Archive for the 'Jiwa Semangat Nilai-nilai 45' Category



21
Sep
09

Wisata Tradisi : Grebeg Syawal Keraton Yogya Tetap Memukau

Grebeg Syawal Keraton Yogya Tetap Memukau
Prajurit Kasultanan Ngayogyakarta dari berbagai kesatuan mengikuti latihan defile mengelilingi kompleks Keraton Yogyakarta, Minggu (13/9). Kegiatan tersebut dipersiapkan untuk menyambut tradisi Grebeg Syawal, sebuah tradisi Keraton Yogyakarta dalam memperingati Idul Fitri 1430 Hijriah.

Senin, 21 September 2009 | 13:13 WIB

YOGYAKARTA, KOMPAS.com — Upacara tradisional Grebeg Syawal yang diselenggarakan Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat bertepatan dengan 1 Syawal 1430 Hijriah atau 1 Syawal 1942 berdasarkan penanggalan Jawa, Senin (21/9), masih menarik perhatian wisatawan nusantara ataupun mancanegara.

Selain itu, ribuan warga Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) dan sekitarnya juga memadati kawasan Alun-Alun Utara Keraton Yogyakarta untuk menyaksikan prosesi upacara tradisional Grebeg Syawal tersebut. Antusiasme masyarakat ataupun wisatawan menunjukkan bahwa upacara tradisional Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat itu masih menjadi tontonan menarik dan ditunggu-tunggu.

Keyakinan sebagian masyarakat Yogyakarta bahwa Gunungan Grebeg dapat membawa berkah dan ketenteraman masih belum luntur dan terus terjaga secara turun temurun. Upacara tradisional Grebeg Syawal diawali sekitar pukul 10.00 WIB dengan keluarnya satu Gunungan Lanang yang terbuat dari sayur-sayuran dan hasil bumi lain yang dikawal oleh sepuluh bregada (kesatuan pasukan) prajurit Keraton Yogyakarta.

Kemudian, oleh perwakilan dari Kraton Yogyakarta yakni Kanjeng Gusti Pangeran Haryo (KGPH) Hadiwinoto, gunungan tersebut diserahkan untuk dibawa ke Masjid Gede Keraton Ngayogyakarta untuk didoakan.

Setelah dilepas, dengan dikomandani Manggalayudho Gusti Bendoro Pangeran Haryo (GBPH) Yudhaningrat, Gunungan Lanang tersebut diusung keluar dari regol (pintu gerbang) Keraton Yogyakarta dan dibawa menuju Masjid Gede Keraton.

Gunungan itu dikawal sepuluh bregada prajurit keraton, seperti Wirobraja, Nyutra, Daeng, Patungpuluh, Ketanggung, Bugis, dan Mantrijero. Dengan pakaian prajurit, mereka menyandang senapan, tombak, panah, dan keris.

Kemudian gunungan tersebut memperoleh tembakan kehormatan salvo saat memasuki Alun-alun Utara Yogyakarta. Setelah penghulu Masjid Gede Kauman memanjatkan doa kepada Allah SWT agar masyarakat senantiasa diberikan kesejahteraan dan keselamatan, Gunungan Lanang itu menjadi rebutan masyarakat.

Sebagian masyarakat Yogyakarta percaya bahwa siapa yang berhasil memperoleh salah satu bagian dari gunungan tersebut akan mendapatkan berkah, seperti kemudahan memperoleh rezeki dan ketenteraman dalam berumah tangga.

Penonton rela berdesak-desakan ikut memperebutkan gunungan tersebut. Mereka bukan hanya masyarakat DIY dan sekitarnya, melainkan juga dari luar daerah, seperti Wonosobo, Magelang, Purworejo, dan sejumlah pemudik Lebaran.

“Tahun ini saya menyempatkan diri untuk melihat  upacara Grebeg Syawal. Bagi saya prosesi ini cukup menarik untuk ditonton dan perlu terus dilestarikan sebagai tradisi serta produk budaya keraton,” kata Dewi, warga asli kota Yogyakarta yang lama merantau dan tinggal di Bekasi, Jawa Barat.


ABI
Sumber : ANT

GrebegSyawalKeraton

Senin, 21 September 2009 14:12 WIB | Hiburan | Unik |
Gunungan Grebeg Syawal Keraton Surakarta Jadi Rebutan
Gunungan Grebeg Syawal Keraton Surakarta Jadi Rebutan
Puluhan warga dan Abdi Dalem Keraton berebut untuk mendapatkan gunungan yang berisi hasil bumi saat Grebeg Syawal di Halaman Keraton Kasunanan Surakarta, Jateng, Senin (21/9). (ANTARA/Dwi Prasetya)

Solo,(ANTARA News) – Ratusan warga dari berbagai daerah memperebutkan gunungan Grebeg Syawal di Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat, Kota Solo, Jawa Tengah.

Pada Grebeg Syawal yang telah menjadi rutinitas Keraton Surakarta usai Ramadan, Senin, terdapat dua gunungan yang diperebutkan warga, antara lain gunungan “jaler” dan gunungan “estri”.

