ini pansus lebih fokus pada aliran dana pascabailout. Saya harapkan aliran dana sebelum bailout juga diselidiki,” seru Pramono di Gedung DPR, Selasa (9/2).

Menurut Pramono, aliran dana sebelum bailout perlu diketahui terutama mengeni alasan pihak-pihak dengan dana besar meyimpan uangnya di Century. “Dibandingkan dengan bank-bank yang lain, kenapa pilihannya Bank Century?” tanya Wakil Ketua DPR.

Sebelumnya, dalam laporan PPATK tercatat ada sejumlah Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang menyimpan dananya di Bank Century tetapi ditarik sebelum pemberian bailout. Antara lain PT Jamsostek Rp 212 miliar, PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (Telkom) Rp 165 miliar, PT Aneka Tambang Tbk , PT Perkebunan Nasional Rp 10 miliar, PT Wijaya Karya Tbk Rp 20 miliar, PT Asabri Rp 5 miliar dan PT Timah Tbk. (*/kcm/ira)

Boediono Mundur, Sri Mulyani Dipertahankan?

lokasi: Home / Berita / OPINI / [sumber: Jakartapress.com]

Selasa, 09/02/2010 | 08:56 WIB

Boediono Mundur, Sri Mulyani Dipertahankan?
OLEH: ARIEF TURATNO

KABARANYA, belum lama ini sejumlah pengusaha melakukan diskusi di salah satu tempat di Jakarta. Dalam diskusi tersebut, para pengusaha tadi berkesimpulan, bahwa kemungkinan besar Wakil Presiden (Wapres) Boediono akan mengundurkan diri. Sedangkan Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani, prediksi mereka akan dipertahankan. Pertanyaan dan persoalannya adalah apakah mungkin prediksi para pengusaha tersebut bakal menjadi kenyataan?

Pertanyaan tersebut dan rumor di atas menjadi sebuah pertanyaan yang rumit untuk dijawab. Sebab rumor lain menyebutkan, bahwa pendiri Partai Demokrat, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) kabarnya telah membuat tiga macam perintah kepada para kadernya . Pertama, kalau ternyata tudingan terhadap Menkeu Sri Mulyani tidak berdasar, atau memiliki bukti yang kuat. Maka kader Partai Demokrat harus membelanya. Kedua,  untuk Wapres dan mantan Gubernur Bank Indonesia (BI), sedapat mungkin kader Partai Demokrat dapat menyelamatkannya. Dan ketiga, kalau tudingan kesalahan ditujukan langsung kepada SBY, maka dia akan melakukan perlawanan.

Maka jika benar rumor tersebut, berarti prediksi para pengusaha tadi belum tentu benar. Meskipun begitu, jangan lupa bahwa yang diprediksi para pengusaha bukanlah Boediono dipecat atau diberhentikan dengan hormat. Namun yang terjadi nanti—menurut prediksi para pengusaha—adalah Boediono mengundurkan diri. Kalau mengundurkan diri masih mungkin karena begitu besarnya desakan untuk memintanya mundur. Dan demi kebaikan Presiden atau pemerintahan, serta untuk menciptakan iklim yang kondusif, bisa saja akhirnya Boediono mundur. Pertanyaannya adalah apakah persoalan akan selesai?

Jawabnya, justeru tidak. Karena mundurnya Boediono bukan berarti terbukanya pintu persoalan. Bahkan dengan Boediono tidak lagi menjabat Wapres, pintu masuk kasus bailout Bank Century semakin tertutup rapat. Pintu lemah justeru ada di Menkeu Sri Mulyani. Namun pata pengusaha justeru memprediksi bahwa Sri Mulyani tidak akan dilepas. Bahkan sangat mungkin untuk dipertahankan. Mengapa? Karena Sri Mulyani adalah saksi kunci, pintu masuk dari kasus Bank Century. Juga karena Sri Mulyani memiliki hubungan yang sangat baik dengan Amerika Serikat (AS). Dan ada yang menyebutnya, dia adalah titipan Paman Sam di pemerintahan SBY.

Jika demikian keadaannya, kita semakin yakin bahwa kasus bailout Bank Century sebesar Rp6,7 triliun bakal menguap ditelan waktu. Mengapa? Karena tadi, selain pintu masuk kasus sudah ditutup sangat rapat, sehingga nyaris tidak ada celah sedikit pun untuk sinar menerobos ke dalam. AS juga berada di belakang SBY dan Sri Mulyani. Salah satu indikatornya adalah dengan adanya rencana kunjungan Presiden Barack Husein Obama ke Jakarta.pada Maret mendatang. Dan kita semua tahu, bilamana sudah ada AS di belakangnya, maka persoalan menjadi semakin sulit dan rumit. Sebaliknya, jika AS berada di belakang pihak yang mau menelusuri kasus bailout itu, maka pasti akan dengan cepat kasus tersebut terungkap. Pertanyaannya adalah untuk apa AS melakukan semua itu?

Jelas ada kepentingan global yang memerlukan dukungan Indonesia. Seperti kita ketahui, hubungan AS dan Cina belakangan mulai renggang, gara-gara Paman Sam mengirim peralatan tempur ke Taiwan, musuh bebuyutan RRC. Sebelumnya Cina sudah memperingatkan AS untuk tidak campurtangan dalam urusan negara lain, terutama berkaitan dengan pengirman persenjataan tempur ke Taiwan. Namun mana mungkin AS yang merasa telah menjadi policy dunia sudi atau mau diperintah Cina. Maka untuk memperkecil tekanan dari Cina, AS sengaja menjalin hubungan yang lebih erat dengan Indonesia. Lantas apa kompensasi AS untuk Indonesia?

Bisa saja SBY meminta kepada AS untuk tetap memberikan dukungan kepadanya. Dan nampaknya AS pun tidak akan keberatan, asalkan tentu saja Indonesia mau berhitung kembali tentang hubungannya dengan Cina. Sebab seperti diketahui publik, bahwa hubungan perdagangan antara Cina dan Indonesia mengalami masa-masa yang jauh lebih baik dari sebelumnya. Dan kondisi semacam inilah yang sangat tidak disukai AS. Karena dengan demikian, produk ekspor AS ke Indonesia bisa anjlok akibat disaingi Cina. Nah, persoalan-persoalan semacam inilah yang pasti akan mengaitkan soal mundur tidaknya Boediono dan Sri Mulyani. (*)

Ongkos Politik Kasus Century Rp14 Triliun per Hari, untuk Apa?

lokasi: Home / Berita / OPINI / [sumber: Jakartapress.com]

Minggu, 07/02/2010 | 16:07 WIB

Ongkos Politik Kasus Century Rp14 Triliun/Hari Untuk Apa?
OLEH ; ARIEF TURATNO

HARI ini, Minggu (7/2) sebuah harian di Ibukota mengutip hasil riset CSIS menyebutkan ongkos politik kasus Bank Century setiap hari menelan Rp 14 triliun. Pertanyaan dan persoalannya adalah uang sebanyak itu untuk apa saja? Dan benarkah hasil riset tersebut? Kalau benar ukurannya apa?

Ada beberapa petuah kuno yang nampaknya cukup relevant kita kemukakan sekarang. Petuah itu antara lain menyebutkan, ono rungu ojo dirungu, ono geger sewu ojo dideleng, gocekono waton sing kenceng (ada suara jangan didengar, ada keributan atau ramai-ramai tidak usah dilihat, lebih baik berpegangan kepada waton).

Waton ada yang menyamakan dengan salah satu tiang penyangga tempat tidur. Namun ada yang menyamakan waton dengan ideology atau pun keyakinan. Lepas dari apa pun arti waton, petuah tersebut setidaknya telah memberi peringatan kepada kita bahwa pada suatu ketika akan muncul massa atau situasi seperti yang kita rasakan sekarang.

Situasi dimana kita dituntut untuk tidak mempercayai dengan apa yang kita lihat, kita dengar, dan bahkan kita saksikan langsung dengan mata kepala senditi. Apalagi hanya kata orang. Misalnya hasil survey, atau hasil suatu penelitian menyebutkan bahwa ongkos politik Bank Century per hari mencapai Rp14 triliun. Dan karena yang mempublis adalah lembaga yang memiliki reputasi internasional, lantas kita diminta untuk percaya begitu saja. Haruskah?

Tentu saja tidak harus. Apalagi bila kita kembalikan kepada petuah kuno tadi. Bahwa meskipun yang membuat pernyataan semacam di atas adalah CSIS, belum tentu pernyataan itu benar semuanya. Lagi pula CSIS bukanlah lembaga independen yang seratus persen berpihak kepada rakyat. Bahkan penelitian maupun  survey yang dilakukan  CSIS lebih cenderung menguntungkan pihak asing, Amerika Serikat (AS) dan sekutunya.

Dan siapa tahu hasil penelitian CSIS yang dikeluarkan soal Bank Century berkaitan dengan kepentingan AS di Indonesia. Dugaan semacam itu semakin kuat bila dihubungkan dengan rencana kunjungan Presiden AS Barack Husein Obama ke Jakarta, Maret mendatang.Sementara semua orang tahu, bahwa Presiden Susilo Bambang yudhoyono (SBY) memiliki hubungan yang sangat akrab dengan AS. Maka lengkaplah sudah bilamana kita mengaitkan antara pernyataan CSIS dengan kepentingan AS dan SBY di sini.

Pertanyaannya adalah manfaat apa kira-kira yang dapat diambil AS dan SBY dengan publikasi CSIS mengenai biaya politik kasys Bank Century? Jelas banyak sekali, namun yang paling menyolok adalah pesan dari pernyataan tersebut mengenai betapa besarnya biaya politik kasus Bank Century. Dengan kata lain CSIS bermaksud memperingatkan public agar segera menghentikan kasus Bank Century. Sebab bila diteruskan akan menyedot keuangan atau anggaran Negara dan ini sangat tidak menguntungkan bagi kita semua. Benarkah?

Dan bila publik terpengaruh dengan alasan atau publikasi yang dikeluarkan CSIS, maka akan berhentilah kita mempersoalkan Bank Century. Siapa yang untung? Tentu SBY dan AS, karena bila kasus Bank Century dihentikan, maka ancaman pelengseran terhadap SBY dengan sendirinya akan berkurang, dan kunjungan Obama ke Jakarta pada bulan Maret mendatang pun jauh lebih aman. Begitukah? (*)

HAK ANGKET
Sejumlah Transaksi Dipertanyakan DPR

Kompas, Rabu, 10 Februari 2010 | 02:46 WIB

Jakarta, Kompas – Panitia Khusus DPR tentang Hak Angket Bank Century mempertanyakan sejumlah transaksi di bank itu pada rapat konsultasi dengan Badan Pemeriksa Keuangan serta Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan atau PPATK, Selasa (9/2) di Jakarta. Karena pertimbangan kerahasiaan membuat sejumlah pertanyaan itu tidak dijawab secara tuntas.

Menurut anggota BPK, Taufiequrachman Ruki, ada sejumlah transaksi yang menggelikan di Bank Century pada periode 14 November 2008 hingga 10 Agustus 2009. ”Kami menelusuri sejumlah rekening. Ada rekening restoran kecil yang orangnya tak diketahui. Juga ada transaksi berkali-kali antara dua pihak dalam waktu singkat. Dana dalam sekali transaksi sekitar Rp 1 miliar, tetapi karena berkali-kali total dana hingga sekitar Rp 10 miliar. Apa kepentingan orang itu?” katanya dalam paparan awal pada rapat konsultasi yang dimulai sekitar pukul 20.30, semalam.

Saat Ruki memberikan paparan, interupsi dilakukan sejumlah anggota Pansus. Akbar Faizal dari Fraksi Partai Hati Nurani Rakyat (Hanura) menanyakan, ”Dalam rekap nasabah Bank Century periode Desember 2008 ada transaksi senilai Rp 4,054 miliar atas nama PT Asuransi Jaya Proteksi. Dalam laporan dana kampanye, perusahaan ini menyumbang salah satu pasangan calon presiden dan wakil presiden pada 25 Juni 2009 sebesar Rp 600 juta dan Rp 850 juta. Bagaimana ini?”

Akbar juga mempertanyakan 11 rekening sebesar Rp 1,9 triliun di Bank Century yang disembunyikan hingga tak diketahui Bank Indonesia dan Badan Reserse Kriminal Polri.

Andi Rahmat, anggota Pansus dari Fraksi Partai Keadilan Sejahtera (PKS), mempertanyakan data BPK tentang dana pihak ketiga di Century yang masuk program penjaminan hingga harus dibayar jika bank itu ditutup pada 21 November 2008, sebesar Rp 4,673 triliun. ”Beberapa kali sejumlah pihak mengatakan, jika saat itu Century ditutup, dana pihak ketiga yang harus dibayar mencapai Rp 6,4 triliun. Apa data (Rp 4,673 triliun) itu sudah dicek?” tanya Andi. Pada tanggal itu Komite Stabilitas Sistem Keuangan yang diketuai Menkeu Sri Mulyani Indrawati memutuskan Bank Century sebagai bank gagal berdampak sistemik. Keputusan itu membuat Bank Century mendapat dana talangan (bail out) yang jumlahnya Rp 6,7 triliun.

”Silakan, Bapak-bapak di sini yang menilai,” kata Ruki. Ketua BPK Hadi Purnomo mengatakan, pertanyaan itu sebagai masukan.

Pertanyaan tentang sejumlah transaksi mencurigakan juga dipertanyakan anggota Pansus saat rapat konsultasi dengan PPATK, Selasa siang. Kepala PPATK Yunus Husein mengatakan, ada 180 transaksi mencurigakan di Bank Century. Dari jumlah itu, 22 transaksi diadukan kepada polisi, 21 transaksi dilaporkan ke Komisi Pemberantasan Korupsi, dan 20 transaksi diteruskan ke BPK.

Yunus juga mengatakan, ada transaksi atas nama tokoh partai politik yang juga anggota DPR. Ia juga mengaku pernah minta surat kuasa ke Menteri Koordinator Perekonomian Hatta Rajasa untuk melihat rekening yang bersangkutan berikut anak-istrinya. Namun, Hatta belum bersedia.

Fahri Hamzah dari F-PKS menyatakan, ”Kita jangan terjebak hal yang artifisial sebab tidak mungkin parpol atau orang yang bukan nasabah Bank Century menerima kucuran dana. Kecurigaan kita, bail out Bank Century terkait orang yang menjadi nasabah bank itu yang memberi dukungan pada partai tertentu.”

Secara terpisah, anggota Fraksi Partai Demokrat, Didi Irawadi Syamsuddin, mengakui, PPATK tak menemukan indikasi adanya aliran dana dari Bank Century kepada pihak lain yang tidak berhak, sebagaimana dituduhkan pihak tertentu selama ini. Tak ada aliran dana ke Partai Demokrat.

Artinya, secara jelas tak ada pelanggaran hukum yang dilakukan parpol. (nwo/har/tra)

10
Feb
10

Bung Karno : To Build The World A New [30 September 1960]

soekarnosoekarno

TO BUILD THE WORLD ANEW : Pidato Soekarno 30 September 1960.

Kalau masih ingat jaman jaya jayanya Bung Karno, pemimpin besar revolusi kita, pasti tau yang namanya pidato Bung Karno di .muka Sidang Umum P B.B. ke-XV tanggal 30 September 1960.
Judulnya membangun Dunia Kembali atau di boso jowonya : To build the world a new..
Intinya (mungkin) : mengemukakan konsep Pancasila yang merupakan intisari dari peradaban Indonesia.
Pertama Ketuhanan Yang Maha Esa, kedua Nasionalisme, ketiga Internasionalisme, ke-empat Demokrasi dan kelima Keadilan Sosial.
Soekarno menawarkan pada sidang konsep itu untuk memperkuat piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa dengan merujuk keberhasilannya menggalang Konferensi Asia-Afrika.
Di sini juga Soekarno mencela Imperialisme dan kolonialisme yang disebut merupakan hasil dari  dari sistem negara Barat .
“Dunia yang baru itu diminta untu memperbaiki keseimbangan dunia yang lama”.
konsep yang ditawarkan adalah konsep indonesia.
Saya rasa pidato berani dan lugas dengan sikap tegas semacam ini perlu dilakukan oelh pemimpin kita di masa kini..
Bung karno punya prinsip dan konsep kenegaraan yang kuat.. Kita bangga…
Dari  http://kepustakaan-presiden.pnri.go.id, saya download dan coba sebarkan file pidato bung karno ini..

