Archive for the 'Jiwa Semangat Nilai-nilai 45' Category



26
Sep
15

Kesenian : Misteri Siapa Mona Lisa yang Jadi Model Lukisan Da Vinci Terungkap

Misteri Siapa Mona Lisa yang Jadi Model Lukisan Da Vinci Terungkap

Jumat, 25 September 2015 20:15
Misteri Siapa Mona Lisa yang Jadi Model Lukisan Da Vinci Terungkap
theaustralian.com.au

Misteri Siapa Mona Lisa yang Jadi Model Lukisan Da Vinci Terungkap
Penemuan tulang belulang oleh para arkeolog yang diduga adalah milik Mona Lisa

WARTA KOTA, PALMERAH – Dalam studi terungkap La Bella Principessa (kanan) yang dilukis oleh da Vinci sebelum Mona Lisa (kiri) pada akhir abad ke-15.

Peneliti menemukan, bentuk mulut subjek tampaknya berubah sesuai dengan sudut pandang

Siapa sebenarnya sosok Mona Lisa yang dilukis Leonardo Da Vinci, diyakini bakal terungkap.

Mona Lisa

Mona Lisa

Ini setelah peneliti menemukan makam tersembunyi yang diduga merupakan tempat dikuburnya sosok Mona Lisa tersebut.

Tulang belulang perempuan yang diyakini sebagai Mona Lisa telah ditemukan di sebuah makam di bawah Biara Florence yang telantar.

tulang

tulang

Hasil penelitian karbon terhadap kerangka perempuan itu dinyatakan cocok dengan saat kematian Lisa Gherardini del Giocondo, yang selama ini dipercaya sebagai orang yang dilukis Da Vinci dan dikenal dunia sebagai Mona Lisa.

Banyak sejarawan percaya, Lisa Gherardini del Giocondo yang merupakan istri ketiga dari seorang pedagang sutra kaya, adalah pengasuh untuk karya abadi.

Gherardini meninggal pada usia 63, pada 1542, dan hanya hidup bersama putrinya, Marietta, seorang biarawati.

Peneliti Silvano Vinceti yang memimpin Komite Nasional Bersejarah, Budaya dan Lingkungan Warisan, mengatakan kerangka yang mereka temukan”sangat mungkin” merupakan sisa-sisa orang-orang dari Gherardini.

“Ada konvergen elemen, di atas dan melampaui hasil dari karbon-14 tes, yang mengatakan kami mungkin telah menemukan makam Lisa,” ujarnya seperti dikutip Dailymail, Jumat (25/9/2015).

“Saya berbicara tentang analisis sejarah, antropologi dan arkeologi, yang telah dilakukan sangat ketat. Kemungkinan bahwa tulang itu milik Lisa Gherardini del Giocondo sangat tinggi,” imbuhnya.

mona lisa

Namun Vinceti menyayangkan ada beberapa tulang yang tidak lengkap dan tidak ada tengkorak yang bisa digunakan untuk merekonstruksi wajahnya Lisa Gherardini del Giocondo.

26
Sep
15

Kenegarawanan : Neotribalisme

Jakarta45

Neotribalisme

Oleh: Komaruddin Hidayat

Setelah 70 tahun merdeka, bangsa Indonesia perlu membaca ulang moto dan realitas sosial Bhinneka Tunggal Ika, mengingat masyarakat Nusantara berkembang sangat dinamis.

Tulisan ini diinspirasi oleh buku Beyond Tribalism (2012) oleh Celia de Anca, mencoba melihat secara kritis kemunculan komunalisme baru. Istilah tribalisme dalam buku ini dipahami secara netral, positif, merujuk pada ikatan suku, marga, ataupun hubungan darah. Bukan tribalisme dalam konotasi kasar, negatif, tidak beradab. Menurut Celia, sekarang ini di berbagai masyarakat dunia tengah berlangsung proses mengendurnya ikatan sukuisme tradisional.

Jika dahulu individualitas seseorang seakan hilang melebur dalam identitas dan ideologi kesukuan, sekarang seseorang justru berusaha untuk melepaskan diri dari ikatan dan tekanan kesukuan, lalu membangun komunitas baru dengan mengandalkan kekuatan pribadinya yang ditopang oleh prestasi keilmuan, profesi, dan jejaring sosial baru.

Dalam jejaring sosial tribalisme klasik, komunikasi berlangsung secara lisan dan tatap muka dalam struktur sosial yang hierarkis berdasarkan keturunan. Dalam komunitas baru yang oleh Celia disebut neotribalisme, telah terjadi pergeseran nilai sangat mendasar. Relasi sosial dalam neotribalisme cenderung demokratis dan kontraktual. Mereka berkelompok didasarkan pilihan sukarela dan kesamaan profesi ataupun hobi yang umumnya selalu berorientasi ekonomi.

Komunalisme baru ini lebih longgar, rasional, anggotanya bebas keluar-masuk, mengingat sifatnya sukarela. Kecenderungan ini sesungguhnya sudah lama dibahas oleh Max Weber, bahwa dampak sosial dari modernisasi pendidikan, teknologi, dan birokrasi akan menggoyahkan ikatan komunalisme etnis. Orang lebih percaya diri dan nyaman dengan mengenalkan identitas barunya sebagai kaum profesional ketimbang identitas suku atau marga yang bersifat primordial.

Kata identitas, berasal dari bahasa Latin idem dan enti, menunjuk pada kesamaan entitas, terutama kesamaan sifat dan kategori sosial. Dahulu, di Indonesia identitas itu sangat terbatas, yang menonjol adalah identitas suku dan agama. Namun, sekarang ini berkembang banyak sekali identitas baru yang menjadi acuan dan pilihan seseorang.

Saya sendiri sering kali menerima beragam kartu nama dari orang yang sama. Juga sering bertemu orang yang sama dalam forum komunitas yang berbeda-beda. Artinya, telah muncul beragam identitas sosial baru yang memungkinkan seseorang untuk membangun rumah komunal baru di luar kategori suku dan agama. Kita hidup dalam masyarakat baru yang sangat cair dan plural, yang sekaligus juga penuh kompetisi yang dipicu oleh kepentingan politik dan ekonomi.

