Archive for the 'Jiwa Semangat Nilai-nilai 45' Category



10
Sep
09

Ruang Angkasa : Kosmodrom Baikonur, Sisa-sisa Kedigdayaan Uni Soviet

KOMPAS/M ZAID WAHYUDI
Sejumlah pengunjung menyaksikan fasilitas peluncuran pesawat ulang alik Soyuz di Kosmodrom Baikonur, Kazakhstan. Sejumlah astronot/kosmonot yang akan menuju Stasiun Ruang Angkasa Internasional (ISS) diberangkatkan oleh badan antariksa Rusia, Roskosmos, dari lokasi ini.

KOSMODROM BAIKONUR
Sisa-sisa Kedigdayaan Uni Soviet

KOMPAS, Kamis, 10 September 2009 | 05:21 WIB

M Zaid Wahyudi

Terik sinar matahari masuk ke jendela pesawat Atlant-Soyus sesaat sebelum mendarat di Bandara Krajnij, Baikonur, Kazakhstan, akhir Juni lalu. Dari ketinggian terbentang tanah tandus kecoklatan. Sesekali terlihat rumput kering menghampar, gerombolan unta berlarian, dan aliran air sungai yang warnanya terlihat kontras dengan tanah kering di sekitarnya.

Pesawat pun mendarat mulus di landasan bandara yang tak terlalu rata. Tak seperti bandara lain yang biasanya dipenuhi pesawat parkir, tak terlihat pesawat lain di bandara yang khusus dikelola oleh badan antariksa Rusia, Roskosmos, itu. Terminal bandara pun sangat sederhana dengan bentuk mirip kontainer.

Karena secara administratif wilayah tersebut dimiliki Kazakhstan, para penumpang pun harus melalui area pemeriksaan imigrasi Kazakhstan. Pemeriksaan berlangsung sangat lambat. Selain itu, pengecekan peralatan elektronik yang dibawa pengunjung juga dilakukan sangat ketat.

Baikonur (transliterasi dari aksara Rusia seharusnya disebut Bajkonur) sebagai kota terdekat dengan Kosmodrom atau Pusat Antariksa Rusia Baikonur hanya berjarak sekitar 15 menit dari bandara. Sepanjang perjalanan, padang stepa gersang terbentang di kanan kiri jalan.

Mendekati pintu kota yang dikelola Rusia itu terdapat perkampungan warga Kazakhstan dengan pola perumahan mirip perkampungan di Indonesia. Kehidupan warganya yang memiliki tipikal wajah Asia Tengah itu terlihat sederhana. Kondisi berbeda terlihat di dalam Baikonur yang hampir seluruh penduduknya adalah warga Rusia dan bekerja untuk mendukung pengelolaan Kosmodrom.

Baikonur merupakan kota kecil yang jarak antargerbang kotanya hanya membutuhkan waktu beberapa menit berkendaraan untuk menempuhnya. Setiap gerbang kota dijaga oleh petugas keamanan Rusia untuk memeriksa dokumen pengunjung yang akan masuk keluar kota.

Meskipun kecil, kota ini memiliki puluhan patung dan monumen untuk menghormati tokoh-tokoh penerbangan antariksa negara itu. Walau letaknya di tengah stepa, kota ini memiliki fasilitas cukup lengkap, mulai dari pasar hingga tempat hiburan dan resor wisata. Penduduknya tinggal di apartemen-apartemen yang terlihat mirip rumah susun di Jakarta, lengkap dengan jemuran di balkonnya.

Nama Baikonur sebenarnya baru dikenal pada pertengahan 1990-an. Nama kota ini secara berurutan sejak dibangun pada awal 1955 adalah Zarya, Leninskiy, Leninsk, dan Zvezdograd. Setelah Uni Soviet runtuh, berdasarkan perjanjian antara Rusia dan Kazakhstan pada Desember 1995, nama kota ini berubah menjadi Baikonur.

Jarak dari pusat kota menuju berbagai area tempat peluncuran wahana antariksa di kosmodrom sangat jauh. Setiap area peluncuran umumnya dikhususkan untuk jenis misil atau wahana antariksa tertentu. Karena itu, kosmodrom memiliki banyak area peluncuran yang jarak antarlokasinya bisa mencapai puluhan kilometer.

Di antara area peluncuran wahana antariksa itu, tak ada permukiman penduduk sama sekali. Sepanjang mata memandang, yang terlihat hanya tanah gersang dan rumput mengering. Nyaris tak ada pepohonan tinggi kecuali tanaman yang sengaja ditanam di sekitar area peluncuran wahana. Meski berjauhan, jalanan sepanjang kosmodrom umumnya sangat mulus.

Sebagai kota yang sejak semula menjadi penunjang utama fasilitas militer, perkembangan kota ini sangat dipengaruhi oleh dinamika militer Uni Soviet dan Rusia. Di era kejayaan Uni Soviet, fasilitas kota yang memiliki perbedaan cuaca ekstrem ini sangat memadai. Namun, di awal keruntuhan Soviet, banyak infrastruktur kota yang terbengkalai. Seiring dengan mulai dioperasikannya kosmodrom untuk keperluan komersial, prasarana kota ini pun ditata kembali.

Kosmodrom

Kosmodrom Baikonur merupakan salah satu kosmodrom yang dimiliki Rusia sebagai warisan Uni Soviet. Kosmodrom ini dibangun dengan tujuan sebagai tempat peluncuran misil tercanggih Soviet saat itu yang memiliki jangkauan hingga ribuan kilometer. Untuk meluncurkan misil terbaru itu, Soviet membutuhkan lokasi peluncuran baru yang luas, jauh dari permukiman, serta memudahkan kontrol dan kendali atas berbagai wahana yang diluncurkan.

