Archive for the 'News' Category



13
Jan
10

Hikmah : Keberkahan Sholat Lima Waktu

Keberkahan Sholat Lima Waktu

Republika, January 12th, 2010

By: agussyafii

Saya mengenal seorang bapak yang bekerja di bengkel. Beliau memiliki kebiasaan selalu sholat diawal waktu. Begitu azdan terdengar beliau selalu mengajak semua teman-temannya untuk menyegerakan sholat lima waktu. Menurut pengalamannya sholat tepat waktu membawa keberkahan dalam hidupnya. Keberkahan itu adalah kemudahan-kemudahan dalam menjalani hidup ini.

Siang itu beliau bertutur, ”Saya membiasakan diri untuk selalu sholat tepat waktu. Memang banyak orang yang mengatakan bahwa sholat tepat waktu memudahkan kita mendapatkan rizki, saya senantiasa mendapatkan rizki dalam bentuk uang saja tapi juga dalam bentuk yang lain. Oleh karena itu saya selalu membiasakan diri berdoa untuk mendapatkan keberkahan dalam hidup ini.”

Alhamdulilah setelah saya membiasakan diri untuk sholat tepat waktu, apapun yang saya menjadi niat akan selalu dapat terpenuhi. Misalnya saya pernah ingin sekali makan ayam goreng tepung, saya sudah berusaha untuk titip kepada tetangga saya yang biasa beli tapi ya karena memang bukan rizki pada hari itu dia beli. Ya, dalam hati saya berkata” Ya. Alloh saya ingin sekali makan ayam goreng tapi kok nggak ada yang bisa saya titipi untuk beli ya?”

Subhanallah lewat magrib anak saya yang ke-2, dia kebengkel dengan membawa ayam kentucky dalam jumlah yang cukup banyak. Saya langsung menangis ya Alloh memang hanya Alloh yang dapat menjawab semua keinginan kita. Bukan itu saja banyak kemudahan yang saya dapatkan setelah saya membiasakan diri sholat Lima waktu tepat pada waktunya. Dari anak saya yang mau masuk pesantren tapi disuruh, Pindah kontrakan bengkel yang lebih baik dan masih banyak lagi lainnya. Untuk membiasakan diri itu memang susah tapi kalau sudah menjadi kebutuhan akan semakin mendarah daging Insya Alloh kita akan mendapatkan manfaatnya. Itulah keberkahan saya menjalankan sholat tepat waktu.” Begitulah beliau bertutur pada saya.


Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu, dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu’.” (Al-Baqarah: 45).

Wassalam,
agussyafii

Advertisements
13
Jan
10

PusKesMas : Kurma, Buah Penuh Berkah

Kurma, Buah Penuh Berkah

Selasa, 12 Januari 2010, 16:00 WIB

JAKARTA–Dibalik kerasnya iklim padang pasir terdapat butiran anugerah yang diberikan Allah SWT. Siapa sangka padang pasir yang tandus dan gersang menghadirkan timbunan minyak bumi, unta-unta yang setia, dan yang tak kalah penting, pohon kurma.

Firman Allah SWT yang termaktub dalam al-Quran surat an-Nahl ayat 16 yang berbunyi, “Dan Dialah (Allah SWT) yang menundukan lautan (untukmu) agar kamu dapat memakan daging (ikan) yang segar darinya, dan kamu mengeluarkan dari lautan itu perhiasan yang kamu pakai, dan kamu melihat bahtera berlayar padanya, dan supaya kamu mencari (keuntungan) dan karunia-Nya, dan supaya kamu bersyukur.”

Firman tersebut menyiratkan rasa sayang teramat besar yang diberikan Dzat Maha Esa atas umatnya di dunia. Rasa sayang itu juga diberikan kepada umatnya yang mendiami jazirah padang pasir. Bila dipandang secara logika, mungkinkah tanpa ada pertolonganya, manusia bisa bertahan hidup dilokasi yang demikian ekstrim.

Berbicara tentang tiga hal tadi, rasanya cukup tepat bila memilih kurma sebagai bahasan menarik. Pasalnya, kurma seperti halnya unta merupakan produk asli buatan alam padang pasir. Siapa sangka, dari buah berukuran sebesar ibu jari orang dewasa ini menyimpan begitu banyak hikmah didalamnya. Tak hanya memerdukan aliran keimanan tapi juga keduniawian melalui perpektif ilmu pengetahuan.

Keistimewaan kurma telah dijamin oleh al-Quran melalui surat Al-Mukminun ayat 19 yang mengatakan,” Lalu kami tumbuhkan untukmu kebun-kebun kurma dan anggur, kamu peroleh didalamnya buah-buahan yang banyak dan sebagian kamu makan,”. Tak hanya itu, kata kurma juga disebutkan 26 kali dalam al-Quran. Para ahli agama dan kalangan medis sepakat, penyebutan al-Quran tentang kurma menunjukan peran penting kurma.

Keistimewaan kurma bahkan menyisipi legenda jazirah arab. Legenda itu menyebutkan, ketika Allah SWT menciptakan Adam AS sebagai kalifah pertama di dunia, Dia menggunakan sisa bahan yang digunakan membentuk Adam dipakai kembali untuk menciptakan pohon kurma. Itu sebabnya, masyarakat Arab percaya kurma merupakan Nakhla yang bermakna pohon kehidupan.

Secara karakteristik, tumbuhan bernama latin Phoeniz Dactylifera ini tergolong berbatang tunggal dan masuk dalam keluarga Arecaceae. Umumnya, pohon kurma memiliki tinggi rata-rata mencapai 15-25 meter. Tanaman kurma tidak akan pernah berhenti tumbuh dan tumbang sendiri jika sudah terlalu tinggi dan tua. Daunnya berukuran besar, panjangnya 4-5 meter, dan  berbentuk seperti sisir. Ujung daun runcing dan tajam seperti jarum.

Sekali berbunga, satu pohon kurma mampu menghasilkan ratusan buah kurma dengan berat total 6-8 kilogram, ada juga jenis kurma yang menghasilkan 1000 buah dengan berat 52 kg. Dalam setahun, rata-rata pohon kurma mampu menghasilkan buah kurma lebih dari 300 kilogram.

Lantas apa yang membuat Kurma begitu istimewa? Dalam buku “Khasiat dan Keajaiban Kurma” yang ditulis Ir Rosita dan Tim Redaksi Qanita disebutkan, sebutir kurma mengandung sekitar 23 kalori, mengonsumsi 5 atau 6 kurma sama saja mengkonsumsi buah satu porsi. Bahkan, Institut Nasional Kanker AS merekomendasikan masyarakatnya untuk mengkonsumsi kurma guna menjamin kebutuhan 5 porsi buah dan sayur dalam sehari.

Lalu apa saja yang dikandung kurma hingga memiliki keistimewaan seperti itu? Perlu diketahui, kurma merupakan buah yang paling banyak mengandung gula alami di antara semua jenis buah-buahan.

Konsentrasi gula dalam kurma mencapai 70% sedangkan buah-buahan lain hanya sekitar 20-30%. Gula dalam kurma juga mengandung fruktosa, glukosa dan sukrosa. Zat-Zat ini mampu memasok energi bagi tubuh dengan cepat. Sebab itulah, kurma begitu disarankan sebagai santapan utama saat berbuka.

Tak hanya itu, kurma juga mengandung potasium dengan kadar paling tinggi diantara buah-buahan lain. Potasium adalah mineral penting yang diperlukan tubuh untuk kontraksi otot termasuk otot jantung. Kandungan ini juga diperlukan untuk menjaga kesehatan sistem saraf dan membantu metabolisme tubuh.

Kandungan lain yang begitu esensial adalah serat. Berdasar sifatnya, serat terbagi dua jenis yakni serat larut dan serat tak larut. Kedua jenis serat ini ada didalam kurma. Fungsi serat sendiri penting bagi tubuh yakni melancarkan pencernaan, menurunkan kadar gula dalam darah dan menurunkan kolesterol.

Penyembuh Penyakit

Beberapa hadis menerangkan kurma adalah obat. Hadis pertama menyebutkan,” Kurma dari cabang yang tinggi adalah kurma,”. Hadis lain menyebutkan, “Barang siapa makan 7 buah kurma pada pagi hari, ia akan terhindar dari racun penyakit dan kejahatan.”

Dua hadis ini, tentu merangsang peneliti untuk menggali potensi obat dalam buah kurma. Hadis ini pula yang mengundang pemikiran masyarakat arab untuk menggunakannya sebagai obat penyembuh berbagai penyakit.

Buku Khasiat dan Keajaiban Kurma yang tuliskan Ir. Rostita dan Timnya menyebutkan penyakit kelas berat macam Jantung, Stroke, kanker dan darah tinggi bisa diminimalisir resikonya bila mengkonsumsi makanan yang mengandung kalium 400 miligram sehari. Kandungan itu terpenuhi dengan hanya mengkonsumsi 5 butir kurma atau 65 gram kurma perhari.

Sebuah hadis yang diriwayatkan sahabat menceritakan sebuah kisah ketika salah seorang sahabat Rasullah SAW mengeluh padanya. Saat itu, Rasullah segera meletakan tangannya di dada sahabat tersebut sembari berkata,”Engkau menderita sakit pada jantung, berobatlah kepada Al Haris Ibn Kalada, Ia ahli mengobati dan Gunakan 7 buah kurma Ajwah yang dihaluskan dengan bijinya untuk engkau makan.”

Tak hanya bermanfaat bagi pencegahan dan penyembuhan  penyakit kelas berat, kurma juga dianjurkan untuk diberikan pada ibu hamil. Sebuah hadis yang diriwayatkan H.R Bukhari,”Sesungguhnya, makanan Siti Maryam tatkala melahirkan Nabi Isa AS Adalah buah kurma. Sekiranya, Allah SWT menjadikan suatu buah yang lebih baik dari pada buah kurma, maka Allah telah memberikan makan buah itu pada Maryam.”

Hadis itu memperkuat firman Allah SWT dalam surat Maryam ayat 25 yang mengatakan,” Dan Goyangkanlah pangkal pohin kurma itu ke arah mu, niscaya pohon itu akan menggugurkan buah kurma yang matang kepada mu.”

Makna yang terkadung dari al-Quran dan Hadis lantas diperkuat kembali dengan temuan ilmiah seperti kurma matang mengandung substansi yang mendorong peregangan rahim dan meningkatkan konstraksi. Kurma juga mengandung stimulan yang memperkuat otot rahim hingga mencegah pendarahan.