Membaca ulang Bhinneka Tunggal Ika

Sejak awal, konsep kebinekaan itu bersifat dinamis visioner yang diikat dalam semangat kebangsaan dan kemanusiaan. Bukan semata menunjuk pada realitas antropologis dan geografis, bahwa penduduk Nusantara ini tersebar ke berbagai pulau dengan ragam bahasa, budaya, dan agama.

Lebih dari itu adalah juga sebuah tekad untuk bersatu memajukan dan menyejahterakan anak-anak bangsa dengan tetap menghargai identitas setiap etnis dan agama. Dibandingkan kategori etnis, identitas agama paling bertahan karena dibakukan dalam kartu tanda penduduk (KTP).

Dalam agenda penyemaian anak-anak Indonesia, peranan perguruan tinggi sangat signifikan, terutama perguruan tinggi papan atas. Kampus telah memfasilitasi bertemunya putra-putri daerah terbaik. Mereka melebur ke dalam satu komunitas hibrida yang disatukan oleh semangat akademis.

Di kampus itu pula terjalin hubungan persahabatan lintas etnis yang sebagian berlanjut pada perkawinan yang pada urutannya melahirkan generasi baru yang semakin mengindonesia. Generasi ini semakin samar afiliasi dan identitas etnisnya. Mereka lebih memilih identitas yang menonjolkan pilihan dan prestasi akademis, karier, dan hobinya. Oleh karena itu, siapa pun yang ingin menjadi pemimpin Indonesia mestinya mereka yang datang dari kampus terbaik dan punya pengalaman serta penghayatan keindonesiaan yang plural, majemuk, dan inklusif.

Dengan mengendurnya identitas primordialisme, konsep kebinekaan haruslah berkembang menjadi kebinekaan progresif yang berkeadilan, yaitu munculnya keanekaragaman pusat-pusat unggulan pendidikan, budaya, industri, dan ekonomi sehingga terjadi pemerataan penyebaran penduduk dan sentra-sentra ekonomi serta budaya, tidak hanya terpusat di Pulau Jawa. Selama ini konsep kebinekaan berjalan di tempat, bahkan terjadi hegemoni oleh satu etnis dan wilayah terdapat yang lain.

Memasuki 70 tahun kemerdekaan, kita bukannya merayakan kebanggaan sebagai masyarakat dan bangsa yang dianugerahi keragaman nabati, hayati, dan kultural yang sedemikian melimpah, melainkan pertengkaran dan keluh kesah akibat kurang mampu memanfaatkan dan mengendalikan anugerah dan warisan kekayaan bangsa, termasuk mengisi amanat kemerdekaan.

Neotribalisme partai politik

Di Indonesia, secara ikonik neotribalisme yang dimaksudkan oleh Celia de Anca mungkin saja tecermin dalam komunitas partai politik. Komunitas partai politik ini memiliki daya tarik bagi warga masyarakat untuk berhimpun dan membangun identitas baru dalam bingkai keindonesiaan dengan menyimpan agenda politik dan ekonomi yang kental.

Partai-partai politik besar cenderung semakin inklusif, longgar, tidak menonjolkan identitas etnis dan agama. Para kadernya pun sering melakukan akrobat kutu loncat. Militansi mereka lebih didasari motif kalkulasi kekuasaan dan ekonomi, bukannya keterikatan etnis dan agama.

Jadi, jika neotribalisme partai politik ini tidak diperkuat oleh penerapan prinsip profesionalisme, meritokrasi, dan etika, jangan-jangan yang terjadi adalah neotribalisme dalam konotasinya yang negatif. Sebuah kerumunan orang-orang yang haus dan lapar akan kekuasaan dan sumber ekonomi, bukan lagi sebagai penyangga dan pejuang bagi kemajuan bangsa dan kesejahteraan rakyat. Partai politik lalu terjatuh menjadi bagian dari problem, bukannya solusi bangsa.

Sebuah catatan kecil terhadap buku Beyond Tribalism adalah fenomena Tionghoa perantauan. Mereka tetap memiliki ikatan kuat dengan identitas primordialnya, tetapi dalam waktu yang sama mereka mengembangkan prinsip profesionalisme dan melakukan bisnis secara rasional. Secara etnis mereka masih eksklusif, tetapi dari sisi bisnis mereka inklusif. Mungkin setia pada nasihat Khonghucu, U Hao, berbaktilah kepada orangtua, Ai Kwo, cintailah negaramu, dan ingat, di empat penjuru lautan semuanya adalah bersaudara.

Mereka melakukan diaspora ke seluruh dunia dengan bendera bisnis dan budaya, bukan senjata seperti yang dilakukan Barat yang kadang mengingatkan kenangan pahit semasa Perang Salib. []

KOMPAS, 23 September 2015

Komaruddin Hidayat | Guru Besar Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah, Jakarta

25
Sep
15

PusKesMas : Minum Es Teh Berbahaya ?

Benarkah Minum Es Teh Berbahaya ? Ini Fakta Terbaru Penelitian di Amerika

Kamis, 24 September 2015 19:28

Benarkah Minum Es Teh Berbahaya? Ini Fakta Terbaru Penelitian di Amerika
TRIBUN JOGJA

TRIBUNJABAR.CO.ID – Bagi kebanyakan orang Indonesia, khususnya orang Jawa, es teh manis pastinya bukan suatu hal yang baru.

Minuman ini telah menjadi favorit sejak zaman dahulu kala, baik sebagai pelepas dahaga ataupun sebagai teman saat makan.

Akan tetapi, tahukah Anda bahwa minuman nikmat yang satu ini ternyata sangat berbahaya bagi kesehatan Anda?

Menurut sebuah penelitian yang dilakukan oleh para peneliti di Loyola University Medical Center di Chicago, Amerika Serikat; es teh ternyata dapat menyebabkan terbentuknya batu ginjal bila dikonsumsi secara berlebihan.

