Archive for the 'Jiwa Semangat Nilai-nilai 45' Category



21
Jun
15

Ideologi : Pancasila 1 Juni 1945, Fakta Sejarah Kebangsaan

REPINDO

Mau menggali kembali atau mau merubah

Pancasila 1 Juni 1945 ?

Tidak dapat dipungkiri lagi tentang adanya gerakan sekelompok orang atas nama agama Islam (elemen-elemen  NU di Berlin), yang ingin menggali kembali dasar Negara Kesatuan Republik Indonesia yaitu Pancasila 1 Juni 1945. Gerakkan ini muncul dalam suatu seminar di KBRI Berlin, yang di selenggarakan pada hari Jumat sore tanggal 05.06.2015  sekitar jam 16, yang mengambil tema Pancasila dan Maritem. Dalam konteks Pancasila seminar tersebut mengambil tema : Menggalai kembali Pancasila untuk keadilan dan kemakmuran bangsa.

Komentar

Pada 1 Juni 1945, dihadapan Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) Bung Karno, pertama kali berpidato tentang Pancasila, yang selanjutnya menjadi dasar Ideologi Negara Republik Indonesia. Dalam pidato pembukaan hahirnya Pancasila 1 Juni 1945 didepan Sidang Dokurizu Zyunbi Tyoo Sakai, untuk menyampaiakan dasar Indonesia Merdeka. Dalam pidato itu Bung Karno menyatakan bahwa Pancasila adalah Sebagai ‘Philosofische Grondslag’ dari pada Indonesia Meredeka. Philosifische grondslag itulah pundamen, filsafat, pikiran-yang-sedalam-dalamnya, jiwa, hasyrat-yang-sedalam-dalamnya untuk diatasnya didirikan gedung Indonesia Merdeka yang kekal dan abadi. Merdeka buat saya (BK) ialah  : “political independence“ politieke onafhankeijkheid. (TUJU BAHAN POKOK INDOKTRINASI- bahan pokok 1 Lahirnya Pancasila –halaman 13).

Paduka tuan yang mulia !  Saya mengerti apakah yang Paduka tuan kehendaki ! Paduka tuan minta d a s a r, minta philosophosche grondslag, atau  jikalau kita boleh memakai perkataan yang muluk-muluk, Paduka tuan Ketua yang mulia meminta suatu adalah “Weltanschauung“. diatas mana kita mendirikan negara Indonesia itu. (TUJU BAHAN POKOK INDOKTRINASI- bahan pokok 1 Lahirnya Pancasila –halaman 20).

Dalam pidato pembukaan Pancasila 1 Juni 1945 itu Bung Karno mengatakan : “Kita hendak mendirikan negara Indonesia Merdeka diatas “Weltanschauung “ apa?, Nasionaliskah?, Marxis-kah, San Min chu I-kah;  “Weltanschauung“ apakah?. (Buku yang sama halaman 22)

Sudara-saudara sekalian, kita telah bersidang tiga hari lamanya, banyak pikiran telah dikemukakan,-macam-macam.- tetapi alangkah benarnya perkataan dr. Soekiman, perkataan Ki Bagoes Hadikoesoemo, bahwa kita harus mencari persetujuan, mencari persetujuan faham. Kita bersama-sama mencari persatuan philosophische grondslag. Mencari satu “Weltanschauung“ yang kita semua setuju. Saya katakan lagi setuju!. Yang saudara  Yamin setujui, yang Ki Bagoes setujui, yang Ki Hajar setujui, yang saudara Sanoesi setujui, yang sadara Abikoesno setujui,yang saudara Lim Koen Kian setujui, pendeknya kita semua mencari satu modus. Tuan Yamin, ini bukan compromis, tapi kita besama-sama mencari satu hal, yang kita bersama-sama setujui,Apakah itu !. Pertama-tama saudara –saudara saya bertanya : Apakah kita hendak mendirikan Indonesia Merdeka untuk sesuatu orang, untuk sesuatu golongan? Mendirikan negara Indonesia Merdeka yang namanya saja Merdeka, tapi sebenarnya hanya untuk mengagungkan satu orang, untuk memberi kekuasaan kepada satu golongan yang kaya, untuk memberi kekuasaan pada satu golongan bangsawan?.

Apakah maksud kita begitu?, Sudah tentu tidak !  Baik saudara-saudara yang bernama kaum kebangsaan yang disisni, maupun saudara-saudara yang dinamakam kaum Islam, semuanya telah mufakat, bahwa bukan negara yang demikian itulah kita punya tujuan. Kita  hendak mendirikan suatu negara “semua buat semua“ . Bukan buat satu orang, bukan buat satu golongan, baik golongan bangsawan maupun golongan yang kaya,-tapi “semua buat semua“

Inilah salah satu dasar pikiran yang nanti akan saya jelaskan kali. (dikutip dari buku yang sama “Pidato Bung Karno pada hari kelahiran Pancasila 1 juni !945“halaman 23 dalam buku yang sama).

Sampai disini jelasaslah bahwa Pancasila itu sudah digali secara teliti, jimet dan sangat mendalam oleh banyak bapak-bapak pendiri bangsa dan NKRI, yang nama-namanya  antara lain sudah di sebutkan diatas.

Kalau sekarang ini ada elemen-elemen agama Islam , kongkritnya elemen-elemen NU, yang hendak menggali kembali Pancasila untuk keadilan dan kemakmuran bangsa; lalu apanya yang mau digali kembali?, dan apa dasarnya?. Bukankan Pancasila itu sudah final dan paling ideal , serta tidak bisa diubah dengan dasar lainnya. Pancasila 1 Juni 1945 adalah senjata  untuk menyatukan bangsa Indonesia yang bineka Tunggal Ika. Bukankah Pancasila 1 juni 1945 itu sudah kita setujui bersama? Lalu apa maunya elemen-elemen NU di Berlin yang hendak menggali kembali Pancasila? Apakah mereka sudah mempunyai strategi politik tertentu, yang ujung-ujungnya menolak Pancasila 1 Juni 1945 ciptaan Bung Karno, dan akan menganti dengan dasar yang lainnya?

Selanjutnya dalam Lahirnya Pancasila 1 Juni 1945, yang ditulis dalam buku TUJU BAHAN POKOK INDOKTRINASI halaman 33-35, Bung Karno menagtakan: Saudara-saudara saya usulkan: Kalau kita mencari demokrasi hendaknya bukan demokrasi barat, tapi permusyawaratan yang memberi hidup, yakni  p o l i t i e k – e c o n o m i s c h e  demokrasi, yang mampu mendatangkan kesejahteraan sosial ! Rakyat Indonesia sudah lama berbicara hal ini.. …… Maka oleh karena itu, jikalu kita memang betul-betul mengerti , mengingat, mencintai rakyat Indonesia, marilah kita  terima prinsip hal sosiale rechtwaardigkeid ini, yaitu bukan saja perasaan  p o l i t i k, saudara-saudara, tapi juga diatas lapangan e k o n o m i  kita harus mengadakan persamaan, artinya kesejahteraan bersama yang sebaik-baiknya.

Dan selanjutnya dalam halaman 34 Bung karno mengatakan: Juga dalam urusan kepala negara, saya terus terang, saya  tidak memilih monarchie. Apa sebab?  Oleh karena monarchie “vooronderstelt erfelijkheid“- turun-menurun.  Saya Islam, saya demokrat karena saya Islam saya menghendaki mufakat, maka saya minta supya tiap-tiap kepala negara pun dipilih. Tidakah  agama Islam mengatakan bahwa kepala-kepada negara, baik kalif, maupun amirul mu´minin, harus dipilih rakyat?

Saudara.saudara apakah, apakah prinsip kelima itu ?

1.   Kebangsaan Indonesia

2.   Internasionalisme – atau pri-kemanusiaan

3.   Mufakat – atau demokrasi

4.   Kesejahteraan sosilal

      Prinsip yang kelima hendaknya : Menyusun Indonesia Merdeka dengan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Setelah mengalami diskusi dengan musyawarah dan mufakat akhirnya Pancasila yang diterapkan dalam pembukaan UUD 45 adalah sebagai berikut :

1.  Ketuhanan yang maha Esa

2.  Kemanusiaan yang adil dan beradap

3.  Persatuan Indonesia

4.  Kerakyatan dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan

5.  Keadilan  social bagi seluruh Rakyat Indonesia.

Pada saat itu ada usulan amandemen yang diajukan, yalah supaya sesudah sila pertama, yaitu Ketuhanan Yang Maha Esa, ditambahkan 7 kata-kata. Dan 7 kata-kata itu yalah berbunyi : dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya. (halaman 368-369, buku Tuju Bahan Pokok Indoktrinasi).

Selanjutnya pada halaman 368 dikatakan (dalam buku yang sama)

Tujuh kata-kata ini diambil dari apa yang dinamakan Piagam-Jakarta atau Jakarta-Charter, suatu dokumen- historis, yang dibuat pada tanggal 22 Juni 1945, ditanda tangani oleh 9 tokoh pemimpin Bangsa kita yaitu : Soekarno, Moh Hatta, AA Maramis, Abikusno, AK Muzakir, HA Salim, Mr. A. Subardjo. K. Wahid Hasjim dan Moh. Yamin.

Kemudian pada saat-saat menjulangnya Api-Revolusi kita. yaitu pada tanggal 18 Agustus 1945, perumusan ini dihilangkan dari  UUD, yang dengan resmi dan sah disusun pada hari itu juga.  Juga dihapuskan sjarat, bahwa Presiden Republik Indonesia harus beragama Islam.

Sebab apa dihilangkan?

Menurut authentiek yaitu catatan-catatan  resmi dari Sidang Pembuat UUD. pada tanggal 18 Agustus itu, maka alasan menghilangkan 7 kata-kata perumusan Jakarta-Charter tersebut yalah untuk menjaga keutuhan-seluruh –bangsa Indonesia dari Sabang sampai ke Merauke.

Bung Hatta sendiri, yang pada waktu itu mengetuai Sidang Panitia persiapan Kemerdekaan, pada tanggal 18 Agustus 1945 itu a.l. berkata:

“ Dengan membuang 7 kata-kata ini serta syarat bahwa Presiden yalah orang Indonesia-asli, yang harus beragama Islam, maka inilah merupakan perobahan yang maha penting, yang menyatukan Bangsa, sjarat-sjarat itu menyinggung perasaan, sedangkan membuang ini maka seluruh Hukum UUD dapat diterima oleh daerah Indonesia yang tidak beragama Islam, umpamanya yang yang pada waktu itu diperintah oleh Kaigum. Persetujuan dalam hal ini juga sudah didapat antara berbagai golongan, sehingga memudahkan pekerjaan kita waktu sekarang ini.  (hal. 369)

Demikianlah apa yang dapat kita baca dari notulen-authentiek dari  Sidang Panitia Persiapan Kemerdekaan tanggal 18 Agustus 1945 itu, ducapkan oleh Ketuanya, yaitu Bung Hatta.

Dari sini dapat kita tarik suatau kesimpulan bahwa Pancsila 1 Juni 1945 itu sudah Final, dan tidak bisa dirubah-rubah lagi dengan dasar yang lain.

Memang kita semua sudah menyaksikan bahwa pelaksanaan Pancasila 1 Juni 1945, saat ini belum memadai jika ditinjau dari hakekat yang sebenarnya dari  Pancasila 1 Juni 1945. Hal ini dapat diterangkan sebagai berikut: Dalam konteks ini bailah kita cermati pidato Bung Karno dalam menyambut Ulang tahun kemerdekaan 17 Agustus 1960, yang berjudul : JALANNYA REVOLUSI KITA (JAREK) (dalam buku yang sama halaman 187). Dalam pidato itu Bung Karno menjelaskan : Ada hubungan yang erat antara Pancasila dengan Manifesto Politik dan USDEK. 

Manifesto Politik adalah pancaran dari Pancasila, USDEK adalah pancaran dari Pancasila. Manifesto Politik, USDEK dan Pancasila, adalah terjalin satu sama lain, Manifesto Politik, USDEK dan Pancasila tak dapat dipisah-pisahkan satu sama liain. Selanjutnya dalam pidato itu Bung Karno mengatakan: Jika saya harus mengambil qias agama, -sekedar qias !-maka katakan bahwa Pancasila adalah semacam Qur´annya, dan Manifesto Politik-USDEK adalah Hadis-shahinya. (Awas! saya tidak mengatakan bahwa Pancasilasila adalah Qur´an, dan bahwa Manifesto Politik dan USDEK adalah Hadis ! Qur´an dan Hadis-shahih merupakan satu kesatuan – maka Pancasila dan Manifesto Politik dan USDEK pun merupakan satu kesatuan (JAREK hal:200 dalam buku TUJU BAHAN POKOK INDOKTRINASI).

Sedikit penjelasan: Manipol/USDEK merupakan akronim1 dari  Manifesto politik/Undang-Undang Dasar1945, Sosialis Indonesia, Demokrasi Terpimpin, Ekonomi Terpimpin,dan Kepribadian Indonesia, yang oleh Bung Karno  dijadikan sebagai Pola pembangunan negara Republik Indonesia, sehingga harus dijunjung tinggi, dipupuk, dan dijalankan oleh semua bangsa Indonesia. Penjelasan dan penekanan Bung Karno bahwa Manifesto Politik, USDEK dan Pancasila, adalah terjalin satu sama lain, Manifesto Politik, USDEK dan Pancasila tak dapat dipisah-pisahkan satu sama liain. Artinya Pancasila itu sudah dipikirkan secara mendalam sekali oleh bapak-bapak para pendiri bangsa dan Negara Kesatuan Republik Indonesia, pemikiran tersebut sesuai dengan pemikiran mutahir (baru dan modern) dizaman modern sekarang ini yaitu pemikiran sistem. Munculnya  pemikiran sistem merupakan sebuah revolusi menyeluruh dalam sejarah pemikiran ilmiah Barat.  Pemikiran sistem dalam rangka adanya saling keterkaitan, hubungan-hubungan, keteraturan dan konteks.  

(akronim1: Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) online [2] kependekan yg berupa gabungan huruf atau suku kata atau bagian lain yg ditulis dan dilafalkan sbg kata yg wajar (msl mayjen mayor jenderal, rudal peluru kendali, dan sidak inspeksi mendadak)

Substansi dan Bentuk. Ketegangan antara pemikiran mekanisme dan holisme2 merupakan tema yang selalau berulang disepanjang sejarah biologi. Ini adalah merupakan konsekuensi yang tak dapat terhindarkan dari pembagian kuno antara subsatansi (materi,struktur, kwantitas) dengan bentuk (pola, keteraturan, kwalitas).

(holisme2 berasal dari perkataan holon; kata  Holons adalah merupakan suatu keseluruhan, tapi juga sekaligus memrupakan bagian dari keseluruhan yang lain. Misalnya , seluruh bagian dari Atom adalah merupakan bagian dari seluruh molekul; seluruh molekul adalah merupakan bagian dari seluruh Celle; seluruh Celle adalah merupakan bagian dari organisme dst. Jadi Holon itu mempunyai dua sifat/kemampuan, yaitu sebagai keseluruhan dan bagian.  Ini berarti Keseluruhan itu juga menghayati bagian).

Mencermati Pancasila 1 Juni 1945 dari sudut pandang pemikiran Sistem.

Dari sudut pandang sistem, memahami Pancasila harus  dimulai dari memahami polanya. Studi tentang pola sangat penting untuk memahami system Pancasila, karena sifat- sifat sistemik, sebagaimana kita lihat dari suatu konfigurasi hubungan-bubungan yang teratur dalam Pancasila 1 Juni 1945. Jadi apa yang rusak ketika ketika Pancasila  mati?; Pancasila mati, karena polanya sudah dihancurkan, sejak berkuasannya rezim totaliterisme militer pimpinan jendral TNI AD Soeharto.

 Pola pembangunan NKRI adalah Manifesto Politik/USDEK (yang merupakan pancaran dari Pancasila 1 Juni 1945),  sejak berkuasanya Orde Baru sudah dihancurkan, dan diganti dengan pola kesaktian Pancasila, yang berkaitan erat dengan pembangunan masyarakat kediktatoran militer fasis, yang menggunakan kesaktian Pancasila untuk menghalalkan pembantaian massal (genosida) 1965-1966, terhadap 3 juta rakyat yang tak bersalah, memenjarakan dan membuang ratusan ribu rakyat yang tak bersalah ke pulau Buru.

Dampak dari kesaktian Pancasila sampai sekarang ini masih terrasakan, ini tercermin dalam bentuk menentang penuntasan pelanggaran HAM berat 1965-1966, melalui pengadilan HAM AD HOC, dan pelestarian TAP MPRS XXV/1966 yang melarang semua faham Sosialisme, dan komunisme, dan TAP MPRS XXXIII/1967 (yang berkaitan dengan nama baik Bung Karno).

Sudah 17 tahun reformasi, tapi  sampai sekarang ini belum ditemukan pemimpin bangsa Indonesia yang mau memahami pola-pola tersebut, sehingga pembangunan yang mencerminkan  tuntutan hakiki Pancasila 1 Juni 1945, hingga saat ini  belum dapat dirasakan hasilnya, dalam konteks ini yang  salah bukan Pancasila 1 Juni 1945, yang salah adalah polanya karena sudah dihancurkan oleh rezim militer fasis Orde Baru, dan diteruskan oleh rezim reformasi gadungan sampai sekarang ini.

Apakah pola Pembangunan NKRI menurut Pancasila 1 Juni 1945, Pola Pembangunan itu adalah :Demokrasi Terpimpim, yang artinya adalah Demokrasi yang mengikuti keteraturan yang telah ditetapkan oleh Pancasila 1 Juni 1945, yaitu Demokrasi yang mempraktekan musyawarah dan mufakat, Demokrasi yang membela amanat penderitaan rakyat, dan membela kedaulatan rakyat, bukan demokrasi leberal/neoliberal yang dikagumi oleh pera elite bangsa Indonesia yang berkuasa dinegeri ini. Demikin juga pola Perekonomian, seharusnya melaksanakan pola Demokrasi ekonomi, menurut UUD 45, khususnya Pasal 33 UUD 45, bukan ekonomi neoliberal, yang mengikuti globalisasi pasar bebas milik kaum kapitalis neoliberal, pimpinan imperialisme AS, dimana kedaulatan pasar ditempatkan diatas kedaulatan rakyat; dan pola persatuan bangsa Indonesia, yaitu persatuan dari semua gplongan, yang menyetujui jiwa Pancasila 1 Juni 1945 , yaitu persatuan yang berjiwa Pluralisme. Semuanya ini sudah dihancurkan, sehingga Pancasila telah busuk dan mati.

Jadi jika mememang kita  iklas dan jujur hendak menghidupkan kembali  Pancasila 1 Juni 1945, maka kita harus berjuang secara bergotong royong dari semua kekuatan demokratis dan revolusioner, menghidupkan kembali pola-pola Pancasila 1 Juni 1945, seperti yang sudah disebutkan diatas; agar supaya kita dapat menghadirkan kesejahteraan hidup bagi Rakyat Indonesia secara keseluruhan.  Menghadirkan suatau masyarakat yang bebas dari adanya penghisapan manusia atas manusia, yang oleh Bung Karno disebut masyarakat sosialis Indonesia.

Cara menggali kembali Pancasila untuk keadilan dan kemakmuran bangsa, sama sekali tidak dapat dibenarkan, karena Pancasila 1 Juni 1945 itu sudah final, tak perlu digali kembali,  yang penting bagi kita adalah menghidupkan kembali pola-pola Pancasila 1 Juni 1945 , yaitu demokrasi terpimpin, demokrasi ekonomi, kebudayaan Indonesia, dan manifesto politik/USDEK, ini yang harus dihidupkan kembali, jika kita memang iklas dan jujur hendak menghadirkan kemakmuran dan kesejahteraan Rakyat Indonsesia. Cara menggali kembali Pancasila adalah jalan yang sesat, oleh karena itu perlu dipertanyakan: Mau menggali kembali atau mau merubah Pancasila 1 Juni 1945?

Oleh karena itu studi tentang pola sangat penting untuk memahami system kehidupan Pancasila 1 Juni 1945 yang sifatnya sistemik, sebagaimana yang telah di sebutkan diatas, yang muncul dari suatu konfigurasi hubungan-hubungan yang teratur. Sifat-sifat sistemik adalah sifat-sifat suatu pola, jadi apa yang rusak ketika Pancasila 1 Juni 1945  mati, yang rusak adalah polanya. Semua komponen-komponennya yaitu bangsa Indonesia masih tetap ada,  Rayat Indonesia yang  patriotik dan revolusioner masih ada, Bineka Tunggal Ika masih ada, kaum Buruh dan Tani yang mendukung UUD 45, khususnya Pasal 33 UUD 45 masih ada, para patriot revolusioner Indonesia masih ada, para pengusaha nasional yang patriotik masih ada, UUD 45, khususnya Pasal 33 UUD 45, Pancasila 1 Juni 1945, semuanya masih tetap ada, tapi konfigurasi hubungan diantara komponen-komponen itu telah dihancurkan lewat TAB MPRS XXV/1966 , bikinan rezim diktator militer fasis pimpinan jendral TNI AD Soeharto, sehingga Pancasila  mati sampai sekarang ini.

Penghancuran komponen-komponen bangsa ini tercarmin dalam TAB MPRS XXV/1966, yang melarang mempelajari teori-teori sosialisme, komunime , TAB MPRS XXV /1966 diera reformasi sekarang ini masih terus dijunjung tinggi oleh  DPR RI, dan para politikus busuk warisan rezim militer fasis Soeharto. Semua gerakan yang memperjuangkan kembalinya UUD 45, khususnya Pasal 33, dan Pancasila  1 Juni 1945, Manifesto Politik /USDEK langsung dicurigai dan diberi stempel PKI, di ancam dan di tangkap oleh polisi.

Hanya almarhum Presiden Gus Dur yang pernah mencanangkan agar supaya TAP MPRS XXV/1966 dicabut, dampaknya adalah Gus Dur dilengser oleh gerakan poros tengah pimpinan Amin rais. Pengalaman Gus Dur inlah yang mencerminkan bahwa di NKRI era reformasi ini masih banyak elemen-elemen orde baru yang anti  UUD 45, khususnya khususnya Pasal 33 UUD 45 , dan Pancasila 1 Juni 1945, dan mereka masih mendominasi kekuasaan politik di NKRI sebagai penumpang–penumpang gelap di NKRI, yang katanya sudah berreformasi sejak 17 tahun lamanya.

Nampaknya semua eleman-eleman Orde Baru dan para elite reformis gadungan (busuk) yang berkuasa di negeri ini, tak dapat memahami keadaan ini, karena mereka gagal dalam memahami pentingnya pola, yang terkandung dalam jiwa Pancasila 1 Juni 1945, dan mereka terus memutus konfigurasi hubungan-hubungan diantara komponen-komponen bangsa Indonesia yang Bineka Tunggal Ika. Itulah sebabnya mengapa sudah 17 tahun reformasi tapi Pancasila 1 Juni 1945 masih belum dapat dilaksanakan sepenuhnya . Sungguh menyedihkan kondesi seperti ini !!!

Roeslan.

 

18
Jun
15

Kepemudaan : Kepanduan Indonesia dalam Sejarah

Image

“Kepanduan dimana pun djuga hanjalah satu, dan dasarnja, satu udjudnja, satu tudjuandja nusa dan bangsa manusia dan dunia jang mempunjai sifat salam dan bahagia” -Supardo (Sesepuh Kepanduan Indonesia)-

Aku adalah seorang pramuka, dahulu, sekarang, dan selamanya. Aku ingat pertama kali memasuki organisasi ini ketika masih SMP dulu. Masih zaman orde baru tentunya. Ketika itu kepanduan tengah memasuki masa-masa kejayaanya karena dianggap sebagai salah satu saluran indoktrinasi paham orde baru. Aku tidak mau melihat hal itu. Yang aku tahu, keputusanku untuk tergabung dengan pramuka puluhan tahun lalu itu tidak pernah kusesali hingga saat ini. “Tidak ada kata pensiun bagi seorang Pramuka”, ujar salah seorang pelatihku. Aku benar-benar mengingat perkataan itu hingga kini. Aku adalah seorang pramuka, dahulu, sekarang, dan selamanya.

Di luar segala kekurangannya, aku melihat pengaruh positif kegiatan kepanduan dalam diriku dan teman-teman yang pernah tergabung Pramuka lainnya. Aku ingin menyebarkan pengaruh positif ini sehingga aku pernah terjun langsung untuk membina satu pangkalan Pramuka di Bandung. Ketika itu Pramuka sudah tidak lagi menjadi kegiatan favorit. Ia tergerus oleh modern dance, basket, futsal dan lain-lain. Organisasi yang sangat mengakar dalam sejarah Indonesia ini begitu saja tersingkir oleh organisasi-organisasi baru yang banyak mengadopsi budaya luar. Pramuka dianggap kuno, “orde baru banget”, tidak asyik dan sebagainya. Aku sedih melihat kenyataan itu. Dengan susah payah aku mempertahankan pramuka untuk eksis di pangkalan yang kubina walaupun pihak sekolah dan orang tua banyak menentangnya. Sedikit siswa-siswi berhasil kukumpulkan untuk kubina menjadi seorang Pramuka. Kusajikan aspek-aspek pendidikan yang tidak mereka dapatkan dalam sistem pendidikan modern. Bukan hal-hal cliche seperti “Budi pekerti”, “sopan santun”, dan sebagainya. Aku hanya ingin menanamkan prinsip “Jadilah dirimu sebaik-baiknya dirimu sendiri” kepada adik-adik binaanku. Itulah Pramuka yang sejati. Yang bangga dan bisa mengembangkan dirinya sebaik mungkin layaknya tunas kelapa yang dapat tumbuh di mana saja. Untuk menjadi pemuda-pemudi yang memiliki sikap, bukan mereka yang hanya mengekor mayoritas. Aku selalu teringat pesan Lord Baden Powell berikut.

…Lebih baik melihat suatu hal dari sisi baiknya daripada dari sisi buruknya. Cara yang benar untuk memperoleh kebahagiaan ialah dengan membahagiakan orang lain. Berusahalah agar kamu dapat meninggalkan dunia ini dalam keadaan yang lebih baik daripada ketika kamu datang. Dan ketika tiba giliranmu untuk meninggalkan dunia ini, maka kamu akan meninggal dengan hati bahagia karena ketika masih hidup kamu tidak menyia-nyiakan waktumu, tetapi telah kamu gunakan dengan sebaik-baiknya…

-PESAN LORD BADEN POWELL OF GILWELL YANG TERAKHIR-

Image

Tiga generasi kepanduan

Indonesia tanah airku. Tanah tumpah darahku. Di sanalah aku berdiri. Jadi pandu ibuku.  -W.R. Soepratman, Indonesia Raya-

Seperti telah kusebutkan sebelumnya, Pramuka atau kepanduan adalah organisasi yang memiliki akar kuat pada sejarah bangsa ini. Bukankah kata “pandu” tercantum pada lagu kebangsaan negara kita ? Ya, kepanduan adalah satu-satunya organisasi yang masih berdiri sejak peristiwa sumpah pemuda hingga saat ini walaupun namanya berubah-ubah seiring zaman. Beruntunglah aku menemukan buku 5 Tahun Pandu Rakyat Indonesia yang menyajikan sekilas sejarah kepanduan di Indonesia hingga tahun 1950. Buku ini diterbitkan oleh Pengurus Besar pandu Rakyat Indonesia tahun 1951. Pada awalnya buku ini hendak diterbitkan seiring peringatan hari ulang tahun ke-V Pandu Rakyat Indonesia tanggal 28 Desember 1950, tapi karena satu dan lain hal penerbitannya diundur hingga tahun berikutnya. Buku kenangan ini memuat berbagai terstimoni tokoh-tokoh kepanduan saat itu termasuk di dalamnya kilasan sejarah kepanduan di Indonesia yang ditulis oleh Sdr. Himodigdojo (Pemimpin Bag. Penerbitan). Berikut garis besarnya :

Gerakan kepanduan dirintis oleh Lord Baden Powell of Gilwell (1857 – 1941). Pada tahun 1908 ia menulis buku “Scouting for Boys” yang isinya sangat menarik berbagai kalangan. Buku ini hingga saat ini menjadi “kitab suci” anggota pandu di seluruh bagian dunia.

