Posts Tagged ‘Religious



23
Oct
09

Ekspedisi Walisongo

Ekspedisi Walisongo : Bermula Dari Janji

Lazimnya sebuah perjalanan mestilah dimulai dengan merencanakan tujuan. Begitupun dengan perjalanan kami ke makam para walisongo (melintasi Jalur Utara Jawa, menyambangi wilayah minoritas muslim di Bali, dan melintasi Jalur Selatan Jawa). Namun kami berdelapan tak memiliki tujuan utama kecuali menepati janji yang telah lama tertunda.

Sejak sepuluh tahun yang lalu kami ingin melakukan perjalanan ini, namun kesempatan itu selalu kalah oleh berbagai hambatan. Sudah dua kali kami berangkat menepati nadzar ini, namun kedua perjalanan itu terpenggal setengah jalan. Ini adalah kesempatan ketiga bagi kami, dan kami menyepakati sebagai kesempatan terakhir untuk menepati janji. Kami memulai dengan menyebut asma Allah, meresapi energi Al-Fatihah, menyertakan shalawat atas nabi Muhammad SAW, beristighfar, menyerahkan diri sepenuhnya dan memohon keselamatan hanya pada Allah SWT.

Jejak bukan sekedar perjalanan menapaki jejak perjuangan walisongo. Bukan pula plesiran menyinggahi berbagai lokasi yang memiliki obyek wisata kuliner. Bukan perburuan cinderamata di lokasi yang kami singgahi. Perjalanan ini – kami harapkan -memberikan spiritual insight, dalam menapaki hari-hari kami selanjutnya.

Ketika pendaran langit senja bergerak perlahan menggelapkan hari. Setelah menyelesaikan shalat maghrib, kami menenangkan bathin untuk memulai perjalanan ini. Kami berangkat dari Kampus 1 Pondok Pesantren Daarul Uluum di Bantarkemang, Bogor. Bergerak tujuh kilometer menuju Kampus 2 di desa Nagrak, Sukaraja.

Merapat bersama menyatukan hati. Mengingatkan kembali bahwa perjalanan ini adalah upaya menepati janji, memenuhi nadzar agar titian hari esok menjadi lancar.

Di teras rumah kyai, kami menyepakati berbagai hal yang mesti dipatuhi oleh kedelapan peserta. Kyai Haji Abdul Rozak mendampingi Kyai Nasrudin sebagai wakilnya. Ialah yang nanti akan memimpin doa di makam para wali. Apapun yang beliau putuskan, enak atau tidak, pahit atau manis, setuju atau tidak, harus dipatuhi oleh semua peserta. Kami berencana dan Tuhanpun berencana.

Benar sekali kalimat terakhir pada paragraf di atas. Begitu kami siap berangkat, rencana Tuhanpun mulai tampak, di luar rencana kami. Seorang teman datang dan memaksakan diri ikut dalam rombongan kami. Sebagian besar peserta menolaknya dengan menjelaskan bahwa perjalanan kami bukan 2-3 hari, tapi bisa melampaui 5 hari. Tapi orang tua pensiunan polisi berpangkat Kopral itu tetap merayu sang Kyai. Kami tak bisa menolak lagi ketika kyai mengizinkan Kopral tua itu ikut dalam tim ini. Kami semua menerima kesertaannya dengan keyakinan bahwa inilah rencana Tuhan dan “Kopral Menthok” ini – demikian sapaan akrabnya – akan bermanfaat bagi kelancaran perjalanan kami.

Bismillahirrahmaanirrahiim, langkah kanan! (MT)

laporan selanjutnya : Warisan Tradisi Spiritual

Makam Mu’allim Kyai Haji Elon Syuja’i |Bantarkemang, Bogor

Kami memulai perjalanan ini dengan ziarah ke makam KH. “Mu’allim” Elon Syuja’i. Beliau adalah tokoh ulama kharismatik di Bogor, yang merintis dan membangun cikal bakal pondok pesantren Daarul Uluum yang amat mempengaruhi hidup kami. Pergulatan hidupnya sejak zaman pra kemerdekaan RI merupakan inspirasi bagi kami. Dialah guru, ayah, kakek, dan pejuang yang mewariskan pesantren yang sederhana pada kami.

Mengapa kami harus mengawali perjalanan Jejak Walisongo ini dengan seolah-olah memohon izin dari penghulu kami ini?

KH. Elon Syudja'iKH. Elon Syudja’i

Mamak Elon,- begitu kami memanggilnya -mewariskan tradisi spiritual ziarah Walisongo kepada kami. Walisongo adalah inspirasi baginya dalam memperjuangkan dakwah Islam di Nusantara. Gerakan dakwah Walisongo mengandung banyak aspek kehidupan untuk dihikmahi. Mulai dari strategi politik, ekonomi, seni budaya, ritual, spiritual, bahkan kaderisasi dan regenerasi. Walisongo di mata Mamak Elon bukanlah tokoh legenda mistis, yang runyam dengan dongeng dan keajaiban. Walisongo – yang digagas oleh Sunan Ampel – adalah pelanjut estafeta dakwah para nabi yang mesti diwarisi spiritnya.

Spirit Walisongo membentuk pribadi Mu’allim Elon. Tahun 1912 Beliau dilahirkan dan hidup dalam lingkungan masyarakat yang terbiasa hidup dalam kegelapan. Bantarkemang, kampung tempatnya dilahirkan adalah wilayah hitam yang terkenal dengan kriminalitas, ilmu hitam, alkohol, judi, dan prostitusi. Sendi-sendi kehidupan dikuasai oleh para jawara. Tokoh jawara yang paling ditakuti karena kharisma dan ilmu hitamnya adalah Empu Uning, yang adalah kakek Mu’allim Elon Syujai.

Ternyata sejarah kampung Bantarkemang menggariskan pertentangan antara kakek dan cucu. Pertentangan antara dunia hitam dengan dunia putih, atmosfir jawara dengan atmosfir santri. Hingga akhirnya Bantarkemang berubah menjadi salah satu pusat pendidikan Islam di Bogor.

Kecenderungan religius membimbing Mamak Elon menapak jalan keulamaan hingga akhir hayatnya. Beliau mengeyam pendidikan keagamaannya pertama kali dari Ajengan Baihaqi, seorang ulama di Leuwinanggung, Bogor. Selesai berguru dari sang Ajengan, beliau melanjutkan belajar di Pondok Pesantren Kadukaweng, Banten selama 4 tahun. Masa mudanya diisi dengan menuntut ilmu. Selesai di Banten, ia masuk ke Sekolah Rakyat. Oleh karenanya, selain memiliki pengetahuan keagamaan, khususnya khazanah kitab-kitab salafi, Elon Syuja’i pun memiliki kemampuan membaca dan menulis latin. Sedikit kemampuan berbahasa Belanda pun ia peroleh di sekolah ini.

Setelah menamatkan pendidikan formal tingkat Sekolah Rakyat, Elon Syuja’i memperdalam lagi pengetahuan agamanya di Pondok Pesantren Gunung Puyuh, Sukabumi, yang dipimpin oleh Ajengan Sanusi. Beberapa tahun kemudian, beliau berangkat lagi untuk berguru ke Ajengan Sathibi di Gentur, Sukabumi. Melihat potensi besar yang dimiliki serta semangat belajarnya yang tinggi, Ajengan Sathibi kemudian mendorong Elon Syuja’i untuk memperdalam ilmunya ke pesantren-pesantren di wilayah Garut dan Tasikmalaya.

Di kedua kota inilah kemudian Elon Syuja’i bersahabat dengan ulama-ulama besar Jawa Barat, yang di kemudian hari menjadi tokoh-tokoh ulama dan politik, seperti KH Khoir Afandi (Pemimpin Pondok Pesantren Miftahul Huda, Tasikmalaya), KH Gunung Puyuh (Sukabumi), KH Nur Ali (Pemimpin Pondok Pesantren At-Taqwa, Bekasi), KH Soleh Iskandar (Bogor), Kyai Profesor Abdullah M. Nuh, dan lainnya.

Pada periode ini, Elon Syuja’i mulai bersentuhan dengan spirit ideologis, ide-ide pergerakan, pemberdayaan, dan pembaharuan masyarakat.Persentuhannya dengan Masyumi, ternyata memberi warna tersendiri dalam perjalanan hidup Mamak Elon. Masyumi adalah organisasi politik Islam yang dinilai radikal oleh pemerintah saat itu, baik pemerintah Orde Lama di bawah Soekarno, maupun pemerintah Orde Baru di bawah Soeharto.

Secara politik, Masyumi dinilai sebagai lawan pemerintah. Catatan keterlibatannya dalam organisasi politik ini menyebabkan dirinya turut diposisikan sebagai ancaman terhadap pemerintahan. Elon Syuja’i dinilai sebagai ulama yang turut mendukung ide penggantian asas negara dari Pancasila menjadi Islam. Penilaian-penilaian semacam itu sempat menyebabkan dirinya dipenjara selama 2 tahun di penghujung kekuasaan Soekarno tanpa menjalani proses pengadilan.

Sikap rezim Soeharto yang ternyata lebih represif terhadap kelompok muslim radikal, mengharuskan Elon Syuja’i mengambil pendekatan baru dalam mengelola hubungannya dengan pemerintah. Hal itu harus dilakukan agar komunitas pesantren yang dipimpinnya tidak berbenturan dengan kepentingan penguasa. Terlebih lagi saat Soeharto menggulirkan kebijakan asas tunggal. Melalui kebijakan itu, seluruh organisasi, apapun juga, diwajibkan untuk menjadikan Pancasila sebagai asasnya.

Sejak digulirkannya kebijakan asas tunggal tersebut, Elon Syuja’i, mulai menerapkan strategi politik yang disebutnya “nyumput di nu caang”, yang berarti “sembunyi di tempat yang terang. Filosofi politik itu seperti yang dilakukan oleh Sunan Ampel dengan Gerakan Walisongonya.

Strategi politik yang diterapkannya ini terbukti bisa menciptakan hubungan yang sangat baik antara Elon Syuja’i dengan pemerintah, baik di tingkat kota, propinsi, bahkan sampai di tingkat pusat. Para pejabat pemerintah Orde Baru silih berganti datang berkunjung, bertukarpikiran, dan meminta nasihat-nasihatnya. Gambaran bagaimana kedekatan KH Elon Syuja’i dengan para pejabat Orde Baru dapat dilihat pada saat dengan mudahnya ia mengundang Adam Malik, Wakil Presiden RI, untuk hadir di pesantrennya dan meresmikan masjid yang baru selesai dibangun.

Satu hal yang patut dicatat adalah bahwa KH Elon Syuja’i tidak pernah bersikap aji mumpung dengan memanfaatkan kedekatannya dengan para penguasa untuk meminta-minta aneka macam bantuan. KH. Elon Syuja’i tidak pernah menolak jika memang pemerintah ingin membatu pesantrennya selama tidak ada syarat apapun. Namun, ia tidak pernah memanfaatkan hal itu untuk mengeruk dana. Iapun mengeluarkan kebijakan kepada anak cucunya agar pesantren ini tidak mengaitkan diri dengan kepentingan partai politik. Pesantren harus menerima dan memudahkan hak belajar setiap orang.

Lebih dari pada itu, KH Elon Syuja’i tetaplah seorang ulama yang hidupnya sangat sederhana. Begitu sederhananya, sampai-sampai, seluruh lokal bangunan pesantren penuh diisi dan ditinggali oleh para santri. Beliau hanya menyisakan sepetak kamar seluas 4×3 meter persegi sebagai tempat tinggalnya. Siapapun bisa datang bertemu dengannya kapanpun dan jam berapapun juga, tanpa harus membuat berjanji lebih dahulu.

KH Elon Syuja’i dipanggil Allah SWT pada tanggal 5 April 1990 di tengah-tengah santrinya dan dimakamkan di pemakaman umum Bantarkemang, Bogor. Jenazahnya diusung dan dioper dari tangan ke tangan oleh ribuan warga, mulai dari masjid, tempat jasad beliau dishalatkan, sampai ke pemakaman. Ribuan warga berbaris rapih secara berhadap-hadapan sepanjang 1 kilometer menanti operan jenazah.

Beliau meninggalkan kami dengan mewariskan tanggung jawab sejarah, melanjutkan perjuangan pesantren yang merupakan hayatnya, bagian kehidupannya. Kini pesantren itu menjadi hayat kami. Dan sebagaimana yang pernah beliau lakukan dulu, kamipun melakukan ziarah ke makam Walisongo. Memohon kepada Allah agar mendapatkan wasilah dari orang-orang pilihan Tuhan. Mengambil hikmah dari perjuangan para wali dalam mendidik dan membangun masyarakatnya. (MT & PS)

laporan selanjutnya : Menembus Malam Jalan Impian

di makam mamak elondi makam mamak elon

ki-ka : Ust. Iqbal, Ozzy Maesyar, Om Somad, KH. Abd. Rozak, Ust. Faruq, H. Rahmani, Kyai Nasrudin, MT (saya), Kopral Hanafi (Jongkok), minus Achey (karena memotret)

Ekspedisi Walisongo : Menembus Malam Jalan Impian

Jalan Tol Jagorawi | Bogor – Jakarta

Meninggalkan makam Mamak Elon, menyisakan perenungan di benakku. Kini yang menguasai pikiranku adalah sebuah kepastian dimulainya sebuah perjalanan yang telah lama kunantikan. Tak kuingkari, ada rasa bahagia bahwa perjalanan menelusuri jejak walisongo telah dimulai. Namun kekhawatiran tetap menyelinap. Apakah kami akan menyelesaikan perjalanan ini dengan tetap menyatu sebagai sebuah tim?

Teringat kisah penuturan temanku tentang pengalaman mereka yang telah dua kali gagal melanjutkan perjalanan seperti ini. Saat itu ada satu-dua orang yang memiliki tujuan lain di tengah jalan. Mereka memecah tim jadi bercerai tujuan. Jadilah tim itu pecah, dan rencana perjalanan itu dibatalkan. Aku tak ingin tragedi itu terulang pada perjalanan kali ini.

Aku meyakinkan diri bahwa perjalanan ini akan lancar dan selamat. Hatiku mengutus doa kepada Tuhan, “Ya Allah, aku mewakili teman-teman, menyerahkan keselamatan kami dan tujuan perjalanan ini sepenuhnya pada-Mu. Aku berserahdiri pada kuasa dan kasih sayang-Mu. Kutitipkan mereka yang kutinggalkan, dalam kuasa dan keselamatan-Mu!

Pada doaku itu, aku meyakinkan diri akan keutuhan tim. Aku tak mau membayangkan kegagalan. Kufokuskan pikiran dan hatiku pada keutuhan tim ini untuk menyelesaikan track by track. Hingga kusadari ternyata Phanter tahun 1995 yang kutumpangi sudah menyusuri Tol Jagorawi yang sepi.

Ini adalah jalan tol yang sempat kuimpikan untuk melintasinya ketika masih kecil. Dulu, sekitar tahun 1983, teman-teman SD-ku selalu terlihat bangga saat menceritakan melewati Jalan Tol Jagorawi menuju Kebun Raya Bogor. Saat itu, bagi kami anak Jakarta, melintasi jalan Tol pertama di Indonesia – yang dibangun sejak 1973 dan diresmikan pada Maret 1978 – mengesankan kemewahan. Hanya teman-teman yang kuanggap orang kaya, sanggup melintasi “Jalan Berbayar” yang konon pinggir jalannya ditandai dengan garis marka berwarna kuning. Seumur itu aku belum pernah melihat garis di jalan selain berwarna putih. Naif sekali impianku kala itu : Ingin membuktikan kalau di Jalan Tol ada garis berwarna kuning yang tak putus sepanjang jalan!

Akhirnya impian itu terwujud saat kelas 6 SD. Kelasku mengadakan study tour ke Kebun Raya Bogor dan Museum Zoologi. Itulah saatnya aku melintasi Jalan Tol Jagorawi. Teman-temanku yang sudah pernah melintasinya, menceritakan dengan bangga tentang rupa jalan impianku itu. Jalan yang ketika dibangun tidak terpikir akan menjadi jalan tol, kecuali setelah Ir. Sutami (Menteri Pekerjaan Umum tahun 1978) mengusulkan kepada Presiden Suharto, agar ruas jalan baru itu dijadikan Jalan Tol, agar biaya perawatan jalan itu tak membebani anggaran pemerintah.

Kuperhatikan temanku – Pengelana Semesta – amat menikmati driving. Memang hobinya. Ia melajukan mobil tua ini seperti terbang menembus pekat dini hari. Pada kecepatan 120 KM/Jam ia melaju, kurasakan kini lebih cepat dari hari-hari biasa aku traveling dengannya, dan tak sampai 30 menit ruas Tol Jagorawi sudah kami lewati. Kutinggalkan jalan tol yang ketika kulintasi selalu mengingatkanku dengan keluguanku saat bocah. Ya, saat melintasi jalan tol dengan Charter Bus dulu, aku sengaja memilih tempat duduk dipinggir kanan dekat jendela. Tujuanku hanya satu: sepanjang melintasi jalan impian itu, mataku terpana pada garis kuning yang tak putus-putus hingga loket tol Bogor. “Ternyata temanku benar, soal garis kuning itu!” Benak bocah naif.

laporan selanjutnya : makam suci berhala religi

Ekspedisi Walisongo : Makam Suci Berhala Religi

Makam Sunan Gunung Jati | Cirebon, Jawa Barat

Adzan Shubuh menggema. Inilah tujuan pertama kami dalam ekspedisi menelusuri jejak walisongo. Kuikuti teman-teman yang berjalan ke arah masjid, melewati gang sempit di tengah perumahan yang cukup padat. Suasananya masih sepi, tidak ada orang lain yang lewat kecuali rombongan kami.

Gerbang Masjid Sunan Gunung Jati terlihat dari arah lurusan gang yang kami lalui. Aku memasuki gerbang itu, meletakkan sepatu di anak tangga pertama.

Aku tak langsung berwudhu, tapi berjalan mengelilingi pelataran masjid yang luas dan memanjang. Lantainya bersih. Terlihat beberapa tubuh lelaki tertidur lelap di pojokan selasar masjid. Tembok masjid menjelaskan usianya yang menua. Hiasan keramik khas China menjadi pemanis ketika mata memandangnya. Beragam artefak keramik itu menempel di setiap titik-titik simetris tembok masjid. Kebanyakan berupa seperti piring. Indah sekali.

Aku berjalan ke arah tempat wudhu. Tidak tercium bau yang mengganggu seperti layaknya masjid-masjid yang kusinggahi di beberapa kampung. Aku mulai berwudhu dan menikmati sejuknya air yang menyegarkan kembali kulitku. Rasa lelah perjalanan 4 jam dari Bogor, sirna. Mataku yang sempat terserang kantuk sebelum memasuki masjid, berubah. Seolah baru bangun dari istirahat panjang. Segar.

Kumasuki area dalam masjid. Banyak orang yang duduk bersila. Masing-masing hanyut pada doa dan zikirnya. Beberapa orang lainnya masih melaksanakan shalat shubuh ataupun shalat sunnah. Begitupun dengan teman-temanku, mereka memilih tempat shalat yang sesuai dengan pilihan hatinya. Mereka berpencar. Aku memilih tempat paling belakang. Lokasi terakhir setelah mataku menerawang memperhatikan seisi masjid yang luas namun mengesankan kesederhanaan. Kulakukan shalat Shubuh setelah sebelumnya melakukan shalat Tahiyyatul Masjid.

Selesai berzikir, aku berdoa untuk Sunan Gunung Jati. Entah kenapa aku masih enggan beranjak menyusul beberapa teman yang sudah tak tampak di dalam masjid ini. Masih kurasakan aura spiritual yang mendamaikan hati. Terbayang di benakku suasana masa lalu, saat masjid ini masih digunakan oleh Sunan Gunung Jati.

Pikiranku melesat ke masa lalu. Saat “Kota Udang” tempat bertemunya budaya Jawa dan Sunda masih berdiri sebuah Kerajaan Islam Cirebon. Teringat kembali saat lalu, aku memasuki Keraton Kasepuhan Cirebon. Di keraton itulah Syarif Hidayatullah yang lebih dikenal sebagai Sunan Gunung Jati memimpin Kerajaan Islam Cirebon.

Mengapa Syarif Hidayatullah bisa menjadi raja di Cirebon? Ini tak lepas dari peran paman dan ibunnya sendiri. Pada tahun 1479 Tahta kerajaan Cirebon diserahkan oleh Pangeran Walangsungsang yang bergelar Raja Cakrabuana kepada Syarif Hidayatullah. Raja Cakrabuana adalah paman Syarif Hidayatullah. Kakak dari ibunda Syarif Hidayatullah, Nyi Lara Santang. Kakak beradik itu sejak muda sudah mempelajari Islam dari guru mereka Syech Dzatul Kahfi. Oleh sang guru yang berjuluk Syek Nurul Jati atau Ki Gede Jati, mereka berdua diperintahkan untuk menunaikan Ibadah Haji di Mekkah.

Selesai menunaikan haji, Pangeran Walangsungsang menikahkan adiknya dengan Syarif Abdullah, seorang pembesar kota Mesir dari Klan Al-Ayyubi. Dari pernikahan itulah, Syarif Hidayatullah lahir di Mekkah.

Pada masa kepemimpinan Syarif Hidayatullah, Kerajaan Islam Pakungwati di Cirebon mengalami puncak kemajuan. Kejayaan ini tak lepas dari dukungan Kerajaan Demak dan Walisongo, dimana Syarif Hidayatullah termasuk di dalamnya dengan julukan Sunan Gunung Jati. Pada saatnya, Sunan Gunung Jati lebih terkonsentrasi untuk melakukan safar, perjalanan dakwah ke wilayah Jawa Barat hingga berdirinya Kesultanan Banten.

Mengapa seorang Syarif Hidayatullah mau datang ke tanah Jawa hanya untuk menyebarkan Islam? Tuntutan apakah yang ada pada dirinya, dan apa yang menjadi motifnya? Ini pertanyaan yang muncul di benakku. Saat ini aku belum bisa mencari jawabannya. Dan ini adalah “oleh-oleh” yang harus kubagikan kepada teman-temanku nanti, sebagai bahan diskusi. Inipun harus menjadi catatan akhir ekspedisi ini.

Aku beranjak dari dudukku, mencari teman-teman yang sudah tak kelihatan di dalam masjid ini. Kuturuni tangga kecil menuju gerbang luar masjid. Kulihat mereka sedang beristirahat di pelataran sambil bercengkrama. Aku bergabung dalam obrolan ringan. Semua peserta sepakat untuk sarapan pagi di warung nasi yang berada tepat di depan tembok masjid ini.

Segera setelah sarapan, Beberapa teman mengajak melanjutkan perjalanan menuju makam. Semua peserta berjalan menelusuri lorong sempit menuju jalan raya, tempat dimana kami memarkir kendaraan. Kamipun menyebrangi jalan raya menuju sebuah kompleks pemakaman, dengan sebuah gerbang bertuliskan KRAMAT GUNUNG JATI.

Kumasuki gerbang itu, menyusul teman-teman yang lebih dulu melangkahkan kaki. Kurasakan suasana berbeda dibanding suasana yang kurasakan di masjid tadi. Kuperhatikan pepohonan besar, anak tangga yang mengarahkan kami ke lokasi makam utama, kotak-kotak amal jariah dan penunggunya. Aku berdiri cukup lama sebelum memasuki lebih dalam. Kurasakan lesatan tak kasat mata. Kuperhatikan beberapa singgasana bertengger di pohon-pohon besar itu. Kurasakan sapaku tak terdengar oleh mereka yang dimakamkan di sini. Sudah berapa lama penindasan atas arwah ini terjadi? Terbersit keraguan, apakah ini makam Sunan Gunung Jati?