Melalui sebuah misi rahasia, dicarilah lokasi baru itu. Selain luas, syarat lain yang juga harus dimiliki lokasi kosmodrom baru itu adalah dekat dengan sumber air dengan debit yang besar. Fungsinya untuk media pendingin saat peluncuran wahana serta memiliki waktu kering yang lama sepanjang tahun.

Terpilihlah stepa luas di dekat kota kecil Tyuratam di Kazakhstan yang berada di jalur rel kereta api yang menghubungkan Moskwa di Rusia dengan Tashkent di Uzbekistan. Lokasi itu terletak di dekat Sungai Syr Darya dan memiliki waktu kering sekitar 300 hari setahun. Keberadaan jalur kereta itu di kemudian hari menjadi sangat penting untuk mengangkut segala logistik yang diperlukan guna pembangunan kosmodrom serta sarana pengangkut peralatan militer serta para pekerja kosmodrom.

Tempat peluncuran misil baru itu didesain oleh pendiri program antariksa Soviet, Sergei Pavlovich Korolev, dan mulai dibangun pada 2 Juni 1955. Bersamaan dengan pembangunannya, dibangunlah berbagai industri penunjang kosmodrom, mulai dari pabrik semen hingga industri propelan roket. Berbagai fasilitas penunjang pekerja kosmodrom pun disiapkan, termasuk fasilitas pendidikan dan kesehatan untuk keluarga pekerja kosmodrom.

Beberapa saat setelah dilakukan uji penerbangan yang pertama, lokasi kosmodrom yang dirahasiakan itu terdeteksi oleh pesawat mata-mata milik Amerika Serikat. Namun, keberadaan kosmodrom ini baru diketahui dunia secara luas pascaruntuhnya Uni Soviet, saat terjadi perebutan antara Rusia dan Kazakhstan atas kepemilikan kosmodrom tersebut. Kini wilayah Baikonur disewakan oleh Kazakhstan kepada Rusia hingga 2050.

Hanya dalam waktu dua tahun sejak pertama kali dibangun, kompleks peluncuran misil balistik pertama selesai dibangun. Satelit buatan pertama pun diluncurkan dari area ini pada 4 Oktober 1957. Selanjutnya, keberhasilan peluncuran satelit itu diikuti oleh peluncuran berbagai wahana antariksa lainnya, termasuk wahana berawak serta pembangunan berbagai landasan peluncuran lainnya yang disesuaikan dengan misil yang digunakan.

Salah satu kompleks peluncuran yang cukup dikenal adalah untuk peluncuran roket Zenit yang berada pada Situs 45 dan selesai dibangun pada 1980-an. Dari landas luncur ini diluncurkan ratusan satelit komunikasi milik sejumlah negara dengan menggunakan roket Zenit. Semula, kompleks ini memiliki dua landas luncur, tetapi salah satunya hancur akibat peluncuran yang gagal pada 1990.

Tak hanya untuk peluncuran wahana antariksa tanpa awak, dari kosmodrom ini juga diluncurkan berbagai wahana antariksa berawak milik Soviet untuk mengeksplorasi angkasa luar. Yuri Alekseyevich Gagarin, manusia pertama yang melakukan perjalanan luar angkasa mengelilingi Bumi, pun berangkat dari kosmodrom ini. Dengan menggunakan Vostok 1 pada 12 April 1961, kosmonot kebanggaan Soviet itu pun mampu kembali ke Bumi dengan selamat.

Museum

Sebagai tempat dengan tingkat keamanan dan kerahasiaan tinggi, tidak semua orang bebas mengunjungi kosmodrom. Mereka yang mendapat izin masuk pun dibatasi ruang geraknya dan hanya diperbolehkan memotret obyek-obyek tertentu.

Satu-satunya tempat yang memberikan keleluasaan bagi pengunjung adalah museum. Meskipun berada di tengah- tengah padang stepa dan jarang dikunjungi masyarakat, museum yang ada di dalam kosmodrom terawat baik dan memiliki koleksi yang sangat lengkap, mulai dari foto, aneka dokumen, miniatur wahana antariksa, roket, pesawat, hingga seragam dan tanda jasa para kosmonot dan tokoh-tokoh militer.

Aneka informasi mulai dari pembangunan kosmodrom hingga keberhasilan Uni Soviet dan Rusia mengeksplorasi antariksa serta sejarah kehidupan pribadi dan keluarga tokoh-tokoh yang berjasa dalam pengembangan teknologi antariksa Uni Soviet pun terekam sangat lengkap.

Museum, monumen, dan patung-patung tokoh antariksa Uni Soviet yang hampir selalu ada di setiap fasilitas antariksa Uni Soviet menunjukkan tingginya penghargaan masyarakat dan negara terhadap orang- orang yang telah mengharumkan nama Uni Soviet di era kejayaannya. Runtuhnya Uni Soviet dan seretnya anggaran untuk pengembangan teknologi antariksa Rusia tak mengurangi tingginya penghargaan itu. Semoga hal yang sama juga terjadi di Indonesia.

10
Sep
09

Wisata Sejarah : Bertemu Viking di Nykoping

KOMPAS/AHMAD ARIF
Jika Stockholm adalah kota yang selalu bergadang, Nykoping seakan selalu tidur. Tenang dan sepi. Sekitar 50.000 warga tinggal di Nykoping, dengan 32.000 di antaranya berdiam di pusat kota.

