Archive for the 'Jiwa Semangat Nilai-nilai 45' Category



19
Sep
09

Khazanah : Safi al-Din al-Urmawi Musisi Gaek dari Kekahalifahan Abbasiyah


Safi al-Din al-Urmawi

By Republika Newsroom
Rabu, 16 September 2009 pukul 08:49:00

Safi al-Din al-Urmawi Musisi Gaek dari Kekhalifahan Abbasiyah

Pada abad ke-13 M, peradaban Islam memiliki seorang musikus ulung. Dia dikenal sebagai pencipta musik yang hebat di dunia Islam. Musikus Muslim legendaris itu bernama  Safi al-Din al-Urmawi. Di era keemasan Islam, al-Urmawi telah menggunakan tujuh belas nada dalam menciptakan musik-musiknya.

Nada-nada  yang diciptakannya itu, lalu dikembangkan bangsa Arab. Hasilnya, terciptalah musik-musik yang merdu dan enak didengar. Menurut sejumlah catatan sejarah, al-Urmawi terlahir di Urmia pada 1216 M  dan  tutup usia pada 1294  M di ibukota Kekhalifahan Abbasiyah,  Baghdad.

Para sejarawan memperkirakan, dari asal-usul etnis keluarganya, al-Urmawi merupakan keturunan Persia dari Quthb al-Din al-Syiraz,i yang sering disebut sebagai Afdhal-i Iran yang artinya adalah seorang yang bijaksana yang berasal dari Iran. Pada masa mudanya, al-Urmawi hijrah dari tanah kelahirannya untuk menimba ilmu di metropolis intelektual dunia pada masa itu, yakni  Baghdad.

Di kota yang sangat terkenal itu, al-Urmawi mendapatkan pendidikan tentang bahasa Arab, sastra, sejarah juga seni tulisan tangan. Bahkan, dia juga mempelajari  kaligrafi dan menjadikannya seorang ahli kaligrafi terkenal. Lalu dia diberi jabatan sebagai seorang ahli penyalin di perpustakaan yang dibangun oleh Khalifah Abbasiyah, al-Musta?im.

Selain mempelajari dan menguasai berbagai macam ilmu, al-Urmawi juga mempelajari ilmu hukum Syafi’i dan hukum perbandingan (Khilaf Fiqh) di Madrasah Mustansiriyya yang berdiri pada  1234. Kepandaiannya dalam kedua ilmu hukum tersebut membuatnya memenuhi syarat untuk mendapatkan pekerjaan sebagai administrator yuridis al-Mustasim pada  1258.

Setelah itu, kariernya kian moncer. Al-Urmawi kemudian dipercaya sebagai  kepala pengawas yayasan (nazhariyyat al-wakaf) di Irak, sampai 1267, ketika Nasir al-Din Tusi mengambil alih kekuasaan di Irak. Selain berkiprah di bidang pemerintahan, al-Urmawi pun mulai dikenal sebagai seorang musisi terkemuka.

Ia mendedikasikan dirinya sebagai seorang musisi dan pemain kecapi yang berbakat. Kehebatannya dlam bidang Muslim membuatnya menjadi seorang anggota pemain musik  terkenal pada masa itu. Talentanya yang sangat tinggi dalam bidang musik, membuatnya tetap bisa bertahan hidu,p pada saat jatuhnya Baghdad ke tangan Hulagu.

Ketika Baghdad dihancurkan bangsa Mongol, al-Urmawi justru mendapatkan perlakuan istimewa dari Hulagu Khan. Pemimpin bangsa Mongol itu  sangat terkesan dengan kehebatan al-Urmawi.  Sang musisi pun mendapatkan gaji yang besarnya dua kali lipat dari pendapatannya di era kepemimpinan Dinasti Abbassiyah.

Karier musik Al-Urmawi pun semakin berkibar. Ia mendapat dukungan dari keluarga Juvayni, terutama oleh Syams al-Din Muhammad dan putranya Sharaf Din Harun. Namun, setelah para pendukungnya tersebut mendapatkan hukuman mati, Al-Urmawi mengalami kejatuhan dan keterpurukan. Dia terlupakan dan jatuh miskin. Bahkan dia dijebloskan ke dalam tahanan karena didakwa berutang sebanyak 300 dinar. Hingga akhirnya dia meninggal  Madrasah al-Khalil di Baghdad.

Sebagai seorang komposer, Al-Urmawi dikenal sebagai seorang yang mengembangkan bentuk vokal sawt, awl dan nawba. Dia juga dikenal sebagai orang yang menemukan dua alat musik dawai yaitu nuzha dan mughni. Bahkan dawai masih menjadi alat musik yang disukai hingga zaman modern ini.

Karya milik al-Urmawi yang paling penting adalah dua bukunya dalam bahasa Arab yang merupakan teori musik. Buku teori musik tersebut berjuduk  Kitab al-Adwar dan risalah  al-Sharafiyya fil Nisab al-Talifiyya. Bukunya yang berjudul  Kitab al-Adwar dikerjakannya saat  masih bekerja di perpustakaan al-Mustasim.

Khalifah al-Mustasim dikenal sebagai pemimpin  yang sangat  menyukai merdunya bunyi-bunyian dari berbagai macam musik.  Kitab al-Adwar, merupakan kitab pertama yang mengembangkan sejumlah teori musik ilmiah yang sebelumnya  telah ditulis oleh Ibnu Sina.

Kitab itu berisi informasi yang berharga mengenai berbagai macam praktik dan teori musik di Persia serta di Irak,  seperti penciptaan lima senar kecapi yang belum pernah dilakukan pada masa Ibnu Sina. Selain itu, kitab tersebut juga berisi tahap akhir dalam pembagian oktaf menjadi 17 langkah, tata nama lengkap dan definisi timbangan yang merupakan sistem dari dua belas Makams (disebut shudud) dan enam Awaz.

Kitab ini juga berisi gambaran tepat tentang musik kontempore, dan penggunaan huruf dan angka untuk notasi melodi. Kitab karya al-Urmawi  itu tercatat sebagai  karya yang unik dan memiliki nilai terbesar. Kitab tersebut juga menggambarkan dominasi musik lokal Arab dan Persia dalam tradisi musik Arab.

Kitab al-Adwar yang isinya ringkas dan padat tersebut menjadi salah satu buku teori musik yang paling populer pada abad itu. Bahkan buku tentang musik itu memiliki pengaruh yang besar selama berabad-abad. Buku tersebut disalin baik dalam bahasa Arab, Persia, maupun Turki.

Pada masa Kekhalifahan Turki Usmani, kitab tersebut disalin hingga beberapa kali. Bahkan buku tersebut juga telah disalin negara-negara Barat. Kitab al-Adwar dianggap sebagai kompendium (Mukhtasar) dari pengetahuan musik standar pada masanya.

Buku kedua al-Urmawi  bertajuk  Risalah al-Sharafiyya, yang ditulis sekitar 1267. Buku musik tersebut dipersembahkan kepada para mahasiswa dan kepada pelindung Khurasan, Sharaf Din Juvayni. Al-Urmawi adalah bagian dari kehidupan ilmiah, sastra dan seni di lingkungan keluarga Juvayni.

Melalui pertemuan dengan keluarga Juvayni, al-Urmawi pernah bertemu dengan sarjana Persia terkenal bernama Nasir al-Din Tusi yang membuat risalah singkat tentang proporsi interval musik yang menarik perhatian al-Urmawi. Risalah Nasir al-Din Tusi tersebut merangsang minat al-Urmawi dalam mempelajari bahasa Yunani serta ilmu pengetahuan dan teori musik.

Kedua adikarya al-Urmawi itu  telah menjadi buku rujukan para akademisi di bidang musik Arab. Bahkan, seorang ahli musik modern, Briton Owen Wright juga banyak memberikan komentar mengenai karya-karya teoritis al-Urmawi.

Warisan Zarlino dari Timur

Dunia musik merupakan bagian dari hidupnya. Sepanjang kariernya,  al-Urmawi dengan seksama menganalisis sumber-sumber teori musik, baik dari para pemusik Yunani maupun karya-karya musik para sarjana Muslim terdahulu seperti al-Kindi, al-Farabi, dan Ibnu Sina. Dia belajar musik praktis secara ilmiah dan sistematis yang tergambar dalam bukunya  Kitab al-Adwar dan dalam risalah utamanya  al-Risalah al-Sharafiyya fi al-Nisab al-Ta’lifiyya.

Kontribusi Safi al-Din al-Urmawi terhadap teori dan praktik musik Arab sangat penting dalam sejarah. Sebab karya-karyanya sangat berharga dalam rantai karya teoretis dalam sejarah teori musik yang dimulai dengan teori musik Al-Kindi. Kemampuannya dalam bidang fisika membuatnya mampu  menciptakan alat-alat musik.

Dia juga dikenal sebagai salah satu pencipta sistem suara terbaik. Karena tingkat briliannya yang sangat memukau. Ia pun ditabalkan sebagai Gioseffo Zarlino dari Timur. Zarlino adalah komposer legendari dari Italia pada abad ke-16 M. Karya-karya al-Umrawi telah memberi inspirasi para musisi Muslim untuk menulis teori musik setelah wafatnya al-Urmawi. Tak heran jika pengaruhnya sebagai seorang ahli musik yang hebat tetap melekat dalam karya-karya para musikus setelahnya.

Buku  al-Risalah al-sharafiyya yang ditulisnya  terdiri dari lima bab dengan judul yang berbeda-beda. Dalam buku tersebut terdapat bab khusus yang membahas diletakkannya dasar-dasar matematika dalam dunia musik. Bagian dari karya-karya al-Kindi, al-Farabi, dan Ibn Sina yang penting bagi Al-Urmawi juga ditunjukkan dalam buku tersebut.

Akhirnya, jejak-jejak  al-Sharafiyya bisa ditelusuri dengan melihat referensi beberapa karya yang ditulis beberapa abad kemudian. Hal itu memperlihatkan pentingnya dampak buku tersebut dalam dunia musik.

Al-Urmawi juga mempelajari rasio antara angka-angka yang sangat sistematis dalam bermusik, rasio tersebut bernama interval yang diklasifikasikan menurut konsonan dan disonan interval secara terperinci.

Ini merupakan karya terperinci dalam musik setelah karya al-Farabi. Dia juga menyebutkan empat tetrachords dengan interval dan pentachordal untuk menjelaskan jenis konsonan. Beberapa musisi setelahnya menghindari topik tersebut karena sangat rumit dan penuh detail. Inilah yang membuat musisi dunia  memuji kehebatan al-Urmawi. dya

19
Sep
09

Khazanah : Abu al-Fida Sejarawan Muslim dari Dinasti Mamluk

REPUBLIKA, Rabu, 16 September 2009 pukul 01:34:00

Abu al-Fida

Pada masa kanak-kanaknya, ia menghabiskan hampir seluruh waktu bermainnya untuk mempelajari Al Quran, Hadis dan ilmu pengetahuan umum.

”Manusia yang sungguh luar biasa,” begitu penulis Barat bernama de Vaux memuji sosok sejarawan dan geografer Muslim di abad ke-13 M bernama Abu al-Fida. Dedikasi dan pengabdian sang ilmuwan Muslim itu telah diakui peradaban Barat. Tak heran jika namanya diabadikan di sebuah kawab bulan, yakni Abulfeda.

Sejatinya, dia bernama lengkap Abu al-Fida Ismail Ibnu Ali bin Mahmud al-Malik al-Mu’ayyad Imad Ad-din. Ia adalah seorang ahli sejarah keturunan Kurdi yang sangat legendaris. Abu al-Fida  terlahir di kota Damaskus, Suriah pada November 1273 M. Ayahnya bernama Malik ul-Afdha — saudara dari pangeran Hamah yang telah melarikan diri dari serangan dan invasi pasukan dari Mongolia.

Setelah ditelusuri, Abu al-Fida merupakan keturunan dari Ayyub, ayah seorang panglima hebat pada masa Perang Salib yakni Salahuddin al-Ayyubi. Abu al-Fida terlahir dalam kondisi politik dan keamanan yang tak menentu, menyusul serangan bangsa Mongol ke kota-kota Islam.

Pada saat lahir, ayahnya telah diusir dari kerajaan Hama oleh para penyerang dari Mongol yang melakukan invansi kedua pada 1259 di bawah komando Hulagu Kan. Invasi pertama Mongol terjadi pada 1219-1222 yang dipimpin Jenghis Khan. Meski tumbuh dalam situasi politik dan keamanan yang tak menentu, namun semangat Abu al-Fida untuk belajar tak pernah surut.

Pada masa kanak-kanaknya, ia menghabiskan hampir seluruh waktu bermainnya untuk mempelajari Alquran, hadis dan ilmu pengetahuan umum. Mengingat kondisi keamanan yang tak menentu, setelah tumbuh menjadi remaja, Abu al-Fida mencurahkan dirinya untuk terjun dalam bidang militer.

Ia telah turut angkat senjata membela agama Allah SWT saat  melawan para Tentara Perang  Salib dari Roma.  Setelah menerima pendidikan,  pada usianya yang ke-12, dia sudah berani berjuang melawan tentara Salib bersama ayahnya bersama Penguasa Dinasti Mamluk. Dia juga tercatat  ikut berjuang mengambil alih benteng tentara Salib dari Ksatria Markab Hospitaler.