Beberapa tahun sebelum meletusnya Perang Dunia pertama, benih kepanduan mulai ditanam di Indonesia. Pada tahun 1912 seorang bernama P. Joh. Smits mendirikan cabang N.P.O. (Nederlandse Padvinderij Organisatie) atas anjuran perkumpulannya di Nederland. Dalam waktu singkat usahanya memancing berbagai kalangan untuk membentuk organisasi serupa. Berdirilah perkumpulan0perkumpulan kepanduan Belanda dengan alirannya masing-masing di Indonesia. Pada tanggal 4 September 1914 seluruh organisasi tersebut disatukan dalam De Nederlands Indische Padvinderij Vereniging (NIPV).

Tidak seperti organisasi kepanduan sebelumnya, NIPV mulai membuka keanggotaan bagi orang pribumi. Itupun masih diisi kalangan bangsawan karena hanya mereka yang bisa mengenyam pendidikan. Kapan resminya organisasi kepanduan Indonesia yang mandiri tidak dapat ditentukan dengan pasti, tapi pada tahun 1916 atas inisiatif S.P. Mangkunegoro VII di Solo didirikan “Javaanse Padvinderij Organisatie” (JPO). Setelah itu didirikan pula organisasi “Taruna Kembang” untuk daerah Kasunanan di bawah pimpinan Pangeran Surjobroto.

Sampai tahun 1922 perkembangan Kepanduan Indonesia sangat subur : Budi Utomo mendirikan Nationale Padvinderij di bawah pimpinan Daslam Adiwarsito; Sarekat Islam mendirikan “Wira Tamtama” di bawah pimpinan A. Zarkasi; Muhammadyah mendirikan “Hizbul Wathan” di bawah asuhan Djumaeri; Sarekat Rakjat yang berhaluan kiri dan berada di bawah kendali PKI turut mendirikan kepanduan sendiri yang dikomandoi Sujar. Sebagian besar perkumpulan organisasi kepanduan Indonesia saat itu memang menginduk kepada organisasi yang lebih besar, oleh karena itu seringkali pemerintah kolonial kurang menyambutnya dengan baik.

Karena sifatnya yang menjadi “onderbouw” organisasi politik, kepanduan Indonesia saat itu memang melanggar asas kepanduan yang “terlepas dari segala ikatan dari luar dan menurut garis-garis yang telah diberikan Baden Powell”. Materi-materi pendidikan dan pelatihan yang diberikan pun seringkali berbeda antar organisasi tergantung kepentingannya masing-masing. Tapi yang pasti organisasi ini menjadi sangat beken di kalangan pelajar saat itu. Tahun 1922 perkumpulan kepanduan ini semakin semarak dengan didirikannya Jong Java Pandvinderij, Nationale Islamitische Padvinderij (Napitij) milik Jong Islamiten Bond, Indonesisch Nationale Padvinderij Organisatie dan Pandu Pemuda Sumatera.

Kalangan agama ikut meramaikan dunia kepanduan ini. Sampai tahun 1935 telah berdiri Al Kasjaaf, Tri Darma (Kristen), Al Wathony, Kepanduan Masehi Indonesia, Kepanduan Azas Katholik Indonesia, Pandu Indonesia, Pandu Kasultanan, Hizbul Wathan, Kepanduan Islam Indonesia, Sinar Pandu Kita, dan Kepanduan Rakjat Indonesia.

Image

Pandu-pandu S.I.A.P. (di bawah naungan SI) bersiap mengawal pemimpin2nya. Di deretan tengah duduk diantaranya A.M. Sangadji, Soerjopranoto, HOS Tjokroaminoto, dan HA Salim

Majunya gerakan kepanduan di kalangan Pribumi ini tentu mengkhawatirkan pemerintah kolonial karena bisa “menambah tenaga penentang pemerintah kolonial”. Oleh karena itu pada tanggal 5 April 1926 atas undangan pimpinan NIPV diadakan pusat permusyawaratan pusat pimpinan organisasi kepanduan Indonesia yang terbesar : HW, JPO, NPO, NP dan NIPO di Jogjakarta. Pertemuan itu dipimpin sendiri oleh komisaris besar NIPV tuan G.J. Ranneft. Ia menyerukan penggabungan organisasi kepanduan Indonesia ke dalam NIPV. Dikarenakan penolakan atas alasan prinsipil dari HW dan NPO, konperensi selama dua hari itu gagal menghasilkan keputusan apa-apa.

Pada tahun 1928 NIPV mencoba kembali untuk menarik kepanduan Indonesia dalam lingkungannya. Anggaran dasarnya dirobah supaya dapat mengakomodir kepentingan golongan kepanduan Indonesia, tapi langkah ini pun lagi-lagi ditolak sebagian besar kepanduan Indonesia.

Pada tahun 1927 kelompok-kelompok kepanduan Indonesia telah mulai membicarakan wacana penggabungan atau fusi, yang dalam prakteknya banyak menemui hambatan karena sebagian besar bergantung kepada organisasi induknya. Atas kebijaksanaan para penganjurnya, pada tahun 1929 didirikanlah badan federatif bernama PERSAUDARAAN ANTARA PANDU INDONESIA (PAPI) dengan anggotanya : JJP, INPO, NATIPIJ, PPS, dan SIAP. Sedangkan HW belum memberikan kepastian. Sebagai pegurus besarnya dipilih Mr. Soenario (INPO), Dr. Moewardi (JJP) dan Ramelan (SIAP). Pimpinan pusatnya berada di Batavia, sedangkan di daerah dibentuk PAPI daerah.

Terbentuknya PAPI merupakan fase pertama menuju arah persatuan. Seiring upaya penggabungan perkumpulan pemuda oleh Jong Java dan Pemuda Indonesia, percepatan penggabungan Pandu Kebangsaan (Dulunya JJP), PPS dan INPO diwujudkan dalam bentuk organisasi baru bernama KEPANDUAN BANGSA INDONESIA (KBI) tanggal 13 September 1930. Anggotanya antara lain Soeratno Sastroamidjojo, Pintor, Tirtosoepono, Nyonya Abdul Rachman, Dr. Bahder Djohan, dll. Untuk menunjukan haluan nasionalismenya, KBI telah menggunakan panji dan kacu berwarna merah-putih.

Persatuan kepanduan Indonesia ini tentu saja semakin mengkhawatirkan pihak kolonial sehingga rintangan-rintangan secara halus maupun terang-terangan mulai dikeluarkan. Peringatan hari Diponegoro dan Kartini yang penting artinya bagi pandu Indonesia dilarang diadakan. Beberapa pemimpin kepanduan ditangkapi. Bahkan Komisaris Besar NIPV melarang kepanduan Indonesia menggunakan istilah “padvinder” atau “padvinderij” yang kemudian digantikan oleh kata “pandu” atau “kepanduan” oleh H. Agus Salim. Pandu Indonesia bahkan tidak berkenan menyambut kedatangan Lord Baden Powell ke pulau Jawa, dalam rangka perjalanan ke Australia (1935). Walau demikian  berbagai rintangan tersebut  membuat Pandu Indonesia semakin solid.

baden

Pada tanggal 30 April 1938 PAPI merintis pertemuan yang dihadiri KBI, SIAP, NAPITIJ, dan Hizbul Wathon di Solo. Menghasilkan Badan Pusat Persaudaraan Kepanduan Indonesia (BPPKI). Pada tahun 1941 anggota BPPKI bertambah dengan masuknya K.I.I. Hizbul Wathan, Sinar Pandu Kita, Al Wathoni, dan KAKI.

BPPKI sempat mewacanakan pengadaan PERKINO (Perkemahan Kepanduan Indonesia Oemoem) tapi gagal dilaksanakan karena kedatangan Jepang. Selama jaman Jepang gerakan kepanduan dilarang sama sekali, sebagai gantinya mereka dimasukkan dalam gerakan Keibondan atau Seinendan.

Pasca kemerdekaan, tepatnya pada bulan September 1945, tokoh-tokoh kepanduan berkumpul di gedung Balai Mataram Jogjakarta untuk menyiapkan Kongres Kepanduan yang dilakukan di kota Bengawan selama tiga hari tanggal 27-29 Desember 1945. Kongres ini langsung disambut oleh berduyun-duyung anggota Pandu dari seantero Jawa. Sekitar 300 perwakilan Pandu dan pemimpinnya menghadiri acara itu.

Tepat pada tanggal 28 Desember 1945 itulah ditempa keputusan untuk mendirikan PANDU RAKJAT INDONESIA. Ditandai dengan Janji Ikatan Sakti yang berbunyi :

1. Melebur segenap Perkumpulan Kepanduan Indonesia dan dijadikan satu organisasi Kepanduan : Pandu Rakjat Indonesia.

2. Tidak akan menghidupkan lagi kepanduan yang lama

3. Tanggal 28 Desember diakui sebagai Hari Pandu bagi seluruh Indonesia

4. Mengganti setangan leher yang beraneka warna dengan warna HITAM.

Selama lima tahun berdirinya PRI banyak sekali rintangan yang dihadapi karena saat itu masih dalam nuansa perlawanan terhadap penjajahan Belanda. Contohnya ketika Kepanduan mengadakan upacara peringatan kemerdekaan Indonesia ke-III tanggal 17 Agustus 1948 di halaman Gedung Pegangsaan Timur 56 Jakarta, acara itu ternodai akibat aksi pembubaran oleh Polisi Militer Belanda yang mengakibatkan jatuhnya nyawa seorang Pandu bernama Suprapto.

IMG_0005

IMG_0007

***

Demikian sekilas ulasan sejarah Kepanduan di Indonesia hingga berdirinya Pandu Rakjat Indonesia tahun 1945. Perjalanan sejarah sebenarnya masih panjang hingga terbentuknya PRAMUKA lewat keputusan Presiden RI nomor 238 tanggal 20 Mei 1961 dengan lambang Tunas Kelapanya.  Gerakan Pramuka pun diresmikan tanggal 14 Agustus 1961 ditandai dengan penganugerahan panji-panji kepada Organisasi Kepanduan oleh Presiden Soekarno. Tanggal 14 Agustus hingga kini tetap dirayakan sebagai hari Pramuka.

pad

Ada satu lagi hal menarik, perkembangan kepanduan di Indonesia (lagi-lagi) tidak bisa dilepaskan dari peranan kaum Teosofi. Semboyan Padvinders “Karaktervorming! Broederschap! Lichamelijke ontwikkeling! (Pembangunan Karakter, Persaudaraan, dan pembanguan fisik) sangat sesuai dengan cita-cita kaum Teosofi.

Kedekatan antara Kepanduan dengan Teosofi juga ditunjukan dari kehadiran Van Hinloopen Labberton (Suhu Agung Teosofi Indonesia) pada upacara pelantikan pengurus kepanduan Hindia Belanda pada tahun 1917 oleh istri Gubernur Jenderal Hindia Belanda, Countess van Limburg Stirum – van Sminia. Selain itu, seorang anggota Gerakan Teosofi terkemuka, A. Meijroos memimpin gerakan Pramuka di Ardjoenaschool (Sekolah kaum teosofi di Bandung). Yang menarik lagi, ternyata markas gerakan Padvinderij di Bandung menempati markas Gerakan Teosofi Bandung (Bandung Loge) !

Image

Pada suatu hari Bung Karno dengan kawan-kawan 7 orang in cluis Bung Karno, di satu rumah yang dulu bernama Regentsweg di Bandung, tujuh orang ini meletakkan, melahirkan satu gedung baru, yaitu gerakan Partai Nasional Indonesia. Dari tujuh orang ini Saudara-saudara, berkembang, berkembang, berkembang, berkembang, berkembang,akhirnya Saudara-saudara menjadi pelopor dari pada gerakan revolusioner yang… pada tanggal 17 Agustus mengkirbalikkan sama sekali kekuasaan yang berakar dari imperialisme di Indonesia…. dengan tujuh orang ini Saudara-saudara, dari gerakan revolusioner ini makin kuat.   -Soekarno-

Apabila Surabaya dikenang sebagai kota pahlawan, maka Bandung selayaknya dikenang sebagai kota nasionalis. Rasanya aku tidak perlu lagi mengungkit kiprah pahlawan-pahlawan nasional seperti Bung Karno, Sjahrir, Dr. Tjipto, Douwes Dekker, Abdoel Moeis dll. di kota “Parijs van Java” ini. Tapi yang pasti kota ini melahirkan sebuah organisasi revolusioner bernama Partai Nasional Indonesia. Satu-satunya partai yang mengemban tugas suci untuk “menyatukan seluruh rakyat Indonesia dengan tiada membedakan agama, suku dan sebagainya dalam suatu kekuatan yang maha hebat.” Suatu partai yang menyerukan perjuangan non-koperasi, melaksanakan “tercapainya Indonesia merdeka secepat mungkin.”

Kita hampir saja melupakan itu. Propaganda orde baru yang membenci segala hal berbau “Soekarno” termasuk partai yang didirikannya menghilangkan ingatan masyarakat atas pergerakan nasional yang banyak dilahirkan di Bandung. Bandung yang memiliki peran dalam melahirkan dan menyatukan tokoh-tokoh perintis kemerdekaan tergeser namanya oleh Surabaya dan Jogjakarta yang lebih berperan pada era “mempertahankan kemerdekaan”. Dalam catatan sejarah itu, Bandung hanya dikenal lewat peristiwa “Bandung Lautan Api”-nya.

Bandung yang saat itu menjadi salah satu pusat pendidikan di Hindia Belanda tidak bisa dipungkiri telah tercatat dalam sejarah sebagai salah satu pusat pergerakan nasional yang sangat berpengaruh. Pada tahun 1913 di Bandung, seorang Suwardi Suryaningrat yang telah bermitra dengan Douwes Dekker dan Dr. Tjipto telah menyebarkan selebaran “Als ik nederlander was” yang sangat menggusarkan pemerintah kolonial. Para penulisnya mendapat hukuman pengasingan dari pemerintah. Jangan pula dilupakan bahwa sebelumnya, pada  tanggal 25 Desember 1912 kota Bandung turut menjadi saksi didirikannya “De Indische Partij  – partai politik pertama di Hindia Belanda oleh Tiga Serangkai (DD, Tjipto, dan Ki Hajar Dewantara).

Sekitar satu dekade setelah didirikannya Indinsche Partij, seorang pemuda bernama Soekarno tiba di Bandung untuk melanjutkan pendidikannya di Technische Hogeschool. Semenjak kakinya menginjak peron stasiun Bandung kala itu, Soekarno telah memasuki episode baru hidupnya dalam dunia politik. Udara Bandung telah dihirupnya. Udara perubahan. Udara kreativitas.

“Minggu terahir bulan Juni tahun 1921 aku memasuki kota Bandung, kota seperti Princeton atau kota pelajar lainnya dan kuakui bahwa aku senang juga dengan diriku sendiri. Kesenangan itu sampai sedemikian sehingga aku sudah memiliki sebuah pipa rokok.” -Soekarno

Pembukaan Studie Club di Surabaya oleh Dr. Soetomo pada Juli 1924 menginspirasi Soekarno muda untuk membuka kelompok serupa di Bandung. Kelompok ini bertujuan untuk memberikan pendidikan politik kepada masyarakat. Studie Club Bandung yang dipimpin Soekarno termasuk sangat progresif diantaranya dengan menerbitkan majalah Suluh Indonesia Muda dan menjalin hubungan dengan Perhimpunan Indonesia di Nederland. Studie Club Bandung ini nantinya akan menjelma menjadi sebuah organisasi besar yang pernah merajai dunia perpolitikan Indonesia pada zamannya. Organisasi itu adalah Partai Nasional Indonesia (PNI). Berikut sekilas sejarah partai berlambang banteng tersebut seperti dimuat dalam buku Banteng Segitiga karya Soenario SH..

Image

Para pengurus PNI (1927)

PNI didirikan di sebuah paviliun selatan rumah di Regentsweg no. 22 (sekarang jl. Dewi Sartika) Bandung pada suatu malam tanggal 4 Juli 1927. Mereka yang berada di tempat itu antara lain Mr. Iskaq, Mr. Sartono, Mr. E.S. Budyarto Martoatmodjo, Mr. Sunario, Dr. Samsi Sastrowidagdo, Ir Soekarno, Ir. Anwari, dan Dr. Tjipto Mangunkusumo. Mereka semua akan tercatat sebagai pendiri PNI, kecuali Dr. Tjipto yang menolak diikutsertakan atas alasan keamanan. Meski demikian Soekarno tetap menganggap Dr. Tjipto sebagai salah satu pendiri, selain Sujadi dan J. Tilaar yang menjadi penghubung antara pemuda di Bandung dengan Hatta di Nederland.

Pembentukan PNI sendiri terjadi secara tidak sengaja. Semua ini diawali atas kedekatan kantor arsitek Soekarno dan Anwari dengan kantor advokat milik Mr. Iskaq yang sama-sama berada di Regentsweg 8 (Kini Hotel Swarha) alun-alun Bandung. Mr. Iskaq merupakan advokat lulusan Leiden yang pernah aktif dalam organisasi Perhimpinan Indonesia di Nederland. Ketika kantor arsitek Soekarno dan Anwari pindah ke Regentsweg 22 ia pun bertemu dengan Dr. Samsji yang berkantor di bagian atasnya. Pertemuan antara tokoh-tokoh tersebut langsung berlanjut kepada keinginan untuk membentuk partai nasional yang beraliran non cooperation. Sempat terjadi debat serius mengenai prinsip non koperasi yang akan diusung partai ini.  Tapi akhirnya Soekarno berhasil mempertahankan keyakinannya atas prinsip tersebut. “…Kita tidak lagi berjalan perlahan-lahan, 350 tahun sudah cukup perlahan,” ujar Soekarno mengusung suatu gerakan radikal.

PNI pun didirikan dengan susunan pengurus sebagai berikut :
1. Ir. Soekarno                                 : Ketua
2. Mr. Iskaq Tjokrohadisurjo   : Sekretaris / Bendahara
3. Dr. Samsi Sastrowidagdo       : Anggota
4. Mr. Sartono                                 : Anggota
5. Mr. Sunario                                 : Anggota
6. Ir. Anwari                                    : Anggota
Pada awalnya PNI merupakan singkatan dari Perserikatan Nasional Indonesia hingga kemudian diubah menjadi Partai Nasional Indonesia pada kongres pertama di Surabaya tahun 1928. Pokok maksud pembentukan PNI adalah mencapai kemerdekaan penuh untuk Indonesia. Yang hendak diakui hanyalah pemerintahan yang disusun dan dibangun oleh rakyat. Bekerja sama dengan pemerintah Hindia Belanda ditolal, tapi hendak dibangunkan suatu bentuk tata negara nasional, di dalam lingkaran perhubungan-perhubungan yang berkalu sekarang. Yang diterima menjadi anggota adalah sekalian orang Indonesia, yang telah beurmur 18 tahun, sedang sekalian bangsa timur asing hanya boleh menjadi  donatur.

Image

Soekarno memberi ceramah di hadapan massa PNI (Ilustrasi dari Film Soekarno, 2013)

Pendirian PNI disambut masyarakat luas. Kharisma Soekarno dalam tiap-tiap rapat umum memberikan sumbangan besar bagi perluasan pengaruh PNI. Pada awal tahun 1929 anggota PNI tercatat 6000 orang, 1500 di antaranya berada di Bandung. Dalam rapat-rapat yang seringkali dihadiri ribuan orang, terpampang simbol-simbol “banteng segitiga”, semboyan-semboyan revolusioner, dan seringkali gambar Pangeran Diponegoro. Sejak diperkenalkan pada event kongres pemuda II tahun 1928, lagu Indonesia Raya pun menjadi lagu  wajib yang diputar pada setiap rapat PNI. Rapat-rapat ini biasanya turut dihadiri agen Politieke Inlichtingen Dienst (PID) bersama Patih, Wedama, Asisten-wedana dan sebagainya yang dengan ketat mengawasi setiap materi yang dibawakan pembicara. Saat itu pegawai pemerintahan dilarang terlibat kegiatan politik. Dalam satu waktu, seorang patih yang sedang mengawasi rapat PNI begitu terpikat oleh pidato-pidato Soekarno sehingga ia tidak sengaja ikut bertepuk tangan. Tidak lama kemudian si Patih ini dipensiunkan (peristiwa patih keplok).

“Kami tidak mempunyai pengeras-suara, karena itu aku harus berteriak sampai parau. Di waktu sore aku memekik-mekik kepada rakyat yang menyemut di tahah-lapang. Di malam hari aku membakar hati orang-orang yang berdesak-desak sampai berdiri dalam gedung pertemuan. Dan di pagi hari aku memekik urat leher dalam gedung bioskop jang penuh sesak dengan para pecinta tanah air. Kami pilih gedung bioskop untuk pertemuan pagi, karena pada jam itu kami dapat menyewanya dengan ongkos murah.”  -Soekarno-

Perkembangan PNI sangat mengkhawatirkan pemerintah kolonial sehingga pada tahun 1929 mereka mengadakan razia dan penangkapan-penangkapan tokoh nasional. Di antara tokoh yang ditangkap merupakan para aktivis PNI seperti Soekarno, Gatot Mangkupraja, Maskun dan Supriadinata. Proses pengadilan mereka yang dilakukan di gedung Landaad Bandung menghasilkan pleidoi legendaris buatan Soekarno berjudul “Indonesia Menggugat”. Soekarno dan kawan-kawannya akhirnya dijatuhi hukuman penjara yang berujung pada pembubaran PNI. Pembubaran partai ini sangat disesalkan oleh Soekarno.

Bekas-bekas anggota PNI pun terpecah. Sebagian mengikuti Mr. Sartono lewat organisasi “Partai Indonesia” (Partindo) yang didirikan tanggal 29 April 1931. Partai ini mengalami pelemahan karena motornya “Soekarno” tidak lagi terlibat di dalamnya. Walau demikian tenaga-tenaga baru mulai terlibat di partai ini, antara lain Amir Sjarifuddin, M. Yamin, Mr. Sujudi, Gatot Mangkupraja, dll. Di sisi lain, sebagian anggota PNI lama membentuk “Pendidikan Nasional Indonesia” yang mengambil sikap lebih lunak dibandingkan Partindo.

Pemerintah Kolonial tetap mengawasi Partindo dengan kecurigaan penuh. Pada tahun 1936 banyak tokoh-tokoh partai ini yang  mendapatkan hukuman pengasingan dari pemerintah, dengan demikian berakhir pulalah perjuangan Partindo pada tanggal 18 November 1936. Kondisi demikian tidak melemahkan upaya segenap perintis kemerdekaan untuk menjalankan perjuangan politiknya. Pada tanggal 24 Mei 1937 beberapa bekas tokoh Partindo mendirikan Gerindo (Gerakan Rakyat Indonesia), dipimpin oleh A.K. Gani. Nasib organisasi ini berakhir seiring kedatangan Jepang ke Nusantara.

Pasca kemerdekaan, tepatnya tanggal 4 Desember 1945 bertempat di Pegangsaan Barat No. 6 Jakarta, di rumah Soewirjo beberapa bekas anggota PNI, Partindo, dan Gerindo membentuk partai politik baru dengan nama “Serikat Politik Indonesia” atau Serindo. Setelah dilakukan pendekatan dengan partai politik lain, pada kongres di Kediri tanggal 129-31 Januari 1946 Serindo dan partai-partai lainnya melakukan fusi untuk membentuk PNI. Selanjutnya PNI akan banyak melibatkan anggota-anggotanya dalam kabinet yang sering berganti dalam masa-masa awal kemerdekaan Indonesia. Puncak kejayaan PNI adalah ketika berhasil menempatkan Ali Sastroamidjojo tahun 1954 dan mendorong diadakannya Konperensi Asia-Afrika tahun 1955 di Bandung. Sebelum diadakannya konperensi tersebut, PNI sempat mengadakan kongres ke-VII di kota yang sama. PNI seakan-akan merayakan kejayaanya di kota yang telah melahirkannya. Luar biasa kemeriahan yang berlangsung di Bandung kala itu, seperti terlihat dalam dokumentasi yang dimuat buku laporan kongres PNI ke-VII berikut :

Image

Image

Gedung Concordia di Bandung, tempat diadakannya kongres PNI ke-VII tahun 1954

Image

Massa PNI membludak menghadiri rapat umum di Lap. Tegalega Bandung

PNI menjadi salah satu partai yang memperoleh hasil terbesar dalam pemilu 1955. Tapi dikarenakan tidak ada partai yang memperoleh suara mayoritas, maka seperti sebelum-sebelumnya, kabinet yang terbentuk pun seringkali seumur jagung, jatuh bangun dalam waktu singkat. Stabilitas nasional menjadi terganggu. Para tahun 1958 Presiden Soekarno akhirnya membubarkan parlemen dan mencanangkan demokrasi terpimpin. Sejak itu PNI menjadi penyokong utama program-program Presiden Soekarno hingga kejatuhannya tahun 1967.

Selepas terjadinya peristiwa pemberontakan Gestok, PNI kembali mengalami perpecahan. Semua itu diawali ketika Sekertaris Jenderal Partai, Ir. Surachman mengeluarkan statemen tanggal 1 Oktober yang memberikan simpati terhadap gerakan kudeta tersebut. Pemecatan pun dilakukan terhadap mereka yang menolak garis kebijakan partai, namun mereka yang dipecat pada tanggal 4 Agustus 1965 mengeluarkan deklarasi pembentukan PNI Baru. Kedua versi PNI ini baru bersatu setelah diadakan Kongres Luar Biasa di Bandung tanggal 24-27 April 1966 yang diprakarsai Letjen Soeharto selaku pemegang kuasa Supersemar.

Saat itu PNI telah menuju jurang kehancuran yang disebabkan kekisruhan internal dan serangan eksternal. Demonstrasi dan teror dilakukan terhadap kantor-kantor PNI di seantero negeri. Kebijakan-kebijakan pemerintah pun banyak yang merugikan dan membatasi gerak partai ini. Puncaknya adalah ketika pemerintah Orde Baru membatasi jumlah partai pada tahun 1973. Tepatnya pada tanggal 10 Januari 1973 pukul 24.00 resmilah fusi antara PNI, Partai Ikatan Pendukung Kemerdekaan Indonesia (IPKI), Partai Kristen Indonesia (Parkindo), Partai Katolik, dan Partai Murba menjadi  Partai Demokrasi Indonesia (PDI).  Tanggal tersebut turut menjadi tanggal matinya PNI yang terlahir tanggal 4 Juli 1927 di Bandung.