MEMBANGUN DUNIA KEMBALI
(TO BUILD THE WORLD A NEW) Pidato Presiden Republik Indonesia di muka Sidang Umum P B.B. ke-XV tanggal 30 September 1960
*) Disalin dalam EYD dari : Pedoman-Pedoman Pelaksanaan Manifesto Politik Republik Indonesia Penerbitan khusus, Jakarta, Departemen Penerangan RI,1960.
MEMBANGUN DUNIA KEMBALI
Pidato Presiden Republik Indonesia Dimuka Sidang Umum P.B.B. ke – XV tanggal 30 September 1960
Tuan Ketua, Para Yang Mulia, Para Utusan dan Wakil yang terhormat,
Hari ini, dalam mengucapkan pidato kepada Sidang Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa, saya merasa tertekan oleh suatu rasa tanggung-jawab yang besar. Saya merasa rendah hati berbicara dihadapan rapat agung daripada negarawan-negarawan yang bijaksana dan berpengalaman dari timur dan barat, dari utara dan dari selatan, dari bangsa-bangsa tua dan dari bangsa-bangsa muda dan dari bangsa-bangsa yang baru bangkit kembali dari tidur yang lama.
Saya telah memanjatkan do’a kepada Tuhan Yang Maha Kuasa agar lidah saya dapat menemukan kata-kata yang tepat untuk menyatakan perasaan hati saya, dan saya juga telah berdo’a agar kata-kata ini akan bergema dalam hati sanubari mereka yang mendengarnya.
Saya merasa gembira sekali dapat mengucapkan selamat kepada Tuan Ketua atas pengangkatannya dalam jabatannya yang tinggi dan konstruktif. Saya juga merasa gembira sekali untuk menyampaikan atas nama bangsa saya ucapkan selamat datang yang sangat mesra kepada keenambelas Anggauta baru dari Perserikata Bangsa-Bangsa.
Kitab Suci Islam mengamanatkan sesuatu kepada kita pada saat ini. Qur’an berkata: “Hai, sekalian manusia, sesungguhnya Aku telah menjadikan kamu sekalian dari seorang lelaki dan seorang perempuan, sehingga kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu sekalian kenal-mengenal satu sama lain. Bahwasanya yang lebih mulia diantara kamu sekalian, ialah yang lebih taqwa kepadaKu”.
Dan juga Kitab Injil agama Nasrani beramanat pada kita. “Segala kemuliaan bagi Allah ditempat yang Mahatinggi, dan sejahtera diatas bumi diantara orang yang diperkenanNya”.
Saya sungguh-sungguh merasa sangat terharu melepaskan pandangan saya atas Majelis ini. Disinilah buktinya akan kebenaran perjuangan yang berjalan bergenerasi. Disinilah buktinya, bahwa pengorbanan dan penderitaan telah mencapai tujuannya. Disinilah buktinya, bahwa keadilan mulai berlaku, dan bahwa beberapa kejahatan besar sudah dapat disingkirkan.
Selanjutnya, sambil melepaskan pandangan saya kepada Majelis ini, hati saya diliputi dengan suatu kegirangan yang besar dan hebat. Dengan jelas tampak dimata saya menyingsingnya suatu hari yang baru, dan bahwa matahari kemerdekaan dan emansipasi, matahari yang sudah lama kita impikan, sudah terbit di Asia dan Afrika.
Sekarang, hari ini, saja berbicara dihadapan para pemimpin bangsa-bangsa dan para pembangun bangsa-bangsa. Namun, secara tidak langsung, saya juga berbicara kepada mereka yang Tuan-tuan wakili, kepada mereka yang telah mengutus Tuan-tuan kemari, kepada mereka yang telah mempercayakan hari depan mereka ditangan Tuan-tuan. Saya sangat menginginkan agar kata-kata saya akan bergema juga didalam hati mereka itu, didalam hati nurani ummat manusia, didalam hati besar yang telah mencetuskan demikian banyak teriakan kegembiraan,
demikian banyák jeritan penderitaan dan putus-harapan, dan demikian banyak cinta-kasih dan tawa.
Hari ini presiden Soekarno-lah yang berbicara dihadapan tuan-tuan. Namun lebih dari itu, ia adalah seorang manusia, Soekarno, seorang Indonesia, seorang suami, seorang Bapak, seorang anggauta keluarga ummat manusia. Saya berbicara kepada Tuan-tuan atas nama rakyat saya, mereka yang 92 juta banyaknya disuatu nusantara yang jauh dan luas, 92 juta jiwa yang telah mengalami hidup penuh dengan perjuangan dan pengorbanan, 92 juta jiwa yang telah membangun suatu Negara diatas reruntuhan suatu Imperium.
Mereka itu, dan rakyat Asia dan Afrika, rakyat-rakyat benua Amerika dan benua Eropa serta rakyat benua Australia, sedang memperhatikan dan mendengarkan serta mengharap-harap. Organisasi Perserikatan Bangsa-Bangsa ini bagi mereka merupakan suatu harapan akan masa-depan dan suatu kemungkinan-baik bagi zaman sekarang ini.
Keputusan untuk menghadiri Sidang Majelis Umum ini bukanlah merupakan suatu keputusan yang mudah bagi saya. Bangsa saya sendiri menghadapi banyak masalah, sedangkan waktu untuk memecahkan masalah-masalah itu selalu sangat terbatas. Akan tetapi sidang ini mungkin merupakan sidang Majelis yang terpenting yang pernah dilangsungkan dan kita semuanya mempunyai suatu tanggung-jawab kepada dunia seluruhnya disamping kepada bangsa-bangsa kita masing-masing.
Tak seorangpun diantara kita dapat menghindari tanggungjawab itu, dan pasti tak seorangpun ingin menghindarinya. Saya sangat yakin bahwa pemimpin-pemimpin dari negara-negara yang lebih muda dan negara-negara yang lahir kembali dapat memberikan sumbangannya yang sangat positif untuk memecahkan demikian banyak masalah-masalah yang dihadapi Organisasi ini dan dunia pada umumnya. Memang, saya percaya bahwa orang akan mengatakan sekali lagi bahwa: “Dunia yang baru itu diminta untu memperbaiki keseimbangan dunia yang lama”.
Jelaslah bahwa pada dewasa ini segala masalah dunia kita saling berhubungan. Kolonialisme mempunyai hubungan dengan keamanan; keamanan mempunyai hubungan dengan persoalan perdamaian dan perlucutan senjata; perlucutan senjata berhubungan dengan perkembangan secara damai dari negara-negara yang belum maju. Yah, segala itu saling bersangkut-paut. Jika kita pada akhirnya berhasil memecahkan satu masalah, maka terbukalah jalan untuk penyelesaian masalah-masalah lainnya. Jika kita berhasil memecahkan misalnya masalah perlucutan senjata, maka akan tersedialah dana-dana yang diperlukan untuk membantu bangsa-bangsa yang sangat memerlukan bantuan itu.
Akan tetapi, yang sangat diperlukan ialah bahwa masalah-masalah semuanya itu harus dipecahkan dengan penggunaan prinsip-prinsip yang telah disetujui. Setiap usaha untuk memecahkannya dengan mempergunakan kekerasan, atau dengan ancaman kekerasan, atau dengan pemilikan kekuasaan, tentu akan gagal bahkan akan mengakibatkan masalah-masalah yang lebih buruk lagi. Dengan singkat, prinsip yang harus diikuti ialah prinsip persamaan kedaulatan bagi semua bangsa, hal mana tentunya tidak lain dan tidak bukan, merupakan penggunaan hak-hak azasi manusia. dan hak-hak azasi nasional. Bagi semua bangsa-bangsa harus ada: satu dasar, dan semua bangsa harus menerima dasar itu, demi perlindungan dirinya dan demi keselamatan ummat manusia.
Bila saya boleh mengatakannya, kami dari Indonesia menaruh perhatian yang khusus sekali atas Perserikatan Bangsa-Bangsa. Kami mempunyai keinginan yang sangat khusus agar Organisasi ini berkembang dan berhasil baik. Karena tindakan- tindakannya, perjuangan untuk kemerdekaan dan kehidupan nasional kami sendiri telah dipersingkat. Dengan berkepercayaan penuh saya mengatakan, bahwa perjuangan kami, bagaimanapun juga, akan berhasil baik, namun tindakan-tindakan Perserikatan Bangsa-Bangsa itu telah mempersingkat perjuangan dan
telah mencegah banyak pengorbanan dan penderitaan serta kehancuran, baik dipihak kami maupun dipihak lawan-lawan kami.
Apakah sebabnya saya percaya, bahwa perjuangan kami akan berhasil baik, dengan atau tanpa kegiatan Perserikatan Bangsa-Bangsa? Saya yakin akan hal itu kerena dua sebab. Pertama, saya mengenal rakyat saya; saya mengetahui kehausan mereka yang tiada terhingga akan kemerdekaan nasional, dan saya mengetahui akan tekadnya. Kedua, saya yakin akan hal itu karena jalannya sejarah.
Kita semua, dimanapun didunia ini, hidup di zaman pembangunan bangsa-bangsa dan runtuhnya imperium-imperium, Inilah zaman bangkitnya bangsa-bangsa dan bergejolaknya nasionalisme. Menutup mata akan kenyataan ini adalah membuta terhadap sejarah, tidak mengindahkan takdir dan menolak kenyataan. Sekali lagi saya katakan, kita hidup dizaman pembangunan bangsa-bangsa.
Proses ini tidak dapat dielakkan dan merupakan sesuatu yang pasti; kadang-kadang lambat dan tidak dapat dielakkan, bagaikan lahar menurun lereng sebuah guning-api di Indonesia; kadang-kadang cepat dan tidak terelakkan, bagikan dobrakan airbah dari balik sebuah bendungan yang dibangun tidak sempurna. Lambat dan tak terelakkan, atau cepat dan tak terelakkan, kemenangan perjuangan nasional adalah suatu kepastian.
Bila perjalanan menuju kebebasan itu sudah selesai diseluruh dunia, maka dunia kita akan menjadi suatu tempat yang lebih baik; akan merupakan suatu tempat yang lebih bersih dan jauh lebih sehat. Kita tidak boleh berhenti berjuang pada saat ini, manakala kemenangan telah menampakkan diri, sebaliknya kita harus melipat-gandakan usaha kita. Kita telah berjanji kepada masa-depan dan itu harus dipenuhi. Dalam hal ini kita tidak hanya berjuang untuk kepentingan kita sendiri, melainkan kita berjuang untuk kepentingan ummat menusia seluruhnya, ya, perjuangan kita bahkan untuk kepentingan mereka yang kita tentang.
Lima tahun yang lalu, dua puluh sembilan bangsa-bangsa Asia dan Afrika telah mengirimkan utusannya kekota Bandung Indonesia. Dua puluh sembilan bangsa Asia dan Afrika. Kini, berapakah jumlah bangsa yang merdeka disana? Saya tidak akan menghitungnya, tetapi silahkan melihat disekeliling Majelis ini sekarang! Dan katakanlah apakah saya benar, bila saya berkata bahwa kinilah saatnya pembangunan bangsa, dan saat bangkitnya bangsa-bangsa. Kemarin Asia, dan itu merupakan suatu proses yang belum selesai. Kini Afrika, itupun merupakan suatu proses ya, belum selesai.
Lagi pula, belum semua bangsa-bangsa Asia dan Afrika diwakili disini. Organisasi bangsa-bangsa ini telah dilemahkan selama masih menolak perwakilan satu bangsa, dan teristimewa suatu bangsa yang tua dan bijaksana serta kuat.
Saya maksudkan Tiongkok. Saya maksudkan yang sering disebut Tiongkok Komunis, yang bagi kami adalah satu-satunya Tiongkok yang sebenarnya. Organisasi bangsa-bangsa ini sangat dilemahkan justru karena ia menolak keanggautaan bangsa yan terbesar didunia.
Setiap tahun kami menyokong diterimanya Tiongkok kedalam Perserikatan Bangsa-Bangsa sebagai anggauta. Kami akan terus melakukannya. Kami tidak memberikan sokongan itu semata mata karena kami mempunyai hubungan baik dengan negara tersebut. Dan pasti sokongan itu tidak kami berikan karena sesuatu alasan partisan. Tidak, pendirian kami mengenai persoalan ini di bimbing oleh realisme politik. Dengan secara picik mengecualikan suatu bangsa yang besar, bangsa agung dan kuat dalam arti kwantitet, kebudayaan, ciri-ciri suatu peradaban kuno, suatu bangsa yang penuh dengan kekuatan dan daya ekonomi, dengan mengecualikan bangsa itu kita lebih melemahkan Organisasi internasional ini, dan dengan demikian, lebih menjauhkannya dari kebutuhan dan cita-cita kita.
Kita bertekad untuk menjadikan Perserikatan Bangsa-Bangsa kuat dan universil serta mampu untuk memenuhi fungsinya yang layak. Itulah sebabnya mengapa kami senantiasa memberikan sokongann atas ikut-sertanya Tiongkok dalam lingkungan kita. Lagi pula, perlucutan senjata merupakan suatu keperluan yang mendesak dalam dunia ini. Persoalan yang terpenting ini dari semua masalah harus dirundingkan dan dipecahkan dalam rangka Organisasi ini. Namun bagaimana dapat tercapai suatu perlucutan realistis mengenai perlucutan senjata, bila Tiongkok yang merupakan salah satu negara terkuat dalam dunia ini, tidak diturut sertakan dalam musyawarah-musyawarah itu?
Diwakilinya Tiongkok dalam Perserikatan Bangsa-Bangsa akan mengikut sertakan negara itu dalam masalah dunia yang konstruktif dan dengan demikian akan betul-betul memperkuat lembaga ini.
Ditahun sembilan belas enam puluh ini, Majelis Umum kembali berkumpul dalam sidang tahunannya. Namum Majelis Umum ini janganlah hanya dianggap sebagi suatu sidang routine lainnya, dan bila dianggap demikian, bila dianggap sebagai suatu sidang routine, maka kemungkinan besar Organisasi intemasional seluruhnya iri akan terancam dengan kehancuran.
Camkanlah kata-kata saya, itulah permohonan saya! Janganlah memperlakukan masalah-masalah yang akan Tuan-tuan perbincangkan sebagai masalah routine. Bila diperlakukan demikian, Organisasi ini yang telah memberikan kita suatu harapan untuk ‘masa-depan, suatu kemungkinan-baik akan adanya persesuaian internasional, mungkin akan pecah. Ia mungkin akan lenyap perlahan-lahan dibawah gelombang pertikaian, sebagimana dialami oleh organisasi yang digantikannya. Bila hal ini terjadi, maka ummat manusia sebagai keseluruhan akan menderita, dan suatu impian yang agung, suatu cita-cita yang agung, akan hancur. Ingatlat bukanlah hanya kata-kata yang Tuan-tuan hadapi. bukanlah pion-pion diatas papan catur yang Tuan-tuan hadapi. Yang Tuan-tuan hadapi adalah manusia, impian-impian manusia, cita-cita manusia dan hari-depan semua manusia.
Dengan segala kesungguhan, saya katakan: kami bangsa bangsa yang baru merdeka bermaksud berjuang untuk kepentingan Perserikatan Bangsa-Bangsa. Kami bermaksud memperjuangkan suksesnya dan menjadikannya effektif. Badan itu dapat dijadikan effektif, dan akan dijadikan effektif, hanya bila anggauta-anggauta seluruhnya mengakui tiada terelakkannya jalan sejarah. Badan itu hanya dapat menjadi effektif, bila badan tersebut mengikuti jalannya sejarah, dan tidak mencoba untuk membendung atau mengalihkan ataupun menghambat jalannya itu.
Telah saya katakan, bahwa inilah saat pembangunan bangsa-bangsa dan runtuhnya imperium-imperium. Itulah kebenaran yang sesungguhnya. Berapa banyaknya bangsa-bangsa yang telah memperoleh kemerdekaannya sejak terciptanya Piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa? Berapa banyak bangsa-bangsa telah melemparkan rantai penindasan yang membelenggunya? Berapa banyaknya imperium-imperium yang dibangun atas penindasan manusia telah hacur-lebur? Kami yang tadinya tiada bersuara, tidak membisu lagi. Kami yang tadinya membisu dialam kesengsaraan imperalisme tidak membisu lagi. Kami yang perjuangan hidupnya tertutup dibawah selubung kolonialisme, tidak tersembunyikan lagi.
Sejak hari bersejarah ditahun Sembilanbelas Empatpulut Lima dunia telah berobah, dan dia telah berobah kearah perbaikan. Dari zaman pembangunan bangsa-bangsa ini telah muncul kemungkinan – ya, keharusan – akan suatu dunia yang bebas dari ketakutan, bebas dari kekurangan, bebas dari penindasan-penindasan nasional. Kini, saat ini juga, di Majelis Umum ini, kita dapat mempersiapkan diri untuk menempatkan diri kita didunia masa-depan itu, dunia yang telah kita pikirkan dan impikan serta bayangkan.
Hal itu dapat kita lakukan, tetapi hanya bila kita tidak memperlakukan sidang ini sebagai suatu sidang routine. Kita harus mengakui, bahwa Perserikatan Bangsa-Bangsa menghadapai suatu penimbunan masalah-masalah, masing-masing mendesak, masing-masing mengandung kemungkinan ancaman terhadap perdamaian dan kamajuan secara damai.
Kita bertekad, bahwa nasib dunia, dunia kita, tidak akan ditentukan tanpa kita. Nasib itu akan ditentukan dengan keikut-serta dan kerjasama kita. Keputusan-keputusan yang penting bagi perdamaian dan masa-depan dunia dapat ditentukan disini den sekarang ini juga. Disini berkumpul Kepala-Kepala Negara den Kepala-Kepala Pemerintah. Itulah rangka Organisasi kita. Saya sangat mengharapkan agar soal-soal protokol yang kaku serta perasaan sakit hati yang picik, – perasaaan-perasaan perorangan maupun nasional, – tidak akan menghalangi dipergunakannya kesempatan itu sebaik-baiknya. Kesempatan seperti ini tak akan sering ada. Hal itu harus dipergunakan sebaik-baiknya. Kita pada saat ini mempunyai kesempatan unik untuk menggabungkan diplomasi perseorangan dengan diplomasi umum. Marilah kita pergunakan kesempatan itu. Kesempatan tak akan kembali lagi!
Saya menyadari sedalam-dalamnya bahwa hadirnya demikian banyak Kepala Negara dan Kepala Pemerintahan, memenuhi harapan berjuta-juta orang. Mereka itu dapat mengambil keputusan-keputusan yang vital untuk menentukan wajah baru bagi dunia kita ini dan dengan sendirinya juga wajah baru bagi Perserikatan Bangsa-Bangsa.
Layaklah pada saat ini untuk mempertimbangkan kedudukan Perserikatan Bangsa-Bangsa dalam hubungan dengan zaman pembangunan dan bangkitnya bangsa-bangsa hari ini.
Ini saya kemukakan: bagi suatu bangsa yang baru lahir atau suatu bangsa yang baru lahir-kembali milik yang paling berharga adalah kemerdekaan dan kedaulatan.
Mungkin – saya tidak tahu, tapi mungkin – bahwa rasa untuk memegang teguh permata kedaulatan dan kemerdekaan yang berharga ini, hanya terdapat dilingkungan bangsa-bangsa yang baru bangkit kembali. Mungkin setelah berlalunya beberapa generasi perasaan kebanggaan dan tercapainya cita-cita itu menjadi pudar. Mungkin demikian, tetapi saya rasa tidak.
Bahkan sekarang ini, duaratus tahun kemudian, adalah seorang Arnerika yang tidak tergetar jiwanya mendengarkan kata-kata Declaration of Independence? Adalah seorang Italia yang kini tidak menyambut penggilan Mazzini? Adalah seorang warga Amerika Latin yang tidak lagi mendengar gemahnya suara San Martin?
Benar, adakah seorang warga dunia yang tidak menyambut panggilan dan suara-suarai tu? Kita semua tergetar, kita semua menyambut, karena suara-suara itu adalah universil, baik mengengenai waktu maupun tempatnya. Suara-suara itu adalah suara ummat manusia yang menderita, suara masa depan, dan kita masih mendengarnya sepanjang zaman.
Tidak, saya yakin, seyakin-yakinnya bahwa didalam kedaulatan dan kemerdekaan nasional ada sesuatu yang kekal, sesuatu yang sekeras dan secerlang permata, dan jauh lebih berharga.
Banyak bangsa-bangsa didunia ini telah lama memiliki permata ini. Mereka telah biasa memilikinya, tetapi saya yakin, bahwa mereka masih tetap menganggapnya yang paling dicintai diantara milik-miliknya, dan mereka akan lebih baik mati daripada melepaskannya.
Bukankah begitu? Apakah bangsa saudara sendiri akan pernah bersedia melepaskan kemerdekaannya? Setiap bangsa yang patut dinamakan bangsa akan memilih mati! Setiap pemimpinya yang patut disebut pemimpin dari bangsa manapun, juga akan memilih mati!
Betapa lebih berharga hal itu bagi kami, yang pernah suatu waktu memiliki permata kemerdekaan dan kedaulatan nasional itu, dan kemudian merasakan dirampasnya dari tangan kami oleh bandit-bandit yang bersenjata lengkap, dan yang kini telah kami rebut kembali!
Perserikatan Bangsa-bangsa ini adalah suatu organisasi dari Negara-Negara Bangsa yang masing-masing menggenggam permata itu kuat-kuat sebagai sesuatu yang berharga. Kita semuanya telah berhimpun dengan sukarela, sebagai saudara dan sederajat dalam Organisasi ini. Sebagai suadara dan sederajat, karena kita semua memiliki kedaulatan yang sederajat dan kita semua menganggap kedaulatan yang sederajat itu sama-sama berharga.
Ini adalah suatu badan international. Badan ini belumlah super-nasional ataupun supra-nasional. Badan ini merupakan suatu organisasi Negara-Negara Bangsa, dan hanya dapat bekerja sepanjang Negara-Negara Bangsa menghendakinya.
Apakah kita semuanya dengan suara bulat telah menyetujui untuk menyerahkan suatu bagian dari kedaulatan kita kepada badan ini? Tidak, tidak pernah. Kita telah menerima baik Piagam dan Piagam itu telah ditandatangani oleh Negara-Negara Bangsa yang berdaulat penuh dan sederajat penuh.
Ada kemungkinan, bahwa badan ini harus mempertimbangkan, apakah anggauta-anggautanya harus menyerahkan sesuatu bagian dari kedaulatan mereka kepada badan internasional ini. Tetapi jika keputusan yang semacam itu diambil, keputusan itu harus diambil secara bebas, dan dengan suara bulat, dan sederajat. Harus diuputuskan sederajat oleh semua bangsa, yang kuno dan yang baru, bangsa yang baru muncul dan yang sudah lama maju dan yang belum maju.
Hal ini bukannya sesuatu yang dapat dipaksakan pada bangsa manapun juga. Selanjutnya, dasar satu-satunya yang mungkin bagi badan semacam itu ialah persamaan yang sejati. Kedaulatan dari bangsa yang paling baru atau bangsa yang paling kecil sama berharganya, sama tidak dapat dilanggarnya, seperti kedaulatan bangsa yang paling besar atau bangsa yang paling tua. Dan selain daripada itu, sesuatu pelanggaran terhadap kedaulatan sesuatu bangsa merupakan suatu ancaman potensiil terhadap kedulatan semua bangsa.
Dalam gambaran dunia inilah, kita harus melihat dunia sekarang ini. Dunia kita yang satu ini terdiri dari Negara-Negara Bangsa, masing-masing sama berdaulat dan masing-masing berketetapan hati menjaga kedaulatan itu, dan masing-masing berhak untuk menjaga kedaulatan itu. Dan sekali lagi saya katakan – dan saya ulang ini karena merupakan dasar dari pengertian terhadap dunia dewasa ini – kita hidup dalam zaman pembangunan bangsa.
Kenyataan ini jauh lebih penting daripada adanya senjata-senjata nuklir, lebih eksplosif daripada bom-bom hidrogin, dan mempunyai harga potensiil yang lebih besar untuk dunia daripada pemecahan atom.
Keseimbangan dunia telah berobah sejak hari itu dalam bulan Juni, limabelas tahun yang lalu, ketika Piagam ditandatangani dikota San Franciscco di Amerika, pada saat manusia sedang bangkit kembali dari neraka peperangan.
Nasib umat manusia tidak dapat lagi ditentukan oleh beberapa bangsa besar dan kuat. Juga kami, bangsa-bangsa yang lebih muda, bangsa yang sedang bertunas, bangsa-bangsa yang lebil kecil, kamipun berhak bersuara dan suara itu pasti akan berkumandang disepanjang zaman.
Yah, kami insyaf akan pertangungan jawab kami terhadap masa-depan semua bangsa, dan kami dengan gembira menerima pertanggung-jawab itu. Bangsa saya berjanji pada diri sendiri untul bekerja mencapai suatu dunia yang lebih baik, suatu dunia yang bebas dari sengketa dan
ketegangan, suatu dunia dimana anak-anak dapat tumbuh dengan bangga dan bebas, suatu dunia dimana keadilan dan kesejahteraan berlaku untuk semua orang. Adakah sesuatu bangsa akan menolak janji semacam itu?
Beberapa bulan yang lalu, sesaat sebelum pemimpin-pemimpin Negara-Negara Besar bertemu sesingkat itu di Paris, tuan Khrushchov menjadi tamu kami di Indonesia. Saya jelaskan padanya sejelas-jelasnya, bahwa kami menyambut baik Konperensi Tingkat Tertinggi, yang kami harapkan berhasil, tetapi bahwa kami skeptis.
Empat Negara Besar itu saja, tidak dapat menentukan masalah perang dan damai. Lebih tepat, barangkali, mereka mempunyai kekuatan untuk merusak perdamaian, tetapi mereka tidak mempunyai hak moril, baik secara sendirian maupun bersama-sama, untuk mencoba menentukan hari-depan dunia.
Selama lima belas tahun ini Barat telah mengenal perdamaian, atau sekurang-kurangnnya ketiadaan perang. Tentu saja, ada ketegangan-ketegangan. Memang, ada bahaya. Tetapi tetap merupakan kenyataan, bahwa ditengah-tengah suatu revolusi yang meliputi tiga perempat dari dunia, Barat tetap dalam keadaan damai. Kedua blok besar, sebetulnya, telah berhasil mempraktekkan koeksistensi selama bertahun-tahun itu, sehingga dengan demikian membantah mereka yang menyangkal kemungkinan adanya koeksistensi.