Ketika menginjak usia 16 tahun, Abu al-Fida  masih berjuang bersama ayahnya dan sepupunya untuk merebut Tripoli dari Tentara Salib. Setelah berjuang merebut Tripoli, dia bersama pasukan Muslim lainnya masih berjuang melawan Tentara Salib  untuk menaklukan Kastil Roum yang penting guna mengendalikan kekuasaan di wilayah Sungai Eufrat.

Beberapa tahun kemudian, dia berada di bawah perintah Sultan Mamluk Ladjyn berperang melawan orang-orang Kristen di Armenia. Abu al-Fida dalam buku sejarah yang ditulisnya menceritakan kehebatan Sultan Ladjyn yang berasal dari Jerman dan asal-usulnya sebagai keturunan dari Ordo Ksatria Teutonik.

Pada awalnya, Sultan Ladjyn berjuang melawan kaum Kristen di Italia dan melawan orang-orang kafir, kemudian dia datang ke Suriah untuk melawan kaum Muslimin. Namun, ia mendapat hidayat dari Allah SWT.  Ladjyn terpesona oleh keagungan agama Islam dan akhirnya memeluk agama Allah. Setelah  itu, dia bergabung dengan Dinasti Mamluk, dan secara bertahap naik pangkat sampai akhirnya menjadi seorang Sultan dan menjadi teman Abu al-Fida.

Pada 1309, Abu al-Fida berjuang di Armenia melawan pasukan aliansi Mongol-Armenia,   tak  lama setelah  kembali dari perjalanan ziarah ke Makkah. Lalu pada 1316,  dia berada di Kairo Mamluk dan ditunjuk sebagai letnan untuk Sultan. Dua tahun kemudian, dia diangkat menjadi Pangeran Hama, dengan demikian dia telah berjuang memulihkan kebesaran nama nenek moyangnya.

Abu al-Fida juga meriwayatkan kembali kota para leluhurnya supaya dikenang kebesarannya sepanjang masa. Ia kemudian kembali lagi ke Makkah pada 1321, lalu dia pergi melakukan kampanye militer sekali lagi untuk berperang di wilayah Asia Kecil. Saat berada di tengah-tengah ekspedisi militer ini, Abu al-Fida menggunakan sedikit waktunya yang tersisa untuk menulis.

Pada 1323, dia kembali ke Hama dan menulis karya geografi. Dia juga banyak menggunakan waktunya untuk berdiskusi dan belajar, bahkan dia juga sempat melakukan perdagangan. Abu al-Fida hidup dengan luar biasa. Seluruh hidupnya dari masa kanak-kanak hanyalah serangkaian kampanye militer, selain itu dia naik haji ke tanah suci Makkah, sebanyak tiga kali.

Pada saat menjadi Pangeran Hama, Abu al-Fida mencurahkan waktunya untuk mananam modal, memberikan perlindungan kepada para pelajar, serta menulis. Sebagai seorang pangeran, Abu al-Wafa mendapat gelar Malik Us Salhn dan pada tahun 1320 dia menerima kenaikan pangkat dan diangkat menjadi  Sultan bergelar Malik ul-Mu’ayyad.

Selama lebih dari dua puluh tahun lamanya,  Abu al-Fida memerintah dalam suasana yang penuh ketenangan dan keindahan. Dia mengabdikan dirinya untuk melaksanakan tugas-tugas pemerintah dan membuat berbagai macam karya yang membuatnya menjadi masyhur. Dia juga tipe orang yang suka sekali berkirim surat.

Sehingga banyak sekali surat yang datang untuknya. Abu al-Fida  meninggal pada puncak kemuliaan dan kekuasaannya di Hama pada 1331. Meskipun Abu al-Fida sangat tertarik dengan ilmu sejarah dan geografi, dia juga aktif mempelajari dengan baik berbagai bidang ilmu lainnya seperti botani dan Materia Mediaca.

Dia juga menulis sebuah karya dalam banyak volume tentang obat-obatan yang berjudul Kunash, dan dia juga membuat sebuah buku tentang keseimbangan.  dyah ratna meta novia

Karya Sang  Pangeran

Selain dikenal sebagai seorang pejuang dan penguasa, Abu al-Fida juga merupakan seorang ilmuwan Muslim terpandang di abad ke-14 M. Salah satu karya fenomenal Abu al-Fida adalah bukunya yang berjudul The Concise History of Humanity atau Ringkasan Sejarah Manusia. Dalam  bahasa Arab, buku itu berjudul Tarikhu ‘l-Mukhtasar fi Akhbari’ l-Bashar.

Karyanya yang sangat terkenal itu ditulis pada 1315. Ia kemudian melanjutkan penulisan buku tersebut pada  1329. Buku yang legendaris itu,  selain memuat tentang penciptaan dunia, juga memuat tentang sejarah universal, sejarah pra-Islam dan sejarah Islam pada 1329.

Peradaban Barat juga turut mempelajari buku sejarah karya Abu al-Fida tersebut. Buktinya, buku itu telah diterjemahkan ke dalam bahasa Latin, Prancis dan Inggris. Dalam menulis karya-karyanya, Abu al-Fida menjadikan sumber-sumber kepercayaan juga pengalamannyai sebagai seorang pejuang yang menyaksikan berbagai peristiwa penting dan bersejarah sebagai rujukan.

Dia juga mendapatkan banyak pengaruh dari sejarawan besar di Mosul sebelum, yakni  Ibnu al-Atsir. The Concise History of Humanity, merupakan sebuah karya penting, sehingga banyak yang menuliskan lanjutan dari sejarah tersebut. Beberapa ahli sejarah yang melanjutkan karya Abu al Fida antara lain Ibnu al-Wardi pada  1348, Ibn al-Shihna al-Halabi pada  1403.

Karya-karya Abu al-Fida sangat dihargai oleh para orientalis Barat. Bahkan banyak dari karyanya sebagian diterbitkan di Barat, John Cagnier (1670-1740) pernah menerbitkan karya Abu al -ida, begitu pula Reiske. Sehingga sejarah Islam banyak dikenal di dunia Barat.

Seperti banyak karya sejarah sebelumnya, termasuk karya-karya Ptolemeus dan Muhammad al-Idrisi. The Concise History of Humanity, memiliki sebuah pengantar panjang tentang berbagai macam masalah geografis yang isinya tentang kota-kota utama di dunia. Dalam buku tersebut juga terdapat garis bujur, lintang, iklim, ejaan. Buku tersebut mulai diterbitkan dan diterjemahkan pada awal 1650,  di Eropa.

Dalam bukunya,  dia juga menegaskan bahwa tiga perempat permukaan bumi tertutup dengan air. Beberapa wilayah yang diceritakan dalam buku tersebut antara lain; Arab, Mesir, Maghrib. Afrika, Spanyol, Pulau-pulau di Mediterania dan Atlantik, bgian utara Eropa dan Asia Suriah, Jazirah, Irak, Khuzistan atau Ahwaz, Fars,  Kirman, Sijistan,  Sind, India, China, Pulau-pulau di Timur, Roma dan  Armenia.

Buku tersebut juga berisi tentang negara termasuk batas-batasnya, keanehan fisik, kehidupan politik, divisi etnis , sopan santun, adat istiadat, monumen, jalan-jalan utama, kota-kota utama, sumber informasi, bujur, lintang, iklim, ortografi, deskripsi singkat. Abu al- Fida berusaha keras untuk menetapkan ortografi dan orthophony dari nama-nama tempat. Salah satu aspek yang paling penting dalam karya Abu al-Fida adalah pengamatan bentuk bola bumi. dya

19
Sep
09

Khazanah : Ibnu al-Banna, Matematikus Legendaris dari Maroko

REPUBLIKA, Jumat, 18 September 2009 pukul 01:47:00

Ibnu al-Banna

Ibnu al-Banna al-Marrakushi dikenal sebagai matematikus Muslim legendaris dari Maroko pada abad ke-13 M. Kontribusinya bagi pengembangan matematika sungguh sangat tak ternilai.

Lewat  kitab yang ditulisnya bertajuk Talkhis Amal al-Hisab (Ringkasan dari Operasi Aritmatika) dan Raf al-Hijab, ia memperkenalkan beberapa notasi matematika yang membuat para para sejarawan sains dan ilmuwan percaya bahwa simbolisme Aljabar pertama kali dikembangkan peradaban Islam.

Menurut sejumlah catatan sejarah, al-Banna dan al-Qalasadi merupakan penemu notasi matematika. Dedikasinya dalam mengembangkan matematika telah diakui dunia. Untuk mengenang jasa-jasanya bagi kemajuan matematika, para ilmuwan dunia mengabadikan namanya di salah satu kawah bulan yang diberi nama al-Marrakushi.

Al-Banna pun menjadi satu dari 24 ilmuwan Muslim legendaris yang namanya diabadikan di kawah bulan. Matematikus Muslim kesohor itu bernama lengkap Abu’l-Abbas Ahmad bin Muhammad bin Utsman al-Azdi. Dalam catatan sejarah, tidak ada keterangan dengan jelas apakah al-Banna lahir di kota Marrakesh atau di wilayah yang diberi nama Marrakesh, Maroko oleh bangsa Eropa.

Ada pula yang menyebut al-Banna terlahir di Granada di Spanyol dan kemudian hijrah ke Afrika Utara untuk mendapatkan pendidikan dan pengalaman hidup. Yang pasti, menurut sejarawan matematika JJ O’Connor dan EF Robertson,  al-Banna menghabiskan sebagian besar hidupnya di Maroko.

Al-Banna lahir pada Desember 1256.  Saat itu, Suku Banu Marin di Maroko merupakan sekutu Kekhalifahan Umayyah di Cordoba, Spanyol. Suku tersebut kemudian tinggal di bagian timur Maroko di bawah kepemimpinan Abu Yahya. Mereka mulai menaklukkan daerah-daerah di sekitarnya. Suku Banu Marin menaklukan Fez pada 1248 dan menjadikan wilayah tersebut sebagai ibu kota.

Kemudian mereka menaklukan Marrakesh dari kekuasaan suku Muwahhidun yang berkuasa pada 1269.  Dengan demikian Suku Banu Marin mengambil alih kekuasaan di seluruh Maroko. Setelah mereka berhasil menaklukkan Maroko, Banu Marin mencoba membantu Granada untuk mencegah kemajuan peradaban Kristen.

Hubungan erat antara Granada dan Maroko itulah yang membuat para sejarawan kesulitan untuk menjelaskan dan  mengetahui secara pasti asal al-Banna. Menurut O’Connor dan Robertson, al-Banna menyelesaikan studinya di Maroko. Matematika adalah bidang studi yang disukainya.

Saat itu, matematika merupakan ilmu favorit. Al-Banna sangat cinta dengan geometri serta memiliki ketertarikan untuk mempelajari Elemen Euclid. Ia juga mempelajari angka-angka pecahan dan belajar banyak dari orang-orang Arab yang telah menciptakan matematika s400 tahun sebelumnya.  Menurut O’Connor, suku Banu Marin memiliki budaya yang kuat untuk belajar serta mencari ilmu pengetahuan.

Banu Marin juga menjadikan Kota Fez sebagai pusat studi dan kebudayaan Islam. Di Universitas Fez, al-Banna mengajarkan semua cabang ilmu matematika termasuk diantaranya; aritmatika, Aljabar, geometri dan astronomi. Fez merupakan kota yang berkembang dengan pesat. Di kota itu berdiri dengan megah istana kesultanan, madrasah, universitas, serta, masjid yang megah.

Selama mengajar di universitas di kota Fez, al-Banna mengembangkan komunitas akademis. Ia memiliki begitu banyak murid.  Hal ini menunjukkan pengaruh  al-Banna yang sangat kuat di mata muridnya. Komunitas akademis itu melakukan studi dan diskusi dalam mengembangkan dan menyebarkan ilmu pengetahuan, khususnya matematika.

Al-Banna merupakan penulis yang sangat produktif. Dia telah melahirkan sejumlah karya besar dan legendaris. Tak kurang  terdapat 82 karya al Banna yang didaftar oleh Renaud. Namun tidak semua karya al Banna berupa tulisan tentang ilmu matematika, meskipun kebanyakan karyanya adalah matematika.

Dia menulis buku berisi pengantar Elemen Euclid. Selain itu, menulis sebuah teks tentang Aljabar, dan menulis berbagai karya tentang astronomi. Para sejarawan sains mengaku kesulitan untuk mengetahui secara pasti jumlah karya asli al-Banna. Pasalnya, dia juga banyak menyadur buku karya matematikus Islam terdahulu. Kini, sebagian karya al-Banna telah hilang.

Dalam membuat karyanya, al-Banna memang mendapatkan banyak pengaruh dari para ahli matematika Arab sebelumnya. Al-Banna merupakan orang pertama yang mempertimbangkan pecahan sebagai perbandingan antara dua angka dan dia adalah orang pertama yang menggunakan ekspresi almanak,  dalam sebuah karya yang berisi data astronomi dan meteorologi.

Karya al-Banna yang paling terkenal adalah Talkhis Amal al-Hisab (Ringkasan dari Operasi Rritmatika) dan Raf al-Hijab. Kedua buku itu  berisi komentar-komentar al-Banna terhadap karyanya Talkhis amal al-Hisab. Dalam karyanya itu, al-Banna memperkenalkan beberapa notasi matematika yang membuat para ilmuwan percaya bahwa simbolisme aljabar pertama kali dikembangkan matematikus Islam yakni al-Banna dan al-Qalasadi.