Partai Nasional Indonesia (PNI) sebagai Partai Rakyat telah tidak ada. Tetapi sebagai pergerakan rakyat dengan semboyannya “Indonesia Merdeka Sekarang” dan banteng sebagai lambang perjuangannya telah berhasil bersama-sama seluruh rakyat Indonesia mengantarkan rakyat Indonesia memasuki pintu gerbang Kemerdekaan Bangsa Indonesia dant etap tegar mempertahankan Pancasila di bumi Indonesia.

Image

Guntur Soekarnoputra menjadi jurkam untuk PNI

Image

Para pengurus PNI berpose bersama Soeharto selaku pemegang kuasa Supersemar tahun 1966

****

Demikian sejarah singkat Partai Nasional Indonesia (PNI) sejak lahir hingga “kematiannya” dikisahkan dengan detail oleh salah seorang pendirinya, Prof. Soenario SH. dalam buku Banteng Segitiga (Yayasan Marinda Jakarta, 1988). Buku yang sangat berharga karena ditulis oleh pelaku sejarahnya langsung. Prof. Soenario SH. atau lebih dikenal sebagai Mr. Soenario lahir tanggal 28 Agustus 1902, lulus tahun 1925 dari Universitas Leiden, selanjutnya sangat aktif dalam dunia perpolitikan nasional. Di antaranya dalam pendirian PNI, Sumpah Pemuda, Kepanduan, Kabinet RI, dan lain-lain. Beliau adalah salah satu generasi perintis kemerdekaan yang usianya cukup lanjut. Bayangkan saja, ketika buku ini ditulis tahun 1972 beliau telah berusia 70 tahun. Beliau pun sempat menyaksikan cetak ulang buku ini tahun 1988. Sebelumnya pada tanggal 6 Agustus 1985 Presiden Soeharto memberikan gelar Mahaputera Adipradana kepada Mr. Soenario.

Lewat kisah yang dipaparkan Mr. Soenario dalam buku Banteng Segitiga ini aku mengajak pembaca untuk mengingat kembali peran Bandung dalam sejarah pergerakan Nasional. Kota ini harus dicatat sebagai lokasi munculnya partai politik pertama yang menggariskan perjuangan non koperatif. Bandung selayaknya tidak hanya dikenal lewat mojang-mojangnya yang cantik atau factory outletnya. Bandung harus dikenal lewat kemampuannya untuk menghasilkan perubahan-perubahan di negeri ini. Mereka yang menentang perubahan pasti merasa khawatir apabila Bandung melepaskan energinya kembali. Lihat saja beberapa aksi spektakuler  di masa orde baru yang diawali dari aksi mahasiswa di Bandung.

Kota yang dirancang untuk pensiunan dan pelajar ini memang tidak bisa dianggap remeh. Penguasa kota ini bisa saja terlibat korupsi, suatu aib yang memalukan, tapi warganya adalah penggerak perubahan. Kota ini sangat berpengaruh secara politis. Bandung adalah barometer. Bandung adalah episentrum.  Bandung adalah energi.

18
Jun
15

Kenegaraan : Misteri Angka 9696 dan Harta Karun Soekarno

MISTERI ANGKA 9696 DAN HARTA KARUN SOEKARNO


HARTA karun peninggalan mantan presiden Soekarno selama ini masih misteri, bahkan tak sedikit yang meragukannya. Kasus kegagalan pencarian harta peniggalan Prabu Siliwangi di Istana Batutulis beberapa waktu lalu, sepertinya memupus harapan orang untuk memercayai hal-hal yang sulit dibuktikan kebenarannya.

Namun lelaki yang menyebut diri satria piningit bernama Soenuso Goroyo Soekarno mengaku dapat mengangkat peninggalan Presiden Pertama RI itu. Bentuknya berupa ratusan keping emas lantakan, platinum, sertifikat deposito obligasi garansi, dan lain-lain. ”Ini baru sampel dan silakan mengecek kebenarannya. Jika bohong, saya siap digantung,” katanya, Jumat kemarin, kepada pers.

Mantan anggota TNI yang dahulu bernama Suwito itu sengaja mengundang wartawan di rumahnya, Perumahan Cileungsi Hijau, daerah perbatasan Bogor-Bekasi, untuk menyaksikan temuannya. Di rumahnya yang cukup megah disiapkan hidangan layaknya orang hajatan. Maklum, Goroyo, begitu dia biasa disapa, juga mengundang Pangdam Jaya, Kapolda, dan anggota Muspida. Tetapi dari mereka, tak ada pejabat datang.

Kepada tamunya, suami RA Lastika ini memperlihatkan peti besar berisi ratusan keping emas lantakan, masing-masing beratnya 8 ons bergambar Soekarno dan di baliknya ada gambar padi dan kapas. Pada satu sisinya ada tulisan 80 24K 9999. Sementara itu emas putih (platinum) juga berbentuk lantakan berlogo tapal kuda putih bertulisan JM Mathey London. Logam itu dibungkus emas dan bersertifikat emas pula.

Meskipun bersertifikat dan diyakini keasliannya, pada kesempatan itu tidak dihadirkan orang yang mengetahui emas atau pakar yang bisa memastikan asli atau tidak harta benda tersebut.

Memberi Kuasa

Peninggalan lain berupa sertifikat deposito bertanggal 16 Agustus 1945 yang dikeluarkan oleh BPUPKI yang menyebut sejumlah harta yang disimpan di suatu tempat.Adapula sertifikat berbahasa Inggris yang juga disegel dan ditulis di atas lembar kuningan. Sertifikat itu ada yang bertuliskan ”Hibah Substitusi” yang dipercayakan kepada R Edi Tirwata Dinata (108).

Yang terakhir ini, konon karena sudah tua, lantas memberikan kuasa kepada R Anton Hartono untuk mengurus harta benda yang disimpan di Swiss. Bentuknya mikrofilm, dua lembar dokumen, anak kunci boks deposit di JBS, Jenewa, dan dua buah koin. Di dalam sertifikat itu disebutkan, ada dana berjumlah 126,2 miliar dolar AS dan 63,10 miliar dolar AS.

”Insya Allah, jika saya diberi izin, semua harta peninggalan Bung Karno ini bisa membayar utang kita. Saya yakin bisa melaksanakannya,” ungkap Goroyo sembari membantah dirinya paranormal. Dia juga membantah berambisi menjadi presiden atau jabatan politis lain. ”Semua saya lakukan dan beberkan untuk membangun negara kita,” tegasnya.

Saat mendekati rumahnya, di pintu gerbang perumahan dan di depan rumahnya terpampang spanduk putih bertulisan merah, ”Satrio Piningit Soenuso Goroyo Soekarno sang Juru Selamat Telah Hadir di Bumi Indonesia.”

Namun wartawan yang datang sejak pukul 11.00, baru diterima seusai shalat jumat. Goroyo mengenakan stelan jas putih, sepatu putih, mirip yang dikenakan Presiden Soekarno.

Di ruang tamunya juga dipajang foto dirinya bersama seorang jenderal.Adapula yang memperlihatkan saat dirinya menjadi anggota Batalyon Arhanud SE 10/Kodam Jaya. Namun, dia enggan membeberkan latar belakang jati dirinya. ”Saya ini orang susah. Jadi tentara pangkatnya juga di sini (memegang lengannya). Jika saya pakai pakaian seperti ini, hanya model. Kebetulan saya suka,” tuturnya.

Proses Pencarian

Goroyo mengemukakan, dia hanya ingin ada saksi dari aparat soal harta temuannya itu. Selanjutnya akan diserahkan kepada Presiden Megawati dan diharapkan bisa melunasi utang luar negeri pemerintah. ”Saya tidak ingin imbalan apa pun termasuk jabatan. Saya hanya butuh pengakuan dan surat kuasa untuk meneruskan pencarian harta ini. Namun tampaknya Kapolda dan Kapolri berhalangan.”

Dia menceritakan proses pencarian harta tersebut. Diawali dari kebiasaannya bertirakat di berbagai tempat, lantas mendapatkan petunjuk. Petunjuk awal adalah sebuah tongkat wasiat yang diyakini tongkat komando milik Presiden Soekarno yang kemudian disimpannya hingga kini.

Selanjutnya, dengan tirakat pula, secara gaib harta benda itu bisa diangkat dari beberapa daerah di Bali, Jawa Tengah, dan Sumatera Selatan. ”Meskipun benda ini kini nyata, tapi awalnya adalah harta gaib. Jadi, mengambilnya juga dengan cara gaib. Saya tidak boleh memilikinya. Saya diperintahkan menyerahkan kepada negara untuk menyelamatkan bangsa,” paparnya.

Ketika disinggung, kenapa justru membeberkan kepada wartawan, bukan langsung menyerahkan kepada pemerintah, Goroyo menyatakan dirinya sudah capai berhubungan dengan pejabat. Awalnya dia melapor kepada Presiden Megawati, tapi tidak digubris. Kemudian kepada mantan atasannya, Kol Art Harus Putri Osa, Dan Men Arhanud I Kodam Jaya, ke Mabes TNI, bahkan juga dilaporkan kepada anggota DPR Permadi SH.

Namun semua seperti tidak menghiraukannya. ”Karena itu, saya mengundang rekan-rekan wartawan untuk menyaksikan langsung,” ujar Goroyo sembari menegaskan, sebagai satria piningit dirinya mengemban tugas menyelamatkan bangsa. Sebutan satria itu dia jelaskan, tidak ada kaitannya dengan ramalan yang pernah diucapkan Permadi bahwa negeri ini akan dipimpin satria piningit.

Harta Karun Soekarno , Akhirnya Ditemukan Juga

GW sengaja menulis judul sedikir merangsang adrenalin kita sebagai manusia dengan kata pembuka “Harta Karun”. Padahal maksudnya sih kiasan saja sebagai suatu ungkapan metaforik analitik setelah menyusuri sejarah Bangsa Indonesia. Judul aslinya adalah “Bangsa Indonesia dan Harta Karun Soekarno”. Membaca tulisan ini, Anda boleh percaya dan boleh juga tidak. Tidak ada paksaan dalam membaca. Tapi mulailah berpikir dan merenungkannya.

Beberapa waktu yang lalu kita sempat dihebohkan dengan berita mengejutkan tentang Harta Karun Warisan Presiden Soekarno yang disebut-sebut berupa emas, perak yang sangat berharga dan khabarnya dapat membayar seluruh hutang Bangsa Indonesia. Isu dan kisah harta warisan Soekarno pun bergulir. Korbannya tak tanggung-tanggung “Seorang Menteri Agama era Megawati” mengacak-ngacak situ purbakala di Bogor. Amarah dan cemooh pun bermunculan karena kenaifan, kedunguan, ketamakan dan keserakahan si menteri yang belakangan diseret pengadilan karena kasus korupsi “Dana Abadi Umat”. Semenjak peristiwa yang memalukan di Bogor itu kisah harta karun peninggalan Soekarno masih terdengar beberapa waktu kemudian. Klaim-klaim masih bermunculan, umumnya dari dukun dan paranormal. Namun pelan-pelan kisah harta itu pun kemudian lenyap meskipun masih mengendap menjadi sisa informasi di benak kebanyakan masyarakat Indonesia yang kelak akan muncul kembali dengan kisah yang barangkali lebih sedap dengan sedikit rasa pedas di lidah yang membuat merah muka.

Kemunculan kisah harta karun Soekarno yang sempat menghebohkan itu memang membuat banyak orang yang kecondongannya tamak menjadi ngiler. Darimana sumber asal kisah itu pun masih simpang siur, tak ketahuan rimbanya. Mungkin salah satu makhluk halus penghuni pulau Jawa yang membisikkan salah satu budaknya untuk membisik-bisikkan tentang pusaka warisan bangsa Indonesia itu. Tapi apa tepatnya Harta Pusaka warisan Soekarno itu? Tak ada satu pun ahli atau pakar yang berminat menyibak misterinya karena tentunya takut di bilang ketularan ketamakan atau di bilang dungu karena percaya pada bisikan paranormal yang tak jelas ujung pangkalnya.


Saya justru tertarik mengungkapkan Harta Peninggalan Soekarno itu bukan dari perspektif perhartakarunan dengan gambaran emas, perak atau intan permata. Tapi dari perspektif kesejarahan Bangsa Indonesia yang jejaknya telah ditemukan oleh Sokarno di kawasan Bogor yang tidak lain adalah prasasti Batu Tulis sebagai peninggalan masa lalu yang menyimpan sejarah bangsa Indonesia dan erat kaitannya dengan transmisi pengetahuan yang saat ini sudah sangat dikenal.

Gagasan saya mengaitkan harta karun Soekarno dengan peninggalan sejarah di Batu Tulis saya ilhami dari karakter Soekarno itu sendiri yang memadukan intelektualitas dan kemampuan citarasanya yang tinggi tentang berbagai seni dan budaya di tanah air. Benar, saya kemudian harus berasumsi bahwa ungkapan Harta Karun Bangsa Indonesia sebenarnya dinyatakan oleh Soekarno sendiri dengan suatu gaya pengungkapan metaforis puitis sebagai karakter dasar beliau. Seseorang yang menguping ungkapan terselubung ini kemudian mengira bahwa yang diungkapkan Soekarno adalah harta beneran berupa emas, perak, atau berlian yang tersimpan di suatu tempat di Bogor, bahkan ada yang mengatakannya tersimpan di suatu Bank di Swiss. Padahal yang dimaksud Soekarno adalah peninggalan di Bogor yaitu Batu Tulis yang menyimpan rahasia emas dan perak sebagai simbologi tentang sumber asal Pengetahuan Tuhan yang telah dikenal semasa kerajaan Areuteun, bahkan mungkin jauh sebelum era kerajaan Areueun maupun Taruma Negara.

Soekarno selain seorang yang teknis, paham ilmu rekayasa, ia pun dikenal sebagai ahli kesenian. Bukan sekedar seni tari atau lukis, namun ia adalah sastrawan yang paham benar ungkapan-ungkapan al-Qur’an, Injil, Kitab Siwa-Budha maupun agama Hindu, dan kenal benar karya sastra lokal (termasuk cerita daerah) maupun dunia. Sehingga gaya pengungkapannya ketika berkaitan dengan suatu titik tolak entitas kebangsaan Indonesia meniru ungkapan kitab-kitab agama dengan maksud-maksud terselubung.

Maksud terselubung itu berkaitan dengan kemampuan manusia idaman Indonesia yang diimpikan Soekarno sebagai manusia yang mestinya cerdas, berpengetahuan lahir maupun batin dengan butir-butir yang tercantum dalam Pancasila. Singkatnya, impian Soekarno tentang Manusia Indonesia di masa depan adalah “yang jenius sekaligus yang relijius” sebagai figur diri Soekarno sendiri. Dengan menyelubungi rahasia titik tolak asal usul pengetahuan Bangsa Indonesia itu, Soekarno menyodorkan suatu teka-teki mistis “Harta Pusaka Indonesia” atau yang belakangan dihebohkan sebagai “Harta Karun Peninggalan Soekarno”.

Pengungkapan demikian mempunyai tujuan. Tujuan utamanya adalah melindungi Pusaka itu dari tangan-tangan jahil yang tidak bertanggung jawab. Bagi yang mempunyai kecondongan tamak dan serakah, pastilah akan mengira kalau ungkapan terselubung itu berkaitan dengan emas, perak dan intan berlian. Jadi, meskipun Soekarno tak pernah menyatakan Harta Pusaka itu sebagai emas dan perak maupun berlian, perkiraan seperti itu muncul belakangan dari orang-orang yang sempat mendengar atau menguping ungkapan Soekarno dan menafsirkannya dengan ketamakan dan keserakahan akan kemaruknya harta dunia. Dan umumnya manusia mengira demikian karena selubung metaforis Soekarno memang hanya dapat dipahami oleh orang-orang yang paham benar dengan karakteristik Soekarno sebagai intelektual lahir dan batin yang membaca banyak buku teknis, sastra, filsafat dan kenal karakteristik dasar seluruh ajaran agama yang ada di Indonesia. Mereka yang tamak dan serakahpun terkecoh dan babak belur dengan korban pertama seorang menteri yang mengaku dapat bisikan paranormal.

Kalau kita lebih jernih menelusuri sejarah hidup Soekarno, sebenarnya menjadi jelas kalau ungkapan Harta Pusaka Soekarno berkaitan dengan JEJAK SEJARAH MANUSIA INDONESIA yang jejak-jejaknya tertera di prasasti-prasasti yang ditemukan di seluruh wilayah Indonesia. Salah satu yang tertua adalah prasasti Batu Tulis yang ada di Wilayah Bogor yang sampai hari ini menurut perbincangan arkeolog di situs menyimpan misteri yang belum terpecahkan yaitu misteri TULISAN IKAL. Mengenai tulisan ikal sebenarnya sudah saya singgung di risalah Sangkan Paraning Dumadi : Mengintip Fajar Pulau Jawa dalam cacatan sejarah telah dikenal oleh Cina melalui tulisan pendeta Budha Fa Hsien yang terdampar di “Ya-wa-di” dan tinggal di situ selama 5 bulan setelah berlayar selama 90 hari dari Srilangka menuju Kanton pada tahun 414 M. Menurut catatan Fa-Hsien, belum ada pemeluk agama Budha yang ada adalah pendeta Brahmana, jadi saat itu agama Hindu telah ada di Kawasan Jawa atau Javadvipa.

Kontak resmi Cina dengan Ja-wa secara resmi dimulai di zaman Dinasti Sung (420-479 M) yang pada tahun 435 M menerima utusan Ja-wa-da atau Jawa Dwipa yang diperintah oleh Sri Pa-da-do-a-la-mo. Yang membawa sepucuk surat dan upeti. Negara asal dari utusan raja Jawa Kuno itu seringkali disebut sebagai Holotan yang diidentifikasikan oleh Prof. Slamet Muljana sebagai Areuteun kerajaan tertua di Jawa Barat sebelum masa Taruma. Bahkan kerajaan Holotan ini bisa dikatakan sebagai kerajaan tertua di Jawa, lebih tua dari “Ho-ling” atau Keling di lembah sungai Brantas Jawa Timur. Utusan kerajaan Tarumanegara atau menurut teks Cina To-Lo-Mo datang ke Cina pertama kali pada tahun 528 M, sekitar 100 tahun setelah utusan pertama kerajaan Holotan atau Areuteun tadi. Hubungan Cina dengan Tarumanegara terus berlanjut sampai Tarumanegara ditumbangkan Kerajaan Sriwijaya pada tahun 686 M. Arus peradaban dan pelayaran pun bergeser ke Sriwijaya di Sumatra dan Holing atau Keling di Jawa Timur.

Jawa Barat merupakan pusat keramaian yang tertua yang tercatat oleh sejarah di Indonesia. Wilayah kerajaan tertua itu diidentifikasi oleh Profesor Slamet Mulyana sebagai Areuteun di muara sungai Ciliwung. Tidak banyak informasi yang tersedia mengenai kerajaan Areuteun yang muncul sekitar tahun 414 M di Jawa Barat sebelum kerajaan Galuh Pakuan pada tahun 686 M. Catatan tentang kerajaan ini diperoleh dari Fa-Hsien seorang Buddha yang terdampar di Jawa dan prasasti Ciareuteun. Namun, sedikitnya sejarawan Indonesia seperti Prof. Slamet Muljana pernah mengulas tentang kerajaan ini yang bukunya sampai hari ini belum saya temukan di toko buku. Jadi, memang sulit sekali seperti aja wajah kerajaan Areuteun ini yang muncul sekitar 272 tahun sebelum galuh Pakuan dengan nama rajanya yang disebut dalam catatan raja-raja Cina sebagai Holotan.

Di Internet topik “Areuteun” atau “Ciareuteun” ditemukan di suatu situs yang nyaris menjadi situs purba sesuai namanya karena nampaknya aktivitas anggotanya sangat rendah, situs itu adalah situs yang rupanya dikelola oleh mahasiswa arkeologi UI. Diskusi tentang Ciareuteun ditemukan sebagai suatu topik yang cukup hangat dibawah sub-judul “Hindu-Budha Archeology” meskipun nampaknya diskusi itu tidak berlanjut. Kutipannya secara ringkas tentang Areuteun antara lain menjelaskan beberapa prasasti yang ditemukan di Kawasan Jabodetabek.

Dalam suatu topik posting yang dipicu oleh nickname “Manchu Pichu” disebutkan bahwa di daerah Ciampea ada beberapa prasasti. Lahan tempat prasasti-prasasti ini ditemukan berbentuk bukit rendah berpermukaan datar dan diapit tiga batang sungai: Cisadane, Cianten dan Ciaruteun. Sampai abad ke-19, tempat itu masih dilaporkan dengan nama Pasir Muara. Dahulu termasuk bagian tanah swasta Ciampea. Sekarang termasuk wilayah Kecamatan Cibungbulang.

Transkrip diskusi yang dapat ditemui di situs saya lampirkan (berhubung forum di situs tsb mendadak ditutup,jadi saya copy pastekan saja transripnya):

apakah ada yang tahu dimana letaknya prasasti jambu, yaitu prasasti tapak kaki purnawarman…bukan yg di ciaruten..katanya didaerah leuwiliang di bukit koleangkak. tapi orang di daerah leuwiliang tidak ada yg tahu. thx b4

Adapun Prasasti yang di temukan di Sungai Ciareuteun adalah TAPAK KAKI MANUSIA (PURNAWARMAN ) DENGAN DUA JENIS TULISAN, YAITU SANSEKERTA DAN ‘IKAL’ SERTA BEBERAPA GAMBAR SEPERTI LABA-LABA. Kedua prasasti ini letaknya tidak berjauhan dengan jarak lebih kurang 300 m (mohon dikoreksi). Jadi yang dimaksud prasasti Jambu adalah prasasti Tapak Kaki Gajah. Disebut Prasasti Jambu, karene letaknya yang berada di Desa Jambu.

Kemudian, di muara sungai (pertemuan dua sungai) Cianteun (mohon dikoreksi) juga ada Prasasti dengan HURUF IKAL. Letaknya masih berada di Sungai (sebagian batu tempat prasasti dipahatkan terendam air sungai), sedangkan prasasti Ciereuteun sudah dipindahkan lebih kurang 70 m ke dataran yang lebih tinggi (sekarang berada di dalam cungkup). Jarak kedua prasati ini lebih kurang 500 m (mohon dikoreksi).

Semoga ini bisa membantu (juga koreksi untuk posting ismanujev sebelumnya)

Didaerah Ciampea ada beberapa prasasti. Lahan tempat prasasti-prasasti ini ditemukan berbentuk bukit rendah berpermukaan datar dan diapit tiga batang sungai: Cisadane, Cianten dan Ciaruteun. Sampai abad ke-19, tempat itu masih dilaporkan dengan nama Pasir Muara. Dahulu termasuk bagian tanah swasta Ciampea. Sekarang termasuk wilayah Kecamatan Cibungbulang.


Kampung Muara tempat prasasti Ciaruteun dan Telapak Gajah ditemukan, dahulu merupakan sebuah “kota pelabuhan sungai” yang bandarnya terletak di tepi pertemuan Cisadane dengan Cianten. Sampai abad ke-19 jalur sungai itu masih digunakan untuk angkutan hasil perkebunan kopi. Sekarang masih digunakan oleh pedagang bambu untuk mengangkut barang dagangannya ke daerah hilir.

Prasasti pada zaman ini menggunakan aksara Sunda kuno, yang pada awalnya merupakan perkembangan dari aksara tipe Pallawa Lanjut, yang mengacu pada model aksara Kamboja dengan beberapa cirinya yang masih melekat. Pada zaman ini, aksara tersebut belum mencapai taraf modifikasi bentuk khasnya sebagaimana yang digunakan naskah-naskah (lontar) abad ke-16.

Prasasti-prasati itu antara lain:

Prasasti Pasir Muara

Prasasti ini ditemukan di Pasir Muara, di tepi sawah, tidak jauh dari prasasti Telapak Gajah peninggalan Purnawarman. Prasasti itu kini tak berada ditempat asalnya. Dalam prasasti itu dituliskan :

ini sabdakalanda rakryan juru panga-mbat i kawihaji panyca pasagi marsa-n desa barpulihkan haji su-nda

Terjemahannya menurut Bosch:

Ini tanda ucapan Rakryan Juru Pengambat dalam tahun (Saka) kawihaji (panca (5) pasagi (4), pemerintahan begara dikembalikan kepada raja Sunda.

Karena angka tahunnya bercorak “sangkala” yang mengikuti ketentuan “angkanam vamato gatih” (angka dibaca dari kanan), maka prasasti tersebut dibuat dalam tahun 458 Saka atau 536 Masehi (catatan penulis: nabi Muhammad lahir tahun 571 M).

Prasasti Ciaruteun

Prasasti Ciaruteun Museum Sejarah Jakarta

Prasasti Ciaruteun ditemukan pada aliran Sungai Ciaruteun, seratus meter dari pertemuan sungai tersebut dengan Sungai Cisadane; namun pada tahun 1981 diangkat dan diletakkan di dalam cungkup. Prasasti ini peninggalan Purnawarman, beraksara Palawa, berbahasa Sansekerta. Isinya adalah puisi empat baris, yang berbunyi:

vikkrantasyavanipateh shrimatah purnavarmmanah tarumanagararendrasya vishnoriva padadvayam

Terjemahannya menurut Vogel:

Kedua (jejak) telapak kaki yang seperti (telapak kaki) Wisnu ini kepunyaan raja dunia yang gagah berani yang termashur Purnawarman penguasa Tarumanagara.

Selain itu, ada pula gambar sepasang “pandatala” (jejak kaki), yang menunjukkan tanda kekuasaan fungsinya seperti “tanda tangan” pada zaman sekarang. Kehadiran prasasti Purnawarman di kampung itu menunjukkan bahwa daerah itu termasuk kawasan kekuasaannya. Menurut Pustaka Rajyarajya i Bhumi Nusantara parwa II, sarga 3, halaman 161, di antara bawahan Tarumanagara pada masa pemerintahan Purnawarman terdapat nama “Rajamandala” (raja daerah) Pasir Muhara.

Prasasti Telapak Gajah

Prasasti Telapak Gajah bergambar sepasang telapak kaki gajah yang diberi keterangan satu baris berbentuk puisi berbunyi:

jayavi s halasya tarumendrsaya hastinah airavatabhasya vibhatidam padadavayam

Terjemahannya:

Kedua jejak telapak kaki adalah jejak kaki gajah yang cemerlang seperti Airawata kepunyaan penguasa Tarumanagara yang jaya dan berkuasa.

Menurut mitologi Hindu, Airawata adalah nama gajah tunggangan Batara Indra dewa perang dan penguasa Guntur. Menurut Pustaka Parawatwan i Bhumi Jawadwipa parwa I, sarga 1, gajah perang Purnawarman diberi nama Airawata seperti nama gajah tunggangan Indra. Bahkan diberitakan juga, bendera Kerajaan Tarumanagara berlukiskan rangkaian bunga teratai di atas kepala gajah. Demikian pula mahkota yang dikenakan Purnawarman berukiran sepasang lebah (an-Nahl).