Seorang petugas penunggu kotak amal memaksaku mengisi kotak yang ia jaga. Kuperhatikan ia menghitung jumlah kami bersembilan, mulai dari teman-temanku yang sudah berada di atas anak tangga, sampai pada diriku sendiri yang paling terakhir. Kuberikan padanya 20 lembar uang kertas seribuan, seraya menyusul teman-teman. Baru selangkah aku meninggalkan kotak amal itu, kudengar umpatan dari sang penunggu, “huh, seribu!” hm… suara itu makin meragukan langkah menuju kompleks ini.

Sampai di makam utama, aku memperhatikan teman-teman yang sudah duduk di depan makam. Dua orang petugas memanggilku agar mengisi buku tamu dan menepuk-nepuk kotak amal di hadapannya. Kuserahkan selembar limapuluhribuan padanya. Sejujurnya, aku merasa terusik dengan cara mereka meminta uang. Meraka tak bicara, hanya menepuk-nepuk kotak dalam kuasanya dan matanya menatapku tajam seolah mengancam. Tapi biarlah itu kurasakan sendiri. Aku tak mau merusak suasana hati teman-temanku yang sudah memulai ziarah.

Mataku terpaku pada sebuah dupa di depan makam. Kualihkan tatapanku pada Kyai Nasrudin, yang sejak awal kuperhatikan seperti enggan memasuki kompleks ini. Begitupun ketika KH. Abdul Rozak memimpin doa, sang Kyai muda itu malah duduk bersandar pada tiang, melipatkaki dan meletakkan lengan kanannya pada dengkulnya. Persis orang yang sedang nongkrong di warung kopi. “Ada yang tidak beres!” pikirku.

Kuikuti panduan KH. Abdul Rozak untuk membaca Al-Fatihah. Hanya segitu konsentrasiku. Saat teman-teman kelihatan khusyu’ berdoa, aku menyudahi doa namun tetap duduk sambil memotret suasana. Tepat ketika aku ingin memotret KH. Abdul Rozak yang memimpin doa, beliau melengos ke belakang dan mengucap tanya, “Ini makam siapa ya?”. Makin jelas sudah kegelisahanku. Ingin rasanya aku tertawa. Tapi kutahan. Kuperhatikan kekhusyukan teman-temankupun lenyap seketika. Wajah-wajah serius mereka berubah penuh tanya. Seorang petugas menjelaskan, bahwa ini adalah makam Syech Dzatul Kahfi atau Ki Gede Jati, gurunya Sunan Gunung Jati. Seorang temanku berseloroh, “Saya mau ke makam Sunan Gunung Jati, bukan gurunya!”

Keraguanku membuncah. Petugasnya saja tak mengenal siapa sebenarnya Syech Dzatul Kahfi. Yang kutahu dari beberapa babad dan catatan para sejarawan. Orang yang dimakamkan di sini bukanlah guru Sunan Gunung Jati melainkan guru dari Ibunda Sunan Gunung Jati dan Pamannya yang bernama Walangsungsang yang ketika menjadi Raja Islam Cirebon bergelar Raja Cakrabuana.

Seorang Syarif Hidayatullah atau Sunan Gunung Jati, datang ke tanah Jawa ini sudah dengan ilmu yang cukup memadai untuk melakukan Dakwah Islam. Beliau adalah murid dari Syech Tajuddin Al-Kubri di Mekkah dan Berguru selama 2 tahun kepada Syech Ibn Atho’illah yang menulis buku Al-Hikam. Selesai mendalami tarekat Sadziliyyah dari Syech Ibn Atho’illah, barulah Syarif Hidayatullah melaksanakan tuntutan safar bagi para sufi, yaitu menapaki perjalanan panjang yang membentuk sejarah hidupnya.

Perjalanan dakwah ia mulai dengan mengunjungi beberapa negeri hingga singgah selama 3 bulan di Gujarat, India. Di Gujarat ia menerima banyak murid, salah satunya adalah Dipati Keling. Perjalanan ia lanjutkan bersama Dipati Keling dan para pengikutnya ke Samudra Pasai dan menetap selama 2 tahun bersama saudaranya, Syech Maulana Ishaq yang lebih dulu berdakwah di Nusantara.

Dari Pasai, ia melanjutkan perjalanan menuju Cirebon, untuk mengunjungi Ibunya, Nyi Lara Santang. Namun sebelumnya ia berlabuh di Banten, bergabung dengan Syech Ali Rahmatullah yang lebih populer dikenal dengan nama Sunan Ampel, Master Mind Walisongo, yang baru memulai dakwah di wilayah pelabuhan tersebut.

Hingga keluar makam, para petugas itu masih mengikuti kami. Ia mendekati salah seorang temanku dan meminta uang lagi. Kulihat Iqbal memberikan limapuluh ribu rupiah kepadanya. Aku mengajak Iqbal untuk mendekati sebuah lokasi yang sebelumnya ia bilang sebagai tempat para walisongo berdiskusi. Petilasan tersebut dipagari. Ingin kuberdiri lama di sisi petilasan itu. Namun konsentrasiku terganggu oleh petugas yang sama, yang mengikuti kami dan meminta uang dari orang yang sama pula, Iqbal. Kusimpulkan, orang tersebut hanya meminta, tapi tak melihat siapa yang dipinta. Pertama ia memintaku, kuberikan padanya dengan jumlah yang sama dengan yang diberikan Iqbal, lalu ia minta kembali, Iqbalpun memberikan. Kini ia meminta lagi kepada Iqbal. Aku memberikan isyarat agar meninggalkan lokasi ini. Iqbalpun menjauh menyusul teman-teman yang sudah hampir sampai di gerbang luar. Sedangkan aku, sempat singgah sesaat melihat sebuah gua di bawah petilasan walisongo.

Gua tersebut, konon dipercaya sebagai tempat persembunyian walisongo. Sebuah kisah yang sulit kupercaya. Satu saja alasanku. Sebelum Sunan Gunung Jati memimpin Kerajaan Islam Pakungwati di Cirebon ini, rakyat Cirebonpun kebanyakan beragama Islam, berkat dakwah Syech Dzatul Kahfi dan muridnya, Pangeran Walangsungsang, sang raja Cirebon. Tak ada kondisi yang memaksa bagi Walisongo untuk bersembunyi di gua ini, di sebuah negeri yang terbuka terhadap dakwah Islam.

Kutinggalkan gua dan menyusul Iqbal yang sedang berbincang dengan Kyai Nasrudin di pinggir jalan raya, di depan gerbang Kompleks Pemakaman ini. Iqbal masih ingin mendatangi makam Sunan Gunung Jati yang sebenarnya. Kyai Nasrudin menjelaskan bahwa lokasi makam Sunan Gunung Jati adalah di depan Masjid tempat kami shalat Shubuh. Tepatnya berada di lokasi yang berundak hingga sembilan ketinggian di Gunung Sembung. Namun Kyai Nasrudin menyarankan agar rombongan tak perlu ke sana. Ia sudah mewakilinya tadi. Sedangkan bagiku, di masjid saja sudah cukup.

Inilah perhentian pertama kami dalam perjalanan menapaki jejak para wali. Di kota pertama inilah ketulusan kami diuji. Sempat kurasakan emosi yang nyaris meluruhkan semangatku untuk melanjutkan perjalanan ini. Kesan pertama yang sempat menciptakan keraguanku terhadap perjalanan kami. Apakah perjalanan ini akan memberikan pencerahan spiritual bagiku dan teman-temanku?

Aku kembali berdiri sejenak di depan plang bertuliskan Masjid Sunan Gunung Jati. Kudapatkan keyakinanku kembali untuk melanjutkan perjalanan menuju Demak. Kupikir, pengalaman pada perhentian awal adalah ujian terhadap kesungguhanku dalam melanjutkan misi ini. Kuperhatikan teman-temanku yang juga merasakan keanehan yang sama. Namun semangat mereka lebih kuat ketimbang memikirkan suasana yang mereka dapatkan di kompleks orang suci Syech Ki Gede Jati, yang bagiku sudah berubah menjadi sarang makhluk ghaib yang melayani para pengunjung untuk mencari keramat dan mencari rezeki. Memang pedih menyaksikan makam orang suci telah berubah menjadi berhala religi.

laporan selanjutnya : energi baru di masjid wali

Ekspedisi Walisongo : Energi Baru di Masjid Wali

Masjid Agung Demak | Demak, Jawa Tengah

Impianku shalat di Masjid ini tertanam sejak 02 April 1994. Memang sangat lama, 15 tahun lebih beberapa hari. Pemicunya adalah sebuah buku yang ditulis oleh Agus Sunyoto, berjudul “Sunan Ampel”. Buku tersebut memberikan pencerahan kepadaku, yang masih meragukan kebenaran bacaanku sebelumnya, Babad Tanah Jawi dan Babad Cirebon. Kedua buku terakhir begitu kental dengan keajaiban dan mistik.

Menurut Babad yang kubaca, Masjid Demak dibangun oleh Walisongo hanya dalam waktu satu malam. Berdasarkan tulisan candrasengkala “Lawang Trus Gunaning Janmi“, masjid tersebut didirikan pada tahun 1477. Versi lain, berdasarkan gambar seekor Bulus di mihrab masjid, melambangkan tahun 1479. Entah mana yang benar, aku belum mendapatkan kepastian. Namun yang paling menyisakan ragu adalah masa pembangunan yang hanya semalam. Bagiku, amat tidak masuk akal. Setakwa apapun, walisongo bagiku adalah para manusia biasa, bukan pesulap apalagi penyihir. Kisah walisongo, bukanlah dongeng Sangkuriang yang sanggup membangun istana hanya semalam.

Aku memandangi masjid impianku dari alun-alun. Sengaja kupuaskan memandangnya sebelum memasuki tubuh dan jiwa masjid itu. Perlahan kuberjalan, menuju serambi masjid. Kuperhatikan teman-temanku yang melepas lelah, berbaring terlentang pada lantainya yang dingin. Aku tergoda untuk mengikuti mereka. Kutelentangkan badanku, kurentangkan tanganku, kurasakan dinginnya lantai menyerah panas dari kulit tubuhku. Semilir angin menambah sejuk. Menguapkan rasa gerah di siang hari yang terik ini.

Sambil berbaring, kuperhatikan atap dan delapan tiang penyangga serambi masjid ini. Delapan tiang yang disebut Soko Majapahit itu dibangun atas perintah Dipati Unus atau Pangeran Sabrang-Lor. Beliau adalah anak Raden Fatah dan menjadi Sultan Demak Kedua pada 1518-1521. Mengingat tokoh yang membangunnya, serambi yang luas ini bisa jadi dibangun pada fase pengembangan, bukan fase awal pembangunan masjid.

Perjalanan nonstop tanpa tidur sejak sehari yang lalu amat melelahkan. Tapi sejak berwudhu di Masjid Sunan Gunung Jati, Shubuh tadi, membuat mataku tak lagi mengantuk. Tapi tak kupungkiri, pegalnya pinggang sempat menyerangku. Dan pegal dan nyeri yang menyiksa itupun kini lenyap setelah cukup lama berbaring di serambi Masjid Agung Demak ini.

Cukup bagiku rebahan sebentar. Akupun bangkit menuju ruang wudhu untuk membersihkan debu-debu perjalanan demi menghadap Tuhan di dalam masjid impian. Kini aku berdiri tepat di depan pintu masuk Masjid Agung Demak. Aku kembali mengucap syukur Alhamdulillah. Tanpa Kuasa Tuhan, tak mungkin impianku terwujud pada hari ini, shalat di Masjid yang dibangun oleh para perintis Walisongo ini. Bergetar hatiku saat mengingat betapa ketetapan Allah tak berbatas waktu. 15 Tahun memendam keinginan ini, terbayar tuntas berkat ajakan teman-temanku.

Langkahku tertuju pada empat buah soko guru yang menurut beberapa Babad dibangun oleh Sunan Ampel, Sunan Gunung Jati, Sunan Bonang, dan Sunan Kalijaga. Entah bagaimana proses pembangunan yang realistis, karena aku masih menyangsikan jika keempat tokoh itu membangun soko guru tersebut pada satu waktu. Jika salah satunya membangun pada masa renovasi, bagiku cukup rasional. Sebab, yang kutahu, Sunan Kalijaga baru diajak bergabung dalam jajaran Walisongo oleh Sunan Bonang, setelah ayahnya, Sunan Ampel wafat, 2 tahun setelah pembangunan Masjid yang digagas oleh Raden Fatah .

Masjid ini memang murni gagasan antara generasi tua dan muda, yakni Sunan Ampel dan muridnya Raden Fatah, yang masih keturunan Sri Kertawijaya, Raja Majapahit. Gagasan tersebut menjadi rencana Bhayangkare Ishlah, nama resmi yang disebut oleh Sunan Ampel sebelum populernya sebutan Walisongo.

Latar belakang pembangunan Masjid Demak yang utama adalah sebagai pusat koordinasi dakwah Bhayangkare Ishlah. Begitupun dengan posisi geografis Ampel Denta yang dekat dengan ibukota Majapahit. Karena itu, Sikap Hijrah para wali merupakan strategi yang tepat. Selain sebagai pusat pendidikan Islam, latar belakang politis juga menjadi pertimbangan. Penyerbuan Majapahit terhadap Giri Kedhaton, yang dipimpin oleh Sunan Giri yang juga keturunan Bhre Wirabumi, meskipun mengalami kegagalan, sudah menjadi sinyal untuk segera memindahkan pusat dakwah.

Selain itu, pada 1477 kondisi politik Majapahit sedang dilanda ancaman kudeta. Dyah Ranawijaya Girindrawardhana semakin hari semakin menebarkan ancaman kepada Raja Majapahit yang berkuasa, Kertabhumi. Kewaskitaan Sunan Ampel benar-benar terbukti. Setahun setelah Masjid Demak dibangun, Majapahit benar-benar jatuh ke tangan Dyah Ranawijaya Girindrawardhana, walaupun Sang Raja Kertabhumi menyelamatkan diri ke Demak, dimana anak angkatnya, Raden Fatah langsung ditahbiskan oleh Sunan Ampel sebagai Raja Kerajaan Demak.

Aku mulai shalat dzuhur menghadap tiang (soko guru) yang tertulis nama Sunan Bonang. Entah mengapa hatiku tertarik untuk shalat di depan tiang Sunan Bonang. Padahal di sebelahnya berdiri kukuh tiang lainnya yang bertuliskan nama Sunan Ampel, Sunan Gunung Jati, dan Sunan Kalijaga, yang tentunya ketiga nama tersebut lebih populer ketimbang Sunan Bonang. Aku belum memahami kekuatan hatiku sendiri.

Kurasakan suasana hening, tenang, sunyi, menyelimuti shalatku. Selesai shalat Dzuhur, kujama’ dengan shalat Ashar. Aku berdiri dan berjalan ke depan mimbar masjid. Kurasakan energi positif menyelusup ke nadiku. Kubayangkan saat para wali mengorganisasikan perjuangan mereka di dalam masjid ini. kubayangkan sosok Sunan Ampel berdiri memberikan tausiyah dari mimbar itu.

Kulanjutkan shalatku hingga selesai dan tetap duduk bersimpuh di depan mimbar. Kulantunkan Al-fatihah, zikrullah, dan shalawat atas nabi dan para wali. Kembali kuingat keagungan Tuhan, yang mengizinkanku shalat di Masjid yang lama kuimpikan. Kurasakan energi zikir dan aura para wali terserap dalam jiwaku. Menjadi energi baru untuk melanjutkan ziarah ini ke makam para wali.

laporan selanjutnya : kekuasaan dan kesalehan

Ekspedisi Walisongo : Wali dengan Citarasa Lokal

Makam Sunan Kalijaga | Kadilangu, Jawa Tengah

Kami berdiskusi di parkiran Masjid Agung Demak. Ada yang duduk di kursi mobil dengan jendela terbuka. Ada juga yang berdiri. Pembahasan utama adalah melanjutkan perjalanan ke Makam Sunan Kalijaga. Menurut beberapa pengunjung, ada ketentuan tak tertulis bahwa perjalanan menuju makam Sunan Kalijaga tak boleh ditempuh dengan mobil. Seolah ada keharusan bahwa pengunjung harus menggunakan jasa becak ataupun ojeg yang tersedia dekat area parkir ini.

Sebagian besar anggota tim enggan mengikuti aturan tuturan tersebut. Aku dan alux pun awalnya berniat jalan kaki berdua menuju makam Sunan Kalijaga, tapi mengingat keberadaan Kyai Nasrudin sebagai pimpinan ziarah, kami membatalkan rencana tersebut. Diskusi kamipun mencapai mufakat: menuju makam Sunan Kalijaga dengan Terios dan Phanter. Kami yakin, aturan “tutur tinular” itu tak mesti dipatuhi. Lagipula perjalanan kami masih panjang. Kami masih harus mencapai titik-titik makam para wali di beberapa kota.

Kami meninggalkan Masjid Agung Demak. Menyusuri alun-alun Demak hingga menemukan Jl. Sunan Kalijaga. Tak lebih dari 15 menit berjalan santai, kami belok ke kiri, memasuki jalur Makam Sunan Kalijaga. Benar dugaanku, bahwa anggapan yang mengharuskan peziarah tidak boleh mengendarai mobil, tidak benar juga nyatanya. Di sana sudah tersedia tempat parkir untuk peziarah yang menggunakan mobil. Tapi memang hanya cukup untuk mobil keluarga saja. Tak ada tempat yang layak untuk parkiran bus. Masuk akal jika di Masjid Demak ada saran untuk menggunakan jasa becak ataupun ojeg, namun sepertinya ketentuan itu hanya berlaku bagi rombongan ziarah yang menggunakan bus.

Kutelusuri gang sempit menuju makam Sunan Kalijaga. Di sebelah kiri jalan adalah tembok kompleks makam Sunan kalijaga yang sepertinya digabung juga dengan makam masyarakat sekitar. Di sisi kanan gang ini, berderet rumah masyarakat yang sekaligus berfungsi sebagai warung cinderamata dan toilet umum.

Sampai di gerbang makam Sang Wali. Aku melepaskan sendal jepit yang kubeli di Alas Roban. Begitulah aturannya, peziarah harus melepaskan alas kaki agar area makam yang jalurnya berlantai keramik ini tetap terjaga kebersihannya.

Kyai Nasrudin memintaku mendaftarkan kedatangan kami kepada petugas penerima tamu. Memang itulah salah satu tugasku sebagai juru bicara, yang disepakati oleh semua anggota Tim Ekspedisi. Kutuliskan nama rombongan kami pada buku tamu dan memberikan sekedar biaya sukarela untuk perawatan makam. Kuperhatikan, Kyai Nasrudin merunduk di depan sebuah standing banner berwarna dasar merah berpadu latar luar berwarna hitam. Teman-temanku mengikutinya, membaca pesan yang tertulis pada banner tersebut. Aku mengikuti pula. Isinya adalah wejangan Sunan Kalijaga.

Ajaran Hidup Kanjeng Sunan Kalijaga itu berisi 6 rahasia hidup :

1. “Marsudi Ajining Sarira” yang bermakna hargailah dirimu dan kemudian menghargai orang lain.
2. “Manembah” yang bermakna menyembah Allah SWT dengan mematuhi segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya.
3. “Mangabdi” yaitu me ngabdi kepada kedua orang tua yang telah melahirkan dan membesarkan.
4. “Maguru” yang berarti mencari ilmu.
5. “Martapa” yaitu laku prihatin, hidup sederhana dan tidak berlebihan.
6. “Makarya” artinya bekerja sebagai syarat dan bekal hidup di dunia.

Itulah enam petuah Sunan Kalijaga yang dapat menjadi “Spiritual Mercandhise” bagi para peziarah. Dengan mempraktikan keenam wejangan ini, insya Allah hidup kita akan menjadi lebih damai, tepo seliro, toleran, demi mencapai sukses secara pribadi maupun sosial.

Kami beranjak menuju area lebih dalam dari kompleks makam ini, menuju makam utama, Sunan Kalijaga. Menapaki jalur beralas keramik yang terjaga kebersihannya. Kurasakan, betapa pengelola makam ini benar-benar bekerja membersihkan kompleks makam. Dari gerbang pertama hingga menelusuri selasar dan mencapai gerbang makam Sunan Kalijaga, tak kutemukan daun-daun kering yang bertebaran padahal banyak sekali pohon besar dan tua di area makam ini. Kuserap makna dari situasi ini. lingkungan yang bersih, akan memberikan energi positif, memberikan kedamaian di hati yang membutuhkan pembersihan.

Aku duduk di belakang Kyai Nasrudin, bersebelahan dengan Alux di hadapan makam Sunan Kalijaga. Kuikuti panduan doa-doa ziarah yang dipimpin sang Kyai. Kuyakini, ketika hamba Allah berkumpul menyebut kesucian-Nya, melantunkan doa-doa, mengirimkan spiritual-gift, Allah mengirimkan para malaikat untuk menjadi saksi dan mengalunkan tembang pujian dan harapan sebagai berkah pagi para hamba.

Aku terkesan pada figur Sunan Kalijaga. Ia adalah anak seorang Adipati Tuban, Wilatikta. Ia berdarah nigrat. Namun jalan hidupnya lebih banyak didedikasikan untuk kesejahteraan rakyat. Ia tinggalkan kehidupan mewah keluarga istana dan menjadi begal, merampas harta orang-orang kaya untuk dibagikan kepada orang-orang miskin. Ia tak mencari popularitas dari aktifitasnya. Ia memberikan hasil rampokannya tanpa diketahui oleh rakyat kecil yang menerimanya. Itulah Lokajaya, sebelum berganti jiwa menjadi Sunan Kalijaga, sebelum menjadi seorang pesuluk yang mengarahkannya pada derajat wali.

Kisah yang mengalir menuju muara pemikiran masyarakat Jawa tentang proses perubahan jati diri Lokajaya penuh dengan simbolisasi. Dikisahkan, saat itu ia merampok orang tua yang sedang berjalan di hutan Jatiwangi. Terpikat oleh tongkat berkepala emas yang digenggam orang tua berjubah putih itu. Namun Lokajaya tak sanggup membawa tongkat tersebut. Ia malah jatuh tersungkur. Saat itulah, tongkat sakti itu kembali ke tangan orang tua berjubah putih, yang dikenal sebagai Sunan Bonang, anak dari Sunan Ampel. Sejak itulah Lokajaya berubah, dari berburu menjadi berguru. Ia menyerahkan diri sepenuhnya dalam bimbingan sang wali, Sunan Bonang.

Aku menyerap kisah tersebut hanya sebagai simbolisasi saja. Bisa jadi kenyataannya tak sedramatis itu. Tradisi sastrawan penulis Babad memang seperti itu, banyak mendeskripsikan kisah dengan simbolisasi. Kesan yang diserap akhirnya malah menjadi lakon tentang keajaiban dan kesaktian. Menjadi legenda, bahkan menjadi dongeng pengantar tidur anak-anak muslim Jawa.

Bisa jadi pertemuan antara Lokajaya dan Makhdum Ibrahim yang bergelar Sunan Bonang tidak seperti yang dikisahkan. Tongkat berkepala emas merupakan simbol dari pandangan hidup sang wali. Tongkat emas adalah pegangan hidup yang paling tinggi derajatnya, yaitu Islam. Untuk dapat menjadikan Islam sebagai pegangan, sebagai prinsip hidup, Lokajaya mesti memiliki kekuatan jiwa. Membersihkan diri dari tujuan yang melulu material dan pencapaian yang tidak menghalalkan segala cara. Bertahun-tahun ia menjalani hidup sebagai “murid kal mayit” Sunan Bonang. Penempaan hidup dalam bimbingan tasawuf, melahirkan jati diri baru Lokajaya menjadi Raden Sahid, yang lebih populer dikenal dengan gelar Sunan Kalijaga.

