Posts Tagged ‘Religious



09
Oct
09

Keagamaan : Jumlah Muslim Dunia Melonjak ajam

Jumlah Muslim Dunia

By Republika Newsroom
Kamis, 08 Oktober 2009 pukul 16:06:00

Jumlah Muslim Dunia Melonjak TajamNEWS.DUKE.EDU
satu dari empat penduduk dunia adalah Muslim (survei The Pew Forum)

NEW YORK–Berapa jumlah Muslim di dunia saat ini? The Pew Forum on Religion and Public Life menyodorkan data: jumlah Muslim dunia melonjak hampir 100 persen dalam beberapa tahun ini. “Rata-rata di tiap negara bertambah dari semula 1 juta menjadi 1,8 juta penganut,” tulis laporan terbaru tentang riset yang dilakukan selama tiga tahun itu.

Angka pastinya, menurut laporan itu, jumlah penganut Islam di seluruh dunia saat ini mencapai 1,57 miliar jiwa. “Kini, hampir satu dari empat penduduk dunia mempraktikkan ajaran Islam,” tulis laporan itu.

Dari jumlah itu, dua pertiga Muslim tinggal di 10 negara. Indonesia — yang disebut dalam laporan itu sebagai negara yang sangat toleran kendati Muslim dominan — disebut sebagai negara dengan jumlah penduduk Muslim terbesar di dunia. Jumlah Muslim di Indonesia adalah sebesar 203 juta atau 13 persen dari seluruh penduduk Muslim dunia. Sebanyak 60 persen jumlah Muslim dunia tiggal di kawasan Asia, bukan di Timur Tengah, tempat asal ajaran agama ini.

Eropa disebut sebagai negara yang pertumbuhan jumlah penduduk Muslimnya sangat cepat. Kini benua itu menjadi rumah bagi 38 juta Muslim, atau lima persen dari seluruh populasi. Jumlah penduduk Muslim di Jerman lebih kurang 4 juta orang, hampir sama dengan jumlah gabungan Muslim di Amerika Utara dan Selatan. Prancis dalam laporan itu memiliki jumlah Muslim paling sedikit di Eropa, namun secara prosentase adalah tertinggi.

Di Benua Amerika, sebanyak 4,6 juta Muslim tinggal di sana dan hampir separuh dari jumlah itu ada di Amerika Serikat. Sedang di Kanada jumlah Muslimnya mencapai 700 ribu jiwa, atau 2 persen dari seluruh populasi.

The Pew Forum on Religion and Public Life juga menyodorkan data yang cukup mencengangkan. Misalnya saja, jumlah penduduk Muslim di German ternyata lebih banyak dari Lebanon, Muslim di Cina lebih banyak dari Suriah, dan Muslim di Russia lebih banyak dari gabungan jumlah Muslim di Yordania dan Libya. Sedang jumlah Muslim di Ethiopia, negeri Katholik Ortodoks di Afrika, jumlahnya sebanding dengan Afghanistan.

“Pendapat bahwa Islam identik dengan Arab dan Arab adalah Islam sama sekali keliru,” ujar Amaney Jamal, asisten profesor di Princeton University yang mereview penelitian itu. Ia menyebut hasil penelitian The Pew ini sangat konprehensip, khususnya dalam data terkini jumlah Muslim di dunia. Apalagi setelah perang global melawan terorisme yang kerap diterjemahkan sebagai perang melawan Islam oleh penduduk di banyak negara non-Muslim.

Menurut forum ini, penelitian yang dilakukan di 232 negara itu baru penelitian pendahuluan. Tahun depan mereka berencana merilis hasil penelitian dengan menyodorkan data terkini plus prosentase tingkat pertumbuhan jumlah penduduk Muslim di masing-masing negara di dunia. Pada tahun yang sama, mereka juga akan merilis studi tentang perkembangan penyebaran agama Kristen di dunia. n ap/tri

06
Oct
09

Keagamaan : Semangat Pluralisme Beragama di Indonesia Terancam

Semangat Pluralisme Beragama di Indonesia Terancam

Selasa, 6 Oktober 2009 | 03:07 WIB

Jakarta, Kompas – Semangat pluralisme agama di Indonesia terancam luntur. Kriminalisasi agama dan kepercayaan bertambah marak terjadi, sementara penanaman semangat pluralisme serta toleransi dalam pendidikan semakin terbatas.

Hal itu terungkap dalam Konferensi Tokoh Agama atau Indonesian Conference on Religion on Peace di Wisma Serbaguna, Senayan, Jakarta, Senin (5/10). Ancaman itu terbukti dengan semakin maraknya gejala kriminalisasi terhadap kelompok-kelompok agama dan kepercayaan yang dianggap tidak resmi oleh negara.

”Seperti yang terjadi ini terhadap kelompok Ahmadiyah dan kelompok-kelompok lain,” kata Ifdhal Kasim, Ketua Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM).

Selain itu, hampir setiap bulan Komnas HAM menerima pengaduan dari masyarakat yang dinilai mengancam kebebasan beragama, seperti kesulitan membangun gereja di daerah-daerah tertentu serta penggerebekan kelompok-kelompok agama dan kepercayaan.

Gejala lain yang mengancam semangat keberagaman adalah banyaknya daerah yang membuat Peraturan Daerah (Perda) Syariah. Padahal, menurut Ketua Mahkamah Konstitusi Mahfud MD, Perda Syariah itu melanggar konstitusi.

”Negara itu hanya bertugas melindungi rakyatnya untuk beragama, menjalankan ajaran agama. Bukan mengatur agama. Jadi, tidak boleh ada undang-undang ataupun peraturan tentang wajib puasa, wajib shalat, dan semacamnya,” kata Mahfud dalam konferensi ini.

Sementara itu, kata Ifdhal, pendidikan tentang keberagaman dan toleransi beragama yang diberikan di sekolah-sekolah semakin terbatas. Bahkan, di sekolah-sekolah negeri kini cenderung menggunakan simbol-simbol agama tertentu dalam kegiatan sehari-hari.

”Hampir semua sekolah negeri sekarang seperti sekolah agama karena seluruh identitas agama dipakai di situ,” kata Ifdhal.

Oleh karena itulah, menurut Mahfud, pemerintah harus tetap konsisten terhadap Pancasila dalam menyusun aturan hukum.(NTA)

05
Oct
09

Seni Budaya Islam : Transformasi Tradisi dan Indahnya Beragama

KOMPAS/HERU SRI KUMORO
Perkumpulan Suluk Sewelas dari Ngampel, Boyolali, saat pentas dalam Festival Seni Budaya Islam di Balai Soedjatmoko, Solo, Jawa Tengah, Jumat (11/9).

SENI BUDAYA ISLAM
Transformasi Tradisi dan Indahnya Beragama

KOMPAS, Senin, 5 Oktober 2009 | 02:36 WIB

Oleh Ardus M Sawega

Bau rokok klembak-kemenyan mendadak menusuk hidung ketika serombongan orang desa—lelaki, perempuan, dan anak-anak—yang bersahaja turun dari bus kecil di Balai Soedjatmoko, Solo, Jumat (11/9) silam. Selain bersarung dan merokok klembak, keunikan warga Dusun Tempel di ketinggian 2.900 meter Gunung Merbabu itu adalah ritual ”Suluk Sewelasan”, tradisi yang mereka pegang teguh sejak 11 November 1955.

Ritual Suluk Sewelasan oleh kelompok tarekat Qodriyah Naqsabandiyah dari Dusun Tempel, Ngampel, Boyolali, Jawa Tengah, ini tampil dalam Festival Seni Budaya Islam yang berlangsung pada 10-13 September 2009 di Balai Soedjatmoko.

Festival ini menampilkan delapan kelompok dengan corak dan tradisi yang berbeda. Ini mencerminkan keberagaman aliran Islam yang berkembang di Indonesia sekaligus menampakkan ”wajah” Islam yang telah beradaptasi dengan budaya lokal. Ada Suluk Sewelasan yang bersahaja, santiswaran, hadrah, hingga nasyid yang ngepop.

Zuly Qodir, pengajar pada Program Pascasarjana UGM, Yogyakarta, menegaskan, itu merupakan fakta yang tak terbantah dalam perkembangan Islam di Jawa. ”Berbagai bentuk seni budaya Islam yang berkembang di Jawa tak terdapat di Arab sana,” katanya.

Suluk Sewelasan tergolong ritual yang sudah langka dalam tradisi budaya Islam di Jawa. Tradisi yang dibawa dari Persia ini untuk memperingati hari lahir Syekh Abdul Qadir Jaelani, tokoh sufi dari Baghdad, Irak, yang jatuh pada tanggal 11 (sewelas).

Suluk ini, dalam bahasa Jawa dan Arab, terdiri dari salawat dan zikir—zikir zahir (fisik) dan zikir sirri (batin). Ketika zikir mereka terdengar mirip dengungan, orang-orang itu seperti ekstase. Jari tangan tak henti memetik butir tasbih. Ketika jari berhenti, zikir dilanjutkan di dalam batin. Pada titik ini terjadi ”penyatuan” dengan Yang Maha Esa.

Sesepuh Kelompok Sewelasan, Hadisumarsono (73), menjelaskan, suluk ini merupakan sarana bagi jemaah untuk menyatukan diri dengan Tuhan. ”Lewat suluk ini akan mempertebal keyakinan kepada Allah SWT sehingga terjadi manunggaling raos dumateng Gusti,” tuturnya.

Medium Jawa

Ritual Suluk Sewelasan itu dinyatakan sebagai meneruskan tradisi sejak zaman para wali. Mereka mengaku sebagai ”Jawa deles” (sejati) karena itu mereka memakai bahasa Jawa dalam salawatan sebab bahasa Jawa dianggap lebih bisa mengartikulasikan gerak batin mereka. Adapun surat Al Quran dan hadis menggunakan bahasa Arab.

Suluk Sewelasan diawali: Dedalane slamet iku ana lima/Sapa kang nglakoni iku bakal beja/ Kaping pisan taat Allah Kang Kuasa/Kaping pindo taat maring Nabiira/Kaping telu tunduk prentahe negara/Prentahe kang ora nglanggar ing agama/Kaping papat budi luhur tata krama/Kaping lima ilmu amal kang piguna//.

Salawat di atas maknanya adalah pedoman bagi umat Islam; taat kepada Allah, taat kepada Nabi, tunduk kepada negara, berbudi luhur dan tata krama, serta mengamalkan ilmu yang bermanfaat bagi kehidupan.

Tradisi budaya Islam di Jawa banyak yang memakai bahasa Jawa sebagai media komunikasi. Bahasa Jawa yang digunakan cenderung sederhana dan merefleksikan pemahaman tentang agama yang tak kelewat muskil, tetapi justru menjelma menjadi penghayatan yang personal.

Dengarlah bawa ”Rukun Islam” oleh Kelompok Rodhat Lesung dari Sragen ini: …Rukun Islam kang lima puniku/katindakna ing para sesama/aja pada ditinggalke/ Rukun lima puniku, syahadate kang angka siji, kang angka loro sholat/dene kang katelu Romadhon nindakake pasa/papat zakat, ping lima ngibadah haji/rukun Islam sampurna//.

Seni rodhat, yang dicirikan oleh penari putri berkacamata hitam, kali ini diwakili enam waria yang tampil kemayu dan menjadikannya sebagai pertunjukan yang rancak. Dengan iringan lesung, terbang dan tambur, diiringi salawat berbahasa Jawa yang bersahutan dengan senggakan spontan, Rodhat Lesung membuktikan bahwa dakwah dan syiar agama bisa sampai ke publik lewat kesenian rakyat yang komunikatif.

Menurut budayawan MT Arifin, Islam yang beradaptasi dengan kebudayaan Jawa itu dirintis Sunan Bonang lalu dilanjutkan oleh Sunan Kalijaga. ”Islam yang berkembang di Indonesia kebanyakan beraliran sufi atau tasawuf karena itu memang lebih mengena dengan kultur masyarakat setempat, terutama di Jawa,” ungkapnya.

Dalam bentuk seni musik, adaptasi Islam dalam Jawa itu juga terekspresikan lewat santiswaran (lagu puji-pujian), yang merupakan paduan antara hadrah dan karawitan Jawa sehingga menghasilkan musik yang indah.

Dengarlah terjemahan surat Al-Alaq, yang bercerita tentang turunnya wahyu Al Quran yang diterima Nabi Muhammad di Goa Hira, dalam tembang Mijil yang dibawakan oleh Kelompok Santiswaran Larasmadya ”Wening Ati” (Solo) ini.

Tumurune roh Al-Quran suci ing wulan Romadhon/amung limang ayat kawitane/ aneng guwa Hira ingkang sepi/Alantaran Jibril wahyu kang dumawah/suratira Al Alaq sayekti, dawuh ingkang maton/alantaran Jibril tumurune/Wus tinampi dening Kanjeng Gusti/duk amesu budi rikala mahengkung/manahira lir bendah rinujit, sedih aneng batos/dupi anguningani pratengkahe kafir Kures kang sangsaya ndadi/brahala den pundi, o srikendel arum/Allah paring panglipuring ati, Al-Quran kawiyos/ pinaringaken maring utusane/Kanjeng Nabi Muhammad sayekti/pungkasaning nabi, panutupe rosul//.

Transformasi

Tradisi seni budaya Islami tampaknya terus berkembang di Jawa sekalipun mengalami transformasi. Bentuk ritual tradisional berubah mengikuti aspirasi zaman. Sebagian jadi kontemporer, bahkan ngepop, tetapi napas agama tetap kental.

Kelompok Wireng Santi Guna dari Baluwarti Solo, misalnya, menyajikan santiswaran yang sebagian repertoarnya mengacu pada tradisi keraton. Namun, mereka juga menggubah repertoar baru yang bertema kerukunan beragama; mengingatkan tentang pluralitas di masyarakat. Kelompok ini merupakan ”pembauran” karena anggotanya—separuhnya ibu-ibu—terdiri dari beragam pemeluk agama; ada Islam, Katolik, Kristen, Hindu, dan Buddhis.

”Sejak terbentuk tahun 2004, kelompok santiswaran ini kami jadikan sebagai sarana untuk menumbuhkan kerukunan beragama dalam lingkungan warga masyarakat. Rasanya lebih indah kalau tumbuh kerukunan di antara umat beragama walau kita menyadari satu sama lain berbeda,” tutur MT Supriyanto, pimpinannya.

Keindahan serupa kita rasakan pada anak-anak muda yang memilih bentuk nasyid, seperti Kelompok Zukhruf (Solo) ini: Ayolah semua budayakan salat/untuk memperkuat jati diri kita sebagai umat-umat Muhammad/penerus risalah dalam Islam/Lemparkan sauh di pantai/pertanda kapal layar akan berlabuh/Itulah kita, umat Muhammad mencapai Islam ke permukaan/Assalamualaikum… /salam membawa rahmat dan doa/membawa kita pada maslahat/mencapai mulia saat bersua/meningkatkan ukhuwah Islamiah. (EKI/SON)

05
Oct
09

Wisata Religius : Masjid-masjid Tua di Aceh

BENDA CAGAR BUDAYA
Masjid-masjid Tua di Aceh

KOMPAS, Senin, 5 Oktober 2009 | 02:37 WIB

Pertama kali mendapat pengaruh Islam, Aceh memiliki banyak peninggalan bersejarah, terutama masjid-masjid berusia ratusan tahun. Baik pada masa Kerajaan Samudera Pasai—kerajaan Islam pertama di Nusantara—maupun pada masa penjajahan, masjid-masjid tidak hanya sebagai tempat ibadah, melainkan juga sebagai tempat kegiatan sosial, termasuk pendidikan. Bahkan, masjid juga sebagai pusat kebudayaan Islam.

Sebagian besar masjid itu sekarang kurang terawat. Kurang mendapat perhatian. Untuk itu, Direktorat Sejarah dan Purbakala Departemen Kebudayaan dan Pariwisata berusaha mewujudkan kesadaran sejarah masyarakat yang akhirnya mampu memperkokoh integrasi bangsa dengan cara memublikasikan fungsi dan peranan masjid-masjid bersejarah tersebut,” kata Direktur Nilai Sejarah Direktorat Sejarah dan Purbakala Departemen Kebudayaan dan Pariwisata Sabri beberapa waktu lalu di Jakarta.

Sabri mengatakan, untuk memperkenalkan kembali masjid-masjid bersejarah di provinsi berjuluk ”Serambi Mekkah” itu, Depbudpar telah mengundang sejumlah wartawan mengunjungi masjid-masjid tua di Kota Banda Aceh, Kabupaten Aceh Besar, Kabupaten Pidie, Kabupaten Aceh Barat, dan Kota Sabang.

Kurang terawat

Keberadaan masjid pascabencana tsunami, 26 Desember 2004, seperti sebuah keajaiban yang diperlihatkan Sang Pencipta. Bayangkan, bangunan di sekitar roboh dan hanyut dihantam tsunami, tetapi masjid berdiri kokoh dan hanya sedikit mengalami kerusakan.

