Archive for the 'Jiwa Semangat Nilai-nilai 45' Category



19
Sep
09

Riau : Lampu Colok Sambut Lailatul Qadar

GB
Susunan lampu colok menyerupai bentuk masjid.
Sabtu 19/09/2009 15:07 WIB

Foto News

Lampu Lailatul Qadar

Fotografer – Chaidir Anwar Tanjung

Tradisi memasang lampu colok atau lampu obor sudah berjalan sejak dulu di Riau. Lampu colok ini mulai dipasang saat malam lailatul qodar sampai malam takbiran.

Foto Lain:

  • Fotolain
  • Fotolain
  • Fotolain
  • Fotolain
19
Sep
09

Seni Budaya : Syiar Sunan Kalijaga Sampai Berlin

Sabtu, 19/09/2009 18:28 WIB
Laporan dari Berlin
Syiar Sunan Kalijaga Sampai Berlin
Fitraya Ramadhanny – detikNews


Foto: Fitraya R/Detikcom

Berlin – Wayang Kulit dan Gamelan menjadi alat dakwah Sunan Kalijaga. Dengan nilai seni yang begitu tinggi, ratusan orang menonton pertunjukan wayang kulit dalam festival Ramadan di Berlin, Jerman.

Untuk pertama kalinya di Berlin digelar sebuah festival Ramadan sebulan penuh bertajuk Die Naechte Des Ramadan (Malam-malam Ramadan). Ini adalah festival di taman Lustgarten dan sekitarnya dan setiap malam diisi berbagai kesenian Islam dari seluruh dunia.

Indonesia pun tampil dengan Wayang Kulit dan Gamelan, alat kesenian yang merupakan alat dakwah penyebaran Islam di Jawa. Lakonnya adalah kisah Sunan Kalijaga yang berguru pada Sunan Bonang.

Pada Jumat (18/9/2009) menjelang buka puasa pukul 19.20, para penonton mulai berdatangan ke Lustgarten. Mereka adalah warga Berlin dan para turis. Pertunjukan pun dimulai pukul 20.00 setelah memberi kesempatan pengunjung dan pemain berbuka puasa dengan kue-kue Indonesia.

Pemain Gamelan adalah kelompok Lindhu Raras, kelompok Gamelan dari Berlin yang berisi bule-bule. Dalangnya adalah Sri Joko Raharjo, dalang muda yang menjadi pelatih dan kurator di Museum Dahlem, Berlin.

“Saya pakai wayang biasa. Tapi untuk Sunan Kalijaga dan Sunan Bonang, saya membuat sendiri wayangnya,” kata Joko kepada detikcom.

Pertunjukan wayang kulit ini pun berlangsung seru. Sekitar 300 penonton memenuhi Lustgarten. Mereka antusias menyaksikan kisah Raden Sahid, mulai menjadi perampok, bertobat, berguru pada Sunan Bonang, menjaga sungai dan menjadi Sunan Kalijaga.

Pementasan Wayang Kulit ini memakai bahasa Jawa. Tapi jangan kuatir, para penonton diberi terjemahan cerita dalam bahasa Jerman. Yang seru, sang Dalang menyelipkan bahasa Jerman dalam wayang kulitnya lewat tokoh Limbuk dan ibunya Cangih.

Sebagai adegan selingan, Limbuk dan Cangih dengan bahasa Jerman mengenalkan budaya Indonesia sambil melontarkan lelucon. Penonton pun dibuat tertawa tergelak-gelak. Selain itu wayang kulit ini dikombinasikan juga dengan Tari Kuda Lumping.

“Pertunjukan ini sangat bagus, saya baru pertama kali melihat wayang kulit,” kata Karolina, seorang penonton.

Usai pertunjukan para penonton pun mengerubuti panggung. Mereka antusias melihat bentuk wayang kulit dari dekat. Salah satu pengasuh Lindhu Raras, Wawang Sudarga merasa puas dengan penampilan mereka setelah hampir 2 bulan persiapan.

“Panitia memang sudah berkomunikasi dengan kita sejak lama untuk penampilan wayang kulit ini,” kata dia.

(fay/mok)

GB
Ratusan orang menonton pagelaran di taman Lustgarten ini.
Sabtu 19/09/2009 18:13 WIB

Foto News

WayangSunanKalijaga

Fotografer – Fitraya Ramadhanny

Wayang kulit sebagai media dakwah Islam di Jawa, tampil dalam festival Ramadan di Berlin, Jerman. Ratusan orang menonton pagelaran ini.