Sebagaimana tradisi sufi. Ketika sampai pada derajat wali, Sunan Kalijaga juga menjalankan kewajiban safar, melakukan perjalanan dakwah mengembangkan Islam. Di setiap daerah yang dijejakinya, Sunan Kalijaga mendapatkan tempat di hati masyarakat barunya. Ia memiliki pendekatan yang mudah diterima oleh masyarakat yang amat kental budaya Jawa (Hindu-Budha).

Sunan Kalijaga selalu menampilkan sosok sang budayawan. Banyak karya budaya yang ia modifikasi dengan unsur-unsur Islam. Kebiasaan baru yang ia modifikasi, akhirnya menjadi budaya masyarakat yang berurat berakar. Ia memadukan dakwah dengan seni budaya yang mengakar di masyarakat. Misalnya lewat wayang, gamelan, tembang, ukir, dan batik, yang sangat populer pada masa itu. Babad dan serat mencatat Sunan Kalijaga sebagai penggubah beberapa tembang, di antaranya Dandanggula Semarangan, sebuah paduan melodi Arab dan Jawa.

Tembang lainnya adalah memopulerkan Ilir-Ilir, karya gurunya, Sunan Bonang. Lariknya punya tafsir yang sarat dengan dakwah. Misalnya tak ijo royo-royo dak sengguh penganten anyar. Ungkapan ijo royo-royo bermakna hijau, lambang Islam. Sedangkan Islam, sebagai agama baru, diinsyafi sebagai penganten anyar, alias pengantin baru.

Peninggalan Sunan Kalijaga lainnya adalah gamelan, yang diberi nama Kanjeng Kyai Nagawilaga dan Kanjeng Kyai Guntur Madu. Gamelan itu kini disimpan di Keraton Yogyakarta dan Keraton Surakarta, seiring dengan berpindahnya kekuasan Islam ke Mataram. Pasangan gamelan itu kini dikenal sebagai gamelan Sekaten yang diserap dari Syahadatain.

Karya Sunan Kalijaga yang juga menonjol adalah wayang kulit. Ahli sejarah mencatat, wayang yang digemari masyarakat sebelum kehadiran Sunan Kalijaga adalah wayang beber. Wayang jenis ini sebatas kertas yang bergambar kisah pewayangan. Sunan Kalijaga diyakini sebagai penggubah wayang kulit.

Tiap tokoh wayang dibuat gambarnya dan disungging di atas kulit lembu. Bentuknya berkembang dan disempurnakan pada era kejayaan Kerajaan Demak, 1480-an. Cerita dari mulut ke mulut menyebut, Kalijaga juga piawai mendalang. Di wilayah Pajajaran, Sunan Kalijaga lebih dikenal sebagai Ki Dalang Sida Brangti.

Bila sedang mendalang di kawasan Tegal, Sunan Kalijaga bersalin nama menjadi Ki Dalang Bengkok. Ketika mendalang itulah Sunan Kalijaga menyisipkan dakwahnya. Lakon yang dimainkan tak lagi bersumber dari kisah Ramayana dan Mahabarata. Sunan Kalijaga mengangkat kisah-kisah carangan.

Beberapa di antara yang terkenal adalah lakon Dewa Ruci, Jimat Kalimasada, dan Petruk Dadi Ratu. Dewa Ruci ditafsirkan sebagai kisah Nabi Khidir. Sedangkan Jimat Kalimasada tak lain perlambang dari dua kalimat syahadat. Bahkan kebiasan kenduri pun jadi sarana syiarnya.

Sunan Kalijaga mengganti puja-puji dalam sesaji itu dengan doa dan bacaan dari kitab suci Al-Quran. Di awal syiarnya, Kalijaga selalu berkeliling ke pelosok desa. Menurut catatan Prof. Husein Jayadiningrat, Kalijaga berdakwah hingga ke Palembang, Sumatera Selatan, setelah dibaiat sebagai murid Sunan Bonang.

Bisa kubilang, Sunan Kalijaga adalah sosok wali dengan citarasa lokal. Ia benar-benar asli keturunan ningrat Jawa, tidak seperti wali lainnya yang kebanyakan pendatang dari negeri luar Jawa. Ia mampu mengeksplorasi budaya lokal, menyibak kearifan lokal, menyuntikkan nilai-nilai Islam, hingga menjadi model budaya baru di tanah Jawa.

Biasanya para wali rutin melakukan perjalanan ke Baitullah di Mekkah. Pernah ia ingin menyusul sang guru, Sunan Bonang yang sedang beribadah haji ke Baitullah. Namun ketika perjalanannya baru sampai Pasai, Syech Maulana Maghribi – guru Sunan Bonang ketika mendalami tarekat Qadiriyah dan Maulawiyah – memintanya agar kembali ke Tanah Jawa, melanjutkan misinya yang belum selesai.

Perjalanan dakwah Sunan Kalijaga memang belum usai. Usia cita-citanya lebih tua ketimbang usia dirinya. Kini tradisi yang ia ciptakan menjadi ritual yang terkesan sinkretis, yang bila dipandang dari mahzab fiqh lain dianggap sebagai bid’ah. Namun jika kita mau menyerap makna filosofis, tak perlu ada vonis tentang kemurnian nilai-nilai Islam di dalamnya. Bagaimanapun, Islam adalah agama yang akomodatif terhadap kearifan lokal suatu bangsa.

Kuikuti langkah teman-teman meninggalkan makam Sunan Kalijaga. Aroma bunga kemboja yang memenuhi kompleks makam memberikan kesegaran bagi tubuh yang lelah karena perjalanan panjang. Sejak kemarin siang hingga sore ini, lebih dari 24 jam, mata kami belum terpejam.

laporan selanjutnya : ulama-panglima titisan ayah

Ekspedisi Walisongo : Ulama-Panglima Titisan Ayah

Makam Sunan Kudus | Kudus, Jawa Tengah

Aku tak langsung menyebrang memasuki kompleks Masjid Menara Kudus. Aku hanya berdiri menikmati keindahan menara setinggi 18 meter, yang dibangun dengan tumpukan batu bata berwarna merah. Desain arsitekturnya kentara sekali bercorak Hindu-Majapahit. Inilah menara masjid yang paling unik di seluruh dunia. Tak ada satu masjidpun di dunia yang memiliki menara mirip dengan Menara Masjid ini.

Sementara itu langit kota Kudus makin temaram, sebentar lagi waktu Maghrib tiba. Aku melangkah memasuki gerbang masjid di sebelah menara, yang sejak awal membuat mataku terpana.

Satu dua orang masyarakat sekitar datang ke masjid. Makin senja, makin banyak jamaah tiba. Orang tua yang sudah berwudhu dari rumah, langsung duduk bersila di shaff terdepan. Para remaja menunggu waktu adzan. Bercengkrama tanpa bising suara. Sekelompok anak-anak duduk membentuk lingkaran, melantunkan Shalawat Nabi menjelang adzan.

Aku menuju tempat wudhu.Terkesan melihat keran klasik dan indah yang menakjubkan mataku. Sebuah tempat wudhu kuno dari susunan bata merah, dengan lubang pancuran berbentuk kepala arca berjumlah delapan buah. Jumlah ini konon dikaitkan dengan falsafah Budha, yaitu Asta Sanghika Marga (delapan jalan utama) yang terdiri dari pengetahuan, keputusan, perbuatan, cara hidup, daya, usaha, meditasi, dan komplementasi yang benar.

Lubang pancuran kuno yang berbentuk kepala arca seperti ini terdapat pada tempat wudhu. Bentuk arca seringkali dikaitkan dengan kepala sapi karena hewan tersebut dulunya diagungkan orang Hindu di Kudus. Bahkan hingga sekarang meski mereka telah menjadi Muslim, masih memiliki tradisi menolak penyembelihan sapi.

Kuputar keran itu. Air dingin mengucur deras. Kubasuh tanganku, hingga sempurna wudhuku. Sejuk dan segar kembali kurasakan. Entah energi apa yang terserap ke dalam tubuhku. Hingga detik ini, sejak kemarin sore memulai perjalanan, menghabisi malam di jalan tanpa terpejam, menelusuri pagi hingga terik matahari, dari Cirebon, Brebes, Tegal, Pemalang, Pekalongan, Batang, Alas Roban, Kendal, Semarang, singgah di Demak dan Kadilangu. Senja ini kami sudah ada di Masjid Menara Kudus. Belum kurasakan lelah yang membuatku menyerah. Apalagi dengan siraman air wudhu ini.

Segera kupanggil teman-temanku, “Wudhu! Airnya segar! Kerannya bagus!”. Merekapun segera menghampiriku. Merendam kaki yang kering di kolam kecil sebelum sampai ke area wudhu. Mereka menikmati kolam kecil itu, sedangkan aku menaiki anak tangga masjid, menuju pintu.

Terdengar suara adzan yang iramanya amat berbeda dengan adzan yang biasa kudengarkan di kotaku, berbeda dengan adzan yang biasa ditayangkan di televisi maupun radio. Amat berbeda! Yang kurasakan, sang mu’adzin mengumandangkan adzan tidak dengan suara yang dilantangkan. Adzan yang dikumandangkan dari atas Menara terdengar datar namun mendayu-dayu. Menarik hati yang mendengarkan panggilannya. Irama adzan terdengar dekat, membuat jiwaku hanyut terpikat.

Selesai shalat Maghrib berjamaah, aku mencari tempat untuk melanjutkan jama’ shalat Isya’. Aku berdiri, memperhatikan sekeliling ruangan di belakangku. Hatiku terpaut pada sebuah bangunan tua. Kuhampiri, keperhatikan, kebahagiaan membuncah.

Sebuah pintu gerbang yang asli dari Masjid Tua ini baru kusadari keberadaannya. Akupun melanjutkan shalat Isya’ tepat di depan gerbang tua yang masih dipertahankan berdiri tegak di dalam masjid yang sudah digubah menjadi lebih luas dan lebih indah.

Selesai shalat, aku masih enggan beranjak. Kuperhatikan gerbang masjid lama yang dibentuk dari tumpukan batu yang sama persis seperti Menara Masjid di depan sana. Inilah gerbang Masjid Al-Aqsa itu. Nama Al-Aqsa diberikan oleh Syech Ja’far Shadiq yang bergelar Sunan Kudus karena terinspirasi dari sebuah batu yang dihadiahkan oleh seorang Syech di Makkah, saat sang Sunan menunaikan Haji dan mengajar untuk beberapa waktu di Makkah Al-Mukaramah. Batu tersebut berasal dari Baitul Maqdis di Yerusalem. Untuk mengenangnya, Masjid itupun diberinama Masjid Al-Aqsa yang akhirnya menjadi Kudus. Mulai saat itulah nama Kudus mengubah nama dusun yang sebelumnya bernama Tajug.

Masjid ini didirikan pada 956 Hijriah (1549 Masehi). Dalam inskripsi terdapat kalimat berbahasa Arab yang artinya, “… Telah mendirikan masjid Aqsa ini di negeri Quds…” Sangat jelas bahwa Ja’far Shodiq – yang juga merupakan ahlul bait Nabi keturunan ke-14 dari Husain bin Ali bin Abi Thalib menantu Rasulullah Muhammad SAW. – menamakan masjid itu dengan sebutan al-Aqsa, setara dengan Masjidil Aqsa di Yerusalem. Walau tak terucap, pujian terungkap dari hatiku. Untuk Sang Sunan perencana arsitektur masjid ini.

Ketika sedang asyik menikmati keindahan pintu gerbang tua, teman-temanku memanggil agar bersama-sama berziarah ke makam Sunan Kudus yang berada di depan masjid.

Aku mengikuti mereka ke sebelah Selatan masjid. Memasuki gapura kompleks makam yang juga bercorak arsitektur Hindu-Jawa. Kucatat nama rombongan kami di buku tamu. Kurasakan sikap santun dan ramah para petugas penunggu makam. Amat bertolak belakang dengan petugas yang pernah kutemui di Cirebon pagi tadi. Mereka bahkan tak meminta uang sepeserpun, malah langsung mengarahkan jalan menuju makam sang Sunan.

Jalur ke makam Sunan masih melewati gapura yang indah menawan. Lampu penerang di beberapa titik taman dan selasar memudahkan perjalanan kami. Binar-binar cahaya lampu sepanjang jalan, menghilangkan kesan angker yang biasanya terbentuk karena kegelapan. Kulihat ratusan peziarah duduk bersimpuh di sekeliling makam sang Sunan. Mereka membaca doa tanpa menyuarakan kebisingan. Beberapa remaja kuperhatikan sedang menghafal al-qur’an. Menurut penjelasan Kyai Nasrudin, mereka adalah para santri di Masjid Menara Kudus ini.

Kami mendapatkan tempat di Barat Daya dari makam sang Sunan. Kyai Abdul Rozak mendampingi Kyai Nasrudin memimpin ritual ziarah. Yang lain duduk di lantai kosong yang masih tersisa. Mengikuti arahan doa hingga selesai.

Kami beranjak demi memberikan kesempatan bagi tamu lainnya yang belum mendapatkan tempat untuk berziarah. Sebelum meninggalkan, aku berjalan mengelilingi makam. Memperhatikan kekhusyu’an para peziarah di setiap sisi makam. Doa-doa terus mengalir dari jiwa mereka, bergantian tak putus-putusnya bagi sang Sunan yang tenang di alam sana.

Sunan Kudus adalah pelanjut perjuangan dakwah Islam ayahnya, Raden Usman Haji yang bergelar Pangeran Ngudung. Bersama dengan Sunan Ampel, sang ayah adalah generasi pertama walisongo. Ialah yang melakukan dakwah pertama kali di Kerajaan Matahun tepatnya di daerah Ngudung, ketika masih dalam kekuasaan Kerajaan Majapahit.

Saat itu nama walisongo belum terucap. Gerakan ulama gelombang pertama dan kedua masih menggunakan nama Bhayangkare Ishlah. Nama Walisongo baru dikenal pada gelombang ketiga, saat akan dibangunnya Kesultanan dan Masjid Demak.

Syech Usman Haji yang setelah berdirinya Kesultanan Demak bergelar Sunan Ngudung adalah panglima perang. Bahkan sejak awal gerakan dakwah yang dipimpin oleh Sunan Ampel, beliau menerima amanat melatih para santri dengan keterampilan pencak silat. Hidupnya berakhir di medan perang, ketika Kesultanan Demak yang dipimpin oleh generasi ketiga, Sultan Trenggono memerintahkannya memimpin penyerangan terhadap Majapahit. Saat peperangan itulah – sekitar tahun 1524 Masehi – Sunan Ngudung syahid oleh tusukan Adipati Terung. Kesultanan Demak memberikan gelar Anumerta “Penghulu Rahmatullah” atas jasanya.

Kedudukan Sunan Ngudung sebagai panglima perang dan imam masjid Demak digantikan oleh anaknya sendiri, Ja’far Shadiq yang kelak bergelar Sunan Kudus. Pada peperangan selanjutnya – tahun 1527 Masehi – Sultan Trengono memerintahkan Ja’far Shadiq memimpin penyerbuan terhadap ibukota Majapahit. Pada tahun inilah, ibukota Majapahit berhasil direbut oleh balatentara Demak, yang dipimpin Ja’far Shadiq. Darah ulama-panglima sang ayah terwariskan pada diri sang anaknya.

Setelah jabatannya sebagai Imam Masjid Demak tergantikan oleh Sunan Kalijaga atas penunjukkan Sunan Gunung Jati dan Restu Sultan Trenggono, Ja’far Shadiq meninggalkan Demak. Ia berkonsentrasi menggarap pesantren di dusun Tajug yang kelak diubah namanya menjadi Kudus. Sejak itulah ia meninggalkan keahliannya sebagai panglima perang, menanggalkan kehidupan priyayi, menjadi pesuluk dan bertani, sekaligus membina masyarakat Hindu di wilayahnya dengan ajaran Islam.

laporan selanjutnya : menafsirkan sebuah ketinggian

Ekspedisi Walisongo : Menafsirkan Sebuah Ketinggian

Makam Sunan Muria | Desa Colo, Jepara, Jawa Tengah

Menelusuri perjalanan ± 20 KM dari makam Sunan Kudus, kami tiba di desa Colo. Jam 9 malam di malam kedua ini kami memarkirkan dua kendaraan yang tak kenal lelah, lalu berjalan kaki menuju makam Sunan Muria. Aku salut terhadap stamina teman-teman yang tak pula menampakkan kelelahannya. Padahal sudah dua malam ini mereka belum merebahkan badan dan tidur sebenar-benarnya tidur. Mungkin nadzar yang telah terucap, tekad yang membara, memberikan energi ekstra.

Sebelum memasuki kompleks makam Sunan Muria, aku dibuat ternganga melihat gerbang dengan tangga beranak-pinak. Menurut informasi masyarakat setempat, panjang anak tangga hingga mencapai ketinggian makam Sunan Muria adalah 1 Kilometer. Jika membayangkan jalan yang lurus, jarak 1 KM terkesan enteng. Tapi pijakan yang harus kami lalui berkelok-kelok dan makin meninggi. Apakah aku akan sampai sementara pergelangan kaki kananku terkilir ketika turun dari kendaraan?

Aku terus melangkah mengekor teman-teman yang lebih dulu di atas sana. Aku benar-benar mengekor karena dari sepuluh anggota tim, akulah yang berada pada deretan terbelakang. Namun baru berjalan sekitar 20 meter, aku mendapatkan teman seperjalanan. Ialah PS sang driver. Rupanya ia juga tak kuat mengikuti langkah teman-teman yang lebih cepat. Kamipun menapaki satu per satu anak tangga berdua saja. Melangkahi 5-10 anak tangga, lalu istirahat sekitar 1 sampai 3 menit. Kemudian kami mendaki anak tangga berikutnya, yang telah kami lupakan sudah berapa hitungan, ketika sejak awal ternyata kami sama-sama menghitung dari anak tangga pertama. Ketika nyeri kakiku semakin terasa, kamipun duduk bersama, berbagi cerita dan berbagi kesan. Begitu seterusnya hingga mencapai puncak yang harapkan, sebuah bangunan megah yang bersatu dengan masjid. Itulah makam Sunan Muria.

Aku dan PS kehilangan jejak teman-teman. Mereka sudah lebih dahulu sampai dan telah menyebar menuju tempat yang mereka sukai. Kami masuki lorong masjid ini. Panjang sekali hingga bertemu dengan sekelompok petugas penunggu makam. Mereka menjelaskan arah dan mengarahkan hingga kami sampai di depan sebuah makam.

Makam Sunan Muria berbentuk sebuah bangunan berkonstruksi kayu berukir, beratap sirap model joglo. Pada sisi makam kuperhatikan sekat dinding dengan ukiran seperti bunga. Aku teringat tentang kisah Sunan Muria yang kurang suka dengan karya ukiran berwujud hewan ataupun manusia. Ia lebih menyukai corak bunga dan tumbuhan.

Di depan makam aku duduk bersimpuh di antara PS dan seorang tua yang sejak awal kuperhatikan hanyut dalam doa dan wirid. Bahkan sempat kudengar isak tangis dari orang tua yang duduk bersila di sebelah kananku. Baru kusadari bahwa orang tua itu adalah salah satu anggota tim ekspedisi. Kami memanggilnya Kopral Hanafi. Haru hatiku melihatnya masih hanyut dalam lantunan doa, ketika aku dan PS beranjak meninggalkan makam.

Kami telusuri lorong panjang yang merupakan arah keluar meninggalkan makam Sunan Muria. Namun bayangan tentang sang Sunan masih lekat dalam pikiranku. Inilah satu-satunya wali yang sejarahnya menyimpan misteri bagiku.

Ada sekelompok sejarawan yang menganggap Sunan Muria adalah anak Sunan Kalijaga. Buah dari pernikahan Sunan Kalijaga dengan Dewi Sarah binti Maulana Ishaq. Namun ada pula yang lebih setuju bahwa ia adalah anak dari Sunan Ngudung, ayahanda Sunan Kudus. Bahkan ada pula yang menyebut bahwa Sunan Muria keturunan Tionghoa, dengan sang ayah seorang Kapitan Tionghoa bernama Gan Sie Cang. Namun dari beragam versi tentang silsilah Sunan Muria, semua sepakat bahwa nama aslinya adalah Raden Umar Said.

Hingga aku selesai menelusuri lorong dan sampai di luar gedung, pikiranku tentang beragam versi sejarah sang wali masih mengawang-awang. Entah mana yang mendekati kebenaran.

Terlepas dari perbedaan versi silsilah sang wali, aku yakin tentang sosok Sunan Muria yang memiliki strategi dakwah mirip dengan Sunan Kalijaga dan pendekatan masyarakat seperti yang dilakukan Sunan Bonang, Guru Sunan Kalijaga.

Sunan Muria dikenal dengan kemahirannya mengaransemen musik tradisional Jawa. Ia mencipta karya macapat, sinom, dan kinanti. Bahkan sampai sekarang karyanya itu masih lestari. Lewat tembang spiritual itulah ia mengajak masyarakat mengamalkan ajaran Islam.

Seperti Sunan Kalijaga dan Sunan Bonang, Raden Umar Said lebih cenderung berdakwah kepada rakyat jelata. Ia meninggalkan pusat kota Kerajaan Demak dan menyebrang pantai selat menuju Gunung Muria. Menurut sumber literer para sejarawan, pada abad XV Pegunungan Muria terpisah dari pulau Jawa oleh sebuah selat. Aku membayangkan sebuah suasana yang jauh dari pusat pemerintahan, jauh dari hiruk pikuk kesibukan kota, dan jauh dari konflik politik.

Sunan Muria membina masyarakatnya tanpa membentuk sebuah dinasti kekuasaan. Ia hanya membentuk sebuah padepokan sebagai pusat pembinaan masyarakat menuju akhlaq Islam. Ia tak mau terlibat dan melibatkan ummat dalam persengketaan antara dominasi Demak dan binar kharisma Kudus.

Aku berdiri di bibir perbukitan. Memandang pijaran lampu kota jauh di bawah sana. Berlatar gelapnya langit malam. Aku merenung dari sebuah ketinggian Gunung Muria. Merenungkan ragam penafsiran atas ketinggian kharisma Sunan Muria.

laporan selanjutnya : wali dengan pusara melati

Ekspedisi Walisongo : Wali dengan Pusara Melati

Makam Sunan Bonang | Desa Bonang, Lasem, Rembang

Perjalanan menuju Makam Sunan Bonang adalah yang paling kunantikan. Keinginan itu terpicu saat aku lebih cenderung shalat di depan satu dari empat tiang (soko guru) Masjid Demak. Saat itu aku shalat di depan soko guru bertuliskan nama Sunan Bonang. Padahal sebelumnya aku ingin sekali shalat di depan soko guru bertuliskan nama Sunan Ampel. Perubahan kecenderungan hatiku berpindah posisi shalat, membuat aku ingin cepat sampai menuju makam Sunan Bonang.

Dari parkiran desa Colo, pegunungan Muria, beberapa anggota tim ekspedisi menjelaskan bahwa tujuan kami berikutnya adalah kota Tuban, kota tempat Sunan Bonang dimakamkan. Kamipun melesat memburu waktu. Menurut perkiraan teman-teman yang sudah tiga kali berziarah ke makam Sunan Bonang, kami akan tiba di Tuban sekitar pukul 2 dini hari.

