Archive for the 'Jiwa Semangat Nilai-nilai 45' Category



18
Sep
09

Bunga Hutan : Raflesia Bengkulu

Raflesia Siap Mekar

Rabu, 9 September 2009 09:56 WIB | Warta Bumi | Konservasi/Pelestarian |
Lima Bunga Raflesia Siap Mekar
Bunga Raflesia (ANTARAGrafis)

Bengkulu,(ANTARA News) – Sebanyak lima calon bunga Raflesia (Raflesia sp) siap mekar di kawasan hutan Cagar Alam Taba Penanjung I register 79 tepatnya di Km 40 Jalan Raya Kepahiang-Kota Bengkulu.

Dari pantauan, Rabu, lima calon bunga atau biasa disebut knop tersebut sudah diberi pagar oleh masyarakat setempat agar terlindung dari gangguan binatang liar dan manusia.

“Ada lima knop dan kami sudah beri pagar agar aman dan tidak terinjak,”kata Apri, warga setempat yang menemukan lima calon bunga tersebut.

Menurutnya dalam 10 hari atau 14 hari mendatang, salah satu dari lima kenop itu akan mekar karena bentuknya lebih besar.

Sementara yang lainnya akan menyusul sehingga para pengunjung tidak bisa melihat lima kembang tersebut mekar bersamaan.

Sebelumnya, satu bunga Raflesia juga mekar di lokasi yang sama namun saat ini sudah berubah warna menjadi hitam dan mulai membusuk.

“Warna awalnya kuning kemerahan, kemudian merah cerah lalu berubah menjadi hitam dalam tempo 10 sampai 14 hari,” katanya.

Anggota Tim Peduli Puspa Langka Tebat Monok Kabupaten Kehapiang, Holidin, mengatakan kawasan Cagar Alam Taba Penanjung I dan II serta kawasan hutan di sekitarnya merupakan habitat asli bunga Raflesia.

Kelompok tersebut sudah melakukan pemagaran terhadap lokasi yang banyak ditumbuhi inang bunga Raflesia yaitu jenis Liana (Tetra stigma).

“Karena bunga itu hanya mucul melalui tumbuhan inangnya, jenis Liana ini, tanpa inang Raflesia tidak bisa tumbuh,”katanya.

Lokasi tumbuhnya inang yang berdekatan membuat pihaknya tidak kesulitan melakukan pemeliharaan dan penjagaan jika bunga sudah muncul.(*)

COPYRIGHT © 2009

18
Sep
09

Bencana Alam : Longsor Cikangkareng, Bukan Sekedar Gempa Bumi

Longsor Cikangkareng

Senin, 7 September 2009 21:50 WIB | Artikel | Pumpunan |

Jafar M. Sidik

Longsor Cikangkareng, Bukan Sekadar Gempa Bumi
Batu-batu raksasa menutupi areal seluas 5 hektare menyusul gempa bumi 7,3 skala richter pada 2 September 2009, puluhan orang terkubur hidup-hidup di Kampung Babakan Caringin, Cikangkareng, Cianjur, Jawa Barat, 07-09-09. ((ANTARA/Jafar))

Cianjur (ANTARA News) – Apa jadinya jika batu-batu raksasa seukuran kulkas dua pintu atau minubus yang beratnya berton-ton jatuh dari bukit setinggi 200an meter dan berjarak sekitar 300 meter dari Anda, mengejar dengan kecepatan yang lebih cepat dari kemampuan Anda berlari?

Tak perlu dijawab memang.

Tetapi bagi warga kampung Babakan Caringin, Desa Cikangkareng, Kecamatan Cibinong, Cianjur, peristiwa itu bukanlah gambaran khayali pikiran. Merekalah yang menjadi korban keberingasan bencana alam Rabu pekan lalu.

Batu-batu raksasa yang semula terbenam dan direkatkan satu sama lain dalam sebuah rangkaian bukit itu ambrol, begitu gempa bumi 2 September berkekuatan 7,3 skala richter mengguncang paruh selatan Jawa Barat. Cikangkareng dan Cibinong berada di pinggir selatan terjauh provinsi itu.

Bagaikan hasil ledakan sebuah dinamit, bukit di pinggir kampung itu memuntahkan batu-batu besar dalam hitungan detik, berhamburan menghujam, meratakan dan mengubur puluhan rumah, sekaligus membenamkan hidup-hidup puluhan orang yang kebanyakan orang tua, anak-anak, dan wanita.

Padahal, tidak seperti bencana Situ Gintung dan Longsor Girimukti yang terjadi malam hari beberapa bulan sebelumnya, longsor hebat di Cikangkareng itu terjadi siang hari, beberapa detik setelah gempa Jabar mengguncang bumi, Rabu pukul 14.55 WIB pekan lalu.

“Suaranya bagaikan guntur, saya lihat batu besar-besar `racleng`. Saya berlari sekencang mungkin ke arah selatan,” kata Samsudin, 45 tahun, warga Kampung Pamoyanan, yang rumahnya hanya berjarak 200 meter dari berhentinya gerakan masif batu-batu raksasa itu.

“Racleng” merupakan kata bahasa sunda yang berarti bergerak sporadis dalam kecepatan tinggi.

Sampai Minggu (6/9) malam, 40an orang warga dua desa yang berbatasan itu terkubur oleh ribuan ton batu raksasa yang diperkirakan menutupi areal seluas lima hektare.

“41 orang masih terkubur, sedangkan 29 orang meninggal dunia,” kata Sekretaris Badan Penanggulangan Bencana Daerah Cianjur Supardan mengonfirmasikan statistik terakhir longsor batu cadas akibat gempa bumi di daerah itu, Minggu.

Korban tewas terbaru yang ditemukan hari Minggu itu adalah perempuan berusia 35 tahun bernama Nuryani, warga Kampung Babakan Caringin, setelah sehari sebelumnya tim penyelamat menemukan dua mayat sekaligus, yaitu seorang ibu dalam kondisi memeluk bayi berusia tiga bulanan.

Tebing

Korban tertimbun memang terus dicari sampai tujuh hari setelah bencana, sesuai ketentuan UU penanganan bencana, namun tim penyelamat mengaku sulit menemukan lagi korban, mengingat batu-batu raksasa menutupi situs bencana dengan ketinggian hampir enam meter. Kalau pun ditemukan, kondisi mayat sudah tidak utuh lagi.

