Archive for the 'Jiwa Semangat Nilai-nilai 45' Category



10
Sep
09

Taman : Tip Sukses Membuat Taman Xeriscape

Tip Sukses Membuat Taman “Xeriscape”
Jumat, 4 September 2009 | 21:28 WIB

KOMPAS.com – Dalam bahasa Yunani, xeros artinya dry atau kering, sehingga xeriscape mempunyai pengertian sebagai taman yang memerlukan air yang sangat minim.

Idealnya, taman xeriscape tetap memerlukan air, walau jumlahnya jauh lebih sedikit dibandingkan taman umumnya. Tanaman yang digunakan pun tetap tanaman asli yang hidup di sebuah daerah, katakanlah daerah yang memiliki curah hujan normal.

Berikut ini tip singkat untuk sukses membuat taman xeriscape:

1. Kenali sifat area taman

Luangkan beberapa kali waktu untuk mengamati area yang ada. Bagaimana kondisi iklim di area tersebut, seberapa kering dan bagaimana sumber air untuk penyiramannya. Bayangkan jika tanaman tertentu ada di dalam area tersebut. Bayangkan pula aktivitas yang dapat dilakukan di dalam taman tersebut termasuk kegiatan pemeliharaannya. Tentukan desain sesuai dengan kebutuhan dan potensi yang ada.

2. Lakukan perbaikan tanah

Ada tempat yang terlalu terik dan ada yang ternaungi. Selain itu ada pula tanah yang akan tergenang air dalam waktu lama, baik itu tergenang air hujan maupun air sisa penyiraman taman. Lakukan perbaikan drainase tanah dengan cara menggemburkan atau membuat sistem drainase yang sesuai. Penting pula untuk melihat apakah penambahan kompos pada permukaan tanah dapat menghambat penguapan air dan meningkatkan kesuburan tanah.

3. Pilihlah tanaman yang memerlukan air lebih sedikit dari biasanya

Jenis tanaman tidak hanya sebatas pada tanaman kaktus atau tanaman sukulen saja, tetapi juga dapat digunakan jenis tanaman lain yang memerlukan air lebih sedikit dari pada jenis lainnya. Syarat utama dalam pemilihan tanaman adalah jenis tanaman yang setempat atau yang tetap tumbuh, di lingkungan sekitarnya.

Dan keberadaan jenis taman ini dapat dikombinasikan dengan jenis taman pada umumnya yang memerlukan air lebih banyak asalkan kita dapat mengharmonikan kesesuaian desain di antara keduanya.

Jenis-jenis tanaman yang dapat digunakan antara lain: jenis Groundcover: Aloe sp., Lantana sp., Plumbago zeylanica, Zamia furfuraceae, dan lainnya. Jenis Semak: Euphorbia sp.; Sansevieria sp.; Adenium sp.; Agave spp.; Alamanda schotti; Gardenia volkensii; Hibiscus sp.; Kalanchoe spp.; Jasminum sambac; Nolina recurvata; Portulacaria afra; Plumbago auriculata; Nerium oleander, dan lainnya. Jenis Pohon: Bauhinia sp; Caesalpinia pulcherrima; Dracaena sp; Ficus carica; Ficus macrophylla; Ficus palmeri; Ipomea arborescens; Morinda citrifolia; Delonix regia; Erythrina sp.; Casuarina equiseifolia, dan lainnya.

4. Cermat menempatkan dan membuat area rumput

Bagaimana dan dimana rumput ditempatkan dalam sebuah taman secara nyata dapat mengurangi jumlah air yang diperlukan pada saat dalam irigasi. Keberadaan rumput juga memerlukan lebih banyak air dan kegiatan pemeliharaan dari pada jenis tanaman lainnya. Tetapi jika kita melakukan pengelompokkan rumput dapat juga meningkatkan efisiensi penggunaan air penyiraman yang rutin. Dan jangan lupa, pilihlah jenis rumput yang tahan dengan kondisi berpasir atau padat serta kekeringan dalam jangka waktu yang cukup lama.