Ukiran bendera dan sepasang lebah itu dengan jelas ditatahkan pada prasasti Ciaruteun yang telah memancing perdebatan mengasyikkan di antara para ahli sejarah mengenai makna dan nilai perlambangannya. Ukiran kepala gajah bermahkota teratai ini oleh para ahli diduga sebagai “huruf ikal” yang masih belum terpecahkan bacaaanya sampai sekarang. Demikian pula tentang ukiran sepasang tanda di depan telapak kaki ada yang menduganya sebagai lambang labah-labah, matahari kembar atau kombinasi surya-candra (matahari dan bulan) *asy Syams-al-Qamar). Keterangan pustaka dari Cirebon tentang bendera Tarumanagara dan ukiran sepasang “bhramara” (lebah) sebagai cap pada mahkota Purnawarman dalam segala “kemudaan” nilainya sebagai sumber sejarah harus diakui kecocokannya dengan lukisan yang terdapat pada prasasti Ciaruteun.

Prasasti lain

Di daerah Bogor, masih ada satu lagi prasasti lainnya yaitu prasasti batu peninggalan Tarumanagara yang terletak di puncak Bukit Koleangkak, Desa Pasir Gintung, Kecamatan Leuwiliang. Pada bukit ini mengalir (sungai) Cikasungka. Prasasti inipun berukiran sepasang telapak kaki dan diberi keterangan berbentuk puisi dua baris:

Shriman data kertajnyo narapatir – asamo yah pura tarumayam nama shri purnnavarmma pracurarupucara fedyavikyatavammo tasyedam – padavimbadavyam arnagarotsadane nitya-dksham bhaktanam yangdripanam – bhavati sukhahakaram shalyabhutam ripunam.

Terjemahannya menurut Vogel:

Yang termashur serta setia kepada tugasnya ialah raja yang tiada taranya bernama Sri Purnawarman yang memerintah Taruma serta baju perisainya tidak dapat ditembus oleh panah musuh-musuhnya; kepunyaannyalah kedua jejak telapak kaki ini, yang selalu berhasil menghancurkan benteng musuh, yang selalu menghadiahkan jamuan kehormatan (kepada mereka yang setia kepadanya), tetapi merupakan duri bagi musuh-musuhnya.

Salah satu misteri yang belum diungkapkan dari temuan prasasti Ciareuteun di Jawa Barat yang menarik perhatian saya adalah tulisan atau simbol yang disebut huruf ikal. Saya kemudian melakukan posting yang berkaitan dengan tulisan Ikal dan prasasti Ciareuteun dari Jabar sehubungan dengan simbol-simbol Indra, Petir, Gajah, Teratai, Laba-laba dan Lebah yang tertera pada prasasti yg di temukan di Jabar.

Saya secara teknis akademis bukan arkeolog , tetapi melihat topik diskusi yang berkaitan dengan Tulisan Ikal dan Prasasti Ciareuteun dari Jabar yang berlaitan dengan simbol-simbol Indra, Petir, Gajah, Teratai, Laba-laba dan Lebah yang tertera pada prasasti yg di temukan di Jawa Barat.

Sebenarnya saya mempunyai suatu spekulasi yang muncul dari kemungkinan historis adanya transmisi pengetahuan dari wilayah India, Jawa, ke Mediterania, dan akhirnya berujung kembali di wilayah asalnya yaitu Aleksandria tempat dimana Perpustakaan Terlengkap di Dunia pernah Berdiri dan 9 pemikir Agung menekuni sains. Khususnya berkaitan dengan simbol-simbol agama Siwa Budha dan Islam yaitu simbol Asy Syams (Matahari), Petir (Ar Rad), al-Qamar (Bulan), Lebah (an-Nahl), laba-laba dan Gajah sebagai tunggangan Dewa Indra (Raa, atau Matahari), Bunga Sidrath atau Lotus Tree dengan simbol-simbol dari Mesir.

(tambahan saya: Jadi, gajah tunggangan Dewa Indra sejatinya simbolisme Ganesha atau Gajah sebagai lambang ilmu pengetahuan dimana dua gading gajah menunjukkan makna ilmu pengetahuan bagai gading yang mudah retak dan siapapunyang tak mampu menjaganya akan dililit oleh belalai Si Gajah sebagai suatu ungkapan simbolik metaforik bahwa ilmu pengetahuan adalah netral, baik dan buruknya tergantung pada manusia yang mengimplementasikannya)

Transkrip tulisan ikal itu mungkin bukan tulisan tetapi simbologi Indra Maya sebagai realitas The matrix yang menjadi asal usul penulisan seluruh sistem huruf-huruf yang ada di dunia khususnya sistem dengan 5, 20 (jawa), 22 (Phoenicia), 26(Latin), dan 28 huruf (hiajiah) (saya tak tahu jumlah huruf Sansekerta). Jadi boleh jadi huruf palawa, sansekerta, jawa atau tulisan di Kawasan Asia juga sama asal usulnya dengan simbol dasar tulisan yang muncul di Mediterania khusunya Phoenicia, Aramaik, Yunani, Arab, Hebrew dan lain-lainnya.

Konsep dasar Indra Maya adalah teori Bilangan Euclids yaitu bilangan sempurna 6=1+2+3 dengan pemodelan 9696 :
  • 9 adalah simbol realitas yang tercitra di akal pikiran,
  • 6 adalah bayangan realitas di retina mata manusia,
  • 9 adalah tampilan fenomena realitas benda-benda di bawah naungan sinar matahari,
  • 6 adalah simbol kelahiran Sang Waktu alias Matahari itu Sendiri sebagai Indra.
Prasasti yang mencetak simbol tersebut menyembunyikan arti bahwa cikal bakal kerajaan Kuno di Tanah Sunda adalah seorang raja yang menguasai ilmu pengetahuan dengan transmisi yang berasal dari Yunani Kuno, Mesir, India dan Cina.

Sampai sejauh ini saya masih berspekulasi atas kemungkinan diatas karena kurangnya literatur yang kompeten atau tidak tahu sama sekali karena bidang saya bukan arkeologi. Untuk itu saya membuat tulisan yang lebih banyak saya warnai dengan gaya berkisah karena kurangnya dasar-dasar ilmiah yang dapat dipercaya kecuali penggunaan sejarah dan hubungannya dengan model fisika kuno yaitu Teori Bilangan Euclids untuk menjelaskan fenomena penampilan Kekuasaan Tuhan di muka Bumi yang sebenarnya ungkapan dan simbolnya ada di Al Qur’an dan mungkin kitab Siwa Buda (saya bukan beragama Budha tetapi Islam, jadi tidak tahu persis apa isi kitab penganut Siwa Budha).

Beberapa sejarah Kuno seperti di Cirebon menyebutkan bahwa raja pertama Tarumanegara adalah Adimulya, sebenarnya namanya adalah Adam Awlia sebagai simbolisme manusia yang menciptakan sistem huruf dan hitungan yang tidak lain adalah Nabi Adam a.s. Ajarannya muncul dari transmisi ajaran Ofirisme Phytagorean dimana yang menjadi landasan adalah hukum-hukum fisika yang berkaitan dengan pemantulan atau difraksi cahaya diatas cermin yang dikemudian hari digunakan sebagai model eksperimen Isaac Newton.

Bentuk huruf atau simbol Ikal, saat ini masih saya bayangkan berbentuk seperti tulisan 6 atau 9 yang saling bergulung atau 69 dengan lingkaran O yang makin membesar dari suatu titik pusat. Bentuknya memang akhirnya mirip OBAT NYAMUK yang kita kenal sekarang. Dan sejatinya memang yang kita sebut angka 6 atau 9 itu sejatinya bukan bilangan, namun simbolisme pertama kali ketika manusia Adam menyadari bentuk tampilnya Kekuasaan Tuhan yang tidak lain Simbol Siwa-Buda yaitu seperti bilangan 3. Dalam legenda Cirebon di sebut Walang Sungsang. Simbol 3 kemudian dalam ajaran Islam dinyatakan sebagai simbolisme penampilan Allah, Ar-Rahmaan, Ar-rahiim sebagai 3 Ism Agung dengan simbol geometris bidang segi 3.

Lantas bilangan pun kemudian disesuaikan dengan citra penampilan dan perasaan yang muncul 1+2+3=6, 2+3+4=9, lahirlah sistem bilangan dengan rujukan akhir 1+2+3+4=10, 10 jari tangan kita. Bilangan 6 disebut bilangan sempurna, sedangkan bilangan 3 disebut bilangan yang menjadi Pembagi Agung alias 3 Ism Agung.

Bilangan-bilangan lainnya muncul dengan mengalikan secara berturutan sebanyak 3 kali, 2x2x2=8, 3x3x3=27, 4x4x4=64=8×8 yang ternyata menthok ketika disandingkan dengan geometri dan disebut anomali runtuhnya papan catur Brahmana India. Bilangan kita ternyata hanya akurat sampai hitungan ke 7 kuadrat yaitu 7×7=49 alias Muthaa alias 7 langit bumi. Yang meruntuhkan adalah Si Bintang penembus yang disebut Ahmad nama kecil Nabi Muhammad SAW yang tidak lain adalah ADHI BUDHA atau Budha Yatim Piatu dengan cara memotong papan catur menjadi 4 bagian sehingga didapati bahwa 8×8=64 ternyata bisa menjadi 13×5=65, darimana angka 1 ini muncul? (silahkan cari jawabannya, hint nya buatlah kotak 8×8=64 yaitu kotak papan catur. Buat 3 garis dengan koordinat 0,5 dan 5,3 ; 5,8 dan 5,0 ; lalu garis ketiga 3,0 dan 8,8 dengan catatan sumbu matrisk 8×8 nya dimulai dengan angka 0; kemudian potonglah dengan mengikuti garis tersebut dan susun ulang dengan posisi membuat segi empat 13×5=65 kotak, jadi begitulah kenapa memori komputer hanya berupa kelipatan 64).

Mudah-mudahan postingan saya ini tidak membuat para ahli arkeologi puyeng karena secara tidak langsung saya mengaitkan temuan budaya dengan agama yang ada di Indonesia sejak dulu sampai hari ini yaitu Hindu, Budha, dan Islam dan mungkin juga Yuddeo Kristen yang sudah campur sari.
16
Jun
15

Kepemimpinan : 10 Pesan Bijak David Rockefeller

10 Pesan Bijak dari Orang Kaya Tertua di Dunia

on 15 Jun 2015 at 06:01 WIB

Liputan6.com, New York – Di usia 100 tahun, David Rockefeller, masih memiliki kecerdasan dan kecakapan. Ia merupakan orang kaya tertua di dunia saat ini.

Cucu dari taipan minyak John Davidson Rockefeller ini masih aktif di dunia filantropi dan keuangan. Hidupnya penuh dengan kemewahan sejak ia lahir seratus tahun lalu.

“Memakai nama Rockefeller membuat orang menjadi curiga dan sinis,” katanya kepada Forbes. “Banyak yang mengira pencapaian hidup saya karena nama itu bukan karena kerja keras.”

Dari awal bekerja, ia tidak mengikuti jejak kakaknya di dunia politik. Ia memilih mengembangkan Chase Manhattan Bank sampai sekarang.

Untuk merayakan ulang tahunnya yang seabad, Forbes, Senin (15/6/2015), mengutip kata-kata bijak yang pernah Rockefeller lontarkan ketika wawancara.

Beberapa kutipan juga berasal dari autobiografinya berjudul “Memoir”:

1. Dalam bisnis dan hidup, mendapat keuntungan itu penting.

“Daya tarik keuntungan menciptakan lapangan kerja, kekayaan, dan memberdayakan seseorang. Hal initidak dapat dilakukan oleh sistem sosial atau ekonomi apapun,” katanya.

2. Perceraian dan politik sangat mahal biayanya.

Seorang penasihat pernah mengatakan ada dua hal yang paling mahal di keluarga Rockefeller, jabatan publik dan bercerai.

3. Di tempat kerja, buatlah uang dan teman.

Kalimat ini mengacu pada apa yang dilakukan kakekknya. Ketika membicarakan bisnis, John Davidson Rockefeller selalu mengatakan betapa menyenangkan bekerja dengan orang-orang sekitarnya meskipun membutuhkan kerja keras dan waktu lama.


10 Pesan Bijak dari Orang Kaya Tertua di Dunia

16
Jun
15

Kenegarawanan : Makna 45 Tahun Bung Karno Wafat

KBP45

Makna 45 Tahun Bung Karno Wafat
Rabu, 17 Juni 2015 – 23:40 WIB

Suara Pembaca:
Makna 45 Tahun Bung Karno Wafat

Peringatan 45 tahun Bung Karno wafat pada tanggal 21 Juni 2015 layaklah dimaknai bersuasana bathin yang serupa dengan saat proklamasi Indonesia Merdeka 17 Agustus 1945 dalam arti berlatar ibadah Ramadhan.

Angka 45 itu juga dapat jadi tanda ingatan  pada peristiwa2 kebangsaan, kenegaraan dan kejoangan rakyat di episode tahun 1945 seperti pemberontakan Pembela Tanah Air di Blitar 14 Pebruari 1945; pidato Bung Karno 1 Juni 1945 tentang Pancasila dimuka sidang Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia; proklamasi Indonesia Merdeka 17 Agustus 1945; pensyahan Undang Undang Dasar Republik Indonesia 18 Agustus 1945; pembentukan Badan Keamanan Rakyat 23 Agustus 1945 yang cikalbakali Tentara Keamanan Rakyat, Tentara Republik Indonesia, Tentara Nasional Indonesia; rapat akbar arek-arek Suroboyo dukung proklamasi Indonesia Merdeka di Tambaksari 18 September 1945 yang berlanjut perlawanan heroik patriotik melawan tentara Sekutu pemenang perang dunia ke-2 di bulan Oktober – Nopember 1945 dan kini dikenal sebagai Kepahlawanan 10 Nopember 1945; rapat raksasa rakyat Jakarta dukung proklamasi Indonesia Merdeka di IKADA 19 September 1945; pendirian Pandu Rakyat Indonesia 28 Desember 1945 dan lain sebagainya.

Tampaknya, pembinaan Karakter Mulia adalah relevan strategis dengan suasana bathin Marhaban ya Ramadhan baik di tahun 1945 (perjuangan kemerdekaan formal) maupun di tahun 2015 ini (perjuangan kedaulatan substansial).

Ramadhan 1436H ini menyimpan pula angka 114 tahun terhitung dari hari lahir Bung Karno di jalan Pandean IV No 40, Paneleh, Surabaya, yang bertepatan dengan angka jumlah Surah Al Qur`an, sehingga kini boleh menjadi pertanda spiritual bagi anak bangsa agar lebih peduli perjuangkan Pembudayaan NIlai-nilai Operasional Kejoangan45 yaitu (1)Ketakwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa,
(2)Jiwa semangat merdeka, (3)Nasionalisme,
(4)Patriotisme, (5)Rasa harga diri sebagai bangsa yang merdeka, (6)Pantang mundur dan tidak kenal menyerah, (7)Persatuan dan kesatuan, (8)Anti penjajah dan penjajahan,
(9)Percaya kepada diri sendiri dan atau percaya pada kekuatan dan kemampuan diri
(10)Percaya kepada hari depan yang gemilang dari bangsanya, (11)Idealisme kejuangan yang tinggi, (12)Berani, rela, dan ikhlas berkorban untuk tanah air, bangsa dan negara, (13)Kepahlawanan, (14)Sepi ing pamrih rame ing gawe, (15)Kesetiakawanan, senasib seperjuangan dan kebersamaan,(16)Disiplin yang tinggi, (17)Ulet dan tabah menghadapi segala macam ancaman, tantangan, hambatan, dan gangguan.

Sejarah bangsa mencatat bahwa Bung Karno juga pimpinan kepanduan NPO (Nationale Padvinders Organisatie,1923) yang lalu jadi INPO (Indonesische Nationale Padvinders Organisatie,1926) dan juga dikenal sebagai politisi visioner PNI (Partai Nasional Indonesia, 1927) sehingga tepatlah kini juga dibudayakan Politik Kepemimpinan ber Karakter Pandu Indonesia yang telah teruji ikut bekali pergerakan nasional dan bela negara yang bertatanilai kearifan lokal dan jatidiri kejoangan bangsa yang bijak secara berkelanjutan dikobarkan guna upaya-upaya pembangunan Indonesia Merdeka 17 Agustus 1945 kiprahkan Pembukaan Undang Undang Dasar 1945, sekaligus perkuat peta jalan Revolusi Mental Kebangsaan Indonesia. Oleh karena itu kinilah saat yang strategis memantapkan kedaulatan Karakter Pandu Indonesia ditengah arus kuat regionalisasi (MEA 2015) bahkan globalisasi.

Piagam Karakter Pandu Indonesia tanggal 27 Desember 2014 jelas menyatakan bahwa mengingat semakin disadari pentingnya kiprah Peradaban Kepulauan ber Wawasan Nusantara per Deklarasi Djuanda 13 Desember 1957 dan kesepahaman bahwa syair lagu kebangsaan “Indonesia Raja 28 Oktober 1928″ khususnya “Pandoe Iboekoe” melekat cita patriotisme dan tafsir-tafsir harfiah sebagai berikut :

1) “Pandoe” yang sebenarnya bermakna Pemula (Pengerak Mula), Perintis/Pelopor, dan Penuntun/Penyuluh yang intinya adalah Penunjuk/Penggembala Jalan Lurus bagi anak bangsa;

2) “Iboekoe” yang sebetulnya bermakna Tanah Air dalam konteks Ibu Pertiwi;
dimana kedua tafsir itu diyakini telah turut serta “menghantarkan” ke Proklamasi Indonesia Merdeka 17845, maka Piagam Karakter Pandu Indonesia ini ditujukan bagi perkuatan bina bangsa dan karakter ke-Indonesia-an guna ikut “menghantarkan” ke Indonesia Jaya 2045 (di saat 100 tahun Indonesia Merdeka 17845) berstrategi tatanilai “Tri Politika Indonesia Jaya 2045″ :

1) Politik TRIKESRA Kesejahteraan Rakyat
berdasar potensi yang sejatinya dimiliki Indonesia yaitu a) Kelautan/Kemaritiman, b) Pangan Lokal, c) Energi Terbarukan,
2) Politik TRIKARYA yakni (a) Peningkatan Kecerdasan, (b) Pengentasan Kemiskinan, (c) Penegakan Kedaulatan Rakyat,
3) Politik TRICITA Kenegaraan yaitu a) Indonesia Mulia (2015-2025), b) Indonesia Bermartabat (2025-2035), c) Indonesia Sejahtera Lahir Batin (2035-2045)

Dan selaku Pandu Indonesia baik nalariah maupun nuraniah, berhak dan berkewajiban budayakan selalu politik harmonisasi TRISTRATEGI bagi Bina Mental Kearifan Negarawan Kerakyatan yakni :

(1) TRISAKTI yakni (a) Politik Berdaulat, (b) Ekonomi Berdikari, (c) Budaya Berkepribadian,
(2) TRIPAKTA atau TRI Politik Anti Korupsi Tanpa Akhir yaitu (a) Tidak Ingkari Janji Konstitusional, (b) Tidak Koruptif terhadap Pancasila & Pembukaan UUD45, (c) Tidak Korupsi APBN/APBD, Keuangan BUMN/BUMD dan Pajak, serta
(3) TRILOGI 17845 yaitu (a) 17 butir Jiwa Semangat Nilai-nilai 45 / Roh Indonesia Merdeka, (b) 8 butir Kepemimpinan Hastabrata, (c) 45 butir Pengamalan Pancasila Tap MPRRI No XVIII/1998.

Praktek2 Hukum Negara, kerja lembaga2 tinggi negara dan lembaga2 negara/daerah prakarsa dan kiprah Pandu-pandu Indonesia Sejati oleh karenanya perlu senantiasa melakukan Tri Politika Indonesia Jaya 2045 dan Politik TriStrategi agar berdaya guna optimal dalam praktek2 kenegaraan bagi kemashalatan masyarakat dan ketahanan bangsa terutama antisipasi hadapi ancaman seperti kajian http://www.kompasiana.com/msirp/early-warning-runtuhnya-indonesia-target-asing-pemilu-2014-dan-2019-perang-2020-2030_552a2983f17e617b65d623d4

Untuk itulah sepertinya QS 45 Al Jaatsiyah (Yang Bertekuk Lutut) dapat pula menjadi tambahan bekal rujukan bersama saat menunaikan amanah ibadah Ramadhan kali ini dan dalam kesempatan yang baik ini perkenankan juga diucapkan Selamat Menunaikan Ibadah Puasa dan Mohon Maaf Lahir Bathin 1436H kepada handai tolan.

Jakarta, 18 Juni 2015

Pandji R Hadinoto, KBP45 KelBes Pejoang45
Pembudaya Jiwa Semangat Nilai-nilai 45
Pengamal Pancasila Tap MPRRI XVIII/1998
Editor www.jakarta45.wordpress.com

BERITA LAINNYA

Ir. Soekarno

Ir. Soekarno (lahir di Blitar, Jawa Timur, 6 Juni 1901 – meninggal di Jakarta, 21 Juni 1970 pada umur 69 tahun) adalah Presiden Indonesia pertama yang menjabat pada periode 1945 – 1966. Ia memainkan peranan penting untuk memerdekakan bangsa Indonesia dari penjajahan Belanda. Ia adalah penggali Pancasila. Ia adalah Proklamator Kemerdekaan Indonesia (bersama dengan Mohammad Hatta) yang terjadi pada tanggal 17 Agustus 1945.
Soekarno menandatangani Surat Perintah 11 Maret 1966 Supersemar yang kontroversial, yang isinya – berdasarkan versi yang dikeluarkan Markas Besar Angkatan darat – menugaskan Letnan Jenderal Soeharto untuk mengamankan dan menjaga keamanan negara dan institusi kepresidenan. Supersemar menjadi dasar Letnan Jenderal Soeharto untuk membubarkan Partai Komunis Indonesia (PKI) dan mengganti anggota-anggotanya yang duduk di parlemen. Setelah pertanggung jawabannya ditolak Majelis Permusyawaratan Rakyat Sementara (MPRS) pada sidang umum ke empat tahun 1967, Presiden Soekarno diberhentikan dari jabatannya sebagai presiden pada Sidang Istimewa MPRS di tahun yang sama dan mengangkat Soeharto sebagai pejabat Presiden Republik Indonesia.
Latar belakang dan pendidikan
Soekarno dilahirkan dengan nama Kusno Sosrodihardjo. Ayahnya bernama Raden Soekemi Sosrodihardjo, seorang guru di Surabaya, Jawa. Ibunya bernama Ida Ayu Nyoman Rai berasal dari Buleleng, Bali

Ketika kecil Soekarno tinggal bersama kakeknya di Tulungagung, Jawa Timur. Pada usia 14 tahun, seorang kawan bapaknya yang bernama Oemar Said Tjokroaminoto mengajak Soekarno tinggal di Surabaya dan disekolahkan ke Hoogere Burger School (H.B.S.) di sana sambil mengaji di tempat Tjokroaminoto. Di Surabaya, Soekarno banyak bertemu dengan para pemimpin Sarekat Islam, organisasi yang dipimpin Tjokroaminoto saat itu. Soekarno kemudian bergabung dengan organisasi Jong Java (Pemuda Jawa).

Tamat H.B.S. tahun 1920, Soekarno melanjutkan ke Technische Hoge School (sekarang ITB) di Bandung, dan tamat pada tahun 1925. Saat di Bandung, Soekarno berinteraksi dengan Tjipto Mangunkusumo dan Dr. Douwes Dekker, yang saat itu merupakan pemimpin organisasi National Indische Partij.

Masa pergerakan nasional

Pada tahun 1926, Soekarno mendirikan Algemene Studie Club di Bandung. Organisasi ini menjadi cikal bakal Partai Nasional Indonesia yang didirikan pada tahun 1927. Aktivitas Soekarno di PNI menyebabkannya ditangkap Belanda pada bulan Desember 1929, dan memunculkan pledoinya yang fenomenal: Indonesia Menggugat, hingga dibebaskan kembali pada tanggal 31 Desember 1931.

Pada bulan Juli 1932, Soekarno bergabung dengan Partai Indonesia (Partindo), yang merupakan pecahan dari PNI. Soekarno kembali ditangkap pada bulan Agustus 1933, dan diasingkan ke Flores. Di sini, Soekarno hampir dilupakan oleh tokoh-tokoh nasional. Namun semangatnya tetap membara seperti tersirat dalam setiap suratnya kepada seorang Guru Persatuan Islam bernama Ahmad Hassan.

Pada tahun 1938 hingga tahun 1942 Soekarno diasingkan ke Provinsi Bengkulu.Soekarno baru kembali bebas pada masa penjajahan Jepang pada tahun 1942.

Masa penjajahan Jepang
Soekarno bersama Fatmawati dan Guntur

Pada awal masa penjajahan Jepang (1942-1945), pemerintah Jepang sempat tidak memperhatikan tokoh-tokoh pergerakan Indonesia terutama untuk “mengamankan” keberadaannya di Indonesia. Ini terlihat pada Gerakan 3A dengan tokohnya Shimizu dan Mr. Syamsuddin yang kurang begitu populer.

Namun akhirnya, pemerintahan pendudukan Jepang memperhatikan dan sekaligus memanfaatkan tokoh tokoh Indonesia seperti Soekarno, Mohammad Hatta dan lain-lain dalam setiap organisasi-organisasi dan lembaga lembaga untuk menarik hati penduduk Indonesia. Disebutkan dalam berbagai organisasi seperti Jawa Hokokai, Pusat Tenaga Rakyat (Putera), BPUPKI dan PPKI, tokoh tokoh seperti Soekarno, Hatta, Ki Hajar Dewantara, K.H Mas Mansyur dan lain lainnya disebut-sebut dan terlihat begitu aktif. Dan akhirnya tokoh-tokoh nasional bekerjasama dengan pemerintah pendudukan Jepang untuk mencapai kemerdekaan Indonesia, meski ada pula yang melakukan gerakan bawah tanah seperti Sutan Syahrir dan Amir Sjarifuddin karena menganggap Jepang adalah fasis yang berbahaya.

Soekarno diantara Pemimpin Dunia

Presiden Soekarno sendiri, saat pidato pembukaan menjelang pembacaan teks proklamasi kemerdekaan, mengatakan bahwa meski sebenarnya kita bekerjasama dengan Jepang sebenarnya kita percaya dan yakin serta mengandalkan kekuatan sendiri.

Ia aktif dalam usaha persiapan kemerdekaan Indonesia, diantaranya adalah merumuskan Pancasila, UUD 1945 dan dasar dasar pemerintahan Indonesia termasuk merumuskan naskah proklamasi Kemerdekaan. Ia sempat dibujuk untuk menyingkir ke Rengasdengklok Peristiwa Rengasdengklok.

Pada tahun 1943, Perdana Menteri Jepang Hideki Tojo mengundang tokoh Indonesia yakni Soekarno, Mohammad Hatta dan Ki Bagoes Hadikoesoemo ke Jepang dan diterima langsung oleh Kaisar Hirohito. Bahkan kaisar memberikan Bintang kekaisaran (Ratna Suci) kepada tiga tokoh Indonesia tersebut. Penganugerahan Bintang itu membuat pemerintahan pendudukan Jepang terkejut, karena hal itu berarti bahwa ketiga tokoh Indonesia itu dianggap keluarga Kaisar Jepang sendiri. Pada bulan Agustus 1945, ia diundang oleh Marsekal Terauchi, pimpinan Angkatan Darat wilayah Asia Tenggara di Dalat Vietnam yang kemudian menyatakan bahwa proklamasi kemerdekaan Indonesia adalah urusan rakyat Indonesia sendiri.