Sebelum diperebutkan gunungan yang terdiri dari berbagai hasil bumi, seperti nasi, ketan, sayur-sayuran, dan telur, dikirab dari keraton menuju Masjid Agung Surakarta untuk didoakan oleh sejumlah pemuka agama Keraton Surakarta di masjid tersebut.

Usai didoakan, gunungan “estri” diperebutkan warga di depan Masjid Agung Surakarta, sedangkan gunungan “jaler” diperebutkan di depan Keraton Surakarta.

Para warga mempercayai serpihan gunungan yang tersebut akan mendatangkan berkah. Selain itu, masyarakat pun sudah banyak yang menunggu sejak pagi, padahal prosesi baru dimulai menjelang tengah hari.

Seorang warga Kecamatan Jebres, Darinah (72) mengatakan, dia memperebutkan gunungan tersebut karena berharap mendapatkan berkah jika die berhasil mendapatkan bagian dari gunungan tersebut.

“Gunungan yang sudah didoakan saya percaya memiliki berkah tersendiri,” kata Darinah.

Senada dengan itu, warga Kabupaten Klaten, Mujiman (51) mengatakan, dengan mendapatkan bagian dari gunungan tersebut dia berharap doanya dapat dikabulkan oleh Tuhan.

Tidak hanya diperebutkan oleh warga Kota Solo dan daerah-daerah di sekitarnya, gunungan tersebut juga diperebutkan oleh warga dari provinsi lain.

Seorang warga Surabaya, Kristin (35) mengatakan, kesempatan dia untuk mudik ke Solo mendorong dia untuk ikut berebut gunungan Grebeg Syawal.

“Sebelumnya saya belum pernah mengikuti upacara adat ini,” kata dia.

Pada kesempatan lain, Wakil Pangangeng Sasono Wilopo, KRA Winarno Kusumo, mengatakan, gunungan tersebut merupakan simbol syukur Sultan Kasunanan Surakarta Hadiningrat dan rakyatnya atas keberhasilan menempuh puasa selama satu bulan penuh.

“Selain itu, upacara adat ini merupakan wujud rasa syukur Keraton Surakarta pada Tuhan karena telah melindungi Sultan Pakoe Boewono XIII dan rakyatnya,” kata dia.

Pemberian gunungan tersebut kepada rakyat, lanjut Winarno Kusumo, merupakan wujud kepedulian sultan kepada rakyatnya.(*)

COPYRIGHT © 2009

21
Sep
09

Hikmah : Bersyukur, Ciri Orang Bertaqwa

Senin, 21 September 2009 | 16:31 WIB
Bersyukur, Ciri Orang Bertaqwa
Laporan Wartawan Kompas

KOMPAS.com – Manusia hendaknya selalu bersyukur terhadap apa yang diberikan oleh Allah SWT kepadanya, sebagai wujud nyta sebagai orang yang bertaqwa.

Demikian dikatakan oleh Khatib M. Tajuddin Hassan, ketika menyampaikan khutbah IdulFitri di Masjid Dian Al-Mahri,atau yang lebih dikenal Masjid Kubah Emas, di Jalan Meruyung, Kecamatan Limo, Kota Depok, Jawa Barat, Minggu.

Ribuan warga dari berbagai daerah sejak pagi hari telah memadati, masjid yang menjadi kebanggan Kota Depok tersebut, untuk melaksanakan sholat Idul Fitri 1430 Hijriah yang jatuh pada Minggu (20/9).

Dalam Sholat Idul Fitri kali ini bertindak sebagai Imam adalah Amiruddin Said yang juga sebagai Imam Besar Masjid Dian Al-Mahri.

Keluarga Dian Al-Mahri Maimunah Rasyid juga nampak bersama-sama warga melakukan sholat Idul Fitri tersebut, di masjid tersebut.

Tajuddin mengatakan anugerah ataupun nikmat yang diberikan Allah SWT harus disyukuri. Manusia beribadah bertujuan untuk bertaqwa, sehingga harus selalu bersyukur.

Ia mengatakan ciri-ciri orang bertaqwa adalah selalu mempunyai kegiatan sosial yang tinggi, dan memberikan maaf kepada orang yang melakukan kesalahan.

Bulan Ramadhan kata dia merupakan bulan yang penuh rahmat sehingga diharapkan setelah menjalankan ibadah puasa, manusi akan lebih bertaqwa.

Dengan datangnya hari raya Idul Fitri, masyarakat kembali pada nilai-nilai fitrah yang pada hakhekatnya suci, seperti bayi yang baru lahir kembali. “Dengan kembali ke fitri dalam menjalankan hidup akan baik dari sebelumnya,” katanya.

Sumber : ANT

Takwa, Ukuran Derajat Manusia
Senin, 21 September 2009 | 16:20 WIB

KOMPAS.com – Takwa merupakan barometer yang paling tepat untuk mengukur derajat kehidupan manusia, kata anggota Majelis Hisab Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Oman Fatkhurahman dalam khutbah shalat Ied di lapangan Sidokabul, Yogyakarta, Minggu.