“Ada yang cuma hidungnya, tangannya, kakinya. Saya bahkan tidak kuat melihatnya lama-lama,” kata Supardan.

Pencarian difokuskan di sebuah rawa, yang diyakini tempat sebagian korban terkubur, karena mencari di bawah tumpukan batu sangatlah kecil kemungkinannya, kendati alat-alat berat dikerahkan ke sana.

“Kebanyakan korban ditemukan di sini, tadi pagi saja satu korban lagi ditemukan di sini,” kata Isfar Marja, seorang relawan dari tim yang dikoordinasi sebuah parpol besar di Cianjur.

Kampung Babakan Caringin dan sekitarnya berada di barat rangkaian bukit berbentuk segitiga siku-siku. Bagian timur bukit itu selamat dari reruntuhan batu karena reliefnya landai 45 derajat, tidak seperti di sisi barat.

Karena menempati kawasan bertebing, maka desa itu disebut Cikangkareng yang diambil dari kata “kangkareng” yang berarti tebing batu.

Di punggung dan puncak bukit merentang jalan berkelok yang tampaknya hanya truk-truk pengangkut kayu dan hasil-hasil perkebunan rakyat yang sering lewat sehingga jalan beraspal seadanya itu rusak, tinggal bebatuan.

Hanya beberapa depa dari puncak bukit yang ambrol itu, berdiri sebuah bukit lain yang kondisinya gundul, seperti banyak ditemui di kawasan selatan Cianjur.

Namun, mengutip Kepala Dinas Kehutanan dan Konservasi Tanah Kabupaten Cianjur Ma`mun Ibrahim, lahan sekitar situs bencana bukan lahan kritis.

Ma`mun enggan mengomentari keluhan sejumlah kalangan, termasuk warga sekitar bencana, bahwa longsor bebatuan raksasa itu ada hubungannya dengan kondisi bukit yang memang sudah rentan. “Itu akibat gempa bumi kok, tidak ada hubungannya dengan kondisi lahan,” katanya berkilah.

Labil

Boleh jadi Ma`mun benar. Gempa bumi memang kuat mengguncang Cianjur dan sekitarnya, tetapi getaran gempa bumi sangat mungkin adalah puncak dari ketidakmampuan bukit segitiga siku-siku itu dalam menyangga bebannya karena tumpukan batu raksasa di dalamnya sudah tidak bisa lagi direkat oleh tanah, akibat berkurangnya resapan air.

“Kondisi tanah di daerah situ memang labil. Kami sudah lama memperkirakan bukti itu akan ambruk, sebelum gempa bumi terjadi,” kata Bahrudin Ali, Kepala Dinas Pengelolaan Sumber Daya Air dan Pertambangan (PSDAP) Kabupaten Cianjur atau dulu dikenal Bina Marga.

Ironisnya, posisi bukit runtuh itu terdapat pada hampir semua daerah di Jawa Barat, sementara kawasan mukim seperti Desa Cikangkareng bukanlah satu-satunya di provinsi ini, atau bahkan di seluruh Indonesia. Kawasan-kawasan seperti ini umum rawan bencana.

Mungkin karena alasan itu, pemerintah Provinsi Jawa Barat enggan menyetujui eksploitasi masif daerah selatan Jawa Barat, karena di samping mengancam keselamatan budaya setempat, juga dikhawatirkan merusak lingkungan, mengingat eksploitasi bisnis di daerah kerap tanpa kendali, tanpa mempertimbangkan harmoni alam.

Lebih jauh, gempa disusul longsor cadas di Cikangkareng mengajarkan orang mengenai kewajiban untuk berhati-hati mengelola alam, karena aktivitas ekonomi yang hanya hirau pada untung, laba dan pencapaian materil, telah berulangkali menyengsarakan masyarakat.

Tanah merah yang sudah renggang makin keropos ikatannya karena serapan air merenggang akibat hutan-hutan digunduli, dan saat bersamaan truk-truk menggetarkan tanah yang sudah keropos itu, sehingga gempa bumi mungkin bukan satu-satunya faktor pemicu tragedi di Cikangkareng.

Buktinya, gempa Rabu itu memang besar, tetapi rumah-rumah di selatan Cianjur, dari Sindang Barang sampai Sukanagara, kokoh berdiri. Bahkan, sebagian besar rumah di Desa Pamoyanan yang hanya sepelemparan batu dari Kampung Babakan Caringin, Desa Cikangkareng, umumnya tegak berdiri, karena ada di dataran landai dan agak jauh dari bukit runtuh.

Cikangkareng mungkin merupakan satu dari ratusan longsor hebat yang acap dianggap mululu bencana alam tetapi sesungguhnya ada andil tangan kotor manusia di dalamnya.

Maka kemudian, bencana itu seolah mengajarkan pada kita bahwa elok-eloklah mengelola alam, berhati-hatilah beradministrasi lingkungan, dan pahamilah alam laksana anatomi tubuh.

“Satu bagian sakit, sakitlah seluruh tubuh,” kata enviromentalis James Lovelock yang kesohor dengan Hipotesis Gaia-nya.
(*)

COPYRIGHT © 2009

18
Sep
09

Wisata Sejarah : Pentagonal Situs Megalitik Gunung Padang

Situs Gunung Padang

Kamis, 17 September 2009 06:35 WIB | Artikel | Spektrum |

Jafar M. Sidik

Menerawangi Indonesia Tua di Gunung Padang
gunung padang (antara/jafar)

Cianjur (ANTARA News) – Pertanyaan mengenai apakah orang-orang Nusantara, Sunda khususnya, merupakan bangsa tua di dunia, kerap terbersit dari pikiran banyak orang begitu mengunjungi situs megalitik Gunung Padang di Desa Karyamukti, Kecamatan Campaka, Cianjur, Jawa Barat.

“Nenek kakek kami bercerita bahwa pada malam-malam tertentu di atas bukit sana, sering terdengar suara-suara musikal dan tempat itu menjadi terang benderang. Kami lalu menamai bukit ini dengan Gunung Padang (gunung terang),” kata Yuda Buntar, salah seorang pengelola situs purbakala itu kepada ANTARA, awal pekan ini.

