Archive for the 'Jiwa Semangat Nilai-nilai 45' Category



04
Oct
09

Peribadatan : Masjid-masjid di Menteng

REPUBLIKA, Minggu, 04 Oktober 2009 pukul 01:13:00

Masjid2 di Menteng

 

Oleh Alwi Shahab

Ketika daerah elite Menteng, Jakarta Pusat dibangun tahun 1920-an dan 1930-an, pemerintah kolonial ingin menjadikannya sebagai kawasan pemukiman Eropa (Europese Burt). Untuk kepentingan peribadatan, maka dibangunlah dua buah gereja: Gereja Theresia dan Gereja Paulus.

Gereja Katholik Theresia terletak di antara Jalan Haji Agus Salim (dulu Theresia Kerkweg) dan Jalan Sunda. Gereja Protestan Paulus dahulu bernama Nassaukerk, karena terletak di sudut jalan yang dulu bernama Nassauboulevard (kini Jl Imam Bonjol).

Pemerintah jajahan rupanya kurang berkenan bila terdapat rumah-rumah peribadatan Islam di jalan-jalan protokol. Tidak heran kalau kita menelusuri jalan dari Istana Negara sampai ke Jatinegara tidak menemukan sebuah masjid pun. Pada zaman Belanda, masjid hanya boleh dibangun di kampung-kampung, bukan di jalan protokol.

Di Menteng keadaannya lebih parah lagi. Sebelum meletusnya pemberontakan G30S pada 30 September 1965, tidak terdapat sebuah masjid pun di kawasan elite Menteng. Masjid hanya ada di pinggiran Menteng. Seorang penduduk Menteng yang tinggal di Jalan Kemiri menuturkan, kala itu dia harus Jumatan di Masjid Kwitang atau Masjid Al-Azhar Kebayoran Baru.

Meletusnya G30S ternyata banyak memberi pelajaran berharga. Orang makin menyadari pentingnya agama. Menjelang G30S, HMI selalu menjadi sasaran demo PKI dan organisasi-organisasi kiri lainnya. ”Bubarkan HMI” menjadi denyut napas dan yel-yel yang diteriakkan oleh kelompok kiri dalam aksi-aksi demo mereka. Hanya beberapa hari sebelum kudeta, Ketua CC PKI DN Aidit dalam rapat raksasa CGMI (organisasi mahasiswa PKI) di Senayan meneriakkan, ”Kalau tidak bisa bubarkan HMI, CGMI lebih baik pakai sarung saja!”

Setelah kegagalan G30S, situasi pun berubah. Kalau sebelumnya HMI dihujat habis-habisan dan jadi bulan-bulanan demo, kini berbalik arah, PKI-lah yang didemo. Pada awal Oktober 1965, Gedung CC PKI yang megah di Kramat, Jakarta Pusat, dibakar massa. Hampir tidak ada bangunan yang tersisa.

Selama aksi-aksi mengganyang kelompok kiri, HMI dan organisasi anti-PKI saat Ramadhan melakukan shalat tarawih berjamaah. Ibu Yani, istri Menteri/KASAD Jenderal Ahmad Yani (korban pembunuhan dan penculikan PKI), membuka pintu untuk para mahasiswa melakukan ibadah di Wisma Yani, Jalan Diponegoro No 1, Jakarta Pusat. Ketika Pak Yani terbunuh, HMI dan para  mahasiswa dari berbagai organiasi mengadakan tahlilan selama tujuh hari di kediaman almarhum di Jalan Lembang, Menteng.

Chefik Chehab (68 tahun), yang kala itu ketua HMI Rayon Menteng menuturkan, karena jamaah membludak maka shalat tarawih pindah ke gedung Bappenas yang kala itu bernama Adhuc Stat. Tapi, pemerintah yang masih memerlukan gedung ini tidak mengizinkannya ketika akan dijadikan tempat ibadah. Gedung Bappenas di Taman Surapati, yang berhadapan dengan Wisma Yani, saat Mahmilub (Mahkamah Militer Luar Bia) dijadikan tempat mengadili mereka yang dituduh terlibat G30S.

Setelah G30S, masyarakat di Ibu Kota merindukan suasana kehidupan yang lebih Islami. Terlebih masyarakat Islam di Menteng. Mereka merindukan adanya masjid. Menurut Chefik, kebetulan di bagian belakang gedung Bappenas terdapat sebuah lapangan milik TK dan SD Kepondang. Maka Gubernur Ali Sadikin memberikan tanah tersebut untuk dibangun masjid. Sebelumnya ia meminta panitia untuk memilih antara Stadion Menteng dan Taman Sunda Kelapa.

Pembangunan masjid pertama di kawasan elite Menteng dilakukan pada 21 Desember 1969. Mensesneg Alamsyah Ratu Prawiranegara ikut berperan dalam pembangunan masjid itu. Kepanitiaan yang dibentuk 1966 diketuai oleh HBR Motik, ayah Dewi Motik. Maka, berdirilah Masjid Sunda Kelapa yang megah. Sebelumnya di Jl Gresik, di halaman Kantor Polisi Seksi V (Komseko) Menteng, sudah berdiri sebuah masjid sederhana yang dibangun oleh pihak kepolisian.

Setelah ada SP 11 Maret 1966 dan PKI dibubarkan, HMI dan berbagai organisasi mahasiswa serta pelajar menyerbu kediaman Konsul RR Cina di Jl Cilosari 17, Cikini. HMI Jakarta yang sebelumnya bermarkas di Jl Diponegoro bersama Pengurus Besar HMI, kemudian menempati gedung yang mereka ambil alih tersebut. Konsul Cina lainnya di Jl Tanjung juga mengalami nasib yang sama. Di samping tempat kegiatan mahasiswa, gedung ini juga dijadikan tempat peribadatan seperti Jumatan dan shalat lima waktu.

Dengan makin maraknya kegiatan keagamaam di Menteng, Kodam Jaya kemudian memberikan tempat di bekas Gedung De Bouwploeg untuk masjid. Sebelum bernama Masjid Cut Mutiah masjid di gedung berlantai tiga ini dinamakan Masjid Al-Ihtihad. Sementara di belakang Hotel Sari Pasiifik di Jl Sabang, Jakarta Pusat, berdiri sebuah mushala kecil bernama Al-Hikmah.

Mushala tersebut sebenarnya merupakan lokasi parkir hotel. Saat mushala hendak digusur masyarakat mempertahankannya. Apalagi sudah menjadi tempat beribadah bagi karyawan Sarinah dan para pedagang di sekitar Jl Sabang. Dalam mempertahankan keberadaan mushala tersebut patut diacungkan jempol perjuangan Sutan Sati yang membuka rumah makan padang Natour di Jl Sabang. Dia juga dikenal sebagai pengelola haji. Kini mushala Al-Hikmah menjadi masjid yang dapat menampung lebih dari seribu jamaah.

Sebelumnya, saat-saat Al-Hikmah hendak digusur, pihak Pemda DKI mencarikan penggantinya di sudut jalan antara Jl Johar dan Jl Kemiri. Kemudian di lokasi inilah dibangun Masjid Cut Nyak Dien berkat jasa Ir Omar Tosin, seorang pengusaha dan tokoh Islam masa itu. Dia menyediakan kediamannya untuk tempat peribadatan.

Advertisements
04
Oct
09

Wisata Sejarah : Gang Secretarie (Jalan Veteran III), 1870-an

REPUBLIKA, Sabtu, 03 Oktober 2009 pukul 01:38:00

GangSecretarie1870an

Gang Secretarie (Jalan Veteran III) 1870-an

Alwi Shahab
wartawan Republika

Gang Secretarie (kini Jalan Veteran III), Jakarta Pusat, awalnya merupakan tempat sekretariat yang melayani kegiatan gubernur jenderal Hindia Belanda, seperti layaknya Sekretariat Negara sekarang.

Gedung tempat melayani kepentingan pemerintahan kolonial (tidak tampak dalam foto), terletak di bagian depan sebelah kanan. Gedung ini kemudian menjadi Hotel der Nederlanden (1846), sebuah hotel megah kedua setelah Des Indes Hotel. Sebelumnya (1840), bernama Hotel Royale. Setelah kemerdekaan (1950), karena berbau kolonial namanya diubah menjadi Hotel Dharma Nirmala.

Presiden Soekarno yang berdiam di Istana (sebelah hotel tersebut), untuk kepentingan keamanan kemudian menjadikannya sebagai markas Tjakrabirawa, pasukan khusus pengawal presiden dan keluarganya. Pada 1969, ketika pasukan pengawal khusus Tjakrabirawa dibubarkan Presiden Soeharto, gedung itu dijadikan sebagai kantor Bina Graha, salah satu tempat kerja kepresidenan sehari-hari.

Menurut sejarawan Belanda awal abad ke-20, de Haan, keberadaan jalan ini dimulai ketika pada tahun 1794, seorang tuan tanah kaya raya, Pieter Tency, pada 1794 membangun gedung mewah di petak tanah yang memanjang dari Jalan Veteran sampai Medan Merdeka Utara. Mencakup tanah yang kini berdiri Gedung Harmoni (kini bagian dari Setneg setelah dibongkar), Istana Negara, dan Istana Merdeka.

Dalam foto, terlihat jalan-jalan yang belum beraspal berdiri penerangan yang kala itu masih gas dan hanya dipasang sejak sore hari. Gang Secretarie (masyarakat seketre), merupakan daerah elite yang disukai karena di kiri kanan dipenuhi pepohonan. Kemudian, seluruh rumah telah dirubuhkan dan daerah ini merupakan bagian dari Istana Kepresidenan. Di tempat ini, terletak Gedung DPA (Dewan Pertimbangan Agung), badan negara tertinggi yang kini sudah tidak berfungsi lagi. Di ujung Gang Secretarie, berhadapan dengan lapangan Monas, terdapat gedung MA (Mahkamah Agung).

Sampai awal 1960, di Jalan Veteran III masih terdapat beberapa perusahaan dan pertokoan, sebelum dijadikan tempat kegiatan kepresidenan. Berseberangan dengan Bina Graha, terdapat Gedung American Motion Picture Association of Importers (Asosiasi para importir film AS), yang memasok film-film dari negara Uncle Sam ke Indonesia. Ketika kelompok kiri melakukan aksi boikot terhadap film-film AS dan Barat, pada Maret 1965 gedung ini dibakar. Di tempat ini, kemudian kembali dibangun Sekretariat Negara.

04
Oct
09

Majelis Permusyawaratan Rakyat : Ketua Terpilih

Taufik Kiemas Terpilih Sebagai Ketua MPR

Sabtu, 3 Oktober 2009 | 21:54 WIB

JAKARTA,KOMPAS.com – Taufik Kiemas dari Fraksi PDIP akhirnya terpilih sebagai pimpinan MPR. Sementara wakil-wakil ketua MPR yang terpilih adalah Melani Leimena Suharli dari Demokrat, Hajrianto Y Tohari dari Golkar, Lukman H Saefudin dari PPP, Ahmad Farhan Al Hamid dari DPD.

 

Sebelumnya, sidang menyepakati komposisi pimpinan yang disetujui tetap pada kesepakatan semula yakni 4 DPR banding 1 DPD. Dari delapan delapan fraksi yang ada, sebanyak tujuh fraksi memberikan suara yang sama sesuai dengan paket pimpinan MPR yang terpilih. Hanya Fraksi PKS yang tidak memberikan paket pimpinan MPR yang diajukannya.

 

Dikatakan Pimpinan MPR sementara Marzuki Alie dalam putusannya, berdasarkan Keputusan MPR Nomor 3 Tahun 2009, apabila hanya ada satu paket calon pimpinan maka langsung diputuskan sebagai pimpinan MPR. Putusan tersebut langsung disambut tepuk tangan para anggota majelis.

Untuk sementara, sidang saat ini akan diskors sambil menunggu persiapan sidang paripurna terakhir dengan agenda pelantikan. Sedianya Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, yang juga sudah berada di komples DPR akan menghadiri pelantikan tersebut.
C11-09

Hidayat Nur Wahid Terlihat Legowo Lepas Jabatan Ketum MPR

Sabtu, 3 Oktober 2009 | 22:02 WIB
Laporan wartawan Persda Network Rachmat Hidayat

JAKARTA, KOMPAS.com – Peluk cium ucapan selamat diberikan kepada Hidayat Nurwahid yang terlihat legowo melepasa jabatan sebagai Ketua MPR setelah rapat penentuan pimpinan MPR malam ini memilih Taufik Kiemas sebagai Ketua MPR periode 2009-2014.

Seluruh fraksi DPR minus PKS memberikan restu kepada Taufik Kiemas dalam sidang paripurna MPR, Sabtu (3/10).

Usai terpilih secara aklamasi, Taufik banyak disalami oleh para anggota MPR. Terlihat, politisi senior asal Palembang ini tal henti-hentinya mengumbar senyum.

Suami Megawati Soekarnoputri, Taufik Kiemas terpilih secara aklamasi menggantikan Hidayat Nurwahid sebagai Ketua MPR periode 2009-2014. Seluruh fraksi DPR minus PKS memberikan restu kepada Taufik Kiemas dalam sidang paripurna MPR, Sabtu (3/10).

Dalam paripurna MPR ini hampir seluruh anggota DPR hadir, kecuali anggota DPD yang datang hanya separuh.  Para anggota DPR maupun DPD yang hadir masing-masing; PD sebanyak 142 dari 148 anggota, Golkar  94 dari 196 anggota, PDI-P 94 dari 94 anggota, PKS 53 dari 57 anggota, PAN sebanyak 41 dari 46, PPP sebanyak 34 dari 38 anggota, PKB 23 dari 28, Gerinda sebanyak. 26 dari 26 anggota, Hanura. 17 dari  17 anggota dan anggota DPD hanya 26 dari 132 anggota.