Mengapa demikian? Seperti dikutip dari everydayhealth hal ini dikarenakan teh mengandung oksalat yang lama-kelamaan akan menyatu dan membentuk suatu kristal atau batu kecil di dalam ginjal. Batu ini dapat terus membesar dan menyumbat saluran kemih seseorang.

[BACA JUGA: Wow ! Inilah Manfaat Sakti Daun Pepaya Untuk Kesehatan Kita]

Selain dipengaruhi oleh makanan dan minuman yang biasa Anda konsumsi, terbentuknya batu ginjal juga dapat dipengaruhi oleh beberapa hal seperti:

Jenis kelamin. Batu ginjal berkembang 4 kali lebih cepat pada pria dibandingkan pada wanita
Usia. Orang yang berusia lebih dari 40 tahun memiliki resiko menderita batu ginjal yang lebih tinggi
Pernah menderita batu ginjal. Orang yang pernah menderita penyakit batu ginjal memiliki resiko yang lebih tinggi untuk mengalami hal yang sama.

[BACA JUGA: Benarkah Kesehatan Jiwa Dipengaruhi Ukuran Payudara? Ini Penjelasannya]

Memiliki riwayat keluarga. Orang yang memiliki anggota keluarga yang pernah menderita batu ginjal akan memiliki resiko yang lebih tinggi dibandingkan dengan orang yang tidak memiliki anggota keluarga yang menderita penyakit ini.

Untuk mencegah terbentuknya batu ginjal, batasilah konsumsi teh Anda setiap hari. Ingatlah bahwa minuman paling sehat adalah air putih.

Oleh karena itu, pastikan Anda mengkonsumsi setidaknya 2 liter air putih setiap harinya untuk membantu menjaga kesehatan ginjal Anda.

[BACA JUGA: Anda Harus Tahu! Bunga Ini Dipercaya Bisa Sembuhkan Penyakit AIDS]

Selain itu, kurangilah konsumsi garam Anda dan konsumsilah suplemen kalsium, yang dapat membantu mengurangi penyerapan oksalat di dalam tubuh.

Sitrat yang terdapat di dalam lemon juga dapat membantu mencegah terbentuknya batu di dalam ginjal. (abs)

Penulis: abs
Editor: dic
Sumber: Tribun Jabar
25
Sep
15

Politik : Menuju Pemilu Nasional Konkuren

Garuda Pancasila 3

Menuju Pemilu Nasional Konkuren

Oleh: J Kristiadi

Kegaduhan politik di Indonesia selalu lebih diwarnai pertarungan transaksi kepentingan daripada diskusi publik yang berfokus pada isu-isu politik yang dapat mewujudkan pemerintahan demokratis yang efektif. Demikian pula yang terjadi akhir-akhir ini, seharusnya setelah pilkada serentak, mungkin lebih tepatnya pilkada ”borongan”, karena tanpa politik hukumyang jelas, agenda berikutnya adalah perde- batan publik pemilu nasional konkuren (serentak).

Agenda itu harus segera menjadi perhatian semua pihak karena merupakan tindak lanjut Keputusan Mahkamah Konstitusi Nomor 14/PUU-XI/2013 terkait pengujian Undang-Undang No 42/2008 tentang Pemilu Presiden. Intinya, pemilu legislatif dan pemilu presiden dilakukan serentak tahun 2019.

Namun, tampaknya pertemuan pimpinan DPR dengan Donald Trump (The Donald) yang dikritik tajam oleh majalahThe Economist (5 September 2015) melalui editorialnya berjudul ”Why the Donald is Dangerous” lebih menarik untuk digosipkan.

Belajar dari penyusunan undang-undang pilkada serentak yang sarat dengan pertarungan interest subyektif parpol, penyusunan regulasi tentang pemilu nasional konkuren harus mempunyai dasar pemikiran yang kuat, paradigma yang jelas, serta berdimensi keseluruhan (comprehensiveness) agar dapat mewujudkan pemerintahanpresidensial yang efektif. Sebab, mekanisme pemilu konkuren dapat menghindarkanpemilu yang menghasilkan pemerintahan yang terbelah (divided government), seperti Koalisi Merah Putih versus Koalisi Indonesia Hebat, berkat coattails effect theory (teori ekor jas).

Substansinya, jika pilpres dilakukan bersamaan dengan pileg, kecenderungan masyarakat akan memilih calon presiden yang diikuti dengan pilihan parpol dalam parlemen yang mencalonkan presidennya. Jadi, pemilu konkuren akan mendorong terjadi- nya asosiasi antara pilihan masyarakat dalam pilpres dan pilihan mereka pada parpol dalam pileg. Namun, harus diakui, pakem tersebut dapat menuai hasil jika disertai dengan sistem pemilu legislatif yang tepat, kualitas kader parpol yang berkualitas, serta pengaturan dana kampanye dan parpol yang transparan dan akuntabel.

Mengingat variasi pemilu nasional konkuren cukup beragam, memilih varian yang tepat sangat memengaruhi hasil dari coattails effect. Menurut kajian Electoral Research Institute Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (2015), varian tersebut sebagai berikut. Pertama, pemilu konkuren (selanjutnya disebut pemilu), satu kali dalam lima tahun, untuk semua pejabat publik pada tataran nasional hingga kabupaten/kota yang mencakup pileg (DPR, DPD, DPRD provinsi, dan DPRD kabupaten/kota), pilpres, dan pilkada. Kedua, pemilu hanya memilih wakil rakyat (pusat dan daerah) dan kemudian disusul dengan pemilu memilih eksekutif (pusat dan daerah).

Ketiga, pemilu sela berdasarkan tingkatan pemerintahan, dengan jeda waktu berbeda antara pemilu nasional dan pemilu lokal. Keempat, pemilu tingkat nasional dan tingkat lokal yang dibedakan waktunya secara interval. Artinya, pilpres dan pileg (DPR dan DPD) dilakukan bersamaan, baru tahun kedua dilakukan pemilu konkuren tingkat lokal untuk memilih parlemen lokal dan kepala daerah. Kelima, pemilu tingkat nasional yang diikuti pemilu konkuren setiap provinsi berdasarkan kesepakatan waktu atau siklus pemilu lokal di setiap provinsi itu.

