Archive Page 76

05
Mar
14

PusKesMas : Enam Langkah Menjaga Ginjal

Enam Langkah Menjaga Ginjal

inShare0

Dok / National Kidney Foundation

Ginjal adalah organ pembuluh darah, sehingga Anda perlu menjaga kesehatan pembuluh darah.

JAKARTA – Satu dari tiga orang Amerika berisiko sakit ginjal, karena tekanan darah tinggi, diabetes, atau riwayat keluarga yang gagal ginjal. Dalam rangka memperingati Bulan Ginjal Nasional pada Maret dan Hari Ginjal Sedunia pada 13 Maret, Yayasan Ginjal Nasional AS mengajak semua orang untuk mempelajari tentang organ yang mirip kacang merah ini dan terus berusaha untuk hidup sehat.

Awalnya, sebagian besar orang lahir dengan dua ginjal, tapi sebenarnya Anda hanya butuh satu. Setiap hari, ginjal menyaring 200 liter darah dan menghilangkan 2 liter racun, kotoran, dan racun dari dalam tubuh. Dalam proses pembersihan ini, kotoran dan air meninggalkan tubuh melalui urine. Ginjal Anda dapat mengatur tingkat cairan dalam tubuh, tulis Dr. Kerry Willis,Senior Vice President for Scientific Activities di Yayasan Ginjal Nasional, di FoxNews.com, Senin (3/3). 

Ginjal juga melepaskan hormon-hormon yang mengatur tekanan darah, memproduksi sel-sel darah merah, dan merawat kesehatan tulang.

Kerusakan ginjal biasanya perlahan-lahan, sehingga orang mungkin tidak “merasa sakit” sampai ginjalnya benar-benar dalam kondisi buruk. Karenanya, memperhatikan kesehatan ginjal, melakukan pencegahan, dan deteksi dini sangat penting bagi kesehatan ginjal.

Berikut enam tips untuk mengurangi risiko sakit ginjal yang dibagikan Yayasan Ginjal Nasional AS.

1. Melakukan Tes
Jika Anda berisiko sakit ginjal, penting untuk melakukan pemeriksaan ginjal tahunan. Ada dua tes yang perlu Anda lakukan. Pertama, tes urin untuk albumin, sejenis protein dalam kencing yang jadi pertanda awal kerusakan ginjal. Kedua, tes darah untuk mengetahui creatinine, limbah dari metabolisme otot yang dibersihkan oleh ginjal.

2. Kontrol Tekanan Darah dan Tingkat Gula Darah  
Tekanan darah tinggi dan diabetes adalah dua penyebab sakit ginjal. Ginjal adalah “organ pembuluh darah”, artinya mengandung banyak pembuluh darah. Dengan demikian, penyakit akibat kerusakan pembuluh darah, termasuk tekanan darah tinggi dan diabetes dapat merusak ginjal. Bahkan, tekanan darah tinggi “ringan” atau prahipertensi dan kenaikan tingkat gula darah, yang umum disebut pradiabetes dapat merusak ginjal. Jadi,  Dr Willis, mengingatkan Anda agar mencegah kondisi “Pra” dengan merawat kesehatan ginjal Anda.

3. Jaga Berat Badan
Menjaga berat badan sehat berpengaruh penting bagi ginjal. Kelebihan berat badan berarti ginjal harus bekerja keras untuk menyaring racun dan menyesuaikan kebutuhan  metabolisme yang meningkat dalam bobot tubuh. Obesitas juga meningkatkan peluang Anda untuk menderita diabetes dan tekanan darah tinggi, dua faktor risiko utama ginjal. Menurunkan berat badan dapat membantu mengurangi risiko tersebut.

4. Berhenti Merokok 
Merokok dapat memperburuk sakit ginjal dan penyakit yang merusak ginjal, seperti diabetes dan tekanan darah tinggi.  Berhenti merokok mungkin tidak enteng, tapi adalah salah satu perubahan gaya hidup yang paling penting untuk melindungi ginjal dan berdampak pada kesehatan secara keseluruhan.

5. Olahraga dan Jaga Makanan
Karena kerusakan ginjal biasanya terjadi secara perlahan, keputusan-keputusan harian dapat membuat perbedaan dalam mencegah sakit ginjal. Membuat pilihan-pilihan yang baik setiap hari, seperti olahraga dan menyantap makanan sehat akan mengurangi risiko sakit ginjal. Mengasup makanan yang ramah ginjal dan mencegah tekanan darah tinggi dapat jadi pilihan untuk kesehatan ginjal. Kurangi garam dan perhatikan kadar sodium tinggi dalam makanan olahan, yang dapat menyebabkan tekanan darah tinggi dan merusak ginjal.

6. Hati-Hati Minum Obat  
Banyak resep dan obat-obatan, termasuk obat nyeri, disaring oleh ginjal. Artinya, ginjal akan mengurai obat tersebut dan  mengeluarkan obat itu dari tubuh. Selalu perhatikan label sehingga Anda tahu risiko dan manfaat obat yang Anda gunakan. Hindari penggunaan berlebihan obat yang dapat membahayakan ginjal, seperti ibuprofen dan naproxen.

Sumber : FoxNews.com

05
Mar
14

Kepahlawanan : Seabad RM Djajeng Pratomo

Dia berkampanye memperjuangkan kemerdekaan Indonesia, bergerilya-kota melawan Nazi-Jerman, serta membela kemerdekaaan Indonesia saat agresi Belanda.

OLEH: ABOEPRIJADI SANTOSO, KONTRIBUTOR/AMSTERDAM
Dibaca: 2505 | Dimuat: 24 Februari 2014

RADEN Mas Djajeng Pratomo genap seabad pada 22 Februari 2014. Hidup mandiri di apartemen di desa ‘t Zand di ujung utara Belanda, Djajeng lama tersisih dari perhatian media di Belanda maupun Indonesia.

Dia lahir di Bagan Siapi-api, kota pasar ikan di pantai timur Sumatra, putra sulung Dr Djajengpratomo dari Pakualaman Yogyakarta.

Ayahnya, Djajengpratomo, mengenyam sekolah kedokteran yang diperuntukkan bagi kaum ningrat, STOVIA, di Batavia. Dia salah satu alumnus pertamanya. Asal-usulnya yang memberinya privilese pendidikan itulah yang justru membuat dirinya insyaf akan status diri dan patrianya sebagai bagian dari sistem negeri jajahan. Ini melahirkan aspirasi kebangsaan dan mendorongnya ikut gerakan nasionalis pimpinan Dr Soetomo.

Djajengpratomo mempelopori pelayanan kesehatan di klinik di Bagan Siapi-api. Berkat perannya –dia mahir berbahasa Tionghoa untuk melayani mayoritas penduduk yang asal Tionghoa– namanya diabadikan pada rumahsakit lokal: RSUD Dr Pratomo.

Djajeng Pratomo –semula namanya Amirool Koesno, kemudian digantinya dengan nama ayahnya– bernasib hampir serupa. Seperti ayahnya, privilese yang memungkinkannya masuk sekolah menengah Koning Willem II School di Batavia membuat dirinya sadar sebagai anak jajahan. Menyusul adiknya, Gondho Pratomo, Djajeng pada 1935 bertolak ke Belanda untuk melanjutkan studi kedokteran di Leiden.

Justru di Belanda Djajeng menemukan budaya aslinya. Dia menggemari, mempelajari, dan mementaskan tari Jawa melalui kelompok seni tari De Insulinde.

Tahun 1930-an adalah tahun krisis. Naziisme-Hitler berkuasa di Jerman dan mengguncang Eropa. Djajeng menjadi anggota Perhimpunan Indonesia (PI), sebuah klub sosial mahasiswa Indonesia di Belanda yang didirikan pada 1922 dan kemudian berkembang jadi organ politik kebangsaan yang gigih melawan kekuatan fasis. (Baca: Perhimpunan Indonesia, Wahana Perjuangan)

Nama Djajeng tak terpisahkan dari Stijntje ‘Stennie’ Gret, gadis Schiedam yang dijumpainya di sebuah toko buku pada 1937. Stennie meminati perkembangan di Hindia dan tertarik pada seni tari Jawa. Bersama Djajeng, yang kemudian jadi suaminya, keduanya menjadi mitra di bidang budaya sekaligus sekutu politik.

Dasawarsa 1930-an merupakan hari-hari bahagia mereka. Dua sejoli ini sering menikmati pergelaran jazz di teater prestisius Pschorr di Coolsingel, Rotterdam, dan De Insulinde mementaskan tarian Jawa oleh Djajeng di Koloniaal Instituut van de Tropen di Amsterdam. Di mana ada Djajeng, di situ ada Stennie. Juga ketika De Insulinde mementaskan tari di London untuk menghimpun dana guna membantu Tiongkok yang kala itu diduduki tentara Jepang.

Tahun 1940-an menjadi masa bergolak yang penuh tragik. Di bawah pendudukan Nazi, PI jadi ilegal. Polisi Jerman memburu para aktivisnya. Pada 1943 Djajeng dan Stennie ditahan di kamp Vught. Tahun berikutnya mereka dikirim ke kamp maut Nazi di Ravenbruck dan Dachau di Jerman.

“Di Dachau,” Djajeng berkisah, “saya melihat tumpukan mayat setiap hari.” Sebagai tenaga kerja paksa untuk pabrik pesawat terbang Messerschmitt, setiap hari dia menyaksikan orang digantung mati. Jika ada peluang, Djajeng mencoba menyelamatkan tawanan, tutur salah seorang yang diselamatkannya. Sementara di kamp Ravenbruck, Stennie mencat-hitam rambut para tawanan perempuan agar tampak muda ketika penguasa kamp memerintahkan untuk membinasakan para tawanan jompo.

Selamat dari derita kamp, Djajeng dan Stennie dibebaskan tentara Sekutu namun baru bertemu kembali pada September 1945, sebulan setelah proklamasi kemerdekaan Indonesia. Mereka lalu menikah sebagai warga negara Indonesia pada Februari 1946 dan melanjutkan pekerjaan politik untuk membela kemerdekaan Indonesia.