Aku menavigatori Fauzi yang menyetir Phanter tua. Sementara teman-teman yang duduk di jok tengah dan belakang, tertidur karena kelelahan. Sementara di depan kami, Om Somad melesatkan Teriosnya dengan kecepatan di atas 100 KM/Jam.

Ketika kami melintasi pesisir pantai Lasem, Rembang, Fauzy memberitahuku, “Barusan saya lihat ada plang di sebelah kanan bertuliskan Makam Sunan Bonang?!” Pernyataan Fauzy mendesakku untuk menelpon Om Somad yang sepertinya tak membaca plang tersebut. Namun tiga kali panggilan, tak juga diangkat olehnya. Aku dan Fauzy jadi bertanya-tanya, apa benar plang yang telah kami lewati tadi adalah makam Sunan Bonang? Padahal menurut informasi, lokasi makam Sunan Bonang yang kami tuju adalah di kota Tuban, bukan di Rembang.

Tak berapa lama Om Somad menelponku. Ia haus dan minta air minum yang masih tersedia di mobil kami. Aku memintanya berhenti dimana saja agar ia bisa mendapatkan minuman. Walau sebenarnya aku ingin mempertanyakan padanya tentang plang yang dilihat Fauzy.

Di sebuah SPBU kami memarkirkan kendaraan. Aku langsung menuju mobil Om Somad, memberikan sebotol air putih dan langsung bertanya, “Tadi ada plang Makam Sunan Bonang, kenapa dilewati, Om?”

Om Somad menjelaskan, iapun melihat plang yang kami maksud, tapi karena ia sudah 3 kali berziarah ke makam Sunan Bonang di Tuban, maka ia memutuskan untuk lanjut menuju Tuban.

Aku dan Fauzy bertanya kepada Kyai Nasrudin. Sebagai pimpinan ziarah, ialah yang mesti memutuskan apakah kami harus melanjutkan perjalanan ke Tuban atau kembali ke Rembang. Sang pimpinan memutuskan untuk kembali ke Rembang, tempat dimana hanya Fauzy dan Om Somadlah yang melihat plang Makam Sunan Bonang, karena selain kami bertiga, yang lain tertidur lelah selama perjalanan.

Kami tiba di sebuah area parkir yang amat luas di pinggir pantai. Aku melihat sebuah plang besar berbentuk setengah lingkaran bertuliskan “Pasujudan Sunan Bonang, Makam Ratu Cempo”. Kutuju sebuah bangunan tanpa penerangan yang layak. Kulihat ada seorang petugas penunggu makam yang duduk di sana. “Makam Sunan Bonang dimana, pak? Koq yang ada hanya makam Ratu Cempo?” tanyaku.

Petugas itu menuding ke arah kanan. Ada sebuah plang kecil tanpa penerangan bertuliskan “Ke Arah Makam Sunan Bonang”. Tanpa penerangan! Aku baru menyadari kalau lokasi makam Sunan Bonang berbeda arah dengan makam Ratu Cempo. Kuajak teman-teman mengikuti arah yang ditunjuki plang tersebut.

Tidak semua peserta mengikuti. Hanya aku, Kyai Nasrudin, Achey, Kopral Hanafi, dan Kyai Haji Abdul Rozak. Baru kira-kira melangkah 50 meter memasuki gelapnya rimbunan pohon dan semak belukar, kami dihadapkan pada beberapa batu nisan. Sama sekali tak ada lampu yang menerangi jalan setapak yang kami lalui. Kyai Nasrudin menyapaku, “Makam Sunan Bonang yang pernah beberapa kali saya ziarahi, tidak seperti ini!”

Kyai Nasrudin menceritakan tentang makam Sunan Bonang yang amat megah, terang benderang dengan lampu pelengkap makam, dan tidak jauh dengan sebuah pesantren yang juga megah dan ramai. Sangat jauh berbeda dengan apa yang kami lintasi di sini, sebuah lokasi yang gelap, semak belukar yang rimbun, pepohonan besar yang menambah pekatnya malam, dan suasana sepi, hening, dan deretan batu nisan pemakaman penduduk yang menambah kesan menyeramkan.

Aku bilang pada Kyai Nasrudin, “kita lanjutkan saja. Makam Sunan Bonang masih 200 meter lagi!” Kamipun tetap melangkah menyusuri jalan setapak dalam liputan tengah malam yang gelap, hingga sampai di sebuah persimpangan.

Pada pesimpangan itu ada tulisan yang menjelaskan dua arah. Lurus ke gelapnya hutan menuju sebuah nama yang asing. Belok ke kanan menuju makam Sunan Bonang. Kami duduk bersama di persimpangan itu dan kembali melanjutkan perjalanan ketika PS dan Fauzy telah bergabung.

Kami tiba di depan sebuah tembok batu merah tanpa plesteran semen yang terkesan tua. Aku berdiri di depan pintu gerbang berbentuk gapura. Sepasang daun pintunya terbuat dari kayu, dengan ukiran kaligrafi membentuk lingkaran. Kembali Kyai Nasrudin menyatakan bahwa apa yang ia lihat saat ini amat berbeda 180 derajat dengan yang pernah ia datangi.

Sebelum memasuki komplek makam yang terkesan seperti sebuah padepokan tua, kami berwudhu di sebuah sumur persegi. Di atas sumur itu ada tulisan, “Sumur peninggalan Sunan Bonang”. Walaupun lokasi ini dekat dengan pantai, namun kurasakan airnya tidak asin. Justru airnya segar ketika aku berkumur-kumur dan menyempurnakan wudhu.

Kami masuki gerbang kusam kompleks makam yang amat sepi. Berbeda dengan situasi makam lainnya yang sudah kami datangi sebelumnya. Kami terus melangkah menuju gerbang kedua dan terdiam di depan pintu ketiga yang tertutup. Melihat isyarat Kyai Nasrudin, aku membuka pintu tersebut dan masuk ke dalam area. Ada sosok lelaki bertudung putih yang mengejutkanku. Andai lelaki itu tak menjawab salam Kyai Nasrudin, mungkin aku mengira lelaki itu bukan manusia.

Lelaki penunggu makam itu menanyakan maksud kedatangan kami. Ia meminta kami menunggu sebentar sampai tiba seorang juru kunci makam Sunan Bonang. Pintu menuju makam masih terkunci. Heningnya malam merasukkan kedamaian saat duduk menunggu di depan pintu.

Mungkin hanya lima menit, seorang lelaki berperawakan kurus menyalami kami dengan keramahan. Batik yang dikenakannya mengesankan kebersahajaan. Ia menyapa kami dengan tata bicara yang santun. Setelah membukakan pintu makam, ia membimbing kami masuk dan menjelaskan tentang sosok Sunan Bonang yang hidup dalam kesederhanaan.

pusara sunan bonang hanyalah pohon melati

Kami duduk bersimpuh menghadap makam sang Sunan. Tak ada pusara dari batu. Tak ada cungkup dan kelambu layaknya makam Sunan lainnya. Hanyalah sebuah pohon melati di tengah hijau pekat rerumputan. Itulah pusara Sunan Bonang. Kami duduk bersimpuh di depan pusara sederhana. Melantunkan doa dan wirid bagi ruh sang Wali yang memeluk para tamunya dengan cinta dan kasih sayang.

Makhdum Ibrahim adalah putra Sunan Ampel dari istri yang bernama Nyai Ageng Manila. Diperkirakan lahir tahun 1456 dan meninggal 1525. Sejak kecil ia dibimbing langsung oleh ayahnya, berbarengan dengan saudara sepupunya, Raden Ainul Yaqin (Raden Paku) anak dari Maulana Ishaq.

Sekitar tahun 1473 Sunan Bonang dan Raden Paku mendapatkan amanat dari Sunan Ampel untuk menemui ayah kandung Raden Paku, yaitu Syech Maulana Ishaq di Pasai. Di Pasai itulah mereka mendalami tariqat Naqsyabandiyah dan Maulawiyah lalu melanjutkan haji dan mengaji ke Mekkah.

Setahun kemudian, Sunan Ampel mengubah gerakan dakwah Bhayangkare Ishlah menjadi Walisongo. Inilah pertamakali Sunan Bonang mulai dilibatkan langsung oleh ayahnya sebagai bagian dari walisongo. Pada usia 18 tahun inilah ia sudah mengemban tugas dakwah di Daha, wilayah kekuasaan Girindrawardhana, yang melakukan kudeta kepada Majapahit (Kertabhumi) pada 1478.

Namun sebelum terjadinya kemelut politik Majapahit -Kudeta oleh Girindrawardhana -, Sunan Ampel menarik Sunan Bonang dari Daha untuk berkonsentrasi ke Tuban. Di Tuban Sunan Bonang membangun pesantren. Diperkirakan pada saat itulah ia mendidik seorang begal Lokajaya menjadi sosok murid yang kelak dikenal sebagai Sunan Kalijaga.

Ketika ayahnya wafat pada 1481, Sunan Bonang diminta untuk kembali ke ranah politik sebagai imam walisongo, sekaligus sebagai imam masjid Demak. Saat itulah Sunan Bonang mengikutsertakan Sunan Kalijaga, muridnya sebagai bagian dari walisongo.

Saat memimpin walisongo, bersama Sunan Kalijaga, Sunan Bonang sempat merenovasi masjid demak menjadi lebih luas dan megah. Karena masjid merupakan pusat koordinasi gerakan dakwah, maka harus diprioritaskan perawatannya ketimbang merawat istana sultan/raja.

Sunan Bonang adalah sosok wali yang lebih memilih terlibat langsung dalam pembinaan masyarakat. Karena alasan itulah, akhirnya ia melepaskan jabatan sebagai imam masjid Demak dan melakukan safar (perjalanan seorang suluk untuk berdakwah) ke beberapa daerah, lalu kembali menetap di sebuah desa yang ia bangun sendiri. Desa tersebut kelak dikenal sebagai desa Bonang, di Lasem, Rembang, tempat ia membangun masyarakat dengan pesantren, tempat ia membangun perekonomian masyarakat dengan memproduksi Terasi, dan tempat ia terakhir dimakamkan.

Sunan Bonang banyak menghasilkan karya seni baik dalam bentuk tembang, lirik, komposisi musik, bahkan seni kriya. Selain itu ia merupakan sosok wali yang memiliki tradisi literasi yang baik. Banyak karya tulis yang dibuatnya, Suluk Wujil, Suluk Khalifah, Suluk Regok, Suluk Bentur, Suluk Wasiyat, Suluk Ing Aewuh, Suluk Pipiringan, Suluk Jebeng dan lain-lain.

Satu-satunya karangan prosanya yang dijumpai ialah Wejangan Seh Bari. Risalah tasawufnya yang ditulis dalam bentuk dialog antara guru tasawuf dan muridnya ini telah ditranskripsi, mula-mula oleh Schrieke dalam buku Het Boek van Bonang (1913) disertai pembahasan dan terjemahan dalam bahasa Belanda, kemudian disunting lagi oleh Drewes dan disertai terjemahan dalam bahasa Inggris yakni The Admonition of Seh Bari (1969).

Sedangkan Suluk Wujil ditranskripsi Purbatjaraka dengan pembahasan ringkas dalam tulisannya “Soeloek Woedjil: De Geheime leer van Soenan Bonang” (majalah Djawa no. 3-5, 1938). Melalui karya-karyanya itu kita dapat memetik beberapa ajarannya yang penting dan relevan. Purbatjaraka menyebutnya sebagai ajaran rahasia untuk orang-orang tertentu saja. Rahasia artinya tidak begitu saja bisa dipahami, seperti dapat diperiksa dari kutipan-kutipan berikut:

“Tak ada orang tahu di mana Mekkah yang hakiki berada, sekalipun mereka melakukan perjalanan sejak muda hingga tua renta. Mereka tak akan sampai ke tujuan. Kecuali apabila seseorang mempunyai bekal ilmu yang cukup, ia akan dapat sampai di Mekkah dan malahan sesudah itu akan menjadi wali.”

“Apabila seseorang sembahyang di sana, maka hanya ada ruangan untuk satu orang saja. Jika ada dua atau tiga orang yang bersembahyang, maka ruangan itu juga akan cukup untuk dua tiga orang itu saja. Namun jika terdapat 10.000 orang bersembahyang di sana, maka Ka’bah dapat menampung mereka semua. Bahkan seandainya seluruh dunia akan dimasukkan ke sana, maka seluruh dunia akan tertampung juga.”

Sunan Bonang bukan sekedar ahli dalam memimpin organisasi. Bukan hanya pandai bicara, beliau juga terlibat langsung dalam membina masyarakat dengan pengajian, pendidikan, suluk, seni, bahkan memberdayakan ekonomi masyarakat dengan membudidayakan udang sebagai bahan produksi terasi khas desa Bonang.

Dari sikap keberagamaan, Sunan Bonang adalah sosok yang akomodatif. Ia bisa menerima beragam perbedaan paham. Banyak orang yang kurang menyukai cara dakwah dan ajaran Sunan Kalijaga dan Syech Siti Jenar. Tapi Sunan Bonang bisa memahami perbedaan tersebut bahkan menjadi guru bagi keduanya. Keluasan ilmu dan kedewasaan sikapnya menumbuhkan kebijaksanaan yang mencipta kebajikan.

Tak cukup ruang untuk mengurai sosok Sunan Bonang pada catatan ekspedisi ini. Masih banyak karyanya yang perlu dieksplorasi lebih dalam. Aku merasakan makam Sunan Bonang bagai magnet yang menyerapku. Merekatkanku pada jejak dakwah yang pernah ia lakukan. Menginspirasiku tentang kesederhanaan. Mendamaikan pikiran dengan semerbak melati yang menjadi pusara sang wali.

laporan selanjutnya : darah ningrat jiwa rakyat

Ekspedisi Walisongo : Tidak Semua Wali Ditorehkan

Makam Syech Ali Murtadha | Gresik, Jawa Timur

Sebuah plang berwarna dasar hijau dan warna teks putih menjadi perhatian kami. “Makam Raden Santri, Kakak dari Sunan Ampel”. Plang tersebut berdiri di sisi jalan, di atas trotoar. Tepat di depan plang tersebut, ada sebuah gapura sederhana.

Tujuan utama kami ke Gresik adalah ziarah ke makam Sunan Giri dan Syech Maulana Malik Ibrahim. Kami sudah mengelilingi sebagian pusat kota Gresik, tetapi kami tersesat dari jalur menuju makam Sunan Giri. Dalam pencarian menuju jalan yang benar, kami dua kali melintasi makam Raden Santri. Aku keluar mobil, berjalan sendiri, ketika untuk kedua kalinya, di luar rencana, kami melewati makam sang Wali.

Makam Raden Santri alias Syech Ali Murtadho terletak di Jalan yang menyebut namanya, Jl. Raden Santri. Jaraknya amat dekat, kira-kira 100 meter dari alun-alun kota Gresik.

Aku melangkah sendiri menuju makam. Tak ada satupun orang yang bisa kutanya. Tak ada pengunjung, tak ada penjaga, tak ada juru kunci, tak ada pengemis, tak ada pedagang, tak ada siapapun kecuali aku sendiri, yang berdiri terpaku memandangi makam. Kuucapkan salam kepada ruh yang jasadnya tertanam pada makam. Kubaca Al-Fatihah dan perlahan meninggalkannya.

Sejak awal kedatangannya di Nusantara pada 1443 Masehi, Raden Santri langsung tergabung dalam gerakan Bhayangkare Ishlah (cikal bakal walisongo) yang dipimpin oleh adiknya sendiri, Raden Ali Rahmatullah berjuluk Sunan Ampel. Raden Santri menerima tanggung jawab untuk melanjutkan dakwah yang sudah dimulai oleh Maulana Malik Ibrahim di Gresik yang wafat pada 1419 Masehi.

Sulit sekali mencari literatur tentang geliat dakwah Raden Santri. Hampir semua babad maupun analisis sejarah, hanya menautkan namanya pada hubungannya dengan Raden Ali Rahmatullah dan Maulana Malik Ibrahim. Bahkan pemerintah Gresik sendiri tak memiliki catatan khusus tentang beliau. Pada website pemerintah Gresik, hanya makam Raden Santri saja yang tak dilengkapi link, dari banyaknya makam wali di kota tersebut.

Aku menyadari bahwa tak semua pelaku sejarah tercatat dalam sejarah. Dan aku yakin bukan hanya Raden Santri, bahkan banyak mereka yang terlibat dalam sejarah tetapi tak tertuliskan geliat perjuangannya. Ini merupakan fakta bahwa penulisan sejarah tak akan pernah lepas dari penafian dan pengkhususan para tokoh.

laporan selanjutnya : the last caliph

Ekspedisi Walisongo : The Last Caliph

Makam Sunan Giri | Gresik, Jawa Timur

Kujejaki tangga menuju makam Syech Ainul Yaqin, yang lebih dikenal sebagai Sunan Giri. Tinggal beberapa anak tangga kugenapi. Aku berhenti dan menoleh ke belakang. dari bawah sana aku menanjaki anak tangga menuju ketinggian bukit Sidomukti. Kusaksikan fakta – yang menjadi latar belakang orang Belanda dan orang Hitu, Ternate pada masanya menyebut Sunan Giri (Prapen) sebagai Raja Bukit. Kuberalih tatapan.

Aku sampai pada sebuah ketinggian. Kuperhatikan keluasan area kompleks makam. Kutatapi satu demi satu lokal demi lokal. Kubayangkan sebuah kompleks besar yang tertata. Seperti sebuah kompleks istana. Masih berdiri kokoh Masjid beratap tumpang, yang menjadi tungku perapian spiritual Sunan Giri dalam menjalani sejarahnya. Masjid inilah yang pertama kali dibangun oleh Syech Ainul Yaqin saat membuka lahan di bukit Sidomukti ini.

Runtuhan arkeologis di sekitar kompleks membawaku pada imajinasi tentang geliat kehidupan di bukit ini, saat menjadi pusat spiritual dan politik. Para punggawa yang berbaris di teras kedhaton. Terbayang pula kelompok jubah putih sedang duduk bersama menyanyikan dzikir cinta pada Tuhannya. Mereka adalah orang-orang yang telah menunaikan Haji.

Amat beragam kehidupan di sini pada masanya. Sekelompok pedagang hidup bersama di kompleks kedhaton ini. Para lelaki tak berbaju. Kulit tubuh mengilat karena peluh. Menempa besi merah membara. Mengubahnya jadi sebentuk senjata. Di sisi lain, sebuah kebun subur dengan beberapa orang yang sedang menuai hasil kebun dan menggotong keranjang rempah-rempah. Sementara sekelompok pekerja menimbuni gerobaknya dengan hasil bumi dan kriya. Mereka membawanya menuju pelabuhan, pusat ekonomi strategis pada masanya.

Kusadari, aku memasuki wilayah kedhaton yang megah karena sosok pemimpinnya. Sosok wali yang menjadi panutan raja-raja. Lahirnya kerajaan Demak, Pajang, dan Mataram, tak lepas dari advise Sunan Giri yang menguasai hikmah dan ilmu administrasi pemerintahan. Raja-raja dari Makasar, Hitu, dan Ternate bahkan baru merasa sah kerajaannya jika sudah mendapatkan restu dari Sunan Giri. Kharisma sang Wali menyebar hingga ke wilayah timur nusantara. Madura, Nusa Tenggara, Kalimantan, Sulawesi, dan beberapa wilayah di ujung timur.

Siapa sangka jika sang Wali yang oleh kakeknya, Raja Blambangan – Prabu Menak Sembuyu – adalah seorang bocah yang dibuang dan dipisahkan dari ayah dan ibunya. Saat itu sang ayah telah kembali ke Pasai meninggalkan Blambangan karena menyelamatkan diri dari ancaman pembunuhan mertua yang tidak mendukung dakwah Islam. Bocah kecil yang diberi nama lahir Raden Paku itu diselamatkan oleh awak kapal dagang dari Gresik, milik Nyai Ageng Pinatih (versi babad dilegendakan, sang bayi dihanyutkan dalam peti ke samudra, wallahu a’lam). Oleh sang sang saudagar Gresik, bocah malang itu dititipkan di padepokan Sunan Ampel. Dalam asuhan Sunan Ampel, bocah buangan itu dididik menjadi orang besar, baik dalam ilmu agama maupun pemerintahan.

Raden Paku baru bertemu dengan ayahnya, Syech Maulana Ishaq (dalam kisah lain disebut juga Syech Wali Lanang) setelah Sunan Ampel memintanya berguru pada ayahnya sendiri di Pasai. Dalam perjalanan ke Pasai ia ditemani sepupunya, anak sulung Sunan Ampel, Makhdum Ibrahim (Sunan Bonang) yang sejak kecil menjalin persahabatan dengannya. Dari Pasai, mereka berdua melanjutkan perjalanan kemuridannya ke Mekkah.

Pulang dari Mekkah, Syech Ainul Yaqin melaksanakan amanat ayahnya untuk membangun padepokan di sebuah bukit di Gresik. Di bukit desa Sidomukti itulah ia mulai menjadi guru bangsa. Gelar Sunan Giri (yang berarti bukit dalam bahasa Jawa) kian melekat padanya. Banyak santri dari berbagai penjuru bumi yang berguru padanya. Bukan hanya dari tanah Jawa, Madura, Minangkabau, Bawean, Kangean, Lombok, Kalimantan, Sulawesi, Nusa Tenggara, Haruku, Ternate, dan Maluku. Bahkan banyak muridnya yang berasal dari China, Mesir, Arab, dan Eropa.

Empat pokok rahasia kehidupan yang sering diamanatkan kepada murid-muridnya adalah :

1. Tuhan itu bersemayam dalam hati manusia yang suci, karena itu Tuhan disebut pula sebagai hati yang suci.
2. Mengetahui zat Tuhan berarti mengenal diri sendiri. Barang siapa yang belum mengenal dirinya sendiri, berarti belum mengenal Tuhan.
3. Keadaan dunia ini bukanlah keabadian. Karena itu jangan mengagungkan kekayaan dan derajat. Sebab bila sewaktu-waktu terjadi perubahan keadaan, kita tidak akan menderita dalam aib yang memalukan.
4. Realitas adalah dinamika, pasti mengalami perubahan. Oleh karena itu, jangan merendahkan dan meremehkan sesama.

Itulah “the Giri’s Secret of life” yang berulang-ulang ia pesankan kepada murid-muridnya.

Kharisma Giri bukan hanya dalam urusan agama, tapi juga dalam bidang ketataprajaan, pemerintahan, dan perekonomian. Pada masanya, Giri menjadi kiblat ruhani, sosial, ekonomi dan politik. Namun kebesaran itu tidak tercipta pada satu periode, melainkan empat periode. Peletakan dasar sistem pemerintahan ulama dibangun oleh Sunan Giri pertama, yaitu Raden Paku atau Maulana Ainul Yaqin. Setelah wafat, kharisma Giri melekat pada Sunan Dalem, anak Raden Paku. Generasi ketiga meski hanya sebentar dipimpin oleh sang cucu, yang bergelar Sunan Seda ing Margi. Sunan Giri ketiga ini gugur tahun 1548 ketika ikut Sultan Trenggana dari Demak menyerbu kerajaan anti Demak di Panarukan. Puncak kharisma trah Sunan Giri ada pada Sunan Giri Prapen, kakak dari Sunan Seda ing Margi.

Pada kepemimpinan Sunan Giri Prapen inilah kharisma Giri makin kuat di tanah Jawa bahkan melintas ke wilayah luar Jawa. Keemasan era Giri Prapen terwujud karena sang cucu benar-benar memahami dan menjadikan ajaran kakeknya – Raden Paku – sebagai panutan. Ialah yang merawat makam kakeknya. Kharisma sang kakek benar-benar mewujud pada dirinya.