Kami di Asia tidak pernah mengenal keadaan damai! Setela perdamaian datang untuk Eropah, kami merasai akibat bom-bom atom. Kami merasai revolusi nasional kami sendiri di Indonesia. Kami merasai penyiksaan Vietnam. Kami menderita penganiayaan Korea. Kami masih senantiasa menderita kepedihan Aljazair. Apa sekarang ini seharusnya giliran Saudara-saudara kita di Afrika? Apakah mereka harus disiksa, sedang luka-luka kami masih belum sembuh?
Toh masih saja Barat dalam keadaan damai. Herankah Tuan-tuan bahwa kami sekarang menuntut, ya, menuntut batalnya siksaan terhadap kami? Herankah Tuan-tuan, bahwa kini suara saya diperdengarkan sebagai protes?
Kami, yang dulu tidak bersuara, mempunyai tuntutan-tuntutan dan kebutuhan-kebutuhan; kami berhak untuk didengar. Kami bukannya barang perdagangan, tetapi adalah bangsa-bangsa yang hidup dan yang perkasa, yang mempunyai peranan didunia ini, dan yang harus memberikan sumbangannya.
Saya pergunakan kata-kata yang keras, dan saya pergunakan kata-kata itu dengan sengaja, karena saya punya pendirian yang tegas mengenai soal itu. Dengan sengaja saya pergunakan kata-kata keras, karena saya bicara untuk bangsa saya dan karena saya bicara di muka pemimpin-pemimpin bangsa-bangsa.
Selain dari pada itu, saya tahu bahwa Saudara-saudara saya di Asia dan Afrika mempunyai pendirian yang sama tegasnya, walaupun saya tidak berani berbicara atas nama mereka.
Majelis Umum ini tentunya akan menghadapi banyak hal-hal yang penting. Tetapi tidaklah ada hal yang lebih penting dari pada perdamaian. Mengenai ini, saya pada saat ini tidak membicarakan soal-soal yang timbul antara Negara-Negara Besar didunia. Soal-soal demikian itu sangat vital bagi kami, dan saya nanti kembali pada soal-soal tersebut. Tapi tengoklah sekeliling dunia kita ini. Dibanyak tempat terdapat ketegangan-ketegangan dan sumber-sumber sengketa potensiil. Perhatikanlah tempat-tempat itu dan tuan akan jumpai, bahwa hampir tanpa perkecualian, imperialisme dan kolonialisme didalam salah satu dari banyak manifestasinya adalah sumber ketegangan atau sengketa itu. Imperialisme dan kolonialisme dan pemisahan terus-menerus secara paksa dari bangsa-bangsa merupakan sumber dari hampir semua kejahatan internasional yang mengacam didunia kita ini.
Sebelum kejahatan-kejahatan dari masa-lampau yang terkutuk itu diakhiri, tidak akan ada ketenangan atau perdamaian diseluruh dunia ini.
Imperialisme, dan perjuangan untuk mempertahankannya, merupakan kejahatan yang besar didunia kita ini. Banyak diantara Tuan-tuan dalam Sidang ini tidak pernah mengenal imperialisme. Banyak diantara Tuan-tuan lahir merdeka dan akan mati merdeka. Beberapa diantara Tuan-tuan lahir dari bangsa-bangsa yang telah menjalankan imperialisme terhadap yang lain, tetapi tidak pernah menderitanya sendiri. Akan tetapi Saudara-saudara saya di Asia dan Afrika telah mengenal cambuk imperialisme. Mereka telah menderitanya. Mereka mengenal bahayanya dan kelicikannya serta keuletannya.
Kami di Indonesia mengenalnya juga. Kami adalah ahli-ahli dalam soal ini! Berdasarkan pengetahuan itu dan berdasarkan pengalaman itu, saya katakan pada Tuan-tuan bahwa berlanjutnya imperialisme dalam setiap bentuknya merupakan suatu bahaya yang besar dan yang berlarut-larut.
Imperialisme belum lagi mati. Ya, sedang dalam keadaan sekarat; ya, arus sejarah sedang melanda bentengnya dan menggerogoti pondamen-pondamennya; ya, kemenangan kemerdekaan dan nasionalisme sudah pasti. Akan tetapi – dan camkanlah perkataan saya ini – imperialisme yang sedang sekarat itu berbahaya, sama berbahayanya dengan se-ekor harimau yang luka didalam rimba raya tropik.
Ini saya tegaskan pada Tuan-tuan – dan saya sadar bahwa sekarang berbicara untuk Saudara-saudara saya di Asia dan Afrika – perjuangan untuk kemerdekaan senantiasa dibenarkan dan benar. Mereka yang menentang gerakmaju yang tidak terelakan dari kemerdekaan nasional dan hak menentukan nasib sendiri, adalah buta; mereka yang berusaha untuk mengembalikan apa yang tidak dapat dikembalikan merupakan bahaya bagi mereka sendiri dan bagi dunia.
Sebelum kenyataan-kenyataan ini – dan ini memang kenyataan-kenyataan – diakui, tidak akan ada perdamaian dunia ini, dan tidak akan lenyaplah ketegangan. Saya serukan kepada Tuan-tuan: tempatkanlah kewibawaan dan kekuatan moril dari Organisasi Negara-Negara ini dibelakang mereka yang berjuang untuk kemerdekaan. Lakukanlah itu secara jelas dan tegas. Lakukanlah itu sekarang! Lakukanlah, dan Tuan-tuan akan memperoleh dukungan bulat dan tulus-ikhlas dari semua orang yang berkemauan baik. Lakukanlah sekarang, dan generasi-generasi yang akan datang akan menghargai Tuan-tuan. Saya serukan kepada Tuan-tuan, kepada semua anggauta Perserikatan Bangsa-Bangsa : Bergeraklah bersama arusnya sejarah; janganlah mencoba membendung arus itu.
Perserikatan Bangsa-bangsa sekarang ini juga berkesempatan untuk membangun bagi dirinya sendiri reputasi dan gengsi yang besar. Mereka yang berjuang untuk kemerdekaan akan mencari sokongan dan sekutu-sekutu dimana saja dapat diperolehnya; alangkah baiknya bilamana mereka berpaling kepada badan ini dan kepada Piagam kita daripada kepada sesuatu kelompok atau bagian dari badan ini.
Lenyapkanlah sebab-sebab peperangan, dan kita akan merasa damai. Lenyapkanlah sebab-sebab ketegangan dan kita akan merasa tenang. Jangan ditunda-tunda. Waktunya singkat. Bahayanya besar.
Umat manusia diseluruh dunia berteriak minta perdamaian dan ketenangan, dan hal-hal itu adalah dalam kekuasaan kita. Jangan mencegahnya, karena nanti badan ini akan dicemarkan namanya dan ditinggalkan. Tugas kita bukannya untuk mempertahankan dunia ini, akan tetapi untuk membangun dunia kembali! Hari depan – andai-kata ada hari depan – akan menilai kita berdasarkan berhasilnya tugas kita ini.
Saya minta kepada bangsa-bangsa yang sudah lama berdiri, janganlah menganggap remeh kekuatan nasionalisme. Jika tuan menyangsikan kekuatannya, tengoklah disekitar Majelis ini dan bandingkanlah dengan San Francisco lima belas tahun yang lalu. Nasionalisme, nasionalisme yang mencapai kemenangan dengan gemilang, telah menyebabkan perobahan ini, dan ini adalah baik. Dewasa ini dunia diperkaya dan dimuliakan oleh kebijaksanaan dari para pemimpin-pemimpin bangsa-bangsa berdaulat yang baru dibentuk. Untuk menyebut enam dari banyak contoh-contoh, yakni seorang Norodom Sihanouk, seorang Nasser, seorang Nehru, seorang Sekao Toure, seorang Mao Tse Tung dan seorang Nkrumah. Bukankah dunia menjadi lebih baik, jika mereka berada disini daripada mereka mempergunakan seluruh hidupnya dan seluruh kekuatannya untuk menggulingkan imperialisme yang membelenggu mereka? Dan bangsa-bangsa merekapun sudah merdeka, dan bangsa saya merdeka, dan lebih banyak lagi bangsa yang merdeka. Bukankah dengan demikian dunia menjadi suatu tempat yang lebih baik dan lebih kaya?
Memang, saya tidak perlu membentangkan kepada Tuan-tuan, bahwa kami dari Asia dan Afrika menentang kolonialisme dan imperialisme. Lebih daripada itu, siapakah dalam dunia sekarang ini masih akan membela hal-hal itu? Secara universil hal-hal itu telah dikutuk, dan sudah sepantasnya, dan alasan-alasan sinis yang usang itu tidak terdengar lagi. Pertentangan sekarang berpusat pada persoalan kapankah daerah-daerah jajahan akan merdeka, dan bukan pada persoalan apakah mereka akan merdeka.
Tetapi saya hendak menegaskan soal ini. Oposisi kami terhadap kolonialisme dan imperialisme timbul baik dari hati maupun dari kepala kami. Kami menentangnya atas dasar kemanusiaan, dan kami menentangnya pula dengan alasan bahwa hal ini merupakan suatu ancaman yang besar dan makin besar lagi terhadap perdamaian.
Tiadanya persesuaian pendapat dengan kekuatan-kekuatan kolonial berkisar pada soal-soal waktu dan keamanan, karena sekarang setidak-tidaknya mereka beromong-kosong tentang cita-cita kemerdekaan nasional.
Oleh karena itu renungkanlah dalam-dalam mengenai nasionalisme dan kemerdekaan, mengenai patriotisme dan mengenai imperialisme. Renungkanlah dalam-dalam, demikian permohonan saya, jangan sampai arus sejarah melanda Tuan-tuan.
Dewasa ini, kita banyak mendengar dan membaca mengenai perlucutan senjata. Perkataan itu biasanya dipakai dalam hubungan perlucutan senjata nuklir dan atom. Maafkanlah saya. Saya seorang sederhana dan seorang yang cinta damai. Saya tidak dapat bicara mengenai detail-detail perlucutan senjata. Saya tidak dapat memberikan penilaian mengenai pendapat-pendapat yang bersaing tentang pengawasan, mengenái percobaan-percobaan dibawah tanah dan mengenai catatan-catatan seismografik.
Mengenai persoalan-persoalan imperialisme dan nasionalisme saya seorang ahli, sesudah seumur hidup mempelajarinya dan berjuang, dan mengenai soal-soal ini saya bicara dengan kewibawaan. Tetapi mengenai persoalan-persoalan peperangan nuklir, saya hanya seorang biasa saja, mungkin seperti tetangga tuan atau seperti saudara tuan atau bahkan seperti ayah tuan. Saya ikut merasakan kengerian mereka, saya ikut merasakan ketakutan mereka.
Saya ikut merasakan kengerian dan ketakutan, itu karena saya adalah bagian dari dunia ini. Saya punya anak-anak, dan hari depan mereka terancam bahaya. Saya seorang Indonesia, dan bangsa itu terancam bahaya.
Mereka yang mempergunakan senjata penghancur masal itu sekarang harus menghadapi hati nurani mereka sendiri, dan akhirnya, mungkin dalam keadaan hangus menjadi debu radio aktif, mereka harus menghadapi Al Chaliknya. Saya tidak iri terhadap mereka.
Mereka yang mempersoalkan perlucutan senjata nuklir jangan lupa bahwa kami, yang dalam hal ini sebelumnya tidak dapat bersuara, sedang memperhatikan dan mengharap-harap.
Kami sedang memperhatikan dan mengharap-harap, toh kami diliputi oleh kecemasan, karena jika perang nuklir menghancurkan dunia kita ini, kami juga ikut menderita.
Tidak seorang mahlukpun berhak untuk menggunakan hak hak prerogatif dari Tuhan Yang Maha Esa Kuasa. Tidak seorangpun berhak mempergunakan bom-bom hidrogin. Tidak satu bangsapun berhak untuk menyebabkan kemungkinan hancurnya semua bangsa-bangsa.
Tiada suatu sistim politik, tiada suatu organisasi ekonomi yang layak untuk menyebabkan musnahnya dunia, termasuk sistem maupun organisasi itu sendiri.
Jika hanya negara-negara yang bersenjata hidrogin yang tersangkut dalam persoalan ini, maka kami bangsa-bangsa Asia dan Afrika tidak akan menghiraukannya. Kami hanya akan melihat saja sambil menjauhkan diri, dengan perasaan heran mengapa negara-negara, darimana kami belajar sedemikian banyaknya itu, serta yang sangat kami kagumi itu, pada dewasa ini harus tenggelam dalam rawa immoralitet. Kami akan dapat berseru: “Terkutuklah kalian!”, dan kami akan dapat kembali ke dalam dunia kami sendiri yang lebih berimbang dan damai.
Tetapi kami tak dapat, berbuat demikian. Kami bangsa Asia telah menderita akibat bom atom. Kami bangsa Asia terancam lagi, dan selain itu kami merasa sebagai suatu kewajiban moral untuk memberikan bantuan dimana mungkin. Kami bukanlah musuh Timur maupun Barat. Kami merupakan suatu bagian dari dunia ini dan kami ingin membantu.
Ini adalah suatu jeritan dari hati-sanubari Asia. Biarkanlah kami membantu memecahkan masalah-masalah ini. Mungkin Tuan-tuan memperhatikannya terlampau lama, dan tak lagi melihatnya secara jelas. Biarkanlah kami membantu Tuan-tuan, dan dalam membantu Tuan-tuan, kami bantu diri kami sendiri, dan semua generasi yang akan datang diseluruh dunia.
Jelaslah, bahwa masalah perlucutan senjata bukan hanya perselisihan pendapat tentang dasar-dasar teknis yang sempit. Ini adalah pula persoalan saling mempercayai. Sebetulnya telah jelas, bahwa dalam bidang teknik dan dalam cara-cara berunding dan berdiplomasi, sesungguhnya antara kami dari Asia-Afrika dan kedua blok itu tidaklah banyak berbeda. Soalnya sebenarnya lebih merupakan soal saling tidak mempercayai. Ini adalah suatu masalah yang dapat dipecahkan dengan cara-cara itu. Negara-negara lain yang tidak tergabung dalam suatu blok, bisa memberi bantuan dalam hal ini! Kami tidak kurang pengalaman dan kepandaian untuk mengadakan pembicaraan-pembicaraan. Mungkin perantaraan kami dapat juga berharga. Mungkin kami dapat pula memberikan bantuan dalam mencari suatu penjelesaian. Mungkin – siapa tahu – kami dapat memperlihatkan kepada Tuan-tuan jalannya menuju kearah satu-satunya perlucutan senjata yang sesungguhnya, yaitu perlucutan senjata di dalam hati manusia, perlucutan ketidak percayaan dan kebencian manusia.
Tidak sesuatupun lebih mendesak daripada hal ini. Dan persoalan ini adalah demikian vital bagi seluruh umat manusia, sehingga seluruh ummat manusia harus dikut sertakan dalam pemecahannya. Saya kira pada saat ini kita boleh berkata, bahwa sebenarnya hanyalah desakan dan usaha dari negara-negara non blok akan memberikan hasil yang diperlukan seluruh dunia. Pembicaraan yang sungguh-sungguh tentang perlucutan senjata, di dalam rangka organisasi ini, dan didasarkan pada suatu harapan yang sungguh-sungguh akan suksesnya, adalah. yang essensiil sekarang ini.
Saya tekankan “dalam rangka organisasi ini”, karena hanya Majelis inilah yang mulai mendekati suatu cerminan yang sebenarnya dari dunia dimana kita hidup.
Renungkan, renungkan sejenak, apa yang mungkin terjadi jika kita dapat meletakkan suatu dasar bagi perlucutan senjata yang sejati. Ingatlah akan dana-dana yang sangat besar yang dapat digunakan untuk perbaikan dunia dimana kita hidup ini. Ingatlah akan daya gerak yang maha hebat yang dapat diberikan kepada perkembangan mereka yang kurang maju, sekalipun hanya sebagian saja dari anggaran belanja pertahanan dari Negara-Negara Besar disalurkan kearah itu. Ingatlah akan bertambahnya secara hebat kebahagiaan manusia, produktivitet manusia dan kesejahteraan manusia jika hal itu diselenggarakan.
Perlu saja tambahkan sesuatu lagi pada hal ini. Jika ada suatu immoralitet yang lebih besar daripada memperagakan senjata-senjata hidrogin, maka hal itu adalah melakukan percobaan-percobaan dengan senjata-senjata tersebut. Saya tahu bahwa ada suatu perbedaan pendapat ilmiah tentang akibat genetik daripada percobaan-percobaan itu. Akan tetapi perbedaan ini hanya mengenai jumlah korban-korban. Tentang adanya akibat genetik yang buruk terdapat persesuaian pendapat. Pernakah mereka yang mengesahkan percobaan-percobaan itu membayangkan akibat-akibat perbuatan mereka? Pernakah mereka melihat kepada anak-anak mereka sendiri dan merenungkan akibat-akibat itu? Pada dewasa ini percobaan-percobaan dengan senjata-senjata nuklir ditangguhkan, – perhatikan tidak dilarang, tetapi hanya ditangguhkan. Maka, marilah kita pergunakan kenyataan ini sebagai permulaan. Marilah kita pergunakan kenyataan ini sebagai dasar untuk melarang percobaan, dan kemudian untuk pelucutan senjata yang sungguh-sungguh.
Sebelum meninggalkan persoalan perlucutan senjata, saya hendak memberikan suatu ulasan lagi. Berbicara tentang perlucutan senjata memang baik. Tetapi berusaha dengan sungguh-sungguh menyusun suatu persetujuan perlucutan senjata akan lebih baik. Dan yang terbaik adalah pelaksanaan daripada persetujuan perlucutan senjata itu.
Akan tetapi marilah kita realistis. Bahkan pelaksanaan dari pada suatu persetujuan perlucutan senjatapun tidak akan merupakan jaminan bagi perdamaian didunia yang dalam kesengsaraan dan kesukaran. Perdamaian hanya akan datang, jika sebab-sebab ketegangan dan bentrokan disingkirkan.
Jika ada suatu sebab untuk bentrokan, maka manusia akan berjuang dengan bambu runcing, jika tidak terdapat senjata lain. Saya tahu oleh karena bangsa saya sendiri melakukannya dalam perjuangan kami untuk kemerdekaan. Kami telah berjuang dengan menggunakan pisau dan bambu runcing. Untuk mencapai perdamaian, kita harus menyingkirkan sebab-sebab ketegangan dan sebab-sebab bentrokan itu. Itulah sebabnya saya berbicara dari lubuk hati saya mengenai perlunya bekerja sama untuk menyebabkan matinya yang hina dari imperialisme.
Dimana terdapat imperialisme, dan dimana terdapat penyusunan kekuatan bersenjata yang serentak, maka keadaan memang berbahaya, Sekali lagi saya berbicara berdasarkan pengalaman. Begitulah keadaannya di Irian Barat. Begitulah keadaannya diseperlima wilayah nasional kami yang pada dewasa ini masih tetap membungkuk di bawah belenggu imperialisme.
Disanalah kami menghadapi imperialisme dan kekuatan bersenjata dari imperialisme. Diperbatasan daerah itu tentara kami berbicara di darat maupun di lautan. Kedua kekuatan bersenjata itu saling berhadapan, dan dapat saya katakan bahwa hal itu merupakan suatu keadaan yang eksplosif. Belum lama berselang tentara di Irian Barat yang masih muda serta tersesat itu dan yang membela suatu faham yang telah ketinggalan zaman, diperkuat dengan datangnya kapal induk Karel Doorman dari tanah airnya yang jauh itu. Maka saatitulah keadaan menjadi betul-betul berbahaya.
Kepala Staf Angkatan Darat Indonesia duduk dalam delegasi saya ini: Namanya Jenderal Nasution. Ia adalah prajurit profesional dan seorang perajurit yang ulung. Seperti halnya dengan anak buah yang dipimpinnya, dan seperti juga halnya dengan bangsa yang dibelanya, ia
pertama-tama adalah seorang yang cinta damai. Tetapi lebih daripada itu, ia dan anak buahnya serta bangsa saya mengabdi untuk mempertahankan tanah air kami.
Kami telah berusaha untuk menyelesaikan masalah Irian Barat. Kami telah berusaha dengan sungguh-sungguh dan dengan penuh kesabaran dan penuh toleransi dan penuh harapan. Kami telah berusaha untuk mengadakan perundingan-perundingan bilateral. Kami telah berusaha dengan sungguh-sungguh dan bertahun-tahun. Kami telah berusaha dan tetap berusaha. Kami telah berusaha menggunakan alat-alat Perserikatan Bangsa-Bangsa dan Kekuatan pendapat dunia yang dinyatakan disini. Kami telah berusaha dan dalam hal inipun kami tetap berusaha.
Harapan lenyap; kesabaran hilang; bahkan toleransipun mencapai batasnya. Semuanya itu kini telah habis dan Belanda tidak memberikan alternatif lainnya kecuali memperkeras sikap kami. Jika mereka gagal untuk secara tepat menilai arus sejarah, maka kita tidaklah dapat dipersalahkan. Akan tetapi akibat dari pada kegagalan mereka ialah timbulnya ancaman terhadap perdamaian dan, sekali lagi, hal ini menyangkut pula Perserikatan Bangsa-Bangsa.
Irian Barat merupakan pedang kolonial yang diancamkan terhadap Indonesia. Pedang ini diarahkan pada jantung kami, akan tetapi disamping itu mengancam pula perdamaian dunia.
Usaha-usaha kami dewasa ini yang sungguh-sungguh untuk mencapai penyelesaian dengan cara-cara kami sendiri, adalah bagian dari sumbangan kami kearah terjaminnya perdamaian dunia ini. Ini adalah bagian dari usaha kami untuk mengakhiri masalah dunia ini yang merupakan kejahatan yang usang. Usaha kami adalah usaha pembedahan yang sungguh-sungguh untuk menyingkirkan kanker imperialisme dari daerah di dunia, dimana kami hidup dan berada.
Saya katakan dengan segala kesungguhan bahwa keadaan di Irian Barat adalah keadaan yang berbahaya, suatu keadaan yang eksplosif, suatu hal yang merupakan sebab ketegangan dan suatu ancaman bagi perdamaian. Jenderal Nasution tidak bertanggung-jawab atas hal itu. Tentara kami tidak bertanggung jawab atas hal itu. Soekarno tidak bertanggung jawab atas hal itu. Indonesia tidak bertanggung jawab atas hal itu. Tidak! Ancaman terhadap perdamaian berasal langsung dari adanya imperialisme dan kolonialisrne itulah.
Singkirkan pengekangan terhadap kemerdekaan dan emansipasi, dan ancaman terhadap perdamaian akan lenyap. Tumbangkan imperialisme, dun segera dengan sendirinya dunia akan menjadi suatu tempat yang lebih bersih, suatu tempat yang lebih baik dari suatu tempat yang lebih aman.
Saya tahu bahwa jika saya kemukakan hal ini, banyak pikiran akan beralih kepada keadaan di Konggo. Tuan-tuan mungkin bertanya, bukankah imperialisme telah diusir dari Konggo dengan akibat bahwa didaerah itu sekarang terjadi persengketaan dan pertumpahan darah? Tidak demikian halnya! Keadaan di Konggo yang sangat disesalkan adalah langsung disebabkan oleh imperialisme, dan tidak disebabkan oleh berakhirnya imperialisme itu. Imperialisme berusaha untuk mempertahankan kedudukannya di Konggo; berusaha untuk dapat memutungkan dan melumpuhkan Negara baru itu. Itulah sebabnya Konggo berkobar.
Ya, di Konggo, terdapat penderitaan. Akan tetapi penderitaan itu merupakan kesakitan kelahiran dari kemajuan dan kemajuan yang eksplosif senantiasa membawa kesakitan. Mencabut sampai ke-akar-akarnya kepentingan nasional dun internasional yang sudah bercokol selalu menyebabkan kesakitan dun kegoncangan.
Kami mengetahuinya. Kami mengetahui pula dari pengalaman-pengalaman kami sendiri bahwa perkembangan itu sendiri menimbulkan pergolakan. Suatu bangsa yang sedang bergolak
membutuhkan pimpinan dan bimbingan, dan akhirnya akan menghasilkan pimpinan serta bimbingannya sendiri.
Kami bangsa Indonesia berbicara berdasarkan pengalaman-pengalaman yang pahit. Masalah Konggo, yang merupakan masalah kolonialisme dan imperialisme, harus diselesaikan dengan menggunakan prinsip-prinsip yang telah saya uraikan tadi. Konggo adalah Negara yang berdaulat. Hendaknya kedaulatan itu dihormati. Ingatlah kedaulatan Konggo tidak kurang daripada kedaulatan setiap bangsa yang diwakili dalam Majelis ini, dan kedaulatan ini harus dihormati secara sama.
Dalam soal-soal dalam negeri Konggo tidak boleh ada cumpur tangan dan sama sekali tidak boleh ada bantuan, baik yang terang-terangan maupun yang tersembunyi, untuk menghancurkan negara ini.
Ya, memang bangsa itu akan membuat kesalahan-kesalahan, kita semua membuat kesalahan-kesalahan dan kita semua belajar dari kesalahan-kesalahan. Ya, pergolakan akan timbul, akan tetapi itupun biarlah berlangsung, karena ini merupakan tanda bagi pertumbuhan dan perkembangan yang cepat. Sampai mana pergolakan itu adalah soalnya bangsa itu sendiri.
Marilah kita, baik secara perseorangan, maupun secara bersama-sama, membantu disana apabila kita diminta oleh pemerintah yang sah dari bargsa itu. Akan tetapi tiap-tiap bantuan semacam itu harus jelas didasarkan atas kedaulatan Konggo yang tidak boleh diganggu-gugat.
Akhirnya, taruhlah kepercayaan pada bangsa itu! Mereka sedang mengalami masa percobaan yang besar dan sedang sangat menderita. Taruhlah kepercayaan pada mereka sebagai bangsa yang baru merdeka, dan mereka akan menemukan jalannya sendiri kearah penyelesaiannya sendiri daripada masalah-masalahnya sendiri.
Disini hendak saya kemukakan peringatan yang sangat serius. Banyak anggauta organisasi ini dan banyak pejabat organisasi ini mungkin tak begitu menyadari perbuatan-perbuatan imperialisme dan kolonialisme.
Mereka tak pernah mengalaminya; mereka tak mengenal keuletannya dan kebengisannya dan banyaknya mukanya, dan kejahatannya.
Kami dari Asia dan Afrika mengenalnya. Saya katakan pada Tuan-tuan: Janganlah bertindak sebagai alat yang tak tahu apa-apa dari imperialisme. Janganlah bertindak sebagai tangan kanan yang buta dari kolonialisme. Jika tuan bertindak demikian, maka tuan pasti akan membunuh Organisasi Perserikatan Bangsa-Bangsa ini, dan dengan begitu tuan akan.membunuh harapan dari berjuta-juta manusia, yang tiada terhitung itu dan mungkin tuan akan menyebabkan hari depan mati dalam kandungan.