Keenam, pemilu konkuren untuk pilpres dan pileg mulai pusat sampai daerah dilaku- kan secara bersamaan, baru kemudian dilakukan pilkada untuk memilih kepala dae- rah untuk satu provinsi. Artinya, pemilu serentak tingkat lokal ini khusus memilih gubernur, bupati, dan wali kota secara bersamaan di suatu provinsi dan jadwalnya tergantung dari siklus pemilu lokal di setiap provinsi yang telah disepakati.

Kajian tersebut menawarkan opsi keenam sebagai pilihan. Namun, konsekuensinya, agenda pilkada serentak yang diproyeksikan terjadi pada 2027 harus ditata ulang. Alasan pokoknya, tugas Komisi Pemilihan Umum akan sangat berat, kerjanya sangat banyak, dan volumenya besar sekali. Selain itu, dalam perspektif pemilih, mereka harus mencermati sedemikian banyak parpol peserta pemilu sehingga amat sulit bagi mereka menentukan pilihan yang benar-benar mereka pahami. Demikian pula dari sisi parpol, mereka akan menghadapi kesulitan menyajikan calon yang berkualitas mengingat banyaknya jumlah kandidat yang harus dipersiapkan dalam waktu bersamaan.

Jika pemilu konkuren dipersiapkan dengan baik, antara lain melalui perdebatan publik yang melibatkan banyak pemangku kepentingan dan diakukan secara sistematis, harapan mengurai kekusutan pengelolaan kekuasaan politik secara bertahap akan terwujud, mulai dari level nasional sampai tataran lokal. Sebab, koalisi partai politik yang mendukung pasangan calon presiden terpilih akan cenderung mempertahankan koalisinya dalam pilkada.

Dengan demikian, kebijakan pemerintah nasional dan pada level daerah tidak hanya sinkron, tetapi juga akan dilaksanakan karena koordinasi pemerintahan berjalan mulus. Pemilu nasional konkuren dapat lebih memperkuat pelaksanaan UU No 23/2014 tentang Pemerintahan Daerah yang salah satu substansinya adalah hierarki lebih jelas dan tegas antara pusat dan daerah berdasarkan pakem Indonesia sebagai negara kesatuan.

Ke depan, diharapkan kegaduhan politik diisi dengan debat publik yang produktif sehingga menghasilkan pemerintahan yang bekerja untuk rakyat, bukan kerumunan yang berkompetisi memborong kekayaan negara untuk kepentingan sendiri. []

KOMPAS, 22 September 2015

J Kristiadi | Peneliti Senior CSIS

22
Sep
15

IpTek : Alat Cuci Telur Asin, Prajurit Kulon, Mojokerto

Alat Cuci Telur Asin Ciptaan Siswa SD Dapat Penghargaan Level Nasional

Senin, 21 September 2015 19:29

Alat Cuci Telur Asin Ciptaan Siswa SD dapat Penghargaan Level Nasional
Surya/anas miftakudin
SISWA SD – Farah dan Aurora saat memamerkan alat ciptaannya berupa pencuci telur asin yang menang dalam ajang Junior Scientist Award, Senin (21/9/2015).

SURYA.co.id | MOJOKERTO – Dua siswa SDN 1 Kranggan, Kecamatan Prajurit Kulon, Kabupaten Mojokerto menyabet penghargaan tingkat nasional dalam ajang Junior Scientist Award.

Kedua bocah ini menjadi 9 peneliti cilik terbaik Indonesia dan menyisihkan 800 peserta lain.

Mereka adalah Farah Dinnisa Ilmarini (11) dan Aurora Btari Maharani (12). Karya mesin cuci telur asin ini dalam waktu dekat akan diikutkan dalam lomba karya inovasi tepat guna Tingkat Internasional.

Inovasi mereka dinilai sangat bermanfaat dan membantu pengasin telur bekerja cepat.

Inovasi yang diciptakan kedua bocah ini tatkala melihat pengasin telur menggosok telur bebek usai ditimbun batu bata beberapa hari. Selain membutuhkan waktu yang cukup lama, mencuci atau menggosok telur bebek secara manual, biaya cukup besar.

Belum risiko telurnya pecah sehingga merugikan produsen telur asin. Dari situ akhirnya Farah dan Aurora membuat kotak pencuci telur semi otomatis.

Hasilnya lebih cepat dan hemat baik itu ongkos dan kecepatannya dibanding cara manual atau digosok biasa. Rupanya kerja peneliti cilik ini menjadi peneliti cilik terbaik dalam ajang Junior Scientist Award 2015 yang digelar sebuah produsen obat-obatan ternama di Indonesia.

Halaman123
22
Sep
15

Militer : Wajar Militer Tiongkok Bisa Tundukkan AS dan Sekutunya

Wajar Militer Tiongkok Bisa Buat AS dan Sekutunya Bertekuk Lutut

Wajar Militer Tiongkok Bisa Buat AS dan Sekutunya Bertekuk Lutut
Senin, 21 September 2015 19:23
Wajar Militer Tiongkok Bisa Buat AS dan Sekutunya Bertekuk Lutut
news.163.com
Pasukan perempuan militer Tiongkok terlihat sedang melakukan pemanasan dengan senam sebelum berparade di pangkalan militer Tiongkok di Shanghai

TRIBUN-MEDAN.com – Tentara Pembebasan Rakyat atau People Liberation Army (PLA) yang merupakan tentara nasional Republik Rakyat Tiongkok kini telah berkembang menjadi kekutan yang cukup ditakuti oleh dunia.

Tapi dibalik kekuatan yang menakutkan itu terdapat tentara perempuan dari Tiongkok yang cantik jelita yang terkadang bisa membuat musuh termasuk militer AS dan sekutunya bertekuk lutut akan keindah tubuh dan kemolekannya bahkan tanpa mengangkat senjata.

Lihat saja dalam sebuah acara parade militer yang dilakukan di Shanghai baru-baru ini.