Foto Lain:

  • Fotolain
  • Fotolain
  • Fotolain
  • Fotolain
  • Fotolain
19
Sep
09

Hikmah : Warisan Ramadhan

Warisan Ramadhan

By Subagio S Waluyo
Sabtu, 19 September 2009 pukul 17:16:00

Warisan RamadhanWORDPRESS/ILUSTRASI

Ramadhan telah berlalu. Hari-hari indah yang penuh rahmat, berkah, dan maghfirah itu telah lewat pula. Namun, apakah kita harus mengakhiri pula tujuan ibadah itu, yakni untuk mencapai derajat muttaqien (orang-orang yang takwa)? Apakah untuk mencapai muttaqien hanya diperoleh lewat Ramadhan? Dan apakah kita sudah cukup merasa puas kalau kita memasuki Idul Fitri sebagai pemenang dan terlahir kembali sebagai bayi yang baru lahir? Untuk mencapai derajat muttaqien seperti yang diwajibkan Allah lewat puasa (Q. S. 2:183) bukan semata-mata hanya diperoleh di bulan Ramadhan. Bunyi ayat tersebut (Q. S. 2: 183) memang mewajibkan kita berpuasa (Ramadhan) untuk mencapai takwa. Namun, perlu diingat bahwa ada puasa-puasa maupun ibadah-ibadah lain yang juga dapat mengantarkan kita menjadi muttaqien. Bukankah untuk mencapai ketakwaan (di bulan Ramadhan) itu kita peroleh karena kita melakukan berbagai amalan, di antaranya qiyamul lail, zikir, doa, tilawah Quran, infak, i’tikaf, istighfar, dan amalan saleh lainnya? Jadi untuk mencapai derajat muttaqien tidak cukup hanya dilakukan lewat puasa Ramadhan sebulan penuh sementara amalan-amalan lain terbengkalai.

Karena itu setelah kita berhasil menjalani ibadah puasa Ramadhan sebulan penuh, sudah seharusnya meneruskan amalan-amalan yang kita lakukan selama bulan Ramadhan itu pada bulan-bulan lainnya. Sebagai misal, setelah berpuasa wajib, kita masih bisa menjalani puasa sunat, seperti puasa Senin-Kamis, puasa Syawwal, puasa pertengahan bulan di bulan-bulan hijriah, dan sebagainya. Kita boleh pilih puasa mana yang ingin kita jalani. Selain itu, kita juga bisa bersedekah memberi makan orang lain, misalnya kepada fukara dan masakin, atau menjamu orang yang berpuasa sunat di masjid-masjid, musalla-musalla, atau di rumah kita? Bukankah orang yang memberi buka kepada orang yang berpuasa, pahalanya sama dengan yang berpuasa?

Di samping itu, kita juga bisa mengkhatamkan Alquran sebulan sekali kalau kita mau melakukannya. Kita bisa memperbanyak doa, zikir, istighfar, dan bersabar di tengah-tengah kesibukan kita. Bahkan, kita bisa menyisihkan waktu malam kita untuk sekadar salat qiyamul lail. Singkatnya, kita bisa melakukan semua amalan yang telah kita lakukan di bulan Ramadhan pada bulan-bulan lain. Ramadhan biarlah berlalu. Namun janganlah kita lewatkan pula hari-hari pada bulan lain dengan tidak mewarisi amalan-amalan Ramadhan. Kita harus mengupayakan hari-hari sepanjang tahun adalah seolah-olah Ramadhan. Alangkah indahnya hidup ini manakala banyak di antara kita yang menghidupkan Ramadhan sepanjang tahun. Bukankah kita semua ingin mencapai derajat takwa selama hayat masih di kandung badan? ahi

19
Sep
09

Kenegaraan : Ilusi Negara Islam

INILAH.COM
Citizen Journalism
19/09/2009 – 13:23
Tentang Ilusi Negara Islam (1)
Pendapat yang Benar?
Sebuah buku dengan judul Ilusi Negara Islam diterbitkan The Wahid Institute beberapa waktu lalu, bekerjasama dengan Maarif Institute dan Gerakan Bhineka Tunggal Ika. Buku yang disponsori oleh LibForAll Fondation ini ditujukan untuk menghentikan laju perkembangan pengaruh gerakan Islam yang diistilahkan dengan ‘Islam Transnasional’.

Buku ini diragukan dasar metodeloginya. Bahkan beberapa peneliti yang tercantum dalam buku tersebut menolak buku ini, karena namanya dicatut. Jika buku tersebut merupakan penelitian yang akurat, maka telaah kitab-kitab resmi yang dikeluarkan oleh gerakan yang menjadi obyek penelitian menjadi suatu keharusan, sehingga pernyataan-pernyataan mereka memiliki dasar yang valid.