Sebelum meninggalkan persoalan-persoalan ini, saya hendak, menyinggung pula suatu persoalan besar lain yang kira-kira sama sifatnya. Yang saya maksud ialah Aljazair. Disini terdapat suatu gambaran yang menyedihkan, dimana kedua belah fihak sedang berlumuran darah dan dihancurkan karena ketiadaan penyelesaian. Itu merupakan suatu tragedi!
Sudah jelas sekali bahwa rakyat Aljazaïr menghendaki kemerdekaan. Hal itu tidak dapat dibantah lagï. Andaikata tidak demikan, maka perjuangan yang lama dan pahit dan berdarah itu sudah akan berakhir bertahun-tahun yang lalu. Kehausan akan kemerdekaan serta ketabahan untuk memperoleh kemerdekaan itu merupakan faktor-faktor pokok dalam situasi ini.
Apa yang belum ditentukan, hanyalah betapa akrab dan selaras suatu kerjasama dihari depan dengan Perancis seharusnya. Kerjasama yang sangat akrab dan sangat selaras tidak akan sukar dicapai, bahkan pada taraf sekarang ini, meskipun barangkali ia akan bertambah sukar dicapainya dengan terus berlangsungnya perjuangan itu.
Maka, adakanlah suatu plebisit di bawah pengawasan Perserikatan Bangsa-Bangsa di Aljazair untuk menentukan kehendak rakyat akan betapa akrab dan selaras hubungan-hubungan itu seharusnya. Plebesit itu hendaknya jangan mengenai soal kemerdekaan. Kemerdekaan itu sudah ditentukan dengan darah dan air mata dan pastilah akan berdiri suatu Aljazair yang merdeka.
Plebesit seperti yang saya sarankan, jika diselenggarakan dalam waktu singkat, akan merupakan jaminan yang terbaik bahwa antara Aljazair merdeka dan Perancis akan terdapat suatu kerjasama yang akrab dan baik untuk keuntungan bersama. Sekali lagi saya berbicara berdasarkan pengalaman. Indonesia tadinya tida kmengandung niat untuk merusak hubungan-hubungan yang erat dan selaras dengan Belanda. Akan tetapi, rupa-rupanya bahkan dewasa ini, seperti generasi-generasi yang sudah-sudah, pemerintah bangsa itu berpegang teguh pada “memberi terlalu sedikit dan meminta terlampau banyak”. Baru ketika hal itu tak tertahankan lagi, hubungan-hubungan tersebut diputuskan.
Ijinkanlah saya beralih kemasalah yang lebih luas tentang perang dan damai didunia kita ini. Yang pasti adalah bahwa negara-negara yang baru lahir dan yang dilahirkan kembali tidak merupakan ancaman terhadap perdamaian dunia. Kami tidak mempunyai ambisi-ambisi teritorial; kamipun tidak mempunyai tujuan-tujuan ekonomi yang tidak bisa disesuaikan. Ancaman terhap perdamaian tidak datang dari kami, tetapi malahan dari fihak negara-negara yang lebih tua, yang telah lama berdiri dan stabil itu.
O, ya, dinegara-negara kami terdapat pergolakan. Sebenarnya, pergolakan itu seakan-akan merupakan suatu fungsi dari jangka waktu pertama daripada kemerdekaan. Apakah itu mengherankan? Coba, marilah saya ambil contoh dari sejarah Amerika. Dalam satu generasi harus dialami Perang Kemerdekaan dan Perang Saudara antara Negara-Negara Bagian. Selanjutnya dalam generasi itu juga harus dialami timbulnya perserikatan-perserikatan buruh yang militant, – masa dari Internasional Workers of the World (I.W.W.), “Wobblies”. Harus pula dialami hijrah ke Barat. Harus pula dialami Revolusi Industri dan, ya, bahkan masa “pedagang-pedagang aktentas”. Harus pula diderita akibat orang-orang á la Benedict Arnold. Dan seperti sering saya katakan, kami desakkan banyak revolusi dalam satu revolusi dan banyak generasi dalam satu generasi.
Maka herankah Tuan-tuan jika terdapat pergolakan pada kami? Bagi kami hal itu adalah biasa dan kami telah menjadi biasa untuk menunggang angin pusar. Saya mengerti benar bahwa untuk orang luaran hal ini seringkali tampak seperti gambaran kekacauan dan kerusuhan dan rebut-merebut kekuasaan. Bagaimanapun juga pergolakan itu adalah merupakan urusan kami sendiri dan tidak merupakan suatu ancaman bagi siapapun, meskipun hal itu sering memberi kesempatan-kesempatan untuk mencampuri urusan kami.
Meskipun demikian, kepentingan-kepentingan yang bertentangan dari Negara-Negara Besar adalah soal lain: Dalam hal ini masalah-masalah dikaburkan oleh ancaman-ancaman dengan bom-bom hidrogin dan oleh diulang-ulanginya slogan-slogan lama yang telah usang.
Kami tak dapat mengabaikannya karena masalah-masalah itu mengancam kami. Toh; terlalu sering masalah-masalah tersebut nampak seakan-akan tidak sungguh. Dengan terus terang dan tanpa ragu-ragu hendak saya katakan kepada Tuan-tuan bahwa kami menempatkan hari-depan kami sendiri jauh di atas percekcokan-percekcokan di Eropah.
Ya, kami banyak belajar dari Eropah dan Amerika. Kami telah mempelajari sejarah Tuan-tuan dan penghidupan orang-orang besar dari bangsa tuan. Kami telah mengikuti contoh dari Tuan-tuan, bahkan kami telah berusaha melebihi Tuan-tuan. Kami berbicara dalam bahasa-bahasa Tuan-tuan dan membaca buku-buku tuan-tuan. Kami telah diilhami oleh Lincoln dan Lenin, oleh Cromwell dan Garibaldi. Dan memang masih banyak yang harus kami pelajari dari Tuan-tuan dibanyak bidang. Tetapi pada dewasa ini bidang-bidang yang kami harus pelajari lebih banyak lagi dari Tuan-tuan, adalah bidang teknik dan ilmiah, dan bukan faham-faham atau gerakan yang didiktekan oleh ideologi.
Di Asia dan Afrika pada dewasa ini masih hidup, masih berpikir, masih bertindak, mereka yang memimpin bangsanya kearah kemerdekaan, mereka yang mengembangkan teori-teori ekonomi yang agung dan membebaskan, mereka yang telah menumbangkan kelaliman, mereka yang mempersatukan bangsanya dan mereka yang menaklukkan perpecahan bangsanya.
Oleh karena itu dan memang selayaknya, kami dari Asia-Afrika saling mendekati untuk memperoleh bimbingan dan inspirasi dan kami mencari pada diri sendiri pengalaman dan kebijaksanaan yang telah terhimpun pada bangsa-bangsa kami.
Apakah Tuan-tuan tidak berpendapat bahwa Asia dan Afrika mungkin mempunyai suatu amanat dan suatu cara untuk seluruh dunia?
Ahli filsafah Inggeris Bertrand Russell yang ulung itulah yang pemah berkata bahwa ummat manusia sekarang terbagi dalam dua golongan. Yang satu menganut ajaran Declaration of American Independece dari Thomas Jefferson. Golongan lainnya menganut ajaran Manifesto Komunis.
Maafkan, Lord Russell, akan tetapi saya kira tuan melupakan sesuatu. Saya kira Tuan melupakan adanya lebih dari pada seribu juta rakyat, rakyat Asia dan Afrika, dan mungkin pula rakyat-rakyat Amerika Latin, yang tidak menganut ajaran Manifesto Komunis ataupun Declaration of Independence. Camkanlah, kami mengagumi kedua ajaran itu, dan kami telah banyak belajar dari keduanya itu dan kami telah diilhami, oleh keduanya itu.
Siapakah yang tidak akan dapat ilham dari kata-kata dan semangat Declaration of Independence itu! “Kami menganggap kebenaran-kebenaran ini sebagai suatu, yang tak dapat disangkal lagi : bahwa manusia diciptakan dengan hak-hak yang sama, bahwa mereka diberikan oleh AI Chalik hak-hak tertentu yang tak dapat diganggu-gugat, dan bahwa diantara hak-hak itu terdapat hak untuk hidup, hak kemerdekaan dan hak mengejar kebahagiaan”. Siapakah yang terlibat dalam perjuangan untuk kehidupan dan kemerdekaan nasional; tak akan diilhami! Dan sekali lagi, siapakah diantara kita, yang berjuang menegakkan suatu masyarakat, yang adil dan makmur diatas puing-puing kolonialisme, tak akan diilhami oleh bayangan kerjasarna dan perkembangan ekonomi yang dicetuskan oleh Marx dan Engels!
Sekarang telah terjadi suatu konfrontasi diantara kedua pandangan itu, dan konfrontasi itu membahayakan, tidak hanya untuk mereka yang berhadapan tetapi juga untuk bagian dunia lainnya.
Saya tidak dapat berbicara atas nama negara-negara Asia dan Afrika lainnya ? saya tidak diberi kuasa untuk itu, dan bagaiamanapun juga mereka sendiri cakap untuk mengemukakan pandangannya masing?masing. Akan tetapi saya diberi kuasa ? bahkan ditugaskan ? untuk berbicara atas nama bangsa saya yang berjumlah sembilan puluh dua juta itu.
Sepeirti saya katakan; kami telah membaca dan mernpelajari kedua dokumen yang pokok itu: Dari masing-masing dokumen itu banyak yang telah kami ambil dan kami buang apa yang tak berguna bagi kami, kami yang hidup dibenua Iain dan beberapa generasi kemudian. Kami telah mensintesekan apa yang kami perlukan dari kedua dokumen itu, dan ditinjau dari pengalaman serta dari pengetahuan kami sendiri, sintese itu telah kami saring dan kami sesuaikan.
Jadi, dengan minta maaf kepada Lord RusselI yang saya hormati sekali, dunia ini tidaklah seluruhnya terbagi dalam dua fihak seperti dikiranya.
Meskipun kami telah mengambil sarinya, dan meskipun kami telah mencoba mensintesekan kedua dokumen yang peting itu; kami tidak dipimpin oleh keduanya itu saja. Kami tidak mengikuti konsepsi liberal ataupun konsepsi komunis. Apa gunanya? Dari pengalaman kami sendiri dan dari sejarah kami sendiri tumbuhlah sesuatu yang lain, sesuatu yang jauh lebih sesuai, sesuatu yang jauh lebih cocok.
Arus sejarah memperlihatkan dengan nyata bahwa semua bangsa memerlukan sesuatu konsepsi dan cita-cita. Jika mereka tak memilikinya atau jika konsepsi dan cita-cita itu menjadi kabur dan usang, maka bangsa itu ada dalam bahaya. Sejarah Indonesia kami sendiri memperlihatkannya dengan jelas, dan demikian pula halnya dengan sejarah seluruh dunia.
“Sesuatu” itu kami namakan “Panca Sila”. Ya, “Panca Sila” atau Lima Sendi Negara kami. Lima Sendi itu tidaklah langsung berpangkal pada Manifesto Komunis ataupun Declaration of Independence. Memang, gagasan-gagasan dan cita?cita itu, mungkin sudah ada sejak berabad-abad telah terkandung dalam bangsa karni. Dan memang tidak mengherankan bahwa faham-faham mengenai kekuatan yang besar dan kejantanan itu telah timbul dalam bangsa kami selama dua ribu tahun peradaban kami dan selama berabad-abad kejayaan bangsa, sebelum imperialisme menenggelamkan kami pada suatu saat kelemahan nasional.
Jadi berbicara tentang Panca Sila dihadapan Tuan-tuan, saya mengemukakan intisari dari peradaban kami selama dua ribu tahun.
Apakah Lima Sendi itu? la sangat sederhana : pertama Ketuhanan Yang Maha Esa, kedua Nasionalisme, ketiga Internasionalisme, ke-empat Demokrasi dan kelima Keadilan Sosial,
Perkenankanlah saya sakarang menguraikan sekedarnya tentang kelima pokok itu.
Pertama : Ketuhanan Yang Maha Esa. Bangsa saya meliputi orang-orang yang menganut berbagai macam agama. Ada yang Islam, ada yang Kristen ada yang Budha dan ada yang tidak menganut sesuatu agama. Meskipun demikian untuk delapan puluh lima persen dari sembilan puluh dua juta rakyat kami, bangsa Indonesia terdiri dari para pengikut Islam. Berpangkal pada kenyataan ini, dan mengingat akan berbeda-beda tetapi bersatunya bangsa kami, kami menempatkan Ketuhanan Yang Maha Esa sebagai yang paling utama dalam filsafah hidup kami. Bahkan mereka yang tidak percaya kepada Tuhanpun, karena toleransinya yang menjadi pembawaan, mengakui bahwa kepercayaan kepada Yang Maha Kuasa merupakan karakteristik dari bangsanya, sehingga mereka menerima Sila pertama ini.
Kemudian sebagai nomor dua ialah Nasionalisme. Kekuatan yang membakar dari nasionalisme dan hasrat akan kemerdekaan mempertahankan hidup kami dan memberi kekuatan kepada kami sepanjang kegelapan penjajahan yang lama, dan selama berkobarnya pejuangan kemerdekaan. Dewasa ini kekuatan yang membakar itu masih tetap menyala-nyala didada kami dan tetap memberi kekuatan hidup kepada kami! Akan tetapi nasionalisme kami sekali-kali bukanlah Chauvinisme. Kami sekali-kali tidak menganggap diri kami lebih unggul dari bangsa-bangsa lain.
Kami sekali-kali tidak pula berusaha untuk memaksakan kehendak kami kepada bangsa-bangsa lain. Saya mengetahui benar-benar bahwa istilah “nasionalisme” dicurigai, bahkan tidak dïpercayai di negara-negara Barat. Hal ini disebabkan karena Barat telah memperkosa dan memutar balikan nasionalisme. Padahal nasionalisme yang sejati masih tetap berkobar-kobar di negara-negara Barat. Jika tidak demikian, rnaka Barat tidak akan menantang dengan senjata chauvinisme Hitler yang agresif.
Tidakkah nasionalisme ? sebutlah jika mau, patriotisme – mempertahankan kelangsungan hidup semua bangsa? Siapa yang berani menyangkal bangsa, yang melahirkan dia? Siapa yang berani berpaling dari bangsa, yang menjadikan dia? Nasionalisme adalah mesin besar yang menggerakkan dan mengawasi semua kegiatan internasional kita; nasionalisme adalah sumber besar dan inspirasi agung dari kemerdekaan.
Nasionalisme kami di Asia dan Afrika tidaklah sama dengan yang terdapat pada sistem Negara-negara Barat. Di Barat, nasionalisme berkembang sebagai kekuatan yang agresif yang mencari ekspansi serta keuntungan bagi ekonomi nasionalnya. Nasionalisme di Barat adalah kakek dari imperialisme, yang bapaknya adalah Kapitalisme. Di Asia dan Afrika dan saya kira juga di Amerrka Latin, nasionalisme adalah gerakan pembebasan, suatu gerakan protes terhadap imperialisme dan kolonialisme, dan suatu jawaban terhadap penindasan nasionalisme-chauvinis yang bersumber di Eropah. Nasionalisme Asia dan Afrika serta Nasionalisme Amerika Latin tidak dapat ditinjau tanpa memperhatikan inti sosialnya.
Di Indonesia kami menganggap inti sosial itu sebagai pendorong untuk mencapai keadilan dan kemakmuran. Bukankah itu tujuan yang baik yang dapat diterima oleh semua orang? Saya tidak berbicara hanya tentang kami sendiri di Indonesia, juga tidak hanya tentang Saudara-saudara saya di Asia dan Afrika serta Amerika Latin. Saya berbicara tentang seluruh dunia. Masyarakat adil dan makmur dapat merupakan cita-cita dan tujuan semua orang.
Mahatma Gandhi pernah berkata: “Saya seorang nasionalis, akan tetapi nasionalisme saya adalah perikemanusiaan”. Kamipun berkata demikian. Kami nasionalis, kami cinta kepada bangsa kami dan kepada semua bangsa. Kami nasionalis karena kami percaya bahwa bangsa-bangsa adalah sangat penting bagi dunia dimasa sekarang ini, dan kami tetap demikian, sejauh mata dapat memandang kemasa depan. Karena kami nasionalis, maka kami mendukung dan menganjurkan nasionalisme dimana saja kami jumpainya.
Sila ketiga kami adalah Internasionalisme. Antara Nasionalisme dan Internasionalisme tidak ada perselisihan atau pertentangan. Memang benar, bahwa internasionalisme tidak akan dapat tumbuh dan berkembang selain diatas tanah yang subur dari nasionalisme. Bukankah Organisasi Perserikatan Bangsa-Bangsa itu merupakan bukti yang nyata dari hal ini? Dahulu ada Liga Bangsa-Bangsa. Kini ada Perserikatan Bangsa-Bangsa. Nama-nama itu sendiri menunjukan bahwa bangsa-bangsa mengingini dan membutuhkan suatu badan internasional, dimana setiap bangsa mempunyai kedudukan yang sederajat. Internasionalisme sama sekali bukan kosmopolitanisme, yang merupakan penyangkalan terhadap nasionalisme, yang anti-nasional dan memang bertentangan dengan kenyataan.
Sila keempat adalah Demokrasi. Demokrasi bukanlah monopoli atau penemuan dari aturan sosial Barat. Lebih tegas, demokrasi tampaknya merupakan keadilan asli dari manusia, meskipun diubah untuk disesuaikan dengan kondisi-kondisi sosial yang khusus.
Selama beribu-ribu tahun dari peradaban Indonesia, kami telah mengembangkan bentuk-bentuk demokrasi Indonesia. Kami percaya bahwa bentuk-bentuk ini mempunyai pertalian dan arti internasional. Ini adalah soal saya bicarakan kemudian.
Akhirnya, Sila yang penghabisan dan yang terutama ialah Keadilan Sosial. Pada Keadilan Sosial ini kami rangkaikan kemakmuran sosial, karena kami menganggap kedua hal ini tidak dapat dipisah-pisahkan. Benar, hanya suatu masyarakat yang makmur dapat merupakan masyarakat yang adil, meskipun kemakmuran itu sendiri bisa bersemayam dalam ketidak-adilan sosial.
Demikianlah Panca Sila kami. Ketuhanan Yang Maha Esa, Nasionalisme, Internasionalisme, Demokrasi dan Keadilan Sosial.
Tidaklah termasuk tugas saya hari ini untuk menguraikan bagaimana kami berusaha, dalam kehidupan dan urusan nasional kami, menggunakan dan melaksanakan Panca Sila. Jika saya menguraikan hal ini, maka ini akan mengganggu keramah-tamahan badan internasional ini.
Akan tetapi saya sungguh-sungguh percaya bahwa Panca Sila mengandung lebih banyak daripada arti nasional saja. Panca Sila mempunyai arti universal dan dapat digunakan secara internasional.
Tidak sorangpun akan membantah unsur kebenaran dalam pandangan yang dikemukakan oleh Bertrand Russell itu. Sebagian besar dari dunia telah terbagi menjadi golongan yang menerima gagasan dan prinsip-prinsip Declaration of American Independence dan golongan yang menerima gagasan dan prinsip-prinsip Manifesto Komunis. Mereka yang menerima gagasan yang satu menolak gagasan yang lain, dan terdapatlah bentrokan atas dasar ideologis maupun praktis.
Kita semuanya terancam oleh bentrokan ini dan kita merasa khawatir karena bentrokan ini. Apakah tidak ada sesuatu tindakan yang dapat diambil terhadap ancaman ini? Apakah hal ini harus berlangsung terus dari generasi ke generasi, dengan kemungkinan pada akhirnya akan meletus menjadi lautan api yang akan menelan kita semuanya? Apakah tidak ada suatu jalan keluar?
Jalan keluar harus ada. Jika tidak ada, maka semua musyawarah kita, semua harapan kita, semua perjuangan kita akan sia-sia belaka.
Kami bangsa Indonesia tidak bersedia bertopang dagu, sedangkan dunia menuju kejurang keruntuhannya. Kami tidak bersedia bahwa fajar cerah dari kemerdekaan kami diliputi oleh awan radio-aktif. Tidak satupun diantara bangsa-bangsa Asia atau Afrika akan bersedia menerima hal ini. Kami memikul pertanggungan jawab terhadap dunia, dan kami siap menerima serta memenuhi pertanggungan jawab itu. Jika itu berarti turut-campur dalam apa yang tadinya merupakan urusanurusan Negara-Negara Besar yang dijauhkan dari kami, maka kami akan bersedia melakukannya. Tidak ada bangsa Asia dan Afrika manapun juga yang akan menyingkiri tugas itu.
Bukankah jelas, bahwa bentrokan itu timbul terutama karena ketidak-samaan? Di dalam suatu bangsa, adanya yang kaya dan miskin, dan dihisap dan yang menghisap, menimbulkan bentrokan. Hilangkan penghisapan, dan bentrokan itu akan lenyap, karena sebab yang menimbulkan bentrokan itu telah tidak ada,
Diantara bangsa-bangsa, jika ada yang kaya dan yang miskin, yang menghisap dan dihisap, akan pula ada bentrokan. Hilangkan sebab yang menimbulkan bentrokan, dan bentrokan itu akan lenyap. Hal ini berlaku, baik internasional maupun didalam suatu bangsa. Dilenyapkannya imperialisme dan kolonialisme meniadakan penghisapan demikian daripada bangsa oleh bangsa.
Saya percaya, bahwa ada jalan keluar daripada konfrontasi ideologi-ideologi ini. Saya percaya bahwa jalan keluar itu terletak pada dipakainya Panca Sila secara universil !
Siapakah diantara Tuan-Tuan menolak Panca Sila? Apakah wakil-wakil yang terhormat dari Bangsa Amerika yang besar menolaknya? Apakah wakil-wakil yang terhormat dari bangsa Rusia yang besar menolaknya? Ataukan wakil-wakil yang terhormat dari Inggris atau Polandia, atau Perancis atau Cekoslowakia? Ataukah memang ada diantara mereka yang agaknya telah mengambil posisi yang statis dalam Perang Dingin antara gagasan-gagasan dan praktek-paktek, dan yang berusaha tetap berakar sedalam-dalamnya sedangkan dunia menghadapi kekacauan-kekacauan?
Lihatlah, lihatlah delegasi yang mendukung saya ! Delegasi itu bukan terdiri dari pegawai-pegawai negeri atau politikus-politikus profesional. Delegasi ini mewakili bangsa Indonesia. Dalam delegasi ini ada prajurit-prajurit. Mereka menerima Panca Sila, ada seorang ulama islam yang besar, yang merupakan soko guru bagi agamanya. Ia menerima Panca Sila. Selanjutnya da pemimpin Partai Komunis Indonesia yang kuat. Ia menerima Panca Sila. Seterusnya ada wakil-wakil dari Golongan-golongan Katolik dan Protestan, dari Partai Nasionalis dan organisasi-organisasi buruh dan tani, ada pula wanita-wanita, kaum cendekiawan dan pejabat-pejabat pemerintahan. Semuanya ya menerima Panca Sila.
Mereka bukannya menerima Panca Sila semata-mata sebagai konsepsi ideologi belaka, melainkan sebagai suatu pedoman yang praktis sekali untuk bertindak. Mereka diantara bangsa saya yang berusaha menjadi pepmimpin tetapi menolak Panca Sila, ditolak pula oleh bangsa Indonesia.
Bagaimanakah penggunaan secara internasional daripada Panca Sila? Bagaimana Panca Sila itu dapat dipraktekan? Marilah kita tinjau kelima pokok itu satu demi satu.
Pertama : Ketuhanan Yang Maha Esa. Tidak seorangpun yang menerima Declaration Of American Independence sebagai pedoman untuk hidup dan bertindak, akan menyangkalnya. Begitu pula tidak ada seorang pengikutpun dari Manifesto Komunis, dalam forum internasional ini akan menyangkal hak dan untuk percaya kepada Yang Maha Kuasa. Untuk penjelasan lebih lanjut mengenai hal ini, saya persilahkan Tuan-tuan yang terhormat bertanya kepada tuan Aidit, ketua Partai Komunis Indonesia, yang duduk dalam Delegasi saya yang menerima sepenuhnya baik Manifesto Komunis mapun Panca Sila.
Kedua : Nasionalisme. Kita semua adalah wakil-wakil bangsa-bangsa. Bagaimana kita akan dapat menolak nasionalisme? Jika kita menolak nasionalisme, maka kita harus menolak kebangsaan kita sendiri dan menolak pengorbanan-pengorbanan yang telah diberikan oleh generasi-generasi. Akan tetapi saya peringatkan Tuan-tuan : jika Tuan-tuan menerima prinsip nasionalisme, maka Tuan-tuan harus menolak imperialisme. Tetapi pada peringatan itu saya ingin menambahkan peringatan lagi : Jika Tuan-tuan menolak imperialisme, maka secara otomatis dan dengan segera Tuan-tuan lenyapkan dari dunia yang dalam kesukaran ini sebab terbesar yang menimbulkan ketegangan dan bentrokan.
Ketiga : Internasionalisme. Apakah perlu untuk berbicara dengan panjang lebar mengenai internasionalisme dalam badan in ternasional ini? Tentu tidak ! Jika bangsa-bangsa kita tidak “Internationally minded”, maka bangsa-bangsa itu tidak akan menjadi anggauta organisasi ini. Akan tetapi, internasionalisme yang sejati tidak selalu terdapat disini. Saya menyesal harus mengatakan demikian, akan tetapi hal ini adalah suatu kenyataan. Terlalu sering perserikatan bangsa-bangsa dipergunakan sebagai forum untuk tujuan-tujuan nasional yang sempit atau tujuan-tujuan golongan saja. Terlalu sering pula tujuan-tujuan yang agung dan cita-cita yang luhur dari piagam kita dikaburkan oleh usaha untuk mencari keuntungan nasional atau prestige nasional. Internasionalisme yang sejati harus didasarkan atas persamaan kehormatan,
persamaan penghargaan dan atas dasar penggunaan secara praktis dari pada kebenaran, bahwa semua orang adalah saudara. Untuk mengutip piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa – dokumen yang sering kali dilupakan orang itu – internasionalisme itu harus “meneguhkan kembali keyakinan ……berdasarkan hak-hak-yang sama bagi …… bangsa-bangsa, baik besar maupun kecil”.
Akhirnya, dan sekali lagi, internasionalisme akan berarti berakhirnya imperialisme dan kolonialisme, sehingga dengan demikian berakhirnya banyak bahaya dan ketegangan.
Keempat : Demokrasi. Bagi kami bangsa Indonesia, demokrasi mengandung tiga unsur yang pkok. Demokrasi mengandung pertama-tama prinsip yang kami sebut Mufakat yakni : kebulatan pendapat. Kedua, demokrasi mengandung prinsip Perwakilan.