Meskipun menguasai perdagangan antar pulau dan pengaruh politik yang besar bagi raja-raja di berbagai wilayah, tak menjadikan Sunan Giri Prapen sebagai pemimpin yang lupa akan kesalehan. Ia tidak menjadikan agama sebagai jubah, sebagaimana layaknya raja-raja Jawa pada masa Mataram. Ia menjadikan agama sebagai jiwa, sehingga seberapa besarpun kekuasaannya, selalu memberikan kesejahteraan dan kedamaian bagi masyarakatnya. Agama sebagai Jiwa tak membuatnya angkuh sehingga ia tidak melakukan penaklukan layaknya raja-raja di Jawa. Justru karena kesalehannya itulah – meski tanpa penaklukan politik – kharisma dan restu Sunan Giri menjadi penting bagi raja-raja di berbagai lintas pulau hingga ke Timur Nusantara.

Mengamalkan amanat sang kakek – the Giri’s Secret of Life – membentuk Sunan Giri Prapen sebagai “khalifah” yang sesungguhnya. Pada kharisma sang Khalifah Terakhir inilah, Demak yang semakin agresif dan Kudus yang membangun citranya sendiri, menjadikan Giri sebagai daya hidup, sandaran, perlindungan, dan pendamai dari kecamuk konflik yang digelutinya. Pada sosok Giri Prapen jua, kesultanan Pajang mendapatkan keabsahan kekuasaannya. Bahkan pada sosok ulama Giri dan keanggunan Kedhaton Giri, penguasa Mataram terinspirasi untuk memindahkan kharisma Giri ke Mataram. Namun sejarah menjawab rencana. Selama agama sekedar dijadikan jubah kekuasaan, tak akan pernah terwujud kharisma pemerintahan. Yang ada hanyalah nafsu amarah, ekspansi kekuasaan duniawi. Tak puas dengan kuasa dunia, Dinasti Mataram bermimpi menjadi penguasa ruhani layaknya Sunan Giri. Tapi mimpi itu tak pernah nyata, tatkala agama menjadi jubah belaka.

Tak ada lagi khalifah Islam di Nusantara pasca Giri. Ialah khalifah terakhir pada faktanya. The Last Caliph. Di bukit ini ia membangun jiwa bangsa, di bukit ini ia dimakamkan, di bukit ini, beberapa peziarah mengharapkan titisan kharismanya.

Laporan Selanjutnya : Maulana Guru Segala Kasta

Ekspedisi Walisongo : Maulana, Guru Segala Kasta

Makam Syech Maulana Malik Ibrahim | Gresik, Jawa Timur

Matahari mencapai puncak ketinggian. Panasnya menyengat kulitku. Dahaga yang kurasakan mencipta angan segelas es kelapa muda. Di sisi jalan Malik Ibrahim, Desa Gapura Wetan, Gresik berjejer gerobak para pedagang. Tapi tak satupun yang menjual minuman segar. Aku berprasangka, mungkin belum saatnya meneguk minuman. Karena itu aku menyusul teman-teman yang sudah memasuki Pintu Gerbang Makam Maulana Malik Ibrahim.

Teman-teman langsung menuju makam utama. Sedangkan aku harus menjalankan tugas, mengisi buku tamu di kantor pengelola makam. Selepas itu, aku langsung merapat bersama mereka yang sudah siap membaca untaian doa ziarah.

Kuperhatikan ketiga makam yang berjejer dalam satu lindungan pagar bercat hijau. Di sebelah Barat adalah makam wali yang menjadi salah satu tujuan kami, Maulana Malik Ibrahim. Di sebelahnya, mengarah ke Timur adalah makam sang istri, bernama Siti Fatimah dan makam sang putra, Maulana Moqfaroh. Pada bingkai nisan Maulana Malik Ibrahim, terdapat pahatan ayat suci Al-Qur’an. Diawali dengan surat al-Baqarah ayat 225 yang lebih popular disebut ayat kursi, lalu surat Ali Imran ayat 185, Al-Rahman ayat 26-27, dan diakhiri dengan surat At-Taubah ayat 21-22. Menurut beberapa literatur yang kubaca, nisan tersebut diduga berasal dari Cambay, Gujarat dan diduga pula persembahan Sultan dari Samudra Pasai sebagai tanda hormat atas keagungan sang Maulana.

Pada makam tokoh walisongo yang wafat pada hari Senin, 12 Rabiul Awal 822 Hijriah (1419 Masehi), terdapat pula sebuah teks bertuliskan :

“Ini adalah makam almarhum seorang yang dapat diharapkan mendapat pengampunan Allah dan yang mengharapkan kepada rahmat Tuhannya Yang Maha Luhur, guru para pangeran, dan sebagai tongkat sekalian para sultan dan Wasir, siraman bagi kaum fakir dan miskin. Yang berbahagia dan syahir penguasa dan urusan agama : Malik Ibrahim yang terkenal dengan kebaikannya. Semoga Allah melimpahkan rahmad dan ridho-Nya dan semoga menempatkannya di surga.”

Selesai berziarah, kami berpencar. Sebagian berkeliling kompleks makam, sedangkan aku dan PS menuju makam lainnya, Maulana Magribi dan Maulana Ishaq. Kami duduk berhadapan di tengah antara kedua makam. PS memimpin doa ziarah sedangkan aku mengikutinya. Suasana kompleks makam yang hening, jauh dari hingar bingar kota, menciptakan renungan : Siapakah sebenarnya sosok Maulana Malik Ibrahim? Apakah ia benar-benar seorang wali pemula? Apakah ia ayah dari Syeh Ali Rahmatullah yang bergelar Sunan Ampel? Lalu siapa yang dimakamkan di sebelah Timur dari sisi makamnya yang disebut sebagai putra sang Maulana Malik Ibrahim bernama Moqfaroh? Inilah renungan yang tercipta dan tak membuat ekspedisi ini berakhir di tepi makam.

Tak kutemukan kepastian kapan beliau menginjakkan kaki di tanah Jawa. Ada yang menyebut tahun 1392, ada pula 1401, dan 1404 Masehi. Menurut anggapan banyak orang, Maulana Malik Ibrahim adalah wali pemula. Ialah generasi pertama walisongo. Padahal yang kuteliti dari beberapa literatur, istilah walisongo baru muncul pada masa Sunan Ampel, setelah sebelumnya mendirikan Bhayangkare Ishlah, beberapa tahun sebelum berdirinya Kesultanan Demak. Bahkan ada juga anggapan walisongo hanyalah istilah yang dikarya para pujangga Mataram.

Terlepas apakah Syech Maulana Malik Ibrahim adalah bagian dari walisongo atau bukan, yang jelas kehadirannya menjadi bukti sejarah bahwa Islam telah berkembang di Nusantara sebelum era Walisongo itu berperan. Seno Gumira Ajidarma pernah menulis tentang hal ini di Majalah Intisari tahun 2006. “Makam Islam di Tralaya” merupakan bukti bahwa pada masa Majapahit dipimpin oleh Hayam Wuruk, sudah terdapat penganut muslim di kalangan kerajaan. Makam di kompleks Majapahit tersebut tertulis tahun kematian dari 1376, 1380, 1418, 1407, 1427, 1467, 1475, 1467, dan 1469. Dan pada beberapa nisan tertulis huruf arab yang diperkirakan sebagai kalimat syahadat.

Bagiku tak cukup penting memposisikan Maulana Malik Ibrahim sebagai bagian dari walisongo atau bukan, bagian dari pemula para wali atau bukan. Cukuplah Maulana Malik Ibrahim sebagai seorang pelaku suluk (sufi) yang menjadi guru bagi berbagai kalangan. Mulai dari kalangan rakyat jelata yang fakir dan miskin, hingga kalangan para petinggi kerajaan. Ia telah berperan pada masanya. Ia menjalankan kehidupannya dengan kehormatan yang didapatkannya dari segala lapisan masyarakat karena ilmunya. Ia adalah sosok guru bagi segala kasta, yang saat itu masih menjadi strata kehidupan di tanah Jawa.

makam syech ibrahim asy-syamarkand di desa Gisik, Tuban. (ayah sunan ampel)makam syech ibrahim asy-syamarkand di desa Gisik, Tuban, Jawa Timur. (ayah sunan ampel)

Perenunganku belum selesai. Perjalanan kami berlanjut menuju makam Sunan Ampel di Surabaya. Kembali aku teringat tentang anggapan bahwa Maulana Malik Ibrahim adalah ayah Sunan Ampel. Jika memang beliau sang ayah, lalu bagaimana dengan makam Syech Ibrahim Asy-Syamarkand yang dimakamkan di Gisik, Tuban? Pada makam tersebut ditulis bahwa beliau adalah ayah Sunan Ampel.

Jika merunut pada kisah tradisional, kedatangan Sunan Ampel ke tanah Jawa adalah bersama ayahnya Ibrahim Asy-Syamarkand (dijawakan menjadi Asmoroqondi), kakaknya (Syech Ali Murtadho), dan sahabatnya (Abu Hurairah). Rombongan itu singgah di Tuban hingga sang ayah wafat dan dimakamkan di tempat tersebut. Hingga kini banyak peziarah yang mendatangi makam ayah Sunan Ampel itu.

Kisah tersebut diperkirakan terjadi pada tahun 1443 M saat bibi Sunan Ampel (Putri Darawati) menjadi permaisuri Sri Kertawijaya, raja Majapahit. Jika sejarah kedatangan Sunan Ampel itu benar terjadi pada 1443 (sementara menurut versi lain 1446) berarti Maulana Malik Ibrahim yang dimakamkan di Gresik sudah 24 tahun sebelumnya wafat. Berdasarkan penelusuran tahun inilah aku menyimpulkan bahwa sang Maulana Malik Ibrahim adalah bukan Ayah dari Sunan Ampel sebagaimana tertera dalam berbagai literatur dan bahkan menjadi referensi di Wikipedia. Wallahu a’lam.

Rupanya kita memang mesti melakukan kembali penelusuran sejarah yang rumit. Tak cukup jika kita hanya mengacu pada peninggalan karya babad yang umumnya bercampur antara fakta dan legenda. Perlu tinjauan arkeologis, epigrafis, dan mungkin intuitif.

Laporan Selanjutnya : Sunan Ampel Pelopor Walisongo

20
Oct
09

Ayat-ayat Al Qur’an tampak pada Kulit Bayi di Rusia ?

Ayat-ayat Al Quran tampak pada Kulit Bayi di Rusia?

dailymaildailymail

Salah satu tanda yang muncul pada kulit si bayi

Selasa, 20 Oktober 2009 | 17:23 WIB

KOMPAS.com — Seorang bayi menimbulkan gelombang spekulasi di Rusia setelah frase-frase yang diduga sebagai ayat Alquran muncul di kulit tubuhnya. Ayat-ayat ini dikatakan tampak di punggung, lengan, kaki, dan perut bayi berusia sembilan bulan bernama Ali Yakubov sebelum kemudian hilang dan diganti dengan ayat-ayat baru.

Para dokter Rusia bingung atas kasus ini. Awalnya, ayat-ayat itu muncul di dagu si bayi beberapa minggu setelah lahir. Para dokter menyangkal bahwa tanda-tanda di kulit bayi itu ditulis seseorang.

Sang ibu, Madina, mengatakan bahwa dia dan suaminya bukan merupakan orang yang taat beragama sampai tulisan-tulisan itu muncul. Madina mengatakan, mereka awalnya tidak memperlihatkan kepada siapa pun mengenai tulisan-tulisan yang tidak bisa dijelaskan itu sampai akhirnya mengungkapkan hal tersebut ke dokter dan imam di desa mereka, Oktober Merah, yang merupakan kawasan dengan pengaruh Muslim yang kuat.

Saat ini, si bayi menjadi fokus perhatian orang-orang Muslim di kawasan tempat tinggalnya di Provinsi Dagestan yang berdekatan dengan daerah konflik Chechnya di selatan Rusia. Seorang anggota parlemen lokal, Akhmedpasha Amiralaev, mengatakan bahwa “Bayi laki-laki ini merupakan tanda dari Allah. Allah menggirimkannya ke Dagestan untuk menghentikan pemberontakan dan ketegangan di republik kita.”

Ibu si bayi mengatakan, “Biasanya tanda-tanda itu muncul dua kali seminggu, pada hari Senin dan pada malam antara Kamis dan Jumat. Ali selalu merasa kesakitan ketika itu muncul. Dia menangis dan suhu tubuhnya tinggi. Tidak mungkin menggendongnya ketika itu terjadi. Badannya aktif bergerak, maka kami menempatkan dia di ayunannya. Sedih rasanya ketika melihat dia menderita.” Frase-frase itu, kata Madina, secara teratur bergantian muncul di kulit si bayi.

Seorang imam lokal, Abdulla, mengatakan kepada penduduk bahwa dalam Al Quran dikatakan, sebelum akhir zaman datang, akan muncul orang-orang dengan ayat-ayat kitab suci di tubuh mereka. Dia mengatakan, salah satu tanda yang terbaca berbunyi, “Jangan sembunyikan tanda-tanda ini dari orang-orang.” Kisah bayi dari Dagestan ini juga telah menarik perhatian media Rusia.


EGP

Editor: Abd
Sumber : daily mail

19
Oct
09

Hikmah : Takdir Allah

Takdir Allah

By Republika Newsroom
Senin, 19 Oktober 2009 pukul 11:04:00

Takdir AllahWORDPRESS.COM/ILUSTRASI

Suatu ketika orang bertanya kepada saya tentang takdir Allah. Ia mempertanyakan tentang nasibnya, yang selalu dirundung malang. Di antara pertanyaannya, apakah takdir Allah bagi seseorang dipengaruhi oleh cara orang tersebut berpikir, berperilaku, dan berusaha?

Ia juga mengatakan, ada orang yang saling menyayangi sampai bertahun-tahun, tapi mereka tidak sampai menikah, hubungan mereka terputus tanpa sebab yang kuat. Dan sebaliknya, ada orang yang bertemu dengan seseorang, dalam waktu singkat mereka menikah.

Lalu, lanjutnya, ada orang yang berusaha mencari rezeki dengan susah payah dan mengikuti ketentuan agama secara ketat, menjaga yang halal dan haram, tapi pendapatannya hanya cukup untuk hidup sederhana saja. Di lain pihak, ada orang yang berusaha tanpa modal, dan pekerjaannya tidak berat, namun hasilnya sangat menakjubkan, dalam waktu singkat ia memperoleh laba puluhan juta. Apakah ini Takdir Allah atau tidak?

Memang untuk menjawab beberapa pertanyaan tersebut tidaklah mudah. Yang penting dan harus kita yakini adalah, bahwa Allah menentukan sesuatu atas kehendak-Nya, tidak ada yang dapat mempengaruhi-Nya. Yang dapat dilakukan oleh manusia, hanya memohon dan berdoa kepada-Nya. Jika Dia mau mengabulkan permohonan hamba-Nya itu akan diberi-Nya apa yang dimohonkan hamba-Nya itu. Sesungguhnya Allah berjanji akan mengabulkan permohonan orang yang berdoa kepada-Nya.

Allah berfirman: Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepada engkau tentang Aku, maka jawablah bahwasanya Aku dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi segala perintah-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran (Q. S. 2 : 186) Jadi, takdir Allah tidak dipengaruhi oleh kemauan manusia. Namun demikian, Allah membuka kesempatan bagi manusia untuk berdoa dan memohon kepada-Nya. Hanya Allah menuntut agar manusia itu mematuhi segala perintah-Nya dan beriman kepada-Nya.

Dari tinjauan psikologi, sesungguhnya manusia membutuhkan iman kepada Allah, terutama bila manusia itu dihadapkan kepada kekecewaan yang amat sangat, apabila yang diharapkannya tidak tercapai, atau yang tidak diinginkannya terjadi.

Manusia hanya tahu apa yang telah terjadi dan dialaminya, akan tetapi ia tidak tahu apa yang akan terjadi di masa datang. Karena itu manusia perlu mendasarkan semua yang diinginkan dan diusahakannya menurut ketentuan Allah dan dalam batas-batas yang diridlai-Nya. Segala sesuatu yang terjadi, tidak ada yang di luar kehendak Allah. Orang yang teguh imannya kepada Allah, ia yakin bahwa tidak ada sesuatu yang terjadi secara kebetulan, faktor X dan sebagainya.

Oleh karena itu orang beriman tidak mengenal putus asa. Jika terjadi sesuatu yang tidak menyenangkan atas dirinya, ia segera ingat kepada Allah. Boleh jadi ada hikmahnya, yang saat ini ia belum mengetahuinya, ia dapat menghindari rasa kecewa. Firman Allah: Mungkin kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak (Q. S. 4 : 19) Jadi iman kepada Takdir Allah, dapat menjadi obat bagi gangguan kejiwaan dan dapat pula mencegah terjadinya gangguan kejiwaan. ahi

19
Oct
09

Wisata Sejarah : Candi Kedaton, Muaro Jambi

KOMPAS/IRMA TAMBUNAN
Sejumlah warga di sekitar kompleks percandian Muaro Jambi, Jambi, Selasa (13/10), membangun fondasi pada Candi Kedaton. Ini merupakan bagian dari kegiatan pemugaran bagian induk candi peninggalan Kerajaan Melayu Kuno tersebut.

SITUS MUARO JAMBI
Masyarakat Antusias untuk Mengelola Situs

KOMPAS, Senin, 19 Oktober 2009 | 03:10 WIB

Pemerintah Indonesia sedang mengkaji kemungkinan Situs Muaro Jambi di Kecamatan Maro Sebo, Muaro Jambi, untuk diajukan sebagai warisan dunia atau world heritage. Seiring dengan hal tersebut, antusiasme untuk memelihara situs dan mengelolanya sebagai aset wisata yang menopang ekonomi masyarakat kian meningkat. Upaya ini telah mendorong pesatnya pertumbuhan jumlah wisatawan.

Jumlah kunjungan wisatawan yang pada tahun-tahun sebelumnya di bawah 500 orang per bulan, kini naik menjadi 600-800 orang per bulan. Bahkan, pada Lebaran di bulan September lalu saja, jumlah pengunjung mencapai 4.229 orang. Dapat dikatakan, untuk saat ini, Candi Muaro Jambi telah menjadi aset pariwisata andalan masyarakat Jambi dan pemerintah daerah.

Bulan ini, masyarakat mulai menyambut panen awal durian. Untuk makin menarik minat wisatawan berkunjung, para pemuda setempat kembali membuka paket wisata menelusuri percandian Muaro Jambi sambil menikmati panen durian, makanan tradisional setempat, serta tari topeng yang telah lestari secara turun-temurun.

”Sudah ada beberapa pihak yang berminat ikut serta dalam paket wisata ini,” ujar Koordinator Paguyuban Pemuda Candi Muara Jambi (PPCMJ), Hadi.

Secara swadaya, para pemuda yang juga menjadi pemandu wisata membuka sejumlah paket perjalanan wisata. Ada paket menelusuri percandian di malam hari, siang hari, serta perjalanan wisata melalui jalur Sungai Batanghari dan naik perahu menyusuri kanal-kanal yang digunakan untuk menyinggahi candi-candi setempat.

Selain itu, mereka memproduksi suvenir berupa kaus bergambar situs Muaro Jambi, pin, mug, serta kerajinan khas setempat dari bahan bambu dan rotan.

Menurut Subrata, pengurus PPCMJ, mereka sangat antusias mengembangkan pariwisata setempat. Pada Lebaran lalu, misalnya, para pemuda menggelar pentas musik selama sepekan penuh secara gratis kepada pengunjung. Ini supaya wisatawan memperoleh hiburan lebih memuaskan lagi.

”Setelah lelah berjalan menyusuri candi yang sangat luas ini, mereka dapat bersantai menikmati musik,” ujarnya.

Situs Muaro Jambi tidak hanya menjadi wisata andalan. Situs ini telah menjadi penghidupan penduduk setempat. Mereka menjadi penjaga loket karcis, menjadi pemandu, menjual makanan dan minuman, hingga suvenir. Oleh Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala Jambi, mereka juga diberdayakan ikut serta dalam pemugaran candi dan menjadi penjaga serta pemelihara situs. Sebagian warga yang semula adalah pengangguran merasakan dampak dari keberadaan candi di lingkungan mereka.

”Kami yakin, dengan tetap menjaga dan merawat situs ini, kehidupan masyarakat akan terjaga, baik ketenteraman maupun kesejahteraannya,” ujar Zubaidit, seorang penjaga. (ITA)

18
Oct
09

Refleksi : Akhir Zaman ?

Suara Pembaruan

ZOOM2009-10-17Akhir Zaman?

Refleksi

Timur Citra Sari

Ketika bencana alam silih-berganti menyambangi satu demi satu bagian negeri kita, tidak sedikit orang yang mengaitkannya dengan akhir zaman. Demikian pula ketika tingkat kriminalitas terus menanjak di berbagai penjuru negeri (bahkan di seantero dunia), pembicaraan bertemakan akhir zaman semakin deras mengemuka. Dan, ketika perang dalam berbagai kategori melanda sini dan sana, bisa kita tebak dengan mudah, urusan akhir zaman jelas tidak mau ketinggalan untuk diikutsertakan.

Sesungguhnya akhir zaman bukan baru sekarang menarik minat dan perhatian sejumlah kalangan tertentu. Heboh akhir zaman versi Suku Maya yang dikisahkan akan terjadi pada 21 Desember 2012 hanyalah salah satunya. Kelihatannya, semerbak aroma misteri yang dikandungnya berhasil menggoda orang untuk menelusurinya. Juga, tampaknya, karena tanda-tanda yang kerap dikaitkan dengan akhir zaman, relatif tidak asing kita temukan dalam kehidupan kita saat ini (misalnya sebagaimana dituturkan dalam Markus 13:8: “…Sebab bangsa akan bangkit melawan bangsa dan kerajaan melawan kerajaan. Akan terjadi gempa bumi di berbagai tempat, dan akan ada kelaparan. Semua itu barulah permulaan penderitaan menjelang zaman baru.”).

Alkitab pun tidak asing dengan tema akhir zaman. Baik dalam Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru terserak ayat-ayat yang berbicara tentang akhir dunia ini. Baik menggunakan istilah “akhir zaman” (contohnya seperti tertera dalam Daniel 12:4: “Tetapi engkau, Daniel, sembunyikanlah segala firman itu, dan meteraikanlah Kitab itu sampai pada akhir zaman; banyak orang akan menyelidikinya, dan pengetahuan akan bertambah.”) atau istilah lain yang “senada-seirama” (misalnya sebutan “menjelang zaman baru” dalam Markus 13:8 di atas, serta “hari-hari terakhir” yang kita jumpai dalam 2 Timotius 3:1-2: “Ketahuilah bahwa pada hari-hari terakhir akan datang masa yang sukar. Manusia akan mencintai dirinya sendiri dan menjadi hamba uang. Mereka akan membual dan menyombongkan diri, mereka akan menjadi pemfitnah, mereka akan berontak terhadap orang tua dan tidak tahu berterima kasih, tidak mempedulikan agama…. “.

Dampak yang diharapkan muncul dari membaca atau membincangkan ayat-ayat yang berhubungan dengan akhir zaman adalah kehati-hatian dan kewaspadaan para pembaca dan pembincangnya. Sebab, mencermati tanda-tanda yang disampaikan Alkitab dalam kenyataan kehidupan sehari-hari, kita di-sadarkan bahwa akhir zaman bisa saja berlangsung ketika kita masih ada dan hidup di dunia ini. Nah lho, apakah kita akan siap saat hal tersebut terjadi? Kesadaran ini membawa kita pada dampak berikutnya yang diharapkan dari membaca atau membincangkan soal ini, yaitu penyesalan dan pertobatan kita dari gaya hidup yang tidak mengondisikan kita untuk siap ketika akhir zaman tiba.