Warga yang berlindung di masjid selamat dari tsunami. Masjid Raya Baiturrahman dan Masjid Baiturrahim, di pusat Kota Banda Aceh, misalnya, sampai sekarang sudah menjadi tujuan wisata. Setiap hari masjid itu ramai dikunjungi wisatawan Nusantara dan mancanegara.

Kompas mencermati, tidak hanya di Kota Banda Aceh. Di kota/kabupaten lain di Provinsi Aceh juga memiliki kekayaan khazanah bangsa berupa masjid tua. Selain menarik digali dan dikaji sejarah dan arsitekturnya, masjid kuno di Aceh juga bisa dikembangkan sebagai obyek wisata spiritual.

”Provinsi Aceh memiliki banyak masjid bernilai sejarah, berusia ratusan tahun. Perlu digali kesejarahannya dan dikaji arsitekturnya untuk pengetahuan masyarakat. Juga menarik untuk dijadikan obyek wisata spiritual,” kata Gubernur Nanggroe Aceh Darussalam Irwandi Yusuf.

Bupati Aceh Besar Bukhari Daud secara terpisah di Indrapuri mengatakan, masjid tua di Aceh Besar, yakni Benteng Masjid Indrapuri, yang dibangun abad ke-10 Masehi, juga menginspirasi arsitektur Masjid Muslimin Pancasila di sejumlah daerah di Nusantara. Bahkan, masjid tertua dan terkenal di Demak pun mencontoh arsitektur Benteng Masjid Indrapuri.

Di Desa Manjing, Kecamatan Pantai Cermin, Kabupaten Aceh Barat, didapati masjid tua yang dimakan rayap, yakni Majid Tuha Manjing. ”Masjid ini sangat layak dijadikan benda cagar budaya dan direkonstruksi,” kata Dahlia, Kepala Seksi Pelestarian dan Pemanfaatan Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala (BP3) Aceh.

Di Sabang, Masjid Jamik Baiturrahman, masjid tempat jemaah calon haji Indonesia dikarantina sebelum diberangkatkan dengan kapal ke Mekkah pada masa-masa sebelum 1924, karena kurang sosialisasi tentang benda cagar budaya sudah berubah bentuk.

”Masjid ini sangat bersejarah bagi umat Islam di Indonesia. Ketika orang Indonesia naik haji ke Mekkah, yang dulu satu-satunya dengan perjalanan laut, jemaah calon haji dari sejumlah daerah di Indonesia dikarantina di Masjid Jamik Baiturrahman sebelum diberangkatkan dari Pelabuhan Sabang. Di seputar masjid terdapat penginapan,” kata Jamin Seda, anggota staf Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Sabang.

Direktur Nilai Sejarah Direktorat Sejarah dan Purbakala Departemen Kebudayaan dan Pariwisata sangat menyayangkan kondisi Masjid Jamik Baiturrahman sudah berubah bentuk.

”Ini akibat kurang tersosialisasinya Undang-Undang tentang Benda Cagar Budaya di Provinsi Aceh. Mestinya, kalau ingin membangun masjid, jangan mengubah dan menghancurkan masjid tua yang sudah bisa dikategorikan benda cagar budaya. Namun, bangun masjid baru berdampingan dengan masjid tua,” kata Sabri.

Jika di Sabang masjid tua sudah berubah bentuk, di Kabupaten Pidie, masjid tua Tengku Chik di Pasi yang dibangun abad ke-17 di Gampong Guci Rumpong, Kecamatan Peukan Baro, tetap terpelihara baik. Di sisi kanan dibangun masjid baru yang lebih luas.

Walaupun terpelihara baik, sangat disayangkan juga karena terjadi perubahan mencolok, seperti pengecatan seluruh unsur-unsur bangunan, yaitu dinding, tiang, dan pola hias pada balok-balok pengikat.

Di depan masjid di sisi utara terdapat dua buah guci Siam dengan warna glasir coklat tua, yang diletakkan dalam sebuah cangkup, merupakan hadiah dari Kerajaan China. Air yang diambil dari guci, menurut warga setempat, diyakini bisa mengobati segala penyakit. Masjid tua ini banyak dikunjungi warga Aceh dan juga wisatawan luar negeri, terutama Malaysia.

Hal yang sama juga terjadi di Masjid Gunong Kelang di Gampong Gunong Kleng, Kecamatan Kaway XVI, Kabupaten Aceh Barat.

Masjid tua yang dibangun pada abad ke-20 ini (belum terdata tahun pembangunannya) juga dicat seluruh bangunannya.(YURNALDI)

03
Oct
09

Dialog Jumat

REPUBLIKA, Jumat, 02 Oktober 2009 pukul 01:52:00

Pemakaman

 

TUNTUNAN

Keutamaan Menghadiri Pemakaman

Saat mengantar jenazah hendaknya mempercepat langkah.

Iring-iringan pengantar jenazah bergegas meninggalkan pelataran masjid usai melaksanakan shalat jenazah. Masing-masing orang pun berusaha meraih usungan jenazah itu dalam perjalanan menuju ke perkuburan.

Pemandangan tersebut lazim terlihat saat berlangsung pemakaman. Belasan, puluhan bahkan ratusan orang ikut mengantarkan, menguburkan hingga mendoakan yang meninggal agar segala amal ibadahnya di dunia diterima di sisi-Nya.

Agama Islam memang menganjurkan umat untuk menghadiri pemakaman, baik  kerabat, sahabat, kenalan, terlebih jika yang meninggal adalah anggota keluarga. Rasulullah SAW menegaskan hukum sunnah dalam mengantarkan jenazah sekaligus menggotong keranda jenazah itu.

Mengikuti pemakaman adalah satu dari lima hak Muslim atas Muslim yang lain. Lima hak tersebut antara lain menjawab salam, menjenguk orang sakit, memenuhi undangan, mendoakan orang yang bersin serta mengikuti pemakaman.

Dalam kaitan ini, Nabi mengajarkan agar dalam mengantar jenazah hendaknya mempercepat langkah. Sebagaimana tertera dalam satu hadis yang diriwayatkan Bukhari Muslim, bahwa dengan bergegas membawa jenazah, bila jenazah itu orang yang saleh, berarti segera membawanya menuju kebaikan.

Secara garis besar dalam memuliakan jenazah, Nabi SAW telah memberikan petunjuk terperinci. Dimulai dari melayat ke rumah keluarga yang ditinggalkan, menasehati keluarga yang ditinggalkan dengan kesabaran, ikut menshalatkan jenazah, ikut mengiringi jenazah ke pemakaman dan mendoakannya.

Bukan hanya terhadap kerabat orang yang meninggal saja, tuntunan untuk menghormati jenazah juga ditujukan bagi orang-orang sekitar, yakni mereka yang dilewati iring-iringan jenazah. Nabi meminta supaya umat ikut menghormati jenazah tersebut.

Sabda Nabi, ”Kalau kamu melihat jenazah, maka berdirilah, barangsiapa yang mengikuti jangan duduk sampai jenazah diletakkan.”

Turut menghadiri pemakaman, serta tetap tinggal hingga orang yang meninggal dikuburkan, akan bernilai pahala besar. Hal ini dijabarkan oleh Nabi SAW agar menjadi pedoman umat.

”Barangsiapa menghadiri pemakaman sehingga shalat jenazah dilaksanakan akan menerima pahala satu qirat, dan barang siapa menghadiri pemakaman dan tetap tinggal hingga jenazah dimakamkan, ia akan menerima pahala dua qirat.” (Muttafaq’alaih)  Adapun dua qirat yang dimaksudkan Nabi SAW setara dengan dua gunung besar.

Menguatkan kesetiaan

Nabi tak lupa menganjurkan agar usai pemakaman, seseorang hendaknya berdoa sekaligus memohonkan ampunan atas orang yang meninggal. Inilah yang senantiasa dilaksanakan Nabi SAW sekaligus beliau memerintahkannya pula kepada para sahabat.

Ustman bin Affan RA meriwayatkan, ”Ketika Nabi SAW menyelesaikan pemakaman orang yang meninggal, beliau akan berdiri di atasnya dan bersabda, ”Mohonkanlah ampunan untuk saudaramu dan mohonkan untuknya agar memiliki kemampuan untuk menjawab pertanyaan dari para malaikat, karena bahkan saat ini ia ditanya oleh malaikat.”

Apa hikmah dari amalan tersebut? Dr Muhammad Ali al-Hasyimi menerangkan bahwa anjuran menghadiri pemakaman berguna untuk menguatkan ikatan persaudaraan dan memperdalam rasa kesetiaan di antara mereka.

Melalui keikutsertaan ini, lanjutnya, maka keluarga yang ditinggalkan juga akan merasa nyaman, terhibur, dan terbantu dalam menghadapi kehilangan anggota keluarga mereka dengan sabar dan ikhlas.

Lebih jauh diungkapkan, menghadiri pemakaman merupakan indikasi pemahaman atas kehidupan sosial dalam semua dimensinya. Kehidupan, menurutnya, bukan sekadar persoalan peristiwa-peristiwa yang menggembirakan dan menyenangkan.

”Namun ia adalah juga kegembiraan dan kesedihan, kesenangan dan duka cita, kemudahan dan kesulitan, tawa dan air mata,” papar Dr Muhammad dalam bukunya The Ideal Muslim. yus

REPUBLIKA, Jumat, 02 Oktober 2009 pukul 01:40:00

Amal, Ibadah

 

LAPORAN UTAMA

Tingkatkan Amal, Menggandakan Ibadah

“Barangsiapa berpuasa pada bulan Ramadhan lalu diiringinya dengan puasa enam hari pada bulan Syawal, berarti ia telah berpuasa setahun penuh” (HR: Muslim, Abu Dawud, At-Tirmidzi, An-Nasa’i dan Ibnu Majah)

Ramadhan telah berlalu. Sebulan lamanya, umat Islam di seluruh dunia telah menempuh bulan pendidikan dan latihan yang sangat intensif untuk menjadi insan yang bertakwa kepada Allah SWT. Kini, kaum Muslimin memasuki Syawal, bulan pembuktian keberhasilan shaum Ramadhan.

”Ruh Ramadhan harus tetap dihidupkan dalam kehidupan sehari-hari,” ungkap Pimpinan Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang, Jawa Timur, KH Shalahuddin Wahid. Sejatinya, Syawal adalah bulan peningkatan ibadah dan ketakwaan. Pada bulan kesepuluh hijriyah ini, umat Islam diperintahkan untuk melanjutkan dan melipatgandakan amal ibadah yang telah dilakukan selama Ramadhan.

Rasulullah SAW bersabda, ”Sebaik-baik perbuatan adalah sesuatu yang berkelanjutan mudawamah walapun tidak terlalu banyak.” Amal ibadah yang dilakukan selama Ramadhan tak boleh terputus.  ”Amaliyah Ramadhan itu bisa dilanjutkan di bulan Syawal, Dzulqaidah, Dzulhijjah sampai ke Ramadhan lagi,”  tutur Sekretaris Majelis Tarbiyah Indonesia, KH Anwar Hidayat.

Dalam sebuah hadis, Rasulullah SAW bersabda, ”Barangsiapa berpuasa pada bulan Ramadhan lalu diiringinya dengan puasa enam hari pada bulan Syawal, berarti ia telah berpuasa setahun penuh.” Menurut Kiai Anwar, spirit puasa Ramadhan harus berkesinambungan.

Setelah menunaikan puasa Syawal selama enam hari, umat Islam juga bisa menunaikan shaum sunat setiap Senin dan Kamis serta puasa sunat di pertengahan bulan Hijriyah setiap tanggal 13, 14 dan 15 yang disebut ayyamul bidh. Kiai Anwar menambahkan, amaliyah lainnya, seperti, membaca Alquran, shalat malam,  membayar zakat, infak dan sedekah yang banyak dijalankan selama Ramadhan harus terus dihidupkan pada  Syawal dan bulan lainnya.

”Pada Syawal dan bulan lainnya, umat Islam bukan hanya sekedar membaca Alquran. Yang lebih penting lagi adalah memahami makna Alquran dan menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari,” papar pimpinan Pesantren Daarul Ulum Sawangan, Depok, Jawa Barat  itu. Keberhasilan shaum Ramadhan dibuktikan dengan peningkatan amal ibadah pada Syawal dan bulan lainnya.

Alquran telah menjelaskan bahwa shaum Ramadhan bertujuan mencetak umat yang beriman menjadi insan bertakwa. Menurut Kiai Anwar, salah satu tanda orang bertakwa adalah memperbanyak infak dan sedekah dalam keadaan lapang dan sempit. ”Justru ujiannya tergambar setelah Ramadhan.”

Pimpinan Pesantren Tahfidz Alquran Daarul Quran Wisatahati, Tangerang,  Banten Ustaz Yusuf Mansur, juga mengungkapkan,  setelah Ramadhan berakhir, ibadah yang  telah dilaksanakan dengan penuh semangat, tak boleh padam.

”Kalau kita melihat mekanismenya, Allah SWT tidak membiarkan Ramadhan ini kosong. Buktinya, setelah Syawal ada syariat untuk puasa sunat enam hari. Itu semacam pembelajaran yang berkesinambungan buat kita hamba-hamba-Nya biar tidak pernah putus,” papar Ustaz Yusuf.

Ia menyarankan agar tabiat-tabiat yang sudah disempurnakan pada Ramadhan, terus dilanjutkan. Kuncinya, ungkap Ustad Yusuf, tak boleh ada istilah istirahat dalam beribadah. ”Kalau istirahat satu atau dua pekan, itu susah lagi.  Kalau tidak ada jeda, langsung on nggak bakalan putus. Jadi, jangan sampai selama Syawal  ibadah kita bolong,”  imbuhnya.

Menurut dia,  semangat ibadah pasca-Ramadhan tak boleh sampai mengendur. ”Makanya, sebelum Syawal datang, harus berdoa supaya selesai Ramadhan jangan meninggalkan ibadah. Ya Allah bimbinglah kami senantiasa ingat kepada-Mu, bimbinglah kami senantiasa mensyukuri nikmat yang Engkau berikan serta bimbinglah kami mampu memperbaiki ibadah kepada-Mu).”

Kiai Shalahuddin menambahkan, ibadah itu sangat luas,  tidak hanya kepada Allah SWT, tetapi juga kepada makhluk lain, bahkan terhadap alam.  Menurut Gus Solah, puasa mendorong seseorang menjadi orang yang bertakwa. ”Ukurannya, sejauh mana ibadah  selama Ramadhan mengubah perilaku kita di bulan-bulan yang akan datang. Tentunya, perilaku terhadap Allah, perilaku terhadap manusia dan perilaku terhadap alam,” tuturnya. damanhuri zuhri

REPUBLIKA, Jumat, 02 Oktober 2009 pukul 01:34:00

Halimah Sa’diah

 

MUJAHIDAH

Halimah Sa’diah, Ibu Susu Rasulullah SAW

Sejak dipulangkan ke ibundanya, Halimah hanya satu kali berjumpa dengan Rasulullah SAW.

Tangis bayi yang baru lahir terdengar dari sebuah rumah di kampung Bani Hasyim di Makkah pada 12 Rabiul Awwal 571 M. Bayi itu lahir dari rahim Aminah dan langsung digendong seorang bidan yang bernama Syifa’, ibunda sahabat Abdurrahman bin Auf. Bayinya laki-laki.

Aminah tersenyum lega. Tetapi seketika ia teringat mendiang suaminya, Abdullah bin Abdul Muthalib, yang telah meninggal enam bulan sebelumnya di Yastrib (Madinah). Bayi laki-laki itu oleh kakeknya diberi nama Muhammad (Yang Terpuji).

Kelahiran bayi yatim yang kelak menjadi Rasul terakhir itu dituturkan dalam Alquran, ”Bukankah Dia mendapatimu sebagai seorang yatim, lalu Dia melindungimu?” (QS Adh-Dhuha [93]: 6)

Aminah, janda beranak satu itu, hidup miskin. Suaminya hanya meninggalkan sebuah rumah dan seorang budak, Barakah Al-Habsyiyah (Ummu Aiman). Sementara sudah menjadi kebiasaan bangsawan Arab waktu itu, bayi yang baru dilahirkan akan disusukan kepada wanita lain.

Wanita yang dipilih biasanya adalah wanita dusun. Alasannya supaya si anak dapat hidup di alam yang segar dan mempelajari bahasa Arab yang baku.

Menunggu jasa wanita yang menyusui, Aminah menyusui sendiri Muhammad kecil, selama tiga hari. Lalu dilanjutkan oleh Tsuwaibah, budak Abu Lahab, paman Nabi Muhammad.

Kemudian Muhammad dan bayi kalangan terpandang Arab akan disusui oleh murdi’at (para wanita yang menyusui bayi). Muhammad ditawarkan kepada murdi’at dari Bani Sa’ad yang sengaja datang ke Makkah mencari bayi-bayi yang masih menyusu dengan harapan mendapat bayaran dan hadiah.

Namun, mereka menolak karena Muhammad adalah anak yatim. Tapi, di antara mereka ada Halimah Sadiyah yang belum mendapatkan seorang bayi yang akan disusui. Karena itu, ia mengambil Muhammad sebagai anak susuannya.

