Archive for the 'Jiwa Semangat Nilai-nilai 45' Category



23
Sep
09

Politik : Demokrasi Krisis Kontemplasi

Demokrasi Krisis Kontemplasi

KOMPAS, Rabu, 23 September 2009 | 02:59 WIB

Boni Hargens

Di awal bukunya, Deepening Democracy in Indonesia? (2009), Maribeth Erb dan Priyambudi Sulistiyanto mengajukan pertanyaan kritis, apakah pemilu langsung langkah menuju konsolidasi demokrasi? Apakah suara yang didapat langsung dalam pemilu menjamin demokrasi berkembang?

Keduanya juga mengutip skeptisisme Donald Emmerson (2001) terkait demokrasi di Asia, apakah kehendak mayoritas dalam pemilu mencerminkan demokrasi atau apakah ”aturan hukum” menentukan demokrasi.

Kesimpulan mereka, mekanisme pemilu langsung secara efektif tidak mendorong upaya konsolidasi demokratisasi, tetapi malah menambah kerumitan dalam pelaksanaan kekuasaan dari tingkat pusat hingga daerah. Legitimasi yang didapat langsung digunakan secara keliru. Maka, benar tesis Taylor (1996) tentang dua kemungkinan makna pemilu. Selain institusi esensial demokrasi, pemilu juga sebuah pertunjukan. Pemilu sebetulnya dimenangkan oleh para sponsor yang bermain di balik layar dan rakyat hanya penonton pasif. Poin terakhir Taylor sudah menjadi pandangan umum tentang demokrasi kita.

Ihwal koalisi

Kini banyak orang bingung mengapa konstelasi politik sesudah pilpres tidak menarik. Faksi-faksi politik yang bersaing tiba-tiba bersinergi dalam koalisi yang sulit dijelaskan bentuk dan orientasinya. Bahkan, PDI Perjuangan yang dipandang sebagai ikon oposisi (2004-2009) diduga mendapat kursi di kabinet SBY-Boediono (2009-2014). Gerindra tidak ketinggalan.

Dalam politik, berbagi kekuatan itu hal wajar. Namun, menjadi tidak wajar jika bagi-bagi kue kekuasaan tak mempertimbangkan etika. Demokrasi seolah hanya prosedur, yang paling utama bagaimana prosedur dipenuhi.

Padahal, demokrasi bukan sekadar struktur. Demokrasi mendapat makna substansial saat postulat moral tidak dicabut dari proses pelaksanaannya. Itulah roh demokrasi (Larry Diamond, 2008). Tanpa kejujuran, komitmen, dan semangat pengabdian, demokrasi adalah jasad mati. Dalam konteks inilah politik bisa berubah menjadi pasar. Yang ada hanya perdagangan kepentingan dan semua ”manusia politik” menjadi pragmatis.

Kita tak berkehendak mengabaikan maksud baik di balik koalisi besar. Betul, koalisi besar akan menjamin stabilitas sebuah pemerintahan. Presiden akan dengan mudah mengoptimalkan hak prerogratifnya, terutama dalam menentukan formasi kabinet dan mengukur kinerja pemerintahan ke depan. Namun, kita tak bisa menafikan fakta, ketika mayoritas kekuatan partai di parlemen bersatu, fungsi pengawasan akan mandul.

Kita sulit mengharap parlemen tampil sebagai kekuatan pengimbang. Mungkinkah demokrasi bekerja di parlemen dalam situasi macam ini? Persis skeptisisme ini yang mengganggu imajinasi kolektif masyarakat terkait wajah demokrasi Indonesia lima tahun ke depan.

Selain parlemen mandul, koalisi besar membuka peluang lahirnya otoritarianisme model baru dalam sejarah demokrasi Indonesia. Saat kontrol terhadap pemerintah melemah, ada kontingensi luas bagi pemerintah untuk menjadi otoriter yang diperhalus Asrul Sani, pemerintah dominan. Otoritarianisme tidak selalu telanjang seperti dalam gambaran klasik pemimpin berdiri dengan senjata, lalu memerintah, yang dengan mudah diterjemahkan sebagai ”hukum”. Sosok otorianisme juga bisa halus. Di permukaan, pemimpin tidak mengandalkan senjata atau mengatur pemerintahan secara monolitik. Kritik tetap berjalan selayaknya demokrasi normal. Akan tetapi, di balik kritik dan diskursus, diam-diam pemerintah dengan segala kekuatannya mengatur pemerintahan secara monolitik. Kritik dan kontrol hanya sistem panoptik yang mengelabui kesadaran publik. Bagaimanapun halus wajahnya, karakter kekuasaan macam ini tetap otoritarian.

Simalakama

Sepertinya Presiden Susilo Bambang Yudhoyono ada di tengah dilema simalakama. Di satu sisi, jika tak membentuk koalisi besar, ada peluang pemerintah tidak fokus bekerja karena harus menghadapi aneka tekanan politik, berapa pun skalanya. Bagi Partai Demokrat (PD), koalisi besar memudahkan upaya membangun kerja sama politik dengan partai-partai lain di parlemen dan pemerintahan. Ini model berpikir integralistik yang cenderung tidak percaya pada pertentangan sebagai proses menuju pematangan.

Di sisi lain, koalisi besar sebenarnya identik dengan memelihara macan. Bisa saja SBY diatur balik oleh elite partai yang bercokol dalam kabinet. Lalu Demokrat dikepung kekuatan-kekuatan politik di tubuh koalisi dalam Pemilu 2014. Sejarah berulang, menteri yang mundur di tengah jalan menjadi jawara di Pemilu 2014.

Krisis kontemplasi

Secara kasatmata, koalisi besar membingungkan masyarakat politik. Mengapa elite mudah berubah dalam sekejap? Berpolitik seolah hanya urusan mencari peluang. Lalu dengan gampang inkonsistensi dirasionalisasi dengan alasan ”politik adalah strategi”. Strategi untuk siapa? Motifnya apa? Jika strategi untuk sekadar berkuasa dan motifnya keuntungan parsial, maka itu bukan politik dalam makna asali (Arendt, 1948). Politik macam itu refleksi sebuah pragmatisme palsu. Saat itulah, dalam bahasa Diamond (2008), roh demokrasi mengalami kematian mutlak.

Umumnya demokrasi yang gagal secara substansial terkait elite politik yang tak mampu mentransendensi makna kekuasaan dari sekadar duduk di kursi dengan sejumlah kewenangan menjadi sesuatu yang mengandung pengabdian, komitmen, dan tanggung jawab. Tak mampu berkontemplasi, bermenung. Padahal, (jika sepakat) berkuasa bukan untuk bersenang-senang. Dibutuhkan permenungan agar bisa bekerja sebagai ”manusia politik” yang sebenarnya, bukan sebagai pemburu rente yang dalam situasi tertentu mengambil rupa sebagai ”leviathan”.

Boni Hargens Pengajar Ilmu Politik di Universitas Indonesia; Direktur Lembaga Pemilih Indonesia

23
Sep
09

Wisata Religius : Wihara Avalokitesvara, Serang, Banten

KOMPAS/ANITA YOSSIHARA
Beberapa peziarah berada di depan Wihara Avalokitesvara di Kampung Pamarican, Desa Banten, Kecamatan Kasemen, Kota Serang, Banten, Kamis (17/9). Wihara itu merupakan peninggalan Syekh Syarif Hidayatullah yang dibangun di dekat pusat pemerintahan kerajaan Islam Banten pada tahun 1652.

Belajarlah kepada Sultan Banten

Rabu, 23 September 2009 | 03:42 WIB

Anita Yosihara

Matahari baru saja naik tepat di atas kepala. Aroma dupa dan lilin terbakar menyeruak dari dalam bangunan berwarna merah di Kampung Pamarican, Desa Banten, Kasemen Kota Serang, Banten, Kamis (17/9).

Dari pintu masuk terlihat dua perempuan sedang bersembahyang di depan arca Dewi Kwan Im. Beberapa lelaki berdiri memegang hio atau dupa yang siap dibakar. Meski masih berpuasa, para lelaki itu tetap sibuk melayani peziarah yang akan bersembahyang di wihara tua itu.

Seorang juru parkir berjaga-jaga di depan pintu masuk wihara tua, mengawasi kendaraan para peziarah. Terik matahari tidak menyurutkan niatnya beribadah puasa di bulan Ramadhan.

Wihara tua itu bernama Avalokitesvara. Nama itu diambil dari sebutan Kwan Im Hut Cou atau Dewi Kwan Im dalam bahasa Sanskerta. Dewi welas asih itu diyakini sering menolong manusia saat dihadapkan pada berbagai kesulitan.

Kelenteng China itu berada di kawasan Banten Lama, sekitar 10 kilometer di utara Kota Serang. Berdiri di Kampung Pamarican, Desa Banten, yang dahulu menjadi pusat perdagangan lada antarnegara.

Lokasinya hanya 500 meter di sebelah utara Masjid Agung Banten Lama dan Keraton Surosowan, istana kerajaan Islam Banten. Dekat dengan Teluk Banten dan Benteng Spelwijk.

Tempat peribadatan itu dibangun tahun 1652 oleh Syekh Syarif Hidayatullah yang kemudian dikenal sebagai Sunan Gunung Jati, salah satu dari Wali Songo. Wihara itu dibangun saat Syarif Hidayatullah menjadi Sultan Banten.

Asaji dari bagian Humas Wihara Avalokitesvara menceritakan, awalnya kelenteng dibangun di Desa Dermayon, Kecamatan Kasemen, Kota Serang, lebih kurang 500 meter di selatan Masjid Agung Banten Lama.

Saat pertama kali dibangun, wihara China itu diberi nama Bantek Ie yang berarti sejuta kebajikan. Kelenteng itu kemudian dipindahkan ke Kampung Pamarican sekitar tahun 1774.

Syekh Syarif Hidayatullah membangun wihara itu setelah menikahi putri Tiongkok bernama Ong Tien Nio. Rombongan putri dari marga Ong itu tiba di Teluk Banten lantaran kehabisan bekal dalam perjalanan menuju Surabaya. Iring-iringan kapal putri Tiongkok itu kemudian berlabuh di Kali Kemiri, dekat Keraton Surosowan. Sultan Syarif Hidayatullah yang kebetulan berjalan-jalan melihat putri tersebut. Merasa tertarik, Sultan lalu menikahi sang putri.

Sang putri bersama sebagian pengikutnya memilih masuk Islam, sebagian lainnya tetap memeluk agama Buddha.

Para pemeluk Buddha terpaksa beribadah di tepi pantai karena belum ada tempat beribadah. Atas permintaan istrinya, Syarif Hidayatullah mendirikan kelenteng. Selain itu, Sultan juga membangun masjid untuk para pengikut putri yang masuk agama Islam.

Hingga kini, wihara tersebut kerap didatangi ribuan peziarah dari sejumlah negara, misalnya Belanda, Jerman, dan Thailand.

Wihara itu sering didatangi para peziarah karena terdapat altar Dewi Kwan Im. Di dalam wihara juga terdapat 15 altar lain, seperti altar Thian Kong yang berarti Tuhan Yang Maha Esa dan Sam Kai Kong atau penguasa tiga alam.

Ribuan peziarah datang terutama pada bulan keenam lunar kalender Imlek, peringatan Lak Gwe Cap Kau. Peringatan itu dilakukan saat Dewi Kwan Im mendapatkan kesempurnaan.

Kerukunan

Keberadaan tempat peribadatan umat Buddha di pusat pemerintahan kerajaan Islam Banten itu menunjukkan tingginya toleransi antarumat beragama pada masa itu. Meski berbeda agama dan keyakinan, lebih dari tiga abad warga hidup berdampingan dengan rukun dan damai.

Tak sedikit warga sekitar yang mayoritas beragama Islam membantu mengelola wihara. Asaji menuturkan, hampir 80 persen dari 32 pekerja wihara itu beragama Islam. Mereka terutama warga Kampung Pamarican.

Upah pekerja sekitar Rp 150.000 per bulan. ”Ditambah tip dari peziarah,” tutur Jupri, petugas parkir Wihara Avalokitesvara. Pada perayaan besar seperti Lak Gwe Cap Kau, semua warga Pamarican bergotong-royong membantu persiapan di wihara. Mereka pulalah yang membantu pada saat perayaan sekaligus membenahi setelah perayaan usai.

Warga juga memanfaatkan lahan sekitar wihara untuk berjualan penganan khas Banten, seperti emping, gula kelapa, dan sate bandeng, sebagai buah tangan. Selain mendirikan pusat kesehatan bertarif murah, pihak wihara juga meminjamkan kursi dan tenda kepada warga yang menggelar pesta. Toleransi itu masih terpelihara hingga sekarang.

23
Sep
09

Wisata Sejarah : Kerangka Sejoli Berusia 3.200 Tahun

Kerangka Sejoli Berusia 3.200 Tahun Zaman Perang Trojan Ditemukan
Reruntuhan kota tua Troya

Rabu, 23 September 2009 | 09:51 WIB

ANKARA, KOMPAS.com — Beberapa ahli arkeologi di kota tua Troya di Turki telah menemukan kerangka sepasang pria dan wanita yang diduga meninggal pada 1.200 SM, saat terjadinya perang legendaris yang diceritakan Homer, seorang filsuf yang menuliskan cerita perang Troya dalam kitab Iliad.

Ernst Pernicka, profesor arkeometri di University of Tubingen, mengatakan, kedua kerangka itu ditemukan di dekat satu jalur pertahanan di dalam kota tersebut, yang dibangun pada pengujung Zaman Perunggu. Pernicka memimpin penggalian di bagian barat-laut Turki.

Temuan itu dapat menambah bukti bahwa daerah dataran rendah Troya (atau disebut Troy) berukuran lebih luas dibandingkan perkiraan sebelumnya sehingga mengubah pendapat para ilmuwan mengenai kota yang dilukiskan dalam kitab Iliad.

“Jika kerangka tersebut betul berasal dari masa 1.200 SM, maka bertepatan dengan masa perang Trojan. Kedua orang ini dikuburkan di dekat perabuan. Kami sedang melakukan pemeriksaan radiokarbon, tapi temuan itu mengejutkan,” kata Pernicka dalam wawancara telepon.

Troya kuno, yang terletak di sebelah barat laut Turki di mulut Dardanelles, tak jauh dari selatan Istanbul, digali pada 1870-an oleh Heinrich Schliemann, pengusaha Jerman dan ahli arkeologi. Ia memelopori penggalian dan menemukan kota yang berliku dan curam seperti yang digambarkan Homer.

Pernicka mengatakan, barang tembikar yang ditemukan di dekat kedua mayat yang bagian bawah tubuh mereka hilang itu, dikonfirmasi berasal dari masa 1.200 SM. Namun ia menambahkan bahwa pasangan tersebut boleh jadi dikuburkan 400 tahun kemudian di pekuburan yang oleh para ahli arkeologi disebut Troy VI atau Troy VII, lapisan reruntuhan yang berbeda di Troy.

Puluhan ribu pengunjung setiap tahun mendatangi reruntuhan Troy, tempat replika sangat besar patung kuda dari kayu, berdiri bersama deretan reruntuhan penggalian.
BNJ
Sumber : Reuters

23
Sep
09

Religius : Nilai-nilai Jawa, Globalisasi, dan Gangguan Jiwa

KOMPASIANA.COM , Nilai-nilai Jawa, Globalisasi, dan Gangguan Jiwa
Oleh ndaru_wijaya – 23 September 2009
Bismillah. Kerugian ekonomi akibat penyakit gangguan jiwa di Indonesia mencapai Rp 32 triliun per tahun. Jumlah penderita penyakit ini cukup tinggi dan cenderung meningkat dari tahun ke tahun. Hasil studi Bank Dunia tahun 1995 di beberapa negara menunjukkan, 8,1 persen hari-hari produktif hilang akibat beban penyakit yang disebabkan oleh masalah kesehatan jiwa. Angka tersebut lebih besar dibandingkan hari-hari produktif yang hilang akibat penyakit tuberkulosis (7,2 persen), kanker (5,8 persen), penyakit jantung (4,4 persen), dan malaria (2,6 persen). Menurut hasil penelitian terbaru di Indonesia, satu hingga tiga orang per mil mengalami gangguan jiwa berat (psikosis). Sedangkan 20-40 orang per mil mengalami gangguan kesehatan jiwa ringan atau neurosis.

Data survei lainnya menunjukkan satu dari tiga pengunjung pusat kesehatan masyarakat (puskesmas) mengeluhkan gangguan mental dan emosional. Studi yang dilakukan di 11 pusat penelitian kesehatan jiwa di Indonesia juga menunjukkan bahwa satu dari lima orang responden yang diteliti pernah satu kali mengalami gangguan kesehatan jiwa selama hidup mereka. Fakta ini menunjukkan bahwa kesehatan jiwa merupakan masalah penting yang harus mendapat perhatian penuh. Namun, sayangnya perhatian pemerintah terhadap penanganan masalah kesehatan jiwa relatif masih kurang (http://www.pikiran-rakyat.com/cetak/2006/062006/20/0101.htm).

Sementara itu, jumlah penderita gangguan jiwa di Kabupaten Malang mencapai 175,9 per mil dari jumlah penduduk total 2.395.166 jiwa. Sementara jumlah penderita gangguan jiwa kategori remaja (usia 16-17 tahun) mencapai 353 per mil di kabupaten seluas 3.347,8 kilomter/km2 itu. Adapun jumlah penderita anak-anak (usia 5-15 tahun) sebanyak 141 per mil. (http://kompas.com/ver1/Kesehatan/0706/21/194612.htm).

Berdasarkan beberapa kali survei yang dilakukan RSJ Bandung yang bekerja sama dengan Dinas Kesehatan Jabar. Pada tahun 2002, RSJ melalukan survei yang dilakukan di 120 puskesmas (pusat kesehatan masyarakat) di 24 kota dan kabupaten di Jawa Barat. Hasilnya, memperlihatkan sebanyak 37,5 % pasien yang berobat di puskesmas, ternyata mengalami gangguan jiwa yang berdampak kepada gangguan fisik. Karena gejala klinisnya berupa pusing, mual, atau tidak bisa tidur, dokter puskesmas mendiagnosisnya sebagai penyakit fisik. Sehingga, gangguan jiwa yang dialami sebagian pasien puskesmas tidak terdeteksi oleh dokter umum (http://www.pikiran-rakyat.com/cetak/2005/1005/28/0102.htm).

Data-data di atas menunjukkan adanya peningkatan jumlah orang yang menderita gangguan jiwa khususnya penduduk di pulau Jawa. Peningkatan tersebut ditenggarai akibat semakin banyaknya beban yang ditanggung masyarakat, khususnya di pulau Jawa. Beban tersebut antara lain disebabkan oleh masalah ekonomi yang menunjukkan semakin tingginya harga kebutuhan pokok hidup sehari-hari, sementara daya beli dan penghasilan masyarakat tetap. Masyarakat menjadi semakin rentan menghadapi berbagai stressor yang dihadapinya sehari-hari. Sumber daya apa yang diperkirakan bisa digunakan oleh masyarakat Jawa ketika menghadapi stressor kehidupan yang semakin berat. Salah satu sumber daya yang bisa digunakan sebagai tameng dan penguat psikologis adalah kembali pada kearifan lokal yaitu nilai-nilai Jawa itu sendiri. Diantara nilai-nilai Jawa tersebut adalah sikap narimo, mawas diri, sangkan paraning dumadi, sabutuhe-sacukupe-saperlune-sakepenake-samestine-sabenere, dan Gusti mboten sare. Bagaimana nilai-nilai Jawa ini bisa menjadi daya penguat untuk menghadapi stressor yang semakin berat ?. Bagaimana dinamika psikologisnya jika nilai-nilai tersebut diterapkan dalam sikap dan perilaku hidup sehari-hari ?.

A. PEMBAHASAN

1. Narimo

Narimo ing pandum merupakan salah satu falsafah hidup masyarakat Jawa yang artinya kira-kira adalah “menerima dengan ikhlas setiap pemberian yang telah diterima”. Istilah ini sering disalahmengerti sebagai suatu sikap yang fatalistik. Pada hal jika mengkaji budaya Jawa –yang mana falsafah di atas bersumber– tidaklah demikian maksudnya. Narimo in pandum merupakan suatu sikap tulus ikhlas atas pemberian Allah yang telah diterima (dan yang tidak dapat dirubah lagi). Ini bukan suatu sikap fatalistik ala Jawa, sebab dalam budaya Jawa juga dikenal falsafah “Kodrat bisa diwiradat”.

Pemberian (Jawa: pandum) itu diterima dengan legowo (ikhlas) karena ada suatu pemahaman bahwasannya pemberian Allah itu baik adanya. Sekalipun pemberian tersebut tidak sesuai dengan yang kita inginkan, bahkan kadang-kadang merupakan sesuatu yang ingin kita hindari (kita sering menyebutnya musibah). Oleh karena itu diperlukan suatu kearifan tersendiri untuk melihat kebaikan dari ketidak baikan itu. Menikmati sesuatu yang samasekali tidak nikmat itu bagi kita. Istilah Jawane: To be blessed “is not to get what do you love, but to love what do you get“.

Salah satu falsafah orang jawa yang saya pahami sebagai menerima apa adanya, mensyukuri apa yang telah saya terima baik itu kesenangan maupun kemalangan, keruwetan maupun kemudahan, kesempatan ataupun tantangan. Takdir baik ataupun buruk,semua datang dari Sang Pencipta. Manusia hanya berusaha dengan segala kemampuan yang telah sang pencipta berikan, hasilnya kita serahkan kembali pada-Nya. Baik-buruk tergantung dari sudut mana menilainya,semua ada hikmahnya.

Sikap narimo ini jika diterapkan akan memunculkan energi positif dalam pikiran dan perasaan individu. Munculnya keikhlasan akan berdampak pada meredanya frustasi pada individu, karena adanya sikap penerimaan yang ikhlas. Sehingga individu terbebas dari beban pikiran yang menganggu kestabilan psikologisnya. Akibat jangka panjang positif yaitu kesehatan mental individu akan terjaga dengan baik. Banyak hasil penelitian yang menunjukkan bahwa sikap penerimaan diri atau narimo berkaitan dengan kebahagiaan, kestabilan emosi dan kesehatan mental individu secara keseluruhan (Diponegoro, 2007).

2. Mawas diri,

Mawas diri berarti mengamati diri dengan seksama, melakukan refleksi mendalam dan menghayati setiap aspek dalam diri secara holistik. Melalui mawas diri, individu akan semakin sadar dan memahami siapa dirinya, bagaimana sikap-sikapnya, niat-niat di dalam hatinya dan bagaimana tindakan-tindakan yang diambilnya dalam kehidupan sehari-hari. Mawas diri ini akan menimbulkan kemampuan regulasi diri sehingga individu akan menghindari sikap dan tindakan-tindakan yang akan berdampak negatif terhadap dirinya sendiri (Jatman, 1997).

Sebagai contoh ketika seseorang ingin bersitegang dengan pasangannya, kemudian dia melakukan sikap mawas diri, maka hasil yang dimunculkan adalah pemahaman akan perasaan pasangannya. Mawas diri ini akan memunculkan perasaan empati. Sehingga jika kedua belah pihak saling mawas diri maka pertentangan yang sia-sia akan terhindarkan. Hal ini karena masing-masing pihak memahami kesalahannya masing-masing.

Mawas diri ini akan menghindarkan inidividu dari sikap egoisme yang hanya terpusat demi kepentingannya sendiri. Ketika seseorang banyak menuntut, kemudian mawas diri maka dia mulai bertanya pada dirinya sendiri, tepatkah tuntutan saya ini ? apakah saya sendiri sudah menunaikan kewajiban saya ?. Bagaimana jika saya salah ? bagaimana perasaan orang lain jika mereka merasa terzalimi ?

Mawas diri berarti juga berdialog dengan suara hati. Adakah yang lebih jujur dari nurani, saat ia menyadarkan kita tanpa kata-kata. Adakah yang lebih tajam dari mata hati, ketika ia menghentak kita dari beragam kesalahan dan alpa. Ya, sebenarnya saat yang paling indah dari seluruh putaran kehidupan ini adalah saat kita mampu secara jujur dan tulus mendengar suara hati. Sebab, dari sanalah banyak tindakan dan perilaku kita menemukan arahnya yang benar. Dari sana amal-amal dan segala proses kehidupan kita memiliki pijakannya yang kokoh: niat dan orientasi yang lurus. Begitulah Rasulullah menggambarkan, bahwa hati adalah panglima. Bila ia benar dan sehat, sehat pula seluruh aktifitas fisik pemiliknya. Sebaliknya, bila ia rusak, rusak pula segala tingkah laku fisiknya.

Di dalam hati kita, di dasar sanubari kita yang paling dalam, ada kekuatan yang sangat kuat, sekaligus sumber kedamaian yang tiada tara. Di sanalah bersemayam fitrah dan jati diri ketundukan kita – juga setiap manusia – kepada Allah swt. Setiap manusia sejak kali pertama ditakdirkan ada, telah diikat dengan kepatuhan kepada tauhid, mengesakan Allah yang Maha Esa. Allah swt berfirman, “Dan (ingat-lah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): “Bukankah Aku ini Tuhanmu?” Mereka menjawab: “Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi.” (Qs. Al-A’raf: 172).

Artinya, dalam banyak hal, semestinya orang bisa bertanya kepada hati nuraninya apakah sesuatu itu baik atau buruk. Manusia diberi kemampuan untuk mengetahui secara standar apa saja yang layak atau tidak untuk dijalani. Manusia punya ukuran kepatutan kemanusiaan-nya. “Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya.” (Qs. Asy-syams) Karenanya, manusia bila pun tidak mengerti banyak tentang ajaran wahyu Allah, semestinya ia masih bisa mendengar secara tulus apa suara hati nuraninya. Ini merupakan salah satu makna yang terkandung dalam filosofi mawas diri.

3. Sangkan paraning dumadi,

Filosofi sangkan paraning dumadi merupakan filosofi yang sangat dalam dan bersifat transenden melintasi ruang dan waktu. Arti secara harafiah dari filosofi ini adalah sangkan = asal muasal, paran = dari & kemanakah, dumadi = segenap yang ada, khususnya yang tercipta. Pertanyaan yg muncul dan melandasi filosifi ini adalah
a. Berasal dari manakan manusia itu?
b. Siapa yg menciptakannya?
c. Apakah fungsinya setelah dilahirkan ke dunia ini?
d. Kearah manakah manusia bergerak & pada akhir hidupnya?

Menurut filsafat jawa ini, Allah SWT merupakan sangkan paraning dumadi. Sumber dari segala sesuatu. Artinya awal kehidupan manusia berasal dari Allah SWT, dan akhir kehidupan manusia juga kembali kepada Allah SWT Semua makhluk akhirnya kembali ke sang pencipta Allah SWT. Lirik puitis di bawah ini menjabarkan filosofi dari sangkan paraning dumadi.

Dari mana anda datang?
Minallah, dari Allah
Akan kemana anda pergi?
Ilallah, menuju Allah.
Bersama siapa anda pergi?
Ma’allah, bersama Allah.
Di jalan apa yang anda tempuh?
Fi sabilillah, di jalan Allah.
Anda sebenarnya milik siapa?
Inna lillah, kami sesungguhnya milik Allah.
Kepada siapa anda kembali?
Ilaihi roji’un, kepada-Nya (Allah) kami kembali.
Kepada siapa anda beriman?
Amantu billah, saya beriman kepada Allah.
Kepada siapa anda berserah diri?
Aslamtu lillah, berserah diri kepada Allah.
Kepada siapa anda beribadah/mengabdi?
A’budullah, saya mengabdi kepada Allah.
Kepada siapa anda mohon perlindungan?
A’udzu billah, saya berlindung kepada Allah
Kepada siapa anda tawakkal?
Tawakaltu’alallah, bertawakal kepada Allah.
Atas nama siapa anda beramal kebajikan?
Bismillah, atas nama Allah.
Kepada siapa anda bersyukur?
Alhamdu lillah, segala puji bagi Allah.
Untuk siapa anda hidup?
Lillah, untuk Allah
Darimana datangnya rahmat dan hidayah?
Min’indillah, dari sisi Allah
Dalam hidup apa yang sebenarnya anda cari?
Mardhatillah, saya mencari ridho Allah

Sumber ( http://pak-sis.blogspot.com/2007/06/sangkan-paraning-dumadi.html).

Jika individu menyadari sangkan paraning dumadi, maka mereka tidak akan kehilangan orientasi hidup. Setiap permasalahan hidup akan mereka serahkan ke pada Sang pemilik alam semesta Allah SWT. Egoisme akan ternetralisir dan menjadi egoisme yang positif. Tidak ada lagi keresehan, keserakahan, kemuakaan serta emosi-emosi negatif lainnya. Karena hal paling dasar dalam hidup ini adalah semua berasal dari dan milik Allah SWT dan kembali kepada Allah SWT jua.

Filosofi sangkan paraning dumadi ini jika dipenuhi akan membawa kita pada pemenuhan makna hidup. Pertanyaan-pertanyaan yang terkandung dalam filosofi sangkan paran ini sangatlah eksistensial dan mendalam. Jika filosofi ini dapat diterapkan dalam kehidupan seharai-hari maka kita akan terhindar dari krisis makna hidup. Hasil penelitian yang ada menunjukkan bahwa krisis makna hidup diduga ikut mendorong para remaja menggunakan narkoba (Safaria, 2007). Keadaan hidup yang kosong dan hampa menyebabkan munculnya perasaan sepi dan bosan. Hal ini mendorong mereka mencari jalan pintas untuk mengatasinya. Melalui penggunaan narkoba mereka berusaha untuk memperoleh hidup yang bebas dari kecemasan, kekosongan dan kehampaan. Keadaan di atas ditegaskan oleh Frankl (1977; dalam Koeswara, 1992; Bastaman, 1996) sebagai frustasi eksistensialism (existensialism frustation) yang semakin meningkat. Peningkatan frustasi eksistensial ini menimbulkan dampak negatif. Gejala-gejala yang tampak dari adanya frustasi eksistensial adalah meningkatnya bunuh diri, penyalahgunaan obat dan alkohol, depresi, stres, psikpatologi, kekerasan dan kejahatan.

Penelitian psikologis menunjukkan bahwa makna hidup sangat penting bagi keseimbangan fisik dan emosional. Studi Sheffied dan Pearson mengindikasikan adanya hubungan yang positif antara kecenderungan neurotik dan introversi sosial yang diungkap melalui tes Eysenk Personality Inventory dengan rendahnya skor tes PIL (Purpose in Life test) yang mengungkapkan kebermaknaan hidup (dalam Yalom, 1980). Salle dan Casciani melaporkan semakin tinggi taraf frustasi dan ketidakmampuan menyesuaikan diri secara seksual para subjek, semkain rendah skor PIL yang diperolehnya. Hasil studi Braun dan Dolmino menunjukkan skor tes PIL remaja deliquent lebih rendah dari remaja non-deliquent (dalam Yalom, 1980). Melalui filosofi sangkan paran ini maka kita dapat menemukan makna hidup kita dengan kembali mengorientasikan tujuan hidup kita pada tujuan yang hakiki.

4.Sabutuhe-sacukupe-saperlune-sakepenake-samestine-sabenere,

Sabutuhe-cakupe-saperlune-sakepenake-samestine-sabenere memiliki arti harafiah bahwa orang jawa itu harus menjalani hidup dengan sebutuhnya, secukupnya, seperlunya, semestinya dan dilandasi dengan kebenaran yang terbaik. Filosofi jawa ini sangat dalam dan mengandung ajaran untuk bersikap dan bertindak jangan berlebih-lebihan. Filosofi ini mengindarkan manusia dari keserakahan dan kerakusan. Inti dari ajaran yang terkandung di dalamnya adalah bahwa kita dianjurkan untuk mengendalikan nafsu yang tidak pernah terpuaskan.

Filosofi jawa ini menegaskan bahwa dalam menjalani kehidupan janganlah terlalu berlebih-lebihan. Hidup dijalani dalam proporsi yang tepat, efisien dan efektif, dan janganlah pula terlalu serba kekurangan. Filosofi ini menganjurkan orang jawa untuk selalu berorientasi pada pemenuhan kebutuhan yang proporsional. Tidak hanya itu filosofi ini lebih jauh lagi mencakup aspek lainnya seperti dalam pergaulan sosial, rumah tangga atau proses pengambilan keputusan.

Dalam pemenuhan kebutuhan hidup, baik kebutuhan primer maupun sekunder dianjurkan untuk memenuhinya secara seperlunya dan jangan berlebihan. Sehingga tidak perlu lagi orang berlomba-lomba untuk memamerkan kekayaannya atau berusaha mati-matian untuk menumpuk-numpuk harta. Karena semua itu adalah hal yang berlebih-lebihan. Jika kita bersedih hati janganlah berlebih-lebihan. Perasaan sedih adalah hal yang wajar tetapi jangan mengumbar kesedihan. Kita dianjurkan untuk bersabar dan tetap optimis menghadapi setiap masalah yang ada. Ketika kita ingin menyelesaikan suatu permasalahan, kita dianjurkan untuk menyelesaikannya dengan proporsional dengan tindakan yang semestinya dan dalam kebenaran yang terbaik. Tidak perlu dengan emosi yang meledak-ledak, semesti-nya saja dan sebenar-nya saja. Aktivitas yang sederhana seperti tidur, kita dianjurkan untuk tidur dengan cara yang membuat kita nyaman dan nikmat (sakepenake). Filosofi ini jika kita terapkan akan meningkatkan kesehatan mental kita karena menghindarkan kita dari sikap berlebihan, tindakan berlebihan serta reaksi emosi yang berlebihan (Safaria, 2007).

5. Gusti mboten sare.

Filosofi ini menegaskan bahwa Allah SWT tidaklah tidur, Dia selalu mengamati setiap gerak-gerik makhluknya. Ketika kita tertimpa musibah, maka kita akan memahami bahwa Allah SWT akan memberi pertolongan-Nya (Dia tidak tidur). Sebagaimana yang tercantum dalam Al Qur’an yaitu Allah tidak ada Tuhan melainkan Dia. Yang Hidup Kekal lagi Berdiri Sendiri. Dia tidak mengantuk dan tidak pula tidur. Kepunyaan-Nya apa-apa yang di langit dan di bumi. Siapakah yang dapat memberi syafa’at di sisi Allah tanpa izin-Nya ?” (Al baqarah : 2 : 255).

Filosofi Gusti mboten sare ini banyak dihayati dan diterapkan oleh masyarakat Bantul Yogyakarta ketika mengalami musibah gempa bumi 27 Mei yang lalu. Ternyata kekuatan dari filosofi ini mampu membangkitkan semangat dan harapan mereka setelah mengalami peristiwa yang traumatis tersebut. Mereka menjadi lebih tegar dan mampu bangkit dari kesedihan mendalam akibat gempa bumi. Filosofi Gusti mboten sare ini mampu merubah perspektif mereka terhadap musibah yang mereka alami lebih positif dan lebih bermakna.

Secara langsung filosofi ini menegaskan kepada kita bahwa setiap musibah ada hikmah dan maknanya. Ketika musibah datang menerjang, kita dianjurkan untuk berdoa agar mendapatkan kemudahan, ketegaran dan jalan keluar dari masalah tersebut. Sebagaimana tercantum dalam Al Qur’an ”Allah SWT sendiri menegaskan kepada seluruh makhluknya, bahwa setiap doa-doa yang disampaikan pasti akan dikabulkan-Nya. Allah SWT berfirman “Tuhan kamu (Allah) berfirman, “ Berdoalah kepada-Ku, niscaya Aku perkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang takabur dari menyembah-Ku, mereka akan masuk neraka jahanam dalam keadaan yang terhina (QS Al-Mu’min 40 : 60). Ayat di atas menegaskan secara jelas bahwa kita diperintah Allah untuk berdoa kepadanya, dengan memurnikan ketaatan kita. Allah SWT menjamin bahwa jika kita taat secara tulus kepada Allah SWT dengan tidak mempersekutukannya, maka doa-doa yang akan kita panjatkan insyaallah akan terwujud. Salah satu syarat agar doa kita terkabul adalah menghindari sikap takabur.

Dengan hanya mengingat bahwa Gusti mboten sare, hati kita menjadi tenteram dan damai. Alllah SWT berfirman “ yaitu orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah (dzikir). Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram “ (Q.S. Ar-Ra’d : 28). Beberapa penelitian menjelaskan bahwa pemecahan masalah dan penyesuaian diri terhadap distres, depresi, frustasi, dan kekecewaan melalui cara mendekatkan diri kepada Tuhan (transendental coping) lebih membawa dampak positif bagi individu. Dampak ini tentu saja akan meringankan beban psikologis, memunculkan optimisme, dan semangat individu untuk berhasil dalam mengatasi permasalahannya.

Penelitian Khisbiyah (1992) menjelaskan bahwa peran tingkat religiusitas mempunyai dampak positif terhadap kebermaknaan hidup individu. Semakin tinggi tingkat religiusitas individu, maka semakin tinggi pula kebermaknaan hidupnnya. Penelitian Anari (1996) menjelaskan hal yang sama bahwa tingkat religiusitas membawa dampak positif terhadap kebermaknaan hidup pada perempuan. Dalam banyak penelitian dibuktikan aktivitas relijius dapat memberikan penguatan-penguatan, dapat menjadi upaya preventif bahkan penyembuhan yang efektif bagi pribadi perilakunya. Dalam studi longitudinal terhadap ribuan subyek, House, Robbins dan Metzner (Hawari, 2004) menemukan angka kematian (mortality rate) yang jauh lebih rendah pada mereka yang rajin menjalankan ibadah, berdoa dan berdzikir dibanding dengan mereka yang tidak menjalankannya. Dari 212 studi lainnya, 75 persen para ahli menyatakan komitmen agama memberikan pengaruh positif pada pasien, sehingga Matthews (Hawari, 2004) mengatakan mungkin suatu saat para dokter juga perlu menuliskan doa dan dzikir dalam resep obat. Penelitian Anggraini (2004) membuktikan dzikir yang disertai dengan teknik pernafasan tertentu dapat meredusir kecemasan dan gejala-gejala penyakit secara efektif. Filosofi Gusti mboten sare ini merupakan perwujudan dari dzikir dan berdoa kepada Allah SWT. Untuk mencapai ketenagan hati dan jiwa sehingga berdampak pada kesehatan mental kita pula.

23
Sep
09

Hikmah : Aktualisasi Islam Mengalami Reduksi

<!– –> //
Aktualisasi Islam Mengalami Reduksi
Umat Islam menunaikan shalat Idul Fitri 1430 Hijriah di kawasan Senen, Jalan Kramat Bunder, Jakarta Pusat, Minggu (20/9).

Rabu, 23 September 2009 | 04:46 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com – Aktualisasi Islam sebagai rahmatan lilalamin atau agama yang membawa rahmat dan cinta kasih bagi umat manusia di muka bumi diakui mengalami reduksi, baik bagi pemeluknya maupun orang yang melihatnya.

Bahkan, akibat ketidakpahaman pemeluknya, Islam terkadang juga disimpangkan dan dibajak oleh sekelompok penganut Islam sendiri yang mengklaim sebagai Muslim sejati. Namun, pada saat yang sama, kelompok tersebut justru mempertontonkan tindak-tindak kekerasan yang jelas-jelas melanggar prinsip-prinsip maqashid al syariah dan ajaran Islam yang paling mendasar.

Direktur Jenderal Pendidikan Islam Departemen Agama Mohammad Ali dalam khotbah Idul Fitri 1 Syawal 1430 H di Masjid Istiqlal, Jakarta, Minggu (20/9), menyatakan, selain tereduksi dan disimpangkan, aktualisasi Islam sebagai rahmatan lilalamin juga menghadapi kendala yang cukup serius terkait dengan persoalan krisis identitas.

Khotbah Mohammad Ali itu berjudul ”Ibadah Syaum dalam Mendidik Setiap Muslim agar Menjadi Rahmatan Lilalamin”.

Bertindak sebagai imam dalam shalat itu adalah imam Masjid Istiqlal, Hasanuddin Sinaga. Hadir Presiden dan Ny Ani Susilo Bambang Yudhoyono, Wakil Presiden dan Ny Mufidah Muhammad Jusuf Kalla, sejumlah menteri kabinet, pimpinan lembaga negara, serta duta besar negara sahabat.

Wapres terpilih Boediono menjalankan shalat Idul Fitri di Masjid Al Azhar, Kebayoran, Jakarta.

Kembali ke Al Quran

Sementara itu, Wakil Presiden Persaudaraan Muslim Internasional Prof Dr Musiby dalam khotbah shalat Id di Panti Asuhan Muhammadiyah Tanah Abang, Jakarta Pusat, menyerukan, perayaan Idul Fitri 1430 H seyogianya tak dimaknai sebagai waktu untuk berhura-hura, melainkan momentum untuk kembali ke Al Quran. Sebab, Al Quran memberikan petunjuk bagi umat manusia untuk meninggalkan alam kegelapan menuju alam yang terang.

Shalat Id yang dilaksanakan di halaman dan salah satu ruas jalan raya itu dihadiri ribuan warga dari sekitar Tanah Abang.

”Saat ini hendaknya disadari bersama bahwa hingga dunia kiamat, Al Quran merupakan modal umat Islam. Al Quran adalah sesuatu yang sangat jelas sekaligus sangat rasional bagi manusia,” tutur Musiby.

Menurut dia, ketertinggalan umat Islam dibandingkan dengan umat lain salah satunya disebabkan mulai terkikisnya pemahaman terhadap Al Quran sebagai sumber utama kemuliaan dan keutamaan Islam. Banyak warga Muslim yang terlalu bangga dengan rasionalitas berpikir duniawi tanpa mempertimbangkan nilai spiritualitas, seperti yang diajarkan dalam Al Quran.

”Tak ada gunanya pintar atau hebat bila tidak didasarkan pada Al Quran, wahyu Allah yang berisi nasihat benar. Itulah tuntunan,” kata Musiby.

Lebaran sebagai hari kemenangan setelah selama 30 hari berjuang melawan hawa nafsu hendaknya menjadi momen bagi umat Islam untuk kembali menjadikan Al Quran sebagai rujukan utama dalam mencari petunjuk hidup. Maka, mengamalkan Al Quran akan menjadi kemenangan sesungguhnya umat Islam, lanjut Musiby. (GAL/HAN/REK)

Sumber : Kompas Cetak

23
Sep
09

Energi : Harga Minyak Kembali di Atas 70 Dolar

HargaMinyak > USD 70

Selasa, 22 September 2009 21:01 WIB | Ekonomi & Bisnis | Bisnis |
Harga Minyak Kembali di Atas 70 Dolar
(ANTARAGrafis)

London (ANTARA News) – Harga minyak dunia kembali naik di atas 70 dolar AS pada Selasa, karena mata uang AS mencapai satu tahun terendah terhadap euro, tetapi perdagangan hati-hati menjelang pertemuan pucak G20 pekan ini, kata para analis seperti dikutip AFP.

Para investor juga sangat memperhatikan hasil pertemuan tetang suku bunga terbaru Federal Reserve, mereka menambahkan.

Kontrak berjangka utama New York, minyak mentah “light sweet” untuk pengiriman Oktober, naik 1,08 dolar AS menjadi 70,79 dolar AS per barel, setelah merosot 2,33 dolar AS pada Senin.

Minyak mentah Brent North Sea untuk penyerahan November naik satu dolar menjadi 69,69 dolar AS per barel.

“Minyak terus mengambil isyarat dari nilai dolar AS,” kata Victor Shum, kepala senior di konsultan energi Purvin and Gertz di Singapura.

“Dolar telah melemah terhadap euro dan juga yen, yang telah menyediakan beberapa dukungan kepada minyak.”

Mata uang tunggal Eropa melonjak ke tertinggi satu tahun di atas 1,48 dolar AS pada Selasa, karena banyak investor menjual aset “safe haven” (tempat berlindung yang aman) seperti dolar didukung ekonomi yang semakin optimis, kata para dealer.

Di perdagangan London, euro mencapai 1,4821 dolar – titik tertinggi sejak 23 September 2008. Ini kemudian ditarik kembali untuk berdiri di 1,4796 dolar, masih naik tajam dibandingkan dengan 1,4676 dolar akhir Senin di New York.

Sejak minyak diperdagangkan dalam mata uang AS, dolar yang lebih lemah membuat komoditas lebih menarik bagi pemegang unit yang lebih kuat, yang menyebabkan permintaan lebih besar dan mendorong harga lebih tinggi.

Shum menambahkan bahwa investor sedang menunggu hasil pertemuan Fed pada Selasa dan Rabu, dengan suku bunga pada indikasi suku bunga AS akan naik karena ekonomi stabil.

Analis memperkirakan bahwa bank sentral AS akan mempertahankan tingkat suku bunga utama 0-0,25 persen ketika menyimpulkan sebuah pertemuan dua hari pada Rabu.

Investor juga mengamati pertemuan pemimpin dunia G20 di Pittsburgh, Pennsylvania, akhir pekan ini untuk petunjuk tentang prospek ekonomi global dan berapa lama lagi stimulus ukuran besar akan dipertahankan.

Minyak mentah berjangka telah jatuh tajam pada Senin karena pasar mengeluh tentang permintaan energi di China, yang dianggap sebagai kunci untuk suatu pemulihan dalam permintaan global.

Sementara itu pada Rabu, para pedagang akan mencerna sorotam mingguan snapshot terbaru persediaan minyak mentah di AS. Amerika Serikat adalah negara konsumen energi terbesar dunia, diikuti oleh nomor dua China.

Konsultan energi Global Energy Studies berbasis di London mengatakan dalam sebuah laporannya pekan ini bahwa harga minyak tidak akan naik secara signifikan tahun ini, kecuali jika ada “sinyal yang jelas” ekonomi dunia “menarik diri dari resesi pada mode yang berkelanjutan.”(*)

COPYRIGHT © 2009

23
Sep
09

Khazanah : Ibnu al-Banna, Matematikus Legendaris dari Maroko

Ibnu al-Banna

By Republika Newsroom
Rabu, 23 September 2009 pukul 07:48:00

Ibnu al-Banna, Matematikus Legendaris dari Maroko

Ibnu al-Banna al-Marrakushi dikenal sebagai matematikus Muslim legendaris dari Maroko pada abad ke-13 M. Kontribusinya bagi pengembangan matematika sungguh sangat tak ternilai.

Lewat  kitab yang ditulisnya bertajuk Talkhis Amal al-Hisab (Ringkasan dari Operasi Aritmatika) dan Raf al-Hijab, ia memperkenalkan beberapa notasi matematika yang membuat para para sejarawan sains dan ilmuwan percaya bahwa simbolisme Aljabar pertama kali dikembangkan peradaban Islam.

Menurut sejumlah catatan sejarah, al-Banna dan al-Qalasadi merupakan penemu notasi matematika. Dedikasinya dalam mengembangkan matematika telah diakui dunia. Untuk mengenang jasa-jasanya bagi kemajuan matematika, para ilmuwan dunia mengabadikan namanya di salah satu kawah bulan yang diberi nama al-Marrakushi.

Al-Banna pun menjadi satu dari 24 ilmuwan Muslim legendaris yang namanya diabadikan di kawah bulan. Matematikus Muslim kesohor itu bernama lengkap Abu’l-Abbas Ahmad bin Muhammad bin Utsman al-Azdi. Dalam catatan sejarah, tidak ada keterangan dengan jelas apakah al-Banna lahir di kota Marrakesh atau di wilayah yang diberi nama Marrakesh, Maroko oleh bangsa Eropa.

Ada pula yang menyebut al-Banna terlahir di Granada di Spanyol dan kemudian hijrah ke Afrika Utara untuk mendapatkan pendidikan dan pengalaman hidup. Yang pasti, menurut sejarawan matematika JJ O’Connor dan EF Robertson,  al-Banna menghabiskan sebagian besar hidupnya di Maroko.

Al-Banna lahir pada Desember 1256. Saat itu, Suku Banu Marin di Maroko merupakan sekutu Kekhalifahan Umayyah di Cordoba, Spanyol. Suku tersebut kemudian tinggal di bagian timur Maroko di bawah kepemimpinan Abu Yahya. Mereka mulai menaklukkan daerah-daerah di sekitarnya. Suku Banu Marin menaklukan Fez pada 1248 dan menjadikan wilayah tersebut sebagai ibu kota.

Kemudian mereka menaklukan Marrakesh dari kekuasaan suku Muwahhidun yang berkuasa pada 1269.  Dengan demikian Suku Banu Marin mengambil alih kekuasaan di seluruh Maroko. Setelah mereka berhasil menaklukkan Maroko, Banu Marin mencoba membantu Granada untuk mencegah kemajuan peradaban Kristen.

Hubungan erat antara Granada dan Maroko itulah yang membuat para sejarawan kesulitan untuk menjelaskan dan  mengetahui secara pasti asal al-Banna. Menurut O’Connor dan Robertson, al-Banna menyelesaikan studinya di Maroko. Matematika adalah bidang studi yang disukainya.

Saat itu, matematika merupakan ilmu favorit. Al-Banna sangat cinta dengan geometri serta memiliki ketertarikan untuk mempelajari Elemen Euclid. Ia juga mempelajari angka-angka pecahan dan belajar banyak dari orang-orang Arab yang telah menciptakan matematika s400 tahun sebelumnya.  Menurut O’Connor, suku Banu Marin memiliki budaya yang kuat untuk belajar serta mencari ilmu pengetahuan.

Banu Marin juga menjadikan Kota Fez sebagai pusat studi dan kebudayaan Islam. Di Universitas Fez, al-Banna mengajarkan semua cabang ilmu matematika termasuk diantaranya; aritmatika, Aljabar, geometri dan astronomi. Fez merupakan kota yang berkembang dengan pesat. Di kota itu berdiri dengan megah istana kesultanan, madrasah, universitas, serta, masjid yang megah.

Selama mengajar di universitas di kota Fez, al-Banna mengembangkan komunitas akademis. Ia memiliki begitu banyak murid.  Hal ini menunjukkan pengaruh  al-Banna yang sangat kuat di mata muridnya. Komunitas akademis itu melakukan studi dan diskusi dalam mengembangkan dan menyebarkan ilmu pengetahuan, khususnya matematika.

Al-Banna merupakan penulis yang sangat produktif. Dia telah melahirkan sejumlah karya besar dan legendaris. Tak kurang  terdapat 82 karya al Banna yang didaftar oleh Renaud. Namun tidak semua karya al Banna berupa tulisan tentang ilmu matematika, meskipun kebanyakan karyanya adalah matematika.

Dia menulis buku berisi pengantar Elemen Euclid. Selain itu, menulis sebuah teks tentang Aljabar, dan menulis berbagai karya tentang astronomi. Para sejarawan sains mengaku kesulitan untuk mengetahui secara pasti jumlah karya asli al-Banna. Pasalnya, dia juga banyak menyadur buku karya matematikus Islam terdahulu. Kini, sebagian karya al-Banna telah hilang.

Dalam membuat karyanya, al-Banna memang mendapatkan banyak pengaruh dari para ahli matematika Arab sebelumnya. Al-Banna merupakan orang pertama yang mempertimbangkan pecahan sebagai perbandingan antara dua angka dan dia adalah orang pertama yang menggunakan ekspresi almanak,  dalam sebuah karya yang berisi data astronomi dan meteorologi.

Karya al-Banna yang paling terkenal adalah Talkhis Amal al-Hisab (Ringkasan dari Operasi Rritmatika) dan Raf al-Hijab. Kedua buku itu  berisi komentar-komentar al-Banna terhadap karyanya Talkhis amal al-Hisab. Dalam karyanya itu, al-Banna memperkenalkan beberapa notasi matematika yang membuat para ilmuwan percaya bahwa simbolisme aljabar pertama kali dikembangkan matematikus Islam yakni al-Banna dan al-Qalasadi.

Dalam buku Raf al-Hijab, al-Banna menjelaskan berbagai macam pecahan matematika dan mereka terus digunakan untuk menghitung perkiraan dari nilai akar kuadrat. Hasil menarik lainnya terdapat pada seri menjumlahkan hasil. Berikut contoh rumus matematika yang dikembangkan al-Banna.

13 + 33 + 53 + … + (2n-1)3 = n2(2n2 – 1) dan
12 + 32 + 52 + … + (2n-1)2 = (2n + 1)2n(2n – 1)/6.

Mungkin yang paling menarik dari karya al Banna adalah bekerjanya koefisien binomial yang dijelaskan secara rinci dalam bukunya tersebut. Al -Banna menunjukkan bahwa:

pC2 = p(p-1)/2
lalu
pC3 = pC2(p-2)/3.
Memang hal itu sulit dijelaskan tetapi akhirnya al-Banna menerangkan bahwa:
pCk = pCk-1(p – (k – 1) )/k.
sehingga hasilnya
pCk = p(p – 1)(p – 2)…(p – k + 1)/(k !)

Sebenarnya karya al Banna merupakan langkah kecil dari hasil segitiga Pascal yang tiga abad sebelumnya dijelaskan al-Karaji.  Meski begitu, ada sesuatu yang lebih fundamental dari pada segitiga Pascal, hasil itu justru merupakan kombinatorial eksposisi al-Banna, bersama-sama membentuk hubungan antara angka dan kombinasi poligonal.

Adikarya Sang Legendaris

Sebelum menjadi matematikus hebat,  al-Banna lebih banyak  belajar ilmu-ilmu tradisional seperti, bahasa Arab, Tata Bahasa (nahwu  dan sharf), hadis, fikih, tafsir Alquran di kampung halamannya. Setelah itu,  ia diperkenalkan dengan matematika dan ilmu kedokteran oleh guru-guru pembimbingnya.

Al-Banna diketahui pernah dekat dengan Saint Aghmat, Abu Zayd Abdur Rahman al-Hazmiri yang kemudian dikenal  sebagai orang yang selalu mengarahkan dan memanfaatkan pengetahuan matematika Ibnu al-Banna untuk tujuan yang bersifat ramalan.

Al-Banna juga menjadi salah seorang yang mampu menguraikan atau menjabarkan prinsip-prinsip perhitungan dari bentuk-bentuk ghubar (hisab ghubar adalah suatu metode perhitungan yang berasal dari Persia).

Dia juga menjadi seorang figur yang sangat legendaris dan dikenal sebagai saintis yang ajaib. Betapa tidak. Kecerdasan dan kemampuannya sangat luar biasa  dan mampu melebihi manusia pada umumnya. Hal ini dia lakukan dengan menerapkan ilmu pengetahuan ilmiahnya. Meskipun demikian, para biografer memuji kerendahan hatinya dan kesalehannya sebagai hamba Allah SWT.

Dia mempunyai sifat dan tingkah laku yang sangat baik dan santun. Karya-karya al-Banna sebenarnya lebih dari 80 judul dengan berbagai macam variasi ilmu pengetahuan yang berbeda-beda. Karya-karyanya itu meliputi ilmu tata bahasa (nahwu), bahasa retorika, fikih, ushulluddin (perbandingan agama), tafsir Alquran, logika, pembagian warisan (al-farai’d), ramalan, astronomi, meteorologi dan matematika, juga termasuk sebuah resume karya Imam al-Ghazali, “Ihya’ Ulumuddin”.

Namun hanya sebagian karyanya yang dapat bertahan sampai sekarang ini. Di antara karya-karyanya tersebut antara lain; Talkhis fi Amal al-Hisab, Risalah fi Ilm al-Masaha, al-Maqalat fi al-Hisab,Tanbih al-Albab, Mukhtashar Kafi li al-Mutallib, Kitab al-Ushul al-Muqaddamat fi al-Jabr wa al-Muqabala, Kitab Minhaj li Ta’dil al-Kawakib, Qanun li Tarhil asy-Syams wa al-Qamar fi al-Manazil wa ma Kifat Auqat al-Lain wa al-Nahar, Kitan al-Yasar Taqwim al-Kawakib as-Sayyara, Madkhal an-Nujum wa Taba’i al-Huruf, Kitab fi Ahkam al-Nujum, juga Kitab al-Manakh.

Dari sekian banyak karyanya, yang paling penting adalah Talkhis fi Amal al-Hisab, yang menjadi perhatian para ilmuwan. Karyanya itu juga telah diterjemahkan oleh A Marre, dan diterbitkan secara terpisah, di Roma pada 1865. Sebagai seorang ilmuwan yang hebat, al-Banna pernah mendapat penghargaan yang tinggi dari Ibnu Khaldun.

Ibnu Khaldun berharap agar karya-karya al-Banna dapat dikembangkan para ilmuwan  sepeninggalnya. dya/taq




Blog Stats

  • 3,122,147 hits

Recent Comments

Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Sejarah : Bangsa Lemuria, Lelu…