INTERNASIONAL
Bertemu “Viking” di Nykoping

KOMPAS, Kamis, 10 September 2009 | 05:22 WIB

AHMAD ARIF

Setelah menyusuri Stockholm, ziarah ke tanah utara terasa tetap ada yang kurang. Viking! Sebagai bagian dari negara Skandinavia, Swedia pernah menjadi pusat sejarah Viking yang melegenda. Namun, dengan waktu yang terbatas, rasanya tak mungkin menuju Pulau Birka yang pernah menjadi pusat permukiman sekitar 1.000 keluarga Viking dan kini ditetapkan sebagai salah satu warisan pusaka dunia.

Saya pun hanya bisa membayangkan sosok Viking ketika membaca buku-buku, petunjuk perjalanan wisata, melihat gambar-gambar mereka di museum, dan mengagumi replika kuda mereka di Balaikota Stockholm. ”Jika tak punya waktu untuk melongok jejak Viking di Pulau Birka, siapa tahu Anda beruntung bertemu dengan beberapa dari mereka dengan ciri postur tinggi, ramping, dengan rambut merah keemasan, dan aksen yang khas,” tulis salah satu brosur tentang wisata Swedia.

”Coba saja menu yang ini. Salmon asap, kaviar, dan kentang panggang,” kata perempuan yang duduk di samping meja menerangkan menu yang tengah disantapnya ketika tahu kami kebingungan memilih menu. Perempuan muda itu tinggi, ramping, dan berambut blonde, mengingatkan saya pada buku petunjuk tentang Viking. Ah, mungkin saya tengah beruntung.

Namun, benarkah ada Viking perempuan?

Viking yang dalam bahasa kuno Eropa bagian utara (baca: Skandinavia) berasal dari kata vikingar adalah sebutan khusus untuk lelaki, biasanya mereka yang berlayar dari Skandinavia dalam kelompok untuk berbagai tujuan, berdagang maupun merompak di kawasan selatan dan timur Eropa hingga Amerika Utara.

”Dari definisi kaku memang tak ada Viking perempuan,” tulis Judith Jesh dalam bukunya, Women in the Viking Age, tetapi ”sebagian ’Viking’ (dan tentu saja sebagian perempuan) menetap di daerah utara dan memiliki komunitas yang menetap di Skandinavia dan Atlantik Utara.”

Sörmland

Saya juga menemukan satu buku, The Far Traveler: Voyages of a Viking Woman, ditulis Nancy Marie Brown, yang menyebutkan sosok Gudrid, satu-satunya Viking perempuan yang tercatat pernah mengikuti ekspedisi menjelajah lautan, dengan dua suami berbeda, hingga ke daratan Amerika, 500 tahun sebelum Columbus.

Baiklah, mari kita rehat sejenak kisah tentang Viking. Saya pun tergoda mencicipi menu yang disarankan perempuan muda dari Sörmland (Swedia bagian tenggara) itu, tepatnya di sebuah muara tempat pertemuan antara Sungai Nyköping dan Laut Baltik. Seporsi makanan yang harganya kebetulan sama dengan sewa kamar saya selama semalam di kota itu, 12 euro.

Nama Nyköping berarti köping (kota pasar) baru. Namun, kota ini sebenarnya sudah tua, jauh lebih tua ketika pada awal abad pertengahan menjadi ibu kota bagi sejumlah daerah bawahan Kerajaan Swedia. Nyköping telah menjadi hunian bagi manusia prasejarah, sekitar 2.000 tahun sebelum Masehi, dari jejak sekitar 300 lukisan kuno di atas batu di kawasan ini.

Pada abad ke-13, pembangunan Benteng Nyköping dimulai dan pada abad berikutnya menjadi benteng terkuat di negeri itu. Namun, ketenaran Benteng Nyköping adalah karena kisah perjamuan Natal pada tahun 1317, episode populer dalam sejarah Swedia, ketika Raja Birger menangkap dua saudaranya dan memerintahkan agar mereka dipenjara tanpa diberi makan hingga mati kelaparan.

Hingga saat ini, sejarah itu tetap dihidupkan dalam bentuk pertunjukan teater komedi yang digelar di atas reruntuhan benteng pada setiap musim panas.

Pada abad ke-16 Nyköping menjadi tempat kedudukan Adipati Karl yang kemudian menjadi Raja Karl IX dari Swedia. Dengan status kediaman kerajaan, Nyköping mencapai puncak perkembangannya.

Pada tahun 1665 sebagian besar kota ini, termasuk bentengnya, hancur terbakar. Hal yang sama terjadi lagi sekitar 50 tahun kemudian saat pasukan Rusia menyerang kota ini.

Sepi dan dingin

Nyköping tak pernah lagi seramai dulu meskipun dibangun kembali setelah kehancuran itu. Jika Stockholm adalah kota yang selalu bergadang, Nyköping seakan selalu tidur. Tenang dan sepi. Sekitar 50.000 penduduk tinggal di kawasan ini, dengan 32.000 di antaranya berdiam di pusat kota. Namun, Nyköping pada hari Minggu siang itu terasa sepi.

Sepi, udara yang bersih dan segar, serta diapit hutan dan laut, Nyköping kini menjadi tujuan wisata populer di Swedia untuk kegiatan luar ruangan, seperti memancing, kayak, berlayar, tracking, dan berkemah.

Meskipun tengah di puncak musim panas, tepian pantai di Nyköping tetaplah dingin dengan suhu 14 derajat celsius dan berangin sangat kencang. Ratusan perahu dijajar di tepi pantai, puluhan orang memancing di dermaga kayu yang dibangun memanjang membelah perairan.