Kurma juga bisa digunakan sebagai  bahan dasar utama makanan khusus, barbur untuk para ibu yang baru saja melahirkan. Manfaat dari penggunaan kurma ini membuat darah kotor yang berada dalam tubuh ibu segera keluar. Cara membuatnya pun relatif mudah yakni rebus beberapa kurma bersama air sehingga menjadi semacam bubur yang tidak mengeras seperti puding dan tidak terlalu encer seperti sup.

Selain itu, riset lainnya menyebutkan mengkonsumsi kurma usai melahirkan akan memberikan kualitas ASI terbaik sekaligus menggantikan tenaga ibu yang terkuras usai melahirkan dan menyusui.

Banyak sumbangsih yang diberikan kurma terkait masalah kesehatan. Seperti misal, kesehatan anak, masalah penyakit menahun dan hal lainnya.

Jenis-Jenis Kurma

Varietas kurma umumnya terbagi atas 3 jenis, yakni kurma basah, kurma agak kering dan kurma kering. Kurma basah bercirikan berdaging empuk, sangat lembab dan mengandung sedikit gula.  Kurma agak kering bercirikan dagingnya kenyal, tidak berair, berkandungan tinggi. Sementara itu, kurma kering berkadar gula tinggi, berkelembaban rendah, kering berdaging keras.

Ketiga varietas itu tersebar pada puluhan jenis kurma di dunia. Jenis kurma yang banyak beredar di dunia adalah kurma dari Irak, yaitu Zahdi. Keberadaan kurma Zahdi bisa mencapai 43% dari keseluruhan produksi kurma di dunia. Kurma jenis ini memiliki bentuk yang lonjong, berwarna coklat keemasan, berkualitas rendah dan harganya murah.

Jenis lain yang banyak beredar antara lain kurma Ajwah atau kurma Nabi. Konon, Rasullah SAW begitu gemar mengkonsumsi kurma jenis ini. Selain itu ada beberapa jenis kurma lain yang banyak dijual di pasaran dunia, sebut saja kurma Sayer, Hwy, Kadrawi, Khastawi, Brem dan Chip Chap.

Sementara itu, masyarakat Indonesia sangat gemar mengkonsumsi jenis kurna Nabi, ambhar dan safawi. Umumnya, para pedagang kurma di Tanah Abang, Jakarta Pusat, sebagian besar menjual tiga jenis kurma tersebut.

13
Jan
10

Pertanian : Food Estate Siap Dikembangkan

Suara Pembaruan

ZOOM2010-01-12Empat Perusahaan Siap Kembangkan “Food Estate”
[JAKARTA] Empat perusahaan nasional, yakni Medco, Wilmar, Bangun Cipta, dan Mekasindo telah mengajukan diri untuk mengembangkan pertanian tanaman pangan skala luas di sejumlah lokasi dalam program Food Estate. Program ini dicanangkan pemerintah untuk memperkuat produksi pangan strategis dan bisa mengekspor.

Dirjen Pengelolaan Lahan dan Air Kementerian Pertanian, Hilman Manan, di Jakarta, Senin (11/1) mengatakan, pemerintah menyiapkan lahan telantar (idle) untuk pertanian di beberapa daerah. Di Merauke saja disiapkan 1,6 juta hektare (ha), yang berasal dari areal penggunaan lain (APL) seluas 585.000 ha, hutan konversi produksi (HKP), dan lahan transmigrasi.

Untuk memperlancar pro-gram dan menjamin keberlanjutan usaha, kata Hilman, sedang disiapkan peraturan pemerintah (PP) terkait investasi pangan dalam skala besar. PP yang ditargetkan selesai akhir Januari 2010 ini mencakup PP Penguasaan Pangan Skala Luas, PP Kawasan Ekonomi Khusus, dan PP Lahan Telantar.

Food Estate, katanya, merupakan bagian dari program 100 hari Menteri Pertanian, namun belum bisa dijalankan jika PP yang mendukungnya belum ada. Tiga instansi yang terlibat dalam pembuatan PP itu adalah Kementerian Koordinasi Perekonomian, Kementerian Pertanian, dan Badan Pertanahan Nasional (BPN).

Hilman menjelaskan, PP Penguasaan Pangan yang akan dikeluarkan Ditjen Tanaman Pangan merupakan turunan dari Undang-Undang (UU) No 12/1992 tentang Budidaya Tanaman. Sedangkan ,PP Kawasan Ekonomi Khusus yang dibuat Kemenko Perekonomian adalah turunan dari UU No 39/2009 tentang Kawasan Ekonomi Khusus.

Swasembada dan Ekspor

Jenis komoditas strategis yang akan dikembangkan dalam program ini, antara lain padi, jagung, tebu, kedelai, dan peternakan. Sedangkan, konsep investasi pangan ditargetkan untuk mencapai swasembada dan ketahanan pangan, setelah itu untuk ekspor. Itulah sebabnya, kata Hilman, dalam Food Estate dibutuhkan investasi swasta, terutama dari dalam negeri.

Dia mengemukakan, untuk menjalankan usaha tersebut, kemungkinan akan diterapkan pola inti plasma, kemitraan, atau sepenuhnya inti. Sedangkan. pembagian saham investasi telah diatur dalam UU No 41/2009 tentang Perlindungan Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan, yakni 51% pemerintah daerah dan 49% investor.

Upaya pemerintah mendorong Food Estate tersebut dinilai Serikat Petani Indo-nesia (SPI) hanya memberikan kemudahan pada pemodal asing untuk mengelola lahan di Indonesia, bahkan memilikinya. Food Estate merupakan bentuk feodalisme terhadap petani dan menjadikan para petani sebagai buruh bagi pemodal.

Dari sisi pemasukan, pro-gram tersebut akan membe- ri keuntungan besar bagi pemerintah. Namun, secara tidak langsung telah melemahkan kemandirian petani In-donesia.

Untuk itu, pemerintah harus menolak penerapan Food Estate agar petani tidak di- rugikan terus. [S-26/H-12]

13
Jan
10

PEPORA : Gurita Korupsi dan Satgas Citra

Suara Pembaruan

ZOOM2010-01-12Gurita Korupsi dan Satgas Citra
Hendardi
Gurita korupsi terus berbiak yang semakin banyak melilit bagian tubuh negara – eksekutif, legislatif dan yudikatif – yang pasti ikut memerosotkan citra pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Pemerintah merasa perlu memulihkan citra dan untuk itu dibentuk Satuan Tugas (Satgas) Pemberantasan Mafia Hukum, seperti yang dijanjikan sebagai bagian dari program 100 hari, setelah meledak perseteruan antara Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dan Mabes Polri yang didukung Kejaksaan Agung (Kejagung).

Beberapa kalangan membuat ungkapan buruk: “Indonesia adalah surga para koruptor.” Mereka mengatakan, faktanya korupsi merajalela dan terus meluas, tapi kenyataannya orang-orang yang terlibat dan bertanggung jawab dalam kejahatan korupsi sangat sedikit yang dihukum. Artinya, banyak dari mereka yang diduga korupsi terus melenggang dengan bebas dan berkeliaran dengan riangnya tanpa terjangkau hukum. Mungkin karena para penegak hukumnya gagal menunaikan tugas yang diharapkan publik, atau malah penegak hukumnya justru menikmati hidup dalam “surga para koruptor.”

Jika banyak penegak hukum terlibat dan menikmati korupsi, mereka bukan saja membangun “kerajaan mafia peradilan” bersama aparat kehakiman, bahkan lebih dari itu ikut beternak gurita korupsi. Dan, mereka yang diduga korupsi menemukan kawan seiring bersama penegak hukum dan kehakiman. Sehingga, tak mengherankan jika banyak terdakwa korupsi divonis bebas oleh pengadilan. Lenggang bebas terdakwa menjadi contoh buruk penegakan hukum dan pengadilan.

Memang ada banyak contoh bahwa terdakwa dihukum. Mereka diputus pengadilan untuk menjalani hukuman penjara, tapi kebanyakan termasuk ringan. Sejumlah orang yang kritis terhadap vonis perkara korupsi menyebut korupsi sebagai tindak pidana ringan (tipiring).

UU No 31/1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi memang terbuka bagi kejahatan korupsi, karena tak mengandung ketentuan pembuktian terbalik. Setiap pelaku tak dituntut untuk membuktikan sendiri dari mana kekayaannya didapat. Dan, laporan kekayaan pejabat pun hanya sekadar formalitas saja. Dapat disimpulkan, tak ada efek jera dalam penegakan hukum atas perkara korupsi. Kekayaan mereka pun tetap bisa disembunyikan. Apalagi joke yang tertuju pada sistem peradilan, “kasih uang habis perkara” (KUHP) terus memuat memori banyak orang. Dan dengan itu juga, gurita korupsi akan terus berbiak, menjalar dan menyebarkan pengaruhnya ke segala penjuru.

Tapi warisan Orde Baru yang tak lekang adalah memperlakukan bank-bank negara/pemerintah sebagai “sapi perahan”. Jika di masa Soeharto dikenal dengan skandal Bantuan Likuiditas Bank Indonesia (BLBI) Rp 144,5 triliun, kini skandal aliran dana BI ke Bank Century Rp 7,6 triliun.

Satgas Citra

Seperti yang telah dikemukakan, citra pemerintah cenderung melorot gara-gara kekisruhan antar-penegak hukum. Sehingga, merasa membutuhkan pemolesan citra tersebut.

Pertama, kampanye pemerintah untuk “ganyang mafia hukum” diusung setelah perseteruan KPK dengan Mabes Polri-Kejagung terkait sangkaan pidana terhadap Bibit S Rianto dan Chandra M Hamzah yang membangkitkan keprihatinan banyak orang baik di Jakarta maupun sejumlah daerah, terutama ketika rekaman percakapan Anggodo diperdengarkan dalam sidang di Mahkamah Konstitusi (MK).

Selain kampanye itu, Presiden pun membentuk Tim Delapan. Tim ini menyerahkan hasil verifikasi dan akhirnya Presiden memberikan arahan agar kasus Bibit-Chandra dihentikan, tak dibawa ke pengadilan.

Kedua, meredanya kasus Bibit-Chandra, tapi telah disusul dengan dugaan skandal Bank Century. Isu ini ibarat “bola panas” yang bergulir dan menghangatkan kembali wacana publik. Sembilan anggota DPR pun memobilisi dukungan untuk pembentukan Panitia Khusus (Pansus) untuk menyelidiki penyimpangan aliran dana ke Bank Century, dengan bekal audit investigasi Badan Pemeriksa Keuangan (BPK).

