Archive for the 'Jiwa Semangat Nilai-nilai 45' Category



18
Sep
09

Sidang Itsbat Digelar 19 September 2009

Sidang Itsbat 19 Sep

By Republika Newsroom
Jumat, 18 September 2009 pukul 12:04:00

Sidang Itsbat Digelar 19 SeptemberRIRISHANANIYYAH.FILES.WORDPRESS.COM

JAKARTA–Menteri Agama Muhammad Maftuh Basyuni dijadwalkan Sabtu (19/9) sore akan memimpin sidang Itsbat penetapan 1 Syawal 1430 H di Kantor Depag, Jakarta. Hal itu diungkapkan Direktur Urusan Agama, Dr.H.Rohadi Abdul Fatah, di Jakarta kemarin.

Menurut Rohadi Abdul Fatah, sidang Itsbat penetapan 1 Syawal 1430 H akan dihadiri perwakilan Ormas Islam, seperti Nahdlatul Ulama (NU), Muhammadiyah, Persis, Al Wasliyah, Al Irsyad, Tarbiyah Islamiyah, Persatuan Umat Islam (PUI) Majelis Ulama Indonesia (MUI), Dewan Dakwah Islam (DDI) dan Dewan Masjid Indonesia (DMI). Selain itu, akan hadir pula duta-duta besar negara-negara berpenduduk muslim.

Rohadi menambahkan, sidang itsbat juga dihadiri para pakar hisab-rukyat, dan instansi terkait seperti Lapan, Observatorium Bosscha ITB, Planetarium Jakarta, BMKG (Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika), serta Badan Koordinasi Survei dan Pemetaan Nasional (Bakosurtanal).

Penetapan awal Ramadhan akan dilakukan berdasarkan perhitungan hisab dan rukyah. ”Sama seperti tahun-tahun sebelumnya hampir di seluruh daerah melakukan ruyatul hilal,” papar Rohadi.

Bebarapa waktu lalu, menag menegaskan bahwa pemerintah juga memperkirakan Idul Fitri akan jatuh pada 20 September 2009. Namun kepastiannya akan disampaikan pemerintah setelah melakukan sidang itsbat pada hari Sabtu, 19 September 2009. ”Pemerintah berharap sama, tanggal 20 September juga. karena dari data terakhir hilal sudah di atas ufuk,” tutur Menag.

Hal yang bisa mengubah, menurut Maftuh, terjadinya mendung di sejumlah daerah yang menjadi patokan sehingga hilal tidak terlihat. ”Mudah-mudahan tidak ada hujan atau mendung sehingga Lebaran kita bisa sama-sama. Pemantauan kami nanti diperkuat dengan peralatan canggih dari Boscha dan LIPI,” tambahnya.

Smentara Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI), KH.Maruf Amin mengatakan, kemungkinan besar 1 Syawal jatuh pada Ahad, 20 September 2009. ”Karena hilal pada Sabtu malam sudah mencapai 3 derajat sampai 5 derajat,” ucapnya.

Menurut kiai Ma’ruf, kemungkinan juga tak ada perbedaan pelaksanaan hari raya Idul Fitri. ”Karena sudah di atas 2 derajat, kemungkinan semua akan menetapkan hari Ahad adalah hari raya. Kemungkinan tak ada perbedaan,” tambah kiai Ma’ruf. osa/rin

18
Sep
09

Wisata Sejarah : Jejak Mataram yang Terlupakan

KOMPAS/BAHANA PATRIA GUPTA
Suasana di Kecamatan Petanahan, Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah, Senin (7/9). Kecamatan tersebut terletak di jalur alternatif lintas selatan-selatan yang merupakan salah satu jalur penghubung kota-kota besar di selatan Pulau Jawa.

Jejak Mataram yang Terlupakan

KOMPAS, Kamis, 17 September 2009 | 03:16 WIB

Oleh  M Burhanudin

Panas sinar matahari menerpa deretan Pasar Petanahan di Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah, Senin (7/9) siang, itu. Di antara deretan toko kelontong dan pasar swalayan mini terselip bangunan toko-toko tua, yang seolah bercerita tentang jejak masa lalu tempat ini.

Petanahan terletak di jalur alternatif lintas selatan- selatan Jawa Tengah. Melalui jalur ini, pemudik bisa menghindari kemacetan akibat pelintasan KA dan sempitnya jalan di jalur utama selatan.

Bus-bus jarak jauh jurusan Jakarta-Yogyakarta biasa menggunakan jalur ini untuk menghindari antrean panjang kendaraan di jalur Kebumen-Kutoarjo.

Dari Petanahan, jalur lintas selatan-selatan membentang lurus, melewati kawasan pantai selatan hingga ke Wates, DI Yogyakarta.

Jalan cukup untuk berpapasan dua bus besar, tetapi sebagian masih berlapis aspal kasar dan bergelombang. Begitu memasuki wilayah DI Yogyakarta, jalan sempit ini menjelma menjadi jalan empat lajur selebar 24 meter beraspal mulus.

Sekilas, tak ada yang istimewa dari pusat ”kota” Petanahan. Namun, tempat ini menyimpan kisah sejarah yang telah terlupakan. ”Pasar Petanahan ini sudah sangat lama, sejak zaman Belanda,” ujar Ahmad Zaenuri (30), pedagang pisau di pasar tersebut.

Warga Petanahan hampir semuanya tahu bahwa deretan bangunan tua yang bagian depannya difungsikan sebagai toko dan belakang sebagai rumah itu milik orang-orang keturunan bangsawan asal Yogyakarta. ”Warga sini banyak yang leluhurnya dulu orang Yogyakarta. Kalau yang keturunan bangsawan, biasanya punya gelar nganten atau raden,” kata Zaenuri.

Sejarawan Banyumas, Budiono Herusatoto, dalam bukunya Banyumas (2008) mengatakan, para bangsawan asal Yogyakarta itu datang sejak zaman Sultan Agung (1613-1645) dari Mataram Islam hingga masa Perang Diponegoro (1825-1830). Ada di antara mereka yang berstatus sebagai kerabat keraton, abdi dalem, prajurit, hingga orang biasa.

Petanahan sekarang memang berada di jalur alternatif. Namun, jalur ini dulunya justru jalur utama zaman Mataram Islam. Sultan Agung pun melalui jalur ini saat menyerang VOC di Batavia tahun 1629.

Pangeran Diponegoro juga menggunakan wilayah Kebumen selatan ini sebagai basis perjuangan gerilyanya, termasuk untuk perekrutan personel. Jejak sepak terjang Diponegoro, dalam bentuk jalan- jalan setapak, masih dapat dilihat apabila menyusuri jalur Petanahan ini ke timur hingga ke wilayah Ambal.

Wisata pantai

Jalur alternatif juga menawarkan wisata pantai selatan dengan pesona ombak yang menggelora. Sekitar dua kilometer ke arah selatan Pasar Petanahan terdapat kawasan wisata Pantai Petanahan.

Sejak tahun 1982, Pantai Petanahan telah dikembangkan sebagai obyek wisata, lengkap dengan berbagai sarana pendukung, seperti warung makan, tempat bermain anak, sampai kolam renang air tawar untuk bilas.

Pantainya sendiri masih asli, membentang lepas sepanjang sekitar lima kilometer. Pada masa bulan muda, ombaknya bisa mencapai tinggi delapan meter. Itu sebabnya, berenang di pantai akan sangat berbahaya.

18
Sep
09

GASAKNAS : Tim Pembela KPK Laporkan Komjen SD ke Kompolnas

Tim Pembela KPK Laporkan Komjen SD ke Kompolnas
Jumat, 18 September 2009 | 19:16 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — Tim Pembela Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) melaporkan Kepala Badan Reserse Kriminal (Kabareskrim) Mabes Polri Komjen Susno Duadji ke Komisi Kepolisian Nasional (Kompolnas).

“Kami melihat ada konflik kepentingan dalam penanganan kasus pimpinan KPK,” kata Juru Bicara Tim Pembela KPK, Bambang Widjojanto, di Gedung Kompolnas, Jakarta, Jumat (18/9).

Seperti diberitakan, dua pimpinan KPK, Chandra M Hamzah dan Bibit Samad Rianto, ditetapkan sebagai tersangka oleh Mabes Polri. Mereka diduga menyalahgunakan wewenang dalam penerbitan dan pencabutan status pencegahan terhadap pengusaha Djojo Tjandra, serta pencegahan pengusaha Anggoro Widjojo.

Bambang Widjojanto menjelaskan, konflik kepentingan yang dialami Susno diawali ketika dirinya mengetahui bahwa dia terkait dengan penanganan kasus Bank Century yang sedang ditangani oleh KPK.

Bahkan, Bambang menjelaskan, ada dugaan pihak kepolisian sudah menetapkan status pimpinan KPK, meski belum memiliki bukti yang cukup. “Jadi, bukti belum kuat lalu didorong dan targetnya (pimpinan KPK) jadi tersangka supaya diberhentikan sementara,” kata Bambang.

Dia mengatakan, rencana sistematis itu disebut sebagai upaya untuk menjadikan pimpinan KPK sebagai target operasi (TO) sejak awal. “Itu yang dimaksud TO,” kata Bambang.

Bambang juga menjelaskan, Bareskrim di bawah kepemimpinan Susno juga terkesan mencari-cari kesalahan pimpinan KPK. Hal itu bisa dilihat dari kasus yang disangkakan kepada pimpinan KPK selalu berganti-ganti. Perubahan itu disebabkan kasus yang disangkakan kepada pimpinan KPK tidak terbukti.

Dalam laporannya, Tim Pembela KPK menyertakan sejumlah bukti dugaan konflik kepentingan dan sejumlah pelanggaran prosedur yang dilakukan oleh Kabareskrim dalam menangani kasus yang menyeret pimpinan KPK.

Laporan itu diterima oleh Sekretaris Kompolnas, Adnan Pandu Praja. Pandu  menyatakan, Kompolnas akan segera menindaklanjuti laporan tersebut. “Kami akan segera mengklarifikasi laporan ini kepada pihak-pihak terkait,” kata Pandu.

Klarifikasi itu akan dilakukan dengan upaya meminta keterangan kepada pihak yang menjadi pelapor dan terlapor. Pandu mengusulkan, Tim Pembela KPK juga melaporkan hal itu kepada Inspektorat Pengawasan Umum (Irwasum) Polri sehingga proses pengusutan terhadap Kabareskrim bisa lebih menyeluruh.


KSP
Sumber : Antara

SUARA PEMBARUAN

ZOOM2009-09-18Penyalahgunaan Wewenang, KPK vs Polri?
Indriyanto Seno Adji

Polemik di antara penegak hukum bukan merupakan wacana baru dalam pembaruan hukum. Hong Kong, Italia, Rusia, dan negara-negara lainnya mengalami hal yang sama manakala pembaruan hukum diikuti perubahan legislasi atas kewenangan lembaga penegak hukum.