Ketika Belanda melancarkan agresi militer I pada Juli 1947, PI menggelar protes massal di Concertgebouw, Amsterdam. Kampanye membela kemerdekaan Indonesia membawa mereka ke Eropa Timur. Di Praha, Djajeng dan kawan-kawannya turun ke jalan dan dengan bangga mengibarkan bendera Merah-Putih ketika dia memimpin delegasi Indonesia di World Federation of Democratic Youth. Kampanye itu bahkan berlanjut sampai Serajewo dan kota kota lain di Yugoslavia. Kembali ke Belanda, mereka bergerak di bawah tanah selagi pecah perang kemerdekaan di Indonesia.

Djajeng dan Stennie dua kali berencana pulang ke Indonesia, namun membatalkannya. Kali pertama karena agresi militer I dan kali kedua karena terjadi pembantaian 1965-1966. Lalu, dengan alasan pragmatis, mereka beralih ke kewarganegaraan Belanda pada 1975. Akhirnya, setelah kurun enam dasawarsa, Djajeng dan Stennie sempat menginjakkan kaki di Indonesia.

Kembali di Belanda, Djajeng tetap aktif politik di front internasional, dan baru berhenti ketika Stennie jatuh sakit dan meninggal pada 2010.

Djajeng, Stennie, dan kamerad-kameradnya tergolong generasi yang meyakini bahwa sejarah selalu bergerak maju. Dengan begitu mereka merumuskan idealisme dan kekuatan politiknya berdasarkan solidaritas internasional. Kini mereka hidup di dunia yang telah berubah radikal. Namun perubahan itu tidaklah seperti yang mereka bayangkan dan proyeksikan.

Meski begitu, Djajeng tak merasa kecewa. Dia masih mencintai Indonesia, dengan seni tari, musik gamelan, serta kulinernya. Djajeng kini tak mampu lagi berbahasa Indonesia. Namun, dengan semangat internasionalnya, idealisme kepatriotan dan aksi-aksi perjuangannya, Djajeng Pratomo adalah salah satu patriot istimewa Indonesia.

*) Dengan terima kasih atas perantaraan Ny. Marjati Pratomo

++++

http://historia.co.id/artikel/modern/1345/Majalah-Historia/Perhimpunan_Indonesia,_Wahana_Perjuangan

SEABAD RM DJAJENG PRATOMO

Perhimpunan Indonesia, Wahana Perjuangan

Perkumpulan anak bangsa pertama di Negeri Belanda yang memakai nama Indonesia.

image
OLEH: ABOEPRIJADI SANTOSO, KONTRIBUTOR/AMSTERDAM
Dibaca: 953 | Dimuat: 24 Februari 2014

PERHIMPUNAN Indonesia (PI) menempati posisi unik dalam sejarah. Ia adalah perkumpulan anak bangsa yang pertama kali menyandang nama Indonesia untuk menunjukkan aspirasi kemerdekaan.

PI (1924), semula bernama Indische Vereeniging dan didirikan pada 1908, mulanya perkumpulan mahasiswa biasa. Namun ia berubah jadi radikal sejak Nazi-Hitler berkuasa di Jerman pada 1933, kemudian menggetarkan Eropa, dan menduduki Belanda pada 1940. PI berkembang menjadi organ politik yang gigih dan efektif. Ia menggalang mahasiswa-mahasiswa Indonesia agar bersatu melawan fasisme.

Sepanjang kurun menuju 1940, mereka bersekutu dengan kelompok-kelompok perlawanan Belanda di sekitar media Vrij Nederland,De WaarheidHet Parool, dan De Vrije Katheder, membantu mencetak koran-koran tersebut secara ilegal, karena mereka bertekad menempatkan perjuangan melawan fasisme sebagai agenda utama.

Pada akhir 1930-an hingga 1940-an, PI aktif dalam kegiatan politik kaum perlawanan anti-Nazi: mengerahkan, merekrut, dan mengorganisasi sesama mahasiswa, menyebarkan pamflet, serta melindungi dan menyembunyikan orang-orang yang menjadi sasaran Nazi –kaum Yahudi dan lain-lain.

Dalam edisi khusus Jubileum (HUT ke-30) majalah Indonesia Merdeka, pimpinan PI menyatakan: “Agresi fasis tahun-tahun belakangan ini mengancam Belanda maupun Indonesia. (Dalam kondisi itu) kerjasama antara rakyat Indonesia dengan gerakan nasionalnya dan Belanda yang demokratis, atas dasar kesetaraan dan saling-menghargai, merupakan satu-satunya jalan untuk membebaskan kedua rakyat negeri tersebut dari bahaya yang mengancam mereka. (Karena) rakyat tidak dapat memenuhi kewajibannya tanpa adanya hak-hak demokratis mereka, maka Perhimpunan Indonesia bercita-cita menuju perombakan yang demokratis berdasarkan kesetaraan di bidang ekonomi, politik dan militer.”

Jadi, PI memandang kerjasama kedua bangsa dan rakyat (Belanda dan Indonesia) sebagai kerjasama “menyelamatkan kemanusiaan” dari kekejaman Nazi. Dengan demikian, PI menunjuk bahwa tujuan “Indonesia merdeka” hanya dapat dicapai dengan memerangi fasisme. Namun seruan Perhimpunan Indonesia mengenai kerjasama itu ditampik begitu saja oleh pemerintah Belanda.

Maka, bagi PI, masalah yang utama adalah menyadarkan sesama Indonesia di Belanda maupun di Indonesia agar terlibat dalam perjuangan melawan fasisme. Seruan ini bukan hanya ditujukan kepada para mahasiswa Indonesia yang kebanyakan berada di Leiden, kota yang menjadi markas PI, tetapi juga pelaut-pelaut Indonesia yang bekerja pada perusahaan-perusahaan kapal Belanda di Rotterdam. Akibat pendudukan Jerman, pekerja Indonesia di perusahaan Rotterdamse Lloyd menganggur dan mereka inilah yang mendapat penyuluhan politik oleh para mahasiswa dari PI cabang Rotterdam.

Paling kurang lima anggota PI menjadi korban Nazi: Djajeng dan adiknya, Gondho, jadi pekerja-paksa di kamp Dachau meski akhirnya selamat; tiga orang tewas di kamp; dan Irawan Surjono tewas ditembak polisi Nazi (SS) ketika mengangkut pamflet di Leiden.

Sementara itu, PI juga cemas akan simpati yang berkembang di Indonesia terhadap peran Jepang. Menurut pimpinan PI, rakyat Indonesia harus menyadari bahwa industrialisasi yang dijalankan Jepang berarti pula ekspansi kekuatan fasis ke selatan, termasuk Indonesia.

Karena itu, isu tentang hubungan Sukarno dengan tentara pendudukan Jepang menimbulkan dilema. Djajeng dalam hal ini masih mempercayai Sukarno, karena dia menyadari bahwa Belanda berkepentingan untuk mendiskreditkan pemimpin Indonesia sebagai “boneka Jepang”.

Ketika Indonesia memproklamasikan kemerdekaan, PI memutuskan bahwa sebagian besar anggotanya kembali ke tanah air; belakangan sebagian dari mereka tewas menyusul Peristiwa Madiun (1948). Sebagian lainnya, termasuk Djajeng, tetap berada di Belanda untuk memimpin majalah PI, yang berganti nama menjadi Indonesie, dan melanjutkan kegiatan politik. Djajeng sempat bertugas mewakili Kementerian Penerangan Republik Indonesia di Belanda.

Dengan riwayatnya yang heroik sekaligus bersetiakawan internasional, perjalanan PI selaku wahana politik Indonesia mencerminkan sebuah era yang sarat perubahan dan tantangan fundamental –bagi Eropa maupun bagi Indonesia sebagai suatu bangsa baru.

Sabtu, 01 Maret 2014 | 11:40 WIB

Kisah Djajeng Pratomo di Kamp Nazi ( Bagian 1 )

TEMPO.CO, Amsterdam, Belanda – Perlawanan terhadap fasisme Jerman pada 1940-an melibatkan beberapa aktivis Perhimpunan Indonesia di Belanda. Mereka saat itu juga memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Salah seorang aktivis itu bernama Djajeng Pratomo. Ia tinggal di Belanda. Djajeng pernah ditahan di kamp konsentrasi Nazi di Dachau, Muenchen. Kamp Dachau disebut-sebut kamp konsentrasi Nazi yang paling kejam dan banal.

Di kamp ini terdapat banyak fasilitas penyiksaan seperti ruang gas, rumah krematorium dengan tungku pembakaran mayat dan alat siksa beraliran listrik. Ribuan mayat ditumpuk tiap hari sehingga orang harus menggunakan tangga untuk meletakkan mayat di bagian teratas.

Djajeng pada 22 Februari lalu merayakan ulang tahunnya yang ke-100. Di usianya yang seabad itu, Lea Pamungkas dari Tempo menggali kisah aktivitasnya di Perhimpunan Indonesia dan bagaimana ia bertahan untuk hidup di Kamp Konsetrasi Dachau. Berikut tulisan pertama dari lima tulisan yang disajikan disini.

Nama Djajeng tak dikenal dalam sejarah Indonesia. Tapi dia salah satu saksi hidup perjuangan kemerdekaan Republik Indonesia tapi juga saksi hidup kekejaman tentara Nazi.

Djajeng lahir di Bagansiapiapi, Sumatera Utara pada 22 Februari 1914. Anak Pasangan Raden Mas Pratomo- Raden Pratomo dan Raden Sujatilah. Lahir dengan nama Amirool Koesno. Ayahnya keturunan Keraton Pakualaman Yogyakarta.

Dialah lulusan pertama dokter Jawa dari sekolah bergengsi School toto Opleiding van Inlandsche Artsen-STOVIA, sebuah pendidikan untuk Dokter Pribumi. Dr Pratomo pindah ke Bagansiapiapi untuk memimpin sebuah poliklinik pada 1911 hingga meninggal pada 1939. Namannya diabadikan untuk nama rumah sakit umum daerah di Jalan Pahlawan Nomor 13, Kabupaten Rokan Hilir, Riau.

Amirool kecil pindah ke Medan pada usia 7 tahun untuk masuk sekolah dasar. Dia meneruskan sekolah menengah di Yogyakarta dan HBS di Koning Willem School, Jakarta. Semua siswa dan gurunya Belanda tulen atau Indo. “Seingat saya hanya ada satu guru Indo,” ujarnya.

Setelah lulus dia meneruskan pendidikan ke Medische School, sekolah kedokteran di Belanda dan sang ayah mengirimnya ke Leiden. Adiknya, terlebih dulu sudah sampai di Belanda. Hanya setahun di Leiden, dia pindah ke Economische Hogeschool-sekolah tinggi ekonomi di Rotterdam. Adiknya pun mengikuti jejaknya pada 1940.

