Archive for the 'Jiwa Semangat Nilai-nilai 45' Category



03
Oct
09

Wisata Bahari : Festival Phinisi, Bulukumba

Festival Phinisi Akan Digelar di Bulukumba

Gambar perahu phinisi khas Makassar dalam lukisan cadas di Australia menunjukkan interaksi Suku Abvorigin dengan pelayar Bugis atau Makasan sudah lama berlangsung.

Sabtu, 3 Oktober 2009 | 08:36 WIB

BULUKUMBA, SULSEL, KOMPAS.com–Pemerintah Kabupaten Bulukumba, Sulawesi Selatan, akan menggelar Festival Phinisi bertempat di lokasi wisata pantai pasir putih Tanjung Bira 25-26 Oktober mendatang.

Kepala Dinas Pariwisata Bulukumba, Andi Bahagia Amin di Bulukumba, Jumat, mengatakan kegiatan tersebut rencananya dibuka secara langsung Gubernur Sulawesi Selatan, Syahrul Yasin Limpo, dan dihadiri undangan dari sejumlah kabupaten.

Menurut dia, diperkirakan ribuan orang akan memadati objek wisata kebanggaan Bulukumba tersebut karena peserta yang mengikuti festival akan menyuguhkan beragam keterampilan dan kemampuan mereka pada lomba yang akan dilaksanakan.

Seluruh kegiatan yang digelar pada festival tersebut bertujuan membangkitkan objek wisata agar para wisatawan domestik dan mancanegara dapat lebih mengenal Tanjung Bira, katanya.

Melalui Festival Phinisi ini, kata dia, diharapkan dapat lebih menggairahkan minat para wisatawan. Tentunya jika objek wisata Bira ramai dikunjungi, maka secara otomatis akan meningkatkan ekonomi masyarakat serta menambah pundi-pundi pemasukan Pajak Asli Daerah (PAD) Bulukumba.

“Kami terus berupaya melakukan promosi wisata Tanjung Bira dengan harapan agar jumlah wisatawan dapat terus bertambah. Dengan begitu, selain menambah pemasukan PAD juga meningkatkan pendapatan masyarakat,” ujarnya.

Selain itu, pihaknya juga tak henti-hentinya melakukan pembinaan Usaha Kecil Menengah (UKM). Tujuannya agar keterampilan yang telah diperoleh bisa diperkenalkan secara luas sehingga dapat meningkatkan pendapatan para pengrajin atau pengusaha kecil.

“Kami berharap dukungan semua pihak agar kegiatan ini nantinya dapat terselenggara dengan baik. Perlu diingat, kegiatan ini merupakan yang pertama dan terbesar yang pernah dilakukan didaerah ini,” ujarnya.

Ia menambahkan, saat ini pihaknya sangat mengharapkan adanya dukungan pemerintah termasuk bantuan anggaran untuk terus melakukan promosi wisata agar objek wisata Bira dapat lebih menggairahkan dan selalu dikunjungi wisatawan.

Sejumlah kegiatan yang akan dilaksanakan yakni, pembuatan atau penyusunan miniatur phinisi, pameran UKM dan makanan khas daerah, Fun Diving dan lomba memancing dan pagelaran seni dan Budaya Bulukumba.
JY
Sumber : Ant

Advertisements
03
Oct
09

Warisan Seni Budaya : Batik Kuno Indonesia di Ceko

Batik Kuno Indonesia Dipamerkan di Ceko
Sabtu, 3 Oktober 2009 | 08:36 WIB

LONDON, KOMPAS.com–Berbagai motif dan corak kain batik  Yogyakarta dan Pesisiran dipamerkan selama dua bulan bertempat di Java Cafe, Praha.  Ceko dari tanggal 2 Oktober hingga 30 November.

Sekretaris I Pensosbudpar KBRI Praha Azis Nurwahyudi, yang membuka pameran tersebut kepada koresponden Antara London, Jumat mengatakan pameran digelar dalam rangka mendukung pengukuhan batik sebagai warisan budaya Indonesia oleh UNESCO.

UNESCO adalah Badan PBB untuk Pendidikan, Ilmu Pengetahuan, dan Kebudayaan.

Kepada undangan ia menjelaskan mengenai batik yang merupakan salah satu warisan adiluhung bangsa Indonesia yang akan dikukuhkan sebagai warisan budaya Indonesia oleh UNESCO pada Jumat 2 Oktober 2009.

Selain memajang 32 koleksi batik kuno buatan tahun 1940-an koleksi “AFIF Batik” juga dipamerkan keris sebagai senjata tradisional dari Jawa dan berbagai foto yang berkaitan dengan penggunaan kain Batik.

Pada pembukaan acara mantan Dubes Republik Ceko di Jakarta, Jaroslav Olsa menjelaskan sejarah dan perkembangan batik Indonesia, termasuk perbedaan antara Batik gaya Yogyakarta dan Pesisiran yang dipamerkan di seluruh ruangan restoran tersebut.

Sementara itu Jiri Kadlec, pemilik Java Cafe, menyatakan kebanggaannya dapat turut serta mempromosikan kebudayaan Indonesia di Ceko. Melengkapi acara tersebut,  Kadlec juga menyajikan berbagai makanan Indonesia olahan Tinasrifah Tasmuri, juru masak restoran itu.

Sebagai tanda mata, semua undangan diberi kenang-kenangan berupa buku tentang batik Indonesia, dimana dipaparkan sejarah batik Indonesia termasuk proses pembuatannya. (U-ZG)
JY
Sumber : Ant

Puluhan Wartawan DIY Membatik Bareng

Perajin batik tulis mengerjakan produksi di pabrik PT Batik Danar Hadi, Solo.

Sabtu, 3 Oktober 2009 | 08:28 WIB

YOGYAKARTA, KOMPAS.com–Puluhan wartawan di Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), Sabtu (3/10) direncanakan akan melakukan aksi membatik bareng (bersama) di di sentra batik tulis Giriloyo, Desa Wukirsari, Kecamatan Imogiri, Kabupaten Bantul.

Kegiatan wartawan membatik bareng ini bertujuan mendukung ditetapkannya batik sebagai warisan budaya Indonesia oleh UNESCO (Badan PBB untuk Pendidikan, Ilmu Pengetahuan, dan Kebudayaan), kata   Koordinator Kegiatan Wartawan Membatik Bareng, Sulistiono, Jumat.

Menurut dia, kegiatan Wartawan Membatik Bareng ini sepenuhnya adalah untuk mendukung dan memperkenalkan kampung batik tulis Giriloyo, Kecamatan Imogiri, Bantul.

“Kegiatan ini murni bertujuan sebagai dukungan terhadap penetapan batik sebagai budaya asli Indonesia dari rekan-rekan wartawan dan upaya lebih memperkenalkan sentra batik tulis Giriloyo,” katanya.

Ia mengatakan, dipilihnya kampung batik Giriloyo, karena kampung ini mampu menjaga nilai tradisi membatik tulis yang sekarang ini memang hampir punah.

“Tercatat 800 warga yang tergabung dalam 10 kelompok mengantungkan hidupnya pada usaha membatik dan mereka mampu melestarikan warisan budaya ini secara turun temurun sehingga tidak pernah putus,” katanya.

Sulistiono mengatakan, bahkan untuk melestarikan proses batik tulis itu masyarakat Giriloyo tidak segan-segan untuk memberikan pelatihan membatik kepada para pengunjung yang berminat belajar.

“Penghargaan ini patut diberikan karena para perajin batik Giriloyo senantiasa memberikan pelatihan kepada para tamu yang berkunjung,” katanya.

Sementara itu Kordinator Perajin Batik Giriloyo,  Nur Ahmadi menyatakan pihaknya mendukung penuh kegiatan membatik bareng dengan rekan-rekan wartawan DIY.

“Kami menganggap ini merupakan bentuk penghargaan tertinggi buat kami. Terlebih lagi setelah adanya penetapan dari organisasi tinggi dunia terhadap batik. Dengan penghargaan serta kegiatan ini, pemahaman masyarakat yang masih rendah akan batik semakin meningkat,” katanya.
JY
Sumber : Ant

Penetapan UNESCO atas Batik Tidak Surutkan Aliran Kritik

Sementara itu, perajin batik tulis di sentra kerajinan Batik Trusmi, di Desa Trusmi, Kabupaten Cirebon, Jawa Barat, menyatakan dukungannya atas upaya pelestarian seni batik daerah itu dengan menerapkan pelajaran esktrakulikuler membatik kepada siswa SD di kabupaten Cirebon.

Sabtu, 3 Oktober 2009 | 00:37 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com – Penetapan batik oleh UNESCO sebagai salah satu dari 76 seni dan tradisi yang masuk dalam daftar warisan budaya bukan benda tidak membuat tokoh pembatik Indonesia Iwan Tirta mengendurkan kritikan terhadap batik Indonesia.

Kritikan demi kritikan untuk menjaga budaya batik dilontarkanya saat diskusi Batik Kreatifitas Budaya dan Teknologi Indonesia di Gedung Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) Jakarta, Jumat ( 2/10 ). Ikut hadir pembatik lain, Komar.

Iwan (75) yang sudah membatik sejak tahun 1960 menjelaskan, kaum perempuan Indonesia saat ini merupakan kaum yang pertama meninggalkan batik tulis. Saat ini, belum ada instansi pemerintah yang mendata secara detail pola-pola batik serta daerah yang masih memproduksi batik diseluruh wilayah di Indonesia.

Pengusaha batik tulis di beberapa daerah, kata Iwan, perlahan mulai menghilang seperti di Garut dan Tasikmalaya. Pasar batik sudah dikuasai oleh batik tekstil atau batik cap dengan meninggalkan jati diri batik yaitu garis dan titik. “Menurut saya batik cap atau batik printing bukan seni hanya sebagai jalan pintas,” tegas dia.

Kritikan lain, promosi batik tulis oleh pemerintah ke negara lain tidak melibatkan para antropolog, ilmuwan, ataupun pembatik sendiri. Namun, promosi dilakukan pemerintah bersama ekonom dengan pedagang.

Selain itu, ucap Iwan, perlu ditingkatkan profesionalisme para pengusaha batik tulis khususnya dalam segi desain batik agar dapat terus bertahan. “Pengusaha batik tidak menggunakan seorang desainer khusus. Buat desain hanya tergantung selera sendiri. Yah enggak akan laku,” jelas dia.

Menurut dia yang juga seorang penulis buku tentang motif batik tulis, seorang pembatik harus memaksakan diri menjadi seorang Jawa untuk dapat menghasilkan batik yang baik. Mereka harus belajar bahasa, tarian, alat musik, wayang, serta budaya Jawa lainya. “Itu pupuk seni batik,” ucap Iwan.

Untuk Kemenristek, Iwan memberikan masukan, sudah seharusnya mulai melakukan riset pembuatan kain untuk alas batik yang cocok dengan iklim tropis di Indonesia. Selain itu, perlu dilakukan riset pewarna dan teknik membatik.

Kritikan senada juga dilontarkan pembatik Komar. Menurutnya, minat batik tulis sejak tahun 2008 hingga sekarang terus menurun. Hal itu akibat serbuan batik tekstil yang mengambil motif batik tradisional. Sebagai contoh, motif mega mendung yang terkenal telah di cap secara massal. “Habis di printing. Eggak ada lagi yang mau pake,” tegasnya.

 
C8-09

PNS di Maluku Pakai Batik Sebelum Instruksi Presiden

Sejumlah petugas keamanan mengenakan batik hari ini, Jumat (2/10).

Jumat, 2 Oktober 2009 | 23:38 WIB

AMBON, KOMPAS.com–Para Pegawai Negeri Sipil(PNS) di Maluku telah memakai  batik sebagai pakaian dinas resmi sebelum adanya instruksi Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, kata Sekda setempat, Ros Far- Far.

“PNS di Maluku pakai batik sejak 2007, makanya instruksi Kepala Negara tinggal diingatkan saja,” katanya di Ambon, Jumat.

Instruksi Presiden, menurut Sekda, telah ditindaklanjutinya dengan menyurati para Bupati/ Walikota dan para Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) agar setiap Jumat mengenakan batik sebagai pakaian dinas resmi.

“Saya telah menyurati Bupati/ Walikota se- Maluku dan para SKPD, kemarin( Kamis) agar tetap memakai batik pada setiap Jumat,” ujarnya.

Sekda mengatakan batik yang dipakai PNS di jajaran Pemprov Maluku itu dibeli masing – masing dengan motif dan bahannya sesuai selera diminati. “Kami tidak permasalahkan motif dan bahan batik, terpenting harus dipakai setiap Jumat pekan berlajalan,” katanya.

Di Maluku batik juga disosialisasikan  tim penggerak program kesejahteraan keluarga (pkk) setempat. “Tim penggerak pkk memiliki nama sesuai karakteristik Maluku yakni batik ’beta’ dengan motif mencerminkan potensi sumberdaya hayati laut seperti kerang – kerangan,” ujar Sekda.