Nenek moyang Yuda dan orang-orang sekitar Gunung Padang tak menyebutnya sebagai situs purbakala. Yang mereka tahu tempat itu keramat, sampai kemudian pada 1979 tiga warga kampung itu melaporkan situs tepat di puncak bukit tersebut, ke otoritas purbakala di Cianjur.

Segera daerah itu ditetapkan sebagai cagar budaya untuk bukti keluhuran kebudayaan lokal dan ketinggian peradaban asli Indonesia, khususnya orang-orang yang sekarang mendiami Tatar Pasundan.

Para arkeolog percaya bahwa Situs Megalitik Gunung Padang adalah situs megalitik terbesar di Asia Tenggara.

Situs itu diperkirakan dibangun kira-kira 2.000 tahun sebelum Masehi atau sekitar 2.400 tahun sebelum kerajaan Nusantara pertama berdiri di Kutai, Kalimantan, atau kira-kira 2.800 tahun sebelum Candi Borobudur dibangun.

Melihat susunan batu dan pemilihan panorama lingkungan sekitar situs, siapa pun akan takjub pada betapa tingginya kebudayaan Nusantara purba.

Sumber material bangunan dan kualitasnya yang terpilih, serta orientasinya pada simbol-simbol keilahian khas era purbakala, seperti gunung dan samudera, membuat pengunjung menerawang bahwa betapa agung dan berperspektifnya peradaban purba Nusantara.

Tegak lurus dari situs, berdiri Gunung Gede yang sejak Kerajaan Pajajaran sudah dianggap sakral, atau jangan-jangan masyarakat Pajajaran hanya mewarisi tradisi kuno puak megalitik.

Jika dicermati lebih dalam, situs berisi serakan batu hitam bermotif itu, ternyata memuatkan keteraturan geometris, selain pesan kebijaksanaan kosmis yang tinggi, sebelum agama-agama modern masuk ke Nusantara.

Geometri ujung batu dan pahatan ribuan batu besar dibuat sedemikian teratur rata-rata berbentuk pentagonal. Simbol “lima” ini mirip dengan tangga nada musik sunda pentatonis, da mi na ti na.

Keajaiban-keajaiban itu membuat orang takjub, khususnya para pengunjung situs. Banyak yang menyebut situs ini satu teater musikal purba, sekaligus kompleks peribadatan purba.

“Obelix harus ke sini,” kata seorang pengunjung dari Universitas Padjadjaran, Bandung, seperti tertulis dalam buku tamu kesan dan pesan setelah mengunjungi situs megalitik Gunung Padang.

Obelix adalah salah satu tokoh dari duet Asterix-Obelix dalam komik “Petualangan Asterix” karya Rene Goscinny dari Prancis, yang mengisahkan para ksatria Galia, Prancis awal, di era Romawi kuno.

Poligonal

Untuk mencapai situs, seseorang harus menapaki dulu 468 anak tangga batu endesit yang direkonstruksi, begitu bukit itu ditetapkan sebagai cagar budaya. Tangga batunya pun dibuat dengan hitungan matematis, dengan bilangan lima terlihat dominan.

Kalau Babylonia menganggap sakral angka 11 atau Romawi Kuno dengan angka 7, maka di Gunung Padang, bangsa kuno Nusantara yang mendiami tanah Pasundan ini “memuja” bilangan lima.

Di pelataran undak pertama, pemandangan menakjubkan terhampar dari seluruh konstruksi situs yang disusun dari kolom-kolom batu berdimensi kebanyakan segi lima, dengan permukaannya yang halus.

Batu-batu itu dipasang melintang sebagai tangga dari kaki bukit sampai pintu masuk situs. Di puncak bukit, pada pelataran pertama, pintu gerbangnya diapit kolom batu berdiri.

Sejumlah pakar menilai batu-batu itu tidak dibuat manusia, melainkan hasil proses geologis ketika aliran magma membeku, seperti terbentuknya retakan-retakan poligonal ketika lumpur mengering.

Proses serupa membentuk situs tanggasegi enam raksasa di Giant Causeway, Irlandia atau Borger-Odoorn di Belanda. Semuanya terjadi saat proses pendinginan lava menjadi batuan beku yang umumnya berjenis batu andesit.

Gunung Padang sendiri diperkirakan terbentuk dari hasil pembekuan magma, sisa gunung api purba era Pleistosen Awal, 21 juta tahun lalu.

Para pakar menilai, gunung itu adalah sumber alamiah kolom batu penyusun konstruksi situs, terbukti dari berserakannya kolom-kolom batu alamiah yang bukan dari reruntuhan situs yang banyak ditemukan di kaki Gunung Padang.

“Memang, batu-batu sejenis bisa dengan mudah digali dari kaki Gunung Padang ini,” kata Yuda, seraya menunjuk tumpukan batu andesit berbalut tanah merah di seberang jalan dan dekat dapur rumahnya.

Namun, masyarakat setempat percaya, seperti dituturkan Ahmad Zaenuddin, salah seorang pengelola situs sekaligus pelaku konstruksi situs megalitik Gunung Padang, batu-batu andesit di lokasi situs terlebih dahulu diukir di satu tempat yang kini disebut Kampung Ukir.

Kemudian, dicuci di satu empang yang tempatnya sekarang disebut Kampung Empang yang hingga kini terhampar serakan sisa-sisa ukiran batu purba. Kedua kampung berada sekitar 500 meter arah tenggara Situs Megalitik Gunung Padang.

Batu-batu andesit sendiri hanya ditemui di sekitar Gunung Padang. “Begitu menyeberangi Kali Cikuta dan Kali Cipanggulaan, tak ada lagi batu-batu besi seperti itu,” kata Zaenudin.

Kaki Cikuta dan Kali Cipanggulaan adalah dua sungai kecil yang mengapit situs Gunung Padang yang telah dicatat arkeolog Belanda, N.J. Krom, pada 1914.

Gunung Padang sendiri bukan satu-satunya kompleks tradisi megalitik. Masih ada peninggalan tradisi megalitik sekitar Cianjur di Ciranjang, Pacet, Cikalong Wetan dan Cibeber.

