Posts Tagged ‘Monetary

16
Dec
14

Mata Uang : Peringkat Dunia Rupiah dan JokoWi

MINGGU, 14 DESEMBER 2014 | 16:45 WIB

Rupiah Masuk Lima Besar Mata Uang Tak Dihargai

Ilustrasi uang rupiah. TEMPO/Subekti
TEMPO.COJakarta – Mata uang rupiah termasuk lima alat tukar yang tak dihargai di dunia. Saat ini, kurs tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat adalah 12.260. Adapun mata uang yang diakui secara internasional oleh PBB berjumlah 180. 

Dilansir dari The Richest, dari 180 mata uang, Indonesia masuk ke dalam urutan keempat mata uang dengan nilai tukar yang paling rendah terhadap dolar AS. Majalah The Economistmenyebutkan, masalah yang dihadapi Indonesia adalah pemerintahan yang birokratis, korupsi, dan infrastruktur yang tidak memadai menjadi alasan nilai tukar rupiah sangat rendah. (Baca: Akhir Pekan, Pelemahan Rupiah Terparah Se-Asia)

Pada urutan pertama mata uang yang tak diminati adalah riyal, yang merupakan mata uang Iran. Penghasil minyak ini mata uangnya masih terhitung lemah. Nilai tukar US$ 1 setara dengan 26.905,00 riyal. Adapun peringkat kedua, adalah mata uang Vietnam, Dong, dengan nilai tukar 21.393,96 per dolar AS. (Baca: Rupiah Melemah, Ini Penjelasan Menteri Keuangan

Adapun Dobra yang merupakan mata uang negara Sao Tome, berada di peringkat ketiga dengan kurs 19.750 per dolar AS. Peringkat kelima yaitu rubel yang merupakan mata uang Belarus yaitu 10.869 per dolar AS. 

Nilai rupiah lebih buruk bila dibandingkan leone, mata uang Sierra Leone, dengan kurs 4.363 per dolar AS. Adapun riel, mata uang Kamboja, kursnya setara 4.058 per dolar AS.

Kurs rupiah terhadap dolar AS, terus melemah dalam beberapa waktu terakhir. Pada penutupan perdagangan Jumat pekan lalu, 12 Desember 2014, dibandingkan mata uang Asia lain, rupiah melesak paling dalam. Rupiah anjlok 117 poin (0,95 persen) ke level 12.467 per dolar Amerika.

Analis dari PT Monex Investindo Futures, Zulfirman Basir, mengatakan penguatan dolar di pasar global dan lonjakan permintaan korporasi dalam negeri memicu pelemahan rupiah. “Rupiah kini mendekati level terendah dalam enam tahun terakhir.”

DEVY ERNIS

http://sinarharapan.co/news/read/141217026/mata-uang-garuda-makin-tak-berharga

 

Mata Uang Garuda Makin Tak Berharga

17 Desember 2014 19:13 Faisal Rachman Nusantara dibaca: 14

Rupiah kini menduduki posisi keempat nilai mata uang terendah di dunia.

Terpuruknya nilai tukar rupiah ke level mendekati Rp 13.000 per dolar Amerika Serikat (AS) membuat rupiah makin tak berharga. Lebih mengenaskan lagi, dengan posisi nilai tukar seperti saat ini, rupiah menduduki posisi keempat nilai mata uang terendah di dunia dari total 180 mata uang yang diakui Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).

Dalam daftar terbaru yang dirilis The Richest, posisi rupiah hanya lebih baik dibandingkan mata uang Iran, rial, yang dihargai 26.905 per dolar AS, Vietnam, dong, dengan nilai tukar 21.393,96 per dolar AS, serta dobra, mata uang Sao Tome, dengan kurs 19.750 per dolar AS. Lebih memalukan, nilai tukar rupiah kini lebih buruk bila dibandingkan leone, mata uang Sierra Leone, dengan kurs 4.363 per dolar AS, serta riel, mata uang Kamboja yang kursnya setara 4.058 per dolar AS.

Beberapa bulan terakhir nilai tukar rupiah terhadap dolar AS terus mengalami tren negatif. Bahkan, pada perdagangan, Selasa (16/12), rupiah sempat menyentuh angka Rp 12.900 per dolar AS.

Rupiah terakhir kali menyentuh level Rp 12.900 per dolar AS di akhir era Orde Baru 16 tahun lalu, tepatnya pada 17 Agustus 1998. Kala itu pairing US$/IDR mencapai Rp 12.900 per dolar AS. Gejolak politik setelah Soeharto turun di bulan Mei 1998 sempat membuat rupiah menyentuh rekor pelemahan di level Rp 16.650 per dolar AS pada 17 Juni 1998.

Melihat fenomena yang terjadi pada rupiah, sejumlah kalangan mempertanyakan langkah yang dilakukan pemerintah dan Bank Indonesia (BI) dalam menjaga stabilitas mata uang garuda tersebut. Ini lantaran kebijakan moneter ketat yang dilakukan pemerintah dan BI, dengan alasan menjaga defisit neraca transaksi berjalan, juga dinilai tak berhasil. Sebaliknya, laju ekspor yang diharapkan ternyata masih saja lebih kecil dibandingkan impor sepanjang tahun.

Padahal, kebijakan yang diambil jelas membuat ekonomi makin melambat. Perusahaan tak bisa lagi melakukan ekspansi bisnis akibat likuiditas bank mengetat. Imbasnya, lapangan kerja baru yang seharusnya terbuka pun menjadi terhambat. Rakyat juga yang akhirnya terkena dampak.

“Ini semua karena fundamental ekonomi kita yang rapuh dan terus dibiarkan. Pemerintah selama ini kerap terlena hanya mengejar pertumbuhan ekonomi yang semu, tanpa melakukan pembenahan sistematis. Jangan heran jika kurs rupiah dan ekonomi kita gampang diobok-obok,” kata ekonom Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Latif Adam kepada SH di Jakarta, Selasa.

Ia menjelaskan, terlepas dari sejumlah faktor yang membuat rupiah melemah, fluktuasi kurs yang sangat tinggi seminggu belakangan menunjukkan rapuhnya fundamental ekonomi kita. Hal ini tak menutup kemungkinan ada pihak-pihak yang memanfaatkan banyaknya celah menjadi kesempatan meraup keuntungan sendiri.

 

Fenomena Global

Namun, Menteri Keuangan Bambang Brodjonegoro menyatakan, pelemahan nilai tukar lebih bersifat temporer dan lebih dipengaruhi kondisi eksternal alias fenomena global. Dikatakan, per 15 Desember 2014, pelemahan rupiah harian baru mencapai 2 persen. Fluktuasi rupiah masih lebih baik ketimbang rubel Rusia yang mengalami pelemahan 10,2 persen, ataupun lira Turki yang mengalami pelemahan harian 3,4 persen. Secara year to date pelemahan rupiah baru mencapai 4,5 persen, lebih baik dibandingkan pelemahan yang dialami rubel 48,8 persen, lira 8,9 persen, dan real 12,4 persen.

Ketua Asosiasi Pedagang Valuta Asing (APVI) Muhamad Idrus menuturkan, akibat fluktuasi kurs yang tinggi, para pedagang valas mengambil posisi masing-masing agar tak mengalami kerugian besar. “Saat ini spread antara posisi jual dan beli rata-rata sekitar Rp 100. Sebelumnya spread paling hanya sekitar 15-20 poin,” ujarnya.