Tentara perempuan Tiongkok tidak hanya memperlihatkan keahliannya dalam bertempur mereka juga piawai dalam baris-berbaris, senam maupun menari balet seperti yang dilansir News.163.

Sementara itu Global Times melaporkan bahwa militer China telah berkembang dengan cepat menjadi salah satu militer yang paling kuat di dunia dan memiliki hingga 10.000 hulu ledak nuklir di gudangnya.

Halaman selanjutnya »
Halaman123

22
Sep
15

Kebudayaan : Pemantapan Islam Nusantara

Kepala Garuda

Islam Nusantara Cegah Radikalisme

Cetak | 17 September 2015 30 dibaca 1 komentar

 

JAKARTA, KOMPAS — Islam Nusantara yang terus digaungkan oleh salah satu organisasi kemasyarakatan Islam terbesar di Indonesia, Nahdlatul Ulama, diyakini mampu menangkal paham radikal yang tengah berkembang di tengah masyarakat. Penerapan Islam Nusantara mengedepankan cara berpikir yang dinamis dan berlandaskan pada nilai-nilai kebaikan diharapkan mampu mewujudkan praksis Islam sebagai rahmat bagi semesta alam.

 

“Islam Nusantara menjunjung cara berpikir yang dinamis, tetapi tetap sesuai aturan dan disampaikan dengan sopan santun, tanpa kekerasan. Dengan begitu, masyarakat dapat terjaga dari radikalisme,” kata Rais Aam Syuriah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Ma’ruf Amin saat menyampaikan pengarahan di Jakarta, Rabu (16/9) malam.

 

Di sela-sela acara pelantikan pengurus lembaga-lembaga PBNU masa Khidmat 2015-2020 itu, Ma’ruf juga menekankan, tanggung jawab utama pengurus NU adalah menjaga masyarakat dari paham radikal serta cara-cara berpikir yang menyimpang. Menurut Ma’ruf, paham radikal justru dapat memicu konflik dan perpecahan.

 

Ma’ruf mengatakan, para nahdliyin harus menerapkan prinsip cara berpikir Islam Nusantara yang dinamis. Artinya, gagasan yang kreatif dan inovatif untuk perbaikan bangsa harus terus digagas.

 

Selain itu, para nahdliyin juga perlu menanamkan sikap toleran dan menghargai perbedaan. “Kita tidak boleh merasa paling benar dengan pendapat pribadi,” ujar Ma’ruf.

 

Ma’ruf menambahkan, Islam Nusantara juga mengedepankan prinsip rasa cinta antarumat beragama. Tidak boleh ada upaya intimidasi, pemaksaan, dan ancaman di tengah masyarakat.

 

Selain menyampaikan prinsip Islam Nusantara, Ma’ruf juga mengingatkan para pengurus yang baru dilantik, amanah menjadi pengurus NU harus dijaga dengan baik. Pengurus diharapkan tidak hanya menjalankan tanggung jawab, tetapi juga mampu memberdayakan umat Islam.

 

Menurut Ma’ruf, kontribusi umat Islam untuk memajukan sektor riil akan mampu mendorong perbaikan perekonomian bangsa Indonesia. Perbaikan di bidang lain, seperti pendidikan dan kesehatan, juga harus dilakukan dengan bergotong royong.

 

Warna budaya

 

Dalam kesempatan yang sama, Ketua Umum PBNU Said Aqil Siroj menuturkan, Islam Nusantara akan mewarnai peradaban kebudayaan Indonesia. Menurut dia, kemunculan Islam yang berbarengan dengan agama-agama lain di Indonesia telah menjadi bukti bahwa ajaran Islam telah berakar sejak lama.

 

Said mengatakan, di era globalisasi umat Muslim harus menjunjung tinggi identitas dan kebudayaan bangsa. Dengan demikian, umat Muslim tidak kehilangan arah di tengah banyaknya pemikiran yang muncul di masyarakat. “Di era globalisasi ini, karakter kepribadian sebagai muslim Indonesia harus memiliki tipologi Islam Nusantara,” katanya.

 

Lebih lanjut, kata Said, agama tidak membatasi seseorang untuk menerapkan nilai-nilai budaya. Sebaliknya, jangan sampai, atas nama agama, kebudayaan yang memiliki nilai kebaikan justru dihilangkan. Matinya nilai-nilai budaya berdampak pada tersisihnya masyarakat dari peradaban dunia. (B08)

 

KOMPAS, 17 September 2015

images

Dilema Islam Publik

Oleh: Luthfi Assyaukanie

Teori sekularisasi yang mengatakan bahwa modernisasi akan menggiring manusia menjadi orang-orang sekuler dan meninggalkan agamanya semakin tak punya tempat. Para ilmuwan sosial seperti Peter Berger, Jose Casanova, dan Rodney Stark kini semakin lantang berbicara tentang peran agama yang semakin besar dalam ruang publik.

Agama tak harus bertentangan dengan modernitas. Seorang Katolik atau seorang Muslim bisa dengan baik menerima konsep-konsep modern seperti demokrasi, hak asasi manusia, pluralisme, dan kebebasan berpendapat.

Kajian Casanova baru-baru ini tentang etika Katolik dan etika Islam dan upaya kedua agama ini untuk lebih berkiprah dalam ruang publik patut diperhatikan. Menurutnya, tesis Max Weber yang mengaitkan kesejahteraan ekonomi dan demokratisasi dengan dunia Protestan dan tesis Samuel Huntington yang meletakkan Islam sebagai anomali demokrasi Barat semakin tak bisa dipertanggungjawabkan.

Dunia Katolik dan Islam yang diselidiki Casanova justru membuktikan kebalikannya. Dalam dua dasawarsa terakhir, gelombang demokratisasi justru terjadi di dunia yang selalu dianggap “terbelakang” dalam urusan demokrasi dan resepsi terhadap konsep-konsep modern itu (Civil society and religion, 2001).

Adaptasi. Salah satu sebab mengapa agama-agama semakin mampu menempatkan dirinya di ruang publik –ruang di mana semua orang bisa berpartisipasi secara demokratis—adalah karena kemampuan dirinya untuk berinteraksi dan menyesuaikan diri dengan tuntutan ruang itu.