Yang pasti, situs megalitik Gunung Padang yang dapat ditempuh dalam waktu 45 menit dari kota Cianjur itu adalah yang paling menakjubkan dan paling agung.

Sayang, satu kilometer menuju lokasi, kondisi jalan menuju situs amat buruk, di samping penunjuk arah situs yang tak jelas. Lain dari itu, Situs Megalitik Gunung Padang tampaknya harus lebih dirawat dan dilindungi lagi. (*)

COPYRIGHT © 2009

18
Sep
09

Seni Budaya : Perspektif Hindu Dalam Tari Bali dan Tari Pendet

Perspektif Hindu dalam Tari Bali dan Tari Pendet
Tari pendet, salah satu kekayaan seni budaya Indonesia yang diklaim Malaysia.

Jumat, 18 September 2009 | 01:58 WIB

PERSPEKTIF HINDU DALAM TARI BALI DAN TARI PENDET
Oleh : W. B. Padmawiryanta

Kesenian dalam perspektif Hindu di Bali yang universal identik dengan kehidupan religi masyarakatnya sehingga mempunyai kedudukan yang sangat mendasar. Para penganutnya dapat mengekspresikan keyakinan terhadap Hyang Maha Kuasa. Maka banyak muncul kesenian yang dikaitkan dengan pemujaan tertentu atau sebagai pelengkap pemujaan tersebut.

Upacara di Pura-Pura (tempat suci) tidak lepas dari seni suara, tari, karawitan, seni lukis, seni rupa dan sastra. Candi-candi, Pura-Pura, dibangun sedemikian rupa sebagai ungkapan rasa estetika, etika dan sikap religius dari penganut Hindu di Bali. Pregina (penari) dalam semangat ngayah (bekerja tanpa pamrih) mempersembahkan tarian sebagai wujud bhakti kepada Ida Sang Hyang Widi Wasa (Tuhan Yang Maha Esa), bhakti dan pengabdian sebagai wujud kerinduan ingin bertemu dengan sumber seni itu sendiri.

Para seniman pun ingin menyatu dengan seni karena sesungguhnya setiap insan di dunia ini adalah percikan seni. Selain itu juga berkembang pertunjukkan seni yang bersifat menghibur. Maka di Bali, berdasarkan sifatnya seni digolongkan menjadi seni wali yang disakralkan dan seni yang tidak sakral (disebut profan) yang berfungsi sebagai tontonan atau hiburan saja.

Pada seni tari, tari sakral atau wali adalah tari yang dipentaskan dalam rangka suatu karya atau yadnya atau rangkaian ritual tertentu, dan tarian tersebut biasanya disucikan. Kesuciannya tampak pada peralatan yang digunakan, misalnya pada tari Pendet ada canang sari (sesajian janur dan bunga yang disusun rapi), pasepan (perapian), dan tetabuhan. Pada tari Rejang pada gelungannya serta benang penuntun yang dililitkan pada tubuh penari (khusus Rejang Renteng). Topeng Sidakarya pada bentuk tapel (topeng), kekereb (tutup…), dan beras sekar ura (bunga yang dipotong kecil-kecil untuk ditaburkan). Semuanya tidak boleh digunakan sembarangan. Kesakralan juga ada pada si penari itu sendiri, misalnya seorang penari Rejang atau penari Sang Hyang harus menampilkan penari yang masih muda, belum pernah kawin, dan belum haid. Atau penarinya harus melakukan pewintenan (upacara
penyucian diri) dulu sebelum menarikan tarian sakral.

Dalam sejarahnya tari wali ini sebagian besar dikaitkan dengan mitologi agama yang berkembang di daerah tertentu. Mitologi ini mungkin dibuat bersamaan atau sesudah tari wali itu diciptakan atau sebelumnya. Meskipun tarian ini diciptakan manusia, tetapi karena sudah merupakan konsensus dari masyarakat pendukungnya maka tari wali ini mendapat tempat khusus di hati masyarakat dalam kaitannya dengan keyakinan agama, terutama agama Hindu.

Tari-tari wali yang tercipta di Bali mirip dengan tari-tari ritual di India. Menurut mitologi tarian-tarian wali itu diciptakan oleh Dewa Brahma,  dan Dewa Siwa yang terkenal dengan tarian kosmisnya, yaitu Siwa Nata Raja. Di mana Dewa Siwa memutar dunia dengan gerakan mudranya yang berkekuatan ghaib. Setiap sikap tangan dengan gerakan tubuh memiliki makna dan kekuatan tertentu sehingga
tarian ini tidak hanya menampilkan keindahan rupa atau pakaian, tetapi mempunyai kekuatan sekala dan niskala. Di Bali tidak sembarang digunakan. Hanya para Sulinggih (Brahmana atau orang suci) saja yang menggunakan gerakan tangan mudra ini, karena sangat sakral.

Di Bali untuk menambah kekuatan sekala dan niskala pada tarian sering disertai dengan banten-banten (sesajian) Pasupati untuk penari atau perlengkapan tari tertentu. Untuk pertunjukkan tari wali tertentu, diawali dengan sesajian dan tetabuhan agar tidak diganggu bhuta kala giraha dan bhuta kala kapiragan. Tak jarang persembahan tari dalam ritual tertentu dilakukan prosesi Pasupati, baik secara sederhana dengan menggunakan banten Pasupati atau dilakukan dengan lebih khusus, lebih besar atau istimewa untuk memohon agar si penari dibimbing sesuai dengan kehendak Ida Betara.

Pasupati artinya raja gembala hewan. Maksudnya agar si penari layaknya hewan gembala yang diatur dan digembalakan sepenuhnya oleh si penggembala, yaitu Ida Betara. Maka setiap gerak-gerik penari tidak sepenuhnya berasal dari dirinya sendiri, sebagian gerakannya dijiwai oleh Ida Betara yang dimohonkan. Sehingga tarian itu akan memiliki niskala (kekuatan magis).

Pasupati

Tari Bali diciptakan penciptanya berdasarkan insting atau naluri dalam berkesenian. Apakah dengan meniru gerakan manusia, air, pohon dan sebagainya, sehingga terangkum dalam gerakan yang memiliki nilai seni.