Sayang, hal tersebut tidak terjadi. Untuk meneliti HT, misalnya, penulis hanya menggunakan satu referensi yang dikeluarkan oleh gerakan tersebut, yakni Selamatkan Indonesia dengan Syariah. Itu pun ala kadarnya. Selebihnya lebih banyak mengutip Zeno Baran dari International Crisis Group dan Ed Husein yang dianggap sebagai mantan pimpinan HT di London, padahal faktanya bukan.

Berikut adalah sekilas tentang isi buku tersebut, sekaligus kritik terhadapnya:

Buku tersebut menganggap bahwa umat Islam yang bermaksud menegakkan syariah Islam secara menyeluruh dalam Khilafah Islam selalu memonopoli kebenaran yang mengarah pada penyalahan pihak lain dan bahkan berujung pada pertumpahan darah.

Kesimpulan tersebut jelas salah karena telah melakukan generalisasi (fallacy of hasty generalization) terhadap seluruh kelompok Islam yang bermaksud menegakkan Negara Islam. Pada faktanya tidak semua gerakan Islam di Indonesia membenarkan tindakan kekerasan dalam memperjuangkan tegaknya syariah Islam.

HT, misalnya, sejak berdirinya tahun 50-an hingga hari ini tidak pernah mengadopsi cara-cara kekerasan. selain itu, penulis tidak sadar ketika mereka mengatakan bahwa umat yang berupaya menegakkan Negara Islam memonopoli kebenaran, pada saat yang sama mereka justru berupaya memaksakan pendapat mereka bahwa Negara Islam itu tidak wajib.

Dalam Islam sangat jelas, dalam persoalan akidah dan hukum syariah yang bersumber dari dalil yang qath’i dan maknanya juga qath’i tidak ada toleransi, sementara dalam masalah hukum-hukum fur’u yang dalilnya zhanni, perbedaan pendapat tidak dapat dinafikan. Sikap ini telah dilestarikan oleh para ulama Ahlus Sunnah. Ini, misalnya, dapat dilihat dari penjelasan Abu Zahrah dalam Kitab Tarikh al-Madzahib al-Islamiyyah.

Para fukaha berbeda pendapat dan perbedaan tersebut menghasilkan sekolah-sekolah fikih yang kemudian menjadi mazhab. Hal yang wajib

diterangkan di sini adalah perbedaan tersebut bukan pada masalah akidah dan pokok syariah, tetapi dalam memahami nash dalam menerapkan yang pokok kepada cabang. Semua yang berbeda paham menghormati nash-nash al-Quran dan as-Sunnah; dalil yang qath’i menjadi pemutus (untuk menyelesaikan) perselisihan mereka.

Ini pula yang dijadikan pegangan oleh Hizbut Tahrir sebagaimana yang tercantum dalam kitab Mafahim Hizb at-Tahrir:

Para pendiri mazhab di kalangan mujtahid menganggap hasil istinbath mereka terhadap suatu hukum adalah benar namun masih mungkin mengandung kesalahan. Setiap mereka mengatakan: “Jika pendapat itu sahih maka itulah pendapatku dan buanglah pendapatku di balik tembok.”

Demikian pula dengan pengemban dakwah; ia memandang pendapat yang diadopsinya sebagai pendapat yang benar yang berpotensi salah, sementara keimanan mereka terhadap Islam merupakan akidah yang tidak boleh ada keraguan sedikit pun. (Bersambung)

Muhammad Ghufron

revois@yahoo.com

Citizen Journalism
19/09/2009 – 14:36
Tentang Ilusi Negara Islam (2)
Persepsi Keliru Negara Islam
Buku Ilusi Negara Islam juga menuduh bahwa pengusung ideologi transnasional dan para pendukungnya tidak memahami substansi Islam sebagaimana yang dipahami oleh para wali, ulama, dan pendiri bangsa. Pernyataan ini merupakan salah satu bentuk kesalahan logika yang sangat akut (fallacy of appeal to authority).

Sebab, untuk menjustifikasi pendapatnya penulis mengatasnamakan wali, ulama, dan pendiri bangsa tanpa menyebut alasannya. Seakan-akan pendapat yang mengatakan Negara Islam tidak wajib sejalan dengan pendapat para ulama dan pendiri bangsa.