Membawa berkah
Halimah (yang berarti lemah lembut) lantas membawa Muhammad ke dusunnya. Keberadaan Muhammad kecil memberi berkah kepada keluarga Halimah, bahkan bagi kabilahnya.

Semula, Halimah hidup serba kekurangan. Tapi semenjak mengasuh Rasulullah, kehidupan rumah tangga Halimah berubah total. Keluarga tersebut kini hidup penuh kedamaian, kegembiraan, dan berkecukupan.

Dua tahun kemudian, Halimah membawa Muhammad kecil mengunjungi ibunya. Halimah memohon agar Muhammad diizinkan tinggal kembali bersama Bani Sa’ad. Aminah pun menyetujui.

Selama empat tahun Muhammad bersama mereka kembali. Dusun itu bertambah keberkahan. Domba-domba yang dipelihara Halimah menjadi gemuk dan banyak memberikan air susu walaupun rumput di daerah mereka tetap gersang.

Karena itulah, warga menyuruh anak-anak menggembalakan domba-domba mereka di dekat domba milik Halimah. Harapannya agar domba milik mereka bisa berubah gemuk dan mengeluarkan banyak susu.

Selain itu, saat mengambil Muhammad sebagai anak susuan, susu Halimah bertambah banyak. Ia pun heran. Sebab, selama ini susunya bukan tidak ada tapi tidak begitu banyak. Namun, semenjak mengasuh anak Fatimah, air susunya berlimpah.

Anehnya lagi ketika sudah menyusu di susu sebelah dan hendak diberikan sebelah lain lagi, Muhammad menutup mulut kuat-kuat. Halimah faham Muhammad menginginkan susu yang sebelah adalah untuk saudara sesusuannya, Damrah.

Sejak kecil Allah SWT memang sudah memasukkan jiwa keadilan pada Muhammad kecil, dia tidak ingin mengambil bagian yang bukan untuknya. Muhammad pun tak pernah menangis, tidak seperti anak kecil lainya yang pasti menangis.

Muhammad cilik baru dikembalikan ke Makkah setelah terjadi peristiwa pembelahan dada. Suatu hari, dua malaikat datang menghampirinya dengan membawa bejana emas berisi es. Mereka membelah dada Muhammad dan mengeluarkan hatinya.

Hati itu dibedah dan dikeluarkanlah gumpalan darah yang berwarna hitam. Kemudian dicuci dengan es. Setelah itu dikembalikan seperti semula. Mendengar itu, Halimah khawatir dengan keselamatan Muhammad cilik. Ia dan suaminya sepakat mengembalikannya kepada ibunya.

Setelah diserahkan, Halimah sudah tidak mengetahui lagi kabar tentang Muhammad, sebab untuk mendapat informasi di zaman itu sangatlah susah. Baru ketika usia Muhammad 40 tahun, terdengarlah berita oleh Halimah, rupanya anak susuannya menjadi Rasul Allah.

Namun, dia kesulitan menemui Rasulullah SAW. Halimah memeluk Islam dari orang lain dan bukan dari Rasulullah SAW. Hingga suatu hari akhirnya Halimah dapat berjumpa kembali dengan Rasulullah SAW.

Halimah pun merasakan kebahagiaan luar biasa. Selepas itu Halimah meninggal dunia. Itulah terakhir kalinya dia berjumpa dengan Rasulullah SAW, putra susuannya itu. c81/berbagai sumber

REPUBLIKA, Jumat, 02 Oktober 2009 pukul 01:34:00

Syawal, Sejarah Islam

 

LAPORAN UTAMA

Syawal dalam Pusaran Sejarah Islam

Dahulu, kaum Jahiliyah justru tidak menyukai bulan Syawal.

Selamat datang di bulan Syawal. Inilah bulan kesepuluh dalam penanggalan Hijriyah yang penuh keutamaan dan keistimewaan. Berada tepat di belakang bulan Ramadhan, kalangan ulama dan fukaha pun menilai Syawal sebagai bulan pelaksanaan konsep Idul Fitri yang bermakna kembali ke fitrah.

Secara harfiah, Syawal berarti peningkatan. Hal ini mengandung makna bahwa segala pelatihan amal, ibadah maupun  tuntunan yang dijalankan selama sebulan penuh ketika Ramadhan, hendaknya dapat dilipatgandakan kualitas dan kuantitasnya pada bulan ini.

Maka tidaklah berlebihan jika kemudian bulan Syawal memiliki kedudukan khusus pada ruang keimanan umat. Terlebih lagi, ketika sebagian ulama juga melihat bahwa Syawal akan menjadi momen pembuktian berhasil tidaknya ibadah Ramadhan.

Keistimewaan Syawal semakin nyata dengan anjuran berpuasa sunah selama enam hari. Rasulullah SAW sangat menekankan ibadah ini, dan dibuktikan dengan banyaknya hadis terkait amalan puasa tersebut.

Tiada keraguan terhadap kemuliaan Syawal. Hal tersebut amatlah berbanding terbalik dengan ketika Islam belum berkembang. Persisnya pada masa Jahiliyah. Masyarakat pra-Islam ketika itu sangat membeci datangannya bulan Syawal. Mereka memiliki pengalaman buruk dengan Syawal.

Allah SWT pernah menurunkan azab berupa wabah penyakit yang penyebarannya amat luas hingga menyebabkan banyak kematian. Karenanya, masyarakat Jahiliyah kerap menghindari untuk melakukan kegiatan besar atau istimewa di bulan ini. Salah satunya adalah menggelar pesta pernikahan, pasalnya saat wabah penyakit merebak banyak pula calon pengantin yang
terkena dampaknya.

Status bulan Syawal kemudian berubah menjadi mulia dan istimewa ketika ajaran Islam mulai disemai Rasulullah SAW.  Budaya dan tradisi Jahiliyah itu sirna  seiring meluasnya pengaruh Islam di Jazirah Arab.

Seperti diuraikan Imam an-Nawawi, mengutip salah satu hadis yang diriwayatkan Aisyah RA bahwa Rasulullah SAW menunjukkan Syawal sebagai bulan yang baik untuk menikah. Pada bulan Syawal inilah, Rasulullah SAW menikah dengan Aisyah, putri Abu Bakar sahabatnya. Pada bulan ini pula, keduanya mulai hidup bersama.

Selain itu, sejarah awal Islam juga mencatat sejumlah peristiwa serta momen penting yang terjadi di bulan Syawal. Beberapa di antaranya bahkan memiliki pengaruh kuat terhadap keberhasilan pengembangan  agama Islam di fase berikutnya.
 
Salah satu peristiwa penting dalam sejarah Islam yang terjadi pada Syawal adalah Perang Uhud. Inilah pertempuran yang memberikan pelajaran berharga bagi umat akan pentingnya menjaga ketaatan kepada perintah Rasulullah. Perang Uhud  berkecamuk pada 15 Syawal 3 H atau Ahad 31 Maret 625 M.

Kemenangan yang hampir diraih umat Islam dalam pertempuran itu berbalik menjadi sebuah kekalahan. Berawal saat pasukan panah yang diperintahkan Rasulullah  untuk bersiaga di bukit Uhud, justru meninggalkan posnya karena tergiur rampasan perang.

Tak ayal, kondisi ini dimanfaatkan oleh pasukan berkuda Quraisy, pimpinan Khalid bin Walid (ketika itu belum masuk Islam), untuk menggempur pasukan Muslim yang lengah. Akibatnya, banyak pasukan Islam menjadi syuhada. Allah SWT pun langsung menegur umat Muslim yang telah mengabaikan perintah Rasul-Nya.

Allah SWT berfirman dan surat Ali Imran ayat 165, ”Dan mengapa kamu  (heran) ketika ditimpa musibah (kekalahan Perang Uhud), padahal kamu telah menimpakan kekalahan dua kali lipat (kepada musuh-musuhmu pada Perang Badar), kamu berkata, “Dari mana datangnya (kekalahan) ini?” Katakanlah, “Itu dari (kesalahan) dirimu sendiri”. Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.”

Peristiwa penting lainnya yang terjadi di bulan Syawal adalah terjadinya Perang Bani Qainuqa. Di sini, pasukan Islam pimpinan Rasulullah memerangi kaum Yahudi lantaran mereka memusuhi kaum Muslim. Mereka juga yang pertama  mengkhianati perjanjian yang dibuat kedua pihak.
 
Sejarah Islam juga mencatat beberapa perang besar lainnya di  bulan Syawal ini. Di antaranya adalah Perang Bani Sulaim dii Kudri, Perang Hamro-al-asad setelah Perang Uhud, Perang Khandaq (5 Hijriyah), Perang Hunain (8 H) usai Fathu Makkah, serta Perang Tha’if.

Ada pula peristiwa non-peperangan yang patut menjadi perhatian karena keistimewaannya. Pernikahan Rasulullah dengan Aisyah ra dan Ummu Salamah merupakan salah satunya. Tercatat pula kelahiran Abdullah bin Zubair ra, dialah bayi  pertama kaum Muhajirin yang lahir di Madinah (1 Hijriyah).

Imam Bukhari juga diketahui dilahirkan pada bulan Syawal, yakni tahun 194 Hijriyah. Beliau wafat pada tahun 256 H yakni di malam Idul Fitri dan dimakamkan pada hari raya 1 Syawal.  Syawal, inilah bulan pembuktian.  yus/berbagai sumber

REPUBLIKA, Jumat, 02 Oktober 2009 pukul 01:33:00

Shalat Malam

 

LAPORAN UTAMA

Shalat Malam Hingga Menjaga Kesabaran
Kerinduan terhadap Ramadhan ditutupi dengan meningkatkan amal ibadah di bulan Syawal.

Begitu banyak hikmah yang bisa dipetik umat Muslim selama menunaikan shaum Ramadhan. Tak terkecuali kalangan selebritis. Mereka pun merasakan berapa bermaknanya pelatihan dan gemblengan yang dilalui selama berpuasa satu bulan penuh. Ruh Ramadhan ternyata tetap mereka pelihara, meski Ramadhan telah berlalu. Bagaimana kalangan selebritis memaknai bulan Syawal?

Okky Asokawati
Model dan Peragawati

Pelatihan ruhaniyah yang ditempuhnya selama Ramadhan terasa begitu bermakna. Model dan peragawi kondang, Okky Asokawati mengaku bersyukur, karena Sang Khalik masih memberinya kekuatan untuk tetap beribadah, meski Ramadhan telah berakhir. “Sebab, ibadah itu kebutuhan kita sendiri,” ungkap bintang iklan yang lahir di Jakarta, 6 Maret 1961 itu.
Okky berupaya untuk tetap menghadirkan suasana Ramadhan dalam kehidupan sehari-hari. Ia menghidupkan ruh Ramadhan dengan menunaikan puasa sunah. Selain itu, ia juga tetap memelihara ibadah sosial seperti sedekah dan zakat. “Insya Allah, zakat minimal 2,5 persen tetap saya lakukan setiap bulan, meski Ramadhan telah berlalu,” kata pendiri sekolah model, OQ Modeling itu.

Opick
Penyanyi

Penyanyi religi Aunur Rofiq Lil Firdaus atau Opick mengaku sangat berat harus berpisah dengan Ramadhan, bulan suci yang penuh keberkahan. Karenanya, ia senantiasa merindukan datangnya bulan yang mulia dan agung itu. Kerinduannya dipenuhinya dengan memelihara ibadah yang dilakukan selama Ramadhan.
Opick mengaku melanjutkannya dengan puasa Syawal. Meski tak berurutan, ibadah sunah itu tetap ditunaikannya. Selain puasa sunah, pencipta lagu dan penyanyi religi, mengaku berusaha untuk tetap istiqamah menjalankan ibadah-ibadah sunah seperti shalat malam dan shalat dhuha.

Oki Setiana Dewi
Aktris

Seakan berpisah dengan kekasih, pemeran utama wanita dalam Film Ketika Cinta Bertasbih, Oki Setiana Dewi merasa kangen dengan bulan Ramadhan. Kerinduannya   terhadap Ramadhan ditutupinya dengan meningkatkan ibadah di bulan Syawal.
Saking cintanya kepada Ramadhan, di tengah kesibukannya,  dara yang lahir di Batam, 13 Januari 1989 itu, mengaku tak meninggalkan puasa Syawal selama enam hari.  Selain berpuasa Syawal,  Oki  bertekad untuk memperbaiki diri ketika memasuki bulan Syawal. “Agar suasana beribadah di bulan Ramadhan, masih terasa di sebelas bulan berikutnya,”  tuturnya.

Helmalia Putri
Pemain Sinetron

Bagi pemain sinetron, Helmalia Putri, suasana Ramadhan masih terasa di  bulan Syawal ini. “Suasana Ramadhan masih terasa,” ungkap wanita kelahiran 13 April 1983 itu.  Namun, menurut Helmalia, ada yang berbeda di bulan Syawal ini, yaitu tidak ada lagi shalat tarawih yang hanya ada di bulan Ramadhan.
Putri kedua pasangan Helmi Yusuf (alm) dan Esmaliawati itu  berharap, nuansa beribadah di bulan Ramadhan masih melekat di bulan-bulan sebelumnya. Makna puasa Ramadhan, terus dipelihara dalam dirinya, meski bulan yang agung itu telah berlalu. Ia senantiasa berupaya untuk menjaga kepekaan sosial serta menjaga kesabaran, agar semangat Ramadhan tetap hidup pada Syawal dan bulan berikutnya.  c81

REPUBLIKA, Jumat, 02 Oktober 2009 pukul 01:30:00

Kepekaan Ramadhan

 

SILATURAHIM

Melatih Kepekaan Seusai Ramadhan

“Ini adalah modal untuk menjalani sisa bulan di luar Ramadhan.”

Banyak cara untuk melatih kepekaan terhadap sesama, salah satunya seperti yang dilakukan oleh pengajian Ikatan Istri Dokter Indonesia (IIDI) Kota Bogor, Jawa Barat. Kelompok tersebut belum lama ini menyelenggarakan bazar murah yang ditujukan untuk masyarakat yang tak mampu.

Menurut Koordinator Lapangan, Susi Hasan, kegiatan tersebut bertujuan untuk melatih kepekaan para anggota IIDI untuk saling berbagi dengan sesama yang membutuhkan. Meskipun kegiatan itu dilakukan di bulan Ramadhan, para anggotanya diharapkan dapat menjaga kepekaan terhadap mereka yang tak berpunya di bulanbulan lainnya.

Bazar yang kali ini memasuki ta hun ketiga tersebut menjajakan berbagai barang mulai dari pakaian, aksesoris, perlengkapan shalat, makan an hingga sembako murah. Mayoritas barangbarang ini merupakan sum bang an dari para anggota IIDI Kota Bo gor yang beranggotakan sekitar 50 orang.

Dari sumbangan tersebut, terkumpul berbagai barang seperti pakaian layak pakai, sajadah, tas, hingga barang pecah-belah seperti mangkok, hingga blender yang seringkali diterima anggota dari parcel lebaran yang datang setiap tahun.

Dalam bazar tersebut, perkumpulan ini juga mengadakan sembako murah yaitu dengan menjual paket berisi beras, minyak goreng, gula dan kecap seharga Rp 45 ribu yang dijual setengah harga yaitu hanya Rp 25 ribu. Pihak panitia menyiapkan 200 paket sembako murah yang disambut antusias oleh masyarakat.

Dana yang terkumpul dari hasil bazar tersebut disalurkan kembali kepada kaum dhuafa dan lansia yang tinggal di sekitar. “Kita mencoba membagi rasa, agar lebih peka terhadap sesama. Ini adalah modal untuk menjalani sisa bulan di luar Ramadhan,” ungkap salah satu anggota, Yuyun Ezzeddin.

Kepekaan terhadap sesama tidak hanya dilakukan ketika bulan Ramadhan datang. Hal ini dibuktikan dengan menyelenggarakan berbagai kegiatan amal dan sosial di bulanbulan lainnya.

Menurut Yuyun, pengajian IIDI Kota Bogor juga kerap menyantuni anak yatim dan mengelola posyandu binaan. Selain itu, pengajian ini setiap bulannya juga menggelar pemeriksaan kesehatan kaum lansi di kota Bogor. mth

02
Oct
09

Ensiklopedia Islam (5)

Syawal

By Republika Newsroom
Jumat, 02 Oktober 2009 pukul 07:59:00

 

Syawal adalah bulan kesepuluh dalam penanggalan kalender hijriyah. Kehadiran bulan ini selalu dinanti umat Islam di seluruh dunia. Penetapan awal bulan ini menjadi perhatian kaum Muslimin, karena pada 1 Syawal, umat Islam di seantero jagad merayakan Idul Fitri–hari kemenangan–setelah menunaikan ibadah shaum selama sebulan penuh pada Ramadhan.

Secara bahasa, Syawal berasal dari kata Syala yang  berarti naik atau meninggi (irtafa’a). Pada bulan ini,  kedudukan dan derajat kaum Muslimin meninggi di mata  Allah SWT, karena telah menunaikan ibadah shaum pada bulan Ramadhan.