Di Indonesia, beberapa waktu lalu, proses hukum antara KPK dan MA, KPK dan BPK, KPK dan Kejaksaan Agung, KPK dan BPKP, serta KPK dan DPR dianggap sebagai rivalitas kelembagaan. Padahal, kesemuanya ini memiliki intensitas masalah masing-masing. Pengamat hukum dan politik pun memberikan warna argumen hukum yang kadangkala membuat bingung publik, sehingga antara euforia dan fobia penegakan hukum menjadi rancu.

Sekarang, penyidikan Polri terhadap KPK atas dugaan Pasal 23 UU Tipikor jo Pasal 421 KUHP tentang penyalahgunaan wewenang oleh pimpinan KPK dianggap pula sebagai rivalitas dan usaha melumpuhkan KPK. Padahal, tindakan kepolisian berupa penyidikan merupakan sesuatu yang wajar dalam proses hukum, sama halnya proses hukum penyidikan KPK terhadap lembaga negara di atas tersebut. Semua proses hukum ini dilandasi prinsip negara hukum, yaitu adanya kesamaan di hadapan hukum dan tidak ada imunitas hukum atas pribadi dan kelembagaan negara.

Aturan mengenai penyalahgunaan pada Pasal 23 UU Tipikor mengadopsi Pasal 421 KUHP. Pasal ini sebenarnya berlaku bagi penyelenggaran negara, termasuk penegak hukum, seperti: jaksa, polisi, dan KPK. Ketentuan ini merupakan kontrol terhadap perlindungan hak asasi manusia (saksi, korban, tersangka) dari tindakan penegak hukum yang sewenang-wenang ataupun yang melampaui wewenang. Kita memahami bahwa sebagai institusi penegak hukum dalam sistem ketatanegaraan yang baru, KPK memiliki prasarana dan sarana hukum dengan tingkat kewenangan sangat luar biasa atau extraordinary power, yang tidak dimiliki oleh institusi lainnya.

Oleh karena itu, menjadi wajar apabila masyarakat memiliki harapan berlebihan searah dengan kewenangan yang luar biasa dari KPK. Dengan wewenang luar biasa yang dimiliki KPK, diharapkan pula, segala bentuk, cara, dan aplikasi korupsi dapat dijadikan suatu bagian dari tatanan pemberantasan korupsi. Namun, wewenang luar biasa yang dimiliki KPK haruslah diselaraskan dengan tata cara norma legislasi mengingat lembaga negara ini memiliki hubungan esensial sebagai institusi penegak hukum dari sistem peradilan pidana.

Dengan wewenang luar biasa, Pasal 23 UU Tipikor (Pasal 421 KUHP) sebagai norma hukum, memberikan kontrol terhadap penggunaan wewenang dari penegak hukum yang dapat saja merugikan masyarakat, saksi/korban, dan tersangka.

Bersikap Bijak

Penyalahgunaan wewenang diartikan bahwa penegak hukum memiliki kewenangan, tapi menggunakan kewenangannya secara menyimpang atau tidak memiliki kewenangan, tetapi bertindak seolah punya wewenang dan menggunakan wewenang dengan melanggar prosedur meskipun tujuan tercapai.

Makna penyalahgunaan wewenang ini yang dijadikan parameter ada-tidaknya dugaan pelanggaran oleh pimpinan KPK. Jadi, seharusnya pengamat dan aktivis bersikap bijak dengan memberikan kesempatan kepada polri melakukan proses hukum terhadap siapa pun yang diduga menyalahgunakan wewenang, termasuk KPK. Harus diingat, Pasal 23 UU Tipikor ini berlaku tidak saja terhadap KPK, juga kejaksaan dan Polri atau aparatur negara lainnya, yang menyalahgunakan wewenang dalam menjalankan tugasnya . .

Perbedaan pendapat di kalangan pengamat hukum dan aktivis, akademisi dan praktisi, baik yang pro maupun kontra mengenai penyidikan pimpinan KPK, haruslah dianggap sebagai wacana demokratisasi yang menghargai perbedaan opini. Akan menjadi bijak apabila KPK tidak memahami kewenangan Polri dalam konsep kekuasaan, karena opini yang demikian akan menimbulkan kekuasaan otoriter yang permisif, seolah-olah KPK lembaga imunitas penegakan hukum.

Proses hukum seharusnya dihargai agar dogma penegakan hukum dari judge made law menjadi pilar yang menentukan kebenaran tidaknya proses hukum Polri terhadap KPK. Sikap bijak ditunjukkan lembaga negara yang pernah diproses KPK, seperti Mahkamah Agung, DPR, dan Kejaksaan Agung. Sebaliknya, resistensi pemeriksaan pimpinan KPK justru menimbulkan kesan lembaga KPK tidak transparan, akuntabilitas, dan tidak apresiatif terhadap penegakan hukum. Dan hal ini, tidak diharapkan publik yang percaya sisi integritas KPK dalam pemberantasan korupsi.

Penulis adalah Pengajar Program Pascasarjana UI Bidang Studi Ilmu Hukum

SUARA PEMBARUAN

2009-09-18KPK Masih Dapat Berperan
[JAKARTA] Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dinilai dapat tetap menjalankan fungsi dan kewenangannya dalam memerangi korupsi, meskipun dua Wakil Ketua KPK, yakni Chandra M Hamzah dan Bibid Samad Rianto tersandung kasus dugaan penyalahgunaan wewenang dan telah ditetapkan sebagai tersangka.

“Dengan dua pimpinan KPK yang ada saat ini, saya kira tidak akan melemahkan kinerja KPK. Mereka tetap bisa menjalankan fungsi dan kewenangannya, termasuk mengambil keputusan bila diperlukan,” ujar Ketua Dewan Eksekutif Transparency International Indonesia Todung Mulya Lubis di Jakarta, Kamis (17/9).

Artinya, tanpa ketua sekalipun, KPK dapat tetap berperan. Bahkan, dia menegaskan, tidak ada urgensi untuk mencari ketua baru menggantikan Ketua KPK non-aktif Antasari Azhar yang terlebih dahulu terseret kasus hukum.

Menurut Todung, KPK perlu melakukan perlawanan terhadap serangan institusional kepolisian. Perlawanan yang dimaksud tentu harus berdasarkan hukum, misalnya dengan menolak tuntutan penyalahgunaan kewenangan yang dituduhkan kepada dua pimpinan KPK.

“Kalau penyalahgunaan kewenangan dapat dikriminalkan, saya kira, tidak ada satu pejabat pun yang mau duduk di kursi kepemimpinan KPK. Coba dilihat lagi, mana yang menjadi kewenangan KPK dan kepolisian,” katanya.

Koordinator Masyarakat Cinta KPK yang juga Ketua Umum Partai Buruh Mukhtar Pakpahan mengatakan, saat ini media dan masyarakat telah membuktikan dukungan dan pembelaan terhadap lembaga pembasmi korupsi itu.

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) akan mengangkat pelaksana tugas pimpinan KPK. Penunjukan itu sambil menunggu keputusan yang berkekuatan hukum tetap atas para pimpinan KPK. Penetapan pelaksana tugas pimpinan KPK itu akan dilakukan dengan menerbitkan peraturan pemerintah pengganti undang-undang (perppu) dalam waktu dekat. Para pelaksana tugas pimpinan KPK itu bertugas memperkuat dua pimpinan KPK yang tersisa saat ini.

Dikatakan, rencana penerbitan perppu terkait pergantian pimpinan KPK itu sudah dikonsultasikan dengan Ketua DPR Agung Laksono, Ketua Mahkamah Konstitusi Mahfud MD, dan Ketua MA Arifin A Tumpa. Menurut mereka, usulan menerbitkan perppu adalah langkah yang tepat.

Staf Khusus Presiden bidang Hukum Denny Indrayana menjelaskan, pelaksana tugas (plt) pimpinan KPK yang akan diangkat Presiden melalui perppu bersifat sementara.

“Tujuannya adalah mengisi sementara saja posisi-posisi pimpinan yang sekarang sedang menjalani proses hukum agar target-target pemberantasan korupsi oleh KPK tetap berjalan efektif,” katanya.

Dikatakan, tiga pelaksana tugas sementara pimpinan KPK yang diangkat itu nantinya hanya menjalankan tugas sementara saja sampai pimpinan KPK yang berstatus tersangka kembali aktif. Pelaksana tugas sementara pimpinan KPK itu juga dapat bekerja sampai proses seleksi pemilihan pimpinan KPK selesai. [C-4/A-21]

18
Sep
09

Pertanian Organik : Jadi Penting

Pertanian Organik Jadi Penting
Harus Menjadi Idealisme Para Petani

Jumat, 18 September 2009 | 04:54 WIB

Jakarta, Kompas – Perkuliahan pertanian organik di sejumlah perguruan tinggi di Indonesia, terutama di program sarjana, masih sebatas pengenalan. Meskipun baru sebatas mata kuliah, pertanian organik mulai dianggap penting untuk dikembangkan akademisi dan ilmuwan.

”Pertanian organik itu kan masih jadi tren saat ini. Kepada mahasiswa S-1, kami berikan opsi pilihan dalam mata kuliah sehingga ketika terjun di masyarakat nanti mereka bisa melihat, pertanian organik atau anorganik yang mestinya dikembangkan. Jika di program sarjana ada yang langsung dispesifikasikan ke pertanian organik, kasihan mereka. Kita kan belum tahu peluang kerjanya. Program S-1 pertanian masih secara umum,” ujar Rektor Universitas Mataram Mansur Ma’shum yang dihubungi dari Jakarta, Kamis (17/9).

Perkuliahan pertanian di perguruan tinggi kini menghadapi tantangan turunnya peminat. Untuk mengatasi hal itu, jurusan pertanian, pendidikan pertanian difokuskan pada dua bidang, yakni agroteknologi/agro-ekoteknologi dan agribisnis.

Menurut Mansur, kalangan perguruan tinggi tak mau terburu-buru memasang kacamata kuda kepada mahasiswa bahwa pertanian organik mesti diutamakan. Pola pikir ke pertanian organik tidak bisa dipaksakan.

”Para pengajar dalam ilmu hama, tanah, kesuburan, misalnya, bisa memperkenalkan pentingnya pemakaian zat-zat organik dibandingkan dengan yang anorganik. Di sini pola pertanian organik bisa dimasukkan sebagai pilihan. Kelebihan-kelebihan pertanian organik diperkenalkan. Ketika pertanian organik sudah mulai diterima dan diminati, mahasiswa bisa memilih yang akan dikembangkan,” kata Mansur.

Gerakan pertanian organik mestinya bukan sekadar perubahan teknik bertani ke bahan alam. Gerakan ini harus menjadi idealisme para petani dan masyarakat untuk memutus ketergantungan pada produk-produk kimia yang umumnya dihasilkan dari luar.

Menurut Mansur, yang juga guru besar Ilmu Tanah, di program pascasarjana untuk S-2 dan doktor, kajian pertanian organik sebagai tesis dan disertasi mulai diminati. ”Ada kesadaran bisa memakai bahan-bahan alami ramah lingkungan untuk ke depan,” kata Mansur.

