Archive Page 76

29
May
13

Ideologi : Ajaran Nasionalisme Bung Karno

Senin, 27 Mei 2013

Soekarno Bukan Pembelah dan Ajaran Nasionalismenya Masih Relevan!

UNTUK MENYONGSONG HARI ULTAH LAHIRNYA PANCASILA DAN BUNG KARNO TAHUN 2013 “INDONESIA BERJUANG” AKAN MENAYANGKAN ARTIKEL-ARTIKEL BERKAITANNYA (3) 

http://indonesiaberjuang-gerpindo.blogspot.nl/2011/07/soekarno-bukan-pembelah-dan-ajaran.html

 

Soekarno Bukan Pembelah dan Ajaran Nasionalismenya Masih Relevan!


BERDIKARI ONLINE, Jumat, 29 Juli 2011 | 6:19 WIB

Opini

Oleh : Rudi Hartono
 

Bung Karno Pidato Di Hadapan Massa Rakyat 

Sebuah tanggapan terhadap tulisan Max Lane, “Soekarno: Pemersatu Atau Pembelah?”
Max Lane, seorang indonesianis dari University of Sydney, Australia, menulis sangat baik tentang Bung Karno dan gagasan-gagasan politiknya. Salah satu tulisannya yang terbaru diberi judul “Soekarno: Pemersatu Atau Pembelah.” 
Artikel itu membongkar satu keyakinan umum orang-orang Indonesia dan sebagian penulis dari luar:Soekarno sebagai tokoh pemersatu. Ternyata, setelah menyelami tulisan Bung Karno yang berjudul “Nasionalisme, Islamisme dan Marxisme”, Max Lane menemukan bahwa Bung Karno juga adalah pembelah.
Selain itu, jika anda tuntas membaca artikel itu, maka pesan utama yang hendak disampaikannya hanya satu hal: nasionalisme sebagai ideologi perlawanan sudah tidak relevan. Alasannya, nasionalisme berseru buat semua elemen bangsa untuk satu kepentingan yang sama, sedangkan fakta menunjukkan bahwa jarang sekali elemen-elemen sebuah bangsa mempunyai kepentingan yang sama: Yang dieksploitasi berkepentingan menghentikan eksploitasinya; yang melakukan eksploitasi berkepentingan meneruskan eksploitasinya. 
Saya tidak setuju dengan kesimpulan itu. Lagi pula, tanpa sebuah elaborasi yang memadai, Max Lane tiba-tiba mengajak kita untuk sampai pada kesimpulan yang masih memerlukan perdebatan panjang. 

‘Membelah Demi Persatuan?’

Salah satu rujukan Max Lane dalam membangun argumentasinya adalah tulisan Bung Karno yang berjudul “Nasionalisme, Islamisme, dan Marxisme”. Menurutnya, orang yang menganggap tulisan itu mengusung persatuan adalah orang yang berfikiran dangkal dan menyesatkan.
Sebaliknya, bagi Max Lane, tulisan “Nasionalisme, Islamisme dan Marxisme” sejatinya adalah tulisan pembelahan, bukan penyatuan. Max menyebut Bung Karno Sukarno ‘membelah demi sebuah persatuan’. Sebuah kalimat yang kontradiktif.
Argumentasi pokok Max Lane, kalau boleh saya sederhanakan, adalah bahwa tulisan Bung Karno itu menuntut setiap golongan (nasionalis, islamis, dan Marxist) untuk memilih: bersatu atau tidak. Hanya saja, lanjut Max, landasan untuk bersatu itu bukan hanya Indonesia Merdeka, tetapi analisa terhadap dan sikap anti-kapitalis.
Artinya: Soekarno mengajak setiap golongan nasionalis, islamis, dan Marxist untuk bersatu atas dasar Indonesia merdeka dan sekaligus anti-kapitalis. 
Di sinilah letak masalahnya: Max Lane terkesan memaksakan bahwa basis persatuan yang dikehendaki Bung Karno adalah persatuan untuk Indonesia merdeka dan sekaligus anti-kapitalisme (asing dan bangsa sendiri).
Ini gampang dijelaskan secara teoritis, tetapi sulit diterapkan dalam aplikasi strategi politiknya. Soekarno berseru untuk persatuan demi pelipatgandaan kekuatan melawan kolonialisme, sedangkan kecenderungan kesimpulan Max adalah politik mengisolasi perjuangan nasional menjadi segelintir “anti-kapitalis”.
Pertanyaannya: Apa mungkin mencapai Indonesia merdeka dengan mengandalkan persatuan segelintir orang, dalam hal ini kalangan anti-kapitalis ansich, untuk melawan musuh dari luar (kolonialis) dan sekaligus musuh dari dalam (feodalisme dan kapitalisme)?

Beberapa Ketidaksetujuan

Menurut saya, ada beberapa kekeliruan mendasar yang dilakukan Max Lane dalam tulisannya.
Pertama, penggunaan kata “pembelah” kurang tepat, sebab istilah itu hampir dekat dengan kata “pecah-belah”, sebuah politik yang dipergunakan kolonialisme untuk menancapkan kukunya selama ratusan tahun di Indonesia.
Kedua, Soekarno dalam tulisan itu memang menganjurkan pemilahan, menyuruh setiap golongan memilih, tetapi pilihannya adalah: bersatu atau terpecah-belah. Di sini, Soekarno mengajak ketiga kekuatan untuk bersatu mencapai Indonesia merdeka. Jelas sekali, sebagaimana juga dalam tulisannya lainnya, Soekarno selalu menekankan perjuangan nasional untuk mencapai Indonesia merdeka. 
Ketiga, Max mengabaikan konteks situasi saat lahirnya tulisan itu. 

Terkait konteks situasi itu, ada beberapa hal yang patut dicatat sebelum kelahiran kelahiran tulisan Bung Karno itu:

Pada jaman itu, di hampir seluruh Asia termasuk Indonesia, tiga kekuatan itu (nasionalis, islamis, dan marxis) tampil menonjol sebagai azas pergerakan melawan kolonialisme. 
Bung Karno sendiri menulis: 

    “….tiga haluan ini dalam suatu negeri jajahan tak guna berseteruan satu sama lain, membuktikan pula, bahwa ketiga gelombang ini bisa bekerja bersama-sama menjadi satu gelombang yang maha-besar dan maha-kuat, satu ombak-taufan yang tak dapat ditahan terjangnya, itulah kewajiban yang kita semua harus memikulnya..”

Tiga kekuatan itu sama-sama dimulutnya anti-kolonialisme, tetapi, pada lapangan politik, ketiganya sulit sekali bersatu. Satu contoh paling maju adalah pembentukan konsentrasi radikal 1918 guna melawan Volksraad. Sekalipun berhasil menyatukan berbagai spectrum politik nasional, termasuk yang moderat sekalipun, tetapi persatuan ini tidak bertahan lama.
Kemudian, Bung Karno juga menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri keretakan dan saling serang di kalangan pergerakan pembebasan nasional itu sendiri. Dalam tahun 1921, di dalam Sarekat Islam (SI), organisasi politik terbesar saat itu, telah terjadi perpecahan yang tak terhindarkan. Para pemimpin sayap kanan (SI putih) telah berhasil memaksa keluar pengikut-pengikutnya yang kiri (SI-merah)—yang sangat dipengaruhi oleh ISDV/PKI.

Pemuda Bung Karno juga menyaksikan bagaimana gurunya, Tjokroaminoto, diserang secara pribadi oleh Haji Misbach, tokoh haji merah yang berfikiran radikal dan anti-kolonial. Dalam kongres PKI itu, pemuda Bung Karno berdiri dan meminta Haji Misbach untuk meminta maaf.

Penekanan Pada Perjuangan Nasional

Pada bagian lainnya tulisannya, Max juga menulis begini: “dengan menyatakan bahwa Indonesia Merdeka adalah prioritas tidak ada pelunturan sedikit pun dengan tekanannya pada diteruskannya propaganda anti-kapitalis.”
Secara sepintas lalu, tidak ada masalah dengan argumen itu. Tapi, ketika diterjunkan ke dalam strategi politik, baik saat itu maupun saat ini, akan tetap muncul masalah; bisakah kita mencapai Indonesia merdeka dan sekaligus merobohkan kapitalisme? Bisakah itu berjalan secara sekaligus?
Soekarno, dalam tulisan “Kapitalisme Bangsa Sendiri”—yang juga dikutip separuhnya saja oleh Max Lane—berkata: 

    “Di dalam karangan saya yang lampau saya katakan, bahwa kita harus anti segala kapitalisme, walaupun kapitalisme bangsa sendiri. Tetapi di situ saya janjikan pula untuk menerangkan, bahwa kita dalam perjuangan kita mengejar Indonesia-merdeka itu tidak pertama-tama mengutamakan perjuangan kelas, tetapi harus mengutamakan perjuangan nasional.”

Jadi, dalam pemikiran Soekarno, sekalipun ia konsisten anti-kapitalis, tetapi tetap ada ‘penekanan’ terhadap perjuangan nasional. Ini adalah persoalan strategi politik, yaitu bagaimana menggabungkan kekuatan nasional yang anti-penjajahan untuk selekas-lekasnya mencapai Indonesia merdeka.
Kenapa mendahulukan perjuangan nasional? Soekarno punya analisa menarik untuk menjawab pertanyaan semacam ini. Dalam tulisan “Kapitalisme Bangsa Sendiri”, Soekarno menceritakan mengapa perjuangan kelas cocok untuk eropa saat itu, tetapi tidak cocok untuk negara jajahan seperti Indonesia.

Kata Soekarno, dua golongan yang bertentangan di eropa, yaitu pemodal versus buruh, berasal dari dari satu bangsa, satu kulit, satu ras. Kaum buruh dan pemodal berasal dari satu natie. “Karena itulah maka disesuatu negeri yang merdeka antithese tadi tidak mengandung rasa atau keinsyafan kebangsaan, tidak mengandung rasa atau keinsyafan nasional, tetapi adalah bersifat zuivere klassenstrijd, –perjuangan klas yang melulu perjuangan klas,” kata Soekarno.
Tetapi, di negara jajahan seperti Indonesia saat itu, menurut Bung Karno, yang “menang” dan yang “kalah”, yang “diatas” dan yang “dibawah”, yang menjalankan kapitalisme dan yang dijalani kapitalisme, adalah berlainan darah, berlainan kulit, berlainan natie , berlainan kebangsaan. Antithese didalam negeri jajahan adalah “berbarengan” dengan antithese bangsa, –samenvallen atau coїnsederen dengan antithese bangsa. Antithese didalam negeri jajahan adalah, oleh karenanya, terutama sekali bersifat antithese nasional.”
Di sini, Soekarno menjelaskan perjuangan nasional sebagai prasyarat atau tahapan menuju perjuangan selanjutnya. Penuntasan perjuangan nasional itu mutlak diperlukan sebagai basis atau material untuk perjuangan selanjutnya.

Nasionalisme Tidak Relevan?
Di bagian akhir tulisannya Max Lane menulis begini: “nasionalisme berseru buat semua elemen bangsa untuk satu kepentingan yang sama, sedangkan fakta menunjukkan bahwa jarang sekali elemen-elemen sebuah bangsa mempunyai kepentingan yang sama: Yang dieksploitasi berkepentingan menghentikan eksploitasinya; yang melakukan eksploitasi berkepentingan meneruskan eksploitasinya.”

Dari situlah Max Lane mengambil kesimpulan bahwa nasionalisme tidak relevan.
Saya rasa, sebelum memvonis relavan dan tidaknya, ada baiknya melihat dua kecenderungan nasionalisme: nasionalisme negara-negara kapitalis maju dan nasionalisme negara-negara jajahan (semi-kolonial).
Ini penting, karena seperti kita ketahui, Soekarno pun membedakan antara nasionalisme borjuis di eropa dan nasionalisme yang dianut oleh pejuang anti-kolonial di dunia ketiga: Gandhi dan Sun Yat Sen.

Terkait dengan dua bentuk nasionalisme itu, ada baiknya kembali melihat fikiran Bung Karno. Katanya, nasionalisme di eropa itu nasionalisme borjuis, yaitu suatu ‘nasionalisme yang bersifat serang-menyerang, suatu nasionalisme yang mengejar keperluan sendiri, suatu nasionalisme perdagangan yang untung atau rugi’. Sedangkan nasionalisme Indonesia, yang disebutnya sosio-nasionalisme, adalah nasionalisme masyarakat atau nasionalisme yang mencari keberesan dalam kepincangan masyarakat, sehingga tidak ada lagi kaum yang sengsara dan ditindas. (Baca selengkapnya di Demokrasi Politik dan Demokrasi Ekonomi, buku DBR I).
Dalam perkembangan terbaru, misalnya pertemuan G-20 tahun lalu, terlihat jelas bahwa nasionalisme telah menjadi langgam baru kapitalisme global. Negara-negara kapitalis maju berbicara “kepentingan nasional” untuk kepentingan ekonomisnya: perdagangan dan ekspansi pasar. Sedangkan negara dunia ketiga juga berbicara nasionalisme sebagai bentuk pertahanan terhadap serbuan tersebut (proteksionisme, dll).
Dalam era neoliberal sekarang ini, penghancuran negara nasional justru menjadi proyek kaum neoliberalis, sebagai prasyarat untuk menjalankan agenda mereka. Sebaliknya, sebagai bentuk melawan dominasi neoliberal, beberapa bentuk gerakan anti-neoliberal mempergunakan sentimen ‘penguatan peran negara nasional’ khususnya dalam urusan kesejahteraan rakyat.

Jika ditanyakan, apakah nasionalisme masih relevan? Maka jawab saya: Sangat relavan. 
Dimana relevansinya dengan situasi sekarang? Menurut saya, dalam perjuangan melawan imperialisme saat ini, tidak bisa tidak perjuangan kita mengambil karakter perjuangan nasional atau revolusi nasional. Karena, dalam negara terjajah seperti Indonesia, sangat sulit berbicara revolusi anti-kapitalis, sementara ekspresi penindasannya sebagian besar karena eksploitasi dari luar.
Terhadap pertanyaan ini, saya mengutip pidato Njoto sebagai berikut: “Fasensprong (faham melompat) tidak mau tahu akan revolusi nasional dan demokratis. Fasensprong mau langsung ke sosialisme, sekalipun syarat-syarat untuknya belum tersedia. Fasensprong mengobrak-abrik pengusaha-pengusaha nasional dan pengusaha-pengusaha kecil, tetapi membiarkan pengusaha-pengusaha imperialis seperti BPM-Shell, Stanvac, Caltex dan Unilever. Mereka lebih hebat daripada “sosialisme dengan kemiskinan” – mereka mau “sosialisme dengan imperialisme”!

Diposkan oleh IB di  14.04
29
May
13

Kenegarawanan : Oligarki Politik Mengancam RI

Oligarki Politik Mengancam RI

Sunday, 26 May 2013 10:18
Written by Bowo

B1

 

JAKARTA - Segenap elemen bangsa ini, terutama partai politik, hendaknya segera mengakhiri sistem oligarki politik yang terjadi di setiap parpol. Sebab oligarki yang terjadi sekarang sangat menghambat bergulirnya proses kaderisasi dan kepemimpinan di tubuh parpol itu sendiri.

Demikian diuraikan mantan ketua Mahkamah Konstitusi Dr Mahfud M.D. saat menjadi pembicara tunggal dalam diskusi yang digelar Forum Tanah Air Abadi (Foradi) dengan tema’Refleksi Hukum dan Politik 15 Tahun Perjalanan Reformasi’ yang dimoderatori Raldi Doy di Gedung Juang 45 Jakarta Pusat, Sabtu (25 Mei 2013.)

Menurut Mahfud, pasca Presiden Gus Dur atau sejak 2001 terjadi sentralisasi kekuasaan sehingga menyebabkan negara mengalami disorientasi.  ”Sejak 2001 itu politik menjadi tidak demokratis lagi, tapi telah tergiring ke oligarki politik. Ini yang menyebabkan penegakan hukum sekarang menjadi lebih buruk,” imbuhnya.

Menurutnya, sistem politik oligarki membuat keputusan politik dilakukan secara kolutif oleh elite penguasa dan sangat feudal, yang dampaknya tidak ada lagi upaya perbaikan penegakan hukum. ”Hal itu berakibat pada mandegnya proses regenerasi kepemimpinan.  Mandeg juga proses pembangunan kesejahteraan rakyat,” tegasnya.

Sistem politik yang oligarkis itu, menurut Mahfud, mengakibatkan negara mengalami dua persoalan utama. Pertama adalah disorientasi kerangka hukum dan kepemimpinan yang tidak jalan, dan kedua, muncul ketidakpercayaan publik. ”Saat ini, parpol tertata secara oligarki dan rakyat cenderung anarkis karena disorientasi memunculkan ketidakpercayaan publik. Tidak ada lagi kepercayaan kepada hukum itu sendiri,” urainya.

 Padahal dalam sistem oligarki itu terlalu banyak simpul kekuasaan yang tidak jelas dan karena itu rakyat berjalan sendiri-sendiri saja. ”Sesuai teori, hal itu akan memunculkan negara tiran atau pada akhirnya sebuah negara akan bubar. Kalau itu terjadi maka akan berbahaya,” tukasnya.

Bahkan, Mahfud memperkirakan sebentar lagi akan terjadi  ”pembangkangan” massal terhadap keberadaan hukum dan negara. ”Itu karena orang-orang sudah gak percaya lagi kepada negara. Makanya kalau ini dibiarkan terlalu lama, maka bisa muncul disintegrasi. Kita semua mungkin akan menangis,” bebernya.

Mahfud mengatakan, sebenarnya kunci menyelesaikan masalah itu salah satunya terletak di parpol. ”Ironisnya, hampir semua parpol menjadi sumber masalah. Karena itu, tambahnya, penataan parpol dan kesadaran pimpinan politik penting dilakukan. Oligarki ini dihentikan dan harus dikembalikan ke demokrasi,” tegasnya.

Dia pun menilai parpol yang masih saja mengusung jargon keagamaan untuk menegaskan identitasnya sudah tidak relevan lagi di era belakangan ini, ”Sebab yang dibutuhkan rakyat adalah parpol yang benar-benar bersih dari korupsi. Artinya sudah tidak ada lagi partai yang Islam dan yang tidak Islam,” lontarnya.

Contohnya, beberapa partai Islam yang selalu mengusung berbagai jargon agama, namun justru belakangan beberapa tokoh partainya malah terlibat korupsi. ”Tapi di partai yang tidak Islam pun koruptornya banyak juga. Padahal di partai yang tidak Islam itu ada ahli agamanya juga,” pungkas mantan Menhan di era Presiden Gus Dur ini.

Usai menyanmpaikan pokok-pokok pikirannya, Mahfud menyatakan kesediaannya untuk bertarung dalam Pilpres 2014 mendatang. Dia pun siap untuk ikut sertaa dalam Konvensi Nasional Partai Demokrat yang rencananya akan mulai digelar bulan depan.

”Tentunya, semua orang yang ingin maju capres menyatakan bersedia. Tinggal rakyat menilai sendiri, apakah orang tersebut layak atau tidak untuk menjadi capres,” ujarnya. (ind)

__._,_.___
29
May
13

Kebudayaan : Menjaga Seni Budaya Pun Kini Dilarang

Menjaga Seni Budaya Pun Kini Dilarang

Junaidi Hanafiah | Selasa, 28 Mei 2013 – 14:28:41 WIB


(SH/Junaidi Hanafiah)
Melarang perempuan dewasa menari tarian adat Aceh sama dengan menghilangkan tarian itu dari muka bumi

Nur Aini terduduk lesu di sebuah warung kopi di Banda Aceh, Provinsi Aceh, Senin (27/5) sore, padahal sejumlah rekan yang duduk satu meja dengan dirinya sibuk bercengkrama sambil berdiskusi tentang berbagai isu di provinsi paling barat Indonesia.

Hanya sesekali perempuan dua anak kelahiran 1979 tersebut tertawa. Namun, tawa Nur Aini itu hanya karena terpaksa untuk tidak merusak suasana keceriaan teman-temannya.

“Kamu gelisah Aini, apakah karena pernyataan Bupati Aceh Utara yang melarang perempuan dewasa menari?” tanya salah seorang temannya sambil tertawa.

Nur Aini tidak menjawab. Dia bangkit dari duduknya dan menuju ke kamar mandi yang disediakan warung kopi. “Sepertinya Aini benar-benar gelisah setelah bupati kampungnya menyampaikan bahwa perempuan dewasa menari melanggar syariat Islam,” sambung rekan Aini yang tadi.

Tidak sampai 10 menit, Nur Aini telah kembali dari kamar mandi, namun wajahnya belum bisa menghilangkan kegelisahan. “Kita pindah saja ke meja itu,” ungkap Aini kepada SH sambil menunjukkan meja sedikit jauh dari hiruk pikuk penikmat kopi.

Alumni Fakultas Tarbiyah Institute Agama Islam Negeri (IAIN) Ar-Raniry Banda Aceh itu bukan perempuan biasa yang kuliah setelah itu bekerja dan menikah. Saat kuliah, Aini yang selalu menggunakan jilbab telah berkunjung ke berbagai negara untuk memperkenalkan seni tari tradisional Aceh.

Dari pengakuannya, Aini juga telah bergelut dengan seni tari sejak masih duduk di bangku Madrasah Tsanawiyah Negeri (MTsN) di Kabupaten Aceh Utara. Saat melanjutkan pendidikan di perguruan tinggi, Aini juga bergabung dengan sanggar seni yang terdapat di IAIN Ar-Raniry.

“Saat kuliah, kami sudah pernah menampilkan tarian adat Aceh ke beberapa negara, seperti Malaysia, kalau diundang ke berbagai acara di Jakarta, mungkin hampir setiap tahun,” ungkap Aini.

Setelah tamat kuliah, Aini menjadi guru di salah satu Madrasah Aliyah Negeri (MAN). Berbekal ilmu tentang seni tari dan musikalisasi puisi yang dia dapat saat kuliah, Aini juga mengajarkan anak didiknya menari. Tidak hanya itu, agar seni tari tradisional Aceh tidak hilang, dia juga membentuk satu sanggar seni.

Ketika SH bertanya pendapatnya tentang pernyataan Bupati Aceh Utara Muhammad Thaib yang menyebutkan akan melarang perempuan dewasa menari di depan publik karena tidak sesuai dengan syariat Islam, Aini terdiam, wajahnya kembali gelisah.

“Saya bingung, di mana salahnya tarian adat Aceh yang dimainkan oleh perempuan dewasa sehingga bupati melarang perempuan dewasa menari di depan umum? Tidak ada gerakan tarian adat Aceh yang erotis, pakaian adat Aceh juga sangat sopan, syair yang dibawa juga semuanya tentang nasihat, khususnya tentang syiar Islam,” ujarnya.

Menurut Aini, dia pernah menari hampir semua tarian adat Aceh; Likok Pulo, Ranup Lampuan, Ratoh Duk, Seudati Inoeng, dan Tarek Pukat. Namun belum pernah dia menemukan tarian tersebut gerakannya erotis dan mengundang nafsu penontonnya.

“Saya juga telah menari ke berbagai daerah di Indonesia dan luar negeri, belum pernah setelah kami menari datang orang mengganggu atau bernafsu dengan kami. Mereka berdecak kagum bukan kepada kami, tetapi kepada tarian Aceh yang kami mainkan. Gerakan tarian yang membuat mereka kagum karena hal tersebut tidak jauh dari kehidupan sehari-hari masyarakat Aceh,” sambung Aini.

Larangan Bupati

Larangan menari di depan publik bagi perempuan dewasa yang akan diterapkan di Kabupaten Aceh Utara menurut Bupati Aceh Utara Muhammad Thaib karena perempuan dewasa menari di depan publik bertentangan dengan syariat Islam. “Perempuan menari tarian apa pun di depan laki-laki itu bertentangan dengan hukum syariah. Beda kalau yang menari itu anak-anak,” ungkap Muhammad Thaib, Sabtu (25/5).

Menurut pria yang kerap disapa dengan Cek Mad tersebut, apa pun kegiatan yang melanggar syariat Islam yang sedang diberlakukan di Aceh, khususnya di Kabupaten Aceh Utara, harus dicegah, termasuk perempuan dewasa dilarang menari di depan publik. “Pada acara-acara formal pemerintahan, tarian adat untuk menyambut tamu atau kegiatan lainnya akan kita larang dimainkan oleh perempuan dewasa,” sambungnya.

Cek Mad menambahkan, jika ingin menampil tarian adat saat penyambutan tamu maka akan lebih baik jika tarian itu dimainkan oleh anak-anak perempuan yang belum dewasa. Majelis Permusyawaratan Ulama (MPU) Aceh Utara menyatakan sangat setuju dan mendukung kebijakan yang dibuat oleh bupati Aceh Utara tersebut. Menurut MPU Aceh Utara, menari di depan orang banyak yang juga terdapat laki-laki bagi perempuan dewasa sama saja dengan maksiat.

“Kebijakan yang dibuat oleh bupati itu hal yang sangat positif, semua pihak khususnya ulama di Aceh Utara sangat mendukung aturan tersebut, karena Islam melarang perempuan dewasa di hadapan laki-laki, karena hal tersebut dapat mengundang pikiran macam-macam dari pria yang menyaksikan tarian tersebut,” ungkap Ketua MPU Aceh Utara Teungku Mustafa Ahmad.

Namun, bagi Aini, melarang perempuan dewasa menari tarian adat Aceh sama saja dengan menghilangkan tarian tersebut dari muka bumi. “Kami tidak meminta uang kepada pemerintah untuk menjaga warisan nenek moyang. Kami terus menari karena kami sadar hanya seperti itu seni budaya Aceh akan terus bertahan,” ujarnya.

Dia juga membantah jika untuk menjaga agar seni tari tradisional Aceh dapat diteruskan kepada anak-anak tanpa harus dimainkan oleh penari dewasa. Menurutnya, tidak semua tarian Aceh dapat dimainkan oleh anak-anak. Ada beberapa tarian Aceh jika dimainnya oleh anak-anak maka sangat berisiko anak-anak tersebut terluka.

Sebagian besar tarian adat Aceh merupakan hasil ciptaan sejumlah ulama saat mengembangkan Islam di berbagai daerah di Aceh. Tari Saman misalnya. Tarian ini berasal dari Kabupaten Gayo Lues yang dikembangkan oleh salah seorang ulama atau syekh saat mengembangkan Islam di daerah Gayo Lues. Tidak hanya tari Saman, tarian Likok Pulo juga tidak jauh berbeda. Tarian Likok Pulo berasal dari Pulau Aceh, Kabupaten Aceh Besar. Sesuai dengan nama, likok artinya “gerak”, sementara pulo artinya “pulau”. Tarian ini juga diciptakan oleh seorang ulama yang terdampar ke Pulau Aceh.

Seudati juga sama. Seudati berasal dari kata “syahadat” atau “bersaksi”. Tarian yang berasal dari pantai Timur Aceh tersebut juga diciptakan oleh ulama. Sebagian besar syairnya merupakan kesaksian bahwa Tuhan itu hanya Allah dan Nabi Muhammad SAW merupakan utusan Allah SWT. Tarian tanpa musik tersebut juga mengajarkan taktik-taktik dalam perang dengan gerakan yang tidak bisa diperkirakan oleh musuh atau penonton.

“Jika ulama zaman dulu membolehkan tarian ini dimainkan, bahkan mereka menciptakan tarian tersebut, kenapa malah sekarang dilarang karena alasan tidak sesuai dengan syariat Islam. Ini kan aneh. Kami menjaga seni budaya Aceh bukan untuk mencari uang. Kami tidak kaya dan tidak akan pernah kaya dengan menari tarian Aceh. Kami melakukan ini semua hanya untuk menjaga agar anak cucu kita kenal yang mana tarian indatu atau nenek moyangnya,” ujarnya.

29
May
13

IpTek : Gempa Megatrust Selat Sunda Selatan

Selatan Selat Sunda Simpan Potensi Gempa “Megathrust”

Ilustrasi (Foto: Thinkstock)

Jakarta (ANTARA) – Wilayah perairan barat Pulau Sumatera, selatan Selat Sunda hingga Laut Jawa, termasuk daerah yang memiliki sumber-sumber gempa besar (megathrust) dengan kekuatan getaran di atas 8 skala Richter, kata peneliti Irwan Meilano.

“Maka dari itu perlu disiapkan bentuk penanggulangan dampak gempa yang memadai dan juga studi-studi gempa,” kata Irwan yang juga Guru Besar Madya Institut Teknologi Bandung pada diskusi bertema Ancaman Gempa Megathrust di Kedutaan Besar Australia, Jakarta, Senin.

Gempa megathrust, kata Irwan, pada umumnya berkekuatan di atas 8 SR dengan kisaran mencapai 9 SR dan berpotensi menimbulkan gelombang tsunami.

Meilano mengatakan bahwa lokasi rawan gempa besar di Sumatera hingga selatan Jawa memang selama ini banyak dipelajari oleh para peneliti gempa. Wilayah sumber gempa besar ini terbentuk ketika terdapat subduksi lempeng Indoaustralia dengan lempeng Eurasia.

Untuk mengantispasi dampak dari terjadinya gempa, kata dia, Pemerintah perlu benar-benar memperhatikan kesadaran warga akan peringatan dini gempa dan tsunami (early warning), pengadaan konstruksi bangunan untuk terdampak gempa seminimal mungkin, dan juga berbagai riset tentang gempa.

Ia mengemukakan bahwa studi gempa yang dapat menghasilkan informasi tentang potensi kekuatan dan daerah terjadinya gempa harus terus digiatkan lagi untuk melihat maksimum kekuatan gempa.

“Hal ini juga harus menjadi hasil penelitian yang dikomunikasikan antara ahli gempa dengan ahli-ahli teknik bangunan,” ucapnya menambahkan.

Sementara itu, Profesor Sri Widiyantoro dari Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia mengatakan bahwa pembangunan bangunan di sekitar kawasan sumber gempa juga perlu mempelajari dari negara-negara berpengalaman di bidang yang sama, seperti Jepang.

Contohnya, dalam pembangunan jembatan antarpulau yang dapat mempelajari pembangunan jembatan antarpulau Honshu-Shikoku.

Pembangunan jembatan antarpulau di Jepang itu membutuhkan waktu bertahun-tahun dengan penelitian yang mendalam. Namun, lanjut dia, menghasilkan konstruksi yang baik.

Indonesia pernah beberapa kali dilanda gempa besar atau disebut gempa megathrust dengan kekuatan di atas 8 SR. Salah satu bencana itu adalah ketika terjadi gempa besar dan tsunami yang melanda Aceh dan negara Asia Tenggara lainnya serta mengakibatkan sekitar 200.000 korban jiwa.

Sementara itu, Profesor Phil Cummins dari Universitas Nasional Australia mengatakan bahwa Indonesia sebagai wilayah rawan gempa memerlukan kesiapan khusus untuk mengantisipasi dampak gempa besar dan tsunami yang tidak dapat diprediksi kedatangannya.

“Konstruksi bangunan yang kuat dan dapat menahan gempa serta peringatan dini merupakan salah satu uapaya yang harus terus digiatkan,” kata Cummins.(ar)

24
May
13

Ekonomi : Revitalisasi Pasar Tradisional bagi EkoKesRa

 

https://jakarta45.files.wordpress.com/2011/12/jakarta-452.png?w=637&h=609&h=609

Gita Wirjawan Resmikan Dua Pasar di Jawa Tengah

TEMPO.CO 

Konten Terkait

Antara

TEMPO.CO, Semarang – Menteri Perdagangan Gita Wirjawan hari ini dijadwalkan meresmikan dua pasar tradisional di Jawa Tengah. Keduanya adalah Pasar Boja di Kabupaten Kendal dan Pasar Bintoro di Demak.

Kedua pasar tersebut sebelumnya telah direvitalisasi dari anggaran Kementerian Perdagangan. “Hasil evaluasi terhadap kinerja 10 pasar percontohan yang dibangun pada 2011 menunjukkan adanya peningkatan omzet 33-85 persen dibanding sebelum direvitalisasi,” ujarnya, Jumat 24 Mei 2013.

Pasar Boja dijadikan percontohan sebab letaknya yang dinilai strategis di pusat kota Kendal. Pasar ini menjadi tujuan belanja warga Semarang, Temanggung, Batang, dan sekitarnya.

Sementara Pasar Bintoro, yang letaknya di antara Masjid Agung Demak dan Makam Sunan Kalijaga, menjadi ikon pusat oleh-oleh. “Diharapkan pasar ini mampu menggerakkan sektor usaha mikro, kecil dan menengah serta mendukung sektor wisata,” kata Gita.

Sejak 2011, Kementerian Perdagangan telah merevitalisasi 447 pasar tradisional di seluruh Indonesia. Dari jumlah tersebut, 28 unit diantaranya berada di Provinsi Jawa Tengah dengan anggaran sebesar Rp 180 miliar atau 9,12 persen dari total anggaran nasional.

PINGIT ARIA

 

24
May
13

Kebudayaan : Kuliner Nusantara di Senayan

Pesta Icip-icip Kuliner Nusantara di Senayan

 

Festival Jajanan Bango, pesta kuliner jajanan pasar dari seluruh Indonesia, kembali digelar. Perhelatan yang diprakarsai Kecap Bango sejak 2005 ini tak pernah sepi peminat. Antrean di tiap kios selalu panjang. Bila ada kios sepi, itu bukan karena tak ada peminat tapi karena makanan sudah habis.
Sate Padang Ajo Ramon. (Syanne Susita)

Harga makanan yang dijual Festival Jajanan Bango bisa dibilang terjangkau. Sekitar 50 kios makanan ini rata-rata menjual seporsi makanannya Rp15 ribu. Hanya beberapa saja, seperti sop buntut ibu Samino, yang menjual seporsinya Rp25 ribu.
Nasi Goreng Kambing Kebon Sirih. (Syanne Susita)
Pengunjung FJB beruntung bisa menikmati makanan “dari jauh” tanpa harus mengunjungi tempat asalnya. Menghemat ongkos dan waktu. Yang diperlukan hanya kesabaran mengantre di kios tujuan.
Sop Buntut Ibu Samino. (Syanne Susita)
Ada 10 kios yang mewakili tema festival tahun ini: Sate Klatak Mak Adi Yogyakarta, Tengkleng Klewer Bu Edi Solo, Sate Jamur Cak Oney, Tahu Tek Telor Cak Kahar Surabaya, Nasi Pindang Pak Ndut Semarang, Mie Aceh Sabang, Mie Koclok Mas Edy Cirebon, Oseng-oseng Mercon Bu Narti Yogyakarta, Lontong Balap Pak Gendut Surabaya, Nasi Goreng Kambing Kebon Sirih. Semuanya penuh diserbu pengunjung.
Sate Jamur Cak Oney Yogyakarta. (Syanne Susita)
Saya, yang beberapa minggu lalu sempat bertugas di Surabaya namun tidak sempat keliling merasakan kuliner lokal, langsung senang begitu melihat kios Lontong Balap Pak Gendut. Akhirnya, kesampaian juga mencoba kuliner khas Surabaya.
Pecel Pincuk Ibu Ida. (Syanne Susita)
Di luar 10 kuliner andalan festival jajanan tahun ini, makanan lain pun tak kalah nikmat. Kuliner yang baru pertama kali saya coba di situ dan menjadi favorit adalah nasi pindang burung puyuh, bandeng bakar tanpa duri dan soto kudus Kauman. Dari segi rasa, racikan bumbunya terasa pas di lidah saya. Mulai dari rasa manis (nasi pindang), gurih (bandeng bakar) sampai asam segar (soto kudus).

Sayang, antrean super panjang untuk setiap membeli makanan membuat saya gerah. Jadi, jika ingin menambah lagi, ya mendingan tidak usah. Langsung terpikir kalau waktu mengantre satu makanan favorit sebaiknya dipakai untuk mengantre makanan lain yang lebih sepi peminatnya.

Festival Jajanan Bango benar-benar memudahkan saya mencicipi beragam makanan buatan negeri sendiri.

24
May
13

Sejarah : Medhang Kawulan, Jawa Tengah

1. Kalau sudah mampu membangun Candi Borobudur dan Candi Prambanan yang begitu megah dan indah, sudah barang tentu sangat bonafide dan pasti mempunyai Kedaton yang lebih indah dan megah.
Namun dimanakah lokasi tepatnya Kedaton Medang ?

Illustrasi pada fragmen relief menggambarkan Raja & Permaisuri Syailendra :

Gambar sisip 1

2. Kerajaan Medang yang Makmur dan kaya raya sehingga dapat membangun Candi dengan biaya yang sangat besar.
Sumber pendapatan Kerajaan pada waktu itu didasarkan pada bidang Maritim dan Agraris / Pertanian, digambarkan pada Relief Candi Borobudur, sbb :
a. Perahu / Kapal :

(dimanakah lokasi Pelabuhan Utamanya, mengingat bahwa Kerajaan Medang kemungkinan terletak di pedalaman)

Gambar sisip 2

Di Bidang pertanian juga sudah tergolong maju, banyak diciptakan pembuatan petak sawah baru yang ditandai dengan banyaknya Prasasti / Pengukuhan menjadi daerah Sima / Perdikan yaitu merubah tanah tegalan menjadi persawahan (termasuk irigasinya).

Saprotan (sarana produksi pertanian) salah satu diantaranya adalah alat luku / garu pengolah sawah dapat dilihat di fragment relief, sbb :

Gambar sisip 3

Kerajaan Medang dikenal sebagai Kerajaan yang kaya dan Makmur, dibidang pertanian memang terletak di lahan yang subur di Gunung Merapi dan Merbabu, banyak sungai besar untuk dimanfaatkan untuk irigasi, Kerajaan sangat memperhatikan urusan ini terbukti dibuatnya Prasasti pada awal Kerajaan Medang yaitu Prasasti Tuk Mas (tentang pemeliharaan aliran sungai).
Selain itu wilayah Medang cukup dikenal dengan Tambang Emas yang melimpah, mungkinkah asal nama Jawadwipa ini berasal dari sini – Jawa yang banyak Emas-nya.
Penduduk Medang banyak yang berkemampuan dan berkeahlian dibidang Ukir Mengukir Emas, terbukti dengan adanya temuan, sbb.

1) Temuan Wanabaya disekitar Prambanan (Perhiasan emas dengan berat +/- 16 Kg).

Gambar sisip 1

2). Bokor Ramayana (termasuk temuan Wonoboyo)

(disimpan di Museum Nasional – Jakarta) menggambarkan fragment sewaktu Shinta diculik Rahwana, sedangkan sebagian yang disimpan di Museum Sonobudoyo +/- 2 tahun yang hilang dicuri.

Gambar sisip 2

3) Kerajaan Medang sudah mengunakan satuan mata uang emas yang disebut dengan Tahil;

Gambar sisip 3

Mata uang emas ini ukurannya sekitar 7 mm dan berat sekitar 2,53 gram.
Lempeng depan dengan tanda Stempel Aksara “Ta” (Kawi Awal), sedangkan lempeng belakang adalah Lambang Lingga.
Mata uang tahil koleksi / disimpan di British Museum.
Denominator = nilai mata uang emas mengindikasikan betapa makmur dan majunya perekonomian Medang.

3) Patung Dewi Tantra (dari Perunggu abad IX) dibuat untuk penghormatan Dewi Tantra dan diwujudkan juga pada bentuk Candi Kalasan.
Patung ini disimpan dan dikoleksi Museum Frunt Jerman.

Gambar sisip 4

Gambar sisip 1

Banyak Prasasti Kuna dibuat / ditulis diatas batu, namun prasasti pada era medang banyak dibuat dari bahan / lempengan tembaga (copperplate inscription) = Tumra Prasasti = Prasasti Tembaga.
Hal tersebut kemungkinan karena di daerah Medang banyak tersedia bahan tembaga, salah satunya adalah Prasasti Mantyasih 1A & 1B disebut juga dengan Prasasti Balitung.
Ditemukan didaerah Kedu / Magelang pada tahun 829 S.
Prasasti ini berisi penetapan daerah Sima / Tanah Perdikan dengan pencetakan sawah sebanyak 18 hop (ukuran luas).
Prasasti Tembaga ini lebih tahan lama (tidak aus) dan dapat terbaca dengan jelas.
Terdapat 4 Prasasti Mantyasih (Mantyasih I s/d IV), Mantyasih I tersimpan di perpustakaan Leiden, sedangkan yang lainnya tersimpan di Museum Nasional – Jakarta.
Tanggal Prasasti Mantyasih dijadikan Tanggal Hari Jadi Kota Magelang / Kedu.
Prasasti Mantyasih ditulis dengan Aksara Kawi Awal (wiwitan), Ki Demang pernah jingglengi Aksara Prasasti Mantyasih untuk Pembuatan Font Kawi Medang.ttf.
Gambar Prasasti dan Font Ki Demang, sbb.:
1) Prasasti Mantyasih 1A
Gambar sisip 1
2) Prasasti Mantyasih 1B
Gambar sisip 2
3) Font Kawi Awal Kidemang
Gambar sisip 3

Nuwun;

Ki Demang




Blog Stats

  • 2,432,810 hits

Recent Comments

Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Sejarah : Bangsa Lemuria, Lelu…
Ratu Adil - 666 on Sejarah : Bangsa Lemuria, Lelu…

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 135 other followers