Akhirnya demokrasi mengandung, bagi kami, prinsip musyawarah. Ya, demokrasi Indonesia mengandung ketiga prinsip itu, yakni : mufakat, perwakilan dan musyawarah antara wakil-wakil.
Perhatikanlah. Organisasi Perserikatan Bangsa-Bangsa ini adalah organisasi dari bangsa-bangsa yang sederajat, organisasi dari negara-negara yang merupakan kedaulatn yang sederajat, kemerdekaan yang sederajat dan rasa bangga yang sederajat tentang kedaulatan serta kemerdekaan. Satu-satunya cara bagi organisasi ini untuk dapat menjalankan fungsinya secara memuaskan, ialah dengan jalan mufakat yang diperoleh dalam musyawarah. Musyawarah harus dilakukan sedemikian rupa, sehingga, tidak ada saingan antara pendapat-pendapat yang bertentangan, tïdak ada resolusi-resolusi dan resolusi-resolusi balasan, tidak ada pemihakan-pemihakan, melainkan hanya usaha yang teguh untuk mencari dasar umum dalarn memecahkan sesuatu masalah. Dari musyawarah semacam ini timbullah permufakatan, suatu kebulatan pendapat, yang lebih kuat dari pada suatu resolusi yang dipaksakan melalui jumlah suara mayoritet, suatu resolusi yang mungkin tidak diterima, atau yang mungkin tidak disukai oleh minoritet.
Apakah saya berbicara idealistis? Apakah saya memimpikan dunia yang ideal dan romantis?
Tidak ! Kedua kaki saya dengan teguh berpijak ditanah ! Betul saya menengadah kelangit untuk mendapatkan inspirasi akan tetapi pikiran saya tidak berada diawang-awang. Saya tegaskan bahwa cara-cara musyawarah demikian ini dapat dïlaksanakan. Cara-cara itu bagi kami dapat dijalankan. Cara-cara itu dapat dijalankan dalam D.P.R. kami, cara-cara itu dapat dijalankan dalam D.P.A. kami, cara-cara itu dapat dijalankan dalam Kabinet kami.
Cara musyawarah ini dapat dijalankan, karena wakil-wakil bangsa kami berkeinginan agar cara-cara itu dapat berjalan. Kaum Komunis menginginkannya, kaum nasionalïs menginginkannya, golongan Islam menginginkannya, dan golongan Kristen menginginkannya. Tentara menginginkannya, baik warga kota maupun rakyat di desa-desa yang terpencil menginginkannya, kaum cendekiawan menginginkannya dan orang yang berusaha dengan sekuat tenaga memberantas buta huruf menginginkannya. Semua menginginkannya, karena semuanya menginginkannya tercapainya tujuan jelas dari Panca Sila, dan tujuan yang jelas itu ialah masyarakat adil dan makmur.
Tuan-tuan boleh berkata: “Ya, kita akan menerima kata-kata Presiden Soekaro dan kita akan menerima bukti-bukti yang kita lihat dalam susunan delegasinya di Perserikatan Bangsa-Bangsa pada hari ini, akan tetapi kita adalah kaum realis dalam dunia yang kejam. Cara satu-satunya untuk menyelenggarakan pertemuan internasional ialah cara yang dipergunakan dalam menyelenggarakan Perserikatan Bangsa-Bangsa, yaitu dengan resolusi-resolusi, amandemen-amandemen, suara-suara mayoritet dan minoritet”.
Perkenankanlah saya menegaskan sesuatu. Kami tahu dari pengalaman yang sama pahitnya, sama praktisnya dan sama realistisnya, bahwa cara-cara musyawarah kami dapat pula diselenggarakan dibidang intrnmasional. Dibidang itu cara-cara itu berjalan sama baiknya seperti dibidang nasional.
Seperti Tuan-tuan ketahui, belum begitu lama berselang, wakil-wakil dari dua puluh sembilan bangsa-bangsa dari Asia dan Afrika berkumpul di Bandung. Pemimpin-pemimpin bangsa-bangsa itu bukan pemimpin pengelamun yang tidak praktis. Jauh dari itu! Mereka adalah pemimpin-pemimpin yang keras dan realistïs dari rakyat dan bangsa-bangsa, sebagian besar diantara mereka lulus dari perjuangan kemerdekaan nasional, semuanya mengetahui benar akan realitet-realitet dari pada kehidupan serta kepemimpinan baik politik maupun internasional.
Mereka mempunyai pandangan politik yang berbeda-beda, dari ekstrim kanan sampai ekstrim kiri.
Banyak orang dinegara-negara barat tidak dapat percaya bahwa konperensi semacam itu dapat menghasilkan sesuatu yang berguna. Banyak orang bahkan berpendapat bahwa konperensi itu akan bubar dalam keadaan kacau dan saling tuduh-menuduh, terpecah-belah di atas karang perbedaan faham politik.
Konperensi Asia-Afrika diselenggarakan dengan cara-cara musyawarah.
Dalam konperensi itu tidak terdapat mayoritet dan minoritet. Tidak pula diadakan pemungutan suara. Dalam konperensi itu hanya terdapat musyawarah dan keinginan umum untuk mencapai persetujuan. Konperensi itu menghasilkan komunike yang dibuat dengan suara bulat, komunike yang merupakan salah suatu yang terpenting dalam windu ini atau mungkin salah satu dokumen yang terpenting dalam sejarah.
Apakah Tuan-tuan masih sangsi terhadap faedah dan efisiensi daripada cara musyawarah semacam itu?
Saya yakin bahwa pemakaian dengan tulus ikhlas dari cara-cara musyawarah demikian ini, akan mempermudah pekerjaan organisasi internasional ini. Ya, berangkali cara ini akan memungkinkan pekerjaan yang sebenarnya dari organisasi ini. Cara musyawarah ini akan menunjukkan jalan untuk menyelesaikan banyak masalah-masalah yang makin bertumpuk-tumpuk bertahun-tahun. Cara musyawarah ini akan memungkinkan terselesaikannya masalah-masalah yang tampaknya tidak terpecahkan.
Dan saya minta dengan hormat, hendaknya Tuan-tuan ingat bahwa sejarah memperlakukan mereka yang gagal tanpa mengenal ampun.
Siapakah yang sekarang ini ingat kepada mereka yang membanting-tulang dalam Liga Bangsa-Bangsa? Kita hanya ingat kepada mereka yang telah menghancurkan suatu organisasi negara-negara dari sebagian dunia saja. Kita tidak bersedia bertopang dagu dan melihat organisasi ini, organisasi kita sendiri, dihancurkan karena tidak flexible, atau karena lambat menyambut keadaan dunia yang berobah.
Apakah tidak patut dicoba? Jika Tuan-tuan berpendapat tidak, maka Tuan-tuan harus bersedia untuk mempertanggung jawabkan keputusan Tuan-tuan dihadapan mahkamah sejarah.
Akhirnya, di dalam Panca Sila terkandung Keadilan Sosial. Untuk dapat dilaksanakan di bidang internasional, mungkin hal ini akan menjadi keadilan sosial internasional. Sekali lagi, menerima prinsip ini akan berarti menolak kolonialisme dan imperialisme.
Selanjutnya, diterimanya oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa keadilan sosial sebagai suatu tujuan, akan berarti diterimanya pertanggungan jawab dan kewajiban-kewajiban tertentu.
Ini akan berarti usaha yang tegas dan berpadu untuk mengakhiri banyak dari kejahatan-kejahatan sosial, yang menyusahkan dunia kita. Ini akan berarti bahwa bantuan kepada negara-negara yang belum maju dan bangsa-bangsa yang kurang beruntung akan disingkirkan dari suasana Perang Dingin. Ini akan berarti pula pengakuan yang praktis bahwa semua orang adalah saudara dan bahwa sernua orang mempunyai tanggung-jawab terhadap saudaranya.
Apakah ini bukan tujuan yang mulia! Apakah ada yang berani menyangkal kemuliaan dan keadilan daripada tujuan ini? Jika ada yang berani menyangkalnya, maka suruhlah ia menghadapi kenyataan! Suruh ia menghadapi si-lapar, suruh ia menghadapi sibuta huruf, suruh ia mengahapi si-sakit dan suruhlah ia kemudian membenarkan sangkalannya!
Perkenankanlan saya sekali lagi mengulangi lima sila itu. Ketuhanan Yang Maha Esa; Nasionalisme; Internasionalisme; Demokrasi; Keadilan Sosial.
Marilah kita selidiki apakah hal-hal itu sebenarnya merupakan suatu sintese yang dapat diterima oleh kita semua. Marilah kita bertanya pada diri sendiri, apakah penerimaan prinsip-prinsip itu akan memberikan suatu pemecahan persoalan-persoalan yang dihadapi oleh organisasi ini.
Benar, Perserikatan Bangsa-Bangsa tidak hanya terdiri dari pada piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa saja. Meskipun demikian, dokumen yang bersejarah itu tetap merupakan bintang pembimbing dan ilham organisasi ini.
Dalam banyak hal piagam mencerrninkan konstelasi politik dan kekuatan dari pada saat dilahirkannya. Dalam banyak hal piagam itu tidak mencerminkan kenyataan?kenyataan masa sekarang.
Oleh karena itu rnarilah kita pertimbangkan apakah lima sila yang telah saya kemukakan, dapat memperkuat dan memperbaiki piagam kita.
Saya yakin, ya, saya yakin seyakin-yakinnya bahwa diterimanya kelima prinsip itu dan dicantumkannya dalam piagam, akan sangat memperkuat Perserikatan Bangsa-Bangsa. Saja yakin, bahwa Panca Sila akan menempatkan Perserikatan Bangsa-Bangsa sejajar dengan perkembangan terakhir dari dunia. Saya yakin bahwa Panca Sila akan memungkinkan Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk menghadapi hari kemudian dengan kesegaran dan kepercayaan. Akhirnya, saya yakin bahwa diterimanya Panca Sila sebagai dasar piagam, akan menyebabkan piagam ini dapat diterima lebih ikhlas oleh semua anggauta, baik yang lama maupun yang baru.
Saya akan ajukan satu soal lagi dalam hubungan ini. Adalah suatu kehormatan besar bagi suatu negara bahwa Perserikatan Bangsa-Bangsa berkedudukan di dalam wilayahnya. Kita semua benar-benar bersyukur bahwa Amerika Serikat telah memberi tempat yang tetap bagi Orgasisasi kita. Tetapi, mungkin dapat dipersoalkan apakah itu memang tepat.
Dengan segala hormat, saya kemukakan bahwa ia mungkin tidak tepat. Bahwasanya kedudukan Perserikatan Bangsa-Bangsa berada dalam wilayah salah satu negara yang terkemuka dalam Perang Dingin, berarti Perang Dingin telah merembes bahkan sampai kepekerjaan dan administrasi serta rumah-tangga Organisasi kita ini. Sedemikian luasnya perembesan itu, sehingga hadirnya pemimpin sesuatu bangsa yang besar dalam sidang Perserikatan Bangsa-
Bangsa ini saja sudah menjadi persoalan Perang Dingin dan senjata Perang Dingin, serta alat untuk mempertajam cara kehidupan yang berbahaya serta yang sia-sia itu.
Marilah kita tinjau apakah tempat kedudukan Organisasi kita tidak perlu dipindahkan dari suasana Perang Dingin. Marilah kita tinjau apakah Asia atau Afrika atau Jenewa akan dapat memberi tempat yang permanen kepada kita, yang jauh dari Perang Dingin, tidak terikat pada salah suatu blok dan dimana para Delegasi dapat bergerak dengan leluasa dan bebas sekehendak mereka.
Dengan demikian, mungkin akan diperoleh pengertian yang lebih luas tentang dunia dan masalah-masalahnya.
Saya yakin, bahwa suatu negara Asia atau Afrika, mengingat akan keyakinan dan kepercayaannya, dengan senang akan mengunjukkan kemurahan hatinya kepada Perserikatan Bangsa-Bangsa, mungkin dengan menyediakan suatu daerah yang cukup luas, dimana Organisasi itu sendiri akan berdaulat dan dimana perundirgan-perundingan yang penting bagi pekerjaan vital itu dapat dilaksanakan secara aman dan dalam suasana persaudaraan.
Perserikatan Bangsa-Bangsa tidak lagi merupakan badan seperti yang menandatangani Piagam lima belas tahun yang lalu. Dunia inipun tidak sama dengan yang dahulu. Mereka yang dengan kebijaksanaan berjerih-payah untuk menghasilkan Piagam Organisasi ini, tidak dapat menyangka akan terjelmanya bentuk yang sekarang ini. Diantara orang-orang yang bijaksana dan jauh pandangannya itu, hanya beberapa yang sadar, bahwa akhir imperialisme sudah tampak dan bahwa bila Organisasi ini harus hidup terus, maka ia mesti memberi kemungkinan kepada bangsa-bangsa yang lahir kembali untuk masuk beramai-ramai, berduyun-duyun dan bersemangat.
Tujuan Perserikatan Bangsa-Bangsa seharusnya ialah memecahkan masalah-masalah. Untuk menggunakannya sebagai forum perdebatan belaka, atau sebagai saluran propaganda, atau sebagai sambungan dari politik dalam negeri, berarti memutar-balikkan cita-cita mulia yang seharusnya meresap di dalam badan ini.
Pergolakan-pergolakan kolonial, perkembangan yang cepat dari daerah-daerah yang belum maju di lapangan teknis, dan masalah perlucutan senjata, semuanya merupakan masalah-masalah yang tepat dan mendesak untuk kita pertimbangkan dan musyawarahkan. Akan tetapi, telah menjadi jelas, bahwa masalah-masalah yang vital ini tidak dapat dibicarakan secara memuaskan oleh Organisasi Perserikatan Bangsa-Bangsa yang sekarang ini. Sejarah badan ini menunjukkan kebenaran yang menyedihkan dan yang jelas daripada apa yang telah saya katakan.
Sungguh tidak mengherankan bahwa demikianlah jadinya. Kenyataannya ialah bahwa Organisasi kita mencerminkan dunia tahun Sembilanbelas Empatpuluh Lima, dan bukan dunia zaman sekarang. Demikianlah halnya dengan semua badan-badannya – kecuali satu-satunya Majelis yang agung ini – dan dengan semua Lembaga-lembaganya.
Organisasi dan keanggautaan Dewan Keamanan – badan yang terpenting itu – mencerminkan peta ekonomi, militer dan kekuatan daripada dunia tahun Sembilanbelas Empatpuluh Lima, ketika Organisasi ini dilahirkan dari inspirasi dan angan-angan yang besar. Demikian pula halnya dengan sebagian besar daripada Lembaga-lembaga lainya. Mereka itu tidak mencerminkan bangkitnya negara-negara Sosialis ataupun berkembangnya dengan cepat kemerdekaan Asia dan Afrika.
Untuk memodernisir dan membuat efisien Organisasi kita, barangkali juga Sekretariat di bawah pimpinan Sekretaris Jenderalnya, mungkin membutuhkan peninjauan kembali. Dengan
mengatakan demikian, saya tidak – sama sekali tidak – mengeritik atau mencela dengan cara apapun Sekretaris Jenderal yang sekarang, yang senantiasa berusaha, dalam keadaan-keadaan yang tak dapat diterima lagi, melakukan tugasnya dengan baik, yang kadang-kadang tampaknya tidak mungkin dilaksanakan.
Jadi, bagaimanakah mereka bisa efisien? Bagaimanakah anggauta-anggauta kedua golongan dalam dunia ini – yakni golongan-golongan yang merupakan suatu kenyataan dan yang harus diterima – bagaimanakah anggauta-anggauta kedua golongan itu bisa merasa tenang di dalam Organisasi ini dan mempunyai kepercayaan penuh yang diperlukan terhadapnya.
Sejak perang kita telah menyaksikan tiga gejala-gejala besar yang permanen.
Pertama ialah bangkitnya negara-negara sosialis. Hal ini tidak disangka dalam tahun Sembilanbelas Empatpuluh Lima. Kedua ialah gelombang besar daripada pembebasan nasional dan emansipasi ekonomi yang melanda Asia dan Afrika serta Saudara-saudara kita di Amerika Latin. Saya kira bahwa hanya kita, yang langsung terlibat di dalamnya, dapat menduganya. Ketiga ialah kemajuan ilmiah besar, yang semua bergerak dilapangan persenjataan dan peperangan, akan tetapi yang dewasa ini berpindah kelapangan rintangan dan perbatasan ruang angkasa. Siapakah yang dapat meramalkannya ketika itu?
Benar, Piagam kita dapat dirubah. Saya menyadari, bahwa ada prosedure untuk melakukan hal ini dan akan tiba waktunya ini dapat dilakukan. Akan tetapi persoalan ini mendesak. Hal ini mungkin merupakan persoalan mati atau hidup bagi Perserikatan Bangsa-Bangsa. Janganlah sampai pandangan legalistik yang picik dapat menghalangi dikerjakannya usaha itu dengan segera.
Adalah sama pentingnya bahwa pembagian kursi dalam Dewan Keamanan dan badan-badan serta lembaga-lembaga lainnya harus dirobah. Dalam hal ini saya tidak berpikir dalam istilah blok-blokan, tetapi saya memikirkan betapa sangat perlunya Piagam dari Perserikatan Bangsa-Bangsa, dari badan-badan Perserikatan Bangsa-Bangsa dan Sekretariat Perserikauan Bangsa-Bangsa, semuanya itu mencerminkan keadaan yang sebenarnya dari dunia kita sekarang ini.
Kami dan Indonesia memandang organisasi ini dengan harapan yang besar, tetapi juga dengan kekhawatiran yang besar. Kami memandangnya dengan harapan besar, karena pernah berfaedah bagi kami dalam perjuangan untuk kehidupan nasional kami. Kami memandanginya dengan harapan besar, karena kami percaya bahwa hanya organisasi semacam inilah dapat memberikan rangka bagi dunia yang sehat dan aman sebagaimana kami rindukan.
Kami memandanginya dengan kekhawatiran besar, karena kami telah mengajukan suatu masalah nasional yang besar, masalah Irian Barat, kehadapan Majelis ini, dan tiada suatu penyelesaian dapat dicapai. Kami memandanginya dengan kekhawatiran, karena Negara-Negara Besar di dunia telah memasukkan permainan Perang Dingin mereka yang berbahaya itu ke dalam ruangan-ruangannya.
Kami memandanginya, dengan kekhawatiran, kalau-kalau Majelis ini akan menemui kegagalan dan akan mengikuti jejak organisasi yang digantikannya, dan dengan demikian melenyapnya dari pandangan mata ummat manusia suatu gambaran daripada suatu masa depan yang aman dan bersatu.
Marilah kita hadapi kenyataan bahwa Qrganisasi ini, dengan cara-cara yang dipergunakannya sekarang in dan dalam bentuknya sekarang, adalah suatu hasil sistem Negara Barat. Maafkan saya, tetapi saya tidak dapat menjunjung tinggi sistim itu. Bahkan saya tidak dapat memandanginya dengan rasa kasih, meskipun saya sangat menghargainya.
Imperialisme dan kolonialisme adalah buah dari sistem negara Barat itu, dan seperasaan dengan mayoriteit yang luas dari pada Organisasi ini, saya benci pada imperialisme, saya jijik pada kolonialisme, dan saya khawatir akan akibat-akibat perjuangan hidupnya yang terakhir yang dilakukan dengan sengitnya. Dua kali didalam masa hidup saya sendiri sistim Negara Barat itu telah merobek-robek dirinya sendiri dan pernah hampir saja menghancurkan dunia dalam suatu bentrokan yang sengit.
Herankah Tuan-tuan, bahwa banyak diantara kami memandang Organisasi yang juga merupakan hasil sistim Negara Barat itu dengan penuh pertanyaan? Janganlah Tuan-tuan salah mengerti. Kami menghormati dan mengagumi sistim telah di-ilhami oleh kata-kata Lincoln dan Lenin, oleh perbuatan-perbuatan Washington dan oleh perbuatan-perbuatan Garibaldi. Bahkan, mungkin, kami melihat dengan irihati kepada beberapa diantara hasil-hasil fisik yang dicapai oleh Barat. Tetapi kami bertekad bahwa bangsa-bangsa kami, dan dunia sebagai keseluruhan, tidak akan menjadi permainan dari satu bagian kecil dari dunia.
Kami tidak berusaha mempertahankan dunia yang kami kenal, kami berusaha membangun suatu dunia yang baru, yang lebih baik !
Kami berusaha membangun suatu dunia yang sehat dan aman. Kami berusaha membangun suatu dunia, dimana setiap orang dapat hidup dalam suasana damai. Kami berusaha membangun suatu dunia, dimana terdapat keadilan dan kemakmuran untuk semua orang. Kami berusaha membangun suatu dunia, dimana kemanusiaan dapat mencapai kejayaannya yang penuh.
Telah dikatakan bahwa kita hidup di tengah-tengah suatu Revolusi Harapan Yang Meningkat. Ini tidak benar ! Kita hidup di tengah-tengah Revolusi Tuntutan Yang Meningkat. Mereka yang dahulunya tanpa kemerdekaan, kini menuntut kemerdekaan. Mereka yang dahulunya tanpa suara, kini menuntut, agar suaranya di dengar.
Mereka yang dahulunya kelaparan, kini menuntut beras, banyak-banyak dan setiap hari. Mereka yang dahulunya buta huruf, kini menuntut pendidikan.
Seluruh dunia ini merupakan suatu sumber-sumber tenaga Revolusi yang besar, suatu gudang mesiu revolusioner yang besar.
Tidak kurang dari tiga-perempat ummat manusia terlibat di dalam Revolusi Tuntutan Yang Meningkat, dan inï adalah Revolusi Maha hebat sejak manusia untuk pertama kalinya berjalan dengan tegak disuatu dunia yang murni dan menyenangkan.
Berhasil atau gagalnya Organisasi ini akan dinilai dari hubungannya dengan Revolusi Tuntutan Yang Meningkat itu. Generasi-generasi yang akan datang akan memuji atau mengutuk kita atas jawaban kita terhadap tantangan ini.
Kita tidak berani gagal. Kita tidak berani membelakangi sejarah. Jika kita berani, kita sungguh tidak akan tertolong lagi. Bangsa saya bertekad tidak akan gagal. Saya tidak berbicara kepada Tuan-tuan karena lemah, saya berbicara karena kuat. Saya sampaikan kepada Tuan-tuan dalam dari sembilan puluhdua juta rakyat dan saya sampaikan kepada Tuan-tuan tuntutan bangsa itu. Kita mempunyai kesempatan untuk bersama-sama membangun suatu dunia yang lebih baik, suatu dunia yang lebih aman. Kesempatan ini mungkin tidak akan ada lagi. Maka peganglah, genggamlah kuat-kuat, dan pergunakanlah kesempatan itu.
Tidak seorangpun yang mempunyai kemauan baik dan kepribadian, akan menolak harapan-harapan dan keyakinan-keyakinan yang telah saya kemukakan atas nama bangsa saya, dan
sesungguhnya atas nama seluruh ummat manusia. Maka marilah kita berusaha, sekarang juga dengan tidak menunda lagi, mewujudkan harapan-harapan itu menjadi kenyataan.
Sebagai suatu langkah yang praktis kearah ini, maka merupakan kehormatan dan tugas bagi saya untuk menyampaikan suatu Rancangan Resolusi kepada Majelis Umum ini.
Atas nama Delegasi-Delegasi Ghana, India, Republik Persatuan Arab, Yugoslavia dan Indonesia, saya sampaikan dengan ini resolusi sebagai berikut :
“MAJELIS UMUM,
“MERASA SANGAT CEMAS berkenaan dengan memburuknya hubungan-hubungan internasional akhir-akhir ini, yang mengancam dunia dengan konsekwensi-konsekwensi berat;
“MENYADARI harapan besar dari dunia ini bahwa Majelis ini akan membantu dalam menolong mempersiapkan jalan kearah keredaan ketegangan dunia;
“MENYADARI tanggung jawab yang berat dan mendesak yang terletak di atas bahu Perserikatan Bangsa-Bangsa, untuk mengambil inisiatif dalam usaha-usaha yang dapat membantu;
“Minta sebagai langkah pertama yang mendesak, agar Presiden Amerika Seríkat dan Ketua Dewan Menteri Republik-Republik Sovyet Sosialis memulai kembali kontak-kontak mereka yang telah terputus baru-baru ini, sehingga kesediaan yang telah mereka nyatakan untuk mencari dengan perundingan-perundingan pemecahan masalah-masalah yang terkatung-katung dapat dilaksanakan secara progresif”.
Tuan Ketua, perkenankanlah saya memohon, atas nama Delegasi-Delegasi kelima negara tersebut di atas, supaya resolusi ini mendapat pertimbangan Tuan yang segera. Sepucuk surat dengan maksud itu, ditandatangani oleh para Ketua Delegasi-Delegasi dari Ghana, India, Republik Persatuan Arab, Yugoslavia dan Indonesia, telah disampaikan kepada Sekretariat.
Saya sampaikan Rancangan Resolusi ini atas nama kelima Delegasi itu dan atas nama jutaan rakyat yang hidup di negara-negara itu.
Menerima Resolusi ini merupakan suatu langkah yang mungkin dan langsung dapat diselenggarakan. Maka hendaknya Majelis Umum ini menerima Resolusi ini secepat-cepatnya. Marilah kita mengambil langkah praktis itu kearah peredaan ketegangan dunia yang membahayakan. Marilah kita menerima Resolusi ini dengan suara bulat, sehingga segenap tekanan dari kepentingan dunia dapat dirasakan. Marilah kita mengambil langkah pertama ini, dan marilah kita bertekad untuk melanjutkan kegiatan dan desakan kita sampai tercapainya dunia yang lebih baik dan lebih aman seperti yang kita bayangkan.
Ingatlah apa yang telah terjadi sebelumnya. Ingatlah akan perjuangan dan pengorbanan yang dialami oleh kami, anggauta-anggauta baru dari Organisasi ini. Ingatlah bahwa usaha keras kita telah disebabkan dan diperpanjang oleh penolakan dasar-dasar Perserikatan Bangsa-Bangsa. Kami bertekad agar hal ini tidak akan terjadi lagi.
Bangunlah dunia ini kembali! Bangunlah dunia ini kokoh dan kuat dan sehat! Bangunlah suatu dunia dimana semua bangsa hidup dalam dunia damai dan persaudaraan. Bangunlah dunia yang sesuai dengan impian dan cita-cita ummat manusia. Putuskan sekarang hubungan dengan masa lampau, karena fajar sedang menyingsing. Putuskan sekarang hubungan dengan masa-lampau, sehingga kita bisa mempertanggung jawabkan diri terhadap masa depan.
Saya memanjatkan do’a hendaknya Yang Maha Kuasa memberi Rachmat dan Bimbingan kepada permusyawaratan Majelis ini.
Terima kasih!
Sumber: http://www.wirantaprawira.net/bk/bk_5_34.htm
Koleksi: Perpustakaan Nasional RI, 2006