Wakil Rektor Bidang Akademik dan Kemahasiswaan Institut Pertanian Bogor Yonny Koesmaryono mengatakan, untuk menjadikan pertanian organik sebagai suatu bidang studi sendiri perlu kajian matang. Minat dari kalangan mahasiswa belum terlihat signifikan. ”Namun, IPB telah mengembangkan laboratorium pertanian organik,” katanya.

Menurut dia, pengembangan pertanian organik memerlukan kemauan politik pemerintah untuk membuat kebijakan yang bisa dilaksanakan bersama-sama dan berkesinambungan. (ELN)

KOMPAS/HERU SRI KUMORO
Pekerja mengemas pupuk cair organik dalam botol 1 liter di pabrik PT Sang Hyang Seri (Persero) di Dusun Lusah, Desa Prawatan, Kecamatan Jogonalan, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah, awal Juni lalu. Kapasitas produksi di pabrik ini mencapai 65.000 liter per bulan.

Mitos Organik dalam Era Pertanian Modern

KOMPAS, Jumat, 18 September 2009 | 02:54 WIB

Oleh Didiek Hadjar Goenadi

Impian petani dan pendukung kaum tani di dalam melepaskan diri dari jeratan teknologi kapitalis tampak akan terpenuhi dengan mulai maraknya praktik pertanian dengan input produksi organik.

Di tengah optimisme dan semangat mewujudkan impian tersebut, kekhawatiran muncul bahwa mimpi tersebut akan tetap menjadi mimpi ketika terlalu besar harapan, yang kemudian memunculkan mitos.

Tanpa perhatian yang penuh, mitos ini akan menisbikan program bantuan pemerintah kepada petani, khususnya ketika pasar tidak melihat upaya ini sesuatu yang pantas mendapat premi.

Departemen Pertanian Amerika Serikat pada 1997 mendefinisikan pertanian organik sebagai sebuah sistem manajemen produksi berbasis agroekologi yang memacu dan mendorong keanekaragaman hayati, siklus biologi, dan aktivitas biologi tanah.

Praktiknya adalah penggunaan input luar-lahan minimal dan upaya memperkaya, mempertahankan, serta meningkatkan keharmonisan ekologi. Menurut Organisasi Pangan Dunia (FAO), tujuan utamanya adalah mengoptimalkan kesehatan dan produktivitas dari komunitas yang saling berketergantungan antara kehidupan dalam tanah, hewan, dan manusia.

Klaim atau doktrin yang banyak dianut oleh pelaku paham pertanian organik adalah bahwa organik lebih sehat daripada input kimia seolah ingin memanfaatkan momentum prevalensi pasar yang menuntut bahan makanan yang tidak mengandung unsur-unsur pemicu penyakit serius.

Dalam beberapa tahun terakhir pikiran konsumen secara sukarela dibawa oleh doktrin tersebut walaupun ada banyak kejanggalan dalam logika berpikir para penganut aliran pertanian organik.

Bukti sukses

Sebuah penelitian jangka panjang di Universitas Cornell memberikan gambaran menakjubkan tentang hasil pengamatan selama 22 tahun. Dibuktikan bahwa secara keseluruhan produksi jagung dan kedelai dari perlakuan pertanian organik relatif sama dengan pertanian konvensional yang menggunakan pupuk kimia buatan.

Keuntungannya adalah bahwa pertanian organik menghemat konsumsi energi (bahan bakar minyak) sebesar 30 persen, menahan air lebih lama di musim kering, dan tidak memerlukan pestisida. Namun, hasil yang diperoleh pada empat tahun pertama produksinya 33 persen lebih rendah daripada perlakuan konvensional.

Setelah bahan organik terkumpul di dalam tanah, sejak tahun kelima produksinya mulai sama atau lebih tinggi daripada konvensional, terutama karena lebih tahan selama musim kering.

Dilaporkan pula bahwa pertanian organik mampu menyerap dan menahan karbon (C) sehingga sangat bermanfaat dalam mitigasi pemanasan global. Kandungan bahan organik tanah naik 15-28 persen yang setara dengan 1.500 kilogram CO dari udara.

Walaupun biaya produksi pada sistem pertanian organik 15 persen lebih tinggi daripada konvensional, dengan harga yang cukup baik pada tanaman sereal kenaikan ini tidak terlalu menjadi masalah. Sebaliknya, sistem pertanian organik tidak mampu memberikan keuntungan untuk tanaman anggur, apel, ceri, dan umbi-umbian.

Beberapa keberhasilan sejenis juga dilaporkan di Afrika, India, dan China. Namun, hasil-hasil tersebut masih menimbulkan pro dan kontra, terutama dari para ahli ilmu tanah yang tidak bisa menerima alasan bahwa hal tersebut semata-mata akibat organik versus kimia.

Mitos pertanian organik

Keberhasilan input organik dengan menggeser peran input kimia sebagai sebuah monumen inovasi dari Revolusi Hijau 60 tahun yang lalu semula dipandang sebelah mata oleh para ilmuwan ilmu tanah yang memahami dengan baik hubungan tanah dengan tanaman.

Namun, ketika gejala yang berkembang, khususnya di Amerika Serikat, makin mengkhawatirkan, beberapa pendapat mulai bermunculan. Salah satunya adalah yang diuraikan oleh Throckmorton (2007), seorang dekan dari Kansas State College.

Keberatannya terhadap doktrin pertanian organik adalah bahwa tidak mungkin peran pupuk kimia digantikan sepenuhnya oleh pupuk organik. Pertama, jika hal itu mungkin, dunia akan kekurangan biomassa untuk produksi pupuk organik karena dosisnya luar biasa besarnya.

Kedua, tanaman tidak hanya ditentukan oleh humus saja, tetapi oleh faktor-faktor lain seperti bahan organik aktif, nutrisi mineral tersedia, aktivitas mikroba tanah, aktivitas kimia dalam larutan tanah, dan kondisi fisik tanah.

Bahan organik tanah memang sering disebut sebagai ”nyawa dari tanah” sebagai ekspresi dari perannya mendukung aktivitas mikroba tanah. Peran lain dari bahan ini memang diakui penting, tetapi bukan satu-satunya, dalam pelarutan hara, pembenah tanah, dan kapasitas menahan air.

Fakta lain adalah bahwa bahan organik mengandung nutrisi tanaman sangat kecil. Klaim bahwa nutrisi asal bahan organik (kompos, pupuk organik) lebih ”alami” dibandingkan asal pupuk kimia sangat tidak masuk akal, apalagi dihubungkan dengan kesehatan manusia.

Bukti empiris menunjukkan bahwa pada tanah organik (kadar bahan organik sangat tinggi) percobaan gandum, kentang, dan kubis di Amerika Serikat pada yang dipupuk

kimia buatan mencapai 5-54 kali lebih besar daripada yang tidak dipupuk kimia. Satu bukti lain bahwa organik bukan satu-satunya unsur utama dalam produksi tanaman adalah pada sistem hidroponik.

Kebijakan pemerintah, seperti Go Organic 2010, penerbitan SNI Sistem Pangan Organik (01-6729-2002), dan subsidi pupuk organik merupakan langkah-langkah konkret yang perlu diawasi implementasinya. Di samping itu, pertimbangan yang mendalam perlu dilakukan dengan memerhatikan dampak krisis keuangan 2008.

Daya beli masyarakat menurun, seperti yang dilaporkan di Inggris, berdampak stagnasi pada pertumbuhan produk pertanian organik pada tingkat 2 persen. Konsumen yang mengutamakan rupa daripada rasa juga tidak mudah berubah ke produk organik.

Di sisi lain, kemampuan produksi input organik untuk menopang produktivitas pangan yang dibutuhkan jauh dari memadai akibat keterbatasan dan terpencarnya bahan baku. Untuk itu, mitos-mitos yang terkait dengan produk organik harus dihapus dan diberikan pemahaman yang benar kepada petani.

Kombinasi optimal antara input anorganik dan organik akan mampu memenuhi persyaratan berbagai pihak, baik teknis, ekonomi, lingkungan, maupun kesehatan konsumen.

Didiek Hadjar Goenadi Anggota Bidang Agribisnis- Komite Penanaman Modal, BKPM, dan Ketua Umun Asosiasi Inventor Indonesia

KOMPAS/HERU SRI KUMORO
Petani memupuk tanaman bawang di areal pertanian yang curam di Desa Gondosuli, Kecamatan Tawangmangu, Karanganyar, Jawa Tengah, Kamis (3/9). Meski jumlahnya belum banyak, petani di wilayah ini mulai menggunakan pupuk organik untuk menyuburkan tanaman yang sebagian besar berupa sayuran.

PUPUK
Pembajakan Gerakan Organik?

KOMPAS, Jumat, 18 September 2009 | 02:53 WIB

Oleh Ahmad Arif

Mereka yang dulu merusak unsur hara tanah dengan pupuk kimia kini berlomba memproduksi pupuk organik. Sebuah pertobatan atau bentuk lain dari strategi pemasaran belaka yang ujungnya hanya akan membuat petani bergantung pada input pertanian dari luar?

elihat peluang pasar organik yang terbuka lebar, perusahaan-perusahaan besar yang dulu bermain di sektor pupuk kimia kini masuk ke pasar yang baru terbuka ini. Misalnya, PT Pupuk Kalimantan Timur telah membangun pabrik pupuk organik berkapasitas 3.600 ton per tahun di Banyuwangi, Jawa Timur. Pupuk mereka diberi merek Zeorganik. Ke depan, mereka menargetkan bisa memproduksi pupuk organik hingga 10.000 ton per tahun.

PT Pupuk Sriwijaya (Pusri) juga mengembangkan pupuk organik yang diberi nama Pusri Plus. Mereka mengklaim produknya berfungsi untuk memperbaiki tekstur dan struktur tanah karena mengandung bahan tambahan berupa strain mikroba, hayati yang berfungsi sebagai fiksasi nitrogen serta pelarut fosfor dan kalium.

Setelah membangun pabrik pupuk organik di Palembang tahun 2005, Pusri baru-baru ini juga membangun pabrik di Cianjur, Jawa Barat, di Lumajang, Jawa Timur, dan di Sragen, Jawa Tengah. Masing-masing pabrik mampu memproduksi hingga 3.000 ton per tahun.

Adapun Petrokimia Gresik telah memiliki 40 pabrik pupuk organik bermerek Petroganik dengan total kapasitas 400.000 ton per tahun, yang sebagian besar berlokasi di Jawa. Petrogres juga sedang membangun 33 pabrik di beberapa daerah, antara lain di Jawa Timur, Jawa Barat, Jawa Tengah, Lampung, Bali, dan Nusa Tenggara Barat.

Tak hanya pemain besar, bisnis pupuk organik juga dilakukan pemain-pemain kecil dan menengah. Bahkan, sejumlah pemain menggunakan sistem multilevel marketing untuk menembus rumah tangga petani, misalnya NASA dari Yogyakarta.