Sabtu, 01 Maret 2014 | 15:43 WIB

Ketika Djajeng Pratomo Ketemu Gret (2)

TEMPO.CO, Jakarta -Perlawanan terhadap fasisme Jerman pada 1940-an melibatkan beberapa aktivis Perhimpunan Indonesia di Belanda. Mereka saat itu juga memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Salah seorang aktivis itu bernama Djajeng Pratomo. Ia tinggal di Belanda. Djajeng pernah ditahan di kamp konsentrasi Nazi di Dachau, Muenchen. Kamp Dachau disebut-sebut kamp konsentrasi Nazi yang paling kejam dan banal.  (Baca: Kisah Djajeng Pratomo di Kamp Nazi ( Bagian 1 )

Di kamp ini terdapat banyak fasilitas penyiksaan seperti ruang gas, rumah krematorium dengan tungku pembakaran mayat dan alat siksa beraliran listrik. Ribuan mayat ditumpuk tiap hari sehingga orang harus menggunakan tangga untuk meletakkan mayat di bagian teratas.

Djajeng pada 22 Februari lalu merayakan ulang tahunnya yang ke-100. Di usianya yang seabad itu, Lea Pamungkas dari Tempo menggali kisah aktivitasnya di Perhimpunan Indonesia dan bagaimana ia bertahan untuk hidup di Kamp Konsetrasi Dachau. Berikut tulisan kedua dari lima tulisan yang disajikan disini.

Satu hari di toko buku di Rotterdam, Belanda, sepasang mata Djajeng tertarik pada satu sosok gadis yang sedang melihat buku-buku tentang Indonesia. “Kami berdiri bersebelahan di depan etalase yang dipenuhi buku tentang Indonesia,” kata Djajeng. (Baca: Djajeng, Pintar Menari (Bagian 3)

Saat gadis itu berlalu dari toko buku itu, Djajeng  mengikuti hingga jembatan dan mengajak berkenalan. Stintje Gret yang saat itu berusia 18 tahun, menyambut perkenalan itu. Stennie, sapaan untuk Stintje Gret,  adalah penari balet dan tertarik pada tarian Jawa. Setelah pertemuan itu, hubungan keduanya semakin erat sebagai sepasang kekasih.

Aktivitas Djajeng memperjuangkan kemerdekaan Indonesia mendapat simpati dari koran Partai Komunis Belanda De Waarheid. Stennie mendukung perjuangan Djajeng. Namun, tidak mudah bagi Djajeng dalam menjalankan aktivitasnya. Untuk mengurangi resiko atas aktivitas bawah tanahnya, Djajeng dipindahkan ke Den Haag.

Sayangnya alamatnya diketahui Sicherheits Dienst atau tentara Nazi setelah menangkap Stennie sebelumnya. Rumah Djajeng digerebek pada 18 Januari 1943. Djajeng dan rekannya, Moen Soendaroe ditangkap dan dijebloskan ke Kamp Konsentrasi Vught di Belanda Bagian Selatan.

Djajeng kemudian dipindahkan  ke Dachau, Moen ke Kamp Neuengamme di Hamburg.  Stennie ditahan di Vught lalu dipindah ke Kamp Ravensbruck. Tak lama kemudian Stennie dibebaskan. Begitu juga dengan Djajeng.

Djajeng kemudian menjadi Pemimpin Redaksi Indonesia, sementara Stennie membentuk sebuah komite melawan pendudukan Belanda atas Indonesia. Dia tetap tinggal di Belanda dan diperbantukan di Kementerian Penerangan. Mereka berdua banyak terlibat dalam demonstrasi melawan pengiriman pasukan Belanda ke Indonesia.

Pada 1947, keduanya menghadiri Wereldjeugfestival, Festival Pemuda Sedunia, di Praha. Mereka membawa bendera Indonesia yang baru dua tahun merdeka .Mereka pun melanjutkan perjalanan diplomasi budaya ke beberapa kota di Yugoslavia.

LEA PAMUNGKAS | DIAN YULIASTUTI

Baca Kisah Djajeng Pratama lainnya
Kisah Djajeng Pratomo di Kamp Nazi ( Bagian 1 )  
Kisah Djajeng Pratomo dengan Gret (Bagian 2)
Djajeng, Pintar Menari (Bagian 3)  
Tahanan 69053 Pengangkut Mayat (Bagian 4)
Cara Djajeng Menyelamatkan Diri (Bagian 5) 

Sabtu, 01 Maret 2014 | 16:38 WIB

Djajeng, Pintar Menari (Bagian 3)

TEMPO.CO, Jakarta -Perlawanan terhadap fasisme Jerman pada 1940-an melibatkan beberapa aktivis Perhimpunan Indonesia di Belanda. Mereka saat itu juga memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Salah seorang aktivis itu bernama Djajeng Pratomo. Ia tinggal di Belanda. Djajeng pernah ditahan di kamp konsentrasi Nazi di Dachau, Muenchen. Kamp Dachau disebut-sebut kamp konsentrasi Nazi yang paling kejam dan banal.

Di kamp ini terdapat banyak fasilitas penyiksaan seperti ruang gas, rumah krematorium dengan tungku pembakaran mayat dan alat siksa beraliran listrik. Ribuan mayat ditumpuk tiap hari sehingga orang harus menggunakan tangga untuk meletakkan mayat di bagian teratas.

Djajeng pada 22 Februari lalu merayakan ulang tahunnya yang ke-100. Di usianya yang seabad itu, Lea Pamungkas dari Tempo menggali kisah aktivitasnya di Perhimpunan Indonesia dan bagaimana ia bertahan untuk hidup di Kamp Konsetrasi Dachau. Berikut tulisan ketiga dari lima tulisan yang disajikan disini. (Baca: Kisah Djajeng Pratomo di Kamp Nazi ( Bagian 1 ) 

Dibalik aktivitas politik yang penuh resiko, Djajeng Pratomo punya bakat seni yang baik. Ia pandai menari dan bergamin gamelan. “Saya juga main musik keroncong,” kata Djajeng. Ia mengatakan semua bakat seninya diasah sejak tinggal di Belanda.

Mantan pemimpin Redaksi Indonesia yang aktif mensosialisasikan kemerdekaan Indonesia di Eropa bercerita keterlibatannya di Perhimpunan Indonesia justru berawal dari kegiatan seni. Dia menari dan menabuh gamelan di kelompok musik Insulinde milik Kaoem Muda Indonesia- organisasi pekerja Indonesia di Belanda.Pendapatan dari Insulinde ini menyumbang banyak untuk kegiatan Perhimpunan Indonesia.

Djajeng sering terlibat program Roekoen Peladjar Indonesia. Organisasi ini bekerja sama dengan para pekerja kapal, pekerja restoran bahkan para jongos dan babu asal Indonesia. (Baca: Sejoli Berjuang untuk Indonesia (Bagian 2)

Bersama Roekoen Pelajar Indonesia, Djajeng  memamerkan tarian di London, Inggris, pada 1939. Kegiatan ini untuk mendanai rakyat Cina melawan fasisme Jepang. Mereka juga dikontrak Institut Kolonial-cikal bakalah Yayasan Tropen. Penontonnya bisa menembus angka seribu. Acara seni yang mereka gelar dapat  menghasilkan pendapatan yang lumayan besar hingga institut itu mendapat keuntungan 500 gulden.

Setelah Jerman berkuasa di Belanda,  Djajeng terus bergerak dengan menyebarkan penerbitan bawah tanah.Sedangkan aktivitas  Insulinde terpaksa dihentikan.

 

Djajeng dan Tahanan 69053 Pengangkut Mayat (4)

TEMPO.CO, Jakarta -Perlawanan terhadap fasisme Jerman pada 1940-an melibatkan beberapa aktivis Perhimpunan Indonesia di Belanda. Mereka saat itu juga memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Salah seorang aktivis itu bernama Djajeng Pratomo Ia tinggal di Belanda. Djajeng pernah ditahan di kamp konsentrasi Nazi di Dachau, Muenchen. Kamp Dachau disebut-sebut kamp konsentrasi Nazi yang paling kejam dan banal.   (baca: Kisah Djajeng Pratomo di Kamp Nazi ( 1 )  )

Kepada Lea Pamungkas dari Tempo, ia  berkisah aktivitasnya di Perhimpunan Indonesia dan bagaimana ia bertahan untuk hidup di Kamp Konsentrasi Dachau. Berikut tulisan keempat dari lima tulisan yang disajikan disini.

Pada 18 Januari 1943, rumah Djajeng Pratomo dan rekannya sesama mahasiswa Moen Soendaroe digerebek oleh Sicherheits Dients (tentara Nazi). Kekasihnya Stintje Gret atau Stennie sudah lebih dulu ditangkap. Djajeng diangkut dengan truk ke  Kamp Vaught. Ia  kemudian dijebloskan ke  Kamp Konsentrasi Dachau. Saat itu musim dingin mengamuk menebarkan dingin yang menggigit tulang. 

Djajeng tahanan Kamp Dachau bernomor 69053. Di kamp, Djajeng tak hanya menjalani kerja paksa, tapi juga dipaksa melihat cara Tentara Nazi-Schutztaffel (SS)–Satuan Keamanan Nazi–menggantung para tahanan. Sejak didirikan pada 1933, kamp ini dipakai sebagai sarana proyek pelatihan mental tentara SS untuk menjadi SS-Totenkopverbände (SS-TV) atau Satuan Tengkorak. “Saya diwajibkan bekerja di pabrik pesawat terbang Messerschmit, tapi kemudian saya dipindah ke bagian lain,” ujarnya tentang pekerjaannya di kamp. 

Djajeng yang berlatar belakang pendidikan ilmu kedokteran  dijadikan perawat para tahanan di Blok 7 bagian barak rumah sakit. Barak-barak kayu dibikin panjang berjajar tanpa pemanas ruangan. Setiap kali masuk barak, para tahanan diharuskan bertelanjang kaki.