Menikmati angin di tepi pantai Nyköping, menyelusup ke lorong-lorong kota dan reruntuhan istana, di antara bangunan tua yang sepi tetapi asri, dimanja oleh arsitektur abad pertengahan yang dibangun lagi setelah kebakaran hebat melanda kota ini, saya berada di pengujung senja. Saat untuk kembali ke Bandara Skavasta.

Saya pun duduk di bus jurusan Skavasta. Hanya ada lima penumpang. ”Wah, bus ini khusus mengantarkan kita,” kata saya mengomentari penumpang yang cuma segelintir itu dibandingkan dengan ukuran bus yang jumbo, jauh lebih besar daripada bus transjakarta. Sang sopir, seorang imigran kulit hitam, terlihat gelisah, namun tetap menggerakkan busnya ketika saatnya tiba. Bus berjalan 100 meter, tetapi tiba-tiba berhenti.

Sang sopir mengabarkan kepada penumpang bahwa busnya tak bisa mengantar ke Skavasta, tanpa alasan jelas. Dia kemudian sibuk mengembalikan uang calon penumpang, memutar arah bus dan kabur. ”Wah, seperti di China saja. Penumpang diturunkan di tengah jalan. Kami menyebutnya angkutan jual babi karena memperlakukan penumpang seperti babi,” kata A Wing, pelancong asal Shanghai, China.

Saya tergelak karena teringat dengan kondisi yang sama dengan angkot-angkot di Jakarta, tetapi sedikit cemas karena takut ketinggalan pesawat ke Berlin. Beruntung tak sampai setengah jam, bus yang lain datang. Penumpang tak bertambah juga, tetap lima orang. ”Kali ini kamu jangan berkomentar hanya ’kita’ di bus,” A Wing mengingatkan. Saya pun diam hingga bus tiba di bandara, 20 menit kemudian.

Malam mulai menjelang. Sebentar lagi pesawat kembali terbang ke Berlin, Jerman. Tetap juga ada yang terasa kurang. Tanah Skandinavia itu telah memberi saya candu. Membuat ketagihan untuk kembali.

10
Sep
09

Bencana Alam : Potensi Gempa di Selat Malaka Terabaikan

BENCANA ALAM
Potensi Gempa di Selat Malaka Terabaikan

Kamis, 10 September 2009 | 02:57 WIB

Medan, Kompas – Potensi ancaman gempa bumi terhadap wilayah Sumatera Utara dan Nanggroe Aceh Darussalam yang bersumber di Selat Malaka cenderung diabaikan.

Potensi gempa bumi dari Selat Malaka bersumber pada jalur Patahan Mergui yang merupakan bagian dari jalur Patahan Sagaing dari Myanmar.

Menurut Ketua Dewan Pakar Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI) Sumatera Utara (Sumut) Jonathan Tarigan, selama ini ancaman gempa bumi terhadap wilayah Sumut dan Aceh cenderung hanya dilihat dari dua sumber, yakni Jalur Megathrust Nias-Mentawai dan Jalur Patahan Sumatera (Renun-Toru-Angkola).

”Padahal, ada sumber potensi gempa lain yang dari Patahan Mergui pada Cekungan Mergui Sumatera Utara di Selat Malaka. Ini juga kadang luput dari pengamatan ahli geologi. Patahan Mergui ini berlanjut ke Bohorok hingga ke Nias Selatan,” ujar Jonathan, awal pekan ini.

Menurut dia, terdapat rekam gempa bumi yang bersumber dari Patahan Mergui, yakni gempa bumi 7,7 skala Richter di Nias Selatan pada tahun 1935 dan gempa bumi 7,2 skala Richter di Bohorok/Renun tahun 1936.

Indikasi kegempaan tektonikdi Cekungan Mergui, lanjut Jonathan, adalah terjadinya anomali gravitasi Bumi.

”Ini artinya ada gravitasi negatif, di mana terjadi kecenderungan terjadinya amblesan bumi. Ini dapat menimbulkan potensi gelombang tsunami dan guncangan gempa bumi yang mengancam kawasan Pantai Timur Sumut dan Aceh, serta kota-kota di kawasan ini, seperti Medan, Binjai, Langsa, dan Banda Aceh,” kata Jonathan.

”Jika ada pergerakan lempeng Samudra Hindia, terutama dari sebelah Selatan Selat Malaka, ini bisa memicu terjadinya gempa tektonik di Patahan Mergui,” katanya. (BIL)

10
Sep
09

Perbankan BUMN : Utang Dikeluarkan dari Keuangan Negara

PERBANKAN BUMN
Utang Dikeluarkan dari Keuangan Negara

Kamis, 10 September 2009 | 03:58 WIB

Jakarta, Kompas – Kredit macet di bank-bank badan usaha milik negara akan diperlakukan sebagai utang swasta sehingga tidak lagi dianggap sebagai bagian dari keuangan negara.

Dengan terobosan itu, diharapkan kredit macet di bank BUMN bisa segera direstrukturisasi. Langkah ini diawali dengan penghapusan kredit macet usaha mikro, kecil, dan menengah yang sudah masuk ke Panitia Urusan Piutang Negara (PUPN).

”Utang macet (nonperforming loan/NPL) berkolektibilitas lima pada bank-bank BUMN diperlakukan sama dengan swasta. Artinya, utang itu diperlakukan sebagai utang BUMN, bukan utang negara,” kata Kepala Badan Kebijakan Fiskal Departemen Keuangan Anggito Abimanyu di Jakarta, Rabu (9/9).