Pupuk adalah bisnis yang menjanjikan. Berdasarkan data Asosiasi Produsen Pupuk Indonesia, konsumsi urea nasional pada 2008 mencapai 5.699.951 ton, TSP sebesar 585.883 ton, ZA sebanyak 775.983 ton, dan NPK sebesar 1.175.027 ton.

Belum ada data pasti kebutuhan pupuk organik secara nasional. Namun, seiring dengan semakin meningkatnya kesadaran petani menuju organik dan gerakan Go Organik 2010 dari pemerintah, prospek ke depan tentunya sangat menjanjikan.

Apalagi awal bulan ini Komisi IV DPR telah menyetujui alokasi anggaran Rp 6,2 triliun untuk pengembangan pupuk organik yang diusulkan Departemen Pertanian. Alokasi anggaran ini digunakan untuk menutup kebutuhan pupuk anorganik tahun 2010 yang akan dikurangi subsidinya.

Benarkah ini menjadi angin segar bagi gerakan pertanian organik di Indonesia?

”Narkoba” jenis baru

”Kalau saya tidak akan mau membeli pupuk organik dari pabrik. Kalau bisa membuat sendiri dengan gampang dan gratis, kenapa harus beli?” kata W Riyanto, petani organik di Klaten.

Menurut Riyanto, pupuk organik pabrikan hanya akan membuat petani bergantung pada pihak luar. ”Itu seperti narkoba jenis baru. Seolah-olah baik, tapi tetap saja akan membuat kecanduan,” katanya. ”Petani memiliki semua bahan untuk dijadikan pupuk sendiri. Kemandirianlah yang dibutuhkan petani,” lanjutnya.

Direktur Cindelaras Fransiscus Wahono menyebutkan, gejala masuknya pemain-pemain besar dalam bisnis pupuk organik adalah upaya pembajakan terhadap gerakan organik. ”Ini adalah penyelewengan konsep dasar pertanian organik,” katanya.

Menurut Wahono, pertanian organik tidak hanya untuk memperbaiki struktur tanah dan menjaga keseimbangan alam, tetapi juga gerakan untuk membuat petani merdeka dari ketergantungan input pertanian.

Pertanian organik atau konvensional adalah pilihan teknologi, tetapi struktur pertanian organik jauh lebih besar dari itu. ”Organik adalah bagian dari gerakan kedaulatan pangan yang komponen dasarnya adalah reformasi agraria karena tanpa ada lahan yang memadai, petani organik tak akan mampu menguasai pasar,” ujarnya.

Selain itu, aspek lain yang harus dipersiapkan adalah memberikan akses modal kepada petani, kemandirian benih, teknik tanam dan pemeliharaan alami, pemrosesan hasil, hingga tata niaga yang adil.

Kesatuan konsep ini, menurut Wahono, yang tidak dipahami oleh pemerintah sehingga ketika kemudian pemerintah meluncurkan Go Organik 2010, yang mereka lakukan adalah banyak membuat proyek pelatihan kepada petani sambil mempromosikan pupuk organik bersubsidi buatan pabrik.

Enday, petani organik dari Garut, Jawa Barat, mengatakan, pelatihan organik kepada petani biasanya disisipi dengan promosi pupuk organik tertentu yang siap pakai. ”Kalau memang mau mendidik petani, kenapa tidak mengajari mereka membuat pupuk dan memberi modalnya juga?” kata Enday yang pernah menjadi pendamping proyek pemerintah untuk organik di wilayah Garut.

”Daripada menyubsidi pabrik untuk memproduksi pupuk organik, kenapa tidak pabriknya saja yang diberikan kepada petani? Sapi itu, lho, pabrik pupuk organik,” kata TO Suprapto, praktisi organik dari Godean, Yogyakarta.

Sikap pemerintah untuk beralih ke pupuk organik sepertinya juga masih setengah hati. Dengan melonjaknya harga minyak dunia, biaya untuk menyubsidi pupuk kimia akan semakin tinggi. Menteri Pertanian Anton Apriyantono, dalam rapat kerja dengan Komisi IV DPR, Rabu (2/9), mengatakan, jika semua kebutuhan pupuk kimia dipenuhi, dibutuhkan anggaran subsidi sebesar Rp 24 triliun.

Oleh karena itu, pemerintah bermaksud mengembangkan pupuk organik sebagai substitusi pupuk anorganik. Seiring dengan itu, subsidi untuk pupuk anorganik 2010 diturunkan menjadi Rp 11,3 triliun dari tahun sebelumnya Rp 17,5 triliun. Selisih subsidi sebanyak Rp 6,2 triliun akan dialihkan ke pupuk organik.

Wahono menambahkan, produsen besar tersebut boleh-boleh saja memproduksi pupuk organik. Tetapi sebaiknya mereka mengorientasikan produknya untuk perusahaan-perusahaan perkebunan besar, bukan untuk petani skala kecil, yang membutuhkan gerakan kembali ke organik sebagai gerakan ekonomi untuk mengurangi ketergantungan input pertanian dari luar.

Jika petani tetap dipaksa untuk menggunakan input pertanian dari luar, ini merupakan bentuk lain dari upaya memangkas kedaulatan petani. Dan, gerakan pertanian organik hanya akan menguntungkan para pebisnis, tetapi tak mengubah nasib petani menjadi lebih baik dan merdeka.

KOMPAS/AHMAD ARIF
Susanne Ponke, pekerja di desa pertanian Brodowin, Jerman, mengelus anakan sapi dengan lembut. Dia seolah mendemonstrasikan bagaimana Brodowin memperlakukan sapi-sapinya, tak hanya sebagai perahan, tetapi juga kawan. Sebab, narasi tentang organik mengharuskan hal itu.

Narasi tentang “Bio” dari Brodowin

KOMPAS, ,Jumat, 18 September 2009 | 02:52 WIB

Teknik pertanian organik telah membawa sukses kelompok petani di Oekodorf Brodowin, Jerman. Dipadu dengan sistem penjualan langsung ke konsumen dan dikemas dalam jalinan narasi besar bahwa produk organik itu sehat dan perlu, mereka menerobos pasar.

Pagi itu rinai hujan membasahi hamparan rumput menghijau. Angin dingin menusuk. Desa Brodowin tetap bernapas dengan gairah. Suara lenguh sapi berbaur dengan deru traktor. Di sudut lain suara bising berasal dari mesin pengolahan susu dan keju.

Di kafe kecil nan asri, terlindung dari kandang sapi dan pabrik, dua perempuan muda dengan senyum ramah menyiapkan segelas susu ”bio” hangat—di Jerman istilah ”bio” untuk menunjukkan produk organik—irisan keju yang juga bio, atau kalau mau bisa ditambah madu yang juga bio. ”Genießen sie ihre mahlzeit, Herr,” kata sang pelayan mempersilakan mencicipi segelas susu itu.

”Semua produk di sini bio. Sebagian besar ditanam dan diolah sendiri, yang lain dari rekanan yang dibeli dengan sistem perdagangan yang adil (fair trade),” kata Susanne Ponke, karyawan bagian pemasaran.

Brodowin, yang terletak sekitar 70 kilometer dari Berlin, Jerman, tak hanya ladang pertanian dan peternakan seluas 1.200 hektar, tetapi juga pabrik pengolah hasil pertanian, toko yang menjual produk organik, desa wisata, kawasan konservasi, hingga tempat penelitian kalangan akademis tentang keanekaragaman hayati. Dan, lebih dari itu, petani telah menjadi tuan di atas tanahnya sendiri.

Brodowin dirintis pada tahun 1990 oleh para petani yang memperoleh kembali hak atas lahannya setelah penyatuan Jerman Barat-Jerman Timur. Sebelumnya, lahan itu dikuasai oleh Pemerintah Jerman Timur yang menerapkan sistem sosialis. ”Begitu dikembalikan kepada petani, mereka sepakat untuk membentuk kelompok tani dan memulai sistem pertanian organik,” kata Susanne.

Mengapa memilih organik?

Susanne mengatakan, ”Daerah ini hanya menerima sedikit hujan. Saat dikembalikan kepada petani, tanahnya juga berpasir dan tidak subur karena penggunaan pupuk kimia berlebihan. Karena itu, para petani terdorong untuk memperbaiki kualitas tanah dengan metode organik.”

Tak hanya teknik bertanam alami yang berarti tanpa pupuk kimia dan pestisida, bio adalah juga sebuah narasi, bahkan sebuah ”konsep ideologi” tentang produk-produk pertanian yang lebih sehat, enak, perlu, dan karena itu (boleh) lebih mahal.

”Semua orang di Jerman tergila-gila dengan produk berlabel ’bio’. Mereka rela membeli mahal. Bahkan, gula merah kelapa dari Indonesia dijual di sini dengan label ’bio’. Apakah ada gula kelapa yang tidak organik?” kata Miranti Hirschmann, perempuan asal Indonesia yang kini menetap di Jerman. Sebab, organik adalah juga permainan citra.

Brodowin juga melengkapi narasinya dengan rangkaian riset dan pengembangan, kegiatan pascapanen, pemrosesan, pemberian label, sampai strategi pemasaran langsung kepada konsumen, serta sistem perdagangan yang adil (fair trade) dengan rekanan.

”Brodowin adalah salah satu contoh lahan pertanian yang mampu bersanding dengan lingkungan. Masing-masing akhirnya mendapat keuntungan. Keanekaragaman hayati terpelihara, produk pertanian juga lebih baik,” kata Gert Berger, ilmuwan dari Leibniz Centre for Agricultural Landscape Research, yang banyak meneliti perlindungan keanekaragaman hayati di Jerman. Legitimasi dari akademisi menambah validitas Brodowin sebagai produsen ramah lingkungan.

Sapi bahagia, susu sehat

Susanne, perempuan tinggi berambut pirang itu, mengelus anakan sapi dengan lembut. Dia seolah mendemonstrasikan bagaimana Brodowin memperlakukan sapi-sapinya: tak hanya sebagai perahan, tetapi juga kawan. Sebab, narasi tentang organik mengharuskan hal itu. ”Kami harus menciptakan suasana agar sapi menjadi bahagia,” ujarnya.

Kesehatan sapi, menurut Susanne, adalah segalanya. Misalnya, anakan sapi baru dipisah dari induknya setelah 29 bulan. Untuk menyembuhkan sapi yang sakit, mereka juga menggunakan obat-obatan herbal. ”Kuncinya adalah memberikan perhatian lebih kepada sapi sehingga penyakit bisa dideteksi di awal,” katanya.

Makanan dan minuman untuk sapi dikontrol ketat agar bebas dari bahan kimia. ”Semua perlakuan itulah yang menyebabkan susu di sini lebih berkualitas, lebih sehat,” kata Susanne.

Dengan promosi kualitas lebih sehat itu, Brodowin sukses menikmati harga produk susu mereka yang lebih mahal, yaitu 40 sen euro per liter dibandingkan dengan produk konvensional yang hanya 16 sen euro.

Brodowin memproses sendiri susu mentah melalui pasteurisasi, yaitu menggunakan pemanasan dengan suhu 63°C (145°F) selama 30 menit, dilanjutkan dengan dikocok cepat (quick cooling) sampai sekitar 4°C (39°F).