Islam sebagai agama yang paling banyak bersentuhan dengan masalah-masalah publik sudah pasti merupakan agama yang paling keras bereaksi terhadap tesis sekularisme yang mensyaratkan privatisasi agama. Namun demikian, bukanlah perkara mudah bagi Islam memperebutkan ruang ini, karena kondisi dan semangat zaman tak lagi sama seperti sebelumnya.

Penaklukan ruang tak bisa lagi dilakukan dengan kekerasan dan paksaan ideologi monolitis. Tapi sebaliknya, harus dengan cara-cara yang bisa diterima oleh penghuni ruang tersebut secara sukarela.

Konsep ruang publik di dunia modern sedemikian kompleks sehingga ia tak lagi bisa disamakan dengan konsep serupa di masa lalu Islam. Juergen Habermas, filsuf yang mempopulerkan istilah itu, mengartikan ruang publik sebagai tempat di mana perbedaan keyakinan dan pendapat dapat ditampung dan dibicarakan secara bebas.

Ruang publik menurut filsuf Jerman ini, bukan hanya dapat mencairkan berbagai perbedaan, tapi juga mampu menciptakan budaya egaliter dan partisipasi setiap orang. Sebagai agama yang memiliki banyak doktrin egalitarianisme (Q.S. 33:35; Q.S. 49:13; Q.S. 4:1), Islam seharusnya adalah agama yang paling mampu beradaptasi dengan ruang publik.

Sikap menghormati dan toleransi yang diperlihatkan beberapa doktrinnya memungkinkan agama ini menempatkan dirinya dalam ruang milik orang banyak itu. Persoalannya adalah sejauh mana Islam bisa mengikuti “aturan main” yang diterapkan dalam ruang ini. Di sinilah dilema Islam ketika ia harus memutuskan untuk mendeprivatisasi dirinya.

Kasus-kasus yang selama ini terjadi di Indonesia bisa kita jadikan rujukan betapa Islam publik harus berjuang memposisikan dirinya agar tetap bisa diterima oleh semua orang. Soal ideologi negara yang sebelumnya menjadi isu krusial, misalnya, sudah tak lagi menjadi isu penting sekarang ini.

Para politisi Islam tampaknya semakin meyakini bahwa pembelaan terhadap “dasar negara Islam” sudah semakin kehilangan rasionalisasinya. Ketika semakin banyak orang tak menghendaki “ideologi Islam,” para politisi Muslim pun tak lagi ngotot membelanya.

Yang lebih ditekankan adalah bagaimana menghadirkan etika Islam dalam berpolitik dan bukan lagi simbolisme keagamaan. Inilah yang ingin diperjuangkan partai-partai berbasis Islam semacam PAN dan PKB.

Pilihan Sulit. Semangat untuk tetap menjaga Islam dalam ruang publik juga terjadi karena adanya kesadaran terhadap majemuknya masyarakat Indonesia, bukan saja kemajemukan antar-agama, tapi juga kemajemukan dalam komunitas Islam sendiri.

Mempertahankan satu penafsiran Islam dan meletakkannya menjadi standar umum hanya akan menjadi anomali bagi Islam publik yang berusaha membuka diri untuk semua penafsiran dan keberagaman.

Karena itu, isu-isu seperti syariah dan piagam Jakarta dalam konteks ini menjadi tak punya makna untuk diangkat kembali, karena selain akan berbenturan dengan keyakinan dalam agama di luar Islam juga bertabrakan dengan beragam pendapat tentang isu ini dalam komunitas Islam sendiri. Singkatnya, Islam publik akan tetap berada di tempatnya hanya dan hanya jika ia bisa tetap mentolerir dan mampu mengikuti “aturan main” yang berlaku dalam ruang di mana ia berada.

Pilihan yang dihadapi Islam ketika harus menceburkan diri dalam ruang yang telah didefinisikan dan dipersepsikan sedemikian rupa oleh dunia modern sesungguhnya tidak menyisakan banyak tempat bagi Islam klasik.

Dengan kata lain, Islam yang hadir dalam ruang publik haruslah benar-benar Islam dengan kandungan dan makna baru yang berbeda dari penafsiran-penafsiran klasik yang cenderung bertentangan dengan semangat dunia modern. Doktrin-doktrin yang di masa silam berlaku dalam “ruang publik” masa silam harus ditolak atau ditafsirkan ulang agar bisa sesuai dengan “ruang publik” masa sekarang.

Sukses tidaknya Islam publik akan sangat bergantung pada bagaimana kaum Muslim mampu beradaptasi dengan tantangan-tantangan baru yang selalu hadir dalam ruang milik orang ramai ini. Dengan kata lain, usaha adaptasi dan antisipasi harus diiringi dengan pemahaman dan interpretasi terus-menerus terhadap ajaran-ajaran Islam itu sendiri.

Kegagalan terhadap penyikapan ini akan menempatkan Islam pada dua pilihan sulit: pertama, ia akan menjadi agama privat yang tak lagi memiliki peran apa-apa di luar dunia individual; kedua, menjadi agama reaksioner yang perannya tak pernah melebihi margin sejarah. []

Logo MASBETA

Islam Nusantara Tidak Bertentangan dengan Syari’at

Jumat, 18/09/2015 19:03

Jakarta, NU Online
Islam Nusantara dituduh tidak ada landasannya. Juga dianggap mengkotak-kotakkan Islam. Tak hanya itu, dianggap tidak mengikuti Rasulullah. Beberapa pertanyaan diajukan, misalnya Islam Nusantara ibadah hajinya kemana? Ketika mati, dikebumikan dengan memakian batik?

“Itu ungkapan nyinyir di sosmed,” kata Pengurus Cabang Istimewa NU Akhmad Sahal, salah seorang narasumber di Forum Tashwirul Afkar yang berlangsung di Perpustakaan PBNU, Jakarta, Jumat sore (18/9).