Dalam jangka panjang, lanjut Anggito, harus dirumuskan sesuai Undang-Undang Perseroan Terbatas Nomor 40 Tahun 2007 atau UU BUMN Nomor 19 Tahun 2003.

”Namun, untuk jangka pendek tahun 2010, yang akan dihapus utang UMKM di PUPN terlebih dahulu,” ujarnya.

Anggito menjelaskan, untuk memperkecil kerugian, aset-aset yang menjadi agunan kredit akan dilelang oleh PUPN. PUPN berada di bawah koordinasi Direktorat Jenderal Kekayaan Negara Departemen Keuangan.

”Seluruh utang UMKM di PUPN harus dihapus tagih. Ini langkah awal sebelum keputusan yang permanen dibuat, yaitu amandemen atas Undang-Undang Nomor 49 Tahun 1960 tentang Piutang Negara,” kata Anggito.

Dengan merestrukturisasi kredit macet UMKM, diharapkan UMKM yang bersangkutan dapat mengembangkan usahanya.

Wakil Ketua Panitia Anggaran DPR Suharso Monoarfa mengatakan, dalam UU APBN 2010 utang UMKM dihapus tagih hingga ke pokoknya sehingga total kewajiban UMKM berkurang 100 persen.

Data Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil Menengah menunjukkan, kredit yang layak dihapus tagih di UMKM adalah kredit macet yang ada di kredit usaha tani (KUT) dan kredit usaha mikro (KUM).

Total kredit yang akan dihapus tagih Rp 13,6 triliun, yakni untuk KUT Rp 5,7 triliun, KUM Rp 7,9 triliun dengan jumlah nasabah 461.000 orang.

Menurut Suharso, untuk mengoptimalkan bagian pemerintah atas laba BUMN di bidang usaha perbankan, pemerintah dan Panitia Anggaran memperlakukan utang bank BUMN sesuai dengan UU Perseroan Terbatas.

Dengan demikian, status piutang di BUMN perbankan bukan lagi piutang negara, melainkan piutang korporasi.

”Sementara terkait mekanisme RUPS (rapat umum pemegang saham) dan kewenangannya tetap mengacu pada UU BUMN. Ketentuan lebih lanjut akan diatur dalam peraturan Menteri Keuangan,” ujar Suharso. (OIN)

10
Sep
09

Sosial Budaya : Islam Berperan dalam Transformasi Sosial di Jawa

SOSIAL- BUDAYA
Islam Berperan dalam Transformasi Sosial di Jawa

Rabu, 9 September 2009 | 03:31 WIB

Solo, Kompas – Islam adalah agama yang paling banyak memberikan kontribusi dalam sejarah Indonesia dan mendorong transformasi dalam masyarakat Jawa sejak abad ke-17 hingga abad ke-19. Namun, Islam gagal membangun basis kekuatan politik dalam menghadapi kekuatan kolonialis Belanda.

Hermanu Joebagio, pengajar Jurusan Sejarah FKIP Universitas Sebelas Maret Solo, memaparkan peran penguasa di Jawa—Kerajaan Mataram—menyangkut sejarah hubungan antara Islam dan Jawa, dalam diskusi Ramadhan ”Jawa, Islam, dan Transformasi Sosial” di Balai Soedjatmoko, Solo, Jawa Tengah, Senin (7/9). Pembicara lain adalah Zuly Qodir dan dalang wayang suket Slamet Gundono.

Menurut Hermanu, para penguasa Jawa dinilai tidak mampu menyinergikan kekuatan-kekuatan sosial dalam sistem politik. Mereka tidak peduli untuk membangun sistem politik yang berpijak kepada Islam sebagai kekuatan sosial. ”Waktu itu yang terjadi justru segregasi sosial, jurang yang lebar antara kalangan aristokrat, rakyat, dan ulama. Inilah penyebab kegagalan membangun basis politik Islam,” ujarnya.

Dalam sejarah Islam di Indonesia, lanjut Hermanu, pemikiran politik yang tumbuh sampai abad ke-19 lebih menempatkan Islam sebagai ”alat politik”. Pada masa Paku Buwono IV di Surakarta, dia memaksa kalangan istana untuk memeluk Islam, bahkan merangkul sejumlah ulama karismatis. Hal ini dianggap sebagai penentangan terhadap kolonialis Belanda sehingga Belanda bertindak untuk melumpuhkannya.

Zuly Qodir dari UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta, menguraikan, Islam pada masa lalu dicitrakan amat akomodatif terhadap budaya lokal. Di Jawa, Islam hadir dalam lokalitas Jawa yang berhubungan dengan kebiasaan Hindu-Buddhisme sehingga dalam khazanah antropologi Islam di Jawa disebut sebagai ”Islam populer”.

”Pada masa lalu Islam dicitrakan punya empati dan simpati kepada lokalitas, atau kondisi lokal kedaerahan. Belakangan, atau sejak akhir abad ke-19, Islam tidak lagi akomodatif. Sebaliknya, yang menguat belakangan ini adalah Islam yang formal, tetapi itu sebenarnya berkaitan dengan arah pendulum politik,” kata Zuly. (ASA)

10
Sep
09

Kemiskinan : Pertumbuhan dan Orang Miskin

Pertumbuhan dan Orang Miskin

KOMPAS, Kamis, 10 September 2009 | 05:12 WIB

IVAN A HADAR

Sejak beberapa tahun terakhir, pro-poor growth atau pertumbuhan yang berpihak kepada orang miskin menjadi strategi ekonomi terpenting bagi keterlibatan sosial (social inclusion) kelompok miskin.