Ekonom Danareksa Research Institute Purbaya Yudhi Sadewa menilai, pemerintahan Joko Widodo (Jokowi) seperti tidak memiliki strategi ataupun konsep pasti untuk menyelamatkan rupiah. “Mereka se­ngaja memperlambat ekonomi dengan sejumlah kebijakannya. Jadi, wajar saja jika rupiah akhirnya seperti ini,” katanya. Menurutnya, dengan pelemah­an rupiah yang disengaja dan terus berlanjut, ekonomi terus melambat dan memengaruhi sektor riil. “Kalau demi alasan memperbaiki current account, lalu pertumbuhan hanya jadi 5 persen, apanya yang untung? Untuk menambah lapangan kerja itu setidaknya dibutuhkan pertumbuhan di atas 6,5 persen,” tuturnya.

Purbaya mencatat sejak 2010-2014, rupiah melemah sekitar 25-30 persen dibandingkan mata uang negara lain. Dengan anjloknya rupiah, timbul sejumlah dampak negatif, di antaranya beban utang luar negeri yang meningkat, impor barang modal yang menjadi lebih mahal, dan peluang forex lost dari perusahaan.

Deputi Gubernur BI, Perry Warjiyo mengatakan, BI telah melakukan intervensi di pasar, sehingga bisa terlihat pergerakan nilai tukar rupiah mulai membaik dan kini sudah kembali ke sekitar Rp 12.600-an per dolar AS.
Sumber : Sinar Harapan

++++

 

http://sinarharapan.co/news/read/141217022/-div-jokowi-jangan-khawatirkan-rupiah-div-div-div-div-div-

 

Jokowi: Jangan Khawatirkan Rupiah

17 Desember 2014 19:00 Ninuk Cucu Suwanti/Toar S Purukan Nusantara dibaca: 2

 

Proyeksi pertumbuhan industri 2015 diyakini meleset.

JAKARTA – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) yang kian terpuruk membuat iklim usaha dalam negeri semakin tidak kondusif. Namun, Presiden Joko Widodo atau yang kerap disapa Jokowi mengatakan, lemahnya nilai tukar rupiah tidak perlu menjadi hal yang dikhawatirkan.

Dalam rapat terbatas, Rabu (17/12), ia memban­dingkan kondisi RI dengan sejumlah negara lain yang nilai mata uangnya tak beruntung melawan dolar AS. “Dari sisi fundamental ekonomi, saya kira tidak perlu banyak hal yang dikhawatirkan.

Memang semua negara ini mendapatkan pelemahan nilai tukar. Kita melihat, negara kita bila dibandingkan Jepang, Malaysia, apalagi Rusia kita masih berada dalam kondisi baik,” ucap Jokowi dalam rapat bersama menteri-menteri bidang ekonomi, membahas nilai tukar dan strategi pencapaian target pertumbuhan ekonomi, serta anggaran dan rencana kerja pemerintah, di kantor kepresidenan, Rabu.

Ia mengatakan, justru naiknya nilai dolar bisa dijadikan kesempatan. Sisi industri harus didorong dan diberikan insentif agar industri-industri yang berorientasi ekspor lebih maju.
Sebaliknya, kalangan pe­ngusaha mendesak pemerintah mengambil langkah cepat strategis terhadap pelemahan rupiah. Terlebih, mayoritas pengusaha lokal justru meng­andalkan pinjaman modal dalam bentuk dolar.

 

Implikasinya, pada akhir tahun yang menjadi batas jatuh tempo utang, kalangan pengusaha menjadi kelimpungan membayar.

Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia, Suryo Bambang Sulisto kepada SH menyatakan, selain pengusaha yang meng­andalkan pinjaman dalam bentuk dolar, pelemahan rupiah sangat dirasakan para importir karena barang yang mereka impor menjadi lebih mahal.

“Kedua pihak itulah (importir dan peminjam) yang lebih banyak terkena penga­ruh,” ujarnya dalam perbincangan, Selasa (16/12).

Ia mengakui, saat ini eks­portir sedikit lebih untung karena harga barang menjadi murah. Tetapi, saat yang sama, harga komoditas lain juga sangat lemah atau turun sehingga manfaat yang didapat tidak begitu berarti.

Jika dibiarkan berlarut, pelemahan rupiah akan semakin merepotkan pengusaha, terutama dalam merencanakan bisnis. Proyeksi  pertumbuhan industri pelayaran nasional adalah salah satu yang terimbas. Semula yang ditarget mencapai 5 persen per tahun, kini  diperkirakan meleset menyusul melemahnya pendapatan pengusaha pelayaran yang tergerus hingga 25 persen.

Sebagaimana Suryo, Carmelita menegaskan, untuk industri berbasis barang impor, seperti galangan kapal yang masih harus membeli komponen dari luar negeri, pelemahan rupiah sangat memukul. Di bidang pelayaran, industri pelayaran internasional adalah yang pa­ling terdampak.

Dalam struktur biaya ope­rasional, biaya perawatan menjadi salah satu pos yang terdampak. “Pengusaha pelayaran harus menanggung biaya operasional lebih tinggi, meliputi biaya perawatan, pembelian suku cadang, dan bahan bakar kapal. Semua itu menggunakan mata uang dolar AS. Sementara itu, pendapatan perusahaan dalam negeri mayo­ritas transaksi rupiah,” tutur Ketua Umum INSA, Carmelita Hartoto, Rabu.

Menteri Perindustrian (Menperin) Saleh Husin mengamini pernyataan Kadin dan INSA. Ia mengakui, pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS cukup berpengaruh kepada industri yang masih menggunakan bahan baku impor. Terhadap ini, pihaknya terus mendorong agar ke depan industri harus mengoptimalkan penggunaan bahan baku dan komponen lokal. “Butuh waktu satu atau dua tahun untuk menekan ketergantung­an impor bahan baku dan kompenen yang persentasenya masih sekitar 70 persen,” ucapnya.

Terhadap pelemahan, Direktur Utama Bursa Efek Indonesia (BEI), Ito Warsito mengungkapkan, salah satu dampaknya adalah terjadinya penjualan oleh investor asing di bursa saham dan obligasi. “Ada penjualan di obligasi negara sekitar Rp 10 triliunan sehingga mengakibatkan nilai tukar mendadak melemah terhadap dolar AS. Itu diikuti investor saham,” katanya.

Pada perdagangan kemarin, investor asing melakukan penjualan bersih (foreign net sell) senuilai Rp 1,24 tri­liun. Namun, sisa pembelian bersih oleh investor asing (foreign net buy) sebesar Rp 46,2 triliun sejak awal 2014 sampai dengan kemarin masih mengompensasi, bahkan tercatat sebagai sejarah tertinggi di bursa saham Indonesia. “Kita tidak perlu khawatir berlebihan,” ujarnya.

Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI), Perry Warjiyo mengakui, bank sentral sejak Senin (15/12) sudah mengintervensi pasar sekunder Surat Berharga Negara (SBN), dengan melakukan pembe­lian. Senin, BI membeli hingga Rp 1,5 tri­liun dan Selasa pagi membeli kembali sebesar Rp 200 miliar.