Di dalam kamp ini, tak kurang dari 200 ribu orang dari pelbagai penjuru Eropa pernah ditahan–31 ribu di antaranya tewas. Dari 2.068 orang yang berasal dari Belanda, 477 orang di antaranya meninggal.(baca:Kisah Djajeng Pratomo dengan Gret (Bagian 2))

Bersama seorang dokter dari Perancis, Djajeng menangani para tahanan yang terkena penyakit menular. Ketika epidemi tifus terjadi, awalnya hanya Blok 7 yang digunakan untuk merawat para pasien. Namun, saking banyaknya orang yang sakit, akhirnya barak-barak lain pun digunakan. “Kami betul-betul kepayahan,” ujarnya. Untunglah datang seorang dokter lain yang sangat berpengalaman dengan penyakit tifus, Dr Kovalenko. Kovalenko adalah dokter tentara Rusia yang menjadi tawanan.

Selain merawat tahanan, Djajeng juga harus mengangkut mayat ke totenkamer, kamar mayat. Djajeng melakukan bersama seorang pemuda Rusia berusia 15 tahun. Setiap hari semakin banyak yang diangkut.“ Kami harus terus mengangkat mayat itu satu per satu. Akhirnya kami terpaksa menumpuknya di jalanan,” ujarnya. “Tumpukan mayat itu  semakin hari semakin tinggi. Sampai-sampai kami harus memakai tangga.”

Mayat-mayat tersebut kemudian dibawa untuk dibakar di krematorium yang letaknya terpencil dari lokasi barak dan sel tahanan. Tubuh-tubuh itu dibakar di atas tungku dengan cerobong asap yang tidak pernah berhenti mengepulkan bau manusia. Di lokasi tersebut dibangun juga kamar gas yang digunakan untuk mengeksekusi para tahanan secara massal. Mereka juga mati karena menjadi korban kelinci percobaan dari pelbagai penelitian bakteri para ilmuwan Nazi dan korban latihan tembak Tentara SS-TV.

DIAN YULIASTUTI

Berita Terkait:
Kisah Djajeng Pratomo di Kamp Nazi ( Bagian 1 )
Sejoli Berjuang untuk Indonesia (Bagian 2)
Djajeng, Pintar Menari (Bagian 3)

 

http://m.tempo.co/read/news/2014/03/01/117558612/Cara-Djajeng–Selamatkan-Diri-dari-Kamp-Nazi—5

 

Sabtu, 01 Maret 2014 | 18:08 WIB

Cara Djajeng Selamatkan Diri dari Kamp Nazi ( 5)

TEMPO.CO, Jakarta –Perlawanan terhadap fasisme Jerman pada 1940-an melibatkan beberapa aktivis Perhimpunan Indonesia di Belanda. Mereka saat itu juga memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Salah seorang aktivis itu bernama Djajeng Pratomo. Ia tinggal di Belanda. Djajeng pernah ditahan di kamp konsentrasi Nazi di Dachau, Muenchen. Kamp Dachau disebut-sebut kamp konsentrasi Nazi yang paling kejam dan banal. (baca: Kisah Djajeng Pratomo di Kamp Nazi ( Bagian 1 ) )

Djajeng pada 22 Februari lalu merayakan ulang tahunnya yang ke-100. Di usianya yang seabad itu, Lea Pamungkas dari Tempo  menggali kisah aktivitasnya di Perhimpunan Indonesia dan bagaimana ia bertahan untuk hidup di Kamp Konsentrasi Dachau. Berikut bagian terakhir dari tulisan ini.

Tak mudah bagi Djajeng dan para perawat lain bertahan hidup dari eksekusi tentara Nazi. Mereka harus pintar-pintar mencari akal lolos dari maut. Djajeng memanipulasi nomor kartu identitas tahanan miliknya.Ketika seorang tahanan harus menjalani eksekusi, para perawat akan mengambil nomor kartu identitas yang tergantung di kaki tubuh tahanan yang sudah jadi mayat. Lalu, Djajeng dan teman-teman sesama tahanan menukar kartu identitas mayat dengan kartu identitas mereka.“Jika tentara SS datang, kami serahkan kartu yang sudah ditukar itu dan mengatakan dia sudah mati,” kata Djajeng.(baca: Kisah Djajeng Pratomo dengan Gret (Bagian 2))

Nasib baik berpihak pada Djajeng dan tahanan lainnya. Malam 28 April 1945 terdengar dentuman meriam yang suaranya semakin lama semakin dekat ke arah Kamp Dachau. Djajeng Pratomo mendengar bocoran informasi bahwa 32 ribu orang yang masih berada di kamp Dachau tak boleh seorang pun dibiarkan hidup bila pasukan Amerika datang.

Keesokan harinya, Djajeng bersama sejumlah tahanan lainnya berlari menyelamatkan diri ke lapangan tempat apel meski masih terdengar bunyi tembakan dimana-mana. Tentara Amerika Serikat menyelamatkannya para tahanan termasuk Djajeng.

Belakangan,seorang tahanan Kamp Dachau bernama Mirdamat Seidov asal Baku, Azerbaizan, mencarinya. Pada 1958, Seidov mengirim surat ke Majalah Negeri Sovjet, majalah berbahasa Indonesia di Rusia. Dalam surat yang dimuat pada edisi 22 November 1958 Seidov mengucapkan terima kasih kepada Djajeng yang pernah menyelamatkan hidupnya di Kamp Dachau. (baca: Tahanan 69053 Pengangkut Mayat (Bagian 4))

Ceritanya, pada saat pembebasan para tahanan oleh pasukan Amerika, komite-komite nasional didirikan untuk mencatat para tahanan yang masih hidup. Sedangkan yang sakit masuk ke kamp karatina Palang Merah. Seidov masuk ke kamp karatina. Saat itu,  Djajeng yang fasih berbahasa Inggris ikut dalam komite mengkoordinasi persediaan makanan, obat-obatan, pakaian, dan barang-barang yang dibutuhkan kamp karantina.

Kisah hidupnya itu  masih membekas dalam benak Djajeng.“Sampai hari ini saya masih sering bermimpi buruk dan tiba-tiba terbangun dari tidur.” 

DIAN YULIASTUTI

Baca Kisah Djajeng Pratama lainnya
Kisah Djajeng Pratomo di Kamp Nazi ( Bagian 1 )  
Kisah Djajeng Pratomo dengan Gret (Bagian 2)
Djajeng, Pintar Menari (Bagian 3)  
Tahanan 69053 Pengangkut Mayat (Bagian 4)
Cara Djajeng Menyelamatkan Diri (Bagian 5)

05
Mar
14

Kepemimpinan : 10 Sentilan KPK Soal KUHAP

Sabtu, 01 Maret 2014 | 15:38 WIB

10 Sentilan KPK Soal KUHAP yang Bikin SBY Panas  

TEMPO.CO, Jakarta – Ribut-ribut revisi Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana sampai juga ke radar Istana Kepresidenan. Lewat para pembantunya, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menjamin tak ada niat sedikit pun, baik sebagai pribadi maupun pemimpin pemerintahan, untuk mengebiri kewenangan lembaga penegak hukum, terutama Komisi Pemberantasan Korupsi, lewat revisi undang-undang warisan kolonial Belanda itu.

“Tidak benar ada upaya mendukung pelemahan KPK, begitu pula dengan lembaga lain,” kata juru bicara Presiden, Julian Aldrin Pasha, di kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Rabu, 26 Februari 2014. Menurut Julian, pembahasan revisi KUHAP kini tengah dilangsungkan pemerintah bersama Komisi Hukum DPR di Senayan. “Kami semua sepakat kepada KPK untuk pemberantasan korupsi.”

Soal kritik KPK yang menuding revisi KUHAP melemahkan lembaganya, Menteri Menteri Koordinator Politik, Hukum, dan Keamanan, Djoko Suyanto menyarankan KPK mengajukan keberatan jika ada sejumlah pasal dalam Rancangan Undang-Undang Kitab Undang-Undang Hukum Pidana dan Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana yang dinilai melemahkan kewenangan lembaga antirasuah itu. (Baca: Djoko Suyanto: Tak Usah Menuduh Menyembelih KPK)

“Kalau memang KPK ingin kewenangannya tidak dikebiri, berikan daftar isian masalah kepada pemerintah dan DPR,” kata Djoko, melalui sambungan telepon dengan Tempo, Senin, 24 Februari 2014. Menurut dia, daftar berisi pasal-pasal yang dipermasalahkan KPK ini bisa dibahas secara terbuka di DPR. “Jangan teriak-teriak dan menuduh pihak yang lain itu seolah-olah tidak antikorupsi.” (Baca: Menko Djoko: KPK Jangan Hanya ‘Ngadu’ ke Media Massa)  

Hal senada juga disampaikan Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Amir Syamsuddin. Menurut Amir, tuduhan KPK bahwa revisi KUHAP disponsori kepentingan para koruptor sangat melukai perasaan. “Seandainya itu benar, mereka punya data itu, tidak usah melalui proses hukum, saya wajib meletakkan jabatan hari ini juga, tidak menunggu besok,” kata Amir. “(Revisi) itu usulan puluhan tahun tetapi baru di era saya itu bisa maju.” (Baca: Menteri Amir: Revisi KUHAP Tak Lemahkan KPK)

Berikut ini sejumlah komentar pimpnan KPK yang ditengarai membikin pemerintahan Presiden Yudhoyono kebakaran jenggot: 

1. DIANGGAP MELECEHKAN HAKIM
Wakil Ketua KPK, Busyro Muqoddas, berpendapat revisi KUHP bukan saja menghambat pemberantasan korupsi, tapi juga menghina hakim. Sebab, jika beleid itu disahkan DPR, maka hakim Mahkamah Agung tak bisa lagi menjatuhkan vonis lebih berat ketimbang Pengadilan Tinggi. “Ini penghinaan, pelecehan terhadap independensi hakim,” ujarnya. (Kamis, 27 Februari 2014).

2. DISEBUT MENGGERGAJI KOMUNITAS HAKIM
Busyro berpendapat ketentuan itu bertentangan Prinsip Bangalore yang disusun Perserikatan Bangsa-bangsa, yang menegaskan kemandirian para hakim. Bentuk independensi hakim itu antara lain adanya kewenangan mengubah putusan tingkat di bawahnya jika ada pertimbangan hukum yang keliru. “Ini menggergaji, meluluhlantakkan, penghinaan terhadap komunitas hakim.” (Kamis, 27 Februari 2014).

3. SINDIR KINERJA TAK BERES
Busyro berpendapat naskah akademik beleid itu bersemangat melemahkan secara sistemis lembaga-lembaga khusus negara seperti KPK, Badan Narkotika Nasional, Komisi Nasional Hak Asasi Manusia, Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan, serta Pengadilan Tindak Pidana Korupsi. Padahal, kinerja pemerintah secara umum sering tak beres. “Saya hafal cara kerja pemerintah. Tidak sistemis, saling kontradiktif antarkementerian dan lembaga.” (Kamis, 27 Februari 2014).

4. JANGAN AJAK RAKYAT NEKAT
Langkah pemerintah dan DPR meneruskan pembahasan revisi Kitab Undang-undang Hukum Acara Pidana dinilai sebagai langkah nekat. Wakil Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi Busyro Muqoddas menganggap pemerintah dan DPR sedang mengajari rakyat untuk bersifat nekat. “Kalau ngurus negara dengan semangat nekat, saya enggak tahu ini negara apa,” ujarnya. (Kamis, 27 Februari 2014).

5. ADA AGENDA POLITIK
Busyro menuding Presiden Yudhoyono menunggangi RUU KUHAP untuk kepentingan politiknya. “Kita tahu, kepala pemerintahan ini juga ketua umum partai, sehingga dia pasti punya kepentingan politik dengan RUU ini,” ujarnya. Busyro menuturkan, Julian memang sudah menyatakan Yudhoyono tak berniat melemahkan KPK. “Tapi soal niat atau tidak, yang tahu cuma SBY dan Allah SWT sendiri,” ucapnya. Faktanya, kata Busyro, kini naskah RUU KUHAP dipenuhi pasal-pasal yang bakal menghambat penegakan hukum, termasuk pemberantasan korupsi. (Kamis, 27 Februari 2014).

6. MINTA SBY JANGAN GENGSI
Jika Yudhoyono ingin membuktikan tak ada kepentingan politik di balik kengototan pemerintah meneruskan pembahasan RUU KUHAP, kata Busyro, caranya tak sulit. “Jangan gengsi-gengsian, tarik saja, Anda akan kami back-up sepenuhnya,” tutur Busyro. Jika Presiden tak menarik RUU KUHAP, Yudhoyono dan Partai Demokrat justru bakal mendapat stigma negatif. “Ini tahun terakhirnya menjabat presiden. Kami harap supaya happy ending, khusnul khotimah (berakhir dengan mulia) secara politik.” (Kamis, 27 Februari 2014). 

7. MERAGUKAN KEJUJURAN SBY 
KPK meragukan kejujuran pemerintah dan DPR dalam membahas revisi KUHAP. Setidaknya, meski Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Amir Syamsuddin menjamin keleluasaan KPK untuk menyadap, nyatanya naskah RUU KUHAP pada Pasal 83 malah menunjukkan kewenangan penyadapan itu dipersulit. “Dengan pasal 83 itu, pemerintah terang-benderang mempersulit penyadapan,” ujar Busyro. (Selasa, 25 Februari 2014).

8. SPONSOR PARA KORUPTOR
Komisi Pemberantasan Korupsi mengkhawatirkan pembahasan revisi Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana disusupi kepentingan sponsor yang datand dari kalangan koruptor. Sebab, banyak pasal dalam naskah beleid itu yang bisa melemahkan pemberantasan korupsi. “Masalahnya, kalau revisi KUHAP ini gol, padahal ada masukan dari sponsor koruptor, apa akibatnya?” ujar Wakil Ketua KPK Zulkarnain. (Rabu, 26 Februari 2014).

9. SINDIRAN HAKIM PEMERIKSA
KPK mempertanyakan konsep hakim pemeriksa pendahuluan yang ada dalam naskah revisi Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana. Sebab, posisi hakim tersebut mempersulit penegakan hukum, termasuk pemberantasan korupsi. “Hakim jenis ini makhluk apa?” ujar Busyro. “Bangsa Indonesia kaya nilai-nilai luhur. Aneh, hukum sepenting ini menjiplak Belanda, terkesan tidak mampu memfilter dan asal asing.”

10. BOHONGI PUBLIK LEWAT PENYADAPAN
KPK menilai pemerintah membohongi publik dengan mengklaim naskah revisi KUHAP tetap memungkinkan KPK leluasa menyadap. Padahal, naskah RUU KUHAP pasal 83 menunjukkan kewenangan penyadapan KPK bakal dipersulit. “Ini (hakim pemeriksa) pasti ribet sekali, dan kemungkinan bocornya besar,” ujar Wakil Ketua KPK, Bambang Widjojanto. “Saya mungkin salah memahami, tapi sangat khawatir sekali klaim itu dapat dituduh oleh masyarakat pencari keadilan sebagai menyesatkan dan membohongi publik.” (Selasa, 25 Februari 2014).

BUNGA MANGGIASIH | MUHAMAD RIZKI | LINDA TRIANITA | PRIHANDOKO | BOBBY CHANDRA

05
Mar
14

Kenegarawanan : Peluang Kudeta Konstitusional Pemilu 2014

Rabu, 05-03-2014 18:03

Politik Hukum Adendum UU 42/2008

Penulis :

Surat Pembaca:
Politik Hukum Adendum UU 42/2008

Mencermati tulisan berjudul Peluang Kudeta Konstitusional Pemilu 2014 [Soleman B Ponto, Kepala BAIS TNI 2011-2013], maka menurut akal sehat, semestinya masih ada waktu bagi Lembaga Tinggi Negara yang berkewenangan sebagai pembentuk Undang Undang yaitu Dewan Perwakilan Rakyat RI 2009-2014 untuk menerbitkan Adendum UU 42/2008 tentang Pemilu 2014 Serentak sesuai Putusan Mahkamah Konstitusi RI tanggal 23 Januari 2014 yang lalu guna memberikan kepastian politik hukum konstitusi terbaik sehingga kontroversi dapat diredam dan baik konstituen maupun kontestan Pemilu 2014 dalam suasana bathin berkepastian hukum.

Demikianlah himbauan kami, semoga dapat mendorong terbukanya pintu hati wakil2 rakyat di Senayan untuk bersegera terbitkan Adendum termaksud diatas.

Jakarta, 5 Maret 2014
Pandji R Hadinoto, Dewan Pakar PKPI

Tolak Pemilu Cacat Hukum 2014 !

by Ponco Sulaksono, Ketua Front Nasional UNASKOALISI Masyarakat Sipil mengajukan Pengujian Undang-Undang (UU) Nomor 42 Tahun 2008 tentang Pemilihan Presiden dan Wakil Presiden terhadap UUD 1945 ke Mahkamah Konstitusi (MK). Pokok gugatannya, memohon kepada MK agar mengabulkan permohonannya untuk melakukan pemilihan umum dan pemilihan presiden secara serentak sesuai amanah konstitusi UUD 1945.Pasal 22e ayat 1, 2 dan 3 UUD 1945 menyatakan bahwa pemilu dilaksanakan sekali dalam lima tahun, di mana seharusnya pemilu itu mencakup pemilu untuk memilih anggota DPR, DPRD, DPD dan Pilpres.

Faktanya, di dalam Pasal 3 ayat 4, Pasal 9, Pasal 14 ayat 2 dan Pasal 112 UU Pilpres semua ketentuan itu dilanggar karena memisahkan pelaksanaan pemilu legislatif dengan pilpres.

Pemilu itu dalam UUD 1945 dijelaskan dilakukan lima tahun sekali, artinya secara sekaligus serentak pada hari yang sama, bukan bulan ini diadakan pemilihan DPR, DPRD dan DPD lalu tiga bulan kemudian baru diadakan pemilihan presiden, karena nanti namanya pemilu dua kali dalam waktu lima tahun.

MK kemudian mengabulkan gugatan tersebut bahwa UU pilpres memang bertentangan dengan UUD 1945 tetapi pemberlakuan pemilu serentak dilaksanakan pada pemilu 2019 dengan segala pertimbangannya. Ini merupakan keputusan problematik yg menghasilkan masalah baru.

Artinya pemilu 2014 ini masih berlandaskan kepada UU pilpres tahun 2008 yang MK sendiri telah menyatakan bahwasannya UU tersebut bertentangan dengan UUD 1945. Artinya anggota parlemen dan presiden yang dihasilkan oleh pemilu 2014 cacat hukum dan inkonstitusional.

Atas dasar itu, saya menyerukan kepada seluruh mahasiswa Indonesia bergerak dan menolak perhelatan akbar pemilu 2014. Karena akan menghasilkan anggota parlemen dan presiden yang tidak legitimate yang cacat hukum dan inkonstitusional. Karena mereka dihasilkan melalui pemilu yang masih berlandaskan kepada UU pilpres tahun 2008 yang jelas sudah dinyatakan MK bertentangan dengan UUD 1945.

baca juga :
Peluang Kudeta Konstitusional Pemilu 2014 ==>http://jaringanantikorupsi.blogspot.com/2014/03/medianusantara-peluang-kudeta.html?m=0

Gedung MKRI

Rujukan :

Peluang Kudeta Konstitusional Pemilu 2014

by Soleman B. Ponto, Kepala Badan Intelijen Strategis (Bais) TNI 2011-2013

Pada 23 Januari 2014, Mahkamah Konstitusi (MK) memutuskan bahwa Undang-Undang Nomor 42 Tahun 2008 tentang Pemilihan Umum Presiden dan Wakil Presiden bertentangan dengan Undang-Undang Dasar 1945 serta tidak mempunyai kekuatan hukum yang mengikat. Namun, aneh tapi nyata, undang-undang yang telah dinyatakan bertentangan dengan UUD 1945 dan tidak mempunyai kekuatan hukum yang mengikat itu oleh MK dinyatakan masih dapat dipakai dalam pelaksanaan Pemilu 2014.

Dengan demikian, secara jelas masyarakat Indonesia dapat melihat bahwa pelaksanaan Pemilu 2014, apabila masih menggunakan Undang-Undang Nomor 42/2008, hasilnya inkonstitusional atau tidak berdasarkan UUD 1945. Pihak-pihak yang menang, baik Presiden, Wakil Presiden, maupun anggota DPR, semuanya tidak sah karena menggunakan produk hukum yang bertentangan dengan UUD 1945 dan tidak mempunyai kekuatan hukum yang mengikat.

Akibat inkonstitusional Pemilu 2014, sangat mungkin pihak terkait, baik para pendukung status quo maupun yang kalah, memiliki dasar hukum yang kuat untuk menggugat para pemenang. Dalam kondisi demikian ini, dapat dipastikan akan terjadi dua kubu yang saling klaim kemenangan dan kebenaran. Dua kubu ini berada pada jumlah, wilayah, dan kekuatan politik yang hampir seimbang. Maka yang akan terjadi adalah keadaan chaos, yakni sebuah kondisi yang mengarah ke pemberontakan bersenjata. Chaos bisa terjadi karena alamiah atau bisa pula rekayasa oleh pihak yang mau mengambil atau mendapat keuntungan oleh kondisi ini.

Dalam kondisi chaos inilah, apalagi kalau sudah menjurus ke arah pemberontakan bersenjata, posisi TNI menjadi sangat penting. Dalam sumpah prajurit di hadapan Tuhan, dinyatakan bahwa setiap anggota TNI akan setia kepada pemerintah yang berdasarkan Pancasila dan UUD 1945 serta tunduk kepada hukum. Pasal 7 ayat 2 UU Nomor 34/2004 tentang TNI menyebutkan, “Tugas pokok TNI adalah menegakkan kedaulatan negara, mempertahankan keutuhan wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia yang berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, serta melindungi segenap bangsa dan seluruh tumpah darah Indonesia dari ancaman dan gangguan terhadap keutuhan bangsa dan negara.”

Sudah sangat jelas positioning TNI. Pertama, TNI akan dan harus berpihak kepada pihak yang mendukung pelaksanaan UUD45. Kedua, TNI harus tunduk kepada hukum, sehingga ia harus menjaga keutuhan bangsa. Bila keutuhan bangsa Indonesia terancam oleh chaos, TNI wajib melaksanakan Operasi Militer Selain Perang untuk mengatasi pemberontakan bersenjata, seperti yang tertulis pada pasal 7 ayat 2 titik 2 Undang-Undang No. 34/2004.

Di sisi lain, dari aspek hukum humaniter, pemberontakan bersenjata atau chaos yang mengarah ke perang saudara, karena menggunakan berbagai jenis senjata, masuk kategori konflik bersenjata internal, di mana rezim hukum yang berlaku adalah rezim hukum humaniter. Ini artinya, kekuasaan penuh berada di tangan militer. Dengan demikian, bila hal ini terjadi di Indonesia, kewenangan dan kewajiban untuk bertindak mengatasi chaos berada di tangan TNI.

Bila TNI tidak bertindak, pemimpin TNI (dalam hal ini Panglima) dapat dituntut sebagai pelanggar HAM karena melakukan pembiaran yang dapat mengakibatkan jatuhnya korban. Masih hangat dalam ingatan kita bagaimana para perwira TNI yang bertugas di Timor-Timur dituduh sebagai pelanggar HAM karena melakukan pembiaran sehingga menyebabkan perang saudara setelah jajak pendapat. Apalagi saat ini sangat jelas perintah undang-undang kepada TNI agar menegakkan kedaulatan negara yang berdasarkan UUD 1945 serta menjaga keutuhan bangsa. Dan, yang tidak kalah penting, setiap anggota TNI akan dikutuk Tuhan apabila tidak melaksanakan sumpahnya.

Memang, dalam UU TNI Pasal 17 ayat (1) disebutkan, “(1) Kewenangan dan tanggung jawab pengerahan kekuatan TNI berada pada Presiden.” Juga dalam Pasal 7 ayat 3 disebutkan bahwa ketentuan tentang operasi militer untuk perang maupun selain perang dilaksanakan berdasarkan kebijakan dan keputusan politik negara. Pertanyaan besarnya, bagaimana TNI harus tunduk ketika posisi presiden maupun DPR dianggap tidak berdasarkan UUD 1945?

Dengan demikian, sangatlah jelas keputusan MK–yang membenarkan penggunaan undang-undang yang bertentangan UUD 1945 dan tidak mempunyai kekuatan hukum mengikat dalam Pemilu 2014–akan mengakibatkan chaos, baik terjadi secara alamiah maupun memang dengan sengaja direkayasa oleh pihak-pihak yang diuntungkan. Bila chaos terjadi, terbuka peluang TNI melakukan “kudeta” konstitusional atau kudeta yang diperintah oleh undang-undang.

Nah, supaya hal ini tidak terjadi, pelaksanaan pemilu serentak harus dilaksanakan pada Pemilu 2014 ini. Karena itulah yang konstitusional. Lebih baik tertunda daripada tidak legitimated.

baca juga:

Kesengajaan MK Menunda Sidang Pleno Uji Materi UU Pilpres ==>http://jaringanantikorupsi.blogspot.com/2014/02/medianusantara-kesengajaan-mk-menunda.html?m=0Potensi Krisis Legitimasi Presiden Terpilih Dari Uji UU Pilpres Versi Efendi Ghazali ==>http://jaringanantikorupsi.blogspot.com/2014/02/medianusantara-potensi-krisis.html?m=0Transkrip Lengkap kelanjutan sidang Uji Materi UU Pilpres oleh Prof. Yusril di MK ==> http://jaringanantikorupsi.blogspot.com/2014/02/medianusantara-transkrip-lengkap.html?m=0Yusril: MK itu bukan KPU, MK itu Bukan Tuhan, MK itu Hakim! ==>http://jaringanantikorupsi.blogspot.com/2014/01/medianusantara-yusril-mk-itu-bukan-kpu.html?m=0Menyoal Legitimasi Presiden & Wakil Terpilih Di Mata Hukum ==>http://jaringanantikorupsi.blogspot.com/2014/01/medianusantara-menyoal-legitimasi.html?m=0Putusan MK Adalah Kemenangan Kaum Status Quo & Oligarki Politik ==>http://jaringanantikorupsi.blogspot.com/2014/01/medianusantara-putusan-mk-adalah.html?m=0Keputusan Misterius MK, Pemilu 2014 INKONSTITUSIONAL ==>http://jaringanantikorupsi.blogspot.com/2014/01/medianusantara-keputusan-misterius-mk.html?m=0

Kesengajaan MK Menunda Sidang Pleno Uji Materi UU Pilpres

by @YusrilIhza_MhdPermohonan Uji UU Pilpres yg saya ajukan usai sidang pendahuluan 22 Januari hingga kini MK blm sidang lagi. Saya tidak tahu kapan MK akan buka sidang pleno bahas Uji UU Pilpres yg saya ajukan. Tidak lazim MK menunda sidang pleno begitu lama. Sudah lebih sebulan sesudah sidang pendahulan, pleno blm juga dimulai

MK nampak sengaja menunda2 sidang pleno, sementara Kampanye Pileg akan dimulai 16 Maret bulan depan. Dari segi waktu, kini hampir tidak mungkin permohonan saya akan diputus MK sebelum Kampanye Pileg dimulai 16 Maret mendatang. Itu berarti Pileg dan Pilpres tetap dilaksanakan terpisah. Penyatuan baru dilaksanakan dlm Pemilu 2019. Putusan terhadap uji UU Pilpres yg diajukan Efendi Ghazali dkk yg nampaknya akan diberlakukan. Itu berarti pula bahwa ambang batas atau presidential treshold dlm pencapresan masih akan tetap berlaku. Kalau seperti itu keadaannya, oligarki politik akan terus bertahan, setidaknya sampai 2019

Saya sdh berusaha lakukan perubahan. Kalaupun gagal, apa boleh buat, saya ambil hikmahnya. Sbg akademisi hkm tatanegara maupun sbg aktivis pergerakan, saya sdh berbuat apa yg saya yakini sbg yg terbaik bagi bangsa dan negara. Kalau terjadi sesuatu yg buruk dlm Pemilu kali ini dan jg dlm perjalanan bangsa 5 thn ke depan, semoga saya tdk dipersalahkan. Tugas saya hanyalah mengingatkan dan kewajiban saya adalah berbuat maksimal sesuai kemampuan saya, tdk lebih daripada itu

Semoga yg terbaik jugalah yg terjadi pada bangsa ini, yang makin hari dlm penilaian saya, makin carut marut. Orang seperti saya, mungkin lahir mendahului zaman, tak sesuai bagi zaman seperti sekarang. Demikian twt saya tentang uji UU Pilpres di MK. Tks banyak

baca juga :
Potensi Krisis Legitimasi Presiden Terpilih Dari Uji UU Pilpres Versi Efendi Ghazali ==>http://jaringanantikorupsi.blogspot.com/2014/02/medianusantara-potensi-krisis.html?m=0

03
Mar
14

Militer : Tambahan 20 Ribu Tentara Amerika Serikat di Australia

Waspadai Maksud Terselubung Penambahan 20.000 Tentara AS di Australia


Quote:
Tidak angin tidak ada hujan, AS menambah pasukannya 20.000 ke Darwin, Australia. Sehingga pasukan AS di Darwin menjadi 22.750 orang. Jumlah 22.750 marinir di Darwin itu adalah jumlah resmi yang diumumkan oleh pemerintah AS. Apakah jumlah tidak resminya lebih besar? Mungkin.

Sebelum 2012 pasukan marinir AS di Darwin hanya 250 marinir. Tujuan resmi pemerintah AS terkait 250 marinir itu hanya untuk“kemanusian”. AS tidak pernah sebutkan tujuan kemanusiaan apa persisnya terkait kehadiran 250 marinir tersebut. Juga tidak pernah dipublikasikan aktivitasnya.

alt

Lalu pada 17 Nov 2011 lalu, Presiden AS Barack Obama mengumumkan secara resmi rencana kehadiran pangkalan militer Amerika Serikat di Darwin. Saat ke Australia itu, Obama dan Gillard umumkan bahwa AS akan menambah kekuatannya marinirnya dari 250 jadi 2.500 personel pada 2012. Apa reaksi pemrintah RI ?, Pemerintah mengatakan bahwa AS dan Australia adalah negara sahabat yang tidak mungkin bermaksud jahat terhadap RI.

Pemerintah China yang lokasinya di ujung langit dari Darwin saja protes terhadap AS. “Penempatan pasukan militer yang tak tepat” kata China. Pemerintah AS menanggapi reaksi China dengan mengatakan bahwa kehadiran 2500 marinir AS di Darwin hanya untuk alasan dan tujuan kemanusian.

alt

Alasan dan tujuan kemanusiaan apa? Apakah menambah 20.000 Marinir AS ke Darwin adalah tujuan kemanusian? Yang benar saja!!

AS secara resmi mengatakan bahwa kehadiran 20.000 pasukan tambahan untuk keamanan kawasan! Keamanan “KAWASAN”mana yang dimaksud AS? ASEAN kah? Asia Timur kah? Asia Pasifik kah? Laut China Selatan kah? Australia kah? altalt

Asia Pasifik, Laut China dan Asia Timur jauh di ujung berung. Hanya orang bodoh yang percaya alasan resmi AS itu. Australia bisa jaga kedaulatan negara dan kawasannya sendiri. Pun kalau Australia itu terdesak benar. Mereka tidak akan minta pasukan AS. Seandainya pun Australia terancam dan dia bukan negara yang hebat militernya, Australia TIDAK AKAN PERNAH minta bantuan AS.

Kenapa Australia biarkan 22.750 militer (Marinir lagi) bercokol di Papua? Jawabnya: AS – Aussie punya kepentingan yang sama: PAPUA! Lho bukankah ada resolusi PBB yang mengakui Papua sebagai bagian integral yang sah dari NKRI? 

Lho bukankah Papua sudah ada international recognition via Resolusi Majelis Umum PBB No. 2504/XXIV (1969) yang sahkan Irian Barat jadi NKRI? Resolusi PBB No. 2504/XXIV (1969) itu semudah membalikan telapak tangan mencabutnya dan mengubah dengan Resolusi baru, jika AS menginginkannya.

AS dan Australia punya kepentingan yang sama terhadap Papua: penguasaan kekayaan sumber daya Papua. Pencabutan resolusi PBB yang sahkan Papua sebagai bagian NKRI dengan mudah dibatalkan ketika terjadi pergolakan di Papua.

Jika demi tujuan kemanusiaan atau untuk keamanan kawasan, kenapa yang dikirim AS ke Darwin itu pasukan Marinir ? Anehkan ? Apa FUNGSI MARINIR? Marinir adalah pasukan khusus (Di AS dikenal dengan sebutan Angkatan Ke 4) yang berfungsi sebagai pasukan penyerbu, pendahulu, pembuka jalan. Tugas utama pasukan Marinir bukan untuk PERTAHANAN. Bukan. Tapi sebagai pasukan penyerbu di barisan terdepan untuk buka jalan pasukan lain. 

alt

Bukan sekali ini AS dan sekutunya khianati negara sahabat seperti RI. Sejarahnya panjang.

Ingat, sejarah mencatat bahwa resolusi PBB itu bukan sesuatu yang final. Tidak ada satu pun pengakuan PPB dan Dunia yang final.

Profesor Robin Tennant-Wood dari Universitas Canberra menilai pangkalan militer AS yang permanen di Darwin mengancam Papua sebagai NKRI. Alasan bahwa kehadiran pasukan AS itu akan meningkatkan keamanan Kawasan dan memperkuat aliansi AS-Australia dinilai terlalu “lebay”. Profesor Robin Tennant-Wood malah mengatakan bahwa Pasukan AS yang ancam keutuhan NKRI sebagai risiko besar bagi Australia. RI akan marah.

“Saya welcome saja karena memang diperlukan gerak cepat untuk itu,” ujar SBY menanggapi alasan AS bahwa pasukan Marinir itu untuk kemanusian.

Indonesia mestinya sangat terusik dengan kehadiran pangkalan AS itu. Perairan RI hanya berjarak ratusan kilometer dari pangkalan militer itu. 

Keberatan RI terhadap pangkalan militer di Darwin, bahkan tidak muncul menjadi pernyataan resmi dalam KTT Bali kemaren.

Jika SBY benar-benar jago diplomasi atau mau test hidden agenda AS terhadap Papua gampang saja. Apakah SBY tidak ingin tahu reaksi AS dengan utarakan niat RI yang hendak pindahkan Ibukota RI ke Papua untuk legitimasi kuat NKRI terhadap Papua?

Baca Juga ini Ingin Kuasai Asia, AS Akan Bangun Pangkalan Militer Besar di Asia

03
Mar
14

Lingkungan : Pulau Misteri Baru Terbentuk

res : Gambar di bawah ini mirip gambar pulau baru yang timbul di selatan Turki tahun lalu atau tahun sebelumnya-
R NEGARA

Pulau misteri baru terbentuk

Pandangan dari jauh sebuah pulau misteri yang baru terbentuk di Bekasi, Indonesia. – AGENSI

BEKASI – Sekumpulan nelayan di Jawa Barat gempar setelah menemui sebuah pulau baharu di tengah-tengah laut di perairan Bekasi, Indonesia baru-baru ini.

Menurut laporan berita di laman web Yahoo.com, fenomena aneh itu berlaku apabila satu timbunan tanah didakwa secara tiba-tiba muncul dan membentuk daratan baharu sepanjang dua kilometer dan lebar 15 meter.

Pulau itu terletak dua kilometer dari pinggir pantai kawasan Desa Pantai Sederhana, daerah Muaragembong di sini.

Berikutan penemuan pulau itu, ia kini menjadi kunjungan ramai orang dari kawasan berhampiran yang datang ke pulau tersebut dengan menaiki perahu yang mengambil masa satu jam perjalanan.

Ketua Kampung Muaragembong, Rubci, berkata, fenomena itu pertama kali berlaku di sekitar pantai di utara Bekasi.

Katanya, pulau itu dipercayai terbentuk daripada timbunan tanah yang dibawa air sungai ke laut ekoran kejadian banjir besar yang berlaku di daerah tersebut baru-baru ini.

“Dakwaan itu adalah hanya andaian saya sahaja. Ia belum dibuktikan sah lagi. Adakah benar pulau itu terjadi hasil daripada pasir yang dihanyutkan air,” katanya kepada akhbar Tempo baru-baru ini.

Jelasnya lagi, seluruh permukaan pulau itu terdiri daripada pasir hitam bercampur kerang kecil, malah struktur pulau tersebut terbentang luas dan membentuk garisan melengkung ke arah laut.

Sementara itu, Ketua Kampung di Desa Pantai Sederhana, Karih Nuryanto berkata, kewujudan pulau tersebut masih belum dimaklumkan kepada pihak berkuasa bandar Bekasi.

“Mungkin kami akan buat laporan kepada pihak berkuasa pada minggu hadapan,” ujarnya.

03
Mar
14

Kenegarawanan : Krisis Serius Mentalitas Bangsa Indonesia

Dok / SH

Indonesia mengalami krisis mentalitas bangsa yang sangat serius.

Ketika krisis Asia 1998 terjadi, Korea Selatan (Korsel) bangkit dengan cepat. Itu karena presiden, menteri, pejabat pemerintah, sampai diikuti seluruh rakyatnya menetapkan, memotong separuh gaji mereka demi pemulihan ekonomi bangsa.
Rasa cinta bangsa, memikirkan kepentingan bersama sebagai sesama senasib sebangsa mengakibatkan kerelaan dan tekad yang begitu besar untuk berkorban demi kepentingan dan kebangunan bersama. Inilah patriotisme.
Ketika Jepang mengalami gempa dan tsunami pada 2011, tidak satu pun rumah yang ditinggal mengalami penjarahan. Itu karena setiap orang sadar, ini bencana bangsa. Sangat hina mengambil milik sesama sebangsa yang sedang mengalami kesusahan. Ini menyebabkan Jepang begitu dipuji di mata internasional.
Bagaimana Indonesia? Saya begitu bangga keluar negeri menggunakan batik, kain yang menunjukkan kebangsaan Indonesia. Namun, kebanggaan ini sirna ketika mendarat di Bandara Frankfurt, Jerman. Orang-orang  di bandara tersebut memandang saya dengan pandangan menghina dan marah.
Alasannya, hari itu terjadi tragedi Mei 1998 yang disiarkan ke seluruh dunia. Ketika menyadari yang terjadi, saya sangat malu menjadi bangsa Indonesia. Mengapa bangsaku begitu biadab dan dipertontonkan di depan dunia. Pertanyaan tentang patriotisme pun muncul.
Patriotisme adalah sebuah isu kontroversial, sesuatu yang begitu penting dan sangat berdampak bagi suatu bangsa (JJ Rousseau, M Viroli). Patriotisme bisa juga sesuatu yang menjadi “agama” yang membodohkan bangsa dengan fanatisme (Samuel Johnson, Paul Gomberg). Namun, kita sepakat, jika rakyat tidak lagi bisa mencintai bangsanya, bangsa itu akan hancur dan terhina. Patriotisme harus dilihat dan dimengerti sebagai suatu upaya bangsa meningkatkan kualitas bangsa sehingga menimbulkan kebanggaan atas bangsa sendiri. Tanpa kualitas yang riil dan disadari, sulit bagi suatu masyarakat menghargai bangsanya.
Perjuangan kemerdekaan, ikrar Sumpah Pemuda, mukadimah, dan isi Undang-Undang Dasar (UUD) 1945 sebenarnya memberikan kita segudang modal untuk patriotisme Indonesia. Namun, fakta yang kita hadapi saat ini sangatlah mengenaskan. Para pejabat sibuk menjarah seluruh kekayaan bangsa. Para ekstremis agama memperlakukan saudaranya yang sebangsa sebagai musuh. Para pendidik lebih suka meniru model luar negeri atau lebih memaksakan hal-hal yang tidak esensial dari dalam negeri sendiri, seperti memaksakan mengajarkan bahasa Jawa kepada siswa asal Madura atau siswa dari keluarga Batak, ketimbang mengajak murid mengerti dan mendalami budaya Jawa dan membangun nilai-nilai luhur. Menghilangkan pelajaran bahasa Inggris dianggap sebagai jawaban. Sifat pragmatis dikembangkan, ketimbang membangun konsep cinta bangsa yang serius. Modal mencintai bangsa digerus secara rakus dan sistemik.
Kita dilahirkan dan hidup harus mendarat dan beridentitas jelas. Kegalauan identitas bangsa menyebabkan manusia kehilangan jati dirinya, sekaligus merusak bangsa. Tanpa rasa cinta bangsa, generasi muda Indonesia tidak akan memikirkan secara serius cara bangsa dan negara ini bisa maju. Hal yang dipikirkan adalah bagaimana saya bisa mendapat keuntungan dan bisa “menguras” kekayaan tanah dan bangsa ini bagi kepentingan sendiri dan keluarga. Inilah sifat oportunis yang merupakan dosa laten manusia.
Dampak tergerusnya rasa kebangsaan menyebabkan negeri ini menghina, merusak, dan menghancurkan diri. Kita tidak malu merusak semua properti bangsa, tidak ada rasa sayang bahwa itu menggunakan dana bangsa. Kita tidak sungkan mengotori dan membuang sampah sembarangan. Kita juga tidak sungkan menjarah sesama sebangsa yang sedang dalam kesusahan, menyerobot lampu merah di hadapan semua orang termasuk bangsa asing, dan banyak lagi. Semua ini menunjukkan, kita mengalami krisis mentalitas bangsa yang sangat serius.
Marilah kita membangun rasa cinta bangsa ini dari hal-hal yang esensial. Pertama, menghilangkan semua semangat devide et impera, yang sangat ampuh merusak bangsa. Semua keputusan, perilaku, dan isu yang bersifat memecah-belah dan mendiskriminasi bangsa harus diperangi bersama. Pemerintah harus menjadi penjaga yang menegakkan hukum kebangsaan dengan meniadakan diskriminasi ras, suku, agama, dan gender yang menimbulkan bibit bom pemecah-belah bangsa.
Kedua, tentu kita harus membangun nilai-nilai kebangsaan melalui semua unsur pendidikan. Kebanggaan sebagai bangsa Indonesia harus dibangun dengan dasar dan bukti yang riil, bukan penuh slogan, mimpi, atau janji bohong. Bangunan mentalitas cinta bangsa perlu disadarkan dan dikerjakan. Mark Twain menegaskan, kita harus mencintai negara lebih dari cinta pemerintah. Tuntutan membangun kualitas bangsa membuat kita bangga akan moralitas dan kualitas produksi Indonesia.
Ketiga, moral bangsa yang luhur perlu ditata kembali. Cinta bangsa bukanlah suatu fanatisme naif. Ini merupakan hal yang sulit dilakukan. Cinta bangsa adalah landasan kebudayaan, budaya bangsa adalah dasar dari harkat sebuah bangsa. Rakyat yang kehilangan cinta bangsa adalah rakyat yang sudah tidak lagi menginjakkan kakinya di tanah budayanya. Untuk mencintai bangsa, perlu ada nilai yang bisa dihargai.
Kebangkitan patriotisme bangsa bagi Indonesia belumlah terlambat. Di tengah kegalauan dunia akan diri dan kualitasnya, seharusnya Indonesia bisa bangkit menjadi satu bangsa yang berkualitas. Sebagai contoh, China—dari negara yang begitu terpuruk dengan kemiskinan, moralitas komunis yang begitu rendah, kualitas produksi yang begitu buruk—citranya berubah dengan drastis. Karena itu, mengubah Indonesia tentu tidak sesulit mengubah masyarakat yang begitu besar seperti China.
Tekad yang sungguh, dimulai dari komitmen para pemimpin bangsa, akan dengan cepat didukung seluruh rakyat. Perjuangan para patriot modern, seperti Joko Widodo, Basuki Tjahaja Purnama, Tri Rismaharini, dan semua yang berjuang dan berkorban demi bangsa ini menjadikan Indonesia berubah. Apakah ini hanya sebuah mimpi kosong? Setiap orang dari kita akan menjawabnya.
Penulis adalah pengamat sosial dan pendidikan.