Ramainya perdebatan terkait hal ini dipicu tulisan David Dollar dan Aart Kraay, Growth is Good for the Poor (2002). Dalam studinya, dua ekonom Bank Dunia ini menyimpulkan bahwa tanpa diduga, pertumbuhan ekonomi mempunyai pengaruh besar dalam perang melawan kemiskinan global.

Menurut mereka, sejak 40 tahun terakhir, ternyata pertumbuhan ekonomi global berbanding lurus (satu banding satu) dengan kenaikan pendapatan kelompok miskin. Selain itu, sejak beberapa dekade terakhir ditemukan bahwa tiada tanda-tanda telah terjadi pelemahan pengaruh pertumbuhan atas pengurangan kemiskinan.

Mengapa berpihak orang miskin?

Dollar dan Kraay juga menguji pengaruh berbagai strategi kebijakan yang mengalokasikan porsi besar bagi belanja kesehatan dan pendidikan. Temuan mereka cukup mengejutkan. Ternyata, tidak ada bukti yang cukup kuat bahwa strategi itu membawa dampak sistematis pemerataan penghasilan.

Dengan demikian, bisa saja muncul pertanyaan apakah konsep pro-poor growth sebenarnya dapat saja direduksi menjadi sekadar pro-growth?

Jawabannya tidak karena, menurut mereka, sekadar pertumbuhan ekonomi tidak cukup untuk memperbaiki kondisi kehidupan orang miskin.

Lalu, apa yang membuat pertumbuhan ekonomi menjadi berpihak kepada orang miskin? Sebuah gambaran cukup lengkap termaktub dalam kumpulan tulisan yang dipublikasikan Michael Krakowski (2004), Attacking Poverty, What Makes Growth Pro-Poor.

Di tengah beragamnya definisi pro-poor growth, Stephan Klasen memberi batasan jelas. Pertama, harus dipastikan bahwa kelompok miskin memperoleh keuntungan lebih dari pertumbuhan dibandingkan dengan kelompok masyarakat lain. Sebuah perbandingan lurus seperti diungkap Dollar dan Kray tidak masuk dalam kategori ini.

Kedua, diperlukan distribusi pendapatan dalam kelompok miskin itu sendiri. Mereka yang paling miskin perlu diprioritaskan.

Pengaruh pertumbuhan

Berbeda dengan Dollar dan Kraay yang melakukan studi secara global, ada temuan lain yang diperoleh dari studi di beberapa negara. Louise Lopez dan John Page, misalnya, menunjukkan pertumbuhan bisa berjalan paralel dengan pemerataan, atau sebaliknya memperbesar kesenjangan.

Dalam penelitian mereka di Kosta Rika, El Salvador, Nigeria, Panama, Senegal, dan Tanzania, pertumbuhan ekonomi yang tinggi ternyata berjalan paralel dengan menurunnya penghasilan orang miskin.

Sebuah posisi berseberangan ditunjukan Surjit Bhalla dalam buku Imagine There’s No Country-Poverty, Inequality, and Growth in the Era of Globalization (2002). Secara eksplisit, Bhalla mencari jawaban atas pertanyaan terkait dampak globalisasi terhadap pertumbuhan ekonomi, distribusi penghasilan, dan kemiskinan.

Menurut dia, sepanjang 1980 hingga 2000, pertumbuhan ekonomi yang tinggi telah mengurangi perbedaan penghasilan. Pertumbuhan per se, menurut dia, adalah pro poor. Berbeda dengan hitungan PBB, Bhalla mengatakan, tujuan pembangunan milenium (MDGs) yang menargetkan pengurangan kemiskinan menjadi separuh pada 2015 sebenarnya telah tercapai tahun 2000.

Argumentasi Bhalla, tentu saja, tidak sesuai kenyataan. Meski demikian, cukup menarik karena ia menunjukkan beberapa kelemahan metodologi terkait ukuran-ukuran kemiskinan.

Hal ini seakan dijawab oleh sebuah penelitian di delapan negara, termasuk Indonesia. Dalam penelitian itu, Ravallion dan Chen mengembangkan sebuah alat Measuring Pro Poor Growth (2003) sebagai metode untuk meneliti pengaruh pertumbuhan terhadap pemerataan penghasilan. Secara teoretis pendekatan ini dianggap ideal, tetapi mensyaratkan tingginya kualitas data yang secara praktis sulit ditemukan di negara-negara berkembang.

Data naratif dan analisis

Karena itu, selain menggabungkan berbagai data ekonomi mikro dan makro, pemanfaatan data naratif dianggap sama pentingnya dengan analisis data kuantitatif. Lebih dari itu, perdebatan tentang pertumbuhan yang berpihak kepada orang miskin sebaiknya mencermati berbagai dimensi kemiskinan, tidak melulu berkutat pada kemiskinan penghasilan.

Pemahaman Amartya Sen (1999), misalnya, bahwa kemiskinan adalah kurangnya kesempatan bagi seseorang untuk secara mandiri memperbaiki kondisi hidupnya, perlu menjadi pertimbangan. Kesehatan yang buruk, konflik kekerasan, lemahnya tanggung jawab negara, serta buruknya kondisi lingkungan hidup adalah berbagai kondisi yang, menurut Sen, ikut membatasi kesempatan itu.