Rasulullah SAW bersabda, ”Barang siapa berpuasa di bulan Ramadhan karena iman dan tulus karena Allah, maka dosa-dosanya akan diampuni oleh Allah.” Pada bulan ini pula,  umat Muslim secara moral dan spiritual harus mampu mempertahankan dan meningkatkan keimananannya.

Setelah menempuh ujian selama satu bulan, umat Muslim diharapkan bisa mempertahankan nilai-nilai amaliyah yang telah dilakukan pada Ramadhan hingga datang Ramadhan selanjutnya. Syawal bermakna  sebagai bulan peningkatan ibadah dan amal saleh.

Seperti halnya bulan-bulan lain pada kalender Hijriyah,  Syawal memiliki keistimewaan tersendiri. Dalam sebuah hadis diriwayatkan dari Ayyub RA, Rasulullah SAW bersabda, “Barang siapa berpuasa Ramadhan dan meneruskannya dengan puasa enam hari di bulan Syawal, berarti dia telah berpuasa satu tahun.” (HR Imam Muslim dan Abu Dawud).

Pada bulan ini pula tertoreh sejarah penting dalam kehidupan Rasulullah SAW serta peradaban Islam. Menurut Ibnu Mandhur dalam Lisan al-Arab, Nabi Muhammad SAW mempersunting Siti Aisyah RA, putri Abu Bakar RA, pada bulan Syawal. Keduanya juga memulai hidup bersama pada bulan Syawal.

Di bulan ini pula, seorang ahli hadis terkemuka bernama Muhammad al-Bukhari lahir. Imam Bukhari terlahir di Bukhara, Uzbekistan, Asia Tengah pada 13 Syawal 194 H. Menurut Ibnu Hajar Al Asqalani, Imam al-Bukhari berhasil menuliskan sebanyak 9.082 hadis dalam karya monumentalnya bertajuk al-Jami’al-Shahil yang dikenal sebagai Shahih Bukhari.

Sejarah peradaban Islam juga mencatat pada 15 Syawal, umat Muslim di zaman Rasulullah SAW terlibat dalam Perang Uhud. Pada pertempuran itu, umat Islam mendapatkan pelajaran penting, karena mengalami kekalahan. hri/taq/berbagai sumber

Fatwa

By Republika Newsroom
Rabu, 09 September 2009 pukul 06:10:00

 

Berasal dari kata fatwa(jamak) serta fatawa yang artinya petuah, nasihat, jawaban dan pertanyaan hukum. Fatwa berarti pendapat mengenai suatu hukum dalam Islam yang merupakan tanggapan atau jawaban atas pertanyaan yang diajukan oleh peminta fatwa dan tidak mempunyai daya ikat. Dengan kata lain, si peminta fatwa, baik perorangan, lembaga maupun masyarakat luas tidak harus mengikuti isi atau hukum dari fatwa yang diberikan kepadanya.

Hal ini disebabkan fatwa seorang mufti atau ulama di suatu tempat bisa saja berbeda dari fatwa ulama lain di tempat yang sama. Fatwa biasanya cenderung dinamis karena merupakan tanggapan terhadap perkembangan terbaru yang sedang dihadapi masyarakat peminta fatwa. Isi fatwa itu sendiri belum tentu dinamis, tetapi minimal fatwa itu responsif.

Tindakan memberi fatwa disebut futya atau ifta, suatu istilah yang juga merujuk pada profesi memberi nasihat. Orang yang memberi fatwa disebut mufti atau ulama, sedangkan yang meminta fatwa disebut mustafti. Peminta fatwa bisa berupa perorangan, lembaga maupun siapa asja yang membutuhkannya.

Pada dasarnya, futya adalah profesi independen, namun di banyak negara Muslim menjadi terkait dengan ootoritas kenegaraan dalam berbagai cara. Dalam sejarah Islam, dari abad pertama sampai ketujuh Hijriyah, negaralah yang mengangkat ulama yang bermutu sebagai mufti.

Namun pada masa-masa selanjutnya, pos-pos resmi dari futya diciptakan, sehingga mufti menjadi jabatan kenegaraan yang hierarkis, namun tetap dalam fungsi keagamaan. Pada tempat dan periode tertentu, seperti pada masa Kerajaan Ottoman, fungsi mufti dikombinasikan dengan hakim dan pemegang jabatan ini seringkali dilarang memberikan fatwa sehubungan dengan tindakan hukum yang terjadi di pengadilannya. 

Fungsi kenegaraan yang dibebankan futya tidak menghilangkan pelaksanaan profesi itu secara pribadi. Akan tetapi dengan penerapan kitab-kitab undang-undang tertentu dengan segala perlengkapannya yang diambil dari sistem perundang-undangan Eropa, maka profesi futya di banyak negara Islam hampir tidak terpakai lagi.

Persyaratan yang diperlukan untuk melaksanakan profesi ini adalah; beragama Islam, memiliki integritas pribadi (‘adil) dan ahli ijtihad (mujtahid) atau memiliki kesanggupan untuk memecahkan masalah melalui penalaran pribadi. Berbeda dengan seorang hakim, seorang mufti bisa saja wanita, orang buta atau orang bisu, kecuali untuk jabatan kenegaraan.

Keperluan akan fatwa ini sudah terasa sejak awal perkembangan Islam. Dengan semakin meningkatnya jumlah pemeluk Islam dan semakin meluasnya wilayah Islam, maka setiap persoalan yang muncul memerlukan jawaban. Untuk menjawab persoalan tersebut, diperlukan bantuan dari orang-orang yang berkompeten di bidang tersebut. Dalam masalah agama, yang kompeten untuk itu adalah para mufti atau para mujtahid.

Pada mulanya, praktik fatwa diberikan secara lepas dan belum ada upaya untuk membukukan isi fatwa-fatwa ulama tersebut. Pengumpulan fatwa menjadi sebuah kitab baru muncul pada abad ke 12.

yus/taq/disarikan dari buku Ensiklopedi Islam terbitan PT Ikhtiar Baru van Hoeve, Jakarta.

Iktikaf

By Republika Newsroom
Jumat, 28 Agustus 2009 pukul 07:15:00

 

Dasar hukum iktikaf adalah Al -quran dan hadis. Iktikaf berarti tinggal di dalam masjid yang dila kukan oleh seseorang dengan niat. Dalam Alquran surat al Baqarah ayat 125 yang artinya, “Dan telah Kami perintahkan kepada Ibrahim dan Ismail; bersihkanlah rumah-Ku untuk orang-orang yang tawaf, yang iktikaf, yang rukuk, dan yang sujud.”

Hadis riwayat Bukhari dan Muslim dari Abdullah bin Umar bin Khattab, Anas bin Malik, dan Aisyah binti Abu Bakar as-Shiddiq dijelaskan bahwa Rasulullah SAW melakukan iktikaf pada 10 hari terakhir bulan Rama dhan, sejak Nabi datang di Madinah hingga wafatnya. Berdasarkan dalil-dalil tersebut, para ulama baik dari mazhab Maliki, Hanafi, Syafii dan Hambali, se pakat tentang adanya iktikaf.

Iktikaf bertujuan membersihkan hati pada waktuwaktu tertentu karena Allah SWT, melepaskan diri dari kesibukan keduniaan dengan menye rahkan diri kepada Allah SWT, dan mendekatkan diri kepada-Nya dengan mengharap rahmat-Nya.

Iktikaf dapat berlangsung selama bulan Ramadhan dan di luar bulan Ramadhan. Para ulama berbeda pendapat tentang lama beriktikaf. Ulama dari Mazhab Hanafi mengatakan ikti kaf itu sunah pada waktu-waktu tertentu, yang mudah bagi pelakunya wa laupun hanya sesaat, tanpa disyariatkan berpuasa.

Sementara menurut ulama Mazhab Maliki, waktu iktikaf itu sekurang-kurangnya sehari semalam dan lebih baik lagi kalau tidak kurang dari 10 hari dengan syarat berpuasa, baik dalam bulan Ramadhan maupun di luar bulan itu.

Mereka berpendapat tidak sah iktikaf seseorang yang tidak berpuasa karena suatu halangan atau tidak sanggup berpuasa. Ulama dari Mazhab Syafii mensyaratkan iktikaf harus tinggal dalam waktu tertentu yang lamanya sama dengan waktu tuma’ninah(berhenti sebentar) dalam rukuk dan sujud. Adapun menurut ula ma dari Mazhab Hanbali, ikti kaf sekurangkurangnya berlangsung selama satu jam.

Menurut ahli fikih Mesir, Wahbah al Zuhaili, sah melakukan iktikaf da lam keadaan berikut, pertama, dila kukan di luar waktu shalat, seperti waktu malam. Kedua, yang mela ku kan iktikaf adalah orang yang tidak mempunyai halangan untuk meng ikuti shalat jamaah. Syarat sah iktikaf antara lain; pertama, Islam, kedua, berakal, ketiga, di dalam masjid, tidak sah kalau di rumah. Keempat, berniat, dan kelima, berpuasa.

Menurut Mazhab Maliki, berpuasa adalah syarat mutlak. Mazhab Hanafi menganggap puasa adalah syarat dalam iktikaf nazar. Sementara menurut Mazhab Syafii dan Hanbali, puasa tidak disyaratkan.

Ada hal-hal yang disunahkan bagi mu’takif(orang yang beriktikaf) yakni, sedapat mungkin melakukan kegiatan membaca Alquran, berdzikir, beristigh far, bertafakur, mengucapkan shalawat Nabi SAW, menafsirkan Alquran, berpuasa menurut jumhur ulama, berada di dalam masjid jami, dilakukan di bulan Ramadhan, dan menghindari perkataan serta per buat an yang tidak bermanfaat baginya.  yus/disarikan dari buku Ensiklopedi Islam terbit an PT Ikhtiar Baru van Hoeve, Jakarta.

Ikhtiar

By Republika Newsroom
Jumat, 14 Agustus 2009 pukul 09:11:00

 

Kitab suci Alquran menggunakan kata ikhtiar ini pada beberapa tempat. Misalnya pada surat Thaha ayat 13, surat ad-Dukhan ayat 32, serta surat al Qasas ayat 68. Ketiga ayat tersebut menunjukkan bahwa ikhtiar merupakan sifat Allah SWT.

Dalam Islam dikenal istilah Ahl al-Ikhtiyar (istilah dalam fikih; siyasi atau politik), yakni badan yang memilih seorang imam atau khalifah pada suatu negara atau pemerintahan Islam. Dalam pemahaman golongan Sunni, seorang imam atau khalifah menduduki jabatan itu melalui pemilihan yang dilakukan secara musyawarah oleh ahl a-Ikhtiyar atau disebut juga Ahl al-Hall wa al-’Aqd (Badan Pengurai dan Pengikat).

Menurut al Mawardi (ahli fikih), anggota Ahl al-Ikhtiyar harus memenuhi tiga syarat, yaitu pertama, bersifat adil, kedua, mengetahui hal-hal yang berguna untuk dapat menentukan persyaratan seorang calon imam atau khalifah, dan ketiga, mempunyai kearifan dan wawasan yang luas serta bijaksana dalam memilih seorang imam.

Berbeda dengan golongan Syiah. Menurut golongan ini, Ahl al-Ikhtiyar tidak ada karena seorang imam telah ditunjuk atas dasar wasiat oleh imam sebelumnya. Penunjukan itu tidak bisa batal meskipun imam yang terpilih telah meninggal sebelum yang berwasiat meninggal. Ia tetap diyakini sebagai imam al-Muntazar (yang ditunggu-tunggu) untuk membimbing umat pada saat mereka berada dalam kekacauan.

Dalam ilmu kalam (teologi), ikhtiar berarti kebebasan untuk memilih (hurriah) atau  free will . Ini terdapat dalam aliran Kadariah yang dipelopori Ma’bah al Juhani (w.80 H) dan Gailan al Dimasyqi. Menurut paham Qadariah, manusialah yang mewujudkan perbuatannya dengan kemauan dan tenaganya. Daya telah diberikan Allah SWT sebelum manusia bertindak. Oleh karena itu, manusia bebas memilih dan berkehendak. Kebebasan memilih (seperti berbuat sesuatu atau tidak, beriman atau kafir, berbuat baik atau jahat) dengan segala konsekuensinya terlihat dalam surat Ali Imran ayat 164, surat ar-Raad ayat 11, al Kahfi ayat 29 dan surat Fussilat ayat 40.

Kebalikan dari paham Kadariah adalah paham Jabariah. Menurut paham ini, segala kehendak dan perbuatan manusia pada hakikatnya adalah perbuatan Allah SWT. Paham demikian dapat dipahami dari teori  kasb abu Hasan al Asyari. Paham  kasb menjelaskan bahwa perbuatan manusia tidak efektif. Kehendak dan kemauan manusia adalah juga kehendak dan kemauan Allah SWT. Menurut Asyari, kasb hanya dimaksudkan sehubungan dengan tanggungjawab manusia, karena memang hanya Tuhan yang berkehendak mutlak.

Menurut Ibnu Sina, ikhtiar diartikan sebagai kekuatan untuk memilih (power of choice). Kekuatan memilih ini berdasarkan atas daya adn pengetahuan yang diberikan Allah SWT melalui upaya dan intelek manusia, sehingga ia dapat memilih sesuatu yang akan dikerjakan atau tidak dikerjakan. yus/disarikan dari buku Ensiklopedi Islam terbitan PT Ikhtiar Baru van Hoeve, Jakarta.

Ilmuwan Muslim

By Republika Newsroom
Senin, 10 Agustus 2009 pukul 08:33:00

 

Adalah seseorang yang beragama Islam yang ahli dan banyak pengetahuannya dalam suatu atau beberapa bidang ilmu. Dalam bahasa Arab, untuk sebutan ilmuwan biasa dipakai istilah ‘alim jamaknya adalah ‘ulama. Orang yang ahli dalam lapangan fikih (hukum Islam) disebut ‘alim atau disebut juga dengan istilah fakih. Orang yang ahli dalam bidang tafsir disebut mufasir, orang yang ahli dalam bidang hadis disebut muhaddis.

Dalam perjalanan sejarah, umat Islam sangat banyak memiliki ilmuwan dalam berbagai bidang, terutama pada zaman keemasan Islam. Contohnya antara lain, Abu Hanifah an Nu’man bin Sabit yang dikenal dengan Imam Hanafi (699-767), Malik bin Anas yang terkenal dengan Imam Malik (712-798), Muhammad bin Idris asy-Syafi’i yang dikenal dengan Imam Syafi’i (767-820) dan Ahmad bin Hanbal yang dikenal dengan Imam Hanbali (780-855). Mereka adalah tokoh ilmuwan Muslim dalam bidang fikih dan ushul fikih, serta beberapa cabang ilmu lainnya, dan telah melahirkan karya-karya yang fenomenal.

Masih banyak ilmuwan Muslim yang berkiprah. Pada bidang teologi, misalnya, adalah Abu Hasan al-Asy’ari (873-935), al-Jubba’i (w.303 H), Abu Mansur Muhammad al-Maturidi (w.944) dan Abu Yusr al-Bazdawi (421-493 H). Dalam bidang hadis, dikenal beberapa ilmuwan besar, seperti Imam Bukhari (w.870), Imam Muslim (w.875), at-Tirmizi (w.892) dan an-Nasa’i (w.915).

Adapun tokoh-tokoh besar dalam lapangan tasawuf antara lain Hasan al-Basri (642-728), Rabiah al Adawiyyah (714-801), Abu Nasr Bisyr al-Hafi (767-841), Zunnun al-Misri (w.860), al-Gazali (w.1111), Abu Yazid al-Bustami (w.874) dan Husein bin Mansur al-Hallaj (858-922).

Demikian pula pada bidang ilmu pasti dan pengetahuan alam, dikenal sejumlah tokoh ilmuwan besar. Di antaranya Muhammad bin Musa al-Khawarizmi (800-847) yang adalah perintis ilmu pasti. Dikenal juga Abu al Abas Ahmad al Farqani (abad-9) seorang ahli astronomi yang di Barat dikenal dengan nama al-Fragnus.

Abu Ali al Hasan bin Hasan bin Haitam atau Ibn Haitam (965-1039) yang di Barat dikenal dengan Alhazen adalah seorang ahli ilmu alam. Nama lain yang amat terkenal adalah Jabir bin Hayyan (w.812) yang biasa disebut sebagai Bapak Ilmu Kimia, serta al Biruni (973-1048) yang juga dikenal sebagai ahli di bidang fisika.

Sementara dalam bidang sosial, terdapat nama Yaqut bin Abdullah al Hamawi (1179-1229) yang mengarang kitab Mu’jam al-Buldan (Kamus Negara) yang merupakan sebuah kamus ilmu bumi. Seorang ahli ilmu bumi yang paling terkenal yang pernah melakukan lawatan untuk penelitian, dan bahkan pernah bermukim di Aceh, adalah Muhammad bin Abdullah bin Muhammad bin Ibrahim Abu Abdullah al-Lawati at-Tanji bin Batutah atau Ibn Batutah (1304-1377) yang berasal dari Maroko.