Padahal kata dia, kalau diteliti, sebagaimana disampaikan Rais Aam PBNU KH Ma’ruf Amin, Islam Nusantara hanyalah ganti cashing. Isinya adalah Islam Ahlussunah wal Jamaah (Aswaja) an-Nahdliyah.

Menurut dia, ulama Aswaja di Indonesia adalah Islam yang mutassil (bersambung) kepada Islam Rasulullah SAW. Islam Nusanatara adalah cara orang Indonesia untuk berislam dengan cara Islam Rasulullah berdasar dengan fiqih dan ushul fiqih.

Kalau belajar ushul fiqh, ada aspek permanen dan berubah dalam Islam. Soal aqidah, ibadah mahdhoh itu adalah aspek permanen tidak bisa diubah-ubah. Hal itu sudah dirinci Nabi Muhammad SAW. “Islam Nusantara tidak mengurusi aqidah, tauhid, kenabian, hari kiamat. Itu permanen. Kapan pun dan dimana pun.”

Islam Nusantara berada pada wilayah mutaghayrat (berubah); bisa berubah karena lokasi atau waktu. Hal itu berada dalam muamalah semisal permasalahan keluarga, sosial kemasyarakatan, ekonomi, politik, dan kebudayaan.

Dalam wilayah muamalah, Islam Nusantara berdasarkan prinsip kemashlahatan. Dan kemalahatan itu dinamis. “Prinsipnya asal tidak bertentangan dengan syari’ah,” jelasnya. Seraya menambahkan, Islam Nusantara tidak mengubah shalat Subuh menjadi tujuh rakaat, misalnya.

Lebih jauh ia mengatakan, kalau menengok sejarah, dalam hal muamalah dan adat sitiadat, Islam tidak menawarkan sesuatu yang baru. Islam hanya mengoreksi jika ada kebiasaan yang bertentangan prinsip syari’ah.

Ia mencontohkan dalam hal pakaian orang Arab dengan menukil penjelasan KH A Mustofa Bisri. Nabi Muhammad memakai pakaian Arab. Pakaian gaya Arab tersebut dipakai musuh-musuhnya serta sahabat-sahabatnya. Nabi tidak hadir dengan kostum baru.

“Nabi menggunakan pakaia Arab. Itu bukti menghargai tradisi setempat. Prinsipnya tidak bertentangan dengan syariat,” tegasnya. (Abdullah Alawi)

 Garuda Pancasila 4

Terkait Islam Nusantara, Rais Aam: NU Biasa Bikin Kaget

Ahad, 20/09/2015 00:02

[image: Terkait Islam Nusantara, Rais Aam: NU Biasa Bikin Kaget]

Jakarta, *NU Online*
Rais Aam PBNU KH Ma’ruf Amin memaklumi riuh di tengah publik ketika
Muktamar Ke-33 NU mengangkat tema “Islam Nusantara”. Menurut Kiai Ma’ruf,
ramainya polemik di tengah masyarakat sejauh ini masih dalam taraf wajar.

“*Alhamdulillah* ada reaksi itu dari masyarakat. Tentu agar orang-orang
memerhatikan dan mengetahui konsep Islam Nusantara. NU memang biasa bikin
kaget. Asal jangan orang jantungan saja,” kata Kiai Ma’ruf disambut tawa
peserta diskusi mingguan dalam forum Tashwirul Afkar di Perpustakaan PBNU,
Jakarta, Jumat (18/9) sore.

Mengetahui sebuah gagasan, Kiai Ma’ruf melanjutkan, merupakan langkah awal
sebelum akhirnya menerima atau menolak. Akan menjadi tidak bijak ketika
mengambil sikap penolakan secara apriori sebelum mengetahui dan mencerna
sebuah gagasan.

“Ini ribut saja soal sebutan ‘Islam Nusantara’. Padahal Islam
Nusantara itu *ahlusunnah
wal jamaah ala thariqatin nahdliyah*. ‘Islam Nusantara’ covernya saja. jadi
Islam Nusantara itu *huwa huwa* (sama saja. itu-itu juga, Red),” ujar Kiai
Ma’ruf di hadapan sedikitnya 40 peserta diskusi yang memenuhi ruang
perpustakaan PBNU.

Pada forum yang juga dihadiri Pengurus NU Amerika Ahmad Sahal, Sekjend PBNU
H Helmy Faisal Zaini, dan Wasekjend PBNU H Masduki Baidowi, Kiai Ma’ruf
berpesan kepada para pemuda terlebih intelektual di lingkungan Nahdlatul
Ulama agar terus memproduksi gagasan baru.

“Asal jangan mandek. Pemikiran harus ada kontinuitas dan improvement
sehingga bergerak terus dengan catatan tawasuth dan tentu juga moderat,”
Kiai Ma’ruf mengajak peserta forum untuk mendinamisasi pemikiran.

Ruang diskusi lebih dipadati oleh mahasiswa-mahasiswi NU dan juga aktivis
IPNU-IPPNU. (*Alhafiz K*)

Sumber:

http://nu.or.id/a,public-m,dinamic-s,detail-ids,44-id,62295-lang,id-c,nasional-t,Terkait+Islam+Nusantara++Rais+Aam++NU+Biasa+Bikin+Kaget-.phpx