”Pasteurisasi lebih baik karena tidak membunuh semua bakteri di susu dibandingkan dengan UHT (ultra-high temperature) yang mematikan semua bakteri, termasuk bakteri yang baik,” kata Susanne. Jika sudah dikemas dan diberi label, harga jual susu Brodowin pun mencapai 1,1 euro, tiga kali lipat lebih mahal dibandingkan dengan susu biasa.

Peternakan sapi perah merupakan jantung Brodowin. Seluas 500 hektar lahan digunakan untuk menanam pakan ternak sapi. Sekitar 500 hektar digunakan untuk menanam tanaman pangan, sayur, dan obat-obatan. Sisanya untuk pabrik, toko, serta kandang.

Dengan menerapkan metode keanekaragaman fungsi lahan, hampir tak ada yang dibuang di Brodowin. Kotoran sapi untuk pupuk, tanaman herbal untuk obat-obatan, dan sisa panen untuk kompos serta pakan sapi.

Tak hanya sapi yang mendapat perhatian lebih, pekerjanya juga. Susanne, yang sudah 10 tahun bekerja di Brodowin, mengatakan, ”Saya dibayar 900 euro tiap bulan. Lebih tinggi dibandingkan dengan perusahaan lain sejenis yang rata-rata 750 euro. Yang lebih penting lagi, saya suka dengan pertanian organik. Organik telah memberikan pertanian jiwa baru, kamu bisa melihat di sekitar sini. Semuanya hidup dan bernapas dengan sehat.”

Teknik pertanian organik, yang membutuhkan lebih banyak pekerja dibandingkan dengan pertanian konvensional, ternyata membawa jiwa baru bagi warga desa itu. Menurut Susanne, setelah penyatuan Jerman, banyak pemuda lari ke kota karena tak ada pekerjaan di desa, tetapi, ”Sekarang mereka kembali karena Brodowin menawarkan pekerjaan dengan pendapatan yang baik,” katanya.

Brodowin kini dimiliki 80 keluarga petani dibantu oleh 70 karyawan, sebagian bekerja di ladang, pabrik, dan pemasaran. Bisnis mereka terus tumbuh dengan pesat.

Penjualan langsung

Sebanyak 2,5 juta liter susu diproses tiap tahun di pertanian ini. Produknya meliputi susu cair, keju, dan mentega. Mereka menjajakan sendiri produknya melalui penjualan langsung. Sebanyak 1.500 keluarga di Berlin menjadi pelanggan mereka. Pemesanan bisa dilakukan lewat internet.

”Pasar barang organik tumbuh cepat di Jerman sekarang,” kata Susanne. Pertumbuhan ini berasal dari meningkatnya kesadaran konsumen. Brodowin sukses memanfaatkan ceruk pasar dan menjual produk mereka dengan harga dua hingga empat kali lipat dibandingkan dengan produk konvensional karena label ”organic” atau ”bio” telah menjadi merek dagang kuat untuk hidup lebih sehat di Jerman.

Penelitian dari Agromilagro Reserach Institute Universitas Kassel, Jerman, menunjukkan, permintaan produk organik di negeri ini tumbuh lebih dari dua kali lipat selama tujuh tahun, yaitu 2 triliun euro pada 2002 menjadi lebih dari 5 triliun euro pada 2007.

KOMPAS/AGUS SUSANTO
Pekerja menaruh butiran kompos pada granulator yang berputar sebelum dipanaskan di PT Godang Tua Jaya Farming di Tempat Pembuangan Akhir Bantar Gebang, Bekasi, Jawa Barat, awal April lalu. Di kawasan tersebut akan dibangun pengolahan sampah terpadu.

FONDASI ORGANIK
Kuncinya Mendekat pada Ibu Bumi

KOMPAS, Jumat, 18 September 2009 | 02:52 WIB

Oleh Ahmad Arif

Para petani yang menerapkan metode organik tak memiliki resep tunggal untuk meningkatkan kesuburan lahan serta mengatasi gangguan hama dan penyakit tanaman. Masing-masing menemukan teknik sendiri. Kuncinya adalah mendekat pada ibu bumi, memahami keluh kesahnya, dan memberi apa yang dimauinya.

Kata kunci itu barangkali terdengar abstrak bagi sebagian orang. Namun, bagi petani yang telah menerapkannya, metode tersebut sangat nyata. Jauh lebih nyata dibandingkan dengan menggantungkan tanah mereka pada rezim pupuk dan pestisida kimia yang datang dari negeri yang entah.

Di samping teknik yang telah dikenal umum, dengan membuat kompos berbahan baku kotoran hewan atau dedaunan, sejumlah petani organik menemukan teknik dan bahan terbaik untuk pupuk sesuai dengan kondisi daerahnya masing-masing.

Misalnya, Purwanto, petani dari Dusun Kleben, Kelurahan Sidorejo, Godean, Sleman, Yogyakarta, menemukan pupuk dari fermentasi telur itik busuk—dipilih dari telur itik yang gagal menetas dari usaha penetasan telur yang dimilikinya.

Petani 34 tahun ini, selain mengolah lahan warisan mertua seluas 450 m, juga mengembangkan usaha penetasan bebek sejak tiga tahun terakhir. Setiap bulan dia menetaskan sekitar 2.500 telur dengan tingkat kegagalan sekitar 5 persen.

Limbah telur ini awalnya biang masalah karena biasanya dia membuang telur busuk itu ke sungai. Tetangganya protes karena muncul bau busuk yang luar biasa. ”Suatu malam saya menemukan ide, kenapa telur itu tidak saya pendam di dalam sawah? Telur kan makanan bergizi bagi manusia, pasti juga baik bagi padi,” demikian logika sederhananya.

Selama dua tahun terakhir dia mempraktikkan metode temuannya itu dan sudah sekitar 4.000 telur bebek lengkap dengan cangkangnya yang ditanam di sawah. ”Panenan ternyata bagus,” kata Purwanto.

Di Klaten, sekelompok petani memfermentasi limbah tetes tebu dari pabrik gula, yang sebelumnya menjadi masalah lingkungan. Sedangkan di Margoluwih, Sayegan, Yogyakarta, Kelompok Joglo Tani menggunakan air kencing kelinci untuk membuat pupuk.

Para praktisi organik ini percaya bahwa ibu bumi dan tanaman merupakan sosok yang hidup dan bernapas. Karena itu, kebutuhan terhadap unsur hara juga berlainan pada waktu, jenis tanaman, dan tempat yang berbeda. Dengan mengenal dan membaca tanda-tanda alam, para penggiat organik ini menemukan cara masing-masing.

”Saya pernah dianggap gila karena tiap hari merenung di tengah sawah,” kata Purwanto. Waktu itu tanaman padinya yang mulai menguning dikeroyok tikus. Beberapa resep tradisional dicoba, tetapi tak mempan. ”Tikus itu hewan pintar, mereka juga belajar,” katanya.

Dia akhirnya menemukan teknik merendam sawah saat malam—ketika tikus-tikus itu menyerbu—dan cepat mengeringkan kembali saat pagi. Demikian seterusnya. Untuk sementara padinya aman walaupun mungkin suatu saat tikus itu akan menemukan cara menyerang pada saat tengah hari bolong.

Di Purbalingga, pelopor pertanian organik, Mbah Gatot, menggunakan gula untuk melawan tikus. Pertama-tama, dia mencari liang tikus yang masih aktif, yaitu yang masih ada bekas lalu lintas hewan pengerat itu. Lalu di bagian luar liang ditaruh beberapa sendok gula merah atau gula putih. Tujuannya agar setiap ada tikus yang lewat, rambut tikus itu tertempel gula dan terbawa masuk jauh ke dalam liangnya. Gula akan mendatangkan semut, dan semut akan mengusir tikus. Itulah logikanya. Logika yang dipahami dan ditemukan dari hasil pengamatan sendiri, kemudian dicobakan.

Beberapa teknik itu gagal, sebagian berhasil. Tetapi, pada prinsipnya mereka berdialog, belajar, dan mencoba mandiri.

Teknik paling ampuh mengatasi tikus, menurut Purwanto, sudah dikenal oleh petani sejak lama, yaitu menggunakan predator tikus, misalnya ular, burung hantu, atau elang. ”Tetapi, sekarang predator tikus itu dihabisi oleh predator yang lebih rakus, manusia,” dan sebagai akibatnya, ”petani yang sekarang kesulitan melawan tikus itu,” kata Purwanto menerangkan konsep rantai makanan.

Jejaring hidup

Seperti ditulis oleh Rachel Carson dalam Silent Spring (1962), buku klasik yang mengubah cara pandang dunia Barat terhadap pupuk dan pestisida kimia, sejarah kehidupan adalah interaksi dengan lingkungan. Saling tergantung dan saling dukung. Tak ada yang tak berguna dalam jejaring alam ini, semua memiliki peranan.

Jauh sebelum manusia menjadi dominan, alam telah menemukan keseimbangannya sendiri. Manusia tidak mencipta apa-apa, termasuk tanaman pangan yang sekarang dikenal, mulai dari padi-padian, gandum, jagung, hingga umbi-umbian. Manusia hanya menyeleksi, memodifikasi, dan membiakkan dengan cepat yang diinginkannya serta menyisihkan yang dianggap tak berguna.

Aneka tanaman itu sudah ada di bumi, demikian juga serangga yang tergantung padanya. Dan, seperti manusia, spesies pesaing itu juga beradaptasi. Ketika kemudian manusia menganggap spesies itu sebagai hama dan menyerangnya dengan zat kimia mematikan, mereka pun belajar untuk bertahan dengan kemampuan adaptasi yang jauh lebih canggih dibandingkan dengan manusia karena mereka jauh lebih tua.

Contoh yang populer adalah penggunaan dichloro diphenyl trichloroethane (DDT). Pada tahap awal penggunaannya, DDT dianggap pahlawan yang mampu mengalahkan serangga pengganggu, tetapi hanya sebentar karena muncul berbagai varian baru serangga yang lebih kebal terhadap racun ini. Demikian seterusnya, walaupun jenis dan dosis racun ditambah, spesies pesaing itu tetap bertahan dan semakin kebal.

Rachel Carson mengamati, alih-alih menghabisi hama pengganggu, racun kimia itu justru membunuh aneka spesies yang berguna bagi manusia, seperti lebah penyerbuk dan burung pemakan hama. Pada gilirannya, racun kimia yang ditujukan kepada spesies pengganggu juga menggerogoti tubuh manusia. Singkatnya, menurut Rachel, ”perang dengan racun kimia tak akan pernah dimenangi manusia”.

Walaupun tak pernah membaca Silent Spring atau buku-buku sejenis itu, Purwanto tahu betul bahwa racun kimia memang bukan jawaban untuk pertanian. ”Kita cukup mendekat pada alam untuk tahu bahwa metode pertanian organik adalah yang terbaik untuk kehidupan,” kata petani muda dari dusun kecil ini. Dia sangat yakin gerakan menuju organik adalah perjuangan ”untuk keberlangsungan lingkungan, dan akhirnya untuk keberlangsungan hidup manusia di bumi juga”.