IVAN A HADAR Analis Ekonomi-Politik, Co-Pemred Jurnal SosDem

Setelah Garis Kemiskinan Sajogyo

KOMPAS, Rabu, 9 September 2009 | 05:20 WIB

Ivanovich Agusta

Seusai memperoleh penghargaan sebagai cendekiawan berkomitmen dari harian Kompas tahun 2008, pada pertengahan tahun ini Sajogyo kembali dianugerahi Achmad Bakrie Award dalam pemikiran sosial. Penghargaan dipersembahkan atas karya monumentalnya, yaitu garis kemiskinan Sajogyo.

Garis kemiskinan itu digunakan secara luas sejak tahun 1977, sebelum akhirnya pemerintah secara resmi menggunakan garis kemiskinan Badan Pusat Statistik (BPS) mulai tahun 1984.

Namun, kelebihan karya Sajogyo yang hingga kini tetap diakui ialah kepraktisan penggunaannya untuk kehidupan sehari-hari. Seorang petani gurem dengan mudah menyatakan dirinya miskin saat tidak mampu makan lebih dari sekali dalam sehari.

Meski memiliki sejarah emas, tidak banyak yang menyadari secara mendalam kelebihan garis kemiskinan Sajogyo ini. Konsekuensinya amat jauh sehingga sampai tiga dekade pun belum ada pihak yang (mampu) merevitalisasi garis kemiskinan tersebut.

Garis Sajogyo

Setelah melakukan survei gizi dan pangan rumah tangga pada awal 1970-an, Sajogyo menemukan artikel pengukuran garis kemiskinan berbasis gizi dari Schikele. Di kemudian hari survei gizi itu merekomendasikan program monumental taman gizi dan usaha peningkatan gizi keluarga. Dan ide Schikele dioperasionalkan ke dalam garis kemiskinan Sajogyo.

Dari sejarah kelahiran terlihat kaitan erat antara nilai gizi terendah dan garis kemiskinan. Nilai gizi minimal setara 2.100 Kkal per orang dalam sehari berlaku untuk penduduk Indonesia menurut susunan umur, jenis kelamin, perkiraan tingkat kegiatan (fisik), berat badan, dan perkiraan status fisiologis.

Yang penting diperhatikan, pada saat data dikumpulkan lebih luas daripada satuan rumah tangga, maka ciri-ciri kebutuhan gizi manusia Indonesia semakin menjauh. Simpangan datanya menurun hingga dua deviasi standar sehingga masih bisa ditoleransi hingga 1.900 Kkal per orang per hari.

Adapun proses pengumpulan data gizi dengan menggunakan pendekatan ingatan (recall) sering kali terlapor lebih rendah (under reporting) hingga 20 persen. Atas dasar pengalaman ini, maka garis kemiskinan terbawah dapat ditoleransi hingga 1.700 Kkal per orang per hari.

Dengan memerhatikan pengalaman lapangan ini, garis kemiskinan Sajogyo menjadi lebih relevan bagi warga miskin di Indonesia. Misalnya, jika dibandingkan dengan (hanya satu) garis kemiskinan BPS senilai 2.100 Kkal per orang per hari, yang melebihi kebutuhan minimal gizi dan pangan riil.

Tiga garis

Lain pula dari pendirian BPS, Sajogyo perlu menyusun garis kemiskinan lebih dari satu agar kian tajam mengukur kemajuan golongan bawah. Dirumuskannya garis melarat (destitute), miskin sekali (very poor), dan miskin (poor).

Berdasarkan nilai tukar beras, dibedakan pula garis kemiskinan pedesaan dan perkotaan. Di desa dipancang garis 180 kg, 240 kg, dan 320 kg setara beras per orang per tahun. Untuk kota nilainya 270 kg, 360 kg, dan 480 kg setara beras per orang per tahun.

Setelah ditemukan hubungan regresif antara pengeluaran rumah tangga dan pangan, sejak tahun 1979 garis terbawah dihilangkan. Dan garis ”miskin sekali” diganti menjadi ”nyaris miskin” yang setara dengan data 1.700 Kkal per orang per hari (harap di-mark up 20 persen). Artinya, garis nyaris miskin berfungsi sebagai lampu merah karena di bawah garis itu pastilah tidak mencukupi untuk hidup.

Untuk mengoperasionalkan garis kemiskinan, nilai kalori dikonversi ke nilai rupiah. Dari Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas), misalnya, Sajogyo menemukan bagi golongan miskin tahun 1976 nilainya Rp 32,16 per 1.000 Kkal, kemudian meningkat menjadi Rp 77,15 per 1.000 Kkal pada tahun 1984. Inilah inflasi riil bagi orang miskin.

Demi kepraktisan, nilai rupiah bagi kalori lalu dipertukarkan dengan nilai beras. Beras mudah dipahami sebagai sumber kalori dan harganya tidak fluktuatif.

Sajogyo lebih memercayai rekaman harga beras dalam Susenas daripada rata-rata harga beras di pasar yang pernah diacu BPS. Susenas lebih masuk akal di mana harga beras di pedesaan lebih rendah daripada di perkotaan.

Setelah garis kemiskinan

Saat ini seluruh konsep garis kemiskinan, baik dari Sajogyo, BPS, maupun konsultan asing, habis dikritik karena tidak memberi alamat pasti, di manakah penduduk miskin dapat ditemukan. Sebagai gantinya dikembangkan sensus rumah tangga miskin yang mengandung data nama sekaligus alamat rumah mereka.

Namun, sensus segera menuai kritik tajam lantaran tokoh masyarakat cenderung memasukkan sebanyak mungkin warganya agar turut mencicipi kue pembangunan.

