20
Jul
09

Setidaknya ada 5 Biang Penyebab Terjadinya Terorisme

Setidak ada 5 Biang Penyebab Terjadinya Terorisme

untinisa untinisa

POLITIKANA.COM

Terorisme tentu bukan sesuatu yang muncul dari ruang hampa. Dia memerlukan kultur tertentu untuk tumbuh.

Penyebab terorisme perlu dikenali karena ini berkait dengan upaya pencegahannya. Berikut adalah 5 sebab terorisme -saya sarikan dengan perubahan dari http://www.meteck.org/causesTerrorism.html- :

1. Kesukuan, nasionalisme/separatisme
(Etnicity, nationalism/separatism)
Tindak teror ini terjadi di daerah yang dilanda konflik antar etnis/suku atau pada suatu bangsa yang ingin memerdekan diri. Menebar teror akhirnya digunakan pula sebagai satu cara untuk mencapai tujuan atau alat perjuangan. Sasarannya jelas, yaitu etnis atau bangsa lain yang sedang diperangi.Bom-bom yang dipasang di keramaian atau tempat umum lain menjadi contoh paling sering. Aksi teror semacam ini bersifat acak, korban yang jatuh pun bisa siapa saja.

2. Kemiskinan dan kesenjangan dan globalisasi
(Poverty and economic disadvantage, globalisation)

Kemiskinan dan kesenjangan ternyata menjadi masalah sosial yang mampu memantik terorisme. Kemiskinan dapat dibedakan menjadi 2 macam: kemiskinan natural dan kemiskinan struktural. Kemiskinan natural bisa dibilang “miskin dari sononya”. Orang yang tinggal di tanah subur akan cenderung lebih makmur dibanding yang berdiam di lahan tandus. Sedang kemiskinan struktural adalah kemiskinan yang dibuat. Ini terjadi ketika penguasa justru mengeluarkan kebijakan yang malah memiskinkan rakyatnya. Jenis kemiskinan kedua punya potensi lebih tinggi bagi munculnya terorisme.

3. Non demokrasi
(non)democracy)
Negara non demokrasi juga disinyalir sebagai tempat tumbuh suburnya terorisme. Di negara demokratis, semua warga negara memiliki kesempatan untuk menyalurkan semua pandangan politiknya. Iklim demokratis menjadikan rakyat sebagai representasi kekuasaan tertinggi dalam pengaturan negara. Artinya, rakyat merasa dilibatkan dalam pengelolaan negara.Hal serupa tentu tidak terjadi di negara non demokratis. Selain tidak memberikan kesempatan partisipasi masyarakat, penguasa non demokratis sangat mungkin juga melakukan tindakan represif terhadap rakyatnya. Keterkungkungan ini menjadi kultur subur bagi tumbuhnya benih-benih  terorisme.

4. Pelanggaran harkat kemanusiaan
(Dehumanisation)
Aksi teror akan muncul jika ada diskriminasi antar etnis atau kelompok dalam masyarakat. Ini terjadi saat ada satu kelompok diperlakukan tidak sama hanya karena warna kulit, agama, atau lainnya.Kelompok yang direndahkan akan mencari cara agar mereka didengar, diakui, dan diperlakukan sama dengan yang lain. Atmosfer seperti ini lagi-lagi akan mendorong berkembang biaknya teror.

5. Radikalisme agama
(Religion)
Butir ini nampaknya tidak asing lagi. Peristiwa teror yang terjadi di Indonesia banyak terhubung dengan sebab ini. Radikalisme agama menjadi penyebab unik karena motif yang mendasari kadang bersifat tidak nyata. Beda dengan kemiskinan atau perlakuan diskriminatif yang mudah diamati. Radikalisme agama sebagian ditumbuhkan oleh cara pandang dunia para penganutnya. Menganggap bahwa dunia ini sedang dikuasi kekuatan hitam, dan sebagai utusan Tuhan mereka merasa terpanggil untuk membebaskan dunia dari cengkeraman tangan-tangan jahat.