Menurutnya, pembelian kali ini menjadi yang tertinggi tahun ini. Pasalnya, baru saat ini juga terjadi capital outflow di SBN yang butuh intervensi sebesar itu. (Faisal Rachman/Ellen Piri)

 

On 12/16/2014 10:48 PM, Awind wrote:

http://www.tempo.co/read/news/2014/12/16/087628988/Strategi-Jokowi-Atasi-Pelemahan-Rupiah

Selasa, 16 Desember 2014 | 21:45 WIB

Strategi Jokowi Atasi Pelemahan Rupiah

Strategi             Jokowi Atasi Pelemahan Rupiah

Presiden Jokowi bersama Ibu Iriana Widodo saat persiapan pemotretan bersama Kabinet Kerja di halaman Istana Negara, Jakarta, 27 Oktober 2014. TEMPO/Subekti

TEMPO.CO, Jakarta – Presiden Joko Widodo menyatakan telah mempersiapkan langkah untuk mengatasi pelemahan rupiah dalam jangka pendek. Jokowi yakin pelemahan rupiah tidak akan berlangsung lama karena fundamental ekonomi Indonesia terus mengalami perbaikan. (Baca: Alasan Jokowi, Pelemahan Rupiah Tidak akan Lama)

Menurut Jokowi, pelemahan nilai tukar tidak hanya dialami oleh Indonesia. Tekanan di Indonesia, kata Jokowi, disebabkan oleh tingginya arus modal keluar. “Mulai ada penarikan dana lagi ke Amerika Serikat,” kata Jokowi dalam penutupan Rapat Kerja Badan Pemeriksa Keuangan (BPK), Selasa, 16 Desember 2014.

Demi menahan laju penurunan rupiah, Jokowi mengatakan, pemerintah akan menyiapkan langkah perbaikan kinerja perdagangan dengan meningkatkan ekspor di sektor industri dan menekan laju impor. Selain itu, menurut Jokowi, Bank Indonesia sudah melakukan intervensi pasar agar rupiah tidak semakin terpuruk. (Baca: Jokowi Hadiri Penutupan Raker BPK)

Secara terpisah, Menteri Koordinator Perekonomian Sofyan Djalil mengatakan pelemahan rupiah terjadi karena megatren global. “Tanggal 19 Desember ada rapat The Fed, jadi wajar kalau orang berspekulasi,” ucap Sofyan.

Secara statistik, kata dia, selama periode Desember 2013-2014, depresiasi rupiah mencapai 2,5 persen. Angka ini masih terbilang rendah jika dibandingkan dengan pelemahan yen Jepang yang sebesar 15 persen, dolar Singapura 6 persen, dan ringgit Malaysia 6 persen. Sofyan menolak jika kondisi saat ini disamakan dengan 1998. “Saat itu kan ada guncangan politik. Kalau sekarang kan aman,” katanya.

Pendapat berbeda disampaikan Direktur Institute for Development of Economics and Finance Enny Sri Hartati. Menurut Enny, depresiasi rupiah bisa lebih buruk lantaran tingkat ekspor Indonesia terhadap impor masih lebih rendah dibanding negara lain di Asia. Selain itu, utang luar negeri Indonesia relatif lebih tinggi. “Karena itu, jika dilihat secara tahunan, depresiasi rupiah bisa lebih buruk ketimbang mata uang lain,” kata Enny kepada Tempo.

ANGGA SUKMAWIJAYA | ROBBY IRFANI

 

 

http://sinarharapan.co/news/read/141217020/jokowi-minta-pengusaha-manfaatkan-kenaikan-nilai-dolar-div-div-div-div-

 

Jokowi Minta Pengusaha Manfaatkan Kenaikan Nilai Dolar

17 Desember 2014 12:00 Finansial

 

Banyak negara juga mengalami nasib serupa dengan RI.

JAKARTA – Presiden Joko Widodo meminta kalangan pengusaha untuk tak mengkhawatirkan nilai tukar rupiah yang melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Sebaliknya, presiden meminta pengusaha memanfaatkan momentum fluktuasi nilai tukar rupiah terhadap dolar untuk mendorong peningkatan ekspor.

“Kesempatan seperti ini, dari sisi industri di dorong diberi insentif sehingga industri yang berorintasi ekspor bisa bergerak lebih cepat sehingga mengambil keuntungan dari pelemahan rupiah ini,” kata Presiden yang akrab disapa Jokowi, saat membuka rapat terbatas bidang ekonomi di Kantor Presiden Jakarta, Rabu pagi.

Kepala Negara mengatakan pelemahan mata uang lokal terhadap dolar  tidak hanya dialami Indonesia, namun juga dialami oleh negara lainnya.

“Kita melihat negara kita dibandingkan dengan Jepang, Malaysia dan Rusia, kita pada posisi yang sangat baik,” katanya.

Presiden mengatakan meski demikian komunikasi antara pemerintah, Bank Indonesia dan juga Otoritas Jasa Keuangan terus dilakukan untuk mengelola fluktuasi nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat.

 

Tunggu Kebijakan Minyak Murah dan Jebloknya Rupiah

Oleh FUAD AL ATHOR (TANGERANG), TEROPONGSENAYAN
Rabu, 17 Desember 2014 – 08:20:51 WIB

BENARKAH kesempatan emas rendahnya harga minyak mentah di pasaran internasional tak bisa dimanfaatkan dengan baik oleh pemerintah Indonesia. Dihimpit oleh lemahnya nilai tukar rupiah terhadap US dolar membuat pemerintah kelimpungan menyikapi situasi. Padahal, dengan harga minyak yang mencapai US$ 57 per barel seharusnya pemerintah bisa mengambil langkah-langkah yang diperlukan, tidak hanya untuk mendapatkan keringanan pada beban APBN, akan tetapi juga guna mengamankan stok nasional sebanyak mungkin.

Harga minyak dunia terjun bebas di akhir tahun ini, menyusul lonjakan produksi minyak serpih alias shale oil di AS. Selain itu, pertumbuhan permintaan akan minyak di Asia dan Eropa juga tersendat, sementara produsen besar di Timur Tengah yang tergabung di OPEC –yang paling ngotot adalah Arab Saudi- enggan melakukan pemangkasan pada pasokan global.

Pada pembukaan perdagangan Senin (15/12) harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Januari 2015 dibuka melemah 1,28 persen ke posisi US$ 57,07 per barel. Sementara harga minyak Brent untuk pengiriman Januari 2015 berada di posisi US$ 62,08 per barel.

Terjun bebasnya harga ini sejatinya adalah perang harga di pasar minyak antara negara-negara Organization Petroleum Exporting Countries (OPEC) dengan Amerika Serikat (AS). Booming produksi minyak serpih (shale oil) AS menyebabkan pasokan minyak dalam negeri AS melimpah. Kuota impor minyak AS turun drastis. Dampaknya harga komoditas ini turun ke level terendah dalam empat tahun terakhir.

Otomatis penurunan harga ini menggerus pendapatan negara-negara yang selama ini bergantung pada minyak, termasuk negara anggota OPEC. Negara OPEC yang paling tergantung pada minyak adalah Venezuela dan Iran.