Namun keterlibatannya dalam badan-badan organisasi bentukan Jepang membuat Soekarno dituduh oleh Belanda bekerja sama dengan Jepang,antara lain dalam kasus romusha.

Masa Perang Revolusi

Ruang tamu rumah persembunyian Bung Karno di Rengasdengklok.

Soekarno bersama tokoh-tokoh nasional mulai mempersiapkan diri menjelang Proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia. Setelah sidang Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia BPUPKI,Panitia Kecil yang terdiri dari delapan orang (resmi), Panitia Kecil yang terdiri dari sembilan orang/Panitia Sembilan (yang menghasilkan Piagam Jakarta) dan Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia PPKI, Soekarno-Hatta mendirikan Negara Indonesia berdasarkan Pancasila dan UUD 1945.

Setelah menemui Marsekal Terauchi di Dalat, Vietnam, terjadilah Peristiwa Rengasdengklok pada tanggal 16 Agustus 1945; Soekarno dan Mohammad Hatta dibujuk oleh para pemuda untuk menyingkir ke asrama pasukan Pembela Tanah Air Peta Rengasdengklok. Tokoh pemuda yang membujuk antara lain Soekarni, Wikana, Singgih serta Chairul Saleh. Para pemuda menuntut agar Soekarno dan Hatta segera memproklamasikan kemerdekaan Republik Indonesia, karena di Indonesia terjadi kevakuman kekuasaan. Ini disebabkan karena Jepang sudah menyerah dan pasukan Sekutu belum tiba. Namun Soekarno, Hatta dan para tokoh menolak dengan alasan menunggu kejelasan mengenai penyerahan Jepang. Alasan lain yang berkembang adalah Soekarno menetapkan moment tepat untuk kemerdekaan Republik Indonesia yakni dipilihnya tanggal 17 Agustus 1945 saat itu bertepatan dengan bulan Ramadhan, bulan suci kaum muslim yang diyakini merupakan bulan turunnya wahyu pertama kaum muslimin kepada Nabi Muhammad SAW yakni Al Qur-an. Pada tanggal 18 Agustus 1945, Soekarno dan Mohammad Hatta diangkat oleh PPKI menjadi Presiden dan Wakil Presiden Republik Indonesia. Pada tanggal 29 Agustus 1945 pengangkatan menjadi presiden dan wakil presiden dikukuhkan oleh KNIP.Pada tanggal 19 September 1945 kewibawaan Soekarno dapat menyelesaikan tanpa pertumpahan darah peristiwa Lapangan Ikada dimana 200.000 rakyat Jakarta akan bentrok dengan pasukan Jepang yang masih bersenjata lengkap.

Pada saat kedatangan Sekutu (AFNEI) yang dipimpin oleh Letjen. Sir Phillip Christison, Christison akhirnya mengakui kedaulatan Indonesia secara de facto setelah mengadakan pertemuan dengan Presiden Soekarno. Presiden Soekarno juga berusaha menyelesaikan krisis di Surabaya. Namun akibat provokasi yang dilancarkan pasukan NICA (Belanda) yang membonceng Sekutu. (dibawah Inggris) meledaklah Peristiwa 10 November 1945 di Surabaya dan gugurnya Brigadir Jendral A.W.S Mallaby.

Karena banyak provokasi di Jakarta pada waktu itu, Presiden Soekarno akhirnya memindahkan Ibukota Republik Indonesia dari Jakarta ke Yogyakarta. Diikuti wakil presiden dan pejabat tinggi negara lainnya.

Kedudukan Presiden Soekarno menurut UUD 1945 adalah kedudukan Presiden selaku kepala pemerintahan dan kepala negara (presidensiil/single executive). Selama revolusi kemerdekaan,sistem pemerintahan berubah menjadi semi-presidensiil/double executive. Presiden Soekarno sebagai Kepala Negara dan Sutan Syahrir sebagai Perdana Menteri/Kepala Pemerintahan. Hal itu terjadi karena adanya maklumat wakil presiden No X, dan maklumat pemerintah bulan November 1945 tentang partai politik. Hal ini ditempuh agar Republik Indonesia dianggap negara yang lebih demokratis.

Meski sistem pemerintahan berubah, pada saat revolusi kemerdekaan, kedudukan Presiden Soekarno tetap paling penting, terutama dalam menghadapi Peristiwa Madiun 1948 serta saat Agresi Militer Belanda II yang menyebabkan Presiden Soekarno, Wakil Presiden Mohammad Hatta dan sejumlah pejabat tinggi negara ditahan Belanda. Meskipun sudah ada Pemerintahan Darurat Republik Indonesia (PDRI) dengan ketua Sjafruddin Prawiranegara, tetapi pada kenyataannya dunia internasional dan situasi dalam negeri tetap mengakui bahwa Soekarno-Hatta adalah pemimpin Indonesia yang sesungguhnya, hanya kebijakannya yang dapat menyelesaikan sengketa Indonesia-Belanda.

Masa kemerdekaan

Setelah Pengakuan Kedaulatan (Pemerintah Belanda menyebutkan sebagai Penyerahan Kedaulatan), Presiden Soekarno diangkat sebagai Presiden Republik Indonesia Serikat (RIS) dan Mohammad Hatta diangkat sebagai perdana menteri RIS. Jabatan Presiden Republik Indonesia diserahkan kepada Mr Assaat, yang kemudian dikenal sebagai RI Jawa-Yogya. Namun karena tuntutan dari seluruh rakyat Indonesia yang ingin kembali ke negara kesatuan, maka pada tanggal 17 Agustus 1950, RIS kembali berubah menjadi Republik Indonesia dan Presiden Soekarno menjadi Presiden RI. Mandat Mr Assaat sebagai pemangku jabatan Presiden RI diserahkan kembali kepada Ir. Soekarno. Resminya kedudukan Presiden Soekarno adalah presiden konstitusional, tetapi pada kenyataannya kebijakan pemerintah dilakukan setelah berkonsultasi dengannya.

Mitos Dwitunggal Soekarno-Hatta cukup populer dan lebih kuat dikalangan rakyat dibandingkan terhadap kepala pemerintahan yakni perdana menteri. Jatuh bangunnya kabinet yang terkenal sebagai “kabinet seumur jagung” membuat Presiden Soekarno kurang mempercayai sistem multipartai, bahkan menyebutnya sebagai “penyakit kepartaian”. Tak jarang, ia juga ikut turun tangan menengahi konflik-konflik di tubuh militer yang juga berimbas pada jatuh bangunnya kabinet. Seperti peristiwa 17 Oktober 1952 dan Peristiwa di kalangan Angkatan Udara.

Presiden Soekarno juga banyak memberikan gagasan-gagasan di dunia Internasional. Keprihatinannya terhadap nasib bangsa Asia-Afrika, masih belum merdeka, belum mempunyai hak untuk menentukan nasibnya sendiri, menyebabkan presiden Soekarno, pada tahun 1955, mengambil inisiatif untuk mengadakan Konferensi Asia-Afrika di Bandung yang menghasilkan Dasa Sila. Bandung dikenal sebagai Ibu Kota Asia-Afrika. Ketimpangan dan konflik akibat “bom waktu” yang ditinggalkan negara-negara barat yang dicap masih mementingkan imperialisme dan kolonialisme, ketimpangan dan kekhawatiran akan munculnya perang nuklir yang merubah peradaban, ketidakadilan badan-badan dunia internasional dalam pemecahan konflik juga menjadi perhatiannya. Bersama Presiden Josip Broz Tito (Yugoslavia), Gamal Abdel Nasser (Mesir), Mohammad Ali Jinnah (Pakistan), U Nu, (Birma) dan Jawaharlal Nehru (India) ia mengadakan Konferensi Asia Afrika yang membuahkan Gerakan Non Blok. Berkat jasanya itu, banyak negara-negara Asia Afrika yang memperoleh kemerdekaannya. Namun sayangnya, masih banyak pula yang mengalami konflik berkepanjangan sampai saat ini karena ketidakadilan dalam pemecahan masalah, yang masih dikuasai negara-negara kuat atau adikuasa. Berkat jasa ini pula, banyak penduduk dari kawasan Asia Afrika yang tidak lupa akan Soekarno bila ingat atau mengenal akan Indonesia.

Guna menjalankan politik luar negeri yang bebas-aktif dalam dunia internasional, Presiden Soekarno mengunjungi berbagai negara dan bertemu dengan pemimpin-pemimpin negara. Di antaranya adalah Nikita Khruschev (Uni Soviet), John Fitzgerald Kennedy (Amerika Serikat), Fidel Castro (Kuba), Mao Tse Tung (RRC).

Masa-masa kejatuhan Soekarno dimulai sejak ia “bercerai” dengan Wakil Presiden Moh. Hatta, pada tahun 1956, akibat pengunduran diri Hatta dari kancah perpolitikan Indonesia. Ditambah dengan sejumlah pemberontakan separatis yang terjadi di seluruh pelosok Indonesia, dan puncaknya, pemberontakan G 30 S, membuat Soekarno di dalam masa jabatannya tidak dapat “memenuhi” cita-cita bangsa Indonesia yang makmur dan sejahtera.

Sakit hingga meninggal

Soekarno sendiri wafat pada tanggal 21 Juni 1970 di Wisma Yaso, Jakarta, setelah mengalami pengucilan oleh penggantinya Soeharto. Jenazahnya dikebumikan di Kota Blitar, Jawa Timur, dan kini menjadi ikon kota tersebut, karena setiap tahunnya dikunjungi ratusan ribu hingga jutaan wisatawan dari seluruh penjuru dunia. Terutama pada saat penyelenggaraan Haul Bung Karno.

Peninggalan

Pada tanggal 19 Juni 2008, Pemerintah Kuba menerbitkan perangko yang bergambar Soekarno dan presiden Kuba Fidel Castro. Penerbitan itu bersamaan dengan ulang tahun ke-80 Fidel Castro dan peringatan “kunjungan Presiden Indonesia, Soekarno, ke Kuba”.

Penamaan

Nama lengkap Soekarno ketika lahir adalah Kusno Sosrodihardjo. Ketika masih kecil, karena sering sakit-sakitan, menurut kebiasaan orang Jawa; oleh orang tuanya namanya diganti menjadi Soekarno. Di kemudian hari ketika menjadi Presiden R.I., ejaan nama Soekarno diganti olehnya sendiri menjadi Sukarno karena menurutnya nama tersebut menggunakan ejaan penjajah (Belanda). Ia tetap menggunakan nama Soekarno dalam tanda tangannya karena tanda tangan tersebut adalah tanda tangan yang tercantum dalam Teks Proklamasi Kemerdekaan Indonesia yang tidak boleh diubah. Sebutan akrab untuk Ir. Soekarno adalah Bung Karno.

Achmed Soekarno

Di beberapa negara Barat, nama Soekarno kadang-kadang ditulis Achmed Soekarno. Hal ini terjadi karena ketika Soekarno pertama kali berkunjung ke Amerika Serikat, sejumlah wartawan bertanya-tanya, “Siapa nama kecil Soekarno?” karena mereka tidak mengerti kebiasaan sebagian masyarakat di Indonesia yang hanya menggunakan satu nama saja atau tidak memiliki nama keluarga. Entah bagaimana, seseorang lalu menambahkan nama Achmed di depan nama Soekarno. Hal ini pun terjadi di beberapa Wikipedia, seperti wikipedia bahasa Ceko, bahasa Wales, bahasa Denmark, bahasa Jerman, dan bahasa Spanyol.

Sukarno menyebutkan bahwa nama Achmed di dapatnya ketika menunaikan ibadah haji.

Dan dalam beberapa versi lain, disebutkan pemberian nama Achmed di depan nama Sukarno, dilakukan oleh para diplomat muslim asal Indonesia yang sedang melakukan misi luar negeri dalam upaya untuk mendapatkan pengakuan kedaulatan negara Indonesia oleh negara-negara Arab. (Wikipedia)

Read more at http://info-biografi.blogspot.com/2010/02/ir-soekarno.html#msj1ci8ijf8zY5IQ.99

“PERSETUJUAN DENGAN BUNG KARNO”

Sajak Chairil Anwar, 1948

Ayo! Bung Karno kasi tangan
kita bikin janji
Aku sudah cukup lama dengar
bicaramu,
dipanggang atas apimu,
digarami oleh lautmu
Dari mulai tgl. 17 Agustus 1945
Atas melangkah ke depan
berada rapat di sisimu
Aku sekarang api aku sekarang
laut
Bung Karno! Kau dan aku satu
zat satu urat
Di zatmu di zatku kapal-kapal
kita berlayar
Di uratmu di uratku kapal-kapal
kita bertolak & berlabuh
Percakapan Obrolan Berakhir

 
Opini

Laksamana TNI (Pur) Slamet Soebijanto (Ist)Laksamana TNI (Pur) Slamet Soebijanto (Ist)Ditengah Penjajahan Kolonialisme Belanda pada 6 Juni 1900, seorang perempuan, Ida Ayu Nyoman Rai, yang sehari-hari dipanggil Nyoman, melahirkan seorang putra bernama Soekarno. Pada 1 Juni 1945, dihadapan Badan Penyelidik Usaha Persiapan kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) Soekarno, pertama kali berpidato tentang Pancasila yang selanjutnya menjadi dasar Ideologi Negara Republik Indonesia. Sehingga Setiap 1 Juni dikenal sebagai Hari Kelahiran Pancasila. Ia menjadi menjadi Proklamator dan Presiden Pertama Republik Indonesia yang berdiri pada 17 Agustus 1945. Pada 22 Juni 1966 Soekarno dipaksa meletakkan jabatan lewat penolakan oleh MPRS atas Pidato Pertanggung Jawaban Presiden Soekarno,–setelah sebuah kudeta militer yang didukung Amerika Serikat pada 30 September 1965.  Presiden Soekarno meninggal dunia di RSPAD (Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat) Gatot Subroto, Jakarta pada 21 Juni 1970. Sebagai penghormatan terhadap Bulan Bung Karno, selama sebulan Bergelora.com akan menurunkan berbagai tulisan tentang Bung Karno.

Oleh : Laksamana TNI (Pur) Slamet Soebijanto*

“ Jangan sekali-kali meninggalkan sejarah “ (Presiden R.I. Soekarno)

Negara Kesatuan Republik Indonesia adalah satu-satunya negara di dunia yang terbentuk bangsanya dahulu, baru negaranya. Sumpah pemuda pada tanggal 28 Oktober 1928, adalah tonggak sejarah bersatunya bangsa-bangsa yang tinggal di Bumi Nusantara, tonggak terbentuknya Bangsa Indonesia. Para Pemuda telah mengambil keputusan  stategis dan penting bagi perjalanan cita-cita mewujudkan kemerdekaan Indonesia. Keputusan dan  tekad mempersatukan diri  menjadi satu kesatuan kebangsaan, meningkatkan  semangat juang dan keberanian diri untuk segera memerdekakan bangsa dari penindasan asing. Dibuktikan dengan keberaniannya  saat terjadi kekosongan kekuasaan di Indonesia, pada tanggal 17 Agustus 1945, memproklamirkan Kemerdekaan Indonesia. Pertanyaannya, mengapa bangsa-bangsa yang tinggal di Nusantara yang berbeda suku, berbeda adat istiadat dan budaya, berbeda bahasa, berbeda agama dan berbeda tempat/pulau mau bersatu  dan berikrar menjadi : Satu Nusa, Satu Bangsa dan Satu Bahasa?

Tentunya bukan keputusan sembarangan, pasti ada sesuatu kekuatan yang melatarbelakangi dan mendorong bersatunya bangsa-bangsa yang ada di Nusantara. Kalau dipelajari dan dicermati dengan teliti,  kekuatan tersebut adalah adanya nilai-nilai luhur dan budaya yang berkembang dan tumbuh dalam kehidupan bermasyarakat, yang melahirkan adat-istiadat, norma, kaidah dan asas dalam kehidupan sehari-hari. Nilai-nilai tersebut adalah nilai-nilai kebenaran yang bertitik tolak pada ajaran agama-agama yang dipeluk masyarakat Nusantara, nilai-nilai kebenaran yang bertitik tolak pada kebenaran ilmu, nilai-nilai kebenaran yang bertitik tolak pada kebenaran rasa persatuan, nilai-nilai kebenaran yang bertitik tolak pada kebenaran nilai etika dan budaya, nilai-nilai kebenaran yang bertitik tolak pada kebenaran profesi. Nilai-nilai kebenaran tersebut pada dasarnya adalah nilai kebenaran Ilahiyah, yang diturunkan sejak Nabi Adam oleh Tuhan Yang Maha Kuasa, untuk dipakai sebagai panduan dalam menjalani kehidupan ini.

Lima Kebenaran Ilahiyah 

Lima kebenaran Ilahiyah  berkembang dan tumbuh subur di bumi Nusantara  sejak zaman pra sejarah, dipegang teguh dan dipratekkan dalam kehidupan sehari-hari,menyebabkan masyarakat Nusantara dikenal sebagai bangsa-bangsa yang rilijius. Sebagai bangsa yang relijius, maka perilaku kehidupan sehari-hari dalam bermasyarakat selalu berkeadaban dan berkeadilan, selalu menjaga hubungan baik antar sesama, saling menghormati, tolong menolong dan bergotong royong, sejauh mungkin menghindari percecokan, dan setiap permasalahan selalu  dipecahkan dengan cara bermusyawarah untuk mufakat, karena yang dicari adalah kebenaran/keadilan.

Peristiwa kecil yang terjadi sekitar tahun 1923-1927, suatu pertemuan yang tidak tercatat dalam sejarah, dan sengaja dilakukan secara sembunyi-sembunyi dan rahasia untuk  menghindarkan dari pantauan VOC/Belanda, tanpa pamrih, yang dilakukan oleh para Raja dan Sultan di Tapak-Sereng Bali (bukan Tampak Siring), menghasilkan kesepakatan dan keputusan strategis untuk  mempersatukan diri, meleburkan wilayah kerajaan dan kesultanan menjadi satu wilayah besar Nusantara. Keluhuran budi dan kebesaran jiwa yang ditunjukkan oleh para Raja dan Sultan, adalah cerminan dari jiwa-jiwa yang dilandasi oleh “ lima kebenaran Ilahiyah”, yang selalu dipegang teguh dan digunakan sebagai panduan dalam  menjalankan pemerintahan, sekaligus sebagai wujud rasa tanggung jawab moral dan keinginan luhur ingin segera mengentaskan derita panjang masyarakat dari penindasan VOC/Belanda.

Lima nilai kebenaran Ilahiyah” inilah,  disepakati dan digunakan para pendahulu bangsa sebagai dasar untuk mempersatukan dan pengikat bangsa-bangsa di Nusantara, sebelum membentuk negara. Nilai-nilai kebenaran Ilahiyah yang selalu didengungkan dan ditanamkan pada berbagai pertemuan dan kesempatan, dilakukan dari generasi ke generasi oleh para tokoh agama, Ilmuwan, tokoh pergerakkan, para Raja, Sultan dan para Pemangku adat telah membangkitkan dan membangun semangat nasionalisme serta militansi rakyat Nusantara. Nilai-nilai kebenaran Ilahiyah yang disampaikan dalam berbagai pidato dan ceramah tersebut, dalam proses perjalanan waktu semakin mengerucut dan tajam, berhasil difahami dengan benar dan diambil intisarinya, kemudian dirumuskan dalam lima susunan rumusan kalimat pendek, padat, berisi dan penuh makna, yang satu sama lainnya saling kait-mengkait, dan tersusun dengan urutan yang pasti, tidak bisa dibolak-balik. Rumusan kalimat pendek “lima kebenaran Ilahiyah” yang diperkenalkan dan disampaikan oleh Soekarno dalam berbagai kesempatan diskusi pada saat terlibat pembicaraan tentang kemerdekaan bangsa.

Lima Kebenaran Ilahiyah yang berkembang dan tumbuh di bumi Nusantara, dikenal dengan nama Pancasila, bagi bangsa Indonesia adalah asas, sifat dan jatidiri. Dengan demikian, Pancasila adalah Imam dan pemimpinya Bangsa Indonesia dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Pancasila adalah lintasan sejarah bangsa, Pancasila dirancang sebagai tujuan bangsa dan dirancang sebagai sistim berbangsa dan bernegara.

Lima Lintasan

Pancasila sebagai lintasan sejarah bangsa. Bangsa Indonesia adalah bangsa yang negaranya ditakdirkan terletak diantara dua  Samudra dan dua Benua, sekaligus sebagai “Pintu Dunia”, terletak diantara 00 – 150 Lintang Utara dan 00 – 150 Lintang Selatan, artinya geografi Indonesia berada di pusat mineral dunia, sehingga Indonesia bagaikan gadis cantik yang sempurna, diperebutkan untuk dikuasai oleh negara-negara dunia, karena ada ungkapan “ barang siapa mengusai Indonesia akan menguasai dunia”. Para pendiri bangsa sangat mengerti dan faham akan potensi yang dimiliki, dan suatu niscayaan pada suatu saat Indonesia akan tumbuh menjadi kekuatan kawasan yang diperhitungkan/ditakuti. Langkah pertama yang dilakukan para pendiri bangsa adalah mempersatukan  bangsa-bangsa di Nusantara dengan ikatan nilai-nilai kenearan Ilahiyah, yang berkembang dan tumbuh menjadi norma, kaidah dan asas dalam kehidupan bermasyarakat.

Perjuangan panjang  untuk mewujudkan cita-cita luhur tersebut dapat dikelompokan dalam 5 lintasan Lintasan I, perjuangan yang dirintis oleh  tokoh-tokoh agama yang melakukan perlawanan terhadap VOC, seperti Perang Diponegoro, Perang Padri, Perang Maluku dan perang-perang lainnya yang terjadi di Nusantara. Lintasan II, perlawanan  oleh para cerdik cendekia dengan membentuk Boedi Oetomo pada tahun 1908, Lintasan III,  perlawanan rakyat yang membentuk laskar-laskar perlawanan menghadapi Belanda dalam agresi I dan II, dan kelompok perlawanan ini kemudian menjadi cikal bakal TNI. Dengan demikian adalah benar TNI adalah dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat, TNI adalah tentaranya Rakyat. Lintasan IV, perjuangan Para Raja dan Sultan yang menyumbangkan harta bendanya, membantu peperangan melawan penjajah. Dan Lintasan V, adalah perlawanan rakyat dengan caranya sendiri diseluruh wilayah tanah air. Dengan demikian Kemerdekaan Indonesia adalah benar-benar hasil perjuangan panjang para tokoh agama, para cerdik cendikia, kelompok perlawanan rakyat yang jadi cikal bakal TNI, para Raja/Sultan dan rakyat pada umumnya, bukan hasil perjuangan partai.

Tujuan Berbangsa

Pancasila sebagai tujuan berbangsa, Sila 1. Ketuhanan Yang Maha Esa, menyatakan dan menegaskan bahwa setiap warga negara Indonesia harus beragama dan menjalankan agamanya dengan baik dan benar. Disadari bahwa kehidupan didunia hanya sementara dan tujuan hidup sebenarnya adalah selamat dunia akhirat. Sila 2, Kemanusiaan yang adil dan beradab. Dengan meletakkan agama sebagai landasan berbangsa dan bernegara, maka disetiap jiwa manusia Indonesia pasti  melekat jiwa kasih sayangnya, dan dalam menjalani kehidupannya pasti berkeadilan dan berkeadaban. Sila 3.  Persatuan Indonesia. Dengan landasan agama, maka  setiap manusia Indonesia pasti akan menjaga  hubungan satu sama lain, menjaga tali silaturahmi, menjaga persatuan. Sila. 4, Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmah kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan.  Landasan agama  mengajarkan kasih sayang sesama manusia,  menuntun setiap manusia Indonesia untuk mengutamakan kepentingan bersama dan akan selalu bermusyawarah mufakat dalam memecahkan setiap persoalan yang ada, karena yang dicari adalah kebenaran/keadilan. Sila. 5, Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia, adalah hasil akhir. Dengan demikian betapa indahnya Pancasila sebagai tatanan nilai yang digali dari budaya sendiri, budaya bangsa-bangsa di Nusantara digunakan sebagai regulator dan koridor kehidupan berbangsa dan bernegara.

Sistim Negara

Pancasila sebagai sistim berbangsa dan bernegara. Potensi yang dimiliki Indonesia mendorong para Pendiri Bangsa bersikap hati-hati, cermat dan bijaksana dalam menyiapkan Indonesia sebagai negara yang  berdaulat dan merdeka. Dari sidang Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia, Negara yang dipilih adalah Kesatuan Kebangsaan yang berbentuk Republik, Negara Kekeluargaan dan Undang-undang Dasar 1945, adalah undang-undang yang disusun dalam bingkai sistim kekeluargaan. Tata/sistim pemerintahan yang disiapkan berdasarkan Pancasila, menganut sistim majelis, tidak menganut sistim partai. Majelis Permusyawaratan Rakyat,  adalah kumpulan 5 Majelis sesuai sila-sila Pancasila. Majelis I, Majelis Ketuhanan Yang Maha Esa diisi oleh tokoh-tokoh agama wakil-wakil dari agama-agama yang ada di Indonesia dan datang dari  wilayah. Majelis II, Majelis Kemanusiaan yang adil dan beradab, diisi oleh para ilmuwan/cerdik cendikia yang merupakan wakil-wakil yang datang dari wilayah. Majelis III, Majelis Persatuan Indonesia adalah diisi oleh TNI dan bala pertahanan, wakil-wakil ditunjuk oleh Pemimpin TNI dan ditetapkan sebagai wakil dari daerah, dan harus tinggal didaerah yang diwakili. Majelis IV, Majelis Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan,  diisi oleh Raja, Sultan dan Pemangku Adat yang datang dari wilayah. Majelis V, Majelis Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia,  diisi oleh pimpinan profesi yang datang dari wilayah dan mewakili wilayahnya.

Gambar Skema: Pancasila sebagai tata berbangsa dan bernegaraGambar Skema: Pancasila sebagai tata berbangsa dan bernegara

Majelis Kebenaran

Dengan demikian, orang-orang yang duduk didalam majelis, sebenarnya adalah wakil-wakil kebenaran. Majelis I: Mewakili kebenaran berdasarkan Kebenaran Agama, Majelis II: Mewakili kebenaran berdasarkan Kebenaran Ilmu, Majelis III, Mewakili kebenaran berdasarkan Kebenaran arti pentingnya Persatuan-Kesatuan, Majelis IV: Mewakili kebenaran berdasarkan Kebenaran nilai Etika dan Budaya Bangsa  dan Majelis V : Mewakili kebenaran berdasarkan Kebenaran Profesi.