5. Gunakan jenis elemen taman lainnya

Elemen lain yang dapat digunakan adalah pasir hias atau batu kerikil untuk taman kering, atau berbagai macam batu hias taman, baik yang berfungsi sebagai steps stone, tumbled stone, dan lainnya. Tidak ada batasan dalam pemilihan jenis elemen selain tanaman. Asalkan tidak memerlukan air yang banyak serta masih dapat mengalirkan air serta dapat menghambat penguapan air dari tanah, jenis elemen tersebut dapat digunakan.

6. Lakukan pemeliharaan yang tepat

Kegiatan pemeliharaan yang tepat meliputi penyiramana air yang tepat dan hemat, mengatur jadwal penyiraman dan seberapa lama penyiramannya, pemberian mulsa, pemberian pupuk organik, dan lainnya. Tujuan yang hendak dicapai adalah kondisi taman yang tetap subur tetapi bersih.
Mudah bukan?  Selemat mencoba! (iDEAonline/Mona Sintia)

10
Sep
09

Bunga : Menilai Keunggulan Bunga Anggrek

Menilai Keunggulan Bunga Anggrek
Anggrek dendrobium adalah salah satu jenis anggrek yang kaya warna dan panjang umur. Menanam dan merawatnya mudah. Pupuk, siram, dan tempatkan di tempat yang tepat. Bunga mekar mewangi.

Jumat, 28 Agustus 2009 | 10:25 WIB

KOMPAS.com – Alam raya negeri kita memang kaya. Salah satu di antaranya adalah koleksi tanaman hias berbunga warna-warni yang sangat indah. Contohnya bunga melati, raflesia, dan anggrek. Kali ini kita ingin melirik anggrek.

Menurut catatan, di seluruh dunia terdapat sejumlah 30.000 lebih spesies anggrek. Jumlah sebanyak itu mencakup 660 genera, dengan 75.000 hibrida yang terdaftar. Bayangkan, betapa kayanya dunia kita ini.

Bagaimana dengan Indonesia? Menurut catatan, potensi plasma nutfah anggrek di bumi Nusantara sekitar 5 ribu jenis, dan tidak sampai 10 persen yang dibudidayakan secara komersial. Itu berarti, peluang bisnis anggrek amat terbuka. Yang dibutuhkan adalah pengetahuan tentang anggrek yang unggul. Nah, untuk menilai seberapa jauh keunggulan anggrek, ada standar penilaian sebagai berikut:

1. Bentuk Bunga yang meliputi tiga unsur, yakni:
– Kebulatan bunga. Bunga bulat yang ideal ialah bunga yang jika ujung-ujungnya (sepal, petal, dan labellum) dihubungkan merupakan lingkaran, dengan titik pusat pada tiang.
– Kepenuhan bunga. Seberapa jauh ruang lingkaran yang menghubungkan ujung sepal, petal, dan labellum dipenuhi seoptimal mungkin?
– Kedataran bunga. Seberapa jauh kondisi sepal, petal, dan labellum dapat diletakkan dalam bidang datar?

2. Warna Bunga memperhatikan tiga unsur, yakni:
– Warna umum bunga. Warna idealnya adalah jelas, cerah, kuat, dan keseluruhannya menampakkan keselarasan dan keindahan. Namun, juga perlu diperhatikan warna-warna spesial atau langka yang tentu mendapatkan nilai tinggi.
– Warna sepal, petal. Kriterianya hampir sama dengan penilaian warna umum bunga, tapi tidak dipandang secara keseluruhan, melainkan khusus cuma sepal dan petalnya.
– Warna labellum. Seberapa jauh warna labellum lebih menonjol ketimbang warna sepal dan petal?

