24
Jul
12

Ideologi : 45 Butir Pengamalan Pancasila

PANCASILA adalah Dasar Negara Kesatun Republik Indonesia. Proses lahirnya Pancasila menjadi sejarah yang tidak akan pernah terlupakan oleh bangsa Indonesia dan tentu saja tidak terlepas dari peran para tokoh perjuangan bangsa yang telah melahirkan Pancasila sebagai Dasar Negara. Pancasila merupakan hasil kesepakatan bersama para Pendiri Bangsa yang kemudian sering disebut sebagai sebuah “Perjanjian Luhur” bangsa Indonesia.
Kata Pancasila berasal dari bahasa Sansekerta. Panca berarti lima dan Sila berarti prinsip atau asas. Pancasila berarti Lima Prinsip atau Lima Asas atau Lima Dasar atau Lima Sila. Lima Sila tersebut adalah: Ketuhanan Yang Maha Esa, kemanusiaan yang adil dan beradab, persatuan Indonesia, kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan, dan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Masing-masing sila mengandung nilai-nilai yang menjadi pedoman bagi bangsa Indonesia untuk mengamalkan Pancasila dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Ada 36 butir pengamalan Pancasila seperti yang tertuang dalam P4 (Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila) pada TAP MPR No. II/MPR/1978. Lihat TAP MPR No. II/MPR/1978. 
Menurut TAP MPR No. II/MPR/1978, Pancasila disebut EKAPRASETIA PANCAKARSA. Ekaprasetia Pancakarsa berasal dari bahasa Sansekerta yang artinya “TEKAD TUNGGAL UNTUK MELAKSANAKAN LIMA KEHENDAK”. Sungguh indah bahasa tersebut. Namun kemudian Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila (Ekaprasetia Pancakarsa) dalam TAP MPR No. II/MPR/1978 dinyatakan tidak berlaku lagi setelah dikeluarkannya TAP MPR No. XVIII/MPR/1998. Lihat TAP MPR No. XVIII/MPR/1998. Dalam TAP MPR No. XVIII/MPR/1998 ini terdapat 45 butir pengamalan Pancasila. Berikut ini 45 Butir Pengamalan Pancasila yang patut kita amalkan dalam kehidupan berbangsa, bernegara dan bermasyarakat:
Ketuhanan Yang Maha Esa
  1. Bangsa Indonesia menyatakan kepercayaannya dan ketaqwaannya terhadap Tuhan Yang Maha Esa.
  2. Manusia Indonesia percaya dan taqwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa, sesuai dengan agama dan kepercayaannya masing-masing menurut dasar kemanusiaan yang adil dan beradab.
  3. Mengembangkan sikap hormat menghormati dan bekerjasama antara pemeluk agama dengan penganut kepercayaan yang berbeda-beda terhadap Tuhan Yang Maha Esa.
  4. Membina kerukunan hidup di antara sesama umat beragama dan kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa.
  5. Agama dan kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa adalah masalah yang menyangkut hubungan pribadi manusia dengan Tuhan Yang Maha Esa.
  6. Mengembangkan sikap saling menghormati kebebasan menjalankan ibadah sesuai dengan agama dan kepercayaannya masing-masing.
  7. Tidak memaksakan suatu agama dan kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa kepada orang lain.
Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab
  1. Mengakui dan memperlakukan manusia sesuai dengan harkat dan martabatnya sebagai makhluk Tuhan Yang Maha Esa.
  2. Mengakui persamaan derajad, persamaan hak dan kewajiban asasi setiap manusia, tanpa membeda-bedakan suku, keturrunan, agama, kepercayaan, jenis kelamin, kedudukan sosial, warna kulit dan sebagainya.
  3. Mengembangkan sikap saling mencintai sesama manusia.
  4. Mengembangkan sikap saling tenggang rasa dan tepa selira.
  5. Mengembangkan sikap tidak semena-mena terhadap orang lain.
  6. Menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan.