Dan dunia mengenal pula nama yang begitu tersohor, Abu Ali al Husain bin Abdullah bin Sina atau Ibn Sina (980-1037). Kalangan Barat mengenalnya dengan nama Avicenna. Ibn Sina punya julukan the Prince of the Physicians terutama dalam bidang kedokteran. Dia pun dikenal sebagai filsuf besar yang diberi gelar asy-syaikh ar ra’is.

yus/disarikan dari buku Ensiklopedi Islam terbitan PT Ikhtiar Baru van Hoeve, Jakarta.

Kuttab

By Republika Newsroom
Jumat, 31 Juli 2009 pukul 13:33:00

 

Ini adalah sejenis tempat belajar yang mula-mula lahir di dunia Islam, pada awalnya berfungsi sebagai tempat memberikan pelajaran menulis dan membaca bagi anak-anak.

Kuttab sebenarnya telah ada di negeri Arab sebelum datangnya agama Islam, tetapi belum begitu dikenal. Di antara penduduk Makkah yang mula-mula belajar menulis huruf Arab di tempat ini adalah Sufyan bin Umayyah bin Abdul Syams dan Abu Qais bin Abdul Manaf bin zuhrah bin Kilab. Keduanya belajar dari Bisyr bin Abdul Malik yang memelajarinya dari Hirah.  Kuttab dalam bentuk awalnya hanya berupa ruangan di rumah seorang guru.

Saat agama Islam datang, orang-orang Islam yang baru pandai menulis dan membaca, hampir semuanya dipekerjakan oleh Nabi Muhammad SAW sebagai penulis wahyu. Dengan demikian, yang banyak mengajar menulis dan membaca di kuttab adalah kaum Zimmi. Hal ini semakin menyebar terutama sekali setelah terjadi Perang Badr.

Ketika Islam semakin meluas, orang yang pandai menulis dan membaca semakin banyak. Suatu hal yang terasa amat penting diajarkan di kalangan anak-anak kaum Muslimin adalah Alquran. Dengan demikian, mata pelajaran di  kuttab pun bertambah dengan pelajaran membaca Alquran.

Lambat laun, jumlah siswa di  kuttab semakin banyak, sehingga membutuhkan satu tempat baru yang bisa menampung seluruh siswa. Maka, tempat yang dipilih ialah di sudut-sudut masjid atau bilik-bilik yang berhubungan dengan masjid.

Selain dari  kuttab yang diadakan di dalam masjid, terdapat pula  kuttab umum dalam bentuk madrasah yang memiliki gedung sendiri dan mampu menampung ribuan murid.  Kuttab jenis ini mulai berkembang karena adanya pengajaran yang khusus bagi anak-anak keluarga raja, pembesar, dan pagawai istana yang diasuh seorang  mu’addib (pendidik).

Pendidik yang mulai mengembangkan bentuk pengajaran khusus itu ke arah pembentukan  kuttab umum, menurut Ahmad Syalabi (penyusun  Ensiklopedi Sejarah Islam ), ialah Hajjaj bin Yusuf as-Saqafi.

Bila pada awalnya di  kuttab hanya diajarkan menulis dan membaca huruf Arab serta membaca Alquran, maka ketika  kuttab itu bertambah, dikembangkan pula kurikulum yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Pada abad ke-2 Hijriyah, ketika  kuttab telah meluas ke negeri-negeri Muslim, kurikulumnya ditekankan pada pengajaran serta kajian Alquran maupun hadis yang menyangkut keimanan dan akhlak, di samping diajarkan menulis dan membaca dasar-dasar bahasa Arab.

yus/disarikan dari buku  Ensiklopedi Islam terbitan PT Ikhtiar Baru van Hoeve, Jakarta.

Alquran

By Republika Newsroom
Jumat, 24 Juli 2009 pukul 07:19:00

 

Kitab suci bagi umat Islam ini merupakan kalam (perkataan) Allah SWT yang diwahyukan kepada Nabi Muhammad SAW melalui Malaikat Jibril dengan lafal dan maknanya (QS Asy Syuraa [26]:192-195). Alquran sebagai kitab Allah menempati posisi sebagai sumber pertama dan utama dari seluruh ajaran Islam dan berfungsi sebagai petunjuk atau pedoman bagi umat manusia dalam mencapai kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat.

Kata Alquran berasal dari kata kerja qara’a yang berarti membaca dan bentuk masdar (kata dasar)-nya adalah Quran yang berarti bacaan. Alquran dengan makna bacaan dinyatakan oleh Allah dalam beberapa ayat, antara lain dalam surah-surah al-Qiyamah ayat 16-18, al Baqarah ayat 185, al Hijr ayat 87, Thahaa ayat 2 dan masih banyak lagi.

Alquran mempunyai beberapa nama, di antaranya adalah Kitab Allah, al-Furqan yang berarti pembeda antara yang benar dan bathil (QS al Furqan [25]:1), az-Dzikir yang berarti peringatan (QS al Hijr [15]:9) dan at-Tanzil yang berarti diturunkan (QS Asy-Syuraa [26]:192) dan lainnya.

Para ulama berbeda pendapat tentang hakikat Alquran. Imam al Ghazali dalam kitab al-Mustasfamin ‘Ilm al-Usul (suatu kitab yang membahas masalah usul fikih), menjelaskan bahwa hakikat Alquran adalah kalam yang berdiri pada Zat Allah SWT yang kadim (tidak bermula). Menurut mutakalimin (ahli teologi Islam), hakikat Alquran adalah makna yang berdiri pada Zat Allah SWT. Adapun golongan Muktazilah, hakikat Alquran adalah huruf-huruf dan suara yang diciptakan Allah yang setelah berwujud lalu hilang dan lenyap. Dengan pandangan ini, kaum Muktzilah memandang Alquran sebagai ciptaan Allah SWT.

Alquran memiliki 114 surah (urut-urutannya sebagaimana ditetapkan Rasulullah SAW) yang tidak sama panjang dan pendeknya. Surah yang terpendek terdiri atas tiga ayat, dan yang terpanjang terdiri dari 286 ayat. Semua surah, kecuali surah kesembilan, at-Taubah, dimulai dengan kalimat Bismi Allah ar-Rahman ar-Rahim (dengan nama Allah yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang). Setiap surah memiliki nama yang diambil dari kata yang terdapat di permulaan surah (seperti Yasin dan Thaha) atau diambil dari kata yang menjadi tema pembicaraan di dalam surah yang bersangkutan (seperti Ali Imrah, al-Baqarah dan an-Nisaa).

Menurut perhitungan ulama Kufah, seperti Abu Abdurrahman as-Salmi, Alquran terdiri dari 6.236 ayat. Sedangkan menurut as-suyuti, terdiri dari 6 ribu ayat lebih. Al-Alusi dalam kitab tafsirnya Ruh al Ma’ani fi Tafsir Alquran al-Azim wa as-Sab al-Masani (Semangat Makna dalam Tafsir Alquran yang Agung dan al-Fatihah) menyebutkan bahwa jumlah ayat Alquran sekitar 6.616 ayat.

Perbedaan jumlah ayat ini disebabkan oleh adanya perbedaan pandangan di antara mereka tentang kalimat Basmalah pada awal surah dan Fawatih as-suwar (kata-kata pembuka surah), seperti Yasin, Alif Lam Mim dan Ha Mim. Ada yang menggolongkan kata-kata pembuka itu sebagai ayat dan ada pula yang tidak.

Sebagai wahyu (QS an-Nisaa [4]:163), surah-surah dan ayat-ayat Alquran diturunkan oleh Allah SWT secara bertahap kepada Rasulullah SAW selama kurang lebih 23 tahun masa kenabiannya. Hikmah diturunkannya Alquran secara berangsur-angsur ini antara lain, pertama, untuk meneguhkan hati Rasulullah dengan cara mengingatkannya terus menerus, kedua, lebih mudah dimengerti dan diamalkan oleh pengikut-pengikut Rasulullah, ketiga, hukum-hukum Allah yang terkandung di dalamnya mudah diterapkan secara bertahap dan kelima, memudahkan penghafalan.

 yus/disarikan dari buku Ensiklopedi Islam terbitan PT Ikhtiar Baru van Hoeve, Jakarta.

Isra Miraj

By Republika Newsroom
Rabu, 22 Juli 2009 pukul 10:58:00

 

Secara etimologi, Isra berarti berjalan pada waktu malam atau membawa berjalan pada waktu malam. Istilah Isra dalam kajian sejarah Islam berarti perjalanan pribadi Nabi Muhammad SAW pada malam hari dalam waktu yang amat singkat dari Masjidil Haram di Makkah ke Masjidil Aqsa di Yerusalem.

Adapun kata Miraj artinya ialah tangga sebagai alat untuk naik dari bawah ke atas. Menurut istilah dalam Islam, Miraj berarti perjalanan pribadi Nabi Muhammad SAW naik dari alam bawah (bumi) ke alam atas (langit), sampai ke langit ke tujuh dan sidratulmuntaha. Dalam istilah lain disebutkan bahwa Miraj ialah kenaikan Nabi Muhammad SAW dari Masjidil Aqsa di Yerusalen ke alam atas melalui beberapa tingkatan, terus menuju Baitulmakmur, sidratulmuntaha, arasy (tahta Tuhan) dan kursi (singgasana Tuhan), hingga menerima wahyu di hadirat Allah SWT.

Perjalanan ini mengandung perintah mendirikan shalat lima waktu sehari semalam. Karena peristiwa Isra bersamaan dengan peristiwa Miraj, maka kedua kata itu senantiasa digabungkan pemakaiannya menjadi Isra Miraj. Isra Miraj terjadi pada tanggal 27 Rajab, setahun sebelum Rasulullah SAW hijrah ke Madinah.

Ayat Alquran menerangkan terjadinya peristiwa Isra Miraj yaitu surah al-Isra’ (Bani Israil) ayat 1, yang artinya, ”Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami memperlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.”

Peristiwa Isra Miraj juga diterangkan oleh beberapa hadis yang panjang. Dari hadis-hadis itu dapat disimpulkan bahwa pada suatu malam ketika Nabi SAW sedang berada di Hatim (dekat Kabah), dalam versi lain disebut di rumah Ummu Hani’, tiba-tiba Malaikat Jibril datang dan membelah dada Nabi SAW. Hati Nabi SAW dikeluarkannya dan disucikannya dengan air Zamzam, kemudian ke dalam hati tersebut dimasukkannya iman dan hikmah yang telah disediakannya dalam bejana emas. Setelah itu didatangkan kepada Nabi SAW seekor binatang yang bernama Buraq.

Dengan mengendarai Buraq yang dituntun Malaikat Jibril, Nabi SAW berangkat menuju Baitul Makdis. Setelah sampai di Baitul Makdis, Buraq itu ditambatkan, kemudian Nabi SAW masuk ke Masjidil Aqsa dan melaksanakan shalat dua rakaat yang diikuti oleh nabi-nabi terdahulu.

Setelah selesai shalat, Nabi SAW dan Jibril berangkat lagi dengan menaiki Buraq menuju ke langit. Singkat kata, tibalah Nabi di Sidratulmuntaha. Dengan meninggalkan Jibril, Nabi SAW berangkat ke Mustawa, ke hadirat Allah SWT untuk menerima wahyu kewajiban shalat 50 kali sehari-semalam. Akan tetapi, ketika turun dan sampai di langit keenam, Nabi Musa AS menyarankan agar shalat yang 50 kali itu dikurangi, mengingat kemampuan umat Nabi Muhammad SAW yang terbatas.

Atas saran itu, Nabi SAW kembali ke hadirat Allah dan memohon dikurangi shalat yang 50 kali itu. Akhirnya Allah SWT berkenan menjadikannya menjadi shalat lima kali sehari semalam. yus/disarikan dari buku Ensiklopedi Islam terbitan PT Ikhtiar Baru van Hoeve, Jakarta

Hadis

By Republika Newsroom
Jumat, 10 Juli 2009 pukul 12:49:00

 

Menurut para ulama, hadis adalah segala ucapan, perbuatan dan keadaan Nabi Muhammad SAW atau segala berita yang bersumber dari Rasulullah berupa ucapan, perbuatan, takrir (peneguhan kebenaran dengan alasan) maupun deskripsi sifat-sifat Nabi SAW. Menurut ahli ushul fikih, hadis berarti sehala berkataan, perbuatan dan takris Nabi SAW yang bersangkut paut dengan hukum.

Istilah lain untuk sebutan hadis ialah sunah, kabar dan asar. Menurut sebagian ulama, cakupan sunah lebih luas karena ia diberi pengertian segala yang dinukilkan dari Nabi SAW, baik berupa perkataan, perbuatan, takrir, maupun pengajaran, sifat, kelakuan, perjalanan hidup, baik itu terjadi sebelum masa kerasulan maupun sesudahnya. Selain itu, titik berat penekanan sunah adalah kebiasaan normatif Nabi SAW.

Asar yang juga berarti nukilan, lebih sering digunakan untuk sebutan bagi perkataan sahabat Nabi, meskipun kadang-kadang dinisbahkan kepada Nabi SAW. Misalnya, doa yang dinukilkan dari Nabi SAW disebut doa ma’sur. Dalam lingkup pengertian yang sudah dijelaskan, kata ‘tradisi’ juga dipakai sebagai padanan kata hadis.

Dilihat dari segi sumbernya, hadis dapat dibedakan menjadi dua macam, yakni hadis qudsi dan hadis nabawi. Hadis qudsi yang juga disebut dengan istilah hadis Ilahi atau hadis rabbani, adalah suatu hadis yang berisi firman Allah SWT yang disampaikan kepada Nabi SAW, kemudian Nabi menerangkannya dengan menggunakan susunan katanya sendiri serta menyandarkannya kepada Allah SWT.

Dengan kata lain, hadis qudsi ialah hadis yang maknanya berasal dari Allah SWT, sedangkan lafalnya berasal dari Nabi SAW. Dengan begitu, hadis qudsi berbeda dengan hadis nabawi yaitu hadis yang lafal maupun maknanya berasal dari Rasulullah sendiri.

Dari segi nilai sanad, hadis ada tiga macam, yaitu sahih, hasan dan daif. Hadis sahih adalah hadis yang memenuhi persyaratan, pertama, sanadnya bersambung, kedua, diriwayatkan oleh rawi yang adil, memiliki sifat istiqamah, berakhlak baik, tidak fasik, terjaga muruah (kahormatan dirinya) dan dabit, ketiga, matan-nya tidak syadz (tidak mengandung kejanggalan-kejanggalan) serta tidak ber-illat (sebab-sebab yang tersembunyi atau tidak nyata yang mencacatkan hadis).

Hadis yang memiliki syarat-syarat tersebut juga disebut sahih li zatih. Tetapi bila kurang salah satu syarat tersebut, namun bisa ditutupi dengan cara lain, ia dinamakan sahih li gairih.

Hadis hasan adalah hadis yang sanadnya bersambung, diriwayatkan oleh rawi yang adil, tetapi tidak sempurna dabit-nya, serta matan-nya tidak syadz dan ber-illat. Hadis hasan dengan syarat-syarat demikian disebut hasan li zatih.

Adapun hadis daif (lemah) ialah hadis yang tidak memenuhi syarat sahih dan hasan. Pembagian hadis daif tidak sesederhana pembagian hadis sahih dan hasan karena kemungkinan kekurangan persyaratan sahih dan hasan itu sangat bervariasi. Karena itu, Ibnu Hibban, ahli hadis, menyebutkan bahwa hadis daif ada 49 macam.

Meskipun ini bukanlah pendapat mayoritas ulama hadis, hal itu dapat menggambarkan banyaknya macam hadis daif. Kebanyakan kepustakaan menyebutkan jumlahnya terbatas.

yus/disarikan dari buku Ensiklopedi Islam terbitan PT Ikhtiar Baru van Hoeve, Jakarta.

Ilmu

By Republika Newsroom
Jumat, 26 Juni 2009 pukul 17:52:00

 

Kata ilmu berasal dari bahasa Arab yakni ilm’ yang berarti pengetahuan, merupakan lawan kata dari jahl yang artinya ketidaktahuan atau kebodohan. Kata ilmu biasa disepadankan dengan kata Arab lainnya, yaitu ma’rifah (pengetahuan), fiqh (pemahaman), hikmah (kebijaksanaan) dan syu’ur (perasaan). Ma’rifah adalah padanan kata yang paling sering digunakan.

Ada dua jenis pengetahuan, yakni pengetahuan biasa dan pengetahuan ilmiah. Pengetahuan biasa diperoleh dari keseluruhan bentuk upaya kemanusiaan, seperti perasaan, pikiran, pengalaman, pancaindera, dan intuisi untuk mengetahui sesuatu tanpa memerhatikan objek, cara dan kegunaannya. Dalam bahasa Inggris, jenis pengetahuan ini disebut knowledge.

Pengetahuan ilmiah juga merupakan keseluruhan bentuk upaya kemanusiaan untuk mengetahui sesuatu, tetapi dengan memerhatikan objek yang ditelaah, cara yang digunakan, dan kegunaan pengetahuan tersebut. Dengan kata lain, pengetahuan ilmiah memerhatikan objek ontologis, landasan epistemologis, dan landasan aksiologis dari pengetahuan itu sendiri.  Jenis pengetahuan ini dalam bahasa Inggris disebut science. Ilmu yang dimaksudkan di sini adalah pengetahuan jenis kedua.