Instruksi Presiden (Inpres) soal Pedoman Penggunaan Produk Dalam Negeri ditindaklanjuti dengan diterbitkannya surat keputusan bersama (SKB) tentang kewajiban penggunaan produk dalam negeri pada Februari 2009.

Inpres soal Pedoman Penggunaan Produk Dalam Negeri (P3DN) dengan petunjuk teknis berupa SKB, makin memperbesar potensi pasar dalam negeri.

Presiden SBY juga mengajak seluruh rakyat Indonesia pada 2 Oktober 2009 berpesta batik berkaitan dengan UNESCO telah mengakui kerajinan batik Indonesia sebagai warisan budaya dunia.
JY
Sumber : Ant

03
Oct
09

Warisan Seni Budaya : Angklung dan Gamelan Juga Diusulkan ke UNESCO

Angklung dan Gamelan Juga Diusulkan ke Unesco
Sabtu, 3 Oktober 2009 | 08:35 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com–Mantan Menbudpar yang kini anggota DPR dari Fraksi Partai Demokrat Jero Wacik mengungkapkan, seni angklung dan gamelan saat ini sedang dalam proses pengusulan ke Unesco sebagai budaya asli bangsa Indonesia.

“Saya sedang mengusulkan budaya lain yang masih dalam proses yaitu angklung dan gamelan. Selanjutnya kita lihat, budaya-budaya Indonesia yang sudah membahayakan untuk diambil oleh bangsa lain agar segera didaftarkan pada Unesco,” ujarnya kepada pers di Gedung DPR Jakarta, Jumat.

Saat ini Unesco telah mengakui dan menetapkan batik sebagai warisan budaya Indonesia. Selain batik, budaya lainnya yang juga telah ditetapkan menjadi warisan budaya Indonesia, yakni wayang dan keris.

Apabila pengajuan perangkat seni angklung dan gamelan kembali diakui sebagai warisan budaya bangsa Indonesia, masyarakat dan pemerintah harus terus mengabadikan warisan itu seraya mengusulkan karya-karya seni lainnya yang sudah menjadi aset nasional.

Wacik berharap bangsa Indonesia benar-benar memelihara budayanya dan dalam konteks pengakuan dunia terhadap batik, masyarakat seyogyanya jangan hanya sekedar memperjuangkan supaya diakui tapi setelah itu malas memakainya.

Sementara itu anggota MPR/DPR dari Fraksi PKB Anna Mu’awanah mengatakan bahwa bangsa Indonesia perlu mengapresiasi Unesco atas kesediaannya mengukuhkan batik sebagai warisan budaya bangsa Indonesia.

“Saya berikan apresiasi untuk Unesco. Pengukuhan itu merupakan terobosan yang luar biasa,” ujarnya.

Menurut politisi wanita itu, dengan diakuinya batik sebagai warisan budaya bangsa Indonesia, setidaknya hal itu akan memberikan kesadaran tersendiri bagi masyarakat Indonesia yang masih kurang menghargai kebudayaannya sendiri.

Perlindungan Unesco itu, menurut dia, setidaknya akan menjadi payung hukum yang lebih kuat bagi upaya pelestarian warisan nenek moyang bangsa Indonesia sekaligus bukti bahwa Indonesia mempunyai budaya yang luar biasa.
JY
Sumber : Ant

03
Oct
09

Lingkungan : Kepunahan Masal Makin Dekat

Waduh… Kepunahan Masal Makin Dekat

Jejak keberadaan koloni terumbu karang

Artikel Terkait:

Jumat, 2 Oktober 2009 | 19:37 WIB
Laporan wartawan KOMPAS Irene Sarwindaningrum

YOGYAKARTA, KOMPAS.com – Para ahli biologi memperkirakan dunia tengah menghadapi ancaman kepunahan keanekaragaman hayati secara masal. Dugaan ini muncul dari krisis keanekaragaman hayati yang semakin parah. Diperkirakan, saat ini sebanyak 50-150 spesies bumi punah setiap harinya.

“Perkiraan ini berdasar atas proyeksi laju kepunahan yang terjadi saat ini. Proyeksi tersebut menyebutkan Sekitar 50 persen dari sekitar 10 juta spesies yang ada saat ini diprediksi akan punah dalam kurun waktu 100 tahun ke depan. Laju kepunahan beragam spesies saat ini mencapai 40-400 kali lipat dari laju kepunahan 500 tahun yang lalu,” kata Ign Pramana Yuda, Peneliti Teknobiologi dari Universitas Atma Jaya Yogyakarta (UAJY) dalam pidato ilmiah dies natalies ke-44 universitas tersebut di Yogyakarta, Jumat (2/10).

Laju kepunahan burung dan binatang menyusui antara tahun 1600-1975, misalnya, telah diperkirakan mencapai 5-50 kali lipat dari laju kepunahan sebelumnya. Tidak hanya spesies, kepunahan juga mengancam gen dan ekosistem di mana spesies tersebut tinggal.

Menurut Pramana, Indonesia adalah salah satu kawasan yang memiliki ancaman kepunahan terbesar. Ekosistem hutan tropis berkurang 10-20 juta hektar setiap tahunnya. Sebanyak 70 persen terumbu karang di Indonesia juga mengalami kerusakan sedang hingga berat. Kerusakan juga terjadi di sejumlah ekosistem khas di Indonesia lainnya seperti hutan bakau, sungai, danau, dan kawasan pertanian.

Pramana mengatakan, kepunahan massal kali ini terjadi dalam skala yang jauh lebih luas dan laju l ebih cepat dari lima kepunahan massal yang pernah terjadi di Bumi sebelumnya. Kepunahan massal yang terbaru terjadi sekitar 65 juta tahun lalu. Luasnya skala kepunahan massal kali ini bisa dilihat dari banyaknya spesies yang punah dan makin pendeknya usia kelestarian satu spesies. Saat ini usia spesies kurang dari 35 ribu tahun, padahal jutaan tahun yang lalu satu spesies bisa berusia 10 juta tahun.

Solidaritas lintas spesies

Besarnya skala kepunahan ini perlu diredam karena bisa berakibat berdampak buruk pada kelangsungan kehidupan di bumi . Salah satu upaya peredaman itu adalah dengan menumbuhkan solidaritas lintas spesies yang saat ini masih sangat minim. Selama ini, pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi lebih berorientasi kesejahteraan umat manusia.

Menurut Pramana, sektor pendidikan berperan sangat penting dalam hal ini. Komunitas akademis perlu mulai mengembangkan program dan kurikulum pendidikan serta pelestarian yang mengacu pada konservasi keanekaragaman hayati. Sejumlah penelitian menunjukkan, belum banyak perguruan tinggi yang membekali dengan keterampilan dan pengetahuan memadai soal konservasi hayati.

Peneliti Keanekaragaman Hayati dari Universitas Kristen Duta Wacana Yogyakarta Djoko Raharjo berpendapat, kepunahan yang terjadi saat ini tidak bisa disebut alami karena dipicu oleh berbagai sebab buatan , antara lain polusi, eksploitasi berlebihan pada sumber daya alam, dan industrialisasi. “Meskipun sudah sangat parah, sebenarnya masih banyak yang bisa kita lakukan untuk meredamnya pada laju yang alami,” ujarnya.

Berbagai penemuan di bidang konservasi memberikan harapan baru di bidang pelestarian alam. Masyarakat juga bisa berkontribusi dengan menekan penggunaan energi dari bahan tambang serta mengurangi konsumsi yang bisa menyebabkan polusi serta ekploitasi alam berlebihan.

  • Terumbu Karang di Ambang Kehancuran
  • Rata-rata 10 Persen Spesies Terancam
  • Kasihan Tokek Jadi Buruan, Gara-gara Harga…
  • Buaya Senyulong Terancam Punah
  • Lindungi Habitat Ikan Purba
  • Taman Wisata Candi Borobudur Jadi Lembaga …
  • Kondom Bantu Perangi Perubahan Iklim, Kok …
  • Hutan Lindung Rusak Parah, Solusinya Hanya…
  • Duh, Trenggiling, Harimau, Gading Gajah, d…
  • 03
    Oct
    09

    Kenegaraan : SBY Harus Pertimbangkan Faktor Cluster, Competencies, dan Chemistry

    Cl, Co, dan Ch

    detikcom – Sabtu, Oktober 3
    SBY Harus Pertimbangkan Faktor Cluster, Competencies, dan Chemistry

    Pembentukan kabinet SBY jilid II hendaknya mempertimbangkan tiga faktor
    utama, yakni cluster, competencies, dan chemistry. SBY juga sebaiknya
    mengakomodasi kandidat dari Indonesia bagian Timur dalam komposisi kabinet
    mendatang.

    “Saya membayangkan dalam menentukan kabinet nanti lebih baik akan mempertimbangkan tiga hal, di antaranya, cluster yang meliputi representasi
    kedaerahan, etnis, umur dan agama. Kedua, competencies yang meliputi track
    record dan integritas. Dan ketiga adalah chemistry, kedekatan dan loyalitas,” ujar Direktur Eksekutif Charta Politika Indonesia Bima Arya Sugiarto.

    Pendapat itu dikemukakan dalam diskusi public bertajuk ‘Kontribusi Saudagar dan Pengusaha dalam Kabinet SBY Jilid II’ di Restoran Sindang Reret, Jl Wijaya I, Jakarta, Jumat (2/10/2009).

    Bima juga menyoroti pentingnya akomodasi kandidat dari Indonesia bagian Timur dalam komposisi kabinet mendatang.

    “Rahmat Gobel dan Felix Wanggai adalah dua contoh kandidat yang dapat mewakili Indonesia bagian Timur. Gobel misalnya, seorang pengusaha, berasal dari Indonesia Timur dan berusia muda,” tandas Bima.

    Selain itu, Bima berpendapat bahwa pengusaha yang masuk bursa kabinet hendaknya bukan pengusaha hitam. “Lebih baik pengusaha yang berdarah-darah dalam membangun usahanya bisa masuk kabinet, bukan pengusaha rente atau pengusaha hitam,”pungkasnya.

    03
    Oct
    09

    Anti Korupsi : Chandra dan Bibit Resmi Dicekal

    Resmi Dicekal

    By Pipiet Tri Noorastuti, Yudho RahardjoSabtu, Oktober 3
    Pimpinan KPK Chandra M Hamzah & Bibit Samad Riyanto ke Mabes Polri

    VIVAnews – Kejaksaan Agung memenuhi permintaan Kepolisian RI untuk mencekal dua Pimpinan (nonaktif) Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Chandra M Hamzah dan Bibit Samad Rianto. Keduanya merupakan tersangka dugaan penyalahgunaan kewenangan KPK.

    Pencekalan Chandra dilakukan melalui surat dengan no skep: KEP-248/D/Dsp.3/10/2009, sedangkan Bibid dengan no skep: KEP-249 /D/Dsp.3/10/2009. Kedua surat itu diterbitkan pada 2 Oktober 2009.

    “Cekal berlaku satu tahun satu tahun sampai 2 Oktober 2010,” kata Direktur Penyidikan dan Penindakan Keimigrasian, Muchdor, dalam pesan singkatnya kepada wartawan, Jumat 2 Oktober 2010.

    Siang tadi Jaksa Agung Hendarman Supandji mengaku telah menerima surat permohonan cekal atas dua tersangka itu dari kepolisian. Kejaksaan Agung, kemudian meneruskan permohonan cekal itu ke bagian Imigrasi Departemen Hukum dan HAM.

    Terkait berkas Chandra dan Hamzah, Jaksa Agung mengatakan hari ini pidana khusus menerima pelimpahan berkas tahap pertama atas nama keduanya. Keduanya dikenakan pasal penyalahgunaan kewenangan saat mencekal dua pengusaha, Anggoro Widjojo dan Joko Tjandra.

    Selain itu, polisi juga menjerat dua pimpinan itu dengan dugaan suap. Terkait suap ini, pelaku pemberi uang, Ary Muladi, menyatakan bahwa dirinya tidak bernah berhubungan langsung dengan Pimpinan KPK.

    Melalui pengacaranya, Ary mengatakan uang dari Anggoro yang sedianya diserahkan ke Pimpinan KPK malah ia berikan ke pengusaha bernama Anto.

    SMS Ancam KPK Beredar
    Pengacara Duga SMS Dari Polisi
    Menurut Rifai, polisi memiliki kewajiban menegakkan hukum dan mengayomi masyarakat.
    Jum’at, 2 Oktober 2009, 16:07 WIB
    Arry Anggadha, Yudho Rahardjo
    SMS Inbox (phonenumbers4u.co.uk)

    VIVAnews – Empat pesan singkat berisi ancaman diterima salah seorang petinggi Komisi Pemberantasan Korupsi. Pihak pengacara yang membela pimpinan KPK, mensinyalir pesan singkat itu berasal dari polisi.