  7. Gemar melakukan kegiatan kemanusiaan.
  8. Berani membela kebenaran dan keadilan.
  9. Bangsa Indonesia merasa dirinya sebagai bagian dari seluruh umat manusia.
  10. Mengembangkan sikap hormat menghormati dan bekerjasama dengan bangsa lain.
Persatuan Indonesia
  1. Mampu menempatkan persatuan, kesatuan, serta kepentingan dan keselamatan bangsa dan negara sebagai kepentingan bersama di atas kepentingan pribadi dan golongan.
  2. Sanggup dan rela berkorban untuk kepentingan negara dan bangsa apabila diperlukan.
  3. Mengembangkan rasa cinta kepada tanah air dan bangsa.
  4. Mengembangkan rasa kebanggaan berkebangsaan dan bertanah air Indonesia.
  5. Memelihara ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial.
  6. Mengembangkan persatuan Indonesia atas dasar Bhinneka Tunggal Ika.
  7. Memajukan pergaulan demi persatuan dan kesatuan bangsa.
Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmah Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan/Perwakilan
  1. Sebagai warga negara dan warga masyarakat, setiap manusia Indonesia mempunyai kedudukan, hak dan kewajiban yang sama.
  2. Tidak boleh memaksakan kehendak kepada orang lain.
  3. Mengutamakan musyawarah dalam mengambil keputusan untuk kepentingan bersama.
  4. Musyawarah untuk mencapai mufakat diliputi oleh semangat kekeluargaan.
  5. Menghormati dan menjunjung tinggi setiap keputusan yang dicapai sebagai hasil musyawarah.
  6. Dengan i’tikad baik dan rasa tanggung jawab menerima dan melaksanakan hasil keputusan musyawarah.
  7. Di dalam musyawarah diutamakan kepentingan bersama di atas kepentingan pribadi dan golongan.
  8. Musyawarah dilakukan dengan akal sehat dan sesuai dengan hati nurani yang luhur.
  9. Keputusan yang diambil harus dapat dipertanggungjawabkan secara moral kepada Tuhan Yang Maha Esa, menjunjung tinggi harkat dan martabat manusia, nilai-nilai kebenaran dan keadilan mengutamakan persatuan dan kesatuan demi kepentingan bersama.
  10. Memberikan kepercayaan kepada wakil-wakil yang dipercayai untuk melaksanakan pemusyawaratan.
Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia
  1. Mengembangkan perbuatan yang luhur, yang mencerminkan sikap dan suasana kekeluargaan dan kegotongroyongan.
  2. Mengembangkan sikap adil terhadap sesama.
  3. Menjaga keseimbangan antara hak dan kewajiban.
  4. Menghormati hak orang lain.
  5. Suka memberi pertolongan kepada orang lain agar dapat berdiri sendiri.
  6. Tidak menggunakan hak milik untuk usaha-usaha yang bersifat pemerasan terhadap orang lain.
  7. Tidak menggunakan hak milik untuk hal-hal yang bersifat pemborosan dan gaya hidup mewah.
  8. Tidak menggunakan hak milik untuk bertentangan dengan atau merugikan kepentingan umum.
  9. Suka bekerja keras.
  10. Suka menghargai hasil karya orang lain yang bermanfaat bagi kemajuan dan kesejahteraan bersama.
  11. Suka melakukan kegiatan dalam rangka mewujudkan kemajuan yang merata dan berkeadilan sosial.
Apabila Bangsa Indonesia benar-benar mengamalkan nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila, tentunya degradasi moral dan kebiadaban masyarakat kita dapat diminimalisir. Kenyataannya setelah era reformasi, para reformator alergi dengan semua produk yang berbau orde baru termasuk P4 sehingga terkesan meninggalkannya begitu saja. Belum lagi saat ini jati diri Indonesia mulai goyah ketika sekelompok pihak mulai mementingkan dirinya sendiri untuk kembali menjadikan negara ini sebagai negara berideologi agama tertentu.