Belajar dari Brodowin, pengorganisasian petani menjadi perkumpulan yang kuat adalah kunci menjadikan mereka menembus pasar. Dibutuhkan juga modal yang kuat dari dunia perbankan yang percaya kepada petani dan pemerintah yang memberikan ruang bagi kedaulatan petani. (Ahmad Arif )

Berdaulat dengan Pertanian Organik

KOMPAS, Jumat, 18 September 2009 | 02:50 WIB

Oleh Ahmad Arif

Kini kita dihadapkan pada dua jalan bercabang. Jalan yang satu, yang telah kita tempuh selama ini, adalah jalan tol yang mulus yang memungkinkan kita memacu kecepatan, tapi pada akhirnya menuju bencana. Jalan lainnya untuk ditempuh—sangat sepi—tapi hanya itulah yang akan membawa kita ke tujuan akhir pelestarian bumi ini. (Rachel Carson dalam Silent Spring, 1962)

Jalan pertama yang dimaksud Rachel Carson adalah metode bertani yang mengandalkan pupuk kimia dan pestisida. Sebaliknya jalan kedua adalah metode bertani selaras alam atau yang kemudian dikenal dengan pertanian organik.

Hampir 50 tahun sejak Rachel mengingatkan bahaya pupuk kimia dengan kalimatnya yang terkenal, ”perang dengan kimia tak akan kita menangkan”, tetapi kita tetap memilih jalan menuju bencana itu. Dan, tepat seperti diramalkan Rachel, berpuluh tahun sejak perangkat kimia berbasis bahan bakar fosil—yang awalnya diciptakan untuk tujuan peperangan—digunakan di pertanian, hama tanaman tak berkurang. Bahkan, muncul banyak spesies baru yang semakin merusak.

Racun kimia itu justru membunuh spesies yang berguna bagi manusia, seperti lebah dan burung pemakan serangga. ”Kini dunia di ambang kepunahan lebah madu,” tulis Allison Benjamin dan Brian McCallum dalam A World without Bees, The Guardian Book, 2009. ”Dan ini berarti bencana besar bagi manusia,” tambah mereka. Pada gilirannya, racun kimia dari lahan pertanian juga menggerogoti kesehatan manusia.

Walaupun sangat terlambat, kini sebagian petani beralih ke jalan, yang disebut Rachel, sangat sepi itu. Pemerintah yang sebelumnya menjadi agen racun kimia dengan Revolusi Hijau-nya, telah pula mencanangkan proyek Go Organik 2010.

Namun, kembali ke pertanian organik bukan hanya berarti kembali pada teknik bertani tanpa pupuk kimia dan pestisida. Gerakan organik adalah juga sebuah kedaulatan bertani. Sudahkah kita menuju jalan yang itu?

Kedaulatan petani

Kedaulatan itu diperjuangkan Kelompok Tani Balak Gumregah di Desa Balak, Cawas, Klaten, Jateng. Sepetak tanaman padi tumbuh di halaman rumah. ”Ini padi merah putih turunan ketiga. Minggu lalu saya panen, tapi sekarang saya tumbuhkan kembali,” kata W Riyanto (46), anggota kelompok tani itu.

Mereka juga berkreasi mencipta pupuk kompos—salah satunya memakai limbah tetes tebu—dan pestisida organik, mengolah produk, mengemas, dan memasarkannya. Salah satu produk mereka adalah minuman instan bekatul—ekstrak beras—dan jahe. Mereka memberi label produk itu ”JAKAT”, singkatan dari jahe-katul, lengkap dengan narasi ”minuman sehat dan bergizi untuk seluruh keluarga”.

Sejauh ini, produk ini masih dipasarkan dari tangan ke tangan. ”Tujuan utama produk organik kami untuk dimakan sendiri, kalau sisa baru dijual,” kata Riyanto. Dia tak setuju cara pikir petani yang menjual beras organiknya dengan alasan harga jual lebih tinggi, tetapi membeli beras kualitas buruk untuk dimakan sendiri.

Sedangkan untuk kemandirian energi, didampingi Cindelaras, Lembaga Pemberdayaan Pedesaan dan Kajian Global, kelompok tani ini membangun kompor biogas dari kotoran sapi. Limbahnya kemudian dipakai untuk pupuk.

”Dengan biaya bertani lebih murah, kami bisa menjual beras organik lebih rendah dibandingkan beras biasa,” kata Riyanto. Tiga tahun pertama setelah beralih ke teknik organik, hasil panen belum memuaskan karena tanah yang kecanduan kimia tiba-tiba tak diberi obat. ”Persis orang kecanduan narkoba,” kata Riyanto, tetapi ”Sekarang, setelah lima tahun, hasilnya setara, bahkan lebih tinggi dibandingkan yang pakai kimia,” katanya.

Sekitar 60 kilometer ke selatan, di perbukitan kapur Gunung Kidul yang kering dan gersang, lumbung petani dipenuhi padi. ”Walaupun desa-desa lain sering kelaparan, dusun kami tak pernah kelaparan lagi karena ada lumbung yang selalu terisi sepanjang tahun,” kata Marsudi (32), Ketua Kelompok Tani Cipto Makaryo, Dusun Jetis, Desa Pampang, Kecamatan Paliyan, Gunung Kidul, yang mengelola lumbung itu.

Unsur hara yang tipis di atas batu kapur membuat petani hanya bisa mengandalkan teknik organik. ”Dulu kami memakai pupuk kimia, awalnya bagus, tetapi kemudian merosot. Tanah jadi rusak, kami kembali ke pupuk kandang,” kata Marsudi.

Dengan pupuk organik, mereka menjawab masalah penggurunan (desertification), yang oleh badan dunia United Nations Convention to Combat Desertification (UNCCD) disebut sebagai ancaman terhadap ketahanan pangan dunia ke depan.

Pembajakan

Melihat tren pasar produk organik yang makin terbuka, para produsen pupuk kimia kini berlomba membuat pupuk organik. Mereka menawarkan obat untuk menyembuhkan tanah petani yang sebelumnya dihancurkan pupuk kimia. Beberapa pemodal juga menanam padi dan sayur organik. Sebagian sukses menguasai pasar dalam negeri, bahkan mengekspornya, sementara itu petani kecil tetap kesulitan.

”Kami harus memakai perantara untuk masuk ke supermarket karena mereka hanya mau berurusan dengan penyalur besar yang sanggup dibayar di akhir. Sertifikasi produk organik juga mempersulit kami,” kata Johan Arifin, petani padi organik dari Kelompok Joglo Tani Godean, Yogyakarta.

Beras organik dari petani Rp 5.500-Rp 6.500 per kg menjadi Rp 10.000-Rp 20.000 per kg di supermarket. Fransiscus Wahono, Direktur Cindelaras, mengatakan, telah terjadi pembajakan gerakan organik oleh pemodal. Jika saja Rachel Carson melihat perkembangan saat ini, dia pasti akan melengkapi tulisannya tentang jalan kedua itu tak hanya sepi, tetapi juga banyak pembajaknya.

METODE KUNO
“Pameling” Jawa hingga Revolusi Jerami

KOMPAS, Jumat, 18 September 2009 | 02:51 WIB

Papat tancep wolu mupur 12 ngesat 16 nembe tukuling bakal las

Tinebehno tirto giyo samudro mureh tunggul linangkung rembogo

Sawur pupur amegah dapur nyawisi tirto nyawiji jotho

Tumungkuling puspo tan sinareng wedaring wacono

Adedasar cokro menggilingan ler leran dadi daharan sepah jinatah ing lemah

Empat (daun) saatnya tanam delapan (daun) berarti mupuk 12 (daun) mengeringkan dan 16 (daun) saatnya padi bunting

Jauhkan tanaman padi dari genangan air seperti samudra

Pupuk sebagai makanan dan air sebagai penghidupan harus seimbang

Keluarnya bunga jangan beriringan banyaknya angin

Lingkungan adalah siklus jika sukma (padi) telah hilang (dipanen) maka raganya (jerami) harus kembali ke tanah (sebagai pupuk)

Pameling atau petuah yang sering dinyanyikan oleh petani Jawa itu telah dikenal sejak dulu kala, tetapi dilupakan oleh generasi muda. Berisi tata cara bertani selaras alam, yang sangat mirip dengan teknik System of Rice Intensification (SRI) yang dipopulerkan oleh Fr Henri de Laulanie, seorang pastor Jesuit dari Perancis. Pengetahuan itu diperoleh Fr Henri setelah mempelajari teknik petani di Madagaskar pada tahun 1983-1984.

Prinsip dasar SRI yang kini populer di Indonesia adalah benih padi ditanam ketika masih muda dan ditanam satu pohon per lubang dengan teknik tanam dangkal. Proses pemindahan harus hati-hati agar akar tidak rusak. Padi jangan digenangi air terlalu banyak karena padi bukan tanaman air dan pada periode tertentu dikeringkan. Untuk pemupukan, gunakan pupuk organik.

TO Suprapto (52), petani dan pelopor pertanian organik di Godean, Sleman, Yogyakarta, mengatakan, pada prinsipnya, teknik SRI dan pameling Jawa itu senapas, yaitu menyelaraskan diri pada alam. ”Nenek moyang kita telah mengenal teknik pertanian yang selaras alam ini sangat lama,” katanya, ”jauh sebelum pemerintahan Orde Baru memaksa petani menggunakan pupuk kimia dan pestisida.”

Beberapa petani yang gigih mempertahankan teknik lama selaras alam ini semasa Orde Baru dianggap pembangkang, bahkan tak jarang dikriminalkan. Mbah Suko, petani organik dari Magelang, merasakan hal itu. Ketika kukuh tak mau memakai pupuk dan pestisida kimia, dia diteror dan hak-haknya sebagai warga negara dipangkas. Gerakan organik pun identik dengan perlawanan. Melawan untuk berdaulat.

Tak hanya di Jawa, kearifan tradisional dan perlawanan terhadap pertanian berbasis kimia juga dilakukan oleh petani dari berbagai belahan dunia. Di Jepang muncul Masanobu Fukuoka yang mengenalkan teknik pertanian organik, seperti terbaca dalam buku Revolusi Sebatang Jerami, Yayasan Obor Indonesia, 1991.

Sementara itu, di dunia Barat, sistem bertani selaras alam ini lebih populer dengan istilah permaculture, yang dikenalkan oleh Bill Mollison dan komunitasnya. Dalam buku Permaculture: A Designers’ Manual, 1997, yang ditulis Bill Mollison dengan Reny Ia Slay dijelaskan bahwa metode pertanian ini menekankan prinsip kemandirian bertani dalam mengolah lahan.

Dimulai dengan menjelaskan tentang bagaimana semesta bekerja, kita dibawa pada metode praktis bagaimana bercocok tanam yang selaras alam, seperti mengintegrasikan peternakan dan pertanian serta variasi tanaman dalam satu lahan.