Dalam buku Raf al-Hijab, al-Banna menjelaskan berbagai macam pecahan matematika dan mereka terus digunakan untuk menghitung perkiraan dari nilai akar kuadrat. Hasil menarik lainnya terdapat pada seri menjumlahkan hasil. Berikut contoh rumus matematika yang dikembangkan al-Banna.

13 + 33 + 53 + … + (2n-1)3 = n2(2n2 – 1) dan
12 + 32 + 52 + … + (2n-1)2 = (2n + 1)2n(2n – 1)/6.

Mungkin yang paling menarik dari karya al Banna adalah bekerjanya koefisien binomial yang dijelaskan secara rinci dalam bukunya tersebut. Al -Banna menunjukkan bahwa:

pC2 = p(p-1)/2
lalu
pC3 = pC2(p-2)/3.
Memang hal itu sulit dijelaskan tetapi akhirnya al-Banna menerangkan bahwa:
pCk = pCk-1(p – (k – 1) )/k.
sehingga hasilnya
pCk = p(p – 1)(p – 2)…(p – k + 1)/(k !)

Sebenarnya karya al Banna merupakan langkah kecil dari hasil segitiga Pascal yang tiga abad sebelumnya dijelaskan al-Karaji.  Meski begitu, ada sesuatu yang lebih fundamental dari pada segitiga Pascal, hasil itu justru merupakan kombinatorial eksposisi al-Banna, bersama-sama membentuk hubungan antara angka dan kombinasi poligonal.  dyah ratna meta novia.


Adikarya Sang Legendaris

Sebelum menjadi matematikus hebat,  al-Banna lebih banyak  belajar ilmu-ilmu tradisional seperti, bahasa Arab, Tata Bahasa (nahwu  dan sharf), hadis, fikih, tafsir Alquran di kampung halamannya. Setelah itu,  ia diperkenalkan dengan matematika dan ilmu kedokteran oleh guru-guru pembimbingnya.

Al-Banna diketahui pernah dekat dengan Saint Aghmat, Abu Zayd Abdur Rahman al-Hazmiri yang kemudian dikenal  sebagai orang yang selalu mengarahkan dan memanfaatkan pengetahuan matematika Ibnu al-Banna untuk tujuan yang bersifat ramalan.

Al-Banna juga menjadi salah seorang yang mampu menguraikan atau menjabarkan prinsip-prinsip perhitungan dari bentuk-bentuk ghubar (hisab ghubar adalah suatu metode perhitungan yang berasal dari Persia).

Dia juga menjadi seorang figur yang sangat legendaris dan dikenal sebagai saintis yang ajaib. Betapa tidak. Kecerdasan dan kemampuannya sangat luar biasa  dan mampu melebihi manusia pada umumnya. Hal ini dia lakukan dengan menerapkan ilmu pengetahuan ilmiahnya. Meskipun demikian, para biografer memuji kerendahan hatinya dan kesalehannya sebagai hamba Allah SWT.

Dia mempunyai sifat dan tingkah laku yang sangat baik dan santun. Karya-karya al-Banna sebenarnya lebih dari 80 judul dengan berbagai macam variasi ilmu pengetahuan yang berbeda-beda. Karya-karyanya itu meliputi ilmu tata bahasa (nahwu), bahasa retorika, fikih, ushulluddin (perbandingan agama), tafsir Alquran, logika, pembagian warisan (al-farai’d), ramalan, astronomi, meteorologi dan matematika, juga termasuk sebuah resume karya Imam al-Ghazali, “Ihya’ Ulumuddin”.

Namun hanya sebagian karyanya yang dapat bertahan sampai sekarang ini. Di antara karya-karyanya tersebut antara lain;  Talkhis fi Amal al-Hisab, Risalah fi Ilm al-Masaha, al-Maqalat fi al-Hisab,Tanbih al-Albab, Mukhtashar Kafi li al-Mutallib, Kitab al-Ushul al-Muqaddamat fi al-Jabr wa al-Muqabala, Kitab Minhaj li Ta’dil al-Kawakib, Qanun li Tarhil asy-Syams wa al-Qamar fi al-Manazil wa ma Kifat Auqat al-Lain wa al-Nahar, Kitan al-Yasar Taqwim al-Kawakib as-Sayyara, Madkhal an-Nujum wa Taba’i al-Huruf, Kitab fi Ahkam al-Nujum, juga Kitab al-Manakh.

Dari sekian banyak karyanya, yang paling penting adalah Talkhis fi Amal al-Hisab, yang menjadi perhatian para ilmuwan. Karyanya itu juga telah diterjemahkan oleh A Marre, dan diterbitkan secara terpisah, di Roma pada 1865. Sebagai seorang ilmuwan yang hebat, al-Banna pernah mendapat penghargaan yang tinggi dari Ibnu Khaldun.

Ibnu Khaldun berharap agar karya-karya al-Banna dapat dikembangkan para ilmuwan  sepeninggalnya. dya

19
Sep
09

Resonansi : Perang Dingin, Afghanistan, dan Terorisme

REPUBLIKA, Selasa, 08 September 2009 pukul 01:57:00

Perang & Terorisme (I)

Oleh: Ahmad Syafii Maarif

Resonansi ini akan mencoba membedah topik ini melalui teropong yang lebih komprehensif berdasarkan data mutakhir yang didapat via internet. Kita mulai dari era pasca-PD (Perang Dunia) II. Sebenarnya, baik PD I maupun PD II lahir sepenuhnya dari rahim peradaban Barat sekuler. Begitu juga, apa yang dikenal sebagai PD (Perang Dingin) yang berlangsung dari tahun 1945 sd 1980-an, antara Blok Uni Soviet dan Blok Barat pimpinan Amerika Serikat, adalah kelanjutan belaka dari kompetisi dua kekuatan raksasa itu untuk menguasai dunia. Keduanya adalah pemenang PD II.

Adapun sebagian negara lain adalah korban belaka, baik karena tak berdaya ataupun karena kebodohan para elitenya masing-masing. Di antara korban yang terparah adalah Afghanistan, salah satu negara Muslim yang termiskin di muka bumi. Pada tahun 1979, rezim marxis Afghanistan telah mengundang pasukan Uni Soviet untuk masuk ke sana dalam upaya minta bantuan. Dengan segala senang hati, Uni Soviet malah menduduki negeri itu dalam rangka unjuk gigi kepada Blok Barat. Ujung destruktifnya ternyata sangat panjang, berdarah-darah, hancur-hancuran, perang saudara, dan terorisme. Indonesia yang sama sekali tidak berada di zona panas, malah menjadi korban terorisme, dilakukan oleh mereka yang merasa benar di jalan yang sesat dan salah.

Indonesia yang pernah juga terseret dalam suasana PD pada era Bung Karno and era Soeharto, sejak beberapa tahun yang lalu malah menjadi korban terorisme yang punya kaitan dengan situasi Afghanistan yang sangat menderita itu. Ratusan pemuda Muslim Indonesia bersama pemuda-pemuda dari berbagai negara lain atas nama jihad telah berangkat ke Afghanistan untuk mengusir pasukan ateisme Uni Soviet. Muncullah kemudian nama Usamah bin Ladin, yang sebelum pecah kongsi, semula adalah kader tak langsung CIA (Central Intelligence Agency).

Bin Ladin kemudian mengatakan bahwa terusirnya pasukan Uni Soviet adalah karena bantuan Tuhan, melalui perjuangan pasukan mujahidin yang berasal dari berbagai negara Muslim. Keterlibatan Amerika di Afghanistan, langsung atau via Pakistan, tidak disebut Bin Ladin, padahal sangat nyata, dalam bentuk jutaan dolar, persenjataan, dan pelatihan terhadap gerilya mujahidin. Pakistan di bawah rezim militer Zia al-Haq saat itu telah menjadi sekutu dekat Amerika. Setelah Uni Soviet bubar, Amerika juga mengklaim bahwa berkat bantuannyalah pada akhirnya yang memaksa Uni Soviet hengkang dari Afghanistan. Ujungnya adalah federasi komunis itu harus memasuki museum sejarah.

Pada sisi lain, kita melihat kapitalisme dan demokrasi liberal merayakan kemenangannya atas sistem totalitarisme marxis. Kemenangan ini dikukuhkan antara lain dalam bentuk karya tulis oleh mantan pendukung kelompok neokonservatif Amerika, Francis Fukuyama, dalam buku kontroversialnya <I>The End of History and the Last Man<I> (New York: Avon Books, 1993). Adapun kemudian Fukuyama pada 2004 murtad dari neokon sebagai protes terhadap invasi Amerika atas Iraq adalah masalah lain yang pernah saya tulis juga di harian ini (Lih. <I>Resonansi Republika<I>, 29 Januari 2008, hlm 12).

Berkat latihan keras di sana, para pemuda Muslim ini menjadi sangat militan dengan semangat perang yang super tinggi. Maut telah menjadi tunangan mereka. Para pemuda ini tak sadar telah menjadi korban PD yang sangat menguntungkan Washington, yang kemudian telah menjadi musuh mereka. Bom-bom bunuh diri yang sangat meresahkan Indonesia adalah bagian dari sikap permusuhan itu. Ini adalah di antara ironi sejarah yang sungguh memprihatinkan. Gedung Putih yang cerdik dan licik telah memanfaatkan para pemuda pejuang ini untuk memenangkan PD. Hasilnya sangat spektakuler: Uni Soviet telah dipermalukan sebelum berantakan secara total, diawali oleh gerakan glasnost dan prestroika Gorbachev.

Mirip dengan kegagahan perang Vietnam di bawah pimpinan Ho Chi Minh dan Jenderal Vo Nguyen Giap, pada tahun 1975 Amerika telah dihina dan dipermalukan di sana sebelumnya, tetapi tidak pernah jera. Afghanistan dan Irak digempur dan dibinasakan, demi kerakusan untuk menguasai jalan pipa minyak di kawasan panas itu. Si cerdik dan si licik sering benar mengorbankan si lemah dan tidak siuman. Anda jangan bicara tentang moral penguasa di sini. Itu sia-sia, karena memang telah dibuang jauh, entah ke mana di belantara sekularisme. Jika ada arus balik politik untuk mengadili George W Bush sebagai penjahat perang, cukup masuk akal, dan saya telah mengatakannya jauh sebelum tokoh lintas agama bertemu dengannya di Denpasar pada 22 Oktober 2003.

Pada 15 Februari 1989, berdasarkan Persetujuan Genewa 1988, pasukan Uni Soviet terakhir telah angkat kaki dari Afghanistan, tetapi ironisnya momen ini malah menjadi bagi awal perang saudara di negara kesukuan itu. Jika sebelumnya senjata dibidikkan untuk membunuh dan mengusir pasukan musuh, dalam perang saudara, senjata itu pula yang dipakai untuk membunuh sesama Muslim, apa pun dalih yang digunakan. Bila mengikuti drama dan tragedi Afghanistan ini, air mata saya mengalir tak tertahankan. Beginikah cara Muslim menyelesaikan selisih di antara mereka? Tidakkah mereka mau belajar dari kelampauan yang penuh darah dan dendam akibat sengketa politik sesama elite Muslim di berbagai bagian dunia, dalam lintas sejarah yang panjang?

REPUBLIKA, Selasa, 15 September 2009 pukul 01:53:00

Perang & Terorisme (II)

PERANG DINGIN, AFGHANISTAN, DAN TERORISME

Oleh: Syafii Maarif

Oleh sebab anda jangan terlalu gampang mengutip ayat-ayat suci untuk membenarkan kecenderungan politik kekuasaan yang pada umumnya tunamoral. Janganlah anda berilusi bahwa praktik politik oleh Muslim pasti selalu bersih. Jauh dari itu, Bung. Panggung politik Indonesia adalah di antara contoh yang paling gamblang tentang politik kotor ini. Partai-partai yang berlagak suci, itu hanyalah tampilan di permukaan, dalam dunia nyata akan sulit dibedakan antara mereka yang sering menyebut nama Allah dan mereka yang tidak biasa menyebutnya. Semua panorama semacam ini jelas mencerai Islam yang mengajarkan kejujuran, kebersihan, kesantunan, lapang dada, dan tidak gila posisi atau benda. Benda (materi), tulis Iqbal, adalah penghalang bagi roh manusia untuk membubung tinggi. Benda memang perlu, tetapi jangan sampai disembah, karena akan menumpulkan katajaman pandangan mata batin dalam membaca realitas.

Politik kekuasaan di Afghanistan yang juga sarat dengan ideologi kesukuan tidak banyak berbeda dengan mitra mereka di negara-negara Muslim lainnya. Saling menggesek, memfitnah, dan menjatuhkan, adalah panorama yang tidak asing di kalangan politisi, kecuali mereka yang masih dibimbing oleh pancaran sinar takwa. Di luar koridor sinar itu, anda tidak usah banyak bicara. Lebih baik terus terang, agar rakyat tak terus tertipu bahwa politik yang anda jalankan sama saja dengan praktik politik pada umumnya di muka bumi, apa pun agama dan ideologi anda. Ini adalah fakta keras sepanjang sejarah, pada semua unit peradaban, tanpa kecuali. Maka, politik yang benar dan baik adalah yang berpihak kepada keadilan untuk semua, ketulusan, dan dilakukan secara bertanggung jawab. Bukankah politik secara teori bertujuan untuk mewujudkan bonum commune (kesejahteraan umum) untuk semua warga?