Tapi, tunggu dulu. Uniknya, sekalipun tersebar dalam Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru, Alkitab tidak menjadikan tema yang seru ini sebagai headline dalam pemberitaannya. Justru tentang kasih dan kesetiaan Allah yang berkibar-kibar sepanjang masa yang menjadi berita utamanya. Seperti yang disampaikan dalam Kitab Yesaya – mewakili Perjanjian Lama: “Dalam murka yang meluap Aku telah menyembunyikan wajah-Ku terhadap engkau sesaat lamanya, tetapi dalam kasih setia abadi Aku telah mengasihani engkau, firman TUHAN, Penebusmu…. Sebab biarpun gunung-gunung beranjak dan bukit-bukit bergoyang, tetapi kasih setia-Ku tidak akan beranjak dari padamu dan perjanjian damai-Ku tidak akan bergoyang, firman TUHAN, yang mengasihani engkau.” (Yesaya 54:8,10). Tentang hal yang sama pula Daud, Sang Pemazmur, menyatakan syukurnya. Katanya: “Aku mau bersyukur kepada-Mu di antara bangsa-bangsa, ya Tuhan, aku mau bermazmur bagi-Mu di antara suku-suku bangsa; sebab kasih setia-Mu besar sampai ke langit, dan kebenaran-Mu sampai ke awan-awan.” (Mazmur 57:10-11)

Dengan menyajikan ayat-ayat di atas, yang menegaskan kasih dan kesetiaan Allah yang melebihi kesalahan dan dosa manusia, apakah kehati-hatian dan kewaspadaan yang diusung tema akhir zaman hendak diabaikan? Tentu saja tidak. Injil Markus, yang mengawali pemberitaannya dengan persiapan menyambut kedatangan Sang Mesias, menampilkan Yohanes Pembaptis yang mengingatkan manusia untuk berhati-hati dan berwaspada melalui seruan terkenalnya: “Bertobatlah dan berilah dirimu dibaptis dan Allah akan mengampuni dosamu.” (Markus 1:4)

Penting dan mendesaknya penyesalan serta pertobatan dilakukan manusia memang selalu perlu disuarakan dari masa ke masa. Namun, bukan kehati-hatian dan kewaspadaan dalam menghadapi akhir zaman yang seharusnya menggugah kita untuk menyesal dan bertobat. Penyesalan dan pertobatan baru benar dan tepat jika kita melakukannya sebagai respons atas kasih dan kesetiaan Allah yang melampaui kesalahan dan dosa manusia.

Akhirnya, menanggapi berbagai peristiwa dan kejadian yang kerap memunculkan aneka tafsir dan dugaan, Tuhan -melalui surat Rasul Paulus kepada Jemaat Filipi- mengingatkan kita demikian: “Janganlah hendaknya kamu kuatir tentang apa pun juga, tetapi nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu kepada Allah dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur. Damai sejahtera Allah, yang melampaui segala akal, akan memelihara hati dan pikiranmu dalam Kristus Yesus.” (Filipi 4:6-7)
Soli Deo Gloria!

18
Oct
09

Imagineering : Jalan Sukses, Jalan Ilahiah

JEDA

Imagineering : Jalan Sukses, Jalan Ilahiah

Jumat, 16 Oktober 2009 18:30 WIB |

Ahmad Mukhlis Yusuf

“Jadikan amanah itu sebagai panggilan spiritual, bukan panggilan profesi semata”, begitu nasihat guru saya, Utomo Dananjaja, lebih dari dua tahun lalu. Saat itu, saya sedang mengikuti proses uji kelayakan dan kepatutan untuk memimpin salah satu BUMN.

Nasihat Mas Tom, demikian saya memanggilnya, mungkin dapat menggambarkan suasana yang ada di hati kita semua, pada saat kita sedang menghadapi semua permasalahan hidup yang kita alami saat ini dan pada masa lalu. Suasana spiritual kita sangat menentukan kegairahan kita dalam menghadapi situasi apa pun yang kita hadapi. 

Teman, kita punya kebebasan untuk menentukan “suhu” dan “cuaca” diri kita, seburuk atau sebaik apapun kondisi lingkungan sekitar. Seorang teman, Agi Rachmat –motivator Dunamis– pernah berujar lingkungan pengaruh kita sebagai individu efektif harus lebih besar dari lingkungan kepedulian atau masalah yang sedang kita hadapi.

Kita adalah programmer atas kehidupan kita sendiri. Sungguh bijak nasihatnya. Masalah adalah bagian dari kehidupan, bahkan Allah SWT pun menegaskan dalam QS 29:2 “Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan; kami telah beriman, sedang mereka tidak diuji?” Ujian adalah bagian dari kehidupan sehari-hari. Kita harus menghadapinya, bukan menghindarinya.
 
Seorang wartawan senior yang juga sekaligus budayawan, Syamsudin Haesy, baru-baru ini meluncurkan buku Platinum Track: Jalan Sukses, Jalan Ilahiah, sebuah kompilasi pengalaman dan pengamatannya terhadap lingkungan dalam hidup sebagai sebuah proses pendakian menuju jalan kemuliaan seorang manusia.

Kang Sem, begitu saya memanggilnya, menyebut jalan tersebut sebagai Platinum Track, sebuah panggilan ruhiyah menuju kesempurnaannya, kembali kepada Sang Pemiliknya. Ada pesan yang sama dan sejalan dengan nasihat Mas Tom, isi buku Syamsudin Haesy, pengalaman pribadi dan boleh jadi pengalaman Anda?

Bagi Anda yang sedang bekerja atau memimpin organisasi apa pun bentuknya, pesan Kang Sem ini bukan soal keberhasilan jangka pendek yang semata-mata diukur dengan angka-angka kinerja dan pengakuan pemegang saham atau pemangku kepentingan, melainkan soal warisan kehidupan kita semua, yang sejatinya akan meninggalkan karya agung sebagai warisan bagi kehidupan.

Angka-angka kinerja adalah tujuan antara (intermediate goals) menuju tujuan yang sesungguhnya (ultimate goal): meninggalkan warisan kebaikan di wilayah pengabdian apa pun di dunia ini. Di mana pun kita berada.

Ikhtiar untuk mewujudkan karya agung di dunia akan menjadi penarik energi, kegairahan, persistensi dan determinasi yang akan mengatasi segala keterbatasan yang kita miliki dalam mengatasi ujian setiap hari. Life is not without problem, demikian guru saya yang lain, Pak Saleh Syafraji, pernah berujar. Setiap ujian adalah tahapan menuju derajat kemuliaan yang lebih tinggi, bila kita dapat melaluinya.

Dengan sudut pandang demikian, kegairahan dalam menjalani hari-hari kehidupan, beserta ujian-ujian di dalamnya, merupakan sebuah perjalanan menapaki Jalan Ilahiyah menuju tujuan lebih besar.

Islam menyatakan tujuan lebih besar itu sebagai Ridha Allah. Sebab, semua kesulitan dan sebaliknya, kemudahan, semuanya berasal dari Dia, Sang Penggenggam Jiwa, Sang Pemilik Jiwa ini. Gerakan hidup ini belakangan dikenal dengan sebutan gerakan menuju kehidupan yang lebih mulia.

Visi hidup mulia kini telah menjadi gerakan di mana-mana, di berbagai belahan dunia ini, menembus sekat-sekat perbedaan ruang, waktu dan agama. Diskusi berbagai komunitas telah menembus sekat-sekat perbedaan keyakinan sekali pun.

Bahkan Danah Zohar membuktikan gerakan ini tengah menjadi gerakan universal, termasuk topik yang menarik bagi seorang atheis sekalipun. Kini telah tiba era baru yang membenarkan apa yang pernah dinyatakan para Rasul pembawa risalah agama-agama besar, yang disebut sebagai Era Kemuliaan (the age of greatness).

Gerakan hidup mulia boleh jadi sudah sering kita dengar sejak diperkenalkan oleh orang tua kita. Namun dalam bukunya ini, Kang Sem memahami adanya keterbatasan linier kita ketika ikhtiar manusiawi terhambat oleh tembok-tembok yang menghambatnya.

Manusia biasanya banyak mengandalkan baseline atau kaidah logika dan pengalaman empiris dalam ikhtiar meraih kesuksesan. Kaidah-kaidah linier dan empiris ini ia sebut sebagai kapasitas manusia untuk melakukan rekayasa (engineering) atau tindakan yang efektif yang berbuah pada kesuksesan. Stephen Covey menyebutnya sebagai perilaku atau kebiasaan efektif.
 
Untuk mengatasi berbagai hambatan tersebut, Kang Sem memperkuat pentingnya kita memiliki imajinasi (imagination) dalam menggairahkan para pemilik masa depan untuk meraih impian-impian baru.

Hal ini serupa dengan upaya Jeft Imelt (CEO GE pasca Jack Welch) yang sedang berjuang menembus batas kemampuan rekayasa korporasi yang bernilai di General Electric.

Para outliers ini sedang membuktikan ucapan Einstein “we can’t solve problems by using the same kind of  thinking we used when we created them”. Diperlukan impian-impian yang menembus batas-batas kejumudan dan semua hal yang membelenggu manusia pada masa lalu dan masa kini.

Kang Sem kemudian mengajak kita untuk keluar dari belenggu masa lalu. Dia mengajak agar kita melakukan Imagineering, sebuah disiplin yang menggabungkan efektivitas kebiasaan saat ini dengan impian masa depan, yang dilandasi oleh tujuan-tujuan hidup yang lebih besar.

Pada level kepemimpinan organisasi, Imagineering akan memadukan imaginasi yang berakar dari sistem nilai (strong beliefs) yang kuat dengan kemampuan hands-on yang mampu menyampaikan kinerja yang nyata dan terukur kepada para pemangku kepentingan melalui tindakan-tindakan manajerial yang efektif.

Pada level individual, imagineering adalah ikhtiar sehari-hari yang efektif menuju Jalan Ilahiah yang ingin diraihnya melalui tindakan-tindakan nyata. Dai kondang Aa Gym pernah sangat terkenal ketika memperkenalkan rumus sederhana 3M; mulai dari diri kita, mulai dari yang kecil, mulai saat ini. Perubahan besar adalah gabungan antara pikiran-pikiran besar dengan tindakan-tindakan efektif setiap hari, kita semua, tanpa terkecuali.

Saya menganjurkan Anda membaca buku Kang Sem ini dan buku lain yang sejenis. Buku ini memberikan sejumlah nasihat bijak tentang falsafah, panduan, dan “rukun” Imagineering yang dapat menghela perubahan pada berbagai level kepemimpinan.

Rukun-rukun ini dapat berlaku pada praktik kepemimpinan yang berlaku pada diri sendiri, kelompok atau keluarga, organisasi atau perusahaan, dan bangsa.

“Rukun-rukun” ini, Insya Allah, akan menghasilkan jawaban atas pertanyaan yang selalu muncul pada kita semua; untuk apa semua hidup yang sedang kita jalani, dan ke mana kita sedang menuju? dan bagaimana meraihnya? Sebab, kita harus melakukannya hari ini, bukan besok. Wallahu’alam.

*) Penulis adalah praktisi manajemen, beralamat di ahmadmukhlis.yusuf@gmail.com

COPYRIGHT © 2009

16
Oct
09

Dialog Jumat

REPUBLIKA, Jumat, 16 Oktober 2009 pukul 01:59:00

Qanun Jinayat

ACEH dalam Lindungan Qanun Jinayat

LAPORAN UTAMA

Secara esensial hukum Islam bertujuan untuk melindungi dan memberikan kasih sayang kepada seluruh umat manusia

Senin, 14 September 2009.

Sejarah baru tertoreh di bumi Serambi Makkah, Aceh.  Sidang paripurna Dewan Perwakilan Rakyat Aceh (DPRA) yang dipimpin Tqk Zainal Abidin mengesahkan rancangan qanun menjadi Qanun tentang Hukum Jinayat dan Hukum Acara Jinayat.  Pro dan kontra pun mewarnai hadirnya hukum Islam di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam  (NAD) itu.

Qanun Jinayat hadir di Tanah Rencong demi menegakkan syariat Islam secara Kaffah (menyeluruh). Terlebih,  Undang-undang Nomor 44 Tahun 1999 tentang Penyelenggaraan Keistimewaan Aceh dan Undang-Undang No 11 Tahun 2006 tentang Pemerintahan Aceh mengamanatkan penyelenggaraan kehidupan beragama dalam bentuk pelaksanaan syariat Islam bagi pemeluknya.

Ketua Majelis Permusyawaratan Ulama (MPU)  Aceh, Prof Tgk H Muslim Ibrahim, mengungkapkan, Qanun Jinayat  merupakan  sebuah aturan yang dirancang oleh MPU untuk menyempurnakan tiga qanun sebelumnya yang telah ditetapkan, yakni Qanun Pejudian, Qanun Khalwat dan Qanun Minuman Keras.

Yang menjadi pro dan kontra, dalam Qanun Jinayat  diatur sanksi rajam untuk pelaku perzinaan dan potong tangan bagi pelaku pencurian dan koruptor. Sebagian kalangan menentang disahkannya Qanun Jinayat di Provinsi Aceh. Mengatasnamakan hak zasi manusia (HAM),  sebagian kalangan aktivis menuding sanksi yang akan diterapkan dalam Qanun itu akan melanggar HAM.

”Perwakilan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) saja, menyatakan, penerapan hukum syariat Islam di Aceh tak melanggar HAM,” tutur  Tgk Muslim. Lalu sebenarnya apa tujuan dari hukum Islam ditegakkan di Aceh? Dengan tegas, ketua MPU Aceh itu menyatakan, Qanun Jinayat hadir untuk melindungi kepentingan dan keselamatan umat manusia dari ancaman dan tindak kejahatan dan pelanggaran, sehingga tercipta situasi kehidupan yang aman dan tertib.

Hal senada diungkapkan Dewan Pakar Himpunan Ilmuwan dan Sarjana Syariah Indonesia (HISSI) Pusat,  KH Ahmad Mukri Ajie. Menurut Kiai Mukri,  secara esensial hukum Islam bertujuan untuk melindungi dan memberikan kasih sayang kepada seluruh manusia di dunia ini.

”Semua teks ayat hukum atau pun hadis-hadis hukum yang bersumber dari Nabi Muhammad SAW, dan langsung wahyu dari Allah SWT berpihak kepada kemaslahatan seluruh umat, kebaikan seluruh manusia baik yang Muslim maupun non-Muslim. Rahmatan lil’alamin,” ungkapnya.

Diakuinya,  banyak kalangan yang salah memahami hukum Islam, baik itu terkait masalah keluarga, khususnya perkawinan, waris, ekonomi bahkan hukum pidana. Hukum Islam, kata dia, dianggap sadis dan kejam, karena ada qishas seorang yang membunuh harus dibunuh karena begitu bimbingan Alquran.

Mengapa hal itu harus dilakukan? ”Pertimbangan logikanya, seseorang yang telah berani membunuh saudaranya, mesti seimbang sanksi hukumannya, dia harus dibunuh lagi. Dia berani mengambil HAM orang lain, maka dia juga harus siap untuk HAM-nya diambil,” tuturnya.

Meskipun ada qishash, dalam teks ayat itu ditawarkan lagi sebuah solusi, karena ini ada hubungan perdata. ”Kalau ada pemaafan, pihak ahli korban, misalnya, mengikhlaskan maka Alquran memberikan solusi, pihak yang dimaafkan memberikan diyat semacam penghargaan — bukan ganti rugi — kepada pihak korban yang dia telah memberikan maaf yang sangat mahal itu. Artinya qishash dibatalkan. Ini hebat sekali. Lantas kejamnya di mana?”

Terkait adanya hukum potong tangan, kata dia,  tak mudah bagi hakim untuk menjatuhkan sanksi itu. Sebab, proses penetapannya harus melalui tahap-tahap pembuktian. Menurut dia,  yang membuktikannya pun bukanlah pribadi, tapi lembaga yaitu peradilan. ”Lembaga qadha namanya. Jadi, majelis hakim yang memproses dan itu bukan sekali-dua kali,” ujarnya menjelaskan.

Pandangan yang sama diungkapkan KH Anwar Hidayat, hakim pada Pengadilan Agama di Jakarta. Menurut kiai Anwar, hukum Islam sangat elastis, tidak kaku dan tidak dogmatis seperti agama lain.  ”Kalau Allah sudah menurunkan hukum jinayat berarti sudah jelas memberikan ketenangan dan ketenteraman batin.

Tgk Muslim menambahkan, betapa hebatnya dampak yang terjadi di lingkungan masyarakat Aceh setelah tiga Qanun yang berdasarkan syariat Islam diterapkan di  Aceh. ”Kita bisa melihat contohnya masalah sanksi judi yang kali pertama diterapkan di wilayah Bireun. Setelah setahun,  angka kejahatan judi dalam catatan pihak kepolisian turun 40 persen,” ujarnya.

Pihaknya optimis Qanun Jinayat dapat mencegah orang untuk melakukan korupsi dan pencurian. Hukuman pencuri, kata dia,  tangannya dipotong. ”Saya setuju kalau koruptor  juga tangannya dipotong,” cetusnya. Ulama Aceh optimistis Qanun Jinayat merupakan obat mujarab untuk mengatasi problema dunia modern dalam mengurangi kejahatan.

Guru Besar Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta, Prof Huzaimah T Yanggo, mengungkapkan, Qanun Jinayat akan berdampak positif bagi kehidupan masyarakat Aceh. ”Kalau dulu yang minum-minum bermain judi bisa terlihat di jalan-jalan, sejak diberlakukannya penerapan syariat Islam di Aceh, kondisi tersebut tidak terlihat lagi. Ini artinya penerapan syariat Islam di Aceh berdampak positif,” kata Huzaimah.

Menurutnya,  penerapan syariat Islam di Aceh sudah sesuai dengan Undang-Undang yang diberikan pemerintah kepada Aceh. Pihaknya juga optimis,  jika diterapkan secara benar, syariat Islam akan membuat kehidupan rakyat Aceh akan lebih baik.  damanhuri zuhri

REPUBLIKA, Jumat, 16 Oktober 2009 pukul 01:57:00

Jinayah

ENSIKLOPEDI

Jinayah (al-jinayah)  berasal dari kata jana-yajni yang berarti akhaza (mengambil) atau sering pula diartikan kejahatan, pidana atau kriminal. Jinayah didefinisikan sebagai perbuatan yang diharamkan atau dilarang karena dapat menimbulkan kerugian atau kerusakan agama, jiwa, akal atau harta benda.

Dalam Islam dikenal adanya al-ahkam al-jina’iyah atau hukum pidana.  Al-ahkam al-jina’iyah bertujuan untuk melindungi kepentingan dan keselamatan umat manusia dari anacaman tindak kejahatan dan pelanggaran, sehingga tercipta  situasi kehidupan yang aman dan tertib.

Jenis tindakan hukum dalam Islam ada yang dapat dikualifikasikan ke dalam golongan kejahatan dan pelanggaran yang telah ditentukan berdasarkan teks-teks suci, seperti Alquran dan sunah. Ada pula yang ditentukan berdasarkan tuntutan perkembangan pemikiran (ijtihad) manusia atau para ahli hukum.

Rumusan al-ahkam al-jina’iyah sepanjang masih merupakan hasil penalaran terhadap teks-teks hukum Islam lazim disebut al-fiqh al-jina’i. Bila rumusan itu kemudian disahkan oleh penguasa atau lembaga legislatif sebagai undang-undang, maka disebut al-qanun al-jina’i.  Di Provinsi Aceh baru-baru ini disahkan Qanun Jinayat.

Berdasarkan berat-ringannya hukuman yang dikenakan terhadap pelaku jinayah, dapat dibagi menjadi tiga, yakni hudud, kisas-diat dan takzir. Ketiganya biasa disebut dengan istilah jarimah hudud, jarimah qisas-diah dan jarimah ta’zir.

Jinayah hudud adalah suatu tindak pidana yang diancam hukuman yang sudah ditentukan bentuk dan jumlahnya, tak ada batas terendah dan tertinggi dan hukuman ini merupakan hak Tuhan. Karena itu, hukuman tersebut tak bisa dihapuskan atau digugurkan, baik oleh individu maupun oleh negara.

Hukuman itu harus dilaksanakan menyangkut ketentua Tuhan dan ketentraman serta keamanan. Tindak kejahatan yang termasuk  dalam perkara hudud ada tujuh macam, yakni: murtad,  orang yang keluar dari agama Islam,  Al-bagyu, orang yang tak taat dan memberontak kepada imam yang adil; Hirabah, orang yang memerangi Allah SWT serta rasul-Nya dan membuat kerusakan di muka bumi.

Selain itu, ada zina. Hukuman yang dikenakan  terhadap pelakunya adalah didera 100 kali dan dibuang ke luar negeri selama setahun, jika yang melakukan perzinaan itu masih jejaka atau perawan.  Sedangkan, jika  pelakunya pernah berhubungan badan secara sah (muhsan) dirajam serta dilempar batu hingga meninggal.

Untuk meminum minuman keras hukuman yang dikenakan pada pelakunya didera 40 kali, menurut sebagain pendapat di antaranya Ali bin Abi Thalib. Sedangkan menurut Umar bin Khattab didera sebanyak 80 kali. Sedangkan untuk pencurian, hukuman yang dikenakan kepada pelakunya adalah potong tangan, jika barang yang dicuri minimal berjumlah satu nisab (seperempat dinar menurut sebagian ulama atau 10 dirham menurut sebagian ulama).   (disarikan dari Ensiklopedi Islam terbitan PT Ichtiar Baru Van Hoeve).

REPUBLIKA, Jumat, 16 Oktober 2009 pukul 01:56:00

Bukan Asal Rajam dan Potong Tangan

LAPORAN UTAMA

Di Arab Saudi, tidak ada satu orang pun yang dihukum rajam sampai mati dalam 10 tahun terakhir ini.

Tak sedikit kalangan yang alergi dengan hukum Islam. Sebagian kalangan menuduh hukum Islam  yang memberlakukan rajam (melempar orang yang berzina hingga wafat) serta potong tangan bagi pencuri dan koruptor sangat kejam dan melanggar hak azasi manusia (HAM).

Pandangan seperti itu, sesungguhnya tak berdasar. Sekjen Himpunan Ulama Dayah Aceh (HUDA) Tgk Faisal Aly, mengungkapkan, pemerintah berkewajiban untuk menegakkan syariat Islam guna mencegah masyarakatnya untuk tidak melakukan kejahatan atau pelanggaran hukum, misalnya terkait dengan perzinaan, pencurian, korupsi, perjudian dan pembunuhan.

“Hukum Jinayat yang mengatur tentang masalah rajam bagi pezina yang telah menikah itu sebagai bentuk pencegahan agar setiap orang tidak melakukan perbuatan zina,”  tutur Tgk Faisal.  Pimpinan pondok pesantren di Sibreh Aceh itu, mengungkapkan, hukuman rajam kepada pezina tak dijatuhkan begitu saja, namun  diatur dalam Hukum Acara Jinayat.

“Artinya, dalam Hukum Acara Jinayat itu ada aturan jika seseorang bisa dituduh telah berzina, misalnya harus ada empat saksi yakni orang yang adil,” katanya menambahkan. Karena itu , Tgk Faisal  minta pihak-pihak yang menolak terbitnya Qanun Hukum Jinayat dan Hukum Acara Jinayat agar mempolemikkan masalah tersebut, termasuk upaya menakut-nakuti masyarakat.

Menurut dia, di Arab Saudi saja, tidak ada satu orang yang dihukum rajam sampai mati dalam 10 tahun terakhir ini. Hal itu, papar Tgk Faisal,  disebabkan  penerapan hukum rajam tidak mudah.  Pihaknya mengajak umat untuk tak memahami hukum  secara sepotong-potong.