Gerakan permaculture kemudian menyebar ke berbagai belahan dunia Barat sebagai prinsip hidup dan menjadi dasar bagi banyak sistem pertanian organik mulai dari Australia, Kanada, Amerika, hingga Eropa. (AIK)

18
Sep
09

Seni Budaya : Manuskrip Kuno, Tak Ada Biaya Perawatan Naskah Dijual

MANUSKRIP KUNO
Tak Ada Biaya Perawatan, Naskah Dijual

Jumat, 18 September 2009 | 04:48 WIB

Jakarta, Kompas – Karena tak ada biaya untuk perawatan, sejumlah pemilik naskah kuno cenderung menjualnya ke pedagang perantara yang masuk ke kampung. Mestinya pemerintah menyediakan dana yang memadai untuk perawatan dan penelitian naskah kuno.

”Jika anggaran pemerintah terbatas, mestinya pemerintah bisa mendorong yayasan atau perseorangan terlibat dalam penyelamatan naskah kuno,” kata filolog Suryadi, peneliti dan dosen di Leiden University, Belanda, Kamis (17/9).

Dia mencontohkan, di Inggris ada Yayasan Arcadia, yang menghimpun dana dari orang-orang kaya. Dana tersebut kemudian digunakan untuk penelitian, pelestarian, dan pemeliharaan kebudayaan tradisional, termasuk naskah kuno (manuskrip).

Secara terpisah, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Tanjung Pinang, Kepulauan Riau, Abdul Kadir Ibrahim mengungkapkan, pihak Malaysia dan Singapura sampai sekarang terus mengincar dan menawar naskah-naskah kuno yang disimpan warga di Kota Tanjung Pinang, Kepulauan Riau.

”Pihak pembeli berani menawarkan harga Rp 5 juta sampai Rp 20 juta per naskah kuno. Bahkan, ada naskah yang kalau mau dijual, pembeli berani dengan harga berapa pun besarnya,” katanya.

Ia menjelaskan, naskah-naskah kuno di Kota Tanjung Pinang banyak diincar, banyak terdapat naskah kuno peninggalan Kerajaan Melayu (Riau Lingga) pada tahun 1722 sampai 1911.

Sekitar 200 tahun lalu Pulau Penyegat menjadi Pusat Kerajaan Melayu, pusat perdagangan dan pusat kebudayaan Melayu. Naskah-naskah kuno berupa catatan sejarah dan budaya banyak tersimpan di kawasan tersebut.

Naskah-naskah yang banyak diincar antara lain karya-karya Raja Ali Haji, Aisyah Sulaiman Riau, Haji Ibrahim, dan Rusydiah Club. Bahkan, untuk karya berjudul Syair Kadamuddin karya Aisyah Sulaiman Riau, berapa pun harganya, pihak pembeli berani bayar.

Pemerintah Kota Tanjung Pinang, kata Abdul Kadir Ibrahim, memberikan perhatian tinggi kepada masyarakat yang masih menyimpan naskah-naskah kuno. Bahkan, ada seorang warga mempunyai koleksi sampai 50 naskah kuno. Salah satunya Kitab Pengetahuan Bahasa, karangan Raja Ali Haji, yang ditulis abad ke-19.

”Sebagian karya yang merupakan warisan budaya Melayu yang tak ternilai harganya itu disimpan di Museum Sultan Sulaiman Badrul Alamsyah, yang diresmikan Januari 2009 lalu,” kata Abdul Kadir Ibrahim.

Karena keterbatasan dana perawatan dan dana pengganti bagi masyarakat yang mau menyerahkannya ke museum, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Tanjung Pinang itu berharap perhatian dari pemerintah pusat. Hal itu karena, dengan keterbatasan dana, selain naskah kuno yang ada terancam hancur atau rusak, juga dikhawatirkan bisa berpindah tangan.

Kenyataan yang sama sebelumnya juga diungkapkan Mukhlis PaEni, ahli dan peneliti naskah kuno, dalam seminar ”Strategi Kebudayaan dan Pengelolaannya”, di Jakarta. ”Manuskrip Nusantara mengalir setiap hari ke tangan pembeli naskah/manuskrip yang berani membayar paling rendah Rp 5 juta untuk jenis naskah yang apa adanya dan compang-camping hingga Rp 50 juta untuk naskah-naskah utuh bahkan lebih,” katanya.

Naskah-naskah Nusantara dari berbagai daerah kebanyakan dibawa ke Malaysia dan Singapura. (NAL)

18
Sep
09

Kebebasan Berpendapat : Masyarakat Sipil Berperan Mengingatkan

KEBEBASAN BERPENDAPAT
Masyarakat Sipil Berperan Mengingatkan

Jumat, 18 September 2009 | 04:52 WIB

Jakarta, Kompas – Masyarakat sipil memegang peranan penting untuk menekan, mengingatkan, dan mengubah pola pikir pemerintah agar lebih akomodatif dan mengerti kebebasan pers serta kebebasan informasi sehingga tak menjadi rezim yang otoriter. Berbagai produk kebijakan akhir-akhir ini—salah satunya Rancangan Undang-Undang Rahasia Negara—telah menjadi elemen yang terpisah dari masyarakat.

Demikian Direktur Eksekutif Yayasan Sains, Estetika, dan Teknologi Agus Sudibyo dalam diskusi ”Relevansi Camden Principles on Freedom of Expression and Equality dengan Kondisi Kebebasan Berekspresi di Indonesia”, yang diselenggarakan AJI Indonesia dan organisasi HAM, ARTICLE 19, dari London, Inggris, Kamis (17/9) di Jakarta.

”Sejauh mana kita bisa menekan parlemen agar tidak menjadi sarana kembalinya rezim otoriter dalam konteks kebebasan berekspresi dan kebebasan pers,” kata Agus. Pengertian dan batasan kebebasan berekspresi menjadi jelas dalam Prinsip-prinsip Camden tersebut.

Salah satu prinsip menyebutkan, ”Negara sebaiknya memastikan agar hak atas kebebasan berpendapat dan berekspresi melalui medium komunikasi apa pun, termasuk hak atas informasi, tercantum dalam ketentuan-ketentuan dalam konstitusi nasional atau aturan yang setara yang selaras dengan hukum HAM internasional”.

Agus menilai bahwa Prinsip-prinsip Camden bisa menjadi semacam indeks atau parameter untuk menilai secara komprehensif dari berbagai aspek tentang perkembangan kelembagaan kebebasan berekspresi, kebebasan informasi, kebebasan pers, dan kebebasan berpendapat di Indonesia.

Meski ada beberapa bagian yang ”kurang pas” dengan situasi di Indonesia, tokoh pers Bambang Harymurti berharap Prinsip Camden secara umum bisa menjadi rujukan bagi pemerintah atau DPR untuk merumuskan rencana kebijakan (LUK)

18
Sep
09

Inovasi Nasional : Bukan Habibinomics atau Widjojonomics

DOKUMENTASI KOMPAS
Rapat Inovasi dipimpin langsung oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono serta dihadiri wakil presiden terpilih Boediono dan Menteri Sekretaris Negara Hatta Rajasa berlangsung Sabtu (12/9) malam di kediaman Presiden di Puri Cikeas. Rektor Universitas Al-Azhar Prof Zuhal (kiri) menyampaikan paparan.

PRESIDEN DAN INOVASI NASIONAL
Habibienomics dan Widjojonomics

Jumat, 18 September 2009 | 02:55 WIB

Oleh Ninok Leksono

Hal yang wajar bila sebagai pemimpin, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono gerah dengan kondisi bangsa Indonesia yang masih belum maju. Selain bidang ekonomi yang masih ditandai oleh luasnya kemiskinan dan pengangguran, Indonesia dalam banyak hal masih di urutan belakang di antara bangsa-bangsa anggota ASEAN sekalipun.

Berbagai data dari sumber seperti IMD World Competitiveness Yearbook (2008) memperlihatkan posisi belakang itu. Di bidang kesehatan, misalnya, dibandingkan dengan Singapura, Malaysia, Thailand, dan Filipina, RI ada di buntut. Demikian pula dalam Indeks Kemajuan Manusia (HDI).

Berbagai keterbelakangan itulah yang disampaikan secara runtut oleh Rektor Universitas Islam Al-Alzhar Prof Zuhal kepada Presiden Yudhoyono di kediamannya di Puri Cikeas, Sabtu (12/9) malam. Akan tetapi, Zuhal, yang datang bersama sejumlah ilmuwan dan akademisi, tidak hanya melulu memperlihatkan keterpurukan.

Ia juga menawarkan upaya untuk menanggulangi berbagai permasalahan yang ada dengan program inovasi, yang ditujukan untuk membantu mewujudkan Visi 2025 yang dicetuskan Presiden dalam pidato Kenegaraan tanggal 14 Agustus 2009. Dalam pidato tersebut, Presiden menyebut RI akan menjadi negara maju pada tahun 2025.

Dengan memacu inovasi

Zuhal, dengan banyak mengacu pada buku karyanya mengenai daya saing yang terbit tahun silam, memajukan konsep untuk membangun Indonesia melalui jalan sains dan teknologi. Namun, agar upaya ini berhasil, diperlukan sinergi tiga pihak, seperti yang sudah sering kita dengar, yakni pemerintah yang menetapkan regulasi dan fasilitas, dunia akademik termasuk perguruan tinggi dan lembaga penelitian, serta bisnis dan industri yang memanfaatkan pengetahuan dan karya inovasi.

Presiden dengan sabar dan antusias mengikuti paparan Zuhal dan tidak jarang memberikan penekanan dan penambahan wawasan yang memperkaya. Bahkan, seolah mengetahui apa yang akan disampaikan oleh Zuhal dan timnya, Presiden Yudhoyono dalam uraian pengantarnya menyinggung buku The Miracle: The Epic Story of Asia’s Quest for Wealth karya Michael Schuman (2009), mantan wartawan majalah Time dan Wall Street Journal.

Kini, kalau jalur inovasi yang dipilih, lalu strategi mana yang akan dipilih? Mengacu salah satu bab pada buku The Miracle, Presiden menyebut riwayat yang pernah dilalui oleh Indonesia, yaitu ketika harus terjebak dalam perdebatan ”Habibienomics Vs Widjojonomics”. Terkandung dalam dua mazhab tersebut pertentangan antara keunggulan komparatif yang mengandalkan sumber daya alam (SDA) lawan keunggulan kompetitif yang mengandalkan sumber daya manusia.

Kita ambil pelajaran dari sejarah itu dan ”Indonesia membutuhkan keduanya,” ujar Presiden. Sebagai alasannya, Presiden menyebutkan, kita punya SDA, tetapi juga butuh teknologi untuk memanfaatkannya.

Perbaikan dari apa yang ada pada masa lalu adalah unsur ketiganya kita keluarkan. Ternyata, unsur ketiga yang dimaksud Presiden, dari buku Schuman, adalah ”kroni”. Sekali lagi Presiden menegaskan bahwa dirinya tidak akan terjebak pada dikotomi seperti yang ada pada masa lalu. Sinergi kedua pendekatan tersebut dilihat justru dibutuhkan untuk mendukung berbagai program yang sekarang ini dikembangkan Pemerintah, misalnya, untuk pemenuhan kebutuhan pangan dan energi.