Pada masyarakat berkebudayaan tinggi serta menjujung  nilai-nilai religius agraris dan mistis seperti di Bali, gerakan tari disertai aksen-aksen tertentu yang berkekuatan ghaib. Disertai banten-banten dan mantra-mantra tertentu untuk mengundang kekuatan sekala dan niskala, sehingga mendukung dan menunjang kesakralan tarian tersebut.

Tari sakral dipersembahkan dengan ritual tertentu pada hari tertentu untuk menyenangkan Ida Betara atau Hyang Kuasa sehingga berkenan memberi berkah berupa kesejahteraan sekala dan niskala
(jasmani dan rohani). Misalnya barong yang ada di Pura diberi persembahan puja wali dan disolahkan atau ditarikan pada saat odalan (hari jadi Pura banjar) atau karya tertentu adalah hal yang sakral. Kesakralan akan terkait dengan ritual tertentu dan ujung-ujungnya adalah keyakinan.

Sakral atau tidaknya tarian atau pertunjukan seni dapat diukur dengan beberapa kategori umum, yaitu tari sakral atau pertunjukan seni sakral tidak pernah diupah atau disewa untuk pertunjukan hiburan atau komersial. Berfungsi sebagai pelaksana atau pemuput karya. Membawa atau menggunakan perlengkapan atau peralatan yang khas. Dan orang yang akan menari juga adalah orang pilihan, baik secara skala  melalui pemilihan dan persetujuan dari masyarakat pendukungnya atau melalui
metuwunan yaitu dengan memohon petunjuk niskala baik dengan cara kerauhan (upacara penitisan sebagai sarana untuk menerima wahyu dari Hyang Widhi, biasanya orang-orang tertentu saja yang mengalami), dan sebagainya. Contoh : Tari Pendet, tari Baris Gede, tari Rejang, tari Sang Hyang, tari Topeng Dalem Sidakarya, tari Ketekok Jago, pertunjukan Wayang Lemah, dan Wayang Sapuh Leger. Ada juga tari atau pertunjukan seni tidak sakral (tari atau pertunjukan seni profan) yang bisa diupah atau disewa, berfungsi sebagai hiburan atau pendukung acara tertentu, tidak harus menggunakan peralatan atau perlengkapan tertentu yang bersifat sakral. Contoh : Joged Bumbung.

Seni tari Bali pada umumnya dikategorikan menjadi tiga kelompok, yaitu tari wali atau tari seni pertunjukan sakral, tari bebali atau seni tari pertunjukan upacara dan juga untuk hiburan pengunjung, dan tari balih-balihan atau seni tari untuk hiburan pengunjung.

Pakar seni tari Bali, I Made Bandem Wijaya, pda awal tahun 1980-an pernah menggolongkan tarian Bali tersebut, antara lain yang tergolong ke dalam tari wali seperti Berutuk, Sang Hyang, Dedari,
Rejang, Baris Gede, Sang Hyang Jaran, Janger. Tari bebali antara lain tari Topeng, Gambuh, Topeng Pajegan, Wayang Wong, dan tari balih-balihan misalnya tari Legong, Arja, Joged Bumbung, Drama Gong, Barong, Pendet, Kecak. Tari Pendet.

Tari Pendet termasuk dalam jenis tarian wali, yaitu tarian Bali yang dipentaskan khusus untuk keperluan upacara keagamaan. Tarian ini diciptakan oleh seniman tari Bali, I Nyoman Kaler, pada tahun 1970-an
yang bercerita tentang turunnya Dewi-Dewi kahyangan ke bumi. Meski tarian ini tergolong ke dalam jenis tarian wali namun berbeda dengan tarian upacara lain yang biasanya memerlukan para penari khusus dan terlatih, siapapun bisa menarikan tari Pendet, baik yang sudah terlatih maupun yang masih awam, pemangkus pria dan wanita, kaum wanita dan gadis desa. Pada dasarnya dalam tarian ini para gadis muda hanya mengikuti gerakan penari perempuan senior yang ada di depan mereka, yang mengerti tanggung jawab dalam memberikan contoh yang baik. Tidak memerlukan pelatihan intensif.

Pada awalnya tari Pendet merupakan tari pemujaan  yang banyak diperagakan di Pura, yang menggambarkan penyambutan atas turunnya Dewa-Dewi ke alam marcapada, merupakan pernyataan persembahan dalam bentuk tarian upacara. Lambat laun, seiring perkembangan zaman, para seniman tari Bali mengubah tari Pendet menjadi tari “Ucapan Selamat Datang”, dilakukan sambil menaburkan bunga di hadapan para tamu yang datang, seperti Aloha di Hawaii. Kendati demikian bukan berarti tari
Pendet jadi hilang kesakralannya. Tari Pendet tetap mengandung anasir sakral-religius  dengan menyertakan muatan-muatan keagamaan yang kental.

Tari Pendet Sakral

Biasanya Tari Pendet dibawakan secara berkelompok atau berpasangan oleh para putri, dan lebih dinamis dari tari Rejang. Ditampilkan setelah tari Rejang di halaman Pura dan biasanya menghadap ke arah suci (pelinggih). Para penari Pendet berdandan layaknya para penari upacara keagamaan yang sakral lainnya, dengan memakai pakaian upacara, masing-masing penari membawa perlengkapan sesajian persembahan seperti sangku (wadah air suci), kendi, cawan, dan yang lainnya.

Guru Besar Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar,  Wayan Dibia, menegaskan bahwa menarikan tari Pendet sudah sejak lama menjadi bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan spiritual masyarakat Hindu Bali.

Tarian ini merupakan tarian yang dibawakan oleh sekelompok remaja putri, masing-masing membawa mangkuk perak (bokor) yang penuh berisi bunga. Pada akhir tarian para penari menaburkan bunga ke arah penonton sebagai ucapan selamat datang. Tarian ini biasanya ditampilkan untuk menyambut tamu-tamu atau memulai suatu pertunjukkan (1999: 47).