Dasar dari hitungan perang harga ini adalah perkiraan dengan harga di bawah US$ 70 per barel Amerika masih akan lebih memilih mengonsumsi minyak impor sebab rata-rata biaya produksi Shale Oil masih berada di antara US$ 70 sampai US$ 77 per barel. Sementara negara seperti Arab Saudi produksi di darat (on shore) hanya menelan biaya produksi sekitar US$ 10-17 per barel. Ini adalah sebuah kekuatan besar yang mampu menentang AS.

Di sisi lain, pasar minyak Asia seperti Jepang dan Korea malah melirik USA untuk mendapatkan pasokan minyak nasionalnya. Mereka mulai mengimpor dari USA sebab dianggap lebih murah ongkos pengirimannya ketimbang membeli ke Timur Tengah. Hal ini menambah potensi perang harga semakin menghebat. Pada September dan Oktober, Korea Selatan telah mengimpor 1,6 juta barel minyak dari AS dan Kanada. Lalu, Jepang juga mulai mengimpor minyak dari AS sejak Oktober silam. Hal itu membuat produsen Timur Tengah terus memotong harga demi pangsa pasar.
Posisi Indonesia terhadap situasi harga minyak global ini?

Indonesia masih akan sulit untuk ikut menikmati penurunan harga minyak dunia. Penyebabnya tak lain adalah tingkat konsumsi bahan bakar minyak (BBM) Indonesia yang masih tinggi tidak menyurutkan impor minyak. Apalagi, kurs rupiah masih melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS), sehingga membuat beban impor juga tinggi. Pada hari selasa (16/12/14) rupiah mencapai Rp. 12.900 per US Dolar. Ini nilai paling jeblok semenjak 1998 yang sampai di kisaran Rp. 16.000 per dolar AS. Pelemahan ini semakin mengantarkan ekonomi Indonesia ke ambang krisis atau kondisi ekonomi rentan.

Untuk bisa keluar dari kategori ekonomi rentan, Indonesia harus mampu memanfaatkan pelemahan rupiah untuk meningkatkan ekspor manufaktur. Namun, hal itu pun belum menjamin keuntungan yang lebih bagi Indonesia. Ini karena impor bahan baku juga akan meningkat. Kendati demikian, penurunan harga minyak dunia dipastikan akan menurunkan defisit transaksi berjalan.

Penguatan nilai tukar rupiah sangat diperlukan. Rupanya prediksi pasar bahwa rupiah akan menguat jika Jokowi terpilih meleset. Hal ini tentu dipengaruhi oleh kondisi politik dalam negeri. Meskipun ada analis yang menilai bahwa penguatan ekonomi di AS juga sebagai faktor menguatnya nilai dolar AS.

Mengentalnya kubu oposisi dalam KMP disinyalir menjadi penyebab yang membuat pasar agak khawatir akan stabilitas politik dalam negeri. Beberapa momentum politik di DPR menjadi gambaran politik Indonesia masih fragile. Dan ini akan sangat berpengaruh pada proses pengajuan APBN-P 2015 mendatang.

Pemerintahan Jokowi dinilai gagal memanfaatkan momentum “hangatnya” pemerintahan baru untuk segera melakukan konsolidasi di level elit politik. Politik yang semasa kampanye dititik-beratkan pada alur massa pasca pilpres alur berubah menjadi antara elit. Politik mobilisasi massa beralih pada politik negosiasi. Di sinilah letak lingkungan strategis pemerintahan Jokowi yang terlambat dikondisikan. Bahkan, kepresidenan terkesan cuek dan abai terhadap terbelahnya politisi Senayan.

Dampaknya, Pemerintahan akan sulit untuk segera memberikan stabilitas pada pasar yang cenderung wait and see pada keadaan makro politik dalam negeri. Agar tak terjebak di kemudian hari ada baiknya kepresidenan segera membuat langkah-langkah agar semua cabang Trias Politika berjalan dengan bergotong royong. Sebagai kepala pemerintahan ia boleh-boleh saja tancap gas kabinetnya dengan sedikit mengejek “kekanak-kanakan” DPR, namun sebagai kepala negara ia berkewajiban menciptakan kondusivitas semua cabang kekuasaan.

Sementara di sisi kebijakan energi, pemerintah masih belum akan membuat langkah-langkah yang radikal mengingat hambatan utamanya adalah ada pada minimnya infrastruktur. Bagaimana hendak menimbun stok minyak mentah yang sedang murah, Kalau kapasitas kilang saja masih punya 7 kilang dan yang bisa dioperasikan hanya 6, semuanya bisa menampung sekitar 800 ribu barel.

Dengan kondisi seperti ini pemerintah tak akan mengambil langkah yang menentukan pada saat-saat perang harga minyak mentah ini. Sangat disayangkan memang. Tapi menjaga kestabilan ekonomi makro yang tampaknya sangat tergantung pada stabilitas politik ini juga perlu dijadikan prioritas oleh pemerintah. Jangan sampai kita terjatuh pada krisis ekonomi untuk kali kedua seperti pada tahun 1998 lagi. Wassalam. (b)

(Fuad al Athor, tinggal di Tangerang, adalah associate writers of LiPI (Lingkar Pemikir Indonesia)

  

5 Sebab yang Bikin Rupiah Terus Jeblok

By Siska Amelie F Deil on Dec 15, 2014 at 12:29 WIB

Liputan6.com, Jakarta- Dalam sepekan terakhir nilai tukar rupiah tercatat terus anjlok. Hingga awal pekan ini, nilai tukar rupiah bahkan menyentuh level terendah sejak November 2008 di kisaran 12.600 per dolar AS.

Mengutip data Bloomberg, Senin (15/11/2014), nilai tukar rupiah tercatat melemah 1,04 persen ke level 12.597 pada perdagangan pukul 9.05 waktu Jakarta. Sebelumnya nilai tukar rupiah anjlok parah hingga menyentuh level 12.610 per dolar AS.

Terdapat sejumlah faktor yang menyebabkan nilai tukar rupiah kian menyusut terhadap dolar, antara lain penguatan dolar hingga spekulasi perusahaan lokal yang melakukan aksi beli dolar sebelum akhir tahun.

Sejumlah investor asing tercatat telah menarik dana hingga Rp 10,09 triliun dari obligasi berdenominasi rupiah bulan ini sejak 11 Desember.

Ekonom Standard Chartered Eric Alexander Sugandi menjelaskan, terdapat kombinasi sejumlah faktor yang menyebabkan nilai tukar rupiah terus menurun.

“Faktor pertama yaitu data ekonomi AS yang semakin membaik dan memicu kekhawatiran bahwa The Fed akan menaikkan suku bunganya lebih cepat dari perkiraan,” ungkap Eric saat dihubungi Liputan6.com.

Kekhawatiran akan penguatan dolar AS karena peningkatan data ekonomi Faktor lain menurut Eric yaitu perputaran uang atau Great Rotation di mana dana asing yang berendar kembali masuk ke Amerika Serikat menjelang akhir tahun.

Dua sentimen tersebut merupakan faktor yang paling berpengaruh pada pergerakan rupiah belakangan ini. Selain itu, faktor berikutnya adalah kebutuhan dolar yang meningkat di akhir tahun.

“Kebutuhan dolar di akhir tahun dari korporasi lokal juga aliran dana yang berkaitan dengan penjualan obligasi belakangann ini tampak memberatkan rupiah,” ungkap Chief Trader Asian and Emerging Markets di Mizuho Bank Ltd, Shigehisa Shiroki.

Menurutnya, nilai tukar rupiah kini benar-benar berada di bawah tekanan. Eric juga menjelaskan, faktor keempat adalah persepsi pasar saat rupiah menembus level tertentu yang dengan cepat memicu aksi beli dolar.

“Namun mendekati natal dan akhir tahun, transaksi dolar akan berkurang karena sudah banyak pelaku pasar yang berlibur,” tuturnya.

Faktor kelima yang menekan nilai tukar rupiah adalah defisit transaksi berjalan yang terbilang masih cukup besar. Indonesia mencatat defisit transaksi berjalan sebesar US$ 6,8 miliar di kuartal ketiga dan Bank Indonesia berharap adanya penurunan defisit sebesar US$ 24 miliar sepanjang tahun ini.

“Kalau dilihat dari nilai fundamentalnya, seharusnya rupiah masih berada di kisaran 12.000-12.200 per dolar AS,” ungkap Eric.

Di tengah kondisi ini, BI diprediksi akan mulai melakukan intervensi dan mengambil tindakan untuk menahan rupiah melemah lebih jauh. Terlebih lagi saat ini, nilai tukar rupiah melemah melampaui nilai fundamentalnya.

Hal ini tentu saja memicu market panic, tapi tak akan lama dan rupiah dapat segera berbalik.

Eric awalnya memprediksi nilai tukar rupiah dapat bertahan di kisaran 12.200 per dolar AS di akhir tahun. Tapi dengan sejumlah faktor tersebut, nilai tukar rupiah masih akan terperosok lebih jauh ke kisaran 12.500-12.700 per dolar AS selama sepekan ke depan. (Sis/Nrm)

Jakarta45
Kamis, 11/12/2014 06:30 WIB

Ungguli Obama, Jokowi Finish di Posisi 8 ‘Person of The Year’ Majalah TIME

Ayunda W Savitri – detikNews
Jakarta – Nama Presiden Joko Widodo masuk dalam polling Person of The Year yang digelar Majalah TIME. Meski tidak menduduki puncak peringkat, Jokowi berhasil menggunguli Presiden Amerika Serikat Barack Obama.

Dikutip dari situs TIME, Rabu (10/12/2014) malam, pejuang Ebola berada di peringkat teratas pilihan redaksi majalah asal Paman Sam tersebut. Disusul oleh Ferguson Protesters di peringkat kedua dan Vladimir Putin di peringkat ketiga. Sementara Massoud Barzani berada di peringkat keempat disusul Jack Ma.

Sedangkan untuk pilihan pembaca melalui polling, gelar jawara Person of The Year 2014 disabet Perdana Menteri India Narendra Modi dengan perolehan suara mencapai 16,2 persen. Ferguson Protesters berada di posisi kedua dengan raihan suara 9,2 persen.

Nah, untuk posisi Jokowi yang juga mantan Gubernur Jakarta, pembaca menempatkannya di urutan kedelapan dengan mengantongi suara 2,7 persen. Sementara Obama yang sebelumnya telah dua kali terpilih menjadi Time of The Year berada di peringkat ke-11 dengan suara 2,2 persen.

Sebelumnya dalam polling yang dibuka sejak pertengahan November hingga 6 Desember 2014 itu, Jokowi pernah menempati peringkat ke-7 dengan 2,8 persen dan Obama di peringkat ke-12 dengan 2,3 persen. Sayang posisi tersebut bergeser hingga penutupan polling yang disampaikan melalui Twitter, Facebook dan situs TIME.com sendiri.

Berikut 15 besar Person of The Year versi pilihan pembaca TIME:
1. Narendra Modi (16,2%)
2. Ferguson Protestors (9,2%)
3. Joshua Wong (7%)
4. Malala Yousafzal (4,9%)
5. Ebola Doctors and Nurses (4,5%)
6. Vladimir Putin (4,3%)
7. Laverne Cox (3,4%)
8. Joko Widodo (2,7%)
9. Pope Francis (2,6%)
10. Chibok Girls (2,5%)
11. Barack Obama (2,2%)
12. Beyonce (2,1%)
13. Jennifer Lawrance (2%)
14. Angela Merkel (1,8%)
15. Taylor Swift (1,7%)

(aws/fdn)

Advertisements
21
Sep
10

Moneter : Bank Indonesia Nilai Skenario IMF Terlalu Ekstrim

BI Nilai Skenario IMF Terlalu Ekstrim

lokasi: Home / Berita / Ekonomi / [sumber: Jakartapress.com]

Senin, 20/09/2010 | 21:29 WIB BI Nilai Skenario IMF Terlalu Ekstrim

Jakarta – Bank Indonesia (BI) menyatakan sudah melakukan pembicaraan awal saat International Monetary Fund (IMF) akan melakukan stress test alias tes ketahanan pada 121 bank di Indonesia. Namun BI keberatan, sebab skenario yang dipilih IMF dinilai terlalu ekstrim.

Kepala Humas BI Difi Ahmad Johansyah menyatakan, dalam penyusunan awal skenario dan metode stress test, telah ada pembicaraan di level teknis antara BI dan IMF. Dan dalam diskusi penyusunan skenario tersebut, BI telah berkeberatan. “Skenario risiko yg dipilih IMF sangat ekstrim dan negatif,” ujar Difi seperti dilansir situs Tempo, Senin (20/9/2010).

Pertama, BI beranggapan, skenario anjloknya ekonomi yang diusulkan tim IMF tidak selaras dengan kondisi ekonomi Indonesia kedepan. Kedua, BI beranggapan, pemerintah dan BI tentunya tidak akan tinggal diam jika keadaan ekonomi sudah mengkhawatirkan.

“Pasti akan mengambil langkah-langkah penyelamatan untuk mencegah hancurnya perekonomian. Artinya pemerintah dan BI pasti bertindak pre emptif untuk mencegah skenario krisis tersebut terjadi,” kilah Kepala Humas BI ini.

Ketiga, BI juga berkeberatan kalau nantinya hasil stress test ini disalah artikan di kemudian hari. Karena itu, kata Difi, hasil stress test yang dilansir bukanlah suatu prediksi atau ramalan, tapi gambaran yang terjadi jika ekonomi sudah sangat mengkhawatirkan.

Difi melanjutkan, hasil Noan Performing Loan yang terjadi akan sangat berbeda jika dasar skenarionya juga berbeda. “Kalau skenarionya lebih positif, maka NPL yg dihitung juga akan semakin baik,” kata Difi. Dan BI sendiri dalam melakukan stress test menggunakan skenario yg lebih sesuai dengan kondisi perekonomian. (*)

Selasa, 21/09/2010 08:15 WIB Inflasi 2,78% Sulit Terulang Ramdhania El Hida – detikFinance

Jakarta – Indonesia tidak akan pernah mengalami inflasi di bawah 5% jika menargetkan pertumbuhan ekonomi di atas 6%. Inflasi seperti tahun 2009 yang sebesar 2,78% akan sulit dicapai kembali. Kepala Badan Pusat Statistik Rusman Heriawan menjelaskan, inflasi yang rendah pada tahun 2009 terjadi karena perekonomian dunia sedang kontraksi akibat krisis ekonomi tahun 2008. Selain itu, pertumbuhan ekonomi Indonesia yang juga rendah, hanya 4,5%.”Peristiwa 2009 dimana inflasi 2,78% akan sulit kita capai. Pada 2009, inflasi 2,78% dilatarbelakangi krisis. Pertumbuhan cuma 4,5%, dunia kontraksi, harga komoditas rendah. Baru sekali imported inflation justru positif dan menurunkan inflasi,” ujar Rusman dalam rapat dengan Komisi XI DPR RI, Senayan, Jakarta, Senin (20/9/2010) malam.Rusman mencatat selama 10 tahun belakangan ini, tidak akan terjadi inflasi di bawah 5% jika pertumbuhan ekonominya di atas 6%.”Tapi dari pengalaman 10 tahun ini, kalau menargetkan pertumbuhan di atas 6%, tidak pernah terjadi inflasi di bawah 5%,” ujarnya.Oleh sebab itu, lanjut Rusman, dengan target pertumbuhan ekonomi sebesar 6,3% pada tahun 2011, inflasi sebesar 5,3% merupakan target yang optimistis. Apalagi dengan keadaan perekonomian dunia yang masih menggeliat sehingga dapat memengaruhi imported inflation.”Kalau 2011, pertumbuhan 6,3%, maka inflasi 5,3% sudah termasuk terlalu optimis. Apalagi semua negara berusaha memperbaiki ekonomi, dan kecenderungan harga komoditas naik. Ini boleh jadi akan memengaruhi imported inflasi,” tandasnya. (nia/qom)

Baca juga :

Selasa, 21/09/2010 07:03 WIB
Resesi Dinyatakan Berakhir, Wall Street Melesat
Nurul Qomariyah – detikFinance


New York – Bursa Wall Street melesat ke titik tertingginya dalam 4 bulan terakhir, dipicu optimisme investor setelah adanya kabar yang menyebutkan resesi di AS secara resmi sudah berakhir sejak Juni 2009.

Investor kembali bersemangat setelah Biro Riset Ekonomi Nasional AS mengatakan, resesi terpanjang yang terjadi sejak perang dunia II secara resmi sudah berakhir pada Juni 2009. Namun itu tidak berarti perekonomian AS sudah berakhir pada kapasitas normalnya.

“Pengumuman dari Biro Riset Ekonomi Nasional itu adalah senjata yang manis, secara psikologis karena memberikan perkembangan lebih besar dari yang diharapkan pasar,” ujar Bruce McCain, chief investment strategist Key Private Bank seperti dikutip dari Reuters, Selasa (21/9/2010).

Pada perdagangan Senin (20/9/2010), indeks Dow Jones ditutup menguat 145,77 poin (1,37%) ke level 10.753,62. Indeks Standard & Poor’s 500 juga mengat 17,12 poin (1,52%) ke level 1.142,71 dan Nasdaq menguat 40,22 poin (1,74%) ke level 2.355,83.

Namun volume perdagangan masih sangat tipis yakni hanya sebesar 7,16 miliar lembar saham, di bawah rata-rata tahun lalu yang mencapai 9,65 miliar lembar saham.

Penguatan saham-saham terjadi sehari menjelang pertemuan Bank Sentral AS pada Selasa ini. The Fed diprediksi akan mempertahankan suku bunga rendah di kisaran 0-0,25% dan juga kebijakan moneternya guna mendukung pemulihan ekonomi AS.

(qom/qom)

Baca juga :

Selasa, 21/09/2010 07:32 WIB

Rekomendasi Saham IHSG Ikut Menunggu Rapat The Fed

Nurul Qomariyah – detikFinance

Jakarta – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kemarin akhirnya mengalami koreksi setelah terus menerus melonjak menembus rekor tertingginya. Namun penguatan saham Bakrie 7 berhasil menahan laju penurunan IHSG.Pada penutupan perdagangan Senin, (20/9/2010), IHSG ditutup melemah 13,671 poin (0,40%) ke level 3.370,982. Sedangkan Indeks LQ 45 juga turun 4,703 poin (0,73%) ke level 634,599.Setelah koreksi tersebut, IHSG masih dalam posisi yang rawan koreksi. Kendati potensi penguatan IHSG masih ada selama perdagangan Selasa (21/9/2010) ini.”Kami melihat indeks berpotensi bergerak terbatas dengan menunggu hasil pertemuan oleh The Fed pada hari ini yang akan membahas kebijakan moneter di negara tersebut,” jelas eTrading Securities dalam analisisnya.”Indeks masih rawan terkoreksi, pergerakannya dalam jangka pendek cenderung mixed. Pergerakan indeks kami perkirakan berkisar antara 3310-3403,” ulas Erdikha Sekuritas dalam rekomendasinya.Sentimen positif datang dari penguatan bursa-bursa utama dunia. Bursa Wall Street melesat ke titik tertingginya dalam 4 bulan terakhir, dipicu optimisme investor setelah adanya kabar yang menyebutkan resesi di AS secara resmi sudah berakhir sejak Juni 2009.Pada perdagangan Senin (20/9/2010), indeks Dow Jones ditutup menguat 145,77 poin (1,37%) ke level 10.753,62. Indeks Standard & Poor’s 500 juga mengat 17,12 poin (1,52%) ke level 1.142,71 dan Nasdaq menguat 40,22 poin (1,74%) ke level 2.355,83.Sementara Bursa Jepang yang baru saja libur panjang juga langsung menguat. Indeks Nikkei-225 mengawali perdagangan Selasa dengan kenaikan 74,79 poin (0,78%) ke level 9.700,88.Berikut rekomendasi saham untuk hari ini:eTrading Securities:Pada perdagangan hari Senin (20/9) IHSG ditutup melemah 0.4% ke level 3,370.98. Penguatan IHSG pada hari kemarin kembali dipimpin oleh grup B7 dan saham-saham second liner. Asing tercatat melakukan net buy sebesar 61 miliar dimana pembelian banyak terjadi pada sektor coal mining, metal dan semen. Untuk rekomendasi hari ini, kami melihat saham B7 serta saham second liner masih layak untuk dicermati. IHSG kami perkirakan bergerak pada kisaran 3,340 – 3,400, kami melihat indeks berpotensi bergerak terbatas dengan menunggu hasil pertemuan oleh The Fed pada hari ini yang akan membahas kebijakan moneter di negara tersebut. Saham pilihan untuk hari ini adalah BNBR, BBKP dan NIKL.Kresna Graha Sekurindo:Minimnya katalis hari ini membuat sebagian pelaku pasar mulai melakukan profit taking sehingga IHSG berada di teritory negative. Stochastic dan RSI menunjukkan sebagian big cap telah berada di area jenuh beli sehingga rawan koreksi.  Untuk hari ini IHSG diperkirakan bergerak di kisaran 3,330-3,415 dengan UNVR dan AALI.

Erdikha Sekuritas:IHSG ditutup melemah 13.67 point menjadi 3370.98 (-0.40%). Saham-saham sektor perbankan menjadi salah satu pemicu pelemahan indeks, Namun kenaikan saham grup Bakrie dan sektor konsumsi membuat pelemahan indeks tidak dalam. Indeks masih rawan terkoreksi, pergerakannya dalam jangka pendek cenderung mixed. Pergerakan indeks kami perkirakan berkisar antara 3310-3403. Saham-saham sektor konsumsi masih menarik untuk dikoleksi.

Finan Corpindo Nusa:Aksi profit taking sejumlah saham unggulan seperti PGAS, ASII dan BMRI menyebabkan IHSG terkoreksi namun aksi beli saham-saham Grup Bakrie berhasil menahan penurunan indeks. Untuk Selasa, IHSG diperkirakan bergerak di kisaran 3.345 hingga 3.400. (qom/qom)

Selasa, 21/09/2010 08:11 WIB

GWM Naik, BI Yakin Tak Ada Kekurangan Likuiditas

Herdaru Purnomo – detikFinance

Jakarta – Kenaikan Giro Wajib Minimum (GWM) menjadi 8% diyakini Bank Indonesia (BI) tidak akan mengakibatkan terjadinya keketatan llikuiditas. Bank Sentral yakin kredit perbankan masih dapat tumbuh hingga 40% meski ada kebijakan itu.Demikian diungkapkan Gubernur Bank Indonesia Darmin Nasution dalam Rapat Dengar Pendapat dengan Komisi XI DPR-RI di Gedung DPR-RI, Senayan, Jakarta, Senin malam (20/09/2010).”Jadi tidak akan ada keketatan likuiditas. Kalau ditanyakan berapa kemampuan perbankan kita untuk salurkan kredit dengan adanya kenaikan GWM itu sebenarnya untuk capai kenaikan kredit 35-40% persen pun, likuiditas bank kita masih cukup,” ungkap Darmin.Darmin menambahkan, bank sentral melihat ada kelebihan likuiditas besar di pasar. Sehingga menurut Darmin, dalam situasi tekanan inflasi yang sudah muncul, kelebihan likuiditas tersebut bisa berperan untuk mendorong inflasi.”Karena itu, apa yang diwajibkan BI dengan menaikkan GWM dari 5% ke 8% itu salah satu cara untuk kurangi likuiditas,” jelasnya.Darmin pun menceritakan, pada tahun 2008, BI juga sempat menurunkan GWM sebagai upaya untuk memperbesar likuiditas di pasar karena menghadapi krisis yang terjadi.”Kemudian pemerintah mendesain sejumlah stimulus, termasuk memindahkan uang dari BI ke 3 bank BUMN, sehingga mengakibatkan terjadinya kelebihan likuiditas di pasar hingga saat ini,” tuturnya.Ia menambahkan, bank sentral juga menerbitkan aturan yang mengkaitkan LDR (Loan To Deposit Ratio) dengan GWM. Menurutnya, LDR perlu didorong naik karena agar kredit bisa terus bertambah.”Dan memang kita percaya, hal ini bisa dorong kredit dan mendukung pertumbuhan ekonomi. Jika sekarang kredit sudah tumbuh 22% year on year maka kita optimistis kredit hingga 24% itu akan sampai dan mencukupi. pertumbuhan ekonomi hingga 6% di 2010,” imbuhnya. (dru/qom)

Baca juga :

Selasa, 21/09/2010 07:22 WIB

Harga Emas Lagi-lagi Cetak Rekor

Nurul Qomariyah – detikFinance


Foto: Reuters

New York – Harga emas kembali melonjak mencetak rekor terbarunya. Terus melemahnya dolar AS terus memicu investor untuk berburu logam mulia ini.Pada perdagangan Senin (20/9/2010), harga emas di pasar spot menembus US$ 1.283,70 per ounce sebelum akhirnya surut lagi. Harga emas akhirnya bertahan di level US$ 1.277,60 per ounce, naik dibandingkan penutupan akhri pekan lalu di level US$ 1.275,95. Sedangkan harga emas berjangka untuk pengiriman Desember tercatat naik 3,30 dolar ke level US$ 1.280,80 per ounce.Para pialang mengatakan, pasar kini sedang fokus menanti hasil pertemuan Bank Sentral AS (The Fed). Namun para ekonom memperkirakan tidak akan banyak program stimulus ekonomi baru yang akan diluncurkan The Fed. Kemungkinan The Fed mempertahankan kebijakan stimulusnya membuat para pialang merasa harga emas semakin bullish.  Harga emas dinilai masih rendah jika dilakukan penyesuaian terhadap inflasi, yang bisa mencapai US$ 2.200 per ounce. “Ada kemungkinan kita bia mendapatkan paling tidak beberapa petunjuk yang akan membawa ke pengenduran kebijakan dan itulah yang ingin didengarkan oleh pasar emas,” ujar Bill O’Neill, analis dari LOGIC Advisors seperti dikutip dari Reuters, Selasa (21/9/2010).Dalam beberapa tahun terakhir, sejumlah manager hedge fund besar seperti George Soros dan John Paulson terus memburu emas sehingga menyebabkan harganya melonjak hingga 17% hingga hari ini. Harga emas tercatat lebih tinggi dari indeks S&P 500, yang naik kurang dari 2% sepanjang tahun ini. “Semua orang berselancar di gelombang yang sama, dan jelas sekali dana-dananya. Kita tidak pernah melihat kenaikan seperti ini jika tidak ada uang besar dibaliknya,” ujar Miguel Perez-Santalla, vice president Heraeus Precious Metals Management.Namun pekan lalu Soros mengingatkan emas sudah mencapai puncak bubble dan kemungkinan tidak aman dan tidak bertahan selamanya. (qom/qom)

Baca juga :

31
Jul
09

ADB : Suatu Hari Indonesia Pasti Bebas Utang

ADB: Suatu Hari Indonesia Pasti Bebas Utang
Kamis, 30 Juli 2009 | 18:33 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — Lembaga keuangan internasional Asian Development Bank (ADB) memperkirakan, dengan iklim ekonomi yang makin membaik, suatu ketika Indonesia akan mampu lulus dan tidak lagi menjadi negara peminjam di ADB.

“Dengan kebijakan dan iklim investasi yang makin membaik, bukan tidak mungkin Indonesia akan lulus dan tidak berhutang lagi,” kata Ayun Sundari Humas ADB Indonesia di Jakarta, Kamis (30/7).

Menurutnya, kondisi perekonomian Indonesia saat ini sudah berjalan dalam jalur kemajuan. Berdasarkan data ADB, Indonesia saat ini memiliki ekonomi terbesar di Asia Tenggara dengan total GDP (2008) sebesar 511,9 miliar dollar AS. Dengan demikian, saat ini Indonesia masuk dalam kategori negara berpendapatan menengah dan tidak lagi berhak mendapatkan pinjaman lunak dari ADB dan Bank Dunia.

Namun, Ayun menegaskan, ADB tidak bisa memastikan kapan Indonesia bisa benar-benar lepas dari utang pada ADB. Menurutnya, tidak ada perhitungan matematis yang bisa memastikan kapan hal tersebut dapat terwujud. “Hitung-hitungan di atas kertas itu sulit. Karena kita harus lihat perkembangan yang terjadi,” pungkas Ayun.
C11-09

31
Jul
09

IMF Peringatkan Melonjaknya Utang Negara Maju

IMF Peringatkan Melonjaknya Utang Negara Maju
Jumat, 31 Juli 2009 | 14:45 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com – Dana Moneter Internasional (IMF), Kamis (30/7) waktu setempat memperingatkan, meningkatnya utang publik negara-negara maju terkemuka dapat menghambat upaya untuk memacu pemulihan ekonomi.

Pertumbuhan tingkat utang dapat merusak kepercayaan investor dan mendorong kenaikan suku bunga, dan  akhirnya membalikkan kenaikan ekonomi, menurut sebuah laporan IMF.

“Dengan menunda penarikan investor kekhawatiran tentang kesinambungan akan meningkat, yang mendorong kenaikan suku bunga pada surat berharga pemerintah, merongrong pemulihan dan meningkatkan risiko ’bola salju’ utang,” kata lembaga yang berbasis di Washington.

IMF mengatakan utang publik akan mencerminkan sekitar 120 persen dari produk domestik bruto (PDB) pada 2014 di sembilan negara maju dari Kelompok 20 (G-20). Itu akan mencerminkan kenaikan sebesar 40 persentase poin sejak awal krisis keuangan dan ekonomi global pada tahun 2007.

Laporan menyoroti perkembangan utang di negara-negara Kelompok Tujuh “- Inggris, Kanada, Perancis, Jerman, Italia, Jepang dan Amerika Serikat” – dan Australia dan Korea Selatan, dua negara besar lainnya di G-20.

IMF meminta negara-negara maju untuk berbuat lebih banyak untuk mengurangi defisit anggaran dalam jangka menengah.  “Meskipun neraca fiskal diperkirakan membaik dalam beberapa tahun mendatang karena ekonomi global pulih, prospek utang publik di banyak negara lebih mengkhawatirkan,” kata institusi 186 negara itu.

Rata-rata rasio utang terhadap PDB negara G-20 yang terdiri dari negara maju dan berkembang, mencapai 62,4 persen pada tingkat pra-krisis tahun 2007, naik menjadi 82,1 persen pada tahun 2009 dan diperkirakan mencapai 86,6 persen pada tahun 2014.

Rata-rata rasio untuk negara-negara maju akan meningkat dari 78,6 persen pada tahun 2007 dan melebihi output 100,6 persen pada tahun ini. Pada 2014, diproyeksikan akan berada pada 119,7 persen. “Meskipun kebijakan fiskal akan terus mendukung kegiatan sampai pemulihan diraih, strategi yang jelas diperlukan untuk konsolidasi neraca fiskal dalam jangka menengah seperti meningkatkan kondisi dan memastikan bahwa solvency (kesanggupan melunasi utang, -red.) terjaga,” kata IMF.

IMF, yang telah mendesak negara-negara anggotanya untuk mengadopsi langkah-langkah stimulus untuk memerangi kecenderungan turun ekonomi yang parah, telah menyerukan mereka dalam beberapa bulan terakhir untuk merumuskan formula strategi keluar setelah pemulihan berlangsung.
EDJ
Sumber : Antara

11
Mar
09

Resesi Besar Terjadi, Harga2 Saham di Amerika Serikat Tergelincir

/ Home / KOMPAS
Resesi Besar Terjadi
Harga-harga Saham di AS Tergelincir
Rabu, 11 Maret 2009 | 05:58 WIB
Dar Es Salaam, Selasa – Dunia saat ini berada dalam resesi besar dan pertumbuhan ekonomi global berada di bawah 0 persen pada 2009. Demikian peringatan yang diberikan pimpinan Dana Moneter Internasional di Paris, Selasa (10/3). Sementara itu, pasar saham terus tumbang.

China berjuang mengatasi deflasi, Jerman terpukul oleh penurunan ekspor yang drastis. Mahaguru investasi Warren Buffet menyatakan, perekonomian AS berada di bibir jurang dan menyerukan koordinasi internasional untuk mengatasi penurunan ekonomi global.

Uni Eropa meminta Dana Moneter Internasional (IMF) melipatgandakan dana untuk membantu negara-negara yang kesulitan keuangan akibat krisis.

Ketika berbicara pada pertemuan menteri keuangan di ibu kota Tanzania, Dar Es Salaam, Direktur Pelaksana IMF Dominique Strauss-Kahn mengatakan, pertemuan itu berlangsung pada saat-saat kritis. ”Krisis finansial global saat ini dapat disebut sebagai resesi besar. IMF memperkirakan pertumbuhan global melemah hingga berada di bawah 0 persen tahun ini dan merupakan kinerja terburuk sepanjang sejarah,” ujarnya.

”Walaupun krisis sudah mereda ketika mulai menyentuh daratan Benua Afrika, kita tahu bahwa dampaknya akan sangat mengerikan. Ancaman tidak hanya pada sektor ekonomi, tetapi juga akan membuat jutaan orang kembali masuk ke bawah garis kemiskinan. Krisis ini tidak hanya soal bagaimana melindungi pertumbuhan ekonomi atau pendapatan rumah tangga, tetapi juga soal kerusuhan sipil, bahkan peperangan. Ini persoalan manusia dengan masa depannya,” kata Strauss-Kahn.

Jutaan orang Afrika terancam kembali miskin dan menghadapi konflik karena krisis finansial global ini. IMF menyerukan agar diambil langkah pencegahan segera.

Pekan lalu Strauss-Kahn juga mengatakan, pemulihan ekonomi kemungkinan tidak akan terjadi sebelum 2010.

Dampak krisis pada salah satu negara kaya, seperti Jerman, ditunjukkan dengan angka ekspor yang turun 20,7 persen

pada Januari 2009. Perekonomian Jerman sangat bergantung pada ekspor dan kini terpukul resesi paling buruk dalam enam dekade terakhir. Pemerintah memperkirakan output industri akan turun 2,25 persen tahun ini.

Perdana Menteri China Wen Jiabao, akhir pekan lalu, menyatakan harapannya bahwa perekonomian China masih bisa tumbuh 8 persen tahun ini. Namun, pertumbuhan itu dibayangi dengan deflasi. Harga makanan, pakaian, dan bahan bakar lebih murah 1,6 persen dibandingkan dengan tahun lalu dan hal ini merupakan yang pertama kali terjadi dalam enam tahun terakhir.

Penurunan harga-harga tersebut, jika terus berlanjut, dapat menurunkan pertumbuhan. Ini bisa terjadi jika konsumen menunda untuk berbelanja dengan harapan harga akan terus turun.

”Kestabilan harga juga merupakan perhatian para pengambil keputusan karena perkiraan deflasi terkadang membuat konsumen menunda pembelian dengan konsekuensi pertumbuhan semakin lambat,” ujar Jing Ulrich, analis pada JP Morgan.

Terburuk sejak 1982

Di bursa saham Asia, indeks Nikkei ditutup melemah 0,44 persen menjadi 7.054,98 setelah harga-harga saham tergelincir di Wall Street sehari sebelumnya. Indeks di Wall Street mencapai titik terendah sejak Oktober 1982, yakni 6.547.

”Saya tidak pernah melihat orang Amerika setakut ini. Hanya perlu waktu 5 menit untuk penyebaran ketakutan dan perlu waktu panjang untuk meraih kembali rasa percaya diri. Sayangnya, sebuah sistem tidak akan bekerja tanpa keberadaan kepercayaan di pasar,” kata Buffet dalam wawancara dengan televisi CNBC.

Untungnya indeks harga-harga saham-saham di Eropa dan sebagian Asia masih naik. (AP/AFP/Reuters/joe)




Blog Stats

  • 3,948,278 hits

Archives

Recent Comments

Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Sejarah : Bangsa Lemuria, Lelu…
Advertisements