Padahal para wali, ulama, dan pendiri bangsa memiliki ragam pemikiran. Bahkan sebagian besar pendapat mereka justru berseberangan dengan logika penulis yang beraliran sekular-liberal tersebut.

Sebagai contoh di dalam kitab Al-Mawardy dinyatakan: Imamah (Khilafah) merupakan pengganti kenabian yang menjaga agama dan mengatur urusan dunia. Keberadaannya pada umat wajib berdasarkan Ijmak, kecuali segelintir dari (golongan) al-A’sham.

Al-Ghazali mengatakan: Oleh karena itu, kewajiban adanya Imam (Khalifah) merupakan keharusan dari syariah yang tidak ada jalan untuk meninggalkan-nya.

Kedua ulama di atas yang merupakan ulama Ahlus Sunnah wal Jamaah (Aswaja) dan sangat masyhur di kalangan umat Islam, termasuk di kalangan nahdliyyin, dengan tegas menyatakan kewajiban mengangkat seorang imam atau khalifah.

Bahkan menurut Imam al-Qurthubi: Tidak ada perbedaan tentang kewajiban hal tersebut (Imamah/Khilafah)di antara umat, tidak pula di antara para imam, kecuali apa yang diriwayatkan dari al-A’sham.

Dengan demikian, pernyataan bahwa penegakkan syariah Islam dalam format negara bertentangan dengan paham Aswaja merupakan pernyataan yang tidak dapat dipertanggungjawabkan secara akademis sekaligus menyalahi ketentuan syariah.

Demikian pula jika dikatakan bahwa penerapan syariah Islam tidak sesuai dengan pendapat pendiri bangsa. Memang, Soekarno menolak pemerintahan Islam, namun tidak berarti seluruh founding father negara ini mendukung hal tersebut.

Ketika Soekarno berpidato di Amuntai 27 Januari 1953 dengan menyatakan bahwa jika negara didirikan berdasarkan Islam, maka banyak daerah berpenduduk non-Muslim akan lepas. Pidato tersebut serta-merta mendapat respons keras dari tokoh dan organisasi Islam seperti PBNU, PB Front Muballig Islam Medan, Dewan Tertinggi Partai Islam Perti, Pucuk Pimpinan Gerakan Pemuda Islam, dan Pengurus Besar Persatuan Indonesia.

Petikan surat PBNU kepada Presiden yang ditandatangani oleh KH A Wahid Hasjim dan A Sjahri menyatakan: Pernyataan bahwa pemerintahan Islam tidak akan dapat memelihara persatuan bangsa dan akan menjauhkan Irian, menurut pandangan hukum Islam, merupakan perbuatan munkar yang tidak dibenarkan syariah Islam dan wajib tiap-tiap orang Muslim menyatakan inkar atau tidak menyetujuinya. (Bersambung)

Muhammad Ghufron

revois@yahoo.com

Citizen Journalism
19/09/2009 – 15:46
Tentang Ilusi Negara Islam (3)
Seputar Masalah Perpecahan
Buku ini juga mencoba untuk menyebarkan ketakutan kepada publik bahwa penerapan syariah Islam akan menyebabkan perpecahan bangsa, karena telah mengkotak-kotakan bangsa Indonesia yang memiliki keyakinan dan agama yang berbeda. Propaganda ini mengada-ada karena berupaya menjustifikasi bahaya Negara Islam dengan menakut-nakuti pihak lain dengan sesuatu yang belum pasti terjadi!

Kesalahan tersebut dalam ilmu logika disebut appeal to fear, memunculkan ketakutan agar orang lain menerima pendapatnya. Logika

yang benar dan sesuai dengan realitas adalah sebaliknya.

Berbagai konflik di sejumlah daerah yang mengarah pada pelepasan sejumlah wilayah Indonesia seperti Papua, Ambon, dan Timor-Timur (yang kini telah menjadi negara sendiri) justru disebabkan oleh provokasi dari negara-negara asing yang mencoba mendapatkan keuntungan dari kemerdekaan tersebut, selain adanya kekecewaan dari sejumlah masyarakat terhadap berbagai kebijakan pusat yang dianggap tidak adil.

Dengan penerapan syariah, peluang lepasnya bagian-bagian wilayah Indonesia justru akan ditutup, setidaknya oleh beberapa argumentasi:

Pertama, warga negara yang berupaya untuk memisahkan diri dari wilayah pemerintahan Islam dikategorikan sebagai bughat yang wajib untuk diperangi.

Kedua, dengan pelaksanaan hukum tanpa pandang bulu dan distribusi kekayaan yang adil, tingkat keamanan dan kesejahteraan rakyat akan dirasakan oleh seluruh rakyat tanpa kecuali.

Ketiga, negara wajib menghalau berbagai upaya intervensi untuk memecah-belah negara. Rasulullah saw bersabda: “Siapa saja yang mendatangi kalian, sementara kalian bersatu atas (kepemimpinan) satu orang, dan ia bermaksud memecah-belah persatuan kalian, maka bunuhlah dia” (HR Muslim).

Keempat, warga non-Muslim diberi kewenangan untuk melaksanakan ajaran agama mereka dalam masalah peribadatan, pernikahahan, makanan, minuman dan pakaian. Sebaliknya, dalam kehidupan publik posisi mereka sama dengan warga Muslim tanpa diskriminasi.

Bukan itu saja, setiap tindakan yang merugikan non-Muslim yang menjadi warga Negara Islam atau terikat dengan perjanjian dengan Negara Islam dikategorikan sebagai tindakan kriminal yang kelak dihisab oleh Allah pada Hari Kiamat nanti.

Rasulullah saw bersabda: “Siapa saja yang membunuh mu’ahid (non-Muslim yang terikat perjanjian dengan Negara Islam) tidak akan mencium bau surga, padahal bau surga tercium dari jarak 40 tahun perjalanan” (HR al-Bukhari dan Ibnu Majah).

HTI sendiri dengan gigih melawan segala bentuk disintegrasi. Terhadap upaya separatisme di Aceh, Papua, Timor-Timur, dan Maluku. HT telah mengeluarkan ribuan booklet dan selebaran yang menyerukan kepada Pemerintah dan masyarakat agar menolak berbagai kebijakan yang mengarah pada separatisme.

Justru suara kelompok liberal nyaris tak terdengar terhadap berbagai isu separatisme. Wajar saja karena sponsor merekalah yang berada di balik proses separatisme tersebut. (Bersambung)

Muhammad Ghufron

revois@yahoo.com

Citizen Journalism
19/09/2009 – 16:40
Tentang Ilusi Negara Islam (4)
Seputar Motif Perjuangan
Mereka mengklaim bahwa gerakan yang bertujuan menegakkan Khilafah tidak memahami dan bahkan kering dari nilai spiritual, kasar, keras, dan suka menghujat. Sementara pihak merekalah yang mengetahui hakikat spiritual tersebut.

Namun, fakta di atas justru menjadi dalil atas sikap penulis. Mereka begitu mudah memuntahkan pernyataan-pernyataan dan klaim yang tidak berdasar dan jauh dari sifat orang-orang yang memegang teguh prinsip-prinsip spiritual Islam.

Dalam pandangan Islam, menegakkan Khilafah Islam merupakan sebuah kewajiban bahkan menjadi kewajiban tertinggi sehingga siapa pun yang menginginkan untuk memperoleh nilai spiritual tertinggi harus memperjuangkan kewajiban tersebut. Sebaliknya, mereka yang menolak kewajiban tersebut justru perlu dipertanyakan tingkat spiritualitasnya.

Dalam kitab As-Siyasah asy-Syar’iyyah, Imam Ibnu Taimiyah berpendapat: Usaha untuk menjadikan kepemimpinan (Khilafah) sebagai bagian dari agama dan sarana untuk ber-taqarrub kepada Allah adalah kewajiban. Taqarrub kepada Allah dalam hal kepemimpinan yang dilakukan dengan cara menaati Allah dan RasulNya adalah bagian dari taqarrub yang paling utama.

Dalam kitab Dukhul al-Mujtama’, Taqiyuddin An-Nabhani, pendiri HT menyatakan: Satu hal yang tidak boleh hilang dalam pemikiran meski sekejap bahwa tujuan utama bukanlah kekuasaan, tetapi melanjutkan kehidupan Islam dan mengemban dakwah Islam ke seluruh penjuru dunia; metode untuk mencapai hal tersebut adalah dengan kekuasaa. Dan bahwa pandangan pada kekuasaan tidak lebih dari sekadar metode saja.

Jika dikatakan bahwa tujuan para penyeru Negara Islam hanya untuk meraih keuntungan duniawi, lalu bagaimana menjelaskan ribuan kaum Muslim kini meringkuk di penjara-penjara, bahkan sebagian dibunuh akibat mereka lebih memilih memegang teguh sikap mereka untuk menegakkan Khilafah Islam ketimbang bebas namun harus meninggalkan perjuangan tersebut?