6. Disaffected intelligentsia
Rubenstein elaborates another interesting aspect occurring in Western liberal democratic states in his book Alchemists of Revolution (1987), though not necessarily because of a hiatus in democratic governance. There are two points I would like to bring under attention. First, Rubenstein’s thesis that the main cause of terrorism are disgruntled, disaffected, intelligentsia who are in a social and moral crisis unable to mobilize the masses. This is “a primary internal cause of terrorism, dictating to a degree its philosophy, tactics and consequences” (Rubenstein, 1987:xvii). Intellectuals, of the type of ambitious idealist, do not have a rebellious lower class to lead due to shifts from primary and manual work to the services sector, nor do they receive guidance from a creative upper class that they can follow. When rigid social stratification shatter hopes for social transformation, then the ingredients are present for a start or rise in terrorist activities in an attempt to reconnect with the masses who they claim to represent and aspire to lead. Examples: “…ever since the Russian intellectuals “invented” modern terrorism…” (Radu, 2001), referring to Narodnaya Volya, Wieviorka’s “Disappointed, frustrated or unrealisable upward mobility” (1988:29); “middle-class alienation” (Kristof, 2002); “spoilt children of affluence” (Wilkinson, 1977:93); Crenshaw (1981); Williams (1994:65), and so forth. But now, 15 years after the book’s publication, access to third level education (the ‘democratisation of education’) has increased to such an extend that it devalues degrees to a minimum standard for procuring a job. Is the degree graduate now the new (white collar) working class stuck in his/her cubicle? If true, then the ‘gap’ between the masses and intelligentsia is smaller at present, hence more likely to be bridge-able, and therefore less prone to induce ideas to resort to terrorism, thus at least weakening Rubenstein’s view. The second aspect of Rubenstein’s book is a broad discussion on the myriad of, predominantly leftist, political ideologies – indirectly the perceived cause being the undemocratic government, unfair capitalist system et al – but may simply be a failed revolution.

Simpulan
Sebab-sebab diatas bukanlah klasifikasi kaku dan mandiri. Pada kenyataannya pelaku teror sangat mungkin digerakkan oleh lebih dari satu motif. Pengenalan atas sebab akan membantu pencarian solusi yang tepat dan mujarab.

referensi dan sumber:
http://syafrilhernendi.com/2009/07/19/5-biang-terorisme/
http://www.meteck.org/causesTerrorism.html

—————

Nah, kita tinggal mengkaitkannya dengan motif-motif pengeboman di Indonesia sejak tahun 2000 lalu hingga 2009 ini. Tapi kalau mau melihat jauh ke belakang dalam sejarah peradaban Nusantara, sejak zaman Mataram dulu, biasanya ‘gonjang-ganjing’ negara yang berakibat terjadinya peristiwa berdarah-darah itu, terjadi bila akan terjadi pergantian kepemimpinan Nasional (suksesi) atau akan terjadi pergantian rezim. Lihat sajalah sejak 1945 dulu: bom,serangan granat ke Presiden Sukarno, serangan pesawat Permesta ke Istana Negara kpd Presiden Sukarno, perang sodara di tahun 1965, pemberontakan bersenjata PKI … hingga tragedi Mei 1998 yang menyusul suksesi Kepeimpinan Nasional dari era zaman ORBA ke Orde Reformasi, selalu ada korban nyawa dan ledakan-ledakan. Entahlah yang sekarang, kita lihat sajalah … makanya saya sedikit-sedikit agak percaya dengan thesis SBY bahwa kemungkinan bom kemarin itu terkait dengan Pilpres yang baru kita lakukan itu. Pilpres, adalah metode suksesi pula, hanya dengan konsep yang lebih modern dalam sejarah Indonesia kini.

Advertisements

0 Responses to “Setidaknya ada 5 Biang Penyebab Terjadinya Terorisme”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


Blog Stats

  • 3,213,849 hits

Recent Comments

Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Sejarah : Bangsa Lemuria, Lelu…

%d bloggers like this: