Posts Tagged ‘Governmentship

30
Aug
14

Kepemerintahan : Lima Opsi Arsitektur Kabinet

Logo Garuda Merah Putih
http://www.antaranews.com/berita/450886/lima-opsi-kabinet-diserahkan-pada-jokowi

Lima opsi kabinet diserahkan pada Jokowi

Jumat, 29 Agustus 2014 15:12 WIB | 2.412 Views
Pewarta: Ida Nurcahyani
Lima opsi             kabinet diserahkan pada Jokowi

Andi Widjajanto (ANTARA FOTO/Rosa Panggabean)
Jakarta (ANTARA News) – Tim Transisi telah menyerahkan lima opsi kelembagaan pemerintahan mendatang kepada Presiden Terpilih Joko Widodo (Jokowi).

Hal itu disampaikan oleh Wakil Ketua Tim Transisi Andi Wijayanto sesaat sebelum menemui Jokowi di kantornya di Balaikota, Jumat.

“Lima opsi itu sekarang tinggal tergantung Pak Jokowi-JK akan memberikan arahan lebih lanjut seperti apa, apakah nanti akan dipanggil lagi atau sudah cukup buat Pak Jokowi untuk jadi bahan pertimbangan bagi mereka untuk menentukan struktur kabinet ke depan yang diinginkan,” kata Andi.

Andi menjelaskan, struktur kabinet yang diserahkannya bervariasi sesuai dengan segala konsekuensi anggaran dan menghindari tumpang tindih kebijakan yang ada.

Lima opsi kabinet itu, pertama status quo dengan 34 Kementerian, opsi dua 27 Kementerian, opsi 3A 20 kementerian dan 3B 20 kementerian, opsi empat 27 Kementerian serta opsi kelima menggabungkan opsi pertama dan opsi keempat.

Kelima opsi itu, selain hasil rapat Tim Transisi, juga merupakan masukan dari berbagai organisasi, kelompok masyarakat dan akademisi seperti tim Universitas Andalas, Universitas Airlangga, UGM, LIPI, Komnas Permenpuan, Relawan, Walhi dan Komnas HAM beri masukan soal kriteria HAM.

Laporan lima opsi kabinet itu sudah termasuk opsi perampingan dan pembentukan kementerian baru termasuk pembentukan Kementerian Kedaulatan Pangan, Kementerian Ekonomi Kreatif dan Kementerian Maritim.

“Yang saya ingat itu yang menonjol, selalu hampir muncul di semua opsi adalah keinginan untuk memunculkan kementerian kedaulatan pangan, kementerian ekonomi kreatif, maritim, dan hal-hal yang langsung terkait dengan program revolusi mental. Apakah dia nanti mengerucut pada kementerian kebudayaan. Ada beberapa hal menonjol lainnya misalnya usulan tentang penguatan fungsi pengawasan kantor kepresidenan atau badan pemerintahan negara yang menggabungkan pajak dan cukai,” katanya.

Teknis peleburan kementerian, menurut Andi, akan sama seperti teknis pembentukan daerah baru hasil pemekaran suatu wilayah.

“Logika sederhananya, mirip-mirip kalau kita membentuk kabupaten aau provinsi baru hasil pemekaran. Di masa SBY kementerian di 2009 tidak sama plek dg kementerian 2004,” katanya.

Dengan penyerahan lima opsi kabinet, tugas Tim Transisi usai sudah. Saatnya bagi Jokowi menentukan menggunakan opsi yang paling baik yang disarankan.

“Saya pikir sudah prerogatif Pak Jokowi untuk menentukan opsi mana yang ingin digunakan,” kata Andi.

Editor: Suryanto

COPYRIGHT © 2014

Advertisements
27
Oct
12

Kenegarawanan : Ideologi dan Tatanan Peradaban

Kamis, 25/10/2012 11:56 WIB

Ideologi dan Tatanan Peradaban

Aulia Agus Iswar – detikNews

Jakarta – Amerika liberal. Rusia dan China komunis. Indonesia Pancasilais. Sematan-sematan seperti itulah yg dianggap sebagai ideologi. Amerika berideologi liberal, Rusia dan China beriodeologi Komunis, Indonesia berideologi Pancasila.

Lalu apa itu ideologi? Kata ideologi sendiri diciptakan oleh Destutt de Tracy pada akhir abad ke-18 untuk mendefinisikan “sains tentang ide”.

Ideologi dapat dianggap sebagai visi yang komprehensif, sebagai cara memandang segala sesuatu, secara umum dan beberapa arah filosofis, atau sekelompok ide yang diajukan oleh kelas yang dominan pada seluruh anggota masyarakat. (Wikipedia)

Banyak sekali pakar yg mendefinisikan ideologi. Tapi dapat kita simpulkan, seperti sumber Wikipedia tadi, bahwa ideologi adalah sesuatu pemahaman dan pemikiran yg komprehensif yg mendasari segala tindakan hidup kita.

Ideologi yg paling berkembang saat ini adalah demokrasi, yaitu bentuk turunan liberalisme dalam ranah politik. Turunan liberalisme dalam ranah ekonomi dinamakan kapitalisme. Sedangkan ideologi yg menjadi antitesisnya adalah Marxisme yg kemudian melahirkan Komunisme dan Sosialisme dalam ranah politik dan ekonomi.

Ideologi-ideologi tadi adalah produk peradaban Eropa yg lahir setelah Renaissance, Revolusi Perancis dan Revolusi Industri (tahun 1700an) di Inggris. Karena masyarakat Eropa marah terhadap tatanan Gereja atas kondisi sosial pada saat itu, maka lahirlah ideologi liberalisme (demokrasi dan kapitalisme), Marxisme, Sosialisme, Individualisme, Nasionalisme, dst.

Jika pada masa kegelapan (masa Gereja) tatanan bersifat teosentris, maka setelah Renaissance dan Revolusi Industri tatanan bersifat anthroposentris. Revolusi-revolusi inilah yg melahirkan imperialisme Eropa ke berbagai negara di Asia dan Afrika.

Lalu, ideologi liberalisme tadi diadopsi dan dibawa oleh orang-orang Inggris yg \”hijrah\” ke benua Amerika karena tidak bisa hidup “bebas” di Eropa.

Mereka mendirikan negara Amerika. Hingga meletuslah Perang Dunia I dan II. Perang Dunia II dimenangkan oleh Amerika. Sedangkan ideologi Marxisme lebih diadopsi oleh negara-negara Eropa Timur termasuk Uni Sovyet dan China.

Sebagai pemenang PD II, Amerika telah berhasil membuka pasar. Mereka \”jualan\” demokrasi ke mana pun. Pada bidang ekonomi, pada tahun 1929, Amerika mengalami great depression, dengan berpedoman pada ekonomi aliran Klasik.

Sebagai antitesisnya, kemudian aliran ekonomi yg diterapkan adalah Keynesian. Lalu direvisilah aliran ekonomi tersebut menjadi Neoklasik. Yg kemudian terevisi kembali menjadi neoliberalisme yg ditandai dengan munculnya Tatcherisme di Inggris dan Reaganisme di Amerika sekitar tahun 1980an.

Gelombang demokrasi cukup besar dan menyebar ke mana-mana. Sekarang pun ada gelombang sintesisnya, yaitu sosial demokrat di Eropa dan di negara-negara Amerika Selatan.

Aliran ini, menurut Anthony Giddens dalam “The Third Way”, disebut New Left (kiri baru), sebagai jalan ke-3 setelah jalan sosialisme dan jalan demokrasi. Bahkan pemerintah China masa Deng Xiao Ping pun pada tahun 1979 menerapkan kebijakan keterbukaan Gaige Kaifang, yaitu sistem politik komunis, tapi sistem ekonomi kapitalis.

Hasilnya, seperti disebutkan David Harvey dalam “Neoliberalisme dan Restorasi Kelas Kapitalis”, China mampu mencapai tingkat pertumbuhan ekonomi secara berkesinambungan yg tiada bandingnya dalam sejarah manusia.

Soviet pun mengadaptasi demokrasi dalam bentuk Perestroika sebagai perlawanan terhadap terpuruknya kondisi sosial ekonomi di Uni Soviet kala itu (Gorbachev, Mikhail. “Perestroika, new thinking for our country and the world”).

Demokrasi dan Kapitalisme: Tatanan Terakhir?

Demokrasi dan kapitalisme menjadi angin segar di mana-mana. Negara-negara yang tadinya miskin dan terbelakang, setelah mengadopsi demokrasi dan kapitalisme, menjadi berkembang.

Johan Norberg dalam “In Defence of Global Capitalism” menjelaskan: “Pada saat ini hampir 60 orang sedang terangkat dari kemiskinan absolut mereka, setiap menit sepanjang hari…. Dalam waktu 25 tahun ke depan, standar hidup masyarakat di negara berkembang yg berukuran besar akan setara dengan standar hidup masyarakat Eropa….”

Michael Backman dalam “Asia Future Shock” lebih konkret mengutarakan contoh negara Korea yg terbagi menjadi Korea Selatan dan Korea Utara. Korea Utara yg menganut komunisme menjadi negara yg terbelakang; Pyongyang seperti kota korban perang. Sebaliknya, Korea Selatan yg menganut demokrasi justeru menjadi negara maju.

Memang demokrasi memiliki efek positif bagi negara-negara. Tapi hal tersebut tidak bisa menegasikan ketimpangan yg besar antara negara-negara maju dengan negara-negara berkembang. Joseph Stiglitz dalam “Making Globalization Work” menyatakan bahwa kemiskinan di negara-negara berkembang meningkat.

40% dari 6.5 milyar penduduk dunia hidup dalam kemiskinan, seperenamnya hidup dalam kondisi sangat miskin. Afrika adalah negara yg kondisinya paling parah, di mana penduduk dengan kategori sangat miskin meningkat jumlahnya dari 41.6% menjadi 46.9% dalam kurun waktu 1981-2001.

Lalu pertanyaannya sekarang, apakah ideologi liberalisme (kapitalisme dan demokrasi) akan menjadi solusi bagi permasalahan global? Jika sejarah dan peradaban ideologi adalah sebuah proses pencarian tatanan, apakah tatanan liberalisme menjadi ideologi final dan klimaks dalam sejarah kejayaan global?

Francis Fukuyama dalam “The End of History and the Last Man” meyakini bahwa demokrasi liberal adalah sistem dan ideologi final dan terbaik dalam sejarah peradaban manusia. Artinya, setelah ini tidak ada lagi corak ideologi yg akan hidup kecuali liberalisme, yaitu politik demokrasi dan ekonomi kapital.

Untuk menjawab itu, mari kita telaah. Demokrasi tidak bisa terlepas dari yg namanya nasionalisme. Ideologi nasionalisme dimulai pada kuartal terakhir abad XVIII dan menyebar di Amerika dan Eropa, khususnya pada masa revolusi.

Pada sepertiga terakhir abad XIX terjadilah nasionalisme gelombang kedua yg menyebar ke Eropa Timur dan Utara. Selanjutnya dekade awal dan pertengahan abad XX nasionalisme telah melanda Asia, Afrika, dst. (Smith, Anthony D. “Nationalism : Theory, Ideology and History”).

Hasilnya kini penduduk dunia tersegregasi ke dalam negara-negara bangsa (nation state). Masing-masing memiliki otonomi penuh untuk mengelola negaranya sendiri. Namun kini eksistensi negara bangsa terancam. Negara bangsa tidak bisa memungkiri keharusan bergaul dengan dunia global.

Dengan kemajuan teknologi yg sangat pesat, negara-negara kini telah terhubung dalam sebuah global village yg imajiner. Seolah-olah sekat negara sudah tidak terlalu menjadi penghalang; the borderless world.

Kenichi Ohmae bahkan menggambarkannya ke dalam bentuk ekstrem sebagai “the end of the nation state”, sebagai bangkitnya ekonomi regional/kawasan. Ken mengetengahkan contoh terbentuknya ekonomi kawasan seperti Uni Eropa, OPEC, ASEAN, NATO, G-70, dst. Nasionalisme jadi terancam di sini.

Kapitalisme berakar dari ajaran Protestan. Max Weber menjelaskan dalam “The Protestant ethic and the spirit of Capitalism” bahwa sebetulnya tidak ada pertentangan antara Protestanisme dan kapitalisme, bahkan Protestanismelah yg melahirkan kapitalisme.

Lalu bagaimana dengan corak kapitalisme yg terus-menerus berganti dari Klasik ke Keynes, lalu ke Neoklasik/Neoliberalisme? Kini pun Neoklasik dianggap gagal dalam mensejahterakan seluruh penduduk dunia secara adil dan merata. Karena itu lahir sebuah pemikiran baru dalam dunia Kapitalisme, yaitu ekonomi kelembagaan.

Krisis demi krisis terus terjadi, karena ada bubble of economics. Sistem ekonomi kapitalisme seperti menunggu kehancurannya. Bahkan implikasi krisis ini juga berefek secara luas yg digambarkan oleh Francise Fukuyama sebagai “The great disruption” bahwa sekarang problem-problem sosial politik juga melanda Barat dalam stadiumnya yg kritis.

Bahkan salah seorang pelaku kapitalisme, George Soros, dalam bukunya “The crisis of global capitalism : open society endangered”, juga mengkritik kapitalisme itu sendiri. Soros menegaskan bahwa krisis-krisis yg terjadi dewasa ini adalah karena teori ekonomi yg tidak tepat. Teori ekonomi menenekankan pada titik ekuilibrium, padahal ekuilibrium tidak pernah terjadi dalam dunia nyata.

Kekuasaan dan Sumber Daya

Sejarah peradaban manusia adalah sejarah perebutan kekuasaan untuk memiliki sumber daya-sumber daya. Setidaknya ada 3 sumber daya di sini, yaitu sumber daya energi, pasar dan manusia. Inilah yg menjadi target perebutan.

Apalagi pondasi ilmu ekonomi kapitalis telah menegaskan bahwa sumber daya alam dan energi sangatlah terbatas dan tidak mampu memenuhi kebutuhan seluruh umat manusia. Maka yg terjadi adalah free fight liberalism; homo homini lupus; yg kuat memangsa yg lemah.

Padahal, kata Mahatma Gandi, sumber daya yg ada di bumi ini cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup manusia, tapi tidak untuk keserakahan mereka.

Amerika yg kini berkuasa, telah menancapkan kuku-kukunya di negara-negara “jajahannya”. Jika suatu negara telah memenangi peperangan, maka pada hakikatnya ia telah berhasil membuka pasar ekonomi.

Maka kita lihat sekarang, apa saja yg berbau Amerika pasti laku dijual. Dan Amerika akan terus mengeksploitasi sumber daya energi dan manusia demi kemajuan peradabannya.

Minyak dan nuklir menjadi 2 kata seksi bagi Amerika. Di mana ada minyak, di situ Amerika akan mengejar. Konflik di Timur Tengah merefleksikan hal ini. Bahkan negara-negara berkembang seperti Indonesia menjadi “korban” akan hal ini.

Betapa tidak, kualitas minyak bumi Indonesia adalah terbaik di seluruh dunia. Namun minyak tersebut dijual ke Amerika, bangsa Indonesia sendiri tidak mencicipinya, malah mengimpor minyak dari Afrika dan Timur Tengah yg kualitas minyak buminya lebih rendah dengan harga juga lebih murah.

Selain minyak, sumber daya manusia juga menjadi “rebutan”. Beberapa MNC (multi national corporation) membuka pabriknya di Indonesia, karena upah buruh di sini rendah.

Kita tentu ingat pabrik Nike di sini; sepatu Nike yg dipakai oleh orang-orang Eropa termasuk atlet-atlet mereka adalah sepatu buatan Indonesia. Bahkan fashion-fashion bermerek dunia pun beberapa dibuat di Indonesia.

Meneropong Peradaban

Jika pada beberapa dekade ini, liberalisme dengan segala praktiknya seperti demokrasi dan kapitalisme dianggap terancam, maka bagaimana nasib peradaban masa depan?

Alvin Toffler dalam bukunya “The Third Wave” membagi periodisasi peradaban ke dalam 3 gelombang, yaitu masa agricultural revolution, industrial revolution, dan high speed revolution (zaman informasi).

Masa agrikultur ditandai dengan kehidupan manusia yg bertumpu pada cocok tanam/pertanian. Lalu setelah Revolusi Industri, kehidupan manusia bertumpu kepada industri.

Dan abad XX ini adalah masa gelombang ketiga, masa di mana dunia sudah saling terhubung dengan adanya teknologi komunikasi dan informasi (information & communication technology). Dinamika dan perubahan terjadi sangat cepat.

Thomas L. Friedman juga mendukung pendapat Toffler. Dalam bukunya \”The World is Flat\”, Friedman menjabarkan bahwa abad XXI adalah abad di mana dunia ini seperti datar, karena semua manusia mudah sekali terhubung dan berkomunikasi meskipun jarak ribuan kilometer dan benua serta samudera memisahkan mereka.

Sebuah gambaran bahwa manusia saling membutuhkan dan tidak dapat disekat-sekat oleh batas demarkasi bernama negara. Inilah yg diistilahkan dengan global village, yg punya slogan baru “mendekatkan yg jauh, menjauhkan yg dekat”.

Lebih jauh, David C. Korten dalam bukunya \”The post-corporate world : life after capitalism”, mengetengahkan sebuah pandangan bahwa kita harus ke luar dari kapitalisme dan memulai sebuah kehidupan baru yg lebih adil bagi semua.

Masa kapitalisme sudah lewat, kini kita akan memasuki sebuah masa yg lebih harmonis, manusiawi dan adil bagi semua. Memang pada masa kapitalisme yg dirajai oleh Barat (Amerika & Eropa), kehidupan teramat kejam. 5% penduduk dunia menguasai 90% dari total uang di seluruh dunia, sedangkan 95% penduduk memperebutkan 10% uang sisanya. Kesenjangan yg luar biasa.

Namun, banyak pakar yg memprediksi bahwa pendulum kekuasaan peradaban itu akan dan (mungkin) telah bergeser dari Barat ke Timur. Kishore Mahbubani misalnya, dalam “The new Asian hemisphere : the irresistible shift of global power to the East”, mengatakan bahwa dalam sejarah dunia, Timur (Orang China, India, Muslim, dan lainnya) menjadi pengikut.

Tapi kini mereka telah siap sebagai motor. Timur akhirnya memahami dan menyerap contoh-contoh terbaik dari Barat seperti ekonomi pasar bebas, meritokrasi dan aturan hukum. Dan mereka juga menjadi inovatif, membuat pola baru yg tidak ditemukan di Barat.

Sepertinya, ideologi-ideologi di Timur didasari oleh sebuah falsafah dan nilai budaya luhur yg tidak dimiliki Barat. Di China misalnya, falsafah China mengajarkan kebudayaan yg sangat menghormati leluhur dan keluarga. Aspek moral dan ketuhanan sangat ditekankan di sini. Demikian juga dengan orang-orang India dan Muslim.

Meskipun demikian, beberapa pakar juga memprediksi bahwa kemajuan China saat ini bak bara dalam sekam. China nanti, cepat atau lambat, akan mengalami kemunduran dan kehancuran, karena akibat penerapan kapitalisme di China, industri di desa-desa maju mengakibatkan dunia pertanian terancam.

Terjadi gelombang urbanisasi, penduduk yg tadinya hidup dari pertanian akhirnya migrasi mengadu nasib ke kota. Pengangguran meningkat. Artinya, kesenjangan hidup semakin lebar antara “the have” & ” the have not\”. John Naisbitt dalam “Mindset” juga memprediksikan bahwa kemajuan China saat ini menyimpan bahaya.

Lalu bagaimana tatanan dunia masa depan? Apakah seperti yg diprediksikan oleh Samuel Huntington dalam bukunya “Clash of civilizations”, yaitu terjadinya benturan antara peradaban Barat, China, India, Islam, dst?

Tatanan seperti apa nantinya akan sangat ditentukan oleh kondisi global 20 tahun ke depan. James Canton dalam bukunya “The extreme future” mengurai 10 tren utama yg akan mempengaruhi dunia 20 tahun ke depan. 10 tren tersebut yaitu:

  1. Menyalakan masa depan : krisis energi, masa depan pasca minyak, energi alternatif
  2. Inovasi ekonomi
  3. Kekuatan buruh masa depan
  4. Memperpanjang usia dalam ilmu medis dengan teknologi nano, neuo dan genomics.
  5. Sains
  6. Keamanan masa depan : kriminalitas, terorisme, dst.
  7. Globalisasi dan benturan kebudayaan
  8. Perubahan iklim
  9. Kebebasan individu
  10. Amerika dan China

George Soros juga memberikan solusi dengan “open society” nya. Dengan mengurai teori open society dari Karl Popper, Soros menjelaskan bahwa masyarakat ke depan harus saling terbuka. Eksklusivitas bukanlah sikap yg sejalan dengan kemajuan. China dan Uni Soviet telah mempraktikkan open society ini.

Menurut penulis, tatanan dunia masa depan akan dibentuk oleh konvergensi dua spirit peradaban, Barat dan Timur. Barat, seperti telah diuraikan di atas, menguasai peradaban dengan ideologi-ideologi bentukannya; liberalisme (demokrasi dan kapitalisme).

Bahkan ideologi Marxisme, sosialisme dan komunisme yg berkembang di dunia Timur juga berasal dari Barat saat Revolusi Industri. Ideologi liberalismelah yg mendasari penemuan dan kemajuan IPTEK di Barat. Dengan bekal ini, Barat menguasai peradaban dunia.

Di sisi lain, dunia Timur yg memiliki falsafah budaya luhur, diam-diam “insyaf” dari ideologi sosialisme dan komunismenya. Timur mengadopsi kemajuan Barat dari segi politik (demokrasi), ekonomi (kapitalisme) dan IPTEK.

Timur sedang berusaha untuk mengkonvergensikan itu semua dengan falsafah budaya luhur mereka. Konvergensi inilah yg akan menghasilkan peradaban yg menakjubkan, yg belum terjadi di dunia Barat sekalipun.

Siapa saja yg bisa mengkonvergensikan kemajuan Bara t dengan falsafah budaya luhur dunia Timur, dialah yg akan mampu membentuk tatanan dunia masa depan. Dialah yg akan menjadi pemimpin peradaban masa depan.

Salah satu syarat untuk menjadi pemimpin peradaban itu adalah keharusan memiliki sebuah ideologi yg komprehensif yg mampu mengakomodasi dan mengkonvergensikan semua hal positif yg ada di Barat dan Timur. Yaitu sebuah peradaban yg maju dalam hal IPTEK dengan nilai falsafah dan budaya luhur sebagai ideologinya.

*Penulis adalah Tenaga Ahli Komisi X DPR RI

Aulia Agus Iswar
Jl. Penggalang IV Jakarta Timur
xiao_x54@yahoo.com
087780008548

(wwn/wwn)

Browser anda tidak mendukung iFrame
27
Oct
12

Kepemimpinan : Budaya Kerja Jakarta Baru

https://jakarta45.files.wordpress.com/2011/12/jakarta-452.png?w=637&h=609&h=609

Kamis, 25/10/2012 21:39 WIB

Soal Kinerja Jokowi, PPATK: Ini Pola Kerja Baru di Dunia Birokrasi

Sukma Indah Permana – detikNews

Jakarta – Wagub DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Putra atau Ahok siang tadi bertemu dengan wakil ketua PPATK, Agus Santoso di Balaikota. Agus mengungkapkan rasa kagumnya atas kepemimpinan Jokowi-Ahok.

“Saya sangat terkesan dengan pola kerja kedua pemimpin yang menunjukkan komitmen pada keterbukaan,” ujar Agus dalam keterangan tertulisnya, Kamis (25/10/2012).

Menurutnya kedua pimpinan ini telah mengadopsi matrix organization atau bekerja satu meja dengan staf. Selain itu, Jokowi-Ahok juga telah memasukkan kontrol publik secara langsung melalui keberadaan media.

“Ini adalah pola kerja baru di dunia birokrasi,” lanjutnya.

Agus mengatakan bahwa kepemimpinan Jokowi-Ahok di DKI harus menjadi momentum perubahan pengelolaan keuangan daerah.

“Pola kerja yang mengedepankan transparancy dan accountability seperti ini perlu diterapkan pula dalam pengelolaan keuangan Pemda DKI,” tutur Agus.

Menurutnya hal ini perlu dilakukan agar angka-angka penerimaan dan pengeluaran daerah dapat tercatat dengan baik dan setiap rupiah dapat dipertanggungjawabkan.

“APBD DKI itu angkanya triliunan, sehingga harus dikelola dengan cermat, sehingga mampu membiayai perubahan Jakarta sebagaimana visi misi pak Jokowi dan Pak Basuki,” tutup Agus.

Kamis, 25/10/2012 12:56 WIB
Hari ke-10 Jokowi

Jokowi: 57 Ribu Kegiatan Dibagi Per Dinas Kan Jadi Mabuk!

Ray Jordan – detikNews

Jakarta – Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo (Jokowi) ingin menyederhanakan pola anggaran di dinas-dinas yakni dengan menyederhanakan kegiatan di dinas-dinas. Menurutnya, 57 ribu kegiatan untuk semua dinas dinilai kurang bermanfaat.

“Kalau 57 ribu kegiatan dibagi dinas-dinas dapat berapa kegiatan dalam satu tahun. Kan jadi mabuk semua! Ini pola anggaran yang akan kita ubah,” ujar Jokowi.

Jokowi mengatakan itu usai menerima paparan dari beberapa kepala dinas antara lain Kadishub Udar Pristono, Kadis PU Novizal, dan Kadis Pertamanan Chatarina, di Balaikota, Jl Medan Merdeka Selatan, Jakarta Pusat, Kamis (25/10/2012).

Menurut Jokowi, jika ada 57 ribu mata anggaran untuk semua dinas, sangat sulit untuk mengontrolnya. Jokowi pun menyarankan per dinas 1-4 kegiatan.

“Kalau menurut saya nggak musti banyak-banyak 1-4 tapi gede-gede,” kata Jokowi yang mengenakan baju batik coklat, celana bahan warna hitam, sepatu pantofel hitam dengan gaya rambut belah samping ini.

Dalam pertemuan itu, Jokowi juga meminta pemaparan kepala dinas untuk program 2013. Menurut Jokowi, kegiatan-kegiatan per dinas masih banyak yang tidak fokus.

“Tidak ada program unggulannya yang mana. Seharusnya setiap dinas ada program unggulannya. Jadi lebih bagus fokusnya sehingga manajemen kontrolnya lebih mudah,” ucapnya.

Jokowi lantas mencontohkan agar Dinas PU fokus perbaikan jalan di kampung di Jakarta halus dan beraspal. Begitu juga soal pengelolaan air di Banjir Kanal Timur.

“Saya sampaikan tadi semua kampung di Jakarta jalanannya harus halus dan aspal. Karena selama perjalanan saya ke kampung-kampung masih banyak jalan yang jelek,” imbuh Jokowi.

Jokowi Itu Mukanya Kolot Pemikiran Moderen

TRIBUNnews.comTRIBUNnews.com

 

TRIBUNNEWS.COM,BANJARMASIN–Lomba menulis “Surat untuk Jokowi” akhirnya sudah mendapatkan juaranya. Pemenangnya adalah Muhammad Ramadhani (16) seorang siswa kelas XII IPS SMA Negeri 91, Jakarta Timur.

Lomba menulis surat untuk Jokowi ini diadakan di Facebook sejak 12 hingga 17 Agustus 2012 oleh pengusaha muda Charles Honoris dan praktisi media sosial Sony Subrata.

Siswa yang akrab disapa Rama itu pun dimintai komentarnya mengenai sosok Gubernur DKI Jakarta tersebut. Dia memuji mantan Wali Kota Solo tersebut sebagai orang yang memiliki pemikiran modern.

“Jokowi tuh muka kolot, pemikirannya modern,” kata Rama di Hotel Novotel, Jakarta, Rabu (24/10/2012).

Meski begitu, Rama tidak bisa menjelaskan apa maksud dari modern itu. “Yang pasti gimana ya, Jokowi itu orangnya modern dan beda dari calon lainnya,” ujarnya lagi.

Rama mengaku mengetahui informasi adanya lomba “Surat untuk Jokowi” dari Facebook. Surat Rama berjudul “Jakarta Baru? Mungkin Gak Sih?” dianggap mewakili suara warga Jakarta sehingga layak menang.

Di dalam surat itu, Rama berkeluh kesah mengenai kondisi Jakarta yang ruwet akan polusi, trotoar, transportasi umum, dan kebersihan.

“Kalau banjir enggak, soalnya rumah saya enggak banjir,” ujarnya.

Rama paling mengeluhkan persoalan tata kota dan jalan di Jakarta. Rama berharap Jokowi dapat mengubah Jakarta seperti Kota Barcelona.

“Pengennya Jakarta itu kayak kota-kota di Eropa, kayak di Barcelona. Mau jalan-jalan tinggal keluar, enggak ada polusinya. Jalan tol dalam kota enggak perlu ada, yang diperbanyak MRT, subway,” ujarnya.

Ia pun berharap, Jokowi dapat membuat Jakarta Baru dari yang sebelumnya.

Orangtua Rama pun telah mengetahui ia menang sejak dua atau tiga minggu yang lalu. Rama juga telah menjanjikan untuk mentraktir orangtuanya.

Kabarnya, Jokowi akan langsung menyerahkan hadiah berupa notebook kepada Rama. Bagaimana perasaan pelajar SMA itu akan menerima hadiah langsung dari Jokowi? “Biasa aja tuh,” katanya.

Saat ditanyakan, apakah ia akan kecewa apabila Jokowi tidak berhasil mewujudkan Jakarta Baru, Rama tak peduli.

“Ah, saya enggak peduli. Gue mah apatis,” katanya.

Namun, apakah Rama yakin Jokowi dapat mewujudkan Jakarta Baru? “Yakin,” jawab Rama.

14
Jun
10

Kepemerintahan : Presiden dan Wakil Presiden Gagal ?

AP: Presiden dan Wakil Presiden Gagal

lokasi: Home / Berita / Politik / [sumber: Jakartapress.com]

Jumat, 11/06/2010 | 17:06 WIB AP: Presiden dan Wakil Presiden Gagal

Jakarta – Kisruh politik dan hukum yang saat ini sedang berlangsung di Indonesia tidaklah datang tanpa sebab. Yang paling bertanggungjawab dalam berbagai persoalan tersebut sebenarnya adalah kepala negara Republik yaitu presiden. SBY dinilai tidak tanggap dalam menyikapi persoalan tersebut dan malah cenderung membiarkannya.

“Bila dalam sebuah negara terjadi banyak kerancuan dan kekacauan, terutama dalam soal hukum dan politik, itu berarti presidennya tidak benar,” tegas politisi senior Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP), AP Batubara yang akrab dipanggil AP, di kediamannya, Jakarta, Jumat ( 11/6/2010 ).

Hal tersebut disebabkan SBY tidak berpijak teguh pada konstitusi, UU 45 dan juga Pancasila. Kegagalan SBY tersebut misalnya terlihat pada kasus Century. Bila SBY betul-betul ingin menyelesaikan skandal perbakkan tersebut, maka ia dapat dengan mudah melakukan itu. Karena ia punya kekuasaan. Tapi yang terjadi malah sebaliknya, SBY terlihat malah menutupi dan membiarkan skandal tersebut tidak terbongkar.

Menurut AP, apa yang terjadi pada Bibit-Chandra dan Susno juga demikian. Kedua perkara tersebut terus-menerus membuat publik heboh. Sementara itu kasusnya sendiri terus menggantung dan tidak terselesaikan. Hal ini sangat merugikan rakyat sebab sebagai pimpinan KPK, Chandra dan Bibit tidak bisa bekerja secara maksimal.

Dari pada mengurus rakyat secara keseluruhan, menurutnya, SBY lebih banyak mengurus partai dan golongannya. “Ia terlihat lebih serius mengurus partai Demokrat dari pada rakyat secara keseluruhan,” tandas anggota Dewan Pertimbangan Pusat (Deperpu) PDIP ini.

Sementara itu, lanjut AP, wakil presiden Boediono juga nampaknya tidak bisa berbuat banyak. Dalam penilaian AP, tidak seperti Jusuf Kalla dulu, kini Boediono lebih banyak diam dan pasif. Hal tersebut dikarenakan Boediono tidak memiliki jiwa kepemimpinan. “Boediono memang terlihat tidak memiliki jiwa kepemimpinan. Ia lebih pantas menjadi akademisi dan hidup di kampus,” papar Ketua Umum Yayasan Proklamasi 17 Agustus ini.

APBN Sumber Korupsi Besar-besaran?
Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) seringkali dijadikan sebagai lahan korupsi besar-besaran yang dilakukan oleh legislatif maupun ekssekutif. Hal tersebut misalnya terlihat dari banyaknya proyek-proyek anggaran yang tidak jelas dan anggaran yang tidak transparan.

“Menurut saya sumber utama korupsi terbesar itu ada di APBN. Banyak sekali projek-projek yang tidak transparan, tidak detail dan itu menjadi lahan korupsi entah di legislative maupun eksekutif,” ujar pengusaha dan politisi senior PDIP AP Batubara kepada Jakartapress.com, Jumat (11/6/2010).

Hal tersebut, menurut dia, misalnya terlihat dari usulan dana Rp 15 m untuk masing-masing anggota dewan pada APBN-P 2011. “Usulan tersebut tidak labih dari upaya menciptakan lahan korupsi baru,” tandas Presiden Komisaris PT Wiraswasta Gemilang Indonesia (WGI) ini.

Secara terpisah, Sekjen FITRA Yunas Farhan menilai alasan pengajuan dana aspirasi untuk pemerataan tidak rasional dan alasan yang bodoh. Karena menurutnya, dana aspirasi malah akan menambah kesenjangan miskin dan kaya. Dana Aspirasi juga tidak akan mempengaruhi proporsi dana transfer ke daerah.

“Jelas alasan ini merupakan alasan bodoh yang dikemukakan DPR.  Dana Aspirasi malah akan menambah kesenjangan miskin dan kaya, “ tandasnya dalam press release yang diterima Jakartapress.com, Jumat (11/62010).

Menurutnya, dana aspirasi yang diusulkan oleh Golkar ini jika lolos dalam APBN 2011 akan sangat menguntungkan Golkar. Karena walau Golkar hanya berada di posisi kedua, namun Golkar memenangi suara terbanyak di 15 propinsi.

Sementara Partai Demokrat sebagai pemenang hanya memperoleh suara terbanyak di 13 Propinsi. Ini artinya, lanjut dia, Golkar akan lebih diuntungkan, karena dapat secara massif memperluas basis konstituennya dengan penggelontoran dana aspirasi  pada lebih banyak daerah ketimbang partai lainnya.

“Meskipun dana aspirasi yang diterimanya tidak sebanyak Demokrat. Bisa diprediksi, 2014 akan menjadi magnet bagi Golkar karena dianggap berhasil merealisasikan aspirasi secara luas,” imbuhnya.

Upaya Golkar mengganti usulan Dana Aspirasi dengan membagi rata anggaran Rp 1 Milyar per Desa/Kelurahan atau total Rp 77 trilyun,  juga patut dicurigai sebagai upaya ‘gentong babi’ untuk mengelabui rakyat. (boy)

Petisi 28: Ada Tiga Kegagalan SBY

lokasi: Home / Berita / Politik / [sumber: Jakartapress.com]

Minggu, 13/06/2010 | 19:19 WIB Petisi 28: Ada Tiga Kegagalan SBY

akarta – Kelompok para tokoh/aktivis yang tergabung dalam Petisi 28 menilai ada tiga kegagalan Presiden SBY. Kepala Negara sudah tidak berfungsi lagi karena di banyak tempat sering terjadi kekerasan dan ketidakadilan. Hal ini disampaikan aktivis Petisi 28, Haris Rusly Moti dalam diskusi ‘Situasi Darurat Kenegaraan’ di Doekoen Coffee, Pancoran, Jakarta, Minggu (13/6/2010).

Mereka yang bergabung di Petisi 28 diantaranya adalah Masinton Pasaribu (LSM/Repdem), Boni Hargens (dosen UI), Haris Rusli (aktivis), Adhie Massardi (GIB), Hatta Taliwang (mantan DPR), Lalu Hilman, M Chozin, Salamudin Daeng, dan lainnya.

Menurut Haris Rusli, Presiden SBY sebagai kepala negara tidak mampu menghentikan ketimpangan yang terjadi di dalam masyarakat Indonesia. Ia pun membagi kegagalan pemerintahan SBY dalam tiga faktor. Pertama, secara hukum SBY tidak mampu menegakkan hukum karena yang terjadi sekarang institusi penegak hukum tidak ada lagi yang bisa dipercaya.

Kedua, dari segi sosial, Indonesia sedang mengalami darurat yang luar biasa karena di saat anggaran negara menurun tetapi anggota DPR malah mengusulkan pemberian dana aspirasi sebesar Rp 15 miliar per anggota Dewan. Dan ketiga, secara politik Presiden SBY hanya menjadi simbol kekuasaan belaka dan tidak mampu berbuat apa-apa. ”Inilah kondisi darurat kenegaraan yang bisa timbulkan aksi sosial yang tidak terkendali,” paparnya.

Atas kondisi darurat kenegaraan tersebut, lanjut Haris, Petisi 28 dan sejumlah elemen lain akan mendatangi beberapa tokoh nasional untuk menyampaikan sikap keprihatinan terhadap kondisi ini. Menurutnya, Petisi 28 juga akan mendatangi Mabes Polri karena di saat keadaan negara yang darurat, pihak Kepolisian malah lebih sibuk menanggapi kasus video porno ketimbang memprioritaskan penyelesaian kasus Century. ”Faktor hukum, sosial, poltik dan ekonomi yang terjadi saat ini merupakan syarat bahwa revolusi sudah di depan mata,” bebernya.

Haris Rusli menyatakan, pihaknhya menilai Indonesia saat ini sudah masuk dalam situasi darurat kenegaraan, karena bisa terlihat dari tidak berfungsinya fungsi Presiden SBY sebagai kepala negara, sehingga terjadi berturan-benturan sosial dan konflik antarlembaga pemerintahan. “KPK yang dulu begitu kita dewakan, tempat terakhir untuk memperjuangkan korupsi sudah tidak bisa dipercaya,” tandas aktivis Petisi 28.

Ia pun mengaku, pihaknya tidak lagi mempercayai institusi pemberantas korupsi itu karena melihat dari proses pembentukan panitia seleksi (Pansel) KPK. Selain itu, Haris menilai KPK hanya sebagai kepanjangan tangan Presiden dan berperan melindungi masalah-masalah yang dimiliki SBY.

“Ketua Panselnya Menteri Hukum dan HAM, bawahannya Presiden. Dia punya kepentingan ketika masuk ke DPR. Lembaga itu dikusai Setgab dan punya kepentingan juga, nantinya ketua KPK hanya jadi pilihan Presiden,” ungkap mantan Ketua Umum Partai Rakyat Demokratik (PRD) ini.

Dengan melihat realitas seperti itu, Haris meminta salah satu Pansel KPK yang masih cukup bersih yaitu Sjafii Maarif, untuk mengundurkan diri dari kepanitiaan dan bergabung dengan Petisi 28 sebagai ekstra parlemen guna memberantas korupsi.  “Karena dia hanya jadi stempel bahwa masih ada moral di Pansel KPK, sehingga lebih baik mundur karena peran dia sudah tidak ada,” seru juru bicara Petisi 28 ini.

Masinton Pasaribu menambahkan, Sjafii Ma’arif sebaiknya mundur dari Pansel pimpinan KPK karena lembaga anti korupsi tersebut dinilai sudah tak dapat lagi dipercaya. “Contohnya saja kasus Century, awalnya KPK yang bilang ada yang salah dalam kebijakan itu, tapi sekarang bail out Century dibilang tidak ada masalah. Ini kan aneh,” bebernya pula.

Lebih lanjut, Masinton yakin skandal Century tidak bakal diselesaikan Pemerintah khususnya Persiden SBY. ”Dalam kasus itu hampir semua lembaga penegak hukum menyatakan tidak ada masalah, padahal DPR sudah merekomendasikan adanya dugaan tindak pidana,” tegas aktivis Relawan Pengawal Demokrasi (Repdem) ini.

Ia memandang, kondisi di Indonesia yang terjadi saat ini adalah logika kekuasaan yang tidak mendahulukan kepentingan rakyat. ”Pihak Kepolisian yang membawa Opsi A ke tim pengawas DPR maksud sesungguhnya karena tidak mau meneruskan penyelesaian skandal tersebut,” imbuhnya. (*/ira)

Rambut Mulai Memutih, SBY Merasa Sudah Lansia

lokasi: Home / Berita / Tokoh / [sumber: Jakartapress.com]

Rabu, 09/06/2010 | 23:10 WIB Rambut Mulai Memutih, SBY Merasa Sudah Lansia

PADA bulan September 2010 mendatang, Presiden SBY genap berusia 61 tahun. Rambut pun tidak terasa mulai memutih. SBY merasa dia kini sudah mulai lanjut usia.

“Rambut saya sudah mulai memutih. Saya termasuk lansia. Pada bulan September nanti saya genap berusia 61 tahun,” kata SBY di Istana Negara, Jl Veteran, Jakarta, Rabu (9/6/2010).

Hal ini dia sampaikan dihadapan ratusan lansia yang memperingati Hari Lanjut Usia. Mereka pun menyambut ucapan SBY dengan tawa dan tepuk tangan. “Tapi kalau istri saya belum termasuk. Dua tahun lagi baru bergabung,” tambah SBY disambut tawa Ibu Ani Yudhoyono dan para hadirin yang lain.

SBY berharap, para lansia makin bijaksana menghadapi masa-masa tua. Tidak seperti istilah pepatah, tua-tua keladi, makin tua makin menjadi-jadi. “Itu nggak usah diikuti,” kata SBY lagi-lagi disambut tawa hadirin.

Tapi terkadang, para orang tua terjebak untuk mengandalkan senioritas saat memberikan nasehat kepada anak muda. “Seperti ungkapan, ‘saya sudah makan banyak asam garam kehidupan’, ‘saya pernah muda seperti kamu, tapi kamu belum pernah tua’,” tiru SBY.

Namun menurut SBY, para lansia bukanlah menjadi beban negara. Adalah kewajiban bagi negara untuk makin memperhatikan nasib para lansia. Dia pun berharap agar semua masyarakat Indonesia untuk menghormati para lansia. Demikian juga pemerintah akan makin memberikan perhatian lebih kepada para lansia. (*/dtc/red)

02
Apr
10

PEPORA : Indonesia Negara Terkorup dan Kaidah Menggapai Kejujuran

Suara Pembaruan

2010-04-01Lagi-lagi Indonesia Negara Terkorup

Awal bulan ini, sebuah lembaga Survey bernama Hong Kong-based Political & Economic Risk Consultancy Ltd mempublikasikan hasil risetnya yang cukup membuat merah kuping orang Indonesia. Isinya, di Kawasan Asia-Pasifik, negara terkorup adalah Indonesia, diikuti Kamboja, Filipina, India, Thailand, dan Vietnam. Hasil kajian ini juga mengatakan, keputusan yang diambil DPR berkaitan dengan kasus Bank Century yang mengkriminalkan Wakil Presiden dan Menteri Keuangan justru membuat pandangan investor mengenai pemberantasan korupsi di Indonesia menjadi mundur.
Dengan rating “sebagus” itu, apa yang mesti kita perbuat? Mengutip pernyataan Menteri Keuangan Sri Mulyani ketika menanggapi hasil survei tersebut, yakni harus memperbaiki reputasi pemberantasan korupsi dan bersamaan dengan itu meningkatkan kinerja dan mengisi berbagai pemberitaan yang positif terhadap reformasi dan integritas.
Barangkali dalam rangka itu pula, Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/ Bappenas sudah menyusun Strategi Nasional dan Rencana Aksi Pemberantasan Korupsi (Stratnas PK) guna mendorong peningkatan pemberantasan korupsi dalam kurun waktu 2010-2025. Stratnas PK tersebut sudah diproses dalam Rencana Kerja Pemerintah (RKP) dan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN).
Bagi orang awam, tentu sulit memahami model kerja pemerintah dengan RKP dan RPJMN tersebut. Harapan masyarakat hanya satu. Pemberantasan korupsi harus dimulai dari pemerintah. Caranya? Jangan “mencuri” uang rakyat dengan cara apapun. Supaya uang rakyat tidak mudah dicuri, lindungi dia dengan perangkat yang memadai. Kalau toh masih dicuri juga, hukum pelakunya seberat-beratnya.
Cita-cita ini baru bisa terwujud kalau semua elemen bangsa memiliki kepedulian yang sama, membersihkan Republik ini dari aksi kotor para pencuri uang rakyat. Yudikatif, legislatif, Lembaga keagamaan, Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM), dan pakar-pakar perguruan tinggi agar proaktif mendukung upaya ini.
Yang tak kalah pentingnya, kita butuh orang- orang seperti Susno Duadji yang “berani” membuka indikasi praktik kotor institusinya kepada publik. Kalau ada 10 Susno di republik ini, Stratnas PK tidak perlu harus sampai tahun 2025. Dalam tempo lima tahun saja negeri tercinta ini sudah bisa dihapus dari daftar negara terkorup di dunia.

Anggi Astuti
Jaringan Epistoholik Jakarta (JEJAK)
Parung Permai Blok I-2/15 Parung-Bogor

Kaidah Menggapai Kejujuran

Republika, Kamis, 01 April 2010, 17:13 WIB

ilustrasi

Oleh Muhammad Sulthoni Yusuf MA

Kejujuran menempati kedudukan istimewa dalam ajaran Islam, karena ia merupakan penopang jalan kebaikan bagi manusia. Menurut Al-Qusyairi, kejujuran menempati kedudukan setingkat di bawah kenabian, sebagaimana firman Allah SWT, ”Dan barangsiapa yang menaati Allah dan Rasul-Nya, maka mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah, yaitu para nabi dan orang-orang yang menetapi kebenaran.” (QS An-Nisa [4]: 69).

Alquran memuji orang-orang yang jujur lebih dari lima puluh kali. Salah satunya yang termaktub dalam surah al-Ahzab [33] ayat 24, ”Supaya Allah memberikan balasan kepada orang-orang yang benar itu karena kebenarannya, dan menyiksa orang-orang munafik jika dikehendaki-Nya, atau menerima taubat mereka.”

Kejujuran yang bagaimanakah yang dimaksud oleh Alquran itu? Salah satu cirinya adalah jika batin seseorang serasi dengan perbuatan lahirnya. Sebagaimana diriwayatkan Abu Qilabah bahwa Umar bin Khathab RA melarang umat Islam menilai dan melihat puasa atau shalat seseorang, tetapi hendaknya melihat kejujuran ucapan seseorang jika ia berbicara, amanahnya jika ia diberi tanggung jawab, dan kemampuannya meninggalkan apa pun yang meragukan jika mendapat kenikmatan dunia.

Sementara itu, Al-Junayd menyatakan bahwa inti kejujuran adalah jika seseorang berkata benar dalam situasi-situasi di mana hanya dusta yang bisa menyelamatkannya. Pernyataan senada juga diutarakan Imam Thabari. Ia menekankan pentingya seseorang berkata dan berbuat jujur dalam kehidupan sehari-hari, walaupun kejujuran itu akan membunuh atau membinasakannya.

Contoh ideal dalam hal ini tentunya Rasulullah SAW. Kejujuran beliau yang mencerminkan ketinggian akhlak dipuji oleh Alquran, ”Dan engkau sungguh mempunyai akhlak yang agung.” (QS al-Qalam [68]: 4). Berlaku jujur sama halnya membangun keluhuran moral dan mental untuk menciptakan suasana sosial yang lebih harmonis dan tenteram.

Oleh karena itu, kejujuran mesti tertanam dalam jiwa semua orang yang beriman. Berkata bohong, berkomentar kontroversial, justru akan menyebabkan fitnah dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Selayaknyalah kita sama-sama menjaga kebersamaan dengan menjunjung tinggi kejujuran demi terciptanya bangsa yang bermartabat.

Red: irf




Blog Stats

  • 3,906,392 hits

Archives

Recent Comments

Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Sejarah : Bangsa Lemuria, Lelu…
Advertisements