Dalam dunia Islam, ilmu bermula dari keinginan untuk memahami wahyu yang terkandung dalam Alquran dan bimbingan Rasulullah SAW mengenai wahyu tersebut. Al ‘ilm itu sendiri dikenal sebagai sifat utama Allah SWT. Dalam bentuk kata yang berbeda, Allah SWT disebut juga sebagai al-Alim dan Alim, yang artinya ‘Yang Mengetahui’ atau ‘Yang Maha Tahu.’ Ilmu adalah salah satu sifat utama Allah SWT dan merupakan satu-satunya kata yang komprehensif serta bisa digunakan untuk menerangkan pengetahuan Allah SWT.

Keterangan tafsir seringkali ditekankan sehubungan dengan kelima ayat Alquran yang paling pertama diwahyukan (QS Al ‘Alaq [6]: 1-5), antara lain bahwa ajaran Islam sejak awal meletakkan semangat keilmuan pada posisi yang amat penting. Banyaknya ayat Alquran maupun hadis Nabi Muhammad SAW tentang ilmu antara lain memberi kesan bahwa tujuan hidup ini ialah memeroleh ilmu tersebut. 

Perkembangan ilmu paling pesat dalam Islam terjadi ketika kaum Muslimin bertemu dengan kebudayaan dan peradaban yang telah maju dari bangsa-bangsa yang mereka taklukkan. Perkembangan tersebut semakin jelas sejak permulaan kekuasaan Bani Abbas pada pertengahan abad 8.

Besarnya pengaruh bidang keilmuan yang ditinggalkan kaum ilmuwan Muslim pada abad-abad yang lampau tidak hanya tampak pada banyaknya nama-nama pakar Muslim yang disebut dan ditulis dalam bahasa Eropa, tetapi juga pengakuan hyang diberikan oleh dan dari berbagai kalangan ilmuwan dunia.

yus/disarikan dari buku Ensiklopedi Islam terbitan PT Ichtiar Baru van Hoeve, Jakarta.

Nafkah

By Republika Newsroom
Jumat, 19 Juni 2009 pukul 13:26:00

 

Di dalam istilah fikih, nafkah berarti suatu pemberian yang diberikan oleh seseorang atau pihak yang berhak menerimanya. Nafkah utama yang diberikan itu bertujuan untuk memenuhi kebutuhan pokok kehidupan, yakni makanan, pakaian, dan tempat tinggal.

Faktir-faktor yang menyebabkan terjadinya nafkah adalah perkawinan, hubungan darah (keluarga), dan pemilikan terhadap sesuatu yang memerlukan adanya nafkah.

Apabila terjadi perkawinan, suami wajib memberikan nafkah kepada istrinya, jika syarat-syaratnya terpenuhi, yaitu, pertama, perkawinan itu telah terjadi secara sah menurut hukum Islam (syarak), kedua, istri telah menyerahkan diri kepada suaminya, ketiga, mungkin dilakukan hubungan intim di antara keduanya (suami istri), keempat, istri bersedia tinggal di tempat yang ditentukan oleh suami, dan kelima, kedua belah pihak adalah ahl al-istimta (dapat melakukan hubungan badan secara normal dan wajar). Dasar dari kewajiban tersebut ialah Alquran, hadis dan ijma ulama.

Dasar dari Alquran antara lain firman Allah SWT dalam surat at-Talaq ayat 6, yang artinya, ”Tempatkanlah mereka (para istri) di mana kamu bertempat tinggal menurut kemampuanmu dan janganlah kamu menyusahkan mereka untuk menyempitkan (hati) mereka..

Sementara dasar dari hadis, yakni sabda Rasulullah sewaktu melaksanakan haji Wada (haji terakhir), yang artinya, ”Takutlah kalian kepada Allah dalam masalah wanita. Sesungguhnya kalian mengambil mereka dengan amanat Allah dan halal bagi kalian mencampuri mereka dengan kalimat Allah. Karena itu, wajib atas kalian memberikan makanan dan pakaian kepada mereka dengan cara yang ma’ruf (baik).” (HR Muslim)

Pada dasarnya, kadar nafkah yang wajib disesuaikan dnegan keadaan (kesanggupan) suami. Para ulama tidak memberikan ukuran dan kadar nafkah itu, kecuali Imam Syafii. Menurutnya, besarnya nafkah tersebut untuk yang kaya minimal dua mud (5/6 liter) per hari, bagi golongan menengah minimal satu setengah mud, dan bagi kelas bawah minimal satu mud.

Nafkah ini berupa makanan pokok (yang mengenyangkan) yang berlaku di negeri yang bersangkutan. Apabila nafkah ini tidak diberikan oleh suami, di samping suami berdosa, menurut Imam Syafii, Malik dan Hanbali, ia harus membayarnya dan itu merupakan utang baginya. Namun menurut Imam Hanafi, tidaklah demikian kecuali jika nafkah itu sudah ditentukan kadarnya oleh hakim.

Ulama juga sepakat bahwa hubungan kekeluargaan juga merupakan salah satu faktor wajibnya nafkah. Mereka sepakat, keluarga dekat wajib diberi nafkah bagi yang memang memerlukannya. Menurut Imam Syafii, keluarga yang wajib diberi nafkah meliputi keluarga dari garis keturunan ke bawah (furu’), seperti anak, cucu, buyut, dan seterusnya ke bawah, dan keluarga dari garis keturunan ke atas (usul) seperti ayah, ibu, nenek, kakek dan seterusnya ke atas.  yus/disarikan dari buku Ensiklopedi Islam terbitan PT Ikhtiar Baru van Hoeve, Jakarta.

Muamalah

By Republika Newsroom
Jumat, 12 Juni 2009 pukul 17:30:00

 

Islam yang mengatur hubungan antara seseorang dan orang lain, baik seseorang itu pribadi tertentu maupun berbentuk badan hukum, seperti perseroan, firma, yayasan dan negara. Badan hukum ini dalam hukum Islam disebut dengan nama asy-Syakhisiyyah al-I’tibariyyah. Contoh dari hukum Islam yang berhubungan dengan muamalah ini adalah jual beli, sewa menyewa, dan perserikatan.

Pada awal munculnya, bidang bahasan fikih oleh para fukaha (ahli fikih) dibagi dalam tiga bagian besar, yakni akidah, ibadah dan muamalah. Akidah mengandung kepercayaan kepada Allah SWT, rasul, malaikat dan hari kiamat dan sebagainya yang berkaitan dengan keimanan. Bidang ibadah mengandung permasalahan yang menyangkut hubungan manusia dengan Tuhannya, seperti shalat, puasa, zakat, dan haji. Sedangkan bidang muamalah adalah yang berkaitan dengan hubungan manusia dengan sesamanya dalam masyarakat.

Dalam bidang muamalah ini, pada mulanya juga tercakup masalah keluarga, seperti perkawinan dan perceraian. Akan tetapi, setelah terjadinya disintegrasi di dunia Islam, khususnya di zaman Turki Ustmani, maka terjadilah perkembangan pembagian fikih baru.

Bidang muamalah cakupannya dipersempit, sehingga masalah-masalah yang berhubungan dengan hukum keluarga tak masuk lagi dalam pengertian muamalah. Muamalah tinggal mengatur permasalahan yang menyangkut hubungan seseorang dengan seseorang lainnya, dalam bidang ekonomi (seperti jual beli, sewa menyewa dan pinjam meminjam). Fikih muamalah dalam perkembangannya disebut juga fiqh al-mu’awadah.

Dalam fikih muamalah, ada beberapa prinsip yang harus diperhatikan. Misalnya, dalam melaksanakan hak dan bertindak, tindakan tersebut tidak boleh menimbulkan kerugian terhadap orang lain. Setiap orang yang melakukan tindakan yang merugikan orang lain, sekalipun tidak disengaja, akan diminta pertanggungjawabannya.

Pada setiap transaksi, terdapat beberapa prinsip dasar yang ditetapkan syarak. Pertama, setiap transaksi pada dasarnya mengikat orang (pihak) yang bertransaksi, kecuali transaksi yang jelas-jelas melanggar aturan syariat. Kedua, syarat-syarat transaksi itu dirancang dan dilaksanakan secara bebas namun bertanggungjawab.

Ketiga, setiap transaksi dilakukan secara sukarela, tanpa ada paksaan dari pihak manapun. Dan keempat, syari’ (pembuat hukum) mewajibkan agar setiap perencanaan transaksi dan pelaksanaannya didasarkan atas niat baik, sehingga segala bentuk penipuan dan kecurangan, dapat dihindari.

yus/disarikan dari buku Ensiklopedi Islam terbitan PT Ikhtiar Baru van Hoeve, Jakarta

Tilawah Alquran

By Republika Newsroom
Jumat, 15 Mei 2009 pukul 11:30:00

ilawah Alquran artinya bacaan atau pembacaan Alquran. Dalam ilmu qiraah, pembacaan Alquran itu ada bermacam-macam lahjah (bunyi suara atau bacaan). Hal ini karena sahabat Nabi SAW yang menerima bacaan Alquran terdiri dari beberapa golongan dan setiap golongan memiliki lahjah masing-masing, dan juga konsekuensi dari kebiasaan membaca Alquran yang lebih dari satu macam bacaan.

Namun, Ibnu Mujahid, seorang ulama qiraah dari Baghdad, meneliti bacaan yang ada menyimpulkan bahwa ada tujuh macam bacaan yang dapat diterima. Ketujuh macam bacaan ini dipelopori oleh tujuh imam, yaitu Abdullah bin Amir asy-syami, Ibnu Kasir al-Makki, Asim al-Kufi, Abu Amr al-Basari, Nafi’al-Madani, Hamzah az-Zaiyat, dan Abul Hasan Ali al-Kufi.

Setiap orang Muslim yakin bahwa membaca Alquran termasuk amal yang mulia dan akan mendapat pahala berlipat ganda. Alquran adalah sebaik-baiknya bacaan bagi orang Muslim. Hal ini seperti sabda Rasulullah SAW, ”Sebaik-baik di antara kamu, orang yang belajar Alquran dan mengajarkannya.” (HR at-Tarmizi dari Ustman bin Affan)

Membaca Alquran itu bukan saja menjadi amal ibadah. Akan tetapi dapat juga menjadi obat dan penawar bagi orang yang gelisah jiwanya.

Menurut ajaran Islam, membaca dan mendengarkan Alquran merupakan ibadah dan amal yang mendatangkan pahala dan rahmat. Anjuran untuk mendengarkan bacaan Alquran disebutkan dalam surah al-A’raf aayat 204, yang artinya, ”Dan apabila dibacakan Alquran, maka dengarkanlah baik-baik dan perhatikanlah dengan tenang agar kamu mendapatkan rahmat.”

Sebagian ulama mengatakan bahwa mendengarkan orang membaca Alquran, pahalanya sama saja dengan orang yang membacanya. Rasulullah SAW bersabda, ”Terangilah rumah-rumah kalian dengan shalat dan membaca Alquran.” (HR al-Baihaki dari Anas RA)

Alquran sebagai kitab suci dan wahyu Ilahi, mempunyai tata cara bagi orang yang membacanya. Tata cara itu sudah diatur dengan baik untuk penghormatan dan keagungan Alquran. Setiap orang harus berpedoman pada tata cara tersebut.

Imam al Ghazali, pemikir, teolog, filosof, dan sufi termasyhur, di dalam kitabnya Ihya ‘Ulum ad-Din (Menghidupkan Ilmu-ilmu Agama), menjelaskan bagaimana adab membaca Alquran. Imam al Ghazali membaginya menjadi adab yang bersifat batin dan bersifat lahir.

Adab yang bersifat batin diperinci menjadi arti memahami asal kalimat, cara hati membesarkan kalimat Allah SWT, menghadirkan hati di kala membaca sampai ke tingkat memperluas dan memperhalus perasaan dan membersihkan jiwa. Dengan begitu, kandungan Alquran yang dibaca dengan perantaraan lidah, dapat bersemi dalam jiwa dan meresap ke dalam hati sanubarinya.

Sedangkan tentang adab lahir membaca Alquran, antara lain berwudhu lebih dulu sebelum membaca Alquran, membaca Alquran di tempat yang bersih, menghadap ke kiblat, membaca Alquran dengan mulut dalam keadaan bersih tidak berisi makanan, membaca ta’awud lebih dulu, membaca Alquran dengan tartil (pelan dan tenang), membaca Alquran dengan benar-benar meresapi maksudnya, dan membaca Alquran dengan suara yang bagus dan merdu.

yus/disarikan dari buku Ensiklopedi Islam terbitan PT Ichtiar Baru van Hoeve, Jakarta.

Dunia

By Republika Newsroom
Kamis, 16 Oktober 2008 pukul 14:45:00

 

Menurut ajaran Islam, dunia atau alam dunia adalah tempat tinggal sementara. Menurut keterangan hadis, dunia adalah tempat singgah bagi seorang musafir yang sedang dalam perjalanan. Sesuai dengan sifatnya sebagai tempat tinggal sementara atau tempat singgah seorang musafir, maka waktunya hanya sebentar jika dibandingkan dengan akhirat atau alam akhirat yang merupakan tempat tujuan akhir kehidupan manusia yang kekal abadi.

Sebagai lawan dari alam akhirat yang sifatnya gaib atau metafisika, alam dunia berarti alam syahadah atau fisika. Dengan demikian, pengertian dunia mencakup langit dan bumi serta segala sesuatu yang ada di dalam dan di antara keduanya yang dapat disaksikan.

Meskipun dunia hanya tempat tinggal sementara, Islam mengajarkan seorang muslim tidak boleh melupakan kehidupannya di dunia ini. Dalam hal ini Allah SWT berfirman: ”Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bagianmu dari (kenikmatan) duniawi…” (QS Al-Qashash [28]:77).

Dalam ayat yang lain dinyatakan dunia ini diserahkan Allah SWT kepada manusia untuk dikelola dan dimanfaatkan demi kepentingannya sendiri. Dalam kaitan ini, Allah SWT berfirman yang artinya: ”Dan Dia menundukkan malam dan siang, matahari dan bulan untukmu. Dan bintang-bintang itu ditundukkan (untukmu) dengan perintahNya. Sesungguhnya pada yang demikian itu, benar-benar ada tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang memahami (nya).” (QS An-Nahl [16]: 12).

Dalam surat Ibrahim (14) ayat 32 Allah SWT berfirman yang artinya: ”Allah lah yang telah menciptakan langit dan bumi dan menurunkan air hujan dari langit. Kemudian Dia mengeluarkan dengan air hujan itu berbagai buah-buahan menjadi rezki untukmu: dan Dia telah menundukkan bahtera bagimu supaya bahtera itu berlayar di lautan dengan kehendak-Nya. Dan Dia telah menundukkan (pula) bagimu sungai-sungai.”

Di samping Allah SWT menyerahkan dunia ini untuk dikelola dan dimanfaatkan demi kepentingan manusia sendiri, Allah SWT juga memeperingatkan manusia supaya berhati-hati agar jangan sampai terbawa hanyut oleh kehidupan dunia yang menyesatkan. Di antara sifat-sifat kehidupan duniawi yang harus diperhatikan sebagaimana yang dijelaskan Alquran adalah: (1) kehidupan dunia hanya merupakan mainan dan sendara gurau (QS.6:32); (2) kehidupan dunia hanya merupakan permainan, sesuatu yang melalaikan dan merupakan perhiasan untuk bermegah-megahan.

Di bagian lain, Allah SWT mengingatkan munculnya kerusakan di dunia akibat ulah tangan manusia.Allah SWT berfirman dalam surat Ar-Rum (30) ayat 41 yang artinya: ”Telah nampak kerusakan di darat dan laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).” Ensiklopedi Islam terbitan PT Ichtiar Baru Van Hoeve Jakarta

 
 

Hilal

By Republika Newsroom
Kamis, 16 Oktober 2008 pukul 14:43:00

Rukyatul Hilal-Wujudl Hilal

Tiap tahun, saat akan menyambut bulan suci Ramadhan dan bulan Syawal, umat Islam sering dikhawatirkan dengan perbedaan dimulainya puasa dan perayaan Idul Fitri versi pemerintah dan versi beberapa organisasi besar Islam. Perbedaan ini timbul karena masing-masing pihak menggunakan metode yang berbeda dalam penentuan awal bulan dalam penanggalan hijriah. Beberapa moetode itu antara lain:

Rukyatul hilal, adalah kriteria penentuan awal bulan (kalender) Hijriyah dengan merukyat (mengamati) hilal secara langsung. Apabila hilal (bulan sabit) tidak terlihat (atau gagal terlihat), maka bulan (kalender) berjalan digenapkan (istikmal) menjadi 30 hari.

Kriteria ini berpegangan pada hadis Nabi Muhammad SAW, Berpuasalah kamu karena melihat hilal dan berbukalah kamu karena melihat hilal. Jika terhalang maka genapkanlah (istikmal).”

Kriteria ini di Indonesia digunakan oleh Nahdlatul Ulama (NU), dengan dalih mencontoh sunnah Rasulullah dan para sahabatnya dan mengikut ijtihad para ulama empat mazhab. Bagaimanapun, hisab tetap digunakan, meskipun hanya sebagai alat bantu dan bukan sebagai penentu masuknya awal bulan Hijriyah.