Carut marut yang terjadi dalam kehidupan berbangsa dan bernegara saat ini, karena bangsa Indonesia telah meninggalkan sejarah bangsanya sendiri, meninggalkan “nilai-nilai luhur dan budaya bangsa, yang mengandung kebenaran Ilahiyah” yang menjadi adat-istiadat, norma, kaidah dan asas dalam kehidupan bermasyarakat. Meninggalkan Pancasila dan memaksa bangsa ini untuk menggunakan “demokrasi yang bukan nilai dan budaya bangsa Indonesia“, sebenarnya adalah pengkhianatan terhadap para pendiri bangsa dan rakyat Indonesia. Adalah terbukti benar bahwa untuk menghancurkan Indonesia, “negara yang terbentuk bangsanya lebih dahulu” baru negara, yang harus dihancurkan adalah filosofi bangsanya yaitu Pancasila.

Semoga dengan ditetapkan Bulan Juni sebagai Bulan Pancasila, bulan perenungan terhadap Sila-sila Pancasila yang merupakan nilai-nilai kebenaran ilahiyah, menyadarkan semua anak bangsa bahwa Negara Kesatuan Republik Indonesia, adalah Negara yang terbentuk Bangsanya lebih dahulu yang berlandaskan pada “nilai-nilai kebenaran Ilahiyah”. Negara Kesatuan Kebangsaan yang berbentuk Republik, Negara Kekeluargaan, Negara yang dibangun  melalui perjuangan panjang, mengorbankan jutaan jiwa dan harta benda rakyat Nusantara. Oleh karena itu, kedepan “tidak perlu ada dikotomi orde lama, orde baru maupun orde reformasi“, karena pada dasarnya kita sebenarnya adalah  keluarga besar yang tinggal dirumah besar Indonesia. Dan sudah saatnya bangsa ini melepas baju-baju kepentingan dan mengganti dengan baju-baju pengabdian, kembali ke Pancasila dan Undang-undang Dasar 1945,  dan menggunakan Pancasila sebagai tatanan berbangsa dan bernegara, Pancasila berdaulat Bangsa selamat.

*Penulis adalah Mantan Kepala Staff Angkatan Laut, Tentara Nasional Indonesia (TNI) 2005-2007

Opini

Roch Basoeki Mangoenprojo‏. (Ist)Roch Basoeki Mangoenprojo‏. (Ist)Ditengah Penjajahan Kolonialisme Belanda pada 6 Juni 1900, seorang perempuan, Ida Ayu Nyoman Rai, yang sehari-hari dipanggil Nyoman, melahirkan seorang putra bernama Soekarno. Pada 1 Juni 1945, dihadapan Badan Penyelidik Usaha Persiapan kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) Soekarno, pertama kali berpidato tentang Pancasila yang selanjutnya menjadi dasar Ideologi Negara Republik Indonesia. Sehingga Setiap 1 Juni dikenal sebagai Hari Kelahiran Pancasila. Ia menjadi menjadi Proklamator dan Presiden Pertama Republik Indonesia yang berdiri pada 17 Agustus 1945. Pada 22 Juni 1966 Soekarno dipaksa meletakkan jabatan lewat penolakan oleh MPRS atas Pidato Pertanggung Jawaban Presiden Soekarno,–setelah sebuah kudeta militer yang didukung Amerika Serikat pada 30 September 1965.  Presiden Soekarno meninggal dunia di RSPAD (Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat) Gatot Subroto, Jakarta pada 21 Juni 1970. Sebagai penghormatan terhadap Bulan Bung Karno, selama sebulan Bergelora.com akan menurunkan berbagai tulisan tentang Bung Karno.

Oleh : Roch Basoeki Mangoenprojo

Sudah banyak sekali tulisan tentang Soekarno, Proklamator dan Presiden RI pertama. Baik kehebatan maupun kelemahannya. Semua cenderung melihat sebagai pribadi seorang pemimpin yang paling menonjol di antara banyak sosok pemimpin lainnya. Hal begitu membuat Bung Karno dikagumi oleh banyak rakyatnya, namun banyak pula yang menjadi tidak suka terhadap pribadinya maupun pendapat-pendapatnya. Dengan kata lain beliau adalah tokoh kontroversial yang pendapatnya diakui dunia. Terutama dalampidato di Markas Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) tentang Pancasila dengan judul “To Build A World Anew”,– tetapi sebaliknya belum menemukan proporsi peranan yang pas di negeri sendiri (seperti Ho Chin Minh di Vietnam misalnya).

Belajar dari pandangan masyarakat yang demikian, di tengah kompleksitas permasalahan bangsa dan negara yang sangat tinggi, muncullah beberapa pertanyaan sesuai ukuran Pancasila. Betulkah pendapat banyak orang bahwa Indonesia hanya membutuhkan satu orang sosok pemimpin sebagai Ratu Adil untuk menyelesaikan kompleksitas permasalahan Bangsa-Negara dan memakmurkannya? Adakah upaya Soekarno untuk melaksanakan Sila ke empat “musyawarah mufakat” di dalam kepemimpinannya, sehingga beliau tidak pernah menenggelamkan peranan para pemimpin lainnya? Dimanakah posisi sosok Soekarno dalam kancah pembentukan bangsa dan Negara di antara para pemimpin lainnya?

 

Permasalahan Bangsa-Negara.

Soekarno, Karto Suwiryo dan Semaun adalah murid HOS. Tjokroaminoto. Semaun penggerak komunisme di Indonesia adalah murid paling progresif. Mendirikan Partai Komunis di tahun 1922 dan melakukan pemberontakan terhadap Belanda di tahun 1926 yang tidak diikuti oleh yang non komunis. Pemberontakan ini gagal total bahkan melahirkan cemooh dari Tan Malaka. tokoh sosialis, pengembara di luar negeri dan pemimpin Negara komunis lainnya. Sementara Karto Suwiryo pemimpin Islam terkemuka, kemudian mencapai puncaknya menjadi pemimpin Negara Islam Indonesia dengan basis Darul Islam dan Tentara Islam Indonesia (TII) di tahun 1950-an.

Soekarno sendiri dikenal sebagai penggerak paham nasionalisme yang mencoba meramu pemikiran murid HOS lainnya, dengan melahirkan Partai Nasional Indonesia di tahun 1927 atau disingkat PNI. Soekarno merasakan betapa kuatnya aliran Islam dan Sosialisme/Komunisme sebagai kekuatan politik di dalam masyarakat Hindia Belanda. Soekarno ingin menampung semua denyut yang mengalir dengan kuat itu. Ketika Oktober tahun 1928 Sumpah Pemuda dideklarasikan, bukti bahwa denyut aliran-aliran tersebut ada dan telah menyatakan lebur menjadi satu. Satu bangsa, satu bahasa dan satu tanah-air Indonesia.

Fakta kemudian menunjukkan bahwa bahasa Indonesia telah diberlakukan dan digunakan oleh seluruh warga bangsa. Demikian juga dengan tanah-air. Deklarasi Djuanda menyebut Indonesia sebagai Negara Kepulauan di tahun 1955 memperkuat ikatan tanah air itu, apalagi sesudah UNCLOS (badan PBB) mengesahkannya di tahun 1982. Namun yang berkait dengan “satu bangsa” dan semboyan Bhinneka Tunggal Ika belum lagi terwujud, sampai dengan HUT RI ke 70. Apakah kendala terwujudnya ide “satu bangsa”? Inilah tingginya tingkat kompleksitas permasalahan bangsa-negara Indonesia, meliputi seluruh aspek kehidupan ipoleksosbud.

Menyatukan pemikiran masyarakat yang majemuk sungguh sulit, apalagi menyatukan perasaan senasib sebagai bangsa (Ernst Renan) maha sulit. Rasa senasib sepenanggungan sebagai prasyarat terjadinya suatu bangsa hanya terwujud pada tahun 1945 sampai dengan 1949, “Merdeka ataoe Mati”. Tapi demikian kedaulatan Negara diakui (Desember 1949), hilanglah perasaan senasib itu berganti dengan “indahnya kekuasaan”.

Prasyarat terjadinya Bangsa yang lain adalah, adanya kesamaan tujuan di dalam kehidupan bersama (Otto von Bauer). Itupun hanya dapat dirasakan sampai tahun 1949, yaitu untuk mengusir penjajah dan berhasil. Setelah itu sampai saat ini 2015, tujuan bernegara semakin kabur. Parpol peserta pemilu, masing-masing membuat tujuan bernegara yang berbeda-beda. Kondisi ini, masihkah layak kita menyebut sebagai satu bangsa?

Prasyarat ketiga adalah usulan Bung Karno di dalam pidatonya “Lahirnya Pancasila”, 1 Juni 1945. Yaitu selain dua syarat di atas, bangsa harus ada di dalam satu kesatuan geo-politik, yang konsepnya sampai hari ini belum jelas sekalipun sudah ada “Wawasan Nusantara”.

Di benak saya Wawasan Nusantara haruslah dijabarkan langkah operasionalnya, merupakan upaya mewujudkan satu kesatuan geo-politik. Untuk itulah kita harus berani mengklaim bahwa Indonesia merupakan BENUA MARITIM, dituntut untuk menjadi BANGSA MARITIM dan NEGARA MARITIM. Isue maritimlah yang akan menyatukan Indonesia dalam satu kesatuan geo-politik.

Kegagalan seorang jenius bernama Soekarno memimpin bangsa ini (1965) merupakan bukti bahwa Indonesia tidak mungkin dipimpin oleh satu orang, betapapun hebatnya orang itu. Tingkat kompleksitas permasalahan bangsa sungguh sangat tinggi, di luar batas kemampuan satu orang. Di alinea 3 Pembukaan UUD sudah diyakini, Kemerdekaan Kebangsaan hanya akan terwujud bila disertai Rachmat Tuhan dan Keinginan Luhur seluruh penyelenggaranya. Tak cukup satu orang pemimpin, semua pihak akan merasa benar sendiri, bahkan merasa paling benar.

Musyawarah Mufakat

Indonesia haruslah dipimpin oleh ‘Kebenaran Bersama’ yang dihasilkan oleh proses Musyawarah Mufakat, yaitu melalui Lembaga Tertinggi Negara (MPR-RI). Kebenaran Bersama tertuang dalam output lembaga tertinggi itu dalam bentuk TAP-MPR. Tetapi harus dicermati penyusunan keanggotaan MPR-RI dan mekanisme berkerjanya. Ini sudah saya jelaskan lengkap dalam buku saya yang terbit pada bulan Juni 2014 “Kepemimpinan Indonesia, Metodologi Pencegah Negara Gagal” Harusnya tidak lewat penunjukkan, apalagi hanya menjadi juru stempel kehendak penguasa. MPR-RI haruslah melahirkan ‘Kebenaran Bersama’ dari seluruh masyarakat.

Kembali ke Soekarno. Apakah Soekarno melakukan proses musyawarah mufakat itu? Di masa pemerintahan Soekarno belum pernah ada MPR-RI yang terbentuk (selain MPRS). Sebagai Presiden Mandataris beliau tidak diangkat oleh MPR-RI. Namun saya melihat perilaku pribadinya, sebelum beliau mengambil keputusan selalu mengedepankan musyawarah mufakat.

Peristiwa-peristiwa berikut ini menunjukkan. Naskah pledoi “Indonesia Menggugat” dirumuskan bersama lima orang, sebelum dibacakan dalam sidang di Landraad Bandung (1929).

Bung Karno diminta oleh pemimpinan sidang untuk menawarkan Dasar Negara kepada Forum BPUPKI, 1 Juni 1945. Jawabannya adalah tepuk tangan berdiri sebanyak 12 kali. Terlihat bahwa Soekarno hanyalah “penggali”. Camkan ini, kalau tanpa tepuk tangan itu apakah Pancasila terlahir? Maka Pencetus Pancasila adalah Sidang BPUPKI.

Pancasila resmi terdapat di Pembukaan UUD 1945, pengemasan oleh Panitia Sembilan yang dibentuk BPUPKI. Inilah karya monumental hasil musyawarah mufakat riil oleh sembilan pemimpin Indonesia. Di sinilah peranan Soekarno yang tidak ingin menonjol sebagai salah satu dari sembilan pemimpin.

Terlihat dari perbedaan urutan unsur Pancasila antara isi pidato beliau dengan naskah Pembukaan UUD 1945. Dalam pidatonya, sila Ketuhanan berada di urutan ke lima sedangkan dalam Pembukaan UUD berada di urutan pertama. Beliau suka memufakati kehendak para delapan pemimpin lainnya. Paling layak menyandang predikat ‘Pendiri Negera’ adalah kesembilan pemimpin ini.

Soekarno mengangkat kembali Nasution menjadi KSAD (1955) adalah hasil musyawarah dengan para pimpinan TNI-AD. Waktu itu AH Nasution dicopot dari jabatan KSAD tahun 1952, diganti dengan empat KSAD berikutnya yang sulit bekerjasama dengan institusi lainnya. AH Nasution setuju diangkat kembali dengan catatan, yaitu dilakukan di pusara Jenderal Sudirman, dengan dihadiri oleh seluruh Panglima Teritorium. Mungkin pusara merupakan simbol implementasi alinea 3 berdasarkan pada nilai-nilai masyarakat di saat itu.

Mungkin masih banyak lagi yang disaksikan oleh pembaca. Sekali lagi, beliau konsisten terhadap kemufakatan ‘Kebenaran Bersama’.

Soekarno dalam Kepemimpinan

Soekarno adalah pemimpin kontroversial. Artinya sulit dinilai dengan norma apapun, baik dengan nilai-nilai universal-global maupun tradisional. Beliau adalah sosok peradaban yang mendahului jamannya, bukan cuma level nasional tetapi juga disimak, bahkan dilaksanakan oleh sebagian pemimpin dunia seperti di Afrika Selatan, Inggris dan China.

Dari uraian di atas boleh didiskripsikan bahwa Soekarno memimpin negeri ini tidak sendirian. Beliau bersama-sama para pemimpin lainnya menyusun dan memufakati ‘Kebenaran Bersama’ sebagai bangsa.

Diskripsi kepemimpinan beliau yang berkait dengan musyawarah mufakat terurai sebagai berikut.  Ir. Soekarno berwawasan ‘peradaban’. Mengubah masyarakat terjajah menjadi merdeka hanya bisa dilakukan dengan pendekatan perubahan peradaban dunia, yaitu hilangnya penindasan antar kekuatan. Itu harus dimulai dari perubahan sikap dalam dirinya sendiri. Sebagai pemimpin ia mengajak para pemimpin lain agar menjadikan dirinya sebagai contoh pembaharu, setidaknya dimulai dari cara berpakaian dan berpenampilan maupun dalam berwawasan. Hindarkan kesan bahwa bangsa Indonesia itu inlader yang minderwardig, ataupun ambtenaar penguasa. Saat itulah lahir Nation and Character Building.

Kepemimpinan Bung Karno selalu mengajak bermusyawarah. Bng Karno tidak punya ambisi kekuasaan terhadap rakyat, tetapi ingin membuat Indonesia memiliki daya tawar yang tinggi di tingkat/level global. Oleh karena itu ia selalu berhadapan dengan mereka (pemimpin) yang tak suka bermusyawarah-mufakat atau ber-Indonesia.

Beberapa contoh musyawarah yang beliau lakukan dan tidak pernah menenggelamkan pemimpin lain, adalah adalah ketika bersama Bung Hatta, berlangsung sejak 1942-1955, sekalipun sering ada friksi antara keduanya namun berhasil mengokohkan predikat Dwitunggal Soekarno-Hatta sampai hari ini.

Bersama Pak Dirman, dua kali terjadi friksi namun berakhir mulus. Saat pak Dirman berkata “100 persen merdeka” kemudian mengubah menjadi “politik TNI adalah politik Negara” (1947).

Di Desember 1948 pak Dirman yang lagi sakit paru-paru diminta mengikuti pemerintah yang telah ditangkap Belanda, namun pak Dirman tidak mau. Si Bung justru mengijinkan pak Dirman masuk hutan memimpin gerilya.

Bersama Ali Sastroamijoyo, beliau mengumandangkan nama Ali ini sebagai Perdana Menteri Indonesia yang menjadi otak terjadinya Konperensi Asia Afrika (KAA) di Bandung di tahun 1955. Ali Sastroamijoyo diberikan keleluasaan untuk berkonsultasi dengan para pemimpin di Negara-negara Asia dan Afrika yang sudah dan belum merdeka.

Bersama Djuanda, Bung Karno memberi kepercayaan untuk menyiapkan dan memperjuangkan konsepsi Negara-Kepulauan yang berisi bahwa wilayah Indonesia meliputi juga laut yang berada di antara pulau-pulau. Kemudian konsep ini ditindak-lanjuti oleh Mochtar Kusumaatmaja, agar disyahkan oleh PBB dan UNCLOS.

Siap Menderita

Pemimpin harus siap menderita demi rakyatnya. Bahkan ia hancurkan dirinya sendiri saat dihinakan dan dikandangkan di Wisma Yaso. Ajakan pasukan KKO untuk melawan penguasa ditolak. “Itu berarti mengajak perang saudara” kata Bung Karno. Khawatir Indonesia akan bubar. Masih banyak peristiwa serupa dari Bung Karno.

Yang tidak dilakukan dan tidak seharusnya beliau lakukan adalah sebagai berikut. Panitia Sembilan, para penyusun naskah Pembukaan UUD terlalu cepat bubar sehingga alur pemikiran “Indonesia” terputus dengan pembuat UUD 1945, apalagi dengan para pemburu kekuasaan. MPR-RI yang sesuai kehendak pasal 2 UUD 1945 dan berakar dari jiwa Pembukaan UUD belum diwujudkan. Tidak melakukan konsolidasi kekuatan pasca perang revolusi, bahkan di tengah keberhasilan merebut Irian Barat tidak mengonsolidasi kekuatan organisasi Indonesia sebagai Negara ‘yang berhasil’. Tidak seharusnya Soekarno menerima pengangkatan sebagai Presiden Seumur Hidup. Ini hasil musyawarah mufakat yang menyesatkan.

Konsistensi melakukan proses musyawarah yang dilakukan sendiri bukan oleh MPR-RI sebagai Lembaga Tertinggi Negara, membawa konsekuensi yang harus dihadapi. Yaitu ketika pemimpin lainnya berubah arah kiblat kebijakannya dan meninggalkan permufakatan yang telah dibuat. Misalnya, menerima kehadiran neo-capitalism dan neo-colonialsm.

Pandangan Salah

Nama Soekarno menjadi terlalu besar, tidak proporsional. Lantas menjadi kurang bermanfaat bagi kelanjutan kehidupan bangsanya. Hal itu terjadi karena beberapa hal.

Masyarakat terlalu berharap akan lahirnya Ratu Adil sebagai pemimpin yang akan menyelamatkan kehidupan masa depannya. Ratu Adil dalam konsep tradisional adalah seseorang pemimpin yang mengatasi segala hal. Konsep yang tak mungkin menjadi nyata melihat kompleksitas yang dihadapi oleh bangsa yang ingin mengubah peradaban (nilai-nilai).

Tanpa sadar pandangan di atas membuat para pengagum dan pengikutnya berlomba untuk semakin meninggikan nama Soekarno, itu berarti akan ‘menenggelamkan’ nilai pemimpin lainnya. Padahal Soekarno sendiri tidak pernah mau ‘bersaing’ dengan pemimpin lainnya, apalagi untuk menenggelamkannya. Kalau toh ada yang tenggelam, karena mereka melawan kehendak rakyat yang dipimpin Soekarno dan kawan-kawan dalam musyawarah mufakat. Contohnya Tan Malaka dan Muso.

Belum ada upaya bangsa ini untuk memposisikan kepemimpinan Bung Karno dalam kebersamaannya dengan segudang pemimpin lain, yang juga berjasa besar bagi kemerdekaan bangsa ini dan seterusnya.

Kultus-individu terhadap kepemimpinan Soekarno adalah upaya pihak lain untuk mendiskreditkan sosok Bung Karno sebagai pemimpin dunia, serta mengacaukan perjuangan bangsa ini untuk ber-Indonesia

*Penulis adalah Purnawirawan TNI/AD, tinggal di Bandung. Menjadi Ketua Dewan Pembina M-3 (Masyarakat Musyawarah Mufakat).

Opini

Bambang Sulistomo (Ist)‏Bambang Sulistomo (Ist)‏Ditengah Penjajahan Kolonialisme Belanda pada 6 Juni 1900, seorang perempuan, Ida Ayu Nyoman Rai, yang sehari-hari dipanggil Nyoman, melahirkan seorang putra bernama Soekarno. Pada 1 Juni 1945, dihadapan Badan Penyelidik Usaha Persiapan kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) Soekarno, pertama kali berpidato tentang Pancasila yang selanjutnya menjadi dasar Ideologi Negara Republik Indonesia. Sehingga Setiap 1 Juni dikenal sebagai Hari Kelahiran Pancasila. Ia menjadi menjadi Proklamator dan Presiden Pertama Republik Indonesia yang berdiri pada 17 Agustus 1945. Pada 22 Juni 1966 Soekarno dipaksa meletakkan jabatan lewat penolakan oleh MPRS atas Pidato Pertanggung Jawaban Presiden Soekarno,–setelah sebuah kudeta militer yang didukung Amerika Serikat pada 30 September 1965.  Presiden Soekarno meninggal dunia di RSPAD (Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat) Gatot Subroto, Jakarta pada 21 Juni 1970. Sebagai penghormatan terhadap Bulan Bung Karno, selama sebulan Bergelora.com akan menurunkan berbagai tulisan tentang Bung Karno.

Oleh : Bambang Sulistomo

Siapapun tidak bisa memungkiri, bahwa Ir Soekarno yang di sebut sebagai Bung Karno adalah salah satu pendiri peletak dasar dasar kemerdekaan republik ini.  Perjuangannya sejak masa muda, didahului dengan mempelajari perjuangan kemerdekaan dari para pendahulunya,  dan kemudian menggalang teman-temannya yang sepakat untuk mencapai suatu negara yang merdeka dan berdaulat, sehingga mengakibatkan dia ditahan, diadili dan dibuang ketempat pengasingan oleh kekuasaan penjajahan.

Mencermati sejarah perjuangan Bung Karno,  merupakan bagian dari  suatu sejarah kepahlawanan yang heroik dan sekaligus banyak mengandung unsur romantisme yang manusiawi.

Menelusuri dan mencermati sejarah kehidupan politik Bung Karno,  mau tidak mau kita harus membaginya dalam  kurun  waktu kehidupannya, dimulai dari masa muda menjadi mahasiswa, masa menggalang kekuatan untuk  mendirikan gerakan dan partai politik, masa dia ditahan, diadili dan diasingkan oleh  pemerintah jajahan Belanda, masa penjajahan bala tentara Jepang, masa persiapan kemerdekaan, masa awal kemerdekaan, masa demokrasi parlementer, masa demokrasi terpimpin dan masa akhir kekuasannya.

Kesemua kurun waktu yang kita cermati tersebut, telah membentuk keseluruhan kepribadian Bung Karno, membentuk alam fikirannya, membentuk cita citanya, membentuk kelompok pendukungnya, membentuk corak perjuangannya, dan membentuk keyakinannya. Artinya , kita seharusnya dapat  mencermati keseluruhan  fikiran, gagasan, sikap  dan tindakan Bung Karno sampai pada saat dia diharuskan turun dari  kekuasaannya.

Pertama :  Sejak dikalahkannya tentara penjajahan Belanda oleh pendudukan bala tentara Jepang, para pejuang kemerdekaan seolah-olah terbagi dalam dua kekuatan, yaitu kelompok para pejuang yang mendukung pendudukan balatentara Jepang, yang pada awalnya “mengizinkan” dikibarkannya bendera merah-putih, dan melahirkan semangat anti nasionalisme anti “penjajahan barat”. Dan kelompok lainnya yang mendukung perlawanan pendudukan tersebut, karena Jepang dianggap sebagai negara yang dalam perang dunia ke dua tersebut,  mendukung fasisme Jerman dan Italia.  Kedua kelompok pejuang  tersebut pada masa sesudah 17 agustus 1945, akan sangat berperan dalam mempertahankan kemerdekaan dari keinginan kembali tentara sekutu untuk mengembalikan kekuasaan Belanda dinegeri ini. Yaitu kelompok pejuang bersenjata yang menolak perundingan damai dengan Belanda. Kedua, adalah pejuang yang menyetujui upaya perundingannya yang dianggap “menyerahkan” sebagian wilayah pada Belanda,

Semangat Revolusioner

Kedua :  Bung Karno sangat merasakan ‘semangat revolusioner’ dalam perjuangan kemerdekaan, oleh sebab itu semangat tersebut menjadi kebanggaan yang dibangun olehnya sebagai strategi untuk menyelesaikan semua permasalahan bangsa ini melalui pendekatan politik. Tetapi beberapa  sahabat Bung Karno, para pejuang terdidik lainnya berpendapat,  bahwa permasalahan bangsa yang baru merdeka, seharusnya diselesaikan melalui pembangunan kelembagaan, pembangunan ekonomi yang merata dan pembangunan kedaulatan rakyat. Perbedaan strategi pembangunan inilah yang akhirnya membuat wakil presiden Bung Hatta saat itu mengundurkan diri dari jabatannya. Dan sebagai reaksi mundurnya wakil presiden, akhirnya muncul gerakan politik dan militer beberapa daerah yang menolak strategi pembangunan Bung Karno tersebut. Tapi akhirnya Bung Karno berhasil menghentikan semua gerakan tersebut, dan dia semakin erat merangkul kekuatan politik yang mendukung strategi revolusioner-nya itu.

Ketiga: Perjuangan Bung Karno untuk mendirikan negara yang berdaulat dan merdeka dari penjajahan  merupakan hal yang paling mendasar,  yang menjadi semacam keyakinannya, bahwa semua bangsa di dunia harus merdeka dari penjajahan. Hal tersebut juga  tercermin dalam pembukaan UUD 1945. Oleh sebab itu gagasannya untuk mendukung konferensi Asia Afrika, dan sampai pada saat Bung Karno mencanangkan “trikora” dan “dwikora”, merupakan kenyataan, bahwa Bung Karno sangat kuat keinginanannya agar semua negara yang terjajah dapat memerdekan dirinya dengan cara-cara yang “revolusioner”. Sikap revolusioner ini tentunya mendapatkan sambutan yang besar dari negara negara blok timur, yang pada saat perang dingin bersaing berebut pengaruh di dunia dengan negara  blok barat.

Karena saat itu, pada umumnya negara-negara blok timur dianggap merupakan negara  bekas jajahan, dan negara blok barat sebagai negara penjajah. Sikap Bung Karno pro blok timur seperti ini tentu “meresahkan” negara blok  barat. Sehingga untuk mengurangi tekanan gerakan politik Bung Karno dan kawan-kawan, dengan gerakan “Non blok-nya”, dalam perundingan internasional untuk membebaskan “Irian Barat” dari penjajahan Belanda, saat itu beberapa negara barat akhirnya menekan Belanda, dan membawa masalah tersebut ke PBB.

Nasakom

Ke-empat :    Dalam membangun kekuatan pendukung politiknya, Bung Karno tentu melihat sejarah pergerakan kemerdekaan, bahwa faham nasionalisme, faham ke-agamaan dan faham marxisme, merupakan faham yang telah menggerakan “kesadaran” perjuangan kemerdekaan. Untuk itulah Bung Karno kemudian melahirkan gagasan “trisakti” (berdaulat dalam bidang politik, berdikari dalam bidang ekonomi, dan berkepribadian dalam bidang budaya) serta “Nasakom” sebagai simbol persatuan kekuatan politik bangsa, yang diharapkannya dapat menyelesaikan semua permasalahan politik bangsa secara revolusoner.