Justru yang kasat mata adalah berbagai kelompok liberal yang secara terang-terangan bekerja untuk mengusung ide-ide sekuler. Mereka mendapatkan kucuran dana dari sejumlah funding asing. Tujuan mereka jelas memisahkan umat dari ajaran Islam sembari menarik mereka untuk mengikuti ideologi negara-negara kafir penjajah.

Buku tersebut juga menuduh bahwa tujuan akhir Islam garis keras adalah formalisasi syariah Islam dengan menggunakan segala cara. Di dalam kitab Nizham al-Islam disebutkan: Dakwah Islam saat ini diemban sebagaimana sebelumnya dan hal itu dilakukan dengan meneladani Rasulullah saw. tanpa berpaling sedikitpun dari metode Rasulullah saw, baik secara golobal maupun parsial.

Bahkan secara eksplisit Ahmad Mahmud, aktivis senior HT, dalam kitab Ad-Da’wah ila al-Islam membuat bab khusus yang berjudul, “Hal yang Halal Tidak Boleh Dicapai dengan Cara yang Haram.”

Sebelumnya, Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani juga telah mengkritik kaidah ‘menghalalkan segala cara dalam Muqaddimah Dustur. (Bersambung)

Muhammad Ghufron

revois@yahoo.com

Citizen Journalism
19/09/2009 – 17:58
Tentang Ilusi Negara Islam (5-Habis)
Mempertanyakan Pluralisme

Di dalam buku tersebut dinyatakan: Pembacaan secara harfiah dan mengutamakan simbol mengarah pada pemahaman monolitik dan

penyeragaman, mengabaikan ayat-ayat dan hadis-hadis yang tidak mendukung kepentingan mereka. Akibatnya, mereka menolak pluralisme agama-agama maupun dalam agama itu sendiri.

Ini berbahaya karena tidak memberikan ruang berbeda; setiap yang berbeda akan divonis kafir, murtad, dan semacamnya. Gejala ini

seharusnya menyadarkan kita semua bahwa bahaya sebenarnya ada di dalam selimut.

Pernyataan ini mengesankan bahwa gerakan yang bermaksud menegakkan Negara Islam merupakan gerakan yang memanipulasi ayat hanya untuk kepentingan mereka. Penulis menampilkan sebuah dalil yang mendukung pendapatnya yang telah diplintir maknanya dan mengabaikan ayat dan hadis-hadis yang mencela ide pluralisme yang meyakini kebenaran semua agama.

Dalil tersebut adalah sabda Nabi saw, sebagaimana dituturkan Abu Hurairah ra: “Saya adalah orang yang paling dekat dengan Ibnu Maryam di dunia dan akhirat. Tidak ada nabi antara saya dan dirinya. Para nabi bersaudara; mereka saudara seayah. Ibu mereka berbeda-beda namun agamanya satu” (HR al-Bukhari dan Muslim).

Menurut Ibnu al-Atsir abnau allat adalah saudara sebapak, dengan ibu berbeda. Hal yang sama juga dinyatakan oleh as-Suyuthi, seraya menambahkan: “Mereka bersepakat dalam pokok tauhid, namun berbeda dalam masalah syariah.”

Jadi, menjadikan hadis ini sebagai dalil pluralisme jelas keliru dan bertentangan dengan sejumlah nash yang mengkritik paham tersebut.

Namun, jika yang dimaksud penulis bahwa gerakan Islam yang berjuang untuk menegakkan Khilafah menolak pluralitas agama, yakni eksistensi agama selain Islam dan perbedaan pemahaman di dalam agama Islam sendiri, maka ini semakin membuktikan bahwa penulis sebenarnya tidak paham, salah paham atau pura-pura tidak paham terhadap obyek penelitiannya dan istilah yang digunakannya.

Di dalam kitab Ad-Dawlah al-Islamiyyah, Syaikh Taqiyuddin menjelaskan: Misi ini (mengemban dakwah) menuntut Islam membiarkan manusia menentukan pilihannya. Jika mereka menghendaki Islam, mereka bisa langsung memeluknya. Jika tidak, mereka boleh tetap memeluk agama lama mereka. Mereka hanya dituntut tunduk pada hukum-hukum Islam tentang urusan-urusan muamalah (hukum perdata) dan hukum-hukum pidana.

Tujuannya untuk menumbuhkan perasaan jiwa warga non-Muslim bahwa kedudukan mereka di mata sistem Islam (dalam undang-undang perdata dan pidana) sama dengan kaum Muslim. Mereka semua saling terikat dan sama-sama sebagai warga negara yang mempunyai kewajiban menerapkan sistem yang berlaku. Mereka dapat menikmati hidup dengan tenteram.