08
Feb
10

Perbankan : Geliat Kasus Century

KPK Petakan Pelaku Kasus Century

JAKARTA (bisnis.com): Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) akan memetakan keterlibatan sejumlah pihak dalam skandal dugaan korupsi kebijakan bailout PT Bank Century Tbk dengan melakukan sinkronisasi terhadap pemeriksaan Panitia Khusus hak angket.

Wakil Ketua bidang Penindakan KPK Chandra M. Hamzah mengatakan pihaknya akan memetakan siapa saja pihak yang diduga terlibat dalam skandal Bank Century. Oleh karena itu, sambungnya, KPK memerlukan rekaman utuh pemeriksaan saksi oleh Pansus hak angket.

“Kami ingin memetakan pihak-pihak yang terlibat. Ini karena KPK ingin melihat pihak A berbicara begini berarti posisinya begini,” ujar Hamzah kepada pers di Jakarta hari ini.

Walaupun demikian, KPK juga mengakui pihaknya melakukan rekaman tayangan media yang menyiarkan secara langsung pemeriksaan Pansus terhadap pihak tertentu. Rekaman itu, kata dia, juga berguna untuk pemanggilan guna penyelidikan.

Chandra mengaku tidak tahu kapan Pansus akan menyerahkan rekaman hasil pemeriksaan terhadap saksi Bank Century sesuai permintaan KPK. Menurut dia, rekaman itu akan membantu KPK untuk mendapatkan gambaran tentang skandal Bank Century.

“Kami tengah mendalami indikasi keuangan negara setelah Fasilitas Pendanaan Jangka Pendek diberikan. Sebelum fasilitas itu diberikan, seperti merger, tidak ada kaitannya dengan keuangan negara,” ujar dia lagi.

Sebelumnya KPK mengaku mengalami kesulitan memperoleh bukti aliran dana Bank Century. Komisi antikorupsi itu terus berkoordinasi dengan Badan Pemeriksa Keuangan, Bank Indonesia dan Pusat Pelaporan dan Analisis  Transaksi Keuangan terkait bukti tersebut.

Terkait hal itu, KPK telah menelusuri dana pihak terafiliasi (DPT) setelah FPJP maupun PMS (Penyertaan Modal Sementara) mili Lembaga Penjamin Simpanan dikucurkan ke Bank Century.

Hal itu diakui oleh Direktur Direktorat Pengawasan Bank I Bank Indonesia Boedi Armanto setelah diperiksa KPK soal DPT. “Ini masalah DPT itu saja. Tapi saya tidak tahu rinciannya karena itu masalah Badan Pemeriksa Keuangan ke bank [Century],” ujar Boedi.

KPK tidak hanya memeriksa Boedi, tapi juga Pahla Santoso sebagai Ketua Tim 1.7 Pengawas Bank I BI. Sebelumnya pejabat BI lainnya juga diperiksa, yakni Zainal Abidin dan Hisbullah dari Direktorat Pengawasan Bank.

Badan Pemeriksa Keuang (BPK) berpendapat penarikan DPT sebesar Rp939,67 miliar dalam periode Bank Century ditempatkan dalam pengawasan khusus tanggal 6 November 2008-11 Agustus 2009 melanggar ketentuan BI.

Ketentuan yang dimaksud adalah PBI NO.6/9/PBI/2004 tentang Tindak Lanjut pengawasan dan Penetapan Status Bank sebagaimana diubah dengan PBI No.7/38/PBI/2005 yaitu bank dilarang melakukan transaksi dengan pihak terkait dan atau pihak-pihak lain yang ditetapkan Bank Indonesia, kecuali telah memperoleh persetujuan Bank Indonesia.

Ketika dikonfirmasi  mengapa penggunaan FPJP tidak diawasi, Boedi menuturkan bahwa hal itu menjadi tanggung jawab internal manajemen Bank Century. Dia memaparkan pemeriksaan itu juga terkait dengan Mandatory Supervisory Actions atau tindakan perbaikan dari bank yang bersangkutan setelah rasio kecukupan modal tak sesuai ketentuan BI.

Anggota Badan Perkumpulan Indonesia Corruption Watch (ICW) Yanuar Rizky menuturkan pemeriksaan DPTberguna untuk mengetahui penggunaan uang negara yang berasal dari FPJP dan PMS. Menurut dia, unsur itulah indikasi tindak pidana bisa diberlakukan.

“KPK sudah tepat melakukan hal itu. Ada indikasi korupsi, karena penggunaan FPJP dan PMS tidak digunakan  dengan tepat sasaran. Tentu harus ada  yang bertanggung jawab atas kebijakan itu,” kata Yanuar.

Yanuar juga mempertanyakan mengapa pengawasan BI terhadap penggunaan FPJP tidak dilakukan sehingga uang itu akhirnya diambil oleh DPT, salah satunya adalah Dewi Tantular. Menurut dia, FPJP dan PMS merupakan keuangan negara yang harus diawasi penggunaannya. (ln)

Century, Teka Teki atau Misteri ?

Bisnis Indonesia

Teka-teki ternyata tidak sama dengan misteri. Teka-teki semakin mudah dipecahkan bila makin banyak informasi, sedangkan misteri justru semakin kusut jika terlalu banyak informasi yang membanjir.

Setidaknya, demikianlah cara membedakan teka-teki (puzzle) dengan misteri menurut ahli keamanan AS Gregory Treverton. Menurut kategori Treverton, keberadaan Osama bin Laden adalah teka-teki. Hal itu akan bisa dipecahkan apabila ada informasi yang lengkap, terutama dari orang dekat Osama, tentang posisi musuh besar AS itu.

Adapun hasil dari serbuan AS terhadap Irak dan Afghanistan, masih menurut kategori di atas, adalah misteri. Semua orang bisa saja mengajukan pandangan dan informasi tentang hal ini, tapi itu semua tidak membuat misteri itu semakin jelas.

Mengacu pada kategori di atas, Malcolm Gladwell dalam What The Dog Saw bagian Rahasia Terbuka, berpendapat bahwa kasus Watergate adalah teka-teki, sedangkan skandal Enron adalah misteri.

Teka-teki dipecahkan dengan mengumpulkan sebanyak mungkin informasi kunci dari pihak yang terlibat, sedangkan misteri diungkapkan terutama dengan mengubah pola pikir penyelidik. Yang satu berorientasi pada sumber informasi, satunya lagi berorientasi pada penerima atau penafsir informasi.

Skandal Watergate yang meruntuhkan Presiden AS Richard Nixon dan melibatkan pengungkapan rekaman dan sadap-menyadap terbongkar melalui kegigihan dan keberanian Woodward dan Bernstein. Di sana ada narasumber kunci informasi yang disamarkan dengan nama Deep Throat. Begitu ada konfirmasi dari Deep Throat, semua menjadi terang.

Adapun dalam kasus Enron, menurut Gladwell, manajemen perusahaan itu tidak benar-benar menyembunyikan informasi. Enron Corporation adalah perusahaan energi yang berbasis di Houston, Texas, AS, dan bangkrut pada 2001. Ini merupakan skandal kebangkrutan terbesar di AS. Semua langkah manajemen Enron dapat ditelusuri dalam apa yang disebut sebagai special-purpose entities (SPE).

Gladwell menggarisbawahi pengungkapan teka-teki seperti Watergate memerlukan kegigihan untuk menemukan narasumber kunci. Maka wajar jika tokoh utamanya adalah Woodward dan Bernstein yang ketika itu berusia muda, cocok dengan tugas mengurai penyembunyian, pembocoran, perekaman, dan pengungkapan yang menjadi unsur utama teka-teki.

Adapun pengungkapan misteri seperti Enron, kata Gladwell, membutuhkan wawasan dan pengalaman. Enron punya sekitar 3.000 SPE dan masing-masing berisi ribuan halaman. Sebenarnya ada semacam pernyataan dalam SPE agar menggali lebih jauh ke manajemen sekiranya ada yang perlu ditanyakan. Masalahnya, tidak ada yang bertanya. Ratusan ribu lembar SPE dari pihak Enron tidak mampu mengungkapkan skandal itu dengan tepat.