    “Ini sepertinya dari polisi,” kata pengacara pimpinan KPK, Ahmad Rifai, di Gedung KPK, Jakarta, Jumat 2 Oktober 2009.

    Seperti diberitakan, pesan singkat yang beredar itu ditujukan kepada salah satu direktur KPK. Ancaman ini terkait dengan upaya KPK untuk menindaklanjuti temuan PPATK mengenai kasus Bank Century.

    Isi pesan singkat itu adalah:
    ‘Dik (menyebut direktur KPK) Check anggotanya apakah ada yang opsnal khusnya nama : tugini dan dally rustamblin yg skr sdh posisi jepit oleh sneper jatim.Kalau betul anak buahmu, akan sy delay unt melumpuhkannya, tapi kalau anak buahmy agar sgr dihubugi unt ditarik dan jng diulangi unt giat liar spti ini,krn menureut undang2 lidik dan tut atas perintah pimpinan dan saat ini pimpinan sdg kosong 2 org bukanlah pimpinan,sec.yuridis
    giat tsb adalah kriminal. tolog smpkan haryono dan yasin cc. Pak Ade’

    Jika benar pesan singkat berasal dari polisi, lanjut Rifai, seharusnya polisi bekerja secara profesional. Karena polisi memiliki kewajiban menegakkan hukum dan mengayomi masyarakat. “Bukannya menakut-nakuti,” ujarnya. Tindakan seperti itu, menurut Rifai, sudah masuk dalam tindakan pidana.

    Mengenai adanya pesan singkat ini, Mabes Polri menyatakan, jika benar KPK menerima ancaman, seharusnya segera dilaporkan ke polisi. “Kalau ada ancaman dilaporkan dong, kita segera menerima laporan itu,” kata Juru Bicara Polri, Inspektur Jenderal Nanan Soekarna.

    • VIVAnews 

    BERITA KORUPSI UNGGULAN
    BERITA KORUPSI TERPOPULER
    VIDEO TERKAIT
    HUKUM & KRIMINALITAS
    spacer
      Tanggapan atas SMS
    Pengacara: Ancaman pada KPK, Tindak PidanaGATRA, Jakarta, 2 Oktober 2009 13:58
    Anggota tim pengacara Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Achmad Rifai menegaskan, segala bentuk ancaman kepada KPK adalah bentuk tindak pidana murni.

    “Itu sudah tindak pidana murni,” kata Achmad ketika ditemui di gedung KPK, Jakarta, Jumat (2/10).

    Achmad Rifai mengatakan hal itu terkait pesan singkat (SMS) berisi ancaman yang beredar. Dalam sms itu tertulis beberapa nama yang sama dengan nama pejabat KPK, yaitu Yasin dan Haryono (Wakil Ketua KPK), Ade, serta Suaidi Husin.

    Dalam struktur di KPK, Ade Rahardja menjabat Deputi Penindakan. Dia membawahi Direktur Penyidikan yang kini dijabat oleh Suaidi Husin. Keduanya adalah perwira tinggi kepolisian.

    Isi lengkap sms itu adalah, “Dik Suaidi Husin Check anggotanya apakah ada yang opsnal khusnya nama : tugini dan dally rustamblin yg skr sdh posisi jepit oleh sneper jatim. Kalau betul anak buahmu, akan sy delay unt melumpuhkannya, tapi kalau anak buahmu agar sgr dihubugi unt ditarik dan jng diulangi unt giat liar spti ini, krn menureut undang2 lidik dan tut atas perintah pimpinan dan saat ini pimpinan sdg kosong sbb 2 org bukanlah pimpinan, sec.yuridis giat tsb adalah kriminal. tolog smpkan haryono dan yasin cc. Pak Ade.”

    Achmad Rifai mengaku mendapat terusan pesan singkat yang berisi larangan operasi di daerah Jawa Timur, seperti tertulis dalam pesan yang beredar tersebut.

    “Semua smsnya sudah diforward ke saya,” kata Achmad.

    Achmad mengaku mendapat empat pesan singkat. Namun, dia enggan menjelaskan isi dari pesan tersebut. Dia hanya menegaskan mendapatkan terusan pesan singkat itu dari orang yang dapat dipercaya.

    Dia menjelaskan, tim pembela KPK akan menelusuri cerita di balik pesan singkat tersebut, termasuk menelusuri kemungkinan bahwa pesan itu dikirim oleh seorang pejabat di kepolisian.

    Menurut Achmad, segala bentuk ancaman, termasuk melalui sms, adalah pelanggaran pidana. Jika benar sms itu berasal dari pejabat polisi, Achmad mengatakan, hal itu adalah pelanggaran profesi.

    “Artinya polisi itu harus bekerja profesional, jangan menakuti orang. Polisi punya kewajiban menegakkan hukum, mengayomi masyarakat, bukan untuk menakuti dan sebagainya,” kata Rifai.

    Sebelumnya, Direktur Penyidikan KPK Suadi Husin menyatakan, anak buahnya tidak pernah menerima ancaman. Menurut dia, kegiatan KPK berjalan normal tanpa tekanan dan ancaman. [TMA, Ant]

    02
    Oct
    09

    Ensiklopedia Islam (5)

    Syawal

    By Republika Newsroom
    Jumat, 02 Oktober 2009 pukul 07:59:00

     

    Syawal adalah bulan kesepuluh dalam penanggalan kalender hijriyah. Kehadiran bulan ini selalu dinanti umat Islam di seluruh dunia. Penetapan awal bulan ini menjadi perhatian kaum Muslimin, karena pada 1 Syawal, umat Islam di seantero jagad merayakan Idul Fitri–hari kemenangan–setelah menunaikan ibadah shaum selama sebulan penuh pada Ramadhan.

    Secara bahasa, Syawal berasal dari kata Syala yang  berarti naik atau meninggi (irtafa’a). Pada bulan ini,  kedudukan dan derajat kaum Muslimin meninggi di mata  Allah SWT, karena telah menunaikan ibadah shaum pada bulan Ramadhan.

    Rasulullah SAW bersabda, ”Barang siapa berpuasa di bulan Ramadhan karena iman dan tulus karena Allah, maka dosa-dosanya akan diampuni oleh Allah.” Pada bulan ini pula,  umat Muslim secara moral dan spiritual harus mampu mempertahankan dan meningkatkan keimananannya.

    Setelah menempuh ujian selama satu bulan, umat Muslim diharapkan bisa mempertahankan nilai-nilai amaliyah yang telah dilakukan pada Ramadhan hingga datang Ramadhan selanjutnya. Syawal bermakna  sebagai bulan peningkatan ibadah dan amal saleh.

    Seperti halnya bulan-bulan lain pada kalender Hijriyah,  Syawal memiliki keistimewaan tersendiri. Dalam sebuah hadis diriwayatkan dari Ayyub RA, Rasulullah SAW bersabda, “Barang siapa berpuasa Ramadhan dan meneruskannya dengan puasa enam hari di bulan Syawal, berarti dia telah berpuasa satu tahun.” (HR Imam Muslim dan Abu Dawud).

    Pada bulan ini pula tertoreh sejarah penting dalam kehidupan Rasulullah SAW serta peradaban Islam. Menurut Ibnu Mandhur dalam Lisan al-Arab, Nabi Muhammad SAW mempersunting Siti Aisyah RA, putri Abu Bakar RA, pada bulan Syawal. Keduanya juga memulai hidup bersama pada bulan Syawal.

    Di bulan ini pula, seorang ahli hadis terkemuka bernama Muhammad al-Bukhari lahir. Imam Bukhari terlahir di Bukhara, Uzbekistan, Asia Tengah pada 13 Syawal 194 H. Menurut Ibnu Hajar Al Asqalani, Imam al-Bukhari berhasil menuliskan sebanyak 9.082 hadis dalam karya monumentalnya bertajuk al-Jami’al-Shahil yang dikenal sebagai Shahih Bukhari.

    Sejarah peradaban Islam juga mencatat pada 15 Syawal, umat Muslim di zaman Rasulullah SAW terlibat dalam Perang Uhud. Pada pertempuran itu, umat Islam mendapatkan pelajaran penting, karena mengalami kekalahan. hri/taq/berbagai sumber

    Fatwa

    By Republika Newsroom
    Rabu, 09 September 2009 pukul 06:10:00

     

    Berasal dari kata fatwa(jamak) serta fatawa yang artinya petuah, nasihat, jawaban dan pertanyaan hukum. Fatwa berarti pendapat mengenai suatu hukum dalam Islam yang merupakan tanggapan atau jawaban atas pertanyaan yang diajukan oleh peminta fatwa dan tidak mempunyai daya ikat. Dengan kata lain, si peminta fatwa, baik perorangan, lembaga maupun masyarakat luas tidak harus mengikuti isi atau hukum dari fatwa yang diberikan kepadanya.

    Hal ini disebabkan fatwa seorang mufti atau ulama di suatu tempat bisa saja berbeda dari fatwa ulama lain di tempat yang sama. Fatwa biasanya cenderung dinamis karena merupakan tanggapan terhadap perkembangan terbaru yang sedang dihadapi masyarakat peminta fatwa. Isi fatwa itu sendiri belum tentu dinamis, tetapi minimal fatwa itu responsif.

    Tindakan memberi fatwa disebut futya atau ifta, suatu istilah yang juga merujuk pada profesi memberi nasihat. Orang yang memberi fatwa disebut mufti atau ulama, sedangkan yang meminta fatwa disebut mustafti. Peminta fatwa bisa berupa perorangan, lembaga maupun siapa asja yang membutuhkannya.

    Pada dasarnya, futya adalah profesi independen, namun di banyak negara Muslim menjadi terkait dengan ootoritas kenegaraan dalam berbagai cara. Dalam sejarah Islam, dari abad pertama sampai ketujuh Hijriyah, negaralah yang mengangkat ulama yang bermutu sebagai mufti.

    Namun pada masa-masa selanjutnya, pos-pos resmi dari futya diciptakan, sehingga mufti menjadi jabatan kenegaraan yang hierarkis, namun tetap dalam fungsi keagamaan. Pada tempat dan periode tertentu, seperti pada masa Kerajaan Ottoman, fungsi mufti dikombinasikan dengan hakim dan pemegang jabatan ini seringkali dilarang memberikan fatwa sehubungan dengan tindakan hukum yang terjadi di pengadilannya. 

    Fungsi kenegaraan yang dibebankan futya tidak menghilangkan pelaksanaan profesi itu secara pribadi. Akan tetapi dengan penerapan kitab-kitab undang-undang tertentu dengan segala perlengkapannya yang diambil dari sistem perundang-undangan Eropa, maka profesi futya di banyak negara Islam hampir tidak terpakai lagi.

    Persyaratan yang diperlukan untuk melaksanakan profesi ini adalah; beragama Islam, memiliki integritas pribadi (‘adil) dan ahli ijtihad (mujtahid) atau memiliki kesanggupan untuk memecahkan masalah melalui penalaran pribadi. Berbeda dengan seorang hakim, seorang mufti bisa saja wanita, orang buta atau orang bisu, kecuali untuk jabatan kenegaraan.

    Keperluan akan fatwa ini sudah terasa sejak awal perkembangan Islam. Dengan semakin meningkatnya jumlah pemeluk Islam dan semakin meluasnya wilayah Islam, maka setiap persoalan yang muncul memerlukan jawaban. Untuk menjawab persoalan tersebut, diperlukan bantuan dari orang-orang yang berkompeten di bidang tersebut. Dalam masalah agama, yang kompeten untuk itu adalah para mufti atau para mujtahid.

    Pada mulanya, praktik fatwa diberikan secara lepas dan belum ada upaya untuk membukukan isi fatwa-fatwa ulama tersebut. Pengumpulan fatwa menjadi sebuah kitab baru muncul pada abad ke 12.

    yus/taq/disarikan dari buku Ensiklopedi Islam terbitan PT Ikhtiar Baru van Hoeve, Jakarta.

    Iktikaf

    By Republika Newsroom
    Jumat, 28 Agustus 2009 pukul 07:15:00

     

    Dasar hukum iktikaf adalah Al -quran dan hadis. Iktikaf berarti tinggal di dalam masjid yang dila kukan oleh seseorang dengan niat. Dalam Alquran surat al Baqarah ayat 125 yang artinya, “Dan telah Kami perintahkan kepada Ibrahim dan Ismail; bersihkanlah rumah-Ku untuk orang-orang yang tawaf, yang iktikaf, yang rukuk, dan yang sujud.”

    Hadis riwayat Bukhari dan Muslim dari Abdullah bin Umar bin Khattab, Anas bin Malik, dan Aisyah binti Abu Bakar as-Shiddiq dijelaskan bahwa Rasulullah SAW melakukan iktikaf pada 10 hari terakhir bulan Rama dhan, sejak Nabi datang di Madinah hingga wafatnya. Berdasarkan dalil-dalil tersebut, para ulama baik dari mazhab Maliki, Hanafi, Syafii dan Hambali, se pakat tentang adanya iktikaf.