3. Karakteristik bunga anggrek yang meliputi enam unsur, yakni:

– Ukuran bunga. Yang dimaksud ukuran bunga adalah dimensi bunga dalam kaitannya dengan ukuran bunga normal.
– Tebal bunga. Ketebalan bunga dapat diraba dengan ibu jari dan jari telunjuk.
– Kehalusan bunga. Yang dimaksud kehalusan bunga adalah penampilannya yang terdapat pada permukaan bunga. Entah itu mampu memantulkan sinar (Bahasa Jawa: kemerlip), ada kristal-kristalnya, ada semacam lilin, ataupun adat beludrunya.
– Banyak bunga dalam tangkai. Seberapa jauh jumlah bunga dalam satu tangkai, atau jumlah dalam satu tanaman?
– Tangkai bunga. Penilaiannya bergantung pada tangkai yang kokoh, tumbuh tegak dan lurus ke atas, cukup panjang, selaras dengan bunganya, dan memposisikan bunga di tempat yang mudah dan indah dilihat.

Tiga Kunci Sukses
Kehadiran anggrek ternyata mampu mendorong para pehobi, bahkan ibu-ibu rumah tangga, untuk berbondong-bondong mencoba mengembangkan anggrek. Selain untuk menikmati indahnya bunga-bunga anggrek, juga dicoba dijadikan peluang usaha. Secara teknis, usaha penanaman anggrek tak membutuhkan investasi besar, cukup ala kadarnya. Dari segi waktu, masih bisa dikerjakan secara sambilan. Dari pengalaman di lapangan, sekurang-kurangnya ada tiga kunci sukses mengusahakan anggrek sebagai berikut:

1. Melakukan pembesaran bibit
Umumnya, ibu-ibu melakukan pembesaran bibit anggrek, lalu ditanam dalam pot atau terkadang papan pakis. Coba tengok aneka anggrek dalam pot yang dipasarkan di pinggir-pinggir jalan kota, di warung tanaman hias, atau justru di halaman rumah. Harganya cukup terjangkau. Misalnya: anggrek bulan dalam pot senilai Rp 15 ribu sampai Rp 20 per pot.

2. Mengatur pembungaan
Tujuannya agar kita selalu memiliki tanaman anggrek yang berbunga. Pasalnya, para pembeli biasanya lebih tertarik pada anggrek dalam pot yang sedang berbunga.

3. Mencegah penyakit
Waspada terhadap amukan penyakit busuk daun dan antraknosa. Kalau bisa, lakukan pencegahan semampunya.

10
Sep
09

Bunga : Puspa Mewangi dari Gunung

Puspa Mewangi dari Gunung
Selasa, 8 September 2009 | 10:14 WIB

KOMPAS.com – Anda pasti tahu, bukan, bentuk, warna, dan keharuman bunga melati memang tak perlu diragukan lagi. Begitu pula manfaatnya bagi kehidupan, sebab hampir semua bagian dari tanaman cantik ini dapat dimanfaatkan.

Lalu bagaimana dengan melati gunung atau melati hutan, apakah tanaman ini secantik dan sewangi melati yang Anda kenal? Tanaman berbunga putih yang memiliki aroma seperti melati yang Anda ketahui selama ini memang banyak ditemukan di dalam hutan di kawasan pegunungan.

Salah satunya di sepanjang jalan menuju kawasan hutan di Taman Nasional Gunung Halimun, Sukabumi, Jawa barat. Masyarakat yang tinggal di kawasan dekat hutan lindung ini menyebut tanaman melati ini sebagai bunga puspa.

Si Putih Di Tengah Hutan
Dari 200 jenis melati yang sudah teridentifikasi, ada beberapa yang dikenal sebagai tanaman hias dan dapat dibudidayakan. Namun, masih banyak pula yang belum teridentifikasi dan tumbuh dengan liar di hutan-hutan di Indonesia.

Di antaranya yang terdapat di Taman Wisata Alam Cimanggu, Ciwidey, Bandung Selatan dan Taman Nasional Gunung Halimun, Sukabumi. Di kawasan hutan hujan tropis berdataran tinggi ini banyak ditemui bunga melati hutan atau puspa.

Karakter bunganya memang mirip dengan melati. Kelopak bunganya berwarna putih, putiknya berwarna kuning pada bagian tengahnya, dan tanaman ini biasanya akan banyak berbunga menjelang akhir tahun.

Daunnya berbentuk bulat telur, pangkal dan ujung daunnya meruncing. Daun mudanya berwarna merah, namun setelah tua akan berubah hijau. Tinggi tanaman melati hutan ini bisa mencapai 7-10 meter.

Melati yang Anda kenal selama ini dikenal mempunyai fungsi sebagai tanaman hias merambat, tanaman penghias pagar, bunga penabur, dekorasi kamar pengantin, aksesoris rambut pengantin, bahan aromaterapi atau parfum, campuran teh, serta obat.

Sementara melati hutan, selain memperindah kawasan hutan dengan semburat putih dan aroma segar mewanginya, juga dapat dimanfaatkan sebagai obat pelancar haid bagi wanita. Caranya, beberapa kuntum bunganya diseduh lalu airnya disaring dan diminum.

Mengapa puspa dapat memperindah hutan? Ya, karena tanaman ini banyak tumbuh di bagian terluar hutan, biasanya tumbuh di sepanjang jalan menuju kawasan hutan nasional ataupun hutan lindung.

Jika berkesempatan mendatangi kawasan pegunungan ini, Anda akan mendapati banyak bunga puspa berguguran, sehingga keindahannya akan sangat dominan di tengah kawasan hutan yang biasanya didominasi oleh tanaman maupun pepohonan besar yang hanya berdaun hijau dan lebat saja.

Tumbuh Liar & Subur
Kondisi tanah yang baik untuk puspa adalah tanah yang gembur dan subur, seperti halnya kebanyakan jenis melati yang lainnya. Selain itu, puspa juga dapat tumbuh di dataran rendah sampai dataran tinggi.

Oleh karena tumbuh secara liar di hutan, tanaman ini memiliki kekuatan tersendiri dan sanggup tumbuh kuat di tengah hutan tanpa perawatan khusus. Tidak seperti melati jenis tanaman hias lainnya, yang membutuhkan “tangan dingin” Anda untuk merawatnya.

Pemupukan dengan kompos untuk melati hutan biasanya didapat secara alami dari daun-daun kering tanaman lainnya yang berguguran di hutan. Kondisi tanah hutan di pegunungan yang secara alami sudah sangat gembur dan subur membuat tanaman ini dapat terus tumbuh dengan subur di araa hutan.

Namun tak perlu khawatir, Anda pun tetap bisa menjadikan melati hutan ini sebagai tanaman penghias area rumah. Jika ingin menanamnya di pekarangan rumah, biarkan tajuknya tumbuh padat, lebat, dan rimbun sehingga bunganya yang mungil dan putih akan tampak dominan dan mempercantik pekarangan rumah Anda yang hijau. Selamat berburu melati hutan/ gunung!  (Tabloid Nova/Lucy Maulana)

10
Sep
09

Bunga : Gloxinia, Bunga Berkelopak Selembut Beludru

Gloxinia : Bunga Berkelopak Selembut Beludru
Kamis, 10 September 2009 | 11:02 WIB

KOMPAS.com – Asli Brazil, Gloxinia tampil mempesona dengan kelopak selembut beludru. Ia memiliki beragam bentuk dan warna bunga.

Tanaman bunga bernama lengkap Gloxinia speciosa ini biasa ditanam di pot. Bunganya cantiknya merupakan alasan mengapa tanaman ini banyak ditanam di halaman rumah. Bentuk bunganya bercorong, seperti terompet. Kelopaknya halus dan terasa berbulu mirip beludru ketika disentuh.

Sebagian di antara Gloxinia ada yang berkelopak tunggal, sebagian lainnya berkelopak bertingkat, hingga menyerupai mawar (rosette). Gloxinia memiliki beragam warna. Mulai dari merah hingga keunguan. Warna-warni cerahnya ini, bisa mengundang kupu-kupu untuk datang.

Tanaman asal Brazil ini menyukai iklim hangat, antara 17-25 derajat Celsius. Berada pada iklim yang terlalu dingin, dapat membuatnya layu dan mati. Merawatnya tak bisa dikatakan mudah. Gloxinia membutuhkan sinar matahari, tetapi tidak menyukai sinar matahari langsung. Jadi tempatkan ia di tempat teduh.

Sama halnya dengan tanaman pada umumnya, Gloxinia harus teratur disiram, namun jaga agar media tanamnya tidak terlalu lembap, apalagi tergenang air. Terlalu banyak air, mengakibatkan akar dan bonggolnya busuk. Tanaman pun bisa mati.

Bagaimana dengan media tanam? Gloxinia membutuhkan media tanam gembur dan memiliki drainase baik. Jika ditanam pada media buatan, seperti cocopeat, ia memerlukan nutrisi tambahan. Lakukan pemupukan teratur, kurang lebih satu bulan sekali.

Untuk mengetahui apakah Gloxinia kekurangan nutrisi atau tidak, perhatikan daunnya. Gloxinia sehat memiliki warna daun hijau segar kebiruan. Jika warna daun memucat, tampak tidak segar, apalagi sampai tanaman tersebut merunduk, berarti ia kekurangan nutrisi. Hal tersebut juga bisa terjadi pada Gloxinia yang ditanam pada iklim yang terlalu dingin. (iDEAonline/Annisa)

10
Sep
09

Nasionalisme : WaPres Sebut Mahasiswa Makassar Primitif

Wapres Sebut Mahasiswa Makassar Primitif
Seorang mahasiswa yang mengalami luka parah akibat terkena senjata tajam terkapar di jalanan setelah terjadi tawuran antara mahasiswa Teknik Universitas Muslim Indonesia (UMI) melawan anggota Mapala UMI di kampus Universitas Muslim Indonesia Jalan Urip Sumoharjo, Makassar.

Kamis, 10 September 2009 | 10:47 WIB

Laporan wartawan KOMPAS Suhartono

MAKASSAR, KOMPAS.com – Untuk memperkuat karakter bangsa Wakil Presiden Jusuf Kalla meminta pengelola perguruan tinggi memberikan materi tambahan terutama filasafat lokal dari beberapa daerah di Indonesia. Tujuannya agar para alumni perguruan tinggi memiliki karakter yang kuat untuk memajukan bangsa.

Hal itu dikemukakan Kalla saat memberikan pidato selaku Ketua Ikatan Alumni Universitas Hassanuddin di hadapan civitas akademika Universitas Hassanuddin di Kampus Unhas, Makassar, Kamis (10/9) siang.

“Perguruan tinggi perlu mengajarkan filsafat lokal agar mahasiswa belajar dan memiliki karakter setiap daerah sebagai bekal mereka di tengah-tengah masyarakat. Apalagi, di Makassar ini yang mahasiswanya sering menunjukkan karakter primitif, Seperti menggunakan batu dan api (sering terlibat perkelahian -red),” ungkap Kalla.

Yang dimaksudnya dengan filasafat lokal adalah sejumlah nilai-nilai bijaksana warisan nenek moyang Indonesia yang erat melekat sebagai nilai-nilai kehidupan. Setiap masyarakat di berbagai suku di Indonesia memiliki nilai-nilai filosofis kebajikan.

Menurut Kalla, dengan karakter yang kuat mahasiswa diharapkan bisa menggerakkan dan memiliki kerja keras untuk mengejar suatu tujuan. “Dengan karakter yang kuat juga mahasiswa yang ada di masyarakat tidak mudah diombang-ambingkan dan bisa memberikan pengaruh yang baik bagi kemajuan bangsanya,” kata dia.

Lebih jauh, Kalla juga menyatakan, kemajuan sebuah universitas tidak hanya diukur dari fasilitas dan kelengkapan. Akan tetapi, seberapa jauh alumni perguruan tinggi itu memberikan manfaat kepada negara, pemerintah daerah setempat, dan juga masyarakat di sekelilingnya.

10
Sep
09

Foto-foto Peristiwa

FOTO LEPAS
KOMPAS/YUNIADHI AGUNG
Sejumlah warga berunjuk rasa di depan Istana Merdeka, Jakarta, Rabu(9/9). Mereka, antara lain, meminta PresidenSusilo Bambang Yudhoyono menyusun kabinet yang bersih dan menolak calon menteri yang dinilai gagal.
Kabinet yang Bersih
KOMPAS/RIZA FATHONI
Direkt ur Jenderal Bea dan Cukai Suprijadi (ketiga dari kiri) menunjukkan rongsokan komputer yang dibongkar dari peti kemas di Kantor Pelayanan Utama Bea dan Cukai, Tanjung Priok, Jakarta, Rabu (9/9). Kontainer berisi perangkat komputer berupa monitor LCD, CD-ROM, dan casing CPU rusak yang akan diekspor ke Korea Selatan oleh PT PIT berlokasi di Cikarang, Bekasi. PT PIT menyalahgunakan fasilitas Kawasan Berikat dengan memberitahukan kondisi barang yang tidak sesuai dengan kondisi sebenarnya diekspor.
Penyalahgunaan Fasilitas Kawasan Berikat
KOMPAS/FERGANATA INDRA RIATMOKO
Badan Eksekutif Mahasiswa Seluruh Indonesia (BEM SI) berunjuk rasa di halaman Kantor DPRD DI Yogyakarta, Jalan Malioboro, Yogyakarta, Rabu (9/9). Mereka menuntut pemerintah memenuhi komitmennya dalam memberantas korupsi di samping segera mengesahkan Rancangan Undang-Undang Pengadilan Tipikor.
KOMPAS/RADITYA HELABUMI
Pembeli memilih beragam sepatu merek Nike yang dijual dengan harga diskon di Gramedia Expo, Surabaya, Jawa Timur, Rabu (9/9). Potongan harga yang diberikan hingga 70 persen menarik minat banyak pengunjung. Penjualan diskon ini akan berlangsung selama lima hari.
Gramedia Expo di Surabaya
KOMPAS/WISNU WIDIANTORO
Pengendara sepeda motor terjatuh karena kondisi Jalan Cakung Cilincing, Jakarta Utara, yang licin oleh pasir, Rabu (9/9). Kondisi pinggir jalan yang berpasir dan banyaknya truk kontainer yang melintas menjadikan ruas jalan tersebut berbahaya bagi pengendara sepeda motor.
Gara-gara Pasir
10
Sep
09

Lingkungan : Danau Limboto, Riwayatmu

KEHIDUPAN
Danau Limboto, Riwayatmu Kini…

KOMPAS, Kamis, 10 September 2009 | 05:18 WIB

Agung Setyahadi

Guntur Yakin (46) sudah mencecap berkah Danau Limboto sejak kecil. Ikan berlimpah dan alam nan indah. Guntur mengikuti jejak ayahnya menjadi nelayan Limboto untuk menghidupi keluarganya. Siklus itu sulit terulang pada kelima anaknya seiring dengan matinya Danau Limboto secara perlahan karena terkubur lumpur.

Siang itu, pengujung Agustus, Guntur berdiri di tepi danau ikon Provinsi Gorontalo itu. Pandangannya menyapu hamparan eceng gondok yang menutup permukaan danau, menyisakan alur-alur air mirip labirin. Ia menoleh dan berkata lirih mengungkapkan kenangan masa kecilnya.

”Dulu danau ini indah. Airnya jernih dihiasi bunga teratai. Ikannya juga banyak. Kalau mancing ikan, cukup di tepi danau, tidak perlu pakai perahu,” ujar warga Dusun Hungayo, Desa Barakati, Kecamatan Batudaa, Kabupaten Gorontalo, Gorontalo, itu.

Saat ini air Danau Limboto keruh bercampur material hasil erosi daerah hulu 23 sungai yang bermuara ke danau. Tim peneliti Badan Kerja Sama Internasional Jepang (JICA) tahun 2002-2004 mencatat, sedimen yang masuk ke Limboto sebanyak 1 juta-2 juta meter kubik per tahun.

Badan Lingkungan Hidup Riset dan Teknologi (Balihristi) Provinsi Gorontalo menganalisis, laju pendangkalan danau 38,8 sentimeter per tahun. Kedalaman air menyusut dari rata-rata 30 meter pada 1932 menjadi 10 meter pada 1961 dan 2-2,5 meter pada 2008. Luas danau pun menyempit dari kisaran 7.000 hektar (1932) menjadi 2.537 hektar pada 2008. Jika laju sedimentasi tidak dikendalikan, Danau Limboto akan kering dan menjadi daratan pada 2025.

Dari jendela pesawat yang terbang rendah menghampiri landasan Bandara Djalaluddin, Danau Limboto lebih mirip rawa. Hampir dua pertiga tubuh air tertutup eceng gondok yang membentuk pulau-pulau hijau. Endapan lumpur di tepian ditumbuhi ilalang lebat, sebagian dijadikan kebun dan permukiman.

Setiap musim hujan, rumah-rumah digenangi air hingga dua bulan. Penghuninya mengungsi dan kembali lagi setelah air surut. Banjir menjadi ritual tahunan, tetapi masyarakat tidak jera bermukim di tubuh danau. Jumlahnya justru semakin bertambah. Sampai tahun 2008 ada 1.272 hektar lahan danau yang berubah menjadi permukiman, 329 hektar dijadikan ladang, dan 637 hektar untuk sawah.

Di tengah danau mengapung 2.559 keramba yang dikelilingi pagar bambu. Di luar pagar, eceng gondok menggerombol siap merenggut setiap milimeter permukaan air. Keramba ikan mas, nila, dan mujair itulah periuk kehidupan warga di 23 desa yang mengelilingi danau.

”Jika tidak dipagari, keramba tertutup eceng gondok. Ikan-ikan pasti mati. Limboto tinggal menunggu waktu karena pendangkalan dan serangan eceng gondok,” ujar Guntur yang juga Ketua Organisasi Rakyat Pelestari Danau Limboto.

Ribuan warga menggantungkan hidup di danau yang pernah didarati pesawat intai amfibi legendaris Catalina saat mengantar Presiden Soekarno pada 1951 itu. Kebutuhan keluarga dipenuhi dari panenan keramba dan ikan pancingan yang hasilnya semakin sedikit, rata-rata 1,5 kilogram. Sekitar 25 tahun silam, memperoleh 10-15 kilogram ikan merupakan perkara mudah.

Marten Paloa (35), nelayan di Barakati, bisa tersenyum senang siang itu. Perangkap ikan yang ia pasang sejak subuh hingga tengah hari menghasilkan 30 ikan manggabai (Glossogobius giuris). Marten menjual semuanya dan membawa pulang uang Rp 110.000. Rezeki sebesar itu sangat jarang diperoleh. ”Kalau setiap hari hasil bagus begini, hati senang. Selama ini saya tiap hari turun ke air, hasilnya hanya Rp 20.000 hingga Rp 50.000,” ujar Marten.

Adam Paloa (31), saudara Marten, hari itu hanya memperoleh 10 ikan dan 1 belut. Ia menyisihkan sebagian dari tangkapannya untuk lauk di rumah dan lainnya dijual untuk membeli beras.

Balihristi mencatat, tangkapan ikan pada 1977-1997 turun 2.344 ton, dari 2.960 ton menjadi 616 ton. Beberapa jenis ikan alami juga hilang, seperti mangaheto, botua, bulaloa, dan boidelo. Hasil panen keramba juga merosot seiring dengan kerusakan lingkungan danau.

Guntur menghitung masa panen keramba bertambah panjang dari 3 bulan menjadi 5 bulan. Benih ikan sulit berkembang karena sirkulasi air yang membawa nutrisi tertahan akar eceng gondok. ”Karena tidak ada arus, banyak benih ikan yang mati. Saya pernah menebar 15.000 benih nila, tapi setelah dipanen, tinggal 5.000 ekor,” ujarnya.

Pengalaman Guntur yang memiliki 15 keramba masing-masing berukuran 5 x 5 meter, pendapatan bersihnya hanya Rp 2,1 juta. Setiap keramba ditebari 1.000 benih nila ukuran 6 cm, di pasaran dijual Rp 250 per ekor. Untuk 15 keramba dibutuhkan modal Rp 3,75 juta. Kebutuhan pakan sampai panen 30 zak isi 50 kg setara dengan Rp 10,5 juta. Pakan biasanya dibayar setelah panen karena harganya mahal, per zak Rp 350.000.

Setelah panen, hasilnya sekitar 7.500 ekor dengan ukuran rata-rata 8 ekor per kg. Harga jual di tingkat pembudidaya Rp 17.500 per kg. Hasil penjualan Rp 16,4 juta. Setelah dipotong biaya pakan dan benih, pendapatan bersih sekitar Rp 2,1 juta. ”Hasilnya sudah tidak menguntungkan lagi. Anak-anak nelayan di sini dulu banyak yang bisa kuliah karena tangkapan bagus. Sekarang paling hanya sampai SMA,” ujar Guntur.

Jadi daratan

Daud Pateda, Koordinator Bidang Ekonomi Jaring Pengelolaan Sumber Daya Alam Gorontalo, menegaskan, jika laju sedimentasi tidak dikendalikan, Limboto akan menjadi daratan. Kematian danau akan mengakhiri nafkah sekitar 2.000 keluarga nelayan yang menggantungkan hidup di sana.

Usaha penyelamatan Limboto sudah menjadi isu ”seksi” sejak akhir Orde Baru. Anggaran dialokasikan untuk menghijaukan 26.097 hektar lahan kritis di daerah tangkapan air. Hutan yang tersisa di Daerah Aliran Sungai Limboto hanya 14.893 hektar atau 16,37 persen. Hutan habis dibabat para pembalak liar dan dikonversi menjadi kebun oleh masyarakat.

Pada 2004-2008, anggaran yang dikucurkan untuk penyelamatan danau mencapai Rp 14,8 miliar, meliputi penghijauan, pekerjaan sipil, dan pemberdayaan masyarakat. Alih-alih ada hasil yang menggembirakan, kondisi danau justru semakin parah.

Pemerintah kembali memerhatikan Danau Limboto dalam Konferensi Nasional Danau Indonesia di Bali, 13-15 Agustus 2009. Danau Limboto direkomendasikan untuk dikeruk karena pendangkalan yang sangat parah. Program pengelolaan danau itu akan bergulir pada 2010-2014 dengan fokus penyelamatan 15 danau.

Daud menambahkan, JICA juga pernah merekomendasikan pengerukan Danau Limboto berdasarkan kajian ilmiah pada 2002-2004. Biaya pengerukan ditawarkan Rp 1 triliun.

”Pengerukan lumpur yang mahal itu akan sia-sia jika daerah hulu sungai yang kritis tidak dipulihkan. Jangan sampai Danau Limboto habis dalam angka-angka anggaran tanpa hasil jelas,” ujar Daud.

Perhatian pemerintah untuk menyelamatkan Danau Limboto memberikan secercah harapan bagi para nelayan seperti Guntur, Marten, dan Adam. Mereka berharap usaha kali ini berhasil menyambung hidup Limboto. Jika gagal, mereka hanya bisa menghitung mundur kematian Limboto.




Blog Stats

  • 2,450,050 hits

Recent Comments

Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Sejarah : Bangsa Lemuria, Lelu…
Ratu Adil - 666 on Sejarah : Bangsa Lemuria, Lelu…

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 136 other followers