Permasalahannya kemudian adalah, setelah hasil pemilihan umum 1955, dan kemudian DPR hasil pemilu tersebut dibubarkan Bung Karno,  beberapa partai politik yang mendapatkan kursi terbesar  seperti PNI, NU dan PKI menyatakan dirinya sebagai pendukung “Nasakom tanpa reserve” setelah  Bung Karno mengeluarkan dekrit presiden 5 Juli 1959, dengan menyatakan kembali pada UUD 1945 dan Pancasila sebagai dasar Negara.

Sebagai suatu gagasan (dalam alam pemikiran) Bung Karno,  Nasakom akhirnya “terwujud” menjadi kekuatan politik (artian fisik), yang akhirnya tentu saja dimanfaatkan oleh partai politik pendukung gagasan tersebut, agar lebih dekat dan dapat ikut memanfaatkan semangat revolusioner dari kekuasaan Bung Karno.

Ke-lima : sebagai kekuatan politik, tentu ketiga partai politik tersebut “bersaing” kuat untuk menunjukkan sikap siapa yang paling revolusioner, terutama  sebagai peluang dalam alam  perang dingin. Bung Karno dalam melihat arah perang dingin,  tentu mengamati dan menilai bahwa negara blok timur yang paling mendukungnya,  dan terlihat sesuai dengan slogan dan visinya yang revolusioner.

Didalam negeri tentunya yang dapat melihat “peluang” slogan revolusioner tersebut adalah PKI.  Tapi PKI juga menyadari, bahwa tanpa kekuatan bersenjata dia tidak akan sepenuhnya bisa mendukung (mengendalikan) gerak revolusionernya Bung Karno, meskipun Bung Karno setuju untuk membentuk “poros” Jakarta, Pyong Yang, Hanoi, Peking.

Saat itu yang dianggap menjadi hambatan PKI untuk mengendalikan kekuasaan Bung Karno sepenuhnya, adalah kekuatan militer Angkatan Darat, yang selalu menolak dengan keras permintaan PKI agar diwujudkan “angkatan kelima”, yaitu rakyat revolusioner yang dipersenjatai.

Ke-enam :  Bung Karno tentu bukan tidak melihat persaingan pengaruh diantara partai politik pendukung Nasakom-nya, maupun  persaingan yang hebat antara PKI dan Angkatan Darat.

Tapi saat itu siapa kekuatan politik yang bisa menjamin bahwa segala persaingan perebutan pengaruh tersebut tidak akan terwujud menjadi semacam “bumerang” bagi Bung Karno sendiri? Dan siapa yang dapat menjamin, bahwa dalam membangun kekuatan politik Nasakom  dengan gagasan demokrasi terpimpin yang revolusioner, dan membangun perekonomi untuk kesejahteraan rakyat bisa berlangsung secara bersamaan ? .Dan siapa bisa menjamin, bahwa  politik “non blok” Bung Karno yang lebih condong bekerja sama dengan negara negara blok timur itu tidak menimbulkan kecurigaan dan ketidak senangan negara blok barat dan para simpatisannya dinegeri ini sendiri ?

Bung Karno sering menyebut dirinya sebagai pemimpin besar revolusi (PBR), tapi siapa yang bisa mengingatkan Bung Karno, agar “revolusi yang multi komplek” (sosial, politik, ekonomi, mental dan sebagainya) itu bisa berjalan dengan strategi yang sesuai dengan kebutuhan membentuk masyarakat yang adil dan makmur, membentuk jatidiri bangsa seperti yang tercantum dalam pembukaan UUD 1945 ?

Akhir Yang Tragis

Yang kita perlukan agar generasi muda dapat mencermati adalah, bahwa Bung Karno dengan gagasan pembangunan kehidupan politiknya yang revolusioner, dan Jenderal Suharto dengan pembangunan ekonomi sebagai titik berat, dimana   kedua pemimpin  tersebut menyebutkannya sebagai ujung tombak dari “pengamalan demokrasi terpimpin Pancasila”, ternyata kedua pemimpin tersebut mengakhiri kekuasaannya dengan tragis.

Tapi jika kedua pemimpin tersebut masih hidup, bagaimana misalnya pendapat dan tanggapannya melihat keadaan bangsa kita saat ini, dimana korupsi oleh birokrasi dan penegak hukum merajalela, hukum dan keadilan jadi barang dagangan sehingga mengakibatkan krisis kepercayaan, karena mafia pangan sulit diberantas, nasib buruh dan tani tidak meningkat, narkoba jadi dagangan karena  semakin laris telah menghancurkan masa depan banyak generasi muda,   kesejangan sosial ekonomi semakin lebar, sehingga harus dibantu dengan “raskin”, sistem politik demokrasi pancasila dan peran partai politik yang semakin  tidak jelas , bahwa negeri ini tampak “tidak berdaya” menjaga kedaulatan pengelolaan sumber daya alam-nya ?

Dan bagaimana misalnya tanggapan kedua pemimpin tersebut, bahwa saat ini keterbukaan informasi publik masih bisa kita pertahankan sebagai bagian penting untuk menjujung kedaulatan rakyat, bahwa jaminan kesehatan dan ketenaga kerja nasional sudah terwujud, jaminan untuk sekolah dengan gratis. Apakah ada impian Bung Karno tersebut diatas yang bisa diwujudkan,  apakah rakyat bisa menilai apa saja impian Bung Karno yang sesuai dengan harapan rakyat itu sendiri ?

*Ketua Bidang nilai kepahlawanan, Ikatan Keluarga Pahlawan Nasional, Putra Bung Tomo

Opini

Direktur, Resistance And Alternative To Globalization (RAG), Bonny Setiawan (Ist)‏Direktur, Resistance And Alternative To Globalization (RAG), Bonny Setiawan (Ist)‏Ditengah Penjajahan Kolonialisme Belanda pada 6 Juni 1900, seorang perempuan, Ida Ayu Nyoman Rai, yang sehari-hari dipanggil Nyoman, melahirkan seorang putra bernama Soekarno. Pada 1 Juni 1945, dihadapan Badan Penyelidik Usaha Persiapan kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) Soekarno, pertama kali berpidato tentang Pancasila yang selanjutnya menjadi dasar Ideologi Negara Republik Indonesia. Sehingga Setiap 1 Juni dikenal sebagai Hari Kelahiran Pancasila. Ia menjadi menjadi Proklamator dan Presiden Pertama Republik Indonesia yang berdiri pada 17 Agustus 1945. Pada 22 Juni 1966 Soekarno dipaksa meletakkan jabatan lewat penolakan oleh MPRS atas Pidato Pertanggung Jawaban Presiden Soekarno,–setelah sebuah kudeta militer yang didukung Amerika Serikat pada 30 September 1965.  Presiden Soekarno meninggal dunia di RSPAD (Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat) Gatot Subroto, Jakarta pada 21 Juni 1970. Sebagai penghormatan terhadap Bulan Bung Karno, selama sebulan Bergelora.com akan menurunkan berbagai tulisan tentang Bung Karno.

Oleh: Bonnie Setiawan

Revolusi sejati ialah sebagai kukatakan tadi, suatu proses, satu proses masyarakat yang berisikan, berintikan penjebolan dan penanaman, satu proses masyarakat untuk membongkar sistem masyarakat itu sampai ke akar-akarnya. Sistem masyarakat, sistemnya, Saudara-saudara… Bukan sekadar mengubah mental thinking, neen, neen, neen. Social political system, susunan masyarakat, susunan politik masyarakat. Susunan ini harus kita ubah. Sebagai kukatakan tadi, ada orde kapitalis, ada orde sosialis. Nah, kita berjuang untuk orde sosialis ini. Dan jikalau kita membongkar orde kapitalis untuk menjadi orde sosialis, itulah revolusi.( Bung Karno, “Revolusi adalah menjebol dan membangun”, Pidato di depan GMNI, 3 Desember 1966)

Sukarno atau Bung Karno, nama luar biasa yang dikenal oleh hampir rakyat di seluruh dunia, adalah tokoh revolusioner yang selalu kita kenang di setiap bulan Juni. Bulan Bung Karno. Menamai dirinya sebagai “Pemimpin Besar Revolusi” dan “Penyambung lidah Rakyat Indonesia”. Bung Karno dengan sadar berusaha memimpin bangsa dan rakyatnya agar Indonesia bisa mencapai era keemasan, setelah kita melewati jembatan emas kemerdekaan. Bung Karno sepanjang hidupnya hanya memikirkan satu hal, Rakyat Indonesia. Setiap detik dan setiap menit dalam hidupnya, beliau memikirkan bagaimana rakyat Indonesia bisa keluar dari eksploitasi satu manusia atas manusia lainnya (exploitation de l’home par l’home) dan menjadi negeri gemah ripah loh jinawi, tata tentrem kerta raharja.

Semangatnya yang tidak kenal lelah dan tidak kenal waktu, membuatnya sebagai seorang Revolusioner. Semangatnya untuk mengubah secara mendasar penderitaan masyarakat menjadi masyarakat yang adil dan makmur selalu menjadi obsesinya. Semangatnya untuk merubah segala hal sejak dari akarnya, sejak dari dasarnya, menjebol dan membongkar masyarakat lama, menjadi masyarakat baru Indonesia yang sosialistis, adalah Bung Karno punya jiwa dan bara.

Semangat revolusioner sejatinya tersebut menyebar ke sekelilingnya, menyebar ke rakyatnya, menyebar ke partai-partai politik, menyebar ke seluruh dunia. Hanya Bung Karno-lah yang paling mampu menyebarkan virus semangat revolusioner luar biasa itu kepada seluruh rakyatnya, agar Indonesia berubah menjadi negara besar dan makmur. Itulah semangat dan cita-cita revolusioner beliau yang tak boleh padam dan tak akan bisa padam.

Mengingat beliau adalah mengingat ke-revolusionerannya. Tidak bisa lain. Karena itulah identitas beliau. Tanpa itu, maka itu bukanlah Bung Karno. Itu “Bung Karno” jadi-jadian, “Bung Karno” pura-pura, pseudo Sukarnois. Dan meski sekarang banyak orang, termasuk partai-partai politik oligarki Orde Baru, menyanjung-nyanjung nama beliau, bisakah mereka menyanjung kerevolusionerannya Bung Karno? Bisakah mereka mendukung sang pemimpin besar Revolusi? Yaitu merubah sistem masyarakat, susunan masyarakat, dari sistem kapitalisme ke Sosialisme Indonesia? Inilah ujian dasar bagi seseorang atau kelompok yang katanya penganut atau penyuka Bung Karno. Tidak diperlukan fans-club Bung Karno. Apalagi lips-service kalimat-kalimat Bung Karno, kalau kenyataannya hanya untuk menipu rakyat !

Trisakti adalah temuan revolusioner Bung Karno. Trisakti yang sekarang dijadikan pedoman program pemerintah Jokowi-JK. Ingatlah, Trisakti itu adalah konsep revolusioner. Trisakti adalah jantung revolusioner konsep Bung Karno. Sebagaimana dikatakan Bung Karno tentang “Panca Azimat Revolusi”, yaitu Nasakom (1926), Panca Sila (1945), Manipol-USDEK (1959), Trisakti (1964) dan Berdikari (1965). Kelimanya ini adalah konsep-konsep dasar revolusinya Bung Karno.  Sebagaimana dikatakan Bung Karno sendiri:

“Revolusi kita adalah Revolusi kiri. Kiri karena apa ? Pantjasila op zich zelf is al kiri ! Apalagi djikalau kita memperhatikan Sila kelima daripada Pantjasila: Keadilan Sosial. Maka dengan tegas dan djelas saja katakan, bahwa Revolusi kita adalah revolusi kiri.” (amanat Presiden Sukarno tanggal 27 Oktober 1965)

Bahkan lebih jauh lagi Bung Karno nyatakan dalam Kongres PNI di tahun 1963, bahwa Marhaenisme ialah Marxisme yang diterapkan di Indonesia, yang kemudian ditegaskan dalam sidang BPK PNI di Bandung pada bulan April 1964. Maka apakah kurang hebatnya kerevolusioneran Bung Karno. Bahkan beliau sanggup mengorbankan nyawa dan hidupnya sendiri untuk tetap menjaga agar konsep-konsepnya bisa hidup terus dan agar rakyat Indonesia bisa terus bersatu menjalankan konsep-konsepnya.

Maka bila setiap kali kita memperingati Bulan Bung Karno, maka selalulah kita harus memperingati kerevolusionerannya, mengingat-ingat dan memamah-mamah konsep-konsepnya yang hebat-hebat tersebut. Konsep-konsep tersebut telah membuat Bung Karno dihormati oleh kawula sejagad, dihormati oleh rakyat-rakyat seluruh dunia, dan diperingati oleh bangsa-bangsa di dunia, sebagai orang besar dari Indonesia yang telah menawarkan konsep-konsep hebat pada dunia.

Kini ketika Trisakti telah kembali menjadi panduan program pemerintah secara resmi, maka apakah yang bisa kita harapkan dari pemerintah dan masyarakat Indonesia? Tidak lain untuk kembali kepada semangat revolusioner Bung Karno. Kembali kepada api dan jiwa revolusi Agustus 1945. Kembali kepada amanat penderitaan rakyat. Kembali kepada jati-diri revolusi Indonesia.  Yaitu merubah secara mendasar sistem dan susunan masyarakat yang masih timpang, eksploitatif dan tidak adil ini, untuk berangsur-angsur menuju ke masyarakat Sosialisme Indonesia. Masyarakat Indonesia yang adil dan makmur. Karena memang hanya itulah resep dasar kemajuan negara kita, resep tunggal kemakmuran bangsa ini. Yaitu menemukan dan menggenggam revolusi Indonesia kembali dalam menjalankan program-program dan agenda pembangunan masa kini. Hakul Yakin akan bisa terwujud Indonesia yang makmur, adil dan beradab.

*Penulis adalah Direktur Resistance And Alternative To Globalization (RAG)

Opini

Makarim Wibisono‏ (Ist)Makarim Wibisono‏ (Ist)Ditengah Penjajahan Kolonialisme Belanda pada 6 Juni 1900, seorang perempuan, Ida Ayu Nyoman Rai, yang sehari-hari dipanggil Nyoman, melahirkan seorang putra bernama Soekarno. Pada 1 Juni 1945, dihadapan Badan Penyelidik Usaha Persiapan kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) Soekarno, pertama kali berpidato tentang Pancasila yang selanjutnya menjadi dasar Ideologi Negara Republik Indonesia. Sehingga Setiap 1 Juni dikenal sebagai Hari Kelahiran Pancasila. Ia menjadi menjadi Proklamator dan Presiden Pertama Republik Indonesia yang berdiri pada 17 Agustus 1945. Pada 22 Juni 1966 Soekarno dipaksa meletakkan jabatan lewat penolakan oleh MPRS atas Pidato Pertanggung Jawaban Presiden Soekarno,–setelah sebuah kudeta militer yang didukung Amerika Serikat pada 30 September 1965.  Presiden Soekarno meninggal dunia di RSPAD (Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat) Gatot Subroto, Jakarta pada 21 Juni 1970. Sebagai penghormatan terhadap Bulan Bung Karno, selama sebulan Bergelora.com akan menurunkan berbagai tulisan tentang Bung Karno.


Oleh : Makarim Wibisono*

Setahun setelah  menjadi tuan rumah Konferensi Asia-Afrika di Bandung April 1955, Bung Karno beserta 14 anggota rombongan resminya  memenuhi undangan Presiden Amerika Serikat, Dwight Eisenhower  untuk melakukan kunjungan kenegaraan di Amerika Serikat sejak 15 Mei 1956 selama 19 hari. Kedatangan Bung Karno disertai puteranya Mohammad Guntur Sukarnoputra yang masih berusia 12 tahun  disambut karpet merah dan acara penerimaan yang meriah.

Presiden Eisenhower telah mengirim pesawat pribadinya Columbine III untuk menjemput Bung Karno dari Bandara Hickham di Honolulu, Hawai menuju Bandara National di Washington-DC.  Wakil Presiden  (Wapres) Amerika Serikat, Richard Nixon, Menteri Luar Negeri  (Menlu),  John Foster Dulles dan pejabat-pejabat tinggi  Amerika Serikat lainnya menyambut kedatangan Bung Karno dan rombongan di  Bandara National.

Suasana penerimaan di Bandara sangat ramah dan hangat karena  Wapres Nixon dan Menlu Dulles telah berkunjung ke Indonesia sebelumnya. Wapres Nixon menyamakan Bung Karno dengan George Washington dan mengatakan “Anda telah berhasil memimpin rakyatmu untuk meraih kemerdekaan, dan dalam masa damai ini Anda memimpin rakyatmu untuk mencapai kemajuan.”

Berulangkali dalam pernyataannya  Bung Karno mengemukakan bahwa kunjungannya ini dimaksudkan untuk membangun “saling pengertian dan persahabatan yang sesungguh-sungguhnya antara Indonesia dan Amerika Serikat.” Hal ini disambut hangat masyarakat Amerika Serikat mengingat Bung Karno mengunjungi Washington terlebih dahulu sebelum melakukan kunjungan muhibah ke Uni Soviet dan Tiongkok.

Ekspresi  Spontan Memikat.

Membalas kata sambutan Wapres Richard Nixon, Bung Karno menjelaskan latar belakang maksud kunjungannya ke AS secara artikulatif  dan berkata :

“I came here to confirm or to modify the impression of your country which I have collected for so many years. Above all, I came here to learn something from America-not in the first place from America merely as a country or a nation or a people, but from America as a state of mind.”

Jadi yang ingin dipelajari Bung Karno mengenai bangsa Amerika adalah cara berpikir dan sudut pandangnya mengenai berbagai pokok permasalahan kehidupan.

New York Times terbitan 20 Mei 1956 melaporkan bahwa Bung Karno telah memukau hadirin dalam Sidang Gabungan Senat Amerika Serikat dan Dewan Perwakilan Amerika Serikat dengan pidatonya yang bolak balik mendapat tepukan hangat dan ovasi berdiri untuk menghormatinya. Hal ini oleh para pengamat Amerika Serikat dianggap sebagai salah satu pidato yang berikan  ungkapan terkuat dari sudut pandang Asia yang pernah terdengar di Washington-DC.

Tanpa keragu-raguan Bung Karno mengkritik pendekatan Amerika Serikat pada masalah bantuan luar negeri Amerika Serikat di Asia. Amerika Serikat dianggap berusaha membeli stabilitas dengan membagikan  hadiah-hadiah senjata dan pembentukan pakta militer. Bung Karno menyatakan “Military aid is no substitute for ASEAN stability.” Bung Karno menegaskan bahwa bangsa-bangsa Asia menolak bantuan itu karena dapat memaksanya melepaskan kemerdekaaannya.

Secara lugas dan memikat Bung Karno menjelaskan mengenai nasionalisme di Asia dan proses kebangkitannya. Bung Karno mengatakan :

“For us, nationalism means … the effort to provide equal esteem for our peoples; it means  the determination to take the future into our own hands. … Nationalism … is the mainsprings of our efforts. …Fail  to understand that, and no … torrent of words, no Niagara of Dollars will produce anything but bitterness and disillusionment. … We ask you to understand and sympathize with the fact that our national struggle is incomplete. How can it be complete when millions of our people in Asia and Africa are still under colonial domination.

Menghadapi pertanyaan-pertanyaan dari media massa Amerika Serikat, Sandusky Register Star News terbitan 17 Mei 1956 melaporkan  Bung Karno menegaskan bahwa Indonesia menentang perjanjian-perjanjian regional yang mengikat anggotanya pada komitmen militer karena hal ini akan menambah kecurigaan dan sahwa-sangka yang pada gilirannya akan meningkatkan ketegangan dikawasan.

Menjawab pertanyaan kemungkinan keanggotaan  Republik Rakyat Tiongkok di PBB, Bung Karno menegaskan:

“We believe that all countries governed by their own peoples have a right to membership in the United Nations….It is a fact of history that China’s revolution was won by her people.“

Secara  indah Bung Karno membuat analogi di depan The National Press Club, bahwa usaha Amerika Serikat menentang komunisme dan usaha Indonesia menentang kolonialisme adalah kegiatan politik menuju kearah tujuan  yang sama yaitu memberikan kebebasan yang lebih luas bagi umat manusia.

Bertalian dengan masalah kolonialisme, Bung Karno secara jujur mengakui bahwa hal ini yang menimbulkan masalah dalam hubungan negara-negara Asia dengan Negara-negara barat termasuk Amerika Serikat.  Bung Karno  tanpa tedeng aling-aling  menyatakan:

“It is true the United States has no  colonial possessions in Asia, but remember there are other aspects of colonialism besides the facts of political possession. There are economic and social aspects.”

Pada masa itu Bung Karno sudah mengingatkan adanya dimensi sosial dan ekonomi dari kolonialisme.

Akhirnya untuk menyimpulkan hasil kunjungan Bung Karno ke Amerika Serikat 1956, saya ingin mengutip  laporan Wallace Fanning  WRC 18 Mei 1956 setelah meliput pidato Bung Karno di depan National Press Club bahwa “Presiden Sukarno telah membuktikan dirinya sebagai pemimpin yang berkepribadian dan tamu Negara yang menyenangkan.”

*Penulis adalah Mantan Duta Besar Indonesia untuk Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB), Special Rapporteur PBB untuk Palestina, Chairman of Board of Governance of ICWA, Ketua Pelaksana Forum Dubes RI, Penasehat Komnasham dan Guru Besar Universitas Airlangga.

Nursjahbani Katjasungkana, SH (Ist)‏Nursjahbani Katjasungkana, SH (Ist)‏Ditengah Penjajahan Kolonialisme Belanda pada 6 Juni 1900, seorang perempuan, Ida Ayu Nyoman Rai, yang sehari-hari dipanggil Nyoman, melahirkan seorang putra bernama Soekarno. Pada 1 Juni 1945, dihadapan Badan Penyelidik Usaha Persiapan kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) Soekarno, pertama kali berpidato tentang Pancasila yang selanjutnya menjadi dasar Ideologi Negara Republik Indonesia. Sehingga Setiap 1 Juni dikenal sebagai Hari Kelahiran Pancasila. Ia menjadi menjadi Proklamator dan Presiden Pertama Republik Indonesia yang berdiri pada 17 Agustus 1945. Pada 22 Juni 1966 Soekarno dipaksa meletakkan jabatan lewat penolakan oleh MPRS atas Pidato Pertanggung Jawaban Presiden Soekarno,–setelah sebuah kudeta militer yang didukung Amerika Serikat pada 30 September 1965.  Presiden Soekarno meninggal dunia di RSPAD (Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat) Gatot Subroto, Jakarta pada 21 Juni 1970. Sebagai penghormatan terhadap Bulan Bung Karno, selama sebulan Bergelora.com akan menurunkan berbagai tulisan tentang Bung Karno.

Oleh : Nursjahbani Katjasungkana, SH

Tanggal 6 Juni tahun ini, kita merayakan   kelahiran Bung Karno yang ke 114 dan 21 Juni nanti tepat 46 tahun wafatnya. Bung Karno adalah salah satu pendiri Republik Indonesia, penggagas dasar negara Pancasila dan pernah dijuluki sebagai Pemimpin Besar Revolusi serta salah satu penggagas  Konperensi Asia Afrika di Bandung tahun 1955, sebuah konfrensi yang diselenggarakan untuk melawan kekuatan baru kapitalisme global yang dikuasai blok Barat.

Setelah absen selama 32 tahun dibawah pemerintahan Jendral Soeharto, sejak reformasi, kelahiran Pancasila kembali dirayakan secara resmi dalam upacara kenegaraan. Pada peringatan lahirnya Pancasila 1 Juni yang lalu, puja-puji kepada sang Penggagas dikemukan pula oleh Presiden Jokowi yang mengakui bahwa Bung Karno merupakan  inspiratornya yang utama.

Pada tingkat dunia, namanya sangat harum baik karena pidato-pidatonya yang membangkitkan semangat perjuangan melawan kolonialisme dan kapitalisme mapun sebagai salah satu penggagas gerakan non-blok. Negerinya yang ketika itu baru berumur 10 tahun berhasil menggerakkan negara-negara Asia Afrika dan menegaskan posisi politiknya ditengah Perang Dingin yang sedang berlangsung antara blok Barat dibawah Amerika Serikat dengan sekutunya dan blok Timur dibawah Rusia dan kawan-kawannya. Kedua blok itu saling berebut pengaruh dan di beberapa negara menimbulkan perang. Sebuah konferensi akbar diselenggarakan di Bandung pada bulan April 1955 dan dikenal dengan Konferensi Asia-Afria (KAA) Bandung.

Setelah sukses menjadi tuan rumah peringatan 50 tahun KAA pada tahun 2005 yang lalu, Indonesia berhasil menghidupkan kembali  semangat KAA Bandung. Sebuah deklarasi bernama Kemitraan Strategis  Asia Afrika Baru (the New Asia-Africa Strategic Partnership/NAASP) diluncurkan. Bulan April tahun ini bersama dengan Afrika Selatan,    menjadi tuan rumah merayakan 60 tahun Konferensi Asia Afrika,  sekaligus memperingati 10 tahun  NAASP. Kebangkitan spirit KAA Bandung itu kembali diperkuat ketika saat ini gelombang baru ketegangan internasional mengancam  perdamaian dunia. Situasi politik global saat ini tidak kalah tegangnya dengan situasi politik global ketika KAA 1955 dilangsungkan .

Deklarasi NAASP menekankan multilateralisme, pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan dan promosi perdamaian dan keamanan global. Salah satu poin utama yang ditekankan dalam  Deklarasi NAASP tersebut didasarkan pada Deklarasi KAA Bandung 1955. Deklarasi ini menekankan penghormatan terhadap hak asasi manusia dan untuk tujuan menegakkannya sesuai dengan  prinsip-prinsip yang tercantum dalam piagam PBB.

Sementara KAA 1955 yang digagas oleh Bung Karno, Nehru, Tito dan Nkrumah dipandang sebagai langkah besar perjuangan bangsa-bangsa Asia Afrika dan khususnya negara Indonesia yang masih sangat muda. Sampai saat ini spirit KAA Bandung  tetap menginspirasi bangsa-bangsa dari dunia ketiga ini untuk melawan segala bentuk penindasan karena kolonialisme, kapitalisme dan globalisasi. Tentu, semua itu tak lepas dari peranan Soekarno sebagai penggas KAA Bandung Karenanya,  adalah penting bagi pemimin-pemimpin negara Asia Afrika utamanya bagi bangsa Indonesia sendiri untuk merefleksikan dan merenungkan  nasib Bung Karno, yang gagasan dan visinya tentang Pancasila yang menjadi dasar negara kita serta semangat anti kolonialisme dan kapitalisme menjadi spirit bangsa-bangsa Asia-Afrika.