Menurut dia, nilai dan derajat ketakwaan seseorang memang tidak mudah diketahui karena lebih bersifat spiritual batiniyah dibanding fisik lahiriyah.

“Namun demikian, sifat lahiriyah yang melekat pada seorang mukmin yang bertakwa (muttaqin) sejati dapat mengungkapkan nilai ketakwaan itu,” katanya.

Ia mengatakan sifat atau tanda orang bertakwa banyak ditunjukkan dalam firman Allah, seperti dalam surat Al-Baqoroh ayat 138 yakni beriman kepada ghaib atau sesuatu yang tidak dapat dicapai oleh panca indera manusia.

“Termasuk dalam kategori ghaib adalah Allah SWT, malaikat, hari kiamat, surga, neraka, dan sejenisnya. Pengetahuan yang ghaib ini semata-mata hanya berdasar pada petunjuk Allah,” katanya.

Selain itu, menurut Oman, tanda-tanda orang bertakwa yakni mempercayai adanya kitab-kitab yang diturunkan Allah seperti Al Quran dan kitab-kitab sebelumnya yaitu Taurat, Zabur dan Injil, serta shahifah-shahifah yang diturunkan kepada nabi.

“Beriman kepada kitab dan shahifah nabi berarti meyakini kebenaran dan orisinalitas, serta mayakini para nabi dan rasul yang telah diutus Allah kepada umat yang tidak membedakan satu dengan lainnya,” katanya.

Selain itu, kata dia, tanda-tanda orang bertakwa juga terkandung dalam sifat lainnya, sifat tersebut seperti menunaikan shalat, menginfakkan sebagian rizki, mampu menahan amarah, suka memaafkan kesalahan orang lain, serta suka berbuat baik, dan lain-lain.

Oman mengharapkan sifat atau tanda-tanda orang bertakwa tersebut mudah-mudahan menjadi milik bersama sebagai hasil dari berpuasa selama sebulan.

“Sebagai bangsa yang religius, kita harus mampu menjadikan sifat itu sebagai wahana tempat kita berjuang dan menjadikannya sebagai pedoman hidup, serta dapat menangkal segala cobaan yang datang dari mana pun,” katanya.

Sumber : ANT

Semoga Manfaat Puasa Makin Dirasakan
Senin, 21 September 2009 | 15:25 WIB

KOMPAS.com — Pelaksanaan ibadah puasa satu bulan merupakan terapi dosis tinggi yang tepat untuk melawan penyakit rohani yang merusak jiwa kita semua, kata Drs H Syarifuddin Ya’cub MHI pada ceramah Shalat Idul Fitri 1430 Hijriah, di Palembang.

Dosen Fakultas Syariah IAIN Raden Fatah Palembang itu, dalam ceramah di halaman Masjid Baiturrahman Perumahan Bukit Sejahtera (Poligon) Palembang, mengingatkan bahwa setelah sebulan menunaikan ibadah puasa, seharusnya dapat melawan berbagai penyakit rohani.

Dia menyebutkan, penyakit rohani, seperti keserakahan, individualis, zalim, dan senang melihat orang lain susah atau susah melihat orang lain senang (SMOS), semestinya kalah dengan terapi puasa.

Diharapkan, akhlak kaum muslimin setelah lulus berpuasa sebulan penuh dapat menjadi pemurah, toleran, dan menjunjung kebersamaan, adil, amanah serta justru senang melihat orang lain sukses (“SMOS”).

Syarifuddin juga mengajak umat Muslim untuk merenungkan bahwa kemewahan hidup yang diterima, apabila tidak dimanfaatkan sesuai dengan rida Allah SWT, akan membawa bencana bukan saja bagi individu dan keluarganya, tetapi dapat membawa menjadi musibah nasional.

Namun, dia menegaskan, bagi mereka yang beriman kepada Allah SWT dan ditimpa musibah, seperti tsunami di Aceh, Sumut, Yogyakarta, Bantul, dan Pangandaran, berarti telah gugur sebagai syahid.

“Semoga Allah SWT menempatkan mereka pada sisi-Nya di tempat yang menyenangkan,” ujar dia.

Karena itu, kepada semua pihak diharapkan dapat berpartisipasi untuk meringankan beban mereka dengan segenap kemampuan dan daya sesuai kapasitas kita masing-masing.

Secara khusus, disebutkan pula hikmah ibadah puasa, yaitu sebagai latihan untuk memupuk ketabahan dan kejujuran.

“Orang yang berhasil memupuk ketabahannyalah yang dapat berbuat jujur, berarti ketabahannya telah teruji,” kata dia pula.

Mereka yang jujur dan tabah itu akan mampu menghadapi godaan apa pun, wanita cantik, uang, dan barang mewah yang menggoda agar ia menyimpang dari sumpahnya, berhasil disingkirkan.

Umat Muslim yang sudah tertempa melalui ujian berat yang ditempuh dan selalu berpuasa karena ikhlas dan takwa akan mampu menghadapi hawa nafsu dan mengalahkannya untuk selalu berbuat baik bagi sesamanya, demikian H Syarifuddin Yacub.

Shalat Idul Fitri di Kota Palembang digelar di halaman, lapangan terbuka, masjid-masjid, dan tempat lapang lainnya.

Gubernur Sumsel H Alex Noerdin dan istri serta jajaran pejabat Pemprov setempat melaksanakan shalat Id di Masjid Agung Sultan Mahmud Badaruddin (SMB) II Palembang, sedangkan Wagub H Eddy Yusuf melaksanakan shalat Id di Masjid Taqwa Palembang.

Cuaca Kota Palembang sejak pagi cerah, padahal selama beberapa hari sebelumnya selalu diguyur hujan cukup lebat.
ABD

21
Sep
09

Lingkungan : Es Greenland Mencair Lebih Cepat

Es Greenland Mencair Lebih Cepat
Foto udara gletser Ilulissat, Greenland diambil Juli 2009.

Senin, 21 September 2009 | 13:59 WIB

PARIS, KOMPAS.com — Daratan es di Greenland merespons pemanasan global lebih cepat dari dugaan semula selama 10.000 tahun terakhir. Akibatnya, kenaikan temperatur pada abad ini bisa menyebabkan bongkah-bongkah es di sana mencair dengan laju yang mengkhawatirkan.

“Sangat mungkin kenaikan beberapa derajat celsius di Greenland akan menyebabkan hilangnya bongkah es masif dan naiknya permukaan air laut yang lebih besar dari perkiraan,” demikian disebutkan dalam penelitian yang dipublikasikan minggu lalu di jurnal Nature.

Dataran es Greenland mengandung cukup air untuk menaikkan permukaan laut hingga tujuh meter. Bila es itu sampai mencair maka kota-kota dunia yang berada di pesisir akan tenggelam, dan ratusan juta orang terancam kehilangan tempat tinggal.

Sebelumnya, para peneliti yakin bahwa dua daratan es di Bumi—Greenland dan Antartika—akan tetap membeku hingga abad mendatang meski terjadi pemanasan global. Namun, perkembangan terakhir membuat mereka ragu karena melihat betapa cepatnya gletser mencair mengalir menuju lautan.
WSN
Sumber : AFP

Berita Terkait

21
Sep
09

Persatuan Indonesia : Akulturasi Hindu dan Islam Lahirkan Keunikan Bali

Keunikan Bali

By Republika Newsroom
Senin, 21 September 2009 pukul 13:53:00

Akulturasi Hindu dan Islam Lahirkan Keunikan BaliWORDPRESS.COM

DENPASAR–Setangkai bunga menyambut di pintu masuk, sepotong kertas cokelat kecil tersisip diantara daunnya, sebaris pesan tertulis di atasnya, damai di langit, damai di bumi dan damai di setiap hati umat manusia.

Sebuah keharusan dijalani, jika umat manusia ingin hidup berdampingan secara damai. sikap toleransi itu dapat dikembangkan seperti yang selama ini dilakoni Forum Komunikasi Antarumat Beragama Provinsi Bali yang diketuai, Drs Ida Bagus Gede Wiana.

Upaya mewujudkan kerukunan dan keharmonisan umat beragama itu sebenarnya tidak terlalu berat dalam penerapannya, asalkan dilandasi toleransi dan rasa saling menghormati satu sama lain.

Kerukunan antar umat beragama di Bali selama ini sangat mantap dan harmonis, hidup berdampingan satu sama lainnya yang diwarisi secara turun-temurun sejak sekitar lima ratus tahun silam.

Kerukunan antar umat beragama sangat kokoh berkat Konsep “menyama braya”, yakni persaudaraan yang betul-betul diterapkan dalam kehidupan umat beragama di Bali, tutur seorang tokoh muslim di Bali Drs Haji Mulyono (76).

Pria kelahiran Solo yang menetap di Bali sejak 1962 yang pernah menjabat sebagai Asisten Sekretaris Daerah Provinsi Bali itu menilai, kehidupan umat beragama yang “mesra dan harmonis” yang dapat diwujudkan Pulau Dewata diharapkan dapat tetap terpelihara dengan baik.

Upaya tersebut mampu mendukung terciptanya kondisi yang aman, nyaman dan tenteram, sekaligus memberikan kesejukan di hati umat manusia.

Agama Islam dan Hindu sesungguhnya memiliki banyak persamaan bahkan terjadi akulturasi menyangkut seni dan budaya dari kedua agama tersebut di Pulau Dewata, tutur suami dari Ntin Charoh NHG.

Kesamaan itu antara lain terdapat pada buku dan “Geguritan” (pembacaan ayat-ayat suci Hindu), yang ternyata di dalamnya mengandung unsur nuansa Islam. Bukti lain dari terjadinya akulturasi Islam-Hindu adalah di Desa Pegayaman Kabupaten Buleleng, Kepaon Kota Denpasar dan Desa Loloan di Kabupaten Jembrana.

Desa Pegayaman misalnya, sebagian besar warganya memeluk agama Islam, namun nama depannya sama seperti orang Bali pada umumnya, sehingga muncul nama seperti Wayan Muhammad Saleh atau Made Jalaluddin.

Dalam budaya, umat Islam Bali telah “berbaur” dengan budaya setempat, terlihat dari lembaga adat yang tumbuh di masyarakat muslim Bali sama dengan lembaga adat masyarakat Bali Hindu.

Sistem pengairan bidang pertanian tradisional (subak) misalnya, umat muslim menerapkan pola pengaturan air seperti yang dilakukan petani yang beragama Hindu, meskipun cara mensyukuri saat panen berbeda.

Umat Islam yang mengolah lahan pertanian di Subak Yeh Sumbul, Medewi, Pekutatan dan Subak Yeh Santang, Kabupaten Jembrana, daerah ujung barat Pulau Bali, menerapkan sistem pengairan secara teratur seperti umumnya dilakukan petani Pulau Dewata, ungkap ayah dari lima putra-putri yang telah dikaruniai lima cucu.

Adanya unsur kesamaan antara Islam dan Hindu itu dapat dijadikan tonggak lebih menciptakan `kemesraan` dan tali persaudaraan antara Hindu dan Islam, termasuk umat lain di Pulau Dewata, bahkan di Nusantara.

Berbagai keunikan itu menjadi daya tarik tersendiri dari berbagai segi, baik oleh wisatawan mancanegara, sosiolog maupun budayawan dari belahan dunia.

Kondisi demikian tidak mengherankan, jika Pulau Seribu Pura itu bertambah tenar, bahkan terkadang melampaui keterkenalan Indonesia, negara yang berpenduduk muslim terbesar, ujar Mulyono yang dipercaya sebagai Ketua Panitia Hari Besar Islam (PHBI) Provinsi Bali.

Sejak 500 tahun silam
Akulturasi dan kerukunan antarumat beragama di Bali sangat mesra dan harmonis, tidak pernah terjadi “benturan”. Hal itu diwarisi secara turun-temurun sejak 500 tahun lalu.

Terciptanya kerukunan hidup beragama demikian itu berkat adanya saling pengertian serta saling hormat-menghormati antarwarga berlainan suku maupun agama di Pulau Dewata, tutur Kepala Bidang Bimas Islam Kanwil Departemen Agama Provinsi Bali, Haji Musta`in SH

Kerukunan antarumat beragama yang hidup berdampingan satu sama lainnya itu diharapkan dapat terus dipelihara dan dipupuk dalam mengembangkan kerukunan yang dinamis, sekaligus terhindar pengaruh luar yang negatif.

Kerukunan telah menjadi satu pandangan yang sama dalam membangun kualitas kehidupan yang lebih baik di Pulau Dewata. Wali Kota Denpasar Ida Bagus Rai Dharma Wijaya Mantra misalnya mengundang para tokoh dan umat muslim untuk berbuka puasa bersama.

Demikian pula Wakil Gubernur Bali Drs Anak Agung Ngurah Puspayoga yang semuanya itu mencerminkan tekad untuk memelihara keharmonisan dan kerukunan umat beragama yang selama ini sangat mantap dan kokoh.

Masyarakat Bali dikenal sangat toleran terhadap para pendatang maupun wisatawan dalam menikmati liburan di Pulau Dewata dan hampir tidak pernah ada masalah.

Bahkan di Bali satu-satunya di Indonesia yang telah terbentuk persatuan etnis Nusantara. Mereka satu sama lain telah terjalin kerjasama yang baik, bertekad untuk menjaga keutuhan Bali, agar terhindar dari hal-hal yang tidak diinginkan.

Gubernur Bali Made Mangku Pastika menilai, meskipun masyarakat Bali sesama pendatang maupun umat lain hampir tidak pernah ada masalah, namun gesekan-gesekan antar satu desa adat dengan tetangganya sering terjadi.

Kondisi itu sangat rawan terhadap kemungkinan terjadinya konflik, atau hal-hal yang tidak diinginkan bersama. Gubernur Pastika dalam setiap kesempatan mengajak masyarakat kembali pada jati diri orang Bali, melakoni hidup rukun, aman, damai dan saling menghargai.

Keunggulan lokal yang dimiliki masyarakat Bali hendaknya dapat dipegang kokoh, mengingat dalam era globalisasi ada kecenderungan nilai-nilai kehidupan masyarakat Bali mengalami pergeseran.

Para tokoh-tokoh dan masyarakat diingatkan untuk memegang teguh kepatuhan, maupun sopan santun dan keramah-tamahan dalam kehidupan masyarakat sehari-hari.ant/kpo

21
Sep
09

Idul Fitri : Muslim Indonesia di Australia Rindukan Takbir

Muslim Indonesia

By Republika Newsroom
Minggu, 20 September 2009 pukul 19:25:00

Muslim Indonesia di Australia Rindukan TakbirANTARA
TAKBIRAN. Ribuan umat muslim di Kota Banda Aceh mengikuti pawai takbiran keliling kota sambil membawa obor di Banda Aceh, Sabtu (19/9).

BRISBANE–Komunitas Muslim Indonesia di Australia serentak merayakan Idul Fitri 1430 Hijriah, Minggu. Tidak sedikit di antara mereka mengaku merasa kehilangan tradisi takbiran, tabuhan bedug, mudik dan menu ketupat sayur yang senantiasa menyertai perayaan lebaran di Tanah Air.

Pengakuan akan kehilangan tradisi berlebaran di Tanah Air itu antara lain diungkapkan Mahasiswa Pascasarjana Universitas Queensland (UQ), Dedi Muhammad Siddiq, dan Dosen FKIP Universitas Jambi yang sedang mengambil program studi doktoral di UQ, M. Harris Effendi.

Dedi mengatakan, gema takbir yang senantiasa mengisi malam lebaran hingga menjelang salat Id serta hiruk pikuk mudik warga yang ingin bersilaturrahmi dengan sanak keluarga dan handai taulan di kampung halaman tak ditemukan di Australia.”Ini yang tidak saya temui saat berlebaran di sini,” kata mantan presiden Perhimpunan Masyarakat Muslim Indonesia di Brisbane (IISB) yang sudah dua kali merasakan berlebaran jauh dari keluarga di Tanah Air itu.

Namun kerinduannya pada keluarga sedikit terobati dengan acara silaturahmi dan bermaaf-maafan yang dilakukan sesama warga Muslim Indonesia dan mancanegara seusai salat Id seperti terjadi seusai salat Id yang diselenggarakan pengurus Perhimpunan Mahasiswa Islam (MSA) UQ, Minggu pagi.

Rasa kehilangan suasana khas lebaran di Tanah Air juga diungkapkan M.Harris Effendi. Anak Medan yang mengambil program doktor bidang pendidikan di UQ ini mengatakan ia tidak hanya kehilangan momen takbiran tetapi juga ketupat sayur yang menjadi salah satu menu utama lebaran banyak keluarga di Tanah Air.

Di kota Brisbane dan sekitarnya, daun pisang masih dapat ditemui namun tidak demikian halnya dengan janur sehingga ketupat tidak menjadi bagian dari menu lebaran keluarga-keluarga Muslim Indonesia di ibukota negara bagian Queensland itu.

Sementara itu, kegiatan salat Id yang diselenggarakan pengurus MSA-UQ di areal Taman William Dart (Taman Munro) kampus UQ Minggu pagi diikuti sekitar 800 orang warga Muslim asal Indonesia, Malaysia, Arab Saudi, India, Pakistan, dan beberapa negara lainnya.

Dalam khutbah salat Idul Fitrinya, Bandar Abu Fahad, mengajak umat Islam se-dunia agar bahu-membahu menghadapi propaganda anti-Muslim dan Islam dengan ikut membangun pemahaman yang benar tentang Islam.”Saat ini begitu banyak propaganda anti-Islam tapi Alhamdulillah, lebih banyak orang yang ingin mengetahui tentang Islam dan Muslim. Kita harus ikut memberi pemahaman yang benar tentang Islam kepada teman-teman non-Muslim kita,” katanya.

Kesalahfahaman kalangan non-Muslim tentang Islam itu dapat secara bertahap dikikis dengan upaya terpadu umat Islam. “Mari kita terus membangun jembatan pemahaman dengan teman-teman non-Muslim kita,” katanya.

Dalam khutbahnya dalam bahasa Inggris dan Arab itu, Bandar Abu Fahad juga menekankan bahwa salat Id yang dipadati umat Islam dari beragam bangsa adalah pesan yang nyata bahwa Muslim itu sesungguhnya bukan sekadar kumpulan bangsa-bangsa.”Kita ini adalah kumpulan bangsa yang bersatu di bawah `laa ila haillallah` (kalimat Tauhid, red),” katanya.

Seusai khutbah salat Id, jamaah yang berasal dari Indonesia, Malaysia, Arab Saudi, India, Pakistan, dan beberapa negara lainnya saling bermaaf-maafan dan menikmati panganan ringan bersama di areal lapangan sepakbola Taman Munro itu.

Selain di UQ, shalat Id juga digelar di Islamic College of Brisbane (Karawata), Australian International Islamic College (Durak), Masjid Lutwych, Masjid Algester dan Masjid Bald Hills dengan waktu pelaksanaan bervariasi antara pukul 06.00 dan 07.30 waktu setempat.

Perayaan Idul Fitri 1430 Hijriah yang ditandai dengan salat Id berjamaah juga digelar di berbagai kota utama lain di Australia. Di Perth, Australia Barat, salat Id Komunitas Muslim Indonesia menghadirkan khatib dan imam, Ustadz Agus Setiawan.Wakil Konsul Fungsi Pensosbud Konsulat RI di Perth Ricky Suhendar, mengatakan, salat Id di Perth dilangsungkan di “The Embassy Ballroom”, Jalan Presiden 115, Carlisle, pada pukul 07.30 waktu setempat.

Komunitas Muslim Indonesia dan mancanegara yang berdomisili di Canberra, Sydney, Melbourne, Adelaide dan Darwin juga menggelar salat Id Minggu pagi.Di seluruh Australia, terdapat lebih dari 340 ribu warga Muslim yang berasal dari beragam bangsa. ant/kpo

21
Sep
09

Kesehatan : Vegetarian Melawan Konsep Makanan Berimbang ?

Vegetarian Melawan Konsep Makanan Berimbang?
Senin, 21 September 2009 | 07:25 WIB

Laporan wartawan KOMPAS Lukas Adi Prasetya

YOGYAKARTA, KOMPAS.com — Apakah vegetarian melawan teori tentang asupan makanan berimbang? Jika Anda menjawab “melawan”, ada baiknya mendengarkan penjelasan Guru Besar Universitas Atma Jaya Yogyakarta (UAJY) yang juga Koordinator Pusat Studi Energi UAJY Prasasto Satwiko.

Menurut dia, daging bukan makanan bergizi tinggi. Malah banyak sisi ruginya jika disantap manusia. Sudah menjadi bagian dari makanan manusia sejak 2,5 juta tahun lalu. Bukti-bukti arkeologi menyatakan itu. Namun, tak serta-merta menyatakan manusia harus makan daging.

Sebelum mengembangkan pertanian, paling mudah bagi nenek moyang manusia untuk memakan tumbuhan yang ada atau berburu. Semua jenis primata sedikit banyak mengandung unsur hewani dalam menunya, entah berupa serangga atau yang lain. “Tubuh mempunyai kemampuan menyesuaikan diri (pada makanan) sampai tahap tertentu. Jika sekarang teknologi pertanian, ilmu kesehatan, dan nutrisi sudah sangat maju maka kita bisa lebih leluasa memilih makanan. Tidak seperti moyang kita,” kata Prasasto, Minggu malam.

Dengan kecerdasannya, para pakar kesehatan dan nutrisi tentu bisa mengembangkan menu nabati yang memiliki unsur lengkap sehingga makanan berimbang tak harus diartikan harus mengandung unsur hewani. Banyak penelitian yang meneguhkan bahwa kebiasaan makan daging tak menguntungkan dari sisi kesehatan, ekonomi, lingkungan, energi, dan distribusi pangan.

“Intinya adalah, pola pikir kita yang mesti diubah. Evolusi mengembangkan kecerdasan kita hingga dapat memilih makanan. Mestinya kita kan memilih makanan yang tidak merusak lingkungan. Otak adalah hasil evolusi yang hebat, bukan?” katanya.

Seperti kata ilmuwan Albert Einstein, “Tidak ada yang lebih bermanfaat bagi kesehatan dan kelangsungan kehidupan di bumi kecuali evolusi manusia menjadi vegetarian”. Intinya, memang nenek moyang manusia bukan vegetarian tapi omnivora (pemakan segala), tapi alam memberi kita evolusi otak. “Pemikiran Einstein tadi kira-kira benar atau salah? Yang jelas, Einstein orang jenius bukan? Selain itu, semua orang juga tahu bahwa begitu banyak penyakit bersumber utama dari daging,” ucap dia.

21
Sep
09

Khazanah : Ibn Haitham, Peletak Dasar Ilmu Optik

Ibn Haitham

Peletak Dasar Ilmu Optik

By Republika Newsroom
Selasa, 09 September 2008 pukul 16:23:00

Ibn HaithamGOOGLE.COMIbn Haitham Peletak Ilmu Optik

Islam sering kali mendapat stigma sebagai agama yang terbelakang. Padahal, kontribusi ilmuwan Islam bagi dunia ilmu pengetahuan tidak lah sedikit. Ibn Haitham contohnya. Sejarah optik mencatat, dialah bapak ilmu optik yang mengurai bagaimana kerja mata ‘mencerna’ penampakan suatu obyek. Nama lengkap ilmuwan ini Abu Al Muhammad al-Hassan ibnu al-Haitham.

Publik Barat mengenalnya sebagai Alhazen. Dia lahir di Basrah pada tahun 965 Masehi. Awal pendidikan didaparkan di Basrah sebelum dilantik menjadi pegawai pemerintah di kota kelahirannya itu. Namun ia tidak sreg dengan kehidupan birokrat. Ia pun memutuskan keluar untuk kemudian merantau ke Ahwaz dan Baghdad. Di perantauan, ia mengasah otaknya dengan beragam ilmu. Kecintaannya kepada ilmu membawanya berhijrah ke Mesir. Di negeri ini, ia melakukan penelitian mengenai aliran dan saluran Sungai Nil serta menyalin buku-buku tentang matematika dan ilmu falak.

Tujuannya adalah untuk mendapatkan uang tambahan dalam meneruskan pendidikannya di Universitas al-Azhar. Belajar yang dilakukannya secara otodidak justru membuatnya menjadi seorang yang mahir dalam bidang ilmu pengetahuan, ilmu falak, matematika, geometri, pengobatan, dan filsafat. Tulisannya mengenai mata, telah menjadi salah satu rujukan penting dalam bidang penelitian sains di Barat. Malahan kajiannya mengenai pengobatan mata telah menjadi asas bagi kajian dunia modern mengenai pengobatan mata. enelitiannya mengenai cahaya telah memberikan ilham kepada ahli sains Barat seperti Boger, Bacon, dan Kepler menciptakan mikroskop serta teleskop. Dialah orang pertama yang menulis dan menemukan pelbagai data penting mengenai cahaya.

Beberapa buah buku mengenai cahaya yang ditulisnya telah diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris, antaranya adalah Light dan On Twilight Phenomena. Kajiannya banyak membahas mengenai senja dan lingkaran cahaya di sekitar bulan dan matahari serta bayang-bayang dan gerhana. Menurut Ibnu Haitham, cahaya fajar bermula apabila matahari berada di garis 19 derajat ufuk timur. Warna merah pada senja akan hilang apabila matahari berada di garis 19 derajat ufuk barat. Dalam kajiannya, beliau juga berjaya menghasilkan kedudukan cahaya seperti bias cahaya dan pembalikan cahaya.

Ibnu Haitham juga turut melakukan percobaan terhadap kaca yang dibakar dan dari situ tercetuslah teori lensa pembesar. Teori itu telah digunakan oleh para saintis di Itali untuk menghasilkan kaca pembesar pertama di dunia. Yang lebih menakjubkan ialah Ibnu Haitham telah menemukan prinsip isi padu udara sebelum seorang ilmuwan bernama Tricella mengetahui hal tersebut 500 tahun kemudian. Ibnu Haitham juga telah menengarai perihal gaya gravitasi bumi sebelum Issac Newton mengetahuinya. Selain itu, teori Ibnu Haitham mengenai jiwa manusia sebagai satu rentetan perasaan yang bersambung secara teratur telah memberikan ilham kepada ilmuwan Barat untuk menghasilkan tayangan gambar.

Teorinya telah membawa kepada penemuan film yang kemudiannya disambung-sambung dan dimainkan pada para penonton sebagaimana yang dapat kita tonton pada masa kini. Selain sains, Ibnu Haitham juga banyak menulis mengenai filsafat, logika, metafisika, dan persoalan yang berkaitan dengan keagamaan. Beliau turut menulis ulasan dan ringkasan terhadap karya-karya sarjana terdahulu. Penulisan filsafatnya banyak tertumpu kepada aspek kebenaran dalam masalah yang menjadi pertikaian. Padanya pertikaian mengenai sesuatu perkara bermula dari pendekatan yang digunakan dalam mengenalinya. Dia juga berpendapat bahwa kebenaran hanyalah satu. Oleh sebab itu semua dakwaan kebenaran wajar diragukan dalam menilai semua pandangan yang ada.

Pandangannya mengenai filsafat amat menarik untuk dikaji hingga saat ini. Bagi Ibnu Haitham, filsafat tidak dapat dipisahkan dari ilmu matematika, sains, dan ketuhanan. Ketiga bidang dan cabang ilmu ini harus dikuasai. Dan untuk menguasainya seseorang perlu menggunakan waktu mudanya dengan sepenuhnya. Apabila umur makin meningkat, kekuatan fisikal dan mental akan turut mengalami kemerosotan. Ibnu Haitham membuktikan dirinya begitu bergairah mencari dan mendalami ilmu pengetahuan pada usia mudanya. Banyak buku yang dihasilkannya dan masih menjadi rujukan hingga saat ini.

Di antara buku-bukunya itu adalah Al’Jami’ fi Usul al’Hisab yang mengandung teori-teori ilmu matemetika dan matemetika penganalisaan; Kitab al-Tahlil wa al’Tarkib mengenai ilmu geometri; Kitab Tahlil ai’masa’il al ‘Adadiyah tentang aljabar; Maqalah fi Istikhraj Simat al’Qiblah yang mengupas tentang arah kiblat; Maqalah fima Tad’u llaih mengenai penggunaan geometri dalam urusan hukum syarak; dan Risalah fi Sina’at al-Syi’r mengenai teknik penulisan puisi. Walaupun menjadi orang terkenal di zamannya, namun Ibnu Haitham tetap hidup dalam kesederhanaan. Ia dikenal sebagai orang yang miskin materi tapi kaya ilmu pengetahuan. ( yus/berbagai sumber )




Blog Stats

  • 3,089,428 hits

Recent Comments

Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Sejarah : Bangsa Lemuria, Lelu…
Ratu Adil - 666 on Sejarah : Bangsa Lemuria, Lelu…