Sebagai bangsa miskin, di Afghanistan harapan hidup rata-rata rakyatnya hanyalah sekitar 46-47 tahun. Dibandingkan dengan Indonesia, kita jauh lebih baik, yaitu rata-rata 67-70 tahun. Tetapi, ada satu nilai dahsyat yang menyatu dengan kultur Afghanistan: pantang dijajah! Pada saat hampir seluruh negeri Muslim bertekuk lutut kepada penjajahan Barat dalam tempo yang bervariasi lamanya, Afghanistan tetap mampu menjaga kedaulatan negaranya, tentu dengan susah payah. Sekalipun bangsa ini terbelakang dari sisi ekonomi, pendidikan, dan teknologi, roh antipenjajahan ini tidak pernah memudar. Oleh sebab itu, menurut hemat saya, Presiden Barack Obama akan lebih bijak memerintahkan pasukan Amerika untuk meninggalkan Afghanistan secara betahap. Mungkin PBB dapat meminta pasukan dari negeri-negeri Muslim ditempatkan di sana untuk sementara waktu, dengan tugas mendamaikan suku-suku yang saling berebut pengaruh.

Sekarang mari lihat korban perang, baik di pihak Uni Soviet, terlebih lagi di pihak Afghanistan. Segera setelah perang usai, Uni Soviet mengumumkan angka-angka korban di pihaknya. Pasukan Uni Soviet yang mati seluruhnya berjumlah 13.836 orang atau rata-rata 1,537 orang per tahun. Tetapi, sumber yang lebih baru menyebutkan jumlah korban itu adalah 14.427 orang; Agen Rahasianya (KGB) kehilangan 576 orang. Di pihak Afghanistan, jangan ditanya lagi. Lebih dari 1 juta rakyat negeri itu terbunuh; 5 juta orang mengungsi ke Pakistan dan Iran. Artinya, jumlah yang mati dan mengungsi ini sepertiga dari seluruh penduduknya sebelum perang. Telah berlaku malapetaka kemanusiaan akibat Perang Dingin. Uni Soviet dan Amerika Serikat adalah pihak yang paling bertanggung jawab atas bencana kemanusiaan di Afghanistan. Selain itu, masih ada 2 juta rakyat Afghanistan lagi yang harus kehilangan tempat tinggal. Irigasi hancur, anak-anak menjadi cacat dan yatim piatu. Pada tahun 1980-an, satu dari dua pengungsi yang bertebaran di muka bumi adalah anak Afghan. Sangat tragis, memang.

19
Sep
09

Hikmah : Menjadi Fitri, Meninggalkan Korupsi

REPUBLIKA, Sabtu, 19 September 2009 pukul 01:25:00

Fitri & Korupsi

Muhammadun AS
(Peneliti Center for Pesantren and Democracy Studies).

Momentum Idul Fitri 1430 H menjadi catatan penting bagi bangsa Indonesia untuk berbenah di tengah lilitan krisis yang tak kunjung usai. Kembali kepada fitrah adalah manifestasi terbangunnya basis spiritualitas yang memancarkan cahaya kebenaran dan kesucian dalam menjalani perilaku kehidupan. Sosok yang fitri menjadi cahaya penerang kehidupan karena Tuhan akan selalu menyertainya dalam setiap gerak nafas dalam memperjuangkan nilai ketuhanan dan nilai kemanusiaan. Sosok yang fitri mampu menjalani takwa yang profetik. Dalam arti, selalu kreatif menjalankan prinsip, proaktif menggerakkan perubahan, dan tulus dalam memperjuangkan harapan masa depan. Dalam tafsir Ibnu Katsir, dijelaskan bahwa fitrah adalah ketetapan yang telah dicapkan oleh Allah atas sebuah agama yang hanif (millah ibrahim).

Kehanifan Ibrahim adalah fitrah yang total dalam pengabdian ketuhanan (al-fitrah al-salimah). Allah menciptakan makhluknya secara fitri berdasarkan makrifat-Nya dan untuk menauhidkan-Nya. Dan, ciptaan Allah yang fitri akan selalu patuh karena persaksiannya yang tunduk total kepada Allah. Dalam sebuah perjanjian suci (al-mu’ahadah al-fithriyyah), manusia menyatakan diri ketundukkannya untuk menauhidkan-Nya.

Fitrah yang diciptakan Allah tidak mungkin bisa tergantikan. Fitrah Allah sudah masuk sublim dalam hati nurani manusia. Kalau terjadi pergeseran fitrah, itu adalah ulah manusia sendiri yang mengubah kefitrian yang telah diberikan Allah kepadanya. Nabi Muhammad telah bersabda bahwa setiap yang dilahirkan selalu lahir dalam fitrah Islam: total pasrah mengabdi kepada Tuhan (kullu mauludin yuladu ala fitrati al-islam).

Setiap bayi yang lahir menyimpan energi fitrah yangs suci, yang akan memandu gerak kehidupan manusia di setiap saat dan setiap waktu.
Sayang, energi fitrah kadang ‘ditelantarkan’ dan tidak dioptimalkan oleh manusia sendiri. Justru, manusia melalaikannya sehingga kefitrian yang sudah menancap kerap bergeser, tidak memandu gerak langkah kehidupan manusia. Akhirnya, tidak sedikit manusia yang terjerumus dalam berbagai kubangan kenistaan, manusia teralienasi dari basis spiritualitasnya sendiri, dan manusia akhirnya jatuh dari titik autentisitas yang suci dan bersih. Jadilah gerak hidup yang dijalani penuh kebimbangan (al-syak) dan keraguan (al-roib).

Idul fitri adalah kembali kepada fitrah (awal) yang telah ditancapkan Allah dalam perjanjian suci (al-mu’ahadah al-fithriyyah). Tidak salah kalau ulama memaknai Idul Fitri sebagai makin meningkatnya tingkat ketakwaan, bukan dengan konsumerisme yang melonjak. Hari raya bukanlah mereka yang baru pakaiannya, tetapi hari raya adalah mereka yang ketaatannya bertambah (laisa al-idu liman libasuhu al-jadid, walakinna al-idu liman tha’atuhu tazidu).

Meninggalkan korupsi
Jiwa fitri bagi bangsa Indonesia saat ini sangat tepat bila dioperasionalisasikan dalam upaya meninggalkan korupsi. Dengan demikian, yang patut berhari raya, dalam konteks bangsa Indonesia, adalah mereka yang sanggup dan tegar meninggalkan korupsi. Kefitrian yang dihasilkan dari ‘tapabrata’ puasa sebulan penuh adalah dengan wujud makin runtuhnya kantong-kantong korupsi birokrasi. Kalau masih bercokol sebiji hasrat korupsi, layak diragukan puasanya dan kefitrian dalam Idul Fitri kali ini.

Penegasan untuk meninggalkan korupsi sangat penting disuarakan umat Islam dalam rangka makin mempercepat bangsa Indonesia menuju autentisitas diri yang bersih, kreatif, dan progresif. Perjanjian suci dengan Tuhan terhadap kefitrian akan sangat ternoda autentisitasnya bila manusia terjebak dalam jerat korupsi. Karena, korupsi telah membutakan hati nurani yang menjadi poros perputaran nilai ilahi. Kalau poros nilai ilahi sudah tak berfungsi atau mati fungsinya, sekujur tubuh manusia hanya dihinggapi nalar dan hasrat despotik dalam merengkuh gerak hidup yang sebenarnya sia-sia.
Despotisme nafsu manusia selalu membuka jalan keruntuhan diri. Despotisme nafsu juga selalu mengajak manusia untuk keluar dari orbit ilahi, menuju orbit syaithoni, sehingga gerak langkah hidup hanya memburu kepuasan nafsu.

Nalar koruptif adalah tamsil bahwa gerak nafsu manusia selalu dijejali kuasa despotik. Nalar koruptif selalu menginginkan kuasa dirinya untuk mengeruk uang negara. Tak peduli apakah rakyat miskin sedang dililit ketertinggalan dan kelaparan. Tak peduli akan kesejahteraan kaum marginal yang selalu kandas di tengah jalan. Yang terjejal dalam kuasa nafsu adalah menumpuk harta sebanyak-banyaknya demi kepuasan hegemoni nafsu yang bersorak ria dengan berbagai penindasan dan keserakahan.

Kefitrian sudah tergantikan dengan nalar koruptif. Perjanjian suci manusia dengan Tuhannya sudah dikhianati sendiri. Perjanjian suci sudah ditinggalkan karena manusia membuat perjanjian baru dengan kuasa nafsu untuk selalu berbuat despotik. Kesucian perkataan dan tindakan tidak berlaku bagi kaum koruptif. Kesucian sudah dibuang jauh-jauh karena hanya mempersulit laju korupsi di berbagai lini kehidupan.

Momentum Idul Fitri 1430 H harus menjadi koreksi total bangsa Indonesia, khususnya kaum elitenya, untuk menata harapan bangsa yang cerah tanpa tragedi korupsi. Kefitrian yang kembali setelah puasa sebulan penuh harus menjadi starting point dalam membabat habis praktik koruptif. Jadilan Idul Fitri sebagai monumen besar dalam menggagalkan kejahatan koruptif sehingga hati nurani yang telah melakukan perjanjian suci dengan Tuhan selalu menyertai dalam setiap perwujudan gerak hidup.

Renungan Idul Fitri
Idul Fitri dan Asketisme Sosial

KOMPAS, Sabtu, 19 September 2009 | 02:51 WIB

Oleh HM Amin Abdullah

Salah satu hari besar Islam yang paling fenomenal dan monumental adalah Idul Fitri. Secara asketis, Idul Fitri sering disebut sebagai momen penyucian diri kembali pada sifat fitri setiap manusia.

Namun, perayaan yang bersifat masif, serentak, dan penuh sukacita itu justru telah menggeser Idul Fitri dari makna transendennya. Di sini, Idul Fitri tidak lagi bermakna perayaan kemenangan dari ritual olah batin dan fisik sebagai laku asketis selama sebulan penuh menjalankan ibadah puasa. Idul Fitri telah masuk perangkap semiotika dalam berbagai dimensi kehidupan sosial dan kebudayaan kontemporer.

Secara sosial, Idul Fitri merupakan saat paling ditunggu-tunggu setiap orang, bahkan oleh narapidana yang berharap mendapat remisi. Idul Fitri juga mampu menggerakkan arus besar migrasi masyarakat urban, bahkan perputaran keuangan saat mudik, berlangsung secara masif sebagai suatu ritual sosial.

Tidak hanya itu, secara subtil Idul Fitri mampu mendorong pejabat membuka hati dan pintu rumahnya untuk saling memberi maaf kepada sesama dan kaum papa, dan kini menjadi tren silaturahim massal. Sedangkan dalam kebudayaan kontemporer, Idul Fitri menjadi ajang munculnya berbagai kebudayaan populer melalui penampakan tren busana yang selalu berganti setiap Lebaran atau hadirnya berbagai ragam musik dan jenis hiburan religius.

Pendek kata, Idul Fitri bukan saja sarat makna asketistik-spiritualistik yang bersifat transenden, tetapi benar-benar tumpah dalam bentangan luas fenomena sosial. Meski demikian, justru di sinilah letak paradoks makna Idul Fitri. Jika secara asketis Idul Fitri bermakna penyucian diri yang dirayakan setiap tahun, mengapa bangsa yang mayoritas berpenduduk Muslim ini belum beranjak ke arah penyucian diri sebagai sebuah bangsa?

Nafsu libidinal

Sebagai bangsa yang religius secara jujur harus mengakui, segala dimensi kehidupan kita masih menunjukkan nafsu libidinal yang tinggi terhadap segala bentuk kebutuhan materiil dan imateriil. Dalam sektor politik misalnya, nafsu libidinal imateriil itu mewujud dalam praktik pencitraan atau pembentukan pesona tiada henti sehingga yang tersaji hanya kepalsuan-kepalsuan. Demikian juga dalam sektor sosial. Nafsu libidinal menampakkan bentuknya dalam konsumsi gengsi dan corak mode tingkat tinggi sehingga mampu menstrukturisasi kelas masyarakat.

Sementara dalam sektor agama, nafsu libidinal justru gamblang terlihat dalam berbagai simulasi religius sehingga yang muncul adalah spiritualisme artifisial yang semu penuh kepura-puraan. Puncak nafsu libidinal material secara nyata dapat dilihat dalam berbagai praktik korupsi yang belakangan kian merajalela menggerogoti sendi-sendi kehidupan berbangsa dan bernegara.

Nafsu libidinal seakan menyumbat saraf sensitivitas sosial kita. Kita tidak lagi menjadi peka terhadap penderitaan orang lain seperti fakir miskin, korban gempa, atau siapa pun yang kurang beruntung pada perayaan Idul Fitri tahun ini. Kepedulian terhadap sesama seakan selesai dan berhenti seiring ditunaikannya kewajiban membayar zakat fitrah pada malam Idul Fitri. Kesalehan individual yang dibentuk dalam Ramadhan tidak meluber dalam bentuk kesalehan sosial.

Padahal, kesalehan individual seharusnya berdiri sebangun dengan kesalehan sosial. Ketimpangan itu dimungkinkan terjadi karena puasa yang dijalankan bersifat seremonial religius sebatas menahan haus dan lapar. Jika benar, mungkin tepat sinyalemen Nabi bahwa banyak orang berpuasa, tetapi tidak memperoleh apa-apa dari puasanya kecuali lapar dan dahaga, karena intisari dan hikmah puasa belum menyentuh kesadaran paling dalam umat dan belum mampu membentuk pribadi manusia beragama/beriman yang matang, utuh, tangguh, yang dapat mempertautkan kesalehan individu, kesalehan sosial, dan kesalehan lingkungan dalam kehidupan luas.

Ritus peralihan

Falsafah ibadah puasa menegaskan perlunya dilakukan ”turun mesin” kejiwaan selama sebulan dalam setiap tahun. ”Turun mesin” merupakan proses meneliti, memeriksa onderdil dan hal-hal yang rusak, serta memperbaiki total.

Saat turun mesin, tidak ada lagi yang perlu ditutup-tutupi. Semua harus transparan, akuntabel, rela diperiksa, dikoreksi, dan diperbaiki. Semua peralatan dibongkar, dicek, dan diperiksa satu per satu lalu dilakukan perbaikan.

Karena itu, kegunaan praktis ibadah puasa adalah sebagai titik balik perubahan dan ritus peralihan. Berubah dan beralih dari satu keadaan ke keadaan lain yang lebih baik sehingga terbentuk kepribadian yang memiliki cara pandang yang inspiratif (membawa ide-ide segar), inovatif (mampu memperbaiki dan memperbarui), kreatif (mampu menciptakan pilihan baru), dan transformatif (dapat mengubah) dalam menjalani kehidupan sehari-hari.

Di sinilah makna keberagamaan yang sehat mewujud karena memiliki kemampuan membawa perubahan hidup yang dinamis, menggugah, dan imperatif.

Terbentuknya cara berpikir, mentalitas, cara pandang, pandangan dunia, dan etos keagamaan baru setelah mengalami turun mesin sebulan adalah bagian tak terpisahkan dan termasuk tujuan utama disyariatkan ibadah puasa. Laisa al-’id liman labisa al-jadid, wa lakinna al-’idu liman taqwa hu yazid (Hari raya Idul Fitri bukan bagi orang-orang yang mengenakan baju baru, tetapi bagi orang-orang yang takwanya bertambah). Yakni bagi mereka yang mempunyai kemauan, semangat, dan etos untuk terus memperbaiki kehidupan pribadi, keluarga, dan sosial-kemasyarakatan, sosial-politik, berbangsa dan bernegara dengan landasan keagamaan yang otentik.

Nilai-nilai yang mendasar dan tujuan pokok ini sering tidak tampak di permukaan karena tertindih semangat dan sibuknya orang menyiapkan hal-hal terkait puasa berupa sahur dan berbuka pada bulan Ramadhan. Mudah-mudahan dengan mengenal tujuan syar’iy ibadah puasa, umat Islam selalu dapat memperbaiki dan meningkatkan kualitas hidup keagamaan sehari-hari dalam masa sebelas bulan mendatang.

HM Amin Abdullah Rektor UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta

REPUBLIKA, Kamis, 17 September 2009 pukul 01:10:00

Membela Tuhan

Oleh Azyumardi Azra

Apakah Tuhan perlu dibela? Bagi banyak orang beriman dalam agama mana pun, Tuhan mestilah dibela meski Tuhan sendiri, karena Ia adalah Zat Yang Mahakuasa, sebenarnya tidak perlu dibela siapa pun. Tuhan Mahakuasa dengan sendiriNya. Namun, Karen Armstrong lewat karya terbarunya The Case for God: What Religion Really Means (London: The Bodley Head, 2009) juga membela Tuhan dengan melihat apa sebenarnya makna agama.

Armstrong melalui karya ini membela Tuhan dan agama, terutama dari dekapan kaum fundamentalis dan skeptisisme orang-orang ateis. Hemat saya, pembelaan tersebut sangat tepat waktu ketika di berbagai penjuru dunia, banyak kalangan umat beragama mengalami antusiasme keagamaan menyala-nyala yang menimbulkan berbagai dampak politik, sosial, dan ekonomi. Pada saat yang sama, skeptisisme dan nihilisme terhadap Tuhan dan agama juga meningkat sebagai respons terhadap perkembangan keagamaan semacam itu.

Agama dan bahkan Tuhan memang pernah kehilangan tempatnya dalam masyarakat Eropa sejak 1960-an. Teolog Amerika Harvey Cox pada 1965 menerbitkan buku The Secular City yang menyimpulkan bahwa Tuhan telah mati. Karena itu, agama harus berpusat pada kemanusiaan daripada ketuhanan. Sebagian kalangan Barat melihat perkembangan ini sebagai ‘gelombang baru’ sekularisme yang merupakan puncak dari ‘Pencerahan’ (Enlightenment); sementara sebagian lain memandangnya sebagai awal dari masa ‘Pascamodernitas’.

Namun, sejak akhir 1970-an, gelombang berbalik; di mana-mana terjadi kebangkitan kembali agama yang disebut Armstrong sangat dramatis, termasuk ketika Ayatullah Khomeini yang sebelumnya tidak dikenal berhasil menumbangkan Shah Iran, Muhammad Reza Pahlevi, pada 1978. Sementara itu, di Israel, bentuk baru Zionisme keagamaan sangat agresif menemukan momentum di kancah politik Israel. Sedangkan, di AS, pendeta Jerry Falwell mendirikan Moral Majority pada 1979, mendesak kaum fundamentalis Protestan untuk lebih terlibat dalam politik guna menghadapi tantangan dan agenda humanisme sekuler.

Fundamentalisme agama dalam pandangan Armstrong memunculkan religiositas militan, yang dapat tumbuh di lingkungan umat beragama di negara bangsa mana pun: bisa di negara-negara Barat yang memiliki riwayat sekularisme yang panjang dan bisa juga di negara-negara kawasan lain yang secara ketat memisahkan agama dan politik, namun pada saat yang sama mengadopsi ideologi-ideologi sekuler yang bermusuhan dengan agama. Namun, di tengah meningkatnya fundamentalisme agama yang membuat negara dan rezim-rezim penguasa terdesak, kedua belah pihak–kaum fundamentalis dan penguasa sekuler–menyeret agama ke pangkuan masing-masing. Kedua pihak ini terlibat dalam kontestasi yang sangat intens dalam memperebutkan simbolisme agama dan bahkan Tuhan.

Meski negara dan penguasa mencoba mengakomodasi agama, ini belum cukup bagi kaum fundamentalis yang tetap merasa terancam dominasi dan hegemoni negara. Karena itu, kaum fundamentalis, seperti fundamentalis Prostestan di AS, cenderung mengambil sikap kian keras dalam berbagai kehidupan sosial keagamaan yang mereka anggap telah bangkrut sebagai akibat negara dan pemerintahan sekuler. Kaum fundamentalis Protestan meyakini, doktrin keimanan mereka yang paling benar, yang merupakan ekspresi final kebenaran, dan yang harus ditegakkan dengan cara apa pun, termasuk kekerasan dan terorisme.

Namun, Armstrong mengingatkan, sikap banyak orang Barat yang menganggap Islam secara inheren fundamentalis tidak cocok dengan demokrasi dan kebebasan (freedom) dan secara kronis kecanduan kekerasan itu adalah keliru. Islam merupakan agama terakhir dari tiga monoteis yang terjangkit fundamentalisme, persisnya setelah kekalahan negara-negara Arab dalam perang enam hari melawan Israel pada 1967. Kebijakan negara-negara Barat yang tidak adil dengan segera mempercepat pertumbuhan fundamentalisme Islam di Timur Tengah. Konflik dan kekerasan yang berlanjut di Timur Tengah hanya membuat fundamentalisme tetap bertahan, bahkan bisa menemukan momentumnya dari waktu ke waktu.

Apa saran Armstrong menghadapi gejala fundamentalisme di kalangan kaum Muslim? Menurut dia, melakukan generalisasi dan kutukan sewenang-wenang terhadap Islam tidak akan memperbaiki keadaan. Menyalahkan Islam memang mudah dan sederhana, tetapi jelas hanya bakal kontraproduktif. Karena itu, yang perlu adalah meneliti sumber-sumber penyebab kemunculan fundamentalisme dan radikalisme. Kemudian, melakukan perubahan, misalnya dalam kebijakan luar negeri negara-negara Barat.

Dengan demikian, membela Tuhan antara lain bermakna ‘membebaskan’ Tuhan dari klaim-klaim kelompok keagamaan untuk kepentingan-kepentingan tertentu pula. Tuhan terlalu kompleks dan rumit untuk dikerangkakan dalam konsep, persepsi, dan pemahaman tertentu. Kita manusia, tulis Arsmtrong, hanya memiliki ide yang sangat terbatas mengenai Tuhan.

Karen Armstrong memberikan perspektif kepada kita agar melihat masalah-masalah tentang Tuhan dan agama secara lebih bijak. Bagi umat Muslim, pemahaman tentang Tuhan seyogianya berpijak pada kerangka yang telah diletakkan jumhur ulama dalam ilmu tauhid. Penafsiran spekulatif tentang Tuhan bukan hanya dapat menimbulkan perdebatan yang tidak ada ujung, seperti pernah terjadi di antara para mutakallimun, tapi itu juga membingungkan.

REPUBLIKA, Kamis, 17 September 2009 pukul 01:17:00

Hilal

ANDAI HILAL BISA BICARA

H Ahmad Izzuddin
(Anggota Badan Hisab Rukyat Pusat)

Hampir setiap menjelang akhir Ramadhan, masyarakat Muslim awam selalu mempertanyakan: kapan akhir Ramadhan yang berarti kapan hari rayanya? Pertanyaan wajar ini selalu muncul karena di Indonesia sering kali terjadi perbedaan pelaksanaan Hari Raya 1 Syawal (Idul Fitri) oleh umat Islam sendiri. Tidak seperti pelaksanaan hari raya agama lain, yaitu Natal, Waisak, Nyepi, dan sebagainya, yang tidak pernah terjadi perbedaan pelaksanaan hari rayanya. Menariknya, perbedaan pelaksanaan hari raya umat Islam sekarang ini tidak hanya berbeda pada satu hari, bahkan berhari-hari. Tanda-tanda perbedaan pelaksanaan hari raya sekarang ini (Idul Fitri 1430 H) tampak pada perbedaan awal puasa Ramadhan, kemarin. Sebagaimana pemberitaan media cetak dan elektronik, umat Islam ada yang mulai puasa Ramadhan 1430 H pada Kamis, 20 Agustus 2009. Bahkan, ada yang mulai pada Jumat, 21 Agustus atau yang mulai pada Ahad, 23 Agustus 2009. Namun, mayoritas umat Islam Indonesia (keputusan pemerintah sama dengan ketetapan Muhammadiyah dan Ikhbar Nahdlatul Ulama) memulai puasa Ramadhan pada hari Sabtu, 22 Agustus 2009.

Kelompok pemahaman
Pijakan hukum Islam terkait bagaimana penentuan 1 Syawal sebenarnya telah ada pada hadis Nabi SAW dengan sangat jelas. Salah satunya adalah hadis riwayat Bukhari Muslim, “Berpuasalah kamu karena melihat hilal dan berbukalah kamu karena melihat hilal. Bila tertutup oleh awan, sempurnakanlah bilangan Syaban menjadi 30 hari.”

Namun demikian, dalam realitas, pemahaman hadis tersebut memiliki perbedaan interpretasi. Ada yang memahami bahwa rukyat itu harus benar-benar melihat hilal (bulan tanggal satu) yang melahirkan kelompok rukyat dan ada yang memahami bahwa rukyat cukup dengan memperhitungkan posisi hilal dalam makna dapat dilihat (yang melahirkan kelompok hisab).

Perbedaan pemahaman terhadap hadis tersebut banyak terjadi di kalangan umat Islam Indonesia. Di samping kelompok pemahaman hisab dan kelompok pemahaman rukyat, terdapat kelompok-kelompok yang lain, seperti kelompok rukyat global, kelompok Islam kejawen, kelompok Tarekat Naksabandi, dan kelompok An-Nadir Goa Makassar. Pemerintah pada dasarnya telah berusaha untuk menyatukan pemahaman hisab rukyat dalam formula hisab imkanurrukyah. Namun, dalam tataran praktis, dulu pada zaman sebelum reformasi, sering terbawa nuansa politik. Karena, dalam penetapannya, pijakannya sering kali tidak berdasarkan pada kebenaran ilmiah yang objektif. Sehingga, kemunculan aliran imkanurrukyah produk pemerintah bukan menyatukan, namun menambah runyam dan membingungkan.

Bagaimana tidak membingungkan, ketika muncul perbedaan dalam penetapan awal-akhir Ramadhan, walaupun pemerintah sudah memfasilitasi penyatuan dalam bentuk sidang isbat yang diikuti oleh semua pihak yang terkait, termasuk dari ormas-ormas Islam; dari masing-masing ormas tersebut tetap saja mengeluarkan keputusannya (apa pun istilahnya–apa itu hanya dengan istilah instruksi atau ikhbar–tetap saja keputusan namanya). Kemunculan keputusan liar itu kiranya tidak dapat disalahkan begitu saja. Pemerintah yang mestinya memegang kendali putusan dalam sidang isbat ternyata lebih mengedepankan kemaslahatan politik pemerintah, yang mestinya harus mengedepankan kebenaran ilmiah yang objektif.

Namun, hal itu berbeda dengan keputusan pemerintah setelah reformasi sekarang ini, di mana Badan Hisab Rukyat yang dibentuk pemerintah telah berusaha memberikan keputusan berdasarkan kebenaran ilmiah yang objektif. Kasus keputusan pemerintah itu terlihat melalui penolakan kabar yang menyaksikan hilal dari Gebang Sampang Madura pada penetapan 1 Syawal 1427 H berdasarkan hisab, pada saat itu hilal masih di bawah dua derajat (di bawah standar imkanurrukyah yang dipegang pemerintah).

Keterpaduan hisab rukyat
Kalau dicermati secara saksama, ternyata perbedaan penentuan awal Syawal dilatarbelakangi oleh dua hal. Pertama, perbedaan hasil ijtihad para ulama fikih dalam masalah penetapan awal bulan Ramadhan dan Syawal. Ada aliran rukyat, seperti Imam Romli dan Al-Khatib Asy-Syaibani, yang menyatakan, jika rukyat berbeda denga penghitungan hisab, yang diterima adalah kesaksian rukyat karena hisab diabaikan oleh syariat (Nihayah Al Muhtaj III: 351). Kemudian, ada aliran hisab, seperti Imam As-Subkhy, Imam Ibbady, dan Imam Qalyuby, yang berpendapat, jika ada orang yang menyaksikan hilal, sedangkan menurut perhitungan hisab tidak mungkin dirukyat, kesaksian itu harus ditolak (I’anatut Tholibin II: 261). Lalu, ada aliran moderat, seperti Imam Ibnu Hajar, yang menyatakan bahwa syahadat atau rukyat dapat ditolak jika ahli hisab sepakat (ittifaq). Namun, jika tidak terjadi ittifaq, rukyat tidak dapat ditolak (Tuhfah Al Mulhaj III: 382).

Kedua, perbedaan tingkat pemahaman sosial. Bagi masyarakat yang sudah modern, mereka bersifat terbuka, objektif, dan selektif dalam berpikir. Berbeda halnya dengan masyarakat tradisional yang notebene bersifat isolatif dan fanatik karena dapat terpengaruh pemikiran produk fikih baru, termasuk dalam hal hisab rukyat.

Padahal, jika kita telah secara serius dan tajam, semestinya keterpaduan penggunaan hisab yang akurat, seperti menggunakan hisab hakiki kontemporer, semacam Al Manak Nautika dan Jeam Meeus serta Ephemeris dan rukyat, sangat perlu dalam menentukan awal Ramadhan, Syawal, dan Zulhijjah. Karena, dengan hisab yang akurat, dapat diprediksikan lebih dini tentang jatuhnya awal bulan tersebut. Sedangkan, rukyat sebagai pembuktian kebenaran hisab. Sehingga, antara hisab dan rukyat itu bagai dua sisi mata uang yang tidak dapat dipisahkan satu dengan lainnya serta saling melekat dan menguatkan. Dalam term hukum, dapat dibahasakan hisab sebagai keterangan saksi, di mana hisab yang akurat diperlukan untuk panduan pelaksanaan rukyat yang benar, sedangkan eksistensi rukyat adalah sebagai alat bukti kebenaran hisab. Yang berarti, hisab itu sebagai kebenaran hipotesis yang perlu verifikasi dengan kebenaran empiris, yakni observasi atau rukyatul hilal, mengingat baik hisab maupun rukyat yang dituju adalah satu, yakni hilal (bulan tanggal satu). Oleh karena itu, seandainya hilal (bulan tanggal satu) bisa ngomong, penentuan 1 Syawal sudah tidak ada masalah.

Namun, dalam permasalahan fikih sosial, seperti awal penetapan bulan Ramadhan ini, keputusan yang bijaksana sebaiknya ada di pemerintah melalui menteri agama berdasarkan khidah hukmul hakim ilzamun wayarfaul khilaf. Oleh karena itu, jika pemerintah telah menetapkan dan memutuskan, baik berdasarkan hisab maupun laporan kesaksian rukyat, seluruh masyarakat Indonesia seharusnya mematuhinya (berdasarkan pemahaman kitab Hasyiah Syarwani III: 376, Al Fiqh ala Madzahibil Arba’ah I: 433-435).

REPUBLIKA, Selasa, 15 September 2009 pukul 01:00:00

Kalender Hijriah

KALENDER HIJRIAH TERPADU
Susiknan Azhari
Guru Besar UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Berbagai tulisan menyebutkan bahwa pada 2009 tidak terjadi Lebaran ganda. Pernyataan ini tidak salah jika dikaitkan antara Pemerintah, Muhammadiyah, dan NU. Namun, dalam realitasnya tampaknya tahun ini akan terjadi perbedaan Idul Fitri.

Setidak-tidaknya kelompok An-Nadzir dan Tariqat Naqsabandiyah akan berlebaran lebih awal karena mereka memulai puasa pada Kamis 20 Agustus 2009. Artinya, mereka berpuasa lebih awal dua hari dibandingkan mayoritas umat Islam Indonesia. Begitu pula Libya akan berlebaran lebih awal pada 19 September 2009 karena menggunakan teori ijtima’ qabla al-fajr (The Jamahiriya, 5 September 2009).

Perbedaan ini muncul sebetulnya bukan karena persoalan hisab rukyat semata. Tetapi, ada persoalan fundamental yang tidak disadari oleh umat Islam, yaitu belum adanya kalender hijriah terpadu yang dapat digunakan secara bersama-sama. Selama kalender hijriah terpadu belum terwujud, perbedaan Lebaran akan senantiasa muncul di permukaan. Oleh karena itu, tulisan ini berusaha menguraikan tentang kalender hijriah di Indonesia dan kemungkinannya membangun kalender hijriah terpadu ke depan.

Kalender Hijriah
Selama ini perhatian masyarakat Muslim Indonesia tentang awal bulan kalender hijriah lebih terfokus pada bulan Ramadhan, Syawal, dan Zulhijah. Apalagi jika dimungkinkan akan muncul perbedaan di kalangan ormas dan pemerintah.

Pertemuan-pertemuan dilakukan secara maraton untuk menghindari terjadinya perbedaan dalam menetapkan awal bulan kamariah tersebut, khususnya awal Syawal. Dalam QS At-Taubah ayat 36 dinyatakan bahwa dalam satu tahun terdapat dua belas bulan, yaitu Muharam, Safar, Rabiul awal, Rabiul akhir, Jumadil awal, Jumadil akhir, Rajab, Sya’ban, Ramadhan, Syawal, Zulkaidah, dan Zulhijah.

Seyogianya hadis-hadis rukyat tidak dipahami secara parsial, tetapi perlu melibatkan hadis-hadis lain yang berkaitan dengan kalender hijriah, seperti hadis tentang ayyamul bidh atau hari-hari putih. Rasulullah SAW telah memberi kriteria tentang hari-hari putih, yaitu hari ke-13, 14, dan 15. Selama ini kalender hijriah masih bersifat lokal.

Di Indonesia ada beberapa kalender hijriah yang berkembang, seperti Kalender Muhammadiyah, Almanak PB NU, Alamanak Menara Kudus, Taqwim Standar Indonesia, dan Almanak Persis. Masing-masing kalender memiliki kriteria untuk menentukan awal bulan kamariah. Kalender Muhammadiyah menggunakan teori wujudul hilal secara konsisten untuk menentukan awal bulan sejak Muharam sampai Zulhijah.

Sementara itu, Almanak Persis menggunakan teori imkanur rukyat untuk menentukan awal bulan sejak Muharam sampai Zulhijah. Di sisi lain, Almanak NU menggunakan imkanur rukyat (Muharam-Sya’ban), sedangkan untuk menentukan awal Ramadhan dan Syawal menunggu hasil rukyatul hilal. Begitu pula Taqwim Standar Indonesia menggunakan imkanur rukyat (Muharam-Syakban), sedangkan untuk menentukan awal Ramadhan dan Syawal menunggu hasil sidang Isbat.

Dalam sistem kalender hijriah mengharuskan adanya kepastian (Muharam sampai Zulhijah) yang dikonstruksi dari hasil pemahaman terhadap nas dan sains. Bila tidak ada kepastian, kalender tersebut akan mengalami kekacauan.

Kasus An-Nadzir dan Tariqat Naqsyabandiyah merupakan contoh konkret dalam membuat kalender hijriah tidak terstruktur dan komprehensif.

Oleh karena itu, sudah saatnya pemerintah dan anggota dewan terpilih memikirkan dan merumuskan kalender hijriah Indonesia dengan mempertautkan aspek syar’i dan sains yang dapat diterima semua pihak tanpa ada perasaan menang kalah.

Pada dasarnya kebersaamaan Idul Fitri tidak menjamin kebersaman Idul Adha di suatu negeri bila kalender hijriah yang digunakan bersifat lokal. Memperhatikan kondisi ini, pada akhir 1970-an Mohammad Ilyas salah seorang astronom Muslim Malaysia menawarkan gagasan tentang perlunya Kalender Islam Internasional. Ia menggagas konsep “garis qamari antar bangsa” atau biasa diistilahkan International Lunar Date Line (ILDL). Menurut Baharrudin Zainal dari segi kajian astronomi, khususnya berkaitan dengan teori visibiltas hilal, Ilyas adalah satu-satunya ilmuwan Muslim yang berada pada tahap yang sama dengan McNally (London), Le Roy Dogget (Washington), Bradley E Schaefer (NASA), dan Bruin. Bagi Ilyas, persoalan kalender hijriah tidak semata-mata persoalan sains, tapi perlu melibatkan kekuatan politik. Ilyas (1997) mengatakan, “… dunia Islam memerlukan seorang Julian untuk menyatukan takwimnya ….”

Gagasan Ilyas ini kemudian direspons oleh para ahli di dunia Islam, pertemuan-pertemuan berskala nasional maupun internasional diselenggarakan dalam rangka mewujudkan kalender hijriah terpadu. Muhammadiyah sebagai pelopor pengguna hisab di Indonesia juga tidak ketinggalan.

Pada 22-24 Sya’ban 1428/4-6 September 2007 diselenggarakan simposium internasional bertajuk “Towards A Unified International Islamic Calendar”. Kulminasi dari kesadaran ini direfleksikan dalam “Temu Pakar II untuk Pengkajian Perumusan Kalender Islam” di Rabat, Maroko, 15-16 Syawal 1429 H/15-16 Oktober 2008.

Dalam pertemuan ini disepakati bahwa pemecahan problematika penetapan bulan kamariah di kalangan umat Islam tidak mungkin dilakukan kecuali berdasarkan penerimaan terhadap hisab dalam menetapkan awal bulan kamariah, seperti halnya penggunaan hisab untuk menentukan waktu-waktu shalat.

Selanjutnya, hasil Temu Pakar II tersebut menegaskan syarat-syarat kalender hijriah internasional dan tentang usulan empat kalender untuk diseleksi menjadi kalender hijriah internasional.

Empat kalender yang diusulkan adalah (1) Kalender al-Husain Diallo. Menurut Syamsul Anwar, Diallo membuat kaidah kalender sebagai berikut: apabila ijtima’ (konjungsi) terjadi sebelum zawal di Makkah, Timur Tengah dan sekitarnya serta kawasan yang hari itu dapat melihat hilal (yaitu kawasan sebelah barat Timur Tengah) memasuki bulan baru.

Diallo tidak menjelaskan batasan kawasan Timur Tengah dan sekitarnya secara pasti dan tidak menjelaskan bagaimana dengan kawasan timur sejak dari Garis Tanggal Internasional hingga ke batas Timur Tengah dan sekitarnya apakah juga ikut mulai bulan baru? Lebih lanjut, menurut Diallo, apabila ijtima’ terjadi sesudah zawal di Makkah, bulan baru dimulai lusa untuk seluruh dunia. (2) Kalender Libya.

Perhitungan awal bulan dalam Kalender Libya menggunakan hisab hakiki dengan kriteria ijtima’ qabla-al-fajr di perbatasan sebelah timur Libya.

Artinya, apabila di perbatasan paling timur Libya terjadi ijtima’ sebelum fajar, seluruh Libya memasuki bulan baru pada hari itu.

Apabila di perbatasan tersebut ijtima’ terjadi sesudah fajar, bulan kamariah baru dimulai pada fajar berikutnya. Kalender ini menganut paham bahwa hari dimulai pada waktu fajar, bukan saat terbenamnya matahari seperti yang dianut oleh jumhur kaum Muslimin. Salah seorang tokoh Indonesia yang mengembangkan teori ini adalah Moh Djindar Tamimiy (1342/1923-1416/1996), sekretaris jenderal Pimpinan Pusat Muhammadiyah. (3) Kalender Ummul Qura. Kalender Ummul Qura merupakan kalender resmi Pemerintah Kerajaan Arab Saudi, dipersiapkan dan disusun oleh Pusat Ilmu dan Teknologi Raja Abdul Aziz (KACST).

Kalender ini didasarkan pada beberapa prinsip, yaitu pertama, menggunakan Makkah sebagai markaz perhitungan kalender. Prinsip kedua, dalam menetapkan awal bulan kamariah adalah bahwa ketika matahari tenggelam di Kota Makkah sesudah ijtima’, Bulan belum tenggelam.

Jadi, prinsip kedua ini meliputi kriteria: (a) telah terjadi ijtima’ (konjungsi), (b) ijtima’ terjadi sebelum matahari tenggelam (ijtima’ qabla al-ghurub), dan (c) Matahari tenggelam terlebih dahulu dibandingkan Bulan (moonset after sunset). Teori ini mirip dengan wujudul hilal yang digunakan Muhammadiyah dalam pembuatan kalender hijriah. (4) Kalender Hijriah Terpadu.

Konseptor awalnya adalah Jamaluddin Abdur Raziq, mantan direktur Institut Pos dan Telekomunikasi Maroko dan kini menjadi wakil ketua Asosiasi Astronom Maroko (Association Marocaine d’Astronomie/AMAS). Ia berambisi untuk menyatukan seluruh dunia dalam satu tanggal untuk satu hari

REPUBLIKA, Senin, 14 September 2009 pukul 01:13:00

Prosesi Mudik

DIMENSI SPIRITUAL dalam PROSESI MUDIK

Oleh Thomas Koten
(pengamat sosial)

Gerak eksodus mudik kembali berlangsung. Dan seperti biasanya, terlihat prosesi mudik ini begitu fenomenal. Para pemudik, dalam jumlah jutaan mengerumuni terminal bus, stasiun KA, juga pelabuhan laut dan udara. Mereka tidak peduli dengan rasa sakit dan lelah yang dialami. Karena dalam benak mereka hanya terbersit kata, mudik.

Mudik, secara harafiah berarti pergi ke udik. Dan kini, dalam perjalanan sejarahnya, mudik telah menjadi bagian dari prosesi perjalanan besar, ramai, dan meriah ke suatu tempat yang dianggap paling dasar dari petualangan hidup dari masyarakat modern yang disebut udik. Udik, sering diibaratkan sebagai bagian paling hulu di sungai nun jauh di dalam, di daerah-daerah pegunungan <I>sono<I>, tempat pembudayaan budaya-tradisi kehidupan umat manusia mulai ditumbuhkembangkan. Dari udik itu pulalah tertanam ‘sumber kehidupan’ sekaligus ‘sumber kerinduan’ yang dibatinkan oleh setiap manusia, khususnya manusia-manusia pada zaman modern di perkotaan yang telah mengalami transformasi sosok.

Dalam hal ini, masyarakat modern, seperti Jakarta, yang sering mengalami kendala psikologis dan sosiologis serta kekosongan humanistik-batiniah-ruhaniah sebagai masyarakat metropolitan yang telah mengalami transformasi sosok tersebut, merasa tercambuk untuk mudik agar bisa meraih kembali kunci ‘psikoanalistik humanistik’ meminjam Erich Fromm- yang salah satunya adalah dengan cara menghidupkan kembali ‘kultur kekerabatan’ yang dalam Islam disebut bersilaturahim.

Karena itulah, para pemudik menjadi tidak peduli dengan banyaknya energi yang harus dikeluarkan, seperti harus antre berhari-hari untuk bisa mendapatkan tiket dan dalam perjalanan harus melewati medan yang berat serta tingginya risiko yang harus dihadapi, seperti kecelakaan dan kriminalitas. Mereka pun yakin bahwa dengan bersilaturahim di kampung halaman bersama anggota keluarga dan handai taulan setelah mengalami pendadaran puasa, mereka akan menemukan kembali jati dirinya dan menimba kembali semangat dan kekuatan baru untuk menjadi ‘penangkal’ dan ‘senjata’ dalam menghadapi realitas kerasnya persaingan dalam kehidupan ini.

Dimensi spiritual
Oleh karena itu, dalam peradaban modern ini, mudik perlu dimaknai sebagai sebuah prosesi spiritual. Sebab, dari balik prosesi mudik itu sebenarnya dalam alam keruhanian bergema keinginan manusia untuk menoleh ke belakang mencari akar spiritual peradaban yang terabaikan. Dan juga dalam kehidupan manusia selalu menyembul pertanyaan eksistensial kemanusiaan, yaitu bagaimana membangun suatu kerangka pemikiran sebagai basis keutuhan peradaban baru dalam menyelaraskan fisik-jasmaniah dengan kebutuhan akan spiritual-ruhaniah sesuai dengan prinsip dualitas manusia; jasmani dan ruhani.

Hanya orang-orang berimanlah yang sanggup menempatkan prinsip dualitas; badan-ruh-tubuh-jiwa pada porsi yang sebenarnya. Sebab, dalam ‘peziarah’ iman sebagai epistemologi kehidupan, akan memberikan kemampuan kepada siapa saja yang berusaha secara maksimal untuk meningkatkan kualitas hidup atau mutu prosesi hidup menuju Sang Khalik. Orang semacam ini, menurut filsuf modern Rene Descartes, orang bukan hanya mampu melihat jiwa di dalam seluruh prosesi dirinya, tetapi juga hakikat Allah. Karena, dalam seluruh prosesi hidup manusia kaum beriman, tidak lebih daripada ziarah menapaki tangga menuju tingkat yang lebih tinggi-sempurna untuk memperoleh kesejatian diri hingga mendapatkan kesempurnaan bersama Sang Khalik.

Maka, dalam hal ini prosesi mudik sebenarnya juga merupakan peristiwa transformasi spiritual dari peziarahan kaum beriman dalam mewujudkan solidaritasnya terhadap sesama manusia yang dibelenggu oleh kemiskinan, kebodohan, dan ketertinggalan di tengah peradaban modern. Spiritualitas mudik mengingatkan kita akan keluhuran manusia yang masih memiliki semangat asal yang sekaligus mendorong kita dalam mewujudkan nilai-nilai yang bersifat transenden untuk menghindari segala belenggu hedonisme-materialisme yang tercipta di tengah peradaban modern.

Tampaknya para pemudik cukup menghayati prosesi mudik sebagai sebuah perjalanan spiritual, yakni kembali ke udik untuk menimba semangat religiositasnya di arena sosial yang masih dikepung aneka kesulitan. Karenanya dalam pergerakan ekstra massal dengan jangkauan geografis yang kolosal tersebut, para pemudik selalu tidak memedulikan kalkulasi penalaran ekonomi, seperti uang dan sarana transportasi. Yang terpenting dari mereka adalah masing-masing saling membatinkan keruhanian sekaligus menjadi pilar peradaban, kemudian menjadi pijar-pijar yang memercikkan keputusan-keputusan hidup yang menjadi penuntun hidup selanjutnya pascamudik.

Prosesi mudik juga hakikatnya memiliki dimensi sosial. Sebab, apa pun bobot aktivitas spiritual-keruhanian, ia hanya akan memiliki makna dalam konteks sosial. Di sinilah implementasi dari aktivitas mudik seperti Lebaran mendapat tempat, sosok, dan hakikatnya. Artinya, apa pun dimensi spiritual di dalamnya, ia harus ditransformasikan dalam dimensi sosial dan budaya agar kebahagiaan religius dapat dirasakan, baik secara etik maupun moral.

Bahwasanya dalam prosesi mudik itu, semua orang tanpa pandang status sosial, ekonomi, dan politik, memiliki kesempatan yang sama untuk kembali ke pusat-pusat kehidupan tradisional, ke titik-titik pijak dasar kemanusiaan di suatu tempat yang bernama udik. Dalam kebersamaan tanpa perbedaan status sosial ini, prosesi mudik dapat dijadikan sebagai momentum yang penting, semacam introspeksi diri untuk mencari peran baru dalam membantu memecahkan masalah-masalah kemanusiaan.

Dari situ pulalah dapat tercipta suatu ruang keharmonisan kita dalam masyarakat plural tanpa ada lagi sekat-sekat egoisme-egoposentrisme dan blok-blok psikologis, pranata-pranata, dan tata sosial yang selama ini sangat membedakan antara individu dan kelompok yang satu dengan yang lain. Karena memang dalam birokrasi kantor dan sistem-sistem sosial lainnya, yang sebenarnya manusia sanggup dan seharusnya dapat saling ‘mengikat’ dan saling menghormati satu sama lain dalam pola tatanan yang kolektif, namun sering kali tidak sejalan dengan nilai-nilai kemanusiaan sejati, yakni kebersamaan.

Oleh karena itu, sangat diharapkan, dari cahaya terang-benderang Idul Fitri, yang diperoleh lewat perjuangan dalam ujian pendadaran puasa dan ditambah lagi dengan spirit prosesi mudik, dapat menjadi area pelahiran kembali ‘manusia-manusia baru’ dalam diri para pemudik dan menjadi titik tolak baru bagi kehidupan kemanusiaannya, ‘tubuh dan jiwa, badan dan ruh’.
Dengan demikian, proses mudik Lebaran ber-Idul Fitri itu sendiri niscaya akan menjadikan para pemudik atau para peraya-perayanya untuk mampu melihat bahwa di balik kehidupan riil sosial, masih terbentang luas kepincangan sosial, ekonomi, politik, serta bisa terbuka kerudung nuraninya untuk ikut membenahi moralitas bangsa kita yang masih berkarat.

REPUBLIKA, Jumat, 18 September 2009 pukul 01:15:00

Maaf

MAAF YANG MEMBANGKITKAN

Oleh: Zaim Uchrowi

Lebaran tinggal dua hari lagi. Sebagaimana lazimnya, hari itu akan terwarnai dengan maaf. “Mohon maaf lahir batin,” begitu yang biasa tertera di kartu Lebaran.

Boleh saja kartu Lebaran tergantikan oleh pesan singkat atau SMS. Juga, momentum mengucapkan maaf pun sudah banyak yang bergeser ke menjelang puasa.

Namun, kata ‘maaf’ tetap merupakan bagian dari Lebaran. Bukan Idul Fitri bila tanpa diisi dengan kata ‘maaf’.

Berbagai acara halal bihalal yang biasa digelar beberapa hari setelah Idul Fitri akan menunjukkan itu. Begitu penting maaf hingga agama merasa perlu menggarisbawahinya dengan tebal. Islam mengajarkan umatnya untuk menuntut balas secara sepadan. Namun, lebih dari itu, Alquran menyebut bahwa ‘memaafkan lebih baik’ ketimbang menuntut balas. Sebaliknya, dari diri sendiri, meminta maaf bukan saja merupakan keutamaan, melainkan juga keharusan. Ketika kita berbuat dosa yang terkait dengan menyakiti orang lain, secara teoretis, Allah SWT tak memaafkan dosa itu seberapa pun kita bertaubat sebelum kita meminta maaf kepada orang yang kita zalimi.

Kita ingat bahwa sejarah mengajarkan peristiwa dramatis di masa Rasulullah SAW menyangkut maaf. Peristiwa itu melibatkan Alqamah, seorang sahabat salih, yang sekarat berkepanjangan. Namun, ajal tak kunjung menjemput. Pasalnya, ia telah melukai hati ibunya dan ia belum mendapat maaf atas itu. Sampai Rasulullah meminta ibu itu untuk memaafkan sang anak. Bila tidak, sang anak akan dibakar untuk ‘menebus dosanya’.

Peristiwa itu mengingatkan, bukan saja begitu penting bagi anak untuk terus berbakti pada orang tua, tetapi Juga tentang begitu besar nilai maaf bagi kehidupan ini. Dalam riwayat itu, maaf yang terjadi dan bukan pembakaran.
Memaafkan sepertinya merupakan kebaikan hati kita terhadap orang lain.

Pemaafan itu diawali dengan posisi bahwa orang lain telah berbuat salah dan kita menjadi korbannya. Seolah Kebaikan hati kitalah yang membuatnya tak menggunakan hak untuk membalas kesalahan itu agar mereka–yang telah berbuat salah–ganti yang mejadi korban. Seolah kebaikan hati kitalah, kesalahan itu ‘diterima’ dan tak diungkit-ungkit lagi. Dengan memaafkan, posisi kita tampak lebih tinggi dibanding mereka yang kita maafkan.

Sebenarnya, kepentingan terbesar memaafkan adalah buat diri sendiri. Bukan buat orang lain yang kita anggap salah. Ketika kita menganggap seseorang bersalah terhadap diri kita, orang atau kesalahan itu segera menyita perhatian kita. Bukan tidak mungkin malah mendominasi pikiran kita. Seolah orang atau persoalan itu begitu menentukannya dalam nasib kita sehingga layak untuk mendapat porsi perhatian yang begitu besar.  Padahal, bisa jadi persoalan itu tak penting-penting amat dalam memengaruhi kehidupan kita. Tapi, urusan itu telah menggeser berbagai urusan lain yang sebenarnya lebih berharga untuk kita perhatikan. Kita biarkan diri kita terkuasai oleh kesalahan orang dan bukan oleh agenda prioritas sendiri.

Dengan demikian, memaafkan adalah membebaskan diri sendiri dari beban-beban tidak penting itu. Memaafkan adalah membersihkan diri dari amarah, dari dendam, dan juga mengingat-ingat kesalahan orang lain. Hanya ketika telah terbebas dari beban-beban itu dan hanya ketika telah bersih dari ‘kotoran-kotoran’ itu, setiap pribadi akan menjadi dirinya sendiri secara murni.

Pribadi-pribadi itulah yang kembali ke jati dirinya yang sejati dan yang juga dapat disebut berada pada posisi fitri. Menjadi bersih dan tanpa beban merupakan modal terpenting buat bangkit untuk menjadi pribadi yang sukses dunia akhirat. Jadi, memaafkan akan membangkitkan diri kita sendiri dan bukan orang lain.