Bergulirnya bola Century dari Senayan itu ternyata tak mendapatkan sikap terbuka dari sejumlah pejabat dan mantan pejabat di bidang keuangan, khususnya BI. Banyak dari mereka menjawab pertanyaan Pansus Century: tak ingat, lupa atau tak tahu. Pansus menghadapi taktik menutup diri pihak yang ditanyai.

Dalam momen politik seperti itulah Satgas anti mafia hukum dibentuk. Ia menghadapi kusutnya tali-temali birokrasi penegak hukum. Gurita korupsi di tubuh penegak hukum ini telah menumbuhkan makelar kasus (markus) untuk mengiringinya. Karena pengiring, markus bukanlah yang pokok.

Pembentukan Satgas berarti ada keadaan darurat yang membutuhkan tindakan segera. Bertindak segera, dibutuhkan wewenang yang kuat dan independen, termasuk mencopot dan menyeret pejabat atau pegawai yang terlibat mafia ke muka hukum. Tanpa itu, Satgas tak punya taring dan bisa dituding sebagai “satgas pencitraan”.

Jika tujuannya adalah pencitraan, maka ia pasti menutupi realitas sebenarnya sistem peradilan dan aparatur yang menjalankannya. Dan ini juga bisa dituding menggunakan anggaran pemerintah demi kepentingan kelompoknya.

Penulis adalah Ketua Badan Pengurus SETARA Institute

Suara Pembaruan

ZOOM2010-01-12Satgas Jangan Cari Sensasi
dok sp/Didit Majalolo

Artalyta Suryani

[JAKARTA] Berbagai kalangan menilai positif langkah awal Satuan Tugas (Satgas) Pemberantasan Mafia Hukum yang mengungkap perlakuan istimewa terhadap beberapa narapidana di Rutan Pondok Bambu, Jakarta Timur. Meski demikian, langkah itu dinilai tak substantif dan hanya sekadar mencari sensasi. Satgas justru hanya menjadi alat pencitraan pemerintah karena tidak diberi kewenangan memberantas mafia hukum.

Demikian rangkuman pendapat yang dihimpun SP, Selasa (12/1), dari praktisi hukum Hendardi, Koordinator Koalisi Masyarakat Sipil Antikorupsi (Kompak), Fadjroel Rahman, Dekan Fakultas Hukum Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara (UMSU), Farid Wadji, praktisi hukum pidana Djonggi M Simorangkir, dan Koordinator Anti-Corruption Committee (ACC) Abraham Samad.

Sementara itu, Menkumham Patrialis Akbar resmi mencopot Kepala Rumah Tahanan (Rutan) Pondok Bambu Sarju Wibowo. Selain itu, Artalyta Suryani yang menerima perlakuan istimewa di rutan tersebut juga akan dipindahkan ke rutan lain. “Saya belum bisa memastikan akan dipindah ke mana,” kata Patrialis dalam jumpa pers di Jakarta, Selasa (12/1).

Di tempat terpisah, Humas Dirjen Pemasyarakatan Depkumham M Chandran mengatakan ruang keterampilan yang dipakai Artalyta juga akan dikembalikan fungsinya.

Hendardi menilai langkah Satgas melakukan inspeksi mendadak merupakan gambaran kebingungan karena mereka tidak diberi kewenangan dan tugas yang jelas untuk memberantas mafia hukum. Pembentukan Satgas hanya sekadar upaya memulihkan citra konsistensi pemberantasan korupsi yang mulai menurun, menyusul kasus kriminalisasi Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Selain itu, Satgas juga hanya untuk mengakomodasi beberapa orang yang saat ini tidak memiliki jabatan lagi.

“Ini kan hanya politik akomodasi dan politik bersolek pemerintah, menyusul citra pemberantasan korupsi yang mulai memudar.

Tanpa kewenangan yang jelas, tidak mungkin Satgas mampu memberantas mafia hukum yang bersumber pada institusi negara, mulai dari Kepolisian, Kejaksaan, hingga Kehakiman,” katanya.

Senada dengannya, Fadjroel mengemukakan aksi Satgas hanya sekadar mencari sensasi dan untuk pencitraan, karena sama sekali tak menyentuh persoalan substantif. “Jangan mencari sensasi tetapi tidak menyentuh substansi. Substansi mafia hukum bukan pada kasus Artalyta, tetapi pada Anggodo,” kata Fadjroel.

Jika Satgas benar-benar ingin memberantas mafia hukum, kasus Anggodo harus diprioritaskan. Menurutnya, kasus Anggodo sudah kasat mata dan sangat jelas terkait mafia hukum.

Terkait hal itu, Farid berharap Presiden SBY memberikan kewenangan kepada Satgas untuk menindak oknum di institusi penegakan hukum yang terbukti melakukan pelanggaran pidana, seperti konspirasi dengan makelar kasus. “Konspirasi ini juga bagian dari korupsi. Kewenangan ini perlu diberikan Presiden untuk melepaskan diri dari sekadar pencitraan sekaligus menghindari kepentingan politis tertentu,” ujarnya.

Satgas juga harus diberi kewenangan membangun kekuatan di daerah-daerah, sehingga pemberantasan mafia hukum dapat berjalan sesuai yang diharapkan. “Bila Satgas tidak diberi kewenangan untuk mengambil tindakan yang sama, seperti Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), konspirasi mafia hukum justru semakin menggurita,” tegasnya.

Sedangkan Djonggi menyatakan langkah Satgas melakukan inspeksi mendadak jangan hanya dijadikan alat pencitraan dan sekadar menyenangkan masyarakat, tetapi yang lebih penting adalah langkah nyata memberantas mafia hukum

Satgas, lanjutnya, harus segera masuk ke lembaga-lembaga hukum, seperti Polri, Kejaksaan, dan pengadilan, karena di situlah akar masalah mafia hukum. “Dalam praktiknya, makelar kasus sering keluar-masuk ruangan pejabat-pejabat di lembaga hukum tersebut. Karena itu harus segera aksi,” katanya.

Hal itu dipertegas Abraham Samad. Menurutnya, praktik mafia hukum justru berlangsung lebih seru di daerah. Berdasarkan hasil investigasi Koalisi Masyarakat Anti Korupsi (KMAK) Sulawesi Selatan di Pengadilan Negeri (PN) Makassar, dari 19 perkara korupsi, hanya tiga kasus yang divonis bersalah, selebihnya bebas. Hal itu terjadi karena mafia peradilan pun menjamur di daerah-daerah. “Kalau ingin memberantas mafia hukum sampai ke akarnya, seharusnya Satgas memperluas jaringannya sampai ke daerah,” katanya.

Tak Ada Dispensasi

Sementara itu, Presiden SBY meminta Depkumham menindaklanjuti temuan Satgas saat melakukan inspeksi mendadak di Rumah Tahanan Pondok Bambu. Presiden menyatakan tidak boleh ada dispensasi atau perlakuan yang berbeda di antara narapidana. Hal itu disampaikan Juru Bicara Kepresidenan, Julian Aldrin Pasha, di Kantor Kepresidenan, Senin (11/1).

“Presiden meminta pihak terkait Depkumham menindaklanjuti temuan itu, bahwa bagaimana pun setiap warga negara harus memiliki hak sama di depan hukum, dengan kata lain tidak boleh ada dispensasi,” kata Julian.

Menurutnya, Presiden sudah mendengar adanya perlakuan istimewa yang diterima beberapa penghuni Rutan Pondok Bambu. Kendati demikian, laporan resmi Satgas belum disampaikan ke Presiden. “Tentu Presiden sudah mendengarkan dari sumber, dari media, (apalagi, Red) diberitakan begitu luas, pasti Presiden sudah mendengar, sebagaimana rakyat banyak. Namun, paling tidak hari ini belum dilaporkan secara resmi,” jelas Julian.

Sementara Jaksa Agung, Hendarman Supandji, menyatakan pihaknya mendukung upaya pemberantasan mafia hukum. Di Kejaksaan, ada juga tim yang mengawasi setiap tahanan Kejaksaan dan mengikuti perkara mereka.

Kejaksaan, lanjutnya, terus mengikuti perkembangan Satgas dan memastikan supaya dalam waktu dua tahun masa tugasnya berjalan baik, sehingga peradilan bebas dari mafia dan penegakan hukum berjalan profesional.

Sedangkan, Ketua Fraksi Partai Demokrat, Anas Urbaningrum, mengatakan Demokrat berpandangan tidak boleh ada perlakuan istimewa terhadap para tahanan. Jadi, siapa pun yang berada di dalam tahanan dan mendapatkan pembinaan, tidak boleh diperlakukan secara berbeda. “Tidak boleh ada perlakuan diskriminatif dan tidak boleh diistimewakan. Tidak boleh ada kasta-kasta pada para narapidana yang sedang dalam proses pembinaan, itu prinsip dari Demokrat,” jelasnya.

Depkumham, lanjutnya, harus segera membenahi masalah di lembaga permasyarakatan dan rumah tahanan. “Persoalan ini bukan persoalan baru, karena itu harus segera mendapat perhatian Menkumham,” katanya.

Pada kesempatan itu, Anas mendesak dibentuk tim untuk mengusut siapa yang bertanggung jawab atas terjadinya perbedaan perlakuan bagi narapidana di Rutan Pondok Bambu, seperti hasil temuan Satgas. [R-14/M-16/155/L-10/148/C-5/A-16]

12
Jan
10

PEPORA : Paguyuban Kaum Pancasilais Indonesia

Paguyuban Kaum Pancasilais Indonesia

Mencermati kecenderungan penguatan sektor investasi yang ternyata faktanya bertitikberat consumer goods berbasis pada potensi populasi yang 200 jutaan itu, maka tidak salah lagi kalau People Power di Indonesia boleh dikatakan adalah kini berwujud Politik Ekonomi Kerakyatan, mengingatkan akan keberadaan sila-4 Pancasila yakni Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmah kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan.

Artinya kelembagaan permusyawaratan/perwakilan itu dikenali tidak hanya eksis di ranah Politik semata seperti yang dipahami selama ini tetapi juga kini terbukti hidup secara alamiah di ranah Ekonomi khususnya Ekonomi Kerakyatan, cerminan Ketahanan Bangsa.

Hal ini didukung pula oleh perkembangan tingkat pertumbuhan ekonomi Indonesia yang sepanjang 2009 adalah ternyata positif dibandingkan beberapa Negara lain yang selama ini selalu digarisbawahi sebagai maju, walaupun proses deindustrialisasi menurut berbagai kalangan potensial menghantui Indonesia.