Sumber : Sinar Harapan

res :  Badan besar sedikit amunisi, ibarat  macan ompong lemah syahwat.Winking smile

Jumat, 28 Februari 2014

RI Berpotensi Jadi Kekuatan Besar, Tapi Amunisi Masih Sedikit

Indonesia punya potensi untuk memperkokoh pengaruhnya di arena internasional. Sayangnya, potensi itu masih belum segera diwujudkan lantaran Indonesia belum memiliki instrumen-instrumen yang cukup memadai, seperti masih kecilnya anggaran untuk pembangunan internasional dan pertahanan. Pengaruh Indonesia dalam hubungan internasional sebenarnya terus berkembang. Namun, negara ini belum akan menjadi kekuatan besar dalam jangka pendek dan menengah.

Demikian analisis pengamat Indonesia dari Lowy Institute for International Policy, Dave McRae. Dia menguraikan pengamatannya soal perkembangan dan pengaruh Indonesia dalam hubungan internasional melalui laporan berjudul “More Talk than Walk: Indonesia as a Foreign Policy Actor,” yang dikirim ke VIVAnews hari ini.

Menurut dia, berdasarkan jumlah populasi, lokasi geografi, dan potensi ekonomi, di masa depan Indonesia akan memainkan peran lebih besar dalam hubungan internasional ketimbang saat ini. “Namun, sebenarnya, Indonesia kecil kemungkinan untuk langsung tampil sebagai aktor yang lebih berpengaruh secara signifikan dalam lima tahun ke depan untuk bisa naik dari kelompok negara-negara kelas menengah,” tulis McRae.

“Bila Indonesia ingin mencapai status sebagai kekuatan besar, seperti yang diperkirakan beberapa pengamat, maka baru akan tercapai dalam jangka waktu yang sangat panjang,” lanjut dia.

Dalam analisis setebal 17 halaman itu, McRae menguraikan beberapa elemen yang menjadi potensi dan tantangan Indonesia dalam memperluas pengaruhnya di gelanggang internasional. Selain jumlah penduduk yang besar dan lokasi yang strategis, meningkatnya profil Indonesia di panggung dunia juga berkat kinerja ekonominya yang relatif stabil, rata-rata tumbuh 5,7 persen per tahun dalam satu dekade terakhir.

“Pada 2012 Indonesia tumubuh menjadi ekonomi nomor 16 dunia, naik dari peringkat 27 pada tahun 2000. Pertumbuhan itulah yang membuat Indonesia kini masuk dalam kelompok elit G20,” tulis McRae.

Anggaran Kecil

Namun, raihan itu masih dipandang belum cukup bagi Indonesia untuk melesak jadi kekuatan besar dalam beberapa tahun mendatang. Pengaruhnya masih kecil. Salah satu faktor pertimbangan, Indonesia masih sedikit menyisihkan anggarannya untuk membantu pembangunan di luar negeri.

Menurut perhitungan kelompok negara OECD (Organisasi Kerjasama Ekonomi dan Pembangunan), Indonesia pada 2010 baru mengeluarkan sekitar US$10 juta untuk membantu pembangunan negara-negara tetangga yang masih miskin. Pada tahun yang sama, China menyisihkan sekitar US$2 miliar, Brazil US$500 juta, India US$640 juta dan Afrika Selatan US$118 juta.

Selain itu, menurut McRae, Indonesia belum didukung dukungan militer yang memadai untuk menjadi negara kuat. Meski sudah bertekad membiayai anggaran pertahanan sebesar 1,5 persen dari total Produk Domestik Bruto (GDP), belanja militer Indonesia masih di bawah 1 persen dari GDP.

Anggaran tahunan belanja pertahanan RI pun masih sepertiganya dari Australia dan belum sebanyak Singapura, tulis McRae dengan mengutip angka dari Stockholm Institute for International Peace Research dalam laporan “SIPRI Yearbook 2013: Armaments, Disarmament and International Security.”

Dia juga mengutarakan bahwa kebijakan luar negeri RI akan ditentukan oleh empat faktor. Pertama, Indonesia memproyeksikan citranya sebagai kekuatan besar meski kemampuannya masih tergolong kekuatan menengah. Kedua, Indonesia akan tetap non-blok namun cenderung mendekat ke AS.

Ketiga, ASEAN masih tetap menjadi platform utama bagi Indonesia dalam menyampaikan aspirasi di tingkat kawasan dan internasional. Faktor keempat, lanjut McRae, Indonesia akan lebih aktif dalam menyuarakan isu-isu yang menyangkut umat Muslim ketimbang mendorong kebijakan luar negeri yang Islami.

Terkait Indonesia-Australia, McRae melihat hubungan bilateral kedua negara itu tidak akan seerat seperti yang diperkirakan sebelumnya, apalagi saat kedua pemerintah sedang berseteru soal skandal penyadapan dan kontroversi penanganan pencari suaka atau imigran gelap. “Hubungan Indonesia dengan Australia kecil kemungkinan menjadi prioritas kebijakan luar negeri dalam beberapa tahun mendatang,” lanjut McRae.  (VivaNews)

+++++

Tahun 2014, TNI yang terkuat di Asia Tenggara

Reporter : Yulistyo Pratomo | Kamis, 5 September 2013 12:30

Merdeka.com – Keberhasilan pemerintah dalam pengadaan alat utama sistem pertahanan (alutsista) membuat banyak pihak yakin TNI akan memiliki kekuatan yang cukup memadai. Salah satunya diungkapkan oleh Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro.

Dengan keyakinannya, Purnomo mengatakan pada 2014 mendatang, TNI akan memiliki daya kekuatan yang terbesar di antara negara lain di Asia Tenggara.

“Renstra pertama 2014, kekuatan TNI yang terkuat di Asia Tenggara,” kata Purnomo saat meresmikan dua Kapal Republik Indonesia di Batam, Kamis (5/9), seperti dilansir Antara.

Alasan itu diungkapkannya tercermin dari pengadaan alutsista oleh pemerintah yang melengkapi TNI AL, TNI AU dan TNI AD dengan senjata dan peralatan baru.

Dia menambahkan, ada banyak alutsista yang ditambah untuk ketiga angkatan bersenjata, di antaranya kapal patroli cepat untuk TNI AL, tank leopard untuk TNI AD dan penambahan pesawat sukhoi untuk TNI AU.

“Sukhoi akan diganti semua. Negara kita akan kuat, itu penting,” kata Menteri.

Khusus TNI AD, selain membeli 45 unit tank leopard, pemerintah juga mengadakan 28 unit helikopter dan delapan unit Apache tipe AH-64E. Purnomo menilai, TNI yang kuat memiliki banyak arti, baik bagi dalam negeri maupun luar negeri.

Meski begitu, Purnomo mengatakan penambahan alutsista dan penguatan TNI tidak ada hubungannya dengan pendirian pangkalan militer AS di Singapura dan Australia.

“Ini tidak untuk perlombaan senjata, ini memordernisasi,” katanya.

Di tempat yang sama, Kepala Staf TNI Angkatan Laut (Kasal) Laksamana Madya Marsetio mengatakan, pemerintah merencanakan pembangunan Kapal Cepat Rudal dengan panjang 40 meter sebanyak 16 unit dan kapal patroli cepat sebanyak 16 unit




Blog Stats

  • 2,897,147 hits

Recent Comments

Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Sejarah : Bangsa Lemuria, Lelu…
Ratu Adil - 666 on Sejarah : Bangsa Lemuria, Lelu…

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 144 other followers