Kebangkitan diri akan lebih tinggi lagi bila kita minta maaf. Setiap kita tak mungkin tanpa salah. Keberanian mengakui salah dan minta maaf atas salah merupakan sebuah jihad besar melawan ego sendiri.

Apalagi bila harus minta maaf pada mereka yang berposisi ‘lebih rendah’ dibanding diri kita. Namun, jika itu kita lakukan, berarti kita mau membersihkan kerak-kerak beban yang paling lekat pada tubuh ini hingga beban-beban itu sepenuhnya hilang dan diri sendiri benar-benar bersih.  Idul Fitri ini merupakan momentum tepat untuk menjadikan diri kita sebagai pribadi yang gemar minta maaf dan memaafkan. Dengan begitu, kita menjadi pribadi yang akan kembali bangkit buat merengkuh dunia. Maaf, ya.

19
Sep
09

Analisis : Mengantisipasi Proteksionaisme ala Amerika Serikat

REPUBLIKA, Senin, 14 September 2009 pukul 01:36:00

Proteksionisme

MENGANTISPASI PROTEKSIONISME ALA AMERIKA SERIKAT

Oleh: Sunarsip

Perekonomian global saat ini sesungguhnya sedang melanjutkan euforia pemulihan ekonomi. Meski belum sepenuhnya keluar dari krisis, sejumlah indikator memperlihatkan optimisme pemulihan tersebut. Salah satunya adalah indeks industri manufaktur global dan negara-negara industri utama yang dalam beberapa bulan terakhir ini mengalami peningkatan.

Indeks manufaktur global (Purchasing Managers Index /PMI) yang dikeluarkan Markit Economics memperlihatkan bahwa PMI global telah berada di atas level 50, yang berarti sudah masuk fase ekspansi. Pada Agustus lalu, PMI global bahkan sudah berada di level 53,1 atau tertinggi sejak 26 bulan terakhir. Perbaikan PMI tersebut juga dialami Amerika Serikat (AS) dan Cina.

Seiring dengan membaiknya kinerja sektor manufaktur, indeks harga-harga  input manufaktur juga mengalami peningkatan. Peningkatan harga-harga  input ini merefleksikan kemampuan pertumbuhan para  supplier untuk menaikan harga-harga  input mereka karena permintaan atas bahan baku juga terus menunjukkan peningkatan. Harga minyak mentah juga mengalami kenaikan. Kini, sudah berada di level 70 dolar AS per barel atau meningkat sekitar 100 persen dibandingkan awal 2009.

Dengan perkembangan tersebut, pertumbuhan ekonomi dunia di tahun 2009 diperkirakan akan lebih baik dari proyeksi sebelumnya. IMF, pada April 2009 lalu, memproyeksikan, pada tahun ini ekonomi dunia mengalami kontraksi (pertumbuhan minus) 1,4 persen. Namun, pada Juli 2009, IMF sudah melakukan revisi terhadap proyeksi ekonomi global tahun ini menjadi hanya kontraksi 0,1 persen. Tahun depan, IMF memproyeksikan pertumbuhan ekonomi global mencapai sedikitnya 2,5 persen.

Di tengah pemulihan ekonomi global tersebut, AS justru membuat kebijakan yang berlawanan dengan semangat pemulihan tersebut. Kini, AS semakin gencar menerapkan kebijakan proteksionisme melalui  Buy American Product yang dilancarkan oleh pemerintahan Barack Obama. Tidak hanya itu, Obama juga berencana merenegosiasi  North American Free Trade Agreement (NAFTA) dan beberapa perjanjian perdagangan bebas lainnya, termasuk FTA dengan Korea Selatan.

Terakhir, pada akhir pekan lalu, AS memberlakukan kebijakan penerapan tarif impor atas produk ban yang berasal dari Cina. Pemerintah AS mengumumkan tarif impor ban asal Cina sebesar 35 persen pada tahun pertama, lalu akan menurun menjadi 30 persen pada tahun kedua, dan 25 persen pada tahun ketiga. Kebijakan penerapan tarif impor atas produk ban asal Cina tersebut merupakan respons atas temuan Komisi Perdagangan Internasional AS yang menemukan bahwa impor produk ban dari Cina telah merontokkan industri ban AS dan menyebabkan ribuan tenaga kerja harus kehilangan pekerjaannya.

Atas kebijakan Pemerintah AS tersebut, Pemerintah Cina melalui Menteri Perdagangan Yao Jia langsung menyatakan protes keras. Yao Jian mengatakan, kebijakan AS itu sebagai tindakan proteksi perdagangan yang serius. Terkait dengan kebijakannya itu, Obama meminta Cina untuk dapat memahami kebijakan yang diambil pemerintahnya. Obama menyatakan bahwa AS membutuhkan Cina untuk membantu mengurangi defisit perdagangan AS yang mencapai 1,56 triliun dolar AS setiap tahunnya.

Sebagai informasi, antara 2004-2008, kapasitas produksi ban Cina meningkat 152 persen dan diproyeksikan meningkat lagi sekitar 16 persen pada 2010. Pada 2008, kapasitas produksi ban Cina mencapai 235,2 juta. Impor ban AS selama periode 2004-2008 meningkat dari 14,6 juta ban menjadi 46 juta ban. Selama periode tersebut, pangsa pasar ban Cina di pasar AS meningkat 255 persen, yaitu dari 4,7 persen menjadi 16,7 persen. Di sisi lain, sebanyak empat pabrik ban AS ditutup pada 2006 dan 2007.

Sementara itu, lebih dari tiga pabrik ban di AS direncanakan akan ditutup tahun ini. Pada tahun 2008, jumlah tenaga kerja yang bekerja di industri ban AS telah berkurang sebanyak 5.168 pekerja dibandingkan posisinya pada tahun 2004. Atas dasar pertimbangan inilah, Pemerintah AS mengambil kebijakan perdagangan luar negeri yang berbau proteksionisme tersebut.

Kebijakan penerapan tarif impor atas produk ban Cina yang diterapkan AS sesungguhnya hanyalah satu contoh dari sekian banyak kebijakan proteksi yang dikembangkan AS. Sebelumnya, AS juga bersikap lebih protektif terhadap Cina, misalnya dengan kuota tekstil. Tujuannya, seperti diutarakan Presiden Obama di atas adalah dalam rangka memperbaiki defisit neraca perdagangannya dan mencegah kebangkrutan industri AS.

AS memang memiliki problem yang akut terkait dengan neraca perdagangannya karena selalu mengalami defisit. Dan, perlu diketahui bahwa sebelum Obama menjadi presiden AS, tekanan defisit perdagangan ini trennya cenderung meningkat. Pada 2007-2008, defisit perdagangan AS bisa mencapai 62 miliar dolar AS per bulan. Namun, sejak Obama memerintah, defisit perdagangan AS menurun dratis dan kini berada di level 30 miliar dolar AS per bulan. Selain karena krisis ekonomi global, penurunan defisit perdagangan AS tersebut juga akibat kebijakan proteksionisme yang dikembangkan Obama.

Tentunya, fenomena proteksionisme yang dikembangkan AS ini tidak bisa dianggap persoalan kecil, khususnya dalam mencermati perdagangan luar negeri kita. Perlu diketahui bahwa ‘perseteruan’ antara AS dan Cina terkait dengan kebijakan perdagangan luar negeri mereka telah sering terjadi. Sesuatu yang wajar karena Cina diperkirakan mewakili sekitar 83 persen dari seluruh defisit perdagangan AS dalam produk non-minyak.

Selain itu, AS dan Cina juga terlibat perdebatan soal mata uang. AS mengklaim rendahnya nilai mata uang Cina menyebabkan harga produk AS menjadi lebih mahal dibanding produk Cina. Cina menyikapi tekanan AS itu, misalnya, dengan menyuarakan perlunya mata uang alternatif dunia (selain dolar AS).

Mengapa kita tidak bisa menganggap kecil persoalan proteksionisme AS ini? Perlu diketahui, ketika AS menutup diri dari masuknya produk asing, sudah pasti negara yang biasanya memasok produk ke AS akan mencari pasar baru untuk produk yang mereka hasilkan. Dengan kata lain, proteksi yang diterapkan AS dikhawatirkan akan makin ‘mengalirkan’ produk Cina ke Indonesia yang tentunya berbahaya bagi industri domestik. Ada satu fakta menarik: neraca perdagangan di sektor nonmigas kita dengan Cina mengalami penurunan dalam lima tahun terakhir ini, yaitu dari surplus 79 juta dolar AS di tahun 2004 menjadi defisit 7,16 miliar dolar AS di tahun 2008.

Terkait dengan ini, tentunya kita juga harus melakukan upaya antisipasi terhadap dampak kebijakan proteksionisme AS tersebut. Kebijakan proteksi AS tersebut jelas berpotensi bisa merugikan kepentingan negara-negara berkembang, termasuk Indonesia, karena bisa menyebabkan akses masuk barang dan jasa ke AS menjadi terhambat. Lebih dari itu, karena AS adalah pasar ekspor terbesar di dunia, proteksionisme AS bisa menyebabkan semakin sengitnya persaingan dagang antarnegara yang selama ini memasok pasar AS.

Khusus dalam konteks hubungan perdagangan Indonesia-Cina, mungkin ada baiknya kita menengok kembali kesepakatan perdagangan bebas (FTA) Cina-ASEAN yang disepakati tahun 2005, di mana bea masuk produk pertanian Cina ke ASEAN ditetapkan nol persen dan bea masuk produk manufaktur Cina ke ASEAN maksimal lima persen pada tahun 2009. Sebab, tanpa persiapan yang matang, bisa jadi di tengah proteksionisme yang dikembangkan AS di atas, justru hanya akan menekan neraca perdagangan kita.

19
Sep
09

Bandar Jakarta : Dari Benteng Belanda ke Istiqlal

REPUBLIKA, Sabtu, 19 September 2009 pukul 01:40:00

Benteng ke Istiqlal

Oleh Alwi Shahab
wartawan Republika

Inilah masjid yang paling monumental dan terbesar di Asia Tenggara. Istiqlal berarti ‘Merdeka’, melambangkan kemerdekaan dan kejayaan bangsa Indonesia setelah berhasil membebaskan diri dari belenggu penjajahan. Presiden Soekarno sengaja memilih membangun masjid ini di atas puing-puing bekas benteng Belanda yang luasnya 9,9 hektare.

Benteng Belanda atau Citadel terletak di Wilhelmina Park. Dahulu di tengah Istiqlal terdapat Monumen Michiels, untuk menghormati Mayor Jenderal Andreas Victor Michiels, komandan militer Belanda di Sumatra Barat. Dia meninggal karena menderita luka parah oleh para pejuang kemerdekaan saat memimpin ekspedisi menghadapi pemberontakan di Bali (23 1848). Lambang kolonial ini dihancurkan setelah kemerdekaan.

Sedangkan nama Wilhelmina Park diganti menjadi Taman Wijayakusuma, Jalan Pintu Air, Jakarta Pusat. Pembangunan masjid Istiqlal dicetuskan oleh Menteri Agama KH Wahid Hasyim (ayah Gus Dur) dan H Anwar Tjokroaminoto (putra HOS Tjokroaminoto) bersama tokoh Islam lainnya tahun 1950, hanya beberapa bulan setelah penyerahan kedaulatan. Begitu kokohnya benteng ini, saat diruntuhkan dengan dinamit oleh Korps Zeni AD perlu waktu satu setengah tahun.

Selama bulan Ramadhan, ribuan jamaah dapat menikmati buka puasa bersama di Istiqlal, yang pangannya merupakan sumbangan dari para dermawan. Setiap Jumat tidak kurang dari 25 ribu jamaah shalat di masjid megah ini. Sedangkan di Hari Raya Idul Fitri, diperkirakan jamaah membeludak mencapai lebih dari 200 ribu orang. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, para menteri, dan korps diplomatik akan shalat ID di masjid kebanggaan rakyat Indonesia.

Masjid Istiqlal terdiri atas beberapa bangunan. Seperti, gedung induk berukuran 100 X 100 m (satu ha), merupakan bangunan pokok dan di sekelilingnya terdapat lima lantai. Total luas bangunan induk 36.980 meter persegi atau hampir empat hektare. Di atas gedung induk dibuat kubah yang berbentuk kerangka polihedron, yang terbungkus konstruksi betuh bertulang. Di puncaknya, terdapat lambang ‘Bulan Bintang’ terbuat dari baja tahan karat.

Masjid dengan menara setinggi 6.666 cm atau hampir 70 meter merupakan landmark ibu kota RI. Ketika bandara di Kemayoran dan kemudian di Halim Perdanakusuma, saat pesawat hendak mendarat, para penumpang akan menikmati dua monumen raksasa: Monas dan Istiqlal. Menara Istiqlal dibuat berlubang-lubang, terbuat dari baja tahan karat, dan di puncaknya terdapat menara setinggi 30 meter. Kegiatan ta’mir masjid Istiqlal meliputi bidang peribadatan, ibadah sosial, publikasi dan dakwah, pendidikan dan latihan, serta studi dan kemasyarakatan.




Blog Stats

  • 2,991,696 hits

Recent Comments

Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Sejarah : Bangsa Lemuria, Lelu…
Ratu Adil - 666 on Sejarah : Bangsa Lemuria, Lelu…