Sajogyo sendiri sejak awal menyadari bahwa penemuan aspek kuantitatif barulah tahap awal pendalaman pengetahuan kemiskinan di Indonesia. Untuk memutakhirkan garis kemiskinan Sajogyo, kita cukup menghitung nilai rupiah dari 1.700 dan 1.900 Kkal per orang per hari dalam periode lima tahunan.

Setelah garis kemiskinan ditemukan, yang lebih dibutuhkan ialah studi kualitatif guna menggali jeratan akar struktur kemiskinan. Penemuan beragam diagram sebab-akibat kemiskinan di setiap daerah menjadi pisau yang lebih tajam guna memotong akar kemiskinan Indonesia.

Ivanovich Agusta Dosen Sosiologi Kemiskinan dan Pemberdayaan Sosial, Sekolah Pascasarjana IPB, Bogor

10
Sep
09

Ekonomi : Utang Negara Maju Beresiko

Utang Negara Maju Berisiko
Industri Penerbangan Masih Suram

KOMPAS, Kamis, 10 September 2009 | 03:29 WIB

London, Rabu – Lembaga pemeringkat internasional Moody’s Investors Sevice, Rabu (9/9) di London, menyatakan tidak akan menurunkan peringkat negara-negara maju dalam waktu dekat karena sudah melihat pemulihan. Akan tetapi, Moody’s mencermati tingkat utang negara-negara maju mencapai titik berisiko atau riskan.

”Hampir semua negara yang berperingkat Aaa terhantam krisis finansial dan ekonomi global. Namun, tidak akan ada penurunan peringkat semua negara itu dalam waktu dekat,” demikian Moody’s dalam laporan ”Monitor Peringkat Aaa”.

Peringkat Aaa merupakan peringkat tinggi yang diberikan kepada negara yang dianggap memiliki risiko rendah secara bisnis dan ekonomi. Negara yang mendapatkan peringkat Aaa dari Moody’s adalah Inggris, Jerman, Spanyol, dan AS.

”Walaupun penurunan peringkat kecil kemungkinan untuk terjadi, negara berperingkat Aaa dapat mengalami penurunan peringkat jika tidak dapat mengatasi utang yang semakin berat dalam lima tahun ke depan,” ujar Pierre Cailleteau, Direktur Pelaksana Moody’s.

Selama krisis finansial global ini, Moody’s telah menambahkan catatan yang menggambarkan keadaan negara-negara maju itu seperti ”dapat bertahan”, ”mampu mengatasi”, atau ”rentan”.

Moody’s memperkirakan tidak akan menurunkan peringkat dalam waktu dekat, setelah terjadi penurunan peringkat Irlandia dari Aaa menjadi Aa1 dengan prospek negatif. Irlandia adalah negara yang paling ”rentan” di antara negara-negara berperingkat Aaa.

Spanyol merupakan negara berperingkat Aaa yang ”rentan”. Saat ini Spanyol dapat menjaga jarak dan menjauh dari garis penurunan peringkat menjadi Aa. Hal ini terjadi karena Spanyol memiliki potensi pertumbuhan ekonomi. ”Pemerintah juga memiliki neraca keuangan yang lebih solid jika dibandingkan dengan keadaan pada saat awal terjadinya krisis,” ujar Cailleteau.

Moody’s juga yakin Inggris dan AS akan terus akan menyandang predikat ”dapat bertahan”. ”Untuk menjaga status itu, AS dan Inggris perlu menjaga keseimbangan fiskal, bahkan saat perbaikan ekonomi tidak terjadi,” ujarnya lagi.

AS kini memiliki utang 11,5 triliun dollar AS dan defisit anggaran pemerintah sekitar 1,1 triliun dollar AS. Inggris memiliki utang 1,4 triliun dollar AS dan defisit anggaran pemerintah sekitar 287,1 miliar dollar AS.

Bangkit tahun 2011

Sementara itu, salah satu industri yang sangat terpukul krisis, yaitu penerbangan, masih akan terpengaruh oleh perlambatan ekonomi global. Diperkirakan industri penerbangan tidak akan pulih hingga tahun 2011.

Arus penumpang membaik dibandingkan dengan semester pertama 2009. Namun, arus penumpang diperkirakan masih akan menurun mulai 6 persen hingga 8 persen tahun ini.

Walaupun demikian, laju penurunan arus penumpang telah mereda.

Kabar baiknya, arus penumpang di China dan Amerika Latin mulai membaik. ”Kami melihat pertumbuhan arus penumpang, tetapi masih diperlukan waktu yang lama hingga keadaan benar-benar membaik. Menurut kami, tahun 2010 merupakan tahun pemulihan untuk ekonomi dan 2011 sebagai tahun pemulihan sektor penerbangan,” ujar Randy Tinseth, Vice President Pemasaran Boeing.

Pesaing

Boeing, yaitu Airbus yang merupakan manufaktur pesawat komersial terbesar di dunia, menyatakan bahwa pasar tampaknya sedang dalam proses bangkit dari titik nadir.

Laurent Rouaud, Senior Vice President untuk Pasar dan Strategi Produk dari Airbus mengatakan, pada tahun 2011 lalu lintas penerbangan akan tumbuh hingga 6 persen. Pada tahun 2010 pertumbuhan pada sektor ini akan mencapai 4 persen. (AFP/Reuters/joe)




Blog Stats

  • 2,434,817 hits

Recent Comments

Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Sejarah : Bangsa Lemuria, Lelu…
Ratu Adil - 666 on Sejarah : Bangsa Lemuria, Lelu…

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 135 other followers