    Iktikaf bertujuan membersihkan hati pada waktuwaktu tertentu karena Allah SWT, melepaskan diri dari kesibukan keduniaan dengan menye rahkan diri kepada Allah SWT, dan mendekatkan diri kepada-Nya dengan mengharap rahmat-Nya.

    Iktikaf dapat berlangsung selama bulan Ramadhan dan di luar bulan Ramadhan. Para ulama berbeda pendapat tentang lama beriktikaf. Ulama dari Mazhab Hanafi mengatakan ikti kaf itu sunah pada waktu-waktu tertentu, yang mudah bagi pelakunya wa laupun hanya sesaat, tanpa disyariatkan berpuasa.

    Sementara menurut ulama Mazhab Maliki, waktu iktikaf itu sekurang-kurangnya sehari semalam dan lebih baik lagi kalau tidak kurang dari 10 hari dengan syarat berpuasa, baik dalam bulan Ramadhan maupun di luar bulan itu.

    Mereka berpendapat tidak sah iktikaf seseorang yang tidak berpuasa karena suatu halangan atau tidak sanggup berpuasa. Ulama dari Mazhab Syafii mensyaratkan iktikaf harus tinggal dalam waktu tertentu yang lamanya sama dengan waktu tuma’ninah(berhenti sebentar) dalam rukuk dan sujud. Adapun menurut ula ma dari Mazhab Hanbali, ikti kaf sekurangkurangnya berlangsung selama satu jam.

    Menurut ahli fikih Mesir, Wahbah al Zuhaili, sah melakukan iktikaf da lam keadaan berikut, pertama, dila kukan di luar waktu shalat, seperti waktu malam. Kedua, yang mela ku kan iktikaf adalah orang yang tidak mempunyai halangan untuk meng ikuti shalat jamaah. Syarat sah iktikaf antara lain; pertama, Islam, kedua, berakal, ketiga, di dalam masjid, tidak sah kalau di rumah. Keempat, berniat, dan kelima, berpuasa.

    Menurut Mazhab Maliki, berpuasa adalah syarat mutlak. Mazhab Hanafi menganggap puasa adalah syarat dalam iktikaf nazar. Sementara menurut Mazhab Syafii dan Hanbali, puasa tidak disyaratkan.

    Ada hal-hal yang disunahkan bagi mu’takif(orang yang beriktikaf) yakni, sedapat mungkin melakukan kegiatan membaca Alquran, berdzikir, beristigh far, bertafakur, mengucapkan shalawat Nabi SAW, menafsirkan Alquran, berpuasa menurut jumhur ulama, berada di dalam masjid jami, dilakukan di bulan Ramadhan, dan menghindari perkataan serta per buat an yang tidak bermanfaat baginya.  yus/disarikan dari buku Ensiklopedi Islam terbit an PT Ikhtiar Baru van Hoeve, Jakarta.

    Ikhtiar

    By Republika Newsroom
    Jumat, 14 Agustus 2009 pukul 09:11:00

     

    Kitab suci Alquran menggunakan kata ikhtiar ini pada beberapa tempat. Misalnya pada surat Thaha ayat 13, surat ad-Dukhan ayat 32, serta surat al Qasas ayat 68. Ketiga ayat tersebut menunjukkan bahwa ikhtiar merupakan sifat Allah SWT.

    Dalam Islam dikenal istilah Ahl al-Ikhtiyar (istilah dalam fikih; siyasi atau politik), yakni badan yang memilih seorang imam atau khalifah pada suatu negara atau pemerintahan Islam. Dalam pemahaman golongan Sunni, seorang imam atau khalifah menduduki jabatan itu melalui pemilihan yang dilakukan secara musyawarah oleh ahl a-Ikhtiyar atau disebut juga Ahl al-Hall wa al-‘Aqd (Badan Pengurai dan Pengikat).

    Menurut al Mawardi (ahli fikih), anggota Ahl al-Ikhtiyar harus memenuhi tiga syarat, yaitu pertama, bersifat adil, kedua, mengetahui hal-hal yang berguna untuk dapat menentukan persyaratan seorang calon imam atau khalifah, dan ketiga, mempunyai kearifan dan wawasan yang luas serta bijaksana dalam memilih seorang imam.

    Berbeda dengan golongan Syiah. Menurut golongan ini, Ahl al-Ikhtiyar tidak ada karena seorang imam telah ditunjuk atas dasar wasiat oleh imam sebelumnya. Penunjukan itu tidak bisa batal meskipun imam yang terpilih telah meninggal sebelum yang berwasiat meninggal. Ia tetap diyakini sebagai imam al-Muntazar (yang ditunggu-tunggu) untuk membimbing umat pada saat mereka berada dalam kekacauan.

    Dalam ilmu kalam (teologi), ikhtiar berarti kebebasan untuk memilih (hurriah) atau  free will . Ini terdapat dalam aliran Kadariah yang dipelopori Ma’bah al Juhani (w.80 H) dan Gailan al Dimasyqi. Menurut paham Qadariah, manusialah yang mewujudkan perbuatannya dengan kemauan dan tenaganya. Daya telah diberikan Allah SWT sebelum manusia bertindak. Oleh karena itu, manusia bebas memilih dan berkehendak. Kebebasan memilih (seperti berbuat sesuatu atau tidak, beriman atau kafir, berbuat baik atau jahat) dengan segala konsekuensinya terlihat dalam surat Ali Imran ayat 164, surat ar-Raad ayat 11, al Kahfi ayat 29 dan surat Fussilat ayat 40.

    Kebalikan dari paham Kadariah adalah paham Jabariah. Menurut paham ini, segala kehendak dan perbuatan manusia pada hakikatnya adalah perbuatan Allah SWT. Paham demikian dapat dipahami dari teori  kasb abu Hasan al Asyari. Paham  kasb menjelaskan bahwa perbuatan manusia tidak efektif. Kehendak dan kemauan manusia adalah juga kehendak dan kemauan Allah SWT. Menurut Asyari, kasb hanya dimaksudkan sehubungan dengan tanggungjawab manusia, karena memang hanya Tuhan yang berkehendak mutlak.

    Menurut Ibnu Sina, ikhtiar diartikan sebagai kekuatan untuk memilih (power of choice). Kekuatan memilih ini berdasarkan atas daya adn pengetahuan yang diberikan Allah SWT melalui upaya dan intelek manusia, sehingga ia dapat memilih sesuatu yang akan dikerjakan atau tidak dikerjakan. yus/disarikan dari buku Ensiklopedi Islam terbitan PT Ikhtiar Baru van Hoeve, Jakarta.

    Ilmuwan Muslim

    By Republika Newsroom
    Senin, 10 Agustus 2009 pukul 08:33:00

     

    Adalah seseorang yang beragama Islam yang ahli dan banyak pengetahuannya dalam suatu atau beberapa bidang ilmu. Dalam bahasa Arab, untuk sebutan ilmuwan biasa dipakai istilah ‘alim jamaknya adalah ‘ulama. Orang yang ahli dalam lapangan fikih (hukum Islam) disebut ‘alim atau disebut juga dengan istilah fakih. Orang yang ahli dalam bidang tafsir disebut mufasir, orang yang ahli dalam bidang hadis disebut muhaddis.

    Dalam perjalanan sejarah, umat Islam sangat banyak memiliki ilmuwan dalam berbagai bidang, terutama pada zaman keemasan Islam. Contohnya antara lain, Abu Hanifah an Nu’man bin Sabit yang dikenal dengan Imam Hanafi (699-767), Malik bin Anas yang terkenal dengan Imam Malik (712-798), Muhammad bin Idris asy-Syafi’i yang dikenal dengan Imam Syafi’i (767-820) dan Ahmad bin Hanbal yang dikenal dengan Imam Hanbali (780-855). Mereka adalah tokoh ilmuwan Muslim dalam bidang fikih dan ushul fikih, serta beberapa cabang ilmu lainnya, dan telah melahirkan karya-karya yang fenomenal.

    Masih banyak ilmuwan Muslim yang berkiprah. Pada bidang teologi, misalnya, adalah Abu Hasan al-Asy’ari (873-935), al-Jubba’i (w.303 H), Abu Mansur Muhammad al-Maturidi (w.944) dan Abu Yusr al-Bazdawi (421-493 H). Dalam bidang hadis, dikenal beberapa ilmuwan besar, seperti Imam Bukhari (w.870), Imam Muslim (w.875), at-Tirmizi (w.892) dan an-Nasa’i (w.915).

    Adapun tokoh-tokoh besar dalam lapangan tasawuf antara lain Hasan al-Basri (642-728), Rabiah al Adawiyyah (714-801), Abu Nasr Bisyr al-Hafi (767-841), Zunnun al-Misri (w.860), al-Gazali (w.1111), Abu Yazid al-Bustami (w.874) dan Husein bin Mansur al-Hallaj (858-922).

    Demikian pula pada bidang ilmu pasti dan pengetahuan alam, dikenal sejumlah tokoh ilmuwan besar. Di antaranya Muhammad bin Musa al-Khawarizmi (800-847) yang adalah perintis ilmu pasti. Dikenal juga Abu al Abas Ahmad al Farqani (abad-9) seorang ahli astronomi yang di Barat dikenal dengan nama al-Fragnus.

    Abu Ali al Hasan bin Hasan bin Haitam atau Ibn Haitam (965-1039) yang di Barat dikenal dengan Alhazen adalah seorang ahli ilmu alam. Nama lain yang amat terkenal adalah Jabir bin Hayyan (w.812) yang biasa disebut sebagai Bapak Ilmu Kimia, serta al Biruni (973-1048) yang juga dikenal sebagai ahli di bidang fisika.

    Sementara dalam bidang sosial, terdapat nama Yaqut bin Abdullah al Hamawi (1179-1229) yang mengarang kitab Mu’jam al-Buldan (Kamus Negara) yang merupakan sebuah kamus ilmu bumi. Seorang ahli ilmu bumi yang paling terkenal yang pernah melakukan lawatan untuk penelitian, dan bahkan pernah bermukim di Aceh, adalah Muhammad bin Abdullah bin Muhammad bin Ibrahim Abu Abdullah al-Lawati at-Tanji bin Batutah atau Ibn Batutah (1304-1377) yang berasal dari Maroko.

    Dan dunia mengenal pula nama yang begitu tersohor, Abu Ali al Husain bin Abdullah bin Sina atau Ibn Sina (980-1037). Kalangan Barat mengenalnya dengan nama Avicenna. Ibn Sina punya julukan the Prince of the Physicians terutama dalam bidang kedokteran. Dia pun dikenal sebagai filsuf besar yang diberi gelar asy-syaikh ar ra’is.

    yus/disarikan dari buku Ensiklopedi Islam terbitan PT Ikhtiar Baru van Hoeve, Jakarta.

    Kuttab

    By Republika Newsroom
    Jumat, 31 Juli 2009 pukul 13:33:00

     

    Ini adalah sejenis tempat belajar yang mula-mula lahir di dunia Islam, pada awalnya berfungsi sebagai tempat memberikan pelajaran menulis dan membaca bagi anak-anak.

    Kuttab sebenarnya telah ada di negeri Arab sebelum datangnya agama Islam, tetapi belum begitu dikenal. Di antara penduduk Makkah yang mula-mula belajar menulis huruf Arab di tempat ini adalah Sufyan bin Umayyah bin Abdul Syams dan Abu Qais bin Abdul Manaf bin zuhrah bin Kilab. Keduanya belajar dari Bisyr bin Abdul Malik yang memelajarinya dari Hirah.  Kuttab dalam bentuk awalnya hanya berupa ruangan di rumah seorang guru.

    Saat agama Islam datang, orang-orang Islam yang baru pandai menulis dan membaca, hampir semuanya dipekerjakan oleh Nabi Muhammad SAW sebagai penulis wahyu. Dengan demikian, yang banyak mengajar menulis dan membaca di kuttab adalah kaum Zimmi. Hal ini semakin menyebar terutama sekali setelah terjadi Perang Badr.

    Ketika Islam semakin meluas, orang yang pandai menulis dan membaca semakin banyak. Suatu hal yang terasa amat penting diajarkan di kalangan anak-anak kaum Muslimin adalah Alquran. Dengan demikian, mata pelajaran di  kuttab pun bertambah dengan pelajaran membaca Alquran.

    Lambat laun, jumlah siswa di  kuttab semakin banyak, sehingga membutuhkan satu tempat baru yang bisa menampung seluruh siswa. Maka, tempat yang dipilih ialah di sudut-sudut masjid atau bilik-bilik yang berhubungan dengan masjid.

    Selain dari  kuttab yang diadakan di dalam masjid, terdapat pula  kuttab umum dalam bentuk madrasah yang memiliki gedung sendiri dan mampu menampung ribuan murid.  Kuttab jenis ini mulai berkembang karena adanya pengajaran yang khusus bagi anak-anak keluarga raja, pembesar, dan pagawai istana yang diasuh seorang  mu’addib (pendidik).