Duduk perkaranya lebih mudah dimengerti ketika para penyelidik harus mengubah cara berpikir untuk memahami masalah Enron dengan mempelajari catatan perpajakan.

Banjir informasi

Beberapa bulan belakangan ini publik Indonesia disibukkan dengan kasus pengucuran dana talangan Bank Century. Dewan Perwakilan Rakyat pun membentuk Panitia Khusus Angket Bank Century dengan anggota 30 orang.

Dalam beberapa pekan sidang, ada belasan saksi yang dipanggil ditambah dengan sembilan ahli. Ada ratusan (atau mungkin ribuan) pertanyaan yang diajukan oleh para wakil rakyat anggota Pansus Century serta ratusan atau ribuan jawaban yang disampaikan saksi dan ahli.

Ada ribuan lembar dokumen yang telah diungkapkan. Ada ratusan halaman koran dan majalah yang menulis skandal Bank Century, serta ratusan laman web yang mengulasnya. Di luar itu masih ada testimoni yang terungkap dan bahkan ada rencana untuk menyita dokumen tertentu.

Ada perdebatan, ketegangan, bahkan ‘caci-maki’ selama sidang Pansus itu. Ada ribuan jam kerja yang tersedot, ada jutaan pasang mata yang ikut menonton perdebatan melalui televisi.

Mengacu pada pernyataan Presiden SBY yang ingin agar kasus Bank Century menjadi terang-benderang, maka kesibukan yang terjadi belakangan ini barangkali adalah upaya untuk memecahkan sebuah teka-teki. Artinya, makin banyak informasi yang bisa digali dari pihak-pihak yang terlibat maka diharapkan semuanya akan menjadi semakin jelas dan mudah dimengerti.

Apakah setelah keriuhan selama beberapa bulan ini duduk perkara Century menjadi semakin jelas atau semakin kusut? Publik yang akan menilai. Yang pasti, berbeda dengan kasus ‘cicak-buaya’ yang langsung menjadi terang benderang begitu rekaman hasil penyadapan dipublikasikan, soal Century tidak sejelas itu.

Secara teoritis, mungkin tepat untuk mengatakan bahwa kasus bailout Bank Century adalah teka-teki, sedangkan dampak pengungkapan itu terhadap kondisi politik dan perekonomian adalah misteri.

Akan tetapi, pada kenyataannya, bukan tidak mungkin keduanya sama-sama misteri bagi publik, tidak semakin jelas dengan banjirnya informasi. Wallahu alam. (widodo@bisnis.co.id)

08
Feb
10

PEPORA : Melacak Jejak Politik Kerbau

Melacak jejak politik kerbau

Bisnis Indonesia, Jumat, 05/02/2010 11:08:58 WIB

Oleh: Setyardi Widodo

Karier politik Karebet dari anak desa hingga menjadi Sultan Pajang tidak bisa dilepaskan dari cerita tentang kerbau. Beberapa kerabat dekat­­­nya juga menggunakan nama kebo yang artinya adalah kerbau.Karebet adalah anak dari Kebo Kenanga dan keponakan dari Kebo Kanigara. Kebo Kenanga yang dikenal pula dengan sebutan Handa­yaningrat terbunuh dalam konflik melawan kelompok Sunan Kudus di Demak. Adapun Kebo Kanigara te­tap mempertahankan agama le­lu­hur­nya dan menyepi di pegunungan.

Sepeninggal ayahnya, Karebet di­asuh oleh kerabatnya, seorang wanita kaya dari Desa Tingkir, se­hingga anak Kebo Kenanga itu ke­tika remaja dikenal pula dengan sebutan Jaka Tingkir.

Jaka Tingkir mulai masuk ling­kar­an istana setelah Sultan Treng­gana dari Demak terkesan oleh kehebatan anak muda itu.

Namun, karier Karebet yang hebat itu tidak berjalan mulus. Babad Tanah Jawi menyebutkan bahwa Karebet dipersalahkan karena membunuh Dadung­awuk ketika pria itu men­jalani tes sebagai calon prajurit.

Dadungawuk di­bunuh dengan tusuk kondhe, sebuah peralatan rias yang secara nalar tidak mungkin digunakan untuk membunuh. Para ahli sejarah menafsirkan tusuk kondhe sebagai kiasan bahwa Kare­bet diusir dari istana Demak karena bermain api dengan putri Sultan. Nah, setelah diusir dari istana itulah muncul cerita tentang kerbau.

H. J. De Graaf dalam bukunya Awal Kebangkitan Mataram menyebutkan Karebet pergi menemui Ki Buyut Banyubiru. Di sana dia mendapat siasat agar diterima kembali ke dalam lingkungan istana Demak.

Cerita bertutur menyatakan Karebet membawa segumpal tanah yang telah diberi mantera dari Banyu­­biru. Sampai di Demak, dia memasukkan tanah itu ke mulut seekor kerbau yang segera mengamuk di sekitar istana.

Para prajurit kewalahan mena­nga­ni kerbau perkasa yang terus mengamuk hingga 3 hari itu. Lalu muncullah Karebet mendekati si kerbau yang disebut sebagai kebo danu. Dia menjinakkannya kemudian memukul kepala kerbau itu hingga hancur.

Karebet berhasil menarik simpati Sultan Trenggana sehingga diterima kembali ke istana, bahkan kemudian diangkat menjadi menantu Sul­tan. Di kemudian hari, Karebet men­jadi pewaris kekuasaan Demak namun memimpin dari Pajang dengan gelar Sultan Hadiwijaya.

Sebagaimana cerita tentang membunuh calon prajurit dengan tusuk kondhe, cerita tentang membunuh kerbau yang mengamuk ini pun kadang dianggap sebagai kiasan belaka.

Cerita silat yang sangat terkenal di Jawa, Nagasasra & Sabukinten, dalam hemat saya adalah upaya pengarangnya, Singgih Hadi Min­tar­dja, untuk menafsirkan cerita tentang kerbau itu.

Dalam versi Nagasasra & Sabuk­inten, kerbau yang mengamuk di­maknai sebagai upaya Banyubiru memberontak terhadap Demak. Makanya dalam salah satu adegan cerita itu, pemimpin Banyubiru berteriak, “Akulah kebo danu dari Banyubiru!”

Jadi, Karebet sengaja meman­cing kesalahpahaman antara Demak dan Banyubiru sehingga pemimpin Banyu­biru menyerang Sultan Treng­gana. Lalu datanglah Karebet yang memberi jalan tengah sehingga dia diterima kembali masuk istana.

Cerita bertutur dan cerita rakyat Jawa umumnya percaya bahwa kerbau Banyubiru yang disebut dalam Babad Tanah Jawi adalah kerbau betulan, bukan kerbau kiasan.

Kambing hitam

Cerita lain tentang raja Jawa yang juga memanfaatkan ‘kebo’ untuk men­daki puncak kekuasaan bisa kita simak dari Ken Arok. Ken Arok adalah pendiri dinasti Singasari, kerajaan terbesar di Jawa pada abad XIII.

Ken Arok awalnya adalah seorang penjahat yang diterima masuk sebagai pengawal Raja Tumapel, Tung­gul Ametung. Di dalam istana ada orang sombong dan suka pamer yang bernama Kebo Ijo.

Ken Arok meminjamkan sebuah keris sakti bernama Kiai Gandring kepada Kebo Ijo. Dasar tukang pamer, keris hebat itu dibawa-bawa dan ditunjukkan oleh Kebo Ijo kepada teman-temannya.

Tak lama kemudian Ken Arok membunuh Tunggul Ametung dan meninggalkan keris sakti itu di tempat kejadian. Karena semua orang tahu keris itu milik Kebo Ijo maka dialah yang menjadi kambing hitam, dituduh dan dihukum atas pembunuhan itu.

Adapun Ken Arok justru naik tah­ta menggantikan Tunggul Ame­tung, lalu mendirikan kerajaan Singasari pada tahun 1222. Maka, barangkali, terjemahan tepat untuk ‘kambing hitam’ dalam Bahasa Jawa adalah kebo ijo yang arti harfiahnya adalah kerbau berwarna hijau.

Cerita ekspan­si Majapahit di bawah kepemimpinan Gajah Mada juga diwarnai cerita tentang kerbau. Pa­sukan Majapahit yang ingin me­wujudkan Sumpah Palapa me­nya­tu­kan Nusantara ternyata gagal dalam adu kerbau di Sumatra. Lagi-lagi, kerbau menjadi alat politik.

Nah, sepekan belakangan ini soal kerbau hangat dibicarakan dalam konteks politik. Pemicunya adalah demonstran yang membawa-bawa hewan ternak itu dalam demons­trasi. Ada bermacam penafsiran baik terhadap makna kerbau itu sendiri maupun terhadap tata tertib demonstrasi sebagai elemen demo­krasi.

Cerita berlatar belakang abad XIII, XIV dan XVI, baik melalui Kebo Ijo, adu kerbau, maupun kerbau Banyubiru menunjukkan bah­wa kebo memang bisa menjadi ken­daraan politik di Jawa. Tinggal pilih mana, meraih simpati seperti Kare­bet atau gagal total seperti pa­sukan Majapahit. (widodo@bisnis.co.id)

06
Feb
10

PEPORA : Kenangan Kepemimpinan Gus Dur

Sabtu, 06/02/2010 17:52 WIB
Diskusi 40 Hari Wafatnya Gus Dur Didemo
Tamam Mubarrok – detikSurabaya


Foto: Tamam Mubarrok

Surabaya – Acara diskusi memperingati 40 hari wafatnya KH Abdurahman Wahid alias Gus Dur diwarnai demo. Demo yang dilakukan belasan orang ini menutup mulut dengan lakban.

Mereka melakukan demo ini dengan alasan diskusi bertema “Membedah Pemikiran Gus Dur” ditunggangi kepentingan politik dan mendompleng kebesaran Gus Dur.

“Seminar ini digunakan kelompok Muhaimin untuk mendongkrak kepentingannya. Padahal selama ini, Muhaimin Iskandar telah mengkhianati Gus Dur dan menyakiti warga NU,” kata salah satu pengunjuk rasa, Maskuri di sela-sela aksinya di depan Masjid Ulil Albab Kompleks Ponpes Tebuireng, Sabtu (6/2/2010).

Rencananya, diskusi itu dihadiri dua menter yakni Menteri Negara Pembangunan Daerah Tertinggal yakni Helmy Faisal Zaini dan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Muhaimin Iskandar .

Meski didemo, namun diskusi yang mendatangkan pengamat politik, Kacung Marijan, Sastro Al Ngatawi dan Jhonson Panjaitan tidak terpengaruh dan berjalan lancar.
(fat/fat)

Baca juga :


06
Feb
10

Historia : Kunjungan Wisata Kota Tua

Tahun Kunjung Museum, Keliling Museum, dan Perlindungan Bangunan Bersejarah  Artikel Terkait:

Pradaningrum Mijarto Contoh bangunan bersejarah di Kalibesar Timur, kawasan Kota Tua Jakarta, yang bisa dihidupkan menjadi atraksi wisata Rabu, 3 Februari 2010 | 15:03 WIB

Akhir pekan ini, selain ajakan Komunitas Historia Indonesia menjelajah Cirebon dan Komunitas Sahabat Museum membatik di Museum Tekstil sambil mengenal Tanahabang, ada banyak alternatif lain bisa dikemas sendiri. Misalnya, keliling ke beberapa museum di Jakarta. Sekadar mengingatkan, tahun ini Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata menetapkan sebagai tahun dimulainya Gerakan Nasional Cinta Museum melalui Tahun Kunjung Museum (TKM) 2010. Program itu akan terus berlangsung hingga 2014 dengan berbagai agenda penting seperti pembenahan museum.

Memang, TKM 2010 dilempar ke masyarakat pada akhir tahun lalu sehingga gaungnya bisa dibilang tak ada. Masih banyak pertanyaan tentang apa itu TKM 2010, museum mana yang diunggulkan, apa yang bisa dilihat. Atau malah pernyataan kaget, “Oh, tahun kunjung museum?  Apa itu?” Begitulah, selalu saja terkesan terburu-buru dan tanpa sosialisasi, publikasi yang menyeluruh sehingga bukan hanya masyarakat yang bertanya-tanya, bahkan pihak museum sendiri terkesan belum atau tidak siap.

Di Jakarta, ada lebih dari 60 museum yang bisa disambangi. Jika ingin jalan-jalan di Kota Tua, di sana ada enam museum, Museum Bank Mandiri, Museum Bank Indonesia, Museum Sejarah Jakarta, Museum Bahari, Museum Wayang, Museum Seni Rupa dan Keramik. Di satu kawasan ini saja, ada banyak yang bisa ditelusuri, misalnya Kalibesar, Pelabuhan Sunda Kelapa, Stasiun Beos, tak ketinggalan, gedung-gedung bersejarah di sana. Kini, pengunjung Kota Tua juga sudah bisa punya pilihan beristirahat, selain di Kafe Batavia, bisa juga di Kafe Gazebo dengan beberapa warung makan tempo dulu, termasuk Es Krim Ragusa.

Bicara soal museum dan bangunan bersejarah, memasuki TKM 2010 ada dua peristiwa penghancuran gedung bersejarah di Pangkalpinang dan Salatiga. Bioskop Hebe/Banteng dari tahun 1917 di Pangkalpinang – serta dua bioskop tua lainnya dan pabrik es – sedangkan di Salatiga mutilasi bangunan eks kodim yang sudah berusia 100 tahun. Semua dihancurkan demi pusat perbelanjaan. Untungnya, bangunan eks kodim di Salatiga bisa dihentikan dan upaya hukum terus berlanjut sementara di Pangkalpinang, Hebe sudah tak ada lagi.

Bangunan bersejarah, jika direvitalisasi dan difungsikan kembali dapat juga menjadi museum kecil terkait sejarah gedung. Gedung Hebe, bisa menjadi museum kecil tentang perkembangan perfileman di Pangkalpinang, atau Bangka Belitung secara luas. Di Salatiga, gedung eks kodim bisa jadi apapun, misalnya, restoran atau gedung kesenian. Bangunan itu sendiri sudah merupakan kumpulan kisah yang jika dilengkapi dengan koleksi sejarah yang pernah dilewati bangunan ini, tentu menjadi layaknya museum kecil-kecilan yang menjadikan restoran, gedung kesenian – apapun – itu punya nilai tambah.

Pada akhirnya, jika bangunan bersejarah bisa dihidupkan lagi, bukannya malah diratakan dengan tanah, bisa menjadi atraksi tersendiri di luar museum. Karena pada dasarnya baik museum maupun bangunan bersejarah adalah pusaka budaya yang menurut Peter Howard dalam buku Heritage: Management, Interpretation, Identity adalah segala sesuatu yang ingin diselamatkan orang, termasuk budaya material maupun alam. Manajemen warisan/pusaka budaya tak hanya museum,karena menurut Howard, tiap orang juga punya latar belakang kehidupan yang bisa jadi warisan tersendiri.

Peninggalan orang per orang pun masuk dalam katagori heritage. Terserah pada keluarga mereka apakah akan menyimpan dan memelihara kenangan atas, katakan, kakek atau nenek mereka. Baik itu dalam bentuk petuah, buku harian, koleksi buku, etos kerja, mobil tua, bangunan. Intinya, tegas Howard, pusaka budaya (heritage) adalah untuk semua manusia.

Ini ada sekadar contoh, khususnya bagi para pemegang kuasa dari lingkup yang paling kecil sampai yang tertinggi, khususnya mereka yang baru saja menghancurkan bangunan bsersejarah, dan barangkali mereka yang berencana membantai identitas kota. Di Inggris, ada satu area di wilayah West Midlands, Worcestershire, memiliki museum yang cukup unik. Namanya Museum Avoncroft, Museum Bangunan Bersejarah. Di lahan terbuka seluas 15 hektar itu, mereka membangun kembali bangunan bersejarah yang dihancurkan.

Pengunjung bisa masuk ke gedung dari berbagai periode, misalnya ke gedung Tudor dari abad 16 termasuk Rumah Saudagar dari Bromsgrove (Merchant’s House from Bromsgrove), bangunan abad 19 termasuk Toll Keeper’s House, termasuk windmill kincir angin yang digunakan dalam pertanian tradisional. Dari abad 20 ada gerobak mewah milik Edward VIII.

Museum ini berdiri 1964 tapi baru dibuka pada 1967. Keberadaan museum ini dipicu oleh kegagalan upaya mencegah penghancuran bangunan yang masuk dalam daftar  bangunan bersejarah di Bromsgrove. Yang masih tersisa dari puing bangunan Tudor, dipulihkan dan direkonstruksi kembali. Luar biasa, bukan?

Akhir pekan ini, selain ajakan Komunitas Historia Indonesia menjelajah Cirebon dan Komunitas Sahabat Museum membatik di Museum Tekstil sambil mengenal Tanahabang, ada banyak alternatif lain bisa dikemas sendiri. Misalnya, keliling ke beberapa museum di Jakarta. Sekadar mengingatkan, tahun ini Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata menetapkan sebagai tahun dimulainya Gerakan Nasional Cinta Museum melalui Tahun Kunjung Museum (TKM) 2010. Program itu akan terus berlangsung hingga 2014 dengan berbagai agenda penting seperti pembenahan museum.

Memang, TKM 2010 dilempar ke masyarakat pada akhir tahun lalu sehingga gaungnya bisa dibilang tak ada. Masih banyak pertanyaan tentang apa itu TKM 2010, museum mana yang diunggulkan, apa yang bisa dilihat. Atau malah pernyataan kaget, “Oh, tahun kunjung museum?  Apa itu?” Begitulah, selalu saja terkesan terburu-buru dan tanpa sosialisasi, publikasi yang menyeluruh sehingga bukan hanya masyarakat yang bertanya-tanya, bahkan pihak museum sendiri terkesan belum atau tidak siap.

Di Jakarta, ada lebih dari 60 museum yang bisa disambangi. Jika ingin jalan-jalan di Kota Tua, di sana ada enam museum, Museum Bank Mandiri, Museum Bank Indonesia, Museum Sejarah Jakarta, Museum Bahari, Museum Wayang, Museum Seni Rupa dan Keramik. Di satu kawasan ini saja, ada banyak yang bisa ditelusuri, misalnya Kalibesar, Pelabuhan Sunda Kelapa, Stasiun Beos, tak ketinggalan, gedung-gedung bersejarah di sana. Kini, pengunjung Kota Tua juga sudah bisa punya pilihan beristirahat, selain di Kafe Batavia, bisa juga di Kafe Gazebo dengan beberapa warung makan tempo dulu, termasuk Es Krim Ragusa.

Bicara soal museum dan bangunan bersejarah, memasuki TKM 2010 ada dua peristiwa penghancuran gedung bersejarah di Pangkalpinang dan Salatiga. Bioskop Hebe/Banteng dari tahun 1917 di Pangkalpinang – serta dua bioskop tua lainnya dan pabrik es – sedangkan di Salatiga mutilasi bangunan eks kodim yang sudah berusia 100 tahun. Semua dihancurkan demi pusat perbelanjaan. Untungnya, bangunan eks kodim di Salatiga bisa dihentikan dan upaya hukum terus berlanjut sementara di Pangkalpinang, Hebe sudah tak ada lagi.

Bangunan bersejarah, jika direvitalisasi dan difungsikan kembali dapat juga menjadi museum kecil terkait sejarah gedung. Gedung Hebe, bisa menjadi museum kecil tentang perkembangan perfileman di Pangkalpinang, atau Bangka Belitung secara luas. Di Salatiga, gedung eks kodim bisa jadi apapun, misalnya, restoran atau gedung kesenian. Bangunan itu sendiri sudah merupakan kumpulan kisah yang jika dilengkapi dengan koleksi sejarah yang pernah dilewati bangunan ini, tentu menjadi layaknya museum kecil-kecilan yang menjadikan restoran, gedung kesenian – apapun – itu punya nilai tambah.

Pada akhirnya, jika bangunan bersejarah bisa dihidupkan lagi, bukannya malah diratakan dengan tanah, bisa menjadi atraksi tersendiri di luar museum. Karena pada dasarnya baik museum maupun bangunan bersejarah adalah pusaka budaya yang menurut Peter Howard dalam buku Heritage: Management, Interpretation, Identity adalah segala sesuatu yang ingin diselamatkan orang, termasuk budaya material maupun alam. Manajemen warisan/pusaka budaya tak hanya museum, karena menurut Howard, tiap orang juga punya latar belakang kehidupan yang bisa jadi warisan tersendiri.

Peninggalan orang per orang pun masuk dalam katagori heritage. Terserah pada keluarga mereka apakah akan menyimpan dan memelihara kenangan atas, katakan, kakek atau nenek mereka. Baik itu dalam bentuk petuah, buku harian, koleksi buku, etos kerja, mobil tua, bangunan. Intinya, tegas Howard, pusaka budaya (heritage) adalah untuk semua manusia.

Ini ada sekadar contoh, khususnya bagi para pemegang kuasa dari lingkup yang paling kecil sampai yang tertinggi, khususnya mereka yang baru saja menghancurkan bangunan bsersejarah, dan barangkali mereka yang berencana membantai identitas kota. Di Inggris, ada satu area di wilayah West Midlands, Worcestershire, memiliki museum yang cukup unik. Namanya Museum Avoncroft, Museum Bangunan Bersejarah. Di lahan terbuka seluas 15 hektar itu, mereka membangun kembali bangunan bersejarah yang dihancurkan.

Pengunjung bisa masuk ke gedung dari berbagai periode, misalnya ke gedung Tudor dari abad 16 termasuk Rumah Saudagar dari Bromsgrove (Merchant’s House from Bromsgrove), bangunan abad 19 termasuk Toll Keeper’s House, termasuk windmill kincir angin yang digunakan dalam pertanian tradisional. Dari abad 20 ada gerobak mewah milik Edward VIII.