Wujudul hilal, adalah kriteria penentuan awal bulan (kalender) Hijriyah dengan menggunakan dua prinsip: ijtimak (konjungsi) telah terjadi sebelum Matahari terbenam (ijtima’ qablal ghurub), dan bulan terbenam setelah matahari terbenam; maka pada petang hari tersebut dinyatakan sebagai awal bulan (kalender) Hijriyah, tanpa melihat berapapun sudut ketinggian (altitude) bulan saat matahari terbenam.

Kriteria ini di Indonesia digunakan oleh Muhammadiyah dan Persis dalam penentuan awal Ramadhan, Idul Fitri dan Idul Adha untuk tahun-tahun yang akan datang. Akan tetapi mulai tahun 2000 Persis sudah tidak menggunakan kriteria wujudul-hilal lagi, tetapi menggunakan metode Imkanur-rukyat.

Hisab wujudul hilal bukan untuk menentukan atau memperkirakan hilal mungkin dilihat atau tidak. Tetapi hisab wujudul hilal dapat dijadikan dasar penetapan awal bulan Hijriyah sekaligus bulan (kalender) baru sudah masuk atau belum, dasar yang digunakan adalah perintah Alquran (lihat QS Yunus: 5, QS Al Isra’: 12, QS Al An-am: 96, dan QS Ar Rahman: 5) serta penafsiran astronomis atas QS Yasin ayat 39-40.

Di samping kedua metode ini, ada metode imkanur rukyat, yaitu kriteria penentuan awal bulan (kalender) Hijriyah yang ditetapkan berdasarkan Musyawarah Menteri-menteri Agama Brunei Darussalam, Indonesia, Malaysia, dan Singapura (MABIMS), dan dipakai secara resmi untuk penentuan awal bulan Hijriyah pada Kalender Resmi Pemerintah. Prinsipnya, awal bulan (kalender) Hijriyah terjadi jika:

* Pada saat matahari terbenam, ketinggian (altitude) Bulan di atas cakrawala minimum 2°, dan sudut elongasi (jarak lengkung) Bulan-Matahari minimum 3°, atau
* Pada saat bulan terbenam, usia Bulan minimum 8 jam, dihitung sejak ijtimak.

Di Indonesia, secara tradisi pada petang hari pertama sejak terjadinya ijtimak (yakni setiap tanggal 29 pada bulan berjalan), Pemerintah Republik Indonesia melalui Badan Hisab Rukyat (BHR) melakukan kegiatan rukyat (pengamatan visibilitas hilal), dan dilanjutkan dengan Sidang Itsbat, yang memutuskan apakah pada malam tersebut telah memasuki bulan (kalender) baru, atau menggenapkan bulan berjalan menjadi 30 hari. Prinsip imkanur-rukyat digunakan antara lain oleh Persis.

Metode penentuan kriteria penentuan awal Bulan Kalender Hijriyah yang berbeda seringkali menyebabkan perbedaan penentuan awal bulan, yang berakibat adanya perbedaan hari melaksanakan ibadah seperti puasa Ramadhan atau Hari Raya Idul Fitri.

Di Indonesia, perbedaan tersebut pernah terjadi beberapa kali. Namun demikian, perbedaan tersebut tidak menjadi persoalan, karena masing-masing pihak mengedepankan toleransi terhadap suatu perbedaan.

 

Halal Bilhalal

By Republika Newsroom
Kamis, 16 Oktober 2008 pukul 14:44:00

 

Halal bilhalal adalah istilah yang tersusun dari tiga kata berbahasa Arab, halal- bi- halal. Jika kata halal diartikan ke dalam bahasa Indonesia dengan boleh maka halal bilhalal secara harfiah berarti boleh dengan boleh. Istilah halal bilhalal sendiri tidak dikenal dalam khazanah bahasa Arab bahkan tidak diajarkan oleh Rasulullah SAW, para sahabat dan generasi salafus shaleh.

Istilah dan tradisi halal bilhalal, menurut Ensiklopedi Islam, adalah asli Indonesia yang tidak diketahui siapa pencetusnya. Halal bilhalal mulai diselenggarakan dalam bentuk upacara sekitar akhir tahun 1940-an dan mulai berkembang luas setelah tahun 1950.

Kegiatan halal bilhalal sebenarnya tidak berbeda dengan silaturahim. Yang membedakan, di dalam halal bilhalal ada kewajiban untuk saling maaf-memaafkan dan bersalaman dalam sebuah acara yang khusus diselenggarakan untuk itu. Ini sesuai dengan Kamus Besar Bahasa Indonesia yang memberikan definisi halal bilhalal sebagai Hal maaf-memaafkan setelah menunaikan ibadah Ramadhan, biasanya dadakan di sebuah tempat (auditorium, aula, dsb) oleh sekelompok orang.

Kini, halal bilhalal telah menjadi ritual yang sepertinya menjadi keharusan pascalebaran. Acara ini dilakukan mulai dari instansi-instansi swasta dan pemerintah, organisasi, hingga lingkungan rukun tetangga. Di ibukota, aktivitas hari pertama masuk kantor umumnya adalah halal bilhalal antara pimpinan dan karyawan, antara atasan dan bawahan. Ormas-ormas ke daerahan di ibukota juga menjadikan halal bilhalal sebagai agenda wajib di bulan Syawal.

Jika halal bilhalal diselenggarakan sebagai kegiatan silaturahim, tentu banyak manfaat dan pahala yang akan diperoleh. Rasulullah SAW menyatakan bahwa dengan bersilaturahmi maka para pelakunya akan dimurahkan jalan-jalan rezekinya dan dipanjangkan umurnya. Dalam praktiknya, biasanya inisiator, penyelenggara sekaligus sponsor penyelenggaraan halal bi halal berasal dari strata atas, kelompok elite, pimpinan kelompok, pimpinan sebuah instansi atau tokoh yang merasa banyak membuat kesalahan kepada bawahan atau pendukungnya. Halal bi halal juga dijadikan ajang untuk rekonsiliasi sehingga keharmonisan hubungan atas-bawah dan elite-masyarakat tetap terjaga bahkan diharapkan meningkat begitu pula kepentingan-kepentingan yang menempel di dalamnya. Hal ini, dalam batas-batas tertentu tentu merupakan sesuatu yang positif karena menjaga keharmonisan akan berdampak kepada kemashlahatan bawahan atau masyarakat luas.

Hadis Keluarga Utuh

By Republika Newsroom
Kamis, 16 Oktober 2008 pukul 14:42:00
1. Dari Ibnu Mas’ud RA bahwa Rasulullah SAW bersabda, ”Hendaklah kalian selalu melakukan kebenaran, karena kebenaran akan menuntun kepada kebaikan, dan kebaikan itu menunut ke surga. Jika seseorang selalu berbuat benar dan bersungguh dengan kebenaran, ia akan ditulis di sisi Allah swt sebagai orang yang sangat benar. Jauhkanlah dirimu dari bohong, karena bohong akan menuntun kepada kedurhakaan, dan durhaka itu menuntun ke neraka. Jika seseorang selalu bohong dan bersugguh-sungguh dengan kebohongan, ia akan ditulis di sisi Allah swt sebagai orang yang sangat pembohong.” Hadis muttafaqun’alaih.

2. Dari Abu Hurairah RA bahwa Rasulullah SAW bersabda, ”Jauhkanlah dirimu dari prasangka buruk, karena sesungguhnya prasangka itu adalah perkataan yang paling bohong.” Hadis Muttafqun’alaih.

3. Dari Abu Hurairah RA bahwa Rasulullah SAW bersabda, ”Barangsiapa ingin dilapangkan rizkinya dan dipanjangkan umurnya, hendaknya ia menghubungkan tali silaturahim.” Hadis riwayat Bukhari.

4. Dari Anas bahwa Nabi SAW bersabda, ”Demi Tuhan yang jiwaku berada di tangan-Nya, tidaklah seorang hamba (dikatakan) beriman sehingga ia mencintai tetangganya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri.” Hadis Muttafaqun’alaih.

5. Ibnu Mas’ud RA berkata, ”Aku bertanya kepada Rasulullah saw, dosa apakah yang paling besar? Beliau bersabda, ”Engkau membuat sekutu bagi Allah, padahal Dia lah yang menciptakanmu.” Aku bertanya lagi, ”Kemudian apa? Beliau bersabda, ”Engkau membunuh anakmu karena takut ia akan makan bersamamu.” Aku bertanya lagi, ”Kemudian apa? Beliau bersabda,”Engkau berzina dengan istri tetanggamu.” Hadis Muttafaqun’alaih.

6. Dari Abi Ayyub RA bahwa Rasulullah SAW bersabda, ”Tidak halal bagi muslim memutuskan persahabatan dengan saudaranya lebih dari tiga malam. Mereka bertemu, lalu seorang berpaling dan lainnya juga berpaling. Yang paling baik di antara keduanya ialah memulai mengucapkan salam.” Hadis muttafaqun’alaih.

7. Dari Abu Hurairah RA bahwa Rasulullah SAW bersabda, ”Barangsiapa melepaskan kesusahan seorang muslim dari kesusahan dunia, Allah SWT akan melepaskan kesusahannya pada hari kiamat; barangsiapa memudahkan seorang yang mendapat kesusahan, Allah SWT akan memudahkan urusannya di dunia dan akhirat; dan barangsiapa menutupi (aib) seorang Muslim, Allah SWT akan menutupi (aibnya) di dunia dan akhirat; dan Allah SWT akan menolong hamba-Nya selama ia menolong saudaranya.” Hadis riwayat Muslim. disarikan dari Tarjamah Hadis Bulughul Maram Terbitan Gema Risalah Press Bandung

Ilmu Tajwid

By Republika Newsroom
Kamis, 16 Oktober 2008 pukul 14:21:00

 

Yaitu ilmu yang mempelajari bagaimana cara membaca dengan baik. Ilmu ini ditujukan dalam pembacaan Alquran. Pengucapan huruf hija’iyah harus benar, karena pengucapan yang tidak tepat akan menghasilkan arti yang berbeda.

Ilmu tajwid bertujuan untuk memberikan tuntunan bagaimana cara pengucapan ayat yang tepat, sehingga lafal dan maknanya terpelihara. Sebagian ulama ada yang berpendapat bahwa pengucapan hadis-hadis Rasulullah SAW pun harus dilakukan dengan aturan-aturan tajwid, karena merupakan penjelasan dan sumber hukum kedua setelah Alquran.

Masalah yang dicakup dalam ilmu tajwid adalah makharij al-huruf (tempat keluar masuk), ahkam al-huruf (hubungan antarhuruf), ahkam al-maddi wa al-qasr (masalah panjang dan pendek ucapab), ahkam al-waqf wa al-ibtida (masalah memulai dan menghentikan bacaan), dan al-katt al-Utsmani (masalah bentuk tulisan mushaf Usmani).

Mempelajari tajwid sebagai disiplin ilmu merupakan fardu kifayah atau kewajiban kolektif. Namun, membaca Alquran dengan memaknai aturan-aturan tajwid merupakan fardu ain atau kewajiban individu.

Membaca Alquran termasuk ibadah, dan karenanya harus sesuai ketentuan. Ini sesuai dengan perintah Allah dalam Alquran, “…Bacalah Alquran itu dengan tartil.” (QS Al Muzzammil [73]: 4). Arti tartil menurut ahli tafsir Ibnu Katsier adalah membaca dengan perlahan-lahan dan hari-hati karena hal itu akan membantu pemahaman serta perenungan terhadap Alquran.  disarikan dari ensiklopedi Islam terbitan PT Ikhtiar Baru Van Hoeve

Sunah

By Republika Newsroom
Kamis, 16 Oktober 2008 pukul 14:20:00

 

Sunnah atau sunah secara etimologis berarti (1) ath-thariqah; jalan, cara, metode, baik jalan yang terpuji maupun yang tercela; (2) as-sirah; perikehidupan, perilaku; (3) lawan atau kebalikan dari makruh (anjuran untuk menghindari); (4) at-tabi’ah; tabiat, watak; (5) as-syari’ah ; syariat, peraturan, hukum dan (6) al-hadis; perkataan, perbuatan dan takrir Nabi Muhammad saw.

Dalam pengertian fikih, sunah merupakan salah satu dari al-ahkam al-khamsah (hukum yang lima; wajib, sunah, haram, makruh dan mubah). Para fukaha (ahli fikih) berbeda pendapat tentang pengertian sunah. Ada yang menyamakannya dengan al-mandub, al-mustahabb, dan fadilah, ada pula yang membedakannya.

Sunah dalam pengertian ulama usul fikih adalah segala sesuatu yang datang dari Nabi Muhammad SAW selain Alquran, baik berupa perkataan, perbuatan maupun takrir (Peneguhan) yang dijadikan sebagai dalil hukum syariat. Istilah yang biasanya digunakan ialah sunah. Di kalangan ahli usul fikih sunah merupakan salah satu sumber hukum Islam yang menempati urutan kedua setelah Alquran.

Dalam hubungannya dengan Alquran, sunah berfungsi sebagai: (1) penguat terhadap ketetapan hukum yang disebut Alquran mengenai suatu peristiwa hukum tertentu, (2) pemberi penjelasan (bayan) terhadap ayat-ayat Alquran, (3) pencipta hukum yang belum terdapat di dalam Alquran seperti haramnya memakan binatang buas yang bertaring kuat dan burung yang berkuku (hadis riwayat Muslim).

Sunah dalam pengertian ahli hadis ialah segala perkataan, perbuatan, takrir, sifat, keadaan, tabiat/watak, dan sirah (perjalanan hidup) Nabi Muhammad saw, baik yang berkaitan dengan masalah hukum maupun tidak. Dalam pengertian ini, di samping perkataan (sunah qauliyah), perbuatan (sunah fi’liyah) dan takrir Nabi Muhammad saw (sunah taqririyah), termasuk juga sifat, keadaan dan hasrat (himmah) Rasulullah saw.

Sunah yang berkenaan dengan sifat Nabi Muhammad SAW, misalnya gambaran tentang sifat dan bentuk jasmaniah beliau yang diluskikan sahabat seperti hadis yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim, Anas bin Malik RA yang mengatakan bahwa Rasulullah SAW adalah manusia yang paras muka dan bentuk tubuhnya baik. Beliau tidak jangkung (tinggi), tidak pula pendek (rendah). Sunah dalam pengertian ahli hadis ini kadang-kadang disebut hadis, kabar, atau asar (hadis) meskipun sebagian dari mereka membedakan ketiganya.dam/disarikan dari buku Ensiklopedi Islam terbitan PT Ichtiar Baru Van Hoeve Jakarta

Ihyaa us Sunnah

By Republika Newsroom
Kamis, 16 Oktober 2008 pukul 14:18:00

 

Dalil Alquran dan hadis tentang pentingnya ihyaa-us sunnah (menghidupkan ibadah sunnah)

I. Alquran
Firman Allah SWT dalam surat Al Isra (17) ayat 79 yang artinya, ”Dan pada sebagian malam hari bertahajjudlah kamu sebagai suatu ibadah tambahan bagimu. Mudah-mudahan Rabb-mu mengangkat kamu ke tempat yang terpuji.”

2. Firman Allah SWT dalam surat As-Sajdah (32) ayat 15-17 yang artinya, ”Lambung mereka jauh dari tempat tidurnya dan mereka selalu berdoa kepada Rabb-nya dengan penuh rasa takut dan harap, serta mereka menafkahkan rezeki yang kami berikan. Tak seorang pun mengetahui berbagai nikmat yang menanti, yang indah dipandang, sebagai balasan bagi mereka atas apa yang mereka kerjakan.”

3. Firman Allah SWT dalam surat al Hasyr (59) ayat 7 yang artinya, ”…Apa yang diberikan Rasul kepadamu maka terimalah dia. Dan apa yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah sangat keras hukuman-Nya.”

II. Hadis
1. Rasulullah SAW bersabda, ”Waktu paling dekat antara Rabb dan seorang hamba adalah pada sepertiga malam terakhir. Jika kamu bisa menjadi orang yang mengingat Allah pada saat itu, maka lakukanlah.” (Hadis riwayat Tirmidzi).

2. Rasulullah SAW bersabda, ”Shalat yang paling utama setelah shalat wajib adalah shalat pada tengah malam.” (Hadis riwayat Muslim).

3. Rasulullah SAW bersabda, ”Berilah kabar gembira kepada orang-orang yang banyak berjalan ke masjid dalam kegelapan dengan cahaya yang sempurna pada hari kiamat.” (Hadis riwayat Abu Dawud).

4. Dari Abdullah Ibnu Umar ra bahwa Rasulullah SAW bersabda, ”Shalat berjamaah itu lebih utama dua puluh tujuh derajat dari pada shalat sendirian.” (Hadis riwayat Muttafaqun ‘Alaih).