    Pendidik yang mulai mengembangkan bentuk pengajaran khusus itu ke arah pembentukan  kuttab umum, menurut Ahmad Syalabi (penyusun  Ensiklopedi Sejarah Islam ), ialah Hajjaj bin Yusuf as-Saqafi.

    Bila pada awalnya di  kuttab hanya diajarkan menulis dan membaca huruf Arab serta membaca Alquran, maka ketika  kuttab itu bertambah, dikembangkan pula kurikulum yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Pada abad ke-2 Hijriyah, ketika  kuttab telah meluas ke negeri-negeri Muslim, kurikulumnya ditekankan pada pengajaran serta kajian Alquran maupun hadis yang menyangkut keimanan dan akhlak, di samping diajarkan menulis dan membaca dasar-dasar bahasa Arab.

    yus/disarikan dari buku  Ensiklopedi Islam terbitan PT Ikhtiar Baru van Hoeve, Jakarta.

    Alquran

    By Republika Newsroom
    Jumat, 24 Juli 2009 pukul 07:19:00

     

    Kitab suci bagi umat Islam ini merupakan kalam (perkataan) Allah SWT yang diwahyukan kepada Nabi Muhammad SAW melalui Malaikat Jibril dengan lafal dan maknanya (QS Asy Syuraa [26]:192-195). Alquran sebagai kitab Allah menempati posisi sebagai sumber pertama dan utama dari seluruh ajaran Islam dan berfungsi sebagai petunjuk atau pedoman bagi umat manusia dalam mencapai kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat.

    Kata Alquran berasal dari kata kerja qara’a yang berarti membaca dan bentuk masdar (kata dasar)-nya adalah Quran yang berarti bacaan. Alquran dengan makna bacaan dinyatakan oleh Allah dalam beberapa ayat, antara lain dalam surah-surah al-Qiyamah ayat 16-18, al Baqarah ayat 185, al Hijr ayat 87, Thahaa ayat 2 dan masih banyak lagi.

    Alquran mempunyai beberapa nama, di antaranya adalah Kitab Allah, al-Furqan yang berarti pembeda antara yang benar dan bathil (QS al Furqan [25]:1), az-Dzikir yang berarti peringatan (QS al Hijr [15]:9) dan at-Tanzil yang berarti diturunkan (QS Asy-Syuraa [26]:192) dan lainnya.

    Para ulama berbeda pendapat tentang hakikat Alquran. Imam al Ghazali dalam kitab al-Mustasfamin ‘Ilm al-Usul (suatu kitab yang membahas masalah usul fikih), menjelaskan bahwa hakikat Alquran adalah kalam yang berdiri pada Zat Allah SWT yang kadim (tidak bermula). Menurut mutakalimin (ahli teologi Islam), hakikat Alquran adalah makna yang berdiri pada Zat Allah SWT. Adapun golongan Muktazilah, hakikat Alquran adalah huruf-huruf dan suara yang diciptakan Allah yang setelah berwujud lalu hilang dan lenyap. Dengan pandangan ini, kaum Muktzilah memandang Alquran sebagai ciptaan Allah SWT.

    Alquran memiliki 114 surah (urut-urutannya sebagaimana ditetapkan Rasulullah SAW) yang tidak sama panjang dan pendeknya. Surah yang terpendek terdiri atas tiga ayat, dan yang terpanjang terdiri dari 286 ayat. Semua surah, kecuali surah kesembilan, at-Taubah, dimulai dengan kalimat Bismi Allah ar-Rahman ar-Rahim (dengan nama Allah yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang). Setiap surah memiliki nama yang diambil dari kata yang terdapat di permulaan surah (seperti Yasin dan Thaha) atau diambil dari kata yang menjadi tema pembicaraan di dalam surah yang bersangkutan (seperti Ali Imrah, al-Baqarah dan an-Nisaa).

    Menurut perhitungan ulama Kufah, seperti Abu Abdurrahman as-Salmi, Alquran terdiri dari 6.236 ayat. Sedangkan menurut as-suyuti, terdiri dari 6 ribu ayat lebih. Al-Alusi dalam kitab tafsirnya Ruh al Ma’ani fi Tafsir Alquran al-Azim wa as-Sab al-Masani (Semangat Makna dalam Tafsir Alquran yang Agung dan al-Fatihah) menyebutkan bahwa jumlah ayat Alquran sekitar 6.616 ayat.

    Perbedaan jumlah ayat ini disebabkan oleh adanya perbedaan pandangan di antara mereka tentang kalimat Basmalah pada awal surah dan Fawatih as-suwar (kata-kata pembuka surah), seperti Yasin, Alif Lam Mim dan Ha Mim. Ada yang menggolongkan kata-kata pembuka itu sebagai ayat dan ada pula yang tidak.

    Sebagai wahyu (QS an-Nisaa [4]:163), surah-surah dan ayat-ayat Alquran diturunkan oleh Allah SWT secara bertahap kepada Rasulullah SAW selama kurang lebih 23 tahun masa kenabiannya. Hikmah diturunkannya Alquran secara berangsur-angsur ini antara lain, pertama, untuk meneguhkan hati Rasulullah dengan cara mengingatkannya terus menerus, kedua, lebih mudah dimengerti dan diamalkan oleh pengikut-pengikut Rasulullah, ketiga, hukum-hukum Allah yang terkandung di dalamnya mudah diterapkan secara bertahap dan kelima, memudahkan penghafalan.

     yus/disarikan dari buku Ensiklopedi Islam terbitan PT Ikhtiar Baru van Hoeve, Jakarta.

    Isra Miraj

    By Republika Newsroom
    Rabu, 22 Juli 2009 pukul 10:58:00

     

    Secara etimologi, Isra berarti berjalan pada waktu malam atau membawa berjalan pada waktu malam. Istilah Isra dalam kajian sejarah Islam berarti perjalanan pribadi Nabi Muhammad SAW pada malam hari dalam waktu yang amat singkat dari Masjidil Haram di Makkah ke Masjidil Aqsa di Yerusalem.

    Adapun kata Miraj artinya ialah tangga sebagai alat untuk naik dari bawah ke atas. Menurut istilah dalam Islam, Miraj berarti perjalanan pribadi Nabi Muhammad SAW naik dari alam bawah (bumi) ke alam atas (langit), sampai ke langit ke tujuh dan sidratulmuntaha. Dalam istilah lain disebutkan bahwa Miraj ialah kenaikan Nabi Muhammad SAW dari Masjidil Aqsa di Yerusalen ke alam atas melalui beberapa tingkatan, terus menuju Baitulmakmur, sidratulmuntaha, arasy (tahta Tuhan) dan kursi (singgasana Tuhan), hingga menerima wahyu di hadirat Allah SWT.

    Perjalanan ini mengandung perintah mendirikan shalat lima waktu sehari semalam. Karena peristiwa Isra bersamaan dengan peristiwa Miraj, maka kedua kata itu senantiasa digabungkan pemakaiannya menjadi Isra Miraj. Isra Miraj terjadi pada tanggal 27 Rajab, setahun sebelum Rasulullah SAW hijrah ke Madinah.

    Ayat Alquran menerangkan terjadinya peristiwa Isra Miraj yaitu surah al-Isra’ (Bani Israil) ayat 1, yang artinya, ”Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami memperlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.”

    Peristiwa Isra Miraj juga diterangkan oleh beberapa hadis yang panjang. Dari hadis-hadis itu dapat disimpulkan bahwa pada suatu malam ketika Nabi SAW sedang berada di Hatim (dekat Kabah), dalam versi lain disebut di rumah Ummu Hani’, tiba-tiba Malaikat Jibril datang dan membelah dada Nabi SAW. Hati Nabi SAW dikeluarkannya dan disucikannya dengan air Zamzam, kemudian ke dalam hati tersebut dimasukkannya iman dan hikmah yang telah disediakannya dalam bejana emas. Setelah itu didatangkan kepada Nabi SAW seekor binatang yang bernama Buraq.

    Dengan mengendarai Buraq yang dituntun Malaikat Jibril, Nabi SAW berangkat menuju Baitul Makdis. Setelah sampai di Baitul Makdis, Buraq itu ditambatkan, kemudian Nabi SAW masuk ke Masjidil Aqsa dan melaksanakan shalat dua rakaat yang diikuti oleh nabi-nabi terdahulu.

    Setelah selesai shalat, Nabi SAW dan Jibril berangkat lagi dengan menaiki Buraq menuju ke langit. Singkat kata, tibalah Nabi di Sidratulmuntaha. Dengan meninggalkan Jibril, Nabi SAW berangkat ke Mustawa, ke hadirat Allah SWT untuk menerima wahyu kewajiban shalat 50 kali sehari-semalam. Akan tetapi, ketika turun dan sampai di langit keenam, Nabi Musa AS menyarankan agar shalat yang 50 kali itu dikurangi, mengingat kemampuan umat Nabi Muhammad SAW yang terbatas.

    Atas saran itu, Nabi SAW kembali ke hadirat Allah dan memohon dikurangi shalat yang 50 kali itu. Akhirnya Allah SWT berkenan menjadikannya menjadi shalat lima kali sehari semalam. yus/disarikan dari buku Ensiklopedi Islam terbitan PT Ikhtiar Baru van Hoeve, Jakarta

    Hadis

    By Republika Newsroom
    Jumat, 10 Juli 2009 pukul 12:49:00

     

    Menurut para ulama, hadis adalah segala ucapan, perbuatan dan keadaan Nabi Muhammad SAW atau segala berita yang bersumber dari Rasulullah berupa ucapan, perbuatan, takrir (peneguhan kebenaran dengan alasan) maupun deskripsi sifat-sifat Nabi SAW. Menurut ahli ushul fikih, hadis berarti sehala berkataan, perbuatan dan takris Nabi SAW yang bersangkut paut dengan hukum.

    Istilah lain untuk sebutan hadis ialah sunah, kabar dan asar. Menurut sebagian ulama, cakupan sunah lebih luas karena ia diberi pengertian segala yang dinukilkan dari Nabi SAW, baik berupa perkataan, perbuatan, takrir, maupun pengajaran, sifat, kelakuan, perjalanan hidup, baik itu terjadi sebelum masa kerasulan maupun sesudahnya. Selain itu, titik berat penekanan sunah adalah kebiasaan normatif Nabi SAW.

    Asar yang juga berarti nukilan, lebih sering digunakan untuk sebutan bagi perkataan sahabat Nabi, meskipun kadang-kadang dinisbahkan kepada Nabi SAW. Misalnya, doa yang dinukilkan dari Nabi SAW disebut doa ma’sur. Dalam lingkup pengertian yang sudah dijelaskan, kata ‘tradisi’ juga dipakai sebagai padanan kata hadis.

    Dilihat dari segi sumbernya, hadis dapat dibedakan menjadi dua macam, yakni hadis qudsi dan hadis nabawi. Hadis qudsi yang juga disebut dengan istilah hadis Ilahi atau hadis rabbani, adalah suatu hadis yang berisi firman Allah SWT yang disampaikan kepada Nabi SAW, kemudian Nabi menerangkannya dengan menggunakan susunan katanya sendiri serta menyandarkannya kepada Allah SWT.

    Dengan kata lain, hadis qudsi ialah hadis yang maknanya berasal dari Allah SWT, sedangkan lafalnya berasal dari Nabi SAW. Dengan begitu, hadis qudsi berbeda dengan hadis nabawi yaitu hadis yang lafal maupun maknanya berasal dari Rasulullah sendiri.

    Dari segi nilai sanad, hadis ada tiga macam, yaitu sahih, hasan dan daif. Hadis sahih adalah hadis yang memenuhi persyaratan, pertama, sanadnya bersambung, kedua, diriwayatkan oleh rawi yang adil, memiliki sifat istiqamah, berakhlak baik, tidak fasik, terjaga muruah (kahormatan dirinya) dan dabit, ketiga, matan-nya tidak syadz (tidak mengandung kejanggalan-kejanggalan) serta tidak ber-illat (sebab-sebab yang tersembunyi atau tidak nyata yang mencacatkan hadis).

    Hadis yang memiliki syarat-syarat tersebut juga disebut sahih li zatih. Tetapi bila kurang salah satu syarat tersebut, namun bisa ditutupi dengan cara lain, ia dinamakan sahih li gairih.

    Hadis hasan adalah hadis yang sanadnya bersambung, diriwayatkan oleh rawi yang adil, tetapi tidak sempurna dabit-nya, serta matan-nya tidak syadz dan ber-illat. Hadis hasan dengan syarat-syarat demikian disebut hasan li zatih.

    Adapun hadis daif (lemah) ialah hadis yang tidak memenuhi syarat sahih dan hasan. Pembagian hadis daif tidak sesederhana pembagian hadis sahih dan hasan karena kemungkinan kekurangan persyaratan sahih dan hasan itu sangat bervariasi. Karena itu, Ibnu Hibban, ahli hadis, menyebutkan bahwa hadis daif ada 49 macam.

    Meskipun ini bukanlah pendapat mayoritas ulama hadis, hal itu dapat menggambarkan banyaknya macam hadis daif. Kebanyakan kepustakaan menyebutkan jumlahnya terbatas.

    yus/disarikan dari buku Ensiklopedi Islam terbitan PT Ikhtiar Baru van Hoeve, Jakarta.

    Ilmu

    By Republika Newsroom
    Jumat, 26 Juni 2009 pukul 17:52:00

     

    Kata ilmu berasal dari bahasa Arab yakni ilm’ yang berarti pengetahuan, merupakan lawan kata dari jahl yang artinya ketidaktahuan atau kebodohan. Kata ilmu biasa disepadankan dengan kata Arab lainnya, yaitu ma’rifah (pengetahuan), fiqh (pemahaman), hikmah (kebijaksanaan) dan syu’ur (perasaan). Ma’rifah adalah padanan kata yang paling sering digunakan.

    Ada dua jenis pengetahuan, yakni pengetahuan biasa dan pengetahuan ilmiah. Pengetahuan biasa diperoleh dari keseluruhan bentuk upaya kemanusiaan, seperti perasaan, pikiran, pengalaman, pancaindera, dan intuisi untuk mengetahui sesuatu tanpa memerhatikan objek, cara dan kegunaannya. Dalam bahasa Inggris, jenis pengetahuan ini disebut knowledge.

    Pengetahuan ilmiah juga merupakan keseluruhan bentuk upaya kemanusiaan untuk mengetahui sesuatu, tetapi dengan memerhatikan objek yang ditelaah, cara yang digunakan, dan kegunaan pengetahuan tersebut. Dengan kata lain, pengetahuan ilmiah memerhatikan objek ontologis, landasan epistemologis, dan landasan aksiologis dari pengetahuan itu sendiri.  Jenis pengetahuan ini dalam bahasa Inggris disebut science. Ilmu yang dimaksudkan di sini adalah pengetahuan jenis kedua.

    Dalam dunia Islam, ilmu bermula dari keinginan untuk memahami wahyu yang terkandung dalam Alquran dan bimbingan Rasulullah SAW mengenai wahyu tersebut. Al ‘ilm itu sendiri dikenal sebagai sifat utama Allah SWT. Dalam bentuk kata yang berbeda, Allah SWT disebut juga sebagai al-Alim dan Alim, yang artinya ‘Yang Mengetahui’ atau ‘Yang Maha Tahu.’ Ilmu adalah salah satu sifat utama Allah SWT dan merupakan satu-satunya kata yang komprehensif serta bisa digunakan untuk menerangkan pengetahuan Allah SWT.

    Keterangan tafsir seringkali ditekankan sehubungan dengan kelima ayat Alquran yang paling pertama diwahyukan (QS Al ‘Alaq [6]: 1-5), antara lain bahwa ajaran Islam sejak awal meletakkan semangat keilmuan pada posisi yang amat penting. Banyaknya ayat Alquran maupun hadis Nabi Muhammad SAW tentang ilmu antara lain memberi kesan bahwa tujuan hidup ini ialah memeroleh ilmu tersebut. 

    Perkembangan ilmu paling pesat dalam Islam terjadi ketika kaum Muslimin bertemu dengan kebudayaan dan peradaban yang telah maju dari bangsa-bangsa yang mereka taklukkan. Perkembangan tersebut semakin jelas sejak permulaan kekuasaan Bani Abbas pada pertengahan abad 8.

    Besarnya pengaruh bidang keilmuan yang ditinggalkan kaum ilmuwan Muslim pada abad-abad yang lampau tidak hanya tampak pada banyaknya nama-nama pakar Muslim yang disebut dan ditulis dalam bahasa Eropa, tetapi juga pengakuan hyang diberikan oleh dan dari berbagai kalangan ilmuwan dunia.

    yus/disarikan dari buku Ensiklopedi Islam terbitan PT Ichtiar Baru van Hoeve, Jakarta.

    Nafkah

    By Republika Newsroom
    Jumat, 19 Juni 2009 pukul 13:26:00

     

    Di dalam istilah fikih, nafkah berarti suatu pemberian yang diberikan oleh seseorang atau pihak yang berhak menerimanya. Nafkah utama yang diberikan itu bertujuan untuk memenuhi kebutuhan pokok kehidupan, yakni makanan, pakaian, dan tempat tinggal.

    Faktir-faktor yang menyebabkan terjadinya nafkah adalah perkawinan, hubungan darah (keluarga), dan pemilikan terhadap sesuatu yang memerlukan adanya nafkah.

    Apabila terjadi perkawinan, suami wajib memberikan nafkah kepada istrinya, jika syarat-syaratnya terpenuhi, yaitu, pertama, perkawinan itu telah terjadi secara sah menurut hukum Islam (syarak), kedua, istri telah menyerahkan diri kepada suaminya, ketiga, mungkin dilakukan hubungan intim di antara keduanya (suami istri), keempat, istri bersedia tinggal di tempat yang ditentukan oleh suami, dan kelima, kedua belah pihak adalah ahl al-istimta (dapat melakukan hubungan badan secara normal dan wajar). Dasar dari kewajiban tersebut ialah Alquran, hadis dan ijma ulama.

    Dasar dari Alquran antara lain firman Allah SWT dalam surat at-Talaq ayat 6, yang artinya, ”Tempatkanlah mereka (para istri) di mana kamu bertempat tinggal menurut kemampuanmu dan janganlah kamu menyusahkan mereka untuk menyempitkan (hati) mereka..

    Sementara dasar dari hadis, yakni sabda Rasulullah sewaktu melaksanakan haji Wada (haji terakhir), yang artinya, ”Takutlah kalian kepada Allah dalam masalah wanita. Sesungguhnya kalian mengambil mereka dengan amanat Allah dan halal bagi kalian mencampuri mereka dengan kalimat Allah. Karena itu, wajib atas kalian memberikan makanan dan pakaian kepada mereka dengan cara yang ma’ruf (baik).” (HR Muslim)

    Pada dasarnya, kadar nafkah yang wajib disesuaikan dnegan keadaan (kesanggupan) suami. Para ulama tidak memberikan ukuran dan kadar nafkah itu, kecuali Imam Syafii. Menurutnya, besarnya nafkah tersebut untuk yang kaya minimal dua mud (5/6 liter) per hari, bagi golongan menengah minimal satu setengah mud, dan bagi kelas bawah minimal satu mud.

    Nafkah ini berupa makanan pokok (yang mengenyangkan) yang berlaku di negeri yang bersangkutan. Apabila nafkah ini tidak diberikan oleh suami, di samping suami berdosa, menurut Imam Syafii, Malik dan Hanbali, ia harus membayarnya dan itu merupakan utang baginya. Namun menurut Imam Hanafi, tidaklah demikian kecuali jika nafkah itu sudah ditentukan kadarnya oleh hakim.

    Ulama juga sepakat bahwa hubungan kekeluargaan juga merupakan salah satu faktor wajibnya nafkah. Mereka sepakat, keluarga dekat wajib diberi nafkah bagi yang memang memerlukannya. Menurut Imam Syafii, keluarga yang wajib diberi nafkah meliputi keluarga dari garis keturunan ke bawah (furu’), seperti anak, cucu, buyut, dan seterusnya ke bawah, dan keluarga dari garis keturunan ke atas (usul) seperti ayah, ibu, nenek, kakek dan seterusnya ke atas.  yus/disarikan dari buku Ensiklopedi Islam terbitan PT Ikhtiar Baru van Hoeve, Jakarta.

    Muamalah

    By Republika Newsroom
    Jumat, 12 Juni 2009 pukul 17:30:00

     

    Islam yang mengatur hubungan antara seseorang dan orang lain, baik seseorang itu pribadi tertentu maupun berbentuk badan hukum, seperti perseroan, firma, yayasan dan negara. Badan hukum ini dalam hukum Islam disebut dengan nama asy-Syakhisiyyah al-I’tibariyyah. Contoh dari hukum Islam yang berhubungan dengan muamalah ini adalah jual beli, sewa menyewa, dan perserikatan.

    Pada awal munculnya, bidang bahasan fikih oleh para fukaha (ahli fikih) dibagi dalam tiga bagian besar, yakni akidah, ibadah dan muamalah. Akidah mengandung kepercayaan kepada Allah SWT, rasul, malaikat dan hari kiamat dan sebagainya yang berkaitan dengan keimanan. Bidang ibadah mengandung permasalahan yang menyangkut hubungan manusia dengan Tuhannya, seperti shalat, puasa, zakat, dan haji. Sedangkan bidang muamalah adalah yang berkaitan dengan hubungan manusia dengan sesamanya dalam masyarakat.

    Dalam bidang muamalah ini, pada mulanya juga tercakup masalah keluarga, seperti perkawinan dan perceraian. Akan tetapi, setelah terjadinya disintegrasi di dunia Islam, khususnya di zaman Turki Ustmani, maka terjadilah perkembangan pembagian fikih baru.

    Bidang muamalah cakupannya dipersempit, sehingga masalah-masalah yang berhubungan dengan hukum keluarga tak masuk lagi dalam pengertian muamalah. Muamalah tinggal mengatur permasalahan yang menyangkut hubungan seseorang dengan seseorang lainnya, dalam bidang ekonomi (seperti jual beli, sewa menyewa dan pinjam meminjam). Fikih muamalah dalam perkembangannya disebut juga fiqh al-mu’awadah.

    Dalam fikih muamalah, ada beberapa prinsip yang harus diperhatikan. Misalnya, dalam melaksanakan hak dan bertindak, tindakan tersebut tidak boleh menimbulkan kerugian terhadap orang lain. Setiap orang yang melakukan tindakan yang merugikan orang lain, sekalipun tidak disengaja, akan diminta pertanggungjawabannya.

    Pada setiap transaksi, terdapat beberapa prinsip dasar yang ditetapkan syarak. Pertama, setiap transaksi pada dasarnya mengikat orang (pihak) yang bertransaksi, kecuali transaksi yang jelas-jelas melanggar aturan syariat. Kedua, syarat-syarat transaksi itu dirancang dan dilaksanakan secara bebas namun bertanggungjawab.

    Ketiga, setiap transaksi dilakukan secara sukarela, tanpa ada paksaan dari pihak manapun. Dan keempat, syari’ (pembuat hukum) mewajibkan agar setiap perencanaan transaksi dan pelaksanaannya didasarkan atas niat baik, sehingga segala bentuk penipuan dan kecurangan, dapat dihindari.

    yus/disarikan dari buku Ensiklopedi Islam terbitan PT Ikhtiar Baru van Hoeve, Jakarta

    Tilawah Alquran

    By Republika Newsroom
    Jumat, 15 Mei 2009 pukul 11:30:00

    ilawah Alquran artinya bacaan atau pembacaan Alquran. Dalam ilmu qiraah, pembacaan Alquran itu ada bermacam-macam lahjah (bunyi suara atau bacaan). Hal ini karena sahabat Nabi SAW yang menerima bacaan Alquran terdiri dari beberapa golongan dan setiap golongan memiliki lahjah masing-masing, dan juga konsekuensi dari kebiasaan membaca Alquran yang lebih dari satu macam bacaan.

    Namun, Ibnu Mujahid, seorang ulama qiraah dari Baghdad, meneliti bacaan yang ada menyimpulkan bahwa ada tujuh macam bacaan yang dapat diterima. Ketujuh macam bacaan ini dipelopori oleh tujuh imam, yaitu Abdullah bin Amir asy-syami, Ibnu Kasir al-Makki, Asim al-Kufi, Abu Amr al-Basari, Nafi’al-Madani, Hamzah az-Zaiyat, dan Abul Hasan Ali al-Kufi.

    Setiap orang Muslim yakin bahwa membaca Alquran termasuk amal yang mulia dan akan mendapat pahala berlipat ganda. Alquran adalah sebaik-baiknya bacaan bagi orang Muslim. Hal ini seperti sabda Rasulullah SAW, ”Sebaik-baik di antara kamu, orang yang belajar Alquran dan mengajarkannya.” (HR at-Tarmizi dari Ustman bin Affan)

    Membaca Alquran itu bukan saja menjadi amal ibadah. Akan tetapi dapat juga menjadi obat dan penawar bagi orang yang gelisah jiwanya.

    Menurut ajaran Islam, membaca dan mendengarkan Alquran merupakan ibadah dan amal yang mendatangkan pahala dan rahmat. Anjuran untuk mendengarkan bacaan Alquran disebutkan dalam surah al-A’raf aayat 204, yang artinya, ”Dan apabila dibacakan Alquran, maka dengarkanlah baik-baik dan perhatikanlah dengan tenang agar kamu mendapatkan rahmat.”

    Sebagian ulama mengatakan bahwa mendengarkan orang membaca Alquran, pahalanya sama saja dengan orang yang membacanya. Rasulullah SAW bersabda, ”Terangilah rumah-rumah kalian dengan shalat dan membaca Alquran.” (HR al-Baihaki dari Anas RA)

    Alquran sebagai kitab suci dan wahyu Ilahi, mempunyai tata cara bagi orang yang membacanya. Tata cara itu sudah diatur dengan baik untuk penghormatan dan keagungan Alquran. Setiap orang harus berpedoman pada tata cara tersebut.

    Imam al Ghazali, pemikir, teolog, filosof, dan sufi termasyhur, di dalam kitabnya Ihya ‘Ulum ad-Din (Menghidupkan Ilmu-ilmu Agama), menjelaskan bagaimana adab membaca Alquran. Imam al Ghazali membaginya menjadi adab yang bersifat batin dan bersifat lahir.

    Adab yang bersifat batin diperinci menjadi arti memahami asal kalimat, cara hati membesarkan kalimat Allah SWT, menghadirkan hati di kala membaca sampai ke tingkat memperluas dan memperhalus perasaan dan membersihkan jiwa. Dengan begitu, kandungan Alquran yang dibaca dengan perantaraan lidah, dapat bersemi dalam jiwa dan meresap ke dalam hati sanubarinya.

    Sedangkan tentang adab lahir membaca Alquran, antara lain berwudhu lebih dulu sebelum membaca Alquran, membaca Alquran di tempat yang bersih, menghadap ke kiblat, membaca Alquran dengan mulut dalam keadaan bersih tidak berisi makanan, membaca ta’awud lebih dulu, membaca Alquran dengan tartil (pelan dan tenang), membaca Alquran dengan benar-benar meresapi maksudnya, dan membaca Alquran dengan suara yang bagus dan merdu.

    yus/disarikan dari buku Ensiklopedi Islam terbitan PT Ichtiar Baru van Hoeve, Jakarta.

    Dunia

    By Republika Newsroom
    Kamis, 16 Oktober 2008 pukul 14:45:00

     

    Menurut ajaran Islam, dunia atau alam dunia adalah tempat tinggal sementara. Menurut keterangan hadis, dunia adalah tempat singgah bagi seorang musafir yang sedang dalam perjalanan. Sesuai dengan sifatnya sebagai tempat tinggal sementara atau tempat singgah seorang musafir, maka waktunya hanya sebentar jika dibandingkan dengan akhirat atau alam akhirat yang merupakan tempat tujuan akhir kehidupan manusia yang kekal abadi.

    Sebagai lawan dari alam akhirat yang sifatnya gaib atau metafisika, alam dunia berarti alam syahadah atau fisika. Dengan demikian, pengertian dunia mencakup langit dan bumi serta segala sesuatu yang ada di dalam dan di antara keduanya yang dapat disaksikan.

    Meskipun dunia hanya tempat tinggal sementara, Islam mengajarkan seorang muslim tidak boleh melupakan kehidupannya di dunia ini. Dalam hal ini Allah SWT berfirman: ”Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bagianmu dari (kenikmatan) duniawi…” (QS Al-Qashash [28]:77).

    Dalam ayat yang lain dinyatakan dunia ini diserahkan Allah SWT kepada manusia untuk dikelola dan dimanfaatkan demi kepentingannya sendiri. Dalam kaitan ini, Allah SWT berfirman yang artinya: ”Dan Dia menundukkan malam dan siang, matahari dan bulan untukmu. Dan bintang-bintang itu ditundukkan (untukmu) dengan perintahNya. Sesungguhnya pada yang demikian itu, benar-benar ada tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang memahami (nya).” (QS An-Nahl [16]: 12).

    Dalam surat Ibrahim (14) ayat 32 Allah SWT berfirman yang artinya: ”Allah lah yang telah menciptakan langit dan bumi dan menurunkan air hujan dari langit. Kemudian Dia mengeluarkan dengan air hujan itu berbagai buah-buahan menjadi rezki untukmu: dan Dia telah menundukkan bahtera bagimu supaya bahtera itu berlayar di lautan dengan kehendak-Nya. Dan Dia telah menundukkan (pula) bagimu sungai-sungai.”

    Di samping Allah SWT menyerahkan dunia ini untuk dikelola dan dimanfaatkan demi kepentingan manusia sendiri, Allah SWT juga memeperingatkan manusia supaya berhati-hati agar jangan sampai terbawa hanyut oleh kehidupan dunia yang menyesatkan. Di antara sifat-sifat kehidupan duniawi yang harus diperhatikan sebagaimana yang dijelaskan Alquran adalah: (1) kehidupan dunia hanya merupakan mainan dan sendara gurau (QS.6:32); (2) kehidupan dunia hanya merupakan permainan, sesuatu yang melalaikan dan merupakan perhiasan untuk bermegah-megahan.

    Di bagian lain, Allah SWT mengingatkan munculnya kerusakan di dunia akibat ulah tangan manusia.Allah SWT berfirman dalam surat Ar-Rum (30) ayat 41 yang artinya: ”Telah nampak kerusakan di darat dan laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).” Ensiklopedi Islam terbitan PT Ichtiar Baru Van Hoeve Jakarta

     
     

    Hilal

    By Republika Newsroom
    Kamis, 16 Oktober 2008 pukul 14:43:00

    Rukyatul Hilal-Wujudl Hilal

    Tiap tahun, saat akan menyambut bulan suci Ramadhan dan bulan Syawal, umat Islam sering dikhawatirkan dengan perbedaan dimulainya puasa dan perayaan Idul Fitri versi pemerintah dan versi beberapa organisasi besar Islam. Perbedaan ini timbul karena masing-masing pihak menggunakan metode yang berbeda dalam penentuan awal bulan dalam penanggalan hijriah. Beberapa moetode itu antara lain:

    Rukyatul hilal, adalah kriteria penentuan awal bulan (kalender) Hijriyah dengan merukyat (mengamati) hilal secara langsung. Apabila hilal (bulan sabit) tidak terlihat (atau gagal terlihat), maka bulan (kalender) berjalan digenapkan (istikmal) menjadi 30 hari.

    Kriteria ini berpegangan pada hadis Nabi Muhammad SAW, Berpuasalah kamu karena melihat hilal dan berbukalah kamu karena melihat hilal. Jika terhalang maka genapkanlah (istikmal).”

    Kriteria ini di Indonesia digunakan oleh Nahdlatul Ulama (NU), dengan dalih mencontoh sunnah Rasulullah dan para sahabatnya dan mengikut ijtihad para ulama empat mazhab. Bagaimanapun, hisab tetap digunakan, meskipun hanya sebagai alat bantu dan bukan sebagai penentu masuknya awal bulan Hijriyah.

    Wujudul hilal, adalah kriteria penentuan awal bulan (kalender) Hijriyah dengan menggunakan dua prinsip: ijtimak (konjungsi) telah terjadi sebelum Matahari terbenam (ijtima’ qablal ghurub), dan bulan terbenam setelah matahari terbenam; maka pada petang hari tersebut dinyatakan sebagai awal bulan (kalender) Hijriyah, tanpa melihat berapapun sudut ketinggian (altitude) bulan saat matahari terbenam.

    Kriteria ini di Indonesia digunakan oleh Muhammadiyah dan Persis dalam penentuan awal Ramadhan, Idul Fitri dan Idul Adha untuk tahun-tahun yang akan datang. Akan tetapi mulai tahun 2000 Persis sudah tidak menggunakan kriteria wujudul-hilal lagi, tetapi menggunakan metode Imkanur-rukyat.

    Hisab wujudul hilal bukan untuk menentukan atau memperkirakan hilal mungkin dilihat atau tidak. Tetapi hisab wujudul hilal dapat dijadikan dasar penetapan awal bulan Hijriyah sekaligus bulan (kalender) baru sudah masuk atau belum, dasar yang digunakan adalah perintah Alquran (lihat QS Yunus: 5, QS Al Isra’: 12, QS Al An-am: 96, dan QS Ar Rahman: 5) serta penafsiran astronomis atas QS Yasin ayat 39-40.

    Di samping kedua metode ini, ada metode imkanur rukyat, yaitu kriteria penentuan awal bulan (kalender) Hijriyah yang ditetapkan berdasarkan Musyawarah Menteri-menteri Agama Brunei Darussalam, Indonesia, Malaysia, dan Singapura (MABIMS), dan dipakai secara resmi untuk penentuan awal bulan Hijriyah pada Kalender Resmi Pemerintah. Prinsipnya, awal bulan (kalender) Hijriyah terjadi jika:

    * Pada saat matahari terbenam, ketinggian (altitude) Bulan di atas cakrawala minimum 2°, dan sudut elongasi (jarak lengkung) Bulan-Matahari minimum 3°, atau
    * Pada saat bulan terbenam, usia Bulan minimum 8 jam, dihitung sejak ijtimak.

    Di Indonesia, secara tradisi pada petang hari pertama sejak terjadinya ijtimak (yakni setiap tanggal 29 pada bulan berjalan), Pemerintah Republik Indonesia melalui Badan Hisab Rukyat (BHR) melakukan kegiatan rukyat (pengamatan visibilitas hilal), dan dilanjutkan dengan Sidang Itsbat, yang memutuskan apakah pada malam tersebut telah memasuki bulan (kalender) baru, atau menggenapkan bulan berjalan menjadi 30 hari. Prinsip imkanur-rukyat digunakan antara lain oleh Persis.

    Metode penentuan kriteria penentuan awal Bulan Kalender Hijriyah yang berbeda seringkali menyebabkan perbedaan penentuan awal bulan, yang berakibat adanya perbedaan hari melaksanakan ibadah seperti puasa Ramadhan atau Hari Raya Idul Fitri.

    Di Indonesia, perbedaan tersebut pernah terjadi beberapa kali. Namun demikian, perbedaan tersebut tidak menjadi persoalan, karena masing-masing pihak mengedepankan toleransi terhadap suatu perbedaan.

     

    Halal Bilhalal

    By Republika Newsroom
    Kamis, 16 Oktober 2008 pukul 14:44:00

     

    Halal bilhalal adalah istilah yang tersusun dari tiga kata berbahasa Arab, halal- bi- halal. Jika kata halal diartikan ke dalam bahasa Indonesia dengan boleh maka halal bilhalal secara harfiah berarti boleh dengan boleh. Istilah halal bilhalal sendiri tidak dikenal dalam khazanah bahasa Arab bahkan tidak diajarkan oleh Rasulullah SAW, para sahabat dan generasi salafus shaleh.

    Istilah dan tradisi halal bilhalal, menurut Ensiklopedi Islam, adalah asli Indonesia yang tidak diketahui siapa pencetusnya. Halal bilhalal mulai diselenggarakan dalam bentuk upacara sekitar akhir tahun 1940-an dan mulai berkembang luas setelah tahun 1950.

    Kegiatan halal bilhalal sebenarnya tidak berbeda dengan silaturahim. Yang membedakan, di dalam halal bilhalal ada kewajiban untuk saling maaf-memaafkan dan bersalaman dalam sebuah acara yang khusus diselenggarakan untuk itu. Ini sesuai dengan Kamus Besar Bahasa Indonesia yang memberikan definisi halal bilhalal sebagai Hal maaf-memaafkan setelah menunaikan ibadah Ramadhan, biasanya dadakan di sebuah tempat (auditorium, aula, dsb) oleh sekelompok orang.

    Kini, halal bilhalal telah menjadi ritual yang sepertinya menjadi keharusan pascalebaran. Acara ini dilakukan mulai dari instansi-instansi swasta dan pemerintah, organisasi, hingga lingkungan rukun tetangga. Di ibukota, aktivitas hari pertama masuk kantor umumnya adalah halal bilhalal antara pimpinan dan karyawan, antara atasan dan bawahan. Ormas-ormas ke daerahan di ibukota juga menjadikan halal bilhalal sebagai agenda wajib di bulan Syawal.

    Jika halal bilhalal diselenggarakan sebagai kegiatan silaturahim, tentu banyak manfaat dan pahala yang akan diperoleh. Rasulullah SAW menyatakan bahwa dengan bersilaturahmi maka para pelakunya akan dimurahkan jalan-jalan rezekinya dan dipanjangkan umurnya. Dalam praktiknya, biasanya inisiator, penyelenggara sekaligus sponsor penyelenggaraan halal bi halal berasal dari strata atas, kelompok elite, pimpinan kelompok, pimpinan sebuah instansi atau tokoh yang merasa banyak membuat kesalahan kepada bawahan atau pendukungnya. Halal bi halal juga dijadikan ajang untuk rekonsiliasi sehingga keharmonisan hubungan atas-bawah dan elite-masyarakat tetap terjaga bahkan diharapkan meningkat begitu pula kepentingan-kepentingan yang menempel di dalamnya. Hal ini, dalam batas-batas tertentu tentu merupakan sesuatu yang positif karena menjaga keharmonisan akan berdampak kepada kemashlahatan bawahan atau masyarakat luas.

    Hadis Keluarga Utuh

    By Republika Newsroom
    Kamis, 16 Oktober 2008 pukul 14:42:00
    1. Dari Ibnu Mas’ud RA bahwa Rasulullah SAW bersabda, ”Hendaklah kalian selalu melakukan kebenaran, karena kebenaran akan menuntun kepada kebaikan, dan kebaikan itu menunut ke surga. Jika seseorang selalu berbuat benar dan bersungguh dengan kebenaran, ia akan ditulis di sisi Allah swt sebagai orang yang sangat benar. Jauhkanlah dirimu dari bohong, karena bohong akan menuntun kepada kedurhakaan, dan durhaka itu menuntun ke neraka. Jika seseorang selalu bohong dan bersugguh-sungguh dengan kebohongan, ia akan ditulis di sisi Allah swt sebagai orang yang sangat pembohong.” Hadis muttafaqun’alaih.

    2. Dari Abu Hurairah RA bahwa Rasulullah SAW bersabda, ”Jauhkanlah dirimu dari prasangka buruk, karena sesungguhnya prasangka itu adalah perkataan yang paling bohong.” Hadis Muttafqun’alaih.

    3. Dari Abu Hurairah RA bahwa Rasulullah SAW bersabda, ”Barangsiapa ingin dilapangkan rizkinya dan dipanjangkan umurnya, hendaknya ia menghubungkan tali silaturahim.” Hadis riwayat Bukhari.

    4. Dari Anas bahwa Nabi SAW bersabda, ”Demi Tuhan yang jiwaku berada di tangan-Nya, tidaklah seorang hamba (dikatakan) beriman sehingga ia mencintai tetangganya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri.” Hadis Muttafaqun’alaih.

    5. Ibnu Mas’ud RA berkata, ”Aku bertanya kepada Rasulullah saw, dosa apakah yang paling besar? Beliau bersabda, ”Engkau membuat sekutu bagi Allah, padahal Dia lah yang menciptakanmu.” Aku bertanya lagi, ”Kemudian apa? Beliau bersabda, ”Engkau membunuh anakmu karena takut ia akan makan bersamamu.” Aku bertanya lagi, ”Kemudian apa? Beliau bersabda,”Engkau berzina dengan istri tetanggamu.” Hadis Muttafaqun’alaih.

    6. Dari Abi Ayyub RA bahwa Rasulullah SAW bersabda, ”Tidak halal bagi muslim memutuskan persahabatan dengan saudaranya lebih dari tiga malam. Mereka bertemu, lalu seorang berpaling dan lainnya juga berpaling. Yang paling baik di antara keduanya ialah memulai mengucapkan salam.” Hadis muttafaqun’alaih.

    7. Dari Abu Hurairah RA bahwa Rasulullah SAW bersabda, ”Barangsiapa melepaskan kesusahan seorang muslim dari kesusahan dunia, Allah SWT akan melepaskan kesusahannya pada hari kiamat; barangsiapa memudahkan seorang yang mendapat kesusahan, Allah SWT akan memudahkan urusannya di dunia dan akhirat; dan barangsiapa menutupi (aib) seorang Muslim, Allah SWT akan menutupi (aibnya) di dunia dan akhirat; dan Allah SWT akan menolong hamba-Nya selama ia menolong saudaranya.” Hadis riwayat Muslim. disarikan dari Tarjamah Hadis Bulughul Maram Terbitan Gema Risalah Press Bandung

    Ilmu Tajwid

    By Republika Newsroom
    Kamis, 16 Oktober 2008 pukul 14:21:00

     

    Yaitu ilmu yang mempelajari bagaimana cara membaca dengan baik. Ilmu ini ditujukan dalam pembacaan Alquran. Pengucapan huruf hija’iyah harus benar, karena pengucapan yang tidak tepat akan menghasilkan arti yang berbeda.

    Ilmu tajwid bertujuan untuk memberikan tuntunan bagaimana cara pengucapan ayat yang tepat, sehingga lafal dan maknanya terpelihara. Sebagian ulama ada yang berpendapat bahwa pengucapan hadis-hadis Rasulullah SAW pun harus dilakukan dengan aturan-aturan tajwid, karena merupakan penjelasan dan sumber hukum kedua setelah Alquran.

    Masalah yang dicakup dalam ilmu tajwid adalah makharij al-huruf (tempat keluar masuk), ahkam al-huruf (hubungan antarhuruf), ahkam al-maddi wa al-qasr (masalah panjang dan pendek ucapab), ahkam al-waqf wa al-ibtida (masalah memulai dan menghentikan bacaan), dan al-katt al-Utsmani (masalah bentuk tulisan mushaf Usmani).

    Mempelajari tajwid sebagai disiplin ilmu merupakan fardu kifayah atau kewajiban kolektif. Namun, membaca Alquran dengan memaknai aturan-aturan tajwid merupakan fardu ain atau kewajiban individu.

    Membaca Alquran termasuk ibadah, dan karenanya harus sesuai ketentuan. Ini sesuai dengan perintah Allah dalam Alquran, “…Bacalah Alquran itu dengan tartil.” (QS Al Muzzammil [73]: 4). Arti tartil menurut ahli tafsir Ibnu Katsier adalah membaca dengan perlahan-lahan dan hari-hati karena hal itu akan membantu pemahaman serta perenungan terhadap Alquran.  disarikan dari ensiklopedi Islam terbitan PT Ikhtiar Baru Van Hoeve

    Sunah

    By Republika Newsroom
    Kamis, 16 Oktober 2008 pukul 14:20:00

     

    Sunnah atau sunah secara etimologis berarti (1) ath-thariqah; jalan, cara, metode, baik jalan yang terpuji maupun yang tercela; (2) as-sirah; perikehidupan, perilaku; (3) lawan atau kebalikan dari makruh (anjuran untuk menghindari); (4) at-tabi’ah; tabiat, watak; (5) as-syari’ah ; syariat, peraturan, hukum dan (6) al-hadis; perkataan, perbuatan dan takrir Nabi Muhammad saw.

    Dalam pengertian fikih, sunah merupakan salah satu dari al-ahkam al-khamsah (hukum yang lima; wajib, sunah, haram, makruh dan mubah). Para fukaha (ahli fikih) berbeda pendapat tentang pengertian sunah. Ada yang menyamakannya dengan al-mandub, al-mustahabb, dan fadilah, ada pula yang membedakannya.

    Sunah dalam pengertian ulama usul fikih adalah segala sesuatu yang datang dari Nabi Muhammad SAW selain Alquran, baik berupa perkataan, perbuatan maupun takrir (Peneguhan) yang dijadikan sebagai dalil hukum syariat. Istilah yang biasanya digunakan ialah sunah. Di kalangan ahli usul fikih sunah merupakan salah satu sumber hukum Islam yang menempati urutan kedua setelah Alquran.

    Dalam hubungannya dengan Alquran, sunah berfungsi sebagai: (1) penguat terhadap ketetapan hukum yang disebut Alquran mengenai suatu peristiwa hukum tertentu, (2) pemberi penjelasan (bayan) terhadap ayat-ayat Alquran, (3) pencipta hukum yang belum terdapat di dalam Alquran seperti haramnya memakan binatang buas yang bertaring kuat dan burung yang berkuku (hadis riwayat Muslim).

    Sunah dalam pengertian ahli hadis ialah segala perkataan, perbuatan, takrir, sifat, keadaan, tabiat/watak, dan sirah (perjalanan hidup) Nabi Muhammad saw, baik yang berkaitan dengan masalah hukum maupun tidak. Dalam pengertian ini, di samping perkataan (sunah qauliyah), perbuatan (sunah fi’liyah) dan takrir Nabi Muhammad saw (sunah taqririyah), termasuk juga sifat, keadaan dan hasrat (himmah) Rasulullah saw.

    Sunah yang berkenaan dengan sifat Nabi Muhammad SAW, misalnya gambaran tentang sifat dan bentuk jasmaniah beliau yang diluskikan sahabat seperti hadis yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim, Anas bin Malik RA yang mengatakan bahwa Rasulullah SAW adalah manusia yang paras muka dan bentuk tubuhnya baik. Beliau tidak jangkung (tinggi), tidak pula pendek (rendah). Sunah dalam pengertian ahli hadis ini kadang-kadang disebut hadis, kabar, atau asar (hadis) meskipun sebagian dari mereka membedakan ketiganya.dam/disarikan dari buku Ensiklopedi Islam terbitan PT Ichtiar Baru Van Hoeve Jakarta

    Ihyaa us Sunnah

    By Republika Newsroom
    Kamis, 16 Oktober 2008 pukul 14:18:00

     

    Dalil Alquran dan hadis tentang pentingnya ihyaa-us sunnah (menghidupkan ibadah sunnah)

    I. Alquran
    Firman Allah SWT dalam surat Al Isra (17) ayat 79 yang artinya, ”Dan pada sebagian malam hari bertahajjudlah kamu sebagai suatu ibadah tambahan bagimu. Mudah-mudahan Rabb-mu mengangkat kamu ke tempat yang terpuji.”

    2. Firman Allah SWT dalam surat As-Sajdah (32) ayat 15-17 yang artinya, ”Lambung mereka jauh dari tempat tidurnya dan mereka selalu berdoa kepada Rabb-nya dengan penuh rasa takut dan harap, serta mereka menafkahkan rezeki yang kami berikan. Tak seorang pun mengetahui berbagai nikmat yang menanti, yang indah dipandang, sebagai balasan bagi mereka atas apa yang mereka kerjakan.”

    3. Firman Allah SWT dalam surat al Hasyr (59) ayat 7 yang artinya, ”…Apa yang diberikan Rasul kepadamu maka terimalah dia. Dan apa yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah sangat keras hukuman-Nya.”

    II. Hadis
    1. Rasulullah SAW bersabda, ”Waktu paling dekat antara Rabb dan seorang hamba adalah pada sepertiga malam terakhir. Jika kamu bisa menjadi orang yang mengingat Allah pada saat itu, maka lakukanlah.” (Hadis riwayat Tirmidzi).

    2. Rasulullah SAW bersabda, ”Shalat yang paling utama setelah shalat wajib adalah shalat pada tengah malam.” (Hadis riwayat Muslim).

    3. Rasulullah SAW bersabda, ”Berilah kabar gembira kepada orang-orang yang banyak berjalan ke masjid dalam kegelapan dengan cahaya yang sempurna pada hari kiamat.” (Hadis riwayat Abu Dawud).

    4. Dari Abdullah Ibnu Umar ra bahwa Rasulullah SAW bersabda, ”Shalat berjamaah itu lebih utama dua puluh tujuh derajat dari pada shalat sendirian.” (Hadis riwayat Muttafaqun ‘Alaih).

    5. Dari Abu Hurairah ra bahwa Rasulullah SAW bersabda, ”Ada seorang laki-laki buta menghadap Rasulullah saw dan berkata, ”Ya Rasulullah, sungguh aku ini tidak mempunyai seorang penuntun yang menuntunku ke masjid. Maka beliau memberi keringanan padanya. Ketika ia berpaling pulang beliau memanggil dan bertanya, ”Apakah engkau mendengar adzan untuk shalat? Ia menjawab, ”Ya. Beliau bersabda, ”Kalau begitu, datanglah.” (Hadis riwayat Muslim).

    6. Dari Abu Ayyub al-Anshary ra bahwa Rasulullah SAW bersabda, ”Barangsiapa berpuasa Ramadhan kemudian diikuti dengan berpuasa enam hari pada bulan Syawwal, maka ia seperti berpuasa setahun.” (Hadis riwayat Muslim).

    7. Dari Abu Said al-Khudry RA bahwa Nabi SAW bersabda, ”Siapa saja orang Islam yang memberi pakaian orang Islam yang tidak memiliki pakaian, niscara Allah akan memberinya pakaian dari hijaunya surga; dan siapa saja orang Islam yang memberi makan orang Islam yang kelaparan, niscaya Allah akan memberinya makan dari buah-buahan surga; dan siapa saja orang Islam yang memberi minum orang Islam yang kehausan, niscaya Allah akan memberinya minuman dari minuman suci yang tertutup.” (Hadis riwayat Abu Dawud).

    8. Dari Nawwas bin Sam’an bahwa Nabi SAW bersabda, ”Allah Azza Wa Jalla berfirman, ”Wahai anak Adam, jangan engkau tinggalkan empat rakaat di awal hari, maka Aku akan mencukupimu di sore hari.” (Hadis riwayat Ahmad, Tirmidzi, Abu Dawud, dan Nasa’i dari Nu’aim Al Ghatfani dengan sanad yang baik). dam




    Blog Stats

    • 3,275,335 hits

    Recent Comments

    Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
    Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
    Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
    Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
    Ratu Adil - 666 on Sejarah : Bangsa Lemuria, Lelu…