REPINDO

Membangun Pendidikan Tinggi Islam Nusantara

Oleh: Maswan
Muktamar ke-33 NU di Jombang, yang dilaksanakan tanggal 1-5 Agustus 2015 lalu, dengan tema, ‘Meneguhkan Islam Nusantara untuk Peradaban Indonesia dan Dunia’, tentu mempunyai nilai filosofis. Islam Nusantara menjadi tema sentral, karena konsep pemunculan Islam Nusantara sebagai upaya membentengi gejolak modernisasi kemajuan peradaban yang kian tidak jelas arahnya. Nahdlatul Ulama (NU), di tengah-tengah komunitas bangsa di Nusantara yang mayoritas Islam, diharapkan dapat menjadi rahmatal lil ‘alamin.
Diskusi tentang Islam Nusantara menjadi tema Muktamar NU, tentu ada alasan yang sangat mendasar. Alasan tersebut,  seperti yang ditulis oleh Abdullah Alawi di Media NU Online, Senin, 09/03/2015, sebagaimana yang dikutip dari pernyataan tokoh-tokoh penting NU, Imam Azis, bahwa menjelang seratus tahun NU, tema tersebut dipilih untuk menunjukkan posisi strategis NU di Indonesia dan dunia sebagai pengusung Islam rahmatan lil ‘alamin.
Pernyataan Imam Azis tersebut diperkuat oleh KH Said Aqil Siroj, bahwa Islam bukan hanya aqidah dan syariah semata, tapi ilmu pengetahuan dan peradaban. “NU sejak didirikan, sekarang, dan seterusnya akan mendukung peradaban.
Selanjutnya, menurut KH Masdar F Mas’udi mengatakan, bahwa tema tersebut sangat relevan untuk saat ini. Dunia Islam saat ini sedang “dibakar” kebencian dan permusuhan. “Tentu saja hal itu merobek jati diri Islam yang mempromosikan “salam”, kedamaian.
Kiai Masdar menambahkan, meskipun posisi Indonesia jauh dari tempat turunnya wahyu (Al-Qur’an, red), namun pada aspek pemahaman, pengamalan, dan tradisi, Indonesia sangat menjanjikan untuk dijadikan pegangan dunia Islam. Indonesia, mempunyai bukti bagaimana peran umat Islam menjaga perdamaian dalam sejarah kebangsaan. “Tema tersebut, bukan hanya relevan, tapi dibutuhkan.
Saat ini, dunia Islam sedang mengalami ironi. Di satu sisi dengan menyebut agama kedamaian, tapi di sisi lain sebagian umatnya menunjukkan kekerasaan. Justru itulah tantangannya. Semakin berat tantangan itu, maka akan semakin besar martabat kita jika mampu mengatasinya. “Kalau berhasil, ini akan menjadi amal jariyah untuk dunia Islam.”

Wadah Pendidikan Islam Nusantara
Untuk mengusung, membahas dan mengaplikasikan hasil Muktamar NU tentang Islam Nusantara, maka tentu membutuhkan keterlibatan pemikir-pemikir dari kalangan para kiai, sesepuh NU, kader-kader cendekiawan NU, praktisi pendidikan NU dan seluruh neven dan badan otonom NU. Agar konsep ideal tentang bangunan Islam Nusantara yang nanti akan digagas, benar-benar menjadi rahmatal lil ‘alamin, harus terealisasi dan mampu diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari..
Islam yang berwawasan nusantara, akan menjadi amaliah berbasis peradaban kebangsaan Indonesia, yang pemunculannya sudah diawali oleh nenek moyang yaitu para Walisongo yang mengajarkan Islam yang berperadaban sesuai pada zamannya. Pola yang dipakai dalam penyebaran ilmu syariat Islam dilakukan melalui pondok-pondok pesantren. Dan ternyata sangat efektif dan dapat diterima oleh masyarakat Islam zaman itu.
Pondok pesantren, menjadi pilar pengembangan Islam di Indonesia yang sampai hari ini menjadi rahmat bagi masyarakat di Nusantara. Kini, NU lewat muktamarnya ingin meneguhkan agar Islam yang berbasis Ahlussunnah wal jamaah, yang dibingkai dengan nama Islam Nusantara, dapat dipahami dan diamalkan oleh seluruh komponen bangsa di Indonesia, maka sangat dibutuhkan wadah pengembangan, pendidikan dan pembinaannya.
Agar rumusan Islam Nusantara hasil muktamar ini, sampai pada kader-kader NU khususnya, dan seluruh masyarakat Islam di Indonesia, maka Lembaga Pendidikan Ma’arif NU, Lajnah Lembaga Pendidikan Tinggi NU (LPTNU), Persatuan Guru NU (Pergunu), dan Ikatan Sarjana NU (ISNU), untuk memikirkan sebuah rumusan pendidikan Islam Nusantara tersebut. Hal ini sangat penting, wadah pengembangan ajaran pendidikan Islam bernuansa peradaban bangsa, tidak lain adalah lewat pendidikan.
Pondok-pondok pesantren sebagai basis pendidikan Islam sudah jelas karakternya, tinggal bagaimana lembaga pendidikan formal NU mampu merekonstruksi pendidikan yang berkualitas bebasis Islam Nusantara yang berperadaban sesuai dengan zaman global ini.
Salah satu wadah pengembangan pendidikan NU, agar mampu menjadi pilar peradaban Islam Nusantara dan sekaligus pencetak kader-kader Islam Nusantara yang berperadaban global, adalah merekonstruksi dan sekaligus merevitalisasi Lembaga Pendidikan Tinggi NU. LPTNU pusat dan cabang mendapat tantangan dan harus berpikir serius untuk membangun dan mengelola perguruan tinggi di masing-masing kabupaten, dengan pengelolaan yang profesional. Ini harus ada mobilisasi pengelolaan pendidikan tinggi, jika NU berkeinginan menciptakan kader Islam yang berperadaban Nusantara. NU punya power dan kekuatan, kalau mau berkata dan berbahasa sama membangun perguruan tinggi, berlabel Perguruan Tinggi Islam Nusantara.
Semoga NU Secara kelembagaan mampu merekonstruksi dan merivitalisasi pendidikan tinggi NU dengan berbagai konsepnya, dan Pasca muktamar akan ada kebijakan semua daerah Kabupaten di Indonesia, ada berdiri perguruan tinggi milik NU dengan satu nama Perguruan Tinggi Islam Nusantara. Wallahu ‘alam bishowab. []
Penulis adalah pengurus Lembaga Pendidikan Tinggi Nahdlatul Ulama (LPTNU) Cabang Jepara, dan Dosen UNISNU Jepara.(maswan.drs7@gmail.com)




Blog Stats

  • 3,064,489 hits

Recent Comments

Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Kepemimpinan : Satrio Piningit…
Ratu Adil - 666 on Sejarah : Bangsa Lemuria, Lelu…
Ratu Adil - 666 on Sejarah : Bangsa Lemuria, Lelu…