Mencopot Bung Karno

Tragis, bahwa Bung Karno telah menjadi korban perang dingin yang terjadi pada waktu itu. Karena melakukan perlawanan yang sangat keras, akibatnya Bung Karno  menjadi lawan utama bagi kekuatan kapitalisme dan akhirnya  tersingkir secara brutal sebagai presiden RI oleh agen mereka  yang dipimpin oleh Jendral Soeharto meski secara piawai diberhentikan lewat proses politik melalui Sidang istimewa MPRS tahun 1967. Sebelumnya yakni pada 11 Maret 1966 Bung Karno  dipaksa untuk menandatangani sebuah dokumen yang disebut Supersemar, yang menugaskan  Soeharto untuk “mengambil langkah-langkah yang dianggap perlu untuk menjamin keamanan, ketenangan dan stabilitas pemerintah dan revolusi dan untuk menjamin keamanan dan otoritas pribadi  Sukarno sebagai Presiden”.

Alih-alih mengamankan Bung Karno, Soeharto menyusun segala kekuatan untuk mengkonsolidasikan kekuasaannya dan jabatan Bung Karno sebagai Presiden  secara dramatis  dicopot dalam sidang istimewa  MPRS pada tanggal 12 Maret 1967.  Bung Karno kemudian dikenakan status sebagai tahanan rumah di istana Bogor. Kesehatannya terus  memburuk karena ia menolak  perawatan medis  dan akhirnya wafat  karena gagal ginjal di Rumah Sakit Angkatan Darat Jakarta pada tanggal 21 Juni 1970 pada usia 69 tahun.

Bersenjatakan Supersemar, Soeharto menetapkan kebijakan untuk melakukan pembubaran dan pembantaian terhadap Partai Komunis Indonesia (PKI) dan para pendukungnya. Mereka yang dianggap berfaham komunis  baik dikalangan masyarakat luas, pejabat sipil dan militer dan kelompok-kelompok yang dianggap akan mengganggu kekuasaannya dibersihkan.

Istilah Gerakan 30 September (G-30S) berubah menjadi G-30S/PKI karena PKI dianggap dibalik G-30S tersebut. Pemerintahan Orde Baru yang dipimpin Soeharto  itu sejak awal telah  menegaskan keberpihakannya pada blok Barat. Indonesia dengan kekayaan alamnya yang melimpah segera saja menjadi rayahan para agen kapitalis seraya memperkuat Soeharto dengan berbagai alat kekuasaan dan mendiamkan semua pelanggaran hak asasi manusuia yang terjadi. Korupsi merajalela sementara utang negara kepada badan-badan keuangan dunia melangit  sehingga kehidupan rakyat sangat tertindas dan hanya segelintir orang atau kelompok yang dekat dengan kekuasaan  yang menikmati “kue pembangunan”.

Banyak aspek dari kudeta di atas yang harus kita pelajari kembali. Namun yang jelas, setelah terjadinya G-30S pada dinihari 1 Oktober 1965 itu, Soeharto berhasil menumpas G-30S.  Sesudahnya, propaganda penghinaan seksual terhadap Gerwani yang dituduh memutilasi para jendral yang terbunuh dalam aksi G-30S tersebut. Faham komunisme yang dianggap atheis, telah menggerakkan sekelompok masyarakat khususnya kelompok organisasi keagamaan untuk melakukan pembunuhan massal, exterminasi, penyiksaan dan penghilangan paksa serta perbuatan-perbuatan kejam lainnya, kekerasan seksual, pemenjaraan, perbudakan  dan penahanan sewenang-wenang. Diduga, 500 ribu sampai sejuta orang mati dibunuh dan jutaan lainnya menjadi korban kejahatan-kejahatan tersebut.

Kejahatan-kejahatan tersebut dilakukan   secara sistimatis dan meluas hampir diseluruh wilayah NKRI. Sesungguhnya, karena alasan paling menonjol dari semua kejahatan itu dilakukan atas dasar identitas politik yakni komunis atau partai politik yang merupakan sekelompok orang yang bertujuan politik sama. Banyak ahli hukum Internasional memasukkan peristiwa pembantaian 1965 tersebut sebagai genosida. Tujuan pemusnahan atas dasar pandangan politik ini bahkan berlangsung sampai sekarang dengan adanya stigma dan kekerasan terhadap para korban dan penyintas.

Sampai saat ini sistim impunitas tetap berlangsung, para pelaku utama sebagiannya telah tiada dan pemerintah tak mengeluarkan sepatah kata maaf apalagi memberikan keadilan dan rehabilitasi serta reparasi bagi korban

Seperti halnya  para korban dan penyintas ini, Bung Karno juga  tak pernah mendapatkan rehabilitasi. Padahal tanpa bukti yang kuat, Bung Karno  dituduh  telah memberikan ‘toleransi’ kepada  “gerakan G-30S “. Sementara itu karena PKI yang dianggap dalang G-30S dan menyebabkan terbunuhnya 6 orang jendral dan satu perwira Angkatan Darat, partai ini bersama seluruh simpatisan dan pengikutnya benar-benar “dihapuskan”  dari bumi Nusantara. Pemimpin dan para pengikut PKI benar  dimusnahkan atau dipenjarakan atau dimasukkan kamp tahanan tanpa pernah diadili,  meski mungkin hanya satu atau pemimpin tertingginya yang terlibat dalam G-30S itu.

Kabarnya Bung Karno melakukan protes keras atas pemusnahan ini, tapi tak digubris oleh Soeharto. Penolakan negara sampai sekarang masih terjadi dan karenanya akuntabilitas dan sistim impunitas masih saja berlangsung. Menanggapi peluncuran laporan Komnas HAM (2012) tentang kejahatan kemanusiaan 1965/1966 ini, Djoko Suyanto, Menteri Polhukham pada waktu itu bahkan menyatakan bahwa pembantaian itu perlu dilakukan untuk menyelamatkan bangsa.

Rehabilitasi Korban

Sekarang setelah diluncurkan kembali  Deklarasi NAASP yang  menegaskan kembali  pentingnya prinsip-prinsip hak asasi manusia yang sudah ditegaskan dalam KAA Bandung, sudah saatnya arsitek berdirinya negara Indonesia berdasarkan Pancasila serta  arsitek Deklarasi Bandung itu  direhabilitasi. Status tahanan rumah yang disandangnya sampai Bung Karno wafat, adalah pelanggaran HAM yang harus dipertanggungjawabkan oleh Negara. Pandangan politik  bahwa Bung Karno terlibat dalam G-30S juga harus diselidiki dengan benar karena bangsa Indonesia berharap mengetahui sejarah pengambilalihan kekuasaan yang terjadi pada waktu itu.

Pemerintahan Jokowi, yang baru-baru ini berniat untuk menyelesaikan masalah HAM masa lalu dapat membentuk  sebuah komite untuk menyelidiki kondisi pengambilihan kekuasaan itu oleh Soeharto berikut pembantaian dan bentuk-bentuk kejahatan terhadap kemanusiaan yang terjadi sesudahnya. Rehabilitasi terhadap Bung Karno dan juga para korban  kejahatan politik 1965, sebenarnya dapat diakukan oleh Jokowi dengan mengeluarkan Peraturan Presiden berdasarkan pasal 14 UUD 1945 yang berbunyi : “Presiden memberikan grasi dan rehabilitasi dengan pertimbangan Mahkamah Agung”. Pada tahun 2003, sebetulnya Mahkamah Agung (MA) sudah mengirimkan pertimbangannya  kepada Presiden agar “mengambl langkah-langkah konkrit ke arah penyelesaian yang sangat diharapkan oleh korban-korban Orde Baru”. Dalam surat pertimbangannya itu MA juga menyatakan bahwa pertimbangan ini dilandasi oleh keinginan MA untuk memberikan penyelesaian dan kepastian hukum yang dapat memulihkan status dan harkat mereka sebagai warga negara yang sama serta didorong oleh semangat rekonsiliasi bangsa.

*Penulis adalah, Koordinator International People’s Tribunal (IPT) 1965.

Ketika Bung Karno Dihadiahi Sebutir Kepala Belanda

Presiden Soekarno dan beberapa anggota kabinet berpose
sebelum dibawa (ditangkap) Tentara Belanda untuk
diasingkan. Dokumentasi: Istimewa.

Assalamualaikum, wr. wb

Revolusi Kemerdekaan Indonesia 1946-1949 membawa banyak cerita yang jarang diketahui publik tanah air saat ini. Seperti suatu kejadian di Istana Kepresidenan (Gedung Agung) di Yogyakarta pada 1948, Bung Karno, panggilan akrab Presiden Soekarno, dihadiahi sebutir kepala Belanda! Bagaimana bisa?
Suasana Indonesia pada 1948 umumnya masih dipenuhi dengan aksi-aksi gerilya melawan Belanda yang ingin kembali menancapkan pengaruh di Indonesia. Aksi-aksi Gerilya oleh pejuang Indonesia hampir merata, termasuk di Sumatera dan pulau-pulau kecil sekitarnya seperti Pulau Tello yang berada di sekitar kepulauan Nias Sumatera Utara. Kebetulan Bung Karno memiliki sekretaris yang berasal dari pulau tersebut.
Suatu ketika sekretaris dari Pulau Tello itu (tidak disebutkan/tidak diketahui namanya termasuk dalam buku Biografi Soekarno karangan Cindy Adams) mohon pamit kepada Presiden Soekarno untuk bergabung dengan gerilyawan, masuk hutan, dan membaur dengan rakyat, melawan Belanda. Saat itu perlawanan gerilya pejuang Indonesia dikomandoi oleh Panglima Jenderal Sudirman. Bung Karno tidak bisa menolak keinginan sekretarisnya itu, maka diizinkanlah ia keluar istana bergabung bersama gerilyawan.
Perang terus berjalan, begitu pula pemerintahan tetap terus berjalan yang saat itu beribukota di Yogyakarta. Kebetulan saat itu Presiden Soekarno belum ditangkap dan diasingkan Belanda (terjadi pada Agresi Militer Belanda II 19 Desember 1948). Sehingga komunikasi dengan para gerilyawan tetap terjalin untuk mengetahui perkembangan perjuangan di lapangan. Perjuangan pejuang Indonesia kemudian juga menjadi perhatian dunia yang mulai mengecam tindakan Belanda.
Suatu ketika sekretaris Bung Karno yang berasal dari Pulau Tello Nias itu datang secara khusus ke istana, menemui sang Presiden dengan membawa keranjang. Barangkali menurut Bung Karno keranjang tersebut berisi buah tangan (oleh-oleh/hadiah) untuknya. Hal itu memancing rasa penasaran “apa isi keranjang itu?” tanya Bung Karno. Sekretaris kemudian balik melontarkan pertanyaan, “bapak betul-betul mau melihatnya?”, tanyanya, yang kemudian dijawab oleh Bung Karno dengan tegas “ya mengapa tidak.”. Mantan sekretarisnya itu kemudian membuka penutup keranjang lalu dikeluarkan kepala tentara belanda yang masih berdarah-darah. Kepala tersebut digelindingkan hingga ke dekat kaki Bung Karno, seraya berkata “inilah tanda kemenangan saya pertama pak, oleh-oleh untuk bapak” teriaknya dengan riang. Seakan ia ingin menunjukkan keberhasilannya dalam bergerilya, mengoleh-olehi Bung Karno dengan kepala tentara belanda yang ia pancung.
Bagaimana reaksi Bung Karno? Seketika ia merasa kaget dan mungkin agak sedikit jijik, “bawa keluar…bawa keluar!!” begitulah reaksinya setelah melihat kepala digelindingkan dengan darah yang masih berdesir.
Wassalamualaikum, wr. wb
Sumber:
Roso Daras, 2013, Total Bung Karno, Serpihan Sejarah yang Tercecer,  Imania: Depok

Bung Karno dan Nasakom

Sabtu, 20 Juni 2015
Lily Chodidjah Wahid (Ist)‏Lily Chodidjah Wahid (Ist)‏Ditengah Penjajahan Kolonialisme Belanda pada 6 Juni 1900, seorang perempuan, Ida Ayu Nyoman Rai, yang sehari-hari dipanggil Nyoman, melahirkan seorang putra bernama Soekarno. Pada 1 Juni 1945, dihadapan Badan Penyelidik Usaha Persiapan kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) Soekarno, pertama kali berpidato tentang Pancasila yang selanjutnya menjadi dasar Ideologi Negara Republik Indonesia. Sehingga Setiap 1 Juni dikenal sebagai Hari Kelahiran Pancasila. Ia menjadi menjadi Proklamator dan Presiden Pertama Republik Indonesia yang berdiri pada 17 Agustus 1945. Pada 22 Juni 1966 Soekarno dipaksa meletakkan jabatan lewat penolakan oleh MPRS atas Pidato Pertanggung Jawaban Presiden Soekarno,–setelah sebuah kudeta militer yang didukung Amerika Serikat pada 30 September 1965.  Presiden Soekarno meninggal dunia di RSPAD (Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat) Gatot Subroto, Jakarta pada 21 Juni 1970. Sebagai penghormatan terhadap Bulan Bung Karno, selama sebulan Bergelora.com akan menurunkan berbagai tulisan tentang Bung Karno.
Oleh: Lily Chodidjah Wahid
Salah satu kebijakan politik Presiden Soekarno yang jarang mendapat sorotan orang adalah kebijakan pembangunan sebuah Front Nasional, Nasakom,–yang merupakan sebuah upaya  persatuan nasional antara tiga kekuatan politik ideologis besar di Indonesia,– Nasionalisme, Agama dan Komunisme.
Pada tahun 1960-an Presiden Soekarno sangat terobsesi dengan wacana nasional religius. Situasi politik dunia saat itu terbelah antara kutub Uni Soviet dan negara-negara sosialis berhadapan dengan Amerika Serikat dan negara-negara kapitalis. Perang dingin antara kedua kutub itu mempengaruhi politik dunia. Bung Karno yang secara historis mementang kolonialisme dan imperialisme tentu saja tidak bisa sejalan dengan kepentingan Blok Amerika Serikat. Banyak yang mencurigai Bung Karno cenderung lebih dekat ke negara-negara sosialis.
Tentu saja Bung Karno juga menghitung kekuatan penetrasi kepentingan Blok Amerika Serikat dan negera-negara kapitalis lainnya ke Indonesia. Maka Bung Karno mengupayakan membangun sebuah front nasional yang menyatukan tiga kekuatan ideologi besar,–Nasionalis, Agama dan Komunis (Nasakom) yang telah memiliki rekam sejarah perjuangan untuk kemerdekaan Indonesia.
Baca Lengkap:

Bung Karno dan Komando Trisakti

Kamis, 18 Juni 2015
Bung Karno pada Pidato Pertama setelah Proklamasi 17 Agustus 1945‏ (Ist)Bung Karno pada Pidato Pertama setelah Proklamasi 17 Agustus 1945‏ (Ist)Ditengah Penjajahan Kolonialisme Belanda pada 6 Juni 1900, seorang perempuan, Ida Ayu Nyoman Rai, yang sehari-hari dipanggil Nyoman, melahirkan seorang putra bernama Soekarno. Pada 1 Juni 1945, dihadapan Badan Penyelidik Usaha Persiapan kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) Soekarno, pertama kali berpidato tentang Pancasila yang selanjutnya menjadi dasar Ideologi Negara Republik Indonesia. Sehingga Setiap 1 Juni dikenal sebagai Hari Kelahiran Pancasila. Ia menjadi menjadi Proklamator dan Presiden Pertama Republik Indonesia yang berdiri pada 17 Agustus 1945. Pada 22 Juni 1966 Soekarno dipaksa meletakkan jabatan lewat penolakan oleh MPRS atas Pidato Pertanggung Jawaban Presiden Soekarno,–setelah sebuah kudeta militer yang didukung Amerika Serikat pada 30 September 1965.  Presiden Soekarno meninggal dunia di RSPAD (Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat) Gatot Subroto, Jakarta pada 21 Juni 1970. Sebagai penghormatan terhadap Bulan Bung Karno, selama sebulan Bergelora.com akan menurunkan berbagai tulisan tentang Bung Karno.
Oleh : Oliver Supit 
Bagi penerima ajaran-ajaran Soekarno atau pengikut setia Bung Karno dan para pendukungnya, di bulan Juni setidaknya terdapat tiga hari yang patut diperingati, adalah hari Lahirnya Pancasila, Trisakti,  dan hari lahir serta wafatnya Bung Karno.
Tentu kita bukan bermaksud mengkultuskan seorang tokoh seperti Bung Karno. Namun sangat keliru bila melupakan sumbangsih Bung Karno terhadap perjalanan bangsa Indonesia, baik pada masa-masa merintis kemerdekaan melawan kolonialisme dan Proklamasi Kemerdekaan RI. Terlebih pula atas sikap Bung Karno terhadap berbagai peristiwa yang dihadapi kaum revolusioner, maupun perjuangannya dalam membangun kekuatan The New Emerging Forces yang anti imperialis.
Akhirnya, kita juga diingatkan oleh kematian tragis yang menimpa seorang Presiden Pertama RI, yang hampir seluruh masa hidupnya diabdikan kepada bangsa dan tanah air yang dicintainya,– tetapi harus wafat dalam posisi sebagai seorang tahanan politik yang tidak diperlakukan sepantasnya sebagai seorang Proklamator dan pendiri Negara RI oleh rezim yang merebut kekuasaan negara yang selama ini beliau berjuang untuk menegakkan dan mempertahankan kedaulatannya.
Baca Lengkap:

Kembali Ke Jalan Bung Karno!

Rabu, 17 Juni 2015
M. Ikhyar Velayati Harahap (Ist)‏M. Ikhyar Velayati Harahap (Ist)‏Ditengah Penjajahan Kolonialisme Belanda pada 6 Juni 1900, seorang perempuan, Ida Ayu Nyoman Rai, yang sehari-hari dipanggil Nyoman, melahirkan seorang putra bernama Soekarno. Pada 1 Juni 1945, dihadapan Badan Penyelidik Usaha Persiapan kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) Soekarno, pertama kali berpidato tentang Pancasila yang selanjutnya menjadi dasar Ideologi Negara Republik Indonesia. Sehingga Setiap 1 Juni dikenal sebagai Hari Kelahiran Pancasila. Ia menjadi menjadi Proklamator dan Presiden Pertama Republik Indonesia yang berdiri pada 17 Agustus 1945. Pada 22 Juni 1966 Soekarno dipaksa meletakkan jabatan lewat penolakan oleh MPRS atas Pidato Pertanggung Jawaban Presiden Soekarno,–setelah sebuah kudeta militer yang didukung Amerika Serikat pada 30 September 1965.  Presiden Soekarno meninggal dunia di RSPAD (Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat) Gatot Subroto, Jakarta pada 21 Juni 1970. Sebagai penghormatan terhadap Bulan Bung Karno, selama sebulan Bergelora.com akan menurunkan berbagai tulisan tentang Bung Karno.
Oleh : M. Ikhyar Velayati Harahap
 
Media Online Bergelora.com meminta saya menulis tentang Bung Karno dalam mengenang Bulan Bung Karno dan Pancasila. Sudah waktunya kita bicara apa adanya, karena negara dan bangsa Indonesia sedang dalam keadaan darurat.
Perlu diingat, masih banyak orang dari golongan sisa-sisa pencemooh Bung Karno dan kaum munafik lainnya yang berusaha memisahkan cita-cita perjuangan Bung Karno dengan kekinian. Mereka terus berusaha membendung pelaksanaan ajaran politik Bung Karno secara utuh keseluruhan. Mereka menyisir mana ajaran yang boleh dan mana yang tidak boleh diterapkan dari ajaran Pendiri Bangsa Indonesia ini. Pikiran dan politik sesat merekalah yang masih mendominasi cara fikir bangsa Indonesia ini sendiri tentang menjadi Indonesia. Baik langsung ataupun tak langsung, sadar atau tidak sadar,– telah berkhinanat menjadi kaki tangan kepentingan Imperialisme. Merekalah yang aktif melucuti kedaulatan politik, kemandirian ekonomi dan martabat budaya Indonesia,– sehingga bangsa ini terpuruk seperti saat ini. Sudah waktunya pandangan Soekarno-phobia ini dihapus dari kalangan generasi muda yang akan memimpin Indonesia di masa depan. Saatnya mempelajari dan melaksanakan ajaran Soekarno kembali secara utuh dan menyeluruh.
Bukan suatu kebetulan yang jatuh dari langit, rakyat diseluruh Nusantara yang sedang berlawan melahirkan seorang Soekarno. Ia tumbuh dan dewasa secara politik bersama kaum pelopor lainnya di tengah perlawanan rakyat terhadap kolonialisme Belanda dan fascisme Jepang. Sejarah Bung Karno lekat dengan perjuangan rakyat nusantara menuju ”Bangsa“ baru seperti tercermin dari pidato Bung Karno pada 1 Juni 1945. Belanda masuk ke Indonesia diawali dari penggabungan enam perusahaan dagang Verenigde Oostindie Compagnie (VOC) pada 20 Maret 1602, yang bertujuan untuk menghadapi pesaing ekonomi  yaitu Spanyol dan Portugis dalam menguasai jalur perdagangan rempah-rempah di kepulauan nusantara. VOC mendapat hak-hak istimewa (octrooi) dari Kerajaan Belanda, berupa hak  monopoli perdagangan, memiliki mata uang, mewakili pemerintah Belanda di Asia, mengadakan pemerintahan sendiri, mengadakan perjanjian dengan penguasa-penguasa lokal, menjalankan kekuasaan kehakiman, memungut pajak, memiliki angkatan perang, dan menyatakan perang, persis seperti ‘Negara dalam Negara’.
Pada tahun 1799 VOC mengalami kebangkrutan akibat korupsi yang kronis. Padahal wilayah Hindia Timur merupakan wilayah terluas dan terpenting bagi operasi VOC, sehingga tidak heran VOC di Asia tunduk pada Gubernur Jendral di Batavia. Jadi hanya beberapa puluh tahun saja Negara Belanda menjajah rakyat Nusantara, selebihnya di jajah oleh serikat dagang Belanda.
Baca Lengkap:
12
Jun
15

Lingkungan : Pola Pemanasan Global Berubah Akibat Runtuhnya Lapisan Es Usia135 Ribu Tahun

Runtuhnya Lapisan Es 135 Ribu Tahun Silam Ubah Pola Pemanasan Global

Kamis, 11 Juni 2015, 18:56 WIB

Komentar : 1
abc news
abc news

REPUBLIKA.CO.ID, CANBERRA — Tim peneliti internasional menyimpulkan terjadinya keruntuhan dahsyat lapisan es di permukaan bumi 135 ribu tahun silam telah menyebabkan perubahan dalam pola pemanasan global.

Kesimpulan itu ditarik oleh tim peneliti dengan menggunakan pengukuran pada gua-gua dan sedimentasi laut di wilayah Mediterania.

Tim peneliti yang dipimpin Dr Gianluca Marino dari Australian National University (ANU), membantah teori sebelumnya yang menyatakan bahwa siklus zaman es secara umum memiliki pola yang sama.

Melalui pengukuran itu peneliti mengungkapkan bahwa kejadian di zaman es purba 135 ribu tahun silam telah menyebabkan pola pemanasan global yang berbeda dibandingkan pola pemanasan yang terjadi di akhir zaman es terbaru sekitar 10 ribu tahun silam.

Dr Gianluca Marino menjelaskan hubungan kuat antara perubahan drastis lapisan es, lautan, dan atmosfir menyebabkan naiknya permukaan laut pada zaman es purba.

Hal itu, katanya, tidak terjadi di akhir zaman es terbaru. “Akhir zaman es terbaru tidak menunjukkan perubahan cuaca secara dramatis,” katanya baru-baru ini.

“Sebaliknya, akhir zaman es penultimate 135 ribu tahun silam, mencairnya lapisan es di belahan Bumi utara mengalirkan air jernih ke kawasan Atlantik utara sehingga mempengaruhi sirkulasi samudera yang akhirnya berdampak pada perubahan cuaca,” jelasnya.

Peneliti lainnya Professor Eelco Rohling, juga dari ANU dan University of Southampton, menjelaskan perubahan cuaca di Samudera Atlantik utara dan di wilayah perairan Kutub Selatan saling mengimbangi.

“Atlantik utara mendingin sedangkan Samudera Selatan menghangat dan hal ini menyebabkan lapisan es di Antartika mencair sehingga menyebabkan naiknya permukaan laut di akhir zaman es terbaru,” jelasnya.

Hasil penelitian tim ini telah dipublikasikan dalam Jurnal Nature dan bisa dipergunakan untuk meneliti era zaman es yang lebih purba lagi.

12
Jun
15

Kepemimpinan : Umat Wajib Menjaga Lima Pokok Hukum Islam

Umat Wajib Menjaga Lima Pokok Hukum Islam
Kamis, 11 Juni 2015, 17:09 WIB

Komentar : 0
Hausa.ifr.fr
Umat Islam di Bangun tengah melaksanakan shalat berjamaah
Umat Islam di Bangun tengah melaksanakan shalat berjamaah

REPUBLIKA.CO.ID,SUKABUMI — Dalam ajaran agama Islam ada lima tujuan pokok hukum Islam yang harus dijaga keberlangsungannya oleh umat Islam.

“Kelimanya merupakan satu kesatuan yang tidak terpisahkan,” jelas Ketua Majelis Ulama Indonesia Gunungpuyuh, Sukabumi A Suganda, Kamis (11/6).

Dosen STAI Syamsul Ulum Sukabumi ini merinci, hal pertama, yaitu memelihara agama (hifdzud diin). Pengertiannya, umat Islam berkewajiban menjaga agamanya dengan baik. Esensinya yakni menjaga rukun Islam yang lima mulai dari syahadat, menjalankan shalat lima waktu, membayar zakat, menjalankan ibadah puasa, dan melaksanakan ibadah haji bagi yang mampu.

Kedua, yaitu memelihara jiwa (hifdzun nafs). Umat Islam berkewajiban untuk menjaga diri sendiri dan orang lain. Sehingga tidak saling melukai atau melakukan pembunuhan antar sesama manusia. Intinya, jiwa manusia harus selalu dihormati. Manusia diharapkan saling menyayangi dan berbagi kasih sayang dalam bingkai ajaran agama Islam serta yang dicontohkan oleh Nabi Muhammad SAW.

Lalu,  memelihara keturunan atau hifdzun nasl. “Umat Islam berkewajiban untuk menjga keturunan yang jelas nasabnya. Oleh karena itu Islam mengharamkan adanya praktek perzinahan,” tegasnya.

Serta memelihara harta atau hifdzul maal. Umat Islam diharuskan untuk memelihara hartanya melalui kasab atau usaha yang halal. Sehingga harta yang diperolehnya menjadi berkah dalam kehidupannya dan mendapat ridho dari Allah SWT.

Yang terakhir, yakni memelihara akal atau hifdzul aql. Umat Islam diharuskan menjaga akal yang sehat dalam kehidupan sehari-hari. Sehingga umat Islam diwajibkan untuk mencari ilmu dan pengetahuan untuk mendapatkan wawasan yang cukup sebagai bekal dalam mengarungi kehidupan dan terhindar dari godaan dunia.

“Islam mengatur tata kehidupan manusia untuk mendapatkan kebahagian baik hidup di dunia maupun akhirat nanti. Sehingga umat muslim akan terdorong untuk selalu melaksanakan tindakan yang positif dan bermanfaat bagi orang lain. Perbuatan yang baik ini menjadi awal majunya sebuah masyarakat dan bangsa,” tegas Suganda.




Blog Stats

  • 2,522,158 hits

Recent Comments

Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Sejarah : Bangsa Lemuria, Lelu…
Ratu Adil - 666 on Sejarah : Bangsa Lemuria, Lelu…

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 140 other followers