Sumber : Persda Network
 
Usai Dilantik, TK Langsung Pimpin Sidang Perdananya

Minggu, 4 Oktober 2009 | 00:09 WIB

JAKARTA,KOMPAS.com – Usai terpilih secara aklamasi, Sabtu (3/10) malam, Taufik Kiemas (TK) langsung dilantik sebagai Ketua MPR. Demikian juga dengan empat orang lainnya, yakni Melani Leimena Suharli, Hajrianto Y Tohari, Lukman H Saefudin, Ahmad Farhan Al Hamid yang dilantik sebagai wakil ketua MPR.

Keempatnya dilantik dan melakukan pembacaan sumpah secara bersamaan yang diambil oleh Ketua MA Harifin Tumpa. Hadir pula dalam pelantikan tersebut, Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono.

Sebelumnya, Pimpinan MPR sementara Marzuki Alie membacakan Surat Keputusan No 4/MPR/ 2009 Tentang Pimpinan MPR, yang menetapkan keempatnya sebagai ketua dan wakil ketua MPR.

Usai menandatangani berita acara pelantikan, secara simbolis, TK menerima palu sidang yang diserahkan oleh Marzuki. TK pun memimpin sidang perdananya dengan agenda penutupan sidang paripurna pelantikan pimpinan MPR.

Dalam sambutannya, suami dari Ketua DPP PDIP Megawati Soekarno Putri ini menyatakan rasa syukur yang sebesar-besarnya atas kelangsungan proses pemilihan pimpinan MPR yang berjalan lancar.

“Saya ucapkan selamat kepada kita semua, dan untuk selanjutnya agar bisa bekerjasama dalam menjalankan tampuk kepemimpinan MPR periode 2009-2014,” kata TK yang langsung disambut oleh tepuk tangan anggota majelis.

Sidang pun ditutup. TK langsung diserbu oleh para anggota majelis yang hendak mengucapkan selamat. Terlihat pula, Hidayat Nurwahid, yang gagal maju sebagai calon ketua MPR, memberikan selamat kepada TK.


C11-09

Abstain, PKS Tetap Ucapkan Selamat kepada TK
Minggu, 4 Oktober 2009 | 01:02 WIB
Laporan wartawan Persda Network Rachmat Hidayat

JAKARTA, KOMPAS.com – Walaupun hampir seluruh fraksi MPR mengajukan calon paket tunggal Taufik Kiemas (PDIP) sebagai Ketua MPR, yang bersanding dengan Hj Meilani Leimena (PD), Hajrianto Y Tohari (Golkar), Lukman Hakim Syaefuddin (PPP), Ahmad Farhan Hamid (DPD) sebagai wakil, dalam paripurna MPR, pada Sabtu (3/10) malam, hanya PKS yang  menyatakan abstain karena tidak ikut mencalonkan. Usai resmi terpilih secara aklamasi, Presiden SBY kemudian hadir, melihat secara langsung pelantikan Taufik Kiemas (TK).

Terkait sikap abstain, Presiden PKS Tifatul Sembiring mengungkapkan, setelah PKB mundur dari paket PKS, PKB dan 3 dari DPD, maka akhirnya paket kehilangan magnitude-nya, sehingga diputuskan abstain.

Tifatul sangat menyayangkan, kurang terakomodasinya utusan dari DPD yang mencerminkan keterwakilan daerah secara seimbang.

“‘Pak Farhan Hamid memang dari DPD NAD, namun secara umum sudah diketahui bahwa yang bersangkutan adalah politisi yang berasal dari PAN,”  ujar Tifatul.

Namun demikian Tifatul  mengucapkan selamat kepada Ketua MPR terpilih TK, dan menegaskan bahwa paket Hidayat Nurwahid yang dirancang semula, siap membantu dan bekerja sama membangun lembaga MPR yang bermartabat dan menjujung tinggi nilai-nilai persatuan dan kesatuan dalam kerangka NKRI.

“PKS siap bahu membahu dengan pimpinan MPR yang baru untuk membangun kemajuan dan kesatuan bangsa,” kata Tifatul.

04
Oct
09

Kegempaan : Pendidikan Mendesak

Kegempaan

By Republika Newsroom
Sabtu, 03 Oktober 2009 pukul 21:41:00

BENGKULU — Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) menilai negara rawan gempa seperti Indonesia perlu memasukkan mata pelajaran tentang gempa ke dalam kurikulum sekolah sehingga seluruh masyarakat mengetahui cara mengantisipasi gempa secara dini. Jika masuk kurikulum sekolah, pelajaran gempa akan diberikan secara sistematis terutama pemahaman dasar mengenai negara yang rawan gempa, kata Koordinator BMKG Provinsi Bengkulu Fahmiza didampingi Staf Teknisi BMKG, Edi Warsudi di Bengkulu, Sabtu.

Menurutnya, apabila masyarakat Indonesia sudah mengetahui dan menyadari bahwa negara rawan gempa, mereka tidak menjadi panik dan ketakutan ketika terjadi gempa, melainkan mencari upaya menyelamatkan diri karena hal ini sudah didapatkan di sekolah.

Jepang sebagai negara rawan gempa, katanya, tiga bulan sekali melakukan simulasi gempa. Bangunan di Jepang semua sudah disiapkan untuk tahan menghadapi gempa. Dengan demikian korban akibat gempa dapat diminimalkan.

Gempa tidak dapat ditolak atau dihalangi. Lempengan penyebab gempa akan terus bergerak selagi bumi masih ada.
Pergerakan lempengan terjadi, katanya, karena dua sebab, yaitu karena putaran bumi berevolusi maupun berrevolusi. Kedua karena ada aktivitas magma di perut bumi.

“Yang bisa dilakukan hanyalah menyiapkan diri dengan APELL yaitu Awarenes and Preparadness for Emergencies at Local Level artinya kesadaran dan kesiapsiagaan menghadapi bahaya pada tingkat lokal,” katanya.

Masing-masing keluarga, katanya, harus menyiapkan anggota keluarganya berada pada lokasi aman pada saat terjadi gempa. Di tingkat rukun tetangga (RT) menyiapkan warga satu RT tersebut tentang bagaimana cara menyelamatkan diri, dan ke mana harus mengungsi. Di tingkat kelurahan juga ada pedoman umum bagaimana seharusnya menyelamatkan diri dan menyampaikan keberadaan masing-masing kepada pihak koordinator di tingkat kelurahan sehingga semua dapat diperhatikan. Pada tingkat kecamatan dan kabupaten kota sudah ada petunjuk pengamanan diri sesuai jenjangnya, sehingga masyarakat menjadi tenang dan nyaman.n ant/tri

03
Oct
09

Dialog Jumat

REPUBLIKA, Jumat, 02 Oktober 2009 pukul 01:52:00

Pemakaman

 

TUNTUNAN

Keutamaan Menghadiri Pemakaman

Saat mengantar jenazah hendaknya mempercepat langkah.

Iring-iringan pengantar jenazah bergegas meninggalkan pelataran masjid usai melaksanakan shalat jenazah. Masing-masing orang pun berusaha meraih usungan jenazah itu dalam perjalanan menuju ke perkuburan.

Pemandangan tersebut lazim terlihat saat berlangsung pemakaman. Belasan, puluhan bahkan ratusan orang ikut mengantarkan, menguburkan hingga mendoakan yang meninggal agar segala amal ibadahnya di dunia diterima di sisi-Nya.

Agama Islam memang menganjurkan umat untuk menghadiri pemakaman, baik  kerabat, sahabat, kenalan, terlebih jika yang meninggal adalah anggota keluarga. Rasulullah SAW menegaskan hukum sunnah dalam mengantarkan jenazah sekaligus menggotong keranda jenazah itu.

Mengikuti pemakaman adalah satu dari lima hak Muslim atas Muslim yang lain. Lima hak tersebut antara lain menjawab salam, menjenguk orang sakit, memenuhi undangan, mendoakan orang yang bersin serta mengikuti pemakaman.

Dalam kaitan ini, Nabi mengajarkan agar dalam mengantar jenazah hendaknya mempercepat langkah. Sebagaimana tertera dalam satu hadis yang diriwayatkan Bukhari Muslim, bahwa dengan bergegas membawa jenazah, bila jenazah itu orang yang saleh, berarti segera membawanya menuju kebaikan.

Secara garis besar dalam memuliakan jenazah, Nabi SAW telah memberikan petunjuk terperinci. Dimulai dari melayat ke rumah keluarga yang ditinggalkan, menasehati keluarga yang ditinggalkan dengan kesabaran, ikut menshalatkan jenazah, ikut mengiringi jenazah ke pemakaman dan mendoakannya.

Bukan hanya terhadap kerabat orang yang meninggal saja, tuntunan untuk menghormati jenazah juga ditujukan bagi orang-orang sekitar, yakni mereka yang dilewati iring-iringan jenazah. Nabi meminta supaya umat ikut menghormati jenazah tersebut.

Sabda Nabi, ”Kalau kamu melihat jenazah, maka berdirilah, barangsiapa yang mengikuti jangan duduk sampai jenazah diletakkan.”

Turut menghadiri pemakaman, serta tetap tinggal hingga orang yang meninggal dikuburkan, akan bernilai pahala besar. Hal ini dijabarkan oleh Nabi SAW agar menjadi pedoman umat.

”Barangsiapa menghadiri pemakaman sehingga shalat jenazah dilaksanakan akan menerima pahala satu qirat, dan barang siapa menghadiri pemakaman dan tetap tinggal hingga jenazah dimakamkan, ia akan menerima pahala dua qirat.” (Muttafaq’alaih)  Adapun dua qirat yang dimaksudkan Nabi SAW setara dengan dua gunung besar.

Menguatkan kesetiaan

Nabi tak lupa menganjurkan agar usai pemakaman, seseorang hendaknya berdoa sekaligus memohonkan ampunan atas orang yang meninggal. Inilah yang senantiasa dilaksanakan Nabi SAW sekaligus beliau memerintahkannya pula kepada para sahabat.

Ustman bin Affan RA meriwayatkan, ”Ketika Nabi SAW menyelesaikan pemakaman orang yang meninggal, beliau akan berdiri di atasnya dan bersabda, ”Mohonkanlah ampunan untuk saudaramu dan mohonkan untuknya agar memiliki kemampuan untuk menjawab pertanyaan dari para malaikat, karena bahkan saat ini ia ditanya oleh malaikat.”

Apa hikmah dari amalan tersebut? Dr Muhammad Ali al-Hasyimi menerangkan bahwa anjuran menghadiri pemakaman berguna untuk menguatkan ikatan persaudaraan dan memperdalam rasa kesetiaan di antara mereka.

Melalui keikutsertaan ini, lanjutnya, maka keluarga yang ditinggalkan juga akan merasa nyaman, terhibur, dan terbantu dalam menghadapi kehilangan anggota keluarga mereka dengan sabar dan ikhlas.

Lebih jauh diungkapkan, menghadiri pemakaman merupakan indikasi pemahaman atas kehidupan sosial dalam semua dimensinya. Kehidupan, menurutnya, bukan sekadar persoalan peristiwa-peristiwa yang menggembirakan dan menyenangkan.

”Namun ia adalah juga kegembiraan dan kesedihan, kesenangan dan duka cita, kemudahan dan kesulitan, tawa dan air mata,” papar Dr Muhammad dalam bukunya The Ideal Muslim. yus

REPUBLIKA, Jumat, 02 Oktober 2009 pukul 01:40:00

Amal, Ibadah

 

LAPORAN UTAMA

Tingkatkan Amal, Menggandakan Ibadah

“Barangsiapa berpuasa pada bulan Ramadhan lalu diiringinya dengan puasa enam hari pada bulan Syawal, berarti ia telah berpuasa setahun penuh” (HR: Muslim, Abu Dawud, At-Tirmidzi, An-Nasa’i dan Ibnu Majah)

Ramadhan telah berlalu. Sebulan lamanya, umat Islam di seluruh dunia telah menempuh bulan pendidikan dan latihan yang sangat intensif untuk menjadi insan yang bertakwa kepada Allah SWT. Kini, kaum Muslimin memasuki Syawal, bulan pembuktian keberhasilan shaum Ramadhan.

”Ruh Ramadhan harus tetap dihidupkan dalam kehidupan sehari-hari,” ungkap Pimpinan Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang, Jawa Timur, KH Shalahuddin Wahid. Sejatinya, Syawal adalah bulan peningkatan ibadah dan ketakwaan. Pada bulan kesepuluh hijriyah ini, umat Islam diperintahkan untuk melanjutkan dan melipatgandakan amal ibadah yang telah dilakukan selama Ramadhan.

Rasulullah SAW bersabda, ”Sebaik-baik perbuatan adalah sesuatu yang berkelanjutan mudawamah walapun tidak terlalu banyak.” Amal ibadah yang dilakukan selama Ramadhan tak boleh terputus.  ”Amaliyah Ramadhan itu bisa dilanjutkan di bulan Syawal, Dzulqaidah, Dzulhijjah sampai ke Ramadhan lagi,”  tutur Sekretaris Majelis Tarbiyah Indonesia, KH Anwar Hidayat.

Dalam sebuah hadis, Rasulullah SAW bersabda, ”Barangsiapa berpuasa pada bulan Ramadhan lalu diiringinya dengan puasa enam hari pada bulan Syawal, berarti ia telah berpuasa setahun penuh.” Menurut Kiai Anwar, spirit puasa Ramadhan harus berkesinambungan.