Museum ini berdiri 1964 tapi baru dibuka pada 1967. Keberadaan museum ini dipicu oleh kegagalan upaya mencegah penghancuran bangunan yang masuk dalam daftar  bangunan bersejarah di Bromsgrove. Yang masih tersisa dari puing bangunan Tudor, dipulihkan dan direkonstruksi kembali. Luar biasa, bukan?
PRA

Salah satu contoh anak wayang dari Kampung Tangki yang melegenda, Tan Tjeng Bok

Anak Wayang di Kampung Tangki

Masih ingat August Mahieu dengan Komedie Stamboel? Mahieu bagai trend setter di Jawa. Ia membuat orang lain meniru tontonan panggung ala Komedie Stamboel atau dkenal sebagai Komedie Bangsawan. Padahal, Mahieu meniru pula dari pertunjukan Abdul Muluk. Banyak orang bilang, Abdul Muluk pun meniru pertunjukan serupa asal Iran. Sepanjang sejarah pergerakan manusia, tentu saja perihal tiru meniru, adaptasi, kolaborasi, percampuran, penggabungan, atau pengaruh  unsur seni dan budaya tak terelakkan.

Mahieu membius masyarakat di Hindia Belanda dan merangsang seniman lain mendirikan komedi alias pertunjukan. Sebut saja Komedie Opera Samboel, Opera Sri Permata, Opera Bangsawan, dan Indra Bangsawan. Tak seperti rombongan Mahieu yang berisi pemain Indo Jawa, rombongan baru tersebut menggunakan pemain yang seluruhnya pribumi. Meski demikian, cita rasa Mahieu tak ditinggalkan, yaitu penampilan dansa tango, kabaret, tablo, waltz, polka, dengan kostum ala bangsawan, pangeran, ratu, putri, pokoknya yang berbau barat. Itu sebabnya Komedie Stamboel dan ikutannya disebut Komedie Bangsawan.

Demikianlah tontonan tersebut menghibur banyak hati wong cilik di masa itu, abad 19. Alun-alun kota seringkali jadi panggung besar bagi rombongan komedi tersebut. Penontonnya? Beragam. Tapi kebanyakan ya wong cilik tadi. Bahkan kuli perkebunan ingin dihibur rombongan tersebut, demikian Misbach Yusa Biran dalam Sejarah Film 1900-1950:Bikin Film di Jawa.

Repertoar-repertoar campuran dari Baghdad, Eropa, India, mereka mainkan tanpa menggunakan naskah. Hanya garis besarnya saja yang dipahami para pemain. Mereka tak kenal naskah panggung, semua percakapan tak lain hanylah improvisasi. Apa pasal? Para pemain itu umumnya buta huruf.

Itu juga barangkali, kenapa pertunjukan rombongan komedi tersebut tak mengubah repertoar atau membuat sendiri kisah ala mereka. Hingga akhirnya muncullah Tio Tek Djien dengan Miss Riboet Orion dan Piedro dengan Dardanella. Dua rombongan besar ini menelurkan berbagai kisah karangan mereka sendiri dengan kepiawaian Andjar Asmara dan Nyoo Cheong Seng.

Perkembangan rombongan komedi ini menentukan perjalanan kesenian bangsa ini terutama dalam hal perfilman. Dari rombongan komedi ini kemudian muncul istilah anak wayang mengikuti istilah yang berkembang di tanah Malaka, di mana Mahieu mencontoh penampilan Abdul Muluk. Istilah tersebut biasa digunakan oleh awak rombongan itu. Pertunjukan mereka disebut wayang panggung.

Kehidupan manusia panggung, anak-anak wayang, adalah kehidupan yang terdiri dari pemain dalam satu rombongan. Mereka hidup, makan, minum. tidur, bermain, bercanda, bermain di satu rumah atau kampung untuk kemudian bermain bersama di atas panggung, begitu selalu. Misbach menuliskan, jika sedang ikut pertunjukan keliling, mereka tinggal di satu rumah kongsi – bangunan kosong yang disewa pemilik rombongan. Ini menyebabkan mereka tak bergaul dengan manusia lain selain manusia dalam rombongan itu yang rata-rata buta huruf. Pemain komedi dibayar harian, mereka seringkali harus bekerja tambahan jika pertunjukan di satu kota sepi penonton.

Di Batavia, anak wayang dikumpulkan di kawasan bernama Tangki, di daerah Mangga Dua. Di tahun 1920-an, berdiri Malayan Opera. Anak wayang Malayan Opera inilah yang kebanyakan tinggal di Tangki. Pada 1950, di mana kampung ini kemudian dijejali seniman, muncul sebutan Tangkiwood – seperti Hollywood.
WARTA KOTA Pradaningrum Mijarto

Mengungkap Bunker di Bawah Jalan Kalibesar Timur

Bunker di bawah gedung Rotterdam Llyod ini diperkirakan untuk menyimpan barang berharga

KOMPAS.COM – Sejarah Jakarta tak bisa lepas dari keberadaan bunker (ruang bawah tanah). Bunker-bunker ini tersebar di bawah tanah Jakarta. Tak hanya di kawasan Kota Tua, atau Tanjungpriuk, data yang ada menyebutkan kawasan Kramat, Kebon Sirih, hingga Meester Cornelis pun menyimpan bekas bunker di bawahnya. Ketika saya mendengar kabar ada satu lagi bunker di kawasan Kota Tua, tentu ini menjadi penggenap data tentang keberadaan bunker di bawah tanah Jakarta.

Mencari sejarah bunker di Batavia, tak seperti mencari kisah tentang bagaimana Batavia dibangun. Kisah tentang bunker, seperti keberadaan bunker itu sendiri, berada jauh terselip di dalam terbitan-terbitan, baik majalah ataupun koran yang terbit di Belanda. Tak masalah, yang penting ada sedikit data, kemudian menelusuri fakta di lapangan. Maka sekali lagi, setelah bunker di bawah Stasiun Tanjungpriuk, bunker di depan Museum Sejarah Jakarta (MSJ), kini bunker lain terkuak sedikit.

Bunker yang baru kemarin saya jenguk, berbeda dengan dua bunker lain. Bunker di bawah Jalan Kalibesar Timur (di masa lampau kawasan ini disebut Pasar Pisang) ini dalam kondisi seperti ruang-ruang perkantoran atau ruang penyimpanan barang berharga. Pintu-pintu besi pernah menjadi penjaga ruang bawah tanah ini. Ada beberapa ruangan yang terbilang luas di bunker ini. Namun tentu penelitian lebih lanjut perlu dilakukan untuk mengetahui apakah bunker ini punya koneksi ke bunker lain di kawasan itu, apakah bunker ini hanya sebagai penyimpan barang berharga, atau juga sebagai ruang perlindungan manusia.

Di masa antara 1937-1942, Perang Dunia (PD) II, Pemerintah Belanda mengharuskan seluruh bangunan pemerintah membangun bunker. Selain sebagai penyimpan barang berharga, juga sebagai perlindungan saat PD II itu. Namun demikian, ternyata warga Belanda juga melengkapi rumah mereka dengan bunker. Itu terungkap dalam bukti-bukti berupa foto dan sebuah kisah khusus tentang bunker dalam majalah d’Orient. Maka bentuk dan peruntukan bunker pun jadi beragam. Untuk mengungkap keberadaan bunker, lagi-lagi ini perlu penelitian.

Kepala Unit Pelaksana Teknis (UPT) Kota Tua, Candrian Attahiyyat, menyatakan, tahun ini sudah ada anggaran untuk melakukan penggalian. Boleh jadi, salah satunya adalah mengungkap keberadaan bunker di kawasan Kota Tua. “Kita belum bisa menentukan apakah bunker itu hanya untuk menyimpan barang berharga atau juga untuk perlindungan. Harus diteliti lebih dalam dari sisi arkeologi. Kalau ternyata ada lubang udara, itu berarti bunker itu berfungsi juga untuk bersembunyi,” tandasnya.

Ia menambahkan, ciri-ciri bunker di kawasan tersebut, seperti yang sudah diinventarisir UPT Kota Tua, meskipun belum ada upaya pengecekan, adalah berada di bawah tangga. Demikian pula bunker yang masih menyisakan air setinggi mata kaki di bawah gedung Rotterdam Lloyd ini. Bunker dengan tinggi sekitar empat meter tersebut dalam keadaan gelap gulita, untuk turun ke bunker itu, orang tak akan menyangka sebab pintu masuknya sudah tertutup dengan timbunan kayu, rontokan tembok, dan seng.

Sejarah bangunan milik perusahaan pelayaran Rotterdam Lloyd tak terungkap banyak. Setidaknya ada tahun yang menyatakan pembangunan gedung yaitu 1938.

Semoga keberadaan bunker di bangunan tua tak lantas menjadi kesempatan bagi pengejar untung belaka, dunia hiburan, yang hanya akan mengangkat hal mistis. Tak ada yang mistis di gedung tua, di dalam bunker, atau peninggalan apapun. Yang ada adalah sejarah panjang yang berhimpun, berimpitan dan menantang untuk segera diungkap
WARTA KOTA Pradaningrum Mijarto

Bunker di bawah gedung Rotterdam Lloyd yang akan segera diteliti oleh UPT Kota Tua

Shelter dan Bunker di Batavia Pradaningrum MijartoMajalah dOrient

Artikel Terkait:

Pradaningrum Mijarto

Bunker di bawah gedung Rotterdam Lloyd yang akan segera diteliti oleh UPT Kota Tua

Kamis, 4 Februari 2010 | 21:30 WIB

KOMPAS.COM – Gedung Internationale Credit en Handelsvereeniging Rotterdam, sebuah gedung cantik dengan dua menara. Gedung itu kini milik PT Tjipta Niaga. Memandang gedung bikinan tahun 1913 dari Jalan Kali Besar Barat, bikin penggemar foto tak akan melepas kesempatan mengambil bayang bangunan yang memantul dari kumpulan air di Kali Besar. Menurut sebuah penelitian tentang beberapa gedung di kawasan Kota Tua, gedung  itu adalah gedung keempat di Batavia yang dirancang Biro Arsitek ed Cuypers en Hulswit. Gedung ini memanjang dari barat ke timur, menghadap ke kanal Kali Besar persis di Jalan Kali Besar Timur.

Rotterdam Internatio, begitu nama kecil gedung tersebut adalah perusahaan lima besar yang bergerak di bidang perbankan dan perkebunan. Perusahaan ini antara lain melakukan pembelian sewa-menyewa kapal, juga membuka kredit-kredit dan deposito. Meski tampak depan kelihatan masih kokoh, bagian dalam gedung ini, khususnya bagian atap, sudah hancur.

Bangunan luas ini mempunyai teras pada bagian barat sedangkan pada sisi selatannya tidak berteras. Lantai dasar gedung ini digunakan kantor Rotterdamsche Lloyd (de Lloyd). Di masa lalu, pintu masuk de Lloyd berada di sudut Kali Besar Timur dan Jalan Teh (kini Jalan Kali Besar Timur 4). Sedangkan pintu masuk Rotterdam Internatio  ada di tengah-tengah dinding depan menghadap Jalan Teh. Pintu pada bangunan ini hanya terdapat di lantai bawah. Semua tembok dipancang di atas beton bertulang dibangun dari pasir batu kapur. Kedua lantai gedung tersebut dan semua pilar serta tangga utama dibangun dengan beton bertulang. Pelaksanaan pekerjaan beton bertulang dikerjakan oleh subbiro Weltevreden dari “Hollandsche Maatschappij”.

Tangga dan lobi atas dibuat sedikit lebih mewah. Anak-anak tangga dilapisi dengan batu keras yang diminyaki yang sama seperti marmer hitam yang dipoles dan pemasoknya adalah Firma D Weegewijs di Amsterdam. Lampu-lampu atas di lobi dihiasi dengan kaca pada jendela timah yang di dalamnya terdapat berbagai emblem dan tanda pengenal keturunan, kota, atau negara sebagai dekorasi keseluruhannya dibuat oleh Firma Lindeman & Schooneveld di Amsterdam. Pegangan sepanjang tangga utama dibuat dari kuningan, dipasok oleh NV Fabriek dari Bronswerken v/h Becht & Dyserink di Amsterdam. Sementara pintu brankas dan kunci-kunci pintu dipasok oleh NV Lips, pabrik kunci dan lemari brankas di Dordrecht.

Tentu saja semua itu tak banyak tersisa. Kini yang ada hanya pemandangan gedung yang terbengkalai terlalu lama menanti ambruk, khususnya karena atap dan bagian atas gedung sudah sangat hancur. Dari kisah gedung dan data bahwa gedung ini mempunyai lemari brankas,  bisa diperkirakan, bunker yang ada di bawah gedung tersebut, khususnya di bawah tangga kantor de Lloyd, kemungkinan adalah tempat menyimpan lemari brankas.

Tentu saja, sekali lagi, masih perlu penelitian yang menyeluruh. Menyingkap, mengungkap keberadaan bunker di kawasan Kota Tua sudah merupakan tugas dinas terkait, Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) DKI dalam hal ini melalui tangan mereka di Unit Pelaksana Teknis (UPT) Kota Tua. Hendaknya jangan sampai terjadi anggaran penelitian untuk mengungkap potongan sejarah Jakarta, digunakan secara diam-diam.

Penelitian, penemuan, penggalian, hendaknya dibuka agar khalayak tahu. Katakan, sebuah penggalian di Pulau Onrust yang baru dilakukan akhir tahun lalu dengan biaya tak sedikit, hendaknya diketahui publik. Oleh karenanya, penelitian bunker di Kota Tua hendaknya juga bisa diakses publik.

Belum ada data tentang keberadaan tempat penampungan untuk berlindung dan ruang bawah tanah di Batavia.

Shelter dan bunker

Majalah d’Orient, terbit dalam bahasa Belanda sekitar akhir 1930 dan awal 1940, lebih memilih membahas shelter. Majalah ini membahas tentang pentingnya shelter atau tempat penampungan dan perlindungan, menjelaskan bagaimana bentuk ruang perlindungan tersebut, di mana saja di Batavia ini yang tercatat kala itu sedang membangun shelter yang dibiayai oleh pemerintah. Dari contoh yang diperlihatkan, ruang perlindungan itu dibikin di luar bangunan utama, tak seperti bunker yang biasanya ada di dalam bangunan utama.

Disebutkan pula, ruang perlindungan tersebut juga harus bisa melindungi warga dari bahaya bom. Di perumahan warga Belanda, ruang penampungan untuk perlindungan itu biasanya ada di bawah halaman depan rumah mereka. Bentuk ruang perlindungan ini terkadang tak menarik dan tak sesuai standar keamanan karena dibikin dengan biaya yang murah, dan terkadang malah harus dihancurkan. Pasalnya, saat pembuatan, mereka tak berkonsultasi dengan ahli. Shelter yang aman, hendaknya dibikin dari beton, dengan perhitungan ketebalan antartembok, serta ketingggian yang aman.

Dalam keterangan lain tentang shelter dan bunker disebutkan, sejak sekitar tahun 1920-an, penampungan untuk perlindungan warga sipil terhadap serangan udara yang dibikin di bawah tanah terus bertubrukan dengan kepentingan perlindungan di atas tanah. Yaitu terhadap serangan gas. Desain yang pas belum ditemukan sehingga penampungan untuk berlindung dari serangan bom udara itu hanya berupa semacam parit, di kemudian hari dinding parit pelindung dibkin dari beton namun akhirnya baja dinilai lebih baik.

Warga Eropa khususnya Jerman sudah terbiasa membangun rumah atau apartemen lengkap dengan ruang bawah tanah untuk perlindungan. Semua sudah disiapkan agar manusia aman di sana selama serangan udara, termasuk ada jendela dan perlengkapan hidup lainnya.
WARTA KOTA Pradaningrum Mijarto

06
Feb
10

Hikmah : Larangan Riba dan Iqra’

Mencermati Larangan Riba
Republika, Rabu, 03 February 2010, 12:54 WIB
MILLIGAZETTE

Oleh Hilman Hakiem MEI

Allah SWT mewajibkan atau melarang segala sesuatu kepada umat manusia melalui proses atau tahapan-tahapan. Itu bertujuan agar perintah tersebut dapat dipahami secara baik dan dilaksanakan dengan penuh kesadaran. Pada akhirnya, suatu perintah atau larangan tidak hanya dipandang sebagai kewajiban, tetapi juga kebutuhan.

Contoh larangan agama yang turun secara bertahap adalah praktik memakan riba. Allah tidak melarang praktik riba dalam sekali perintah, melainkan melalui empat tahapan.

Pada tahap pertama, Allah membandingkan riba dengan zakat. Difirmankan oleh Allah dalam Alquran bahwa harta dalam riba, meskipun seolah-olah bertambah di mata manusia, ia tidak bertambah di sisi-Nya. Sedangkan, zakat, meskipun seolah-olah berkurang di hadapan manusia, sesungguhnya ia bertambah di sisi-Nya. (QS Arruum [30]: 39).

Tahap kedua, Allah menggambarkan perilaku orang-orang Yahudi yang suka memakan riba dan mengambil harta orang lain dengan cara-cara yang batil (tidak halal). Sehingga, sebagai balasannya, Allah menimpakan azab dan siksa yang sangat pedih kepada mereka (QS Annisa [4]: 161).

Tahap ketiga, Allah mengharamkan umat Islam untuk memakan harta riba yang jumlahnya berlipat ganda. Dalam perspektif hukum Islam, pengharaman semacam ini disebut haram  al juz’i , yaitu haram untuk sebagian saja, terutama bagian yang paling merusak (QS Ali Imran [3]: 130).

Tahap terakhir, Allah secara tegas mengharamkan riba dan menghalalkan jual beli. Firman Allah tentang pengharaman tersebut terdapat dalam surah Albaqarah [2] ayat 275-276.

Implikasi logis dari pengharaman ini adalah orang-orang yang beriman diperintahkan untuk meninggalkan segala bentuk riba meskipun kecil persentasenya. Allah dan rasul-Nya bahkan mengajak untuk berperang melawan siapa saja yang masih menggunakan instrumen riba dalam kegiatan ekonominya.

Firman-Nya, “Maka, jika kamu tidak mengerjakan (meninggalkan riba), Allah dan rasul-Nya akan memerangimu. Dan, jika kamu bertobat, bagimu pokok hartamu; kamu tidak menganiaya, dan tidak pula dianiaya.” (QS Albaqarah [2]: 278).

Dengan diturunkannya ayat ini, status haramnya riba bersifat final dan  kulli atau menyeluruh, baik itu dalam jumlah kecil maupun besar.
Redaksi – Reporter

Red: taqi
IQRA’
Republika, Jumat, 05 February 2010, 16:41 WIB
WORDPRESS

Oleh Prof Dr Nasaruddin Umar

Mengapa ayat pertama dalam Alquran berupa kalimat perintah iqra’ (bacalah)? Mengapa perintah itu untuk seorang yang buta huruf (ummy)?

Prof Hull dalam karya monumentalnya History and Philosophy of Science mengungkap salah satu misteri iqra’. Menurut Hull, siklus pergumulan antara agama dan ilmu pengetahuan terjadi setiap enam abad. Ia memulai penelitiannya dengan mengkaji abad VI SM sampai abad I M.

Periode ini ditandai dengan lahirnya tokoh-tokoh filsafat Yunani terkemuka, seperti Tales, Pytagoras, Aristoteles, dan Plato. Pada periode ini, para filsuf mengungguli popularitas pemimpin politik dan pemimpin agama. Tokoh agama hampir tidak ditemukan ketika itu.

Periode kedua diawali oleh lahirnya Nabi Isa (I M) sampai abad VI M. Periode ini ditandai dengan merosotnya popularitas filsuf atau ilmuwan dan menguatnya peran penguasa yang berkoalisi dengan gereja. Mereka mengaku wakil Tuhan di bumi.

Pada periode ini, hampir tidak ditemukan filsuf dan ilmuan. Sebaliknya, tercatat sejumlah raja yang otoriter. Orang-orang tidak berani mengkaji ilmu pengetahuan karena itu berarti malapetaka baginya, terutama jika hasil pemikirannya bertentangan dengan pendapat istana dan gereja.

Akibatnya, muncullah zaman kegelapan dan kebodohan. Periode inilah yang melatari lahirnya agama Islam. Dari sini, dapat dipahami mengapa iqra menjadi starting point ajaran Islam.

Periode ketiga diawali dengan lahirnya Nabi Muhammad (abad VI M) sampai abad kebangkitan Eropa (abad XIII M). Rasulullah memadukan ilmu pengetahuan dengan agama, yang disimbolkan dalam iqra’ bi ismi rabbik! (Bacalah dengan nama Tuhanmu).

Iqra’ adalah simbol ilmu pengetahuan, sedangkan bi ismi rabbik sebagai simbol agama. Iqra’ tanpa bi ismi rabbik atau bi ismi rabbik tanpa iqra’ terbukti tidak mengangkat martabat manusia dan kemanusiaan.

Periode keempat diawali dengan melemahnya pusat-pusat kerajaan Islam dan kebangkitan Eropa di abad XIII M. Pada periode ini, dunia Barat hanya mengembangkan sains dan teknologi, tetapi melupakan agama sebagai pembimbingnya. Mereka mengambil kekayaan intelektual dunia Islam, tetapi meninggalkan agama.

Periode kelima ditandai dengan kejenuhan manusia memuja pikirannya sendiri. Akhirnya, muncul berbagai gerakan dan filsafat yang bertema kemanusiaan, seperti gerakan posmodernisme. Menurut Hull, manusia tidak akan pernah mungkin melepaskan diri dari agama. Dan, agama yang tidak sejalan dengan ilmu pengetahuan tidak punya tempat di masa depan. Akankah Islam menjadi harapan agama masa depan?
Redaksi – Reporter

Red: taqi



Blog Stats

  • 274,295 hits