TAP MPR Jadi ‘Vocal Point’ Perbaiki Akhlak Bangsa
Senin, 23 Juli 2012 | 18:39

Pakar Hukum Tata Negara, Prof Dr Jimly Asshiddiqie dan Wakil Ketua MPR-RI, Hajriyanto Y Thohari tampil sebagai pembicara dalam dialog pilar negara dengan thema “Eksistensi Ketetapan MPR RI ” di Ruang Presentasi Perpustakaan MPR-RI Gedung Nusantara IV Jakarta. Senin (23/7). [SP/Charles Ulag]

[JAKARTA] Setelah 14 tahun reformasi, akhlak bangsa ini semakin merosot. Sistem nilai dan norma bermasalah dan kacau balau. Etika politik tidak dihargai.

“Saya ingin agar Ketetapan (TAP) MPR No 6 Tahun 2001 tentang Etika Kehidupan Berbangsa menjadi vocal point untuk memperbaiki akhlak bangsa dan negara ini,” kata mantan Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) Jimly Asshiddiqie dalam diskusi pilar negara bertema “Eksistensi Ketetapan MPR RI” di Jakarta, Senin (23/7).

Hadir sebagai pembicara Wakil Ketua MPR RI Hajriyanto  Y Thohari dan anggota Tim Sosialisasi MPR RI Eva Kusuma Sundari.

Jimly menjelaskan, bangsa ini berada dalam situasi yang memprihatikan. Banyak orang yang mengaku beragama ternyata bermasalah. Ada yang rajin ke masjid, gereja, dan sebagainya, tetapi perilakunya tetap buruk. Korupsi meraja di mana-mana. Penjara pun penuh.

“Ini terjadi karena bangsa ini tidak menghargai norma hukum dan etika berbangsa. Untuk itu, kami akam memulai membenahi semuanya ini dengan bermula dari amanat TAP MPR RI No 6 Tahun 2001,” katanya.

Untuk merealisasikan gagasan ini, Jimly mengajak MPR untuk bekerja sama  mengonkritkan gagasan etika politik untuk perbaikan akhlak bangsa ini.  “Kita sama-sama harus mengontrol, katanya.

Eva Kusuma Sundari mengatakan, memang saat ini etika politik sudah diabaikan.  Tidak ada cara untuk memperbaiki semuanya itu kecuali  kebijakan publik yang akuntabel dan transparan.

Karena itu, Eva mendukung gagasan Jimly untuk memulai membenahi akhlak bangsa dan negara ini. Tetapi Eva lebih menekankan perbaikan sistem di partai politik, terutama menjelang Pemilu 2012. [L-8]

About these ads

5 Responses to “Ideologi : 45 Butir Pengamalan Pancasila”


  1. 1 Annisa
    September 5, 2012 at 8:32 pm

    Pak saya mau nanya,ada sebagian sumber yang menyebutkan bahwa butir butir pancasila ada 48 butir.yang bnar yg mna pak????

  2. September 27, 2012 at 6:15 pm

    bagaimana cara menjelaskannya pak dari butir 1 sampe 45

  3. 3 dimas farhan
    November 30, 2012 at 6:41 pm

    Terimakasih atas infonya

  4. 4 syehiful arif
    December 4, 2012 at 4:01 pm

    kok nggak ada yang mengatakan pemungutan suara sebagao dasar kesepakatan…tetapi disini dikatakan bahwa musyawarahlah yang kita gunakan untuk menentukan kesepakatan … jadi apakah sebenarnya yang kita lakukan salah dengan pemilihan langsung presiden dan seterusnya

  5. 5 berliana sitorus
    May 13, 2013 at 10:22 am

    ȃƞƍ mana sih ȃƞƍ benar 36 butir pancasila atau 45 butir pancasila


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


Blog Stats

  • 2,185,309 hits

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 120 other followers

%d bloggers like this: