Archive for the 'Jiwa Semangat Nilai-nilai 45' Category



13
Sep
09

Bencana Alam : Kegempaan Selat Sunda

KEGEMPAAN
Selat Sunda dan Jembatan

KOMPAS, Sabtu, 12 September 2009 | 03:44 WIB

Seusai gempa tektonik yang menerjang selatan Jawa Barat (Rabu, 2/9), kepanikan justru melanda penduduk pesisir Banten beberapa hari sesudahnya, akibat beredarnya isu tsunami. Kepanikan mungkin tidak akan terjadi jika masyarakat setempat memahami perilaku geologi Selat Sunda. Yuni Ikawati

Belakangan ini perhatian banyak orang tengah mengarah ke Selat Sunda. Bukan hanya karena akan ada rencana pembangunan jembatan yang menghubungkan Pulau Jawa dan Pulau Sumatera. Namun, perhatian menjadi kian kuat setelah terungkap potensi kegempaan berkekuatan lebih dari 8 skala Richter yang berdasarkan pada data sejarah kegempaan tahun 1908.

Melihat intensitas gempa sebesar itu, kemudian muncul pertanyaan apa dan di manakah sumber gempa tersebut?

Untuk menemukan jawabannya, beberapa penelitian telah dilakukan sejak tahun 1983. Pada tahun itu Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) melakukan survei geologi bekerja sama dengan Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) serta Lembaga Ilmu Pengetahuan Perancis (CNRS).

”Penelitian itu mencakup daratan dan lautan hingga ke Samudra Hindia,” urai Deputi Ilmu Kebumian LIPI Hery Haryono, yang saat itu menjadi ketua tim peneliti dari Indonesia.

Kerja sama Indonesia-Perancis bidang riset geologi-geofisika di Selat Sunda tersebut memakan waktu 10 tahun (1983-1993). Promotornya adalah Prof MT Zen—guru besar ITB, yang saat itu juga adalah Deputi Kepala BPPT dan Asisten Menneg Ristek—dan Prof X Le Pichon, ilmuwan Perancis yang terkenal dengan bukunya, Plate Tectonics.

Kerja sama riset ini juga melibatkan BPPT, Lemigas, PPGL-ESDM, ITB, UGM, Institut Kelautan Perancis (CNEXO), Lembaga Riset Seberang Lautan (ORSTOM), CNRS, dan beberapa universitas di Perancis.

Penelitian ini untuk pertama kalinya menggunakan kapal riset Indonesia, yaitu KR Baruna Jaya 3. Ekspedisi di laut mencakup survei seismik, aliran arus panas air laut, gaya berat bumi, medan magnetik, dan pemetaan dasar laut. Adapun di darat dilakukan penelitian tektonik aktif dengan pendekatan geologi ataupun seismologi.

Fokus penelitian kegempaan diarahkan pada segmen Semangko di Lampung. Dari data seismologi kemudian dibuat jejaring seismik yang melingkari Selat Sunda. Selain itu, dilakukan penelitian terumbu karang, untuk melihat jejak tsunami pada masa lalu.

Riset di Selat Sunda berangkat dari hipotesis bahwa kawasan itu berada di zona transisi subduksi normal Jawa ke subduksi miring Sumatera sehingga menghasilkan Selat Sunda dengan rezim tektonik ekstensi atau melebar. ”Terbukanya” Selat Sunda ini bersamaan dengan terbukanya Laut Andaman. Keduanya dihubungkan oleh Patahan Sumatera, jelas Hery yang juga menjadi Wakil Ketua International Union Geodesy dan Geology (IUGG) untuk Indonesia.

Hipotesis lain adalah Patahan Sumatera menerus ke Selat Sunda dan menerus hingga Palung Jawa. Selat Sunda terbuka akibat pergerakan lempeng busur luar Sumatera (Sumatera forearc plate) ke arah barat laut.

Lempeng mikro ini di timur dibatasi Patahan Sumatera, di barat oleh Palung Sumatera. Paper ini ditulis oleh Huchon dan X Le Pichon serta dimuat di jurnal Geology pada tahun 1984.

Hasil penelitian

Dari penelitian seismik tersebut tampak jelas bahwa Selat Sunda mengalami penurunan. Selain itu, tampak rezim ekstensi–sesuai hipotesis-dengan arah barat laut–tenggara.

Dari model gravitasi dilakukan rekonstruksi pembukaan Selat Sunda yang dimulai sejak 13 juta tahun yang lalu, kemudian makin cepat 10 juta tahun lalu, dan makin cepat lagi sekitar 5 juta tahun lalu.

Pergerakan atau perpindahan maksimum yang terjadi sejak 5 juta tahun lalu mencapai 50 km hingga 70 km. Jika diambil rata-rata pergerakan itu, kecepatannya sekitar 7 cm per tahun.

Dari studi perambatan gelombang gempa diketahui adanya beberapa kantong magma di kedalaman 3 km-9 km dan terdapat reservoir yang terletak lebih dalam, yaitu 20 km lebih.

”Kini studi semacam ini bisa dilakukan secara lebih detail dengan menggunakan teknik tomografi. Saya ingin ini bisa dilakukan lagi,” urai Hery, mantan Kepala Pusat Penelitian Geoteknologi LIPI.

Dari gravitasi, khususnya di kompleks Krakatau, diperoleh model kaldera kolaps yang bisa jadi memicu tsunami tahun 1883. Menurut peneliti paleogeologi kelautan LIPI, Wahjoe S Hantoro, saat itu terjadi tsunami setinggi 30 meter di Merak, sedangkan di Jakarta mencapai ketinggian 2 meter.

Penelitian ini juga mengonfirmasi hipotesis tentang adanya terusan Patahan Semangko hingga ke palung atau subduksi di selatan Jawa Barat.

Penemuan Yusuf Surachman dari Pusat Teknologi Inventarisasi Sumber Daya Alam BPPT pada tahun 2002 menguatkan temuan ini.

Busur luar Sumatera

Dari Selat Sunda penelitian bergeser ke busur luar Sumatera, tempat pulau-pulau Enggano, Mentawai, dan Nias berada. Pada pelayaran tahun 1991 inilah ditemukan Patahan Mentawai.

Sementara itu, penelitian pergerakan daratan di Selat Sunda menggunakan jejaring stasiun global positioning system (GPS), baik di Lampung, Banten, maupun Jawa Barat, yang dilakukan Kepala Pusat Geodinamika Bakosurtanal Cecep Subarya memperjelas adanya pembukaan selat tersebut di wilayah selatan.

Bagian utara Sesar Semangko berputar searah jarum jam, sedangkan di sisi Banten berputar melawan jarum jam. Bagian selatan Sesar Semangko, yaitu di daerah Krui Lampung, terkunci.

Hal ini bisa memberi sedikit gambaran pola kegempaan yang kompleks di kawasan Selat Sunda. Hal ini mestinya dapat menjadi patokan dalam pembangunan infrastruktur, termasuk jembatan, yang rencananya akan dibangun untuk menghubungkan dua pulau: Jawa dan Sumatera.

13
Sep
09

Makanan : Torakur, Tomat Rasa Kurma

KOMPAS/ANTONY LEE
Sri Ngestiwati dan produk Tomat Rasa Kurma atau Torakur.

PROFIL USAHA
Sri Ngestiwati dan Tomat Rasa Kurma

KOMPAS, Sabtu, 12 September 2009 | 03:53 WIB

Antony Lee

Pertengahan tahun 2002 menjadi titik balik bagi Sri Ngestiwati (47). Didorong anjloknya harga tomat, ia lalu memproduksi manisan tomat yang menyerupai kurma berlabel Torakur. Usaha itu maju pesat dan hasilnya tak hanya mampu menunjang ekonomi keluarga Ngestiwati, tetapi juga para tetangganya. Bahkan, produknya itu belakangan ini telah menjadi buah tangan khas kawasan wisata Bandungan, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah.

Tak heran kalau Sri Ngestiwati kemudian harus memenuhi permintaan kiriman Torakur untuk Bali, Jakarta, Jawa Timur, serta sejumlah kabupaten dan kota di Jawa Tengah.

Konsekuensinya, setiap hari dia mengolah sekitar 250 kilogram tomat mentah untuk diolah menjadi 50 kilogram Torakur. Namun, saat bulan Ramadhan, kebutuhan bahan bakunya naik sampai 300 kilogram tomat mentah.

Sekilas agak sukar membedakan Torakur dengan kurma. Bentuknya sama-sama oval dengan warna pekat. Bedanya, warna kurma lebih hitam pekat, sedangkan Torakur kemerah-merahan. Penganan ini empuk tanpa biji, manis, serta menyisakan aroma dan rasa khas tomat.

Torakur yang dikemas dalam kotak seberat 250 gram seharga Rp 9.000 dan kemasan 500 gram seharga Rp 17.000. Ngestiwati mengaku belum menghadapi kendala berarti dalam pemasaran karena pasar masih menampung berapa pun produk yang didistribusikannya.

Maka tak heran kalau omzet usahanya bisa mencapai puluhan juta rupiah. Dan, lapangan pekerjaan terbuka bagi puluhan orang di sekitar rumahnya di Desa Kenteng, Kecamatan Bandungan, Kabupaten Semarang.

”Pemasarannya bagus sekali. Malah lebih cepat daripada proses pembuatannya. Hasilnya juga menjanjikan. Dari tomat-kurma ini saya bisa membiayai kuliah dua anak saya, memenuhi kebutuhan keluarga, juga membeli tanah,” tuturnya.

Pelatihan

Ngestiwati memulai usaha ini setelah mendapat pelatihan dari sejumlah mahasiswa Universitas Negeri Semarang yang sedang kuliah kerja nyata pada awal 2002. Ngestiwati bersama puluhan warga dilatih mengolah tanaman pangan, salah satunya membuat manisan tomat.

”Saya pertama kali tahu tentang manisan tomat dari pelatihan itu, enggak tahu apa dikembangkan juga di daerah lain,” tuturnya saat ditanya usaha serupa yang pernah dirintis di Kabupaten Purbalingga pada 1998.

Dia mulai membuat manisan tomat pertengahan 2002 saat harga tomat hasil panen suaminya dari lahan seluas 2.500 meter persegi anjlok. Tomat hanya dihargai Rp 200 per kilogram, jauh dari titik impas yang Rp 1.000 per kg.

Ia lalu mengolah tomat itu menjadi manisan. Sepuluh kali mencoba, 10 kali pula gagal. Belum berhasil menemukan formula yang tepat untuk warna, rasa, dan bentuk Torakur.

Torakur awalnya dijajakan kepada rekan sekantornya di Unit Pelaksana Teknis Dinas Pendidikan di Kecamatan Sumowono. Ternyata banyak yang menyukainya. Sekitar tiga bulan uji coba, Ngestiwati menemukan komposisi yang pas. Ia serius mengerjakan usaha ini, dan mengajukan surat izin kepada Departemen Kesehatan.

”Modal awal waktu itu hanya gula 2 kg karena 10 kg tomatnya saya petik di kebun,” kenangnya.

Proses membuat Torakur diawali dari penyortiran tomat. Puluhan pekerja memilah tomat berwarna merah pekat untuk diolah.

Adapun yang lain disimpan beberapa hari hingga benar-benar matang. Setelah ditusuk-tusuk, tomat itu direndam sekitar empat jam dalam air kapur sirih.

Biji tomat dibuang, sedangkan bagian dalam tomat disisihkan untuk bahan baku olahan jenang tomat. Daging tomat direbus bersama gula.

Komposisinya, lima bagian tomat dan satu bagian gula untuk menghasilkan 1 kilogram Torakur. Tomat lalu dijemur dan dibentuk.

Penjemuran itu menjadi salah satu keunggulan Ngestiwati. Dia menyediakan lahan khusus seluas 6 x 6 meter untuk membuat unit-unit penjemuran tertutup atap kaca. Di sekelilingnya dipasang jaring antinyamuk. Agar higienis, pada kemasannya pun diberi dua lapisan plastik di dalam dan luar kardus.

Berdayakan perempuan

Menurut Ngestiwati, yang membuat dia bangga pada usaha ini adalah terbukanya lapangan kerja bagi para tetangganya. ”Terutama bagi kaum perempuan yang belum mendapat pekerjaan.”

Mereka menjadi pekerja yang membantu Ngestiwati dari pagi hingga sore dengan upah antara Rp 300.000-Rp 350.000 per bulan, di luar lembur Rp 3.000 per jam dan uang makan sebesar Rp 3.000 per hari.

Biasanya ia memberi tugas puluhan pekerja itu pada pagi hari menjelang berangkat ke kantor sehingga usaha ini tak mengganggu pekerjaannya sebagai PNS.

”Memang yang kami berikan belum mencapai upah minimum kabupaten, tapi setidaknya bisa membantu ekonomi keluarga mereka yang rata-rata petani. Mereka juga tak perlu keluar ongkos transpor,” tuturnya.

Ngestiwati mengaku, kendala yang dihadapinya adalah melonjaknya harga gula pasir dari Rp 285.000 per sak (50 kg) menjadi sekitar Rp 440.000.

Padahal, saat ini memasuki masa musim giling tebu. Dia mengatasinya dengan menaikkan harga Rp 500 per kemasan.

Semua kendala bisa teratasi. Apalagi, Ngestiwati mendapat dukungan sang suami, Adiarso, yang juga menjadi PNS di Kabupaten Semarang. Usaha tomat rasa kurma pun berkembang.

13
Sep
09

Perbankan : Kasus Bank Century, Aksi Korupsi Korporasi

Aksi Korupsi Korporasi
LPS Terus Buru Aset Bank Century yang Dilarikan ke Luar Negeri

Sabtu, 12 September 2009 | 03:16 WIB

Jakarta, Kompas – Kejaksaan merumuskan perkara korupsi yang berkaitan dengan Bank Century. Jaksa Agung Hendarman Supandji sudah memanggil Jaksa Agung Muda Intelijen Iskamto dan Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Khusus Marwan Effendy untuk merumuskan hal ini.

”Undang-Undang Tindak Pidana Korupsi bisa merumuskan perbuatan ini, bukan dari orang per orang, tetapi korporasi,” kata Hendarman di Kejaksaan Agung, Jumat (11/9).

Hal itu disampaikan Jaksa Agung menjawab pertanyaan wartawan tentang langkah yang akan dilakukan kejaksaan berkaitan dengan aset yang ditemukan di luar negeri. Aset itu milik tiga pemegang saham mayoritas Bank Century, yakni Robert Tantular senilai Rp 192,5 miliar serta Hesyam Al Warraq dan Rafat Ali Rizvi senilai Rp 11,64 triliun.

Menurut Hendarman, perbuatan pemegang saham mayoritas Bank Century itu bisa dirumuskan dalam UU Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi karena sudah merugikan keuangan negara. Hal itu dilakukan dengan cara melawan hukum, dengan melibatkan dana masyarakat.

”Perbuatan itu menimbulkan kekacauan ekonomi. Apabila ada telaahan, akan ada tindak lanjutnya,” ujar Hendarman.

Langkah menangani perkara berkaitan dengan aset yang ditemukan di luar negeri itu bertujuan untuk menarik aset kembali ke Indonesia. Meskipun Hesyam dan Ali Rizvi—keduanya warga negara asing—masih buron, upaya menyidangkan bisa dengan cara tanpa kehadiran terdakwa (in absentia).

Kejaksaan, kata Hendarman, akan menggunakan asas hukum internasional, termasuk berupaya melalui kerja sama timbal balik (mutual legal assistance).

Kepala Eksekutif Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) Firdaus Djaelani seusai pertemuan dengan Menteri Keuangan sekaligus Pelaksana Jabatan Menko Perekonomian Sri Mulyani Indrawati, Pejabat Sementara Gubernur Bank Indonesia Darmin Nasution, dan Sekretaris Forum Stabilitas Sektor Keuangan Raden Pardede, Jumat di Jakarta, menegaskan, pihaknya akan terus memburu dana dan aset Bank Century, khususnya yang berada di luar negeri, meskipun pengadilan telah memvonis mantan pemilik bank itu.

”Yang penting bagi kami (selaku pemilik Bank Century saat ini) adalah mengejar aset dan dana di luar negeri,” katanya.

Bank Century dikuasai LPS per November 2008 setelah menyuntik dana Rp 6,7 triliun setelah bank itu dinyatakan sebagai bank gagal. Langkah ini berdasarkan Peraturan Pemerintah Pengganti UU (Perppu) Jaring Pengaman Sektor Keuangan. Perppu ini ditolak DPR untuk dijadikan UU. (idr/OIN/FAJ)

13
Sep
09

Seni Budaya : Batik, Menuju Pengakuan Dunia

BATIK A PLAY OF LIGHT AND SHADES
Corak Gringsing
Batik, Menuju Pengakuan Dunia
KOMPAS, Minggu, 13 September 2009 | 09:15 WIB

Akhir pekan lalu beredar SMS yang menyebutkan, pada 2 Oktober United Nations Educational, Scientific, and Cultural Organization atau UNESCO akan mengumumkan batik Indonesia sebagai warisan budaya dunia tak benda (intangible cultural heritage/ICH). Kabar itu disambut gembira, antara lain oleh organisasi pencinta kain adati Wastraprema.

Situs UNESCO (unesco.org) menyebutkan, Intergovernmental Committee for the Safeguarding of the Intangible Cultural Heritage akan bersidang di Abu Dhabi, Uni Emirat Arab, 28 September-2 Oktober, untuk menentukan ICH.

Batik Indonesia termasuk yang didaftarkan untuk mendapat status ICH melalui kantor UNESCO di Jakarta oleh kantor Menko Kesejahteraan Rakyat mewakili pemerintah dan komunitas batik Indonesia, pada 4 September 2008.

Bila permintaan Indonesia diterima dan kemungkinan besar akan diterima, batik menjadi warisan ketiga Indonesia yang terdaftar dalam Intangible Heritage of Humanity UNESCO, setelah wayang dan keris.

Batik sebagai teknik merintang warna bukan khas Indonesia. Maestro batik Iwan Tirta dalam bukunya, Batik, A Play of Light and Shades (Gaya Favorit Press, 1996), menyebutkan, batik boleh jadi berkembang bersamaan di beberapa tempat di dunia. Batik di Jawa menjadi sangat halus karena coraknya berkembang luas, metode pewarnaan sangat maju, dan ada penyempurnaan teknik. Canting yang memungkinkan pembuatan motif, misalnya, sangat halus berkembang di Jawa. Termasuk teknik pewarnaannya.

Cikal bakal batik bentuknya lebih sederhana. Kain simbut dari Banten adalah salah satu batik paling awal, menggunakan bubur nasi sebagai perintang warna (Iwan Tirta, Batik, A Play of Light and Shades). Kain ma’a dari Toraja di Sulawesi Tengah juga memakai bubur nasi. Karena Toraja terisolasi di pegunungan, para ahli menduga kemungkinan besar batik itu asli dari sana, tidak dipengaruhi India. Hal ini memunculkan teori boleh jadi Indonesia juga melahirkan batik pertama.

Masih hidup

Convention for the Safeguarding of the Intangible Cultural Heritage UNESCO 2003 mendefinisikan ICH sebagai praktik, representasi, ekspresi, serta pengetahuan dan keterampilan yang oleh komunitas, kelompok, dan dalam beberapa kasus juga individu mengakui sebagai bagian warisan budaya mereka. ICH adalah tradisional dan masih dipraktikkan, terus dikreasikan, dan diturunkan ke generasi berikut, umumnya secara lisan.

Iwan Tirta menyebut, pada akhir abad ke-19 seorang akademisi, Rouffaer, melaporkan motif batik sehalus gringsing sudah diproduksi pada abad ke-12 di Kediri, Jawa Timur. Corak seperti sisik ikan adalah salah satu motif tersulit dan dia menyimpulkan, besar kemungkinan motif itu dibuat memakai canting.

Dalam perkembangannya batik memiliki keterkaitan kuat dengan seni wayang, tari, dan lagu. Karena itu ragam hias batik Indonesia memiliki ciri yang terkait dengan komunitas pembuatnya, sebagian menggambarkan suasana zaman, merekam alam sekitar, dan diproduksi untuk keperluan komersial, tetapi sebagian yang lain memenuhi kebutuhan adat dan tradisi.

Pengakuan UNESCO akan membawa tanggung jawab kepada pemerintah dan komunitas untuk sungguh memerhatikan batik, termasuk pewarisan kepada generasi baru, memastikan dipenuhinya hak pembatik, dan pembuatannya tak merusak lingkungan, seperti disyaratkan Konvensi. (Ninuk MP)

Sumber : Kompas Cetak

13
Sep
09

Anti Korupsi : Petisi Penolakan Tokoh dan LSM

Petisi Penolakan Tokoh dan LSM
Presiden Bisa Tolak RUU Pengadilan Tipikor

Minggu, 13 September 2009 | 05:04 WIB

Jakarta, Kompas – Sebanyak 41 lembaga swadaya masyarakat dan 87 tokoh masyarakat dari berbagai kalangan menolak pengesahan Rancangan Undang-Undang Pengadilan Khusus Tindak Pidana Korupsi. Mereka akan menyampaikan petisi penolakan tersebut kepada Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Agung Laksono, Senin (14/9).

Penolakan itu antara lain disampaikan sejumlah LSM di Jakarta maupun di sejumlah daerah, seperti Pusako, Forum Peduli Sumatera Barat, dan LPPNU.

Penolakan serupa disampaikan oleh Adrianus Meliala, Bivitri Susanti, Fadjroel Rakhman, Irman Putra Sidin, Komaruddin Hidayat, Benny Susetyo, Syamsuddin Haris, Zaenal Arifin Mochtar, Teten Masduki, Topo Santoso, Yenti Ganarsih, dan sejumlah tokoh lain.

Pengumpulan petisi dikoordinasi oleh Konsorsium Reformasi Hukum Nasional (KRHN).

Koordinator Pelaksana Harian KRHN Firmansyah Arifin, Sabtu, menjelaskan, petisi itu berisi penolakan hasil Panitia Kerja RUU Pengadilan Khusus Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) yang dipimpin oleh Arbab Paproeka. Terutama terkait dengan pengebirian kewenangan penuntutan dan penyadapan Komisi Pemberantasan Korupsi.

Pemangkasan kewenangan itu dinilai tidak sesuai dengan putusan Mahkamah Konstitusi pada 19 Desember 2006 yang justru memperkuat kewenangan KPK secara keseluruhan, termasuk penuntutan dan penyadapan.

Petisi itu juga mendesak Presiden Yudhoyono untuk mempercepat pengeluaran peraturan pemerintah pengganti undang- undang yang berisi penguatan Pengadilan Khusus Tipikor.

”Putusan MK sudah menguatkan kewenangan KPK secara keseluruhan, termasuk penuntutan dan penyadapan,” ujarnya.

Seperti diberitakan, Arbab Paproeka mengatakan, pemberian kewenangan penuntutan kepada KPK menyebabkan adanya dualisme penuntutan. Padahal, Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2004 tentang Kejaksaan menyebutkan bawa jaksa merupakan satu kesatuan.

Dengan demikian, jaksa yang berada di KPK seharusnya tidak terpisah dari pengawasan dan kewenangan penuntutan Kejaksaan Agung (Kompas, 10/9).

Terkait dengan hal itu, mantan Ketua MK Jimly Asshiddiqie menyatakan, dualisme penuntutan antara KPK dan Kejagung bukanlah sebuah permasalahan. Dualisme penuntutan merupakan hal yang sah mengingat hal itu bukanlah sesuatu yang final dan mengikat.

”Yang final dan mengikat itu kan putusan pengadilan. Oleh sebab itu, tidak boleh ada dualisme putusan pengadilan. Beda dengan penuntutan dan penyelidikan, itu kan tidak mengikat. Kalau mereka mau mempersoalkan dualisme penuntutan, kenapa tidak sekalian saja dipersoalkan itu dualisme penyelidikan,” lanjut Jimly.

Presiden bisa tolak

Jimly menjelaskan, Presiden sebenarnya masih bisa menolak RUU Pengadilan Khusus Tipikor dalam Sidang Paripurna DPR, khususnya terkait dengan pasal pemangkasan kewenangan KPK. Hal semacam ini pernah dilakukan pemerintah meskipun dalam pembahasan dengan Panitia Kerja RUU sudah terjadi kesepakatan.

Penolakan pemerintah terhadap RUU yang dibuat bersama, lanjutnya, pernah dilakukan pada waktu rapat paripurna pengesahan RUU Free Trade Zone (FTZ).

Saat itu, Ketua Panitia Khusus RUU FTZ adalah Suryadharma Ali, sementara Menteri Hukum dan HAM Yusril Ihza Mahendra serta Menteri Perdagangan Rini Soewandi merupakan perwakilan pemerintah. ”Karena ada penolakan, RUU itu tidak diteken dan tidak jadi dicantumkan dalam lembaran negara. Itu jadi preseden,” ujar Jimly. (ANA)

13
Sep
09

Kepemimpinan : Islam Menanamkan Semangat Berjuang

BUKA PUASA
Islam Menanamkan Semangat Berjuang

Sabtu, 12 September 2009 | 03:26 WIB

Jakarta, Kompas – Islam mendorong para pemimpin untuk mengobarkan semangat berjuang demi kebenaran dan kemaslahatan umat manusia. Pada setiap individu pula, Islam menanamkan pentingnya memiliki kepercayaan diri yang akan mengobarkan semangat untuk berjuang.

Pakar tafsir Al Quran, Quraish Shibab, mengemukakan hal tersebut dalam ceramahnya pada acara buka puasa bersama Presiden Susilo Bambang Yudhoyono di Markas Besar Tentara Nasional Indonesia (TNI), Cilangkap, Jakarta Timur, Jumat (11/9).

Wakil Presiden M Jusuf Kalla hadir mendampingi Presiden Yudhoyono dalam kegiatan ini. Wapres Kalla duduk berdampingan dengan Wakil Presiden terpilih Boediono, yang juga menghadiri acara tersebut. Selain Panglima TNI sebagai tuan rumah, turut hadir Kepala Polri, kepala staf angkatan, dan purnawirawan perwira tinggi sesepuh TNI.

Dalam acara yang mengangkat tema ”Hikmah Ramadhan Meningkatkan Semangat Juang Prajurit” itu, Quraish menjelaskan, Tuhan menganugerahkan pada manusia empat daya pokok, yakni

daya fisik yang melahirkan keterampilan,

daya pikir yang melahirkan ilmu dan teknologi,

daya kalbu yang melahirkan moral, rasa, dan seni.

Daya keempat adalah daya hidup yang menjadikan manusia mampu menghadapi tantangan menyesuaikan diri dengan lingkungan.

Bila hanya mempunyai tiga daya pertama, tetapi tidak punya daya hidup atau semangat, manusia tidak akan berguna bagi masyarakat, bahkan bagi dirinya sendiri,” ujar Quraish.

Sebaliknya, jika seseorang mempunyai daya ke-4 atau semangat juang, ia akan mendapat kekuatan untuk terus meningkatkan daya fisik, daya pikir, dan daya kalbunya. (DAY)

13
Sep
09

Terorisme : Patah Tumbuh Hilang Berganti

KOMPAS/P RADITYA MAHENDRA YASA
Rumah Muhjahri di Dusun Beji,Desa Kedu, Kecamatan Kedu, Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah,pernahdijadikan lokasi persembunyian teroris.

TERORIS
Patah Tumbuh Hilang Berganti

KOMPAS, Sabtu, 12 September 2009 | 05:00 WIB

Maruli Tobing

Sejak peristiwa bom Bali I hingga saat ini Polri telah menangkap lebih dari 400 teroris. Angka tersebut merupakan yang tertinggi di Asia Tenggara, menempatkan Indonesia di bawah Pakistan, negara nyaris gagal dan ”kampus” teroris. Dapat dibayangkan bencana apa yang terjadi seandainya teroris sebanyak itu tidak tertangkap.

Dari data yang dirilis Mabes Polri, lebih dari 300 teroris telah diproses secara hukum dan sebagian besar sudah berakhir masa hukumannya. Kini mereka kembali ke masyarakat setelah bertahun-tahun dibui. Namun, tidak ada yang tahu bagaimana mereka beradaptasi dan menghidupi keluarganya di tengah sulitnya perekonomian rakyat.

Prestasi Densus Antiteror Mabes Polri yang mengungkap semua peristiwa serangan bom bunuh diri dan menangkap para pelakunya mendapat pujian di dalam dan luar negeri. Ditambah lagi tewasnya Dr Azahari Husin dalam suatu pengepungan di kawasan wisata Batu, Malang, November 2005.

Akan tetapi, keberhasilan itu bukan berarti berakhirnya aksi teroris di Indonesia. Memang dua tahun lalu kalangan pengamat domestik maupun asing menyimpulkan, jaringan dan organisasi Kelompok Jemaah Islamiyah porak poranda. Kini Kelompok Jemaah Islamiyah bukan merupakan ancaman lagi terhadap keamanan Indonesia.

Kesimpulan itu ternyata keliru. Setelah absen hampir empat tahun, mendadak Noordin M Top beraksi kembali dengan mengirim dua pelaku bunuh diri ke Hotel JW Marriott dan Ritz-Carlton di Mega Kuningan, Jakarta, 17 Juli. Dalam serangan pertama tanpa Dr Azahari, Noordin tampil dengan jaringan baru dan tampak lebih kuat— baik dalam perencanaan, taktik, koordinasi, infiltrasi, maupun pendanaan.

Peristiwa ini mengejutkan banyak pihak karena belum satu bulan Densus 88 Mabes Polri membongkar jaringan Noordin M Top di Cilacap, Jawa Tengah, dan menangkap tangan kanannya, Jaelani Zuhri.

Jauh sebelumnya, Polri menggulung habis jaringan Dr Azahari Husin-Noordin M Top yang terlibat dalam aksi peledakan bom di Hotel JW Marriott I, Kedutaan Besar Australia, dan bom Bali II. Dua pemimpin teras Kelompok Jemaah Islamiyah, Zarkasih (45) alias Zaenuddin alias Irsjad alias Mbah dan Abu Dujana (37), diringkus di Yogyakarta dan Banyumas, Juni 2007.

Lantas, mengapa aksi teroris belum juga berakhir?

Bukan masalah hukum

Banyak teroris yang ditangkap, tetapi banyak pula yang baru muncul karena sumber rekrutmen yang melimpah. Terutama pascakonflik Maluku dan Poso, ribuan tenaga terampil dalam berbagai aksi kekerasan kembali ke kampung masing- masing.

Sebagian besar di Pulau Jawa. Di banyak negara, mantan milisi bersenjata mendapat perhatian dari pemerintah, termasuk dalam mencari pekerjaan.

Dr Azahari dan Noordin M Top merekrut alumni Poso dan Maluku dalam setiap aksi mereka. Diperkirakan saat ini tenaga siap pakai yang tersedia akan cukup sebagai sumber rekrutmen untuk beberapa tahun ke depan. Situasi demikian disebut patah tumbuh hilang berganti. Mati satu lahir sepuluh.

Khawatir atas perkembangan di atas, Amerika Serikat, Inggris, dan Australia mendesak Pemerintah RI agar memperberat hukuman penjara atas kasus tindak pidana terorisme. Ketiga negara itu sempat gusar ketika terpidana kasus terorisme juga mendapat remisi pada setiap tanggal 17 Agustus.

Akan tetapi, fenomena terorisme bukan semata-mata masalah penegakan hukum, seperti halnya kejahatan korupsi. Mereka yang berpendapat memperberat hukuman penjara akan menimbulkan efek jera jelas keliru. Teroris abad ke-21 tidak akan bisa ditakut-takuti dengan hukuman penjara.

Amrozi, Mukhlas, dan Imam Samudera, misalnya, sedikit pun tidak gentar menghadapi regu tembak yang melaksanakan eksekusi mati bagi mereka. Jauh sebelumnya, mereka justru meminta agar eksekusi dilakukan dengan cara dipancung dan jadwalnya tidak diundur-undur.

Cinta kematian

Kematian adalah sesuatu yang pasti karena semua manusia harus mati. Bagi teroris, kematian dalam perang melawan mereka yang dipersepsikan sebagai musuh Allah adalah peristiwa yang didambakan. Dambaan ini bercokol seperti karang dalam diri Dani Dwi Permana (19) dan Nana Maulana (28).

Maka, keduanya melangkah dengan tenang menuju restoran Hotel JW Marriott dan Hotel Ritz-Carlton di Mega Kuningan, Jakarta. Saat itu banyak tamu hotel sedang sarapan pagi, termasuk para pengusaha AS. Hanya berbeda waktu beberapa menit, keduanya meledakkan bom yang ”disembunyikan di ransel yang tergantung di punggung mereka” (17/7).

Dalam bahasa lain, Sheikh Ikremeh Sabri, ulama besar di Palestina, menyatakan dalam khotbahnya di Masjid Al Aqsa, Jerusalem, ”Israel mengira kita dapat ditakut-takuti. Sekali lagi kami nyatakan, seperti halnya Israel mencintai kehidupan, begitulah kami mencintai kematian dan martir.” (Rabbi Moshe Reiss, ”Suicide bombing: Theology of Death”, 2004).

Indonesia memang bukan Palestina. Tetapi, teroris di negeri ini adalah bagian dari jaringan global yang musuhnya melebihi bangsa Palestina. Sebagai contoh, kelompok perlawanan Palestina menggunakan bom bunuh diri hanya terhadap Israel. Di Indonesia, sasarannya meliputi warga AS, Yahudi, Australia, dan sekutunya. Dalam beberapa fatwanya, Osama bin Laden menyebutnya sebagai ”musuh Allah”.

Pelatihan di Afganistan

Jaringan global ini berawal dari prakarsa Dr Abdullah Yusuf Azzam, teolog Palestina, yang memobilisasi mujahidin internasional dalam perang menghadapi tentara pendudukan Uni Soviet di Afganistan.

Strategi Azzam ternyata ampuh. Uni Soviet akhirnya menarik pasukannya tahun 1989. Dengan demikian, perang telah berakhir dan mujahidin kembali ke negara masing-masing. Ribuan orang lagi luntang-lantung di Peshawar. Mereka yang pulang kampung otomatis menjadi bagian dari jaringan global mujahidin. Posisinya mirip sel tidur yang setiap saat dapat diaktifkan.

Pada tahun yang sama Abdullah Azzam tewas bersama dua putranya akibat ledakan bom di Peshawar, Pakistan. Al Qaeda dan beberapa kelompok jihad yang bermarkas di Pakistan maupun Timur Tengah tetap melanjutkan program Abdullah Azzam dengan tujuan lain, khususnya dalam pendidikan militer bagi calon mujahidin.

Pendidikan dilakukan di kamp-kamp yang dikelola kelompok jihad masing-masing di Afganistan. Salah satu di antaranya adalah Kelompok Jemaah Islamiyah yang membangun kampnya bagi pemuda asal Indonesia.

Pendidikan militer tersebut dikombinasikan dengan pendalaman ilmu agama untuk mencetak kader mujahidin yang tangguh.

Tujuannya berbeda-beda. Jemaah Islamiyah, misalnya, bercita-cita mendirikan pemerintahan pan-Islam di Asia Tenggara, atau disebut kilafa. Osama bin Laden mendirikan kilafa di Timur Tengah, sementara beberapa kelompok jihad di Pakistan bercita-cita mendirikan kilafa yang mencakup Afganistan dan Asia Tengah.

Putar haluan

Rontoknya rezim Soeharto, Mei 1998, diikuti dengan pulangnya alumni Afganistan dan Mindanao Selatan. Bertahun-tahun mereka tinggal di Malaysia demi menghindari penangkapan oleh rezim Soeharto.

Saat itu situasi politik dan keamanan di Indonesia sangat labil dan bergejolak. Di Poso, konflik komunal pecah pada Desember 1998 dan di Ambon pada pertengahan Januari 1999. Alumni Afganistan dan Mindanao Selatan cepat beradaptasi, membangun jaringan, dan membuka tempat pelatihan militer di Poso maupun Maluku.

Agar situasi lebih memanas, Ridwan Ishamuddin alias Hambali, salah satu pemimpin Kelompok Jemaah Islamiyah, menginstruksikan jaringannya agar meledakkan bom di sejumlah gereja di beberapa kota pada malam Natal 2000. Sedikitnya 16 orang tewas dan 56 orang cedera.

Peristiwa 11 September mengubah semuanya. Khususnya setelah AS dan sekutunya melakukan invasi militer di Afganistan pada Oktober 2001, dan menyusul ke Irak pada Maret 2003.

Jaringan teroris di Indonesia yang tadinya aktif memprovokasi konflik antaragama mendadak putar haluan. Fokusnya berubah menjadi kegiatan menyebarkan kebencian terhadap AS, Yahudi, Australia, dan sekutunya. Puncaknya adalah serangan bom Bali I yang menewaskan 202 orang, termasuk 88 wisatawan asal Australia.

Sejak itu, hingga saat ini serangan teroris tidak terkait dengan isu domestik, tetapi bagian dari jihad perang global Osama bin Laden melawan AS, Yahudi, Australia, dan sekutunya. Namun, aksi teroris itu jelas melanggar hukum dan membahayakan Indonesia. Lebih khusus lagi, membuat rakyat makin merana.




Blog Stats

  • 2,540,347 hits

Recent Comments

Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Sejarah : Bangsa Lemuria, Lelu…
Ratu Adil - 666 on Sejarah : Bangsa Lemuria, Lelu…

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 141 other followers