Dari penjelasan Presiden Yudhoyono juga dapat ditangkap sejumlah visi yang ingin diwujudkan. Misalnya, untuk Pulau Jawa, yang dalam beberapa tahun mendatang akan menjadi satu zona ekonomi tunggal, akan ada peran kereta api yang jauh lebih besar.

Namun, tak kalah pentingnya, meski ada berbagai visi besar, jangan pernah melupakan urusan pokok, dalam hal ini termasuk kesehatan. Presiden tak berhenti bertanya, mengapa kita belum mampu menanggulangi penyakit, seperti demam berdarah.

Berbasis maritim

Selain membahas substansi, diskusi yang dihadiri oleh Wakil Presiden Terpilih Boediono dan Menteri Sekretaris Negara Hatta Rajasa juga sempat menyinggung kalimat ringkas (tagline) untuk memudahkan masyarakat mengingat program bersama ini.

Ketika Tim Inovasi yang terdiri dari Prof Dr Umar Anggara Jenie dan Dr Thee Kian Wie (keduanya dari LIPI), Prof Sahari Besari dan Prof DSc Freddy Permana Zen (keduanya dari ITB), Prof Sangkot Marzuki (UI), Dr Ir Marzan A Iskandar (BPPT), dan Dr Ir Idwan Suhardi (Kementerian Ristek), ditambah Dr Ir Ahmad Husein Lubis (Al Azhar) memikirkan semboyan yang jitu, Presiden mengusulkan bagaimana kalau ”Maritime-Based Industry and Services”?

Presiden menegaskan, tersirat dalam semboyan atau tekad tersebut kemampuan di bidang energi, pangan, juga perubahan iklim, yang juga masuk dalam bagian skenario Zuhal.

Wapres terpilih Boediono memberi catatan bahwa upaya pembangunan melalui inovasi iptek hendaknya jangan dilakukan mulai dari nol dan masukkan dalam pertimbangan bahwa sekarang ini iptek dan ekonomi semakin menyatu.

Sementara itu, guna mendukung berbagai program pembangunan berbasis inovasi tersebut, Mensesneg Hatta Rajasa berharap, segenap potensi nasional dapat dikerahkan, seperti sel surya dari LIPI. Pemerintah juga mendukung dengan menargetkan, tahun 2010 tidak ada lagi desa di Indonesia yang tidak tersambung fasilitas telekomunikasi.

Meskipun konsep terkesan baik, diakui bahwa masih ada satu elemen yang akan sangat menentukan bagi keberhasilan program inovasi nasional dan itu tidak lain adalah kepemimpinan efektif Presiden.

PENEMUAN
10 Inovasi Strategis di Dunia Masa Depan

KOMPAS, Sabtu, 19 September 2009 | 03:04 WIB

Oleh Yulvianus Harjono

Inovasi adalah kunci masa depan. Kesejahteraan yang dicapai manusia saat ini tidaklah terlepas dari inovasi yang telah dilahirkan pada masa lampau. Melalui berbagai penemuan yang telah diciptakan saat ini, kita pun dapat ”mengintip” masa depan.

Hal-hal yang dulu hanya bisa disaksikan di film-film fiksi dan buku ternyata menjelma sebagai realitas. Memandang sangat pentingnya inovasi, seperti diungkapkan Presiden AS Barack Obama dalam pidato mingguannya di radio dan media cyber, 1 Agustus 2009, Livescience merilis 10 obyek inovasi strategis yang telah dirintis dan akan menentukan pada masa depan.

Peralatan pembaca pikiran

Adam Wilson, ilmuwan dari Teknik Biomedis University of Wisconsin, AS, menciptakan sebuah interface (antarmuka untuk komputer) yang mampu menerjemahkan pikiran ke dalam bentuk teks.

Sistem antarmuka yang bekerja pada alat berupa elektrode dan kabel terkoneksi di kepala ini mampu mengubah sinyal listrik menjadi bentuk fisik, seperti tangan memindahkan cursor.

Teknologi ini sangat bermanfaat bagi pasien yang tak bisa berkomunikasi sama sekali, seperti penderita stroke atau penyakit langka Lou Gehrig (Amyotrophic Lateral Sclerosis) untuk bisa ”berbicara”. Alat ini dapat difungsikan sebagai alat pengetes kejujuran.

Keliling dunia 90 menit

Dari novel dan film kita ketahui, Phileas Fogg asal Inggris mampu mengelilingi dunia dalam 80 hari pada awal tahun 1870-an. Ke depan orang bisa hanya butuh kurang dari sejam untuk ke belahan dunia lain.

Dalam penelitian yang disponsori Pusat Sains Angkatan Udara AS dan Angkatan Udara Brasil, mimpi transportasi canggih dibangun di atas teknologi propulsi laser kecepatan hipersonik. Riset pimpinan Leik Myrabo, profesor Teknik Dirgantara dari Institut Politeknik Rensselaer, Troy, AS, ini tengah dilakukan di Laboratorium Hipersonik dan Aerodinamika Henry T Nagamatsu di Sao Jose, Brasil.

Kekuatan puncaknya dapat mencapai skala gigawatt. Alat ini diklaim mampu meluncurkan nano-satelit (1-10 kilogram) dan mikro-satelit (10-100 kilogram) ke orbit rendah dalam sekejap. Teknologi ini juga didesain untuk meluncurkan pesawat ke stasiun luar angkasa.

Lengan bionik

Ingat tokoh Luke ”Skywalker” di film Star Wars? Ya, tangan kanannya yang putus adalah sebuah lengan bionik. Tidak lama lagi, para veteran korban perang ataupun mereka yang terlahir tanpa lengan dan tungkai kaki bisa menikmati teknologi canggih Skywalker ini.

Banyak pusat penelitian di dunia mengembangkan lengan dan kaki bionik. Salah satunya adalah Touch Bionics yang telah memasarkan produknya, lengan i-LIMB. Lengan bionik ini memiliki kontrol intuitif.

Elektrode desain khusus ditempatkan di permukaan kulit untuk membaca sinyal-sinyal otot (myoelectric) yang dikirimkan otot di tungkai/lengan yang tersisa. Lengan i-LIMB berbahan dasar plastik itu dapat bergerak layaknya tangan biasa. Teknologi bionik yang tak kalah canggih tengah dirintis Miguel Nicolelis (Duke University, AS). Lengan buatan rancangannya, digerakkan otak langsung.

”Gadget” indera keenam

Pranav Mistry, mahasiswa program doktor dari Media Lab Massachusetts Institute of Technology (MIT), menciptakan alat Sixth Sense, yang bisa menampilkan informasi virtual tiga dimensi saat berinteraksi dengan obyek yang dilihat.

Sebagai contoh, dengan melihat kulit wajah sebuah buku, beragam informasi: resensi, harga, bahkan komentar tentang buku itu, langsung muncul di hadapan kita layaknya tayangan dari sebuah proyektor LCD.

Sixth Sense adalah sebuah gadget yang memungkinkan segala informasi di internet terhubung langsung dengan dunia nyata dan membentuk sajian bernama realitas tambahan. Gadget yang ringkas ini mengingatkan kita pada teknologi canggih di film Minority Report.

Teknologi ini menggabungkan webcam dan proyektor mini yang terkoneksi dengan ponsel cerdas secara nirkabel.

Organ tubuh artifisial

Suatu saat ke depan, manusia yang menderita penyakit gagal hati bisa memiliki organ hati baru. Bukan lagi sekadar transplantasi, melainkan sebuah organ asli. Colin McGucklin dan Nico Forraz—duo peneliti dari Newcastle University, Inggris— menciptakan lever artifisial.

Lever manusia pertama yang pernah diciptakan ini masih dalam skala prototipe. Ukurannya mini, setara sebuah koin ukuran kecil. Lever ini dibuat dari sel punca (stem cell) yang diambil dari tali pusat manusia.

Bioreaktor untuk menumbuhkan sel punca diperoleh dari NASA. Pada masa depan kemungkinan bukan hanya lever yang bisa diproduksi, melainkan juga organ-organ vital lain, seperti ginjal, bahkan jantung.

Memberi makan dunia

Mencukupi kebutuhan pangan dunia bakal menjadi hal sangat krusial pada masa depan. Ilmuwan terus berupaya menciptakan varietas gandum, jagung, dan beras unggulan yang bisa panen berlipat ganda. Termasuk menyesuaikan dengan gejala pemanasan global.

Seiring pesatnya riset bioteknologi, muncul ide pembuatan superfood—makanan berbentuk pil yang mencakup seluruh nutrisi yang dibutuhkan. Ada yang mengembangkan makanan sintetis dari sel punca hewan. Riset ini salah satunya dilakukan di Ulrecht University, Belanda.

Melenyapkan limbah

Limbah akan menjadi persoalan besar pada masa depan jika tidak diantisipasi serius. Di negara-negara maju, melalui pemanfaatan teknologi, berbagai sampah diolah menjadi bahan baku daur ulang. Bulu ayam, oleh peneliti di Virginia Tech, AS, bisa diolah menjadi senyawa polimer sebagai bahan untuk membuat plastik pada masa depan.

Menjiplak nuklir Matahari

Reaksi fusi nuklir menjaga Matahari tetap bersinar cemerlang selama miliaran tahun. Ed Moses, dari National Ignition Facility, AS, melakukan penelitian bertujuan menciptakan fusi nuklir seperti di Matahari.

Dia mencampur 150 mikrogram deuterium dan tritium yang ditembakkan dengan laser raksasa sebagai inti tenaga untuk membangkitkan fusi nuklir. Percobaan ini mirip dengan adegan cerita fiksi film Spiderman 2. Pada 2010 dijadwalkan tes, yang diprediksi menghasilkan energi hingga 500 triliun watt.

Merekayasa iklim Bumi

Salah satu cara mencegah pemanasan global adalah melalui rekayasa kebumian (geoengineering). Muncul berbagai gagasan geoengineering yang hi-tech, seperti membuat cermin atau menaburkan partikel pemantul sinar matahari. Untuk mengurangi badai topan di AS akan dicoba mengaduk lautan, oleh sejumlah armada kapal, agar air laut mendingin. Teknologi rekayasa kebumian kian dimungkinkan.

Membuat otak manusia

Masih banyak bagian dari otak manusia yang menyimpan misteri. Di balik miliaran neuron, tersembunyi segala pemikiran dan teknologi canggih yang tak pernah terbayangkan akan dilahirkan.

Peneliti yang tergabung dalam Blue Brain Project di Swiss mengumumkan rencana membuat otak artifisial beberapa dekade lagi. Simulasi dilakukan dengan membuat otak tikus buatan, menggunakan IBM Supercomputer Blue Gene.




Blog Stats

  • 2,926,791 hits

Recent Comments

Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Sejarah : Bangsa Lemuria, Lelu…
Ratu Adil - 666 on Sejarah : Bangsa Lemuria, Lelu…

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 144 other followers