5. Dari Abu Hurairah ra bahwa Rasulullah SAW bersabda, ”Ada seorang laki-laki buta menghadap Rasulullah saw dan berkata, ”Ya Rasulullah, sungguh aku ini tidak mempunyai seorang penuntun yang menuntunku ke masjid. Maka beliau memberi keringanan padanya. Ketika ia berpaling pulang beliau memanggil dan bertanya, ”Apakah engkau mendengar adzan untuk shalat? Ia menjawab, ”Ya. Beliau bersabda, ”Kalau begitu, datanglah.” (Hadis riwayat Muslim).

6. Dari Abu Ayyub al-Anshary ra bahwa Rasulullah SAW bersabda, ”Barangsiapa berpuasa Ramadhan kemudian diikuti dengan berpuasa enam hari pada bulan Syawwal, maka ia seperti berpuasa setahun.” (Hadis riwayat Muslim).

7. Dari Abu Said al-Khudry RA bahwa Nabi SAW bersabda, ”Siapa saja orang Islam yang memberi pakaian orang Islam yang tidak memiliki pakaian, niscara Allah akan memberinya pakaian dari hijaunya surga; dan siapa saja orang Islam yang memberi makan orang Islam yang kelaparan, niscaya Allah akan memberinya makan dari buah-buahan surga; dan siapa saja orang Islam yang memberi minum orang Islam yang kehausan, niscaya Allah akan memberinya minuman dari minuman suci yang tertutup.” (Hadis riwayat Abu Dawud).

8. Dari Nawwas bin Sam’an bahwa Nabi SAW bersabda, ”Allah Azza Wa Jalla berfirman, ”Wahai anak Adam, jangan engkau tinggalkan empat rakaat di awal hari, maka Aku akan mencukupimu di sore hari.” (Hadis riwayat Ahmad, Tirmidzi, Abu Dawud, dan Nasa’i dari Nu’aim Al Ghatfani dengan sanad yang baik). dam

02
Oct
09

Hikmah : Taubat Nasional Umat Nabi Yunus

Taubat Nasional

By M Nurwan Ismail
Kamis, 01 Oktober 2009 pukul 16:23:00

Taubat Nasional Umat Nabi Yunus

Allah mengutus Nabi Yunus alaihissalam kepada kaum yang berdiam di negeri Ninive (sekarang masuk dalam teritori Irak). Nabi Yunus mendakwah mereka agar bertaubat, beriman, dan menyembah kepada Allah. Tetapi mereka menolak karena menganggap Nabi Yunus hanya mengada-ada serta menilai seruan itu sangat bertentangan dengan kebiasaan mereka yang telah mendarah daging dan dilakukan turun-temurun.

Penolakan mereka bertambah bobotnya ketika kaum ini punya dalih yang lebih jelek, bahwa Nabi Yunus yang diutus dan berdakwah itu bukan dari kalangan mereka. Pada akhirnya mereka tetap menolak Yunus dan terus berbuat durhaka. Ini membuat Nabi Yunus memutuskan akan pergi meninggalkan mereka setelah sebelumnya mengingatkan bahwa siksa Allah akan turun.

Begitu Nabi Yunus meninggalkan negeri itu, tanda-tanda siksa yang dijanjikan pun terlihat. Melihat tanda-tanda itu, mereka jadi yakin seruan Nabi Yunus bakal jadi kenyataan. Kaum itu menyesal dan segera mengambil sikap bertaubat (secara nasional) kepada Allah. Melihat sikap yang ikhlas ini, Allah membatalkan siksa yang seyogianya diturunkan kepada mereka. Akhirnya mereka beruntung, selamat, dan hidup berbahagia dalam kasih sayang Allah.

Di dalam Alquran banyak diceritakan sikap umat-umat terdahulu terhadap seruan hak yang disampaikan para rasul. Tapi, satu-satunya umat yang selamat dari siksa adalah umat yang diseru oleh Nabi Yunus itu. Ini disebabkan mereka segera bertaubat dan membenarkan seruan hak yang mulanya mereka nilai sebagai sesuatu yang diada-adakan oleh Nabi Yunus.

Sejarah para rasul dan umat-umat dahulu adalah sunatullah yang berisi nasihat dan pelajaran yang harus kita petik. Mereka dulu selalu merasa telah benar dengan semua perbuatan yang mereka lakukan, dan akibatnya pertama, diri mereka tertutup untuk menerima kebenaran dan bangkit sebagai penghadang terhadap seruan hak.

Kedua, nasihat mereka rasakan sebagai sesuatu yang diadakan-adakan dan kehormatan mereka terusik bila menerima nasihat. Ketiga, mereka selalu curiga kepada penyeru kebenaran, sehingga menuduh para rasul Allah sebagai orang gila, tukang sihir, dan lain-lain.

Bagi kita bangsa Indonesia, terutama umat Islam, marilah belajar dari sejarah umat-umat dahulu, terutama dalam melihat berbagai bencana yang terjadi sekarang ini. Tidakkah kita dapat merasakan bahwa persoalan yang sedang melanda bangsa ini adalah teguran dari Allah yang sangat sayang kepada kita? Malukah kita kalau bersikap terbuka (ikhlas dan jujur) untuk mengakui bahwa kita sekarang berhadapan dengan akibat dari kelalaian, keserakahan, dan kesombongan kita?

Hanya ada satu solusi untuk mengatasi kemelut yang sedang menantang bangsa kita, yaitu mengikuti jejak umat Nabi Yunus sebelum kita melakukan usaha-usaha yang lain. Kita, terutama para pemuka bangsa, tidak perlu malu melakukan sesuatu yang terpuji. Mari kita ajak bangsa ini untuk mengakui kesalahan kita di hadapan Allah karena kita semua, baik pemimpin maupun rakyat, adalah manusia biasa yang tidak luput dari kesalahan. Mari kita contoh umat Nabi Yunus yang telah mencontohkan sikap terbuka di dalam hidup ini. Insya Allah kita akan menjadi bangsa yang menang, selamat, dan bahagia. ahi

02
Oct
09

Hikmah : Pelajaran dari Hunian

Pelajaran dari Hunain

By Wahyu Priyono
Rabu, 30 September 2009 pukul 13:44:00

Pelajaran dari HunainSAYAPHATI.BLOGSPOT.COM

Dan ingatlah peperangan Hunain, ketika waktu itu kamu menjadi congkak karena banyaknya jumlah mereka, maka jumlah yang banyak itu tidak memberi manfaat kepadamu sedikit pun dan bumi yang luas itu terasa sempit olehmu, kemudian kamu lari ke belakang dengan bercerai-berai (QS At-Taubah: 25).

Dari ayat tersebut Allah SWT telah memberikan pelajaran berharga kepada kaum Muslimin agar membuang jauh-jauh sifat congkak/takabur, merasa diri lebih besar dari lawan yang dihadapinya. Peperangan itu bermula ketika Rasulullah saw dan para pengikutnya yang berjumlah kurang lebih 12 ribu orang prajurit, pada 6 Syawal 8 H berangkat dari Mekah menuju suatu tempat yang diberi nama Hunain. Jumlah 12 ribu merupakan jumlah terbesar dari pasukan kaum Muslimin selama peperangan melawan orang-orang kafir. Melihat banyaknya pasukan pada saat itu, beberapa sahabat mengatakan, “Hari ini kita pasti menang, karena jumlah kita yang cukup banyak”. Mendengar perkataan tersebut, Rasulullah sangat resah.

Pasukan kafir yang dipimpin oleh Malik bin Auf ternyata lebih dulu sampai di Hunain. Dengan cerdik, sebagian dari mereka menyebar, bersembunyi di lorong-lorong lembah dan bersiap menyerang dengan anak panah dari berbagai arah. Maka ketika pasukan Islam mulai maju menyerang, tiba-tiba hujan anak panah datang dari segala penjuru. Akibatnya, pasukan itu pun porak poranda, masing-masing lari menyelamatkan diri tanpa mempedulikan temannya.

Dengan pertolongan Allah SWT, Rasulullah saw dan para sahabat utama berhasil menghimpun kembali pasukan Muslimin yang tercerai-berai dan balik memukul mundur pasukan kafir. Pasukan kafir satu demi satu berjatuhan di tangan kaum Muslimin. Kemudian Allah menurunkan ketenangan kepada Rasul-Nya dan kepada orang-orang beriman, dan Allah menurunkan bala tentara yang kamu tidak melihatnya dan Allah menimpakan bencana kepada orang-orang kafir, dan demikianlah pembalasan kepada orang-orang kafir (QS At-Taubah: 26).

Peristiwa Perang Hunain tersebut seharusnya menjadi pelajaran (ibroh) bagi kita bahwa perjuangan menegakkan kebenaran dan keadilan tidaklah cukup hanya dengan mengandalkan jumlah pengikutnya saja (kuantitas). Tapi juga harus diikuti dengan kualitas yang baik. Kualitas yang baik hanya dapat diperoleh dengan mempersiapkan atau membentuk kekuatan dalam diri kaum Muslimin.

Kekuatan dimaksud adalah kekuatan akidah (quwatul ‘aqidah), ibadah (quwatul ‘ibadah), dan kekuatan jihad (quwatul jihad). Kekuatan akidah akan menghindarkan seseorang dari perbuatan syirik, takabur, dan merendahkan orang lain. Kekuatan ibadah menunjukkan keikutsertaan Allah SWT dalam setiap langkah perjuangan. Ini berarti pertolongan Allah akan selalu datang, mengiringi aktivitas kaum Muslimin. Sementara, kekuatan jihad akan mendorong kesungguhan (tajjarrud) dan kesinambungan (istimror) dari perjuangan membela kebenaran. Dengan jihad itulah, Allah menjanjikan kemenangan kepada siapa pun yang menjalaninya. ahi

02
Oct
09

Hikmah : Syawalan

SYAWALAN

By Mu’ammal Hamaidy
Senin, 28 September 2009 pukul 15:51:00

SYAWALAN WORDPRESS.COM/ILUSTRASI

Syawalan, dari kata Syawal, nama bulan sesudah Ramadhan, ialah amalan yang dilakukan di bulan Syawal, jelasnya puasa enam hari di bulan Syawal. Orang Jawa menyebutnya ‘nyawal’. Puasa ini dibandingkan dengan puasa-puasa sunat lainnya mempunyai sedikit keunikan, yaitu bisa menyempurnakan nilai puasa Ramadhan menjadi setahun penuh. Sebagaimana disabdakan baginda Rasulullah saw, ”Siapa berpuasa Ramadhan kemudian diikuti puasa enam hari di bulan Syawal, maka (nilainya) sama dengan puasa setahun penuh,” (HR Muslim).

Di samping itu, puasa Syawal dapat menutup berbagai kekurangan dalam puasa Ramadhan, sebagaimana umumnya amalan-amalan sunat. Ini ditegaskan dalam sebuah hadis, ”Pertama-tama amalan manusia yang akan dihisab oleh Allah di hari kiamat ialah shalatnya. Tuhan berkata kepada malaikat-Nya, padahal Dia Maha Tahu, ‘Lihatlah shalat hamba-Ku, apakah sudah sempurna ataukah masih ada kekurangannya? Kalau sudah sempurna maka tulislah ”sempurna”, dan kalau ada kekurangnnya barang sedikit, maka lihatlah apakah dia mempunyai cadangan sunat. Kalau ada, sempurnakanlah kekurangannya itu dengan cadangan sunatnya tadi. Setelah itu, semua amal akan diambil (diperhitungkan) dengan perhitungan seperti ini’.” (HR Abu Dawud).

Hadis di atas sekalipun berbicara dalam konteks shalat, tetapi karena diakhiri dengan ”kemudian semua amal akan diambil/diperhitungkan dengan perhitungan seperti ini”, maka oleh para ulama fikih dijadikan acuan bahwa semua amalan wajib dalam Islam akan diperiksa dengan standar nilai dasar, kemudian jika ada kekurangannya akan ditutup dengan pahala amalan sunat.

Sayid Sabiq, dalam Fiqhus Sunnah, mengatakan, ”Disyari’atkannya amalan sunat adalah untuk menutupi kekurangan yang barangkali ada dalam amalan wajib.” (Juz I, hlm 153). Justru itu dalam semua amalan wajib pasti di sana ada amalan sunatnya. Sehingga, dalam daftar ibadah wajib pasti akan kita jumpai ibadah sunat, misalnya: Shalat wajib juga shalat sunat, puasa wajib juga puasa sunat, haji wajib juga haji sunat, zakat wajib juga sedekah sunat, dsb.

Dari segi lain, amalan sunat juga dapat mengangkat derajat ke posisi yang lebih baik bagi orang-orang yang amalan wajibnya sudah sempurna, sebagai penghargaan Allah untuk hamba-Nya yang muttaqin.

Dilihat dari segi ini, maka puasa enam hari di bulan Syawal (syawalan) mempunyai tiga fungsi: melipatkan pahala, menggenapi kekurangan, dan menempatkan seseorang pada posisi lebih tinggi. Dan, kalau kita kaitkan dengan tujuan puasa serta makna Id adalah peningkatan takwa, maka puasa enam hari Syawal merupakan indikator ketakwaan. Dan, kalau kita kaitkan dengan arti Syawal, yaitu ‘bangkit’, maka puasa enam hari Syawal adalah indikator kebangkitan dalam mengemban misi agama, yang dalam pelaksanaannya tidak ‘pilah’ dan ‘pilih’. Semuanya akan dilaksanakan dengan tuntas.

Kini, Syawal masih beberapa hari lagi, sementara pelaksanaan nyawal tidak harus langsung sesudah Id dan berturut-turut. Mari kita lipatkan pahala, tutup kekurangan dan raih posisi yang tinggi. ahi

02
Oct
09

Hikmah : Bulan Aktualisasi

Bulan Aktualisasi

By A Ilyas Ismail
Rabu, 23 September 2009 pukul 19:05:00

Bulan AktualisasiSHAMSUDINOTHMAN.BLOGSPOT.COM

Dalam kalender hijriyah, bulan yang mengiringi Ramadhan dinamai bulan Syawal. Pada zaman dahulu, masyarakat Arab pra-Islam memiliki pandangan negatif mengenai bulan ini. Mereka, misalnya, menolak atau melarang melangsungkan pernikahan di dalamnya. Namun, tradisi ini dibatalkan oleh datangnya Islam. Nabi Muhammad SAW sendiri, seperti dikutip Ibnu Mandhur dalam Lisan al-Arab, menikahi Aisyah pada bulan Syawal dan memulai hidup bersama dengannya juga pada bulan Syawal. Kenyataan ini dibanggakan sendiri oleh Aisyah. Katanya, ”Siapa di antara isteri-isteri Nabi seberuntung aku di sisinya?”

Kata Syawal berasal dari kata Syala, berarti naik atau meninggi (irtafa’a). Dikatakan menaik atau meninggi, boleh jadi karena dua alasan. Pertama, karena pada bulan ini, kedudukan dan derajat kaum muslimin meninggi di mata Tuhan setelah mereka menjalankan puasa Ramadhan sebulan lamanya, seperti dijanjikan Nabi SAW dalam sekian banyak hadis. Kedua, karena secara moral kaum muslimin dituntut untuk dapat mempertahankan dan bahkan meningkatkan nilai-nilai yang mereka tempa selama bulan Ramadhan. Semangat Ramadhan dan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya, seperti kejujuran, kesabaran, disiplin, takwa, dan kesetiakawanan sosial harus tetap nyata pada bulan Syawal ini dan bulan-bulan berikutnya sepanjang hidup kita. Jadi, Syawal, sesuai dengan makna hafiahnya, dapat disebut sebagai bulan aktualisasi nilai-nilai.

Peningkatan dan aktualisasi nilai-nilia di atas, agaknya memang perlu kita ingat. Tidak semua kaum muslimin mampu mempertahankan nilai-nilai Ramadhan itu. Bahkan tidak sedikit dari mereka yang kemudian mengabaikannya bersamaan dengan berlalunya bulan suci itu. Kenyataan ini tidak saja berlawanan dengan prinsip istiqamah, sikap keberagamaan yang stabil dan konstan, tetapi juga bertentangan dengan hakekat agama itu sendiri yang dalam Kitab Suci disimbolkan dengan istilah-istilah seperti shirath, sabil, syari’ah, dan minhaj, yang kesemuanya berarti jalan.

Ini mengandung makna bahwa keberagamaan itu adalah suatu perjalanan panjang tanpa henti dan tanpa kenal lelah. Tujuan akhir agama itu adalah perjumpaan dengan Tuhan itu sendiri dalam perkenan-Nya. Dalam perjalanan itulah terdapat suatu dinamika dan kebahagiaan yang sungguh sangat sejati bagi orang yang menempuhnya, terutama ketika ia semakin dekat (taqarrub) dengan Tuhannya.

Sikap dan semangat keberagamaan seperti itulah agaknya yang dipesan Tuhan kepada Nabi Muhammad SAW dan selanjutnya kepada seluruh kaum muslimin dalam ayat ini: ”Maka apabila kamu telah selesai (dari sesuatu urusan), maka kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan yang lain), dan hanya kepada Tuhanmulah hendaknya kamu menuju dan berharap.” (Q. S. 94: 7-8). ahi




Blog Stats

  • 2,004,737 hits

Recent Comments

Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 108 other followers