KH Anwar Hidayat, hakim pada sebuah Pengadilan Agama di Jakarta, menegaskan,  hukum Islam sangat elastis dan tidak kaku. Justru dijatuhkannya sanksi berupa potong tangan bagi yang mencuri, dimaksudkan untuk menimbulkan rasa aman, rasa tenang dan memberi efek pencegahan, sehingga orang akan takut untuk mencuri.

”Penegasan Alquran yang mengatakan orang yang mencuri harus dipotong tangannya, itu menunjukkan untuk memberi ketenangan dan keamanan bagi umat. Itu pun tentu tidak asal menjatuhkan sanksi, tapi harus melalui proses yang diajukan ke pengadilan  dengan  berbagai bukti serta menghadirkan dua orang saksi laki-laki,”  paparnya Kiai Anwar.

Ketua Jurusan Perbandingan Mazhab Fakultas Syariah dan Hukum UIN Jakarta,  KH Ahmad Mukri Ajie, menuturkan,  hukum potong tangan tidak begitu saja bisa  dijatuhkan kepada seorang pencuri laki-laki atau pun pencuri perempuan. Menurutnya, memang ada ayat Alquran yang berbunyi as-saariqu was-saariqotu faq-tho’uu aidiyahuma (Pencuri laki-laki dan pencuri wanita maka potonglah kedua tangannya).

Namun demikian, papar Kai Mukri, hendaknya hati-hati dalam membaca dan memahami ayat tersebut. ”Hati-hati membaca teks ayat itu. Eksekusi memotong tangan itu tergantung apakah telah terbukti dia menyandang label sebagai pencuri. Ketika belum terbukti dengan alat bukti dengan data-data dan fakta dalam bentuk saksi, dalam bentuk benda yang dicurinya atau ada indikator lain yang menguatkan dia telah melakukan delik pidana pencurian, seseorang masih terbebaskan dari ancaman hukuman apapun.”

Rasulullah SAW, tutur dia, dalam proses peradilan pidana sangat sedikit sekali mengeksekusi hukum potong tangan. Termasuk hukum rajam bagi pezina. Menurut Kiai Mukri, ketika datang seseorang mengaku berbuat zina, Rasulullah tak serta merta langsung merajam orang tersebut,  tapi terlebih dulu diadili dan diproses cukup lama.

Suatu saat Maiz bin Malik menemui Rasulullah SAW seraya mengaku kalau dirinya telah berbuat zina. ”Saya mengaku berzina ya Rasulullah. Ini pasangan saya.” Dan pasangannya mengaku telah berzina dengan Maiz. Kata Rasul, ”Apakah engkau gila? Jangan-jangan kamu memorinya sudah putus. Sudah pulanglah ke rumah kamu berdua.”

Mereka berdua kurang puas, kemudian keduanya mendatangi Nabi seraya minta dirajam. Kata Rasulullah apa alat buktinya?, perempuan yang dizina Maiz dengan tegas mengatakan, ”Saya hamil.” Rasulullah masih menyuruh pulang karena belum kuat alat buktinya. Sidang yang ketiga menunggu sampai anaknya lahir.

Tapi belum juga cukup bukti, jangan sampai menzalimi anaknya akhirnya ddiberi waktu sampai selesai menyusui. Setelah selesai menyusui, datang lagi untuk minta dieksekusi. Akhirnya, dipanggil semua tokoh masyarakat di lingkungannya. Mereka harus benar-benar jadi saksi untuk melaksanakan eksekusi.

Apa maknanya? Kasus zina yang kelihatan menyeramkan ternyata dalam dataran eksekusi di lapangan tidaklah mudah. ”Begitu sangat hati-hatinya, sehingga nanti ada pihak penuduh di sana, orang yang menyatakan si A berzina tapi dia tidak bisa menghadirkan empat saksi mata bukan lewat video, bukan lewat foto, nggak bisa itu,” papar Kiai Mukri.  Keempat saksi mata itu disumpah.

Ketika saksi terbukti berbohong,  maka hukumannya berbalik kepada yang menuduh. sanksinya 80 kali jilid.  Menurut Kiai Mukri, begitu sangat berhati-hatinya penerapan hukum Islam. Demikian juga  terhadap kasus perampokan, perjudian dan minuman keras. damanhuri zuhri

REPUBLIKA, Jumat, 16 Oktober 2009 pukul 01:55:00

Syariat Islam

Syariat Islam, Alternatif di Tengah Buruknya Pelayanan

LAPORAN UTAMA

Sejak bergulirnya era otonomi daerah, sejumlah daerah yang mayoritas berpenduduk Muslim di Indonesia mencoba menerapkan syariat Islam. Pemerintah kabupaten/kota menerapkan syariat Islam melalui peraturan daerah (perda). Fenomena munculnya penerapan syariat Islam di Tanah Air itu menunjukkan meningkatnya kesadaran untuk mengembalikan aturan kepada hukum Islam.

Menurut Irfan Noor, peneliti pada Lembaga Kajian Keislaman dan Kemasyarakatan (LK-3) Banjarmasin,  dalam hasil penelitiannya bertajuk ”Perda Syariat Islam: Kajian tentang Geneologi Penerapan Syariat Islam di Indonesia” mengungkapkan, maraknya gerakan formalisasi syariat Islam di berbagai daerah ke dalam perda berbasis syariat Islam bukanlah tanpa konteks tertentu.

””Penelusuran atas berbagai kecenderungan di Indonesia menunjukkan bahwa lahirnya gerakan ini terkait dengan buruknya pelayanan negara akibat reformasi yang mengalami pembusukan dari dalam,” paparnya.

Oleh karena itu, papar Irfan, ketika muncul tawaran ideologi alternatif berbasis Islam mampu berkelindan dengan semangat identitas lokal. Maka wacana penerapan syariat  Islam itu direspons sebagai antitesa bagi hegemoni negara pasca Orde Baru yang mulai menurun intensitas atas masyarakat sipil.

Menurut Irfan, syariat Islam tampaknya memenuhi keinginan masyarakat mengenai hukum yang ideal. Dalam penelitiannya, Irfan mengutip sebuah hasil penelitian, pada 2001, orang yang menginginkan hukum Islam mencapai 61,4 persen, Pada 2002, melonjak menjadi 70,6 persen, tahun 2004 naik lagi menjadi 75,5 persen.

Orang yang menginginkan pelaksanaan hukum potong tangan juga meningkat dari tahun ke tahun. ‘ika pada 2001 mencapai 28,9 persen, tahun 2002 ada 33,5 persen dan 2004 sebanyak 38,9 persen responden menginginkan diberlakukannya hukum tangan bagi para koruptor. ”Mereka beranggapan praktik potong tangan mencerminkan ketegasan, keadilan, ketidakberpihakan hukum,” tuturnya.

Selain Provinsi Aceh, kabupaten di Tanah Air yang berhasil menerapkan perda syariat Islam adalah Kabupaten Bulukumba, Sulawesi Selatan. Pemkab Bulukumba dalam mensosialisasikan Syari’at Islam di daerahnya memprioritaskan pada enam segmen keagamaan yang terbingkai dalam ”Crash Program Keagamaan”.

Pertama, pembinaan dan pengembangan pemuda remaja masjid. Kedua, pembinaan dan pengembangan Taman Kanak-kanak (TK) Alquran. Ketiga, pembinaan dan pengembangan majelis taklim. Keempat, pembinaan dan pengembangan perpustakaan masjid. Kelima, (5) pembinaan dan pengembangan Hifz Alquran. Keenam, pembinaan dan pengembangan seni berbusana Islami.

Pemkab Bulukumba menerapkan syariat islam melalui pembembentukan desa percontohan Muslim. Desa-desa percontohan itu, diharapkan bisa menjadi pelopor pemberlakuan syariat Islam dalam sikap-perilaku sehari-hari, dan jadi desa pelopor zakat.  Pada Maret 2005 sudah terbentuk 12 desa percontohan Muslim.

Penerapan perda syariat Islam di wilayah itu tak hanya disambut umat Islam, namun juga non-Muslim.  Umat non-Muslim  merasa  tenteram dengan diberlakukannya perda-perda Syariat Islam.  “Umat non Muslim juga mendukung penerapan Perda-perda bernuansa syariah di Bulukumba. Ketika ada Kongres Umat Islam di sana, mereka ikut membentangkan spanduk dukungan,” ujar mantan Bupati Bulukumba, Andi Partabai Pobokori  pada sebuah kesempatan.

Menurut dia,  sejak diterapkannya syariat Islam pada 2001,  tingkat kriminalitas di Bulukumba turun hingga 85 persen.  Kini, aidak ada lagi warung yang menjual minuman keras serta tidak ada lagi perkelahian pelajar.  “Angka pembunuhan dan pemerkosaan yang dulu tinggi, sekarang menurun drastis,” paparnya.  Pihaknya juga selalu meyakinkan pihak non Muslim bahwa mereka tak perlu takut pada syariah Islam dan tetap dihormati di Bulukumba.

Berkembangnya penerapan syariat Islam yang diterapkan sejumlah daerah melalui perda mendapat dukungan dari kalangan ulama. Dalam Ijitima Ulama Komisi Fatwa MUI II se-Indonesia pada Mei 2006 lalu, MUI mengeluarkan rekomendasi  yang mendukung perda-perda penerapan syariat Islam seperti di Bulukumba, Cianjur, Cilegon, Padang, Tangeran dan lainnya.

Ketua Umum Ikatan Dai Indonesia (Ikadi),  Prof Ustaz Ahmad Satori Ismail mengungkapkan perlunya penerapan syariat Islam dilakukan secara tadrijiyyan (bertahap). ”Agar penerapan syariat Islam bisa diterima oleh berbagai pihak hendaknya dilakukan secara bertahap dan tidak kaku dan bukan asal potong tangan,” tuturnya.

Menurutnya, akidah atau tauhid umat harus diperkuat terlebih dahulu. Kemudian ibadahnya seperti shalat dan hukum-hukum Islam yang lainnya serta kesejahteraan hidupnya. Dengan begitu,  kata dia, umat  bisa menerima penerapan syariat Islam dengan baik. damanhuri zuhri/heri ruslan

REPUBLIKA, Jumat, 16 Oktober 2009 pukul 01:54:00

‘Qanun Jinayat’

Prof Tgk H Muslim Ibrahim : Qanun Jinayat untuk Menyelamatkan

WAWANCARA

Ketika Qanun Jinayat disahkan di Nangroe Aceh Darussalam (NAD), sebagian kalangan merasa keberatan. Mereka pun menuding penerapan Qanun Jinayat akan menimbulkan kecemasan dan kekhawatiran di kalangan masyarakat karena adanya potong tangan dan rajam.

”Qanun Jinayat bertujuan untuk menyelamatkan,” tutur Prof Tgk H Muslim Ibrahim, ketua Majelis Permusyawaratan Ulama (MPU) Aceh kepada Damanhuri Zuhri dari Republika. Berikut petikan wawancara dengan guru besar Perbandingan Hukum Islam IAIN Ar-Raniry seputar penerapan Qanun Jinayat di Aceh:

Sebenarnya, apa Qanun Jinayat itu?
Qanun Jinayat adalah sebuah aturan yang dirancang oleh MPU dan dibahas semua lini masyarakat, dipublikasikan melalui media massa dan disahkan DPRA (DPRD Aceh) berdasarkan syariah Islam. Sebetulnya landasan utamanya adalah Undang-undang Nomor 44 Tahun 1999 tentang Penyelenggaraan Keistimewaan Aceh dengan diizinkannya pelaksanaan syariat Islam di Aceh.
Syariat Islam itu adalah tuntunan ajaran Islam dalam semua aspek kehidupan. Jadi, dalam bahasa bisa disebut dengan Islam Kaffah, dan tentunya ini hanya buat orang Islam di Aceh. Kemudian Undang-undang Nomor 18 Tahun 2001 dan Undang-Undang Nomor 14 tahun 2006 tentang Pemerintahan Aceh. Di tengah jalan lahir juga sejumlah peraturan daerah yang disebut qanun. Qanun itu semacam perda plus. Jinayat itu sebenarnya adalah hukum pidana.

Bukankah sebelumnya telah ada Qanun yang mengatur tentang judi dan minuman keras?
Sebelumnya memang telah disahkan tiga buah qanun yang jinayat juga yaitu tentang khalwat (bersepi-sepian dua orang manusia yang berlawanan), kemudian ada tentang khamar (minum-minuman keras) dan tentang perjudian. Yang dua hal adalah kriminal, semuanya adalah jinayat. Dan semuanya dikenakan sanksi cambuk berkisar antara 3 kali ada yang sampai 12 kali dicambuk.

Ada kendala dalam menegakkannya?
Dalam pelaksanaan, qanun-qanun yang tiga ada kendala sedikit. Karena sanksi Tuhan tidak tersebut dalam ketiga qanun itu, sehingga kalaupun penyelidikan atau penyidikan di polisi tidak selesai dalam satu hari. Karena itu, kami memandang perlu diperlukan penyempurnaan pada ketiga qanun itu.

Jadi Qanun Jinayat yang baru disahkan ini merupakan penyempurnaan?
Dengan lahirnya UU Nomor 11 Tahun 2006, sejumlah aturan di Aceh yang sifatnya qanun tentu perlu disempurnakan dan disesuaikan. Kemudian, dirancanglah penyempurnaan Qanun Jinayat. Ketiga qanun itu digabung menjadi satu qanun, ditambah sejumlah hal seperti ikhthilath (bercampur).
Zina sebelumnya belum pernah ada, kemudian ditambah lagi dengan liwath (homoseksual), musahakah (lesbi) serta pemerkosaan ditambah lagi dengan tuduhan terkait masalah-masalah nama baik, seperti menuduh orang baik-baik berzina itu diperlukan alat bukti. Kalau tidak terbukti maka si penuduh itu yang dikenakan sanksi.
Qanun Jinayat sekarang ini adalah penyempurnaan dari bakal qanun jinayat yang dirumuskan yaitu nomor 12, 13 dan 14 tahun 2003. Diubah dan dijadikan satu ditambah sejumlah penyempurnaan. Keistimewaannya di dalam Qanun Jinayat diatur perlindungan terhadap saksi.

Yang paling banyak disoroti kelompok yang kontra adalah soal rajam. Bagaimana penerapannya?
Ya, di qanun ini diperkenalkan sanksi rajam. Ini adalah sanksi yang mendasar dalam Islam, karena memang itu termaktub dalam hadis walaupun dalam ayat tidak disebut. Jadi, orang-orang yang telah kawin, punya istri, lalu berzina juga dengan orang lain kira-kira pada dasarnya orang ini sudah tidak bisa diharapkan lagi baiknya. Kejahatannya bisa dimanfaatkan untuk jadi pelajaran bagi orang lain.

Apa manfaat Qanun Jinayat ini?
Qanun Jinayat itu konsepnya buatan Sang Pencipta manusia. Kalau manusia selalu ingin yang terbaik, dia dapat juga hukum yang terbaik. Qanun ini dampaknya sangat besar untuk mencegah orang berbuat kejahatan. Buktinya, setahun setelah Qanun Perjudian diterapkan, angka kejahatan perjudian dalam catatan kepolisian turun 40 persen.
Untuk mencegah terjadinya korupsi, saya setuju kalo koruptor hukumannya dipotong tangan. Menurut keyakinan kami,  itulah satu-satunya obat mujarab untuk mengatasi problama dunia modern dalam mengurangi kejahatan.

Artinya yang dikedepankan adalah kemaslahatan umat?
Betul sekali.  Dalam mukadimahnya disebutkan,  hukum Islam itu sebenarnya bukan berarti terlaksananya potong tangan atau rajam dan cambuk. Tapi hukum Islam itu  bertujuan mencegah orang untuk berbuat kejahatan, karena begitu hebatnya hukuman yang dikenakan.
Penetapan sanksi dalam hukum Islam juga sangat ketat.  Harus ada empat orang saksi. Kemudian dimintai keterangankita  satu-persatu di tempat terpisah, dan harus sama jawabannya. Artinya sanksi itu tidak begitu saja dijatuhkan. Penetapan sanksi terhadap pelanggar Qanun Jinayat memerlukan  proses yang panjang, penelitian dan hukum prosedural yang sangat nyata dan rumit.
Ini semua demi melindungi kepentingan dan keselamatan umat manusia dari tindakan kejahatan dan pelanggaran, sehingga tercipta situasi kehidupan yang aman dan tertib.

Mengapa banyak pihak yang menentangnya?
Memang pada dasarnya masyarakat kita banyak yang tidak tahu tentang hikmah, fadilah, dan manfaat yang dikandung dalam syariat Islam atau jinayat. Ya kita maklumilah karena porsi pendidikan agama di sekolah pun hanya dua jam pelajaran dalam seminggu. Kita lebih banyak mengambil hukum dari Barat. KUHP sampai sekarang dari Barat, peninggalan Belanda. Dan kitapun tidak belajar hukum agama kita.

Ada tudingan sanksi dalam Qanun Jinayat melanggar HAM?
PBB pernah mengirim orang ke Aceh untuk menanyakan masalah penegakan hukum syariat. Mereka sempat mempertanyakan apakah syariah atau hukum Islam yang dijalankan melanggar HAM. Setelah saya jelaskan bahwa hukum cambuk di Aceh bukan model keroyok tapi ada aturannya.
Pertama bila tersangka terlihat aneh ditangkap dibawa ke kantor polisi. Polisinya pun Kepoolisian RI,  bukan polisi Aceh. Setelah disidik mereka dikirim ke kejaksaan RI. Setelah itu baru diserahkan ke Mahkamah Syar’iah. Di sana dikaji. Bila ada keputusan maka eksekusinya dilakukan oleh kejaksaan.
Maka utusan dari PBB itu mengatakan, kalau model demikian tidak melanggar HAM. Kami katakan, hukum Islam itu  bukan  hukum rimba. Artinya penegakkan syariah di Aceh  tidak melanggar HAM Indonesia dan HAM PBB atau HAM internasional.

REPUBLIKA, Jumat, 16 Oktober 2009 pukul 01:53:00

Pondok Sakinah

Pondok Sakinah, Penginapan dengan Konsep Syariah

MUHIBAH

Tempat penginapan ini menjaga nilai-nilai moral dan agama, tak semata mengejar keuntungan.

Program  berita kriminal di televisi sering menayangkan penggerebekkan pasangan di luar nikah yang sedang berbuat mesum di hotel atau tempat penginapan. Hal itu terjadi lantaran hotel atau tempat penginapan tak menerapkan aturan yang ketat terhadap pengunjung, terutama pasangan yang belum menikah.

Guna mencegah terjadinya praktik perzinahan, salah satu hotel atau pemondokan di Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat  telah menerapkan konsep syariah dalam menjalankan layanan bisnis penginapannya. Secara tegas dan jelas,  di depan gedung penginapan tersebut terpampang jelas kalimat ‘Pondok Sakinah Penginapan Syariah’.

Pondok Sakinah berada di Jalan Segog, RT 01/01 Desa Batununggal, Kecamatan Cibadak, Kabupaten Sukabumi. Salah satu tempat penginapan terkemuka di Sukabumi itu  sudah berdiri sejak tanggal 7 Februari 2000 lalu. Lokasinya pun sangat strategis, karena berada di jalur utama penghubung Sukabumi-Jakarta.

Sejak awal berdiri, penginapan milik Hissam Abas itu menawarkan konsep syariah. Tawaran itu justru mampu menarik perhatian para tamu untuk menginap di pemondokan tersebut. Aturan ketat yang diterapkan kepada para tamu yang akan menginap, justru menjadi berkah.

Selama sembilan tahun berdiri dengan menerapkan sistem syariah, dari tahun ke tahun jumlah pengunjung hotel terus meningkat,  terutama pada saat musim liburan. Menurut salah seorang pengelola Pondok Sakinah, Azizah Darusmmartha, pendirian penginapan syariah  menjadi sebuah kebanggan tersendiri.

’’Citra hotel  kan kerap dipandang negatif. Pondok Sakinah mencoba menjaga nilai-nilai moral,’’ ungkap Azizah. Ia menuturkan,  Pondok Sakinah menerapkan nilai-nilai agama dalam pengelolaan hotel. Salah satu aturan yang diperketat,  para pengunjung harus menunjukkan identitas yang jelas untuk bisa menginap di Pondok Sakinah.

‘’Bila membawa pasangan harus menunjukkan kartu tanda penduduk (KTP) dengan alamat yang sama,’’ ujar Azizah. Jika pasangan tersebut tetap ingin menginap, lanjut dia,  maka kamarnya dipisah jauh  dan dijagai  petugas hotel secara ketat.

Jika tidak aturan itu tak dipenuhi, pihak hotel dengan tegas akan menolak permintaan tamu tersebut. Petugas hotel, tutur Azizah, akan mengusir tahu yang membawa pasangan non-muhrim ke dalam kamar. ‘’Uang sewa kamar kita kembalikan bila ada tamu yang diminta keluar karena melanggar aturan.”

Meski di papan nama tertulis Pondokan Sakinah menerapkan sistem syariah, ternyata masih banyak pasangan di luar nikah yang berniat untuk menginap di hotel itu. Dengan tegas, tutur Azizah, pengelola hotel menolaknya,  karena melanggar konsep syariah yang diterapkan hotel. ‘’Alhamdulillah, meskipun begitu jumlah tamu yang datang tetap banyak, bahkan bertahun-tahun jadi langganan kami,’’ tuturnya. Dengan konsep syariah, para tamu justru merasa nyaman menginap di Pondok Sakinah.

‘’Konsep penginapan syariah menjadikan tamu hotel merasa nyaman. Terlebih hotelnya juga bersih,’’ ujar Yudi Lesmana, (39 tahun), salah seorang tamu di Pondok Sakinah. Yudi mengaku sejak 2004, jika mendapat tugas kantor di wilayah Sukabumi, selalu memilih menginap di pondokan yang menerapkan sistem syariah itu.

Bekerja di hotel syariah ternyata menjadi kebanggan tersendiri bagi  Ari Sandi, salah seorang pegawai Pondok Sakinah. Ia mengaku selalu menolak permintaan pasangan di luar nikah yang henadak menginap di hotel tempatnya bekerja. Meski kerap kali dimarahi pengunjung, Ari menikmati bekerja di hotel yang menjaga nilai-nilai moral dan agama, tak semata mengejar keuntungan.

Pondok Sakinah  menawarkan lima macam jenis kamar mulai dari yang berharga Rp 50 ribu per malam hingga di atas Rp 100 ribu per malamnya. Selain kamar, Pondok Sakinah menyediakan aula untuk kegiatan seminar atau rapat-rapat dengan kapasitas 60 hingga 200 orang. riga nurul iman

REPUBLIKA, Jumat, 16 Oktober 2009 pukul 01:52:00

Habib Ali Kwitang

Forum Keluarga Habib Ali Kwitang

KOMUNITAS

Habib Ali Alhabsyi merupakan salah satu ulama terkemuka di Indonesia. Nama ulama  yang wafat pada  Desember 1966 telah diabadikan menjadi Majelis Taklim di Kwitang, Jakarta Pusat yang setiap Ahad pagi,  selalu ramai didatangi ribuan jamaah dari berbagai tempat di Jabodetabek.

Pada sebuah acara halal bihalal yang digelar di Gedung Daarul Aitam Tanah Abang, Jakarta Pusat, pekan lalu, cucu, cicit dan buyut Habib Ali Kwitang telah membentuk Forum Keluarga Habib Ali Kwitang. Ratusan keluarga Habib Ali Alhabsyi, yang kini sudah mencapai generasi keenam hadir dalam acara itu untuk mengenang perjuangan ulama besar yang mengabdikan hidupnya untuk kemajuan agama Islam itu.