Setelah menunaikan puasa Syawal selama enam hari, umat Islam juga bisa menunaikan shaum sunat setiap Senin dan Kamis serta puasa sunat di pertengahan bulan Hijriyah setiap tanggal 13, 14 dan 15 yang disebut ayyamul bidh. Kiai Anwar menambahkan, amaliyah lainnya, seperti, membaca Alquran, shalat malam,  membayar zakat, infak dan sedekah yang banyak dijalankan selama Ramadhan harus terus dihidupkan pada  Syawal dan bulan lainnya.

”Pada Syawal dan bulan lainnya, umat Islam bukan hanya sekedar membaca Alquran. Yang lebih penting lagi adalah memahami makna Alquran dan menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari,” papar pimpinan Pesantren Daarul Ulum Sawangan, Depok, Jawa Barat  itu. Keberhasilan shaum Ramadhan dibuktikan dengan peningkatan amal ibadah pada Syawal dan bulan lainnya.

Alquran telah menjelaskan bahwa shaum Ramadhan bertujuan mencetak umat yang beriman menjadi insan bertakwa. Menurut Kiai Anwar, salah satu tanda orang bertakwa adalah memperbanyak infak dan sedekah dalam keadaan lapang dan sempit. ”Justru ujiannya tergambar setelah Ramadhan.”

Pimpinan Pesantren Tahfidz Alquran Daarul Quran Wisatahati, Tangerang,  Banten Ustaz Yusuf Mansur, juga mengungkapkan,  setelah Ramadhan berakhir, ibadah yang  telah dilaksanakan dengan penuh semangat, tak boleh padam.

”Kalau kita melihat mekanismenya, Allah SWT tidak membiarkan Ramadhan ini kosong. Buktinya, setelah Syawal ada syariat untuk puasa sunat enam hari. Itu semacam pembelajaran yang berkesinambungan buat kita hamba-hamba-Nya biar tidak pernah putus,” papar Ustaz Yusuf.

Ia menyarankan agar tabiat-tabiat yang sudah disempurnakan pada Ramadhan, terus dilanjutkan. Kuncinya, ungkap Ustad Yusuf, tak boleh ada istilah istirahat dalam beribadah. ”Kalau istirahat satu atau dua pekan, itu susah lagi.  Kalau tidak ada jeda, langsung on nggak bakalan putus. Jadi, jangan sampai selama Syawal  ibadah kita bolong,”  imbuhnya.

Menurut dia,  semangat ibadah pasca-Ramadhan tak boleh sampai mengendur. ”Makanya, sebelum Syawal datang, harus berdoa supaya selesai Ramadhan jangan meninggalkan ibadah. Ya Allah bimbinglah kami senantiasa ingat kepada-Mu, bimbinglah kami senantiasa mensyukuri nikmat yang Engkau berikan serta bimbinglah kami mampu memperbaiki ibadah kepada-Mu).”

Kiai Shalahuddin menambahkan, ibadah itu sangat luas,  tidak hanya kepada Allah SWT, tetapi juga kepada makhluk lain, bahkan terhadap alam.  Menurut Gus Solah, puasa mendorong seseorang menjadi orang yang bertakwa. ”Ukurannya, sejauh mana ibadah  selama Ramadhan mengubah perilaku kita di bulan-bulan yang akan datang. Tentunya, perilaku terhadap Allah, perilaku terhadap manusia dan perilaku terhadap alam,” tuturnya. damanhuri zuhri

REPUBLIKA, Jumat, 02 Oktober 2009 pukul 01:34:00

Halimah Sa’diah

 

MUJAHIDAH

Halimah Sa’diah, Ibu Susu Rasulullah SAW

Sejak dipulangkan ke ibundanya, Halimah hanya satu kali berjumpa dengan Rasulullah SAW.

Tangis bayi yang baru lahir terdengar dari sebuah rumah di kampung Bani Hasyim di Makkah pada 12 Rabiul Awwal 571 M. Bayi itu lahir dari rahim Aminah dan langsung digendong seorang bidan yang bernama Syifa’, ibunda sahabat Abdurrahman bin Auf. Bayinya laki-laki.

Aminah tersenyum lega. Tetapi seketika ia teringat mendiang suaminya, Abdullah bin Abdul Muthalib, yang telah meninggal enam bulan sebelumnya di Yastrib (Madinah). Bayi laki-laki itu oleh kakeknya diberi nama Muhammad (Yang Terpuji).

Kelahiran bayi yatim yang kelak menjadi Rasul terakhir itu dituturkan dalam Alquran, ”Bukankah Dia mendapatimu sebagai seorang yatim, lalu Dia melindungimu?” (QS Adh-Dhuha [93]: 6)

Aminah, janda beranak satu itu, hidup miskin. Suaminya hanya meninggalkan sebuah rumah dan seorang budak, Barakah Al-Habsyiyah (Ummu Aiman). Sementara sudah menjadi kebiasaan bangsawan Arab waktu itu, bayi yang baru dilahirkan akan disusukan kepada wanita lain.

Wanita yang dipilih biasanya adalah wanita dusun. Alasannya supaya si anak dapat hidup di alam yang segar dan mempelajari bahasa Arab yang baku.

Menunggu jasa wanita yang menyusui, Aminah menyusui sendiri Muhammad kecil, selama tiga hari. Lalu dilanjutkan oleh Tsuwaibah, budak Abu Lahab, paman Nabi Muhammad.

Kemudian Muhammad dan bayi kalangan terpandang Arab akan disusui oleh murdi’at (para wanita yang menyusui bayi). Muhammad ditawarkan kepada murdi’at dari Bani Sa’ad yang sengaja datang ke Makkah mencari bayi-bayi yang masih menyusu dengan harapan mendapat bayaran dan hadiah.

Namun, mereka menolak karena Muhammad adalah anak yatim. Tapi, di antara mereka ada Halimah Sadiyah yang belum mendapatkan seorang bayi yang akan disusui. Karena itu, ia mengambil Muhammad sebagai anak susuannya.

Membawa berkah
Halimah (yang berarti lemah lembut) lantas membawa Muhammad ke dusunnya. Keberadaan Muhammad kecil memberi berkah kepada keluarga Halimah, bahkan bagi kabilahnya.

Semula, Halimah hidup serba kekurangan. Tapi semenjak mengasuh Rasulullah, kehidupan rumah tangga Halimah berubah total. Keluarga tersebut kini hidup penuh kedamaian, kegembiraan, dan berkecukupan.

Dua tahun kemudian, Halimah membawa Muhammad kecil mengunjungi ibunya. Halimah memohon agar Muhammad diizinkan tinggal kembali bersama Bani Sa’ad. Aminah pun menyetujui.

Selama empat tahun Muhammad bersama mereka kembali. Dusun itu bertambah keberkahan. Domba-domba yang dipelihara Halimah menjadi gemuk dan banyak memberikan air susu walaupun rumput di daerah mereka tetap gersang.

Karena itulah, warga menyuruh anak-anak menggembalakan domba-domba mereka di dekat domba milik Halimah. Harapannya agar domba milik mereka bisa berubah gemuk dan mengeluarkan banyak susu.

Selain itu, saat mengambil Muhammad sebagai anak susuan, susu Halimah bertambah banyak. Ia pun heran. Sebab, selama ini susunya bukan tidak ada tapi tidak begitu banyak. Namun, semenjak mengasuh anak Fatimah, air susunya berlimpah.

Anehnya lagi ketika sudah menyusu di susu sebelah dan hendak diberikan sebelah lain lagi, Muhammad menutup mulut kuat-kuat. Halimah faham Muhammad menginginkan susu yang sebelah adalah untuk saudara sesusuannya, Damrah.

Sejak kecil Allah SWT memang sudah memasukkan jiwa keadilan pada Muhammad kecil, dia tidak ingin mengambil bagian yang bukan untuknya. Muhammad pun tak pernah menangis, tidak seperti anak kecil lainya yang pasti menangis.

Muhammad cilik baru dikembalikan ke Makkah setelah terjadi peristiwa pembelahan dada. Suatu hari, dua malaikat datang menghampirinya dengan membawa bejana emas berisi es. Mereka membelah dada Muhammad dan mengeluarkan hatinya.

Hati itu dibedah dan dikeluarkanlah gumpalan darah yang berwarna hitam. Kemudian dicuci dengan es. Setelah itu dikembalikan seperti semula. Mendengar itu, Halimah khawatir dengan keselamatan Muhammad cilik. Ia dan suaminya sepakat mengembalikannya kepada ibunya.

Setelah diserahkan, Halimah sudah tidak mengetahui lagi kabar tentang Muhammad, sebab untuk mendapat informasi di zaman itu sangatlah susah. Baru ketika usia Muhammad 40 tahun, terdengarlah berita oleh Halimah, rupanya anak susuannya menjadi Rasul Allah.

Namun, dia kesulitan menemui Rasulullah SAW. Halimah memeluk Islam dari orang lain dan bukan dari Rasulullah SAW. Hingga suatu hari akhirnya Halimah dapat berjumpa kembali dengan Rasulullah SAW.

Halimah pun merasakan kebahagiaan luar biasa. Selepas itu Halimah meninggal dunia. Itulah terakhir kalinya dia berjumpa dengan Rasulullah SAW, putra susuannya itu. c81/berbagai sumber

REPUBLIKA, Jumat, 02 Oktober 2009 pukul 01:34:00

Syawal, Sejarah Islam

 

LAPORAN UTAMA

Syawal dalam Pusaran Sejarah Islam

Dahulu, kaum Jahiliyah justru tidak menyukai bulan Syawal.

Selamat datang di bulan Syawal. Inilah bulan kesepuluh dalam penanggalan Hijriyah yang penuh keutamaan dan keistimewaan. Berada tepat di belakang bulan Ramadhan, kalangan ulama dan fukaha pun menilai Syawal sebagai bulan pelaksanaan konsep Idul Fitri yang bermakna kembali ke fitrah.

Secara harfiah, Syawal berarti peningkatan. Hal ini mengandung makna bahwa segala pelatihan amal, ibadah maupun  tuntunan yang dijalankan selama sebulan penuh ketika Ramadhan, hendaknya dapat dilipatgandakan kualitas dan kuantitasnya pada bulan ini.

Maka tidaklah berlebihan jika kemudian bulan Syawal memiliki kedudukan khusus pada ruang keimanan umat. Terlebih lagi, ketika sebagian ulama juga melihat bahwa Syawal akan menjadi momen pembuktian berhasil tidaknya ibadah Ramadhan.

Keistimewaan Syawal semakin nyata dengan anjuran berpuasa sunah selama enam hari. Rasulullah SAW sangat menekankan ibadah ini, dan dibuktikan dengan banyaknya hadis terkait amalan puasa tersebut.

Tiada keraguan terhadap kemuliaan Syawal. Hal tersebut amatlah berbanding terbalik dengan ketika Islam belum berkembang. Persisnya pada masa Jahiliyah. Masyarakat pra-Islam ketika itu sangat membeci datangannya bulan Syawal. Mereka memiliki pengalaman buruk dengan Syawal.

Allah SWT pernah menurunkan azab berupa wabah penyakit yang penyebarannya amat luas hingga menyebabkan banyak kematian. Karenanya, masyarakat Jahiliyah kerap menghindari untuk melakukan kegiatan besar atau istimewa di bulan ini. Salah satunya adalah menggelar pesta pernikahan, pasalnya saat wabah penyakit merebak banyak pula calon pengantin yang
terkena dampaknya.

Status bulan Syawal kemudian berubah menjadi mulia dan istimewa ketika ajaran Islam mulai disemai Rasulullah SAW.  Budaya dan tradisi Jahiliyah itu sirna  seiring meluasnya pengaruh Islam di Jazirah Arab.

Seperti diuraikan Imam an-Nawawi, mengutip salah satu hadis yang diriwayatkan Aisyah RA bahwa Rasulullah SAW menunjukkan Syawal sebagai bulan yang baik untuk menikah. Pada bulan Syawal inilah, Rasulullah SAW menikah dengan Aisyah, putri Abu Bakar sahabatnya. Pada bulan ini pula, keduanya mulai hidup bersama.

Selain itu, sejarah awal Islam juga mencatat sejumlah peristiwa serta momen penting yang terjadi di bulan Syawal. Beberapa di antaranya bahkan memiliki pengaruh kuat terhadap keberhasilan pengembangan  agama Islam di fase berikutnya.
 
Salah satu peristiwa penting dalam sejarah Islam yang terjadi pada Syawal adalah Perang Uhud. Inilah pertempuran yang memberikan pelajaran berharga bagi umat akan pentingnya menjaga ketaatan kepada perintah Rasulullah. Perang Uhud  berkecamuk pada 15 Syawal 3 H atau Ahad 31 Maret 625 M.

Kemenangan yang hampir diraih umat Islam dalam pertempuran itu berbalik menjadi sebuah kekalahan. Berawal saat pasukan panah yang diperintahkan Rasulullah  untuk bersiaga di bukit Uhud, justru meninggalkan posnya karena tergiur rampasan perang.

Tak ayal, kondisi ini dimanfaatkan oleh pasukan berkuda Quraisy, pimpinan Khalid bin Walid (ketika itu belum masuk Islam), untuk menggempur pasukan Muslim yang lengah. Akibatnya, banyak pasukan Islam menjadi syuhada. Allah SWT pun langsung menegur umat Muslim yang telah mengabaikan perintah Rasul-Nya.

Allah SWT berfirman dan surat Ali Imran ayat 165, ”Dan mengapa kamu  (heran) ketika ditimpa musibah (kekalahan Perang Uhud), padahal kamu telah menimpakan kekalahan dua kali lipat (kepada musuh-musuhmu pada Perang Badar), kamu berkata, “Dari mana datangnya (kekalahan) ini?” Katakanlah, “Itu dari (kesalahan) dirimu sendiri”. Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.”

Peristiwa penting lainnya yang terjadi di bulan Syawal adalah terjadinya Perang Bani Qainuqa. Di sini, pasukan Islam pimpinan Rasulullah memerangi kaum Yahudi lantaran mereka memusuhi kaum Muslim. Mereka juga yang pertama  mengkhianati perjanjian yang dibuat kedua pihak.
 
Sejarah Islam juga mencatat beberapa perang besar lainnya di  bulan Syawal ini. Di antaranya adalah Perang Bani Sulaim dii Kudri, Perang Hamro-al-asad setelah Perang Uhud, Perang Khandaq (5 Hijriyah), Perang Hunain (8 H) usai Fathu Makkah, serta Perang Tha’if.

Ada pula peristiwa non-peperangan yang patut menjadi perhatian karena keistimewaannya. Pernikahan Rasulullah dengan Aisyah ra dan Ummu Salamah merupakan salah satunya. Tercatat pula kelahiran Abdullah bin Zubair ra, dialah bayi  pertama kaum Muhajirin yang lahir di Madinah (1 Hijriyah).

Imam Bukhari juga diketahui dilahirkan pada bulan Syawal, yakni tahun 194 Hijriyah. Beliau wafat pada tahun 256 H yakni di malam Idul Fitri dan dimakamkan pada hari raya 1 Syawal.  Syawal, inilah bulan pembuktian.  yus/berbagai sumber

REPUBLIKA, Jumat, 02 Oktober 2009 pukul 01:33:00

Shalat Malam

 

LAPORAN UTAMA

Shalat Malam Hingga Menjaga Kesabaran
Kerinduan terhadap Ramadhan ditutupi dengan meningkatkan amal ibadah di bulan Syawal.

Begitu banyak hikmah yang bisa dipetik umat Muslim selama menunaikan shaum Ramadhan. Tak terkecuali kalangan selebritis. Mereka pun merasakan berapa bermaknanya pelatihan dan gemblengan yang dilalui selama berpuasa satu bulan penuh. Ruh Ramadhan ternyata tetap mereka pelihara, meski Ramadhan telah berlalu. Bagaimana kalangan selebritis memaknai bulan Syawal?

Okky Asokawati
Model dan Peragawati

Pelatihan ruhaniyah yang ditempuhnya selama Ramadhan terasa begitu bermakna. Model dan peragawi kondang, Okky Asokawati mengaku bersyukur, karena Sang Khalik masih memberinya kekuatan untuk tetap beribadah, meski Ramadhan telah berakhir. “Sebab, ibadah itu kebutuhan kita sendiri,” ungkap bintang iklan yang lahir di Jakarta, 6 Maret 1961 itu.
Okky berupaya untuk tetap menghadirkan suasana Ramadhan dalam kehidupan sehari-hari. Ia menghidupkan ruh Ramadhan dengan menunaikan puasa sunah. Selain itu, ia juga tetap memelihara ibadah sosial seperti sedekah dan zakat. “Insya Allah, zakat minimal 2,5 persen tetap saya lakukan setiap bulan, meski Ramadhan telah berlalu,” kata pendiri sekolah model, OQ Modeling itu.

Opick
Penyanyi

Penyanyi religi Aunur Rofiq Lil Firdaus atau Opick mengaku sangat berat harus berpisah dengan Ramadhan, bulan suci yang penuh keberkahan. Karenanya, ia senantiasa merindukan datangnya bulan yang mulia dan agung itu. Kerinduannya dipenuhinya dengan memelihara ibadah yang dilakukan selama Ramadhan.
Opick mengaku melanjutkannya dengan puasa Syawal. Meski tak berurutan, ibadah sunah itu tetap ditunaikannya. Selain puasa sunah, pencipta lagu dan penyanyi religi, mengaku berusaha untuk tetap istiqamah menjalankan ibadah-ibadah sunah seperti shalat malam dan shalat dhuha.

Oki Setiana Dewi
Aktris

Seakan berpisah dengan kekasih, pemeran utama wanita dalam Film Ketika Cinta Bertasbih, Oki Setiana Dewi merasa kangen dengan bulan Ramadhan. Kerinduannya   terhadap Ramadhan ditutupinya dengan meningkatkan ibadah di bulan Syawal.
Saking cintanya kepada Ramadhan, di tengah kesibukannya,  dara yang lahir di Batam, 13 Januari 1989 itu, mengaku tak meninggalkan puasa Syawal selama enam hari.  Selain berpuasa Syawal,  Oki  bertekad untuk memperbaiki diri ketika memasuki bulan Syawal. “Agar suasana beribadah di bulan Ramadhan, masih terasa di sebelas bulan berikutnya,”  tuturnya.

Helmalia Putri
Pemain Sinetron

Bagi pemain sinetron, Helmalia Putri, suasana Ramadhan masih terasa di  bulan Syawal ini. “Suasana Ramadhan masih terasa,” ungkap wanita kelahiran 13 April 1983 itu.  Namun, menurut Helmalia, ada yang berbeda di bulan Syawal ini, yaitu tidak ada lagi shalat tarawih yang hanya ada di bulan Ramadhan.
Putri kedua pasangan Helmi Yusuf (alm) dan Esmaliawati itu  berharap, nuansa beribadah di bulan Ramadhan masih melekat di bulan-bulan sebelumnya. Makna puasa Ramadhan, terus dipelihara dalam dirinya, meski bulan yang agung itu telah berlalu. Ia senantiasa berupaya untuk menjaga kepekaan sosial serta menjaga kesabaran, agar semangat Ramadhan tetap hidup pada Syawal dan bulan berikutnya.  c81

REPUBLIKA, Jumat, 02 Oktober 2009 pukul 01:30:00

Kepekaan Ramadhan

 

SILATURAHIM

Melatih Kepekaan Seusai Ramadhan

“Ini adalah modal untuk menjalani sisa bulan di luar Ramadhan.”

Banyak cara untuk melatih kepekaan terhadap sesama, salah satunya seperti yang dilakukan oleh pengajian Ikatan Istri Dokter Indonesia (IIDI) Kota Bogor, Jawa Barat. Kelompok tersebut belum lama ini menyelenggarakan bazar murah yang ditujukan untuk masyarakat yang tak mampu.

Menurut Koordinator Lapangan, Susi Hasan, kegiatan tersebut bertujuan untuk melatih kepekaan para anggota IIDI untuk saling berbagi dengan sesama yang membutuhkan. Meskipun kegiatan itu dilakukan di bulan Ramadhan, para anggotanya diharapkan dapat menjaga kepekaan terhadap mereka yang tak berpunya di bulanbulan lainnya.

Bazar yang kali ini memasuki ta hun ketiga tersebut menjajakan berbagai barang mulai dari pakaian, aksesoris, perlengkapan shalat, makan an hingga sembako murah. Mayoritas barangbarang ini merupakan sum bang an dari para anggota IIDI Kota Bo gor yang beranggotakan sekitar 50 orang.

Dari sumbangan tersebut, terkumpul berbagai barang seperti pakaian layak pakai, sajadah, tas, hingga barang pecah-belah seperti mangkok, hingga blender yang seringkali diterima anggota dari parcel lebaran yang datang setiap tahun.

Dalam bazar tersebut, perkumpulan ini juga mengadakan sembako murah yaitu dengan menjual paket berisi beras, minyak goreng, gula dan kecap seharga Rp 45 ribu yang dijual setengah harga yaitu hanya Rp 25 ribu. Pihak panitia menyiapkan 200 paket sembako murah yang disambut antusias oleh masyarakat.

Dana yang terkumpul dari hasil bazar tersebut disalurkan kembali kepada kaum dhuafa dan lansia yang tinggal di sekitar. “Kita mencoba membagi rasa, agar lebih peka terhadap sesama. Ini adalah modal untuk menjalani sisa bulan di luar Ramadhan,” ungkap salah satu anggota, Yuyun Ezzeddin.

Kepekaan terhadap sesama tidak hanya dilakukan ketika bulan Ramadhan datang. Hal ini dibuktikan dengan menyelenggarakan berbagai kegiatan amal dan sosial di bulanbulan lainnya.

Menurut Yuyun, pengajian IIDI Kota Bogor juga kerap menyantuni anak yatim dan mengelola posyandu binaan. Selain itu, pengajian ini setiap bulannya juga menggelar pemeriksaan kesehatan kaum lansi di kota Bogor. mth

03
Oct
09

Warisan : Malaysia Patenkan Tumpeng, Ketupat dan Gamelan

Paten Malaysia

By Republika Newsroom
Senin, 28 September 2009 pukul 15:05:00
SOLOPOS.COM 

KUALA LUMPUR–Malaysia semakin gencar mematenkan warisan kebangsaan ‘truly Malaysia’. Hingga 13 Mei 2009, statistik daftar warisan kebangsaan Malaysia mendaftarkan berbagai macam makanan hingga kebudayaan, termasuk ketupat, nasi tumpeng, wayang kulit, dan gamelan.

Seperti dilansir situs resmi pemerintah Malaysia, warisan.gov.my, Senin (28/9), warisan kebangsaan Malaysia itu terdiri atas tiga bagian, yakni tapak warisan, obyek, dan orang hidup. Untuk kategori tapak warisan berisi bangunan-bangunan bersejarah dengan nilai arkeologi yang tinggi. Untuk kategori oyjek warisan berisi daftar makanan, kesenian, kebudayaan, hingga lukisan berharga asli Malaysia.

Sedangkan kategori orang hidup berisi tokoh-tokoh penting Malaysia yang masih hidup. Tokoh-tokoh itu dinilai memiliki peran sangat penting terhadap nilai sejarah Malaysia.

Untuk kategori warisan obyek kebangsaan, sebagian besar didaftarkan akhir 2008 dan awal 2009. Warisan kebangsaan Malaysia yang didaftarkan pada 25 Desember 2008, antara lain nasi tumpeng, ketupat, air kelapa, tempoya, lemang, sate, dodol, bubur sum-sum, dan bubur kacang hijau.

Wayang Kulit terdaftar dengan nomor P.U.(A) 85, sedangkan Gamelan nomor P.U.(A) 78. Gamelan yang ada di Malaysia sama dengan gamelan yang berasal dari Jawa. Alat-alatnya terdiri dari Gong Agong, Gong Sawokan, Gendang Ibu, Gendang Anak, Saron. Dilihat dari sejarahnya, gamelan di Malaysia kali pertamanya diperkenalkan di Pahang, saat pemerintahan Sultan Ahmad Muaddzam Shah. Permaisurinya, Fatimah dan istri kedua Sultan, Che Bedah ikut berperan menyebarkan gamelan.

Sekitar tahun 1913, gamelan menyebar ke Terengganu, dibawa oleh putri Sultan Pahang, Mariam yang menikah dengan Sultan Terengganu saat itu, Sultan Sulaiman Badrul Alam Syah. Sultan Sulaiman bahkan menciptakan berbagai lagu dan tarian, termasuk lambang sari, geliung, ketam renjong, togok, gagak seteru, lancang kuning, dan sebagainya. ant/eye

Berikut daftar kesenian dan budaya Malaysia yang didaftarkan pada 23 Februari 2009:

1.   Boria
2.   Tarian Zapin
3.   Gamelan
4.   Tarian Bhangra – Kaum Sikh
5.   Tarian Bharata Natyam – Kaum India
6.   Gendang Dua Puluh Empat Perayaan (Gendang Cina)
7.   Dikir Barat
8.   Pantun Melayu
9.   Syair
11. Tulisan Jawi
12. Wau Malaysia
13. Congkak
14. Gasing
15. Wayang Kulit, didaftarkan pada 26 Februari 2009

03
Oct
09

Wisata Sejarah : Anatomi Dibalik G30S

Anatomi Dibalik G30S

Oleh: Arnold Lukito

http://www.indonesiamedia.com/2009/8/mid/sejarah/Anatomi.htm part 1
http://indonesiamedia.com/2009/08/30/anatomi-dibalik-g-30-s-2/
http://indonesiamedia.com/2009/09/23/anatomi-dibalik-g30s-%e2%80%93-bagian-ke-3/

Dimulai dengan adanya politikal konfrontasi antara Sukarno dengan Malaysia, yang didukung oleh Australia dan Inggris, saat itu memiliki investasi modal yang sangat besar di Indonesia. Lalu dilanjutkan tindakan “nasionalisasi” atau penyitaan perusahaan-perusahaan Inggris mencapai jumlah total US$400 million.

Saat itu seluruh investasi modal Amerika juga terancam akan disita, bahkan hampir separuhnya sudah direbut oleh PKI. Tindakan ini adalah balasan atas serangan Amerika terhadap komunis di Vietnam Selatan, setelah G-30-S di padamkan perusahaan-perusahaan itu kemudian dikelolah oleh pimpinan militer sebagai “bisnis ABRI”.

optimized_image_09858844

Setelah terjadi G30S, Indonesia mulai mengembalikan seluruh perusahaan investasi asing yang bergerak didalam sumber bahan mentah dan hasil alam, dari minyak, karet, kopi, dan teh, kepada negara seperti Belanda, Inggris dan Amerika, dll.

Kudeta dengan menggunakan G30S berjalan lancar, dan bersamaan dengan pembantaian PKI, dilihat oleh pihak asing berhasil melancarkan kembali bisnis investasi modal. Bahkan Indonesia menciptakan “UU Investasi Asing pada Januari 1967″, yang menjamin seluruh penanaman modal luar negeri di Indonesia, termasuk adanya bantuan militer, dan perlindungan Armada 7 dari ancaman masuknya ideologi komunisme.

Perusahaan perusahaan konglomerat Amerika sangat berpengaruh, menyadari potensi strategis dari Indonesia, dengan menggunakan kekuatan lobby, mereka mendiktekan mandat politik luar negeri Amerika di Washington untuk Indonesia.
Hasilnya mendorong terjadinya kudeta G30S yang berhasil memperkuat posisi investasi modal kapitalisme dan kekuatan militer Amerika di Asia Tenggara, setelah PKI ditaklukan.
Dari Chase Manhattan Bank, Freeport di Irian Barat, kebun karet ban mobil Goodyear di Sumatra, Unilever, Palmolive dan Lux di Jakarta, Uniroyal, Union Carbide, pabrik mesin jahit Singer dan National Cash Register, Tenneco, menerima kembali hak miliknya.  Tidak ketinggalan  hampir seluruh perusahaan minyak dari Arco, Caltex, Exxon, Chevron, Shell. Mobil Oil, keuntungan perusahaan-perusahaan ini berlipat ganda sejak Presiden Suharto berkuasa.ciacoinb1

Karena adanya ancaman kehilangan investasi modal yang sangat besar atas sikap politik Sukarno yang sedang kampanye ganyang Malaysia dan anti barat, maka masalah ini dibahas oleh Attorney General Kennedy pada tahun 1961. Lalu dilanjutkan dengan aksi politik dimulai sejak bulan March 4, 1964. Komite 303 memberikan aksi proposal untuk merencanakan “covert action” melibatkan para individual dan group yang telah disiapkan untuk melakukan gerakan darurat di Indonesia. Beberapa bulan kemudian aksi proposal ini dilanjutkan pada musim panas 1964, berkerjasama dengan Foreign Office, mengesahkan aksi politik resolusi untuk Indonesia. Tujuan pemerintah Amerika menciptakan koalisi dan mendukung individual-individual dan golongan-golongan anti- komunis sebagai kaki tangan dan ujung tombak di Indonesia.be046974ih3

Kemudian propaganda inipun diikuti dengan kampanye anti-pemerintah RRT, dan juga anti suku Tionghoa, agar pembantaian PKI berjalan lancar. Program ini dikoordinasikan di Washington Foreign Office bagian Asia Tenggara dan juga dengan U.S. Ambassador untuk Indonesia pada saat itu, Marshall Green.  Rencana ini melibatkan individual yang akan ditunjuk sebagai liason antara US Embassy dan golongan anti komunis, pemberian dana untuk covert-action.

Dari aksi politik dilanjutkan dengan aksi militer dilapangan: Seorang anggota pasukan dari US Marines Fleet Forces pada tahun 1986, pernah bercerita setelah terjadinya penculikan G30S di Jakarta,  bersama Armada 7 sekitar tahun 1965 mendarat di Tanjung Priok kurang lebih seminggu dalam tugas “search and rescue”, untuk menyelamatkan warga Amerika didalam keadaan krisis di Jakarta.  Juga bersamaan dengan pemberian bantuan M-16 untuk menumpas gerakan komunis.sukarjfk

CIA mengakui kejadian G30S adalah aksi yang paling berhasil dan seringkali dijadikan contoh model untuk kegiatan insurgency di Asia dan beberapa negara Amerika Latin. (Southwood and Flanagan: Indonesia: Law, Propaganda, and Terror, 1983, # 36)
Beberapa ahli menekankan cara pola rencana CIA di Laos, Guatemala, Philipine, Argentina, Brazil, Pre-Sandanista Nicaragua, Chile, Zaire, dan di Indonesia dalam G30S pun terlihat adanya persamaan taktik “menciptakan friksi adu domba” diantara beberapa kekuatan badan politik dan 4 golongan kekuatan yang mendukung Jenderal Yani/Nasution vs PKI, pendukung kubu dukungan CIA: Jenderal Soeharto, dan kubu kekuatan terakhir Presiden Sukarno.be062290el0

Langkah-langkah skenario badan intelijen asing:
1. Dengan psychological propaganda membuat rumor bahwa komunis semakin berambisi, lawan politik Sukarno, yang sangat tinggi nasionalismnya. Digunakan oleh negara China untuk menguasai negara Indonesia.
2. Memberikan bantuan terhadap individual-individual dan kelompok-kelompok yang mampu dan siap untuk menghancurkan golongan komunis.
3. Mendukung kelompok anti Komunis (Dewan Jenderal) didalam lingkungan Presiden Sukarno dengan konsep jelas, yang akan menyatukan kelompok yang tidak mendukung fraksi-fraksi komunis dan menciptakan jurang antara PKI dan majoritas warga Indonesia.
4. Menunjuk dan membimbing calon pemimpin Indonesia yang telah ditunjuk untuk mengambil kuasa setelah “military covert action”: Kudeta G30S selesai, PKI dihancurkan, dan siapa yang akan memimpin Indonesia bila Sukarno tewas, maupun disingkirkan dari posisi kedudukan sebagai Presiden Indonesia.
5. Meneliti, memberikan evaluasi, dan memonitor kegiatan kelompok yang anti Sukarno, gunanya untuk mempengaruhi group itu agar selanjutnya, mendukung Presiden anti komunis yang Amerika sudah persiapkan.
6. Secara publik Amerika mendukung group I: Perwira-perwira tinggi pro Western sebagai kelompok anti komunis, dirumorkan sebagai Dewan Jenderal, yang akan melakukan kudeta pada 5 Oktober 1965.
7. Namun dibalik group I, secara rahasia badan intelijen asing  juga mendanai group II, tanpa sepengetahuan Dewan Jenderal, maupun publik, menunjuk Suharto sebagai pewaris kuasa negara Indonesia,  untuk menggantikan Presiden Sukarno. Dibalik layar Suharto berkerjasama dengan US mendukung diciptakannya Dewan Revolusi bersama orang kepercayaanya yaitu: BrigJen Supardjo sebagai Teknikal Komando, Kolonel Suherman, Kolonel Marjono, LetKol Usman Sastrodibroto, Mayor Sujono, Kolonel Latief, LetKol Untung, didukung 5 dari 7 batalion Diponegoro dan juga Brawijaya. Dikemudian hari Suharto menyiapkan TNI RPKAD dibawah pimpinan Kolonel Sarwo Edhie Wibisono, berkerja sama dengan 4 Ketua Nadhatul Ulama, dan pemuda Ansor, sebagai bagian dari pembersihan komunis Indonesia.16581394
8. Setelah CIA berhasil mengontrol 4 kubu kekuatan yang berlawanan, maka dilanjutkan dengan menciptakan “trigger-point untuk menciptakan Domino effects”” agar terjadi konflik perebutan kekuasaan didalam negara Indonesia, dengan cara membocorkan sebuah “dokumen penting” pada September 14, 1965. Intinya bahwa Dewan Jenderal akan melakukan Kudeta pada 5 Oktober 1965. Kemudian pemimpin ABRI melakukan rapat emergency pada tanggal 18 September membahas kebenaran rumor dan tindakan apa yang harus dilakukan, dan rapat terakhir dilakukan pada September 30.
9. Dewan Revolusi yang dikepalai oleh LetKol Untung diberikan lampu hijau untuk melakukan counter-kudeta terhadap Dewan Jenderal pada 30 September, dengan menggunakan nama Presiden Sukarno sebagai alasan untuk menculik.
10. Melibatkan keberadaan “2000 low level PKI” di Halim, didalam kejadian G30S, sebagai alasan keterlibatan komunis dalam G30S, diikuti oleh propaganda, fitnah dan penghianatan.

Pada bulan November 1965, Suharto mengesahkan Tim Pembersih Khusus dipimpin Kolonel Sarwo Edhie Wibowo untuk menumpas PKI, dilanjutkan dengan pembataian masal yang dimulai dengan pemberian “5000 hit lists” dari pihak Amerika. Dimana dikatakan adanya pengecekan daftar nama yang sudah dieliminasi.  Pemberian sejumlah radio telekomunikasi dari Amerika dan British, tanpa sepengetahuan pihak Indonesia, bahwa frequenzynya secara rahasia dimonitor. Seluruh percakapan dalam radio, selama perencanaan, serta perintah komando dan pembantaian PKI terjadi, didengarkan oleh British inteligen. Komunikasi itu dimonitor selama setahun, dan diterjemahkan oleh British MI6 di Phoenix Park, Singapore, dan British Hong Kong Head Quarters. G30 S telah berlalu, komunism dan sosialism dihancurkan, tembok Berlin telah diruntuhkan pada 1989, Soviet Union terpecah belah, Presiden Boneka Suharto pun akhirnya telah digulingkan.300px-ahnasution1965

Walaupun CIA telah mengeluarkan ”blacked-out” dokumen pada 1998 mengenai kejadian 30 September, dan pada tahun 2007, Presiden Suharto Authorized Biography pun memberikan opini mengenai Kudeta G30S, namun inti tulisan dari seluruh sumber buku itu terjadi “conflict of interests”, bertentangan dengan banyak fakta bukti-bukti dilapangan yang ada dan telah dianalisa oleh para ahli dokter forensik, bahkan buku dan kesaksiannya mudah sekali dituduh sebagai lanjutan fabrikasi dari kejadian yang sebenarnya. Terutama buku Suharto’s Authorized Biography lebih menitik beratkan bahwa dirinya sebagai pahlawan bangsa dan kuatnya keterlibatan PKI didalam G30S, akan tetapi kurang dapat memberikan bukti-bukti keterlibatan PKI secara langsung, selain hanya alegasi politikal motive, bahkan Suharto dalam buku itu terlihat berusaha keras menutupi keterlibatan dirinya didalam aksi rencana awal G30S. Sedangkan hampir selusin buku yang ditulis diluar Indonesia intinya adalah hypothesis yang mejelaskan bahwa PKI dan Presiden Sukarno adalah pihak yang menjadi korban perebutan kekuasaan didalam negara Indonesia, dengan MayJen Suharto sebagai pewaris kuasa satu-satunya, yang mengenal dengan baik seluruh pelaku konspirator G30S, dan secara rahasia terlibat dari awal sampai akhir didalam melaksanakan sinkronisasi rencana US untuk menggulingkan Presiden Sukarno.

Pada tanggal 30 September 1965, Presiden Sukarno memberikan pidato Musyawarah Besar Teknik(Mubestek) di Stadium Senayan, setelah itu pulang menemui Dewi Sukarno. Menurut informasi yang didapat LetKol Untung mengejar kendaraan Presiden, dan membawa Presiden keliling melewati Istana Merdeka dengan memberikan informasi bahwa Istana Merdeka sudah dikelilingi oleh pasukan-pasukan dari luar daerah, padahal mereka adalah pasukan Tjakrabirawa. Lalu mengusulkan untuk ke Halim dengan alasan keselamatan dan nyawanya terancam. Akan tetapi banyak yang spekulasi bahwa LetKol Untung mencoba memenuhi rencana awal yang akan mengindikasikan bahwa Presiden Sukarno adalah bagian dari perencana G30S, dan menggunakan Halim sebagai Markas Operasi.

Beberapa urutan kejadian pada October 1, 1965 dan bulan-bulan berikutnya terlihat sangat jelas tetapi cerita detail penculikan masih tetap menjadi misteri, artikel ini akan berusaha merekonstruksi kejadian semaksimal mungkin, walaupun banyak data yang telah hilang didunia politik Indonesia. Yang pasti para Dewan Jenderal telah diculik dan dibunuh pada malam September 30, 1965. Dilanjutkan dengan tuduhan terhadap warga Indonesia termasuk etnis Tionghoa (Southwood and Flanagan: Indonesia: Law, Propaganda, and Terror, 1983, # 53) sebagai anggota PKI, tanpa adanya pengadilan resmi, majoritas dibantai menggunakan pisau dan golok, sebagaian dianiyaya, ada yang dipaksa menggali kuburan masal, dan juga ada yang dilemparkan kedalam goa, namun banyak korban yang dibuang kekali, kejadian ini berlaku diseluruh pelosok Indonesia akan tetapi kebanyakan di Jawa Tengah, Jawa Timur, Aceh, dan Bali. Kudeta ini sangat mudah dilakukan, karena terjadinya legitimasi propaganda media dan badan inteligen.g-30-spki

Pagi hari 1 Oktober satu group pimpinan TNI melakukan pelanggaran manusia, melakukan summary executions, pembunuhan systematic, penyiksaan, untuk mendukung kekuatan politik Suharto dan dalam usaha mengambil alih kuasa ABRI saat itu (Southwood and Flanagan: Indonesia: Law, Propaganda, and Terror, 1983, # 49)
Counter Kudeta ini menggunakan kekuatan militer dengan alasan menghancurkan kaum komunis, yang sangat kritikal dengan terjadinya korupsi didalam tubuh Bisnis TNI pada tahun 60an. Akan tetapi Suharto dengan cepat menyusun kekuatan dalam waktu 4 bulan didalam sejarah pembantaian rakyat Indonesia yang sangat keji.(Chomsky, Noam and Herman16581231, Edward S. The Washington Connection and Third World Fascism, 1979, #206)

Sejarah politik Indonesia sejak 1965 adalah politik pelanggaran HAM, warga menghilang diculik, mahasiswa meninggal secara misterious seperti kecelakaan, dan segala macam kejadian. Kekejian teror yang membuta bukanlah cara efektif negara untuk menaklukan warga Indonesia sendiri. Bahkan rezim yang paling brutal akan memanipulasi hukum seperti Nazi Germany, dan Stalin di Russia tidak terkecuali, termasuk Suharto. Akan tetapi UU negara melegalisasikan “martial law” KOMKAMTIB (Bunge, Frederica M: Indonesia: A Country Study. Wasington HQ, Dept of the Army 1983) sebagai Dwi-Fungsi ABRI “organisasi state teror” memang dimaksudkan untuk mendukung kebijaksanaan Suharto. Total jumlah korbanpun tidak dapat dipastikan tapi diperkirakan dari 1-3 juta korban, sebagai Genocide kedua terbesar setelah korban Nazi dalam Perang Dunia II.

Sukarno seorang kharismatik, Bapak Kemerdekaan Indonesia, sudah memimpin hampir 20 tahun. Sukarno secara politik bermain mata diantara 2 ideologi: dunia barat dan blok sosialis/komunis. Dengan cerdiknya menciptakan ideologi baru; Nasakom, singkatan dari nationalism, agama dan komunis. Saat itu Partai Komunis Indonesia sangat kuat. Dikatakan memiliki 3 juta anggota dengan 10 juta pendukung, menjadikan PKI nomor 4 di Indonesia dan partai komunis yang berpengaruh diluar China dan USSR. PKI secara umum mendapat dukungan politik Presiden Sukarno, akan tetapi tidak membuat dirinya sebagai seorang komunis sejati. sukarno-suhartoWalaupun Sukarno adalah Presiden seumur hidup namun tidak memiliki kekuatan untuk menjadikan dirinya seorang diktator. Pihak militer dan pemegang elite politik mampu membatasi langkah kekuasannya. Lebih lanjut para pemegang kuasa militer seperti loose cannon “mereka dapat bertindak tanpa persetujuan dari Presiden Indonesia”, seperti menghentikan demonstrasi, menutup penerbitan surat kabar, menculik, dan melakukan penyiksaan didalam interogasi terhadap pemimpin oposisi politik dan ketua PKI.

Sukarno mendirikan PNI ditahun 1927, partai ini dilarang Belanda. Sebagai ketua partai, dipenjarakan oleh pemerintah pada tahun 1930, setahun kemudian dibebaskan. Partai ini lalu dibubarkan tahun 1945, setelah Indonesia merdeka, karena adanya perbedaan pendapat, dianggap kurang diperlukan?
Kemudian pada tahun 1947-1948 PNI diaktifkan kembali. Kepemimpinan PNI tidak lagi diurus oleh Sukarno, dan para pemimpin PNI didaerah-daerah, majoritas mendukung ideologi komunis, pada 1965 sekretaris jenderal PNI dan banyak dari para anggota menjadi target dan korban pembunuhan masal, dianggap pendukung PKI.

Sebagai Presiden Indonesia yang dikatakan memiliki IQ sangat tinggi, tetapi Sukarno tidak memiliki partai politik, dan tergantung terhadap keberadaan PKI untuk kebijaksaan politik di Indonesia, badan intelijen asing pun menilai MenLu Dr Subandrio adalah pewaris kuasa Sukarno yang tidak disukai Amerika karena mendukung ideologi komunisme. Sukarno seringkali mengatakan setelah Indonesia merdeka dari Belanda bukan berarti akhir dari pergolakan politik didalam tanah air. Selalu didalam pidatonya mengingatkan seluruh rakyat Indonesia perlunya kelanjutan dari kemerdekaan untuk menciptakan negara adil sejahtera, dan makmur. Namun orasinya meninggalkan persepsi dan definisi berlainan diantara seluruh rakyat Indonesia juga terhadap badan intelijen asing yang selalu melakukan analisa politik terhadap apa yang diucapkan dan apa yang akan dilakukan oleh Presiden Sukarno selanjutnya. Tingkah laku Sukarno sangat meresahkan pemimpin-pemimpin negara barat, bahwa PKI akan menjadikan Indonesia berideologi Sosialisme/Komunisme (“ekonomi kerakyatan” sosialisme/komunisme dijanjikan oleh Mega/Prabowo dalam Pemilu 2009).suharto_01

Sukarno berhasil mengalahkan PKI dalam konfrontasi ditahun 1948. Namun PKI dapat meraih sukses simpatisan didalam eleksi Presiden tahun 1955. Kemudian PKI naik menjadi partai yang sangat berpengaruh pada pemilihan partai legislatif tahun 1957 (US Army’s 1983 Areas Studies Handbook on Indonesia), tentu sebagai politisian Sukarno menyadari ada baiknya berkerja sama untuk kebaikan bersama. Karena PKI telah membentuk SOBSI organisasi buruh hampir diseluruh daerah dan memiliki anggota sangat besar yang dapat membuka jalan untuk memberikan keadilan serta kesejahteraan terhadap seluruh rakyat. Bahkan Sukarno mengharuskan pegawai negeri mempelajari prinsipal Nasakom dan teori Marxis untuk studi banding.

Diawali kunjungan Sukarno menemui Mao Tse Tung ke Peking pada November 1964, kemudian Dr Subandrio menerima kunjungan ketua partai komunis China, Zhou En-Lai, di Istana Bogor April 20, 1965. Setelah itu Sukarno pada bulan Augustus memberikan pidato diperlukannya sebuah pasukan kelima, diluar seluruh pasukan militer dan polisi. Pemerintah Amerika dan media barat memberitakan bahwa Sukarno membeli 100,000 AK-47 dari China untuk mempersenjatai pasukan milisia, semua senjata disimpan didalam gudang senjata TNI-AU di Halim Perdana Kusumah.
Ketika 2000 Gerwani dan Pemuda Rakyat mendapatkan latihan militer terutama dalam cara baris-berbaris, sejak bulan July 1965, didalam persiapan untuk mengikuti pawai hari angkatan bersenjata pada 5 Oktober 1965 di Monas. Tujuan utamanya juga dipersiapkan untuk menyerbu Malaysia. Namun anggota level bawahan komunis ini “hanya diijinkan menggunakan senapan kayu!” Juga keberadaan mereka di Halim, secara politik sengaja “being set-up” untuk melibatkan seluruh nama PKI secara langsung kedalam penculikan dan pembunuhan dalam kasus G30S.

Dalam pidatonya dibulan Augustus 1964, Sukarno mengucapkan bahwa dirinya menghendaki suatu group revolusi, tidak keberatan apakah mereka berasal dari kaum nasionalis, kelompok agama, atau komunis, dan menambahkan “Saya adalah kawan Komunis, sebab Komunis adalah rakyat yang tidak gentar melakukan aksi revolusi” Lalu pada hari peringatan PKI, April 1965, Sukarno berkata “Saya mencintai PKI sebagai saudara setanah air, dan bila saya meninggal saya akan merasa kehilangan seorang saudara kandung”.

Sukarno menyetujui konfrontasi dengan Malaysia atas masalah Sabah, 29 December, 1963, pasukan gerilya Indonesia menyerang Kalakan, 50 km didalam daerah Sabah. Hasilnya pasukan Ghurka Inggris dan Malaysia menghancurkan seluruhnya kecuali 6 gerilya menjadi tawanan. Juga 7 Maret 1964 mengirim ABRI dan pasukan Marinir untuk memata-matai kedalam negara itu, namun beberapa tertangkap dan dihukum mati di Malaysia. Sejak tahun 1963 Sukarno mulai melakukan propaganda anti Amerika, seperti melakukan pelarangan mendengarkan lagu Beatles dan group KoesPlus, pelarangan dansa Agogo, dan segala macam apapun yang berbau Amerika.
Ketika US Ambassador untuk Indonesia menghadiri acara pawai, Presiden Sukarno dalam pidatonya katakan dalam bahasa Inggris “go to hell with your aids”, mengakibatkan US President Johnson pada December 1963 memotong dana bantuan sandang pangan terhadap negara Indonesia. Akan tetapi bantuan militer tetap diberikan untuk menghadapi komunisme.

Kemudian pada Januari 1965 Sukarno mengejutkan dunia sebagai negara Asia pertama yang keluar dari PBB, sebagai reaksi protes karena Malaysia mendapatkan kedudukan didalam UN Security Council. Dilanjutkan pada August 1965 Sukarno dalam pidatonya mengatakan akan mengaktifkan pasukan kelima dalam keadaan darurat karena adanya konfrontasi dengan Malaysia. Keadaan ekonomi di Indonesia saat sebelum terjadinya Kudeta G30S sangat parah sekali. Bahkan Sukarno dirumorkan menderita penyakit keras, serta adanya kecemasan dan pelemparan psy-op propaganda dan rumor bila Sukarno meninggal maka PKI akan dihancurkan oleh kekuatan militer. Segala rumor propaganda ini sengaja diciptakan oleh badan intelijen untuk menciptakan krisis politik dan kecurigaan dari setiap lapisan badan negara. Badan intelijen analis dari beberapa negara menilai Sukarno sudah berada diluar jalur dan keputusan bersama diambil bahwa “dirinya harus disingkirkan secepatnya.”

Saat itu perang di Vietnam melawan Komunis sedang berlangsung, dunia barat menyadari demokrasi dan sistim kapitalism di Asia Tenggara sangat terancam dengan keadaan politik domestik Indonesia, bahkan PKI berkembang sangat pesat kedalam kabinet negara Indonesia tanpa adanya perlawanan berdarah seperti dinegara-negara Asia Tenggara lainnya. Itulah persepsi yang berlangsung terhadap PKI.

Psy-Op Black Propaganda: Tujuan utama kampanye ini, melakukan character assassination/demonization “memberikan persepsi bahwa kaum komunis adalah mahluk tidak beragama” ini adalah langkah awal untuk mempersiapkan “hati nurani dan pikiran seluruh warga Indonesia” sebagai brain-wash, mengisi dan mempengaruhi cara pola berpikir majoritas didalam usaha melancarkan “physical koordinasi” dan kerjasama bagi seluruh group dan individual yang akan melakukan aksi pembantaian PKI. Dalam sensus dari jumlah 40 juta, paling sedikitnya 1/4 sejumlah 10 juta adalah anggota pendukung PKI. Sejumlah 10 juta warga Indonesia, ditambah sanak keluarga, saat itu dibawah ancaman pembunuhan langsung (Southwood and Flanagan: Indonesia: Law, Propaganda, and Terror, 1983, # 74).

Provokasi dan hasutan melalui pamplet disebarkan melalui helicopter, radio, koran-koran di Indonesia, dilakukan menggunakan unsur nasionalism, etnis, dan agama seperti: “Bunuh atau dibunuh, bunuh atau tanah dirampas, Cina Komunis adalah Kafir, bunuh dan habiskan mereka demi kebesaran Islam”. (Southwood and Flanagan: Indonesia: Law, Propaganda, and Terror, 1983, # 67). Dilanjukan dengan pembantaian masal terhadap 1-3 juta korban yang dilakukan oleh Pasukan RPKAD, direstui oleh 4 ketua NU, dan pemuda milisia Ansor.

Hubungan diantara Dewan Revolusi: Karena kerasnya rumor yang didengungkan oleh CIA selama beberapa tahun. Perwira-perwira muda “percaya” dan berkesimpulan bahwa adanya Dewan Jenderal telah melakukan korupsi dan menerima uang sogok dari Amerika. Dengan kehidupan yang sangat mewah dimana seluruh rakyat sedang mengalami kesulitan ekonomi, ditambah bahwa Dewan Jenderal telah menghianati dan akan melakukan Kudeta terhadap Presiden Sukarno pada October 5, 1965. Menurut catatan sejarah pergolakan dimulai dari perwira-perwira yang berasal dari Jawa Tengah, namun di Jakarta dibelakang layar sebuah rencana kudeta dipimpin oleh Jenderal Soeharto, Jenderal Supardjo, Kol Latief, dan LetKol Untung “kebetulan” dipindahkan pada January 1965, ditugaskan memimpin 3 unit Tjakrabirawa, pengawal Istana Presiden Merdeka.

Singkatnya dalam hari D-Day ketika semua berkumpul di Halim Perdana Kusumah, Kolonel Latief dan LetKol Untung mengatakan kepada seluruh pasukan bahwa: Malam itu adalah saatnya bertindak terhadap para Dewan Jenderal karena mereka akan melakukan Kudeta terhadap Presiden Sukarno pada Oktober 5, yang akan didukung oleh US, cerita ini dipercayai oleh seluruh anggota pasukan. Mereka diperintahkan untuk menciduk para Dewan Jenderal dengan menggunakan nama Sukarno “Presiden memanggil dan menunggu di Istana”. Aksi G30S dilakukan tanpa sepengetahuan Presiden Sukarno secara detail. Karena hampir tidak mungkin seorang Presiden Indonesia memerintahkan untuk menculik dan membunuh seluruh 7 Jenderal. Sebagai aparat negara bertugas mempertahankan kedaulatan negara, mematuhi perintah atasan, dan sangat percaya apa yang mereka lakukan akan mengembalikan Negara Indonesia, dan akan menyelamatkan Presiden Sukarno. Seluruh anggota TNI malam itu yakin bahwa rencana Kudeta Dewan Jenderal benar akan terjadi, maka LetKol Untung yang diwakili oleh Letnan Satu Doel Arief melakukan operasi militer yang dikenal dengan peristiwa G30S. Hubungan diantara para konspirator perlu diketahui: Jenderal Soeharto secara pribadi mengenal LetKol Untung sebagai anak buah, begitupun terhadap Kolonel A. Latief, Major Bambang Supeno.

Dua tahun lalu pada 10 Juli 1963 Suharto diangkat menjadi PangKostrad, dan beberapa hari sebelum 30 September 1965 memerintahkan kedatangan pasukan dari luar daerah ke Jakarta, dan harus diingat Suharto melakukan inspeksi kesiagaan siap tempur, terhadap seluruh unit dari “pasukan penculik” pada 29 September 1965, sehari sebelum kejadian aksi G30S.
Bahkan pada 10pm malam itu, beberapa jam sebelum terjadinya aksi penculikan terhadap para Dewan Jenderal, Kolonel A. Latief menemui Suharto, ketika Tommy berada dirumah sakit, untuk memberikan laporan terakhir bahwa rencana yang mereka ketahui bersama akan dilakukan dalam beberapa jam, dan semua berjalan lancar.
Namun dalam buku Autobiographynya Suharto mengatakan Kolonel Latief hanya lewat tanpa mengucapkan sepatah katapun, bahkan dalam interviewnya dimuat di media Malaysia, Suharto pernah menuduh Kolonel Latief mencoba untuk menculik dan membunuh dirinya pada malam itu tanpa pasukan, dirumah sakit????

Apakah MayJen Suharto Penghianat: Badan intel asing menghianati para Dewan Jenderal sebagai umpan-pancingan agar G30S terjadi, sedangkan Suharto sebagai pewaris kuasa dalam covert action ini menghianati seluruh sahabat dan para pelaku G30S dan kemudian secara sistematis mengambil alih kuasa ABRI, dengan cara mencuci tangan keterlibatan dirinya dari rencana awal, dan mengeksekusi hampir seluruh Perwira yang melakukan aksi G30S untuk keuntungan dirinya.
Yang sangat menarik dan perlu diingat LetKol Untung; didalam sidang Militer berkata “Bapak(Suharto) telah menghianati saya”.

Setelah Dewan Revolusi berhasil menghancurkan Dewan Jenderal. Pada March 1966, Suharto mengutus 2 Jenderal menemui Presiden Sukarno di Istana Bogor, menghasilkan Super Semar, namun bukti surat itu tidak pernah ditemukan, dan dikatakan hilang???

Pasukan-pasukan TNI-AD yang terlibat dalam aksi penculikan berasal dari:
* 1 regu dari Tjakrabirawa diketuai oleh LetKol Untung.
* 1 regu dari 454 Jawa Tengah diketuai oleh Major Sukino.
* 1 regu dari 530 Jawa Timur diketuai oleh Major Bambang Supeno.
* 1 regu Brigade Infantri I diketuai oleh Kolonel A. Latief

Awalnya PKI tidak diganggu, untuk melakukan seperti apa yang sudah direncanakan dengan detail dari semula, dan juga untuk mencuci nama semua yang terlibat, Suharto memulai propaganda hitam dengan memberikan bukti-bukti fabrikasi dan mengatakan bahwa PKI beserta Gerwani telah menculik dan membunuh para Jenderal. Walaupun tak satupun terbukti bahwa adanya penduduk sipil yang terlibat dalam aksi penculikan, dan pembunuhan, karena didalam aksi operasi militer, mereka semua berseragam TNI-AD, dan mengendarai kendaraan TNI-AU. Pasukan-pasukan dikerahkan menjadi 7 unit, setiap unit bertugas untuk menciduk satu jenderal. Jumlah mereka tidak sama tergantung rumah Jenderal mana yang akan mereka akan kunjungi, bagi yang dikerahkan untuk menciduk Jenderal Nasution dan Jenderal Yani, memiliki lebih banyak anggota pasukan dari unit yang lain. Karena kedua Jenderal ini memiliki anggota pasukan bersenjata didepan rumah mereka, dan mengantisipasi bahwa perlawanan mungkin akan terjadi.

Pertemuan di Lubang Buaya dimulai pada 2:00 pagi, persiapan logistik selesai sekitar 3:00 pagi, kemudian satu persatu mereka naik kedalam kendaraan yang telah diperintahkan. Sekitar 3:15 kira-kira selusin bus dan truk yang membawa seluruh pasukan berangkat dari Halim Perdana Kusumah dan tiba 45 menit kemudian, didaerah kawasan Menteng, perumahan elite di Jakarta. Mereka tiba ditarget lokasi sekitar pukul 4:00 pagi.

Penculikan terhadap Jenderal Yani: Regu penciduk untuk Jenderal Yani berangkat dari Lubang Buaya dibawah pimpinan Letnan Satu Mukijan, menggunakan 2 Bus dan 2 Truck, dengan pasukan sebanyak 1.5 Kompi. Melewati Jakarta Bypass, kemudian memotong jalan melalui Jalan Rawamangun menuju Salemba, Jalan Diponegoro dan Jalan Mangunsakoro, mereka tiba dirumah Jenderal Yani di Jalan Lembang.

Pasukan dibagi menjadi 3 group, yang pertama menjaga belakang rumah, yang kedua menjaga didepan rumah, dan group ketiga dibawah pimpinan Letnan Satu Mukijan dan Sersan Dua Raswad, memasuki perkarangan rumah dan menghampiri rumah. Mereka berdua menyapa pasukan penjaga bahwa mereka menyampaikan pesan penting dari Presiden Sukarno. Melihat seragam Tjakrabirawa mereka tidak menaruh curiga sama sekali, kemudian diikuti oleh group penyerang dengan cepatnya melucuti senjata mereka. Menjawab ketukan dipintu, pembatu rumah tangga membuka pintu, dan secepatnya didorong kesamping. Setelah mereka masuk kedalam rumah, group yang dipimpin oleh Sersan Raswad menjumpai anak laki berumur 7 tahun; Eddy putra Jenderal Yani yang sedang mencari Ibunya.

Eddy diminta membangunkan Jenderal Yani, kemudian keluar mengenakan pakaian pajama, Raswad mohon agar Jenderal Yani menemui Presiden sekarang juga. Jenderal Yani meminta tunggu untuk mandi, akan tetapi Raswad katakan tidak perlu mandi, dan tidak perlu tukar pakaian. Karena sadar apa yang terjadi kemudian Jenderal Yani memukul salah satu prajurid, dan masuk kedalam kamarnya secepatnya untuk mengambil senjata, dan menutup pintu berjendela gelas dibelakangnya. Raswad kemudian perintahkan Sersan Gijadi untuk lepaskan tembakan. Sejumlah 7 peluru menembus pintu dan menewaskan Jenderal Yani saat itu juga. Sebagian dari group, yang terdiri dari Raswad dan Gijadi, juga Korporal Djamari, Prajurid Kepala Dokrin, dan Prajurid Satu Sudijono, menyeret jenasahnya keluar dan melemparkan kedalam salah satu bus yang sedang menunggu. Kemudian mereka semua kembali melalui Jatinegara menuju Lubang Buaya, disana Mukidjan melaporkan hasil tugasnya kepada Doel Arief.

Penculikan terhadap Jenderal Soeprapto: Karena rumah Jenderal Soeprapto tidak dijaga, maka hanya diperlukan pasukan dalam jumlah kecil. Dengan menggunakan pasukan yang dimuati dalam satu Toyota Truk dibawah pimpinan Sersan Dua Sulaiman dan Sukiman. Jumlah mereka sebanyak 19 orang, dipersenjatai dengan Sten guns, Garrand, dan Senapan Chung.

Walaupun Letnan Doel Arief sudah membawa Sersan Sulaiman malam sebelumnya dimana lokasi rumah ini, namun menyasar 2 kali kealamat yang salah di Jalan Besuki. Regu kecil ditempatkan dikiri dan kanan rumah, sementara regu utama memasuki halaman rumah. Kemudian pecah menjadi 3 kelompok, yang pertama dan kedua menjaga pintu masuk utama, dan garasi. Lalu yang ketiga memasuki rumah dipimpin oleh Sulaiman.
Malam itu Jenderal Soeprapto tidak dapat tidur, dan diganggu oleh suara anjingnya, lalu Soeprapto berjalan keluar dengan T-Shirt, sarung, dan sandal jepit. Korporal Dua Suparman menjawab sapaan Jenderal Soeprapto, dengan memberikan salut dan katakan Presiden ingin temui dirinya. Tanpa memberi kesempatan untuk berpakaian, menutup pintu secepatnya Suparman menyeret Jenderal Soeprapto ke Toyota Truk. Istri dari Jenderal Soeprapto yang menyaksikan kejadian itu melalui jendela sangat kaget dan kecewa, dan percaya bahwa suaminya ditahan. Kemudian mencoba menghampiri suaminya namun dihalangi oleh pasukan pimpinan Sersan Dua Sulaiman, yang membawa Soeprapto ke Lubang Buaya.

Penculikan terhadap Jenderal Parman: Pagi itu kira-kira jam 4:00 pagi, ketika satu group dengan jumlah 20 tentara muncul diluar rumah Parman dijalan Serang. Mendengar suara diluar, Jenderal Parman dan istri yang sedang bergadang keluar kehalaman kebun mereka, mengira ada maling dirumah tetangga. Kemudian melihat group dari Tjakrabirawa didalam halamannya, lalu bertanya; ada apa?

Mereka katakan diperintahkan untuk menjemput untuk menemui Presiden. Tanpa curiga dan tanpa berikan tanda kecurigaan, Parman masuk kedalam rumah diikuti oleh sebagian Tjakrabirawa dan berhasil ganti pakaian dinas Walaupun sebagai istri sangat tersinggung dan merasa mereka sangat kurang sopan, namum Parman diberikan kesempatan untuk ganti pakaian dinas, sebelum jalan membisikan istrinya untuk hubungi Jenderal Yani secepatnya. Jenderal Parman berpikir dirinya ditahan atas perintah Presiden Soekarno. Tapi begitu mereka akan pergi salah satu anggota Tjakrabirawa mencabut dan membawa telephone rumahnya.

Walaupun Jenderal Parman sadar apa yang terjadi namum tidak melakukan perlawanan dalam perjalanan ke Lubang Buaya. Lima belas menit kemudian Ibu Harjono datang menangis mengatakan suaminya telah ditembak mati, menyadarkan apa yang telah terjadi. Namum, istri dari Jenderal Parman terganggu oleh anggota Tjakrabirawa yang sering kali menjemput suaminya pada waktu diluar jam kerja, yang menjabat sebagai Kepala Angkatan Darat Intelijen atas perintah Presiden tidak sadar apa yang terjadi saat itu.

Penculikan terhadap Jenderal Sutoyo Siswomiharjo: Pasukan penyerang dipimpin oleh Sersan Mayor Surono yang menerima perintah langsung dari Doel Arief secara pribadi. Kelompok ini memulai dengan menutup jalan Sumenep dimana korban tinggal. Ketika itu kebenaran ada Hansip yang sedang patrol, senjata mereka dilucuti satu persatu. Kemudian seperti halnya dengan modus operandi terhadap penculikan Jenderal lainnya, group ini dibagi tiga squads, yang pertama menempatkan diri didepan, yang kedua dibelakang rumah dan yang ketiga melakukan penculikan. Dengan membujuk Jenderal Sutoyo membuka pintu kamarnya dengan alas an akan memberikan surat dari Presiden. Kemudian mengikat tangannya dibelakang kepala dan menutup kedua matanya lalu mendorong kedalam truk yang sedang menunggu, kemudian mereka mencapai Lubang Buaya secepatnya.

Penculikan terhadap Jenderal Pandjaitan: Tidak seperti para Jenderal lainnya, Pandjaitan tinggal di Kebayoran Baru, didaerah Blok M, dijalan Hasanudin. Rumahnya seperti typical model Kebayoran, mempunyai 2 lantai, tidak seperti rumah yang model klasik di Menteng. Kamar keluarga Pandjaitan semuanya berada dilantai 2. Disebelah rumah tapi dalam satu komplek, terdapat ruangan kecil dimana ada 3 saudara laki-laki yang tinggal. Dua truk penuh dengan tentara muncul dijalan Hasanuddin, dan yang satu memarkir didepan dan yang kedua dibelakang.

Setelah melewati pagar besi disekitar rumah, pasukan penculik memasuki ruangan dibawah tangga, membanguni pembantu rumah tangga yang sudah tua. Sangat ketakutan mengatakan majikan tidur diatas. Keributan didalam rumah telah membuat seluruh keluarga bangun, mengira rumahnya sedang dikunjungi oleh pencuri lalu merampas pistol dari para penculik. Mereka segera ditembak oleh pasukan penculik. Salah satunya Albert Silalahi, kemudian tewas di rumah sakit dari luka tembakan. Sementara itu dilantai dua istri Jenderal Pandjaitan dalam kepanikannya bertanya apakah hal ini semacam latihan? Tapi mengatakan hal ini bukan latihan sama sekali.

Melihat seragam Tjakarabirawa dilantai satu, dirinya mengira pasti ada pesan dari Istana, tetapi ancaman yang berlangsung meyakinkan bahwa telah terjadi suatu hal yang sangat janggal. Prajurid dibawah sangat nervous untuk tidak naik kelantai dua, lalu berteriak dan memerintahkan Jenderal Pandjaitan untuk turun kebawah, tapi ditolaknya. Pertama Jenderal Pandjaitan mencoba menghubungi Polisi, tetangga, kemudian Kolonel Samosir, tapi gagal. Karena telephone line sudah dipotong. Lalu mencoba menggunakan Stengun untuk menghalau penyerang, tapi senjatanya macet.
Kemudian dirinya dipaksa turun karena adanya ancaman terhadap keluarganya. Ketika dirinya berada dihalaman dia mencoba untuk lari dan pertahankan dirinya, namun penculik menembaknya. Walaupun istrinya memohon paling tidak untuk memakamkan jenazahnya, namun mayatnya dilemparkan kedalam truk dan dibawa ke Lubang Buaya. Yang sangat menarik pada saat itu polisi bersepeda bernama Sukitman setelah mendengar tembakan menuju lokasi, menempatkan dirinya pada posisi diantara sejumlah pasukan penculik. Senjatanya dilucuti dan dipatahkan oleh pasukan Tjakrabirawa, Sukiman diangkut bersama mayat Jenderal Panjaitan ke Lubang Buaya, didalam truk tentara.
Setelah itu dirinya menjadi saksi mata terhadap kejadian penculikan dan pembunuhan.

Penculikan terhadap Jenderal Haryono: Serangan terhadap rumah Jenderal Harjono di Jalan Prambanan 8, mengikuti taktik sama seperti yang disebutkan semua diatas. Sejumlah 18 anggota pasukan TNI-AD dibawah Sersan Kepala Bungkus mengelilingi rumah. Bertindak atas Doel Arief instruksi, kelompok ini memecahkan diri menjadi 3 group. Group pertama masuk kedalam rumah mencoba melihat apakah dapat menjumpai korban dengan taktik sama bahwa korban dipanggil oleh Presiden.

Harjono sadar apa yang akan terjadi, dia perintahkan istri dan anaknya sembunyi dikamar belakang dan matikan semua lampu, lalu Harjono menunggu pasukan penculik, ketika mereka masuk kedalam kamar, dirinya mencoba merampas salah satu senjatanya, namun tidak mampu melawan semua dan Jenderal Harjono langsung ditembak mati ditempat. Tubuhnya dilemparkan kedalam truk dan dibawa ke Lubang Buaya. Selama ini pasukan penculik melakukan dengan sangat brutal dan sukses. Tiga dari enam telah dibunuh, tiga ditawan tanpa kesulitan. Tapi percobaan terhadap Jenderal ke 7, Menteri Pertahanan,Jenderal Abdul Haris Nasution, terbukti yang paling gagal.

Penculikan terhadap Jenderal Nasution: Penyerangan kerumah Jenderal Nasution dilakukan dengan cara sama, tapi dalam skala yang jauh lebih besar dibandingkan dengan penyerangan terhadap para Jenderal lainnya. Seluruhnya sekitar 100 anggota pasukan terlibat, diangkut dengan 4 truk, satu power wagon dan satu kendaraan jenis Gaz(semacam power wagon). Seperti dalam penyerangan terhadap Jenderal Soetojo, group penyerang menutup jalan Teuku Umar dimana Jenderal Nasution tinggal, melucuti pasukan bersenjata diseluruh jalan itu, Kebenaran saat itu rumah Dr Johannes Leimena(nomor 36) mempunyai tiga penjaga bersenjata, sebagai kehormatan menjadi Perdana Menteri ke 2.

Pasukan keamanan ini dengan mudah dilucutkan, namun salah satunya dari Brimob ditembak mati dalam perkelahian. Sama sekali tidak ada maksud untuk memasuki rumahnya Dr Leimena. Karena goal utama adalah agar penjaga dari Dr Leimena tidak akan datang mencampuri kerumah Jenderal Nasution yang beda dua rumah yaitu nomor 40, saat itu seluruh nya berhasil diamankan. Turun dari truk banyak sekali pasukan-pasukan dari Tjakrabirawa, Kompi dari 454, dan kemungkinan Pemuda Rakyat dalam seragam TNI.

Keempat penjaga keamanan dipusat rumah jaga dihampiri oleh 4 anggota Tjakrabirawa, yang memulai pembicaraan, kemudian 30 anggota pasukan lainnya melucuti para penjaga satu persatu. Senjata penjaga kelima pun dikuasai dengan mudah oleh sekitar 30 anggota pasukan penyerang. Satu squad sekitar 30 orang memasuki rumah dari belakang dari situ mengelilingi menuju garasi. Squad yang lain sebanyak 15 orang memasuki pintu depan, yang lain mengawasi dari rumah penjaga, dimana sekitar 30 anggota lainnya mengawasi jalanan. Didalam rumah Jenderal Nasution telah bangun. Mendengar pintu dibuka istri Jenderal Nasution ingin tahu siapa yang masuk. Dari pintu kamar tidurnya dia dapat melihat seorang Tjakrabirawa berdiri menhadapi dengan senapan, diseberang ruangan. Karena takut dan kagetnya dia menutup pintu sekerasnya, dan menyadari bahwa ada percobaan untuk menculik suaminya. Jenderal Nasution kurang yakin maka dia membuka pintu, pada saat yang sama dirinya harus menghindari semburan peluru.

Istri Nasution mencoba menyelamatkan diri dari serangan 3 anggota Tjakrabirawa yang dipimpin oleh Korporal Hargyono. Sementar itu Ibu dari Jenderal Nasution masuk kedalam kamar yang berhubungan, mengira anaknya Jenderal Nasution luka parah kena tembak. Istri Nasution ingatkan jangan beritahu bahwa Nasution ada dalam kamar. Kemudian Mardiah, adik dari Jenderal Nasution dimana ruangan tidurnya berada disisi dimana Tjakrabirawa melepaskan tembakan, ingin lari menyeberangi ruangan menuju kamar tidur Jenderal Nasution, dengan membawa anak terkecil yaitu Ade Irma, dalam gendongannya. Begitu Mardiah lari menyeberangi ruangan Corporal Hargyono mulai melepaskan tembakan lagi yang mencederai Ade Irma. Mardiahpun tertembak dua peluru dilengannya.

Ketika anggota Tjakrabirawa masih berusaha membuka pintu, istri Nasution menunjukkan jalan keluar menuju rumah kediaman Iraq Ambassador (no 38). Ketika mulai naik melalui tembok pemisah dirinya ditembak oleh salah satu pasukan penyerang dari pos pengawas keamanan. Namun dirinya berhasil melompat kerumah sebelah dengan patah tumit kaki. Ternyata penembak tidak tau siapa yang dia tembak kecuali hanya menembak setiap adanya bayangan. Mencoba menutupi dan menekan sumber pendarahan Ade Irma dipangkuannya, Ibu Nasution secepatnya menelphone seorang doktor, tapi beberapa anggota TNI-AD merusak dan mencoba memasuki pintu belakang dengan melepaskan beberapa tembakan sebelum memasuki rumah. Mereka menuntut jawaban dimana Jenderal Nasution saat itu.

Dijawab bahwa beliau sedang berada diluar kota, mereka tidak percaya dan memeriksa setiap ruangan dan kamar dirumah itu. Suitan-suitan terdengar dari luar yang meminta mereka semua kumpul diluar rumah, Ibu Nasution pun tidak dilarang pergi bersama pembantu rumah tangga, membawa Ade Irma kerumah sakit Angkatan Darat, yang kemudian dinyatakan meninggal dunia sekitar jam 6:00 pagi.

Sementara itu didalam 2 pavilion dibelakang rumah terjadi kepanikan. Penjaga keamanan yang telah dilucuti lari kebelakang dan memberi tahu sopir apa yang telah terjadi. Janti anak tertua Jenderal Nasution mendengar tembakan melarikan diri keruangan Letnan Pierre Tendean, Adjudant Jenderal Nasution yang berada di ruangan depan. Pierre minta Janti sembunyi dibawah ranjang, dan dia keluar menghadapi pasukan penculik, namun sekejap saja sudah dilucuti.

Tampaknya Pierre Tendean dalam kegelapan figurenya mempunyai kesamaan. Walaupun beberapa anggota TNI-AD meragukan namum karena waktu yang minimal, akhirnya mereka membawa ke Lubang Buaya, saat itu jam 4:08. Namun pada jam 4:09 salah satu anggota keluarga yang tinggal dirumah, Hamdan menghubungi Jakarta Teritorial Komandan Jenderal Umar Wirahadikusumah, melalui alat komunikasi khusus, dan menceritakan apa yang telah terjadi. Sekitar 4:30 Umar tiba dirumah Nasution, lalu diikuti oleh 5 tank, 2 digunakan menjaga rumah dan 3 dikerahkan memburu mereka yang terlihat menggunakan jalan menuju Bogor atau Bekasi. Sesaat kemudian Pasukan Marinir tiba memperkuat penjagaan dirumah Nasution.

Tapi hanya pada jam 6:30 Jenderal Nasution merasa aman untuk menampakan dirinya dari persembunyiannya bahkan kepada Jenderal Umar Wirahadikusumah. Dengan sekejap Nasution dibawa ketempat persembunyian, untuk mencegah percobaan kedua terhadap keselamatan dirinya. Lalu malam harinya Nasution sekitar 19:00 dirinya baru merasa aman untuk kembali kedalam pasukan TNI yang terbukti mendukung dirinya. Ketiga Tank tidak berhasil membuntuti kecepatan Truk yang sudah menghilang menuju Lubang Buaya, seluruh pasukan penculik berhasil sampai ditempat tujuan pada 5:15 pagi, mereka melihat seluruh pasukan bergabung kembali dan melaporkan bahwa operasi militer yang bernama G30S telah berhasil dilaksanakan.

Kejadian di Lubang Buaya: Para Gerwani dan Pemuda Rakyat dibangunkan pagi-pagi oleh para pelatihnya, mereka diperintahkan untuk bersiap siaga untuk menerima perintah darurat. Ketika seluruh truk tiba membawa 6 Jenderal dan Letnan Tendean, pembuangan mayat-mayat dan pembunuhan terhadap mereka dimulai. Mayat para Jenderal: Yani, Pandjaitan, Harjono dilemparkan kedalam Lubang Buaya, yang mencapai kedalaman 10 meter. Sisanya ketiga Jenderal dikatakan diludahi, dan disiksa oleh Gerwani dan Pemuda Rakyat yang telah diindoktrinasikan bahwa mereka itu adalah musuh dari Presiden Sukarno. Jenderal Soeprapto ditembak dari belakang oleh Prajurid Kepala Nurchajan, ketika berdiri dipinggir sumur.

Kemudian tembakan berikutnya dilanjutkan ketika tubuh Soeprapto jatuh diatas mayat didalam sumur. Tembakan ini dilakukan berulang kali, diberikan contoh oleh Kopral Djauri, yang kemudian diikuti oleh voluntir lainnya. Jenderal Parman ditembak dari belakang oleh Prajurid Kepala Athanasius Buang, atas perintah Sersan Dua Sulaiman, yang memimpin penyerbuan kerumah Jenderal Soeprapto. Kemudian dilanjutkan dengan tiga tembakan berikutnya, tubuhnya dibuang kedalam Lubang Buaya. Jenderal Soetojo pun ditembak dalam cara yang sama. Cerita detail terhadap kematian Letnan Tendean tidak begitu jelas, tapi dikatakan disiksa sampai tewas.

Keterlibatan Pemuda Rakyat dan Gerwani: Para Gerwani diberikan pisau silet, dan pisau, mereka diharuskan berbaris dan dipaksa untuk mengiris tubuh mereka, dan tidak diberi kesempatan bertanya, siapakah diri mereka. Dari hasil autopsi yang dilakukan oleh para ahli dokter forensik, tidak ada bukti bahwa mata, dan kelamin para Jenderal dimutilasi seperti yang Suharto ucapkan, namun seluruh surat kabar ditutup hanya yang mempropagandakan fabrikasi kebohongan diijinkan untuk disebarkan keseluruh rakyat Indonesia, sebagai pretext pembantaian masal terhadap PKI.

Dari pengakuan seorang Gerwani yang sedang hamil 3 bulan, berumur 15 tahun, mulutnya ditampar oleh seorang Sersan TNI-AU ketika bertanya siapa mereka. Setelah seluruh korban dibunuh dan dibuang kedalam Lubang Buaya, kemudian ditutup oleh daun-daun, sampah, kemudian seluruh Gerwani dan Pemuda Rakyat diperintahkan untuk kembali ketenda mereka masing-masing menunggu perintah berikutnya.

Terbukti bahwa pemuda-pemudi ini sengaja diterlibatkan dan diperintahkan untuk menjadi dari aksi bagian dari skenario yang sudah direncanakan sejak awal tanpa adanya tahu menahu apa yang sedang terjadi. Begitupun kemungkinan dengan sengaja melibatkan beberapa Pemuda Rakyat kedalam kelompok penculikan dengan memerintahkan mereka memakai seragam TNI-AD, dengan begitu posisi PKI secara langsung sengaja dilibatkan kedalam kegiatan G30S. Bahkan ketua PKI meminta para Pemuda Rakyat dan Gerwani mematuhi perintah para pelatih dari TNI-AU, namun keberadaan mereka dijadikan kedalam permainan politik dalam Kudeta G30S.

Kata akhir: Kudeta G-30-S telah berlalu sekian lamanya, komunisme dan sosialisme telah dihancurkan atau hancur sendiri, tembok Berlin telah diruntuhkan pada 1989, Soviet Union terpecah belah, Presiden Suharto pun akhirnya telah disingkirkan dan telah berpulang.  Apakah kita sebagai bangsa masih tetap ingin “diadu domba”? Bagaimanapun kita masih tetap bersaudara, apakah rekonsiliasi total bisa terlaksana?

Sumber dan Intisari dari:
1. Chomsky, Noam and Herman Ed: The Washington Connection and Third World Facism. Boston:  Southend Press, 1979
2. Southwood, Julie and Flanagan, Patrick:  IndonesiaL  Law, Propaganda, and Terror. London:  Zed Press, 1984
3. Weinstein, Francklin.  Indonesia Foreign Policy and Dilemma of Dependency. London:  Cornell University Press, 1976
4. Benedict R. Anderson and Ruth T. Mc Vey: A Preliminary Analysis of October 1, 1965 Coup in Indonesia.
5. Bunge, Fregrica M.  Indonesia:  A Country Study, Washington:  Department of the Army, 1983.
6. Herman Ed.  An Overview:  US Sponsorship of State Terrorism”  Covert Action Information Bulletin
7. McGehee, Ralph.  Deadly Deceits:  My 25 years in the CIA, New York:  Sheriden Square Publications Inc, 1983
8. Tornquist, Olle.  Dilemmas of Third World Communism:  The Destruction of the PKI in Indonesia
9. CIA 1998 declassified documents
10. CIA: Indonesia-1965; The Coup That Backfired
11. Weinstein, Franklin B. Indonesian Foreign Policy and the Dilemma of Dependence:  From Sukarno to Soeharto. London:  Cornell University Press 1976
12. The United States Army and Human Rights in Indonesia:  A Joint Statement by the South East Asian Resource Center and the Pacific Service Center 25 February 1978

27 June 2009 at 10:39 – Comments



Blog Stats

  • 3,348,934 hits

Recent Comments

Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Sejarah : Bangsa Lemuria, Lelu…