Masih banyak hal yang dapat dikritisi dalam buku tersebut. Namun dari beberapa penjelasan di atas kiranya cukup untuk menyimpulkan bahwa buku tersebut tidak lebih dari bagian dari alat negara-negara kafir untuk memecah-belah umat Islam di Indonesia dengan cara membentur-benturkan mereka, memanipulasi fakta pemikiran Islam dan memuja ide-ide Barat.

Mereka mengira dengan cara itu umat akan mudah dipecah belah dan opini persatuan umat Islam dalam naungan Khilafah Islamiyah yang kini makin mengkristal dapat dibungkam. Tentu saja, harapan mereka hanyalah ilusi. Wallahu a’lam bi ash-shawab. (Habis)

Muhammad Ghufron

revois@yahoo.com

19
Sep
09

Beruang dan Harimau Bengkulu Jadi Sasaran Perburuan

Beruang dan Harimau

Rabu, 16 September 2009 22:10 WIB | Warta Bumi | Konservasi/Pelestarian |
Beruang dan Harimau Bengkulu Jadi Sasaran Perburuan
Harimau Sumatera/satwa langka/ilustrasi. (ANTARA/Widodo S. Jusuf)@

Bengkulu (ANTARA News) – Beruang madu dan Harimau menjadi sasaran perburuan liar yang dilakukan pemburu satwa langka di wilayah Provinsi Bengkulu.

Menurut Kepala Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA), Andi Basrul di Bengkulu, Rabu, kedua satwa itu dilindungi, meskipun populasinya di Bengkulu cukup banyak, dan berada di hutan lindung serta taman nasional setempat.

“Bengkulu merupakan wilayah yang dikelilingi hutan, yakni hutan lindung (HL), Taman Nasional Kerinci Seblat (TNKS), Taman Nasional Bukit Barisan Selatan (TNBBS), dan Pusat Latihan Gajah (PLG) Seblat,” katanya.

Andi mengatakan populasi satwa yang dilindungi tersebut masih dapat berkembang biak karena kawasan habitatnya tersedia dengan baik, dan ke depan ekosistem hutan tetap harus dijaga.

Satwa yang dilindungi itu berada di wilayah Kabupaten Bengkulu Utara, Mukomuko, Seluma, Bengkulu Selatan, Bengkulu Tengah, dan Kaur yang merupakan wilayah perburuan liar.

Pada 2009 tim gabungan dari Polres Bengkulu dan BKSDA mengamankan satu set harimau dan satu set beruang yang telah diawetkan beserta kepalanya.

Selain itu, menurut dia juga ditemukan 15 ekor trenggiling yang sudah mati, 674 ekor kumbang tanduk jenis titanas, dan burung elang. Seluruhnya sudah diamankan untuk diproses sesuai hukum yang berlaku.

Menurut dia, operasi rutin tersebut dilakukan setiap bulan dengan menggerahkan tim yang bertugas menyelidiki setiap ada laporan dan temuan di lapangan.

“Kota Bengkulu merupakan tempat penampungan dan penjualan, sedangkan di Kabupaten Bengkulu Utara dan Seluma menjadi tempat perburuan yang cukup dekat dengan hutan lindung Bukit Sanggul,” katanya.

Ia mengatakan operasi terhadap perburuan liar dan peredaran satwa yang dilindungi itu dilaksanakan bersama pihak terkait dan melibatkan warga masyarakat yang berada di dekat kawasan hutan.(*)

COPYRIGHT © 2009

19
Sep
09

Wisata Danau : Katinting (Perahu Motor) Danau Matano, Sulawesi Selatan

Galeri Foto


Penyeberangan Danau
Penyeberangan Danau
Sejumlah katinting (perahu motor) menunggu penumpang yang akan mudik melalui danau Matano di Soroako, Luwu Timur, Sulawesi Selatan (19/9). Jalur penyeberangan danau menggunakan katinting merupakan salah satu jalur trans Sulawesi penghubung antara Sulawesi Selatan dan Sulawesi Tengah. (ANTARA/Sahrul Manda Tikupadang)Disiarkan: Sabtu, 19 September 2009 14:58 WIB
19
Sep
09

Pasar Bebas Gagal Atasi Kemiskinan Dunia

Kemiskinan Dunia

Sabtu, 19 September 2009 15:19 WIB | Ekonomi & Bisnis | Makro |
Kupang (ANTARA News) – Guru Besar Universitas Nusa Cendana (Undana) Prof. Ir. Fredrik Lukas Benu, MSi, Ph.D mengemukakan kapitalisme dan radikalisme pasar bebas di era global telah gagal mengatasi persoalan kemiskinan yang meluas di dunia ketiga.

“Fenomena ini banyak berhubungan dengan kelangkaan bahan pangan di dunia dan kenaikan harga pangan yang mencapai di atas 50 persen,” kata Prof. Benu, dalam pidato pengukuhan sebagai guru besar ekonomi produksi Fakultas Pertanian Universitas Nusa Cendana (Undana) Kupang, di Kupang, Sabtu.

“Bagi saya, paling tidak ada tiga alasan mengapa kapitalisme dan radikalisme pasar bebas di era global gagal mengatasi persoalan kemiskinan,” katanya.

Alasan pertama, katanya, adalah hilangnya visi peran berimbang pemerintah. Banyak “deregulasi” (ketidak teraturan) yang dihasilkan akibat tekanan pasar global sebagai contoh nyata dari kekurangan visi pemerintah dalam mengatur mekanisme perimbangan dalam perdagangan bebas.

Dia mengatakan, “deregulasi” yang dilakukan di banyak negara berkembang, juga merupakan buah dari `palang pintu` utama kapitalisme yaitu Dana Moneter Internasional (IMF) dan Bank Dunia (World Bank) yang banyak memberikan saran terhadap resesi yang dialami negara-negara berkembang.

“Sejak awal, memang kita semua cukup menyadari bahwa tawaran bantuan IMF seperti `madu dan racun`, tetapi kita terpaksa harus `menelannya` karena ketidak mampuan menahan tekanan kapitalisme,” katanya.

Menurut dia, peran berimbang pemerintah sangat diperlukan dalam mengatur lalu lintas perdagangan, agar dapat berlangsung secara adil antarpelaku ekonomi di negara ini.

Namun, harus disadari bahwa mengharapkan adanya visi peran perimbangan pemerintah sendiri sangatlah tidak mungkin, karena kelemahan struktur pemerintahan di banyak negara dunia ketiga bahkan negara berkembang telah “tertawan” oleh radikalisme perdagangan bebas.

Bahkan dalam banyak kasus, katanya, justeru pemerintah berperan mendorong terjadinya ketimpangan sosial antarpelaku ekonomi.

“Lebih buruk lagi, bila ketimpangan yang terjadi akibat campur tangan pemerintah `yang salah` dibanding membiarkan pasar bekerja secara bebas,” katanya.

Di sinilah, lanjut Benu, pentingnya kehadiran instrumen lain khususnya dunia kampus yang diharapkan mampu memainkan peranan perimbangan.

“Kampus sendiri memang bukan instrumen penentu kebijakan, tetapi minimal dunia kampus dapat memainkan peranan sebagai `antecedent variable“ atau variabel perantara dalam penguatan instrumen kebijakan untuk mewujudkan visi perimbangan,” katanya.

Alasan kedua, menurutnya, adalah kurang adanya tanggungjawab sosial dari kaum kapitalis.

Menurut dia, penganut paham pasar bebas yang radikal memegang teguh asumsi klasik bahwa, jika setiap individu dibiarkan melakukan tindakan profit taking atau mengambil keuntungan tanpa adanya hambatan dari pihak manapun, khususnya pemerintah, maka efisiensi secara “agregat” akan terjadi dan kesejahteraan sosial pun akan tercipta dengan sendirinya.

“Paham pasar bebas ini salah besar karena kesejahteraan sosial tidak pernah terwujud, malah kesenjangan yang terjadi dan bahkan kesenjangan sosial ini semakin didorong pada era global,” katanya.

Benu berpendapat, kaum profit seeker akan melakukan cara apa pun untuk memperoleh keuntungan setinggi-tingginya.

“Bagi mereka, benar atau salah tidak menjadi masalah, ‘fair’ atau tidak urusan kedua, yang penting untung dan akhirnya kreasi efisiensi sosial sebagaimana yang diharapkan malah berbuah kesenjangan, kemiskinan, dan kemelaratan di berbagai belahan dunia,” kata Benu.

Alasan ketiga kapitalisme dan radikal gagal adalah peran kontraproduktif perbankan. “Hal ini bersangkut paut dengan sektor moneter global,” katanya. (*)

COPYRIGHT © 2009




Blog Stats

  • 3,064,489 hits

Recent Comments

Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Sejarah : Bangsa Lemuria, Lelu…
Ratu Adil - 666 on Sejarah : Bangsa Lemuria, Lelu…