Selain dikenal di Tanah Air, Habib Ali Alhabsyi juga populer di luar negeri, terutama Timur Tengah.  Murid-muridnya tersebar luas di negara-negara tersebut. Dia juga memiliki banyak murid di Malaysia, Singapura dan Brunei Darussalam. Dia memiliki tujuh anak, dua putera dan lima puteri yang seluruhnya telah tiada. Salah seorang cucu tertuanya kini telah berusia 94 tahun.

Ayah beliau Habib Abdurahman Alhabsyi kelahiran Semarang terkenal pada masanya di kalangan orang-orang berilmu. Dia berkawan erat dan masih keluarga dengan pelukis terkenal Raden Saleh (1816-1880). Makamnya di Cikini berdekatan dengan Taman Ismail Marzuki yang pernah menjadi kediaman Raden Saleh sampai kini banyak diziarahi masyarakat.

Habib Ali Alhabsyi terlahir di Kampung Kwitang, pada Ahad 20 Jumadilakhir 1286 Hijriah bertepatan 20 April 1879. Ketika ayahnya meninggal dunia, Habib Ali masih berusia 10 tahun. Ayahnya berwasiat pada istrinya Nyi Salmah, agar mendidik puternya itu di bidang agama. Maka dalam usia semuda itu Habib Ali pun berangkat ke Hadramaut menuntut ilmu dan belajar pada sejumlah ulama di sana.

Di antara gurunya ialah Habib Ali bin Muhammad Alhabsyi, pendiri dan pengarang kitab Maulud Syimtud Doror yang tiap akhir Kamis di bulan Rabiul Awal diselenggarakan pada peringatan maulud di Kwitang.  Setelah enam tahun menuntut ilmu di Hadramaut, Habib Ali kembali ke Indonesia.

Sebagai remaja yang haus akan ilmu-ilmu agama, dia belajar kepada sejumlah guru. Diantaranya Habib Usman bin Yahya, seorang mufti Betawi. Di samping Haji Abdulhamid di Bidaracina, Jatinegara seorang ulama Betawi terkenal pada masanya.

Dalam usia 25 tahun pada tahun 1311 H Habib Ali untuk pertama kalinya ke tanah suci dan sekaligus mempererat hubungannya dengan beberapa ulama di Makkah dan Madinah. Pada 1342 H untuk kedua kalinya Habib Ali bertolak ke tanah suci.  Sekitar 13 tahun kemudian, Habib Ali kembali ke tanah suci. Dia diterima dengan penuh kehormatan oleh Amir Faisal yang bertugas di Makkah selaku pengganti Raja Abdulazis bin  Saud.

Masjid Kwitang yang megah sekarang ini adalah dibangun atas prakarsanya.   Sebelum tahun 1910 merupakan surau yang terdiri dari bilik bambu dan beratap rumbia. Mushola ini kemudian dibongkar dan diperluas dua kali dari yang telah ada. Pada  1918, Habib Ali memperluas kembali dan dibangun pula di depan masjid sebuah madrasah (sekolah) ‘Unwanul Falah’.

Unwanul Falah merupakan sekolah pertama dengan sistem kelas dan terbuka untuk murid-murid wanita (untuk pertama kalinya). Dengan cepat sekolah ini memiliki ratusan murid dari berbagai tempat di Jakarta dan daerah sekitarnya (kini Jabodetabek).

Di antara murid-murid Habib Ali adalah KH Abdullah Syafei pendiri majelis taklim Assyafiiyah dan KH Tahir Rohili pendiri majelis taklim Attahiriyah dan KH Syafi’ie Alhazami, pendiri puluhan majelis taklim di Jakarta.  Masih banyak lagi murid-murid dan kawan-kawannya termasuk tokoh NU KH Hasyhim Ashari dan KH Wahab Chasbullah.

Dalam dakwah, Habib Ali selalu menegaskan perlunya persatuan umat Islam. Ia tak pernah rela umat Islam diadu domba hanya karena masalah furuhiyah. Tidak heran jika majelis taklimnya terbuka untuk semua golongan. alwi shahab

REPUBLIKA, Jumat, 16 Oktober 2009 pukul 01:50:00

Silaturahim

Silaturahim Al Irsyad Al Islamiyah

KOMUNITAS

Hari raya Idul Fitri memang telah berlalu, namun semangat untuk saling bersilaturahim dan halal bi halal tetap tidak pernah  surut. Sehingga dengan jiwa yang fitri, segenap keluarga besar Al Irsyad Al Islamiyah tampak begitu bersuka cita kala menggelar acara malam silaturahim Idul Fitri.

Acara itu digelar di ruang pertemuan kompleks perkantoran Perum Pegadaian Jl Kramat Raya No 162 Jakarta Pusat, Kamis (8/10) malam. Di samping jajaran pengurus dan warga Al Irsyad Al Islamiyah, acara juga dihadiri Menteri Agama (Menag) Maftuh Basyuni.

Dalam sambutannya, Menag menekankan pentingnya silaturahim dan saling memaafkan sesama Muslim. ”Hari raya Idul Fitri menjadi momentum tepat untuk melaksanakan amalan ini. Saling memaafkan adalah sesuatu yang baik,” katanya.

Menurutnya, halal bi halal adalah istilah yang hanya ditemui di Indonesia dan telah menjadi bagian dari tradisi dan membudaya di tengah masyarakat. Itulah pula yang membuat suasana hari raya semakin istimewa.

Dijelaskan lebih jauh, tradisi saling memaafkan dan silaturahim adalah  ajaran mulia yang perlu terus diterapkan. Terlebih, amalan itu sangat terkait dengan puasa Ramadhan.

Sementara itu Ketua Umum Al Irsyad Al Islamiyah KH Abdullah Djaidi menghimbau warga Al Irsyad untuk meningkatkan kepedulian terutama karena banyaknya musibah yang menimpa di sejumlah daerah.

”Terjadi gempa bumi di Jawa Barat dan Sumatra Barat yang menimbulkan korban jiwa dan harta. Ini menjadi keprihatinan kita semua,” katanya.

Dikatakan, musibah gempa, banjir dan tanah longsor sejatinya adalah cobaan serta teguran dari Allah SWT. Umat pun diharapkan bermuhasabah, menaati perintah dan menjauhi larangan-Nya.

Beberapa waktu lalu, sambung Kiai Abdullah, pihaknya membuka posko untuk menggalang bantuan bagi korban gempa. Bantuan yang diterima pun telah disalurkan kepada warga yang membutuhkan.

Kegiatan itu, jelasnya, merupakan wujud tanggung jawab sosial seluruh warga Al Irsyad. ”Kami akan memperkuat peran sosial ini, selain terus berkontribusi dalam bidang dakwah dan pendidikan,” Kiai Abdullah menegaskan. yus

REPUBLIKA, Jumat, 16 Oktober 2009 pukul 01:34:00

Meraih Cinta Illahi

Membantu Korban Bencana, Meraih Cinta Illahi

DIRASAH

Orang yang menebar kasih sayang akan disayang oleh Allah Yang Maha Penyayang.

Bencana terus melanda negeri ini. Belum kering air mata warga  Tasikmalaya, Garut, Cianjur Jawa Barat, gempa bumi berkekuatan 7,6 pada skala Richter kembali meluluhlantakkan sebagian Provinsi Sumatera Barat.  Indonesia pun berduka. Ratusan jiwa meninggal, ribuan luka-luka dan belasan ribu warga kehilangan tempat tinggalnya.

Musibah dan bencana memiliki hikmah dan makna. Dalam Alquran surat at-Taghaabun ayat 11 Allah SWT berfirman, ”Tidak ada suatu musibah pun yang menimpa seseorang kecuali dengan izin Allah; dan barangsiapa yang beriman kepada Allah niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.”

Pada surat Asy-Syuura ayat 30 Allah SWT berfirman,” Dan musibah apa saja yang menimpa kalian, maka disebabkan oleh perbuatan tangan kalian sendiri, dan Allah mema’afkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu).”

Setiap kali bencana dan musibah terjadi, Rasulullah SAW mengajak umatnya untuk bergerak menolong para korban. Tentu saja menolong sesuai dengan kemampuan masing-masing. Menolong korban bencana merupakan salah satu cara bagi seorang Muslim untuk dicintai Sang Khalik.

Rasulullah SAW bersabda, ”Orang yang menebar kasih sayang akan disayang oleh Allah Yang Maha Penyayang. Sayangilah yang di muka bumi, maka kalian pasti akan disayangi oleh Allah yang berada di atas langit.”  Karena itulah, seorang Muslim bisa memanfaatkannya dengan sebaik mungkin.

”Ada ladang surga di sana (daerah bencana),” ungkap Ketua Pengajian Al Islah,  Elly Santosa dalam acara halal bihalal Kelompok Pengajian Gabungan Pondok Indah, Jakarta. Selain akan disayang oleh Allah SWT, setiap Muslim yang menolong saudaranya yang tertimpa bencana juga akan senantiasa selalu ditolong-Nya.

Dalam sebuah hadits Rasulullah SAW bersabda, ”Barangsiapa menolong saudaranya, maka Allah akan selalu menolongnya.” Syekh Muhammad Thoriq Muhammad Shalih dalam bukunya Eksiklopedi Amalan Muslim, mengungkapkan, seorang Muslim yang menolong saudaranya dari musibah di dunia, kelak akan mendapat pertolongan Allah SWT di Hari Kiamat.

Rasulullah SAW bersabda, “Barangsiapa yang membebaskan satu kesusahan seorang mukmin dari kesusahan-kesusahan dunia, maka Allah akan melepaskannya dari satu kesusahan di antara kesusahan-kesusahan akhirat. Barangsiapa memberikan kemudahan kepada orang yang kesulitan, maka Allah akan memudahkan dia di dunia dan akhirat. Barangsiapa yang menutup aib seorang muslim, maka Allah akan menutupi aibnya di dunia dan akhirat.”

Menurut Syekh Shalih, Allah SWT akan selalu menolong seorang hamba selama hamba itu menolong saudaranya.  Dalam sebuah hadis dari Abu Qatadah RA: ”Saya mendengar Rasulullah SAW bersabda, ”Barangsiapa yang hendak Allah selamatkan dari ujian pada Hari Kiamat maka hendaknya ia mempermudah orang yang dalam kesulitan atau ia memaafkannya.”

Begitu utama dan mulianya menolong korban bencana dalam pandangan Islam. Tak heran, jika para ulama dari berbagai Ormas Islam menyerukan agar umat Islam berlomba-lomba memberi bantu kepada para korban bencana, sesuai dengan kemampuan.

Ketua Persatuan Ulama Islam Internasional, Syekh Yusuf al-Qaradhawi sempat berpesan, ”Sesungguhnya umat Islam umat harus tetap mempunyai solidaritas dengan saudaranya dalam semua hal, baik dalam suka dan duka, dan keadaan perang ataupun dalam damai.” Menurutnya, sesama muslim wajib saling membantu.

”Sesama Muslim adalah seperti satu tubuh, jika salah satu organ tubuh itu sakit maka yang lainnya juga akan sakit. Jadi, umat Islam diwajibkan untuk memberikan bantuan kepada saudaranya. Muslim yang memiliki rezeki mestinya menyumbangkan hartanya kepada para korban bencana itu,” tutur Ketua Umum Baznas, KH Didin Hafidhuddin.

Upaya kaum Muslim untuk menolong saudaranya yang tertimpa bencana juga dapat menjadi benteng untuk memelihara akidah. Sesungguhnya, pada setiap bencana, baik terang-terangan maupun sembunyi-sembunyi, selalu ada upaya untuk memurtadkan umat. Karenanya, bantuan umat Islam kepada korban bencana yang juga Muslim dapat menyelamatkan dan memelihara akidah saudaranya. heri ruslan

REPUBLIKA, Jumat, 16 Oktober 2009 pukul 01:25:00

Hak Cipta di Islam

Hak Cipta dalam Pandangan Islam

FATWA


Hak cipta yang orisinil dan bermanfaat digolongkan sebagai harta yang sangat berharga.

Indonesia dikenal sebagai salah satu ‘surga’ peredaran barang-barang bajakan dan ilegal. Segala barang bajakan dan tiruan dapat ditemukan dengan mudah di negeri ini.  Di banyak pusat perniagaan aneka produk bajakan alias palsu  seperti: barang elektronik, buku, kaset musik, film, software, hingga obat sekalipun dijual bebas.

Tak heran,  jika Indonesia pada 2007 tercatat berada di urutan lima besar negara dengan tingkat pembajakan dan pelanggar terbesar hak atas kekayaan intelektual (HAKI). Potensi kerugian dari praktik tersebut sangatlah besar. Untuk produk software (perangkat lunak) saja, berdasarkan data International Data Corporation (IDC), potensi penghasilan yang raib mencapai 544 juta dolar AS per tahun.

Sebetulnya, langkah penertiban dan penindakan kerap dilakukan. Nyatanya, praktik pembajakan masih tetap saja dilakukan.. Mereka terus berusaha mencari celah untuk dapat memperdagangkan produk-produk ilegal tadi demi meraup keuntungan. Bahkan, ada pula yang sengaja memalsukan obat-obatan, yang dapat membahayakan keselamatan jiwa manusia.

Lalu bagaimana agama memandang praktik pembajakan dan pelanggaran HAKI?  Para ulama di Tanah Air turut memberikan perhatian yang serius terhadap maraknya praktik pelanggaran HAKI.  Majelis Ulama Indonesia (MUI) telah menetapkan Fatwa Nomor 1 Tahun 2003 tentang Hak Cipta dan  Fatwa  Nomor 1/MUNAS VII/MUI/15/2005 tentang HAKI.

”Setiap bentuk pelanggaran terhadap hak cipta, merupakan kezaliman yang hukumnya haram,” papar Ketua Komisi Fatwa MUI, KH Ma’ruf Amin.  Dalam butir pertimbangannya, MUI memandang praktik pelanggaran hak cipta sudah mencapai tahap yang meresahkan. Banyak pihak dirugikan, terutama pemegang hak cipta, negara dan masyarakat.

Bukan hanya hukum negara yang diterabas,praktik ilegal itu juga dinilai melanggar ketentuan syariat. Surat an-Nisaa ayat 29 secara tegas melarang memakan harta orang lain secara batil (tanpa hak).  “Hai orang beriman! Janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan suka sama-suka di antara kamu. Dan janglah kamu membunuh dirimu; sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu.”

Terkait masalah itu, dalam Alquran surat as-Syu’ara ayat 183 Allah SWT berfirman, ”Dan janganlah kamu merugikan manusia  dengan mengurangi hak-haknya dan janganlah kamu merajalela di muka bumi dengan membuat kerusakan.”

Rasulullah SAW sangat mencela segala tindakan yang bisa merugikan hak orang lain. ”Tidak boleh membahayakan (merugikan) diri sendiri dan tidak boleh pula membahayakan (merugikan) orang lain.” (HR Ibn Majah dari ‘Ubadah bin Shamit)  Kalangan ulama dari Mazhab Maliki, Hanbali dan Syafi’i tidak berbeda pandangan terhadap praktik pelanggaran hak cipta ini.

Para ulama lintas mazhab itu menggolongkan hak cipta yang orisinil dan bermanfaat sebagai harta berharga. Oleh sebab itu, Wahbah al-Zuhaili pun menegaskan bahwa tindakan pembajakan merupakan pelanggaran atau kejahatan terhadap hak pengarang. Pelakunya akan dipandang telah melakukan kemaksiatan yang menimbulkan dosa.

”Ini  sama dengan praktik pencurian, harus ada ganti rugi terhadap hak pengarang atas naskah yang dicetak secara melanggar,”  tutur Wahbah. Ketentuan-ketentuan yang telah digariskan Allah SWT dan Rasul-Nya, juga para fukaha tadi, lantas bermuara pada kaidah fikih.

Setidaknya terdapat tiga pedoman, pertama, bahaya (kerugian) harus dihilangkan.  Kedua, menghindarkan masfadat didahulukan atas mendatangkan maslahat, dan ketiga, segala sesuatu yang lahir (timbul) dari sesuatu yang haram, adalah haram.

Setelah memerhatikan seluruh aspek tersebut, Komisi Fatwa menetapkan bahwa hak cipta termasuk dalam lingkup huquq maliyyah (hak kekayaan) yang harus mendapat perlindungan hukum (mashun) seperti halnya harta kekayaan.  ”Hak cipta yang harus dilindungi secara hukum adalah hak cipta yang tidak bertentangan dengan hukum Islam,” jelas Kiai Ma’ruf.

Dengan begitu,  sebagaimana harta, maka hak cipta dapat dijadikan objek akad (al ma’qud ‘alaih). Akad ini mencakup akad mu’awadhah (pertukaran, komersial) dan akad tabarru’at (non komersial), bisa pula diwakafkan dan diwarisi. Begitulah Islam melindungi  hak cipta dan HAKI. yusuf assidiq

REPUBLIKA, Jumat, 16 Oktober 2009 pukul 01:20:00

Bencana Kita Semua

Bencana Ini, Bencana Kita Semua

ISLAM DI IBU KOTA

Rakhmad Zailani Kiki
Staf Seksi Pengkajian Bidang Diklat Jakarta Islamic Centre

Seorang rekan yang baru pulang dari Padang, Sumatera Barat dan turut menjadi korban gempa, menunjukan kejengkelannya terhadap komentar yang mengaitkan gempa dengan dosa yang dilakukan masyarakat di sana. ”Kenapa nggak Jakarta aja yang kena gempa?”, ujarnya dengan nada sinis.

Kejengkelannya bertambah ketika ramai beredar berita melalui SMS atau media massa tentang waktu kejadian gempa tersebut yang memang cocok dengan surat dan ayat dalam Al-Qur`an yang berisi tentang murka Allah SWT . Sebagai seorang muslimah, kejengkelannya bukan ditujukan kepada kebenaran ayat dari kitab suci yang juga ia imani. Tetapi, kepada tafsir ayat-ayat tersebut yang kesimpulannya dikembangkan bahwa seakan-akan masyarakat Sumatera Barat adalah ”para pendosa” , dan mereka yang ” di luar sana” adalah orang-orang yang masih suci yang terhindar dari bencana akibat murka-Nya.

Tentu kesimpulan tersebut sangat gegabah dan terburu-buru, terlebih disebarluaskan di saat para korban masih membutuhkan bantuan. Karena, hampir tidak ada bedanya kaum Muslimin yang memiliki kesimpulan seperti itu dengan orang-orang di luar Islam yang mensyukuri bencana tersebut sebagai jalan untuk melakukan upaya pemurtadan dengan dalih korban adalah para pendosa akibat keyakinan yang salah (menurut mereka) yang harus diselamatkan?

Memang, mengkaitkan bencana dengan murka-Nya karena dosa yang dilakuan para korban sudah menjadi sesuatu yang lumrah, terlebih bagi masyarakat Indonesia yang terkenal religius, yang mayoritas beragama Islam penganut teologi Asy`ariyyah, teologi yang mengkaitkan seluruh persoalan dan peristiwa, termasuk musibah, dengan kehendak dan ketetapan Allah SWT.

Gempa yang terjadi adalah karena murka Allah SWT yang disebabkan kemaksiatan dan dosa yang dilakukan para korban. Berbeda misalnya dengan penganut teologi Mu`tazillah yang mengkaitkannya dengan perbuatan manusia itu sendiri. Kesalahan konstruksi dan tata letak bangunan di daerah yang memang secara ilmiah rawan gempa adalah biang keladinya, karenanya, yang membunuh para korban tersebut bukan gempa yang disebabkan oleh murka Allah, melainkan bangunan dan tanah yang longsor.

Dua pemahaman inilah yang sadar atau tidak sadar dipersoalan oleh sebagian umat Islam yang disebarkan melalui SMS atau media massa dengan justifikasi Alquran dan hadis dan juga dalil aqli yang semuanya bermuara pada maksud yang sama: menyalahkan para korban karena banyak berbuat maksiat dan dosa atau karena kesalahan membangun.

Menurut Ketua Dewan Pakar Forum Ulama dan Habaib Betawi (FUHAB), Syekh KH Saifuddin Amsir, jika sikap menyalahkan ini dilakukan pada situasi dan kondisi yang tepat, apalagi didukung dengan dalil-dalil yang kuat terlebih yang dalil itu berasal dari Alquran, maka sudah menjadi kewajiban bagi semua pihak termasuk para korban menerimanya karena akan mendatangkan mashlahat.

Namun, jika disampaikan pada situasi dan kondisi yang kurang tepat, seperti sekarang ini, dimana umumnya para korban dalam stiuasi emosi yang tidak stabil dan dalam keguncangan jiwa yang hebat, justru menjadi sesuatu yang mafsadat, baik bagi si korban karena akan menambah penderitaannya, dan juga umat Islam secara keseluruhan di Indonesia berupa melemahnya ukhuwah Islamiyah, terutama dengan saudara-saudara mereka sesama muslim yang menjadi korban gempa.

REPUBLIKA, Jumat, 16 Oktober 2009 pukul 01:18:00

Tradisi Pesantren

Memadukan Tradisi Pesantren dengan Sains dan Teknologi

REHAL

Tradisi Pesantren yang ada sejak 800 tahun lalu, kini telah mengalami perubahan yang luar biasa. Hal ini terjadi seiring dengan perubahan sosial, politik, ekonomi dan kebudayaan bangsa Indonesia.

Buku ini menyuguhkan kisah para kiai yang memadukan Tradisi Pesantren dengan berbagai aspek modernitas terutama dalam bidang pendidikan. Khususnya yang terjadi antara tahun 1980 hingga 2010.

Sejak tahun 2005, para pimpinan pesantren telah menugasbelajarkan 3.000 santri untuk mengikuti pendidikan sarjana Strata Satu (S1) dan Strata Dua (S2) di berbagai bidang studi sains dan teknologi di enam universitas ternama di Indonesia. Yaitu, Universitas Indonesia (UI), Institut Teknologi Bandung (ITB), Institut Pertanian Bogor (IPB), Universitas Gadjah Mada (UGM), Institut Teknologi Surabaya (ITS), dan Universitas Airlangga (Unair).

Para santri yang telah berhasil menyelesaikan studinya diwajibkan untuk kembali ke pesantrennya masing-masing. Mereka juga diwajibkan untuk mengajarkan ilmu pengetahuan yang dimiliki kepada para santri lainnya. Dengan cara ini diharapkan para santri yang berilmu tersebut bisa memajukan kualitas pendidikan di lingkungan pesantren.

Langkah-langkah para kiai memadukan Tradisi Pesantren dengan modernitas pendidikan ini menjadi bahasan utama buku ini. Juga diungkap peran Tradisi Pesantren yang mampu memperkuat dan mempercepat keberhasilan pembangunan peradaban Indonesia modern.

Diprediksikan lima tahun ke depan, kiprah para santri yang berilmu pengetahuan tersebut akan menelorkan Tradisi Pesantren baru. Yaitu, santri tidak hanya menguasai kitab saja, tetapi juga menguasai ilmu pengetahuan, khususnya sains dan teknologi. hep

Judul Buku :
Tradisi Pesantren Memadu Modernitas untuk Kemajuan Bangsa.
Penulis : DR H Zamakhsyari Dhofier MA
Penerbit : Pesantren Nawesea Press
Cetakan : September 2009
Tebal Buku : xii+293 hlm




Blog Stats

  • 2,573,101 hits

Recent Comments

Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Sejarah : Bangsa Lemuria, Lelu…
Ratu Adil - 666 on Sejarah : Bangsa Lemuria, Lelu…

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 142 other followers