People Power berbasis Ekonomi Kerakyatan ini dirasakan oleh banyak pihak sebagai lebih mengakarrumput daripada geliat People Power sebagai wujud bentuk2 perlawanan yang kini dikenali luas terutama didaerah perkotaan terhadap Political Power dalam hal ini Pemerintah.

Bahkan terkesan bahwa dinamika Economic Power itu sebenarnya bermain lepas daripada geliat Political Power itu sendiri, bagaimana tidak, ditengah berbagai konflik politik internal bangsa dan Negara di awal 2010 ini justru ditandai bahwa Indonesia di Asia Tenggara menjadi daerah tujuan investasi dunia selain India dan China. Dan kekuatan pasar Indonesialah yang ternyata menjadi faktor penentunya terkait populasi sebagai argumentasi obyektif.

Fenomena ini bisa menarik jadi kajian para pihak, namun singkat kata, modal dasar bangsa Indonesia berupa jati diri khas yang terkandung holistik yaitu Pancasila itulah yang sebenarnya menjadi arus bawah sadar rakyat Indonesia bergerak dalam dinamika kehidupan sehari-hari.

Oleh karena itulah, saatnya kini lebih ditanamkan penguatan kesadaran diri bahwa beragam bentuk-bentuk paguyuban kaum Pancasilais Indonesia di berbagai strata sosial struktural patut dikembangtumbuhkan guna mengawal pertumbuhan Ekonomi Kerakyatan itu sendiri secara terus-menerus, demi Kesejahteraan Rakyat yang ber Keadilan Sosial.

Realitas People Power oleh dan untuk Ekonomi Kerakyatan ini, dari sisi lain, seharusnya bisa jadi daya dorong tersendiri bagi Political Power dalam hal ini Pemerintah untuk lebih cepat berbenah diri agar pada gilirannya tidak kelibas dan/atau terpinggirkan secara alamiah.

Jiwa, semangat dan nilai-nilai Pancasila sesungguhnya terbukti hidup di keseharian akar rumput, dan barangkali tidak atau belum menyeluruh justru di strata sosial struktural ?

Jakarta Selatan, 12 Januari 2010

Pandji R Hadinoto / Majelis Benteng Pancasila / www.pkpi.co.cc / HP : 0817 983 4545

Apakah Ideologi Pancasila sudah menjadi ideologi bangsa?

Oleh: Teddy Sunardi
Malam hari 11.01.2010

Ideologi adalah kumpulan ide atau gagasan. Kata ideologi sendiri diciptakan oleh Destertt de Tracy pada akhir abad ke-18 untuk mendefinisikan “sains tentang ide”. Ideologi dapat dianggap sebagai visi yang komprehensif, sebagai cara memandang segala sesuatu (bandingkan Weltanschauung), secara umum (lihat Ideologi dalam kehidupan sehari hari) dan beberapa arah filosofis (lihat Ideologi politis), atau sekelompok ide yang diajukan oleh kelas yang dominan pada seluruh anggota masyarakat. Tujuan untama dibalik ideologi adalah untuk menawarkan perubahan melalui proses pemikiran normatif. Ideologi adalah sistem pemikiran abstrak (tidak hanya sekadar pembentukan ide) yang diterapkan pada masalah publik sehingga membuat konsep ini menjadi inti politik.
Ada beberapa definisi lain tentang ideologi yang kita pernah pelajari dibangku sekolah dan kuliah:
Destertt de Tracy:
Ideologi adalah studi terhadap ide – ide/pemikiran tertentu.
Descartes:
Ideologi adalah inti dari semua pemikiran manusia.
Machiavelli:
Ideologi adalah sistem perlindungan kekuasaan yang dimiliki oleh penguasa.
Thomas H:
Ideologi adalah suatu cara untuk melindungi kekuasaan pemerintah agar dapat bertahan dan mengatur rakyatnya.
Francis Bacon:
Ideologi adalah sintesa pemikiran mendasar dari suatu konsep hidup.
Karl Marx:
Ideologi merupakan alat untuk mencapai kesetaraan dan kesejahteraan bersama dalam masyarakat.
Napoleon:
Ideologi keseluruhan pemikiran politik dari rival–rivalnya.

Sampai saat ini kalau kita lihat secara nyata Pancasila ternyata terbukti masih merupakan wacana atau bahkan mungkin sebagai impian yang belum tercapai. Pancasila terbukti  belum pernah dijadikan ideologi secara nyata di tanah air Indonesia. Pemerintah Indonesia sampai saat ini belum mencerminkan kehidupan yang berpancasila.
Artinya Pancasila sampai saat ini hanyalah berupa slogan kosong alias senjata bagi para oposisi politik di tanah air dalam tujuannya menguras suara rakyat sebanyak-banyaknya.

Jika memang betul Republik Indonesia berlandaskan Pancasila, maka sistem ekonomi yang Indonesia anut tidak mungkin sistem liberalisme seperti yang terbukti  dianut oleh penyelenggara pemerintahan saat ini.
Menurut pengamatan saya dari buku-buku yang pernah saya baca, Pancasila versi Presiden pertama Republik Indonesia Soekarno tidak pernah diwujudkan oleh pemerintahan pasca pemerintahan beliau.
Keadilan sosial bagi seluruh rakyat indonesia tidak pernah terwujud dalam bentuk yang nyata.  Dimana keadilan sosial yang dimaksud oleh para pendiri negara? Generasi muda bangsa Indonesia setelah Merdeka 65 tahun sangat  sulit mempercayai janji yang bertumpu kepada kalimat nan indah „keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia“. Rakyat
Indonesia tentunya  sudah bosan disuguhi  janji-janji yang tidak pernah ditepati. Mulai dari janji tidak merangkap jabatan, janji memberantas dan mengadili korupsi, sampai janji pada pendidikan gratis bagi seluruh rakyat Indonesia. Janji tinggal janji, semua itu hanya mimpi – padahal Indonesia yang dicita-citakan oleh pendiri negara bukanlah Republik Mimpi.
Dimana semangat ideologi Pancasila itu? Dimana keadilan sosial yang dimaksudkannya? Padahal kalau kita simak bersama, kata „adil“ telah muncul pula pada sila kedua yakni  „Kemanusiaan yang Adil dan Beradab“. Tapi ternyata terbukti bahwa sungguh sulit menerapkan keadilan yang seadil-adilnya itu di tanah air Indonesia.
Pemerintah sebenarnya sudah melakukan langkah antisipasi untuk sistem pemerataan sosial bagi seluruh bangsa Indonesia dengan menjalankan program otonomi daerah. Permasalahannya adalah sejauh mana otonomi daerah bisa efektif dalam mewujukan keadilan itu semua?

Sekarang kita sebagai pewaris cita-cita para pendiri negara Indonesia harus pertanyakan bersama kepada penyelenggara negara Indonesia dimanakah program pemerintah (dari awal ORDE BARU sampai hari ini) yang katanya bertujuan mengentaskan kemiskinan di tanah air? Yang katanya adalah tujuan murni daripada ideologi Pancasila? Atau dengan kata lain apakah  keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia didalam rumusan ideologi Pancasila sila kelima itu berlaku untuk seluruh rakyat indonesia? atau hanya berlaku untuk sekelompok „rakyat“ Indonesia yang duduk di Istana  dan bernaung di kompleks nan megah dan anggun „SENAYAN“?
Untuk menjalankan ideologi Pancasila secara murni dan konsekuen hendaknya para pemimpin yang terpilih untuk memimpin bangsa Indonesia menyadari beberapa hal:

Sekiranya dalam  mendukung dan mengamalkan Pancasila tidak menggunakan standar suatu agama tertentu untuk dijadikan tolak ukur nilai moralitas bangsa Indonesia. Sesungguhnya tidak ada agama yang salah dan mengajarkan permusuhan. Kesalahan terbesar dan sangat berbahaya dan sangat bertolak dengan kepribadian ideologi Pancasila yang dapat kita simak sampai hari ini adalah seolah-olah dengan nyata beberapa tokoh-tokoh politik Indonesia baik yang duduk di parlemen Maupun „parlemen jalanan“ berhasrat menjadikan salah satu daripada agama resmi di Indonesia sebagai standar tolak ukur benar salah dan moralitas kehidupan berbangsa dan bernegara.

Mempersalahkan SBY sebagai pendukung liberalisme ditanah air saat ini juga adalah tuduhan yang tidak logis, walaupun saya bukan pendukung SBY tapi perlu diingat bahwa  dengan dikeluarkannya UU Penanaman Modal Asing pada tahun 1967, Soehartolah sebenarnya yang telah membawa Indonesia kedalam tatanan ekonomi yang dikonstruksi oleh paham kapitalisme-liberalisme secara mendalam. Jadi sebenarnya Soehartolah „sang Pendukung pancasila yang murni dan konsekuen“ yang sebenarnya telah melanggar ajaran ideologi Pancasila.

Republik Indonesia saat ini walaupun berikrar bahwa berideologi Pancasila namun kenyataannya ideologi yang dijalankan adalah ideologi karaoke (kanan kiri oke).  Dahulu waktu saya masih duduk dibangku sekolah pada pelajaran PMP, PSPB atau lainnya dikatakan bahwa ideologi bangsa Indonesia bukanlah komunis dan juga bukan liberalis. Tentunya kenyataan ini sangat sulit dicerna oleh kaum terpelajar, sebab  tidak kiri atau tidak kanan berarti Republik Indonesia pada kenyataannya tidak  memiliki ideologi dalam istilah hukum tata negara kita kenal dengan istilah anarkis. Hal ini pada zaman Orde Baru justru mengakibatkan para penyelenggara negara mengambil semua keburukan
daripada liberal barat  yakni swastanisasi dan liberalisasi perdagangan  dan tentunya pula semua keburukan daripada pemerintahan negara-negara penganut ideologi komunisme  yaitu  represi (penahanan tokoh-tokoh oposisi dll) dan sensor informaci seperti pemberedelan.
KARAOKE ideologi seperti itulah yang menyebabkan bangsa Indonesia dapat dengan mudah diombang-ambingkan, tergantung pihak mana yang memainkannya – Indonesia seolah dijadikan negara wayang oleh penyelenggaranya.
Pertanyaannya sekarang adalah:  Apakah Ideologi Pancasila sudah menjadi ideologi bangsa?

Salam hangat

Teddy Sunardi

Ketidakpastian Usaha Hambat Investasi

Selasa, 12 Januari 2010 | 03:04 WIB

Jakarta, Kompas – Implementasi UU Nomor 4 Tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batu Bara berdampak pada perubahan sistem perizinan pertambangan. Hal ini dikhawatirkan menimbulkan ketidakpastian usaha pertambangan.

Untuk menciptakan iklim investasi kondusif, pemerintah sedang menyelesaikan penyusunan rancangan peraturan pemerintah. Sebelumnya pemerintah menargetkan semua aturan pelaksanaan UU Mineral dan Batu Bara (Minerba) bisa diterbitkan tahun 2009.

Menurut Dirjen Mineral, Batu Bara, dan Panas Bumi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral Bambang Setiawan dalam Konferensi Pertambangan 2010, Senin (11/1) di Jakarta, berlakunya UU Minerba mengubah sistem perizinan pertambangan mineral dan batu bara.

Perizinan yang semula diberikan dalam bentuk kuasa pertambangan (KP), kontrak karya (KK), perjanjian karya pengusahaan pertambangan batu bara (PKP2B) menjadi izin usaha pertambangan (IUP). Mekanisme perizinan pertambangan minerba yang semula pencadangan wilayah untuk semua bahan galian kini IUP diterbitkan pada wilayah izin usaha pertambangan mineral logam dan batu bara dengan cara lelang.

Sebanyak 42 perusahaan KK dan 76 perusahaan PKP2B harus menyesuaikan kontrak, antara lain kewajiban pengolahan dan pemurnian, penerapan kewajiban memasok ke domestik. Hingga Januari 2010, baru 28 perusahaan PKP2B yang negosiasi amandemen dan 9 perusahaan KK yang memberikan masukan. ”Ada penolakan dari perusahaan dengan wilayah besar,” ujarnya.

Menurut laporan Ditjen Minerbapum, sekitar 3.000 KP dikeluarkan daerah. Untuk itu, kepala daerah diminta tidak menerbitkan IUP sampai PP sebagai pelaksana UU Minerba terbit.

Direktur Eksekutif Asosiasi Pertambangan Indonesia Priyo Pribadi berharap pemerintah memberikan waktu untuk penyesuaian. ”Perlu kebijakan di daerah agar kegiatan pertambangan bisa efisien, tak dibebani beragam pungutan dan pajak berganda,” ujarnya.

Pasokan gas

Sementara itu, penyelesaian masalah pasokan gas ditangani langsung di bawah koordinasi Wakil Presiden Boediono. Ada dua kementerian yang tengah menyatukan persepsi terkait pasokan gas itu, yakni Kementerian ESDM dan Kementerian Negara Badan Usaha Milik Negara.

”Saya harap 2010 ada titik terang penyelesaian masalah gas. Kalaupun selesainya tahun 2011, saya sudah menegaskan pasokan gas untuk menutup kebutuhan dalam negeri jauh lebih penting dibanding luar negeri,” ujar Menneg BUMN Mustafa Abubakar.

Untuk mempercepat proses penyelesaian masalah gas, Wapres menggelar rapat koordinasi hampir seminggu sekali. Isu signifikan yang dicari jalan tengahnya adalah regulasi yang dibuat Kementerian ESDM. Aturan ESDM diharapkan tak berbenturan dengan keinginan BUMN. (EVY/OIN)

Tiga Kendala Investasi

Selasa, 12 Januari 2010 | 03:01 WIB

Jakarta, Kompas – Tiga kendala yang menghambat dunia usaha, yakni ketidaktersediaan infrastruktur yang memadai, keterbatasan energi, dan masih buruknya regulasi, menjadi sorotan utama dalam peningkatan investasi. Indonesia harus berbenah diri supaya kompetitif di pasar global.

Hal itu mengemuka dalam Forum Bersama Ekonomi Indonesia-Jepang di Jakarta, Senin (11/1). Delegasi Indonesia dipimpin oleh Menteri Koordinator Perekonomian Hatta Rajasa, sedangkan delegasi Jepang dipimpin oleh Minister of Economic, Trade and Industry Masayuki Naoshima.

Naoshima mengatakan, penataan infrastruktur adalah hal penting bagi investor, terutama bagi pengusaha Jepang. Apalagi, dalam forum ini, Pemerintah Indonesia mulai memperkenalkan program percepatan pembangunan dalam kerangka Indonesian Economic Development Corridor.

Koridor pengembangan ekonomi yang dimaksud berupa peta enam koridor potensial yang dapat digarap investor. Enam koridor tersebut adalah Sumatera bagian timur dan Jawa Barat bagian utara, Jawa bagian utara, Kalimantan, Sulawesi bagian barat, Jawa Timur-Bali-Nusa Tenggara, dan Papua.

Kimisa Imadha, pimpinan Jakarta Japan Club (JJC), mengatakan, ”Kepastian hukum dan kekurangan infrastruktur menjadi masalah mendesak yang harus segera diperbaiki. Selain itu, kami juga menyoroti peningkatan usaha kecil dan menengah sebagai strategi ekonomi, kebijakan ekonomi global, program energi, pangan, dan lingkungan hidup.”

Hatta Rajasa mengatakan, forum ini sudah menyepakati beberapa kerja sama ekonomi dengan arah yang lebih strategis. Isu perbaikan iklim investasi akan terus dilakukan.

”Dalam 100 hari pemerintahan baru, pemerintah berkomitmen menghilangkan hambatan-hambatan yang dirasa mengganggu iklim investasi,” ujar Hatta.

Menteri Perdagangan Mari Elka Pangestu mengakui adanya peraturan yang masih tumpang tindih sehingga menyebabkan ketidakpastian hukum. Pembenahan sistem kepabeanan pun masih perlu dijadikan prioritas.

Di sektor energi, Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral Evita Legowo menyatakan, kerja sama dengan Jepang diharapkan bisa mendorong efisiensi energi.

Jepang dikenal maju dalam teknologi efisiensi, konservasi, dan diversifikasi energi. ”Kami fokus pada pengelolaan permintaan energi. Untuk mempermudah penggunaan energi baru dan terbarukan, diperlukan insentif baik fiskal maupun bentuk insentif lain,” ujar Evita.

Tak ada kepastian hukum

Kusumo AM, Ketua Kadin Komite Indonesia-Jepang, menyebutkan, regulasi dalam pembangunan infrastruktur perlu perbaikan. Misalnya, jangka waktu pemanfaatan lahan, tidak ada kepastian hukum.

Dalam memenuhi kebutuhan energi, perlu dukungan regulasi dengan tarif memadai atau sesuai nilai keekonomian. Meski sumber daya alam melimpah, ketersediaan gas alam dan batu bara di Indonesia terbatas dan belum memenuhi kebutuhan karena terkendala infrastruktur.

Wakil Ketua Umum Kadin Industri Bidang Industri, Riset, dan Teknologi Rahmat Gobel menekankan peluang strategis yang bisa dimanfaatkan dalam hubungan Indonesia-Jepang.

Arahnya adalah memperkuat industri nasional supaya Indonesia menjadi basis industri, seperti otomotif dan elektronika. Ini diperlukan untuk mengantisipasi dampak Perjanjian Perdagangan Bebas ASEAN-China.

”Kita harus bisa memanfaatkan hubungan bilateral dengan Jepang, tetapi pemerintah harus punya konsep dan sasaran yang jelas,” tegas Rahmat.

Menurut Rahmat, industri harus bisa memanfaatkan teknologi Jepang untuk bisa dikembangkan di Indonesia sehingga mampu meningkatkan produktivitas dan menghasilkan nilai tambah.(OSA/HAR/EVY)

Suara Pembaruan

2010-01-14Pertumbuhan Penduduk Tinggi Positif bagi Pertumbuhan Ekonomi
Wilson Rajagukguk

[JAKARTA] Pertumbuhan penduduk yang tinggi dapat berpengaruh terhadap pertumbuhan ekonomi. Karena itu, meskipun program keluarga berencana (KB) digalakkan Indonesia, di sisi lain diperlukan angka pertumbuhan penduduk yang tinggi untuk meningkatkan angka pertumbuhan ekonomi.

Pendapat yang didasarkan atas kajian penelitian itu dilontarkan oleh dosen Sekolah Tinggi Teologia (STT) Baptis Jakarta, Wilson Rajagukguk dalam disertasi doktornya di Universitas Indonesia (UI), Depok, Jawa Barat, Kamis (14/1) pagi. Penelitian itu berangkat dari keinginan membuktikan dan mencari kebenaran mengenai adakah hubungan antara pertumbuhan ekonomi dan pertumbuhan penduduk.

Karena itu, Wilson Rajagukguk dalam disertasinya berjudul Pertumbuhan Penduduk sebagai Faktor Endogen dalam Pertumbuhan Ekonomi Indonesia mengangkat masalah tersebut dalam ujian untuk meraih gelar doktor ilmu ekonomi di UI dengan penguji Sri Moertiningsih Adioetomo, Nachrowi Djalal, Prijono Tjiptoherijanto (promotor), berikut N Haidy Pasay, dan Mangara Tambunan dengan hasil sangat memuaskan.

Berdasarkan simulasi dan analisis yang dilakukan dalam penelitiannya, ternyata terlihat kalau angka pertumbuhan ekonomi proporsional terhadap angka pertumbuhan penduduk. Ini berarti, pertumbuhan penduduk di Indonesia berpengaruh positif terhadap pertumbuhan ekonomi. Penelitian Wilson ini diperkuat dengan argumen yang dikemukakan oleh Jones (1995), yaitu pertumbuhan ekonomi yang tinggi pada masa lalu disebabkan oleh pertumbuhan penduduk yang tinggi.

Seperti diketahui, ada tiga aliran pemikiran dalam beberapa periode waktu yang membahas mengenai hubungan antara pertumbuhan penduduk dan pertumbuhan ekonomi. Aliran pertama adalah aliran tradisional pesimistis (1950-1970-an) yang beranggapan kalau pertumbuhan penduduk yang tinggi akan menghambat pertumbuhan ekonomi (Malthusian dan Neo-Malthusian).

Masa Lalu

Aliran kedua adalah aliran revisionis yang meragukan pernyataan aliran sebelumnya karena tidak disertai dengan cukup bukti empiris. Sedangkan, aliran ketiga adalah aliran yang beranggapan kalau pertumbuhan penduduk memang sangat berarti bagi perkembangan ekonomi (population does matter, Birdsall dan Sindings, 2001).

Selain itu, disertasi timbul akibat banyaknya pendapat berbeda dari berbagai pemikir hebat mengenai pertumbuhan ekonomi pada masa lalu apakah karena meningkatnya pertumbuhan penduduk. Dengan menggunakan indikator angka pertumbuhan konsumsi, angka pertumbuhan kapital dan angka pertumbuhan output untuk mengevaluasi pertumbuhan ekonomi dan menggunakan indikator angka pertumbuhan penduduk untuk mengevaluasi pertumbuhan penduduk, maka penelitian ini lebih dapat akurat.

Sementara itu, Young (1995) mengemukakan, kalau pertumbuhan yang terjadi di Indonesia bersama Jepang, Hong Kong, Korea Selatan, Taiwan, Singapura, Thailand, dan Malaysia merupakan dampak transisi demografi. Negara-negara tersebut bertumbuh karena mereka mengambil langkah besar dalam akumulasi modal fisik dan modal manusia.

Karena itu, Wilson ingin membuktikan kalau pendapat yang mengemuka selama ini kalau pertumbuhan penduduk berbanding negatif dengan pertumbuhan ekonomi adalah salah. Karena masih ada indikasi yang lain, yaitu berhubungan dengan anak usia sekolah yang selanjutnya bekerja. [NOV/M-17]

12
Jan
10

PEPORA : Tritura 2010

Suara Pembaruan

ZOOM2010-01-11Tritura 2010

THE GLOBAL NEXUS

Christianto Wibisono

Tanggal 10 Januari 1966, 43 tahun yang lalu, Sarwo Edie berdiri diatas meja praktikum di plasa Fakultas Kedokteran UI Salemba 6 melepas pendemo Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia (KAMI) meluncurkan Tri Tuntutan Rakyat. Esensi tuntutan adalah, Bubarkan PKI, Rombak Kabinet, dan Turunkan Harga. Sebagai aktivis Ikatan Pers Mahasiswa Indonesia (IPMI), saya ditunjuk oleh Kepala Pusat Sejarah ABRI DR Nugroho Notosusanto tahun 1970 menulis buku Aksi Tritura, 60 Hari Rezim Change dari Bung Karno ke Jenderal Soeharto.

Sarwo Edie yang tampil 10 Januari 1966 itu terpinggirkan oleh intrik pusat kekuasaan di sekitar Soeharto dan tidak pernah comeback sampai menantunya menjadi presiden 20 Oktober 2004. Bung Karno pernah mengalami iklim pasang- surut mirip roller coaster dan menutup karier secara tragis sebagai “tapol Soeharto”. Soeharto akan mengalami hukum karma, tidak jelas nasib dan statusnya walaupun Golkar ngotot mau mengklaim sebagai Pahlawan Nasional. Elite Indonesia paling pintar kasak-kusuk, intrik, dan manipulasi legal formal dengan memakai faktor eksternal untuk merebut kekuasaan.

Pada 10 Januari 1966 Sarwo Edie membuka salvo demo Tritura dan dalam 60 hari Bung Karno memberi Supersemar kepada Soeharto. Setelah itu, Supersemar diserobot oleh MPRS yang dibersihkan dari anggota PKI yang pada tahun 1963 mengangkat Bung Karno jadi Presiden Seumur Hidup, tega menggusur Bung Karno dari tampuk Presiden.

Pada 1978 dalam buku Wawancara Imajiner dengan Bung Karno, sudah ada kerisauan bahwa kelak Vietnam akan menjadi pesaing Indonesia. Bung Karno wanti-wanti pesan bahwa dia akan malu jika kalah dari Ho Chi Minh. Soeharto membreidel buku Wawancara Imajiner dengan Bung Karno dan buku putih ITB serta membubarkan Dewan Mahasiswa se Indonesia. Nugroho Notosusanto mengatakan buku saya dibreidel karena seluruh Dewan mengacu pada wawancara Bung Karno agar Soeharto turun pada dua termin saja. Soeharto lolos dari 1978 setelah membreidel semua koran termasuk Kompas, yang baru diizinkan terbit kembali setelah menulis surat minta maaf dan berjanji tidak akan mengkritik Soeharto lagi.

Selaku CEO PDBI yang mengamati korelasi politik ekonomi sejak 1980, pada 1987 saya telah memperingatkan rezim Soeharto melalui pelbagai CEO Summit dan Kajian PDBI tentang pelbagai policy yang selalu harus disesuaikan dengan tantangan globalisasi. Ketika Sumarlin melakukan gelombang pembukaan bank baru 1988, PDBI mengusulkan pembentukan lembaga Asuransi Deposito mengacu kepada FDIC di AS untuk meredam krisis perbankan.

Ketika krisis 1997 mulai merebak, saya memberi masukan pada bulan Juni bahwa sebaiknya rupiah langsung didevaluasi menjadi Rp 5.000. Tapi, Soeharto telanjur malu pada janji tidak devaluasi yang dia langgar 4 kali pada 1971, 1978, 1983 dan 1986. Karena itu, pada 1991 Sumarlin hanya melakukan gebrakan tight money policy. Pada 1997 Menkeu Mar’ie Muhammad maupun Gubernur BI Soedradjad Djiwandono, malah melepas peg membiarkan rupiah floating digempur spekulan model Soros dan terjun bebas sampai Rp 17.000 di akhir 1997. IMF menggebrak 16 bank hingga situasi memburuk dan Soeharto panik mengundang Steve Hanke yang usulnya hanya mendaur ulang usulan PDBI bahwa rupiah di peg pada kurs Rp 5.000 dengan sistem CBS.

Michael Camdessus mengancam Soeharto kalau nekad dengan CBS, IMF akan cabut dari Indonesia. Clinton menelepon Soeharto dan para Ken Arok di sekitar Soeharto agar segera melakukan operasi Empu Gandring. Keris ditusukkan kepada Soeharto dengan lumuran darah rakyat tak berdosa. Soeharto yang merasa dikhianati oleh trio Ken Arok sampai wafat tidak mau ketemu mereka yang menjilati secara memuakkan waktu Soeharto jaya. Tapi menikamkan keris ketika Soeharto kepepet..

Virus Ken Arok warisan Soeharto atau lebih tepat, sejak proklamasi elite kita sudah gemar dan ahli memainkan peranan Ken Arok satu sama lain. Tetap akan berjaya sampai era menantu Sarwo Edi menjadi presiden yang tersandra oleh parlemen, dan koalisi yang penuh pemain berwatak Ken Arok.

Akbar Tandjung dianggap mengkhianati Habibie karena membiarkan laporan pertanggunganjawabnya ditolak, sehingga Habibie tidak bersedia dicalonkan pada Pilpres oleh MPR 1999.

Amien Rais memakai Poros Tengah mengusung Presiden Gus Dur merenggut hak Megawati menjadi Prssiden karena PDI-P partai terbesar di MPR. Selingkuhan Poros Tengah hanya berumur dua tahun dan Gus Dur dilengserkan oleh Amien Rais Megawati dengan kemelut Buloggate dan Brunei gate yang tidak pernah dijernihkan sampai Gus Dur wafat. Amien Rais gagal jadi presiden dan capres yang selalu kalah, tapi tetap tegar menjadi Ayatollah (Ketua MPP) PAN hingga Sabtu kemarin.

Megawati tidak pernah memaafkan SBY yang dianggap menjadi Ken Arok karena mendadak menjadi capres 11 Maret 2004 setelah Tom Ridge Sec of Homeland Security datang ke kantor Menko Polkam Merdeka Barat. Megawati gagal memainkan kartu Bush dan AS walaupun ia adalah kepala negara pertama yang datang ke Gedung Putih setelah serangan WTC 11 September 2001. Indonesia gagal memanfaatkan peluang diplomatic strategic.

Meminjam teori Moisi, jika Indonesia dibawah Megawati bisa menjadi culture of hope, mediator and honest broker maka dalam perang opini publik tentang terorisme, Indonesia punya nilai strategis yang bisa dikapitalisasikan pada tingkat puluhan miliar dolar. Dalam dialog dengan Paul Wolfowitz saya menyatakan bahwa bila Indonesia berfatwa sebagai Islam moderat, yang bisa menenteramkan dunia dan mendudukkan isu teror pada proporsinya, maka itu setara dengan 50 miliar dolar yang dikeluarkan AS untuk Pakistan dan propaganda anti teror. Wolfowitz menjawab bahwa elite Indonesia terkadang lebih galak dari Hamas.

Gus Dur sudah meninggal dunia. Daripada sekadar memberi gelar Pahlawan, lebih otentik dan afdol jika SBY benar-benar melaksanakan amanah menjadi jurudamai Timur Tengah, menjadi ujung tombak dari culture of hope, culture of reconciliation, peacemaker, honest broker, mediator and catalyst for peace.

Barangkali renungan ini sangat utopis, wishful thinking tapi dalam rangka mengingat pengorbanan para elite Indonesia yang saling bantai, kudeta, suksesi berintrik dan berdarah, setiap kali ganti presiden mesti melalui darah dan airmata, maka mestinya elite dan terutama dipelopori oleh menantu Sarwo Edi harus berani meluncurkan Tritura Baru 2010.

Rumusan Tritura baru 2010 adalah, pertama, bubarkan “Partai Lumpur Indonesia,” semua partai yang terlibat dalam bencana lumpur politik yang memberatkan dan membebani rakyat, baik melalui tingkah laku penguasa dan petinggi partai yang penuh conflict of interest maupun yang membohongi rakyat dalam kampanye dan oknum oknumnya terlibat dan terkait dengan kasus-kasus yang ternyata di tebang pilih oleh KPK.

Kedua, rombak Kabinet yang tidak efisien, tidak profesional, penuh dagang sapi, penuh Ken Arok dan penuh intrik Empu Gandring, sehingga Indonesia terpuruk dan kalah bersaing bahkan dengan Kamboja, Laos dan Myanmar untuk menghadapi tantangan globalisasi dan era perdagangan bebas ASEAN, suatu mental “balung kere” yang memalukan dan hypochondrist (tidak percaya diri) yang memilukan..

Ketiga, bangkitkan semangat Borobudur dalam memanfaatkan Momentum G20 dan Chindonesia untuk suatu kebangkitan Indonesia yang percaya diri (assertive), punya jati diri.

Indonesia harus bisa bangkit, Indonesia Inc harus memimpin ASEAN Inc dan percaya diri serta punya semangat daya saing kuat untuk tampil menjadi salah satu Troika kekuatan Asia yang baru (China, India dan Indonesia). Semoga Tritura 2010 ini akan dipenuhi oleh Presiden SBY dan elite politik Indonesia agar kita sukses mewariskan legacy. Indonesia 5 Besar 2025 dan berhasil memulihkan semangat jati diri Pancasila dan Borobudur dalam realitas geopolitik abad XXI. Pada 26 Januari Global Nexus Institute akan membedah peluang dan respond Indonesia Inc untuk memanfaatkan momentum peluang emas ini dengan. Fokus adalah Empowering Indonesia Inc, ASEAN Inc When China Rules the World (Memberdayakan Indonesia Inc, ASEAN Inc Ketika Tiongkok Merajai Dunia.

Penulis adalah pengamat masalah nasional dan internasional

Suara Pembaruan

ZOOM2010-01-09Rakyat Dewasa Sikapi Situasi Politik

Dok SP – Burhanuddin Muhtadi

[JAKARTA] Rencana aksi unjuk rasa dari sejumlah elemen masyarakat yang bergabung dalam Petisi 28 dan akan digelar pada 11-28 Januari mendatang diyakini tidak akan mengganggu stabilitas ekonomi dan politik Indonesia. Pasalnya, rakyat dinilai telah dewasa dalam menyikapi situasi politik dan aksi-aksi demonstrasi-demonstrasi yang terjadi. Selain itu, para pelaku usaha tidak akan gampang terpengaruh dengan aksi-aksi seperti itu.

“Saya melihat, aksi seperti itu tidak akan menimbulkan instabilitas politik. Masyarakat kita telah dewasa, bahkan lebih dewasa dari para elite. Pelaku usaha pun bisa menyesuaikan diri dengan demo-demo yang digelar,” kata pengamat politik dari Lembaga Survei Indonesia (LSI) Burhanuddin Muhtadi kepada SP di Jakarta, Sabtu (9/1).

Sebelumnya, pada Kamis (8/1), juru bicara Petisi 28 Haris Rusli mengemukakan, pihaknya akan menggelar unjuk rasa pada 11 dan 28 Januari mendatang. Aksi digelar di Istana Presiden dengan tuntutan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dan Boediono mundur dari jabatan. Mereka beralasan, SBY dan Boediono telah gagal memimpin bangsa ini.

Sejumlah tokoh akan mengikuti dalam demo itu, seperti Hatta Taliwang (mantan anggota DPR dari PAN), Adhie M Massardi dari Komite Indonesia Bangkit (KIB), pengamat politik Universitas Indonesia (UI) Boni Hargens, sosiolog Kastorius Sinaga, pengamat politik dari Universitas Paramadina Yudi Latif, dan aktivis Koalisi Masyarakat Sipil Antikorupsi (Kompak) Ray Rangkuti.

Menurut Burhanuddin, aksi itu hanya efektif menekan SBY dan Boediono agar bekerja lebih keras lagi. Dengan itu, SBY dan Boediono diharapkan bekerja seolah-olah tidak terjadi apa-apa. Dia meyakini, aksi itu tidak terlalu berpengaruh banyak terhadap stabilitas bangsa, bahkan sampai menurunkan presiden dan wakil presiden. Menurutnya, tuntutan SBY-Boediono mundur terlalu prematur, karena baru memerintah 100 hari pertama.

“Saya mendukung aksi unjuk rasa itu sebagai bentuk ekspresi pendapat. Tetapi, soal substansi tuntutannya, terlalu prematur. SBY-Boediono baru memerintah 100 hari. Jika SBY dianggap gagal dalam lima tahun lalu, mengapa pada pemilu lalu dipilih hanya satu putaran,” ujarnya.

Jangan Parsial

Rektor Universitas Muhammadiyah Malang Muhadjir Effendy mengatakan, dalam mengkritisi kebijakan pemerintah tidak boleh dilihat secara parsial semata. Pada sektor-sektor tertentu dari program 100 hari pemerintahan SBY-Boediono mungkin tidak berhasil, namun di sektor lain ada juga yang berhasil.

“Pada sektor ekonomi, kita harus mengakui pemerintahan Presiden SBY berhasil, karena devisa dari hasil perdagangan internasional sangat positif, inflasi dapat ditekan, dan suku bunga perbankan mulai menurun. Sehingga, sektor riil bergerak baik,” ujarnya.

Diakui, skandal Bank Century sangat mengganggu kerja Kabinet Indonesia Bersatu (KIB) II kendati tidak terkait dengan program 100 hari pemerintahan Presiden SBY. “Kalau Petisi 28 mengancam hendak menurunkan Presiden SBY, itu sulit. Karena, sejak UUD 1945 diamendemen, posisi presiden secara konstitusional sangat kuat. Apalagi, kalau aksi demo itu mengacu pada program 100 hari KIB II. Program 100 hari tidak berhasil pun tidak akan membawa implikasi hukum, karena sama sekali tidak memiliki landasan hukum,” ujarnya.

Sosiolog dari Universitas Sumatera Utara (USU) Badaruddin mengatakan, aksi unjuk rasa oleh kalangan mahasiswa dan lembaga swadaya masyarakat tidak perlu dikhawatirkan. Bila aksi itu ditentang justru bisa membuat situasi memanas, bahkan bisa menimbulkan kerusuhan.

Menurutnya, aksi unjuk rasa dari berbagai elemen masyarakat ke jalanan merupakan buntut dari ketidakpuasan terhadap pemerintah, Dewan Perwakilan Rakyat (DPR), dan penegakan hukum. Aksi seperti itu sangat beralasan, karena rakyat sudah bosan melihat perkembangan situasi belakangan ini.

“Ada ketidakpuasan terhadap penanganan kasus dugaan kriminalisasi dua pimpinan Komisi Pemberantasan Korupsi beberapa waktu lalu dan penanganan skandal Bank Century. Apalagi, kemarin justru anggota DPR memperlihatkan sesuatu yang tidak wajar dengan mengucapkan kata-kata kotor,” katanya. [R-14/070/155]

Mengerti Risiko Sistemik

Selasa, 12 Januari 2010 | 02:43 WIB

Roby Muhamad

Skandal Bank Century telah membuat istilah risiko sistemik begitu akrab di telinga. Akan tetapi, apa yang terdengar akrab tidak otomatis juga telah dimengerti secara benar.

Contoh paling gamblang adalah istilah risiko sistemik sering dikaitkan dengan pertanyaan apakah Century punya risiko sistemik atau tidak? Jika kita mengerti risiko sistemik, kita akan tahu bahwa pertanyaan ini salah sasaran. Mari kita bedah apa sebetulnya risiko sistemik itu.

Dari pengamatan terlihat ada dua interpretasi mengenai apa itu risiko sistemik. Interpretasi pertama berkaitan dengan risiko dari sebuah efek domino kegagalan bank yang mampu meruntuhkan sistem ekonomi nasional. Interpretasi kedua berupa skenario klasik bank rush di mana para nasabah bank beramai- ramai menarik uangnya dari bank terlepas bank tersebut sehat atau tidak.

Jejaring kompleks

Risiko sistemik tidak hanya berlaku pada sistem keuangan atau perbankan. Risiko sistemik ada di setiap sistem kompleks, yaitu sistem yang terbangun oleh komponen-komponen yang saling berinteraksi. Sebuah risiko dikatakan ”sistemik” karena dia muncul dari interaksi yang tidak dapat diprediksi dari berbagai komponen sistem tersebut.

Ambil contoh jejaring listrik. Setiap gardu listrik dibuat oleh insinyur dan mereka tahu pasti risiko gagal gardu tersebut; para insinyur tahu kondisi seperti apa yang akan membuat gardu akan kelebihan beban.

Akan tetapi, ketika terjadi kerusakan yang menjalar, yaitu ketika sebuah gardu gagal, maka listrik diambil dari gardu lain yang akan kelebihan beban dan menjadi gagal juga yang lalu dialihkan ke gardu lain yang gagal juga akhirnya dan seterusnya, para insinyur tidak bisa mengetahui pasti kondisi setiap gardu. Kondisi tidak bisa diketahui karena kondisi tersebut berubah-ubah dengan cepat, tergantung apa yang terjadi di bagian lain dari jejaring listrik tersebut. Hasilnya adalah risiko sistemik yang dapat membuat seluruh sistem kolaps.

Yang penting di sini adalah risiko sistemik tidak tergantung pada sifat, jenis, atau profil gardu itu sendiri; apakah gardu kecil atau besar sama-sama dapat menimbulkan dampak sistemik.

Jadi, risiko sistemik muncul dari efek high order; bukan tentang risiko sebuah bank (atau gardu) saja, tetapi risiko sebuah bank memengaruhi risiko bank lain yang selanjutnya memengaruhi risiko bank lain yang juga memengaruhi bank lain dan seterusnya.

Sejauh pengetahuan saya yang selama ini berkecimpung dalam bidang difusi dalam sistem jejaring kompleks, belum ada teori yang mampu memberikan prediksi yang meyakinkan tentang kapan sebuah efek domino dalam sistem kompleks terjadi.

Seperti halnya kebakaran hutan yang dapat disebabkan dari hal sepele, seperti puntung rokok misalnya. Yang menentukan apakah sebuah kebakaran hutan menjadi besar atau tidak adalah kondisi hutan tersebut secara umum: apakah ada hutan kering saat musim kemarau. Efek domino kegagalan bank dapat disebabkan baik oleh bank kecil maupun bank besar.

Menyulut ”bank rush”

Interpretasi risiko sistemik berada di dalam jejaring kompleks lebih cocok untuk menjelaskan krisis keuangan yang menimpa Amerika Serikat pada tahun 2008. Saat itu di AS terjadi krisis kepercayaan antarbank sehingga bank enggan melakukan transaksi dengan bank lain karena masing-masing tidak mampu mengukur risiko transaksi.

Sedangkan skandal Century berbeda. Yang dikhawatirkan jika Century tak diselamatkan adalah akan menimbulkan ketidakpercayaan terhadap bank-bank lain yang sebetulnya sehat sehingga menyulut terjadinya bank rush.

Proses bank rush adalah contoh klasik sebuah mekanisme sosial yang diformulasikan oleh sosiolog Robert Merton dan dikenal sebagai self-fulfilling prophecy, yaitu situasi di mana orang memiliki sebuah kepercayaan yang pada mulanya salah dan berakibat menimbulkan perilaku yang selanjutnya justru membenarkan kepercayaan tersebut.

Bank menarik uang dari para deposan dan lalu uang tersebut diputar sebagai investasi dan disalurkan sebagai kredit. Jadi, bank hanya menyimpan sebagian dari jumlah total uang yang dititipkan asal cukup untuk kebutuhan sehari-hari. Karena itu, sebuah bank akan gagal jika para deposan menarik uangnya pada saat yang bersamaan.

Dalam kasus bank rush, deposan yang secara keliru percaya bahwa sebuah bank akan gagal dapat menyebabkan mereka untuk menarik uangnya sehingga akhirnya bank tersebut menjadi benar-benar gagal.

Tidak seperti risiko sistemik dalam jejaring kompleks di mana sistem terancam kolaps karena bank menghentikan segala transaksi antarbank, dalam bank rush risiko sistemik adalah hilangnya kepercayaan publik terhadap sistem perbankan.

Meski kedua interpretasi risiko sistemik ini berbeda, ada satu kesamaan yang fundamental: risiko sistemik tidak bisa ditentukan oleh risiko bank secara individu. Artinya, paling tidak, menurut standar ilmiah saat ini, mempertanyakan apakah sebuah bank memiliki risiko sistemik adalah pertanyaan yang keliru. Karena setiap bank memiliki potensi menimbulkan risiko sistemik.

Ekonom terkemuka Frank Knight membedakan antara risiko dan ketidakpastian. Risiko adalah sesuatu yang belum pasti terjadi, tetapi kita dapat menghitung probabilitasnya, sedangkan ketidakpastian adalah sesuatu yang sama sekali tak kita ketahui sehingga tidak ada distribusi probabilitas yang bisa kita pakai untuk memperkirakan probabilitas kejadian. Menurut kategori ini, risiko sistemik termasuk sebuah ketidakpastian. Implikasinya, mengatakan Bank Century memiliki risiko sistemik atau tidak akan selalu berupa hipotesis.

Dalam dunia nyata yang dipenuhi ketidakpastian, mengambil keputusan publik berdasarkan hipotesis tentu wajar-wajar saja. Namun, ini bukan berarti kita harus menerima begitu saja setiap keputusan publik yang diambil atas nama bahaya risiko sistemik. Setiap kebijakan publik harus dipertanggungjawabkan kepada publik, terutama mengenai dampaknya. Debat tentang apakah Bank Century memiliki risiko sistemik atau tak hanya membuang waktu karena tidak akan ada jawaban yang substansial.

Kita harus memulai debat yang lebih produktif, yaitu misalnya apakah pengambilan keputusan penalangan sudah sesuai prosedur dan memenuhi rasa keadilan publik, lalu ke mana selanjutnya dana talangan itu mengalir?

Roby Muhamad Sedang menulis disertasi mengenai jejaring sosial di Columbia University, New York

12
Jan
10

Politik Ekonomi : Jurus Investasi Tahun Macan

Senin, 04/01/2010 06:25 WIB

Inilah jurus investasi pada Tahun Macan

oleh : Sylviana Pravita R.K.N.

JAKARTA (bisnis.com): Sebanyak tujuh saham direkomendasikan sebagai top picking pada tahun ini, yaitu PGAS, JSMR, BBCA, BMRI, BBNI, UNVR dan INDF. Bulan ini, indeks diproyeksikan tidak secerah Desember 2009, January Effect tidak terjadi. Namun, di akhir tahun indeks diprediksi bisa menembus level 2.800.

Kepala Riset PT Paramitra Alfa Sekuritas Pardomuan Sihombing mengatakan perdagangan saham di Bursa Efek Indonesia pada pekan pertama diproyeksikan bergerak pada level 2.450-2.560 dengan diwarnai aksi profit taking.

“Indeks masih minim sentimen, sehingga justru kecenderungan terjadinya profit taking akan besar pada bulan pertama tahun ini. Kenaikan indeks pada Desember 2009 menembus 4,95% dibandingkan dengan November 2009. Dari pertumbuhan itu, saya melihat fenomena January Effect cenderung tidak akan terjadi,” kata Pardomuan, kepada bisnis.com, akhir pekan lalu.

Pardomuan memaparkan korelasi negatif antara Desember ke Januari terjadi dalam tiga tahun terkhir. Jadi, apabila Desember positif, Januari tahun berikutnya akan mencetak pertumbuhan negatif. “Dalam 3 tahun terakhir di Indonesia yang terjadi bukan January Effect tapi December Effect,” ujarnya.

Beberapa sentimen negatif yang menguat pada Januari ini dari faktor global adalah

pertama, ekonomi AS yang belum terkonfirmasi mengarah pada pemulihan.

Kedua, harga komoditas yang masih bergerak menyamping (sideways) terkait dengan suplai yang stabil dan permintaan pasar yang jatuh. Ketiga, kemungkinan gagal bayar Dubai World yang masih berlanjut membayangi.

Dari domestik adalah

pertama, pasar menunggu akhir dari kasus Bank Century dan berhentinya baku hantam para politisi Tanah Air.

Kedua, reformasi birokrasi dan infrastruktur.

Ketiga, stabilitas mesin fiskal dan moneter.

Terkait dengan belum terkonfirmasinya kondisi-kondisi tersebut, saham yang menjadi top picking sepanjang tahun ini adalah saham-saham berkapitalisasi besar, karena lebih defensif dengan pendapatan yang stabil dari sisi fundamental.

Saham-saham tersebut adalah saham di sektor infrastruktur, perbankan dan kebutuhan rumah tanggan (consumer goods). “Secara spesifik saya melihat saham PGAS, JSMR, BBCA, BMRI, BBNI, UNVR dan INDF. Untuk sektor komoditas, saya perkirakan terlalu fluktuatif, jadi strategi untuk saham komoditas adalah trading saja,” katanya.

Investasi terbaik lainnya pada tahun ini adalah pada surat utang atau obligasi terkait dengan BI Rate yang masih berkisar 6,5%.

“Sepanjang BI Rate masih 6,5%, bond masih menarik. Kapitalisasi bond sebesar Rp600 triliun, di mana surat utang negara Rp520 triliun dan korporasi Rp80 triliun dengan demand yang sangat besar. Jadi, ada obligasi apapun langsung beli saja, karena pasti akan naik akibat demand itu,” ujarnya.

Dia menuturkan pemodal dari dana pihak ketiga, asuransi, reksa dana, dana pensiun dan fund asing punya kocek bernilai hingga Rp2.000 triliun. Permintaan dari pemodal besar itulah yang akan mendorong pasar obligasi.

Selanjutnya, bagi korporasi yang ingin melantai di bursa, semester I/2009 dinilai merupakan momentum yang paling tepat. Penawaran umum perdana (initial public offering/ IPO) pada semester II/2009 berpotensi menghadapi tantangan berupa kenaikan inflasi yang mendorong naiknya suku bunga.

“Penggalangan dana melalui IPO tampaknya akan menurun. Begitu juga melalui rights issue [penerbitan saham baru]. Tapi, emisi obligasi akan besar sekaligus menarik bagi investor,” tutur Pardomuan.�

IHSG 2010 tembus level 2.800
Pada tahun ini, apabila suku bunga The Fed masih bertahan pada level 0,25% dan BI Rate 6,5%, indeks harga saham gabungan (IHSG) berpeluang menebus 2.800. Namun, bila The Fed dan BI Rate naik, indeks akan anjlok ke level 2.000.

Adapun, IHSG BEI pada akhir perdagangan 30 Desember 2009 ditutup pada posisi 2.534,35 poin atau naik 86,90% dibandingkan dengan indeks penutupan pada akhir hari perdagangan tahun 2008 yang berada pada posisi 1.355,40.

Kontribusi terbesar dari kenaikan IHSG itu adalah sektor aneka industri (160%) dengan kenaikan terbesar bagi saham PT Astra Internasional Tbk (ASII). Selanjutnya, kenaikan saham-saham sektor pertambangan hingga 150%. Kenaikan tersebut menunjukkan pasar modal Indonesia menarik dan mampu mengundang investor untuk menggulirkan modalnya.

Nilai kapitalisasi pasar dan transaksi saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) naik 86,41% dari Rp 1.076,5 triliun pada akhir perdagangan 2008 menjadi Rp2.006,7 triliun per 29 Desember 2009.

Adapun, dari sisi total nilai transaksi saham di BEI sampai dengan 29 Desember 2009 mencapai Rp973 triliun mengalami penurunan sebesar 8,6% dibandingkan dengan total nilai transaksi 2008 sebesar Rp1.064,50 triliun.

Selain itu, nilai transaksi rata-rata harian saham di BEI tahun ini juga mengalami penurunan sebesar 8,78%, dari Rp4,44 triliun per hari pada 2008 menjadi sebesar Rp4,05 triliun per hari pada 2009.

Senin, 11/01/2010 18:19 WIB

RI jadi destinasi favorit bagi investor

oleh : Linda T. Silitonga

JAKARTA (bisnis.com): Mendag Mari Elka Pangestu mengatakan optimistis Indonesia akan ikut menikmati tren arus investasi dunia yang tengah mensasarkan negara yang tetap menunjukkan perkembangan kinerja ekonomi positif di saat krisis global masih berlangsung.

Dia mengatakan saat ini investor dunia memprimadonakan tiga negara berkembang yang ada di wilayah Asia, yang tetap menunjukkan pertumbuhan ekonomi positif saat krisis ekonomi yaitu China, India, dan Asia Tenggara.

“Seharusnya kita sangat kecipratan. Kalau bicara di Asia ada tiga yang berkembang yaitu RRT [China], India, dan Asean. Kita [Indonesia] tentu sangat berperan dalam Asean. Sebetulnya sudah menjadi sumber pertumbuhan termasuk pada waktu krisis tahun lalu di tiga negara tersebut yang masih mengalami pertumbuhan positif,” katanya di Istana Negara hari ini.

Berdasarkan tren investasi tersebut, jelas dia, maka diperlukan kerja sama dalam konteks di wilayah Asia Tenggara dan regional sehingga menjadi saling berkaitan dan saling bersinergi akhirnya bisa berkembang bersama.

Sebelumnya laporan Japan Bank for International Cooperation (JBIC) juga mengemukakan Indonesia masuk dalam jajaran sepuluh besar destinasi paling menarik bagi investasi Jepang dalam tiga tahun ke depan.

Investasi RI berada di peringkat kedelapan setelah China, India, Vietnam, Thailand, Rusia, Brasil dan Amerika Serikat. Peringkat Indonesia lebih tinggi dri Korea Selatan dan Malaysia. (tw)




Blog Stats

  • 3,374,605 hits

Recent Comments

Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Sejarah : Bangsa Lemuria, Lelu…