Pencipta atau koreografer bentuk modern tari Pendet ini adalah I Wayan Rindi (?-1967), merupakan penari yang dikenal luas sebagai penekun seni tari dengan kemampuan menggubah tari dan melestarikan seni tari Bali melalui pembelajaran pada generasi penerusnya. Semasa hidupnya ia aktif mengajarkan beragam tari Bali, termasuk tari Pendet kepada keturunan keluarganya maupun di luar lingkungan keluarganya.

Menurut anak bungsunya, I Ketut Sutapa, I Wayan Rindi memodifikasi Tari Pendet sakral menjadi Tari Pendet penyambutan yang kini diklaim Malaysia sebagai bagian dari budayanya. Keluarga I Wayan Rindi sangat menyesalkan hal ini. Semasa hidupnya I Wayan Rindi tak pernah berpikir untuk mendaftarkan temuannya agar tak ditiru negara lain.

Tari Pendet Penyambutan

Di samping belum ada lembaga hak cipta, tari Bali selama ini tidak pernah dipatenkan karena mengandung nilai spiritual yang luas dan tak bisa dimonopoli sebagai ciptaan manusia atau bangsa tertentu. Dalam hal ini, I Ketut Sutapa, dosen seni tari Institut Seni Indonesia (ISI) Bali mengharapkan pemerintah mulai bertindak untuk menyelamatkan warisan budaya nasional dari tangan jahil negara lain.

Menggunakan pendekatan ilmu pengetahuan sejarah seharusnya lebih proporsional dari pendekatan ilmu pengetahuan HAKI (Hak Atas Kekayaan Intelektual), karena HAKI adalah produk budaya barat yang baru eksis kemudian. HAKI tidak cukup layak mengamankan produk-produk budaya sebelum HAKI didirikan, apa lagi pemanfaatannya lebih berorientasi kolektifitas, bukan individualitas seperti paham budaya barat.

HAKI tidak akan sepenuhnya dapat memenuhi rasa keadilan masyarakat beradab dan bermartabat. HAKI diarahkan untuk kepentingan ekonomis, sedangkan produk-produk budaya Indonesia lebih berorientasi kepentingan sosial.

(Penulis, Penulis lepas, peminat sejarah, tinggal di Bandung).

17
Sep
09

Hukum Rajam Ternyata Tidak Terdapat di Al Qur’an

“firdaus cahyadi” <firdaus_c@yahoo.com> , MediaCare, 16 September 2009

Hukum Rajam Ternyata Tidak Terdapat di Al Qur’an. Lho lantas mengapa Aceh akan menerapkan hukum rajam ya?

Mungkin tulisan ini dapat memberikan pencerahan bagi kita semua terkait hukum rajam dalam Islam

Menurut Prof. Dr. Azyumardi, ( kini Rektor UIN Jakarta), Rajam hukum sampai mati ( stoning to death ) bagi pezina laki-laki dan perempuan yang sudah atau pernah menikah ( muhshan ) harus diakui merupakan hukum hudud, yang kontraversial, di kalangan ulama dan fuqaha. Terdapat perbedaan pendapat tentang hukum dasarnya ( dalil naql ), baik penetapan hukum rajam, maupun metode pelaksanaannya.

Dalam Al- Quran, tidak ada sebuah ayatpun yang memerintahkan, harus di rajam orang yang telah berzina, jika telah pernah nikah. Yang ada, dalam Al-Quran, hanyalah perintah cambuk, seratus kali. Dapat dilihat pada ayat yang artinya : “ Perempuan yang berzina, dan laki-laki yang berzina, maka deralah keduanya, ( masing-masing ) seratus kali dera, dan janganlah belas kasihan kepada keduanya, jika kamu beriman kepada Allah dan hari akhirat, dan hendaklah pelaksanaan hukuman mereka, disaksikan oleh sekumpulan dari orang-orang beriman “ (QS. Al-Nur ( 24 ) : 2).

Mengenai ayat lain yang ditafsirkan sebagian Ulama yang menggiring kaum penzina di rajam, yaitu : “ Terhadap wanita yang mengerjakan perbuatan “ fahisyah ” (keji), hendaklah ada empat orang saksi diantara kamu, yang menyaksikannya. Kemudian apabila empat saksi itu telah memberikan penyaksian, maka kurunglah ( wanita-wanita penzina itu ) dalam rumah sampai menemui ajalnya, atau sampai Allah memberi jalan yang lain kepadanya “ ( QS.al-Nisa’ (4) :l5).

Dari kedua ayat tersebut diatas, ( S. Al-Nur 2 dan S. Al-Nisa l5 ), jelas sekali, tidak menggunakan kata rajam. Yang ada, hanya kata “dera seratus” dan mengurung di rumah sampai ajalnya datang, atau ada cara lain. Disamping itu, khusus surah Al-Nur l5 dengan kata “ fahisyah ” itu, ada dua tafsirnya. Pertama zina biasa, yang kedua, zina luar biasa, yaitu antara perempuan dengan perempuan ( homoseks ). Berarti, belum tentu zina biasa dan itupun hukumannya bukan rajam. Kemudian syarat yang lebih besar dalam persaksian, ada empat orang saksi mata melihat langsung secara transparan, ( maaf ), persis pedang dimasukkan ke dalam sarungnya. Apa mungkin hal ini terjadi bagi orang normal ?. Hampir mustahil. dapat disaksikan.

Hadis dha’if:
Yang digunakan oleh ulama yang cenderung ” menghukum rajam ” kaum penzina muhshsan ( yang sudah kawin), adalah hadis ahad ( dha’if ). Dari seorang perawi Ubadah bin Shamit saja. Katanya Nabi bersabda : “ Ambillah olehmu dariku, Allah telah membukakan jalan bagi mereka; lajang dengan lajang, dicambuk seratus kali, dan dibuang selama setahun, janda dengan duda, dicambuk seratus kali dan di rajam “.

Jika kita perhatikan hukum yang bersumber dari hukum pertama Al-Quran, dan sumber kedua Hadis, jelas ada perbedaannya. Al-Quran hanya menyebut dera (cambuk) seratus kali ( lajang atau janda ), sedang Hadis menambah “ dibuang satu tahun ” ( lajang ), dan di rajam” ( janda ).

Mengenai kedudukan hukum pertama dan kedua, selalu berbeda. Satu dari Allah dan yang satu dari Nabi. Karena Hadis tidak selalu penjelasan dari Al-Quran, dan juga tidak selalu berlaku universal, tapi terkadang hanya local saja. Maka kita harus hati-hati dan memahaminya juga lain. Apalagi kalau Hadisnya ahad ( dha’if ). Mengenai Hadis dha’ifpun, ulama Syafie memakainya, jika menyangkut ibadah atau fadhail amal ( pahala-pahala dalam amal ), supaya merangsang pengamalan. Tapi, jika menyangkut hukum, ulama Sunni termasuk Syafie, juga menolak menjadikan rujukan.

Karena adanya kemusykilah dalam hukum rajam tersebut, maka negeri-negeri Islam terjadi penetrapan hukum ini kontraversial. Negara-negara yang menulis dalam konstutusinya berlandaskan Al-Quran, seperti Saudi Arabiyah dan negara-negara Teluk, berusaha menerapkannya. Sebaliknya, negara-negara yang mengadopsi hukum pidana Barat seperti Mesir, Syria, Aljazair dan Maroko tidak memberlakukan hukum rajam.
Di Pakistan sendiri, pernah terjadi diskusi panjang, tentang hukum rajam dengan mengambil qiyas, di zaman nabi, lalu disepakati, bahwa sebenarnya hukuman rajam, tidak ada dalam Al-Quran. Karena itu hukum rajam yang dijalankan sebagian negeri Islam, merupakan hukuman tambahan berkenaan dengan hak Allah ( hudduullah yang diputuskan secara ta’zir, kebijakan hakim ). Karena kebijakan hakim yang sangat berperanan, maka dera seratus pun dianggap hukum maksimal, lalu memperlakukan yang minimal, yaitu hanya di dera 25 kali, seperti yang dipraktekkan di Sudan.

Yang pernah dipraktekkan Rasul sebelum turunnya Surah al-Nur, sehingga tidak ada ketentuan ini berlaku universal, dan masih harus dilaksanakan yaitu “ Seorang lelaki mendatangi Rasul lalu berkata, “ ya Rasul saya telah berzina “, tapi Rasul tidak menghiraukan dan memalingkan muka, sehingga lelaki itu mengulang sampai empat kali, dan pergi mencari 4 saksi, setelah menghadap Rasul, dengan saksi-saksinya, baru Rasul bertanya, “ apa kamu tidak gila ?’. Di jawab “ tidak “. Kemudian Rasul bertanya lagi, “ apa kamu sudah pernah nikah ?. “ Dijawab “ya”, Kalau begitu, bawalah orang ini dan rajamlah “ ( HR. Bukhari ).

Jika seorang hakim mengambil hukum qiyas dari hadis dhaif dari Ubadah diatas, atau menggunakan hadis yang sudah mansukh dengan turunnya Surah al-Nur dengan menambah kata “ rajam ” atau meyakini bahwa riwayat Bukhari bersifat universal dan bukan local, serta masih berlaku, mengapa Rasul ketika dilapori 4 kali baru mau menoleh menerima laporan ?. Hakikatnya, agar menghindarkan si pelapor, dari hukuman, karena dasar utama Islam adalah etika ( makarim al- akhlaq ). Tapi terlihat sipelaku sendiri terlalu bernafsu mau sekali dihukum, lalu dijalankan.

Seorang hakim perlu mengetahui, bahwa Al-Quran tidak pernah menyebut istilah “rajam” secara akspelisit. Satu-satunya ayat yang ada adalah istilah “ fahisyah ” itupun mutasyabihat ( meragukan )..

Jadi menurut hemat penulis, dalil “merajam” penzina itu lemah sekali. Itulah sebabnya sehingga di Negara Islam Pakistan sudah menghentikan hukum rajam, setelah selesai diskusi panjang ulama, mengenai rajam, yang tidak ditemukan satu ayatpun dalam Al-Quran.

Akhirnya, berdasarkan uraian singkat diatas, yakni alasan rajam, menggunakan ayat “fahisyah” ( mutasyabihat ) atau hadis dhaif atau hadis yang sudah mansukh dengan turunnya surah Al-Nur, maka kita doakan, semoga banding terakhir bagi TKW Kartini, dapat lolos dari hukum rajam maut yang musykil. Apalagi menurut pengakuannya dilakukan karena dipaksa, sekalipun berteriak keras, tidak ada seorangpun yang mendengarnya. Maka kebijakan ta’zir hakim, hendaknya berlaku lunak, terhadap seorang wanita yang terpaksa jadi pembantu. Dan yang lebih penting diketahui, hukum rajam itu sendiri tidak ditemukan secara ekspelisit dalam Al-Quran. ( Wa Allahu a’lam ).

sumber: http://islam- itu-indah. blogspot. com/2007/ 11/hukum- rajam-yang- meragukan. html

17
Sep
09

Budaya Komunal : Tidak Bisa Diklaim Seperti Paten

Budaya Komunal

Antara

Antara – Jumat, September 18
Budaya Komunal Tidak Bisa Diklaim Seperti Paten

Jakarta (ANTARA) – Masyarakat Indonesia semestinya tidak perlu gusar ketika Malaysia banyak melestarikan budaya bangsa Indonesia karena klaim kepemilikan atas suatu karya cipta budaya yang bersifat komunal tidak bisa diklaim begitu saja seperti halnya hak paten individual.

Saat berbicara dalam acara Dialog Media di LKBN ANTARA Jakarta, Kamis, Dirjen Hukum dan Perjanjian Internasional Deplu Arief havas Oegroseno menjelaskan bahwa ada dua rezim hukum perlindungan hak atas kekayaan intelektual, yakni yang berupa hasil olah pikiran satu atau dua orang yang termanivestasikan dalam bentuk paten, hak cipta ataupun merek dagang.

Lainnya adalah hak masyarakat yang bersifat komunal dan tidak bisa diklaim seperti halnya milik seorang anggota masyarakat.

“Hak cipta lingkupnya adalah sastra, seni dan Iptek. Orang yang mempunyai ciptaan dibidang seni budaya bisa mendapatkan perlindungan atas karyanya dan mereka yang membajak bisa dikenakan pidana,” ujar Havas Oegroseno.

Tetapi, ia melanjutkan, pemegang hak cipta itu tidak bersifat selamanya dan dibatasi hanya sepanjang hidup penciptanya ditambah masa 50 tahun setelahnya.

Dalam konteks klaim Malaysia atas Tari Pendet, Oegroseno mempertanyakan siapa yang telah menciptakannya dan siapa pula yang berhak mendaftarkannya sebagai hak paten milik Indonesia.

“Jika tarian itu memang ada penciptanya dan kemudian diketahui ternyata dia telah meninggal sejak 1967, maka sesuai rezim yang ada artinya setelah didaftarkan masa perlindungan HAKI-nya langsung kadaluarsa dan selanjutnya siapapun berhak menggunakannya,” katanya.

Oleh karena itu pula, menurut dia, Indonesia akan sulit pula mengkalaim tarian itu sebagai monopoli bangsa Indonesia.

Saat ini Malaysia juga telah mem-patenkan batik mereka. Tetapi batik yang Malaysia patenkan itu cara membatik dan desainnya berbeda dengan Indonesia. “Batik mereka tidak menggunakan canting atau malam seperti halnya cara membatik di Indonesia,” ujarnya seraya menambahkan bahwa paten hanya terbatas untuk teknologi dan prosesnya. Sementara seni budaya pada dasarnya tidak bisa dipatenkan.

Lebih lanjut Oegroseno mengatakan bahwa hak kekayaan intelektual sebagai hak masyarakat tidak bisa dicampur adukkan dengan hak perseorangan karena rezim yang mengaturnya juga berbeda.

Terkait persoalan klaim-klaim budaya, dia berpendapat, masyarakat Indonesia seharunya melihat nilai positifnya bahwa berbagai budaya bangsanya bisa dilestarikan dimana-mana. “Namun jika sudah memasuki wilayah abu-abu seperti penggunaan untuk tujuan komersil, itu yang harus dihindari,” ujarnya.

Oegroseno juga mengingatkan bahwa Indonesia jangan terlalu mudah menuduh bangsa lain telah mencuri kekayaan budayanya. Menurut dia, Indonesia juga harus berkaca pada diri sendiri karena saat ini Indonesia sebenarnya juga masuk dalam “watch list” negara-negara pelanggar HAKI.

17
Sep
09

Hikmah : Takbir

TAKBIR

By Republika Newsroom
Kamis, 17 September 2009 pukul 11:58:00

TAKBIRWORDPRESS.COM/ILUSTRASI

Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangan puasa, dan mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang telah diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur. (Al Baqarah: 185)

Di puncak ibadah puasa dan lengkapnya bilangan Ramadhan, Allah SWT memerintahkan kepada kaum Muslimin untuk mengagungkan asma-Nya, bertakbir atas petunjuk yang diberikan-Nya serta mensyukuri atas segala nikmat dari-Nya. Ibnu Katsier dalam tafsirnya mengartikan wa li tukabbiru Allaha ala maa hadaa kum dengan mengagungkan Allah atas hidayah dan tuntunan yang diajarkan lewat Rasul kepada manusia. Disunnatkan bertakbir ketika Idul Fitri untuk merayakan hari lulusnya umat Islam dari kewajiban puasa Ramadhan. Secara sosiologis ibadah sunnat ini melembaga dalam bentuk takbiran. Dengan rasa suka kaum muslimin bertakbir dengan pengeras suara di atas becak, truk, atau mobil sambil berkeliling kota. Takbir dalam Islam dapat dipandang sebagai ruh ibadah. Dalam salat di setiap perubahan gerak diawali dengan takbir. Ketika salat jamaah, maka takbir adalah komando bagi makmum untuk segera mengikuti gerakan imam salat. Paling tidak 85 kali sehari kaum Muslimin bertakbir mengagungkan asma Allah.

Takbir adalah sebuah al-ikrar suatu deklarasi ketundukan ego manusia pada kekuatan Mahabesar yang ada di luar diri mereka, ketaklukan pada sesuatu yang mendominasi hidup dan kehidupan mereka. Takbir adalah pengakuan jujur ketidak-berdayaan makhluk yang lemah kepada Khaliknya. Sekaligus pertanda kepasrahan diri manusia muslim kepada Rabb mereka. Maka dalam titik relijiusitas itu, manusia muslim sadar bahwa dalam kosmos yang tak terbatas ini dirinya sangat kecil. Diri manusia ibarat sebuah sel dalam tumbuhan raksasa. Dia hanya sebutir debu di tengah kabut galaksi Bima Sakti. Dia hanya seorang aktor dalam panggung nasib yang telah direkayasa Sang Sutradara Agung. Dia hanya seorang hamba yang terikat dan telah ber-syahadah untuk menjalankan seluruh perintah Allah.

Karenanya getaran takbir adalah obat mujarab untuk membersihkan karat-karat kepongahan jiwa. Air jernih yang mengguyur hati dan memunculkan kesegaran spiritual-transendental. Membunuh arogansi dan menyuburkan sikap tawadlu. Menjadi wajar kalau takbir menuntut dikumandangkan dengan kesiapan dan kesungguhan batin. Dan puncak semua kesadaran itu adalah terjadinya transformasi imam pada dimensi kasat mata. Batu uji empiris jiwa yang bertakbir adalah ‘amal bil arkan.

Maka adalah absurd kalau takbir tak pernah memunculkan refleksi sosiologis. Adalah dusta belaka kalau kebesaran Allah hanya diwujudkan dalam kata-kata dan sekedar kata-kata. Padahal takbir menuntut diperdengarkan dalam bentuknya yang utuh, yakni amal nyata menegakkan dienullah dalam diri, keluarga dan masyarakat. Sangat besar kemurkaan Allah bagi mereka yang menyatakan apa yang tidak diperbuatnya (Q.S. 61:3). Dalam penghujung Ramadhan ini marilah kita bersiap diri untuk bertakbir dengan segenap totalitas maknanya. Wallahu ‘alam bishawab. ahi




Blog Stats

  • 2,896,441 hits

Recent Comments

Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Sejarah : Bangsa Lemuria, Lelu…
Ratu Adil - 666 on Sejarah : Bangsa Lemuria, Lelu…

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 144 other followers